BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Uveitis adalah inflamasi traktus uvea ( iris, korpus siliaris, dan koroid) dengan berbagai penyebabnya. Struktur yang berdekatan dengan jaringan uvea yang mengalami inflamasi biasanya juga ikut mengalami inflamasi. Peradangan pada uvea dapat hanya mengenai bagian depan jaringan uvea atau iris yang disebut iritis. Bila mengenai badan tengah disebut siklitis. Iritis dengan siklitis disebut iridosiklitis atau disebut juga dengan uveitis anterior dan merupakan bentuk uveitis tersering. Dan bila mengenai lapisan koroid disebut uveitis posterior atau koroiditis. Pola pernyebab uveitis anterior terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknik pemeriksaan laboratorium sebagai sebagai sarana penunjang diagnostik. Lebih dari dari 75% uveitis endogen tidak diketahui penyebabnya, namun 37% kasus diantaranya ternyata merupakan reaksi imunologik yang berhubungan dengan uveitis anterior meliputi: spondilitis ankilosa, sindroma reiter, arthritis, psoriatika, penyakit Crohn, colitis ulserativa dan penyakit Whipple. Keterkaitan antara uveitis anterior dengan spondilitis ankilosa pada pasien dengan predisposisi genetic HLA-B27 positif pertama kali dilaporkan oleh Brewerton et al. Insiden uveitis sekitar 15 per 100.000 orang. Sekitar 75% merupakan uveitis anterior. Sekitar 50% pasien dengan uveitis menderita penyakit sistemik terkait. Di Amerika Serikat, uveitis merupakan penyebab kebutaan nomor tiga setelah retinopati diabetik dan degenerasi macular. Umur bervariasi antara usia prepubertas sampai 50 tahun. 1.2. Tujuan penulisan Penulisan Case Report Session (CRS) ini bertujuan untuk memahami dan menambah pengetahuan tentang uveitis anterior. 1.3. Batasan Masalah Dalam Case Report Session (CRS) ini akan dibahas mengenai uveitis anterior. 1.4. Metode Penulisan
1

Penulisan Case Report Session (CRS) ini menggunakan metode tinjauan pustaka dengan mengacupada berbagai literature dan kepustakaan berupa buku, jurnal dan internet.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi dan Fisiologi Uvea Uvea merupakan lapis vaskular mata yang terdiri dari iris, korpus siliaris dan khoroid.

2

Otot-otot siliar berfungsi untuk akomodasi. Khoroid di sebelah dalam dibatasi 3 . Khoroid Khoroid adalah segmen posterior uvea. Korpus Siliaris Korpus siliaris merupakan susunan otot melingkar dan mempunyai sistem eksresi di belakang limbus.Iris Iris merupakan membran yang berwarna. Permukaan iris warnanya sangat bervariasi dan mempunyai lekukan-lekukan kecil terutama sekitar pupil yang disebut kripti. Iris dipersarafi oleh nervus nasoiliar cabang dari saraf cranial III yang bersifat simpatik untuk midriasis dan parasimpatik untuk miosis. Iris berpangkal pada badan siliar dan merupakan pemisah antara bilik mata depan dengan bilik mata belakang. berbentuk sirkular yang ditengahnya terdapat lubang yang dinamakan pupil. sedang dan kecil. besar. semakin lebar lumennya. Jaringan otot iris terusun longgar dengan otot polos yang berjalan melingkari pupil (sfingter pupil) dan radial tegak lurus pupil (dilator pupil). Badan siliar dimulai dari pangkal iris ke belakang sampai koroid terdiri atas otot-otot siliar dan prosesus siliaris. Iris menipis di dekat perlekatannya dengan badan siliar dan menebal di dekat pupil. di antara sklera dan retina. Semakin ke dalam letak pembuluh di dalam khoroid. Khoroid tersusun dari tiga lapisan pembuluh darah khoroid. Pembuluh darah di sekeliling pupil disebut sirkulus minor dan yang berada dekat badan siliar disebut sirkulus mayor.

korpus siliar. khoroid bersambung dengan badan siliar. retina. dan khoroid. vitreous.oleh membrana Bruch dan di sebelah luar dibatasi oleh sklera. Inflamasi dari struktur ini biasanya diikuti oleh inflamasi jaringan sekitarnya. Regulasi sinar ke retina 2. Ke anterior. Imunologi. bagian yang berperan dalam hal ini adalah khoroid 3. termasuk kornea. Tipe Uveitis Anterior Fokus Inflamasi COA Meliputi Iritis Iridosiklitis Siklitis Anterior Uveitis Intermediat Vitreus Pars Planitis Siklitis Posterior Hialitis 4 . Menurut Standardization of Uveitis Nomenclatur (SUN) Working Group pada tahun 2005 membuat suatu system klasifikasi secara anatomis suatu uveitis. Produksi akuos humor oleh korpus siliaris 4. Nutrisi 5.2 Definisi dan Klasifikasi Uveitis diartikan sebagai peradangan dari ‘uveal tract’. Uveitis dapat diklasifikasikan menurut : a. Fungsi dari uvea antara lain : 1. Anatomi Yaitu berdasarkan seberapa besar bagian uvea yang terkena. Khoroid melekat erat ke posterior ke tepi-tepi nervus optikus. Filtrasi 2. lapisan pembuluh darah mata yang terdiri dari iris. sklera. dan nervus optikus.

Insidensi dari uveitis di Amerika Serikat sekitar 15 per 100.Uveitis Posterior Retina dan Koroid Koroiditis Fokal. umumnya tidak ditemukan organisme pathogen dan berespon baik terhadap terapi kortikosteroid sehingga diduga peradangan ini merupakan fenomena hipersensifitas.3 Epidemiologi Penyakit peradangan traktus uvealis umumnya terjadi pada usia muda dan usia pertengahan. 2. 2. Viterus. Sekitar 75% merupakan uveitis anterior. atau 38. durasi ≤ 3 bln Rekuren Episode berulang. Gambaran klinik : Tipe Akut Keterangan Karakteristik Episodenya: onset tibatiba. Retina dan Koroid b. Granulomatosa. Histopatologi 1.000 kasus baru per tahun. Multifokal atau difus Korioretinitis Retinokoroiditis Retinitis Neuroretinitis Pan Uveitis COA. dengan periode inaktivasi tanpa terapi ≥ 3bln Kronik Uveitis persisten dengan relaps < 3 bln setelah terapi dihentikan c. Sekitar 5 . umumnya mengikuti invasi mikroba aktif ke jaringan oleh organisme penyebab.000 orang per tahun. Non-granulomatosa.

Jamur d. sarkoidosis. Neoplastik 3. Imunologik g. Parasit : Kandidiasis : Toksoplasma. Belanda. operasi intra okuler. penyakit vaskuler f. reiculum cell carcinoma : AIDS 2.Koyanagi-Hanada. diduga terjadi proses inflamasi dan non infeksi. Uveitis bisa terjadi pada umur di bawah 16 tahun sampai umur 40 tahun. Eksogen : Pada umumnya disebabkan oleh karena trauma.50% pasien dengan uveitis menderita penyakit sistemik terkait. multiple sklerosis.4 Patofisiologi Peradangan uvea biasanya unilateral. India. 2. Penyakit Sistemik : Penyakit kolagen. ataupun iatrogenik. 1. Penyakit Vogt. Herpes zoster. dapat disebabkan oleh efek langsung suatu infeksi atau merupakan fenomena alergi. Virus : Tuberkulosa. Israel. Pada beberapa negara seperti Amerika Serikat. Toksokara e. oftalmia simpatika : Limfoma. Idiopatik : Lens-induced iridosiklitis. arthritis reumatoid. c. Etiologi Pada kebanyakan kasus tidak diketahui penyebabnya. Bakteri b. Endogen : karena adanya kelainan sistemik sebagai faktor predisposisi a. Sindrom Bechet. Infeksi piogenik biasanya mengikuti suatu 6 . dan Inggris insiden uveitis banyak terjadi pada dekade 3040 tahun. sifilis : Herpes simpleks. CMV. Immunodefisiensi 4.

dikenal dengan hifema. Uveitis yang berhubungan dengan mekanisme alergi merupakan reaksi hipersensitivitas terhadap antigen dari luar (antigen eksogen) atau antigen dari dalam (antigen endogen). Pada proses peradangan yang lebih akut. Apabila presipitat keratik ini besar disebut mutton fat. Sel-sel radang. Sehubungan dengan hal ini peradangan uvea terjadi lama setelah proses infeksinya yaitu setelah munculnya mekanisme hipersensitivitas. bila dipermukaan iris disebut Busacca nodules. dapat dijumpai penumpukan sel-sel radang didalam bilik mata depan (BMD) yang disebut hipopion. sel plasma dapat membentuk presipitat keratik yaitu sel-sel radang yang menempel pada permukaan endotel kornea. ataupun antara iris 7 . ataupun migrasi eritrosit ke dalam BMD. Radang iris dan badan siliar menyebabkan rusaknya Blood Aqueous Barrier sehingga terjadi peningkatan protein. Sel-sel radang yang terdiri dari limfosit. Akumulasi sel-sel radang dapat juga terjadi pada perifer pupil yang disebut Koeppe nodules. walaupun kadang-kadang dapat juga terjadi sebagai reaksi terhadap zat toksik yang diproduksi oleh mikroba yang menginfeksi jaringan tubuh diluar mata. fibrin. makrofag. dan fibroblast dapat menimbulkan perlekatan antara iris dengan kapsul lensa bagian anterior yang disebut sinekia posterior. fibrin. Dalam banyak hal antigen luar berasal dari mikroba yang infeksius. yaitu partikelpartikel kecil dengan gerak Brown (efek tyndall). dan sel-sel radang dalam humor akuos. Pada pemeriksaan biomikroskop (slit lamp) hal ini tampak sebagai flare.trauma tembus okuli.

disebut oklusio pupil. kecuali telah terbentuk keratopati bulosa akibat glaukoma sekunder. ditambah dengan tertutupnya trabekular oleh sel-sel radang. sedangkan pada fase lanjut glaukoma terjadi karena adanya seklusio pupil. Gejala subyektif 1) Nyeri : Uveitis anterior akut Nyeri disebabkan oleh iritasi saraf siliar bila melihat cahaya dan penekanan saraf siliar bila melihat dekat. Dapat pula terjadi perlekatan pada bagian tepi pupil. sehingga sulit menentukan derajat nyeri. Lokalisasi nyeri bola mata. Uveitis anterior kronik Nyeri jarang dirasakan oleh penderita. akan menghambat aliran akuos humor dari bilik mata belakang ke bilik mata depan sehingga akuos humor tertumpuk di bilik mata belakang dan akan mendorong iris ke depan yang tampak sebagai iris bombe. Pada fase akut terjadi glaukoma sekunder karena gumpalan-gumpalan pada sudut bilik mata depan. daerah orbita dan kraniofasial.dengan endotel kornea yang disebut dengan sinekia anterior. yang disebut seklusio pupil. Selanjutnya tekanan dalam bola mata semakin meningkat dan akhirnya terjadi glaukoma sekunder. Nyeri ini disebut juga nyeri trigeminal.5 Gejala Klinis a. 2. Intensitas nyeri tergantung hiperemi iridosiliar dan peradangan uvea serta ambang nyeri pada penderita. atau seluruh pupil tertutup oleh sel-sel radang. Sifat nyeri menetap atau hilang timbul. 2) Fotofobia dan lakrimasi Uveitis anterior akut 8 . Perlekatan-perlekatan tersebut. Pada kasus yang berlangsung kronis dapat terjadi gangguan produksi akuos humor yang menyebabkan penurunan tekanan bola mata sebagai akibat hipofungsi badan siliar.

kekeruhan aquos dan badan kaca depan karena eksudasi sel radang dan fibrin.Fotofobia disebabkan spasmus siliar bukan karena sensitif terhadap cahaya. berat atau hilang timbul. tergantung penyebab. oftalmoskopik direk dan indirek. Uveitis anterior hiperakut 9 . 1) Injeksi Silier Gambaran merupakan hiperemi pembuluh darah siliar sekitar limbus. Gejala objektif Pemeriksaan dilakukan dengan lampu celah. bila diperlukan angiografi fluoresen atau ultrasonografi. Bila hebat hiperemi dapat meluas sampai pembuluh darah konjungtiva. edema kornea. b. Uveitis anterior akut Disebabkan oleh pengendapan fibrin. 3) Penglihatan kabur Derajat kekaburan bervariasi mulai dari ringan-sedang. Uveitis anterior kronik Gejala subjektif ini hampir tidak ataupun ringan. jadi berhubungan erat dengan fotofobia. berwarna keunguan. badan kaca dan kalsifikasi kornea. Uveitis anterior akut Merupakan tanda patognomonik dan gejala dini. Lakrimasi disebabkan oleh iritasi saraf pada kornea dan siliar. Uveitis anterior kronik Disebabkan oleh karena kekeruhan lensa.

Selain dari hiperemi dapat disertai gambaran skleritis dan keratitis marginalis. o Baru dan lama : Jika baru berbentuk bundar dan berwarna putih. Makrofag kemampuan aglutinasi tinggi tambahan lagi sifat fagositosis membentuk kelompok lebih besar dikenal sebagai mutton fat. o dan Ukuran dan jumlah sel : Halus dan banyak terdapat pada iritis 10 . halus keabuan. berpigmen dan lebih jernih. Keratik presipitat dapat dibedakan : o Lama akan mengkerut. gaya berat dan perbedaan potensial listrik endotel kornea. 2) Perubahan Keratik Terjadi karena kornea presipitat pengendapan sel radang dalam bilik mata depan pada endotel kornea akibat aliran konveksi akuos humor. Limfosit kemampuan beraglutinasi sedang dan membentuk kelompok kecil bulat batas tegas. Jenis sel : Leukosit berinti banyak kemampuan aglutinasi rendah. Hiperemi sekitar kornea disebabkan oleh peradangan pada pembuluh darah siliar depan dengan reflex aksonal dapat difusi ke pembuluh darah badan siliar. Lokalisasi dapat di bagian tengah dan bawah dan juga difus. putih.

Terdapat pada uveitis granulomatosa disebabkan oleh tuberculosis. 4) Bilik mata 11 . sifilis.iridosiklitis akut. Uveitis anterior kronik anterior dapat dengan kornea akut bersamaan etiologi sifilis. simpleks. Juga ditemui pada uveitis non-granulomatosa akut dan kronik yang berat. Pada permulaan hanya beberapa dengan ukuran cukup besar dengan hidratasi dan tiga dimensi. retinitis/koroiditis. 3) Kelainan Uveitis Keratitis uveitis lepra. lonjong batas tidak teratur. herpes herpes zoster atau reaksi uvea sekunder terhadap kelainan kornea. Mutton fat dibentuk oleh makrofag yang bengkak oleh bahan fagositosis dan sel epiteloid berkelompok atau bersatu membentuk kelompok besar. dengan membentuk daerah jernih pada endotel kornea. lepra. Pengendapan Mutton fat sulit mengecil dan sering menimbulkan perubahan endotel kornea gambaran merupakan gelang keruh di tengah karena pengendapan pigmen dan sisa hialin sel. Gambaran edema kornea berupa lipatan Descement dan vesikel pada epitel kornea. tuberculosis. vogt-koyanagiharada dan simpatik oftalmia. Edema kornea disebabkan oleh perubahan endotel dan membran Descement dan neovaskularisasi kornea. Mutton fat berwarna kebuan dan agak basah. Bertambah lama membesar dan menipis serta berpigmen akibat fagositosis pigmen uvea. uveitis intermedia.

4. Uveitis anterior kronik Terdapat efek Tyndall menetap dengan beberapa sel menunjukan telah terjadi perubahan dalam permeabilitas pembuluh darah iris. 4. Jenis sel : Limfosit dan sel plasma bulat. berbentuk benang atau bercabang. mengkilap putih keabuan. Pengukuran paling tepat dengan tyndalometri. 4. Hipopion 12 .3. sel dan fibrin. jarang mengendap pada kornea. Sel Sel berasal dari iris dan badan siliar.2. Efek Tyndall Menunjukan adanya peradangan dalam bola mata. Bila terjadi peningkatan efek Tyndall disertai dengan eksudasi sel menunjukkan adanya eksaserbasi peradangan. Pemeriksaan dilakukan dengan lampu celah dalam ruangan gelap dengan celah 1 mm dan tinggi celah 3 mm dengan sudut 45o. warna tergantung bahan yang difagositosis. 4. warna kuning muda.1. Sel darah berwarna merah. Makrofag lebih besar. dapat dibedakan sel yang terdapat dalam bilik mata depan.Kekeruhan dalam bilik mata depan mata disebabkan oleh meningkatnya kadar protein. Uveitis anterior akut Kenaikan jumlah sel dalam bilik mata depan sebanding dengan derajat peradangan dan penurunan jumlah sel sesuai dengan penyembuhan pada pengobatan uveitis anterior. 1. Fibrin Dalam humor akuos berupa gelatin dengan sel. Pengamatan sel akan terganggu bila efek Tyndall hebat.

Reaksi pupil terhadap cahaya lambat disertai nyeri. Pupil Pupil mengecil karena edema dan pembengkakan stroma iris karena iritasi akibat peradangan langsung pada sfingter pupil. jernih. menimbul. warna putih keabuan. ukuran kecil. bundar. Hipopion dapat ditemui pada uveitis anterior hiperakut dengan sebukan sel leukosit berinti banyak.3. Nodul Koeppe Lokalisasi pinggir pupil. 5.1. Gambaran hipremi ini harus dibedakan dari rubeosis iridis dengan gambaran hiperemi radial tanpa percabangan abnormal. Proses lama nodul Koeppe mengalami pigmentasi baik pada permukaan atau lebih dalam. Hiperemi iris Gambaran bendungan dan pelebaran pembuluh darah iris kadang-kadang tidak terlihat karena ditutupi oleh eksudasi sel.2.Merupakan pengendapan sel radang pada sudut bilik mata depan bawah. 5) Iris 5. banyak. 5. 13 .

6. Juga dapat ditemui bentuk kelompok dalam liang setelah mengalami organisasi dan hialinisasi. bila seklusio sempurna akan memblokade pupil (iris bombe). dengan vaskularisasi dan menetap. Sinekia posterior merupakan perlengketan iris dengan kapsul depan lensa. Sinekia anterior bukan merupakan gambaran dini dan determinan uveitis anterior. tetapi merupakan penyulit peradangan kronik dalam bilik mata depan.5. Kelainan ini dapat dijumpai pada uveitis granulomatosa atau non-granulomatosa. Terdapat hanya tunggal. warna merah kabur. Sinekia iris Merupakan perlengketan iris dengan struktur yang berdekatan pada uveitis anterior karena eksudasi fibrin dan pigmen. dengan pemberian midriatika akan berbentuk bunga. edema dan pembengkakan pada dasar iris. lepra dan lain-lain. kemudian mengalami proses organisasi sel radang dan fibrosis iris. dengan fibrin cukup banyak. Sinekia anterior timbul karena pada permukaan blok pupil sehingga akar iris maju ke depan menghalangi pengeluaran akuos. terlihat sebagai benjolan putih pada permukaan depan iris. Granuloma iris Lebih jarang ditemukan dibandingkan dengan nodul iris. Perlengketan dapat berbentuk benang atau dengan dasar luas dan tebal. Nodul Busacca merupakan tanda uveitis anterior granulomatosa. Bila eksudasi fibrin membentuk sinekia seperti cincin. Ukuran lebih besar dari kelainan pada iris lain. Nodul Busacca Merupakan agregasi sel yang terjadi pada stroma iris. Bila luas akan menutupi pupil.4. Sedangkan sinekia anterior merupakan perlengketan iris dengan sudut irido-kornea. tebal padat. Ditemui juga pada bentuk residif bila efek Tyndall berat. 5. menimbul.5. 14 . lebih sering bentuk akut dan subakut. Granuloma iris merupakan kelainan spesifik pada peradangan granulomatosa seperti tuberculosis. sehingga setelah terjadi organisasi dan eksudasi pada sudut iridokornea menarik iris kea rah sudut. jelas terlihat dengan gonioskopi. 5. Bila glaucoma hilang akan meninggalkan parut karena proses hialinisasi dan atrofi jaringan.

Penyebab ialah kecelakaan. Akibat eksudasi ke dalam akuos diatas kapsul lensa terjadi pengendapan pada kapsul lensa.5. 6. Atrofi iris Merupakan degenerasi tingkat stroma dan epitel pigmen belakang.9. bedah mata dan insufisiensi vaskular. bintik atau sektoral. menibul. tersendiri atau berkelompok pada permukaan lensa.1. Pada pemeriksaan lampu celah ditemui kekeruhan kecil putih keabuan. 5. Atrofi iris sektoral terdapat pada iridosiklitis akut disebabkan oleh virus. Pengendapan sel radang. Oklusi pupil Ditandai dengan adanya blok pupil oleh seklusio dengan sel-sel radang pada pinggir pupil. Atrofi iris dapat difus. Kista iris Jarang dilaporkan pada uveitis anterior. bulat.7. terutama herpetic. 15 . 5. Kista iris melibatkan stroma yang dilapisi epitel seperti pada epitel kornea.8. 6) Perubahan pada lensa.

7) Perubahan dalam badan kaca Kekeruhan badan kaca timbul karena pengelompokan sel. menetap atau bergerak. Perubahan kejernihan lensa Kekeruhan lensa disebabkan oleh toksik metabolik akibat peradangan uvea dan proses degenerasi-proliferatif karena pembentukan sinekia posterior. plasma dan makrofag. Luas kekeruhan tergantung pada tingkat perlengketan lensa-iris. eksudat fibrin dan sisa kolagen. 6. didepan atau belakang. berbentuk debu. Pengendapan pigmen Bila terdapat kelompok pigmen yang besar pada permukaan kapsul depan lensa menunjukkan bekas sinekia posterior yang telah lepas.3. benang. Sinekia posterior yang menyerupai lubang pupil disebut cincin dari Vossius.2. Hipotoni timbul karena sekresi badan siliar berkurang akibat peradangan. Hipertoni dini 16 .6. difus. normal atau hipertoni. 8) Perubahan tekanan bola mata Tekanan bola mata pada uveitis dapat hipotoni. berat dan lamanya penyakit. Agregasi terutama oleh sel limfosit. Normotensi menunjukkan berkurangnya peradangan pada bilik mata depan.

4. Konjungtivitis Pada konjungtivitis penglihatan tidak kabur. 2. FA sangat berguna baik untuk intraokular maupun untuk pemantauan hasil terapi pada pasien. terdapat sekret dan umumnya tidak disertai rasa sakit. respon pupil normal.6 Diagnosa Banding 1. 2.7 Pemeriksaan Penunjang 1. Glaukoma akut Terdapat pupil yang melebar. neovaskularisasi sekunder pada koroid atau retina. Pada FA. Neoplasma Large-cell lymphoma. vaskulitis retina. Keratitis/ keratokonjungtivitis Penglihatan dapat kabur pada keratitis. optikus dan radang pada koroid. N.ditemui pada uveitis hipertensif akibat blok pupil dan sudut iridokornea oleh sel radang dan fibrin yang menyumbat saluran Schlemm dan trabekula. USG Pemeriksaan ini dapat menunjukkan keopakan vitreus. Flouresence Angiografi FA merupakan pencitraan yang penting dalam mengevaluasi penyakit korioretinal dan komplikasi intraokular dari uveitis posterior. ada rasa sakit serta fotofobia. leukemia dan melanoma maligna bisa terdiagnosa sebagai uveitis. 3. fotofobia atau injeksi silier 2. tidak ada sinekia posterior dan korneanya beruap/ keruh. 2. penebalan retina dan pelepasan retina 3. yang dapat dinilai adalah edema intraokular. Biopsi Korioretinal Pemeriksaan ini dilakukan jika diagnosis belum dapat ditegakkan dari gejala dan pemeriksaan laboratorium lainnya 17 . retinoblastoma.

optikus. 18 . Imunomodulator Terapi imunomodulator digunakan pada pasien uveitis berat yang mengancam penglihatan yang sudah tidak merespon terhadap kortikosteroid. dapat digunakan imunomodulator. Namun efek samping yang potensial. OAINS atau kortikosteroid.8 Pengobatan Pengobatan uveitis pada umumnya digunakan obat-obat intra okuler. Indikasi digunakannya imunomodulator adalah : 1. Pada OAINS atau kortikosteroid. koroid dan N. 2. a. maka dosis siklopegik yang dibutuhkan semakin tinggi. seperti pengobatan inflamasi aktif di mata dan mengurangi inflamasi intra okuler di retina. Semakin berat reaksi inflamasi yang terjadi. Sedangkan pada uveitis anterior yang tetap tidak responsive harus diusahan untuk menemukan diagnosis etiologinya. seperti sikloplegik. tapi kegunaan OAINS dalam mengobati uveitis anterior endogen masih belum dapat dibuktikan. dapat juga digunakan obat-obatan secara sistemik. OAINS Dapat berguna sebagai terapi pada inflamasi post operatif. b. Imunomodulator bekerja dengan cara membunuh sel limfoid yang membelah dengan cepat akibat reaksi inflamasi.Pemeriksaan laboratorium mendalam umumnya apalagi kalau jenisnya non granulomatosa atau jelas berespon dengan terapi non spesifik. Midriatik atau sikloplegik Midriatik atau sikloplegik berfungsi dalam pencegahan terjadinya sinekia posterior dan menghilangkan efek fotofobia sekunder yang diakibatkan oleh spasme dari otot siliaris. Pemakaian OAINS yang lama dapat mengakibatkan komplikasi seperti ulkus peptikum. Selain itu pada pengobatan yang tidak berespon terhadap kortikosteroid. nefrotoksik dan hepatotoksik. c. Inflamasi intraocular yang mengancam penglihatan pasien. Digunakan pada inflamasi yang berat. d. Kortikosteroid Merupakan terapi utama pada uveitis. perdarahan traktus digestivus. pemakaian kortikosteroid harus dengan indikasi yang spesifik.

Operasi dapat dilakukan setelah 3 bulan bebas inflamasi. 2. atau kelainan hepar atau kelainan darah. Pada Fuchs heterochromic iridocyclitis operasi berjalan baik dengan hasil visualisasi bagus. harus benar-benar dipastikan bahwa uveitis pasien tidak disebabkan infeksi. Kontra indikasi terhadap kortikosteroid. Sebelum diberikan imunomodulator.2. atau infeksi di tempat lain. Penelitian menunjukan bahwa fakoemulsifikasi dengan penanaman IOL pada bilik posterior dapat memperbaiki visualisasi dan memiliki toleransi yang baik pada banyak mata dengan uveitis. peninggian tekanan bola mata Pada uveitis anterior dapat terjadi sinekia posterior sehingga mengakibatkan hambatan aliran aquos humor dari bilik posterior ke bilik anterior. Prognosis penglihatan pasien dengan katarak komplikata ini tergantung pada penyebab uveitis anteriornya. e. Glaucoma. Penupukan cairan ini bersama-samadengan sel radang mengakibatkan tertutupnya jalur dari out flow aquos humor sehigga terjadi glaucoma. Dan sebelum dilakukan informed concent. Operasi katarak pada mata yang uveitis lebih komplek lebih sering menimbulkan komplikasi post operasi jika tidak dikelola dengan baik. Sedangkan pada tipe lain 19 . Sehingga dibutuhkan perhatian jangka panjang terhadap pre dan post operasi. karena biasanya pasien mengeluhkan nyeri.9 Komplikasi Komplikasi dari uveitis dapat berupa : 1. 2. Analgetika Analgetik dapat diberikan secara sistemik terutama diberikan pada kasus uveitis non granulomatosa. Katarak Kelainan polus anterior mata seperti iridosiklitis yang menahun dan penggunaan terapi kortikosteroid pada terapi uveitis dapat mengakibatkan gangguan metabolism lensa sehingga menimbulkan katarak. 3. Untuk mencegahnya dapat diberikan midriatika. Gagal dengan terapi kortikosteroid.

kadang-kadang terjadi remisi dan eksaserbasi. syphilis. walaupun pembedahan dapat juga memberikan hasil yang baik. 2. HSV. Kerusakan N. Neovaskularisasi 4. Pada uveitis anterior granulomatosa inflamasi dapat berlangsung berbulanbulan hingga bertahunan. Pada uveitis anterior non granulomatosa gejala klinis dapat hilang dalam beberapa hari hingga beberapa minggu dengan pengobatan. Pada kasus ini dapat timbul kerusakan permanen walaupun dengan pemberian terapi terbaik. Atropi bola mata 7.(idiopatik. HZF. 5. Ablasio retina Akibat dari tarikan pada retina oleh benang-benang vitreus.optikus 6. 3. spondylo arthopathies) menimbulkan masalah. Edem Kisoid Makulae Terjadi pada uveitis anterior yang berkepanjangan.10 Prognosis Prognosis dari uveitis anterior ini tergantung dari etiologi atau gambaran histopatologinya. tetapi sering terjadi kekambuhan. toksoplasmosis. uveitis associated with sarcoidosis. pars planitis. 20 .

kadang – kadang seperti ada yang mengganjal Awalnya berair dan merah Mata tidak gatal Mata sakit ketika melihat cahaya Riwayat sakit gula tidak ada Riwayat nyeri pada tulang dan persendian tidak ada Riwayat batuk lama tidak ada Pasien telah menggunakan kacamata • • • • • • • Riwayat Penyakit Dahulu : 21 . 48 tahun Keluhan Utama : Mata kiri kabur sejak 2 minggu yang lalu Riwayat Penyakit Sekarang : • • Mata kiri kabur sejak 2 minggu yang lalu Mata kiri kabur seperti ada debu .BAB III ILUSTRASI KASUS Status Pasien Identitas : laki – laki .

Rugae (+) pupil Semimidriasis menempel Korpus Vitreum Bening Bening 22 . Trikiasis (-) Edema(-) Edema(-) Sekret (-) Tidak ada sumbatan Hiperemis (+).flare (+) Coklat. STATUS OPHTALMIKUS Visus tanpa koreksi Visus dengan koreksi Refleks Fundus Silia/Supersilia Madarosis 5/5 OD 5/5 OS (-). Madarosis (-). folikel (-) Konjungtiva Bulbi Hiperemis (-) Hiperemis (+). (+) Lensa Bening Bening. rugae (+) Bulat. folikel (-) Trikiasis (-) Palpebra Superior Palpebra Inferior Margo Palpebra Aparat Lakrimalis Konjungtiva Tarsalis Edema (-) Edema(-) Sekret (-) Tidak ada sumbatan Hiperemis (-) Konjungtiva Forniks Hiperemis (-) Hiperemis (+) . Injeksi Siliar (+) Sklera Kornea Putih Bening Hiperemis (+) Kps (+) halus di endotel kornea inferior Kamera Okuli Anterior Iris Pupil Cukup dalam Coklat. kemudian di beri obat tetes mata . pigmen iris Refleks Cukup Dalam. keluhan hilang.Beberapa tahun yang lalu pernah berobat ke poli mata dengan keluhan mata kabur .

batas tegas Bulat .gula darah sewaktu Tekanan Bulbus Okuli Posis bola mata Gerakan Bulbus Okuli Pemeriksaan Lainnya Gambar Diagnosa Kerja Diagnosa Banding Anjuran Terapi Uveitis Anterior DAFTAR PUSTAKA 23 .Fundus : . eksudat Perdarahan (-) (-) - Makula Aa/vv retina Refleks fovea (+) 2:3 Normal ortho Bebas ke segala arah - Sulit dinilai 2:3 Normal Ortho Bebas ke segala arah Darah rutin .Papil Optikus Retina Bulat. batas tegas Perdarahan (-).

Cermin Dunia Kedokteran. American Academy Ophtalmology. Balai Penerbit Faultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2002.Ilyas Sidarta. Jakarta. Hafid. Diagnosis Etiologi Uveitis. Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran Edisi ke-2. Suharjo. Singapore. Intraocular Inflamation and Uveitis. 2008. 1993. Ilmu Penyakit Mata.emedicine. 24 . 83. 2000. 1993. Gambran Klinis Uveitis Anterior Akuta Pada HLA-B27 Positif. E Medicine available from : http://www. Sudarman. Iritis dan Uveitis.htm. Samsoe. Gunawan. Chantor Luis. 2008. 83. Radang Uvea. Uveitis. Wydia Medika. Ardy. Weiss Jayne. Skuta Gregory. 2006. Jakarta Ilyas Sidarta. Cermin Dunia Kedokteran no. Penatalaksanaan Uveitis. Traktus Uvealis dan Sklera. Vaughan Daniel. Clinical Approach to Uveitis. Kilbourn. 2005. Cermin Dunia Kedokteran no.com/emrg/byname/iritisdanuveitis. Oftalmologi Umum. Gordon. Sagung Seto.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful