P. 1
RASIONALISME

RASIONALISME

|Views: 407|Likes:

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Nawwaf Abdillah Alif on Jul 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/16/2013

pdf

text

original

BAB I Pendahuluan

1.1.

Latar Belakang Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani : ”philosophia”. Seiring perkembangan zaman

akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti: ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab. Ilmu filsafat mempunyai pengertian yang beragam, diantaranya adalah: 1. 2. Plato (428-348 SM) menyatakan filsafat tidak lain dari pengetahuan Aristoteles (384-322 SM) menyatakan bahwa kewajiban filsafat adalah

tentang segala yang ada. menyelidiki sebab dan asas segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu umum sekali. Tugas penyelidikan tentang sebab telah dibagi sekarang oleh filsafat dengan ilmu. 3. Cicero (106–43 SM) menyatakan filsafat adalah sebagai “ibu dari semua seni (the mother of all the arts)” dan ia juga mendefinisikan filsafat sebagai ars vitae (seni kehidupan ). 4. Johann Gotlich Fickte (1762-1814 ) menyatakan filsafat sebagai Wissenschaftslehre (ilmu dari ilmu-ilmu , yakni ilmu umum, yang jadi dasar segala ilmu. Ilmu membicarakan sesuatu bidang atau jenis kenyataan. Filsafat memperkatakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran dari seluruh kenyataan). 5. (ilmu 6. Paul Nartorp (1854–1924) menyatakan filsafat sebagai Grunwissenschat dasar hendak menentukan kesatuan pengetahuan manusia dengan

menunjukan dasar akhir yang sama, yang memikul sekaliannya). Imanuel Kant (1724–1804) menyatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan, yaitu: Apakah yang dapat kita kerjakan?(Metafisika),

Apakah yang seharusnya kita kerjakan?(Etika), Sampai dimanakah harapan kita? (Agama), Apakah yang dinamakan manusia?(Antropologi). 7. Prof. Mr.Mumahamd Yamin menyatakan filsafat ialah pemusatan pikiran, sehingga manusia menemui kepribadiannya seraya didalam kepribadiannya itu dialaminya kesungguhan. Dari semua pengertian filsafat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meneliti dan memikirkan segala hal secara mendalam dan dilihat secara lurus, sehingga mendapatkan hasil pemikiran yang tetap dan pasti. Filsafat juga merupakan induk ilmu pengetahuan di dunia. Selanjutnya akan condong kepada logika filsafat dimana logika ini adalah ilmu pendahuluan bagi filsafat. Logika filsafat merupakan pemikiran tentang salah dan benar. Banyak teori yang mendukung ilmu filsafat ini. Diantaranya adalah realisme, idealisme, positivisme, empirisme, pragmetisme, objektivisme, subjektivisme dll. Sebelum menuju pembahasan, pada latar belakang ini tim pesedikit membahas masalah subjektivisme dan objektivisme. Sebelum beranjak kepada pembahasan mengenai subjektivisme, terlebih dahulu kami akan memberikan sedikit gambaran mengenai “subjektif”. Subjektif mengacu kepada apa yang berasal dari pikiran (kesadaran, ego, diri, persepi-persepi kita, putusan pribadi kita) dan bukan dari sumber-sumber objektif, hanya individual yang tahu. Subjektif sering dipakai untuk menunjukkan pencapaian putusan-putusan yang didasarkan pada alasan-alasan emosional atau prasangka1. Objektivisme menekankan pada identifikasi dan definisi dari setiap elemen yang membentuk dunia sosial, serta bagaimana hubungan antara elemen diekspresikan. Secara ontologi, pendekatan subjektivis menganut realisme. Secara epistemologi, pendekatan subjektivis menganut positivisme. Secara perilaku manusia, pendekatan subjektivis menganut deteriminisme. Secara metodologis, pendekatan subjektivis menganut nomotetik2.

1.2. Tujuan Makalah Berdasarkan latar belakang yang telah ada, tujuan dari makalah ini adalah membandingkan antara subjektivisme dengan objektivisme.
1 Poetraboemi@blogspot.com 2 Gibson Burrell and Gareth Morgan

1.3. Manfaat Makalah Adapun manfaat dari makalah ini antara lain: a. Bagi Tim Penyusun Sebagai bahan informasi tambahan dan menambah wawasan mengenai subjektivisme dan objektivisme dalam ilmu filsafat. b. Bagi Pembaca Menjadi bahan acuan dalam pembuatan makalah yang serupa dan menambah wawasan pembaca mengenai subjektivisme dan objektivisme. c. Bagi Ilmu Pengetahuan Memberikan sumbangan pemikiran mengenai subjektivisme dan objektivisme serta menambah khasanah ilmu pengetahuan.

BAB II Pembahasan
2.1. Subjektivisme Subjektivisme atau yang terkadang sering juga dikenal dengan sebutan relativisme individual atau relativisme subjektif ini adalah sebuah teori yang menyatakan bahwa setiap individu berhak menentukan kaidah moralnya sendiri. Meskipun, kaidah moral kebanyakan individu dalam masyarakat tertentu pada praktiknya terlihat sama, karena kemungkinan mereka mempunyai pengalaman kultural yang sama. Yaitu, yang berpendirian bahwa penilaian baikburuk dan benar-salah tergantung pada masing-masing orang. Subjektivisme berpendapat bahwa tidak ada fakta-fakta “moral”. Meskipun putusanputusan tersebut pada mulanya terlihat benar atau salah secara objektif, yaitu benar atau salah terlepas dari apa yang diyakini atau diinginkan banyak orang. Subjektivisme berpendapat bahwa pilihan-pilihan individu menentukan validitas sebuah prinsip moral. Slogannya adalah “Moralitas bersemayam di mata orang yang melihatnya”. Sebagai contoh, “menghormati orang tua” itu baik karena orang yang menilainya menyetujui demikian, atau “mengambil hak milik orang lain” itu jahat karena orang yang menilainya menganggapnya demikian. Jadi, baik dan buruk itu ditentukan oleh kecocokan orang yang menilainya, tapi tidak ada dasar objektif dan rasional untuk membenarkan serta menyalahkan. Penilaian dan keputusan etis yang menentukan adalah orang yang membuat penilaian dan keputusan. Oleh karena itu, dapat saja penilaian etis orang tentang suatu perkara yang sama berbeda, tetapi perbedaan penilaian itu sah-sah dan baik-baik saja. Menurut relativisme subjektif, dalam masalah etis, emosi, dan perasaan berperan penting. Oleh karena itu, pengaruh emosi dan perasaan dalam keputusan moral harus diperhitungkan. Yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah tidak dapat dilepaskan dari orang yang bersangkutan dan menilainya. Perbedaan itu tidak hanya menyangkut perbedaan fisik, tetapi juga mental, moral, religius dan lain sebagainya. Menurut kaum relativisme subjektif, karena setiap individu manusia itu berbeda, maka berbeda pula dalam penilaian dan keputusan etisnya. Yang

baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah bukanlah perkara yang berdiri sendiri, melainkan berhubungan erat, bahkan bergantung pada orang yang menilainya. Kelebihan dari relativisme subjektif adalah kesadarannya bahwa “manusia itu unik dan berbeda satu sama lain”. Karena itu, setiap orang menanggapi lika-liku hidup dan menjatuhkan penilaiannya atas hidup secara berbeda pula. Dengan cara itu, manusia dapat hidup sesuai dengan tuntutan situasinya. Ia dapat menetapkan apa yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah menurut pertimbangan dan pemikirannya sendiri. Dengan demikian, bukan hanya individu manusia itu sendiri saja yang berbeda dan unik, tetapi juga berbeda dan unik dalam hidupnya. Dalam hal ini, subjektivisme terbagi dalam beberapa jenis, diantaranya adalah:

1.

Subjektivisme Etis

Subjektivisme etis adalah teori tentang sifat penilaian moral, bukan teori tentang perbuatan baik dan buruk. Apapun yang kita katakan adalah ungkapan tentang perasaan-perasaan personal dan individual, dan tidak lebih dari pada itu. Jadi, apapun sikap moral kita, tidak ada sangkut pautnya dengan kebenaran dan kesalahan, bahkan tidak berhubungan dengan fakta. Berkaitan dengan subjektivisme ini, J.A. Boss berpendapat :”Ethical subjectivism, also known as individual relativism, make the claim that people can never be mistaken about what is morally right or wrong, because there are no objective or universal moral standards or truths; instead, there are only opinions.”

2.

Subjektivisme Sederhana

Subjektivisme sederhana berpendapat bahwa putusan-putusan moral merupakan proposisi tentang perasaan, keyakinan, atau sikap terhadap individu maupun kelompok. Aliran ini disebut dengan “subjektivisme sederhana”, karena meyakini pemikiran dasar tentang subjektivisme dalam bentuk yang tidak rumit. Subjektivisme sederhana menyatakan bahwa ketika seseorang menyebutkan bahwa sesuatu itu baik atau buruk secara moral, maka yang dimaksudkannya ialah ia “setuju” atau “tidak setuju” terhadapnya. Sebagai contoh misalnya, “menolong orang itu baik”, hal itu dianggap

benar hanya jika individu-individu yang bersangkutan menerimanya, atau paling tidak memiliki keyakinan atau sikap yang pantas terhadap hal tersebut. Berdasarkan teori etika subjektivistik, proposisi moral merupakan ungkapan tentang apa yang dirasakan atau diyakini orang tentang masalah-masalah moral, sehingga proposisi moral seseorang boleh jadi sama benarnya dengan proposisi orang lain. Putusan moral itu hampir sama dengan putusan terhadap apa yang disukai orang, seperti warna ataupun rasa yang digemari. Salah satu persoalan penting dalam subjektivisme sederhana adalah bahwa ia memandang moralitas dan pujian atau celaan moral tidak berguna sama sekali. Dengan kata lain, subjektivisme menyiratkan bahwa secara moral kita mustahil salah, selama kita melakukan apa yang kita sukai.

2.2.

Objektivisme Objektifisme adalah filsafat di Aristotel tradisi, dibuat oleh filsuf Rusia-Amerika dan

penulis Ayn Rand, yang mempromosikan alasan, egoisme, kapitalisme dan nyata objektivitas. Obyektifisme klaim dalam metafisika yang ada realitas independen dari siapapun dari kesadaran, dan berpendapat dalam pengakuan teori bahwa manusia indera dan memberikan informasi bahwa alasan manusia adalah satu-satunya cara untuk mencapai pengetahuan abstrak. The Objectivist etika mempromosikan rasional keakuan: setiap individu harus melakukan yang terbaik untuk mencapai kehidupan yang bahagia, Anda tidak memiliki kewajiban terhadap orang lain, kecuali anak-anak mereka sendiri. Untuk mencapai kehidupan yang bahagia harus rasional, jangka panjang dan berkeyakinan, dan Anda harus menggunakan hidup mereka dengan nilai dari kerja kreatif. Menurut objektifisme, beberapa orang tidak memiliki hak untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain, dan tujuan, karena itu kebijakan Rondane mempromosikan penuh kebebasan politik, yang disebut laissez-faire capitalism. Ini menunjukkan penuh terhadap hak-hak individu, termasuk hak milik pribadi. Objektifisme berpendapat bahwa negara itu hanya bertugas untuk melindungi individu terhadap inisiasi kekerasan; negara itu hanya akan kendaraan polisi, peradilan militer dan pertahanan. Objektifisme mengklaim bahwa ada enam dasar sifat (kebaikan) yaitu rasionalitas, kemerdekaan, produktivitas, kejujuran, integritas dan keadilan.

Ayn Rand ketika diminta untuk merangkum prinsip-prinsip utama dari filosofi itu dalam beberapa kata, dia lakukan sebagai berikut: a. b. c. d. Metafisika : Tujuan kenyataan. Alam, yang akan memerintahkan, harus Epistemologi Etika Politik : Alasan. Anda tidak dapat memiliki kue dan memakannya : Keakuan. Tujuan manusia itu sendiri (Immanuel Kant). : Kapitalisme laissez adil. Berikan saya kebebasan atau

dipatuhi (Francis Bacon). juga (peribahasa Amerika).

berikan saya kematian (Patrick Henry).

2.3 RASIONALISME Pandangan rasionalisme ini dimulai dengan suatu pernyataan yang sudah pasti. Dasar yang digunakan untuk membangun sistem pemikirannya dari ide yang menurut anggapan adalah jelas, tegas, dan pasti dalam pikiran manusia. Pikiran manusia mempunyai kemampuan untuk “mengetahui” suatu ide tersebut, namun manusia tidak menciptakannya. Ide bisa dikatakan berasal dari kenyataan besar dan pikiran manusia. Jadi, dapat dikatakan pula bahwa pikiran itu menalar. Oleh krena pikiran dapat memahami prinsip, maka prinsip itu harus ada dan benar/ nyata. Prinsip dianggap sebagai pengalaman. Prinsip tidak dikembangkan dari pengalaman dan pengalaman hanya dapat dimengerti dari prinsip. Plato mengatakan bahwa untuk mempelajari sesuatu, seseorang harus menemukan kebenaran yang sebelumnya belum diketahui.. Tetapi jika belum mengetahui kebenaran, seseorang hanya dapat mengatakan benar jika sebelumnya sudah mengetahui bahwa itu benar. Di sini, manusia tidak mempelajari apapun. Manusia hanya teringat apa yang telah diketahuinya. Pengalaman indera paling banyak hanya dapat merangsang ingatan dan membawa kesadaran terhadap pengetahuan yang selama itu sudah berada dalam pikiran. Menurut Plato, kenyataan dasar terdiri dari ide atau prinsip yang disebutnya bentuk seperti keindahan, keadilan, kebenaran yang mutlak tidak berubah kapan dan bagi siapa pun.

Manusia dapat mengetahui bentuk-bentuk ini, melalui proses intuisi rasional, yakni kegiatan khas dari pikiran manusia. Kegiatan ini seperti proses pemikiran rasional yang teratur. Pemikiran lain: Awalnya, Descrates menganggap bahwa pengetahuan memang dihasilkan oleh indera, tetapi indera juga bisa menyesatkan seperti dalam mimpi atau khayalan. Dengan kata lain, keinderaan tidak dapat diandalkan. Sehingga pada suatu ketika, dia sadar bahwa apa pun yang dapat digambarkan secara jelas dan tegas, adalah benar. Baik Plato dan dan Descartes, menganggap bahwa pengetahuan yang benar sudah ada bersama kita dalam membentuk ide-ide, yang tidak dipelajari melainkan merupakan bawaan. Kaum rasionalis kemudia mempertahankan pendapat bahwa dunia yang kita ketahui dengan metode intuisi rasional adalah dunia yang nyata. Kebenaran atau kesalahan terletak dalam ide dan bukan pada benda-benda tersebut. Kritik terhadap Rasionalisme 1. Pengetahuan rasional dibentuk oleh indera yang tidak dapat dilihat maupun diraba. Eksistensi tentang ide yang sudah pasti maupun yang bersifat bawaan itu sendiri belum dapat dikuatkan oleh manusia dengan kekuatan dan keyakinan yang sama. Terdapat perbedaan yang nyata di antara kaum rasionalis itu dalam teori-teori rasinalis tersebut. 2. Banyak di antara manusia yang berpikiran jauh merasa bahwa mereka menemukan kesukaran yang besar dalam menemukan konsep rasional kepada maasalah-masalah kehidupan yang praktis. Kritikus yang terdidik biasanya mengeluh bahwa kaum rasionalis memperlakukan idea atau konsep seakan-akan mereka adalah benda yang objektif. Menghilangkan nilai dari pengalaman keinderaan, mnghilangkan pentingnya benda-benda fisik sebagai tumpuan, lalu menggantinya dengan serangkaian abstraksi. 3. Teori rasional gagal dalam menjelaskan perubahan dan pertambahan pengetahuan manusia selama ini. Banyak dari ide yang sudah pasti pada satu waktu kemudian berubah pada waktu yang lain. Pada suatu saat dalam sejarah, ide bahwa bumi adalah pusat dari system matahari hampir diterima secara umum sebagai suatu pernyataan yang pasti.

2.4 Empirisme
Usaha manusia untuk mencari pengetahuan yang bersifat mutlak dan pasti telah berlangsung dengan penuh semangat dan terus-menerus. Paling tidak sejak jaman Aristoteles, terdapat tradisi epistemologi yang kuat untuk mendasarkan diri kepada pengalaman manusia dan meninggalkan cita-cita untuk mencari pengetahuan yang mutlak tersebut. Kaum empirisme berdalil bahwa adalah tidak beralasan untuk mencari pengetahuan mutlak dan mencakup semua segi, apalagi bila didekat kita, terdapat kekuatan yang dapat dikuasai untuk meningkatkan pengetahuan manusia, yang meskipun bersifat lebih lambat namun lebih dapat diandalkan Kaum empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh lewat pengalaman. Jika kita sedang berusaha untuk meyakinkan seorang empiris bahwa sesuatu itu ada, dia akan berkata “tunjukkan hal itu kepada saya”. Dalam persoalan mengenai fakta maka dia harus diyakinkan oleh pengalamannya sendiri. Ada dua aspek teori empiris, yang pertama adalah perbedaan antara yang mengetahui dan yang diketahui. Yang mengetahui adalah subyek dan benda yang diketahui adalah obyek. Kedua, kebenaran atau pengujian kebenaran dari fakta atau obyek didasarkan kepada pengalaman manusia. Masalah yang rumit akan timbul bila persyaratan tentang suatu obyek atau kejadian ternyata tidak lagi terdapat untuk pengujian secara langsung. Aspek lain dari empirisme adalah prinsip keteraturan. Pengetahuan tentang alam didasarkan pada persepsi mengenai cara yang teratur tentang tingkah laku sesuatu. Pada dasarnya alam adalah teratur. Disamping berpegang pada keterturan, kaum empiris mempergunakan prinsip keserupaan. Keserupaan berarti bahwa bila terdapat gejala-gejala yang berdasarkan pengalaman adalah identik atau sama maka kita mempunyai cukup jaminan untuk membuat kesimpulan yang bersifat umum tentang hal itu. Secara khusus, kaum empiris mendasarkan teori pengetahuannya kepada pengalaman yang ditangkap oleh panca indera kita. John locke, yang dipanggil sebagai bapak kaum empiris inggris, memandang pikiran sebagai suatu alat yang menerima dan menyimpan sensasi

pengalaman.

Pengetahuan

merupakan

hasil

dari

kegiatan

keilmuan

(pikiran)

yang

mengkombinasikan sensasi-sensasi pokok. Kaum empiris radikal atau ”sensasionalis” adalah mereka yang berkeras pada pendapat bahwa semua pengetahuan dapat disederhanakan menjadi pengalaman indera, dan apa yang tidak dapat tersusun oleh pengalaman indera bukanlah pengetahuan yang benar. Sedangkan kaum empiris modern akan mengemukakan pendapat locke dengan kata-kata sebagai berikut: pengetahuan adalah hasil dari proses neuro-kimiawi yang rumit, dimana obyek luar merangsang satu organ panca indera atau lebih, dan rangsanan ini menyebabkan perubhan material atau elektris di dalam organ badani yang disebut otak.

Kritik terhadap kaum empiris
1. Empirisme didasarkan pada pengalaman. Tetapi apakah yang disebut pengalaman?sekali waktu dia hanya berarti rangsangan pancaindera. Lain kali dia muncul sebagai sebuah sensasi ditambah dengan penilaian. Sebagai sebuah konsep, ternyata pengalaman tidak berhubungan langsung dengan kenyataan obyektif yang sangat ditinggikan oleh kaum empiris. Jika diteliti secara kritis maka ”pengalaman” merupakan pengertian yang terlalu samar untuk dijadikan dasar bagi sebuah teori pengetahuan yang sistematis. 2. Sebuah teori yang sangat menitikberatkan pada persepsi panca indera sekiranya melupakan kenyataan bahwa pancaindera manusia adalah terbatas dan tidak sempurna. Empirisme tidak mempunyai perlengkapan untuk membedakan antara khayalan dan fakta. 3. Empirisme tidak memberikan kita kepastian. Apa yang disebut pengetahuan yang mungkin, dalam penegrtian diatas, sebenarnya merupakan pengetahuan yang seluruhnya diragukan.

2..5 Metode Keilmuan : Kombinasi antara Rasionalisme dan Empirisme
Terdapat suatu pandangan yang luas bahwa ilmu pada dasarnya adalah metode induktifempiris dalam memperoleh pengetahuan. Dengan alasan untuk mendukung penilaian populer ini,

karena ilmuwan mengumpulkan fakta-fakta yang tertentu, melakukan pengamatan, dan mempergunakan data inderawi. Namun dalam hal ini akan lebih tepat jika dalam usaha mencari pengetahuan diambarkan sebagai sebagai suatu kombinasi antara prosedur empiris dan rasional. Secara sederhana metode keilmuan dapat dikatakan sebagai satu cara dalam memperoleh pengetahuan dengan suatu rangkaian prosedur tertentu yang harus diikuti. Rangkaian prosedur itu sendiri dapat diuraikan dalam enam langkah seperti berikut :

a. Sadar akan adanya masalah dan perumusan masalah b. Pengamatan dan pengumpulan data yang relevan c. Penyusunan atau klasifikasi data d. Perumusan Hipotesis e. Dedukasi dan hipotesis f. Tes pengujian kebenaran (verifikasi) dari hipotesis

2.5.1 Kesadaran dan Perumusan Masalah Metode keilmuan pada tahap permulaan ini menekankan kepada pernyataan yang jelas dan tepat dari sebuah masalah. Di mana tahap permulaan metode keilmuan mengangap dunia sebagai suatu kumpulan objek dan kejadian yang dapat diamati secara empiris, dan kepada dunia itu kita terapkan suatu aturan atau struktur hubungan, dengan suatu lingkup yang terbatas dari fakta-fakta yang tertangkap oleh indera dapat diberi arti. Faham kaum rasionalis pada tahap ini didukung oleh metode keilmuan dengan argumentasi bahwa penalaran itulah yang membangun struktur dan mengarahkan penyelidikan. Penalaran itu sendiri memberikan manusia kepekaan terhadap masalah dan tanpa kepekaan itu tidak mungkin kita dapat mengatur fakta-fakta dalam cara yang dapat dipahami. 2.5.2 Pengamatan dan Pengumpulan Data Tahap ini merupakan sesutau yang paling dikenal dalam metode keilmuan. Dikarenakan dalam metode keilmuan yang diarahkan kepada pengumpulan data ini maka banyak orang yang

menyamakan keilmuan dengan pengumpulan fakta. Pengamatan yang teliti yang dimungkinkan oleh terdapatnya berbagai alat, yang dibuat manusia dengan penuh akal, memberikan dukungan yang dramatis terhadap konsep keilmuan sebagi suatu prosedur yang pada dasarnya adalah empiris dan induktif. Tumpuan terhadap persepsi indera secara langsung atau tidak, dan keharusan untuk melakukan pengamatan secara teliti, seakan menyita perhatian kita terhadap segi empiris dari penyelidikan keilmuan tersebut. 2.5.3 Penyusunan dan Klasifikasi Data Tahap metode keilmuan ini menekankan kepada penyusunan fakta dalam kelompok – kelompok, jenis – jenis dan kelas – kelas. Dalam semua cabang – cabang ilmu, usaha untuk mengidentifikasikan , menganalisis, membandingkan dan membedakan fakta – fakta yang relevan tergantung kepada adanya sistem klasifikasi ini disebut taxonomi , dan ilmuwan modern terus berusaha untuk menyempurnakan taxonomi khusus bidang keilmuan mereka. Deskripsi dan klasifikasi memang merupakan suatu hal yang pokok dalam ilmu, tetapi adalah menyesatkan bila kita mengacaukan deskripsi dan penyusunan ini dengan seluruh urutan kegiatan yang merupakan metode keilmuan. Apa yang dinamakan sejarah alam terbatas pada deskripsi dan perbandingan , namun ilmu membutuhkan penjelasan , dan oleh sebab itu maka ilmu melebihi ruang lingkup sejarah alam. Seorang tukang pengumpul kupu – kupu atau batu – batu yang berharga tak dianggap memenuhi syarat sebagai ilmuwan , betapa pun besarnya atau bagaimana pun hati – hatinya dia menyusun koleksinya.

2.5.4 Perumusan Hipotesis Fakta tidak berbicara untuk diri mereka sendiri. Dalam dunia yang di telaah ilmu , sekelompok molekul atau sel tidak meloncat loncat, melambaikan tangan , bersuit – suit dan mengatakan , “ Hai, lihat saya ! Di sini ! Saya adalah batu atau pohon ,atau kuda.” Apa-nya suatu benda tergantung pada merek yang diberikan manusia kepada benda tersebut. Bagaimana suatu benda bisa dijelaskan tergantung kepada hubungan konseptual yang dipakai menyorot benda

tersebut. Kenyatan ini membawa kita pada kepada salah satu segi yang paling sulit dari metodologi keilmuan yakni peranan dari hipotesis. Hipotesis adalah pernyataan sementara tentang hubungan antara benda – benda . hubungan hipotesis ini diajukan dalam bentuk dugaan kerja , atau teori, yang merupakan dasar dalam menjelaskan kemungkinan hubungan tersebut. Hipotesis diajukan secara khas dengan dasar coba – coba (trial – and error ). Hipotesis hanya merupakan dugaan yang beralasan, atau mungkin merupakan perluasan dari terdahulu yang telah teruji kebenaranya, yang kemudian diterapkan pada data yang baru. Dalam kedua hal di atas , hipotesis berfungsi untuk mengikat data sedemikian rupa , sehingga hubungan yang diduga dapat kita gambarkan, dan penjelasan yang mungkin dapat kita ajukan. Sebuah hipoteseis biasanya dinyatakan dalam bentuk pernyataan ‘jika X;maka Y”. Jika kulit manusia kekurangan pigmen , maka kulit itu mudah terbakar bila disinari matahari secara langsung. Hipotesis ini memberikan penjelasan sementara paling tidak tentang beberapa hubungan antara pigmentasi dengan sinar matahari. Hipotesis ini juga nebgungkapkan kepada kita syarat mana yang harus di penuhi dan pengamatan apa yang diperlukan jika kita ingin menguji kebenaran dari dugaan kerja tersebut. Dalam konsep mengenai hipotesis yang peranannya sangan menentukan dalam metode keilmuan , kita menemukan baik unsur empiris maupun unsure rasional. Di dalam konsep ini , pertama – tama harus terdapat data empiris dalam bentuk fakta yang dapat diamati dan diukur, di samping itu harus terdapat pula konsep yang bersifat kategoris, yang memisahkan macam – macam data logis dan kemudoan menyusunnya sedemikian rupa sehungga kemungkinan hubungan – hubungannya dapat dijajagi. 2.5.5 .Deduksi dari Hipotesis Mereka yang berfikir bahwa ilmu adalah metode yang semata-mata berpegang teguh pada jalan pikiran deduktif yang melangkah secara langsung dari fakta kepada penjelasan harus memperhatikan secara seksama peranan dari hipotesis. Hipotesis menyusun pernyataan logis yang menjadi dasar untuk penarikan kesimpulan atau deduksi mengenai hubungan antara bendabenda tertentu yang sedang diselidiki. Di samping itu, hipotesis dapat menolong kita dalam memberikan ramalan dan menemukan fakta yang baru. Penalaran deduktif yang sedemikian penting dalm tahap hipotesis ini, ditunjukkan oleh fakta bahwa kebanyakan apa yang kita kenal

sebagai pengetahuan keilmuan adalah lebih berifat teoritis daripada empiris, dan bahwa ramalan bergantung kepada bentuk logika silogistik.

2.5.6

Tes dan Pengujian Kebenaran (Verifikasi) Hipotesis

Pengujian kebenaran dalam ilmu berarti mengetes alternate-alternatif hipotesis dengan pengamatan kenyataan yang sebenarnya atau lewat percobaan. Dalam hubungan ini maka keputusan terakhir terletak pada fakta. Jika fakta tidak mendukung satu hipotesis, maka hipotesis yang lain dipilih dan proses diulang kembali. Hakim yang terakhir dalam hal ini adalah data empiris : kaidah yang bersifat umum atau hukum, haruslah memenuhi persyaratan pengujian empiris. Tetapi kum rasionalis tidak menyerah dalam tahap pengujian kebenaran ini. Mereka mengemukakan bahwa suatu hipotesis baru bisa diterima secara keilmuan bila dia konsisten dengan hipotesis yang sebelumnya telah disusun dan teruji kebenarannya.

Metode keilmuan merupakan teori pengetahuan yang dipergunakan manusia dalam memberikan jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. Metode ini menitikberatkan kepada suatu urutan prosedur yang seksama dimana diperoleh sekumpulan pengetahuan yang diperluas secara terus menerus. Metode keilmuan mendasarkan diri paa anggapan bahwa terdapat keteraturan yang dapat ditemukan dalam hubungan antara gejala – gejala dan bahwa panca indra manusia, (atau alat yang dibuat secara teliti) pada dasarnya dapat berfungsi secara layak. Lewat pengorganisasian yang sistematis dan pengujian pengamatan manusia telah mampu mengumpulkan pengetahuan secara kumulatif walaupun yang terus menerus bertumbuh dan mempunyai peluang yang besar untuk benar. Walaupun begitumetode keilmuan tidak mengajukan diri menjadi sebuah metode yang membawa manusia pada suatu kebenaran akhir yang tak akan pernah berubah

2.5.7 Kritik terhadap Metode Keilmuan

1. Metode keilmuan itu bersifat membatasi. Artinya manusia hanya diperbolehkan mempelajari benda-benda yang dapat diteliti melalui alat dan teknik keilmuan. Contoh : jika seorang ahli kimia memakai postulat dan teknik dari disiplin keilmuannya, maka dia hanya bisa mempelajari benda-benda yang terikat oleh ruang lingkup pengertian kimia. Jadi tuntutan bahwa ilmu adalah satu-satunya cara untuk memperoleh pengetahuan secara syah memiliki arti bahwa manusia hanya “diizinkan” untuk mengetahui dunia seluas apa yang diketahui lewat metode tersebut 2. Ilmu memperkenankan tafsiran yang banyak terhadap suatu benda atau kejadian 3. Ilmu itu terbatas, dimana hanya sekedar mempelajari bagimana benda-benda berhubungan antara satu dengan yang lain secara kausalitas 4. Keilmuan adalah pengetahuan yang mungkin dan secara tetap harus terus-menerus berubah. Kita berhak dan mungkin harus berpaling kepada metode-metode yang lain untuk mengisi pengetahuan yang tidak terjangkau oleh kegiatan-kegiatan keilmuan karena ilmu telah mengakui bahwa dia hanyalah pengetahuan yang tidak mampu menyediakan segala sesuatunya secara lengkap dan pasti

Makalah Dasar Logika Dan Filsafat Kajian Tentang Subjektivisme, Objektivisme, Rasionalisme, Empirisme Dan Metode Keilmuan
Oleh : Nawwaf Abdillah Alifahman NIM : 0811220027

Makalah Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Dasar Logika dan Filsafat FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->