P. 1
Metode Pengujian Impak

Metode Pengujian Impak

|Views: 990|Likes:
Published by ima_brilliant

More info:

Published by: ima_brilliant on Jul 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2013

pdf

text

original

Metode Pengujian Ìmpak

Kekuatan impak adalah salah satu kriteria penting dalam ilmu metalurgi. Pengujian ini adalah untuk
menentukan sifat perpatahan suatu logam, keuletan maupun kegetasannya. Pada umumnya
pengujian impak menggunakan batang bertakik. Berbagai jenis pengujian impak batang bertakik
telah digunakan untuk menentukan kecenderungan bahan untuk bersifat getas. Dengan jenis uji ini
dapat diketahui perbedaan sifat bahan yang tidak teramati dalam uji tarik. Beberapa kasus laju
pembebanan tidak dapat ditetapkan dengan baik, maka oleh karena itu perlu hati-hati dalam
membandingkan hasil satu sama lain.
Hasil yang diperoleh dari uji batang bertakik tidak langsung sekaligus memberikan besaran
rancangan yang dibutuhkan, karena tidak mungkin mengukur komponen tegangan tiga sumbu pada
takik. Para peneliti perpatahan getas logam telah menggunakan berbagai bentuk benda uji untuk
pengujian impak bertakik.
Secara umum harga impak (HÌ) didefinisikan sebagai perbandingan antara energi yang digunakan
untuk mematahkan bahan (U) dengan luas penampang sisa setelah diberi takikan [Avner, 1964].
Proses Pengujian impak umumnya terdapat dua metoda percobaan, yaitu [Avner, 1964]:
1. Metoda Ìzod
Metode izod menggunakan batang impak kontiveler. Benda uji izod lazim digunakan di Ìnggris,
namun saat ini jarang digunakan. Benda uji izod mempunyai penampang lintang bujursangkar atau
lingkaran dan bertakik V di dekat ujung yang dijepit.


2. Metoda Charpy
Metoda Charpy menggunakan batang impak biasa, biasa digunakan di Amerika Serikat. Benda uji
Charpy mempunyai luas penampang lintang bujursangkar (10 x 10 mm) dan mengandung takik V-
45o, dengan jari-jari dasar 0,25 mm dan kedalaman + 2 mm. Benda uji diletakan pada tumpuan
dalam posisi mendatar dan bagian yang tak bertakik diberi beban impak dengan ayunan bandul
(kecepatan impak sekitar 16 ft/detik). Benda uji akan melengkung dan patah pada laju regangan
yang tinggi, kira-kira 103 detik-1.
Perbedaan cara pembebanan antara metoda Ìzod dan metoda Charpy, ditunjukkan pada gambar
2.1.












Gambar 1 Sketsa yang menggambarkan metode pembebanan pada uji impak Ìzod dan Charpy
[Avner, 1964].

Kendala plastis pada takik menghasilkan keadaan tegangan tiga sumbu. Konsentrasi tegangan
plastis maksimum diberikan oleh persamaan:
Ka = ( 1 + ¬/2 ÷ o/2) ...................................................................(1)
Keterangan ; o : sudut antara sisi takik.
Ka : Konsentrasi tegangan
Nilai relatif ketiga tegangan utama sangat tergantung pada dimensi batang dan ukuran takik. Benda
uji standar cukup tebal untuk menjamin pembebanan regangan bidang yang tinggi dan terbentuknya
triaksidialitas pada hampir di seluruh penampang lintang takik. Dengan demikian, benda uji takik V
Charpy standar, memberikan kondisi yang baik bagi pengujian patah getas. Oleh karena itu,
pemakaian benda ini harus dilakukan dengan hati-hati.
Pada uji impak kita mengukur energi yang diserap untuk mematahkan benda uji. Setelah benda uji
patah, bandul berayun kembali. Makin besar energi yang diserap, makin rendah ayunan kembali
dari bandul. Energi perpatahan yang diserap biasanya dinyatakan dalam joule atau foot-pound dan
dibaca langsung pada skala petunjuk (dial) yang telah dikalibrasi yang terdapat pada mesin penguji.
Energi yang diperlukan untuk mematahkan benda uji Charpy sering kali diberi tanda CV 25 ft-lb. Di
Eropa hasil uji impak seringkali dinyatakan sebagai energi yang diserap tiap satuan luas penampang
lintang benda uji. Perlu diingat bahwa energi perpatahan yang diukur dengan uji Charpy hanyalah
energi relatif dan tidak bisa digunakan secara langsung dalam persamaan perancangan.
Pengukuran lain dari uji Charpy yang biasanya dilakukan adalah penelaahan permukaan patahan
untuk menentukan jenis patahan yang terjadi; patahan berserat (patahan geser), granular (patahan
belah), atau campuran dari keduanya. Bentuk patahan yang berbeda-beda ini dapat ditentukan
dengan mudah, walaupun pengamatan permukaan patahan tidak menggunakan perbesaran. Facet
permukaan patahan belah yang datar memperlihatkan daya pemantul cahaya yang tinggi serta
penampilan yang berkilat.

Gambar 2 Alat uji impak Charpy

Sementara permukaan patahan ulet berserat yang berbentuk dimpel menyerap cahaya serta
penampilan yang buram. Biasanya dibuat suatu perkiraan berapa persen (%) patahan permukaan
yang terjadi berupa patahan belah atau serat.
Memperlihatkan perubahan permukaan patahan sejalan dengan naiknya suhu serta persen
perpatahannya. Patahan berbentuk serat, pertama kali tampak di sekitar permukaan luar dari benda
uji (tepi geseran) di mana kendala trisumbu (triaksial) berakhir. Minimal pengukuran jenis ketiga
yaitu pengukuran keuletan dalam bentuk persen pengkerutan benda uji pada takik, kadang-kadang
dilakukan pula pada uji Charpy.

2.2. Ukuran Benda Uji Ìmpak
Untuk mendapatkan hasil yang representatif, maka batang uji harus distandarkan baik ukuran dan
tipe takikannya. Benda uji atau spesimen harus benar-benar telah dikerjakan dengan baik dengan
ketentuan kehalusan tertentu. Bahkan selama preparasi spesimen uji impact, material tidak boleh
mengalami pengaruh deformasi, maupun pengaruh pengerjaan panas. Dengan demikian kondisi
temperatur pengerjaan preparasi harus dalam kondisi dingin agar tidak mempengaruhi struktur
mikro materialnya.
Ukuran dan tipe takikan yang digunakan untuk uji impact. Beberapa tipe takikan spesimen uji impact
metoda charpy yaitu tipe (A, B dan C) dapat dilihat pada Gambar 3 terlihat ada tiga tipe spesimen
yaitu : tipe A atau V (V Notch), tipe B atau lubang kunci (key notch) dan tipe C atau U (U Notch).













Gambar.3 Standar spesimen metode charpy tipe A, B dan C [Avner,1964]


Ukuran beberapa jenis spesimen uji impact dengan metode charpy bisa disesuaikan dengan tebal
yang akan diuji seperti pada gambar 4.



Gambar 4 Ukuran beberapa Jenis spesimen uji impact dengan metode charpy [Avner,1964]

Tipe dan ukuran spesimen metode izod yaitu tipe D dengan ukuran seperti gambar 4 standar
spesimen uji impact metode charpy pada material. Cara pengujian dengan metode izod sesuai
dengan gambar 5, benda uji atau spesimen diklem tegak lupus tepat pada bagian yang ditakik yang
kemudian dipukul dengan palu dari bagian muka yang ditakik. Posisi spesimen uji impact dengan
metode izod, berikut usuran palu dan syarat-syarat yang harus dipenuhi saat melakukan pengujian
impact (sesuai standar ASTM).



Gambar 5 Standar spesimen metode izod [Avner,1964)

2.3. Kurva Hasil Uji Ìmpak Pada Suhu Peralihan
Uji impak batang bertakik sangat bermanfaat apabila dilakukan pada berbagai suhu sedemikian
hingga besarnya suhu peralihan ulet-getas dapat ditentukan. Besarnya energi yang diserap akan
berkurang apabila suhunya turun, tetapi pada beberapa jenis bahan, penurunan nilai tersebut tidak
terjadi pada nilai temperatur tertentu. Hal ini akan mempersulit penentuan suhu peralihan secara
tepat.
Pemanfaatan utama hasil uji Charpy dalam rekayasa untuk memilih bahan yang tahan terhadap
patah getas dengan menggunakan kurva suhu peralihan. Dasar pemikiran perancangan adalah
memilih bahan yang mempunyai ketangguhan takik yang memadai untuk berbagai kondisi
pembebanan yang berat sedemikian hingga kemampuan dukung beban bagian konstruksi dapat
dihitung dengan menggunakan metode kekuatan standar, tanpa memperhatikan sifat-sifat patah dari
bahan atau efek konsentrasi tegangan retak atau cacat.
Suhu peralihan bahan dapat digolongkan menjadi 3 kategori. Logam kps (FCC) berkekuatan
menengah dan rendah dan sebagian besar logam heksagonal tumpukan padat mempunyai
ketangguhan takik yang demikian tingginya sehingga kepatahan getas tidak merupakan persoalan,
terkecuali dalam lingkungan kimiawi khusus yang relatif.
Bahan berkekuatan tinggi (o0 > E/150) mempunyai ketangguhan takik demikian rendahnya,
sehingga patah getas dapat terjadi akibat beban nominal di daerah elastis pada sembarang suhu
dan laju regangan, apabila terdapat cacat (retakan).
Baja berkekuatan tinggi, contohnya paduan titanium dan aluminium termasuk dalam kategori ini.
Pada suhu rendah, terjadi patah pembelahan getas, sedangkan pada suhu yang lebih tinggi terjadi
perpatahan energi rendah. Pada kondisi seperti inilah, analisis mekanika patahan merupakan hal
yang berguna dan wajar. Ketangguhan takik logam kubik pusat ruang (BCC) berkekuatan
menengah dan rendah, Be, Zn dan bahan keramik sangat tergantung pada suhu [Davis, 1964].
Pada suhu rendah, patah terjadi secara pembelahan, sedangkan pada suhu tinggi terjadi
perpatahan ulet. Jadi, terdapat peralihan dari takik getas ke takik tangguh, apabila suhu naik. Pada
logam, peralihan ini terjadi pada 0,1 hingga 0,2 suhu lebur absolut, Tm, sementara untuk keramik,
peralihan terjadi antara 0,5 hingga 0,7 Tm.


Gambar 6 Kurva suhu peralihan untuk dua jenis logam, memperlihatkan ketergantungan hasil pada
suhu tertentu [Avner,1964].

Dalam penggunaan kurva suhu peralihan ini sangat membantu sekali dalam pengujian impak. Dasar
pemikiran penggunaan kurva suhu peralihan terpusatkan pada penentuan suhu, patah getas
terendah untuk level tegangan elastis. Makin tinggi suhu tersebut maka makin tinggi tingkat atau
sifat kegetasanya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->