P. 1
KEBIJAKAN FISKAL

KEBIJAKAN FISKAL

|Views: 248|Likes:
Published by Scooter Lambretta

More info:

Published by: Scooter Lambretta on Jul 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/24/2014

pdf

text

original

KEBIJAKAN FISKAL

1. Asal Mula dari Kebijakan Fiskal Kesadaran terhadap pengaruh pengeluaran dan penerimaan pemerintah belum lama muncul dalam dunia ilmu pengetahuan. Tetapi dengan disadarinya pengaruh-pengaruh penerimaan dan pengeluaran pemerintah tersebut, timbullah gagasan untuk dengan sengaja mengubah-ubah pengeluaran dan penerimaan pemerintah guna mencapai kestabilan ekonomi. Teknik mengubah pengeluaran dan penerimaan pemerintah inilah yang kita kenal dengan kebijakan fiscal atau politik fiskal. Sebelum tahun 1930-an, pengeluaran pemerintah hanya dianggap sebagai alat untuk membiayai kegiatan-kegiatan pemerintah dan dinilai berdasarkan atas manfaat langsung yang dapat ditimbulkannya tanpa melihat pengaruhnya terhadap pendapatan nasional. Sebaliknya pajak juga hanya dianggap sebagai sumber pembiayaan pengeluaran Negara dan belum diketahui pengaruhnya terhadap pendapatan nasional. Akibatnya dalam masa depresi, di mana penerimaan pemerintah menurun, makan pengeluaran pemerintah harus dikurangi pula. Hal ini justru berakibat pada semakin rendahnya pendapatan nasional serta semakin lesunya perekonomian. Kalau timbul deflasi atau inflasi, kebijakan yang dipercayai untuk menanggulanginya adalah kebijakan moneter lewat Bank Sentral dan bukan kebijakan Fiskal. Dalam masa depresi pada tahun 1930-an itulah teori kebijakan fiskal pertama kali muncul karena tidak mampunya kebijakan moneter dalam menanggulangi depresi itu. Kebijakan moneter biasanya berguna pengangguran dan harga-harga turun (depresi), maka cara yang ditempuh oleh kebijakan moneter dapat dengan menambah uang yang beredar lewat politik diskonto dengan menurunkan tingkat bunga, atau menurunkan dekling (reserve requirement) atau dengan politik pasar terbuka, di mana pemerintah membeli surat berharga. Namun karena harga cenderung turun, maka para investor tidak berani mengadakan investasi, sehingga penerimaan agregat tidak dapat meningkat dan depresi tidak terobati. Oleh karena itu bukan swasta melainkan pemerintah yang harus berani ambil bagian dengan menciptakan proyek-proyek yang membutuhkan pengeluaran pemerintah. Karena pada masa depresi itu yang terasa amat parah adalah masalah pengangguran, maka pada mulanya kebijakan fiskal berorientasi pada masalah pengangguran. Tetapi dengan adanya Perang Dunia II, perhatian kebijakan fiskal mulai mengarah pada bagaimana menanggulangi inflasi yang mulai berkembang. Dasar pikiran dalam kebijakan fiskal ialah bahwa pemerintah tidak dapat disamakan dengan individu dalam pengaruh dari tindakan masing-masing terhadap masyarakat keseluruhan. Umumnya para individu akan mengurangi pengeluaran apabila penerimaannya menurun, sedangkan pemerintah tidak harus berbuat demikian, karena apabila pemerintah mengurangi pengeluarannya, maka tindakan ini justru akan lebih menyusahkan atau memperberat jalannya perekonomian karena menurunnya pengeluaran pemerintah akan berarti menurunnya pendapatan masyarakat sebagai obyek pajak dan selanjutnya justru memperkecil penerimaan pemerintah lagi. Di samping itu juga disadari bahwa dalam masa depresi

tetapi sayangnya sector swasta menjadi kurang bersemangat karena kurang percaya pada diri sendiri. pajak akan dimanfaatkan sebaik-sebaiknya guna mencegah timbulnya akibat inflasi yang tidak diinginkan. Kebaikan dari pendekatan ini adalah bahwa pinjaman Negara tidak akan meningkat. Dalam pendekatan ini. (perekonomian lesu) pengeluaran pemerintah akan ditingkatkan dan penerimaan dari pajak pun akan ditingkatkan pula tetapi jangan sampai menimbulkan deflasi. sehingga peningkatan dalam pengeluaran pemerintah tidak akan mengurangi investasi sector swasta lewat kenaikan tingkat bunga. Selanjutnya pinjaman akan dipakai sebagai alat untuk menekan inflasi lewat pengurangan dana yang tersedia dalam masyarakat. Dalam hal ini pengeluaran pemerintah ditentukan dengan melihat akibat-akibat tidak langsung terhadap pendapatan nasional terutama guna meningkatkan kesempatan kerja. . Pengelolaan Anggaran Pendekatan ini lebih banyak disukai daripada pendekatan pembelanjaan fungsional karena pengeluaran pemerintah.banyak dana masyarakat (swasta) yang menganggur. Kemudian apabila pajak maupun pinjaman dirasa tidak tepat. Sehingga dalam masa depresi. Di lain pihak pajak dipakai untuk mengatur pengeluaran swasta dan bukan untuk meningkatkan penerimaan pemerintah. hubungan langsung antara pengeluaran pemerintah dan perpajakan selalu dipertahankan. dengan catatan bahwa dalam masa depresi ditempuh anggaran belanja defisit sedangkan dalam masa inflasi ditempuh anggaran surplus. maka ditempuhlah pencetakan uang. Pembiayaan Fungsional Tokoh dari kebijakan fiskal jenis ini adalah A. Dalam perkembangan pemikiran lebih lanjut. namun demikian ada kekhawatiran bahwa tanpa ada hubungan langsung antara keduanya akan ada bahayanya karena kemungkinan pengeluaran pemerintah semakin berlebihan. Jadi pengeluaran pemerintah dan perpajakan dipertimbangkan sebagai suatu hal yang terpisah. pajak sama sekali tidak diperlukan. perpajakan dan pinjaman dimaksudkan untuk mencapai kestabilan ekonomi yang lebih mantab.P. 2. tetapi penyesuaian dalam anggaran selalu dibuat guna memperkecil ketidakstabilan ekonomi. Lerner. pendekatan ini selalu berusaha untuk mempertahankan adanya anggaran belanja yang seimbang tanpa defisit anggaran belanja. Macam Kebijakan Fiskal Dalam perkembangannya kebijakan fiskal dapat dibedakan menjadi 4 macam atas dasar: y y y y Pembiayaan fungsional (fungsional finance) Pengelolaan anggaran (the managed budget approach) Stabilisasi anggaran otomatis (the stabilizing budget) Anggaran belanja berimbang (balanced budget approach) a. penggunaan anggaran belanja seimbang untuk jangka panjang diperlukan. sehingga pada suatu saat dapat terjadi defisit maupun surplus. Sebaliknya dalam masa inflasi. b. sehingga pada saat ada pengangguran. Dalam perkembangan lebih jauh lagi.

Tujuan Kebijakan Fiskal Umumnya tujuan yang ingin dicapai oleh kebijakan fiskal adalah kestabilan ekonomi yang lebih mantap artinya tetap mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi yang layak tanpa adanya pengangguran yang berarti di satu pihak atau adanya ketidakstabilan harga-harga umum di lain pihak.c. 3. Dengan kata lain tujuan kebijakan fiskal adalah pendapatan nasional riil terus meningkatkan pada laju yang dimungkinkan oleh perubahan teknologi dan tersedianya faktor-faktor produksi dengan tetap mempertahankan kestabilan harga harga umum. pengeluaran perlu ditingkatkan diikuti pula dengan peningkatan penerimaan sehingga tidak akan memperbesar utang Negara. preferensi konsumen dan tersedianya faktor produksi. sehingga akan ada surplus anggaran belanja. Mencegah Pengangguran Pencegahan timbulnya pengangguran merupakan tujuan yang paling utama dari kebijakan fiskal. terutama dari pajak pendapatan. tetapi ditempuh defisit pada masa depresi dan surplus pada masa inflasi. Penyesuaian secara otomatis dalam penerimaan dan pengeluaran pemerintah terjadi sedemikian rupa sehingga membawa perekonomian menjadi stabil tanpa campur tangan pemerintah yang disengaja. Stabilisasi Anggaran Otomatis Pada akhir tahun 1940-an kepercayaan lebih banyak diberikan pada mekanisme otomatis dari politik fiskal. program pengeluaran dari pajak akan menurun. pensiunan. pengeluaran pemerintah akan ditentukan berdasar atas perkiraan manfaat dan biaya relatif dari berbagai macam program dan pajak akan ditentukan sehingga menimbulkan surplus dalam periode kesempatan kerja penuh. Peranan built in flexibility ini dapat ditingkatkan dengan penambahan pengeluaran pemerintah pada proyekproyek pekerjaan umum. d. Anggaran Belanja Seimbang Suatu modifikasi dari pembelanjaan atas dasar anggaran yang disesuaikan dengan keadaan adalah pembelanjaan secara seimbang dalam jangka panjang. Di lain pihak jumlah pengeluaran pemerintah akan meningkat terutama yang dikaitkan dengan gaji. Sebaliknya dalam masa inflasi ada kenaikan dalam penerimaan pemerintah yang berasal dari pajak pendapatan dan tidak perlu banyak tunjangan. Kestabilan ekonomi tidak berarti kestabilan harga untuk semua sector perekonomian. Apabila ada kemunduran dalam kegiatan usaha. Akibatnya defisit dalam anggaran belanja pemerintah muncul dan mendorong perkembangan sector swasta kembali sampai tercapainya kesempatan kerja penuh. Dalam masa depresi. Kegagalan panjang dapat menimbulkan hilangnya kepercayaan dalam jangka panjang dapat menimbulkan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah Dapat pula diikuti pendekatan serupa tetapi tetap mempertahankan keseimbangan anggaran. Kegagalan dalam mencapai kesempatan kerja penuh tidak hanya berarti tidak tercapainya tingkat . a. agar penggunaan optimum dari semua sumber daya ekonomi dapat terealisasi. bantuan social dan sebagainya. karena perubahan harga relative sangat diperlukan bagi penyesuaian dalam perubahan teknologi. Dengan stabilisasi otomatis.

bahkan keuntungan mereka justru semakin mengecil. . Kesempatan kerja penuh (full employment) dapat kita artikan sebagai keadaan di mana semua pemilik faktor produksi yang ingin mempekerjakannya pada tingkat harga atau upah yang berlaku dapat memperoleh pekerjaan bagi faktor-faktor produksi tersebut. karena pengangguran tenaga kerja manusia inilah yang mempunyai pengaruh social yang sangat luas. b. karena pada setiap saat tentu ada faktor-faktor produksi yang kehilangan lapangan kerja dan pada saat itu pula belum mendapat pekerjaan berhubung dengan adanya ketidaksempurnaan pasar. Selanjutnya investasi swasta dapat tidak ada lagi lebih-lebih bila mereka mengharapkan harga-harga akan turun terus. Dalam jangka panjang inflasi akan berakibat pada kurangnya kepercayaan masyarakat pada pemerintahanya. Inflasi memang dapat menciptakan kesempatan kerja penuh dan memberikan keuntungan kepada beberapa kelompok orang. harga-harga umum yang meningkat terus juga mempunyai akibat yang tidak menggembirakan. Sebaliknya.pendapatan nasional dan laju pertumbuhan ekonomi yang optimum. Penurunan yang tajam dalam harga-harga umum jelas akan mendorong timbulnya pengangguran karena sector usaha swasta akan kehilangan harapan untuk mendapatkan keuntungan. Stabilitas harga Aspek kedua dari kebijakan fiskal adalah mempertahankan kestabilan harga umum pada tingkat yang layak. tetapi juga mempersulit kehidupan orang-orang yang berpenghasilan rendah dan terutama mereka yang berpenghasilan tetap. Konsep kesempatan kerja ini umumnya dihubungkan dengan kesempatan kerja manusia. tanah dan sebagainya. tetapi juga berakibat kurang menyenangkan bagi perorangan yang menderita atau yang mengalami pengangguran. Dengan definisi di atas maka pencapaian kesempatan kerja penuh itu sangat sukar dicapai. Inflasi yang deras akan cenderung melemahkan juga sektor usaha swasta karena investasi produktif umumnya berubah menjadi investasi dalam barang-barang tahan lama seperti rumah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->