P. 1
Revaluasi Peranan IPTEK Dalam Kehidupan Manusia

Revaluasi Peranan IPTEK Dalam Kehidupan Manusia

|Views: 554|Likes:
Published by Nazar Pananto

More info:

Published by: Nazar Pananto on Jul 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/17/2012

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Seperti yang kita ketahui, teknologi kini telah merembes dalam kehidupan kebanyakan manusia bahkan dari kalangan atas hingga menengah kebawah sekalipun. Dimana upaya tersebut merupakan cara atau jalan dalam mewujudkan kesejahteraan dan peningkatan harkat martabat manusia. Atas dasar kreatifitas akalnya, manusia mengembangkan IPTEK dalam rangka untuk mengolah SDA yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Dimana dalam pengembangan IPTEK harus didasarkan terhadap moral dan kemanusiaan yang adil dan beradab, agar semua masyarakat mengecam IPTEK secara merata. Begitu juga diharapkan SDM nya bisa lebih baik lagi, apalagi banyak kemudahan yang kita dapatkan. Namun, berbanding terbalik dengan realita yang ada karena semakin canggih perkembangan teknologi, telah membuat masyarakat menjadi malas yang disebabkan oleh kemudahan-kemudahan yang ada tersebut. Ambil saja salah satu contoh perkembangan IPTEK dibidang telekomunikasi dimana zaman dahulu handphone itu sangat langka karena harganya yang mahal berbeda dengan sekarang harga handphone sudah sangat murah dan menjangkau lapisan menengah ke bawah. Disatu sisi telah terjadi perkembangan yang sangat baik sekali di aspek telekomunikasi, namun pelaksanaan pembangunan IPTEK masih belum merata. Masih banyak masyarakat kurang mampu yang putus harapannya untuk mendapatkan pengetahuan dan teknologi tersebut.Hal itu dikarenakan tingginya biaya pendidikan yang harus mereka tanggung. Maka dari itu, pemerintah perlu
1

menyikapi dan menanggapi masalah-masalah tersebut, agar peranan IPTEK dapat bertujuan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia yang ada.

1.2

Rumusan Masalah Adapun Rumusan Masalah yang dapat penulis angkat yaitu : 1. Konsep, teori, dan azas ekosistem sebagai masukan dalam pengembangan teknologi. 2. Konsep, teori dan azas ekologi sebagai masukan dalam menganalisis, memonitor dan mengevaluasi kemungkinan timbulnya dampak positif maupun negatif. 3. Pemanfaatan hasil analisis dan evaluasi dampak dalam perencanaan, pengelolaan dan pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup. 4. Merencanakan penggunaan dan pengembangan teknologi protektif untuk mencegah dan penanggulangan pencemaran, pengendalian hama, dan penyakit serta bencana alam. 5. Pengembangan teknologi daur ulang untuk menjawab tantangan terhadap berbagai bentuk keborosan sumber daya alam dan penanggulangan limbah. 6. Teknologi tepat guna, ciri-cirinya, efesiensinya serta

hubungannya dengan teknologi lain. 7. 8. Proses perusakan lapisan ozon. Upaya penyelamatan lapisan ozon.

2

1.3

Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan Makalah ini adalah : 1. Mempelajari reevaluasi peranan IPTEK dalam kehidupan manusia 2. Mempelajari reevaluasi peranan IPTEK terhadap lapisan ozon
3. Memenuhi tugas IAD ( Ilmu Alamiah Dasar ) yang diberikan

oleh Ibu Dra. St. Wahidah Arsyad, M.Pd

1.4

Metode Penulisan Dalam menyusun makalah ini saya menggunakan metode penelitian dengan menggunakan internet ( membuka situs tentang Memahami reevaluasi peranan IPTEK dalam kehidupan manusi ) dan menggunakan buku pedoman.

1.5

Manfaat Penulisan

Untuk memberikan wawasan, pengetahuan dan pembelajaran tentang perkembangan teknologi bagi kehidupan manusia mulai dari konsep, teori dan azas ekosistem sebagai masukan dalam pengembangan teknologi sampai upaya penyelamatan lapisan ozon.

3

BAB II REEVALUASI PERANAN IPTEK DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

2.1

Konsep, Teori dan Azas Ekosistem sebagai Masukan dalam Pengembangan Teknologi Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ilmu yang mempelajari ekosistem disebut ekologi. Ekologi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu oikos dan logos. Oikos artinya rumah atau tempat tinggal, dan logos artinya ilmu.
4

Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834 1914). Ekologi merupakan cabang ilmu yang masih relatif baru, yang baru muncul pada tahun 70-an. Akan tetapi, ekologi mempunyai pengaruh yang besar terhadap cabang biologinya. Ekologi mempelajari bagaimana makhluk hidup dapat mempertahankan kehidupannya dengan mengadakan hubungan atarmakhluk hidup dan dengan benda tak hidup di dalam tempat hidupnya atau lingkungannya. Para ahli ekologi mempelajari hal berikut: 1. Perpindahan energi dan materi dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang lain ke dalam lingkungannya dan faktor-faktor yang menyebabkannya.
2. Perubahan populasi atau spesies pada waktu yang berbeda

dalam faktor-faktor yang menyebabkannya . 3. Terjadi hubungan antarspesies (interaksi antarspesies) makhluk hidup dan hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Komponen-komponen pembentuk ekosistem adalah: • • Komponen hidup (biotik) Komponen tak hidup (abiotik) Kedua komponen tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur. Misalnya, pada suatu ekosistem akuarium, ekosistem ini terdiri dari ikan, tumbuhan air, plankton yang terapung di air sebagai komponen biotik, sedangkan yang termasuk komponen abiotik adalah air, pasir, batu, mineral dan oksigen yang terlarut dalam air.

5

Ekosistem merupakan suatu interaksi yang kompleks dan memiliki penyusun yang beragam. Di bumi ada bermacam-macam ekosistem. Susunan Ekosistem Dilihat dari susunan dan fungsinya, suatu ekosistem tersusun atas komponen sebagai berikut.
a. Komponen autotrof(Auto = sendiri dan trophikos = menyediakan

makan). Autotrof adalah organisme yang mampu

menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen, contohnya tumbuh-tumbuhan hijau.

b. Komponen heterotrof (Heteros = berbeda, trophikos makanan). Heterotrof merupakan organisme yang memanfaatkan bahanbahan organik sebagai makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh organisme lain. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba. c. Bahan tak hidup (abiotik). Bahan tak hidup yaitu komponen fisik dan kimia yang terdiri dari tanah, air, udara, sinar matahari. Bahan tak hidup merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup.
6

d. Pengurai (dekomposer) Pengurai adalah organisme heterotrof yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati (bahan organik kompleks). Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Termasuk pengurai ini adalah bakteri dan jamur.

Ekosistem: Sebuah analisis Tingkat organisasi yang lebih tinggi dari komunitas adalah ekosistem. Di sini tidak hanya mencakup serangkain spesies tumbuhan saja, tetapi juga segala macam bentuk materi yang melakukan siklus dalam sistem itu, dan energi yang menjadi sumber kekuatan bagi ekosistem. Sinar matahari merupakan sumber energi dalam sebuah ekosistem, yang oleh tumbuhan dapat diubah menajdi energi kimia melalui proses fotosintesis. Pembentukan jaringan hidup selanjutnya tentu saja bergantung pula pada kemampuan tumbuhan menyerap pelbagai bahan mineral dari dalam tanah, yang seterusnya diolah dalam proses metabolisme. Beberapa bagian jaringan hidup yang dibentuk, seperti daun, buah, biji dan umbi, dapat dimakan oleh herbivore. Dan kemudian hewan itu menjadi mangsa karnivora yang lebih besar. Akhirnya, semua jaringan hidup, baik dari hewan maupun tumbuhan akan mati, jatuh ke tanah sebagai sampah , dan menjadi bahan makanan bagi anekaragam mikroba tanah. Sampah tumbuhan dan hewan ini diubah oleh mikroba tanah melalui proses pembusukan menjadi humus, serta diuraiakn menjadi bahan mineral proses mineralisasi. Jadi dalam tanah itu dapat juga dijumpai dua jenis mikroba, yaitu mikroba prmbusuk dan mikroba
7

pengurai. Berdasarkan uraian yang singkat di atas itu tampak dalam sebuah ekosistem terdapat rantai makanan. Pada rantai makanan, mahluk dalam ekosistem dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, yang masing-masing mempunyai jarak transfer makanan tertentu dari sumber energi yang masuk ekosistem. Tumbuhan yang dapat membentuk bahan organik dari meineral dan energi matahari dengan proses fotosistensis merupakan komponen produsen dalam ekosistem. Mahluk yang menggunakan bahan organic yang telah dibentuk oleh produsen, merupakan komponen konsumen dalam ekosisitem. Masing-masing kelompok mahluk yang mempunyai jarak transfer makanan tertentu dari sumber energi, menempati suatu tingkatan trofik tertentu. Tingkat trofik 1 berupa tumbuhan, tingkat trofik 2 hewan herbivore, tingakat trofik 3 hewan karnivora kecil, dan seterusnnya. Dalam ekosistem biasanya tingkatan trofik tidak lebih dari 5. konsep rantai makanan sangat praktis unutk membahas aliran dalam energi ekosistem. Tetapi yang biasanya terjadi dalam ekosistem sebetulnya adalah hubungan saling makan yang lebih kompleks. Kalau hubungan saling makan tadi disusun secara lebih lengkap. Akan didapatkan jarring makanan. Kalau biomasa dari setiap tingkatan trofik dinyatakn dalam perbandingan luas, disusun mulai dari tumbhuan di tempat paling bawah, dan tingkatan trofik yang lebih tinggi di atasnya, akan tetapi terbenutklah sebuah piramida trofik (disebut juga piramida makanan). Perhatikan bahwa liaran energi tidak berupa siklus, sedangkan mineral beredar merupakan siklus. Energi matahri yang idubah menjadi energi kimia oleh tumbuhan berklorofil digunakan untuk membentuk jarungan hidup, atau ikatan kimia kompleks, seperti karbihidrat, lemak, dan protein. Hasil ini dalam ekologi dinyatakan dengan unit produksi fotositensis kotor ( gross photosynthetic production) per luas tertentu. Meskipun demikian,
8

hanya sebgaian jaringan biomassa; yang lain melepaskan diri, sebagian lagi tak tereliminasi, dan sisanya hilang dalam proses pernafasan. Efisisensi prodiksi (production efficiency) pada setiap tingkat makanan dinyatakan dengan derajat produksi biomassa tersebut pada suatu tingkat dibagi oleh derajat produksi biomassa pada tingkat yang dimakannya. Derajat produlsi (produkvitas) dalam ekosistem dinyatkan dalam satuan; berat (biasanya berat kering), atau kalori karena berat mahluk kering kalau idbakar menghasilkan panas; per satuan (m2 unutk unit kecil, ha atau km2 unutk unit besar) per satuan waktu (hari atau tahun). Dalam kegunaan praktis, derajat produksi sering diukur dalam kalori per meter persegi per tahun. Seperti dalam ilmu fisika, kimia dan ilmu lainnya, seorang yang mempelajri ilmu leingkungan akan sering berhubungan dengan pengertian kadar, sepat perubahan jumlah (rate change in number). Misalnya perubahan N sehubungan dengan waktu, dimana dapat menyatakan jumlah penduduk dunia , taua penduduk Indonesia, ataupun jumlah hewan yang terdapat di suatu sawah. Dari serangkaian uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam kehidupan di muka bumi (biosfer) ini, mahluk hidup tidak darat berdiri sendiri, tergantung satu dengan yang lainnya dan lingkungan abiotik. Dalam ekosistem menjadi aliran energi dan siklus materi diubah dari bentuk senyawa satu bentuk senyawa lin dan hakikatnya tidak ada materi yang hilang dalam ekosistem bahakn di alam semesta ini. Energi pada massa purba tertangkap oleh tumbuhan berhijau daun dan tumbuhan itu (tumbuhan paku besar) terkubur jutaan tahun menjadi batu bara yang kini digali manusia untuk sumber energi pabrik dan lainnya. Minyak bumi sebgaia sumber energi juga terjadi dari hewan bersel tunggal

9

(protozoa) yang mendapat energi dari matahari, karena hewan itu makan tumbuhan berhijau daun yang bersel tunggal. Apabila suatu ekosistem terganggu, di mana siklus materi dan transfer energi terpotong, maka komponen dalam ekosistem, termasuk manusia akan terganggu pula sampai keseimbangan baru tercapai. Dalam mencapai keseimbangan baru itu kadang-kadang suatu populasi terpaksa tersingkirkan dari ekosistem atau dengan kata lain mungkin punah. Ekosistem secra rinci dibedakan atas ekosistem darat dan ekosistem air, selanjutnya ekosistem air tawar, misalnya; ekosistem danau, sungai hulu; ekosistem air payau mislanya; muara sungai, tambak; ekosistem air asin, misalnya; laut. Dalam rangka penyusunan kebijakan dan strategik pengelolaan lingkungan perlu memahami konsep dasar ekologi. Lebih spesifik lagi setelah kita dapat memahami konsep ekologi dapat digunakan untuk melakukan identifikasi karakteristik ekologi melalui penelusuran proses ekologi. Proses ekologi dalam suatu wilayah ekosistem dapat diidentifikasi melalui hubungan antara komponen lingkungan biofisik dan komponen lingkungan sosialbudaya. Konsep dasar dan pola pemikiran ekologi sebagai dasar pemecahan masalah lingkungan mengubah paradigma paham antrophosentrisme ke paham ekosentrisme. Proses ekologi manusia (antrophoekosentrisme) yang tergolong dalan socio-ecosystem terkait dengan kondisi biofisiknya dapat diamati dalam setiap satuan ekosistem bentanglahan. Dalam hubungan antar unsur-unsur yang terkandung dalam sistem sosial (human ecology) maupun dalam sistem alam (natural ecosystem) terdapat beberapa proses yang terjadi sebagai berikut: (1) Hubungan saling keterkaitan (interrelationships)
10

Unsur-unsur yang terkandung, baik dalam sistem sosial maupun dalam sistem alami saling berinteraksi satu sama lain masing-masing membentuk subsistemsubsistem kecil dalam skala lokalitas yang saling mempengaruhi (simbiotik maupun parasitik). Subsistem yang mempunyai sifat dinamika tinggi (mobile) juga berinteraksi dengan subsistem dari ekosistem lain melalui proses aliran energi dan materi (flora, fauna) dan melalui tukar-menukar ataupun perkawinan (antar manusia) (2) Hubungan saling ketergantungan (independency) Hubungan tersebut tidak hanya terbatas pada saling keterkaitan, namun juga saling ketergantungan antar subsistem, dan bukan yang mempunyai sifat dinamika tinggi, subsistem yang tidak banyak bergerak pun mempunyai hubungan saling ketergantungan. Keberadaan subsistem air dengan kualitas tertentu sangat dibutuhkan oleh subsistem-subsistem lain ( pertumbuhan biota, proses biogeokimia). (3) Aliran energi, materi, dan informasi Hasil pengelolaan sumberdaya ekosistem menghasilkan materi dan energi yang akhirnya kembali lagi ke manusia sebagai hasil pemanenan. Hasil peningkatan budaya untuk memperbaiki sistem pengelolaan lingkungan meningkatkan informasi begitu terus sistem peningkatan budaya sehingga terbentuk aliran informasi (perbaikan budaya sistem usahatani). (4) Proses Seleksi dan Adaptasi Manusia dalam menghadapi kondisi lingkungan sejak zaman dulu hingga sekarang bersifat dinamik mengikuti kemajuan budaya dan teknologi yang dikuasai. Pada awalnya manusia sangat tergantung pada kondisi fisik lingkungannya (deterministik),
11

kemudian mampu mengadakan seleksi atau mencoba dengan cara adaptasi (probabilitas/posibilitas), akhirnya kenal dengan pendekatan sistem/ekosistem, mereka mengkombinasikan menjadi pendekatan ”sistemik, adaptif, dan dinamik”. Ditinjau dari substansinya dalam satu kesatuan ekosistem bentanglahan (lokalitas) terdapat tiga komponen pembentuk permasalahan lingkungan yang saling interaksi dan saling negasi. Sebagai input ekosistem bentanglahan yang mengandung sumberdaya alam (SDA) yang menempati kawasan budidaya dan non-budidaya, akibat exploitasi lingkungan hidup tergantung pada kualitas manusia (SDM) menyebabkan penurunan (degradasi) kualitas lingkungan. Terjadinya penurunan/degradasi kualitas lingkungan adalah akibat exploitasi lingkungan hidup yang menyimpang (malpraktek) melegalkan upaya pemanfaatan lahan yang sebenarnya merupakan kawasan yang harus dilindungi atau pun ruang terbuka hijau. Meluasnya lahan kritis, miskin dan terlantar, lahan miring dan tebing sungai longsor, banjir yang melanda di permukiman dan perumahan, kekeringan di bagian hulu, pencemaran dan kontaminasi air tanah, merosotnya kesehatan dan sanitasi lingkungan. Dampak dari malpraktek tersebut meluas menimpa kembali kehidupan manusia dan akhirnya dapat menurunkan kualitas sumberdaya manusia. Ketiga komponen pembentuk lingkungan tidak terpisah, namun membentuk satu kesatuan lokalitas dalam suatu ekosistem bentanglahan, sumberdaya alam potensial dan kawasan budidaya dan non-budidaya merupakan input alam (given), sumberdaya manusia potensial tergantung pada tingkat penguasaan tekno-budaya (cultural ecology), dampak exploitasi lingkungan akibat penyalahgunaan praktek pemanfaatan lahan (malpraktek).

12

Manusia

sesuai

kodratnya

diberikan

kelebihan

ilmu

pengetahuan yang secara alami (instinctive) dapat muncul dengan sendirinya tergantung kepada kepekaan dalam menanggapi atau pun membaca fenomena alam dan kemudian menerjemahkan ke dalam dunia nyata (real world) sebagai tindakan nyata manusia. Manusia selalu diuji kepekaannya dalam menanggapi tanda-tanda alam, untuk itu manusia selalu meningkatkan kemampuan budaya, mulai dari budaya yang hanya sekedar untuk mempertahankan hidup (survival) hingga budaya untuk membuat rekayasa menciptakan lingkungan hidup yang nyaman, sejahtera, dan berkelanjutan (sustainable). Manusia dalam setiap memanfaatkan sumberdaya alam (SDA) ekonomi pada dasarnya dengan kemampuan teknologi yang dikuasainya dalam implementasinya lebih mementingkan aspek (mencari keuntungan sebesar-besarnya) daripada kepentingan ekologi (prinsip kelestarian). Kegiatan ekonomi menjadi tumpuhan dalam setiap manajemen sumberdaya alam agar sesuai dengan investasi yang ditanamkan dan waktu serta ruang yang disediakan terbatas. Manusia (SDM) memilih Sumberdaya alam (SDA) dengan bantuan teknologi Penginderaan Jauh (PJ) dan melalui pengolahan sistem informasi geografis (SIG/GIS) dalam setiap pengelolaan SDA dan Lingkungan Hidup (LH) untuk kegiatan ekonomi. Keterkaitan antar sub-komponen tersebut dapat saling interaksi yang menguntungkan dan dapat pula saling negasi yang merugikan.

2.2

Konsep, Teori dan Azas Ekologi sebagai Masukan dalam Menganalisis, Memonitor dan Mengevaluasi Kemungkinan Timbulnya Dampak Positif maupun Negatif
13

Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunani oikos ("habitat") dan logos ("ilmu"). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Dalam ekologi, kita mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor biotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan. Ekologi, biologi dan ilmu kehidupan lainnya saling melengkapi dengan zoologi dan botani yang menggambarkan hal bahwa ekologi mencoba memperkirakan, dan ekonomi energi yang menggambarkan kebanyakan rantai makanan manusia dan tingkat tropik. Ekowilayah bumi dan riset perubahan iklim ialah dua wilayah di mana ekolog (orang yang mempelajari ekologi) kini berfokus.

Ekologi dalam politik Ekologi menimbulkan banyak filsafat yang amat kuat dan pergerakan politik termasuk gerakan konservasi, kesehatan, lingkungan,dan ekologi yang kita kenal sekarang. Saat semuanya digabungkan dengan gerakan perdamaian dan Enam Asas, disebut gerakan hijau. Umumnya, mengambil kesehatan ekosistem yang
14

pertama pada daftar moral manusia dan prioritas politik, seperti jalan buat mencapai kesehatan manusia dan keharmonisan sosial, dan ekonomi yang lebih baik. Orang yang memiliki kepercayaan-kepercayaan itu disebut ekolog politik. Beberapa telah mengatur ke dalam Kelompok Hijau, namun ada benar-benar ekolog politik dalam kebanyakan partai politik. Sangat sering mereka memakai argumen dari ekologi buat melanjutkan kebijakan, khususnya kebijakan hutan dan energi. Seringkali argumen-argumen itu bertentangan satu sama lain, seperti banyak yang dilakukan akademisi juga. 1. Ekologi dalam ekonomi Banyak ekolog menghubungkan ekologi dengan ekonomi: Lynn Margulis mengatakan bahwa studi ekonomi bagaimana manusia membuat kehidupan. Studi ekologi bagaimana tiap binatang lainnya membuat kehidupan. Mike Nickerson mengatakan bahwa "ekonomi tiga perlima ekologi" sejak ekosistem menciptakan sumber dan membuang sampah, yang mana ekonomi menganggap dilakukan "untuk bebas". Ekonomi ekologi dan teori perkembangan manusia mencoba memisahkan pertanyaan ekonomi dengan lainnya, namun susah. Banyak orang berpikir ekonomi baru saja menjadi bagian ekologi, dan ekonomi mengabaikannya salah. "Modal alam" ialah contoh teori yang menggabungkan dua hal itu. Ekologi antropologis Terkadang ekologi dibandingkan dengan antropologi, sebab keduanya menggunakan banyak metode untuk mempelajari satu hal yang kita tak bisa tinggal tanpa itu. Antropologi ialah tentang bagaimana tubuh dan pikiran kita are dipengaruhi lingkungan kita, ekologi ialah tentang bagaimana lingkungan kita dipengaruhi tubuh dan pikiran kita.
15

Beberapa orang berpikir mereka hanya seorang ilmuwan, namun paradigma mekanistik bersikeras meletakkan subyek manusia dalam kontrol objek ekologi. Namun dalam psikologi evolusioner atau psikoneuroimunologi misalnya jelas jika kemampuan manusia dan tantangan ekonomi berkembang bersama. Dengan baik ditetapkan Antoine de Saint-Exupery: "Bumi mengajarkan kita lebih banyak tentang diri kita daripada seluruh buku. Karena itu menolak kita. Manusia menemukan dirinya sendiri saat ia membandingkan dirinya terhadap hambatan."

2.3

Pemanfaatan Hasil Analisis dan Evaluasi Dampak dalam Perencanaan, Pengelolaan dan Pelestarian Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut. Lingkungan terdiri dari komponen abiotik dan biotik. Komponen abiotik adalah segala yang tidak bernyawa seperti tanah, udara, air, iklim, kelembaban, cahaya, bunyi. Sedangkan komponen biotik adalah segala sesuatu yang bernyawa seperti tumbuhan, hewan, manusia dan mikro-organisme (virus dan bakteri). Ilmu yang mempelajari lingkungan adalah ilmu lingkungan atau ekologi. Ilmu lingkungan adalah cabang dari ilmu biologi.

Konsep lingkungan di Indonesia
16

Lingkungan, di Indonesia sering juga disebut "lingkungan hidup". Misalnya dalam Undang-Undang no. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, definisi Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia, dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.

2.4

Merencanakan Penggunaan Dan Pengembangan Teknologi serta Dampak Yang di Timbulkan Tekonologi dibagi menjadi: 1. 2. 3. teknologi maju; teknologi adaptif/madya; teknologi protektif. Materi adalah apa saja yang mempunyai massa dan menempati ruang, sedangkan energi adalah suatu tenaga yang dapat memindahkan materi dari suatu tempat ke tempat lain. Energi terdapat dalam berbagai bentuk, misalnya energi panas, energi cahaya, energi gerak, energi listrik, energi kimia, dan sebagainya. Energi dapat berubah dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain. Energi itu kekal adanya. Energi listrik sangat penting bagi kehidupan manusia dan dapat diambil melalui berbagai cara antara lain: 1. PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) Prinsipnya adalah energi potensial dari air danau diubah menjadi

17

energi kinetik seperti air terjun, kemudian diubah menjadi energi listrik melalui turbin yang menggerakkan generator. 2. PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Disel) Prinsipnya, mesin disel menggerakkan generator listrik 3. PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) Prinsipnya, reaksi nuklir menghasilkan energi panas. Energi panas ini diubah menjadi energi mekanik melalui penguapan air. Turbin uap berputar menggerakkan generator listrik. Mesin-mesin hasil perkembangan teknologi misalnya: 1. Mesin bakar Prinsipnya, bahan bakar dicampur udara yang dimampatkan dalam silinder, diledakkan dengan bunga api dari busi. Gerakan ini diteruskan oleh roda penerus yang sekaligus memutar mesin dan membuang bahan bakar yang telah terpakai kemudian memampatkan bahan bakar dan udara yang baru, kemudian diledakkan dan seterusnya. 2. Mesin disel Prinsipnya hampir sama dengan mesin bakar, tetapi tanpa menggunakan percikan bunga api dari bahan bakar yang digunakan yaitu solar. 3. Jet Prinsipnya, bahan bakar dicampur udara, dibakar dalam tabung pembakar. Gas panas yang dihasilkan digunakan untuk menggerakkan mesin dan seluruh tubuh pesawat. Mesin jet dapat menggunakan atau tanpa menggunakan turbin. 4. Roket Prinsipnya hampir sama dengan jet, hanya di sini digunakan bahan bakar padat yang telah mengandung Oksigen, jadi tidak perlu dicampur udara.
18

5. Nuklir Bahan ini dapat dimanfaatkan untuk sumber tenaga, kesehatan atau pengobatan, peningkatan daya guna tanaman pertanian, pengawetan bahan makanan, pengawetan kayu, peningkatan mutu tekstil, penelitian radiografi, hidrologi, dan penelitian pencemaran lingkungan. Dampak Teknologi perkembangan teknologi terhadap lingkungan hidup manusia memberikan dampak positif dan negatif yang akan mempengaruhi kehidupan manusia. Contoh yang dapat diberikan yaitu seperti: 1. Dampak Positif Bidang industri:
a) Diperluasnya lapangan kerja dengan berdirinya industri atau pabrik

baru. b) Perkembangan industri bertambah baik, misalnya dengan penelitian dan pengembangan di bidang industri transportasi, elektronika, dan industri rekayasa.
c) Berkembangnya tanaman sebagai bahan baku industri (kapas untuk

industritekstil, kayu sengon, dan pinus untuk industri kertas). d) Diciptakannya mesin daur ulang, sehingga sampah sebagai sumber pencemaran lingkungan dapat di urangi. e) Peningkatan industri ekspor migas dan nonmigas.
f) Memperoleh devisa dari industri pariwisata.

Bidang Pertanian:
a) Bertambahnya varietas baru dan unggul. b) Peningkatan hasil produksi pertanian. 19

c) Dikenal dan dipakainya alat-alat pertanian modern.

d) Dikenalnyasistem pemupukan dan obat-obatan hama.
e) Pemberantasan hama dengan pesawat terbang di perkebunan.

2. Dampak Negatif Bidang lingkungan alam:
a) Lahan pertanian, perkebunan, peternakan, dan kehutanan semakin

sempit karena dibangun banyak perumahan.
b) Rusaknya lingkungan alam, karena dibangunnya industri atau

pabrik.
c) Terjadinya banjir dan erosi karena penebangan hutan tidak

terkendali. ( illegal loging)
d) Untuk pemenuhan kebutuhan primer dan sekundernya manusia

mengeksploitasi alam.
e) Pemupukan yang berlebihan mengakibatkan pencemaran tanah. f) Penyemprotan peptisida berimbas makhluk hidup yang lain terkena

racun tahan lama yang dapat menyebar dalam rantai makanan ke ekosistemnya sehingga dapat memengaruhi mata rantai makhluk hidup yang memakannya.
g) Terjadinya pencemaran udara akibat pembakaran hutan yang

menghasilkan CO2 dan CO.
h) Terjadinya pencemaran air dari buangan limbah industri. i) Terjadinya pencemaran udara dari asap-asap industri, mobil, dan

kendaraan bermotor.
j) Terjadinya pencemaran tanah, bau, dan sampah-sampah industri dan

rumah tangga. Sedangkan pandangan teknologi yang diciptakan manusia untuk lingkungan hidupnya menjadikan teknologi sebagai pengatur keseimbangan terhadap kerusakan yang telah dilakukan oleh
20

manusia dan mengakibatkan manusia sangat ketergantungan terhadap penggunaan teknologi.

2.5

Teknologi Tepat Guna. Teknologi tepat guna adalah teknologi yang dirancang bagi suatu masyarakat tertentu agar dapat disesuaikan dengan aspek-aspek lingkungan, keetisan, kebudayaan, sosial, politik, dan ekonomi masyarakat yang bersangkutan. Dari tujuan yang dikehendaki, teknologi tepat guna haruslah menerapkan metode yang hemat sumber daya, mudah dirawat, dan berdampak polutif minimalis dibandingkan dengan teknologi arus utama, yang pada umumnya beremisi banyak limbah dan mencemari lingkungan. Banyak orang beranggapan bahwa teknologi harus bercirikan mesin-mesin industri yang besar, pesawat terbang atau komputer. Padahal pengertian teknologi adalah upaya manusia untuk membuat kehidupan lebih sejahtera, lebih baik, lebih enak dan lebih mudah. Bila seseorang mengupas sabut kelapa dengan gigi dan kemudian berusaha mengupas dengan kapak yang dibuat dari batu dari batu, kejadian seperti ini termasuk kedalam teknologi pula. Ada nilai pengembangan alat di sana. Teknologi Tepat Guna (TTG) yaitu suatu teknologi yang memenuhi, persyaratan: teknis, ekomomi dan sosial budaya.
a) Teknis,

yaitu memperhatikan dan menjaga tata kelestarian

lingkungan hidup, penggunaan secara maksimal bahan baku lokal, menjamin mutu (kualitas) dan jumlah (kuantitas) produksi, secara teknis efektif dan efisien, mudah perawatan dan operasi, serta relatif aman dan mudah menyesuaikan terhadap perubahan.
21

b) Ekonomis, yaitu efektif menggunakan modal, keuntungan kembali

kepada produsen, jenis usaha kooperatif yang mendorong timbul industri lokal.
c) Sosial budaya, memanfaatkan keterampilan yang sudah ada,

menjamin perluasan lapangan kerja, menekan pergeseran tenaga kerja, menghidari konflik sosial budaya dan meningkatkan pendapatan yang merata.

BAB III REEVALUASI PERANAN IPTEK TERHADAP LAPISAN OZON 3.1 Proses Kerusakan Lapisan Ozon
22

Penipisan lapisan ozon merupakan

salah satu keadaan

darurat lingkungan global pertama yang dihadapi oleh UNEP. Lapisan ozon stratosfir yang melindungi bumi dari radiasi UV-B yang berlebihan dari matahari inilah yang sangat dikhawatirkan akan kerusakannya. Lapisan tipis ozon telah terbentuk di stratosfer dengan aksi radiasi matahari pada saat keadaan oksigen normal. Hal ini terus menerus terbentuk dan hancur melalui proses alam yang mengarah ke keseimbangan alam. Lapisan ozon yang berfungsi menyerap radiasi ultraviolet yang berbahaya agar tidak mencapai permukaan bumi. Lubang ozon adalah penipisan lapisan ozon bagian atas Antartika yang disebabkan oleh pelepasan bahan kimia sintetik yang disebut CFC (chlorofluorocarbons). Kerusakan ozon yang berkelanjutan dapat menyebabkan kanker kulit, mata katarak, hilangnya kekebalan tubuh, dan produktivitas tanaman menurun. Kerusakan ozon sendiri sebenarnya disebabkan oleh manusia juga, contohnya seperti pemakaian CFC (chlorofluorocarbons) yang berlebih seperti: 1. AC 2. kulkas 3. bahan dorong dalam penyembur (aerosol), diantaranya kaleng semprot untuk pengharum ruangan, penyemprot rambut atau parfum 4. pembuatan busa 5. bahan pelarut terutama bagi kilang-kilang elektronik Satu buah molekul CFC memiliki masa hidup 50 hingga 100 tahun dalam atmosfer sebelum dihapuskan.

23

3.1.1

Mekanisme Perusakan Lapisan Ozon Dalam waktu kira-kira 5 tahun, CFC bergerak naik dengan

perlahan ke dalam stratosfer (10 – 50 km). Molekul CFC terurai setelah bercampur dengan sinar UV, dan membebaskan atom KLORIN. Atom klorin ini berupaya memusnahkan ozon dan menghasilkan LUBANG OZON. Penipisan lapisan ozon akan menyebabkan lebih banyak sinar UV memasuki bumi. Lubang ozon di Antartika disebabkan oleh penipisan lapisan ozon antara ketinggian tertentu seluruh Antartika pada musim semi. Pembentukan ‘lubang’ tersebut terjadi setiap bulan September dan pulih ke keadaan normal pada lewat musin semi atau awal musim panas. Dalam bulan Oktober 1987, 1989, 1990 dan 1991, lubang ozon yang luas telah dilacak di seluruh Antartika dengan kenaikan 60% pengurangan ozon berbanding dengan permukaan lubang praozon. Pada bulan Oktober 1991, permukaan terendah atmosfer ozon yang pernah dicatat telah terjadi di seluruh Antartika. 3.1.2 Regulasi 1975, dikhawatirkan aktivitas manusia akan mengancam lapisan ozon. Oleh itu atas permintaan “United Nations Environment Programme” (UNEP), WMO memulai Penyelidikan Ozon Global dan Proyek Pemantauan untuk mengkoordinasi pemantauan dan penyelidikan ozon dalam jangka panjang. Semua data dari tapak pemantauan di seluruh dunia diantarkan ke Pusat Data Ozon Dunia di Toronto, Kanada, yang tersedia kepada masyarakat ilmiah internasional.

24

1977, pertemuan pakar UNEP mengambil tindakan Rencana Dunia terhadap lapisan ozon; 1987, ditandatangani Protokol Montreal, suatu perjanjian untuk perlindungan terhadap lapisan ozon. Protokol ini kemudian diratifikasi oleh 36 negara termasuk Amerika Serikat. 1990 Pelarangan total terhadap penggunaan CFC sejak diusulkan oleh Komunitas Eropa (sekarang Uni Eropa) pada tahun 1989, yang juga disetujui oleh Presiden AS George Bush. 1991 Untuk memonitor berkurangnya ozon secara global, National Aeronautics and Space Administration (NASA) meluncurkan Satelit Peneliti Atmosfer. Satelit dengan berat 7 ton ini mengorbit pada ketinggian 600 km (372 mil) untuk mengukur variasi ozon pada berbagai ketinggian dan menyediakan gambaran jelas pertama tentang kimiawi atmosfer di atas. 1995, lebih dari 100 negara setuju untuk secara bertahap menghentikan produksi pestisida metil bromida di negara-negara maju. Bahan ini diperkirakan dapat menyebabkan pengurangan lapisan ozon hingga 15 persen pada tahun 2000. 1995 CFC tidak diproduksi lagi di negara maju pada akhir tahun dan dihentikan secara bertahap di negara berkembang hingga tahun 2010. Hidrofluorokarbon atau HCFC, yang lebih sedikit menyebabkan kerusakan lapisan ozon bila dibandingkan CFC, digunakan sementara sebagai pengganti CFC
• •

hingga 2020 pada negara maju dan hingga 2016 di negara berkembang.

25

3.2

Upaya Penyelamatan Lapisan Ozon Upaya yang dapat kita lakukan untuk masalah menipisnya lapisan ozon ini adalah dengan cara :

Cobalah untuk menggunakan produk yang diberi label "Ozone-Friendly" Pastikan teknisi perbaikan lemari es atau AC pulih dan daur ulang CFC tua sehingga mereka tidak dilepas keatmosfer. Unit AC Kendaraan harus diperiksa secara teratur untuk kebocoran. Ganti alat pemadam kebakaran halon dengan alternatif (misalnya karbon dioksida atau busa).

3.2.1

Upaya Indonesia dalam Penyelamatan Lapisan Ozon Indonesia telah menjadi negara yang turut menandatangani

Konvensi Vienna maupun Protokol Montreal sejak ditetapkannya Keputusan Presiden No 23 Tahun 1992. Berdasarkan Keputusan Presiden itu, Indonesia juga punya kewajiban untuk melaksanakan program perlindungan lapisan ozon (BPO) secara bertahap. Secara nasional Indonesia telah menetapkan komitmen untuk menghapus penggunaan BPO (Bahan Perusak Lapisan Ozon) pada akhir tahun 2007, termasuk menghapus penggunaan freon dalam alat pendingin pada tahun 2007. Untuk mencapai target penghapusan CFC pada tahun 2007, Indonesia telah menyelenggarakan beberapa program. Dana untuk program penghapusan CFC diperoleh dalam bentuk hibah dari Dana Multilateral Montreal Protocol (MLF), di mana UNDP menjadi salah satu lembaga pelaksana. Dengan dukungan dari UNDP, Indonesia telah melaksanakan 29 proyek investasi tersendiri di sektor busa dan 14 proyek investasi tersendiri di sektor pendinginan.
26

Pekerjaan di kedua sektor ini telah membantu mengurangi produksi CFC Indonesia sebanyak 498 ton metrik dan 117 ton metrik di masing-masing sektor. Memang timbulnya penipisan lapisan ozon ini dipicu dari tingginya pemakaian CFC oleh negara-negara maju beberapa dekade yang lalu, namun guna menormalkan kembali kondisi ozon ini diperlukan kerja sama yang baik dari semua pihak. Baik negara maju maupun negara berkembang yang saat ini masih menginginkan penggunaan zat kimia buatan manusia tersebut dalam industrinya perlu melakukan tindakan yang diperlukan. Tindakan yang dapat kita lakukan saat ini demi memelihara lapisan ozon, misalnya mulai mengurangi atau tidak menggunakan lagi produk-produk rumah tangga yang mengandung zat-zat yang dapat merusak lapisan pelindung bumi dari sinar UV ini. Untuk itu, diperlukan upaya meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam program perlindungan lapisan ozon, pemahaman mengenai penanggulangan penipisan lapisan ozon, memperkenalkan bahan, proses, produk, dan teknologi yang tidak merusak lapisan ozon. Bila tidak, maka proses penipisan ozon akan semakin meningkat dan mungkin saja akan menyebabkan lapisan ini tidak dapat dikembalikan lagi kebentuk aslinya.

BAB IV PENUTUP

27

A. Kesimpulan Dari hasil uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Teknologi berperan penting dalam kehidupan manusia dan manusia

tidak dapat terlepas dari teknologi. Maka apabila teknologi tersebut apabila dimanfaatkan dengan baik akan memberikan kesejahteraan khususnya bagi kehidupan manusia dan alam sekitarnya. Manusia sering tidak sadar akan apa yang dilingkungannya sendiri, sehingga menyebabkan terjadinya dampak yang negatif. Tetapi dari pengalaman hiduplah manusia dapat belajar untuk memperbaiki kehidupan yang akan dijalani nantinya dengan pemanfaatan teknologi, serta pelestarian lingkungan hidupnya.
2. Ozon sangat berperan penting terutama bagi kelangsungan hidup

manusia dan lingkungannya. Untuk itu dengan semakin menipisnya lapisan ozon belakangan ini kita sebagai manusia herus dapat memanfaatkan teknologi yang ada sebagai upaya penyelamatan lapisan ozon agar lapisan ozon tidak menghilang serta kelangsungan kehidupan dibum tetap terjaga.

B. Saran 1. Gunakanlah teknologi secara bijak demi kesejahteraan manusia dan lingkungan. 2. Jangan menggunakan produk-produk yang dapat merusak lapisan ozon.

DAFTAR PUSTAKA
28

A. Bacaan Harmoko. 1992. Globalisasi dan Kemajuan Teknologi Informasi. Jakarta : Percetakan Negara RI. Jasin, Maskoeri. 2009. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta : PT RAJAGRAFINDO PERSADA. Mas’ud Ibnu, Joko Paryono. 1998. Ilmu Alamiah Dasar. Bandung : CV PUSTAKA SETIA. Purnama Hari Ir. 2003. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta : PT RINEKA CIPTA.

B. Internet www.google.com www.google.co.id www.wikipedia.org www.blogspot.com

29

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->