P. 1
Prinsip Dasar Penanganan Fraktur

Prinsip Dasar Penanganan Fraktur

|Views: 67|Likes:
Published by Irene Yemima Dalope

More info:

Published by: Irene Yemima Dalope on Jul 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/10/2012

pdf

text

original

Prinsip Dasar Penanganan Fraktur

1. Revive; Yaitu penilaian cepat untuk mencegah kematian, apabila pernafasan ada

2.

3.

4. 5.

hambatan perlu dilakukan therapi ABC (Airway, Breathing, Circulation) agar pernafasan lancar. Review; Yaitu berupa pemeriksaan fisik yang meliputi : look feel, novemert dan pemeriksaan fisik ini dilengkapi dengan foto rontgent untuk memastikan adanya fraktur. Repair; Yaitu tindakan pembedahan berupa tindakan operatif dan konservatif. Tindakan operatif meliputi : Orif, Oref, menjahit luka dan menjahit pembuluh darah yang robek, sedangkan tindakan konservatif berupa pemasangan gips dan traksi. Refer; Yaitu berupa pemindahan pasien ke tempat lain, yang dilakukan dengan hatihati, sehingga tidak memperparah luka yang diderita. Rehabilitation; Yaitu memperbaiki fungsi secara optimal untuk bisa produktif.

Proses penyembuhan tulang 1. Stadium Satu-Pembentukan Hematoma; Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur. 2. Stadium Dua-Proliferasi Seluler; Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. 3. Stadium Tiga-Pembentukan Kallus; Sel–sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik (bersifat menghasilkan/membentuk tulang), bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago. 4. Stadium Empat-Konsolidasi; Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. 5. Stadium Lima-Remodelling; Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus. Komplikasi fraktur 1. Malunion, adalah suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam posisi yang tidak pada seharusnya, membentuk sudut atau miring 2. Delayed union adalah proses penyembuhan yang berjalan terus tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal. 3. Nonunion, patah tulang yang tidak menyambung kembali. 4. Compartment syndroma adalah suatu keadaan peningkatan takanan yang berlebihan di dalam satu ruangan yang disebabkan perdarahan masif pada suatu tempat. 5. Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur. 6. Fat embalism syndroma, tetesan lemak masuk ke dalam pembuluh darah. Faktor resiko terjadinya emboli lemak ada fraktur meningkat pada laki-laki usia 20-40 tahun, usia 70 sam pai 80 fraktur tahun.

Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka. trombo vena dalam sering terjadi pada individu yang imobiil dalam waktu yang lama karena trauma atau ketidak mampuan lazimnya komplikasi pada perbedaan ekstremitas bawah atau trauma komplikasi paling fatal bila terjadi pada bedah ortopedil 8. perubahan tropik dan vasomotor instability. 3.5 sampai 5. Tromboembolic complicastion.5 cm 4. 2. Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam atau beberapa hari setelah cedera. Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur. Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan. Deformitas dapat disebabkan pergeseran fragmen pada eksremitas. pada umumnya berkaitan dengan aseptika atau necrosis iskemia. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam.7. 9. 5. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang. . Pemendekan tulang. tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya. Infeksi. Avascular necrosis. Mungkin karena nyeri. 10. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi. Deformitas dapat di ketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal. hal ini disebabkan oleh hiperaktif sistem saraf simpatik abnormal syndroma ini belum banyak dimengerti. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2. teraba adanya derik tulang. Refleks symphathethic dysthropy. Manifestasi klinis: 1. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya obat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->