(Persero) CABANG I MALANG

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG

Pemanfaatan sumber daya air untuk berbagai keperluan disatu pihak terus meningkat dari tahun ketahun, sebagai dampak pertumbuhan penduduk dan pengembangan aktivitasnya. Padahal dilain pihak ketersediaan sumber daya air semakin terbatas bahkan cenderung semakin langka, terutama akibat penurunan kualitas lingkungan dan penurunan kualitas akibat pencemaran. Apabila hal seperti ini tidak diantisipasi, maka dapat dikhawatirkan dapat menimbulkan kepentingan ketegangan manakala dan bahkan konflik akibat tidak terjadinya seimbang benturan dengan permintaan (demand) lagi

ketersediaan sumber daya air untuk pemenuhannnya (supply). Oleh karena itu perlu upaya secara proporsional dan seimbang antara pengembangan, pelestarian dan pemanfaatan sumber daya air baik dilihat dari aspek teknis maupun aspek legal. Untuk memenuhi kebutuhan air yang terus meningkat diberbagai keperluan, diperlukan suatu perencanaan yang terpadu yang berbasis wilayah sungai guna menentukan langkah dan tindakan yang harus dilakukan agar dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan mengoptimalkan potensi pengembangan SDA, melindungi, melestarikan serta meningkatkan SDA dan lahan. Mengingat pengelolaan sumber daya air merupakan masalah yang kompleks dan melibatkan semua pihak baik sebagai pengguna, pemanfaat maupun pengelola, tidak dapat dihindari perlunya upaya bersama untuk mempergunakan pendekatan one river basin, one plan and one integrated management. Keterpaduan dalam perencanaan, kebersamaan dan pelaksanaan dan kepedulian dalam pengendalian sudah waktunya untuk diwujudkan. Perencanaan pengelolaan SDA WS adalah merupakan suatu pendekatan holistik, yang merangkum aspek kuantitas dan kualitas air. Perencanaan tersebut merumuskan dokumen inventarisasi sumber daya air wilayah sungai, identifikasi ketersediaan saat

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-1

(Persero) CABANG I MALANG

ini dan masa mendatang, pengguna air dan estimasi kebutuhan mereka baik pada saat ini maupun dimasa mendatang, serta analisis upaya alternatif agar lebih baik dalam penggunaan sumber daya air. Termasuk didalamnya evaluasi dampak dari upaya alternatif terhadap kualitas air, dan rekomendasi upaya yang akan menjadi dasar dan pedoman dalam pengelolaan wilayah sungai dimasa mendatang. Sejalan dengan itu, Undang-Undang Tentang Sumber Daya Air UU Nomor 7 Tahun 2004 dimaksudkan untuk memfasilitasi strategi pengelolaan sumber daya air untuk wilayah sungai diseluruh tanah air untuk memenuhi kebutuhan, baik jangka menengah maupun jangka panjang berkelanjutan. Pada pasal 1 ayat 8 UU Nomor 7 Tahun 2004 menyebutkan bahwa “pola pengelolaan sumber daya air adalah kerangka dasar datam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air”. Pada pasal 11 ayat 1 sampai dengan ayat 4 UU Nomor 7 Tahun 2004 menyebutkan bahwa : "untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan sumber daya air yang dapat memberikan manfaat yang sebesar¬besarnya bagi kepentingan masyarakat dalam segala bidang kehidupan disusun pola pengelolaan sumber daya air. Pola pengelolaan sumber daya air disusun berdasarkan wilayah sungai dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air bawah ". Undang-undang tersebut (dan peraturan pemerintah yang terkait) mencerminkan arah pemikiran yang berkembang saat ini berkaitan dengan penataan ulang tanggung jawab dalam sektor sumber daya air. Undang-undang tersebut mengungkapkan sejumlah aspek dimana pengelolaan sumber daya air diwilayah sungai dapat ditingkatkan lebih lanjut, antara lain dengan dimuatnya pasal-pasal tentang perencanaan pengelolaan sumber daya air. Dengan UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air tersebut diatas, jelas bahwa tahapan pengelolaan SDA wilayah sungai adalah sebagai berikut : 1. Sebelum dilakukannya penyusunan rencana Induk (Master Plan) pengelolaan SDA wilayah sungai, terlebih dahulu perlu dikakukan penyusunan pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai yang berisi tentang : Tujuan umum pengelolaan SDA

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-2

(Persero) CABANG I MALANG

Dasar-dasar pengelolaan SDA Prioritas dan strategi dalam mencapai tujuan Konsepsi kebijakan-kebijakan dasar pengelolaan SDA dan Rencana pengelolaan strategis. 2. Sebagai tindak lanjut dari penyusunan pola pengelolaan SDA WS tersebut, setelah disyahkan oleh yang berwewenang, selanjutnya akan disusun Rencana Induk (Master Plan) pengelolaan SDA yang merupakan perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang diperlukan untuk menyelenggarakan pengelolaan SDA, dimana perencanaan tersebut disusun dengan berpedoman kepada pengelolaan SDA untuk wilayah sungai terkait. 3. Kegiatan selanjutnya secara berurutan setelah penyusunan Rencana Induk pengelolaan SDA WS adalah : Studi Kelayakan (FS) Program Pengelolaan Rencana Kegiatan Rencana Rinci Pelaksanaan/ konstruksi dan OP Pernyataan pasal-pasal kedua Undang-Undang di atas mengingatkan kepada pengelola sumberdaya air tentang pentingnya peran air bagi kehidupan manusia dan lingkungannya. Hal tersebut jelas terlihat dalam permasalahan krisis air di sebagian besar wilayah Indonesia. Untuk hat tersebut diatas, pada tahun anggaran 2008, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air bermaksud akan melakukan garis arahan pengembangan melalui Pola Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Wilayah Sungai, diantaranya adalah Wilayah Sungai Barito-Kapuas guna mewujudkan pemanfaatan dan pendayagunaan sumber air di wilayah sungai tersebut serasa serasi dan optimal, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daya dukung lingkungan serta sesuai dengan kebijaksanaan pembangunan nasional dan daerah yang berkelanjutan. 1.2. MAKSUD DAN TUJUAN

Sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK/TOR), maksud dan tujuan pekerjaan “Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito-Kapuas”, ini adalah sebagai berikut: Maksud Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-3

(Persero) CABANG I MALANG

Maksud dari pekerjaan ini adalah merumuskan Rancangan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Barito-Kapuas, untuk kemudian dapat dijadikan acuan dalam Penyusunan Rencana Induk (Master Plan) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Tersebut. Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Maksud dari pekerjaan ini adalah menyusun Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas untuk dijadikan acuan dalam penyusunan Rencana Induk (Master Plan) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Tersebut. Rencana Induk Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Maksud dari pekerjaan ini adalah menyusun Rencana Induk pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas untuk dijadikan acuan dalam pelaksanaan studi kelayakan untuk WS tersebut, yang pada akhirnya dapat diketahui kegiatankegiatan yang perlu dilakukan. Tujuan Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Tujuan dari Penyusunan Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai adalah untuk memberikan arahan dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air guna mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air (ps.3). Arahan tersebut meliputi arahan konservasi dan pendayagunaan sumber daya air, serta pendayagunaan sumber daya air, serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah sumber daya air dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan di tingkat Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota (ps.4). Kebijakan ini dirumuskan oleh wadah koordinasi SDA (Nasional, Provinsi atau Kabupaten/Kota sesuai tingkatannya). Didalam implementasinya, kebijakan pengelolaan SDA WS tersebut nantinya harus “dilegalisir” oleh Presiden, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai tingkatannya karena perencanaan ini kelak diharapkan akan menjadi acuan semua pihak dan dapat menjadi bingkai/kerangka kerjasama antar daerah dan atau instansi/pihak di dalam penatagunaan sumber daya air khususnya dalam penyusunan Pola Pengelolaan SDA WS. Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Tujuan dari Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (PSDAWS), adalah untuk merumuskan pola pengelolaan suatu wilayah sungai

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-4

(Persero) CABANG I MALANG

termasuk menyusun dokumentasi SDA WS (air permukaan dan air tanah), memperkirakan kebutuhan air baik untuk saat ini maupun dimasa mendatang dan mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang dapat menghasilkan suatu pedoman untuk penyusunan Rencana Induk Pengelolaan SDA WS dengan melibatkan peran serta masyarakat dan dunia usaha. Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai berisi program komprehensif pengembangan sumber daya air untuk jangka pendek dan jangka-jangka panjang. Didalam implementasinya, Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai tersebut nantinya harus “dilegalisir” oleh pemerintah setempat, karena perencanaan ini kelak diharapkan akan menjadi acuan semua pihak dan dapat menjadi bingkai/kerangka kerjasama antar daerah didalam penatagunaan sumber daya air termasuk di dalam perencanaan, pemanfaatan, pengusahaan, pengendalian dan pelestarian sumber daya air secara terencana, terarah, terpadu dan berkesinambungan sesuai dengan kebijaksanaan pembangunan nasional dan daerah yang berkelanjutan. Rencana Induk Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Tujuan dari Penyusunan Rencana Induk Pengelolaan SDA WS sebagai salah satu kegiatan dari Rencana Pengelolaan SDA WS, adalah untuk merumuskan perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang diperlukan untuk menyelenggarakan pengelolaan SDA WS (sebagai tindak lanjut dari kegiatan penyusunan pola pengelolaan SDA WS) dengan melibatkan peran serta masyarakat. Rencana induk ini merupakan rencana jangka panjang yang memuat pokok-pokok rencana program konservasi dan pendayagunaan SDA serta pengendalian daya rusak air di WS secara terpadu dan terarah. Rencana ini juga mencakup upaya struktural (desain dasar) dan upaya non-struktural.

1.3.

LINGKUP PEKERJAAN

Secara garis besar lingkup pekerjaan “Rencana Pola Wilayah Sungai BaritoKapuas”, ini adalah sebagai berikut : Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai 1. Mengadakaan koordinasi dengan Wadah koordinasi SDA Nasional, Provinsi atau Kabupaten/Kota sesuai tingkatannya.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-5

(Persero) CABANG I MALANG

2.

Merumuskan arahan dalam penyusunan pola pengelolaan SDA WS, yang mencakup arahan konservasi dan pendayagunaan SDA WS serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah SDA dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan.

3.

Membantu proyek dalam proses legalisasi kebijakan pengelolaan SDA WS.

Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Pola pengelolaan SDA wilayah sungai berorientasi pada keluasan wilayah yang menuntut perencanaan maupun pengelolaan berdasarkan batas-batas hidrologis. Dari awal inilah pengelolaan SDA wilayah sungai memerlukan informasi yang dilakukan dengan kerjasama dan koordinasi antar Kabupaten. Melalui pertemuan Konsultansi dengan masyarakat, dua proses dilakukan sekaligus, yaitu inventarisasi masalah-masalah setempat secara arus bawah-atas (bottom-up) dan proses penyadaran masyarakat terhadap isu strategis (jangka panjang) pengembangan wilayah sungai. Untuk pelaksanaan Undang-undang 22 dan 25 secara efektif, dalam proses pengelolaan sumber daya air wilayah sungai, koordinasi antara Kabupaten dan Provinsi dan komunikasi dengan para stakeholder menjadi sangat penting. Informasi praktis tentang bagaimana pola pengelolaan wilayah sungai dan pola pengelolaan wilayah Kabupaten dapat sejalan satu sama lain merupakan hal yang sangat penting untuk menentukan kerjasama secara struktural. Untuk pekerjaan tersebut diatas, beberapa kegiatan di bawah ini perlu dilakukan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pengumpulan data awal melalui desk study/literatur, kunjungan lapangan diskusi informal. Analisa awal yang kemudian disajikan pada laporan pendahuluan (Inception Report). Mengevaluasi data dan informasi yang sudah terkumpul. Mengumpulkan data melalui literatur maupun data lapangan dan diskusidiskusi informal. Pengumpulan data yang lebih detail, penelitian Water District dan melakukan set-up DSS sebagai analisa awal kebutuhan dan ketersediaan air. Analisa awal yang menghasilkan rencana sementara untuk wilayah sungai Barito-Kapuas disajikan dalam Laporan Pertengahan. Mengakses kebutuhan pengembangan kedepan dengan berbagai skenario.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-6

(Persero) CABANG I MALANG

8.

Mengidentifikasi kendala-kendala dalam mempertemukan kebutuhan dan pasokan air, usaha-usaha yang telah dilakukan dan perbaikan yang harus dilakukan untuk masa mendatang.

9.

Mengorganisir Pertemuan Konsultasi dengan Masyarakat (PKM I) yang menekankan kepada kesepakatan bersama terhadap para pengguna air. Hal ini akan termasuk : Mengorganisir dan melaksanakan PKM I, selama 1 hari dengan peserta yang mewakili semua institusi terkait Tingkat Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi sekitar 200 orang. Koleksi data dengan wawancara kepada para pengguna selama pelaksanaan PKM I. Melakukan koleksi data melalui distribusi prosiding PKM I.

10. Melakukan proses penghalusan (fine-tuning) terhadap DSS dan semua data yang telah dikoleksi maupun analisa melalui identifikasi yang lebih dalam terhadap kendala-kendala berdasarkan temuan-temuan yang didapat dari PKM I. 11. Analisa awal terhadap kombinasi upaya-upaya strategis dan akses terhadap kendala pada strategi tersebut untuk beberapa skenario yang berbeda, sebagai hasil yang tertuang dalam Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai sementara. 12. Mengorganisir Pertemuan Konsultasi dengan Masyarakat (PKM II) yang menekankan pada beberapa strategi berdasarkan kesepakatan bersama dengan mereka yang mewakili para stakeholder. Hal ini termasuk : Mengorganisir dan melaksanakan PKM II, selama 1 hari dengan peserta yang mewakili semua institusi terkait Tingkat Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi sekitar 150 orang. Pengumpulan data melalui wawancara dengan stakeholder secara individu selama pelaksanaan PKM II Melakukan koleksi data melalui distribusi prosiding PKM II. 13. Merumuskan Draft Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai berdasarkan temuan yang diperoleh pada PKM II dan temuan lainnya. 14. Mengorganisir Rapat Koordinasi untuk Wilayah Sungai Barito-Kapuas. 15. Membantu proyek dalam proses legalisasi. Rencana Induk Pengelolaan SDA Wilayah Sungai 1. Menyiapkan rencana pengelolaan jangka panjang yang memuat pokok-pokok rencana program konservasi dan pendayagunaan SDA serta pengendalian daya

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-7

(Persero) CABANG I MALANG

rusak air di WS secara terpadu dan terarah sesuai Pola Pengelolaan SDA WS yang telah disusun. 2. Melakukan pertemuan konsultasi dengan masyarakat guna merumuskan upayaupaya untuk mengatasi permasalahan SDA. 3. Menyiapkan desain dasar (outline design) untuk upaya yang bersifat struktural. 4. Membantu proyek dalam proses legalisasi. 1.4. LOKASI KEGIATAN

SWS Barito-Kapuas (kode A2-18, sesuai Permen PU No. 11A/PRT/M/2006) terletak di perbatasan dengan Provinsi Kalimantan Selatan dan Sungai Kahayan. SWS BaritoKapuas (A2-18) memiliki 2 (dua) sungai besar yaitu Sungai Barito dan Sungai Kapuas. Daerah Aliran Sungai Barito yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah memiliki luas daerah tangkapan sebesar 46.997 Km2 sedangkan Sungai Kapuas sebesar 16.044 Km2. Luas total SWS Barito-Kapuas yang terdiri dari DAS Barito dan DAS Kapuas, adalah 79.000 km2. SWS Barito-Kapuas (04.02) dari hulu ke hilir yang mengalir di Provinsi Kalimantan Tengah melewati kabupaten berikut : Tabel 1.1 Kabupaten WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah No. 1. 2. 3. 4. 5. Kabupaten Kab. Kapuas Kab. Murung Raya Kab. Barito Utara Kab. Barito Selatan Kab. Barito Timur DAS DAS Kapuas DAS Barito DAS Barito DAS Barito DAS Barito

Sedangkan kabupaten-kabupaten yang masuk dalam WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan adalah Tabel 1.2 Kabupaten dilalui WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalsel No. 1 Kabupaten Kab. Barito Kuala DAS DAS Barito

Pembagian WS di Kalimantan serta peta WS Barito-Kapuas dapat dilihat pada gambar 1.1 dan 1.2.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-8

(Persero) CABANG I MALANG

1.5.

LAPORAN

Laporan ini secara garis besar menyajikan latar belakang, gambaran umum wilayah studi, Pendekatan dan Metodologi Pelaksanaan, Pengolahan & Analisis Data, Tinjauan Kebijakan Pengelolaan SDA Nasional dan Penyusunan Pola Pengelolaan SDA WS serta Kesimpulan dan Rekomendasi. Laporan ini terdiri dari : Komposisi Laporan Interim sebagai berikut : Volume 1 Volume 2 Volume 3 - Volume 3.1 - Volume 3.2 Volume 4 - Volume 4.1 - Volume 4.2 Volume 5 - Volume 5.1 - Volume 5.2 - Volume 5.3 1.6. : Executive Summary : Main Report : : Rancangan Dokumen Pola Pengelolaan SDA WS Barito : Rancangan Dokumen Pola Pengelolaan SDA WS Kapuas : : Laporan PKM I : Laporan PKM II : Supporting Report : Laporan Hidrologi : Laporan DSS-RIBASIM : Laporan Kajian Khusus

JADWAL PELAKSANAAN

Pelaksanaan Rancangan Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas adalah sejak tanggal 16 Agustus 2008 sampai dengan 13 Desember 2008 atau selama 120 (seratus dua puluh) hari kalender. Adapun jadwal pelaksanaan kegiatan Rancangan Pola Pengelolaan WS Barito-Kapuas dapat dilihat pada tabel 1.3 berikut :

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-9

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 1.3 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS I .10 .

(Persero) CABANG I MALANG Wilayah Studi Gambar 1.1 Pembagian Wilayah Sungai di Kalimantan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS I .11 .

LETAK GEOGRAFIS : 0 95' LU s/d 3 35' LS 113o 15' BT s/d 115o 45' BT LUAS DAS : DAS BARITO.2 Peta WS Barito-Kapuas .634 KM2 16.044 KM2 81.675 KM2 LEBAR (m) PANJ (Km) DILAYARI (Km) 780 420 H (m) 8 6 KETERANGAN : BANJARMASIN Batas Propinsi Batas Kabupaten Area DAS Barito Area DAS Kapuas Sungai Jalan I . s ua ap PROPINSI KALIMANTAN SELATAN 46.12 Gambar 1. KALSEL DAS KAPUAS SWS BARITO LUAS DAS : DAS BARITO. KALSEL DAS KAPUAS SWS BARITO 500 650 900 600 o o PALANGKARAYA S. B arit RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS o Laporan Akhir PETA SWS BARITO-KAPUAS (Persero) CABANG I MALANG PROPINSI KALIMANTAN TIMUR PROPINSI KALIMANTAN TENGAH K S.997 KM2 18. KALTENG DAS BARITO. KALTENG DAS BARITO.

Adapun batas wilayah hidrologi DAS Barito adalah sebagai berikut : Sebelah barat berbatasan dengan DAS Kapuas Sebelah timur berbatasan dengan DAS Sampanahan. Barito Timur DAS DAS Barito DAS Barito DAS Barito DAS Barito Sedangkan kabupaten-kabupaten yang dilalui aliran sungai di Provinsi Kalimantan Selatan adalah Tabel 2.363.(Persero) CABANG I MALANG BAB 2 GAMBARAN UMUM WS BARITO-KAPUAS 2. Barito Utara Kab.1.1 DAS Barito Secara geografis Daerah Aliran Sungai Barito yang terdapat di Provinsi Kalimantan selatan terletak antara 114o20’ sampai dengan 115o52’ BT dan 1o24’ sampai dengan 3o44’ LU dengan luas keseluruhan adalah 1. 1 2 3 4 Kabupaten Kab. DAS Barito meliputi beberapa kabupaten. Kabupaten 1 Kab. Kabupaten-kabupaten yang termasuk dalam DAS Barito adalah sebagai berikut: Tabel 2.1 Kabupaten DAS Barito di Provinsi Kalimantan Tengah No.1 LETAK GEOGRAFIS DAN BATAS ADMINISTRASI 2. DAS Batulicin dan DAS Tabunino Sebelah utara berbatasan dengan DAS Barito Bagian Hulu Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa Secara administrasi Pemerintahan.30 ha.863.2 Kabupaten dilalui DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No. Murung Raya Kab. Barito Kuala DAS DAS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -1 . Barito Selatan Kab.

Kabupaten Barito Selatan Adapun batas wilayah hidrologi DAS Kapuas adalah sebagai berikut: Sebelah timur berbatasan dengan DAS Barito Sebelah Barat berbatasan dengan DAS Kahayan Sebelah utara berbatasan dengan DAS Barito Bagian Hulu Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -2 . Secara geografis Daerah Aliran Sungai Kapuas terletak antara 114o24’48” sampai dengan 114o53’39” BT dan 2o15’00” sampai dengan 2o47’53” LS. Kabupaten Kapuas 2. Sejumlah Kabupaten yang termasuk dalam DAS Kapuas dari hulu ke hilir adalah : 1.1. dengan ibukota Kabupaten Kota Kuala Kapuas.2 DAS Kapuas Daerah Aliran Sungai Kapuas yang berada di Kabupaten Dati II Kapuas.(Persero) CABANG I MALANG 2.044 Km2. Provinsi Kalimantan Tengah memiliki luas daerah tangkapan sebesar 16. Kabupaten Barito Utara 3.

MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN Barimba Barimba Barimba Barimba Barimba Barimba Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Bungur Bungur Bungur Bungur Bungur Bungur Tambarangan ambarangan TTambarangan ambarangan TTambarangan Tambarangan KABUPATEN BARITO KUALA KABUPATEN BANJAR Binuang Binuang Binuang Binuang Binuang Binuang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam ! BANJARMASIN Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Gambul Gambul Gambul Gambul Gambul Gambul Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat MARTAPURA MARTAPURA .AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Ilung Ilung Ilung Ilung Ilung Ilung Mantangai Mantangai Mantangai Mantangai Mantangai Mantangai . BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU Cempaka Cempaka Cempaka Cempaka Cempaka Cempaka Aranio Aranio Aranio Aranio Aranio Aranio Kurau Kurau Kurau Kurau Kurau Kurau Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Gambar 2.(Persero) CABANG I MALANG KABUPATEN MURUNG RAYA Tumbang Kunyi umbang Kunyi TTumbangKunyi Tumbang Kunyi umbang Kunyi TTumbangKunyi umbang Kunyi TTumbangKunyi Tumbang Kunyi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi .1 Peta Batas Administrasi WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -3 . . Upau Upau Upau Upau Upau Upau TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG .KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN Kelumpang Kelumpang Kelumpang Kelumpang Kelumpang Sungai Raya Kelumpang SungaiRaya Sungai Raya Sungai Raya Sungai Raya Sungai Raya Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa Loksado Loksado Loksado Loksado Loksado Loksado . TANJUNG TANJUNG TANJUNG TANJUNG TANJUNG TANJUNG ! Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip TTanta Tanta anta TTanta Tanta anta Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Juai Juai Juai Juai Juai Juai Paringin Paringin Paringin Paringin Lampihong Paringin Lampihong Paringin Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Batumandi Batumandi Batumandi Batumandi Batumandi Batumandi Halong Halong Halong Halong Halong Halong Halong Halong Halong TTaniran Taniran aniran TTaniran Taniran aniran Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Sungai TTurak Sungai Turak Sungai urak Sungai TTurak Sungai Turak Sungai urak Sungai TTurak Sungai Turak Sungai urak Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun . PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU T umbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung T umbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung T umbang Lahung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei MUARA TEWEH MUARA TEWEH . BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI Pagat Pagat Pagat Pagat Pagat Pagat Pasungkan Pasungkan Pasungkan Pasungkan Pasungkan Pasungkan KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU Mandomai Mandomai Mandomai Mandomai Mandomai Mandomai Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Basarang Basarang Basarang Basarang Basarang Basarang Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Rantau Rantau Rantau Rantau Rantau Rantau Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan TTelagaLangsat Telaga Langsat elaga Langsat TTelagaLangsat Telaga Langsat elaga Langsat TTelagaLangsat Telaga Langsat elaga Langsat KABUPATEN TAPIN . . MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Benangin Benangin Benangin Benangin Benangin Benangin Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong KABUPATEN BARITO UTARA T umpung Laung T umpung Laung Tumpung Laung T umpung Laung T umpung Laung Tumpung Laung T umpung Laung Tumpung Laung T umpung Laung Ketapang Ketapang Ketapang Ketapang Ketapang Ketapang Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon KABUPATEN BARITO SELATAN Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang TabakKanilan TT abakKanilan abak Kanilan TT abakKanilan TabakKanilan abak Kanilan KABUPATEN KAPUAS Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah . MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA . BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK T impah T impah Timpah T impah Timpah T impah Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah KABUPATEN TABALONG KABUPATEN BARITO TIMUR Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Harui Harui Harui Harui Harui Harui Jaro Jaro Jaro Jaro Jaro Jaro Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya . .

Kemiringan lahan dari utara ke selatan sekitar 0. berupa rumput (50. Di sebelah selatan DAS merupakan daerah pantai pesisir Laut Jawa dengan panjang 189.29% Tanah di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan sebagian besar berupa hutan dengan rincian Hutan Lebat (780. DAS Kapuas bagian hilir umumnya berupa lahan dengan bentuk topografi yang relatif datar. Hutan belukar (377.314 ha .545 Ha (31. dipengaruhi oleh pasang surut.40% : 713.0 m.25o.150 m. sehingga merupakan daerah yang berpotensi banjir akibat pasang air laut. dan hutan rawa (90.2% : 1.840 Ha) Tanah berupa semak/alang-alang seluas 870.195 Ha (6.15o dan pegunungan/pebukitan dengan kemiringan 15o .05%) > 2 . Bagian utara DAS Kapuas merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian antara 100 – 500 meter dari permukaan laut dan mempunyai tingkat kemiringan 8o .08 permil.014). dengan elevasi sekitar + 4.060 Ha).192.03 permil (arah timur barat).15% : 1. dan untuk lain lain (83.682 Ha (19. Bagian tengah merupakan dataran plateau dan pebukitan dengan kemiringan 8o – 25o dan ketinggian 50 – 1.02 – 0.2 KONDISI TOPOGRAFI Kemiringan tanah dengan 4 kelas klasifikasi menunjukkan bahwa sebesar 43. Bagian selatan merupakan daerah pantai dan rawa-rawa dengan ketinggian antara 0 – 5 meter dari permukaan laut yang mempunyai elevasi 0% .8%.05% wilayah Provinsi Kalimantan Selatan mempunyai kemiringan tanah 0-2 %.05 – 0.615. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -4 . 16%) Adapun luas wilayah Kalimantan Selatan menurut kelas ketinggian yang dibagi menjadi 6 kelas ketinggian menunjukkan wilayah Kalimantan Selatan sebagian besar berada pada kelas ketinggian 25-100 m di atas permukaan laut yakni 31.87%) > 15 .319 Ha).(Persero) CABANG I MALANG 2.0 m sampai dengan +7.119). sedang kemiringan lahan antar dua sungai sekitar 0.02%) > 40% : 231. Rincian luas menurut kemiringan adalah sebagai berikut: • • • • 0 .847 Km.774 ha).630 Ha (43. Hutan Sejenis (352.

0 sampai +7. Pieters dkk.3. fenokris plagioklas berzoning komplex (An40 – 70). Mentangai – S. dengan ketebalan lebih dari 6 m.00 m sampai +14. terbreksikan atau berstruktur aliran. Holosen Alluvium (Qa) : Terdiri agregasi lepas pasir.3 KONDISI GEOLOGI DAN GEOHIDROLOGI 2. diantaranya : Peta Geologi Lembar Long Pahangai – 1716. skoria atau amigdaloid (zeolit dan klorit). kerikil dan kerakal dari berbagai macam batuan. lidah dome gambut itu menjulur dari utara ke selatan. publikasi P3G tahun 1993 Peta Geologi Lembar Muarateweh – 1715.1993 Publikasi P3GI 1. tersebar luas sebagai endapan gosong dan limpahan sungai. Kapuas – S. publikasi P3G tahun 1986 Adapun deskripsi secara litostratigrafi dari formasi-formasi kronostratigrafis yang ada adalah sebagai berikut. P. terletak secara tidak selaras di atas satuan yang lebih tua. Bagian tengah DAS Kapuas mempunyai elevasi berkisar antara +4. rapat. Bagian tengah antar dua sungai umumnya lebih tinggi karena terdapat kubah gambut. publikasi P3G tahun 1981 Peta Geologi Lembar Banjarmasin – 1712. Mentangai. Mengkatip dan diantara S. 2.0 m. hornblenda (kebanyakan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -5 . mikrokristalin atau kacaan.2 a. Bagian tengah antar dua sungai mempunyai elevasi sekitar 1.00 m.E. publikasi P3G tahun 1992 Peta Geologi Lembar Buntok – 1714. S. Mengkatip – S.(Persero) CABANG I MALANG Bagian hulu mempunyai bentuk lebih undulating. Peta Geologi Lembar Long Pahangai. Terdapat kemiringan umum dari utara ke selatan. pejal.Plistosen Batuan Gunungapi Metulang (TmQm) Terdiri dari Lava : kelabu tua sampai kelabu kehijauan. diantara S.5 sampai 2 m lebih tinggi daripada bagian tepi sungai. dengan kisaran elevasi dari + 6. berongga. dan secara grafis peta Geologi WS BaritoKapuas dapat dilihat pada Gambar 2. 2. Miosen Akhir .1 Kondisi Geologi Beberapa referensi geologi regional yang akan mendasari pembahasan geologi di WS Barito-Kapuas. Barito. porfiritik.

piroksin (augit. kebanyakan endapan “air fall”. diameter pecahan sampai 10 cm. dolerit yang tersusun oleh plagioklas berzona. piroksin dan setempat biotit. Aglomerat mengandung berbagai pecahan menyudut sampai menyudut tanggung dalam masa dasar terdiri dari tufa kasar. ubahan ke klorit. diorit. Piroklastika : tufa dan aglomerat. masa dasar mikrolit plagioklas dan butir hornblenda. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -6 . Tufa kelabu sampai kelabu muda dan kebanyakan litik dan sedikit kristal. Sub-gunungapi : basal dan andesit porfiritik. sedikit hipersten) dan terkadang olivin dan biotit. Batuan epiklastika : kebanyakan breksi lahar. oksida besi (kebanyakan magnetit) dan interstisial kriptokristal dan atau bahan kaca. serisit.(Persero) CABANG I MALANG coklat tua). epidot dan silika. hornblenda. kemas terbuka-tertutup. halus-kasar. piroksin. pirit sekunder.

setempat batubara. sumbat. sedikit batupasir dan batuan volkaniklastika. granodiorit. - Batuan Terobosan Sintang (Toms) Andesit porfir.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2. Miosen - Peta Geologi Wilayah Sungai Barito-Kapuas Formasi Kelinjau (Tmk) Batulumpur. mikrodiorit. korok. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -7 .2 3. retas dan sil. tidak selaras diatas Formasi Ujoh Bilang. diorit.

Batupasir : kelabu muda. setempat lapisan tipis lignit atau batubara. berlapis sampai pejal. Eosen Akhir Formasi Batu Ayau (Tea) Kebanyakan batupasir. terpilah baik. setempat tufaan. Batulumpur dan batulanau : kelabu tua sampai hitam. umumnya berlapis baik. Anggota Batupasir Lenmuring Formasi Ujoh Bilang (Tol) Batupasir kuarsa. perlapisan silang-siur. bioturbasi. putih sampai coklat muda. gampingan. merupakan lensa dalam Formasi Ujoh Bilang. terpilah baik. kebanyakan berbutir sedang. Mendatar sama dengan karbonat Formasi Berai bagian bawah. sedikit batupasir. masa dasar lumpur karbonat.(Persero) CABANG I MALANG 4. kebanyakan klastika pecahan fosil. didukung butiran. dari sangat tipis sampai sangat tebal. menyudut-menyudut tanggung. struktur cetakan. umumnya dengan batupasir halus. kalsilutit. batulanau. setempat perairan bergulung (konvolut). umumnya menyerpih. klastika. perairan sejajar. karbonan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -8 . lignitan atau perairan berbatubara. sedikit batupasir. kelabu sampai kelabu kecoklatan. Oligosen Awal Formasi Ujoh Bilang (Tou) Batulumpur. jarang batugamping. Anggota Batugamping Batu Belah Formasi Ujoh Bilang (Tob) Kalsirudit fosilan. batulumpur. berbutir halus. urat dan urat halus kalsit. arenit litik dan arenit felspatik. berbutir halus sampai sedang. arenit kuarsa. kebanyakan berlapis baik. Formasi Batu Kelau (Tek) Serpih. kaya kuarsa sampai litik. kalkarenit. merupakan lensa dalam Formasi Ujoh Bilang. 5. batulanau : kelabu tua. sedikit batulumpur dan batulanau. konkresi oksida besi. kebanyakan berbutir halus. berlapis buruk. bergelombang dan flaser. terpilah baik. Biasanya gampingan dan karbonan. Batupasir : kelabu muda sampai coklat. pejal sampai berlapis buruk. Serpih. perairan atau perlapisan sejajar. Batugamping : coklat muda sampai agak coklat. sebagian gampingan dan karbonan. Batulumpur : coklat sedang sampai gelap. batulumpur. Batupasir : kelabu muda sampai coklat muda. mikaan.

sferulitik. Batupasir Haloq (Teh) Batupasir. perlapisan silangsiur sekala sedang sampai besar. perairan karbonan. pejal. berangkal dan bongkah sampai 20 m dalam masa dasar lempung (kaolin) yang sebagian berkarat besi dan pecahan silikaan. masa dasar lumpur karbonat atau kalsit berkristal halus. membulat tanggung-membulat. terpilah sedang sampai buruk. berlapis cukup tebal sampi tebal.5 sampai 2 cm) sampai sedikit berangkal pecahan kuarsa. kerakal. menjemari dengan Formasi Batu Kelau dan Formasi Haloq. kerakal (kebanyakan 0. tufa felsik. Konglomerat : kelabu muda. rijang. afanitik-porfir. perlapisan silangsiur. litik dan batuan gunungapi felsik. albit dan biotit dan pecahan batuapung. kaca. padat dan keras. terpilah sedang sampai baik. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -9 . terpecahkan. Eosen Tengah Batuan Gunungapi Nyaan (Ten) Batuan tufa. hipohialin. breksi lava. sedikit konglomerat (sebagian di dasar) dan batulumpur. sedikit felspar dan litik. silikaan. sedikit batugamping dan batubara. Tufa : kelabu muda. Batupasir Haloq dan Formasi Batu Kelau (Teh + Tek) Litologi batupasir Haloq dan formasi Batu Kelau tak terpisahkan. kebanyakan klastika pecahan fosil. sedikit bergulung.(Persero) CABANG I MALANG terpilah baik. K-felspar. mengandung beragam jumlah kuarasa. klastika. perairan bahan karbonan dan oksida besi. aglomerat. perairan sejajar. dipisahkan dari Komplek Busang oleh sesar detachment 6. lava dan batuan epiklastika halus. kristal-litik dan tufa lapili dan breksi tufa. setempat pecahan perlapisan vitroklastika. urat kuarsa setebal 1-2 cm. Aglomerat : kelabu muda. tidak selaras di atas Kelompok Selangkai dan Kelompok Embaluh. tufa terlaskan. arenit kuarsa. menyudut tanggung sampai membulat. Batupasir : kelabu muda. lava. didukung klastika. berbutir halus-sedang. Selaras dibawah Formasi Batu Ayau. pecahan membulat tanggung. kalkarenit sampai kalsilutit. susunan dasit sampai riolit. klastika pecahan kuarsa. setempat coklat lapuk. Batugampiang : kelabu tua. Tufa terlaskan : kelabu muda. perlapisan silangsiur bergelembur. kristal-kaca. struktur aliran. epiklastika. berbutir halus sampai kasar. arenit kuarsa.

kalsit dan mineral lempung dalam masadasar. tikas beban. Lava : kelabu muda. batuan gunungapi menengah sampai mafik. Batupasir kerakalan : terdapat dalam lapisan tipis sampai tebal sekali yang tidak menerus. biotit. sangat halus sampai seperti pasir terutama berbutir halus sampai sedang. mineral tambahan termasuk rombakan piroksin. khlorit. setempat kehijauan. lempung. batupasir felspatik. perlapisan atau perairan silangsiur dan jejak erosi. karbonat. perairan sejajar internal (batulempung-batulanau) umum dijumpai. epidot dan zirkon. Kapur Akhir – Eosen Tengah Kelompok Embaluh (Kte) Runtunan perselingan serpih. setempat urat kuarsa dan sedikit urat kalsit. Pelit : kelabu tua sampai hitam. dolerit dan diorit). lapisan sangat tipis sampai ratusan meter tebalnya. Psamit : kelabu muda sampai tua. oksida besi. kuarsit. perlapisan berangsur tersebar luas. pirit kebanyakan autigenik dan pasca deformasi. tersusun dari pecahan kuarsa dan sedikit rijang. felspar terubah. kelabu kehijauan. perlapisan dan perairan sejajar dan setempat perlapisan dan perairan bergulung. litik. nendatan. Kapur Akhir Granit Era (Kue) Granit. kebanyakan menyudut tanggung sampai membulat tanggung.(Persero) CABANG I MALANG berubah ke epidot dan khlorit. kuarsa mikrokristalin. khlorit. serisit sekunder. serisit. batulanau dan batupasir kerakalan termalihkan derajat sangat rendah. coklat lapuk. oksaida besi. lapisan sangat tipis sampai tebal 10 m. amfibol. plagioklas terubah dan sedikit K-felspar dan batuan (termasuk pelit “penecontemporaneous” dan psamit. keadaan sentuhan dengan Kelompok Embaluh tidak diketahui. perairan. porfiritik dengan fenokris K-felspar. 8. 7. batupasir halus dan batulanau. kuarsa dan biotit. nahan karbonan. kerakal menyudut tanggung dan membulat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -10 . klastika. breksi. bahan karbonan. kuarsa. pencelahan dan belahan menyabak sejajar atau membentuk sudut kecil dengan perlapisan. batusabak dan sebagian batupasir. Batuan epiklastika : konglomerat volkanoklastika. karbonat (termasuk pecahan fosilmikro) dan oksida besi. pelit malih tersusun dari kuarsa. dapat dikorelasikan dengan Granit Era yang umurnya ditentukan dengan isotop di Putussibau. breksi intraformasi.

epidot. berlapis baik sampai sedang. khlorit. 10. sedikit komglomerat. Kapur Kelompok Selangkai (Kse) Batulumpur. berbutir sedang. kelabu. setempat menyerpih Batupasir : kelabu muda sampai kelabu kecoklatan atau kehijauan. coklat. kuarsa. mineral lempung. perlapisan silangsiur. Diorit : diorit hornblenda. alktonolit. 12. rijang. berbutir sedang. terpecahkan. Jura – Kapur Awal Komplek Mafik Danau (JKld) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -11 . hijau. granodiorit. Kapur Awal Granit Alan (Kla) Terdiri Granit. Batugamping : kelabu muda sampai tua. batugamping. terubah ke albit. batupasir. Rijang : merah atau hijau muda. Batuan argilitan : kelabu tua samapai coklat. coklat. setempat berbintil. batulempung. urat kalsit. oksida besi dan kuarsa. batulanau. rijang dan batuan gunungapi serta subgunungapi menengah sampai mafik terubah. perlapisan silangsiur. berbutir seragam Granodiorit : granodiorit biotit – hornblenda. Konglomerat : kerakal (1-3 cm) membundar tanggung sampai membundar terdiri dari kuarsa. kuarsit. sedikit batubara. Batulempung : merah. setempat kuarsit. Basal. spilit. dalam lapisan tebal 20 cm sampai pejal. berbutir sedang. 11. umumnya agak terhablur ulang. diorit dan korok Granit : granit biotit. kalkarenit fosilan sampai kalsilutit. spilit : kelabu tua sampai hijau. umumnya gampingan dan karbonan.(Persero) CABANG I MALANG tanggung. terbreksikan. tercerminkan. 9. terubah. Jura – Kapur Awal Komplek Kapuas (Jklk) Terdiri basal. perlipatan sevron. arenit kuarsa dan arenit kuarsa gampingan yang mengandung sampai 20% klastika felspar dan atau litik. felspar dan pecahan batuan. gelembur-gelombang. tetapi kebanyakan halus sampai sedang. kalkarenit fosilan sampai coklat. setempat berbintil. lapisan bergelombang tipis tebal 2 – 15 cm. tergeruskan. dalam lapisan tidak menerus tebal sampai 2 m. berbutir halus sampai kasar.

Batuan Gunungapi Bundang (Tpbv) Terdiri dari lava dan breksi bersusunan andesit-basal.(Persero) CABANG I MALANG Terdiri dari gabro. 14. terbreksikan dan terlipatkan. 1992 Publikasi P3GI 1. sedikit augit dan hipersten Sekis : kebanyakan disusun oleh mika dan kuarsa. pejal. rijang merah dan kelabu. dolerit. gabro. 2. Supriatna dan Adjat Sudradjat. 3. mengandung biotit. Granit : berbutir seragam sampai porfiroblastik dengan K-felspar putih atau merah jambu. Peta Geologi Lembar Muaratewe. gabro dan dolerit. pada sentuhan di bagian atas perdauanan. hitam kehijauan. Holosen Aluvial (Qa) Terdiri dari kerikil sampai kerakal kuarsa dalam pasir kuarsa kasar. S. sedikit batupasir dan batuan klastika gunungapi. berkemiringan landai diakibatkan oleh peggerusan dan milonitisasi. tercerminkan. batuan gunungapi terubah. b. Perem – Trias Komplek Busang (PTRb) Granit. Kuarsit : kelabu muda. diorit. Plistosen Formasi Anap (Tpa) Terdiri dari batulumpur. Pliosen Formasi Kampung Baru (Tpkb) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -12 . 13. tersesarkan. Gabro : mineral mafik yang menonjol adalah hornblenda yang mengganti dan melapisi piroksin. setempat dengan pecahan tektonik batugamping kristal kelabu tua. setempat kayu terkersikkan dan sisipan batubara. umumnya termalihkan dan terdaunkan dan sekis serta kuarsit. Kapur Akhir – Tersier Awal Bancuh dan Formasi Terhancurkan Batuan Kelompok Embaluh tergeruskan secara semrawut. endapan sungai. terubah kuat (khlorit). kebanyakan berbutir halus. granodiorit.

berselingan dengan batulanau mengandung lensa kecil dan lapisan tipis batubara vitrinit Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -13 . bersisipan batulempung karbonan berwarna kelabu dan batulanau menyerpih berwarna kelabu tua.(Persero) CABANG I MALANG Terdiri dari batupasir kuarsa dengan sisipan lempung. serpih dan batugamping. gambut dan oksida besi. breksi gunungapi dan aglomerat. rombakan batubara nitrinit dan muskovit. Oligosen Akhir – Miosen Awal Formasi Berai (Tomb) Terdiri batugamping abu-abu dan putih. aglomerat. Miosen Awal – Miosen Tengah Formasi Meragoh (Tmmv) Terdiri dari lava. sebagian berlapis. Miosen Akhir – Pliosen Batuan Gunungapi Metulang (Tmpm) Terdiri dari lava. batulanau karbonan. stok. Formasi Balikpapan (Tmb) Terdiri dari batupasir kuarsa dan batulempung dengan sisipan batulanau. 8. 5. Formasi Montalat (Tomm) Terdiri dari batupasir kuarsa berbutir halus sampai sedang. 4. mengandung foram besar dan koral. 6. lignit. berbutir halus sampai sedang. tufa. kurang padat. mengandung sisipan batulempung karbonan. tufa. retas dan retas lempeng. 7. breksi lahar. Formasi Purukcahu (Tomc) Terdiri dari batulempung berfosil. Oligosen Akhir – Plistosen Andesit dan Diorit (TQi) Terdiri dari andesit dan diorit. batulanau. setempat dasit berupa sumbat. bersusunan basal sampai andesit. konglomerat aneka bahan. kelabu tua. breksi lava. Miosen Tengah Formasi Warukin (Tmw) Terdiri dari batupasir kuarsa berbutir halus sampai sedang. mengandung lapisan tipis mineral karbonan. bersusunan basal sampai andesit. sebagian terkristalkan ulang. berlapis tebal.

Formasi Pamaluan (Tomp) Terdiri dari batupasir dengan sisipan batulempung. breksi batugamping.(Persero) CABANG I MALANG dan batupasir berstruktur perairan sejajar dan konvolut. bersisipan batugamping pasiran berfosil. sedikit konglomerat dan batulumpur. batulumpur. breksi lahar. Formasi Karamuan (Tomk) Terdiri dari batulumpur abu-abu sebagian gampingan dan berfosil. abu-abu tua sangat kompak bersisipan tipis batulumpur. genes dan batubara. terpecahkan dan termineralisasikan. batulanau abu-abu. abu-abu tua sangat kompak bersisipan tipis batulumpur. dasit. sedikit batupasir. kokuina dan basal terubah. sebagian termineralisasi. tufa dan sedikit riolit. batulempung dengan sisipan batugamping. batulanau tufaan abu-abu kehijauan. setempat struktur bantal dan kekar meniang. batulanau serpihan dan batulanau serpihan dan batulanau karbonan. bersisipan batugamping berfosil. berlapis baik. umumnya terubah. 10. Formasi Batu Kelau (Tek) Terdiri dari serpih. Formasi Ujohbilang (Tou) Terdiri dari batulumpur. abu-abu tua. masa dasarnya berupa batupasir kasar mengandung fragmen batubara vitrinit. serpih. Anggota Batugamping Penuut (Toml) Terdiri dari batugamping putih dan kelabu. Anggota Batugamping Jangkan (Tomj) Batugamping berfosil. kaya akan foram besar. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -14 . napal dan batulanau. batulanau. batupasir kuarsa berlapis baik. Eosen Akhir Formasi Batupasir Haloq (Teh) Terdiri dari batupasir kuarsa. ganggang dan koral. Oligosen Awal Batuan Gunungapi Malasan (Tomv) Leleran andesit sampai basal. 9. breksi batugamping. sedikit batupasir. berbutir sedang sampai kasar. kaya akan foram besar. jarang batugamping. bersisipan tipis batulempung dan batulanau. mengandung glaukonit. bersisipan breksi berfragmen andesit. Formasi Tuyu (Toty) Terdiri dari napal.

diorit. sebagian besar pasir lepas bersisipan lempung. Pliosen – Miosen Formasi Dahor (Tmpd) Terdiri dari batupasir kuarsa. lempung. batulempung dan batulanau. genes dan kuarsit. batulumpur konglomerat. 2. bersisipan batugamping dan konglomerat. 3. umumnya karbonan.Supriatna. umumnya termalihkan dan terdaunkan. bersisipan batulempung. setempat sisipan batubara dan lignit. Miosen Formasi Warukin (Tmw) Terdiri dari batupasir kuarsa. batugamping berfosil. batulanau. batulanau dan batubara. sekis. Eosen Awal Formasi Tanjung (Tet) Terdiri dari perselingan batupasir kuarsa. Kapur Akhir Formasi Selangkai (Kse) Terdiri dari serpih. 4. gabro. mengandung foraminifera besar bersisipan batulempung. 1981 Publikasi P3GI 1. 1714. 11. Holosen Aluvium (Qa) Terdiri dari lumpur. pasir. c. Sutrisno. lanau. Miosen – Oligosen Formasi Berai (Tomb) Terdiri dari batugamping. batulanau dan batubara. Formasi Montalat (Tomm) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -15 . jarang batubara.(Persero) CABANG I MALANG - Formasi Batu Ayau (Tea) Terdiri dari batupasir. umumnya karbonan dan gampingan. kerikil. 13. Perem – Trias Formasi Busang (PTRb) Terdiri dari granit. umumnya berlapis. 12. batulumpur. granodiorit. Peta Geologi Regional Lembar Buntok. setempat mengandung kerakal kuarsa. kerakal dan bongkahan. batuan beku bersifat granit dan batuan metasedimen. lignit dan limonit. S. setempat konglomeratan.

setempat lignit dan limonit. kerikil. bersisipan batugamping dan batubara. Bagian bawahnya merupakan perselingan antara batupasir kuarsa yang mengandung muskovit dengan batulanau. betulempung kelabu dan batubara. 5. lanau. N. tekstur faneritik. sil dan retas. kerakal dan sedikit lempung. Plistosen Formasi Martapura (Qpm) Terdiri dari pasir. Miosen Formasi Warukin (Tmw) Terdiri dari batupasir kuarsa berselingan dengan batulempung karbonan dan batubara. Pliosen Formasi Dahor (QTd) Terdiri dari batupasir kuarsa lepas. lempung dan lumpur. batulempung. kelabu muda. Peta Geologi Regional Lembar Banjarmasin. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -16 . batupasir kerikil kurang padu.(Persero) CABANG I MALANG Terdiri dari batupasir kuarsa agak padat.Sikumbang dan Heryanto. 6. Oligosen – Eosen Basal Kasale (Tkb) Terdiri dari basal. Eosen Formasi Tanjung (Tet) Terdiri dari bagian atas merupakan perselingan antara batupasir. 1981 Publikasi P3G 1. tersingkap berupa stok. batulempung lunak. batulanau dan konglomerat. Holosen Aluvium (Qha) Terdiri dari kerikil. 4. tersingkap berupa stok Batuan Tak Terperinci (Ksv) Merupakan kumpulan batuan beku bersusunan basa sampai sangat basa dan batuan sedimen endapan laut. kelabu muda sampai kelabu tua. 3. 2. Kapur Granit (Kgr) Terdiri dari granit muskovit. d. pasir. 7.

Kapur Akhir – Kapur Awal Kelompok Alino Formasi Keramaian (Kak) Terdiri dari perselingan batupasir (vulkarenit) dengan batulanau atau batulempung setempat dijumpai sisipan batugamping konglomeratan.(Persero) CABANG I MALANG 5. Formasi Paniungan (Kpn) Terdiri dari batulanau. Eosen Formasi Tanjung (Tet) Terdiri dari batupasir kuarsa. batulempung dan batupasir. Miosen – Oligosen Formasi Berai (Tomb) Terdiri dari batugamping dengan sisipan napal dan batulempung. Olistolis Kintap. Formasi Binuang (Tob) Terdiri dari batulempung 6. Anggota Paau. batulanau. basal porfir ignimbrit. batulempung dan batubara setempat dijumpai lensa batugamping. Formasi Pudak (Kab) Terdiri dari andesit piroksin dan vulkaniklastik. Formasi Manunggul (Kmp) Terdiri dari breksi dan leleran lava. Formasi Pudak (Kap) Terdiri dari lava dan berselingan dengan konglomerat / breksi volkanik klastik (hialoklastik) dan batupasir kotor volkaniklastik dengan olistolis batugamping. batumalihan dan mafik-ultramafik. 7. Formasi Pudak (Kok) Merupakan batugamping klastika. Formasi Pitap (Kpb) Terdiri dari batugamping orbitulina Formasi Pitanak (Kpl) Terdiri dari leleran lava dengan breksi konglomerat vulkanik Andesit (Kan) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -17 . Anggota Batununggal. 8. Kapur Akhir Formasi Manunggul (Km) Terdiri dari konglomerat beraneka bahan bersisipan dengan batupasir dan batulempung. Anggota Batukora.

Gabro (Mgb) . 1990) : Batuan alas benua Ofiolit dan batuan sedimen yang berkaitan Busur magmatik yang bersamaan dengan tektonik Cekungan busur muka Cekungan turbidit Cekungan-cekungan daratan Cekungan-cekungan peripheral Batuan terobosan tektonik akhir dan vulkanik regional satuan tektonostratigrafi ini menunjukkan suatu Penyebaran pertemuan (sutura) tektonik lempeng melintasi Borneo yang mengikuti singkapan komplek ofiolit dan bancuh tektonik.(Persero) CABANG I MALANG - Granit (Mgr) Batuan Malihan (Mm) Kelompok Ofiolit . Sutura ini berarah tenggara dari Pulau Natuna (40 Lintang Utara.Diabas (Mdb) . yang terbentuk akibat penutupan cekungan samudra (Hutchison.Diorit (Mdi) . Cekungan Barito dengan anak-anak cekungan asam-asam dipisahkan oleh Pegunungan Meratus dan dengan Anak Cekungan Pasir oleh Pegunungan Kukusan. Kedua anak cekungan tersebut di sebelah barat dibatasi oleh Pegunungan Meratus. 1985).Batuan Ultramafik (Mu) Geologi • • • • • • • • Kalimantan dapat diperikan menjadi 8 (delapan) satuan tektonostratigrafi utama (Pieters dan Supriatna. sutura ini sama dengan jalur Serabang dan jalur Lupar.Basal (Mba) . Hinz & Schluter. selatan oleh Laut Jawa dan di udara oleh Tinggian Lintang Paternoster. Di Kalimantan tengah dan barat. Tinggian Lintang Paternoster Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -18 . menunjukkan bahwa penunjaman kearah selatan berhenti ketika benua dari arah utara sampai kearah lajur penunjaman dan akhirnya bertumbukan dengan benua sebelah selatan. 1989. 1080 Bujur Timur) sampai barat laut Kalimantan dan melanjut ke timur ke Kalimatan Tengah dan membelok kearah utara-timurlaut sampai ke bagian tengah Sabah. Laut. Timur oleh Tinggian P.

sesar ini memunculkan batuan bancuh. air tanah dangkal potensinya sangat besar dan khususnya pada wilayah fisiografi dataran rendah tepi pantai airnya payau atau asin. Magma ini menerobos batuan yang dihasilkan pada zaman Jura. adalah sebagai berikut.2 Kondisi Hidrogeologi Sumberdaya air tanah terdiri atas air tanah dangkal dan air tanah dalam. Sesar naik berarah timurlaut-baratdaya searah dengan sumbu lipatan. Kadar Fe dan pH di luar ambang batas baku mutu air minum yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan. Sesar naik yang lebih muda mengakibatkan tersesarkannya Formasi Pitap keatas Formasi Pamaluan. sehingga batuan tua tersesarkan ke atas Formasi Pitap. 2) program pengembangan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -19 . Berdasarkan fisiografi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan menunjukkan pengaruh yang cukup besar terhadap pembentukan cekungan di Kalimantan Tengah. hal ini didasarkan kepada umur granit yang terdapat di Lembar Amuntai yang berumur 115 juta tahun. Pada zaman Kapur Awal atau mungkin lebih tua. Sesar ini diduga terjadi pada kapur atas. umurnya diduga setelah Miosen. Pada Kenozoikum sampai Mesozoikum menjadikan cekungan ini terbentuk suatu paparan. Potensi air tanah sedang sampai tinggi (> 10 liter/detik) dengan kualitas cukup baik. batuan bancuh. batuan malihan dan rijang radiolaria. Kegiatan tektonik daerah ini diduga telah berlangsung sejak zaman Jura yang menyebabkan bercampurnya batuan ultramafik.(Persero) CABANG I MALANG disebut juga Tinggian Lintang Barito Kutai atau Adang Flexture atau Sesar Adang yang memisahkan kedua anak cekungan tersebut dari Cekungan Kutai. Stuktur geologi yang terbentuk perlipatan pada batuan Pra-Tersier tampaknya lebih kuat dengan sudut kemiringan sekitar 400 dan 700 dan yang terkecil 250 Sumbu antiklin dan sinklin umumnya berarah utara-selatan dengan bentuk tak setangkup dan setempat setangkup. Lokasi yang diusulkan dalam 1) program perbaikan sumur yang telah ada dan sumur bor baru. terjadi kegiatan magma.3. sudut kemiringan sekitar 450 kearah barat. Pada formasi ini akan terbentuk suatu paparan yang menyebabkan suatu cekungan yang terdapat di Kalimantan Tengah dan Selatan yang termasuk dalam wilayah studi ini. 2. Batuanbatuan tersebut merupakan alas dari Formasi Pitap. bagian timur relatif naik dari bagian barat. Sesar turun berarah hampir utara-selatan.

00 1.20 1.50 2.80 2.75 1.3 Lokasi Sumur Bor Yang Memerlukan Perbaikan NO (1) 1 TA (2) 1996 / 1997 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 2 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 3 1999 / 2000 1999 / 2000 1999 / 2000 1999 / 2000 1999 / 2000 4 5 2001 2002 2002 2002 6 2003 2003 2003 2003 2003 L O K A S I DESA (3) Dadahup A-4 dan C-3 Unit Maliku Kiri (P.60 1.75 175 174 176 175 175 200 200 250 250 250 250 250 250 250 250 250 250 249 250 250 250 250 Payau Tawar Digunakan Tawar Tawar Tawar Payau Tawar Tawar Tawar Payau Tawar Payau Payau Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Payau Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Perlu Perbaikan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan KWALITAS AIR (8) Payau Payau Payau Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Payau Payau Pengg Ms KEMARAU (9) Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan KET (10) 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1Titik 1 Titik 1Titik 1 Titik 1Titik 1Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -20 .00 3.50 2.75 1.80 1. Km.15 1.10 0.90 3.50 1.50 2. 38 Sumber Makmur Katingan I Respen pelangsian Sumber Makmur Meranti jaya / Bunut Subur Indah Jaya Makmur Bangun Jaya Kampung Baru Setia Mulia Singam Raya Dadahup A-1 dan A-2 Lamunti A-2 Bapanggang Pelangsian I Lamunti B-2 dan A-1 Dadahup G-1 Muka Istana Gubernur Lupak Dalam Warna Sari Samuda Luwuk Bunter Kartika Bhakti Kuala Pembuang I Tumbang Koling Kumpai Batu Atas Pasir Panjang Marga Mulya Palangka Raya Kapuas Kuala Kapuas Kuala Mentaya Baru Cempaga Seruyan Arut Selatan Arut Selatan Kumai KEC (4) Kapuas Murung Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Mentaya Baru Ketapang perengean perengean perengean Kumai Arut Selatan Arut Selatan Bukit Batu Bukit Batu Katingan Kuala Mantawa Baru Bagendang Bagendang Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Kapuas Murung Mantangai Mentawa Baru / ketapang Kapuas Murung KAB / KOTA (5) Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kobar Kobar Kobar Palangka Raya Palangka Raya Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kapuas Kapuas Kotim Kotim Kapuas Kapuas Palangka Raya Kapuas Kapuas Kotawaringin Timur Kotawaringin Timur Seruyan Seruyan Katingan Kotawaringin Barat Kotawaringin Barat Kotawaringin Barat Q pompa ( Lt / Det ) (6) 1.82 0.75 1.80 1.60 2.82 2.62 Dlm smr (m) (7) 150 150 150 150 175 175 175 175 176 174 174 150 150 1.85 2.60 1.75 1.VI) Unit Desa Pangkoh Samuda Pelangsian Karang Tunggal Mekar Jaya Karang Sari Pangkalan Tiga Kumpai Batu Bawah Sei Rangit Trans.60 2.70 2.10 1.V) Unit Maliku Kanan (P.00 2.00 1.20 1.75 2.20 1.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.60 2.50 1.00 2.56 2.85 2.50 1.78 1.60 1.50 1.00 2.45 2.95 1.70 3.

4 Lokasi Sumur Bor Yang Belum Dimanfaatkan NO 1 TA 1993 / 1994 1993 / 1994 1993 / 1994 2 1994 / 1995 1994 / 1995 1994 / 1995 3 1995 / 1996 1995 / 1996 1995 / 1996 4 1996 / 1997 1996 / 1997 1996 / 1997 1999 / 2000 L O K A S I DESA Paduran I Paduran II Paduran III Tamban Lupak A3 Tamban Lupak A4 Tamban Lupak A7 Talio (Pangkoh I) Pangkoh (Pangkoh II) Kantan (Pangkoh III) Unit Tahai (P.1 Hubungan Rencana Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas dengan Strategi Pembangunan Provinsi Kalimantan Tengah Visi.4. khususnya Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -21 .90 0.70 2.50 1.75 1.00 1. • Mempercepat kuantitas dan kualitas penenman modal dalam rangka peningkatan agglomerasi ekonomi dan daya saing daerah.00 0. Misi dan Strategi Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah (2006 – 2025) (1) Visi Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah ” Kalimantan Tengah Yang Maju. • Mewujudkan kehutanan pertanian.00 1. Mandiri Dan Adil ” (2) Misi Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah Dalam rangka mewujudkan visi pembangunan daerah maka dirumuskan misi pembangunan Provinsi Kalimantan Tengah sebagai berikut : • Mempercepat kecukupan sarana dan prasarana umum secara integratif dan komprehensif dalam rangka peningkatan daya dukung terhadap pembangunan daerah.00 2.85 0. untuk peternakan.VI) Unit Balanti I (P.80 1.50 0.4 KEBIJAKAN DAERAH 2. • Meningkatkan akselerasi perkembangan koperasi dan UKM serta dunia usaha yang saling terkait antar usaha dan antar daerah.IV) Unit Balanti II (P. agribisnis perikanan.VII) Katingan II Kapuas Kuala Kapuas Kuala Kapuas Kuala Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Katingan Kuala KEC KAB / KOTA Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kotim DEBIT POMPA ( Lt / Det ) 2.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.80 DALAM SUMUR (M) KWALITAS AIR PENGGUNAAN PADA MUSIM KEMARAU Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan KET 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 4 Titik 2. yang perkebunan. pengembangan berorientasi agroindustri dan ketahanan pangan secara berkelanjutan.

(Persero) CABANG I MALANG yang berbasis potensi dan keunggulan daerah yang saling terkait antar usaha dan antar daerah. • Mengoptimalkan produktifitas pemanfaatan dan pengendalian ruang sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. • Mewujudkan kualitas ketenagakerjaan. kreatif. • Mewujudkan pemerintah yang bersih. • Membangun dan mengembangkan budaya pembelajaran yang mendidik secara merata dan adil pada semua jenis. cerdas. bertakwa. jalur dan jenjang pendidikan untuk menciptakan masyarakat yang beriman. sosial dan budaya masyarakat secara berkesinambungan. dan inovatif serta memiliki daya saing yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat. profesional dan responsif dalam rangka percepatan pembangunan daerah. keluarga kecil berkualitas serta pemuda dan olahraga di seluruh wilayah Kalimantan Tengah. Visi. • Mewujudkan fungsi sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang serasi dalam mendukung fungsi ekonomi. • Mewujudkan ketentraman dan ketertiban umum yang berbasis pada pemberdayaan modal sosial masyarakat serta meningkatkan rasa percaya dan harmonisasi pada kelompok masyarakat demi kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Misi dan Strategi Jangka Menengah Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah (2006 – 2010) (1) Visi Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah ” Membuka Isolasi Menuju Kaliamantan Tengah yang Sejahtera dan Bermartabat ” sosial Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -22 . • Mewujudkan masyarakat berparadigma sehat untuk mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. • Mewujudkan kemitraan yang sistematis antara pemerintah daerah dan masyarakat serta penguatan partisipasi kelompok-kelompok masyarakat bagi pencegahan masalah peningkatan dan peningkatan kemasyarakatan kependudukan kecepatan secara dan penanggulangan berkesinambungan.

Politik Pembangunan kehidupan politik yang berkelanjutan dengan dasar toleransi. berkelanjutan serta mendorong investasi. Hukum. Pendidikan. good goverment dan bebas KKN. pelabuhan udara. Ekonomi Peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat yang berbasis sumberdaya lokal. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -23 . Keamanan dan Hak Asasi Manusia Penegakan supermasi hukum yang berkeadilan termasuk pertanahan dan pendayagunaan dan aparat keamanan masyarakat dalam serta menciptakan perlindungan ketentraman f. Kesehatan dan Keluarga Berencana Peningkatan kemampuan pelayanan pendidikan. baik dari dalam maupun luar negeri. c. antar Kecamatan. pelabuhan laut dan sungai baik antar provinsi. antar desa terisolir dan antar sentra-sentra produksi di sektor/sub kehutanan. yang merata. kesehatan keluarga berencana d. perkebunan. Infrastruktur Pembangunan dan pemeliharaan jalan. antar Kabupaten. jembatan.(Persero) CABANG I MALANG (2) Arah Kebijakan Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah Kebijakan Pembangunan Daerah Pemerintah Provinsi Kaliamantan Tengah selama periode 2006 – 2010 diprioritaskan pada bidang : a. dan partisipasi yang berbasis multikultural. e. secara berkesinambungan beserta sarana dan prasarananya. keadilan. dan peternakan perikanan/kelautan. Pemerintahan Peningkatan tanggungjawab daya tanggap pemerintah dalam perluasan dan peningkatan kualitas pelayanan publik kepada seluruh lapisan masyarakat di seluruh pelosok wilayah dalam kerangka menciptakan effective goverment. terhadap Hak Asasi Manusia. pertanian. pertambangan. b. kedamaian secara terencana dan terpadu.

Seni Budaya dan Agama Memperkuat keterbukaan. Kepariwisataan Terwujudnya daya saing pariwisata dengan peningkatan pengembangan pemasaran pariwisata j. Perhubungan dan Telekomunikasi Perhubungan yang dititik beratkan pada peningkatan fasilitas bandara udara. pembelajaran. sosial dan budaya masyarakat secara berkesinambungan serta mengoptimalkan produktivitas pemanfaatan dan pengendalian tata ruang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. k.(Persero) CABANG I MALANG g. ras maupun golongan dalam masyarakat Kalimantan Tengah yang majemuk dalam kerangka dan semangat serta sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia h. baik yang berada di Kota Palangkaraya maupun Kabupaten-kabupaten lainnya. l. Telekomunikasi yang mana pelayanan telekomunikasi harus ditingkatkan untuk menjangkau daerah-daerah baik di Kabupaten/Kota maupun di Kecamatan-kecamatan. toleransi kultural dan kerukunan antar agama. Begitu pula dengan pelabuhan laut. i. Pramuka dan Keolahragaan Meningkatkan dan pemberdayaan peranan generasi muda dalam pembangunan. profesionalme dan kualitas manajemen organisasi keolahragaan dalam mendukung pembangunan dan prestasi olahraga di Kalimantan Tengah. pelabuhan ferry dan pelabuhan sungai lainnya perlu distingkatkan fasilitasnya. menguatkan sarana dan prasarana kepramukaan seperti Bumi Perkemahan di masing-masing Kabupaten/Kota. suku. Sumber Daya Alam. partisipasi. Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Pembangunan Kalimantan Tengah yang sangat strategis harus berwawasan lingkungan. serta meningkatkan prestasi. Mewujudkan fungsi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang serasi dalam mendukung fungsi ekonomi. Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan Titik berat pembangunan masyarakat dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia Kalimantan Tengah yang handal dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -24 . Kepemudaan.

seperti di bidang legislatif. Dana Perimbangan dan lain-lain Pendapatan Daerah yang sah Provinsi Kalimantan Tengah 2. 3.(Persero) CABANG I MALANG dapat bersaing di era globalisasi. No. Perikanan. pertanian tanaman pangan. Peternakan. ASPEK KAJIAN 1 Konservasi Sub aspek Pengelolaan Kualitas Air 2 Pengelolaan SDA SEKTOR /DINAS PELAKSANA Perkebunan. Kehutanan Perikanan. (3) Kebijakan Keuangan Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah 1. Dalam kajian ini sektor yang terkait dengan rencana pengembangan dan pengelolaan sumber daya air adalah sektor perikanan. Peningkatan patisipasi pemerintah kabupaten/kota pelaku bisnis lokal. Pengarus utamaan gender diartikan bahwa peran serta perempuan disejajarkan dengan lakilaki diberbagai aspek bidang. pertambangan dan energi. Perkebunan. Pertambangan dan Energi. dan peternakan. perkebunan. Optimalisasi Peningkatan Pendapatan Daerah. Permukiman dan prasarana wilayah 3 Sub aspek Institusi Pengendalian Daya Rusak Semua sektor Air 2. 4. Peningkatan pengelolaan Pembiayaan Daerah secara efektif dan efisiensi untuk penerimaan dan Pengeluaran Pembiayaan Daerah. Bappedalda Pertanian.4.2 Hubungan Rencana Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas dengan Strategi Pembangunan Provinsi Kalimantan Selatan (1) Visi Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -25 . Peternakan. bidang eksekutif dan di masyarakat. Pertambangan dan Energi (kelistrikan. Permukiman dan prasarana wilayah) Pemantapan Pertanian. kehutanan. Peningkatan efektifitas dan efisiensi Belanja Daerah untuk Pembangunan Daerah dan pelayanan publik. nasional dan internasional serta masyarakat dalam pembiayaan pembangunan daerah Provinsi kalimantan Tengah.

e/ Pengelolaan sumber daya alam (SDA). disertai struktur yang berimbang. Bab II mengenai Prioritas Pembangunan Daerah. sumberdaya buatan (SDB) dan lingkungan hidup. berisi sasaran pembangunan daerah sebagai berikut : a/ Peningkatan status ekonomi wilayah. sangat dibutuhkan untuk terwujudnya pencapaian manfaat yang sebesar-besarnya dari sumberdaya alam dan sumberdaya buatan bagi kesejahteraan masyarakat dan peningkatan pembangunan di Kalimantan Selatan secara berkelanjutan dan lestari. tercermin dari pertumbuhan ekonomi wilayah yang pesat dan stabil. berkeadilan dalam tatanan masyarakat yang demokratis dan berbudaya tinggi yang bernafaskan keagamaan. teknologi. Program Prioritas. d/ Peningkatan mutu sumber daya manusia. transparan. dan informatika yang memerlukan modernisasi secara cepat dan terarah. pelaksana. butir B. dan dinamis diantara sektor-sektor ekonomi b/ Penguatan ketahanan ekonomi rakyat. Di dalam Program pembangunan daerah (PROPEDA) Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2001 – 2005. keberhasilan mewujudkan visi pada akhirnya sangat ditentukan oleh sumberdaya manusia dalam fungsinya sebagai perencana.(Persero) CABANG I MALANG Mewujudkan Provinsi Kalimantan Selatan yang sejajar dengan daerah maju lainnya melalui pembangunan berkelanjutan yang adil. sangat dibutuhkan untuk proses menuju masyarakat industri. pengendali dan pengawas pembangunan. dalam lingkup usaha ekonomi masyarakat golongan ekonomi bawah dan menengah. (2) Misi Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan. efisien. serta ekonomi rumah tangga. serta sebagai pengguna dan pemelihara hasil-hasil pembangunan. untuk meningkatan kesejahteraan rakyat yang merata. c/ Pengembangan sosial budaya. yang mengandung arti pemberdayaan ekonomi rakyat. tertera program strategis yang menjadi program prioritas pembangunan daerah Kalimantan Selatan Tahun 2001 – 2005 adalah : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -26 .

Visi Pembangunan Daerah Mewujudkan Provinsi Kalimantan Selatan yang sejajar dengan daerah maju lainnya melaui pembangunan berkelanjutan yang adil. transparan. 3. dalam lingkup usaha ekonomi masyarakat golongan ekonomi bawah dan menengah dan usaha ekonomi rumah tangga. disertai struktur yang berimbang dan dinamis diantara sektor-sektor ekonomi. Pengembangan Infrastruktur yang menunjang pembangunan ekonomi dan sosial budaya. pelaksana. berkeadilan dalam tatanan masyarakat yang demokratis yang berbudaya tinggi yang bernafaskan keagamaan. 4. Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan pengembangan ekonomi kerakyatan sehingga terbentuknya ketahanan ekonomi daerah dan meningkatnya pemerataan berusaha dan pemerataan pendapatan bagi masyarakat. Penguatan Ketahanan Ekonomi Rakyat Penguatan ketahanan ekonomi rakyat mengandung arti pemberdayaan ekonomi rakyat. efisien untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang merata. Peningkatan Mutu Sumberdaya Manusia Keberhasilan mewujudkan visi pada akhirnya sangat ditentukan oleh sumberdaya manusia dalam fungsinya sebagai perencana. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -27 . Implementasi Otonomi Daerah untuk Memantapkan Pelaksanaan Undang-undang Otonomi Daerah dalam Upaya Mewujudkan Kemandirian Daerah. b. teknobio. dan informatika yang memerlukan modernisasi secara cepat dan terarah. kreatif. Misi Pembangunan Daerah Peningkatan Status Ekonomi Wilayah Peningkatan status ekonomi wilayah tercermin dari pertumbuhan ekonomi wilayah yang pesat dan stabil. Pembangunan Sumberdaya Manusia yang menguasai IPTEK dan mempunyai MITAQ.(Persero) CABANG I MALANG 1. dan mampu bersaing. a. 2. Pengembangan Sosial Budaya Pengembangan sosial budaya sangat dibutuhkan untuk proses menuju masyarakat industri. sehat.

buatan dan lingkungan sangat dibutuhkan untuk menuju terwujudnya pencapaian manfaat yang sebesar-besarnyadari kesejahteraan sumberdaya dan alam dan buatan bagi di masyarakat peningkatan pembangunan Kalimantan Selatan secara berkelanjutan dan lestari. serta sebagai pengguna dan pemelihara hasil-hasil pembangunan.(Persero) CABANG I MALANG pengendali dan pengawas pembangunan. b. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -28 . sehat kreatif dan mampu bersaing. Pembangunan infrastruktur yang menunjang pembangunan ekonomi dan sosial budaya. Prioritas Pembangunan Daerah Implementasi Otonomi Daerah untuk memantapkan pelaksanaan Undang-Undang Otonomi Daerah dalam upaya mewujudkan kemandirian daerah. a. Pembangunan Ekonomi Industri Pembangunan industri merupakan upaya untuk menciptakan struktur perekonomian daerah yang semakin berimbang antara sektor industri dan sektor pertanian. Pengelolaan Sumberdaya Alam. Program-program bidang industri yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program pengembangan industri berbasis pertanian dan pertambangan. Sumberdaya Buatan dan Lingkungan Hidup Pengelolaan sumberdaya alam. Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan pengembangan ekonomi kerakyatan sehingga terbentuknya ketahanan ekonomi daerah dan meningkatnya pemerataan berusaha dan pemerataan pendapatan bagi masyarakat. Peningkatan pelayanan publik guna memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk mengakses berbagai fasilitas umum dalam suasana yang transparan dan kondusif menuju terwujudnya pemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintahan yang bersih (clean governance). Pembangunan sumberdaya manusia yang menguasai IPTEK dan mempunyai IMTAQ.

(Persero) CABANG I MALANG

Tanaman Pangan dan Holtikultura Pertanian merupakan penunjang pertumbuhan sektor ekonomi lainnya serta diharapkan dapat berperan dalam mendorong pemerataan, pertumbuhan, dan dinamika ekonomi daerah secara umum. Program-program bidang tanaman pangan dan holtikultura yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra agribisnis terpadu. Peternakan Pembangunan sub sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian dalam arti luas, serta merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Program-program bidang peternakan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra agribisnis terpadu. Perkebunan Potensi seluas lahan yang tersedia ha, untuk perkembangan perkebunan berdasarkan RTRWP Kalimantan Selatan Tahun 2000 meliputi areal 1.086.123,25 sementara penggunaannya(efektif pertanaman) baru sekitar 367.919,15 ha (33.87%). Program-program bidang perkebunan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra agribisnis terpadu. Kehutanan Pembangunan kehutanan diadakan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dengan menjaga kelestarian dan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -29

(Persero) CABANG I MALANG

kelangsungan fungsi hutannya. Disadari bahwa sub sektor kehutanan merupakan salah satu penyelamat perekonomian nasional, oleh karena itu bidang usaha kehutanan perlu semakin dikembangkan untuk mendukung pembangunan sektor industri dimasa yang akan datang. Program-program bidang kehutanan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan produksi kehutanan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan; Program reboisasi dan rehabilitasi lahan kritis; Program perlindungan hutan dan konservasi lahan.

Perikanan dan Kelautan Pembangunan perikanan dan kelautan di Indonesia termasuk di Kalimantan Selatan merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang mempunyai nilai strategis dan sangat prospektif. Hal ini mengingat kecenderungan semakin meningkatnya permintaan dunia usaha akan produk perikanan, sehingga peluang usaha dibidang perikanan dan kelautan sangat terbuka lebar. Program-program bidang perikanan dan kelautan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain : Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan aquabisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra aquabisnis terpadu. Pertambangan Pembangunan sektor pertambangan di Kalimantan Selatan diarahkan untuk memanfaatkan sumberdaya alam tambang secara maksimal dan optimal bagi pembangunan daerah dan kemakmuran masyarakat dengan tetap menjaga fungsi lingkungan hidup, meningkatkan penerimaan daerah/negara, serta memperluas kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Program-program bidang pertambangan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain:

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -30

(Persero) CABANG I MALANG

-

Program peningkatan produksi dan pengelolaan bahan tambang; Program penataan kawasan/area pengelolaan pertambangan; Program perencanaan, inventarisasi, pembinaan, pengendalian dan pengawasan sumberdaya tambang.

c. Pembangunan Daerah Pembangunan Derah Penataan Ruang dan Pengelolaan Pertanahan a) Program Penataan Ruang Program ini bertujuan untuk meningkatkan penyelenggaraan kegiatan perencanaan tata ruang yang efektif, transparan dan partisifatif; mengembangkan penyelenggaraan kegiatan pemanfaatan ruang yang tertib berdasarkan rencana tata ruang; meningkatkan pengendalian pemanfaatan ruang untuk menjamin efektifitas dan efisiensi kegiatan pembangunan secara berkelanjutan. b) Program Pengelolaan Pertanahan Program ini ditujukan untuk mewujudkan sistem penguasaan tanah yang adil dan terselenggaranya pelayanan administrasi pertanahan yang baik. Mempercepat Pengembangan Wilayah a) Program Pemantapan Sistem Wilayah Pembangunan Program ini ditujukan untuk menyeimbangkan dan menserasikan pembangunan antar wilayah pembangunan, sehingga ketiga Wilayah Pengembangan (WP), yaitu WP Kayu Tangi, WP Tanah Bumbu, dan WP Banua Lima dapat berkembang selaras dan serasi tanpa ketimpangan. b) Program Pemantapan Fungsi Kota Program ini ditujukan untuk menciptakan kesatuan ekonomi wilayah yang tangguh dengan mewujudkan pemerataan dan penjalaran perkembangan pembangunan antara kabupaten/kota. c) Program Pengembangan Perdesaan Program ini ditujukan untuk mengidentifikasikan kawasan perdesaan yang potensial dikembangkan, sehingga dapat meningkatkan peran dan fungsi pusat kawasan perdesaan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -31

(Persero) CABANG I MALANG

sebagai kawasan produksi untuk mendukung pengembangan agroindustri dan agribisnis. Mempercepat Pengembangan Kawasan Tertentu a) Program Pengembangan Kawasan Andalan Program ini ditujukan Daerah daerah untuk Provinsi melalui meningkatkan dalam kemampuan melaksanakan wilayah; Pemerintah pembangunan

pengembangan

menyiapkan rencana program pembangunan kawasan prioritas terpilih yang akan dikembangkan oleh masing-masing daerah; serta identifikasi program pengembangan kawasan yang akan menjadi tanggung jawab pemerintah dan dunia usaha dalam satu kesatuan paket pertumbuhan ekonomi wilayah. b) Program Program Pengelolaan ini ditujukan percepatan daerah dan Kawasan untuk Pengembangan meingkatkan Ekonomi dan agar Terpadu (KAPET) peran kemampuan Pemerintah Daerah dalam pembangunan KAPET; mendorong pembangunan pengelolaan regional; KAPET serta operasionalisasinya dapat berjalan sesuai dengan tuntutan menunjang berjalannya mekanisme pelaksanaan program pengembangan KAPET yang sesuai dengan arah dan tujuan pembangunan daerah dan nasional. c) Program Pengembangan Kawasan Sentra Produksi/Agribisnis (KSP/A) Program ini ditujukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah melalui pengembangan produk komoditasunggulan di kawasan sentra produksi; mewujudkan pemanfaatan sumberdaya pertanian secara optimal terutama penggunaan lahan yang ada dengan membentuk sentra-sentra pengembangan komoditas, guna mendapatkan efisiensi dan efektifitas yang diikuti alokasi sarana dan prasarana yang diperlukan; serta mengembangkan komoditas pangan dalam skala besar guna mendorong peningkatan sektor agoindustri dan agribisnis.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -32

(Persero) CABANG I MALANG

d) Program Pengelolaan Pembangunan Wilayah Terpadu (PPWT) Program ini ditujukan melalui upaya-upaya pembangunan yang diarahkan untuk pemerataan, keserasian dan percepatan pembangunan dengan mengembangkan potensi-potensi dan atau memecahkan masalah-masalah sosial budaya, ekonomi, fisik dan lingkungan hidup WKP (Wilayah Konsentrasi Pengembangan) melalui keterpaduan tujuan, sasaran lokasi, waktu, pembiayaan, kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan/pengendalian dan evaluasi dalam suatu siklus pengelolaan pembangunan dengan memberikan peran paling besar pada Pemerintah Daerah, lembaga sosial kemasyarakatan, dunia usaha, setempat. e) Program Pengembangan Kawasan Tertinggal Program ini ditujukan untuk mengidentifikasi permasalahan/faktor penyebab ketertinggalan kawasan yang meliputi letak geografis kawasan, sumberdaya alam, faktorfaktor yang kemasyarakatan, nantinya akan yang serta ketersediaan untuk sarana dan prasarana, dan menyediakan informasi kawasan tertinggal dipergunakan sesuai merumuskan dengan program/proyek kebutuhan koperasi dan masyarakat

memperlihatkan kapasitas sosial ekonomi masyarakat di kawasan tertinggal tersebut. f) Program Pengembangan Kawasan Banjarmasin Raya Program pengembangan kawasan Banjarmasin Raya adalah program pengembangan kawasan perkotaan yang meliputi Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar dan Kabupaten barito Kuala dimana dalam pembangunannya terintegrasi secara terpadu diantara keempat Pemerintah Daerah. Transmigrasi Program Pengembangan Kawasan Transmigrasi dan Mobilitas Penduduk Program Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -33

(Persero) CABANG I MALANG

d. Pembangunan Sumberdaya dan Lingkungan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Program Program Pengembangan ini ditujukan Informasi untuk Sumberdaya Alam dan mutu, Lingkungan Hidup meningkatkan jumlah, informasi dan data dasar sumberdaya alam dan lingkungan hidup, mengetahui daya dukung dan menjamin persediaan sumberdaya alam berkelanjutan di daerah. Program Peningkatan Efisiensi Pemanfaatan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Program ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Program Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Program Pengendalian Pencemaran dan Pemulihan Kualitas Lingkungan Hidup Program ini ditujukan untuk mengurangi kemerosotan mutu lingkungan hidup perairan, tanah, dan udara yang disebabkan oleh semakinmeningkatnya aktivitas pembangunan daerah. Program Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Sumberdaya Buatan (Sub Sektor Pengairan) Program Pengembangan dan Pengelolaan Pengairan Program ini bertujuan untuk menunjang tercapainya peningkatan ketahanan pangan daerah maupun nasional. Program Penyediaan dan Pengembangan Air Baku Untuk Masyarakat dan Industri Program ini bertujuan untuk menyediakan air baku dalam rangka memenuhi kebutuhan permukiman, perkotaan, industri dan non pertanian lainnya dengan meningkatkan efektivitas dan produktivitas pengelolaan jaringan pengairan serta meningkatkan penyediaan air untuk permukiman, perkotaan dan industri untuk memenuhi hajat hidup masyarakat baik di daerah perkotaan maupun perdesaan.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -34

(Persero) CABANG I MALANG

-

Program Pengendalian Banjir Program ini bertujuan untuk mempertahankan sarana/prasarana pengairan, pertanian, transportasi dan permukiman. Program Pengembangan dan Pengelolaan Sungai, Danau dan Sumberdaya Air Lainnya Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan dan produktivitas sumber-sumber air dengan mewujudkan keterpaduan pengelolaan yang menjamin kemampuan keterbaharuannya serta pengaturan kembali berbagai kelembagaan dan peraturan perundang-undangan.

-

Nasional

DEW AN SDA NASIONAL KEBIJAKAN NASIONAL SDA DEW AN SDA W S Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai W S Nasional Rencana Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai - Rencana Induk (Master Plan) W S - Feasibility Study - Program Perngelolaan SDA W S - Rencana Kegiatan (Action Plan) PSDA W S

-Departem en PU -SitJen SDA -Dit.Bina Program -Planning Unit Pusat

Provinsi DEW AN SDA PROVINSI -Kantor Gubernur -Dinas PSDA -Balai PSDA -Planning Unit Prov KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA PROVINSI DEW AN SDA W S

Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai

W S Provinsi

Rencana Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai - Rencana Induk (Master Plan) W S - Feasibility Study - Program Perngelolaan SDA W S - Rencana Kegiatan (Action Plan) PSDA W S

Kab/Kota

DEW AN SDA KAB / KOTA KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA KAB/KOTA DEW AN SDA W S Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai W S Kab/Kota Rencana Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai - Rencana Induk (Master Plan) W S - Feasibility Study - Program Perngelolaan SDA W S - Rencana Kegiatan (Action Plan) PSDA W S

-Kantor Bupati/W alokota -Dinas PSDA -Balai PSDA

Gambar 2.3

Struktur Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -35

(Persero) CABANG I MALANG

2.5

KONDISI TATA GUNA LAHAN

2.5.1 Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah Perda Provinsi Kalimantan Tengah No. 8 Tahun 2003 1. Kawasan Lindung Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Pada Kawasan Bawahnya a) Kawasan Hutan Lindung tersebar di Kabupaten Murung Raya, Barito Utara, dan Kapuas. b) Kawasan Hutan Lindung Gambut tersebar di Kabupaten Kapuas dan Barito Selatan. c) Kawasan Resapan Air, tersebar di semua kabupaten. Kawasan Perlindungan Setempat a) Kawasan Sempadan Pantai yang meliputi daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai yaitu 100-200 meter dari titik pasang tertinggi kea rah darat dan 400 meter untuk pantai berhutan bakau. b) Kawasan Sempadan Sungai yang meliputi kawasan selebar 100 meter di kiri kanan, 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada diluar permukiman, 10-15 meter di kiri kanan saluran kanal (anjir) serta saluran irigasi untuk dibangun jalan inspeksi. c) Kawasan sekitar danau/waduk meliputi daratan sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan fisik fisik danau/waduk antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. d) Kawasan Sekitar Mata Air yang meliputi kawasan sekurangkurangnya dengan jari-jari 200 meter di sekitar mata air. e) Kawasan Sekitar Riam meliputi daerah riam dalam badan sungai dengan aliran air yang deras dan berbatu. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya 1. Cagar Alam Pararawen I dan Pararawen II terletak di Kabupaten Barito Utara. 2. Cagar Alam Bukit Sapat Hawung di Kabupaten Murung Raya.

a) Kawasan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -36

(Persero) CABANG I MALANG

3. Cagar Alam Air Terjun Molau Besar di Kabupaten Barito Utara. 4. Cagar Alam Bukit Bakatip di Kabupaten Murung Raya. b) Taman Nasional dan Taman Wisata Alam 1. Taman Wisata Air Terjun Poran di Kabupaten Barito Utara. 2. Taman Wisata Liang Saragih di Kabupaten Barito Timur. 2. Kawasan Budidaya Kawasan Hutan Produksi a) Kawasan Hutan Produksi Terbatas terletak menyebar di seluruh kabupaten. b) Kawasan Hutan Produksi Tetap terletak menyebar di seluruh kabupaten. Kawasan Pertanian a) Kawasan Pertanian Lahan Basah tersebar di seluruh kabupaten. b) Kawasan Pertanian Lahan Kering tersebar di seluruh kabupaten. c) Kawasan Pertambakan terletak di Kabupaten Kapuas. Kawasan Pertambangan a) Pertambangan Emas terletak di seluruh kabupaten. b) Pertambangan Batubara terletak di seluruh kabupaten. c) Pertambangan Granit terletak di seluruh kabupaten. d) Pertambangan Pasir terletak di seluruh kabupaten. e) Pertambangan Batu Permata terletak di seluruh kabupaten. f) Pertambangan Minyak Bumi yang terletak di Kabupaten Barito Selatan, Kabupaten Barito Timur, Kabupaten Barito Utara, dan Kabupaten Kapuas. Kawasan Industri diprioritaskan pengembangannya pada Kota Puruk Cahu, Muara Teweh, Buntok, Tamiyang Layang, dan Kuala Kapuas. Kawasan Pariwisata mencakup kawasan yang memiliki potensi besar untuk keperluan pariwisata di semua kabupaten. Kawasan Permukiman tersebar merata di seluruh kabupaten.

Tabel rekapitulasinya adalah sebagai berikut.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -37

Bawan. Kawasan Khusus JUMLAH II JUMLAH I + II 3. Bahaur. Sukamara.7 0. Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lain (KPPL) 6. Cagar Budaya 9. Rencana Areal Transmigrasi (T2) 8. Tamiyang Layang dan Pegatan Orde III : Kota Kotawaringin Lama. Samuda. Hutan Lindung 4.460 3. Kota Sampit.2 0. Pulang Pisau.63 514.64 24. Provinsi Kalimantan Tengah NO I PEMANFAATAN LAHAN LUAS ALOKASI (HA) 525. Hutan Pendidikan dan Penelitian 9.167 113. Lampeong.04 0.894. Ampah.5 Rencana Penggunaan Lahan Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya. Hutan Tanaman Industri (HTI) 4. Palingkau. Dadahup - Kebijaksanaan Pengembangan a) Pengembangan Kota Orde I Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -38 .033 15. Cagar Alam (SK ada) 3.608. Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA) 10.8 0.16 6. Tumbang Senamang. Muara Teweh.11 1.48 0. Kasongan. Taman Nasional (SK ada) 2.798.96 3.67 2. Tumbang Sangai.477 416. Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) 5.32 84 100 Kawasan Lindung 1. Taman Wisata (SK ada) 5.58 0. Kudangan.008 2. Sistem Pusat-Pusat Permukiman Orde I Orde II Hirarki Kota-Kota : : Kota Palangkaraya. Konservasi di Eks Kawasan PLG 8.53 678 606 10.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Hutan Produksi Tetap (HPP) 3. Timpah. Puruk Cahu. Danau JUMLAH I II Kawasan Budidaya 1. Areal Transmigrasi (T1) 7.527 8. Kandui.2 408.299 PERSENTASE (%) 3. Tumbang Jutuh. Kota Pangkalan Bun Kota Buntok.3 3. Kota Kuala Kapuas.6 10.392 281.933 76.266 3.071 13. Kuala Kurun.2 1. Tumbang Samba. Pangkut. Hutan Produksi Terbatas (HPT) 2.029.789 2.435 35.164 16 21 22.261 1. Pelantaran.260.06 0.927 1.2 6.576.008 0. Suaka Margasatwa (SK ada) 6.585. Arboretum dan Tahura (SK ada) 7.202.222.

2. pusat perdagangan dan jasa. b) Pengembangan Kota Orde II yang mempunyai skala pelayanan subregional atau kota-kota yang terletak disepanjang jalan kolektor primer-1 (K-1) serta mempunyai potensi cepat tumbuh. kota pelabuhan laut. Kudangan. serta Kecamatan Pandih Batu dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -39 . terisolir. Palingkau. Tumbang Senamang. pusat perdagangan dan jasa. Samuda. Bahaur. Pelantaran. Kawasan Sentra Produksi Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura.(Persero) CABANG I MALANG 1. Kandui. dan Kapuas Kuala (Kabupaten Kapuas). meliputi Kecamatan Selat. dan terbelakang. agropolitan. Basarang. kota pelabuhan laut. Tumbang Samba. Kota Palangka Raya berfungsi sebagai pusat pemerintahan Provinsi. Bawan. 4. Pulang Pisau. Perikanan. Muara Teweh. Kehewanan dan Kawasan Sentra Industri. kota industri. Arahan Pengembangan Kawasan Prioritas Kawasan perdesaan terpencil. kota pelabuhan. Kota Kuala Kapuas berfungsi sebagai pusat pemerintahan kabupaten. Kota Pangkalan Bun berfungsi sebagai pusat pemerintahan kabupaten. Perkebunan. yaitu Kota Buntok. kota industri. 3. 4. Kasongan. Ampah. Pangkut. Dadahup. Kuala Kurun. pusat pendidikan. kota kebudayaan. Puruk Cahu. pusat perdagangan dan jasa. c) Kota-kota kecamatan yang direncanakan untuk didorong pertumbuhannya dan perkembangannya menjadi kota Orde III adalah Kota Kotawaringin Lama. Tumbang Sangai. Tumbang Jutuh. Timpah. Kota Sampit berfungsi sebagai pusat pemerintahan kabupaten. a) KSP Kapuas. pusat perdagangan dan jasa. Tamiyang Layang dan Pegatan. Kawasan perdesaan Kawasan di wilayah perbatasan dengan Kalimantan Barat. Sukamara. kota industri. Lampeong. Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Kabupaten Kapuas (10 kecamatan) dan Kabupaten Barito Selatan (4 kecamatan) dengan luas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -40 . e) KSP Kandui. c) KSP Muara Teweh. rambutan. Kawasan Sekitar Jalur Jalan Lintas Kalimantan. b) KSP Ampah. kelapa dan ubi kayu. nenas. jagung. dan ikan perairan umum. d) KSP Buntok. meliputi Kecamatan Murung yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan pisang. meliputi Kecamatan Dusun Tengah dan Pematang Karau yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. kelapa. g) KSP Puruk Cahu. meliputi Kecamatan Teweh Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi kedelai. meliputi Kecamatan Dusun Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan kelapa. h) KSP Benangis. meliputi Kecamatan Dusun Selatan dan Gunung Bintang Awai yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. Kawasan Andalan Muara Teweh dan sekitarnya. sapi. Kawasan Andalan Buntok dan sekitarnya. f) KSP Tamiyang Layang. Kawasan KAPET DAS KAKAB . Kabupaten Pulang Pisau (5 kecamatan). meliputi Kecamatan Gunung Timang dan Montallat yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. yaitu dengan perincian Kota Palangkaraya (2 kecamatan).(Persero) CABANG I MALANG Kahayan Kuala (Kabupaten Pulang Pisau) yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. ayam buras dan ikan kolam. dan ayam buras. pisang. rambutan. lada dan ayam buras. lada. kedelai. meliputi Kecamatan Teweh Tengah dan Lahei yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. ayam buras. Kawasan Andalan Kuala Kapuas dan sekitarnya. Secara administrasi KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito) mencakup 4 (empat) daerah tingkat II dan 21 (dua puluh satu) kecamatan. pisang. Kawasan KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito).

Tingkat I Kalimantan Tengah Nomor 650/3654/IV/Bapp.128 480 206 135 394 91 202 491 427 708 2.956 2.6 Luas Kapet DAS KAKAP NO 1 2 KABUPATEN / KOTA Palangkaraya Pulang Pisau KECAMATAN Pahandut Bukit Batu Banama Tingang Kahayan Tengah Kahayan Hilir Pandih Batu Kahayan Kuala Timpah Mantangai Kapuas Barat Basarang Pulau Petak Selat Kapuas Hilir Kapuas Timur Kapuas Murung Kapuas Kuala Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan JUMLAH IBUKOTA KECAMATAN Palangkaraya Tangkiling Bawan Bukit Rawi Pulang Pisau Pangkoh Bahaur Timpah Mantangai Mandomai Anjir Basarang Sei Tatas Kuala Kapuas Barimba Anjir Serapat Palingkau Baru Lupak dalam Rantau Kujang Mangkatip Bangkuang Bunto LUAS WILAYAH (KM2) 1.329 629 785 1. b) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas I. c) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas II.767. Mempertimbangkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.829 27. terutama komoditi unggulan hanya bias diarahkan pada sentra produksi pada saat sekarang dan PPSP I yang alokasinya diperuntukkan bagi KPP (Kawasan Pengembangan Produksi) dan KPPL (Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lain).650 km2).099 1.673 3 Kapuas 4 Barito Selatan KAPET – DAS KAKAB dibagi atas 4 (empat) kategori kawasan.683 949 4. dan kawasan konservasi. maka pengembangan pertanian.(Persero) CABANG I MALANG wilayah mencapai 2.071 1.300 ha atau sekitar 18% dari luas Kalimantan Tengah (153. yaitu: a) Sentra Produksi (SP) saat sekarang.016 6. Tanggal 14 Maret 1995. menurut RTRWP Kalimantan Tengah. Tabel 2. PPSP II dan III umumnya berada di lokasi hutan produksi terbatas (HPT) dan hutan produksi tetap (HPP). khususnya Surat Gubernur KDH.065 1. d) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas III. dan menurut analisa dampak lingkungan pada PLG 1 juta hektar. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -41 .

d) Kawasan sekitar mata air yang terletak menyebar di Kalimantan Selatan dan memiliki kawasan sekurang-kurangnya dengan jari-jari 200 meter di sekitar mata air. meliputi: 1. dan HSU yang meliputi seluruh areal atau dataran sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi danau/waduk antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. c) Kawasan Pantai Berhutan Bakau. b) Suaka Margasatwa. Sebagian besar kawasan hutan lindung di Provinsi Kalimantan Selatan berada di Pegunungan Meratus. c) Kawasan sekitar danau/waduk yang terletak di Kabupaten Banjar. meliputi: 1. Tanah Laut. 9 Tahun 2000 1. Cagar Alam Gunung Ketawan di Kabupaten HSS. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya a) Cagar Alam. meliputi: 1. HSS. b) Kawasan sempadan sungai yang memiliki kawasan selebar 100 meter di kiri-kanan sungai-sungai besar dan didalam permukiman dapat membangun selebar jalan inspeksi. Tanah Laut dan Kotabaru yang lebarnya proporsional dengan bentuk kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi kearah daratan. Suaka Margasatwa Pelaihari yang terletak di Kabupaten Tanah Laut. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -42 .2 Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan Perda Provinsi Kalimantan Selatan No. Cagar Alam Pulau Kaget yang terletak di Kabupaten Barito Kuala. Kawasan Perlindungan Setempat a) Kawasan sempadan pantai yang meliputi dataran sepanjang tepian pantai yang meliputi Kabupaten Barito Kuala.5. dan Barito Kuala. Kawasan Lindung Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Pada Kawasan Bawahnya mencakup seluruh kawasan hutan lindung. HST.(Persero) CABANG I MALANG 2. 2. Kawasan Pesisir Berhutan Bakau di kabupaten Kotabaru.

HSS. dan Tanah Laut. Tabalong. Tanah Laut. c) Kawasan Tanaman Tahunan/Perkebunan terletak di Kabupaten Barito Kuala. 3. d) Pengembangan Peternakan di Kabupaten Barito Kuala. Kawasan Pertanian a) Kawasan Pertanian Lahan Basah terletak di Kabupaten Barito Kuala. HSS. meliputi: 1. Taman Wisata Alam Batakan di Kabupaten Tanah Laut. Tapin. Tabalong. Tabalong. HSU. HSU. b) Kawasan Pertanian Lahan Kering terletak di Kabupaten Banjar. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -43 . HSS. HSU. Kawasan Pantai Berhutan Bakau di Kabupaten Tanah Laut. Banjarbaru. Tapin. Banjar. HST. 2. Tanah Laut. Tanah Laut. Banjar. HSS. Tapin. dan Tanah Laut. HSS. Tanah Laut. HSU. HSU. HST. HSU. Tapin. Kawasan Pantai Berhutan Bakau di Kabupaten Barito Kuala. HST. yang terletak di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut. HSU. HST. 2. Tapin. Tanah Laut. HSS. HST. e) Taman Hutan Raya. HST. HST. Taman Wisata Alam Jaro di Kabupaten Tabalong. Tapin. Tapin. dan Tanah Laut. 3. dan Barito Kuala. Banjar. Banjarbaru. c) Kawasan Hutan Produksi Konversi yang terletak di Kabupaten Banjar. HSS. Taman Wisata Alam Pulau Kembang yang terletak di Kabupaten Barito Kuala.(Persero) CABANG I MALANG 2. d) Taman Wisata Alam. meliputi: 1. Tabalong. Kawasan Budidaya Kawasan Hutan Produksi a) Kawasan Hutan Produksi Terbatas yang terletak di Kabupaten Banjar. dan Tabalong. Taman Hutan Raya Sultan Adam. dan Tabalong. HSU. Banjar. Tabalong. e) Pengembangan Perikanan terletak di Kabupaten Barito Kuala. b) Kawasan Hutan Produksi Tetap yang terletak di Kabupaten Banjar.

d) Pertambangan intan dan batu mulia dan lainnya terletak di Kabupaten Banjar. Kawasan industri pengolahan kayu Alalak di Kabupaten Barito Kuala. dan Tapin. c) Pertambangan gamping terletak di kabupaten HSS. dan Tanah Laut. - Kawasan Permukiman a) Kawasan permukiman perdesaan yaitu permukiman di luar perkotaan yang telah ada dan permukiman transmigrasi yang tersebar di setiap kabupaten. b) Objek wisata Pasar Terapung dan Pulau Kaget di Kota Banjarmasin dan Barito Kuala. Kawasan industri Bati-Bati di Kabupaten Tanah Laut. b) Kawasan permukiman perkotaan yaitu permukiman ibukota Provinsi. Kawasan Pertambangan a) Pertambangan batubara terletak di Kabupaten Banjar. c) Kawasan wisata Pantai Swarangan di Kabupaten Tanah Laut. meliputi: 1.(Persero) CABANG I MALANG - Kawasan Industri dan Zona Industri a) Kawasan Industri. HST. serta ibukota kecamatan. meliputi: 1. b) Pertambangan minyak bumi terletak di Kabupaten Tabalong. Tapin. Kawasan Pariwisata a) Kawasan wisata Loksado di Kabupaten HSS. Kawasan industri Simpang Tiga Liang Anggang-Banjarbaru di Kota Banjarbaru. kabupaten. 3. - - Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -44 . 3. Zona agro industri Murung Pundak di Kabupaten Tabalong. Tabalong. HSU. HSS. d) Kawasan wisata Pantai Batakan di Kabupaten Tanah Laut. b) Zona Industri. 2. 2. Zona industri perabot kayu dan rotan di Kabupaten HSU. Zona industri logam di Negara Kabupaten HSS.

(Persero) CABANG I MALANG e) Kawasan wisata Pantai Takisung di Kabupaten Tanah Laut. Martapura. Binuang. Gunung Batu Besar. Kandangan. Pagatan. dan Amuntai. Pelaihari. Kota Marabahan. p) Kawasan wisata Jembatan Barito di Kabupaten Barito Kuala. Orde IV : Kota Kelua. Batulicin. Paringin. Bati-Bati. Danau Panggang. Negara. m) Objek wisata pendulangan intan di Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru. k) Objek wisata relegius Pelampayan di Kabupaten Banjar. f) Objek wisata Waduk Riam Kanan dan Taman Hutan Raya Sultan Adam di Kabupaten Banjar. Muara Uya. Kota Banjarbaru. i) Objek wisata alam Upau dan Jaro di Kabupaten Tabalong. Pengaron. Kertak Hanyar. Tanjung Semalantakan. dan Kotabaru. h) Objek wisata Tanjungpuri di Kabupaten Tabalong. Batangalai Selatan. Rantau. dan Haruyan di Kabupaten HST. Barabai. Alabio. Anjir Pasar. Sungai Kupang. Pagat. Margasari. Jorong. o) Objek wisata religius/sejarah. n) Objek wisata sejarah Candi Agung di Kabupaten HSU. Tanjung. Kintapura. Mesjid dan Makam Sultan Suriansyah di Kuin Utara Banjarmasin. Sungai Danau. dan Manggalau. Penetapan Pusat-Pusat Permukiman Hierarki Kota-Kota Orde I Orde II Orde III : : : Kota Banjarmasin. j) Objek wisata alam Hantakan. Pantai Hambawang. 3. Alalak. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -45 . Orde V : Ibukota Kecamatan (IKK) selain kota-kota tersebut diatas. Gambut. Pangeran Antasari dan Kubah Basirih di Kota Banjarmasin. Takisung. l) Objek wisata relegius Makam Sultan Adam. g) Objek wisata Kerbau Rawa di Kabupaten HSS dan HSU.

Rantau. Negara. ditetapkan pada kota-kota yang memiliki kemampuan sosial/umum sebagai secara pusat lokal pelayanan terhadap jasa. Kintapura. a) Pengembangan Kota Orde I Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -46 . Pusat pelayanan lokal. Pusat industri manufaktur. Barabai. Kelua. Kintapura. Kotabaru. yaitu seluruh kota orde IV dan dua kota orde III. ditetapkan pada kota-kota yang/akan memiliki fasilitas dan prasarana yang memadai untuk berlangsungnya kegiatan industri serta akses terhadap bahan baku dan pemasaran produksi. Pelaihari. Kotabaru. Pagatan. Pusat pelayanan wilayah belakang. Kebijkasanaan Pengembangan Pengembangan kota-kota dilakukan sesuai dengan ordenya dan kondisi obyektif potensi perkembangan kotanya. ditetapkan pada kota-kota yang memiliki kemampuan sebagai pusat pelayanan jasa. dan Marabahan. Banjarbaru. Martapura. Pusat administrasi pemerintahan. Banjarbaru.(Persero) CABANG I MALANG - Fungsi Kota-Kota Penetapan fungsi suatu kota sesuai dengan hirarki kotanya. Batulicin. Margasari. Paringin. Martapura. Pantai Hambawang. Margasari. yaitu Kota Banjarmasin. Pusat permukiman ditetapkan pada seluruh orde kota. yaitu Paringin dan Pagatan. Amuntai. Marabahan. perdagangan dan sosial/umum terhadap wilayah belakangnya. Pagatan. ditetapkan pada kota yang secara administrasi memiliki kedudukan sebagai pusat utama pemerintahan. meliputi Kota Batulicin. Marabahan. Banjarbaru. Bati-Bati. Negara. yaitu Kota Batulicin. Martapura. Rantau. ditetapkan pada kota-kota yang memiliki lokasi strategis. Kelua. Tanjung. Tanjung. Kandangan. Manggalau. Kandangan. Pelaihari. Kotabaru. Amuntai. yaitu terdiri Pusat pelayanan komunikasi. yaitu Kota Banjarmasin. dan Kintapura. dan Muara Uya. Tanjung. Alabio. Amuntai. perdagangan dan beberapa kota/wilayah dari: disekitarnya dalam lingkup terbatas. Banjarmasin. Barabai.

permukiman dan industri polutif. Peningkatan kegiatan ekonomi (jasa dan perdagangan) untuk menunjang perkembangan ekonomi regional Kalimantan Selatan. sarana dan prasarana perkotaan yang dibutuhkan untuk menunjang fungsi kota. dan pengendalian tata ruang. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -47 . 4. swasta dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan sarana dan prasarana kota serta peningkatan pendapatan asli daerah untuk pembiayaan pembangunan kota yang mandiri. Penertiban dan penanganan kegiatan-kegiatan yang mencemari lingkungan. Pencegahan kerusakan lingkungan. 5. pemerintahan. terutama untuk Kota Kandangan dan Batulicin. Peningkatan kerjasama antar pemerintah dan swasta dalam pengadaan berbagai fasilitas. 3. seperti fungsi pendidikan tinggi. b) Pengembangan Kota Orde II 1. sarana dan prasarana Kota Kandangan yang akan memacu dan memantapkan fungsi pusat pelayanan Wilayah Pengembangan Benua Lima. Peningkatan fasilitas. 3. Pemantapan keterkaitan Kota Banjarmasin dengan kota-kota di Provinsi lain dan peningkatan sarana dan prasarana sebagai kota pelayanan regional dan nasional. Peningkatan fasilitas.(Persero) CABANG I MALANG 1. Peningkatan kegiatan ekonomi serta sarana dan prasarana yang mempunyai kaitan erat dengan wilayah belakang. Peningkatan kerjasama antar pemerintah. terutama di Sungai Barito dan pemeliharaan alur Sungai Barito agar dapat dilayari sepanjang tahun. Peningkatan status Batulicin sebagai pusat Wilayah Pengembangan Tanah Bumbu. 4. 2. sarana dan prasarana kota untuk menerima penjalaran perkembangan dari Banjarmasin (atau sebaliknya). 5. Penataan ruang kota melalui perencanaan. 6. pemanfaatan. Pengalihan sebagian dari fungsi kota yang sudah tidak efisien berlokasi di Banjarmasin. 6. 2.

3. 4. Marabahan dan Tanjung. 2. Peningkatan aksesibilitas ke wilayah belakang serta ke kota-kota yang berorde lebih tinggi melalui pengembangan system perhubungan sungai maupun darat. Pengendalian lingkungan. 4. Pengembangan Kota Manggalau sebagai alternative pusat pengembangan Wilayah Pengembangan Tanah Bumbu Utara. c) Pengembangan Kota Orde III 1. serta Pelaihari yang memiliki industri pengolahan tebu. Peningkatan kerjasama antar pemerintah dan swasta dalam pengadaan berbagai fasilitas. d) Pengembangan Kota Orde IV dan V 1. dan pengendalian tata ruang. 6. 2. Peningkatan sarana dan prasarana perkotaan yang menunjang pertumbuhan industri manufaktur dan agar mampu berfungsi sebagai pusat pengembangan wilayah belakang. dan pengendalian tata ruang. pada tahap awal dikembangkan sebagai Kota Orde IV dan selanjutnya ditingkatkan sebagai Kota Orde III.(Persero) CABANG I MALANG 7. pemanfaatan. 3. sarana dan prasarana perkotaan. pemanfaatan. Peningkatan kegiatan ekonomi dan aksesbilitas kota yang mempunyai kaitan erat dengan potensi wilayah belakang. Penataan ruang kota melalui perencanaan. dan pengendalian tata ruang. 5. dengan prioritas Kota Rantau. Peningkatan kegiatan ekonomi yang dapat menarik penduduk sehingga kota-kota tersebut dapat mencapai ukuran ekonomis dalam pembangunan sarana dan prasarana. Penataan ruang kota melalui perencanaan. Peningkatan sarana dan prasarana kota sesuai dengan fungsi kota. terutama untuk Marabahn yang banyak memiliki industri pengolahan kayu. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -48 . pemanfaatan. Penataan ruang kota melalui perencanaan.

c) Penataan wilayah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Asam-Asam. perikanan tambak dan ternak Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -49 . d) KSP HST-HSS meliputi Kecamatan Kandangan. d) Penataan wilayah wisata Loksado dan sekitarnya yang merupakan objek wisata alam dan budaya potensial. Cerbon.(Persero) CABANG I MALANG 4. Wanaraya. Kelua. meliputi: a) Peningkatan fungsi catchment area Riam Kanan sebagai sumber air untuk berbagai keperluan. jeruk. b) KSP Barito Kuala-Banjar meliputi Kecamatan Marabahan. Babirik dan Danau Panggang yang merupakan kawasan pengembangan komoditi kedelai. b) Rehabilitasi kawasan lahan kritis yang tersebar baik di kawasan budidaya maupun kawasan lindung khususnya pegunungan Meratus. Bakumpai. sapi. b) Pengembangan zona industri pengolahan kayu Barito Kuala. meliputi: a) KSP Tabalong-HSU meliputi Kecamatan Banua Lawas. Rantau Badauh. Kusan Hilir. Satui. Mandastana. dan konservasi. dan kedela. LianganggangBanjarbaru di Kota Banjarbaru. perikanan darat dan peternakan itik. Anjir Pasar. Lampihong. wisata. c) KSP Tanah Laut-Kotabaru meliputi Kecamatan Kintap. Tanjung. e) Penataan rawa potensial. Banjang. - Kawasan Sentra Produksi (KSP). Barambai. Sungai Tabuk dan Astambul. Labuan Amas Utara dan Labuan Amas Selatan yang Batulicin dan Sungai Loban yang merupakan kawasan pengembangan komoditi perikanan laut. meliputi: a) Pengembangan kawasan industri Simpang Tiga. Kawasan yang berperan menunjang sektor strategis. antara lain untuk pertanian. yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. Pengembangan Kawasan Prioritas Kawasan Lindung dan Kritis. Pandawan. Muara Harus. Sungai Pandan. Batang Alai Utara.

Kabupaten Barito Kuala. yaitu Kecamatn Kurau. HSS. Kabupaten Banjar. melinjo. e) Kabupaten HST meliputi Kecamatan Haruyan. Kota Banjarbaru. meliputi : a) Kabupaten Banjar meliputi Kecamatan Kertak Hanyar dan Kecamatan Aluh-Aluh. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -50 . Tabalong dan Tapin. dan Aranio yang merupakan kawasan pengembangan komoditi pisang. yaitu kawasan yang karena kondisi geografis. Kawasan Tertinggal. dan perikanan darat. Takisung. kacang tanah. e) KSP HSS-Tapin 1 meliputi Kecamatan Daha Utara. Pengaron. Karang Intan. f) Kabupaten Tapin. Hantakan. Kawasan Andalan.(Persero) CABANG I MALANG merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. Piani. Padang Batung. Muara Harus. b) Kabupaten Tanah Laut. dan Batu Tangga. yaitu Kecamatan Piani. d) Kabupaten HSU meliputi Kecamatan Babirik. dan ternak sapi. Tapin selatan dan Binuang yang merupakan kawasan pengembangan jeruk dan kacang tanah. Sungai Pinang. meliputi: a) Kawasan Andalan Kandangan dan sekitarnya yang meliputi Wilayah Pengembangan Benua Lima terdiri dari Kabupaten HSU. dan Jorong yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. dan Candi Laras Selatan yang merupakan kawasan pengembangan kedelai. g) KSP Banjar meliputi Kecamatan Simpang Empat. HST. Juai dan Halong. dan kedelai. c) Kabupaten Tabalong meliputi Kecamatan Pugaan. jeruk. Sungai Pandan. Panyipatan. Daha Selatan. b) Kawasan Andalan Banjarmasin dan sekitarnya meliputi Kota Banjarmasin. dan Kabupaten Tanah Laut. Tanta dan Benua Lawas. Batu Ampar. f) KSP HSS-Tapin 2 meliputi Kecamatan Loksado. h) KSP Tanah Laut meliputi Kecamatan Pelaihari. ekonomi dan social budayanya memiliki ketertinggalan dibandingkan dengan kawasan lainnya.

khususnya bagi penduduk yang mata pencahariannya terkait dengan sector pertanian pangan dan perikanan. h. Tubanganen dan Kuripan. g. telah menetapkan lokasi-lokasi KSP. sebagai berikut : a. dan masyarakat dalam pembangunan agribisnis dan agroindustri. e. Tamban. swasta.(Persero) CABANG I MALANG g) Kabupaten HSS meliputi Kecamatan Daha Selatan dan Daha Utara. HSU Kawasan Sentra Produksi HST – HSS Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 1 Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 2 Kawasan Sentra Produksi Batola – Banjar Kawasan Sentra Produksi Banjar Kawasan Sentra Produksi Tala Kawasan Sentra Produksi Tala – Kotabaru Kawasan Sentra Produksi Kotabaru Sasaran yang dipertimbangan dalam penetapan ini adalah. Kawasan Sentra Produksi Pertanian Provinsi Kalimantan Selatan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan. f. untuk mengembangkan pembangunan daerah dan meningkatkan pendapatan masyarakat di perdesaan. Kawasan ini diharapkan akan menjadi acuan bagi pemerintah daerah. tentang : “Penetapan Kawasan Sentra Produksi Pertanian di Provinsi Kalimantan”. b. d. i. c. 5. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -51 . Kawasan Sentra Produksi Tabalong. tanggal 10 Desermber 1999. h) Kabupaten Barito Kuala meliputi Kecamatan Alalak. melalui surat keputusan nomor : 0303/Tahun 1999.

tambak.2 63.3 40. Batu licin P. Babirik. Labuan Amas Utara.675 55. Candi Laras Selatan Laksado. KAWSN 1. rambutan.6 55. kacang tanah. Batu Mandi. Satui. Cerbon.3 65. Amuntai Tengah. Binuang Marabahan. Perikanan darat Peternakan (itik) LUAS LAHAN (Ha) AWAL POT. HSU LOKASI KAB.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Pengaron.9 7 Tala Tanah Laut 8.8 2 HST – HSS HST HSS Jagung.189 6. Danau Panggang Kandangan Bt.4 123. jeruk Kedelai 1. Penyipatan. Rantau Badauh. Tabalong HSU KECAMATAN Tanjung. P. Kelua Pugaan Lampihong. padi sawah 139. Kotabaru 10. Mandastana Sungai Tabuk.94 32. ternak sapi Rumput laut.963 110.76 55. Anjir Pasar. Jorong Kintap.Alai Utara. Sungai Pinang. perikanan darat Jagung. Tapin Selatan. Wanaraya. kacang tanah 3.207 19.1 118.4 6 Banjar Banjar Banjar Pisang. Piani. Banjang.7 Lokasi dan Jenis KSP di Provinsi Kalimantan Selatan NO 1 NAMA KSP Tabalong. S.792 86. Loban.966 55. Barabai. Laut Barat JENIS KSP Kedelai. Muara Harus. Padang Batung. ternak sapi Perikanan. Bakumpai. Labuan Amas Selatan Daha Utara. perikanan laut 5. Laut Selatan.76 9 Kotabaru Kotabaru 6 18 61.2 3 4 HSS – Tapin 1 HSS – Tapin 2 HSS Tapin HSS Tapin Kedelai Jeruk. melinjo. Pandawan. Kusan hilir. Daha Selatan. Takisung. Aranio Pelaihari.167 28 30. Batu Ampar. perikanan laut. Astambul Simpang Empat. Karang Intan.4 Jeruk.2 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -52 .3 5 Batola – Banjar Barito Kuala 3.6 8 Tala – Kotabaru Tanah Laut. Sei Pandan.

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.4 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS Peta Rencana Tata Ruang Provinsi Kalimantan Tengah II -53 .

1. Strategi ini sangat penting karena telah terjadi kerusakan lahan yang relatif besar terutama pada Lahan Gambut satu juta hektar dan pada eksploitasi sumber daya hutan yang keduanya telah mempengaruhi keseimbangan sumber daya alam yang ada. Oleh karena itu. Penetapan arahan penggunaan lahan yang efektif dan optimal berdasarkan reorientasi strategis penggunaan lahan yang telah terjadi dengan potensi pengembangan yang akan datang. juga ditujukan untuk mencegah berbagai kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kelestarian lingkungan baik pada kawasan lindung maupun sekitarnya. kawasan budidaya investasi besar dan kawasan lindung).3 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Selatan Terdapat tiga pertimbangan mendasar dalam penyusunan strategi tata ruang wilayah Kabupaten Barito Selatan. kompetitif dan berdampak luas pada ekonomi lokal (local multiplier). Kawasan Lindung Tujuan utama penetapan kawasan lindung dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Selatan adalah untuk melindungi sumber daya alam atau buatan yang ada didalamnya. mempertajam araham penggunaan lahan komoditas unggulan dan arahan penggunaan lahan yang berwawasan lingkungan. Proses transisi struktur ekonomi ini akan menuntut proses penguatan kelembagaan ekonomi dan sosial masyarakat dan pemerintah. sehingga secara bertahap daya saing produk-produk yang dihasilkan oleh Kabupaten Barito Selatan dapat berkompetisi pada pasar regional. penetapan kawasan lindung merupakan suatu bentuk perlindungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -54 . berdasarkan perwilayahan kesesuaian lahan yang jelas (terutama penggunaan lahan kawasan budidaya rakyat. yaitu: Strategi pengembangan Tata Ruang Wilayah yang akan diimplementasikan disusun berdasarkan asumsi bahwa dalam 10 tahun yang akan datang fokus kebijakan pembangunan wilayah di Barito Selatan telah ditekankan pada upaya-upaya persiapan untuk meningkatkan nilai rate of return wilayah. Proses transisi struktur ekonomi akan dilakukan secara bertahap menuju struktur ekonomi yang berbasis pada sumber daya lokal yang renewable. nasional dan internasional mengingat bahwa volume ekspor dari produk yang mempunyai nilai tambah sangat sedikit dan lebih terkonsentrasi pada usaha perkayuan.5.(Persero) CABANG I MALANG 2.

pertanian tanaman pangan. Konservasi flora dan fauna 3.(Persero) CABANG I MALANG yang didasari oleh pentingnya melestarikan dan meningkatkan kualitas lahan yang memang potensial untuk dibudidayakan. Kawasan Budidaya Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas kondisi dan potensi sumber daya alam. pariwisata dan kawasan lainnya. konservasi air hitam 4. perikanan. Kawasan budidaya mencakup kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan. peternakan. yaitu: Kawasan Hutan Lindung Kawasan Resapan Air Kawasan Konservasi 1. konservasi hidrologi Kawasan Perlindungan Setempat. Lahan Gambut tebal > 3 m 2. yaitu: Kawasan sepadan pantai Kawasan sepadan sungai Kawasan sekitar danau Kawasan sekitar mata air Kawasan Perlindungan dan pelestarian Hutan (PPH) yang meliputi: PPH Dataran Tnggi PPH Peralihan PPH Galam PPH Hutan Rawa 2. konservasi mangrove 5. Berdasarkan Keppres no 32 Tahun 1990 dan berdasarkan hasil kesesuaian lahan dan limitasi penggunaan lahan pada kawasan eks PLG. perindustrian. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -55 . perkebunan. pertambangan. hutan produksi. yang termasuk kawasan lindung dalam wilayah Kabupaten Barito Selatan adalah sebagai berikut: Kawasan yang memberikan perlindungan bagi kawasan bawahnya. sumber daya manusia dan sumber daya buatan.

yaitu: RTRW Provinsi Kalimantan Tengah sebagai acuan terhadap produk tata ruang yang lebih tinggi dengan tujuan untuk dapat lebih mensinergikan dan mengintegrasikan penentuan kawasan budidaya. Kawasan Hutan Produksi Tetap (HP) 2. baik karakteristik eksternal maupun internal. perkebunan. investasi swasta dan kebijakan sektoral dalam pola penggunaan lahan.(Persero) CABANG I MALANG Rencana penggunaan ruang untuk kawasan budidaya merupakan rencana untuk mencapai tujuan penataan ruang yang telah ditetapkan. Lahan berkembang untuk pengelolaan sumber daya alam dapat diperbaharui yang sesuai dengan kesesuaian wilayah dan ikutannya dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Definisi dan Kriteria Penetapan Kawasan Budidaya. Keppres no 57 Tahun 1990 tentang Jenis. Kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) Kawasan budidaya yang diperuntukkan untuk kegiatan permukiman. perikanan. Dalam merumuskan rencana penggunaan ruang untuk kawasan budidaya dipertimbangkan beberapa hal sebagai berikut: Tujuan pengembangan tata ruang wilayah Konsep pengembangan tata ruang wilayah Strategi pengembangan tata ruang wilayah Karakteristik wilayah. Pola penggunaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat yang terjadi pada sepanjang aliran sungai. Disini. Berdasarkan pertimbangan diatas. pariwiasata yang lebih melihat kepada pola penggunaan lahan yang terjadi oleh masyarakat yaitu Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -56 . Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) 3. maka klasifikasi rencana pemanfaatan ruang Wilayah Kabupaten barito selatan adalah: Budidaya kegiatan kehutanan 1. Oleh karena itu penetapan rencana pemanfaatan ruang kawasan budidaya Wilayah Kabupaten Barito Selatan ditetapkan dengan berbagai pertimbangan. pertanian. bahan pertimbangan adalah potensi penggunaan ruang kawasan budidaya. serta mempunyai manfaat bagi masyarakat secara umum.

Oleh karena itu. yaitu kegiatan budidaya rakyat berada pada wilayah sepanjnag sungai di Kabupaten Barito Selatan. yang tujuannya dipergunakan sebagai lahan cadangan untuk kegiatan permukiman. Dalam kawasan ini masih terdapat hutan konservasi yang diperbolehkan mengkonversi lahan hutan menjadi kegiatan budidaya lainnya. Dalam Rencana Penggunaan Ruang Kawasan Budidaya ini adalah adanya hak pengusahaan kawasan budidaya oleh rakyat yang memang telah berkembang dan memberikan suatu pola pemanfaatannya. pelayanan jasa pemerintahan. dalam rencana penggunaan dan pemanfaatan ruang kawasan budidaya ini menetapkan bahwa lahan budidaya rakyat (hak tanah ulayat rakyat) berada pada jarak 3 km arah kiri dan kanan sepanjang sungai di Kabupaten Barito Selatan. Deliniasi Wilayah Kabupaten Sebagai Kawasan Perdesaan Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utana pertanian. strategi pengembangan kawasan produksi dan karakteristik fisik dan guna lahan.(Persero) CABANG I MALANG pada sepanjang aliran sungai yang dinamakan Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lainnya (KPPL) yang didalamnya lebih diutamakan kepada lahan budidaya yang dilaksanakan oleh masyarakat. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. perkebunan dan peternakan yang lebih diarahkan sebagai kegiatan produksi yang berskala besar atau Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) Kawasan Transmigrasi. Kawasan budidaya yang diperuntukkan untuk kegiatan pertanian. Hal yang sangat penting dalam Yujuan Penataan Ruang Wilayah Kabupaten barito Selatan adalah meningkatnya peranan ekonomi dan pemanfaatan sumber daya alam yang dapat diperbarui untuk kemakmuran masyarakat dan mengarah kepada pengembangan agroindustri berbasis masyarakat. maka wilayah yang termasuk sebagai wwwilayah pengembangan kawasan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -57 . perikanan. 3. Delinasi kawasan budidaya / rakyat-rakyat yang memang telah dipergunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat dalam jangka waktu yang lama di sepanjang aliran sungai. Berdasarkan pertimbangan rencana pengembangan ekonomi. termasuk pengelolaan SDA dengan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan.

Wilayah-wilayah yang termasuk kawasan perdesaan ini difungsikan sebagai sentra-sentra produksi sesuai dengan rencana pengembangan ekonomi. Dalam penetapan kawasan perkotaan ini telah mempertimbangkan rencana pengembangan ekonomi. peternakan kecil dan besar. Untuk itu maka dilakukan deliniasi terhadap wilayah Kabupaten Barito Selatan yang termasuk sebagai kawasan perkotaan. Kawasan III Terdiri dari pusat-pusat desa yang berada di sekitar Kecamatan Dusun Utara dan Gunung Bintang Awai. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. Pusat kolektor dan orientasi dari kawasan ini adalah Buntok. 4. Kegiatan yang dikembangkan dalam kawasan ini adalah perkebunan tanaman keras (karet). peternakan besar dan kecil. Kawasan ini diarahkan untuk pengembangan kegiatan pertanian tanaman pangan. konsep Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -58 . Dalam pengembangan wilayah kabupaten Barito Selatan. perlu ditetapkan wialayah yang menjadi kawasan perkotaan guna mengoptimalkan pemanfaatan alahan yang ada. Deliniasi Wilayah Kabupaten Sebagai Kawasan Perkotaan Kawsan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.(Persero) CABANG I MALANG perdesaan adalah setiap pusat-pusat desa di Kabupaten Barito Selatan serta pusat-pusat kecamatan yang tidak termasuk kawasan perkotaan. Kawasan ini diarahkan untuk pengembangan kegiatan pertanian tanaman pangan. perkebunan tanaman keras dan semusim dan pariwisata. Secara umum kawasan perdesaan dibagi menjadi 3 kelompok kawasan: Kawasan I Terdiri dari pusat-pusat desa yang berada di sekitar Kecamatan Dusun Selatan dan Kuala Karau. perkebunan khususnya karet. perikanan umum hutan produksi dan pariwisata. buah-buahan. strategi pengembangan kawasan produksi. Kawasan II Terdiri dari pusat-pusat desa yang berada di sekitar Kecamatan Dusun hilir dan Jenamas.

Menurut Permendagri No. Mempunyai kepadatan penduduk yang relatif lebih tinggi dari wilayah sekitarnya. Secara fisik. industri. kriteria kawasan perkotaan dapat berupa ruang yang sudah menunjukkan sebagai kawasan perkotaan atau dapat berupa kawasan yang dicadangkan sebagai perluasan atau pengembangan kawasan perkotaan.000 orang di luar pulau-pulau tersebut. Kawasan tersebut saat ini dapat saja belum merupakan kawasan perkotaan akan tetapi dicadangkan/direncanakan sebagai kawasan perkotaan untuk kurun waktu yang akan datang. yang dalam satu kesatuan areal terbangun berjumlah sekurang-kurangnya 20. yang menjadi ciri kawasan perkotaan adalah: Mempunyai jumlah penduduk yang relatif lebih tinggi dari wilayah di sekitarnya. yang lebih tinggi dari wilayah di sekitarnya. 7 Tahun 1986. karakteristik fisik dan guna lahan serta kriteria-kriteria yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah tentang penataan ruang kawasan perkotaan. seperti: pemerintahan.000 orang di pulau Jawa. perdaganagan.(Persero) CABANG I MALANG pengembangan ruang wilayah Kabupaten. Proporsi bangunan permanen lebih besar di tempat itu daripada di wilayah-wilayah sekitarnya. Selain kriteria-kriteria yang telah disebutkan. atau 10. jasa dan lain-lain. yang termasuk kawasan perkotaan mempunyai ciri-ciri: Tempat permukiman penduduk yang merupakan satu kesatuan dengan luas. jumlah bangunan. Madura dan Bali. kriteria wilayah yang termasuk wilayah kota terbagi berdasarkan ciri-ciri secara fisik dan sosial-ekonomi. Dari aspek sosial ekonomi. kepadatan bangunan yang relatif lebih tinggi daripada wilayah sekitarnya. Merupakan pusat kegiatan ekonomi yang menghubungkan kegiatan pertanian wilayah sekitarnya dan tempat pemasaran atau prosesing bahan baku untuk kegiatan industri. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -59 . Mempunyai proporsi jumlah penduduk yang bekerja di sektor-sektor non pertanian. Mempunyai lebih banyak bangunan fasilitas sosial ekonomi daripada wilayah sekitarnya.

letak.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2. Kawasan Lindung Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian kemampuan lingkungan hidup mencakup Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -60 . ukuran dan fungsi kawasan lindung dan budidaya.5. 1.4 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Utara Rencana pola pemanfaatan ruang di Kabupaten Barito Utara meliputi batasbatas kawasan lindung dan kawasan budidaya.5 Peta Kawasan Lindung Kabupaten Barito Selatan 2.

Sungai yang berada di kawasan permukiman (sempadan Sungai) lebih kurang 10-15 m (untuk jalan inspeksi. Kawasan Perlindungan Setempat Berdasarkan Keppres No 32 Tahun 1990. fauna dan tipe ekosistem serta keunikan alam Dalam kebijaksanaan pengelolaan kawasan lindung diperlukan pendekatan yang terintegrasi antara kepentingan pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal dengan pelestariannya.(Persero) CABANG I MALANG sunberdaya alam. Mempertahankan keanekaragaman flora. Pengelolaan kawasan lindung di Kabupaten Barito Utara secara umum ditujukan untuk mencegah kemungkinan timbulnya berbagai kerusakan fungsi lingkungan hidup dan permasalahan kelestariannya. pelestarian dan pengendalian pemanfaatan kawasan lindung. Untuk mencegah timbulnya kerusakan fungsi lingkungan bawahannya. Melakukan pengendalian terhadap kegiatan yang telah ada di sepanjajng sungai agar tidak berkembang lebih jauh. maka perlu dilakukan beberapa upaya antara lain: Mencegah dilakukannya kegiatan budidaya di sepanjang sungai yang dapat mengganggu atau merusak kualitas air sungai. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -61 . Pengelolaan kawasan lindung adalah upaya penetapan. air dan iklim. sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan fungsi sungai: Lebih kurang 100 m di kiri-kanan sungai besar dan 50 m di kiri-kanan anak sungai yang berada di luar kawasan permukiman. Adapaun sasaran ditetapkannya kawasan lindung adalah untuk: Meningkatkan fungsi lindung terhadap tanah. maka Pemda Kabupaten Barito Utara perlu mengembalikan fungsi kawasan lindung yang saat ini sudah hilang/rusak menjadi fungsi awalnya. Untuk memantapkan fungsinya sebagai kawasan lindung. sumberdaya buatan guna kepentingan pembangunan pembangunan berkelanjutan. Mengamankan aliran sungai.

95% dari luas total kabupaten. Kawasan htan lindung di Kabupaten Barito Utara seluas 90. sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan. Rencana pemanfaatan ruang di Kabupaten Barito Utara mengarah kepada pola pemanfaatan hutan di bagian hulu dan tengah sub DAS anak Sungai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -62 . Kawasan Rawan Banjir Kawasan Rawan Longsor Kawasan Rawan Erosi dan Longsor 2. Agar tercipta kawasan budidaya yang harmonis/ideal maka dalam pemanfaatan ruangnya diperlukan rencana dan arahan yang berdaya guna dan berhasil guna bagi hidup dan kehidupan manusia. - Kawasan Pelestarian Alam Kabupaten Barito Utara memiliki potensi wisata alam dan sejarah yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah.066 Ha atau 7. 837/KPTS/Um/11/1980. kawasan rawan bencana adalah kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam. lahan-lahan yang memiliki kemiringan diatas 40% atau memiliki kemiringan 15-40% pada tanah-tanah yang sangat peka terhadap erosi diarahkan fungsinya sebagai kawasan hutan lindung. Kawasan Budidaya Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama utnuk kegiatan budidaya berdasarkan kondisi dan potensi sumberdaya alam. gempa bumi dan tanah longsor.(Persero) CABANG I MALANG - Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Kepada Kawasan Bawahannya Berdasarkan Keppres No 32 Tahun 1990 dan SK Menteri Pertanian No. dengan kriteria daerah yang diidentifikasikan sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana alam seperti letusan gunung berapi. Adapun wisata alam/sejarah yang perlu mendapat pembinaan dan pengembangan adalah: Kawasan Suaka Alam Kawasan Cagar Budaya - Kawasan Rawan Bencana Berdasarkan Keppres No 32 Tahun 1990. masyarakat maupun swasta.

(Persero) CABANG I MALANG Barito. Kawasan Budidaya Hutan Kawasan budidaya hutan terdiri dari Hutan Produksi Terbatas (HPT).00% 11.109 50.00% - Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lainnya (KPPL) Kawasan Pertanian Kawasan Perkebunan Kawasan Peternakan dan Perikanan Kawasan Permukiman dan Transmigrasi Kawasan Industri Kawasan Pertambangan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -63 .00% 28.46% 4. Rencana lokasi kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan penegembangan hutan produksi di wilayah Kabupaten Barito Utara tersebar di seluruh wilayah Kabupaten seluas ± 557.967 311.8 Luasan Kawasan Budidaya Hutan di Kabupaten Barito Utara No 1 2 3 4 Jenis Hutan Produksi Terbatas (HPT) Hutan Produksi (HP) Hutan Tanaman Industri (HTI) Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) Luas (ha) 220.700 Prosentase Dari luas kabupaten 20. Hutan Produksi (HP).536 Ha (49% dari luas wilayah) yang terdiri dari: Tabel 2.245 119. Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Kawasan Pengembangan Produksi (KPP). sedangkan kawasan permukiman perkotaan dan kawasan pengembangan produksi dikembangkan di bagian hilirnya.Pembudidayaan sumberdaya alam pada kawasan hutan produksi bersifat terbatas.

000.53 307. Adapun kebutuhan lahan permukiman perdesaan pada tahun 2011 direncanakan 70.46 4.48 24.38 19.00 3. Rencana Permukiman Perkotaan dan Perdesaaan Pengembangan Permukiman Perkotaan Pengembangan permukiman perkotaan dideliniasi berdasarkan pusat-pusat pelayanan dan fungsi pelayanannya.57 % 8.95 0.45 ha dengan daya tampung penduduk sebesar 56.050 jiwa. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -64 .72 311.09 100.62 7.57 27.561.897.71 220.194.132.200 jiwa dan pada tahun 2015 direncanakan mengalami peningkatan menjadi 75.67 91.45 % dan 21.67 50.50 27.00 ha untuk daya tampung penduduk sebesar 60.9 Alokasi Pemanfaatan Ruang di Kabupaten Barito Utara Tahun 20062007 No A Penggunaan Lahan Kawasan Lindung Hutan Lindung Cagar Alam B Kawasan Budidaya Hutan Produksi Terbatas Hutan Produksi Hutan Tanaman Industri Kawasan Pengembangan Produksi Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lain Areal Transmigrasi Industri Jumlah sumber: Hasil rencana tahun 2005 Keterangan : Floating zone tambang : 217.303.00 1.118 Ha Hutan dan non Hutan : 78.931.013.750 jiwa.966.31 1.035.13 2.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.245.640.947.00 119.54% Luas (ha) 97.86 90.80 1.88 ha dengan daya tampung penduduk sebesar 80.627.108. adapaun deliniasi luasan permukiman perkotaan pada tahun 2011 mencapai 22. Pengembangan Permukiman Perdesaan Rencana pengembangan permukiman perdesaan akan dikembangkan pada masing-masing desa/kelurahan yang terjangkau oleh skala pelayanan sistem pusat-pusat.699.20 0.94 ha dengan daya tampung penduduk mencapai 72.06 7.43 10.066.500 jiwa sedangkan pada tahun 2015 direncanakan seluas 25.336.

• • Mempertahankan sempadan sungai.6 Peta Rencana Pemanfaatan Ruang Kabupaten Barito Utara 2. penghijauan seluruh kawasan yang berfungsi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -65 . melalui perlindungan kawasan-kawasan di darat. Program Pemanfaatan Pada Kawasan Lindung.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2. Program pemanfaatan kawasan lindung pada jangka panjang di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • • • Pengembangan SDM (sumber daya manusia) di bidang kehutanan.5 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Timur 1. laut.5. Pelestarian dan pengembangan program wisata budaya. udara secara saling serasi dan selaras. Memelihara dan mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan mencegah timbulnya kerusakan lingkungan hidup. Mempertahankan luas kawasan lindung yang telah ada.

Meningkatkan efektifitas pengelolaan. Program pemanfaatan kawasan lindung pada jangka pendek di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • • • • • • Mengendalikan dan mencegah kegiatan-kegiatan budidaya di kawasan lindung. Penyusunan master plan drainase. Penertiban aktifitas pertanian. konservasi dan rehabilitasi sumber daya alam. Melakukan reboisasi.(Persero) CABANG I MALANG Program pemanfaatan kawasan lindung pada jangka menengah di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • • • • • Mengembalikan fungsi kawasan hutan lindung yang telah ada. Menertibkan kegiatan illegal logging di kawasan hutan lindung. Menetapkan kawasan fungsi lindung yang juga mencakup perlindungan terhadap kawasan rawan bencana. Penertiban terhadap adanya aktifitas budidaya dan permukiman yang tidak menunjang fungsi utama kawasan. Mencegah dan mengendalikan kerusakan dan kebakaran hutan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -66 . Program pengelolaan hutan masyarakat.

(Persero) CABANG I MALANG

Tabel 2.10 Garis besar program pemanfaatan Ruang Kawasan Lindung Kabupaten Barito Timur
No Kawasan Lindung Jangka Panjang Seluruh kawasan lindung  berbentuk hutan Pengembangan SDM di Bidang  Kehutanan Garis Besar Program Jangka Menengah * Mengembalikan fungsi kawasan    hutan lindung yang telah ada * Rehabilitasi hutan dan    lahan kritis * Program penghijauan * Program pengendalian erosi dan    konservasi air * Program Pengelolan hutan   bersama masyarakat * Penertiban aktifitas pertanian    dan permukiman Jangka Pendek Sosialisasi dan penyuluhan kegiatan penghutanan dan reboisasi, konservasi rehabilitasi untuk seluruh kawasan lindung di luar hutan termasuk pencegahan kebakaran hutan dan pencegahan Illegal Logging * Sosialisasi penghutan dan    reboisasi * Penertiban * Sosialisasi penghijauan    dan reboisasi. Pelaksana Dinas Kehutanan Kabupaten dan  Propinsi Departemen Kehutanan

1 Kawasan Lindung  untuk Kawasan Hutan

2 Kawasan Resapan air

Seluruhnya berbentuk hutan

Dinas Kehutanan Kabupaten Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Dinas Pertanian Kabupaten Kantor Kebersihan dan Pertamanan Dinas Parbud Kabupaten

3 Kawasan Perlindungan setempat: sempadan sungai, kawasan sekitar waduk, sekitar mata air sempadan jalan 4 Kawasan Cagar Budaya

mempertahankan  penghijauan seluruh kawasan yang berfungsi sempadan

* Penertiban aktifitas pertanian   dan permukiman * Penghijauan dengan tanaman    keras/tahunan yang memiliki    nilai ekonomi * Pelestarian budaya * Pengembangan Program Wisata    Budaya yang Lestari dan   Berkelanjutan * Promosi wisata budaya Penyusunan master plan drainase

* Pelestarian budaya * Pengembangan program   wisata budaya yang   lestari dan berkelanjutan Pembangunan drainase prasarana pematusan air/ hujan menyeluruh * Terasering * Pelarangan pertanian     pada kawasan rawan    longsor

Penertiban terhadap adanya aktifitas budidaya dan per‐ mukiman yang tidak menun‐ jang fungsi utama kawasan Pemberian IMB berdasarkan KDB dan KLB terbatas Sosialisasi KDB dan KLB Penertiban aktifitas  pertanian

5 Kawasan Rawan  Bencana banjir/ genangan 6 Kawasan Rawan Bencana gerakan tanah /tanah longsor

Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten dan Propinsi Dinas Pertanian

* Terasering * Pembangunan prasarana    drainase

2. Program Pemanfaatan Pada Kawasan Budidaya Program pemanfaatan kawasan budidaya pada jangka panjang di Kabupaten Barito Timur antara lain: • • • Memanfaatkan sumber daya alam secara sinergis untuk mewujudkan keseimbangan pemanfaatan ruang wilayah. Mengembangkan kegiatan-kegiatan budidaya beserta prasarana penunjangnya secara sinergis. Megembangkan dan mempertahankan kawasan budidaya pertanian tanaman pangan nasional. Program pemanfaatan kawasan budidaya pada jangka menengah di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • Memanfaatkan ruang kawasan budidaya secara optimal sesuai dengan kemampuan daya dukung lingkungan.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -67

(Persero) CABANG I MALANG

Secara umum pengembangan kawasan budidaya diarahkan untuk mengakomodasi kegiatan produksi lahan basah dan kering (pertanian, perkebunan, perikanan, hutan produksi), permukiman dan pariwisata.

Pengembangan kawasan budidaya pertanian perlu diarahkan pada wilayah-wilayah yang memiliki potensi/kesesuaian lahan serta adanya dukungan pengembangan kawasan prasarana budidaya pengairan/irigasi diarahkan serta untuk memperhatikan pembangunan berkelanjutan.

Pengembangan

kehutanan

mewujudkan pengelolaan hutan lestari melalui pemantapan kondisi kawasan hutan, perencanaan, pengamanan dan perlindungan hutan yang terpadu melalui pengendalian penebangan liar dan penanggulangan kebakaran hutan serta rehabilitasi kawasan hutan kritis. Memenuhi bahan baku industri hilir dengan pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan pengembangan hutan rakyat. Memperkuat kelembagaan masyarakat dalam rangka mitra sepaham pembangunan kehutanan dan peningkatan kesejahteraan. Menghindari terjadinya konflik kepentingan/penguasaan kerjasama lahan/kawasan lembaga hutan. peneliti Mengembangkan hasil hutan. • Pengembangan kawasan permukiman meliputi upaya untuk mendorong pengembangan pusat-pusat permukiman perdesaan sebagai desa pusat pertumbuhan terutama wilayah desa yang mempunyai potensi cepat berkembang dan dapat meningkatkan perkembangan desa di sekitarnya dan mendorong pengembangan permukiman sub urban atau kota baru pada daerah peripheral kota-kota metropilitan dan kota besar untuk memenuhi kebutuhan perumahan pada kota-kota tersebut dan sekaligus berperan sebagai penyaring arus migrasi desa-kota. • Pengembangan kawasan pariwisata diarahkan pada objek-objek wisata alam dan budaya dengan memperhatikan pelestarian lingkungan dan mengembangkan prasarana penunjang. • Pengembangan kawasan industri meliputi upaya untuk mendorong pengembangan industri pengolahan dan agro industri untuk meningkatkan nilai tambah sektor-sektor produksi wilayah seperti pertambangan, pertanian, perkebunan dan hasil hutan memberikan prioritas penanganan kawasan-kawasan industri. dengan

lokal/regional/internasional dalam rangka mengembangkan produk

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -68

(Persero) CABANG I MALANG

Pengembangan kawasan pertambangan meliputi mengembangkan pengelolaan pemanfaatan sumberdaya energi dan mineral secara optimal dengan memperhatikan daya dukung lingkungan secara makro dan mikro: mengendalikan pengelolaan pemanfaatan sumberdaya pertambangan secara ilegal terutama untuk mencegah dampak lingkungan terhadap wilayah sekitarnya, dan memprioritaskan pengelolaan kawasan-kawasan pertambangan yang memperhatikan daya dukung lingkungan.

Mengendalikan pemanfaatan ruang pada kawasan budidaya agar tidak terjadi konflik antar kegiatan/sektor. Pengendalian pemanfaatan ruang sebagai suatu bagian mekanisme pengelolaan tata ruang perlu dilakukan melalui penyelesaian permasalahan tumpang-tindih yang ada serta upaya preventif untuk mencegah terjadinya konflik.

Penentuan prioritas dalam pemanfaatan ruang antar kegiatan budidaya sehingga dapat lebih terarah dan fleksibel sesuai dengan tuntutan perkembangan.

Penentuan prioritas pengembangan sistem prasarana kawasan pada bidang transportasi dan faktor produksi yaitu dengan mengembangkan jaringan jalan yang menghubungkan sentra-sentra produksi dengan pusat koleksi dan distribusi di tingkat lokal, intra regional dan inter regional.

Pengalokasian rencana pemanfaatan lahan yang lebih tegas dan bersifat flesibel.

Program pemanfaatan budidaya pada jangka pendek di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • Pengembangan hutan produksi antara lain meliputi: a. Pengusahaan hutan produksi melalui pemberian ijin HPH pola tebang pilih. b. Pengembangan zona penyangga pada kawasan hutan produksi yang berbatasan dengan hutan lindung. c. Pemantauan dan pengendalian kegiatan pengusahaan hutan serta perladangan berpindah. d. Pemanfaatan ruang pada kawasan hutan produksi konversi untuk kegiatan pertanian (perkebunan dan tanaman pangan) sesuai dengan potensinya.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -69

(Persero) CABANG I MALANG

e. Pengembangan pola tanaman industri. f. Reboisasi dan rehabilitasi lahan pada bekas tebangan HPH. g. Penyelesaian masalah tumpang tindih dengan kegiatan budidaya lainnya (pertanian, pertambangan) • Pemanfaatan ruang kawasan pertanian meliputi: a. Perluasan areal persawahan baru (ekstensifikasi) pasang surut dan aluvium. b. Pengembangan prasarana pengairan. c. Pembentukan kawasan Agroopolitan di kota Ampah. d. Pengendalian kegiatan lain agar tidak mengganggu lahan pertanian khususnya sawah pasang surut. e. Penyelesaian masalah tumpang tindih dengan kegiatan budidaya lain. • Pemanfaatan ruang kawasan perkebunan meliputi upaya untuk: a. Peremajaan dan perluasan areal tanaman perkebunan sesuai dengan potensi/keseluruhan lahannya secara optimal, diarahkan ke Kecamatan Awang dan kecamatan Petangkep Tutui. b. Pengamanan daerah aliran sungai. • Pemanfaatan ruang kawasan pariwisata meliputi upaya untuk: a. Penataan ruang kawasan pariwisata. b. Pengembangan obyek wisata dan fasilitas pariwisata. • Pemanfaatan Ruang Kawasan Perindustrian adalah: a. Penataan ruang kawasan industri. b. Penyediaan prasarana pendukung kawasan industri. • Kebijaksanaan pemanfaatan Ruang Kawasan Permukiman adalah: a. Penataan ruang kota (RUTRK, RDTRK, RTRK) b. Pengembangan desa-desa pusat pertumbuhan. c. Pengembangan permukiman transmigrasi lokal. • Kebijaksanaan Pemanfaatan Ruang Kawasan Pertambangan adalah: a. Pemantauan dan pengendalian kegiatan pengusahaan pertambangan agar tidak mengganggu fungsi lindung. b. Pengembalian fungsi lindung pada kawasan bekas kuasa pertambangan. yaitu melakuakan penyusunan RTRK dan peninjauan kembali (evaluasi, revisi) RTRK.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -70

(Persero) CABANG I MALANG

3. Rencana Pengelolaan Kawasan Perdesaan dan Perkotaan Dalam suatu wilayah Kabupaten terdapat dua jenis kawasan fungsional yaitu kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan serta bisa terdapat kawasan tertentu. Rencana Pengelolaan Kawasan Perdesaan, Perkotaan dan Kawasan Tertentu dirumuskan untuk mencapai keserasian hubungan fungsional antara kawasan-kawasan tersebut. Bentuk bentuk pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan dan tertentu meliputi: • Kelembagaan Meliputi pembagian dan kewengan swasta, pengelolaan lembaga kawasan perdesaan, dan perkotaan dan tertentu yang melibatkan pemerintah Kabupaten, Kecamatan kawasan Desa, kemasyarakatan dapat masyarakat secara langsung. Hubungan kerjasama dalam pengelolaan perdesaan/perkotaan/tertentu juga melibatkan beberapa pemerintah kabupaten apabila kawasan mencakup dua atau lebih daerah otonom yang berbatasan secara langsung. • Program Pemanfaatan Meliputi garis besar program pemanfaatan yang diindikasikan pada kawasan perdesaan, perkotaan dan tertentu untuk jangka panjang, menengah dan pendek • Pengawasan Meliputi tata cara dan prosedur pengawasan terhadap kebijakan pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan dantertentu. Misalnya untuk pengelolaan kawasan perdesaan, dirumuskan kebijakan pengendalian konversi pemanfaatan ruang yang memperhatikan keberlanjutan dan pemenuhan kebutuhan hidup seperti udara, air dan pangan, mengingat dominannya sumber daya alam di kawasan perdesaan. Aspek pengawasan dalam pengelolaan kawasan melibatkan pemerintah kabupaten, kecamatan dan desa bersama-sama dengan masyarakat. • Penertiban Meliputi tata cara dan prosedur pelaporan terhadap pelanggaran pelaksanaan kebijakan kawasan perdesaan, perkotaan dan tertentu.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -71

(Persero) CABANG I MALANG

2.5.6 Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Kuala Kapuas 1. Kabupaten Kapuas Sebagai bagian dari WS Kapuas, wilayah Kabupaten Kapuas hampir seluruhnya terletak di DAS Kapuas, dan berada pada posisi perbatasan antara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Kondisi Kabupaten ini disusun sebagai informasi kajian analisis wilayah yang sangat relevan dengan rencana tata ruang dan master plan pada DAS Kapuas. Berdasarkan informasi awal kajian tata ruang ini, akan memberikan arahan dalam penyusunan master plan sumber daya air DAS Kapuas. Kebijaksanaan perwilayahan pembangunan dalam Pola Dasar Pembangunan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Kapuas 1994/1995 – 1998/1999 membagi wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Kapuas atas 5 (lima) wilayah pembangunan, yaitu : 1. Wilayah Pembangunan Bagian Utara, meliputi kecamatan Kahayan Tengah, Banama Tingang, Sepang, Kuala Kurun, Tewah, Kahayan Hulu Utara, dengan Pusat Pengembangan Kuala Kurun. 2. Wilayah Pembangunan Bagian Selatan, meliputi kecamatan-kecamatan Selat, Kapuas Hilir, Pulau Petak, Kapuas Murung, Kapuas Timur, Basarang, dan Kapuas Kuala dengan pusat pengembangan Kuala Kapuas. 3. Wilayah Pembangunan Bagian Timur, meliputi Kecamatan-kecamatan Timpah, Kapuas Tengah, dan Kapuas Hulu dengan pusat perdagangan Timpah. 4. Wilayah Pengembangan Bagian Barat, meliputi Kecamatan-kecamatan Rungun dan Manuhing, dengan pusat pengembangan Tumbang Jutuh. 5. Wilayah Pembangunan Bagian Tengah, meliputi Kecamatan-kecamatan Kahayan Hilir, Kahayan Kuala, Pandih Batu, Kapuas Batu, dan Mantangai, dengan pusat pengembangan Pulang Pisau. 2. Fungsi dan Peranan Kota Kuala Kapuas Dengan demikian, dari kebijaksanaan tersebut Kota Kuala Kapuas, selain sebagai pusat utama Kabupaten Dati II Kapuas, berfungsi secara khusus sebagai pusat pengembangan wilayah pembangunan bagian selatan, yang melayani/membawahi wilayah fungsional yang relatif berbatasan dengan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -72

(Persero) CABANG I MALANG

Provinsi Kalimantan Selatan.

Kawasan WP Bagian Selatan relatif lebih

maju dibandingkan wilayah lainnya, terutama bila dilihat dari indicator kependudukan, kegiatan ekonomi, kelengkapan fasilitas dan fasilitas umum, serta jarak dan aksesibilitas dan transportasi wilayah. Dalam kajian ini, disusun kajian mengenai peran Kota Kuala Kapuas, sebagai pusat pengembangan wilayah Kabupaten Kapuas, yang mewakili peranan pengembangan DAS Kapuas. Berdasarkan hasil analisis terhadap potensi dan masalah perkembangan kota yang terjadi selama ini dan antisipasi terhadap masa yang akan dating, maka fungsi dan peranan Kota Kuala Kapuas yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut. A. Fungsi Primer 1. Pusat Pemerintahan Tingkat Kabupaten : sesuai peran sebagai ibukota kabupaten Kapuas, skala kerja Bupati 2. Kegiatan transportasi : potensi sebagai kota transit, baik angkutan sungai maupun darat 3. Kegiatan perdagangan dan jasa : mendukung Kota Kuala Kapuas sebagai pusat pengembangan wilayah dan jalur transportasi wilayah 4. Pendukung kegiatn industri : fungsi yang berkenaan dengan industri di wilayah interland kita yang terkait dengan hasil hutan. B. Fungsi Sekunder Fungsi sekunder yang utama adalah sebagai permukiman yang meliputi ketersediaan tempat hunian/wisma, tempat kerja, tempat rekreasi, dan fasilitas social. Keseluruhan komponen tersebut diperuntukan bagi penduduk kota saja. 3. Karakteristik Umum Kota Kuala Kapuas Wilayah perencanaan merupakan bagian dari wilayah Kota Kuala Kapuas yang berfungsi sebagai pusat pemerintah Kabupaten Kapuas, dan luas efektif kota adalah sebesar 2,733 Ha. Secara fisik, wilayah Kota Kuala Kapuas dipengaruhi oleh dua sungai besar, yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung, yang sekaligus menjadi pusat orientasi kegiatan air dan ini merupakan ciri khas kota air.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -73

(Persero) CABANG I MALANG

Secara umum, kawasan ini dapat dikembangkan untuk kegiatan kota, walaupun pada beberapa bagian wilayah kota Kapuas sangat besar dipengaruhi oleh genangan air pasang surut Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung. Hal ini menimbulkan terjadinya genangan air sepanjang tahun. Ditinjau dari pola tata guna lahan, sebagian besar dari kawasan terbangun yang ada merupakan kawasan perumahan yang sangat padat dengan kondisi bangunan dan lingkungan yang kurang baik. Lokasinya cenderung mengelompok di sepanjang Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung. Pada posisi ini, maka pengembangan sector sumber daya air pada kedua sungai tersebut mengacu pada rencana peruntukan kota, yang memerlukan kelengkapan sarana dan prasarana yang memadai sebagai kawasan sentra pengembangan wilayah. 4. Tata Guna Tanah dan Kondisi Lingkungan Ditinjau dari tata guna tanahnya, sebagian besar digunakan untuk perumahan dan perdagangan. Penggunaan lainnya yang cukup menonjol adalah perdagangan yang terdapat di pusat kota dan kegiatan pemerintahan. Pada lahan-lahan yang relatif kosong terdapat lahan yang potensial untuk dikembangkan dan juga sulit dikembangkan karena merupakan tanah lempung yang berlumpur yang dalam. Masalah lingkungan yang cukup serius adalah lingkungan di tepian Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung yang berada di dekat atau di pusatpusat perdagangan dan jasa. Umumnya kondisi perumahan perpetakan bangunan dan kegiatan kurang terencana sehingga memberikan kesan kumuh (slums area). Juga masalah prasarana lingkungan masih relatif kurang memenuhi kebutuhan, khususnya air bersih dan sanitasi. Pada beberapa bagian di wilayah perencanaan ini dijumpai adanya penggunaan ganda (mix – used) serta pola distribusi kepadatan bangunan yang kurang merata dan banyaknya bangunan dengan kondisi yang kurang memadai. Untuk mengatasinya dapat diusahakan melalui peningkatan kondisi lingkungan, program perbaikan kampong (KIP), program kali bersih (Prokasih), resettlement dan lain-lain.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -74

(Persero) CABANG I MALANG

5. Rencana Struktur Kota Kuala Kapuas Rencana struktur ruang merupakan pedoman dasar bagi pengembangan suatu wilayah atau kawasan tertentu, yang selanjutnya akan menunjukan pola tata ruang yang sesuai dengan fungsinya yang lebih berorientasi pada pelayanan umum dan memenuhi kebutuhan warga kota secara optimal. Tujuan dan sasarannya adalah sebagai berikut : a) mengarahkan tingkat pertumbuhan Kota Kuala Kapuas ke wilayahwilayah BWK dan sub BWK sesuai dengan potensi dan porsi fungsi kota. b) c) d) Mengatur mekanisme untuk perkembangan penentuan fungsi kota dan intensitas ruang fisik secara keseluruhan. Mewujudkan pemerataan pengembangan ataupun pembangunan wilayah ke dalam BWK (bagian wilayah kota) Memberikan pedoman bagi pola peruntukan lahan beserta pembangunan fisik, terutama berkaitan dengan penyediaan fasilitas dan utilitas untuk menunjang BWK Kuala Kapuas yang aman, indah, dan ramah (sebagai Kota Air). 6. Rencana Pengembangan Kota dan Pembentukan Unit Pelayanan Untuk mengurangi permasalahan yang ada saat ini maupun yang akan dijumpai pada masa mendatang, maka Kota Kuala Kapuas dibagi menjadi 3 (tiga) Bagian Wilayah Kota (BWK), yaitu BWK Selatan, BWK Utara, BWK Timur. Setiap BWK tersebut terdiri dari satu sub bagian wilayah kota (Sub – BWK) dan beberapa pusat-pusat pelayanan. Fungsi bagian wilayah Kota Kapuas adalah sebagai berikut :

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -75

Rencana Penggunaan Lahan Salah satu rencana yang paling penting adalah rencana penggunaan lahan.07 0.87 2.59 2.45 56 34.4 48.89 31.99 1.96 Sumber : RUTRK Kuala Kapuas dan RDTRK Keterangan : Sempadan Sungai dan Pertanian bukan merupakan kawasan terbangun Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -76 .27 0.85 1.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.84 2.311.86 10.49 % 32.37 1.88 2.12 Rencana Tata Guna Lahan Kuala Kapuas.76 1.05 1.75 77.733.00 % 36.14 0.24 47. 1999 .05 1.45 0.86 10.88 43.99 67.089.13 2004 LUAS (Ha) 1.00 2.28 1.01 0.68 2.5 1.65 100 45.238.00 1.05 52. praktek dokter) 7 Pusat pengembangan industri besar/menengah di Kelurahan Murung Keramat 1 Pusat pemerintahan skala wilayah kerja bupati 2 Pusat pengembangan perdagangan skala local dan regional 3 Pusat pengembangan pariwisata di Pulau Telo 4 Pusat pengembangan dan pendidikan dan lapangan olah raga (stadion Olah Raga) 5 Pengembangan perkantoran 6 Pengembangan permukiman skala BWK 7 Pengembangan terminal regional dan kota 8 Pengembangan sub terminal kota 9 Pengembangan dermaga barang 10 Pengembangan dermaga antar kota 1 Pusat pemerintahan skala kecamatan dan kelurahan 2 Perkantoran 3 Pengembangan industri kecil (tersebar) 4 Lapangan olah raga 5 Pengembangan permukiman 6 Perumahan terbatas (permukiman DAS) 2 BWK UTARA 3 BWK TIMUR Sumber : RUTRK Kuala Kapuas dan RDTRK 7.09 0.99 100 49.553.33 2009 LUAS (Ha) 1.5 1.82 100 41.77 1.05 1.05 56 34.00 1.00 1.72 2.38 56 48.76 1. Tabel 2.124.78 0. Puskesmas.5 1.57 1.2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 JENIS PENGGUNAAN Perumahan dan jalan Perkantoran Perdagangan dan jasa Peribadatan Kesehatan Pendidikan Olah raga /taman Sempadan sungai Jaringan jln Tempat pemakaman Pertanian terbuka TOTAL KAW TERBANGUN 1999 LUAS (Ha) 919.438.97 2.007.58 53.00 % 33.55 50.93 10.39 1.18 42.07 0.38 1. Dalam buku RUTK Kuala Kapuas telah ditetapkan rencana penggunaan lahan Kota Kuala Kapuas.05 47.27 0.15 12.42 18.69 0.46 0.94 57.05 56.51 2.23 1.11 Fungsi dan Bagian Wilayah Kota (BWK) Kuala Kapuas No 1 BWK BWK Selatan FUNGSI BWK 1 Perkantoran 2 Pusat perdagangan dan Jasa 3 Perumahan dan permukiman terbatas (DAS) di Pusat Kota 4 Pendidikan 5 Olah Raga 6 Kesehatan (RSU.66 1.365.733.96 1.733.

yaitu di sepanjang daerah aliran sungai dan disepanjang jalur transportasi darat. Untuk rencana pengembangan BWK Timur terdapat pada Kecamatan Kapuas Hilir sebagai pengembangan penduduk terbatas dan sebagai kawasan pengembangan KAPET (kawasan pengembangan ekonomi terpadu) di Kalimantan Tengah. perdagangan. yang berfungsi sebagai pusat pengembangan perkantoran.(Persero) CABANG I MALANG 8. pusat pengembangan skala pemerintahan kabupaten dan pusat adalah terpusat pada kawasan kota. Adapun arah utama perkembangan kota Kuala Kapuas saat ini Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -77 . pendidikan. Adapun pola perkembangan fisik kota berbentuk grid – liner. Hal ini menjadikan kota ini menjadi kota transit. pembangunan bagi daerah sekitarnya. Direncanakan pengembangan kawasan terbangun kearah Bagian Wilayah Kota Utara sebagai pusat pengembangan BWK Utara di bundaran besar (jalur lalu lintas Kalimantan poros selatan). Mengingat perkembangan kota kuala kapuas semakin berkembang di jalur transportasi darat. dan jasa. Perkembangan Fisik Bagian Kota Perkembangan fisik bangia wilayah Kota Kuala Kapuas pada awalnya berkembang dari pola permukiman penduduk yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS). yaitu telah terbukanya jalur jalan lintas Kalimantan Poros Selatan sebagai pergerakan arus barang dan pergerakan penduduk di masa yang akan datang.

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.7 Peta Penggunaan Lahan WS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -78 .

8 Peta Penggunaan Lahan WS Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -79 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.

Jumlah dan kepadatan penduduk Kalimantan Selatan yang termasuk dalam WS Barito-Kapuas adalah sebagai berikut: Tabel 2.96 Kepadatan / km2 90 Sumber : BPS Kabupaten Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -80 .615 88. 2007 Tabel 2.218 112.325 69. jumlah penduduk Kalsel yang masuk dalam WS Barito-Kapuas pada bulan Februari 2007 sebanyak 269.932 2005 122.567 83.266 91.15 Penduduk Tiap Kabupaten pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan (2007) No 1 Kab / Kota Barito Kuala Penduduk 269.751 2007 269.555 329.580 1.604 2004 119.956 2003 116.152 106.557 109.397 355.823 107.656 Pendd% 2.395 Pertumb 2006 125.434% per tahun.470 2005 255.659 335.082 86.863 81.163 73.6.008 77.448 Luas (km2) 2.148 113.355 110.900 Sumber :Propinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka.(Persero) CABANG I MALANG 2.360 1.14 Pertumbuhan Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah (2002 – 2007) No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Penduduk (Jiwa) 2002 114.448 jiwa.567 348. Pertumbuhan pertahun cukup fluktuatif dengan toleransi rendah.091 87.340 1.448 Pendd% 0.996.1 Kependudukan Berdasarkan laporan pada Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan.969 Pertumb 2006 258.382 2007 128.92 Sumber :Propinsi Kalimantan Tengah Dalam Angka.209 2004 253.668 323.992 342.117 81.13 Pertumbuhan Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan (2002 – 2007) No 1 Kab / Kota Barito Kuala Jumlah Penduduk (Jiwa) 2002 248.580 82.053 2003 251.063 83.6 ASPEK SOSIAL EKONOMI 2. periode 2002 – 2007 turun menjadi 1.019 5. 2007 Tabel 2.

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -81 .87 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 2.448 Kepadatan / km2 90 Jumlah RT 69.082 Luas (km2) 6.252 180.615 88.447 4.082 Kepadatan / km2 20 14 23 4 24 14 Jumlah RT 23.656 777.570 20.00 3.615 88.341.194 Kepadatan / km2 20 14 23 4 24 14 Sumber : Hasil Perhitungan Jumlah rata-rata jiwa per rumah tangga merupakan dasar perhitungan bagi proyeksi jumlah konsumen / pelanggan air bersih sehingga berfungsi sebagai asumsi dalam analisis.19 sebagai berikut.149 Rata2 per RT 5.458 4.504 87.911 4.00 23. Tabel 2.002.397 355.834.18 Jumlah Rata-rata Jiwa per Rumah Tangga Tiap Kabupaten WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Penduduk 128.300.31 Sumber : Hasil Perhitungan Perkembangan jumlah kabupaten atau kota ditentukan pula oleh perkembangan desa di kawasan tersebut.716.266 91.397 355.076 4. Kondisi desa-desa pada kabupaten tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.75 15.148 113.266 91.00 8.584 Rata2 per RT 3.16 Penduduk Tiap Kabupaten pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah (2007) No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Penduduk 128.321 3.527 26.656 777.296 22.00 57.17 Jumlah Rata-rata Jiwa per Rumah Tangga WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 Kab / Kota Barito Kuala Penduduk 269.148 113.

Relatif masih rendahnya tingkat pendidikan SDM yang bekerja. sisanya sekitar 70% masih belum mendapat kesempatan.48 1. sedangkan sektor terkecil penyerapannya adalah sektor Pertambangan 0.1 Barito Selatan Dari keseluruhan penduduk Barito Selatan.6.2.9 Prosentase Bidang Pekerjaan Penduduk Barito Selatan Lis t rik . 53% berumur 10 tahun keatas yang merupakan penduduk usia produktif secara ekonomis. Pe r Ke ua Pe r La in ny a ng an n Ai r ng un a ta ni a da n Ja s a Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -82 .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Rata-rata setiap tahunnya tidak lebih dari 30% dari seluruh jumlah pencari kerja terdaftar yang mendapat pekerjaan. memiliki tingkat pendidikan dasar.81 15.00 - 59. tidak/belum tamat SD/sederajat.6. 70.15 8.19 Kondisi Desa Tiap Kabupaten di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 Kab / Kota Barito Kuala Jumlah Desa 200 Desa Swadaya 0 Desa Swakarya 0 Desa Swasembada 200 Sumber : Propinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka.00 40.10 3. Komposisi angkatan kerja menurut kelompok umur di Barito Selatan didominasi penduduk yang berumur 25 sampai dengan 29 tahun.12 An gk ut an In du st ri n da ga ng an ba ng an ta m Ga s Ba Pe r Gambar 2.95 1. Berdasarkan jumlah pencari kerja yang terdaftar tercermin tidak seimbangnya antara pencari kerja dan kesempatan kerja yang tersedia.33 1.00 60. Hampir 64% penduduk yang bekerja diberbagai sektor. tamat SLTP/sederajat hingga tamat SLTA/sederajat.00 30.00 20.60 4. terlihat dari tingkat pendidikan penduduk yang bekerja itu sendiri. 2007 2. Sebagian besar (69%) penduduk berumur 10 tahun keatas bekerja di sektor Pertanian.12 3.00 50.1%.2 Mata Pencaharian dan Pendapatan Penduduk 2.34 1.00 10.

00 10.00 0.78 0. Komposisi angkatan kerja menurut kelompok umur di Barito Timur didominasi penduduk yang Pe rt a Pe ni an rt a m In ba du ng st ri an Pe ng ol Li ah st ri k an .94 1.00 20.62 7. dan sisanya sekitar 78. 2.00 70.42 % berumur 10 tahun keatas yang merupakan penduduk usia produktif secara ekonomis. kesempatan. sedangkan sektor terkecil penyerapannya adalah sektor keuangan yaitu 0.91 0. 78.2.G as & Ai r Ba ng un Pe an rd ag an ga n An gk ut an Ja Ke sa ua Ke ng m an as ya ra ka ta n La in ny a Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -83 .56 %) penduduk berumur 10 tahun keatas bekerja di sektor pertanian.29 Gambar 2.33 1.00 75. Berdasarkan jumlah pencari kerja yang terdaftar tercermin tidak seimbangnya antara pencari kerja dan kesempatan kerja yang tersedia.2.15 0.3 Barito Timur Dari keseluruhan penduduk Barito Timur.00 60.10 Prosentase Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Gambar diatas menunjukkan prosentase penduduk berumur 10 tahun keatas yang bekerja menurut lapangan usaha.6.2 Barito Utara Dari keseluruhan penduduk Barito Utara.05%.70 % dari seluruh jumlah pencari kerja terdaftar yang mendapat pekerjaan.00 40.00 30.96 0.6.30 % masih belum mendapatkan 80.46 8.(Persero) CABANG I MALANG 2. terlihat dari tingkat pendidikan penduduk yang bekerja itu sendiri. Rata-rata setiap tahunnya tidak lebih dari 21.00 50.55 2. Relatif masih rendahnya tingkat pendisikan SDM yang bekerja. 53% berumur 10 tahun keatas yang merupakan penduduk usia produktif secara ekonomis. Sebagian besar (31.

Rata-rata setiap tahunnya tidak lebih dari 30% dari seluruh jumlah pencari kerja terdaftar yang mendapat pekerjaan. tidak/belum tamat SD/sederajat.00 9.3 %.39 1.33 0.25 0.00 25. Hampir 64% penduduk yang bekerja diberbagai sektor memiliki tingkat pendidikan dasar.268 jiwa ditahun 2007. Gambar berikut menunjukkan prosentase penduduk berumur 10 tahun keatas yang bekerja menurut lapangan usaha 31.99 19. Rendahnya tingkat pendidikan SDM yang ada terlihat dari tingkat pendidikan penduduk yang bekerja.6. Demikian pula penduduk yang bukan angkatan kerja turun dari 54.78 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS ah as en isw a gu ru s Be R lu Pe T m ns /ti da iu n k be ke rja Pe Pe ta rta ni m ba ng an In du st Ko ri nt Pe ru ks rd i ag an Tr a n gan sp or Ke tasi ua ng an PN TN S Id an P Ja olri sa -ja sa La in ny a M Pe la ja r r/ m II -84 .00 30. sisanya sekitar 70% masih belum mendapat kesempatan. sedangkan sektor terkecil penyerapannya adalah sektor listrik.56 35.00 0.34 20.85 10.75 0.(Persero) CABANG I MALANG berumur 25 tahun sampai 29 tahun.05 3. tamat SLTP/sederajat hingga tamat SLTA/sederajat.14 4.814 jiwa turun menjadi 129.11 Prosentase Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha 2.00 20.4 Barito Kuala Berdasarkan hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2007 yang dilakukan BPS angkatan kerja ditahun 2007 mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2006 yaitu dari 132.93 0.25 0. Sebagian besar (60%) penduduk berumur 10 tahun keatas bekerja di sektor pertanian.00 15.00 1.99 2.430 jiwa.024 jiwa tahun 2006 menjadi 42.00 5. gas dan air minum 0.41 Gambar 2.2. Berdasarkan jumlah pencari kerja yang terdaftar tercermin tidak seimbanggnya antara pencari kerja dan kesempatan kerja yang tersedia.

6.00 25.12 Prosentase Bidang Pekerjaan Penduduk Barito Kuala Kapuas /T dk Berdasarkan buku Kapuas Dalam Angka 2007/2008.52 1.39%.5 Be lu m Gambar 2.00 30.35 0.20 5. Sedangkan pencari kerja terkecil dari adalah dari lulusan SD/sederajad.544 orang menjadi 127.28 32.270 jiwa pada tahun 2006 menjadi 2. Berbeda dengan penduduk yang mencari pekerjaan yang mengalami peningkatan di tahun 2007 dari 4.00 t ti n gk at ti n gk at tin gk a M ud a Sa rja na S1 41.96 2.00 15. yaitu sebesar 1.119 orang tahun 2007.81 SL TP /s e Gambar 2.10 0.00 35.39 24.00 10.97%.76 2.00 5.66 I PO LR Pe I Pe ns la iu ja na r /M n ah Pe as ta ni is /P wa er ke bu na n Pe Pe da te ga rn ng ak /N Ka el ry ay aw an an Sw as BU ta M N/ BU M D 2.38 14.00 20.(Persero) CABANG I MALANG Penduduk yang bekerja juga mengalami penurunan dari 128.00 40.57 0.40 1.81%.2.17 0.311 jiwa pada tahun 2007.97 23.08 0.10 Bu ru h 4. pada tahun 2007 jumlah pencari kerja terbesar adalah dari tingkat pendidikan SLTA/sederajad sebesar 41. disusul pencari kerja dari Sarjana Muda sebesar 24. 45.31 8. Gambar berikut menunjukkan prosentase bidang pekerjaan penduduk Barito Kuala 40 35 30 25 20 15 10 5 0 35.13 Prosentase Pencari Kerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan SL TA /s e Sa rja na SD /s e La in -la in Be ke rja PN S AB R Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -85 .

Satuan lahan ini bila ditinjau dari posisinya relatif dekat dengan pantai.6. Pengembangan diarahkan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas bidang pertanian khususnya pangan. rumah tangga. sehingga dipengaruhi air pasang surut dan intrusi air asin.3. jasa. yaitu : (1) Group dataran rawa gambut (D) Dataran rawa gambut (Peat Dome D) terbentuk terutama karena pengaruh curah hujan tinggi dan airnya tergenang baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. peternakan. pariwisata dan pengembangan wilayah desa dan kecamatan. Berkaitan dengan itu maka strategi pembangunan pengairan adalah bagaimana mengembangkan secara optimal sumber daya air yang ada untuk mencapai peningkatan produksi pangan dan peternakan dimana sektor ini menjadi soko guru ekonomi rakyat.3 Sektor Pertanian Pembangunan di bidang pengairan untuk kegunaan pertanian senantiasa mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari Pemerintah dan pengembangan yang terus menerus selalu diupayakan. dan pasir.1 Sebaran Lahan Rawa Secara fisiografis lahan rawa di Kalimantan dapat dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) group. Curah hujan tahunan lebih dari 2.6.(Persero) CABANG I MALANG 2. Salah satu visi kabupaten di dalam SWS Barito adalah Kabupaten Kapuas yang memiliki visi sebagai daerah pengembangan agrobisnis menuju agroindustri yang mendukung pembangunan daerah. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -86 . meningkatkan penyediaan air baku dan kebutuhan industri.000 mm. dan perikanan. 2. hal ini guna menunjang dan mendukung Program Ketahanan Pangan. lumpur. daerah ini didominasi oleh tanah organosol atau histosol dalam system Klasifikasi Soil Toxonomi (USDA) (2) Group dataran rawa marin (B) Rawa marine merupakan suatu kawasn yang berasal dari bahan endapan marin yang terdiri dari bahan liat.

Satuan tersebut disebut satuan kawasan rawa (SKR). bakau. dan katek yang dapat digunakan sebagai indikator. Dataran rawa marin (B) karena lokasinya relatif dekat dengan pantai.140. Umumnya berpotensi untuk pengembangan pertanian. Untuk dataran rawa gambut dibedakan menjadi rawa gambut yang dipengaruhi oleh pasang surut (D1) dan dataran rawa air tawar (D2). nibung. tipe.(Persero) CABANG I MALANG (3) Group dataran pedalaman /alluvial (A) Rawa ini menempati daerah datar atau dataran pelembahan dan dataran banjir yang umumnya selalu tergenang air. umumnya termasuk rawa pasang surut. Tabel 2.361. serta tipe dan kedalaman gambut. seperti nipah.140 Ha) dan Kalimantan Tengah (4. bahan pembentuk. perkebunan. pedada. Satuan lahan merupakan dasar penilaian potensi. Sehingga setiap lahan akan dapat diperkirakan tingkat kesulitan pengolahan apabila diarahkan untuk peningkatan fungsi dan manfaatnya (reklamasi).304 Ha). kondisi genangan air.20 berikut menyajikan rekapitulasi penyebaran satuan lahan di Kalimantan Selatan (1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -87 . dan perikanan. Kecuali rawa alluvial marin semua lahan yang termasuk dalam group rawa pedalaman /alluvial (A) merupakan rawa non pasang surut. Setiap group fisiografi dibedakan menjadi beberapa satuan lahan berdasarkan atas genesisnya. api-api. Kadang-kadang dicirikan juga oleh vegetasi alami yang tumbuh. kesesuaian lahan komoditas pertanian tanaman pangan dan hortikultura.

790 396.1.558 2.187 70.671 45.361.2.3.1.1 D.049 0 239.3.2. sering tergenang Dataran aluvial.3 B. bergambut Lembah tertutup.7 A.371 37.276 41.215 55.800 25.997 1.1.2.623 140.686 11.685 100.702 16.376.2.679 3.2.2.790 896.2 B.4 A.2.421 63.3.497 19.284 145.3 29 30 31 32 33 34 35 36 37 RAWA PASANG SURUT Dataran pantai berpasir dan lembah2 diantara beting pasir Dataran pantai berpasir Rawa belakang tanggul pantai dipengauhi ps surut Dataran ps surut berlumpur sepanjang pantai Dataran banjir.231 14.811 91.784 32.341 0 28.2 A.1 A.1.962 7.875 372.671 71.2. payau Dataran teras berpasir tertutup gambut Rawa gambut ps surut dangkal Rawa gambut ps surut agak dalam Rawa gambut ps surut dalam Jumlah JUMLAH I SUMBERDAYA LAHAN RAWA YG TELAH DIPERUNTUKAN NON PASANG SURUT KAWASAN PERLINDUNGAN RAWA YANG SUDAH ADA Hg Rawa gambut dalam Th Kapasitas tampungan hujan/rawa masa depan Wd Waduk Kawasan pengawetan rawa yang sudah ada HSA Kawasan hutan suaka alam PPA Kawasan perlindungan dan pelestarian alam Kawasan reklamasi rawa yang sudah ada R Kawasan reklamasi rawa (transmigran) Jumlah Hm Kawasan pantai berhutan bakau HSA Kawasan hutan suaka alam Kawasan reklamasi rawa yang sudah ada R Kawasan reklamasi rawa (transmigran) Jumlah JUMLAH II JUMLAH SELURUHNYA 530.2 D.2.2.530 5.2. muara sungai.435 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 B.961 0 0 0 Kalimantan Tengah 247.2 D.1 B.023 985.705 1.1.2.045 0 23.490 2.2 B.722.2.689 131.644 0 621.111 74.1 A.804 89.4 A.2 A.404 8.3 Satuan Lahan RAWA NON PASANG SURUT Pelembahan sungai Jalur meander dan tanggul yg lebar dari aliran sungai yang besar Rawa belakang tanggul sungai Dataran banjir berawa dan pelembahan sungai Dataran banjir berawa dan pelembahan sungai Dataran aluvial.330 0 0 33.1 A.219 0 74.676 17.374 76.1.2.7.194 0 0 94.219 9.343 12.2.468 37.050 Kalimantan Selatan (Ha) 2.3.1 B.652 319.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.3 Symbol P.806 63.1 D.2.637 994. 2000 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -88 .20 Luas dan Penyebaran Lahan Rawa di Kalteng dan Kalsel No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 No 13 14 15 16 Symbol A.469 141.140 Sumber : Penelitian Kesesuaian Lahan Rawa di Kalimantan.014 0 653.2 A.6 A.257 156.2.4 B.798 22.124 41.1 B.389 96.3.6.595 0 67. sering tergenang Rawa dangkal dengan bekas-bekas jalan aliran sungai Rawa dangkal Rawa dalam Rawa dalam dengan bekas-bekas jalur aliran sungai Satuan Lahan Dataran rawa berpasir tertutup gambut Rawa gambut air tawar dangkal Rawa gambut air tawar agak dalam Rawa gambut air tawar dalam Jumlah Kalimantan Tengah (Ha) 150.140.2 A.189 43.254 4.090 14.745 23.1. dan alur-alur ps surut Dataran ps surut berlumpur dengan vegetasi mangrove Dataran muara sungai dan alur-alur ps surut Dataran aluvial marine.749 29.717 858.562 0 Kalimantan Selatan 0 54.1 D.628 581.7..1 A.304 4.369 0 0 0 2.618 80.1 D.

834 Tanam 1 X ( Ha ) 8.068 16.691 885 165 6.188 24.855 11.546 7.912 53.738 26. baik intensifikasi atau extensifikasi lahan potensial.428 935 314 52 62.046 5. Kalimantan Selatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 KAB / KODYA Kotabaru Barito Kuala Tanah Laut HSU Banjar HSS Tapin HST Tabalong Banjarmasin JUMLAH Luas Lahan Rawa ( Ha ) 236. termasuk lahan rawa.840 40.604 9.243 2.199.009 108.96 23.341 5 77 24 42 57 25 41 15 100 83 32 Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan.371. 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -89 . Tabel 2.089.263 12.243 184.237 16.414 14. namun belum dimanfaatkan seluruhnya.374.530 4.132 Tanam 2 X ( Ha ) 2.199 635.171.363 76. Berikut ini adalah tabel luas pengusahaan usahatani pada lahan rawa beberapa kabupaten di WS Barito-Kapuas.237 15.295 203.956 Produktivitas ( Kw/Ha ) 29.341 94.658 42.324 Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan.303 23.3. Selain itu.892 4. 2002 Dari tabel diatas diketahui bahwa produktivitas padi di Kalimantan masih bisa ditingkatkan.526 2.003 16.530 5.22 Luas Penggunaan Usaha tani Tanaman Pangan pada Lahan Rawa WS Barito-Kapuas.21 Produksi dan Produktivitas Lahan Sawah di Kalsel dan Kalteng. teknologi penanganan juga memerlukan peningkatan agar produktivitasnya sesuai target nasional.243 2.151 48.276.530 4.2 Pola Pemanfaatan Lahan Rawa Untuk Pertanian Umum Pertanian Tanaman Pangan Lahan untuk pengembangan tanaman pangan padi sawah masih luas.(Persero) CABANG I MALANG 2. Tahun 1991 No 1 2 3 4 5 WILAYAH Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Jawa Luar Jawa Indonesia Luas Panen ( Ha ) 203.35 51.473 2.850 68. Tabel 2.525 2.704 56.6.2 Produksi (Ton) 609.33 37.909 83. Prov.335 Luas Lahan Usahatani ( Ha ) % 10.210 222.88 45.666 16.997 30.997 23.

Tanaman perkebunan tersebut diusahakan oleh petani setempat secara pola kebun. nenas. Budidaya sosial seperti karet dan kelapa mendominasi terutama di wilayah lahan pasang surut. perkebunan rakyat di Kalimantan masih tetap menempati posisi strategis dan perlu prioritas pengembangan. Karena masih memberikan kinerja yang dominan baik dalam hal luas tanaman maupun jumlah produksi.(Persero) CABANG I MALANG Tanaman Palawija dan Hortikultura Kabupaten Kapuas menghasilkan buah-buahan yang besar. kapulaga. merupakan bagian kecil dari lahan yang ada. jahe. jambu mete banyak diusahakan dalam pola tegalan atau pekarangan. Sedangkan tanaman pinang. dibandingkan produktivitas potensialnya. diantaranya sawo. Produktivitas tanaman perkebunan yang diusahakan oleh rakyat maupun perusahaan besar masih rendah. Kedua tanaman tersebut ditanam tersebar merata ke seluruh wilayah. perusahaan perkebunan milik pemerintah (PIP) dan perkebunan milik perusahaan swasta. papaya. Komoditas kelapa sawit pada dasa warsa terakhir menjadi primadona bagi perusahaan swasta besar dan PTP di Kalimantan. kopi. kayumanis. kapok. Kabupaten Kapuas memiliki lahan rawa yang terluas. kelapa. dan mangga. sehingga dalam program reklamasi rawa. Luas lahan dan jumlah produksi perkebunan rakyat menguasai secara dominan. cengkeh. Sedangkan komoditas perkebunan rakyat yang berkembangan adalah perkebunan karet. yaitu : perkebunan rakyat. kemiri. Tanaman kakao dan kelapa sawit sebagai komoditas yang relatif baru cukup berkembang dengan baik. Hal ini menggambarkan bahwa peluang untuk meningkatkan produktivitas masih besar. atau sekitar 66%nya. lada. dan kakao. Selain itu juga penghasil sayursayuran. tetapi produktivitas perkebunan rakyat sangat rendah dibandingkan dengan kedua cara lainnya. rambutan. kawasan ini diprioritaskan. Tananam Perkebunan Terdapat 3 (tiga) pola pengelolaan perkebunan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -90 .

7 404.4 74.200 1. sehingga pada musim hujan.23 Produktivitas Beberapa Tanaman Perkebunan di WS Barito-Kapuas.4 67.300 1.3 80. Kalimantan Selatan.161. No 1 Budidaya Perkebunan Rakyat Karet Kelapa Kopi Kakao Lada Cengkeh Tahun 19911 Kayu manis Tebu Serat karung Perkebunan Besar Karet Kakao Tebu Kelapa Sawit Produktivitas Potensial kg/ha (1) 1.7 51.3 42. sehingga tanaman padi.6 51.100 600 570 1. Saat ini polder tersebut berkurang fungsinya. Curah hujan adalah salah satu faktor terhadap iklim maupun kegiatan tanam.3 2 Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan. 2002. Danau Panggang. Polder dilengkapi dengan pompa air untuk intake dan untuk drainase.3 76.6 70.3 79.250 1.6 873. Prov. polder tergenang dan musim kemarau terjadi kekurangan air.000 Produktivitas Real Kg/ha (2) 615. Dinas Perkebunan Prop Kalsel 1992 2.6 816.2 4.6 465. Pola tanam pada wilayah ini dipengaruhi penggenangan periodik tersebut. Salah satu kondisi rawa yang telah dikaji secara lebih terperinci adalah kondisi rawa lebak di Kabupaten HSU.5 153.3 Sistem Budidaya Pertanian di Lahan Rawa Pada masa pendudukan Belanda dibuat Polder di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Lahan rawa di wilayah DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan tergenang mulai bulan Oktober sampai Mei.1 388.50 8.600 15.3 74.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.10 % Real (2) / (1) 51.3. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -91 . Polder tersebut dibuat untuk mengatur tata air sehingga pada musim penghujan genangan bisa dikurangi dan pada musim kemarau air dari sungai bisa masuk ke polder.000 300 1.037.100 5.3 53. dan Babirik. Pada periode tersebut aktivitas budaya tanaman selain tanaman tahunan berhenti dan petani mengalihkan kegiatannya untuk menangkap ikan atau beternak.500 630 5.7 81.10 320 769 505.8 4.6.yang membentang di Alabio.070. Pompa air yang telah ada sekarang hanya berfungsi suplai untuk 15% luasan yang ada.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -92 . lebak tengahan. Pada umumnya. Dec Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop MUSIM HUJAN MUSIM KEMARAU LAHAN TERGENANG PADI PALAWIJA DAN HORTIKULTURA Sumber : Laporan Akhir Studi Pengembangan Lahan Rawa Lebak. Kalsel 2002 Gambar 2. ditanam tanaman tahunan. kondisi pompa saat ini tidak mampu mensuplai kebutuhan pada lebak atas. Sedangkan pada lebak dalam bisa dimulai bulan Juli. Namun. Penanaman padi pada lebak dalam sering gagal panen karena terlambat tanam. Sebagian lebak dangkal ditanami tanaman tahunan dengan membuat system surjan untuk menghindari genangan pada musim kemarau. hortikultur. lebak tengahan. pada lebak dalam dilakukan budidaya ikan.14 Pola Tanam Polder Alabio Keterlambatan penanaman tersebut bisa mengakibatkan gagal panen. Tanaman padi pada lebak atas sering kekurangan air pada musim kemarau. Pembagian areal tanam sering disebut istilah watun. Tanaman padi umumnya pada lebak dangkal dan tengahan. Areal watun I umumnya ditanami pada bulan Mei/Juni dipanen bulan Agustus/September. Tanaman tahunan bisa bertahan melewati masa ini Musim tanam di daerah rawa dimulai pada bulan Mei dan berturut mulai dari lebak atas sampai tengah. Biasanya kekuranan air tersebut ditanggulangi dengan menaikan air dari Sungai Negara dengan pompa air. yaitu lebak dangkal. dan komoditas tanam adalah mangga. Lahan rawa pada polder alabio bisa dibagi atas tiga jenis berdasarkan genangan pada musim hujan. dan hortikultura ditanam sekali setahun. Lebak dalam. di Kab HSU. ditanami bulan Juni/Juli dan panen bulan September/Oktober. palawija.(Persero) CABANG I MALANG palawija. dan lebak dalam. watun III ditanami pada bulan Juli. Sementara itu di sepanjang levee Negara. seperti mangga dan lain-lain. watun II.

447 102.988 267. sosial.3.8 Lembar Peta 1:250.140 % 3.304 148.77 0. Dinas Perkebunan Prop Kalsel 1992 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -93 .89 0.53 4.97 2.406 229.899 105.89 1 1.899 211.4 Prioritas Pengembangan Kawasan Reklamasi Rawa Untuk Pertanian Prioritas peruntukan lahan berdasarkan kesesuaian sifat fisik dan lingkungan hidup.277 81.049 305.361 20. yang ditentukan oleh iklim.140.232 304.19 10. hidrologi. dan juga didasarkan pada potensi wilayah. politik. tanah.57 2. Sehingga disimpulkan bahwa faktor-faktor pendukung prioritas adalah : (a) urutan prioritas pengembanan komoditas berdasarkan evaluasi kesesuaian lahan (b) luas hamparan satuan kawasan rawa (SKR) (c) ketersediaan aksesibilitas (d) kelayakan ekonomi dari komoditas yang secara teknis sesuai. dan persyaratan lingkungan hidup tertentu.369 34.722 60. Tabel 2.303 501.08 0.206 113.3 1.5 0.24 Prioritas Pengembangan Satuan Kawasan Rawa (SKR) di WS BaritoKapuas No NAMA SKR KABUPATEN LUAS SKR Ha 369.15 Pembagian Polder Alabio atas Watun 2. 2002. Peruntukan lahan merupakan hal yang juga memerlukan kajian terhadap masalah ekonomi.226 4. topografi/bentuk. dan kelembagaan yang menurut keterlibatan lintas sektoral.06 2. hukum.903 6.89 2 41.000 KALIMANTAN TENGAH 1 Barito Hulu – Buntok 2 Sebangau I 3 Barito Tengah 4 Kahayan – Murung I 5 Sebangau II 6 Kahayan – Murung II 7 Hulu Kahayan – Murung 8 Tangkiling – Kahayan Hulu JUMLAH KALTENG KALIMANTAN SELATAN 1 Banjar I 2 Banjar II 3 HSU dan Tengah II 4 Tanah Laut 5 Barito Kuala 6 HSU dan Tengah I 7 Kotabaru 8 Barito Tengah 9 Sei Kupang 10 Asam-asam – sebamban JUMLAH KALSEL Barito Selatan Kapuas Barito Timur Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Banjar Banjar HSU dan Tengah Tanah Laut Barito Kuala HSU dan Tengah Kotabaru HSU dan Banjar Kotabaru Tanah Laut dan Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan.(Persero) CABANG I MALANG Watun 1 Watun 2 Watun 3 Dominan padi dan palawija Dominan beje Masalah utama : kekurangan air pada musim kemarau Masalah utama : genangan air Gambar 2.361.33 2.41 0.136 304.66 0.656 69.18 0.74 2.6.471 1.

3% Gambar 2. cengkeh. 1% tebu. 13% obat-obatan. Kalsel. kakao.(Persero) CABANG I MALANG 2. 0% aren. telah disusun 15 kimbun dengan 7 komoditas. kakao. 3% Karet.3. serat karung. lada. kopi. Dari tabel tersebut nampak bahwa komoditas karet mendominasi sektor perkebunan. 6% Other. sehingga diharapkan dapat dimanfaatkan peluangnya menjadi cash provit bagi wilayah di dalam WS Barito-Kapuas. 63% Kelapa sawit.16 Preferences Pengembangan Perkebunan di WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -94 . Sedangkan komoditas dari perkebunan besar adalah karet. pada tabel berikut ini. 14% Kelapa sawit Karet Kelapa tebu kemiri obat-obatan aren kemiri. kelapa. Kelapa . dan kelapa sawit. kayu manis. Komoditas yang menjadi prioritas perkebunan rakyat adalah karet. dan perkebunan besar (yang dikelola oleh perusahaan). tebu. tebu. tahun 2004. Berdasarkan hasil kajian dari Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Selatan. Luasan perkebunan karet terbesar berada di Kabupaten Tabalong.5 Pengembangan Perkebunan Pengembangan sektor perkebunan berdasarkan kajian hasil penelitian diatas menempatkan 2 (dua) kelompok perkebunan rakyat.6.

988 1.362 2.638 2 3 Kab Banjar Kab HSS 4 5 6 Kab HST Kab HSU Kab Tabalong 7 Kab Batola Sumber : Dnas Perkebunan Propinsi Kalsel. Pada lahan basah kegiatan dilakukan pada watun I sampai watun 3.358 8.174 1. walaupun pada beberapa tempat didominasi oleh pertambangan dan industri pendukungnya.185 72.106 N/A 14.6.096 898 N/A 900 2.454 3. Sept 2004 2.005 974 N/A 13.678 N/A 960 1.174 349 17.670 148 5.993 4.638 1.423 3.159 9.719 3.446 885 N/A 3.763 PRODUKTIVITAS (Kg/Ha) 6. walaupun dalam kenyataannya tidak dibayar secara langsung.598 9. dan sayuran.422 14.975 33.235 13.3.845 13. Besaran nilai return to family labour seakan-akan besarnya upah yang dibayarkan kepada anggota keluarga. umbi alabio.180 10.075 11.678 N/A 4.6 Pengembangan Pertanian di Lahan Rawa Secara umum sektor pertanian dan sub sektor pendukungnya masih menempati ranking pertama terhadap pendapat wilayah secara umum.180 1.061 16.260 1.627 200 8.813 PRODUKSI (Ton) 5. Nilai return to family labour Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -95 .928 5. Pada analisis ini diasumsikan bahwa untuk mengerjakan usaha taninya petani hanya menggunakan tenaga kerja dari keluarga petani yang bersangkutan.771 15. Prop Kalsel No 1 KABUPATEN Kab Tanah Laut KOMODITAS Kimbun Kelapa sawit Kimbun Karet Kimbun Cengkeh Kimbun tebu Kimbun Obat-obatan Kimbun karet Kimbun kelapa Kimbun kelapa Kimbun karet Kimbun aren Kimbun karet Kimbun kelapa/ aren Kimbun karet Kimbun kemiri Kimbun kopi Kimbun karet Kimbun kelapa sawit Kimbun kelapa Kelapa sawit Karet Kelapa tebu kemiri obat-obatan aren AREAL EKSISTING (Ha) 20.358 809 1.615 6.086 994 1.25 Potensi Areal dan Rencana Pengembangan Perkebunan di WS BaritoKapuas.369 147. Kegiatan pertanian masih menonjol pada hampir semua wilayah yang memiliki lahan basah. palawija.000 4.180 349 7.650 18.465 9.137 33.013 3.048 970 890 7.366 3.612 26.056 121.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.066 4.097 8.000 N/A 3. dan komoditas yang digunakan adalah padi.690 5.986 12.244 826 582 7.574 755 N/A 5. Komoditas yang Diusulkan Kajian pengembangan komoditas didekati berdasarkan aspek sosial ekonomi.920 900 994 2.808 7.874 25.362 1.670 1.461 24. Untuk mengentahui kecenderungan itu maka dilakukan analisis return to family labour. waluh.000 7.002 19.837 1.892 POTENSI (Ha) 10.506 1.586 42.000 85.085 17.638 148 36.314 30.002 2.

000. maka digabungkan dengan usaha ternak itik (menjadi ± Rp.000 20. di Kab HSU.5m x 1.5m : 500 ekor tebar = 1. Untuk menaikkan nilai return to family labour.000 1.000.370 Sumber : Studi Pengembangan Lahan Rawa Lebak. Untuk itu diperlukan penelitian lanjutan untuk membudidayakan pada kawasan lain (ekstensifikasi). Kalsel 2002 * ** = 2.(Persero) CABANG I MALANG diperoleh dengan dengan menghitung besarnya tenaga kerja yang menyebabkan nilai NPV (net present value) = 0 (nol).5m x 1. 6. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -96 .974. dan hanya pada satu kawasan tertentu saja (Desa Sungai Durait Tengah).600 7 Budidaya karamba ikat betook ** Per karamba 640.000 ekor tebar Dari kajian diatas.000 1. Usaha waluh menempati posisi tertinggi.214.500. Besarnya return to family labour dapat dipakai sebagai salah satu indikator untuk melihat besarnya daya tarik petani terhadap suatu usaha tani. Hasil kajian tersebut adalah : Tabel 2. namun penyebarannya tidak merata.556.-).000.5m x 1. nampak bahwa usaha tani dengan basis tanaman pangan pada kabupaten HSU memberikan return to family labour lebih rendah dari usaha peternakan maupun perikanan.5m x 1.300 6 Budidaya keramba ikan betutu * Per karamba 9.5m : 1.26 Nilai Return to Family Labour Berbagai Jenis Usaha Tani NO JENIS USAHA TANI UNIT RETURN TO FAMILY LABOUR ( RP ) 1 2 3 4 5 Usaha tani padi Usaha tani kedelai Usaha tani jagung Usaha tani waluh Usaha ternak itik Ha/musim Ha/musim Ha/musim Ha/musim 100 ekor/kandang 5.000. Hal ini merupakan salah satu penyebab polder alabio kurang optimal pemanfaatannya.305 2.

mempunyai kemampuan mencerna makanan lebih baik .7 Pengembangan Peternakan di Lahan Rawa Berdasarkan data peternakan nasional.makanannya murah dan tidak selektif .mudah beradaptasi dengan lingkungan . Oleh karena itu.penghasil pupuk organik potensial . karena media air sangat cepat menularkan penyakit. Program yang diusulkan dalam pengembangan peternakan kerbau rawa adalah: 1. Hal ini menjadi kritis.461 Ha masih memungkinkan untuk dikembangkan.dapat ditingkatkan pada aspek teknologi/bioteknologi untuk tujuan peternakan rakyat maupun komersil .(Persero) CABANG I MALANG 2. prospek pengembangan peternakan sangat terbuka untuk ditingkatkan. nutrisi. kecenderungan kebutuhan konsumen dengan ketersediaan pasokan komoditi ternak semakin meningkat dari tahun ke tahun. pakan. A.mempunyai pangsa pasar baik .lebih tahan penyakit. dan pemasaran) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -97 .3. Dengan memperhatikan kapasitas tampung dan menjaga meluasnya gulma.dapat dijadikan sebagai tabungan peternak Peternak kerbau rawa di Kecamatan Danau Panggang dengan populasi sebanyak 5. pengembangan tempat POSYANDU (pelayanan terpadu ternak kerbau) di kantong-kantong produksi.sebagai ternak kerja . Pengembangan Peternakan Kerbau Rawa Beberapa kelebihan dari peternakan kerbau rawa antara lain : .sifat kerbau jinak dan mudah dipelihara .864 ekor pada tahun 2000 dengan luas lahan 24. . populasi harus diimbangi dengan tersedianya fasilitas kesehatan ternak.6. Ciri POSYANDU. kesehatan. menyediakan pelayanan terpadu (reproduksi. secara umum.

5.(Persero) CABANG I MALANG 2. dengan prospek yang masih sangat memungkinkan sebagai produsen telur. dan sedikit sekali berupa leguninosa. Program pengembangan yang dapat diusulkan adalah : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -98 . dan merupakan salah satu kawasan ternak andalan di DAS Barito. Menjajaki tentang siput ini dapat membantu dalam upaya penemuan metode yang tepat dalam mencegah penyakit cacing hati. Suplementasi pakan terpadu. dan Taiwan. Saat ini terlihat bahwa rumput rawa kurang beragam jenisnya. Salat satu cara mengurangi infeksi cacing hati. sekaligus sebagai pengembangan sistem penggembalaan (paddock) di daerah rawa. 4. kesehatan ternak dan pemasaran. Pengendalian gulma (eceng gondok) agar lahan tempat tumbuh pakan ternak tidak menyempit. Masyarakat telah mampu menyilangkan itik dengan jenis lain merupakan potensi SDM yang baik untuk mendapatkan varietas yang efisien. 3. adalah dengan mengendalikan host intermediare-nya yaitu siput (lymnea rubiginosa). China. terutama yang berkaitan dengan reproduksi. mengembangkan manajemen wilayah kantong produksi. Itik ini merupakan kualitas unggul di Indonesia. Teknologi mutakhir tentang persilangan merupakan komponen penunjang yang sangat baik untuk diimplementasikan di Kabupaten HSU. 6. kemungkinan kualitas peternak dengan meningkatkan pengetahuan. Introduksi beberapa pakan total daerah yang rawa yang tinggi kadar proteinnya (catatan : protin rumput rawa masih rendah dari yang dibutuhkan kerbau). nutrisi pakan. B. Itik alabio sebagai itik pedaging merupakan andalan ekspor di beberapa Negara seperti Korea. Rasionalisasi jarak dan sebaran kalang agar mudah dijangkau saat patus untuk mencegah kematian anak. 8. Pengembangan Peternakan Itik Alabio Itik alabio merupakan maskot daerah di Kabupaten HSU. Penyelidikan 7. khususnya mikro mineral disertai adanya anthelmintic melalui pengembangan metode salt mineralized lick.

antar daerah. Teknologi persilangan yang mampu menghasilkan bibit secara efisien Ketersediaan pakan yang kontinyu dengan harga stabil Penanganan penyakit secara massal Ayam cukup rentan terhadap penyakit New Castle Descease (NCD) Adanya pengairan terpadu akan makin mendukung usaha peternakan ayam Program pendukung ternak ayam buras adalah : a) b) c) Vaksinasi Memberikan pakan tambahan Minimisasi biaya (low cost input) dengan menggunakan pakan biaya murah. Salah satu sentra pengembangan ternak ini adalah di Kabupaten HSU. pengolahan daging itik. maupun antar Provinsi. Dengan demikian masih sangat terbuka untuk dikembangkan. walaupun pertumbuhannya kurang optimal. terutama dalam hal menghasilkan telur. Pengembangan Peternakan Ayam Buras Perusahaan ayam buras sangat terbuka baik untuk pasokan lokal. khususnya itik afkir pengembangan system grading telur dan daging itik alabio pembuatan model system perkawinan untuk peningkatan mutu generik C.(Persero) CABANG I MALANG demplot kandang terapung dengan menggunakan prinsip optimalisasi sumberdaya dan pendauran limbah yang efisien dalam suatu komoditas terpadu (ikan. itik. dan pakan aquatic) formulasi pakan lokal dan percontohan home industry produksi pakan lokal pengembangan pakan aquatic kaya protein dan energi sesuai dengan kondisi rawa. padi. Beberapa hal yang mendukung adalah : Peternak mampu menyilangkan produk ternak unggul yang setara ayam ras. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -99 .

Berdasarkan data kuantitas penangkapan ikan. tetapi pada saat surut pada Watun – 3. Untuk mengatasinya budidaya perlu dilakukan. Pengembangan Budidaya Ikan Rawa di Lahan Rawa Lebak Hal-hal yang mendukung pengembangan budidaya perikanan di lahan rawa lebak adalah sebagai berikut : Penataan kawasan. Sektor perikanan pengembangan budidaya ikan rawa. sehingga harga ikan telah kembali normal. pada kawasan lahan rawa lebak diarahkan pada 2 (dua) cara. dimana ikan-ikan dengan nilai ekonomis tinggi seperti gabus dan betook sudah mulai berkurang. Menampung ikan rawa yang bernilai ekonomi tinggi pada musim kemarau. dan menampung sampai musim hujan.6. diketahui bahwa hasil tangkap nelayan rawa mulai menurun.(Persero) CABANG I MALANG d) Metode pengembangan dengan system back yard farming dengan pemberian pakan system free choice dari areal sekitar perkandangan. B. sehingga siapapun boleh menangkap di perairan tersebut Kegiatan penangkapan ikan sebaiknya dibatasi dengan jenis alat yang digunakan. yaitu : 1) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -100 . misalnya pada musim hujan budidaya dilakukan di Watun – 1. Dikembangkan suatu bangunan pengendali muka air pada watun yang telah diplot peruntukannya. A. karena rawa lebak adalah milik umum. sehingga siklus aliran masuk dan keluar teratur. Perikanan Tangkap Hal-hal yang mendukung pengembangan perikanan tangkap di lahan rawa lebak adalah sebagai berikut : Perlunya penegakan hukum. dengan pengaturan teknis Mengembangkan system budidaya sesuai ketersediaan air. dengan sentuhan teknologi tepat guna. Teknologi menjebak ikan dengan beje. dan diperlukan percontohan demplot. apabila mungkin didukung dengan pompa Pembukaan kawasan budidaya. 2) pengembangan perikanan tangkap.8 Pengembangan Perikanan di Lahan Rawa Saat ini kegiatan perikanan merupakan kegiatan tambahan disamping kegiatan bertani dan beternak.3. 2.

sehingga akan didapatkan kondisi yang optimal.9 Pertanian Terpadu (Integrated Farming) Lebak yang berada di sepanjang aliran DAS Barito memiliki berbagai sifat fisik yang berbeda-beda dan memerlukan pemanfaatan yang berbeda pula. peternakan.(Persero) CABANG I MALANG Kesepakatan bersama dalam suatu reservat Penebaran bibit pada perairan bebas.6. Hal ini akan sangat menguntungkan apabila kawasan yang dikembangkan memiliki kesesuaian untuk pengembangan potensi pertanian.3. i) potensi lahan dalam siklus setahun. Hal yang perlu diperhatikan adalah. sesuai dengan potensi masing-masing bagian wilayah tersebut. Konsep pengembangan ini juga mengacu pada kondisi musim. maka disusun skenario seperti tabel berikut. dengan komposisi yang bervariasi. ii) variabilitas kondisi lahan secara mikro. iii) analisis finansial. dan perikanan. dengan teknologi yang sesua Manfaat yang didapatkan apabila dilakukan pengembangan yang terencana dan terarah : a) b) c) d) e) Masyarakat akan memperoleh pendapatan tambahan selain dari bertani Kegiatan perikanan dapat mengarah pada peningkatan pendapatan daerah Kegiatan perikanan pada batas tertentu menjadi sumber protein yang murah bagi masyarakat Kegiatan perikanan merupakan langkah konservasi terhadap species tertentu Pengembangan pada tahap lanjutan merupakan potensi wisata 2. Dengan mengkaji kondisi saat ini. di Alabio. Oleh karena itu langkah yang paling pengembangan pertanian yang terbaik adalah mengembangkan program pertanian terpadu (integrated farming). Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -101 . yaitu penelitian yang dilakukan pada salah satu rawa lebak di Kabupaten HSU.

10 Program Pengembangan Rawa Berdasarkan hasil analisis dari penelitian pengembangan rawa.6. dan 9. Kalsel 2002 Catatan : Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di Kabupaten HSU.3. NPV yang dihitung merupakan nilai relatif dan bukan absolut. analisis finansial yang terpilih adalah 1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -102 . di Kab HSU.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. maka disusun program kegiatan yang dapat diselenggarakan dan dikompromikan pelaksanaannya oleh institusi yang terkait. dan digunakan untuk membandingkan skenario terbaik. Program kegiatan ini akan lebih baik apabila mengarah pada penyelenggaraan pertanian terpadu (integrated farming).3.5. 2.27 Skenario Usaha Tani Terintegrasi NO SKENARIO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KOMPONEN KOMPONEN TANAMAN PETERNAKAN Padi Padi Padi Padi Kedelai Kedelai Kedelai Kedelai – Itik Itik Ayam Ayam Itik Itik Ayam Ayam – KOMPONEN PERIKANAN Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Ikan karamba dan betutu Sumber : Studi Pengembangan Lahan Rawa Lebak. Cash flow dalam perhitungan NPV adalah nilai net cash flow yang telah dikurangi biaya untuk tenaga kerja. Indikator yang digunakan adalah Net Present Value (NPV).

k um pai sagu) P enanam an pangan (padi. hortik ultura jagung. baung local K olam raw a W atun – 1 W atun – 2 U pland W atun – 3 W atun – 2. crasikarva) P engem bangan w isata P engem bangan w isata alam budaya pak et dan P apuyu. cabe P eningk atan bak u pakan bahan P enam bahan tanam an aquatic pak an (azolla. K alsel 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -103 . W atun – 2. pakan.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. perk aw inan) P engem bangan perikanan Integrated farm ing P oli kultur P oli kultur Jarring tancap U dang galah P engem bangan tanam an tahunan K ehutanan (m eranti raw a. W atun – 2. W atun – 3 P engem bangan bibit itik P eluang usaha itik K andang panggung K andang terapung P eluang usaha ayam B ack yard farm ing buras (vak sinasi. upland W atun – 1. terung. W atun – 2 P engem bangan pertanian W atun – 1. sagu. w aluh. jagung) Lim bah ikan L O K AS I W atun – 1. haruan B aung – patin (kolam raw a) B etook .28 Skenario Usaha Tani Terintegrasi Pada Lahan Rawa P R O G R AM P engem bangan P enataan A ir K E G IAT AN T anggul antar w atun P om panisasi air tanah dangkal S um ur raw a P enanam an sagu pada bek as galian sum ur raw a T anam an pangan dan Intensifik asi (padi. k elapa hybrid. di K ab H S U . ram in) P erkebunan (kayu putih. duckw eed. W atun – 2 P engem bangan peternak an W atun – 1 W atun – 1. padi hiang. W atun – 3 S um ber : S tudi P engem bangan Lahan R aw a Lebak. W atun – 3 W atun – 2 W atun – 2 W atun – 1. patin local (kolam rawa) P atin. k angk ung darat. acacia. perbaikan pakan) P engem bangan usaha P os pelayanan k erbau raw a pengem bangan kerbau (kesehatan. sepat.

Kerja 1 514 Industri Sedang Perusahaan Tng. Demikian pula untuk tenaga kerjanya.1 Kabupaten Barito Selatan Jumlah perusahaan industri kecil di Barito Selatan tahun 2005 sebanyak 6 perusahaan.2 Kabupaten Barito Utara Jumlah perusahaan industri besar/sedang di Kabupaten Barito Utara tahun 2005 sebanyak 3 perusahaan sedangkan pada tahun 2006 bertambah menjadi 13 perusahaan.164 orang. untuk industri kecil (formal dan non formal) jumlah unit usaha kecil pertanian dan kehutanan tahun 2005 adalah 299 buah dengan jumlah tenaga kerja 759 orang dan nilai investasi sebanyak 6.162 milyar rupiah).4.299 milyar rupiah. Sedangkan pada tahun 2006 terjadi penurunan jumlah unit usaha kecil pertanian dan kehutanan sebanyak 164 buah dan tenaga kerja (639 orang) serta nilai investasi (6.137 1000 Sumber : Barito Selatan dalam angka.6. Awai Jumlah Tahun 2004 Industri Besar Perusahaan Tng.6.29 Banyaknya Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Kecamatan (2005) Kabupaten Barito Selatan No 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara G. Banyaknya perusahaan dan tenaga kerja di Kabupaten Barito Utara menurut kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut.B. 2005 2. Kerja 1 623 1 2 1 4 4 8 8 21 37 132 2 2 1.(Persero) CABANG I MALANG 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -104 .4 Sektor Industri 2.6.137 orang. Tabel 2. Industri menengah berjumlah 4 perusahaan dengan 37 tenaga kerja dan industri besar hanya 2 perusahaan dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 1. pada tahun 2005 terserap 82 orang naik menjadi 746 orang pada tahun 2006. Disisi lain. sedangkan untuk tenaga kerja yang terserap sejumlah 1.4.

4. Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Barito Utara 2.30 Banyaknya Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Kecamatan (2006) Kabupaten Barito Utara No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah Industri Besar Perusahaan Tenaga Kerja 3 95 4 136 6 155 13 386 Industri Sedang Perusahaan Tenaga Kerja 3 17 1 5 9 52 3 18 16 92 IKKRT Perusahaan Tenaga Kerja 4 11 28 64 16 39 5 11 77 152 16 40 146 317 Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Barito Timur Jumlah perusahaan industri besar.31 Banyaknya Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Kecamatan (2007) Barito Timur No. dengan jumlah terbesar terletak di Kecamatan Alalak dan Kecamatan Marababan masing-masing 35 buah dan 25 buah.6. kecil dan rumah tangga berdasarkan jenis industri di Kabupaten Barito Kuala berjumlah 152 buah.3 Kabupaten Barito Timur Untuk Kabupaten Barito Timur. Tabel 2. jumlah perusahaan pada tahun 2007 sebanyak 146 perusahaan. Berdasarkan klasifikasi industri maka klasifikasi industri kecil yang paling besar yaitu 87 buah disusul industri rumah tangga 71 buah dan industri sedang 36 buah.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Penurunan jumlah tenaga kerja terjadi karena sebagian tenaga kerja yang sebelumnya bekerja di kelompok IKKRT diserap oleh kelompok industri besar dan sedang. 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Montallat Gunung Timang Gunung Purei Teweh Timur Teweh Tengah Lahei Jumlah Industri Kecil Aneka Industri Perusahaan Tenaga Kerja Perusahaan Tenaga Kerja 24 66 0 0 18 35 0 0 29 127 0 0 37 81 0 0 215 714 0 0 16 46 0 0 339 1069 0 0 Sumber : Dinas Pertambangan. sedang. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -105 . sedangkan untuk tenaga kerja yang terserap 317 orang.

000. No Jenis Industri 1 Minuman Ringan 2 Meubel Kayu 3 Roti 4 Komponen Bahan Bangunan 5 Foto Copy 6 Saos Tomat 7 Perhiasan Emas 8 Service Sepeda/Motor/Mobil 9 Ukiran Getah Nyatu 10 Jasa Kecantikan 11 Service Elektronik Jumlah Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 Jumlah Unit Usaha 4 1 1 2 4 1 1 3 1 1 1 20 Tenaga Kerja 12 2 3 12 6 5 4 24 10 2 2 82 2.000. Jumlah dan jenis industri di Kabupaten Barito Kuala ditunjukkan pada tabel berikut. karet dan plastik Barang Galian bukan logam Industri dasar dari logam Barang dari logam Industri lain Jumlah Klasifikasi Industri Sedang Kecil 0 14 0 0 0 16 16 20 20 0 0 0 0 11 0 6 0 20 36 87 Besar 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Rumah Tangga 22 0 0 5 0 0 0 0 44 71 Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Barito Kuala Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -106 .(Persero) CABANG I MALANG 2. Sedang Kecil dan Rumah Tangga di Kabupaten Barito Kuala No.000.33 Jumlah industri Besar.4.-.6.5 Kabupaten Barito Kuala Nilai investasi dan nilai produksi industri di Kabupaten Barito Kuala selama tahun 2007 bernilai Rp 1. jumlah unit usaha industri pada tahun 2007 sebanyak 20 perusahaan.32 Banyaknya Jumlah Unit Usaha Industri di Kabupaten Kapuas.082. Tabel 2.000.000.000.dan Rp 3.6. minuman dan tembakau Tekstil. Dengan nilai investasi terbesar berasal dari industri logam sebesar Rp 775. sedangkan untuk tenaga kerja yang terserap 82 orang. pakaian dan kulit Kertas.4. Tabel 2.disusul industri kayu dan barang dari rotan yang bernilai Rp 635.-. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Industri Makanan.000..777..4 Kabupaten Kapuas Untuk Kabupaten Kapuas.000. barang dari kertas dan percetakan Kayu dan barang dari rotan Kimia.

publikasi P3G tahun 1993 Peta Geologi Lembar Muarateweh – 1715. selain itu ditemukan pula batugamping dan batupasir gampingan (Formasi Tanjung).18 %) serta paling luas terdapat di Sub DAS Negara yang merata di seluruh Sub-sub DAS. Berdasarkan penyebaran formasi batuan yang ada di SWS Barito maka secara umum dapat dibedakan berbagai batuan utama penyusun areal ini. Pembahasan lebih rinci geologi lokal lebih dititikberatkan pada litostratigrafi sesuai superposisi perlapisan setempat. diantaranya bersumber dari kondisi geologi wilayah tersebut. yaitu : a. determinasi litologis lebih didasarkan secara megaskopis dan referensi terdahulu. namun dalam keterbatasan selama studi ini. publikasi P3G tahun 1986 Kondisi geologi WS Barito di Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan terdiri dari Alluvial Induk dan Terumbu Koral. Permo-karbon dan Pra-tersier. c.(Persero) CABANG I MALANG 2. publikasi P3G tahun 1981 Peta Geologi Lembar Banjarmasin – 1712. publikasi P3G tahun 1992 Peta Geologi Lembar Buntok – 1714. Batuan berasam. Jenis batuan yang paling dominan adalah Aluvial Induk dan Terumbu Koral dengan luas 841. Koreksi petrografis dan biostratigrafi mestinya perlu dilengkapi.718. Aluvium : merupakan endapan dasar sungai. Miosen bawah.5 Sektor Pertambangan Bahan Tambang Wilayah Sungai (WS) akan berdasar pada evaluasi sumber daya alam (natural resources) yang tersedia di WS tersebut.077 ha (45. b.898. rawa atau undak aluvium. Batuan Sedimen yang kaya akan mineral kuarsa (Formasi Dahor). Adapun yang terendah adalah jenis batuan basa menengah dengan luas 23. Batuan sedimen yang berumur Tersier lainnya adalah batugamping (Formasi Berai) dan batupasir kuarsa (Formasi Montalat). Beberapa referensi geologi regional yang akan mendasari pembahasan geologi di SWS Barito. diantaranya : Peta Geologi Lembar Long Pahangai – 1716.599 ha (12.6.73 %) yang hanya terdapat di Sub-sub DAS Balangan dan Sub-sub Tabalong Kanan. Basa menengah. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -107 . Batuan Basa. Batuan sedimen klastik halus sampai kasar yang berumur Tersier yang mengandung mineral kuarsa dan sedikit meterial vulkanik dengan sisipan batugamping (Formasi Warukin).

(Persero) CABANG I MALANG d. bagian dasar dari runtunan endapan daratan muka Tersier dan atau batuan Terobosan Sintang. mangan dan platina 2. Batuan beku baik yang berupa batuan plutonik bersifat granit (asam) dan intrusi menengah sampai basa. yang kemungkinan berasal dari Kelompok Selangkai yang diterobos oleh sumbat Batuan Terobosan Sintang.6. sekis dan gneiss. Mineral non logam lainnya adalah bentonit yaitu jenis mineral lempung montmorilonit yang dapat dimanfaatkan untuk lumpur dalam pemboran minyak bumi yang memang jarang ditemukan cadangannya di Indonesia.1 Bahan Galian Logam Mineral logam utama yaitu berupa emas primer dan sekunder (plaser). Batuan metamorf terutama kuarsit dan batuan metamorf lainnya seperti filit. Endapan emas diduga terbentuk sebagai hasil kegiatan hidrothermal yang berhubungan dengan peristiwa magmatik Oligosen akhir sampai Miosen yang menghasilkan Batuan Terobosan Sintang dan bersamaan dengan pengangkatan tinggian alas (Komplek Busang). Batuan vulkanik tua menghasilkan tanah yang kaya akan unsur hara. Kemungkinan sesar detachemen bersudut kecil pada dasar runtunan Tersier.2 Bahan Galian Non Logam Mineral non logam yang cukup luas penyebarannya dan baik prospeknya adalah pasir kuarsa.5. Mineral logam lainnya adalah besi. pendulangan emas banyak dilakukan oleh penduduk dan beberapa perusahaan penambangan telah mengusahakan emas ini. Mineral lempung lainnya yang merupakan bahan baku untuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -108 . kromit. nikel. Ketersediaan Sumber Daya alam bahan galian di Satuan Wilayah Sungai Barito dapat diuraikan sebagai berikut: 2. Hal ini wajar mengingat batuan induknya yang berupa batuan granit dan batupasir kuarsa sangat luas penyebarannya.6. Endapan pasir kuarsa tersebut merupakan hasil proses pelapukan batuan yang mengandung mineral kuarsa di atas. logam dasar jarang ditemukan dan jenis ubahan penunjuk (pengersikan dan oksidasi/argilitisasi). stibnit dan sinabar jumlahnya sedikit tetapi merupakan komponen mineralisasi yang tersebar luas. Banyak emas mungkin berasal dari epitermal dengan alasan sebagai berikut : mineralisasi emas dan terobosan dangkal berkaitan secara ruang dan waktu.5. e. Emas cenderung sangat berlimpah di wilayah kampung Tujang di Sungai Murung. berperan sebagai perangkap untuk emas. f.

Contohnya adalah batubara Ombilin (Sumatera Barat). Kawasan andalan yang terdapat di KTI sebagaimana tercantum dalam Strategi Nasional Pemantapan Pola Tata Ruang (SNPPTR) berjumlah 56 kawasan. Pengembangan Kawasan Andalan Pada Sektor Pemanfaatan Potensi Mineral Dan Energi Kawasan andalan pengembangan ekonomi terpadu (Kapet) yang selanjutnya disebut kawasan andalan. Kaolin cukup luas penyebarannya dan prospeknya sangat baik. Namun karena keterbatasan dana pembangunan. Grup kedua adalah batubara Eosen yang umumnya mempunyai peringkat lebih tinggi daripada batubara Miosen. singkapan yang baik dapat dijumpai di hulu Sungai Kintap Kecil dan di Sungai Binuang. Senakin (Kalimantan Selatan) yang umumnya berperingkat berbitumen tanggung dengan bitumen berat isi tinggi. Sumberdaya batubara Indonesia tersebar luas di seluruh kepulauan. Namun yang bernilai ekonomis dan berskala besar hanya terpusat pada cekungancekungan Tersier di Indonesia bagian barat. Mutu batubara Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua grup. Umumnya batubara Eosen mempunyai kandungan abu yang lebih tinggi daripada batubara Miosen. selain itu juga dijumpai dalam Formasi Warukin. Grup pertama adalah batubara yang berumur Miosen. umumnya berperingkat lignit sampai berbitumen tanggung (sub-bituminous).(Persero) CABANG I MALANG industri keramik adalah kaolin. yaitu kawasan yang dinilai bisa berkembang cepat dengan sedikit investasi pemerintah. karena kawasan tersebut akan mendapat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -109 . Dengan memilih satu kawasan andalan dari setiap Provinsi diharapkan keberhasilannya lebih terjamin. Pertumbuhan yang terjadi di kawasan andalan tersebut diharapkan berdampak positif terhadap pertumbuhan kawasan belakangnya (hinterland). dalam hal ini adalah kawasan yang berpotensi untuk cepat tumbuh dibandingkan dengan kawasan lain yang ada dalam satu Provinsi. yaitu di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Batubara banyak dijumpai di Formasi Tanjung dengan tebal antara 50 – 100 cm. Kecuali batubara Sangatta (Miosen) yang umumnya berperingkat bitumen beratsiri tinggi (high volatile bituminous). maka DP-KTI memilh kawasan-kawasan andalan yang diprioritaskan pengembangannya.

potensi sumber daya alam dijadikan sebagai arahan untuk mengembangkan suatu kawasan. 7. 4. mineral-mineral tersebut adalah : 1. Besi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -110 . pariwisata dan industri. Emas Batubara Gambut Intan Kaolin Pasir Kuarsa Fosfat Batu gamping Kristal Kuarsa 10. juga diuapayakan pemberdayaan sumber daya manusia setempat agar dapat berpartisipasi dalam pengembangan kawasan tersebut. Selatan. 3. 6. Biak di Irian Jaya. Departemen Pertambangan dan Energi dalam usaha melengkapi data dan informasi yang dapat digunakan bagi usaha eksploitasi dan pengembangan industri pengolahannya dalam memacu pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia telah melakukan inventarisasi potensi pertambangan dan energi di 13 kawasan andalan prioritas di KTI. Pulau Seram di Maluku. kehutanan. Mbay di Nusa Tenggara Timur dan Bima di Nusa Tenggara Barat. Dengan demikian. alokasi DAS dana pembangunan. perikanan. 5. Batui di Sulawesi Tengah. Saat ini terdapat 15 (lima belas) daftar mineral-mineral potensial yang terdapat di Kalimantan Tengah. pertambangan. di Sakupangbalaut (Satui-Kusan-Kelumpang-Batulicin-Pulau Laut) di Kalimantan Sasamba (Samarinda-Sangasanga-Muara Jawa-Balikpapan) Kalimantan Timur. 9. 8. Dengan demikian di DP-KTI telah menentukan 13 kawasan andalan sebagai berikut : Sanggau di Kalimantan Kakab (Kapuas-Kahayan-Barito) Kalimantan Tengah. Pare-Pare di Sulawesi Selatan.(Persero) CABANG I MALANG prioritas Barat. Dari ketigabelas kawasan andalan tersebut. terdapat tujuh sektor ekonomi yang menonjol untuk dikembangkan yaitu : sektor/subsektor pertanian tanaman pangan. perkebunan. Pengembangan kawasan andalan pada prinsipnya bertumpu pada pendekatan yang berorientasi pada sumberdaya alam dan pendekatan pada sumberdaya manusia. Selain itu. 2. Bitung-Manado di Sulawesi Utara. Bukari (Buton-KolakaKendari) di Sulawesi Tenggara. Batuan Beku / Batu belah 11.

Timah Hitam 13. Tembaga 14. Kab. batu gamping.Sumber Barito. Sepang dan Kurun. tetrahidrit.Katingan Hulu.Tewah. 1.Murung Raya : Kec.(Persero) CABANG I MALANG 12. Potensi Batubara Batubara yang menyusun suatu formasi/lapisan batubara pada awalnya berupa gambut atau akumulasi bahan serupa yang kemudian mengalami pembusukan.Seruyan : Kec. kalkopirit dan sedikit pada galena dan spalerit). danau. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -111 . Kota Palangka Raya : Sungai Takaras Kec.Dusun Tengah. sedangkan yang merupakan hasil endapan hidrotermal yang secara genetic berasosiasi dengan intrusi batuan beku asam dan juga sering berasosiasi dengan kuarsa dan sulfide (pirit.Katingan : Kec. Permata Intan dan Tanah Siang Kab. Rungan. Kahayan Hulu Utara. melalui proses kompaksi dan panas dalam waktu yang sangat panjang maka gambut akan berubah menjadi batubara.Barito Timur : Kec. Endapan emas di Kalimantan Tengah dapat dijumpai di : − − − − − − − Kab. arseno pirit. Batubara di Indonesia banyak digunakan untuk bahan bakar. Katingan Tengah. Kec.Kapuas Hulu. Manuhing. Potensi Emas Kalimantan Tengah memiliki sejumlah endapan emas primer dan letakan (placer). Air Raksa 15.Seruyan Tengah.Gunung Mas : Kec. batu lempung. emas. Sanaman Mantikei dan Katingan Hilir. Sedangkan mineralmineral lain sedang berada dalam proses survey dari tahap pengamatan lapangan sampai eksplorasi detail. 2. pasir kuarsa. kristal kuarsa dan zircon. PLTU dan dalam jumlah kecil dalam peleburan timah dan nikel.Kapuas : Kec. Kab. industri semen. Endapan letakan (placer) banyak ditemukan di sungai. intan.Seruyan Hulu. karena itu data-data sumberdaya mineral tersebut cukup akurat karena berdasarkan tahapan survey. Kapuas Tengah dan Timpah Kab. rawarawa dan paleo chanel (gosong). Kab. Zircon Beberapa yang sudah produksi seperti batubara.Bukit Batu.

Mentaya Hilir dan Cempaga. Kab.Mentaya Hulu. Produksi berkurang sejak Perang Dunia ke II dan kemudian berhenti total sekitar tahun 1960. Kurun.53 % Volatile Matter : 0.Katingan Tengah.000 – 8. Rungan. Lebih dari 7 juta hektar berada sepanjang daerah barat. Sungai Maruwai dan sekitarnya. dan Tewang Sangalang garing. Kotawaringin Timur : Kec. Sungai Montalat.000 berkualitas baik (> 8. CSN : 5 . Beberapa lapisan batubara mempunyai ketebalan mencapai 1.35 – 0.Tewah.Gunung Mas : Kec.66 % Sulfur : 0. Manuhing.46 % Nilai Kalori : 7. Survey penyelidikan batubara di Kalimantan Tengah telah dilakukan sejak tahun 1975 oleh beberapa institusi baik pemerintah maupun perusahaan asing. BHP-Biliton yang telah memprediksikan bahwa terdapat sekitar 400 juta ton batubara dengan nilai kalori >7. Kab.Kotawaringin Barat : Pangkalan Banteng dan Kotawaringin Lama.39 – 1.44 – 48. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -112 .000 cal/gr.000 ton pertahun saat itu. Potensi Gambut Gambut adalah endapan organik yang mengandung sisa-sisa tumbuhan yang telah mengalami dekomposisi sebagian dan mengandung bahan lain seperti air dan bahan-bahan lain non organic biasanya berupa lempung dan lanau.Katingan : Kec.(Persero) CABANG I MALANG Batubara di Kalimantan Tengah sudah mulai ditambang sejak awal abad 19 tambang batubara didekat Muara Teweh sudah ditambang sejak tahun 1910 dan mampu menghasilkan sekitar 7. Gambut di Indonesia diperkirakan memiliki area lebih 20 juta hektar dan kebanyakan dalam bentuk dataran rendah dan rawa.000 kal/gr) juga ditemukan di Kabupaten Barito Utara dan Murung Raya bagian utara.76 % Karbon : 38.74 – 15. Bakanon. Sungai Lahei. tengah dan selatan pantai pulau Kalimantan. 3.5 – 7 meter dan mempunyai kualifikasi “Cooking Coal dengan kandungan sebagai berikut : − − − − − − Kandungan air : 8.000 kal/gr antara lain : − − − − Kab.7 Lokasi lain yang juga memiliki potensi kandungan batubara dengan nilai kalori <6. salah satunya PT. Didaerah ini batubara banyak ditemukan di Muara Bakah.

dan di Bereng Bengkel sendiri sekitar 20 hektar telah diselidiki secara detail dan telah dilakukan ujicoba produksi gambut bekerjasama dengan Finlandia. Penyelidikan gambut untuk bahan baker telah dilakukan oleh Direktorat batubara dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral sejak tahun 1984 didaerah Bereng Bengkel. Daerah Bereng Bengkel – Kanamit mempunyai potensi yang cukup besar dengan rata-rata kedalaman gambut sekitar 2 meter.75 – 57. Palangka Raya dan Kanamit. Intan dipotong dan dipoles/digosok di Martapura Kalimantan Selatan.982 – 5. Saat ini penduduk local Kalimantan Tengah menambang endapan intan alluvial mempergunakan peralatan dan metode yang masih sederhana. Kualitas gambut Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut : − − − − − − − − Kandungan air : 6.426 cal/gr Daerah antara Sampit dan Kota Besi. Secara umum endapan utama intan berasosiasi dengan batuan ultrabasic khususnya batuan periodit.66 – 6.72 % Karbon : 21. Daerah antara Sampit dan Pangkalan Bun Daerah antara Palangka Raya dan Pulang Pisau.11 – 18.70 % Abu : 0.13 % Nilai Kalori : 3.03 – 37. Penyelidikan yang dilakukan untuk tujuan pertanian biasanya hanya gambut yang mempunyai kedalaman 100 cm atau kurang. Intan yang Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -113 . contohnya batuan yang kita kenal sebagai Kimberlite-pipe di Afrika Selatan. Gambut yang mempunyai kedalaman lebih dari 100 cm mempunyai potensi sebagai energi.66 % Zat Terbang : 41. Kuala Kapuas. Potensi Intan Intan telah banyak ditambang dibanyak tempat di Pulau Kalimantan oleh penduduk sejak lama dan berkembang diberbagai tingkatan sampai sekarang. Daerah lain yang mempunyai potensi gambut di Kalimantan Tengah adalah : 4. Sumber energi gambut biasanya digunakan untuk tenaga pembangkit tapi dapat juga digunakan untuk bahan baker dan memasak yang biasanya dalam bentuk briket.(Persero) CABANG I MALANG Survey tanah gambut telah banyak dilakukan secara intensif terutama untuk keperluan pertanian (agricultur).

(Persero) CABANG I MALANG terdapat dalam endapan alluvial biasanya terdapat bersama sejumlah mineral seperti korundum. Terdapat 5 endapan kaolin yang cukup besar dan berpotensi tinggi. hyacinth. emas.Kotim dengan jumlah cadangan terukur : 2 Kebutuhan lain untuk kaolin dengan kualitas baik adalah untuk industri Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -114 .091. Endapan utama lainnya adalah : − Kasongan dengan jumlah cadangan terukur : 2. Endapan kaolin yang terbesar terdapat di Kereng Bangkirai. Pasir hitam yang terbentuk dari pencucian residu (disebut puya) terdiri dari : Titano magnetite.04 % yang potensial untuk industri keramik. Endapan berada disuatu area dengan luas 125 ha dan mempunyai karakteristik endapan sebagai berikut : − − − − Warna : Putih keabu-abuan Butiran lempung : Halus Ketebalan rata-rata : 6. Penyelidikan terhadap endapan intan sudah dilakukan sejak dulu tetapi masih belum mendapatkan hasil berupa penemuan endapan utamanya. pasir kuarsa.06 meter = Endapan ini mempunyai kualitas yang cukup baik dan mempunyai ketahanan terhadap panas (seger cone 35/1780º) dan kandungan TiO 1. yang berada dekat Kota Palangka Raya dengan perkiraan jumlah cadangan terukur sekitar 13. rutile. spinel.5 ton − Pahirangan Mentaya Kab.76 meter Ketebalan Overbuden : 1. brookite. fosfat dan batu gamping. quartz. dan ruby. platinum dan pirit.03 – 2. a.650 ton. 5. Potensi Endapan Mineral Lainnya Kalimantan Tengah masih mempunyai sumber endapan mineral lain sebagai bahan tambang yaitu kaolin. topaz.754. Tetapi kesempatan bagi eksplorasi endapan utama dan alluvial masih ada dan dilakukan. garnet.897. farmasi dan kosmetika. Kaolin Kaolin adalah salah satu jeni mineral industri yang terbentuk dari hasil proses dekomposisi dan merupakan pelapukan dari batuan yang kaya akan silikat aluminium. kromit.

Manuhing dengan jumlah cadangan indikasi : 1. Barito Selatan dengan jumlah cadangan terukur : 1.380.438.000 ton 640.32 – 3. Barito Selatan dengan cadangan terukur 14.000 ton.45 % 2 2 3 2 3 2 46.000 ton − Telang Baru.000 ton − Pundu Indikasi cadangan : 5. Endapan utama pasir kuarsa di Telang Baru. endapan berada diareal seluas 544 hektar dengan karakteristik endapan sebagai berikut : − Warna : Putih.000 ton 30.64 % MgO : 0.110.955.16 % TiO : 0.856. − Bereng.97 % Al O : 4.70 – 69.23 % Fe O : 0.000 ton b. Pasir Kuarsa Pasir Kuarsa merupakan endapan sediment dengan ukuran butir pasir dan mempunyai komposisi dominant kristal kuarsa.000 ton.000 ton Kualitas kaolin yang ada adalah sebagai berikut : − − − − − SiO : 41.400.600.000 ton − Kereng Pangi Indikasi cadangan : 16.01 – 2. coklat kekuningan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -115 .300 ton 690.856 ton 48.94 – 36. Sedangkan lokasi endapan lain yang cukup potensial terdapat didaerah : − Tanah Putih Indikasi cadangan : − Tanjung Jaringau Cadangan terukur : − Bukit Arang Cadangan terukur : − Pantai Harapan Indikasi cadangan : − Pengkang Indikasi cadangan : 4.370.(Persero) CABANG I MALANG 2.000 ton.08 – 1.000 ton − Petak Putih Cadangan terukur : − Parit Indikasi cadangan : 20.

000 ton Kualitas pasir kuarsa yang ada adalah sebagai berikut : Kebutuhan pasar dalam negeri untuk pasir kuarsa saat ini meningkat terutama untuk bahan industri gelas. Pasir kuarsa sebagai bahan mentah dan industri gelas merupakan satu peluang untuk memperluas ekspor didaerah.400.000 ton 15.000 ton 23.160.000 ton 3.68 – 1.680. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -116 .000.46 meter Endapan lain berada didaerah : − Tuanan Indikasi cadangan : − Sungai Marui Indikasi cadangan : − Batengkong Indikasi cadangan : − Sungai Manyuluh Indikasi cadangan : − Sungai Hawuk Indikasi cadangan : − Lahei Indikasi cadangan : − Merapit Indikasi cadangan : − Takaras Indikasi cadangan : − Pembuang Indikasi cadangan : − Danau Sembuluh Indikasi cadangan : − − − − − SiO : 95.600.000 ton 15.001 – 0.22 % Fe O : 0.16 % 2 2 3 2 3 2 4.000 ton 1.07 % TiO : 0.000 ton 2.kasar Ketebalan rata-rata : 1.900.000 ton 3.10 – 0.000 ton 650.8 % Al O : 0.11 meter Ketebalan Overbuden : 0.000 ton 4.04 – 1.16 – 99.28 % MgO : 0.160.950.900.(Persero) CABANG I MALANG − − − Ukuran butiran : Halus .

000.386 ton.518.480. Kualitas Fosfat yang ada adalah sebagai berikut : − − − − SiO : 7.000 ton Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -117 .7 % Fe O : 6. Tipe endapan ini ada fosfat guano yang ditemukan didaerah Bukit Angah. digunakan untuk industri semen. Barito Selatan dengan kemungkinan cadangan sekitar 133.000 ton 19. keabu-abuan kompak dan berfosil.080 ton. Batu Gamping Istilah untuk batu gamping dipakai untuk semua batuan sediment yang mengandung bahan karbonat. Endapan ini berada di area seluas 1.337.000.(Persero) CABANG I MALANG c. Fosfat Pada saat ini hanya ada satu lokasi potensial yang sudah ditemukan di Kalimantan Tengah. Kalimantan Tengah mempunyai sejumlah endapan batu gamping yang sudah diselidiki yaitu didaerah Hayaping.10 % P O : 44 % Al O : 30.000.466. Barito Utara dengan jumlah cadangan terindikasi sekitar 60. Kualitas : Baik.5 hektar dengan karakteristik batuan : − − Warna : Putih.18 % 2 3 2 3 2 5 2 Endapan fosfat guano ini direkomendasikan untuk memenuhi kebutuhan local khususnya bidang perkebunan dan agrikultur.000 ton 39.000 ton − Batu Besar Indikasi cadangan : − Gunung Angah 21.000 ton 11.000 ton 52.500. d. Lokasi lain yang menyimpan endapan batu gamping adalah : − Wonorejo Indikasi cadangan : − Pendreh Indikasi cadangan : − Muara Sepayang Indikasi cadangan : − Muara Juloi Indikasi cadangan : − Batu Qadar Indikasi cadangan : 260.

f. Lokasi endapan kristal kuarsa terdapat didaerah : − Pangkut.000 ton Di Kalimantan Tengah dikenal 3 macam yaitu kristal kuarsa yang berwarna ungu. − Pangkalan Muntai. Kristal Kuarsa 8.(Persero) CABANG I MALANG Indikasi cadangan : − Sarang Burung Indikasi cadangan : − Bukit Sali Indikasi cadangan : e. Ajang. Kabupaten Kotawaringin Barat. Besi Biji besi mempunyai 2 tipe yaitu magnetis dan kolovial. Karena sifatnya yang sporadic maka data pasti tentang cadangan ataupun jumlah produksinya belum diketahui dengan pasti. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -118 .000 ton 500.280. sedangkan tipe kolovial dijumpai didaerah Kabupaten Kotawaringin Timur. kecuali di Kecamatan Katingan Kuala. Nibung Terjun. biji besi tipe magnetis dijumpai didaerah Kabupaten Lamandau. Batuan Beku/Batu Belah Batuan beku adalah hasil pembekuan magma berkomposisi asam sampai basa. Lokasi dijumpainya batuan beku adalah : − Kabupaten Murung Raya − Kabupaten Barito Utara − Kabupaten Barito Selatan − Kabupaten Gunung Mas − Kabupaten Katingan − Kota Palangka Raya − Kabupaten Kotawaringin Barat − Kabupaten Kotawaringin Timur − Kabupaten Sukamara − Kabupaten Lamandau g. Kecamatan Arut Utara Kabupaten Kotawaringin Barat. putih dan kecoklatan (istilah pasar menyebutnya kecubung). Di Kalimantan Tengah dijumpai dibagian tengah kearah utara. Jenis ini telah lama diusahakan oleh masyarakat didaerah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Sukamara.000 ton 150.

Belum ada catatan pasti tentang potensi dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -119 . h. Kecamatan Kotabesi. Air Raksa Air Raksa sebagai bahan pada dijumpai mineral Cinabar yang merupakan senyawa HgS.2 juta ton. i. Kecamatan Kahayan Hulu Utara. Dijumpai didaerah Tumbang Manggu dan Sungai Manukoi. sedangkan tipe kolovial terdiri dari limonit dan Ilmenite. yang berasosiasi dengan besi. Di Kalimantan tengah keterdapatannya juga masih merupakan indikasi didaerah Rantau Pandan. Kegiatan tahap lanjutan untuk mendapatkan informasi mengenai timah hitam di Kalimantan Tengah belum dilakukan. Tembaga Tembaga di Kalimantan Tengah juga dijumpai sebagai indikasi. Lokasi tipe magnetis berada didaerah : − Bukit Karim. Cadangan bijih besi yang sudah ditemukan 41.(Persero) CABANG I MALANG Tipe magnetis terdiri dari hematite dan pegmatite. Kabupaten Kotawaringin Timur. Kabupaten Gunung Mas. Kabupaten Lamandau − Bukit Gojo. Pada saat ini menjadi bahan galian primadona dan terdapat menyebar luas diseluruh Kalimantan Tengah bagian barat. Kabupaten Katingan − Barito Timur Lokasi tipe kolovial berada didaerah : − Kenyala. Kabupaten Lamandau − Tumbang Manggu. Batu Ngasah dan Sungai Miri. k. Kabupaten Lamandau − Petarikan. Di Kalimantan Tengah timah hitam dijumpai didaerah Rungan Hirang. Kabupaten Katingan. Kecamatan Sanaman Mantikei. Timah Hitam Timah Hitam yang lebih dikenal sebagai timbale dijumpai sebagai indikasi. Zircon Zircon sebagai bahan pada logam yang keterdapatannya sebagai hasil sampingan kegiatan pertambangan emas alluvial. j.

Hal-hal yang perlu disempurnakan untuk mendukung hal tersebut adalah pengelolaan transportasi. danau. Sektor pariwisata di Kabupaten Murung Raya belum memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah. Kabupaten Murung Raya memiliki potensi pariwisata yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi ekowisata. pegunungan.6 Sektor Pariwisata Lokasi rawa memiliki keunikan yang dapat dikelola sebagai tempat wisata khas milik suatu wilayah. Keunikan berupa sejarah masyarakat. Potensi wisata tersebut dapat mengandalkan kekayaan alam yang dimiliki. riam. keindahan alam.1 jaringan jalan dan alur sungai yang dapat dilalui oleh kapal. air terjun. Taman berburu d. Berdasarkan karekteristik wilayahnya. Disamping itu keramahan masyarakat merupakan daya tarik pula. yang hingga saat ini belum dikelola dengan baik. hutan alam dan sumber air panas. dan keunikan hukum. Kabupaten Murung Raya mempunyai kekayaan alam yang sangat luas. 2. antara lain : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -120 . keamanan.6.6. promosi yang memadai dan profesionalitas listrik. Kabupaten Murung Raya Sampai sekarang ini potensi objek wisata di daerah ini masih belum banyak yang tergali dan masih belum ada investor yang mengelola potensi objek wisata di daerah ini. Untuk mengembangkannya diperlukan promosi serta pengelolaan yang profesional. diantaranya berupa : a. gau. Arung Jeram ( wisata tantangan ) b. Taman keanekaragaman hayati dan agro-wisata. c. kebudayaan. Wisata alam ( sungai. penyelenggaraan wisata. 2. Objek wisata budaya yang potensial untuk dikunjungi oleh para wisatawan baik dari dalam negeri maupun dari luar. fasilitas wisata seperti tempat makan. Produksi diperkirakan ± 150.000 ton per tahun.(Persero) CABANG I MALANG produksi Zircon Kalimantan Tengah pada saat ini.6. Potensi alam dan budaya merupakan potensi wisata. desa-desa tradisional.

Beliau adalah penerus perjuangan Pangeran Antasari dalam memimpin perang Barito selama lebih dari 40 tahun melawan kolonial. Betang Konut Betang Betang atau Konut rumah terdapat panjang. Potensi alam merupakan baik. 2). Objek wisata yang cukup menarik ini terletak di kaki bukit Manyawang. lokasi ini dapat dicapai melalui jalan darat.17 Obyek Wisata Betang Konut 3).(Persero) CABANG I MALANG 1). kurang lebih 8 KM dari Puruk Cahu. yang hingga saat ini belum dikelola pariwisata dengan di Kabupaten Murung Raya belum memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah. Makam Sultan Muhammad Semam Makam bersejarah ini terdapat di pusat kota Puruk Cahu. Sultan Muhammad Semam adalah Sultan Kerajaan Banjar. cabang dari sungai Mendaun anak sungai Kapuas. mampu menarik para wisatawan untuk berkunjung. Perang Barito berakhir tahun 1903 seiring dengan wafatnya Sultan Muhammad Semam serta tertangkapnya Panglima Batur. wisata. Betang Konut merupakan salah satu betang yang masih berdiri dari suku dayak siang. Gambar 2. Konut wilayah kecamatan Tanah Siang. Gambar 2. Sampai sekarang ini potensi objek wisata di daerah ini masih belum banyak yang tergali dan masih belum ada investor yang dan mengelola budaya potensi objek potensi Sektor wisata di daerah ini.18 Obyek Wisata Pandulangan Emas Masuparia Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -121 . Pandulangan Emas Masuparia Lokasi pendulangan emas masupari ada di lembah aliran sungai Masupa. anak sungai Tihis. di desa merupakan rumah khas suku dayak.

Wisata Pasir Putih Obyek Wisata ini dikenal dengan sebutan Bukit Tengkorak. Gambar 2.20 Obyek Wisata Air Terjun Dirung Duhung Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -122 . Gambar 2. menuju obyek wisata air terjun Bumbun dan Monumen Equator di Kecamatan Utut Murung.(Persero) CABANG I MALANG 4). yang dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Obyek wisata Dirung Duhung terletak di Kecamatan Tanah siang kurang lebih 20 km dari kota Puruk Cahu Ibukota Kabupaten Murung Raya. Obyek wisata ini dapat ditempuh kurang lebih 4 jam dengan menggunakan kendaraaan roda empat maupun roda dua dari arah Ibukota Kabupaten Murung Raya Puruk Cahu.19 Obyek Wisata Pasir Putih 5). Air Terjun Dirung Duhung Kawasan ini dikembangkan dan dilindungi oleh Pemerintah Kabupaten Murung Raya dengan membangun berbagai fasilitas wisata untuk kenyamanan para wisatawan yang akan mengunjungi kawasan wisata ini yang sangat potensial dijadikan gelanggang wisata Arung Jeram.

(Persero) CABANG I MALANG

6). Air Terjun Bumbun Obyek wisata ini terletak di desa Tumbang Olong, keindahan alamnya yang sangat menarik dengan percikan airnya yang sangat jernih. Tidak heran pada hari-hari liburan banyak wisatawan lokal yang berkunjung ke lokasi ini. Jaraknya, kurang lebih 100 km dari ibukota Puruk Cahu. Gambar 2.21 Obyek Wisata Air Terjun Bumbun 2.6.6.2 Kabupaten Barito Kuala

Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kabupaten Barito Kuala ada beberapa tempat wisata yang lazim dikunjungi oleh wisatawan seperti Taman Wisata Alam Pulau Kembang, Cagar Alam Pulau Kaget Alur Sungai Barito, dan Makam Syekh H. Abdussamad Wisatawan terbanyak selama Tahun 2007 berkunjung Taman Wisata Pulau Kembang dan Tempat relegius Makam Sekh H. Abdul Samat yakni berjumlah 13.225 orang dan 11.825 orang. Wisatawan yang berkunjung ini berasal dari wisata manca negara berjumlah 125 orang dan sisanya wisatawan nusantara 49.865 orang. Tabel 2.34 Obyek Wisata di Kabupaten Barito Kuala
Nama Obyek Wisata Taman Wisata Alam Pulau Kembang Jenis Alam Daya Tarik Kera dan Bekantan Sungai dan Pulau Bakut Tanah Lapang dan Danau Tanaman Jeruk Pemandangan Sungai Barito Kerbau dan Rawa Makam Ulama Lokasi/ Tempat Kec. Alalak Jarak ke Objek Wisata (Km) 60

Jembatan Barito

Buatan

Kec. Alalak

50

Agropolitan Terantang

Buatan

Kec. Mandastana

25

Wisata Agro Sungai Kambat

Agro

Kec. Cerbon

5

Siring Wisata Marabahan

Buatan

Kec. Marabahan Kec. Kuripan Kec. Marabahan Kec. Alalak Kec. Alalak

0

Peternakan Kerbau Kalang

Alam

60

Makam H. Abdussamad

Ziarah

0.5

Makam Datu Kayan Makam Datu Aminin Ziarah Makam

Ziarah Ziarah

Makam Ulama Makam Ulama

50 56

Sumber : Dinas Lingk. Hidup,Kebersihan, Pariwisata dan Budaya Kab. Barito Kuala

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -123

(Persero) CABANG I MALANG

2.6.7 Sektor Energi 2.6.7.1 Kebutuhan Tenaga Listrik

Tinggi rendahnya pemakaian listrik adalah merupakan salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat disamping pemakaian air minum (air bersih). Adanya peningkatan yaitu banyaknya listrik yang terjual selain untuk konsumsi pemerintah, lainnya dan susut/hilang, dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya derajat kesejahteraan masyarakat. 1. Kabupaten Barito Selatan Pada tahun 2005, jumlah keseluruhan pelanggan listrik di Kabupaten Barito Selatan sebanyak 13.042 sambungan. Kecamatan Dusun Selatan merupakan kecamatan dengan jumlah pelanggan terbesar yaitu 7.676 sambungan dan daya yang terjual sebesar 11.120.192 Kwh. Sedangkan Kecamatan G. B. Awai merupakan kecamatan dengan jumlah pelanggan terkecil, yaitu 485 pelanggan dengan daya yang terjual sebesar 315.273 Kwh.

Tabel 2.35 Distribusi Tenaga Listrik Menurut Kecamatan Pada Kabupaten Barito Selatan
No 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara G.B. Awai Jumlah 2004 2003 Pelanggan 1,310 968 1,567 7,676 1,036 485 13,042 11,966 Daya Terpasang (VA) 818,250 577,900 921,960 7,316,100 615,150 299,950 10,549,310 Listrik Terjual (Kwh) 1,080,143 643,327 1,141,484 11,120,192 647,479 315,273 14,947,898 15,211,283 15,129,465

Sumber : Barito Selatan dalam angka, 2005

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -124

(Persero) CABANG I MALANG

2.

Kabupaten Barito Utara Pemakaian energi listrik di Kabupaten Barito Utara didominasi oleh pelanggan rumah tangga. Pada tahun 2007, jumlah pelanggan rumah tangga mencapai 11.788 rumah tangga dengan pemakaian daya listrik sebesar 18.638.437 Kwh. Jumlah produksi dan pemakaian tenaga listrik pada PT. PLN Cabang Kuala Kapuas dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.36 Produksi dan Pemakaian Tenaga Listrik Menurut Unit Pembangkit pada PT. PLN Cabang Kuala Kapuas

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Unit Pembangkit Rtg Muara Teweh ULD Benangin ULD Lemoo Sub Rtg Tumpung Laung ULD Bintang Ninggi ULD Luwe Hulu ULD Montallat Sub Rtg Kandui ULD Sabuh Kantor Jaga M. Lahei Jumlah

Produksi (Kwh) 20,135,098 214,872 516,224 218,966 100,987 512,746 66,241 21,765,134

Dijual (Kwh) 15,804,410 207,043 406,028 472,314 303,795 185,399 98,100 478,550 59,897 622,901 18,638,437

Dipakai Sendiri Susut / Hilang (Kwh) (Kwh) 1,265,853 1,732,128 7,414 43,030 33,139 2,607 33,277 6,232 1,265,853 1,857,827

Sumber : PT. PLN Cabang Kuala Kapuas

3.

Kabupaten Barito Timur Pada tahun 2007, jumlah keseluruhan pelanggan listrik di Kabupaten Barito Timur sebanyak 11.705 sambungan. Kecamatan Dusun Timur merupakan kecamatan dengan jumlah pelanggan terbesar yaitu 3.375 sambungan dan daya yang terjual sebesar 6.229.654 Kwh. Tabel 2.37 Distribusi Tenaga Listrik Menurut Kecamatan Pada Kabupaten Barito Timur
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah Pelanggan 1,160 3,375 764 617 3,024 1,403 498 864 11,705 Daya Terpasang 1,423,585 2,938,250 212,474 338,050 1,603,055 764,740 441,590 798,626 8,520,370 Listrik Terjual 216,855 6,229,654 60,450 30,135 212,771 105,635 52,120 86,027 6,993,647

Sumber : PT. PLN Ranting Ampah & Tamiang Layang

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -125

(Persero) CABANG I MALANG

4.

Kabupaten Murung raya Listrik merupakan fasilitas publik yang sangat strategis dalam mendorong percepatan pembangunan dan pengembangan wilayah di Kabupaten Murung Raya. Sektor ini mampu memberikan pelayanan yang maksimal terhadap masyarakat/rumah tangga maupun terhadap pengembangan industri, perdagangan dan jasa-jasa serta kegiatan pemerintahan. Seiring dengan pemekaran wilayah, dinamika penduduk terus bertambah, kebutuhan akan listrik meningkat setiap tahunnya. Pengembangan sumberdaya air dalam rangka mendukung program tenaga listrik menjadi kebutuhan yang utama saat ini apalagi dengan meningkatnya aktivitasaktivitas pembangunan di Kabupaten Murung Raya. Listrik merupakan sumber energi yang penting bagi kehidupan manusia. Ketergantungan manusia akan sumber energi listrik ini semakin meningkat, baik sebagai alat penerangan, sumber energi bagi alat rumah tangga atau perkantoran dan sarana penggerak kegiatan ekonomi dalam masyarakat. Kebutuhan tenaga listrik bagi Kabupaten Murung Raya bersumber dari PLTD PT. PLN Cabang Murung Raya. Pada Tahun 2003 jumlah daya terpasang di Kabupaten Murung Raya sebesar 2.652.700 VA. dan daya terpakai 3.711.794 Kwh dengan jumlah pelanggan sebanyak 3.302 rumah tangga. Dibandingkan dengan jumlah rumah tangga sebanyak 20.504 KK maka hanya 16,10% dari rumah tangga yang sudah memanfaatkan aliran listrik.

5.

Kabupaten Kapuas Sektor rumah tangga merupakan pelanggan terbesar PLN di Kabupaten Kapuas. Sebanyak 36.886 pelanggan telah terdaftar menjadi pelanggan PLN pada tahun 2007. Pelanggan rumah tangga ini telah menyerap 67.88% dari energi listrik yang terjual. Tabel 2.38 Pelanggan Listrik di PLN Kuala Kapuas
No 1 2 3 4 Jenis Pelanggan Rumah Tangga Usaha Industri Publik Jumlah Pelanggan 36,886 1,706 20 1,397 Kwh Terjual 32,459,014 4,274,857 8,015,305 3,069,915

Sumber : PT PLN (Persero) Wil VI Cabang Kuala Kapuas

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -126

(Persero) CABANG I MALANG

Industri 17% Usaha 9%

Publik 6%

Rumah Tangga 68%

Gambar 2.22 Distribusi Pemakai Daya Listrik di Kabupaten Kapuas 6. Kabupaten Barito Kuala Jumlah pelanggan listrik pada Tahun 2007 berjumlah 517.064 pelanggan dengan daya tersambung sebesar 345.451.520 VA. Untuk KWH terjual sebesar 43.574.172 kwh. Untuk pelanggan yang terbesar berada pada kelompok tarif rumah tangga sebesar 493.664 pelanggan, kemudian kelompok tarif sosial sebesar 14.365 pelanggan. Sedangkan pelanggan yang terkecil pada kelompok tarif Industri yaitu berjumlah 92 pelanggan. Hal ini disebabkan pengelolaan pelanggan yang besarnya diatas 83.500 VA langsung ditangani oleh PT PLN Cabang Banjarmasin karena letaknya berseberangan kota Banjarmasin tepatnya di Kecamatan Tamban dan Alalak. Daya tersambung dan KWH terjual juga terbesar berada pada kelompok tarif rumah tangga kemudian diikututi kelompok tarif kantor dan PJU yakni masingmasing besarnya 34.788.304 kwh dan 4.463.464 kwh. Tabel 2.39 Pelanggan Listrik Di PT PLN Ranting Marabahan 2007
No 1 2 3 4 5 6 Kelompok Tarif Sosial Rumah Tangga Usaha Industri Kantor dan PJU PS dan TS Jumlah Tahun 2006 Tahun 2005 Daya Pelanggan VA Tersambung KWH Terjual 10,467,650 14,365 10,467,650 885,603 295,541,400 493,664 295,541,400 34,788,304 20,143,100 6,081 20,143,100 3,203,546 708,000 92 708,000 92,668 18,591,370 2,862 18,591,370 4,463,464 140,560 345,451,520 517,064 345,451,520 43,574,145 324,441,870 535,443 324444870 41,141,668 43,175 265,982 3192292 43,175

Sumber : PT PLN Cabang Marabahan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -127

(Persero) CABANG I MALANG

PS dan TS Indust r i 0% Usaha 6% Kant or dan PJU 5% 0% Sosial 3%

Rumah Tangga 86%

Gambar 2.23 Distribusi Pemakai Daya Listrik di Kabupaten Barito Kuala

2.6.7.2

Pusat Beban Kalimantan Selatan

Pusat beban Kapuas, Barito dipasok dari sistem interkoneksi 150 kV dan 70 kV Sistem Kalimantan Selatan. Kapasitas terpasang saat ini sebesar 117 MW yang terdiri atas PLTA 30 MW, PLTG 21 MW dan PLTD 66 MW. Untuk mengurangi peranan PLTD dan meningkatkan keandalan sistem, sedang dibangun jaringan transmisi 150 kV sampai ke sistem Banua Lima yang akan beroperasi akhir 1996 dan pengembangan transmisi ke Palangka Raya yang akan beroperasi tahun 1998. Kebutuhan tenaga listrik di sistem Kalsel diproyeksikan akan tumbuh 13%/tahun sehingga beban puncak saat ini 107,7 MW, diperkirakan akan meningkat menjadi 169,9 MW pada tahun 1998. Jumlah desa berlistrik saat ini di kawasan andalan DAS KAKAB adalah 166 desa dari total 484 desa dan direncanakan tambahan desa berlistrik selama Repelita VI sebanyak 91 desa.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -128

(Persero) CABANG I MALANG

2.6.8 Sektor Air Bersih Sehubungan dengan kebijakan Departemen Permukiman dan prasarana Wilayah dalam ‘ pengembangan Sumber Daya Air secara menyeluruh dan terpadu dikenal sebagai ‘ One river, One Plan and One Management’ maka salah satu permasalahan yang berkembang di kawasan Barito adalah masalah penyediaan air baku. Berikut angka statistik yang berkaitan dengan penyediaan air bersih di WS Barito-Kapuas: Tabel 2.40 Distribusi Air Minum Menurut Kecamatan di Kabupaten Barito Selatan
No 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara G.B. Awai Jumlah 2004 2003 Pelanggan 299 297 962 5,532 546 142 7,778 7,219 9,342 Air Disalurkan (M3) 42,751 38,512 95,516 1,103,346 50,356 11,171 1,341,652 1,231,854 1,490,312 Nilai (Rp) 78,846,600 71,425,200 200,049,200 2,653,478,450 103,955,600 25,008,800 3,132,763,850 2,477,042,250 2,244,260,400

Sumber : Barito Selatan dalam angka, 2005

Tabel 2.41 Jumlah Air Minum Yang Disalurkan Menurut Jenis Konsumen di PDAM Kabupaten Barito Utara
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Konsumen Rumah Tangga Hotel/Obyek Wisata Badan Sosial dan Rumah Sakit Pertokoan/Industri Umum Instansi Pemerintah Lainnya Susut Jumlah Pelanggan (buah) 478 1,109 89 110 934 103 152 2,975 Air Disalurkan 3 (m ) 84,978 191,264 11,906 15,592 169,842 16,859 17,091 507,532 Nilai (Rp) 151,388,750 470,885,650 30,057,200 32,010,800 365,275,050 33,656,650 27,365,500 1,110,639,600

Sumber : Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Barito Utara

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -129

(Persero) CABANG I MALANG

Tabel 2.42 Distribusi Air Minum Menurut Kecamatan di Kabupaten Barito Timur
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah 2006 2005 Pelanggan 478 1,109 89 110 934 103 152 46 3,021 2,655 2,594 Air Disalurkan 84,978 191,264 11,906 15,592 169,842 16,859 17,091 3,273 510,805 433,622 413,018 Nilai (Rp) 151,388,750 470,885,650 30,057,200 32,010,800 365,275,050 33,656,650 27,365,500 8,127,500 1,118,767,100 1,067,659,900 572,688,050

Sumber : Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Barito Timur

Tabel 2.43 Pemakaian Air Bersih Kabupaten Murung Raya
Produksi (m3) 274,416 Jumlah Pelanggan 1453 Jumlah KK 20504 Prosentase Pemakaian 7.09

Sumber: Situs Resmi Kabupaten Murung Raya (2008)

Tabel 2.44 Jumlah Pelanggan dan Banyaknya Air Bersih Yang Disalurkan di PDAM Kabupaten Kapuas
No 1 2 3 4 Tahun 2004 2005 2006 2007 Jumlah Pelanggan 13,045 13,626 10,953 11,255 Volume (m3) 3,131,054 2,294,742 2,770,116 2,722,209

Sumber : PDAM Cabang Kapuas

Tabel 2.45 Rekapitulasi Unit PDAM Barito Kuala 2007
No 1 2 3 4 5 6 7 Unit Marabahan Bakumpai Cerbon Rantau Badauh Alalak Anjir Pasar Tamban Jumlah Produksi (m3) 1,956,859 44,529 42,937 105,578 897,152 123,264 1,690 3,172,009 Distribusi (m3) 927,946 35,619 37,799 100,616 772,902 82,834 1,558 1,959,274 Terjual (m3) 764,220 29,349 32,615 92,782 710,943 47,795 1,321 1,679,025 Kebocoran (m3) 163,726 6,270 5,184 7,834 61,959 35,039 237 280,249 Prosentase Sambungan Kebocoran Rumah 17.64 2,519 17.60 219 13.71 197 7.79 355 8.02 3,530 42.30 413 15.21 27 14.30 7,260

Sumber : PDAM Barito Kuala 2007

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -130

(Persero) CABANG I MALANG

2.6.9 Sektor Kesehatan 2.6.9.1 Kabupaten Barito Selatan Jumlah tenaga medis yang ada di Kabupaten Barito Selatan adalah 701 0rang yang terdiri dari dokter umum 26 orang, dokter gigi 8 orang dan bidan 159 orang. Komposisi tenaga medis di Kabupatten Barito Seltan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.46 Jumlah Tenaga Medis di Kabupaten Barito Selatan
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara Gunung Bintang Awai Dusun Tengah Pematang Karau Awang Petangkep Tutui Dusun Timur Benua Lima Jumlah Dokter Umum Dokter Gigi Bidan Perawat Apoteker 1 1 2 9 1 2 2 1 1 1 4 1 26 1 1 0 2 0 0 1 0 0 0 2 1 8 5 10 10 26 17 17 21 11 8 9 18 7 159 10 13 13 86 10 19 24 10 5 6 31 5 232 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 1 0 8 SPKU Tenaga Jumlah Pembantu Teknis 0 5 22 3 7 35 5 9 39 44 82 256 4 2 34 8 14 4 4 1 20 5 112 7 7 2 2 2 24 7 156 53 69 28 20 19 100 26 701

Sumber : BPS Kabupaten Barito Selatan tahun 2006

2.6.9.2 Kabupaten Barito Utara Jumlah rumah sakit umum pada Kabupaten Barito Utara masih 1 unit yang berada di Kecamatan Teweh Tengah. Sedangkan Puskesmas yang ada berjumlah 11 buah dimana terbanyak berada di Kecamatan Teweh Tengah berjumlah 4 unit. Sarana kesehatan yang ada di Kabupaten Barito Utara pada masing-masing kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 2.47 Sarana Kesehatan Masyarakat Kabupaten Barito Utara
No. 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Montallat Gunung Timang Gunung Purei Teweh Timur Teweh Tengah Lahei JUMLAH Rumah Sakit Umum 0 0 0 0 1 0 1 Puskesmas 1 2 1 1 4 2 11 Puskesmas Pembantu 7 8 3 9 27 15 69 Rumah Bersalin 0 0 0 0 2 0 2

Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -131

Dimana pada tahun 2006 berjumlah 42 unit.6.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.3 Kabupaten Barito Timur Dibidang kesehatan. 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Montallat Gunung Timang Gunung Purei Teweh Timur Teweh Tengah Lahei JUMLAH Dokter Umum Dokter Gigi Bidan Perawat 0 2 2 2 4 2 12 0 0 0 0 1 0 1 5 11 5 11 37 14 83 6 11 6 11 25 18 77 Apoteker/Ass. Apoteker 1 0 0 0 3 1 5 SPKU Pembantu Perawat 1 2 0 0 4 0 7 Tenaga Teknis 7 16 5 9 36 14 87 Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 2. Pada tahun 2007 meningkat lagi menjadi 458 orang yang bekerja di bidang kesehatan. Tabel 2. Sedangkan pada tahun 2006 terdapat 452 orang yang bekerja dibidang kesehatan. Pada tahun 2005 terdapat 417 orang yang bekerja di bidang kesehatan.9. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah 2006 2007 Rumah Sakit 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 Puskesmas 1 2 1 1 2 1 1 0 0 9 8 8 Puskesmas Pembantu 4 6 4 4 9 7 5 4 7 50 42 42 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 Jumlah tenaga medis yang bekerja terjadi peningkatan dari tahun ke tahun. pada tahun 2007 bertambah menjadi 50 unit.49 Sarana Kesehatan Masyarakat Kabupaten Barito Timur Tahun 2007 No. pembangunan prasarana kesehatan terus ditingkatkan terutama untuk puskesmas-puskesmas pembantu.48 Jumlah Tenaga Medis Kabupaten Barito Utara No. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -132 . Hal ini terlihat dari jumlah puskesmas pembantu yang ada.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah 2006 2005 Dokter 2 11 1 1 4 1 0 0 0 20 22 20 Perawat 9 86 11 13 25 17 7 5 4 177 171 129 Bidan 8 35 3 7 9 10 3 4 5 84 94 90 Lainnya 11 111 7 6 30 12 0 0 0 177 165 178 Jumlah 30 243 22 27 68 40 10 9 9 458 452 417 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 2.4 Kabupaten Murung Raya Pada tahun 2003. jumlah dokter umum yang bertugas di Kabupaten Murung Raya sebanyak 7 orang. Ass. Jumlah Puskesmas sebanyak 8 buah dan Puskesmas Pembantu sebanyak 40 buah.52 Jumlah Puskesmas dan Puskesmas Pembantu Menurut Kecamatan No 1 2 3 4 5 Dokter Umum Permata Intan Murung Laung Tuhup Tanah Siang Sumber barito Jumlah Puskesmas 1 2 2 2 1 8 Puskesmas Pembantu 5 8 13 6 8 40 Jumlah 6 10 15 8 9 48 Sumber : Murung Raya Dalam Angka 2003 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -133 . Tabel 2.9. yang tersebar di masing-masing kecamatan di kabupaten Murung Raya.50 Jumlah Tenaga Medis Kabupaten Barito Timur No.51 Banyaknya Tenaga Kerja Kesehatan Menurut Kecamatan No 1 2 3 4 5 Kecamatan Permata Intan Murung Laung Tuhup Tanah Siang Sumber barito Jumlah Dokter Umum 1 2 2 1 1 7 Dokter Gigi 1 1 45 Bidan 2 11 14 11 7 Pengatur Rawat 8 11 12 13 7 51 Apoteker SPKU Pemb. Apt Perawat 2 4 1 3 2 8 Tenaga Teknis 0 Sumber : Murung Raya Dalam Angka 2003 Tabel 2.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.6.

132 4.53 Sarana Kesehatan Masyarakat Kabupaten Kapuas Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Kecamatan Kapuas Kuala Kapuas Timur Selat Basarang Kapuas Hilir Pulau Petak Kapuas Murung Kapuas Barat Mantangai Timpah Kapuas Tengah Kapuas Hulu Jumlah Puskemas 2 1 6 1 1 1 4 1 3 1 1 1 23 Dokter Umum 1 1 7 1 1 1 2 1 1 0 1 0 17 Dokter Gigi 0 0 3 0 1 1 0 0 0 0 0 0 5 Paramedis lainnya 15 6 71 10 12 5 40 12 32 7 14 6 230 Rata-rata Kunjungan 12. Puskesmas 76 unit.95 6.811 Sumber : Kapuas dalam Angka tahun 2006 2.454 56.787 6.6 Kabupaten Barito kuala Fasilitas kesehatan yang terdapat di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Selatan terdiri atas Posyandu sebanyak 344 unit. RSU sebanyak 1 unit dan Klinik KB sejumlah 28 unit Tabel 2.677 3.6.6. BKIA sebanyak 5 unit.446 4. Sarana kesahatan di Kabupaten Kapuas dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.924 4.531 3. Kalsel)’.9.5 Kabupaten Kapuas Jumlah puskesmas di Kabupaten Kapuas berjumlah 23 buah terbanyak di Kecamatan Selat sebanyak 6 buah dan disusul Kecamatan Kapuas Murung sebanyak 4 buah.989 3.54 Sarana Kesehatan di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 Kabupaten/Kota Baritokuala Sarana Kesehatan (unit) BKIA Puskesmas RSU 5 1 76 Posyandu 344 Klinik KB 28 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.854 145.(Persero) CABANG I MALANG 2.663 28.9.404 9. September 2006 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -134 .

PDRB harga berlaku digunakan untuk menghitung struktur perekonomian.00 Rata-rata Pertumbuhan PDRB Tanpa Industri Besar 2004 1.516.687.00 3.00 2006 2.00 2007 2.197.183.7.00 2005 1.97 15.(Persero) CABANG I MALANG 2.11 16.078.00 2005 2.65% (dengan industri besar).00 2006 1. digunakan indicator Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).92 1.768.92) (9. 2.211. Tabel 2.79) 1.00 2.857.086.441.738. Perhitungan PDRB terbagi atas PDRB harga berlaku dan PDRB harga konstan.732.35 5.22 5.917.591.35 (4.55 PDRB Barito Kuala 2004 .255.00 1.100.00 Rata-rata Pertumbuhan Sumber : Kabupaten Barito Kuala Dalam Angka 2008 Tahun Pertumbuhan (%) PDRB atas dasar Harga Konstan (Rp) Pertumbuhan (%) 1.14 1.35 Rata-rata Pertumbuhan (2. melambatnya pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan terutama di dorong oleh melambatnya pertumbuhan sektor industri besar. sedangkan PDRB harga konstan digunakan untuk menghitung pertumbuhan perekonomian.234.1 Kabupaten Barito Kuala Perekonomian Kabupaten Barito Kuala pada tahun 2006 mengalami pertumbuhan sebesar 6.2007 PDRB atas dasar Harga Berlaku (Rp) PDRB Dengan Industri Besar 2004 2.755.67 17.340.65) 0.585.67 6.7.00 1.00 7.473. Dari sisi penawaran.08) 13.228.298.75 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -135 .145. untuk mengukur keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi pada suatu daerah.206.231.67% (tanpa industri besar) dan -2.974.22% (tanpa industri besar) dan -9.930.00 1.00 Rata-rata Pertumbuhan 5.1. lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2005 yang mencapai 5.00 2007 2.7 PERTUMBUHAN EKONOMI DI WILAYAH STUDI Sesuai dengan kelaziman yang berlaku.92% (dengan industri besar).00 (3.1 Provinsi Kalimantan Selatan 2.72 1.770.633.020.980.

79%.61 3. kemudian sektor perdagangan.01 100.400.06 Nilai Pertanian 292.00 62.72%.00 3.00 95.00 7.00 3.28 4.00 105.2%.021.800.00 25.00 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertumbuhan (%) 3.01%.900.39 8.72 3.00 44.700. Hotel & Restoran 89.2 Provinsi Kalimantan Tengah 2.(Persero) CABANG I MALANG 2.00 2005 Nilai 303.79 3. Tabel 2.00 Perdagangan.07 14.95 0. Gas dan Air Bersih 56.800.600. Persewaan & Jasa Perusa 22. hotel dan restoran sebesar 14.00 93.41 13.00 Bangunan/Konstruksi 100. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Barito Selatan dari berbagai kegiatan ekonomi yang terjadi di wilayah kabupaten pada tahun 2005 adalah sebesar 5.26 13. bangunan/konstruksi sebesar 8.900.46 9. Tabel 2.100.700.00 % 41.00 675.94 10.33%. pengangkutan dan komunikasi 12.300.2.00 2004 1.300.1 Kabupaten Barito Selatan Angka PDRB dapat menunjukkan sebearapa besar kegiatan perekonomian yang dihasilkan dalam kurun waktu tertentu (satu tahun) di Kabupaten Barito Selatan dan pertumbuhan dari kegiatan perekonomian Kabupaten Barito Selatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.57 Peranan PDRB menurut sembilan sektor ekonomi atas dasar harga berlaku (dalam jutaan) Lapangan Usaha 2004 % 41.07 0.900.30 12.57 9.20 0.100.45 6.33 12.7.79 2005 1.00 701.00 Jasa-jasa 701.00 736.00 Listrik.65 0.43%.00 92.00 3.900.90 5.16 100.40 8.00 736.72 5.06 Sumber : BPS Kabupaten Barito Selatan tahun 2005 Kontribusi sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan terbesar terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Barito Selatan tahun 2005 sebesar 41.06% atau naik sebesar hampir 1.27% dari tahun 2004 dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 3.600.000.900.800.43 14.700.232.700.7.00 2.400.00 5.100.000.00 Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.00 TOTAL Sumber : BPS Kabupaten Barito Selatan tahun 2005 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -136 .000.56 PDRB Kabupaten Barito Selatan tahun 2003-2005 (dalam jutaan rupiah) Tahun Atas Dasar Harga Pertumbuhan (%) Berlaku Konstan 2000 2003 870.600. jasa-jasa 13.43 5.300.19 3.00 Pertambangan dan Penggalian 41.00 Industri Pengolahan 2.

7 96. Gas dan Air 8% Bersih 0% Gambar 2. Distribusi PDRB Kabupaten Barito Selatan pada sembilan sektor ekonomi atas dasar harga berlaku 2000 2.6 111.3 76. Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku pada tahun 2007 sebesar 1. Tahun 2007 PDRB atas dasar harga berlaku. Persewaan & Jasa Perusahaan 3% Pengangkutan dan Komunikasi 13% Jasa-jasa 13% Pertanian 43% Perdagangan.7 63.8 milyar rupiah atau meningkat 15.2.19 persen dan sektor konstruksi 7.3 2006 461.2007 No.1 36.2 57.8 2.1 886.5 2.8 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -137 .9 7.(Persero) CABANG I MALANG Keuangan.7.4 25. restoran dan hotel 12. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan. Tabel 2. Hotel Pertambangan dan & Restoran Penggalian 14% Bangunan/Konstruks 0% Industri Pengolahan i 6% Listrik.9 1023. Tabel berikut menunjukkan PDRB dari berbagai sektor dan laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Barito Timur.9 30.0 5.1 4.3 43.73 % dibanding tahun sebelumya atau sebesar 886.48 %.023.6 99.3 2007 542.58 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah) Tahun 2005 .09 % dari tahun sebelumnya.3 125.8 3.3 746.4 milyar rupiah.2 Kabupaten Barito Timur Untuk wilayah Kabupaten Barito Timur.3 111. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2005 385.5 124.24.01 %. disusul sektor jasa 12.8 39.4 35. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.7 39.31 %.8 70. PDRB atas dasar harga konstan 2000 terjadi kenaikan 5. sektor perdagangan. sektor pertanian memberi sumbangan/peranan terbesar dalam pembentukan PDRB yaitu 53.4 53.

73 4.495.06 26. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2004 395.76 75.538.34 PDRB 0.91 Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -138 .37 3.281.21 % dan 8.86 39.70 104.2.90 5.88 %.59 Laju Pertumbuhan PDRB Barito Timur dan PDRB Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 PDRB Barito Timur Primer 4. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2000.77 Sekunder 3.02 1.336.004.22 5. sektor pertambangan dan penggalian.62 105.06 5.3 Kabupaten Barito Utara PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2006 sebesar 1.10 10.33 % dari tahun 2005 yang besarnya mencapai 1.81 4.712.695.275.06 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 2.412.151.84 2.59 12.18 % dari tahun sebelumnya atau hanya 824 milyar rupiah.281 milyar rupiah atau meningkat sebesar 10. 8.7.25 63. terjadi kenaikan sebasar 3.166.17 11. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.30 4.71 68.44 %.93 32.594.048.60 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah) Tahun 2004 .51 217.07 Tersier 2. Kemudian disusul secara berturutturut oleh sektor perdagangan.965.41 17.58 216.26 2005 413.91 5.60 83.29 0.201.09 3.567. sektor pertanian memberi sumbangan yang terbesar dalam pembentukan PDRB yaitu sebesar 34.73 PDRB Kalteng 2.282.47 %.961. 16. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.83 70.884.2006 No.08 189. Tabel 2.65 9.28 8. dan sektor pengangkutan dan komunikasi yang besarnya masing-masing sebesar 17.29 3.62 61.752.65 195.86 3.230.10 5.75 148.95 5.497.126.86 4.91 3.12 59.083.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.860.86 78. hotel dan restoran.35 223.26 1.46 5.161.962.721. sektor jasa.161. Tahun 2006.161 milyar rupiah.89 87.00 45.86 5.24 3.15 9.87 5.13 % PDRB Barito Utara berdasarkan harga berlaku menurut lapangan usaha dan pertumbuhan PDRB Barito Utara dapat dilihat pada tabel berikut.604.27 1.19 2006 441.42 7.108.20 57.84 6.370.11 5.24 9.610.

86 Sekunder 6.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. pada tahun 2002 terjadi pertumbuhan negatif (-12.58% dan -0.2.82 1.46%) lebih rendah jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi di tingkat Provinsi.04%). Dilihat dari besarnya kontribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap pembentukan PDRB kabupaten.40 0.04% dan 20. selanjutnya pada tahun 2002 dan 2003 masing-masing -16. Apabila laju pertumbuhan ekonomi secara Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -139 .05 1. dan pada tahun 2003 pertumbuhan mencapai 4.7. serta sektor Perdagangan.93 3.29 Tersier 4.25% hingga 5.91 4. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Murung Raya baik atas dasar harga berlaku (4.05 4.54 -19. Kemudian pertumbuhan atas dasar harga berlaku pada tahun 2001 mencapai 13.90 3. Hotel dan Restoran. Sedangkan kontribusi sektor-sektor lainnya hanya berkisar antara 0.21%. 21.05%. Pada tahun 2003 ketiga sektor tersebut mampu memberikan kontribusi terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Murung Raya masing-masing 41.49%.94 3. Laju pertumbuhan ekonomi di tingkat Provinsi atas dasar harga berlaku mencapai 14.4 Kabupaten Murung Raya Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Murung Raya ditunjukkan oleh pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan dan harga berlaku.18 Ket : * Data tidak tersedia Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 2.61 Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Barito Utara (%) Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 PDRB Barito Timur Primer 43.46%.61% atas dasar harga konstan 4.57 0.66 9.24 4.78%.86%).17 3.94 3. sektor Pertambangan dan Penggalian.41 8. Keadaan PDRB dan laju pertumbuhan ekonomi selama tahun 2000–2003 di Kabupaten Murung Raya menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Murung Raya atas dasar harga konstan sejak tahun 2001 hingga tahun 2003 cenderung negatif.86 2. Pertumbuhan tahun 2001 sebesar -0.49%) maupun atas dasar harga konstan (-0. maka perekonomian Kabupaten Murung Raya didominasi oleh tiga sektor yaitu: sektor Pertanian.66%.21%. Pendapatan regional perkapita sering digunakan sebagai salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat.90 3.23 3.19 10.90 -2.47 PDRB 4.

dan atas dasar harga berlaku mencapai Rp 9.096. Keuangan.25. Hotel dan Restauran 18% Bangunan / Konstruksi 10% Jasa-Jasa 10% Pertanian 48% Pertambangan 0% Industri Pengolahan 6% Listrik. 2.695. Sebaliknya jika laju pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari laju pertumbuhan penduduk.7. Sedangkan kontribusi sektor-sektor lainnya hanya berkisar antara 0. maka perekonomian Kabupaten Kapuas didominasi oleh tiga sektor yaitu: sektor Pertanian(48%). -. maka akan terjadi peningkatan pendapatan regional perkapita masyarakat.741. maka pendapatan perkapita masyarakat akan mengalami penurunan. Persewaan dan Jasa Perusahaan 4% Pengangkutan dan Telekomunikasi 4% Perdagangan.633. Gas dan Air Bersih 0% Gambar 2.(Persero) CABANG I MALANG riil lebih besar dari pertumbuhan penduduk. Distribusi PDRB Kabupaten Kapuas pada sembilan sektor ekonomi atas dasar harga berlaku 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -140 . . Hotel dan Restoran (18%) serta sektor Jasa-jasa (10%). Pendapatan regional perkapita masyarakat Kabupaten Murung Raya pada tahun 2003 atas dasar harga konstan tahun 1993 mencapai Rp 2. sektor Perdagangan.3% hingga 5.00%.5 Kabupaten Kapuas Dilihat dari besarnya kontribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap pembentukan PDRB kabupaten.2.

4 2.2 – 87.530.80 350.572.43 118. 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -141 .2 – 5.521.0 1.078.021. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa PDRB Lapangan Usaha 2004 1. angin berhembus membawa uap air.12 107.02 247.95 290.73 587.228.731.7 KALIMANTAN SELATAN 23.653.121.351.406.96 345.41 8.81 98.486.442.360. dengan kondisi iklim terdiri dari musim hujan dan musim kemarau yang dipengaruhi angin muson tenggara. didapatkan kisaran seperti pada table berikut ini.546.371.3 Sumber : Penelitian Lahan Rawa Kalimantan. Hotel dan Restauran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.63 Kisaran Unsur Cuaca No 1 2 3 4 5 UNSUR CUACA Suhu udara Kelembaban Nisbi Penyinaran matahari Kecepatan Angin Evapotranspirasi Potensial Tanaman UNIT C % Jam/hr knoot Mm/hr o KALIMANTAN TENGAH 25.085.85 119.423.14 195.00 256.9 – 3.62 PDRB Kabupaten Kapuas Berdasarkan Harga Berlaku No. 2.81 11.7 – 97.03 133.936.4 1.920.73 8.364.834.583. Gas dan Air Bersih Bangunan / Konstruksi Perdagangan.611.228.845.7 – 5.12 2.650.93 99.29 11.055.263.8. Selama musim hujan pada bulan November – April.98 87.386.346.263.513.108.508.73 2007 1.24 2006 1.9 70.400.0 80.332.4 – 27.9 – 4.6 – 6.37 2.402.581.76 12.97 473.92 297. sementara itu selama musim kemarau dari bulan Mei – Oktober.49 2.73 151.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.033.12 224. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik. berhembus angin kering yang membawa musim kemarau.408.48 146.0 2.680.8 HIDROLOGI WS Barito-Kapuas yang terdiri dari DAS Barito dan DAS Kapuas yang melintasi 2 (dua) Provinsi di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.998.318.1 – 27.88 217.03 152.814.6 3.8 – 6.73 170.0 2.87 3.65 10.134.25 184.74 10.811.879.32 2.81 9. Tabel 2. dimana berada pada daerah tropis.1 Iklim Kondisi iklim berdasarkan data dari Penelitian Lahan Rawa 2002.83 376. Deskripsi kondisi faktor-faktor hidrologis disampaikan dalam pembahasan berikut ini.45 2005 1.

5 27.3 79 82.2 26.0 50.0 77.1 83.5 Mei Jun 27.5 59.(Persero) CABANG I MALANG Kondisi klimatologi yang merupakan hasil penelitian pada daerah kerja “A” PLG Kalteng.75 4.25 3.8 83.4 5 5.3 Okt Nop Dec 27 26.5 26.0 27.40 26.60 55.1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 46.0 82.3 53.8 26.2 26.5 4.7 83.6 79 77.40 84.2 63.8 85.20 27.2 Sumber : Manual OP Proyek PLG.33 55.0 40.33 4.8 55.3 4.17 36.3 63.6 26.0 1 1 2 25.1 35.8 84.6 4.8 3.8 26.0 80.64 Rekapitulasi Data Klimatologi Bulanan (Lokasi PLG Kalteng) No 1 2 3 4 5 UNSUR Suhu udara Kelembaban Nisbi Kecepatan Angin Penyinaran matahari Evapotranspirasi UNIT C % knt Jam/hr Mm/hr o Jan Feb Mar 26.8 4.0 26.0 70.7 26.20 26.7 Apr 27.9 4.5 82.00 Temperatur 26.8 4. Rekapitulasi Data Klimatologi Bulanan Daerah Kerja “A” PLG Pengamatan meteorologi pada stasiun Banjarmasin dan Awang Bangkal rekapitulasi grafiknya pada gambar berikut ini.8 50.3 26.2 4.0 Kelembaban Relatif % Penyinaran Matahari 65.0 75.1 46.9 79.4 4.8 80.5 26. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -142 .1 35.1 4.6 79.75 51.6 51 .3 Jul Ags Sep 26.26.0 26.8 47 35.0 36.6 4.0 27.00 35.1 82.0 45.6 26.6 26.8 80.3 26.80 60.3 4.8 26.5 59.9 82.2 27.21 5.3 26.2 4.66 50.6 82.80 Penyinaran matahari Kelembaban Nisbi Suhu udara Month Gambar 2.5 4.8 55.1 83.7 85 84.75 5.3 26. 2002 Catatan : 1) 2) Data dari Stasiun Banjarmasin dan Stasiun Palangkaraya Evapotranspirasi dihitung dengan metoda Penman 27.8 5.7 85.0 35.75 55.9 4. merupakan data rata-rata stasiun di Banjarmasin dan Palangkaraya adalah sebagai berikut : Tabel 2.6 84.75 5.2 47.3 53.

6 26.3 86.00 25. Rekapitulasi Data Klimatologi Bulanan Kalimantan Selatan ( 2 ) Variasi suhu udara pada kondisi rata-rata maksimum adalah sebesar 32oC dan 22oC pada kondisi rata-rata minimum.0 26.000 mm/tahun. dan di daerah datar selatan sekitar 2.0 43.0 26. Pada saat musim hujan.2 Curah Hujan Seperti yang terjadi pada belahan wilayah kepulauan Indonesia lainnya.3 27.20 26.0 80. Tinggi curah hujan rata-rata di pegunungan utara adalah sekitar 3.0 85.0 27.0 83.00 Temperatur 26.7 26.0 83.80 26.0 25.0 85. Sementara curah hujan di selatan DAS (hilir sungai) cenderung lebih rendah dibandingkan pada daerah hulu. yaitu pada pegunungan utara.1 27.3 51 .60 26.6 75. Sementara itu.40 83.0 39. tinggi curah hujan rata-rata pada daerah pegunungan timur dalam DAS Barito adalah 3.0 31 .0 6 30.3 79.0 2 3 4 5 44.500 mm/tahun.3 26.0 27.0 81 . 2. Kelembaban relative adalah 82% pada stasiun Kota Banjarmasin.3oC.4 56.0 45.0 60. variasi suhu relatif kecil.0 55. and Temperature in Barito River Basin 90.7 26. disimpulkan bahwa curah hujan cenderung lebih tinggi di pegunungan.0 26.40 40.0 45.0 35. sedangkan terendah pada saat musim kemarau.1 80.0 26.8. sedangkan reratanya adalah 27. Sunshine.80 9 1 0 1 1 1 2 Penyinaran matahari Kelembaban Nisbi Suhu udara Month Gambar 2.9 27.0 45.0 26. kelembaban relatif bulanan adalah yang tertinggi. sampai minimum kurang dari 49%.0 70. Tabel data hujan dapat dilihat pada tabel di Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -143 .0 84.0 86.500 mm/tahun.0 50. sekitar 3oC per bulan.20 27.0 Kelembaban Relatif % Penyinaran Matahari 65.0 75.0 1 7 8 26.0 25.(Persero) CABANG I MALANG Monthly Mean Relatively Humidity.0 78.0 30.0 27.0 37.27.

Tabel 2. dan makin rendah pada daerah dataran rendah di sekitar lembah sungai. yang mengambil data-data curah hujan 10 tahun terakhir dari Stasiun Mandomai dan Stasiun Mentangai (1984 – 1994.28. Nampak bahwa tinggi hujan pada musim hujan adalah sekitar 60% 70% dari curah hujan tahunan.516 355 2.368 940 754 %DRY 39% 32% 30% %WET 61% 68% 70% Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Barito 450 403 400 350 331 300 374 326 339 330 Ms Kemarau 384 CH Bulanan 250 199 200 150 100 50 324 0 319 293 228 197 125 114 373 370 180 346 273 229 155 141 246 226 178 355 274 169 124 92 122 94 132 235 316 Peg Utara Peg Timur Plain area Jan Peg Utara Peg Timur Plain area 331 373 324 Feb 326 370 319 Mar 403 346 293 Apr 374 273 228 Mei 339 229 197 Jun 199 155 125 Bulan Jul 180 141 114 Ags 226 124 92 Sep 178 122 94 Okt 246 169 132 Nop 330 274 235 Dec 384 355 316 Gambar 2.930 316 2.(Persero) CABANG I MALANG bawah.65 Rekapitulasi Curah Hujan Tahunan pada Zona Dataran dan Pegunungan di DAS Barito Region Peg Peg Plain Jan 331 373 324 Feb 326 370 319 Mar 403 346 293 Apr 374 273 228 Mei 339 229 197 Jun 199 155 125 Jul 180 141 114 Ags 226 124 92 Sep 178 122 94 Okt 246 169 132 Nop 330 274 235 Dec Annual 384 3. 11 tahun).469 Mei-Okt 1. DAS Kapuas dan daerah antara kedua DAS tersebut. Wilayah diantara kedua DAS tersebut diambil pada wilayah ‘A’ eks PLG Kalteng. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -144 . Rekapitulasi Curah Hujan Tahunan Kawasan Dataran dan Pegunungan di DAS Barito Variasi kondisi curah hujan cenderung tinggi pada daerah pedalaman dan pegunungan. Beberapa data berikut menggambarkan curah hujan di DAS Barito.

8 57 98.8 13.5 280.2 381.2 220 50.4 Jul 347 118 6.1 613.3 344.4 128 36.9 301.8 250.6 346.5 83.9 40.6 266.6 274.9 Jun 29.2 232.7 321.1 117 126.9 278.5 Mar 580.462 1.3 114. 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -145 .1 238 119.5 0.2 167.446 2.815 2.3 278.8 138.1 314.7 181.2 506.8 160.9 269.1 160.659 1.2 179.5 37.6 12.0 81 .2 Mar 148.9 350.1 33.8 333.2 197.2 130.8 2.9 1 87.6 73.1 365.8 116.7 6.2 Sep 710.1 Feb 237.7 42.5 85.4 134.4 269 295.9 40.7 176.8 53.7 101.3 36.2 82.7 228.2 237.66 Curah Hujan Rerata Bulanan Daerah Kerja “A” PLG Kalteng Tahun 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 MAX MEAN MIN Jan 172.5 176.1 365.0 280.8 Ags 62.2 Okt Nop Dec 33.5 66.5 78.1 Mei 232. Curah Hujan Rerata Bulanan Daerah Kerja “A” PLG Kalteng Tabel 2.2 108.9 335.4 44.244 2.8 49 Okt Nop Dec Annual RF Month 251.917 1.4 250.9 Sep 86.0 1 97.3 254.8 88.891 1.7 86.1 134 305.9 104.4 1 53.9 229.6 245.683 133 Sumber : Manual OP Proyek PLG.0 Monthly Basin Mean Rainfall (mm) 229.6 240.8 104.5 94.8 58.9 150.8 229.3 24.2 57.9 12 33.7 216.6 Apr 528 312.1 96.9 18.7 174.3 Jun 266.2 372.4 319.5 126.4 231.6 162.6 291.3 64.1 114 155.8 372.5 29.3 83.7 143.4 422.4 240.6 119.5 252.3 301.7 266.1 Annual RF 1.5 110.4 310.8 29.29.8 25.4 67. 2002 Monthly Basin Mean Rainfall in Zone "A" PLG Kalteng 300.4 6.1 265 422.6 238 153.6 228.8 272.2 165.3 21.5 83.8 21.0 Jan Feb M ar A pr M ei Jun Jul A gs Sep Okt No p Dec Gambar 2.3 305.6 57 243.7 199.8 38.6 200.8 304.3 149.8 29.6 91.9 44.6 Jul 301.4 Feb 415.9 162.6 1.4 149.6 207.5 105.1 296.4 172.1 151.2 21.7 44 10.1 295.2 81..67 Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Barito (1976 – 1994) Tahun MAX MEAN MIN Jan 589.2 18.503 Sumber : Manual OP Proyek PLG.1 Apr 165.2 128 59.0 44.8 47 174.2 154.2 48.1 254.1 265.5 36.4 151.8 48.9 35.5 98.2 69.9 33.4 Mei 468.5 10.0 100.1 50.7 88.953 1.5 185.9 143.4 59.5 234.1 83.896 149.8 119.5 506.1 216.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.4 108.014 1.4 Ags 171 77.2 180.9 487.4 180.2 187.957 1.1 126.3 204.5 155.2 50.7 75 71.

7 Mar 548 247.7 1 49. 2002 Monthly Basin Mean Rainfall in Kapuas River Basin 450 400 Monthly Basin Mean Rainfall (mm) 350 306.2 1 30.5 1 40.2 280.2 295.9 100 50 0 Jan Feb M ar A pr M ei Jun Jul 84. Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Kapuas (1976 – 1994) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -146 .3 293.5 254.2 Ags 84.(Persero) CABANG I MALANG Monthly Basin Mean Rainfall in Barito River Basin 450 400 381 .30.9 Jun 165.3 77.68 Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Kapuas (1976 – 1994) Tahun MAX MEAN MIN Jan 530.2 1 54.4 Jul 105.5 260.2 Dec Annual RF 306.9 247.0 1 150 100 50 0 Jan Feb M ar A pr M ei Jun Jul A gs Sep 1 38.5 A gs Sep Okt No p Dec Month Gambar 2.2 2.9 Nop 254.4 35.2 1 65.8 1 8.5 Okt 140.9 254.4 150 1 05.2 300 250 200 293.4 280.9 300 250.4 Feb 459.31.5 Sep 130.506 Sumber : Manual OP Proyek PLG.1 237.5 31 2. Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Barito (1976 – 1994) Tabel 2.1 Apr 260.9 Mei 237.8 Monthly Basin Mean Rainfall (mm) 350 304.8 Okt No p Dec Month Gambar 2.5 89.8 250 200 245.

Sei Malang.993 2.61 mm – 369.DAS Tapin 2 S.DAS Riam Kanan 3 S.S.509 11. Muara Halong.S.327 2.761 195.921 12.(Persero) CABANG I MALANG Pada wilayah DAS yang berada di Provinsi Kalimantan Selatan. Secara umum kondisi iklim di DAS Barito seperti tabel berikut.409 2.479 Tipe Iklim B.827 194.208 Rata-rata Hari Hujan Per Bulan 11.S.69 Kondisi Iklim DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No I.039 192. dan yang terendah adalah sebesar 58.DAS Barito Tengah S.85 mm.86 10. data iklim yang menggambarkan kondisi iklim di DAS Barito didapatkan dari beberapa stasiun pengamat yang ada (10 stasiun pengamat/penakar hujan) yang sebarannya dianalisa berdsasarkan pembagian wilayah iklim metoda Thiessen.316 2.DAS Amandit 3 S.389 2.C B A.DAS Alalak 2 S.B B B.895 166. Martapura.B A.926 Rata-rata Curah Hujan Bulanan 179.916 11.S.958 8.588 8.473 13.S. Kalsel)’.DAS Barito Hilir S.289 194.125 1.213 jumlah curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara 197.DAS Tabalong Kanan 6 S.548 13.323 2. dengan jumlah hari hujan tahunan rata-rata sebesar hari per tahun.741 10.S.C B B IV.627 201.982 175.816 190.225 2.145 11.288 2.S. Berdasarkan data tersebut diperoleh data bahwa curah hujan tertinggi yaitu sebesar 141.B A.DAS Batang Alai 4 S.S.DAS Martapura 1 S. September 2003 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -147 .DAS Danau Panggang Ds 8 S.3 13. Sub DAS/ Sub Sub DAS S.064 B.DAS Riam Kiwa S.C Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.DAS Negara 1 S.302 1. Kandangan. Jaro dan Marabahan.823 B.DAS Bahalayung Rata-rata Curah Hujan Tahunan 2.167 mm. Mabu’un. Barabai. II.518 12. Binuang. Layang-layang Pengaron.DAS Tabalong Kiwa 7 S.DAS Balangan 5 S.885 mm.483 162. Tabel 2. Berdasarkan data dari stasiun pengamat curah hujan di atas. DAS Barito termasuk tipe iklim B ( Schmidt Fergusson) dengan nilai Q rata-rata sebesar 0.S. III.S.S.B A. Adapun stasiun pengamat/penakar hujan tersebut adalah stasiun pengamat Gn.091 191.C B 2.723 204. 2.426 189.

926 427 641 2.70 Tipe Iklim DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan Station Binuang (Tapin) Kandangan (HSS) Barabai (HST) Muara Halong (HSU) Martapura (Banjar) Bakumpai (Barito Kuala) Jaro (Tabalong) Sungai Malang (HSU) Mabu'un (Tabalong) Gn Layang-layang (Banjar) Annual RF (mm) 2.342 606 2.(Persero) CABANG I MALANG Annual RF dan Max RF DAS Barito.55 621.783 2.783 2.11 711.509 712 2.2 641 427 660. September 2003 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -148 .356 2.434 2.82 686.27 656.509 2.281 B akumpai (B arito Kuala) Jaro (Tabalo ng) Sungai M alang (HSU) M abu'un (Tabalo ng) Gn Layang-layang (B anjar) 661 1.342 2.87 589.255 2.44 Tipe B B B A B C A B B B Tahun 1977-2002 1977-2002 1990-2002 1978-2000 1997-1992 1986-1998 1976-2001 1976-1999 1976-2001 1978-2001 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.382 2.202 826 2.434 2. Kalsel 589 622 2.202 Max RF (mm) 826.356 656 B inuang (Tapin) Kandangan (HSS) B arabai (HST) M uara Halo ng (HSU) M artapura (B anjar) 1.66 605. Kalsel)’.281 1.382 686 Tabel 2.926 2.255 1.

32. Ampah 4. Buntok 2.Benangin 1 LS 0 POS DUGA AIR (AWLR) 1. Muara Teweh 2. Tampa POS HUJAN 1. Hayaping POS KLIMATOLOGI 1.Paku S. Ampah Benangin Ketapang Tumpung Laung Pendang Tabak Kanilan S. Muara Teweh 2.Montallat 10 LS Lampeong Kandui BUNTOK Bambulung S. Kandui 3. Pos Klimatologi dan Pos Hujan WS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -149 .(Persero) CABANG I MALANG 114 0 BT P. Tabak Kanilan 3. KALIMANTAN TENGAH 115 0 BT S.Murung 0 0 LS Tumbangolong 0 0 LS TUMBANG KUNYI Saripoi PURUK CAHU KETERANGAN MUARA TEWEH S.Karau Ampah Tampa Hayaping Bentot 2 0 LS Bingkuang Mangkatip 2 0 LS TAMIANG LAYANG Jenamas 114 0 BT 115 0 BT Gambar 2.

(Persero) CABANG I MALANG 114 0 BT P. Mandomai 2. Kelampan Palingkau Sei Tatas Barimba A. Pujon POS KLIMATOLOGI 1.33. Hanyu 10 LS Pujon Timpah 2 0 LS 2 0 LS S.Mantangai Ketimpun Mantangai Mandomai A. Pujon POS HUJAN 1. Lokasi Pos Duga Air. KALIMANTAN TENGAH Tumbangbukoi 10 LS KETERANGAN POS DUGA AIR (AWLR) 1. Serapat Basarang KUALA KAPUAS 3 0 LS A. Basarang 3 0 LS Lupak Dalam Pelampai 114 BT 0 Gambar 2. Pos Klimatologi dan Pos Hujan WS Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -150 . Mantangai Sei.

Ninian Hulu Sungai Utara S.063 km2.2 38 22 100 10. Sawarangan Tanah Laut S. Tapin Tapin S. Martapura Banjar S.3 200 17.379 Debit Rata-rata (m3/det) 3 14 48 29 150 54 7 8 55. Riam Kiwa Banjar S.4 m3/detik pada lokasi bendungan.325 351 2.621 532 306 775 535 33. Luas DAS yang digunakan pada perhitungan Bendungan Riam Kanan adalah sebesar 1.2 15 27. Hanyar Tabalong S. Tabalong Kiri Tabalong S.622 2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Lokasi (kabupaten) S. Berdasarkan hasil studi terdahulu pada Proyek Bendungan Riam Kanan. Negara Hulu Sungai Utara S. Batang Alai Hulu Sungai Tengah S.075 1. Tabalong Kanan Tabalong S.010 790 474 494 2.5 15 7.604 196 69 273 1.(Persero) CABANG I MALANG 2.KALSEL Nama Sungai Panjang (km) 15 61 106 119 187 21 19 121 94 93 60 71 159 52 133 92 92 57 29 83 30 Luas CA (km2) 77 303 1.8. Tabanio Tanah Laut S. Asam-asam Tanah Laut S.1 7. yaitu sekitar 2.5 8 30 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -151 .621 2. Balangan Hulu Sungai Utara S. Kintap Tanah Laut DAS BARITO .71 Debit Rata-rata Harian Sungai di Kalimantan Selatan No. Mangkauk Banjar S.3 Limpasan Permukaan (Runoff) Limpasan permukaan pada anak-anak sungai DAS Barito sangat bervariasi.993 10. Dalam kajian ini. debit tahunan anak sungai Riam Kanan diperkirakan dari setengah tinggi curah hujan tahunan. Barabai Hulu Sungai Tengah S. Tabel 2. Pitap Hulu Sungai Utara S.880 mm/tahun pada DAS yaitu 48. Riam Kanan Banjar S. Tabalong Tabalong S. Ayu Tabalong S. Amandit Hulu Sungai Selatan S.333 3. debit yang digunakan sebagai pembanding hasil analisis ketersediaan air pada tiap-tiap anak sungai adalah seperti pada table berikut. Uya Tabalong S.

M angkauk S.0 29.2 200. Sawarangan S. Riam Kanan S.0 7.0 54.(Persero) CABANG I MALANG S.0 8. B atang A lai S. Hanyar S.1 100. Kintap S.0 38. Riam Kiwa S.34. P itap S. Tabalo ng Kiri S. Tabalo ng S.3 8. Uya 30.0 17.0 De bit Rata-rata Sungai DAS Barito di Kalse l 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 De bit Rata-rata (m3/se c) Gambar 2.5 10.0 3. A mandit S. B arabai S. A sam-asam S. Tapin S. Negara S.0 27. A yu S.0 55.0 22. Tabalo ng Kanan S. Tabanio S.0 48.0 150.0 14.2 15.0 7. B alangan S. M artapura S.5 15.0 7. Debit Rata-rata Harian Sungai di Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -152 . Ninian S.

Stasiun Hidrologi dan Sebaran Hujan WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -153 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.35.

Meningkatnya produktivitas lahan 3. misalnya di daerah kering. adalah terciptanya lingkungan hidup yang baik dan nyaman dalam rangka meningkatkan perekonomian daerah. Dari segi sosial ekonomi. Sedangkan arah DAS Barito secara keseluruhan terdapat pada azimuth 206o 50’ – 287o 55’ yaitu memanjang dari mulai muara/bagian hilir di Kota Banjarmasin ke arah utara di bagian hulunya. Pada hujan yang intensif dan berlangsung dalam waktu pendek. erosi yang terjadi biasanya lebih besar daripada hujan dengan intensitas lebih kecil dengan waktu berlangsungnya hujan lebih lama. Sedangkan pengaruh iklim tidak langsung ditentukan melalui pengaruhnya terhadap pertumbuhan vegetasi. kualitas. pada daerah dengan perubahan iklim yang besar. Perbedaan ketinggian tersebut menghasilkan beda tinggi sebesar 1. Kendala-kendala tersebut harus dapat diantisipasi dalam rangka pencapaian tujuan akhir dari kegiatan pengelolaan DAS sebagai berikut: 1. sebaliknya. Kondisi hidrologis DAS yang optimal. dan kekeringan yang sangat erat kaitannya dengan keadaan sumber daya alam vegetasi/hutan tanah dan air serta unsur manusia yang terdapat dalam ekosistem DAS tersebut. tetapi. sedimentasi. Dengan kondisi iklim yang sesuai. meliputi hasil air yang memadai baik jumlah.257 m dari permukaan laut yaitu terdapat di Kab. Pengaruh iklim terhadap erosi dapat bersifat langsung dan tidak langsung. banjir.9 EROSI DAN SEDIMENTASI Pengelolaan DAS sebagai bagian dari pembangunan wilayah sampai saat ini masih menghadapi berbagai masalah yang kompleks dan saling terkait. pertumbuhan vegetasi terhambat oleh tidak memadainya intensitas hujan. Pengaruh langsung adalah melalui tenaga kinetis air hujan terutama intensitas dan diameter butiran air hujan. sekali hujan turun. 2. kontinuitas dan sebaran waktu serta terkendalinya erosi dan kekeringan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -154 . vegetasi dapat tumbuh secara optimal. DAS Barito memiliki titik ketinggian yang tertinggi 1.256 m dan ini menyebabkan pada daerah yang lebih tinggi akan mempunyai temperatur yang lebih rendah dan relatif banyak terjadi hujan dibandingkan dengan daerah yang lebih rendah. Tabalong dan terendah adalah 1m dari permukaan laut yang terdapat di Kota Banjarmasin. intensitas hujan tersebut umumnya sangat tinggi. Permasalahan tersebut antara lain terjadinya erosi.(Persero) CABANG I MALANG 2.

demikian pula cadangan air tanahnya. maka akan didapat Tingkat Bahaya Erosi yang diklasifikasikan mulai dari Sangat Ringan sampai Sangat Berat. Sedangkan keadaan lahan kritis dibedakan menjadi 4 (empat) klasifikasi. yaitu Kawasan Hutan Lindung.(Persero) CABANG I MALANG Berdasarkan hasil analisa dan pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tingkat kerusakan tanah di DAS Barito pada umumnya masih baik. namun demikian hal ini bukan berarti tidak terjadi kerusakan. Jika aspek alami mencerminkan kondisi potensial. persentase run-off. Letak dan kondisi lahan yang masih labil khususnya di lereng-lereng pegunungan. jenis tanah (erodibilitas). Tingkat erosi aktual menggambarkan keadaan lahan tererosi dengan mempertimbangkan curah hujan (erosivitas). Tingkat kekritisan daerah resapan menggambarkan mengenai penilaian tentang tingkat kekritisan daerah resapan terhadap air hujan. mempunyai implikasi yang berbeda terhadap infiltrasi. topografi (kelerengan dan panjang lereng).72 dan 2. Tingkat peresapan atau infiltrasi tergantung pada curah hujan. Untuk melestarikan simpanan air tanah. Semakin besar tingkat resapan (infiltrasi) maka semakin kecil tingkat air larian (surface runoff). Kawasan Lindung di luar Kawasan Hutan dan Kawasan Budidaya untuk usaha Pertanian. yaitu lahan Sangat Kritis. Tingkat kerusakan lahan di DAS Barito dapat dilihat dari keadaan erosi aktual dan tingkat bahaya erosi. berarti kemungkinannya adalah sebagai berikut: a. dimana penyebarannya dianalisa sesuai dengan fungsi kawasannya. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -155 . Kritis. justru gejala kearah kerusakan lahan sudah banyak ditemukan. Bentuk penggunaan lahan merupakan aspek di bawah pengaruh kegiatan manusia. Dengan mempertimbangkan solum tanah. Pengelolaan lahan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi tanah c. kekritisan hidrologis dan tingkat kekritisan Sub DAS sebagaimana disajikan pada Tabel 2.73. penutupan lahan dan upaya konservasi tanah. keadaan lahan kritis. Agak Kritis dan Potensial Kritis. tipe vegetasi dan penggunaan lahan. sehingga debit banjir dapat menurun dan sebaliknya aliran dasar (baseflow) dapat naik. ”maka aspek penggunaan lahan mencerminkan kondisi aktual”. tipe tanah. Masih banyaknya lahan-lahan terlantar yang tidak dikerjakan b. maka tingkat infiltrasi air hujan ke dalam tanah merupakan faktor yang sangat penting. kemiringan.

957.92 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.380 9.14 202.DAS Amandit S.23 8.096.DAS Danau Panggang Ds S.30 ha adalah 81.DAS Tabalong Kiwa S.126.610 81.363.38 8.020. lereng/slope.31 8.917. diberitakan berdasarkan pernyataan Ketua Komisi D DPRD Provinsi Kalimantan Selatan.863.37 8. dan dengan memperhitungkan nilai SDR (Sediment Delivery Ratio) sebesar 5.495 462.839. Rubrik Radar Banua.888.284 44.61 88. kritis dan sangat kritis.26 8.663 54.108.186.240.292.(Persero) CABANG I MALANG Tingkat kekritisan hidrologis dibedakan menjadi 5 (lima) kelas.93 94.30 1.240 6.957.264.863.908 5.567. normal alami.11 173. Sebagai ilustrasi adalah informasi dari media massa Radar Banjarmasin (hari Selasa tanggal 26 Agustus 2003.517.431.35 8.DAS Balangan S.72 Sebaran Kelas Erosi di DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 I. Kalsel)’.772 284.991 50.478. III.27 8.43 5.636 6.137 16.S.S.92%.975.DAS Tabalong Kanan S.747 63.26 8. Banjar bahwa kandungan lumpur dalam Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -156 .DAS Riam Kiwa S.DAS Riam Kanan S.325 mm/th atau 0.S.714 17.DAS Martapura S.921.DAS Alalak S. halaman 9 dan halaman 15.363.239 Indeks SDR 8.155.068.DAS Bahalayung Jumlah Luas (ha) 3 189. II. Adapun tingkat kekritisan Sub DAS diperoleh dari nilai-nilai indeks erosivitasnya yang dihitung berdasarkan bentuk wilayah/topografi. maka akan didapat hasil sedimen yang masuk ke dalam Sungai Barito sebesar 4.033 cm/th.116 453.526. dikatakan bahwa menurut Dirut PDAM Kab.68 117.349.550 6.484.743.S.617 66. maka ketebalan laju sedimentasi yang masuk ke dalam Sungai Barito bila dianggap sebagai waduk/penampungan adalah 0.158.27 8. Selanjutnya dengan asumsi bahwa berat sedimen adalah 0.896 81.01 49.26 136.036.239 ton/th.DAS Batang Alai S.343.S.7 ton/ha.56 164.44 110.905 1.3 Rata-rata Kerusakan Lahan Berdasarkan Kelas Erosi (ton/ha/tahun) Jumlah (ton/th) I II III IV (<15) (15 – 60) (60-180) (180-480) 4 5 6 7 8 5. September 2003 Berdasarkan Tabel di atas. Tabel 2.35 8.S.661.S.768. bahwa alur Barito setiap hari mengalami pendangkalan setinggi 2 cm.S.568.25 213.578 4.186.851.DAS Barito Tengah S.987.916 4. dengan ”judul Investor Baru Keruk Alur”). 1 2 3 2 3 4 5 6 7 8 Sub DAS/Sub Sub DAS 2 S..8 ton/m3.862 10.83 164. Nilai indeks Sub DAS yang tinggi menunjukkan tingkat kekritisan Sub DAS yang tinggi pula.DAS Barito Hilir Ds S. menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat erosi yang terjadi di DAS Barito berkisar antara kelas II (antara 15-60 ton/ha/th) dan kelas III (antara 60 – 180 ton/ha/th) dengan rata-rata erosi adalah 34.134 971.969. yaitu baik. mulai kritis.917.831 ton/ha/th atau setara erosi yang terjadi pada seluruh DAS Barito dengan luas 1.908.S. bentuk percabangan sungai dan penggunaan lahan. Sedangkan pada Radar Banjarmasin terbitan hari Rabu tanggal 27 Agustus 2003 ( Rubrik Radar Banua halaman 10 dengan judul ”Pelanggan PDAM Bakal Terlantar”).156 36.S.082.201 10. agak kritis.

385.576 ton/th atau setara 0.403.958.633 ton/th atau setara 0.070 cm/th Sub Sub DAS Amandit : 541.046 cm/th Sub DAS Negara: Sub Sub DAS Tapin : 891.908 ton/th atau setara 0. dan hampir sebagian besar Sub DAS Negara yang meliputi Sub Sub DAS Tapin.916 ton/th atau setara 0. Sub Sub DAS Batang Alai. Sub DAS dan Sub Sub DAS yang bersangkutan.448 ton/th atau setara 0.018 cm/th Sub Sub DAS Riam Kanan : 907.435.057 cm/th Sub Sub DAS Batang Alai : 572.052 cm/th Sub Sub DAS Balangan : 1.461.478.069 cm/th Sub Sub DAS Riam Kiwa : 781.881. adalah Sub Sub DAS Riam Kanan yang sudah barang tentu akan memberikan kontribusi laju sedimentasi yang lebih tinggi pula.084 cm/th Sub Sub DAS Tabalong Kanan : 919.368.941.265 ton/th atau setara 0.005 cm/th Sub Sub DAS Bahalayung : 23.647. didapat jumlah sedimen yang terjadi pada masing-masing sungainya sbb: Sub DAS Barito Hilir : 79.006 cm/th Pendekatan lain untuk menilai DAS Barito dapat dikaji pula mengenai tingkat kekritisan daerah resapannya.403 ton/th atau setara 0. menunjukkan bahwa DAS Barito mempunyai tingkat kekritisan hidrologis/kondisi daerah resapan yang rata-rata Normal Alami artinya bahwa potensi terjadinya infiltrasi karena kondisi alamnya tidak terlalu terganggu dengan adanya perlakuan lahan yang diatasnya.066 cm/th Sub Sub DAS Danau Panggang : 38.895. dimana Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -157 .73.171 ton/th atau setara 0. Sub Sub DAS yang mempunyai erosi rata-rata kelas II.914 ton/th atau setara 0. Dengan memperhatikan erosi yang terjadi dan indeks SDR (Sediment Delivey Ratio) pada masing-masing Sub Sub DAS.(Persero) CABANG I MALANG rangka pengerukan lumpur yang terdapat di irigasi Riam Kanan adalah 40 cm dari ketinggian air 60 cm.005 cm/th Sub DAS Barito Tengah : 37. yang pada intinya membandingkan antara infiltrasi potensial dan infiltrasi actual di DAS.004 cm/th Sub DAS Martapura: Sub Sub DAS Alalak : 127. Sub Sub DAS Balangan.282 ton/th atau setara 0. Kontribusi erosi dan sedimentasi tersebut berasal dari beberapa Sub Sub DAS dengan variasi jumlah dan kelas erosinya. Sedangkan Sub Sub DAS Riam Kiwa di Sub DAS Martapura.216. Berdasarkan Tabel 2. Sub Sub DAS yang termasuk ke dalam erosi Kelas III (60 – 180 ton/ha/th).834 ton/th atau setara 0. yaitu 15 – 60 ton/ha/th. Sub Sub DAS Amandit.735 Ton/th atau setara 0.625.

380 9.240.905 1.DAS Amandit S.11 173.35 8.73 Tingkat kekritisan Daerah Resapan DAS Barito di Provinsi Kalsel No 1 I.DAS Tabalong Kanan S. September 2003 2.020.431. 1 2 3 2 3 4 5 6 7 8 Sub DAS/Sub Sub DAS 2 S.991 50.27 8.DAS Alalak S. Konsep bahwa air merupakan sumberdaya alam yang harus dikelola secara hati-hati adalah sangat penting dan perlu. Tabel 2.863.DAS Tabalong Kiwa S.30 1.743. Hal ini dapat dilihat pada kondisi daerah resapan dengan klasifikasi Normal Alami hampir sebagian besar Sub Sub DAS Alalak dan Sub Sub DAS Danau Panggang termasuk daerah resapan yang masuk dalam klasifikasi Mulai Kritis.663 54.343.610 81. mengingat pertumbuhan penduduk dan pengembangan industri selalu diikuti dengan peningkatan kebutuhan air bersih.37 8.036.S.156 36. zat kimia dan bahan buangan atau limbah. Kalsel)’.DAS Danau Panggang Ds S.916 4.93 94.S.108.526.567.61 88.134 971. sedangkan yang termasuk Baik adalah Sub Sub DAS Riam Kiwa dan Sub Sub DAS Tapin.S.292.714 17.DAS Batang Alai S.3 Rata-rata Kerusakan Lahan Berdasarkan Kelas Erosi (ton/ha/tahun) Jumlah (ton/th) I II III IV (<15) (15 – 60) (60-180) (180-480) 4 5 6 7 8 5.DAS Barito Tengah S.862 10.772 284.896 81.240 6.DAS Barito Hilir Ds S.38 8.495 462.186.264.839.137 16. sehingga adanya keseimbangan antara potensi infiltrasi yang disebabkan keadaan alamnya dengan infiltrasi aktual yang terjadi. Air memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan suatu komunitas karena penyediaan air yang dapat diandalkan merupakan persyaratan bagi terbentuknya komunitas yang permanen.186.DAS Riam Kiwa S.617 66.01 49.DAS Balangan S.10 KUALITAS AIR WS BARITO-KAPUAS Air merupakan sumber alam yang sangat penting di dunia ini karena tanpa air kehidupan tidak dapat berlangsung.31 8.S.908 5.DAS Martapura S.068.(Persero) CABANG I MALANG penutupan lahan secara keseluruhan cukup baik.484.917.921.158.DAS Riam Kanan S.987.201 10.S.S. III.DAS Bahalayung Jumlah Luas (ha) 3 189.56 164.568.S.239 Indeks SDR 8.27 8.26 8.661.26 136.25 213. air merupakan satu-satunya sumber alam yang tidak bisa digantikan oleh material lain. Tidak sebagaimana bahan baku lainnya.44 110.957.096.83 164.116 453.969.155.126. II.975. Pencemaran air adalah adanya kontaminasi air oleh materi asing seperti mikroorganisme.26 8. Pencemaran utama air adalah sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -158 .349.43 5.S.23 8.082.14 202.517.478.768.68 117.550 6.888..363.92 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.S.578 4.S. Air yang kualitas buruk akan mengakibatkan kondisi lingkungan hidup menjadi buruk sehingga akan mempengaruhi kondisi kesehatan dan keselamatan manusia serta kehidupan makhluk hidup lainnya.284 44.35 8.636 6.747 63.

Lokasi 5 : Kalahien Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -159 .1. sehingga untuk dekomposisi limbah tersebut diperlukan banyak oksigen. Mineral anorganik dan bahan kimia anorganik 6.(Persero) CABANG I MALANG 1.10. sehingga dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen badan perairan dan bau yang tidak enak. Fecal Coli dan Total Koliform. Pupuk pertanian yang dapat merangsang pertumbuhan air secara berlebihan atau (eutrofikasi). misalnya pestisida dan surfaktan pada detergen. Yang dimaksud tingkat tertentu tersebut adalah baku mutu air yang ditetapkan sebagai tolak ukur untuk menentukan telah terjadinya pencemaran air. DHL (Daya Hantar Listrik). 2.Lokasi 2 : Baru . 3. Berdasarkan definisinya.Lokasi 1 : Baru Hilir / Buntok . Limbah rumah tangga dan limbah lain yang mengandung banyak materi karbon organik. juga merupakan arahan tentang tingkat kualitas air yang akan dicapai atau dipertahankan oleh setiap program kerja pengendalian pencemaran air. Bahan kimia organik. Detergen. COD (Chemical Oxygen Demand). Parameter yang diuji dalam pemantauan kualitas air meliputi: Temperatur.Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok . NH3 (Amoniak). 2. Minyak 5. Nitrat (NO3). PO4 (Phosphat). pH. Nitrit (NO2). Sedimen yang terdiri dari tanah dan partikel mineral yang yang berasal dari lahan pertanian. BOD5 (Biological Oxygen Demand). Zat Padat Terlarut (TDS). Minyak/Lemak. Fenol. pertambangan dan daerah padat penduduk di perkotaan yang terbawa oleh aliran air hujan. Zat Padat Tersuspensi (TSS). 4. DO (Dissolved Oxygen).Lokasi 4 : Pelabuhan Hulu . Sungai Barito Berdasarkan Laporan Pemantauan Kualitas Air Sungai Tahun 2007 Oleh BPPLHD Provinsi Kalimantan Tengah Sampel air Sungai Barito yang diuji kualitas airnya pada tahap I (Mei 2007) diambil di 24 (dua puluh empat) lokasi titik pengambilan yaitu: . pencemaran air yang diindikasikan dengan turunnya kualitas air sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai peruntukkannya. Merkuri (Hg). SO4 (Sulfat).

Lokasi 14 : Sungai Tewah .Lokasi 15 : Lahei .Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .Lokasi 7 : Sungai Pendang .Lokasi 6 : Pendang .Lokasi 23 : Muara Lahung .Lokasi 21 : Jembatan Penyebrangan .Lokasi 19 : Sungai Lumuk .Lokasi 16 : Muara Lahei .Lokasi 12 : Muara Teweh .Lokasi 24 : Laung Tuhup Sedangkan pada tahap II (September 2007) diambil di 10 (sepuluh) lokasi titik pengambilan yaitu : .Lokasi 23 : Muara Lahung .Lokasi 25 : Jembatan Bahitom .Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .(Persero) CABANG I MALANG .Lokasi 6 : Pendang .Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok Hasil pengujian kualitas air sungai di masing-masing lokasi adalah sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -160 .Lokasi 26 : Pelabuhan Puruk Cahu .Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri .Lokasi 10 : Kandui .Lokasi 17 : Puruk Cahu .Lokasi 13 : Muara Sungai Tewah .Lokasi 20 : Sungai Lumuk Hulu .Lokasi 22 : Tumbang Lahung .Lokasi 12 : Muara Teweh .Lokasi 22 : Tumbang Lahung .Lokasi 24 : Laung Tuhup .Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri .Lokasi 9 : Montalat .Lokasi 8 : Bintang Linggi .

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.74 Hasil Pengujian Kualitas Air Sungai Barito Tahap I (Bulan Mei 2007) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -161 .

Lokasi 2 : P.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.Lokasi 2 : P.Lokasi 1 : K.75 Hasil Pengujian Kualitas Air Sungai Barito Tahap II (Bulan September 2007) 2. Tilu . Kapuas . Tilu .Lokasi 3 : Mentangai .Lokasi 4 : Timpah .10.Lokasi 5 : Masaran Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -162 .Lokasi 4 : Timpah . Kapuas .Lokasi 5 : Masaran .Lokasi 3 : Mentangai .Lokasi 6 : Masaran Hulu Sedangkan pada tahap II (Oktober 2007) diambil di 9 (sembilan) lokasi titik pengambilan yaitu : .2. Sungai Kapuas Sampel air Sungai Kapuas yang diuji kualitas airnya pada tahap I (Juni 2007) diambil di 6 (enam) lokasi titik pengambilan yaitu: .Lokasi 1 : K.

1.Lokasi 6 : Masaran Hulu .Lokasi 9 : Mandomai Hasil pengujian kualitas air sungai di masing-masing lokasi adalah sebagai berikut: Tabel 2.1 Bentuk DAS Bentuk DAS dapat dinyatakan dengan menggunakan nilai Rc (Ratio circularity) yang mempunyai pengaruh pada pola aliran sungai dan ketajaman puncak discharge banjir. dapat dibuat suatu Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -163 .11. Dengan membandingkan konfigurasi basin.Lokasi 7 : Masaran Hilir .1 Kondisi DAS Barito 2.Lokasi 8 : Timpah Hulu .11 KONDISI WS BARITO DAN KAPUAS 2.76 Kualitas air di WS Kapuas 2.(Persero) CABANG I MALANG .11. Bentuk DAS sebenarnya sukar untuk dinyatakan secara kuantitatif.

dimana kondisi DAS yang demikian kadang kurang dapat menyimpan air dengan baik.04 km. artinya pada musim hujan mudah mengalami banjir di bagian hilirnya.(Persero) CABANG I MALANG indeks yang didasarkan paa circularity DAS. Secara keseluruhan Nilai Rc yang menggambarkan bentuk DAS Barito adalah 0. maka bentuk DAS tersebut adalah cenderung membulat. Dengan memperhatikan panjang dan lebar serta diameter DAS tersebut. maka nilai RE untuk DAS Barito adalah 0.594. maka mudah terjadi kenaikan debit yang mencolok dan hal ini akan menyebabkan timbulnya genangan dan banjir. hal ini berarti bahwa karakteristik DAS Barito mempunyai bentuk memanjang yang menunjukkan pola aliran dan puncak discharge banjir yang cepat menuju sungai utama. sedangkan pada musim kemarau diatas rata-rata normal dapat menyebabkan terjadi kekeringan lebih cepat dibandingkan dengan DAS yang mempunyai bentuk memanjang. Hal ini menunjukkan bahwa DAS Barito mempunyai bentuk memanjang agak membulat/lingkaran. terutama jika Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -164 . lebar dan panjang sungainya melalui perhitungan (Elongation Ratio). Bentuk Sub Sub DAS.5. Jika DAS berbentuk lingkaran maka indeks bentuk DAS mendekati nilai 1 dan atau apabila nilai Rc lebih kecil dari 0. bila lembah sungai tidak dapat menampung aliran air permukaan.562. walaupun pada kondisi tertentu dapat menyebabkan terjadinya banjir dan kekeringan.5 maka bentuk DAS tersebtu adalah memanjang dan apabila nilai Rc lebih besar dari 0. terutama bila terjadi hujan yang merata di bagian hulu dengan curah hujan yang tinggi. yaitu memanjang agak membulat/lingkaran. didapat panjang DAS Barito adalah 1.312. Karakteristik bentuk DAS Barito tersebut dapat dilihat juga dari faktor diameter. Berdasarkan hasil analisa planimetris dan GIS dengan menggunakan peta RBI dan peta topografi. Sub DAS dan DAS yang memanjang agak membulat/lingkaran tersebut cenderung mempunyai pola aliran dan puncak discharge banjir yang relatif lambat baik dalam penyimpanan air dibandingkan dengan Sub DAS yang mempunyai bentuk memanjang.937 km dan lebar adalah 121. hampir semua Sub Sub DAS mempunyai bentuk memanjang yang cenderung mempunyai pola aliran dan puncak discharge banjir relatif cepat dan kurang baik menyimpan air kecuali Sub Sub DAS Balangan dan Sub Sub DAS Tapin serta Sub DAS Martapura dan DAS Barito secara keseluruhan. karena waktu konstentrasi curah hujan melalui debit alirannya cenderung pendek. Dari perhitungan nilai Rc dan RE tersebut di atas. Bila hujan merata.

lebar DAS dan bentuk DAS Barito disajikan pada tabel berikut : dimana makin panjang sungai makin besar wilayah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -165 .298 km. pengalirannya. yaitu 208. Secara umum panjang sungai utama. Panjang sungai menentukan besarnya wilayah pengaliran sungai dan pengelolaannya. begitu seterusnya untuk masing-masing Sub DAS dan Sub Sub DAS yang lainnya.298 km. Dengan demikian secara keseluruhan DAS Barito mempunyai bentuk memanjang dan agak membulat/lingkaran yang dibentuk oleh Sub DAS dan Sub Sub DAS yang mempunyai bentuk memanjang serta bentuk memanjang agak membulat/lingkaran. Diantara Sub DAS yang ada. sungai utama terpanjang adalah sungai yang terdapat di Sub DAS Negara. Sebagai contoh sungai utama Sub DAS Martapura adalah Sungai Martapura dengan panjang 69. sedangkan sungai utama Sub Sub DAS Amandit adalah Sungai Amandit dengan panjang 98. Selanjutnya pada setiap Sub DAS dan Sub Sub DAS sungai utama yang dimaksud adalah sungai yang membentuk Sub DAS dan Sub Sub DAS tersebut.973 km.945 km dan memanjang mulai dari bagian hilir/muara sungai di Kota Banjarmasin sampai di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tabalong yang seterusnya memasuki wilayah Provinsi Kalteng. Sungai utama yang membentuk DAS Barito adalah Sungai Barito dengan panjang 153.(Persero) CABANG I MALANG kondisi musim hujan dan musim kemarau berada di atas rata-rata normal.378 km dan yang terpendek adalah sungai Martapura yaitu 69.

1 2 3 IV.467 0. Kalsel)’. kedua dan seterusnya.DAS Balangan S.322 0.607 67.04 22.94 92.S.S.403 0.S.982 18.028 208.S.228 0.S. Sistem klasifikasi Horton berawal dari urutan pertama dan selanjutnya meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah percabangan aliran air atau anak-anak sungai. semakin luas wilayah Sub DAS dan semakin banyak percabangan sungai yang terdapat di dalam DAS yang bersangkutan.DAS Riam Kiwa S.DAS Batang Alai S.649 69.DAS Martapura S.442 0.296 70.389 0. Meskipun tampak bahwa urutan Sub DAS berkaitan erat dengan karakteristik DAS lainnya. Oleh karena itu.914 14.302 0.55 0.DAS Negara S. dimana setiap aliran sungai yang tidak bercabang disebut Sub DAS urutan / ordo pertama.17 0.S. kebanyakan pakar hidrologi beranggapan bahwa tidak ditemukan bukti yang cukup untuk mengaitkan sistem urutan Sub DAS dengan perilaku air larian di daerah tersebut.341 0.378 66.S.909 7.813 Lebar DAS ( km ) 121.436 0.274 0.006 208. anak sungai di bagian atas akan bersambung dengan anak sungai yang lebih besar di bawahnya.311 0.512 0.469 0. suatu DAS dapat terdiri dari Sub DAS urutan pertama.316 97.681 12.675 155. 1 2 3 4 5 6 7 8 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.556 0.322 0.378 126.391 0.358 0.298 98.33 0.226 0.1.DAS Tabalong Kanan S.2 Jaringan Sungai Berdasarkan Asdak C (2002).207 38.S.822 Nilai Rc 0. II.DAS Barito Hilir Ds S. Respon tersebut diwujudkan dalam bentuk kurva hidrograf aliran yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi kondisi hidrologi DAS yang Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -166 .891 14.DAS Tapin S..326 0.242 98.77 Tabel bentuk/nilai Rc DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No DAS/ Sub DAS/Sub Sub DAS DAS BARITO S.275 0.269 8.562 0. III.DAS Amandit S. Dengan demikian semakin besar angka urutan.712 15. Setiap anak sungai menghasilkan hidrograf aliran yang menunjukkan respon DAS terhadap curah hujan.DAS Barito Tengah S.869 13.11.271 13.354 144.DAS Bahalayung Panjang Sungai Utama (km) 153. Dalam suatu DAS.38 0.578 11.S.S.9806 16.945 83.315 0.DAS Riam Kanan S. September 2003 2.264 0.756 52.226 Nilai RE 0.S. mengatakan bahwa kedudukan aliran sungai dapat diklasifikasikan secara sistematik berdasarkan urutan daerah aliran sungai.336 0.973 95.312 0.DAS Alalak S.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.DAS Tabalong Kiwa S.219 0.276 12.DAS Danau Panggang S.364 I.

Ketika anak sungai bergabung dengan anak sungai lain dibawahnya.939 IV-I 953.75 43 32 35 8 5.DAS Amandit S. aliran air dari kedua anak sungai tersebut tidak terjadi secara bersamaan.S.343 4. 2.DAS Riam Kiwa IV.937 1203. 1.S.166 6.DAS Alalak S.986 III-I 2.891 1.253 67 1 1 5. Pengaruh ketidaksamaan waktu terjadinya debit puncak pada masing-masing anak sungai tersebut akan menurunkan besarnya debit puncak total pada sungai utama (sungai yang menampung kedua anak sungai tersebut).313 IV-I 1.935.239 1. 1. Secara rinci keadaan jaringan sungai pada DAS Barito disajikan pada tabel berikut: Tabel 2.DAS Batang Alai 4.865 7. S.205 IV-I III-I III-I 4.281 32 10.DAS Barito Hilir Ds II.855 0.(Persero) CABANG I MALANG bersangkutan.039 6.S.385 57 14.306 6. 3.483 IV-I III-I III-I III-I 8.DAS Tapin S.DAS Negara S.295 7.021 0.S.604 0.DAS Barito Tengah III.DAS Martapura S.40 10.023 5.004 1.889 13.S. sementara pada anak sungai berikutnya debit puncak akan segera terjadi. No DAS/ Sub DAS/ Sub Sub DAS Orde Sungai Panjang Sungai Total (km) I.444 18 1 1 7.593.146 12.213.DAS Balangan III-I 1562.458 10.S.771 5.354 743.442 0.514 26.807 6.790 4. 2.329.919 0.221 Dd (km/km2) Rb 1-2 Rb 2-3 Rb 3-4 Rb 4-5 Wrb Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -167 . S.290 1.861 1193. S. Debit puncak untuk satu anak sungai mungkin telah terlampaui.449 1.877 5.126 6.842 0. S.78 Keadaan Jaringan Sungai Pada DAS Barito di Provinsi Kalsel.360 1.DAS Riam Kanan 3. S.S. S.254 124 12 55 1 6.286.130.

tetapi pada ordo 2 ke 3 terjadi perubahan ordo yang cukup besar (mempunyai Rb yang lebih tinggi daripada Rb pada ordo yang lain / Rb 2-3 = 19. sehingga jumlah sungai pada ordo 3 ada kemungkinan daya tampung sungainya tidak mampu menerima aliran permukaan air tersebut dan kemungkinan akan terjadinya genangan pada daerah ini.275 km.DAS Danau Panggang Ds III-I 655.5 dan Rb 4-5 mempunyai nilai 4.S. S. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkatan ordonya. Bila pada daerah sekitar ordo sungai terjadi hujan merata dan deras.497 5.DAS Tabalong Kanan III-I 855. Hal ini menunjukkan bahwa muka alur sungai mempunyai kenaikan muka air banjir dengan cepat dan demikian dengan penurunannya akan terjadi dengan cepat pula. maka pada ordo sungai 1 ke 2.945 km. dapat dilihat bahwa DAS Barito dapat dirinci menjadi 5 (lima) ordo.(Persero) CABANG I MALANG 5. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -168 . jumlah sungai masih dapat menampung aliran air.S.23.687. Semakin banyak jumlah alur sungai per satuan luas menunjukkan tingkat kerusakan lahan yang semakin tinggi.23).828 0. Perbandingan panjang sungai total mulai orde I sampai Ordo V adalah Ordo I dengan panjang sungai 11. Rb 2-3 mempunyai nilai 19.0.307 6.016 km.492 3.516 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.DAS Tabalong Kiwa III-I 816.621 km dan ordo V dengan panjang sungai 153. Rb 3-4 mempunyai nilai 5.269.161 0.S.696 4. yaitu Rb 1-2 mempunyai nilai 5. September 2003 Berdasarkan tabel diatas.59. ordo III dengan panjang sungai 1. ordo IV dengan panjang sungai 431.001 km.428 21 - - 8.609 0. sedangkan pada setiap Sub DAS sungainya mempunyai 4 (empat) ordo dan pada Sub Sub DAS sungainya mempunyai 3 (tiga) ordo. 3 ke 4 dan ordo 4 ke 5. Kalsel)’. maka panjang sungai akan semakin panjang dan bercabang. Ordo II dengan panjang sungai 2. Banyaknya jumlah alur sungai menggambarkan tingkat torehan aliran permukaan dan kerusakan atas lahan di daerah hulu.819 7. S.196.222 27 - - 9. atau dengan ratio 73 : 17 : 3 : 1. S. Sedangkan ratio percabangan sungai dapat ditunjukkan dengan nilai Rb masing-masing ordonya.400 15 - - 7.

jumlah air larian total yang terjadi dan jumlah air tanah yang tersimpan. Sub DAS Martapura dan Sub DAS Negara. Dd mempunyai korelasi dengan perilaku laju air larian. Sedangkan menurut Soewarno. Keadaan ini menunjukkan bahwa torehan aliran permukaan dan kerusakan lahan cukup intensif. dapat menyebabkan limpasan dan genangan. maka DAS tersebut akan sering mengalami kekeringan. Dengan demikian. artinya bahwa semakin besar jumlah air larian total (semakin kecil infiltrasi) akan semakin kecil air tanah yang tersimpan di daerah tersebut. terutama pada daerah yang dilalui oleh sungai pada ordo I sampai ordo III.25 – 10 km/km2 termasuk kategori sedang.62 km/km2). sehingga diperlukan upaya konservasi tanah yang baik dan perlu dicadangkan sistem drainase dan daerah resapan air. Bila pada daerah ini terjadi hujan yang merata dengan jumlah curah hujan yang tinggi serta waktu konsentrasinya cepat. semakin besar nilai Dd akan semakin baik sistim pengaliran (drainase) di daerah tersebut. dan jika lebih besar dari 10 km/km2 termasuk kategori tinggi yang berarti jumlah curah hujan yang menjadi aliran akan menjadi besar. seperti langkah-langkah penanggulangan melalui pelurusan/normalisasi sungai yang berkelok-kelok. Secara umum. Hal ini berarti bahwa secara keseluruhan DAS Barito tidak mudah terjadi penggenangan maupun kekeringan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -169 . penertiban hunian di sempadan sungai dan upaya lainnya. Kerapatan sungai dan kepadatan aliran yang terjadi di DAS Barito ditunjukkan dengan nilai Dd yang terjadi. pelebaran lembah sungai. dimana daerahnya mempunyai kerapatan sungai yang kecil. jika nilai Dd antara 0. Sub Sub DAS Tabalong Kiwa. sehingga diperlukan upaya pencegahan terhadap terjadinya genangan. DAS Barito mempunyai jumlah alur sungai yang banyak dan panjang pada bagian hulu atau pada ordo I sampai ordo III dan keadaan ini terjadi juga pada setiap Sub DAS dan Sub Sub DAS.(Persero) CABANG I MALANG Pada umumnya.488. yaitu termasuk kategori sedang dengan indeks 1. maka DAS tersebut akan mengalami penggenangan sedangkan jika lebih besar dari 5 mile/mile2 (3.10 km/km2). Menurut Lynsley (1949). karena alur sungai pada ordo III kurang cukup menampung jumlah aliran tersebut. dikatakan bahwa jika nilai kerapatan aliran lebih kecil dari 1 mile/mile2 ( 0. Sub Sub DAS Bahalayung dan Sub Sub DAS Danau Panggang. seperti Sub DAS Barito Hilir. Walaupun demikian pada beberapa Sub Sub DAS masih terdapat potensi untuk terjadinya genangan. Sub DAS Barito Tengah. yaitu Sub Sub DAS Tabalong Kanan. termasuk sampai pada tingkatan Sub DAS.

138 1. 1.DAS Tabalong Kiwa 7.093 1.251 1.S. S.S.DAS Balangan S.S. 2. yaitu 1. S.257 3 2 5 2 6 1. IV.DAS Batang Alai S.230 3 1 1 275 1. yaitu 1 meter dari permukaan laut. II.137 1. 1.79 Ketinggian dan Arah DAS Barito di Provinsi Kalsel No DAS/ Sub DAS / Sub Sub DAS Tinggi Maks (m) I. III.DAS Tapin S.259 270o00’ 279o40’ 287o55’ 273o35’ 204o05’ 278 1.DAS Riam Kanan S. 3.093 1.256 m.3 Ketinggian dan Arah DAS Ketinggian tempat di daerah hilir DAS Barito terdapat di Kabupaten Barito Kuala.S. 2.DAS Tabalong Kanan 6.S.1.DAS Amandit S.S.156 1. dengan demikian beda tinggi DAS barito adalah 1.S.251 1.045 1.DAS Martapura S.DAS Negara S.257 meter diatas permukaan air laut. S. Secara umum rincian perbedaan ketinggian DAS Barito disajikan pada tabel berikut.042 1.158 1.S.S. Tabel 2. sedangkan tempat yang tertinggi terdapat di Kabupaten Tabalong.DAS Bahalayung 9 2 7 81o10’ 61 2 59 195o05’ 890 16 874 197o00’ 1.DAS Riam Kiwa S.11. Sedangkan beda tinggi maksimum dan terendah pada masing-masing Sub DAS bervariasi.DAS Barito Hilir Ds S.S. S.(Persero) CABANG I MALANG 2. 5. 3.DAS Danau Panggang Ds 8. 4.229 255o50’ 255 50’ 276o25’ o Tingi min (m) Beda Tinggi (m) Arah/Orientasi (Azimuth) 13 17 1 2 12 15 206o50’ 209o55’ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -170 .S.DAS Alalak S.DAS Barito Tengah S.

Kalsel)’. dapat dilihat bahwa ketinggian maksimum terdapat pada Sub Sub DAS Tabalong Kanan dan ketinggian minimum terdapat pada Sub Sub DAS Riam Kanan dan Sub Sub DAS Riam Kiwa. Dan lainnya berkisar antara 9 sampai 890 m diatas permukaan air laut.4 Pola Aliran dan Gradien Sungai Secara keseluruhan pola aliran sungai yang terjadi pada DAS Barito adalah Dendritic : Medium. 2. walaupun demikian pada beberapa Sub DAS terdapat beberapa pola aliran yang lain. dimana kondisi ini menunjukkan bahwa sistem drainase yang terbentuk ringan. Semakin besar gradien sungai suatu DAS. Sub Sub DAS Batang Alai. Balangan dan Tabalong Kanan pola aliran yang terjadi adalah Rectangular Dendritic : Fine. seperti pada Sub Sub DAS Alalak. seperti Sub Sub DAS Tapin.11.1. Sub Sub DAS Amandit. Sub Sub DAS Balangan. Sedangkan arah DAS Barito secara keseluruhan terdapat pada azimuth 206o50’ sampai 204o05’ yaitu memanjang dari mulai muara/bagian hilir kearah utara di bagian hulunya. September 2003 Berdasarkan tabel diatas. Gradien sungai digunakan untuk menggambarkan kecepatan aliran dalam suatu DAS.(Persero) CABANG I MALANG Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop. maka kecepatan aliran dalam suatu DAS akan semakin tinggi. Batang Alai. kemudian Sub-sub DAS Bahalayung pola aliran yang terjadi adalah Rectangular Dendritic: Medium to fine dengan sistem drainase yang terbentuk adalah Ringan. Juga dapat dilihat bahwa pada bagian hulu DAS Barito. dan Sub Sub DAS Tabalong Kanan. yaitu dengan menghitung lereng saluran antara 10% dan 85% jarak dari outlet. Kondisi ini menunjukkan bahwa pada Sub-sub DAS Alalak. Batang Alai.000 m di atas permukaan air laut. begitu pula sebaliknya. Perhitungan gradien sungai dapa diperoleh dengan slope faktor. Secara rinci keadaan pola aliran sungai pada DAS Barito disajikan pada tabel berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -171 . yaitu pada bagian hulu beberapa Sub Sub DAS mempunyai ketinggian diatas 1. Balangan dan Tabalong Kanan sistem drainase yang terbentuk adalah Sedang.

DAS Martapura S.DAS Bahalayung Pola Aliran Denditric : Medium Denditric : Medium Rectangular Dendritic : Fine Denditric : Medium Denditric : Fine Denditric : Medium Rectangular Dendritic : Fine Rectangular Dendritic : Fine Rectangular Dendritic : Fine Denditric : Medium Denditric : Medium Denditric : Medium Rectangular Dendritic : Medium to fine Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.00 m Ket Sumber : Manual OP Proyek PLG.4 Mean 3. 1 2 3 4 5 6 7 8 Sub DAS/ Sub Sub DAS S.25 LWL 2.DAS Alalak S.1 1.80 Pola Aliran dan Gradien Sungai DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No I. III.S.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.DAS Danau Panggang Ds S.20 m 2. pada beberapa tempat bisa mencapai kedalaman 20 m.11.S.DAS Barito Tengah S.S.2 5.S.30 m 2.6 4.1 2.DAS Barito Hilir Ds S.DAS Tabalong Kiwa S.S.S.DAS Amandit S. September 2003 2.DAS Batang Alai S.S. 2002 Selama periode pengamatan.DAS Riam Kanan S.S.55 4. Fluktuasi muka air di sungai adalah sebagai berikut : Tabel 2. 1 2 3 IV.1 3.1 Kisaran 2. Kalsel)’.2 Kondisi DAS Kapuas Sungai utama yang berpengaruh mempunyai lebar sekitar 250 – 300 m dengan kedalaman sekitar 10 – 15 m.DAS Balangan S.DAS Tapin S.81 Fluktuasi Pasang Surut Muka Air Sungai Kapuas Sungai Kapuas Spring Tide Muka Air Kemarau Musim Hujan HWL 5 5.DAS Negara S.DAS Tabalong Kanan S.S.88 m/dt Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -172 .S. kecepatan air maksimum yang pernah terjadi di Sungai Kapuas 0.DAS Riam Kiwa S.30 m Neap Tide Kemarau Musim Hujan 4.9 3.8 3. II.S.

maka pemerintah menetapkan kawasan-kawasan potensial yang dijadikan sentra produksi unggulan dan diharapkan menjadi salah satu tiang perekonomian wilayah. tanggal 10 Desermber 1999.1 Rencana Pengembangan Irigasi dan Pertanian 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -173 . telah menetapkan lokasi-lokasi KSP. dalam daerah khususnya penetapan dan bagi ini adalah.12 ASPEK PENDAYAGUNAAN / PEMANFAATAN SDA Pemanfaatan sumber daya air di wilayah sungai Barito-Kapuas saat ini terdiri dari beberapa kegiatan antara lain pemanfaatan untuk rumah tangga. tentang : “Penetapan Kawasan Sentra Produksi Pertanian di Provinsi Kalimantan”. melalui surat keputusan nomor : 0303/Tahun 1999. yang untuk mata mengembangkan masyarakat meningkatkan penduduk pendapatan pencahariannya terkait dengan sektor pertanian pangan dan perikanan.12.1.1 Kebijakan Penetapan Kawasan Sentra Pengembangan Dalam rangka mendukung pengembangan sektor pertanian yang masih mendominasi produk domestik bruto wilayah ini. perkotaan dan industri serta kebutuhan air untuk irigasi. HSU Kawasan Sentra Produksi HST – HSS Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 1 Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 2 Kawasan Sentra Produksi Batola – Banjar Kawasan Sentra Produksi Banjar Kawasan Sentra Produksi Tala Kawasan Sentra Produksi Tala – Kotabaru Kawasan Sentra Produksi Kotabaru Sasaran yang di dipertimbangan pembangunan perdesaan.12.(Persero) CABANG I MALANG 2. Kawasan ini diharapkan akan menjadi acuan bagi pemerintah daerah. a) Kawasan Sentra Produksi Pertanian Provinsi Kalimantan Selatan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan. dan masyarakat dalam pembangunan agrobisnis dan agroindustri. kolam ikan dan energi listrik berupa mikro hidro. swasta. 2. sebagai berikut : Kawasan Sentra Produksi Tabalong.

8 HSU 2 HST – HSS HST HSS 3 HSS – Tapin HSS Tapin 1 HSS – Tapin HSS Tapin 2 3.76 9 Kotabaru Kotabaru 6 18 61.3 40. rambutan. perikanan laut. Penyipatan.6 8 Tala Kotabaru – Tanah Laut.6 63.966 55. KAWSN 1.4 Banjar 6 Ba\njar Banjar Pisang. Bakumpai. Binuang Marabahan.94 32.1 118. perikanan laut 5.3 65.2 LUAS LAHAN (Ha) AWAL POT. Perkebunan. jeruk Kandangan Bt.792 86.3 5 Batola Banjar – Barito Kuala 3. nenas. Sungai Pinang. tambak. padi sawah Cerbon.76 55. Karang Intan. dan Kapuas Kuala (Kabupaten Kapuas). kacang tanah. Loban. Padang Jeruk. Peternakan (itik) Batu Mandi.4 139.675 55. Kusan hilir. kacang Batung. ternak sapi Runput laut. Anjir Pasar. serta Kecamatan Pandih Batu dan Kahayan Kuala (Kabupaten Pulang Pisau) yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi.2 b) Pengembangan Kawasan Prioritas Pertanian Provinsi Kalimantan Tengah Kawasan Sentra Produksi Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. Kedelai Pandawan. Jorong Kintap.Alai Utara. Kotabaru 10. Pengaron. Astambul Simpang Empat. Harus. Laut Barat 1. Babirik. ternak sapi Perikanan. melinjo.82 Lokasi dan Jenis KSP di Provinsi Kalimantan Selatan NO 1 NAMA KSP Tabalong. perikanan darat Jagung. Jeruk. Laut Selatan.2 4 6.207 19. Candi Laras Selatan Laksado. Kehewanan dan Kawasan Sentra Industri. Tapin tanah Selatan. Danau Panggang Jagung. Daha Kedelai Selatan. Sei Pandan. a) KSP Kapuas. Labuan Amas Selatan Daha Utara. S. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -174 . Piani. P. Banjang. Muara Kedelai. Labuan Amas Utara. Amuntai Tengah. Tabalong JENIS KSP LOKASI KECAMATAN Tanjung. Aranio Pelaihari.167 30. Barabai. Wanaraya. HSU KAB. meliputi Kecamatan Selat.189 28 55. Rantau Badauh. Batu licin P. Perikanan. Kelua Pugaan Perikanan darat Lampihong. Basarang.9 7 Tala Tanah Laut 8. Takisung. kelapa dan ubi kayu.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.4 123. rambutan. Mandastana Sungai Tabuk. Batu Ampar.963 110. Satui.

meliputi Kecamatan Gunung Timang dan Montallat yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. sapi. meliputi Kecamatan Murung yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan pisang. jagung.767. pisang. lada dan ayam buras.650 km2). d) KSP Buntok. dan ikan perairan umum. lada. meliputi Kecamatan Teweh Tengah dan Lahei yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. ayam buras. Kawasan KAPET DAS KAKAB . Kawasan Andalan Kuala Kapuas dan sekitarnya. c) KSP Muara Teweh. Kawasan Andalan Buntok dan sekitarnya. Secara administrasi KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito) mencakup 4 (empat) daerah tingkat II dan 21 (dua puluh satu) kecamatan. ayam buras. rambutan. meliputi Kecamatan Dusun Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan kelapa. Kabupaten Pulang Pisau (5 kecamatan). Kabupaten Kapuas (10 kecamatan) dan Kabupaten Barito Selatan (4 kecamatan) dengan luas wilayah mencapai 2. meliputi Kecamatan Teweh Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi kedelai. meliputi Kecamatan Dusun Selatan dan Gunung Bintang Awai yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -175 . kelapa. dan ayam buras. yaitu dengan perincian Kota Palangkaraya (2 kecamatan). h) KSP Benangis. pisang. e) KSP Kandui.(Persero) CABANG I MALANG b) KSP Ampah. Kawasan KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito). kedelai. Kawasan Sekitar Jalur Jalan Lintas Kalimantan. dan ikan kolam. g) KSP Puruk Cahu. Kawasan Andalan Muara Teweh dan sekitarnya.300 ha atau sekitar 18% dari luas Kalimantan Tengah (153. f) KSP Tamiyang Layang. meliputi Kecamatan Dusun Tengah dan Pematang Karau yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi.

042.329 629 785 1.250.121.00 5.00 799.446.234.552.225.125.570.15%.81%dari luas baku lahan irigasi.84 Luas Lahan Irigasi di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah No 1 2 3 4 5 Wilayah Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Luas Ha 3.02 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -176 .683 949 4.057.00 61.83 Luas Kapet DAS Kakab NO 1 2 KABUPATEN / KOTA Palangkaraya Pulang Pisau KECAMATAN Pahandut Bukit Batu Banama Tingang Kahayan Tengah Kahayan Hilir Pandih Batu Kahayan Kuala Timpah Mantangai Kapuas Barat Basarang Pulau Petak Selat Kapuas Hilir Kapuas Timur Kapuas Murung Kapuas Kuala Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan JUMLAH IBUKOTA KECAMATAN Palangkaraya Tangkiling Bawan Bukit Rawi Pulang Pisau Pangkoh Bahaur Timpah Mantangai Mandomai Anjir Basarang Sei Tatas Kuala Kapuas Barimba Anjir Serapat Palingkau Baru Lupak dalam Rantau Kujang Mangkatip Bangkuang Bunto LUAS WILAYAH (KM2) 1.976.00 558. yaitu: a) Sentra Produksi (SP) saat sekarang.829 27.319.60 41. Pada tahun 2002 luas lahan yang ditanami menurun menjadi hanya 41.970.39 1.00 1.016 6.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.00 66.00 137.100. total luas baku dari lima kabupaten adalah 148.25 1. d) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas III.924.845. b) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas I. pada tahun 2001 sebesar 66.225 Ha.00 1.35 60.50 63.20 4.673 3 Kapuas 4 Barito Selatan KAPET – DAS KAKAB dibagi atas 4 (empat) kategori kawasan.125.92 Ha atau sebesar 45. Tabel 2.25 45.2 Potensi Lahan Irigasi (Upland Irrigation) a) Provinsi Kalimantan Tengah Di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah.00 100% Tahun 2001 Tanam Panen 799.51 Tahun 2002 Tanam Panen 1.065 1.000.802.444.03 506.071 1.92 65. Sedangkan lahan yang ditanami. c) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas II.00 1.20 1. 2.81 41.00 54.10 4.128 480 206 135 394 91 202 491 427 708 2.956 2.15 44.1.00 148.50 66.12.75 3.20 55.099 1.924.

901 1. Sei Bakar.028 14. Sei Sawarangan.624 Ha. Sei Nahiyah. IV.779 11.179 5.901 2.179 5.090 4. sehingga total luas produktif menjadi 100.257 ha.108 279 0 258 0 279 TOTAL 53.257 Provinsi Kalimantan Selatan memiliki potensi lahan yang sangat luas. V.204 21.469 44.367 Ha.090 5.539 922 22.435 Sei Teratai.775 Ha.901 855 415 0 115 0 415 TANAH LAUT 2.378 17.691 8.865 8.725 4.231 2.901 17.469 17.901 9. Sei Barabai Sei Balangan. Sei 100. II.775 PEMELIHARAAN 24. VI VII 1/ 2/ 3/ LUAS LUAS SAWAH BELUM DPT JD TDK DPT JD CABANG DINAS DAERAH JAR BARU PENINGKATAN BAKU SWH JAR IRIGASI SAWAH SAWAH SAWAH IRIGASI (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) 2 3 7 8 9 10 11 12 13 BANJAR 26.170 199 HULU SUNGAI UTARA 1.869 11. Sei Sawarangan.367 68.779 6. Tabel 2. Sei Pitap Sei Jaro.579 4. Sei Kinarum.090 6.231 2. Sei Sabuhur.718 287 126 18.474 2.012 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -177 .012 Ha. Sementara pemeliharaan untuk jaringan eksisting adalah seluas 24.464 833 191 413 27 0 604 TABALONG 1. Sei 21.028 6.645 122.775 4.901 1.896 Ha.624 31.869 HULU SUNGAI TENGAH 7.600 935 HULU SUNGAI SELATAN 5.464 1.894 6.689 192 146 54 0 338 HULU SUNGAI TENGAH 7.824 2.625 HULU SUNGAI UTARA 1.579 6.155 8.544 388 547 0 2.334 25.204 19.464 6. Tabel 2. VI LUAS EKSISTING LUAS BARU LUAS TOTAL CABANG DINAS DAERAH BAKU RENCANA BAKU RENCANA BAKU RENCANA IRIGASI (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) 2 3 4 5 6 7 8 BANJAR 26.257 22.85 Pemeliharaan Jaringan Irigasi di Kalimantan Selatan No 1 I.460 24. Sei Asam-Asam.231 1.460 PENINGKATAN 5.724 9.86 Potensi Lahan Pertanian di Kalimantan Selatan NO 1 I.894 6. Sei Amandit Sei Batang Alai. dimana lahan yang telah diidentifikasi adalah seluas 68.691 6.573 4. Sei Mihim.865 8.207 11. dan jaringan irigasi yang berproduksi adalah seluas 31. Sei Namun. Sei Sawarangan.247 2. Sei Mihim.775 JARINGAN BARU 22. Sei Kintap Kecil.539 5.367 24. II.155 TABALONG 1. Lahan yang masih memerlukan investasi untuk pengembangan jaringan baru adalah 22.184 53 146 342 1. dan peningkatan seluas 5.231 19.257 5.236 1.460 4. III. IV.847 TAPIN 8.724 6.624 31. Sei Tabanio. III.090 5.236 1.487 3.607 HULU SUNGAI SELATAN 5. Perincian ini dapat dilihat pada tabel berikut. Sei Jaing.795 16.464 1.460 Ha. V.378 6.(Persero) CABANG I MALANG b) Provinsi Kalimantan Selatan Luas daerah irigasi di Provinsi Kalimantan relatif lebih luas dibandingkan di Provinsi Kalimantan Tengah.520 9 Sei Riam Kanan Sei Tapin Sei Kayu Habang.005 TAPIN 8.896 68. dengan luas baku 53. Sei Riam.435 SUMBER AIR VII TANAH LAUT TOTAL 53.

1 Provinsi Kalimantan Selatan Secara aktual. Peta Daerah Irigasi WS Barito-Kapuas 2. pertumbuhan dan perkembangan kota /kawasan di Provinsi Kalimantan Selatan saat ini baik fisik.2 Air Bersih 2. Konsekuensi logis. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -178 . maupun ekonomi dari tahun ke tahun semakin meningkat.2.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2. perlu upaya penyeimbangan antara kebutuhan (demand) dan penyediaan (supply) akan prasarana dan sarana kota/kawasan dalam rangka peningkatan kualitas lingkungan. sosial.12.36.12.

902.09%) tinggal di perdesaan. angka tersebut mungkin saja akan meningkat sejalan dengan semakin meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan di perkotaan. Salah satu prasarana dan sarana permukiman di perkotaan yang paling strategis adalah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Menyimak dari data tersebut.066.110 jiwa (35. keuangan. Sehingga diharapkan adanya perbaikan sistem pemberian air pada daerah perkotaan. Secara mendasar dikembangkan dalam Gambar 2. Provinsi Kalimantan Selatan dengan luas wilayah 3. terhadap rangkaian studi yang telah dilaksanakan maupun yang sedang berjalan. jumlah penduduk di perkotaan mencapai 35.028 jiwa. sekitar 1. Dari jumlah tersebut.(Persero) CABANG I MALANG Secara makro perlu diadakan kajian studi terhadap aspek air baku.737.37 Kondisi Pemenuhan Air Bersih Kalsel Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS substantif yaitu aspek II -179 . prosentase pemenuhan kebutuhan air minum adalah 39% di perkotaan dan masih 8% di perdesaan.19%) tinggal di perkotaan.743 Ha. Rendahnya kinerja pelayanan air minum bagi masyarakat perkotaan yang pelayanannya dilakukan oleh PDAM telah mendorong pemanfaatan air tanah dangkal oleh sebagian besar kelompok rumah tangga (sekitar 85%) dan air tanah dalam oleh sebagian besar kelompok non rumah tangga.09% dari jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Selatan. Kondisi saat ini. Indonesia pada tahun 2015 diharapkan dapat memenuhi target pemenuhan pelayanan air minum menjadi 80% di daerah perkotaan dan 40% di daerah perdesaan. Lemahnya kinerja PDAM pada dasarnya disebabkan oleh berbagai aspek yang secara umum dapat dikelompokkan pada aspek teknis – teknologis. sumber Kondisi Pemenuhan Air Bersih Kalsel 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Desa (% ) Target Pemenuhan Kota (% ) 8 40 39 80 pembiayaan aspek dan yang yang penangan pada aspek sifatnya serta manajemen kelembagaan pendekatan prioritas adalah yang ada. sedangkan sekitar 1.969. Untuk tahun-tahun mendatang. Berdasarkan agenda KTT Bumi 2002 di Johannesburg. yang terdiri dari 13 kabupaten /kota mempunyai penduduk pada tahun 2000 sejumlah 2. terutama di Kota Banjarmasin.918 jiwa (64.

IKK. Tabalong BNA Agung IKK Tanta IKK Belimbing IKK Kelua IKK Muara Harus IKK Benua Lawas IKK Jaro IKK Muara Uya Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Air Gunung Sumur Bor Sumber Air Nama Kab dan PDAM Kab Hulu Sungai Utara dan 2 Balangan 1) BNA Amuntai (HSU) 2) IKK Alabio 3) IKK Danau Panggang (HSU) 4) IKK Babirik (HSU) 5) IKK Paringin (Balangan) 6) IKK Lampihong (Balangan) 7) IKK Awayan (Balangan) 8) IKK Juai (Balangan) 9) IKK Halong (Balangan) 10) IKK Batumandi (Balangan) 11) IKK Gunung Pandau 12) IKK Rantau Bujur 4 Kabupaten Hulu Sungai Tengah 1) BNA Barabai 2) IKK Pandawan Baru 3) IKK Batu Benawa 4) IKK Kasarangan 5) IKK Haruyan 6) IKK Batang Alai Selatan 7) IKK Batang Alai Utara Kabupaten Tapin 1) PDAM Rantau /BNA Bungur 2) IKK Binuang 3) IKK Tapin Selatan 4) IKK Tapin Tengah 5) IKK Candi Laras Utara 6) IKK Candi Laras Selatan 7) IKK Bakarangan 8) IKK Batu Hapu 9) IKK Lokpaikat Kabupaten Barito Kuala 1) BNA Marabahan Sei Barabai Sei Pagatan Sei Kasarangan Sei Haruyan Sei Kambat Sei Batang Alai Sei Hung Sei Tapin Danau/bendung Sei Rutas Sei Tatakan Sei Negara Sei Negara Sei Mangkul Sei Tapin No Sumber Air S. Balangan S. Sumber : Tahun Anggaran 2004.87 Daftar PDAM. Amandit / S. Propinsi Kalimantan Selatan”. Panggang S.(Persero) CABANG I MALANG teknik – teknologis dengan tetap memperhatikan aspek manajemen dan kuangan. di Provinsi Kalsel No 1 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Nama Kab dan PDAM Kab. Balangan S. Balangan S. Parman MTP Jahri Saleh Sumur Bor Ulin Sumber : “Identifikasi Kegiatan Optimalisasi Untuk Penyehatan PDAM. Bagpro Pembinaan Prasarana dan Sarana Permukiman Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -180 . dan Sumber Pengambilan Air dalam Wilayah DAS Barito. Balangan S. Negara D. Balangan S. Negara Kabupaten Tanah Laut 1) BNA Pelaihari 2) IKK Penyipatan 3) IKK Batuampar 4) IKK Bati-bati 5) IKK Jorong 6) IKK Takisung 6 7 Kota Banjarbaru BNA Banjarbaru (Banjarbaru Banjar) Simpang Empat (Banjarbaru) IKK Landasan Ulin (Banjarbaru) IKK Dalam Pagar (Banjarbaru) 8 / Sei Barito Sei Barito Sei Barito Sei Negara Sei Anjir Sei Andai Sumur Dalam Sumur Dalam 9 Kabupaten Banjar 1) BNA Banjarbaru (Banjarbaru / Banjar) 2) IKK Astambul (Banjar) 3) IKK Mataraman (Banjar) 4) IKK Pengaron (Banjar) 5) IKK Gambut (Banjar) 6) IKK Sungai Tabuk (Banjar) 7) IKK Karang Intan (Banjar) 2) IKK Rantau Badauh 3) IKK Cerbon 4) IKK Lepasan 5) IKK Anjir 6) IKK Alalak 7) Desa Kolam Kiri 8) Desa Surya Kanta 10 Kota Banjarmasin 1) IPA – I (A Yani) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) IPA – II (A Yani) MTP Kayu Tangi MTP Sei Lulut MTP Sutoyo S MTP S. Balangan S. Balangan S. Negara S. Negara 3 1) 2) 3) 4) 5) 6) 5 Kabupaten Hulu Sungai Selatan BNA Muara Banta IKK Padang Batung IKK Angkinan /Telaga Langsat IKK Daha Selatan dan Daha Utara IKK Kalumpang IKK Simpur dan Sungai Raya S. Tabel 2. Balangan S.

13 28.38.000 80.35 Sumber : Hasil analisa 100.479 KK.149 Jumlah Pelanggan 8.(Persero) CABANG I MALANG 2. atau hanya 18 % dari total KK di kabupaten ini.504 10.12.570 20.623 22.09 12.000 10. Untuk Kabupaten Barito Utara.623 3.2 Provinsi Kalimantan Tengah Pemenuhan kebutuhan air bersih di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah masih tergolong rendah.453 87.501 26.99 13.000 Barito Selat an Barito Utara Barito Timur M urung Raya Kapuas 23.000 40.252 180.570 20.88% dari total KK yang ada.623 KK dari total KK sebanyak 26. Untuk Kabupaten Barito Timur jumlah KK yang menjadi pelanggan PDAM adalah 3.527 8. atau sebesar 8.000 30.453 10.527 26.501 KK dari total jumalah KK sebanyak 23.296 7. yaitu sebesar 28.000 60.021 1.252 Jumlah KK Jumlah Pelanggan Gambar 2.021 KK dari 16.88 Pelanggan PDAM di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah No 1 2 3 4 5 Kabupaten Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Jumlah KK 23. Pelanggan PDAM di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -181 .527 KK.663 31.296 22. jumlah KK yang menjadi pelanggan PDAM sebesar 28.000 70.501 7. atau hanya sejumlah 7.2.99% dari total KK di kabupaten ini. Sedangkan di Kabupaten Barito Selatan.261 % terlayani 36. Sebagian besar penduduk masih menggunakan air tanah dan air sungai untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.296 KK pada tahun 2007.000 50. jumlah KK yang menjadi pelanggan PDAM sebesar 36.000 20.021 1.22 17.13% dari total KK. Tabel 2.000 90.663 3.39 7.504 87.

12. perikanan.89 Identifikasi Lokasi Bendungan No. dan pertanian.(Persero) CABANG I MALANG 2. Salah satu usulan yaitu Waduk Muara Juloi. maka diusulkan kajian lanjutan terhadap 4 (empat) scheme yang memerlukan kajian lanjutan. di Kabupaten Murung Raya merupakan waduk serbaguna yang berfungsi sebagai waduk pengendali banjir. irigasi. 1 2 3 4 Bendungan Muara Juloi Muara Tuhup Lahei Teweh Desa Muara Juloi Muara Tuhup Lahei/Jurubaru Hajak/Liangnaga Kabupaten Murung Raya Barito Utara Barito Utara Barito Utara b. Lokasi Lokasi bendungan-bendungan yang telah diidentifikasi tersebut adalah: Tabel 2. a. Manfaat Adapun manfaat dari rencana pembangunan bendungan-bendungan ini antara lain: Mengurangi bahaya banjir yang terjadi setiap tahun di kabupaten Murung Raya dan kabupaten Barito Utara Memenuhi pasokan kebutuhan listrik untuk meningkatkan perekonomian di Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -182 . Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dari rencana bendungan-bendungan ini adalah: Pengendalian banjir kabupaten Murung Raya dan kabupaten Barito Utara Pemberian air irigasi untuk pertanian Pembangkit listrik tenaga air Penyedia air baku PDAM Puruk Cahu.3 Penggunaan Air Lain-Lain Program Pengembangan Listrik Meninjau kajian kurangnya kapasitas daya terpasang listrik yang ada di kedua Provinsi Kalselteng. Muara Teweh Lahan budi daya perikanan air danau Obyek wisata dan lain-lain c.

m 190 90 85 85 MOL El.00 2. m 185 85 80 80 BENDUNGAN UTAMA Tipe Rockfill Rockfill Rockfill Rockfill Elevasi Puncak Bendungan El.90 Data Teknis Waduk Muara Juloi No A B 1 2 3 C 1 2 3 D 1 2 E 1 2 3 4 5 F 1 2 3 URAIAN UNIT LOKASI Aksesibilitas km SUNGAI Sungai Sei Joloi Sei Tuhup Sei Nganarayan S.Teweh 15 km dari M.1 WADUK HWL El. m 125 30 25 20 Tinggi Bendungan m 75 65 65 65 Estimated Net Head m 70 60 60 60 POWER GENERATION Daya Terpasang MW 282.3 34 Operasi beban puncak Jam 5 5 5 5 Prakiraan Produksi Energi per MWh 516 18.523.(Persero) CABANG I MALANG - Penyediaan lapangan kerja masyarakat kabupaten Murung Raya dan kabupaten Barito Timur pada saat pembangunan bendungan. Barito S. Barito S.00 64.00 767 2.849.139. Data Teknis Data-data teknis sementara bendungan/waduk tersebut adalah sebagai berikut.600.00 2.9 22. Barito Panjang Sungai km 169.793.Teweh e.5 88.00 2. dalam rangka peningkatan ekonomi setempat Membuka isolasi penduduk asli pegunungan khususnya suku Dayak yang berada di pegunungan - d. dan studi awal dilanjutkan pada tahun 2005 Diusulkan untuk dilakukan studi kelayakan dan rona lingkungan bendungan Detail desain dan dampak lingkungan serta sosialisasi masalah pembebasan tanah dan rumah Sosialisasi masalah pembebasan tanah dan pembebasan tanah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -183 .600.00 2. Tabel 2.3 32.47 201 189 HIDROLOGI Luas DAS km2 7.00 62. Benangin River Basin S.583.9 10.5 72.2 85.00 Debit rata-rata m3/ sec 605. Program Pelaksanaan Program pelaksanaan rencana pembangunan bendungan/waduk di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut.00 Curah Hujan Tahunan Rerata mm/ th 2. m 200 100 90 90 Elevasi Dasar Sungai El. Barito S.600. 2005 2006 2007 2007 - Identifikasi telah dilakukan pada tahun 1968.600.00 tahun Prespective Investigate Prespective Prespective BENDUNGAN MUARA JOLOI MUARA TUHUP LAHEI TEWEH Ds Muara Juloi Ds Muara Tuhup Ds Lahei /Jurubaru Ds Hajak /Liangnaga 60 km dari Tokung 40 km dari Purukcahu 15 km dari M.411.

dan detail desain drainase. Salah satu pendekatan umum dalam perencanaan sistem pengendalian banjir kota (urban flood control) adalah penentuan outline drainase primer. Negara 3 Rantau S. Tabalong 9 Kuala Kapuas 10 Palangkaraya 11 Buntok 12 Muara Teweh 13 Ampah Sementara itu beberapa kota yang juga mengalami banjir dan memerlukan penanganan serta kajian untuk masa mendatang adalah sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -184 . Kota-kota utama yang berpotensi mengalami banjir dan memerlukan penanganan banjir secara serius secara terpadu adalah sebagai berikut : Tabel 2.13 ASPEK PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR Usulan rencana pengendalian banjir disusun berdasarkan konsep pengendalian terpadu dengan merencanakan sistem drainase kota berdasarkan sub DAS.(Persero) CABANG I MALANG 2010 2007 2008 2012 2013 Pelaksanaan fisik jalan masuk + jembatan ke lokasi (access road) Pelelangan fisik pekerjaan Awal pelaksanaan fisik sampai penyelesaian Awal operasi bendungan/dam 2. yang dilaksanaan secara bertahap. Tapin 4 Kandangan S. Amandit 5 Barabai S. Barito S.91 Kota-kota Utama yang Berpotensi Mengalami Banjir NO KOTA /LOKASI SUNGAI 1 Banjarmasin Main Stream S. Barabai 6 Baruh Batung S. Balangan 8 Tabalong S. Batang Alai 7 Balangan S. Martapura 2 Amuntai S.

Selanjutnya ada pilihan mengenai fungsi Balai Lintas ini.5 m 215 Ha. Setelah adanya Balai PSDA. Karau S. Tabal Mainstream Barito. Apabila belum ada. 0. Karau Mainstream Barito. Puring Mainstream Barito. 0. dimana peran utama proyek adalah sebagai “developer” SDA. Karau S. seperti Unit Hidrologi. maka langkah selanjutnya adalah Balai PSDA Lintas Provinsi. Puring Mainstream Barito. Karau S. Karau S. Temparak S. S. yang telah ada pada tiap dinas pengairan Provinsi.45 m 2. Puring Mainstream Barito. S. Tabal Mainstream Barito. S. Dari konsep inilah yang menjadi dasar pembentukan PROYEK INDUK. Temparak S. Karau S. apakah sebagai “operator” SDA atau sebagai “developer” infrastruktur SDA juga. Provinsi.4 m 155 Ha. dimana terdapat peranan Menteri Kimpraswil secara langsung pada salah satu unit kerja pada ke-4 opsi yang ditawarkan. S. Barito Anak Sungai Temparak Anak Sungai Ayuh Main stream Barito Main stream Barito Main stream Barito Main stream Barito Main stream Barito S.92 Kota yang Memerlukan Penanganan Banjir NO KOTA /LOKASI 1 Buntok 2 Muara Teweh 3 Pendang Majunre Reong Parapak Kalahien Buntok Baru Muara Talang Talio Babai Bangkuang Selat Baru Sungai Jaya Majahandu Mengkatif Kelanis Rangga Ilung Rantau Kujang Rantau Bahawung Tabak Kanilan Kayumban Sarimbah Bambulung Tuyau Muara Plantau Tampa Dayu KEC SUNGAI Main Stream S.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Temparak S. Karau S. S. Karau KERUGIAN RUMAH LUAS / TINGGI GENANGAN 4 5 6 7 8 9 Kec Dusun Utara Kec Dusun Utara Kec Dusun Utara Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Karau Kuala Kec Karau Kuala Kec Karau Kuala Kec Karau Kuala Kec Dusun Hilir Kec Dusun Hilir Kec Dusun Hilir Kec Dusun Hilir Kec Jenamas Kec Jenamas Kec Jenamas Kec Bintang Awai Kec Bintang Awai Kec Bintang Awai Kec Pematang Karau Kec Pematang Karau Kec Pematang Karau Kec Dusun Tengah Kec Dusun Tengah 692 65 245 108 545 2615 702 76 370 921 910 52 330 240 706 381 496 687 272 340 162 136 513 262 289 710 491 KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK 150 Ha. Konsep yang diusulkan terdiri dari 4 opsi. Tabal S. Barito Anak Sungai Benangin Main Stream S. S. Puring Mainstream Barito. Karau S. maka diperlukan suatu bentuk institusi yang dapat mengakomodir kepentingan seluruh masyarakat pengguna (stakeholder) air. 0. Kedudukan Proyek Induk akan berada dalam satu unit dengan Balai Pelayanan Umum PSDA Lintas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -185 . Barito Main Stream S.14 ASPEK KELEMBAGAAN Sebagai daerah aliran sungai yang melewati 2 (dua) daerah administratif yang memanfaatkan aliran Sungai Barito. maka embrio dari balai ini dapat disusun dari unit-unit yang ada. yang dimonitor secara langsung oleh Menteri Kimpraswil. S. Salah satu tahapan utama adalah telah adanya lembaga Balai PSDA pada tingkat Provinsi.

Pemuka masyarakat) 6. industri.C = ADMINISTRATION DISTRICT Kerjasama Pengelolaan Wilayah Sungai Antar Provinsi disusun sebagai berikut.B. DPRD. Pemanfaat air/petani.(Persero) CABANG I MALANG Pengembangan institusi pengelola SDA sebagai institusi lintas wilayah administrasi memerlukan konsep terpadu dengan partisipasi pihak-pihak pengelola yang mendukung rencana tersebut. Boundary of river basin Upper Watershed Reservoir Main River Illegal Housing Boundary of districts LAUT A. PDAM. Naskah kerjasama disetujui masing-masing Gubernur Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -186 . Konsultasi Publik / Kab / Kota (Pemda. Perguruan Tinggi. Pembentukan Tim Kerja Antar Provinsi (Naskah Kerjasama) 5. ORNOP / LSM. Usulan ke Departemen PU 3. Persetujuan Prinsip Antar Provinsi (Setelah mendapat masukan Ketua Komisi / Fraksi DPRD Provinsi) 2. Persetujuan Menteri PU (Setelah mendapat masukan dari Dewan SDA Nasional) 4. 1.

konprehensif antar sektor maupun wilayah administratif serta menyesuaikan dengan penataan ruang wilayah. yang dapat diselesaikan pada tahun 2004.(Persero) CABANG I MALANG 7. Program pengembangan Listrik h. Tanda Tangan Naskah Kerjasama oleh masing-masing Gubernur 9. Dengan demikian melalui konsep Master plan yang mantap. Rencana pengembangan irigasi dan pertanian f. dimana alternative ke-3 dan ke-4 cukup aplikatif untuk dilaksanakan. b. Rencana pengelolaan transportasi Air d.15. Rencana Pengelolaan kualitas air g.15 RENCANA INDUK BARITO 2004 2. Pembentukan Dewan SDA Provinsi (Gabungan) / Pola Operasi 10. Rencana pengelolaan transportasi darat e. Tujuan Mengembangkan sektor sumber daya air pada Wilayah Sungai Barito melalui suatu perencanaan yang matang. Program pengembangan Institusi Pengelola SDA Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -187 . pengembangan daerah irigasi dan rawa.1 Maksud dan Tujuan Maksud Merumuskan Rencana Induk Pengembangan Sumber Daya Air secara menyeluruh untuk memenuhi kebutuhan air baku. Rencana pengendalian banjir c. Persetujuan oleh masing-masing DPRD Provinsi (setelah dibentuk POKJA DPRD) 8. 2. Pelaksanaan oleh Dinas terkait Beberapa bentuk kerjasama ini dituangkan dalam 4 (empat) scenario yang dapat diterapkan untuk wilayah SWS Barito. konservasi lahan pada daerah aliran sungai Barito untuk jangka waktu perencanaan sampai tahun 2030. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas disusunlah rancangan Induk Pengembangan Wilayah Sungai Barito Kapuas. akan dapat dilakukan proses pengembangan yang efisien sehingga diperoleh hasil yang efektif. meliputi : a. pengendalian banjir dan daya rusak air. Pemenuhan kebutuhan air bersih.

Program Pengelolaan Terpadu WS Barito 2.15.02% Jangkauan pelayanan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -188 . Adapun penanganan-penenganan pada masing-masing wilayah adalah seperti tabel berikut : Tabel 2. total 700 m3 – Pengembangan tersebut untuk mengatasi vakum produksi selama 4-5 bulan pada musim kemarau – Pengadaan WTP/IPA dengan kapasitas 25 liter/det dengan total kapasitas terpasang 40 liter/det – Penambahan jar pipa untuk perluasan distribusi ke daerah yang belum terjangkau 2 Kec Alalak / Daerah pelayanan a. Daerah yang sudah dilayani air bersih melalui jar pipa dan diusulkan perluasan : – Desa Handil Bakti – Desa Berangas Timur – Desa Semangat Dalam b. Daerah yang belum terlayani air bersih dan belum terpasang jaringan pipa.1 Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih Rencana pengelolaan air bersih ditinjau pada : • • • Rencana investasi penambahan kapasitas instalasi institusi penyedia layanan distribusi.93 Usulan Penanganan Masalah Air Bersih di Kabupaten Barito Kuala No 1 PDAM / IKK KAB/KOTA PDAM IKK Alalak USULAN PENANGANAN – Menambah kapasitas produksi 30 l/det karena kapasitas daya terpasang yang ada sekarang sudah max dibandingkan dengan jumlah daftar calon pelanggan dan pelanggan. Kelebihan produksi ditampung dalam reservoir air bersih – Membuang ground reservoir air bersih dengan daya tampung 600 m3.2 Garis Besar Masterplan 2004 2.2. dan institusi pendukung penyediaan sumber air.(Persero) CABANG I MALANG i.15. ditambah dengan ground kapasitas lama 100 m3. dan diusulkan dalam program : – Kelurahan Berangas – Desa Sungai Lumbah – Desa Baringin – Desa Pitung (daerah pelayanan dari 3 desa menjadi 7 desa) – Diharapkan meningkat dari 34. Program-program yang diusulkan oleh institusi penyedia layanan distribusi disusun berdasarkan kebutuhan pada tiap IKK yang diusulkan pada tiap kecamatan.50% menjadi 55. Pengelolaan DAS Kapuas j.

315 11.642 - 63.350 7 l/det 389 1.785 0 71.742 989 5 6 l/det l/det 425 565 1.070 17.855 0 1.737 139.775 19 59.563 0 1.115 75. Berdasarkan Proyeksi Kebutuhan No 1 URAIAN PENDUDUK Total Dilayani PELAYANAN DOMESTIK Total Samb rumah Samb halaman HU KEBUTUHAN NON DOM Total Komersil Sosial institusi Industri PROYEKSI KEBUTUHAN Kebutuhan domestik Kebutuhan non domestik Pelabuhan.776 635 12 22.429 43 64.000 2009/2010 750.500 2004/2005 668.365 8 ( m3 ) 4.755 103. Program Jangka Menengah.220 22.775 13.360 19.440 56.840 54. PDAM Di Kota Banjarmasin. Pemerintah Kotamadya Daerah Tk II Banjarmasin Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -189 .772 2.500 2 % % % % 30% 23% 0% 7% 73% 55% 0% 17% 77% 53% 0% 24% 3 %dom %dom %dom %dom 26% 16% 9% 1% 12% 5% 7% 0% 18% 9% 9% 1% 4 m3/hr m3/hr m3/hr m3/hr m3/hr m3/hr Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 14.215 1.085 1.800 Sumber : Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu (PPPKT) Kalimantan Sumber : Banjarmasin.735 3.870 1.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.156 1.000 18.535 21.800 0 18.580 7.992 1.000 579.000 488.94 Analisis Kebutuhan Sistem Penyediaan Air Bersih Banjarmasin.363 82.798 1.935 3.200 15.530 2.897 0 323 1.980 0 89. dll Rata-rata Hari puncak Kehilangan air PROYEKSI SAMBUNGAN Samb rumah Samb halaman HU Komersil Servis Industri Total Pertamb samb/th KAPASITAS DISAIN Produksi Distribusi KAPASITAS RATA-RATA Total system KEBUTUHAN RESERVOIR Total SATUAN Jiwa Jiwa 1990/1991 480.

BATANG ALAI Amuntai . dan detail desain drainase. Rencana pengendalian banjir pada WS Barito Kapuas dapat dilihat pada gambar 2. S. yang dilaksanaan secara bertahap. . S. . COMPREHENSIVE FLOOD CONTROL PROGRAM : S. NEGARA Tanjung .39. Marabahan Kandangan S. Peta Rencana Pengendalian Banjir SWS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -190 .15.2 Pengendalian Banjir Rencana pengendalian banjir disusun berdasarkan konsep pengendalian terpadu dengan merencanakan sistem drainase kota berdasarkan sub DAS.29 dan gambar 2. BARABAI . Barabai S.TABALONG S. MARTAPURA . AMANDIT S. .2. BALANGAN S.(Persero) CABANG I MALANG 2. RENCANA USULAN PROGRAM FLOOD CONTROL . Batas Provinsi Batas Kabupaten Sungai Kota Provinsi Kota Kabupaten Daerah Rawan Banjir PETA SWS BARITO PROP KALSEL Gambar 2. Rantau LEGENDA : BANJARMASIN ! Martapura Banjarbaru . TAPIN .30 berikut. Salah satu pendekatan umum dalam perencanaan sistem pengendalian banjir kota (urban flood control) adalah penentuan outline drainase primer. .

Kandangan Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas S. Dusun Hilir Kec. TABALONG S. Karau Kuala Kec. Martapura S. ji An rS at ap er S. Ala r S. Tapin S. BARABAI lam p ar KANDANGAN KANDANGAN . Karau Kuala Kec. Ba lan ga Paringin Paringin Paringin Paringin Paringin nParingin ita S. Pamelu nuh S. Jenamas Kec. Kandangan S. Riamkanan n na Ka Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati S. K ap u a S. Batang Alai S. Tapin S. Dusun Tengah S. MARTAPURA . Tabalong S. M ka eng tip Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik S. Peta Rencana Pengendalian Banjir SWS Barito ah un g S. Jenamas Kec. Rantau Rantau Rantau Tambarangan Tambarangan Tambarangan Tambarangan Tambarangan Tambarangan Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa . in ng n ta Ma Ke S. Kandangan S. M eta k Pu lau P S. A S. Bu rak S. Jenamas Kec. Barabai Keserangan S. Tuy au Timpah Timpah Timpah Timpah Timpah Timpah Kiw a Kec. Busang tun g S. Berio i Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi ah ai S. Dusun Hilir Kec. Tapa RENCANA USULAN PROGRAM FLOOD CONTROL S. Dusun Hilir Kec. Murungpudak Murungpudak Murungpudak . Dusun Hilir Kec. Kandangan S. Tabalong Harui S. A S. Djulai S. Terusan S. Bintang Awai Kec. Mangkutup Muara Laung Muara Laung Muara Laung . Tabalong Harui S. Tu hu p 40 S. Dusun Tengah Kec. Kandangan nd ma S. Murungpudak Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas aik ng lo ba Ta ng S. Batang Alai S. Barabai D. n n da To S. L emu Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong ang S . L ami S. Dusun Hilir Kec. Karau S. Pu rin g s S. Ta balo ng S. TEMPARAK Mainstream Buntok n S. Tapin S. Murun g S. Malu ka MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA . Karau S. Dusun Tengah Kec. Martapura S. L S. Ba rito Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang TAMIANG LAYANG S . S. Kandangan it S. MARTAPURA Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh S. Martapura S. L S. Tapin Rantau Rantau Rantau . NEGARA Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya yu S. P Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung a nu S. AMANDIT S. Batang Alai Keserangan S. N eg . Bintang Awai Kec. Dusun Tengah Kec. Bintang Awai Kec. KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN S. J u la i S. Tabalong Harui S. M ar Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi S. AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI Ilung Ilung Ilung Ilung S. Karau Kuala Kec. M alu S. Dusun Hilir Murungpudak Murungpudak . Karau Kuala Kec. L p uy am at Ku an tan S. Tapin S. Batang Alai S. Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan S. . i S. Batang Alai S. k pa Lu Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Kec.S a egi n Tabak Kanilan Kanilan uh Tabak Kanilan Tabak Kanilan Tabak Kanilan Kanilan S. Be bem Ketapang Ketapang Ketapang Tumpung Laung Ketapang Tumpung Laung Ketapang Tumpung Laung Ketapang Tumpung Laung Tumpung Laung Tumpung Laung S. Karau S.(Persero) CABANG I MALANG Be la S. Jenamas Kec. . n la a Ka S Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -191 . P S. Ria iw a mK II Pengaron Pengaron Pengaron Pengaron Pengaron Pengaron KAPUAS MURUNG S. Martapura S.40. BATANG ALAI S. Lu S. Dusun Tengah Kec. Martapura S. Ay Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah a ng a su S. Samu Kec. Karau Kuala Ka rau S. MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu S. Teweh Besar S . Jenamas Kec. Jenamas S. Barabai Keserangan S. Batang Alai S. BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK Kec. S.T ! Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Gambul Gambul Gambul Gambul Gambul S S. M urung S. D ui mb Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei MUARA TEWEH MUARA TEWEH . T ab al S. Tu tu i m S. Dusun Tengah Kec. Bintang Awai S. Tapin S. BALANGAN S. Karau Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Bentot Bentot Bentot Bentot S. BARABAI S. PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU Muara Laung Muara Laung Muara Laung a ri S. L an da un S. Tabalong Harui Harui Harui ing Ja S. M ta en Na pu Taniran Taniran Taniran Taniran Taniran Taniran Ha lon g ! Pe ta i S. Barabai Keserangan S. Bangkau Keserangan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI . Karau S. Karau S. BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU m Ria D. Bintang Awai Kec. T ab al o ng Ka na S. Bumban S. g un La S. TAPIN ar a S. Tempar ak S. TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG Kec. U uwei sei S. K Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang ap um S. H ia ng s S. P p S. Alalak Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang n ba am A. S. T ew eh S. Ka puas M PETA SWS BARITO Gambar 2. M is si Mu ru S. Tabalong S. . Karau Kuala Kec. Barabai S. Tanta Tanta Tanta Tanta Tanta Tanta Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Juai Juai Juai Juai Juai Juai Halong Halong Halong Halong Halong Halong S. Bintang Awai Kec. Barabai Keserangan S. Martapura S. un in g S. an gk ook S. KARAU S.

3 Rencana Pengelolaan Transportasi Air PETA SWS BARITO 4 3 2 PALANGKARA 1 BANJARMAS Gambar 2. Aliran relatif cepat dengan beberapa jeram Aliran cukup deras dan banyak jeram tetapi masih dapat dilayari perahu kecil Zona Lokasi 1 Dari Muara sampai dengan Kalanis.41.(Persero) CABANG I MALANG 2. kemiringan dasar sungai sangat landai Dapat dilayari perahu besar hanya pada musim penghujan.2. Kemiringan dasar sungai relatif masih landai Dapat dilayari oleh perahu kecil (kapasitas 1 ton). Buntok 2 Dari Buntok sampai dengan Muara Teweh Dari Muara Teweh sampai dengan Puruk Cahu Dari Puruk Cahu sampai dengan Muara Joloi 3 4 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -192 . Skema Ruas Transportasi Air di Sungai Barito Keterangan Dapat dilayari perahu besar walaupun di musim kemarau.15.

42. PPujon P ujon ujon PPujon P ujon ujon S. B eb em ˜ 7 M aaraapitit M ar rappit M M aaraapitit M ar rappit M S. Skema Ruas Transportasi Air di Sungai Kapuas Murung Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -193 . n da S. H s S. K E C . TTim pah T im pah im pah TTim pah T im pah im pah n egia S S. S. ˜ 2 An A. Bu n u t Ku an tan S. . ANJ DILAYARI HINGGA MS MS KEMARAU KONDISI Gambar 2. Mu ru i S. ku ng Ma tup ! S. L n ah u T S. T er us a n ˜ 1 . in ng n ta Ma Te w eh Be sa r ˇ 2 TIMPAH .T jir Se t pa ra 2o 00 LS urun g ˇ S. Ka pu as S. BBarim ba B arim ba arim ba BBarim ba B arim ba arim ba 1o 0 0 L S KUALA KAPUAS S . ia n g K A B U P A T EN K A P U A S S. K ap . K A P U A S TE N GA H g S SEIHANYU ˇ 1 SSeihany uu S eihany u eihany SSeihany uu S eihany u eihany S .(Persero) CABANG I MALANG . M an a ra n S . 6 b am Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam ! LUMPAK DALAM 3o 0 0 L S an ua s M k pa Lu S. M ta en k ai ng MANTANGAI ˜ M ant angai M ant angai M ant angai M ant angai M ant angai M ant angai 6 ˜ 5 S. LLam uuniti Laam unniti m iti LLam uuniti Laam unniti m iti Me k ng p a ti M aanuusuup M annussupp M M aanuusuup M annussupp M M aanuusuup M annussupp M ˜ ˇ PPalingk au P alingk au alingk au alingk au PPalingk au P alingk au 3 D aadaahuup D addahhupp D D aadaahuup D addahhupp D D aadaahuup D addahhupp D 4 Pa la nngkkauuBa rrru Pa la nggkaau Ba uu Pa la Ba Pa la nngkkauuBa rrru Pa la nggkaau Ba uu Pa la Ba Pa la nngkkauuBa rrru Pa la nggkaau Ba uu Pa la Ba Ke l am Pe nndaaKe ta ppi i Pe ndda Ke ta pi Pe Ke ta Pe nndaaKe ta ppi i Pe ndda Ke ta pi Pe Ke ta MANDOMAI Ka nnam itit Ka naam it Ka m Ka nnam itit Ka naam it Ka m Ka nnam itit Ka naam it Ka m p a M andom ai M andom ai M andom ai r M andom ai M andom ai M andom ai ˜ et a k Pu lau P A. Ba ˇ sa ra 5 ng 4 SSeit at as S eit at as eit at as SSeit at as S eit at as eit at as 0o 0 0 M aalikuu M alik u M lik M aalikuu M alik u M lik M aalikuu M alik u M lik S ˇ .S S. Ko ta bbarrru Ko ta baa uu Ko ta Ko ta bbarrru Ko ta baa uu Ko ta Ko ta bbarrru Ko ta baa uu Ko ta S in gk an PUJON LLahhei ii Laahee LLahhei ii Laahee LLahhei ii Laahee S. Da m nu bu i PETA DAS KAPUAS . on S.

maupun mobilitas. sebagai berikut: Periode I (2003) 1. jangka menengah atau periode II (2008 – 2013) dan jangka panjang atau periode III (2013 – 2018) dengan mengacu pada konsep memperbaiki dan meningkatkan aksesibilitas. Rehabilitasi/pemeliharaan pada segmen-segmen tertentu sepanjang koridor 3.15. lebar minimal 4. Dalam merealisasikan strategi pengembangan transportasi di Provinsi Kalimantan Tengah diusulkan pula pentahapan program pengembangan pada masing-masing periode. meskipun kualitas pelayanannya masih rendah. 5.2. 1) Strategi jangka pendek adalah membentuk jaringan jalan yang utuh. 3) Strategi jangka panjang atau periode III adalah difokuskan pada peningkatan kenyamanan perjalanan masyarakat pengguna jasa transportasi serta pembangunan jalan kereta api untuk angkutan barang.5 meter. 4.4 Rencana Pengelolaan Transportasi Darat Strategi pengembangan diusulkan dalam 3 (tiga) periode masing-masing. 2) Strategi jangka menengah adalah meningkatkan kemudahan dalam hal aksesibilitas dan mobilitas. yaitu peningkatan terhadap ruas jalan penghubung antar kabupaten yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah. Meningkatkan jaringan jalan sepanjang koridor utama dengan konstruksi perkerasan beraspal dengan lebar 4.5 – 6. Penyelesaian jembatan balok T (jembatan layang) di daerah Tumbang Nusa (ruas Palangkaraya – Pulang Pisau). yaitu dengan meningkatkan tingkat kemudahan jangkauan pelayanan hingga daerahdaerah di Provinsi Kalimantan Tengah.0 meter. 2. Penyelaesaian Jembatan Sei Barito di Puruk Cahu ( ruas Muara Teweh – Puruk Cahu). Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -194 . yaitu jangka pendek atau periode I (2003 – 2008).(Persero) CABANG I MALANG 2. Penyelesaian Pembangunan Jalan dan jembatan Ruas Palangkaraya – Timpah – Buntok. serta kualitas pelayanan. utama yang dirasakan sangat mendesak untuk lebih dimantapkan.

Pembangunan pelabuhan di Kabupaten Katingan dengan salah satu alternatif posisi pada selat jeruju (Pegatan-Mendawai). Sampit – Samuda.(Persero) CABANG I MALANG 6. Membangun terminal dan fasilitasnya pada masing-masing ibu kota kabupaten yang belum memiliki terminal. 2. Pemeliharaan (rutin/periodik) atau rehabiltasi pada segmen-segmen tertentu sepanjang koridor utama yang dirasakan sangat mendesak untuk lebih dimantapkan. ruas jalan menuju Provinsi Kalbar ruas jalan Nanga Bulik. Mengoptimalkan Terminal Angkutan Darat bagi kabupaten yang sudah memiliki terminal. 3. Pembangunan jembatan yang melintasi Sei Kapuas di Sei Hanyu (ruas K. 8. Pembangunan jalan rel kereta api untuk transportasi angkutan barang dengan alternatif jalur yaitu jalur daratan tinggi menuju outlet Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -195 . Peningkatan struktur dan lebar jalan di koridor utama pada segmensegmen dalam ruas jalan Palangkaraya – Tangkiling. Peningkatan ruas jalan eksternal menuju Banjarmasin ruas Palangkaraya – Banjarmasin 6 meter. Kuala Kapuas – Batas Kal-Sel. Peningkatan Pembangunan Jalan dan Jembatan Ruas Palangkaraya – Timpah – Buntok dari kondisi agregat ke kondisi aspal beton lebar minimum 6 meter. 7. 2. 9. Periode II (2008-2013) 1.0 meter. 4. Kujan – Kudangan ke arah Kalbar lebar 6 meter.Kurun – Sei Hanyu – Batu Putih). Pembangunan Jembatan Sungai Kapuas Di Lungkuh Layang pada Ruas Jalan Koridor Utama Palangkaraya – Buntok. Palangkaraya – Bereng Bengkel Km 35. Peningkatan struktur jaringan jalan sepanjang koridor utama dengan konstruksi lapis permukaan aspal beton dan lebar minimum 6. Pembangunan jembatan yang melintasi Sei Laung di Tumbang Laung (ruas Batu Putih – Puruk Cahu). Pasar Panas – Tamiyang Layang – Ampah – Buntok ditingkatkan menjadi 2x7 meter. 5. 10. Periode III (2013-2018) 1.

maka dipandang perlu upaya bersama untuk mengurangi dampak negarif tersebut.2. kecamatan timpah. 2. Merupakan pengembangan pada tahapan alternatif (a) daerah Upland Coridor dan perbatasan menuju outlet. Hss. Pengelolaan kualitas air sungai-sungai di kab kapuas. 3. kab. s.(Persero) CABANG I MALANG (Kumai/Pangkalan Bun dan Bagendang/Ujung Pandaran. Dan berorientasi ke 3 (tiga) outlet (pelabuhan). Pengelolaan kualitas air sungai pada kawasan pertambangan di Provinsi Kalteng (s.5 Rencana Pengelolaan Kualitas Air Mengingat banyaknya kegiatan pertambangan emas di sungai dinilai telah banyak mengganggu kelancaran dan keselamatan angkutan sungai serta sistim pengolahan yang terbukti mencemari air sungai. Tabalong.15. Hst. Hsu. dan s. 2. maka diusulkan kajian lanjutan terhadap 4 (empat) kapuas tengah. kab. Monitoring Kegiatan Penambangan Terpadu (Dinas Pertambangan dan Energi tingkat kabupaten) 2. serta sanksi terhadap pelanggar lingkungan agar disosialisasikan secara luas sampai ke desadesa. termasuk kajian teknis pengolahan emas dengan air raksa yang aman untuk lingkungan (kecamatan mantangai) 3. Sosialisasi undang-undang no. Maruwei.15. Pengelolaan kualitas air sungai pada kawasan pertambangan di Provinsi kalsel (kab. Jalur menuju ke perbatasan Kalimantan Barat/Kalimantan Timur. Murung) 5. Kumai dan Bagendang/Ujung Pandaran. dan kecamatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -196 . Program yang diusulkan untuk mengatasi hal ini adalah : 1. s. Karau. kab. Sampit) dari kawasan pengembangan industri yang merupakan jaringan tingkat sekunder pada sistem jaringan primer trans Borneo railways yang meliputi Kuala Kurun – Tumbang Samba ( menuju Parenggean dan Bagendang/Ujung Pandaran) – Nangabulik (menuju pelabuhan Kumai).6 Program pengembangan Listrik Meninjau kajian kurangnya kapasitas daya terpasang listrik yang ada di kedua Provinsi Kalselteng. kab. Banjarmasin. 23 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup. Banjar. kab. atau peraturan perundangan lainnya.2. Ayuh. Tapin) 4.

Apabila belum ada.2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -197 . perikanan.95 Program Pelaksanaan Rencana Pembangunan Bendungan/Waduk di Provinsi Kalimantan Tengah 2005 2006 2007 2007 2010 2007 2008 2012 2013 Identifikasi telah dilakukan pada tahun 1968. yang telah ada pada tiap dinas pengairan Provinsi. seperti Unit Hidrologi. maka diperlukan suatu bentuk institusi yang dapat mengakomodir kepentingan seluruh masyarakat pengguna (stakeholder) air.7 Program Pengembangan Institusi Pengelola SDA Sebagai daerah aliran sungai yang melewati 2 (dua) daerah administratif yang memanfaatkan aliran Sungai Barito.(Persero) CABANG I MALANG scheme yang memerlukan kajian lanjutan. dan studi awal dilanjutkan pada tahun 2005 Diusulkan untuk dilakukan studi kelayakan dan rona lingkungan bendungan Detail desain dan dampak lingkungan serta sosialisasi masalah pembebasan tanah dan rumah Sosialisasi masalah pembebasan tanah dan pembebasan tanah Pelaksanaan fisik jalan masuk + jembatan ke lokasi (access road) Pelelangan fisik pekerjaan Awal pelaksanaan fisik sampai penyelesaian Awal operasi bendungan/dam 2. Program pelaksanaan rencana pembangunan bendungan/waduk di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut. di Kabupaten Murung Raya merupakan waduk serbaguna yang berfungsi sebagai waduk pengendali banjir. Tabel 2. dan pertanian.15. dimana terdapat peranan Menteri Kimpraswil secara langsung pada salah satu unit kerja pada ke-4 opsi yang ditawarkan. Selanjutnya ada pilihan mengenai fungsi Balai Lintas ini. Salah satu tahapan utama adalah telah adanya lembaga Balai PSDA pada tingkat Provinsi. Salah satu usulan yaitu Waduk Muara Juloi. irigasi. Setelah adanya Balai PSDA. maka embrio dari balai ini dapat disusun dari unit-unit yang ada. apakah sebagai “operator” SDA atau sebagai “developer” infrastruktur SDA juga. Konsep yang diusulkan terdiri dari 4 opsi. maka langkah selanjutnya adalah Balai PSDA Lintas Provinsi. yang dimonitor secara langsung oleh Menteri Kimpraswil.

8 Pengelolaan DAS Kapuas DAS Kapuas dan DAS Barito dihubungkan oleh aliran Sungai Kapuas Murung.9 Program Pengelolaan Terpadu WS Barito Alokasi waktu perencanaan program disusun dalam jangka pendek. maka diusulkan program konservasi dengan kajian pengendalian erosi pada anak-anak sungainya. 2. Tabel 2. Provinsi. dan jangka panjang. DAN MURAI 5 PENGENDALIAN SEDIMEN SUNGAI JANGKA MENENGAH MANGKUTUP 6 PENGENDALIAN SEDIMEN SUNGAI MURAI 7 MONITORING KUALITAS AIR JANGKA PENDEK SUNGAI MENTANGAI 8 PEMELIHARAAN ALUR SUNGAI JANGKA PANJANG MAIN STREAM HULU S. Pengembangan institusi pengelola SDA sebagai institusi lintas wilayah administrasi memerlukan konsep terpadu dengan partisipasi pihak-pihak pengelola yang mendukung rencana tersebut. KAPUAS 9 KONSERVASI KAWASAN BUKIT JANGKA MENENGAH DAN TANGKILING PANJANG Kedudukan Proyek Induk akan berada dalam satu unit dengan Balai Pelayanan Umum PSDA Lintas 2. Prioritas program jangka pendek didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut : 1. Kajian teknis terhadap kondisi kritis wilayah.15. Sepanjang 420 km dari 600 km aliran Sungai Kapuas dapat dilayari sampai ke hulu.(Persero) CABANG I MALANG Dari konsep inilah yang menjadi dasar pembentukan PROYEK INDUK. dari Kuala Kapuas sampai Seihanyu.96 Usulan Program Konservasi dengan Kajian Pengendalian Erosi NO USULAN PROYEK KATEGORI JANGKA WAKTU 1 DRAINASE TERPADU KOTA KUALA JANGKA PENDEK DAN KAPUAS MENENGAH 2 PROGRAM KALI BERSIH JANGKA MENENGAH KABUPATEN KAPUAS 3 PENGEMBANGAN TPA KOTA JANGKA PENDEK KAPUAS 4 PENGENDALIAN SEDIMEN SUNGAI JANGKA MENENGAH MENTANGAI. MANGKUTUP.15. untuk sektor konservasi Analisis ekonomi untuk sektor pendayagunaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -198 .2. dimana peran utama proyek adalah sebagai “developer” SDA. dan transportasi air merupakan prasarana penting perekonomian wilayah ini. Untuk mendukung sector transportasi tersebut. menengah.2. 2.

155. KALTENG. KAB MURUNG RAYA. Riam Kiwa.700 Ha (Cagar Alam) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI TANAH LAUT.000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) KONSERVASI KAWASAN BATIKAP I. BATIKAP II. 200. dan HSS D. 81.97 Daftar Program Prioritas SEKTOR / PROJECT TITLE 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) PENGEMBANGAN TPA KOTA KUALA KAPUAS PERENCANAAN DRAINASE PRIMER DAN SEKUNDER KOTA KUALA KAPUAS PENGENDALIAN SEDIMEN DAS KAPUAS PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI KAPUAS PENGELOLAAN DAS KRITIS DI DAS BARITO. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN (DAS Balangan. PROP KALSEL. DAS Riam Kanan. HST.000 Ha dan 87.375 Ha KONSERVASI KAWASAN MERATUS HULU BARABAI.(Persero) CABANG I MALANG 3.279 Ha 280 MW 10 ) 11 ) 12 ) 13 ) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -199 . BATIKAP III. PROP KALSEL. MUARA SINGAN 10.I.000 Ha. 35. 740. Kabupaten HSU. Tingkat kerugian untuk sektor pengedalian daya rusak air Tabel 2.000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI MARTAPURA. dan Tabalong Kanan) PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI MARTAPURA WADUK SERBAGUNA MUARA JULOI KONSERVASI KAWASAN LINDUNG PARAWEN.

(Persero) CABANG I MALANG MASTER PLAN WILAYAH SUNGAI (WS) BARITO NO 1 SEKTOR / PROJECT TITLE Drainase Kota 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10 ) 11 ) 11 ) 12 ) PENGEMBANGAN TPA KOTA KUALA KAPUAS PERENCANAAN DRAINASE PRIMER DAN SEKUNDER KOTA KUALA KAPUAS PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI KAPUAS PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI NEGARA PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI MARTAPURA PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI TAPIN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI BARABAI PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI BATANG ALAI PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI BALANGAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI TABALONG PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI AYUH PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI TEWEH PENYUSUNAN OUTLINE PLAN DRAINASE KOTA BUNTOK Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -200 .

RIAM KIWA. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN (DAS BALANGAN. Erosi dan Sedimentasi 15 ) 16 ) PENGENDALIAN SEDIMEN DAS KAPUAS PENGELOLAAN DAS KRITIS DI DAS BARITO. DAN TABALONG KANAN) NO SEKTOR / PROJECT TITLE PENGELOLAAN KONDISI DAS PADA KAWASAN POTENSI PERTAMBANGAN (KALTENG) 17 ) 18 ) 19 ) 20 ) 21 ) 22 ) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Lahei (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Teweh (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Juloi (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Laung Tuhup (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Ayuh (Kab Barsel) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Bekakar dan Takuan Puri (Kab Bartim) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -201 .(Persero) CABANG I MALANG 2 Waduk Serbaguna 13 ) 14 ) WADUK SERBAGUNA MUARA JULOI WADUK SERBAGUNA LAHEI 3 Konservasi Hutan. DAS RIAM KANAN.

543 155.(Persero) CABANG I MALANG PENGELOLAAN KONDISI DAS PADA KAWASAN POTENSI PERTAMBANGAN (KAPUAS) 23 ) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Mentangai (Kab Kapuas) PENGELOLAAN KONDISI DAS PADA KAWASAN POTENSI PERTAMBANGAN (KALSEL) 24 ) 25 ) 26 ) 27 ) 28 ) 29 ) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Tabalong Kiwa.000 740. KALTENG. 81. 2.500 Ha (Kab Tapin) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Alalak 8.000 2.400 Ha (Kab Banjar) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Martapura 77.000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -202 .375 200.543 Ha (Cagar Alam dan Taman Wisata) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI TANAH LAUT.000 Ha (Kab Banjar) 30 ) KONSERVASI KAWASAN LINDUNG PARAWEN.000 Ha dan 87.000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI MARTAPURA.700 Ha (Cagar Alam) (Sblmnya Parawen I dan Parawen II. 17. 155. KAB KAPUAS.000 Ha Ha Ha Ha Ha 31 ) 32 ) 33 ) KONSERVASI KAWASAN BUKIT TANGKILING. PROP KALSEL.000 Ha (Kab Tabalong) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Ayu. 1982) 81. 67.000 Ha (Kab HST) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Tapin. PROP KALSEL. 99. 35.000 Ha (Kab Tabalong) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Batangalai. 4.

BATIKAP II. 200. Kabupaten HSU dan Tabalong KONSERVASI KAWASAN MUARA UYA.I.(Persero) CABANG I MALANG 34 ) KONSERVASI KAWASAN PULAU KAGET. 150.375 Ha KONSERVASI KAWASAN MERATUS HULU BARABAI.000 Ha.000 Ha (CA) 4 PLTA 43 ) 44 ) 45 ) 46 ) PLTA MUARA JULOI PLTA LAHEI PLTA TEWEH PLTA RIAM KIWA (2 X 21 MW) 280 32. 275 Ha (CA) NO SEKTOR / PROJECT TITLE 35 ) 36 ) 37 ) 38 ) 39 ) 40 ) 41 ) 42 ) KONSERVASI KAWASAN PULAU KEMBANG. 25. 60 Ha (CA) KONSERVASI KAWASAN G.000 Ha (SM) KONSERVASI KAWASAN HUTAN GAMBUT LIANG ANGGANG. 245 Ha (CA) KONSERVASI KAWASAN BATIKAP I. BATIKAP III. MUARA SINGAN 10. HST. KAB HSS. PROP KALSEL. PROP KALSEL. dan HSS KONSERVASI KAWASAN MERATUS HULU TANJUNG. KAB HSU.3 34 42 MW MW MW MW 5 Pengembangan Pertanian 47 ) D.250 Ha. KAB BANJAR.279 Ha Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -203 .000 Ha (CA) KONSERVASI KAWASAN SUNGAI NAGARA. KAB TABALONG. Kabupaten HSU. 740. KAB MURUNG RAYA. 46. KENTAWAN. 6.

I.I. Ayuh.172 4. dan S.459 6. Maruwei. S. Kab HST) PENELITIAN KUALITAS AIR SUNGAI PADA KAWASAN PERTAMBANGAN DI PROVINSI KALTENG (S.BARABAI D. S.I.I.432 6. AMANDIT D.823 3. Kecamatan Timpah.519 Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha NO 7 SEKTOR / PROJECT TITLE Pengelolaan Kualitas Air 58 ) PENELITIAN KUALITAS AIR SUNGAI-SUNGAI DI KAB KAPUAS (Kecamatan Kapuas Tengah.I. Murung) 59 ) 60 ) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -204 . PITAP STUDI PENERAPAN SUB POLDER PADA POLDER ALABIO KAJIAN PERTANIAN TERPADU PADA POLDER ALABIO 7.984 7. BATANG ALAI D.927 5. dan Kecamatan Mantangai) PENELITIAN KUALITAS AIR SUNGAI PADA KAWASAN PERTAMBANGAN DI PROVINSI KALSEL (Kab Tabalong. MARUWEI D.I. Kab HSU. BALANGAN D.078 2. TONDAN D. Karau.I.(Persero) CABANG I MALANG 48 ) 49 ) 50 ) 51 ) 52 ) 53 ) 54 ) 55 ) 56 ) 57 ) D. TEMPARAH D.I. Kab HSS.

23 / 1997) Lembaga Pengelola Lintas Provinsi 63 ) 64 ) 65 ) 66 ) 67 ) 68 ) 69 ) Lokakarya Sistem Pengelolaan Lingkungan / DAS Terpadu Rapat Koordinasi antara dan penandanganan Nota Kesepakatan Antar Bupati yang berada di SWS Barito Capacity Building dan Pemantapan Insitusi Tingkat Provinsi untuk Pembentukan Balai SDA (Kalsel) Capacity Building dan Pemantapan Insitusi Tingkat Provinsi untuk Pembentukan Balai SDA (Kalteng) Pelatihan dan Pemantapan PPPA Provinsi Kalsel Pelatihan dan Pemantapan PPPA Provinsi Kalteng Pembentukan Balai SDA Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -205 .(Persero) CABANG I MALANG 61 ) 62 ) 8 Monitoring Kegiatan Penambangan Terpadu Sosialisasi undang-undang tentang pengelolaan lingkungan hidup (No.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -1 . Sedangkan pada gambar 3. Gambar 3. dimana kegiatan tersebut merupakan kegiatan awal dalam perencanaan SDA di wilayah sungai.1 Umum Pendekatan yang diambil dalam perencanaan sumber daya air di wilayah sungai mengacu pada UU No. 2006) yang meliputi penyusunan kebijakan pengelolaan Sumber Daya Air di tingkat Propinsi serta penyusunan pola pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) di wilayah sungai.(Persero) CABANG I MALANG BAB 3 PENDEKATAN DAN METODOLOGI PELAKSANAAN STUDI 3.2 merupakan bagan alir penyusunan pola sumber daya air. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. PENDEKATAN DALAM PELAKSANAAN STUDI 3. Direktorat Bina Program.1.1 menunjukkan tahapan dalam penyusunan perencanaan Sumber Daya Air (Subdit PWS.1. Di dalam pendekatan penyusunan Pola Pengelolaan SDA tersebut akan diuraikan secara singkat tahapan dalam perencanaan sumber daya air wilayah sungai.

Induk: K. 2006) Gambar 3. Daya Guna. Sungai Area Keg.DR tidak PLANNING (perencanaan) Makro/Mikro Basis Basis Wil.(Persero) CABANG I MALANG TAHAPAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR Makro Basis Spasial Nas/Prop/Kab/Kot Kebijakan Nasional SDA Survey Investigasi & Review Studi WS Kebijakan SDA Prop/Kab/Kota Pola PSDA WS yg tlh ditetapkan Men/Gub/Bup Inventarisasi SDA WS Renc. memantau & mengevaluasi (Konservasi. Direktorat Bina Program.DG. Daya Rusak Sumber : Subdit PWS. Dlm WS KONSTRUKSI OPERASI & PEMELIHARAAN PANTAU EVALUASI RTRW Nas/Pro/Kab/Kt Program Prioritas SDA Ditjen Lain Departemen lain Survey dan Investigasi Operasi & Pemeliharaan (OM) Studi Klykn (FS)+Amdl ya Detail Desain (D/D) Pelaksanaan Konstruksi (C) Monitoring dan Evaluasi KETERANGAN : *) Pola PSDA = Kerangka Dasar untuk --> merencanakan. PSDA WS Renc. Daya Rusak) **) Rencana PSDA merupakan keterpaduan dari Rencana Induk: Konservasi. melaksanakan. Daya Guna.1 Tahapan Dalam Penyusunan Perencanaan Sumber Daya Air Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -2 . Dlm WS Mikro Basis Lokasi Krj.

(Persero) CABANG I MALANG Start Mempelajari kebijakan Daerah di Dalam Pengelolaan SDA Inventarisasi Data Identifikasi Masalah TAHAP I PERSIAPAN PKM I Jika tidak sesuai Jika sesuai Analisa data Skenario Pengembangan Strategi Kebijakan Operasional (Rancangan Pola Pengelolaan SDA WS) PKM II TAHAP II PENYUSUNAN Finalisasi Konsep Rancangan Pola Proses Penetapan TAHAP III PROSES PENETAPAN Pola Pengelolaan SDA WS End Gambar 3. 3. misi.2 Visi. Misi. azas dan prinsip pengelolaan sumber air sesuai dengan paradigma baru yaitu : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -3 .1. Azas dan Prinsip sebagai Panduan Penyusunan Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air akan menggunakan visi.2 Bagan Alir Penyusunan Pola Sumber Daya Air.

(Persero) CABANG I MALANG Visi : Terwujudnya kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat. profesional dan akuntabel Pelibatan masyarakat dalam seluruh proses pembangunan - Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -4 . satu rencana. - pengendalian masyarakat dan sistem informasi SDA Keterpaduan antar sektor. Misi : Azas : - Konservasi sumber daya air Pendayagunaan sumber daya air Pengendalian daya rusak air Peran serta masyarakat Sistem informasi sumber daya air Kelestarian Keseimbangan Kemanfaatan umum Keterpaduan dan keserasian Keadilan Kemandirian Transparansi dan akuntabilitas Satu sungai. satu manajemen yang terkoordinasi berdasarkan wilayah sungai sebagai kesatuan pengelolaan Pengelolaan sumber daya air daya mencakup rusak. konservasi. antar instansi tanpa mengurangi kewenangan masing-masing - Keterpaduan antara air permukaan dan air tanah Upaya pendayagunaan diimbangi dengan upaya konservasi Proses rencana pengelolaan melibatkan seluruh stakeholder Penerapan kebijakan sumber daya air diselenggarakan secara demokratis dengan pelibatan semua unsur stakeholder berdasarkan asas tersebut diatas - Dalam jangka panjang implementasi kebijakan dilaksanakan oleh badan pengelola yang mandiri. antar wilayah. peran serta Prinsip : - - pendayagunaan.

PENDEKATAN OPERASIONAL FASILITAS LAPANGAN KANTOR STUDIO TRANSPORTASI KOMUNIKASI KUALITAS KAPASITAS OPERASIONAL EFEKTIF KOORDINASI INTERN EKSTERN EFISIEN ORGANISASI INTERN EKSTERN TEPAT TEPAT MUTU Gambar 3.3.3 Pendekatan Operasional Pelaksanaan Pekerjaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -5 . pendekatan operasional pelaksanaan pekerjaan dapat dilihat pada Gambar 3. Unsur-unsur utama yang mendukung dan mempengaruhi jalannya operasional proyek meliputi: Personil (Tenaga Ahli dan Tenaga Penunjang) Organisasi Sistem Koordinasi Fasilitas kerja Tempat (kantor dan base camp) Secara diagram.(Persero) CABANG I MALANG 3.2. agar tercapai hasil kerja yang optimal Konsultan akan menyiapkan rencana operasional proyek yang seefektif dan seefisien mungkin. PENDEKATAN OPERASIONAL Untuk pelaksanaan studi “Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito-Kapuas” ini.

sebaiknya digunakan pendekatan analisis sistem sumberdaya air secara holistik. multi-sektoral. dan antar-wilayah ini. multi-disiplin. multi-sasaran.ekonomis.3. ANALISIS AWAL PERMASALAHAN DAN UPAYA PENANGGULANGAN EVALUASI STRATEGI PENGELOLAAN AIR teknis.3.. yaitu: 1. dsb. dan menjelaskan urutan pelaksanaan dalam studi.kartu skor . PERUMUSAN KONDISI ANALISIS DAN PENDEKATAN ANALITIS RENCANA KERJA IDENTIFIKASI SASARAN PERENCANAAN DAN KRITERIA EVALUASI SASARAN DAN KRITERIA TAHAP ANALISIS TERPADU PERUMUSAN DAN ANALISIS STRATEGI PENGELOLAAN AIR PEMICU banjir. TAHAP INSEPSI TAHAP PERSIAPAN (pengumpulan data dan analisis sektoral) ANALISIS EKONOMI MAKRO DAN KELEMBAGAAN pola tata ruang populasi kelembagaan ANALISIS PENGGUNAAN AIR DAN AKTIVITAS YANG BERKAITAN pertanian. energi. sosial.peta . kekeringan. Kerangka Kerja Analitis Untuk memecahkan permasalahan perencanaan sumber daya air yang bersifat kompleks. dsb. air minum.1.kualitas air . operasi.4 Kerangka Kerja Analisis Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -6 . Pendekatan analisis sistem ini yang diterapkan pada Wilayah Sungai (WS) atau pada Daerah Aliran Sungai (DAS) ini dicirikan dengan adanya dua buah komponen utama.+ analisis sensitivitas PENYAJIAN HASIL laporan . database dan user-interface untuk mendukung Kerangka Kerja Analisis.hidrologi .erosi dan sed. 2.model database MASUKAN UNTUK PARA PENENTU KEBIJAKSANAAN Gambar 3.lingkungan dll. PENDEKATAN UMUM 3. perencanaan. komprehensif dan terpadu. multi-kriteria. industri. Kerangka Kerja Analisis (Framework for the Analysis) yang merupakan pola pikir. dll.(Persero) CABANG I MALANG 3. dan Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System) berupa model komputer. ANALISIS SISTEM SUMBERDAYA AIR .

distribusi air. atau program basis data yang khusus dibuat untuk menangani data masalah sumber daya air. 1985 ) kumpulan data yang diatur sedemikian rupa sehingga pencarian serta pemunculan data dapat dilakukan dengan sangat efisien. misalnya HYMOS. Kerangka Kerja Komputasi.3. program khusus basis data seperti dBase III. kebutuhan air. Basis data hidrometeorologi: hujan. klimatologi. Basis data dapat dikelola mulai dari program computer yang sederhana seperti Microsoft Excel. air tanah.2. • Mempertinggi keluwesan akses data. debit. Data yang ada sebaiknya disusun dalam basis data. Basis data merupakan bank data yang berfungsi untuk memberikan masukan pada model computer. 3. untuk tujuan sebagai berikut : • • Mempermudah koordinasi penyimpanan dan pemeliharaan data Menghindarkan timbulnya duplikasi data yang dapat mengakibatkan pemborosan media penyimpanan data serta mengurangi keandalan data yang tepat waktu. Perangkat lunak ini dikembangkan pada tahap persiapan dan terdiri atas: • • Basis data (data base ) Kumpulan model matematis yang konsisten terdiri atas model ketersediaan air. dicetak pada kertas sebagai laporan atau dipindahkan pada media penyimpanan data (misalnya dalam CD) Basis data adalah (Kukstehl.3. dan lain sebagainya.3. model erosi. Idealnya basis data pengembangan sumber SDA terpadu adalah mencakup antara lain : • • Basis data ekonomi dan kependudukan pada tingkat kabupaten dan kecamatan. Pembuatan kerangka kerja komputasi ini biasanya memakan banyak waktu dan biaya. juga untuk permasalahan yang serupa pada Daerah Aliran Sungai yang lain. model air tanah.(Persero) CABANG I MALANG 3. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -7 . Kerangka kerja komputasi adalah perangkat lunak untuk membantu analitis pada tahap persiapan serta tahap analisis. tetapi jika basis data serta model sudah tersedia maka akan sangat memudahkan analisis selanjutnya. sehingga data dapat dilihat pada layer. Basis Data.

Model erosi. operasi. skematis daerah aliran sungai dan mengalokasikan pembagian air sesuai prioritas yang telah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -8 . sebab pelaksanaan perhitungannya • • • • biasanya dilakukan dengan bantuan computer. akan digunakan model hidrologi untuk menelaah situasi ketersediaan air dengan HYMOS. dan lain sebagainya. program dinamis). Untuk meneliti kondisi system pada saat ini. 3. aturan operasi waduk serta bendung. inferensi. Model matematis kerap kali dinamakan juga sebagai model computer. Teknik probabilistic ( teori antrian. kebutuhan air untuk masing masing pengguna air. erosi dan sedimentasi dan lain lain. program non linear. Selain itu bilamana perlu dapat ditambahkan juga penggunaan beberapa model antara lain sbb: • • • • • Model air tanah. teori keputusan). Basis data lainnya: kualitas air. Tahap analisis penggunaan air serta aktivitas yang berkaitan dengan air. teori persediaan ). Teknik simulasi Untuk system SDA yang kompleks seperti wilayah sungai BARITO . Model analisa banjir. Model Matematis. Model matematis adalah kaitan fungsional antara masukan dan keluaran. infrastruktur.(Persero) CABANG I MALANG • • Basis data jaringan sumber daya air: skematis.3. dan Tahap analisis terpadu. Model komputer ini dapat dibagi menurut peranannya dalam tahapan yang ada pada kerangka kerja analitis yaitu : • • • • Tahap analisis ekonomi makro dan kependudukan. berfungsi mensimulasikan alokasi air pada jaringan skematis daerah aliran mengingat kebutuhan air untuk berbagai pengguna air. Model sedimentasi.4. Model matematis dapat menggunakan satu atau lebih teknik analitis sebagai berikut: Teknik optimasi (program linear.KAPUAS akan digunakan metode simulasi. untuk menirukan keadaan sebenarnya di dalam dunia nyata. Tahap analisis system saat ini. Model kualitas air Model untuk melaksanakan analisa terpadu. Teknik statistic (multivariate.

yaitu : a) Kegiatan Pendahuluan b) Survey dan Inventarisasi Data c) Pengolahan dan Analisis Data d) Identifikasi Rencana Pengembangan Sumber Daya Air e) Analisis Strategi Pola Pengelolaan SDA wilayah sungai 3. Alinea ke-4 Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Undang-undang No. 6. 2.(Persero) CABANG I MALANG ditentukan dan air yang tersedia. Undang-undang No. dimana otonomi seluas-luasnya diberikan bagi Pemerintah Kabupaten/Kota. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. PENDEKATAN HUKUM Penyusunan “Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito-Kapuas” ini mengacu kepada peraturan perundangan yang lahir sesuai arah kebijakan politik. Secara berjenjang. 7. maka akan digunakan program khusus untuk simulasi wilayah yaitu RIBASIM. kegiatan yang akan dilaksanakan untuk menyelesaikan pekerjaan Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah sungai BARITO . 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Undang-undang No.4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -9 . 4. 3. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air Undang-undang No. peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai tersusun dengan urutan sebagai berikut : Undang-Undang Dasar 1. Undang-undang No. Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 Undang-Undang 1. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. 5. Secara garis besar. 2. Undang-undang No.KAPUAS ini terdiri dari 5 (lima) Kegiatan utama. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Mengingat system tata air yang dikaji sangat kompleks dan rumit.

Peraturan Daerah 3. Memantau dan Mengevaluasi Sumber Daya kegiatan Air dan Sumber Pendayagunaan Pengendalian Daya Rusak Air. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Daya Air. Konservasi Melaksanakan. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 2006 tentang tentang Irigasi. 5.(Persero) CABANG I MALANG Peraturan Pemerintah 1.5. Peraturan Pemerintah No. Keputusan Presiden Keputusan Presiden No. Peraturan Pemerintah No. 3. PENDEKATAN PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI BARITO .5. 35 Tahun 1991 tentang Sungai. Pola Pengelolaan Sumber Daya Air merupakan Kerangka Dasar dalam Merencanakan.KAPUAS dengan Prinsip Keterpaduan antara Air Permukaan dan Air Tanah serta Keseimbangan Upaya Konservasi dan Pendayagunaan Sumber Daya Air. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 123 Tahun 2001 tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air. 3.(Pasal 1 ayat 8 UU No 7 tahun 2004) pada Wilayah Sungai BARITO .1 Penentuan Responden Penentuan Responden dalam analisis Penyusunan Pola Pengelolaan SDA ditetapkan berdasarkan teknik Purposive Sampling dengan pertimbangan bahwa Responden adalah pelaku (Individu atau Lembaga) yang mempengaruhi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -10 .KAPUAS Untuk menjamin terselenggaranya PSDA yang dapat memberikan manfaat yang sebesar besarnya bagi kepentingan masyarakat dalam segala bidang kehidupan disusun Pola Pengelolaan Sumber Daya Air. 2. 4.

Responden yang ditetapkan adalah sebagai berikut : a.KAPUAS. Alur pengembangan Kriteria dan Ukuran Evaluasi b. Universitas e. Kehutanan d.6. Persiapan Personil dan Administrasi Konsultan akan mengerahkan tenaga ahli dengan koordinasi oleh Direktur Teknik Perusahaan dalam rangka pelaksanaan pekerjaan.6. Wakil Pengguna Air c.5. 3. Wakil Pemerintah Daerah b. Survey dan Inventarisasi Data Data-data yang dikumpulkan pada uraian pendekatan umum akan dilakukan review untuk dijadikan bahan masukan dalam kegiatan ini. PENDEKATAN TEKNIS PENYUSUNAN POLA WS BARITO .1. Pembangkitan Alternatif dan Evaluasi rekayasa.2. LSM 3.KAPUAS Tahapan dalam metodologi pelaksanaan diuraikan secara ringkas dan mengacu pada tahapan kegiatan seperti pada KAK.(Persero) CABANG I MALANG penyusunan Pola Pengelolaan SDA. 3.6. Secara ringkas tahapan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut : 3. Beberapa item kegiatan yang akan dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -11 . baik langsung maupun tidak langsung di Daerah Aliran Sungai pada wilayah sungai BARITO .2 Tahapan Analisis Metode pengambilan keputusan pemilihan alternatif tindakan pola Pengelolaan SDA untuk pencapaian pengelolaan SDA berkelanjutan dilakukan dengan dua pola alur analisis pengambilan keputusan yaitu : a.

Sebagai pendekatan holistrik dan sintetik 2. 3. Mempertimbangkan lahan secara keseluruhan di dalam penilaiannya.2 Inventarisasi Kondisi Existing Water District Tahap ini merupakan penjabaran dari model Ribasim atau Ribasim District yang menganalisis berdasarkan district level.1 Informasi Kondisi Fisiografis Lahan Item kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan kondisi tata guna lahan pada wilayah sungai BARITO . Pendekatan sistem evaluasi lahan dan penilaian lokasi (Land Evaluation and Site Assesment = LESA) yaitu suatu sistem untuk membantu instansi yang terkait untuk membuat keputusan-keputusan dalam perencanaan penggunaan lahan. Inventarisasi yang dilakukan adalah sejauh mana manajemen sumber daya air yang telah dikelola oleh suatu institusi kemudian akan didekati dengan analisis run off model balance. Menggunakan kerangka bentuk lahan (land form framework) untuk mengidentifikasi kan satuan daerah secara alami c. Pendekatan yang akan dilakukan pada tahap informasi kondisi fisiografis lahan adalah sifat fisik lahan yang merupakan dasar bagi perencanaan penggunaan lahan yang rasional. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dengan diperkenalkannya sistem informasi berbasis SIG. Pendekatan fisiografik (physiographic approach) a.2. Pendekatan parametrik (parametric approach) yaitu sistem klasifikasi dan pembagian lahan atas dasar pengaruh atau nilai ciri lahan tertentu dan kemudian mengkombinasikan pengaruh-pengaruh tersebut untuk memperoleh kesesuaiannya. yaitu untuk memetakan tanah dengan skala kecil yang diperlukan untuk Masterplan.6.6.KAPUAS secara umum dan kajian hasil studi dari beberapa instansi terkait. b. Kelanjutan inventarisasi kondisi water distric ini adalah analisis water Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -12 . Pendekatan mengatasi masalah konservasi lahan meliputi : 1.(Persero) CABANG I MALANG 3. Beberapa pendekatan yang dilakukan adalah sebagai berikut : • • Pendekatan bentangan (Landscape Approach).2. Sacramento model dan total demand dalam suatu distric.

7 tahun 2004 disebutkan bahwa penentuan prioritas alokasi air adalah sebagai berikut : • Prioritas A : • Prioritas B : • Prioritas C : Air minum rumah tangga Pertahanan & keamanan nasional Peribadatan Usaha perkotaan (kebakaran. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -13 . Pada undang-undang no. taman) Pertanian Pertanian rakyat dan usaha pertanian lainnya Peternakan Perkebunan Perikanan Ketenagaan Industri Pertambangan Lalu Lintas air Rekreasi B. Identifikasi Permasalahan / Problem / Constraint Pada tahap ini konsultan akan melakukan inventarisasi permasalahan sumber air di wilayah sungai BARITO . Inventarisasi Kondisi Existing Demand Cluster Pada tahap ini akan dikumpulkan data water user yang terkait dengan demand secara hirarki. Inventarisasi ini akan memperoleh besaran kebutuhan air untuk berbagai keperluan dan prioritas masing-masing yang disusun secara hirarki. Pembuatan Peta Kerja Yang dimaksud kegiatan ini adalah konsultan akan menyiapkan peta kerja bersumber dari peta skala 1:50.000 Bakosurtanal.KAPUAS tersebut berdasarkan data sekunder yang terkumpul dan hasil studi terdahulu D. Dari peta tersebut yang akan dibagi berdasarkan masing masing Sub WS akan diperoleh jumlah situ atau mata air masing masing sub WS. Pengumpulan Peta Geographic Information System C. penggelontoran. Wilayah Kecamatan dan Kabupaten masing masing akan diplot dalam peta wilayah sungai tersebut untuk memperjelas DAS masing masing wilayah.(Persero) CABANG I MALANG A.

Inventarisasi Kelembagaan Tahap ini team akan mengumpulkan data tentang kelembagaan yang ada diwilayah sungai BARITO .1.(Persero) CABANG I MALANG E.Undang dan Peraturan lainnya yang terkait dengan Pengelolaan SDA baik tingkat Nasional maupun Daerah. F. 3.6.3.3.3. Studi Khusus Metodologi dalam studi khusus ini diuraikan secara ringkas untuk masingmasing komponen sebagai berikut : 3.6.KAPUAS yang berkaitan dengan pengelolaan SDA.3. pendayagunaan dan daya rusak air.2. Kajian Hidrologi dan Air Tanah Kegiatan ini mencakup review data dan review analisis terdahulu berkaitan dengan hidrologi baik ketersediaan air maupun debit banjir kemudian akan dilakukan re. Inventarisasi Perundang Undangan Team akan melakukan pengumpulan data mengenai Undang.6. 3.KAPUAS berdasarkan data yang ada. Kaji Ulang Data Terdahulu Pada tahap ini konsultan akan melakukan review data sekunder berupa laporan dan gambar hasil studi terdahulu dan menyusun kesimpulan yang akan menjadi bahan untuk evaluasi dan membandingkan dengan kondisi sekarang. Kajian Tata Ruang Wilayah Kabupaten / Kota Kajian mengenai RTRW akan dilakukan berdasarkan data RTRW yang ada dan memberikan masukan hasil analisis kondisi saat ini yang dikaitkan dengan sumber daya air baik konservasi. Kajian Air tanah akan dilakukan dengan melakukan inventarisasi penggunaan saat ini dan kondisi yang ada serta mempelajari potensi hidrolgeologi pada wilayah sungai BARITO . Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -14 . 3.analisis berdasarkan water district dan demand cluster saat ini dengan model simulasi.3.6.

5. data sekunder yang ada. Ditujukan masyarakat.6. (Sumber Penjelasan pada UU No 7 / 2004 tentang SDA) Pertemuan Konsultasi Masyarakat wajib dilaksanakan dalam proses penyusunan rencana dan kegiatan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai dengan ketentuan : a.4. 3. Konsultasi publik bertujuan mencegah dan meminimalkan dampak sosial yang mungkin timbul serta untuk mendorong terlaksananya transparansi dan partisipasi dalam pengambilan keputusan yang lebih adil. peta kawasan lindung akan dilakukan kajian mengenai kondisi saat ini dan permasalahan yang ada.KAPUAS. Kajian Sosial Ekonomi dan Budaya serta Lingkungan Tahap ini akan melakukan kegiatan wawancara langsung dengan responden terpilih untuk mendapatkan masukan mengenai kondisi sosial ekonomi dan lingkungan.6.6. Serta rekomendasi tindak lanjut kedepan yang dikaitkan dengan kondisi SDA wilayah BARITO . permasalahan. Pelibatan masyarakat dan dunia usaha dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air dimaksudkan untuk menjaring masukan. Pertemuan Konsultasi Masyarakat Yang dimaksud dengan konsultasi publik adalah upaya menyerap aspirasi masyarakat melalui dialog dan musyawarah dengan semua pihak yang berkepentingan.KAPUAS.3.4.3.6.6. 3. Pelibatan masyarakat dan dunia usaha tersebut dilakukan melalui konsultasi publik yang diselenggarakan minimal dalam 2 (dua) tahap. Kehutanan dan Perkebunan Berdasarkan peta penggunaan lahan. Kajian Pertanian. 3.3. dan/atau keinginan dari para pemilik kepentingan (stakeholders) untuk diolah dan dituangkan dalam arahan kebijakan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai. Kajian Kelembagaan dibidang SDA Berdasarkan data kelembagaan yang ada akan dilakukan kaji ulang dilapangan kondisi masing masing kelembagaan yang ada saat ini dan keterlibatannya dalam pengelolaan SDA di wilayah sungai BARITO . untuk serta memperoleh untuk dan mengkoordinasikan kesepakatan aspirasi atas tercapainya bersama kebijakan/ pola/ rencana yang dirumuskan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -15 .(Persero) CABANG I MALANG 3.

Pengusahaan sumber daya air pada bagian wilayah sungai masih dimungkinkan untuk dilakukan oleh perorangan. Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (Pertama) dan II (Kedua) akan dilaksanakan di Propinsi Sulawesi Selatan. serta badan usaha milik daerah dan swasta. c. dan/atau keinginan masyarakat dan dunia usaha atas pengelolaan sumber daya air wilayah sungai.(Persero) CABANG I MALANG b. dan rencana pengusahaan ini diharuskan untuk melalui Pertemuan Konsultasi Masyarakat terlebih dahulu.5. Konsultasi publik tahap pertama dimaksudkan untuk menjaring masukan. permasalahan. Perumusan Masalah Dalam kegiatan ini akan dilakukan Penyusunan Program Komponen Pengelolaan SDA. Dalam perumusan tersebut akan dibahas mengenai : o Pendayagunaan SDA melalui pendekatan ekosistem wilayah sungai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -16 . sehingga sebagai komponen masyarakat dunia usaha harus diikutkan dalam pertemuan konsultansi masyarakat. 3. badan usaha milik negara. Dunia usaha yang dimaksud di sini adalah koperasi. Perumusan Hasil Studi Khusus c. Konsultasi publik tahap kedua dimaksudkan untuk sosialisasi pola yang ada guna mendapatkan tanggapan dari masyarakat dan dunia usaha yang ada di wilayah sungai yang bersangkutan. badan usaha maupun kerjasama badan usaha. Melibatkan pihak-pihak dalam masyarakat yang berkepentingan terhadap pengelolaan sumber daya air Informasi tentang rancangan rencana pengelolaan sumber daya air disampaikan terlebih dulu sebelum Pertemuan Konsultasi Masyarakat dilaksanakan Apabila dunia usaha akan menggunakan sumber daya air di wilayah sungai maka dunia usaha harus dilibatkan sejak dari perencanaan.6. Perumusan hasil Pertemuan Team Nara Sumber dan Pembina. Tiga tahapan perumusan yang akan dilakukan mencakup : a. Perumusan Hasil Pertemuan Konsultasi Masyarakat b.

hubungannya dengan sistem pelaporan.(Persero) CABANG I MALANG o o Pengendalian daya rusak air termasuk sistem pengendalian banjir dan penanganan kekeringan Konservasi SDA termasuk penanganan lahan kritis secara struktur maupun non struktur 3. peta geologi dan lain-lain. 2. Rencana ini didasarkan pada prinsip Optimalisasi. jadwal kerja dan hubungan antara input-proses dan output dari pekerjaan. Efisiensi.6. Berlanjut. Team Konsultan dan Nara Sumber menganalisa masing jadwal pembiayaan. Selain itu juga perlu analisa terhadap dampak rencana yang diusulkan dan usulan kegiatan.1. Dapat diterima. peta tata guna lahan. A. Setiap komponen didukung oleh sejumlah usulan kegiatan. Kajian terhadap rencana tata ruang wilayah Propinsi. dan dikelola dengan baik serta sesuai dengan kebijakan pembangunan Nasional. peta tata ruang. kabupaten dan kota Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -17 . Analisis Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai BARITO – KAPUAS Metodologi yang digunakan dalam penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO . Kajian terhadap peta penunjang. Usulan kegiatan dikelompokkan berdasarkan aspek struktural dan masing usulan kegiatan dan menyusun perkiraan non struktural biaya dan dan ditetapkan prioritas.6. Pengkajian Data Kajian terhadap data-data hasil survey lapangan dan inventarisasi data dalam pelaksanaan pekerjaan ini meliputi : 1. Analisis Pada tahap ini akan dilakukan analisis yang meliputi pengidentifikasian komponen. pengelompokan dan penetapan prioritas usulan kegiatan. analisa dampaknya dan penyusunan jadwal pembiayaan. Pemerataan. yang terdiri dari dari peta topografi.6. alat/ software yang digunakan dalam mencapai tujuan pekerjaan dan pendekatan pelaksanaan studi.6. Dengan kata lain akan melalui proses Tujuan diterapkan dan Strategi Dirumuskan.KAPUAS akan berisi tentang urutan pelaksanaan pekerjaan. 3.

Kajian terhadap data hidrologi meliputi data curah hujan. geografi. kebutuhan air irigasi 12. Kajian terhadap data pertanian yang meliputi data pola tanam dan lainlain 11.(Persero) CABANG I MALANG 3. Kajian terhadap data kualitas lingkungan keairan yang meliputi kualitas air sungai dan danau. Kajian terhadap populasi dan data sumber daya manusia 9.KAPUAS di Propinsi Sulawesi Selatan yang mencakup aspek hidrologi. Kondisi fisik Wilayah Sungai BARITO . Pengelolaan wilayah sungai yang mencakup kelembagaan. Kajian terhadap data Kelembagaan Dari kunjungan ke lapangan kemudian dilakukan Kajian terhadap beberapa aspek yaitu : 1. data debit. sumber pencemar dan lain-lain 7. hasil tata guna lahan dan tata ruang 6. Kajian terhadap konservasi sumber daya air saat ini dan identifikasi dari rencana yang akan datang 8. organisasi formal dan informal 4. Pengembangan wilayah sungai yang mencakup data kependudukan. data air tanah dan lain-lain 5. Kajian terhadap kebijakan-kebijakan yang terkait dan hasil studi terdahulu (di Propinsi) 4. Pembangunan daerah dan permasalahan sumber daya air di daerah Berdasarkan masukan data dan informasi tersebut diatas. luas genangan banjir dan lain-lain sebagainya 13. kemudian dilakukan prosesing dan analisa dengan menggunakan perangkat lunak HYMOS (Hydrological Model System) yaitu suatu perangkat lunak yang merupakan sistem basis data dan pengolahan data hidrologi yang terpadu dan RIBASIM Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -18 . budaya 3. Kajian terhadap data sosial ekonomi yang mendukung penyusunan pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai 10. Kajian terhadap data irigasi yang meliputi luas daerah irigasi. Kajian terhadap kondisi tata guna lahan saat ini meliputi peta tata guna lahan. topografi. peta daerah irigasi. Kajian terhadap informasi tentang banjir dan kekeringan yang pernah terjadi meliputi daerah yang terjadi banjir dan kekeringan. sosial. ekonomi. lingkungan dan lainlain 2.

Menganalisis kebutuhan air antar sektor pada saat ini dan proyeksinya di masa yang akan datang untuk setiap Demand Cluster 4. RIBASIM menjelaskan mengenai user interface. uraian singakat hasil simulasi. Menganalisa ketersediaan air di setiap Water District dan total Wilayah Sungai 6. berbagai pilihan visual. Identifikasi dan Upaya Strategis Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh dengan menggunakan perangkat lunak HYMOS dan RIBASIM. Membagi Wilayah Sungai ke dalam beberapa distrik air (Water District) yang dikaitkan dengan Demand Cluster-nya 5. Dalam mengidentifikasi upaya strategis tersebut. dilakukan melalui rangkaian kegiatan sebagai berikut : 1. Menghitung neraca air bulanan di setiap pasangan Water District dan demand cluster juga untuk total Wilayah Sungai 7. RIBASIM (River Basin Simulation) adalah salah satu perangkat lunak yang diperlukan dalam program DSS (Decision Support System). selanjutnya diidentifikasi upaya-upaya startegis yang diperlukan dalam pengelolaan sumber daya air Wilayah Sungai BARITO KAPUAS. RIBASIM merupakan salah satu perangkat lunak yang paling utama dalam DSS sehingga sering disebut DSS RIBASIM. 2) Perhitungan kebutuhan air. 3) Pengoperasian bangunan waduk dan bangunan pelimpah. Menghitung tingkat pemakaian air sekarang dan proyeksinya dengan menggunakan indicator Indeks Penggunaan air dan menentukan tingkat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -19 . format data. data yang diperlukan. Mengidentifikasi skenario pengembangan wilayah sebagai basis untuk proyeksi kebutuhan air 2. prosedur pemasukan. Dalam DSS RIBASIM dilakukan simulasi neraca air dan alokasi air di WS dengan berdasarkan pasokan dan kebutuhan air. prosedur penggunaan untuk kepentingan yang lain. prosedur untuk melakukan running berbagai komponen yang ada. seperti : 1) Skematisasi WS.(Persero) CABANG I MALANG (River Basin Simulation) suatu perangkat untuk melakukan simulasi pengembangan sumber daya air. detail konsep dasar pembuatan model dan simulasi WS. Mengelompokan daerah di wilayah sungai ke dalam beberapa kelompok pengguna (Demand Cluster) yang mengacu pada rencana tata ruang 3. 4) Pemilihan pengelolaan air B.

5 memperlihatkan diagram alir pelaksanaan penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO KAPUAS. Alih Pengetahuan Kegiatan ini dimaksudkan untuk melakukan transfer hasil analisis khususnya yang menggunakan software yaitu Hymos dan Ribasim yang akan dimanfaatkan oleh staf Satuan Kerja dilingkungan Ditjen SDA di Jakarta. Penyusunan Rancangan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO KAPUAS Berdasarkan hasil-hasil analisis pada sub-bab tersebut di atas selanjutnya disusun Konsep Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai BARITO KAPUAS.KAPUAS yang sesuai dengan kelima pilar yang tertuang dalam UU No. Berdasarkan ringkasan Metodologi diatas gambar 3.KAPUAS yang sifatnya lintas Propinsi perlu ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dalam bentuk Keputusan Presiden atau Keputusan Menteri yang ditunjuk.7 Tahun 2004 tentang SDA. Untuk itu perlu ditentukan alternatif prioritas penanganan dalam Pola Pengelolaan SDA WS.8.(Persero) CABANG I MALANG kestabilan berupa perbandingan antara debit minimum dan debit maksimum dam indicator coefisient of variation (CV) debit sungai 3. Penetapan Proses penetapan Pola Pengelolaan SDA WS BARITO . Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -20 .6. 3.6.9. 3.7. BARITO .6.

(Persero) CABANG I MALANG Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -21 .

(Persero) CABANG I MALANG Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -22 .

5 Diagram Alir Pelaksanaan Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 3.KAPUAS Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -23 .

Perubahan status dan wewenang pemerintahan daerah yang otonom ini merupakan salah satu kendala yang sangat berpengaruh terhadap manajemen terpadu suatu WS.(Persero) CABANG I MALANG BAB 4 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 4.22/1999).1.1 ANALISIS TATA RUANG 4. Kabupaten dan Kota bersifat otonom. Perkembangan yang pesat di Kabupaten Barito Timur sebagai salah satu Kabupaten di Kalimantan Tengah menimbulkan aktivitas kegiatan produksi dan industri yang sangat tinggi. dengan demikian setiap daerah pemerintahan berwenang mengelola sumberdaya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dengan adanya Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah (Revisi UU No. Secara administratif. yang di dalamnya juga terdiri dari beberapa kabupaten/kota.1 Analisis Kebijakan Tata Ruang Wilayah Sungai (WS) merupakan suatu wilayah kesatuan ekosistem bentang lahan yang dibatasi oleh puncak-puncak gunung ataupun perbukitan yang menghubungkannya.Kapuas mencakup dua wilayah Provinsi yaitu Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Kebijakan otonomi tersebut cenderung untuk memicu konflik pengelolaan WS yang terpadu. khususnya dalam hal mewujudkan One River One Plan One Management. di dalamnya sistem sungai yang saling berhubungan. seperti : 1. curah hujan yang jatuh dialirkan melalui sistem sungai tersebut dan keluar melalui satu outlet tunggal. Wilayah Sungai Barito . WS Barito Kapuas merupakan salah satu WS yang bermuara di laut Jawa. yang secara geografis melintasi beberapa kota/Kabupaten. akibat adanya konflik kepentingan masingmasing wilayah yang tercakup dalam WS. Kawasan dan Pengelolaan WS menjadi parsial Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -1 . yang antara lain menegaskan bahwa setiap pemerintahan Daerah Provinsi.

Kapuas merupakan gambaran ideal pemanfaatan ruang wilayah WS Barito . Sulit dilaksanakan koordinasi antar Kabupaten/Kota 5. 4. kurang mempertimbangkan mana yang seharusnya kawasan budidaya dan mana yang seharusnya merupakan kawasan non budidaya. Berikut adalah kerangka pikir dasar dalam penyusunan peta penataan ruang ideal WS Barito-Kapuas. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -2 .1.300 ha atau sekitar 18% dari luas Kalimantan Tengah (153.(Persero) CABANG I MALANG 2. Kabupaten Pulang Pisau (5 kecamatan).650 km2). Selain Wilayah Kabupaten/Kota di WS Barito . Masing-masing Kabupaten/Kota memiliki kepentingan yang berbeda terhadap Wilayah Sungai 4. Kabupaten Kapuas (10 kecamatan) dan Kabupaten Barito Selatan (4 kecamatan) dengan luas wilayah mencapai 2. Kewenangan dalam mengelola WS berada pada masing-masing Kabupaten/Kota (terpecah-pecah /tidak terpadu) 3. Karena alasan kepentingan tiap daerah maka dalam RTRW Kabupaten/Kota. Masing-masing Kabupaten/Kota memiliki ’cara pandang’ yang berbedabeda terhadap keutuhan WS sebagai suatu ekosistem. Dalam menyususun peta penataan ruang ideal WS Barito-Kapuas diperlukan beberapa data pendukung yang merupakan satu kesatuan tak terpisahkan dari peta penataan ruang ideal. yaitu dengan perincian Kota Palangkaraya (2 kecamatan). Perwujudan ruang yang dihasilkan belum mempertimbangkan bagaimana kondisi eksisting pemanfaatan lahan dan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat setempat (kegiatan perekonomian).Kapuas berdasarkan kajian dan perhitungan teoritis terkait fisik wilayah.767.Kapuas. Namun kondisi ideal ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan teoritis yang penting dalam merumuskan arahan pemanfaatan ruang di wilayah WS Barito . Penataan ruang ideal WS Barito .2 Konflik Pemanfaatan Ruang Perbedaan kepentingan tiap wilayah Kabupaten/Kota akan menimbulkan konflik dalam pemanfaatan ruang.Kapuas ini juga terdapat KSP (Kawasan Sentra Produksi) dan Kawasan KAPET DAS KAKAP (Kahayan-Kapuas-Barito) mencakup 4 (empat) daerah tingkat II dan 21 (dua puluh satu) kecamatan.

(Persero) CABANG I MALANG PETA RESIKO BENCANA GERAKAN TANAH PETA RESIKO BENCANA BANJIR PETA HIDROGEOLOGI PETA RESAPAN PETA HASIL ANALISIS UNTUK PENATAAN RUANG IDEAL PETA KONSERVASI Gambar 4.1 Penentuan Ruang Ideal WS Barito .Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -3 .

SAMPIT SAMPIT SAMPIT SAMPIT SAMPIT SAMPIT . PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN .2 Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -4 . Hutan Produksi Hutan Produksi Terbatas Permukiman dan Pengemb . MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH LEGENDA : Ibukota Kecamatan Ibukota Kabupaten Ibukota Propinsi Batas Kecamatan KAWASAN LINDUNG : CA HL TN CB TW DAN PPH Cagar Alam Hutan Lindung Taman Nasional Cagar Budaya Taman Wisata Danau Perlindungan Pelestarian Hutan Suaka Margasatw a . PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU . . T1 T2 Kaw Pengemb Produksi HPP KK Gambar 4. . KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS .(Persero) CABANG I MALANG PETA RTRW PROPINSI KALIMANTAN TENGAH PUTUSSIBAU PUTUSSIBAU PUTUSSIBAU . SANGAU SANGAU SANGAU SANGAU SANGAU SANGAU Hutan lindung . . . . BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK Batas Kabupaten Batas Propinsi Batas SWS Barito PALANGKARAYA ! PALANGKARAYA TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG . KAWASAN BUDIDAYA HPT . HP KPPL KPP HTI Hutan Produksi Terbatas Hutan Produksi SM Kaw asan Pemukiman dan Pengembangan Lainnya Kaw asan Pengembangan Produksi Hutan Tanaman Industri Areal Transmigrasi Rencana Areal Transmigrasi Hutan Pendidikan & Penelitian Kaw asan Khusus ! .TAMIANG LAYANG .

3 Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -5 .(Persero) CABANG I MALANG PETA RTRW PROPINSI KALIMANTAN SELATAN Hutan Lindung Hutan Produksi Tetap Tanjung Barabai Kandangan Rantau Kota Banjarmasin Perkebunan Pertanian Lahan Basah Permukiman Perkebunan Gambar 4.

Di dalam Peraturan Pemerintah No. Kriteria WS Barito . mengingat bahwa WS Barito . Pada prinsipnya. DEVELOPMENT Mengarahkan Pembangunan (Direct Development ) PREVENTIF Zoning Development control.Kapuas.Kapuas yang berada dalam wilayah lebih dari satu kabupaten/kota. Bab II Pasal 2 ayat 3.(Persero) CABANG I MALANG 4. dll KURATIF Enforcement . yang sifatnya preventif (pencegahan) dapat berupa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -6 . sifat pengendalian pemanfaatan ruang dapat dibedakan menjadi kriteria preventif (pencegahan) dan kriteria kuratif (pengobatan).Kapuas dimaksudkan sebagai perangkat pengendalian pemanfaatan ruang di Kawasan WS. Site Plan Control. RDTRK Insentif Sumber: Zulkaidi. sedangkan kewenangan penataan perwilayahan ekosistem WS Barito . dalam Pekerjaan Apresiasi NSPM Penataan Ruang Kabupaten dan Kota di Wilayah I (Sumatera). Development Permit. angka 13 Bidang Penataan Ruang ditetapkan bahwa “Penetapan kriteria penataan perwilayahan ekosistem daerah tangkapan air pada daerah aliran sungai merupakan kewenangan Pemerintah Pusat”. Disinsentif. agar tidak terjadi penyimpangan pemanfaatan ruang sehingga berakibat pada kerusakan lingkungan. Ditjen Penataan Ruang – Departemen Pekerjaan Umum: 2005 Kriteria pemanfaatan ruang. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom.Kapuas. Pemerintah Pusat berwenang untuk menetapkan kriteria dimaksud. Mendorong Pembangunan (Promote Development ) RTRWK. sebagai bentuk perangkat pengendalian pemanfaatan ruang. Dengan demikian. Penetapan kriteria WS Barito .Kapuas dilakukan dengan berpedoman pada kriteria pemanfaatan ruang di wilayah WS normatif kemudian disesuaikan dengan permasalahan yang timbul di wilayah WS Barito .1.Kapuas dibutuhkan sebagai panduan pemanfaatan ruang di wilayah WS Barito . Denny.Kapuas berada di Provinsi.3 Arahan Pemanfaatan Ruang Wilayah Sungai Arahan pemanfaatan ruang WS Barito . Rencana Detail Tata Ruang dan Zoning Regulation.

Kapuas adalah arahan pengelolaan kawasan yang berfungsi lindung. kehutanan. kawasan resapan air.(Persero) CABANG I MALANG pengaturan pemanfaatan ruang (zonasi).Kapuas memiliki beberapa jenis kawasan lindung seperti: 1.Kapuas. Secara umum. Kriteria penetapan Kawasan Lindung dibedakan menjadi kawasan lindung yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap wilayah WS Barito . baik bawah tanah atau air permukaan serta sebagai pencegah banjir dan erosi. dll. Salah satu aspek penting dalam penataan wilayah ekosistem WS Barito . Sementara kriteria penetapan Kawasan Budidaya dibedakan menjadi budidaya perkotaan dan budidaya non perkotaan. jasa dan industri. ekosistem WS Barito . perdagangan.1. kriteria pemanfaatan ruang dirumuskan untuk masingmasing klasifikasi kawasan. kriteria penetapan dibagi dua.Kapuas. 32 Tahun 1990 tentang Kawasan yang berfungsi lindung. pertanian. kawasan hutan lindung. Berdasarkan Keppres No. Pengelolaan kawasan yang berfungsi lindung merupakan salah satu aspek penting dalam pengembangan wilayah ekosistem WS Barito . dan sebagainya. dll.1 Arahan Kawasan Non Budidaya/Kawasan Lindung Kawasan lindung merupakan kawasan yang memiliki sifat khas yang mampu memberikan perlindungan pada pengaturan tata air. Dalam konteks pengendalian pemanfaatan ruang WS.3. Kawasan yang Memberikan Perlindungan Kawasan Di Bawahnya 2. kawasan mata air. 4. Kawasan Perlindungan Setempat 3. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -7 . maupun pemeliharaan kesuburan tanah. Termasuk dalam kawasan lindung berpengaruh langsung antara lain adalah Kawasan Sempadan Sungai. masing-masing untuk kawasan lindung dan kawasan budidaya. Termasuk dalam kawasan budidaya perkotaan adalah kawasan permukiman. Kawasan budidaya non perkotaan sendiri meliputi kawasan perkebunan. sedangkan perangkat pengendalian pemanfaatan ruang yang sifatnya untuk mendorong pembangunan dengan memperhatikan perbaikan kondisi dan permasalahan dapat berupa arahanarahan dan rencana penataan ruang.

kecuali Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya. • Pada Kawasan Resapan Air selalu di hulu WS. meliputi: Tidak selalu ada di daerah pengaliran sungai.000 m atau lebih (arahan provinsi). Namun demikian. Jika terdapat kawasan resapan air.(Persero) CABANG I MALANG Dari ketiga klasifikasi kawasan lindung tersebut. Di samping kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. meliputi sungai-sungai pada Wilayah Sungai Barito . kawasan ini lokasinya tidak Sempadan Sungai (sepanjang Sungai). tampak bahwa pada daerah aliran sungai (DAS) sebagai wilayah ekosistem sumberdaya air secara eksplisit dan langsung belum termasuk dalam kawasan lindung.000 m atau lebih (arahan nasional) atau elevasinya 1. maka beberapa arahan umum yang dapat diberikan dalam pengembangan penetapan kawasan lindung antara lain adalah: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -8 . kedua kawasan tersebut tidak dapat diharapkan dapat mendukung upaya perlindungan terhadap daerah aliran sungai secara langsung. prioritas penanganan untuk kawasan suaka alam dan cagar budaya relatif lebih rendah jika dibandingkan terhadap kedua klasifikasi kawasan lindung lainnya. kawasan perlindungan setempat pun mampu menjadi elemen pendukung pelestarian WS.Kapuas beserta sungai-sungai kecil lainnya. seperti : wilayah dengan kelas kelerengan 40% atau lebih dan elevasinya 2. Oleh karena itu. Dari berbagai jenis kawasan lindung yang paling diharapkan dapat menunjang kawasan WS adalah kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya.Kapuas. hanya dua kategori yang berpengaruh secara langsung terhadap wilayah sungai Barito . Dari kriteria pengelolaan kawasan lindung yang terdapat dalam RTRWP 2003. Dengan memperhatikan permasalahan yang terkait dengan kawasan lindung. yaitu kawasan hutan lindung dan kawasan resapan air. karena: • Pada Kawasan Hutan Lindung Hanya berlaku bila kawasan tersebut berupa hutan dan ada pula kriteria lain.

Perlindungan kawasan hutan lindung untuk menjaga fungsi hidrologis. yaitu dengan Body Covered Ratio (BCR) < 20% dan juga membuat sumur resapan. meningkatkan sumber pendapatan negara dan devisa. ekonomi dan budaya. Pembangunan di daerah resapan air dapat dilakukan dengan ketentuan rasio lahan terbangun tertentu. • Perlu adanya penetapan kebijakan dan strategi pengelolaan kawasan hutan berwawasan lingkungan yang tegas dan tepat dalam menjaga kelestarian ekosistem wilayah di Kawasan lindung dan hutan produksi. Hutan konservasi. memacu pembangunan wilayah terpadu dengan pembangunan daerah dan mendukung pemberdayaan masyarakat desa yang diselaraskan dengan kepentingan rakyat yang tinggal dan hidup di wilayah hutan. memelihara dan memperluas lapangan dan kesempatan kerja serta kesempatan berusaha. fungsi konservasi.(Persero) CABANG I MALANG • Fungsi Hutan lindung. dan fungsi produksi tercapai secara optimal dan lestari. • Pentingnya pemeliharaan kawasan hutan dan lingkungannya agar fungsi lindung. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -9 . Luas kawasan hutan yang harus dipertahankan minimal 30% Karena hutan cagar alam serta zona inti dan zona rimba pada taman nasional merupakan kawasan yang digunakan untuk menjaga kelestarian habitat langka dari kepunahan • Penyelenggaraan perlindungan hutan ditujukan untuk mempertahankan keanekaragaman hayati. hidrogeologis dan bencana geologi. • • • Membangun kelembagaan yang kondusif bagi terciptanya partisipasi semua pengelola hutan. • • • • Pelestarian daerah rawa disekitar pantai untuk menahan abrasi dan intrusi air laut. Kawasan hutan suaka alam dan Kawasan hutan pelestarian alam harus dilestarikan dan ditingkatkan pengelolaannya agar kelestariannya terjamin dan memberi manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perlu menjaga kelestarian kawasan hutan sebagai imbuhan air tanah menanggulangi bencana geologi.

Dengan memperhatikan permasalahan yang terkait dengan kawasan budidaya.3. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -10 .(Persero) CABANG I MALANG • Pentingnya menjaga keanekaragaman hayati di kawasan lindung. sepadan sungai. 4. Kawasan-kawasan permukiman yang telah memenuhi persyaratan dapat dikembangkan menjadi kawasan siap bangun.2 Arahan Kawasan Budidaya/Kawasan Non Lindung Tujuan pengembangan kawasan budidaya di wilayah ekosistem WS Barito Kapuas adalah untuk memanfatkan potensi yang ada untuk mensejahterakan masyarakat serta menunjang pembangunan daerah. • Pada daerah sepanjang tepi sungai harus ditetapkan areal selebar (sekurang-kurangnya) 100 m dari titik pasang tertinggi ke arah darat sempadan pantai • Pengembangan struktur ruang mikro yang integratif terhadap struktur ruang makro untuk meningkatkan aksesibilitas kawasan-kawasan produksi ke pasar regional/lokal dan ke pasar internasional/nasional melalui pengembangan prasarana dan sarana transportasi antar kawasan (intra wilayah). maka beberapa arahan umum yang dapat diberikan dalam pengembangan penetapan kawasan budidaya antara lain adalah: • Pemanfaatan hutan untuk kegiatan ekonomi sebaiknya dilakukan di luar hutan untuk menjaga fungsi pokok hutan serta dapat meningkatkan produktivitas dan penganekaragaman produk pengolahan hasil hutan melalui peningkatan kemampuan dalam menghasilkan barang dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dengan tetap di bawah pembinaan.1. • Mengurangi sedimentasi melalui rencana program pengelolaan tataguna lahan dan tata air melalui reboisasi sepanjang penanaman rumput . sementara hutan produksi dibutuhkan untuk mendukung berbagai industri berbasis kehutanan yang telah menjadi sektor unggulan bagi Riau.rumputan penguat tebing. • Satu-satunya lingkungan permukiman harus diberi akses (jaringan) transportasi terhadap kawasan-kawasan lain yang memberikan pelayanan dan kesempatan kerja.

2. Pembuatan IPAL Kota Terpadu. Laju pertumbuhan penduduk rata-rata adalah 0.1. dan limbah B3. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -11 . Pembuatan septik tank terpadu untuk daerah pemukiman di sekitar sungai. Pembatasan beban cemaran yang masuk ke badan air WS Barito .2 ANALISIS SOSIAL EKONOMI 4.Kapuas.90%.2.1 Provinsi Kalimantan Selatan 1. Pengawasan kapal masuk dan keluar ─ Pengembangan program land application 4.Kapuas dari berbagai sumber melalui Pengendalian dan penataan lokasi sumber pencemar point source (industri) dan non point source (non industri).1 Proyeksi Penduduk 4. Memperhatikan satus penguasaan lahan.448 jiwa. • Mengendalikan kuantitas dan kualitas limbah yang masuk ke perairan Sungai Barito . melalui : ─ ─ ─ ─ ─ Pembuatan IPAL domestik terpadu. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk yang terdapat di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Selatan yang meliputi kabupaten Barito Kuala tahun 2007 adalah sebesar 269. Melaksanakan pemantauan kualitas perairan secara periodik dan berkelanjutan. untuk kawasan pemukiman di perkotaan. Memperhatikan kepentingan “stakeholder” (pemerintah swasta dan masyarakat). Gambaran besarnya jumlah penduduk di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Selatan adalah sebagai ditunjukkan dalam tabel di bawah. Mengoptimalkan pemanfaatan ruang kawasan budidaya melalui peningkatan pemanfaatan kawasan izin investasi yang belum digarap.(Persero) CABANG I MALANG • • • • • Perlu menetapkan kriteria lokasi dan standard teknis pengolahan dan pengelolaan secara konsisten dan pengenaan sanksi kawasan izin investasi.

Rincian jumlah penduduk berdasarkan tahun tinjauan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.000 280.448 Jumlah Penduduk (jiwa) 2010 276.96 Kepadatan / km2 (2007) 90 Kepadatan / km2 (2025) 106 Sumber : BPS Kabupaten Tahun 2007 dan hasil analisa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -12 .733 2025 316.000 320.604 No 1 Kab / Kota Barito Kuala Sumber :Hasil Perhitungan Proyeksi Jumlah Penduduk WS Barito-Kapuas Kalsel Jumlah Penduduk 340. Tingkat kepadatan penduduk pada WS Barito-Kapuas dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. Tabel 4. kepadatan penduduk 90 jiwa/km2 menjadi 106 jiwa/km2atau naik sebesar 17.000 240.4 Grafik Proyeksi Jumlah Penduduk pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan Kepadatan rata-rata penduduk pada WS Barito-Kapuas berdasarkan batasan administrasi di Provinsi Kalimantan Selatan mengalami peningkatan.2 Proyeksi Kepadatan Penduduk pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan Penduduk (2007) 269.000 260. Pada tahun 2007.470 2020 302.50%.448 No 1 Kab / Kota Barito Kuala Penduduk (2025) 316.604 Luas (km2) 2.789 2015 289.000 300.604 jiwa.90 2007 269. Dari proyeksi jumlah penduduk pada Kabupaten yang berada pada Wilayah DAS Barito di Provinsi Kalimantan pada tahun 2025 sebesar 316.996.(Persero) CABANG I MALANG Berdasarkan data penduduk dan laju pertumbuhannya maka dapat dibuat proyeksi penduduk untuk 20 tahun yang akan datang.000 2007 2010 2015 Tahun 2020 2025 Gambar 4.1 Proyeksi Jumlah Penduduk WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan Pertumb Pendd% 0.

Pada tahun 2025 diproyeksikan bahwa pada Kabupaten Kapuas kepadatan penduduknya paling tinggi dibandingkan dengan Kabupaten Barito Selatan. Gambaran besarnya jumlah penduduk di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut.000 Jumlah Penduduk 500.615 88.325 144.92 No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Jumlah Penduduk (Jiwa) 2007 128. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk yang terdapat di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah yang meliputi 5 kabupaten/kota.102 135.000 2007 2010 2015 Tahun Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas 2020 2025 Gambar 4.410 2025 194.356 118.397 355.019 5.91 20.538 2015 154.000 100.878 600.100 2020 173.2 Provinsi Kalimantan Tengah 1.566 376.(Persero) CABANG I MALANG 4.43 42.3 Proyeksi Jumlah Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Pertumb Pendd% Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Sumber :Hasil Perhitungan 16.266 91.360 1.000 300.000 400.137 455.148 113.724 141.19 8. Berdasarkan luas wilayah dibanding dengan jumlah penduduk yang ada. pada tahun 2007 adalah sebesar 777.119 414. Kepadatan penduduk di Kabupaten Murung Raya tergolong paling jarang yaitu hanya 4 jiwa/km2.992 107.082 jiwa. Tabel 4.188.2.938 242.082 2010 137.886 500. Barito Timur dan Barito Utara serta kabupaten Murung Raya.701 185.656 777.580 1.426 100.13 2.35 12.340 1.196 126.314 90.841 1.000 200.581 95.5 Proyeksi Jumlah Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -13 .1.889 105.

1. Sedangkan pertumbuhan PDRB atas dasar harga tetap sebesar -5.00 3.957 242.00 23.750 91.6 Proyeksi Sebaran Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Tabel 4.75% (tanpa industri besar). Berdasarkan angka pertumbuhan tersebut bisa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -14 .148 112.34% (dengan industri besar) dan 14.886 242.341.4 Proyeksi Kepadatan Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Penduduk (2007) 128. dan 4.43 Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Gambar 4.783 No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas JUMLAH Penduduk (2025) 203.13 12.2.152 Luas (km2) 6.2.091 88.300.(Persero) CABANG I MALANG Proyeksi Sebaran Penduduk Kalimantan Tengah Tahun 2025 (%) 16.69% (tanpa industri besar).834.91 20.19 8.00 8.716.2 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Studi 4.02% (dengan industri besar).00 57.397 91. Provinsi Kalimantan Selatan 1.75 15.2.397 511.898 156.35 42.886 1. Kabupaten Barito Kuala Pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku sebesar 1.194 Kepadatan / km (2007) 20 14 23 4 6 9 2 Kepadatan / km (2025) 32 20 41 10 16 18 2 Sumber : hasil perhitungan 4.526 167.002.014.

086.783 3.00 3.000. Tabel 4.798. 000.534.000.00 2007 2010 2015 2020 2025 PDRB atas dasar har ga ber l aku PDRB atas dasar har ga tetap Gambar 4.000.250. 000.742 6.784 Sumber : Hasil Perhitungan 5.000.00 1. 000.012.495. 000.00 4. 000. 00 15.000. 000.000.426.00 2.246. 000.237. 000.00 1.039 1. 00 25. 000.970. 00 5.8 Proyeksi PDRB (tanpa industri besar) Kabupaten Barito Kuala Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -15 .7 Proyeksi PDRB (dengan industri besar) Kabupaten Barito Kuala 35. 000.886.299.00 Proyeksi PDRB (Rp) 2010 2015 2.00 1. 00 10.00 3.234.932 2.022 2025 4. 000.251 3. 00 20.770.451 1. 000.802.000.211. 00 2007 2010 2015 2020 2025 P DRB at as dasar har ga ber l ak u P DRB at as dasar har ga t et ap Gambar 4.255.270 821.000.473.5 Proyeksi PDRB Kabupaten Barito Kuala No I Jenis PDRB 2007 Dengan Industri Besar 1 PDRB atas dasar harga berlaku 2 PDRB atas dasar harga tetap Tanpa Industri Besar 1 PDRB atas dasar harga berlaku 2 PDRB atas dasar harga tetap 2. 000.857.756 1.799 14.919 1.206.201 29.000.337.072 2020 3.738. 000.539 1.(Persero) CABANG I MALANG diproyeksikan besarnya PDRB Kabupaten Barito Kuala dalam beberapa tahun ke depan. 00 30.934 II 2.000.748.

200.06 156.000.813.00 1.119.900.92 126.(Persero) CABANG I MALANG 4.48%.118.37 2.755.28 144.00 62.68 63.53 5.000.559.57 8.212.15 1.900.48%.100.194.700. 0 0 0 .617.784.338.821.00 736.456. Pertumbuhan PDRB pada tahun 2001 sebesar 2.17 170.6 Proyeksi PDRB Barito Selatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.61 62.00 105.600. Kabupaten Barito Selatan Kontribusi sektor pertanian. Hotel & Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.144.615.35 89.600.23 157.265.819.749. peternakan. Provinsi Kalimantan Tengah 1.364.368.76 2.230.74 22.00 2. kehutanan dan perikanan sampai saat ini masih merupakan sektor yang paling dominan dalam pembentukan total PDRB Kabupateb Barito Selatan yakni 43. 5 0 0 .700.03 4.900.300.314.76 1.100.500.137.244.56 396.09 180.23 224.000. 0 0 0 .540.224.723.66 5.05 249. Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa-jasa TOTAL Sumber : Hasil Perhitungan 2005 303. 0 0 0 .541.00 2.279.734.19 98.69 99.2.95 140.2. 0 0 1.850.05 4.27 2020 541. dibuat proyeksi besarnya PDRB sampai tahun 2025.972.000. hotel.79 %. Tabel 4.96 948.600.16 136.92 206.35 2025 657.9 Proyeksi Pertumbuhan PDRB Kabupaten Barito Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -16 .979.00 95.63 176.00 93.00 3.75 179.80 116.258. restoran sebesar 13.003. Berdasarkan nilai pertumbuhan tersebut. Gas dan Air Bersih Bangunan/Konstruksi Perdagangan.608.30 295.585.706.687.00 25.909.947.08 39.86 13.00 44.730. disusul sektor perdagangan.20 3.2.00 2005 2 0 10 2 0 15 2020 2025 Gambar 4.38 228. 0 0 500.47 2015 446.85 116.00 2010 368.

543.48 79.76 97.8 76. PDRB Barito Timur atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha pada tahun 2006 sebesar 886.98 209.8 19. Sektor perdagangan.91 30.33 10.23 127.8 562.30 %.63 49.9 2020 627.2 3.2 38.60 53.79 1. Kabupaten Barito Utara Laju pertumbuhan PDRB berdasarkan harga konstan 2000 pada Kabupaten Barito Utara pada tahun 2006 untuk tiap sektornya rata-rata sebesar 3.16 42. Persewaan dan Jasa Gambar 4.03 % disusul sektor jasa 12.47 1.97 96.93 2.42 45.167.87 59.92 119.87 40. Hotel dan Restoran menempati urutan kedua dalam Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -17 .9 2025 829.72 73. Kontribusi terbesar dari total PDRB disumbang oleh pertanian sebesar 37 86%. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.94 883.(Persero) CABANG I MALANG 2.68 7.4 61.67 55.27 104.31 23.85 158. pada tahun 2007 naik menjadi 1023. 12% 4% 6% 12% 7% 0% 4% 54% 1% Pertanian Industri Pengolahan Bangunan Pengangkutan dan Telekomunikasi Jasa-jasa Pertambangan dan Penggalian Listrik dan Air Bersih Perdagangan.1 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 4.10 Distribusi sektor ekonomi pada PDRB Barito Timur 2007 No.69 168. menunjukkan bahwa sektor pertanian sampai saat ini masih merupakan sektor yang paling dominan dalam pembentukan total PDRB yakni 53.98 3.38 1.39 73.77 669.8 milyar rupiah.78 37.7 24. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2007 304.3 milyar rupiah.40 90.55 4.0 2015 475.06 5.37 28.7 Proyeksi PDRB Barito Timur 3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.3 2010 359.09 65. Kabupaten Barito Timur Dilihat andil per sektor perekonomian terhadap PDRB Barito Timur.2 1.60 1.9 35. Hotel dan Restoran Keuangan.18%.

936.38723 160367.17395 286743.309.784.535.203.161 152859.449.55 4.98 27.1802 56208.6888 111058.10 63.423 344333.13 75.77 99. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.976.858.563.83% dari total PDRB.570.510.053.90 67.848.503.40 3.71 1.8379 1.92 Sumber : Hasil Perhitungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -18 .499.220.650 114.121.952.57 82.785.022. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan. Proyeksi PDRB sampai dengan tahun 2025 dalam dilihat pada tabel berikut ini: 8% 3% 10% 38% 21% 6% 0% 6% 8% Pertanian Industri Pengolahan Bangunan Pengangkutan dan Telekomunikasi Jasa-jasa Pertambangan dan Penggalian Listrik dan Air Bersih Perdagangan.274.99567 6226. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2006 312.4008 95928.96 2020 394.14 3.431.83 238. Persewaan dan Jasa Gambar 4.9426 1.005.42 49.79 2010 333.40 171.104.9848 87442.764.244.(Persero) CABANG I MALANG menyumbang PDRB Barito Utara.89 47.18 824.81459 118008.656.589.17 82.14 34.72 46.658 85.141.652.410 204923.7372 5140.89 59.3246 60076.370. dan merupakan urutan ketiga penyumbang PDRB Barito Utara. yaitu sebesar 20.68 198.14 936.784.762636 94154.030.22708 64413.20 126. Sektor Jasa-jasa memberikan peranan sebesar 10.72 2025 428.79 52.01% dari total PDRB. Hotel dan Restoran Keuangan.80 50.11 Distribusi sektor ekonomi pada PDRB Barito Utara 2006 Tabel 4.02 71.8 Proyeksi PDRB Barito Utara No.10 2015 362.66516 203303.

24 2006 1.96 345.48 146.12 107.02 247.73 151. Hotel dan Restauran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.811.021.998.29 11.32 Sumber : Kapuas Dalam Angka 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -19 .263.81 11.95 290.21%.731.000.81 9.9 PDRB atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rp) Kabupaten Kapuas No. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa PDRB Lapangan Usaha 2004 1.73 170.263.332.12 Proyeksi Pertumbuhan PDRB Barito Utara 4.600.228.000. Kabupaten Kapuas PDRB Kabupaten atas dasar harga berlaku Kapuas pada tahun 2007 sebesar (angka sementara) Rp.653.583.00 256.085. Ini berarti telah terjadi peningkatan sebesar 18.81 98.386.73 8.371.351.920.65 10.29% terhadap PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2006. Sektor pertanian memberikan sumbangan terbesar terhadap angka PDRb ini. Pertumbuhan terbesar terjadi pada sektor bangunan/konstruksi sebesar 39.12 224.442.03 152.034%. gas dan air bersih sebesar 0.845. Tabel 4.513.49 2.078.402.41 8.408.000.814.834.546.680.581.936.386.134.521.14 195.408.200.65%.00 800.25 184.00 1.055.43 118.423.000.97 473.-. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik.121.572. 3.80 350.879.650.74 10. Gas dan Air Bersih Bangunan / Konstruksi Perdagangan.364.318.228.00 2006 2010 2015 2020 2025 Gambar 4.45 2005 1. sedangkan pertumbuhan terkecil terjadi pada sektor pertambangansebesar 8.(Persero) CABANG I MALANG 1.37 2.00 400.88 217. yaitu sebesar 46.346.76 12.93 99.530.611.87 3.83 376.03 133.033.360.73 587.320.486.12 2.70%.406. Sumbangan terkecil diberikan oleh sektor listrik.508.400.98 87.85 119.108.000.92 297.73 2007 1.

019.081.71 205.326.3. Sedangkan pada tahun 2007 turun menjadi sebesar -3.44 9.40 210. Gas dan Air Bersih Bangunan / Konstruksi Perdagangan.67 2020 1.13 Sumbangan masing-masing sektor lapangan usaha terhadap PDRB (menurut harga berlaku) Kabupaten Kapuas 2007.95 169.813.38 162.10 Kwh.554.94 2.93 272.724.1 Provinsi Kalimantan Selatan 1. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa PDRB 2007 1.66 140.35 260.58 316.84 2015 1.42 3.962.894.876.175.50 274.15 1.79 2025 2.127.964. Jika pertumbuhan jumlah pelanggan listrik dihitung berdasarkan pertumbuhan jumlah penduduk di Kabupaten Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -20 .22 77.584.02 215.490.336.53 102.91 5.442.2.581.24 266.29 130. Hotel dan Restauran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.663.86 Sumber : Hasil Perhitungan 4.47 508.71 164.15 2.849.27 67.294.43%.396.68 4.223.456.715.890.682. Tabel 4.04 7.158. Kabupaten Barito Kuala Pertumbuhan jumlah pelanggan listrik di Kabupaten Barito Kuala pada tahun 2006 adalah sebesar 101.077.31%.03 346.10 Proyeksi PDRB atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rp) Kabupaten Kapuas No.725.928.741.76 2010 1.148.605.636.511.49 4.380.206.57 209.51 88.87 6.495.662.72 330.12 113.57 12.454.59 401.519.469.352.40 11.174.15 98.26 7. Pemakaian daya listrik rata-rata tiap pelanggan pada tahun 2007 adalah sebesar 668.2.863.946.39 165.(Persero) CABANG I MALANG Keuangan.466.217.531.15 645.407.138. Gas dan Air Bersih 0% Gambar 4. Hotel dan Restauran 18% Bangunan / Konstruksi 10% Jasa-Jasa 10% Pertanian 48% Pertambangan 0% Industri Pengolahan 6% Listrik.44 15.713.64 158.590. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik.674. Persewaan dan Jasa Perusahaan 4% Pengangkutan dan Telekomunikasi 4% Perdagangan.19 147.72 130.3 Proyeksi Sektor Energi Listrik 4.220.683.864.50 125.763.68 9.266.587.

216 580. Kabupaten Barito Utara.075 555.457 4.(Persero) CABANG I MALANG Kuala sebesar 0.908 2015 371.042 11.555 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 4.819. Tabel 4.247 95 2.00 1.14 2.195.93 1.862.776 2020 388.756 507.638.432 530.581. Konsumsi listrik terbesar terjadi di Kabupaten Kapuas yaitu sebesar 47.582 2025 405.146.064 2010 14.947.125.487 2020 16.940 531.794.145 108 3.00 1. pada tahun 2007.711.705 3.00 1.081 92 2.02 3.113 6. yaitu Kabupaten Barito Selatan.92 Sumber : Hasil Perhitungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -21 .121.9%.788 11.581. Pada tahun 2025 total pemakaian energi listrik sebesar 116.756.14 1.2. Kabupaten murung Raya dan Kabupaten Kapuas.437.348 6.3.302 40.862 517.832 103 3.908.124.819.533 99 3. maka bisa dibuat proyeksi beberapa tahun ke depan untuk jumlah pelanggan dan besarnya pemakaian daya listrik. dengan Kabupaten Kapuas merupakan konsumen tertinggi.091 Kwh.664 6.151 Tahun 2015 15.898.370.21 1.059 7. Sedangkan rata-rata pemakaian energi listrik per pelanggan terbesar terjadi di Kabupaten Barito Utara yaitu sebesar 1.58 47.10 5. Tabel 4.34 18. Kabupaten Barito Timur.2 Provinsi Kalimantan Tengah WS Barito-Kapuas di kalimantan tengah mencakup lima (5) Kabupaten/Kota.12 Proyeksi Besarnya Daya Listrik Terdistribusi di Kabupaten Barito Kuala No 1 2 3 4 5 Tahun Daya Listrik (KWH) 2007 345.14 Kwh per pelanggan.009 Daya Terpasang Rata-rata Pemakaian Pertumbuhan (Kwh) Daya (Kwh) (%) 14.520 2010 354.00 727.520.365 493. Proyeksi kebutuhan energi listrik ini dihitung berdasarkan angka pertumbuhan penduduk di masing-masing daerah.938 2025 16.140 554.363 607.11 Proyeksi Jumlah Pelanggan Listrik Kabupaten Barito Kuala No 1 2 3 4 5 6 Kelompok Tarif Sosial Rumah Tangga Usaha Industri Kantor dan PJU PS dan TS Jumlah 2007 14.00 1.20 Kwh untuk empat kabupaten.091.13 Data Kelistrikan di WS Barito-Kapuas No 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Pelanggan 13.354.647 6.879 580.36 8.451.

0829 18451.36 6.864.775.458.00 3.14 Distribusi Banyaknya Pelanggan Listrik di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -22 .503.765.091.437.464.39 9.768.518.02 14.06 2025 23740418.45039 12.428.050.032.311.731.272.15 Proyeksi Daya Listrik Terpasang di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah No Kabupaten/Kota 1 2 3 4 5 Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas 2007 15.15 5.819.27 14.21 8.81 22.00 8.240.02 60.00 3.00 Jumlah Pelanggan 2010 2015 2020 2025 14641.275.11 140.214.00 45.991.644.731.853.17 5.205.14 Proyeksi Jumlah Pelanggan Listrik di WS Barito Kapuas Kalimantan Tengah No Kabupaten/Kota 1 2 3 4 5 Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas 2007 13.284.93 23.42 3.83 66.21 55.705.2327 20713.659.216.96 15.520.55 19.29 9.783.1 20.00 47.50 18.55 21147611.897.048.48 12.00 2010 16780588.42 10.788.886.354.483.098.13 9.986.693.496.00 11.746.276.27 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 4.858.655.088.409.52 13.773.720.804.495.78 54.368.82 60.226.00 43.53 72.13 Sumber : Hasil Perhitungan Barito Selatan 17% Barit o Utara 13% Kapuas 51% Barito Timur M urung Raya 12% 7% Gambar 4.066.711.242.842.638.94 13.66 7.84 4.65 8.794.77 12.370.51 11.274.60 Daya Terpasang (Kwh) 2015 2020 18837976.0175 16436.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.302.92 50.014.688.133.

000.00 20. dan analisis ketersediaan air atau potensi air. baik curah hujan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -23 .15 Proyeksi Daya Listrik Terpasang di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah (Kwh) 4.(Persero) CABANG I MALANG 80. Analisis hidrologi mencakup analisis perilaku debit aliran sungai. Dalam analisa hidrologi. debit rancangan dengan kala ulang tertentu.000.000. Selama musim hujan pada bulan November – April. perilaku debit aliran sungai.000.000. iklim. Hal ini mempunyai pengertian bahwa informasi yang diperoleh dalam analisis hidrologi merupakan suatu masukan yang penting didalam melakukan analisis selanjutnya. angin berhembus membawa uap air. ketersediaan air atau potensi maupun unsur hidrologi lainnya.000. salah satu aspek analisis yang diharapkan untuk menunjang perancangan dalam pengelolaan SDA mencakup penetapan besaran rancangan.3 ANALISIS HIDROLOGI DAN HIDROGEOLOGI Analisis hidrologi merupakan satu bagian analisa awal dalam suatu kajian tentang berbagai keperluan yang menyangkut pemanfaatan sumber daya air berbasis wilayah sungai.00 60. DAS Kapuas melintasi 2 (dua) Provinsi di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.000. curah hujan. dimana berada pada daerah tropis. WS Barito-kapuas yang terdiri dari DAS Barito.00 40.000.00 2007 Barito Selatan 2010 Barito Utara 2015 Barito Timur 2020 Murung Raya 2025 Kapuas Gambar 4. dengan kondisi iklim terdiri dari musim hujan dan musim kemarau yang dipengaruhi angina monsoon tenggara.

yaitu : hujan. maksimum. Angka koefisien variasi menyatakan seberapa besar variabilitas debit. 4. atau sistem irigasi boleh gagal sekali dalam lima tahun. berhembus angin kering yang membawa musim kemarau. simpangan baku. Ketersedian air yang cenderung menurun di satu pihak dan meningkatnya kebutuhan air sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk dan meningkamya kegiatan ekonomi masyarakat di lain pihak.3. Deskripsi kondisi factor-faktor hidrologis disampaikan dalam pembahasan berikut ini. Sumber air permukaan merupakan sumber yang sangat berpotensi untuk dimanfaatkan yang pada umumnya dipakai untuk kebutuhan air baku. pada prinsipnya dapat bersumber diri dari 3 (tiga) jenis. antara lain rata-rata. air permukaan dan air tanah. dan koefisien variasi. Analisis ketersediaan air atau analisis potensi air dilakukan dengan menggunakan berbagai alternatif data dasar sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -24 . Untuk keperluan irigasi biasanya digunakan debit andalan dengan reabilitas 80%. yaitu sekitar 90%. Ketersediaan air merupakan hal yang penting dalam pengelolaan suatu wilayah sungai yang dinyatakan dalam keandalan debit yang dapat disediakan dalam rangka memenuhi kebutuhan di dalam maupun diluar wilayah sungai tersebut.1 Ketersediaan Air Wilayah Sungai Air sebagai sumber daya alam strategis secara alami bersifat dinamis dan mengalir dari sumbernya ke tempat-tempat yang lebih rendah tanpa mengenal batas wilayah administrasi. Semakin besar variabilitas debit aliran sungai berarti sungai tersebut memerlukan perhatian khusus. pertanian dan industri.(Persero) CABANG I MALANG sementara itu selama musim kemarau dari bulan Mei – Oktober. Debit andalan merupakan debit yang dapat diandalkan untuk suatu reabilitas tertentu. Artinya dengan kemungkinan 80% debit yang terjadi adalah lebih besar atau sama dengan debit tersebut. Ketersediaan air bagi pemenuhan berbagai kebutuhan. minimum. Analisis perilaku hidroklimatologi dilakukan berdasarkan statistik data historis. Untuk keperluan air minum dan industri maka dituntut reabilitas yang lebih tinggi.

Debit limpasan yang dihasilkan dari seluruh sub-DAS diperoleh dengan menerapkan parameter-parameter hasil kalibrasi dan verifikasi terhadap hujan rata-rata kawasan pada tiap sub DPS. namun bila tidak ada atau data seri yang ada tidak terlalu panjang. Dalam studi ini. Dari hasil pengolahan data-data debit yang ada maka dapat dihitung debit rata-rata. Dalam perhitungan dengan menggunakan analisis frekuensi untuk besaran debit andalan Q80% dan Q90%. sehingga untuk analisis potensi air dan masukan untuk DSS-Ribasim perlu dilengkapi dengan menggunakan data hujan melalui suatu proses analisis hujan-aliran (rainfall-runoff). iklim dan kondisi wilayah sungai dengan menggunakan model hujan-aliran (rainfall-runoff model). maka perkiraan potensi sumber daya air dilakukan berdasarkan data curah hujan. Dalam menghitung debit andalan lebih baik memakai data debit aliran pengamatan dengan data seri yang panjang. atau jika ternyata data debit yang ada hanya mencakup kurang dari lima tahun. Jika tidak tersedia data debit. perhitungan ketersediaan debit andalan lebih ditekankan dengan menggunakan data-data debit dari hasil pengamatan. debit andalan Q80%. namun ketersedian data tersebut masih sangat terbatas (jarang) dan bahkan tidak setiap sungai mempunyai data debit pengamatan. Barito . debit andalan Q90%. b. terjadi banyak kekosongan data pada data debit aliran sungai. tebal Aliran rata-rata. kurang dari 10 tahun maka ditambahkan dengan memakai data curah hujan bulanan yang dikonversi menjadi data debit menggunakan model konseptual Sacramento yang merupakan bagian dari Paket Program Hymos.(Persero) CABANG I MALANG a.Kapuas dihitung berdasarkan pemenuhan berbagai kepentingan khususnya pemenuhan air baku untuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -25 . Adapun besaran tebal aliran sangat diperlukan untuk memperkirakan besarnya debit aliran sungai pada lokasi lain. Berdasarkan data runtut-waktu (time-series) dari data yang ada (historis). tebal Aliran Q80% dan tebal aliran Q90%. Untuk ketersediaan air di WS. yaitu dengan mengalikan tebal aliran dengan luas catchment area dari lokasi yang dihitung. Dari data yang telah diperoleh. maka diperlukan data seri debit dengan panjang data minimal 10 tahun. bilamana data tersebut tersedia.

(Persero) CABANG I MALANG keperluan rumah tangga. maka di daerah tersebut banyak dijumpai mata air – mata air. Oleh karena itu potensi air tanah ditinjau secara umum wilayah Cekungan Air Tanah yang berpotensi dapat memberikan kontribusi ketersediaan air bila pilihan pertama yaitu air permukaan tidak dapat memenuhi atau kondisi medan sulit untuk melakukan rekayasa teknik dengan pembuatan waduk atau sejenisnya. Barito .Kapuas. perkotaan dan industri serta untuk keperluan irigasi di WS.3 Debit Banjir Rencana Masalah banjir di wilayah Wilayah Sungai Barito . Adanya kondisi akuifer seperti tersebut.Kapuas dijelaskan dalam Bab-5 selanjutnya. 4.Kapuas merupakan salah satu masalah pokok yang terjadi hampir setiap tahun. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -26 . Untuk menghindari duplikasi atau pengulangan perhitungan yang dapat menimbulkan inkonsistensensi maka studi ini memperhatikan dan mengkaji studi-studi yang telah dilakukan terutama perhitungan-perhitungan terbaru sebagai pembanding untuk menghasilkan gambaran kondisi banjir yang terjadi di WS Barito .2 Ketersediaan Air Tanah Dalam analisa keseimbangan air permukaan tidak mencakup potensi air tanah mengingat pengambilan air tanah merupakan pilihan terakhir untuk mengurangi kerusakan lingkungan.3.3.Kapuas Dengan kenampakan morfologi dan geologi (volkanik) seperti terdahulu maka dapat diprediksikan bahwa kondisi hidrogeologi daerah ini sebagian besar cukup baik dengan pola akuifer dari jenis Aliran melalui Celahan dan Ruang Antar Butir yang termasuk dalam kelompok Akuifer dengan Produktivitas Tinggi sampai Sedang dengan penyebaran Luas yang secara umum debit air tanahnya mampu mencapai lebih dari 5 liter/detik sampai kurang dari 5 liter/detik. Geohidrologi Wilayah Sungai Barito .Kapuas. Kapasitas tampungan sungai Barito .Kapuas. 4. pada saat musim hujan tidak dapat menampung debit yang ada sehingga hal ini mengakibatkan genangan banjir yang merusak daerah sekitar alur sungai Barito .

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -27 . Komponen kebutuhan air. Tahun 2015. 4. dan kebutuhan air industri. 4. mata air.1 Kebutuhan Air Bersih Rumah Tangga Air bersih adalah air yang diperlukan untuk rumah tangga.Kapuas dan proyeksinya direncanakan untuk Tahun 2010. atau dapat diperoleh dari layanan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) PDAM. tentang ”Proyeksi Penduduk dan Kebutuhan Air RKI(DPU. Perhitungan perkiraan kebutuhan air bersih mengacu pada Kebutuhan Air Rumah Tangga Perkotaan dan Industri (RKI) berdasarkan Pedoman Perencanaan Sumber Daya Air Buku 3.Kapuas akan diperhitungkan kebutuhan air bersih rumah tangga yang berasal dari SPAM PDAM dengan sumber air baku dapat berasal dari air sungai. 4.4 ANALISIS KEBUTUHAN AIR BAKU 4.4.1. baik dengan memakai analisa frekuensi untuk daerah yang mempunyai data pengamatan debit yang cukup panjang dan lengkap sedangkan untuk mengetahui hidrograf banjir jam-jaman dipakai hidrograf satuan sintesis (HSS Nakayasu).4 Hasil Perhitungan Debit Banjir Rancangan Hasil perhitungan debit banjir rancangan dengan berbagai kala ulang.4. 1974) untuk menghitung debit banjir rancangan (design floods) dengan mengunakan data curah hujan kerena keterbatasan data debit yang ada dengan kisaran ketersediaan data antara tahun 1970 – 1973 (3 tahun data). kebutuhan air perkotaan.2004).(Persero) CABANG I MALANG Dari studi terdahulu yang dilakukan oleh ECI pada tahun 1975 (The Barito Kapuas River Basin Development Project.Tahun 2020 dan tahun 2025. Dalam WS Barito . sumur dalam atau kombinasinya. terdiri dari kebutuhan air rumah tangga.1 Kebutuhan Air (RKI) Perkiraan kebutuhan air bersih WS Barito . biasanya diperoleh secara individu dari sumber air yang dibuat oleh masing-masing rumah tangga berupa sumur dangkal.3.

2006 (Tabel 4. serta proyeksinya diasumsi terjadi kenaikan sebesar 1 % per tahun. maka pada setiap tahapan terjadi kenaikan kebutuhan air bersih rumah tangga.000 100.2006. yang mengacu pada ketentuan dari Dirjen Cipta Karya. Jumlah penduduk pada setiap Sub DAS menurut tahun perencanaan (tahun 2011.000 – 1.16 Kriteria Kebutuhan Air Bersih Rumah Tangga per Orang Per Hari Berdasarkan Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk (Jiwa) 3. tahun 2016. Materi Pelatihan Penyegaran SDM Sektor Air Minum Sumber : (Peningkatan Kemampuan Staf Profesional Penyelenggara SPAM) WS.000 500.000 – 500. ”Unit Pelayanan”. tahun 2021 dan tahun 2026) pada WS Barito-Kapuas ditentukan berdasarkan kebutuhan air bersih dalam tahun 2006. DPU.125 120 – 150 150 – 200 No 1 2 3 4 5 Kategori Kota Semi Urban (Ibu Kota Kecamatan/Desa) Kota Kecil Kota Sedang Kota Besar Metropolitan Sumber : Dirjen Cipta Karya. Barito .000 – 100.000 > 1.000 20. DPU.000 – 20.(Persero) CABANG I MALANG Kebutuhan air bersih rumah tangga.Kapuas terdiri dari beberapa Sub WS.000. perkiraan besar kebutuhan air bersih setiap Sub DAS adalah berdasarkan jumlah penduduk pada setiap Sub WS dibandingkan dengan kebutuhan air bersih (L/O/H) berdasarkan jumlah penduduk dari Tabel.19). diuraikan sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -28 .000. yaitu : Tabel 4. dinyatakan dalam satuan Liter/Orang/ Hari (L/O/H). besar kebutuhan tergantung dari jumlah penduduk yang ada di setiap Sub DAS yang dikorelasikan dengan Kriteria dari Dirjen Cipta Karya.000 Kebutuhan Air Bersih (L/O/H) 60 – 90 90 – 110 100.

470 118 2020 173.656 116 0.34 2007 128.724 105 141.356 105 118.100 126 289. Ternyata makin besar dan padat penduduknya cenderung lebih banyak daerah komersial dan sosial. sekolah.841 131 316.266 107 5. rumah sakit.581 107 95.90 269. gudang.1. Barito-Kapuas kebutuhan air untuk perkotaan diasumsi sebesar 35 % dari kebutuhan air bersih rumah tangga.148 102 1.119 108 414. hotel dsb. dengan nilai konstan dari masing-masing tahapan perencanaan.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.102 110 135.938 106 242.02 88.314 104 90.992 103 107.426 108 100.4.538 121 276.604 119 2 Kebutuhan Air Bersih (LOH) Barito Utara Kebutuhan Air Bersih (LOH) Barito Timur Kebutuhan Air Bersih (LOH) Murung Raya Kebutuhan Air Bersih (LOH) Kapuas Kebutuhan Air Bersih (LOH) Barito Kuala 3 4 5 6 Kebutuhan Air Bersih (LOH) Sumber :Hasil Perhitungan 4.58 91.733 119 2025 194. sehingga kebutuhan untuk air komersial dan sosial akan lebih tinggi jika penduduk makin banyak.397 108 1.615 101 1. bengkel. Dalam perencanaan WS.789 114 Tahun Kajian 2015 154.2 Kebutuhan Air Perkotaan Kebutuhan Air Perkotaan yaitu untuk memenuhi kebutuhan air komersial dan sosial.889 108 105.325 111 144.701 105 185.36 113.137 111 455.196 109 126. Selain itu kebutuhan air Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -29 . Pada umumnya hampir semua pelayanan PDAM antara 15% sampai dengan 35% dari total air perpipaan untuk kebutuhan air komersial dan sosial seperti : toko.448 111 2010 137.886 114 500.17 Kebutuhan Air Bersih Rumah Tangga per Orang Per Hari Berdasarkan Jumlah Penduduk pada WS Barito-Kapuas No 1 Kab / Kota Barito Selatan Pertumb Pendd% 2. sehingga sampai proyeksi kebutuhan tahun 2025 nilainya sama sebesar 35 %.566 104 376.92 355.410 128 302.

yaitu : KAI = %Px AP x RL. dan tahun 2025 menjadi sebesar 6. namun korelasi antara jenis dan ukuran industri dengan kebutuhan air tersebut kurang nyata. bahkan untuk setiap produk yang dikerjakan pada setiap saat. %P AP = Persentase asumsi penduduk = Kebutuhan air industri per tenaga kerja. ( Formula 1) Dimana : KAI = Kebutuhan Air Industri . Air yang digunakan setiap pabrik berbeda untuk masing-masing jenisnya (pabrik tekstil berbeda dengan pabrik elektronik). sehingga ada kenaikan pada tahap perencanaan tahun 2010 menjadi sebesar 6..70 %. RL = Rerata Layanan. terjadi peningkatan sebesar 0.1.. selain itu tergantung pula pada ukuran pabrik. biasanya sesuai dengan klasifikasi jenis dan ukuran industrinya. Banyak pabrik mengambil air tanah dari sumur dalamnya sendiri dan untuk tambahan diperoleh dari PDAM walaupun masih dalam jumlah yang sedikit. diperhitungkan konstan sebesar 70 %. 4. tahun 2020 menjadi 6. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -30 .95 % .(Persero) CABANG I MALANG bersih rumah tangga diperhitungkan pula untuk kehilangan air yang terdiri dari : (1).45 %... akan sulit menentukan perkirakan kebutuhan air untuk industri secara lebih akurat. pada tahap awal diperhitungkan sebesar 500 L/O/H. (2). tahun 2006 sebesar 6 %. L/O/H % Penduduk diasumsi pada tahap perencanaan awal. Kehilangan dalam proses sebesar 6 %. terjadi peningkatan sebesar 1 % setiap tahun. Besar kebutuhan air bersih industri diperhitungkan berdasarkan jumlah penduduk terhadap kebutuhan per pekerja dan rata rata pelayanan.20 % tahun 2015 menjadi 6..4. Kehilangan air tidak terhitung yaitu sebesar 25 %.5 % setiap tahun. teknologi yang dipergunakan (umumnya yang lebih modern akan lebih efisien dalam penggunaan air).3 Kebutuhan Air Industri Kebutuhan air untuk industri sangat kompleks. Sehingga...

dimana SWS Barito sesuai Kepmen No 39/1989 terdiri dari DAS Barito dan DAS Kapuas. 4. Akibat eksploitasi.4. evaporasi dan perembesan.Kehilangan dalam proses sebesar 6 %. lt/dt/ha Luas daerah yang diairi.5% antara bangunan sadap tersier dan sawah (atau Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -31 . Kebutuhan air irigasi yang dirumuskan sebagai Debit rencana dihitung dengan rumus umum berikut : Qt = NFR × A et = = = = Debit rencana.Kehilangan air tidak terhitung yaitu sebesar 25 %. kehilangan air di jaringan irigasi tersier dianggap 15 – 22. sebagian dari air yang dibagikan akan hilang sebelum mencapai tanaman padi. Hanya tanah-tanah yang lulus air saja yang akan memerlukan perhitungan tersendiri. (2). Untuk tujuan perencanaan.(Persero) CABANG I MALANG Selain itu kebutuhan air industri diperhitungkan pula untuk kehilangan air yang terdiri dari : (1). baik berupa rawa monoton maupun rawa pasang surut. ha Efisiensi irigasi di petak tersier di mana : Qt NFR A et Kebutuhan air irigasi ditentukan oleh faktor – faktor berikut : • • • • • Pola tanam yang diajukan evapotranspirasi potensial koefisien penanaman perkolasi hujan efektif dan kehilangan-kehilangan. Kehilangan air akibat evaporasi dan perembesan kecil saja dibanding kehilangan akibat eksploitasi. lt/dt Kebutuhan bersih air di sawah. Dalam master plan satuan wilayah sungai Barito. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah porsi potensi lahan low land yang relatif luas ternyata masih memerlukan kajian teknis mendalam untuk dapat dimanfaatkan lebih optimal. juga mengutamakan kegiatan peningkatan produksi pertanian khususnya tanaman pangan.2 Kebutuhan Irigasi di WS Barito-Kapuas Potensi pertanian di Kalimantan sebagian besar terdapat di daerah rawa.

jeruk. Kabupaten Barito Kuala Pembangunan ekonomi disektor pertanian adalah untuk meningkatkan produksi pertanian dan bertujuan meningkatkan pendapatan petani. Effisisensi pengaliran untuk saluran tersier 0.Tanaman perkebunan .529 ton dan mangga 86. 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -32 .775 – 0.Tanaman bahan makanan .121 ton dengan produksi rata-rata 31. mangga.4. Berdasarkan rekapitulasi potensi perkebunan Kabupaten Barito Kuala maka Tanaman Kelapa Dalam merupakan tanaman paling berpotensi yakni seluas 13.yaitu . Produksi padi Tahun 2007 adalah 280.157 ton.Perikanan .26 ha.9.17 dan 310.58 ha disusul oleh tanaman karet dan tanaman purun danau yang masing-masing 875.1 Kalimantan Selatan 1.(Persero) CABANG I MALANG efftotal = 0. nenas 34. Karena Kabupaten Barito Kuala wilayahnya sebagian besar merupakan dataran rendah maka tanaman padi ladang tidak ditanam disini sehingga produksi padi hanya ada padi sawah saja.399 hektar.Kehutanan . nenas dan rambutan. rambutan 33. jagung sebanyak 53 ton.57 ton. Untuk jenis tanaman perkebunan di Kabupaten Barito Kuala produksi terbesar adalah tanaman kelapa dalam yaitu sebesar 10.119 hektar menjadi 235. Hampir semua kecamatan di Kabupaten Barito Kuala merupakan sentra produksi padi sawah dimana Kabupaten Barito Kuala juga merupakan sentra produksi padi di Provinsi Kalimantan Selatan.9 dan pada saluran primer 0.185 ton. Kacang tanah 183 ton.97 ton kemudian disusul oleh tanaman purun danau dan sagu masing-masing sebesar 232.2. ubi kayu 3.476.8. Untuk produksi tanaman Bahan Makanan lainnya pada Tahun 2007 seperti. ubi jalar 1. kedelai 2 ton.394 ton.94 ha dan 697.203 ton.Peternakan Luas tanah menurut penggunaannya Tahun 2007 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006 yakni dari 243.68 Kw/Ha.878 ton. Data statistik yang di sajikan di bagi dalam lima sub sektor.293. Produksi jeruk untuk Tahun 2007 sebesar 262. pada saluran sekunder 0. Selain tanaman diatas Batola juga potensi tanaman buah-buahan seperti.85).

peternakan dan perikanan memegang peran penting dalam kehidupan sosial budaya masyarakat di Kalimantan Tengah. Tegalan / Kebun 3.385 228.50 66.845. Luas daerah irigasi terbesar di Kabupaten Kapuas yang merupakan lumbung padi di kawasan Sulawesi Tengah.319.509 15.964 51.225 ha. Luas daerah irigasi di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah sebesar 148. Pasang Surut 2.2 Kalimantan Tengah Masih besarnya kontribusi sektor pertanian baik sebagai penghasil devisa maupun sebagai lapangan pekerjaan.20 4.276 Luas Tanah (Ha) 2006 115.976.00 100% Tahun 2001 Tanam Panen 799.125.100.125.225. perkebunan.115 2.25 45.00 1.139 12. Tabel 4.18 Perkembangan Luas Tanah Menurut Jenis Penggunaannya Tahun 2005-2007 2005 119.505 No Jenis Penggunaan Tanah I Lahan Sawah 1.441 4.899 10. yang tersebar di lima kabupaten/kota.928 11.308 1.446.4.35 60.672 136.017 2007 10.570.15% dari keseluruhan luas lahan potensial yang ada.00 799.20 1.19 No 1 2 3 4 5 Wilayah Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Luas Lahan Potensial di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah Luas Ha 3.809 9. Ladang/Huma 4.769 48.00 61.209 9.75 3.343 20.947 241. Penggembalaan Ternak 5.121.970. sub sektor tanaman pangan.250.00 1. maka luas lahan yang bisa ditanami hanya sekitar 45.802.234. Sementara Tidak Diusahakan 6.023 12.758 13.51 Tahun 2002 Tanam Panen 1.15 44. Lahan Pekarangan 2.444.00 66.00 54.057.795 Sumber : Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Barito Kuala 4.956 23.552.25 1. kehutanan.009 24.03 506.042. Sementara Tidak di Usahakan Bukan Lahan Sawah 1.02 IV -33 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS .81 41.92 65.50 63.60 41.000.431 15.139 189 42.20 55.00 148.083 15. Lain-lain Jumlah II 15.924.39 1.00 558.00 137. Karena keterbatasan sarana dan prasarana pengairan.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.00 5.2.10 4.00 1.

• Kelas dua. dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tsb. dapat diketahui dengan caran menganalisis Status Mutu Air (SMA).5 ANALISIS KUALITAS AIR 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -34 . Volume air baku yang diperlukan dapat dimanfaatkan sekaligus dengan ketersediaan air yang direncanakan dari sungai baik skala besar maupun skala kecil. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum. 4. kegunaan tsb. Agar SMA diketahui parameter kualitas air yang diukur harus mengikuti parameter yang ditentukan dalam kriteria. Sebagai gambararan status mutu air dari PP 82/2001 diuraikan dalam klasifikasi dan Kriteria Mutu Air dari PP 82/2001. air untuk mengairi pertanaman. air untuk mengairi pertanaman. dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tsb. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman. peternakan. • Kelas empat.5. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air.(Persero) CABANG I MALANG 4.4. • Kelas tiga. Mengingat kebutuhan air yang paling besar adalah dari kebutuhan air untuk irigasi maka keperluan air baku lainnya dapat dipenuhi dari jumlah pasokan yang tersedia berdasarkan analisis waterbalance. dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar. pembudidayaan ikan air tawar.1 Tolok Ukur Kualitas Air Tingkat pencemaran sungai. peternakan.3 Upaya Peningkatan Penyediaan Air Baku Upaya peningkatan penyediaan air baku dilakukan berdasarkan kebutuhan air yang meningkat dari proyeksi yang sudah dihitung terdahulu. dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tsb. selain itu jumlah pengukuranpun lebih dari satu kali. tentang “Pengelolan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air” terdiri dari empat kelas sebagai berikut : • Kelas satu. SMA yaitu suatu tingkat kondisi mutu air yang menunjukkan kondisi cemar atau baik dalam waktu tertentu dengan membandingkan terhadap baku mutu air.

kimia dan biologi dijelaskan dalam tabel berikut : Tabel 4.05 0. Zn < 5 mg/L Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -35 .02 5-9 12 100 0 5 20 (-) 1 0.Co mg/L.Mn mg/L.05 (-) 0.Hg mg/L.3 0.02 6–9 3 25 4 0.2 Bagi pengolahan air minum konvensional. maka ditentukan berdasarkan kondisi alamiah °C mg/L mg/L Deviasi 3 1000 50 Deviasi 3 1000 50 Deviasi 3 1000 400 Deviasi Deviasi temperatur dari keadaan 5 alamiahnya 2000 Bagi pengolahan air minum 400 secara konvensional .05 0.03 (-) 0.02 (-) 0.Fe mg/L.Pb mg/L.2 (-) 1 0.05 0.01 0.03 (-) 0. Fe < 5 mg/L Bagi pengolahan air minum konvensional .(Persero) CABANG I MALANG Kadar masing-masing kelas berdasarkan parameter kualitas air fisika.05 0.1 mg/L Apabila secara alamiah diluar rentang tsb. As mg/L.01 1 0.CN 0.01 0.05 0.Cl mg/L.20 Kritera Air” Parameter FISIKA Temperatur Residu Tersuspensi Residu Tersuspensi KIMIA ANORGANIK pH BOD COD DO Total fosfat.5 0.05 600 0.NH 3 Besi Timbal Mangan Air Raksa Seng Khlorida Sianida mg/L..P Nitrat Amoniak Arsen Kobalt Barium Boron Selenium Kadmium Khrom (VI) Tembaga mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L.02 (-) 1 (-) 0.Se mg/L.NO 3 -N mg/L.03 0. sbg.001 0. Pb < 0.01 0.B mg/L.2 (-) 1 0.Ba Mg/L.02 6-9 6 50 3 1 20 (-) 1 0.2 1 1 0.002 0.1 0.02 mg/l sbg.Cu 6-9 2 10 6 0.amonia bebas utk ikan peka<0.NH3 N mg/L.2 10 0.Zn Mg/L.2 10 (-) 1 0.82/2001 Tentang”Pengelolan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Angka batas minimum Bagi perikanan.residu tersuspensi < 5000mg/L Satuan Kelas I II III IV Keterangan Mutu Air Berdasarkan Kelas dari PP No.2 (-) 1 0.005 2 (-) (-) Bagi pengolahan air minum konvensional .01 0.02 (-) 0.05 0.05 (-) 0.05 0.002 0.Cd Mg/L.Cr mg/L. Cu < 1 mg/L Bagi pengolahan air minum konvensional.

Epoxide μg/L 18 (-) (-) (-) Lindane μg/L 56 (-) (-) (-) Methoxychlor μg/L 35 (-) (-) (-) Endrin μg/L 1 4 4 (-) Toxaphan μg/L 5 (-) (-) (-) Keterangan: Mg = milligram Bq = Bequerel MBAS=Methylene Blue Active μg = mikrogram Nilai diatas merupakan batas max.000 jml/100 mL. S sbg H 2 S < 0.5 0. kimia dan bakteriologi.1 1 0.1 1 0.002 (-) (-) (-) (-) (-) Bagi Air Baku Air Minum tidak dipersyaratkan Bagi pengolahan air minum konvensional .1 mg/L Bagi pengolahan air minum konvensional.1 1 0.002 1.05 (-) 0.merupakan nilai rentang yang tidak boleh kurang mL= mililiter Tersuspensi dan lebih Nilai DO merupakan batas Arti (-).tidak minimum dipersyaratkan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Secara ideal parameter kualitas air yang diukur harus sesuai dengan tabel diatas.5 0.SO4 mg/L mg/L 0.03 0. kunci harus diukur yang Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -36 .NO2-N mg/L. agar dapat memberikan gambaran sejauh mana kondisi kualitas air sumber tersebut. bahwa pada kelas tsb.82/2001 Tentang ”Pengelolan Air”(lanjutan) PARAMETER SATUAN KELAS I II III IV Keterangan KIMIA ORGANIK Minyak dan Lemak μg/L 1000 1000 1000 (-) Detergent sbg MBAS μg/L 200 200 200 (-) Senyawa Fenol μg/L 1 1 1 (-) BHC μg/L 210 210 210 (-) Aldrien/Dieldrin μg/L 17 (-) (-) (-) Chlordane μg/L 3 (-) (-) (-) DDT μg/L 2 2 2 2 Heptachlor &H.parameter tsb.(Persero) CABANG I MALANG Fluorida Nitrit.002 1.F mg/L.sbg N Sulfat Klorin Bebas Belerang sbg H2 S MIKROBIOLOGI Fecal coliform Total Coliform RADIOAKTIVITAS Gross A Gross B Mg/L.21 Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas dari PP No.000 Bq/L Bq/L 0. NO 2 -N < 1 mg/L Jml/100mL Jml/100mL 100 1000 1000 5000 2000 10. Akan tetapi minimal parameter meliputi parameter fisika.kecuali p H &DO Substance Logam berat merupakan logam p H.03 0.Fecal coliform < 2000 jml/100 mL .dan Total coliform < 10.1 1 Tabel 4.05 400 0.5 0.000 2000 10. Bagi pengolahan air minum konvensional .03 0.05 (-) 0.

Air yang keruh pada umumnya akan memiliki temperatur yang lebih tinggi. Mengganggu kehidupan ikan dan hewan air lainnya Jika batas suhu yang mematikan terlampaui.1 Temperatur (suhu) Temperatur air sungai sangat dipengaruhi oleh intensitas sinar matahari.2 pH (tingkat keasaman) pH menunjukkan kadar asam atau basa dalam suatu larutan.1.(Persero) CABANG I MALANG Parameter kunci kualitas air dijelaskan sebagai berikut : 4. Kenaikan temperatur sungai akan dapat menimbulkan akibat sebagai berikut : Menurunnya jumlah oksigen terlarut dalam air Meningkatnya kecepatan reaksi kimia. Akibatnya. Ion hidrogen merupakan faktor utama untuk mengerti reaksi kimiawi karena: H+ selalu ada dalam keseimbangan dinamis dengan air/H2O. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -37 . Rata-rata temperature air sungai dari beberapa titik pengujian pada tahap I dan II adalah sebagai berikut: Sungai Barito Sungai Kapuas : 27. hingga jumlah reaksi tanpa H+ dapat dikatakan sedikit saja.5. baik sungai Barito aaupun Sungai Kapuas masih memenuhi standar deviasi baku mutu yang dipersyaratkan.5°C – 28. H+ tidak hanya merupakan unsur molekul H2O saja tetapi merupakan unsur banyak senyawa lain.6°C 4. Dari Hasil uji sample di beberapa lokasi. ikan dan hewan air lainnya mungkin akan mati Ikan yang hidup di dalam air yang mempunyai suhu relatif tinggi akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi. ikan dan hewan air akan mati karena kekurangan oksigen. dan tingkat kekeruhan air.1.3°C : 27. Di samping itu suhu relatif tinggi akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi. yang membentuk suasana untuk semua reaksi kimiawi yang berkaitan dengan masalah pencemaran air dimana sumber ion hidrogen tidak pernah habis. melalui konsentrasi ion Hidrogen H+. Hal ini disebabkan partikel-partikel tersuspensi yang ada dalam air akan menyerap dan menahan panas dari sinar matahari sehingga mengakibatkan kenaikan temperatur. Di samping itu suhu yang tinggi juga akan menurunkan jumlah oksigen yang terlarut di dalam air.5.5°C – 28.

Sungai Kapuas a) Tahap I. pH air di lokasi pengambilan sampel rata-rata diatas baku mutu minimum.21 dan pH tekecil di Timpah Hulu sebesar 7.87. Sungai Barito a) Tahap I. pH tertinggi terdapat di lokasi 10 yaitu Kandui sebesar 7.02 Nilai pH pada masing-masing lokasi dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -38 . misalnya kehidupan biologi dan mikrobiologi. Air minum sebaiknya netral.32 .05 . Air adalah pelarut yang baik sekali. maka dibantu dengan pH yang tidak netral. dapat melarutkan berbagai element kimia yang dilaluinya. pH tertinggi terdapat di lokasi 25 yaitu Jembatan Baliton sebesar 7. dan pH tekecil berada di lokasi 22 yaitu Tumbang Lahung sebesar 6. pH tertinggi terdapat di Masaran sebesar 4.24 dan pH tekecil berada di Kuala Kapuas sebesar 4. pH air di lokasi pengambilan sampel semua di bawah baku mutu minimum yang dipersyaratkan yaitu 6. b) Tahap II. pH air di lokasi pengambilan sampel rata-rata diatas baku mutu minimum yang dipersyaratkan yaitu 6. tidak asam/basa untuk mencegah terjadinya pelarutan logam berat dan korosi jaringan distribusi air minum. pH air di lokasi pengambilan sampel rata-rata diatas baku mutu minimum yang dipersyaratkan yaitu 6.01.46. b) Tahap II. suasana air juga mempengaruhi beberapa hal lain. Peranan ion hidrogen tidak penting kalau zat pelarut bukan air melainkan molekul organis seperti alkohol bensin (hidrokarbon) dan lain-lain. dan pH tekecil berada di lokasi 24 yaitu Laung Tuhup sebesar 6. Hasil pengujian Ph dari sungai Barito dan Sungai Kapuas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. 2.(Persero) CABANG I MALANG Lewat aspek kimiawi. pH tertinggi di Masaran sebesar 7.

pergerakan ion. Hasil Pengujian Ph sungai Kapuas 4.5. Kemampuan tersebut antara lain bergantung pada kadar zat terlarut yang mengion di dalam air.3 DHL (Daya Hantar Listrik) DHL (Daya hantar Listrik) adalah kemampuan dari larutan untuk menghantarkan arus listrik yang dinyatakan dalam satuan μmhos/cm atau μS.17. Hasil Pengujian Ph sungai Barito Gambar 4.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -39 .16.1. valensi dan suhu air.

DHL tertinggi ditemukan di Lokasi 13 yaitu Muara Sungai Tewah sebesar 99.07 μmhos/cm dan terendah di lokasi 19 yaitu Sungai Lumuk sebesar 20.18.64 μmhos/cm. 2.36 μmhos/cm dan terendah di lokasi 12 yaitu Muara Teweh sebesar 16. konsentrasi DHL tertinggi ditemukan di P. Konsentrasi DHL Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -40 . Adapun konsentrasi DHL di masing –masing sungai sebagai berikut : 1.04 μmhos/cm. Sungai Kapuas a) Tahap I. b) Tahap II.Kapuas sebesar 17. Sungai Barito a) Tahap I.(Persero) CABANG I MALANG Pencemaran Air untuk parameter DHL yaitu tidak dipersyaratkan.46 μmhos/cm.68 μmhos/cm dan terendah di Kuala Kapuas sebesar 70. b) Tahap II.26 μmhos/cm dan terendah di Timpah sebesar 16.Tilu sebesar 95.46 μmhos/cm Berikut adalah grafik DHL dari sungai Barito dan Sungai Kapuas: Gambar 4. konsentrasi DHL tertinggi ditemukan di K. DHL tertinggi ditemukan di Lokasi 25 yaitu Jembatan Baliton sebesar 18.

Konsentrasi DHL Sungai Kapuas 4.5.19. Padatan terlarut total dapat lebih cepat ditentukan dengan mengukur daya hantar listrik sampel air. SO4. Bahan anorganik seperti ion-ion Na. Mg. Padatan terlarut total mencerminkan jumlah kepekatan padatan dalam suatu sampe air. Padatan ini terdiri dari senyawasenyawa organic dan anorganik yang terlarut di dalam air. F. Cl. B dan Silika. Misalnya suatu sampel air dengan padatan terlarut total. artinya dalam 1 liter air terdapat 200 mg padatan terlarut. Derajat konduktivitas air adalah sebanding dengan padatan terlarut total dalam air itu. K. Fe. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter TDS yaitu 1000 mg/liter. mineral dan garam-garamnya. Adapun nilai TDS di masing – masing sungai : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -41 . NO3.1.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Juga dinyatakan dalam milligram per liter atau ppm.4 TDS (Total Disolved Solid) / Partikel Terlarut Padatan terlarut adalah padatan-padatan yang mempunyai ukuran lebih kecil dibandingkan dengan padatan tersuspensi. Ca.

20. Sungai Barito a) Tahap I. Gambar 4. Konsentrasi TDS tertinggi ditemukan di Jembatan Pendang sebesar 68 mg/l. 2. Konsentrasi TDS tertinggi ditemukan di K. b) Tahap II. Sungai Kapuas a) Tahap I. sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Puruk Cahu Hilir sebesar 34 mg/l. konsentrasi zat padat terlarut di semua lokasi masih dibawah baku mutu. Konsentrasi TDS tertinggi ditemukan di Mantangai sebesar 129 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Timpah sebesar 96 mg/liter. Konsentrasi TDS tertinggi di Muara Sungai Tewah sebesar 77 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Pelabuhan Hulu sebesar 31 mg/liter. konsentrasi zat padat terlarut di semua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan.Kapuas dan Mandomai sebesar 75 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Timpah sebesar 53 mg/liter.(Persero) CABANG I MALANG 1. Grafik Konsentrasi Total Disolved Solid Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -42 . konsentrasi zat padat terlarut di semua lokasi masih dibawah baku mutu. b) Tahap II.

1.21. bahan-bahan organik tertentu.5 TSS (Total Suspended Solid)/ Partikel Tersuspensi Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air. terutama TSS dapat meningkatkan nilai kekeruhan yang selanjutnya akan menghambat penetrasi cahaya matahari ke kolam air dan akhirnya berpengaruh pada proses fotosintesis di perairan sehingga berdampak pada penurunan kandungan oksigen terlarut. limpasan dari tanah dan pengaruh antropogenik (berupa limbah domestik dan industri). Bahan-bahan tersuspensi dan terlarut pada perairan alami tidak bersifat toksik. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -43 . G r a f i k K o n s e n t r a s i Total Disolved Solid Sungai Kapuas Nilai TDS diperairan sangat dipengaruhi oleh pelapukan batuan. terdiri dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil dari sedimen. kecuali jika keseimbangannya terganggu oleh zat-zat lain. sel-sel mikroorganisme dan sebagainya. sehingga mengakibatkan terjadinya penggumpalan yang kemudian diikuti dengan pengendapan.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. misalnya tanah liat. air permukaan mengandung tanah liat dalam bentuk suspensi yang dapat bertahan sampai berbulan-bulan.5. namun jika berlebihan. 4. Misalnya. tidak terlarut dan tidak dapat langsung mengendap.

kecuali di Jembatan Baliton sebesar 28 mg/l. Adapun konsentrasi TSS di masing – masing sungai sebagai berikut : 1. b) Tahap II. Tumbang Lahung sebesar 11 mg/l. padatan tersuspensi akan mengurangi penetrasi sinar matahari ke dalam air sehingga akan mempengaruhi regenerasi oksigen serta fotosintesis. Seperti halnya padatan terendap. Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di P. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Sungai Kapuas a) Tahap I. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -44 . b) Tahap II. Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di Jembatan Hasan Basri sebesar 169 mg/l.(Persero) CABANG I MALANG Jumlah padatan tersuspensi dalam air dapat diukur dengan Turbidimeter. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. 2.Tilu sebesar 192 mg/l. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter TSS yaitu 50 mg/l. dan terendah di Mentangai sebesar 96 mg/l. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di Masaran sebesar 321 mg/l. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di Sungai Pendang yaitu sebesar 1831 mg/l. Sungai Barito a) Tahap I. Muara Teweh sebesar 49 mg/l dan Pelabuhan Buntok 35 mg/l. dan konsentrasi TSS terendah di Sungai Tewah sebesar 75 mg/l. kecuali di Kuala Kapuas sebesar 37 mg/l.

23. Aktivitas masyarakat sekitar yang menggunakan sungai sebagai jalur transportasi juga dapat menyebabkan tingginya konsentrasi TSS. Grafik Konsentrasi Total Suspended Solid Sungai Kapuas Secara umum di semua lokasi di Kalimantan Tengah konsentrasi TSS nya melebihi ambang batas yang dipersyaratkan. Hal ini mungkin disebabkan oleh aktivitas Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) yang menyedot emas di dasar sungai maupun akibat dari adanya erosi yang meningkat yang disebabkan banyaknya vegetasi di sekitar sungai yang hilang.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Grafik Konsentrasi Total Suspended Solid Sungai Barito Gambar 4.22. karena kelotok/ speedboat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -45 .

80 81 . BOD merupakan gambaran kadar bahan organik. bahan anorganik yang tidak stabil mengalami oksidasi menjadi bahan anorganik yang lebih stabil.1. Menurut Alabaster dan Loyd. Pada perairan alami.5 – 7. yaitu jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroba aerob untuk mengoksidasi bahan organik menjadi karbondioksida dan air (Davis dan Cornwell. BOD hanya menggambarkan bahan organik yang dapat didekomposisi secara biologis (biodegradable).22 Nilai TSS dan Pengaruh Terhadap Kepentingan Perikanan Nilai TSS (mg/l) < 25 25 .0 mg/l (Jeffries dan Mills. Dengan kata lain. 1982 kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan Nilai Padatan Tersuspensi (TSS) sebagaimana yang disajikan pada table berikut: Tabel 4. yang berperan sebagai sumber bahan organik adalah pembusukan tanaman. kanji. Perairan alami memiliki nilai BOD antara 0.000 mg/l (UNESCO/WHO/UNEP. Perairan yang memiliki nilai BOD lebih dari 10 mg/liter dianggap telah mengalami pencemaran. 1996). 1992). 1988). dalam keadaan tanpa cahaya (Boyd. Pada tahap kedua. ester dan sebagainya. 1982 4.400 > 400 Pengaruh Terhadap Kepentingan perikanan Tidak berpengaruh Sedikit berpengaruh Kurang baik bagi kepentingan perikanan Tidak baik bagi kepentingan perikanan Sumber: Alabaster dan Loyd.6 BOD5 (Biological Oxygen Demand) Dekomposisi bahan organik pada dasarnya terjadi melalui dua tahap.5. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -46 . glukosa. Nilai BOD limbah industri dapat mencapai 25. 1991). Pada tahap pertama. Secara tidak langsung. Bahan organik ini dapat berupa lemak.(Persero) CABANG I MALANG dapat mengakibatkan sedimen di sekitar sungai mengalami turbulensi akibat mesin kelotok. BOD menunjukkan jumlah oksigen yang dikonsumsi oleh proses respirasi mikroba aerob yang terdapat dalam botol BOD yang diinkubasi pada suhu sekitar 20° C selama lima hari. bahan organik diuraikan menjadi bahan anorganik. protein. aldehida.

Nilai BOD tertinggi ditemukan di P. Nilai BOD tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 12 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Timpah sebesar 4 mg/liter.3 mg/liter.24.(Persero) CABANG I MALANG Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter BOD yaitu 3 mg/l. Grafik Konsentrasi BOD Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -47 .Tilu sebesar 34 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Mandomai sebesar 9 mg/liter. Adapun nilai BOD di masing –masing sungai sebagai berikut: 1.2 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Hulu Jembatan Penyebrangan sebesar 5. b) Tahap II. di semua lokasi konsentrasi limbah organik melebihi ambang batas. di semua lokasi konsentrasi limbah organik melebihi ambang batas. Sungai Kapuas a) Tahap I.5 mg/liter 2. Nilai BOD tertinggi ditemukan di Sukaramai Hulu sebesar 6. Nilai BOD tertinggi ditemukan di Sukaramai Hulu sebesar 21. konsentrasi limbah organik disemua lokasi melebihi ambang batas yang dipersyaratkan. konsentrasi limbah organik disemua lokasi melebihi ambang batas yang dipersyaratkan. Sungai Barito a) Tahap I. Gambar 4.6 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Pelabuhan Spead Boat Sukamara sebesar 3. b) Tahap II.

25. Adapun nilai COD di masing –masing sungai : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -48 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. 1992). Keberadaan bahan organik dapat berasal dari alam ataupun dari aktivitas rumah tangga dan industri.1. Nilai COD pada perairan yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 mg/l.5. Grafik Konsentrasi BOD Sungai Kapuas 4. pabrik kertas dan industri makanan. Pengukuran COD didasarkan pada kenyataan bahwa hampir semua bahan organic dapat dioksidasi menjadi karbondioksida dan air dengan bantuan oksidator kuat (kalium dikromat) dalam suasana asam. misalnya pabrik bubur kertas (pulp). Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter COD yaitu 25 mg/l. Perairan yang memiliki nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan pertanian. baik yang dapat didegradasi secara biologis maupun yang sukar didegradasi secara biologis menjadi CO2 dan H2O. sedangkan pada perairan yang tercemar dapat lebih dari 200 mg/l dan pada limbah industri dapat mencapai 60.7 COD (Chemical Oxygen Demand) COD menggambarkan jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi.000 mg/l (UNESCO /WHO/ UNEP.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -49 .4 mg/l. Grafik Konsentrasi COD Sungai Barito Gambar 4.5 mg/l. Nilai COD tertinggi di Sungai Pendang sebesar 258.27. Pendang sebesar 30.26.1 mg/l sedangkan nilai terendah di Jembatan Hasan Basri sebesar 5.2 mg/l. Pelabuhan Buntok sebesar 120.8 mg/l.8 mg/l. Sungai Lumuk sebesar 45.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Laung Tuhup sebesar 60.2 mg/l dan Sungai Pendang sebesar 258.2 mg/.1 mg/l.7 mg/l. Pelabuhan Hulu sebesar 82. Sungai Barito a) Tahap I.2 mg/l.1 mg/l. Grafik Konsentrasi COD Sungai Kapuas 1. Puruk Cahu Hilir sebesar 37. Bila dibandingkan dengan baku Laporan Pemantauan Kualitas Air Sungai Tahun mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku adalah Sungai Tewah sebesar 27. Montalat sebesar 37. Bintang Linggi sebesar 170.

2 mg/l.1 mg/liter.1.8 mg/liter. 4. 2. Nilai COD tertinggi ditemukan di P. dan dari atmosfer (udara) yang masuk ke dalam air dengan kecepatan terbatas. Nilai COD tertinggi ditemukan di Tumbang Lahung sebesar 42.Tilu Mentangai. Konserntarsi oksigen terlarut minimal untuk kehidupan biota tidak boleh kurang dari 6 ppm. Masaran. Pada suhu 200C dengan tekanan satu atmosfer konsentrasi oksigen terlarut dalam keadaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -50 .2 mg/l dan Pendang sebesar 33. Bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku mutu yang dipersyaratkan adalah Kuala Kapuas sebesar 26 mg/l. nilai COD tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 26 mg/liter dan terendah ditemukan di Timpah sebesar 8. Oksigen terlarut (dissolved oxygen = DO) dapat berasal dari proses fotosintesis tanaman air. Kehdupan makhluk hidup di dalam air tersebut sangat tergantung dari kemampuan air untuk mempertahankan konsentrasi oksigen minimal yang dibutuhkan untuk kehidupannya.3 Muara Teweh sebesar 30. Bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku adalah Jembatan Baliton sebesar 36.Kapuas.Cahu sebesar 27. Masaran Hulu dan Masaran Hilir.Tilu sebesar 67.(Persero) CABANG I MALANG b) Tahap II.8 DO (Dissolved Oxygen) Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman dan hewan di dalam air. sedangkan biota airdingin memerlukan oksigen terlarut mendekati jenuh. Bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku mutu adalah K. Pelabuhan P. Biota air hangat memerkan oksigen terlarut minimal 5 ppm. Tumbang Lahung sebesar 42.3 mg/liter dan terendah ditemukan di Mandomai sebesar 16. kemudian invertebrata.5.3 mg/l.3 mg/l. Ikan merupakan makhluk air yang memerlukan oksigen tertinggi. Timpah. dan yang sangat terkecil kebutuhuan oksigennya adalah bakteri. dimana jumlah tidak tetap tergantung dari jumlah tanamannya. b) Tahap II. Jembatan Hasan Basri sebesar 27.5 mg/liter. Konsentrasi oksigen terlarut dalam keadaan jenuh bervariasi tergantung dari suhu dan tekanan atmosfer. Sungai Kapuas a) Tahap I.2 mg/l. P.3 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Puruk Cahu Hilir dan Laung Tuhup sebesar 12.

bahan-bahan buangan dari industri pengolahan pangan. konsentrasi bahan-bahan buangan tersebut meningkat sehingga konsentrasi oksigen terlarut biasanya menurun. Adapun nilai DO di masing –masing sungai sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -51 . pembekuan udang dan ikan. sedangkan pada suhu 500C dengan tekanan atmosfer yang sama tingkat kejenuhannya hanya 5. Bahan-bahan tersebut terdiri dari bahan yang mudah dibusukkan atau dipecah oleh bakteri dengan adanya oksigen. Semakin tinggi suhu air. Polutan semacam ini berasal dari berbagai sumber seperti kotoran hewan maupun manusia. dan mungkin beberapa bahan anorganik. Konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu rendah akan mempengaruhi ikanikan dan binatang air lainnya yang membutuhkan oksigen akan mati.6 pp. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter oksigen terlarut yaitu minimum 4 mg/l. semakin rendah tingkat kejenuhannya. Oleh karena itu pada waktu musim panas di mana air kali atau danau sedang surut.(Persero) CABANG I MALANG jenuh adalah 9. Air dikatakan sebagai air terpolusi jika konsentrasi oksigen terlarut menurun di bawah batas yang dibutuhkan untuk kehidupan biota. industri pemotongan daging. Sebaliknya konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu tinggi juga mengakibatkan proses perkaratan semakin cepat karena oksigen akan mengikat hidrogen yang melapisi permukaan logam. dan sebagainya. Bahan-bahan buangan yang memerlukan oksigen terutama terdiri dari bahanbahan organik. tanaman-tanaman yang mati atau samah organik. Oleh karena itu semakin tinggi kandungan bahan-bahan tersebut senakin berkurang konsentrasi oksigen terlarut. Oksigen yang tersedia di dalam air di konsumsi oleh bakteri yang aktif memecah bahan-bahan tersebut. Penyebab utama berkurangnya oksigen terlarut di dalam air adalah adanya bahan-bahan buangan yang mengkonsumsi oksigen. Konsentrasi bahan-bahan buangan tersebut selain dipengaruhi oleh jumlah bahan buangan juga dipengaruhi oleh jumlah air yang dicemari. industri penyamakan kulit. pabrik kertas.2 ppm.

17 mg/liter.54 mg/l.32 mg/liter ditemukan di Mentangai. konsentrasi oksigen terlarut di dalam air belum memenuhi persyaratan.. b) Tahap II.88 mg/l dan Muara Sungai Tewah sebesar 3. Nilai DO terendah ditemukan di Laung Tuhup sebesar 3.72 mg/l dan Pelabuhan Buntok sebesar 4.57 mg/liter. konsentrasi oksigen terlarut di dalam air yang memenuhi standar baku mutu yaitu di Jembatan Baliton sebesar 5. 2. Kalahien sebesar 3.44 mg/liter. sedangkan nilai DO terendah ditemukan di P.04 mg/l. Pendang sebesar 4. b) Tahap II.Tilu sebesar 3. Bintang Linggi sebesar 3.63 mg/l.71 mg/l.3 mg/l. Nilai DO tertinggi ditemukan di Sungai Lumuk sebesar 5.08 mg/liter.77 mg/l. Sungai Barito a) Tahap I. konsentrasi oksigen terlarut di dalam air kurang dari standar baku mutu yaitu di Pelabuhan Buntok sebesar 3.39 mg/liter yang merupakan nilai DO tertinggi Nilai DO terendah ditemukan di Masaran Hulu sebesar 3. Tumbang Lahung sebesar 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -52 . Jembatan Hasan Basri sebesar 3. Sungai Pendang sebesar 3. konsentrasi oksigen terlarut di dalam air pada umumnya belum memenuhi persyaratan. Nilai DO tertinggi sebesar 3.(Persero) CABANG I MALANG 1.75 mg/l.28 mg/l. Sungai Kapuas a) Tahap I. kecuali di Mandomai sebesar 4.

nitrit (NO2) biasanya ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit dari pada nitrat. 1987). kadar nitrit jarang melebihi 1 mg/l (sawyer dan McCarty. Grafik Nilai DO Sungai Kapuas 4. nitrit lebih toksik dari pada nitrat.5.29.05 mg/l dapat bersifat toksik bagi organisme perairan yang sangat sensitif (Moore. Kadar nitrit yang lebih dari 0. 1991). karena bersifat tidak stabil dengan keberadaan oksigen. Nitrit merupakan bentuk peralihan (intermediate) antara amonia dan nitrat dan antara nitrat dan gas nitrogen. 1978).001 mg/l dan sebaiknya tidak melebihi 0.9 Nitrit (NO2) Di perairan alami. Di perairan. Perairan alami mengandung nitrit sekitar 0.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.1.06 mg/liter. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Nitrit yaitu 0.06 mg/l (Canadian Council of Resource and Environment Minister. Bagi manusia dan hewan. Adapun konsentrasi nitrit di masing –masing sungai sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -53 . Grafik Nilai DO Sungai Barito Gambar 4.28. Kadar nitrit pada perairan relatif kecil karena segera dioksidasi menjadi nitrat. kadar nitrit sekitar 10 mg/l masih dapat ditolerir. Sumber nitrit dapat berupa limbah industri dan limbah domestik. Untuk kepentingan peternakan.

Konsentrasi Nitrit tertinggi ditemukan di Jembatan Hasan Basri sebesar 0. Sungai Barito a) Tahap I. Timpah dan Masaran sebesar 0.001 mg/liter. Mentangai. Konsentrasi Nitrit di 24 (dua puluh empat) lokasi berkisar antara 0. Konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan. b) Tahap II.024 mg/liter.012 mg/liter sampai dengan 0.003 mg/liter sedangkan di Kuala Kapuas.Kapuas. Konsentrasi Nitrit tertinggi di P. konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu.(Persero) CABANG I MALANG 1. konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu.Tilu dan Timpah sebesar 0. Konsentrasi Nitrit tertinggi ditemukan di K. Grafik Konsentrasi Nitrit Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -54 . Sungai Kapuas a) Tahap I.006 mg/liter sedangkan terendah di Timpah Hulu konsentrasinya sebesar 0. Masaran dan Masaran Hulu konsentrasinya sebesar 0. konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan. b) Tahap II. 2.021 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Tumbang Lahung sebesar 0. Gambar 4.013 mg/liter.30.002 mg/liter.

Kadar nitrat lebih dari 5 mg/l menggambarkan terjadinya pencemaran antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan. yang selanjutnya menstimulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat (blooming).10 Nitrat (NO3) Nitrat (NO3) adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan algae.000 mg/l. Kadar nitrat-nitrogen yang lebih dari 0. Grafik Konsentrasi Nitrit Sungai Kapuas 4.1 mg/l.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Kadar nitrat-nitrogen pada perairan alami hampir tidak pernah lebih dari 0. terutama pada Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -55 .1. Nitrifikasi yang merupakan proses oksidasi amonia menjadi nitrit dan nitrat adalah proses yang penting dalam siklus nitrogen dan berlangsung pada kondisi aerob. Konsumsi air yang mengandung kadar nitrat yang tinggi akan menurunkan kapasitas darah untuk mengikat oksigen. Nitrat dan amonium adalah sumber utama nitrogen di perairan. Nitrat tidak bersifat toksik terhadap organisme akuatik.31. Nitratnitrogen sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil. Kadar nitrat di perairan yang tidak tercemar biasanya lebih tinggi dari kadar amonium. Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa-senyawa nitrogen di perairan. kadar nitrat dapat mencapai 1. Namun` amonium lebih disukai tumbuhan.5. Pada perairan yang menerima limpasan air dari daerah pertanian yang banyak mengandung pupuk.2 mg/l dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi (pengayaan) perairan.

Tilu sebesar 0. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Nitrat yaitu 10 mg/liter Adapun konsentrasi nitrat di masing –masing sungai sebagai berikut : 1.25 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di P.721 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Kandui sebesar 0. Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di Muara Teweh sebesar 1. Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di Mentangai sebesar 2.Tilu sebesar 0. Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di P. Mason.085 mg/liter. 1993).072 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Masaran sebesar 0. Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu.177 mg/liter. Sungai Barito a) Tahap I.372 mg/liter. Sungai Kapuas a) Tahap I. Keadaan ini dikenal sebagai methamoglobinemia atau blue baby yang mengakibatkan kulit bayi berwarna kebiruan (cyanosis) (Davis an Cornwell.(Persero) CABANG I MALANG bayi yang berumur kurang dari lima bulan. Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan 2. b) Tahap II. Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di Sungai Pendang sebesar 2. 1991. Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan yaitu sebesar 10 mg/liter untuk sungai kelas II.009 mg/liter. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -56 . Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan.116 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Pendang sebesar 0. b) Tahap II.

Grafik Konsentrasi Nitrat Sungai Barito Gambar 4. Sumber amonia yang lain adalah reduksi gas nitrogen yang berasal dari proses difusi udara atmosfer. Amonia banyak digunakan dalam proses reduksi urea. Ion amonium adalah bentuk dari transisi amonia. Amoniak yang tidak terionisasi bersifat toksik terhadap mikroorganisme akuatik. Ikan tidak dapat bertoleransi terhadap kadar amonia bebas yang terlalu tinggi karena dapat mengganggu proses peningkatan oksigen oleh darah dan pada akhirnya dapat mengakibatkan sufoksi. Proses ini dikenal dengan istilah amonifikasi. pada proses pengolahan limbah juga dihasilkan gas amonia (Novotny dan Olem. 1994). Toksisitas amonia terhadap mikroorganisme akuatik akan meningkat jika terjadi penurunan kadar oksigen terlarut. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -57 .11 Amoniak Bebas (NH3-N) Amonia (NH3) dan garam-garamnya bersifat mudah larut dalam air. limbah industri dan domestik. Sumber amonia di perairan adalah pemecahan nitrogen organik (protein dan urea) dan nitrogen anorganik yang terdapat di dalam tanah dan air yang berasal dari dekomposisi bahan organik (tumbuhan dan biota akuatik yang telah mati) oleh mikroba dan jamur.32.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.1. Proses denitrifikasi oleh aktivitas mikroba pada kondisi anaerob.5. pH dan suhu . industri bahan kimia serta industri bubur kertas dan kertas. Tinja dari biota akuatik yang merupakan limbah aktivitas metabolisme juga banyak mengeluarkan amonia. Grafik Konsentrasi Nitrat Sungai Kapuas 4.33.

Adapun konsentrasi amoniak di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. b) Tahap II.068 mg/l. konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Lahei sebesar 0. Sungai Barito a) Tahap I. konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 0. Kadar amonia yang tinggi dapat merupakan indikasi adanya pencemaran bahan organik yang berasal dari limbah domestik.571 mg/l dan konsentrasi terendah di Masaran Hulu sebesar 0. b) Tahap II.1 mg/l (McNelely et al..02 mg/l. perairan bersifat toksik bagi beberapa jenis ikan (Sawyer dan McCarty.56 mg/l dan konsentrasi terendah di Puruk Cahu Hilir sebesar 0. Sungai Kapuas a) Tahap I. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Amoniak untuk sungai Kelas II tidak dipersyaratkan. 2. Jika kadar amonia bebas lebih dari 0.144 mg/l dan konsentrasi terendah di P. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -58 .07 mg/l. 1979).(Persero) CABANG I MALANG Kadar amonia bebas pada perairan alami biasanya kurang dari 0.042 mg/l. konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 0.371 mg/l dan konsentrasi terendah di Kalahien sebesar 0.Tilu sebesar 0.341 mg/l. konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Jembatan Hasan Basri sebesar 0. 1978). Kadar amonia bebas yang tidak terionisasi (NH3) pada perairan tawar sebaiknya tidak lebih dari 0. industri dan limpasan (run-off) pupuk pertanian.2 mg/l.

Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -59 . tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air. pertumbuhan dan ganggang akan terhalang.01 mg P/L). Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut. seperti industri pencucian.34. Di daerah pertanian ortofosfat berasal dari bahan pupuk yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan. industri logam dan sebagainya. polifosfat dan fosfat organis. Polifosfat dapat memasuki sungai melaui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan bahan detergen yang mengandung fosfat. Keberadaan senyawa fosfat dalam air sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem perairan. Bila kadar fosfat dalam air rendah. Grafik Konsentrasi Amoniak Bebas Sungai Kapuas 4. Sebaliknya bila kadar fosfat dalam air tinggi. seperti pada air alam (< 0.1. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat untuk pertumbuhannya. Keadaan ini disebut oligotrop.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.35.5. pertumbuhan tanaman dan ganggang tidak terbatas lagi (keadaan eutrop). Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi kelestarian ekosistem perairan. Grafik Konsentrasi Amoniak Bebas Sungai Barito Gambar 4.12 Phospat (PO4) Fosfat terdapat dalam air alam atau air limbah sebagai senyawa ortofosfat. sehingga dapat mengurangi jumlah oksigen terlarut air.

Sungai Kapuas a) Tahap I. bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu yang dipersyaratkan kecuali di Timpah Hulu sebesar 0.043 mg/liter Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -60 . Sungai Barito a) Tahap I. 2.238 mg/l yang merupakan konsentrasi phospat tertinggi. kecuali di Bintang Linggi sebesar 0. Konsentrasi phospat tertinggi ditemukan di Mentangai sebesar 0.(Persero) CABANG I MALANG Pencemaran Air untuk parameter phospat yaitu 0. b) Tahap II. bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi phospat terendah di Mentangai sebesar 0. Adapun konsentrasi phospat di masing –masing sungai sebagai berikut : 1.452 mg/l yang merupakan konsentrasi phospat tertinggi dibandingkan dengan lokasi yang lain. b) Tahap II. di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu.22 mg/liter dan konsentrasi phospat terendah di Timpah sebesar 0. bilamana dibandingkan dengan baku mutu maka di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu yang dipersyaratkan.2 mg/liter. Konsentrasi phospat tertinggi ditemukan di Pelabuhan Puruk Cahu sebesar 0.015 mg/liter. Konsentrasi phospat terendah ditemukan di Muara Sungai Tewah sebesar 0.002 mg/liter.011 mg/liter.011 mg/liter dan konsentrasi phospat terendah di Muara Lahung sebesar 0.

pembakaran bahan bakar fosil yang melepaskan sulfur oksida. gregite (Fe3S4).(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Atmosfer menerima sulfur dan berbagai sumber.13 Sulfat (SO4) Sulfur merupakan salah satu elemen yang esensial bagi makhluk hidup. chalcopyrite (Cu2S). serta aktivitas vulkanik yang melepaskan hidrogen sulfida.2H2O). Di perairan. Sulfur (S) berada dalam bentuk organik dan anorganik. sulfur dioksida. sulfur berkaitan dengan ion hidrogen dan oksigen.36. 1992).1. kertas. Grafik Konsentrasi Phospat (PO4) Sungai Kapuas 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -61 .37. dan pyrite (FeS2). sulfida oksida dan sulfat. metalurgi dan lain-lain. percikan air laut karena tiupan angin yang melepaskan sulfat. Sulfat banyak digunakan dalam industri tekstil. karena merupakan elemen penting dalam protoplasma. cubanite (CuFe2S3). gypsum (CaSO4. molybdenite (MoS2). Grafik Konsentrasi Phospat (PO4) Sungai Barito Gambar 4. sulfit dan sulfat.5. Beberapa bentuk sulfur di perairan adalah sulfida. Sulfur anorganik terutama terdapat dalam bentuk sulfat yang merupakan bentuk sulfur utama di perairan dan tanah (Rao. Kerak bumi mengandung sulfur sekitar 260 mg/kg. Ion sulfat yang telah diserap tumbuhan mengalami reduksi hingga menjadi bentuk sulfidril (SH) di dalam protein. penyamak kulit. Sumber alami sulfat adalah bravoite {(NiFe)S2]. yaitu aktivitas bakteri yang melepas hidrogen sulfida. Sulfur oksida (SOx) dan hidrogen sulfida (H2S) merupakan sulfur dalam bentuk gas yang biasa ditemukan di atmosfer.

misalnya Clorobacteriaceae dan Thiorhodaceae dapat mengoksidasi hidrogen sulfida menjadi sulfur.816 mg/l. konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di Laung Tuhup sebesar 9. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -62 . b) Tahap II.(Persero) CABANG I MALANG Reduksi pengurangan oksigen dan penambahan hidrogen anion sulfat menjadi hidrogen sulfida pada kondisi anaerob dalam proses dekomposisi bahan organik yang menimbulkan bau yang kurang sedap dan meningkatkan korosiftas logam.Tilu sebesar 24. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Sulfat tidak dipersyaratkan. H2S juga dianggap sebagai salah satu penyebab karat pada logam. konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di P.771 mg/l dan konsentrasi terendah di Jembatan Baliton sebesar 0. Beberapa bakteri.237 mg/l dan konsentrasi terendah di Kuala Kapuas sebesar 18. Adapun konsentrasi sulfat di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. toksisitas H2S meningkat dengan penurunan nilai pH. hidrogen sulfida segera dioksidasikan oleh bakteri Thiobacillus menjadi sulfat. Proses pembentukan karat ini disebabkan oleh keberadaan bakteri yang mampu mengoksidasi H2S menjadi H2SO4 secara berlimpah. Terbentuknya asam kuat H2SO4 dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan korosifitas logam dan terjadinya karat.837 mg/l dan konsentrasi terendah di Sungai Lumuk sebesar 1. 2. Sungai Kapuas a) Tahap I.266 mg/l.098 mg/l. Hidrogen sulfida yang dihasilkan kemudian dilepaskan ke atmosfer. Pada pH sekitar 5 sulfur terdapat bentuk H2S. Pada kondisi ini dapat menimbulkan permasalahan bau yang cukup serius. H2S dapat menimbulkan bau seperti telur busuk. konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di Muara Sungai Tewah sebesar 6. Pada kondisi aerob. Sungai Barito a) Tahap I. Oleh karena itu.

39. Gambar 4. Grafik Konsentrasi Sulfat Sungai Barito Gambar 4.38.611 mg/l dan konsentrasi terendah di Mentangai sebesar 6. konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di Mandomai sebesar 8.789 mg/l.(Persero) CABANG I MALANG b) Tahap II. Grafik Konsentrasi Sulfat Sungai Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -63 .

sedangkan pada perairan laut berkisar antara <10-30 mg/liter (Moore. misalnya (ZnS). ekstraksi emas dan perak. bateri. baik pada kondisi aerob maupun anaerob. 1991). Pada kadar merkuri anorganik yang rendah. fotografi dan elektronik (eckenfelder. yakni hanya sekitar 0. Garam-garam merkuri juga digunakan sebagai fumigan yang berperan sebagai pestisida (Sawyer dan McCarty.(Persero) CABANG I MALANG 4. wurtzite (ZnS). Selain itu. kadar merkuri anorganik. mineral sulfida. kadar monometil merkuridan dimetil merkuri dipengaruhi oleh keberadaan mikroba.. juga mengandung merkuri. komponen listrk. Metil merkuri diangkut oleh sel darah merah dan dapat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -64 .1. gigi palsu. senyawa anti karat (anti fouling). cat. 1978). Pada perairan alami. akan terbentuk monometil merkuri. akan terbentuk dimetil merkuri. Kedua bentuk senyawa metil merkuri tersebut dapatdipecah oleh bakteri yang hidup pada sedimen. namun pelapukan bermacam-macam batuan dan erosi tanah dapat melepaskan merkuri ke dalam lingkungan perairan (McNeely et al. sedangkan pada kadar merkuri anorganik yang tinggi.5. Senyawa merkuri bersifat sangat toksik bagi manusia dan hewan. Pada perairan alami. Pada dasar perairan anaerobic merkuri berikatan dengan sulfur. Garam-garam merkuri terserap dalam usus dan terakumulasi di dalam ginjal dan hati. Merkuri merupakan satusatunya logam yang berada dalam bentuk cairan pada suhu normal. 1991).1979. pH dan suhu. Sumber alami merkuri paling umum adalah cinnabar (HgS) (Novotny dan Olem. Industri kimia yang memproduksi gas klorin dan asam klorida juga menggunakan merkuri. Cinnabar sukar larut dalam air. Senyawa merkuri digunakan dalam pembuatan amalgam. Kadar merkuri pada perairan tawar alami berkisar antara 10-100 mg/liter. Merkuri terserap dalam bahan-bahan partikulat dan mengalami presipitasi.14 Merkuri (Hg) Merkuri (Hg) adalah unsur renik pada kerak bumi. 1989). Metil merkuri dapat mengalami bioakumulai dan biomagnifikasi pada biota perairan. 1994).08 mg/liter (Moore. merkuri juga hanya ditemukan dalam jumlah yang sangat kecil. chalcopyrite (CuFeS) dan galena (PbS). baik secara langsung ataupun melalui jala makanan(food web). karbon organik. Merkuri anorganik dapat mengalami transformasi menjadi dimetil merkuri dengan bantuan aktivitas mikroba.

Tilu sebesar 4. menunjukkan bahwa disemua lokasi pemantauan tidak terdeteksi kandungan Merkuri. Sungai Barito a) Tahap I. konsentrasi merkurinya masih dibawah baku mutu. b) Tahap II. Adapun konsentrasi merkuri di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter merkuri yaitu 2 μg/l. untuk parameter merkuri tidak dilakukan pemeriksaan karena kondisi alat dalam keaadaan rusak . Konsentrasi merkuri yang di atas baku mutu yaitu di K. 1991). b) Tahap II. kadar merkuri yang diperbolehkan berturut-turut adalah 0.Kapuas sebesar 4. Senyawa merkuri bersifat toksik bagi ikan dan biota akuatik lain karena dapat mengalami biomagnifikasi pada jalan makanan. Senyawa merkuri mengalami masa tinggal (retention time) yang cukup lama di dalam tubuh manusia.2 μg/liter. kadar merkuri yang diperbolehkan tidak lebih dari 0. Berdasarkan hasil uji Laboratorium.081 μg/liter.1 μg/liter dan 0. 2. P. Sungai Kapuas a) Tahap I. 1991) Kadar merkuri pada air minum sebaiknya tidak melebihi 0. Mentangai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -65 . sedangkan untuk melindungi kehidupan organisme laut di European Community (EC). Sedangkan di 23 (dua puluh tiga) lokasi yang lain. konsentrasi merkuri tertinggi ditemukan di Mentangai sebesar 7. untuk parameter merkuri tidak dilakukan pemeriksaan karena pada saat itu kondisi alat dalam keaadaan rusak. Untuk melindungi kehidupan organisme perairan di Kanada dan European Community (EC). Ion metil merkuri lima puluh kali lebih toksik dari pada garam-garam merkuri anorganik.029 μg/liter. Konsentrasi merkuri tertinggi ditemukan di Sungai Tewah sebesar 0.(Persero) CABANG I MALANG mengakibatkan kerusakan pada otak.002 mg/liter (Davis dan Cornell. Organisme yang berada pada rantai yang paling tinggi (top carnivora) memiliki kadar merkuri yang lebih tinggi daripada organisme di bawahnya.3 μg/liter (Moore.5519 μg/liter yang mana konsentrasi merkuri tersebut melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.643 μg/liter.

567 μg/liter dan Masaran Hulu sebesar 2.029 μg/liter. Masaran sebesar 2.1. Senyawa fenol dihasilkan dari proses pemurnian minyak.(Persero) CABANG I MALANG sebesar 7. Keberadaan fenol di perairan mengakibatkan perubahan sifat organoleptik Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -66 . Kadar alami fenol di perairan sangat kecil. hanya beberapa μg/l.161 μg/liter Gambar 4. tekstil.5. kayu lapis. Grafik Konsentrasi Merkuri (Hg) Sungai Barito Gambar 4. industri kimia. Grafik Konsentrasi Merkuri (Hg) Sungai Kapuas 4.286 μg/liter.41. Timpah sebesar 3.15 Fenol Senyawa fenol merupakan senyawa aromatik dengan satu atau beberapa gugus hidroksil yang terikat secara langsung pada cincin benzene.40.

Sungai Barito a) Tahap I. Konsentrasi Fenol tertinggi terdapat di Kalahien sebesar 0. sehingga kadar fenol yang diperkenankan terdapat pada air minum adalah 0.26 mg/ l. Pelabuhan Hulu. konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.072 mg/ liter dan konsentrasi terendah di Timpah Hulu sebesar 0. Konsentrasi Fenol tertinggi terdapat di Muara Teweh sebesar 0.312 mg/ liter dan konsentrasi terendah di P. Konsentrasi tertinggi terdapat di Masaran sebesar 0. Jembatan Hasan Basri dan Muara Teweh yang konsentrasi fenolnya tidak terdeteksi. Konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. 1992).18 mg/liter 2. b) Tahap II. konsentrasi terendah di Tumbang Lahung sebesar 0. Gambar 4. Grafik Konsentrasi Fenol Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -67 .(Persero) CABANG I MALANG air.Tilu sebesar 0. Pada kadar yang lebih tinggi dari 0. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Phenol yaitu 0.05 mg/liter.001 mg/l.42.003 mg/liter. konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.25 mg/ liter.01 mg/l fenol bersifat toksik bagi ikan (UNESCO/WHO/UNEP. kecuali di Baru Hilir/Buntok.001 mg/l. Konsentrasi tertinggi terdapat di Mentangai sebesar 0. Adapun konsentrasi phenol di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. b) Tahap II. Sungai Kapuas a) Tahap I.

Grafik Konsentrasi Fenol Sungai Kapuas 4. diantaranya dari pembersihan dan pencucian kapal.1.16 Minyak / Lemak Minyak dan lemak yang mencemari lingkungan sering dimasukkan ke dalam kelompok padatan.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Minyak/Lemak yaitu 1 mg/l. konsentrasi minyak/lemak di Bintang Linggi sebesar 2 mg/liter. Sungai Lumuk sebesar 2 mg/l dan Muara Lahung sebesar 2 mg/l melebihi ambang batas yang dipersyaratkan. Sedangkan di lokasi lainnya konsentrasi minyak/lemak tidak ternyata. Puruk Cahu Hilir sebesar 3 mg/l.43. Kandui sebesar 2 mg/l. yaitu padatan yang mengapung di atas permukaan air. Adapun konsentrasi Minyak/Lemak di masing – masing sungai sebagai berikut : 1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -68 . Sungai Barito a) Tahap I. Air yang diperuntukkan bagi keperluan domestik sebaiknya bebas dari kandungan oil (minyak) dan grase (lemak) karena air dengan kadar minyak relatif tinggi menimbulkan rasa dan bau yang tidak enak.5. pengeboran minyak dan buangan pabrik. Minyak yang terdapat di dalam air berasal dari berbagai sumber. Puruk cahu sebesar 5 mg/l.

Kapuas sebesar 9 mg/liter dan terendah di Timpah Hulu sebesar 2 mg/l. 2. Gambar 4. b) Tahap II. Konsentrasi Minyak/Lemak Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -69 . konsentrasi Minyak/Lemak di Kuala Kapuas sebesar 1 mg/liter.44. konsentrasi minyak/lemak tertinggi berada di Pelabuhan Buntok sebesar 4 mg/l dan konsentrasi terendah di Pelabuhan P. konsentrasi minyak/lemak disemua lokasi melebihi ambang batas. Sedangkan di lokasi lainnya konsentrasi minyak/lemak tidak ternyata.Cahu dan Muara Teweh sebesar 1 mg/l. Masaran sebesar 4 mg/liter dan Masaran Hulu sebesar 6 mg/liter.(Persero) CABANG I MALANG b) Tahap II. Konsentrasi Minyak/Lemak tertinggi berada di K. Sungai Kapuas a) Tahap I. Konsentrasi ini melebihi ambang batas.

termasuk sabun cuci piring alkali dan cairan pembersih. Bahan pembentuk di dalam deterjen mengalami reaksi hidrolisis dengan air pencuci yang mengakibatkan air menjadi bersifat alkali. Definisi yang lebih spesifik dari deterjen adalah bahan pembersih yang mengandung senyawa petrokimia atau surfaktan sintetik lainnya. Perbedaan utama adalah karena yang digunakan pada saat ini mempunyai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -70 . Surfaktan di dalam deterjen berfungsi sebagai bahan pembasah yang menyebabkan menurunnya tegangan permukaan air sehingga air lebih mudah meresap ke dalam kain yang dicuci. Bahan pembentuk yang umum digunakan adalah polifosfat. Polusi air yang disebabkan oleh penggunaan deterjen terutama menyangkut masalah surfaktan dan bahan pembentuk.1. bahan pembentuk dan bahan lain-lain.17 Deterjen Deterjen dalam arti luas adalah bahan yang digunakan sebagai pembersih.5. Konsentrasi Minyak/Lemak Sungai Kapuas 4. Sifat alkali tersebut penting untuk menghilangkan kotoran secara efektif. Surfaktan merupakan bahan pembersih utama yang terdapat di dalam deterjen.45. Komposisi kimia deterjen terdiri dari bermacam-macam komponen yang dapat dikelompokkan menjadi tiga grup yaitu surfaktan. Surfaktan yang banyak digunakan pada saat ini berbeda dengan yang digunakan beberapa tahun yang lalu.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.

563 mg/l dan konsentrasi deterjen terendah di Pelabuhan Buntok sebesar 0.254 mg/l 2.05 mg/liter. Sungai Barito a) Tahap I. b) Tahap II. Konsentrasi deterjen tertinggi ditemukan di Muara Lahung sebesar 0. yaitu dapat dipecah menjadi senyawa-senyawa sederhana oleh bakteri yang terdapat di lingkungan. konsentrasi deterjen disemua lokasi masih dibawah baku mutu.029 mg/liter.342 mg/liter.03 mg/liter.035 mg/liter dan konsentrasi deterjen terendah di Mentangai 0. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter deterjen yaitu 0. Konsentrasi deterjen disemua lokasi masih diatas baku mutu yang dipersyaratkan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -71 .308 mg/l dan Masaran Hulu sebesar 0. Konsentrasi deterjen tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 0. sedangkan surfaktan yang digunakan sebelum tahun 1965 tidak dapat dipecah oleh bakteri sehingga terdapat dalam bentuk tetap tidak berubah dalam jangka waktu lama di lingkungan. Sungai Kapuas a) Tahap I. Adapun konsentrasi deterjen di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. Sedangkan konsentrasi deterjen terendah di P.Tilu sebesar 0. Konsentrasi deterjen tertinggi ditemukan di Sungai Lumuk sebesar 0.042 mg/liter. b) Tahap II. Ada 10 (sepuluh) lokasi yang lain konsentrasi deterjen tidak terdeteksi. konsentrasi deterjen yang melebihi baku mutu adalah di Masaran sebesar 0. Konsentrasi deterjen disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan.(Persero) CABANG I MALANG sifat dapat dipecah secara biologis (biodegradable).

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.47. Grafik Konsentrasi Deterjen Sungai Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -72 .46. Grafik Konsentrasi Deterjen Sungai Barito Gambar 4.

2. Sungai Barito a) Tahap I.(Persero) CABANG I MALANG 4. b) Tahap II. konsentrasi Fecal Coli tertinggi ditemukan di Bintang linggi sebesar 240 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Pendang 2 APM/100 ml.Tilu. Timpah Hulu dan Masaran Hilir sebesar < 2 APM/100 ml. P.5. konsentrasi Fecal Coli tertinggi di Masaran sebesar 6 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Kuala Kapuas.18 Fecal Coli Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Fecal Coli tidak dipersyaratkan. Adapun konsentrasi Fecal Coli di masing – masing sungai sebagai berikut : 1. konsentrasi Fecal Coli tertinggi ditemukan di Muara Lahung dan Pendang sebesar 13 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Tumbang Lahung sebesar 2 APM/100 ml. konsentrasi Fecal Coli tertinggi di Timpah sebesar 240 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Kuala Kapuas.48. Sungai Kapuas a) Tahap I. Mentangai. Grafik Konsentrasi Fecal Coli Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -73 . Timpah dan Masaran Hulu sebesar 2 APM/100 ml. b) Tahap II.1. Gambar 4.

yang menunjukkan telah terjadinya pencemaran tinja pada sungai tersebut dan dapat menyebabkan penyakit diare. Mayoritas sungai yang terdapat di kota padat penduduk seperti di Pulau Jawa cenderung lebih tercemar oleh bakteri coliform dan fecal coli. bakteri inilah yang paling ekonomis dapat digunakan untuk kepentingan tersebut.19 Total Coliform Jumlah perkiraan terdekat (JPT) bakteri coliform/100 cc air digunakan sebagai indikator kelompok mikrobiologis. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Total Coliform tidak dipersyaratkan. Hal ini tentunya tidak terlalu tepat. tetapi sampai saat ini. Sungai Barito a) Tahap I.1.5. Adapun konsentrasi Total Coliform di masing –masing sungai sebagai berikut: 1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -74 .49. konsentrasi Total Coliform tertinggi ditemukan di Bintang linggi sebesar 300 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Pendang 2 APM/100 ml. Grafik Konsentrasi Fecal Coli Sungai Kapuas 4.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.

Timpah dan Masaran Hulu sebesar 2 APM/100 ml.Tilu dan Masaran Hilir sebesar < 2 APM/100 ml. b) Tahap II. Sungai Kapuas a) Tahap I.(Persero) CABANG I MALANG b)Tahap II.50. konsentrasi Total Coliform tertinggi di Masaran sebesar 6 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Mentangai. konsentrasi Total Coliform tertinggi di Timpah sebesar 240 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Kuala Kapuas. Gambar 4. konsentrasi Total Coliform tertinggi ditemukan di Muara Lahung dan Pendang sebesar 13 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Tumbang Lahung sebesar 2 APM/100 ml. P. 2. Grafik Konsentrasi Total Coliform Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -75 .

Tujuan perhitungan Pollution Indeks (PI) adalah untuk menggambarkan secara utuh kualitas air sungai yang ada di lokasi studi. Dari seluruh parameter yang diuji. kelas tiga dan kelas empat. Penentuan Status Mutu Air dengan menggunakan Metode Polutant Index. kelas dua. Grafik Konsentrasi Total Coliform Sungai Kapuas 4. tentang “Pengelolan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air” yang terdiri dari empat kelas. yaitu Kelas satu.5. hanya diambil paramater-paremeter yang terdeteksi keberadaannya dan dipersyaratkan dalam baku mutu. dan Ci menyatakan konsentrasi parameter kualitas air (i) yang diperoleh dari hasil analisis cuplikan air pada suatu lokasi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -76 . Jika Lij menyatakan konsentrasi parameter kualitas air yang dicantumkan dalam Baku Peruntukan Air (j). maka dalam penentuan Pollution Indeks (PI) ini. Prosedur perhitungan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air.51. sedangkan untuk parameter yang tidak terdeteksi keberadaanya dan besarannya tidak dipersyaratkan dalam baku mutu tidak akan dilakukan perhitungan.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Hal ini disebabkan persamaanpersamaan matematis yang dipergunakan untuk menghitung Pollution Indeks (PI) mempersyaratkan hal tersebut.2 Status Mutu Air (SMA) Status Mutu Air (SMA) dapat diketahui dengan cara membandingkan kualitas air hasil pengukuran dengan Kriteria Mutu Air dari PP 82/2001.

0+P.(Persero) CABANG I MALANG pengambilan cuplikan dari suatu alur sungai. makaPIj ini dapat ditentukan dengan cara : 1.0. Menghitung harga Ci/Lij untuk tiap parameter pada setiap lokasi pengambilan cuplikan. Dalam kasus ini nilai Ci/Lij hasil pengukuran digantikan oleh nilai Ci/Lij hasil perhitungan. maka ditentukan nilai teoritik atau nilai maksimum Cim (misal untuk DO. misal DO. 3. Bilamana nilai konsentrasi parameter yang menurun menyatakan tingkat pencemaran meningkat. (Ci/Lij)baru = 1. yaitu : (Ci / Lij ) baru = Cim − Ci(hasil Pengukuran) Cim − Lij 5. Penggunaan nilai (Ci/Lij)baru jika nilai (Ci/Lij)hasil pengukuran lebih besar dari 1. maka Cim merupakan nilai DO jenuh). ((Ci/Lij)R dan (Ci/Lij)M). Memilih konsentrasi parameter baku mutu yang tidak memiliki rentang. Bilamana Nilai Lij memiliki Rentang : Untuk Ci ≤ Lijrata-rata (Ci / Lij ) baru = [Ci − ( Lij ) rata − rata ] [( Lij ) min imum − ( Lij ) rata − rata ] Untuk Ci ≥ Lij rata-rata (Ci / Lij )baru = [Ci − ( Lij ) rata − rata ] [( Lij ) maksimum − ( Lij ) rata − rata ] Penggunaan nilai (Ci/Lij)hasil pengukuran kalau nilai ini lebih keci dari 1. Menentukan nilai rata-rata dan nilai maksimum dari keseluruhan Ci/Lij. Memilih parameter-parameter yang jika harga parameter rendah maka kualitas air akan membaik.log(Ci/Lij)hasil pengukuran P adalah konstanta dan nilainya ditentukan dengan bebas dan disesuaikan dengan hasil pengamatan lingkungan dan atau persyaratan yang dikehendaki untuk suatu peruntukan (biasanya digunakan nilai 5). maka PIj adalah Indeks Pencemaran bagi peruntukkan (j) yang merupakan fungsi dari Ci/Lij. 6.0. 2. 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -77 .

0 1.(Persero) CABANG I MALANG 7. Menentukan harga PIj (Ci / Clj ) M 2 + (Ci / Lij ) 2 R 2 Pl j = Evaluasi terhadap Nilai PI adalah : 0 ≤ PI ≤ 1.0 ≤ PI ≤ 10 10 ≤ PI ≤ 15 tabel berikut : : Memenuhi Baku Mutu : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Berat Hasil perhitungan Pollutant Index.0 ≤ PI ≤ 5. masing-masing sungai disajikan pada Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -78 .0 5.

23 Perhitungan Pollutant Index Sungai Barito Tahap I Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -79 .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.

24 Perhitungan Pollutant Index Sungai Barito Tahap II Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -80 .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.25 Perhitungan Pollutant Index Sungai Kapuas Tahap I Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -81 .

26 Perhitungan Pollutant Index Sungai Kapuas Tahap II Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -82 .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.

Lokasi 5 : Kalahien .Lokasi 26 : Pelabuhan Puruk Cahu : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Sedang : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan .Lokasi 23 : Muara Lahung .Lokasi 2 : Baru .Lokasi 20 : Sungai Lumuk Hulu .Lokasi 4 : Pelabuhan Hulu .Lokasi 17 : Puruk Cahu .Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .Lokasi 23 : Muara Lahung .Lokasi 15 : Lahei .Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .Lokasi 9 : Montalat .Lokasi 21 : Jembatan Penyebrangan : Cemar Ringan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -83 .Lokasi 22 : Tumbang Lahung .Lokasi 12 : Muara Teweh : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan .Lokasi 1 : Baru Hilir / Buntok . Tahap II (September 2007) .Lokasi 24 : Laung Tuhup b.Lokasi 16 : Muara Lahei .Lokasi 25 : Jembatan Bahitom .Lokasi 19 : Sungai Lumuk .Lokasi 24 : Laung Tuhup .Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok .Lokasi 14 : Sungai Tewah .Lokasi 12 : Muara Teweh .Lokasi 7 : Sungai Pendang .Lokasi 6 : Pendang .Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri : Memenuhi Baku Mutu . dapat dikemukakan bahwa kualitas air di masing-masing sungai adalah : 1.Lokasi 22 : Tumbang Lahung .(Persero) CABANG I MALANG Dari hasil perhitungan di atas. Sungai Barito Tahap I (Juni 2007) .Lokasi 13 : Muara Sungai Tewah .Lokasi 8 : Bintang Linggi .Lokasi 10 : Kandui .

54 (Cemar Ringan) .Lokasi 3 : Mentangai . c Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata Pollutant Index pada tahap I (musim penghujan) dan tahap II (musim kemarau). Tahap II (Oktober 2007) .Lokasi 5 : Masaran . Kapuas . Tilu .Lokasi 2 : P. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -84 . pada umumnya berasal dari kegiatan Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI).Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok 2.Lokasi 5 : Masaran . Kapuas . Sungai Kapuas a.Lokasi 3 : Mentangai .Lokasi 4 : Timpah .Sungai Barito : PI = 3.Lokasi 7 : Masaran Hilir . maka mutu air di masing-masing sungai tahun 2007 pada umumnya sebagai berikut : . b Hasil pemantauan memberikan informasi faktual tentang kondisi (status) lingkungan masa sekarang dan kecenderungan kondisi masa lalu serta prediksi masa datang.(Persero) CABANG I MALANG . Tahap I (Juni 2007) : .Lokasi 8 : Timpah Hulu .Lokasi 1 : K.Lokasi 6 : Pendang .Lokasi 9 : Mandomai : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan Dari uraian dan pembahasan tersebut di atas.Lokasi 6 : Masaran Hulu .7217 (Cemar Ringan) d Sumber utama pencemaran yang mengakibatkan penurunan kualitas air sungai.Sungai Kapuas : PI = 3.Lokasi 4 : Timpah .Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri : Cemar Ringan .Lokasi 1 : K. maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : a Salah satu prosedur penting dalam proses pengelolaan kualitas air adalah melaksanakan pemantauan air secara kontinyu dan berkesinambungan.Lokasi 6 : Masaran Hulu b.Lokasi 2 : P. Tilu .

walaupun dari segi bakteriologi tidak dapat diulas.5.4 Prediksi Kualitas Air WS Barito – Kapuas Berdasarkan tiga kali pengukuran dari kegiatan studi sebelumnya maupun pengukuran oleh Balai Barito-Kapuas Ciwulan. sehingga masih terdapat sumber air minum yang tidak terlindung. tanah dsb. 4. Prediksi kualitas air kedepan apabila tanpa dilakukan pengelolaan areal pertanian dan pengolahan limbah penduduk maka kualitas air WS BaritoKapuas diduga lebih memburuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -85 . ini merupakan indikator bahwa air sungai Barito di beberapa titik pengambilan sampel telah mengalami pencemaran. kegiatan industri dan pertanian yang ada disepanjang sungai yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah 4.3 Permasalahan Lingkungan Beberapa hal yang berakibat pada permasalahan lingkungan di WS BaritoKapuas diantaranya : Belum terdapat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) penduduk secara terpusat Sarana pengolahan limbah tinja penduduk dengan menggunakan tangki septik terbatas dan terdapat sebagian membuang kotoran ke sungai.(Persero) CABANG I MALANG limbah organik dari kegiatan rumah tangga. namun seperti sungai besar lainnya kemungkinan tidak memenuhi untuk air Kelas 1.5. maka Kualitas air dari segi sedimentasi atau indikator erosi sangat dominan Nilai COD dan BOD di beberapa lokasi masih lebih tinggi dari nilai baku Mutu Air. Kemungkinan pencemaran terjadi karen adanya buangan limbah penduduk. Cakupan PDAM untuk melayani air bersih penduduk terbatas. konsekwensinya sumber air minum penduduk sangat beragam.

Rumus umum dari persamaan tersebut adalah: A = R x K x LS x C x P A R K = Erosi aktual (ton/ha/th) = faktor indeks erosivitas hujan = faktor indeks erodibilitas tanah LS = faktor indeks panjang dan kemiringan lereng C P = faktor indeks pengelolaan tanaman = faktor indeks pengawetan tanah Indeks erosivitas hujan diperoleh dengan menggunakan rumus Lenvain yaitu: Rm = 2. yaitu (a) erosi geologi (geological erosion) akibat proses alamiah yang berjalan secara normal jika pembentukan tanah lebih besar dari kehilangan tanah dan (b) erosi dipercepat (accelerated erosion) akibat aktivitas manusia pada permukaan tanah yang menyebabkan pembentukan tanah lebih kecil dari kehilangan tanah.6.6 ANALISIS KONSERVASI LAHAN DAN AIR 4. dan CP untuk berbagai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -86 .(Persero) CABANG I MALANG 4. suatu prosedur penghitungan erosi yang umum dilakukan di Indonesia. Jenis erosi yang kedua ini umumnya yang menjadi permasalahan utama pada kawasan daerah aliran sungai. Indeks pengelolaan tanaman (C) dan indeks pengawetan tanah (P) serta nilai indeks erodibilitas tanah (ketiganya merupakan nilai tertimbang) diperoleh dari tabel yang memuat nilai K.36 Rm (Rain)m R = Erosivitas curah hujan bulanan rata-rata (EI30) = Jumlah curah hujan bulanan rata-rata dalam cm = Erosivitas curah hujan tahunan rata-rata = jumlah Rm selama 12 bulan.1 Erosi dan Sedimen Secara umum proses erosi terdiri atas dua jenis.21 x (Rain)m1. Faktor indeks panjang dan kemiringan lereng dihitung dengan menggunakan rumus dan nomograf. Besarnya erosi yang terjadi dihitung berdasarkan satuan Sub DAS dengan menggunakan persamaan USLE (Universal Soil Loss Equation) dari Wischmeier dan Smith (1965).

Nilai tersebut merupakan nilai empiris dari hasil penelitian lapangan pada berbagai tempat. jarang sekali ada penelitian erosi yang berkelanjutan pada satu DAS sehingga menyebabkan data time series erosi menjadi tidak tersedia. faktor penutupan lahan dan pengelolaan tanah bersifat dinamis perubahannya.6. Sungguhpun demikian. 4. Aspek tata ruang yang selalu diperbaharui sesuai dengan perencanaan Pemerintah Daerah sangat menentukan penutupan lahan. erodibilitas tanah. Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap penutupan lahan adalah tingginya kerusakan hutan akibat pembalakan hutan serta meningkatnya luasan lahan kritis sepanjang tahun. Dari lima faktor yang mempengaruhi erosi sebagaimana yang ditulis pada rumus USLE.0001 untuk sawah menjadi 0. Akan tetapi. Salah satu contoh perubahan penutupan lahan dan pengolahan tanah adalah konversi sawah menjadi pemukiman akan mengubah indeks CP dari 0.(Persero) CABANG I MALANG tanah. dan lereng dapat diasumsikan sama untuk jangka prediksi 20 tahun.5 untuk pemukiman.0987 Y = sedimentasi dalam mm/tahun X = besarnya erosi dalam ton/ha/tahun Persamaan tersebut di atas cocok digunakan untuk menentukan besarnya sedimen yang terjadi untuk kawasan DAS yang terdapat di Pulau Kalimantan dan digunakan oleh BPDAS dalam menghitung besarnya sedimentasi.2 Prediksi Erosi dan Sedimentasi Pada dasarnya. tanaman dan pengawetan tanah.006607X1. Analisis sedimentasi yang digunakan didasarkan pada rumus hasil penelitian Al Khadimi (1981) yang dikembangkan oleh DPMA (1987) melalui persamaan sebagai berikut: Y = 0. Sudah diketahui bahwa hutan yang utuh sangat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -87 . tiga faktor yaitu erosivitas. Adapun data yang digunakan untuk menghitung setiap komponen rumus USLE tersebut diperoleh dari data sekunder. prediksi besarnya erosi di masa yang akan datang merupakan aspek penting dalam perencanaan konservasi Daerah Aliran Sungai.

berhak memperoleh sebagian laba bersih dari institusi pengelola dan berkewajiban memberikan kontribusi untuk membiayai kegiatan yang ditujukan bagi kesejahteraan dan keselamatan umum. Unsur dari masyarakat adalah sekelompok masyarakat. unsur Institusi Pengelola sumberdaya air dan dari unsur masyarakat. mempunyai fungsi pengaturan dan kebijakan baik pada tingkat Nasional (Makro) maupun tingkat daerah (Operasional) dan bertugas melaksanakan kegiatan yang terkait dengan kewenangan publik.7. Institusi pengelola sumberdaya air antara lain adalah pengusaha/kelompok pengusaha. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -88 . berhak memungut iuran dari para pemanfaat dan menerima kontribusi dari Pemerintah (untuk pembiayaan yang ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat dan keselamatan umum) dan berkewajiban memberi pelayanan prima dan mengupayakan penigkatanperan serta masyarakat dan swasta dalam melakukan pengelolaan wilayah sungai serta mempertanggung-jawabkan pelaksanaan tugas kepada Pemerinatah dan msayarakat.7 ANALISIS KELEMBAGAAN 4.1 Peranan Kelembagaan Kelembagaan pengelolaan sumber daya air berasal dari unsur Pemerintah. Pemerintah selaku owner (pemilik) sumberdaya air dan prasarana pengairan. 4. Selaku pemanfaat mempunyai hak memperoleh pelayanan yang baik dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan namun diharapkan dapat menggunakan air secara efisien dan ikut menjaga kelestarian lingkungan serta wajib memberikan kontribusi pembiayaan dan kontrol sosial yang positip atas pengelolaan wailayah sungai. badan usaha milik daerah atau milik negara maupun swasta yang bergerak dalam bidang sumberdaya air. Selaku oerator yang memperoleh konsesi untuk mengelola sumberdaya air dan prasarana pengairan bertugas melaksanakan pengelolaan wilayah sungai dan mengembangkan sistem pengelolaan sungai.(Persero) CABANG I MALANG berperan dalam mengurangi besarnya aliran permukaan yang pada akhirnya berdampak kepada erosi. pemerhati atau akademisi yang berkaitan dan concern dengan pengembangan sumberdaya air.

LH D EP KEH TAN U AN D EP PERTAN IAN D ITJENSD A D EKTO AT IR R Bina Program D EKTO AT IR R PSD A DIR EKTO AT R Irigasi D EKTO AT IR R Raw Pantai a DIREKTO AT R SU AW D A PR PIN O SI G BER U U NR Pem binaan teknis dan penelitian PTPA BAPPED A Perencanaan W ilayah Sungai BAPPELD A ALD D AS IN D AS IN DIN PEN AIR AS G AN U Perencanaan nit O w P ilayah sungai Konsultasi Tata Ruang BALAI PSD (PPTPA) A KETER AN ANG : BU PATI Perintah Perw akilan Pengguna/ Kom unikasi Pem binaan P3A D INASPUPEN AIR G AN KABU PATEN Konsultasi Gambar 4. Kelembagaan pengelolaan SDA level Pusat.DAG I R BAPPEN AS M ENEG .2 Kelembagaan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas Wilayah sungai Barito-Kapuas merupakan wilayah sungai yang pengelolaannya ditangani oleh Balai Besar Wilayah Sungai Kalimantan II ( Kode A2-18. Wilayah sungai Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -89 .52.7. PU T SA PU D EP. Per Men PU No 11A/PRT/M/2006) dibawah pembinaan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum. Provinsi dan Kabupaten 4.(Persero) CABANG I MALANG Gambar dibawah memperlihatkan Instansi kelembagaan dari unsur pemerintah yang terlibat dalam perencanaan/pengelolaan sumber daya air wilayah sungai mulai dari pemerintah/instansi pusat sampai dengan unsur pemerintah/instansi kabupaten.

No. (antar instream-offstream. Sedangkan untuk wilayah hilir sungai Barito-Kapuas yang masuk wilayah Kalimantan Selatan terkait dengan beberapa Peraturan Daerah Kabupaten Barito Kuala yaitu Perda No.(Persero) CABANG I MALANG merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.3 Strategi Kelembagaan dan Koordinasi 4. suatu pendekatan regional dalam pengembangan sumber daya air telah diikuti untuk mengatasi konflik yang muncul dengan cepat pada penggunaan air dan kaitannya dengan tata ruang wilayah. Mengingat bahwa sumber daya air menyangkut berbagai sektor pembangunan (multi sector). ekosistem) dengan wilayah sungai (satuan wilayah hidrologis) sebagai suatu kesatuan pengelolaan. Beberapa Peraturan Daerah yang terkait dengan kebijakan Sumber Daya Air Provinsi khususnya Kalimantan Selatan telah disusun Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan No. oleh karenanya perlu dikelola berdasarkan pendekatan peran serta (participatory approach) semua stakeholders dan segala keputusan publik tentang pengelolaan sumber daya air perlu didahului dengan konsultasi publik sebelum menjadi ketetapan. berwawasan kuantitas-kualitas).3.7. menyeluruh berkelanjutan (hulu-hilir. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -90 . yang diperlukan untuk optimalisasi penggunaan sumber daya wilayah sungai. Pengelolaan SDA Provinsi tercermin dalam Rencana Strategis masing-masing Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan yang disusun berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1994 tentang RTRW Kabupaten Barito Kuala yang diperbaharui dengan Perda Kabupaten Barito Kuala.3 tahun 1999 tentang RTRW Provinsi Kalimantan Tengah yang diperbaharui dengan Peraturan Daerah No 9 Tahun 2000 tentang RTRW Provinsi Kalimantan Tengah.1 Pendekatan Menyeluruh dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Pengelolaan sumber daya air dilaksanakan secara terpadu (multi sektoral). 18 tahun 1995 tentang RTRW 4.7. Peraturan Daerah tentang Sumber Daya Air yang dibuat disusun berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.108 tahun 2000 tentang Tata Cara Pertanggungjawaban Kepala Daerah. Dalam tahun-tahun belakangan ini. lingkungan (konservasi generasi).

mengontrol akses ke sumber daya air. Perencanaan sumber daya air salah satunya dapat berupa program komprehensif pengembangan sumber daya air untuk jangka pendek dan jangka panjang. mengontrol penggunaan sumber daya air. Inggris atau Belanda) dan Asia Tenggara (Serawak dan Malaysia). Menjabarkan semua pihak yang terkait yang terlibat dalam manajemen sumber daya air dan menggunakan kerangka kerja pada tingkat WS. mengatur. 2. dan mengidentifikasi berbagai kegiatan yang dapat menghasilkan suatu pedoman pengelolaan sumber daya air di Indonesia. untuk mensosialisasikan proyek dan tujuannya. harus memperkirakan kebutuhan air baik untuk saat ini maupun proyeksinya di masa mendatang. dan mengatur alokasi air. 3. Pendekatan ini telah mengarah pada definisi batas wilayah sungai dan pada beberapa sungai pembentukan Satuan Pengelola Teknis Wilayah Sungai. penegakan hukum. masalah hukum. mengontrol kualitas sumber daya air. fokus dan integrasi dari berbagai aspek serta sebagai saluran bagi umpan balik pengguna dan dalam pengembalian biaya. seperti seminar. alokasi. Mengadakan seminar informasi dan diskusi bulanan antara pihak pemerintah. yang bertanggung jawab kepada Provinsi. Hal ini juga diikuti dengan studi masalah. Pada tingkat pusat. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back). badan perencanaan bertugas merencanakan. juga dibutuhkan evaluasi terhadap alternatif kegiatan untuk memanfaatkan sumber daya air tersebut secara lebih baik. Keterlibatan penggunaan berbagai sektor kebutuhan air dapat menyebabkan konflik untuk penggunaan sumber daya air. pengawasan. seperti dari Eropa (Republik Checz. Departemen-departemen ini juga mengalokasikan biaya (budget) untuk pengembangan sumber daya air. Definisi fungsi institusi yang mewakili pemerintah pusat adalah sebagai berikut: 1. Menjabarkan kerangka kerja institusi pemerintah pusat dalam kegiatan manajemen sumber daya air. 4. Untuk merumuskan suatu perencanaan termasuk menyusun dokumentasi sumber daya air. Pihak lainnya dilibatkan dalam hal koordinasi perencanaan.(Persero) CABANG I MALANG Suatu pendekatan kewilayahan dapat memberikan perhatian. institusi dan legislatif. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -91 .

fungsi dan yurisdiksi untuk koordinasi sektor-sektor yang ada pada manajemen sumber daya air dan pada tingkat nasional. penggunaan.(Persero) CABANG I MALANG 5. sub komite manajemen suplai air. 6. diantaranya: • • • • sub komite manajemen sumber daya air permukaan dan air tanah. perawatan air. kontrol akses. Komite ini terdiri dari pihak lain yang terkait. terutama dari sektor swasta. kontrol kualitas sumber daya air. kontrol penggunaan sumber daya air. sub komite manajemen batas air dan daerah pantai. Hal ini dibagi berdasarkan WS yang ada. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back) yang terdiri dari perwakilan 17 departemen pemerintah dan lembaga yang terlibat dalam perencanaan manajemen dan penggunaan sumber daya air. Menghindari pengaturan tanggung jawab dan kawasan kerja pada lembaga-lembaga yang ada. kabupaten dan kecamatan serta batas kawasan kerja pihak lainnya yang terkait. Provinsi. Pembuatan prinsip dan konsep institusi dan tanggung jawab mengenai manajemen integrasi DAS dan daerah pantai dibagi berdasarkan area DAS. Bappenas telah mempersiapkan peta Indonesia skala 1:1. 8. 7.000 yang menggambarkan kondisi batas WS. Pembagian Institusi yang bertanggung jawab adalah sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -92 . Pembagian area DAS tersebut adalah sebagai berikut : ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Daerah aliran air bagian hulu Daerah aliran air bagian tengah Daerah aliran air bagian hilir Daerah pantai Saluran sungai Dataran banjir yang diatur Daerah banjir DAS Daerah tangkapan hujan (catchment area) Daerah pinggiran banjir yang diatur (regulatory foodway fringe) perencanaan. Mengklarifikasi pembagian tugas. manajemen. Untuk keperluan ini.000. dan kualitas air. sub komite koordinasi dan legistatif sumber daya air.

masalah hukum. pengembangan sumber daya manusia. Menyiapkan kerangka kerja tugas dan fungsi koordinasi institusi suplai air pada lembaga pemerintah dan pihak terkait lainnya. planning perencanaan pengembangan partisipasi publik. evaluasi dan pengawasan. masalah institusi. memperkirakan resiko yang mungkin terjadi. koordinasi pengembangan. mengontrol pembiayaan.7. resolusi konflik. Mengadakan studi banding mengenai integrasi. Informasi diatas digunakan untuk mengkoordinasikan secara fungsional dan spasial antara sektor berikut: suplai air minum. erosi dan sedimentasi. industri. penegakan hukum.(Persero) CABANG I MALANG ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● pengguna dan aplikasi sumber daya air. 11. masalah legistatif. Identifikasi tugas institusi dalam kondisi yang baru. banjir serta kualitas air adalah termasuk upaya penanggulangan secara struktural dan non struktural pengembangan sumber daya air dalam era otonomi daerah. 10.3.2 Pengelolaan Sumber Daya Air dalam Era Otonomi Daerah Di dalam upaya penanggulangan masalah pengembangan sumber daya air. air irigasi. Menyiapkan pilihan dan alterbatif untuk pemerintah pusat tentang pembagian tugas antar pihak swasta yang terkait. dan perikanan air tawar dan air asin. pembangkit listrik tenaga air. 14. 16. Mengidentifikasi pilihan alternatif pemecahan masalah dengan pernyataan yang jelas tentang kelebihan dan kekurangannya. alokasi keuangan dan 9. Merumuskan kurangnya koordinasi antar institusi pada suplai air industri. 15. baik masalah kurangnya air. Merumuskan kekurangan infrastruktur perawatan air dan legalisasi untuk kota dan daerah urban. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -93 . 13. 12. 4. alokasi sumber daya air.

Pengelolaan sumber daya air meliputi kegiatan konservasi.(Persero) CABANG I MALANG Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan Provinsi sebagai otonomi daerah. Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000. Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota dan semua produk hukum yang isinya bertentangan dengan Peraturan perundang-undangan tersebut perlu direvisi. akan banyak memberikan perubahanperubahan mendasar dalam sistem ketatanegaraan. maka untuk saat ini kedua produk hukum tersebut digunakan sebagai acuan untuk pembagian kewenangan antara Pusat. Dalam UU SDA Pasal 5 dan Pasal 6 Tentang Pengelolaan Sumber daya Air. berkedudukan sebagai daerah otonomi dan mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat di daerahnya. yang dalam Undangundang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang Pokok-pokok Pemerintah di Daerah. meningkatkan peran serta masyarakat serta mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. yaitu UU Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. pemerintah dan DPR telah mengeluarkan Undang-undang (UU) Nomor 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air. Berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air. disebutkan bahwa: 1. Pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan melibatkan seluas-luasnya peran serta masyarakat. menumbuhkan prakarsa dan kreativitas. UU SDA ini menggantikan Undang-undang yang berlaku sebelumnya. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -94 . Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 merupakan faktor pendorong untuk memberdayakan masyarakat. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 menempatkan otonomi daerah secara utuh pada daerah kabupaten dan daerah kota. Pengelolaan sumber daya air ditetapkan berdasarkan wilayah sungai 3. Pelaksanaan otonomi daerah yang bertumpu pada otonomi daerah kabupaten dan daerah kota juga memberikan pengaruh yang besar terhadap pengelolaan sumber daya air. pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air. 2.

baik dari unsur pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah Provinsi. Untuk itu diperlukan suatu terobosan berupa suatu kesepakatan operasional pelayanan sumberdaya air yang mengikutsertakan para penanggung jawab operasional di lapangan. Sumber pembiayaan dari setiap jenis kegiatan antara lain: (a) Dana Pemerintah.(Persero) CABANG I MALANG 4. namun juga biaya jasa pengelolaan sumber daya (termasuk pengembalian biaya investasi) dan biaya konservasi.4 Strategi Pembiayaan 4. telah disebutkan prinsip-prinsip dan kebijakan tentang pembiayaan sumber daya air (water financing) yang meletakan dasar-dasar ke depan keberlanjutan dalam aspek pembiayaan untuk menjamin keberlanjutan sumber daya air. dimasa depan dibutuhkan sumber dana dari masyarakat untuk pengembangan sumber daya air. Berdasarkan prinsip keterpaduan tanpa mengurangi Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Pengelolaan Wilayah Sungai.27 Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Wilayah Sungai Wilayah Sungai Dalam satu Kabupaten/Kota Lintas Kabupaten/Kota dalam satu Provinsi Lintas Provinsi Sungai Strategis Sumber: UU No.7.1 Kebijakan Public Service Obligation Sumber Daya Air di Indonesia Di dalam kondisi keuangan Negara yang sangat terbatas. 7 Tahun 2004 Wewenang Penetapan Wilayah Sungai. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.4. (b) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -95 . 4. Pembiayaan sumber daya air tidak hanya untuk mendanai pembangunan infrastruktur serta operasi dan pemeliharaan.7. termasuk para kelompok pengguna air di dalam pengelolaan sumberdaya air. Penetapan Pola dan Pelaksanan Pengelolaan SDA Bupati/Walikota Gubernur (konsultasi dengan Dewan Nasional Sumberdaya Air) Menteri (konsultasi dengan Dewan Nasional Sumberdaya Air) Pemerintah (dengan persetujuan dan dilakukan bersama Pemerintah Daerah) Pengelolaan sumberdaya air memerlukan dukungan penuh dan terus-menerus dari institusi jajaran pemerintah Provinsi/kabupaten/kota dan stakeholders. ditetapkan sebagai berikut : Tabel 4. Di dalam UU No.

keadilan. dan (c) Dana yang diperoleh dari jasa pengelolaan sumber daya air (misalnya dana untuk konservasi serta pemantauan dan pembinaan). masyarakat swasta dalam pembiayaan pengembangan dan pengelolaan sumber daya air. Kewenangan mengelola dana di wilayah sungai didasarkan pada pembagian kewenangan antara pusat. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -96 . dapat dilakukan kerjasama pengelolaan dana untuk wilayah sungai. 4. demokratisasi. dan kabupaten/kota sesuai UU Sumber Daya Air. transparasi dan akuntabilitas dapat diterapkan secara memadai. Di samping itu. Provinsi. pemerintah pemanfaat.4. Sistem pembiayaan yang memperhitungkan sebagai saham atas kontribusi biaya publik dan subsidi pelayanan sosial yang akan diperhitungkan sebagai daerah.7. Prinsip Pengelolaan sumber daya air yang dapat lebih menjanjikan dalam aspek finansial untuk menjamin keberlanjutan sumber daya air di era otonomi daerah adalah ”One River – one plan – one system of multi level basin management” 2. Institusi pengelolaan sumber daya air di Tingkat Wilayah Sungai yang dapat merealisasikan keberlanjutan aspek finansial dalam pengembangan dan pengelolaan sumber daya air adalah BUMN/BUMD yang berbentuk Perusahaan Publik yang netral dan profesional yang secara seimbang menerapkan norma-norma pengusahaan yang sehat dan kaidah-kaidah pelayanan umum yang handal atas air dan sumber-sumber air dengan bertumpu pada partisipasi masyarakat dan kemitraan dengan swasta. 3. saham dalam usaha pengelolaan dan sumber daya air akan memberikan iklim kondisif untuk partisipasi pemerintah. 4.2 Konsep Dasar Sistem Pembiayaan Berkelanjutan Konsep dasar sistem pembiayaan berkelanjutan: 1. PTPA dan PPTPA harus ditingkatkan fungsinya dan disempurnakan keanggotaannya sebagai wadah koordinasi dan konsultasi serta sebagai regulatory body/parlemen air yang dapat dipergunakan sebagai sarana untuk memungkinkan diterapkannya pendekatan partisipatif dalam pengembangan dan pengelolaan sumber daya air sehingga prinsip keterbukaan.(Persero) CABANG I MALANG Dana swasta (termasuk pinjaman atau hibah).

(Persero) CABANG I MALANG Badan-Badan Pengelola Sistem Pendukung (BPSP) Pemerintah/Perintah Daerah (Cost & Fee) Recovery Badan Pengelola Sistem Utama (BPSU) (Cost & Fee)* Recovery* Badan-badan Pengelola Sistem Pemanfaat (BPSM) (Cost & Fee)** Recovery** Pemanfaat Air (Pemanfaat Spesifik) Pemanfaat Air (Pemanfaat Umum/Non Spesifik) Pelayanan air Pelayanan dari badan pengelola di hulunya Pembayaran iuran Pembayaran pajak Konstribusi pembiayaan Subsidi biaya publik & biaya sosial Gambar 4.53. Sistem Multilevel Basin Management Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -97 .

Diagram Skematik Sistem Sharing dan Deviden Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -98 .54.(Persero) CABANG I MALANG Pemerintah Pemerintah Daerah (Propinsi/Kabupaten/Kota) Pemanfaat air dan Sumber-sumber air Masyarakat umum dan swasta Badan Pengelola SDA (BPSU/BPSP) Share Deviden Pengembangan dan Pengelolaan SDA Konstribusi biaya Investasi Subsidi biaya publik & sosial u/ pengelolaan Deviden atas konstribusi biaya investasi Deviden atas subsidi biaya publik & sosial Gambar 4.

Mengingat irigasi sebagai pengguna air terbesar dan mengingat prinsip keadilan. petani pemakai air dapat memberikan konstribusi dalam bentuk iuran pembiayaan pengelolaan sumber daya air. maka guna menjaga kelestarian fungsi sarana dan prasarana pengairan dalam rangka dapat menjamin keberlanjutan pelayanan kepada masyarakat. 2.7. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -99 . perlu diupayakan secara bertahap realisasi konstribusi pemerintah untuk membiayai pelayanan umum dan subsidi untuk pelayanan sosial. Kelompok Stakeholders dan Dewan Daerah SDA 4. sesuai kemampuannya. Mengacu pada kenyataan dengan adanya peningkatan kontribusi pemanfaat untuk membiayai pengelolaan sumber daya air di WS BaritoKapuas sedang di lain pihak Goverment Obligation Principles belum dapat direalisasikan.55.5 Strategi Implementasi 1. maka secara bertahap.(Persero) CABANG I MALANG Pemerintah/ Pemda (Owner/ Regulator) Dewan Daerah SDA (PTPA/PPTPA) Masyarakat (User/ Beneficieries) Badan Usaha Pengelola SDA (Operator/ Service Providers/ Developer) Gambar 4.

KONSERVASI SDA. Pengawasan oleh Dewan Daerah Sumber Daya Air yang bagaimana yang tidak menimbulkan duplikasi dengan pengawasan oleh pihak pemilik perusahaan yang dilakukan oleh Badan/Dewan Pengawas Perusahaan. 5. UMP.(Persero) CABANG I MALANG 3. air bersih. 6. 4. dan pengendalian kualitas air) perlu dilakukan berdasarkan metode sederhana (berdasar nilai manfaat) dengan dibuat suatu formula kenaikan tarif berkala dengan memperhatikan unsur-unsur biaya yang berpengaruh secara dominan terhadap biaya pengelolaan sumber daya air (BBM. industri. Kenaikan tarif di samping memperhatikan faktor-faktor kenaikan harga juga harus mencakup peningkatan derajat pelaksanaan O & P dengan jangka waktu ideal selambat-lambatnya 5 – 10 tahun untuk mencapai O & M Cost Recovery. Pembebanan biaya kepada kelompok-kelompok pemanfaat (listrik. PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR Sesuai dengan amanat dalam Undang Undang SDA No7 tahun 2004. irigasi. pengendalian banjir. Dalam rangka memberikan kontinuitas pelayanannya. Dengan demikian dalam pembentukan kelembagaan dikemudian hari keikutsertaan stakeholder dalam wadah Dewan Air nantinya sangat berperan dalam PENDAYAGUNAAN SDA. maka tarif pajak pengambilan dan pemanfaatan air agar dapat ditetapkan yang proporsional terhadap tarif iuran pembiayaan pengelolaan sumber daya air sehingga dana kontribusi dari pemanfaat tersebut dapat sebesar-besarnya dipergunakan secara langsung untuk membiayai pengelolaan sumber daya air yang bersangkutan. inflasi rata di wilayah sungai yang bersangkutan). Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -100 .

akan tetapi juga secara operasional untuk memxbantu para pengelola air sebagai suatu decision support system (sistem pendukung pengambilan keputusan).2 MODEL SIMULASI WILAYAH SUNGAI Pemodelan simulasi alokasi air di tingkat wilayah sungai akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kerap kali muncul dalam pengembangan sumberdaya air. dan melibatkan berbagai aspek sosial dan ekonomi dalam meningkatkan produksi pangan. irigasi. yang tidak hanya digunakan pada tahap perencanaan. Dilain pihak ketersediaan air jumlahnya tetap sehingga sudah mulai terasa adanya conflict of interest dalam hal pemakaian air. listrik. maka diperlukan bantuan dari suatu model komputer untuk alokasi air. Situasi ini jika dibiarkan berlarutlarut akan dapat mengganggu kehidupan masyarakat dan pembangunan nasional pada umumnya. maka semakin meningkat pula kebutuhan akan air untuk berbagai keperluan (terutama untuk domestik. dan lainnya. wisata dan lingkungan). 5.1 UMUM Perencanaan pengembangan wilayah sungai merupakan suatu proses perencanaan secara spasial dan temporal yang sangat kompleks. Untuk mengantisipasi hal ini maka perlu dilakukan pengelolaan distribusi air pada tingkat wilayah sungai atau bahkan antar wilayah sungai. antara lain sebagai berikut: 1) Evaluasi alternatif dan potensi pengembangan sumberdaya air. 2) Untuk suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan ketersediaan airnya yang berfluktuasi. sampai sejauh mana dapat dikembangkan jaringan irigasi dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-1 . Sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya perekonomian dan industri. penyediaan air baku untuk rumah-tangga. pemeliharaan aliran. perkotaan dan industri. perkotaan dan industri. Mengingat kompleksnya sistem alokasi air ini. secara komprehensif dan terpadu.(Persero) CABANG I MALANG BAB 5 SIMULASI MODEL ALOKASI AIR WS BARITO-KAPUAS 5.

Artinya model harus mampu menirukan karakteristik penting dari wilayah sungai. dan kemungkinan alternatif pengembangan. terutama ketersediaan air.1 Skematisasi Sistem Tata Air Untuk dapat mensimulasikan satuan wilayah sungai sebagai suatu sistem tata air. yaitu simpul biasa. listrik tenaga air.(Persero) CABANG I MALANG pemasokan air baku tanpa menimbulkan kekurangan air atau merugikan pemakai air lainnya? 3) Apakah akan terjadi benturan kepentingan (conflict of interests) antara para pemakai air (irigasi. 7) Seberapa efektif upaya pembangunan waduk terhadap pemenuhan kebutuhan air irigasi dan tambak? 8) Berapa ukuran waduk yang diperlukan. simpul aktivitas. Simpul-simpul tersebut terdiri atas tiga jenis. dan Alternatif Pengembangan Sumberdaya Air yang direncanakan. air baku. dan bagaimana pola pengoperasian yang optimal? Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas. dan mudah dioperasikan. kebutuhan air. dan lainnya) di masa mendatang? Bilamana dan dimana? 4) Berapa potensi listrik tenaga air? 5) Berapa debit andalan (reliable flow) dengan atau tanpa waduk? 6) Pengkajian upaya-upaya pembangunan infrastruktur pengairan dan upayaupaya pengelolaan air. dalam format yang mudah disajikan. lengkap dengan bangunan-bangunan air dan sarana pembawanya. dan dampak alternatif pengembangan (dalam bentuk peta dan grafik) yang mudah dievaluasi dengan cepat. Dalam simulasi wilayah sungai terdapat dua hal penting. saluran.2. disamping memberikan kemudahan pemasukan data dan keluaran informasi secara efisien. yaitu kondisi sistem tata air yang dinyatakan dalam Skematisasi Sistem Tata Air. maka disusun skematisasi sistem tata air yang dapat menggambarkan sistem tata air secara hidrologis. dan simpul kendali sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-2 . dan cabang-cabang yang menyatakan sungai. maka suatu model simulasi wilayah sungai harus dapat melakukan perhitungan simulasi dengan baik. 5. Skematisasi sistem tata air terdiri atas simpul-simpul yang menyatakan sumber air. pengoperasian sistem tata air. terowongan atau pipa. kebutuhan air dan infrastruktur.

2 Water District Untuk dapat menggambarkan skematisasi dengan baik. maka biasa dilakukan deliniasi Wilayah Sungai (WS) atas beberapa sub-WS. dan Simpul Drainase Sub-Wilayah Sungai (district drainage node). tergantung pada detil wilayah dari analisa kebutuhan dan pasokan dan lokasi pada bangunan utama pada sungai. sistem saluran utama dll.(Persero) CABANG I MALANG a) Simpul biasa merupakan unsur dalam tata air yang tidak mengatur aliran air. b) Simpul aktivitas yang merupakan simpul kebutuhan air.2. Masing-masing sub-WS ini mempunyai karakteristik tertentu yang secara umum dapat digolongkan atas tiga bagian. Simpul Listrik Mikrohidro (run-of-river node). Simpul-simpul ini dapat berupa Simpul Aliran (inflow node). Simpul Tambak (fishpond node). Simpul Irigasi (irrigation node). 5. Simpul Akhir (terminal node). c) Simpul kendali merupakan infrastruktur pengairan yang dapat digunakan untuk mengendalikan sistem tata air. Simpul Semu (dummy node). dan Simpul Kehilangan Air (loss flow). dengan batas potongan berupa infrastruktur di sungai atau batas alami berupa anak atau cabang sungai. Simpul Aliran Rendah (low flow node). atau water district. Batas dari sub-WS pada suatu DAS bagian hulu biasanya bertepatan dengan batas dari DAS Pada bagian tengah dan hilir dari WS kondisinya lebih kompleks dengan adanya bangunan-bangunan air seperti bendung. waduk. Sub-WS di bagian Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-3 . Sub-WS atau Water District merupakan suatu satuan luasan alami terkecil. tengah dan pantai. yaitu sub-WS di hulu. yang selanjutnya digunakan untuk penggambaran daerah studi dalam bentuk Skematisasi. dan dapat berupa: Simpul Air Bersih (public water supply node). dapat berupa: waduk dan bendung. Simpul Penyadapan Air untuk Sub-Wilayah Sungai (district extraction node). Simpul Pertemuan (confluence node). Sub-WS ini mencirikan: unit hidrologi terkecil yang mencakupi kebutuhan air dan pasokan air mempunyai persamaan sifat dalam merespon hujan dan aliran unit yang saling melengkapi dalam pengaturan sumber daya air dan dapat dimungkinkan untuk membuat keseimbangan Ukuran dari pembagian sub-WS banyak pertimbangannya.

Pada kawasan ini perlu diberikan perlindungan konservasi lahan. Pemodelan pada kawasan yang menjadi simpul inflow ini menyangkut kalibrasi hubungan hujanlimpasan.(Persero) CABANG I MALANG hulu. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-4 . merupakan daerah tangkapan air. penampungan air dan pengendalian anak-anak sungai.

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 5.1. Berbagai tipe water district Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-5 .

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 5. Daerah Tangkapan Air Bendung sebagai water district Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-6 .2.

serta Upaya Hukum dan Kelembagaan. sebab merupakan daerah produksi dan pemanfaatan. b) Simulasi Kedua dan seterusnya. dan pemeliharaan. pasokan air terhadap suatu kebutuhan air. Perbedaan ini misalnya dapat berupa: debit air.(Persero) CABANG I MALANG Pada sub-WS di bagian tengah lebih kompleks. dan intrusi air laut. dan analisis multi kriteria untuk menyajikan hasil kajian alternatif pengembangan kepada para pengambil keputusan. dan Upaya yang terarah pada Kebutuhan (demand oriented). Selain itu upaya-upaya dapat pula dikelompokkan atas Upaya yang terarah pada Pasok (supply oriented). antara lain adalah model WRMM (Water Resources Management Model) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-7 . dicirikan dengan adanya pertanian.2. Kasus-kasus simulasi tersebut diatas disimulasikan menurut skenario yang digunakan. maka dapat dilakukan analisis ekonomi teknik. kebutuhan air baku. produksi hasil pertanian. operasi. pembebasan lahan. pengendalian muara pantai. perikanan. Untuk dapat mengevaluasi hasil alternatif pengembangan. Skenario adalah parameter sistem yang tidak dapat diubah oleh proyek dan bersifat probabilistik. Setelah dilakukan perkiraan biaya konstruksi. dan produksi energi listrik. dan sebagainya. skenario tingkat sukubunga. yang dinamakan dengan Kasus Dasar (Base Case) dan terdiri atas Kasus Dasar Masa Kini (untuk kalibrasi sistem) dan Kasus Dasar Masa Mendatang (untuk perbandingan alternatifalternatif). dan perkotaan dengan permasalahan alokasi air. misalnya skenario laju pertumbuhan penduduk. Model alokasi pembagian air yang telah umum digunakan pada beberapa Wilayah Sungai di Indonesia. dapat berupa daerah irigasi teknis. Upaya Operasional. Upaya-upaya tersebut dapat berupa Upaya Teknis / Infrastruktural seperti pembangunan waduk dan pengembangan irigasi. dan skenario kondisi hidrologi. Sub-WS di daerah hilir merupakan daerah pemanfaatan dan juga pembuangan. 5. untuk kondisi tanpa upaya. maka paling tidak harus dilakukan dua buah simulasi yaitu: a) Simulasi Pertama. Perbedaan hasil dari kedua buah simulasi tersebut merupakan dampak dari alternatif pengembangan yang dikaji.3 Alternatif Pengembangan Sumber Daya Air Setiap alternatif pengembangan sumberdaya air pada umumnya terdiri atas gabungan beberapa upaya (proyek). tambak. dengan berbagai alternatif pengembangan. misalnya peningkatan operasi waduk.

Tahun Hidrologi dan Tahun Kebutuhan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-8 .(Persero) CABANG I MALANG dari Kanada. dan DSSRibasim.4. model ad-hoc yang berdasarkan Lotus-123 atau Microsoft-Excel. Simulasi Wilayah Sungai Gambar 5.3. Gambar 5.

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 5. Model yang konsep dasarnya Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-9 . maupun secara operasional untuk membantu pengambilan keputusan taktis (misalnya sebagai sarana negosiasi operasi beberapa waduk.5. Model ini dikembangkan oleh Delft Hydraulic dari Negeri Belanda sejak tahun 1985.3 DSS-RIBASIM UNTUK WILAYAH SUNGAI BARITO KAPUAS DSS. Simulasi Alternatif Pengembangan 5.Ribasim merupakan salah satu model alokasi air yang dapat digunakan pada tahap perencanaan pengembangan sumberdaya air. atau pemberian ijin pengambilan air industri.

PEMBAGIAN DAS DI WS BARITO KAPUAS BERDASARKAN PERMEN PU No. yaitu : Barito Kapuas Murung Martapura Riam Kanan Riam Kiwa Negara Ambawang Kubu Landak Tapin. Murung Barito Kapuas PROPINSI KALIMANTAN TIMUR PROPINSI KALIMANTAN TENGAH DAS : Barito Kapuas Murung Martapura Riam Kanan Riam Kiwa Negara Ambawang Kubu Landak Tapin .1 Sistem Tata Air Berdasarkan PERMEN PU No. Negara . 26 Juni 2006 telah membagi Wilayah Sungai menjadi 11 sub-DAS.(Persero) CABANG I MALANG diilhami oleh model MITSIM dari Amerika Serikat ini telah digunakan pada lebih dari 20 negara di dunia.10 . 26 Juni 2006 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V . . 11A/PRT/M/2006 Tg. Kubu Landak . 5. 11A/PRT/M/2006. . . . KETERANGAN : Batas Propinsi Batas Kabupaten Area DAS Barito Area DAS Kapuas Sungai Jalan B !ANJ ARMASIN .3. . . Tg. . . Ambawang PALANGKARAYA ! . Riam Kanan Riam Kiwa . PROPINSI KALIMANTAN SELATAN Tapin Martapura .

Danumbul S. sebagai berikut: No. Murung Kabupaten Kab Murung Raya Kecamatan Kec. Gunung Pirel Kec. Lahei Kec. Lahei S. Kuantan S. Montalat Kec. Mantangin S. Alar S. Tuhup Main stream barito S. Timpah Kec. Timpah Kec. 2004) dalam water district. Kapuas Tengah Pujon Kec. Permata Intan Kec.(Persero) CABANG I MALANG Agar kita dapat mengetahui dimana terjadi kekurangan air. Bebem S. Singkap S. Dusun Tengah Kota Ampah Balawa Sei Hanyu Sei Hanyu Kec. Teweh besar S. Murung Kec. maka pada studi ini diperlukan pembagian sub-DAS yang lebih detail. Timpah Kec. Teweh Tengah Muara Lahai Bangkanal Kec. Karau Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Selatan Kab Barito Selatan Kab Barito Selatan Kec. Pematang Kanan Kec. Mantangai Kec.11 . Timpah Kec. Mengkatip Kab Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V . Sbr Barito Desa Muara Joloi I Tumbang Tulang Tanjung Belatung Main stream barito S. Lahung S. Murung Kec. 1 Sub DAS Barito Sungai-sungai S. Dusun Utara Kota Buntok Kec. Tanah Siang Kec. Murui S. Teweh Tengah Kec. Mantangai Kec. Mantangai Palingkau 2 Kapuas S. Mengkutup S. Teweh Timur Kec. Kapuas S. Berioi Sungai di timur Kota Muara Sungai Montalat Main stream Barito S. Laung Timur Kec. sesuai dengan Pedoman Perencanaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (Ditjen Sumber Daya Air. Laung S. Mantangaik S. Gunung Timang Muara Bitung Kec. Gunung Butang Awal Kec. Mantangai Kec. dan bagaimana upayaupaya penanggulangannya. Ayuh Main stream Barito S.

Tabalong S. Kapuas Murung S. Batangalai 8 9 10 11 Ambawang Kubu Landak Tapin Kab Murung Raya Kab Banjar Kab Banjar Kota Martapura Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Muara Juloi II Parahali Tumbang Julung Tumbang Kalasin Tumbang Maan Tumbang Tuhai Kab Banjar Kab Hulu Sungai Utara S.(Persero) CABANG I MALANG No. Kumap S. Balangan S. Alalak S. Sub DAS 3 Murung Sungai-sungai Main stream kapuas S. Maluka S. Pitap S. Tapin S. Mangkook 7 Negara S. Halong S. Riam Kanan S. Busang Kabupaten Kecamatan Mandomai Barimba Lupak Dalam Desa Kab Murung Raya S.12 . Tabalong Kiwa S. Juloi (selatan) 4 5 Martapura Riam Kanan S. Martapura S. Pulau Petak S. Amandit Kab Hulu Sungai Selatan Rantau Kandangan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V . Kalaan 6 Riam Kiwa S. Riam Kiwa S. Tabalong Kanan S.

6.3 Proses Perumusan Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air Perumusan Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air dengan alur pikir dilakukan dengan mengikuti prinsip-prinsip yang ada pada: UU No. 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air berikut Peraturan Pemerintahnya. Dengan demikian. yaitu “Uraian mengenai hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai keadaan sebagaimana tersebut pada Visi”.1 RUMUSAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA NASIONAL 6.1.(Persero) CABANG I MALANG BAB 6 TINJAUAN KEBIJAKAN SUMBER DAYA AIR 6. diperlukan usaha-usaha atau “Misi”. yang berkaitan dengan sumber daya air.1. 6. yang akan dicapai.1 Makna Kebijakan Nasional Sumber Daya Air ‘KEBIJAKAN’ adalah ‘Arah’ atau ‘Tujuan’. yang mempunyai kepentingan dengan sumber daya air.1.2 Makna Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air Cita-cita mulia tersebut adalah ‘Visi’ dari kebijakan nasional sumber daya air. makna dari Kebijakan Nasional Sumber Daya Air adalah merupakan ‘Arah’ dan ‘Tujuan’ yang akan diikuti oleh masyarakat pada tingkat nasional. Tata kelola Sumber Daya Air dengan paradigma baru (New Paradigm of Water Governance) dan Kesepakatan-kesepakatan global Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . yang merupakan haluan yang akan diikuti oleh segenap pemilik kepentingan untuk mewujudkan cita-cita yang akan dicapai.1 . yaitu “ Gambaran mengenai keadaan yang diinginkan pada masa 10-20 tahun yang akan datang” sedangkan untuk merealisasikan Visi tersebut. untuk mewujudkan cita-cita nasional.

berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup Tertingkatkannya perlindungan masyarakat dari bencana daya rusak air Terpenuhinya kecukupan air bagi sebagian besar masyarakat dengan prioritas utama untuk kebutuhan pokok masyarakat dan pertanian rakyat. iv) Terwujudnya keterlibatan peran masyarakat secara aktif dalam pengelolaan sumber daya air melalui Dewan Sumber Daya Air yang merupakan Forum Dialog dan Koordinasi antar Pemilik Kepentingan yang terlegitimasi. Misi Untuk merealisasikan Visi tersebut di atas.4. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. 6.2 . Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .1.(Persero) CABANG I MALANG Selain mengikuti prinsip-prinsip dari ketiga hal tersebut. Visi Jangka Panjang (20 tahun atau sampai dengan Tahun 2025) Terwujudnya kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. v) Terlaksananya suatu prinsip pembiayaan jasa pengelolaan sumber daya air 6. dan kebijakankebijakan sejenis yang ada di Negara lain. iii) Misi 3: Mengendalikan daya rusak air yang dapat memberikan insentif dan disinsentif dengan memanfaatkan berbagai sumber daya secara sinergi dan terintegrasi.4. Adapun gambaran umum keadaan yang akan dicapai pada tahun 2025 adalah: i) Tercapainya pengelolaan sumber daya air berdasar pola pengelolaan wilayah ii) iii) sungai yang menyeluruh.4 Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air 6.2.1. terpadu. Visi dan Misi juga memperhatikan Latar Belakang penyusunan Kebijakan Nasional Sumber Daya Air ini serta hasil kajian dari kebijakan-kebijakan sumber daya air yang ada.1.1. diperlukan Misi sebagai berikut: i) ii) Misi 1: Misi 2: Mengkonversi sumber daya air secara berkelanjutan Mendayagunakan sumber daya air secara adil serta memenuhi persyaratan kualitas dan kuantitas untuk berbagai kebutuhan masyarakat. termasuk UU No.

PERMEN. KEPMEN Kebijakan O & P Irigasi diterbitkan 1987 Workshop on Water for Sustainable Development 1992 Java Irrigation and Water Manajement Project (JIWMP) 1993 Formulasi Program Irigasi 1993 (JICA) dilanjutkan dengan studi Sustainable Irrigation Manajement bantuan PTPA. 6. Sejak 1987 situasi daya dukung SDA di Indonesia mulai terancam. Ancaman tersebut diakibatkan perubahan/pemerosotan DAS hulu dengan cepatnya eksploitasi hutan untuk mendukung pendapatan nasional disamping viii) Water Resources Sector Adjustment Loan (WATSAL). 2. Rio De Jenairo. World Summit on Sustainable Development.3 . ADB 2000 (Reformasi Kebijakan Pengelolaan SDA) Pengelolaan yang didasarkan pada UU. Khususnya jajaran Ditjen Pengairan Dep. 7 sampai butir 8 di atas sebagai kulminasinya boleh dikatakan adalah suatu upaya besar yang sudah dilakukan pemerintah. Yohannesburg dan lain-lain.5 Studi-Studi Kebijakan yang Pernah Ada Studi-studi mengenai kebijakan yang pernah ada antara lain: i) ii) iii) iv) v) vi) vii) Paket UU 11 Tahun 1974 tentang Pengairan dan Peraturan turutannya – PP. Earth Summit Agenda 21. Pekerjaan Umum) dalam merespon cepatnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan selama orde baru dan lebih lagi selama periode reformasi yaitu sejak terjadinya krisis ekonomi/ moneter 1998. IBRD 2000 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . PU (sekarang Ditjen SDA Dept. 3. 4. antara lain The Dublin Statement. FAO 1995 Capacity Building Project for Water Resources Sector. keadaannya sangat cocok dengan perkembangan di Indonesia. Dikaitkan dengan perkembangan yang terjadi di tingkat global berbagai kesepakatan telah dilakukan. 6. 11 tahun 1974 yang dilengkapi dengan berbagai kebijakan/arahan sebagai hasil studi mulai dari butir 1. ADB tahun 1998 Nasional Water Resources Policy Study.1.(Persero) CABANG I MALANG iv) v) Misi 4: Misi 5: Memberdayakan dan meningkatkan peran masyarakat dan Pemerintah dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Meningkatkan keterbukaan serta ketersediaan data dan informasi dalam pembangunan Sumber Daya Air. 5.

Penataan Ruang. 6. Kebijakan lingkungan ternyata jiwanya bersamaan dengan penataan ruang. c. 7 tentang SDA pada Februari 2004. Lingkungan dan Pangan yang semuanya terkait dengan ruang/ lahan.1.1.4 . Tuntutan lahan dan SDA ini berlawanan dengan keinginan lingkungan yang membatasi pembukaan lahan baru dan pembangunan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Lingkungan dan Pangan Tiga aspek penting pembangunan yang erat kaitannya dengan SDA ialah Penataan Ruang. Berikut dapat kita bandingkan tiga kebijakan tersebut: a.6 Tinjauan Pada Kebijakan-Kebijakan yang Ada 6. b. Kebijakan Tata Ruang.1. Sumber Daya Alam dan SDA yang cukup untuk dapat menyediakan pangan sejalan dengan kebutuhan oleh pertumbuhan penduduk dan kemakmuran masyarakat. Kebijakan SDA. selaras dan seimbang serta berkelanjutan dan.6. (iii) pencegahan kerusakan fungsi lingkungan. Kulminasi pergeseran/ pembaharuan kebijakan ini diawali dengan Kepmenko tentang Kebijakan Pengelolaan SDA tahun 2001 dan dikunci dengan diterbitkannya UU No.(Persero) CABANG I MALANG besarnya tekanan atas DAS oleh pertumbuhan penduduk dan ekonomi sosial masyarakat. Kebijakan penataan ruang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan melalui (i) pemanfaatan sumber daya alam dan buatan secara optimal (ii) keseimbangan perkembangan antara kawasan melalui pemanfaatan ruang kawasan secara serasi. Perubahan atau pembaharuan kebijakan sejalan dengan pergeseran paradigma sudah benar jalur dan prosesnya dalam menuju pengelolaan SDA yang ideal harus menyeluruh dan terpadu. dengan mensyaratkan rambu-rambu pembangunan antara lain: Kebijakan pangan disisi lain menuntut ketersediaan lahan. Proses pergeseran paradigma SDA mulai dirasakan sejak 1980 dimana fungsi pemerintah sebagai penyedia sarana dan prasarana tanpa partisipasi masyarakat yang menerima manfaat akan berat sekali beban pemerintah. Lingkungan dan Pangan seyogianya diselaraskan secara timbal balik sedemikian akan dicapai rencana dan implementasi pembangunan beberapa sarana dan prasarana secara berkelanjutan. yaitu multi sektor dan terpadu hulu hilir dan antar wilayah.

UU keuangan ini mewajibkan tiap kementrian membuat rencana rolling 3 tahunan yang berbeda dengan rencana 5 tahun selama ini (Pelita atau Propenas 1999-2004). Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . sebagai paket reformasi bidang keuangan. pulau dan propinsi/ kabupaten belum memberikan kinerja yang maksimal karena masih banyaknya pelanggaran tata ruang. Kebijakan Keuangan Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. menuju good government.5 . Sampai sekarang peranan dan hasil penataan ruang baik nasional. Tiap negara mempunyai undang-undang yang mengatur kebijakan keuangan negara/ pemerintah yang berarti mengatur pemasukan dan pengeluaran uang dan semua kekayaan negara. Undang-Undang ini mensyaratkan dana anggaran berdasarkan kinerja. Menururt UU No.1.(Persero) CABANG I MALANG waduk serta daerah irigasi yang mengubah bentang alam secara signifikan d. 17/2003 tentang keuangan bersama UU lain sebagai satu paket akan diberlakukan mulai tahun anggaran 2006. pada negara maju misalnya ada tiga fungsi pokok pemerintah yang amat menonjol yaitu: (i) memelihara keamanan yang baik agar rakyat bisa berkinerja optimal (ii) penyediaan infrastruktur kebutuhan hidup dan ekonomi yang tidak bisa disediakan dunia usaha dan masyarakat dan (iii) memelihara kesamaan hak dan tanggungjawab warga negara dengan penerapan hukum yang adil Dari mana sumber dana pemerintah untuk membiayai 3 fungsi tersebut? Tentu saja dari pajak perusahaan dan pajak perseorangan/ warga negara.2. dan tiga tahunan secara rolling serta rencana jangka menengah dan jangka panjang.6. 6. Diharapkan penataan ruang dapat menyikapi secara optimal dan berkelanjutan kepentingan sektor pertanian pangan dan lingkungan dan sektor SDA. Tentu saja semua hal ini akan mempengaruhi kebijakan pengelolaan SDA ke depan terutama aspek perencanaan perlu lebih akurat dan lengkap berupa rencana kerja tahunan.

Pembangunan baru irigasi dan penanganan/pengaturan sungai untuk pengendalian banjir dan penyediaan air dengan waduk mulai dilakukan pada Pelita II ini. d. Pelita I 1968 diawali dengan keadaan pangan beras import mencapai 4 juta ton yaitu lebih kurang 25% kebutuhan nasional. Pada tahun 1974 awal Pelita II berhasil diterbitkan UU. Departemen ESDM dan sebagainya.3.11-1974 tentang Pengairan. Kebijakan Pelita I sampai dengan Pelita VI a. pengembangan perkotaan. pengelolaan SDA yang diemban oleh Departeman Pekerjaan Umum seyogianya benar-benar dipadukan internal lebih dahulu. Pada pelita III dan IV kebijakan mulai bergeser ke keterpaduan pengelolaan SDA. barulah melakukan keterpaduan eksternal dengan sektor-sektor lain di luar Departemen Pekerjaan Umum seperti Departemen Kehutanan.6.6. Tugas pokok dan fungsi: penataan ruang. penyediaan air bersih. Kebijakan pada Pelita I ditekankan pada rehabilitasi dan peningkatan daerah irigasi untuk dapat menekan import beras dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Departemen Pertanian. bukan hanya irigasi. Kebijakan Departemen Pekerjaan Umum Keterpaduan yang saling mengisi dan selaras antara kebijakan perkotaan dan permukiman dengan kebijakan trasportasi jalan dan pengelolaan SDA. tetapi juga mulai ditangani Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . pengembangan permukiman. c.1. perkotaan dan industri yang belum jelas apakah sistem sewarage atau terus seperti sekarang semua pembuangan ke saluran umum dan sungai. Besarnya import karena kemerosotan jaringan irigasi yang sangat parah sehingga produksi beras nasional jauh di bawah kebutuhan b.(Persero) CABANG I MALANG 6. karena pola perumahan/ permukiman dan pembangunan lingkungan terbangun horisontal selama ini tampaknya telah membuat lingkungan SDA sangat kritis karena resapan air hujan dan retensi atau tempat parkir air menjadi sangat minim.4.1. 6. Demikian juga kebijakan penanganan limbah rumah tangga. telah membuat beban pencemaran makin berat. perlu mendapat perhatian khusus. UU ini meletakkan kebijakan nasional pengelolaan SDA sebagai pengganti peraturan Per-UU jaman Kolonial.6 . Meneg Lingkungan.

antara lain rekayasa keteknikan yang lebih Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Dalam situasi sebagian besar pendanaan bersumber dari BLN maka kebijakan pengelolaan SDA dalam situasi tertentu dipengaruhi oleh aturan dan persyaratan dari pemberi bantuan tersebut di atas. antara hulu dan hilir. 5. OECF (JBIC) dan Government to Government (G to G) seperti Canada. Pengelolaan sumber daya air dilaksanakan dengan memperhatikan keserasian antara konservasi dan pendayagunaan. tetapi juga diarahkan untuk memelihara kualitas air. sedangkan pembangunan tampungan air dalam skala besar perlu pertimbangan yang lebih hati-hati karena menghadapi masalah yang lebih kompleks. Pengembangan dan penerapan sistem conjunctive use antara pemanfaatan air permukaan dan air tanah akan digalakkan.(Persero) CABANG I MALANG penyediaan Air Baku untuk rumah tangga.7 . Bank Asia. Pendekatan vegetatif bersifat quick yielding.11 tahun 1974 kebijakan tersebut tertuang dalam berbagai Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri. Pada Pelita III dan IV berbagai kebijakan diterbitkan sebagai implementasi UU. 4. antara lain Bank Dunia. 6. 2. 3. Pembangunan tampungan air berskala kecil akan lebih dikedepankan. perkotaan dan industri (RKI) dan penanganan masalah banjir yang lebih besar karena kerusakan DAS. e. 6. terutama terkait dengan isu sosial dan lingkungan. serta antara pemenuhan kepentingan jangka pendek dan kepentingan jangka panjang. antara pengelolaan demand dan supply. Upaya konservasi sumber-sumber air dilakukan tidak hanya untuk melestarikan kuantitas air.7 Arah Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air 1.1. Pendanaan/Anggaran untuk pembangunan sektor Pengairan sebagian besar diperoleh dari Bantuan Luar Negeri (BLN). antara pemanfaatan air permukaan dan air tanah. Pendayagunaan sumber daya air untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi pada lima tahun ke depan difokuskan pada upaya: • Peningkatan fungsi jaringan irigasi yang sudah dibangun tetapi belum berfungsi dalam rangka konservasi sumber-sumber air diimbangi dengan upaya lain. Belanda.

dan wilayah strategis. pulau-pulau kecil serta pusat kegiatan ekonomi. keterlibatan masyarakat. 11. Pendayagunaan sumber daya air untuk pemenuhan kebutuhan air baku diprioritaskan pada pemenuhan kebutuhan pokok rumahtangga terutama di wilayah rawan defisit air. 12. 9.(Persero) CABANG I MALANG Dilakukan hanya pada areal yang ketersediaan airnya terjamin dan petani penggarapnya sudah siap • Rehabilitasi pada areal irigasi berfungsi yang mengalami kerusakan Diprioritaskan pada areal irigasi di daerah lumbung padi • Skema insentif kepada petani agar bersedia mempertahankan lahan sawahnya 7.8 . Penataan kelembagaan melalui pengaturan kembali kewenangan dan tanggung jawab masing-masing pemangku kepentingan. 10. wilayah tertinggal. Penataan dan penguatan sistem pengolahan data dan informasi sumber daya air dilakukan secara terencana dan dikelola secara berkesinambungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . BUMN/D dan swasta terus didorong. Pengendalian daya rusak air • Pengendalian banjir mengutamakan pendekatan non-struktur melalui konservasi sumber daya air dan pengelolaan daerah aliran sungai dengan memperhatikan keterpaduan dengan tata ruang wilayah • Peningkatan partisipasi masyarakat dan kemitraan diantara pemangku kepentingan terus diupayakan tidak hanya pada saat kejadian banjir • Pengendalian banjir diutamakan pada wilayah berpenduduk padat dan wilayah strategis • Pengamanan pantai dari abrasi terutama dilakukan pada daerah perbatasan. 8. Dalam upaya memperkokoh civil society. terutama untuk menggali dan merevitalisasi kearifan lokal (local wisdom) yang secara tradisi banyak tersebar di masyarakat Indonesia untuk menjamin keberlanjutan fungsi infrastruktur. Pengembangan modal sosial dilakuakn dengan pendekatan budaya.

3. 4. pendayagunaan sumber daya air.2. Melaksanakan rasionalisasi.(Persero) CABANG I MALANG 6. 2. dan pengendalian daya rusak air untuk para pemilik kepentingan Sumber Daya Air di WS Barito-Kapuas. 5. fungsi pemanfaatan.1 Umum 1. Mengembangkan dan menerapkan instrumen kebijakan untuk mendorong alokasi air dan penggunaan yang efektif dan efisien serta memberikan manfaat sosial dan ekonomi paling besar pedoman bagi masyarakat dengan jasa memperhatikan kaidah lingkungan hidup. fungsi pelaksanaan. Menerapkan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air di Wilayah Sungai Barito-Kapuas secara bertahap dimulai tahun 2009. restrukturisasi. dan berkelanjutan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . dan fungsi koordinasi di WS BaritoKapuas dengan tetap menjaga sinergi antar fungsi. pengoperasian dan pemeliharaan. Melaksanakan kepentingan dan sumber meningkatkan daya air koordinasi dalam antar para pemilik tingkat wadah koordinasi kabupaten/kota dan wilayah sungai Barito-Kapuas. 6. efisien. dan refungsionalisasi kelembagaan pengelolaan sumber daya air yang menuju terciptanya pemisahan fungsi pengaturan. 7. berkeadilan. Menyelenggarakan sistem pembiayaan yang menerapkan prinsip penerima manfaat dan pencemar menanggung biaya jasa pengelolaan Sumber Daya Air dengan mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat sehingga pengelolaan sumber daya air dapat dilakukan secara efektif. Menyusun dan menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada Wilayah Sungai Barito-Kapuas berdasarkan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air dengan pada tahun 2008.9 .2 INDIKASI PROGRAM KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA WS BARITO-KAPUAS KAITANNYA DENGAN KEBIJAKAN NASIONAL Sebagai landasan dalam pembuatan Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas perlu disiapkan Indikasi Program Kebijakan Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas kaitannya Kebijakan Nasional sebagai berikut : 6. Menetapkan melaksanakan perhitungan biaya pengelolaan Sumber Daya Air dalam upaya konservasi.

menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan. rawa. d. Meningkatkan upaya pemeliharaan sumber air (antara lain : danau. Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekeliling mata air harus berfungsi sebagai sabuk hijau. embung. Menetapkan dan mengelola daerah resapan air dalam rangka mengupayakan peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak air melalui rehabilitasi hutan dan lahan kiritis. 4. c. 7. Menetapkan dan mengelola kawasan danau. rawa) dan pengawetan air berupa pembangunan antara lain: waduk dan embung. 5. Menetapkan dan mengelola daerah batas sempadan sungai. Sekurang kurangnya 500 (lima ratus) meter dari muka air tertinggi danau dan waduk ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau b.10 . 6. 6. Mendorong dan mengupayakan pembangunan sistem pengelolaan limbah cair komunal di kawasan pemukiman dan kawasan industri. Sekurang kurangnya 100 (seratus) meter dari dari muka air tertinggi situ / embung ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau.2. recycle).2 Konservasi Sumber Daya Air 1.(Persero) CABANG I MALANG 8. situ. situ. Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter dari muka air tertinggi rawa ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau. Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi sumber daya air. danau. 3. reuse. embung. waduk. rawa. 2. Pembentukan wadah koordinasi Sumber Daya Air Wilayah Sungai BaritoKapuas sesuai dengan kebutuhan. Penyuluhan peraturan perundang-undangan tentang Sumber Daya Air kepada seluruh masyarakat di dalam WS Barito-Kapuas 9. waduk dengan prioritas daerah pemukiman. situ/ embung dan mata air dengan aturan : a. Mendorong upaya pengawetan air melalui pembudayaan prinsip 3 (tiga) R (reduce.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .11 . Memelihara fungsi sistem irigasi yang sudah ada dengan menyelenggarakan operasi dan pemeliharaan untuk seluruh jaringan irigasi dan rawa yang ada. 6.2.(Persero) CABANG I MALANG 8. 10. Membangun sistem pemantauan kualitas air pada sumber air dan kualitas limbah cair secara berkelanjutan. 3. Mengupayakan ”pengelolaan permintaan air” (demand management) yang efektif dan efisien (reduce. 6. 1. 9. 9. selambat-lambatnya pada tahun 2026. 8. pemulihan. reuse). Menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air. embung. Menyediakan pasokan untuk memenuhi kebutuhan air sesuai dengan prioritas dan rencana alokasi yang telah ditetapkan. Merehabilitasi dan/atau meningkatkan jaringan irigasi dan rawa untuk mengembalikan dan/atau menigkatkan kinerja seluruh jaringan irigasi dan rawa. sumur resapan air hujan dan menyediakan lumbung air minimal 1 (satu) unit setiap kecamatan. 5. 2. 4. Menetapkan alokasi dan hak guna air bagi pengguna yang sudah ada dengan target penyelesaian paling lambat pada tahun 2010. Menegakkan hukum yang tegas bagi pelanggar ketentuan kualitas serta sistem penerapan insentif-disinsentif pengelolaan sumber daya air dan lingkungan dengan target minimal selesai tahun 2010. secara biologi. waduk. Menyediakan pasokan air baku untuk air minum sehingga pada tahun 2015 dapat memenuhi separuh jumlah penduduk yang belum memiliki akses air minum. Memperbaiki kualitas air pada sumber air dengan cara antara lain: aerasi. Meningkatkan daya tampung air dengan membangun bendungan. Mengendalikan penggunaan air melalui mekanisme perizinan berdasarkan rencana alokasi air yang telah ditetapkan. 7. dengan target efektif 2010.3 Pendayagunaan Sumber Daya Air.

Melakukan pencegahan perubahan fungsi daerah manfaat sungai. Menyebarluaskan dan menciptakan sistem perizinan dengan prinsip “zero delta q policy” . Menerapkan Perda penerima manfaat menanggung biaya jasa pengelolaan Sumber Daya Air secara konsisten. Mendorong pengembangan Sumber Daya Air untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. Inventarisasi perubahan fungsi lahan yang menyebabkan masalah banjir. Pengkajian ulang tata ruang pada kawasan rawan banjir dan kawasan penyebab banjir. Menyusun dan melaksanakan program pengembangan Sumber Daya Air terpadu berdasarkan pola dan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air. 5. 4. pariwisata. 16. 15. 3.(Persero) CABANG I MALANG 10. 6. menerapkan dan mengevaluasi pelaksanaan sistem insentif dan disinsentif antara hulu-hilir.12 . 2. Meningkatkan pemberian informasi mengenai kawasan rawan bencana akibat daya rusak air.2. 1. perikanan. Menetapkan sistem perizinan dan sistem pengawasan pengusahaan Sumber Daya Air. Menyusun dan menetapkan rencana pengelolaan sedimen pada sumber air berdasarkan pola dan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air . olah raga air dan transportasi air. 6.4 Pengendalian Daya Rusak Air. 8. 11. 12. Merasionalisasikan biaya pengelolaan Sumber Daya Air. 13. Meningkatkan penegakan hukum yang konsisten atas pelanggaran tata ruang. 7. dan revitalisasi serta pengendaliannya. 14. Menyusun dan menetapkan mekanisme perizinan dan sistem pemantauan penambangan bahan galian di sumber air. dengan memperhatikan kepentingan antar sektor dan antar Wilayah Sungai dengan tidak mengorbankan lingkungan. serta menyelenggarakan simulasi dalam rangka menghadapi banjir. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Menerapkan sistem peringatan dini kepada masyarakat dan menyiapkan sistem evakuasi. Menyiapkan. tata kota dan tata bangunan. sehingga biaya jasa pengelolaannya lebih terjangkau.

perbaikan darurat prasarana sumber daya air dan prasarana Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Melakukan kegiatan tanggap darurat yang terdiri dari evaluasi tingkat bahaya dan kesiap-siagaan menghadapi bencana. 12. 11. 10.2. Memberikan pengakuan hak ulayat masyarakat hukum adat setempat dalam pengelolaan Sumber Daya Air pada wilayahnya. 16. 6. prasarana umum dan daerah produksi nonpertanian dengan prasarana pengendalian banjir terhadap banjir tahunan dengan resiko sama atau lebih besar 4 (empat) persen serta perlindungan daerah produksi pertanian terhadap banjir dengan resiko sama atau lebih besar 10 (sepuluh) persen. 15. 1.13 . Dalam keadaan terjadi bencana dilakukan umum lainnya. Melakukan perlindungan daerah permukiman. 13. Melakukan pemisahan prasarana pembuangan limbah cair dan drainase. Swasta dan dalam upaya penyelamatan jiwa manusia. 3. pengendalian air larian di tingkat kawasan dengan prasarana pengendalian banjir. Menumbuhkan prakarsa serta memberikan peran kepada masyarakat disertai dengan pemberdayaan untuk meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan Sumber Daya Air. Menyelenggarakan pendampingan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kepedulian dan kemampuan masyarakat untuk berperan serta dan bertanggung jawab dalam pengelolaan Sumber Daya Air di setiap Wilayah Sungai secara berkelanjutan. dan Peningkatan Peran Masyarakat. Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun nonstruktural. utamanya pada daerah pengembangan baru.(Persero) CABANG I MALANG 9.5 Pemberdayaan Pemerintah. 14. pelatihan. Menyediakan pembiayaan untuk penanggulangan daya rusak air yang bersumber dari dana APBN dan APBD dalam jumlah yang memadai. 2. Menumbuhkembangkan peran serta masyarakat dan swasta kegiatan pemulihan akibat bencana. 4. dan pembinaan dalam menyikapi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan Sumber Daya Air kepada dunia usaha. Melakukan penyuluhan. Mengintegrasikan pengelolaan drainase perkotaan.

hidrometeorologi. Mengembangkan sistem informasi Sumber Daya Air dalam WS.14 . menyampaikan berkelanjutan. 3.6 Keterbukaan dan Ketersediaan Data serta Informasi Sumber Daya Air. 6. dan mengembangkan partisipasi masyarakat secara luas dalam memberikan informasi tentang SDA. prasarana Sumber Daya Air. yang sehingga tepat mampu waktu. data informasi akurat.(Persero) CABANG I MALANG 5. Menyusun tata tertib koordinasi dan pengambilan keputusan wadah koordinasi Sumber Daya Air dan meningkatkan konsultasi serta koordinasi antar wadah koordinasi SDA baik secara horisontal maupun vertikal. 8. Memfasilitasi penyediaan data meliputi data hidrologi.2. Menyusun dan menerapkan standar kompetensi Sumber Daya Manusia yang sesuai dengan tugas pokoknya dalam pengelolaan Sumber Daya Air. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan Sumber Daya Manusia dalam rangka memenuhi standard kompetensi. Menyesuaikan dan menyempurnakan kelembagaan pemerintah di kabupaten/kota dan Wilayah Sungai dalam pengelolaan Sumber Daya Air sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Meningkatkan pelayanan informasi pengelolaan Sumber Daya Air dengan penyediaan data dan informasi melalui website dan media lainnya. sistem pembiayaan dan yang memadai. 9. Meningkatkan kemampuan komunikasi. BaritoKapuas yang terpadu dan didukung oleh kelembagaan yang tangguh serta responsif. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Kebijakan Sumber Daya Air. Barito-Kapuas yang melibatkan seluruh pihak terkait dengan Sumber Daya Air. kerjasama dan koordinasi antar lembaga pemerintah yang terkait dalam pengelolaan Sumber Daya Air. Membangun jaringan informasi Sumber Daya Air dalam WS. hidrogeologi. 7. 11. 4. 2. 6. Menyiapkan Peraturan Daerah yang kondusif dan menyebarluaskan program SDA bagi dunia usaha untuk berperan serta dalam pengelolaan Sumber Daya Air. teknologi Sumber Daya Air. 10. Melibatkan semua pemilik kepentingan melalui prinsip keterwakilan dalam pengelolaan Sumber Daya Air dan melaksanakan penyuluhan keberadaan wadah koordinasi SDA. dll. 1.

proses data dan metode/ prosedur pengumpulan data dan informasi. dan kabupaten/kota. atau kabupaten/kota. provinsi. (2) Kebijakan nasional sumber daya air menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan sumber daya air di tingkat provinsi. 7. klasifikasi. 6. Arahan strategis sebagaimana dimaksud meliputi arahan strategis konservasi dan pendayagunaan sumber daya air serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah sumber daya air dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan di tingkat nasional. Menerapkan standar untuk format. atau provinsi. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air berdasarkan Undang Undang no 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air menyebutkan bahwa (1) Kebijakan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 disusun di tingkat nasional.1.3.15 . Barito-Kapuas. Membangun jaringan basis data dalam WS. Kebijakan sumber daya air meliputi arahan strategis konservasi dan pendayagunaan sumber daya air serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah sumber daya air dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan di tingkat nasional. (4) Kebijakan sumber daya air dapat ditetapkan baik sebagai kebijakan tersendiri maupun terintegrasi ke dalam kebijakan pembangunan di tingkat nasional.3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI BARITO-KAPUAS 6.(Persero) CABANG I MALANG 5. Menerapkan prosedur operasi standard tentang keterbukaan data dan informasi kepada masyarakat. Kebijakan Sumber Daya Air Kebijakan sumber daya air disusun dengan maksud untuk memberikan arahan strategis dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air guna mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air. provinsi dan kabupaten/kota. provinsi. kodifikasi. (3) Kebijakan sumber daya air provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan sumber daya air di tingkat kabupaten/kota. 6. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . dan kabupaten/kota.

prioritas kegiatan pengelolaan dan strategi dalam pencapaian tujuan pengelolaan. Pola Pengelolaan SDA disusun dan ditetapkan berdasarkan : (1) Pola pengelolaan sumber daya air disusun dan ditetapkan sebagai kerangka dasar dalam tanah.16 .2. dasar-dasar yang dipergunakan dalam melakukan pengelolaan sumber daya air. (3) Kebijakan sumber daya air di tingkat kabupaten/kota dirumuskan oleh wadah koordinasi sumber daya air kabupaten/kota yang bernama dewan sumber daya air kabupaten/kota atau dengan nama lain dan ditetapkan oleh bupati/walikota. b. (2) Pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat: a. 6. Prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air tanah diselenggarakan dengan memperhatikan wewenang dan tanggung jawab masing-masing instansi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Perumusan Kebijakan sumber daya air Wilayah Sungai Barito-Kapuas ini akan ditentukan oleh: (1) Kebijakan nasional sumber daya air dirumuskan oleh Dewan Sumber Daya Air Nasional dan ditetapkan oleh Presiden.(Persero) CABANG I MALANG (5) Kebijakan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan secara terpadu yang mencakup kebijakan semua air. disusun secara komprehensif dan selaras dengan kebijakan pembangunan di wilayah yang bersangkutan. (6) Kebijakan sumber daya air yang ditetapkan secara tersendiri. tujuan umum pengelolaan sumber daya air. Pola Pengelolaan Sumber Daya Air.3. (2) Kebijakan sumber daya air di tingkat provinsi dirumuskan oleh wadah koordinasi sumber daya air provinsi yang bernama dewan sumber daya air provinsi atau dengan nama lain dan ditetapkan oleh gubernur. c. pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai dan cekungan air dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .

Rancangan pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai Barito-Kapuas yang merupakan lintas provinsi diusulkan oleh instansi teknis tingkat pusat kepada dewan nasional sumber daya air untuk dirumuskan dengan mengikutsertakan ketua dewan atau wadah koordinasi sumber daya air provinsi terkait dan selanjutnya ditetapkan oleh Menteri. kepentingan dan kebijakan wilayah administrasi yang bersangkutan. kebutuhan sumber daya air bagi semua pemanfaat di wilayah sungai yang bersangkutan.(Persero) CABANG I MALANG d. e. konsepsi kebijakan operasional yang ditetapkan dalam pengelolaan sumber daya air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) disusun berdasarkan kebijakan sumber daya air pada wilayah administratif yang bersangkutan. b. rencana pengelolaan strategis. pengelolaan sumber daya air dilakukan secara berkelanjutan untuk menjamin pendayagunaannya pada masa mendatang dan berwawasan lingkungan hidup. c. Untuk wilayah sungai Barito-Kapuas Pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai lintas propinsi disusun berdasarkan kebijakan nasional sumberdaya air.17 . d. Instansi teknis tingkat pusat adalah instansi teknis yang membidangi sumber daya air di tingkat pusat. Pengelolaan sumber daya air dilakukan secara menyeluruh dalam satu kesatuan sistem hidrologis dengan memperhatikan sifat alami dan karakteristik masing-masing air. Pola pengelolaan sumber daya air disusun dengan memperhatikan: a. Rancangan pola pengelolaan sumber daya air yang diusulkan oleh instansi teknis merupakan hasil kerja bersama instansi terkait.

daerah perbatasan dan wilayah strategis.3. Konservasi SDA yang berkelanjutan. dan indutri dengan prioritas utama untuk kebutuhan pokok masyarakat dan pertanian rakyat. 5. swasta dan pemerintah 5. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . 6. Sasaran Pengelolaan Sumber Daya Air WS. Pendayagunaan Sumber Daya Air yang adil untuk berbagai kebutuhan masyarakat yang memenuhi kualitas dan kuantitas 3. Terkendalinya pencemaran air.3.(Persero) CABANG I MALANG 6. berwawasan lingkungan dan berkesinambungan secara kualitas dan kuantitas dan mampu menunjang pertumbuhan berbagai sektor untuk kesejahteraan masyarakat di Wilayah Sungai Barito-Kapuas.3. 4.18 . Visi Dan Misi Visi Pengelolaan Sumber Daya Air WS. Kebijakan Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas 6. Barito-Kapuas Terwujudnya pemanfaatan SDA Sungai Barito-Kapuas yang lestari. Terlindunginya daerah pantai dari abrasi air laut terutama pada pulaupulau kecil. Tercapainya pola pengelolaan sumber daya air yang terpadu dan berkelanjutan 2. Meningkatnya kemampuan pemenuhan kebutuhan air bagi rumah tangga.2. Barito-Kapuas Sasaran pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Barito-Kapuas antara lain adalah: 1. Terkendalinya pemanfaatan air tanah. permukiman. pertanian.3. 3. Barito-Kapuas Misi pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Barito-Kapuas yaitu: 1. Pengendalian Daya Rusak Air (termasuk kekeringan) 4. Berkurangnya dampak bencana banjir dan kekeringan.3. 7. Terkendalinya potensi konflik air.1. 2. Misi Pengelolaan Sumber Daya Air WS. Pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat. Peningkatan keterbukaan dan ketersediaan data serta informasi dalam pembangunan SDA 6.3.

8. 2. Undang-Undang No. 12. 14. Undang-Undang No. Ketersediaan air baku bagi masyarakat. Peraturan Pemerintah No. 6. 35 Tahun 1991 tentang Sungai. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. akurat dan mudah diakses. 9. Pulihnya kondisi sumber-sumber air dan prasarana sumber daya air. Tersedianya data dan sistem informasi yang aktual. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Undang-Undang No.20 Tahun 2006 tentang Irigasi. 12.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. 4. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah. Keputusan Menteri dan Peraturan Pemerintah serta Peraturan Daerah yang terkait dengan kebijakan penyusunan Pola Pengelolaan SDA wilayah sungai Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : 1. Undang-Undang No. Pengendalian banjir terutama pada daerah perkotaan.11A Tahun 2006 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Peraturan Menteri No. 13. 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Terciptanya pola pembiayaan yang berkelanjutan 11. Peraturan Pemerintah No. Undang-Undang No. 3. Peraturan Pemerintah No. 5.4 LANDASAN HUKUM Beberapa Undang-Undang. Instruksi Presiden. 10. Undang-Undang No. Meningkatnya partisipasi aktif masyarakat 9. Meningkatnya kualitas koodinasi dan kerjasama antar instansi 10. 6.19 .(Persero) CABANG I MALANG 8. Undang-Undang No. Undang-Undang Dasar 1945. 11. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. 7.82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air & Pengendalian Pencemaran Air.

tetapi berperan pula dalam proses perencanaan. Untuk maksud ini sebagai bagian dari kegiatan Penyusunan Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito . permasalahan. badan usaha milik daerah maupun badan usaha swasta.1 . dan/atau keinginan masyarakat dan dunia usaha atas pengelolaan sumber daya air wilayah sungai. Penyusunan pola pengelolaan perlu melibatkan seluas-luasnya peran masyarakat dan dunia usaha. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air menyebutkan bahwa Penyusunan pola pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan melibatkan peran masyarakat dan dunia usaha seluas-luasnya. Indra Karya (persero) Cabang I Malang telah mengadakan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I). Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Provinsi Kalimantan Tengah dengan pelaksana Konsultan PT. Konsultasi publik tahap kedua dimaksudkan untuk sosialisasi pola yang ada guna mendapatkan tanggapan dari masyarakat dan dunia usaha yang ada di wilayah sungai yang bersangkutan. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. badan usaha milik negara. serta badan usaha milik daerah dan swasta. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII . Pelibatan masyarakat dan dunia usaha dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air dimaksudkan untuk menjaring masukan. operasi dan pemeliharaan. Sejalan dengan prinsip demokratis. permasalahan. masyarakat tidak hanya diberi peran dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air.(Persero) CABANG I MALANG BAB 7 PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM) 7. Kegiatan ini telah dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Tengah. Konsultasi publik tahap pertama dimaksudkan untuk menjaring masukan. pemantauan. baik koperasi. serta pengawasan atas pengelolaan sumber daya air.Kapuas. dan/atau keinginan dari para pemilik kepentingan (stakeholders) untuk diolah dan dituangkan dalam arahan kebijakan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai.1 UMUM Menurut pasal 11 ayat (3) Undang-Undang No. Dunia usaha yang dimaksud di sini adalah koperasi. Departemen Pekerjaan Umum. badan usaha milik negara. Pelibatan masyarakat dan dunia usaha tersebut dilakukan melalui konsultasi publik yang diselenggarakan minimal dalam 2 (dua) tahap. pelaksanaan konstruksi.

Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Tengah Kepala Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Para Kepala Bappeda Kabupaten Para Kepala Dinas Kabupaten yang terkait dengan SDA Para akademisi dari kalangan Perguruan Tinggi Lembaga Swadaya Masyarakat yang terkait dengan SDA Pelaku industri yang berhubungan dengan SDA (PT. 3) Mengidentifikasi permasalahan pengelolaan SDA dan keinginan pengembangan SDA yang berbeda untuk masing-masing Sub WS. Adapun peserta yang diundang untuk pengumpulan aspirasi dan masalah tersebut adalah : Departemen Pekerjaan Umum.2 .kendala. 5) Mengupayakan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII . keinginan. 4) Meningkatkan kesadaran para pengguna air akan tujuan dan kegiatan studi Rancangan Pola Wilayah Sungau .(Persero) CABANG I MALANG 7.2. Tujuan PKM I Tujuan penyelenggaraan pertemuan konsultasi ini adalah untuk : 1) Menjaring informasi dan aspirasi secara luas tentang permasalahan daerah. Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Provinsi Kalimantan Tengah Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Selatan. 2) Menambah pemahaman tentang situasi permasalahan air dan isu-isu yang menyangkut air dan para pengguna air. aspirasi dan usulan terhadap pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air.2. keinginan. kendala.2.2 PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM) I 7. Pelaksanaan Ekspose dan Peserta Yang Terlibat Kegiatan PKM I yang pemaparannya dilakukan oleh Konsultan. dimaksudkan untuk menjaring informasi dan aspirasi secara luas tentang permasalahan daerah. PLN) 7.1. aspirasi dan usulan terhadap pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

5. sebagai pelaksana pekerjaan ini. Pukul 09.4. Waktu Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I) dilaksanakan pada hari Rabu.Kapuas.2. 7.00 WITA sampai Selesai. Pembiayaan Seluruh rangkaian kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I) ini menjadi tanggungan pihak Konsultan PT.(Persero) CABANG I MALANG pengelolaan SDA WS Barito . Tempat Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I) dilaksanakan di Palangkaraya. Dokumentasi : Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII . Kalimantan Selatan.2. 7.3. 7.3 .2. Indra Karya (persero) Cabang 1 Malang. tanggal 23 Oktober 2008. 6) Mempergunakan hasil identifikasi tentang permasalahan pengelolaan SDA dan keinginan terhadap pembangunan untuk memformulasikan kebutuhan akan pengembangan SDA dan strategi dalam rangka menyusun Pola Pengelolaan SDA.

Jadwal JADWAL ACARA PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM I) dalam rangka PENYUSUNAN RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI Waktu Acara 08.30 Pengarahan oleh Ditjen Sumber Daya Air.00 – 09.30 – 09.00 – 12.00 Paparan PKM I oleh Konsultan PT. Indra Karya (Persero) 10.15 Pembukaan oleh Ka Bappeda Propinsi Kalimantan Selatan 09.30 – 10.00 Penutup dan Makan Siang BITO . Jakarta 09. TA 2008 Peserta Moderator Peserta PKM I Panitia Peserta PKM I Pembawa Acara Hari/Tanggal Rabu.KAPUAS.4 .00 Diskusi dan Pembahasan Kuisener 12.15 – 09.2. 23 Agustus 2008 Peserta PKM I Peserta PKM I Pembawa Acara Pembawa Acara Peserta PKM I Peserta PKM I Bappeda Prop.00 Pengisian Daftar Hadir 09.6.00 – 13.(Persero) CABANG I MALANG 7. Kalsel Pembawa Acara Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .

pelestarian sumber air. Secara keseluruhan kawasan resapan air tersebar di semua wilayah kabupaten/kota di Kalteng Pemanfaatannya secara umum dikuasai oleh negara khususnya pemerintah daerah tetapi pengembangannya harus tetap memperhatikan kepentingan masyarakat setempat Tata guna air ditujukan untuk menjamin pemenuhan kebutuhan air bersih dan irigasi bagi penduduk dan aktifitasnya melalui pengelolaan lahan terpadu di DAS dan kawasan pesisir sebagai suatu ekosistem Kawasan sentra perkebunan khususnya pengembangan komoditi unggulan diarahkan ke wilayah pegunungan. pemberdayaan masyarakat. Analisis Persandingan Dari PKM 1 yang telah dilaksanakan. pengembangan hutan kemasyarakatan dan resetlement penduduk di luar kawasan hutan lindung Perlu adanya Perda tentang sempadan sungai Perlu sosialisasi peran serta masyarakat. Pengisian air pada sumber air Pembuatan embung.2. penambahan polisi hutan Terutama daerah hulu sungai Barito 2. sungai kecil 50 m 1. terasering Seluruh WS Barito 4. Penebangan Hutan Penghutanan kembali. Kawasan sempadan sungai besar 100 m di kiri kanan diukur dari tepi sungai. penghijauan. Pemanfaatan Potensi Hutan (Kayu) Hutan desa. agro forestry. embung.7. pembangunan waduk. penegakan hukum. diperlukan perencanaan terpadu. Pemberdayaan masyarakat. Hulu WS Barito 7 Pengaturan daerah sempadan air Konservasi oleh Masyarakat (swadaya) Seluruh WS Barito Hulu WS Barito 8 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-5 . BIDANG /LINGKUP 1 PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 LOKASI 3 ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 Komponen 1. sosialisasi UU No. pelatihan. penanganan secara terpadu oleh instansi terkait. penyuluhan.(Persero) CABANG I MALANG 7. koordinasi lintas sektoral. yang meliputi Konservasi Daerah Tangkapan Air. Pengendalian Daya Rusak Air. Hutan Milik Dinas Kehutanan Penataan batas kawasan hutan. 41 Terutama daerah hulu sungai Barito 3. Pengelolaan hutan produksi dilakukan dengan pemanfaatan dan pelestarian hasil (kayu dan non kayu) sehingga diperoleh manfaat ekonomi. penyuluhan Hulu dan hilir DAS Barito 6. Perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air Pemanfaatan ladang di pegunungan Reboisasi. KONSERVASI DAERAH TANGKAPAN AIR Kawasan hutan lindung dikelola berdasarkan ketentuan atau tata cara pemanfaatan hutan lindung yaitu pemanfaatan semaksimal mungkin untuk kepentingan masyarakat dengan tetap memperhatikan aspek perlindungan pada kawasan budidaya di bawahnya. sosial dan ekologi yang maksimal bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan Kawasan resapan air meliputi sebaran air tanah yang terdiri atas endapan aluvial sungai dan tanah. Pendayagunaan SDA. Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan serta Sistem Informasi Sumber Daya Air. diperoleh beberapa Isu pokok meliputi beberapa komponen. legalitas kesepakatan antar kepentingan Terutama daerah hulu sungai Barito 5.

pengamanan khusus sumber-sumber air Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air hulu sungai Barito Dalam WS Barito Meminimalkan pencemaran air baik di darat maupun di laut termasuk dampak negatif dari penambangan bahan galian golongan C di sungai 3 Kondisi Air Distribusi dari PDAM (Kebutuhan Domestik) Pembangunan IPA. Kebutuhan air minum binatang ternak Ketersediaan air untuk listrik Pembagunan embung dan chekdam Pengamanan hutan pada daerah hulu Di daerah peternakan Hulu WS BaritoKapuas 9 Memantapkan Kerangka Institusi Pengelola SDA Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-6 . Permasalahan Irigasi Teknis. embung dll. Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi Peningkatan/pemeliharaan sarana/prasarana irigasi Dalam WS Barito 6. Tradisional/Desa Pemberdyaan P3A 7 Perikanan darat dan tambak Pembangunan jaringan irigasi tambak 8. peningkatan pelayanan air bersih melalui kerjasama antar daerah dan kerjasama dengan swasta. taman nasional. penyediaaan air baku Kota dan Kabupaten Arahan pengembangan air bersih adalah pengembangan sistem pelayanan air baku dan air bersih secara terpadu. penyuluhan LOKASI ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 Kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam meliputi cagar alam. Kebutuhan air irigasi 5. 9 1 Pelestarian hutan lindung. suaka marga satwa dan taman wisata. Sungai atau sumber air lainnya Kerusakan Sumber Mata Air 3 Hulu WS Barito 1. Konservasi SDA dan pembangunan waduk.(Persero) CABANG I MALANG BIDANG /LINGKUP PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 Pelestarian hutan lindung. Semi Teknis. 4. 3. PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1. Kondisi Air Baku Perdesaan / Perkotaan Kondisi lokasi pengambilan air baku Kebutuhan air industri Diharapkan dibangun wadukwaduk penampungan air Dalam WS S Barito Pengembangan irigasi sawah diprioritaskan pada kegiatan rehabilitasi dan pengembangan irigasi kecil Penyediaan air baku yang berkualitas baik dari air permukaan maupun air tanah Pembangunan sarana dan prasarana air baku untuk air bersih Kota dan Kabupaten Dalam WS Barito 2. 2. peningkatan pelayanan air bersih dengan penambahan kapasitas produksi air. Penambahan jaringan. kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam Kualitas Air Kondisi Air di Mata Air. Komponen 2.

beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana 7 WS Barito 8 Pembuangan Sampah oleh Masyarakat Program kali bersih Sungai Barito Komponen 4. Upaya pemberdayaan oleh Pemda Belum terbentuknya Dewan Sumber Daya Air Provinsi dan Sosialisasi petunjuk pelaksanaan UU dan Perda dan pengucuran dana Perlu dibentuk Dewan SDA WS Barito 2. 7 tahun 2004 WS Barito 4 Bangunan Pengendali Banjir yang ada Peringatan Dini tentang Bahaya Banjir Upaya untuk Menanggulangi Kerugian Banjir Desa-desa Rawan Tergenang Pembangunan bangunan pengendali banjir pada daerah rawan banjir Pengadaaan alat peringatan dini bila terjadi banjir Pembangunan bangunan pengendali banjir pada daerah rawan banjir Pemetaan dan pembuatan saluran pembuangan WS Barito Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi. pembangunan bendungan pengendali banjir Konservasi hulu sungai. 5 Komponen 3. antara lain budidaya pertanian tanaman tahunan. rehabilitasi hutan kritis Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi. P3A Pengelola air di tingkat desa Pemantauan Survai dan Fasilitator Pengairan lainnya Sistem Pelaporan Kondisi Sungai dan Bangunan yang ada Kab dalam WS Barito-Kapuas Seluruh desa 3.(Persero) CABANG I MALANG BIDANG /LINGKUP PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 Perlu dibentuk Balai DAS dan pembuatan Perda Pemberdayaan P3A Dibentuk pengelola air ditingkat desa Perlu adanya program pemantauan survai dan ditunjuk fasilitator pengairan Disediakan biaya pelaporan dan petugas yang memadai LOKASI ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 1 1.Sedimentasi Dalam WS Barito Kegiatan yang dapat dilakukan di kawasan sempadan sungai diijinkan sepanjang tidak mempengaruhi fungsi lindungnya terhadap ekosistem sungai tersebut. PEMBERDAYAAN STAKEHOLDERS DAN KELEMBAGAAN 1. Banjir hilir Barito 2. WS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-7 . perbaikan hilir sungai. beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana 5 WS Barito 6 WS Barito Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi. 4. beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana 1. PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR Konservasi hulu sungai. perbaikan hilir sungai. Perambahan Bantaran Sungai Sosialisasi UU No. Erosi . 3. peta rawan daerah banjir. Balai DAS / BP-DAS 3 2.

dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-8 . sebagian besar masyarakat mengusulkan agar dibentuk dan diaktifkan IP3A/GP3A/P3A dan organisasi pemanfaat air lainnya. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. di kabupaten 4 di kabupaten 5 di kabupaten 6 di kabupaten 7 di kabupaten 8 di kabupaten Komponen Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan 1. 2. SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA AIR 1.(Persero) CABANG I MALANG BIDANG /LINGKUP PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 LOKASI ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 1 Kabupaten 3 3. Belum terbentuknya Balai PSDA Kurangnya peran masyarakat dan swasta dalam pengelolaan SDA Konflik masyarakat antar kelompok/daerah Pembentukan balai PSDA WS BaritoKapuas Provinsi 4 Sosialisasi 5 di kabupaten Komponen 5. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. sebagian masyarakat mengusulkan agar dibentuk Dewan SDA dan Komisi Irigasi Kabupaten/ Kota Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Dalam rangka peningkatan peran masyarakat dalam pengelolaan SDA. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. Informasi mengenai kondisi hidrologi Informasi mengenai kondisi hidrometeorologi Informasi mengenai kondisi hidrogelogi Informasi mengenai kondisi kebijakan sumber daya air Informasi mengenai kondisi prasarana sumber daya air Informasi mengenai kondisi teknologi sumber daya air Informasi mengenai kondisi lingkungan pada sumber daya air Informasi mengenai kondisi kegiatan sosial ekonomi budaya terkait dengan SDA Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. Dengan maksud meningkatkan koordinasi antar instansi terkait. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. di kabupaten 3. dibuat database di kabupaten 2. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap.

Sehubungan dengan peningkatan kinerja pengelolaan SDA. 2. 5. sebagian masyarakat mengusulkan agar diterbitkan Perda dan keputusan Bupati/ Walikota dalam pengelolaan SDA serta penerapan sanksinya. sebagian masyarakat mengusulkan agar pemanfaat air dilibatkan dalam mengambil keputusan. Dalam rangka peningkatan pemahaman masyarakat tentang SDA. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan mengusulkan agar pihak pengelola SDA melakukan inventarisasi.(Persero) CABANG I MALANG 3. dimaksudkan untuk memberikan sosialisasi terhadap rancangan pola pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air. internet) 3.3. Dalam rangka pengelolaan SDA secara efektif.1. Pelaksanaan Ekspose dan Peserta yang Terlibat Kegiatan PKM II yang pemaparannya dilakukan oleh Konsultan. sebagian besar masyarakat mengusulkan agar pengelola SDA melakukan penyuluhan semua aspek pengelolaan SDA. Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Provinsi Kalimantan Tengah Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Selatan. media massa. Dalam rangka penyebarluasan informasi pengelolaan SDA. 4. Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Tengah. Adapun peserta yang diundang dalam rangka sosialisasi rancangan pola pengembangan dan pengelolaan SDA adalah : Departemen Pekerjaan Umum. sebagian masyarakat mengusulkan agar dibentuk dan diaktifkan unit yang menangani SIM dan kontrol kualitas. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. sebagian besar masyarakat mengusulkan agar menyiapkan Sistem Informasi Manajemen (melalui: radio. sebagian besar masyarakat masyarakat. 7.3 PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM) II 7. Dengan maksud untuk meningkatkan rasa tanggung jawab dan memiliki dalam pengelolaan SDA. audio visual. Komponen Sistem Informasi SDA 1. Dengan maksud untuk memudahkan mendapatkan data. pengumpulan data dan menyediakan informasi SDA kepada Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-9 .

4.2.Kapuas. Tujuan PKM II Tujuan penyelenggaraan pertemuan Sosialisasi ini adalah untuk : 1) Memberikan sosialisasi terhadap rancangan pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air. tanggal 10 Desember 2008. Pembiayaan Seluruh rangkaian kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat II (PKM II) ini menjadi tanggungan pihak Konsultan PT. Tempat Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat II (PKM II) dilaksanakan di Jakarta.3. 4) Mengupayakan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan dan pengelolaan SDA WS Barito .00 WIB sampai Selesai. 7. 3) Meningkatkan kesadaran para pengguna air akan tujuan dan kegiatan studi Rancangan Pola Wilayah Sungau . 5) Mempergunakan hasil identifikasi tentang permasalahan pengelolaan SDA dan keinginan terhadap pembangunan untuk dilaksanakan sesuai dengan rancangan pengembangan SDA dan strategi dalam SDA.3.(Persero) CABANG I MALANG Tengah Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Para Kepala Bappeda Kabupaten Para Kepala Dinas Kabupaten yang terkait dengan SDA Para akademisi dari kalangan Perguruan Tinggi Lembaga Swadaya Masyarakat yang terkait dengan SDA Pelaku industri yang berhubungan dengan SDA (PT. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-10 . Indra Karya (persero) Cabang 1 Malang.3.3.3. 7. 2) Menambah pemahaman tentang situasi permasalahan air dan isu-isu yang menyangkut air dan para pengguna air. PLN) 7. Pukul 09. 7. sebagai pelaksana pekerjaan ini. Waktu Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat II (PKM II) dilaksanakan pada hari Rabu.5.

00 09. Indra Karya (Persero) Diskusi dan Penyampaian saran serta masukan Penutup dan Makan Siang Peserta Peserta PKM II Peserta PKM II Moderator Panitia Pembawa Acara 09.30 – 09.15 Acara Pengisian Daftar Hadir Pembukaan oleh Ka Satker Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Propinsi Kalimantan Tengah Pengarahan oleh Ditjen Sumber Daya Air. Kalimantan Tengah Pembawa Acara Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .00 Peserta PKM II Peserta PKM II Pembawa Acara Pembawa Acara 10.15 – 09.6.KAPUAS. Jakarta Paparan PKM II oleh Konsultan PT. 10 Desember 2008 Waktu 08.30 – 10.00 12.00 – 12. TA 2008 Hari/Tanggal Rabu.00 Peserta PKM II Peserta PKM II Bappeda Prop. Jadwal JADWAL ACARA PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM II) dalam rangka SOSIALISASI RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BITO .(Persero) CABANG I MALANG 7.3.00 – 13.30 09.00 – 09.11 .

41 4 √ 5 √ Penghutanan kembali. penambahan polisi hutan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .(Persero) CABANG I MALANG 7.daerah hulu Sungai Barito Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 √ 3 √ Tetapi Arbaretum bukan upaya untuk aspek Konservasi tetapi lebih cocok untuk aspek Pendayagunaan SDA Hutan desa diperlukan koordinasi lintas sektoral.Kabupaten Kapuas .Kab.7. Murung Raya .Sungai Barito .Sub DAS Barito Hilir .7. Kelembagaan dan Sistem Informasi Managemen sebagai berikut : 7.Kab. agro forestry. penyuluhan. Pendayagunaan SDA. Pengendalian Daya Rusak Air.Barito Selatan .Kabupaten Barito Kuala Memberikan contoh cara bercocok tanam pada lahan miring berdasarkan kaidah konservasi Pembuatan tras bangku (demplot) : .Sub DAS Martapura .3. penegakan hukum.Barito Selatan . Murung Raya .Kabupaten Barito Kuala Reboisasi .Kabupaten Barito Utara .3.Sub DAS Barito Tengah .12 .1.Kab. Komponen Konservasi Daerah Tangkapan Air NO I 1 Usulan Program Konservasi Daerah Tangkapan Air Rehabilitasi hutan dan lahan kritis .Sungai Kapuas . Hasil Sosialisasi PKM II Hasil PKM tahap II yang telah dilaksanakan di Jakarta diperoleh beberapa masukan meliputi aspek Konservasi.Sub DAS Negara Pembangunan (Arbaretum/ pelestarian sumber air) di kawasan sungai danmata air: .Mata air Perencanaan terpadu pemanfaatan potensi hutan (kayu) .Kabupaten Kapuas .Kab.Kab.Kabupaten Barito Utara .Kab.Barito Timur .Barito Timur . sosialisasi UU No.

Kab.2.Sungai Kapuas .Barito Timur . Penyediaan air ini bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga.Kabupaten Kapuas .Kab.Kab.Barito Timur .Kab.Sungai Barito .Kabupaten Kapuas .Kab.Kab.Barito Selatan .Kab.Kab. dengan target tingkat pelayanan 80 % & seluruh kota kecamatan dapat terlayani kebutuhan air bersihnya hingga tahun 2025 Membangun prasarana air baku baru untuk tingkat kecamatan yang belum ada prasarananya.Kabupaten Barito Kuala Meningkatkan pelayanan untuk RKI.Kabupaten Barito Kuala Optimalisasi sistem irigasi pada DI Teknis /semi teknis : .Kabupaten Barito Kuala √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .Barito Selatan .7.Kabupaten Barito Utara .Sumber Air Lainnya Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 3 4 5 Rehabilitasi/peningkatan jaringan irigasi sederhana .3.Kabupaten Barito Utara . industri maupun PDAM Peningkatan/pemelihar aan sarana/prasarana irigasi √ Peningkatan fungsifungsi fasilitas irigasi yang sudah ada.Kab. Komponen Pendayagunaan Sumber Daya Air N O II 1 Usulan Program Pendayagunaan SDA Penyediaan Air Baku .Barito Timur . √ Banyaknya lahan pertanian yang belum termanfaatkan karena kurangnya fasilitas irigasi.Kabupaten Barito Kuala Pembangunan irigasi baru .Kab.Kab.13 .Kabupaten Kapuas .Kabupaten Barito Utara .Kabupaten Barito Utara . Murung Raya .Barito Selatan . √ Penyediaan air baku yang berkualitas baik dari air permukaan maupun air tanah. Murung Raya .Kab. Murung Raya .Barito Timur . Murung Raya .Kabupaten Kapuas . Target pelayanan RKI untuk seluruh kabupaten di WS Barito Kapuas: .(Persero) CABANG I MALANG 7.Barito Selatan .

P3A .Balai DAS/BP-DAS . Dimaksudkan untuk memantau kondisi terakhir dari sumbersumber air yang ada.(Persero) CABANG I MALANG N O 6 Usulan Program Ketersediaan air untuk listrik .Pengelola air di tingkat desa . Penyediaan karamba untuk budidaya ikan di sungai Untuk mencukupi kebutuhan air bersih rumah tangga dan pertanian tanaman kering.14 .Sungai Kapuas . Pembentukan lembaga pengelola air dimaksudkan agar terjadi koordinasi antar instansi dan antar pengguna SDA sehingga bisa dihindari penggunaan SDA yang kurang bertanggungjawab.Sungai Barito .Sungai Barito . Perlu dibangun waduk sebagai tampungan untuk sistem PLTA Perlunya dibangun embung atau chekdam untuk tempat minum binatang ternak Pembangunan jaringan irigasi untuk tambak dan perikanan darat. Sehingga akan didapat data kualitas air sungai-sungai di WS Citanduy secara lengkap 7 8 Pemanfaatan air untuk binatang ternak .Sungai Kapuas .Sungai Barito .Sungai Kapuas .Sumber Air Lainnya Pemanfaatan air untuk Perikanan darat dan Tambak .Waduk Muara Juloi Tanggapan Setuju √ Tidak Keterangan Ketersediaan air yang melimpah belum termanfaatkan secara optimal.Fasilitator pengelola air lainnya √ 11 Sistem pelaporan kondisi sumber air .Sumber Air Lainnya Meningkatkan kontrol terhadap kualitas air dengan memasang titik kontrol BOD dan BO di sugai-sungai √ 12 √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .Sumber Air Lainnya Pembangunan sumur-sumur air tanah : √ √ 9 √ 10 Kelembagaan sumber daya air .

Sungai Barito . kemah. perbaikan hilir sungai. pembangunan bendungan pengendali banjir . perbaikan hilir sungai.Barito Selatan . Murung Raya .Kabupaten Barito Kuala Pengendalian penambangan galian C 1) Penyusunan perda tentang perizinan dan tata cara penambangan Penanggulangan Daya Rusak air Perbaikan/perkuatan tebing kritis yang belum ditangani dan memelihara serta memonitor yang sudah ditangani Penanggulangan darurat bencana 1) Penyediaan bronjong. Komponen Pengendalian Daya Rusak Air N O III A 1 Usulan Program Pengendalian Daya Rusak Air WS BaritoKapuas Pencegahan Daya Rusak Air Konservasi hulu sungai.Sungai Barito .Sungai Kapuas Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 Pencegahan Erosi dan Sedimentasi . rehabilitasi hutan kritis 3 √ 4 √ Penetapan daerahdaerah resapan air.15 .Kabupaten Kapuas .Sungai Kapuas Menjadikan DAS bagian hulu sebagai waduk alam dengan pengelolaan DAS yg baik sesuai dengan kaidah konservasi Flood Zoning. beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana Konservasi hulu sungai.3.Kab.Kabupaten Barito Utara . pompa air cerucuk Perahu karet.Barito Timur .7.Kab.Kab. peta rawan daerah banjir. dll Flood warning √ Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi. karung pasir.3. (jika upaya lainnya sulit dan mahal. perlu diterapkan Flood Proofing) Meningkatkan managemen banjir melalui partisipasi masyarakat & sosialisasi .(Persero) CABANG I MALANG 7. 5 √ 6 √ B 1 2 3 √ √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII . Flood Proofing.

Kabupaten Kapuas .Kabupaten Barito Utara .Kabupaten Kapuas .data pengamat muka air .Barito Timur .7.Kab.5.Kab.Kabupaten Barito Utara . Komponen Sistem Informasi Sumber Daya Air N O V 1 Usulan Program Sistem Informasi Sumber Daya Air Membangun sistem pengelolaan data dan informasi (6 Kabupaten / Kota) .16 . Komponen Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan N O IV 1 Usulan Program Pemberdayaan Masyarakat (Sosial dan Budaya) Pemberdayaan/penguatan petani pemakai air (P3A) dan peningkatan Partisipasi masyarakat pemakai air Penyuluhan kepada masyarakat tentang kepedulian terhadap penanganan banjir .3. Murung Raya .Kab.data hujan .Kab.3.Barito Selatan .data klimatologi O & P bangunan hidrologi termasuk pengadaan kertas alat dan perlengkapan lainnya Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 √ 3 √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .(Persero) CABANG I MALANG 7.Kabupaten Barito Kuala Pengelolaan data hidrologi . Murung Raya .Kab.Kab.Barito Timur .Kabupaten Barito Kuala Penyuluhan kepada petani memberi peran pada P3A untuk ikut mengendalikan & pengawasan pemakaian air 1) Penyuluhan pada P3A 2) Mengeffektifkan semua P3A yang ada Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 √ 3 √ 7.4.7.Barito Selatan .

Stasiun hujan .(Persero) CABANG I MALANG N O Usulan Program . agar bisa menganalisis secara spasial dari wilayah S.Stasiun klimatologi Publikasi data hidrologi ditingkatkan : Setiap bulan sekali data-data hidrologi di publikasikan melalui internet Tanggapan Setuju Tidak Keterangan 4 √ 5 Pengukuran debit dan pengambilan sampel air ditingkatkan (setiap seminggu sekali diadakan pengukuran debit dan pengambilan sampel air) √ Dirasakan masih sulit untuk dilaksanakan karena tidak bisa tiap bulan datadata hidrologi bisa tiap bulan dipublikasikan Dirasakan masih sulit untuk dilaksanakan karena melihat dari faktor biaya dan petugas yang ada minimum 6 SIM agar dilengkapi dengan sistem informasi Geografis SDA.Stasiun pengamat muka air . Barito-Kapuas beserta konservasi dan pendayagunaan airnya √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .17 .

Rancangan pola ini disusun berdasarkan hasil kajian permasalahan dan isu yang ada di Wilayah Sungai Barito-Kapuas baik permasalahan umum maupun khusus serta hasil masukan dalam PKM 1.2. diantara masalah-masalah sbb: Kebijakan pemerintah tentang penetapan kawasan konservasi / resapan di bagian hulu dan kawasan budidaya di bagian hilir suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) banyak yang tidak berjalan efektif. Ketidak konsistenan Tata Ruang.1 .1. Permasalahan SDA dari Sisi Pasokan/ Ketersedian Air 8.1 UMUM Sebagai landasan dalam pembuatan Pola Pengelolaan SDA WS. Hal ini diperparah adanya Kebijakan RTRW per Kabupaten yang belum mempertimbangkan Tata Ruang Wilayah Sungai.1. Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Semakin meluasnya degradasi DAS dan semakin tingginya sedimentasi akibat pembabatan hutan dan praktek pertanian dan perkebunan yang tidak mengikuti aspek konservasi lahan yang didorong oleh tekanan kependudukan dan meningkatnya kegiatan ekonomi dan tata guna tanah serta tata ruang yang tidak kondusif. Barito-Kapuas perlu disiapkan Rancangan Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas yang dijiwai oleh Kebijakan Nasional maupun kebijakan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Kalimantan Selatan dan masukan dari stakeholder melalui PKM.1.2.(Persero) CABANG I MALANG BAB 8 RANCANGAN POLA PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI BARITO-KAPUAS 8. 8. Salah satu penyebabnya adalah belum adanya sistem pengaturan kompensasi atas kehilangan kesempatan pemanfaatan ruang di bagian hulu untuk penggunaan yang lebih produktif dan dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang lebih besar daripada untuk daerah resapan air.2 ISU POKOK NASIONAL PERMASALAHAN SDA 8. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .

ketersediaan air untuk irigasi sangat mencukupi. akibatnya semakin menurunkan luas areal retensi air untuk banjir dan juga menurunkan resepan untuk “recharge” air tanah. dilaksanakan secara sengaja maupun tidak sengaja dan dengan skala kecil maupun besar.1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Kerusakan Sumber Air Masalah kerusakan sumber air di wilayah sungai Barito-Kapuas akhir akhir ini adalah mencakup : Menyempitnya sungai sungai dan saluran drainasi baik dalam DAS Barito maupun DAS Kapuas akibat tingginya kandungan lumpur yang dibawa oleh aliran air sungai maupun drainasi sebagai akibat rusaknya DAS maupun akibat sampah yang dibuang penduduk disekitar sungai maupun drainasi yang pada akhirnya akan menurunkan kemampuan kapasitas sungai/drainasi sehingga menyebabkan banjir.(Persero) CABANG I MALANG Kurangnya perhatian dan keberpihakan pihak perencana tata ruang untuk mengalokasikan ruang bagi permukiman yang aman dan sehat penduduk golongan miskin.2. (penerapan Flood zoning regulation) Penggunaan kawasan lindung untuk kegiatan ekonomi-sosial maupun pertanian dan perkebunan.3. 8.2. 8. Terbatasnya Prasarana Penyedia / Pengendali Pasokan Air Dilihat dari potensi pasokan air dari kedua sungai. Akibatnya banyak bantaran sungai dijadikan permukiman sehingga mempersempit palung sungai yang pada gilirannya dapat mengakibatkan terjadinya banjir/ genangan dan daerah kumuh. Daerah Irigasi lainnya yang dikelola oleh Dinas Pengelolaan SDA yang terdiri dari jaringan irigasi teknis.1. Selain itu sebagian sarana dan prasarana irigasi yang ada telah mengalami penurunan kinerja karena kerusakan/penurunan fungsi bangunan irigasi. Adanya kawasan hutan lindung yang dikonversi menjadi daerah permukiman dan pertanian/perkebunan.2. Tercemarnya sumber-sumber air seperti sungai dan danau oleh limbah penduduk maupun pertanian. semi teknis dan sederhana di beberapa lokasi terpencar juga mengalami penurunan fungsi pelayanan. Terbatasnya jumlah bangunan penyedia air telah menyebabkan kurang berkembangnya pertanian/persawahan di WS Barito-Kapuas.2 .

Dampak Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan penduduk sebesar rata-rata 1. 8.2.2. dana OP pada daerah irigasi yang dikelola oleh pemerintah Kabupaten menjadi sangat minim rendah. jasa dan perkotaan memerlukan dukungan berbagai sektor diantaranya penyediaan air baku untuk industri.2.2. Tidak Peduli dan Tidak Ramah Lingkungan Perilaku masyarakat yang boros air dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Kurangnya sawah beririgasi teknis dan kurangnya fasilitas sarana dan prasarana irigasi adalah ancaman bagi swasembada pangan 8. Namun yang kenyataannya yang terjadi adalah kurangnya sawah beririgasi teknis dan kurangnya fasilitas sarana dan prasarana irigasi.4. Masalah Sumber Daya Air dari Sisi Permintaan (Penggunaan) 8. Untuk memenuhi kebutuhan pangan (beras) sampai dengan tahun 2025 maka sawah beririgasi baru harus dibangun.3 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS .2.2.2. Rendahnya (tidak memadainya) alokasi dana untuk O&P prasarana SDA Dengan adanya pembagian wewenang dalam pengelolaan jaringan irigasi yang diindikasikan dari luasan jaringan irigasi.1.2. Penanganan untuk membangkitkan kesadaran dan kepedulian masyarakat antara lain melalui : • • Informasi publik tentang air belum tertata/ berkembang Pendidikan publik tentang air belum tertata/ berkembang VIII .2.3. Ketahanan Pangan Memerlukan Air dan Lahan Upaya ketahanan pangan memerlukan peningkatan produksi pangan terutama pada lahan beririgasi. 8. Dampak Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi yang dimanifestasikan dalam meningkatnya kegiatan industri.(Persero) CABANG I MALANG 8.2% pertahun akan menimbulkan bertambahnya kebutuhan pangan dan bahkan tekanan yang sangat besar di atas tanah (lahan).2. jasa dan perkotaan diperkirakan akan meningkat sebesar 2 s/d 3 kali dari kebutuhan.1.4. Sedangkan untuk kebutuhan air bersih (domestik. 8. Dilain pihak konsumsi beras di Indonesia akan meningkat dari tahun ke tahun yang memerlukan pertambahan sawah beririgasi baru dan sarana irigasi yang memadai.2. demikian juga pembuangan sampah padat dan limbah cair ke air dan sumber air tidak saja menyebabkan penyempitan sungai tetapi juga menebarkan bau tidak sedap disepanjang sungai/kanal. Perilaku Boros Air.2. perkotaan dan industri ) daerah perkotaan s/d tahun 2025 akan diperlukan penambahan air baku yang cukup signifikan dari yang ada sekarang ini.

(Persero) CABANG I MALANG

8.2.3. Masalah Manajemen Sumber Daya Air 8.2.3.1. Penanganan Yang Terfragmentasi Dengan sifat SDA yang dinamis, maka penanganan SDA menjadi terfragmentasi di beberapa Departemen. Tiap sektor menangani sehingga cenderung membentuk egoisme sektoral yang menitikberatkan kepada kepentingan masing-masing. Akibatnya terjadi tumpang tindih maupun ”gap” (kekosongan) tanggung jawab dan wewenang institusi yang merencanakan dan membuat aturan. Institusi yang berhubungan dengan kualitas air misalnya, juga bermacam-macam sehingga sampai saat ini masalah lingkungan masih belum terpecahkan. 8.2.3.2. Kelemahan Koordinasi Koordinasi pengelolaan Sumber Daya Air di pusat maupun di daerah masih lemah : • • Lembaga koordinasi di tingkat pusat baru mencakup antar instansi terkait dan belum melibatkan seluruh komponen stakeholder secara lengkap; Belum optimalnya fungsi lembaga koordinasi di tingkat Provinsi yaitu Panitia Tata Pengaturan air ( PTPA ) dan tingkat Wilayah Sungai (WS) yaitu Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air ( PPTPA ) . • PTPA dan PPTPA belum mencakup seluruh komponen stakeholders.

8.2.3.3. Konsep dan Perangkat Desentralisasi Pengelolaan SAD Belum Mantap Tersedianya dana, tersedianya semberdaya manusia dan kemampuan manajemen selalu menjadi kendala utama. Disamping itu desentralisasi tidak hanya menyangkut hak dan wewenang tetapi melekat didalamnya adalah tugas dan kewajiban. Dengan desentralisasi maka institusi daerah perlu dikembangkan termasuk posisi baru. Jika terjadi ”perubahan lagi” maka posisi akan hilang kembali. Karena itu sebaiknya desentralisasi dilakukan dengan persiapan yang matang, secara bertahap dan berjenjang. 8.2.3.4. ”User Pays Principle & Polluters Pays Principle” Instrumen dan mekanisme untuk operasionalisasi prinsip pemakai air atau menerima manfaat dan “pembuangan limbah“ harus membayar belum memadai sehingga masih memerlukan penyempurnaan dan perlu disesuaikan dengan UU dan PP desentralisasi dan perimbangan keuangan pusat dan daerah baru.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 4

(Persero) CABANG I MALANG

8.2.3.5. Mekanisme Perijinan Belum Bemadai Mekanisme perijinan khususnya yang menyangkut “hak guna” untuk “bulk water“ (air dalam jumlah besar) untuk pemakaian yang bersifat komersial belum memadai dan perlu disesuaikan dengan UU dan PP desentralisasi dan perimbangan keuangan pusat dan daerah baru. 8.2.3.6. Organisasi Masyarakat Pemakai Air Belum Mandiri Organisasi masyarakat pemakai air belum mampu berkontribusi dalam pembiayaan untuk kegiatan Operasi & Pemeliharaan (O&P), perbaikan dan pemeliharaan prasarana-sarana pengairan maupun ”cost recovery” untuk investasi di bidang pengembangan SDA. Sehingga keseluruhan biaya pengelolaan SDA (dari O&P s/d pembangunan prasarana pengairan) menjadi beban pemerintah. 8.2.3.7. Keterbatasan Investasi Dari Pemerintah dan Swasta Sejak REPELITA II s/d sekarang (TA 2008) investasi untuk prasarana dan sarana SDA skala besar hampir semua didanai dengan pinjaman luar negeri seperti OECF/ JBIC, Bank Dunia, ADB dan sebagainya. Keberlanjutan pembangunan prasarana dan sarana skala besar dimasa depan tergantung kebijakan pemerintah, yaitu apakah akan meneruskan pola penyediaan dana seperti sebelumnya (dengan Loan) atau dengan skema pembiayaan yang lain. Di sisi yang lain peranan swasta dalam negeri maupun luar negeri untuk investasi bersama dengan pemerintah untuk membangun prasarana SDA masih sangat terbatas karena kompleksnya permasalahan dan resiko yang tinggi seperti kepastian hukum, kemampuan pemakai air/ penerima manfaat untuk membayar layanan dan sebagainya. 8.2.3.8. Penerapan Prinsip Good Governance Penerapan prinsip-prinsip good governance dalam pengelolaan SDA masih pada tataran konsep dengan operasionalisasi masih sangat terbatas, misalnya proses Konsultasi Masyarakat untuk mendapat masukan dari stakeholders pada berbagai tingkatan Pusat, Provinsi, Kabupaten/kota, belum maksimal. 8.2.3.9. Akuntabilitas Publik Pengelolaan SDA Masih banyak institusi yang menangani masalah yang bersifat kebijakan dan strategi masih menyatu dengan institusi yang menjalankan operasional. Dengan demikian maka akuntabilitas kedua hal tersebut menjadi kabur dan rancu. Institusi itu membuat kebijakan dan sekaligus melaksanakan sendiri kebijakannya. Disamping itu satu sektor pembangunan ditangani oleh berbagai institusi sehingga akuntabilitas institusi sulit diwujudkan.
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 5

(Persero) CABANG I MALANG

8.2.3.10. Lemahnya Lembaga Pengelola SDA Wilayah Sungai Belum efektifnya kerangka kelembagaan dan lembaga pengelola prasarana dan sarana Wilayah Sungai. 8.2.3.11. Tidak Efektifnya Pemeliharaan Jaringan Irigasi Tidak efektifnya pemeliharaan jaringan irigasi dan tidak berlanjutnya (unsustainable) penyediaan dana untuk rehabilitasi/ perbaikan jaringan irigasi. 8.2.3.12. Lemahnya Management Informationt System (MIS) Sumber Daya Air Kurang andalnya data hidrologi dan kualitas air serta tidak tersedianya Manajemen Informasi Sumber Daya Air yang handal menyebabkan akurasi dan kualitas produk perencanaan maupun manajemen SDA belum mencapai ke tingkat yang diharapkan. 8.2.4. Masalah Yang Berkembang Saat Ini Berdasarkan Hasil PKM Hasil PKM Tahap I ditinjau dari 5 komponen, yaitu : Aspek Konservasi Daerah Tangkapan Air. Aspek Pendayagunaan SDA. Aspek Pengendalian Daya Rusak Air. Aspek Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan. Aspek Sistem Informasi Sumber Daya Air. Hasil Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) I dan II seperti yang dijelaskan pada bab 7 sebelumnya. 8.3 KONSEPSI POLA PENGELOLAAN SDA WS BARITO-KAPUAS Uraian dibawah ini merupakan konsepsi Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas yang dijiwai oleh Indikasi Program yang telah diuraikan terdahulu. Secara MATRIKS akan dijelaskan pada lampiran bab ini kaitan antara indikasi Program dengan Konsepsi Pola SDA yang dijabarkan dalam arahan kegiatan operasional. 8.3.1 Konservasi Sumber Daya Air Konservasi sumberdaya air merupakan salah satu misi yang diemban dalam arahan pengelolaan SDA menurut UU No 7/2004. tiga hal, yaitu : Kebijakan yang berkaitan dengan konservasi sumber daya air dalam Kebijakan Nasional Sumber Daya Air mencakup

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 6

(Persero) CABANG I MALANG

a) meningkatkan, memulihkan dan mempertahankan daya dukung, daya tampung dan fungsi daerah aliran sungai untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. b) meningkatkan, memulihkan dan mempertahankan daya dukung, daya tampung, dan fungsi sumber daya air untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. c) memulihkan dan mempertahankan kualitas air untuk memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan. Pola pengelolaan Sumber Daya air adalah kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. Dalam hubungannya dengan aspek konservasi Sumber Daya Air, maka pola pengelolaan Sumber Daya Air di WS Barito-Kapuas diarahkan pada beberapa hal berikut : a) peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak air. b) Pengembangan dan rehabilitasi sarana dan prasarana sumberdaya air dan upaya pemeliharaan sumber air. c) Menetapkan dan pengelolaan daerah sabuk hijau untuk kawasan danau, waduk, rawa, situ/ embung dan mata air serta sempadan sungai dengan prioritas daerah permukiman. d) Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air. e) Memperbaiki kualitas air pada sumber air dan meningkatkan kualitas air dengan cara mengelola industri serta berkesinambungan. f) Menegakkan hukum yang tegas bagi pelanggar ketentuan kualitas serta system penerapan insentif-disinsentif pengelolaan sumberdaya air dan lingkungan. g) Memberdayakan masyarakat dalam aktivitas konservasi sumberdaya air. limbah cair komunal di kawasan permukiman dan system pemantauan kualitas air secara membangun

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 7

(Persero) CABANG I MALANG

Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Konservasi SDA di WS BARITOKAPUAS diarahkan untuk dapat : 1. Mengupayakan selalu tersedianya air dengan kualitas dan kuantitas yang memadai. 2. Melestarikan sumber-sumber air dengan memperhatikan kearifan lokal/adat istiadat setempat. 3. Melindungi sumber air dengan lebih mengutamakan kegiatan rekayasa sosial, peraturan perundang-undangan, monitoring kualitas dan kuantitas air dan kegiatan vegetatif. 4. Meningkatkan daerah resapan air dan daerah tangkapan air dengan konservasi 5. Mempertahankan dan memulihkan kualitas dan kuantitas air yang berada pada sumber-sumber air 6. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam kegiatan konservasi SDA. Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air Beberapa aktivititas yang harus dilakukan dalam kaitannya dengan perlindungan dan pelestarian sumber air adalah sebagai berikut: a. Rehabilitasi, konservasi dan perlindungan hutan dalam kaitannya dengan fungsi hutan sebagai penyimpan air. Keberadaan hutan dengan vegetasi penuh akan mengurangi erosi yang mempunyai dampak negatif terhadap sumber daya alam lainnya dan Sumber Daya Air. b. Reboisasi dalam kawasan hutan yang rusak akibat penggundulan hutan, penebangan liar dan pembangunan liar di hulu sungai harus dilakukan. c. Penghijauan di lahan kritis tidak dapat dibudidayakan. d. Penanaman tanaman bakau pada kawasan pantai dan rawa dan perlindungan tanaman yang sudah ada. e. Penetapan dan pengelolaan kawasan sempadan sungai, danau, waduk, rawa, situ/ embung sebagai sabuk hijau terutama yang saat ini digunakan sebagai permukiman oleh masyarakat. f. Penatagunaan lahan sesuai dengan kelas kesesuaian lahannya dan aktivitas budidaya pertanian dengan memperhatikan kaedah-kaedah konservasi tanah. g. Pelestarian dan perlindungan sumber mata air serta inventarisasi sumber daya air secara menyeluruh sehingga kerusakan ekosistem Sumber Daya Air dapat dicegah. h. Penertiban usaha penambangan galian C terutama yang berkaitan dengan kawasan sumber air.
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

milik masyarakat yang jumlahnya cukup luas.

Lahan semacam ini jika tidak dihijaukan berpotensi semakin terdegradasi dan

VIII - 8

(Persero) CABANG I MALANG

Pengawetan Air Walaupun usaha-usaha pengawetan air pada dasarnya lebih sulit dari pengawetan tanah karena air merupakan komponen ekosistem yang dinamik, beberapa aktivitas yang dapat dilakukan dalam rangka pengawetan air adalah sebagai berikut : 1. Meningkatkan pemanfaatan air permukaan dengan cara, antara lain : a) Pengendalian aliran permukaan untuk memperpanjang waktu air tertahan di atas permukaan tanah dan meningkatkan jumlah air yang masuk ke dalam tanah melalui : Pengolahan tanah untuk setiap aktivitas budidaya pertanian Penanaman tanaman menurut garis kontur (contour cultivation) Penanaman dalam strip (sistem penanaman berselang seling antara tanaman yang tumbuh rapat (misal rumput atau leguminosa) dan strip tanaman semusim Pembuatan teras yang dapat menyimpan air, misalnya teras bangku konservasi (Conservation Bench Terrace) Zingg Pembangunan waduk dan embung

b) Penyadapan air (water harvesting) c) Meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah dengan cara memperbaiki struktur tanah. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian tanaman penutup tanah (mulsa) atau bahan organik. d) Pengolahan tanah minimum (minimum tillage). 2. Pengelolaan Air Tanah (Soil Water Management), dapat dilakukan antara lain dengan: perbaikan drainase yang akan meningkatkan efisiensi penggunaan air oleh tanaman melalui fasilitas drainase permukaan, drainase dalam, atau kombinasi keduanya. 3. Meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi melalui antara lain pengurangan tinggi penggenangan atau pemberian air, mengurangi kebocoran saluran irigasi dan galengan, pergiliran pemberian air dan pemberian air secara terputus. Dua aktivitas terakhir ini harus disertai dengan peraturan dan pengawasan yang ketat dan tegas. Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Pencemaran Air Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan dalam kaitannya dengan pengelolaan kualitas dan pengendalian pencemaran air adalah :
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 9

(Persero) CABANG I MALANG

1. Kali bersih dengan kontrol yang ketat terhadap pembuangan limbah domestik dengan membuat peraturan limbah domestik dan sosialisasi terhadap masyarakat tentang hidup sehat yang terkaitan dengan permasalahan sampah. 2. Pengelolaan sampah domestik secara terpadu dengan sistem daur ulang, pembuatan produk yang mudah didaur ulang, pemisahan jenis sampah organik dengan sampah anorganik. 3. Pengendalian/pengawasan pembuangan limbah industri sesuai dengan baku mutu yang sudah ditetapkan pemerintah. Pengendalian limbah industri dapat dilakukan dengan cara good house keeping (pengelolaan internal), minimasi limbah, dan pemantauan periodik. 4. Pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk industri, baik berupa IPAL individu (industri besar) atau IPAL bersama (industri kecil dan menengah). 5. Audit lingkungan. 8.3.2 Pendayagunaan SDA Pendayagunaan sumber daya air ditujukan untuk memanfaatkan sumber daya air secara berkelanjutan dengan mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil. Pendayagunaan sumber daya air dilakukan melalui kegiatan penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan dan pengusahaan sumber daya air dengan mengacu pada Pola Pengelolaan Sumber Daya Air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. Beberapa komponen penting dalam pendayagunaan SDA yang telah di uraikan pada indikasi program menjadi titik tolak penyusunan konsep pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Dari Indikasi Program tersebut akan dijabarkan dalam matriks Indikasi Program Versus Konsepsi Pola khususnya dalam aspek pendayagunaan SDA. Dengan mengacu kepada arah kebijakan nasional dan memperhatikan hasil kajian terhadap isu-isu utama yang ada di WS. Barito-Kapuas serta analisis atas kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman terhadap pengelolaan SDA, disusunlah arah kebijakan pengelolan sumber daya air di WS. Barito-Kapuas yang akan menjadi pedoman dalam penyusunan agenda pengelolaan SDA selama 20 tahun ke depan (2006-2025), sebagai penjabaran pelaksanaan misi dalam rangka mewujudkan visi pengelolaan SDA yang telah disepakati bersama.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 10

(Persero) CABANG I MALANG

Pendayagunaan SDA merupakan upaya penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan Sumber Daya Air secara optimal agar berhasil guna dan berdaya guna. Sumber air mengandung arti tempat atau wadah air alami dan atau buatan yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah. Sumber air memiliki fungsi sosial, lingkungan dan ekonomi bagi kehidupan manusia yang perlu dipelihara keselarasannya. Pengelolaan sumberdaya air sampai saat ini belum memberikan kejelasan dalam hal proporsi antar fungsi sumber daya air, sehingga pendayagunaan lebih lanjut dari Sumber Daya Air dapat mengakibatkan ketidakseimbangan fungsi yang menjurus kepada kerusakan atau menjadi bencana di kemudian hari dari sumber air. Di dalam menyelaraskan fungsi-fungsi tersebut, akan diperlukan sistem pengkajian, pemantauan dan evaluasi yang dapat memberikan data dan informasi yang transparan yang diperlukan didalam pengembangan pengelolaan sumber air lebih lanjut secara berkesinambungan. Transparansi dan akuntabilitas dari suatu pengelolaan sumber air akan menjamin keberlanjutan dari penyelenggaraan pengelolaan sumber air. Salah satu kunci di dalam upaya meningkatkan transparansi dan akuntabiliti dari suatu pengelolaan sumber air adalah dengan merumuskan, menentukan dan menetapkan “zona pemanfaatan sumber air” sebagai suatu unit terkecil didalam pengelolaan sumber air. Bupati/ Walikota dan Gubernur wilayah terkait, sesuai dengan kewenangannya bekerjasama merumuskan rencana Zona Pemanfaatan Sumber Air. Penetapan Zona Pemanfaatan Sumber Air di koordinasikan melalui wadah koordinasi sumber air (PPTPA) pada Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Penetapan rencana Zona pemanfaatan sumber air merupakan bagian dari proses penyusunan pola pengelolaan SDA dan rencana induk pengelolaan SDA. Kebutuhan masyarakat terhadap air yang semakin meningkat mendorong lebih meningkatnya nilai ekonomi air dibanding fungsi sosialnya. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan konflik kepentingan antar sektor, antar wilayah dan berbagai pihak yang terkait dengan Sumber Daya Air. Di sisi lain, pengelolaan Sumber Daya Air yang lebih bersandar kepada nilai ekonomi akan cenderung lebih memihak kepada pemilik modal serta dapat mengabaikan fungsi sosial Sumber Daya Air. Untuk mengantisipasi terjadinya hal tersebut akan diperlukan penetapan peruntukan air pada sumber air. Pemerintah, pemerintah daerah wajib menyelenggarakan berbagai upaya untuk menjamin ketersediaan air bagi setiap orang yang tinggal di wilayahnya. Jaminan tersebut menjadi tanggungan bersama antara pemerintah, pemerintah daerah,
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 11

(Persero) CABANG I MALANG

termasuk di dalamnya menjamin akses setiap orang ke sumber air untuk mendapatkan air. Jaminan penataan sumber air secara layak akan mendorong peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.
Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pendayagunaan SDA di WS BARITO-KAPUAS diarahkan untuk dapat: 1. Mendayagunakan fungsi atau potensi yang terdapat pada sumber air secara berkelanjutan. 2. Mengupayakan penyediaan Air untuk berbagai kepentingan secara proporsional dan berkelanjutan. 3. Mengupayakan penataan sumber air secara layak. 4. Memanfaatkan sumber daya air dan prasarananya sebagai media/materi sesuai prinsip penghematan penggunaan, ketertiban dan keadilan, ketapatan penggunaan, keberlanjutan penggunaan, dan saling menunjang antara sumber air dengan memprioritaskan penggunaan air permukaan. 5. Meningkatkan kemanfaatan fungsi sumber daya air, dan atau peningkatan ketersediaan dan kualitas air. 6. Meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air dengan prinsip meningkatkan efisiensi alokasi dan distribusi kemanfaatan sumber air.

8.3.2.1 Penetapan zona pemanfaatan sumber air 1. Menetapkan rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/ Kota dalam zone pemanfaatan sumber air meliputi: hutan lindung, kawasan resapan air, sempadan sungai, sempadan pantai, cagar alam, cagar budaya dan ilmu pengetahuan, tanaman lahan basah, tanaman lahan kering, rawan bencana dengan memperhatikan semua pengguna sumber air terakomodasi, meminimalkan dampak negatif kelestarian air, konflik penggunaan sumber air dari kawasan lindung dan fungsi kawasan. 2. Menetapkan zone pemanfaatan sumber air dikoordinasikan melalui Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air (PPTPA) Wilayah Sungai. 8.3.2.2 Peruntukan SDA 1. Menetapkan Perda peruntukan air dengan memperhatikan penyebaran penduduk di wilayah sungai. Proyeksi kebutuhan dan pemanfaatan air yang sudah ada untuk keperluan kolam ikan, PDAM dan irigasi dalam kurun waktu/ proyeksi 20 tahun kedepan. 2. Menetapkan peruntukan air yang dikoordiansikan melalui PPTPA wilayah sungai 8.3.2.3 Penyediaan SDA 1. Mengusahakan dan menyediakan air untuk irigasi sawah sesuai dengan luasannya, kebutuhan air minum di masing-masing kabupaten/ kota dan pelayanan kebutuhan kolam ikan. 2. Menyediakan sumber air sesuai dengan prinsip-prinsip urutan prioritas penyediaan air dan apabila menimbulkan kerugian bagi pemakai air
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 12

2. 2. Barito-Kapuas.3. memperoleh penyediaan air dari sumber lain.5 Pengembangan SDA 1. Barito-Kapuas dan memberikan kompensasi secara wajar kepada pemakai.2. 3. 4.2. 8. memperoleh perpanjangan ijin. danau atau tampungan air hanya dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan PPTPA WS. Hasil monitoring oleh pemerintah ditembuskan kepada PPTPA WS. Barito-Kapuas yang ditetapkan 5 (lima) tahun sekali.3. program pembangunan. keringanan biaya jasa pengelolaan SDA. Barito-Kapuas.13 . Jika dalam pengembangan SDA sebagian masyarakat yang terkena dampak kegiatan menyatakan keberatan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .6 Pengusahaan SDA Pengusahaan SDA dilakukan dengan memperhatikan pemanfaatan air untuk kebutuhan sehari-hari telah terpenuhi dan memperhatikan lingkungan dan berkelanjutan SDA melalui konsultasi dengan PPTPA WS.3.(Persero) CABANG I MALANG sebelumnya diatur bersama-sama dengan PPTPA WS. maka rencana tersebut dapat ditinjau kembali. 4. Penetapan Perda tata cara pemberian kompensasi dapat berupa. Pengembangan SDA yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup dikenakan ketentuan-ketentuan tentang analisis mengenai dampak lingkungan. Memberikan prioritas yang tinggi kepada pemenuhan kebutuhan pokok seharihari dalam hal terjadi situasi kekeringan yang ekstrim.4 Penggunaan SDA 1. Barito-Kapuas. 2. ganti rugi. 3. Pengembangan SDA dilakukan melalui tahapan perencanaan dan pelaksanaan dengan melalui pertimbangan PPTPA WS. 8. BaritoKapuas. Menetapkan Perda penggunaan air yang mengatur waktu izin menyangkut hak guna air paling sedikit 5 (lima) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun sesuai pertimbangan PPTPA WS. Barito-Kapuas. Pembentukan pemegang izin dilakukan dengan pertimbangan PPTPA WS. Pengembangan teknologi modifikasi cuaca yang ditujukan untuk menambah volume air waduk. Barito-Kapuas. 8. dengan menetapkan urutan prioritas yang disetujui oleh Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air WS. 3.

amblesan tanah. Pemerintah dan masyarakat telah banyak melakukan upaya pengendalian baik yang bersifat upaya pencegahan sebelum terjadi bencana.3 Pengendalian Daya Rusak Air Pengendalian daya rusak air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan. biologi dan fisika air. sedimentasi. Meningkatkan peran masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan daya rusak air. dan/atau wabah penyakit. 2. Hal tersebut telah banyak menimbulkan kerugian baik yang terhitung maupun yang tidak terhitung. Pengendalian Daya Rusak Air adalah upaya untuk mencegah. upaya penanggulangan pada saat terjadi bencana. biologi. Dampak daya rusak air terhadap kondisi sosial-ekonomi yang utama adalah terganggunya aktivitas masyarakat dalam menjalankan kehidupannya.3.14 . tanah longsor. longsoran tanah. menanggulangi dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air. dan upaya pemulihan akibat bencana. kekeringan. banjir lahar dingin. Mengupayakan sistem pencegahan bencana akibat daya rusak air. 4. mempercepat pemerintah daerah Provinsi. 5.1 Pencegahan Bencana Alam rawan banjir. Barito-Kapuas. Kabupaten/Kota terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui upaya peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. Daya rusak air dapat berupa banjir. 8. erosi. Mengupayakan Keberlangsungan Aktivitas Masyarakat dan terlindunginya sarana dan prasarana pendukung aktivitas masyarakat. erosi dan sedimentasi. 3. 1. Meningkatkan sistem penanggulangan bencana. banjir lahar dingin. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pengendalian Daya Rusak Air di WS BARITOKAPUAS diarahkan untuk dapat: 1. Memulihkan fungsi sarana dan prasarana guna pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari. dan fisika air.(Persero) CABANG I MALANG 8. amblesan tanah.3. Sejalan dengan kepentingan yaitu untuk pemerintah. terancam kepunahan jenis tumbuhan dan atau satwa serta wabah penyakit yang dikonsultasikan kepada PPTPA WS. Menetapkan kawasan rawan bencana alam dalam zona-zona dengan Perda Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .3. Diutamakan pada upaya pencegahan melalui perencanaan pengendalian daya rusak air yang disusun secara terpadu dan menyeluruh dalam Pola Pengelolaan Sumber Daya Air dan diselenggarakan dengan melibatkan masyarakat. penanggulangan dan pemulihan. terancamnya kepunahan jenis tumbuhan dan/atau satwa. maka upaya peningkatan sistem pencegahan dan penanggulangan bencana dan pemulihan fungsi sarana dan prasarana berkaitan dengan daya rusak air perlu dilaksanakan. perubahan sifat dan kandungan kimiawi. kekeringan. perubahan sifat dan kandungan kimiawi.

dilakukan dengan melalui radio dalam acara Pengelolaan Sumber Daya Air WS. 4. 8.3. Barito-Kapuas. berbagai isu strategis berkaitan dengan rencana pembangunan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .3. elemen masyarakat. Pernyataan Pemerintah Kabupaten/Kota atau Provinsi tentang tingkat kejadian bencana alam diperlukan pembahasan dengan PPTPA WS. Melakukan penyebaran berita melalui radio yang ditetapkan oleh pemerintah. Tabel berikut ini adalah matriks indikasi program dan konsepsi Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas. 3.3. Berbagai permasalahan yang telah muncul pada saat ini jika tidak diantisipasi akan berkembang dan menjadi persoalan yang sulit untuk diselesaikan.3. Penetapan prosedur operasi standar penanggulangan kerusakan bencana akibat 4. Penyampaian berita tentang kejadian bencana alam di sebar luaskan melalui radio. BaritoKapuas. daya rusak air ditetapkan melalui Perda masing-masing Kabupaten/Kota dan Provinsi.2 1. 2. BaritoKapuas.3 Pemulihan Bencana Alam Pemulihan daya rusak air oleh Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya dengan melibatkan semua unsur. Selain permasalahan. 3.4 Antisipasi Perkembangan Kebutuhan Pembangunan Pengelolaan sumber daya air perlu melihat ke depan agar dapat memperkirakan proyeksi pengembangan dan dampaknya terhadap kebutuhan air. Pengendalian pemanfaatan kawasan rawan bencana dengan melibatkan masyarakat. Peringatan dini dilakukan di lokasi yang rawan bencana.3. wilayah telah pula disampaikan. 8.15 .(Persero) CABANG I MALANG 2.3. Penanggulangan Bencana Alam Pelaksanaan tindakan penanggulangan kerusakan dan atau bencana akibat daya rusak air dilakukan oleh Pemerintah bersama-sama masyarakat yang dibantu oleh PPTPA WS. 8.

pembiayaan. Mewujudkan sinergi dan mencegah konflik antar wilayah dan antar sektor dalam rangka memperkokoh ketahanan nasional. UMUM 1 Melaksanakan dan meningkatkan koordinasi antar para pemilik kepentingan sumber daya air dalam wadah koordinasi tingkat kabupaten/kota dan wilayah sungai Barito-Kapuas Menyusun dan menetapkan Rencana Induk pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai Barito-Kapuas berdasarkan pola pengelolaan sumber daya air pada tahun 2008. pola pengelolaan sumber daya air.16 . serta memperhatikan kebutuhan generasi sekarang dan akan datang.sedangkan alokasi untuk kebutuhan lainnya dengan memperhatikan nilai lingkungan dan ekonomi air Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . persatuan dan kesatuan bangsa. INDIKASI PROGRAM KONSEPSI POLA KETERANGAN 2 3 Menerapkan rencana pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai Barito-Kapuas secara bertahap dimulai tahun 2009. target 25% tahun 2011. 4 Mengembangkan dan menerapkan instrumen kebijakan untuk mendorong alokasi air dan penggunaan yang efektif dan efisien serta memberikan manfaat sosial ekonomi paling besar bagi masyarakat dengan memperhatikan kaidah lingkungan hidup. Mengembangkan sistem alokasi air untuk kebutuhan pokok mahluk hidup termasuk pertanian rakyat sebagai prioritas utama. Penerapan keterpaduan disusun dengan memperhatikan wadah koordinasi. dan SIM yang pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap.1 Matriks Indikasi Program Dan Konsep Pola PSDA NO A. Menetapkan dan menerapkan pola pengelolaan sumber daya air yang didasarkan atas wilayah Menerapkan prinsip kesimbangan antara permintaan dan penyediaan air dan daya air dengan pola pengelolaan SDA secara terpadu dan berkelanjutan Menyusun perencanaan pengelolaan SDA agar upaya konservasi dan pendayagunaan SDA lebih seimbang Menerapkan pengelolaan sumber daya air terpadu di wilayah sungai Barito-Kapuas.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 8. rencana induk. 100% tahun 2026. 50% tahun 2016. pelaksana.

Melaksanakan koordinasi antar pemilik kepentingan SDA dalam wadah koordinasi tingkat Nasional. restrukturisasi. efisien. Sosialisasi peraturan perundang-undangan tentang sumber daya air kepada seluruh masyarakat. kabupaten/kota. dan refungsionalisasi kelembagaan pengelolaan sumber daya air yang menuju terciptanya pemisahan fungsi pengaturan. KETERANGAN 6 7 Rasionalisasi adalah penyesuaian kelembagaan termasuk kompetensi sumber daya manusianya agar sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing 8 9 Pembentukan wadah koordinasi sumber daya air wilayah sungai Barito-Kapuas sesuai dengan kebutuhan. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air serta menyediakan pos-pos pengaduan. Menyelenggarakan sistem pembiayaan pengelolaan sumber daya air meliputi bukan hanya untuk kebutuhan teknis tetapi juga untuk pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada berkelanjutan Melaksanakan rasionalisasi kelembagaan pengelolaan sumber daya air di tingkat nasional. fungsi pemanfaatan. Menerapkan diversifikasi sumber pembiayaan pengelolaan SDA . Mengembangkan sistem penegakan hukum dengan menetapkan pejabat penyidik pegawai negeri sipil sebagai ”polisi jaga air” sesuai dengan pasal 93 Undang-undang No. Melaksanakan rasionalisasi. pendayagunaan sumber daya air. fungsi pelaksanaan. Provinsi.(Persero) CABANG I MALANG NO 5 INDIKASI PROGRAM Menetapkan dan melaksanakan pedoman perhitungan biaya jasa pengelolaan sumber daya air dalam upaya konservasi. dan pengendalian daya rusak air untuk para pemilik kepentingan sumber daya air di WS Barito-Kapuas Menyelenggarakan sistem pembiayaan yang menerapkan prinsip penerima manfaat dan pencemar menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air dengan mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat sehingga pengelolaan sumber daya air dapat dilakukan secara efektif. kabupaten/kota dan wilayah sungai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . dan fungsi koordinasi di WS Barito-Kapuas dengan tetap menjaga sinergi antarfungsi. dan wilayah sungai agar lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan tugas. berkeadilan dan berkelanjutan.17 . dan kewenangannya. Penyuluhan peraturan perundang-undangan tentang sumber daya air kepada seluruh masyarakat didalam WS BaritoKapuas KONSEPSI POLA Menetapkan pedoman tentang standar pelayanan dan jasa pengelolaan SDA dan memberlakukan pedoman tersebut dalam upaya konservasi. pengoperasian dan pemeliharaan. tanggung jawab.pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air yang dilaksanakan oleh pemilik kepentingan SDA.

embung. rawa dan mata air dengan aturan : a. Sekurang kurangnya 100 (seratus) meter dari dari muka air tertinggi embung ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau d. Sekurang kurangnya 500 (lima ratus) meter dari muka air tertinggi danau dan waduk ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau b. Perlunya penyuluhan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran sempadan sumber air 2 Menetapkan dan mengelola kawasan danau. Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter dari muka air tertinggi rawa ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau c.50 % di tahun 2026. Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekeliling mata air harus berfungsi sebagai sabuk hijau Menetapkan dan mengelola daerah batas sempadan sungai. Pemeliharaan embung dan rawa serta mata air Pembangunan Embung Pembangunan Waduk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .(Persero) CABANG I MALANG NO INDIKASI PROGRAM KONSEPSI POLA KETERANGAN B. 3 4 Menata daerah sempadan sungai utamanya di daerah permukiman. rawa. menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan. situ. sumur resapan. Perlu melakukan pematokan batas sempadan sumber air -. KONSERVASI SUMBER DAYA AIR Menetapkan dan mengelola daerah resapan air dalam rangka mengupayakan peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak air melalui rehabilitasi hutan dan lahan kiritis. Merehabilitasi hutan dan lahan kritis untuk WS.25 % di tahun 2016 . Mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi SDA dengan target minimal 25 % tiap 5 tahun (small and medium pond.18 . Checkdam. rawa.teknik pemanenan hujan dll) -. waduk dengan prioritas daerah permukiman. danau dan waduk dengan target 15% tiap 5 tahun. Sosialisasi dan desiminasi mengenai fungsi dan manfaat sempadan sumber air -. mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi sumber daya air. mata air ) dan pengawetan air berupa pembangunan antara lain: waduk dan embung. serta menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan & lahan. Meningkatkan upaya pemeliharaan sumber air (antara lain : danau. waduk. dengan target 12. embung. danau.BaritoKapuas dengan prioritas daerah hulu sungai Barito dan Kapuas serta bantaran sungai.5 % di tahun 2011.groundsill.

-. dengan target efektif 2010. Membangun sistem pemantauan kualitas air pada sumber air dan kualitas limbah cair secara berkelanjutan. melaksanakan penyuluhan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran.recycle) serta sekaligus mengkampanyekan budaya hemat air dengan target minimal pada 25 % pengguna air dan target minimal 5 % dari kehilangan air tiap 5 tahun -. Penertiban sumber pencemar dengan mengolah limbah sebelum dibuang Menetapkan alokasi air dan hak guna air pada lokasi sumber air Perlu dipersiapkan Perda Hak Guna Air Perlu dibuat ketetapan prioritas penggunaan air Perlu ditetapkan kebutuhan pokok minimal kehidupan sehari hari air per kapita (lt/kapita/hari) Penyediaan pasokan air dengan target minimal 25% tiap 5 tahun guna memenuhi kekurangan pasokannya. -.recycle).(Persero) CABANG I MALANG NO 5 6 INDIKASI PROGRAM Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air dan kegiatan Mendorong dan mengupayakan pembangunan sistem pengelolaan limbah cair komunal di kawasan permukiman dan kawasan industri. Pemantauan kualitas sumber air -. reuse. KONSEPSI POLA Menyusun aturan. 3 4 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . C. Mendorong upaya pengawetan air melalui pembudayaan prinsip 3 (tiga) R (reduce. Menyediakan pasokan air baku untuk air minum sehingga pada tahun 2015 dapat memenuhi separuh jumlah penduduk yang belum memiliki akses air minum. PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1 2 Menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air. Menyusun aturan. -.19 . Meningkatkan monitoring dan pengawasan kualitas air limbah. pemulihan. Menentukan baku mutu sumber air. Menyediakan pasokan untuk memenuhi kebutuhan air sesuai dengan prioritas dan rencana alokasi yang telah ditetapkan. secara biologi. Pembangunan baru IPAL penduduk komunal -. Mengupayakan”pengelolaan permintaan air” yang effektip dan effesien (reduce. Pembangunan dan peningkatan sarana dan prasarana air baku untuk air minum dengan target pelayanan: 65 % untuk tahun 2011. Menetapkan alokasi dan hak guna air bagi pengguna yang sudah ada dengan target penyelesaian paling lambat pada tahun 2010.reuse. selambat-lambatnya pada tahun 2025.melaksanakan penyuluhan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran penambangan galian C.70 % untuk tahun 2016 dan 80 % untuk tahun KETERANGAN 7 8 9 Memperbaiki kualitas air pada sumber air dengan cara antara lain: aerasi.

Merehabilitasi dan/atau meningkatkan jaringan irigasi dan rawa untuk mengembalikan dan/atau menigkatkan kinerja seluruh jaringan irigasi dan rawa. dan transportasi air Menyusun dan menetapkan rencana pengelolaan sedimen pada sumber air berdasarkan pola dan rencana pengelolaan sumber daya air.(Persero) CABANG I MALANG NO 6 7 INDIKASI PROGRAM Memelihara fungsi sistem irigasi yang sudah ada dengan menyelenggarakan operasi dan pemeliharaan untuk seluruh jaringan irigasi dan rawa yang ada. Mengupayakan ”pengelolaan permintaan air” yang efektif dan efisien dengan target minimal pada 25% pengguna air dan target minimal 5% dari kehilangan air tiap 5 tahun Mencegah pendayagunaan SDA pada kawasan suaka alam danKawasan pelestarian Pengendalian pendayagunaan SDA pada kawasan lindung Mengembangkan dan menerapkan mekanisme pengelolaan SDA antar kepentingan sektor. 11 12 13 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . olah raga air.20 .wilayah dan dampak jangka panjang. reuse). Mengendalikan penggunaan air melalui mekanisme perizinan berdasarkan rencana alokasi air yang telah ditetapkan. serta mengembangkan dan menerapkan teknologi pengelolaan rawa termasuk pengembangan perikanan rawa dan memberdayakan masyarakat agar penduduk yang bermukim di daerah rawa dapat hidup secara harmoni dengan lingkungannya. Menyusun dan menetapkan mekanisme perizinan dan sistem pemantauan penambangan bahan galian di sumber air. KONSEPSI POLA 2021. dengan memperhatikan kepentingan antar sektor dan antar wilayah sungai dengan tidak mengorbankan lingkungan. Menyusun persyaratan dan prosedur pengelolaan sedimen pada sumber air pada tahun 2009 dan penerapannya secara konsisten Menyempurnakan persyaratan dan sistem pemantauan penambangan bahan galian pada 2009 KETERANGAN 8 9 10 Mengupayakan ”pengelolaan permintaan air” (demand management) yang efektif dan efisien (reduce.(rencana program kegiatan ) Memelihara fungsi sistem irigasi yang sudah ada dengan menyelenggarakan operasi dan pemeliharaan untuk seluruh jaringan irigasi yang ada serta rehabilitasi jaringan irigasi Merehabilitasi dan meningkatkan jaringan irigasi dengan target 9685 ha tiap 5 tahun pada daerah yang telah ditempati penduduk. pariwisata.antar wilayah sungai tanpa mengorbankan lingkungan Mengembangkan potensi SDA untuk menunjang kebutuhan berbagai sektor dan mendukung perkembangan ekonomi secara effektip dan effisien dengan mempertimbangkan kepentingan antar sektor. Mendorong pengembangan sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. Menyusun dan melaksanakan program pengembangan sumber daya air terpadu berdasarkan pola dan rencana pengelolaan sumber daya air. perikanan.

dan manual pengembangan kawasan.21 . dengan target selesai tahun 2009 Mengeffisienkan pengelolaan SDA. Meningkatkan penegakan hukum yang konsisten atas pelanggaran tata ruang. PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR 1 2 3 4 Menyiapkan informasi daerah rawan banjir dan sosialisasi kepada masyarakat Perencanaan tata ruang perlu memperhatikan kemungkinan terjadinya banjir Sosialisasi PERDA kepada masyarakat dan mengajak masyarakat ikut peran serta Prinsip ”zero delta q policy” perlu dimasukan ke dalam penyusunan norma. sehingga biayan jasa pengelolaan terjangkau Koordinasi dalam Penyusunan PERDA KETERANGAN D. Pengkajian ulang tata ruang pada kawasan rawan banjir dan kawasan penyebab banjir. pedoman. dan revitalisasi serta pengendaliannya. menerapkan. Menerapkan sistem peringatan dini kepada masyarakat dan menyiapkan sistem evakuasi. standar. sehingga biaya jasa pengelolaannya lebih terjangkau. Menyebarluaskan dan menciptakan sistem perizinan dengan prinsip “zero delta q policy” KONSEPSI POLA Menetapkan pedoman perhitungan biaya jasa pengelolaan SDA serta metode pembebanannya kepada para pemanfaat. Menetapkan sistem perizinan dan sistem pengawasan pengusahaan sumberdaya air. 6 7 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . serta menyelenggarakan simulasi dalam rangka menghadapi banjir. Inventarisasi perubahan fungsi lahan yang menyebabkan masalah banjir.(Persero) CABANG I MALANG NO 14 15 16 INDIKASI PROGRAM Menerapkan Perda penerima manfaat menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air secara konsisten. Merasionalisasikan biaya pengelolaan sumber daya air. Menciptakan sistem perizinan bagi pelaku pengubah daerah tangkapan air Melakukan upaya pengendalian erosi dan sedimen pada daerah yang dikembangkan Daerah yang menerima manfaat dari perlindungan banjir dikenakan kontribusi.yang akan diberikan sebagai kompensasi kepada daerah yang dapat memberi manfaat penanggulangan bahaya banjir di hilirnya. Melakukan pencegahan perubahan fungsi daerah manfaat sungai. dan mengevaluasi pelaksanaan sistem insentif dan disinsentif antara hulu-hilir. tata kota dan tata bangunan. Meningkatkan kesiapan dan ketahanan pemilik kepentingan dalam menghadapi segala akibat daya rusak air Mencegah pengembangan permukiman dan bangunan lainnya yang akan menyebabkan terjadinya “inundasi” (genangan yang berlebihan) 5 Menyiapkan.

(Persero) CABANG I MALANG NO 8 9 INDIKASI PROGRAM Meningkatkan pemberian informasi mengenai kawasan rawan bencana akibat daya rusak air. Menyiapkan bahan untuk penanggulangan darurat seperti. KONSEPSI POLA Menyediakan informasi daerah rawan banjir dan disosialisasikan kepada masyarakat Melakukan perlindungan daerah permukiman. Penanggulangan darurat prasaran SDA seperti tanggul yang bocor . pengendalian air larian di tingkat kawasan dengan prasarana pengendalian banjir.terutama revitalisasi obyek umum yang mengalami kerusakan Menanggulangi stress atau trauma masyarakat yang tertimpa musibah daya rusak air Mengikut sertakan masyarakat dan pihak swasta dalam rangka revitalisasi sarana dan prasarana umum maupun SDA yang rusak akibat daya rusak air Perlu adanya sharing dalam pembiayaan penanggulangan daya rusak air antara daerah dan pusat KETERANGAN 10 11 12 13 14 15 16 Menumbuhkembangkan peran serta masyarakat dan swasta dalam kegiatan pemulihan akibat bencana. dan daerah produksi non pertanian terhadap banjir 25 tahunan sampai dengan tahun 2025 serta perlindungan daerah produksi pertanian terhadap banjir 10 tahunan Membuat perencanaan yang terpadu antara drainasi perkotaan dengan sistem pengendalian banjir kawasan tersebut Menyusun pedoman penanggulangan bencana banjir pada masing masing sungai yang rawan banjir. Melakukan kegiatan tanggap darurat yang terdiri dari evaluasi tingkat bahaya dan kesiap-siagaan menghadapi bencana.pompa pompa air. prasarana umum. Menyediakan pembiayaan untuk penanggulangan daya rusak air yang bersumber dari dana APBN dan APBD dalam jumlah yang memadai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Dalam keadaan terjadi bencana dilakukan upaya penyelamatan jiwa manusia.tenda tenda.karung pasir. Menyiapkan lokasi lokasi untuk evakuasi.perahu karet. Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun nonstruktural. prasarana umum. perbaikan darurat prasarana sumber daya air dan prasarana umum lainnya.bronjong kawat. Melakukan perlindungan daerah permukiman. utamanya pada daerah pengembangan baru.jembatan yang limpas dll Rekonstruksi bangunan bangunan yang rusak akibat daya rusak air.22 . Melakukan pemisahan prasarana pembuangan limbah cair dan drainase. dan daerah produksi nonpertanian dengan prasarana pengendalian banjir terhadap banjir tahunan dengan resiko sama atau lebih besar 4 (empat) persen serta perlindungan daerah produksi pertanian terhadap banjir dengan resiko sama atau lebih besar 10 (sepuluh) persen.cerucuk dll. Mengintegrasikan pengelolaan drainase perkotaan.

dan koordinasi antarlembaga pemerintah yang terkait dalam Menyelenggarakan pendampingan dan pelatihan dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia pemilik kepentingan dengan target minimal satu kali dalam setahun pada seluruh yang telah terbentuk dewan sumber daya airnya Memberi peran kepada masyarakat disertai dengan pemberdayaan untuk meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan SDA pada Wilayah Sungai 2 3 4 5 6 Sosialisasi UU no 7 tahun 2004 Menciptakan kepastian hukum bagi swasta untuk berperan dalam pengelolaan SDA Meningkatkan kinerja lembaga Pemeritah dalam pengelolaan sumber daya air Penerapan NSPM Pelatihan yang terorganisir melalui dewan air 7 8 9 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Meningkatkan kemampuan komunikasi. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka memenuhi standard kompetensi.23 . pelatihan.(Persero) CABANG I MALANG NO INDIKASI PROGRAM KONSEP POLA KETERANGAN E. SWASTA. Menyusun dan menerapkan standar kompetensi sumber daya manusia yang sesuai dengan tugas pokoknya dalam pengelolaan sumber daya air. Melakukan penyuluhan. Menumbuhkan prakarsa serta memberikan peran kepada masyarakat disertai dengan pemberdayaan untuk meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. dan pembinaan dalam menyikapi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan sumber daya air kepada dunia usaha. kerjasama. PEMBERDAYAAN DAN PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT. DAN PEMERINTAH 1 Menyelenggarakan pendampingan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kepedulian dan kemampuan masyarakat untuk berperan serta dan bertanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya air di setiap wilayah sungai secara berkelanjutan. Menyiapkan peraturan daerah yang kondusif dan menyebarluaskan program SDA bagi dunia usaha untuk berperan serta dalam pengelolaan sumber daya air Menyesuaikan dan menyempurnakan kelembagaan pemerintah di kabupaten/kota dan wilayah sungai dalam pengelolaan sumber daya air sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Memberikan pengakuan hak ulayat masyarakat hukum adat setempat dalam pengelolaan sumber daya air pada wilayahnya.

Melibatkan semua pemilik kepentingan melalui prinsip keterwakilan dalam pengelolaan sumber daya air dan melaksanakan penyuluhan keberadaan wadah koordinasi SDA. Membangun jaringan informasi sumber daya air dalam WS Barito-Kapuas yang melibatkan seluruh pihak terkait dengan sumber daya air. berkelanjutan. KETERANGAN 11 F. Meningkatkan pelayanan informasi pengelolaan sumber daya air dengan penyediaan data dan informasi melalui website dan media lainnya. Memfasilitasi penyediaan data meliputi data hidrologi. Membangun jaringan basis data dalam WS Barito-Kapuas Menerapkan prosedur operasi standard tentang keterbukaan data dan Meningkatkan ketersediaan data dan informasi sumber daya air secara akurat. dan mengembangkan partisipasi masyarakat secara luas dalam memberikan informasi tentang SDA.24 . hidrogeologi. tepat waktu. tepat waktu. dll. berkelanjutan.(Persero) CABANG I MALANG NO 10 INDIKASI PROGRAM pengelolaan sumber daya air. dan mudah diakses. sehingga mampu menyampaikan data dan informasi yang akurat. Menyusun tata tertib koordinasi dan pengambilan keputusan wadah koordinasi sumber daya air dan meningkatkan konsultasi serta koordinasi antar wadah koordinasi SDA baik secara horisontal maupun vertikal. Membangun jaringan bank data dan basis data dengan sasaran 50% wilayah sungai pada tahun 2011 dan 100% wilayah sungai 2016. Memberikan hak memperoleh informasi tentang pengelolaan sumber daya air kepada masyarakat. transparan. KETERBUKAAN DAN KETERSEDIAAN DATA DAN INFORMASI SUMBER DAYA AIR. kebijakan sumber daya air. sistem pembiayaan yang memadai. teknologi sumber daya air. Meningkatkan pemerataan informasi pengelolaan SDA dengan menghilangkan kendala dan masalah yang menghambat pemerataan informasi pengelolaan SDA Membangun sistem pengelolaan data dan informasi Meningkatkan keterbukaan publik dalam 2 3 4 5 6 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . serta berorientasi pada pengguna. KONSEP POLA Membentuk Dewan Sumber Daya Air yang melibatkan semua pemilik kepentingan melalui prinsip keterwakilan dalam pengelolaan SDA . 1 Mengembangkan sistem informasi sumber daya air dalam WS BaritoKapuas yang terpadu dan didukung oleh kelembagaan yang tangguh serta responsif. hidrometeorologi. Meningkatkan konsultasi dan koordinanasi antar wadah koordinasi SDA baik secara horisontal maupun vertikal. prasarana sumber daya air.

KETERANGAN 7 Menerapkan standar untuk format. proses data. Menetapkan standar untuk pengkodean data. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .(Persero) CABANG I MALANG NO INDIKASI PROGRAM informasi kepada masyarakat KONSEP POLA proses penyusunan kebijakan dan pengelolaan sumber daya air.25 . dan metode/prosedur pengumpulan data dan informasi. klasifikasi. kodifikasi.

hubungan antar jenjang dewan air serta pedoman pembentukan dewan air. disamping itu sebagai sarana mengintergrasikan kepentingan berbagai sektor. Selain itu keberadaan Dewan Sumber Daya Air juga disinggung pada BAB II Pasal 14 tentang kewenangan presiden. Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Selatan 3. wilayah dan pemegang kepentingan dalam bidang sumber daya air (Pasal 85). Dewan air sebagai wadah koordinasi beranggotakan Unsur Pemerintah dan Unsur Non Pemerintah dalam jumlah yang seimbang atas dasar prinsip keterwakilkan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Tugas pokok Dewan Sumber Daya Air adalah menyusun dan merumuskan kebijakan strategi serta strategi pengelolaan sumberdaya air b. Dinas Pengairan / Sumber Daya Air Kabupaten 5. Beberapa kelembagaan terkait tersebut adalah : 1. keanggotaan serta susunan organisasi dan tata kerja. Sedang dalam Pasal 87 memuat basis pembentukan Dewan Air. jenjang organisasi dewan air mengikuti jenjang administrasi pemerintahan.(Persero) CABANG I MALANG 8.26 . Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Tengah 2. Instansi lain yang terkait Badan Pengelola WS Barito-Kapuas Konsep Dewan Sumber Daya Air Mengacu pada Undang Undang SDA No 7 Tahun 2004 disebutkan bahwa kelembagaan dewan Sumber Daya Air termuat dalam dalam BAB XII. PTPA di Tingkat Provinsi dan PPTPA ditingkat Kabupaten 6.4 Kelembagaan dan Peran Masyarakat Dengan terbentuknya Balai Wilayah Sungai Kalimantan II yang menangani WS Barito-Kapuas yang mulai diberlakukan tahun 2007 maka selama masa peralihan tersebut diharapkan adanya koordinasi dengan institusi lainnya yang terkait dengan pengelolaan SDA di Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Pasal 85. Balai Pendayagunaan Sumber Daya Air Barito-Kapuas 4. Menurut pasal-pasal ini dewan Sumber Daya Air disebut sebagai wadah koordinasi untuk menjamin tercapainya keterpaduan pengelolaan Sumber Daya Air. Pasal 86 berisi tentang panduan tugas pokok. 86 dan 87 tentang koordinasi pengelolaan. Lebih lanjut Pasal 86 menyebutkan bahwa : a.3.

Lintas Kabupaten/ Kota atau (b) Lintas Negara. Koordinasi pada tingkat nasional dilakukan oleh Dewan Sumber Daya Air Nasional yang dibentuk oleh pemerintah dan pada tingkat provinsi dilakukan oleh wadah koordinasi dengan nama Dewan Sumber Daya Air Provinsi atau dengan nama lain yang dibentuk oleh pemerintah provinsi sedangkan untuk koordinasi pada tingkat kabupaten/ kota dapat dibentuk wadah koordinasi dengan nama lain oleh pemerintah kabupaten/ kota. Hubungan kerja antar wadah koordinasi tingkat nasional. kabupaten/kota dan Dewan Sumber Daya Air Wilayah Sungai khusus apabila Wilayah Sungai bersifat (a) Lintas Provinsi. Hingga sat ini belum ada bentuk baik mengenai dewan air baik nasional maupun provinsi. Keberadaan dean air nampak dimaksudkan untuk memberikan warna koloboratif dan koordinatif dalam pengelolaan Sumber Daya Air. Wadah koordinasi pada Wilayah Sungai dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan pengelolaan Sumber Daya Air pada Wilayah Sungai yang bersangkutan c. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . c. provinsi. Susunan keanggotaan ini berbeda dengan konsep dewan serupa di Undang Undang sebelumnya. Pedoman mengenai pembentukan wadah koordinasi pada tingkat provinsi. Dari diskripsi diatas dapat ditarik beberapa konsepsi utama tentang dewan air sebagai berikut : a. kabupaten/ kota dan Wilayah Sungai diatur lebih lanjut dengan keputusan Menteri yang membidangi Sumber Daya Air. Susunan organisasi dan tata kerja dewan air sebagai wadah koordinasi akan diatur lebih lanjut dengan keputusan Presiden Sementara Pasal 87 menyatakan bahwa : a.(Persero) CABANG I MALANG c. kabupaten/kota dan wilayah sungai bersifat konsutatif dan koordinatif d.27 . Ada lima tingkatan atau bentuk dewan sumberdaya air yaitu tingkat nasional. provinsi. b. b. Ini tercermin dalam pernyataan dewan pengelolaan Sumber Daya Air yang terdiri dari semua pemangki kepentingan (pemerintah dan perwakilan masyarakat umum dan industri pengguna air) secara proporsional. Dengan demikian dewan air diharapkan untuk menjamin terwujudnya asas Community Based dalam pengelolaan SDA.

Secara teoritik dewan air yang efektif minimal bersifat Advisory kepada pemerintah. Namun hal ini tidak disebutkan dalam UU SDA No 7 2004. b. Partisipasi yang Luas. Memiliki Kapasitas Pengambilan Keputusan. misalnya dalam bentuk nota kesepakatan (Memorandum of Understanding) c. dan idealnya para pemilik properti. keterwakilkan pihak yang terkena dampak bisa dinyatakan dalam posisi penting mereka dalam dewan air. Mengingat kesenjangan antara teori dan praktis dalam aspek institusi selama ini. Dewan air. harus menjadi satu-satunya wahana koordinasi Stakeholder yang menerapkan mitra Stakeholders dalam pengambilan keputusan (One Decision Making Process) untuk menjamin tercapainya sebagai wujud dari prinsip One River One Plan One Management Dewan Sumber Data Air harus menjadi satu-satunya tempat dan proses perencanaan pengelolaan. Dewan Sumber Air WS Barito-Kapuas harus diakui oleh semua stakeholders yang ada di kabupaten/ kota terkait dengan wilayah sungai baik jajaran pemerintah. Untuk itu Dewan sumber daya air harus memiliki paling tidak peran kontrol. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Legitimacy. Namun dalam kenyataannya di Indonesia lembaga yang tidak memiliki wewenang eksekusi biasanya akan berhenti sebagai organisasi tanpa peran penting. d. Ini hanya dimungkinkan kalau keanggotaannya sudah mencakup semua stake holder yang secara faktual punya kepentingan terhadap DAS. yang bisa diwujudkan dalam bentuk pro aktif saat perencanaan dan penentuan kebijakan umum pengelolaan.(Persero) CABANG I MALANG Berdasarkan hal diatas beberapa rekomendasi dalam pembentukan dewan sumberdaya air wilayah sungai adalah sebagai berikut : a. e. Semua pemangku kepentingan yang telah teridentifikasi kepentingannya atas DAS harus tahu dan ambil bagian dalam proses perencanaan. Oleh karena itu dewan ini seharusnya memprakarsai pembentukan / penyusunan Rencana Induk Pengelolaan SDA nantinya.28 . (Pemangku kepentingan – stakeholders adalah mereka yang menimbulkan dan terkena dampak pengelolaan DAS). swasta maupun masyarakat. operator industri (barang dan jasa) harus berperan dalam perencanaan. Keterwakilkan yang proporsional dan setara. Pengakuan dapat berujud dokumen formal yang ditandatangai oleh semua pemangku kepentingan. yakni mereka memiliki peran kepemimpinan dan bukan anggota.

Rumusan Standar pengendalian daya rusak air dan resiko sumberdaya air. Edukasi dan promosi bagi berhasilnya Pola Pengelolaan yang dihasilkan 3.29 . permasalahan sumber daya air yang ada di WS. konservasi dan proteksi. Memiliki Kejelasan Peran. Pemahaman dan kesepakatan yang jelas mengenai peran dan tanggung jawab antara pemerintah. masukan dan usulan dari Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) I dan analisis konsultan yang didasarkan analisa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . g. Dewan sumberdaya air wahana sebagai perencanaan kemitraan pengelolaan yang kolaboratif harusmenyediakan mekanisme penyelesaian sengketa yang mungkin timbul antar pemangku kepentingan yang tidak bisa diselesaikan secara internal. Barito-Kapuas.4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI 8. pengendalian polusi dan pengelolaan kualita air 6. Pengendalian dan penegakan 8. Perumusan kebijakan dan Rencana Induk Pengelolaan SDA WS BaritoKapuas 2.4.(Persero) CABANG I MALANG f. Termasuk disini adalah kejelasan pemerintah kabupaten/kota yang harus disepakati dari awal. industri dan masyarakat pengenalan dalam dan proses pengelolaan peran antar DAS adalah esensial provinsi bagi dan keberhasilan pengelolaan dan pengaturan kerja. Secara lebih rinci sebagai otonom Dewan Sumber Air WS Barito-Kapuas diharapkan bisa memfungsikan diri dalam : 1. Pembinaan Jejaring dan pertukaran informasi 4. Mekanisme Penyelesaian Sengketa. Umum Strategi pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) WS. Perumusan Standar Alokasi hak PEMANFAATAN PASOKAN AIR 5.1. teknik perlakuan dan penggunaan kembali air. Perumus mekanisme dan wadah bagi penyelesaian sengketa 8. Perumusan Regulasi Pengelolaan 7. Barito-Kapuas disusun berdasarkan arah kebijakan nasional pengelolaan SDA.

terutama ditekankan pada lereng dengan kemiringan >15%. (d) Kondisi lereng. Perumusan Strategi dan Komponennya yang mengacu pada Isu Pokok 8. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .2.30 . baik yang terdapat di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. Tinjauan Atas Lingkup Kebijakan Nasional dan Provinsi serta Kebijakan Pengelolaan Wilayah Sungai Barito-Kapuas 2. Konservasi SDA WS. Analisa Kecenderungan Masa Lalu.Barito-Kapuas mengacu pada arah kebijakan nasional yang telah diatur dalam Undang Undang no 7 tahun 2004 tentang SDA yang meliputi: Konservasi SDA. hasil analisis dari data biofisik merupakan parameter utama yang menjadi pertimbangan yang akan dilaksanakan. tanggap terhadap berbagai permasalahan tersebut 5. Pendayagunaan SDA dan Pengendalian Daya Rusak Air Langkah langkah dalam Perumusan Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air ditetapkan sebagai berikut : 1. Barito-Kapuas 8. Parameter biofisik tersebut mencakup: (a) Erosi aktual serta penyebarannya dalam satu kawasan Sub DAS. (b) Kedalaman tanah. Wilayah Sungai. (c) Kondisi penutupan lahan. dalam Aspek Sumber Daya Air (Mencakup Sosial Ekonomi. Tinjauan Atas Permasalahan yang di-Identifikasi dalam Potensi dan Tantangan untuk menjamin bahwa Strategi yang dirumuskan. Sekarang dan Mendatang. Fisik DAS.4. (e) Lahan kritis. Kelembagaan.4. Pola Konservasi WS Barito-Kapuas Dalam merancang konservasi di WS Barito-Kapuas yang dilakukan terhadap setiap sub DAS yang tercakup dalam kawasan wilayah sungai tersebut.1. Kajian Strategi Yang Diusulkan dengan Prioritas yang sesuai dengan Kondisi Wilayah Sungai Barito-Kapuas 3. Ketersediaan dan Kebutuhan Air) dan Sektor Terkait 4.2.(Persero) CABANG I MALANG SWOT dan rasionalisasi program (analisis Hymos dan Ribasin) serta penentuan prioritas program berdasarkan pada kebutuhan mendesak. Arah kebijakan pengelolaan SDA WS.

penyusunan pola konservasi di WS. 353/Kpts-II/1986 Tentang Penetapan Radius/Jarak Larangan Penebangan Pohon dari Mata Air. pasang surut.31 . Barito-Kapuas dapat dilihat pada diagram alir. Waduk/Danau. (b) Sistem budidaya pertanian. Hutan Cadangan dan Hutan Lainnya. Keputusan-keputusan Dirjen RLPS yang terkait dengan konservasi lahan kritis. khususnya pasal-pasal yang terkait dengan konservasi seperti bagian keempat dan kelima dari UU tersebut.(Persero) CABANG I MALANG Adapun aspek sosial ekonomi yang dipertimbangkan dalam menyusun pola konservasi adalah (a) Tekanan Penduduk. Kerangka penyusunan pola konservasi untuk WS. yakni waduk/danau. Keputusan Presiden No. Menteri Kehutanan. Bagian keempat memuat tentang Rehabiltasi dan Reklamasi. mata air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Sungai dan anak sungai. kiri kanan tepi anak sungai. Tentang Penanganan Konservasi Tanah dalam Rangka Pengamanan Daerah Aliran Sungai Prioritas. kiri kanan tepi sungai di daerah rawa. kiri kanan tepi sungai. Di samping aspek biofisik dan sosial ekonomi seperti tersebut di atas. sedangkan bagian kelima memuat tentang perlindungan hutan dan konservasi alam. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Hutan. tepi jurang. Undang-Undang Pokok Kehutanan No. Keputusan Menteri Kehutanan No. dan Menteri Pekerjaan Umum No: 19 Tahun 1984 – No: 059/Kpts-II/1984 – No: 124/Kpts/1984 tanggal 4 April 1984. Pasal 50 secara khusus mengatur tentang konservasi sumber-sumber air. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Tepi Jurang. Barito-Kapuas ini juga mengacu kepada : Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri.

Strategi Pengelolaan SDA untuk aspek konservasi SDA WS Barito-Kapuas diarahkan untuk dapat : i. Memulihkan dan mempertahankan kualitas air guna memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan.4.32 . Strategi Konservasi SDA. Menetapkan dan mengelola daerah resepan air dalam rangka penyediaan air bagi kemamfaatan umum secara berkelanjutan dan pengurangan daya rusak air. daya tampung dan fungsi DAS untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan.2. Meningkatkan.2.(Persero) CABANG I MALANG 8. ii. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . memulihkan dan mempertahankan daya dukung.

.penutupan lahan . Diagram Alir Strategi Konservasi di WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Penduduk.Sistem budidaya pertanian Input PKM I & II STRATEGI KONSERVASI Gambar 8.Tek.1.kedalaman tanah .(Persero) CABANG I MALANG Wilayah Sungai Barito-Kapuas DAS - - Barito Kapuas Murung Martapura Riam Kanan - Riam Kiwa Negara Ambawang Kubu Landak Tapin Di luar kawasan hutan Di dalam kawasan hutan Analisis Biofisik: .33 .lahan kritis Analisis Sosial Ekonomi: .erosi .lereng .

Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian tanaman penutup tanah (mulsa) atau bahan organik. danau. waduk. misalnya teras bangku konservasi. BaritoKapuas dapat diuraikan berupa: a) Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air (1) Rehabilitasi dan perlindungan hutan (2) Reboisasi kawasan hutan yang rusak (3) Penghijauan di lahan kritis milik masyarakat dan negara yang jumlahnya cukup luas (4) Penetapan dan pengelolaan kawasan sempadan sungai. penanaman tanaman menurut garis kontur (contour cultivation). • • Penyadapan air (water harvesting) Meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah dengan cara memperbaiki struktur tanah. pembuatan teras yang dapat menyimpan air. • Pengolahan tanah minimum (minimum tillage) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .(Persero) CABANG I MALANG Dari tiga butir strategi pokok tersebut. pembangunan waduk dan embung. embung dan rawa sebagai sabuk hijau terutama yang saat ini digunakan sebagai permukiman oleh masyarakat. penanaman dalam strip (system penanaman berselang seling antara tanaman yang tumbuh rapat (misal rumput atau leguminosa) dan strip tanaman semusim. (5) Penatagunaan lahan sesuai dengan kaidah-kadiah konservasi tanah (6) Pelestarian dan perlindungan sumber air serta inventarisasi sumber daya air secara menyeluruh sehingga kerusakan ekosistem sumber daya air dapat dicegah (7) Penertiban penambangan galian Golongan C b) Pengawetan Air (1) Peningkatan pemanfaatan air permukaan dengan cara antara lain: • Pengendalian aliran permukaan untuk memperpanjang waktu air tertahan di atas permukaan tanah dan meningkatkan jumlah air yang masuk ke dalam tanah melalui: pengolahan tanah untuk setiap aktivitas budidaya pertanian. beberapa kegiatan di WS.34 .

(Persero) CABANG I MALANG (2) Pengelolaan air tanah. drainase dalam. strip. dilakukan antara lain dengan: perbaikan drainase yang akan meningkatkan efisiensi penggunaan air oleh tanaman melalui fasilitas drainase permukaan. Dua aktivitas terakhir ini harus disertai dengan peraturan dan pengawasan yang ketat dan tegas. tumpang gilir dan tumpang sari Penanaman menurut kontur. dan penanaman lorong Manajemen bahan organik termasuk mulsa. pergiliran pemberian air.35 . (3) Peningkatan efisiensi penggunaan air irigasi antara lain dengan: pengurangan tinggi penggenangan atau pemberian air. mengurangi kebocoran saluran irigasi dan galengan. dan pemberian air secara terputus. pupuk kandang. termasuk pergiliran tanaman. pupuk hijau dan sisa tanaman Hutan produksi. termasuk hutan produksi terbatas dan hutan rakyat Prasyarat dan Lokasi Dalam kawasan hutan Persentase penutupan lahan kecil Semak belukar Di luar kawasan hutan lahan kritis/tidak produktif Lahan milik Di luar kawasan hutan/lahan pertanian Lereng 0 – 15% Kedalaman tanah minimum 30 . c) Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (1) Pengelolaan kali bersih dengan kontrol yang ketat terhadap pembuangan limbah domestik (2) Pengendalian/ pengawasan pembuangan limbah industri (3) Pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk industri (4) Pelaksanaan audit lingkungan Tabel berikut memuat rencana strategi konservasi di WS Barito-Kapuas Tabel 8.>60% Fungsi lahan: Budidaya tahunan Di luar kawasan hutan/lahan pertanian Lereng kecil dari 40% Kedalaman tanah minimum >15 cm Fungsi lahan : budidaya tahunan/ semusim Di luar kawasan hutan/lahan pertanian Lereng kecil dari 60% Kedalaman tanah minimum >15 cm Fungsi lahan : Budidaya tahunan/ semusim Diluar/dalam kawasan hutan Lahan tidak produktif lereng kecil dari 60% 3 4 5 6 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . pencampuran kompos. atau kombinasi keduanya.2 Rencana Strategi konservasi WS Barito-Kapuas No 1 2 Pola Konservasi Reboisasi Penghijauan Pertanaman campuran.

Penyediaan sumber daya air. Pendayagunaan SDA WS.1.Kedalaman tanah minimum >30 cm Fungsi lahan : lindung. (3). Penetapan zona pemanfaatan sumber air didasarkan pada pertimbangan : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . teras bangku miring. Pengembangan sumber daya air. perkebunan dan kebun 10 Teras gulud. dan teras kebun .4.3.(Persero) CABANG I MALANG No Pola Konservasi - Prasyarat dan Lokasi Kedalaman tanah minimum 15 cm Fungsi lahan: budidaya Status lahan jelas Di luar kawasan hutan Lereng kecil dari 80% Kedalaman tanah minimum 15 cm Fungsi lahan: Budidaya Lahan masyarakat Dalam kawasan hutan Dapat dilakukan pada semua kondisi lereng Kedalaman tanah minimum 15 cm Potensi kawasan masih baik Fungsi lahan: lindung dan budidaya Di dalam/luar kawasan hutan Lereng kecil dari 60% Kedalaman tanah minimum 15 cm Fungsi lahan : lindung dan budidaya 7 Agroforestry kebun campuran.Pada lahan pertanian/kawasan budidaya . 1. (2). Pengusahaan sumber daya air (A). Penggunaan sumber daya air. Penetapan zona pemanfaatan sumber air. termasuk teras bangku datar. termasuk kebun rumah 8 Suksesi Alami 9 Vegetasi permanen. Barito-Kapuas 8.4.kedalaman tanah minimum >30 cm Fungsi lahan: lindung. (4).3. termasuk tanaman industri. Penentuan zona pemanfaatan sumber air ditujukan untuk pendayagunaan fungsi atau potensi yang terdapat pada sumber air yang bersangkutan secara berkelanjutan.36 . Penatagunaan sumber daya air ditujukan untuk menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air.Pada lahan pertanian/kawasan budidaya . Cakupan Kegiatan Pendayagunaan Sumber Daya Air Pendayagunaan sumber daya air mencakup kegiatan : (1). budidaya tahunan/semusim 8.Lereng 10 – 60% . budidaya tahunan/semusim . (5).Lereng 15 – 60% . termasuk pematang kontur 11 Teras bangku.

37 . Pedoman dan petunjuk teknis penetapan peruntukan air ditetapkan oleh Menteri. 3. Penetapan rencana zona pemanfaatan sumber air. Dampak negatif terhadap kelestarian sumber daya air yang minimal. (B). Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Dalam • • • • • menetapkan rencana peruntukan air pada sumber air perlu melakukan pengumpulan data dan informasi mengenai : Daya dukung sumber air Jumlah dan penyebaran penduduk serta proyeksi pertumbuhannya Perhitungan dan proyeksi kebutuhan sumber air.dikoordinasikan melalui wadah koordinasi sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. Peruntukan air pada sumber air 1. Potensi konplik antar jenis penggunaan yang minimal Fungsi lindung dan budi daya Fungsi kawasan Hasil penelitian dan pengukuran secara teknis hidrologi 2. Inventarisasi jenis-jenis pemanfaatan yang sudah dilakukan diseluruh bagian sumber air. Penetapan rencana peruntukan air pada sumber air. Merumuskan rencana zona pemanfaatan sumber air dan melakukan kegiatan sbb: • • Penelitian dan pengukuran parameter fisik dan karakter sumber air.dikoordinasikan melalui wadah koordinasi sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan.(Persero) CABANG I MALANG • • • • • • Terakomodasinya semua jenis pemanfaatan secara layak. 4. Rencana tata ruang wilayah Pemanfaatan air yang sudah ada 3. Peruntukan air pada sumber air ditentukan berdasarkan klasifikasi atau penggolongan mutu air yang ditetapkan 2. kimia dan biologi pada sumber air.

prioritas penyediaan air ditempatkan pada pemenuhan kebutuhan pokok sehari hari. Prioritas penyediaan sumber daya air untuk kebutuhan air lainnya ditetapkan berdasarkan hasil penetapan zona pemanfaatan sumber air. Dalam hal terjadi situasi kekeringan yang ekstrim sehingga timbul konflik kepentingan antara pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan pemenuhan kebutuhan air irigasi untuk pertanian rakyat. (D). 1. Penyediaan sumber daya air 1. Rencana penyediaan sumber daya air terdiri dari rencana penyediaan sumber daya air tahunan dan rencana penyediaan sumber daa air rinci. Penyediaan sumber daya air dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip: • • • Mengutamakan penyediaan air untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat pada sistem irigasi yang sudah ada. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .(Persero) CABANG I MALANG (C). peruntukan air.38 . Menjaga kelangsungan penyediaan air untuk pemakai air lainnya yang sudah ada. 2. Ketersediaan air pada musim kemarau dan musim hujan. 5. Rencana penyediaan sumber daya air yang berasal dari cekungan air tanah disesuaikan dengan kapasitas cekungan air tanah yang bersangkutan. 4. 6. 3. Penggunaan sumber daya air. Memperhatikan penyediaan air untuk kebutuhan pokok sehari-hari penduduk yang berdomisili dekat dengan sumber air dan atau di sekitar jaringan pembawa air. Penggunaan sumber daya air dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip: • Penghematan penggunaan. Penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan irigasi bagi pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang sudah ada merupakan prioritas utama penyediaan sumber daya air diatas semua kebutuhan. Rencana penyediaan sumber daya air tahunan disusun sesuai dengan : • • Urutan prioritas penyediaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. kebutuhan air pada wilayah sungai yang bersangkutan dan disesuaikan kondisi setempat.

Kekhasan dan aspirasi daerah dan masyarakat setempat. (F).39 . Pemompaan air dari sumber air. Pengusahaan sumber daya air Pengusahaan sumber daya air diselenggarakan untuk : • • • Meningkatkan pelayanan kebutuhan masyarakat akan air. Menyediakan air yang memenuhi persyaratan kualitas dan kuantitas sesuai dengan ruang dan waktu untuk memenuhi kebutuhan air pokok secara berkelanjutan. Kemampuan pembiayaan.4. Langkah Kebijakan Pendayagunaan SDA 1. (E).2. Pengembangan sumber daya air Rencana pengembangan sumber daya air disusun dengan memperhatikan : • • • • Daya dukung sumber daya air yang ada. Pengambilan langsung dari sumber air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Penggunaan langsung dari sumber air. Penggunaan yang saling saling menunjang antara air permukaan dan air tanah dengan memprioritaskan penggunaan air permukaan. Ketepatan penggunaan. Meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. 8. Kelestarian keanekaragaman hayati sumber air bersangkutan. Penggunaan air dapat dilakukan dengan cara : • • • • • Penyadapan bebas. Keberlanjutan penggunaan. 2. baik secara kuantitas maupun kualitas. 2. Pembangunan bendung dan bendungan.(Persero) CABANG I MALANG • • • • Ketertiban dan keadilan.3. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi penyediaan serta penggunaan air irigasi dengan lebih mengutamakan kegiatan operasi dan pemeliharaan. Meningkatkan effisiensi alokasi dan distribusi kemamfaatan sumber daya air.

ketapatan penggunaan.40 .(Persero) CABANG I MALANG optimalisasi. keberlanjutan penggunaan dan saling menunjang antara sumber air dengan memprioritaskan penggunaan air permukaan.3. Mendorong pengembangan irigasi dan rawa dalam rangka mendukung produktifitas usaha tani untuk meningkatkan produksi pertanian dalam rangka ketahanan pangan nasional dan mensejahterakan masyarakat khususnya petani. pendayagunaan ekonomi sumber daya air dan untuk menunjang dengan secara efektif efisien mempertimbangkan kepentingan antar sektor. 3. Mengupayakan penataan sumber air secara layak. 5. Mendayagunakan potensi sumber daya air secara berkelanjutan. Memanfaatkan sumber daya air dan prasarananya sebagai media/materi sesuai prinsip penghematan penggunaan ketertiban dan keadilan.4. Meningkatkan efisiensi alokasi air dan distribusi kemanfaatan sumber air. rehabilitasi dan peningkatan kinerja sistem irigasi yang ada secara berkelanjutan.3. Melaksanakan perkembangan panjang. wilayah dan dampak jangka Dari beberapa butir strategi pokok tersebut beberapa kegiatan di WS. Meningkatkan peran dunia usaha dalam pengusahaan sumber daya air dengan tetap mengutamakan kepentingan masyarakat. 8. dan atau peningkatan ketersediaan dan kualitas air. 6. BaritoKapuas dapat diuraikan berupa: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . • • • Meningkatkan kemanfaatan fungsi sumber daya air. 4. Strategi Pendayagunaan SDA Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pendayagunaan SDA di WS Barito-Kapuas di arahkan untuk dapat: • • • Mengupayakan penyediaan Air untuk berbagai kepentingan secara proporsional dan berkelanjutan. Menerapkan prinsip penerima manfaat menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air kecuali untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat. untuk mendorong penghematan penggunaan air dan meningkatkan kinerja pengelolaan sumber daya air.

3. amblesan tanah.(Persero) CABANG I MALANG 1. pelaksanaan dan dilengkapi dengan studi Analisis Dampak Lingkungan (2) Pengembangan terhadap modifikasi cuaca untuk menambah volume sumber air. 2. 8.4. penanggulangan dan pemulihan. (2) Penetapan zona pemanfaatan sumber air yang sudah dikoordinasikan melalui PPTPA/ Dewan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Umum Pengendalian daya rusak air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan.4. Penyediaan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Peruntukan. kekeringan.41 . dan fisika air. (3) Penetapan ijin penggunaan air berkaitan dengan hak guna air. longsoran tanah. Diutamakan pada upaya pencegahan melalui perencanaan pengendalian daya rusak air yang disusun secara terpadu dan menyeluruh dalam Pola Pengelolaan Sumber Daya Air dan diselenggarakan dengan melibatkan masyarakat. (4) Pengusahaan SDA tanpa mengabaikan fungsi sosial SDA.1. banjir lahar dingin. terancamnya kepunahan jenis tumbuhan dan atau satwa dan atau wabah penyakit. biologi. perubahan sifat dan kandungan kimiawi. erosi dan sedimentasi. Pengendalian Daya Rusak Air WS.4. Daya rusak air dapat berupa banjir. Penetapan zona pemanfaatan sumber air (1) Penetapan zona pemanfaatan sumber air ke dalam peta tata ruang wilayah Kabupaten/ Kota di WS. (2) Penyediaan air sesuai prioritas yaitu untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat. Penggunaan dan Pengusahaan SDA (1) Penetapan peruntukan air untuk berbagai kepentingan. SDA dilakukan melalui tahapan perencanaan.4. Barito-Kapuas 8. Pengendalian Daya Rusak Air adalah upaya untuk mencegah. menanggulangi dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air. Barito-Kapuas. Pengembangan SDA (1) Pengembangan (AMDAL).

Meningkatkan peran masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan daya rusak air. Sejalan dengan kepentingan pemerintah. Strategi Pengendalian Daya Rusak Air. Dampak daya rusak air terhadap kondisi sosial-ekonomi yang utama adalah terganggunya aktivitas masyarakat dalam menjalankan kehidupannya. pemerintah daerah Provinsi. Pemerintah dan masyarakat telah banyak melakukan upaya pengendalian baik yang bersifat upaya pencegahan sebelum terjadi bencana. 8. dan upaya pemulihan akibat bencana. Pencegahan bencana alam (1) Penetapan zona rawan banjir. biologi dan fisikan air. kepunahan flora dan fauna serta wabah penyakit. 2. sedimentasi. Mengupayakan sistem pencegahan bencana akibat daya rusak air. maka upaya peningkatan sistem pencegahan dan penanggulangan bencana dan pemulihan fungsi sarana dan prasarana berkaitan dengan daya rusak air perlu dilaksanakan. erosi. (2) Pengendalian pemanfaatan kawasan rawan bencana dengan melibatkan masyarakat.(Persero) CABANG I MALANG Hal tersebut telah banyak menimbulkan kerugian baik yang terhitung maupun yang tidak terhitung. Dari dua butir strategi pokok tersebut.4.2. Kabupaten/Kota yaitu untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui upaya peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. banjir lahar dingin.4. tanah longsor. BaritoKapuas antara lain : 1. Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pengendalian Daya Rusak Air di WS Barito-Kapuas di arahkan untuk dapat: 1. (3) Peringatan dini dilakukan di lokasi rawan bencana. amblesan tanah. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . upaya penanggulangan pada saat terjadi bencana. perubahan sifat dan kandungan kimiawi. beberapa kegiatan di WS.42 . kekeringan.

adalah proses perbaikan keadaan terencana berdasarkan hasil evaluasi kelayakan agar keadaan kembali sama dengan atau lebih baik dari keadaan semula. (3) Penyampaian berita tentang kejadian bencana alam.: (1) Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun non struktural. Revitalisasi Evaluasi kelayakan terdiri dari (1) Kriteria legalitas (2) Kriteria tingkat resiko banjir Rekonstruksi mengembalikan seperti semula dengan: (1) Pengembalian total seperti kondisi sebelum banjir atau (2) Tidak melakukan perubahan atau desain ulang Konstruksi lebih baik dari semula yaitu: (1) Peningkatan di lokasi semula (2) Bangunan jenis baru (3) Pindah ke lokasi baru (relokasi) serta masyarakat dalam kegiatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Pemulihan Pasca Banjir atau disebut juga Rehabilitasi Pasca Banjir. 3. Inventarisasi terdiri dari kegiatan (1) Jenis kerusakan (2) Karakter banjir. (3) Revitalisasai wadah wadah air pada daerah aliran sungai. bencana kekeringan maupun bencana tanah longsor sbb. (3) Penilaian kerusakan. (2) Menumbuh kembangkan peran pemulihan akibat bencana. baik berupa bencana banjir.(Persero) CABANG I MALANG 2. (2) Penetapan prosedur operasi standart penanggulangan bencana alam. Kegiatan yang dibutuhkan antara lain : Data awal.43 . Penanggulangan bencana alam (1) Pelaksanaan tindakan penanggulangan kerusakan dan atau bencana akibat daya rusak air. Pemulihan daya rusak air Pemulihan daya rusak air merupakan penanganan pasca bencana.

bencana kekeringan maupun bencana tanah longsor sebagai berikut : Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun non struktural. Rehabilitasi tidal levee yang mengalami kerusakan atau penurunan fungsi. Pemulihan sarana dan prasarana pengendalian banjir akibat Daya rusak Air Pemulihan sarana dan prasarana merupakan penanganan pasca bencana. baik berupa bencana banjir. Rehabilitasi atau perbaikan tidal gate yang rusak atau mengalami penirunan fungsi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . A. Rehabilitasi tanggul pengendali banjir yang mengalami kerusakan atau penurunan fungsi.Barito-Kapuas 1. Langkah I ini terdiri dari kegiatan Pemulihan sarana dan prasarana pengendalian banjir akibat daya rusak air termasuk kawasan yang terkena bencana akibat daya rusak air dan penanggulangan daya rusak air dengan menerapkan sistem peringatan dini dalam WS. kegiatan ini merupakan program mendesak jangka menengah.(Persero) CABANG I MALANG 8. Revitalisasi wadah wadah air pada daerah aliran sungai. Menumbuh kembangkan peran masyarakat dalam kegiatan pemulihan akibat bencana.44 .4.3. Langkah I (Jangka Menengah / Mendesak ) Merupakan langkah kegiatan jangka pendek/ menengah yang harus segera dilaksanakan untuk memulihkan sarana dan prasarana pengendalian daya rusak air sungai Barito-Kapuas yang mengalami kerusakan akibat daya rusak air maupun penurunan kinerja yang cukup serius.4. Rehabilitasi atau perbaikan bangunan pengendali banjir • • • • Rehabilitasi atau perbaikan pintu pengendali banjir yang rusak atau mengalami penurunan fungsi. Langkah Strategis Pengendalian Daya Rusak Air WS. Barito-Kapuas.

Upaya ini dapat membantu penanggulangan bahaya banjir secara dini sehingga mengurangi kerugian yang mungkin terjadi misalnya relokasi penduduk ke daerah yang aman. Tujuannya untuk menyelamatkan jiwa dan meminimalkan kerugian. Umum Sistem peringatan banjir dini adalah cara yang relatif murah untuk mengurangi korban dan kerugian akibat banjir.penanggulangan darurat pada lokasi lokasi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Ada dua Strategi untuk penanggulangan banjir sungai Barito-Kapuas yaitu: 1). Manajemen penanggulangan banjir atau yang lazim disebut Manajemen Tanggap Darurat yaitu: Dilaksanakan secara terencana dan terkoordinir.(Persero) CABANG I MALANG B. Manajemen Tanggap Darurat terdiri dari : Penyusunan Rencana Tanggap Darurat (RTD).45 . Dilaksanakan sejak banjir diperkirakan akan terjadi. hingga banjir berakhir. Penerapan Sistem Peringatan Dini (Flood Warning System) a). Penanggulangan Daya Rusak Air Kondisi DAS wilayah sungai Barito-Kapuas termasuk DAS kritis dengan tingkat erosi dan sedimen yang tinggi hal ini dapat dilihat dari data erosi dan juga diindikasikan dari fluktuasi debit rata rata maksimun dan debit rata rata minimum besar. Sosialisasi dan pelatihan RTD Pengamatan dan tahapan siaga banjir Penyiapan dan mobilisasi kebutuhan Pengungsian penduduk dan penentuan tempat evakuasi Prasarana darurat banjir Pencarian dan pertolongan orang hilang Pelayanan korban banjir Deklarasi pengakhiran keadaan darurat Pemulangan pengungsi 2).

Flood warning and forecasting system adalah suatu sistem yang dapat digunakan untuk meramal tentang waktu dan besarnya banjir yang akan terjadi pada suatu titik pengamatan yang terjangkau di dalam sistem tersebut. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . masyarakat dan Pokmas. Hydrological software yaitu program komputer yang berfungsi sebagai sarana untuk menghitung berapa besar debit yang akan terjadi pada suatu titik (stasiun pengamat muka air) berdasarkan data hujan yang diterima. Informasi banjir yang merupakan hasil pengamatan langsung di lapangan yang dilakukan oleh pengamat. melalui mekanisme yang berlaku. peronda. data debit dan waktu kejadian banjir serta tempat dimana banjir tersebut terjadi. Komponen Software terdiri dari: Telemetri software yaitu program komputer yang berfungsi sebagai sarana untuk mengumpulkan data hujan.(Persero) CABANG I MALANG tanggul yang mengalami kebocoran atau pada lokasi tanggul yang akan melimpas akibat banjir Pada WS Barito-Kapuas seharusnya dipasang peralatan Flood Warning and Forecasting system. sehingga besarnya banjir yang akan terjadi dapat diketahui lebih dini sehingga daerah daerah rawan banjir dapat segera ditanggulangi bahaya banjirnya termasuk lokasi tanggul yang akan terlampuai kemampuannya terhadap banjirnya. Keluaran (output) dari sistem ini adalah berupa data ramalan banjir yang terdiri dari :data muka air. Sistem ini terdiri 2 komponen yaitu hardware dan software.46 . cuaca maupun muka air dari lapangan secara tepat waktu. Data ramalan banjir tersebut di informasikan kepada penduduk di daerah banjir melalui Instansi terkait. Informasi banjir yang akan didapat terdiri dari 2 sumber. Informasi banjir yang berasal dari peramalan banjir dengan menggunakan fasilitas flood warning and forecasting system.

47 . Cara ini sekaligus merupakan cara menanggulangi kekeringan suatu kawasan atau DAS. dalam arti Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Siaga banjir II. Dalam penanggulangan banjir dengan konsep eko-hidraulik dikenal kunci pokok penyelesaian banjir. 2. tengah dan hilir. apabila sebagian/semua bangunan utama pengendali banjir (tanggul. apabila kondisi muka air berjarak 1. Penyelesaian banjir harus dilakukan secara konprehensif dengan metode menahan atau meretensi air di DAS bagian hulu. Siaga banjir IV.tanggul dan bangunan pengendali banjir) tidak berfungsi. apabila kondisi muka air berjarak 0. karena sebenarnya banjir dan kekeringan ini merupakan kejadian yang saling susul dan saling memperparah. serta menahan air di sepanjang wilayah sungai. Sempadan Sungai (SS) dan Badan Sungai (BS) harus dipandang sebagai kesatuan sistem dan ekosistem ekologi-hidraulik yang integral. Siaga banjir III. Pembagian kritaria Siaga Banjir secara umum adalah sebagai berikut: Siaga banjir I. Langkah ke II Pencegahan Daya Rusak Air (Jangka Panjang ) Alternatif 1 : Melayani Debit Banjir Dengan Peningkatan Kapasitas Bangunan pengendali banjir Alternatif 2 : Dengan meningkatkan fungsi retensi ekologis (Eko-Hidraulis) di sepanjang alur sungai dari hulu hingga hilir untuk redaman banjir. yaitu bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Wilayah Sungai (WS). menahan air di bagian hulu dan hilir.5 m dari permukaan tanggul. sempadan sungai dan badan sungai di bagian hulu tengah dan hilir.(Persero) CABANG I MALANG b) Tingkat Siaga Banjir Ada 4 macam pemberitaan siaga banjir yang masing masing akan berdampak pada daerah rawan banjir. Dalam menahan air ini diberlakukan konsep keseimbangan alamiah. apabila kondisi muka air berjarak 1.8 m dari permukaan tanggul.2 m dari permukaan tanggul. Jadi dalam konsep dasar penanggulangan banjir eko-hidraulik adalah dengan meretensi air dari hulu hingga hilir secara merata.

Penanganan banjir dengan konsep ekologi-hidraulik secara konkrit terdiri dari: 1) DAS bagian hulu dengan reboisasi dan konservasi hutan untuk meningkatkan retensi dan tangkapan air di hulu terutama pada lahan kritis. 6) Memfungsikan daerah genangan atau rawa sebagai polder alamiah di sepanjang sempadan sungai dari hulu sampai hilir untuk menampung air. 7) Beberapa rawa yang terdapat di sepanjang sungai Barito-Kapuas dapat difungsikan sebagai folder alamiah atau daerah penahan banjir (detention basin). Untuk Itu kami usulkan Semua lahan pertanian pada lahan miring di WS Barito-Kapuas di buat dengan sistem teras mengikuti kontur. di sepanjang sempadan sungai dan badan sungai justru ditingkatkan. yaitu sistem pengolahan lahan dengan membuat terasering mengikuti kontur lahan sehingga air hujan tidak langsung mengalir tapi tertahan dulu di teras teras. 8) Mencari berbagai alternatif untuk mengembangkan kolam konservasi alamiah di sepanjang sungai atau di lokasi-lokasi yang memungkinkan baik Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . 5) Tebing-tebing sungai yang mengalami erosi atau scouring terutama pada tikungan luar jika memungkinkan dilaksanakan dengan cara penanaman dengan teknologi Eco-Engineering dengan menggunakan vegetasi setempat. dengan cara menanami atau merenaturalisasi kembali sempadan sungai yang telah rusak. 4) Komponen retensi alamiah di wilayah sungai. Konsep ini sesuai dengan kebijakan dalam UU No. mengurangi erosi dan meningkatkan konservasi.7 tahun 2004 tentang SDA .(Persero) CABANG I MALANG mengacu pada kondisi karakteristik alamiah sebelumnya.48 . maka kesempatan infiltrasi akan lebih banyak dan akan menurunkan koefisien runoff dan mengurangi erosi lahan. Selanjutnya reboisasi juga mengarah ke DAS bagian tengah dan hilir. 3) Sungai Barito-Kapuas yang bermeander justru dipertahankan sehingga dapat menyumbangkan retensi. 2) Penataan tataguna lahan yang meminimalisir limpasan langsung dan mempertinggi retensi dan konservasi air di DAS.

terutama pada daerah yang akan dikembangkan. Dengan demikian keuntungan ekonomi jangka panjang serta kecilnya dampak lingkungan sebagai konsekuensi dari usaha ini dapat diperoleh. Selain hal-hal tersebut diatas sumur-sumur resapan perlu digalakkan pembuatannya. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . agar dapat dilaksanakan dengan baik. Peraturan daerah ini lebih ditujukan kepada pembangunan dan pengembangan baru (setelah perda berlaku secara hukum). pada prinsipnya harus mempunyai tujuan yang mencakup hal-hal sebagai berikut : 1. sempadan dan badan sungai. harus ditetapkan berdasarkan peraturan daerah (perda). Alternatif 3 : Pengendalian dan Pengelolaan Dataran Banjir (Flood Zoning/ Flood Proofing) 1) Flood Zoning Pengendalian dan pengelolaan dataran banjir atau dapat juga disebut pengelolaan Tata Ruang dataran banjir bertujuan untuk memperkecil kerugian yang diakibatkan banjir.49 .(Persero) CABANG I MALANG di perkotaan-hunian atau di luar perkotaan. 9) Disamping solusi eko-hidroteknis tersebut. termasuk kerugian sosial ekonomi dan kerusakan lingkungan. Untuk bangunan yang telah ada dikenakan aturan lain yaitu tentang sandi bangunan (flood proofing). Rekomendasi yang termuat dalam peta rawan banjir (flood zoning ) dengan segala resikonya. bila penerapan dari perda ini harus membongkar banyak bangunan yang telah ada. Peraturan daerah untuk penetapan daerah rawan banjir. agar tidak menimbulkan dampak sosial yang merugikan. Genangan-genangan alamiah ini berfungsi meretensi banjir tanpa menyebabkan banjir lokal karena banjir di bagi-bagi di DAS dan di sepanjang wilayah. sehingga kerugian material dapat dikurangi dan korban jiwa dapat dihindarkan. sangat diperlukan juga pendekatan sosio-hidraulik sebagai bagian dari eko-hidraulik dengan meningkatkan kesadaran masyarakat secara terus-menerus akan peran mereka dalam ikut mengatasi banjir. Membatasi atau mencegah pembangunan baru pada daerah yang mempunyai resiko kerugian akibat banjir (rawan banjir).

peninggian lantai bangunan lebih dari muka air banjir. biasanya analisis ekonomi menunjukkan kurang layak. Bangunannya sendiri dihindarkan dari genangan banjir dengan cara meninggikan lantainya. flood proofing mempunyai dua maksud yaitu: 1. Bilamana waduk ini dibuat khusus untuk maksud pengendalian banjir. agar lebih layak. Pengendalian Debit Banjir Dengan Waduk Pengendalian debit banjir merupakan alternatif penanggulangan banjir dengan cara memperpanjang waktu rayapan baik dalam bentuk storage (in-stream ataupun off-stream) maupun dengan pendekatan cascade sepanjang sungai. Pada upaya pencegahan bahaya dan kerugian banjir.(Persero) CABANG I MALANG 2. maka flood proofing dapat dilaksanakan. Pembuatan bendungan merupakan cara yang paling langsung untuk mengendalikan debit banjir. Alternatif 4 : Pengendalian Debit Banjir 1). maka waduk ini dibangun di bagian hulu dari daerah pengendali sungai. Berdasarkan kecocokan topografi dan maksud pengendalian banjir. karena tertalu mahal atau sulit dari segi sosial. 2. baik secara ekonomis maupun teknis. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Meninggikan lantai bangunan (di atas muka air banjir). oleh karena itu waduk biasanya dibangun untuk berbagai jenis kegunaan (multiple purpose). dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan penimbunan tanah dan di atas tiang. terlebih-lebih bilamana kondisi DAS-nya telah rusak. Bentang Sungai Barito-Kapuas termasuk pendek sehingga sulit untuk memperpanjang waktu rayapan. Harus dapat mencegah timbulnya kegiatan-kegiatan baru yang dapat menempati daerah genangan dan akibatnya memperdalam genangan banjir. Bangunan beserta komponen-komponennya stabil (tahan) terhadap ancaman banjir.50 . 2) Flood Proofing Bilamana upaya pencegahan bahaya dan kerugian banjir lainnya kurang efektif untuk dilaksanakan.

Membangun checkdam Membangun checkdam checkdam secara cascade sepanjang alur Sungai Barito-Kapuas dan anak anak sungainya di bagian hulu sungai. maka sebagian besar dari seluruh kapasitas waduk harus diperuntukkan bagi pengendalian banjir sedangkan bagian sisanya untuk fungsi waduk yang lain yang merupakan prioritas selanjutnya. untuk selanjutnya dilepaskan sedikit demi sedikit menurut daya tampung sungai di bagian hilirnya. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Pertimbangan atas perubahan morfologi sungai yang diakibatkan pembuatan bangunan pelimpah antar basin ini tidak hanya pada DAS yang menerima pelimpahan saja.(Persero) CABANG I MALANG Waduk ini menampung aliran banjir untuk sementara. dengan demikian banjir di bagian hilir dapat diatur dan dikendalikan. 3). pemindahan sebagain debit banjir ke DAS lain memerlukan pertimbangan ekstra hati-hati atas perubahan morfologi sungai. karena upaya ini merupakan pemaksaan terhadap perubahan rezim sungai. tetapi juga pada DAS yang memberi pelimpahan sebagian debit banjirnya.51 . mudah pelaksanaannya dan tidak terlalu rumit dalam perencanaannya. Bangunan Checkdam kami usulkan berupa konstruksi bronjong karena konstruksinya praktis. dengan maksud mengurangi kemiringan slope alur sungai sehingga akan dapat memperpanjang time peak debit banjir. sekaligus akan dapat menurunkan puncak banjirnya. Selain itu. Untuk mengetahui sejauh mana efektifitas bangunan checkdam dalam mengurangi puncak banjir perlu dikaji lebih lanjut termasuk seberapa banyak jumlah checkdam yang perlu dibangun. Transfer Antar Basin Metode pengendalian banjir dengan metode transfer antar basin bertujuan untuk menurunkan ketinggian puncak banjir dengan cara memindahkan sebagian debit banjir ke DAS lain yaitu dengan membangun bangunan pelimpah dan dialirkan ke DAS lain yang terdekat. Bilamana fungsi pengendalian banjir dari waduk merupakan prioritas utama. Metode transfer antar basin ini harus ditinjau dengan hati-hati untuk menjamin agar jangan sampai memindahkan masalah banjir dari satu tempat ke tempat lainnya. 2).

7 Sosialisasi/Diseminasi mengenai ancaman yang dapat timbul sebagai akibat dari alih fungsi lahan terhadap kondisi lahan kepada unsur perencana pembangunan Pemerintah Daerah di Wilayah Sungai BaritoKapuas 8 Meningkatkan kerjasama antara perencana wilayah yang terkait dengan PSDA untuk mendorong tersusunnya SK Gubernur mengenai Baku Mutu Peruntukan Air Sungai pada semua sungai di Wilayah Sungai Barito- Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . dengan memperhatikan aspek hidrologis dan topografis serta melibatkan stakeholder di Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Rancangan Jangka Pendek merupakan strategi yang dilaksanakan pada 5 tahun pertama setelah Pola Pengelolaan Sumber Daya Air ini ditetapkan. Kabupaten dan Kota. Pengembangan sistem operasional pengelolaan SDA melalui penetapan Zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air. Meningkatkan penyelenggaraan sosialisasi UU no. yaitu Jangka Pendek dan Jangka Panjang. 4 5 6 Meningkatkan koordinasi unsur-unsur perencanaan PSDA dengan Institusi Perencana Pembangunan (Bapeda) Provinsi. utamanya agar fungsi pemantauan dan pengendalian yang dapat mencakup seluruh Wilayah Sungai Barito-Kapuas dapat berjalan.(Persero) CABANG I MALANG 8. untuk diusulkan kepada Pemerintah. Dunia Usaha. 2 3 Melibatkan perguruan tinggi dan LSM dalam program penguatan (capacity building) institusi PSDA. 7 di lingkungan stakeholders. Perguruan Tinggi dan LSM dalam pendayagunaan SDA.5 RANCANGAN POLA PENGELOLAAN SDA Rancangan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Barito-Kapuas disusun berdasarkan 2 (dua) kerangka waktu. Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Tengah menyusun kesepakatan mengenai peningkatan kapasitas Institusi Pengelola SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas. 1 Mensinergiskan kegiatan Institusi pengelola SDA dengan kegiatan yang positip dari Masyarakat.52 . Rancangan Jangka Panjang merupakan strategi yang dilaksanakan sampai dengan rentang waktu 20 tahun ke depan.

5. dan LSM dalam pendayagunaan SDA. dan pengawasan dalam rangka mengantisipasi meningkatnya aktivitas penggunaan air untuk berbagai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : 1 Mensinergiskan Kegiatan Institusi pengelola SDA dengan Kegiatan yang positip dari Masyarakat. Dalam implementasinya nanti berbagai rancangan strategi tersebut akan dijabarkan kedalam berbagai program kegiatan yang disusun sesuai dengan kebutuhan nyata dan kondisi nyata yang dituangkan dalam matrik pola pengelolaan SDA.53 . Dunia Usaha. Secara logis strategi yang menempatkan penguatan kelembagaan di awal ini akan sangat berguna untuk memantapkan jalannya pengelolaan SDA di masa depan. Barito-Kapuas. kepentingan. 9 Meningkatkan koordinasi dan memperkuat posisi institusi PSDA di lingkungan institusi perencana pembangunan Pemerintah Daerah. 12 Menyusun Program perbaikan fungsi sarana dan prasarana SDA dengan melibatkan peran serta masyarakat. Perguruan Tinggi. 11 Menyusun peta potensi sumber daya air yang dapat mendukung pembuatan sonasi (zoning). 2 Sosialisasi/Diseminasi persoalan (key issues) mengenai Konservasi.5. Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : Usulan strategi kebijakan pada periode 5 tahun pertama ini sebagian besar lebih merupakan strategi yang ditujukan untuk penguatan institusi pengelolaan SDA WS. pelaksanaan. 8. 10 Meningkatkan koordinasi diantara pengelola SDA baik di tingkat perencanaan.1 Rancangan/strategi Jangka Pendek (5 Tahun) Strategi Jangka Pendek dalam Pola Pengelolaan SDA WS. 8.(Persero) CABANG I MALANG Kapuas.2 Rancangan/Strategi Jangka Panjang (20 Tahun Ke Depan) Strategi Jangka Panjang dalam Pola Pengelolaan SDA WS.

kolam ikan. kepentingan. 12 Peningkatan monitoring penggunaan air untuk berbagai kepentingan usaha dan atau kegiatan. Perda Irigasi. 13 Menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga internasional maupun pelaksanaan.(Persero) CABANG I MALANG pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air kepada unsur perencana pembangunan Pemerintah Daerah di Wilayah Sungai Barito-Kapuas 3 Memasukkan unsur Lokal Inflow yang cukup signifikan besarnya dalam perhitungan ketersediaan air sehingga dapat mengurangi dampak dari tingginya fluktuasi aliran sungai antara musim kemarau dengan musim hujan. dan aktivitas non pertanian. 7 8 Meningkatkan kerjasama dengan perguruan tinggi dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia yang dimiliki instansi PSDA. 9 Meningkatkan fungsi sarana dan prasarana SDA dengan melibatkan peran serta masyarakat. 4 Mengembangkan Sistem Database (untuk wadah dari hasil inventarisasi potensi internal dan ancaman external) untuk mendukung pelaksanaan pengelolaan SDA dengan baik. 10 Melengkapi dan mengintegrasikan penyusunan profil SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas dengan melibatkan perencana pembangunan Pemerintah Daerah 11 Meningkatkan koordinasi diantara pengelola SDA baik di tingkat perencanaan. BLN atau dari Stakeholders). Mengarahkan alokasi dana dari PAD untuk keperluan operasional dengan selalu mengadakan alokasi untuk peningkatan SDM di lingkungan Institusi pengelola SDA. 5 Memberikan masukan sebanyak-banyaknya kepada unsur perencana pembangunan 6 Mendorong daerah agar perubahan perda tata guna SDA lahan/RTRW yang dapat memperhatikan arah kebijakan konservasi sumber daya air. sementara untuk kebutuhan lainnya diupayakan dari sumber lain (APBN.54 . dst) dengan melibatkan peranserta masyarakat. dan pengawasan dalam rangka mengantisipasi meningkatnya aktivitas penggunaan air untuk berbagai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . segera munculnya mengenai mengantisipasi pelanggaran pemanfaatan SDA (Perda Sungai.

17 Mengembangkan Sistem Informasi SDA dengan melibatkan Institusi Pengusahaan dan Pemanfaat SDA. 15 Menyusun regulasi yang mengatur kegiatan masyarakat yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan SDA khususnya kegiatan konservasi agar tidak terjadi hal-hal yang negatip. maupun lembaga lain baik di dalam maupun di luar negeri. dan lembaga lain yang terkait dengan PSDA 19 Menyusun regulasi yang dapat mendorong partisipasi masyarakat untuk ikut mendanai kebutuhan pengelolaan SDA.(Persero) CABANG I MALANG lembaga donor lainnya yang concern dengan pengelolaan SDA untuk mendapatkan 14 Menyusun grant/hibah/softloan sistem yang dapat yang digunakan dapat untuk mendukung pengelolaan SDA wilayah sungai Barito-Kapuas dengan baik. perguruan tinggi. 20 Meningkatkan daya dukung lingkungan melalui pengembangan sewerage system Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . yang sangat diperlukan untuk keperluan pembiayaan pengelolaan sumber daya air. termasuk OP. Asosiasi. penataan pengelolaan mendukung terealisasikannya penggalangan dana dari potensi yang ada. 18 Membuat Warning System untuk banjir dengan partisipasi masyarakat. 16 Peningkatan kapasitas SDM dengan memanfaatkan kerjasama dengan perguruan tinggi.55 .

kebijakan dan indikasi program. diharapkan rumusan rancangan tersebut dapat disepakati oleh kedua provinsi dan dijadikan bahan rumusan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Konsep kebijakan tersebut di atas pada dasarnya mengacu pada lima buah pilar pengelolaan sumber daya air.1 Aspek Kebijakan 1. peningkatan peran Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-1 . upaya-upaya konservasi sumber daya air .1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis serta kajian pada bab-bab sebelumnya serta hasil rumusan pada Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) I dan II yang telah diselenggarakan beberapa waktu yang lalu. Barito-Kapuas. maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut : 9.1. pengendalian daya rusak air. kebijakan dan program yang diperoleh berdasarkan Analisis dan informasi teknik yang diperoleh dari berbagai aspek teknis antara lain. Sebagai hasil akhir dari proses tersebut telah dihasilkan suatu rumusan Rancangan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air di WS Barito-Kapuas. 2. Strategi. pendayagunaan sumber daya air. yaitu serta masyarakat serta sistem informasi. tujuan. yang selanjutnya dijadikan acuan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (termasuk kabupaten/kota) dalam menyusun rencana induk/ master plan serta rencana pengelolaan sumber daya air WS Barito Kapuas. Analisis DSS-Ribasim pada WS.(Persero) CABANG I MALANG BAB 9 KESIMPULAN DAN SARAN 9. sasaran. Studi ini telah menghasilkan suatu rumusan . maka diperlukan pengaturan dalam bentuk kebijakan Provinsi. Dalam rangka mewujudkan pencapaian visi dan misi pengelolaan sumber daya air serta mengimplementasikan strategi. selanjutnya dianalisis lebih lanjut tingkat kepentingannya.

berwawasan lingkungan dan berkesinambungan perlu adanya keterpaduan dan sinkronisasi dalam penataan ruang di wilayah perbatasan. Perubahan pemanfaatan fungsi ruang di daerah tangkapan air WS Barito-Kapuas telah semakin memprihatinkan. Diperlukan suatu kesepakatan. 2.2 Aspek Tata Ruang 1. 2. tidak bisa dipisah-pisah sesuai dalam wilayah pengelolaan sumber daya air yang berbasis wilayah sungai. keterpaduan dan kesinambungan yang bersifat lintas provinsi. menurunnya kualitas air. Adanya konflik kepentingan antar sektor dalam pemanfaatan lahan sehingga pelaksanaan di lapangan tidak konsisten dengan rencana tata ruang. Usaha konservasi tanah dan air merupakan salah satu upaya yang harus dilakukan untuk menahan laju peningkatan nilai erosi tersebut dari tahun ke Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-2 . Erosi yang terjadi di WS Barito-Kapuas untuk setiap DAS berdasarkan perhitungan tahun 2006 pada umumnya berkisar dari sedang sampai berat Prediksi erosi hingga tahun 2025 menunjukkan klasifikasi yang sama yaitu dari sedang sampai berat. meningkatnya pencemaran air sungai. hal ini telah mengakibatkan meningkatnya debit sungai pada musim penghujan. berkurangnya debit aliran rendah pada musim kemarau. WS Barito-Kapuas administrasi. 4.1. tingginya laju erosi dan sedimentasi yang menurunnya kualitas lingkungan keairan. Dalam mewujudkan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi/ kabupaten/ kota yang lestari.(Persero) CABANG I MALANG 9. kekeringan pada musim kemarau serta 9. menyebabkan terjadinya bencana banjir dan pendangkalan sungai.1.3 Aspek Konservasi Beberapa kesimpulan dapat ditarik berdasarkan hasil analisis beberapa sifat biofisik di WS Barito-Kapuas. Nilai erosi tersebut diasumsikan akan terjadi jika tidak dilakukan usaha pengawetan tanah dan air. 3. yaitu: 1. namun sesuai dengan UU SDA merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari hulu ke hilir.

3. Hasil simulasi base case 2007 menunjukkan bahwa dari ketersediaan air alami. Oleh karena itu. 9. Mengingat kualitas limbah RKI yang dihasilkan mengandung kadar pencemar tinggi. Pembangunan bangunan penyedia air baku dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-3 .(Persero) CABANG I MALANG tahun. diperoleh kesimpulan 9.7217 (Cemar Ringan) terhadap kualitas air Sungai. pembalakan liar serta konversi hutan menjadi peruntukan lain harus dicegah secara maksimal. aktivitas perambahan hutan. Status Mutu Air (SMA) berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan di Sungai Barito-Kapuas dan beberapa anak sungainya. maka dapat diketahui bahwa rata-rata Pollutant Index pada tahap I (musim penghujan) dan tahap II (musim kemarau). Simulasi menunjukkan tidak ada kekurangan air baku sampai dengan tahun 2025.1. 2. diperlukan pengolahan limbah cair RKI. perkotaan dan industri (semua sukses diatas 90%). tidak ada kekurangan air untuk rumah-tangga.1.4 Aspek Kualitas Air Berdasarkan hasil analisis sebagai berikut : 1. karena apabila dibiarkan akan menurunkan kualitas sumber daya air yang berfungsi sebagai penampung limbah RKI. Keberadaan hutan yang utuh merupakan salah satu upaya untuk mengurangi terjadinya erosi. 2.Sungai Kapuas : PI = 3. di masing-masing sungai tahun 2007 pada umumnya sebagai berikut : .5 Aspek Pendayagunaan SDA Dari hasil simulasi DSS-Ribasim untuk kasus dasar 2007.54 (Cemar Ringan) . Upaya konservasi ini dapat dilakukan dengan metode vegetatif dan cara mekanik.Sungai Barito : PI = 3. 2025 dan masing-masing upaya. Dari aspek kuantitas terjadi peningkatan jumlah limbah cair RKI yang terus meningkat dari tahun ke tahun sesuai dengan penggunaan air bersih. maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1.

d. Pada beberapa bendung strategis di Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Banjir yang terjadi di WS Barito-Kapuas disebabkan oleh beberapa faktor. 2. yaitu : Jangka Menengah/ Mendesak a) Pemulihan sarana dan prasarana pengendalian banjir akibat Daya rusak Air meliputi : − − − − − Rehabilitasi / normalisasi jaringan drainasi Normalisasi alur sungai Pengerukan muara sungai yang mengalami pendangkalan Rehabilitasi atau perbaikan bangunan pengendali banjir Rehabilitasi / perbaikan tebing kritis Manajemen penanggulangan banjir atau yang lajim disebut Manajemen Tanggap Darurat Penerapan Sistem Peringatan Dini (Flood Warning System) b) Penanggulangan Daya Rusak Air − − Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-4 . dan debit andalan Q90%. maka dalam studi ini telah ditetapkan bahwa strategi Pengendalian Daya Rusak Air dibagi dalam dua periode waktu. Menurunnya kapasitas dari sungai-sungai / drainasi karena sedimentasi c. 9. maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. dengan kondisi ketersediaan air rata-rata. yaitu: a. Sedangkan kebutuhan air terdiri atas kebutuhan air irigasi dan pemeliharaan aliran untuk lingkungan. debit andalan Q80%.6 Aspek Pengendalian Daya Rusak Air (DRA) Berdasarkan analisis dan hasil simulasi yang telah dilakukan. Kebiasaan masyarakat membuang sampah ke sungai atau drain mengakibatkan pendangkalan sungai.1. Mengingat banjir tidak dapat dihilangkan secara absulut. Prilaku masyarakat yang kurang memperhatikan fungsi dari sungai dan prasarana banjir yang dibangun. yang pada akhirnya mengurangi kapasitas sungai. b. Perubahan fungsi Retarding Basin yang berubah menjadi daerah pemukiman & pertanian.(Persero) CABANG I MALANG 3.

2. dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan penimbunan tanah dan di atas tiang. menahan air di bagian hulu dan hilir b) Pengendalian dan Pengelolaan Dataran Banjir (Flood Zoning/ Flood Proofing) − Flood Zoning Daerah daerah rawan banjir yang perlu ditetapkan sebagai flood zoning yang didasarkan atas frekuensi banjir yang terjadi. Konservasi dan perlindungan daerah tangkapan air di wilayah hulu sungai perlu dilakukan secara intensif mengingat daya dukung lingkungan dan daya tampung Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-5 . utamanya agar fungsi pemantauan dan pengendalian yang dapat mencakup seluruh Wilayah Sungai Barito-Kapuas dapat berjalan. Perda Irigasi. Perlunya mempercepat munculnya perda mengenai SDA yang dapat mengantisipasi pelanggaran pemanfaatan SDA (Perda Sungai. − Flood Proofing Meninggikan lantai bangunan (di atas muka air banjir).(Persero) CABANG I MALANG Jangka Panjang a) Dengan meningkatkan fungsi retensi ekologis (Eko-Hidraulis) di sepanjang alur sungai dari hulu hingga hilir untuk redaman banjir. peninggian lantai bangunan lebih dari muka air banjir. untuk diusulkan kepada Pemerintah. 7 Tahun 2004. dst) dengan melibatkan peranserta masyarakat. tentang Sumber Daya Air dan usulan pengembangan pengelola SDA lintas Propinsi adalah sebagai berikut : 1.2 SARAN Usulan saran terhadap pengembangan wilayah sungai meliputi usulan pengelolaan sesuai tahapan dalam Undang-undang No. Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Kalimantan Selatan perlu menyusun kesepakatan mengenai peningkatan kapasitas Institusi Pengelola SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas. c) Pengendalian Debit Banjir − − Pengendalian Debit Banjir Dengan Waduk Transfer Antar Basin 9. 3.

Harus diolah sebelum dibuang ke badan air. 2). cuci menggunakan tanaman (wetland system) atau Echo Garden dapat dibuang ke badan air. Untuk areal permukiman terpencar dilakukan secara komunal di daerah bersangkutan. Untuk permukiman yang terpisah dengan pertimbangan daya dukung lahan masih memadai dapat dan dapur) dapat diolah diolah secara individu dengan tangki dengan konsep ekoteknologi yang yang septik untuk tinjanya. sumur resapan. 3).(Persero) CABANG I MALANG sudah tidak memadai lagi. terdiri dari : dapat menyerap unsur pencemar. Perlu dilakukan audit lingkungan secara komprehensif baik secara biogeofisik maupun sosial budaya air di wilayah sungai. Untuk permukiman dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan ekonomi sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan kebijakan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya menggunakan ”Off Site System”. yaitu : (a). maka perlu pengolahan limbah. 4. serta menerapkan Q – Delta Policy dalam setiap pembangunan . yaitu dengan menggunakan jaringan perpipaan air limbah untuk menampung air limbah dari setiap sumber pencemar. 5. tetapi untuk grey water ( air bekas mandi. Alternatif pengolahan. Dalam mengatasi jumlah limbah cair RKI yang terus meningkat dari tahun ke tahun dengan kuantitas yang banyak dan memilki potensi untuk mencemari WS Barito-Kapuas. sehingga jaringan perpipaan lebih sederhana dan kapasitas IPAL terpusat bisa lebih kecil. tentang kewajiban untuk mengolah limbah dari industri. Untuk mengatasi banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau. dengan alternatif pengolahan : 1). selanjutnya disalurkan dan diolah di IPAL terpusat. ini sesuai Pasal 38 ayat (2) butir (a) dari PP 82/2001 (”Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air”). selanjutnya effluent Echo Garden Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-6 . Air Limbah Rumah Tangga dan Perkotaan. Air Limbah Industri : 1). di daerah hulu sungai perlu dibuatkan embungembung penampungan air hujan. (b).

sesuai dengan Pasal. 6. (c). selanjutnya disalurkan dan diolah di IPAL terpusat. dimana setiap industri biasanya diwajibabkan melakukan Pra Pengolahan. swasta dan LSM dalam upaya memelihara dan melindungi sempadan sungai 7. dan LSM dalam pendayagunaan SDA 9. Upaya-upaya konservasi yang perlu segera dilakukan di WS Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : Menetapkan dan mengelola daerah resepan air dalam rangka penyediaan air bagi kemamfaatan umum secara berkelanjutan dan pengurangan DRA 1. Menerapkan Aspek Hukum yaitu sangsi dan penghargaan bagi industri yang belum dan telah memenuhi Ketentuan Baku Mutu Limbah Cair. Untuk memanfaatkan sumber daya air yang ada. Dunia Usaha. 38 ayat (2) butir (e) : dari PP 82/20012001 (”Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air”). sehingga limbah cair yang disalurkan ke jaringan pengumpul limbah memiliki mutu tertentu sesuai dengan ketentuan yang diberikan dari Badan Pengelola. PLTA. Mensinergiskan Kegiatan Institusi pengelola SDA dengan Kegiatan yang positip dari Masyarakat. maka dapat dipertimbangkan pembangunan waduk Muara Julai yang diharapkan akan dapat menyediakan air untuk irigasi teknis. Limbah industri harus dipantau secara kontinyu. Meningkatkan kemampuan lembaga pengelolaan sumber daya air (capacity building) serta meningkatkan tingkat kesadaran serta peran serta masyarakat. 2). 8. Rehabilitasi hutan dan lahan kritis 2 Menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan konservasi SDA 3. Pariwisata dan juga perikanan darat.(Persero) CABANG I MALANG • • Dengan pengolahan individu di masing masing industri Untuk areal industri yang memiliki limbah sejenis dan terkumpul dalam suatu area dapat dilakukan Pengolahan Terpusat. tentang Persyaratan melakukan pemantauan mutu dan debit air limbah. Perguruan Tinggi. Mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana untuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-7 .

3. Pelestarian situ 6. embung dengan prioritas daerah pemukiman 4. Pengendalian penggunaan air tanah kota Memulihkan dan mempertahankan kualitas air untuk memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan 10. memulihkan dan mempertahankan daya dukung. Pemeliharaan mata air 5. Menetapkan dan mengelola kawasan danau rawa. daya tampung dan fungsi sumber daya air secara berkelanjutan 1. Menetapkan daerah batas sempadan sungai. Pengawetan SDA 2. embung & mata air dgn aturan. dengan memperhatikan faktor penyebab yang paling dominan dan optimasi penanganannya baik yang dilakukan secara struktural maupun non struktural. rawa. Upaya-upaya pengendalian banjir yang perlu segera dilakukan di WS BaritoKapuas adalah sebagai berikut : (a) Penanganan banjir supaya dilakukan secara menyeluruh. (c) Tidak kalah pentingnya upaya penataan penggunaan bantaran dan alur sungai serta kegiatan konservasi untuk daerah hulu untuk mencegah adanya trend kenaikan debit banjir akibat kerusakan daerah resapan air (d) Perlu dilakukan pengaturan tanggung jawab dan wewenang pada sektor/ dinas/ instansi di daerah yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air Wilayah Sungai Barito-Kapuas serta pengkoordinasiannya agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaannya.(Persero) CABANG I MALANG Meningkatkan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-8 . Barito-Kapuas yang harus mendapatkan perhatian yang memadai dari Pemerintah Daerah. (b) Rasionalisasi alur sungai dan drainase kota merupakan upaya penanganan banjir WS.