P. 1
tentang terorisme

tentang terorisme

|Views: 527|Likes:
Published by Anggoro Arif

More info:

Published by: Anggoro Arif on Jul 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/25/2013

pdf

text

original

LATAR BELAKANG MASALAH Aksi terorisme modern internasional yang pertama terjadi pada tanggal 22 Juli 1968, yaitu

ketika tiga orang dari kelompok Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) membajak sebuah penerbangan komersil Israel El Al yang sedang terbang dari Roma, Italia ke Tel Aviv, Israel. Aksi ini menjadi sorotan dunia internasional karena secara jelas menggambarkan sebuah kegiatan yang mempunyai tujuan-tujuan politis dan menggunakan kekerasan dalam mewujudkan tujuan tersebut [1][1]. Selang 53 tahun kemudian, tepatnya tanggal 11 September 2001, dunia internasional kembali dikejutkan dengan sebuah aksi terorisme yang fenomenal. Tiga pesawat penerbangan komersil Amerika Serikat dibajak, dua diantaranya ditabrakan ke menara kembar Twin Towers World Trade Center (WTC) dan gedung Pentagon. Dikenal dengan sebutan Tragedy 911, kejadian ini menjadi titik tolak persepsi dunia internasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat untuk memerangi terorisme. Kerugian yang disebabkan oleh terorisme adalah sangat signifikan baik secara finansial maupun nyawa [2][2]. Dari sisi inilah kemudian dunia internasional mempunyai kepentingan bersama atau common interests untuk mengatasi permasalahan dari terorisme. Keinginan bersama ini dituangkan dalam berbagai peraturan internasional, mulai dari Convention for the Suppression of Unlawful Seizure of Aircraft, atau lebih dikenal dengan Hague Convention tahun 1970 sampai ke Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Nomor 1368 tanggal 12 September 2001 yangl berkaitan dengan tragedi 911. Peran hukum internasional, terlepas dari faktor kepatuhan dan pelaksanaannya, menjadi sangat penting mengingat urgensi dari permasalahan terorisme ini. Secara historis, terorisme mempunyai sejarah yang sangat panjang sampai ke masa Yunani Kuno ketika Xenophon menulis tentang efektifitas perang psikologi terhadap populasi musuh. Setiap aksi terorisme mempunyai tujuan dan motivasi berbeda-beda, mulai dari tujuan umum sampai tujuan khusus yang berbeda menurut keadaannya. Hoffman dalam bukunya menerangkan bahwa : “The goals and motivations of terrorists…,vary widely, from such grand schemes as the total remaking of society along doctrinaire ideological lines of the fulfilment of some divinely inspired millenarian imperative to comparatively more distinct aims such as the re-establishment of a national homeland or the unification of a divided nation.” [3][3] Sedikit sulit untuk menentukan secara sosiologis apakah terorisme itu merupakan suatu hal yang negatif atau positif. Pada waktu Revolusi Perancis tahun 1789-1793, terorisme dikenal sebagai suatu konotasi yang positif. Terorisme dikenal sebagai sistem atau regime de la terreur yang pada waktu itu berarti mekanisme untuk menumpas musuh rakyat, “Hence, unlike terrorism as it is commonly understood today, to mean a revolutionary or anti-government activity undertaken by non-state or subnational entities, the regime de la terreur was an instrument of governance wielded by the recently established revolutionary state. It was designed to consolidate the new government’s power by intimidating counter-revolutionaries, subversives and all other dissidents whom the new regime regarded as ‘enemies of the people’.” [4][4] Hal ini berbeda dengan pengertian umum tentang terorisme sekarang ini, yaitu antara lain adalah sebuah kebijakan untuk menyerang orang-orang yang melawan kebijakan tersebut,

penggunaan metode intimidasi, meneror ataupun kondisi yang terteror [5][5]. Dari penjelasan diatas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa telah terjadi sebuah perubahan makna yang cukup fundamental dengan istilah terorisme secara umum. Terlebih lagi jika terorisme dikaitkan dengan agama sebagai dasar untuk melakukan aksi terorisme tersebut. Ketika kekecewaan secara internasional untuk sebuah perlakuan adil tereskalasi sehingga pada satu titik puncak dimana hal tersebut menjadi alasan pembenar untuk meminta keadilan versi dirinya sendiri. Segala tindakan yang bersifat ketidakadilan digunakan untuk meminta keadilan yang tidak terpuaskan. Dari sinilah timbul aksi-aksi yang mempunyai potensi destruktif yang lebih dikenal dengan istilah terorisme. PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan dari latar belakang yang telah dipaparkan diatas, tulisan ini akan lebih menekankan pada aspek hukum internasional mengenai terorisme. Aspek tersebut menyangkut baik tentang teori maupun praktek dari hukum internasional yang berkaitan dengan terorisme dengan mengambil contoh tragedi 911 di Amerika Serikat. Kemudian setelah itu akan dilihat dari sisi negara Indonesia dan segala tuduhan akan terorisme dari beberapa negara di dunia. Perumusan masalah tulisan ini adalah sebagai berikut \ 1. Bagaimana terorisme muncul sebagai suatu gerakan yang mempunyai potensi destruktif yang sangat besar, termasuk dalam pertanyaan ini adalah mengenai motif dan tujuan dari terorisme ? 2. Bagaimana dunia internasional melalui hukum internasional mengatur mengenai terorisme dan implikasi hukum apa saja yang timbul akibat pengaturan internasional tersebut ? 3. Bagaimana sikap dan kebijakan politik luar negeri Indonesia berkaitan dengan permasalahan terorisme dan segala tuduhan yang menyangkut terorisme di Indonesia ? DEFINISI TERORISME Terorisme Secara Umum Pada saat ini tidak ada definisi hukum secara universal mengenai istilah terorisme. Hal ini menimbulkan banyak perdebatan mengenai pelaksanaan suatu aturan kepada suatu hal yang belum jelas definisi hukumnya. Pembuktian akan suatu hal akan menjadi sulit ketika hal tersebut belum mempunyai definisi secara hukum. Kurang lebih ada lima usulan definisi tentang terorisme, baik dari negara-negara maupun organisasi internasional seperti PBB. Dari kelima usulan tersebut, usulan yang mempunyai cakupan lebih luas adalah usulan dari konsensus akademis tahun 1999, yaitu : “Terrorism is an anxiety-inspiring method of repeated violent action, employed by (semi-) clandestine individual, group, or state actors, for idiosyncratic, criminal or political reasons, whereby—in contrast to assassination—the direct targets of attacks are not the main targets. The immediate human victims of violence are generally chosen randomly (targets of opportunity) or selectively (representative or symbolic targets) from a target population, and serve as message generators. Threat—and violence—based communication processes between terrorist (organization), (imperiled) victims, and main targets are used to manipulate the main target (audience(s)), turning it into a target of terror, a target of demands, or a target of attention, depending on whether intimidation, coercion, or propaganda is primarily sought” [6][6]

Sedikitnya ada tiga elemen yang harus dipenuhi untuk dapat memenuhi unsur definisi diatas, yaitu Motif Politik, Rencana atau Niat, dan Penggunaan Kekerasan. Jika dicermati definisi hukum terorisme ini, maka dapat dilihat bahwa definisi ini hanya melihat dari sisi aksi kekerasan atau violent action dari terorisme. Hal ini dapat diartikan bahwa jika sebuah tindakan yang tidak memakai aksi kekerasan tetapi mempunyai efek yang sama, tidak masuk dalam definisi hukum tersebut diatas. Secara hipotetis, jika seorang ahli komputer menyerang atau melakukan hacking, terhadap sebuah alat transportasi massal, yaitu kereta api yang memakai sistem komputer. Tindakannya berakibat bertabrakannya dua buah kereta api tersebut sehingga menimbulkan korban jiwa, maka dapat disimpulkan bahwa tindakan ahli komputer tersebut tidak masuk dalam kategori aksi terorisme karena dia tidak melakukan tindakan kekerasan yang diharuskan dalam definisi hukum diatas. Dalam kerangka hukum internasional, sebuah perjanjian internasional sebagai salah satu sumber hukum internasional [7][7], hanya dapat berlaku untuk suatu negara jika negara itu tunduk pada perjanjian tersebut atau consent to be bound [8][8]. Jika dikaitkan dengan permasalahan definisi hukum terorisme, maka secara teoritis dapat dengan mudah diambil suatu ketundukan pada suatu definisi hukum akan terorisme. Akan tetapi secara praktis, sangatlah sulit untuk melihat ketundukan suatu negara terhadap sebuah perjanjian internasional, mengingat posisi setiap negara yang mempunyai kedaulatan yang sama [9] [9] dalam hukum internasional dan setiap negara harus menghormati kedaulatan negara lain [10][10]. Pihak dalam Terorisme Dalam praktik setidaknya ada tiga pihak yang selalu berkaitan dengan terorisme, yaitu grup teroris itu sendiri, negara yang mendukung teroris, dan negara yang memerangi teroris. Baik negara yang mendukung maupun memerangi terorisme dapat dikatakan sebagai sesuatu yang pasti ada dalam terorisme. Peran kedua negara ini sangatlah berbeda, yaitu bahwa negara yang mendukung terorisme akan memberikan safe heaven, atau kemudahan baik dalam bentuk dukungan maupun materil, sementara negara yang memerangi adalah negara yang menolak dengan segala cara baik dengan menangkap ataupun menghukum terorisme. Perbedaan ideologi ditambah dengan kepentingan politik membuat kesenjangan yang sudah ada menjadi lebih runcing dan memicu adanya gerakan terorisme [11][11]. Pada akhirnya, mungkin gerakan terorisme menjadi sebuah gerakan semu yang sudah terpengaruh dengan ideologi negara yang mendukung gerakan tersebut. PERATURAN INTERNASIONAL TENTANG TERORISME Konvensi Internasional PBB sebagai salah satu organisasi internasional di dunia telah menjadi pusat pengkajian akan perjanjian-perjanjian internasional yang berkenaan dengan terorisme. Ada 12 perjanjian internasional yang berkaitan dengan terorisme, walaupun sangat terbatas, yaitu [12][12] : 1. Convention on Offences and Certain Other Acts Committed On Board Aircraft (“Tokyo Convention,” 1963). 2. Convention for the Suppression of Unlawful Seizure of Aircraft (“Hague Convention,” 1970) 3. Convention for the Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of Civil Aviation

(“Montreal Convention,” 1971) 4. Convention on the Prevention and Punishment of Crimes Against Internationally Protected Persons (1973) 5. International Convention Against the Taking of Hostages (“Hostages Convention,” 1979) 6. Convention on the Physical Protection of Nuclear Material (“Nuclear Materials Convention,” 1980) 7. Protocol for the Suppression of Unlawful Acts of Violence at Airports Serving International Civil Aviation, supplementary to the Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation, (1988) 8. Convention for the Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of Maritime Navigation (1988) 9. Protocol for the Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of Fixed Platforms Located on the Continental Shelf (1988) 10. Convention on the Marking of Plastic Explosives for the Purpose of Detection (1991) 11. International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing (1997 UN General Assembly Resolution) 12. International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism (1999) Cyber-terorisme Selain kurang efektifnya pengaturan internasional karena didasarkan pada pelaksanaannya yang masih sangat memprihatinkan, dunia internasional nampaknya harus bekerja keras untuk memprediksi jenis aksi-aksi terorisme di masa depan. Aksi terorisme di masa depan dapat dipastikan lebih destruktif dengan cara yang lebih modern, yaitu tehnologi komputer. Untuk saat ini belum ada konvensi internasional yang mengatur mengenai terorisme dengan alat tehnologi komputer, atau lebih dikenal dengan cyber-terorisme. Ketergantungan dunia yang global akan komputer membuat rentan sistem akses pada teknologi internet, “The vulnerabilities created by access to information, and to information architecture, outstrip by far, those of any analogous reference point in the history of civilization. Every hacker, criminal and government with the equipment, minimal expertise, and raw determination to intrude has the capability of bringing harm to both individuals and structures” [13][13] Potensi destruktif akan sangat besar, mengingat era informasi dimana hampir seluruh dunia sudah terkoneksi dengan tehnologi internet. Segala ketentuan internasional yang ada akan menjadi rancu jika terorisme dilancarkan dengan teknologi komputer. Ketentuan internasional yang mengatur permasalahan non-armed attack, yaitu penyerangan tanpa kekerasan sangatlah terbatas, salah satu dari sedikit ketentuan yang dapat mengatur tehnologi komputer ini adalah dengan resolusi Majelis Umum PBB no. 3314, pun kekuatan ketentuan ini masih sangat dapat diperdebatkan, “...the use of armed force by a state against the sovereignty, territorial integrity or political independence of another state, or in any manner inconsistent with the Charter...” [14][14] KEWAJIBAN NEGARA ATAS TERORISME Berkaitan dengan kewajiban setiap negara untuk memerangi terorisme, Dewan

supporting or harbouring the perpetrators. resolusi tersebut adalah resolusi tercepat dalam sejarah yang pernah dikeluarkan oleh PBB. Jerman dan Iran. Akan tetapi. Secara Hukum Internasional. “Nothing in the present Charter shall impair the inherent right of individual or collective self-defence if an armed attack occurs against a Member of the United Nations.Keamanan PBB mengeluarkan beberapa resolusi yang secara teori wajib untuk diikuti sebagai anggota dari PBB seperti yang tercantum dalam pasal 25 dari Piagam PBB yaitu “The members of the United Nations agree to accept and carry out the decisions of the Security Council in accordance with the Present Charter”. Amerika Serikat tetap melancarkan serangannya untuk mencari Pemimpin gerakan Al-Qaeda yang diduga sebagai dalang dari tragedi 911. Dalam kasus Nikaragua melawan Amerika Serikat. Secara teoritis setiap negara anggota PBB mempunyai kewajiban untuk memerangi terorisme dengan segala cara atau by any means. “All members shall refrain in their international relations from the threat or use of force . Tidak ada penyelesaian secara damai seperti yang tercantum dalam Pasal 2. Arti dari armed attack itu sendiri adalah serangan bersenjata dimana tidak ada fakta yang membuat bahwa tragedi 911 adalah sebuah serangan bersenjata.1368 tanggal 12 September 2001 dan prinsip Self-Defence yang tercantum dalam pasal 51 Piagam PBB. until the Security Council has taken measures necessary to maintain international peace and security……” [16][16] Jika melihat dari tanggal dikeluarkannya resolusi DK PBB No. sehari setelah terjadinya tragedi 911. bahkan sampai menggulingkan sebuah pemerintahan yang berdaulat. organizers and sponsors of these acts will be held accountable” [15][15] Dari sini dapat dilihat bahwa setiap negara mempunyai jurisdiksi universal berkenaan dengan terorisme. Amerika membenarkan tindakannya melakukan serangan terhadap Afghanistan. Selain itu kalimat dari armed attack di dalam pasal 51 di atas sangatlah terbatas [17][17]. TRAGEDI 911 WORLD TRADE CENTER (WTC) Salah satu contoh yang cukup penomenal berkaitan dengan terorisme adalah tragedi 911 WTC di Amerika Serikat. dalam praktik Cina yang menjadi salah satu anggota permanen dari Dewan Keamanan PBB. Mahkamah Pengadilan Internasional menilai bahwa tidak ada aturan dalam hukum kebiasaan internasional yang mengizinkan negara lain untuk melakukan hak dari kolektif self-defence dengan dasar penilaiannya sendiri atas situasi yang terjadi [18][18]. Dasar yang dipakai adalah Resolusi DK-PBB No. secara jelas menolak untuk memerangi terorisme dengan membuat proses koalisi dengan negara-negara seperti Libya. organizers and sponsors of these terrorist attacks and streesses that those responsible for aiding.1368 tersebut yaitu tanggal 12 September 2001. Walaupun serangan Amerika Serikat itu mendapat kritik yang sangat tajam. Salah satu resolusi DK PBB adalah resolusi nomor 1368 tanggal 12 September 2001 yang berisikan : “Calls those state to work together urgently to bring justice the perpetrators. khususnya dari negara-negara Islam atau yang mempunyai mayoritas penduduk Islam. paragraf 4 dari Piagam PBB. walaupun hal itu adalah suatu kewajiban bagi setiap negara anggota PBB untuk melaksanakannya.

maka seseorang tidak dapat dihukum. “The emergence of obscure. karena permasalahan gerakan terorisme yang berdasarkan pada agama hanya dapat diselesaikan dengan cara berkomunikasi. Berkaitan dengan isu terorisme. Dari sisi hukum. memang agak pelik untuk dilihat. Bahkan Hoffman mengatakan bahwa terorisme yang didasari agama cenderung lebih berbahaya dari terorisme yang berdasarkan politis. akan tetapi ikut terlibat dan berpartisipasi dalam mencari solusi untuk permasalahan yang ada [20][20]. sementara Aktif berarti Indonesia tidak pasif dalam permasalahan internasional. idiosyncratic millenarian movements. Gerakan Muslim di Algeria sampai dengan kelompok katholik IRA. Bebas disini berarti Indonesia tidak berpihak pada kekuatan dunia. sesuai dengan kewajibannya sebagai anggota PBB. Indonesia dengan jelas memperlihatkan sikap memerangi terorisme. secara hukum internasional. adalah bahwa penomena terorisme telah menjadi isu global yang mempunyai efek cukup signifikan terhadap semua negara di dunia. or in any other manner inconsistent with the purposes of the United Nations. Jika tidak diselesaikan secara menyeluruh dalam artian melibatkan semua fihak maka permasalahan ini tidak akan bisa selesai. zealously nationalist religious group. bahkan tragedi 911 sendiri mempunyai hubungan erat dengan gerakan Al-Qaeda yang beragamakan Islam. TUDUHAN TERORISME DI INDONESIA Berkenaan dengan banyaknya tuduhan terorisme terhadap Indonesia karena dianggap sebagai safe heaven bagi para teroris. KESIMPULAN DAN SARAN Sebagai kesimpulan dari penulisan karya ilmiah ini. Akan tetapi sampai saat ini Indonesia belum meratifikasi konvensi internasional yang berkaitan dengan permasalahan terorisme. Secara praktik sebagian besar aksi terorisme mempunyai hubungan terhadap agama Islam dimana mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Secara historis hubungan antara terorisme dengan agama sangatlah erat. membuat Indonesia tidak tunduk pada ketentuan-ketentuan internasional mengenai permasalahan terorisme. Indonesia berbeda dengan negara seperti Singapura dan Malaysia yang mempunyai Internal Security Act. Indonesia adalah negara yang menganut sistem praduga tidak bersalah dimana jika tidak ada bukti yang substantif. Untuk saran atas permasalahan terorisme ini diperlukan adanya pelaksanaan mekanime .” [19][19] KEBIJAKAN LUAR NEGERI INDONESIA Kebijakan luar negeri Indonesia adalah Politik Bebas dan Aktif. bukan dengan kekerasan. Hal ini. certainly a farmore amorphous and diffuse one” [21][21] Akan tetapi gerakan-gerakan itu hendaknya jangan dijadikan generalisasi untuk isi dari suatu agama yang ada di dunia. mulai dari Teroris Yahudi pada masa sebelum kemerdekaan Israel. and militantly anti-government.against the territorial integrity or political independence of any state. far-right paramilitiary organizations arguably represents a different and potentially far more lethal threat than traditional terrorist advesaries.

semua kembali kepada keinginan dari negara-negara di dunia untuk benar-benar mengatasi permasalahan terorisme. mediation. klik Re’gister untuk menjadi free member di Indoskripsi.yang sudah ada di dalam piagam PBB sendiri. pasal 33 yang mengatakan : “The parties to any dispute. first of all. judicial settlement. Pendapat lain mengatakan bahwa sebaiknya perjanjian mengenai ekstradisi diperbanyak dan ketentuan mengenai pengecualian atas penyerangan atas dasar politis dipersempit atau bahkan dihapuskan 3. juga diperlukan sebuah konsistensi sikap atas permasalahan terorisme dalam hukum internasional. Bahwa negara yang mendukung terorisme harus dihukum Walaupun banyak tersedia berbagai solusi penyelesaian atas permasalahan terorisme. enquiry. anda harus menjadi special member. A refugee group in the hope of achieving at least some of their political objectives may be inclined to exercise self-restraint. or other peaceful means of their own choice” Baik dari negara yang mendukung aksi teroris untuk alasan-alasan tertentu. harus mempunyai keinginan untuk melaksanakan ketentuan tersebut diatas. [22] [22] Selain saran diatas. by showing their willingness to negotiate. community. 3. the continuance of which is likely to endanger the maintenance of international peace and security. maupun negara yang memerangi aksi teroris. Ada tiga jenis remedi untuk permasalahan terorisme yang sering diusulkan oleh para ahli hukum. karena kunci akan permasalahan terorisme adalah kesepakatan dan konsistensi dari negara-negara di dunia untuk menyelesaikannya • • click link 1982 clicks Untuk dapat merequest file lengkap yang dilampirkan pada setiap judul. 4 The suppressive states. resort to regional agencies or arrangements. . concilliation. shall. may establish their credibility among the international . Keuntungan dari pelaksanaan secara damai atau negoisasi tersebut adalah : 1. It will establish channels of communication between the parties. arbitration. Beberapa ahli hukum berpendapat bahwa teroris harus diperlakukan seperti layaknya kriminal dan hukuman yang ketat harus dijalankan sesuai dengan ketentuan mengenai terorisme 2. yaitu penyelesaian secara damai. The principal supportive states may influence the refugee group to refrain from violence while the process is under way. seek a solution by negotiation. sehingga dapat dihindarkan metode standar ganda guna menjaga perdamaian dan keamanan dunia. 2. including some supportive states. yaitu [23][23] 1.

aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil. pasukan perang salib. Tetapi dalam pembenaran dimata terrorism : "Makna sebenarnya dari jihad. Istilah teroris oleh para ahli kontraterorisme dikatakan merujuk kepada para pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal atau tidak menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut. tidak menggunakan pesawat tempur. melainkan menggunakan pesawat komersil milik perusahaan Amerika sendiri. namun menjadi aktual terutama sejak terjadinya peristiwa World Trade Center (WTC) di New York. 45 orang tewas dalam pesawat keempat yang jatuh di daerah pedalaman Pennsylvania. menurut Dana Yatim-Piatu Twin Towers. sehingga tidak tertangkap oleh radar Amerika Serikat.500 anak kehilangan orang tua. Aksi terorisme juga mengandung makna bahwa serangserangan teroris yang dilakukan tidak berperikemanusiaan dan tidak memiliki justifikasi. Seperti ketika Amerika Serikat banyak menyebut teroris terhadap berbagai kelompok di dunia. militan. Selain oleh pelaku individual.Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Washington. dua diantaranya ditabrakkan ke menara kembar Twin Towers World Trade Centre dan gedung Pentagon. pejuang pembebasan. Padahal. Misalnya seperti dikemukakan oleh Noam Chomsky yang menyebut Amerika Serikat ke dalam kategori itu. terorisme bisa dilakukan oleh negara atau dikenal dengan terorisme negara (state terorism). 189 orang tewas. Padahal Terorisme sendiri sering tampak dengan mengatasnamakan agama. para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai separatis. Akibat serangan teroris itu. meninggal. Terorisme di dunia bukanlah merupakan hal baru. diperkirakan 1. terbakar. Berbeda dengan perang. Di Pentagon. Persoalan standar ganda selalu mewarnai berbagai penyebutan yang awalnya bermula dari Barat. di sisi lain liputan media menunjukkan fakta bahwa Amerika Serikat melakukan tindakan terorisme yang mengerikan hingga melanggar konvensi yang telah disepakati. Serangan dilakukan melalui udara. dan lain-lain. yang menjadi korban utama dalam waktu dua jam itu mengorbankan kurang lebih 3. dikenal sebagai “September Kelabu”. dan tertimbun berton-ton reruntuhan puing akibat sebuah pembunuhan massal yang terencana. Para teroris . termasuk para penumpang pesawat. Tiga pesawat komersil milik Amerika Serikat dibajak.000 orang pria. wanita dan anak-anak yang terteror. Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001. yang memakan 3000 korban. terbunuh. mujahidin adalah jauh dari tindakan terorisme yang menyerang penduduk sipil padahal tidak terlibat dalam perang". Berita jurnalistik seolah menampilkan gedung World Trade Center dan Pentagon sebagai korban utama penyerangan ini. Akibat makna-makna negatif yang dikandung oleh perkataan "teroris" dan "terorisme". mujahidin. lebih dari itu. dan oleh karena itu para pelakunya ("teroris") layak mendapatkan pembalasan yang kejam.

Di sana terdapat perwakilan dari berbagai negara. Terorisme tidak ditujukan langsung kepada lawan. tidak menjadikan terorisme dibiarkan lepas dari jangkauan hukum. gedung yang mereka serang tak lain merupakan institusi internasional yang melambangkan kemakmuran ekonomi dunia. Cherif Bassiouni. Namun. satu diantaranya adalah pengertian yang tercantum dalam pasal 14 ayat 1 The Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) act. 1984. seperti Filipina dengan mengeluarkan Anti Terrorism Bill[4]. tanggal 12 Oktober 2002 yang merupakan tindakan teror. Phd. Pembunuhan massal tersebut telah mempersatukan dunia melawan Terorisme Internasional[2]. Terlebih lagi dengan diikuti terjadinya Tragedi Bali. Banyak pendapat yang mencoba mendefinisikan Terorisme.” Kegiatan Terorisme mempunyai tujuan untuk membuat orang lain merasa ketakutan sehingga dengan demikian dapat menarik perhatian orang. sebetulnya mereka tidak saja menyerang Amerika Serikat tapi juga dunia[1]. Pemerintahan Tony Blair termasuk yang pertama mengeluarkan Anti Terrorism. akan tetapi perbuatan teror justru dilakukan dimana saja dan terhadap siapa saja. yaitu terdapat 430 perusahaan dari 28 negara. hal mana didasarkan atas siapa yang memberi batasan pada saat dan kondisi tertentu. Dan yang lebih utama. tidak menentu serta menciptakan ketidak percayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dan memaksa masyarakat atau kelompok tertentu untuk mentaati kehendak pelaku teror[6].. Menurut Prof. sebagai berikut: “Terrorism means the use of violence for political ends and includes any use of violence for the purpose putting the public or any section of the public in fear[5]. Usaha memberantas . Sejauh ini belum ada batasan yang baku untuk mendefinisikan apa yang dimaksud dengan Terorisme. Terorisme merupakan pandangan yang subjektif[7]. Belum tercapainya kesepakatan mengenai apa pengertian terorisme tersebut. December 2001. kelompok atau suatu bangsa. yaitu menewaskan 184 orang dan melukai lebih dari 300 orang. maksud yang ingin disampaikan oleh pelaku teror adalah agar perbuatan teror tersebut mendapat perhatian yang khusus atau dapat dikatakan lebih sebagai psy-war. bahwa tidak mudah untuk mengadakan suatu pengertian yang identik yang dapat diterima secara universal sehingga sulit mengadakan pengawasan atas makna Terorisme tersebut. Crime and Security Act. mula-mula mendapat sambutan dari sekutunya di Eropa. Kejadian ini merupakan isu global yang mempengaruhi kebijakan politik seluruh negaranegara di dunia. M. Amerika Serikat menduga Osama bin Laden sebagai tersangka utama pelaku penyerangan tersebut. Perang terhadap Terorisme yang dipimpin oleh Amerika.mengira bahwa penyerangan yang dilakukan ke World Trade Center merupakan penyerangan terhadap "Simbol Amerika". Brian Jenkins. ahli Hukum Pidana Internasional. Biasanya perbuatan teror digunakan apabila tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk melaksanakan kehendaknya. Terorisme digunakan sebagai senjata psikologis untuk menciptakan suasana panik. Sedangkan menurut Prof. Jadi. diikuti tindakan-tindakan dari negara-negara lain yang pada intinya adalah melakukan perang atas tindak Terorisme di dunia. sehingga menjadi titik tolak persepsi untuk memerangi Terorisme sebagai musuh internasional. menimbulkan korban sipil terbesar di dunia[3].

diperlukan perangkat hukum yang mengatur tentang Tindak Pidana Terorisme. Sifat tindakan. dimana yang menjadi korban adalah masyarakat sipil[8]. yaitu sebagai suatu perbuatan yang semula dikategorikan sebagai Crimes against State (termasuk pembunuhan dan percobaan pembunuhan Kepala Negara atau anggota keluarganya). tergolong kejahatan terhadap hati nurani (Crimes against conscience). target-target serta metode Terorisme kini semakin luas dan bervariasi. sebagaimana terjadi di Bali[9]. Crimes against Humanity masuk kategori Gross Violation of Human Rights (Pelanggaran HAM Berat) yang dilakukan sebagai bagian yang meluas/sistematik yang diketahui bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil. Dalam rangka mencegah dan memerangi Terorisme tersebut. Sehingga semakin jelas bahwa teror bukan merupakan bentuk kejahatan kekerasan destruktif biasa. pelaku. Pada tahun 1937 lahir Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Terorisme (Convention for The Prevention and Suppression of Terrorism). Melalui European Convention on The Supression of Terrorism (ECST) tahun 1977 di Eropa. melainkan sudah merupakan kejahatan terhadap perdamaian dan keamanan umat manusia (crimes against peace and security of mankind)[10]. Keberadaan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme disamping KUHP . serta dampak yang dirasakan secara langsung oleh Indonesia sebagai akibat dari Tragedi Bali. merupakan kewajiban pemerintah untuk secepatnya mengusut tuntas Tindak Pidana Terorisme itu dengan memidana pelaku dan aktor intelektual dibalik peristiwa tersebut. makna Terorisme mengalami suatu pergeseran dan perluasan paradigma. motivasi. yaitu dengan menyusun Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) nomor 1 tahun 2002.Terorisme tersebut telah dilakukan sejak menjelang pertengahan abad ke-20. menjadi sesuatu yang jahat bukan karena diatur atau dilarang oleh Undang-Undang. Menyadari sedemikian besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh suatu tindak Terorisme. melainkan karena pada dasarnya tergolong sebagai natural wrong atau acts wrong in themselves bukan mala prohibita yang tergolong kejahatan karena diatur demikian oleh Undang-Undang[12]. lebih diarahkan pada jiwa-jiwa orang tidak bersalah (Public by innocent). Untuk melakukan pengusutan. Tindak Pidana Terorisme dapat dikategorikan sebagai mala per se atau mala in se[11] . Hal ini menjadi prioritas utama dalam penegakan hukum. hasil yang diharapkan serta dicapai. Menyadari hal ini dan lebih didasarkan pada peraturan yang ada saat ini yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) belum mengatur secara khusus serta tidak cukup memadai untuk memberantas Tindak Pidana Terorisme[14]. Terorisme kian jelas menjadi momok bagi peradaban modern. dimana Konvensi ini mengartikan terorisme sebagai Crimes against State. Menurut Muladi. Pemerintah Indonesia merasa perlu untuk membentuk Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. tujuan strategis. sejak jauh sebelum maraknya kejadian-kejadian yang digolongkan sebagai bentuk Terorisme terjadi di dunia. menjadi Crimes against Humanity. masyarakat internasional maupun regional serta pelbagai negara telah berusaha melakukan kebijakan kriminal (criminal policy) disertai kriminalisasi secara sistematik dan komprehensif terhadap perbuatan yang dikategorikan sebagai Terorisme[13]. yang pada tanggal 4 April 2003 disahkan menjadi UndangUndang dengan nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Sesuatu yang mulanya dianggap bukan sebagai Tindak Pidana. Demikian pula susunan bab-bab yang ada dalam peraturan khusus tersebut . 2. sehingga terdapat pengecualian dari asas yang secara umum diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)/Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) [[(lex specialis derogat lex generalis)]]. Suatu keadaan yang mendesak sehingga dianggap perlu diciptakan suatu peraturan khusus untuk segera menanganinya. yaitu Undang-Undang. sehingga pengecualiannya hanya berlaku sebatas pengecualian yang dinyatakan dan bagian yang tidak dikecualikan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan pelaksanaan Undang-Undang khusus tersebut. bahwa pengecualian terhadap Undang-Undang yang bersifat umum. harus memenuhi kriteria[16]: 1. 3. 4. terjadi perubahan pandangan dalam masyarakat. Sedangkan kriminalisasi Tindak Pidana Terorisme sebagai bagian dari perkembangan hukum pidana dapat dilakukan melalui banyak cara. Sebagai Undang-Undang khusus. Hal ini memang dimungkinkan. Adanya proses kriminalisasi atas suatu perbuatan tertentu di dalam masyarakat. 2. berarti Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 mengatur secara materiil dan formil sekaligus. Adanya suatu perbuatan yang khusus dimana apabila dipergunakan proses yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang telah ada akan mengalami kesulitan dalam pembuktian. dapat tercipta karena[15]: 1. dilakukan oleh peraturan yang setingkat dengan dirinya. Undang-Undang yang ada dianggap tidak memadai lagi terhadap perubahan norma dan perkembangan teknologi dalam suatu masyarakat. 3. Keberlakuan lex specialis derogat lex generalis. seperti[17]: 1. karena perubahan pandangan dan norma di masyarakat. sedangkan untuk perubahan undang-undang yang telah ada dianggap memakan banyak waktu. menjadi termasuk Tindak Pidana dan diatur dalam suatu perundang-undangan Hukum Pidana. Akan tetapi tidak berarti bahwa dengan adanya hal yang khusus dalam kejahatan terhadap keamanan negara berarti penegak hukum mempunyai wewenang yang lebih atau tanpa batas semata-mata untuk memudahkan pembuktian bahwa seseorang telah melakukan suatu kejahatan terhadap keamanan negara. akan tetapi penyimpangan tersebut adalah sehubungan dengan kepentingan yang lebih besar lagi yaitu keamanan negara yang harus dilindungi. bahwa pengecualian termaksud dinyatakan dalam Undang-Undang khusus tersebut. merupakan Hukum Pidana Khusus. mengingat bahwa ketentuan Hukum Pidana yang bersifat khusus. Melalui sistem global melalui pengaturan yang lengkap diluar KUHP termasuk kekhususan hukum acaranya. Melalui sistem evolusi berupa amandemen terhadap pasal-pasal KUHP. Karena pengaruh perkembangan zaman.dan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP). 2. Sistem kompromi dalam bentuk memasukkan bab baru dalam KUHP tentang kejahatan terorisme.

penyelesaian suatu perkara Tindak Pidana sebelum masuk dalam tahap beracara di pengadilan. akan tetapi juga hukum acaranya. Namun. Sesuai pengaturan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana/KUHAP). Penyimpangan tersebut mengurangi Hak Asasi Manusia. dimulai dari Penyelidikan dan Penyidikan. harus dicari apa dasar penyimpangan tersebut. pada kenyataannya.harus merupakan suatu tatanan yang utuh. Pasal 17 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana/KUHAP) menyebutkan bahwa perintah Penangkapan hanya dapat dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras telah melakukan Tindak Pidana berdasarkan Bukti Permulaan yang cukup. Apabila memang diperlukan suatu penyimpangan. bahwa untuk menyelesaikan kasus-kasus Tindak Pidana Terorisme. namun dikhususkan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang khusus sifatnya yang diatur oleh Undang-Undang Khusus tersebut. karena setiap perubahan akan selalu berkaitan erat dengan Hak Asasi Manusia[20]. melainkan pengkhususan asas yang sebenarnya menggunakan dasar asas umum. Selain ketentuan tersebut. Mengenai batasan dari pengertian Bukti Permulaan itu sendiri. Sebagaimana pengertian tersebut diatas. Atau mungkin karena sifatnya sebagai Undang-Undang yang khusus. hingga kini belum ada ketentuan yang secara jelas mendefinisikannya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang menjadi dasar pelaksanaan Hukum Pidana. Hukum Pidana khusus. bukan hanya mengatur hukum pidana materielnya saja. Artinya pelaksanaan Undang-Undang khusus ini tidak boleh bertentangan dengan asas umum Hukum Pidana dan Hukum Acara Pidana yang telah ada. diikuti dengan penyerahan berkas penuntutan kepada Jaksa Penuntut Umum. maka bukan penyimpangan asas yang terjadi disini. maka pengaturan pasal 25 Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. pasal 103 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) menyebutkan bahwa semua aturan termasuk asas yang terdapat dalam buku I Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) berlaku pula bagi peraturan pidana diluar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) selama peraturan diluar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tersebut tidak mengatur lain[18]. hukum acara yang berlaku adalah sebagaimana ketentuan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana/KUHAP). Masih terdapat perbedaan pendapat diantara para penegak hukum. oleh karena itu harus diperhatikan bahwa aturan-aturan tersebut seyogyanya tetap memperhatikan asas-asas umum yang terdapat baik dalam ketentuan umum yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) bagi hukum pidana materielnya sedangkan untuk hukum pidana formilnya harus tunduk terhadap ketentuan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana/KUHAP)[19]. Sedangkan mengenai Bukti Permulaan dalam pengaturannya pada Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. terdapat isi ketentuan beberapa pasal dalam Undang-Undang tersebut yang merupakan penyimpangan asas umum Hukum Pidana dan Hukum Acara Pidana. pasal 26 berbunyi[21]: . apabila dibandingkan asas-asas yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

maka kejelasan mengenai hal tersebut sangatlah diperlukan agar tidak terjadi pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia dengan dilakukannya penangkapan secara sewenang-wenang oleh aparat. maka Ketua Pengadilan Negeri segera memerintahkan dilaksanakan Penyidikan. Selanjutnya. Untuk memperoleh Bukti Permulaan yang cukup. Oleh karena itu. penetapan suatu Laporan Intelijen sebagai Bukti Permulaan dilakukan oleh Ketua/Wakil Ketua Pengadilan Negeri melalui suatu proses/mekanisme pemeriksaan (Hearing) secara tertutup. akan tetapi juga terhadap Hak Asasi Manusia. untuk mencegah kesewenang-wenangan dan ketidakpastian hukum. menurut pasal 26 ayat 2. Terutama karena ketentuan pasal 26 ayat (1) tersebut memberikan wewenang yang begitu luas kepada penyidik untuk melakukan perampasan kemerdekaan yaitu penangkapan. Proses pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan secara tertutup dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari. 4. termasuk pula Laporan Intelijen. Jika dalam pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan adanya Bukti Permulaan yang cukup. sehingga dapat digunakan sebagai Bukti Permulaan. Penetapan bahwa sudah dapat atau diperoleh Bukti Permulaan yang cukup sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan proses pemeriksaan oleh Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Negeri. cara mengajukan tuntutan terhadap petugas yang telah salah dalam melakukan tugasnya. apakah dapat dijadikan Bukti Permulaan. Aturan darurat sedemikian itu telah memberikan wewenang yang berlebih kepada penguasa didalam melakukan penindakan terhadap perbuatan teror[22]. Padahal kontrol sosial sangat dibutuhkan terutama dalam hal-hal yang sangat sensitif seperti perlindungan terhadap hak-hak setiap orang sebagai manusia yang sifatnya asasi. oleh orang-orang yang menderita akibat kesalahan itu dan hak asasinya telah terlanggar. serta bagaimana sebenarnya hakekat Laporan Intelijen. penyidik dapat menggunakan setiap Laporan Intelijen. terhadap orang yang dicurigai telah melakukan Tindak Pidana Terorisme. tidak dapat diganggu gugat. Permasalahannya adalah masih terdapat kesimpang siuran tentang pengertian Bukti Permulaan itu sendiri. 3 dan 4 Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. karena banyak Pemerintah suatu negara dalam melakukan pencegahan maupun penindakan terhadap perbuatan teror melalui suatu pengaturan khusus yang bersifat darurat.1. sehingga sulit menentukan apakah yang dapat dikategorikan sebagai Bukti Permulaan. 3. apa saja yang dapat dimasukkan ke dalam kategori Laporan Intelijen. tanpa adanya pengawasan masyarakat atau pihak lain manapun. dimana aturan darurat itu dianggap telah jauh melanggar bukan saja hak seseorang terdakwa. diperlukan adanya ketentuan yang pasti mengenai pengertian Bukti Permulaan dan batasan mengenai Laporan Intelijen. 2. dalam hal ini penyidik. . Demikian pula perlu dirumuskan tentang pengaturan. Hal itu mengakibatkan pihak intelijen mempunyai dasar hukum yang kuat untuk melakukan penangkapan terhadap seseorang yang dianggap melakukan suatu Tindak Pidana Terorisme.

html> . karena Tindak Pidana Terorisme harus diberantas karena alasan Hak Asasi Manusia. ^ Indriyanto Seno Adji.1 tahun 2002 dalam Perspektif Hukum Pidana” dalam Terorisme: Tragedi Umat Manusia (Jakarta: O. Bali.s 02. 9. “Terorisme. 98. Kusumah. ^ Koalisi Internasional”. Ibid. Kaligis & Associates. ^ Indriyanto Seno Adji. hal.. (Jakarta: O. 6. ^ Loebby Loqman.elsam. <http://jakarta.1 tahun 2002 dalam Perspektif Hukum Pidana” dalam Terorisme: Tragedi Umat Manusia (Jakarta: O.gov/press_rel/Pwl_newsi. 50. Terorisme dalam Perspektif Politik dan Hukum.html> 2. 2001). termasuk hak-hak yang digolongkan kedalam non-derogable rights.C. <http://www. Op. hal. tidak boleh justru melawan Hak Asasi Manusia. such as are prohibited by laws that are not immutable. 35.c05. ^ Mulyana W. sehingga pemberantasannya pun harus dilaksanakan dengan mengindahkan Hak Asasi Manusia.html> 5.la. “Terorisme. “Sebuah Perjuangan Keras yang Panjang”. Kaligis & Associates.org/terrornet/keberanian. <http://www. “Of the Influence of Time and Place in Matters of Legislation” Chapter 5 Influence of Time. Kaligis & Associates.htm> 3. Catatan kaki 1. ^ Hilmar Farid. bahwa memang secara nasional harus ada Undang-Undang yang mengatur soal Terorisme. hal. cit. Bali.edu/research/poltheory/bentham/timeplace/timeplace. bukan sebaliknya membatasi dan melawan Hak Asasi Manusia. 4. 10. Melawan Terorisme harus ditujukan bagi perlindungan Hak Asasi Manusia. ^ Indriyanto Seno Adji. Perpu No.C. 11. Demikian menurut Munir. yakni hak-hak yang tidak boleh dikurangi pemenuhannya dalam keadaan apapun[23]. 2001). “Terorisme dan HAM” dalam Terorisme: Tragedi Umat Manusia. ^ Mala in se are the offences that are forbidden by the laws that are immutable: mala prohibita.usembassyjakarta.id/txt/asasi/2002_0910/05. hal. Perpu No. 2001). <http://www. Jeremy Bentham. (Jakarta: Universitas Indonesia. Laporan terbaru dari Amnesty Internasional menyatakan bahwa penggunaan siksaan dalam proses interogasi terhadap orang yang disangka teroris cenderung meningkat[24]. Dan yang penting juga bagaimana ia tidak memberi ruang bagi legitimasi penyalahgunaan kekuasaan[25].Telah banyak negara-negara didunia yang mengorbankan Hak Asasi Manusia demi pemberlakuan Undang-Undang Antiterorisme. tapi dengan definisi yang jelas.or. Undang-Undang Antiterorisme kini diberlakukan dibanyak negara untuk mensahkan kesewenang-wenangan (arbitrary detention) pengingkaran terhadap prinsip free and fair trial. “Perang Melawan Teroris”.utexas. vol 2 no III (Desember 2002): 22. Jurnal Kriminologi Indonesia FISIP UI.C. Analisis Hukum dan Perundang-Undangan Kejahatan terhadap Keamanan Negara di Indonesia. 7. 52. ^ Loebby Loqman. Terorisme dan HAM. 8. 1990). ^ Indriyanto Seno Adji. Hal seperti inilah yang harus dihindari. hal.usembassy. ^ Collin L Powell.51.

cit. hal..45 tahun 2003. UU No. sedangkan terorisme tidak.. kaum teroris semakin membutuhkan dana besar dalam kegiatan globalnya. hal 77. Ibid. <http://www. Ibid. Op. 22. “Mengkaji Kembali Perpu Antiterorisme” dalam Mengenang Perppu Anti Terorisme. Jurnal Kriminologi Indonesia FISIP UI. sebagai sumpah. . Teror atau Terorisme tidak selalu identik dengan kekerasan. Terorisme tidak sama dengan intimidasi atau sabotase.12. Agustus 2003). ^ Todung Mulya Lubis. 26. Mengenal Hukum. Op. tutup mulut.4284. Penjelasan pasal 26.. No. Mereka ingin menarik perhatian masyarakat luas dan memanfaatkan media massa untuk menyuarakan pesan perjuangannya. tetapi tidak ada teror tanpa kekerasan. hal. hal. Bisa saja kekerasan terjadi tanpa teror. Teror berbeda pula dengan mafia. ^ Indonesia. 14. Undang-Undang Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. ^ Loebby Loqman. cit. Kaum teroris bermaksud ingin menciptakan sensasi agar masyarakat luas memperhatikan apa yang mereka perjuangkan... Tindakan teror tidaklah sama dengan vandalisme.. 149. Sasaran intimidasi dan sabotase umumnya langsung. 15. hal 91.I. ^ Loebby Loqman. LN. 13. 23.. 11. vol 2 no III (Desember 2002): 1. 17. terutama penguasa. Ibid. agar dapat melakukan upaya mengumpulkan dana bagi kegiatannya[1]. Undang-Undang Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Op. cit. Omerta merupakan bentuk ekstrem loyalitas dan solidaritas kelompok dalam menghadapi pihak lain.. yang motifnya merusak benda-benda fisik. cit. 24. Namun. TLN. ^ Bari Muchtar. hal 92. Korban tindakan Terorisme seringkali adalah orang yang tidak bersalah.rnw. ^ Sudikno Mertokusumo. 25. (Jakarta: Suara Muhamadiyah. belakangan. 18. hal. cit. ^ Indonesia. hal. (Jakarta: Suara Muhammadiyah. ^ Loebby Loqman. Konsiderans. sehingga mereka tidak suka mengklaim tindakannya. Hakekat Terorisme dan Beberapa Prinsip Pengaturan dalam Kriminalisasi. 20.15 tahun 2003. 16. terrorism is the apex of violence. 1996).nl>. Suatu Pengantar. No. 13 21. Op. Tindakan mafia menekankan omerta. 28 Januari 2002. ^ Muladi. Op. Berbeda dengan Yakuza atau mafia Cosa Nostra yang menekankan kode omerta. ^ Muladi. Terorisme adalah puncak aksi kekerasan. “Masyarakat Sipil dan Kebijakan Negara Kasus Perppu/RUU Tindak Pidana Terorisme” dalam Mengenang Perppu Antiterorisme. 19. (Yogyakarta:Liberty. “Undang-Undang AntiTerorisme Sangat Mengkhawatirkan”. ^ Todung Mulya Lubis. Agustus 2003) cet. 17. ^ Mompang L. Panggabean. ^ Loebby Loqman. kaum teroris modern justru seringkali mengeluarkan pernyataan dan tuntutan. ^ Loebby Loqman. hal 6.

Terorisme hanya dapat dikategorikan sebagai kejahatan dalam hukum internasional bila memenuhi kriteria . Terorisme adalah kegiatan yang melibatkan unsur kekerasan atau yang menimbulkan efek bahaya bagi kehidupan manusia yang melanggar hukum pidana (Amerika atau negara bagian Amerika). Bahkan Amerika Serikat yang memiliki banyak act yang menyebut kata terrorism atau terrorist didalamnya. Menurut Webster’s New World College Dictionary (1996). kekerasan 2. Menurut Prof. Definisi akademis tentang Terorisme tidak dapat diselaraskan menjadi definisi yuridis. mempengaruhi penyelenggaraan negara dengan cara penculikan atau pembunuhan .. pemerasan. Sejauh ini. Tidak mudahnya merumuskan definisi Terorisme.Mengenai pengertian yang baku dan definitive dari apa yang disebut dengan Tindak Pidana Terorisme itu. Brian Jenkins. yang jelas dimaksudkan untuk: a. Sedangkan hasil yang diharapkan adalah munculnya rasa takut. bahwa tidak mudah untuk mengadakan suatu pengertian yang identik yang dapat diterima secara universal sehingga sulit mengadakan pengawasan atas makna Terorisme tersebut. mengintimidasi penduduk sipil. c.” Doktrin membedakan Terorisme kedalam dua macam definisi. perubahan radikal politik. Dari pengertian etimologis itu dapat diintepretasikan pengembangannya yang biasanya tidak jauh dari pengertian dasar tersebut[4]. teror/intended audience. Pengertian paling otentik adalah pengertian yang diambil secara etimologis dari kamus dan ensiklopedia. Disepakati oleh kebanyakan ahli bahwa tindakan yang tergolong kedalam tindakan Terorisme adalah tindakan-tindakan yang memiliki elemen[7]: 1. intimidate. pembajakan maupun penyanderaan. tuntutan Hak Asasi Manusia. kelompok. dan kebebasan dasar untuk pihak yang tidak bersalah serta kepuasan tuntutan politik lain[5]. Pelaku dapat merupakan individu. b. Oleh karena itu menurut Prof. ahli Hukum Pidana Internasional. Menurut Black’s Law Dictionary. sampai saat ini pun masih belum dapat memberikan standar definisi tentang Terorisme. mempengaruhi kebijakan pemerintah. yaitu definisi tindakan teroris (terrorism act) dan pelaku terorisme (terrorism actor). tujuan politik 3. definisi Terorisme adalah “the use of force or threats to demoralize. Bentuk perbuatan bisa berupa perompakan. atau negara. Terorisme merupakan pandangan yang subjektif [2]. and subjugate [6]. Muladi memberi catatan atas definisi ini. Cherif Bassiouni. bahwa hakekat perbuatan Terorisme mengandung perbuatan kekerasan atau ancaman kekerasan yang berkarakter politik. M. Phd. tampak dari usaha Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan membentuk Ad Hoc Committee on Terrorism tahun 1972 yang bersidang selama tujuh tahun tanpa menghasilkan rumusan definisi[3]. baik secara akademis maupun yuridis. sampai saat ini belum ada keseragaman.

Menurut Vice President’s Task Force. in order to gain a political or tactical advantage. 1988. International Convention Against the Taking og Hostages (“Hostages Convention”. Terrorism is the use or threatened use of force designed to bring about political change. 1988. United Nations General Assembly Resolution). Convention on the Prevention and Punishment of Crimes Against Internationally Protecred Persons. Menurut James M. 2.yang disebutkan dalam 12 konvensi multilateral yang berhubungan dengan Terorisme yaitu[8]: 1. Menurut Walter Laqueur[11]. deliberate. Protocol for the Suppression of Unlawful Acts of Violence at Airports Serving International Civil Aviation. Convention on the Physical Protection of Nuclear Material (“Nuclear Materials Convention”. . or to modify their behavior or politics. 1963). 1970). Terrorism is the premeditated. Definisi yang dikemukakan oleh beberapa lembaga maupun penulis. mayhem and threatening of the innocent to create fear and intimidation. International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism. supplementary to the Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation. 9. usually to influence audience. 1991. 12. 3. systematic murder. antara lain:[9] Menurut Brian Jenkins[10]. 1973. Convention on Offences and Certain Other Acts Committed On Board Aircraft (“Tokyo Convention”. 4. Convention on the Marking of Plastic Explosives for the Purpose of Detection. 8. Terrorism consitutes the illegitimate use of force to achieve a political objective when innocent people are targeted. 1971). Convention for the Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of Civil Aviation (“Montreal Convention”. Convention for the Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of Maritime Navigation. 5. 1988. It is usually intended to intimidate or coerce a government. 1979). 6. 1999. individuals or groups. Convention for the Suppression of Unlawful Seizure of Aircraft (“Hague Convention”. 1986[13]. 11. Protocol for the Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of Fixed Platforms Located on the Continental Shelf. Poland[12]. International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing (1997. 1980). 7. Terrorism is the unlawful use or threat of violence against persons or property to further political or social objectives. 10.

group. Threat—and violence—based communication processes between terrorist (organization). 2. yaitu motif politik. Kejahatan dalam lingkup “Konvensi untuk Pembasmian Perampasan Tidak Sah atas Keselamatan Penerbangan Sipil”. termasuk Agen-Agen Diplomatik”. employed by (semi-) clandestine individual. Menurut The U. and main targets are used to manipulate the main target (audience(s)). Academic Consensus Definition (1988)[17] “Terrorism is an anxiety-inspiring method of repeated violent action. Menurut States of the South Asian Association for Regional Cooperation (SAARC) Regional Convention on Suppression of Terrorism[19]. Terorisme adalah kekerasan yang bermotif politik dan dilakukan oleh agen negara atau kelompok subnasional terhadap sasaran kelompok non kombatan. Menurut US Departements of State and Defense[18]. Terorisme Internasional adalah Terorisme yang dilakukan dengan dukungan pemerintah atau organisasi asing dan atau diarahkan untuk melawan negara. Section 0. the civilian population. . whereby—in contrast to assassination—the direct targets of attacks are not the main targets. by the Code of Federal Regulations[16]. 3. a target of demands. Biasanya dengan maksud untuk mempengaruhi audien. criminal or political reasons. ditandatangani di Montreal. Terorisme adalah: ". ditandatangani di Hague. or state actors. 23 September 1970. 14 Desember 1973." (28 C.Menurut US Central Intelligence Agency (CIA)[14]. Kejahatan dalam lingkup “Konvensi tentang Pencegahan dan Penghukuman atas Tindak Pidana Terhadap Orang-Orang yang secara Internasional Dilindungi. or propaganda is primarily sought” (Schmid) . Menurut US Federal Bureau of Investigation (FBI)[15].R. Kejahatan dalam lingkup “Konvensi untuk Pembasmian Perampasan Tidak Sah atas Keselamatan Penerbangan Sipil”. rencana atau niat dan penggunaan kekerasan. or a target of attention. and serve as message generators. for idiosyncratic.the unlawful use of force and violence against persons or property to intimidate or coerce a government. The immediate human victims of violence are generally chosen randomly (targets of opportunity) or selectively (representative or symbolic targets) from a target population. depending on whether intimidation.85) . Tiga unsur definisi diatas. in furtherance of political or social objectives. lembaga atau pemerintahan asing . coercion. (imperiled) victims. Terorisme adalah penggunaan kekuasaan tidak sah atau kekerasan atas seseorang atau harta untuk mengintimidasi sebuah pemerintahan.S.. Terorisme internasional adalah terorisme yang melibatkan warga negara atau wilayah lebih dari satu negara . ditandatangai di New York. or any segment thereof. penduduk sipil dan elemen-elemennya untuk mencapai tujuantujuan sosial atau politik .F. 16 Desember 1970. turning it into a target of terror. Terorisme meliputi: 1.

pembantaian. yang menyebabkan teror di tengah masyarakat. kecuali yang belum diratifikasi oleh negara-negara yang menjalin kontak atau dimana kejahatan-kejahatan tersebut dikecualikan oleh perundang-undangan mereka. adalah tindakan yang melanggar antara lain ke 12 konvensi multilateral yang telah disebutkan diatas. Menghancurkan atau mengancam untuk menghancurkan harta benda dan objek materi lain sehingga membahayakan kehidupan orang lain. Kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap orang biasa atau orang yang dilindungi hukum. 2. 3. Menurut Treaty on Cooperation among the States Members of the Commonwealth of Independent States in Combating Terrorism. Menyebabkan kerusakan atas harta benda atau terjadinya akibat yang membahayakan bagi masyarakat. kejahatan yang berhubungan dengan senjata api. Pembunuhan. Disebut juga bahwa tindak pidana terorisme adalah tindakan kejahatan dalam rangka mencapai tujuan teroris di negara-negara yang menjalin kontak atau melawan warga negara. 4. Terorisme adalah tindakan illegal yang diancam dengan hukuman dibawah hukum pidana yang dilakukan dengan tujuan merusak keselamatan publik. Tindak kejahatan yang ditetapkan dalam konvensi-konvensi sebagai berikut. senjata. yang terjadi untuk menjalankan agenda tindak kejahatan individu atau kolektif. Menurut The Arab Convention on the Suppression of Terrorism . serangan yang mencelakakan badan. 5. atau keselamatan atau bertujuan untuk menyebabkan kerusakan lingkungan atau harta publik maupun pribadi atau menguasai dan merampasnya atau bertujuan untuk mengancam sumber daya nasional. harta milik atau kepentingannya yang diancam hukuman dengan hukuman domestik. Menyerang perwakilan negara asing atau staf anggota organisasi internasional yang dilindungi secara internasional begitu juga tempat-tempat bisnis atau kendaraan orang-orang yang dilindungi secara internasional. 5. kebebasan. senada dengan Convention of the Organisation of the Islamic Conference on Combating International Terrorism. 1999. bahan peledak dan bahan-bahan lain yang jika digunakan untuk melakukan kejahatan dapat berakibat kematian atau luka yang serius atau kerusakan berat pada harta milik. Kejahatan dalam lingkup konvensi apapun dimana negara-negara anggota SAARC adalah pihak-pihak yang mengharuskan anggotanya untuk menuntut atau melakukan ekstradisi. Mengancam kehidupan negarawan atau tokoh masyarakat dengan tujuan mengakhiri aktivitas publik atau negaranya atau sebagai pembalasan terhadap aktivitas tersebut. . Juga dianggap sebagai tindak kejahatan teroris.4. 1999. penculikan. mempengaruhi pengambilan kebijakan oleh penguasa atau menteror penduduk dan mengambil bentuk: 1. rasa takut dengan melukai mereka atau mengancam kehidupan. Terorisme adalah tindakan atau ancaman kekerasan apapun motif dan tujuannya.

kolonialisme dan hegemoni asing dengan tujuan kemerdekaan dan menentukan nasib sendiri sesuai dengan prinsip hukum internasional tidak dianggap sebagai kejahatan Terorisme . menakut-nakuti. penggunaan atau ancaman didesain untuk mempengaruhi pemerintah atau untuk mengintimidasi publik atau bagian tertentu publik. tidak merupakan Tindak Pidana Terorisme . Menurut Konvensi ini. bantuan. sponsor. badan. Menurut Terrorism Act 2000. 1999. atau 2. sumber alam atau lingkungan atau warisan budaya seseorang atau publik dan diperhitungkan atau dimaksudkan untuk: 1. atau mempengaruhi pemerintah. sejumlah orang atau sekelompok orang. pengorganisasian atau perekrutan seseorang dengan niat untuk melakukan tindakan yang disebutkan pada paragraph 1) sampai 3). konspirasi. promosi. perjuangan bersenjata melawan penduduk. mengganggu pelayanan publik. menurut Konvensi ini. seduai dengan asas-asas hukum internasional. Menurut Organisation of African Unity (OAU).6. 2. memaksa. UK. usaha. pemberian pelayanan esensial kepada publik atau untuk menciptakan darurat publik. institusi. atau 3. bahwa perjuangan dengan cara apapun juga untuk melawan pendudukan dan agresi asing untuk kemerdekaan dan hak menentukan nasib sendiri. Sebagaimana The Arab Convention on the Suppression of Terrorism 1998 dan Convention of the Organisation of the Islamic Conference on Combating International Terrorism. menciptakan pemberontakan umum di sebuah negara. bukan kehidupan orang yang melakukan tindakan. Tindakan lain yang dikategorikan sebagai teroris dibawah perundang-undangan nasional atau instrumen legal yang diakui secara internasional yang bertujuan memerangi terorisme. perintah. menciptakan resiko serius bagi kesehatan atau keselamatan publik atau bagian tertentu dari publik atau didesain secara serius untuk campur tangan atau mengganggu sistem elektronik. mengintimidasi. Terorisme mengandung arti sebagai penggunaan atau ancaman tindakan dengan ciri-ciri sebagai berikut: 1. . agresi. aksi yang melibatkan kekerasan serius terhadap seseorang. ancaman. integritas fisik atau kebebasan atau menyebabkan luka serius atau kematian bagi seseorang. menekan. publik secara umum atau lapisan masyarakat untuk melakukan atau abstain dari melakukan sebuah tindakan atau untuk mengadopsi atau meninggalkan pendirian tertentu atau untuk bertindak menurut prinsipprinsip tertentu. 1999. kerugian berat pada harta benda. gerakan. membahayakan kehidupan seseorang. 4. kontribusi. atau menyebabkan atau dapat menyebabkan kerugian bagi harta. Tindakan teroris merupakan tindakan pelanggaran terhadap hukum pidana “negara anggota” dan bisa membahayakan kehidupan. dorongan.

penggunaan atau ancaman dibuat dengan tujuan mencapai tujuan politik. termasuk agen-agen diplomatic. kejahatan yang melibatkan penggunaan bom. penyanderaan atau penahanan berat yang tidak sah. 1. Menurut Muhammad Mustofa[20]. 6. senjata otomatis. Menurut Conway Henderson (International Relations Cobflict and Cooperaion at the turn of 21th Century). Menurut konvensi ini. kejahatan dalam lingkup Konvensi untuk Pembasmian Perampasan Tidak Sah atas Pesawat Terbang. ketakutan. selain dari yang tercakup dalam artikel 1) sampai 6) jika tindakan tersebut menimbulkan bahaya kolektif bagi orang lain. kejahatan dalam lingkup Konvensi untuk Pembasmian Tindakan Tidak Sah atas Keselamatan Penerbangan Sipil. kejahatan yang melibatkan penculikan. usaha untuk melakukan kejahatan yang tersebut sebelumnya atau berpartisipasi sebagai kaki tangan seseorang yang melakukan kejahatan tersebut. roket. 4. mengemukakan sebanyak 109 definisi tentang terorisme. namun para ahli setuju bahwa Terorisme adalah suatu cara untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan ancaman kekerasan guna menimbulkan rasa takut dan korban sebanyakbanyaknya secara tidak beraturan[21]. dimaksudkan untuk menciptakan suasana atau keadaan berbahaya serta penuh ketakutan dan bisa muncul tanpa motif apapun . Menurut European Convention on the Suppression of Terrorism. Terorisme adalah tindakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang ditujukan kepada sasaran secara acak (tidak ada hubungan langsung dengan pelaku) yang berakibat pada kerusakan. kejahatan berat yang melibatkan serangan atas integritas fisik dan kehidupan atau kebebasan orang-orang yang dilindungi secara internasional. 7. 3. 5. ditandatangani di Hague. 8. usaha untuk melakukan kejahatan atau berpartisipasi sebagai kaki tangan seseornag yang melakukan atau berusaha melakukan kejahatan tersebut. kematian. agama atau ideologi. percobaan melakukan Terorisme disamakan dengan delik selesai dan pembantuan disamakan kualifikasinya dengan si pelaku . atau surat atau paket bom jika penggunaannya membahayakan orang lain. kejahatan serius yang melibatkan tindakan kekerasan. Menurut Charles Kegley dan Eugene Witkoff (The Global Agendas Issues and Perspectives). 4. ditandatangani di Montreal 23 September 1971. Desember 1970. penggunaan atau ancaman yang masuk dalam subseksi 1) yang melibatkan penggunaan senjata api atau bahan peledak. granat. menyatakan bahwa[22]: Terorisme adalah suatu aksi kekerasan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang atau jaringan. 2. ketidakpastian dan keputusasaan massal . 1977.3. .

Kegiatan Terorisme dilakukan umumnya dengan sasaran acak. terorisme adalah cara berfikir dan bertindak yang menggunakan teror sebagai tehnik untuk mencapai tujuan[24]. Menurut US Department of Defense tahun 1990. Pasal 14 ayat 1 sebagai berikut: “Terrorism means the use of violence for political ends and includes any use of violence for the purpose putting the public or any section of the public in fear. ideologi dan etnis serta kesenjangan ekonomi. menyimpulkan adanya unsur yang paling menonjol dari definisi-definisi tersebut yaitu bahwa ciri utama dari Terorisme adalah dipergunakannya kekerasan atau ancaman kekerasan. Menurut Hukum Amerika Serikat. dipicu antara lain karena adanya pertentangan agama. Section 2656f(d): premeditated. Terorisme adalah segala bentuk tindak kejahatan yang ditujukan langsung kepada negara dengan maksud menciptakan bentuk teror terhadap orang-orang tertentu atau kelompok orang atau masyarakat luas . berdasarkan Bujuknik tentang Anti Teror tahun 2000. bukan langsung kepada lawan. Menurut The Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) act. Tindak Pidana Terorisme . politically motivated violence perpetuated against noncombatant targets. Menurut Laqueur (1999)[27]. karena selain bermotif politis. agama atau ideologi . sehingga dengan dilakukan teror tersebut. Sementara motivasi politis dalam Terorisme sangant bervariasi. Menurut A. diharapkan akan didapatkan perhatian dari pihak yang dituju[26]. namun mengenai sasaran Terorisme. atau karena adanya paham separatisme dan ideologi fanatisme . rumusan terorisme dalam United States Code.C Manullang[25]. Menurut Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Definisi ini memberi tekanan pada motivasi politik. 1984.AD. Terorisme adalah perbuatan melawan hukum atau tindakan yang mengan-dung ancaman dengan kekerasan atau paksaan terhadap individu atau hak milik untuk memaksa atau mengintimidasi pemerintah atau masyarakat dengan tujuan politik. Menurut TNI . Terorisme seringkali dilakukan karena adanya dorongan fanatisme agama .Menurut Konvensi PBB tahun 1937[23]. Terorisme adalah suatu cara untuk merebut kekuasaan dari kelompok lain. hanya memperhatikan sasaran sipil .” Terorisme digunakan sebagai senjata psikologis untuk menciptakan suasana tidak menentu serta menciptakan ketidak percayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dan memaksa masyarakat atau kelompok tertentu untuk mentaati kehendak pelaku teror. usually intended to influence an audience. setelah mengkaji lebih dari seratus definisi Terorisme. Pasal 1 ayat 1. serta tersumbatnya komunikasi rakyat dengan pemerintah. Bab I Ketentuan Umum.

(Jakarta: Cipta Manunggal. 7. hal. . “Indonesia di Peta Terorisme Global”. ^ Rikard Bagun.com>. 5.adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. yang dapat berupa motif sosial. vol 2 no III (Desember 2002): 35. dengan maksud mengintimidasi pemerintah. Kaligis & Associates. Dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan bermaksud untuk menimbulkan suasana terror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal. Menggunakan kekerasan. yang menjadi ciri dari suatu Tindak Pidana Terorisme adalah: 1. dengan cara merampas kemerdekaan atau menghilangkan nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional (Pasal 6)[28]. Dilakukan untuk mencapai pemenuhan atas tujuan tertentu dari pelaku. 10. 11 dan 12 Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. 9. 2. Perpu No. Pasal 6. 2.C. diatur dalam ketentuan pada Bab III (Tindak Pidana Terorisme). Intelijen Pengertian dan Pemahamannya. 4. “Terorisme. 2.<http://www. Mengenai perbuatan apa saja yang dikategorikan ke dalam Tindak Pidana Terorisme.polarhome. [sunting] Rujukan 1. Dari banyak definisi yang dikemukakan oleh banyak pihak.1 tahun 2002 dalam Perspektif Hukum Pidana” dalam Terorisme: Tragedi Umat Manusia (Jakarta: O. berdasarkan ketentuan pasal 8. ^ Muhammad Mustofa.19. hal. ^ Indriyanto Seno Adji. Mengambil korban dari masyarakat sipil. Dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal. 35. 3. Memahami Terorisme: Suatu Perspektif Kriminologi. jika: 1. Dan seseorang juga dianggap melakukan Tindak Pidana Terorisme. Jurnal Kriminologi Indonesia FISIP UI. ^ Kunarto. Adanya rencana untuk melaksanakan tindakan tersebut. 4. Dilakukan oleh suatu kelompok tertentu. 1999). 17 November 2002. bahwa setiap orang dipidana karena melakukan Tindak Pidana Terorisme. 3. 2001). politik ataupun agama. dengan cara merampas kemerdekaan atau menghilangkan nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional (Pasal 7)[29].

org/wikipedia/commons/7/79/Button_reflink. Undang-Undang Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. 25. cit.C Manullang.id 24. 6 Agustus 2003.org> 17. hal. ^ Muhammad Mustofa.php> 14. 16. 7. 15.terrorism. Op. ^ Imam Cahyono.. ^ Indonesia. 23. Demokrasi. Demokrasi.5. 98. oleh Tim Perumus Seminar.wikimedia. cit.terrorism.com. Op.theceli.htm> 18. hal.php> 13. ^ Loebby Loqman. Paulus.unodc. Op. 172. pasal 7. Menguak Tabu Intelijen Teror. 26.. ^ Muhammad Mustofa. hal 33.. Hakekat Terorisme dan Beberapa Prinsip Pengaturan dalam Kriminalisasi. <http://mail2. “Kampanye Melawan Terorisme Telah Merusak Tatanan Hukum” http://www.terrorismfiles. Analisis Hukum dan Perundang-Undangan Kejahatan terhadap Keamanan Negara di Indonesia. hal. 8. Op.terrorism. 30 Oktober 2002.com/modules. ^ Ibid.com/modules.org/MUN/SEMMUNA/legal. 5. cit. 29. ^ Ibid.go. ^ Muladi.com/modules. PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA . HAM dan Reformasi Hukum di Indonesia.< http://www. Jurnal Kriminologi Indonesia FISIP UI. ^ Ibid. cit. ^ http://upload. ^ Muladi. 172. http://buletinlitbang. ^ <http://www. Paulus. 1990). (Jakarta: Panta Rhei. 28. Jurnal Kriminologi Indonesia FISIP UI. cit. ^ “Convention Against Terrorism”. Januari 2001) hal. <http://www. 27. ^ <http://www. 171. vol 2 no III (Desember 2002): 30. 151. hal. 20. Op.unamich. vol 2 no III (Desember 2002): 1.dephan. ^ “Definition of Terrorism”. pasal 6.. ^ Makalah Seminar Terorisme Suatu Tantangan bagi POLRI. cit. Lemdiklat POLRI Sekolah Lanjutan Perwira. ^ Muladi. HAM dan Reformasi Hukum di Indonesia. ^ A. <http://www.de/pipermail/national/2002>. Motif dan Rezim..php> 12. (Jakarta: Universitas Indonesia.com/modules.. HAM dan Reformasi Hukum di Indonesia. Demokrasi. Op. ^ Mohammad Mova Al’Afghani.php> 11. ^ Muladi.terrorism. hal. ^ “Legal Definition of Terrorism”. ^ <http://www.org> 9. Memahami Terorisme: Suatu Perspektif Kriminologi. 22. 6. ^ Loudewijk F. 21.png 10. “Terorisme”. 19. “Terorisme dan Hegemoni Kesadaran”. ^ <http://www. ^ Loudewijk F.factsoft.

dan untuk memajukan kesejahteraan umum. dan huruf e. e. bahwa terorisme mempunyai jaringan yang luas sehingga merupakan ancaman terhadap perdamaian dan keamanan nasional maupun internasional. huruf c. bahwa pemberantasan terorisme didasarkan pada komitmen nasional dan internasional dengan membentuk peraturan perundang-undangan nasional yang mengacu pada konvensi internasional dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan terorisme. d. c. oleh karena itu perlu dilaksanakan langkah-langkah pemberantasan. perdamaian abadi dan keadilan sosial. b. bahwa peraturan perundang-undangan yang berlaku sampai saat ini belum secara komprehensif dan memadai untuk memberantas tindak pidana terorisme. bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a. MEMUTUSKAN : Menetapkan : . huruf b.NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. atau hilangnya kemerdekaan. f. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. huruf d. Menimbang : a. bahwa terorisme telah menghilangkan nyawa tanpa memandang korban dan menimbulkan ketakutan masyarakat secara luas. bahwa dalam mewujudkan tujuan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yakni melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. serta kerugian harta benda. maka mutlak diperlukan penegakan hukum dan ketertiban secara konsisten dan berkesinambungan. Mengingat : Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah dengan Perubahan Keempat Undang-Undang Dasar 1945. dan adanya kebutuhan yang sangat mendesak perlu mengatur pemberantasan tindak pidana terorisme dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang.

8. politis. termasuk fasilitas internasional. nyawa. 5. Fasilitas publik adalah tempat yang dipergunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum. militer.PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME. Organisasi internasional adalah organisasi yang berada dalam lingkup struktur organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa atau organisasi internasional lainnya di luar Perserikatan Bangsa-Bangsa atau yang menjalankan tugas mewakili Perserikatan Bangsa-Bangsa. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. 2. 6. Korporasi adalah kumpulan orang dan/atau kekayaan yang terorganisasi baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum. dan kemerdekaan orang. 3. 4. Ancaman kekerasan adalah setiap perbuatan yang dengan sengaja dilakukan untuk memberikan pertanda atau peringatan mengenai suatu keadaan yang cenderung dapat menimbulkan rasa takut terhadap orang atau masyarakat secara luas. atau korporasi. Harta kekayaan adalah semua benda bergerak atau benda tidak bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud. termasuk menjadikan orang pingsan atau tidak berdaya. 7. 11. dan pertahanan serta keamanan yang sangat tinggi. 10. Kekerasan adalah setiap perbuatan penyalahgunaan kekuatan fisik dengan atau tanpa menggunakan sarana secara melawan hukum dan menimbulkan bahaya bagi badan. kelompok orang baik sipil. maupun polisi yang bertanggung jawab secara individual. Perwakilan negara asing adalah perwakilan diplomatik dan konsuler asing beserta anggota-anggotanya. atau bangunan yang mempunyai nilai ekonomis. Tindak pidana terorisme adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini. lokasi. Setiap orang adalah orang perseorangan. Pemerintah Republik Indonesia adalah pemerintah Republik Indonesia dan perwakilan Republik Indonesia di luar negeri. budaya. sosial. . Obyek vital yang strategis adalah tempat. 9.

kejahatan dilakukan di atas kapal yang berbendera negara tersebut atau pesawat udara yang terdaftar berdasarkan undangundang negara yang bersangkutan pada saat kejahatan itu dilakukan. (2) Negara lain mempunyai yurisdiksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). . atau g. kejahatan dilakukan terhadap warga negara dari negara yang bersangkutan. kejahatan dilakukan terhadap pesawat udara yang dioperasikan oleh pemerintah negara yang bersangkutan. bom. kejahatan dilakukan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa negara yang bersangkutan melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. granat tangan. apabila: a. semua jenis mesiu. baik berdasarkan suku. dan keselamatan masyarakat dengan tetap menjunjung tinggi hukum dan hak asasi manusia. kejahatan dilakukan terhadap suatu negara atau fasilitas pemerintah dari negara yang bersangkutan di luar negeri termasuk perwakilan negara asing atau tempat kediaman pejabat diplomatik atau konsuler dari negara yang bersangkutan. d. e. BAB II LINGKUP BERLAKUNYA PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG Pasal 3 (1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini berlaku terhadap setiap orang yang melakukan atau bermaksud melakukan tindak pidana terorisme di wilayah negara Republik Indonesia dan/atau negara lain juga mempunyai yurisdiksi dan menyatakan maksudnya untuk melakukan penuntutan terhadap pelaku tersebut.12. Pasal 2 Pemberantasan tindak pidana terorisme dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini merupakan kebijakan dan langkah-langkah strategis untuk memperkuat ketertiban masyarakat. agama. bom pembakar. b. Bahan peledak adalah semua bahan yang dapat meledak. atau semua bahan peledak dari bahan kimia atau bahan lain yang dipergunakan untuk menimbulkan ledakan. c. tidak bersifat diskriminatif. f. maupun antargolongan. kejahatan tersebut juga dilakukan di negara yang bersangkutan. ras. ranjau. kejahatan dilakukan oleh warga negara dari negara yang bersangkutan.

di atas kapal yang berbendera negara Republik Indonesia atau pesawat udara yang terdaftar berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia pada saat kejahatan itu dilakukan. Pasal 7 Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan bermaksud untuk menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa atau harta benda orang lain. atau untuk menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis. c. tindak pidana yang berkaitan dengan tindak pidana politik. atau lingkungan hidup. atau f. Pasal 5 Tindak pidana terorisme yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini dikecualikan dari tindak pidana politik. terhadap warga negara Republik Indonesia di luar wilayah negara Republik Indonesia. dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain. BAB III TINDAK PIDANA TERORISME Pasal 6 Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal. dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memaksa pemerintah Republik Indonesia melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. atau fasilitas publik. oleh setiap orang yang tidak memiliki kewarganegaraan dan bertempat tinggal di wilayah negara Republik Indonesia. d. terhadap fasilitas negara Republik Indonesia di luar negeri termasuk tempat kediaman pejabat diplomatik dan konsuler Republik Indonesia. yang menghambat proses ekstradisi. atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional. .Pasal 4 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini berlaku juga terhadap tindak pidana terorisme yang dilakukan: a. dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun. tindak pidana dengan motif politik. b. dan tindak pidana dengan tujuan politik. untuk memaksa organisasi internasional di Indonesia melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. e.

kerusakan atau membuat tidak dapat dipakainya pesawat udara yang dipertanggungkan terhadap bahaya atau yang dipertanggungkan muatannya maupun upah yang akan diterima untuk pengangkutan muatannya. membuat tidak dapat dipakai atau merusak bangunan untuk pengamanan lalu lintas udara atau menggagalkan usaha untuk pengamanan bangunan tersebut. karena kealpaannya menyebabkan tanda atau alat untuk pengamanan penerbangan hancur. dilakukan dengan direncanakan terlebih dahulu. menghancurkan. e. dalam pesawat udara dengan perbuatan yang melawan hukum. c. k. atau rusak. d. dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum. menghancurkan atau membuat tidak dapat dipakainya pesawat udara yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain. kecelakaan kehancuran. merusak. rusak. dengan sengaja atau melawan hukum. b. menghancurkan. merampas atau mempertahankan perampasan atau menguasai pengendalian pesawat udara dalam penerbangan. membuat tidak dapat dipakai atau merusak pesawat udara. menyebabkan hancurnya. Pasal 8 Dipidana karena melakukan tindak pidana terorisme dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. atau gagalnya usaha untuk pengamanan bangunan tersebut. setiap orang yang: a. g. dilakukan dengan . atau menggagalkan bekerjanya tanda atau alat tersebut. melakukan bersama-sama sebagai kelanjutan permufakatan jahat. mengambil. dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan. atau memindahkan tanda atau alat untuk pengamanan penerbangan. mengakibatkan kerusakan pada pesawat udara sehingga dapat membahayakan penerbangannya. f. dengan sengaja dan melawan hukum mencelakakan. karena kealpaannya menyebabkan pesawat udara celaka. dipidana dengan pidana penjara paling lama seumur hidup. h. mengakibatkan luka berat seseorang. dalam pesawat udara dengan kekerasan atau ancaman kekerasan atau ancaman dalam bentuk lainnya. tidak dapat dipakainya atau rusaknya bangunan untuk pengamanan lalu lintas udara. j. tidak dapat dipakai. atau memasang tanda atau alat yang keliru. atas penanggung asuransi menimbulkan kebakaran atau ledakan.atau fasilitas internasional. merampas atau mempertahankan perampasan atau menguasai pesawat udara dalam penerbangan. terambil atau pindah atau menyebabkan terpasangnya tanda atau alat untuk pengamanan penerbangan yang keliru. hancur. i. ataupun untuk kepentingan muatan tersebut telah diterima uang tanggungan.

terjadi kekacauan terhadap kehidupan. di dalam pesawat udara melakukan perbuatan yang dapat membahayakan keamanan dalam pesawat udara dalam penerbangan. kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis. . l. q. atau fasilitas internasional. memberikan keterangan yang diketahuinya adalah palsu dan karena perbuatan itu membahayakan keamanan pesawat udara dalam penerbangan. mempergunakan. amunisi. lingkungan hidup. senjata biologis. Pasal 9 Setiap orang yang secara melawan hukum memasukkan ke Indonesia. dengan sengaja dan melawan hukum merusak pesawat udara dalam dinas atau menyebabkan kerusakan atas pesawat udara tersebut yang menyebabkan tidak dapat terbang atau membahayakan keamanan penerbangan. menerima. membuat. fasilitas publik. mikroorganisme. mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya. dan mengakibatkan luka berat bagi seseorang dari perbuatan sebagaimana dimaksud dalam huruf l. membahayakan terhadap kesehatan. jika perbuatan itu dapat membahayakan keselamatan pesawat udara tersebut. alat atau bahan yang dapat menghancurkan pesawat udara yang membuatnya tidak dapat terbang atau menyebabkan kerusakan pesawat udara tersebut yang dapat membahayakan keamanan dalam penerbangan. dan hak-hak orang. mengangkut. m. o. dengan sengaja dan melawan hukum melakukan perbuatan kekerasan terhadap seseorang di dalam pesawat udara dalam penerbangan. radiologi. membawa. dengan sengaja dan melawan hukum menempatkan atau menyebabkan ditempatkannya di dalam pesawat udara dalam dinas. huruf m. menimbulkan korban yang bersifat massal. keamanan. dengan cara apapun. atau mengeluarkan ke dan/atau dari Indonesia sesuatu senjata api. n. melakukan dengan direncanakan lebih dahulu. menguasai. atau terjadi kerusakan. mencoba memperoleh. sehingga menimbulkan suasana teror. Pasal 10 Dipidana dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. dan huruf n. p. sebagai kelanjutan dari permufakatan jahat. menyerahkan atau mencoba menyerahkan. atau rasa takut terhadap orang secara meluas. setiap orang yang dengan sengaja menggunakan senjata kimia. atau sesuatu bahan peledak dan bahan-bahan lainnya yang berbahaya dengan maksud untuk melakukan tindak pidana terorisme. melakukan secara bersama-sama 2 (dua) orang atau lebih.maksud untuk merampas kemerdekaan atau meneruskan merampas kemerdekaan seseorang. menyembunyikan. radioaktif atau komponennya. r. menyimpan. di dalam pesawat udara melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mengganggu ketertiban dan tata tertib di dalam pesawat udara dalam penerbangan. dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.

Pasal 13 Setiap orang yang dengan sengaja memberikan bantuan atau kemudahan terhadap pelaku tindak pidana terorisme. atau 2) melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam huruf b dengan tujuan untuk memaksa orang lain. huruf b. atau negara lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. e. mikroorganisme. Pasal 12 Dipidana karena melakukan tindak pidana terorisme dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun. memberikan atau meminjamkan uang atau barang atau harta kekayaan lainnya kepada pelaku tindak pidana terorisme. radioaktif. d. meminta bahan nuklir. mikroorganisme. membuang bahan nuklir. senjata kimia. radiologi. atau komponennya secara paksa atau ancaman kekerasan atau dengan segala bentuk intimidasi. senjata biologis. organisasi internasional.Pasal 11 Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun. mencoba melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam huruf a. radioaktif. mencuri atau merampas bahan nuklir. menyembunyikan pelaku tindak pidana terorisme. radiologi. senjata biologis. setiap orang yang dengan sengaja menyediakan atau mengumpulkan dana dengan tujuan akan digunakan atau patut diketahuinya akan digunakan sebagian atau seluruhnya untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. ikut serta dalam melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai dengan huruf f. senjata biologis. radioaktif atau komponennya yang mengakibatkan atau dapat mengakibatkan kematian atau luka berat atau menimbulkan kerusakan harta benda. radiologi. dan g. b. senjata kimia. b. dan Pasal 10. atau huruf c. radioaktif. mikroorganisme. Pasal 8. radiologi. mikroorganisme. Pasal 7. c. atau . mikroorganisme. Pasal 9. f. radiologi. senjata biologis. senjata kimia. senjata biologis. menyerahkan. atau komponennya untuk menimbulkan kematian atau luka berat atau kerusakan harta benda. setiap orang yang dengan sengaja menyediakan atau mengumpulkan harta kekayaan dengan tujuan akan digunakan atau patut diketahuinya akan digunakan sebagian atau seluruhnya untuk melakukan : a. atau komponennya . tindakan secara melawan hukum menerima. dengan : a. senjata kimia. menggunakan. memiliki. mengancam : 1) menggunakan bahan nuklir. penggelapan atau memperoleh secara tidak sah bahan nuklir. mengubah. senjata kimia. radioaktif atau komponennya.

000. (2) Tindak pidana terorisme dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang baik berdasarkan hubungan kerja maupun hubungan lain. Pasal 11. tidak . Pasal 7. (2) Pidana pokok yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi hanya dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp 1. Pasal 15. dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. maka tuntutan dan penjatuhan pidana dilakukan terhadap korporasi dan/atau pengurusnya. Pasal 11. Pasal 16 dan ketentuan mengenai penjatuhan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14. (3) Korporasi yang terlibat tindak pidana terorisme dapat dibekukan atau dicabut izinnya dan dinyatakan sebagai korporasi yang terlarang. Pasal 8. Pasal 7. dan Pasal 12 dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup. Pasal 8. menyembunyikan informasi tentang tindak pidana terorisme. Pasal 17 (1) Dalam hal tindak pidana terorisme dilakukan oleh atau atas nama suatu korporasi. dan Pasal 12 dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidananya. Pasal 10. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun. dan Pasal 12. Pasal 8. atau pembantuan untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. maka panggilan untuk menghadap dan penyerahan surat panggilan tersebut disampaikan kepada pengurus di tempat tinggal pengurus atau di tempat pengurus berkantor. Pasal 14 Setiap orang yang merencanakan dan/atau menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. Pasal 10. bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri maupun bersama-sama. Pasal 7. Pasal 15 Setiap orang yang melakukan permufakatan jahat. Pasal 9. Pasal 11. Pasal 19 Ketentuan mengenai penjatuhan pidana minimum khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. Pasal 10. Pasal 11. kemudahan.(satu triliun rupiah). Pasal 16 Setiap orang di luar wilayah negara Republik Indonesia yang memberikan bantuan. sarana. Pasal 9. Pasal 9. Pasal 13. atau keterangan untuk terjadinya tindak pidana terorisme. Pasal 10. Pasal 12.c.000. Pasal 9. (3) Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap suatu korporasi. percobaan..000.000. Pasal 8. Pasal 18 (1) Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap korporasi. maka korporasi tersebut diwakili oleh pengurus.

tidak berlaku untuk pelaku tindak pidana terorisme yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun. dan mempengaruhi saksi secara melawan hukum di sidang pengadilan. atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan. Pasal 21. atau melakukan penyerangan terhadap saksi. penyidik. penuntutan. Pasal 22 Setiap orang yang dengan sengaja mencegah. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun. termasuk petugas pengadilan dalam perkara tindak pidana terorisme. penuntut umum. BAB V PENYIDIKAN. DAN PEMERIKSAAN DI SIDANG PENGADILAN Pasal 25 (1) Penyidikan. Pasal 24 Ketentuan mengenai penjatuhan pidana minimum khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20. merintangi. dilakukan berdasarkan hukum acara yang .berlaku untuk pelaku tindak pidana terorisme yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun. PENUNTUTAN. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun. penasihat hukum. dan pemeriksaan di sidang pengadilan dalam perkara tindak pidana terorisme. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun. menyampaikan alat bukti palsu atau barang bukti palsu. Pasal 21 Setiap orang yang memberikan kesaksian palsu. Pasal 23 Setiap saksi dan orang lain yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun. BAB IV TINDAK PIDANA LAIN YANG BERKAITAN DENGAN TINDAK PIDANA TERORISME Pasal 20 Setiap orang yang dengan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan atau dengan mengintimidasi penyelidik. penuntutan. dan pemeriksaan di sidang pengadilan dalam perkara tindak pidana terorisme. dan Pasal 22. dan/atau hakim yang menangani tindak pidana terorisme sehingga proses peradilan menjadi terganggu.

maka Ketua Pengadilan Negeri segera memerintahkan dilaksanakan penyidikan. (3) Proses pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan secara tertutup dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari. 3) huruf. termasuk tetapi tidak terbatas pada : 1) tulisan. rancangan. dan c. alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan. atau gambar. atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya. kecuali ditentukan lain dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini. (2) Penetapan bahwa sudah dapat atau diperoleh bukti permulaan yang cukup sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan proses pemeriksaan oleh Ketua atau Wakil Ketua Pengadilan Negeri. atau informasi yang dapat dilihat. atau hakim berwenang memerintahkan kepada bank dan lembaga jasa keuangan untuk melakukan pemblokiran terhadap harta kekayaan setiap orang yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana terorisme dan/atau tindak pidana yang berkaitan dengan terorisme. angka. 2) peta. diterima. suara. yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana.berlaku. data. simbol. foto. Pasal 27 Alat bukti pemeriksaan tindak pidana terorisme meliputi : a. penyidik diberi wewenang untuk melakukan penahanan terhadap tersangka paling lama 6 (enam) bulan. (4) Jika dalam pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan adanya bukti permulaan yang cukup. atau yang terekam secara elektronik. dan/atau didengar. dikirimkan. Pasal 28 Penyidik dapat melakukan penangkapan terhadap setiap orang yang diduga keras melakukan tindak pidana terorisme berdasarkan bukti permulaan yang cukup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2) untuk paling lama 7 x 24 (tujuh kali dua puluh empat) jam. alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana. tanda. atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu. . rekaman. b. dibaca. Pasal 29 (1) Penyidik. Pasal 26 (1) Untuk memperoleh bukti permulaan yang cukup. baik yang tertuang di atas kertas. penuntut umum. benda fisik apapun selain kertas. penyidik dapat menggunakan setiap laporan intelijen. (2) Untuk kepentingan penyidikan dan penuntutan. atau sejenisnya.

tindak pidana yang disangkakan atau didakwakan. (2) Dalam meminta keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terhadap penyidik. (3) Bank dan lembaga jasa keuangan setelah menerima perintah penyidik. penuntut umum. penuntut umum. atau terdakwa. maka penyidik. Pasal 30 (1) Untuk kepentingan pemeriksaan dalam perkara tindak pidana terorisme. (5) Harta kekayaan yang diblokir harus tetap berada pada bank dan lembaga jasa keuangan yang bersangkutan. atau hakim. atau hakim paling lambat 1 (satu) hari kerja terhitung sejak tanggal pelaksanaan pemblokiran. tersangka. penuntut umum. atau hakim tidak berlaku ketentuan Undang-undang yang mengatur tentang rahasia bank dan kerahasiaan transaksi keuangan lainnya. identitas setiap orang yang diketahui atau patut diduga melakukan tindak pidana terorisme. atau hakim sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) wajib melaksanakan pemblokiran sesaat setelah surat perintah pemblokiran diterima. penuntut umum. alasan pemblokiran. nama dan jabatan penyidik. dan tempat harta kekayaan berada. penuntut umum. (4) Bank dan lembaga jasa keuangan wajib menyerahkan berita acara pelaksanaan pemblokiran kepada penyidik. identitas setiap orang yang telah dilaporkan oleh bank dan lembaga jasa keuangan kepada penyidik. penuntut umum. c. nama dan jabatan penyidik. (3) Permintaan keterangan harus diajukan secara tertulis dengan menyebutkan secara jelas mengenai : a. b. d. penuntut umum. d. c. (6) Bank dan lembaga jasa keuangan yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4) dikenai sanksi administratif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. tindak pidana yang disangkakan atau didakwakan. atau hakim berwenang untuk meminta keterangan dari bank dan lembaga jasa keuangan mengenai harta kekayaan setiap orang yang diketahui atau patut diduga melakukan tindak pidana terorisme. e.(2) Perintah penyidik. dan tempat harta kekayaan berada. atau hakim. (4) Surat permintaan untuk memperoleh keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) harus ditandatangani oleh : . b. atau hakim sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan secara tertulis dengan menyebutkan secara jelas mengenai : a.

(2) Dalam penyidikan dan pemeriksaan di sidang pengadilan. maupun sesudah proses pemeriksaan perkara. penyidik. Pasal 31 (1) Berdasarkan bukti permulaan yang cukup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (4). jiwa. perlindungan atas keamanan pribadi dari ancaman fisik dan kerahasiaan identitas saksi. b. (3) Tindakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) harus dilaporkan atau dipertanggungjawabkan kepada atasan penyidik. Pasal 34 (1) Perlindungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 dilakukan oleh aparat penegak hukum dan aparat keamanan berupa : a. dan hakim yang memeriksa beserta keluarganya dalam perkara tindak pidana terorisme wajib diberi perlindungan oleh negara dari kemungkinan ancaman yang membahayakan diri. saksi memberikan keterangan terhadap apa yang dilihat dan dialami sendiri dengan bebas dan tanpa tekanan. . saksi dan orang lain yang bersangkutan dengan tindak pidana terorisme dilarang menyebutkan nama atau alamat pelapor atau hal-hal lain yang memberikan kemungkinan dapat diketahuinya identitas pelapor. memeriksa. dan melakukan tindak pidana terorisme. Pasal 33 Saksi. Hakim Ketua Majelis yang memeriksa perkara yang bersangkutan. Kepala Kejaksaan Tinggi dalam hal permintaan diajukan oleh penuntut umum. c. merencanakan. Pasal 32 (1) Dalam pemeriksaan. Kepala Kepolisian Daerah atau pejabat yang setingkat pada tingkat Pusat dalam hal permintaan diajukan oleh penyidik. membuka. hanya dapat dilakukan atas perintah Ketua Pengadilan Negeri untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun. larangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diberitahukan kepada saksi dan orang lain tersebut. mental. dan/atau hartanya. (2) Tindakan penyadapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b. baik sebelum. penuntut umum. dan menyita surat dan kiriman melalui pos atau jasa pengiriman lainnya yang mempunyai hubungan dengan perkara tindak pidana terorisme yang sedang diperiksa. menyadap pembicaraan melalui telepon atau alat komunikasi lain yang diduga digunakan untuk mempersiapkan. penyidik berhak: a. b. b. (3) Sebelum pemeriksaan dilakukan.a. selama.

merupakan ganti kerugian yang diberikan oleh pelaku kepada korban atau ahli warisnya. pemberian keterangan pada saat pemeriksaan di sidang pengadilan tanpa bertatap muka dengan tersangka. maka terdakwa wajib diperiksa. (7) Setiap orang yang berkepentingan dapat mengajukan keberatan kepada pengadilan yang telah menjatuhkan penetapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5). pembiayaannya dibebankan kepada negara yang dilaksanakan oleh Pemerintah. BAB VI KOMPENSASI. (5) Dalam hal terdakwa meninggal dunia sebelum putusan dijatuhkan dan terdapat bukti yang cukup kuat bahwa yang bersangkutan telah melakukan tindak pidana terorisme. (2) Kompensasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan segala keterangan saksi dan surat-surat yang dibacakan dalam sidang sebelumnya dianggap sebagai diucapkan dalam sidang yang sekarang. Pasal 37 . atau diberitahukan kepada kuasanya. (2) Ketentuan mengenai tata cara perlindungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. (3) Restitusi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (4) Terdakwa atau kuasanya dapat mengajukan kasasi atas putusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). maka perkara dapat diperiksa dan diputus tanpa hadirnya terdakwa. RESTITUSI.c. dalam waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal pengumuman sebagaimana dimaksud dalam ayat (3). DAN REHABILITASI Pasal 36 (1) Setiap korban atau ahli warisnya akibat tindak pidana terorisme berhak mendapatkan kompensasi atau restitusi. (4) Kompensasi dan/atau restitusi tersebut diberikan dan dicantumkan sekaligus dalam amar putusan pengadilan. (3) Putusan yang dijatuhkan tanpa kehadiran terdakwa diumumkan oleh penuntut umum pada papan pengumuman pengadilan. (2) Dalam hal terdakwa hadir pada sidang berikutnya sebelum putusan dijatuhkan. kantor Pemerintah Daerah. maka hakim atas tuntutan penuntut umum menetapkan perampasan harta kekayaan yang telah disita. Pasal 35 (1) Dalam hal terdakwa telah dipanggil secara sah dan patut tidak hadir di sidang pengadilan tanpa alasan yang sah. (6) Penetapan perampasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) tidak dapat dimohonkan upaya hukum.

atau pihak ketiga untuk melaksanakan putusan tersebut paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal perintah tersebut diterima. Pasal 41 (1) Dalam hal pelaksanaan pemberian kompensasi dan/atau restitusi kepada pihak korban melampaui batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39. dan/atau restitusi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan kepada korban atau ahli warisnya. korban atau ahli warisnya dapat melaporkan hal tersebut kepada pengadilan. pelaku. (2) Rehabilitasi tersebut diberikan dan dicantumkan sekaligus dalam putusan pengadilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). disertai dengan tanda bukti pelaksanaan pemberian kompensasi. Pasal 38 (1) Pengajuan kompensasi dilakukan oleh korban atau kuasanya kepada Menteri Keuangan berdasarkan amar putusan pengadilan negeri. (3) Pengajuan rehabilitasi dilakukan oleh korban kepada Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Pasal 42 Dalam hal pemberian kompensasi dan/atau restitusi dapat dilakukan secara bertahap. paling lambat 60 (enam puluh) hari kerja terhitung sejak penerimaan permohonan. restitusi. Pasal 39 Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (1) dan pelaku sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (2) memberikan kompensasi dan/atau restitusi. (3) Setelah Ketua Pengadilan menerima tanda bukti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). maka setiap tahapan pelaksanaan atau keterlambatan pelaksanaan dilaporkan kepada pengadilan. Pasal 40 (1) Pelaksanaan pemberian kompensasi dan/atau restitusi dilaporkan oleh Menteri Keuangan. Ketua Pengadilan mengumumkan pelaksanaan tersebut pada papan pengumuman pengadilan yang bersangkutan. (2) Salinan tanda bukti pelaksanaan pemberian kompensasi. (2) Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) segera memerintahkan Menteri Keuangan. atau pihak ketiga kepada Ketua Pengadilan yang memutus perkara. BAB VII . (2) Pengajuan restitusi dilakukan oleh korban atau kuasanya kepada pelaku atau pihak ketiga berdasarkan amar putusan.(1) Setiap orang berhak memperoleh rehabilitasi apabila oleh pengadilan diputus bebas atau diputus lepas dari segala tuntutan hukum yang putusannya telah mempunyai kekuatan hukum tetap. dan/atau rehabilitasi tersebut. pelaku.

3) menerima berkas perkara hasil penyidikan dari penyidik polisi militer atau penyidik oditur. Pemerintah Republik Indonesia melaksanakan kerja sama internasional dengan negara lain di bidang intelijen. b. 2) menerima laporan pelaksanaan penyidikan dari penyidik polisi militer atau penyidik oditur.KERJA SAMA INTERNASIONAL Pasal 43 Dalam rangka pencegahan dan pemberantasan tindak pidana terorisme. dan 8) menutup perkara demi kepentingan hukum atau demi kepentingan umum/militer. dan 4) melakukan penahanan terhadap tersangka anggota bawahannya yang ada di bawah wewenang komandonya. Pasal 45 . 4) memperpanjang penahanan. dinyatakan tidak berlaku dalam pemeriksaan tindak pidana terorisme menurut Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini. kewenangan atasan yang berhak menghukum yakni : 1) melakukan penyidikan terhadap prajurit bawahannya yang ada di bawah wewenang komandonya yang pelaksanaannya dilakukan oleh penyidik polisi militer atau penyidik oditur. kepolisian dan kerjasama teknis lainnya yang berkaitan dengan tindakan melawan terorisme sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2) menerima laporan tentang pelaksanaan penyidikan. 6) menyerahkan perkara kepada pengadilan yang berwenang untuk memeriksa dan mengadili. 3) memerintahkan dilakukannya upaya paksa. kewenangan perwira penyerah perkara yang : 1) memerintahkan penyidik untuk melakukan penyidikan. 7) menentukan perkara untuk diselesaikan menurut hukum disiplin prajurit. 5) menerima atau meminta pendapat hukum dari oditur tentang penyelesaian suatu perkara. BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 44 Ketentuan mengenai : a.

ttd BAMBANG KESOWO . yang penerapannya ditetapkan dengan Undang-undang atau Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang tersendiri. Pasal 47 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. ttd MEGAWA TI SOEKAR NOPUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 18 Oktober 2002 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA.Presiden dapat mengambil langkah-langkah untuk merumuskan kebijakan dan langkah-langkah operasional pelaksanaan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini. Ditetapka n di Jakarta pada tanggal 18 Oktober 2002 PRESIDE N REPUBLI K INDONES IA. Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 46 Ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini dapat diperlakukan surut untuk tindakan hukum bagi kasus tertentu sebelum mulai berlakunya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini.

Komitmen masyarakat internasional dalam mencegah dan memberantas terorisme sudah diwujudkan dalam berbagai konvensi internasional yang menegaskan bahwa terorisme merupakan kejahatan yang mengancam perdamaian dan keamanan umat manusia sehingga seluruh anggota Perserikatan Bangsa-bangsa termasuk Indonesia wajib mendukung dan melaksanakan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa yang mengutuk dan menyerukan seluruh anggota Perserikatan Bangsa-bangsa untuk mencegah dan memberantas terorisme melalui pembentukan peraturan perundang-undangan nasional negaranya. maka Negara Republik Indonesia adalah negara kesatuan yang berlandaskan hukum dan memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memelihara kehidupan yang aman. Lambock V. .LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2002 NOMOR 106 Salinan sesuai dengan aslinya Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Hukum dan Perundang-undangan. damai. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas pemerintah wajib memelihara dan menegakkan kedaulatan dan melindungi setiap warga negaranya dari setiap ancaman atau tindakan destruktif baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Nahattands PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME UMUM Sejalan dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban serta merupakan salah satu ancaman serius terhadap kedaulatan setiap negara karena terorisme sudah merupakan kejahatan yang bersifat internasional yang menimbulkan bahaya terhadap keamanan. dan sejahtera serta ikut serta secara aktif memelihara perdamaian dunia. perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat sehingga perlu dilakukan pemberantasan secara berencana dan berkesinambungan sehingga hak asasi orang banyak dapat dilindungi dan dijunjung tinggi.

Kedua. serta hak asasi tersangka/terdakwa. konflik-konflik yang terjadi akhir-akhir ini sangat merugikan kehidupan berbangsa dan bernegara serta merupakan kemunduran peradaban dan dapat dijadikan tempat yang subur berkembangnya tindak pidana terorisme yang bersifat internasional baik yang dilakukan oleh warga negara Indonesia maupun yang dilakukan oleh orang asing. Pemberantasan tindak pidana terorisme di Indonesia tidak semata-mata merupakan masalah hukum dan penegakan hukum melainkan juga merupakan masalah sosial. budaya. Pemberantasan tindak pidana terorisme dengan ketiga tujuan di atas menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi peradaban umat manusia dan memiliki cita perdamaian dan mendambakan kesejahteraan serta memiliki komitmen yang kuat untuk tetap menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdaulat di tengah-tengah gelombang pasang surut perdamaian dan keamanan dunia. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini merupakan ketentuan payung terhadap peraturan perundang-undangan lainnya yang berkaitan dengan pemberantasan tindak pidana terorisme. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat multi-etnik dengan beragam dan mendiami ratusan ribu pulau-pulau yang tersebar di seluruh wilayah nusantara serta ada yang letaknya berbatasan dengan negara lain. dan menyimpang dari ketentuan umum sebagaimana dimuat dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Ketentuan khusus ini bukan merupakan wujud perlakuan yang diskriminatif melainkan merupakan komitmen pemerintah untuk mewujudkan ketentuan Pasal 3 Convention Against Terrorist Bombing (1997) dan Convention on the Suppression of Financing Terrorism(1999). ekonomi yang berkaitan erat dengan masalah ketahanan bangsa sehingga kebijakan dan langkah pencegahan dan pemberantasannyapun ditujukan untuk memelihara keseimbangan dalam kewajiban melindungi kedaulatan negara. dengan karakteristik masyarakat Indonesia tersebut seluruh komponen bangsa Indonesia berkewajiban memelihara dan meningkatkan kewaspadaan menghadapi segala bentuk kegiatan yang merupakan tindak pidana terorisme yang bersifat internasional. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme merupakan ketentuan khusus dan spesifik karena memuat ketentuan-ketentuan baru yang tidak terdapat dalam peraturan perundang-undangan yang ada. Kekhususan lain dari Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini antara lain sebagai berikut: 1. Terorisme yang bersifat internasional merupakan kejahatan yang terorganisasi. . hak asasi korban dan saksi. Ketiga.Pemberantasan tindak pidana terorisme di Indonesia merupakan kebijakan dan langkah antisipatif yang bersifat proaktif yang dilandaskan kepada kehati-hatian dan bersifat jangka panjang karena : Pertama. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini secara spesifik juga memuat ketentuan tentang lingkup yurisdiksi yang bersifat transnasional dan internasional serta memuat ketentuan khusus terhadap tindak pidana terorisme yang terkait dengan kegiatan terorisme internasional. sehingga pemerintah dan bangsa Indonesia wajib meningkatkan kewaspadaan dan bekerja sama memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketentuan tersebut antara lain memperkenalkan lembaga hukum baru dalam hukum acara pidana yang disebut dengan "hearing" dan berfungsi sebagai lembaga yang melakukan "legal audit" terhadap seluruh dokumen atau laporan intelijen yang disampaikan oleh penyelidik untuk menetapkan diteruskan atau tidaknya suatu penyidikan atas dugaan adanya tindakan terorisme. maupun kegiatan-kegiatan yang bersifat advokasi. baik melalui unjuk rasa. Apabila dalam kemerdekaan menyampaikan pendapat tersebut terjadi tindakan yang mengandung unsur pidana. Di dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini dimuat ketentuan yang memungkinkan Presiden membentuk satuan tugas anti teror. 6. Eksistensi satuan tersebut dilandaskan kepada prinsip transparansi dan akuntabilitas publik (sunshine principle) dan/atau prinsip pembatasan waktu efektif (sunset principle) sehingga dapat segera dihindarkan kemungkinan penyalahgunaan wewenang yang dimiliki oleh satuan dimaksud. asas ekstrateritorial. maka diberlakukan Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan ketentuan peraturan perundang-undangan di luar Kitab Undang-undang Hukum Pidana. protes. 7. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini memuat ketentuan tentang pendanaan untuk kegiatan teroris sebagai tindak pidana terorisme sehingga sekaligus juga memperkuat Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. 9. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini memuat ketentuan khusus tentang perlindungan terhadap hak asasi tersangka/terdakwa yang disebut "safe guarding rules". 8. Penggunaan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang untuk mengatur Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme didasarkan pertimbangan bahwa . Ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini tidak berlaku bagi kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum.2. Untuk memperkuat yurisdiksi tersebut Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini memuat juga ketentuan mengenai kerjasama internasional. 4. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini memuat ketentuan tentang yurisdiksi yang didasarkan kepada asas teritorial. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini merupakan ketentuan khusus yang diperkuat sanksi pidana dan sekaligus merupakan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang bersifat koordinatif (coordinating act) dan berfungsi memperkuat ketentuan-ketentuan di dalam peraturan perundang-undangan lainnya yang berkaitan dengan pemberantasan tindak pidana terorisme. dan asas nasional aktif sehingga diharapkan dapat secara efektif memiliki daya jangkau terhadap tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini yang melampaui batasbatas teritorial Negara Republik Indonesia. 5. Di dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini ditegaskan bahwa tindak pidana terorisme dikecualikan dari tindak pidana politik atau tindak pidana yang bermotif politik atau tindak pidana yang bertujuan politik sehingga pemberantasannya dalam wadah kerjasama bilateral dan multilateral dapat dilaksanakan secara lebih efektif. 3. Di dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini tetap dipertahankan ancaman sanksi pidana dengan minimum khusus untuk memperkuat fungsi penjeraan terhadap para pelaku tindak pidana terorisme.

kecuali Pemerintah Republik Indonesia menyetujui diberlakukannya asas resiprositas. daya. Termasuk merusak atau menghancurkan adalah dengan sengaja melepaskan atau membuang zat. Pasal 5 Ketentuan ini dimaksudkan agar tindak pidana terorisme tidak dapat berlindung di balik latar belakang. Ketentuan ini juga untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas perjanjian ekstradisi dan bantuan hukum timbal balik dalam masalah pidana antara Pemerintah Republik Indonesia dengan pemerintah negara lain. dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya. dan tujuan politik untuk menghindarkan diri dari penyidikan. atau air permukaan yang membahayakan terhadap orang atau barang. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas Pasal 2 Cukup jelas Pasal 3 Tuntutan yurisdiksi negara lain tidak serta-merta ada keterikatan Pemerintah Republik Indonesia untuk menerima tuntutan dimaksud sepanjang belum ada perjanjian ekstradisi atau bantuan hukum timbal balik dalam masalah pidana. penuntutan. udara. yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk lainnya. Pasal 6 Yang dimaksud dengan "kerusakan atau kehancuran lingkungan hidup" adalah tercemarnya atau rusaknya kesatuan ruang dengan semua benda. . Pasal 7 Yang dimaksud dengan "kerusakan atau kehancuran lingkungan hidup" lihat penjelasan Pasal 6. Perwakilan Republik Indonesia dan harta kekayaan Pemerintah Republik Indonesia di luar negeri. energi. Pasal 4 Pasal ini bertujuan untuk melindungi warga negara Republik Indonesia. pemeriksaan di sidang pengadilan dan penghukuman terhadap pelakunya. motivasi.terjadinya terorisme di berbagai tempat telah menimbulkan kerugian baik materiil maupun immateriil serta menimbulkan ketidakamanan bagi masyarakat. keadaan. sehingga mendesak untuk dikeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang guna segera dapat diciptakan suasana yang kondusif bagi pemeliharaan ketertiban dan keamanan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip hukum. dan/atau komponen lain yang berbahaya atau beracun ke dalam tanah.

selama. Pasal 11 Cukup jelas Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Yang dimaksud dengan "bantuan" adalah tindakan memberikan bantuan baik sebelum maupun pada saat tindak pidana dilakukan. Pasal 10 Ketentuan ini diambil dari Convention on the Physical Protection of Nuclear Material. Yang dimaksud dengan "kemudahan" adalah tindakan memberikan bantuan setelah tindak pidana dilakukan. Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Cukup jelas Pasal 19 Cukup jelas . Yang dimaksud dengan "menggerakkan" adalah melakukan hasutan dan provokasi. Pasal 14 Ketentuan ini ditujukan terhadap auctor intelectualis. Yang dimaksud dengan merencanakan termasuk mempersiapkan baik secara fisik. Vienna. Pasal 15 Pembantuan dalam Pasal ini adalah pembantuan sebelum. Pasal 16 Yang dimaksud dengan "bantuan" dan "kemudahan" lihat penjelasan Pasal 13. maupun sumber daya manusia. Pasal 9 Yang dimaksud dengan "bahan yang berbahaya lainnya" adalah termasuk gas beracun dan bahan kimia yang berbahaya. finansial. pemberian hadiah atau uang atau janji-janji. 1979 yang telah diratifikasi dengan Keputusan Presiden Nomor 49 Tahun 1986. dan setelah kejahatan dilakukan.Pasal 8 Ketentuan ini merupakan penjabaran dari tindak pidana tentang kejahatan penerbangan dan kejahatan terhadap sarana/prasarana penerbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal XXIXA Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

Departemen Kehakiman dan HAM. Kepolisian Negara Republik Indonesia. penuntut umum. Penentuan pengadilan negeri dimaksud didasarkan pada pertimbangan dapat berlangsungnya pemeriksaan dengan cepat dan tepat. Departemen Pertahanan. Ayat (2) Yang dimaksud dengan "Pengadilan Negeri" dalam ketentuan ini adalah pengadilan negeri tempat kedudukan instansi penyidik atau pengadilan negeri di luar kedudukan instansi penyidik. Badan Intelijen Negara. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 27 Cukup jelas . Departemen Keuangan. Laporan intelijen dapat diperoleh dari Departemen Dalam Negeri. Departemen Luar Negeri. Kejaksaan Agung Republik Indonesia. dan hakim. Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Cukup jelas Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Jangka waktu 6 (enam) bulan yang dimaksud dalam ketentuan ini terdiri dari 4 (empat) bulan untuk kepentingan penyidikan dan 2 (dua) bulan untuk kepentingan penuntutan. atau instansi lain yang terkait. Tentara Nasional Indonesia.Pasal 20 Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Ketentuan dalam Pasal ini bermaksud mempidana pelaku yang melakukan tindakan yang ditujukan kepada penyidik. Pasal 26 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "laporan intelijen" adalah laporan yang berkaitan dan berhubungan dengan masalah-masalah keamanan nasional.

Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Sanksi administratif dalam ketentuan ini misalnya tindakan pembekuan atau pencabutan izin. Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas Pasal 33 Cukup jelas Pasal 34 Cukup jelas Pasal 35 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) .

Cukup jelas Ayat (5) Perampasan harta kekayaan adalah perampasan harta kekayaan yang berkaitan dengan kegiatan terorisme. misalnya kehormatan. ibu. Pasal 36 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "kompensasi" adalah penggantian yang bersifat materiil dan immateriil. Pasal 38 Cukup jelas Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Pasal 42 Cukup jelas Pasal 43 Ketentuan dalam Pasal ini dimaksudkan untuk efisiensi dan efektivitas penyidikan. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 37 Rehabilitasi dalam Pasal ini adalah pemulihan pada kedudukan semula. jabatan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan "ahli waris" adalah ayah. Ayat (6) Cukup jelas Ayat (7) Ketentuan ini bertujuan untuk melindungi pihak ketiga yang beritikad baik. penuntutan. istri/suami. . dan pemeriksaan tindak pidana terorisme. nama baik. dan anak. atau hak-hak lain termasuk penyembuhan dan pemulihan fisik atau psikis serta perbaikan harta benda.

Sos Puslitbang Strahan Balitbang Dephan . S.Pasal 44 Cukup jelas Pasal 45 Cukup jelas Pasal 46 Cukup jelas Pasal 47 Cukup jelas TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4232 KONSEPSI PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERORISME DI INDONESIA DALAM RANGKA MENJAGA KEUTUHAN NKRI Oleh : Tri Poetrantro.

.

Dengan memanfaatkan kemampuan teknologi modern saat ini teroris dapat menghancurkan sasaran yang diijinkan dari jarak jauh. kuantitas maupun kualitasnya. seperti telepon genggam atau bom bunuh diri seperti yang terjadi di Bali. Pemerintah Indonesia menyikapi fenomena terorisme secara arif. di Gereja GKPI dan Gereja Katolik Medan serta rumah Dubes Filipina 2000 dan 2001.PENDAHULUAN Perkembangan kejahatan terorisme global telah menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan baik modus. Jakarta 1999. di Plaza Hayam Wuruk dan Masjid Istiqlal Jakarta. 2000. Peledakan di beberapa Gereja di malam Natal. menganilisis berbagai aspek kehidupan bangsa saat ini. 2002. Untuk mencegah dan menanggulangi segala bentuk tindakan dan kegiatan teroris. Kejadian Menonjol. Terungkap fakta adanya keterkaitan jaringan militan lokal dengan jaringan internasional. ancaman non tradisional lainnya yang muncul saat ini telah merebak pula lewat pintu sendi kehidupan bangsa. Beberapa peristiwa aksi teroris yang terjadi signifikan di Indonesia antara lain : 1998. Mc Donald Makasar . Indonesia tidak lepas dari sasaran terorisme. Sejumlah peristiwa terorisme menunjukkan adanya mata rantai antara kelompok dalam dan luar negeri. c. Dari hasil pengungkapan kasus di Indonesia merupakan jaringan teroris Internasional dimana keberadaanya dengan segala aktifitasnya tidak dapat terdeteksi secara dini sehingga sulit untuk dicegah dan ditangkal. Oleh sebab itu perlu ditangani secara bijak. di Gedung Atrium Senin. guna memerangi aksi terorisme. Peledakan di Kuta Bali. bersama dunia internasional. Selain ancaman terorisme. KONDISI PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERORISME SAAT INI. Berbagai peristiwa pengeboman memakan korban jiwa dan merusak sarana dan prasarana yang ada. Aktifitas teroris telah membidik dan memanfaatkan ideologi dan agama bagi masyarakat dunia sebagai garapan agar memihak kepada perjuangan mereka.

2003, Peledakan di JW Marriot dan Rizt Carlton 2004, Peledakan di Kedubes Australia 2005. Peledakan bom Bali II Aksi teror tersebut bila terus berlanjut akan dapat mengancam stabilitas politik dan keamanan yang pada gilirannya akan menghambat kelancaran pembangunan nasional. Pencegahan dan penanggulangan saat ini. Berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah khususnya langkah-langkah aparat keamanan dalam pengungkapan pelaku terorisme, mendapat tanggapan beranekaragam dikalangan masyarakat, khususnya kelompok umat Islam yang sensitif terhadap isu terorisme karena dikaitkan dengan agama islam. Menguatnya perbedaan sikap pro dan kontra sesuai tanpa memperdulikan kepentingan nasional, menimbulkan rasa saling curiga dikalangan masyarakat dan ketidak percayaan terhadap pemerintah khususnya aparat keamanan dalam menangani terorisme di Indonesia. Selain itu kerjasama tingkat ASEAN telah dilaksanakan. Sikap kehati-hatian pemerintah Indonesia dalam mencegah dan menanggulangi teroris, dapat dilihat dari kebijakan dan langkah-langkah antisipatif, terkait dengan peristiwa Bali tanggal 12 Oktober 2002. Dalam melakukan pencegahan dan penanggunalanan terorisme pemerintah telah membentuk lembaga-lembaga khusus guna menghadapi terorisme yang berkembang di tanah air belakangan ini, lembaga-lembaga tersebut antara lain : Intelijen. Aparat intelijen yang dikoordinasikan oleh Badan Intelijen Negara (Keppres No. 6 Tahun 2003), yang telah melakukan kegiatan dan koordinasi intelijen dan bahkan telah membentuk Joint Analysist Terrorist (JAT) upaya untuk mengungkap jaringan teroris di Indonesia. TNI dan POLRI, Telah meningkatkan kinerja satuan anti terornya. Upaya penangkapan terhadap mereka yang diduga sebagai jaringan

terorisme di Indonesia sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku masih mendapat reaksi kontroversial dari sebagian kelompok masyarakat dan diwarnai berbagai komentar melalui media massa yang mengarah kepada terbentuknya opini seolah-olah terdapat tekanan asing. Kerjasama Internasional. Berbagai upaya kerjasama telah dilakukan antara lain dengan beberapa negara seperti Thailand, Singapura, Malaysia, Philipina, dan Australia, bahkan negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Perancis, dan Jepang. Masalah ekstradisi antara pemerintah Singapura dan Indonesia belum terealisasi. Implikasi terhadap Persatuan dan Kesatuan Bangsa. Kekhawatiran masyarakat terhadap bahaya teror bom masih ada. Hal ini apabila tidak segera ditangani secara bijak akan mempengaruhi roda perekonomian. Di sisi lain, penindakan, penangkapan atau pemeriksaan oleh aparat terhadap siapa dan organisasi yang ada di masyarakat perlu sikap hati-hati, agar tidak menimbulkan sentimen negatif di kalangan masyarakat itu sendiri, pemerintah diangapnya diskriminatif atau muncul berbias pada permasalahan baru yang bernuansa SARA. Permasalahan yang dihadapi. Permasalahan yang dihadapi dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme yaitu : Penegakan hukum terhadap sistem kejahatan terorisme masih lemah. Kualitas SDM mudah dimanfaatkan dan masih rentan terhadap aksi penggalangan menjadi simpatisan kelompok teroris. Tingkat kewaspadaan masyarakat terhadap modus operandi teroris masih lemah. Kemampuan aparat keamanan dalam mendeteksi dini, menangkal, mencegah dan menangkap kelompok teroris masih terkendala baik peralatan maupun koordinasi di lapangan. PENGARUH PERKEMBANGAN LINGKUNGAN STRATEGIS

Global. Issue global yang meliputi demokratisasi, HAM dan lingkungan hidup telah berkembang ke arah perang melawan teroris internasional bahkan beberapa negara maju telah menerapkan konsep penyerangan awal terhadap terorisme yang berada di negara tertentu. Meskipun banyak negara yang tidak menyetujuinya tetapi konsep tersebut tetap disosialisasikan secara Internasional yang disponsori oleh Amerika Serikat. Sikap Amerika Serikat yang selalu memihak kepada Israel, sehingga masyarakat muslim dunia yang berpihak pada perjuangan Palestina menaruh sikap antipati terhadap politik Amerika. Regional. Lemahnya penegakan hukum dan sistem keamanan kawasan, dimanfaatkan oleh para penyelundup untuk penyelundupan senjata api masuk ke Indonesia dengan sasaran daerah-daerah konflik seperti Aceh dan Poso. Wilayah Thailand Selatan yang memiliki warga muslim Islam fundamentalis telah diklaim oleh Kelompok Al Jemaah Al lslamiyah sebagai bagian dan Daulah Islamiyah Nusantara. Kelompok Abu Sayyaf di Filipina disinyalir ada kaitan dengan jaringan kelompok teroris internasional dan kelompok Al Jemaah Al lslamiyah di Indonesia. Kelompok Al Jemaah Al Islamiyah yang merupakan jaringan teroris internasional lahir di wilayah Johor Malaysia pada tahun 1995. Kondisi tersebut telah memasuki cara berpikir masyarakat marginal dipedesaan. Nasional. Ideologi. Adanya kelompok untuk mengubah Pancasila dengan Ideologi lain yang berorientasi kepada agama, faham liberal atau faham sosialis/komunis. Ada upaya kelompok agama ingin memasukkan Syariat Islam secara konstitusional. Kelompok faham sosialis/komunis melalui kelompok radikal berbasis sosial/komunis selalu berupaya untuk mencabut Ketetapan MPRS No.XXV/MPRS/ 1966 sehingga ajaran komunis dapat hidup kembali di wilayah Republik Indonesia. Politik. Permasalahan pelaksanaan Otonomi Daerah dan pemekaran

wilayah di beberapa daerah di Indonesia terkesan dipaksakan. Pemaksaan keinginan ini merupakan salah satu wujud distorsi perpolitikan di Indonesia yang pada gilirannya berkembang issue timbulnya ancaman disintegrasi bangsa. Proses demokrasi yang tidak didukung oleh budaya partisipasi politik akan menimbulkan sikap arogansi, ingin kebebasan yang tanpa batas dan bermuara pada disintegrasi. Kondisi demikian merupakan suasana nyaman tumbuhnya aksi teror pemaksaaan kehendak. Ekonomi. Krisis ekonomi yang berkepanjangan mengakibatkan rapuhnya sistem ekonomi bangsa terhadap daya saing perdagangan global, semakin jauh ketertinggalan dari kemampuan memiliki posisi tawar ekonomi di mata dunia. Berakibat pada kemiskinan masyarakat yang tidak tertolong dan pada gilirannya masyarakat memilih caranya sendiri yaitu jalan radikal kekerasan teror tanpa menghiraukan jatuhnya korban yang tidak berdosa. Sosial Budaya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama informasi dan komunikasi di satu sisi meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas, di sisi lain dapat mempengaruhi lunturnya semangat kebangsaan, rasa cinta tanah air, kesadaran bela negara dan kesadaran mendahulukan kepentingan kepentingan pribadi atau golongan daripada kepentingan umum. Masih adanya keinginan sekelompok umat muslim untuk menegakkan syariat Islam sebagai landasan hidup bangsa Indonesia melalui serangkaian kegiatan jalur formal maupun non formal dan tidak jarang dlakukan secara ekstrim radikal sehingga dapat berpengaruh terhadap keharmonisan hubungan antar umat beragama, yang rentan menimbulkan perselisihan dan konflik antar agama. Pertahanan Keamanan. Masih terjadi berbagai konflik di beberapa daerah di wilayah Indonesia yang masih berpotensi, seperti Poso, Papua dan beberapa daerah lainnya. Kasus-kasus pembalakann liar, pencucian uang dan pengamanan sumber daya alam dari praktek-praktek kegiatan ilegal ekonomi

perlu disikapi secara arif dan koreksi kedalam. penuh ketenangan berfikir sehingga mendapatkan cara-cara yang tepat dan akurat dalam menangani terorisme. Peluang dan Kendala Demokratisasi di Indonesia telah berjalan menuju pada perubahan ke arah tatanan kehidupan yang diinginkan masyarakat. Penegakan hukum dapat diwujudkan dan telah dilengkapi dengan perangkat peraturan perundang-undangan. Kemampuan aparat keamanan telah dapat kerjasama dengan seluruh komponen bangsa. identifikasi dini dan penangkalan terhadap perkembangan ancaman terorisme yang dilandasi rasa tanggung jawab dan kesadaran yang tinggi. keterpurukan ekonomi yang berkepanjangan dan menurunnya kesadaran wawasan kebangsaan serta bela negara merupakan kendala yang harus ditangani segera. Masyarakat telah menjadi kesatuan pandang dalam menyikapi melawan terorisme. Dengan landasan Wawasan Nusantara yang tangguh. adalah beberapa dari peluang sebagai modal dasar. berakibat ketidakpercayaan masyarakat kepada aparat keamanan dan penegak hukum semakin kental. Kesadaran masyarakat secara aktif berbuat dan melakukan deteksi dini. Pemerintah beserta aparat keamanan dan birokrasi memiliki sikap arif. bangsa Indonesia diharapkan memiliki sikap mental dan perilaku yang mampu mendeteksi. mengidentifikasi. kualitas SDM. kerjasama internasional tidak menimbulkan pro dan kontra pemahaman. Dukungan internasonal terhadap keutuhan NKRI secara politis. Disisi lain. menilai dan menganalisis sejak dini secara hati-hati terhadap berbagai bentuk ancaman terutama teroris internasional di Indonesia. perlu melihat . sebagai bangsa yang bermartabat. Membendung langkah teroris di Indonesia. KONDISI PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERORISME YANG DIHARAPKAN. Daya dukung sumber daya alam dan potensi pasar di Indonesia. ANALISIS.lainnya akan bermuara pada stabilitas terganggu.

aparat keamanan dan seluruh komponen masyarakat termasuk tingkat kewaspadaan bela lingkungan terhadap bahaya terorisme harus terukur dan teruji. Kemampuan aparat untuk mendeteksi. menangkal. temuan bom yang belum meledak dan perangkat yang digunakan terorisme serta tempat persembunyian kaum teroris. ada beberapa rumusan masalah yang telah teridentifikasi pada pembahasan sebelumnya. Aksi teror tidak tidak mengenal diskriminatif target. pada hakekatnya kemajemukan identitas NKRI harus tetap terjaga. menangkap tokoh teroris belum optimal.Teroris mudah memanfaatkan kualitas SDM masyarakat yang masih rendah untuk digalang menjadi simpatisan atau pelaku bom bunuh diri Kepedulian masyarakat terhadap kewaspadaan terhadap terorisme masih lemah.secara obyektif karakteristik daerah. yaitu : Penegakan hukum terhadap penanggulangan terorisme masih lemah. Tinjauan Dari Aspek Politik. Memerlukan data akurat dan pencermatan indikasi-indikasi dalam kurun waktu yang relatif panjang. Analisis dari penulisan ini ditinjau dari aspek astagatra yang sementara ini menurut pandangan penulis cukup mendekati pada pemecahan masalah. membuat keharusan membangun sistem keamanan terhadap manusia dan obyek vital baik militer maupun . mencegah. Untuk menengarai. Seberapa besar peranan masing-masing instansi terkait. Dengan mencermati apa yang telah terjadi modus operandi tindak kejahatan terorisme berupa bom-bom yang sudah meledak. baik teroris lokal maupun teroris internasional tidak mudah. diperlukan analisis dari berbagai aspek tinjauan yang terkait dan saling mempengaruhi. potensi yang dimilki dan aspek yang mempengaruhi. menuduh bahkan menangkap sekalipun terhadap seseorang atau kelompok orang adalah teroris. Segala upaya untuk menghadang tindakan terorisme harus dilandasi tanpa mengorbankan kepentingan nasional dan sensitifitas SARA. Guna merumuskan konsepsi pencegahan dan penanggulangan terorisme dalam rangka menjaga tetap tegaknya keutuhan NKRI secara komprehensif dan integral.

judi dan sebagainya. Dampak terorisme di bidang politik. bukan hanya untuk pembelian senjata. karena masyarakat Indonesia sedang dalam transisi perubahan menuju masyarakat yang demokratis. sah dan sulit ditelusuri. bebas menyatakan pendapatnya. penyelundupan dan korupsi. antara upaya membangun sistem keamanan dengan pembatasan kebebasan di satu sisi dan antara sistem keamanan nasional dengan multi nasional di sisi lainnya. Perdebatan tentang adanya bahaya terorisme berlangsung diwarnai nuansa politis. Berbagai kerja sama internasional dikembangkan untuk mendesak langkah kooperatif dalam melawan terorisme. perdebatan politik terjadi di sejumlah negara. tetapi juga untuk mempertahankan hidup sel-sel pengikutnya. prostitusi. Jaringan teroris sangat memerlukan sumber dana maupun sumber daya manusia untuk melakukan aksinya. dana menjadi bersih asal usulnya. Mengingat sangat kompleksnya masalah pencucian uang karena terkait dengan pendeteksian dini dan harus dilakukan secara tertutup. yang penting adalah politik kontrol tidak membiarkan peredaran bahan peledak. Indonesia perlu mewaspadai dan harus ada upaya pencegahan adalah ketika para teroris internasional memanfaatkan kondisi politik atau sosial budaya dalam negeri saat ini. sentimen baru melawan terorisme telah membuka babak baru perkembangan arah poltik dunia. maka institusi intelijen sangat diperlukan . Perang melawan terorisme. Pemerintah yang lemah bisa jatuh. Dana merupakan satu hal penting. keniscayaan kebhinekaan NKRI terancam. alat-alat penghancur bahan peledak untuk bom. Melalui pencucian uang hasil kejahatan komersial. Wacana politik apapun yang terjadi. termasuk di Indonesia. Tinjauan Dari Aspek Ekonomi. Dana didapatkan dari kegiatan ilegal perdagangan. Hal demikian masih dalam kewajaran. masih rentan terhadap SARA. pengawasan keimigrasian dan kepabeanan merupakan langkah politik praktis yang tepat pada saat ini serta di masa datang. antara lain : Gangguan terhadap kehidupan demokrasi. roda pemerintahan tidak berjalan lancar. Lepas dari pertarungan politik dalam dan luar negeri.non militer di banyak negara.

Terorisme tegas dinyatakan tidak bisa dikaitkan dengan agama tertentu. artinya sekalipun perang melawan terorisme gencar dilaksanakan dan agenda hubungan internasional untuk komitmen bersama melawannya. Teknologi cyber (dunia maya) dimanfaatkan untuk tindak kejahatan cyber crime dengan istilah hacking. tidak berarti pada kesimpulan akhir bahwa penganut agama Islam memiliki pemiikiran sama terhadap pemahaman terorisme yang berkembang di Indonesia. kecuali hanya kelompok jaringannya yang dapat mengerti. karena semua agama mengutuk terorisme. serangan terorisme terus berlangsung. pencurian data dan dana kartu kredit melalui jaringan internet. Hal demikian harus dilaksanakan secara serempak dengan memusatkan faktor-faktor terkait seperti kemiskinan. Sebagai contoh carding. pendidikan dan masalah sosial lainnya. Inilah yang disebut pergeseran modus dengan . Aksi terorisme belum dapat dihentikan. Namun untuk melawan terorisme tidak salah bila menggunakan metoda lain yaitu menggunakan soft power persuasif antara lain mengikut sertakan tokoh-tokoh agama dalam upaya menetralisir pembibitan dan peneyebaran ajaran radikalisme. melalui pembuatan situs online maka komunikasi lintas negara dapat dilakukan dengan leluasa tanpa diketahui siapa. Tinjauan Dari Aspek Sosial Budaya dan Agama. Tinjauan Dari Aspek Kemajuan Teknologi. Gerakan reformasi politik dan ekonomi sedang berlangsung di Indonesia. Perang melawan terorisme harus dilihat sebagai perang gagasan yang mengarah pada memenangkan pikiran dan hati masyarakat untuk tidak simpati dan tidak mendukung gagasan para teroris. carding dan hosting serta penyebar luasan artikel melalui situs jihad. namun hasilnya belum maksimal bahkan aksi-aksi ketidak puasan terhadap tatanan politik dan ekonomi bermunculan berupa unjuk rasa anarkhis. Bagi kaum teroris menjalin komunikasi dengan dunian luar melalui internet. apa dan bagaimana. merupakan sarana utamanya.di dalam perumusan pencegahan terhadap kejahatan terorganisir. Keberhasilan Indonesia dalam membongkar sejumlah aksi teror selama ini.

yaitu : Kebijakan utama yang merupakan pencegahan untuk menghilangkan peluang bagi tumbuh suburnya terorisme di dalam sendi kehidupan masyarakat pada aspek keadilan. termasuk peralatan pengamanannya. Kebijakan yang merupakan instrumen yang menitik beratkan pada aspek penindakan diwujudkan dalam deteksi dini. belum memiliki pegangan security management. strategi. kekerasan dan sebagainya. Untuk melawan terorisme membutuhkan sebuah kebijakan penanggulangan terorisme yang bersifat komprehensif baik dalam tataran kewenangan maupun pelaksanaan kontra terorisme yang bersifat umum dan menyeluruh. Sinergitas instansi lainnya seperti bea cukai. imigrasi. Diperlukan cakupan dua bidang kebijakan namun bersamaan dalam melawan terorisme di Indonesia. mengingat adanya perbedaan . Penindakan terhadap teror harus dilakukan. aparat keamanan dan intelijen masih banyak kekurangan yang dihadapi. Kebijakan yang melahirkan aturan-aturan untuk mempersempit peluang terjadinya aksi teror dalam artian mempersempit ruang maupun sumber daya teroris. Namun hingga kini. demokrasi. Disamping itu kelemahan lain yang harus ditinggalkan yaitu belum adanya konsistensi dan keseriusan dalam mencegah terjadinya aksi terorisme oleh semua pihak. budaya KKN. kemiskinan. pengangguran.memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. Tinjauan Dari Aspek Kebijakan. cegah dini dan respon cepat terhadap indikasi dan aksi-aksi teror. yang menuntut profesionalitas dan proporsionalitas bagi instrumen penindak yang diberi wewenang. sehingga apapun tindakan yang dilakukan melawan terorisme akan terbebas dari persoalan pro dan kontra dalam opini masyarakat. namun tetap menjunjung tinggi regulasi mengenai code of conduct atau rule of engagement. metoda. perhubungan dan keuangan/perbankan sangat diperlukan guna pencegahan terorisme di Indonesia. Kebijakan. taktik dan pendekatan untuk mengatasi terorisme yang diterapkan tentunya akan berbeda dari satu negara dibanding negara lainya. teknik. kesenjangan. Untuk mencegah cybercrime antara lain dapat dilakukan dengan cyberpatrol di dunia maya juga.

kedua. anarkhis. resosialisasi dan rehabilitasi serta pengembangan infra struktur pendukung. perang melawan terorisme adalah kebutuhan mendesak untuk melindungi WNI sesuai tujuan nasional yang diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945 dan ketiga. Terdapat beberapa hambatan dalam pemberantasan terorisme bahwa pertama. sumber daya serta kemampuan satuan anti teror yang tersedia. sosial dan budaya bangsa. preemtif. adanya trauma masa lalu berdasarkan pengalaman bahwa aparat keamanan dan sistem hukum untuk menangani terorisme untuk kepentingan kelompok penguasa dalam rangka mengembalikan kekuasaan otoriter seperti sebelumnya. preventiv. langkah-langkah yang dilakukan pemerintah adalah tidak diskriminatif. nasionalis. Diperlukan resosialisasi. budaya. dianggap oleh sebagian kalangan masyarakat merupakan skenario yang dipaksakan oleh negara-negara maju kepada negara lemah dalam bidang politik. langkah-langkah operasional penindakan terhadap aksi teror di kawasan khususnya Asia Tenggara.pula bentuk atau style kelompok teroris yang disebabkan oleh adanya motif-motif terorisme seperti separatis. adat/istiadat. Indonesia dalam memerangi terorisme harus mempertimbangkan kondisi yang berlaku terutama bidang hukum. Impelementasi memerangi aksi terorisme dilakukan melalui upayaupaya reprsif. militer dan teknologi. Kedua hal tersebut menimbulkan keengganan masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses politik memerangi terorisme. bila tidak justru akan menciptakan kondisi yang kontra produktif. Sebaliknya diperlukan keberanian masyarakat luas untuk segera melaporkan bila menemukan indikasi atau kejadian-kejadian yang mengarah pada tindakan terorisme. ekonomi. Tinjauan Dari Aspek Implementasi Penanggulangan Terorisme. dissidents. Bertolak dari berbagai kegiatan yan dilakukan dalam implementasi strategi . Kedua. hukum. kerja sama dengan pihak asing dalam memberantas terorisme adalah keharusan agar tidak timbul korban yang tidak berdosa. reintegrasi dan sekaligus keteladanan bahwa pertama. marxist revolusioner atau religius. termasuk Indonesia. Perbedaan penanganan juga disebabkan oleh perbedaan kondisi daerah.

dan menyentuh akar terorisme melalui langkah resosialisasi dan reintegrasi para pelaku terorisme ke dalam masyarakat” Strategi. . untuk dapat mengatasinya dipersyaratkan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki oleh Pemerintah dan Organisasi/Satuan Anti Teror. preventif.tindakan yang tidak diskriminatif tanpa melihat etnis maupun agama. luas dan kompleksitas dampal teorisme. preemtif maupun rehabilitasi. . preemtif maupun rehabilitasi KONSEPSI TERORISME PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN Kebijakan.serta besaran. ”Pemerintah melakukan pencegahan dan penanggulangan ancaman terorisme internasional maupun lokal yang berkolaborasi dengan terorisme internasional dalam rangka melindungi keselamatan WNI. Dengan berpedoman pada kebijaksanaan tersebut di atas dan untuk mewujudkan kemampuan segenap komponen bangsa dalam deteksi dini.meningkatkan kewaspadaan dan keberanian masyarakat luas untuk melaporkan indikasi kegiatan terorisme. lintas nasional dan secara simultan bersifat represif. . dengan : menghormati HAM. Bahwa perang melawan terorisme perlu dilakukan secara terkoordinasi lintas instansi. preventif. maka dikembangkan strategi digunakan : Strategi Jangka Pendek : . . dan pencegahan dini serta tindakan dini terhadap segala bentuk ancaman aksi Terorisme. melakukan kerja sama internasional.meninjau kembali Undang-Undang Pemberantasan Terorisme untuk mencapai kepastian hukum. penangkalan dini.melakukan koordinasi lintas instansi. . lintas nasional secara silmultan melalui langkah represif.

Sasaran yang ingin dicapai dalam penerapan strategi ini adalah: 1) Terwujudnya kesamaan dan kesatuan persepsi tentang Terorisme 2) Terbentuknya kepribadian komponen bangsa yang pancasilais. 4) Meningkatnya peran serta segenap komponen bangsa terhadap aksi Terorisme di Indonesia. b) Pemerintah melakukan penyuluhan dan sosialisasi tentang bahaya ancaman Terorisme di Indonesia. Upaya dalam Strategi Jangka Pendek : Peningkatan kualitas dan kapasitas aparat pemerintah. 3) Terwujudnya perangkat nasional yang mampu menjalankan fungsi dan peranannya sesuai dengan kewenangan. 5) Meningkatnya kerjasama internasional. a) Pemerintah dengan tegas segera mengeluarkan statement secara resmi dalam rangka menghadapi Terorisme di Indonesia seperti “Pernyataan perang melawan Segala bentuk ancaman Terorisme di dunia.Peningkatan kualitas dan kapasitas aparat dalam melakukan deteksi dan penangkalan dini terhadap perkembangan ancaman Terorisme di Indonesia. 1) Untuk mewujudkan kesamaan persepsi bangsa tentang Terorisme. c) Pemerintah melakukan pemekaran daerah di beberapa propinsi . 2) Terbentuknya komitmen yang kuat untuk melakukan langkahlangkah penindakan dini. 3) Terbentuknya jiwa nasionalisme yang tinggi 4) Terwujudnya disiplin nasional Strategi Jangka Panjang : Peningkatan kualitas dan kapasitas aparat dalam melakukan pencegahan dan penindakan dini terhadap perkembangan ancaman Terorisme di Indonesia. Sasaran yang ingin dicapai dalam penerapan strategi ini adalah: 1) Meningkatnya sikap keberanian dan kemampuan segenap komponen bangsa.

sejak dini mulai dan pendidikan pra sekolah hingga Perguruan Tinggi b) Edukasi non formal. harus dilakukan pemerintah dengan memberikan muatan materi pengetahuan pada kurikulum pendidikan meliputi mata pelajaran Kewarganegaraan. harus dilakukan oleh Pemerintah terhadap masyarakat sejak pra sekolah sampai Perguruan Tinggi b) Pendidikan non formal. diupayakan melalui kegiatan: a) Sosialisasi tentang bahaya dan ancaman Terorisme b) Melakukan dialog interaktif dan komunikasi secara intensif 2) Untuk membentuk komitmen yang kuat bagi segenap komponen bangsa. diupayakan melalui: a) Edukasi formal. Pemerintah melakukan kegiatan penyuluhan dan sosialisasi 4) Untuk mewujudkan Disiplin Nasional diupayakan melalui: a) Pendidikan formal. diupayakan melalui kegiatan: a) Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang prosedur pencegahan dan penindakan dini b) Menyelenggarakan pelatihan pencegahan dan penindakan dini c) Membangun kesadaran akan tanggung jawab dan komitmen bersama.untuk mempermudah pengawasan. 1) Untuk memelihara dan meningkatkan keberanian komponen bangsa. 2) Untuk membentuk kepribadian komponen bangsa yang pancasilais. Tata Krama dan Budi Pekerti sesuai dengan tingkat pendidikan mulai dan tingkat pendidikan dasar sampai dengan universitas b) Pendidikan non formal. . melalui kegiatan penyuluhan dan sosialisasi 3) Untuk membentuk jiwa nasionalisme diupayakan melalui kegiatan: a) Pendidikan formal. Kewiraan. dilakukan oleh pemerintah dengan melaksanakan kegiatan penyuluhan dan sosialisasi dengan materi penyajian tentang Peraturan Perundang-Undangan Upaya dlm Strategi Jangka Panjang : Peningkatan kualitas dan kapasitas aparat dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan dini terhadap perkembangan ancaman Terorisme di Indonesia.

f) Memperkuat dan memperta-hankan serta meningkatkan kerjasama g) Melakukan pengawasan terhadap lalu lintas serta mendeteksi . sarana prasarana. seminar dan dialog (3) Meningkatkan kerjasama penanganan kasus. berkewajiban dan berwenang memberantas Terorisme di Indonesia. Refungsionalisasi dan revitalisasi aparat Intelijen dengan membuat aturan perundang-undangan yang mengatur masalah tentang InteIen di Indonesia. sinergik dan holistik dalam rangka pemberantasan Terorisme di Indonesia. d) Criminal Justice System (CJS) dengan kegiatan: (1)Melakukan langkah-langkah untuk penyamaan persepsi (2) Melaksanakan pelatihan. b) Tentara Nasional Indonesia (TNI). pertemuan.d) Melakukan pengawasan dan pengaturan kegiatan e) Meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan semua komponen bangsa f) Menghilangkan faktor-faktor korelatif penyebab yang dapat dieksploitasi g) Meningkatkan pengamanan dan pengawasan h) Melakukan pengetatan pemberian dokumen i) Melaksanakan penertiban administrasi 3) Mewujudkan perangkat nasional yang mampu menjalankan fungsi dan peranannya dengan melakukan refungsionalisasi dan revitalisasi sebagai berikut: a) Aparat Intelijen. anggaran yang memadai didukung dengan mekanisme dan prosedur operasional yang jelas. Diperlukan kekuatan hukum. (2) Perlu disusun peraturan perundang-undangan yang dapat mengakomodir semua kepentingan perangkat nasional dan dapat dioperasionalkan secara Iebih terkoordinasi. e) Desk Koordinasi Pemberantas-an Terorisme (DKPT). Melalui upaya : (1) Mengkoordinasikan dan mengendalikan operasional lembagalembaga nasional yang bertugas. Perlu diupayakan peningkatan kemampuan profesionalisme Polri khususnya pencegahan dan penanggulangan Tindak Pidana Terorisme. c) Kepolisian Negara Republik Indonesia.

. i) Mengembangkan prosedur dan mekanisme untuk mencegah adanya tempat pelarian dan tempat persembunyian para teroris. karena dengan melibatkan masyarakat penanggulanan dan pencegahan secara dini terhadap seluruh aksi atau kegiatan terorisme dapat dengan mudah diatasi. Sistem pertahanan dan keamanan semesta dimana TNI dan Polri merupakan elemen utama dalam menghadapi aksi kejahatan terotisme harus selalu melakukan koordinasi dengan instansiinstansi pemerintah lainnya atau dengan swasta atau elemen sipil . penuntutan dan ekstradiksi. k) Memperluas pelaksanaan kerjasama dibidang investigasi. h) Memutus hubungan para teroris dengan sindikat kriminal lainnya. (4) Menyiagakan perangkat tanggap darurat (5) Meningkatkan kerjasama internasional. Selain kualitas dan kuantitas aparat yang telah dibentuk pemerintah juga perlu adanya dukungan terhadap kepedulian masyarakat. j) Meningkatkan pengamanan pada kepentingan-kepentingan internasional. Pencegahan dan penanggulangan terorisme membutuhkan suatu kejasama secara menyeluruh.terhadap kemungkinan para teroris memperoleh bahan peledak dan senjata. c) Menjelaskan secara bijak dan diplomatis kepada dunia Internasional d) Menindaklanjuti MOU yang telah disepakati bersama KESIMPULAN. 4) Untuk meningkatkan peran serta segenap komponen bangsa ditempuh melalui upaya pemberdayaan masyarakat dengan melakukan kegiatan: a) Melakukan komunikasi dan dialog b) Menggalakkan Siskamswakara di seluruh wilayah Indonesia dengan upaya: (1) Meningkatkan penertiban administrasi (2) Menggalakkan ketentuan wajib lapor (3) Membina sistem pengamanan swakarsa.

lainnya karena dukungan dan koordinasi dalam mendeteksi dan mengatasi berbagai permasalah teroris akan mudah diatasi. Selain peningkatan kerjasama baik antara lembaga didalam negeri perlu juga adanya kerjasama dengan lembaga-lembaga anti terorisme yang berada diluar negeri yang tentunya didasari oleh kerangka hukum. karena dengan dasar hukum yang kokoh akan menjadi dasar kebijakan nasional dan tindakan kita dalam memerangi terorisme. Rangkaian tindakan terorisme di Indonesia telah menelan banyak korban jiwa dan harta serta menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Pemerintah perlu segera meningkatkan kerjasama dengan negara- . Mengungkap dan mendeteksi secara dini setiap aksi terorisme disarankan : Dalam rangka mencegah dan menanggulangi terorisme perlu segera adanya kerjasama menyeluruh antara aparat baik TNI maupun Polri serta dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat mulai tingkat RT dan RW. SARAN. Selain itu dengan dasar hukum yang kuat diharapkan mampu melindungi berbagai kepentingan baik kepentingan publik maupun hak-hak asasi manusia. Pemerintah bersama DPR perlu segera melakukan penyempurnaanpenyempurnaan undang-undang yang berkaitan dengan tindakan tindak pidana terorisme karena hal ini merupakan fondasi hukum yang kokoh dalam melindungi segala kepentingan masyarakat maupun hak-hak asasi manusia. Pemerintah perlu melakukan penyuluhan dan sosialisasi tentang bahaya ancaman terorisme yang dimulai dari para tokoh masyarakat. Didalam pencegahan dan penanggulangan terorisme di Indonesia dibutuhkan suatu badan ekstra semacam lembaga anti terorisme nasional yang pengawakannya ditangani secara terpadu antara TNI dan Polri serta unsur masyarakat dengan dibawah satu komando pengendali. tokoh agama dan tokoh pemuda serta kepada lapisan masyarakat paling bawah.

”Naskah Strategi Pemberantasan Terorisme” Badan Intelejen Keamanan Mabes POLRI.negara didunia dalam mencegah dan menanggulangi segala bentuk tindakan terorisme karena kegiatan terorisme di Indonesia sangat berkaitan dengan kegiatan terorisme internasional. 2004. Jakarta. Jakarta. . Desk Koordinasi Pemberantasan Terorisme. 3. ”Kumpulan Peraturan Perundangan Anti Terorisme”. Jakarta. Jakarta. 2003. 2005. 5. Jakarta. PT Mardimulyo. 2006. ” Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah”. Cet-1. Depdagri. ”Makalah Tentang Terorisme”. Sat81/Gultor Kopasus. DAFTAR PUSTAKA 1. Dirjen Kesbangpol Depdagri. 2006. 7. 2005. 2006. 2002. Cet-1. Perum Percetakan Negara RI. “Pedoman Operasi Terpadu Dalam Penanganan Aksi Terorisme”. 4. Dirjen Kesbangpol Depdagri. ”Kebijakan dan Strategi Nasional Pemberantasan Terorisme”.. Lodewijk. 11. _________________. Jakarta. F. 9. 10. 2006. _________________. 8. 2. 2006. Cet-1. Jakarta. Menteri Hukum dan HAM. Pustaka Yustisia . ”Paradigma Baru Pemerintahan Daerah Menyongsong Milenium ketiga”. ”RPJMN 2004-2009”. Jakarta. H. cet-1. Menko Polhukam RI.11 Tahun 2006 Tentang Komunitas Intelejen Daerah. 1999. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Paulus. 6. Jakarta. Suara Bebas. ” Hukum Dasar Geopolitik dan Geo Strategis Dalam Kerangka Keutuhan NKRI”.12 Tahun 2006 Tentang Kewaspadaan Dini Masyarakat di Daerah”. Jakarta. Jakarta. Sinar Grafika. Sekkab Bidang Hukum. Mabes POLRI. Desk Koordinasi Pemberantasan Terorisme. Nihin DJ. Suradinata Ermaya. Cet-1. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. __________________.

maka tidak ada alternatif lain kecuali melakukan aksi terorisme. Serangan oleh kelompok teroris yang kemudian dituduhkan kepada AL QAEDAH pimpinan Osama bin Laden itu bukan saja telah meruntuhkan gedung kembar World Trade Center (WTC) sebagai simbol keberhasilan kapitalisme. PENINDASAN => Teroris sering menyatakan argumentasinya bahwa mereka telah menjadi korban tindak kesewenang-wenangan pemerintah dan aparatnya atau pemerintah tidak pernah menanggapi keluhan / protes agar merubah situasi Sosial. serta keyakinan siswa bahwa guru selalu benar dan tidak pernah salah. mereka yakin bahwa dengan membunuh banyak Warga Sipil tak berdosa. Setelah keluhannya tidak mendapat tanggapan yang berarti. Politik. kalau tidak ini berarti salah serta berwawasan sempit. 3. mereka akan berhasil menarik perhatian dunia dan selanjutnya dunia akan memahami keluhan tersebut serta membantu mengurangi akar masalah atau menyelesaikan masalah. Terorisme dapat dianggap sebagai cara yang masuk akal untuk mengejar keinginan ekstrim dalam kancah perseteruan politik. hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor. terorisme merupakan salah satu dari berbagai alternatif yang dapat dipilih oleh organisasi-organisasi radikal untuk melakukan perlawanan terhadap satu idelogi atau negara yang dianggap menciptakan ketikadilan terhadap kelompok masyarakat tertentu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sayangnya. yaitu diantaranya: 1. sehingga mereka harus angkat senjata untuk menyampaikan aspirasinya. telah mengarahkan perhatian Publik Dunia terhadap isu terorisme Global. Ekonomi atau Kehidupan Beragama dan tidak memiliki pilihan lain dalam menyampaikan maksudnya kepada pemerintah yang sah selain melakukan aksi teror. diplomasi dan lobi. LEMAHNYA KEMAMPUAN BERUNDING. tetapi juga menyebabkan terbunuhnya ribuan manusia yang bekerja pada gedung tertinggi itu. . Studi para pakar terorisme menunjukan berbagai faktor menyebabkan terjadinya aksi terorisme yang ada di dunia ini. 2. MENARIK PERHATIAN => Pada teroris pada umumnya beralasan bahwa aksi terorisme adalah cara paling jitu untuk menarik perhatian massa di dunia. DIPLOMASI DAN LOBI => Menyadari bahwa dirinya / kelompoknya tidak akan pernah menang dalam menyelesaikan suatu permasalahan lewat meja perundingan.------*****----Serangan terorisme terhadap kota New York dan Pentagon pada 11 September 2001. Politik atau Ekonomi yang ada. Alasan ini merupakan akumulasi proses belajar “One Way raffic dan System Satu Arah” dimana guru senantiasa memberikan ajarannya tanpa adanya proses dialog. Para teroris merasa yakin bahwa mereka telah kehabisan cara untuk merubah situasi Sosial. sehingga terpola kemampuan berpikir Pokoknya ya ini yang benar. para teroris sengaja menjadikan Warga Sipil sebagai sasaran serangan-serangannya yang sadis dan brutal.

SOSIAL BUDAYA => Kelompok teroris ini menilai bahwa perubahan sosial budaya yang terlalu cepat telah menimbulkan konflik dalam masyarakat. 5. Dalam konteks Indonesia kita dihadapkan dengan berbagai Potensi Islam Radikal yang terpaksa melakukan berbagai aksi Terorisme yang bersifat Trans National Crime. antara lain : a. PASUKAN PEMERINTAH LEBIH KUAT => Karena Pasukan Pemerintah atau Pasukan Musuh lebih kuat. b. Aparat kepolisian (POLRI) sebagai ujung tombak Pemerintahaan dalam perang melawan terorisme seyogyanya dapat memehami aturan main sesuai dengan hukum dan etika yang berlaku baik Nasional maupun Internasional. maka kelompok teroris ini menggunakan pasukan gerak cepat dan sangat rahasia.4. Menyebarkan isu dan menciptakan rasa takut terhadap anggota pasukan musuh melalui aksi terorisme. Kasus Bom yang terjadi secara beruntun mengingatkan kita akan pentingnya menangani. KEHENDAK YANG KUASA => Teroris ini beranggapan bahwa ajaran agamanya-lah yang paling benar dan merasa yakin bahwa apa yang ia atau mereka lakukan merupakan “Kehendak yang Kuasa”. mencegah dan memberikan solusinya baik secara ilmiah maupun dengan cara perlawanan atau perang melawan terorisme. Masyarakat di buat bingung untuk memilih nama yang benar dan mana yang salah menurut Ukuran Budaya. Bahasa. Ideologi atau Agama yang diyakininya. disamping alasan ketidakadilan ekonomi dan politik dalam negeri yang baru mengalami transisi menuju demokrasi dewasa ini. serta memperhatikan nilai-nilai HAM dan . RASIALISME => Teroris ini menggunakan alasan bahwa kelompok minoritas harus disingkirkan karena telah mendominasi sektor ekonomi sektor-sektor yang lainnya hal ini pernah terjadi di Indonesia pada tahun 1998 di mana Warga Negara Turunan Tionghoa / Cina di Jawa terjadi kerusuhan yang mengakibatkan Pembakaran. Keresahan ini selanjutnya dimanfaatkan oleh individu atau kelompok tertentu untuk menggalang atau menggiring masyarakat agar menganut Politik. Osama Bin Laden adalah merupakan Pemimpin Jaringan Al Qaeda.. 6. hal ini tentunya sebagai bangsa yang besar dan beradab kita sepakat bahwa langkah-langkah yang dilakukan oeh para pelaku terorisme sangatlah tidak Manusiawi dan Biadab.500 orang lainnya luka-luka di Stasiun Bawah Tanah di Tokyo Jepang. Pembunuhan dan Pemerkosaaan. Moralitas dan Agama. SHOKO ASAHARA adalah Pemimpin “Sekte Aum Shinkriyo” yang bertanggung jawab atas terjadinya Serangan Biokimia (Gas Sarin) yang mengakibatkan meninggalkan 8 orang dan 2. Kelompok Radikal Israel RABBI MAER KAHANE dan BARUCH GOLDSTEIN yang menembaki Jamaah pada sebuah Masjid di Hebron pada tahun 1994. Tingkah Laku. c. serunya untuk berperang melawan Amerika Serikat karena dimatanya Amerika bersama dengan Israel telah menguasai 2 kota suci Islam yaitu Makkah dan Jerusalem. dan dukungan Amerika terhadap Rezim Arab Saudi yang Korup serta Penindas. Dengan melihat faktor-faktor yang menggambarkan bahwa tindakan teror yang dilakukan para teroris tersebut dianggap sebagai tindakan yang benar. Dalam hal ini bisa dilihat dari Aset-asetnya di bakar dan banyaknya pembunuhan serta wanitanya banyak diperkosa 7. Para teroris yang termasuk kedalam golongan ini adalah.

. berpaham sempit (dhayyiq).. dalam hukum secara teoretik hanya ada individu atau kelompok yang melawan hukum.. penjahat hukum. kembangkan imajinasi kalian ketika kalian melihat fenomena dan fakta di masyarakat yang berkaitan dengan hukum. keep spirit. idealnya masyarakat akan tertib dan semua taat pada hukum. 31 Agustus 2007 Jl. teroris. teroris. dan keras (tasyaddud).com (16/8. Telp: 076592565 Faktor-faktor Penyulut Radikalisme Agama Ditulis oleh Ustadz Muladi Mughni. Berikut ini akan saya sampaikan enam faktor yang dapat menyulut dan memunculkan aksi terorisme-radikalisme.. Polri perlu menonjolkan sikap Proposional dan Rasa Kemanusiaan. banyak banget kan. 08 Kel. Sumber : Kompas Edisi : Jumat. 03 RW. I. penjahat. berlebihan (ghuluw). banyak individu atau kelompok yang tidak mau mengikuti aturan. kemiskinan. Pudu Duri. kajian sosiologi hukum akan mengkaji kenapa mereka tidak taat. ekstremitas. Dengan demikian. 11:58) Presiden Yudhoyono (SBY) menyatakan. harus menyentuh dan mengatasi penyebabnya. apa ada yang salah dengan hukum. kaku (tanathu’/rigid). keterbelakangan. ga Seperti ditulis Detik. selamat belajar. .. P.lebih menonjolkan Profesionalisme dalam bertugas. kenapa muncul mafia. Faktor Pemikiran: • . katanya.. banyak oknum yang mengunakan kelemahan hukum demi keuntungan mereka. ketidakadilan. penanganan terorisme tidak boleh hanya di permukaan. Rahman RT. Demikian tulisan ini. tetapi secara empirik kenyataan yang terjadi di masyarakat tidaklah demikian. Riau. menarik bukan. kita ingat bahwa hakekat hukum adalah untuk menertibkan masyarakat. dan budaya kekerasan. Lc. tugas-tugas Aparat Polri dalam melakukan penanggulangan dan pemberantasan terorisme terhindar dari badai protes masyarakat yang cenderung kritis atau hujatan media massa Asing. semoga dapat bermanfaat. Komentar RSS Laca secara teoretik tidak ada dalam kamus hukum adanya mafia. Penulis: Onesimus No Comments Yet Belum ada komentar.. Mengingat Rasulullah Saw sangat mewanti-wanti umat Islam untuk tidak terjebak pada tindakan ekstremisme (at-tatharuf al-diniy). 12 September 2009 Kategori: Keamanan . Untuk menghindari protes dari masyarakat dalam penanggulangan terorisme.. Beberapa penyebab itu. para kelompok Teroris yang identik dengan Kelompok Separatis tersebut mampu kita kalahkan atau sadarkan dengan cara Manusiawi. Abd.

Pemikiran ini merupakan produk sekularisme yang secara pilosofi anti terhadap agama. kaku dan memusuhi segala hal yang berbau modernitas. ahli teknik bom berbicara fiqh jihad. Hal itu sama saja. Faktor Ekonomi : William Nock pengarang buku “Perwajahan Dunia Baru” mengatakan: Terorisme yang belakangan ini marak muncul merupakan reaksi dari kesenjangan ekonomi yang terjadi di dunia”. namun tidak berdasarkan sumber yang otentik. Apa jadinya kesimpulan yang mereka keluarkan. teknik mesin dan lain-lain. Maka memahami sesuatu ilmu termasuk agama harus berdasarkan dari sumber dan ahlinya yang otentik. tafsir. banyaknya sekelompok orang yang lebih memilih memperdalami agama.Merebaknya dua trend paham yang ada dalam masyarakat Islam. yang pertama menganggap bahwa agama merupakan penyebab kemunduran ummat Islam. penuh dengan kenistaan. ahli kedokteran berbicara tafsir. Namun jika pola ekonomi seperti ini . Jika pola ekonomi seperti itu terus berlangsung pada tingkat global. Ahli kimia berbicara al-Qur’an. sehingga satu-satunya jalan selamat hanyalah kembali kepada agama. Terkadang sumber bacaannya adalah buku-buku terjemahan yang kurang dapat dipertangungjawabkan. menerima ilmu dari orang yang pemahaman agamanya sangat dangkal. Padahal al-Quran. maka yang terjadi reaksinya adalah terorisme internasional. Namun jalan menuju kepada agama itu dilakukan dengan cara-cara yang sempit. Kedua trend pemikiran yang satunya menolak agama dan yang kedua mengajak kepada paham agama yang keras. II. dengan apa jadinya jika seorang ahli agama berbicara kedokteran. dunia saat ini dipandanganya tidak lagi akan mendatangkan keberkahan dari Allah Swt. dan fiqh jihad memiliki karakteristik dan syarat-syarat yang sangat teliti dan khusus dan harus tepat sesuai fungsi dan kegunaannya. Sedang pemikiran yang kedua adalah mereflesikan penentangannya terhadap alam relaitas yang dianggapnya sudah tidak dapat ditolerir lagi. Pemikiran ini merupakan anak kandung dari pada paham fundamentalisme. Di samping itu. Liberalisme ekonomi yang mengakibatkan perputaran modal hanya bergulir dan dirasakan bagi yang kaya saja. berbicara pertanian. ataupun ulama yang benar-benar memiliki pemahaman agama yang luas dan benar (rusukh). keras. jika tidak penyelewengan-penyelewenga n kesimpulan yang dijelmakan melalui aksi akan berakibat fatal bagi manusia itu sendiri. Sehingga jika ummat ingin unggul dalam mengejar ketertinggalannya maka ia harus melepaskan baju agama yang ia miliki saat ini. justru akan melahirkan reaksi yang bertentangan dengan misi diciptakannya manusia oleh Allah Swt di semesta ini sebagai mahluk yang seharusnya mendatangkan kemakmuran dunia. Kedua corak pemikiran inilah yang jika tumbuh subur dimasyarakat akan melahirkan tindakan-tindakan yang kontra produktif bagi bangsa bahkan agama yang dianutnya. mengakibatkan jurang yang sangat tajam kepada yang miskin.

diterapkan pada tingkat Negara tertentu. Sehingga munculah kelompok-kelompok yang saling mengklaim paling benar. yang merupakan mascot gerakan terorisme masa lalu yang juga disebabkan oleh munculnya stigma ketidakstabilan dan ketidakadilan politik pada waktu itu. maka akan memicu tindakan terorisme nasional. menjadi orang yang sangat kejam dan dapat melakukan apa saja. Faktor Politik: Stabilitas politik yang diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan bagi rakyat adalah cita-cita semua Negara. Bukankan tindakan membunuh. Jika sekolompok orang ini berkumpul menjadi satu atau sengaja dikumpulkan. Faktor Sosial: Diantara faktor munculnya pemahaman yang menyimpang adalah adanya kondisi konflik yang sering terjadi di dalam masyarakat. Banyaknya perkara-perkara yang menyedot perhatian massa yang berhujung pada tindakan-tindakan anarkis. Bukankan kita pernah membaca sejarah lahirnya garakan khawarij pada masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib RA. bahkan saling mengkafirkan satu sama lainnya. berpihak pada rakyat. biasanya mereka lebih memilih menjadikan pandangan .? III. Pada awalnya sikap berpisah dengan masyarakat ini diniatkan untuk menghindari kekacauan yang terjai. Namun lama kelamaan sikap ini berubah menjadi sikap antipati dan memusuhi masyarakat itu sendiri. Namun sebaliknya jika politik yang dijalankan adalah politik kotor. Mereka akan sayang dan menjaga kehormatan negaranya baik dari dalam maupun dar luar. tidak semata hobi bertengkar dan menjamin kebebasan dan hak-hak rakyat. IV. Sangat tepat jika kita renungkan hadits nabi yang mengatakan. maka akan sangat mudah dimanfaatkan untuk kepentingankepentingan tertentu. Tentu kita tidak ingin sejarah itu terulang kembali saat ini. kekuatan-kekuatan asing. agama ataupun sosial yang mudah saling menghancurkan satu sama lainnya. Kehadiran para pemimpin yang adil. pada akhirnya melahirkan antipati sekelompok orang untuk bersikap bercerai dengan masyarakat. termasuk melakukan terror. melukai. politik yang hanya berpihak pada pemilik modal. meledakkan diri. tentu akan melahirkan kebanggaan dari ada anak negeri untuk selalu membela dan memperjuangkan negaranya. Dalam gerakan agama sempalan. Akan mudah muncul kelompok-kelompok atas nama yang berbeda baik politik. bahkan politik pembodohan rakyat. maka kondisi ini lambat laun akan melahirkan tindakan skeptis masyarakat. meneror suatu tindakan yang dekat dengan kekufuran. Hampir-hampir saja suatu kefakiran dapat meyeret orangnya kepda tindakan kekufuran”. “Kaada al-Faqru an yakuuna Kufran”. pengangguran dan keterjepitan ekonomi dapat mengubah pola pikir seseorang dari yang sebelumnya baik. Karena boleh jadi problem kemiskinan.

Mereka inilah yang harus kita bina. ketimbang energi kita hanya dikuras untuk menghabisi kelompok-kelompok radikal saja. menjadikan wajah Islam yang moderat dan mayoriats itu seolah tertutup dan hilang. adalah akibat dari sistem . dan menganjurkan persatuan tidak sering didengungkan. kelompok ulama yang memiliki pandangan moderat telah terkooptasi dan bersekongkol dengan penguasa. Dr. Abdurrahman al-Mathrudi pernah menulis. Retorika pendidikan yang disuguhkan kepada ummat lebih sering bernada mengejek daripada mengajak. Ajaran agama yang mengajarkan toleransi. kesantunan. dan tidak mencerminkan wajah Islam yang sebenarnya. dan kita perhatikan. keramahan. Dari sinilah lalu. Pengalamannya dengan kepahitan hidupnya. kegaggalan dalam karir dan kerjanya. linkungannya. bahwa sebagian besar orang yang bergabung kepada kelompok garis keras adalah mereka yang secara pribadi mengalami kegagalan dalam hidup dan pendidikannya. Orang tersebut akan melakukan perbuatan yang mengejutkan sebagai reaksi untuk sekedar menampakkan eksistensi dirinya. Namun gerakan dan tindakannya yang nekat dan tidak terkontrol. VI. lebih sering menghardik daripada mendidik.tokoh atau ulama yang keras dan kritis terhadap pemerintah. Dalam hal ini kelompok moderat Islam harus lebih disuport dan dibantu. membenci pengrusakan. lebih sering memukul daripada merangkul. Maka lahirnya generasi umat yang merasa dirinya dan kelompoknyalah yang paling benar sementara yang lain salah maka harus diperangi. Maka tugas kita adalah mengembalikan fungsi ulama sebagai pengawal masyarakat dari penyimpangan-penyimpangan pemahanan dan akidah. Faktor Pendidikan: Sekalipun pendidikan bukanlah faktor langsung yang dapat menyebabkan munculnya gerakan terorisme. akan tetapi dampak yang dihasilkan dari suatu pendidikan yang keliru juga sangat berbahaya. untuk tidak lebih tergelincir jauh kepada kelompok yang cenderung menghalalkan segala cara untuk melakukan proses perubahan sosial yang berlandaskan pada ajaran agama. Pendidikan agama khususnya yang harus lebih diperhatikan. Jika hal ini terus berlangsung tanpa adanya pembinaan dan bimbingan yang tepat. Faktor Psikologis: Faktor ini sangat terkait dengan pengalaman hidup individual seseorang. Karena mereka beranggapan. V. Sebab mereka ini sangat rentan dimanfaatkan dan dibrain washing oleh kelompok yang memiliki target terorisme tertentu. Maka hendaknnya kita tidak selalu meremehkan mereka yang secara ekonomi dan nasib kurang beruntung. serta mengembalikan lagi kepercayaan ummat yang putus asa dengan kondisi sosial yang ada. Sehingga ajaran Islam yang moderat dan rahmatan lil alamin itu tidak mereka ambil bahkan dijauhkan dan mereka lebih memilih pemahaman yang keras dari ulama yang yang kritis tersebut. dapat saja mendorong sesorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dan anarkis. Perasaan yang menggunung akibat kegagalan hidup yang dideranya. maka pemikiran garis keras Islam sesungguhnya sangat kecil. mengakibatkan perasaan diri terisolasi dari masyarakat.

Dengan langkah ini kita memohon kepada Allah Swt. Pesantrenvirtual. sememtara sekolah umum alergi memasukan kurikulum agama. toleran. Jakarta kembali dibom. yang kebenaran pemahamananya belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. seperti dokter. dan Hukum Oleh Kamri Ahmad (Dosen Pascasarjana UMI Makassar) Setelah peristiwa bom terorisme oleh kelompok Amrozi di Bali beberapa tahun lalu. ahli teknik. semoga dapat bermanfaat. aman. sesuai dengan janji dan spirit al-Qur’an: Yang artinya: Seandainya penduduk suatu kaum itu beriman dan bertakwa. Dan tidak sedikit orang-orang yang terlibat dalam aksi terorisme justru dari kalangan yang berlatar pendidikan umum. dan masyarakat untuk mengikis tindakan terorisme sampai ke akar-akarnya. Serta menciptakan suasana kondusif bagi tumbuhnya tatanan masyarakat yang damai. akan tetapi mereka mendustkan (agama). Demikianlah penjabaran enam faktor penyulut terorisme.com Terorisme. . bertaqwa dan memiliki semangat kecintaan tanah air yang kuat. maka niscaya akan kami bukakan pintu berkah kepada mereka dari arah langit dan bumi. insinyur. Terbukti tanggal 17 Juli 2009 Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton. baik ulama. namun hanya mempelajari agama sedikit dari luar sekolah. merdeka. Indonesia ternyata masih sangat rawan atau belum aman dari ancaman penyakit terorisme yang sangat mengerikan itu. HAM. religius.pendidikan kita yang salah. Kuningan. maka akan kami binasakan mereka akibat dari perbuatanya itu sendiri (Q. pemerintah. Paling tidak langkah itu dapat dimulai dengan cara meluruskan paham-paham keagamaan yang menyimpang oleh ulama. ahli sains. menciptakan keadilan dan stabilitas ekonomi dan politik oleh pemerintah. Sekolah-sekolah agama dipaksa untuk memasukkan kurikulum-kurikulum umum. al-A’raf: 69). maka diperlukan kerjasama yang sinergeis antara semua elemen bangsa. Tugas kita ke depan tentu sangat berat. Atau dididik oleh kelompok Islam yang keras dan memiliki pemahaman agama yang serabutan. semoga bangsa dan negara kita terlindung dari bahaya terorisme.S.

Itu karena kejahatan mereka benar-benar kejahatan tanpa hati nurani. tindakan para teroris sungguh tidak dapat dibenarkan (unjustifiable). di antaranya ialah hak untuk kenyamanan dan keamanan lingkungan. To develop friendly relations among nations based on respect for the principles of equal rights and self-determination of peoples. Jadi dalam Piagam PBB tentang HAM. yakni jalinan kehidupan antarsuku dan antarbangsa. perempuan atau laki-laki yang tanpa kesalahan pun. Telah cukup diketahui bahwa terorisme adalah kejahatan yang harus dikutuk oleh semua orang tanpa kecuali. Meski begitu.Semua sepakat bahwa kejahatan terorisme adalah kejahatan luar biasa (extra-ordinary crime). Bagaimana dan apapun motifnya. jika dikaitkan dengan hak asasi manusia dan hukum. Kemudian menjalin hubungan persahabatan berdasarkan persamaan hak tanpa kecuali. Terorisme dan HAM Di dalam The United Nations Charter's purposes also include significant references to human rights article 1. Kenyamanan hidup berdampingan satu sama lain misalnya. Objektif dalam arti. hal yang terpenting diperhatikan oleh semua bangsa-bangsa (termasuk Indonesia) ada tujuan-tujuan yang hendak dicapai seperti memelihara perdamaian dan keamanan internasional. penanganan dari sisi hukum tetaplah harus dilakukan secara objektif dan jujur. and to take other appropriate measures to strengthen universal pease. semuanya bisa menjadi sasaran teroris sebagaimana yang disaksikan oleh semua orang. 2007. dan mengambil tindakan yang tepat untuk memperkokoh perdamaian yang bersifat universal itu. segala hal yang melingkupi tindakan terorisme tersebut harus tetap menjadi acuan penanganan. Efek yang timbul tidak mengenal orang dewasa atau anakanak. hak atas kekayaan alam. adalah suatu jalinan yang sangat didambakan oleh semua umat manusia di dunia ini. dan hak atas milik kebudayaan sendiri (eigen culturele erfgoed). HAM generasi ketiga mengutip Satjipto Rahjardjo. hak untuk hidup (right to life) dan di dalam Alquran disebut "Hablun minannaas" yang dalam firman Allah swt lainnya disebut lita'aarafuu terhadap syubuu'an waqabaail. hak atas lingkungan yang bersih. Disebut kejahatan tanpa hati nurani karena korbannya bersifat masif dan meluas. ada yang disebut HAM generasi ketiga. terkandung tujuan-tujuan antara lain: (1). Dalam UUD kita disebut "Kemanusiaan yang adil dan beradab". HAM dalam perkembangannya. To maintain international peace and security. hak atas pertumbuhan (ontwikkeling). hak atas perdamaian. Dalam bahasa internasional tentang HAM disebut bebas dari rasa takut (freedom from fear). (2). .

Misalnya. dan peristiwa World Trade Center (WTC) tahun 2001 di Amerika Serikat. money loundring. ada yang menyebutnya sebagai "tindakan tanpa hati nurani". tindakan teroris dari sisi sosiologis. Tindakan terorisme dan akibatnya. Semua itu menunjukkan bagaimana pelanggaran HAM yang sangat luar biasa akibat tindakan terorisme. serta kegiatan-kegiatan ilegal lainnya yang bersifat transnasional yang dapat menjadi sumber pendanaan yang cukup besar. Barulah kemudian dilihat dari sisi hukumnya itu sendiri. baik dari sisi pandangan komunitas internasional. Menurut Muladi (2003). investor asing yang kurang tertarik menanamkan modal karena keamanan tidak terjamin. terutama menyangkut sistem administrasi peradilan pidana dengan pengembangan extraordinary measure. termasuk kurang menjamin kepastian hukum dan lain-lain. Yakni suatu pendekatan di samping harus dilihat dari sisi HAM. juga akibat yang ditimbulkan sangat luar biasa (hight cost implication) karena berimplikasi langsung pada adanya gangguan hubungan internasional. pelaku terorisme diperlakukan dengan sangat ketat. pendekatan yang objektif itu disebut pendekatan yang bersifat "covering both sides". bahkan pada rujukan Alquran sekalipun. Indonesia. dalam operasional kelompok terorisme dalam melakukan aksinya khusus dari segi pendanaan. Terorisme dan Hukum Meskipun diketahui bahwa terorisme terkait dengan HAM. dapat saja mereka melakukan segala macam cara untuk mendapatkan dana operasional. Kecuali itu. di samping tidak memiliki suatu alas pembenaran (justification).Terkait dengan peristiwa bom yang terjadi pada tanggal 17 Juli lalu. maupun dari sisi hukum dan konstitusi Indonesia. juga perlu dilihat dari sisi pelaku (victim and offender oriented). Hal ini terbukti pada peristiwa bom Bali serta Hotel Marriot. seperti pengaruh terhadap pendapatan devisa negara melalui turis manca negara. . Sementara hubungan internasional juga bisa berdampak pada sisi perekonomian domestik. penting pula kiranya dilakukan penanganan melalui pendekatan yang objekif. oleh sebab itu kaitannya dengan penanganan secara hukum. tindakan seperti itu sama sekali tidak memiliki dasar hukum. Itulah sebabnya. Untuk pelaku terorisme diberlakukan prosedur hukum yang tidak biasanya seperti pada kejatahan-kejahatan warungan. Dan yang paling mengerikan ialah aksi terorisme yang menggunakan senjata perusak massal seperti bom (weapon of mass destruction). melakukan pembobolan bank dengan cara-cara tertentu seperti kejahatan dunia maya melalui komputer (cyber crime). Di Malaysia dan Singapura misalnya.

Umpamanya. Kejahatan terorisme yang diketahui sebagai kejahatan yang luar biasa (extraordinary crime) barang tentu juga harus dilakukan penanganan dengan langkah-langkah yang luar biasa pula (extraordinary measure). untuk penangkapan.” . Indonesia pun mengenal pembatasan hak-hak yang relatif itu sebagaimana diatur di dalam UU No 3 Drt Tahun 1959 mengenai keadaan bahaya atau public emergency. kita sedang melihat peningkatan penggunaan apa yang saya sebut kata T—terorisme—untuk menyerang lawan-lawan politik. sangat dimungkinkan aparat pelaksana hukum (khususnya aparat kepolisian) menyimpang dari prinsip-prinsip tentang due process of law. memberangus kebebasan berbicara dan kebebasan pers. Ini masih terlalu ringan bilamana dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura. Sekalipun demikian. Semuanya dilakukan secara ekstra ketat. karena langkah-langkah penahanan berdasarkan Pasal 21 KUHAP. walaupun hak-hak absolut non derogable rights seperti right to life tetap harus pula dijunjung tinggi. tetapi juga social rights tidak boleh terabaikan sebagai bagian dari pemeliharaan generasi HAM ketiga HAM dan Teror In Articles by Nino on November 3. Penyimpangan itu dilakukan tentu dengan berbagai alasan. Dalam hukum acara pidana Indonesia (KUHAP). sehingga adakalanya si pelaku diperlakukan di luar sistem due process of law. Begitu pula tenggang waktu penahanan serta lamanya penahanan. polisi tidak perlu menggunakan surat perintah penangkapan maupun surat perintah penahanan. sistem administrasi peradilan pidana sangatlah tidak memadai apabila ketentuan ini diterapkan untuk pelaku terorisme. seperti public emergency atau mungkin juga kepentingan social defence dan lain-lain yang terkait kelangsungan kehidupan negara. Oleh sebab itulah. polisi hanya berkenan menahan selama tujuh hari tanpa surat perintah penahanan. Di Indonesia. Dikatakan sangat tidak memadai. seseorang yang dicurigai sebagai anggota terorisme. Maka dari itulah. ketentuan ini sangatlah enteng dan hanya biasa-biasa saja untuk sebuah kejahatan luar biasa seperti terorisme. penyimpangan proses administrasi peradilan pidana yang demikian itu disebut extraordinary measure. atau equal before justice dan lain-lain. Misalnya tentang penahanan. Secara hukum positif. Tidak heran pelaku terorisme ditahan hingga bertahun-tahun tanpa proses. dan untuk melegitimasi lawan-lawan politik yang sah. 2006 at 7:15 am “Secara internasional. hak-hak yang bersifat relatif. Pembatasan terhadap prinsip-prinsip tersebut dapat dilakukan karena undang-undang pun mengenal apa yang disebut derogable rights. berdasarkan undang-undang pemberantasan tindak pidana terorisme. Tentunya penyimpangan-penyimpangan administrasi peradilan pidana semacam itu hanya berlaku bagi pelaku kejahatan yang luar biasa.

tanpa banyak perdebatan Presiden Megawati membuat dua buah Perpu sebagai landasan hukum bagi aparat keamanan untuk menindak tegas para pelaku peledakan bom Bali I. yaitu tidak hanya telah menghabisi nyawa orang lain. di manapun. Selang beberapa hari. tapi juga menebarkan rasa takut dan cemas ke anggota masyarakat yang lain. Artinya. melainkan paham atau ideologi terorisme yang dibawa oleh masing-masing teroris. Menyandingkan terorisme dengan HAM bisa jadi adalah suatu yang paradoks. semua tindakan kriminal seharusnya diberikan hukuman yang setimpal dengan dampak yang dihasilkan. Malang. mereka pun harus dilakukan selayaknya manusia yang lain.Pernyataan itu dilontarkan oleh Sekjen PBB Kofi Annan pada pertemuan tingkat tinggi Dewan Keamanan PBB. Namun pada sisi lain. tapi terorisme telah meluas sampai perampasan hak asasi manusia (HAM) di segala lini kehidupan. menyidik. Inilah dilema utama para pejuang HAM. Akan tetapi. Padahal. Kita perlu sepakat. Pada hari itu Azahari tewas mengenaskan. penanganan terhadap kasus terorisme pun jangan sampai dilakukan dengan melanggar prinsip-prinsip yang berlaku dalam HAM. menangkap. Masalahnya bagaimana para pejuang HAM menyikapi terorisme? HAM dan Terorisme Harus diakui. karena terorisme adalah sebuah ‘penyakit sosial’ yang harus segera disembuhkan sebelum menimbulkan korban baru. pejuang HAM pun memiliki tantangan dalam menghadapi terorisme. Melalui pernyataan Kofi Annan itu kita kembali diingatkan. Tetapi. di Jl. penegakan hukum terhadap kejahatan terorisme terkadang dilakukan dengan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan HAM. yang paling berbahaya dari terorisme bukanlah para terorisnya. termasuk dipenuhi hak-haknya. menggeledah. dalam menghadapi terorisme. Pada satu sisi. Perpu yang dikenal sebagai Perpu Anti Terorisme itu kini sudah naik pangkat menjadi UndangUndang Anti Terorisme. teroris atau tersangka teroris tergolong telah melakukan kejahatan berat. setelah terlebih dahulu terjadi baku tembak. terorisme tidak lagi sekadar peledakan bom bunuh diri atau penyanderaan anak sekolah. para teroris atau tersangka teroris adalah juga manusia. termasuk ketika menggerebek Dr Azahari bin Husein pada Rabu 9 November lalu. Flamboyan blok A/I Batu. Salah satu cara yang diyakini paling efektif untuk memutus rantai regenerasi paham terorisme adalah dengan ‘membunuh’ aktor-aktor pelaku terorisme. yang memiliki hak asasi sebagai manusia yang harus kita hargai. Sebuah paham atau ideologi yang menghalalkan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk mencapai tujuan politis tertentu. Jawa Timur. dan mengadili para tersangka pelaku terorisme. agar tidak terjadi transfer ilmu terorisme dari satu generasi/kelompok ke generasi/kelompok . UU inilah juga yang menjadi dasar hukum bagi Detasemen 88 Anti Terorisme Polri untuk mengejar pelaku peledakan bom yang lain. bom Bali I adalah sebuah momentum yang membuka mata pemerintah akan dampak dan bahaya terorisme di Indonesia. Selasa (21/01/2003). Harapannya. Dari sisi hukum formal dan sistem norma yang berlaku di masyarakat. bahkan menembus batas teritorial negara sekalipun. yang kadang kala tidak tahu apa-apa. Beberapa pasal UU Anti Terorisme menyebutkan adanya perlakuan istimewa bagi penegak hukum untuk mencari.

kebebasan dan keselamatan sebagai individu. Karenanya. Namun apakah cara seperti ini menjadi legal di mata HAM di mana tertulis. terorisme hanyalah alat untuk mewujudkan tujuan politis tertentu dan para teroris tidak akan pernah berhenti sampai tujuan itu terpenuhi. apakah cukup manusiawi apabila penanganan terhadap kasus terorisme harus dilakukan dengan memperlakukan para tersangka teroris secara tidak manusiawi? Ataukah justru sebaliknya. “Setiap manusia berhak atas hak untuk hidup yang melekat pada dirinya. warga masyarakat akan merasa sangat puas ketika melihat aparat keamanan berhasil ‘menghabisi’ para tersangka teroris? . Tidak seorang pun dapat merampas hak hidupnya secara sewenang-wenang (Pasal 6 Konvenan Internasional Hak Sipil dan Politik). karenanya terorisme pun harus diperlakukan secara extraordinary. Siapapun pelaku pembunuhan Munir. Kejahatan seperti ini jelas tidak bisa ditolelir oleh HAM. Jika kita melihat peledakan bom dilakukan sebagai sebuah usaha untuk mengekspresikan pendapatnya. merupakan contoh lain teror politik terhadap HAM. telah menyebabkan puluhan bahkan ratusan nyawa lenyap.yang lain. seorang pejuang HAM.” Teror terhadap HAM Sasaran terorisme bisa jadi siapa saja dan apa saja. Namun. maka cara itu sangat tidak manusiawi.” Dengan adanya rasa takut dan cemas yang melanda warga masyarakat yang diakibatkan oleh terorisme. karena tidak ada yang lebih berharga di dunia ini daripada nyawa seseorang. Hak ini wajib dilindungi oleh hukum. Di sini kita bisa melihat bahwa sasaran utama terorisme bukan lagi sekadar kejahatan terhadap negara atau kelompok atau individu. terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. misalnya. Namun pada prinsipnya dan yang paling menyakitkan. tujuannya adalah untuk menebar rasa takut di kalangan pejuang HAM untuk menghentikan aktivitasnya memperjuangkan HAM. “Setiap orang berhak atas kehidupan. maka para teroris telah merampas hak asasi orang lain tentang rasa aman. Prinsipnya. melainkan kejahatan terhadap HAM. hukuman mati atau tembak di tempat diberlakukan bagi para tersangka teroris. Terorisme disebut banyak orang sebagai sebuah kejahatan yang extraordinary. Peledakan bom Bali. Akibat dari peledakan itu sendiri pun melanggar hak asasi manusia. khususnya Pasal 3 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang berbunyi. Entah itu negara atau kelompok atau individu. Pembunuhan Munir. Dalam hal ini kita berbicara pada posisi dimana HAM menjadi sasaran tindakan teror itu dilakukan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->