HUKUM RAJAM

Diajukan Oleh: MUHAMMAD QUSAI Fiqh Modern 2008080-2

Dosen Pengasuh: Prof. Dr. Rusydi Ali Muahammad, SH

PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI AR-RANIRY

masing-maing pihak mengemukakan argumentasinya untuk menguatkan pendapat mereka masing. dalam makalah yang singkat ini. BANDA ACEH 2010 M/1431 H HUKUM RAJAM Oleh: Muhammad Qusai A. Pro dan kontra pelaksanaan hukum rajam terus terjadi. walaupun segelumit masalah terjadi ketika qanun ini hendak diterapkan. Pendahuluan Kata rajam sekilas bukanlah sebuah istilah yang asing dalam kajian hukum islam. istilah rajam menjadi sebuah istilah yang sangat menarik untuk dicermati dan bahkan saat sekarang mendapat perhatian khusus dari pakar hukum dalam kajian hukum di Indonesia. dalil hukum rajam sudah tidak ada lagi dalam Al-Qur’an (sudah di nasakh) dan bahkan dengan dalih bahwa masyarakat belum siap untuk melaksanakannya dan juga dalih-dalih lainnya. Terlepas dari itu semua. dan hukum nasional. Disamping ada juga pihak yang mendukung dan bahkan mendesak pemerintah untuk segera mensahkannya supaya dapat dilaksanakan. Akan tetapi dalam perkembangan terakhir di Aceh. penulis mencoba membahasa hukum rajam dalam kajian hukum fiqh. Hal ini bermula ketika hukum rajam diangkat kembali dalam Qanun Hukum Jinayah dan Hukum Acara Jinayah Islam yang digodok oleh Dewan Perwakilan Rakya Aceh dan sudah disahkan pada 15 September 20091. praktisi dan juga masyarakat dengan dalih bahwa hukum tersebut melanggar HAM. Keberadaan kedua qanun yang telah dilahirkan tersebut sebenarnya merupakan momen penting dalam rangka menjadikan hukum islam sebagai hukum positif yang hidup dalam masyarakat Aceh secara menyeluruh. dan belum ditandatangani oleh pihak Pemerinta (Gubernur) 1 2 . Namun keberadaannya juga banyak mendapatkan kritikan dan tantangan dari berbagai kalangan baik kalangan akademisi.DARUSSALAM. serta Pengesahan Qanun Hukum Jinayah dan Hukum Acara Jinayah dilakukan sebelah pihak oleh DPRA. terutama spesifik Hukum Jinayah.

Namun.sedikit banyaknya melakukan analisis terhadap materi qanun jinayah dan hukum acara jinayah terutama pada pasal tentang hukum rajam. maka haruslah keduanya dibunuh mati: lakilaki yang telah tidur dengan perempuan itu dan perempuan itu juga. Ulangan 22: 22 disebutkan. Kemudian Imam Shiddiq Hasan Khan Rahimahullah mengomentari perkataan diatas. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel3 Dalam al-Qur’an. opini-opini dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya yang berkaitan dengan topik pembahasan. Beirut. sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Buraidah dalam kisah Ma’iz2 Hukum rajam pernah berlaku pada zaman Nabi Musa.com. t. Rajam dilakukan dengan cara menenggelamkan sebagian tubuh yang bersangkutan ke dalam tanah. “Apabila seseorang kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami. sejumlah kitab fikih menjelaskan bahwa pada mulanya ayat rajam itu temaktub dalam al-Qur’an. B. “Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan membuat lubang untuk seorang wanita suku Ghomidi yang (dirajam) sampai dadanya. At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah Ala Ar-Raudhah An-Nadiyyah. Islamlib. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat lubang untuk Ma’iz. Dalam Perjanjian Lama. kemudian beliau memerintahkan sehingga dia dirajam.t. Metode yang digunakan adalah library reserch (kajian kepustakaan) dengan mengumpulkan buku-buku. dan lainnya. Hadits ini terdapat dalam Shahih Muslim. Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam kitab Duraril Bahiyah. Dar al-Qutub. 278 3 Abdul Moqsith Ghazali. www. Hukum Rajam dalam Tinjauan Fiqh Rajam adalah sanksi hukum berupa pembunuhan terhadap para pelaku zina muhshan (yaitu orang yang berzina sementara ia sudah pernah menikah atau masih dalam ikatan pernikahan dengan orang lain). Imam Shiddiq Hasan Khan . hlm. “Dan digalikan (liang) untuk orang yang dirajam sampai dada”. lalu setiap orang yang lewat diminta melemparinya dengan batu-batu sedang (hijarah mu`tadilah) sampai yang bersangkutan meninggal dunia. ayat rajam tak tercantum. Tafsir atas Rajam dalam Islam. 2 3 .

yang wajib diperlakukan buat laki-laki dan perempuan yang berzina muhshan.Aini menyatakan bahwa Nabi tetap menetapkan hukum rajam kepada para pelaku zina. Ayat tersebut berbunyi ‫الشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما الباتة نكال من الله‬ Artinya: laki-laki dan perempuan yang berzina. tak membedakan antara pezina muhshan dan ghair muhshan.Dalam perkembanganya. maka rajamlah secara sekaligus. ketika sudah cukup bukti. Hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang beriman). ayat itu dihapuskan walau hukumnya tetap berlaku (naskh al-rasm wa baqa’ al-hukm). yaitu ‫الزانية والزاني فاجلدوا كل واحد منهممما مممائة جلممدة ول‬ ‫تأخذكم بهم ما رأفمة فمي دي من الل مه إن كنت مم تؤمنمون ب مالله‬ ‫م‬ ‫م‬ ‫م‬ ‫م‬ ‫م‬ ‫م م‬ ‫م‬ ‫واليوم الخر وليشهد عذابهما طائفة من المؤمنين‬ Artinya: pezina perempuan dan laki-laki. pukullah sebanyak 100 kali pukulan. Kebanyakan ulama ini berpengang pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah bahwasanya Rasulullah bersabda: Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan bahwa saya 4 . Sebuah hadits menyebutkan. Memang al-Qur’an sendiri. ‫إن الرجم حق في كتاب الله علمى ممن زنما إذا أحصمن ممن‬ ‫م‬ ‫م‬ ‫م‬ ‫م‬ ‫م‬ ‫الرجال والنساء إذا قامت البينة أو كان الحمل أو العتراف‬ Artinya: Bahwa sesungguhnya rajam itu ada di dalam Kitabullah. namun al-Allama Badruddin al. Walaupun ada pendapat yang mengatakan bahwa ayat tentang rajam telah di nasakh dengan surat An-Nur ayat 2. jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. Ayat inilah yang menjadi pegangan para ulama pendukung hukum rajam. sebagai balasan dari Allah). atau sudah hamil atau mengaku berzina Kelompok Mu’tazilah dan Khawarij berpendapat ayat apalagi hadits yang menegaskan tentang hukum rajam bagi pezina muhshan sudah dihapuskan oleh ayat al-Qur’an (al-Nur: 2). seperti dalam Mushaf Utsmani. Demikian juga pendapat yang dikemukakan oleh kebanyakan Imam Mazhab golongan Sunni. Janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan agama Allah.

yaitu adanya upaya damai dalam penanganan kasus kriminal (pidana) sebelum perkara tersebut diajukan ke pangadilan. dilanjutkan pemeriksaanya kepada pihak yang berwenang dan diproses melalui pengadilan. 185. atau bisa juga kita jumpai dalam Kitan Matan Arbain 5 Muhammad Husen. membunuh orang lain dengan sengaja dan meninggalkan agama (murtad). Bukhari dan Muslim)4 Dalam Adat Aceh. si laki-laki tersebut mengakui perbuatannya sehingga perkara tersebut diserahkan pada kerajaan kesultanan untuk diadili. Akan tetapi apabila perbuatan zina yang tidak mungkin dapat diselesaikan secara damai. Sebagaimana sebuah contoh kasus yang terjadi di Banda Aceh pada masa kesultanan Ibrahim Mansursyah (1847 – 1870). Adat Aceh. permohonan ampun diterima oleh Sultan dengan syarat bahwa pada tengah malam akan dilepaskan dari tahanannya kemudian dia melarikan diri dari pintu belakang kerengkeng ke tempat Hadits tersbut dapat kita jumpai dalam kitab Saheh Bukhari dan Saheh Muslim. Setelah pertimbangan yang mendalam. Demikian juga hal ini berlaku pada perkara zina. di pengadilan juga tidak tertutup kemungkinan kepada para pelaku mendapatkan ampunan dari pemerintah. hukum rajam sampai mati yang dilakukan dengan melempar batu diganti dengan cara dibenamkan dalam sungai sampai mati yang dinamakan dalam istilah bahasa Aceh “boh trieng doek bak takue”5. Atau dalam istilah lainnya.. Akan tetapi. 6 Muhammad Husen..R. Dalam proses pemeriksaan. Pengadilan memutuskan menjutuhi hukuman mati kepada laki-laki tersebut dengan membenamkannya dalam sungai daroie dengan cara di lehernya diikat bambu yang sudah diisi dengan batu-batu. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Karena takut ketahuan.(Muhammad) adalah utusan Allah kecuali dengan tiga sebab. Akan tetapi ada hal yang menarik yang dipraktekkan dalam Adat Aceh. 1970. yaitu: orang yang sudah menikah (muhsan) berzina. perkara ini diperiksa oleh pihak yang berwajib. hlm. Adat Aceh.6 Namun demikian. (H.183. Banda Aceh. sebelum eksekusi dilaksanakan. seorang laki-laki melakukan zina dengan seorang perempuan sampai hamil. 4 5 . laki-laki tersebut memohon ampun kepada pengendali pengadilan kerajaan (Sultan). laki-laki tersebut membunuh si perempuan. hlm.

8 Masing-masingnya dijelaskan pada pasal : 16. 23. liwath dan musahaqah8.pemeliharaan (sigeuboh)7. sebahagian pihak yang kontra mempersoalkan adanya hukum rajam yang terdapat dalam materi hukum jinayah tersebut. dengan kekerasan atau paksaan atau ancaman terhadap korban. Di tempat ini dia mendapatkan pendidikan keagamaan dan rehabilitasi sampai menjadi rakyat yang baik kembali dan berguna bagi masyarakat. Musahaqah adalah hubungan seksual antara perempuan dengan perempuan yang dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak. Pada Ketentuan Umum pasal 1 ayat 20 mendefinisikan “zina adalah persetubuhan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan tanpa ikatan perkawinan dengan kerelaan kedua belah pihak”. iktlilat. Khalwat adalah perbuatan berada pada tempat tertutup atau tersembunyi antara 2 (dua) orang yang berlainan jenis kelamin yang bukan mahram dan tanpa ikatan perkawinan. 17. 21. Pemerkosaan adalah hubungan seksual terhadap faraj atau dubur korban dengan zakar pelaku atau benda lainnya yang digunakan pelaku atau terhadap faraj atau zakar korban dengan mulut pelaku atau terhadap mulut korban dengan zakar pelaku. Ikhtilath adalah perbuatan bermesraan antara laki-laki dan perempuan yang bukan suami isteri atau mahram baik pada tempat tertutup atau terbuka. qanun ini terus menuai pro kontra dan juga protes dan tantangan dari berbagai pihak. berpegangan tangan dan berciuman. Pelecehan Seksual adalah perbuatan cabul yang dilakukan terhadap orang lain tanpa kerelaannya. Bermesraan adalah bercumbu seperti bersentuh-sentuhan. tidak termasuk hubungan seksual yang dilakukan dengan suami atau isteri. 18. akan tetapi pemakalah mencoba melihat kembali isi qanun tersebut secara keseluruhan aturan yang ada kaitannya dengan hukuman rajam dan cambuk. Selain istilah zina. 7 6 . dalam qanun tersebut juga dijelaskan istilah khalwat.(2) ’Uqubat Ta’zir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk: Tempat bagi orang-orang yang semestinya dibunuh tetapi telah mendapatkan ampunan dari Sulthan. 22. pelecehan seksual. yaitu pada pasal 24 ayat 1. C. bermesraan. 24. Hukum Rajam dalam Qanun Hukum Jinayah Islam Sejak disahkan pada tanggal 15 September 2009 oleh DPRA. Liwath adalah hubungan seksual antara laki-laki dengan laki-laki yang dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak. Jenis-jenis uqubat yang diatur dalam qanun hukum jinayah terdapat dalam pasal ayat 1 dan 2 yaitu: (1) Jenis-jenis ‘Uqubat dalam qanun ini meliputi Hudud dan Ta’zir. berpelukan.

e. pencabutan izin dan pencabutan hak. c. Ini jelasa pelaksanaan hukuman rajam masih sangat lemah. maka pelaksanaan hukumannya dilakukan oleh petugas yang ditunjuk oleh jaksa yang mekanisme pelaksanaannya akan diatur oleh Mahkamah Agung. perampasan barang-barang tertentu. (2) Setiap orang yang dijatuhi ‘uqubat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikenakan ‘uqubat ta’zir penjara paling lama 40 (empat puluh) bulan Dalam pasal tersebut di atas. karena menyamakan hukum rajam dengan hukuman mati yang sebenarnya berbeda pada proses antara kedua bentuk hukuman tersebut. Dr. ada pernyataan ’uqubat rajam/hukuman mati. penjara. cambuk. b. dan f.” Pada pasal 224 ini dijelaskan bahwa mekanisme pelaksanaan hukuman rajam diatur oleh Mahkamah Agung yang berada Jakarta. Tentang mekanisme pelaksanaan hukuman cambuk.a. maka pelaksanaan adalah hukuman dengan melempar batu sampai mati. d. tetapi apabila putusnnya hukuman mati. Prof. Ini jelas terjadinya multi penafsiran. denda. kompensasi. juga tinjauan kesiapan masyarakat dalam menjalankan hukuman rajam tersebut. baik tinjauan kesiapan materi hukumnya. Oleh karenanya banyak pihak yang beranggapan bahwa pelaksanaan hukuman rajam belum siap untuk dilaksanakan. maka bisa dilaksanakan dalam bentuk yang lain seperti yang telah di atur dalam KUH Pidana. karena tidak diatur mekanismenya secara langsung di tingkat provinsi. Pada pasal 24 dijelaskan dalam pasal: (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan zina diancam dengan ‘uqubat hudud 100 (seratus) kali cambuk bagi yang belum menikah dan ‘uqubat hudud 100 (seratus) kali cambuk serta ‘uqubat rajam/hukuman mati bagi yang sudah menikah. diatur dalam Pasal 244 “Jika terhukum dihukum dengan ’uqubat rajam/hukuman mati. Apabila disebutkan hukuman rajam. Syahrizal Abbas mengatakan bahwa dalam membuat sebuah qanun syariat islam yang bersifat respnsif maka dibutuhkan beberapa langkah nyata yaitu sebagai berikut: (a) Materi qanun yang dirumuskan bukan hanya 7 .

tetapi perlu juga dilihat pemahaman tema tersebut. sebuah produk hukum yang dibuat oleh legislatif daerah bisa mengesampingkan kaidah hukum yang dibuat legislatif nasional bersama pemerintah.9 Hamid Awaludin dalam sebuah rublik berita Harian Kompas pernah mengatakan bahwa hukuman rajam yang diberlakukan di Aceh melalui qanun. beliau juga mengatakan harus melihat pertimbangan yang . hlm. Sulit membayangkan. (b) Penemuan ruh syariah bukan hanya membutuhkan kajian filsafat hukum islam. Pemahaman terhadap hakikat keberadaan teks akan menemukan ruh syariah (nilai filosofis). Dari sudut pandang ini. 64-65 10 Hamid Awaluddin. Karena banyak praktek dan tradisi telah menjadi hukum yang hidup (living law) dan dapat memberikan keadilan bagi masyarakat. Banda Aceh. Masalahnya. Menyoal Hukum Rajam. Namun demikian. dari perspektif hukum. dan beliau mendesak Gubernur Aceh untuk menanda tangani qanun tersebut.Tim Penulis AJRC.10 Berbedea dengan Mendagri Mardiyanto beliau mengatakan pelaksanaan Qanun Jinayat (perbuatan yang dilarang dalam hukum Islam) harus dilaksanakan. Aceh Madani dalam Wacana. (d) Semangat sosiologis yang dibangun alquran dalam hukumnya perlu mendapat perenungan. Aceh Justice Resource Center Fak. (e) kerangka diatas akan bekerja bila tingkat pendidikan masyarakat dan sosialisasi qanun dapat ditingkatkan kearah yang lebih baik sehingga keberadaan qanun syariat islam benar-benar dirasakan oleh semua kalangan masyarakat. tetapi juga membutuhkan kajian sosiologis dimana pemahaman pemahaman terhadap kondisi masyarakat ketika teks lahir akan sangat berarti. (c) Pendekatan tematis bukan hanya bertumpu pada ayat atau hadis yang berbicara tentang tema yang sama. 2009. menimbulkan soal besar. hukuman rajam jelas tidak berjalan seiring hukum nasional kita.memiliki akses terhadap teks eksplisit alquran dan assunnah. telah berlaku dan dipraktikkan secara nasional. Hukum Unsyiah. namun perlu diselami secara lebih mendalam hakikat keberadaan teks tersebut bagi manusia. 28 September 2009 9 8 . hukum positif kita yang berlaku secara nasional tidak mengenal keberadaan hukuman rajam. apalagi membenarkan. Harian Aceh Edisi senin.

responsif dan bersifat demokratis. yang menentukan tingkah laku manusia dalam lingkunagan masyarakat yang dibuat oleh badanbadan resmi yang berwajib.dilakukan oleh pihak Pemerintah Daerah Aceh kenapa qanun ini sampai tidak di tanda tangani. yang selalu mencari dan menumpuk pada strata yang paling rendah”. yaitu dengan hukuman tertentu. Termasuk juga pada pelanggar syariat islam yang rata-rata berasal dari kalangan strata rendah yang dikenai hukuman cambuk dan “mungkin hukuman rajam dengan adanya qanun jinayah tersebut”. oleh karenanya dari beberapa tanggapan masyarakat dapat dianalisa keseluruhannya menganggap Qanun tersebut sudah sesuai dengan harapan dan keinginan masyarakat Provinsi Aceh yang bersyariat islam. Agar tidak terjadi adanya diskriminasi dalam penerapan hukum sebagaimana teori di atas. qanun jinayah dan qanun acara jinayah tersebut dikaji kembali hingga qanun tersebut aspiratif. khususnya bagi kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan atau rentan.T Simorangkir mengemukakan bahwa hukum apabila dilihat dari artinya merupakan peraturan-peraturan yang bersifat memaksa. agar mampu memberikan pengaruh berarti terhadap proses pemerintahan dalam arti mulai proses pengambilan keputusan. Sehingga semakin rendah strata seseorang maka semakin banyak beban hukuman menumpuk padanya. Tujuan sebenarnya adalah terbukanya ruang yang luas pada masyarakat umumnya. Atas dasar inilah maka hendaknya.C. setidaknya dengan disahkannya aturan hukum tersebut dapat mengurangi tingkat pergaulan bebas yang menjurus ke zina baik itu yang dilakukan oleh muda-mudi maupun orang yang sudah berumahtangga12 11 12 Harian Aceh Edisi Selasa 17 September 2009 Harian Aceh Edisi Sabtu 26 September 2009 9 . pelaksanaan serta evaluasinya J.11 Menarik juga dilihat pendapat dari Donald Black dalam teori stratifikasi hukum yaitu “hukum bagaikan air. Dengan adanya qanun yang aspiratif serta responsif maka pelaksanaan syariah islam secara kaffah-pun dapat dijalankan dengan sendirinya. pelanggaran mana terhadap peraturan-peraturan tersebut berakibatkan diambilnya tindakan.

Apabila kita telaah dari berbagai azas hukum. dan juga diberikan pilihan kapada non muslim untuk memilih 13 Undang-undang No. dalam kontek ini hukum pidana yang berlaku umum dapat dikesampingkan oleh Qanun Jinayat dalam yang khusus karena berlaku secara teritorial dan individual terutama muslim untuk Provinsi Aceh.13 Yang menjadi pertanyaan apakah Qanun setara dengan KUHP? Tentu tidak kerana Qanun sama seperti Perda untuk Provinsi-Provinsi lain di Indonesia. kenapa demikian? Menurut hemat penulis karena secara hukum ada dualisme hukum positif yang berlaku di Aceh.Sebahagian masyarakat lainnya yang mendukung keberdaan qanun jinayah mengharapkan keberadaan Qanun Jinayat dengan beberpa hukumannya seperti “Zina: seseorang yang terbukti melakukan zina diancam dengan 100 kali cambuk bagi pasangan belum menikah dan pelemparan batu sampai mati bagi pasangan yang sudah menikah” setidaknya dapat menimbulkan “euphoria” efek. dengan demikian Qanun Jinayat dapat berwibawa hukum walaupun belum ada pelaku yang dijerat dengan disahkannya Qanun jinayat ini Prof Dr. sehingga diperlukan aturan teknisnya. Hukum Pidana yang berlaku secara umum di seluruh Indonesia. Akan tetapi dari azas hukum yang lain yaitu “lex specialist the rohgat lex generalist” dapat disimpulkan bahwa aturan hukum yang khusus dapat mengeyampingkan aturan hukum yang berlaku umum. dikatakan hukum yang dibawah tidak boleh bertentangan dengan hukum yang berada di atasnya. yaitu rasa takut yang berlebihan. karena dengan adanya rasa takut untuk dicambuk 100 kali bagi pasangan yang belum menikah dan pelemparan batu sampai mati bagi pasangan yang sudah menikah diharapkan dapat menjadi kegelisahan yang mendalam bagi pelaku yang mengetahuinya sebelum bertindak dan melakukan perbuatan-perbuatan yang mendekati zina. Maka kemungkinan untuk memilih hukum mana yang dipilih oleh jaksa dalam melakukan penuntutan masih sangat terbuka di Aceh karena adanya dualisme hukum tersebut. yang pertama hukum Syariat tentang Jinayat sesuai dengan amanat Undang-Undang Pemerintahan Aceh. Mahfud MD menyatakan Qanun Jinayat perlu aturan teknisnya.10 Tahun 2004 Tentang Pemebentukan Peraturan Perundang-Undangan 10 . Kedua. dalam hal ini biasanya yurisprudensi dari Mahkamah Agung.

Akan tetapi kebiasaannya dibutuhkan waktu sosialiasi yang kemungkinan sampai berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun untuk diketahui oleh hal layak masyarakat 11 . Namun dari sudut pandang Ulama “kalau kita memberikan hukuman bagi orang yang belum diberitahukan sebelumnya tentang hukuman yang bakal dijatuhkan kepadanya. Pemikiran tersebut tentu ada benarnya. disebut dengan istilah “penundukan hukum”. karena pemeritah juga dengan memberlakukan sebuah aturan hukum yaitu baik Undang-Undang maupun Qanun tidak serta merta biasanya langsung berlaku pada saat detik. sama halnya kita telah bertindak zalim kepada orang tersebut”. jam.aturan hukum yang mana dari kedua aturan hukum tersebut. hari dan tanggal itu juga.

278 12 . Beirut. 2009 Muhammad Husen. Dar al-Qutub. Hukum Rajam. Hukum Unsyiah. Aceh Madani dalam Wacana. 1970 Rahmat Djatnika. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Daerah Istimewa Aceh.DAFTAR KEPUSTAKAAN Muhammad Siddiq dan Chairul Fahmi. Bandung. t. Hukum Unsyiah. 2009 Imam Shiddiq Hasan Khan . Adat Aceh. hlm.t. Hukum Islam di Indonesia Perkembangan dan Pembentukan. PT Remaja Rosdakarya. 1994 Harian Aceh. Aceh Justice Resource Center Fak. 2009 Tim Penulis AJRC. Banda Aceh. At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah Ala Ar-Raudhah AnNadiyyah. Banda Aceh. Dkk. Banda Aceh. Aceh Justice Resource Center Fak. Banda Aceh.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful