1 | H a l a m a n

SEPUTAR SYA’BAN


Al Qur’an:
Dalam surat al Fajr 1-2 disebutkan:
,>±l¦´. ¸ _!´.l´. ¸:s '
1) demi fajar. 2) dan malam yang sepuluh,
Dalam ayat diatas, Allah SWT menjadikan fajar dan malam sepuluh sebagai sumpah. Menurut
para ahli tafsir, bila didalam al Qur’an ada ayat sumpah maka ayat itu memiliki maksud:
a. Untuk menarik perhatian.
b. Ada sesuatu yang spesial dibalik ayat tersebut (pengkhususan). Dalam hal ini, pengkhususan
berarti pemuliaan.
Malam yang sepuluh pada ayat diatas banyak sekali tafsirnya, kalau dihimpun dari pendapat
berbagai ulama ahli tahkik (ahli menyimpulkan kebenaran) maka ada 5 malam sepuluh yg dimuliakan.
1. Malam 10 pertama Rajab.
2. Malam 10 kedua Syaban.
3. Malam 10 ketiga Ramadan.
4. Malam 10 pertama Muharram.
5. Malam 10 pertama Dzulhijjah.
Setidaknya ada tiga sudut pandang dalam menjelaskan hal ini. Sudut pandang tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Diantara 365 malam, ternyata ada 5 malam-malam yang dimuliakan oleh Allah SWT sendiri,
karena bentuk ayat itu bukan saja sekedar kalam khobar (informasi), melainkan Allah SWT
menyebutkannya seraya bersumpah. Dengan kata lain, Allah bermaksud memuliakan malam-
malam tersebut. Jika Allah saja memuliakannya maka kitapun harus juga demikian (takholuq bi
khuluqillah = berakhlak sebagaimana akhlak Allah), yakni menjadikan malam-malam tersebut
malam yg special (berbeda dengan malam biasa).
2. Segala sesuatu yang dimuliakan Allah adalah termasuk al hurumat. Lihat surat al Hajj (22) ayat 30:
il: .´. ¯.L-`. ·..`,`> ´<¦ ´.±· ¸¯.> .` ..s .«.´¸ … ¯¸
30) Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan al hurumat (apa-apa yang terhormat) di sisi
Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya...

Setiap yang terhormat disisi Allah memiliki nilai syiar agama, perhatikan ayat 32 berikutnya,
sebagai penjelasan tentang al hurumat:
il: .´. ¯.L-`. ´¸..-: ´<¦ !±.¦· . .´.1. ..l1l¦ ¯'
32) Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul
dari ketakwaan hati.
Al hurumat menurut para ulama, antara lain adalah
2 | H a l a m a n

 (Dimensi tempat/alat) tanah Mekkah Madinah, masjid-masjid, makam para Nabi, sahabat dan
wali, mushaf al Qur’an.
 (Dimensi waktu) malam Jum’at, 5 malam yg dimuliakan (malam Raghoib, malam Nisfu Sya’ban,
malam Lailatul Qadar, malam 2 hari raya).
Sebagaimana ayat diatas, hanya yang memiliki ketakwaan hati (kepekaan hati) yang mampu
mengagungkan syiar-syiar Allah. Janganlah kita bersikap seperti orang bodoh yang dengan alasan
menjaga agama justru pada akhirnya merusak syiar-syiar Allah.
3. Ada dua jenis perintah dalam al Qur’an: perintah langsung (jelas) dan perintah persuasif. Untuk
orang-orang yang beriman (level imannya belum menghasilkan ketakwaan) Allah selalu
menggunakan perintah langsung, sedangkan kepada orang yang bertakwa, Allah menggunakan
bahasa persuasif (bukan kalimat perintah langsung). Dalam hal ini, doa pada malam nisfu Sya’ban
termasuk perintah persuasif (isyarat dengan kalimat sumpah), sehingga kita tidak mendapati
perintah yang secara jelas tentang malam nisfu Sya’ban didalam Qur’an.
Contoh perintah langsung didalam al Qur’an adalah perintah puasa dalam surat al Baqoroh 183:
!±¯.!.. _·¦ ¦.`..¦´. ..´ `.÷.l. `»!´.´.l¦ !.´ ..´ _ls _·¦ . ¯.÷l¯.· ¯.>l-l _.1`. . ¸¯¯
183) Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang
sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Dalam ayat diatas jelas sekali bahwa puasa diperintahkan pada orang-orang yang beriman agar
mereka mencapai derajat takwa. Contoh yang lain silahkan lihat diantaranya surata Ali Imran 102,
al Anfal 42 dan al Hujurat 11.
Contoh lain perintah persuasif dalam Ali Imran 133:
¤ ¦.`s¸!.´. _|| :,±-. . ¯.÷.¯¸ «.>´. !±.`¸s .´...´.l¦ `¯¸N¦´. .´.s¦ _.1`..ll ¸¯¯ _·¦
_.1±.`. _· .¦¯¸´.l¦ .¦¯¸´.l¦´. _..L.÷l¦´. 1.-l¦ _.·!-l¦´. s !.l¦ ´<¦´. ´.>´ _...`>.l¦ ¸¯'
133) dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi
yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
134) (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang
yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan.
Dalam ayat diatas, disebutkan ciri-ciri orang yang bertakwa yaitu menafkahkan harta dikala
sempit atau lapang, mampu menahan amarah, suka memaafkan kesalahan orang. Di akhir ayat
disebutkan bahwa Allah menyukai orang yg berbuat ihsan, maksudnya ini adalah sebagai isyarat
bahwa suka berbuat ihsan juga termasuk ciri orang yang bertakwa.

Al Hadits dan Atsar
Mengenai nishfu Sya’ban, bertebaran hadis yang membicarakannya. Dalam memahami hadis
hendaknya kita mengerti tentang bagaimana ulama mujtahid mengambil suatu hukum/memutuskan
suatu masalah. Penggunaan hadis dalam kalangan ulama mujtahid ahlus sunnah wal jama’ah harus
dilihat melalui 2 sisi:
1. Sisi sanad (riwayat), sehingga muncul derajat hadis ahad (diriwayatkan dari jalus tunggal
sahabat), mutawatir (banyak sahabat yang meriwayatkan), shohih, hasan, dloif, maudlu (palsu).
2. Sisi matan (dhiroyah), sehingga muncul derajat hadis yang menguatkan (al Qur’an/hadis yang
shohih) atau hadis yang melemahkan.
3 | H a l a m a n

Kadangkala ada hadis yang dari segi sanad shohih namun dari segi matan melemahkan
perintah dalam Qur’an atau hadis yang lebih shohih dan mutawatir, maka dalam kasus ini ulama
mujtahid ahlus sunnah wal jamaah menolaknya (tidak menggunakannya sebagai rujukan). Contoh
adanya hadis menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud dan Rasulullah menjama’ sholat
meski bukan dalam kondisi perjalanan. Menggerak-gerakan jari telunjuk berlawanan dengan prinsip
sholat yang dijelaskan dalam al Qur’an (khusyuk=tenang) dan bertentangan dengan banyak hadis lain
yang shohih dan lebih mutawatir. Begitu pula mengenai menjama’ sholat dalam kondisi muqimin.
Ada juga hadis yang berderajat hasan bahkan dloif dari segi sanad, namun bila isinya
menguatkan al Qur’an dan hadis shohih yang lain maka ulama mujtahid akan menaikkan derajatnya
menjadi hadis hasan sehingga juga menggunakannya sebagai pendukung dalam memutuskan suatu
masalah. Contoh hadis tentang amalan nisfu Sya’ban yang sebagian adalah dloif menurut ulama ahli
hadis.
Berikut beberapa hadis dan atsar yang berkenaan dengan Nisfu Sya’ban dan amalan
didalamnya:
1) Diriwayatkan oleh Tirmudzi didalam An-Nawadir dan oleh Thabarani serta Ibnu Syahin dengan
sanad Hasan, berasal dari ‘Aisyah ra. yang menuturkan bahwa Rasulallah saw. pernah
menerangkan bahwa: “Pada malam nishfu Sya’ban ini Allah mengampuni orang-orang yang mohon
ampunan dan merahmati mereka yang mohon rahmat serta menangguhkan (akibat) kedengkian
orang-orang yang dengki”.
2) Dalam silsilah al-Ahadits al-Sahihah, No. 1144 oleh Syeikh Albani, disebutkan hadis yakni, “Allah
melihat kepada hamba-hambaNya pada malam nishfu Sya’ban, maka Dia ampuni semua hamba-
hambaNya kecuali musyrik (orang yang syirik) dan yang bermusuhan (orang saling membenci)”.
3) Hadits dari A’isyah ra: “Suatu malam Rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga
aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau
dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: ‘Hai A’isyah engkau tidak
dapat bagian’?. Lalu aku menjawab: ‘Tidak ya Rasulullah, aku hanya berpikiran yang tidak-tidak
(menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama’. Lalu beliau bertanya:
‘Tahukah engkau, malam apa sekarang ini’. ‘Rasulullah yang lebih tahu’, jawabku. ‘Malam ini adalah
malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Dia memaafkan mereka
yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan
menyingkirkan orang-orang yang dengki‘ “. (HR. Baihaqi) Menurut perawinya hadits ini mursal
(ada rawi yang tidak sambung ke Sahabat), namun cukup kuat.
Dari jalur lain yang semakna dengan hadis diatas. Anas bin Malik bercerita bahwa Rasulullah
pernah menyuruhnya pergi ke rumah Aisyah untuk suatu keperluan. Anas berkata kepada Aisyah,
“Cepatlah, karena saya meninggalkan Rasulullah Saw. sedang membicarakan malam Nisyfu Saban.”
Aisyah berkata kepadanya, “Duduklah, saya akan menyampaikan kepada Anda hadis tentang Nisfu
Sya’ban. Pada malam Nisfu Sya’ban kebetulan ia adalah malam giliran saya. Pada malam itu, saya
terbangun, tetapi saya tidak menemukan beliau berada di sisi saya. Saya mengira beliau pasti
mengunjungi budak yang bernama al-Qibthiyah. Saya keluar melewati masjid, tiba-tiba kaki saya
menyandung Rasulullah Saw yang saat itu sedang berdoa, ”Jiwaku tunduk kepada Mu, hatiku
beriman kepada Mu. Inilah tanganku dan apa yang kusembunyikan dalam diriku. Wahai Yang
Mahaagung, ampunilah dosa-dosaku. Wajahku bersujud kepada Mu, duhai Sang Pencipta. Ya Allah,
berilah aku hati yang bersih dari perbuatan syirik, kufur dan dari perbuatan-perbuatan orang yang
celaka.”
Beliau lalu sujud dan berdoa, “Tuhanku aku berlindung kepada keridhoan Mu dari murka-Mu,
kepada pengampunan-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu memuji-Mu seperti Engkau memuji diri-
Mu sendiri. Aku hanya mampu berkata seperti apa yang diucapkan saudaraku Daud. Kubenamkan
wajahku kedalam tanah karena keagungan Tuhanku. ”
4 | H a l a m a n

Lalu beliau mengangkat kepalanya kembali. Beliau berkata padaku, “Wahai Humayra, apakah
engkau tidak tahu bahwa malam ini malam Nisfu Sya’ban ? Pada malam ini Allah membebaskan
hamba-hamba-Nya dari neraka sebanyak bilangan bulu kambing, kecuali 6 orang; peminum arak,
orang yang menyakiti kedua orang tuanya, orang yang berbuat zina, orang yang memutuskan
silaturahmi, para penjudi, dan orang yang suka marah-marah tanpa alasan.”
4) Dalam hadits sayidina Ali k.w., Rasulullah bersabda: “Malam nisfu Sya’ban, maka hidupkanlah
dengan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada
malam itu, lalu Allah bersabda: ‘Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang
meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan,
hingga fajar menyingsing’ “. (H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).
5) Istimewanya malam Nishfu Sya’ban ini juga dikuatkan oleh atsar para sahabat. Sayyidina Ali k.w.
misalnya, sebagaimana dikutip Ibnu Rajab, apabila datang malam Nishfu Sya’ban, ia banyak keluar
rumah untuk melihat dan berdoa ke arah langit, sambil berkata: “Sesungguhnya Nabi Daud as,
apabila datang malam Nishfu Sya’ban, beliau keluar rumah dan menengadah ke langit sambil
berkata: “Pada waktu ini tidak ada seorang pun yang berdoa pada malam ini kecuali akan
dikabulkan, tidak ada yang memohon ampun, kecuali akan diampuni selama bukan tukang sihir
atau dukun”. Sayyidina Ali lalu berkata: “Ya Allah, Tuhannya Nabi Daud as, ampunilah dosa orang-
orang yang meminta ampun pada malam ini, serta kabulkanlah doa orang-orang yang berdoa pada
malam ini”.
6) Sebagian besar ulama Tabi’in seperti Khalid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin Amir dan yang
lainnya, juga mengistimewakan malam ini dengan jalan lebih mempergiat ibadah, membaca al-
Qur’an dan berdoa. Demikian juga hal ini dilakukan oleh jumhur ulama Syam dan Bashrah.

Ulama Mujtahid
Dalam kitab Kanzun Najah wa Surur (terbitan 1998, cetakan pertama), ditulis oleh imam asy
Syeikh Abdul Hamid Muhammad Ali at Tusi (bermadzab Hambali), mudaris (pengajar) dan imam
Masjidil Haram (setiap mudaris disana harus hafal Quran dan ribuan hadis). Beliau menulis beberapa
hadis dalam bab Apa yg harus kamu perhatikan mengenai Syaban yg agung, diantaranya adalah
‘Sya’ban syahri wa huwa syahru sholati alan nabi SAW.’ (Sya’ban adlah bulanku dan dia adalah bulan
bersholawat atas Nabi SAW). Kemudian menjelaskannya, ‘fa’aksiruu minash sholati allan nabi ayyuhal
ihkwan fi kulli azdman khusushon fi syahri nabiyukum, sya’ban. (maka perbanyaklah sholawat atas
Rasulullah SAW wahai sekalian ihkwan, dalam setiap masa, khususnya di bulan Rasulmu yakni bulan
Sya’ban.
Imam al-Gazali (madzhab Syafi’i) dalam kitabnya mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban
sebagai malam Syafaat, karena menurutnya, pada malam ke-13 dari bulan Sya’ban Allah SWT
memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Lalu pada malam ke-14, seluruh syafaat itu
diberikan secara penuh. Meskipun demikian ada beberapa gelintir orang yang tidak diperuntukkan
pemberian syafaat kepadanya. Orang-orang yang tidak diberi syafaat itu antara lain ialah orang-orang
yang berpaling dari agama Allah dan orang-orang yang tidak berhenti berbuat keburukan.
Pendapat imam Syafi’i sendiri mengenai Nisfu Sya’ban, “Telah sampai kepada kami riwayat
bahwa doa itu akan (lebih besar kemungkinan untuk) dikabulkan pada lima malam: Pada malam
Jum’at, malam Idul Fithri, malam Idul Adha, malam awal bulan Rajab, dan pada malam Nishfu Sya’ban”.
Imam Syafi’i berkata kembali: “Dan aku sangat menekankan (untuk memperbanyak doa) pada seluruh
malam yang telah aku ceritakan tadi”.
5 | H a l a m a n

Ibnu Taimiyah menulis dalam Majmu Fatawa Kubra juz 2 halaman 262 demikian, “Apabila
seorang itu sholat pada malam Nishfu Sya’ban sendirian atau berjamaah secara khusus sebagaimana
yang dilakukan oleh sebagian salaf, maka hal itu adalah sangat baik.” Kemudian dalam juz’ 5 halaman
344 dijelaskan pula, “Adapun mengenai malam Nishfu Sya’ban, maka padanya ada keutamaan dan ada
dari kaum salaf yang shalat pada malam tersebut.”
Kemudian dalam juz 23 halaman 131 beliau menyebutkan, “Adapun malam Nishfu (Sya’ban),
maka telah diriwayatkan mengenai kemuliaan dan kelebihan Nishfu Sya’ban dengan hadits-hadits dan
atsar, dinukilkan dari golongan Salaf (orang-orang dahulu) bahwa mereka menunaikan sholat khusus
pada malam Nishfu Sya’ban, sholatnya seseorang pada malam itu secara perseorangan sebenarnya
telah dilakukan oleh ulama Salaf dan dalam perkara tersebut terdapat hujjah/dalil, maka jangan
diingkari hal yang seperti ini. Sedangkan sholat secara jama’ah pada malam Nishfu Sya’ban, maka hal
ini dibangun atas qaidah umum pada berjama’ahnya dalam melakukan amalan ketaatan dan ibadah.”

Kesimpulan:
a. Ada malam-malam tertentu yang Allah sendiri memuliakannya, yaitu
1. 10 malam pertama Rajab. Didalamnya ada malam Raghoib (malam pengharapan).
2. 10 malam kedua Syaban. Didalamnya ada malam nisfu Sya’ban.
3. 10 malam terakhir Ramadan. Didalamnya ada malam Lailatur Qodar dan malam Iedul Fitri.
4. 10 malam pertama Dzulhijjah. Didalamnya ada malam Iedul Adha.
5. 10 malam pertama Muharram. Diujungnya adalah hari kemenangan para Nabi ulul azmi,
tanggal 10 Muharrom.
b. Mengkhususkan artinya melebihkan kuantitas amal pada malam tersebut. Apa yang harus
dikerjakan? Disinilah banyak terjadi perbedaan dalam kalangan ulama karena tidak ada hadis yang
shohih yang menjelaskannya secara detail. Meskipun demikian, hal ini tidak menafikan/melarang
adanya pengkhususan amal pada malam-malam mustajabah, sebagaimana tidak ada riwayat yang
jelas bagaimana menghidupkan malam Lailatul Qadar.
c. Secara umum, amalan yang disunnahkan adalah memperbanyak shalawat. Dalam hadis shohih
disebutkan bahwa rajab syahrullah, syaban syahrur rasul wa ramadan syahrul ummah. Sehingga
dalam bulan Rajab dianjurkan memperbanyak istighfar (karena bulan Rajab adalah bulan untuk
memenuhi hak Allah, namun manusia yang terbatas tidak akan mungkin bisa memenuhi hak yg tak
terbatas), dalam bulan Sya’ban memperbanyak shalawat (bulan memenuhi hak2 Rasul) dan dalam
Ramadlan memperbanyak doa memohon surga dan terhindar dari neraka (bulan menumpahkan
harapan dan doa krn didalamnya terdapat curahan rahmat dr Allah).
Disamping itu, asbabun nuzul ayat perintah shawalat (ya ayyuhal ladzina amanu shollu alaihi wa
sallimu taslima…) turun bertepatan pada bulan Sya’ban.
d. Sedangkan amalan khusus bulan Sya’ban: doa Nisfu Sya’ban (malam 15), puasa sunnah dan
qiyamul lail (berdzikir di waktu malam, dzikir secara formal adalah sholat) terutama pada 10
kedua bulan Sya’ban. Tentang bagaimana dan caranya tergantung madzhab masing-masing
tempat. Adanya beberapa bentuk amalan dalam hadis dloif (sholat 100 rekaat, membaca dzikir
tertentu ribuan kali) bukanlah merupakan perbuatan yang terlarang, justru ini sesuatu yang
mustahab (disukai) karena itu semua masuk dalam kategori sholat/dzikir mutlak (sholat/dzikir
yang semata-mata dilakukan untuk pendekatan kepada Allah) dalam rangka menghidupkan malam
10 kedua bulan Sya’ban.

Wallahu a’lam bishowab.

 (Dimensi waktu) malam Jum’at. baik di waktu lapang maupun sempit. maksudnya ini adalah sebagai isyarat bahwa suka berbuat ihsan juga termasuk ciri orang yang bertakwa. Sisi sanad (riwayat). Contoh lain perintah persuasif dalam Ali Imran 133:                                       133) dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. shohih. 134) (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya). sahabat dan wali. sehingga kita tidak mendapati perintah yang secara jelas tentang malam nisfu Sya’ban didalam Qur’an. hanya yang memiliki ketakwaan hati (kepekaan hati) yang mampu mengagungkan syiar-syiar Allah. (Dimensi tempat/alat) tanah Mekkah Madinah. 3. Contoh yang lain silahkan lihat diantaranya surata Ali Imran 102. maudlu (palsu). masjid-masjid. Dalam hal ini. Penggunaan hadis dalam kalangan ulama mujtahid ahlus sunnah wal jama’ah harus dilihat melalui 2 sisi: 1. malam 2 hari raya). makam para Nabi. mushaf al Qur’an. Janganlah kita bersikap seperti orang bodoh yang dengan alasan menjaga agama justru pada akhirnya merusak syiar-syiar Allah. Sebagaimana ayat diatas. mampu menahan amarah. Untuk orang-orang yang beriman (level imannya belum menghasilkan ketakwaan) Allah selalu menggunakan perintah langsung. sehingga muncul derajat hadis ahad (diriwayatkan dari jalus tunggal sahabat). Dalam memahami hadis hendaknya kita mengerti tentang bagaimana ulama mujtahid mengambil suatu hukum/memutuskan suatu masalah. bertebaran hadis yang membicarakannya. Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan. sedangkan kepada orang yang bertakwa. dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. sehingga muncul derajat hadis yang menguatkan (al Qur’an/hadis yang shohih) atau hadis yang melemahkan. malam Lailatul Qadar. Allah menggunakan bahasa persuasif (bukan kalimat perintah langsung). mutawatir (banyak sahabat yang meriwayatkan). Di akhir ayat disebutkan bahwa Allah menyukai orang yg berbuat ihsan. 2|H a l a m a n . malam Nisfu Sya’ban. al Anfal 42 dan al Hujurat 11. Ada dua jenis perintah dalam al Qur’an: perintah langsung (jelas) dan perintah persuasif. suka memaafkan kesalahan orang. doa pada malam nisfu Sya’ban termasuk perintah persuasif (isyarat dengan kalimat sumpah). Dalam ayat diatas jelas sekali bahwa puasa diperintahkan pada orang-orang yang beriman agar mereka mencapai derajat takwa. 5 malam yg dimuliakan (malam Raghoib. 2. Sisi matan (dhiroyah). disebutkan ciri-ciri orang yang bertakwa yaitu menafkahkan harta dikala sempit atau lapang. dloif. hasan. Al Hadits dan Atsar Mengenai nishfu Sya’ban. Dalam ayat diatas. Contoh perintah langsung didalam al Qur’an adalah perintah puasa dalam surat al Baqoroh 183:                     183) Hai orang-orang yang beriman. diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: ‘Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian’?. maka dalam kasus ini ulama mujtahid ahlus sunnah wal jamaah menolaknya (tidak menggunakannya sebagai rujukan). Saya keluar melewati masjid.” Beliau lalu sujud dan berdoa.” Aisyah berkata kepadanya. Anas berkata kepada Aisyah. ”Jiwaku tunduk kepada Mu. Wajahku bersujud kepada Mu. malam apa sekarang ini’. berasal dari ‘Aisyah ra. ” 3|H a l a m a n . 2) Dalam silsilah al-Ahadits al-Sahihah. namun cukup kuat. yang menuturkan bahwa Rasulallah saw. “Allah melihat kepada hamba-hambaNya pada malam nishfu Sya’ban. Aku tidak mampu memuji-Mu seperti Engkau memuji diriMu sendiri. Anas bin Malik bercerita bahwa Rasulullah pernah menyuruhnya pergi ke rumah Aisyah untuk suatu keperluan. Pada malam itu. Pada malam Nisfu Sya’ban kebetulan ia adalah malam giliran saya. berilah aku hati yang bersih dari perbuatan syirik. Berikut beberapa hadis dan atsar yang berkenaan dengan Nisfu Sya’ban dan amalan didalamnya: 1) Diriwayatkan oleh Tirmudzi didalam An-Nawadir dan oleh Thabarani serta Ibnu Syahin dengan sanad Hasan. ampunilah dosa-dosaku. ‘Rasulullah yang lebih tahu’. pernah menerangkan bahwa: “Pada malam nishfu Sya’ban ini Allah mengampuni orang-orang yang mohon ampunan dan merahmati mereka yang mohon rahmat serta menangguhkan (akibat) kedengkian orang-orang yang dengki”. sedang membicarakan malam Nisyfu Saban. Baihaqi) Menurut perawinya hadits ini mursal (ada rawi yang tidak sambung ke Sahabat). Contoh adanya hadis menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud dan Rasulullah menjama’ sholat meski bukan dalam kondisi perjalanan.Kadangkala ada hadis yang dari segi sanad shohih namun dari segi matan melemahkan perintah dalam Qur’an atau hadis yang lebih shohih dan mutawatir. Menggerak-gerakan jari telunjuk berlawanan dengan prinsip sholat yang dijelaskan dalam al Qur’an (khusyuk=tenang) dan bertentangan dengan banyak hadis lain yang shohih dan lebih mutawatir. disebutkan hadis yakni. 3) Hadits dari A’isyah ra: “Suatu malam Rasulullah salat. (HR. “Cepatlah. Inilah tanganku dan apa yang kusembunyikan dalam diriku. sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil. Begitu pula mengenai menjama’ sholat dalam kondisi muqimin. memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki‘ “. hatiku beriman kepada Mu. Lalu beliau bertanya: ‘Tahukah engkau. maka Dia ampuni semua hambahambaNya kecuali musyrik (orang yang syirik) dan yang bermusuhan (orang saling membenci)”. 1144 oleh Syeikh Albani. No. Wahai Yang Mahaagung. kufur dan dari perbuatan-perbuatan orang yang celaka. Aku hanya mampu berkata seperti apa yang diucapkan saudaraku Daud. Contoh hadis tentang amalan nisfu Sya’ban yang sebagian adalah dloif menurut ulama ahli hadis. saya terbangun. Dari jalur lain yang semakna dengan hadis diatas. Saya mengira beliau pasti mengunjungi budak yang bernama al-Qibthiyah. aku hanya berpikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama’. Lalu aku menjawab: ‘Tidak ya Rasulullah. Kubenamkan wajahku kedalam tanah karena keagungan Tuhanku. namun bila isinya menguatkan al Qur’an dan hadis shohih yang lain maka ulama mujtahid akan menaikkan derajatnya menjadi hadis hasan sehingga juga menggunakannya sebagai pendukung dalam memutuskan suatu masalah. maka Dia memaafkan mereka yang meminta ampunan. Allah mengawasi hambanya pada malam ini. kemudian beliau bersujud panjang. tiba-tiba kaki saya menyandung Rasulullah Saw yang saat itu sedang berdoa. saya akan menyampaikan kepada Anda hadis tentang Nisfu Sya’ban. Ya Allah. tetapi saya tidak menemukan beliau berada di sisi saya. kepada pengampunan-Mu dari siksa-Mu. jawabku. ‘Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban. duhai Sang Pencipta. “Tuhanku aku berlindung kepada keridhoan Mu dari murka-Mu. “Duduklah. karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. karena saya meninggalkan Rasulullah Saw. Ada juga hadis yang berderajat hasan bahkan dloif dari segi sanad.

Pendapat imam Syafi’i sendiri mengenai Nisfu Sya’ban. membaca alQur’an dan berdoa. kecuali akan diampuni selama bukan tukang sihir atau dukun”. Kemudian menjelaskannya. beliau keluar rumah dan menengadah ke langit sambil berkata: “Pada waktu ini tidak ada seorang pun yang berdoa pada malam ini kecuali akan dikabulkan. sebagaimana dikutip Ibnu Rajab. dan pada malam Nishfu Sya’ban”. Tuhannya Nabi Daud as. orang yang meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi. malam awal bulan Rajab.” 4) Dalam hadits sayidina Ali k. serta kabulkanlah doa orang-orang yang berdoa pada malam ini”. lalu Allah bersabda: ‘Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni. 5) Istimewanya malam Nishfu Sya’ban ini juga dikuatkan oleh atsar para sahabat. ia banyak keluar rumah untuk melihat dan berdoa ke arah langit. Ulama Mujtahid Dalam kitab Kanzun Najah wa Surur (terbitan 1998. “Telah sampai kepada kami riwayat bahwa doa itu akan (lebih besar kemungkinan untuk) dikabulkan pada lima malam: Pada malam Jum’at. maka hidupkanlah dengan salat dan puasalah pada siang harinya. orang yang memutuskan silaturahmi. Beliau menulis beberapa hadis dalam bab Apa yg harus kamu perhatikan mengenai Syaban yg agung. Beliau berkata padaku. diantaranya adalah ‘Sya’ban syahri wa huwa syahru sholati alan nabi SAW. (H. apakah engkau tidak tahu bahwa malam ini malam Nisfu Sya’ban ? Pada malam ini Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari neraka sebanyak bilangan bulu kambing. sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu. Meskipun demikian ada beberapa gelintir orang yang tidak diperuntukkan pemberian syafaat kepadanya. misalnya. karena menurutnya.R. Luqman bin Amir dan yang lainnya.w. apabila datang malam Nishfu Sya’ban. juga mengistimewakan malam ini dengan jalan lebih mempergiat ibadah. sambil berkata: “Sesungguhnya Nabi Daud as. orang yang berbuat zina. cetakan pertama). Demikian juga hal ini dilakukan oleh jumhur ulama Syam dan Bashrah. Ibnu Majah dengan sanad lemah). Makhul. Lalu pada malam ke-14. orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan. dan orang yang suka marah-marah tanpa alasan. kecuali 6 orang. tidak ada yang memohon ampun. Orang-orang yang tidak diberi syafaat itu antara lain ialah orang-orang yang berpaling dari agama Allah dan orang-orang yang tidak berhenti berbuat keburukan. malam Idul Adha. khususnya di bulan Rasulmu yakni bulan Sya’ban. dalam setiap masa. seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. sya’ban. 4|H a l a m a n . 6) Sebagian besar ulama Tabi’in seperti Khalid bin Ma’dan. peminum arak. Rasulullah bersabda: “Malam nisfu Sya’ban. Imam Syafi’i berkata kembali: “Dan aku sangat menekankan (untuk memperbanyak doa) pada seluruh malam yang telah aku ceritakan tadi”.w. para penjudi. ampunilah dosa orangorang yang meminta ampun pada malam ini. pada malam ke-13 dari bulan Sya’ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. ditulis oleh imam asy Syeikh Abdul Hamid Muhammad Ali at Tusi (bermadzab Hambali). Imam al-Gazali (madzhab Syafi’i) dalam kitabnya mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam Syafaat. malam Idul Fithri.’ (Sya’ban adlah bulanku dan dia adalah bulan bersholawat atas Nabi SAW). ‘fa’aksiruu minash sholati allan nabi ayyuhal ihkwan fi kulli azdman khusushon fi syahri nabiyukum. orang yang menyakiti kedua orang tuanya. “Wahai Humayra. mudaris (pengajar) dan imam Masjidil Haram (setiap mudaris disana harus hafal Quran dan ribuan hadis). apabila datang malam Nishfu Sya’ban.. (maka perbanyaklah sholawat atas Rasulullah SAW wahai sekalian ihkwan.Lalu beliau mengangkat kepalanya kembali. Sayyidina Ali lalu berkata: “Ya Allah. Sayyidina Ali k. hingga fajar menyingsing’ “.

maka hal ini dibangun atas qaidah umum pada berjama’ahnya dalam melakukan amalan ketaatan dan ibadah. Didalamnya ada malam Iedul Adha. Didalamnya ada malam Raghoib (malam pengharapan). amalan yang disunnahkan adalah memperbanyak shalawat. 10 malam pertama Dzulhijjah. 5|H a l a m a n . membaca dzikir tertentu ribuan kali) bukanlah merupakan perbuatan yang terlarang. dalam bulan Sya’ban memperbanyak shalawat (bulan memenuhi hak2 Rasul) dan dalam Ramadlan memperbanyak doa memohon surga dan terhindar dari neraka (bulan menumpahkan harapan dan doa krn didalamnya terdapat curahan rahmat dr Allah). Sedangkan sholat secara jama’ah pada malam Nishfu Sya’ban. d. 4. maka padanya ada keutamaan dan ada dari kaum salaf yang shalat pada malam tersebut. Meskipun demikian. c. sebagaimana tidak ada riwayat yang jelas bagaimana menghidupkan malam Lailatul Qadar. Didalamnya ada malam nisfu Sya’ban. yaitu 1. namun manusia yang terbatas tidak akan mungkin bisa memenuhi hak yg tak terbatas). “Adapun malam Nishfu (Sya’ban). Secara umum.” Kemudian dalam juz 23 halaman 131 beliau menyebutkan. Sehingga dalam bulan Rajab dianjurkan memperbanyak istighfar (karena bulan Rajab adalah bulan untuk memenuhi hak Allah. maka telah diriwayatkan mengenai kemuliaan dan kelebihan Nishfu Sya’ban dengan hadits-hadits dan atsar. Sedangkan amalan khusus bulan Sya’ban: doa Nisfu Sya’ban (malam 15).” Kemudian dalam juz’ 5 halaman 344 dijelaskan pula. “Adapun mengenai malam Nishfu Sya’ban. 10 malam terakhir Ramadan. maka jangan diingkari hal yang seperti ini. 10 malam pertama Muharram. 2.Ibnu Taimiyah menulis dalam Majmu Fatawa Kubra juz 2 halaman 262 demikian. puasa sunnah dan qiyamul lail (berdzikir di waktu malam. Ada malam-malam tertentu yang Allah sendiri memuliakannya. Mengkhususkan artinya melebihkan kuantitas amal pada malam tersebut. 10 malam pertama Rajab. maka hal itu adalah sangat baik. asbabun nuzul ayat perintah shawalat (ya ayyuhal ladzina amanu shollu alaihi wa sallimu taslima…) turun bertepatan pada bulan Sya’ban. Diujungnya adalah hari kemenangan para Nabi ulul azmi. sholatnya seseorang pada malam itu secara perseorangan sebenarnya telah dilakukan oleh ulama Salaf dan dalam perkara tersebut terdapat hujjah/dalil. b. justru ini sesuatu yang mustahab (disukai) karena itu semua masuk dalam kategori sholat/dzikir mutlak (sholat/dzikir yang semata-mata dilakukan untuk pendekatan kepada Allah) dalam rangka menghidupkan malam 10 kedua bulan Sya’ban. 3. Dalam hadis shohih disebutkan bahwa rajab syahrullah. syaban syahrur rasul wa ramadan syahrul ummah. dzikir secara formal adalah sholat) terutama pada 10 kedua bulan Sya’ban. Adanya beberapa bentuk amalan dalam hadis dloif (sholat 100 rekaat. 5. “Apabila seorang itu sholat pada malam Nishfu Sya’ban sendirian atau berjamaah secara khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf. Didalamnya ada malam Lailatur Qodar dan malam Iedul Fitri. Wallahu a’lam bishowab. tanggal 10 Muharrom. Tentang bagaimana dan caranya tergantung madzhab masing-masing tempat. Disamping itu. 10 malam kedua Syaban. dinukilkan dari golongan Salaf (orang-orang dahulu) bahwa mereka menunaikan sholat khusus pada malam Nishfu Sya’ban. hal ini tidak menafikan/melarang adanya pengkhususan amal pada malam-malam mustajabah. Apa yang harus dikerjakan? Disinilah banyak terjadi perbedaan dalam kalangan ulama karena tidak ada hadis yang shohih yang menjelaskannya secara detail.” Kesimpulan: a.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful