(Persero) CABANG I MALANG

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG

Pemanfaatan sumber daya air untuk berbagai keperluan disatu pihak terus meningkat dari tahun ketahun, sebagai dampak pertumbuhan penduduk dan pengembangan aktivitasnya. Padahal dilain pihak ketersediaan sumber daya air semakin terbatas bahkan cenderung semakin langka, terutama akibat penurunan kualitas lingkungan dan penurunan kualitas akibat pencemaran. Apabila hal seperti ini tidak diantisipasi, maka dapat dikhawatirkan dapat menimbulkan kepentingan ketegangan manakala dan bahkan konflik akibat tidak terjadinya seimbang benturan dengan permintaan (demand) lagi

ketersediaan sumber daya air untuk pemenuhannnya (supply). Oleh karena itu perlu upaya secara proporsional dan seimbang antara pengembangan, pelestarian dan pemanfaatan sumber daya air baik dilihat dari aspek teknis maupun aspek legal. Untuk memenuhi kebutuhan air yang terus meningkat diberbagai keperluan, diperlukan suatu perencanaan yang terpadu yang berbasis wilayah sungai guna menentukan langkah dan tindakan yang harus dilakukan agar dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan mengoptimalkan potensi pengembangan SDA, melindungi, melestarikan serta meningkatkan SDA dan lahan. Mengingat pengelolaan sumber daya air merupakan masalah yang kompleks dan melibatkan semua pihak baik sebagai pengguna, pemanfaat maupun pengelola, tidak dapat dihindari perlunya upaya bersama untuk mempergunakan pendekatan one river basin, one plan and one integrated management. Keterpaduan dalam perencanaan, kebersamaan dan pelaksanaan dan kepedulian dalam pengendalian sudah waktunya untuk diwujudkan. Perencanaan pengelolaan SDA WS adalah merupakan suatu pendekatan holistik, yang merangkum aspek kuantitas dan kualitas air. Perencanaan tersebut merumuskan dokumen inventarisasi sumber daya air wilayah sungai, identifikasi ketersediaan saat

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-1

(Persero) CABANG I MALANG

ini dan masa mendatang, pengguna air dan estimasi kebutuhan mereka baik pada saat ini maupun dimasa mendatang, serta analisis upaya alternatif agar lebih baik dalam penggunaan sumber daya air. Termasuk didalamnya evaluasi dampak dari upaya alternatif terhadap kualitas air, dan rekomendasi upaya yang akan menjadi dasar dan pedoman dalam pengelolaan wilayah sungai dimasa mendatang. Sejalan dengan itu, Undang-Undang Tentang Sumber Daya Air UU Nomor 7 Tahun 2004 dimaksudkan untuk memfasilitasi strategi pengelolaan sumber daya air untuk wilayah sungai diseluruh tanah air untuk memenuhi kebutuhan, baik jangka menengah maupun jangka panjang berkelanjutan. Pada pasal 1 ayat 8 UU Nomor 7 Tahun 2004 menyebutkan bahwa “pola pengelolaan sumber daya air adalah kerangka dasar datam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air”. Pada pasal 11 ayat 1 sampai dengan ayat 4 UU Nomor 7 Tahun 2004 menyebutkan bahwa : "untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan sumber daya air yang dapat memberikan manfaat yang sebesar¬besarnya bagi kepentingan masyarakat dalam segala bidang kehidupan disusun pola pengelolaan sumber daya air. Pola pengelolaan sumber daya air disusun berdasarkan wilayah sungai dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air bawah ". Undang-undang tersebut (dan peraturan pemerintah yang terkait) mencerminkan arah pemikiran yang berkembang saat ini berkaitan dengan penataan ulang tanggung jawab dalam sektor sumber daya air. Undang-undang tersebut mengungkapkan sejumlah aspek dimana pengelolaan sumber daya air diwilayah sungai dapat ditingkatkan lebih lanjut, antara lain dengan dimuatnya pasal-pasal tentang perencanaan pengelolaan sumber daya air. Dengan UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air tersebut diatas, jelas bahwa tahapan pengelolaan SDA wilayah sungai adalah sebagai berikut : 1. Sebelum dilakukannya penyusunan rencana Induk (Master Plan) pengelolaan SDA wilayah sungai, terlebih dahulu perlu dikakukan penyusunan pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai yang berisi tentang : Tujuan umum pengelolaan SDA

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-2

(Persero) CABANG I MALANG

Dasar-dasar pengelolaan SDA Prioritas dan strategi dalam mencapai tujuan Konsepsi kebijakan-kebijakan dasar pengelolaan SDA dan Rencana pengelolaan strategis. 2. Sebagai tindak lanjut dari penyusunan pola pengelolaan SDA WS tersebut, setelah disyahkan oleh yang berwewenang, selanjutnya akan disusun Rencana Induk (Master Plan) pengelolaan SDA yang merupakan perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang diperlukan untuk menyelenggarakan pengelolaan SDA, dimana perencanaan tersebut disusun dengan berpedoman kepada pengelolaan SDA untuk wilayah sungai terkait. 3. Kegiatan selanjutnya secara berurutan setelah penyusunan Rencana Induk pengelolaan SDA WS adalah : Studi Kelayakan (FS) Program Pengelolaan Rencana Kegiatan Rencana Rinci Pelaksanaan/ konstruksi dan OP Pernyataan pasal-pasal kedua Undang-Undang di atas mengingatkan kepada pengelola sumberdaya air tentang pentingnya peran air bagi kehidupan manusia dan lingkungannya. Hal tersebut jelas terlihat dalam permasalahan krisis air di sebagian besar wilayah Indonesia. Untuk hat tersebut diatas, pada tahun anggaran 2008, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air bermaksud akan melakukan garis arahan pengembangan melalui Pola Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Wilayah Sungai, diantaranya adalah Wilayah Sungai Barito-Kapuas guna mewujudkan pemanfaatan dan pendayagunaan sumber air di wilayah sungai tersebut serasa serasi dan optimal, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daya dukung lingkungan serta sesuai dengan kebijaksanaan pembangunan nasional dan daerah yang berkelanjutan. 1.2. MAKSUD DAN TUJUAN

Sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK/TOR), maksud dan tujuan pekerjaan “Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito-Kapuas”, ini adalah sebagai berikut: Maksud Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-3

(Persero) CABANG I MALANG

Maksud dari pekerjaan ini adalah merumuskan Rancangan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Barito-Kapuas, untuk kemudian dapat dijadikan acuan dalam Penyusunan Rencana Induk (Master Plan) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Tersebut. Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Maksud dari pekerjaan ini adalah menyusun Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas untuk dijadikan acuan dalam penyusunan Rencana Induk (Master Plan) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Tersebut. Rencana Induk Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Maksud dari pekerjaan ini adalah menyusun Rencana Induk pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas untuk dijadikan acuan dalam pelaksanaan studi kelayakan untuk WS tersebut, yang pada akhirnya dapat diketahui kegiatankegiatan yang perlu dilakukan. Tujuan Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Tujuan dari Penyusunan Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai adalah untuk memberikan arahan dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air guna mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air (ps.3). Arahan tersebut meliputi arahan konservasi dan pendayagunaan sumber daya air, serta pendayagunaan sumber daya air, serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah sumber daya air dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan di tingkat Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota (ps.4). Kebijakan ini dirumuskan oleh wadah koordinasi SDA (Nasional, Provinsi atau Kabupaten/Kota sesuai tingkatannya). Didalam implementasinya, kebijakan pengelolaan SDA WS tersebut nantinya harus “dilegalisir” oleh Presiden, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai tingkatannya karena perencanaan ini kelak diharapkan akan menjadi acuan semua pihak dan dapat menjadi bingkai/kerangka kerjasama antar daerah dan atau instansi/pihak di dalam penatagunaan sumber daya air khususnya dalam penyusunan Pola Pengelolaan SDA WS. Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Tujuan dari Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (PSDAWS), adalah untuk merumuskan pola pengelolaan suatu wilayah sungai

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-4

(Persero) CABANG I MALANG

termasuk menyusun dokumentasi SDA WS (air permukaan dan air tanah), memperkirakan kebutuhan air baik untuk saat ini maupun dimasa mendatang dan mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang dapat menghasilkan suatu pedoman untuk penyusunan Rencana Induk Pengelolaan SDA WS dengan melibatkan peran serta masyarakat dan dunia usaha. Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai berisi program komprehensif pengembangan sumber daya air untuk jangka pendek dan jangka-jangka panjang. Didalam implementasinya, Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai tersebut nantinya harus “dilegalisir” oleh pemerintah setempat, karena perencanaan ini kelak diharapkan akan menjadi acuan semua pihak dan dapat menjadi bingkai/kerangka kerjasama antar daerah didalam penatagunaan sumber daya air termasuk di dalam perencanaan, pemanfaatan, pengusahaan, pengendalian dan pelestarian sumber daya air secara terencana, terarah, terpadu dan berkesinambungan sesuai dengan kebijaksanaan pembangunan nasional dan daerah yang berkelanjutan. Rencana Induk Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Tujuan dari Penyusunan Rencana Induk Pengelolaan SDA WS sebagai salah satu kegiatan dari Rencana Pengelolaan SDA WS, adalah untuk merumuskan perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang diperlukan untuk menyelenggarakan pengelolaan SDA WS (sebagai tindak lanjut dari kegiatan penyusunan pola pengelolaan SDA WS) dengan melibatkan peran serta masyarakat. Rencana induk ini merupakan rencana jangka panjang yang memuat pokok-pokok rencana program konservasi dan pendayagunaan SDA serta pengendalian daya rusak air di WS secara terpadu dan terarah. Rencana ini juga mencakup upaya struktural (desain dasar) dan upaya non-struktural.

1.3.

LINGKUP PEKERJAAN

Secara garis besar lingkup pekerjaan “Rencana Pola Wilayah Sungai BaritoKapuas”, ini adalah sebagai berikut : Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai 1. Mengadakaan koordinasi dengan Wadah koordinasi SDA Nasional, Provinsi atau Kabupaten/Kota sesuai tingkatannya.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-5

(Persero) CABANG I MALANG

2.

Merumuskan arahan dalam penyusunan pola pengelolaan SDA WS, yang mencakup arahan konservasi dan pendayagunaan SDA WS serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah SDA dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan.

3.

Membantu proyek dalam proses legalisasi kebijakan pengelolaan SDA WS.

Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Pola pengelolaan SDA wilayah sungai berorientasi pada keluasan wilayah yang menuntut perencanaan maupun pengelolaan berdasarkan batas-batas hidrologis. Dari awal inilah pengelolaan SDA wilayah sungai memerlukan informasi yang dilakukan dengan kerjasama dan koordinasi antar Kabupaten. Melalui pertemuan Konsultansi dengan masyarakat, dua proses dilakukan sekaligus, yaitu inventarisasi masalah-masalah setempat secara arus bawah-atas (bottom-up) dan proses penyadaran masyarakat terhadap isu strategis (jangka panjang) pengembangan wilayah sungai. Untuk pelaksanaan Undang-undang 22 dan 25 secara efektif, dalam proses pengelolaan sumber daya air wilayah sungai, koordinasi antara Kabupaten dan Provinsi dan komunikasi dengan para stakeholder menjadi sangat penting. Informasi praktis tentang bagaimana pola pengelolaan wilayah sungai dan pola pengelolaan wilayah Kabupaten dapat sejalan satu sama lain merupakan hal yang sangat penting untuk menentukan kerjasama secara struktural. Untuk pekerjaan tersebut diatas, beberapa kegiatan di bawah ini perlu dilakukan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pengumpulan data awal melalui desk study/literatur, kunjungan lapangan diskusi informal. Analisa awal yang kemudian disajikan pada laporan pendahuluan (Inception Report). Mengevaluasi data dan informasi yang sudah terkumpul. Mengumpulkan data melalui literatur maupun data lapangan dan diskusidiskusi informal. Pengumpulan data yang lebih detail, penelitian Water District dan melakukan set-up DSS sebagai analisa awal kebutuhan dan ketersediaan air. Analisa awal yang menghasilkan rencana sementara untuk wilayah sungai Barito-Kapuas disajikan dalam Laporan Pertengahan. Mengakses kebutuhan pengembangan kedepan dengan berbagai skenario.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-6

(Persero) CABANG I MALANG

8.

Mengidentifikasi kendala-kendala dalam mempertemukan kebutuhan dan pasokan air, usaha-usaha yang telah dilakukan dan perbaikan yang harus dilakukan untuk masa mendatang.

9.

Mengorganisir Pertemuan Konsultasi dengan Masyarakat (PKM I) yang menekankan kepada kesepakatan bersama terhadap para pengguna air. Hal ini akan termasuk : Mengorganisir dan melaksanakan PKM I, selama 1 hari dengan peserta yang mewakili semua institusi terkait Tingkat Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi sekitar 200 orang. Koleksi data dengan wawancara kepada para pengguna selama pelaksanaan PKM I. Melakukan koleksi data melalui distribusi prosiding PKM I.

10. Melakukan proses penghalusan (fine-tuning) terhadap DSS dan semua data yang telah dikoleksi maupun analisa melalui identifikasi yang lebih dalam terhadap kendala-kendala berdasarkan temuan-temuan yang didapat dari PKM I. 11. Analisa awal terhadap kombinasi upaya-upaya strategis dan akses terhadap kendala pada strategi tersebut untuk beberapa skenario yang berbeda, sebagai hasil yang tertuang dalam Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai sementara. 12. Mengorganisir Pertemuan Konsultasi dengan Masyarakat (PKM II) yang menekankan pada beberapa strategi berdasarkan kesepakatan bersama dengan mereka yang mewakili para stakeholder. Hal ini termasuk : Mengorganisir dan melaksanakan PKM II, selama 1 hari dengan peserta yang mewakili semua institusi terkait Tingkat Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi sekitar 150 orang. Pengumpulan data melalui wawancara dengan stakeholder secara individu selama pelaksanaan PKM II Melakukan koleksi data melalui distribusi prosiding PKM II. 13. Merumuskan Draft Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai berdasarkan temuan yang diperoleh pada PKM II dan temuan lainnya. 14. Mengorganisir Rapat Koordinasi untuk Wilayah Sungai Barito-Kapuas. 15. Membantu proyek dalam proses legalisasi. Rencana Induk Pengelolaan SDA Wilayah Sungai 1. Menyiapkan rencana pengelolaan jangka panjang yang memuat pokok-pokok rencana program konservasi dan pendayagunaan SDA serta pengendalian daya

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-7

(Persero) CABANG I MALANG

rusak air di WS secara terpadu dan terarah sesuai Pola Pengelolaan SDA WS yang telah disusun. 2. Melakukan pertemuan konsultasi dengan masyarakat guna merumuskan upayaupaya untuk mengatasi permasalahan SDA. 3. Menyiapkan desain dasar (outline design) untuk upaya yang bersifat struktural. 4. Membantu proyek dalam proses legalisasi. 1.4. LOKASI KEGIATAN

SWS Barito-Kapuas (kode A2-18, sesuai Permen PU No. 11A/PRT/M/2006) terletak di perbatasan dengan Provinsi Kalimantan Selatan dan Sungai Kahayan. SWS BaritoKapuas (A2-18) memiliki 2 (dua) sungai besar yaitu Sungai Barito dan Sungai Kapuas. Daerah Aliran Sungai Barito yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah memiliki luas daerah tangkapan sebesar 46.997 Km2 sedangkan Sungai Kapuas sebesar 16.044 Km2. Luas total SWS Barito-Kapuas yang terdiri dari DAS Barito dan DAS Kapuas, adalah 79.000 km2. SWS Barito-Kapuas (04.02) dari hulu ke hilir yang mengalir di Provinsi Kalimantan Tengah melewati kabupaten berikut : Tabel 1.1 Kabupaten WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah No. 1. 2. 3. 4. 5. Kabupaten Kab. Kapuas Kab. Murung Raya Kab. Barito Utara Kab. Barito Selatan Kab. Barito Timur DAS DAS Kapuas DAS Barito DAS Barito DAS Barito DAS Barito

Sedangkan kabupaten-kabupaten yang masuk dalam WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan adalah Tabel 1.2 Kabupaten dilalui WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalsel No. 1 Kabupaten Kab. Barito Kuala DAS DAS Barito

Pembagian WS di Kalimantan serta peta WS Barito-Kapuas dapat dilihat pada gambar 1.1 dan 1.2.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-8

(Persero) CABANG I MALANG

1.5.

LAPORAN

Laporan ini secara garis besar menyajikan latar belakang, gambaran umum wilayah studi, Pendekatan dan Metodologi Pelaksanaan, Pengolahan & Analisis Data, Tinjauan Kebijakan Pengelolaan SDA Nasional dan Penyusunan Pola Pengelolaan SDA WS serta Kesimpulan dan Rekomendasi. Laporan ini terdiri dari : Komposisi Laporan Interim sebagai berikut : Volume 1 Volume 2 Volume 3 - Volume 3.1 - Volume 3.2 Volume 4 - Volume 4.1 - Volume 4.2 Volume 5 - Volume 5.1 - Volume 5.2 - Volume 5.3 1.6. : Executive Summary : Main Report : : Rancangan Dokumen Pola Pengelolaan SDA WS Barito : Rancangan Dokumen Pola Pengelolaan SDA WS Kapuas : : Laporan PKM I : Laporan PKM II : Supporting Report : Laporan Hidrologi : Laporan DSS-RIBASIM : Laporan Kajian Khusus

JADWAL PELAKSANAAN

Pelaksanaan Rancangan Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas adalah sejak tanggal 16 Agustus 2008 sampai dengan 13 Desember 2008 atau selama 120 (seratus dua puluh) hari kalender. Adapun jadwal pelaksanaan kegiatan Rancangan Pola Pengelolaan WS Barito-Kapuas dapat dilihat pada tabel 1.3 berikut :

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-9

3 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS I .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 1.10 .

1 Pembagian Wilayah Sungai di Kalimantan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS I .11 .(Persero) CABANG I MALANG Wilayah Studi Gambar 1.

675 KM2 LEBAR (m) PANJ (Km) DILAYARI (Km) 780 420 H (m) 8 6 KETERANGAN : BANJARMASIN Batas Propinsi Batas Kabupaten Area DAS Barito Area DAS Kapuas Sungai Jalan I .044 KM2 81. KALTENG DAS BARITO.2 Peta WS Barito-Kapuas .997 KM2 18. B arit RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS o Laporan Akhir PETA SWS BARITO-KAPUAS (Persero) CABANG I MALANG PROPINSI KALIMANTAN TIMUR PROPINSI KALIMANTAN TENGAH K S. s ua ap PROPINSI KALIMANTAN SELATAN 46.LETAK GEOGRAFIS : 0 95' LU s/d 3 35' LS 113o 15' BT s/d 115o 45' BT LUAS DAS : DAS BARITO.634 KM2 16.12 Gambar 1. KALTENG DAS BARITO. KALSEL DAS KAPUAS SWS BARITO 500 650 900 600 o o PALANGKARAYA S. KALSEL DAS KAPUAS SWS BARITO LUAS DAS : DAS BARITO.

2 Kabupaten dilalui DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No.1 LETAK GEOGRAFIS DAN BATAS ADMINISTRASI 2.1. 1 2 3 4 Kabupaten Kab.1 Kabupaten DAS Barito di Provinsi Kalimantan Tengah No.30 ha. Barito Timur DAS DAS Barito DAS Barito DAS Barito DAS Barito Sedangkan kabupaten-kabupaten yang dilalui aliran sungai di Provinsi Kalimantan Selatan adalah Tabel 2. Adapun batas wilayah hidrologi DAS Barito adalah sebagai berikut : Sebelah barat berbatasan dengan DAS Kapuas Sebelah timur berbatasan dengan DAS Sampanahan. DAS Barito meliputi beberapa kabupaten. Barito Selatan Kab. Kabupaten-kabupaten yang termasuk dalam DAS Barito adalah sebagai berikut: Tabel 2.363. Murung Raya Kab. Kabupaten 1 Kab. Barito Kuala DAS DAS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -1 . DAS Batulicin dan DAS Tabunino Sebelah utara berbatasan dengan DAS Barito Bagian Hulu Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa Secara administrasi Pemerintahan.863. Barito Utara Kab.1 DAS Barito Secara geografis Daerah Aliran Sungai Barito yang terdapat di Provinsi Kalimantan selatan terletak antara 114o20’ sampai dengan 115o52’ BT dan 1o24’ sampai dengan 3o44’ LU dengan luas keseluruhan adalah 1.(Persero) CABANG I MALANG BAB 2 GAMBARAN UMUM WS BARITO-KAPUAS 2.

dengan ibukota Kabupaten Kota Kuala Kapuas. Provinsi Kalimantan Tengah memiliki luas daerah tangkapan sebesar 16.(Persero) CABANG I MALANG 2. Sejumlah Kabupaten yang termasuk dalam DAS Kapuas dari hulu ke hilir adalah : 1. Kabupaten Barito Selatan Adapun batas wilayah hidrologi DAS Kapuas adalah sebagai berikut: Sebelah timur berbatasan dengan DAS Barito Sebelah Barat berbatasan dengan DAS Kahayan Sebelah utara berbatasan dengan DAS Barito Bagian Hulu Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -2 .2 DAS Kapuas Daerah Aliran Sungai Kapuas yang berada di Kabupaten Dati II Kapuas.1. Kabupaten Barito Utara 3. Kabupaten Kapuas 2. Secara geografis Daerah Aliran Sungai Kapuas terletak antara 114o24’48” sampai dengan 114o53’39” BT dan 2o15’00” sampai dengan 2o47’53” LS.044 Km2.

PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU T umbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung T umbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung T umbang Lahung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei MUARA TEWEH MUARA TEWEH . MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA . BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK T impah T impah Timpah T impah Timpah T impah Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah KABUPATEN TABALONG KABUPATEN BARITO TIMUR Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Harui Harui Harui Harui Harui Harui Jaro Jaro Jaro Jaro Jaro Jaro Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya . MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Benangin Benangin Benangin Benangin Benangin Benangin Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong KABUPATEN BARITO UTARA T umpung Laung T umpung Laung Tumpung Laung T umpung Laung T umpung Laung Tumpung Laung T umpung Laung Tumpung Laung T umpung Laung Ketapang Ketapang Ketapang Ketapang Ketapang Ketapang Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon KABUPATEN BARITO SELATAN Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang TabakKanilan TT abakKanilan abak Kanilan TT abakKanilan TabakKanilan abak Kanilan KABUPATEN KAPUAS Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah . BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI Pagat Pagat Pagat Pagat Pagat Pagat Pasungkan Pasungkan Pasungkan Pasungkan Pasungkan Pasungkan KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU Mandomai Mandomai Mandomai Mandomai Mandomai Mandomai Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Basarang Basarang Basarang Basarang Basarang Basarang Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Rantau Rantau Rantau Rantau Rantau Rantau Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan TTelagaLangsat Telaga Langsat elaga Langsat TTelagaLangsat Telaga Langsat elaga Langsat TTelagaLangsat Telaga Langsat elaga Langsat KABUPATEN TAPIN . TANJUNG TANJUNG TANJUNG TANJUNG TANJUNG TANJUNG ! Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip TTanta Tanta anta TTanta Tanta anta Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Juai Juai Juai Juai Juai Juai Paringin Paringin Paringin Paringin Lampihong Paringin Lampihong Paringin Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Batumandi Batumandi Batumandi Batumandi Batumandi Batumandi Halong Halong Halong Halong Halong Halong Halong Halong Halong TTaniran Taniran aniran TTaniran Taniran aniran Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Sungai TTurak Sungai Turak Sungai urak Sungai TTurak Sungai Turak Sungai urak Sungai TTurak Sungai Turak Sungai urak Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun . BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU Cempaka Cempaka Cempaka Cempaka Cempaka Cempaka Aranio Aranio Aranio Aranio Aranio Aranio Kurau Kurau Kurau Kurau Kurau Kurau Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Gambar 2. .AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Ilung Ilung Ilung Ilung Ilung Ilung Mantangai Mantangai Mantangai Mantangai Mantangai Mantangai .(Persero) CABANG I MALANG KABUPATEN MURUNG RAYA Tumbang Kunyi umbang Kunyi TTumbangKunyi Tumbang Kunyi umbang Kunyi TTumbangKunyi umbang Kunyi TTumbangKunyi Tumbang Kunyi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi .1 Peta Batas Administrasi WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -3 . .KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN Kelumpang Kelumpang Kelumpang Kelumpang Kelumpang Sungai Raya Kelumpang SungaiRaya Sungai Raya Sungai Raya Sungai Raya Sungai Raya Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa Loksado Loksado Loksado Loksado Loksado Loksado . Upau Upau Upau Upau Upau Upau TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG . . MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN Barimba Barimba Barimba Barimba Barimba Barimba Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Bungur Bungur Bungur Bungur Bungur Bungur Tambarangan ambarangan TTambarangan ambarangan TTambarangan Tambarangan KABUPATEN BARITO KUALA KABUPATEN BANJAR Binuang Binuang Binuang Binuang Binuang Binuang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam ! BANJARMASIN Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Gambul Gambul Gambul Gambul Gambul Gambul Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat MARTAPURA MARTAPURA .

dan untuk lain lain (83.0 m. berupa rumput (50.615. dipengaruhi oleh pasang surut.060 Ha).(Persero) CABANG I MALANG 2. sehingga merupakan daerah yang berpotensi banjir akibat pasang air laut.192.25o. Rincian luas menurut kemiringan adalah sebagai berikut: • • • • 0 .319 Ha). dengan elevasi sekitar + 4. 16%) Adapun luas wilayah Kalimantan Selatan menurut kelas ketinggian yang dibagi menjadi 6 kelas ketinggian menunjukkan wilayah Kalimantan Selatan sebagian besar berada pada kelas ketinggian 25-100 m di atas permukaan laut yakni 31.195 Ha (6.8%.0 m sampai dengan +7. Kemiringan lahan dari utara ke selatan sekitar 0.03 permil (arah timur barat).314 ha .87%) > 15 . Bagian selatan merupakan daerah pantai dan rawa-rawa dengan ketinggian antara 0 – 5 meter dari permukaan laut yang mempunyai elevasi 0% . Bagian utara DAS Kapuas merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian antara 100 – 500 meter dari permukaan laut dan mempunyai tingkat kemiringan 8o .40% : 713.05%) > 2 .15o dan pegunungan/pebukitan dengan kemiringan 15o . Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -4 . Hutan belukar (377.119).630 Ha (43.774 ha).2% : 1. Di sebelah selatan DAS merupakan daerah pantai pesisir Laut Jawa dengan panjang 189.29% Tanah di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan sebagian besar berupa hutan dengan rincian Hutan Lebat (780.150 m. dan hutan rawa (90.05% wilayah Provinsi Kalimantan Selatan mempunyai kemiringan tanah 0-2 %.847 Km.682 Ha (19.08 permil. sedang kemiringan lahan antar dua sungai sekitar 0. Bagian tengah merupakan dataran plateau dan pebukitan dengan kemiringan 8o – 25o dan ketinggian 50 – 1.05 – 0.15% : 1. Hutan Sejenis (352.840 Ha) Tanah berupa semak/alang-alang seluas 870.02%) > 40% : 231.2 KONDISI TOPOGRAFI Kemiringan tanah dengan 4 kelas klasifikasi menunjukkan bahwa sebesar 43.02 – 0. DAS Kapuas bagian hilir umumnya berupa lahan dengan bentuk topografi yang relatif datar.014).545 Ha (31.

tersebar luas sebagai endapan gosong dan limpahan sungai. publikasi P3G tahun 1992 Peta Geologi Lembar Buntok – 1714. rapat. Bagian tengah antar dua sungai umumnya lebih tinggi karena terdapat kubah gambut. diantaranya : Peta Geologi Lembar Long Pahangai – 1716. Bagian tengah antar dua sungai mempunyai elevasi sekitar 1. pejal. Barito. kerikil dan kerakal dari berbagai macam batuan.1993 Publikasi P3GI 1. Mengkatip – S.0 m. publikasi P3G tahun 1981 Peta Geologi Lembar Banjarmasin – 1712. P. 2. Mengkatip dan diantara S. lidah dome gambut itu menjulur dari utara ke selatan.00 m.Plistosen Batuan Gunungapi Metulang (TmQm) Terdiri dari Lava : kelabu tua sampai kelabu kehijauan. terletak secara tidak selaras di atas satuan yang lebih tua. porfiritik. Mentangai – S. Pieters dkk.5 sampai 2 m lebih tinggi daripada bagian tepi sungai. Bagian tengah DAS Kapuas mempunyai elevasi berkisar antara +4. dan secara grafis peta Geologi WS BaritoKapuas dapat dilihat pada Gambar 2. berongga. skoria atau amigdaloid (zeolit dan klorit). 2. Mentangai. hornblenda (kebanyakan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -5 .2 a. Terdapat kemiringan umum dari utara ke selatan. dengan ketebalan lebih dari 6 m. publikasi P3G tahun 1986 Adapun deskripsi secara litostratigrafi dari formasi-formasi kronostratigrafis yang ada adalah sebagai berikut.00 m sampai +14. Kapuas – S. fenokris plagioklas berzoning komplex (An40 – 70). mikrokristalin atau kacaan. Holosen Alluvium (Qa) : Terdiri agregasi lepas pasir.(Persero) CABANG I MALANG Bagian hulu mempunyai bentuk lebih undulating.3. publikasi P3G tahun 1993 Peta Geologi Lembar Muarateweh – 1715. dengan kisaran elevasi dari + 6. diantara S. terbreksikan atau berstruktur aliran. Peta Geologi Lembar Long Pahangai. S.0 sampai +7.E.1 Kondisi Geologi Beberapa referensi geologi regional yang akan mendasari pembahasan geologi di WS Barito-Kapuas.3 KONDISI GEOLOGI DAN GEOHIDROLOGI 2. Miosen Akhir .

Sub-gunungapi : basal dan andesit porfiritik. masa dasar mikrolit plagioklas dan butir hornblenda.(Persero) CABANG I MALANG coklat tua). pirit sekunder. halus-kasar. Aglomerat mengandung berbagai pecahan menyudut sampai menyudut tanggung dalam masa dasar terdiri dari tufa kasar. kebanyakan endapan “air fall”. ubahan ke klorit. Tufa kelabu sampai kelabu muda dan kebanyakan litik dan sedikit kristal. sedikit hipersten) dan terkadang olivin dan biotit. diorit. diameter pecahan sampai 10 cm. Batuan epiklastika : kebanyakan breksi lahar. epidot dan silika. Piroklastika : tufa dan aglomerat. kemas terbuka-tertutup. oksida besi (kebanyakan magnetit) dan interstisial kriptokristal dan atau bahan kaca. piroksin (augit. serisit. piroksin. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -6 . dolerit yang tersusun oleh plagioklas berzona. hornblenda. piroksin dan setempat biotit.

korok. sumbat. tidak selaras diatas Formasi Ujoh Bilang. mikrodiorit.2 3. - Batuan Terobosan Sintang (Toms) Andesit porfir. Miosen - Peta Geologi Wilayah Sungai Barito-Kapuas Formasi Kelinjau (Tmk) Batulumpur. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -7 . diorit. granodiorit.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2. retas dan sil. setempat batubara. sedikit batupasir dan batuan volkaniklastika.

kebanyakan berbutir halus. bergelombang dan flaser. terpilah baik. Serpih. batulanau. Eosen Akhir Formasi Batu Ayau (Tea) Kebanyakan batupasir. setempat tufaan. Batulumpur dan batulanau : kelabu tua sampai hitam. pejal sampai berlapis buruk. bioturbasi. berbutir halus sampai sedang. setempat perairan bergulung (konvolut). mikaan. sedikit batulumpur dan batulanau. putih sampai coklat muda. terpilah baik. Anggota Batugamping Batu Belah Formasi Ujoh Bilang (Tob) Kalsirudit fosilan. umumnya dengan batupasir halus. sedikit batupasir. Batugamping : coklat muda sampai agak coklat. kaya kuarsa sampai litik. arenit litik dan arenit felspatik. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -8 . setempat lapisan tipis lignit atau batubara. umumnya menyerpih. struktur cetakan. kebanyakan berlapis baik. kebanyakan berbutir sedang. dari sangat tipis sampai sangat tebal. batulanau : kelabu tua. arenit kuarsa. Anggota Batupasir Lenmuring Formasi Ujoh Bilang (Tol) Batupasir kuarsa. merupakan lensa dalam Formasi Ujoh Bilang.(Persero) CABANG I MALANG 4. jarang batugamping. didukung butiran. konkresi oksida besi. karbonan. sedikit batupasir. umumnya berlapis baik. Biasanya gampingan dan karbonan. 5. masa dasar lumpur karbonat. perairan sejajar. perlapisan silang-siur. Batupasir : kelabu muda. berlapis buruk. kebanyakan klastika pecahan fosil. Batupasir : kelabu muda sampai coklat. batulumpur. Oligosen Awal Formasi Ujoh Bilang (Tou) Batulumpur. kalkarenit. berlapis sampai pejal. urat dan urat halus kalsit. Formasi Batu Kelau (Tek) Serpih. klastika. merupakan lensa dalam Formasi Ujoh Bilang. perairan atau perlapisan sejajar. terpilah baik. Batupasir : kelabu muda sampai coklat muda. sebagian gampingan dan karbonan. berbutir halus. batulumpur. kelabu sampai kelabu kecoklatan. Batulumpur : coklat sedang sampai gelap. Mendatar sama dengan karbonat Formasi Berai bagian bawah. gampingan. lignitan atau perairan berbatubara. menyudut-menyudut tanggung. kalsilutit.

Tufa terlaskan : kelabu muda. kerakal. berbutir halus-sedang. setempat coklat lapuk. litik dan batuan gunungapi felsik. urat kuarsa setebal 1-2 cm. susunan dasit sampai riolit. sedikit felspar dan litik. Batupasir Haloq (Teh) Batupasir. sedikit konglomerat (sebagian di dasar) dan batulumpur. K-felspar. kebanyakan klastika pecahan fosil. Tufa : kelabu muda. Selaras dibawah Formasi Batu Ayau. arenit kuarsa. rijang. setempat pecahan perlapisan vitroklastika. kaca. menjemari dengan Formasi Batu Kelau dan Formasi Haloq. sedikit bergulung. aglomerat. mengandung beragam jumlah kuarasa. padat dan keras. masa dasar lumpur karbonat atau kalsit berkristal halus. kalkarenit sampai kalsilutit. Eosen Tengah Batuan Gunungapi Nyaan (Ten) Batuan tufa. pecahan membulat tanggung. albit dan biotit dan pecahan batuapung. lava dan batuan epiklastika halus. terpecahkan. epiklastika. membulat tanggung-membulat. terpilah sedang sampai baik. Batugampiang : kelabu tua. struktur aliran. pejal. berangkal dan bongkah sampai 20 m dalam masa dasar lempung (kaolin) yang sebagian berkarat besi dan pecahan silikaan. tidak selaras di atas Kelompok Selangkai dan Kelompok Embaluh. perairan bahan karbonan dan oksida besi.5 sampai 2 cm) sampai sedikit berangkal pecahan kuarsa. sedikit batugamping dan batubara. breksi lava. Batupasir : kelabu muda. Batupasir Haloq dan Formasi Batu Kelau (Teh + Tek) Litologi batupasir Haloq dan formasi Batu Kelau tak terpisahkan. perlapisan silangsiur sekala sedang sampai besar. perairan sejajar. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -9 .(Persero) CABANG I MALANG terpilah baik. afanitik-porfir. perlapisan silangsiur bergelembur. kristal-litik dan tufa lapili dan breksi tufa. lava. terpilah sedang sampai buruk. silikaan. perlapisan silangsiur. menyudut tanggung sampai membulat. Aglomerat : kelabu muda. Konglomerat : kelabu muda. arenit kuarsa. klastika pecahan kuarsa. didukung klastika. kerakal (kebanyakan 0. berbutir halus sampai kasar. tufa terlaskan. dipisahkan dari Komplek Busang oleh sesar detachment 6. berlapis cukup tebal sampi tebal. hipohialin. sferulitik. tufa felsik. perairan karbonan. klastika. kristal-kaca.

batuan gunungapi menengah sampai mafik. kuarsit. litik. lempung. pencelahan dan belahan menyabak sejajar atau membentuk sudut kecil dengan perlapisan. Lava : kelabu muda. amfibol. pirit kebanyakan autigenik dan pasca deformasi. oksaida besi. khlorit. setempat kehijauan. breksi. coklat lapuk. kebanyakan menyudut tanggung sampai membulat tanggung. 7. mineral tambahan termasuk rombakan piroksin. batupasir halus dan batulanau. lapisan sangat tipis sampai ratusan meter tebalnya. lapisan sangat tipis sampai tebal 10 m. kalsit dan mineral lempung dalam masadasar. perairan sejajar internal (batulempung-batulanau) umum dijumpai. 8. epidot dan zirkon. perlapisan atau perairan silangsiur dan jejak erosi. perlapisan berangsur tersebar luas. klastika. oksida besi. tikas beban. keadaan sentuhan dengan Kelompok Embaluh tidak diketahui. sangat halus sampai seperti pasir terutama berbutir halus sampai sedang. Psamit : kelabu muda sampai tua. nahan karbonan. batupasir felspatik. khlorit. nendatan. bahan karbonan.(Persero) CABANG I MALANG berubah ke epidot dan khlorit. karbonat. perlapisan dan perairan sejajar dan setempat perlapisan dan perairan bergulung. setempat urat kuarsa dan sedikit urat kalsit. karbonat (termasuk pecahan fosilmikro) dan oksida besi. Kapur Akhir Granit Era (Kue) Granit. tersusun dari pecahan kuarsa dan sedikit rijang. Batuan epiklastika : konglomerat volkanoklastika. porfiritik dengan fenokris K-felspar. serisit. perairan. kuarsa. biotit. Batupasir kerakalan : terdapat dalam lapisan tipis sampai tebal sekali yang tidak menerus. breksi intraformasi. dapat dikorelasikan dengan Granit Era yang umurnya ditentukan dengan isotop di Putussibau. kelabu kehijauan. pelit malih tersusun dari kuarsa. felspar terubah. serisit sekunder. dolerit dan diorit). Pelit : kelabu tua sampai hitam. batusabak dan sebagian batupasir. batulanau dan batupasir kerakalan termalihkan derajat sangat rendah. kuarsa mikrokristalin. plagioklas terubah dan sedikit K-felspar dan batuan (termasuk pelit “penecontemporaneous” dan psamit. Kapur Akhir – Eosen Tengah Kelompok Embaluh (Kte) Runtunan perselingan serpih. kuarsa dan biotit. kerakal menyudut tanggung dan membulat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -10 .

lapisan bergelombang tipis tebal 2 – 15 cm. berlapis baik sampai sedang. urat kalsit. perlipatan sevron. rijang. kelabu. rijang dan batuan gunungapi serta subgunungapi menengah sampai mafik terubah. alktonolit. arenit kuarsa dan arenit kuarsa gampingan yang mengandung sampai 20% klastika felspar dan atau litik.(Persero) CABANG I MALANG tanggung. berbutir sedang. setempat berbintil. 11. Kapur Awal Granit Alan (Kla) Terdiri Granit. Kapur Kelompok Selangkai (Kse) Batulumpur. umumnya agak terhablur ulang. perlapisan silangsiur. berbutir seragam Granodiorit : granodiorit biotit – hornblenda. dalam lapisan tidak menerus tebal sampai 2 m. coklat. 12. gelembur-gelombang. kuarsit. berbutir sedang. felspar dan pecahan batuan. Batuan argilitan : kelabu tua samapai coklat. 10. dalam lapisan tebal 20 cm sampai pejal. sedikit komglomerat. tetapi kebanyakan halus sampai sedang. sedikit batubara. spilit : kelabu tua sampai hijau. terubah ke albit. Batulempung : merah. terubah. batupasir. hijau. diorit dan korok Granit : granit biotit. perlapisan silangsiur. setempat kuarsit. oksida besi dan kuarsa. 9. kalkarenit fosilan sampai coklat. terbreksikan. batulanau. Basal. tercerminkan. granodiorit. Batugamping : kelabu muda sampai tua. Jura – Kapur Awal Komplek Mafik Danau (JKld) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -11 . batugamping. kuarsa. kalkarenit fosilan sampai kalsilutit. Jura – Kapur Awal Komplek Kapuas (Jklk) Terdiri basal. coklat. Diorit : diorit hornblenda. terpecahkan. batulempung. setempat berbintil. spilit. umumnya gampingan dan karbonan. epidot. Rijang : merah atau hijau muda. berbutir halus sampai kasar. Konglomerat : kerakal (1-3 cm) membundar tanggung sampai membundar terdiri dari kuarsa. setempat menyerpih Batupasir : kelabu muda sampai kelabu kecoklatan atau kehijauan. berbutir sedang. mineral lempung. khlorit. tergeruskan.

Granit : berbutir seragam sampai porfiroblastik dengan K-felspar putih atau merah jambu. setempat dengan pecahan tektonik batugamping kristal kelabu tua. Pliosen Formasi Kampung Baru (Tpkb) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -12 . 1992 Publikasi P3GI 1. pada sentuhan di bagian atas perdauanan. gabro. kebanyakan berbutir halus. Supriatna dan Adjat Sudradjat. terubah kuat (khlorit). umumnya termalihkan dan terdaunkan dan sekis serta kuarsit. 13. Plistosen Formasi Anap (Tpa) Terdiri dari batulumpur. rijang merah dan kelabu.(Persero) CABANG I MALANG Terdiri dari gabro. Kuarsit : kelabu muda. Perem – Trias Komplek Busang (PTRb) Granit. pejal. 3. Batuan Gunungapi Bundang (Tpbv) Terdiri dari lava dan breksi bersusunan andesit-basal. S. batuan gunungapi terubah. Holosen Aluvial (Qa) Terdiri dari kerikil sampai kerakal kuarsa dalam pasir kuarsa kasar. 2. Kapur Akhir – Tersier Awal Bancuh dan Formasi Terhancurkan Batuan Kelompok Embaluh tergeruskan secara semrawut. diorit. tersesarkan. mengandung biotit. berkemiringan landai diakibatkan oleh peggerusan dan milonitisasi. 14. endapan sungai. sedikit augit dan hipersten Sekis : kebanyakan disusun oleh mika dan kuarsa. setempat kayu terkersikkan dan sisipan batubara. Peta Geologi Lembar Muaratewe. b. gabro dan dolerit. sedikit batupasir dan batuan klastika gunungapi. tercerminkan. terbreksikan dan terlipatkan. dolerit. Gabro : mineral mafik yang menonjol adalah hornblenda yang mengganti dan melapisi piroksin. granodiorit. hitam kehijauan.

5. Formasi Montalat (Tomm) Terdiri dari batupasir kuarsa berbutir halus sampai sedang. breksi gunungapi dan aglomerat. mengandung sisipan batulempung karbonan. bersusunan basal sampai andesit. sebagian terkristalkan ulang. serpih dan batugamping. Formasi Balikpapan (Tmb) Terdiri dari batupasir kuarsa dan batulempung dengan sisipan batulanau. Formasi Purukcahu (Tomc) Terdiri dari batulempung berfosil. Miosen Tengah Formasi Warukin (Tmw) Terdiri dari batupasir kuarsa berbutir halus sampai sedang. tufa. lignit. sebagian berlapis. 6. bersisipan batulempung karbonan berwarna kelabu dan batulanau menyerpih berwarna kelabu tua. Miosen Akhir – Pliosen Batuan Gunungapi Metulang (Tmpm) Terdiri dari lava.(Persero) CABANG I MALANG Terdiri dari batupasir kuarsa dengan sisipan lempung. konglomerat aneka bahan. kelabu tua. setempat dasit berupa sumbat. batulanau. tufa. berbutir halus sampai sedang. mengandung foram besar dan koral. breksi lava. aglomerat. batulanau karbonan. Oligosen Akhir – Miosen Awal Formasi Berai (Tomb) Terdiri batugamping abu-abu dan putih. Oligosen Akhir – Plistosen Andesit dan Diorit (TQi) Terdiri dari andesit dan diorit. 7. kurang padat. 4. stok. rombakan batubara nitrinit dan muskovit. gambut dan oksida besi. breksi lahar. 8. berlapis tebal. Miosen Awal – Miosen Tengah Formasi Meragoh (Tmmv) Terdiri dari lava. mengandung lapisan tipis mineral karbonan. berselingan dengan batulanau mengandung lensa kecil dan lapisan tipis batubara vitrinit Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -13 . bersusunan basal sampai andesit. retas dan retas lempeng.

setempat struktur bantal dan kekar meniang. batulempung dengan sisipan batugamping. masa dasarnya berupa batupasir kasar mengandung fragmen batubara vitrinit. batulanau tufaan abu-abu kehijauan. abu-abu tua sangat kompak bersisipan tipis batulumpur. bersisipan breksi berfragmen andesit. sebagian termineralisasi. kaya akan foram besar. sedikit batupasir. batulanau abu-abu. batulumpur. mengandung glaukonit. jarang batugamping. bersisipan tipis batulempung dan batulanau. Anggota Batugamping Penuut (Toml) Terdiri dari batugamping putih dan kelabu. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -14 . breksi batugamping. Anggota Batugamping Jangkan (Tomj) Batugamping berfosil. terpecahkan dan termineralisasikan. dasit. berbutir sedang sampai kasar. napal dan batulanau. abu-abu tua. sedikit konglomerat dan batulumpur. kaya akan foram besar. Formasi Pamaluan (Tomp) Terdiri dari batupasir dengan sisipan batulempung. abu-abu tua sangat kompak bersisipan tipis batulumpur. breksi lahar. 10.(Persero) CABANG I MALANG dan batupasir berstruktur perairan sejajar dan konvolut. batupasir kuarsa berlapis baik. bersisipan batugamping berfosil. umumnya terubah. batulanau. kokuina dan basal terubah. bersisipan batugamping pasiran berfosil. serpih. sedikit batupasir. breksi batugamping. batulanau serpihan dan batulanau serpihan dan batulanau karbonan. berlapis baik. Formasi Batu Kelau (Tek) Terdiri dari serpih. Formasi Tuyu (Toty) Terdiri dari napal. Formasi Karamuan (Tomk) Terdiri dari batulumpur abu-abu sebagian gampingan dan berfosil. tufa dan sedikit riolit. genes dan batubara. Formasi Ujohbilang (Tou) Terdiri dari batulumpur. ganggang dan koral. 9. Eosen Akhir Formasi Batupasir Haloq (Teh) Terdiri dari batupasir kuarsa. Oligosen Awal Batuan Gunungapi Malasan (Tomv) Leleran andesit sampai basal.

11. 12. granodiorit. bersisipan batugamping dan konglomerat. Formasi Montalat (Tomm) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -15 . Miosen Formasi Warukin (Tmw) Terdiri dari batupasir kuarsa. 2. Sutrisno. Eosen Awal Formasi Tanjung (Tet) Terdiri dari perselingan batupasir kuarsa. diorit. 13. c. Perem – Trias Formasi Busang (PTRb) Terdiri dari granit. lignit dan limonit. sebagian besar pasir lepas bersisipan lempung. batulanau dan batubara. batulumpur konglomerat. Kapur Akhir Formasi Selangkai (Kse) Terdiri dari serpih.(Persero) CABANG I MALANG - Formasi Batu Ayau (Tea) Terdiri dari batupasir. batulempung dan batulanau. 1714. mengandung foraminifera besar bersisipan batulempung. 3.Supriatna. 4. kerakal dan bongkahan. 1981 Publikasi P3GI 1. lanau. umumnya karbonan dan gampingan. Miosen – Oligosen Formasi Berai (Tomb) Terdiri dari batugamping. umumnya termalihkan dan terdaunkan. Peta Geologi Regional Lembar Buntok. batulanau dan batubara. lempung. S. batulumpur. kerikil. batulanau. setempat mengandung kerakal kuarsa. bersisipan batulempung. umumnya karbonan. gabro. setempat konglomeratan. pasir. batugamping berfosil. Holosen Aluvium (Qa) Terdiri dari lumpur. Pliosen – Miosen Formasi Dahor (Tmpd) Terdiri dari batupasir kuarsa. jarang batubara. sekis. genes dan kuarsit. batuan beku bersifat granit dan batuan metasedimen. setempat sisipan batubara dan lignit. umumnya berlapis.

Holosen Aluvium (Qha) Terdiri dari kerikil. 4. d. betulempung kelabu dan batubara. 5. sil dan retas. 7.(Persero) CABANG I MALANG Terdiri dari batupasir kuarsa agak padat. Miosen Formasi Warukin (Tmw) Terdiri dari batupasir kuarsa berselingan dengan batulempung karbonan dan batubara. batulempung lunak. batulempung. kelabu muda. 2. N. Oligosen – Eosen Basal Kasale (Tkb) Terdiri dari basal. batupasir kerikil kurang padu. tersingkap berupa stok Batuan Tak Terperinci (Ksv) Merupakan kumpulan batuan beku bersusunan basa sampai sangat basa dan batuan sedimen endapan laut. Bagian bawahnya merupakan perselingan antara batupasir kuarsa yang mengandung muskovit dengan batulanau. Plistosen Formasi Martapura (Qpm) Terdiri dari pasir. pasir. lanau. Eosen Formasi Tanjung (Tet) Terdiri dari bagian atas merupakan perselingan antara batupasir. 6. Pliosen Formasi Dahor (QTd) Terdiri dari batupasir kuarsa lepas. lempung dan lumpur. bersisipan batugamping dan batubara. 3. 1981 Publikasi P3G 1.Sikumbang dan Heryanto. setempat lignit dan limonit. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -16 . Peta Geologi Regional Lembar Banjarmasin. kerakal dan sedikit lempung. tersingkap berupa stok. kelabu muda sampai kelabu tua. tekstur faneritik. batulanau dan konglomerat. kerikil. Kapur Granit (Kgr) Terdiri dari granit muskovit.

Formasi Pudak (Kok) Merupakan batugamping klastika. Formasi Pitap (Kpb) Terdiri dari batugamping orbitulina Formasi Pitanak (Kpl) Terdiri dari leleran lava dengan breksi konglomerat vulkanik Andesit (Kan) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -17 . 8.(Persero) CABANG I MALANG 5. Formasi Pudak (Kap) Terdiri dari lava dan berselingan dengan konglomerat / breksi volkanik klastik (hialoklastik) dan batupasir kotor volkaniklastik dengan olistolis batugamping. batulanau. Anggota Batukora. Kapur Akhir Formasi Manunggul (Km) Terdiri dari konglomerat beraneka bahan bersisipan dengan batupasir dan batulempung. Eosen Formasi Tanjung (Tet) Terdiri dari batupasir kuarsa. batulempung dan batubara setempat dijumpai lensa batugamping. Anggota Batununggal. Formasi Paniungan (Kpn) Terdiri dari batulanau. Olistolis Kintap. basal porfir ignimbrit. Formasi Manunggul (Kmp) Terdiri dari breksi dan leleran lava. Miosen – Oligosen Formasi Berai (Tomb) Terdiri dari batugamping dengan sisipan napal dan batulempung. 7. batulempung dan batupasir. Kapur Akhir – Kapur Awal Kelompok Alino Formasi Keramaian (Kak) Terdiri dari perselingan batupasir (vulkarenit) dengan batulanau atau batulempung setempat dijumpai sisipan batugamping konglomeratan. Formasi Pudak (Kab) Terdiri dari andesit piroksin dan vulkaniklastik. Anggota Paau. batumalihan dan mafik-ultramafik. Formasi Binuang (Tob) Terdiri dari batulempung 6.

selatan oleh Laut Jawa dan di udara oleh Tinggian Lintang Paternoster.Basal (Mba) .Diorit (Mdi) . Cekungan Barito dengan anak-anak cekungan asam-asam dipisahkan oleh Pegunungan Meratus dan dengan Anak Cekungan Pasir oleh Pegunungan Kukusan. menunjukkan bahwa penunjaman kearah selatan berhenti ketika benua dari arah utara sampai kearah lajur penunjaman dan akhirnya bertumbukan dengan benua sebelah selatan. 1080 Bujur Timur) sampai barat laut Kalimantan dan melanjut ke timur ke Kalimatan Tengah dan membelok kearah utara-timurlaut sampai ke bagian tengah Sabah.Batuan Ultramafik (Mu) Geologi • • • • • • • • Kalimantan dapat diperikan menjadi 8 (delapan) satuan tektonostratigrafi utama (Pieters dan Supriatna.Gabro (Mgb) . Timur oleh Tinggian P. 1989.(Persero) CABANG I MALANG - Granit (Mgr) Batuan Malihan (Mm) Kelompok Ofiolit . Hinz & Schluter. Kedua anak cekungan tersebut di sebelah barat dibatasi oleh Pegunungan Meratus. Di Kalimantan tengah dan barat. Tinggian Lintang Paternoster Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -18 . 1985). sutura ini sama dengan jalur Serabang dan jalur Lupar. 1990) : Batuan alas benua Ofiolit dan batuan sedimen yang berkaitan Busur magmatik yang bersamaan dengan tektonik Cekungan busur muka Cekungan turbidit Cekungan-cekungan daratan Cekungan-cekungan peripheral Batuan terobosan tektonik akhir dan vulkanik regional satuan tektonostratigrafi ini menunjukkan suatu Penyebaran pertemuan (sutura) tektonik lempeng melintasi Borneo yang mengikuti singkapan komplek ofiolit dan bancuh tektonik. Sutura ini berarah tenggara dari Pulau Natuna (40 Lintang Utara. yang terbentuk akibat penutupan cekungan samudra (Hutchison. Laut.Diabas (Mdb) .

bagian timur relatif naik dari bagian barat. Stuktur geologi yang terbentuk perlipatan pada batuan Pra-Tersier tampaknya lebih kuat dengan sudut kemiringan sekitar 400 dan 700 dan yang terkecil 250 Sumbu antiklin dan sinklin umumnya berarah utara-selatan dengan bentuk tak setangkup dan setempat setangkup. Potensi air tanah sedang sampai tinggi (> 10 liter/detik) dengan kualitas cukup baik. Sesar naik berarah timurlaut-baratdaya searah dengan sumbu lipatan. sudut kemiringan sekitar 450 kearah barat. terjadi kegiatan magma. Pada formasi ini akan terbentuk suatu paparan yang menyebabkan suatu cekungan yang terdapat di Kalimantan Tengah dan Selatan yang termasuk dalam wilayah studi ini. Kegiatan tektonik daerah ini diduga telah berlangsung sejak zaman Jura yang menyebabkan bercampurnya batuan ultramafik.3. air tanah dangkal potensinya sangat besar dan khususnya pada wilayah fisiografi dataran rendah tepi pantai airnya payau atau asin. Lokasi yang diusulkan dalam 1) program perbaikan sumur yang telah ada dan sumur bor baru. Pada Kenozoikum sampai Mesozoikum menjadikan cekungan ini terbentuk suatu paparan. Kadar Fe dan pH di luar ambang batas baku mutu air minum yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan. umurnya diduga setelah Miosen. batuan bancuh. sesar ini memunculkan batuan bancuh. hal ini didasarkan kepada umur granit yang terdapat di Lembar Amuntai yang berumur 115 juta tahun.(Persero) CABANG I MALANG disebut juga Tinggian Lintang Barito Kutai atau Adang Flexture atau Sesar Adang yang memisahkan kedua anak cekungan tersebut dari Cekungan Kutai. 2) program pengembangan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -19 . Sesar turun berarah hampir utara-selatan. Magma ini menerobos batuan yang dihasilkan pada zaman Jura. Batuanbatuan tersebut merupakan alas dari Formasi Pitap. batuan malihan dan rijang radiolaria. 2. Sesar naik yang lebih muda mengakibatkan tersesarkannya Formasi Pitap keatas Formasi Pamaluan. sehingga batuan tua tersesarkan ke atas Formasi Pitap.2 Kondisi Hidrogeologi Sumberdaya air tanah terdiri atas air tanah dangkal dan air tanah dalam. adalah sebagai berikut. Berdasarkan fisiografi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan menunjukkan pengaruh yang cukup besar terhadap pembentukan cekungan di Kalimantan Tengah. Pada zaman Kapur Awal atau mungkin lebih tua. Sesar ini diduga terjadi pada kapur atas.

3 Lokasi Sumur Bor Yang Memerlukan Perbaikan NO (1) 1 TA (2) 1996 / 1997 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 2 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 3 1999 / 2000 1999 / 2000 1999 / 2000 1999 / 2000 1999 / 2000 4 5 2001 2002 2002 2002 6 2003 2003 2003 2003 2003 L O K A S I DESA (3) Dadahup A-4 dan C-3 Unit Maliku Kiri (P.20 1.20 1.80 2. Km.75 1.75 1.75 175 174 176 175 175 200 200 250 250 250 250 250 250 250 250 250 250 249 250 250 250 250 Payau Tawar Digunakan Tawar Tawar Tawar Payau Tawar Tawar Tawar Payau Tawar Payau Payau Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Payau Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Perlu Perbaikan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan KWALITAS AIR (8) Payau Payau Payau Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Payau Payau Pengg Ms KEMARAU (9) Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan KET (10) 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1Titik 1 Titik 1Titik 1 Titik 1Titik 1Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -20 .20 1.00 3.V) Unit Maliku Kanan (P.00 1.10 1.95 1.80 1.VI) Unit Desa Pangkoh Samuda Pelangsian Karang Tunggal Mekar Jaya Karang Sari Pangkalan Tiga Kumpai Batu Bawah Sei Rangit Trans.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. 38 Sumber Makmur Katingan I Respen pelangsian Sumber Makmur Meranti jaya / Bunut Subur Indah Jaya Makmur Bangun Jaya Kampung Baru Setia Mulia Singam Raya Dadahup A-1 dan A-2 Lamunti A-2 Bapanggang Pelangsian I Lamunti B-2 dan A-1 Dadahup G-1 Muka Istana Gubernur Lupak Dalam Warna Sari Samuda Luwuk Bunter Kartika Bhakti Kuala Pembuang I Tumbang Koling Kumpai Batu Atas Pasir Panjang Marga Mulya Palangka Raya Kapuas Kuala Kapuas Kuala Mentaya Baru Cempaga Seruyan Arut Selatan Arut Selatan Kumai KEC (4) Kapuas Murung Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Mentaya Baru Ketapang perengean perengean perengean Kumai Arut Selatan Arut Selatan Bukit Batu Bukit Batu Katingan Kuala Mantawa Baru Bagendang Bagendang Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Kapuas Murung Mantangai Mentawa Baru / ketapang Kapuas Murung KAB / KOTA (5) Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kobar Kobar Kobar Palangka Raya Palangka Raya Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kapuas Kapuas Kotim Kotim Kapuas Kapuas Palangka Raya Kapuas Kapuas Kotawaringin Timur Kotawaringin Timur Seruyan Seruyan Katingan Kotawaringin Barat Kotawaringin Barat Kotawaringin Barat Q pompa ( Lt / Det ) (6) 1.75 1.85 2.50 1.90 3.56 2.00 1.82 2.00 2.50 1.75 1.70 2.60 1.45 2.15 1.60 1.00 2.60 2.78 1.62 Dlm smr (m) (7) 150 150 150 150 175 175 175 175 176 174 174 150 150 1.82 0.60 2.10 0.75 2.50 2.50 2.80 1.50 1.50 1.50 2.70 3.00 2.60 1.85 2.60 2.

untuk peternakan.00 1.VI) Unit Balanti I (P.00 1.1 Hubungan Rencana Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas dengan Strategi Pembangunan Provinsi Kalimantan Tengah Visi. • Mewujudkan kehutanan pertanian.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.50 1.85 0.80 1. pengembangan berorientasi agroindustri dan ketahanan pangan secara berkelanjutan. agribisnis perikanan. • Meningkatkan akselerasi perkembangan koperasi dan UKM serta dunia usaha yang saling terkait antar usaha dan antar daerah. • Mempercepat kuantitas dan kualitas penenman modal dalam rangka peningkatan agglomerasi ekonomi dan daya saing daerah.4. yang perkebunan.IV) Unit Balanti II (P. khususnya Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -21 .00 0.4 Lokasi Sumur Bor Yang Belum Dimanfaatkan NO 1 TA 1993 / 1994 1993 / 1994 1993 / 1994 2 1994 / 1995 1994 / 1995 1994 / 1995 3 1995 / 1996 1995 / 1996 1995 / 1996 4 1996 / 1997 1996 / 1997 1996 / 1997 1999 / 2000 L O K A S I DESA Paduran I Paduran II Paduran III Tamban Lupak A3 Tamban Lupak A4 Tamban Lupak A7 Talio (Pangkoh I) Pangkoh (Pangkoh II) Kantan (Pangkoh III) Unit Tahai (P.00 2. Misi dan Strategi Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah (2006 – 2025) (1) Visi Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah ” Kalimantan Tengah Yang Maju.75 1.50 0.70 2.4 KEBIJAKAN DAERAH 2.90 0.80 DALAM SUMUR (M) KWALITAS AIR PENGGUNAAN PADA MUSIM KEMARAU Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan KET 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 4 Titik 2.VII) Katingan II Kapuas Kuala Kapuas Kuala Kapuas Kuala Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Katingan Kuala KEC KAB / KOTA Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kotim DEBIT POMPA ( Lt / Det ) 2. Mandiri Dan Adil ” (2) Misi Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah Dalam rangka mewujudkan visi pembangunan daerah maka dirumuskan misi pembangunan Provinsi Kalimantan Tengah sebagai berikut : • Mempercepat kecukupan sarana dan prasarana umum secara integratif dan komprehensif dalam rangka peningkatan daya dukung terhadap pembangunan daerah.

dan inovatif serta memiliki daya saing yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat. • Mewujudkan fungsi sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang serasi dalam mendukung fungsi ekonomi. • Mewujudkan ketentraman dan ketertiban umum yang berbasis pada pemberdayaan modal sosial masyarakat serta meningkatkan rasa percaya dan harmonisasi pada kelompok masyarakat demi kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. • Membangun dan mengembangkan budaya pembelajaran yang mendidik secara merata dan adil pada semua jenis. jalur dan jenjang pendidikan untuk menciptakan masyarakat yang beriman. • Mewujudkan pemerintah yang bersih.(Persero) CABANG I MALANG yang berbasis potensi dan keunggulan daerah yang saling terkait antar usaha dan antar daerah. • Mengoptimalkan produktifitas pemanfaatan dan pengendalian ruang sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. • Mewujudkan kualitas ketenagakerjaan. cerdas. • Mewujudkan kemitraan yang sistematis antara pemerintah daerah dan masyarakat serta penguatan partisipasi kelompok-kelompok masyarakat bagi pencegahan masalah peningkatan dan peningkatan kemasyarakatan kependudukan kecepatan secara dan penanggulangan berkesinambungan. sosial dan budaya masyarakat secara berkesinambungan. kreatif. profesional dan responsif dalam rangka percepatan pembangunan daerah. Misi dan Strategi Jangka Menengah Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah (2006 – 2010) (1) Visi Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah ” Membuka Isolasi Menuju Kaliamantan Tengah yang Sejahtera dan Bermartabat ” sosial Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -22 . Visi. keluarga kecil berkualitas serta pemuda dan olahraga di seluruh wilayah Kalimantan Tengah. • Mewujudkan masyarakat berparadigma sehat untuk mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. bertakwa.

b. jembatan. kesehatan keluarga berencana d. pertanian. keadilan. dan peternakan perikanan/kelautan. pelabuhan udara. antar desa terisolir dan antar sentra-sentra produksi di sektor/sub kehutanan. kedamaian secara terencana dan terpadu. Infrastruktur Pembangunan dan pemeliharaan jalan. antar Kabupaten. Kesehatan dan Keluarga Berencana Peningkatan kemampuan pelayanan pendidikan. dan partisipasi yang berbasis multikultural. Hukum. perkebunan. Pemerintahan Peningkatan tanggungjawab daya tanggap pemerintah dalam perluasan dan peningkatan kualitas pelayanan publik kepada seluruh lapisan masyarakat di seluruh pelosok wilayah dalam kerangka menciptakan effective goverment. berkelanjutan serta mendorong investasi. Ekonomi Peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat yang berbasis sumberdaya lokal. antar Kecamatan. pertambangan. baik dari dalam maupun luar negeri.(Persero) CABANG I MALANG (2) Arah Kebijakan Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah Kebijakan Pembangunan Daerah Pemerintah Provinsi Kaliamantan Tengah selama periode 2006 – 2010 diprioritaskan pada bidang : a. secara berkesinambungan beserta sarana dan prasarananya. Keamanan dan Hak Asasi Manusia Penegakan supermasi hukum yang berkeadilan termasuk pertanahan dan pendayagunaan dan aparat keamanan masyarakat dalam serta menciptakan perlindungan ketentraman f. c. yang merata. terhadap Hak Asasi Manusia. good goverment dan bebas KKN. e. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -23 . Pendidikan. pelabuhan laut dan sungai baik antar provinsi. Politik Pembangunan kehidupan politik yang berkelanjutan dengan dasar toleransi.

Begitu pula dengan pelabuhan laut.(Persero) CABANG I MALANG g. sosial dan budaya masyarakat secara berkesinambungan serta mengoptimalkan produktivitas pemanfaatan dan pengendalian tata ruang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pramuka dan Keolahragaan Meningkatkan dan pemberdayaan peranan generasi muda dalam pembangunan. Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Pembangunan Kalimantan Tengah yang sangat strategis harus berwawasan lingkungan. Kepemudaan. k. ras maupun golongan dalam masyarakat Kalimantan Tengah yang majemuk dalam kerangka dan semangat serta sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia h. Seni Budaya dan Agama Memperkuat keterbukaan. l. Sumber Daya Alam. Telekomunikasi yang mana pelayanan telekomunikasi harus ditingkatkan untuk menjangkau daerah-daerah baik di Kabupaten/Kota maupun di Kecamatan-kecamatan. Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan Titik berat pembangunan masyarakat dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia Kalimantan Tengah yang handal dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -24 . profesionalme dan kualitas manajemen organisasi keolahragaan dalam mendukung pembangunan dan prestasi olahraga di Kalimantan Tengah. pelabuhan ferry dan pelabuhan sungai lainnya perlu distingkatkan fasilitasnya. baik yang berada di Kota Palangkaraya maupun Kabupaten-kabupaten lainnya. serta meningkatkan prestasi. toleransi kultural dan kerukunan antar agama. pembelajaran. menguatkan sarana dan prasarana kepramukaan seperti Bumi Perkemahan di masing-masing Kabupaten/Kota. Perhubungan dan Telekomunikasi Perhubungan yang dititik beratkan pada peningkatan fasilitas bandara udara. i. Mewujudkan fungsi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang serasi dalam mendukung fungsi ekonomi. suku. Kepariwisataan Terwujudnya daya saing pariwisata dengan peningkatan pengembangan pemasaran pariwisata j. partisipasi.

Pertambangan dan Energi (kelistrikan. ASPEK KAJIAN 1 Konservasi Sub aspek Pengelolaan Kualitas Air 2 Pengelolaan SDA SEKTOR /DINAS PELAKSANA Perkebunan. bidang eksekutif dan di masyarakat. Permukiman dan prasarana wilayah 3 Sub aspek Institusi Pengendalian Daya Rusak Semua sektor Air 2. Peternakan. Bappedalda Pertanian. No. pertanian tanaman pangan. Dana Perimbangan dan lain-lain Pendapatan Daerah yang sah Provinsi Kalimantan Tengah 2. Peningkatan efektifitas dan efisiensi Belanja Daerah untuk Pembangunan Daerah dan pelayanan publik. Pengarus utamaan gender diartikan bahwa peran serta perempuan disejajarkan dengan lakilaki diberbagai aspek bidang. Peternakan. Dalam kajian ini sektor yang terkait dengan rencana pengembangan dan pengelolaan sumber daya air adalah sektor perikanan. Optimalisasi Peningkatan Pendapatan Daerah. Permukiman dan prasarana wilayah) Pemantapan Pertanian. 3. Peningkatan patisipasi pemerintah kabupaten/kota pelaku bisnis lokal. (3) Kebijakan Keuangan Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah 1. Pertambangan dan Energi.4. Kehutanan Perikanan. nasional dan internasional serta masyarakat dalam pembiayaan pembangunan daerah Provinsi kalimantan Tengah. kehutanan. perkebunan. 4. Perkebunan. Perikanan. pertambangan dan energi. seperti di bidang legislatif.(Persero) CABANG I MALANG dapat bersaing di era globalisasi. Peningkatan pengelolaan Pembiayaan Daerah secara efektif dan efisiensi untuk penerimaan dan Pengeluaran Pembiayaan Daerah. dan peternakan.2 Hubungan Rencana Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas dengan Strategi Pembangunan Provinsi Kalimantan Selatan (1) Visi Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -25 .

sangat dibutuhkan untuk proses menuju masyarakat industri. berkeadilan dalam tatanan masyarakat yang demokratis dan berbudaya tinggi yang bernafaskan keagamaan. keberhasilan mewujudkan visi pada akhirnya sangat ditentukan oleh sumberdaya manusia dalam fungsinya sebagai perencana. yang mengandung arti pemberdayaan ekonomi rakyat. e/ Pengelolaan sumber daya alam (SDA). Di dalam Program pembangunan daerah (PROPEDA) Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2001 – 2005. dan informatika yang memerlukan modernisasi secara cepat dan terarah. butir B. tercermin dari pertumbuhan ekonomi wilayah yang pesat dan stabil. pelaksana. sangat dibutuhkan untuk terwujudnya pencapaian manfaat yang sebesar-besarnya dari sumberdaya alam dan sumberdaya buatan bagi kesejahteraan masyarakat dan peningkatan pembangunan di Kalimantan Selatan secara berkelanjutan dan lestari. serta ekonomi rumah tangga. disertai struktur yang berimbang. Program Prioritas. untuk meningkatan kesejahteraan rakyat yang merata. berisi sasaran pembangunan daerah sebagai berikut : a/ Peningkatan status ekonomi wilayah. teknologi. (2) Misi Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan. dalam lingkup usaha ekonomi masyarakat golongan ekonomi bawah dan menengah. c/ Pengembangan sosial budaya. transparan. dan dinamis diantara sektor-sektor ekonomi b/ Penguatan ketahanan ekonomi rakyat. Bab II mengenai Prioritas Pembangunan Daerah. pengendali dan pengawas pembangunan. d/ Peningkatan mutu sumber daya manusia. efisien. serta sebagai pengguna dan pemelihara hasil-hasil pembangunan.(Persero) CABANG I MALANG Mewujudkan Provinsi Kalimantan Selatan yang sejajar dengan daerah maju lainnya melalui pembangunan berkelanjutan yang adil. sumberdaya buatan (SDB) dan lingkungan hidup. tertera program strategis yang menjadi program prioritas pembangunan daerah Kalimantan Selatan Tahun 2001 – 2005 adalah : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -26 .

dan mampu bersaing. Pengembangan Infrastruktur yang menunjang pembangunan ekonomi dan sosial budaya. Misi Pembangunan Daerah Peningkatan Status Ekonomi Wilayah Peningkatan status ekonomi wilayah tercermin dari pertumbuhan ekonomi wilayah yang pesat dan stabil. Pembangunan Sumberdaya Manusia yang menguasai IPTEK dan mempunyai MITAQ.(Persero) CABANG I MALANG 1. Visi Pembangunan Daerah Mewujudkan Provinsi Kalimantan Selatan yang sejajar dengan daerah maju lainnya melaui pembangunan berkelanjutan yang adil. Penguatan Ketahanan Ekonomi Rakyat Penguatan ketahanan ekonomi rakyat mengandung arti pemberdayaan ekonomi rakyat. dalam lingkup usaha ekonomi masyarakat golongan ekonomi bawah dan menengah dan usaha ekonomi rumah tangga. b. transparan. dan informatika yang memerlukan modernisasi secara cepat dan terarah. sehat. pelaksana. kreatif. 4. Pengembangan Sosial Budaya Pengembangan sosial budaya sangat dibutuhkan untuk proses menuju masyarakat industri. Implementasi Otonomi Daerah untuk Memantapkan Pelaksanaan Undang-undang Otonomi Daerah dalam Upaya Mewujudkan Kemandirian Daerah. berkeadilan dalam tatanan masyarakat yang demokratis yang berbudaya tinggi yang bernafaskan keagamaan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -27 . 3. Peningkatan Mutu Sumberdaya Manusia Keberhasilan mewujudkan visi pada akhirnya sangat ditentukan oleh sumberdaya manusia dalam fungsinya sebagai perencana. 2. teknobio. a. Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan pengembangan ekonomi kerakyatan sehingga terbentuknya ketahanan ekonomi daerah dan meningkatnya pemerataan berusaha dan pemerataan pendapatan bagi masyarakat. disertai struktur yang berimbang dan dinamis diantara sektor-sektor ekonomi. efisien untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang merata.

Program-program bidang industri yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program pengembangan industri berbasis pertanian dan pertambangan. Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan pengembangan ekonomi kerakyatan sehingga terbentuknya ketahanan ekonomi daerah dan meningkatnya pemerataan berusaha dan pemerataan pendapatan bagi masyarakat. buatan dan lingkungan sangat dibutuhkan untuk menuju terwujudnya pencapaian manfaat yang sebesar-besarnyadari kesejahteraan sumberdaya dan alam dan buatan bagi di masyarakat peningkatan pembangunan Kalimantan Selatan secara berkelanjutan dan lestari. Pembangunan infrastruktur yang menunjang pembangunan ekonomi dan sosial budaya.(Persero) CABANG I MALANG pengendali dan pengawas pembangunan. Pengelolaan Sumberdaya Alam. Pembangunan Ekonomi Industri Pembangunan industri merupakan upaya untuk menciptakan struktur perekonomian daerah yang semakin berimbang antara sektor industri dan sektor pertanian. b. sehat kreatif dan mampu bersaing. serta sebagai pengguna dan pemelihara hasil-hasil pembangunan. Sumberdaya Buatan dan Lingkungan Hidup Pengelolaan sumberdaya alam. Peningkatan pelayanan publik guna memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk mengakses berbagai fasilitas umum dalam suasana yang transparan dan kondusif menuju terwujudnya pemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintahan yang bersih (clean governance). Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -28 . Prioritas Pembangunan Daerah Implementasi Otonomi Daerah untuk memantapkan pelaksanaan Undang-Undang Otonomi Daerah dalam upaya mewujudkan kemandirian daerah. Pembangunan sumberdaya manusia yang menguasai IPTEK dan mempunyai IMTAQ. a.

(Persero) CABANG I MALANG

Tanaman Pangan dan Holtikultura Pertanian merupakan penunjang pertumbuhan sektor ekonomi lainnya serta diharapkan dapat berperan dalam mendorong pemerataan, pertumbuhan, dan dinamika ekonomi daerah secara umum. Program-program bidang tanaman pangan dan holtikultura yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra agribisnis terpadu. Peternakan Pembangunan sub sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian dalam arti luas, serta merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Program-program bidang peternakan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra agribisnis terpadu. Perkebunan Potensi seluas lahan yang tersedia ha, untuk perkembangan perkebunan berdasarkan RTRWP Kalimantan Selatan Tahun 2000 meliputi areal 1.086.123,25 sementara penggunaannya(efektif pertanaman) baru sekitar 367.919,15 ha (33.87%). Program-program bidang perkebunan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra agribisnis terpadu. Kehutanan Pembangunan kehutanan diadakan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dengan menjaga kelestarian dan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -29

(Persero) CABANG I MALANG

kelangsungan fungsi hutannya. Disadari bahwa sub sektor kehutanan merupakan salah satu penyelamat perekonomian nasional, oleh karena itu bidang usaha kehutanan perlu semakin dikembangkan untuk mendukung pembangunan sektor industri dimasa yang akan datang. Program-program bidang kehutanan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan produksi kehutanan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan; Program reboisasi dan rehabilitasi lahan kritis; Program perlindungan hutan dan konservasi lahan.

Perikanan dan Kelautan Pembangunan perikanan dan kelautan di Indonesia termasuk di Kalimantan Selatan merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang mempunyai nilai strategis dan sangat prospektif. Hal ini mengingat kecenderungan semakin meningkatnya permintaan dunia usaha akan produk perikanan, sehingga peluang usaha dibidang perikanan dan kelautan sangat terbuka lebar. Program-program bidang perikanan dan kelautan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain : Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan aquabisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra aquabisnis terpadu. Pertambangan Pembangunan sektor pertambangan di Kalimantan Selatan diarahkan untuk memanfaatkan sumberdaya alam tambang secara maksimal dan optimal bagi pembangunan daerah dan kemakmuran masyarakat dengan tetap menjaga fungsi lingkungan hidup, meningkatkan penerimaan daerah/negara, serta memperluas kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Program-program bidang pertambangan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain:

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -30

(Persero) CABANG I MALANG

-

Program peningkatan produksi dan pengelolaan bahan tambang; Program penataan kawasan/area pengelolaan pertambangan; Program perencanaan, inventarisasi, pembinaan, pengendalian dan pengawasan sumberdaya tambang.

c. Pembangunan Daerah Pembangunan Derah Penataan Ruang dan Pengelolaan Pertanahan a) Program Penataan Ruang Program ini bertujuan untuk meningkatkan penyelenggaraan kegiatan perencanaan tata ruang yang efektif, transparan dan partisifatif; mengembangkan penyelenggaraan kegiatan pemanfaatan ruang yang tertib berdasarkan rencana tata ruang; meningkatkan pengendalian pemanfaatan ruang untuk menjamin efektifitas dan efisiensi kegiatan pembangunan secara berkelanjutan. b) Program Pengelolaan Pertanahan Program ini ditujukan untuk mewujudkan sistem penguasaan tanah yang adil dan terselenggaranya pelayanan administrasi pertanahan yang baik. Mempercepat Pengembangan Wilayah a) Program Pemantapan Sistem Wilayah Pembangunan Program ini ditujukan untuk menyeimbangkan dan menserasikan pembangunan antar wilayah pembangunan, sehingga ketiga Wilayah Pengembangan (WP), yaitu WP Kayu Tangi, WP Tanah Bumbu, dan WP Banua Lima dapat berkembang selaras dan serasi tanpa ketimpangan. b) Program Pemantapan Fungsi Kota Program ini ditujukan untuk menciptakan kesatuan ekonomi wilayah yang tangguh dengan mewujudkan pemerataan dan penjalaran perkembangan pembangunan antara kabupaten/kota. c) Program Pengembangan Perdesaan Program ini ditujukan untuk mengidentifikasikan kawasan perdesaan yang potensial dikembangkan, sehingga dapat meningkatkan peran dan fungsi pusat kawasan perdesaan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -31

(Persero) CABANG I MALANG

sebagai kawasan produksi untuk mendukung pengembangan agroindustri dan agribisnis. Mempercepat Pengembangan Kawasan Tertentu a) Program Pengembangan Kawasan Andalan Program ini ditujukan Daerah daerah untuk Provinsi melalui meningkatkan dalam kemampuan melaksanakan wilayah; Pemerintah pembangunan

pengembangan

menyiapkan rencana program pembangunan kawasan prioritas terpilih yang akan dikembangkan oleh masing-masing daerah; serta identifikasi program pengembangan kawasan yang akan menjadi tanggung jawab pemerintah dan dunia usaha dalam satu kesatuan paket pertumbuhan ekonomi wilayah. b) Program Program Pengelolaan ini ditujukan percepatan daerah dan Kawasan untuk Pengembangan meingkatkan Ekonomi dan agar Terpadu (KAPET) peran kemampuan Pemerintah Daerah dalam pembangunan KAPET; mendorong pembangunan pengelolaan regional; KAPET serta operasionalisasinya dapat berjalan sesuai dengan tuntutan menunjang berjalannya mekanisme pelaksanaan program pengembangan KAPET yang sesuai dengan arah dan tujuan pembangunan daerah dan nasional. c) Program Pengembangan Kawasan Sentra Produksi/Agribisnis (KSP/A) Program ini ditujukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah melalui pengembangan produk komoditasunggulan di kawasan sentra produksi; mewujudkan pemanfaatan sumberdaya pertanian secara optimal terutama penggunaan lahan yang ada dengan membentuk sentra-sentra pengembangan komoditas, guna mendapatkan efisiensi dan efektifitas yang diikuti alokasi sarana dan prasarana yang diperlukan; serta mengembangkan komoditas pangan dalam skala besar guna mendorong peningkatan sektor agoindustri dan agribisnis.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -32

(Persero) CABANG I MALANG

d) Program Pengelolaan Pembangunan Wilayah Terpadu (PPWT) Program ini ditujukan melalui upaya-upaya pembangunan yang diarahkan untuk pemerataan, keserasian dan percepatan pembangunan dengan mengembangkan potensi-potensi dan atau memecahkan masalah-masalah sosial budaya, ekonomi, fisik dan lingkungan hidup WKP (Wilayah Konsentrasi Pengembangan) melalui keterpaduan tujuan, sasaran lokasi, waktu, pembiayaan, kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan/pengendalian dan evaluasi dalam suatu siklus pengelolaan pembangunan dengan memberikan peran paling besar pada Pemerintah Daerah, lembaga sosial kemasyarakatan, dunia usaha, setempat. e) Program Pengembangan Kawasan Tertinggal Program ini ditujukan untuk mengidentifikasi permasalahan/faktor penyebab ketertinggalan kawasan yang meliputi letak geografis kawasan, sumberdaya alam, faktorfaktor yang kemasyarakatan, nantinya akan yang serta ketersediaan untuk sarana dan prasarana, dan menyediakan informasi kawasan tertinggal dipergunakan sesuai merumuskan dengan program/proyek kebutuhan koperasi dan masyarakat

memperlihatkan kapasitas sosial ekonomi masyarakat di kawasan tertinggal tersebut. f) Program Pengembangan Kawasan Banjarmasin Raya Program pengembangan kawasan Banjarmasin Raya adalah program pengembangan kawasan perkotaan yang meliputi Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar dan Kabupaten barito Kuala dimana dalam pembangunannya terintegrasi secara terpadu diantara keempat Pemerintah Daerah. Transmigrasi Program Pengembangan Kawasan Transmigrasi dan Mobilitas Penduduk Program Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -33

(Persero) CABANG I MALANG

d. Pembangunan Sumberdaya dan Lingkungan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Program Program Pengembangan ini ditujukan Informasi untuk Sumberdaya Alam dan mutu, Lingkungan Hidup meningkatkan jumlah, informasi dan data dasar sumberdaya alam dan lingkungan hidup, mengetahui daya dukung dan menjamin persediaan sumberdaya alam berkelanjutan di daerah. Program Peningkatan Efisiensi Pemanfaatan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Program ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Program Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Program Pengendalian Pencemaran dan Pemulihan Kualitas Lingkungan Hidup Program ini ditujukan untuk mengurangi kemerosotan mutu lingkungan hidup perairan, tanah, dan udara yang disebabkan oleh semakinmeningkatnya aktivitas pembangunan daerah. Program Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Sumberdaya Buatan (Sub Sektor Pengairan) Program Pengembangan dan Pengelolaan Pengairan Program ini bertujuan untuk menunjang tercapainya peningkatan ketahanan pangan daerah maupun nasional. Program Penyediaan dan Pengembangan Air Baku Untuk Masyarakat dan Industri Program ini bertujuan untuk menyediakan air baku dalam rangka memenuhi kebutuhan permukiman, perkotaan, industri dan non pertanian lainnya dengan meningkatkan efektivitas dan produktivitas pengelolaan jaringan pengairan serta meningkatkan penyediaan air untuk permukiman, perkotaan dan industri untuk memenuhi hajat hidup masyarakat baik di daerah perkotaan maupun perdesaan.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -34

(Persero) CABANG I MALANG

-

Program Pengendalian Banjir Program ini bertujuan untuk mempertahankan sarana/prasarana pengairan, pertanian, transportasi dan permukiman. Program Pengembangan dan Pengelolaan Sungai, Danau dan Sumberdaya Air Lainnya Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan dan produktivitas sumber-sumber air dengan mewujudkan keterpaduan pengelolaan yang menjamin kemampuan keterbaharuannya serta pengaturan kembali berbagai kelembagaan dan peraturan perundang-undangan.

-

Nasional

DEW AN SDA NASIONAL KEBIJAKAN NASIONAL SDA DEW AN SDA W S Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai W S Nasional Rencana Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai - Rencana Induk (Master Plan) W S - Feasibility Study - Program Perngelolaan SDA W S - Rencana Kegiatan (Action Plan) PSDA W S

-Departem en PU -SitJen SDA -Dit.Bina Program -Planning Unit Pusat

Provinsi DEW AN SDA PROVINSI -Kantor Gubernur -Dinas PSDA -Balai PSDA -Planning Unit Prov KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA PROVINSI DEW AN SDA W S

Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai

W S Provinsi

Rencana Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai - Rencana Induk (Master Plan) W S - Feasibility Study - Program Perngelolaan SDA W S - Rencana Kegiatan (Action Plan) PSDA W S

Kab/Kota

DEW AN SDA KAB / KOTA KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA KAB/KOTA DEW AN SDA W S Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai W S Kab/Kota Rencana Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai - Rencana Induk (Master Plan) W S - Feasibility Study - Program Perngelolaan SDA W S - Rencana Kegiatan (Action Plan) PSDA W S

-Kantor Bupati/W alokota -Dinas PSDA -Balai PSDA

Gambar 2.3

Struktur Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -35

(Persero) CABANG I MALANG

2.5

KONDISI TATA GUNA LAHAN

2.5.1 Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah Perda Provinsi Kalimantan Tengah No. 8 Tahun 2003 1. Kawasan Lindung Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Pada Kawasan Bawahnya a) Kawasan Hutan Lindung tersebar di Kabupaten Murung Raya, Barito Utara, dan Kapuas. b) Kawasan Hutan Lindung Gambut tersebar di Kabupaten Kapuas dan Barito Selatan. c) Kawasan Resapan Air, tersebar di semua kabupaten. Kawasan Perlindungan Setempat a) Kawasan Sempadan Pantai yang meliputi daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai yaitu 100-200 meter dari titik pasang tertinggi kea rah darat dan 400 meter untuk pantai berhutan bakau. b) Kawasan Sempadan Sungai yang meliputi kawasan selebar 100 meter di kiri kanan, 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada diluar permukiman, 10-15 meter di kiri kanan saluran kanal (anjir) serta saluran irigasi untuk dibangun jalan inspeksi. c) Kawasan sekitar danau/waduk meliputi daratan sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan fisik fisik danau/waduk antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. d) Kawasan Sekitar Mata Air yang meliputi kawasan sekurangkurangnya dengan jari-jari 200 meter di sekitar mata air. e) Kawasan Sekitar Riam meliputi daerah riam dalam badan sungai dengan aliran air yang deras dan berbatu. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya 1. Cagar Alam Pararawen I dan Pararawen II terletak di Kabupaten Barito Utara. 2. Cagar Alam Bukit Sapat Hawung di Kabupaten Murung Raya.

a) Kawasan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -36

(Persero) CABANG I MALANG

3. Cagar Alam Air Terjun Molau Besar di Kabupaten Barito Utara. 4. Cagar Alam Bukit Bakatip di Kabupaten Murung Raya. b) Taman Nasional dan Taman Wisata Alam 1. Taman Wisata Air Terjun Poran di Kabupaten Barito Utara. 2. Taman Wisata Liang Saragih di Kabupaten Barito Timur. 2. Kawasan Budidaya Kawasan Hutan Produksi a) Kawasan Hutan Produksi Terbatas terletak menyebar di seluruh kabupaten. b) Kawasan Hutan Produksi Tetap terletak menyebar di seluruh kabupaten. Kawasan Pertanian a) Kawasan Pertanian Lahan Basah tersebar di seluruh kabupaten. b) Kawasan Pertanian Lahan Kering tersebar di seluruh kabupaten. c) Kawasan Pertambakan terletak di Kabupaten Kapuas. Kawasan Pertambangan a) Pertambangan Emas terletak di seluruh kabupaten. b) Pertambangan Batubara terletak di seluruh kabupaten. c) Pertambangan Granit terletak di seluruh kabupaten. d) Pertambangan Pasir terletak di seluruh kabupaten. e) Pertambangan Batu Permata terletak di seluruh kabupaten. f) Pertambangan Minyak Bumi yang terletak di Kabupaten Barito Selatan, Kabupaten Barito Timur, Kabupaten Barito Utara, dan Kabupaten Kapuas. Kawasan Industri diprioritaskan pengembangannya pada Kota Puruk Cahu, Muara Teweh, Buntok, Tamiyang Layang, dan Kuala Kapuas. Kawasan Pariwisata mencakup kawasan yang memiliki potensi besar untuk keperluan pariwisata di semua kabupaten. Kawasan Permukiman tersebar merata di seluruh kabupaten.

Tabel rekapitulasinya adalah sebagai berikut.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -37

Kuala Kurun. Sistem Pusat-Pusat Permukiman Orde I Orde II Hirarki Kota-Kota : : Kota Palangkaraya. Areal Transmigrasi (T1) 7.527 8. Kawasan Khusus JUMLAH II JUMLAH I + II 3.585.63 514.2 0.16 6.64 24.2 6.927 1. Pelantaran.033 15.933 76. Suaka Margasatwa (SK ada) 6. Taman Nasional (SK ada) 2.222. Bawan.008 0. Hutan Produksi Tetap (HPP) 3. Kandui. Taman Wisata (SK ada) 5.299 PERSENTASE (%) 3.266 3. Tumbang Jutuh.2 408. Bahaur. Lampeong.32 84 100 Kawasan Lindung 1.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Kasongan. Tumbang Samba.2 1. Kota Pangkalan Bun Kota Buntok. Tamiyang Layang dan Pegatan Orde III : Kota Kotawaringin Lama. Cagar Budaya 9.164 16 21 22. Palingkau.894.435 35. Kota Sampit.58 0.789 2.3 3. Hutan Pendidikan dan Penelitian 9.06 0. Arboretum dan Tahura (SK ada) 7.608.167 113. Kota Kuala Kapuas. Sukamara.04 0.576. Pangkut. Kudangan. Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) 5. Puruk Cahu. Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA) 10.202.008 2.6 10. Danau JUMLAH I II Kawasan Budidaya 1. Hutan Produksi Terbatas (HPT) 2.392 281. Samuda. Konservasi di Eks Kawasan PLG 8. Provinsi Kalimantan Tengah NO I PEMANFAATAN LAHAN LUAS ALOKASI (HA) 525.261 1. Rencana Areal Transmigrasi (T2) 8. Dadahup - Kebijaksanaan Pengembangan a) Pengembangan Kota Orde I Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -38 .798. Hutan Lindung 4.5 Rencana Penggunaan Lahan Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya. Hutan Tanaman Industri (HTI) 4.48 0. Ampah.11 1. Timpah.53 678 606 10. Tumbang Sangai.029. Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lain (KPPL) 6. Muara Teweh. Pulang Pisau.67 2.260. Tumbang Senamang.460 3.7 0.071 13.477 416.96 3.8 0. Cagar Alam (SK ada) 3.

dan terbelakang. 3. Kudangan. Kota Pangkalan Bun berfungsi sebagai pusat pemerintahan kabupaten. 4. 4. serta Kecamatan Pandih Batu dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -39 . kota pelabuhan laut. Arahan Pengembangan Kawasan Prioritas Kawasan perdesaan terpencil. Kota Kuala Kapuas berfungsi sebagai pusat pemerintahan kabupaten. kota kebudayaan. Kehewanan dan Kawasan Sentra Industri. Perkebunan. Muara Teweh. c) Kota-kota kecamatan yang direncanakan untuk didorong pertumbuhannya dan perkembangannya menjadi kota Orde III adalah Kota Kotawaringin Lama. pusat perdagangan dan jasa. Tumbang Samba. kota pelabuhan laut. Kandui. kota industri. agropolitan. Ampah.(Persero) CABANG I MALANG 1. 2. Kota Sampit berfungsi sebagai pusat pemerintahan kabupaten. Timpah. terisolir. Sukamara. pusat perdagangan dan jasa. kota industri. a) KSP Kapuas. b) Pengembangan Kota Orde II yang mempunyai skala pelayanan subregional atau kota-kota yang terletak disepanjang jalan kolektor primer-1 (K-1) serta mempunyai potensi cepat tumbuh. Bahaur. kota industri. Puruk Cahu. Kota Palangka Raya berfungsi sebagai pusat pemerintahan Provinsi. Lampeong. Kuala Kurun. Tumbang Sangai. Kasongan. Pangkut. Samuda. Kawasan Sentra Produksi Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. Pulang Pisau. yaitu Kota Buntok. pusat pendidikan. pusat perdagangan dan jasa. Tumbang Jutuh. Kawasan perdesaan Kawasan di wilayah perbatasan dengan Kalimantan Barat. Pelantaran. Perikanan. Bawan. Tamiyang Layang dan Pegatan. Tumbang Senamang. Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Dadahup. pusat perdagangan dan jasa. Palingkau. meliputi Kecamatan Selat. dan Kapuas Kuala (Kabupaten Kapuas). Basarang. kota pelabuhan.

yaitu dengan perincian Kota Palangkaraya (2 kecamatan). meliputi Kecamatan Teweh Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi kedelai. rambutan. lada dan ayam buras. kelapa dan ubi kayu. meliputi Kecamatan Murung yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan pisang. d) KSP Buntok. nenas. Kabupaten Kapuas (10 kecamatan) dan Kabupaten Barito Selatan (4 kecamatan) dengan luas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -40 . ayam buras dan ikan kolam. sapi. meliputi Kecamatan Gunung Timang dan Montallat yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. e) KSP Kandui. b) KSP Ampah. meliputi Kecamatan Teweh Tengah dan Lahei yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. Kawasan Andalan Kuala Kapuas dan sekitarnya. Kawasan Andalan Buntok dan sekitarnya. f) KSP Tamiyang Layang. c) KSP Muara Teweh. jagung. kedelai. meliputi Kecamatan Dusun Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan kelapa. dan ikan perairan umum. Kabupaten Pulang Pisau (5 kecamatan). Secara administrasi KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito) mencakup 4 (empat) daerah tingkat II dan 21 (dua puluh satu) kecamatan. Kawasan KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito). Kawasan Sekitar Jalur Jalan Lintas Kalimantan. lada. dan ayam buras. kelapa. h) KSP Benangis. ayam buras. meliputi Kecamatan Dusun Selatan dan Gunung Bintang Awai yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. g) KSP Puruk Cahu. rambutan. Kawasan Andalan Muara Teweh dan sekitarnya.(Persero) CABANG I MALANG Kahayan Kuala (Kabupaten Pulang Pisau) yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. pisang. meliputi Kecamatan Dusun Tengah dan Pematang Karau yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. Kawasan KAPET DAS KAKAB . pisang.

maka pengembangan pertanian. dan kawasan konservasi. menurut RTRWP Kalimantan Tengah. Tanggal 14 Maret 1995. b) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas I.(Persero) CABANG I MALANG wilayah mencapai 2.071 1.300 ha atau sekitar 18% dari luas Kalimantan Tengah (153. Tingkat I Kalimantan Tengah Nomor 650/3654/IV/Bapp.016 6.065 1.099 1. d) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas III.956 2. khususnya Surat Gubernur KDH.6 Luas Kapet DAS KAKAP NO 1 2 KABUPATEN / KOTA Palangkaraya Pulang Pisau KECAMATAN Pahandut Bukit Batu Banama Tingang Kahayan Tengah Kahayan Hilir Pandih Batu Kahayan Kuala Timpah Mantangai Kapuas Barat Basarang Pulau Petak Selat Kapuas Hilir Kapuas Timur Kapuas Murung Kapuas Kuala Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan JUMLAH IBUKOTA KECAMATAN Palangkaraya Tangkiling Bawan Bukit Rawi Pulang Pisau Pangkoh Bahaur Timpah Mantangai Mandomai Anjir Basarang Sei Tatas Kuala Kapuas Barimba Anjir Serapat Palingkau Baru Lupak dalam Rantau Kujang Mangkatip Bangkuang Bunto LUAS WILAYAH (KM2) 1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -41 .650 km2). dan menurut analisa dampak lingkungan pada PLG 1 juta hektar.829 27. Mempertimbangkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.673 3 Kapuas 4 Barito Selatan KAPET – DAS KAKAB dibagi atas 4 (empat) kategori kawasan.329 629 785 1. Tabel 2. c) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas II. yaitu: a) Sentra Produksi (SP) saat sekarang.767. terutama komoditi unggulan hanya bias diarahkan pada sentra produksi pada saat sekarang dan PPSP I yang alokasinya diperuntukkan bagi KPP (Kawasan Pengembangan Produksi) dan KPPL (Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lain). PPSP II dan III umumnya berada di lokasi hutan produksi terbatas (HPT) dan hutan produksi tetap (HPP).128 480 206 135 394 91 202 491 427 708 2.683 949 4.

9 Tahun 2000 1. meliputi: 1. d) Kawasan sekitar mata air yang terletak menyebar di Kalimantan Selatan dan memiliki kawasan sekurang-kurangnya dengan jari-jari 200 meter di sekitar mata air. Tanah Laut dan Kotabaru yang lebarnya proporsional dengan bentuk kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi kearah daratan. HST. b) Kawasan sempadan sungai yang memiliki kawasan selebar 100 meter di kiri-kanan sungai-sungai besar dan didalam permukiman dapat membangun selebar jalan inspeksi. meliputi: 1. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya a) Cagar Alam. 2. dan HSU yang meliputi seluruh areal atau dataran sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi danau/waduk antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Tanah Laut. Cagar Alam Gunung Ketawan di Kabupaten HSS.2 Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan Perda Provinsi Kalimantan Selatan No. Kawasan Pesisir Berhutan Bakau di kabupaten Kotabaru. c) Kawasan sekitar danau/waduk yang terletak di Kabupaten Banjar.(Persero) CABANG I MALANG 2. Kawasan Perlindungan Setempat a) Kawasan sempadan pantai yang meliputi dataran sepanjang tepian pantai yang meliputi Kabupaten Barito Kuala.5. Cagar Alam Pulau Kaget yang terletak di Kabupaten Barito Kuala. Kawasan Lindung Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Pada Kawasan Bawahnya mencakup seluruh kawasan hutan lindung. meliputi: 1. c) Kawasan Pantai Berhutan Bakau. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -42 . dan Barito Kuala. HSS. b) Suaka Margasatwa. Suaka Margasatwa Pelaihari yang terletak di Kabupaten Tanah Laut. Sebagian besar kawasan hutan lindung di Provinsi Kalimantan Selatan berada di Pegunungan Meratus.

Tabalong. HST. dan Tanah Laut. meliputi: 1. HSS. Tapin. dan Tabalong. c) Kawasan Hutan Produksi Konversi yang terletak di Kabupaten Banjar. HSU. Tapin. HSU. HST. Kawasan Pantai Berhutan Bakau di Kabupaten Barito Kuala. d) Pengembangan Peternakan di Kabupaten Barito Kuala. 2. meliputi: 1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -43 . HSU. e) Taman Hutan Raya. d) Taman Wisata Alam. Banjarbaru. Tapin. Tanah Laut. Taman Wisata Alam Jaro di Kabupaten Tabalong. b) Kawasan Pertanian Lahan Kering terletak di Kabupaten Banjar. e) Pengembangan Perikanan terletak di Kabupaten Barito Kuala. Tapin. Tabalong. Banjar. yang terletak di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut. Tanah Laut. c) Kawasan Tanaman Tahunan/Perkebunan terletak di Kabupaten Barito Kuala. Tapin. HST. Banjar. Tapin. Kawasan Budidaya Kawasan Hutan Produksi a) Kawasan Hutan Produksi Terbatas yang terletak di Kabupaten Banjar. Tanah Laut. HST. HST. Tanah Laut. HST. Taman Wisata Alam Batakan di Kabupaten Tanah Laut. HSS. Tabalong. 2. dan Tanah Laut. dan Barito Kuala. Kawasan Pertanian a) Kawasan Pertanian Lahan Basah terletak di Kabupaten Barito Kuala.(Persero) CABANG I MALANG 2. Tanah Laut. HSU. HSS. Tabalong. HST. Tabalong. HSU. Tapin. HSU. Kawasan Pantai Berhutan Bakau di Kabupaten Tanah Laut. Taman Wisata Alam Pulau Kembang yang terletak di Kabupaten Barito Kuala. HSS. b) Kawasan Hutan Produksi Tetap yang terletak di Kabupaten Banjar. HSU. dan Tabalong. Banjar. 3. 3. dan Tanah Laut. HSS. HSU. Taman Hutan Raya Sultan Adam. HSS. Banjarbaru. HSS. Banjar.

c) Kawasan wisata Pantai Swarangan di Kabupaten Tanah Laut. HSS. - - Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -44 . 2. meliputi: 1. b) Pertambangan minyak bumi terletak di Kabupaten Tabalong. b) Zona Industri. Zona agro industri Murung Pundak di Kabupaten Tabalong. Kawasan industri Simpang Tiga Liang Anggang-Banjarbaru di Kota Banjarbaru. dan Tanah Laut. Kawasan Pariwisata a) Kawasan wisata Loksado di Kabupaten HSS. meliputi: 1. HSU. Kawasan industri Bati-Bati di Kabupaten Tanah Laut.(Persero) CABANG I MALANG - Kawasan Industri dan Zona Industri a) Kawasan Industri. c) Pertambangan gamping terletak di kabupaten HSS. - Kawasan Permukiman a) Kawasan permukiman perdesaan yaitu permukiman di luar perkotaan yang telah ada dan permukiman transmigrasi yang tersebar di setiap kabupaten. 3. kabupaten. 3. Zona industri logam di Negara Kabupaten HSS. b) Objek wisata Pasar Terapung dan Pulau Kaget di Kota Banjarmasin dan Barito Kuala. Kawasan industri pengolahan kayu Alalak di Kabupaten Barito Kuala. d) Pertambangan intan dan batu mulia dan lainnya terletak di Kabupaten Banjar. serta ibukota kecamatan. b) Kawasan permukiman perkotaan yaitu permukiman ibukota Provinsi. Kawasan Pertambangan a) Pertambangan batubara terletak di Kabupaten Banjar. Zona industri perabot kayu dan rotan di Kabupaten HSU. d) Kawasan wisata Pantai Batakan di Kabupaten Tanah Laut. dan Tapin. Tapin. HST. 2. Tabalong.

dan Kotabaru. Paringin. Pagatan. Pelaihari. Muara Uya. Alabio. Alalak. Mesjid dan Makam Sultan Suriansyah di Kuin Utara Banjarmasin. m) Objek wisata pendulangan intan di Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru. Tanjung Semalantakan. Batangalai Selatan. Kota Banjarbaru. Barabai. n) Objek wisata sejarah Candi Agung di Kabupaten HSU. Kandangan. g) Objek wisata Kerbau Rawa di Kabupaten HSS dan HSU. Batulicin. Gambut. k) Objek wisata relegius Pelampayan di Kabupaten Banjar. Binuang. f) Objek wisata Waduk Riam Kanan dan Taman Hutan Raya Sultan Adam di Kabupaten Banjar. dan Haruyan di Kabupaten HST. Pagat. Rantau. Tanjung. Pangeran Antasari dan Kubah Basirih di Kota Banjarmasin. h) Objek wisata Tanjungpuri di Kabupaten Tabalong. Sungai Danau. Kota Marabahan. Sungai Kupang. Danau Panggang. 3. p) Kawasan wisata Jembatan Barito di Kabupaten Barito Kuala. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -45 . Pengaron. Anjir Pasar. dan Amuntai. i) Objek wisata alam Upau dan Jaro di Kabupaten Tabalong. j) Objek wisata alam Hantakan. Jorong. Gunung Batu Besar. Pantai Hambawang. Margasari. Bati-Bati. Kintapura. Takisung. o) Objek wisata religius/sejarah. dan Manggalau. Kertak Hanyar. Penetapan Pusat-Pusat Permukiman Hierarki Kota-Kota Orde I Orde II Orde III : : : Kota Banjarmasin. Orde IV : Kota Kelua. Martapura. Orde V : Ibukota Kecamatan (IKK) selain kota-kota tersebut diatas.(Persero) CABANG I MALANG e) Kawasan wisata Pantai Takisung di Kabupaten Tanah Laut. l) Objek wisata relegius Makam Sultan Adam. Negara.

Bati-Bati. Martapura. ditetapkan pada kota-kota yang memiliki lokasi strategis. Tanjung. ditetapkan pada kota-kota yang memiliki kemampuan sosial/umum sebagai secara pusat lokal pelayanan terhadap jasa. perdagangan dan beberapa kota/wilayah dari: disekitarnya dalam lingkup terbatas. Kotabaru. ditetapkan pada kota yang secara administrasi memiliki kedudukan sebagai pusat utama pemerintahan. meliputi Kota Batulicin. Pusat permukiman ditetapkan pada seluruh orde kota. yaitu terdiri Pusat pelayanan komunikasi. Barabai. Negara. Rantau. Banjarbaru. Banjarbaru. Barabai. Kandangan. yaitu Kota Batulicin. Martapura. Amuntai. perdagangan dan sosial/umum terhadap wilayah belakangnya. Pelaihari. Rantau. Tanjung. yaitu Paringin dan Pagatan. Pusat administrasi pemerintahan. Margasari. Kotabaru. Negara. Banjarbaru. dan Marabahan. ditetapkan pada kota-kota yang memiliki kemampuan sebagai pusat pelayanan jasa. Amuntai. Kebijkasanaan Pengembangan Pengembangan kota-kota dilakukan sesuai dengan ordenya dan kondisi obyektif potensi perkembangan kotanya. Amuntai. a) Pengembangan Kota Orde I Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -46 . Kintapura. Pusat pelayanan lokal. Alabio. Pusat pelayanan wilayah belakang. Pelaihari. Paringin. Martapura. Marabahan. Manggalau. Margasari.(Persero) CABANG I MALANG - Fungsi Kota-Kota Penetapan fungsi suatu kota sesuai dengan hirarki kotanya. Banjarmasin. Pagatan. Marabahan. ditetapkan pada kota-kota yang/akan memiliki fasilitas dan prasarana yang memadai untuk berlangsungnya kegiatan industri serta akses terhadap bahan baku dan pemasaran produksi. Pantai Hambawang. Batulicin. Pusat industri manufaktur. Tanjung. yaitu Kota Banjarmasin. dan Muara Uya. dan Kintapura. Kotabaru. Kintapura. Kelua. yaitu seluruh kota orde IV dan dua kota orde III. Kandangan. yaitu Kota Banjarmasin. Kelua. Pagatan.

5. Penataan ruang kota melalui perencanaan.(Persero) CABANG I MALANG 1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -47 . 3. sarana dan prasarana perkotaan yang dibutuhkan untuk menunjang fungsi kota. Peningkatan kegiatan ekonomi serta sarana dan prasarana yang mempunyai kaitan erat dengan wilayah belakang. pemerintahan. permukiman dan industri polutif. pemanfaatan. Peningkatan fasilitas. b) Pengembangan Kota Orde II 1. 6. Peningkatan kegiatan ekonomi (jasa dan perdagangan) untuk menunjang perkembangan ekonomi regional Kalimantan Selatan. 4. Pengalihan sebagian dari fungsi kota yang sudah tidak efisien berlokasi di Banjarmasin. sarana dan prasarana Kota Kandangan yang akan memacu dan memantapkan fungsi pusat pelayanan Wilayah Pengembangan Benua Lima. Peningkatan kerjasama antar pemerintah dan swasta dalam pengadaan berbagai fasilitas. sarana dan prasarana kota untuk menerima penjalaran perkembangan dari Banjarmasin (atau sebaliknya). Peningkatan fasilitas. 3. 2. Peningkatan kerjasama antar pemerintah. 2. swasta dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan sarana dan prasarana kota serta peningkatan pendapatan asli daerah untuk pembiayaan pembangunan kota yang mandiri. terutama untuk Kota Kandangan dan Batulicin. Penertiban dan penanganan kegiatan-kegiatan yang mencemari lingkungan. 5. Peningkatan status Batulicin sebagai pusat Wilayah Pengembangan Tanah Bumbu. 6. dan pengendalian tata ruang. terutama di Sungai Barito dan pemeliharaan alur Sungai Barito agar dapat dilayari sepanjang tahun. seperti fungsi pendidikan tinggi. 4. Pemantapan keterkaitan Kota Banjarmasin dengan kota-kota di Provinsi lain dan peningkatan sarana dan prasarana sebagai kota pelayanan regional dan nasional. Pencegahan kerusakan lingkungan.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -48 . 4. sarana dan prasarana perkotaan. dan pengendalian tata ruang. Peningkatan kerjasama antar pemerintah dan swasta dalam pengadaan berbagai fasilitas. 2. 5. c) Pengembangan Kota Orde III 1. Penataan ruang kota melalui perencanaan. Penataan ruang kota melalui perencanaan. serta Pelaihari yang memiliki industri pengolahan tebu. Peningkatan aksesibilitas ke wilayah belakang serta ke kota-kota yang berorde lebih tinggi melalui pengembangan system perhubungan sungai maupun darat. pemanfaatan. Pengendalian lingkungan. Marabahan dan Tanjung. pemanfaatan. 3. pemanfaatan. Peningkatan kegiatan ekonomi dan aksesbilitas kota yang mempunyai kaitan erat dengan potensi wilayah belakang. dan pengendalian tata ruang. 4. pada tahap awal dikembangkan sebagai Kota Orde IV dan selanjutnya ditingkatkan sebagai Kota Orde III. d) Pengembangan Kota Orde IV dan V 1. 6. 2. dengan prioritas Kota Rantau. 3. terutama untuk Marabahn yang banyak memiliki industri pengolahan kayu. Peningkatan sarana dan prasarana kota sesuai dengan fungsi kota. Penataan ruang kota melalui perencanaan. Pengembangan Kota Manggalau sebagai alternative pusat pengembangan Wilayah Pengembangan Tanah Bumbu Utara. Peningkatan sarana dan prasarana perkotaan yang menunjang pertumbuhan industri manufaktur dan agar mampu berfungsi sebagai pusat pengembangan wilayah belakang. dan pengendalian tata ruang.(Persero) CABANG I MALANG 7. Peningkatan kegiatan ekonomi yang dapat menarik penduduk sehingga kota-kota tersebut dapat mencapai ukuran ekonomis dalam pembangunan sarana dan prasarana.

perikanan tambak dan ternak Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -49 . d) KSP HST-HSS meliputi Kecamatan Kandangan. Tanjung. yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. meliputi: a) KSP Tabalong-HSU meliputi Kecamatan Banua Lawas. d) Penataan wilayah wisata Loksado dan sekitarnya yang merupakan objek wisata alam dan budaya potensial. c) KSP Tanah Laut-Kotabaru meliputi Kecamatan Kintap. Barambai. Kusan Hilir. Wanaraya. Rantau Badauh. LianganggangBanjarbaru di Kota Banjarbaru. c) Penataan wilayah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Asam-Asam. Pandawan. e) Penataan rawa potensial.(Persero) CABANG I MALANG 4. Kawasan yang berperan menunjang sektor strategis. sapi. Muara Harus. b) Rehabilitasi kawasan lahan kritis yang tersebar baik di kawasan budidaya maupun kawasan lindung khususnya pegunungan Meratus. meliputi: a) Peningkatan fungsi catchment area Riam Kanan sebagai sumber air untuk berbagai keperluan. Sungai Tabuk dan Astambul. Satui. Lampihong. meliputi: a) Pengembangan kawasan industri Simpang Tiga. b) KSP Barito Kuala-Banjar meliputi Kecamatan Marabahan. Anjir Pasar. Labuan Amas Utara dan Labuan Amas Selatan yang Batulicin dan Sungai Loban yang merupakan kawasan pengembangan komoditi perikanan laut. Cerbon. Mandastana. Kelua. b) Pengembangan zona industri pengolahan kayu Barito Kuala. Batang Alai Utara. Banjang. Sungai Pandan. Pengembangan Kawasan Prioritas Kawasan Lindung dan Kritis. - Kawasan Sentra Produksi (KSP). dan konservasi. antara lain untuk pertanian. dan kedela. wisata. perikanan darat dan peternakan itik. jeruk. Babirik dan Danau Panggang yang merupakan kawasan pengembangan komoditi kedelai. Bakumpai.

meliputi: a) Kawasan Andalan Kandangan dan sekitarnya yang meliputi Wilayah Pengembangan Benua Lima terdiri dari Kabupaten HSU. dan Jorong yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. Pengaron. Tanta dan Benua Lawas. dan Batu Tangga. Tapin selatan dan Binuang yang merupakan kawasan pengembangan jeruk dan kacang tanah. b) Kabupaten Tanah Laut. Karang Intan. f) KSP HSS-Tapin 2 meliputi Kecamatan Loksado. meliputi : a) Kabupaten Banjar meliputi Kecamatan Kertak Hanyar dan Kecamatan Aluh-Aluh. b) Kawasan Andalan Banjarmasin dan sekitarnya meliputi Kota Banjarmasin. Kota Banjarbaru. dan Aranio yang merupakan kawasan pengembangan komoditi pisang. HSS. yaitu Kecamatn Kurau. dan kedelai. dan Candi Laras Selatan yang merupakan kawasan pengembangan kedelai. Panyipatan. e) KSP HSS-Tapin 1 meliputi Kecamatan Daha Utara. yaitu Kecamatan Piani. melinjo. e) Kabupaten HST meliputi Kecamatan Haruyan. Hantakan. yaitu kawasan yang karena kondisi geografis. dan ternak sapi. HST. kacang tanah. c) Kabupaten Tabalong meliputi Kecamatan Pugaan. Sungai Pandan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -50 . Muara Harus. jeruk. dan Kabupaten Tanah Laut. dan perikanan darat. Takisung. f) Kabupaten Tapin. Piani. Daha Selatan. Kawasan Andalan. Kawasan Tertinggal. Juai dan Halong. ekonomi dan social budayanya memiliki ketertinggalan dibandingkan dengan kawasan lainnya. d) Kabupaten HSU meliputi Kecamatan Babirik. Padang Batung. Tabalong dan Tapin.(Persero) CABANG I MALANG merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. Kabupaten Barito Kuala. Batu Ampar. g) KSP Banjar meliputi Kecamatan Simpang Empat. Sungai Pinang. Kabupaten Banjar. h) KSP Tanah Laut meliputi Kecamatan Pelaihari.

Tamban. h) Kabupaten Barito Kuala meliputi Kecamatan Alalak. tanggal 10 Desermber 1999. e. HSU Kawasan Sentra Produksi HST – HSS Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 1 Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 2 Kawasan Sentra Produksi Batola – Banjar Kawasan Sentra Produksi Banjar Kawasan Sentra Produksi Tala Kawasan Sentra Produksi Tala – Kotabaru Kawasan Sentra Produksi Kotabaru Sasaran yang dipertimbangan dalam penetapan ini adalah. Kawasan Sentra Produksi Pertanian Provinsi Kalimantan Selatan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan. c. h. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -51 . Tubanganen dan Kuripan. dan masyarakat dalam pembangunan agribisnis dan agroindustri. untuk mengembangkan pembangunan daerah dan meningkatkan pendapatan masyarakat di perdesaan.(Persero) CABANG I MALANG g) Kabupaten HSS meliputi Kecamatan Daha Selatan dan Daha Utara. telah menetapkan lokasi-lokasi KSP. f. g. Kawasan Sentra Produksi Tabalong. i. khususnya bagi penduduk yang mata pencahariannya terkait dengan sector pertanian pangan dan perikanan. 5. Kawasan ini diharapkan akan menjadi acuan bagi pemerintah daerah. tentang : “Penetapan Kawasan Sentra Produksi Pertanian di Provinsi Kalimantan”. d. b. swasta. sebagai berikut : a. melalui surat keputusan nomor : 0303/Tahun 1999.

HSU LOKASI KAB. perikanan laut. Kotabaru 10. Takisung. Bakumpai.167 28 30. Daha Selatan. Danau Panggang Kandangan Bt. S. Perikanan darat Peternakan (itik) LUAS LAHAN (Ha) AWAL POT.4 Jeruk.4 6 Banjar Banjar Banjar Pisang. kacang tanah 3.6 8 Tala – Kotabaru Tanah Laut. melinjo. Cerbon.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Tapin Selatan. padi sawah 139. Wanaraya. Batu licin P. ternak sapi Perikanan. Karang Intan. rambutan. Kelua Pugaan Lampihong. ternak sapi Rumput laut.6 55. perikanan laut 5.76 55. Barabai.2 63. Labuan Amas Utara.963 110. Batu Mandi. Loban.94 32.207 19. Kusan hilir.966 55. tambak. Amuntai Tengah. Piani. Muara Harus.9 7 Tala Tanah Laut 8.4 123.3 5 Batola – Banjar Barito Kuala 3. Aranio Pelaihari.3 65.675 55. Penyipatan. Labuan Amas Selatan Daha Utara.7 Lokasi dan Jenis KSP di Provinsi Kalimantan Selatan NO 1 NAMA KSP Tabalong. kacang tanah.2 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -52 . P. Tabalong HSU KECAMATAN Tanjung. Laut Barat JENIS KSP Kedelai. Anjir Pasar. Batu Ampar. Banjang. Jorong Kintap.1 118. Binuang Marabahan. Laut Selatan.76 9 Kotabaru Kotabaru 6 18 61. perikanan darat Jagung.792 86. Sungai Pinang. Babirik. KAWSN 1. Rantau Badauh. Pandawan.8 2 HST – HSS HST HSS Jagung.189 6.Alai Utara. Sei Pandan.2 3 4 HSS – Tapin 1 HSS – Tapin 2 HSS Tapin HSS Tapin Kedelai Jeruk. Pengaron.3 40. Astambul Simpang Empat. jeruk Kedelai 1. Candi Laras Selatan Laksado. Satui. Padang Batung. Mandastana Sungai Tabuk.

4 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS Peta Rencana Tata Ruang Provinsi Kalimantan Tengah II -53 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.

yaitu: Strategi pengembangan Tata Ruang Wilayah yang akan diimplementasikan disusun berdasarkan asumsi bahwa dalam 10 tahun yang akan datang fokus kebijakan pembangunan wilayah di Barito Selatan telah ditekankan pada upaya-upaya persiapan untuk meningkatkan nilai rate of return wilayah. penetapan kawasan lindung merupakan suatu bentuk perlindungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -54 . 1. sehingga secara bertahap daya saing produk-produk yang dihasilkan oleh Kabupaten Barito Selatan dapat berkompetisi pada pasar regional. Penetapan arahan penggunaan lahan yang efektif dan optimal berdasarkan reorientasi strategis penggunaan lahan yang telah terjadi dengan potensi pengembangan yang akan datang.5. juga ditujukan untuk mencegah berbagai kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kelestarian lingkungan baik pada kawasan lindung maupun sekitarnya. mempertajam araham penggunaan lahan komoditas unggulan dan arahan penggunaan lahan yang berwawasan lingkungan. Oleh karena itu. nasional dan internasional mengingat bahwa volume ekspor dari produk yang mempunyai nilai tambah sangat sedikit dan lebih terkonsentrasi pada usaha perkayuan. kompetitif dan berdampak luas pada ekonomi lokal (local multiplier). Proses transisi struktur ekonomi ini akan menuntut proses penguatan kelembagaan ekonomi dan sosial masyarakat dan pemerintah.(Persero) CABANG I MALANG 2.3 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Selatan Terdapat tiga pertimbangan mendasar dalam penyusunan strategi tata ruang wilayah Kabupaten Barito Selatan. kawasan budidaya investasi besar dan kawasan lindung). Strategi ini sangat penting karena telah terjadi kerusakan lahan yang relatif besar terutama pada Lahan Gambut satu juta hektar dan pada eksploitasi sumber daya hutan yang keduanya telah mempengaruhi keseimbangan sumber daya alam yang ada. berdasarkan perwilayahan kesesuaian lahan yang jelas (terutama penggunaan lahan kawasan budidaya rakyat. Kawasan Lindung Tujuan utama penetapan kawasan lindung dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Selatan adalah untuk melindungi sumber daya alam atau buatan yang ada didalamnya. Proses transisi struktur ekonomi akan dilakukan secara bertahap menuju struktur ekonomi yang berbasis pada sumber daya lokal yang renewable.

perkebunan. pariwisata dan kawasan lainnya. perindustrian. konservasi hidrologi Kawasan Perlindungan Setempat. Kawasan Budidaya Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas kondisi dan potensi sumber daya alam. sumber daya manusia dan sumber daya buatan. pertanian tanaman pangan. pertambangan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -55 . Konservasi flora dan fauna 3. konservasi air hitam 4. Kawasan budidaya mencakup kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan.(Persero) CABANG I MALANG yang didasari oleh pentingnya melestarikan dan meningkatkan kualitas lahan yang memang potensial untuk dibudidayakan. peternakan. Lahan Gambut tebal > 3 m 2. perikanan. yang termasuk kawasan lindung dalam wilayah Kabupaten Barito Selatan adalah sebagai berikut: Kawasan yang memberikan perlindungan bagi kawasan bawahnya. konservasi mangrove 5. Berdasarkan Keppres no 32 Tahun 1990 dan berdasarkan hasil kesesuaian lahan dan limitasi penggunaan lahan pada kawasan eks PLG. yaitu: Kawasan Hutan Lindung Kawasan Resapan Air Kawasan Konservasi 1. hutan produksi. yaitu: Kawasan sepadan pantai Kawasan sepadan sungai Kawasan sekitar danau Kawasan sekitar mata air Kawasan Perlindungan dan pelestarian Hutan (PPH) yang meliputi: PPH Dataran Tnggi PPH Peralihan PPH Galam PPH Hutan Rawa 2.

investasi swasta dan kebijakan sektoral dalam pola penggunaan lahan. maka klasifikasi rencana pemanfaatan ruang Wilayah Kabupaten barito selatan adalah: Budidaya kegiatan kehutanan 1. Lahan berkembang untuk pengelolaan sumber daya alam dapat diperbaharui yang sesuai dengan kesesuaian wilayah dan ikutannya dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Kawasan Hutan Produksi Tetap (HP) 2. yaitu: RTRW Provinsi Kalimantan Tengah sebagai acuan terhadap produk tata ruang yang lebih tinggi dengan tujuan untuk dapat lebih mensinergikan dan mengintegrasikan penentuan kawasan budidaya. Disini. pertanian. Oleh karena itu penetapan rencana pemanfaatan ruang kawasan budidaya Wilayah Kabupaten Barito Selatan ditetapkan dengan berbagai pertimbangan. perikanan. Kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) Kawasan budidaya yang diperuntukkan untuk kegiatan permukiman. Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) 3. serta mempunyai manfaat bagi masyarakat secara umum.(Persero) CABANG I MALANG Rencana penggunaan ruang untuk kawasan budidaya merupakan rencana untuk mencapai tujuan penataan ruang yang telah ditetapkan. perkebunan. bahan pertimbangan adalah potensi penggunaan ruang kawasan budidaya. Definisi dan Kriteria Penetapan Kawasan Budidaya. Pola penggunaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat yang terjadi pada sepanjang aliran sungai. Berdasarkan pertimbangan diatas. Dalam merumuskan rencana penggunaan ruang untuk kawasan budidaya dipertimbangkan beberapa hal sebagai berikut: Tujuan pengembangan tata ruang wilayah Konsep pengembangan tata ruang wilayah Strategi pengembangan tata ruang wilayah Karakteristik wilayah. pariwiasata yang lebih melihat kepada pola penggunaan lahan yang terjadi oleh masyarakat yaitu Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -56 . Keppres no 57 Tahun 1990 tentang Jenis. baik karakteristik eksternal maupun internal.

Dalam Rencana Penggunaan Ruang Kawasan Budidaya ini adalah adanya hak pengusahaan kawasan budidaya oleh rakyat yang memang telah berkembang dan memberikan suatu pola pemanfaatannya.(Persero) CABANG I MALANG pada sepanjang aliran sungai yang dinamakan Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lainnya (KPPL) yang didalamnya lebih diutamakan kepada lahan budidaya yang dilaksanakan oleh masyarakat. Oleh karena itu. Dalam kawasan ini masih terdapat hutan konservasi yang diperbolehkan mengkonversi lahan hutan menjadi kegiatan budidaya lainnya. pelayanan jasa pemerintahan. Kawasan budidaya yang diperuntukkan untuk kegiatan pertanian. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. Delinasi kawasan budidaya / rakyat-rakyat yang memang telah dipergunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat dalam jangka waktu yang lama di sepanjang aliran sungai. perkebunan dan peternakan yang lebih diarahkan sebagai kegiatan produksi yang berskala besar atau Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) Kawasan Transmigrasi. dalam rencana penggunaan dan pemanfaatan ruang kawasan budidaya ini menetapkan bahwa lahan budidaya rakyat (hak tanah ulayat rakyat) berada pada jarak 3 km arah kiri dan kanan sepanjang sungai di Kabupaten Barito Selatan. Deliniasi Wilayah Kabupaten Sebagai Kawasan Perdesaan Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utana pertanian. maka wilayah yang termasuk sebagai wwwilayah pengembangan kawasan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -57 . termasuk pengelolaan SDA dengan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan. yaitu kegiatan budidaya rakyat berada pada wilayah sepanjnag sungai di Kabupaten Barito Selatan. 3. strategi pengembangan kawasan produksi dan karakteristik fisik dan guna lahan. Berdasarkan pertimbangan rencana pengembangan ekonomi. yang tujuannya dipergunakan sebagai lahan cadangan untuk kegiatan permukiman. perikanan. Hal yang sangat penting dalam Yujuan Penataan Ruang Wilayah Kabupaten barito Selatan adalah meningkatnya peranan ekonomi dan pemanfaatan sumber daya alam yang dapat diperbarui untuk kemakmuran masyarakat dan mengarah kepada pengembangan agroindustri berbasis masyarakat.

peternakan besar dan kecil. konsep Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -58 . Pusat kolektor dan orientasi dari kawasan ini adalah Buntok. Kawasan III Terdiri dari pusat-pusat desa yang berada di sekitar Kecamatan Dusun Utara dan Gunung Bintang Awai. 4. Kegiatan yang dikembangkan dalam kawasan ini adalah perkebunan tanaman keras (karet). Dalam penetapan kawasan perkotaan ini telah mempertimbangkan rencana pengembangan ekonomi. Untuk itu maka dilakukan deliniasi terhadap wilayah Kabupaten Barito Selatan yang termasuk sebagai kawasan perkotaan.(Persero) CABANG I MALANG perdesaan adalah setiap pusat-pusat desa di Kabupaten Barito Selatan serta pusat-pusat kecamatan yang tidak termasuk kawasan perkotaan. buah-buahan. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. perikanan umum hutan produksi dan pariwisata. Kawasan ini diarahkan untuk pengembangan kegiatan pertanian tanaman pangan. Deliniasi Wilayah Kabupaten Sebagai Kawasan Perkotaan Kawsan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. Kawasan ini diarahkan untuk pengembangan kegiatan pertanian tanaman pangan. Kawasan II Terdiri dari pusat-pusat desa yang berada di sekitar Kecamatan Dusun hilir dan Jenamas. Wilayah-wilayah yang termasuk kawasan perdesaan ini difungsikan sebagai sentra-sentra produksi sesuai dengan rencana pengembangan ekonomi. perkebunan tanaman keras dan semusim dan pariwisata. perlu ditetapkan wialayah yang menjadi kawasan perkotaan guna mengoptimalkan pemanfaatan alahan yang ada. peternakan kecil dan besar. Secara umum kawasan perdesaan dibagi menjadi 3 kelompok kawasan: Kawasan I Terdiri dari pusat-pusat desa yang berada di sekitar Kecamatan Dusun Selatan dan Kuala Karau. perkebunan khususnya karet. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. strategi pengembangan kawasan produksi. Dalam pengembangan wilayah kabupaten Barito Selatan.

kepadatan bangunan yang relatif lebih tinggi daripada wilayah sekitarnya. jasa dan lain-lain. Merupakan pusat kegiatan ekonomi yang menghubungkan kegiatan pertanian wilayah sekitarnya dan tempat pemasaran atau prosesing bahan baku untuk kegiatan industri. Menurut Permendagri No. Secara fisik. Mempunyai lebih banyak bangunan fasilitas sosial ekonomi daripada wilayah sekitarnya. yang termasuk kawasan perkotaan mempunyai ciri-ciri: Tempat permukiman penduduk yang merupakan satu kesatuan dengan luas. 7 Tahun 1986. kriteria kawasan perkotaan dapat berupa ruang yang sudah menunjukkan sebagai kawasan perkotaan atau dapat berupa kawasan yang dicadangkan sebagai perluasan atau pengembangan kawasan perkotaan. Proporsi bangunan permanen lebih besar di tempat itu daripada di wilayah-wilayah sekitarnya. Kawasan tersebut saat ini dapat saja belum merupakan kawasan perkotaan akan tetapi dicadangkan/direncanakan sebagai kawasan perkotaan untuk kurun waktu yang akan datang. yang menjadi ciri kawasan perkotaan adalah: Mempunyai jumlah penduduk yang relatif lebih tinggi dari wilayah di sekitarnya. atau 10.000 orang di luar pulau-pulau tersebut. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -59 . Mempunyai proporsi jumlah penduduk yang bekerja di sektor-sektor non pertanian.000 orang di pulau Jawa. jumlah bangunan. yang dalam satu kesatuan areal terbangun berjumlah sekurang-kurangnya 20. seperti: pemerintahan. Madura dan Bali. perdaganagan.(Persero) CABANG I MALANG pengembangan ruang wilayah Kabupaten. karakteristik fisik dan guna lahan serta kriteria-kriteria yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah tentang penataan ruang kawasan perkotaan. industri. Mempunyai kepadatan penduduk yang relatif lebih tinggi dari wilayah sekitarnya. yang lebih tinggi dari wilayah di sekitarnya. Selain kriteria-kriteria yang telah disebutkan. Dari aspek sosial ekonomi. kriteria wilayah yang termasuk wilayah kota terbagi berdasarkan ciri-ciri secara fisik dan sosial-ekonomi.

ukuran dan fungsi kawasan lindung dan budidaya.5. Kawasan Lindung Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian kemampuan lingkungan hidup mencakup Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -60 .5 Peta Kawasan Lindung Kabupaten Barito Selatan 2. 1. letak.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.4 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Utara Rencana pola pemanfaatan ruang di Kabupaten Barito Utara meliputi batasbatas kawasan lindung dan kawasan budidaya.

pelestarian dan pengendalian pemanfaatan kawasan lindung. sumberdaya buatan guna kepentingan pembangunan pembangunan berkelanjutan. Mengamankan aliran sungai. maka Pemda Kabupaten Barito Utara perlu mengembalikan fungsi kawasan lindung yang saat ini sudah hilang/rusak menjadi fungsi awalnya. fauna dan tipe ekosistem serta keunikan alam Dalam kebijaksanaan pengelolaan kawasan lindung diperlukan pendekatan yang terintegrasi antara kepentingan pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal dengan pelestariannya. Sungai yang berada di kawasan permukiman (sempadan Sungai) lebih kurang 10-15 m (untuk jalan inspeksi. Melakukan pengendalian terhadap kegiatan yang telah ada di sepanjajng sungai agar tidak berkembang lebih jauh.(Persero) CABANG I MALANG sunberdaya alam. sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan fungsi sungai: Lebih kurang 100 m di kiri-kanan sungai besar dan 50 m di kiri-kanan anak sungai yang berada di luar kawasan permukiman. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -61 . air dan iklim. Kawasan Perlindungan Setempat Berdasarkan Keppres No 32 Tahun 1990. Untuk memantapkan fungsinya sebagai kawasan lindung. maka perlu dilakukan beberapa upaya antara lain: Mencegah dilakukannya kegiatan budidaya di sepanjang sungai yang dapat mengganggu atau merusak kualitas air sungai. Pengelolaan kawasan lindung adalah upaya penetapan. Mempertahankan keanekaragaman flora. Adapaun sasaran ditetapkannya kawasan lindung adalah untuk: Meningkatkan fungsi lindung terhadap tanah. Untuk mencegah timbulnya kerusakan fungsi lingkungan bawahannya. Pengelolaan kawasan lindung di Kabupaten Barito Utara secara umum ditujukan untuk mencegah kemungkinan timbulnya berbagai kerusakan fungsi lingkungan hidup dan permasalahan kelestariannya.

- Kawasan Pelestarian Alam Kabupaten Barito Utara memiliki potensi wisata alam dan sejarah yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah. Kawasan Rawan Banjir Kawasan Rawan Longsor Kawasan Rawan Erosi dan Longsor 2. Agar tercipta kawasan budidaya yang harmonis/ideal maka dalam pemanfaatan ruangnya diperlukan rencana dan arahan yang berdaya guna dan berhasil guna bagi hidup dan kehidupan manusia. gempa bumi dan tanah longsor. 837/KPTS/Um/11/1980. Kawasan htan lindung di Kabupaten Barito Utara seluas 90. kawasan rawan bencana adalah kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam. Adapun wisata alam/sejarah yang perlu mendapat pembinaan dan pengembangan adalah: Kawasan Suaka Alam Kawasan Cagar Budaya - Kawasan Rawan Bencana Berdasarkan Keppres No 32 Tahun 1990.(Persero) CABANG I MALANG - Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Kepada Kawasan Bawahannya Berdasarkan Keppres No 32 Tahun 1990 dan SK Menteri Pertanian No.95% dari luas total kabupaten. dengan kriteria daerah yang diidentifikasikan sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana alam seperti letusan gunung berapi. Kawasan Budidaya Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama utnuk kegiatan budidaya berdasarkan kondisi dan potensi sumberdaya alam.066 Ha atau 7. Rencana pemanfaatan ruang di Kabupaten Barito Utara mengarah kepada pola pemanfaatan hutan di bagian hulu dan tengah sub DAS anak Sungai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -62 . masyarakat maupun swasta. lahan-lahan yang memiliki kemiringan diatas 40% atau memiliki kemiringan 15-40% pada tanah-tanah yang sangat peka terhadap erosi diarahkan fungsinya sebagai kawasan hutan lindung. sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan.

Rencana lokasi kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan penegembangan hutan produksi di wilayah Kabupaten Barito Utara tersebar di seluruh wilayah Kabupaten seluas ± 557.00% 28. sedangkan kawasan permukiman perkotaan dan kawasan pengembangan produksi dikembangkan di bagian hilirnya. Kawasan Budidaya Hutan Kawasan budidaya hutan terdiri dari Hutan Produksi Terbatas (HPT). Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Kawasan Pengembangan Produksi (KPP).Pembudidayaan sumberdaya alam pada kawasan hutan produksi bersifat terbatas.700 Prosentase Dari luas kabupaten 20.536 Ha (49% dari luas wilayah) yang terdiri dari: Tabel 2.(Persero) CABANG I MALANG Barito.46% 4.109 50.8 Luasan Kawasan Budidaya Hutan di Kabupaten Barito Utara No 1 2 3 4 Jenis Hutan Produksi Terbatas (HPT) Hutan Produksi (HP) Hutan Tanaman Industri (HTI) Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) Luas (ha) 220.00% 11.00% - Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lainnya (KPPL) Kawasan Pertanian Kawasan Perkebunan Kawasan Peternakan dan Perikanan Kawasan Permukiman dan Transmigrasi Kawasan Industri Kawasan Pertambangan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -63 .967 311.245 119. Hutan Produksi (HP).

9 Alokasi Pemanfaatan Ruang di Kabupaten Barito Utara Tahun 20062007 No A Penggunaan Lahan Kawasan Lindung Hutan Lindung Cagar Alam B Kawasan Budidaya Hutan Produksi Terbatas Hutan Produksi Hutan Tanaman Industri Kawasan Pengembangan Produksi Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lain Areal Transmigrasi Industri Jumlah sumber: Hasil rencana tahun 2005 Keterangan : Floating zone tambang : 217.62 7.200 jiwa dan pada tahun 2015 direncanakan mengalami peningkatan menjadi 75.06 7.31 1.53 307.118 Ha Hutan dan non Hutan : 78.57 27.561.00 3.71 220.45 ha dengan daya tampung penduduk sebesar 56.336.966.95 0.72 311.947.897.46 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -64 .035.194.931.00 1.20 0.245.57 % 8.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.640.94 ha dengan daya tampung penduduk mencapai 72.00 ha untuk daya tampung penduduk sebesar 60.88 ha dengan daya tampung penduduk sebesar 80.09 100.050 jiwa.303.132.627.000. Adapun kebutuhan lahan permukiman perdesaan pada tahun 2011 direncanakan 70.48 24.13 2.108.54% Luas (ha) 97.45 % dan 21. Rencana Permukiman Perkotaan dan Perdesaaan Pengembangan Permukiman Perkotaan Pengembangan permukiman perkotaan dideliniasi berdasarkan pusat-pusat pelayanan dan fungsi pelayanannya.67 50.699.066.50 27. adapaun deliniasi luasan permukiman perkotaan pada tahun 2011 mencapai 22.86 90.38 19.750 jiwa.80 1.67 91.013.43 10.500 jiwa sedangkan pada tahun 2015 direncanakan seluas 25. Pengembangan Permukiman Perdesaan Rencana pengembangan permukiman perdesaan akan dikembangkan pada masing-masing desa/kelurahan yang terjangkau oleh skala pelayanan sistem pusat-pusat.00 119.

melalui perlindungan kawasan-kawasan di darat.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2. Mempertahankan luas kawasan lindung yang telah ada. udara secara saling serasi dan selaras. Program Pemanfaatan Pada Kawasan Lindung. laut.5 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Timur 1.6 Peta Rencana Pemanfaatan Ruang Kabupaten Barito Utara 2. • • Mempertahankan sempadan sungai. Program pemanfaatan kawasan lindung pada jangka panjang di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • • • Pengembangan SDM (sumber daya manusia) di bidang kehutanan. Memelihara dan mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan mencegah timbulnya kerusakan lingkungan hidup.5. penghijauan seluruh kawasan yang berfungsi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -65 . Pelestarian dan pengembangan program wisata budaya.

Penertiban terhadap adanya aktifitas budidaya dan permukiman yang tidak menunjang fungsi utama kawasan. Penyusunan master plan drainase. konservasi dan rehabilitasi sumber daya alam. Menetapkan kawasan fungsi lindung yang juga mencakup perlindungan terhadap kawasan rawan bencana. Penertiban aktifitas pertanian. Mencegah dan mengendalikan kerusakan dan kebakaran hutan. Program pengelolaan hutan masyarakat. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -66 .(Persero) CABANG I MALANG Program pemanfaatan kawasan lindung pada jangka menengah di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • • • • • Mengembalikan fungsi kawasan hutan lindung yang telah ada. Program pemanfaatan kawasan lindung pada jangka pendek di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • • • • • • Mengendalikan dan mencegah kegiatan-kegiatan budidaya di kawasan lindung. Menertibkan kegiatan illegal logging di kawasan hutan lindung. Meningkatkan efektifitas pengelolaan. Melakukan reboisasi.

(Persero) CABANG I MALANG

Tabel 2.10 Garis besar program pemanfaatan Ruang Kawasan Lindung Kabupaten Barito Timur
No Kawasan Lindung Jangka Panjang Seluruh kawasan lindung  berbentuk hutan Pengembangan SDM di Bidang  Kehutanan Garis Besar Program Jangka Menengah * Mengembalikan fungsi kawasan    hutan lindung yang telah ada * Rehabilitasi hutan dan    lahan kritis * Program penghijauan * Program pengendalian erosi dan    konservasi air * Program Pengelolan hutan   bersama masyarakat * Penertiban aktifitas pertanian    dan permukiman Jangka Pendek Sosialisasi dan penyuluhan kegiatan penghutanan dan reboisasi, konservasi rehabilitasi untuk seluruh kawasan lindung di luar hutan termasuk pencegahan kebakaran hutan dan pencegahan Illegal Logging * Sosialisasi penghutan dan    reboisasi * Penertiban * Sosialisasi penghijauan    dan reboisasi. Pelaksana Dinas Kehutanan Kabupaten dan  Propinsi Departemen Kehutanan

1 Kawasan Lindung  untuk Kawasan Hutan

2 Kawasan Resapan air

Seluruhnya berbentuk hutan

Dinas Kehutanan Kabupaten Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Dinas Pertanian Kabupaten Kantor Kebersihan dan Pertamanan Dinas Parbud Kabupaten

3 Kawasan Perlindungan setempat: sempadan sungai, kawasan sekitar waduk, sekitar mata air sempadan jalan 4 Kawasan Cagar Budaya

mempertahankan  penghijauan seluruh kawasan yang berfungsi sempadan

* Penertiban aktifitas pertanian   dan permukiman * Penghijauan dengan tanaman    keras/tahunan yang memiliki    nilai ekonomi * Pelestarian budaya * Pengembangan Program Wisata    Budaya yang Lestari dan   Berkelanjutan * Promosi wisata budaya Penyusunan master plan drainase

* Pelestarian budaya * Pengembangan program   wisata budaya yang   lestari dan berkelanjutan Pembangunan drainase prasarana pematusan air/ hujan menyeluruh * Terasering * Pelarangan pertanian     pada kawasan rawan    longsor

Penertiban terhadap adanya aktifitas budidaya dan per‐ mukiman yang tidak menun‐ jang fungsi utama kawasan Pemberian IMB berdasarkan KDB dan KLB terbatas Sosialisasi KDB dan KLB Penertiban aktifitas  pertanian

5 Kawasan Rawan  Bencana banjir/ genangan 6 Kawasan Rawan Bencana gerakan tanah /tanah longsor

Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten dan Propinsi Dinas Pertanian

* Terasering * Pembangunan prasarana    drainase

2. Program Pemanfaatan Pada Kawasan Budidaya Program pemanfaatan kawasan budidaya pada jangka panjang di Kabupaten Barito Timur antara lain: • • • Memanfaatkan sumber daya alam secara sinergis untuk mewujudkan keseimbangan pemanfaatan ruang wilayah. Mengembangkan kegiatan-kegiatan budidaya beserta prasarana penunjangnya secara sinergis. Megembangkan dan mempertahankan kawasan budidaya pertanian tanaman pangan nasional. Program pemanfaatan kawasan budidaya pada jangka menengah di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • Memanfaatkan ruang kawasan budidaya secara optimal sesuai dengan kemampuan daya dukung lingkungan.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -67

(Persero) CABANG I MALANG

Secara umum pengembangan kawasan budidaya diarahkan untuk mengakomodasi kegiatan produksi lahan basah dan kering (pertanian, perkebunan, perikanan, hutan produksi), permukiman dan pariwisata.

Pengembangan kawasan budidaya pertanian perlu diarahkan pada wilayah-wilayah yang memiliki potensi/kesesuaian lahan serta adanya dukungan pengembangan kawasan prasarana budidaya pengairan/irigasi diarahkan serta untuk memperhatikan pembangunan berkelanjutan.

Pengembangan

kehutanan

mewujudkan pengelolaan hutan lestari melalui pemantapan kondisi kawasan hutan, perencanaan, pengamanan dan perlindungan hutan yang terpadu melalui pengendalian penebangan liar dan penanggulangan kebakaran hutan serta rehabilitasi kawasan hutan kritis. Memenuhi bahan baku industri hilir dengan pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan pengembangan hutan rakyat. Memperkuat kelembagaan masyarakat dalam rangka mitra sepaham pembangunan kehutanan dan peningkatan kesejahteraan. Menghindari terjadinya konflik kepentingan/penguasaan kerjasama lahan/kawasan lembaga hutan. peneliti Mengembangkan hasil hutan. • Pengembangan kawasan permukiman meliputi upaya untuk mendorong pengembangan pusat-pusat permukiman perdesaan sebagai desa pusat pertumbuhan terutama wilayah desa yang mempunyai potensi cepat berkembang dan dapat meningkatkan perkembangan desa di sekitarnya dan mendorong pengembangan permukiman sub urban atau kota baru pada daerah peripheral kota-kota metropilitan dan kota besar untuk memenuhi kebutuhan perumahan pada kota-kota tersebut dan sekaligus berperan sebagai penyaring arus migrasi desa-kota. • Pengembangan kawasan pariwisata diarahkan pada objek-objek wisata alam dan budaya dengan memperhatikan pelestarian lingkungan dan mengembangkan prasarana penunjang. • Pengembangan kawasan industri meliputi upaya untuk mendorong pengembangan industri pengolahan dan agro industri untuk meningkatkan nilai tambah sektor-sektor produksi wilayah seperti pertambangan, pertanian, perkebunan dan hasil hutan memberikan prioritas penanganan kawasan-kawasan industri. dengan

lokal/regional/internasional dalam rangka mengembangkan produk

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -68

(Persero) CABANG I MALANG

Pengembangan kawasan pertambangan meliputi mengembangkan pengelolaan pemanfaatan sumberdaya energi dan mineral secara optimal dengan memperhatikan daya dukung lingkungan secara makro dan mikro: mengendalikan pengelolaan pemanfaatan sumberdaya pertambangan secara ilegal terutama untuk mencegah dampak lingkungan terhadap wilayah sekitarnya, dan memprioritaskan pengelolaan kawasan-kawasan pertambangan yang memperhatikan daya dukung lingkungan.

Mengendalikan pemanfaatan ruang pada kawasan budidaya agar tidak terjadi konflik antar kegiatan/sektor. Pengendalian pemanfaatan ruang sebagai suatu bagian mekanisme pengelolaan tata ruang perlu dilakukan melalui penyelesaian permasalahan tumpang-tindih yang ada serta upaya preventif untuk mencegah terjadinya konflik.

Penentuan prioritas dalam pemanfaatan ruang antar kegiatan budidaya sehingga dapat lebih terarah dan fleksibel sesuai dengan tuntutan perkembangan.

Penentuan prioritas pengembangan sistem prasarana kawasan pada bidang transportasi dan faktor produksi yaitu dengan mengembangkan jaringan jalan yang menghubungkan sentra-sentra produksi dengan pusat koleksi dan distribusi di tingkat lokal, intra regional dan inter regional.

Pengalokasian rencana pemanfaatan lahan yang lebih tegas dan bersifat flesibel.

Program pemanfaatan budidaya pada jangka pendek di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • Pengembangan hutan produksi antara lain meliputi: a. Pengusahaan hutan produksi melalui pemberian ijin HPH pola tebang pilih. b. Pengembangan zona penyangga pada kawasan hutan produksi yang berbatasan dengan hutan lindung. c. Pemantauan dan pengendalian kegiatan pengusahaan hutan serta perladangan berpindah. d. Pemanfaatan ruang pada kawasan hutan produksi konversi untuk kegiatan pertanian (perkebunan dan tanaman pangan) sesuai dengan potensinya.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -69

(Persero) CABANG I MALANG

e. Pengembangan pola tanaman industri. f. Reboisasi dan rehabilitasi lahan pada bekas tebangan HPH. g. Penyelesaian masalah tumpang tindih dengan kegiatan budidaya lainnya (pertanian, pertambangan) • Pemanfaatan ruang kawasan pertanian meliputi: a. Perluasan areal persawahan baru (ekstensifikasi) pasang surut dan aluvium. b. Pengembangan prasarana pengairan. c. Pembentukan kawasan Agroopolitan di kota Ampah. d. Pengendalian kegiatan lain agar tidak mengganggu lahan pertanian khususnya sawah pasang surut. e. Penyelesaian masalah tumpang tindih dengan kegiatan budidaya lain. • Pemanfaatan ruang kawasan perkebunan meliputi upaya untuk: a. Peremajaan dan perluasan areal tanaman perkebunan sesuai dengan potensi/keseluruhan lahannya secara optimal, diarahkan ke Kecamatan Awang dan kecamatan Petangkep Tutui. b. Pengamanan daerah aliran sungai. • Pemanfaatan ruang kawasan pariwisata meliputi upaya untuk: a. Penataan ruang kawasan pariwisata. b. Pengembangan obyek wisata dan fasilitas pariwisata. • Pemanfaatan Ruang Kawasan Perindustrian adalah: a. Penataan ruang kawasan industri. b. Penyediaan prasarana pendukung kawasan industri. • Kebijaksanaan pemanfaatan Ruang Kawasan Permukiman adalah: a. Penataan ruang kota (RUTRK, RDTRK, RTRK) b. Pengembangan desa-desa pusat pertumbuhan. c. Pengembangan permukiman transmigrasi lokal. • Kebijaksanaan Pemanfaatan Ruang Kawasan Pertambangan adalah: a. Pemantauan dan pengendalian kegiatan pengusahaan pertambangan agar tidak mengganggu fungsi lindung. b. Pengembalian fungsi lindung pada kawasan bekas kuasa pertambangan. yaitu melakuakan penyusunan RTRK dan peninjauan kembali (evaluasi, revisi) RTRK.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -70

(Persero) CABANG I MALANG

3. Rencana Pengelolaan Kawasan Perdesaan dan Perkotaan Dalam suatu wilayah Kabupaten terdapat dua jenis kawasan fungsional yaitu kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan serta bisa terdapat kawasan tertentu. Rencana Pengelolaan Kawasan Perdesaan, Perkotaan dan Kawasan Tertentu dirumuskan untuk mencapai keserasian hubungan fungsional antara kawasan-kawasan tersebut. Bentuk bentuk pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan dan tertentu meliputi: • Kelembagaan Meliputi pembagian dan kewengan swasta, pengelolaan lembaga kawasan perdesaan, dan perkotaan dan tertentu yang melibatkan pemerintah Kabupaten, Kecamatan kawasan Desa, kemasyarakatan dapat masyarakat secara langsung. Hubungan kerjasama dalam pengelolaan perdesaan/perkotaan/tertentu juga melibatkan beberapa pemerintah kabupaten apabila kawasan mencakup dua atau lebih daerah otonom yang berbatasan secara langsung. • Program Pemanfaatan Meliputi garis besar program pemanfaatan yang diindikasikan pada kawasan perdesaan, perkotaan dan tertentu untuk jangka panjang, menengah dan pendek • Pengawasan Meliputi tata cara dan prosedur pengawasan terhadap kebijakan pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan dantertentu. Misalnya untuk pengelolaan kawasan perdesaan, dirumuskan kebijakan pengendalian konversi pemanfaatan ruang yang memperhatikan keberlanjutan dan pemenuhan kebutuhan hidup seperti udara, air dan pangan, mengingat dominannya sumber daya alam di kawasan perdesaan. Aspek pengawasan dalam pengelolaan kawasan melibatkan pemerintah kabupaten, kecamatan dan desa bersama-sama dengan masyarakat. • Penertiban Meliputi tata cara dan prosedur pelaporan terhadap pelanggaran pelaksanaan kebijakan kawasan perdesaan, perkotaan dan tertentu.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -71

(Persero) CABANG I MALANG

2.5.6 Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Kuala Kapuas 1. Kabupaten Kapuas Sebagai bagian dari WS Kapuas, wilayah Kabupaten Kapuas hampir seluruhnya terletak di DAS Kapuas, dan berada pada posisi perbatasan antara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Kondisi Kabupaten ini disusun sebagai informasi kajian analisis wilayah yang sangat relevan dengan rencana tata ruang dan master plan pada DAS Kapuas. Berdasarkan informasi awal kajian tata ruang ini, akan memberikan arahan dalam penyusunan master plan sumber daya air DAS Kapuas. Kebijaksanaan perwilayahan pembangunan dalam Pola Dasar Pembangunan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Kapuas 1994/1995 – 1998/1999 membagi wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Kapuas atas 5 (lima) wilayah pembangunan, yaitu : 1. Wilayah Pembangunan Bagian Utara, meliputi kecamatan Kahayan Tengah, Banama Tingang, Sepang, Kuala Kurun, Tewah, Kahayan Hulu Utara, dengan Pusat Pengembangan Kuala Kurun. 2. Wilayah Pembangunan Bagian Selatan, meliputi kecamatan-kecamatan Selat, Kapuas Hilir, Pulau Petak, Kapuas Murung, Kapuas Timur, Basarang, dan Kapuas Kuala dengan pusat pengembangan Kuala Kapuas. 3. Wilayah Pembangunan Bagian Timur, meliputi Kecamatan-kecamatan Timpah, Kapuas Tengah, dan Kapuas Hulu dengan pusat perdagangan Timpah. 4. Wilayah Pengembangan Bagian Barat, meliputi Kecamatan-kecamatan Rungun dan Manuhing, dengan pusat pengembangan Tumbang Jutuh. 5. Wilayah Pembangunan Bagian Tengah, meliputi Kecamatan-kecamatan Kahayan Hilir, Kahayan Kuala, Pandih Batu, Kapuas Batu, dan Mantangai, dengan pusat pengembangan Pulang Pisau. 2. Fungsi dan Peranan Kota Kuala Kapuas Dengan demikian, dari kebijaksanaan tersebut Kota Kuala Kapuas, selain sebagai pusat utama Kabupaten Dati II Kapuas, berfungsi secara khusus sebagai pusat pengembangan wilayah pembangunan bagian selatan, yang melayani/membawahi wilayah fungsional yang relatif berbatasan dengan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -72

(Persero) CABANG I MALANG

Provinsi Kalimantan Selatan.

Kawasan WP Bagian Selatan relatif lebih

maju dibandingkan wilayah lainnya, terutama bila dilihat dari indicator kependudukan, kegiatan ekonomi, kelengkapan fasilitas dan fasilitas umum, serta jarak dan aksesibilitas dan transportasi wilayah. Dalam kajian ini, disusun kajian mengenai peran Kota Kuala Kapuas, sebagai pusat pengembangan wilayah Kabupaten Kapuas, yang mewakili peranan pengembangan DAS Kapuas. Berdasarkan hasil analisis terhadap potensi dan masalah perkembangan kota yang terjadi selama ini dan antisipasi terhadap masa yang akan dating, maka fungsi dan peranan Kota Kuala Kapuas yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut. A. Fungsi Primer 1. Pusat Pemerintahan Tingkat Kabupaten : sesuai peran sebagai ibukota kabupaten Kapuas, skala kerja Bupati 2. Kegiatan transportasi : potensi sebagai kota transit, baik angkutan sungai maupun darat 3. Kegiatan perdagangan dan jasa : mendukung Kota Kuala Kapuas sebagai pusat pengembangan wilayah dan jalur transportasi wilayah 4. Pendukung kegiatn industri : fungsi yang berkenaan dengan industri di wilayah interland kita yang terkait dengan hasil hutan. B. Fungsi Sekunder Fungsi sekunder yang utama adalah sebagai permukiman yang meliputi ketersediaan tempat hunian/wisma, tempat kerja, tempat rekreasi, dan fasilitas social. Keseluruhan komponen tersebut diperuntukan bagi penduduk kota saja. 3. Karakteristik Umum Kota Kuala Kapuas Wilayah perencanaan merupakan bagian dari wilayah Kota Kuala Kapuas yang berfungsi sebagai pusat pemerintah Kabupaten Kapuas, dan luas efektif kota adalah sebesar 2,733 Ha. Secara fisik, wilayah Kota Kuala Kapuas dipengaruhi oleh dua sungai besar, yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung, yang sekaligus menjadi pusat orientasi kegiatan air dan ini merupakan ciri khas kota air.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -73

(Persero) CABANG I MALANG

Secara umum, kawasan ini dapat dikembangkan untuk kegiatan kota, walaupun pada beberapa bagian wilayah kota Kapuas sangat besar dipengaruhi oleh genangan air pasang surut Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung. Hal ini menimbulkan terjadinya genangan air sepanjang tahun. Ditinjau dari pola tata guna lahan, sebagian besar dari kawasan terbangun yang ada merupakan kawasan perumahan yang sangat padat dengan kondisi bangunan dan lingkungan yang kurang baik. Lokasinya cenderung mengelompok di sepanjang Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung. Pada posisi ini, maka pengembangan sector sumber daya air pada kedua sungai tersebut mengacu pada rencana peruntukan kota, yang memerlukan kelengkapan sarana dan prasarana yang memadai sebagai kawasan sentra pengembangan wilayah. 4. Tata Guna Tanah dan Kondisi Lingkungan Ditinjau dari tata guna tanahnya, sebagian besar digunakan untuk perumahan dan perdagangan. Penggunaan lainnya yang cukup menonjol adalah perdagangan yang terdapat di pusat kota dan kegiatan pemerintahan. Pada lahan-lahan yang relatif kosong terdapat lahan yang potensial untuk dikembangkan dan juga sulit dikembangkan karena merupakan tanah lempung yang berlumpur yang dalam. Masalah lingkungan yang cukup serius adalah lingkungan di tepian Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung yang berada di dekat atau di pusatpusat perdagangan dan jasa. Umumnya kondisi perumahan perpetakan bangunan dan kegiatan kurang terencana sehingga memberikan kesan kumuh (slums area). Juga masalah prasarana lingkungan masih relatif kurang memenuhi kebutuhan, khususnya air bersih dan sanitasi. Pada beberapa bagian di wilayah perencanaan ini dijumpai adanya penggunaan ganda (mix – used) serta pola distribusi kepadatan bangunan yang kurang merata dan banyaknya bangunan dengan kondisi yang kurang memadai. Untuk mengatasinya dapat diusahakan melalui peningkatan kondisi lingkungan, program perbaikan kampong (KIP), program kali bersih (Prokasih), resettlement dan lain-lain.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -74

(Persero) CABANG I MALANG

5. Rencana Struktur Kota Kuala Kapuas Rencana struktur ruang merupakan pedoman dasar bagi pengembangan suatu wilayah atau kawasan tertentu, yang selanjutnya akan menunjukan pola tata ruang yang sesuai dengan fungsinya yang lebih berorientasi pada pelayanan umum dan memenuhi kebutuhan warga kota secara optimal. Tujuan dan sasarannya adalah sebagai berikut : a) mengarahkan tingkat pertumbuhan Kota Kuala Kapuas ke wilayahwilayah BWK dan sub BWK sesuai dengan potensi dan porsi fungsi kota. b) c) d) Mengatur mekanisme untuk perkembangan penentuan fungsi kota dan intensitas ruang fisik secara keseluruhan. Mewujudkan pemerataan pengembangan ataupun pembangunan wilayah ke dalam BWK (bagian wilayah kota) Memberikan pedoman bagi pola peruntukan lahan beserta pembangunan fisik, terutama berkaitan dengan penyediaan fasilitas dan utilitas untuk menunjang BWK Kuala Kapuas yang aman, indah, dan ramah (sebagai Kota Air). 6. Rencana Pengembangan Kota dan Pembentukan Unit Pelayanan Untuk mengurangi permasalahan yang ada saat ini maupun yang akan dijumpai pada masa mendatang, maka Kota Kuala Kapuas dibagi menjadi 3 (tiga) Bagian Wilayah Kota (BWK), yaitu BWK Selatan, BWK Utara, BWK Timur. Setiap BWK tersebut terdiri dari satu sub bagian wilayah kota (Sub – BWK) dan beberapa pusat-pusat pelayanan. Fungsi bagian wilayah Kota Kapuas adalah sebagai berikut :

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -75

05 1. Rencana Penggunaan Lahan Salah satu rencana yang paling penting adalah rencana penggunaan lahan.76 1.07 0.05 1.75 77.57 1.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.238.4 48.55 50.78 0. 1999 .38 1.05 1.96 Sumber : RUTRK Kuala Kapuas dan RDTRK Keterangan : Sempadan Sungai dan Pertanian bukan merupakan kawasan terbangun Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -76 .24 47.12 Rencana Tata Guna Lahan Kuala Kapuas. Dalam buku RUTK Kuala Kapuas telah ditetapkan rencana penggunaan lahan Kota Kuala Kapuas.45 0.39 1.27 0.733.59 2.089.69 0.93 10.00 % 36.007.124.05 56.94 57.311.42 18.05 47.58 53.438. praktek dokter) 7 Pusat pengembangan industri besar/menengah di Kelurahan Murung Keramat 1 Pusat pemerintahan skala wilayah kerja bupati 2 Pusat pengembangan perdagangan skala local dan regional 3 Pusat pengembangan pariwisata di Pulau Telo 4 Pusat pengembangan dan pendidikan dan lapangan olah raga (stadion Olah Raga) 5 Pengembangan perkantoran 6 Pengembangan permukiman skala BWK 7 Pengembangan terminal regional dan kota 8 Pengembangan sub terminal kota 9 Pengembangan dermaga barang 10 Pengembangan dermaga antar kota 1 Pusat pemerintahan skala kecamatan dan kelurahan 2 Perkantoran 3 Pengembangan industri kecil (tersebar) 4 Lapangan olah raga 5 Pengembangan permukiman 6 Perumahan terbatas (permukiman DAS) 2 BWK UTARA 3 BWK TIMUR Sumber : RUTRK Kuala Kapuas dan RDTRK 7.00 1.87 2.99 1.88 2.18 42.89 31.27 0.72 2.28 1.49 % 32.97 2.76 1.88 43.553.51 2.01 0.85 1.07 0.11 Fungsi dan Bagian Wilayah Kota (BWK) Kuala Kapuas No 1 BWK BWK Selatan FUNGSI BWK 1 Perkantoran 2 Pusat perdagangan dan Jasa 3 Perumahan dan permukiman terbatas (DAS) di Pusat Kota 4 Pendidikan 5 Olah Raga 6 Kesehatan (RSU.365.99 67.96 1.99 100 49.46 0.13 2004 LUAS (Ha) 1.09 0.86 10.14 0.733.00 1.45 56 34.15 12.77 1.33 2009 LUAS (Ha) 1.2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 JENIS PENGGUNAAN Perumahan dan jalan Perkantoran Perdagangan dan jasa Peribadatan Kesehatan Pendidikan Olah raga /taman Sempadan sungai Jaringan jln Tempat pemakaman Pertanian terbuka TOTAL KAW TERBANGUN 1999 LUAS (Ha) 919.733.86 10.05 52. Tabel 2.65 100 45.84 2.5 1.37 1.66 1.00 % 33.23 1.5 1.68 2.5 1.38 56 48. Puskesmas.00 1.82 100 41.00 2.05 56 34.

pusat pengembangan skala pemerintahan kabupaten dan pusat adalah terpusat pada kawasan kota. Adapun arah utama perkembangan kota Kuala Kapuas saat ini Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -77 . yaitu telah terbukanya jalur jalan lintas Kalimantan Poros Selatan sebagai pergerakan arus barang dan pergerakan penduduk di masa yang akan datang. perdagangan. dan jasa. yang berfungsi sebagai pusat pengembangan perkantoran. Perkembangan Fisik Bagian Kota Perkembangan fisik bangia wilayah Kota Kuala Kapuas pada awalnya berkembang dari pola permukiman penduduk yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS). Mengingat perkembangan kota kuala kapuas semakin berkembang di jalur transportasi darat. yaitu di sepanjang daerah aliran sungai dan disepanjang jalur transportasi darat.(Persero) CABANG I MALANG 8. Hal ini menjadikan kota ini menjadi kota transit. pembangunan bagi daerah sekitarnya. Adapun pola perkembangan fisik kota berbentuk grid – liner. Untuk rencana pengembangan BWK Timur terdapat pada Kecamatan Kapuas Hilir sebagai pengembangan penduduk terbatas dan sebagai kawasan pengembangan KAPET (kawasan pengembangan ekonomi terpadu) di Kalimantan Tengah. pendidikan. Direncanakan pengembangan kawasan terbangun kearah Bagian Wilayah Kota Utara sebagai pusat pengembangan BWK Utara di bundaran besar (jalur lalu lintas Kalimantan poros selatan).

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.7 Peta Penggunaan Lahan WS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -78 .

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.8 Peta Penggunaan Lahan WS Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -79 .

992 342.6.656 Pendd% 2.448 jiwa.557 109.615 88.(Persero) CABANG I MALANG 2.604 2004 119.751 2007 269.96 Kepadatan / km2 90 Sumber : BPS Kabupaten Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -80 .209 2004 253.340 1.14 Pertumbuhan Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah (2002 – 2007) No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Penduduk (Jiwa) 2002 114.382 2007 128.92 Sumber :Propinsi Kalimantan Tengah Dalam Angka.668 323.360 1.567 348.1 Kependudukan Berdasarkan laporan pada Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan.448 Luas (km2) 2.996.580 1.152 106. 2007 Tabel 2. Pertumbuhan pertahun cukup fluktuatif dengan toleransi rendah.13 Pertumbuhan Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan (2002 – 2007) No 1 Kab / Kota Barito Kuala Jumlah Penduduk (Jiwa) 2002 248.580 82.355 110.325 69.266 91. 2007 Tabel 2.900 Sumber :Propinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka. jumlah penduduk Kalsel yang masuk dalam WS Barito-Kapuas pada bulan Februari 2007 sebanyak 269.019 5.448 Pendd% 0.823 107.063 83.091 87. periode 2002 – 2007 turun menjadi 1.218 112.008 77.555 329.148 113.956 2003 116.053 2003 251.969 Pertumb 2006 258.470 2005 255.863 81.395 Pertumb 2006 125.397 355. Jumlah dan kepadatan penduduk Kalimantan Selatan yang termasuk dalam WS Barito-Kapuas adalah sebagai berikut: Tabel 2.082 86.117 81.932 2005 122.163 73.6 ASPEK SOSIAL EKONOMI 2.659 335.15 Penduduk Tiap Kabupaten pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan (2007) No 1 Kab / Kota Barito Kuala Penduduk 269.567 83.434% per tahun.

75 15.00 8.341. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -81 .656 777.16 Penduduk Tiap Kabupaten pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah (2007) No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Penduduk 128. Tabel 2.615 88.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.458 4. Kondisi desa-desa pada kabupaten tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.082 Luas (km2) 6.321 3.149 Rata2 per RT 5.570 20.19 sebagai berikut.584 Rata2 per RT 3.00 57.266 91.00 3.911 4.18 Jumlah Rata-rata Jiwa per Rumah Tangga Tiap Kabupaten WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Penduduk 128.148 113.17 Jumlah Rata-rata Jiwa per Rumah Tangga WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 Kab / Kota Barito Kuala Penduduk 269.527 26.656 777.148 113.00 23.397 355.615 88.87 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 2.300.296 22.447 4.002.082 Kepadatan / km2 20 14 23 4 24 14 Jumlah RT 23.076 4.266 91.252 180.397 355.448 Kepadatan / km2 90 Jumlah RT 69.716.31 Sumber : Hasil Perhitungan Perkembangan jumlah kabupaten atau kota ditentukan pula oleh perkembangan desa di kawasan tersebut.834.194 Kepadatan / km2 20 14 23 4 24 14 Sumber : Hasil Perhitungan Jumlah rata-rata jiwa per rumah tangga merupakan dasar perhitungan bagi proyeksi jumlah konsumen / pelanggan air bersih sehingga berfungsi sebagai asumsi dalam analisis.504 87.

12 An gk ut an In du st ri n da ga ng an ba ng an ta m Ga s Ba Pe r Gambar 2. tamat SLTP/sederajat hingga tamat SLTA/sederajat.00 60. Relatif masih rendahnya tingkat pendidikan SDM yang bekerja. 53% berumur 10 tahun keatas yang merupakan penduduk usia produktif secara ekonomis.1 Barito Selatan Dari keseluruhan penduduk Barito Selatan. Berdasarkan jumlah pencari kerja yang terdaftar tercermin tidak seimbangnya antara pencari kerja dan kesempatan kerja yang tersedia. Sebagian besar (69%) penduduk berumur 10 tahun keatas bekerja di sektor Pertanian.00 20.00 40.6. memiliki tingkat pendidikan dasar.95 1. sedangkan sektor terkecil penyerapannya adalah sektor Pertambangan 0. terlihat dari tingkat pendidikan penduduk yang bekerja itu sendiri. Pe r Ke ua Pe r La in ny a ng an n Ai r ng un a ta ni a da n Ja s a Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -82 .2.60 4.10 3.12 3.48 1.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.00 - 59.00 30. Hampir 64% penduduk yang bekerja diberbagai sektor. Komposisi angkatan kerja menurut kelompok umur di Barito Selatan didominasi penduduk yang berumur 25 sampai dengan 29 tahun.9 Prosentase Bidang Pekerjaan Penduduk Barito Selatan Lis t rik .6.81 15.00 10. Rata-rata setiap tahunnya tidak lebih dari 30% dari seluruh jumlah pencari kerja terdaftar yang mendapat pekerjaan.34 1.19 Kondisi Desa Tiap Kabupaten di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 Kab / Kota Barito Kuala Jumlah Desa 200 Desa Swadaya 0 Desa Swakarya 0 Desa Swasembada 200 Sumber : Propinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka.1%. 2007 2. sisanya sekitar 70% masih belum mendapat kesempatan. 70.33 1. tidak/belum tamat SD/sederajat.2 Mata Pencaharian dan Pendapatan Penduduk 2.00 50.15 8.

33 1.94 1.29 Gambar 2.G as & Ai r Ba ng un Pe an rd ag an ga n An gk ut an Ja Ke sa ua Ke ng m an as ya ra ka ta n La in ny a Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -83 . Sebagian besar (31.00 20. Relatif masih rendahnya tingkat pendisikan SDM yang bekerja. 2. Komposisi angkatan kerja menurut kelompok umur di Barito Timur didominasi penduduk yang Pe rt a Pe ni an rt a m In ba du ng st ri an Pe ng ol Li ah st ri k an .2 Barito Utara Dari keseluruhan penduduk Barito Utara. terlihat dari tingkat pendidikan penduduk yang bekerja itu sendiri. sedangkan sektor terkecil penyerapannya adalah sektor keuangan yaitu 0.00 75.96 0.00 40. Rata-rata setiap tahunnya tidak lebih dari 21.70 % dari seluruh jumlah pencari kerja terdaftar yang mendapat pekerjaan.15 0.42 % berumur 10 tahun keatas yang merupakan penduduk usia produktif secara ekonomis.2. kesempatan.00 50.2.55 2. 78.10 Prosentase Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Gambar diatas menunjukkan prosentase penduduk berumur 10 tahun keatas yang bekerja menurut lapangan usaha.6.00 70.46 8.00 30.00 0.30 % masih belum mendapatkan 80.3 Barito Timur Dari keseluruhan penduduk Barito Timur. 53% berumur 10 tahun keatas yang merupakan penduduk usia produktif secara ekonomis.56 %) penduduk berumur 10 tahun keatas bekerja di sektor pertanian.05%.91 0.00 60. dan sisanya sekitar 78.(Persero) CABANG I MALANG 2. Berdasarkan jumlah pencari kerja yang terdaftar tercermin tidak seimbangnya antara pencari kerja dan kesempatan kerja yang tersedia.78 0.00 10.62 7.6.

14 4.3 %.814 jiwa turun menjadi 129.2.268 jiwa ditahun 2007.34 20.00 1.00 20.78 2.4 Barito Kuala Berdasarkan hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2007 yang dilakukan BPS angkatan kerja ditahun 2007 mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2006 yaitu dari 132.(Persero) CABANG I MALANG berumur 25 tahun sampai 29 tahun.05 3.41 Gambar 2.11 Prosentase Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha 2.99 19.93 0.99 2. Gambar berikut menunjukkan prosentase penduduk berumur 10 tahun keatas yang bekerja menurut lapangan usaha 31.00 15.85 10.56 35. sedangkan sektor terkecil penyerapannya adalah sektor listrik.75 0. Rendahnya tingkat pendidikan SDM yang ada terlihat dari tingkat pendidikan penduduk yang bekerja.024 jiwa tahun 2006 menjadi 42.25 0. Rata-rata setiap tahunnya tidak lebih dari 30% dari seluruh jumlah pencari kerja terdaftar yang mendapat pekerjaan. Sebagian besar (60%) penduduk berumur 10 tahun keatas bekerja di sektor pertanian.00 9. Hampir 64% penduduk yang bekerja diberbagai sektor memiliki tingkat pendidikan dasar.00 30. Berdasarkan jumlah pencari kerja yang terdaftar tercermin tidak seimbanggnya antara pencari kerja dan kesempatan kerja yang tersedia.00 5. sisanya sekitar 70% masih belum mendapat kesempatan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS ah as en isw a gu ru s Be R lu Pe T m ns /ti da iu n k be ke rja Pe Pe ta rta ni m ba ng an In du st Ko ri nt Pe ru ks rd i ag an Tr a n gan sp or Ke tasi ua ng an PN TN S Id an P Ja olri sa -ja sa La in ny a M Pe la ja r r/ m II -84 .430 jiwa. gas dan air minum 0. Demikian pula penduduk yang bukan angkatan kerja turun dari 54.00 0.33 0.00 25.6. tamat SLTP/sederajat hingga tamat SLTA/sederajat.39 1.25 0. tidak/belum tamat SD/sederajat.

119 orang tahun 2007.28 32.2. disusul pencari kerja dari Sarjana Muda sebesar 24.(Persero) CABANG I MALANG Penduduk yang bekerja juga mengalami penurunan dari 128.00 20.13 Prosentase Pencari Kerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan SL TA /s e Sa rja na SD /s e La in -la in Be ke rja PN S AB R Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -85 . Gambar berikut menunjukkan prosentase bidang pekerjaan penduduk Barito Kuala 40 35 30 25 20 15 10 5 0 35.76 2.52 1.00 10.57 0.5 Be lu m Gambar 2.38 14.96 2.00 5.00 t ti n gk at ti n gk at tin gk a M ud a Sa rja na S1 41.20 5.17 0.40 1.39 24.66 I PO LR Pe I Pe ns la iu ja na r /M n ah Pe as ta ni is /P wa er ke bu na n Pe Pe da te ga rn ng ak /N Ka el ry ay aw an an Sw as BU ta M N/ BU M D 2.10 0.35 0.97 23.311 jiwa pada tahun 2007.12 Prosentase Bidang Pekerjaan Penduduk Barito Kuala Kapuas /T dk Berdasarkan buku Kapuas Dalam Angka 2007/2008. Berbeda dengan penduduk yang mencari pekerjaan yang mengalami peningkatan di tahun 2007 dari 4.00 30. yaitu sebesar 1.10 Bu ru h 4.39%.00 35.270 jiwa pada tahun 2006 menjadi 2. Sedangkan pencari kerja terkecil dari adalah dari lulusan SD/sederajad.544 orang menjadi 127.6.00 40.81%.08 0.00 15. 45.00 25. pada tahun 2007 jumlah pencari kerja terbesar adalah dari tingkat pendidikan SLTA/sederajad sebesar 41.31 8.81 SL TP /s e Gambar 2.97%.

sehingga dipengaruhi air pasang surut dan intrusi air asin. daerah ini didominasi oleh tanah organosol atau histosol dalam system Klasifikasi Soil Toxonomi (USDA) (2) Group dataran rawa marin (B) Rawa marine merupakan suatu kawasn yang berasal dari bahan endapan marin yang terdiri dari bahan liat.3. Curah hujan tahunan lebih dari 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -86 . Berkaitan dengan itu maka strategi pembangunan pengairan adalah bagaimana mengembangkan secara optimal sumber daya air yang ada untuk mencapai peningkatan produksi pangan dan peternakan dimana sektor ini menjadi soko guru ekonomi rakyat. yaitu : (1) Group dataran rawa gambut (D) Dataran rawa gambut (Peat Dome D) terbentuk terutama karena pengaruh curah hujan tinggi dan airnya tergenang baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. lumpur. 2.1 Sebaran Lahan Rawa Secara fisiografis lahan rawa di Kalimantan dapat dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) group.3 Sektor Pertanian Pembangunan di bidang pengairan untuk kegunaan pertanian senantiasa mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari Pemerintah dan pengembangan yang terus menerus selalu diupayakan. rumah tangga. pariwisata dan pengembangan wilayah desa dan kecamatan.000 mm. Satuan lahan ini bila ditinjau dari posisinya relatif dekat dengan pantai.(Persero) CABANG I MALANG 2.6. meningkatkan penyediaan air baku dan kebutuhan industri. hal ini guna menunjang dan mendukung Program Ketahanan Pangan. dan pasir. jasa. peternakan. Pengembangan diarahkan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas bidang pertanian khususnya pangan.6. dan perikanan. Salah satu visi kabupaten di dalam SWS Barito adalah Kabupaten Kapuas yang memiliki visi sebagai daerah pengembangan agrobisnis menuju agroindustri yang mendukung pembangunan daerah.

Untuk dataran rawa gambut dibedakan menjadi rawa gambut yang dipengaruhi oleh pasang surut (D1) dan dataran rawa air tawar (D2). dan perikanan. Setiap group fisiografi dibedakan menjadi beberapa satuan lahan berdasarkan atas genesisnya. Tabel 2. Sehingga setiap lahan akan dapat diperkirakan tingkat kesulitan pengolahan apabila diarahkan untuk peningkatan fungsi dan manfaatnya (reklamasi). api-api. kesesuaian lahan komoditas pertanian tanaman pangan dan hortikultura. serta tipe dan kedalaman gambut. bakau. Umumnya berpotensi untuk pengembangan pertanian. tipe.361. perkebunan. nibung. dan katek yang dapat digunakan sebagai indikator. Satuan tersebut disebut satuan kawasan rawa (SKR).304 Ha). Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -87 . Satuan lahan merupakan dasar penilaian potensi. bahan pembentuk.(Persero) CABANG I MALANG (3) Group dataran pedalaman /alluvial (A) Rawa ini menempati daerah datar atau dataran pelembahan dan dataran banjir yang umumnya selalu tergenang air.140. Kecuali rawa alluvial marin semua lahan yang termasuk dalam group rawa pedalaman /alluvial (A) merupakan rawa non pasang surut. seperti nipah. pedada.140 Ha) dan Kalimantan Tengah (4.20 berikut menyajikan rekapitulasi penyebaran satuan lahan di Kalimantan Selatan (1. Dataran rawa marin (B) karena lokasinya relatif dekat dengan pantai. Kadang-kadang dicirikan juga oleh vegetasi alami yang tumbuh. umumnya termasuk rawa pasang surut. kondisi genangan air.

343 12.369 0 0 0 2.3 29 30 31 32 33 34 35 36 37 RAWA PASANG SURUT Dataran pantai berpasir dan lembah2 diantara beting pasir Dataran pantai berpasir Rawa belakang tanggul pantai dipengauhi ps surut Dataran ps surut berlumpur sepanjang pantai Dataran banjir.2.284 145.1 A.361.676 17.1 B.2.1 B.2. muara sungai. dan alur-alur ps surut Dataran ps surut berlumpur dengan vegetasi mangrove Dataran muara sungai dan alur-alur ps surut Dataran aluvial marine.7.671 71.1 D.595 0 67.628 581.1 B.3 B.2.189 43.1 D.404 8.219 0 74.050 Kalimantan Selatan (Ha) 2.1 A.2 A.562 0 Kalimantan Selatan 0 54. bergambut Lembah tertutup.389 96.194 0 0 94.2.045 0 23.798 22.2 D.722.7 A.2 A.124 41.2 A.1 D.745 23.4 A.090 14.435 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 B.2.421 63.2.254 4.679 3.2..468 37.875 372.2 A.6.2 D.7.374 76.806 63.4 A.2.804 89.371 37.671 45.3.1.811 91.2.023 985.623 140. sering tergenang Rawa dangkal dengan bekas-bekas jalan aliran sungai Rawa dangkal Rawa dalam Rawa dalam dengan bekas-bekas jalur aliran sungai Satuan Lahan Dataran rawa berpasir tertutup gambut Rawa gambut air tawar dangkal Rawa gambut air tawar agak dalam Rawa gambut air tawar dalam Jumlah Kalimantan Tengah (Ha) 150.215 55.049 0 239.2.376.257 156.997 1.1 A.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.702 16.3.231 14.1.652 319.717 858.3.140 Sumber : Penelitian Kesesuaian Lahan Rawa di Kalimantan.2 B.3 Satuan Lahan RAWA NON PASANG SURUT Pelembahan sungai Jalur meander dan tanggul yg lebar dari aliran sungai yang besar Rawa belakang tanggul sungai Dataran banjir berawa dan pelembahan sungai Dataran banjir berawa dan pelembahan sungai Dataran aluvial. 2000 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -88 .637 994.1.685 100.1.618 80.014 0 653.2 B.2.490 2.6 A.2.3.304 4.800 25.4 B.111 74. sering tergenang Dataran aluvial.2.705 1.686 11.1 D.749 29.558 2.3 Symbol P.1.644 0 621.341 0 28.330 0 0 33.497 19.530 5.1.276 41.469 141.2.961 0 0 0 Kalimantan Tengah 247.3.790 396.790 896.187 70.2.219 9.140.1.2.20 Luas dan Penyebaran Lahan Rawa di Kalteng dan Kalsel No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 No 13 14 15 16 Symbol A. payau Dataran teras berpasir tertutup gambut Rawa gambut ps surut dangkal Rawa gambut ps surut agak dalam Rawa gambut ps surut dalam Jumlah JUMLAH I SUMBERDAYA LAHAN RAWA YG TELAH DIPERUNTUKAN NON PASANG SURUT KAWASAN PERLINDUNGAN RAWA YANG SUDAH ADA Hg Rawa gambut dalam Th Kapasitas tampungan hujan/rawa masa depan Wd Waduk Kawasan pengawetan rawa yang sudah ada HSA Kawasan hutan suaka alam PPA Kawasan perlindungan dan pelestarian alam Kawasan reklamasi rawa yang sudah ada R Kawasan reklamasi rawa (transmigran) Jumlah Hm Kawasan pantai berhutan bakau HSA Kawasan hutan suaka alam Kawasan reklamasi rawa yang sudah ada R Kawasan reklamasi rawa (transmigran) Jumlah JUMLAH II JUMLAH SELURUHNYA 530.784 32.689 131.962 7.1 A.

912 53.997 23.414 14.009 108.96 23.199. 2002 Dari tabel diatas diketahui bahwa produktivitas padi di Kalimantan masih bisa ditingkatkan.188 24. 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -89 .2 Produksi (Ton) 609.046 5.363 76. Tabel 2.473 2.704 56.738 26.997 30.530 4.892 4. Selain itu.35 51.855 11.003 16. termasuk lahan rawa. Prov. teknologi penanganan juga memerlukan peningkatan agar produktivitasnya sesuai target nasional. Tahun 1991 No 1 2 3 4 5 WILAYAH Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Jawa Luar Jawa Indonesia Luas Panen ( Ha ) 203.295 203.151 48. baik intensifikasi atau extensifikasi lahan potensial.604 9.909 83.33 37.546 7.199 635.237 16.834 Tanam 1 X ( Ha ) 8.132 Tanam 2 X ( Ha ) 2.530 4.263 12. Tabel 2.88 45.276.2 Pola Pemanfaatan Lahan Rawa Untuk Pertanian Umum Pertanian Tanaman Pangan Lahan untuk pengembangan tanaman pangan padi sawah masih luas.068 16.335 Luas Lahan Usahatani ( Ha ) % 10.303 23.840 40.3.371.210 222.850 68. namun belum dimanfaatkan seluruhnya.324 Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan.526 2.341 94.243 2. Berikut ini adalah tabel luas pengusahaan usahatani pada lahan rawa beberapa kabupaten di WS Barito-Kapuas.341 5 77 24 42 57 25 41 15 100 83 32 Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan.243 2.374.22 Luas Penggunaan Usaha tani Tanaman Pangan pada Lahan Rawa WS Barito-Kapuas.428 935 314 52 62.21 Produksi dan Produktivitas Lahan Sawah di Kalsel dan Kalteng.243 184.237 15.530 5.089.691 885 165 6.171.956 Produktivitas ( Kw/Ha ) 29. Kalimantan Selatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 KAB / KODYA Kotabaru Barito Kuala Tanah Laut HSU Banjar HSS Tapin HST Tabalong Banjarmasin JUMLAH Luas Lahan Rawa ( Ha ) 236.658 42.(Persero) CABANG I MALANG 2.6.666 16.525 2.

dan mangga. papaya. yaitu : perkebunan rakyat. Selain itu juga penghasil sayursayuran. dan kakao. Budidaya sosial seperti karet dan kelapa mendominasi terutama di wilayah lahan pasang surut. Kedua tanaman tersebut ditanam tersebar merata ke seluruh wilayah. Tanaman kakao dan kelapa sawit sebagai komoditas yang relatif baru cukup berkembang dengan baik. nenas. jambu mete banyak diusahakan dalam pola tegalan atau pekarangan. sehingga dalam program reklamasi rawa. Tanaman perkebunan tersebut diusahakan oleh petani setempat secara pola kebun. rambutan. Hal ini menggambarkan bahwa peluang untuk meningkatkan produktivitas masih besar. diantaranya sawo. Komoditas kelapa sawit pada dasa warsa terakhir menjadi primadona bagi perusahaan swasta besar dan PTP di Kalimantan. Luas lahan dan jumlah produksi perkebunan rakyat menguasai secara dominan. Sedangkan komoditas perkebunan rakyat yang berkembangan adalah perkebunan karet. perusahaan perkebunan milik pemerintah (PIP) dan perkebunan milik perusahaan swasta. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -90 .(Persero) CABANG I MALANG Tanaman Palawija dan Hortikultura Kabupaten Kapuas menghasilkan buah-buahan yang besar. Sedangkan tanaman pinang. kawasan ini diprioritaskan. kapulaga. Karena masih memberikan kinerja yang dominan baik dalam hal luas tanaman maupun jumlah produksi. kayumanis. kapok. Kabupaten Kapuas memiliki lahan rawa yang terluas. perkebunan rakyat di Kalimantan masih tetap menempati posisi strategis dan perlu prioritas pengembangan. merupakan bagian kecil dari lahan yang ada. dibandingkan produktivitas potensialnya. kopi. kelapa. jahe. atau sekitar 66%nya. Produktivitas tanaman perkebunan yang diusahakan oleh rakyat maupun perusahaan besar masih rendah. Tananam Perkebunan Terdapat 3 (tiga) pola pengelolaan perkebunan. cengkeh. lada. kemiri. tetapi produktivitas perkebunan rakyat sangat rendah dibandingkan dengan kedua cara lainnya.

3 53.7 404.6 465.3 42. sehingga tanaman padi.600 15.10 320 769 505.7 81.500 630 5.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Dinas Perkebunan Prop Kalsel 1992 2. Lahan rawa di wilayah DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan tergenang mulai bulan Oktober sampai Mei. Pada periode tersebut aktivitas budaya tanaman selain tanaman tahunan berhenti dan petani mengalihkan kegiatannya untuk menangkap ikan atau beternak. Polder dilengkapi dengan pompa air untuk intake dan untuk drainase.4 67.10 % Real (2) / (1) 51.1 388.3 80.200 1. polder tergenang dan musim kemarau terjadi kekurangan air. 2002.5 153.3 Sistem Budidaya Pertanian di Lahan Rawa Pada masa pendudukan Belanda dibuat Polder di Kabupaten Hulu Sungai Utara.7 51.037. Pola tanam pada wilayah ini dipengaruhi penggenangan periodik tersebut. Salah satu kondisi rawa yang telah dikaji secara lebih terperinci adalah kondisi rawa lebak di Kabupaten HSU. Prov.6 51.6 70.6 873.8 4.2 4.070.4 74. sehingga pada musim hujan.6.161. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -91 .yang membentang di Alabio.100 600 570 1. No 1 Budidaya Perkebunan Rakyat Karet Kelapa Kopi Kakao Lada Cengkeh Tahun 19911 Kayu manis Tebu Serat karung Perkebunan Besar Karet Kakao Tebu Kelapa Sawit Produktivitas Potensial kg/ha (1) 1. dan Babirik.3.000 Produktivitas Real Kg/ha (2) 615.3 79. Kalimantan Selatan.50 8.3 2 Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan.3 76. Polder tersebut dibuat untuk mengatur tata air sehingga pada musim penghujan genangan bisa dikurangi dan pada musim kemarau air dari sungai bisa masuk ke polder.100 5. Curah hujan adalah salah satu faktor terhadap iklim maupun kegiatan tanam.000 300 1. Pompa air yang telah ada sekarang hanya berfungsi suplai untuk 15% luasan yang ada.6 816.23 Produktivitas Beberapa Tanaman Perkebunan di WS Barito-Kapuas.300 1.250 1. Saat ini polder tersebut berkurang fungsinya. Danau Panggang.3 74.

watun III ditanami pada bulan Juli. di Kab HSU. seperti mangga dan lain-lain. Tanaman padi pada lebak atas sering kekurangan air pada musim kemarau. pada lebak dalam dilakukan budidaya ikan. Namun. lebak tengahan. Sebagian lebak dangkal ditanami tanaman tahunan dengan membuat system surjan untuk menghindari genangan pada musim kemarau. Penanaman padi pada lebak dalam sering gagal panen karena terlambat tanam. ditanami bulan Juni/Juli dan panen bulan September/Oktober. Pada umumnya. watun II. ditanam tanaman tahunan. lebak tengahan. Lebak dalam. Areal watun I umumnya ditanami pada bulan Mei/Juni dipanen bulan Agustus/September. Pembagian areal tanam sering disebut istilah watun. Sedangkan pada lebak dalam bisa dimulai bulan Juli. kondisi pompa saat ini tidak mampu mensuplai kebutuhan pada lebak atas. hortikultur. yaitu lebak dangkal.14 Pola Tanam Polder Alabio Keterlambatan penanaman tersebut bisa mengakibatkan gagal panen. Kalsel 2002 Gambar 2. palawija. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -92 .(Persero) CABANG I MALANG palawija. Tanaman tahunan bisa bertahan melewati masa ini Musim tanam di daerah rawa dimulai pada bulan Mei dan berturut mulai dari lebak atas sampai tengah. Dec Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop MUSIM HUJAN MUSIM KEMARAU LAHAN TERGENANG PADI PALAWIJA DAN HORTIKULTURA Sumber : Laporan Akhir Studi Pengembangan Lahan Rawa Lebak. Sementara itu di sepanjang levee Negara. dan lebak dalam. dan komoditas tanam adalah mangga. Lahan rawa pada polder alabio bisa dibagi atas tiga jenis berdasarkan genangan pada musim hujan. Tanaman padi umumnya pada lebak dangkal dan tengahan. Biasanya kekuranan air tersebut ditanggulangi dengan menaikan air dari Sungai Negara dengan pompa air. dan hortikultura ditanam sekali setahun.

dan persyaratan lingkungan hidup tertentu.77 0.369 34.899 105. topografi/bentuk.000 KALIMANTAN TENGAH 1 Barito Hulu – Buntok 2 Sebangau I 3 Barito Tengah 4 Kahayan – Murung I 5 Sebangau II 6 Kahayan – Murung II 7 Hulu Kahayan – Murung 8 Tangkiling – Kahayan Hulu JUMLAH KALTENG KALIMANTAN SELATAN 1 Banjar I 2 Banjar II 3 HSU dan Tengah II 4 Tanah Laut 5 Barito Kuala 6 HSU dan Tengah I 7 Kotabaru 8 Barito Tengah 9 Sei Kupang 10 Asam-asam – sebamban JUMLAH KALSEL Barito Selatan Kapuas Barito Timur Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Banjar Banjar HSU dan Tengah Tanah Laut Barito Kuala HSU dan Tengah Kotabaru HSU dan Banjar Kotabaru Tanah Laut dan Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan.140.08 0.226 4. hukum.89 2 41.140 % 3. sosial.74 2. dan juga didasarkan pada potensi wilayah.3 1. 2002.8 Lembar Peta 1:250.5 0.19 10.97 2.277 81.304 148.049 305.988 267.303 501. hidrologi. Sehingga disimpulkan bahwa faktor-faktor pendukung prioritas adalah : (a) urutan prioritas pengembanan komoditas berdasarkan evaluasi kesesuaian lahan (b) luas hamparan satuan kawasan rawa (SKR) (c) ketersediaan aksesibilitas (d) kelayakan ekonomi dari komoditas yang secara teknis sesuai.471 1. Peruntukan lahan merupakan hal yang juga memerlukan kajian terhadap masalah ekonomi.41 0.232 304.136 304.899 211.447 102.6.33 2.361.656 69.4 Prioritas Pengembangan Kawasan Reklamasi Rawa Untuk Pertanian Prioritas peruntukan lahan berdasarkan kesesuaian sifat fisik dan lingkungan hidup. Dinas Perkebunan Prop Kalsel 1992 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -93 .89 0.406 229. Tabel 2.(Persero) CABANG I MALANG Watun 1 Watun 2 Watun 3 Dominan padi dan palawija Dominan beje Masalah utama : kekurangan air pada musim kemarau Masalah utama : genangan air Gambar 2. dan kelembagaan yang menurut keterlibatan lintas sektoral.15 Pembagian Polder Alabio atas Watun 2. tanah.66 0.89 1 1.722 60.57 2.903 6.53 4. yang ditentukan oleh iklim.24 Prioritas Pengembangan Satuan Kawasan Rawa (SKR) di WS BaritoKapuas No NAMA SKR KABUPATEN LUAS SKR Ha 369.206 113.06 2.18 0. politik.361 20.3.

sehingga diharapkan dapat dimanfaatkan peluangnya menjadi cash provit bagi wilayah di dalam WS Barito-Kapuas. tebu. Komoditas yang menjadi prioritas perkebunan rakyat adalah karet. lada. 13% obat-obatan. 1% tebu. Dari tabel tersebut nampak bahwa komoditas karet mendominasi sektor perkebunan. dan perkebunan besar (yang dikelola oleh perusahaan). 0% aren. Kelapa .5 Pengembangan Perkebunan Pengembangan sektor perkebunan berdasarkan kajian hasil penelitian diatas menempatkan 2 (dua) kelompok perkebunan rakyat.3. tebu. kakao. Sedangkan komoditas dari perkebunan besar adalah karet. Luasan perkebunan karet terbesar berada di Kabupaten Tabalong. cengkeh. kopi. kakao. tahun 2004.6. 6% Other. Kalsel. kayu manis. 3% Gambar 2. pada tabel berikut ini. 3% Karet. dan kelapa sawit.(Persero) CABANG I MALANG 2.16 Preferences Pengembangan Perkebunan di WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -94 . Berdasarkan hasil kajian dari Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Selatan. 14% Kelapa sawit Karet Kelapa tebu kemiri obat-obatan aren kemiri. 63% Kelapa sawit. kelapa. telah disusun 15 kimbun dengan 7 komoditas. serat karung.

walaupun pada beberapa tempat didominasi oleh pertambangan dan industri pendukungnya.005 974 N/A 13.446 885 N/A 3.638 148 36.000 85.598 9.422 14.085 17. Komoditas yang Diusulkan Kajian pengembangan komoditas didekati berdasarkan aspek sosial ekonomi.260 1.928 5.061 16.358 809 1.988 1. Pada analisis ini diasumsikan bahwa untuk mengerjakan usaha taninya petani hanya menggunakan tenaga kerja dari keluarga petani yang bersangkutan.159 9.423 3. Untuk mengentahui kecenderungan itu maka dilakukan analisis return to family labour.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.097 8.362 2.366 3.920 900 994 2.454 3.670 148 5.6 Pengembangan Pertanian di Lahan Rawa Secara umum sektor pertanian dan sub sektor pendukungnya masih menempati ranking pertama terhadap pendapat wilayah secara umum.678 N/A 960 1.000 7.993 4.892 POTENSI (Ha) 10.771 15.244 826 582 7.174 1.638 1.075 11. walaupun dalam kenyataannya tidak dibayar secara langsung.185 72.174 349 17.358 8.627 200 8.362 1.763 PRODUKTIVITAS (Kg/Ha) 6.056 121.002 19.808 7.986 12. Kegiatan pertanian masih menonjol pada hampir semua wilayah yang memiliki lahan basah.3.25 Potensi Areal dan Rencana Pengembangan Perkebunan di WS BaritoKapuas. dan komoditas yang digunakan adalah padi. umbi alabio.000 N/A 3. Sept 2004 2.874 25.000 4.096 898 N/A 900 2.314 30. palawija.013 3.066 4. Prop Kalsel No 1 KABUPATEN Kab Tanah Laut KOMODITAS Kimbun Kelapa sawit Kimbun Karet Kimbun Cengkeh Kimbun tebu Kimbun Obat-obatan Kimbun karet Kimbun kelapa Kimbun kelapa Kimbun karet Kimbun aren Kimbun karet Kimbun kelapa/ aren Kimbun karet Kimbun kemiri Kimbun kopi Kimbun karet Kimbun kelapa sawit Kimbun kelapa Kelapa sawit Karet Kelapa tebu kemiri obat-obatan aren AREAL EKSISTING (Ha) 20. Pada lahan basah kegiatan dilakukan pada watun I sampai watun 3.690 5.048 970 890 7.845 13.180 349 7.461 24.975 33. Nilai return to family labour Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -95 .650 18.106 N/A 14.086 994 1.235 13.813 PRODUKSI (Ton) 5.137 33.506 1. Besaran nilai return to family labour seakan-akan besarnya upah yang dibayarkan kepada anggota keluarga.586 42.638 2 3 Kab Banjar Kab HSS 4 5 6 Kab HST Kab HSU Kab Tabalong 7 Kab Batola Sumber : Dnas Perkebunan Propinsi Kalsel.180 10.574 755 N/A 5.615 6. dan sayuran.369 147.837 1. waluh.678 N/A 4.002 2.465 9.719 3.180 1.670 1.6.612 26.

000 20.5m : 500 ekor tebar = 1. Untuk menaikkan nilai return to family labour.26 Nilai Return to Family Labour Berbagai Jenis Usaha Tani NO JENIS USAHA TANI UNIT RETURN TO FAMILY LABOUR ( RP ) 1 2 3 4 5 Usaha tani padi Usaha tani kedelai Usaha tani jagung Usaha tani waluh Usaha ternak itik Ha/musim Ha/musim Ha/musim Ha/musim 100 ekor/kandang 5.000 ekor tebar Dari kajian diatas. Untuk itu diperlukan penelitian lanjutan untuk membudidayakan pada kawasan lain (ekstensifikasi). Kalsel 2002 * ** = 2.600 7 Budidaya karamba ikat betook ** Per karamba 640.-). Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -96 . namun penyebarannya tidak merata. di Kab HSU. dan hanya pada satu kawasan tertentu saja (Desa Sungai Durait Tengah).370 Sumber : Studi Pengembangan Lahan Rawa Lebak.000.(Persero) CABANG I MALANG diperoleh dengan dengan menghitung besarnya tenaga kerja yang menyebabkan nilai NPV (net present value) = 0 (nol). Hasil kajian tersebut adalah : Tabel 2.5m x 1.300 6 Budidaya keramba ikan betutu * Per karamba 9.000.500.556.000.5m : 1. Hal ini merupakan salah satu penyebab polder alabio kurang optimal pemanfaatannya. 6.305 2. Usaha waluh menempati posisi tertinggi. Besarnya return to family labour dapat dipakai sebagai salah satu indikator untuk melihat besarnya daya tarik petani terhadap suatu usaha tani.000.000 1.214.000 1. nampak bahwa usaha tani dengan basis tanaman pangan pada kabupaten HSU memberikan return to family labour lebih rendah dari usaha peternakan maupun perikanan.974.5m x 1.5m x 1.5m x 1. maka digabungkan dengan usaha ternak itik (menjadi ± Rp.

pakan. Ciri POSYANDU. menyediakan pelayanan terpadu (reproduksi.makanannya murah dan tidak selektif . kecenderungan kebutuhan konsumen dengan ketersediaan pasokan komoditi ternak semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini menjadi kritis.penghasil pupuk organik potensial .3.sebagai ternak kerja . A.(Persero) CABANG I MALANG 2.7 Pengembangan Peternakan di Lahan Rawa Berdasarkan data peternakan nasional. Oleh karena itu.mempunyai pangsa pasar baik .461 Ha masih memungkinkan untuk dikembangkan.mempunyai kemampuan mencerna makanan lebih baik . karena media air sangat cepat menularkan penyakit. . Pengembangan Peternakan Kerbau Rawa Beberapa kelebihan dari peternakan kerbau rawa antara lain : . dan pemasaran) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -97 .lebih tahan penyakit. Program yang diusulkan dalam pengembangan peternakan kerbau rawa adalah: 1.864 ekor pada tahun 2000 dengan luas lahan 24.dapat dijadikan sebagai tabungan peternak Peternak kerbau rawa di Kecamatan Danau Panggang dengan populasi sebanyak 5.dapat ditingkatkan pada aspek teknologi/bioteknologi untuk tujuan peternakan rakyat maupun komersil . pengembangan tempat POSYANDU (pelayanan terpadu ternak kerbau) di kantong-kantong produksi. prospek pengembangan peternakan sangat terbuka untuk ditingkatkan. kesehatan. secara umum. nutrisi.mudah beradaptasi dengan lingkungan .6. populasi harus diimbangi dengan tersedianya fasilitas kesehatan ternak. Dengan memperhatikan kapasitas tampung dan menjaga meluasnya gulma.sifat kerbau jinak dan mudah dipelihara .

sekaligus sebagai pengembangan sistem penggembalaan (paddock) di daerah rawa. Salat satu cara mengurangi infeksi cacing hati. dan sedikit sekali berupa leguninosa. 5. dengan prospek yang masih sangat memungkinkan sebagai produsen telur. Masyarakat telah mampu menyilangkan itik dengan jenis lain merupakan potensi SDM yang baik untuk mendapatkan varietas yang efisien. kemungkinan kualitas peternak dengan meningkatkan pengetahuan. adalah dengan mengendalikan host intermediare-nya yaitu siput (lymnea rubiginosa). Pengembangan Peternakan Itik Alabio Itik alabio merupakan maskot daerah di Kabupaten HSU. dan Taiwan. khususnya mikro mineral disertai adanya anthelmintic melalui pengembangan metode salt mineralized lick. nutrisi pakan. Saat ini terlihat bahwa rumput rawa kurang beragam jenisnya. 8. Rasionalisasi jarak dan sebaran kalang agar mudah dijangkau saat patus untuk mencegah kematian anak. Teknologi mutakhir tentang persilangan merupakan komponen penunjang yang sangat baik untuk diimplementasikan di Kabupaten HSU. Itik alabio sebagai itik pedaging merupakan andalan ekspor di beberapa Negara seperti Korea. Penyelidikan 7. Itik ini merupakan kualitas unggul di Indonesia. 6. Menjajaki tentang siput ini dapat membantu dalam upaya penemuan metode yang tepat dalam mencegah penyakit cacing hati. Introduksi beberapa pakan total daerah yang rawa yang tinggi kadar proteinnya (catatan : protin rumput rawa masih rendah dari yang dibutuhkan kerbau). 3.(Persero) CABANG I MALANG 2. Pengendalian gulma (eceng gondok) agar lahan tempat tumbuh pakan ternak tidak menyempit. China. dan merupakan salah satu kawasan ternak andalan di DAS Barito. Suplementasi pakan terpadu. mengembangkan manajemen wilayah kantong produksi. B. 4. terutama yang berkaitan dengan reproduksi. Program pengembangan yang dapat diusulkan adalah : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -98 . kesehatan ternak dan pemasaran.

pengolahan daging itik. dan pakan aquatic) formulasi pakan lokal dan percontohan home industry produksi pakan lokal pengembangan pakan aquatic kaya protein dan energi sesuai dengan kondisi rawa. khususnya itik afkir pengembangan system grading telur dan daging itik alabio pembuatan model system perkawinan untuk peningkatan mutu generik C.(Persero) CABANG I MALANG demplot kandang terapung dengan menggunakan prinsip optimalisasi sumberdaya dan pendauran limbah yang efisien dalam suatu komoditas terpadu (ikan. antar daerah. walaupun pertumbuhannya kurang optimal. Beberapa hal yang mendukung adalah : Peternak mampu menyilangkan produk ternak unggul yang setara ayam ras. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -99 . Pengembangan Peternakan Ayam Buras Perusahaan ayam buras sangat terbuka baik untuk pasokan lokal. terutama dalam hal menghasilkan telur. Teknologi persilangan yang mampu menghasilkan bibit secara efisien Ketersediaan pakan yang kontinyu dengan harga stabil Penanganan penyakit secara massal Ayam cukup rentan terhadap penyakit New Castle Descease (NCD) Adanya pengairan terpadu akan makin mendukung usaha peternakan ayam Program pendukung ternak ayam buras adalah : a) b) c) Vaksinasi Memberikan pakan tambahan Minimisasi biaya (low cost input) dengan menggunakan pakan biaya murah. Dengan demikian masih sangat terbuka untuk dikembangkan. padi. itik. Salah satu sentra pengembangan ternak ini adalah di Kabupaten HSU. maupun antar Provinsi.

A. sehingga harga ikan telah kembali normal. 2. pada kawasan lahan rawa lebak diarahkan pada 2 (dua) cara. dimana ikan-ikan dengan nilai ekonomis tinggi seperti gabus dan betook sudah mulai berkurang. Dikembangkan suatu bangunan pengendali muka air pada watun yang telah diplot peruntukannya. Menampung ikan rawa yang bernilai ekonomi tinggi pada musim kemarau.(Persero) CABANG I MALANG d) Metode pengembangan dengan system back yard farming dengan pemberian pakan system free choice dari areal sekitar perkandangan. karena rawa lebak adalah milik umum. Sektor perikanan pengembangan budidaya ikan rawa. dan menampung sampai musim hujan. diketahui bahwa hasil tangkap nelayan rawa mulai menurun. dengan sentuhan teknologi tepat guna. 2) pengembangan perikanan tangkap. yaitu : 1) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -100 . B. dan diperlukan percontohan demplot.8 Pengembangan Perikanan di Lahan Rawa Saat ini kegiatan perikanan merupakan kegiatan tambahan disamping kegiatan bertani dan beternak.6. Untuk mengatasinya budidaya perlu dilakukan. apabila mungkin didukung dengan pompa Pembukaan kawasan budidaya. Pengembangan Budidaya Ikan Rawa di Lahan Rawa Lebak Hal-hal yang mendukung pengembangan budidaya perikanan di lahan rawa lebak adalah sebagai berikut : Penataan kawasan. dengan pengaturan teknis Mengembangkan system budidaya sesuai ketersediaan air. Teknologi menjebak ikan dengan beje. Perikanan Tangkap Hal-hal yang mendukung pengembangan perikanan tangkap di lahan rawa lebak adalah sebagai berikut : Perlunya penegakan hukum. misalnya pada musim hujan budidaya dilakukan di Watun – 1. sehingga siklus aliran masuk dan keluar teratur. sehingga siapapun boleh menangkap di perairan tersebut Kegiatan penangkapan ikan sebaiknya dibatasi dengan jenis alat yang digunakan. tetapi pada saat surut pada Watun – 3. Berdasarkan data kuantitas penangkapan ikan.3.

maka disusun skenario seperti tabel berikut. dengan teknologi yang sesua Manfaat yang didapatkan apabila dilakukan pengembangan yang terencana dan terarah : a) b) c) d) e) Masyarakat akan memperoleh pendapatan tambahan selain dari bertani Kegiatan perikanan dapat mengarah pada peningkatan pendapatan daerah Kegiatan perikanan pada batas tertentu menjadi sumber protein yang murah bagi masyarakat Kegiatan perikanan merupakan langkah konservasi terhadap species tertentu Pengembangan pada tahap lanjutan merupakan potensi wisata 2. dengan komposisi yang bervariasi. Dengan mengkaji kondisi saat ini. yaitu penelitian yang dilakukan pada salah satu rawa lebak di Kabupaten HSU.9 Pertanian Terpadu (Integrated Farming) Lebak yang berada di sepanjang aliran DAS Barito memiliki berbagai sifat fisik yang berbeda-beda dan memerlukan pemanfaatan yang berbeda pula. Konsep pengembangan ini juga mengacu pada kondisi musim. i) potensi lahan dalam siklus setahun. di Alabio. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -101 .6. ii) variabilitas kondisi lahan secara mikro. sehingga akan didapatkan kondisi yang optimal.(Persero) CABANG I MALANG Kesepakatan bersama dalam suatu reservat Penebaran bibit pada perairan bebas. iii) analisis finansial. Oleh karena itu langkah yang paling pengembangan pertanian yang terbaik adalah mengembangkan program pertanian terpadu (integrated farming). dan perikanan.3. sesuai dengan potensi masing-masing bagian wilayah tersebut. Hal ini akan sangat menguntungkan apabila kawasan yang dikembangkan memiliki kesesuaian untuk pengembangan potensi pertanian. Hal yang perlu diperhatikan adalah. peternakan.

analisis finansial yang terpilih adalah 1.3. maka disusun program kegiatan yang dapat diselenggarakan dan dikompromikan pelaksanaannya oleh institusi yang terkait. NPV yang dihitung merupakan nilai relatif dan bukan absolut.6. Cash flow dalam perhitungan NPV adalah nilai net cash flow yang telah dikurangi biaya untuk tenaga kerja. Indikator yang digunakan adalah Net Present Value (NPV). di Kab HSU.27 Skenario Usaha Tani Terintegrasi NO SKENARIO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KOMPONEN KOMPONEN TANAMAN PETERNAKAN Padi Padi Padi Padi Kedelai Kedelai Kedelai Kedelai – Itik Itik Ayam Ayam Itik Itik Ayam Ayam – KOMPONEN PERIKANAN Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Ikan karamba dan betutu Sumber : Studi Pengembangan Lahan Rawa Lebak.3. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -102 .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.10 Program Pengembangan Rawa Berdasarkan hasil analisis dari penelitian pengembangan rawa.5. 2. Program kegiatan ini akan lebih baik apabila mengarah pada penyelenggaraan pertanian terpadu (integrated farming). dan digunakan untuk membandingkan skenario terbaik. Kalsel 2002 Catatan : Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di Kabupaten HSU. dan 9.

perbaikan pakan) P engem bangan usaha P os pelayanan k erbau raw a pengem bangan kerbau (kesehatan. padi hiang. k um pai sagu) P enanam an pangan (padi. perk aw inan) P engem bangan perikanan Integrated farm ing P oli kultur P oli kultur Jarring tancap U dang galah P engem bangan tanam an tahunan K ehutanan (m eranti raw a. k angk ung darat. W atun – 2. cabe P eningk atan bak u pakan bahan P enam bahan tanam an aquatic pak an (azolla. W atun – 3 W atun – 2 W atun – 2 W atun – 1. ram in) P erkebunan (kayu putih. pakan. W atun – 2. sepat. jagung) Lim bah ikan L O K AS I W atun – 1. W atun – 2 P engem bangan peternak an W atun – 1 W atun – 1. W atun – 3 P engem bangan bibit itik P eluang usaha itik K andang panggung K andang terapung P eluang usaha ayam B ack yard farm ing buras (vak sinasi.28 Skenario Usaha Tani Terintegrasi Pada Lahan Rawa P R O G R AM P engem bangan P enataan A ir K E G IAT AN T anggul antar w atun P om panisasi air tanah dangkal S um ur raw a P enanam an sagu pada bek as galian sum ur raw a T anam an pangan dan Intensifik asi (padi. patin local (kolam rawa) P atin. haruan B aung – patin (kolam raw a) B etook . upland W atun – 1. sagu. hortik ultura jagung. acacia. w aluh. duckw eed. W atun – 3 S um ber : S tudi P engem bangan Lahan R aw a Lebak. crasikarva) P engem bangan w isata P engem bangan w isata alam budaya pak et dan P apuyu. di K ab H S U . baung local K olam raw a W atun – 1 W atun – 2 U pland W atun – 3 W atun – 2. k elapa hybrid.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. W atun – 2 P engem bangan pertanian W atun – 1. K alsel 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -103 . terung.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -104 . 2005 2.29 Banyaknya Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Kecamatan (2005) Kabupaten Barito Selatan No 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara G. Banyaknya perusahaan dan tenaga kerja di Kabupaten Barito Utara menurut kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut.162 milyar rupiah).1 Kabupaten Barito Selatan Jumlah perusahaan industri kecil di Barito Selatan tahun 2005 sebanyak 6 perusahaan.299 milyar rupiah.B.164 orang.(Persero) CABANG I MALANG 2. Disisi lain.6.2 Kabupaten Barito Utara Jumlah perusahaan industri besar/sedang di Kabupaten Barito Utara tahun 2005 sebanyak 3 perusahaan sedangkan pada tahun 2006 bertambah menjadi 13 perusahaan. Awai Jumlah Tahun 2004 Industri Besar Perusahaan Tng.4. pada tahun 2005 terserap 82 orang naik menjadi 746 orang pada tahun 2006.137 orang. Kerja 1 623 1 2 1 4 4 8 8 21 37 132 2 2 1. Kerja 1 514 Industri Sedang Perusahaan Tng. sedangkan untuk tenaga kerja yang terserap sejumlah 1. Industri menengah berjumlah 4 perusahaan dengan 37 tenaga kerja dan industri besar hanya 2 perusahaan dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 1.137 1000 Sumber : Barito Selatan dalam angka.4 Sektor Industri 2.6. untuk industri kecil (formal dan non formal) jumlah unit usaha kecil pertanian dan kehutanan tahun 2005 adalah 299 buah dengan jumlah tenaga kerja 759 orang dan nilai investasi sebanyak 6. Demikian pula untuk tenaga kerjanya.4. Sedangkan pada tahun 2006 terjadi penurunan jumlah unit usaha kecil pertanian dan kehutanan sebanyak 164 buah dan tenaga kerja (639 orang) serta nilai investasi (6. Tabel 2.6.

4. kecil dan rumah tangga berdasarkan jenis industri di Kabupaten Barito Kuala berjumlah 152 buah.30 Banyaknya Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Kecamatan (2006) Kabupaten Barito Utara No. Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Barito Utara 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -105 . sedangkan untuk tenaga kerja yang terserap 317 orang.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Penurunan jumlah tenaga kerja terjadi karena sebagian tenaga kerja yang sebelumnya bekerja di kelompok IKKRT diserap oleh kelompok industri besar dan sedang.31 Banyaknya Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Kecamatan (2007) Barito Timur No.6.3 Kabupaten Barito Timur Untuk Kabupaten Barito Timur. sedang. 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Montallat Gunung Timang Gunung Purei Teweh Timur Teweh Tengah Lahei Jumlah Industri Kecil Aneka Industri Perusahaan Tenaga Kerja Perusahaan Tenaga Kerja 24 66 0 0 18 35 0 0 29 127 0 0 37 81 0 0 215 714 0 0 16 46 0 0 339 1069 0 0 Sumber : Dinas Pertambangan. dengan jumlah terbesar terletak di Kecamatan Alalak dan Kecamatan Marababan masing-masing 35 buah dan 25 buah. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah Industri Besar Perusahaan Tenaga Kerja 3 95 4 136 6 155 13 386 Industri Sedang Perusahaan Tenaga Kerja 3 17 1 5 9 52 3 18 16 92 IKKRT Perusahaan Tenaga Kerja 4 11 28 64 16 39 5 11 77 152 16 40 146 317 Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Barito Timur Jumlah perusahaan industri besar. jumlah perusahaan pada tahun 2007 sebanyak 146 perusahaan. Berdasarkan klasifikasi industri maka klasifikasi industri kecil yang paling besar yaitu 87 buah disusul industri rumah tangga 71 buah dan industri sedang 36 buah. Tabel 2.

777.4 Kabupaten Kapuas Untuk Kabupaten Kapuas.6.dan Rp 3. No Jenis Industri 1 Minuman Ringan 2 Meubel Kayu 3 Roti 4 Komponen Bahan Bangunan 5 Foto Copy 6 Saos Tomat 7 Perhiasan Emas 8 Service Sepeda/Motor/Mobil 9 Ukiran Getah Nyatu 10 Jasa Kecantikan 11 Service Elektronik Jumlah Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 Jumlah Unit Usaha 4 1 1 2 4 1 1 3 1 1 1 20 Tenaga Kerja 12 2 3 12 6 5 4 24 10 2 2 82 2. Tabel 2.. sedangkan untuk tenaga kerja yang terserap 82 orang.000.000. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Industri Makanan. karet dan plastik Barang Galian bukan logam Industri dasar dari logam Barang dari logam Industri lain Jumlah Klasifikasi Industri Sedang Kecil 0 14 0 0 0 16 16 20 20 0 0 0 0 11 0 6 0 20 36 87 Besar 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Rumah Tangga 22 0 0 5 0 0 0 0 44 71 Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Barito Kuala Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -106 .-. pakaian dan kulit Kertas. minuman dan tembakau Tekstil. barang dari kertas dan percetakan Kayu dan barang dari rotan Kimia.000. Dengan nilai investasi terbesar berasal dari industri logam sebesar Rp 775..000.4.33 Jumlah industri Besar.082.32 Banyaknya Jumlah Unit Usaha Industri di Kabupaten Kapuas.-. Sedang Kecil dan Rumah Tangga di Kabupaten Barito Kuala No.4.6.000.5 Kabupaten Barito Kuala Nilai investasi dan nilai produksi industri di Kabupaten Barito Kuala selama tahun 2007 bernilai Rp 1. Jumlah dan jenis industri di Kabupaten Barito Kuala ditunjukkan pada tabel berikut. Tabel 2.000.(Persero) CABANG I MALANG 2.000.000. jumlah unit usaha industri pada tahun 2007 sebanyak 20 perusahaan.disusul industri kayu dan barang dari rotan yang bernilai Rp 635.

6. Batuan sedimen yang berumur Tersier lainnya adalah batugamping (Formasi Berai) dan batupasir kuarsa (Formasi Montalat). Batuan Basa. Berdasarkan penyebaran formasi batuan yang ada di SWS Barito maka secara umum dapat dibedakan berbagai batuan utama penyusun areal ini. Basa menengah. Permo-karbon dan Pra-tersier. Beberapa referensi geologi regional yang akan mendasari pembahasan geologi di SWS Barito.18 %) serta paling luas terdapat di Sub DAS Negara yang merata di seluruh Sub-sub DAS.73 %) yang hanya terdapat di Sub-sub DAS Balangan dan Sub-sub Tabalong Kanan. determinasi litologis lebih didasarkan secara megaskopis dan referensi terdahulu. Aluvium : merupakan endapan dasar sungai. publikasi P3G tahun 1992 Peta Geologi Lembar Buntok – 1714.5 Sektor Pertambangan Bahan Tambang Wilayah Sungai (WS) akan berdasar pada evaluasi sumber daya alam (natural resources) yang tersedia di WS tersebut. publikasi P3G tahun 1981 Peta Geologi Lembar Banjarmasin – 1712. namun dalam keterbatasan selama studi ini. Batuan Sedimen yang kaya akan mineral kuarsa (Formasi Dahor). Pembahasan lebih rinci geologi lokal lebih dititikberatkan pada litostratigrafi sesuai superposisi perlapisan setempat. b. Batuan sedimen klastik halus sampai kasar yang berumur Tersier yang mengandung mineral kuarsa dan sedikit meterial vulkanik dengan sisipan batugamping (Formasi Warukin).599 ha (12.718. publikasi P3G tahun 1993 Peta Geologi Lembar Muarateweh – 1715. Jenis batuan yang paling dominan adalah Aluvial Induk dan Terumbu Koral dengan luas 841. publikasi P3G tahun 1986 Kondisi geologi WS Barito di Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan terdiri dari Alluvial Induk dan Terumbu Koral. yaitu : a. Batuan berasam.(Persero) CABANG I MALANG 2.898. diantaranya : Peta Geologi Lembar Long Pahangai – 1716. rawa atau undak aluvium. diantaranya bersumber dari kondisi geologi wilayah tersebut. Miosen bawah. Koreksi petrografis dan biostratigrafi mestinya perlu dilengkapi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -107 . c.077 ha (45. Adapun yang terendah adalah jenis batuan basa menengah dengan luas 23. selain itu ditemukan pula batugamping dan batupasir gampingan (Formasi Tanjung).

sekis dan gneiss. Mineral non logam lainnya adalah bentonit yaitu jenis mineral lempung montmorilonit yang dapat dimanfaatkan untuk lumpur dalam pemboran minyak bumi yang memang jarang ditemukan cadangannya di Indonesia. mangan dan platina 2.6. Batuan vulkanik tua menghasilkan tanah yang kaya akan unsur hara. nikel. yang kemungkinan berasal dari Kelompok Selangkai yang diterobos oleh sumbat Batuan Terobosan Sintang. Endapan pasir kuarsa tersebut merupakan hasil proses pelapukan batuan yang mengandung mineral kuarsa di atas. stibnit dan sinabar jumlahnya sedikit tetapi merupakan komponen mineralisasi yang tersebar luas. Mineral logam lainnya adalah besi.6. bagian dasar dari runtunan endapan daratan muka Tersier dan atau batuan Terobosan Sintang. Ketersediaan Sumber Daya alam bahan galian di Satuan Wilayah Sungai Barito dapat diuraikan sebagai berikut: 2. Hal ini wajar mengingat batuan induknya yang berupa batuan granit dan batupasir kuarsa sangat luas penyebarannya. Emas cenderung sangat berlimpah di wilayah kampung Tujang di Sungai Murung. Kemungkinan sesar detachemen bersudut kecil pada dasar runtunan Tersier. Mineral lempung lainnya yang merupakan bahan baku untuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -108 . f.(Persero) CABANG I MALANG d. Batuan metamorf terutama kuarsit dan batuan metamorf lainnya seperti filit. Banyak emas mungkin berasal dari epitermal dengan alasan sebagai berikut : mineralisasi emas dan terobosan dangkal berkaitan secara ruang dan waktu.1 Bahan Galian Logam Mineral logam utama yaitu berupa emas primer dan sekunder (plaser). kromit. berperan sebagai perangkap untuk emas. logam dasar jarang ditemukan dan jenis ubahan penunjuk (pengersikan dan oksidasi/argilitisasi).5.5.2 Bahan Galian Non Logam Mineral non logam yang cukup luas penyebarannya dan baik prospeknya adalah pasir kuarsa. e. Endapan emas diduga terbentuk sebagai hasil kegiatan hidrothermal yang berhubungan dengan peristiwa magmatik Oligosen akhir sampai Miosen yang menghasilkan Batuan Terobosan Sintang dan bersamaan dengan pengangkatan tinggian alas (Komplek Busang). pendulangan emas banyak dilakukan oleh penduduk dan beberapa perusahaan penambangan telah mengusahakan emas ini. Batuan beku baik yang berupa batuan plutonik bersifat granit (asam) dan intrusi menengah sampai basa.

Batubara banyak dijumpai di Formasi Tanjung dengan tebal antara 50 – 100 cm. umumnya berperingkat lignit sampai berbitumen tanggung (sub-bituminous). Kawasan andalan yang terdapat di KTI sebagaimana tercantum dalam Strategi Nasional Pemantapan Pola Tata Ruang (SNPPTR) berjumlah 56 kawasan. Pertumbuhan yang terjadi di kawasan andalan tersebut diharapkan berdampak positif terhadap pertumbuhan kawasan belakangnya (hinterland). Senakin (Kalimantan Selatan) yang umumnya berperingkat berbitumen tanggung dengan bitumen berat isi tinggi. Kecuali batubara Sangatta (Miosen) yang umumnya berperingkat bitumen beratsiri tinggi (high volatile bituminous). yaitu kawasan yang dinilai bisa berkembang cepat dengan sedikit investasi pemerintah. Kaolin cukup luas penyebarannya dan prospeknya sangat baik.(Persero) CABANG I MALANG industri keramik adalah kaolin. karena kawasan tersebut akan mendapat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -109 . Umumnya batubara Eosen mempunyai kandungan abu yang lebih tinggi daripada batubara Miosen. yaitu di Pulau Sumatera dan Kalimantan. selain itu juga dijumpai dalam Formasi Warukin. Sumberdaya batubara Indonesia tersebar luas di seluruh kepulauan. dalam hal ini adalah kawasan yang berpotensi untuk cepat tumbuh dibandingkan dengan kawasan lain yang ada dalam satu Provinsi. Contohnya adalah batubara Ombilin (Sumatera Barat). Dengan memilih satu kawasan andalan dari setiap Provinsi diharapkan keberhasilannya lebih terjamin. Pengembangan Kawasan Andalan Pada Sektor Pemanfaatan Potensi Mineral Dan Energi Kawasan andalan pengembangan ekonomi terpadu (Kapet) yang selanjutnya disebut kawasan andalan. Namun karena keterbatasan dana pembangunan. Namun yang bernilai ekonomis dan berskala besar hanya terpusat pada cekungancekungan Tersier di Indonesia bagian barat. maka DP-KTI memilh kawasan-kawasan andalan yang diprioritaskan pengembangannya. Mutu batubara Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua grup. singkapan yang baik dapat dijumpai di hulu Sungai Kintap Kecil dan di Sungai Binuang. Grup pertama adalah batubara yang berumur Miosen. Grup kedua adalah batubara Eosen yang umumnya mempunyai peringkat lebih tinggi daripada batubara Miosen.

Mbay di Nusa Tenggara Timur dan Bima di Nusa Tenggara Barat. pariwisata dan industri. potensi sumber daya alam dijadikan sebagai arahan untuk mengembangkan suatu kawasan. 8. perikanan. Pengembangan kawasan andalan pada prinsipnya bertumpu pada pendekatan yang berorientasi pada sumberdaya alam dan pendekatan pada sumberdaya manusia. Batuan Beku / Batu belah 11. alokasi DAS dana pembangunan. Dari ketigabelas kawasan andalan tersebut. Besi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -110 . Emas Batubara Gambut Intan Kaolin Pasir Kuarsa Fosfat Batu gamping Kristal Kuarsa 10. 2. Pare-Pare di Sulawesi Selatan. Dengan demikian. 7.(Persero) CABANG I MALANG prioritas Barat. juga diuapayakan pemberdayaan sumber daya manusia setempat agar dapat berpartisipasi dalam pengembangan kawasan tersebut. pertambangan. Selain itu. 9. mineral-mineral tersebut adalah : 1. Departemen Pertambangan dan Energi dalam usaha melengkapi data dan informasi yang dapat digunakan bagi usaha eksploitasi dan pengembangan industri pengolahannya dalam memacu pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia telah melakukan inventarisasi potensi pertambangan dan energi di 13 kawasan andalan prioritas di KTI. di Sakupangbalaut (Satui-Kusan-Kelumpang-Batulicin-Pulau Laut) di Kalimantan Sasamba (Samarinda-Sangasanga-Muara Jawa-Balikpapan) Kalimantan Timur. 6. Biak di Irian Jaya. Bitung-Manado di Sulawesi Utara. Dengan demikian di DP-KTI telah menentukan 13 kawasan andalan sebagai berikut : Sanggau di Kalimantan Kakab (Kapuas-Kahayan-Barito) Kalimantan Tengah. perkebunan. 5. Bukari (Buton-KolakaKendari) di Sulawesi Tenggara. kehutanan. Batui di Sulawesi Tengah. Pulau Seram di Maluku. Selatan. terdapat tujuh sektor ekonomi yang menonjol untuk dikembangkan yaitu : sektor/subsektor pertanian tanaman pangan. 3. 4. Saat ini terdapat 15 (lima belas) daftar mineral-mineral potensial yang terdapat di Kalimantan Tengah.

karena itu data-data sumberdaya mineral tersebut cukup akurat karena berdasarkan tahapan survey. PLTU dan dalam jumlah kecil dalam peleburan timah dan nikel. Kec. Sanaman Mantikei dan Katingan Hilir.Tewah. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -111 . Potensi Emas Kalimantan Tengah memiliki sejumlah endapan emas primer dan letakan (placer). Potensi Batubara Batubara yang menyusun suatu formasi/lapisan batubara pada awalnya berupa gambut atau akumulasi bahan serupa yang kemudian mengalami pembusukan.Seruyan Hulu. Kab. industri semen. danau. 2. Zircon Beberapa yang sudah produksi seperti batubara. Endapan emas di Kalimantan Tengah dapat dijumpai di : − − − − − − − Kab.Barito Timur : Kec. Batubara di Indonesia banyak digunakan untuk bahan bakar. Sedangkan mineralmineral lain sedang berada dalam proses survey dari tahap pengamatan lapangan sampai eksplorasi detail. arseno pirit. tetrahidrit.Katingan : Kec. Katingan Tengah. Tembaga 14. rawarawa dan paleo chanel (gosong). Timah Hitam 13. Kab. Kapuas Tengah dan Timpah Kab. kalkopirit dan sedikit pada galena dan spalerit).Katingan Hulu.Seruyan : Kec.Murung Raya : Kec. Kota Palangka Raya : Sungai Takaras Kec. kristal kuarsa dan zircon. Kahayan Hulu Utara. pasir kuarsa. sedangkan yang merupakan hasil endapan hidrotermal yang secara genetic berasosiasi dengan intrusi batuan beku asam dan juga sering berasosiasi dengan kuarsa dan sulfide (pirit.Gunung Mas : Kec.(Persero) CABANG I MALANG 12.Dusun Tengah. Rungan. Sepang dan Kurun.Sumber Barito. Kab.Kapuas Hulu. Manuhing. emas. Endapan letakan (placer) banyak ditemukan di sungai. Permata Intan dan Tanah Siang Kab. batu gamping.Seruyan Tengah. batu lempung. intan. Air Raksa 15. melalui proses kompaksi dan panas dalam waktu yang sangat panjang maka gambut akan berubah menjadi batubara.Kapuas : Kec. 1.Bukit Batu.

Kab.Katingan Tengah.5 – 7 meter dan mempunyai kualifikasi “Cooking Coal dengan kandungan sebagai berikut : − − − − − − Kandungan air : 8.000 kal/gr antara lain : − − − − Kab. Sungai Lahei. Didaerah ini batubara banyak ditemukan di Muara Bakah. Survey penyelidikan batubara di Kalimantan Tengah telah dilakukan sejak tahun 1975 oleh beberapa institusi baik pemerintah maupun perusahaan asing.000 cal/gr. Mentaya Hilir dan Cempaga.000 – 8.76 % Karbon : 38. Sungai Maruwai dan sekitarnya.35 – 0. Kab. tengah dan selatan pantai pulau Kalimantan. 3. Kotawaringin Timur : Kec. Sungai Montalat.46 % Nilai Kalori : 7. Manuhing. CSN : 5 . dan Tewang Sangalang garing. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -112 .000 kal/gr) juga ditemukan di Kabupaten Barito Utara dan Murung Raya bagian utara. Beberapa lapisan batubara mempunyai ketebalan mencapai 1.66 % Sulfur : 0.39 – 1. Bakanon.(Persero) CABANG I MALANG Batubara di Kalimantan Tengah sudah mulai ditambang sejak awal abad 19 tambang batubara didekat Muara Teweh sudah ditambang sejak tahun 1910 dan mampu menghasilkan sekitar 7.000 ton pertahun saat itu. Lebih dari 7 juta hektar berada sepanjang daerah barat. Rungan. salah satunya PT.Katingan : Kec. Potensi Gambut Gambut adalah endapan organik yang mengandung sisa-sisa tumbuhan yang telah mengalami dekomposisi sebagian dan mengandung bahan lain seperti air dan bahan-bahan lain non organic biasanya berupa lempung dan lanau.Mentaya Hulu.7 Lokasi lain yang juga memiliki potensi kandungan batubara dengan nilai kalori <6.74 – 15.Kotawaringin Barat : Pangkalan Banteng dan Kotawaringin Lama.000 berkualitas baik (> 8.Tewah. Kurun.53 % Volatile Matter : 0.44 – 48. Gambut di Indonesia diperkirakan memiliki area lebih 20 juta hektar dan kebanyakan dalam bentuk dataran rendah dan rawa. Produksi berkurang sejak Perang Dunia ke II dan kemudian berhenti total sekitar tahun 1960. BHP-Biliton yang telah memprediksikan bahwa terdapat sekitar 400 juta ton batubara dengan nilai kalori >7.Gunung Mas : Kec.

Daerah antara Sampit dan Pangkalan Bun Daerah antara Palangka Raya dan Pulang Pisau. dan di Bereng Bengkel sendiri sekitar 20 hektar telah diselidiki secara detail dan telah dilakukan ujicoba produksi gambut bekerjasama dengan Finlandia. Palangka Raya dan Kanamit.(Persero) CABANG I MALANG Survey tanah gambut telah banyak dilakukan secara intensif terutama untuk keperluan pertanian (agricultur).982 – 5. Penyelidikan yang dilakukan untuk tujuan pertanian biasanya hanya gambut yang mempunyai kedalaman 100 cm atau kurang.66 % Zat Terbang : 41.72 % Karbon : 21.426 cal/gr Daerah antara Sampit dan Kota Besi. Saat ini penduduk local Kalimantan Tengah menambang endapan intan alluvial mempergunakan peralatan dan metode yang masih sederhana.70 % Abu : 0.13 % Nilai Kalori : 3.11 – 18. Intan yang Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -113 . Potensi Intan Intan telah banyak ditambang dibanyak tempat di Pulau Kalimantan oleh penduduk sejak lama dan berkembang diberbagai tingkatan sampai sekarang. Secara umum endapan utama intan berasosiasi dengan batuan ultrabasic khususnya batuan periodit. contohnya batuan yang kita kenal sebagai Kimberlite-pipe di Afrika Selatan. Daerah Bereng Bengkel – Kanamit mempunyai potensi yang cukup besar dengan rata-rata kedalaman gambut sekitar 2 meter. Daerah lain yang mempunyai potensi gambut di Kalimantan Tengah adalah : 4. Intan dipotong dan dipoles/digosok di Martapura Kalimantan Selatan. Sumber energi gambut biasanya digunakan untuk tenaga pembangkit tapi dapat juga digunakan untuk bahan baker dan memasak yang biasanya dalam bentuk briket. Gambut yang mempunyai kedalaman lebih dari 100 cm mempunyai potensi sebagai energi. Kualitas gambut Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut : − − − − − − − − Kandungan air : 6. Penyelidikan gambut untuk bahan baker telah dilakukan oleh Direktorat batubara dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral sejak tahun 1984 didaerah Bereng Bengkel.03 – 37.66 – 6. Kuala Kapuas.75 – 57.

650 ton.754. topaz. emas.5 ton − Pahirangan Mentaya Kab. Terdapat 5 endapan kaolin yang cukup besar dan berpotensi tinggi. dan ruby. Penyelidikan terhadap endapan intan sudah dilakukan sejak dulu tetapi masih belum mendapatkan hasil berupa penemuan endapan utamanya. Tetapi kesempatan bagi eksplorasi endapan utama dan alluvial masih ada dan dilakukan. platinum dan pirit. fosfat dan batu gamping.897.04 % yang potensial untuk industri keramik. hyacinth.091. pasir kuarsa.(Persero) CABANG I MALANG terdapat dalam endapan alluvial biasanya terdapat bersama sejumlah mineral seperti korundum. farmasi dan kosmetika. rutile. a.Kotim dengan jumlah cadangan terukur : 2 Kebutuhan lain untuk kaolin dengan kualitas baik adalah untuk industri Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -114 . Endapan utama lainnya adalah : − Kasongan dengan jumlah cadangan terukur : 2. garnet.06 meter = Endapan ini mempunyai kualitas yang cukup baik dan mempunyai ketahanan terhadap panas (seger cone 35/1780º) dan kandungan TiO 1. Endapan berada disuatu area dengan luas 125 ha dan mempunyai karakteristik endapan sebagai berikut : − − − − Warna : Putih keabu-abuan Butiran lempung : Halus Ketebalan rata-rata : 6. Kaolin Kaolin adalah salah satu jeni mineral industri yang terbentuk dari hasil proses dekomposisi dan merupakan pelapukan dari batuan yang kaya akan silikat aluminium. brookite. kromit.76 meter Ketebalan Overbuden : 1. 5. Pasir hitam yang terbentuk dari pencucian residu (disebut puya) terdiri dari : Titano magnetite. yang berada dekat Kota Palangka Raya dengan perkiraan jumlah cadangan terukur sekitar 13. spinel. Potensi Endapan Mineral Lainnya Kalimantan Tengah masih mempunyai sumber endapan mineral lain sebagai bahan tambang yaitu kaolin. Endapan kaolin yang terbesar terdapat di Kereng Bangkirai. quartz.03 – 2.

coklat kekuningan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -115 .16 % TiO : 0.000 ton − Telang Baru.23 % Fe O : 0.000 ton 30.370.400.955. Endapan utama pasir kuarsa di Telang Baru.32 – 3.000 ton.300 ton 690. endapan berada diareal seluas 544 hektar dengan karakteristik endapan sebagai berikut : − Warna : Putih.94 – 36.380.000 ton − Petak Putih Cadangan terukur : − Parit Indikasi cadangan : 20. Barito Selatan dengan jumlah cadangan terukur : 1.08 – 1.64 % MgO : 0.856.000 ton Kualitas kaolin yang ada adalah sebagai berikut : − − − − − SiO : 41. Barito Selatan dengan cadangan terukur 14.000 ton 640.600.45 % 2 2 3 2 3 2 46. Sedangkan lokasi endapan lain yang cukup potensial terdapat didaerah : − Tanah Putih Indikasi cadangan : − Tanjung Jaringau Cadangan terukur : − Bukit Arang Cadangan terukur : − Pantai Harapan Indikasi cadangan : − Pengkang Indikasi cadangan : 4.(Persero) CABANG I MALANG 2.01 – 2. − Bereng.856 ton 48.110. Pasir Kuarsa Pasir Kuarsa merupakan endapan sediment dengan ukuran butir pasir dan mempunyai komposisi dominant kristal kuarsa. Manuhing dengan jumlah cadangan indikasi : 1.000 ton − Pundu Indikasi cadangan : 5.000 ton − Kereng Pangi Indikasi cadangan : 16.70 – 69.438.000 ton.97 % Al O : 4.000 ton.000 ton b.

000.000 ton 3.04 – 1.000 ton 3.900.000 ton Kualitas pasir kuarsa yang ada adalah sebagai berikut : Kebutuhan pasar dalam negeri untuk pasir kuarsa saat ini meningkat terutama untuk bahan industri gelas.11 meter Ketebalan Overbuden : 0.(Persero) CABANG I MALANG − − − Ukuran butiran : Halus .160. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -116 .000 ton 23.950.16 – 99.16 % 2 2 3 2 3 2 4.22 % Fe O : 0.000 ton 4.160.68 – 1.000 ton 2.900.000 ton 650.001 – 0.8 % Al O : 0.600.07 % TiO : 0.400.46 meter Endapan lain berada didaerah : − Tuanan Indikasi cadangan : − Sungai Marui Indikasi cadangan : − Batengkong Indikasi cadangan : − Sungai Manyuluh Indikasi cadangan : − Sungai Hawuk Indikasi cadangan : − Lahei Indikasi cadangan : − Merapit Indikasi cadangan : − Takaras Indikasi cadangan : − Pembuang Indikasi cadangan : − Danau Sembuluh Indikasi cadangan : − − − − − SiO : 95.680.000 ton 1.000 ton 15.28 % MgO : 0.kasar Ketebalan rata-rata : 1.10 – 0. Pasir kuarsa sebagai bahan mentah dan industri gelas merupakan satu peluang untuk memperluas ekspor didaerah.000 ton 15.

Fosfat Pada saat ini hanya ada satu lokasi potensial yang sudah ditemukan di Kalimantan Tengah.000 ton − Batu Besar Indikasi cadangan : − Gunung Angah 21.480.000. keabu-abuan kompak dan berfosil. d.000 ton 19. Kualitas Fosfat yang ada adalah sebagai berikut : − − − − SiO : 7.000 ton 11. Barito Utara dengan jumlah cadangan terindikasi sekitar 60. digunakan untuk industri semen.18 % 2 3 2 3 2 5 2 Endapan fosfat guano ini direkomendasikan untuk memenuhi kebutuhan local khususnya bidang perkebunan dan agrikultur.386 ton.466. Endapan ini berada di area seluas 1.7 % Fe O : 6.000.5 hektar dengan karakteristik batuan : − − Warna : Putih.000 ton 52.000. Lokasi lain yang menyimpan endapan batu gamping adalah : − Wonorejo Indikasi cadangan : − Pendreh Indikasi cadangan : − Muara Sepayang Indikasi cadangan : − Muara Juloi Indikasi cadangan : − Batu Qadar Indikasi cadangan : 260.500. Batu Gamping Istilah untuk batu gamping dipakai untuk semua batuan sediment yang mengandung bahan karbonat.000 ton 39.518.10 % P O : 44 % Al O : 30. Barito Selatan dengan kemungkinan cadangan sekitar 133.(Persero) CABANG I MALANG c. Tipe endapan ini ada fosfat guano yang ditemukan didaerah Bukit Angah.337.000 ton Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -117 . Kualitas : Baik. Kalimantan Tengah mempunyai sejumlah endapan batu gamping yang sudah diselidiki yaitu didaerah Hayaping.080 ton.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -118 . kecuali di Kecamatan Katingan Kuala. biji besi tipe magnetis dijumpai didaerah Kabupaten Lamandau. Lokasi dijumpainya batuan beku adalah : − Kabupaten Murung Raya − Kabupaten Barito Utara − Kabupaten Barito Selatan − Kabupaten Gunung Mas − Kabupaten Katingan − Kota Palangka Raya − Kabupaten Kotawaringin Barat − Kabupaten Kotawaringin Timur − Kabupaten Sukamara − Kabupaten Lamandau g. − Pangkalan Muntai. Jenis ini telah lama diusahakan oleh masyarakat didaerah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Sukamara. Kabupaten Kotawaringin Barat. Kristal Kuarsa 8. putih dan kecoklatan (istilah pasar menyebutnya kecubung). Nibung Terjun.280.000 ton Di Kalimantan Tengah dikenal 3 macam yaitu kristal kuarsa yang berwarna ungu. sedangkan tipe kolovial dijumpai didaerah Kabupaten Kotawaringin Timur. Ajang. Batuan Beku/Batu Belah Batuan beku adalah hasil pembekuan magma berkomposisi asam sampai basa. Lokasi endapan kristal kuarsa terdapat didaerah : − Pangkut.(Persero) CABANG I MALANG Indikasi cadangan : − Sarang Burung Indikasi cadangan : − Bukit Sali Indikasi cadangan : e. Di Kalimantan Tengah dijumpai dibagian tengah kearah utara. Kecamatan Arut Utara Kabupaten Kotawaringin Barat. Karena sifatnya yang sporadic maka data pasti tentang cadangan ataupun jumlah produksinya belum diketahui dengan pasti.000 ton 500.000 ton 150. f. Besi Biji besi mempunyai 2 tipe yaitu magnetis dan kolovial.

Kabupaten Katingan. Belum ada catatan pasti tentang potensi dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -119 . k. Di Kalimantan tengah keterdapatannya juga masih merupakan indikasi didaerah Rantau Pandan. Kegiatan tahap lanjutan untuk mendapatkan informasi mengenai timah hitam di Kalimantan Tengah belum dilakukan. Pada saat ini menjadi bahan galian primadona dan terdapat menyebar luas diseluruh Kalimantan Tengah bagian barat.2 juta ton. Kecamatan Sanaman Mantikei. Lokasi tipe magnetis berada didaerah : − Bukit Karim. Di Kalimantan Tengah timah hitam dijumpai didaerah Rungan Hirang. Cadangan bijih besi yang sudah ditemukan 41. Kabupaten Gunung Mas. j. Kabupaten Lamandau − Petarikan. yang berasosiasi dengan besi. Tembaga Tembaga di Kalimantan Tengah juga dijumpai sebagai indikasi. h. Kabupaten Lamandau − Bukit Gojo. sedangkan tipe kolovial terdiri dari limonit dan Ilmenite. Air Raksa Air Raksa sebagai bahan pada dijumpai mineral Cinabar yang merupakan senyawa HgS. Batu Ngasah dan Sungai Miri. Kabupaten Kotawaringin Timur. Kecamatan Kahayan Hulu Utara. Dijumpai didaerah Tumbang Manggu dan Sungai Manukoi. Kabupaten Katingan − Barito Timur Lokasi tipe kolovial berada didaerah : − Kenyala. Zircon Zircon sebagai bahan pada logam yang keterdapatannya sebagai hasil sampingan kegiatan pertambangan emas alluvial. Timah Hitam Timah Hitam yang lebih dikenal sebagai timbale dijumpai sebagai indikasi. i. Kabupaten Lamandau − Tumbang Manggu.(Persero) CABANG I MALANG Tipe magnetis terdiri dari hematite dan pegmatite. Kecamatan Kotabesi.

danau. Potensi wisata tersebut dapat mengandalkan kekayaan alam yang dimiliki. keamanan. Untuk mengembangkannya diperlukan promosi serta pengelolaan yang profesional. 2. Objek wisata budaya yang potensial untuk dikunjungi oleh para wisatawan baik dari dalam negeri maupun dari luar. Hal-hal yang perlu disempurnakan untuk mendukung hal tersebut adalah pengelolaan transportasi. Keunikan berupa sejarah masyarakat.6. yang hingga saat ini belum dikelola dengan baik.1 jaringan jalan dan alur sungai yang dapat dilalui oleh kapal. keindahan alam.6 Sektor Pariwisata Lokasi rawa memiliki keunikan yang dapat dikelola sebagai tempat wisata khas milik suatu wilayah. c. promosi yang memadai dan profesionalitas listrik. Kabupaten Murung Raya memiliki potensi pariwisata yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi ekowisata. desa-desa tradisional. Produksi diperkirakan ± 150. Sektor pariwisata di Kabupaten Murung Raya belum memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah. Kabupaten Murung Raya mempunyai kekayaan alam yang sangat luas. penyelenggaraan wisata. diantaranya berupa : a. Taman keanekaragaman hayati dan agro-wisata. riam.6. gau.(Persero) CABANG I MALANG produksi Zircon Kalimantan Tengah pada saat ini. Taman berburu d. pegunungan. Wisata alam ( sungai. Potensi alam dan budaya merupakan potensi wisata. Disamping itu keramahan masyarakat merupakan daya tarik pula. fasilitas wisata seperti tempat makan. Kabupaten Murung Raya Sampai sekarang ini potensi objek wisata di daerah ini masih belum banyak yang tergali dan masih belum ada investor yang mengelola potensi objek wisata di daerah ini. Arung Jeram ( wisata tantangan ) b. air terjun.6.000 ton per tahun. Berdasarkan karekteristik wilayahnya. antara lain : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -120 . hutan alam dan sumber air panas. dan keunikan hukum. 2. kebudayaan.

Sultan Muhammad Semam adalah Sultan Kerajaan Banjar. lokasi ini dapat dicapai melalui jalan darat.18 Obyek Wisata Pandulangan Emas Masuparia Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -121 . di desa merupakan rumah khas suku dayak. Makam Sultan Muhammad Semam Makam bersejarah ini terdapat di pusat kota Puruk Cahu. Konut wilayah kecamatan Tanah Siang. Gambar 2. Perang Barito berakhir tahun 1903 seiring dengan wafatnya Sultan Muhammad Semam serta tertangkapnya Panglima Batur. Objek wisata yang cukup menarik ini terletak di kaki bukit Manyawang. Pandulangan Emas Masuparia Lokasi pendulangan emas masupari ada di lembah aliran sungai Masupa.(Persero) CABANG I MALANG 1). Beliau adalah penerus perjuangan Pangeran Antasari dalam memimpin perang Barito selama lebih dari 40 tahun melawan kolonial. Sampai sekarang ini potensi objek wisata di daerah ini masih belum banyak yang tergali dan masih belum ada investor yang dan mengelola budaya potensi objek potensi Sektor wisata di daerah ini. Betang Konut merupakan salah satu betang yang masih berdiri dari suku dayak siang. anak sungai Tihis. mampu menarik para wisatawan untuk berkunjung.17 Obyek Wisata Betang Konut 3). Betang Konut Betang Betang atau Konut rumah terdapat panjang. kurang lebih 8 KM dari Puruk Cahu. Gambar 2. yang hingga saat ini belum dikelola pariwisata dengan di Kabupaten Murung Raya belum memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah. cabang dari sungai Mendaun anak sungai Kapuas. 2). wisata. Potensi alam merupakan baik.

Air Terjun Dirung Duhung Kawasan ini dikembangkan dan dilindungi oleh Pemerintah Kabupaten Murung Raya dengan membangun berbagai fasilitas wisata untuk kenyamanan para wisatawan yang akan mengunjungi kawasan wisata ini yang sangat potensial dijadikan gelanggang wisata Arung Jeram. Gambar 2.19 Obyek Wisata Pasir Putih 5). Gambar 2. Obyek wisata ini dapat ditempuh kurang lebih 4 jam dengan menggunakan kendaraaan roda empat maupun roda dua dari arah Ibukota Kabupaten Murung Raya Puruk Cahu. yang dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.20 Obyek Wisata Air Terjun Dirung Duhung Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -122 . menuju obyek wisata air terjun Bumbun dan Monumen Equator di Kecamatan Utut Murung. Obyek wisata Dirung Duhung terletak di Kecamatan Tanah siang kurang lebih 20 km dari kota Puruk Cahu Ibukota Kabupaten Murung Raya. Wisata Pasir Putih Obyek Wisata ini dikenal dengan sebutan Bukit Tengkorak.(Persero) CABANG I MALANG 4).

(Persero) CABANG I MALANG

6). Air Terjun Bumbun Obyek wisata ini terletak di desa Tumbang Olong, keindahan alamnya yang sangat menarik dengan percikan airnya yang sangat jernih. Tidak heran pada hari-hari liburan banyak wisatawan lokal yang berkunjung ke lokasi ini. Jaraknya, kurang lebih 100 km dari ibukota Puruk Cahu. Gambar 2.21 Obyek Wisata Air Terjun Bumbun 2.6.6.2 Kabupaten Barito Kuala

Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kabupaten Barito Kuala ada beberapa tempat wisata yang lazim dikunjungi oleh wisatawan seperti Taman Wisata Alam Pulau Kembang, Cagar Alam Pulau Kaget Alur Sungai Barito, dan Makam Syekh H. Abdussamad Wisatawan terbanyak selama Tahun 2007 berkunjung Taman Wisata Pulau Kembang dan Tempat relegius Makam Sekh H. Abdul Samat yakni berjumlah 13.225 orang dan 11.825 orang. Wisatawan yang berkunjung ini berasal dari wisata manca negara berjumlah 125 orang dan sisanya wisatawan nusantara 49.865 orang. Tabel 2.34 Obyek Wisata di Kabupaten Barito Kuala
Nama Obyek Wisata Taman Wisata Alam Pulau Kembang Jenis Alam Daya Tarik Kera dan Bekantan Sungai dan Pulau Bakut Tanah Lapang dan Danau Tanaman Jeruk Pemandangan Sungai Barito Kerbau dan Rawa Makam Ulama Lokasi/ Tempat Kec. Alalak Jarak ke Objek Wisata (Km) 60

Jembatan Barito

Buatan

Kec. Alalak

50

Agropolitan Terantang

Buatan

Kec. Mandastana

25

Wisata Agro Sungai Kambat

Agro

Kec. Cerbon

5

Siring Wisata Marabahan

Buatan

Kec. Marabahan Kec. Kuripan Kec. Marabahan Kec. Alalak Kec. Alalak

0

Peternakan Kerbau Kalang

Alam

60

Makam H. Abdussamad

Ziarah

0.5

Makam Datu Kayan Makam Datu Aminin Ziarah Makam

Ziarah Ziarah

Makam Ulama Makam Ulama

50 56

Sumber : Dinas Lingk. Hidup,Kebersihan, Pariwisata dan Budaya Kab. Barito Kuala

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -123

(Persero) CABANG I MALANG

2.6.7 Sektor Energi 2.6.7.1 Kebutuhan Tenaga Listrik

Tinggi rendahnya pemakaian listrik adalah merupakan salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat disamping pemakaian air minum (air bersih). Adanya peningkatan yaitu banyaknya listrik yang terjual selain untuk konsumsi pemerintah, lainnya dan susut/hilang, dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya derajat kesejahteraan masyarakat. 1. Kabupaten Barito Selatan Pada tahun 2005, jumlah keseluruhan pelanggan listrik di Kabupaten Barito Selatan sebanyak 13.042 sambungan. Kecamatan Dusun Selatan merupakan kecamatan dengan jumlah pelanggan terbesar yaitu 7.676 sambungan dan daya yang terjual sebesar 11.120.192 Kwh. Sedangkan Kecamatan G. B. Awai merupakan kecamatan dengan jumlah pelanggan terkecil, yaitu 485 pelanggan dengan daya yang terjual sebesar 315.273 Kwh.

Tabel 2.35 Distribusi Tenaga Listrik Menurut Kecamatan Pada Kabupaten Barito Selatan
No 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara G.B. Awai Jumlah 2004 2003 Pelanggan 1,310 968 1,567 7,676 1,036 485 13,042 11,966 Daya Terpasang (VA) 818,250 577,900 921,960 7,316,100 615,150 299,950 10,549,310 Listrik Terjual (Kwh) 1,080,143 643,327 1,141,484 11,120,192 647,479 315,273 14,947,898 15,211,283 15,129,465

Sumber : Barito Selatan dalam angka, 2005

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -124

(Persero) CABANG I MALANG

2.

Kabupaten Barito Utara Pemakaian energi listrik di Kabupaten Barito Utara didominasi oleh pelanggan rumah tangga. Pada tahun 2007, jumlah pelanggan rumah tangga mencapai 11.788 rumah tangga dengan pemakaian daya listrik sebesar 18.638.437 Kwh. Jumlah produksi dan pemakaian tenaga listrik pada PT. PLN Cabang Kuala Kapuas dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.36 Produksi dan Pemakaian Tenaga Listrik Menurut Unit Pembangkit pada PT. PLN Cabang Kuala Kapuas

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Unit Pembangkit Rtg Muara Teweh ULD Benangin ULD Lemoo Sub Rtg Tumpung Laung ULD Bintang Ninggi ULD Luwe Hulu ULD Montallat Sub Rtg Kandui ULD Sabuh Kantor Jaga M. Lahei Jumlah

Produksi (Kwh) 20,135,098 214,872 516,224 218,966 100,987 512,746 66,241 21,765,134

Dijual (Kwh) 15,804,410 207,043 406,028 472,314 303,795 185,399 98,100 478,550 59,897 622,901 18,638,437

Dipakai Sendiri Susut / Hilang (Kwh) (Kwh) 1,265,853 1,732,128 7,414 43,030 33,139 2,607 33,277 6,232 1,265,853 1,857,827

Sumber : PT. PLN Cabang Kuala Kapuas

3.

Kabupaten Barito Timur Pada tahun 2007, jumlah keseluruhan pelanggan listrik di Kabupaten Barito Timur sebanyak 11.705 sambungan. Kecamatan Dusun Timur merupakan kecamatan dengan jumlah pelanggan terbesar yaitu 3.375 sambungan dan daya yang terjual sebesar 6.229.654 Kwh. Tabel 2.37 Distribusi Tenaga Listrik Menurut Kecamatan Pada Kabupaten Barito Timur
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah Pelanggan 1,160 3,375 764 617 3,024 1,403 498 864 11,705 Daya Terpasang 1,423,585 2,938,250 212,474 338,050 1,603,055 764,740 441,590 798,626 8,520,370 Listrik Terjual 216,855 6,229,654 60,450 30,135 212,771 105,635 52,120 86,027 6,993,647

Sumber : PT. PLN Ranting Ampah & Tamiang Layang

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -125

(Persero) CABANG I MALANG

4.

Kabupaten Murung raya Listrik merupakan fasilitas publik yang sangat strategis dalam mendorong percepatan pembangunan dan pengembangan wilayah di Kabupaten Murung Raya. Sektor ini mampu memberikan pelayanan yang maksimal terhadap masyarakat/rumah tangga maupun terhadap pengembangan industri, perdagangan dan jasa-jasa serta kegiatan pemerintahan. Seiring dengan pemekaran wilayah, dinamika penduduk terus bertambah, kebutuhan akan listrik meningkat setiap tahunnya. Pengembangan sumberdaya air dalam rangka mendukung program tenaga listrik menjadi kebutuhan yang utama saat ini apalagi dengan meningkatnya aktivitasaktivitas pembangunan di Kabupaten Murung Raya. Listrik merupakan sumber energi yang penting bagi kehidupan manusia. Ketergantungan manusia akan sumber energi listrik ini semakin meningkat, baik sebagai alat penerangan, sumber energi bagi alat rumah tangga atau perkantoran dan sarana penggerak kegiatan ekonomi dalam masyarakat. Kebutuhan tenaga listrik bagi Kabupaten Murung Raya bersumber dari PLTD PT. PLN Cabang Murung Raya. Pada Tahun 2003 jumlah daya terpasang di Kabupaten Murung Raya sebesar 2.652.700 VA. dan daya terpakai 3.711.794 Kwh dengan jumlah pelanggan sebanyak 3.302 rumah tangga. Dibandingkan dengan jumlah rumah tangga sebanyak 20.504 KK maka hanya 16,10% dari rumah tangga yang sudah memanfaatkan aliran listrik.

5.

Kabupaten Kapuas Sektor rumah tangga merupakan pelanggan terbesar PLN di Kabupaten Kapuas. Sebanyak 36.886 pelanggan telah terdaftar menjadi pelanggan PLN pada tahun 2007. Pelanggan rumah tangga ini telah menyerap 67.88% dari energi listrik yang terjual. Tabel 2.38 Pelanggan Listrik di PLN Kuala Kapuas
No 1 2 3 4 Jenis Pelanggan Rumah Tangga Usaha Industri Publik Jumlah Pelanggan 36,886 1,706 20 1,397 Kwh Terjual 32,459,014 4,274,857 8,015,305 3,069,915

Sumber : PT PLN (Persero) Wil VI Cabang Kuala Kapuas

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -126

(Persero) CABANG I MALANG

Industri 17% Usaha 9%

Publik 6%

Rumah Tangga 68%

Gambar 2.22 Distribusi Pemakai Daya Listrik di Kabupaten Kapuas 6. Kabupaten Barito Kuala Jumlah pelanggan listrik pada Tahun 2007 berjumlah 517.064 pelanggan dengan daya tersambung sebesar 345.451.520 VA. Untuk KWH terjual sebesar 43.574.172 kwh. Untuk pelanggan yang terbesar berada pada kelompok tarif rumah tangga sebesar 493.664 pelanggan, kemudian kelompok tarif sosial sebesar 14.365 pelanggan. Sedangkan pelanggan yang terkecil pada kelompok tarif Industri yaitu berjumlah 92 pelanggan. Hal ini disebabkan pengelolaan pelanggan yang besarnya diatas 83.500 VA langsung ditangani oleh PT PLN Cabang Banjarmasin karena letaknya berseberangan kota Banjarmasin tepatnya di Kecamatan Tamban dan Alalak. Daya tersambung dan KWH terjual juga terbesar berada pada kelompok tarif rumah tangga kemudian diikututi kelompok tarif kantor dan PJU yakni masingmasing besarnya 34.788.304 kwh dan 4.463.464 kwh. Tabel 2.39 Pelanggan Listrik Di PT PLN Ranting Marabahan 2007
No 1 2 3 4 5 6 Kelompok Tarif Sosial Rumah Tangga Usaha Industri Kantor dan PJU PS dan TS Jumlah Tahun 2006 Tahun 2005 Daya Pelanggan VA Tersambung KWH Terjual 10,467,650 14,365 10,467,650 885,603 295,541,400 493,664 295,541,400 34,788,304 20,143,100 6,081 20,143,100 3,203,546 708,000 92 708,000 92,668 18,591,370 2,862 18,591,370 4,463,464 140,560 345,451,520 517,064 345,451,520 43,574,145 324,441,870 535,443 324444870 41,141,668 43,175 265,982 3192292 43,175

Sumber : PT PLN Cabang Marabahan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -127

(Persero) CABANG I MALANG

PS dan TS Indust r i 0% Usaha 6% Kant or dan PJU 5% 0% Sosial 3%

Rumah Tangga 86%

Gambar 2.23 Distribusi Pemakai Daya Listrik di Kabupaten Barito Kuala

2.6.7.2

Pusat Beban Kalimantan Selatan

Pusat beban Kapuas, Barito dipasok dari sistem interkoneksi 150 kV dan 70 kV Sistem Kalimantan Selatan. Kapasitas terpasang saat ini sebesar 117 MW yang terdiri atas PLTA 30 MW, PLTG 21 MW dan PLTD 66 MW. Untuk mengurangi peranan PLTD dan meningkatkan keandalan sistem, sedang dibangun jaringan transmisi 150 kV sampai ke sistem Banua Lima yang akan beroperasi akhir 1996 dan pengembangan transmisi ke Palangka Raya yang akan beroperasi tahun 1998. Kebutuhan tenaga listrik di sistem Kalsel diproyeksikan akan tumbuh 13%/tahun sehingga beban puncak saat ini 107,7 MW, diperkirakan akan meningkat menjadi 169,9 MW pada tahun 1998. Jumlah desa berlistrik saat ini di kawasan andalan DAS KAKAB adalah 166 desa dari total 484 desa dan direncanakan tambahan desa berlistrik selama Repelita VI sebanyak 91 desa.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -128

(Persero) CABANG I MALANG

2.6.8 Sektor Air Bersih Sehubungan dengan kebijakan Departemen Permukiman dan prasarana Wilayah dalam ‘ pengembangan Sumber Daya Air secara menyeluruh dan terpadu dikenal sebagai ‘ One river, One Plan and One Management’ maka salah satu permasalahan yang berkembang di kawasan Barito adalah masalah penyediaan air baku. Berikut angka statistik yang berkaitan dengan penyediaan air bersih di WS Barito-Kapuas: Tabel 2.40 Distribusi Air Minum Menurut Kecamatan di Kabupaten Barito Selatan
No 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara G.B. Awai Jumlah 2004 2003 Pelanggan 299 297 962 5,532 546 142 7,778 7,219 9,342 Air Disalurkan (M3) 42,751 38,512 95,516 1,103,346 50,356 11,171 1,341,652 1,231,854 1,490,312 Nilai (Rp) 78,846,600 71,425,200 200,049,200 2,653,478,450 103,955,600 25,008,800 3,132,763,850 2,477,042,250 2,244,260,400

Sumber : Barito Selatan dalam angka, 2005

Tabel 2.41 Jumlah Air Minum Yang Disalurkan Menurut Jenis Konsumen di PDAM Kabupaten Barito Utara
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Konsumen Rumah Tangga Hotel/Obyek Wisata Badan Sosial dan Rumah Sakit Pertokoan/Industri Umum Instansi Pemerintah Lainnya Susut Jumlah Pelanggan (buah) 478 1,109 89 110 934 103 152 2,975 Air Disalurkan 3 (m ) 84,978 191,264 11,906 15,592 169,842 16,859 17,091 507,532 Nilai (Rp) 151,388,750 470,885,650 30,057,200 32,010,800 365,275,050 33,656,650 27,365,500 1,110,639,600

Sumber : Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Barito Utara

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -129

(Persero) CABANG I MALANG

Tabel 2.42 Distribusi Air Minum Menurut Kecamatan di Kabupaten Barito Timur
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah 2006 2005 Pelanggan 478 1,109 89 110 934 103 152 46 3,021 2,655 2,594 Air Disalurkan 84,978 191,264 11,906 15,592 169,842 16,859 17,091 3,273 510,805 433,622 413,018 Nilai (Rp) 151,388,750 470,885,650 30,057,200 32,010,800 365,275,050 33,656,650 27,365,500 8,127,500 1,118,767,100 1,067,659,900 572,688,050

Sumber : Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Barito Timur

Tabel 2.43 Pemakaian Air Bersih Kabupaten Murung Raya
Produksi (m3) 274,416 Jumlah Pelanggan 1453 Jumlah KK 20504 Prosentase Pemakaian 7.09

Sumber: Situs Resmi Kabupaten Murung Raya (2008)

Tabel 2.44 Jumlah Pelanggan dan Banyaknya Air Bersih Yang Disalurkan di PDAM Kabupaten Kapuas
No 1 2 3 4 Tahun 2004 2005 2006 2007 Jumlah Pelanggan 13,045 13,626 10,953 11,255 Volume (m3) 3,131,054 2,294,742 2,770,116 2,722,209

Sumber : PDAM Cabang Kapuas

Tabel 2.45 Rekapitulasi Unit PDAM Barito Kuala 2007
No 1 2 3 4 5 6 7 Unit Marabahan Bakumpai Cerbon Rantau Badauh Alalak Anjir Pasar Tamban Jumlah Produksi (m3) 1,956,859 44,529 42,937 105,578 897,152 123,264 1,690 3,172,009 Distribusi (m3) 927,946 35,619 37,799 100,616 772,902 82,834 1,558 1,959,274 Terjual (m3) 764,220 29,349 32,615 92,782 710,943 47,795 1,321 1,679,025 Kebocoran (m3) 163,726 6,270 5,184 7,834 61,959 35,039 237 280,249 Prosentase Sambungan Kebocoran Rumah 17.64 2,519 17.60 219 13.71 197 7.79 355 8.02 3,530 42.30 413 15.21 27 14.30 7,260

Sumber : PDAM Barito Kuala 2007

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -130

(Persero) CABANG I MALANG

2.6.9 Sektor Kesehatan 2.6.9.1 Kabupaten Barito Selatan Jumlah tenaga medis yang ada di Kabupaten Barito Selatan adalah 701 0rang yang terdiri dari dokter umum 26 orang, dokter gigi 8 orang dan bidan 159 orang. Komposisi tenaga medis di Kabupatten Barito Seltan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.46 Jumlah Tenaga Medis di Kabupaten Barito Selatan
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara Gunung Bintang Awai Dusun Tengah Pematang Karau Awang Petangkep Tutui Dusun Timur Benua Lima Jumlah Dokter Umum Dokter Gigi Bidan Perawat Apoteker 1 1 2 9 1 2 2 1 1 1 4 1 26 1 1 0 2 0 0 1 0 0 0 2 1 8 5 10 10 26 17 17 21 11 8 9 18 7 159 10 13 13 86 10 19 24 10 5 6 31 5 232 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 1 0 8 SPKU Tenaga Jumlah Pembantu Teknis 0 5 22 3 7 35 5 9 39 44 82 256 4 2 34 8 14 4 4 1 20 5 112 7 7 2 2 2 24 7 156 53 69 28 20 19 100 26 701

Sumber : BPS Kabupaten Barito Selatan tahun 2006

2.6.9.2 Kabupaten Barito Utara Jumlah rumah sakit umum pada Kabupaten Barito Utara masih 1 unit yang berada di Kecamatan Teweh Tengah. Sedangkan Puskesmas yang ada berjumlah 11 buah dimana terbanyak berada di Kecamatan Teweh Tengah berjumlah 4 unit. Sarana kesehatan yang ada di Kabupaten Barito Utara pada masing-masing kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 2.47 Sarana Kesehatan Masyarakat Kabupaten Barito Utara
No. 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Montallat Gunung Timang Gunung Purei Teweh Timur Teweh Tengah Lahei JUMLAH Rumah Sakit Umum 0 0 0 0 1 0 1 Puskesmas 1 2 1 1 4 2 11 Puskesmas Pembantu 7 8 3 9 27 15 69 Rumah Bersalin 0 0 0 0 2 0 2

Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -131

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -132 . Apoteker 1 0 0 0 3 1 5 SPKU Pembantu Perawat 1 2 0 0 4 0 7 Tenaga Teknis 7 16 5 9 36 14 87 Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 2.6.9. 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Montallat Gunung Timang Gunung Purei Teweh Timur Teweh Tengah Lahei JUMLAH Dokter Umum Dokter Gigi Bidan Perawat 0 2 2 2 4 2 12 0 0 0 0 1 0 1 5 11 5 11 37 14 83 6 11 6 11 25 18 77 Apoteker/Ass. Hal ini terlihat dari jumlah puskesmas pembantu yang ada. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah 2006 2007 Rumah Sakit 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 Puskesmas 1 2 1 1 2 1 1 0 0 9 8 8 Puskesmas Pembantu 4 6 4 4 9 7 5 4 7 50 42 42 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 Jumlah tenaga medis yang bekerja terjadi peningkatan dari tahun ke tahun. Tabel 2. pembangunan prasarana kesehatan terus ditingkatkan terutama untuk puskesmas-puskesmas pembantu. pada tahun 2007 bertambah menjadi 50 unit.49 Sarana Kesehatan Masyarakat Kabupaten Barito Timur Tahun 2007 No.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.3 Kabupaten Barito Timur Dibidang kesehatan. Pada tahun 2007 meningkat lagi menjadi 458 orang yang bekerja di bidang kesehatan.48 Jumlah Tenaga Medis Kabupaten Barito Utara No. Dimana pada tahun 2006 berjumlah 42 unit. Sedangkan pada tahun 2006 terdapat 452 orang yang bekerja dibidang kesehatan. Pada tahun 2005 terdapat 417 orang yang bekerja di bidang kesehatan.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah 2006 2005 Dokter 2 11 1 1 4 1 0 0 0 20 22 20 Perawat 9 86 11 13 25 17 7 5 4 177 171 129 Bidan 8 35 3 7 9 10 3 4 5 84 94 90 Lainnya 11 111 7 6 30 12 0 0 0 177 165 178 Jumlah 30 243 22 27 68 40 10 9 9 458 452 417 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 2. yang tersebar di masing-masing kecamatan di kabupaten Murung Raya.6. Jumlah Puskesmas sebanyak 8 buah dan Puskesmas Pembantu sebanyak 40 buah.9.50 Jumlah Tenaga Medis Kabupaten Barito Timur No.52 Jumlah Puskesmas dan Puskesmas Pembantu Menurut Kecamatan No 1 2 3 4 5 Dokter Umum Permata Intan Murung Laung Tuhup Tanah Siang Sumber barito Jumlah Puskesmas 1 2 2 2 1 8 Puskesmas Pembantu 5 8 13 6 8 40 Jumlah 6 10 15 8 9 48 Sumber : Murung Raya Dalam Angka 2003 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -133 .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Tabel 2.4 Kabupaten Murung Raya Pada tahun 2003. Ass. jumlah dokter umum yang bertugas di Kabupaten Murung Raya sebanyak 7 orang.51 Banyaknya Tenaga Kerja Kesehatan Menurut Kecamatan No 1 2 3 4 5 Kecamatan Permata Intan Murung Laung Tuhup Tanah Siang Sumber barito Jumlah Dokter Umum 1 2 2 1 1 7 Dokter Gigi 1 1 45 Bidan 2 11 14 11 7 Pengatur Rawat 8 11 12 13 7 51 Apoteker SPKU Pemb. Apt Perawat 2 4 1 3 2 8 Tenaga Teknis 0 Sumber : Murung Raya Dalam Angka 2003 Tabel 2.

989 3. BKIA sebanyak 5 unit.663 28. Sarana kesahatan di Kabupaten Kapuas dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.53 Sarana Kesehatan Masyarakat Kabupaten Kapuas Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Kecamatan Kapuas Kuala Kapuas Timur Selat Basarang Kapuas Hilir Pulau Petak Kapuas Murung Kapuas Barat Mantangai Timpah Kapuas Tengah Kapuas Hulu Jumlah Puskemas 2 1 6 1 1 1 4 1 3 1 1 1 23 Dokter Umum 1 1 7 1 1 1 2 1 1 0 1 0 17 Dokter Gigi 0 0 3 0 1 1 0 0 0 0 0 0 5 Paramedis lainnya 15 6 71 10 12 5 40 12 32 7 14 6 230 Rata-rata Kunjungan 12.54 Sarana Kesehatan di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 Kabupaten/Kota Baritokuala Sarana Kesehatan (unit) BKIA Puskesmas RSU 5 1 76 Posyandu 344 Klinik KB 28 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.132 4.787 6.6.531 3.9.6 Kabupaten Barito kuala Fasilitas kesehatan yang terdapat di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Selatan terdiri atas Posyandu sebanyak 344 unit.6.454 56. RSU sebanyak 1 unit dan Klinik KB sejumlah 28 unit Tabel 2. Puskesmas 76 unit.446 4.95 6.854 145.404 9.9.(Persero) CABANG I MALANG 2.924 4.811 Sumber : Kapuas dalam Angka tahun 2006 2.677 3.5 Kabupaten Kapuas Jumlah puskesmas di Kabupaten Kapuas berjumlah 23 buah terbanyak di Kecamatan Selat sebanyak 6 buah dan disusul Kecamatan Kapuas Murung sebanyak 4 buah. September 2006 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -134 . Kalsel)’.

980.2007 PDRB atas dasar Harga Berlaku (Rp) PDRB Dengan Industri Besar 2004 2.35 5.7.441.35 (4. untuk mengukur keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi pada suatu daerah. 2.00 Rata-rata Pertumbuhan Sumber : Kabupaten Barito Kuala Dalam Angka 2008 Tahun Pertumbuhan (%) PDRB atas dasar Harga Konstan (Rp) Pertumbuhan (%) 1.197.00 2005 2.00 1.11 16.585.770.97 15.974. sedangkan PDRB harga konstan digunakan untuk menghitung pertumbuhan perekonomian. PDRB harga berlaku digunakan untuk menghitung struktur perekonomian.100.086.67% (tanpa industri besar) dan -2.7.231.22% (tanpa industri besar) dan -9.1 Provinsi Kalimantan Selatan 2. digunakan indicator Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).591.00 3.92% (dengan industri besar). Dari sisi penawaran.516.020.67 17.183.7 PERTUMBUHAN EKONOMI DI WILAYAH STUDI Sesuai dengan kelaziman yang berlaku.35 Rata-rata Pertumbuhan (2.00 1.92 1.755.340.72 1.65% (dengan industri besar).078.738. Tabel 2.00 Rata-rata Pertumbuhan 5.(Persero) CABANG I MALANG 2.732.206.1.00 7.00 1. Perhitungan PDRB terbagi atas PDRB harga berlaku dan PDRB harga konstan.67 6.298.255.917.14 1.55 PDRB Barito Kuala 2004 .92) (9.00 Rata-rata Pertumbuhan PDRB Tanpa Industri Besar 2004 1.00 2006 1.930.65) 0.00 2007 2.687.145.75 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -135 .00 2005 1.211.633.79) 1.473.234.857.1 Kabupaten Barito Kuala Perekonomian Kabupaten Barito Kuala pada tahun 2006 mengalami pertumbuhan sebesar 6.00 (3. melambatnya pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan terutama di dorong oleh melambatnya pertumbuhan sektor industri besar.00 2007 2.00 2.228.768.08) 13.00 2006 2.22 5. lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2005 yang mencapai 5.

00 105.700.00 Bangunan/Konstruksi 100. kemudian sektor perdagangan.00 Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.00 Perdagangan.41 13.00 95.06% atau naik sebesar hampir 1.33 12.600.1 Kabupaten Barito Selatan Angka PDRB dapat menunjukkan sebearapa besar kegiatan perekonomian yang dihasilkan dalam kurun waktu tertentu (satu tahun) di Kabupaten Barito Selatan dan pertumbuhan dari kegiatan perekonomian Kabupaten Barito Selatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.56 PDRB Kabupaten Barito Selatan tahun 2003-2005 (dalam jutaan rupiah) Tahun Atas Dasar Harga Pertumbuhan (%) Berlaku Konstan 2000 2003 870.600.43%.01%.43 5. Gas dan Air Bersih 56.100.01 100.400.95 0.33%.300.00 3.2%.00 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertumbuhan (%) 3.700.232.00 736.00 44.07 14. Tabel 2. Hotel & Restoran 89.79 2005 1.100.00 % 41.900.7.57 9.72%.900.39 8.00 62.00 Industri Pengolahan 2. Tabel 2.00 3.800.00 3.07 0.45 6.28 4.2.00 TOTAL Sumber : BPS Kabupaten Barito Selatan tahun 2005 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -136 .40 8.72 5.900.61 3.00 736. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Barito Selatan dari berbagai kegiatan ekonomi yang terjadi di wilayah kabupaten pada tahun 2005 adalah sebesar 5.000.00 Pertambangan dan Penggalian 41.021.06 Nilai Pertanian 292.46 9.00 Listrik.00 2004 1. bangunan/konstruksi sebesar 8.19 3.00 2005 Nilai 303.00 92. jasa-jasa 13.700.79%. hotel dan restoran sebesar 14.20 0.600.43 14.300.26 13.65 0.90 5.00 93.000.00 5.800.700.00 701.00 7.800. Persewaan & Jasa Perusa 22.2 Provinsi Kalimantan Tengah 2.(Persero) CABANG I MALANG 2.300.27% dari tahun 2004 dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 3.94 10.30 12. pengangkutan dan komunikasi 12.00 Jasa-jasa 701.16 100.900.06 Sumber : BPS Kabupaten Barito Selatan tahun 2005 Kontribusi sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan terbesar terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Barito Selatan tahun 2005 sebesar 41.79 3.72 3.00 675.400.100.000.00 2.900.00 25.7.57 Peranan PDRB menurut sembilan sektor ekonomi atas dasar harga berlaku (dalam jutaan) Lapangan Usaha 2004 % 41.

3 2007 542. Distribusi PDRB Kabupaten Barito Selatan pada sembilan sektor ekonomi atas dasar harga berlaku 2000 2.7 63.31 %. restoran dan hotel 12.2 Kabupaten Barito Timur Untuk wilayah Kabupaten Barito Timur.023.4 milyar rupiah.9 1023.73 % dibanding tahun sebelumya atau sebesar 886.4 35. Tahun 2007 PDRB atas dasar harga berlaku.3 43. sektor pertanian memberi sumbangan/peranan terbesar dalam pembentukan PDRB yaitu 53. Hotel Pertambangan dan & Restoran Penggalian 14% Bangunan/Konstruks 0% Industri Pengolahan i 6% Listrik.4 53.09 % dari tahun sebelumnya. sektor perdagangan. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.4 25. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2005 385.2007 No.0 5.3 125.9 30.(Persero) CABANG I MALANG Keuangan. Gas dan Air 8% Bersih 0% Gambar 2.5 2.7 96.5 124.6 111. Tabel 2.48 %.3 746.2.19 persen dan sektor konstruksi 7.1 4.2 57. Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku pada tahun 2007 sebesar 1.8 2.24. Tabel berikut menunjukkan PDRB dari berbagai sektor dan laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Barito Timur.58 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah) Tahun 2005 . Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.8 milyar rupiah atau meningkat 15. PDRB atas dasar harga konstan 2000 terjadi kenaikan 5.3 76.8 70.8 39.1 886.01 %. disusul sektor jasa 12. Persewaan & Jasa Perusahaan 3% Pengangkutan dan Komunikasi 13% Jasa-jasa 13% Pertanian 43% Perdagangan.9 7.3 111.7 39.7.1 36.3 2006 461.8 3.6 99.8 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -137 .

721.95 5.86 39.84 2.962.12 59.60 83. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2000. sektor pertanian memberi sumbangan yang terbesar dalam pembentukan PDRB yaitu sebesar 34.08 189.28 8.37 3.81 4.22 5.51 217.752.00 45.70 104.89 87.09 3.71 68.538.15 9.004.90 5.86 5.46 5.282.02 1.73 4.860.281.21 % dan 8.25 63.083.93 32.201.10 10.42 7.44 %.91 Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -138 .2006 No.60 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah) Tahun 2004 .275.126. dan sektor pengangkutan dan komunikasi yang besarnya masing-masing sebesar 17. terjadi kenaikan sebasar 3.62 105.91 3.06 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 2. Tabel 2.24 9.59 Laju Pertumbuhan PDRB Barito Timur dan PDRB Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 PDRB Barito Timur Primer 4.26 1.30 4. hotel dan restoran.65 195.567.58 216.86 4.13 % PDRB Barito Utara berdasarkan harga berlaku menurut lapangan usaha dan pertumbuhan PDRB Barito Utara dapat dilihat pada tabel berikut.108.161.594.604.29 3.73 PDRB Kalteng 2.47 %.84 6. Kemudian disusul secara berturutturut oleh sektor perdagangan.884.88 %. sektor pertambangan dan penggalian. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2004 395.965. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan. 16.20 57.161 milyar rupiah. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.2.86 3.29 0.412.06 5.86 78.10 5.33 % dari tahun 2005 yang besarnya mencapai 1.26 2005 413. 8.695.166.336.7.370.76 75.495.07 Tersier 2.281 milyar rupiah atau meningkat sebesar 10.961.91 5.17 11.18 % dari tahun sebelumnya atau hanya 824 milyar rupiah.83 70.75 148.24 3.27 1.610.3 Kabupaten Barito Utara PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2006 sebesar 1.35 223.06 26.712. sektor jasa.34 PDRB 0.497.11 5.59 12.048.161.77 Sekunder 3. Tahun 2006.87 5.62 61.151.19 2006 441.41 17.230.65 9.

21%. pada tahun 2002 terjadi pertumbuhan negatif (-12.82 1.66 9.7.2.47 PDRB 4. maka perekonomian Kabupaten Murung Raya didominasi oleh tiga sektor yaitu: sektor Pertanian.94 3.86%). serta sektor Perdagangan.05%.29 Tersier 4. Kemudian pertumbuhan atas dasar harga berlaku pada tahun 2001 mencapai 13.24 4.49%.86 Sekunder 6.46%. Keadaan PDRB dan laju pertumbuhan ekonomi selama tahun 2000–2003 di Kabupaten Murung Raya menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Murung Raya atas dasar harga konstan sejak tahun 2001 hingga tahun 2003 cenderung negatif.90 3.90 -2. selanjutnya pada tahun 2002 dan 2003 masing-masing -16.61% atas dasar harga konstan 4.18 Ket : * Data tidak tersedia Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 2. Laju pertumbuhan ekonomi di tingkat Provinsi atas dasar harga berlaku mencapai 14.25% hingga 5.19 10.04% dan 20.57 0.94 3.86 2.90 3.49%) maupun atas dasar harga konstan (-0. Pertumbuhan tahun 2001 sebesar -0.46%) lebih rendah jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi di tingkat Provinsi.66%.21%.78%. 21.23 3. Hotel dan Restoran. Sedangkan kontribusi sektor-sektor lainnya hanya berkisar antara 0. Pendapatan regional perkapita sering digunakan sebagai salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat.41 8.91 4.58% dan -0.4 Kabupaten Murung Raya Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Murung Raya ditunjukkan oleh pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan dan harga berlaku. Pada tahun 2003 ketiga sektor tersebut mampu memberikan kontribusi terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Murung Raya masing-masing 41.54 -19.05 4.40 0.93 3.04%). Apabila laju pertumbuhan ekonomi secara Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -139 .61 Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Barito Utara (%) Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 PDRB Barito Timur Primer 43.17 3. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Murung Raya baik atas dasar harga berlaku (4.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Dilihat dari besarnya kontribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap pembentukan PDRB kabupaten. dan pada tahun 2003 pertumbuhan mencapai 4.05 1. sektor Pertambangan dan Penggalian.

3% hingga 5.7. Sebaliknya jika laju pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari laju pertumbuhan penduduk. 2.695.2. .633. maka perekonomian Kabupaten Kapuas didominasi oleh tiga sektor yaitu: sektor Pertanian(48%). Distribusi PDRB Kabupaten Kapuas pada sembilan sektor ekonomi atas dasar harga berlaku 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -140 . Hotel dan Restauran 18% Bangunan / Konstruksi 10% Jasa-Jasa 10% Pertanian 48% Pertambangan 0% Industri Pengolahan 6% Listrik.dan atas dasar harga berlaku mencapai Rp 9.741.(Persero) CABANG I MALANG riil lebih besar dari pertumbuhan penduduk. sektor Perdagangan. Keuangan.096.5 Kabupaten Kapuas Dilihat dari besarnya kontribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap pembentukan PDRB kabupaten. Gas dan Air Bersih 0% Gambar 2. Sedangkan kontribusi sektor-sektor lainnya hanya berkisar antara 0. Pendapatan regional perkapita masyarakat Kabupaten Murung Raya pada tahun 2003 atas dasar harga konstan tahun 1993 mencapai Rp 2.00%.25. -. maka pendapatan perkapita masyarakat akan mengalami penurunan. Hotel dan Restoran (18%) serta sektor Jasa-jasa (10%). Persewaan dan Jasa Perusahaan 4% Pengangkutan dan Telekomunikasi 4% Perdagangan. maka akan terjadi peningkatan pendapatan regional perkapita masyarakat.

332.00 256.055.134. dimana berada pada daerah tropis.95 290.0 80.508.423.521.650.74 10. 2.920.37 2.442. Deskripsi kondisi faktor-faktor hidrologis disampaikan dalam pembahasan berikut ini.7 – 97.83 376.03 152.76 12.121. 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -141 .263.93 99.400. angin berhembus membawa uap air.49 2.92 297.12 107.371. Gas dan Air Bersih Bangunan / Konstruksi Perdagangan.0 1.62 PDRB Kabupaten Kapuas Berdasarkan Harga Berlaku No.386.546.73 8.2 – 87.085.611.402.021.318.45 2005 1.936.486.63 Kisaran Unsur Cuaca No 1 2 3 4 5 UNSUR CUACA Suhu udara Kelembaban Nisbi Penyinaran matahari Kecepatan Angin Evapotranspirasi Potensial Tanaman UNIT C % Jam/hr knoot Mm/hr o KALIMANTAN TENGAH 25. didapatkan kisaran seperti pada table berikut ini.9 – 3.731. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik.87 3.9 – 4.811.228.73 151.680.14 195.408.65 10. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa PDRB Lapangan Usaha 2004 1.364.80 350.3 Sumber : Penelitian Lahan Rawa Kalimantan. sementara itu selama musim kemarau dari bulan Mei – Oktober.02 247.8 – 6.73 587.1 – 27.7 – 5.0 2.7 KALIMANTAN SELATAN 23.078.108.85 119.12 224.03 133.583.41 8. Tabel 2.4 2.513.581.88 217.351.360.879. Hotel dan Restauran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.8 HIDROLOGI WS Barito-Kapuas yang terdiri dari DAS Barito dan DAS Kapuas yang melintasi 2 (dua) Provinsi di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.572.845.98 87.32 2.228.25 184.406.530.48 146.1 Iklim Kondisi iklim berdasarkan data dari Penelitian Lahan Rawa 2002.9 70.033.73 170.346.81 11.8.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.4 – 27.4 1.12 2.263.43 118.6 3.24 2006 1.2 – 5. Selama musim hujan pada bulan November – April. dengan kondisi iklim terdiri dari musim hujan dan musim kemarau yang dipengaruhi angin muson tenggara.0 2.29 11.96 345.6 – 6.97 473.998.834.81 9.653.814.73 2007 1. berhembus angin kering yang membawa musim kemarau.81 98.

75 55.8 55.8 85.5 4.3 Jul Ags Sep 26.3 26.8 47 35.9 79.2 4. merupakan data rata-rata stasiun di Banjarmasin dan Palangkaraya adalah sebagai berikut : Tabel 2.64 Rekapitulasi Data Klimatologi Bulanan (Lokasi PLG Kalteng) No 1 2 3 4 5 UNSUR Suhu udara Kelembaban Nisbi Kecepatan Angin Penyinaran matahari Evapotranspirasi UNIT C % knt Jam/hr Mm/hr o Jan Feb Mar 26.75 4.8 26.7 Apr 27.66 50.40 26.5 26.1 35.3 4.6 82.8 5.8 80.8 26.00 35.0 82.5 59.3 26.3 26.4 4.8 83.9 4.00 Temperatur 26.26.1 35.6 4.1 83.2 63.0 70.0 36.0 27.5 59.5 82.8 26.1 83.6 79 77.2 4.5 26.3 63.75 51.8 80.80 Penyinaran matahari Kelembaban Nisbi Suhu udara Month Gambar 2.1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 46.25 3.6 26.(Persero) CABANG I MALANG Kondisi klimatologi yang merupakan hasil penelitian pada daerah kerja “A” PLG Kalteng.5 4.5 27.0 75.3 79 82.75 5.0 40.0 35.2 26.33 55.0 27.80 60.20 26.21 5.40 84.0 50.75 5.0 80.8 50.6 84.7 85.1 82.7 85 84.8 4.0 Kelembaban Relatif % Penyinaran Matahari 65.5 Mei Jun 27.3 4.8 3.6 26.20 27.0 1 1 2 25.1 4. 2002 Catatan : 1) 2) Data dari Stasiun Banjarmasin dan Stasiun Palangkaraya Evapotranspirasi dihitung dengan metoda Penman 27.8 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -142 .9 4.2 27.1 46.6 26.3 26.7 83.2 Sumber : Manual OP Proyek PLG.9 82.8 55.6 4.3 53.0 26.0 45.8 84.3 Okt Nop Dec 27 26.2 47.7 26.4 5 5.0 26.3 53.33 4.6 79.6 51 .17 36.0 77. Rekapitulasi Data Klimatologi Bulanan Daerah Kerja “A” PLG Pengamatan meteorologi pada stasiun Banjarmasin dan Awang Bangkal rekapitulasi grafiknya pada gambar berikut ini.60 55.2 26.

0 83.9 27.0 30.0 26. dan di daerah datar selatan sekitar 2.0 78. sedangkan terendah pada saat musim kemarau.40 40.0 60. variasi suhu relatif kecil. Tabel data hujan dapat dilihat pada tabel di Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -143 .3 51 .0 37. Sementara itu.0 35.0 26.0 27.0 1 7 8 26.20 27.500 mm/tahun.0 2 3 4 5 44. 2.27.(Persero) CABANG I MALANG Monthly Mean Relatively Humidity.6 26. sedangkan reratanya adalah 27.20 26. Tinggi curah hujan rata-rata di pegunungan utara adalah sekitar 3.3oC.6 75.80 26.7 26.8.60 26.0 85. disimpulkan bahwa curah hujan cenderung lebih tinggi di pegunungan.0 39.3 86.0 Kelembaban Relatif % Penyinaran Matahari 65.1 80.0 45.500 mm/tahun.1 27.4 56.0 86. Rekapitulasi Data Klimatologi Bulanan Kalimantan Selatan ( 2 ) Variasi suhu udara pada kondisi rata-rata maksimum adalah sebesar 32oC dan 22oC pada kondisi rata-rata minimum.0 25. Sementara curah hujan di selatan DAS (hilir sungai) cenderung lebih rendah dibandingkan pada daerah hulu. sekitar 3oC per bulan.00 Temperatur 26.0 6 30.0 55.0 83. sampai minimum kurang dari 49%.0 26.0 27. yaitu pada pegunungan utara.0 75.0 26. kelembaban relatif bulanan adalah yang tertinggi.40 83.3 79.0 26.0 31 . Sunshine.0 27.0 45.0 81 .3 27.3 26.0 25.0 50.0 85. Pada saat musim hujan.00 25.0 43.0 84.0 70. tinggi curah hujan rata-rata pada daerah pegunungan timur dalam DAS Barito adalah 3. Kelembaban relative adalah 82% pada stasiun Kota Banjarmasin.0 45.2 Curah Hujan Seperti yang terjadi pada belahan wilayah kepulauan Indonesia lainnya.80 9 1 0 1 1 1 2 Penyinaran matahari Kelembaban Nisbi Suhu udara Month Gambar 2.0 80. and Temperature in Barito River Basin 90.7 26.000 mm/tahun.

DAS Kapuas dan daerah antara kedua DAS tersebut. Wilayah diantara kedua DAS tersebut diambil pada wilayah ‘A’ eks PLG Kalteng.930 316 2. 11 tahun).469 Mei-Okt 1. Tabel 2.368 940 754 %DRY 39% 32% 30% %WET 61% 68% 70% Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Barito 450 403 400 350 331 300 374 326 339 330 Ms Kemarau 384 CH Bulanan 250 199 200 150 100 50 324 0 319 293 228 197 125 114 373 370 180 346 273 229 155 141 246 226 178 355 274 169 124 92 122 94 132 235 316 Peg Utara Peg Timur Plain area Jan Peg Utara Peg Timur Plain area 331 373 324 Feb 326 370 319 Mar 403 346 293 Apr 374 273 228 Mei 339 229 197 Jun 199 155 125 Bulan Jul 180 141 114 Ags 226 124 92 Sep 178 122 94 Okt 246 169 132 Nop 330 274 235 Dec 384 355 316 Gambar 2.28. yang mengambil data-data curah hujan 10 tahun terakhir dari Stasiun Mandomai dan Stasiun Mentangai (1984 – 1994. dan makin rendah pada daerah dataran rendah di sekitar lembah sungai. Rekapitulasi Curah Hujan Tahunan Kawasan Dataran dan Pegunungan di DAS Barito Variasi kondisi curah hujan cenderung tinggi pada daerah pedalaman dan pegunungan.65 Rekapitulasi Curah Hujan Tahunan pada Zona Dataran dan Pegunungan di DAS Barito Region Peg Peg Plain Jan 331 373 324 Feb 326 370 319 Mar 403 346 293 Apr 374 273 228 Mei 339 229 197 Jun 199 155 125 Jul 180 141 114 Ags 226 124 92 Sep 178 122 94 Okt 246 169 132 Nop 330 274 235 Dec Annual 384 3.(Persero) CABANG I MALANG bawah. Beberapa data berikut menggambarkan curah hujan di DAS Barito. Nampak bahwa tinggi hujan pada musim hujan adalah sekitar 60% 70% dari curah hujan tahunan.516 355 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -144 .

2 197.2 179.7 143.8 304.4 180. 2002 Monthly Basin Mean Rainfall in Zone "A" PLG Kalteng 300.7 101. 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -145 .8 48.9 335.2 48.4 240.5 37.3 114.8 272.5 110.0 100.5 155.1 Mei 232.8 333.2 128 59.7 6.7 216.7 321.66 Curah Hujan Rerata Bulanan Daerah Kerja “A” PLG Kalteng Tahun 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 MAX MEAN MIN Jan 172.462 1.7 88.1 Apr 165.6 228.6 Jul 301.4 231.9 40.0 1 97.9 33.9 40.3 278.9 Jun 29.6 12.7 266.8 25.2 232.4 67.8 138.4 Mei 468.4 59.0 Jan Feb M ar A pr M ei Jun Jul A gs Sep Okt No p Dec Gambar 2.4 422.6 238 153.5 78.1 238 119.8 372.6 1.5 85.1 151.9 278.2 180.917 1.2 82.6 266.5 83.1 265 422.1 126.815 2.9 301.4 Feb 415. Curah Hujan Rerata Bulanan Daerah Kerja “A” PLG Kalteng Tabel 2.4 151.659 1.4 1 53.6 274.4 310.5 66.5 252.2 Okt Nop Dec 33.3 21.1 83.1 117 126.8 229.8 29.4 134.244 2.5 83.1 314.1 613.1 296.5 0.1 Feb 237.2 69.9 487.6 207.1 33.8 49 Okt Nop Dec Annual RF Month 251.5 280.2 154.5 29.8 38.4 108.6 346.8 2.8 160.2 57.2 Sep 710.2 21.8 119.014 1.5 10.953 1.2 372.4 Jul 347 118 6.9 150.9 1 87.3 305.2 506.7 176..2 167.3 254.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.503 Sumber : Manual OP Proyek PLG.4 250.7 174.891 1.8 Ags 62.5 36.1 134 305.7 42.3 149.8 116.5 506.3 36.9 229.5 Mar 580.2 81.4 Ags 171 77.3 344.9 143.1 265.2 50.0 Monthly Basin Mean Rainfall (mm) 229.6 Apr 528 312.446 2.2 Mar 148.7 86.9 18.7 75 71.2 187.5 176.5 94.67 Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Barito (1976 – 1994) Tahun MAX MEAN MIN Jan 589.1 160.1 114 155.3 24.5 126.8 57 98.6 119.29.6 73.9 269.5 98.8 29.957 1.1 365.9 Sep 86.8 13.8 250.2 237.8 53.0 81 .9 104.5 185.3 204.2 381.4 44.9 162.7 199.683 133 Sumber : Manual OP Proyek PLG.0 280.4 149.7 44 10.1 Annual RF 1.5 234.6 91.8 58.6 200.6 245.5 105.2 220 50.9 44.1 96.1 365.7 181.2 130.9 350.4 172.4 6.2 165.1 216.4 128 36.896 149.6 240.3 301.8 104.3 64.6 57 243.3 83.8 21.9 12 33.4 269 295.3 Jun 266.2 18.9 35.1 295.1 50.1 254.6 291.8 47 174.7 228.8 88.0 44.2 108.4 319.6 162.

5 1 40.2 Ags 84.8 250 200 245.0 1 150 100 50 0 Jan Feb M ar A pr M ei Jun Jul A gs Sep 1 38.68 Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Kapuas (1976 – 1994) Tahun MAX MEAN MIN Jan 530.2 2.4 150 1 05.5 260.5 Sep 130. 2002 Monthly Basin Mean Rainfall in Kapuas River Basin 450 400 Monthly Basin Mean Rainfall (mm) 350 306.9 247.3 77.9 Jun 165.1 Apr 260.7 Mar 548 247.1 237.4 280. Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Kapuas (1976 – 1994) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -146 . Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Barito (1976 – 1994) Tabel 2.(Persero) CABANG I MALANG Monthly Basin Mean Rainfall in Barito River Basin 450 400 381 .4 Jul 105.5 A gs Sep Okt No p Dec Month Gambar 2.506 Sumber : Manual OP Proyek PLG.4 Feb 459.2 280.3 293.31.4 35.2 1 54.8 1 8.9 100 50 0 Jan Feb M ar A pr M ei Jun Jul 84.7 1 49.2 295.2 1 65.2 300 250 200 293.2 Dec Annual RF 306.5 254.30.5 31 2.5 89.9 Nop 254.5 Okt 140.8 Okt No p Dec Month Gambar 2.2 1 30.9 300 250.9 254.8 Monthly Basin Mean Rainfall (mm) 350 304.9 Mei 237.

426 189.289 194.921 12.723 204.3 13. Barabai.S.85 mm.B A. Berdasarkan data dari stasiun pengamat curah hujan di atas.982 175.S.473 13.61 mm – 369.S.302 1.S.588 8.926 Rata-rata Curah Hujan Bulanan 179.DAS Martapura 1 S.167 mm.145 11. Jaro dan Marabahan. dan yang terendah adalah sebesar 58.DAS Tabalong Kiwa 7 S.C Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.(Persero) CABANG I MALANG Pada wilayah DAS yang berada di Provinsi Kalimantan Selatan.S.B B B.DAS Alalak 2 S. Sei Malang.518 12. III.479 Tipe Iklim B. Mabu’un.509 11.064 B.DAS Balangan 5 S.225 2.323 2.627 201.091 191.DAS Negara 1 S. Layang-layang Pengaron.S.C B 2. data iklim yang menggambarkan kondisi iklim di DAS Barito didapatkan dari beberapa stasiun pengamat yang ada (10 stasiun pengamat/penakar hujan) yang sebarannya dianalisa berdsasarkan pembagian wilayah iklim metoda Thiessen.316 2. Kandangan.895 166.993 2. DAS Barito termasuk tipe iklim B ( Schmidt Fergusson) dengan nilai Q rata-rata sebesar 0.389 2.816 190. Tabel 2.S.DAS Batang Alai 4 S.DAS Tapin 2 S. Secara umum kondisi iklim di DAS Barito seperti tabel berikut.C B B IV.S.761 195.DAS Bahalayung Rata-rata Curah Hujan Tahunan 2.DAS Danau Panggang Ds 8 S.741 10.86 10. Sub DAS/ Sub Sub DAS S.DAS Barito Tengah S.827 194. Binuang.213 jumlah curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara 197.DAS Amandit 3 S.125 1.208 Rata-rata Hari Hujan Per Bulan 11.B A.483 162. 2.409 2.958 8.288 2.B A.69 Kondisi Iklim DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No I.327 2.916 11.DAS Tabalong Kanan 6 S.DAS Barito Hilir S. dengan jumlah hari hujan tahunan rata-rata sebesar hari per tahun.S. II.885 mm. Kalsel)’.S.823 B. September 2003 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -147 .C B A. Martapura. Adapun stasiun pengamat/penakar hujan tersebut adalah stasiun pengamat Gn. Berdasarkan data tersebut diperoleh data bahwa curah hujan tertinggi yaitu sebesar 141.548 13.S. Muara Halong.DAS Riam Kanan 3 S.039 192.DAS Riam Kiwa S.

926 427 641 2.202 Max RF (mm) 826.255 2.281 1.356 2. Kalsel)’.82 686.66 605.783 2.2 641 427 660.382 686 Tabel 2. Kalsel 589 622 2.(Persero) CABANG I MALANG Annual RF dan Max RF DAS Barito.382 2.342 606 2.44 Tipe B B B A B C A B B B Tahun 1977-2002 1977-2002 1990-2002 1978-2000 1997-1992 1986-1998 1976-2001 1976-1999 1976-2001 1978-2001 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.255 1.434 2.11 711.70 Tipe Iklim DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan Station Binuang (Tapin) Kandangan (HSS) Barabai (HST) Muara Halong (HSU) Martapura (Banjar) Bakumpai (Barito Kuala) Jaro (Tabalong) Sungai Malang (HSU) Mabu'un (Tabalong) Gn Layang-layang (Banjar) Annual RF (mm) 2.27 656.87 589.342 2.926 2.509 2.356 656 B inuang (Tapin) Kandangan (HSS) B arabai (HST) M uara Halo ng (HSU) M artapura (B anjar) 1.783 2.55 621. September 2003 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -148 .434 2.281 B akumpai (B arito Kuala) Jaro (Tabalo ng) Sungai M alang (HSU) M abu'un (Tabalo ng) Gn Layang-layang (B anjar) 661 1.202 826 2.509 712 2.

Muara Teweh 2. Kandui 3.Karau Ampah Tampa Hayaping Bentot 2 0 LS Bingkuang Mangkatip 2 0 LS TAMIANG LAYANG Jenamas 114 0 BT 115 0 BT Gambar 2. Muara Teweh 2. Buntok 2. Pos Klimatologi dan Pos Hujan WS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -149 . Tabak Kanilan 3.32.(Persero) CABANG I MALANG 114 0 BT P.Murung 0 0 LS Tumbangolong 0 0 LS TUMBANG KUNYI Saripoi PURUK CAHU KETERANGAN MUARA TEWEH S.Benangin 1 LS 0 POS DUGA AIR (AWLR) 1.Montallat 10 LS Lampeong Kandui BUNTOK Bambulung S. Ampah Benangin Ketapang Tumpung Laung Pendang Tabak Kanilan S.Paku S. Tampa POS HUJAN 1. Ampah 4. KALIMANTAN TENGAH 115 0 BT S. Hayaping POS KLIMATOLOGI 1.

Mandomai 2.Mantangai Ketimpun Mantangai Mandomai A. Pujon POS HUJAN 1.(Persero) CABANG I MALANG 114 0 BT P.33. KALIMANTAN TENGAH Tumbangbukoi 10 LS KETERANGAN POS DUGA AIR (AWLR) 1. Hanyu 10 LS Pujon Timpah 2 0 LS 2 0 LS S. Mantangai Sei. Lokasi Pos Duga Air. Kelampan Palingkau Sei Tatas Barimba A. Serapat Basarang KUALA KAPUAS 3 0 LS A. Pujon POS KLIMATOLOGI 1. Pos Klimatologi dan Pos Hujan WS Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -150 . Basarang 3 0 LS Lupak Dalam Pelampai 114 BT 0 Gambar 2.

Martapura Banjar S. Tabanio Tanah Laut S. Ninian Hulu Sungai Utara S. Tabalong Kiri Tabalong S.4 m3/detik pada lokasi bendungan. Negara Hulu Sungai Utara S.5 8 30 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -151 .075 1. Riam Kiwa Banjar S. Tabel 2.(Persero) CABANG I MALANG 2.2 15 27.1 7. Asam-asam Tanah Laut S. Tabalong Kanan Tabalong S. Luas DAS yang digunakan pada perhitungan Bendungan Riam Kanan adalah sebesar 1. debit yang digunakan sebagai pembanding hasil analisis ketersediaan air pada tiap-tiap anak sungai adalah seperti pada table berikut. Pitap Hulu Sungai Utara S.621 2.325 351 2. Sawarangan Tanah Laut S. debit tahunan anak sungai Riam Kanan diperkirakan dari setengah tinggi curah hujan tahunan. Mangkauk Banjar S.622 2. Barabai Hulu Sungai Tengah S.KALSEL Nama Sungai Panjang (km) 15 61 106 119 187 21 19 121 94 93 60 71 159 52 133 92 92 57 29 83 30 Luas CA (km2) 77 303 1.71 Debit Rata-rata Harian Sungai di Kalimantan Selatan No.010 790 474 494 2.993 10.063 km2. Hanyar Tabalong S. yaitu sekitar 2. Ayu Tabalong S.880 mm/tahun pada DAS yaitu 48. Dalam kajian ini. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Lokasi (kabupaten) S.3 200 17.604 196 69 273 1. Uya Tabalong S. Batang Alai Hulu Sungai Tengah S. Riam Kanan Banjar S. Berdasarkan hasil studi terdahulu pada Proyek Bendungan Riam Kanan. Tapin Tapin S. Tabalong Tabalong S. Amandit Hulu Sungai Selatan S.8.379 Debit Rata-rata (m3/det) 3 14 48 29 150 54 7 8 55.3 Limpasan Permukaan (Runoff) Limpasan permukaan pada anak-anak sungai DAS Barito sangat bervariasi.621 532 306 775 535 33. Balangan Hulu Sungai Utara S. Kintap Tanah Laut DAS BARITO .2 38 22 100 10.5 15 7.333 3.

B arabai S. B alangan S.(Persero) CABANG I MALANG S.0 8.3 8. B atang A lai S.0 54.1 100. Tabalo ng Kanan S. P itap S.2 200. Uya 30.0 27.0 14.0 17. M artapura S. M angkauk S.0 22. A yu S.0 38.0 48. Sawarangan S. Kintap S. Tabalo ng Kiri S. A sam-asam S. Tabalo ng S. Tapin S. Debit Rata-rata Harian Sungai di Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -152 . Riam Kiwa S.0 7. Ninian S. Tabanio S.0 7.2 15.5 15. A mandit S. Hanyar S.0 55.34.0 7.0 De bit Rata-rata Sungai DAS Barito di Kalse l 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 De bit Rata-rata (m3/se c) Gambar 2.5 10. Negara S.0 3.0 150.0 29. Riam Kanan S.

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.35. Stasiun Hidrologi dan Sebaran Hujan WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -153 .

Pada hujan yang intensif dan berlangsung dalam waktu pendek. kontinuitas dan sebaran waktu serta terkendalinya erosi dan kekeringan. Sedangkan arah DAS Barito secara keseluruhan terdapat pada azimuth 206o 50’ – 287o 55’ yaitu memanjang dari mulai muara/bagian hilir di Kota Banjarmasin ke arah utara di bagian hulunya. pada daerah dengan perubahan iklim yang besar. sebaliknya. banjir. adalah terciptanya lingkungan hidup yang baik dan nyaman dalam rangka meningkatkan perekonomian daerah. misalnya di daerah kering. 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -154 . erosi yang terjadi biasanya lebih besar daripada hujan dengan intensitas lebih kecil dengan waktu berlangsungnya hujan lebih lama.257 m dari permukaan laut yaitu terdapat di Kab. Pengaruh langsung adalah melalui tenaga kinetis air hujan terutama intensitas dan diameter butiran air hujan. Perbedaan ketinggian tersebut menghasilkan beda tinggi sebesar 1. sekali hujan turun. Tabalong dan terendah adalah 1m dari permukaan laut yang terdapat di Kota Banjarmasin. pertumbuhan vegetasi terhambat oleh tidak memadainya intensitas hujan. vegetasi dapat tumbuh secara optimal. Permasalahan tersebut antara lain terjadinya erosi. Kondisi hidrologis DAS yang optimal. DAS Barito memiliki titik ketinggian yang tertinggi 1.(Persero) CABANG I MALANG 2. kualitas. dan kekeringan yang sangat erat kaitannya dengan keadaan sumber daya alam vegetasi/hutan tanah dan air serta unsur manusia yang terdapat dalam ekosistem DAS tersebut. Meningkatnya produktivitas lahan 3. Dari segi sosial ekonomi. Kendala-kendala tersebut harus dapat diantisipasi dalam rangka pencapaian tujuan akhir dari kegiatan pengelolaan DAS sebagai berikut: 1.256 m dan ini menyebabkan pada daerah yang lebih tinggi akan mempunyai temperatur yang lebih rendah dan relatif banyak terjadi hujan dibandingkan dengan daerah yang lebih rendah.9 EROSI DAN SEDIMENTASI Pengelolaan DAS sebagai bagian dari pembangunan wilayah sampai saat ini masih menghadapi berbagai masalah yang kompleks dan saling terkait. tetapi. Dengan kondisi iklim yang sesuai. Sedangkan pengaruh iklim tidak langsung ditentukan melalui pengaruhnya terhadap pertumbuhan vegetasi. Pengaruh iklim terhadap erosi dapat bersifat langsung dan tidak langsung. sedimentasi. intensitas hujan tersebut umumnya sangat tinggi. meliputi hasil air yang memadai baik jumlah.

Tingkat erosi aktual menggambarkan keadaan lahan tererosi dengan mempertimbangkan curah hujan (erosivitas). Kawasan Lindung di luar Kawasan Hutan dan Kawasan Budidaya untuk usaha Pertanian. Masih banyaknya lahan-lahan terlantar yang tidak dikerjakan b. demikian pula cadangan air tanahnya. kekritisan hidrologis dan tingkat kekritisan Sub DAS sebagaimana disajikan pada Tabel 2.73. mempunyai implikasi yang berbeda terhadap infiltrasi. tipe tanah. Untuk melestarikan simpanan air tanah. Tingkat peresapan atau infiltrasi tergantung pada curah hujan. justru gejala kearah kerusakan lahan sudah banyak ditemukan. persentase run-off. sehingga debit banjir dapat menurun dan sebaliknya aliran dasar (baseflow) dapat naik. Jika aspek alami mencerminkan kondisi potensial. dimana penyebarannya dianalisa sesuai dengan fungsi kawasannya. Sedangkan keadaan lahan kritis dibedakan menjadi 4 (empat) klasifikasi. ”maka aspek penggunaan lahan mencerminkan kondisi aktual”. kemiringan. Semakin besar tingkat resapan (infiltrasi) maka semakin kecil tingkat air larian (surface runoff). yaitu lahan Sangat Kritis. Tingkat kerusakan lahan di DAS Barito dapat dilihat dari keadaan erosi aktual dan tingkat bahaya erosi. maka tingkat infiltrasi air hujan ke dalam tanah merupakan faktor yang sangat penting. yaitu Kawasan Hutan Lindung. maka akan didapat Tingkat Bahaya Erosi yang diklasifikasikan mulai dari Sangat Ringan sampai Sangat Berat. jenis tanah (erodibilitas). Letak dan kondisi lahan yang masih labil khususnya di lereng-lereng pegunungan. namun demikian hal ini bukan berarti tidak terjadi kerusakan. Kritis. keadaan lahan kritis. topografi (kelerengan dan panjang lereng).72 dan 2. berarti kemungkinannya adalah sebagai berikut: a. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -155 . penutupan lahan dan upaya konservasi tanah. Bentuk penggunaan lahan merupakan aspek di bawah pengaruh kegiatan manusia. Agak Kritis dan Potensial Kritis. Tingkat kekritisan daerah resapan menggambarkan mengenai penilaian tentang tingkat kekritisan daerah resapan terhadap air hujan. tipe vegetasi dan penggunaan lahan. Pengelolaan lahan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi tanah c. Dengan mempertimbangkan solum tanah.(Persero) CABANG I MALANG Berdasarkan hasil analisa dan pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tingkat kerusakan tanah di DAS Barito pada umumnya masih baik.

478. kritis dan sangat kritis.92 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.43 5.DAS Riam Kanan S.DAS Alalak S. diberitakan berdasarkan pernyataan Ketua Komisi D DPRD Provinsi Kalimantan Selatan.S.239 Indeks SDR 8.862 10.DAS Riam Kiwa S.908.991 50.7 ton/ha. normal alami.957.969.264.S.526.14 202. Adapun tingkat kekritisan Sub DAS diperoleh dari nilai-nilai indeks erosivitasnya yang dihitung berdasarkan bentuk wilayah/topografi.033 cm/th. bentuk percabangan sungai dan penggunaan lahan.610 81.DAS Martapura S. agak kritis.01 49.DAS Tabalong Kanan S.975.568.DAS Barito Hilir Ds S.26 8. Banjar bahwa kandungan lumpur dalam Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -156 . III.37 8.158.714 17.23 8.343.30 1.636 6.27 8.68 117.240 6.25 213.905 1. dan dengan memperhitungkan nilai SDR (Sediment Delivery Ratio) sebesar 5. Selanjutnya dengan asumsi bahwa berat sedimen adalah 0.661.26 136.567. Nilai indeks Sub DAS yang tinggi menunjukkan tingkat kekritisan Sub DAS yang tinggi pula.863. maka akan didapat hasil sedimen yang masuk ke dalam Sungai Barito sebesar 4.325 mm/th atau 0.495 462. Rubrik Radar Banua.S.240. Sedangkan pada Radar Banjarmasin terbitan hari Rabu tanggal 27 Agustus 2003 ( Rubrik Radar Banua halaman 10 dengan judul ”Pelanggan PDAM Bakal Terlantar”).35 8.380 9. lereng/slope.888.484.83 164.292.108.284 44. Sebagai ilustrasi adalah informasi dari media massa Radar Banjarmasin (hari Selasa tanggal 26 Agustus 2003.617 66. Kalsel)’.44 110.134 971.663 54.56 164.831 ton/ha/th atau setara erosi yang terjadi pada seluruh DAS Barito dengan luas 1. halaman 9 dan halaman 15.957. Tabel 2. 1 2 3 2 3 4 5 6 7 8 Sub DAS/Sub Sub DAS 2 S.S.116 453. dengan ”judul Investor Baru Keruk Alur”). September 2003 Berdasarkan Tabel di atas.186. mulai kritis.517.61 88. bahwa alur Barito setiap hari mengalami pendangkalan setinggi 2 cm.126.11 173.096.3 Rata-rata Kerusakan Lahan Berdasarkan Kelas Erosi (ton/ha/tahun) Jumlah (ton/th) I II III IV (<15) (15 – 60) (60-180) (180-480) 4 5 6 7 8 5.S.DAS Amandit S. menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat erosi yang terjadi di DAS Barito berkisar antara kelas II (antara 15-60 ton/ha/th) dan kelas III (antara 60 – 180 ton/ha/th) dengan rata-rata erosi adalah 34.DAS Barito Tengah S.036. II.93 94.863.851.DAS Balangan S.917.(Persero) CABANG I MALANG Tingkat kekritisan hidrologis dibedakan menjadi 5 (lima) kelas.772 284. dikatakan bahwa menurut Dirut PDAM Kab.921.S.578 4.156 36.550 6.S.8 ton/m3.917. yaitu baik.743.137 16.38 8.DAS Bahalayung Jumlah Luas (ha) 3 189.92%.30 ha adalah 81.908 5.72 Sebaran Kelas Erosi di DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 I.31 8.020.S. maka ketebalan laju sedimentasi yang masuk ke dalam Sungai Barito bila dianggap sebagai waduk/penampungan adalah 0..349.S.27 8.DAS Tabalong Kiwa S.082.747 63.431.916 4.186.26 8.35 8.987.896 81.239 ton/th.201 10.363.S.768.363.DAS Batang Alai S.155.068.839.DAS Danau Panggang Ds S.

735 Ton/th atau setara 0.435.647.73.576 ton/th atau setara 0.895.914 ton/th atau setara 0. yang pada intinya membandingkan antara infiltrasi potensial dan infiltrasi actual di DAS.069 cm/th Sub Sub DAS Riam Kiwa : 781.004 cm/th Sub DAS Martapura: Sub Sub DAS Alalak : 127. Kontribusi erosi dan sedimentasi tersebut berasal dari beberapa Sub Sub DAS dengan variasi jumlah dan kelas erosinya.368.216.908 ton/th atau setara 0.018 cm/th Sub Sub DAS Riam Kanan : 907.403 ton/th atau setara 0.006 cm/th Pendekatan lain untuk menilai DAS Barito dapat dikaji pula mengenai tingkat kekritisan daerah resapannya.052 cm/th Sub Sub DAS Balangan : 1.478. Sub Sub DAS Amandit. dan hampir sebagian besar Sub DAS Negara yang meliputi Sub Sub DAS Tapin. menunjukkan bahwa DAS Barito mempunyai tingkat kekritisan hidrologis/kondisi daerah resapan yang rata-rata Normal Alami artinya bahwa potensi terjadinya infiltrasi karena kondisi alamnya tidak terlalu terganggu dengan adanya perlakuan lahan yang diatasnya. Sedangkan Sub Sub DAS Riam Kiwa di Sub DAS Martapura. Sub Sub DAS Balangan. yaitu 15 – 60 ton/ha/th.385.282 ton/th atau setara 0.057 cm/th Sub Sub DAS Batang Alai : 572.633 ton/th atau setara 0. Sub Sub DAS Batang Alai.625.881. Sub Sub DAS yang mempunyai erosi rata-rata kelas II.403.958. Sub Sub DAS yang termasuk ke dalam erosi Kelas III (60 – 180 ton/ha/th). adalah Sub Sub DAS Riam Kanan yang sudah barang tentu akan memberikan kontribusi laju sedimentasi yang lebih tinggi pula.046 cm/th Sub DAS Negara: Sub Sub DAS Tapin : 891.448 ton/th atau setara 0. dimana Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -157 . Dengan memperhatikan erosi yang terjadi dan indeks SDR (Sediment Delivey Ratio) pada masing-masing Sub Sub DAS. Berdasarkan Tabel 2.070 cm/th Sub Sub DAS Amandit : 541.005 cm/th Sub Sub DAS Bahalayung : 23.005 cm/th Sub DAS Barito Tengah : 37. Sub DAS dan Sub Sub DAS yang bersangkutan.461. didapat jumlah sedimen yang terjadi pada masing-masing sungainya sbb: Sub DAS Barito Hilir : 79.066 cm/th Sub Sub DAS Danau Panggang : 38.941.916 ton/th atau setara 0.171 ton/th atau setara 0.834 ton/th atau setara 0.(Persero) CABANG I MALANG rangka pengerukan lumpur yang terdapat di irigasi Riam Kanan adalah 40 cm dari ketinggian air 60 cm.084 cm/th Sub Sub DAS Tabalong Kanan : 919.265 ton/th atau setara 0.

92 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.10 KUALITAS AIR WS BARITO-KAPUAS Air merupakan sumber alam yang sangat penting di dunia ini karena tanpa air kehidupan tidak dapat berlangsung.S. Tidak sebagaimana bahan baku lainnya.068.747 63.38 8.617 66.839.134 971.DAS Tabalong Kiwa S.S.156 36. Kalsel)’.568.S.201 10.DAS Amandit S.93 94.036.27 8. 1 2 3 2 3 4 5 6 7 8 Sub DAS/Sub Sub DAS 2 S.714 17.S.082.30 1.35 8. Hal ini dapat dilihat pada kondisi daerah resapan dengan klasifikasi Normal Alami hampir sebagian besar Sub Sub DAS Alalak dan Sub Sub DAS Danau Panggang termasuk daerah resapan yang masuk dalam klasifikasi Mulai Kritis.108. Air yang kualitas buruk akan mengakibatkan kondisi lingkungan hidup menjadi buruk sehingga akan mempengaruhi kondisi kesehatan dan keselamatan manusia serta kehidupan makhluk hidup lainnya.343. zat kimia dan bahan buangan atau limbah.DAS Alalak S.240 6.772 284.578 4.862 10.61 88.495 462.917.550 6.(Persero) CABANG I MALANG penutupan lahan secara keseluruhan cukup baik.380 9.S.DAS Bahalayung Jumlah Luas (ha) 3 189.610 81.096.661. Tabel 2.743.284 44.908 5.DAS Balangan S.DAS Barito Hilir Ds S.957.43 5.567.636 6.126.888.969.S.44 110.25 213.S.DAS Danau Panggang Ds S.987.27 8. Konsep bahwa air merupakan sumberdaya alam yang harus dikelola secara hati-hati adalah sangat penting dan perlu.768.239 Indeks SDR 8.83 164.26 8.240.01 49.349.863.31 8. Pencemaran utama air adalah sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -158 .896 81.363.35 8.56 164.975.DAS Martapura S.921. Air memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan suatu komunitas karena penyediaan air yang dapat diandalkan merupakan persyaratan bagi terbentuknya komunitas yang permanen.292.431.3 Rata-rata Kerusakan Lahan Berdasarkan Kelas Erosi (ton/ha/tahun) Jumlah (ton/th) I II III IV (<15) (15 – 60) (60-180) (180-480) 4 5 6 7 8 5.73 Tingkat kekritisan Daerah Resapan DAS Barito di Provinsi Kalsel No 1 I. September 2003 2.186.26 8.DAS Tabalong Kanan S.DAS Riam Kanan S. sehingga adanya keseimbangan antara potensi infiltrasi yang disebabkan keadaan alamnya dengan infiltrasi aktual yang terjadi..14 202.23 8.37 8.DAS Barito Tengah S.155.478.11 173. Pencemaran air adalah adanya kontaminasi air oleh materi asing seperti mikroorganisme. II.S.26 136.484.186.S. mengingat pertumbuhan penduduk dan pengembangan industri selalu diikuti dengan peningkatan kebutuhan air bersih.158. III.S. air merupakan satu-satunya sumber alam yang tidak bisa digantikan oleh material lain.116 453.137 16.264.DAS Riam Kiwa S. sedangkan yang termasuk Baik adalah Sub Sub DAS Riam Kiwa dan Sub Sub DAS Tapin.526.DAS Batang Alai S.020.991 50.663 54.68 117.905 1.517.916 4.

Minyak/Lemak. Limbah rumah tangga dan limbah lain yang mengandung banyak materi karbon organik. PO4 (Phosphat).Lokasi 5 : Kalahien Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -159 . 2. Berdasarkan definisinya. Nitrat (NO3). sehingga untuk dekomposisi limbah tersebut diperlukan banyak oksigen. Zat Padat Tersuspensi (TSS).Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok . Minyak 5. 2. DO (Dissolved Oxygen). NH3 (Amoniak). Nitrit (NO2). pertambangan dan daerah padat penduduk di perkotaan yang terbawa oleh aliran air hujan. Bahan kimia organik. Zat Padat Terlarut (TDS). pencemaran air yang diindikasikan dengan turunnya kualitas air sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai peruntukkannya. Fenol. 4. COD (Chemical Oxygen Demand).Lokasi 4 : Pelabuhan Hulu . misalnya pestisida dan surfaktan pada detergen. Sedimen yang terdiri dari tanah dan partikel mineral yang yang berasal dari lahan pertanian. Fecal Coli dan Total Koliform. pH. Parameter yang diuji dalam pemantauan kualitas air meliputi: Temperatur. 3.Lokasi 2 : Baru .Lokasi 1 : Baru Hilir / Buntok . Mineral anorganik dan bahan kimia anorganik 6.1. sehingga dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen badan perairan dan bau yang tidak enak. Yang dimaksud tingkat tertentu tersebut adalah baku mutu air yang ditetapkan sebagai tolak ukur untuk menentukan telah terjadinya pencemaran air. DHL (Daya Hantar Listrik).(Persero) CABANG I MALANG 1. Sungai Barito Berdasarkan Laporan Pemantauan Kualitas Air Sungai Tahun 2007 Oleh BPPLHD Provinsi Kalimantan Tengah Sampel air Sungai Barito yang diuji kualitas airnya pada tahap I (Mei 2007) diambil di 24 (dua puluh empat) lokasi titik pengambilan yaitu: . BOD5 (Biological Oxygen Demand). Detergen. Merkuri (Hg). SO4 (Sulfat).10. juga merupakan arahan tentang tingkat kualitas air yang akan dicapai atau dipertahankan oleh setiap program kerja pengendalian pencemaran air. Pupuk pertanian yang dapat merangsang pertumbuhan air secara berlebihan atau (eutrofikasi).

Lokasi 12 : Muara Teweh .Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri .Lokasi 15 : Lahei .Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok Hasil pengujian kualitas air sungai di masing-masing lokasi adalah sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -160 .Lokasi 10 : Kandui .Lokasi 8 : Bintang Linggi .Lokasi 12 : Muara Teweh .Lokasi 22 : Tumbang Lahung .Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri .Lokasi 21 : Jembatan Penyebrangan .Lokasi 17 : Puruk Cahu .Lokasi 6 : Pendang .Lokasi 16 : Muara Lahei .Lokasi 26 : Pelabuhan Puruk Cahu .Lokasi 24 : Laung Tuhup Sedangkan pada tahap II (September 2007) diambil di 10 (sepuluh) lokasi titik pengambilan yaitu : .Lokasi 7 : Sungai Pendang .Lokasi 24 : Laung Tuhup .Lokasi 9 : Montalat .Lokasi 22 : Tumbang Lahung .Lokasi 20 : Sungai Lumuk Hulu .Lokasi 25 : Jembatan Bahitom .(Persero) CABANG I MALANG .Lokasi 6 : Pendang .Lokasi 14 : Sungai Tewah .Lokasi 23 : Muara Lahung .Lokasi 13 : Muara Sungai Tewah .Lokasi 19 : Sungai Lumuk .Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .Lokasi 23 : Muara Lahung .

74 Hasil Pengujian Kualitas Air Sungai Barito Tahap I (Bulan Mei 2007) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -161 .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.2. Tilu .Lokasi 4 : Timpah . Kapuas .Lokasi 1 : K.Lokasi 2 : P.Lokasi 6 : Masaran Hulu Sedangkan pada tahap II (Oktober 2007) diambil di 9 (sembilan) lokasi titik pengambilan yaitu : .Lokasi 5 : Masaran Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -162 . Sungai Kapuas Sampel air Sungai Kapuas yang diuji kualitas airnya pada tahap I (Juni 2007) diambil di 6 (enam) lokasi titik pengambilan yaitu: .Lokasi 2 : P.75 Hasil Pengujian Kualitas Air Sungai Barito Tahap II (Bulan September 2007) 2.Lokasi 3 : Mentangai .Lokasi 5 : Masaran . Kapuas .Lokasi 1 : K.Lokasi 4 : Timpah .Lokasi 3 : Mentangai .10. Tilu .

Lokasi 9 : Mandomai Hasil pengujian kualitas air sungai di masing-masing lokasi adalah sebagai berikut: Tabel 2. Bentuk DAS sebenarnya sukar untuk dinyatakan secara kuantitatif.11 KONDISI WS BARITO DAN KAPUAS 2.11.1 Bentuk DAS Bentuk DAS dapat dinyatakan dengan menggunakan nilai Rc (Ratio circularity) yang mempunyai pengaruh pada pola aliran sungai dan ketajaman puncak discharge banjir.76 Kualitas air di WS Kapuas 2.Lokasi 8 : Timpah Hulu . Dengan membandingkan konfigurasi basin.1.(Persero) CABANG I MALANG .1 Kondisi DAS Barito 2.11. dapat dibuat suatu Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -163 .Lokasi 7 : Masaran Hilir .Lokasi 6 : Masaran Hulu .

Dari perhitungan nilai Rc dan RE tersebut di atas. hampir semua Sub Sub DAS mempunyai bentuk memanjang yang cenderung mempunyai pola aliran dan puncak discharge banjir relatif cepat dan kurang baik menyimpan air kecuali Sub Sub DAS Balangan dan Sub Sub DAS Tapin serta Sub DAS Martapura dan DAS Barito secara keseluruhan. bila lembah sungai tidak dapat menampung aliran air permukaan.562. karena waktu konstentrasi curah hujan melalui debit alirannya cenderung pendek. Bila hujan merata. Hal ini menunjukkan bahwa DAS Barito mempunyai bentuk memanjang agak membulat/lingkaran. yaitu memanjang agak membulat/lingkaran. walaupun pada kondisi tertentu dapat menyebabkan terjadinya banjir dan kekeringan. terutama bila terjadi hujan yang merata di bagian hulu dengan curah hujan yang tinggi. maka bentuk DAS tersebut adalah cenderung membulat. Jika DAS berbentuk lingkaran maka indeks bentuk DAS mendekati nilai 1 dan atau apabila nilai Rc lebih kecil dari 0. terutama jika Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -164 .937 km dan lebar adalah 121. Bentuk Sub Sub DAS. Sub DAS dan DAS yang memanjang agak membulat/lingkaran tersebut cenderung mempunyai pola aliran dan puncak discharge banjir yang relatif lambat baik dalam penyimpanan air dibandingkan dengan Sub DAS yang mempunyai bentuk memanjang.5.594. hal ini berarti bahwa karakteristik DAS Barito mempunyai bentuk memanjang yang menunjukkan pola aliran dan puncak discharge banjir yang cepat menuju sungai utama. didapat panjang DAS Barito adalah 1. Dengan memperhatikan panjang dan lebar serta diameter DAS tersebut. sedangkan pada musim kemarau diatas rata-rata normal dapat menyebabkan terjadi kekeringan lebih cepat dibandingkan dengan DAS yang mempunyai bentuk memanjang. dimana kondisi DAS yang demikian kadang kurang dapat menyimpan air dengan baik.5 maka bentuk DAS tersebtu adalah memanjang dan apabila nilai Rc lebih besar dari 0. artinya pada musim hujan mudah mengalami banjir di bagian hilirnya. Karakteristik bentuk DAS Barito tersebut dapat dilihat juga dari faktor diameter. Secara keseluruhan Nilai Rc yang menggambarkan bentuk DAS Barito adalah 0.04 km.(Persero) CABANG I MALANG indeks yang didasarkan paa circularity DAS. Berdasarkan hasil analisa planimetris dan GIS dengan menggunakan peta RBI dan peta topografi.312. lebar dan panjang sungainya melalui perhitungan (Elongation Ratio). maka mudah terjadi kenaikan debit yang mencolok dan hal ini akan menyebabkan timbulnya genangan dan banjir. maka nilai RE untuk DAS Barito adalah 0.

298 km. Sungai utama yang membentuk DAS Barito adalah Sungai Barito dengan panjang 153. Diantara Sub DAS yang ada. lebar DAS dan bentuk DAS Barito disajikan pada tabel berikut : dimana makin panjang sungai makin besar wilayah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -165 . Secara umum panjang sungai utama.945 km dan memanjang mulai dari bagian hilir/muara sungai di Kota Banjarmasin sampai di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tabalong yang seterusnya memasuki wilayah Provinsi Kalteng. sedangkan sungai utama Sub Sub DAS Amandit adalah Sungai Amandit dengan panjang 98. Sebagai contoh sungai utama Sub DAS Martapura adalah Sungai Martapura dengan panjang 69.298 km. pengalirannya. sungai utama terpanjang adalah sungai yang terdapat di Sub DAS Negara. begitu seterusnya untuk masing-masing Sub DAS dan Sub Sub DAS yang lainnya. Selanjutnya pada setiap Sub DAS dan Sub Sub DAS sungai utama yang dimaksud adalah sungai yang membentuk Sub DAS dan Sub Sub DAS tersebut. yaitu 208.(Persero) CABANG I MALANG kondisi musim hujan dan musim kemarau berada di atas rata-rata normal.378 km dan yang terpendek adalah sungai Martapura yaitu 69.973 km. Panjang sungai menentukan besarnya wilayah pengaliran sungai dan pengelolaannya. Dengan demikian secara keseluruhan DAS Barito mempunyai bentuk memanjang dan agak membulat/lingkaran yang dibentuk oleh Sub DAS dan Sub Sub DAS yang mempunyai bentuk memanjang serta bentuk memanjang agak membulat/lingkaran.

S.269 8. 1 2 3 4 5 6 7 8 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.869 13.275 0. semakin luas wilayah Sub DAS dan semakin banyak percabangan sungai yang terdapat di dalam DAS yang bersangkutan.DAS Tapin S.028 208.S.DAS Danau Panggang S.712 15.94 92.322 0.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. suatu DAS dapat terdiri dari Sub DAS urutan pertama.DAS Riam Kiwa S.DAS Bahalayung Panjang Sungai Utama (km) 153. dimana setiap aliran sungai yang tidak bercabang disebut Sub DAS urutan / ordo pertama. Sistem klasifikasi Horton berawal dari urutan pertama dan selanjutnya meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah percabangan aliran air atau anak-anak sungai.312 0.226 0.322 0.228 0.S.914 14.442 0.2 Jaringan Sungai Berdasarkan Asdak C (2002).316 97.756 52.264 0. Meskipun tampak bahwa urutan Sub DAS berkaitan erat dengan karakteristik DAS lainnya.341 0. Dengan demikian semakin besar angka urutan.006 208.S.822 Nilai Rc 0.607 67.302 0. mengatakan bahwa kedudukan aliran sungai dapat diklasifikasikan secara sistematik berdasarkan urutan daerah aliran sungai.38 0.436 0.578 11.311 0. kebanyakan pakar hidrologi beranggapan bahwa tidak ditemukan bukti yang cukup untuk mengaitkan sistem urutan Sub DAS dengan perilaku air larian di daerah tersebut.DAS Riam Kanan S.9806 16. 1 2 3 IV.271 13.556 0.909 7.391 0.681 12. Respon tersebut diwujudkan dalam bentuk kurva hidrograf aliran yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi kondisi hidrologi DAS yang Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -166 .354 144.891 14.982 18.276 12. Kalsel)’.973 95.364 I. Setiap anak sungai menghasilkan hidrograf aliran yang menunjukkan respon DAS terhadap curah hujan.1. September 2003 2.DAS Barito Tengah S.DAS Batang Alai S.562 0.512 0.207 38.813 Lebar DAS ( km ) 121.DAS Martapura S.298 98. II.219 0.S.DAS Alalak S.403 0.DAS Balangan S.326 0.378 66.DAS Tabalong Kanan S.11.DAS Tabalong Kiwa S.945 83.S.04 22.DAS Negara S.S.77 Tabel bentuk/nilai Rc DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No DAS/ Sub DAS/Sub Sub DAS DAS BARITO S.226 Nilai RE 0.467 0.242 98.296 70.S.315 0. Oleh karena itu.DAS Amandit S.336 0.389 0.S.469 0. Dalam suatu DAS.649 69.55 0. kedua dan seterusnya..675 155.358 0.378 126.274 0. III.DAS Barito Hilir Ds S.S.17 0.S. anak sungai di bagian atas akan bersambung dengan anak sungai yang lebih besar di bawahnya.33 0.

313 IV-I 1. No DAS/ Sub DAS/ Sub Sub DAS Orde Sungai Panjang Sungai Total (km) I.790 4.DAS Riam Kanan 3.877 5.DAS Barito Tengah III.306 6.DAS Negara S.458 10.937 1203.855 0.DAS Batang Alai 4.239 1.S. Debit puncak untuk satu anak sungai mungkin telah terlampaui.939 IV-I 953. 1.205 IV-I III-I III-I 4.442 0.360 1. Ketika anak sungai bergabung dengan anak sungai lain dibawahnya.891 1. 2.444 18 1 1 7.S.807 6.281 32 10.253 67 1 1 5.593.514 26.865 7.021 0.S.DAS Balangan III-I 1562.483 IV-I III-I III-I III-I 8.75 43 32 35 8 5.604 0.771 5.DAS Martapura S.S. S.354 743. S.S.290 1.221 Dd (km/km2) Rb 1-2 Rb 2-3 Rb 3-4 Rb 4-5 Wrb Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -167 .DAS Amandit S.986 III-I 2. S.40 10.861 1193.DAS Riam Kiwa IV.S.842 0. S. Secara rinci keadaan jaringan sungai pada DAS Barito disajikan pada tabel berikut: Tabel 2.295 7. aliran air dari kedua anak sungai tersebut tidak terjadi secara bersamaan. S.S.385 57 14.039 6.449 1.78 Keadaan Jaringan Sungai Pada DAS Barito di Provinsi Kalsel. 3. 1.166 6.130.919 0. 2. S.DAS Barito Hilir Ds II.DAS Alalak S.286.329.935.213.DAS Tapin S.343 4.889 13.254 124 12 55 1 6.126 6.004 1. sementara pada anak sungai berikutnya debit puncak akan segera terjadi.146 12. Pengaruh ketidaksamaan waktu terjadinya debit puncak pada masing-masing anak sungai tersebut akan menurunkan besarnya debit puncak total pada sungai utama (sungai yang menampung kedua anak sungai tersebut).023 5.(Persero) CABANG I MALANG bersangkutan.

696 4. Kalsel)’.0.621 km dan ordo V dengan panjang sungai 153.222 27 - - 9.687.DAS Tabalong Kanan III-I 855. Bila pada daerah sekitar ordo sungai terjadi hujan merata dan deras. ordo IV dengan panjang sungai 431. yaitu Rb 1-2 mempunyai nilai 5.196.S. S.S. maka pada ordo sungai 1 ke 2.23. Perbandingan panjang sungai total mulai orde I sampai Ordo V adalah Ordo I dengan panjang sungai 11.307 6.DAS Tabalong Kiwa III-I 816. ordo III dengan panjang sungai 1. Rb 2-3 mempunyai nilai 19.161 0. maka panjang sungai akan semakin panjang dan bercabang. 3 ke 4 dan ordo 4 ke 5. Hal ini menunjukkan bahwa muka alur sungai mempunyai kenaikan muka air banjir dengan cepat dan demikian dengan penurunannya akan terjadi dengan cepat pula. September 2003 Berdasarkan tabel diatas.S.23).428 21 - - 8.828 0.819 7. Ordo II dengan panjang sungai 2. Banyaknya jumlah alur sungai menggambarkan tingkat torehan aliran permukaan dan kerusakan atas lahan di daerah hulu. sehingga jumlah sungai pada ordo 3 ada kemungkinan daya tampung sungainya tidak mampu menerima aliran permukaan air tersebut dan kemungkinan akan terjadinya genangan pada daerah ini.59. jumlah sungai masih dapat menampung aliran air. Semakin banyak jumlah alur sungai per satuan luas menunjukkan tingkat kerusakan lahan yang semakin tinggi.016 km. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -168 .516 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.275 km.609 0. Rb 3-4 mempunyai nilai 5. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkatan ordonya. atau dengan ratio 73 : 17 : 3 : 1.492 3.400 15 - - 7.5 dan Rb 4-5 mempunyai nilai 4.945 km. sedangkan pada setiap Sub DAS sungainya mempunyai 4 (empat) ordo dan pada Sub Sub DAS sungainya mempunyai 3 (tiga) ordo. S.269.497 5.DAS Danau Panggang Ds III-I 655. dapat dilihat bahwa DAS Barito dapat dirinci menjadi 5 (lima) ordo. tetapi pada ordo 2 ke 3 terjadi perubahan ordo yang cukup besar (mempunyai Rb yang lebih tinggi daripada Rb pada ordo yang lain / Rb 2-3 = 19. Sedangkan ratio percabangan sungai dapat ditunjukkan dengan nilai Rb masing-masing ordonya.(Persero) CABANG I MALANG 5. S.001 km.

artinya bahwa semakin besar jumlah air larian total (semakin kecil infiltrasi) akan semakin kecil air tanah yang tersimpan di daerah tersebut. Walaupun demikian pada beberapa Sub Sub DAS masih terdapat potensi untuk terjadinya genangan. Sedangkan menurut Soewarno. dimana daerahnya mempunyai kerapatan sungai yang kecil. seperti langkah-langkah penanggulangan melalui pelurusan/normalisasi sungai yang berkelok-kelok. maka DAS tersebut akan mengalami penggenangan sedangkan jika lebih besar dari 5 mile/mile2 (3. yaitu Sub Sub DAS Tabalong Kanan.10 km/km2). dikatakan bahwa jika nilai kerapatan aliran lebih kecil dari 1 mile/mile2 ( 0. maka DAS tersebut akan sering mengalami kekeringan.25 – 10 km/km2 termasuk kategori sedang. pelebaran lembah sungai. jika nilai Dd antara 0. Sub Sub DAS Tabalong Kiwa. jumlah air larian total yang terjadi dan jumlah air tanah yang tersimpan. Sub DAS Martapura dan Sub DAS Negara. Kerapatan sungai dan kepadatan aliran yang terjadi di DAS Barito ditunjukkan dengan nilai Dd yang terjadi. semakin besar nilai Dd akan semakin baik sistim pengaliran (drainase) di daerah tersebut. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -169 . Dengan demikian. dan jika lebih besar dari 10 km/km2 termasuk kategori tinggi yang berarti jumlah curah hujan yang menjadi aliran akan menjadi besar. Secara umum.488. Bila pada daerah ini terjadi hujan yang merata dengan jumlah curah hujan yang tinggi serta waktu konsentrasinya cepat. Menurut Lynsley (1949). karena alur sungai pada ordo III kurang cukup menampung jumlah aliran tersebut.62 km/km2). sehingga diperlukan upaya konservasi tanah yang baik dan perlu dicadangkan sistem drainase dan daerah resapan air. Sub DAS Barito Tengah. terutama pada daerah yang dilalui oleh sungai pada ordo I sampai ordo III. penertiban hunian di sempadan sungai dan upaya lainnya. Sub Sub DAS Bahalayung dan Sub Sub DAS Danau Panggang. DAS Barito mempunyai jumlah alur sungai yang banyak dan panjang pada bagian hulu atau pada ordo I sampai ordo III dan keadaan ini terjadi juga pada setiap Sub DAS dan Sub Sub DAS. Hal ini berarti bahwa secara keseluruhan DAS Barito tidak mudah terjadi penggenangan maupun kekeringan. sehingga diperlukan upaya pencegahan terhadap terjadinya genangan. Keadaan ini menunjukkan bahwa torehan aliran permukaan dan kerusakan lahan cukup intensif.(Persero) CABANG I MALANG Pada umumnya. yaitu termasuk kategori sedang dengan indeks 1. Dd mempunyai korelasi dengan perilaku laju air larian. termasuk sampai pada tingkatan Sub DAS. seperti Sub DAS Barito Hilir. dapat menyebabkan limpasan dan genangan.

DAS Tapin S. 2. dengan demikian beda tinggi DAS barito adalah 1.DAS Alalak S.093 1.S.S. S.3 Ketinggian dan Arah DAS Ketinggian tempat di daerah hilir DAS Barito terdapat di Kabupaten Barito Kuala.158 1. S.251 1. IV. S.S.1.256 m.DAS Amandit S.DAS Bahalayung 9 2 7 81o10’ 61 2 59 195o05’ 890 16 874 197o00’ 1.11.S. Secara umum rincian perbedaan ketinggian DAS Barito disajikan pada tabel berikut. 4.S. S. Sedangkan beda tinggi maksimum dan terendah pada masing-masing Sub DAS bervariasi. 1.137 1.251 1.229 255o50’ 255 50’ 276o25’ o Tingi min (m) Beda Tinggi (m) Arah/Orientasi (Azimuth) 13 17 1 2 12 15 206o50’ 209o55’ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -170 .DAS Barito Tengah S.S.S.259 270o00’ 279o40’ 287o55’ 273o35’ 204o05’ 278 1.S.DAS Barito Hilir Ds S. III.138 1.S. 1.DAS Batang Alai S. Tabel 2.DAS Martapura S.DAS Riam Kiwa S. 3. sedangkan tempat yang tertinggi terdapat di Kabupaten Tabalong.257 3 2 5 2 6 1.DAS Negara S.257 meter diatas permukaan air laut. yaitu 1.DAS Balangan S. 2.DAS Tabalong Kanan 6.DAS Tabalong Kiwa 7. 3.156 1.042 1.230 3 1 1 275 1. II.79 Ketinggian dan Arah DAS Barito di Provinsi Kalsel No DAS/ Sub DAS / Sub Sub DAS Tinggi Maks (m) I.045 1.(Persero) CABANG I MALANG 2. yaitu 1 meter dari permukaan laut.DAS Danau Panggang Ds 8.S.093 1.DAS Riam Kanan S. 5.S.

walaupun demikian pada beberapa Sub DAS terdapat beberapa pola aliran yang lain.(Persero) CABANG I MALANG Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop. Sedangkan arah DAS Barito secara keseluruhan terdapat pada azimuth 206o50’ sampai 204o05’ yaitu memanjang dari mulai muara/bagian hilir kearah utara di bagian hulunya. Sub Sub DAS Batang Alai.11. yaitu dengan menghitung lereng saluran antara 10% dan 85% jarak dari outlet. Batang Alai. Dan lainnya berkisar antara 9 sampai 890 m diatas permukaan air laut. Perhitungan gradien sungai dapa diperoleh dengan slope faktor. 2. Kalsel)’. seperti Sub Sub DAS Tapin. dan Sub Sub DAS Tabalong Kanan. yaitu pada bagian hulu beberapa Sub Sub DAS mempunyai ketinggian diatas 1. Semakin besar gradien sungai suatu DAS. Sub Sub DAS Amandit.1. September 2003 Berdasarkan tabel diatas. Kondisi ini menunjukkan bahwa pada Sub-sub DAS Alalak. maka kecepatan aliran dalam suatu DAS akan semakin tinggi. dapat dilihat bahwa ketinggian maksimum terdapat pada Sub Sub DAS Tabalong Kanan dan ketinggian minimum terdapat pada Sub Sub DAS Riam Kanan dan Sub Sub DAS Riam Kiwa. dimana kondisi ini menunjukkan bahwa sistem drainase yang terbentuk ringan. Batang Alai. Juga dapat dilihat bahwa pada bagian hulu DAS Barito.000 m di atas permukaan air laut. Balangan dan Tabalong Kanan pola aliran yang terjadi adalah Rectangular Dendritic : Fine. Balangan dan Tabalong Kanan sistem drainase yang terbentuk adalah Sedang. Gradien sungai digunakan untuk menggambarkan kecepatan aliran dalam suatu DAS. Secara rinci keadaan pola aliran sungai pada DAS Barito disajikan pada tabel berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -171 .4 Pola Aliran dan Gradien Sungai Secara keseluruhan pola aliran sungai yang terjadi pada DAS Barito adalah Dendritic : Medium. Sub Sub DAS Balangan. seperti pada Sub Sub DAS Alalak. begitu pula sebaliknya. kemudian Sub-sub DAS Bahalayung pola aliran yang terjadi adalah Rectangular Dendritic: Medium to fine dengan sistem drainase yang terbentuk adalah Ringan.

20 m 2.DAS Martapura S.S.DAS Bahalayung Pola Aliran Denditric : Medium Denditric : Medium Rectangular Dendritic : Fine Denditric : Medium Denditric : Fine Denditric : Medium Rectangular Dendritic : Fine Rectangular Dendritic : Fine Rectangular Dendritic : Fine Denditric : Medium Denditric : Medium Denditric : Medium Rectangular Dendritic : Medium to fine Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop. kecepatan air maksimum yang pernah terjadi di Sungai Kapuas 0.2 5.S.DAS Alalak S.DAS Batang Alai S.81 Fluktuasi Pasang Surut Muka Air Sungai Kapuas Sungai Kapuas Spring Tide Muka Air Kemarau Musim Hujan HWL 5 5.11.1 3.S. Kalsel)’.DAS Tabalong Kiwa S.DAS Amandit S.DAS Danau Panggang Ds S.S.30 m Neap Tide Kemarau Musim Hujan 4. III.25 LWL 2.S.S.DAS Barito Hilir Ds S.88 m/dt Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -172 .DAS Riam Kanan S.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.S.S. 1 2 3 4 5 6 7 8 Sub DAS/ Sub Sub DAS S.6 4.55 4.4 Mean 3.1 2.DAS Negara S. 1 2 3 IV.9 3. September 2003 2.DAS Balangan S. pada beberapa tempat bisa mencapai kedalaman 20 m.30 m 2.S.DAS Tabalong Kanan S.DAS Tapin S.1 Kisaran 2.8 3.80 Pola Aliran dan Gradien Sungai DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No I.1 1. 2002 Selama periode pengamatan.00 m Ket Sumber : Manual OP Proyek PLG.DAS Barito Tengah S.2 Kondisi DAS Kapuas Sungai utama yang berpengaruh mempunyai lebar sekitar 250 – 300 m dengan kedalaman sekitar 10 – 15 m. Fluktuasi muka air di sungai adalah sebagai berikut : Tabel 2.DAS Riam Kiwa S.S. II.S.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -173 .(Persero) CABANG I MALANG 2. dalam daerah khususnya penetapan dan bagi ini adalah. a) Kawasan Sentra Produksi Pertanian Provinsi Kalimantan Selatan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan.12. dan masyarakat dalam pembangunan agrobisnis dan agroindustri. swasta. yang untuk mata mengembangkan masyarakat meningkatkan penduduk pendapatan pencahariannya terkait dengan sektor pertanian pangan dan perikanan. telah menetapkan lokasi-lokasi KSP. 2. tentang : “Penetapan Kawasan Sentra Produksi Pertanian di Provinsi Kalimantan”. Kawasan ini diharapkan akan menjadi acuan bagi pemerintah daerah. melalui surat keputusan nomor : 0303/Tahun 1999.1.1 Kebijakan Penetapan Kawasan Sentra Pengembangan Dalam rangka mendukung pengembangan sektor pertanian yang masih mendominasi produk domestik bruto wilayah ini. tanggal 10 Desermber 1999.1 Rencana Pengembangan Irigasi dan Pertanian 2. HSU Kawasan Sentra Produksi HST – HSS Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 1 Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 2 Kawasan Sentra Produksi Batola – Banjar Kawasan Sentra Produksi Banjar Kawasan Sentra Produksi Tala Kawasan Sentra Produksi Tala – Kotabaru Kawasan Sentra Produksi Kotabaru Sasaran yang di dipertimbangan pembangunan perdesaan. sebagai berikut : Kawasan Sentra Produksi Tabalong.12. perkotaan dan industri serta kebutuhan air untuk irigasi. maka pemerintah menetapkan kawasan-kawasan potensial yang dijadikan sentra produksi unggulan dan diharapkan menjadi salah satu tiang perekonomian wilayah. kolam ikan dan energi listrik berupa mikro hidro.12 ASPEK PENDAYAGUNAAN / PEMANFAATAN SDA Pemanfaatan sumber daya air di wilayah sungai Barito-Kapuas saat ini terdiri dari beberapa kegiatan antara lain pemanfaatan untuk rumah tangga.

Wanaraya.966 55. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -174 . perikanan laut.76 9 Kotabaru Kotabaru 6 18 61.6 8 Tala Kotabaru – Tanah Laut. padi sawah Cerbon. Pengaron. Mandastana Sungai Tabuk. Kedelai Pandawan. kacang Batung. Amuntai Tengah.4 Banjar 6 Ba\njar Banjar Pisang. Babirik.82 Lokasi dan Jenis KSP di Provinsi Kalimantan Selatan NO 1 NAMA KSP Tabalong.3 5 Batola Banjar – Barito Kuala 3.1 118. perikanan darat Jagung. Labuan Amas Utara. tambak. Laut Barat 1. KAWSN 1. Kehewanan dan Kawasan Sentra Industri. rambutan.76 55. Kelua Pugaan Perikanan darat Lampihong. serta Kecamatan Pandih Batu dan Kahayan Kuala (Kabupaten Pulang Pisau) yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. Tapin tanah Selatan. Aranio Pelaihari. kacang tanah.2 LUAS LAHAN (Ha) AWAL POT. rambutan.189 28 55. nenas.8 HSU 2 HST – HSS HST HSS 3 HSS – Tapin HSS Tapin 1 HSS – Tapin HSS Tapin 2 3. dan Kapuas Kuala (Kabupaten Kapuas). Piani. Anjir Pasar.2 b) Pengembangan Kawasan Prioritas Pertanian Provinsi Kalimantan Tengah Kawasan Sentra Produksi Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. Peternakan (itik) Batu Mandi. Penyipatan.94 32. Daha Kedelai Selatan. P.4 139. Danau Panggang Jagung. perikanan laut 5. Jeruk.963 110. Laut Selatan. Kotabaru 10. ternak sapi Runput laut. Takisung. a) KSP Kapuas.207 19. S.675 55. Padang Jeruk. kelapa dan ubi kayu. Bakumpai.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. ternak sapi Perikanan.Alai Utara. Karang Intan. Barabai.2 4 6. Harus. Astambul Simpang Empat. Tabalong JENIS KSP LOKASI KECAMATAN Tanjung. Batu licin P. Muara Kedelai. Rantau Badauh.4 123.6 63. melinjo. Loban. Batu Ampar.3 40. Candi Laras Selatan Laksado.9 7 Tala Tanah Laut 8. Sungai Pinang. Jorong Kintap. Sei Pandan. HSU KAB. Labuan Amas Selatan Daha Utara. Perkebunan.167 30. Banjang. jeruk Kandangan Bt. Basarang. meliputi Kecamatan Selat. Kusan hilir. Satui. Binuang Marabahan.792 86.3 65. Perikanan.

Kawasan KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito). Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -175 . yaitu dengan perincian Kota Palangkaraya (2 kecamatan). e) KSP Kandui. Kawasan Andalan Muara Teweh dan sekitarnya. meliputi Kecamatan Teweh Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi kedelai. sapi. pisang. meliputi Kecamatan Dusun Tengah dan Pematang Karau yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. meliputi Kecamatan Gunung Timang dan Montallat yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. lada dan ayam buras. kelapa. lada. dan ayam buras. dan ikan perairan umum. rambutan. meliputi Kecamatan Murung yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan pisang. h) KSP Benangis.650 km2).(Persero) CABANG I MALANG b) KSP Ampah. d) KSP Buntok. ayam buras. Kawasan Andalan Kuala Kapuas dan sekitarnya. c) KSP Muara Teweh. pisang. g) KSP Puruk Cahu. Kabupaten Kapuas (10 kecamatan) dan Kabupaten Barito Selatan (4 kecamatan) dengan luas wilayah mencapai 2. Kawasan KAPET DAS KAKAB . jagung.300 ha atau sekitar 18% dari luas Kalimantan Tengah (153. ayam buras.767. meliputi Kecamatan Teweh Tengah dan Lahei yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. meliputi Kecamatan Dusun Selatan dan Gunung Bintang Awai yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. Secara administrasi KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito) mencakup 4 (empat) daerah tingkat II dan 21 (dua puluh satu) kecamatan. Kawasan Andalan Buntok dan sekitarnya. kedelai. meliputi Kecamatan Dusun Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan kelapa. f) KSP Tamiyang Layang. dan ikan kolam. Kabupaten Pulang Pisau (5 kecamatan). Kawasan Sekitar Jalur Jalan Lintas Kalimantan.

60 41.00 1.25 45.12.83 Luas Kapet DAS Kakab NO 1 2 KABUPATEN / KOTA Palangkaraya Pulang Pisau KECAMATAN Pahandut Bukit Batu Banama Tingang Kahayan Tengah Kahayan Hilir Pandih Batu Kahayan Kuala Timpah Mantangai Kapuas Barat Basarang Pulau Petak Selat Kapuas Hilir Kapuas Timur Kapuas Murung Kapuas Kuala Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan JUMLAH IBUKOTA KECAMATAN Palangkaraya Tangkiling Bawan Bukit Rawi Pulang Pisau Pangkoh Bahaur Timpah Mantangai Mandomai Anjir Basarang Sei Tatas Kuala Kapuas Barimba Anjir Serapat Palingkau Baru Lupak dalam Rantau Kujang Mangkatip Bangkuang Bunto LUAS WILAYAH (KM2) 1.071 1.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.250. Sedangkan lahan yang ditanami.00 137.570.829 27. yaitu: a) Sentra Produksi (SP) saat sekarang.81 41. c) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas II.225.329 629 785 1.03 506.00 799. Pada tahun 2002 luas lahan yang ditanami menurun menjadi hanya 41.125.10 4.924.00 66.00 558.552.92 65.016 6.1.81%dari luas baku lahan irigasi.100.976. pada tahun 2001 sebesar 66.121.444.057.125. b) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas I.065 1.225 Ha.84 Luas Lahan Irigasi di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah No 1 2 3 4 5 Wilayah Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Luas Ha 3.2 Potensi Lahan Irigasi (Upland Irrigation) a) Provinsi Kalimantan Tengah Di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah. Tabel 2.845. total luas baku dari lima kabupaten adalah 148.02 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -176 .25 1.924.802.50 66.319.15%.20 4.00 1.970.39 1.099 1.15 44.00 5.50 63.673 3 Kapuas 4 Barito Selatan KAPET – DAS KAKAB dibagi atas 4 (empat) kategori kawasan. 2.20 55.92 Ha atau sebesar 45.00 54.000.128 480 206 135 394 91 202 491 427 708 2.234.446.00 1.75 3.20 1.00 61.00 148.042.35 60.00 100% Tahun 2001 Tanam Panen 799.956 2.51 Tahun 2002 Tanam Panen 1.683 949 4. d) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas III.

090 5.539 5.334 25.624 31.378 6.460 24.724 9.090 6. Tabel 2. Sei Mihim.487 3. Sei Sabuhur.600 935 HULU SUNGAI SELATAN 5.901 9.207 11.378 17.869 11.725 4.544 388 547 0 2.724 6.464 1. Sei Bakar.85 Pemeliharaan Jaringan Irigasi di Kalimantan Selatan No 1 I.005 TAPIN 8.155 8.86 Potensi Lahan Pertanian di Kalimantan Selatan NO 1 I. II. dimana lahan yang telah diidentifikasi adalah seluas 68. Sei Sawarangan.204 21. Sei Tabanio.155 TABALONG 1.869 HULU SUNGAI TENGAH 7.625 HULU SUNGAI UTARA 1.901 1.257 22.367 Ha. Sei Sawarangan.474 2.257 ha. III. Sei 100.012 Ha. sehingga total luas produktif menjadi 100.865 8.090 5.579 6. VI LUAS EKSISTING LUAS BARU LUAS TOTAL CABANG DINAS DAERAH BAKU RENCANA BAKU RENCANA BAKU RENCANA IRIGASI (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) 2 3 4 5 6 7 8 BANJAR 26.257 Provinsi Kalimantan Selatan memiliki potensi lahan yang sangat luas.(Persero) CABANG I MALANG b) Provinsi Kalimantan Selatan Luas daerah irigasi di Provinsi Kalimantan relatif lebih luas dibandingkan di Provinsi Kalimantan Tengah. IV.775 4.645 122.607 HULU SUNGAI SELATAN 5.090 4.520 9 Sei Riam Kanan Sei Tapin Sei Kayu Habang.028 14.901 1.179 5.624 31.573 4.795 16.460 PENINGKATAN 5. V.469 17.894 6.236 1.896 Ha. IV. Sei Asam-Asam.901 2.624 Ha.257 5.184 53 146 342 1.579 4.367 68. Sei Amandit Sei Batang Alai.718 287 126 18.204 19. Sei Pitap Sei Jaro. Sei Kintap Kecil.539 922 22. Perincian ini dapat dilihat pada tabel berikut.464 1. Sementara pemeliharaan untuk jaringan eksisting adalah seluas 24.247 2.367 24.775 PEMELIHARAAN 24.435 Sei Teratai.231 1. dengan luas baku 53.779 11. III. Sei Namun.469 44.901 855 415 0 115 0 415 TANAH LAUT 2. dan peningkatan seluas 5.691 8.231 19. Sei Jaing.689 192 146 54 0 338 HULU SUNGAI TENGAH 7. Sei Sawarangan. Tabel 2. V.231 2.824 2.179 5. Sei Nahiyah.896 68. Sei Kinarum.028 6.231 2.460 4.435 SUMBER AIR VII TANAH LAUT TOTAL 53.108 279 0 258 0 279 TOTAL 53.865 8.460 Ha. VI VII 1/ 2/ 3/ LUAS LUAS SAWAH BELUM DPT JD TDK DPT JD CABANG DINAS DAERAH JAR BARU PENINGKATAN BAKU SWH JAR IRIGASI SAWAH SAWAH SAWAH IRIGASI (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) 2 3 7 8 9 10 11 12 13 BANJAR 26.236 1.775 Ha.894 6. Sei 21.775 JARINGAN BARU 22. Sei Mihim. dan jaringan irigasi yang berproduksi adalah seluas 31.464 6. Sei Barabai Sei Balangan.012 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -177 .901 17. Lahan yang masih memerlukan investasi untuk pengembangan jaringan baru adalah 22.170 199 HULU SUNGAI UTARA 1. II.464 833 191 413 27 0 604 TABALONG 1.691 6. Sei Riam.779 6.847 TAPIN 8.

12. Peta Daerah Irigasi WS Barito-Kapuas 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -178 .36. perlu upaya penyeimbangan antara kebutuhan (demand) dan penyediaan (supply) akan prasarana dan sarana kota/kawasan dalam rangka peningkatan kualitas lingkungan.2.1 Provinsi Kalimantan Selatan Secara aktual.12.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2. sosial. Konsekuensi logis.2 Air Bersih 2. pertumbuhan dan perkembangan kota /kawasan di Provinsi Kalimantan Selatan saat ini baik fisik. maupun ekonomi dari tahun ke tahun semakin meningkat.

angka tersebut mungkin saja akan meningkat sejalan dengan semakin meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan di perkotaan. Salah satu prasarana dan sarana permukiman di perkotaan yang paling strategis adalah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). sedangkan sekitar 1. Menyimak dari data tersebut.737.(Persero) CABANG I MALANG Secara makro perlu diadakan kajian studi terhadap aspek air baku. keuangan.37 Kondisi Pemenuhan Air Bersih Kalsel Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS substantif yaitu aspek II -179 . Indonesia pada tahun 2015 diharapkan dapat memenuhi target pemenuhan pelayanan air minum menjadi 80% di daerah perkotaan dan 40% di daerah perdesaan.918 jiwa (64.09%) tinggal di perdesaan.902. Secara mendasar dikembangkan dalam Gambar 2. jumlah penduduk di perkotaan mencapai 35. sekitar 1. Provinsi Kalimantan Selatan dengan luas wilayah 3.110 jiwa (35.19%) tinggal di perkotaan. sumber Kondisi Pemenuhan Air Bersih Kalsel 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Desa (% ) Target Pemenuhan Kota (% ) 8 40 39 80 pembiayaan aspek dan yang yang penangan pada aspek sifatnya serta manajemen kelembagaan pendekatan prioritas adalah yang ada.743 Ha. Lemahnya kinerja PDAM pada dasarnya disebabkan oleh berbagai aspek yang secara umum dapat dikelompokkan pada aspek teknis – teknologis. Kondisi saat ini.066. yang terdiri dari 13 kabupaten /kota mempunyai penduduk pada tahun 2000 sejumlah 2.969. terutama di Kota Banjarmasin. terhadap rangkaian studi yang telah dilaksanakan maupun yang sedang berjalan. Rendahnya kinerja pelayanan air minum bagi masyarakat perkotaan yang pelayanannya dilakukan oleh PDAM telah mendorong pemanfaatan air tanah dangkal oleh sebagian besar kelompok rumah tangga (sekitar 85%) dan air tanah dalam oleh sebagian besar kelompok non rumah tangga.09% dari jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Selatan. Untuk tahun-tahun mendatang. prosentase pemenuhan kebutuhan air minum adalah 39% di perkotaan dan masih 8% di perdesaan.028 jiwa. Sehingga diharapkan adanya perbaikan sistem pemberian air pada daerah perkotaan. Dari jumlah tersebut. Berdasarkan agenda KTT Bumi 2002 di Johannesburg.

(Persero) CABANG I MALANG teknik – teknologis dengan tetap memperhatikan aspek manajemen dan kuangan. Balangan S. IKK. Negara Kabupaten Tanah Laut 1) BNA Pelaihari 2) IKK Penyipatan 3) IKK Batuampar 4) IKK Bati-bati 5) IKK Jorong 6) IKK Takisung 6 7 Kota Banjarbaru BNA Banjarbaru (Banjarbaru Banjar) Simpang Empat (Banjarbaru) IKK Landasan Ulin (Banjarbaru) IKK Dalam Pagar (Banjarbaru) 8 / Sei Barito Sei Barito Sei Barito Sei Negara Sei Anjir Sei Andai Sumur Dalam Sumur Dalam 9 Kabupaten Banjar 1) BNA Banjarbaru (Banjarbaru / Banjar) 2) IKK Astambul (Banjar) 3) IKK Mataraman (Banjar) 4) IKK Pengaron (Banjar) 5) IKK Gambut (Banjar) 6) IKK Sungai Tabuk (Banjar) 7) IKK Karang Intan (Banjar) 2) IKK Rantau Badauh 3) IKK Cerbon 4) IKK Lepasan 5) IKK Anjir 6) IKK Alalak 7) Desa Kolam Kiri 8) Desa Surya Kanta 10 Kota Banjarmasin 1) IPA – I (A Yani) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) IPA – II (A Yani) MTP Kayu Tangi MTP Sei Lulut MTP Sutoyo S MTP S. Panggang S. Balangan S. di Provinsi Kalsel No 1 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Nama Kab dan PDAM Kab.87 Daftar PDAM. Negara S. Balangan S. Amandit / S. Propinsi Kalimantan Selatan”. Bagpro Pembinaan Prasarana dan Sarana Permukiman Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -180 . Negara D. Tabalong BNA Agung IKK Tanta IKK Belimbing IKK Kelua IKK Muara Harus IKK Benua Lawas IKK Jaro IKK Muara Uya Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Air Gunung Sumur Bor Sumber Air Nama Kab dan PDAM Kab Hulu Sungai Utara dan 2 Balangan 1) BNA Amuntai (HSU) 2) IKK Alabio 3) IKK Danau Panggang (HSU) 4) IKK Babirik (HSU) 5) IKK Paringin (Balangan) 6) IKK Lampihong (Balangan) 7) IKK Awayan (Balangan) 8) IKK Juai (Balangan) 9) IKK Halong (Balangan) 10) IKK Batumandi (Balangan) 11) IKK Gunung Pandau 12) IKK Rantau Bujur 4 Kabupaten Hulu Sungai Tengah 1) BNA Barabai 2) IKK Pandawan Baru 3) IKK Batu Benawa 4) IKK Kasarangan 5) IKK Haruyan 6) IKK Batang Alai Selatan 7) IKK Batang Alai Utara Kabupaten Tapin 1) PDAM Rantau /BNA Bungur 2) IKK Binuang 3) IKK Tapin Selatan 4) IKK Tapin Tengah 5) IKK Candi Laras Utara 6) IKK Candi Laras Selatan 7) IKK Bakarangan 8) IKK Batu Hapu 9) IKK Lokpaikat Kabupaten Barito Kuala 1) BNA Marabahan Sei Barabai Sei Pagatan Sei Kasarangan Sei Haruyan Sei Kambat Sei Batang Alai Sei Hung Sei Tapin Danau/bendung Sei Rutas Sei Tatakan Sei Negara Sei Negara Sei Mangkul Sei Tapin No Sumber Air S. dan Sumber Pengambilan Air dalam Wilayah DAS Barito. Balangan S. Negara 3 1) 2) 3) 4) 5) 6) 5 Kabupaten Hulu Sungai Selatan BNA Muara Banta IKK Padang Batung IKK Angkinan /Telaga Langsat IKK Daha Selatan dan Daha Utara IKK Kalumpang IKK Simpur dan Sungai Raya S. Tabel 2. Parman MTP Jahri Saleh Sumur Bor Ulin Sumber : “Identifikasi Kegiatan Optimalisasi Untuk Penyehatan PDAM. Balangan S. Balangan S. Sumber : Tahun Anggaran 2004. Balangan S. Balangan S.

13% dari total KK.88% dari total KK yang ada. yaitu sebesar 28.000 40.296 7.296 22.252 180.(Persero) CABANG I MALANG 2.000 30.663 3.2. Untuk Kabupaten Barito Utara. Tabel 2.296 KK pada tahun 2007.623 22.000 20.479 KK.13 28. Sedangkan di Kabupaten Barito Selatan.39 7.527 8.527 26.021 1.000 50.021 KK dari 16.252 Jumlah KK Jumlah Pelanggan Gambar 2.000 10. jumlah KK yang menjadi pelanggan PDAM sebesar 36.2 Provinsi Kalimantan Tengah Pemenuhan kebutuhan air bersih di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah masih tergolong rendah.527 KK.453 87. Untuk Kabupaten Barito Timur jumlah KK yang menjadi pelanggan PDAM adalah 3.504 87.501 7.149 Jumlah Pelanggan 8.501 26.000 60.22 17.35 Sumber : Hasil analisa 100. atau hanya sejumlah 7.453 10.261 % terlayani 36.12.38. atau sebesar 8. atau hanya 18 % dari total KK di kabupaten ini.000 90.623 3.000 Barito Selat an Barito Utara Barito Timur M urung Raya Kapuas 23. Sebagian besar penduduk masih menggunakan air tanah dan air sungai untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.570 20.504 10. jumlah KK yang menjadi pelanggan PDAM sebesar 28.09 12.570 20.99 13.663 31.021 1.000 70.623 KK dari total KK sebanyak 26.88 Pelanggan PDAM di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah No 1 2 3 4 5 Kabupaten Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Jumlah KK 23.000 80.99% dari total KK di kabupaten ini. Pelanggan PDAM di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -181 .501 KK dari total jumalah KK sebanyak 23.

Manfaat Adapun manfaat dari rencana pembangunan bendungan-bendungan ini antara lain: Mengurangi bahaya banjir yang terjadi setiap tahun di kabupaten Murung Raya dan kabupaten Barito Utara Memenuhi pasokan kebutuhan listrik untuk meningkatkan perekonomian di Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -182 . Lokasi Lokasi bendungan-bendungan yang telah diidentifikasi tersebut adalah: Tabel 2. maka diusulkan kajian lanjutan terhadap 4 (empat) scheme yang memerlukan kajian lanjutan.89 Identifikasi Lokasi Bendungan No. irigasi. di Kabupaten Murung Raya merupakan waduk serbaguna yang berfungsi sebagai waduk pengendali banjir. Muara Teweh Lahan budi daya perikanan air danau Obyek wisata dan lain-lain c. 1 2 3 4 Bendungan Muara Juloi Muara Tuhup Lahei Teweh Desa Muara Juloi Muara Tuhup Lahei/Jurubaru Hajak/Liangnaga Kabupaten Murung Raya Barito Utara Barito Utara Barito Utara b. perikanan.(Persero) CABANG I MALANG 2. a. dan pertanian.12.3 Penggunaan Air Lain-Lain Program Pengembangan Listrik Meninjau kajian kurangnya kapasitas daya terpasang listrik yang ada di kedua Provinsi Kalselteng. Salah satu usulan yaitu Waduk Muara Juloi. Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dari rencana bendungan-bendungan ini adalah: Pengendalian banjir kabupaten Murung Raya dan kabupaten Barito Utara Pemberian air irigasi untuk pertanian Pembangkit listrik tenaga air Penyedia air baku PDAM Puruk Cahu.

Tabel 2. m 190 90 85 85 MOL El.00 64.00 tahun Prespective Investigate Prespective Prespective BENDUNGAN MUARA JOLOI MUARA TUHUP LAHEI TEWEH Ds Muara Juloi Ds Muara Tuhup Ds Lahei /Jurubaru Ds Hajak /Liangnaga 60 km dari Tokung 40 km dari Purukcahu 15 km dari M.3 34 Operasi beban puncak Jam 5 5 5 5 Prakiraan Produksi Energi per MWh 516 18.00 2.00 767 2. Program Pelaksanaan Program pelaksanaan rencana pembangunan bendungan/waduk di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut.5 72. Barito S. 2005 2006 2007 2007 - Identifikasi telah dilakukan pada tahun 1968. dan studi awal dilanjutkan pada tahun 2005 Diusulkan untuk dilakukan studi kelayakan dan rona lingkungan bendungan Detail desain dan dampak lingkungan serta sosialisasi masalah pembebasan tanah dan rumah Sosialisasi masalah pembebasan tanah dan pembebasan tanah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -183 .600.9 10.00 2. Benangin River Basin S.3 32.47 201 189 HIDROLOGI Luas DAS km2 7. m 200 100 90 90 Elevasi Dasar Sungai El.(Persero) CABANG I MALANG - Penyediaan lapangan kerja masyarakat kabupaten Murung Raya dan kabupaten Barito Timur pada saat pembangunan bendungan.00 2.600.Teweh 15 km dari M. m 125 30 25 20 Tinggi Bendungan m 75 65 65 65 Estimated Net Head m 70 60 60 60 POWER GENERATION Daya Terpasang MW 282.90 Data Teknis Waduk Muara Juloi No A B 1 2 3 C 1 2 3 D 1 2 E 1 2 3 4 5 F 1 2 3 URAIAN UNIT LOKASI Aksesibilitas km SUNGAI Sungai Sei Joloi Sei Tuhup Sei Nganarayan S.139.5 88. dalam rangka peningkatan ekonomi setempat Membuka isolasi penduduk asli pegunungan khususnya suku Dayak yang berada di pegunungan - d.1 WADUK HWL El.793.00 Curah Hujan Tahunan Rerata mm/ th 2. Barito S.411.2 85.523.9 22. m 185 85 80 80 BENDUNGAN UTAMA Tipe Rockfill Rockfill Rockfill Rockfill Elevasi Puncak Bendungan El.00 Debit rata-rata m3/ sec 605.00 2. Barito Panjang Sungai km 169.00 62.600. Data Teknis Data-data teknis sementara bendungan/waduk tersebut adalah sebagai berikut.600. Barito S.849.583.Teweh e.

13 ASPEK PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR Usulan rencana pengendalian banjir disusun berdasarkan konsep pengendalian terpadu dengan merencanakan sistem drainase kota berdasarkan sub DAS. Kota-kota utama yang berpotensi mengalami banjir dan memerlukan penanganan banjir secara serius secara terpadu adalah sebagai berikut : Tabel 2. Amandit 5 Barabai S. Negara 3 Rantau S. Tabalong 9 Kuala Kapuas 10 Palangkaraya 11 Buntok 12 Muara Teweh 13 Ampah Sementara itu beberapa kota yang juga mengalami banjir dan memerlukan penanganan serta kajian untuk masa mendatang adalah sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -184 . Tapin 4 Kandangan S. Martapura 2 Amuntai S. Barito S.(Persero) CABANG I MALANG 2010 2007 2008 2012 2013 Pelaksanaan fisik jalan masuk + jembatan ke lokasi (access road) Pelelangan fisik pekerjaan Awal pelaksanaan fisik sampai penyelesaian Awal operasi bendungan/dam 2.91 Kota-kota Utama yang Berpotensi Mengalami Banjir NO KOTA /LOKASI SUNGAI 1 Banjarmasin Main Stream S. dan detail desain drainase. yang dilaksanaan secara bertahap. Salah satu pendekatan umum dalam perencanaan sistem pengendalian banjir kota (urban flood control) adalah penentuan outline drainase primer. Batang Alai 7 Balangan S. Barabai 6 Baruh Batung S. Balangan 8 Tabalong S.

Salah satu tahapan utama adalah telah adanya lembaga Balai PSDA pada tingkat Provinsi.4 m 155 Ha. Barito Main Stream S. Temparak S. Apabila belum ada.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Karau S. Temparak S.92 Kota yang Memerlukan Penanganan Banjir NO KOTA /LOKASI 1 Buntok 2 Muara Teweh 3 Pendang Majunre Reong Parapak Kalahien Buntok Baru Muara Talang Talio Babai Bangkuang Selat Baru Sungai Jaya Majahandu Mengkatif Kelanis Rangga Ilung Rantau Kujang Rantau Bahawung Tabak Kanilan Kayumban Sarimbah Bambulung Tuyau Muara Plantau Tampa Dayu KEC SUNGAI Main Stream S. 0. S. Puring Mainstream Barito.14 ASPEK KELEMBAGAAN Sebagai daerah aliran sungai yang melewati 2 (dua) daerah administratif yang memanfaatkan aliran Sungai Barito. dimana terdapat peranan Menteri Kimpraswil secara langsung pada salah satu unit kerja pada ke-4 opsi yang ditawarkan. maka diperlukan suatu bentuk institusi yang dapat mengakomodir kepentingan seluruh masyarakat pengguna (stakeholder) air. S. S. Puring Mainstream Barito. S. Karau KERUGIAN RUMAH LUAS / TINGGI GENANGAN 4 5 6 7 8 9 Kec Dusun Utara Kec Dusun Utara Kec Dusun Utara Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Karau Kuala Kec Karau Kuala Kec Karau Kuala Kec Karau Kuala Kec Dusun Hilir Kec Dusun Hilir Kec Dusun Hilir Kec Dusun Hilir Kec Jenamas Kec Jenamas Kec Jenamas Kec Bintang Awai Kec Bintang Awai Kec Bintang Awai Kec Pematang Karau Kec Pematang Karau Kec Pematang Karau Kec Dusun Tengah Kec Dusun Tengah 692 65 245 108 545 2615 702 76 370 921 910 52 330 240 706 381 496 687 272 340 162 136 513 262 289 710 491 KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK 150 Ha. yang telah ada pada tiap dinas pengairan Provinsi. apakah sebagai “operator” SDA atau sebagai “developer” infrastruktur SDA juga. Puring Mainstream Barito. Karau S. Dari konsep inilah yang menjadi dasar pembentukan PROYEK INDUK. 0. S. Konsep yang diusulkan terdiri dari 4 opsi. Tabal S. Selanjutnya ada pilihan mengenai fungsi Balai Lintas ini. Barito Anak Sungai Benangin Main Stream S. seperti Unit Hidrologi. Temparak S. dimana peran utama proyek adalah sebagai “developer” SDA. Karau S. Karau S. Setelah adanya Balai PSDA. Provinsi. Karau S. maka langkah selanjutnya adalah Balai PSDA Lintas Provinsi.45 m 2. Karau S. Barito Anak Sungai Temparak Anak Sungai Ayuh Main stream Barito Main stream Barito Main stream Barito Main stream Barito Main stream Barito S. S. Karau S. 0. Puring Mainstream Barito. Kedudukan Proyek Induk akan berada dalam satu unit dengan Balai Pelayanan Umum PSDA Lintas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -185 . Karau Mainstream Barito. S. yang dimonitor secara langsung oleh Menteri Kimpraswil. Tabal Mainstream Barito.5 m 215 Ha. Tabal Mainstream Barito. maka embrio dari balai ini dapat disusun dari unit-unit yang ada.

Pemanfaat air/petani.B. Persetujuan Menteri PU (Setelah mendapat masukan dari Dewan SDA Nasional) 4. Boundary of river basin Upper Watershed Reservoir Main River Illegal Housing Boundary of districts LAUT A. ORNOP / LSM. Pembentukan Tim Kerja Antar Provinsi (Naskah Kerjasama) 5. Pemuka masyarakat) 6. Naskah kerjasama disetujui masing-masing Gubernur Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -186 .C = ADMINISTRATION DISTRICT Kerjasama Pengelolaan Wilayah Sungai Antar Provinsi disusun sebagai berikut. Usulan ke Departemen PU 3. Perguruan Tinggi.(Persero) CABANG I MALANG Pengembangan institusi pengelola SDA sebagai institusi lintas wilayah administrasi memerlukan konsep terpadu dengan partisipasi pihak-pihak pengelola yang mendukung rencana tersebut. 1. Konsultasi Publik / Kab / Kota (Pemda. Persetujuan Prinsip Antar Provinsi (Setelah mendapat masukan Ketua Komisi / Fraksi DPRD Provinsi) 2. industri. DPRD. PDAM.

konservasi lahan pada daerah aliran sungai Barito untuk jangka waktu perencanaan sampai tahun 2030.(Persero) CABANG I MALANG 7. Pemenuhan kebutuhan air bersih.15. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas disusunlah rancangan Induk Pengembangan Wilayah Sungai Barito Kapuas. Persetujuan oleh masing-masing DPRD Provinsi (setelah dibentuk POKJA DPRD) 8. Rencana pengelolaan transportasi darat e. konprehensif antar sektor maupun wilayah administratif serta menyesuaikan dengan penataan ruang wilayah. Rencana pengembangan irigasi dan pertanian f. Pelaksanaan oleh Dinas terkait Beberapa bentuk kerjasama ini dituangkan dalam 4 (empat) scenario yang dapat diterapkan untuk wilayah SWS Barito. Tujuan Mengembangkan sektor sumber daya air pada Wilayah Sungai Barito melalui suatu perencanaan yang matang. meliputi : a.15 RENCANA INDUK BARITO 2004 2. pengembangan daerah irigasi dan rawa.1 Maksud dan Tujuan Maksud Merumuskan Rencana Induk Pengembangan Sumber Daya Air secara menyeluruh untuk memenuhi kebutuhan air baku. yang dapat diselesaikan pada tahun 2004. dimana alternative ke-3 dan ke-4 cukup aplikatif untuk dilaksanakan. Program pengembangan Institusi Pengelola SDA Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -187 . Rencana pengelolaan transportasi Air d. akan dapat dilakukan proses pengembangan yang efisien sehingga diperoleh hasil yang efektif. pengendalian banjir dan daya rusak air. Program pengembangan Listrik h. Pembentukan Dewan SDA Provinsi (Gabungan) / Pola Operasi 10. Rencana pengendalian banjir c. Rencana Pengelolaan kualitas air g. Tanda Tangan Naskah Kerjasama oleh masing-masing Gubernur 9. b. 2. Dengan demikian melalui konsep Master plan yang mantap.

15.50% menjadi 55. Program-program yang diusulkan oleh institusi penyedia layanan distribusi disusun berdasarkan kebutuhan pada tiap IKK yang diusulkan pada tiap kecamatan.02% Jangkauan pelayanan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -188 . dan institusi pendukung penyediaan sumber air. dan diusulkan dalam program : – Kelurahan Berangas – Desa Sungai Lumbah – Desa Baringin – Desa Pitung (daerah pelayanan dari 3 desa menjadi 7 desa) – Diharapkan meningkat dari 34. total 700 m3 – Pengembangan tersebut untuk mengatasi vakum produksi selama 4-5 bulan pada musim kemarau – Pengadaan WTP/IPA dengan kapasitas 25 liter/det dengan total kapasitas terpasang 40 liter/det – Penambahan jar pipa untuk perluasan distribusi ke daerah yang belum terjangkau 2 Kec Alalak / Daerah pelayanan a.1 Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih Rencana pengelolaan air bersih ditinjau pada : • • • Rencana investasi penambahan kapasitas instalasi institusi penyedia layanan distribusi. Program Pengelolaan Terpadu WS Barito 2. Kelebihan produksi ditampung dalam reservoir air bersih – Membuang ground reservoir air bersih dengan daya tampung 600 m3.93 Usulan Penanganan Masalah Air Bersih di Kabupaten Barito Kuala No 1 PDAM / IKK KAB/KOTA PDAM IKK Alalak USULAN PENANGANAN – Menambah kapasitas produksi 30 l/det karena kapasitas daya terpasang yang ada sekarang sudah max dibandingkan dengan jumlah daftar calon pelanggan dan pelanggan.2.(Persero) CABANG I MALANG i. ditambah dengan ground kapasitas lama 100 m3. Daerah yang belum terlayani air bersih dan belum terpasang jaringan pipa.2 Garis Besar Masterplan 2004 2. Adapun penanganan-penenganan pada masing-masing wilayah adalah seperti tabel berikut : Tabel 2.15. Daerah yang sudah dilayani air bersih melalui jar pipa dan diusulkan perluasan : – Desa Handil Bakti – Desa Berangas Timur – Desa Semangat Dalam b. Pengelolaan DAS Kapuas j.

Berdasarkan Proyeksi Kebutuhan No 1 URAIAN PENDUDUK Total Dilayani PELAYANAN DOMESTIK Total Samb rumah Samb halaman HU KEBUTUHAN NON DOM Total Komersil Sosial institusi Industri PROYEKSI KEBUTUHAN Kebutuhan domestik Kebutuhan non domestik Pelabuhan.115 75.800 Sumber : Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu (PPPKT) Kalimantan Sumber : Banjarmasin.798 1.000 488.735 3.775 13.000 18.642 - 63. Program Jangka Menengah.220 22. dll Rata-rata Hari puncak Kehilangan air PROYEKSI SAMBUNGAN Samb rumah Samb halaman HU Komersil Servis Industri Total Pertamb samb/th KAPASITAS DISAIN Produksi Distribusi KAPASITAS RATA-RATA Total system KEBUTUHAN RESERVOIR Total SATUAN Jiwa Jiwa 1990/1991 480.563 0 1. Pemerintah Kotamadya Daerah Tk II Banjarmasin Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -189 .000 2009/2010 750.350 7 l/det 389 1.530 2.365 8 ( m3 ) 4.440 56.935 3.535 21.755 103.200 15.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.500 2 % % % % 30% 23% 0% 7% 73% 55% 0% 17% 77% 53% 0% 24% 3 %dom %dom %dom %dom 26% 16% 9% 1% 12% 5% 7% 0% 18% 9% 9% 1% 4 m3/hr m3/hr m3/hr m3/hr m3/hr m3/hr Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 14.363 82.315 11.500 2004/2005 668.992 1.742 989 5 6 l/det l/det 425 565 1.785 0 71.800 0 18.980 0 89.775 19 59.897 0 323 1.215 1.737 139.840 54.855 0 1.156 1.429 43 64. PDAM Di Kota Banjarmasin.776 635 12 22.870 1.360 19.580 7.000 579.070 17.772 2.085 1.94 Analisis Kebutuhan Sistem Penyediaan Air Bersih Banjarmasin.

. Marabahan Kandangan S.TABALONG S. RENCANA USULAN PROGRAM FLOOD CONTROL . S. AMANDIT S. . Rantau LEGENDA : BANJARMASIN ! Martapura Banjarbaru . BARABAI .(Persero) CABANG I MALANG 2.2. . BATANG ALAI Amuntai . Rencana pengendalian banjir pada WS Barito Kapuas dapat dilihat pada gambar 2. MARTAPURA .2 Pengendalian Banjir Rencana pengendalian banjir disusun berdasarkan konsep pengendalian terpadu dengan merencanakan sistem drainase kota berdasarkan sub DAS. COMPREHENSIVE FLOOD CONTROL PROGRAM : S. TAPIN . yang dilaksanaan secara bertahap. Peta Rencana Pengendalian Banjir SWS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -190 .30 berikut. Barabai S. .15. Salah satu pendekatan umum dalam perencanaan sistem pengendalian banjir kota (urban flood control) adalah penentuan outline drainase primer.29 dan gambar 2. NEGARA Tanjung . dan detail desain drainase.39. Batas Provinsi Batas Kabupaten Sungai Kota Provinsi Kota Kabupaten Daerah Rawan Banjir PETA SWS BARITO PROP KALSEL Gambar 2. BALANGAN S. S.

S a egi n Tabak Kanilan Kanilan uh Tabak Kanilan Tabak Kanilan Tabak Kanilan Kanilan S. PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU Muara Laung Muara Laung Muara Laung a ri S. Peta Rencana Pengendalian Banjir SWS Barito ah un g S. Bintang Awai Kec. Busang tun g S. TEMPARAK Mainstream Buntok n S. Jenamas Kec. Bumban S. S. Martapura S. BATANG ALAI S. M ka eng tip Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik S. Batang Alai S. Kandangan S. MARTAPURA Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh S. AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI Ilung Ilung Ilung Ilung S. T ab al S.T ! Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Gambul Gambul Gambul Gambul Gambul S S. k pa Lu Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Kec. Jenamas Kec. Dusun Tengah Kec. Dusun Tengah Kec. P S. Dusun Tengah Kec. Jenamas S. N eg . Lu S. Bintang Awai S. Bangkau Keserangan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI . P p S. Bintang Awai Kec. Terusan S. Tapin Rantau Rantau Rantau . L ami S. Alalak Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang n ba am A. Tabalong S. Tabalong Harui S. Mangkutup Muara Laung Muara Laung Muara Laung . Kandangan S. Tempar ak S. L p uy am at Ku an tan S. Karau Kuala Kec. Samu Kec. Batang Alai Keserangan S. T ab al o ng Ka na S. Bu rak S. Tu hu p 40 S. T ew eh S. Martapura S. S. Karau Kuala Kec. Karau Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Bentot Bentot Bentot Bentot S. P Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung a nu S. Karau S. Martapura S. Dusun Hilir Kec. Karau S. . BALANGAN S. Dusun Tengah Kec. Barabai Keserangan S. Karau S. Kandangan it S. Kandangan S.40. . Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan S. Jenamas Kec. Murungpudak Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas aik ng lo ba Ta ng S. Ta balo ng S. Djulai S. M ta en Na pu Taniran Taniran Taniran Taniran Taniran Taniran Ha lon g ! Pe ta i S. an gk ook S. Karau Kuala Kec. Tu tu i m S. Murungpudak Murungpudak Murungpudak . Martapura S. M alu S. Karau Kuala Kec. Ala r S. U uwei sei S. Barabai Keserangan S. Bintang Awai Kec. Jenamas Kec. Ay Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah a ng a su S. Tapin S. Karau Kuala Ka rau S. MARTAPURA . Tapin S. Tapin S. Martapura S. g un La S. L S. Tapin S. Ba rito Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang TAMIANG LAYANG S . A S. Kandangan nd ma S. Bintang Awai Kec. Barabai Keserangan S. Barabai Keserangan S. BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU m Ria D. Batang Alai S. Dusun Hilir Murungpudak Murungpudak . Tabalong Harui Harui Harui ing Ja S. J u la i S. Dusun Tengah Kec. Murun g S. n n da To S. S. in ng n ta Ma Ke S. TAPIN ar a S. Tanta Tanta Tanta Tanta Tanta Tanta Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Juai Juai Juai Juai Juai Juai Halong Halong Halong Halong Halong Halong S. KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN S. Dusun Tengah S. i S. Teweh Besar S . BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK Kec. Ka puas M PETA SWS BARITO Gambar 2. K ap u a S. M eta k Pu lau P S. L S. un in g S. TABALONG S. n la a Ka S Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -191 . Dusun Hilir Kec. Riamkanan n na Ka Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati S. M is si Mu ru S. ji An rS at ap er S. Batang Alai S. Tabalong S. K Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang ap um S. Barabai S. Malu ka MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA . Dusun Hilir Kec. Karau S. AMANDIT S. Pu rin g s S. NEGARA Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya yu S. BARABAI S. TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG Kec. . A S. BARABAI lam p ar KANDANGAN KANDANGAN . KARAU S. Dusun Hilir Kec. Martapura S. Dusun Hilir Kec. Kandangan Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas S. Tuy au Timpah Timpah Timpah Timpah Timpah Timpah Kiw a Kec. H ia ng s S. Ria iw a mK II Pengaron Pengaron Pengaron Pengaron Pengaron Pengaron KAPUAS MURUNG S. L an da un S. Barabai D. Pamelu nuh S. Karau S. M urung S. Batang Alai S. MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu S. Karau Kuala Kec. Bintang Awai Kec. D ui mb Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei MUARA TEWEH MUARA TEWEH . Rantau Rantau Rantau Tambarangan Tambarangan Tambarangan Tambarangan Tambarangan Tambarangan Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa . Tabalong Harui S. M ar Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi S. Tapa RENCANA USULAN PROGRAM FLOOD CONTROL S. Ba lan ga Paringin Paringin Paringin Paringin Paringin nParingin ita S. L emu Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong ang S . Tapin S. Jenamas Kec.(Persero) CABANG I MALANG Be la S. Tabalong Harui S. Be bem Ketapang Ketapang Ketapang Tumpung Laung Ketapang Tumpung Laung Ketapang Tumpung Laung Ketapang Tumpung Laung Tumpung Laung Tumpung Laung S. Berio i Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi ah ai S. Batang Alai S.

2. kemiringan dasar sungai sangat landai Dapat dilayari perahu besar hanya pada musim penghujan. Skema Ruas Transportasi Air di Sungai Barito Keterangan Dapat dilayari perahu besar walaupun di musim kemarau.3 Rencana Pengelolaan Transportasi Air PETA SWS BARITO 4 3 2 PALANGKARA 1 BANJARMAS Gambar 2.41. Kemiringan dasar sungai relatif masih landai Dapat dilayari oleh perahu kecil (kapasitas 1 ton). Buntok 2 Dari Buntok sampai dengan Muara Teweh Dari Muara Teweh sampai dengan Puruk Cahu Dari Puruk Cahu sampai dengan Muara Joloi 3 4 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -192 .(Persero) CABANG I MALANG 2. Aliran relatif cepat dengan beberapa jeram Aliran cukup deras dan banyak jeram tetapi masih dapat dilayari perahu kecil Zona Lokasi 1 Dari Muara sampai dengan Kalanis.15.

T er us a n ˜ 1 . M ta en k ai ng MANTANGAI ˜ M ant angai M ant angai M ant angai M ant angai M ant angai M ant angai 6 ˜ 5 S. B eb em ˜ 7 M aaraapitit M ar rappit M M aaraapitit M ar rappit M S. K ap . ia n g K A B U P A T EN K A P U A S S. Ka pu as S. on S. K E C . Da m nu bu i PETA DAS KAPUAS . LLam uuniti Laam unniti m iti LLam uuniti Laam unniti m iti Me k ng p a ti M aanuusuup M annussupp M M aanuusuup M annussupp M M aanuusuup M annussupp M ˜ ˇ PPalingk au P alingk au alingk au alingk au PPalingk au P alingk au 3 D aadaahuup D addahhupp D D aadaahuup D addahhupp D D aadaahuup D addahhupp D 4 Pa la nngkkauuBa rrru Pa la nggkaau Ba uu Pa la Ba Pa la nngkkauuBa rrru Pa la nggkaau Ba uu Pa la Ba Pa la nngkkauuBa rrru Pa la nggkaau Ba uu Pa la Ba Ke l am Pe nndaaKe ta ppi i Pe ndda Ke ta pi Pe Ke ta Pe nndaaKe ta ppi i Pe ndda Ke ta pi Pe Ke ta MANDOMAI Ka nnam itit Ka naam it Ka m Ka nnam itit Ka naam it Ka m Ka nnam itit Ka naam it Ka m p a M andom ai M andom ai M andom ai r M andom ai M andom ai M andom ai ˜ et a k Pu lau P A. H s S. Mu ru i S. TTim pah T im pah im pah TTim pah T im pah im pah n egia S S. K A P U A S TE N GA H g S SEIHANYU ˇ 1 SSeihany uu S eihany u eihany SSeihany uu S eihany u eihany S . n da S. Ko ta bbarrru Ko ta baa uu Ko ta Ko ta bbarrru Ko ta baa uu Ko ta Ko ta bbarrru Ko ta baa uu Ko ta S in gk an PUJON LLahhei ii Laahee LLahhei ii Laahee LLahhei ii Laahee S. Bu n u t Ku an tan S. L n ah u T S.42. Skema Ruas Transportasi Air di Sungai Kapuas Murung Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -193 . Ba ˇ sa ra 5 ng 4 SSeit at as S eit at as eit at as SSeit at as S eit at as eit at as 0o 0 0 M aalikuu M alik u M lik M aalikuu M alik u M lik M aalikuu M alik u M lik S ˇ . M an a ra n S . S.S S. ANJ DILAYARI HINGGA MS MS KEMARAU KONDISI Gambar 2. BBarim ba B arim ba arim ba BBarim ba B arim ba arim ba 1o 0 0 L S KUALA KAPUAS S . PPujon P ujon ujon PPujon P ujon ujon S.(Persero) CABANG I MALANG . ku ng Ma tup ! S. . 6 b am Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam ! LUMPAK DALAM 3o 0 0 L S an ua s M k pa Lu S. in ng n ta Ma Te w eh Be sa r ˇ 2 TIMPAH .T jir Se t pa ra 2o 00 LS urun g ˇ S. ˜ 2 An A.

Rehabilitasi/pemeliharaan pada segmen-segmen tertentu sepanjang koridor 3.15. serta kualitas pelayanan. sebagai berikut: Periode I (2003) 1. 2) Strategi jangka menengah adalah meningkatkan kemudahan dalam hal aksesibilitas dan mobilitas. Penyelesaian jembatan balok T (jembatan layang) di daerah Tumbang Nusa (ruas Palangkaraya – Pulang Pisau). yaitu dengan meningkatkan tingkat kemudahan jangkauan pelayanan hingga daerahdaerah di Provinsi Kalimantan Tengah.0 meter.2. jangka menengah atau periode II (2008 – 2013) dan jangka panjang atau periode III (2013 – 2018) dengan mengacu pada konsep memperbaiki dan meningkatkan aksesibilitas. lebar minimal 4.5 meter. yaitu jangka pendek atau periode I (2003 – 2008). 1) Strategi jangka pendek adalah membentuk jaringan jalan yang utuh. 2. maupun mobilitas. Meningkatkan jaringan jalan sepanjang koridor utama dengan konstruksi perkerasan beraspal dengan lebar 4. utama yang dirasakan sangat mendesak untuk lebih dimantapkan. 3) Strategi jangka panjang atau periode III adalah difokuskan pada peningkatan kenyamanan perjalanan masyarakat pengguna jasa transportasi serta pembangunan jalan kereta api untuk angkutan barang. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -194 . meskipun kualitas pelayanannya masih rendah. 4. yaitu peningkatan terhadap ruas jalan penghubung antar kabupaten yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah. Penyelaesaian Jembatan Sei Barito di Puruk Cahu ( ruas Muara Teweh – Puruk Cahu). Penyelesaian Pembangunan Jalan dan jembatan Ruas Palangkaraya – Timpah – Buntok. 5.5 – 6.4 Rencana Pengelolaan Transportasi Darat Strategi pengembangan diusulkan dalam 3 (tiga) periode masing-masing. Dalam merealisasikan strategi pengembangan transportasi di Provinsi Kalimantan Tengah diusulkan pula pentahapan program pengembangan pada masing-masing periode.(Persero) CABANG I MALANG 2.

Peningkatan struktur jaringan jalan sepanjang koridor utama dengan konstruksi lapis permukaan aspal beton dan lebar minimum 6. Kujan – Kudangan ke arah Kalbar lebar 6 meter.Kurun – Sei Hanyu – Batu Putih). Pembangunan jalan rel kereta api untuk transportasi angkutan barang dengan alternatif jalur yaitu jalur daratan tinggi menuju outlet Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -195 . Palangkaraya – Bereng Bengkel Km 35. 3.(Persero) CABANG I MALANG 6. Pembangunan Jembatan Sungai Kapuas Di Lungkuh Layang pada Ruas Jalan Koridor Utama Palangkaraya – Buntok. 5. 2. Peningkatan Pembangunan Jalan dan Jembatan Ruas Palangkaraya – Timpah – Buntok dari kondisi agregat ke kondisi aspal beton lebar minimum 6 meter. Membangun terminal dan fasilitasnya pada masing-masing ibu kota kabupaten yang belum memiliki terminal. 8. ruas jalan menuju Provinsi Kalbar ruas jalan Nanga Bulik. Pasar Panas – Tamiyang Layang – Ampah – Buntok ditingkatkan menjadi 2x7 meter. Kuala Kapuas – Batas Kal-Sel. Mengoptimalkan Terminal Angkutan Darat bagi kabupaten yang sudah memiliki terminal. Peningkatan struktur dan lebar jalan di koridor utama pada segmensegmen dalam ruas jalan Palangkaraya – Tangkiling. 10. 2. Pembangunan jembatan yang melintasi Sei Laung di Tumbang Laung (ruas Batu Putih – Puruk Cahu). Sampit – Samuda.0 meter. 7. 9. Peningkatan ruas jalan eksternal menuju Banjarmasin ruas Palangkaraya – Banjarmasin 6 meter. Pembangunan pelabuhan di Kabupaten Katingan dengan salah satu alternatif posisi pada selat jeruju (Pegatan-Mendawai). Periode III (2013-2018) 1. Periode II (2008-2013) 1. Pemeliharaan (rutin/periodik) atau rehabiltasi pada segmen-segmen tertentu sepanjang koridor utama yang dirasakan sangat mendesak untuk lebih dimantapkan. Pembangunan jembatan yang melintasi Sei Kapuas di Sei Hanyu (ruas K. 4.

s. Karau. kab. Kumai dan Bagendang/Ujung Pandaran. Hsu. Tapin) 4. Banjarmasin. Dan berorientasi ke 3 (tiga) outlet (pelabuhan). Sosialisasi undang-undang no. termasuk kajian teknis pengolahan emas dengan air raksa yang aman untuk lingkungan (kecamatan mantangai) 3. Murung) 5. dan s. maka dipandang perlu upaya bersama untuk mengurangi dampak negarif tersebut. Pengelolaan kualitas air sungai pada kawasan pertambangan di Provinsi kalsel (kab. kab. 3. Maruwei. 2. s.2. 23 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup. kab. Sampit) dari kawasan pengembangan industri yang merupakan jaringan tingkat sekunder pada sistem jaringan primer trans Borneo railways yang meliputi Kuala Kurun – Tumbang Samba ( menuju Parenggean dan Bagendang/Ujung Pandaran) – Nangabulik (menuju pelabuhan Kumai). serta sanksi terhadap pelanggar lingkungan agar disosialisasikan secara luas sampai ke desadesa. dan kecamatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -196 .5 Rencana Pengelolaan Kualitas Air Mengingat banyaknya kegiatan pertambangan emas di sungai dinilai telah banyak mengganggu kelancaran dan keselamatan angkutan sungai serta sistim pengolahan yang terbukti mencemari air sungai. Program yang diusulkan untuk mengatasi hal ini adalah : 1. maka diusulkan kajian lanjutan terhadap 4 (empat) kapuas tengah.(Persero) CABANG I MALANG (Kumai/Pangkalan Bun dan Bagendang/Ujung Pandaran. kecamatan timpah. Tabalong. Ayuh. Banjar. atau peraturan perundangan lainnya. Monitoring Kegiatan Penambangan Terpadu (Dinas Pertambangan dan Energi tingkat kabupaten) 2. Pengelolaan kualitas air sungai-sungai di kab kapuas.2. Jalur menuju ke perbatasan Kalimantan Barat/Kalimantan Timur. Merupakan pengembangan pada tahapan alternatif (a) daerah Upland Coridor dan perbatasan menuju outlet. Pengelolaan kualitas air sungai pada kawasan pertambangan di Provinsi Kalteng (s. 2.15.15. kab.6 Program pengembangan Listrik Meninjau kajian kurangnya kapasitas daya terpasang listrik yang ada di kedua Provinsi Kalselteng. Hss. Hst. kab.

yang telah ada pada tiap dinas pengairan Provinsi. Salah satu tahapan utama adalah telah adanya lembaga Balai PSDA pada tingkat Provinsi.95 Program Pelaksanaan Rencana Pembangunan Bendungan/Waduk di Provinsi Kalimantan Tengah 2005 2006 2007 2007 2010 2007 2008 2012 2013 Identifikasi telah dilakukan pada tahun 1968. seperti Unit Hidrologi. maka langkah selanjutnya adalah Balai PSDA Lintas Provinsi. dimana terdapat peranan Menteri Kimpraswil secara langsung pada salah satu unit kerja pada ke-4 opsi yang ditawarkan. Program pelaksanaan rencana pembangunan bendungan/waduk di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut. di Kabupaten Murung Raya merupakan waduk serbaguna yang berfungsi sebagai waduk pengendali banjir. maka embrio dari balai ini dapat disusun dari unit-unit yang ada. Tabel 2. dan studi awal dilanjutkan pada tahun 2005 Diusulkan untuk dilakukan studi kelayakan dan rona lingkungan bendungan Detail desain dan dampak lingkungan serta sosialisasi masalah pembebasan tanah dan rumah Sosialisasi masalah pembebasan tanah dan pembebasan tanah Pelaksanaan fisik jalan masuk + jembatan ke lokasi (access road) Pelelangan fisik pekerjaan Awal pelaksanaan fisik sampai penyelesaian Awal operasi bendungan/dam 2. apakah sebagai “operator” SDA atau sebagai “developer” infrastruktur SDA juga. Apabila belum ada.2. maka diperlukan suatu bentuk institusi yang dapat mengakomodir kepentingan seluruh masyarakat pengguna (stakeholder) air. Konsep yang diusulkan terdiri dari 4 opsi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -197 .7 Program Pengembangan Institusi Pengelola SDA Sebagai daerah aliran sungai yang melewati 2 (dua) daerah administratif yang memanfaatkan aliran Sungai Barito.15. dan pertanian. Selanjutnya ada pilihan mengenai fungsi Balai Lintas ini.(Persero) CABANG I MALANG scheme yang memerlukan kajian lanjutan. irigasi. Salah satu usulan yaitu Waduk Muara Juloi. Setelah adanya Balai PSDA. perikanan. yang dimonitor secara langsung oleh Menteri Kimpraswil.

dimana peran utama proyek adalah sebagai “developer” SDA.15.15.96 Usulan Program Konservasi dengan Kajian Pengendalian Erosi NO USULAN PROYEK KATEGORI JANGKA WAKTU 1 DRAINASE TERPADU KOTA KUALA JANGKA PENDEK DAN KAPUAS MENENGAH 2 PROGRAM KALI BERSIH JANGKA MENENGAH KABUPATEN KAPUAS 3 PENGEMBANGAN TPA KOTA JANGKA PENDEK KAPUAS 4 PENGENDALIAN SEDIMEN SUNGAI JANGKA MENENGAH MENTANGAI. dan jangka panjang. Sepanjang 420 km dari 600 km aliran Sungai Kapuas dapat dilayari sampai ke hulu. dari Kuala Kapuas sampai Seihanyu. 2. menengah. Tabel 2. maka diusulkan program konservasi dengan kajian pengendalian erosi pada anak-anak sungainya. Pengembangan institusi pengelola SDA sebagai institusi lintas wilayah administrasi memerlukan konsep terpadu dengan partisipasi pihak-pihak pengelola yang mendukung rencana tersebut. Provinsi. DAN MURAI 5 PENGENDALIAN SEDIMEN SUNGAI JANGKA MENENGAH MANGKUTUP 6 PENGENDALIAN SEDIMEN SUNGAI MURAI 7 MONITORING KUALITAS AIR JANGKA PENDEK SUNGAI MENTANGAI 8 PEMELIHARAAN ALUR SUNGAI JANGKA PANJANG MAIN STREAM HULU S. KAPUAS 9 KONSERVASI KAWASAN BUKIT JANGKA MENENGAH DAN TANGKILING PANJANG Kedudukan Proyek Induk akan berada dalam satu unit dengan Balai Pelayanan Umum PSDA Lintas 2.8 Pengelolaan DAS Kapuas DAS Kapuas dan DAS Barito dihubungkan oleh aliran Sungai Kapuas Murung.(Persero) CABANG I MALANG Dari konsep inilah yang menjadi dasar pembentukan PROYEK INDUK. untuk sektor konservasi Analisis ekonomi untuk sektor pendayagunaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -198 . Prioritas program jangka pendek didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut : 1. Untuk mendukung sector transportasi tersebut. MANGKUTUP.2. 2.2.9 Program Pengelolaan Terpadu WS Barito Alokasi waktu perencanaan program disusun dalam jangka pendek. Kajian teknis terhadap kondisi kritis wilayah. dan transportasi air merupakan prasarana penting perekonomian wilayah ini.

dan HSS D. KAB MURUNG RAYA. HST. MUARA SINGAN 10.(Persero) CABANG I MALANG 3.I. PROP KALSEL. Kabupaten HSU. dan Tabalong Kanan) PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI MARTAPURA WADUK SERBAGUNA MUARA JULOI KONSERVASI KAWASAN LINDUNG PARAWEN. PROP KALSEL.375 Ha KONSERVASI KAWASAN MERATUS HULU BARABAI. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN (DAS Balangan.000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI MARTAPURA. 155. 35. DAS Riam Kanan.700 Ha (Cagar Alam) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI TANAH LAUT. BATIKAP II.000 Ha. 81. KALTENG. 740.000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) KONSERVASI KAWASAN BATIKAP I. Tingkat kerugian untuk sektor pengedalian daya rusak air Tabel 2.000 Ha dan 87. 200.279 Ha 280 MW 10 ) 11 ) 12 ) 13 ) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -199 . BATIKAP III.97 Daftar Program Prioritas SEKTOR / PROJECT TITLE 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) PENGEMBANGAN TPA KOTA KUALA KAPUAS PERENCANAAN DRAINASE PRIMER DAN SEKUNDER KOTA KUALA KAPUAS PENGENDALIAN SEDIMEN DAS KAPUAS PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI KAPUAS PENGELOLAAN DAS KRITIS DI DAS BARITO. Riam Kiwa.

(Persero) CABANG I MALANG MASTER PLAN WILAYAH SUNGAI (WS) BARITO NO 1 SEKTOR / PROJECT TITLE Drainase Kota 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10 ) 11 ) 11 ) 12 ) PENGEMBANGAN TPA KOTA KUALA KAPUAS PERENCANAAN DRAINASE PRIMER DAN SEKUNDER KOTA KUALA KAPUAS PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI KAPUAS PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI NEGARA PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI MARTAPURA PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI TAPIN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI BARABAI PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI BATANG ALAI PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI BALANGAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI TABALONG PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI AYUH PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI TEWEH PENYUSUNAN OUTLINE PLAN DRAINASE KOTA BUNTOK Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -200 .

RIAM KIWA. Erosi dan Sedimentasi 15 ) 16 ) PENGENDALIAN SEDIMEN DAS KAPUAS PENGELOLAAN DAS KRITIS DI DAS BARITO.(Persero) CABANG I MALANG 2 Waduk Serbaguna 13 ) 14 ) WADUK SERBAGUNA MUARA JULOI WADUK SERBAGUNA LAHEI 3 Konservasi Hutan. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN (DAS BALANGAN. DAS RIAM KANAN. DAN TABALONG KANAN) NO SEKTOR / PROJECT TITLE PENGELOLAAN KONDISI DAS PADA KAWASAN POTENSI PERTAMBANGAN (KALTENG) 17 ) 18 ) 19 ) 20 ) 21 ) 22 ) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Lahei (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Teweh (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Juloi (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Laung Tuhup (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Ayuh (Kab Barsel) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Bekakar dan Takuan Puri (Kab Bartim) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -201 .

000 Ha (Kab HST) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Tapin. 4.000 Ha (Kab Banjar) 30 ) KONSERVASI KAWASAN LINDUNG PARAWEN.000 Ha Ha Ha Ha Ha 31 ) 32 ) 33 ) KONSERVASI KAWASAN BUKIT TANGKILING. 81.000 2. PROP KALSEL.543 Ha (Cagar Alam dan Taman Wisata) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI TANAH LAUT. 35.375 200. 2. 99.000 Ha (Kab Tabalong) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Batangalai.000 Ha (Kab Tabalong) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Ayu.000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -202 .000 Ha dan 87.(Persero) CABANG I MALANG PENGELOLAAN KONDISI DAS PADA KAWASAN POTENSI PERTAMBANGAN (KAPUAS) 23 ) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Mentangai (Kab Kapuas) PENGELOLAAN KONDISI DAS PADA KAWASAN POTENSI PERTAMBANGAN (KALSEL) 24 ) 25 ) 26 ) 27 ) 28 ) 29 ) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Tabalong Kiwa. 155. PROP KALSEL.400 Ha (Kab Banjar) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Martapura 77.500 Ha (Kab Tapin) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Alalak 8. 1982) 81.543 155.000 740. 67. 17. KAB KAPUAS.000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI MARTAPURA.700 Ha (Cagar Alam) (Sblmnya Parawen I dan Parawen II. KALTENG.

000 Ha (CA) 4 PLTA 43 ) 44 ) 45 ) 46 ) PLTA MUARA JULOI PLTA LAHEI PLTA TEWEH PLTA RIAM KIWA (2 X 21 MW) 280 32.000 Ha (SM) KONSERVASI KAWASAN HUTAN GAMBUT LIANG ANGGANG. KAB HSU. 60 Ha (CA) KONSERVASI KAWASAN G. Kabupaten HSU dan Tabalong KONSERVASI KAWASAN MUARA UYA. BATIKAP II. KENTAWAN. PROP KALSEL. 245 Ha (CA) KONSERVASI KAWASAN BATIKAP I. KAB BANJAR. dan HSS KONSERVASI KAWASAN MERATUS HULU TANJUNG.279 Ha Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -203 . 275 Ha (CA) NO SEKTOR / PROJECT TITLE 35 ) 36 ) 37 ) 38 ) 39 ) 40 ) 41 ) 42 ) KONSERVASI KAWASAN PULAU KEMBANG.(Persero) CABANG I MALANG 34 ) KONSERVASI KAWASAN PULAU KAGET.000 Ha (CA) KONSERVASI KAWASAN SUNGAI NAGARA. Kabupaten HSU. BATIKAP III. 150. PROP KALSEL.375 Ha KONSERVASI KAWASAN MERATUS HULU BARABAI. 6. 25.000 Ha.3 34 42 MW MW MW MW 5 Pengembangan Pertanian 47 ) D. KAB TABALONG. HST. 740. 200. MUARA SINGAN 10.250 Ha. KAB MURUNG RAYA.I. KAB HSS. 46.

S.519 Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha NO 7 SEKTOR / PROJECT TITLE Pengelolaan Kualitas Air 58 ) PENELITIAN KUALITAS AIR SUNGAI-SUNGAI DI KAB KAPUAS (Kecamatan Kapuas Tengah. TEMPARAH D.I.I. Kab HSS. S.078 2.I.I. Kab HSU.432 6.459 6. BATANG ALAI D.172 4.984 7. Maruwei.BARABAI D.I.823 3.927 5.I. PITAP STUDI PENERAPAN SUB POLDER PADA POLDER ALABIO KAJIAN PERTANIAN TERPADU PADA POLDER ALABIO 7.I. Ayuh. MARUWEI D. dan Kecamatan Mantangai) PENELITIAN KUALITAS AIR SUNGAI PADA KAWASAN PERTAMBANGAN DI PROVINSI KALSEL (Kab Tabalong. Murung) 59 ) 60 ) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -204 . Kab HST) PENELITIAN KUALITAS AIR SUNGAI PADA KAWASAN PERTAMBANGAN DI PROVINSI KALTENG (S. dan S. Kecamatan Timpah. TONDAN D. AMANDIT D. BALANGAN D. Karau.I.(Persero) CABANG I MALANG 48 ) 49 ) 50 ) 51 ) 52 ) 53 ) 54 ) 55 ) 56 ) 57 ) D.

23 / 1997) Lembaga Pengelola Lintas Provinsi 63 ) 64 ) 65 ) 66 ) 67 ) 68 ) 69 ) Lokakarya Sistem Pengelolaan Lingkungan / DAS Terpadu Rapat Koordinasi antara dan penandanganan Nota Kesepakatan Antar Bupati yang berada di SWS Barito Capacity Building dan Pemantapan Insitusi Tingkat Provinsi untuk Pembentukan Balai SDA (Kalsel) Capacity Building dan Pemantapan Insitusi Tingkat Provinsi untuk Pembentukan Balai SDA (Kalteng) Pelatihan dan Pemantapan PPPA Provinsi Kalsel Pelatihan dan Pemantapan PPPA Provinsi Kalteng Pembentukan Balai SDA Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -205 .(Persero) CABANG I MALANG 61 ) 62 ) 8 Monitoring Kegiatan Penambangan Terpadu Sosialisasi undang-undang tentang pengelolaan lingkungan hidup (No.

1. PENDEKATAN DALAM PELAKSANAAN STUDI 3.2 merupakan bagan alir penyusunan pola sumber daya air.(Persero) CABANG I MALANG BAB 3 PENDEKATAN DAN METODOLOGI PELAKSANAAN STUDI 3.1 Umum Pendekatan yang diambil dalam perencanaan sumber daya air di wilayah sungai mengacu pada UU No. 2006) yang meliputi penyusunan kebijakan pengelolaan Sumber Daya Air di tingkat Propinsi serta penyusunan pola pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) di wilayah sungai.1. Gambar 3. Sedangkan pada gambar 3. Di dalam pendekatan penyusunan Pola Pengelolaan SDA tersebut akan diuraikan secara singkat tahapan dalam perencanaan sumber daya air wilayah sungai. dimana kegiatan tersebut merupakan kegiatan awal dalam perencanaan SDA di wilayah sungai.1 menunjukkan tahapan dalam penyusunan perencanaan Sumber Daya Air (Subdit PWS. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Direktorat Bina Program. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -1 .

Daya Rusak) **) Rencana PSDA merupakan keterpaduan dari Rencana Induk: Konservasi.DG. memantau & mengevaluasi (Konservasi. Dlm WS Mikro Basis Lokasi Krj. Daya Guna.1 Tahapan Dalam Penyusunan Perencanaan Sumber Daya Air Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -2 . Sungai Area Keg.(Persero) CABANG I MALANG TAHAPAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR Makro Basis Spasial Nas/Prop/Kab/Kot Kebijakan Nasional SDA Survey Investigasi & Review Studi WS Kebijakan SDA Prop/Kab/Kota Pola PSDA WS yg tlh ditetapkan Men/Gub/Bup Inventarisasi SDA WS Renc. Dlm WS KONSTRUKSI OPERASI & PEMELIHARAAN PANTAU EVALUASI RTRW Nas/Pro/Kab/Kt Program Prioritas SDA Ditjen Lain Departemen lain Survey dan Investigasi Operasi & Pemeliharaan (OM) Studi Klykn (FS)+Amdl ya Detail Desain (D/D) Pelaksanaan Konstruksi (C) Monitoring dan Evaluasi KETERANGAN : *) Pola PSDA = Kerangka Dasar untuk --> merencanakan.Induk: K. Direktorat Bina Program.DR tidak PLANNING (perencanaan) Makro/Mikro Basis Basis Wil. Daya Rusak Sumber : Subdit PWS. Daya Guna. melaksanakan. 2006) Gambar 3. PSDA WS Renc.

azas dan prinsip pengelolaan sumber air sesuai dengan paradigma baru yaitu : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -3 .2 Bagan Alir Penyusunan Pola Sumber Daya Air. misi.2 Visi. Azas dan Prinsip sebagai Panduan Penyusunan Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air akan menggunakan visi.(Persero) CABANG I MALANG Start Mempelajari kebijakan Daerah di Dalam Pengelolaan SDA Inventarisasi Data Identifikasi Masalah TAHAP I PERSIAPAN PKM I Jika tidak sesuai Jika sesuai Analisa data Skenario Pengembangan Strategi Kebijakan Operasional (Rancangan Pola Pengelolaan SDA WS) PKM II TAHAP II PENYUSUNAN Finalisasi Konsep Rancangan Pola Proses Penetapan TAHAP III PROSES PENETAPAN Pola Pengelolaan SDA WS End Gambar 3. Misi.1. 3.

peran serta Prinsip : - - pendayagunaan. antar instansi tanpa mengurangi kewenangan masing-masing - Keterpaduan antara air permukaan dan air tanah Upaya pendayagunaan diimbangi dengan upaya konservasi Proses rencana pengelolaan melibatkan seluruh stakeholder Penerapan kebijakan sumber daya air diselenggarakan secara demokratis dengan pelibatan semua unsur stakeholder berdasarkan asas tersebut diatas - Dalam jangka panjang implementasi kebijakan dilaksanakan oleh badan pengelola yang mandiri. profesional dan akuntabel Pelibatan masyarakat dalam seluruh proses pembangunan - Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -4 . antar wilayah. Misi : Azas : - Konservasi sumber daya air Pendayagunaan sumber daya air Pengendalian daya rusak air Peran serta masyarakat Sistem informasi sumber daya air Kelestarian Keseimbangan Kemanfaatan umum Keterpaduan dan keserasian Keadilan Kemandirian Transparansi dan akuntabilitas Satu sungai. - pengendalian masyarakat dan sistem informasi SDA Keterpaduan antar sektor. konservasi. satu manajemen yang terkoordinasi berdasarkan wilayah sungai sebagai kesatuan pengelolaan Pengelolaan sumber daya air daya mencakup rusak.(Persero) CABANG I MALANG Visi : Terwujudnya kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat. satu rencana.

3.2.(Persero) CABANG I MALANG 3. pendekatan operasional pelaksanaan pekerjaan dapat dilihat pada Gambar 3.3 Pendekatan Operasional Pelaksanaan Pekerjaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -5 . PENDEKATAN OPERASIONAL Untuk pelaksanaan studi “Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito-Kapuas” ini. agar tercapai hasil kerja yang optimal Konsultan akan menyiapkan rencana operasional proyek yang seefektif dan seefisien mungkin. Unsur-unsur utama yang mendukung dan mempengaruhi jalannya operasional proyek meliputi: Personil (Tenaga Ahli dan Tenaga Penunjang) Organisasi Sistem Koordinasi Fasilitas kerja Tempat (kantor dan base camp) Secara diagram. PENDEKATAN OPERASIONAL FASILITAS LAPANGAN KANTOR STUDIO TRANSPORTASI KOMUNIKASI KUALITAS KAPASITAS OPERASIONAL EFEKTIF KOORDINASI INTERN EKSTERN EFISIEN ORGANISASI INTERN EKSTERN TEPAT TEPAT MUTU Gambar 3.

dsb. dan menjelaskan urutan pelaksanaan dalam studi. yaitu: 1. komprehensif dan terpadu.3.hidrologi . multi-kriteria.erosi dan sed. Pendekatan analisis sistem ini yang diterapkan pada Wilayah Sungai (WS) atau pada Daerah Aliran Sungai (DAS) ini dicirikan dengan adanya dua buah komponen utama.+ analisis sensitivitas PENYAJIAN HASIL laporan . dsb. Kerangka Kerja Analisis (Framework for the Analysis) yang merupakan pola pikir. multi-sektoral. perencanaan. ANALISIS SISTEM SUMBERDAYA AIR .(Persero) CABANG I MALANG 3. database dan user-interface untuk mendukung Kerangka Kerja Analisis.kualitas air . dan Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System) berupa model komputer. PERUMUSAN KONDISI ANALISIS DAN PENDEKATAN ANALITIS RENCANA KERJA IDENTIFIKASI SASARAN PERENCANAAN DAN KRITERIA EVALUASI SASARAN DAN KRITERIA TAHAP ANALISIS TERPADU PERUMUSAN DAN ANALISIS STRATEGI PENGELOLAAN AIR PEMICU banjir. industri. ANALISIS AWAL PERMASALAHAN DAN UPAYA PENANGGULANGAN EVALUASI STRATEGI PENGELOLAAN AIR teknis.peta .ekonomis. multi-disiplin.4 Kerangka Kerja Analisis Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -6 . TAHAP INSEPSI TAHAP PERSIAPAN (pengumpulan data dan analisis sektoral) ANALISIS EKONOMI MAKRO DAN KELEMBAGAAN pola tata ruang populasi kelembagaan ANALISIS PENGGUNAAN AIR DAN AKTIVITAS YANG BERKAITAN pertanian. kekeringan. operasi. dan antar-wilayah ini. 2.1. PENDEKATAN UMUM 3..kartu skor . air minum.3. sosial.lingkungan dll. sebaiknya digunakan pendekatan analisis sistem sumberdaya air secara holistik. energi. multi-sasaran. Kerangka Kerja Analitis Untuk memecahkan permasalahan perencanaan sumber daya air yang bersifat kompleks. dll.model database MASUKAN UNTUK PARA PENENTU KEBIJAKSANAAN Gambar 3.

3. klimatologi. tetapi jika basis data serta model sudah tersedia maka akan sangat memudahkan analisis selanjutnya. • Mempertinggi keluwesan akses data. 1985 ) kumpulan data yang diatur sedemikian rupa sehingga pencarian serta pemunculan data dapat dilakukan dengan sangat efisien. kebutuhan air. Basis data dapat dikelola mulai dari program computer yang sederhana seperti Microsoft Excel. 3. juga untuk permasalahan yang serupa pada Daerah Aliran Sungai yang lain. dicetak pada kertas sebagai laporan atau dipindahkan pada media penyimpanan data (misalnya dalam CD) Basis data adalah (Kukstehl. Basis data hidrometeorologi: hujan. Kerangka Kerja Komputasi. program khusus basis data seperti dBase III. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -7 .2. dan lain sebagainya. Data yang ada sebaiknya disusun dalam basis data. Idealnya basis data pengembangan sumber SDA terpadu adalah mencakup antara lain : • • Basis data ekonomi dan kependudukan pada tingkat kabupaten dan kecamatan.3. model erosi. sehingga data dapat dilihat pada layer. air tanah. Basis Data. Perangkat lunak ini dikembangkan pada tahap persiapan dan terdiri atas: • • Basis data (data base ) Kumpulan model matematis yang konsisten terdiri atas model ketersediaan air. untuk tujuan sebagai berikut : • • Mempermudah koordinasi penyimpanan dan pemeliharaan data Menghindarkan timbulnya duplikasi data yang dapat mengakibatkan pemborosan media penyimpanan data serta mengurangi keandalan data yang tepat waktu.(Persero) CABANG I MALANG 3. model air tanah. misalnya HYMOS. debit. Kerangka kerja komputasi adalah perangkat lunak untuk membantu analitis pada tahap persiapan serta tahap analisis. distribusi air. Basis data merupakan bank data yang berfungsi untuk memberikan masukan pada model computer.3. atau program basis data yang khusus dibuat untuk menangani data masalah sumber daya air. Pembuatan kerangka kerja komputasi ini biasanya memakan banyak waktu dan biaya.

Teknik probabilistic ( teori antrian. Teknik simulasi Untuk system SDA yang kompleks seperti wilayah sungai BARITO . Selain itu bilamana perlu dapat ditambahkan juga penggunaan beberapa model antara lain sbb: • • • • • Model air tanah. teori keputusan). erosi dan sedimentasi dan lain lain. Tahap analisis system saat ini. untuk menirukan keadaan sebenarnya di dalam dunia nyata. 3. program non linear.3.(Persero) CABANG I MALANG • • Basis data jaringan sumber daya air: skematis. Model matematis kerap kali dinamakan juga sebagai model computer. Model komputer ini dapat dibagi menurut peranannya dalam tahapan yang ada pada kerangka kerja analitis yaitu : • • • • Tahap analisis ekonomi makro dan kependudukan. Model sedimentasi. Model matematis adalah kaitan fungsional antara masukan dan keluaran. infrastruktur. teori persediaan ).KAPUAS akan digunakan metode simulasi. aturan operasi waduk serta bendung.4. Model erosi. Teknik statistic (multivariate. skematis daerah aliran sungai dan mengalokasikan pembagian air sesuai prioritas yang telah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -8 . Model matematis dapat menggunakan satu atau lebih teknik analitis sebagai berikut: Teknik optimasi (program linear. program dinamis). Basis data lainnya: kualitas air. dan lain sebagainya. Untuk meneliti kondisi system pada saat ini. kebutuhan air untuk masing masing pengguna air. inferensi. operasi. akan digunakan model hidrologi untuk menelaah situasi ketersediaan air dengan HYMOS. Model Matematis. Model kualitas air Model untuk melaksanakan analisa terpadu. sebab pelaksanaan perhitungannya • • • • biasanya dilakukan dengan bantuan computer. dan Tahap analisis terpadu. berfungsi mensimulasikan alokasi air pada jaringan skematis daerah aliran mengingat kebutuhan air untuk berbagai pengguna air. Model analisa banjir. Tahap analisis penggunaan air serta aktivitas yang berkaitan dengan air.

kegiatan yang akan dilaksanakan untuk menyelesaikan pekerjaan Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah sungai BARITO . Undang-undang No.(Persero) CABANG I MALANG ditentukan dan air yang tersedia. peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai tersusun dengan urutan sebagai berikut : Undang-Undang Dasar 1. 7. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. 5.KAPUAS ini terdiri dari 5 (lima) Kegiatan utama. Undang-undang No. Undang-undang No. Secara garis besar. dimana otonomi seluas-luasnya diberikan bagi Pemerintah Kabupaten/Kota. Undang-undang No. 6. 3. 2. 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air Undang-undang No. 4. Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 Undang-Undang 1. Mengingat system tata air yang dikaji sangat kompleks dan rumit. 2. Undang-undang No. Alinea ke-4 Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -9 . maka akan digunakan program khusus untuk simulasi wilayah yaitu RIBASIM. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. PENDEKATAN HUKUM Penyusunan “Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito-Kapuas” ini mengacu kepada peraturan perundangan yang lahir sesuai arah kebijakan politik. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Secara berjenjang. Undang-undang No.4. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. yaitu : a) Kegiatan Pendahuluan b) Survey dan Inventarisasi Data c) Pengolahan dan Analisis Data d) Identifikasi Rencana Pengembangan Sumber Daya Air e) Analisis Strategi Pola Pengelolaan SDA wilayah sungai 3.

Pola Pengelolaan Sumber Daya Air merupakan Kerangka Dasar dalam Merencanakan.KAPUAS Untuk menjamin terselenggaranya PSDA yang dapat memberikan manfaat yang sebesar besarnya bagi kepentingan masyarakat dalam segala bidang kehidupan disusun Pola Pengelolaan Sumber Daya Air.5. 35 Tahun 1991 tentang Sungai. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah No. 2. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. 20 Tahun 2006 tentang tentang Irigasi.(Pasal 1 ayat 8 UU No 7 tahun 2004) pada Wilayah Sungai BARITO . Memantau dan Mengevaluasi Sumber Daya kegiatan Air dan Sumber Pendayagunaan Pengendalian Daya Rusak Air. 3. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Daerah 3.5. Konservasi Melaksanakan. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 4.(Persero) CABANG I MALANG Peraturan Pemerintah 1. 5. Daya Air.KAPUAS dengan Prinsip Keterpaduan antara Air Permukaan dan Air Tanah serta Keseimbangan Upaya Konservasi dan Pendayagunaan Sumber Daya Air. 123 Tahun 2001 tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air. 3. Keputusan Presiden Keputusan Presiden No.1 Penentuan Responden Penentuan Responden dalam analisis Penyusunan Pola Pengelolaan SDA ditetapkan berdasarkan teknik Purposive Sampling dengan pertimbangan bahwa Responden adalah pelaku (Individu atau Lembaga) yang mempengaruhi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -10 . PENDEKATAN PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI BARITO . Peraturan Pemerintah No.

6. Persiapan Personil dan Administrasi Konsultan akan mengerahkan tenaga ahli dengan koordinasi oleh Direktur Teknik Perusahaan dalam rangka pelaksanaan pekerjaan.5. Responden yang ditetapkan adalah sebagai berikut : a. Universitas e.2 Tahapan Analisis Metode pengambilan keputusan pemilihan alternatif tindakan pola Pengelolaan SDA untuk pencapaian pengelolaan SDA berkelanjutan dilakukan dengan dua pola alur analisis pengambilan keputusan yaitu : a.6.KAPUAS. Secara ringkas tahapan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut : 3.(Persero) CABANG I MALANG penyusunan Pola Pengelolaan SDA. PENDEKATAN TEKNIS PENYUSUNAN POLA WS BARITO . Survey dan Inventarisasi Data Data-data yang dikumpulkan pada uraian pendekatan umum akan dilakukan review untuk dijadikan bahan masukan dalam kegiatan ini. Wakil Pengguna Air c.2. 3.1. Beberapa item kegiatan yang akan dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -11 . Pembangkitan Alternatif dan Evaluasi rekayasa. baik langsung maupun tidak langsung di Daerah Aliran Sungai pada wilayah sungai BARITO . Alur pengembangan Kriteria dan Ukuran Evaluasi b.6. LSM 3. Kehutanan d.KAPUAS Tahapan dalam metodologi pelaksanaan diuraikan secara ringkas dan mengacu pada tahapan kegiatan seperti pada KAK. Wakil Pemerintah Daerah b. 3.

3.6. Beberapa pendekatan yang dilakukan adalah sebagai berikut : • • Pendekatan bentangan (Landscape Approach). Pendekatan yang akan dilakukan pada tahap informasi kondisi fisiografis lahan adalah sifat fisik lahan yang merupakan dasar bagi perencanaan penggunaan lahan yang rasional. Menggunakan kerangka bentuk lahan (land form framework) untuk mengidentifikasi kan satuan daerah secara alami c. Kelanjutan inventarisasi kondisi water distric ini adalah analisis water Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -12 . Pendekatan mengatasi masalah konservasi lahan meliputi : 1. Sacramento model dan total demand dalam suatu distric. Pendekatan parametrik (parametric approach) yaitu sistem klasifikasi dan pembagian lahan atas dasar pengaruh atau nilai ciri lahan tertentu dan kemudian mengkombinasikan pengaruh-pengaruh tersebut untuk memperoleh kesesuaiannya. b.2. Sebagai pendekatan holistrik dan sintetik 2.2. Pendekatan fisiografik (physiographic approach) a.6.(Persero) CABANG I MALANG 3.1 Informasi Kondisi Fisiografis Lahan Item kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan kondisi tata guna lahan pada wilayah sungai BARITO . Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dengan diperkenalkannya sistem informasi berbasis SIG. yaitu untuk memetakan tanah dengan skala kecil yang diperlukan untuk Masterplan. Mempertimbangkan lahan secara keseluruhan di dalam penilaiannya.2 Inventarisasi Kondisi Existing Water District Tahap ini merupakan penjabaran dari model Ribasim atau Ribasim District yang menganalisis berdasarkan district level.KAPUAS secara umum dan kajian hasil studi dari beberapa instansi terkait. Pendekatan sistem evaluasi lahan dan penilaian lokasi (Land Evaluation and Site Assesment = LESA) yaitu suatu sistem untuk membantu instansi yang terkait untuk membuat keputusan-keputusan dalam perencanaan penggunaan lahan. Inventarisasi yang dilakukan adalah sejauh mana manajemen sumber daya air yang telah dikelola oleh suatu institusi kemudian akan didekati dengan analisis run off model balance.

Pada undang-undang no. Wilayah Kecamatan dan Kabupaten masing masing akan diplot dalam peta wilayah sungai tersebut untuk memperjelas DAS masing masing wilayah. Inventarisasi ini akan memperoleh besaran kebutuhan air untuk berbagai keperluan dan prioritas masing-masing yang disusun secara hirarki. Pengumpulan Peta Geographic Information System C. Dari peta tersebut yang akan dibagi berdasarkan masing masing Sub WS akan diperoleh jumlah situ atau mata air masing masing sub WS. Identifikasi Permasalahan / Problem / Constraint Pada tahap ini konsultan akan melakukan inventarisasi permasalahan sumber air di wilayah sungai BARITO . taman) Pertanian Pertanian rakyat dan usaha pertanian lainnya Peternakan Perkebunan Perikanan Ketenagaan Industri Pertambangan Lalu Lintas air Rekreasi B.000 Bakosurtanal.(Persero) CABANG I MALANG A. penggelontoran. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -13 . Pembuatan Peta Kerja Yang dimaksud kegiatan ini adalah konsultan akan menyiapkan peta kerja bersumber dari peta skala 1:50. 7 tahun 2004 disebutkan bahwa penentuan prioritas alokasi air adalah sebagai berikut : • Prioritas A : • Prioritas B : • Prioritas C : Air minum rumah tangga Pertahanan & keamanan nasional Peribadatan Usaha perkotaan (kebakaran.KAPUAS tersebut berdasarkan data sekunder yang terkumpul dan hasil studi terdahulu D. Inventarisasi Kondisi Existing Demand Cluster Pada tahap ini akan dikumpulkan data water user yang terkait dengan demand secara hirarki.

6.(Persero) CABANG I MALANG E.6. Inventarisasi Perundang Undangan Team akan melakukan pengumpulan data mengenai Undang. Kajian Air tanah akan dilakukan dengan melakukan inventarisasi penggunaan saat ini dan kondisi yang ada serta mempelajari potensi hidrolgeologi pada wilayah sungai BARITO . Inventarisasi Kelembagaan Tahap ini team akan mengumpulkan data tentang kelembagaan yang ada diwilayah sungai BARITO . 3.6.3. Kaji Ulang Data Terdahulu Pada tahap ini konsultan akan melakukan review data sekunder berupa laporan dan gambar hasil studi terdahulu dan menyusun kesimpulan yang akan menjadi bahan untuk evaluasi dan membandingkan dengan kondisi sekarang.6.3.2. Kajian Tata Ruang Wilayah Kabupaten / Kota Kajian mengenai RTRW akan dilakukan berdasarkan data RTRW yang ada dan memberikan masukan hasil analisis kondisi saat ini yang dikaitkan dengan sumber daya air baik konservasi.3. 3. F.KAPUAS yang berkaitan dengan pengelolaan SDA.Undang dan Peraturan lainnya yang terkait dengan Pengelolaan SDA baik tingkat Nasional maupun Daerah.3. Studi Khusus Metodologi dalam studi khusus ini diuraikan secara ringkas untuk masingmasing komponen sebagai berikut : 3.analisis berdasarkan water district dan demand cluster saat ini dengan model simulasi. 3. Kajian Hidrologi dan Air Tanah Kegiatan ini mencakup review data dan review analisis terdahulu berkaitan dengan hidrologi baik ketersediaan air maupun debit banjir kemudian akan dilakukan re.1.KAPUAS berdasarkan data yang ada. pendayagunaan dan daya rusak air.3. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -14 .

data sekunder yang ada.6.(Persero) CABANG I MALANG 3. peta kawasan lindung akan dilakukan kajian mengenai kondisi saat ini dan permasalahan yang ada.6.6. Konsultasi publik bertujuan mencegah dan meminimalkan dampak sosial yang mungkin timbul serta untuk mendorong terlaksananya transparansi dan partisipasi dalam pengambilan keputusan yang lebih adil.KAPUAS.3. Ditujukan masyarakat. 3. Kajian Pertanian. Pertemuan Konsultasi Masyarakat Yang dimaksud dengan konsultasi publik adalah upaya menyerap aspirasi masyarakat melalui dialog dan musyawarah dengan semua pihak yang berkepentingan. (Sumber Penjelasan pada UU No 7 / 2004 tentang SDA) Pertemuan Konsultasi Masyarakat wajib dilaksanakan dalam proses penyusunan rencana dan kegiatan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai dengan ketentuan : a. Pelibatan masyarakat dan dunia usaha dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air dimaksudkan untuk menjaring masukan.4.KAPUAS. Kajian Kelembagaan dibidang SDA Berdasarkan data kelembagaan yang ada akan dilakukan kaji ulang dilapangan kondisi masing masing kelembagaan yang ada saat ini dan keterlibatannya dalam pengelolaan SDA di wilayah sungai BARITO . 3. Kajian Sosial Ekonomi dan Budaya serta Lingkungan Tahap ini akan melakukan kegiatan wawancara langsung dengan responden terpilih untuk mendapatkan masukan mengenai kondisi sosial ekonomi dan lingkungan.3.3. untuk serta memperoleh untuk dan mengkoordinasikan kesepakatan aspirasi atas tercapainya bersama kebijakan/ pola/ rencana yang dirumuskan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -15 .6.6. Pelibatan masyarakat dan dunia usaha tersebut dilakukan melalui konsultasi publik yang diselenggarakan minimal dalam 2 (dua) tahap. permasalahan.4. Kehutanan dan Perkebunan Berdasarkan peta penggunaan lahan. Serta rekomendasi tindak lanjut kedepan yang dikaitkan dengan kondisi SDA wilayah BARITO . dan/atau keinginan dari para pemilik kepentingan (stakeholders) untuk diolah dan dituangkan dalam arahan kebijakan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai.5. 3.

dan/atau keinginan masyarakat dan dunia usaha atas pengelolaan sumber daya air wilayah sungai. Konsultasi publik tahap kedua dimaksudkan untuk sosialisasi pola yang ada guna mendapatkan tanggapan dari masyarakat dan dunia usaha yang ada di wilayah sungai yang bersangkutan. Perumusan Hasil Pertemuan Konsultasi Masyarakat b.(Persero) CABANG I MALANG b. c. Dunia usaha yang dimaksud di sini adalah koperasi. 3. serta badan usaha milik daerah dan swasta. Konsultasi publik tahap pertama dimaksudkan untuk menjaring masukan. Melibatkan pihak-pihak dalam masyarakat yang berkepentingan terhadap pengelolaan sumber daya air Informasi tentang rancangan rencana pengelolaan sumber daya air disampaikan terlebih dulu sebelum Pertemuan Konsultasi Masyarakat dilaksanakan Apabila dunia usaha akan menggunakan sumber daya air di wilayah sungai maka dunia usaha harus dilibatkan sejak dari perencanaan.5. Pengusahaan sumber daya air pada bagian wilayah sungai masih dimungkinkan untuk dilakukan oleh perorangan. sehingga sebagai komponen masyarakat dunia usaha harus diikutkan dalam pertemuan konsultansi masyarakat. Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (Pertama) dan II (Kedua) akan dilaksanakan di Propinsi Sulawesi Selatan. Dalam perumusan tersebut akan dibahas mengenai : o Pendayagunaan SDA melalui pendekatan ekosistem wilayah sungai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -16 .6. permasalahan. dan rencana pengusahaan ini diharuskan untuk melalui Pertemuan Konsultasi Masyarakat terlebih dahulu. Perumusan Hasil Studi Khusus c. Tiga tahapan perumusan yang akan dilakukan mencakup : a. badan usaha milik negara. Perumusan Masalah Dalam kegiatan ini akan dilakukan Penyusunan Program Komponen Pengelolaan SDA. badan usaha maupun kerjasama badan usaha. Perumusan hasil Pertemuan Team Nara Sumber dan Pembina.

Usulan kegiatan dikelompokkan berdasarkan aspek struktural dan masing usulan kegiatan dan menyusun perkiraan non struktural biaya dan dan ditetapkan prioritas. A. jadwal kerja dan hubungan antara input-proses dan output dari pekerjaan. Dapat diterima. Kajian terhadap rencana tata ruang wilayah Propinsi. yang terdiri dari dari peta topografi.KAPUAS akan berisi tentang urutan pelaksanaan pekerjaan.6. Setiap komponen didukung oleh sejumlah usulan kegiatan. peta tata guna lahan. peta tata ruang. analisa dampaknya dan penyusunan jadwal pembiayaan. Pemerataan. Analisis Pada tahap ini akan dilakukan analisis yang meliputi pengidentifikasian komponen. kabupaten dan kota Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -17 . Analisis Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai BARITO – KAPUAS Metodologi yang digunakan dalam penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO . Selain itu juga perlu analisa terhadap dampak rencana yang diusulkan dan usulan kegiatan.6. 2. dan dikelola dengan baik serta sesuai dengan kebijakan pembangunan Nasional. 3. pengelompokan dan penetapan prioritas usulan kegiatan. Rencana ini didasarkan pada prinsip Optimalisasi. alat/ software yang digunakan dalam mencapai tujuan pekerjaan dan pendekatan pelaksanaan studi. Dengan kata lain akan melalui proses Tujuan diterapkan dan Strategi Dirumuskan. Pengkajian Data Kajian terhadap data-data hasil survey lapangan dan inventarisasi data dalam pelaksanaan pekerjaan ini meliputi : 1. peta geologi dan lain-lain. hubungannya dengan sistem pelaporan. Kajian terhadap peta penunjang.(Persero) CABANG I MALANG o o Pengendalian daya rusak air termasuk sistem pengendalian banjir dan penanganan kekeringan Konservasi SDA termasuk penanganan lahan kritis secara struktur maupun non struktur 3. Efisiensi.6.6. Berlanjut. Team Konsultan dan Nara Sumber menganalisa masing jadwal pembiayaan.1.

Kajian terhadap kondisi tata guna lahan saat ini meliputi peta tata guna lahan.KAPUAS di Propinsi Sulawesi Selatan yang mencakup aspek hidrologi. lingkungan dan lainlain 2. hasil tata guna lahan dan tata ruang 6. luas genangan banjir dan lain-lain sebagainya 13. Kajian terhadap kebijakan-kebijakan yang terkait dan hasil studi terdahulu (di Propinsi) 4. Kajian terhadap informasi tentang banjir dan kekeringan yang pernah terjadi meliputi daerah yang terjadi banjir dan kekeringan. Kajian terhadap data hidrologi meliputi data curah hujan.(Persero) CABANG I MALANG 3. data debit. peta daerah irigasi. Kajian terhadap data sosial ekonomi yang mendukung penyusunan pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai 10. Kondisi fisik Wilayah Sungai BARITO . kebutuhan air irigasi 12. geografi. Kajian terhadap konservasi sumber daya air saat ini dan identifikasi dari rencana yang akan datang 8. Pembangunan daerah dan permasalahan sumber daya air di daerah Berdasarkan masukan data dan informasi tersebut diatas. sosial. Kajian terhadap data kualitas lingkungan keairan yang meliputi kualitas air sungai dan danau. data air tanah dan lain-lain 5. Kajian terhadap data irigasi yang meliputi luas daerah irigasi. kemudian dilakukan prosesing dan analisa dengan menggunakan perangkat lunak HYMOS (Hydrological Model System) yaitu suatu perangkat lunak yang merupakan sistem basis data dan pengolahan data hidrologi yang terpadu dan RIBASIM Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -18 . ekonomi. Pengembangan wilayah sungai yang mencakup data kependudukan. topografi. Kajian terhadap populasi dan data sumber daya manusia 9. Kajian terhadap data Kelembagaan Dari kunjungan ke lapangan kemudian dilakukan Kajian terhadap beberapa aspek yaitu : 1. Pengelolaan wilayah sungai yang mencakup kelembagaan. budaya 3. Kajian terhadap data pertanian yang meliputi data pola tanam dan lainlain 11. sumber pencemar dan lain-lain 7. organisasi formal dan informal 4.

Dalam DSS RIBASIM dilakukan simulasi neraca air dan alokasi air di WS dengan berdasarkan pasokan dan kebutuhan air. RIBASIM menjelaskan mengenai user interface. Mengidentifikasi skenario pengembangan wilayah sebagai basis untuk proyeksi kebutuhan air 2. data yang diperlukan. detail konsep dasar pembuatan model dan simulasi WS. Mengelompokan daerah di wilayah sungai ke dalam beberapa kelompok pengguna (Demand Cluster) yang mengacu pada rencana tata ruang 3. 3) Pengoperasian bangunan waduk dan bangunan pelimpah. seperti : 1) Skematisasi WS. dilakukan melalui rangkaian kegiatan sebagai berikut : 1. berbagai pilihan visual. 2) Perhitungan kebutuhan air. prosedur untuk melakukan running berbagai komponen yang ada. 4) Pemilihan pengelolaan air B. uraian singakat hasil simulasi.(Persero) CABANG I MALANG (River Basin Simulation) suatu perangkat untuk melakukan simulasi pengembangan sumber daya air. prosedur penggunaan untuk kepentingan yang lain. RIBASIM merupakan salah satu perangkat lunak yang paling utama dalam DSS sehingga sering disebut DSS RIBASIM. Menghitung neraca air bulanan di setiap pasangan Water District dan demand cluster juga untuk total Wilayah Sungai 7. Menganalisis kebutuhan air antar sektor pada saat ini dan proyeksinya di masa yang akan datang untuk setiap Demand Cluster 4. Membagi Wilayah Sungai ke dalam beberapa distrik air (Water District) yang dikaitkan dengan Demand Cluster-nya 5. RIBASIM (River Basin Simulation) adalah salah satu perangkat lunak yang diperlukan dalam program DSS (Decision Support System). Menganalisa ketersediaan air di setiap Water District dan total Wilayah Sungai 6. format data. Identifikasi dan Upaya Strategis Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh dengan menggunakan perangkat lunak HYMOS dan RIBASIM. selanjutnya diidentifikasi upaya-upaya startegis yang diperlukan dalam pengelolaan sumber daya air Wilayah Sungai BARITO KAPUAS. Dalam mengidentifikasi upaya strategis tersebut. Menghitung tingkat pemakaian air sekarang dan proyeksinya dengan menggunakan indicator Indeks Penggunaan air dan menentukan tingkat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -19 . prosedur pemasukan.

7 Tahun 2004 tentang SDA. Penetapan Proses penetapan Pola Pengelolaan SDA WS BARITO . 3. Untuk itu perlu ditentukan alternatif prioritas penanganan dalam Pola Pengelolaan SDA WS.KAPUAS yang sifatnya lintas Propinsi perlu ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dalam bentuk Keputusan Presiden atau Keputusan Menteri yang ditunjuk. 3. Penyusunan Rancangan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO KAPUAS Berdasarkan hasil-hasil analisis pada sub-bab tersebut di atas selanjutnya disusun Konsep Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai BARITO KAPUAS. Alih Pengetahuan Kegiatan ini dimaksudkan untuk melakukan transfer hasil analisis khususnya yang menggunakan software yaitu Hymos dan Ribasim yang akan dimanfaatkan oleh staf Satuan Kerja dilingkungan Ditjen SDA di Jakarta. BARITO .5 memperlihatkan diagram alir pelaksanaan penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO KAPUAS.6. Berdasarkan ringkasan Metodologi diatas gambar 3.(Persero) CABANG I MALANG kestabilan berupa perbandingan antara debit minimum dan debit maksimum dam indicator coefisient of variation (CV) debit sungai 3.6.7.6.KAPUAS yang sesuai dengan kelima pilar yang tertuang dalam UU No. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -20 .9.8.

(Persero) CABANG I MALANG Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -21 .

(Persero) CABANG I MALANG Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -22 .

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 3.KAPUAS Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -23 .5 Diagram Alir Pelaksanaan Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO .

Perubahan status dan wewenang pemerintahan daerah yang otonom ini merupakan salah satu kendala yang sangat berpengaruh terhadap manajemen terpadu suatu WS. Kebijakan otonomi tersebut cenderung untuk memicu konflik pengelolaan WS yang terpadu. Kabupaten dan Kota bersifat otonom. akibat adanya konflik kepentingan masingmasing wilayah yang tercakup dalam WS. curah hujan yang jatuh dialirkan melalui sistem sungai tersebut dan keluar melalui satu outlet tunggal. WS Barito Kapuas merupakan salah satu WS yang bermuara di laut Jawa.1 ANALISIS TATA RUANG 4.1.Kapuas mencakup dua wilayah Provinsi yaitu Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Dengan adanya Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah (Revisi UU No. Wilayah Sungai Barito . Kawasan dan Pengelolaan WS menjadi parsial Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -1 . Secara administratif. yang di dalamnya juga terdiri dari beberapa kabupaten/kota. dengan demikian setiap daerah pemerintahan berwenang mengelola sumberdaya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Perkembangan yang pesat di Kabupaten Barito Timur sebagai salah satu Kabupaten di Kalimantan Tengah menimbulkan aktivitas kegiatan produksi dan industri yang sangat tinggi.1 Analisis Kebijakan Tata Ruang Wilayah Sungai (WS) merupakan suatu wilayah kesatuan ekosistem bentang lahan yang dibatasi oleh puncak-puncak gunung ataupun perbukitan yang menghubungkannya.(Persero) CABANG I MALANG BAB 4 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 4. khususnya dalam hal mewujudkan One River One Plan One Management. seperti : 1. di dalamnya sistem sungai yang saling berhubungan. yang secara geografis melintasi beberapa kota/Kabupaten.22/1999). yang antara lain menegaskan bahwa setiap pemerintahan Daerah Provinsi.

Namun kondisi ideal ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan teoritis yang penting dalam merumuskan arahan pemanfaatan ruang di wilayah WS Barito . Dalam menyususun peta penataan ruang ideal WS Barito-Kapuas diperlukan beberapa data pendukung yang merupakan satu kesatuan tak terpisahkan dari peta penataan ruang ideal. kurang mempertimbangkan mana yang seharusnya kawasan budidaya dan mana yang seharusnya merupakan kawasan non budidaya. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -2 .Kapuas berdasarkan kajian dan perhitungan teoritis terkait fisik wilayah.300 ha atau sekitar 18% dari luas Kalimantan Tengah (153. Berikut adalah kerangka pikir dasar dalam penyusunan peta penataan ruang ideal WS Barito-Kapuas. Perwujudan ruang yang dihasilkan belum mempertimbangkan bagaimana kondisi eksisting pemanfaatan lahan dan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat setempat (kegiatan perekonomian).1.(Persero) CABANG I MALANG 2. Karena alasan kepentingan tiap daerah maka dalam RTRW Kabupaten/Kota. Penataan ruang ideal WS Barito . Kabupaten Pulang Pisau (5 kecamatan).Kapuas. Kabupaten Kapuas (10 kecamatan) dan Kabupaten Barito Selatan (4 kecamatan) dengan luas wilayah mencapai 2.Kapuas ini juga terdapat KSP (Kawasan Sentra Produksi) dan Kawasan KAPET DAS KAKAP (Kahayan-Kapuas-Barito) mencakup 4 (empat) daerah tingkat II dan 21 (dua puluh satu) kecamatan.2 Konflik Pemanfaatan Ruang Perbedaan kepentingan tiap wilayah Kabupaten/Kota akan menimbulkan konflik dalam pemanfaatan ruang. 4. Kewenangan dalam mengelola WS berada pada masing-masing Kabupaten/Kota (terpecah-pecah /tidak terpadu) 3.650 km2).767. yaitu dengan perincian Kota Palangkaraya (2 kecamatan). Masing-masing Kabupaten/Kota memiliki ’cara pandang’ yang berbedabeda terhadap keutuhan WS sebagai suatu ekosistem. Masing-masing Kabupaten/Kota memiliki kepentingan yang berbeda terhadap Wilayah Sungai 4. Selain Wilayah Kabupaten/Kota di WS Barito .Kapuas merupakan gambaran ideal pemanfaatan ruang wilayah WS Barito . Sulit dilaksanakan koordinasi antar Kabupaten/Kota 5.

Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -3 .(Persero) CABANG I MALANG PETA RESIKO BENCANA GERAKAN TANAH PETA RESIKO BENCANA BANJIR PETA HIDROGEOLOGI PETA RESAPAN PETA HASIL ANALISIS UNTUK PENATAAN RUANG IDEAL PETA KONSERVASI Gambar 4.1 Penentuan Ruang Ideal WS Barito .

.2 Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -4 . HP KPPL KPP HTI Hutan Produksi Terbatas Hutan Produksi SM Kaw asan Pemukiman dan Pengembangan Lainnya Kaw asan Pengembangan Produksi Hutan Tanaman Industri Areal Transmigrasi Rencana Areal Transmigrasi Hutan Pendidikan & Penelitian Kaw asan Khusus ! . . . Hutan Produksi Hutan Produksi Terbatas Permukiman dan Pengemb . SAMPIT SAMPIT SAMPIT SAMPIT SAMPIT SAMPIT . KAWASAN BUDIDAYA HPT .(Persero) CABANG I MALANG PETA RTRW PROPINSI KALIMANTAN TENGAH PUTUSSIBAU PUTUSSIBAU PUTUSSIBAU . T1 T2 Kaw Pengemb Produksi HPP KK Gambar 4. .TAMIANG LAYANG . PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU . KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS . SANGAU SANGAU SANGAU SANGAU SANGAU SANGAU Hutan lindung . BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK Batas Kabupaten Batas Propinsi Batas SWS Barito PALANGKARAYA ! PALANGKARAYA TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG . MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH LEGENDA : Ibukota Kecamatan Ibukota Kabupaten Ibukota Propinsi Batas Kecamatan KAWASAN LINDUNG : CA HL TN CB TW DAN PPH Cagar Alam Hutan Lindung Taman Nasional Cagar Budaya Taman Wisata Danau Perlindungan Pelestarian Hutan Suaka Margasatw a . PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN . .

(Persero) CABANG I MALANG PETA RTRW PROPINSI KALIMANTAN SELATAN Hutan Lindung Hutan Produksi Tetap Tanjung Barabai Kandangan Rantau Kota Banjarmasin Perkebunan Pertanian Lahan Basah Permukiman Perkebunan Gambar 4.3 Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -5 .

(Persero) CABANG I MALANG 4. Disinsentif. Pemerintah Pusat berwenang untuk menetapkan kriteria dimaksud.1. Pada prinsipnya. Kriteria WS Barito . Di dalam Peraturan Pemerintah No. dll KURATIF Enforcement . sedangkan kewenangan penataan perwilayahan ekosistem WS Barito . DEVELOPMENT Mengarahkan Pembangunan (Direct Development ) PREVENTIF Zoning Development control. sebagai bentuk perangkat pengendalian pemanfaatan ruang. RDTRK Insentif Sumber: Zulkaidi.Kapuas berada di Provinsi.Kapuas. sifat pengendalian pemanfaatan ruang dapat dibedakan menjadi kriteria preventif (pencegahan) dan kriteria kuratif (pengobatan).Kapuas yang berada dalam wilayah lebih dari satu kabupaten/kota. Dengan demikian. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom. Penetapan kriteria WS Barito . agar tidak terjadi penyimpangan pemanfaatan ruang sehingga berakibat pada kerusakan lingkungan. angka 13 Bidang Penataan Ruang ditetapkan bahwa “Penetapan kriteria penataan perwilayahan ekosistem daerah tangkapan air pada daerah aliran sungai merupakan kewenangan Pemerintah Pusat”. dalam Pekerjaan Apresiasi NSPM Penataan Ruang Kabupaten dan Kota di Wilayah I (Sumatera).Kapuas dilakukan dengan berpedoman pada kriteria pemanfaatan ruang di wilayah WS normatif kemudian disesuaikan dengan permasalahan yang timbul di wilayah WS Barito . Bab II Pasal 2 ayat 3.Kapuas dibutuhkan sebagai panduan pemanfaatan ruang di wilayah WS Barito .Kapuas dimaksudkan sebagai perangkat pengendalian pemanfaatan ruang di Kawasan WS. Development Permit. Denny. Ditjen Penataan Ruang – Departemen Pekerjaan Umum: 2005 Kriteria pemanfaatan ruang. yang sifatnya preventif (pencegahan) dapat berupa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -6 . Rencana Detail Tata Ruang dan Zoning Regulation. Site Plan Control.3 Arahan Pemanfaatan Ruang Wilayah Sungai Arahan pemanfaatan ruang WS Barito . Mendorong Pembangunan (Promote Development ) RTRWK. mengingat bahwa WS Barito .Kapuas.

dll.1. kawasan mata air. Salah satu aspek penting dalam penataan wilayah ekosistem WS Barito . Termasuk dalam kawasan budidaya perkotaan adalah kawasan permukiman. Kawasan Perlindungan Setempat 3.Kapuas adalah arahan pengelolaan kawasan yang berfungsi lindung. kriteria pemanfaatan ruang dirumuskan untuk masingmasing klasifikasi kawasan. perdagangan. Sementara kriteria penetapan Kawasan Budidaya dibedakan menjadi budidaya perkotaan dan budidaya non perkotaan. Kawasan budidaya non perkotaan sendiri meliputi kawasan perkebunan.(Persero) CABANG I MALANG pengaturan pemanfaatan ruang (zonasi). Kawasan yang Memberikan Perlindungan Kawasan Di Bawahnya 2.1 Arahan Kawasan Non Budidaya/Kawasan Lindung Kawasan lindung merupakan kawasan yang memiliki sifat khas yang mampu memberikan perlindungan pada pengaturan tata air. Dalam konteks pengendalian pemanfaatan ruang WS. 4.Kapuas. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -7 .3. Pengelolaan kawasan yang berfungsi lindung merupakan salah satu aspek penting dalam pengembangan wilayah ekosistem WS Barito . jasa dan industri. dan sebagainya. maupun pemeliharaan kesuburan tanah. Secara umum. masing-masing untuk kawasan lindung dan kawasan budidaya. Termasuk dalam kawasan lindung berpengaruh langsung antara lain adalah Kawasan Sempadan Sungai. ekosistem WS Barito . 32 Tahun 1990 tentang Kawasan yang berfungsi lindung. kawasan resapan air.Kapuas. kehutanan. sedangkan perangkat pengendalian pemanfaatan ruang yang sifatnya untuk mendorong pembangunan dengan memperhatikan perbaikan kondisi dan permasalahan dapat berupa arahanarahan dan rencana penataan ruang. Kriteria penetapan Kawasan Lindung dibedakan menjadi kawasan lindung yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap wilayah WS Barito . baik bawah tanah atau air permukaan serta sebagai pencegah banjir dan erosi. dll. kriteria penetapan dibagi dua. kawasan hutan lindung.Kapuas memiliki beberapa jenis kawasan lindung seperti: 1. Berdasarkan Keppres No. pertanian.

tampak bahwa pada daerah aliran sungai (DAS) sebagai wilayah ekosistem sumberdaya air secara eksplisit dan langsung belum termasuk dalam kawasan lindung. hanya dua kategori yang berpengaruh secara langsung terhadap wilayah sungai Barito . karena: • Pada Kawasan Hutan Lindung Hanya berlaku bila kawasan tersebut berupa hutan dan ada pula kriteria lain. Dari kriteria pengelolaan kawasan lindung yang terdapat dalam RTRWP 2003. Di samping kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. kecuali Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya. Dengan memperhatikan permasalahan yang terkait dengan kawasan lindung. kawasan ini lokasinya tidak Sempadan Sungai (sepanjang Sungai). • Pada Kawasan Resapan Air selalu di hulu WS. kawasan perlindungan setempat pun mampu menjadi elemen pendukung pelestarian WS. Oleh karena itu.Kapuas beserta sungai-sungai kecil lainnya.000 m atau lebih (arahan provinsi). kedua kawasan tersebut tidak dapat diharapkan dapat mendukung upaya perlindungan terhadap daerah aliran sungai secara langsung. seperti : wilayah dengan kelas kelerengan 40% atau lebih dan elevasinya 2. meliputi: Tidak selalu ada di daerah pengaliran sungai.(Persero) CABANG I MALANG Dari ketiga klasifikasi kawasan lindung tersebut. Dari berbagai jenis kawasan lindung yang paling diharapkan dapat menunjang kawasan WS adalah kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. Namun demikian.Kapuas. prioritas penanganan untuk kawasan suaka alam dan cagar budaya relatif lebih rendah jika dibandingkan terhadap kedua klasifikasi kawasan lindung lainnya. maka beberapa arahan umum yang dapat diberikan dalam pengembangan penetapan kawasan lindung antara lain adalah: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -8 . yaitu kawasan hutan lindung dan kawasan resapan air.000 m atau lebih (arahan nasional) atau elevasinya 1. meliputi sungai-sungai pada Wilayah Sungai Barito . Jika terdapat kawasan resapan air.

memacu pembangunan wilayah terpadu dengan pembangunan daerah dan mendukung pemberdayaan masyarakat desa yang diselaraskan dengan kepentingan rakyat yang tinggal dan hidup di wilayah hutan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -9 . hidrogeologis dan bencana geologi. yaitu dengan Body Covered Ratio (BCR) < 20% dan juga membuat sumur resapan. • • • • Pelestarian daerah rawa disekitar pantai untuk menahan abrasi dan intrusi air laut. meningkatkan sumber pendapatan negara dan devisa. Perlu menjaga kelestarian kawasan hutan sebagai imbuhan air tanah menanggulangi bencana geologi. Pembangunan di daerah resapan air dapat dilakukan dengan ketentuan rasio lahan terbangun tertentu. fungsi konservasi. Kawasan hutan suaka alam dan Kawasan hutan pelestarian alam harus dilestarikan dan ditingkatkan pengelolaannya agar kelestariannya terjamin dan memberi manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. ekonomi dan budaya.(Persero) CABANG I MALANG • Fungsi Hutan lindung. • • • Membangun kelembagaan yang kondusif bagi terciptanya partisipasi semua pengelola hutan. Hutan konservasi. memelihara dan memperluas lapangan dan kesempatan kerja serta kesempatan berusaha. Luas kawasan hutan yang harus dipertahankan minimal 30% Karena hutan cagar alam serta zona inti dan zona rimba pada taman nasional merupakan kawasan yang digunakan untuk menjaga kelestarian habitat langka dari kepunahan • Penyelenggaraan perlindungan hutan ditujukan untuk mempertahankan keanekaragaman hayati. • Pentingnya pemeliharaan kawasan hutan dan lingkungannya agar fungsi lindung. • Perlu adanya penetapan kebijakan dan strategi pengelolaan kawasan hutan berwawasan lingkungan yang tegas dan tepat dalam menjaga kelestarian ekosistem wilayah di Kawasan lindung dan hutan produksi. Perlindungan kawasan hutan lindung untuk menjaga fungsi hidrologis. dan fungsi produksi tercapai secara optimal dan lestari.

• Mengurangi sedimentasi melalui rencana program pengelolaan tataguna lahan dan tata air melalui reboisasi sepanjang penanaman rumput . • Satu-satunya lingkungan permukiman harus diberi akses (jaringan) transportasi terhadap kawasan-kawasan lain yang memberikan pelayanan dan kesempatan kerja.3. sepadan sungai.2 Arahan Kawasan Budidaya/Kawasan Non Lindung Tujuan pengembangan kawasan budidaya di wilayah ekosistem WS Barito Kapuas adalah untuk memanfatkan potensi yang ada untuk mensejahterakan masyarakat serta menunjang pembangunan daerah. Dengan memperhatikan permasalahan yang terkait dengan kawasan budidaya. sementara hutan produksi dibutuhkan untuk mendukung berbagai industri berbasis kehutanan yang telah menjadi sektor unggulan bagi Riau. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -10 .rumputan penguat tebing. Kawasan-kawasan permukiman yang telah memenuhi persyaratan dapat dikembangkan menjadi kawasan siap bangun. 4. maka beberapa arahan umum yang dapat diberikan dalam pengembangan penetapan kawasan budidaya antara lain adalah: • Pemanfaatan hutan untuk kegiatan ekonomi sebaiknya dilakukan di luar hutan untuk menjaga fungsi pokok hutan serta dapat meningkatkan produktivitas dan penganekaragaman produk pengolahan hasil hutan melalui peningkatan kemampuan dalam menghasilkan barang dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dengan tetap di bawah pembinaan. • Pada daerah sepanjang tepi sungai harus ditetapkan areal selebar (sekurang-kurangnya) 100 m dari titik pasang tertinggi ke arah darat sempadan pantai • Pengembangan struktur ruang mikro yang integratif terhadap struktur ruang makro untuk meningkatkan aksesibilitas kawasan-kawasan produksi ke pasar regional/lokal dan ke pasar internasional/nasional melalui pengembangan prasarana dan sarana transportasi antar kawasan (intra wilayah).1.(Persero) CABANG I MALANG • Pentingnya menjaga keanekaragaman hayati di kawasan lindung.

(Persero) CABANG I MALANG • • • • • Perlu menetapkan kriteria lokasi dan standard teknis pengolahan dan pengelolaan secara konsisten dan pengenaan sanksi kawasan izin investasi. Gambaran besarnya jumlah penduduk di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Selatan adalah sebagai ditunjukkan dalam tabel di bawah.2. Memperhatikan satus penguasaan lahan. Melaksanakan pemantauan kualitas perairan secara periodik dan berkelanjutan. dan limbah B3.2 ANALISIS SOSIAL EKONOMI 4.1. • Mengendalikan kuantitas dan kualitas limbah yang masuk ke perairan Sungai Barito . untuk kawasan pemukiman di perkotaan.Kapuas dari berbagai sumber melalui Pengendalian dan penataan lokasi sumber pencemar point source (industri) dan non point source (non industri). Mengoptimalkan pemanfaatan ruang kawasan budidaya melalui peningkatan pemanfaatan kawasan izin investasi yang belum digarap.1 Proyeksi Penduduk 4. Pembuatan septik tank terpadu untuk daerah pemukiman di sekitar sungai. Pengawasan kapal masuk dan keluar ─ Pengembangan program land application 4.Kapuas. melalui : ─ ─ ─ ─ ─ Pembuatan IPAL domestik terpadu. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk yang terdapat di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Selatan yang meliputi kabupaten Barito Kuala tahun 2007 adalah sebesar 269.2.90%.448 jiwa.1 Provinsi Kalimantan Selatan 1. Laju pertumbuhan penduduk rata-rata adalah 0. Pembatasan beban cemaran yang masuk ke badan air WS Barito . Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -11 . Memperhatikan kepentingan “stakeholder” (pemerintah swasta dan masyarakat). Pembuatan IPAL Kota Terpadu.

Rincian jumlah penduduk berdasarkan tahun tinjauan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.448 No 1 Kab / Kota Barito Kuala Penduduk (2025) 316.733 2025 316. Pada tahun 2007.000 2007 2010 2015 Tahun 2020 2025 Gambar 4. Dari proyeksi jumlah penduduk pada Kabupaten yang berada pada Wilayah DAS Barito di Provinsi Kalimantan pada tahun 2025 sebesar 316.604 jiwa.470 2020 302.448 Jumlah Penduduk (jiwa) 2010 276.90 2007 269.96 Kepadatan / km2 (2007) 90 Kepadatan / km2 (2025) 106 Sumber : BPS Kabupaten Tahun 2007 dan hasil analisa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -12 .2 Proyeksi Kepadatan Penduduk pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan Penduduk (2007) 269.000 240.(Persero) CABANG I MALANG Berdasarkan data penduduk dan laju pertumbuhannya maka dapat dibuat proyeksi penduduk untuk 20 tahun yang akan datang.4 Grafik Proyeksi Jumlah Penduduk pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan Kepadatan rata-rata penduduk pada WS Barito-Kapuas berdasarkan batasan administrasi di Provinsi Kalimantan Selatan mengalami peningkatan.000 300. Tabel 4.000 280.1 Proyeksi Jumlah Penduduk WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan Pertumb Pendd% 0.789 2015 289.996.604 No 1 Kab / Kota Barito Kuala Sumber :Hasil Perhitungan Proyeksi Jumlah Penduduk WS Barito-Kapuas Kalsel Jumlah Penduduk 340. Tingkat kepadatan penduduk pada WS Barito-Kapuas dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. kepadatan penduduk 90 jiwa/km2 menjadi 106 jiwa/km2atau naik sebesar 17.000 320.000 260.604 Luas (km2) 2.50%.

19 8.410 2025 194. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk yang terdapat di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah yang meliputi 5 kabupaten/kota.019 5.580 1.701 185.92 No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Jumlah Penduduk (Jiwa) 2007 128.360 1.886 500.841 1.314 90.724 141.119 414. Tabel 4.566 376.2 Provinsi Kalimantan Tengah 1.000 Jumlah Penduduk 500. Gambaran besarnya jumlah penduduk di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut. Pada tahun 2025 diproyeksikan bahwa pada Kabupaten Kapuas kepadatan penduduknya paling tinggi dibandingkan dengan Kabupaten Barito Selatan.13 2.266 91.91 20.100 2020 173. Kepadatan penduduk di Kabupaten Murung Raya tergolong paling jarang yaitu hanya 4 jiwa/km2.196 126.878 600.000 2007 2010 2015 Tahun Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas 2020 2025 Gambar 4.656 777.000 100.1.581 95. Barito Timur dan Barito Utara serta kabupaten Murung Raya. pada tahun 2007 adalah sebesar 777.102 135.340 1.000 400.356 118.082 jiwa.325 144.992 107.(Persero) CABANG I MALANG 4.137 455.148 113.397 355.000 200.538 2015 154. Berdasarkan luas wilayah dibanding dengan jumlah penduduk yang ada.426 100.889 105.082 2010 137.000 300.615 88.188.5 Proyeksi Jumlah Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -13 .3 Proyeksi Jumlah Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Pertumb Pendd% Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Sumber :Hasil Perhitungan 16.938 242.2.35 12.43 42.

526 167.716.6 Proyeksi Sebaran Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Tabel 4.783 No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas JUMLAH Penduduk (2025) 203.194 Kepadatan / km (2007) 20 14 23 4 6 9 2 Kepadatan / km (2025) 32 20 41 10 16 18 2 Sumber : hasil perhitungan 4.02% (dengan industri besar).397 511.(Persero) CABANG I MALANG Proyeksi Sebaran Penduduk Kalimantan Tengah Tahun 2025 (%) 16.91 20.014.397 91.19 8.1.2.75% (tanpa industri besar). Berdasarkan angka pertumbuhan tersebut bisa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -14 .69% (tanpa industri besar).2.750 91.00 3.152 Luas (km2) 6.00 23.00 57.957 242. Provinsi Kalimantan Selatan 1.148 112.00 8.002.091 88.75 15.886 1. Sedangkan pertumbuhan PDRB atas dasar harga tetap sebesar -5.43 Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Gambar 4. dan 4.34% (dengan industri besar) dan 14.300.35 42.898 156.2 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Studi 4.834.341.2. Kabupaten Barito Kuala Pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku sebesar 1.13 12.4 Proyeksi Kepadatan Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Penduduk (2007) 128.886 242.

784 Sumber : Hasil Perhitungan 5.000.783 3.211.237.798.337. 000.000. 000.932 2.534.756 1.039 1.919 1.255. 000.451 1.012. 000.7 Proyeksi PDRB (dengan industri besar) Kabupaten Barito Kuala 35.00 1. 00 30.539 1. 000.748.00 3.886.00 Proyeksi PDRB (Rp) 2010 2015 2. 000. 000.246.072 2020 3.250.234.000.086. 000.000. Tabel 4.742 6. 00 20.270 821.799 14.251 3.00 2007 2010 2015 2020 2025 PDRB atas dasar har ga ber l aku PDRB atas dasar har ga tetap Gambar 4.022 2025 4.8 Proyeksi PDRB (tanpa industri besar) Kabupaten Barito Kuala Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -15 .00 3. 00 2007 2010 2015 2020 2025 P DRB at as dasar har ga ber l ak u P DRB at as dasar har ga t et ap Gambar 4. 00 15.426.000.857.802. 00 25. 000.00 4.000.00 1.970. 000.000.000. 00 5.(Persero) CABANG I MALANG diproyeksikan besarnya PDRB Kabupaten Barito Kuala dalam beberapa tahun ke depan.000. 000.000.00 1.5 Proyeksi PDRB Kabupaten Barito Kuala No I Jenis PDRB 2007 Dengan Industri Besar 1 PDRB atas dasar harga berlaku 2 PDRB atas dasar harga tetap Tanpa Industri Besar 1 PDRB atas dasar harga berlaku 2 PDRB atas dasar harga tetap 2. 000.299.00 2.206.473. 00 10. 000. 000.201 29.934 II 2.770.738.495.

559.244.15 1.230.819.706.600.63 176.749.48%.224.00 62.723.76 1.456.00 2.755.813.66 5.74 22.600.541.68 63. Tabel 4.119.00 3.00 25.06 156. 0 0 0 .144. kehutanan dan perikanan sampai saat ini masih merupakan sektor yang paling dominan dalam pembentukan total PDRB Kabupateb Barito Selatan yakni 43.194.784.00 105.212. Kabupaten Barito Selatan Kontribusi sektor pertanian.000.79 %.00 736.00 2005 2 0 10 2 0 15 2020 2025 Gambar 4.05 4.05 249.000. Pertumbuhan PDRB pada tahun 2001 sebesar 2.100.19 98. 0 0 1.9 Proyeksi Pertumbuhan PDRB Kabupaten Barito Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -16 .368.700.734.75 179.2.03 4.900. dibuat proyeksi besarnya PDRB sampai tahun 2025.200.96 948. 0 0 0 .35 89.265.300.30 295.00 93.37 2. restoran sebesar 13.08 39.16 136.821.57 8.00 44.338.600.00 2.258.909.100.540.47 2015 446.28 144.500. Hotel & Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.314.86 13.35 2025 657.279.38 228.2.69 99.972.48%.2. peternakan.6 Proyeksi PDRB Barito Selatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.000.585.900. 0 0 0 . Berdasarkan nilai pertumbuhan tersebut.003. hotel.23 224.730.850.53 5.617.900.00 1.76 2.608.(Persero) CABANG I MALANG 4. Gas dan Air Bersih Bangunan/Konstruksi Perdagangan.09 180. 5 0 0 .137.56 396.85 116.27 2020 541.92 206.61 62. 0 0 500.700.687.615. disusul sektor perdagangan.947.979.364.23 157.00 2010 368.95 140.118.17 170.80 116. Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa-jasa TOTAL Sumber : Hasil Perhitungan 2005 303.20 3.00 95.000. Provinsi Kalimantan Tengah 1.92 126.

1 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 4.2 38.8 76.18%.78 37.2 3.2 1.167.8 19. Persewaan dan Jasa Gambar 4. PDRB Barito Timur atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha pada tahun 2006 sebesar 886.63 49.60 53.9 2020 627. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan. Sektor perdagangan.68 7. Kabupaten Barito Utara Laju pertumbuhan PDRB berdasarkan harga konstan 2000 pada Kabupaten Barito Utara pada tahun 2006 untuk tiap sektornya rata-rata sebesar 3.06 5.91 30.33 10.85 158.31 23. Kontribusi terbesar dari total PDRB disumbang oleh pertanian sebesar 37 86%.30 %.9 35. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.87 59.7 Proyeksi PDRB Barito Timur 3.40 90.97 96. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2007 304.72 73.98 3.79 1.(Persero) CABANG I MALANG 2.23 127.69 168.3 milyar rupiah.93 2.67 55. Hotel dan Restoran Keuangan.47 1.60 1.39 73.4 61.48 79.77 669.543.7 24.03 % disusul sektor jasa 12.37 28. Hotel dan Restoran menempati urutan kedua dalam Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -17 .10 Distribusi sektor ekonomi pada PDRB Barito Timur 2007 No. Kabupaten Barito Timur Dilihat andil per sektor perekonomian terhadap PDRB Barito Timur.8 milyar rupiah.92 119.38 1.8 562.94 883. 12% 4% 6% 12% 7% 0% 4% 54% 1% Pertanian Industri Pengolahan Bangunan Pengangkutan dan Telekomunikasi Jasa-jasa Pertambangan dan Penggalian Listrik dan Air Bersih Perdagangan.42 45.3 2010 359.27 104.55 4.87 40. menunjukkan bahwa sektor pertanian sampai saat ini masih merupakan sektor yang paling dominan dalam pembentukan total PDRB yakni 53. pada tahun 2007 naik menjadi 1023.76 97.09 65.0 2015 475.16 42.98 209.9 2025 829.

431.10 2015 362.423 344333.053.952.309.96 2020 394.652.030.17395 286743.9848 87442.141.14 936. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.10 63.55 4.40 171.8 Proyeksi PDRB Barito Utara No.410 204923.9426 1.589.66516 203303.3246 60076.220.449.6888 111058.535.42 49.121.022.848.858. yaitu sebesar 20. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.503.79 52.20 126.11 Distribusi sektor ekonomi pada PDRB Barito Utara 2006 Tabel 4.784.104.72 46.370.244.161 152859.38723 160367.72 2025 428.8379 1.81459 118008.203.785.570.01% dari total PDRB.77 99.14 3.99567 6226.83 238. Proyeksi PDRB sampai dengan tahun 2025 dalam dilihat pada tabel berikut ini: 8% 3% 10% 38% 21% 6% 0% 6% 8% Pertanian Industri Pengolahan Bangunan Pengangkutan dan Telekomunikasi Jasa-jasa Pertambangan dan Penggalian Listrik dan Air Bersih Perdagangan.650 114.98 27.22708 64413.976.71 1.784.1802 56208.510.89 59.02 71. Sektor Jasa-jasa memberikan peranan sebesar 10.7372 5140.563.658 85.936. Persewaan dan Jasa Gambar 4.57 82. dan merupakan urutan ketiga penyumbang PDRB Barito Utara.18 824.80 50.92 Sumber : Hasil Perhitungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -18 .(Persero) CABANG I MALANG menyumbang PDRB Barito Utara. Hotel dan Restoran Keuangan.89 47.17 82.005.83% dari total PDRB.13 75.90 67.762636 94154.656.764. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2006 312.40 3.274.4008 95928.14 34.68 198.79 2010 333.499.

936.513.000.48 146.92 297.14 195.034%.45 2005 1.228.83 376.408.583.200.386.32 Sumber : Kapuas Dalam Angka 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -19 .650.318.021.97 473.12 224.80 350. yaitu sebesar 46.085.228.00 800.000.920.85 119.73 170.263.03 133.000.572.81 9.00 256.530.834.12 107. 3.95 290.74 10.87 3.000.600.43 118.486.351.402.00 2006 2010 2015 2020 2025 Gambar 4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik.346.731.81 11.611.653.9 PDRB atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rp) Kabupaten Kapuas No.-.406.73 587.845.680.12 2.98 87.055.65 10. sedangkan pertumbuhan terkecil terjadi pada sektor pertambangansebesar 8.02 247.879.49 2.442.(Persero) CABANG I MALANG 1.400.546.814. Ini berarti telah terjadi peningkatan sebesar 18.73 151.76 12. Tabel 4. Hotel dan Restauran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.078.73 8.108.581.332.371.37 2. Pertumbuhan terbesar terjadi pada sektor bangunan/konstruksi sebesar 39.00 400.263.29 11.65%.508.88 217.81 98. Gas dan Air Bersih Bangunan / Konstruksi Perdagangan.000.386.96 345.811.41 8.408. Kabupaten Kapuas PDRB Kabupaten atas dasar harga berlaku Kapuas pada tahun 2007 sebesar (angka sementara) Rp.00 1.25 184.121.29% terhadap PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2006.134. Sektor pertanian memberikan sumbangan terbesar terhadap angka PDRb ini. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa PDRB Lapangan Usaha 2004 1.21%.320.24 2006 1.70%.360.033.521.364.73 2007 1.93 99. Sumbangan terkecil diberikan oleh sektor listrik.423.03 152.12 Proyeksi Pertumbuhan PDRB Barito Utara 4.998. gas dan air bersih sebesar 0.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik.84 2015 1.962.724.725.396.683.715.763.849.13 Sumbangan masing-masing sektor lapangan usaha terhadap PDRB (menurut harga berlaku) Kabupaten Kapuas 2007.813.148.79 2025 2.15 645.605.469.31%. Pemakaian daya listrik rata-rata tiap pelanggan pada tahun 2007 adalah sebesar 668.587.72 330.03 346. Hotel dan Restauran 18% Bangunan / Konstruksi 10% Jasa-Jasa 10% Pertanian 48% Pertambangan 0% Industri Pengolahan 6% Listrik.266. Tabel 4. Sedangkan pada tahun 2007 turun menjadi sebesar -3.44 15.863.02 215.2. Gas dan Air Bersih 0% Gambar 4.220.175.531.91 5.3 Proyeksi Sektor Energi Listrik 4.15 98.49 4.47 508.674.22 77.456.928.081.864.40 210.68 9.490.466.71 164.946.15 2.127.682.43%.42 3.138.894.24 266.019.51 88.554. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa PDRB 2007 1.53 102.663.58 316.662.12 113.217. Persewaan dan Jasa Perusahaan 4% Pengangkutan dan Telekomunikasi 4% Perdagangan.442.590.876. Gas dan Air Bersih Bangunan / Konstruksi Perdagangan.1 Provinsi Kalimantan Selatan 1.35 260.57 209.72 130.326.407.336.71 205.636.10 Proyeksi PDRB atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rp) Kabupaten Kapuas No.57 12.87 6.29 130.3.76 2010 1.38 162.86 Sumber : Hasil Perhitungan 4.68 4.519. Jika pertumbuhan jumlah pelanggan listrik dihitung berdasarkan pertumbuhan jumlah penduduk di Kabupaten Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -20 .10 Kwh.66 140.223.59 401.2.158.39 165.50 125.584.04 7.67 2020 1.380.44 9.19 147. Kabupaten Barito Kuala Pertumbuhan jumlah pelanggan listrik di Kabupaten Barito Kuala pada tahun 2006 adalah sebesar 101.713.294.174.93 272.077.511.581.50 274.495.95 169.(Persero) CABANG I MALANG Keuangan.27 67.94 2.206.890.64 158.964.40 11.26 7.741.352.15 1.454. Hotel dan Restauran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.

00 1.819.705 3.520.121.794. Konsumsi listrik terbesar terjadi di Kabupaten Kapuas yaitu sebesar 47.195.487 2020 16.113 6. dengan Kabupaten Kapuas merupakan konsumen tertinggi. Kabupaten Barito Utara.151 Tahun 2015 15.354.21 1.647 6.581.788 11.20 Kwh untuk empat kabupaten.365 493. Tabel 4.862.2 Provinsi Kalimantan Tengah WS Barito-Kapuas di kalimantan tengah mencakup lima (5) Kabupaten/Kota.879 580.10 5.582 2025 405.075 555.711.9%. pada tahun 2007.908 2015 371.14 Kwh per pelanggan.216 580.58 47.13 Data Kelistrikan di WS Barito-Kapuas No 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Pelanggan 13.091 Kwh.898.819. maka bisa dibuat proyeksi beberapa tahun ke depan untuk jumlah pelanggan dan besarnya pemakaian daya listrik.664 6.02 3.125.124.370.93 1.756.581. Pada tahun 2025 total pemakaian energi listrik sebesar 116.533 99 3.457 4.832 103 3.776 2020 388.00 1.12 Proyeksi Besarnya Daya Listrik Terdistribusi di Kabupaten Barito Kuala No 1 2 3 4 5 Tahun Daya Listrik (KWH) 2007 345.940 531.432 530. Kabupaten Barito Timur.091.36 8.947.064 2010 14.14 2.140 554. Sedangkan rata-rata pemakaian energi listrik per pelanggan terbesar terjadi di Kabupaten Barito Utara yaitu sebesar 1.009 Daya Terpasang Rata-rata Pemakaian Pertumbuhan (Kwh) Daya (Kwh) (%) 14.(Persero) CABANG I MALANG Kuala sebesar 0.247 95 2.145 108 3. Tabel 4.363 607. Kabupaten murung Raya dan Kabupaten Kapuas.92 Sumber : Hasil Perhitungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -21 .14 1.862 517.756 507.3.555 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 4.00 1.042 11.2.11 Proyeksi Jumlah Pelanggan Listrik Kabupaten Barito Kuala No 1 2 3 4 5 6 Kelompok Tarif Sosial Rumah Tangga Usaha Industri Kantor dan PJU PS dan TS Jumlah 2007 14.00 727.938 2025 16.451.00 1. yaitu Kabupaten Barito Selatan.437.34 18.638. Proyeksi kebutuhan energi listrik ini dihitung berdasarkan angka pertumbuhan penduduk di masing-masing daerah.348 6.146.302 40.520 2010 354.908.081 92 2.059 7.

272.098.55 19.133.13 9.42 10.495.11 140.27 14.00 Jumlah Pelanggan 2010 2015 2020 2025 14641.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.370.886.496.711.27 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 4.50 18.1 20.21 8.77 12.0829 18451.60 Daya Terpasang (Kwh) 2015 2020 18837976.36 6.2327 20713.00 2010 16780588.84 4.96 15.274.693.428.00 3.216.014.354.78 54.15 5.520.21 55.368.842.65 8.226.302.214.746.82 60.048.897.02 14.788.39 9.773.644.55 21147611.42 3.783.794.14 Distribusi Banyaknya Pelanggan Listrik di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -22 .92 50.853.765.52 13.864.242.032.858.655.00 47.83 66.503.409.00 3.240.088.705.00 45.066.06 2025 23740418.275.768.29 9.804.819.13 Sumber : Hasil Perhitungan Barito Selatan 17% Barit o Utara 13% Kapuas 51% Barito Timur M urung Raya 12% 7% Gambar 4.51 11.15 Proyeksi Daya Listrik Terpasang di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah No Kabupaten/Kota 1 2 3 4 5 Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas 2007 15.66 7.720.464.17 5.311.731.050.93 23.458.205.518.00 43.48 12.81 22.02 60.986.731.688.94 13.276.53 72.284.638.659.00 11.45039 12.091.14 Proyeksi Jumlah Pelanggan Listrik di WS Barito Kapuas Kalimantan Tengah No Kabupaten/Kota 1 2 3 4 5 Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas 2007 13.991.775.00 8.437.483.0175 16436.

Analisis hidrologi mencakup analisis perilaku debit aliran sungai. angin berhembus membawa uap air. dimana berada pada daerah tropis. debit rancangan dengan kala ulang tertentu.00 60.00 2007 Barito Selatan 2010 Barito Utara 2015 Barito Timur 2020 Murung Raya 2025 Kapuas Gambar 4. dengan kondisi iklim terdiri dari musim hujan dan musim kemarau yang dipengaruhi angina monsoon tenggara. WS Barito-kapuas yang terdiri dari DAS Barito.15 Proyeksi Daya Listrik Terpasang di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah (Kwh) 4.000. Selama musim hujan pada bulan November – April.00 40. iklim.3 ANALISIS HIDROLOGI DAN HIDROGEOLOGI Analisis hidrologi merupakan satu bagian analisa awal dalam suatu kajian tentang berbagai keperluan yang menyangkut pemanfaatan sumber daya air berbasis wilayah sungai. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -23 .000. dan analisis ketersediaan air atau potensi air.000.000.(Persero) CABANG I MALANG 80.000.000. DAS Kapuas melintasi 2 (dua) Provinsi di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Hal ini mempunyai pengertian bahwa informasi yang diperoleh dalam analisis hidrologi merupakan suatu masukan yang penting didalam melakukan analisis selanjutnya.000. salah satu aspek analisis yang diharapkan untuk menunjang perancangan dalam pengelolaan SDA mencakup penetapan besaran rancangan. Dalam analisa hidrologi.000. curah hujan. perilaku debit aliran sungai.00 20. baik curah hujan. ketersediaan air atau potensi maupun unsur hidrologi lainnya.

antara lain rata-rata. Untuk keperluan air minum dan industri maka dituntut reabilitas yang lebih tinggi. yaitu sekitar 90%.3. Ketersediaan air merupakan hal yang penting dalam pengelolaan suatu wilayah sungai yang dinyatakan dalam keandalan debit yang dapat disediakan dalam rangka memenuhi kebutuhan di dalam maupun diluar wilayah sungai tersebut. atau sistem irigasi boleh gagal sekali dalam lima tahun. minimum. Angka koefisien variasi menyatakan seberapa besar variabilitas debit. air permukaan dan air tanah. 4. Semakin besar variabilitas debit aliran sungai berarti sungai tersebut memerlukan perhatian khusus. Analisis perilaku hidroklimatologi dilakukan berdasarkan statistik data historis. Analisis ketersediaan air atau analisis potensi air dilakukan dengan menggunakan berbagai alternatif data dasar sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -24 . Debit andalan merupakan debit yang dapat diandalkan untuk suatu reabilitas tertentu. yaitu : hujan. Sumber air permukaan merupakan sumber yang sangat berpotensi untuk dimanfaatkan yang pada umumnya dipakai untuk kebutuhan air baku. dan koefisien variasi. maksimum. pada prinsipnya dapat bersumber diri dari 3 (tiga) jenis. Ketersediaan air bagi pemenuhan berbagai kebutuhan. berhembus angin kering yang membawa musim kemarau.1 Ketersediaan Air Wilayah Sungai Air sebagai sumber daya alam strategis secara alami bersifat dinamis dan mengalir dari sumbernya ke tempat-tempat yang lebih rendah tanpa mengenal batas wilayah administrasi. Artinya dengan kemungkinan 80% debit yang terjadi adalah lebih besar atau sama dengan debit tersebut. Ketersedian air yang cenderung menurun di satu pihak dan meningkatnya kebutuhan air sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk dan meningkamya kegiatan ekonomi masyarakat di lain pihak. pertanian dan industri. Deskripsi kondisi factor-faktor hidrologis disampaikan dalam pembahasan berikut ini. Untuk keperluan irigasi biasanya digunakan debit andalan dengan reabilitas 80%.(Persero) CABANG I MALANG sementara itu selama musim kemarau dari bulan Mei – Oktober. simpangan baku.

Dalam studi ini. atau jika ternyata data debit yang ada hanya mencakup kurang dari lima tahun. Debit limpasan yang dihasilkan dari seluruh sub-DAS diperoleh dengan menerapkan parameter-parameter hasil kalibrasi dan verifikasi terhadap hujan rata-rata kawasan pada tiap sub DPS. sehingga untuk analisis potensi air dan masukan untuk DSS-Ribasim perlu dilengkapi dengan menggunakan data hujan melalui suatu proses analisis hujan-aliran (rainfall-runoff). tebal Aliran Q80% dan tebal aliran Q90%. maka diperlukan data seri debit dengan panjang data minimal 10 tahun. b. kurang dari 10 tahun maka ditambahkan dengan memakai data curah hujan bulanan yang dikonversi menjadi data debit menggunakan model konseptual Sacramento yang merupakan bagian dari Paket Program Hymos. iklim dan kondisi wilayah sungai dengan menggunakan model hujan-aliran (rainfall-runoff model). yaitu dengan mengalikan tebal aliran dengan luas catchment area dari lokasi yang dihitung. Dalam perhitungan dengan menggunakan analisis frekuensi untuk besaran debit andalan Q80% dan Q90%. Barito . Berdasarkan data runtut-waktu (time-series) dari data yang ada (historis).Kapuas dihitung berdasarkan pemenuhan berbagai kepentingan khususnya pemenuhan air baku untuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -25 . Untuk ketersediaan air di WS. Dari hasil pengolahan data-data debit yang ada maka dapat dihitung debit rata-rata.(Persero) CABANG I MALANG a. perhitungan ketersediaan debit andalan lebih ditekankan dengan menggunakan data-data debit dari hasil pengamatan. Jika tidak tersedia data debit. Dari data yang telah diperoleh. namun bila tidak ada atau data seri yang ada tidak terlalu panjang. debit andalan Q90%. Adapun besaran tebal aliran sangat diperlukan untuk memperkirakan besarnya debit aliran sungai pada lokasi lain. bilamana data tersebut tersedia. tebal Aliran rata-rata. debit andalan Q80%. terjadi banyak kekosongan data pada data debit aliran sungai. Dalam menghitung debit andalan lebih baik memakai data debit aliran pengamatan dengan data seri yang panjang. maka perkiraan potensi sumber daya air dilakukan berdasarkan data curah hujan. namun ketersedian data tersebut masih sangat terbatas (jarang) dan bahkan tidak setiap sungai mempunyai data debit pengamatan.

Barito . Geohidrologi Wilayah Sungai Barito .Kapuas.3 Debit Banjir Rencana Masalah banjir di wilayah Wilayah Sungai Barito .Kapuas merupakan salah satu masalah pokok yang terjadi hampir setiap tahun.Kapuas. perkotaan dan industri serta untuk keperluan irigasi di WS.Kapuas Dengan kenampakan morfologi dan geologi (volkanik) seperti terdahulu maka dapat diprediksikan bahwa kondisi hidrogeologi daerah ini sebagian besar cukup baik dengan pola akuifer dari jenis Aliran melalui Celahan dan Ruang Antar Butir yang termasuk dalam kelompok Akuifer dengan Produktivitas Tinggi sampai Sedang dengan penyebaran Luas yang secara umum debit air tanahnya mampu mencapai lebih dari 5 liter/detik sampai kurang dari 5 liter/detik.(Persero) CABANG I MALANG keperluan rumah tangga. Adanya kondisi akuifer seperti tersebut. Oleh karena itu potensi air tanah ditinjau secara umum wilayah Cekungan Air Tanah yang berpotensi dapat memberikan kontribusi ketersediaan air bila pilihan pertama yaitu air permukaan tidak dapat memenuhi atau kondisi medan sulit untuk melakukan rekayasa teknik dengan pembuatan waduk atau sejenisnya.Kapuas. 4. Untuk menghindari duplikasi atau pengulangan perhitungan yang dapat menimbulkan inkonsistensensi maka studi ini memperhatikan dan mengkaji studi-studi yang telah dilakukan terutama perhitungan-perhitungan terbaru sebagai pembanding untuk menghasilkan gambaran kondisi banjir yang terjadi di WS Barito .3. maka di daerah tersebut banyak dijumpai mata air – mata air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -26 . pada saat musim hujan tidak dapat menampung debit yang ada sehingga hal ini mengakibatkan genangan banjir yang merusak daerah sekitar alur sungai Barito .Kapuas dijelaskan dalam Bab-5 selanjutnya.3. 4.2 Ketersediaan Air Tanah Dalam analisa keseimbangan air permukaan tidak mencakup potensi air tanah mengingat pengambilan air tanah merupakan pilihan terakhir untuk mengurangi kerusakan lingkungan. Kapasitas tampungan sungai Barito .

1974) untuk menghitung debit banjir rancangan (design floods) dengan mengunakan data curah hujan kerena keterbatasan data debit yang ada dengan kisaran ketersediaan data antara tahun 1970 – 1973 (3 tahun data).Tahun 2020 dan tahun 2025. Perhitungan perkiraan kebutuhan air bersih mengacu pada Kebutuhan Air Rumah Tangga Perkotaan dan Industri (RKI) berdasarkan Pedoman Perencanaan Sumber Daya Air Buku 3. Dalam WS Barito . sumur dalam atau kombinasinya. 4.2004).Kapuas dan proyeksinya direncanakan untuk Tahun 2010.4.Kapuas akan diperhitungkan kebutuhan air bersih rumah tangga yang berasal dari SPAM PDAM dengan sumber air baku dapat berasal dari air sungai. dan kebutuhan air industri. biasanya diperoleh secara individu dari sumber air yang dibuat oleh masing-masing rumah tangga berupa sumur dangkal. Komponen kebutuhan air. baik dengan memakai analisa frekuensi untuk daerah yang mempunyai data pengamatan debit yang cukup panjang dan lengkap sedangkan untuk mengetahui hidrograf banjir jam-jaman dipakai hidrograf satuan sintesis (HSS Nakayasu).1 Kebutuhan Air Bersih Rumah Tangga Air bersih adalah air yang diperlukan untuk rumah tangga. kebutuhan air perkotaan. mata air.(Persero) CABANG I MALANG Dari studi terdahulu yang dilakukan oleh ECI pada tahun 1975 (The Barito Kapuas River Basin Development Project. atau dapat diperoleh dari layanan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) PDAM.4 ANALISIS KEBUTUHAN AIR BAKU 4.4. 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -27 . 4. Tahun 2015. terdiri dari kebutuhan air rumah tangga.4 Hasil Perhitungan Debit Banjir Rancangan Hasil perhitungan debit banjir rancangan dengan berbagai kala ulang.1.3. tentang ”Proyeksi Penduduk dan Kebutuhan Air RKI(DPU.1 Kebutuhan Air (RKI) Perkiraan kebutuhan air bersih WS Barito .

2006 (Tabel 4.000. Jumlah penduduk pada setiap Sub DAS menurut tahun perencanaan (tahun 2011. tahun 2021 dan tahun 2026) pada WS Barito-Kapuas ditentukan berdasarkan kebutuhan air bersih dalam tahun 2006. diuraikan sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -28 .000 Kebutuhan Air Bersih (L/O/H) 60 – 90 90 – 110 100.000 > 1.2006. serta proyeksinya diasumsi terjadi kenaikan sebesar 1 % per tahun. besar kebutuhan tergantung dari jumlah penduduk yang ada di setiap Sub DAS yang dikorelasikan dengan Kriteria dari Dirjen Cipta Karya. maka pada setiap tahapan terjadi kenaikan kebutuhan air bersih rumah tangga. Materi Pelatihan Penyegaran SDM Sektor Air Minum Sumber : (Peningkatan Kemampuan Staf Profesional Penyelenggara SPAM) WS.000 500. yang mengacu pada ketentuan dari Dirjen Cipta Karya. Barito . ”Unit Pelayanan”. DPU.000 – 1.000 – 100.(Persero) CABANG I MALANG Kebutuhan air bersih rumah tangga. dinyatakan dalam satuan Liter/Orang/ Hari (L/O/H). perkiraan besar kebutuhan air bersih setiap Sub DAS adalah berdasarkan jumlah penduduk pada setiap Sub WS dibandingkan dengan kebutuhan air bersih (L/O/H) berdasarkan jumlah penduduk dari Tabel.000 20.Kapuas terdiri dari beberapa Sub WS. DPU.125 120 – 150 150 – 200 No 1 2 3 4 5 Kategori Kota Semi Urban (Ibu Kota Kecamatan/Desa) Kota Kecil Kota Sedang Kota Besar Metropolitan Sumber : Dirjen Cipta Karya.000 – 20.19). yaitu : Tabel 4.000.000 100.000 – 500. tahun 2016.16 Kriteria Kebutuhan Air Bersih Rumah Tangga per Orang Per Hari Berdasarkan Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk (Jiwa) 3.

538 121 276.701 105 185.410 128 302.581 107 95.886 114 500.4.100 126 289. sehingga kebutuhan untuk air komersial dan sosial akan lebih tinggi jika penduduk makin banyak.36 113. Ternyata makin besar dan padat penduduknya cenderung lebih banyak daerah komersial dan sosial. gudang.137 111 455.90 269. bengkel.426 108 100.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4. Pada umumnya hampir semua pelayanan PDAM antara 15% sampai dengan 35% dari total air perpipaan untuk kebutuhan air komersial dan sosial seperti : toko.196 109 126.02 88.470 118 2020 173.119 108 414.724 105 141.314 104 90.733 119 2025 194. Dalam perencanaan WS. dengan nilai konstan dari masing-masing tahapan perencanaan. sekolah.615 101 1.789 114 Tahun Kajian 2015 154. rumah sakit. Selain itu kebutuhan air Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -29 .92 355.58 91. Barito-Kapuas kebutuhan air untuk perkotaan diasumsi sebesar 35 % dari kebutuhan air bersih rumah tangga. hotel dsb.938 106 242. sehingga sampai proyeksi kebutuhan tahun 2025 nilainya sama sebesar 35 %.1.448 111 2010 137.841 131 316.325 111 144.566 104 376.889 108 105.2 Kebutuhan Air Perkotaan Kebutuhan Air Perkotaan yaitu untuk memenuhi kebutuhan air komersial dan sosial.102 110 135.397 108 1.17 Kebutuhan Air Bersih Rumah Tangga per Orang Per Hari Berdasarkan Jumlah Penduduk pada WS Barito-Kapuas No 1 Kab / Kota Barito Selatan Pertumb Pendd% 2.604 119 2 Kebutuhan Air Bersih (LOH) Barito Utara Kebutuhan Air Bersih (LOH) Barito Timur Kebutuhan Air Bersih (LOH) Murung Raya Kebutuhan Air Bersih (LOH) Kapuas Kebutuhan Air Bersih (LOH) Barito Kuala 3 4 5 6 Kebutuhan Air Bersih (LOH) Sumber :Hasil Perhitungan 4.34 2007 128.992 103 107.356 105 118.266 107 5.656 116 0.148 102 1.

95 % . Banyak pabrik mengambil air tanah dari sumur dalamnya sendiri dan untuk tambahan diperoleh dari PDAM walaupun masih dalam jumlah yang sedikit. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -30 ... pada tahap awal diperhitungkan sebesar 500 L/O/H. (2).70 %. %P AP = Persentase asumsi penduduk = Kebutuhan air industri per tenaga kerja. Besar kebutuhan air bersih industri diperhitungkan berdasarkan jumlah penduduk terhadap kebutuhan per pekerja dan rata rata pelayanan. 4.1.45 %. Air yang digunakan setiap pabrik berbeda untuk masing-masing jenisnya (pabrik tekstil berbeda dengan pabrik elektronik)..4. bahkan untuk setiap produk yang dikerjakan pada setiap saat..(Persero) CABANG I MALANG bersih rumah tangga diperhitungkan pula untuk kehilangan air yang terdiri dari : (1). teknologi yang dipergunakan (umumnya yang lebih modern akan lebih efisien dalam penggunaan air). sehingga ada kenaikan pada tahap perencanaan tahun 2010 menjadi sebesar 6.. ( Formula 1) Dimana : KAI = Kebutuhan Air Industri . Kehilangan air tidak terhitung yaitu sebesar 25 %. terjadi peningkatan sebesar 1 % setiap tahun. RL = Rerata Layanan. L/O/H % Penduduk diasumsi pada tahap perencanaan awal. Sehingga..5 % setiap tahun. diperhitungkan konstan sebesar 70 %. biasanya sesuai dengan klasifikasi jenis dan ukuran industrinya.3 Kebutuhan Air Industri Kebutuhan air untuk industri sangat kompleks. Kehilangan dalam proses sebesar 6 %. yaitu : KAI = %Px AP x RL. terjadi peningkatan sebesar 0. tahun 2020 menjadi 6.20 % tahun 2015 menjadi 6. akan sulit menentukan perkirakan kebutuhan air untuk industri secara lebih akurat. tahun 2006 sebesar 6 %. dan tahun 2025 menjadi sebesar 6.. selain itu tergantung pula pada ukuran pabrik. namun korelasi antara jenis dan ukuran industri dengan kebutuhan air tersebut kurang nyata.

Akibat eksploitasi. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah porsi potensi lahan low land yang relatif luas ternyata masih memerlukan kajian teknis mendalam untuk dapat dimanfaatkan lebih optimal. lt/dt Kebutuhan bersih air di sawah. Kebutuhan air irigasi yang dirumuskan sebagai Debit rencana dihitung dengan rumus umum berikut : Qt = NFR × A et = = = = Debit rencana.Kehilangan dalam proses sebesar 6 %. Kehilangan air akibat evaporasi dan perembesan kecil saja dibanding kehilangan akibat eksploitasi. dimana SWS Barito sesuai Kepmen No 39/1989 terdiri dari DAS Barito dan DAS Kapuas.5% antara bangunan sadap tersier dan sawah (atau Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -31 . ha Efisiensi irigasi di petak tersier di mana : Qt NFR A et Kebutuhan air irigasi ditentukan oleh faktor – faktor berikut : • • • • • Pola tanam yang diajukan evapotranspirasi potensial koefisien penanaman perkolasi hujan efektif dan kehilangan-kehilangan. (2). Hanya tanah-tanah yang lulus air saja yang akan memerlukan perhitungan tersendiri. lt/dt/ha Luas daerah yang diairi.4. Untuk tujuan perencanaan. baik berupa rawa monoton maupun rawa pasang surut.2 Kebutuhan Irigasi di WS Barito-Kapuas Potensi pertanian di Kalimantan sebagian besar terdapat di daerah rawa.(Persero) CABANG I MALANG Selain itu kebutuhan air industri diperhitungkan pula untuk kehilangan air yang terdiri dari : (1). juga mengutamakan kegiatan peningkatan produksi pertanian khususnya tanaman pangan. 4. sebagian dari air yang dibagikan akan hilang sebelum mencapai tanaman padi.Kehilangan air tidak terhitung yaitu sebesar 25 %. kehilangan air di jaringan irigasi tersier dianggap 15 – 22. Dalam master plan satuan wilayah sungai Barito. evaporasi dan perembesan.

Kehutanan .399 hektar.yaitu .85).9 dan pada saluran primer 0.157 ton. Produksi padi Tahun 2007 adalah 280.1 Kalimantan Selatan 1.Tanaman bahan makanan . kedelai 2 ton. Produksi jeruk untuk Tahun 2007 sebesar 262. Selain tanaman diatas Batola juga potensi tanaman buah-buahan seperti.17 dan 310. Hampir semua kecamatan di Kabupaten Barito Kuala merupakan sentra produksi padi sawah dimana Kabupaten Barito Kuala juga merupakan sentra produksi padi di Provinsi Kalimantan Selatan.878 ton.Tanaman perkebunan . Effisisensi pengaliran untuk saluran tersier 0. ubi jalar 1.57 ton.2.Perikanan . rambutan 33. Untuk jenis tanaman perkebunan di Kabupaten Barito Kuala produksi terbesar adalah tanaman kelapa dalam yaitu sebesar 10.119 hektar menjadi 235.203 ton.775 – 0.Peternakan Luas tanah menurut penggunaannya Tahun 2007 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006 yakni dari 243.(Persero) CABANG I MALANG efftotal = 0. jeruk.68 Kw/Ha.476.185 ton.26 ha. nenas dan rambutan. Kabupaten Barito Kuala Pembangunan ekonomi disektor pertanian adalah untuk meningkatkan produksi pertanian dan bertujuan meningkatkan pendapatan petani. nenas 34. Karena Kabupaten Barito Kuala wilayahnya sebagian besar merupakan dataran rendah maka tanaman padi ladang tidak ditanam disini sehingga produksi padi hanya ada padi sawah saja.58 ha disusul oleh tanaman karet dan tanaman purun danau yang masing-masing 875. Untuk produksi tanaman Bahan Makanan lainnya pada Tahun 2007 seperti.4. jagung sebanyak 53 ton. mangga. pada saluran sekunder 0. Kacang tanah 183 ton. Berdasarkan rekapitulasi potensi perkebunan Kabupaten Barito Kuala maka Tanaman Kelapa Dalam merupakan tanaman paling berpotensi yakni seluas 13. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -32 .94 ha dan 697.9.8.529 ton dan mangga 86.97 ton kemudian disusul oleh tanaman purun danau dan sagu masing-masing sebesar 232. ubi kayu 3. 4.293. Data statistik yang di sajikan di bagi dalam lima sub sektor.121 ton dengan produksi rata-rata 31.394 ton.

60 41.139 189 42. Penggembalaan Ternak 5.308 1. Tabel 4.928 11.970.50 66.39 1. peternakan dan perikanan memegang peran penting dalam kehidupan sosial budaya masyarakat di Kalimantan Tengah. Sementara Tidak Diusahakan 6.50 63. kehutanan.083 15.000.125.00 66.81 41.017 2007 10.03 506.899 10.00 61.20 1. Lahan Pekarangan 2.042.385 228.121.234.00 1.444. Luas daerah irigasi di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah sebesar 148.845.570. perkebunan.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.35 60.20 55.00 5.225.225 ha.00 558.956 23.009 24.769 48.431 15.505 No Jenis Penggunaan Tanah I Lahan Sawah 1.343 20.19 No 1 2 3 4 5 Wilayah Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Luas Lahan Potensial di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah Luas Ha 3.92 65.20 4.552.10 4.2.809 9.924.18 Perkembangan Luas Tanah Menurut Jenis Penggunaannya Tahun 2005-2007 2005 119. Tegalan / Kebun 3.023 12.964 51.115 2.4.758 13.802. Karena keterbatasan sarana dan prasarana pengairan.00 100% Tahun 2001 Tanam Panen 799. Lain-lain Jumlah II 15.75 3.15% dari keseluruhan luas lahan potensial yang ada.441 4.00 1.25 1.100.250.00 1. Luas daerah irigasi terbesar di Kabupaten Kapuas yang merupakan lumbung padi di kawasan Sulawesi Tengah.976.139 12.276 Luas Tanah (Ha) 2006 115.00 54.672 136.02 IV -33 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS .00 148.947 241. Sementara Tidak di Usahakan Bukan Lahan Sawah 1.209 9.795 Sumber : Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Barito Kuala 4.319. Pasang Surut 2.00 799. yang tersebar di lima kabupaten/kota.00 137. maka luas lahan yang bisa ditanami hanya sekitar 45. Ladang/Huma 4.057.25 45.51 Tahun 2002 Tanam Panen 1.509 15.2 Kalimantan Tengah Masih besarnya kontribusi sektor pertanian baik sebagai penghasil devisa maupun sebagai lapangan pekerjaan.15 44.446.125. sub sektor tanaman pangan.

dapat diketahui dengan caran menganalisis Status Mutu Air (SMA).1 Tolok Ukur Kualitas Air Tingkat pencemaran sungai. air untuk mengairi pertanaman. • Kelas empat. dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan. tentang “Pengelolan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air” terdiri dari empat kelas sebagai berikut : • Kelas satu. dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tsb. • Kelas dua. SMA yaitu suatu tingkat kondisi mutu air yang menunjukkan kondisi cemar atau baik dalam waktu tertentu dengan membandingkan terhadap baku mutu air. dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tsb.3 Upaya Peningkatan Penyediaan Air Baku Upaya peningkatan penyediaan air baku dilakukan berdasarkan kebutuhan air yang meningkat dari proyeksi yang sudah dihitung terdahulu. peternakan.5. Sebagai gambararan status mutu air dari PP 82/2001 diuraikan dalam klasifikasi dan Kriteria Mutu Air dari PP 82/2001. 4. air untuk mengairi pertanaman. Mengingat kebutuhan air yang paling besar adalah dari kebutuhan air untuk irigasi maka keperluan air baku lainnya dapat dipenuhi dari jumlah pasokan yang tersedia berdasarkan analisis waterbalance.(Persero) CABANG I MALANG 4.4. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman. selain itu jumlah pengukuranpun lebih dari satu kali. Agar SMA diketahui parameter kualitas air yang diukur harus mengikuti parameter yang ditentukan dalam kriteria. kegunaan tsb. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum. dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tsb. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air.5 ANALISIS KUALITAS AIR 4. • Kelas tiga. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -34 . peternakan. pembudidayaan ikan air tawar. Volume air baku yang diperlukan dapat dimanfaatkan sekaligus dengan ketersediaan air yang direncanakan dari sungai baik skala besar maupun skala kecil.

82/2001 Tentang”Pengelolan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Angka batas minimum Bagi perikanan.residu tersuspensi < 5000mg/L Satuan Kelas I II III IV Keterangan Mutu Air Berdasarkan Kelas dari PP No.Cl mg/L.B mg/L.02 6–9 3 25 4 0.002 0.2 (-) 1 0.03 0.02 (-) 1 (-) 0.01 0.NH 3 Besi Timbal Mangan Air Raksa Seng Khlorida Sianida mg/L.002 0. Cu < 1 mg/L Bagi pengolahan air minum konvensional.Fe mg/L.2 10 0.005 2 (-) (-) Bagi pengolahan air minum konvensional . sbg.20 Kritera Air” Parameter FISIKA Temperatur Residu Tersuspensi Residu Tersuspensi KIMIA ANORGANIK pH BOD COD DO Total fosfat.3 0.05 (-) 0.05 0.Cr mg/L.5 0.05 0.Se mg/L.001 0.01 0. Fe < 5 mg/L Bagi pengolahan air minum konvensional .01 0.02 6-9 6 50 3 1 20 (-) 1 0. Zn < 5 mg/L Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -35 .Cu 6-9 2 10 6 0.2 Bagi pengolahan air minum konvensional.01 1 0.Cd Mg/L.CN 0.02 (-) 0.2 10 (-) 1 0.NH3 N mg/L.Zn Mg/L.Co mg/L.03 (-) 0.2 (-) 1 0.P Nitrat Amoniak Arsen Kobalt Barium Boron Selenium Kadmium Khrom (VI) Tembaga mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L.Hg mg/L.2 1 1 0.02 (-) 0.02 mg/l sbg.amonia bebas utk ikan peka<0. maka ditentukan berdasarkan kondisi alamiah °C mg/L mg/L Deviasi 3 1000 50 Deviasi 3 1000 50 Deviasi 3 1000 400 Deviasi Deviasi temperatur dari keadaan 5 alamiahnya 2000 Bagi pengolahan air minum 400 secara konvensional . Pb < 0. kimia dan biologi dijelaskan dalam tabel berikut : Tabel 4.05 0.1 0.NO 3 -N mg/L.05 0.1 mg/L Apabila secara alamiah diluar rentang tsb.Mn mg/L.(Persero) CABANG I MALANG Kadar masing-masing kelas berdasarkan parameter kualitas air fisika.Pb mg/L.05 (-) 0.01 0.05 0.05 0.02 5-9 12 100 0 5 20 (-) 1 0. As mg/L.03 (-) 0.Ba Mg/L..2 (-) 1 0.05 600 0.05 0.

Bagi pengolahan air minum konvensional .5 0.Fecal coliform < 2000 jml/100 mL .05 400 0.03 0.03 0.(Persero) CABANG I MALANG Fluorida Nitrit. Akan tetapi minimal parameter meliputi parameter fisika.5 0. S sbg H 2 S < 0.parameter tsb.1 1 Tabel 4. kunci harus diukur yang Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -36 .1 mg/L Bagi pengolahan air minum konvensional. bahwa pada kelas tsb.F mg/L.1 1 0.82/2001 Tentang ”Pengelolan Air”(lanjutan) PARAMETER SATUAN KELAS I II III IV Keterangan KIMIA ORGANIK Minyak dan Lemak μg/L 1000 1000 1000 (-) Detergent sbg MBAS μg/L 200 200 200 (-) Senyawa Fenol μg/L 1 1 1 (-) BHC μg/L 210 210 210 (-) Aldrien/Dieldrin μg/L 17 (-) (-) (-) Chlordane μg/L 3 (-) (-) (-) DDT μg/L 2 2 2 2 Heptachlor &H.tidak minimum dipersyaratkan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Secara ideal parameter kualitas air yang diukur harus sesuai dengan tabel diatas. agar dapat memberikan gambaran sejauh mana kondisi kualitas air sumber tersebut.002 1.sbg N Sulfat Klorin Bebas Belerang sbg H2 S MIKROBIOLOGI Fecal coliform Total Coliform RADIOAKTIVITAS Gross A Gross B Mg/L.000 Bq/L Bq/L 0.SO4 mg/L mg/L 0.Epoxide μg/L 18 (-) (-) (-) Lindane μg/L 56 (-) (-) (-) Methoxychlor μg/L 35 (-) (-) (-) Endrin μg/L 1 4 4 (-) Toxaphan μg/L 5 (-) (-) (-) Keterangan: Mg = milligram Bq = Bequerel MBAS=Methylene Blue Active μg = mikrogram Nilai diatas merupakan batas max.000 jml/100 mL.002 (-) (-) (-) (-) (-) Bagi Air Baku Air Minum tidak dipersyaratkan Bagi pengolahan air minum konvensional .03 0.21 Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas dari PP No.002 1. NO 2 -N < 1 mg/L Jml/100mL Jml/100mL 100 1000 1000 5000 2000 10.05 (-) 0.000 2000 10. kimia dan bakteriologi.5 0.1 1 0.merupakan nilai rentang yang tidak boleh kurang mL= mililiter Tersuspensi dan lebih Nilai DO merupakan batas Arti (-).NO2-N mg/L.05 (-) 0.kecuali p H &DO Substance Logam berat merupakan logam p H.dan Total coliform < 10.1 1 0.

melalui konsentrasi ion Hidrogen H+.3°C : 27. ikan dan hewan air lainnya mungkin akan mati Ikan yang hidup di dalam air yang mempunyai suhu relatif tinggi akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi. Akibatnya. Kenaikan temperatur sungai akan dapat menimbulkan akibat sebagai berikut : Menurunnya jumlah oksigen terlarut dalam air Meningkatnya kecepatan reaksi kimia. Di samping itu suhu relatif tinggi akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -37 . Di samping itu suhu yang tinggi juga akan menurunkan jumlah oksigen yang terlarut di dalam air.(Persero) CABANG I MALANG Parameter kunci kualitas air dijelaskan sebagai berikut : 4. Hal ini disebabkan partikel-partikel tersuspensi yang ada dalam air akan menyerap dan menahan panas dari sinar matahari sehingga mengakibatkan kenaikan temperatur. H+ tidak hanya merupakan unsur molekul H2O saja tetapi merupakan unsur banyak senyawa lain. baik sungai Barito aaupun Sungai Kapuas masih memenuhi standar deviasi baku mutu yang dipersyaratkan. yang membentuk suasana untuk semua reaksi kimiawi yang berkaitan dengan masalah pencemaran air dimana sumber ion hidrogen tidak pernah habis. Air yang keruh pada umumnya akan memiliki temperatur yang lebih tinggi. Mengganggu kehidupan ikan dan hewan air lainnya Jika batas suhu yang mematikan terlampaui.2 pH (tingkat keasaman) pH menunjukkan kadar asam atau basa dalam suatu larutan. ikan dan hewan air akan mati karena kekurangan oksigen.1.1.1 Temperatur (suhu) Temperatur air sungai sangat dipengaruhi oleh intensitas sinar matahari.5. Dari Hasil uji sample di beberapa lokasi.5.5°C – 28.6°C 4. Rata-rata temperature air sungai dari beberapa titik pengujian pada tahap I dan II adalah sebagai berikut: Sungai Barito Sungai Kapuas : 27. Ion hidrogen merupakan faktor utama untuk mengerti reaksi kimiawi karena: H+ selalu ada dalam keseimbangan dinamis dengan air/H2O. hingga jumlah reaksi tanpa H+ dapat dikatakan sedikit saja.5°C – 28. dan tingkat kekeruhan air.

suasana air juga mempengaruhi beberapa hal lain. pH air di lokasi pengambilan sampel semua di bawah baku mutu minimum yang dipersyaratkan yaitu 6.02 Nilai pH pada masing-masing lokasi dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -38 . pH air di lokasi pengambilan sampel rata-rata diatas baku mutu minimum yang dipersyaratkan yaitu 6. pH tertinggi terdapat di Masaran sebesar 4. tidak asam/basa untuk mencegah terjadinya pelarutan logam berat dan korosi jaringan distribusi air minum. pH air di lokasi pengambilan sampel rata-rata diatas baku mutu minimum. maka dibantu dengan pH yang tidak netral. Sungai Kapuas a) Tahap I. dan pH tekecil berada di lokasi 24 yaitu Laung Tuhup sebesar 6. dapat melarutkan berbagai element kimia yang dilaluinya. Sungai Barito a) Tahap I.(Persero) CABANG I MALANG Lewat aspek kimiawi. Air adalah pelarut yang baik sekali. pH tertinggi terdapat di lokasi 25 yaitu Jembatan Baliton sebesar 7. pH tertinggi terdapat di lokasi 10 yaitu Kandui sebesar 7. 2. b) Tahap II. misalnya kehidupan biologi dan mikrobiologi. pH tertinggi di Masaran sebesar 7. Peranan ion hidrogen tidak penting kalau zat pelarut bukan air melainkan molekul organis seperti alkohol bensin (hidrokarbon) dan lain-lain.32 .05 .01.87. Hasil pengujian Ph dari sungai Barito dan Sungai Kapuas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.21 dan pH tekecil di Timpah Hulu sebesar 7.46. b) Tahap II.24 dan pH tekecil berada di Kuala Kapuas sebesar 4. Air minum sebaiknya netral. dan pH tekecil berada di lokasi 22 yaitu Tumbang Lahung sebesar 6. pH air di lokasi pengambilan sampel rata-rata diatas baku mutu minimum yang dipersyaratkan yaitu 6.

Hasil Pengujian Ph sungai Barito Gambar 4.17. pergerakan ion.16. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -39 . valensi dan suhu air. Kemampuan tersebut antara lain bergantung pada kadar zat terlarut yang mengion di dalam air. Hasil Pengujian Ph sungai Kapuas 4.3 DHL (Daya Hantar Listrik) DHL (Daya hantar Listrik) adalah kemampuan dari larutan untuk menghantarkan arus listrik yang dinyatakan dalam satuan μmhos/cm atau μS.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.5.1.

DHL tertinggi ditemukan di Lokasi 13 yaitu Muara Sungai Tewah sebesar 99. konsentrasi DHL tertinggi ditemukan di P.07 μmhos/cm dan terendah di lokasi 19 yaitu Sungai Lumuk sebesar 20.46 μmhos/cm Berikut adalah grafik DHL dari sungai Barito dan Sungai Kapuas: Gambar 4. Konsentrasi DHL Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -40 .68 μmhos/cm dan terendah di Kuala Kapuas sebesar 70. 2.36 μmhos/cm dan terendah di lokasi 12 yaitu Muara Teweh sebesar 16. konsentrasi DHL tertinggi ditemukan di K. b) Tahap II.Kapuas sebesar 17.18.Tilu sebesar 95.26 μmhos/cm dan terendah di Timpah sebesar 16. b) Tahap II. Sungai Barito a) Tahap I.(Persero) CABANG I MALANG Pencemaran Air untuk parameter DHL yaitu tidak dipersyaratkan.64 μmhos/cm.46 μmhos/cm. DHL tertinggi ditemukan di Lokasi 25 yaitu Jembatan Baliton sebesar 18. Sungai Kapuas a) Tahap I. Adapun konsentrasi DHL di masing –masing sungai sebagai berikut : 1.04 μmhos/cm.

Padatan terlarut total dapat lebih cepat ditentukan dengan mengukur daya hantar listrik sampel air. Fe. SO4. Mg. Padatan ini terdiri dari senyawasenyawa organic dan anorganik yang terlarut di dalam air. Juga dinyatakan dalam milligram per liter atau ppm. Derajat konduktivitas air adalah sebanding dengan padatan terlarut total dalam air itu. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter TDS yaitu 1000 mg/liter. K. Ca.5. Bahan anorganik seperti ion-ion Na. Cl.1. mineral dan garam-garamnya.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Misalnya suatu sampel air dengan padatan terlarut total. Padatan terlarut total mencerminkan jumlah kepekatan padatan dalam suatu sampe air. F. NO3. B dan Silika. Konsentrasi DHL Sungai Kapuas 4.19.4 TDS (Total Disolved Solid) / Partikel Terlarut Padatan terlarut adalah padatan-padatan yang mempunyai ukuran lebih kecil dibandingkan dengan padatan tersuspensi. Adapun nilai TDS di masing – masing sungai : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -41 . artinya dalam 1 liter air terdapat 200 mg padatan terlarut.

b) Tahap II.Kapuas dan Mandomai sebesar 75 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Timpah sebesar 53 mg/liter. b) Tahap II. Konsentrasi TDS tertinggi di Muara Sungai Tewah sebesar 77 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Pelabuhan Hulu sebesar 31 mg/liter. konsentrasi zat padat terlarut di semua lokasi masih dibawah baku mutu. Sungai Barito a) Tahap I. Konsentrasi TDS tertinggi ditemukan di K. Konsentrasi TDS tertinggi ditemukan di Mantangai sebesar 129 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Timpah sebesar 96 mg/liter. Gambar 4. konsentrasi zat padat terlarut di semua lokasi masih dibawah baku mutu. Grafik Konsentrasi Total Disolved Solid Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -42 . Sungai Kapuas a) Tahap I. konsentrasi zat padat terlarut di semua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan.(Persero) CABANG I MALANG 1.20. Konsentrasi TDS tertinggi ditemukan di Jembatan Pendang sebesar 68 mg/l. 2. sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Puruk Cahu Hilir sebesar 34 mg/l.

namun jika berlebihan. sel-sel mikroorganisme dan sebagainya. tidak terlarut dan tidak dapat langsung mengendap. limpasan dari tanah dan pengaruh antropogenik (berupa limbah domestik dan industri). bahan-bahan organik tertentu. 4. terutama TSS dapat meningkatkan nilai kekeruhan yang selanjutnya akan menghambat penetrasi cahaya matahari ke kolam air dan akhirnya berpengaruh pada proses fotosintesis di perairan sehingga berdampak pada penurunan kandungan oksigen terlarut.5. sehingga mengakibatkan terjadinya penggumpalan yang kemudian diikuti dengan pengendapan. air permukaan mengandung tanah liat dalam bentuk suspensi yang dapat bertahan sampai berbulan-bulan. G r a f i k K o n s e n t r a s i Total Disolved Solid Sungai Kapuas Nilai TDS diperairan sangat dipengaruhi oleh pelapukan batuan. Bahan-bahan tersuspensi dan terlarut pada perairan alami tidak bersifat toksik. kecuali jika keseimbangannya terganggu oleh zat-zat lain.1.21. misalnya tanah liat. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -43 . Misalnya.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.5 TSS (Total Suspended Solid)/ Partikel Tersuspensi Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air. terdiri dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil dari sedimen.

Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di Sungai Pendang yaitu sebesar 1831 mg/l. 2. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Sungai Barito a) Tahap I. b) Tahap II.(Persero) CABANG I MALANG Jumlah padatan tersuspensi dalam air dapat diukur dengan Turbidimeter. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di Jembatan Hasan Basri sebesar 169 mg/l. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. kecuali di Jembatan Baliton sebesar 28 mg/l.Tilu sebesar 192 mg/l. Tumbang Lahung sebesar 11 mg/l. Adapun konsentrasi TSS di masing – masing sungai sebagai berikut : 1. kecuali di Kuala Kapuas sebesar 37 mg/l. padatan tersuspensi akan mengurangi penetrasi sinar matahari ke dalam air sehingga akan mempengaruhi regenerasi oksigen serta fotosintesis. Sungai Kapuas a) Tahap I. dan terendah di Mentangai sebesar 96 mg/l. dan konsentrasi TSS terendah di Sungai Tewah sebesar 75 mg/l. Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di P. Seperti halnya padatan terendap. b) Tahap II. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di Masaran sebesar 321 mg/l. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -44 . Muara Teweh sebesar 49 mg/l dan Pelabuhan Buntok 35 mg/l. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter TSS yaitu 50 mg/l.

Hal ini mungkin disebabkan oleh aktivitas Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) yang menyedot emas di dasar sungai maupun akibat dari adanya erosi yang meningkat yang disebabkan banyaknya vegetasi di sekitar sungai yang hilang.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Aktivitas masyarakat sekitar yang menggunakan sungai sebagai jalur transportasi juga dapat menyebabkan tingginya konsentrasi TSS. karena kelotok/ speedboat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -45 .23.22. Grafik Konsentrasi Total Suspended Solid Sungai Kapuas Secara umum di semua lokasi di Kalimantan Tengah konsentrasi TSS nya melebihi ambang batas yang dipersyaratkan. Grafik Konsentrasi Total Suspended Solid Sungai Barito Gambar 4.

Perairan yang memiliki nilai BOD lebih dari 10 mg/liter dianggap telah mengalami pencemaran. Pada tahap pertama. Pada tahap kedua.22 Nilai TSS dan Pengaruh Terhadap Kepentingan Perikanan Nilai TSS (mg/l) < 25 25 . Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -46 .000 mg/l (UNESCO/WHO/UNEP. 1982 4.5. glukosa. BOD merupakan gambaran kadar bahan organik. BOD hanya menggambarkan bahan organik yang dapat didekomposisi secara biologis (biodegradable).6 BOD5 (Biological Oxygen Demand) Dekomposisi bahan organik pada dasarnya terjadi melalui dua tahap. Menurut Alabaster dan Loyd.0 mg/l (Jeffries dan Mills. BOD menunjukkan jumlah oksigen yang dikonsumsi oleh proses respirasi mikroba aerob yang terdapat dalam botol BOD yang diinkubasi pada suhu sekitar 20° C selama lima hari. 1992).400 > 400 Pengaruh Terhadap Kepentingan perikanan Tidak berpengaruh Sedikit berpengaruh Kurang baik bagi kepentingan perikanan Tidak baik bagi kepentingan perikanan Sumber: Alabaster dan Loyd. Pada perairan alami. aldehida.5 – 7. Dengan kata lain. 1982 kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan Nilai Padatan Tersuspensi (TSS) sebagaimana yang disajikan pada table berikut: Tabel 4. Nilai BOD limbah industri dapat mencapai 25. ester dan sebagainya.1. protein. 1991). yaitu jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroba aerob untuk mengoksidasi bahan organik menjadi karbondioksida dan air (Davis dan Cornwell. bahan anorganik yang tidak stabil mengalami oksidasi menjadi bahan anorganik yang lebih stabil. 1996). Perairan alami memiliki nilai BOD antara 0. bahan organik diuraikan menjadi bahan anorganik. Bahan organik ini dapat berupa lemak.80 81 . 1988).(Persero) CABANG I MALANG dapat mengakibatkan sedimen di sekitar sungai mengalami turbulensi akibat mesin kelotok. Secara tidak langsung. kanji. dalam keadaan tanpa cahaya (Boyd. yang berperan sebagai sumber bahan organik adalah pembusukan tanaman.

Grafik Konsentrasi BOD Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -47 .(Persero) CABANG I MALANG Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter BOD yaitu 3 mg/l. di semua lokasi konsentrasi limbah organik melebihi ambang batas. Sungai Kapuas a) Tahap I. konsentrasi limbah organik disemua lokasi melebihi ambang batas yang dipersyaratkan. Nilai BOD tertinggi ditemukan di Sukaramai Hulu sebesar 21. Sungai Barito a) Tahap I.3 mg/liter. b) Tahap II. b) Tahap II. Nilai BOD tertinggi ditemukan di Sukaramai Hulu sebesar 6.5 mg/liter 2. konsentrasi limbah organik disemua lokasi melebihi ambang batas yang dipersyaratkan.24. di semua lokasi konsentrasi limbah organik melebihi ambang batas. Gambar 4.2 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Hulu Jembatan Penyebrangan sebesar 5. Nilai BOD tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 12 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Timpah sebesar 4 mg/liter.Tilu sebesar 34 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Mandomai sebesar 9 mg/liter. Adapun nilai BOD di masing –masing sungai sebagai berikut: 1.6 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Pelabuhan Spead Boat Sukamara sebesar 3. Nilai BOD tertinggi ditemukan di P.

5. baik yang dapat didegradasi secara biologis maupun yang sukar didegradasi secara biologis menjadi CO2 dan H2O.1. Perairan yang memiliki nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan pertanian. Nilai COD pada perairan yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 mg/l. pabrik kertas dan industri makanan. Grafik Konsentrasi BOD Sungai Kapuas 4.7 COD (Chemical Oxygen Demand) COD menggambarkan jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi. Adapun nilai COD di masing –masing sungai : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -48 .25. 1992).(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Keberadaan bahan organik dapat berasal dari alam ataupun dari aktivitas rumah tangga dan industri. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter COD yaitu 25 mg/l. Pengukuran COD didasarkan pada kenyataan bahwa hampir semua bahan organic dapat dioksidasi menjadi karbondioksida dan air dengan bantuan oksidator kuat (kalium dikromat) dalam suasana asam. misalnya pabrik bubur kertas (pulp). sedangkan pada perairan yang tercemar dapat lebih dari 200 mg/l dan pada limbah industri dapat mencapai 60.000 mg/l (UNESCO /WHO/ UNEP.

Bintang Linggi sebesar 170. Nilai COD tertinggi di Sungai Pendang sebesar 258.1 mg/l.2 mg/l. Grafik Konsentrasi COD Sungai Kapuas 1. Sungai Barito a) Tahap I.2 mg/.4 mg/l. Pelabuhan Hulu sebesar 82. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -49 .7 mg/l.1 mg/l sedangkan nilai terendah di Jembatan Hasan Basri sebesar 5.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.27.8 mg/l. Montalat sebesar 37. Puruk Cahu Hilir sebesar 37.2 mg/l.5 mg/l.2 mg/l dan Sungai Pendang sebesar 258. Pelabuhan Buntok sebesar 120. Sungai Lumuk sebesar 45. Laung Tuhup sebesar 60. Bila dibandingkan dengan baku Laporan Pemantauan Kualitas Air Sungai Tahun mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku adalah Sungai Tewah sebesar 27.26. Grafik Konsentrasi COD Sungai Barito Gambar 4.1 mg/l. Pendang sebesar 30.8 mg/l.

3 Muara Teweh sebesar 30. dan yang sangat terkecil kebutuhuan oksigennya adalah bakteri.1 mg/liter. dimana jumlah tidak tetap tergantung dari jumlah tanamannya.1. Nilai COD tertinggi ditemukan di Tumbang Lahung sebesar 42.3 mg/liter dan terendah ditemukan di Mandomai sebesar 16. Konsentrasi oksigen terlarut dalam keadaan jenuh bervariasi tergantung dari suhu dan tekanan atmosfer.Tilu sebesar 67. Nilai COD tertinggi ditemukan di P. Oksigen terlarut (dissolved oxygen = DO) dapat berasal dari proses fotosintesis tanaman air. Biota air hangat memerkan oksigen terlarut minimal 5 ppm.Tilu Mentangai. Jembatan Hasan Basri sebesar 27. kemudian invertebrata. Konserntarsi oksigen terlarut minimal untuk kehidupan biota tidak boleh kurang dari 6 ppm.3 mg/l. nilai COD tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 26 mg/liter dan terendah ditemukan di Timpah sebesar 8. Tumbang Lahung sebesar 42.8 DO (Dissolved Oxygen) Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman dan hewan di dalam air.2 mg/l dan Pendang sebesar 33.2 mg/l. Bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku adalah Jembatan Baliton sebesar 36.Cahu sebesar 27.2 mg/l. Ikan merupakan makhluk air yang memerlukan oksigen tertinggi.5 mg/liter. Timpah. Bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku mutu yang dipersyaratkan adalah Kuala Kapuas sebesar 26 mg/l.3 mg/l.5. Bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku mutu adalah K. 2. dan dari atmosfer (udara) yang masuk ke dalam air dengan kecepatan terbatas. sedangkan biota airdingin memerlukan oksigen terlarut mendekati jenuh. Masaran. Pelabuhan P. Kehdupan makhluk hidup di dalam air tersebut sangat tergantung dari kemampuan air untuk mempertahankan konsentrasi oksigen minimal yang dibutuhkan untuk kehidupannya. P. 4.8 mg/liter.3 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Puruk Cahu Hilir dan Laung Tuhup sebesar 12. Sungai Kapuas a) Tahap I. Pada suhu 200C dengan tekanan satu atmosfer konsentrasi oksigen terlarut dalam keadaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -50 . b) Tahap II.(Persero) CABANG I MALANG b) Tahap II. Masaran Hulu dan Masaran Hilir.Kapuas.

(Persero) CABANG I MALANG jenuh adalah 9. pembekuan udang dan ikan. Oleh karena itu pada waktu musim panas di mana air kali atau danau sedang surut. Sebaliknya konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu tinggi juga mengakibatkan proses perkaratan semakin cepat karena oksigen akan mengikat hidrogen yang melapisi permukaan logam.2 ppm. semakin rendah tingkat kejenuhannya. tanaman-tanaman yang mati atau samah organik. Bahan-bahan tersebut terdiri dari bahan yang mudah dibusukkan atau dipecah oleh bakteri dengan adanya oksigen. konsentrasi bahan-bahan buangan tersebut meningkat sehingga konsentrasi oksigen terlarut biasanya menurun. industri pemotongan daging. Penyebab utama berkurangnya oksigen terlarut di dalam air adalah adanya bahan-bahan buangan yang mengkonsumsi oksigen. Konsentrasi bahan-bahan buangan tersebut selain dipengaruhi oleh jumlah bahan buangan juga dipengaruhi oleh jumlah air yang dicemari. Oksigen yang tersedia di dalam air di konsumsi oleh bakteri yang aktif memecah bahan-bahan tersebut. sedangkan pada suhu 500C dengan tekanan atmosfer yang sama tingkat kejenuhannya hanya 5. dan mungkin beberapa bahan anorganik. bahan-bahan buangan dari industri pengolahan pangan. Konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu rendah akan mempengaruhi ikanikan dan binatang air lainnya yang membutuhkan oksigen akan mati. Air dikatakan sebagai air terpolusi jika konsentrasi oksigen terlarut menurun di bawah batas yang dibutuhkan untuk kehidupan biota. Oleh karena itu semakin tinggi kandungan bahan-bahan tersebut senakin berkurang konsentrasi oksigen terlarut. Semakin tinggi suhu air.6 pp. Bahan-bahan buangan yang memerlukan oksigen terutama terdiri dari bahanbahan organik. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter oksigen terlarut yaitu minimum 4 mg/l. Polutan semacam ini berasal dari berbagai sumber seperti kotoran hewan maupun manusia. pabrik kertas. industri penyamakan kulit. Adapun nilai DO di masing –masing sungai sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -51 . dan sebagainya.

Jembatan Hasan Basri sebesar 3.63 mg/l. Nilai DO tertinggi ditemukan di Sungai Lumuk sebesar 5. konsentrasi oksigen terlarut di dalam air belum memenuhi persyaratan.57 mg/liter.71 mg/l. Sungai Kapuas a) Tahap I. 2.75 mg/l.88 mg/l dan Muara Sungai Tewah sebesar 3. Bintang Linggi sebesar 3. b) Tahap II.72 mg/l dan Pelabuhan Buntok sebesar 4.28 mg/l.17 mg/liter.08 mg/liter. Sungai Pendang sebesar 3.04 mg/l.39 mg/liter yang merupakan nilai DO tertinggi Nilai DO terendah ditemukan di Masaran Hulu sebesar 3.77 mg/l.32 mg/liter ditemukan di Mentangai.54 mg/l. konsentrasi oksigen terlarut di dalam air kurang dari standar baku mutu yaitu di Pelabuhan Buntok sebesar 3. konsentrasi oksigen terlarut di dalam air yang memenuhi standar baku mutu yaitu di Jembatan Baliton sebesar 5. Kalahien sebesar 3. Sungai Barito a) Tahap I. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -52 . Pendang sebesar 4. Tumbang Lahung sebesar 4.3 mg/l. Nilai DO tertinggi sebesar 3. Nilai DO terendah ditemukan di Laung Tuhup sebesar 3. kecuali di Mandomai sebesar 4. sedangkan nilai DO terendah ditemukan di P.Tilu sebesar 3. konsentrasi oksigen terlarut di dalam air pada umumnya belum memenuhi persyaratan. b) Tahap II..44 mg/liter.(Persero) CABANG I MALANG 1.

1978). 1987). 1991). nitrit (NO2) biasanya ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit dari pada nitrat.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Kadar nitrit pada perairan relatif kecil karena segera dioksidasi menjadi nitrat. karena bersifat tidak stabil dengan keberadaan oksigen. Di perairan. kadar nitrit jarang melebihi 1 mg/l (sawyer dan McCarty.06 mg/liter.06 mg/l (Canadian Council of Resource and Environment Minister.001 mg/l dan sebaiknya tidak melebihi 0.9 Nitrit (NO2) Di perairan alami. Grafik Nilai DO Sungai Barito Gambar 4. Perairan alami mengandung nitrit sekitar 0. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Nitrit yaitu 0. Nitrit merupakan bentuk peralihan (intermediate) antara amonia dan nitrat dan antara nitrat dan gas nitrogen. Kadar nitrit yang lebih dari 0.1.29. Untuk kepentingan peternakan. nitrit lebih toksik dari pada nitrat.05 mg/l dapat bersifat toksik bagi organisme perairan yang sangat sensitif (Moore. Adapun konsentrasi nitrit di masing –masing sungai sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -53 . Sumber nitrit dapat berupa limbah industri dan limbah domestik.28. kadar nitrit sekitar 10 mg/l masih dapat ditolerir. Grafik Nilai DO Sungai Kapuas 4.5. Bagi manusia dan hewan.

Konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan. Sungai Kapuas a) Tahap I. Masaran dan Masaran Hulu konsentrasinya sebesar 0. Konsentrasi Nitrit tertinggi ditemukan di Jembatan Hasan Basri sebesar 0. Grafik Konsentrasi Nitrit Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -54 . Sungai Barito a) Tahap I.Kapuas. Mentangai.013 mg/liter. konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu. Konsentrasi Nitrit tertinggi ditemukan di K.021 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Tumbang Lahung sebesar 0.001 mg/liter.024 mg/liter.Tilu dan Timpah sebesar 0.002 mg/liter.012 mg/liter sampai dengan 0. konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan. 2. Konsentrasi Nitrit tertinggi di P. b) Tahap II. Timpah dan Masaran sebesar 0. Gambar 4. b) Tahap II.(Persero) CABANG I MALANG 1.30. Konsentrasi Nitrit di 24 (dua puluh empat) lokasi berkisar antara 0. konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu.006 mg/liter sedangkan terendah di Timpah Hulu konsentrasinya sebesar 0.003 mg/liter sedangkan di Kuala Kapuas.

Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa-senyawa nitrogen di perairan.1 mg/l. Konsumsi air yang mengandung kadar nitrat yang tinggi akan menurunkan kapasitas darah untuk mengikat oksigen. yang selanjutnya menstimulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat (blooming). Namun` amonium lebih disukai tumbuhan. terutama pada Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -55 . Nitrat tidak bersifat toksik terhadap organisme akuatik. Kadar nitrat di perairan yang tidak tercemar biasanya lebih tinggi dari kadar amonium.31.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Kadar nitrat-nitrogen yang lebih dari 0.2 mg/l dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi (pengayaan) perairan. kadar nitrat dapat mencapai 1.000 mg/l.1.5. Nitrat dan amonium adalah sumber utama nitrogen di perairan.10 Nitrat (NO3) Nitrat (NO3) adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan algae. Nitratnitrogen sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil. Pada perairan yang menerima limpasan air dari daerah pertanian yang banyak mengandung pupuk. Kadar nitrat lebih dari 5 mg/l menggambarkan terjadinya pencemaran antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan. Grafik Konsentrasi Nitrit Sungai Kapuas 4. Kadar nitrat-nitrogen pada perairan alami hampir tidak pernah lebih dari 0. Nitrifikasi yang merupakan proses oksidasi amonia menjadi nitrit dan nitrat adalah proses yang penting dalam siklus nitrogen dan berlangsung pada kondisi aerob.

372 mg/liter. Mason. Keadaan ini dikenal sebagai methamoglobinemia atau blue baby yang mengakibatkan kulit bayi berwarna kebiruan (cyanosis) (Davis an Cornwell.177 mg/liter.Tilu sebesar 0. Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di Mentangai sebesar 2. Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di Sungai Pendang sebesar 2. Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu.721 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Kandui sebesar 0. Sungai Barito a) Tahap I. b) Tahap II. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Nitrat yaitu 10 mg/liter Adapun konsentrasi nitrat di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan 2. 1991.085 mg/liter.25 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di P. Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di Muara Teweh sebesar 1.Tilu sebesar 0.116 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Pendang sebesar 0. Sungai Kapuas a) Tahap I.072 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Masaran sebesar 0. Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan yaitu sebesar 10 mg/liter untuk sungai kelas II.(Persero) CABANG I MALANG bayi yang berumur kurang dari lima bulan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -56 . Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di P. b) Tahap II. Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan.009 mg/liter. 1993).

1994). pada proses pengolahan limbah juga dihasilkan gas amonia (Novotny dan Olem.1. Proses denitrifikasi oleh aktivitas mikroba pada kondisi anaerob. Amoniak yang tidak terionisasi bersifat toksik terhadap mikroorganisme akuatik. Sumber amonia di perairan adalah pemecahan nitrogen organik (protein dan urea) dan nitrogen anorganik yang terdapat di dalam tanah dan air yang berasal dari dekomposisi bahan organik (tumbuhan dan biota akuatik yang telah mati) oleh mikroba dan jamur. limbah industri dan domestik. Ion amonium adalah bentuk dari transisi amonia. Sumber amonia yang lain adalah reduksi gas nitrogen yang berasal dari proses difusi udara atmosfer. Ikan tidak dapat bertoleransi terhadap kadar amonia bebas yang terlalu tinggi karena dapat mengganggu proses peningkatan oksigen oleh darah dan pada akhirnya dapat mengakibatkan sufoksi.33.11 Amoniak Bebas (NH3-N) Amonia (NH3) dan garam-garamnya bersifat mudah larut dalam air. Tinja dari biota akuatik yang merupakan limbah aktivitas metabolisme juga banyak mengeluarkan amonia. Grafik Konsentrasi Nitrat Sungai Barito Gambar 4. Toksisitas amonia terhadap mikroorganisme akuatik akan meningkat jika terjadi penurunan kadar oksigen terlarut.32.5. industri bahan kimia serta industri bubur kertas dan kertas. Proses ini dikenal dengan istilah amonifikasi.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Amonia banyak digunakan dalam proses reduksi urea. Grafik Konsentrasi Nitrat Sungai Kapuas 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -57 . pH dan suhu .

1 mg/l (McNelely et al. b) Tahap II. konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Lahei sebesar 0.571 mg/l dan konsentrasi terendah di Masaran Hulu sebesar 0.2 mg/l. Jika kadar amonia bebas lebih dari 0. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Amoniak untuk sungai Kelas II tidak dipersyaratkan.144 mg/l dan konsentrasi terendah di P. b) Tahap II. konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 0. 2. Sungai Barito a) Tahap I.068 mg/l..02 mg/l. Kadar amonia bebas yang tidak terionisasi (NH3) pada perairan tawar sebaiknya tidak lebih dari 0.07 mg/l. Sungai Kapuas a) Tahap I.(Persero) CABANG I MALANG Kadar amonia bebas pada perairan alami biasanya kurang dari 0. konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 0.341 mg/l. Kadar amonia yang tinggi dapat merupakan indikasi adanya pencemaran bahan organik yang berasal dari limbah domestik. industri dan limpasan (run-off) pupuk pertanian.56 mg/l dan konsentrasi terendah di Puruk Cahu Hilir sebesar 0. konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Jembatan Hasan Basri sebesar 0.Tilu sebesar 0. Adapun konsentrasi amoniak di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. 1978). perairan bersifat toksik bagi beberapa jenis ikan (Sawyer dan McCarty. 1979).371 mg/l dan konsentrasi terendah di Kalahien sebesar 0.042 mg/l. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -58 .

seperti industri pencucian. seperti pada air alam (< 0. Sebaliknya bila kadar fosfat dalam air tinggi. pertumbuhan tanaman dan ganggang tidak terbatas lagi (keadaan eutrop). sehingga dapat mengurangi jumlah oksigen terlarut air. tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air. Grafik Konsentrasi Amoniak Bebas Sungai Barito Gambar 4.1. polifosfat dan fosfat organis.34.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Keberadaan senyawa fosfat dalam air sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem perairan. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi kelestarian ekosistem perairan.12 Phospat (PO4) Fosfat terdapat dalam air alam atau air limbah sebagai senyawa ortofosfat. Bila kadar fosfat dalam air rendah. pertumbuhan dan ganggang akan terhalang. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat untuk pertumbuhannya. Di daerah pertanian ortofosfat berasal dari bahan pupuk yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan. Grafik Konsentrasi Amoniak Bebas Sungai Kapuas 4. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan.5. Keadaan ini disebut oligotrop. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -59 . Polifosfat dapat memasuki sungai melaui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan bahan detergen yang mengandung fosfat.01 mg P/L). Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut.35. industri logam dan sebagainya.

b) Tahap II. bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu yang dipersyaratkan. 2. di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu. bilamana dibandingkan dengan baku mutu maka di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi phospat terendah di Mentangai sebesar 0. Konsentrasi phospat tertinggi ditemukan di Mentangai sebesar 0. kecuali di Bintang Linggi sebesar 0.002 mg/liter.238 mg/l yang merupakan konsentrasi phospat tertinggi. Konsentrasi phospat terendah ditemukan di Muara Sungai Tewah sebesar 0.015 mg/liter.011 mg/liter.452 mg/l yang merupakan konsentrasi phospat tertinggi dibandingkan dengan lokasi yang lain.2 mg/liter. bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu yang dipersyaratkan kecuali di Timpah Hulu sebesar 0.011 mg/liter dan konsentrasi phospat terendah di Muara Lahung sebesar 0. Sungai Kapuas a) Tahap I.043 mg/liter Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -60 . b) Tahap II. Adapun konsentrasi phospat di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. Konsentrasi phospat tertinggi ditemukan di Pelabuhan Puruk Cahu sebesar 0. Sungai Barito a) Tahap I.(Persero) CABANG I MALANG Pencemaran Air untuk parameter phospat yaitu 0.22 mg/liter dan konsentrasi phospat terendah di Timpah sebesar 0.

serta aktivitas vulkanik yang melepaskan hidrogen sulfida. Sulfur (S) berada dalam bentuk organik dan anorganik. kertas. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -61 . Sumber alami sulfat adalah bravoite {(NiFe)S2]. Beberapa bentuk sulfur di perairan adalah sulfida. Grafik Konsentrasi Phospat (PO4) Sungai Kapuas 4. molybdenite (MoS2). Sulfat banyak digunakan dalam industri tekstil. sulfur berkaitan dengan ion hidrogen dan oksigen. Grafik Konsentrasi Phospat (PO4) Sungai Barito Gambar 4.2H2O). Kerak bumi mengandung sulfur sekitar 260 mg/kg. gregite (Fe3S4). sulfit dan sulfat. karena merupakan elemen penting dalam protoplasma. Sulfur oksida (SOx) dan hidrogen sulfida (H2S) merupakan sulfur dalam bentuk gas yang biasa ditemukan di atmosfer.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Di perairan. penyamak kulit. yaitu aktivitas bakteri yang melepas hidrogen sulfida. sulfida oksida dan sulfat.13 Sulfat (SO4) Sulfur merupakan salah satu elemen yang esensial bagi makhluk hidup. cubanite (CuFe2S3). chalcopyrite (Cu2S). Sulfur anorganik terutama terdapat dalam bentuk sulfat yang merupakan bentuk sulfur utama di perairan dan tanah (Rao. 1992). Ion sulfat yang telah diserap tumbuhan mengalami reduksi hingga menjadi bentuk sulfidril (SH) di dalam protein. percikan air laut karena tiupan angin yang melepaskan sulfat.37. pembakaran bahan bakar fosil yang melepaskan sulfur oksida. gypsum (CaSO4.5. Atmosfer menerima sulfur dan berbagai sumber.36. metalurgi dan lain-lain. sulfur dioksida. dan pyrite (FeS2).1.

771 mg/l dan konsentrasi terendah di Jembatan Baliton sebesar 0. Pada kondisi aerob. Oleh karena itu. konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di P.237 mg/l dan konsentrasi terendah di Kuala Kapuas sebesar 18. H2S dapat menimbulkan bau seperti telur busuk. konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di Laung Tuhup sebesar 9.266 mg/l. Sungai Kapuas a) Tahap I. Pada pH sekitar 5 sulfur terdapat bentuk H2S. Terbentuknya asam kuat H2SO4 dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan korosifitas logam dan terjadinya karat. hidrogen sulfida segera dioksidasikan oleh bakteri Thiobacillus menjadi sulfat. konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di Muara Sungai Tewah sebesar 6. H2S juga dianggap sebagai salah satu penyebab karat pada logam.098 mg/l.837 mg/l dan konsentrasi terendah di Sungai Lumuk sebesar 1. toksisitas H2S meningkat dengan penurunan nilai pH.(Persero) CABANG I MALANG Reduksi pengurangan oksigen dan penambahan hidrogen anion sulfat menjadi hidrogen sulfida pada kondisi anaerob dalam proses dekomposisi bahan organik yang menimbulkan bau yang kurang sedap dan meningkatkan korosiftas logam. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Sulfat tidak dipersyaratkan. Proses pembentukan karat ini disebabkan oleh keberadaan bakteri yang mampu mengoksidasi H2S menjadi H2SO4 secara berlimpah. Pada kondisi ini dapat menimbulkan permasalahan bau yang cukup serius.Tilu sebesar 24. Sungai Barito a) Tahap I. Adapun konsentrasi sulfat di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -62 . b) Tahap II.816 mg/l. Beberapa bakteri. Hidrogen sulfida yang dihasilkan kemudian dilepaskan ke atmosfer. misalnya Clorobacteriaceae dan Thiorhodaceae dapat mengoksidasi hidrogen sulfida menjadi sulfur.

611 mg/l dan konsentrasi terendah di Mentangai sebesar 6.38. Gambar 4.39.(Persero) CABANG I MALANG b) Tahap II.789 mg/l. konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di Mandomai sebesar 8. Grafik Konsentrasi Sulfat Sungai Barito Gambar 4. Grafik Konsentrasi Sulfat Sungai Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -63 .

Pada perairan alami. Merkuri anorganik dapat mengalami transformasi menjadi dimetil merkuri dengan bantuan aktivitas mikroba. Selain itu.1979. Pada dasar perairan anaerobic merkuri berikatan dengan sulfur. akan terbentuk monometil merkuri. Senyawa merkuri digunakan dalam pembuatan amalgam. fotografi dan elektronik (eckenfelder. kadar monometil merkuridan dimetil merkuri dipengaruhi oleh keberadaan mikroba. gigi palsu.14 Merkuri (Hg) Merkuri (Hg) adalah unsur renik pada kerak bumi. 1991). pH dan suhu. Sumber alami merkuri paling umum adalah cinnabar (HgS) (Novotny dan Olem. 1991). Garam-garam merkuri juga digunakan sebagai fumigan yang berperan sebagai pestisida (Sawyer dan McCarty. Metil merkuri dapat mengalami bioakumulai dan biomagnifikasi pada biota perairan. merkuri juga hanya ditemukan dalam jumlah yang sangat kecil.(Persero) CABANG I MALANG 4. Pada kadar merkuri anorganik yang rendah. baik pada kondisi aerob maupun anaerob. Merkuri terserap dalam bahan-bahan partikulat dan mengalami presipitasi. karbon organik. sedangkan pada kadar merkuri anorganik yang tinggi.08 mg/liter (Moore. Garam-garam merkuri terserap dalam usus dan terakumulasi di dalam ginjal dan hati. Kedua bentuk senyawa metil merkuri tersebut dapatdipecah oleh bakteri yang hidup pada sedimen. Kadar merkuri pada perairan tawar alami berkisar antara 10-100 mg/liter. baik secara langsung ataupun melalui jala makanan(food web). cat. mineral sulfida. misalnya (ZnS). juga mengandung merkuri. 1994).. Merkuri merupakan satusatunya logam yang berada dalam bentuk cairan pada suhu normal. Pada perairan alami. namun pelapukan bermacam-macam batuan dan erosi tanah dapat melepaskan merkuri ke dalam lingkungan perairan (McNeely et al. wurtzite (ZnS). 1989). Industri kimia yang memproduksi gas klorin dan asam klorida juga menggunakan merkuri. Metil merkuri diangkut oleh sel darah merah dan dapat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -64 . senyawa anti karat (anti fouling). bateri. yakni hanya sekitar 0.1. chalcopyrite (CuFeS) dan galena (PbS). sedangkan pada perairan laut berkisar antara <10-30 mg/liter (Moore. 1978). kadar merkuri anorganik. ekstraksi emas dan perak.5. Senyawa merkuri bersifat sangat toksik bagi manusia dan hewan. komponen listrk. Cinnabar sukar larut dalam air. akan terbentuk dimetil merkuri.

643 μg/liter. Mentangai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -65 . Senyawa merkuri bersifat toksik bagi ikan dan biota akuatik lain karena dapat mengalami biomagnifikasi pada jalan makanan. Ion metil merkuri lima puluh kali lebih toksik dari pada garam-garam merkuri anorganik.029 μg/liter.(Persero) CABANG I MALANG mengakibatkan kerusakan pada otak.1 μg/liter dan 0. Sedangkan di 23 (dua puluh tiga) lokasi yang lain.Kapuas sebesar 4.002 mg/liter (Davis dan Cornell. Sungai Kapuas a) Tahap I. Konsentrasi merkuri yang di atas baku mutu yaitu di K. Untuk melindungi kehidupan organisme perairan di Kanada dan European Community (EC). sedangkan untuk melindungi kehidupan organisme laut di European Community (EC). 1991).3 μg/liter (Moore.2 μg/liter. kadar merkuri yang diperbolehkan berturut-turut adalah 0.5519 μg/liter yang mana konsentrasi merkuri tersebut melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. P.081 μg/liter. menunjukkan bahwa disemua lokasi pemantauan tidak terdeteksi kandungan Merkuri.Tilu sebesar 4. Sungai Barito a) Tahap I. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter merkuri yaitu 2 μg/l. Organisme yang berada pada rantai yang paling tinggi (top carnivora) memiliki kadar merkuri yang lebih tinggi daripada organisme di bawahnya. konsentrasi merkuri tertinggi ditemukan di Mentangai sebesar 7. b) Tahap II. Konsentrasi merkuri tertinggi ditemukan di Sungai Tewah sebesar 0. 2. konsentrasi merkurinya masih dibawah baku mutu. Adapun konsentrasi merkuri di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. kadar merkuri yang diperbolehkan tidak lebih dari 0. b) Tahap II. 1991) Kadar merkuri pada air minum sebaiknya tidak melebihi 0. Berdasarkan hasil uji Laboratorium. untuk parameter merkuri tidak dilakukan pemeriksaan karena kondisi alat dalam keaadaan rusak . untuk parameter merkuri tidak dilakukan pemeriksaan karena pada saat itu kondisi alat dalam keaadaan rusak. Senyawa merkuri mengalami masa tinggal (retention time) yang cukup lama di dalam tubuh manusia.

Grafik Konsentrasi Merkuri (Hg) Sungai Kapuas 4.286 μg/liter.40. industri kimia. Senyawa fenol dihasilkan dari proses pemurnian minyak. tekstil. Kadar alami fenol di perairan sangat kecil.567 μg/liter dan Masaran Hulu sebesar 2. Masaran sebesar 2.1. Keberadaan fenol di perairan mengakibatkan perubahan sifat organoleptik Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -66 .029 μg/liter. Grafik Konsentrasi Merkuri (Hg) Sungai Barito Gambar 4. Timpah sebesar 3.15 Fenol Senyawa fenol merupakan senyawa aromatik dengan satu atau beberapa gugus hidroksil yang terikat secara langsung pada cincin benzene.41.(Persero) CABANG I MALANG sebesar 7.5. kayu lapis.161 μg/liter Gambar 4. hanya beberapa μg/l.

05 mg/liter. Sungai Barito a) Tahap I.18 mg/liter 2. konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Grafik Konsentrasi Fenol Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -67 . Gambar 4. Konsentrasi Fenol tertinggi terdapat di Muara Teweh sebesar 0. Adapun konsentrasi phenol di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. Konsentrasi tertinggi terdapat di Masaran sebesar 0. kecuali di Baru Hilir/Buntok.01 mg/l fenol bersifat toksik bagi ikan (UNESCO/WHO/UNEP. Pelabuhan Hulu. konsentrasi terendah di Tumbang Lahung sebesar 0.(Persero) CABANG I MALANG air. Pada kadar yang lebih tinggi dari 0. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Phenol yaitu 0.003 mg/liter. Konsentrasi Fenol tertinggi terdapat di Kalahien sebesar 0.25 mg/ liter. b) Tahap II.001 mg/l. sehingga kadar fenol yang diperkenankan terdapat pada air minum adalah 0. Konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.26 mg/ l.312 mg/ liter dan konsentrasi terendah di P.072 mg/ liter dan konsentrasi terendah di Timpah Hulu sebesar 0. b) Tahap II. Konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.42. 1992). konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi tertinggi terdapat di Mentangai sebesar 0.Tilu sebesar 0. Sungai Kapuas a) Tahap I. Jembatan Hasan Basri dan Muara Teweh yang konsentrasi fenolnya tidak terdeteksi.001 mg/l.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -68 . Sedangkan di lokasi lainnya konsentrasi minyak/lemak tidak ternyata. pengeboran minyak dan buangan pabrik. Puruk cahu sebesar 5 mg/l.16 Minyak / Lemak Minyak dan lemak yang mencemari lingkungan sering dimasukkan ke dalam kelompok padatan.43. Kandui sebesar 2 mg/l. Adapun konsentrasi Minyak/Lemak di masing – masing sungai sebagai berikut : 1. Sungai Lumuk sebesar 2 mg/l dan Muara Lahung sebesar 2 mg/l melebihi ambang batas yang dipersyaratkan. Grafik Konsentrasi Fenol Sungai Kapuas 4. Puruk Cahu Hilir sebesar 3 mg/l. Air yang diperuntukkan bagi keperluan domestik sebaiknya bebas dari kandungan oil (minyak) dan grase (lemak) karena air dengan kadar minyak relatif tinggi menimbulkan rasa dan bau yang tidak enak. Sungai Barito a) Tahap I.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.5.1. konsentrasi minyak/lemak di Bintang Linggi sebesar 2 mg/liter. yaitu padatan yang mengapung di atas permukaan air. Minyak yang terdapat di dalam air berasal dari berbagai sumber. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Minyak/Lemak yaitu 1 mg/l. diantaranya dari pembersihan dan pencucian kapal.

Konsentrasi Minyak/Lemak tertinggi berada di K. konsentrasi minyak/lemak tertinggi berada di Pelabuhan Buntok sebesar 4 mg/l dan konsentrasi terendah di Pelabuhan P. konsentrasi minyak/lemak disemua lokasi melebihi ambang batas.Cahu dan Muara Teweh sebesar 1 mg/l. 2.Kapuas sebesar 9 mg/liter dan terendah di Timpah Hulu sebesar 2 mg/l. b) Tahap II. Masaran sebesar 4 mg/liter dan Masaran Hulu sebesar 6 mg/liter. Gambar 4.(Persero) CABANG I MALANG b) Tahap II. Konsentrasi ini melebihi ambang batas. Sedangkan di lokasi lainnya konsentrasi minyak/lemak tidak ternyata. Sungai Kapuas a) Tahap I. Konsentrasi Minyak/Lemak Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -69 . konsentrasi Minyak/Lemak di Kuala Kapuas sebesar 1 mg/liter.44.

Konsentrasi Minyak/Lemak Sungai Kapuas 4.45. Bahan pembentuk di dalam deterjen mengalami reaksi hidrolisis dengan air pencuci yang mengakibatkan air menjadi bersifat alkali. Sifat alkali tersebut penting untuk menghilangkan kotoran secara efektif. Surfaktan yang banyak digunakan pada saat ini berbeda dengan yang digunakan beberapa tahun yang lalu. Perbedaan utama adalah karena yang digunakan pada saat ini mempunyai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -70 . Definisi yang lebih spesifik dari deterjen adalah bahan pembersih yang mengandung senyawa petrokimia atau surfaktan sintetik lainnya. Polusi air yang disebabkan oleh penggunaan deterjen terutama menyangkut masalah surfaktan dan bahan pembentuk.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Bahan pembentuk yang umum digunakan adalah polifosfat.1. bahan pembentuk dan bahan lain-lain.5. Surfaktan merupakan bahan pembersih utama yang terdapat di dalam deterjen. termasuk sabun cuci piring alkali dan cairan pembersih. Komposisi kimia deterjen terdiri dari bermacam-macam komponen yang dapat dikelompokkan menjadi tiga grup yaitu surfaktan. Surfaktan di dalam deterjen berfungsi sebagai bahan pembasah yang menyebabkan menurunnya tegangan permukaan air sehingga air lebih mudah meresap ke dalam kain yang dicuci.17 Deterjen Deterjen dalam arti luas adalah bahan yang digunakan sebagai pembersih.

Ada 10 (sepuluh) lokasi yang lain konsentrasi deterjen tidak terdeteksi. Adapun konsentrasi deterjen di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. Sedangkan konsentrasi deterjen terendah di P.042 mg/liter. b) Tahap II.(Persero) CABANG I MALANG sifat dapat dipecah secara biologis (biodegradable).342 mg/liter. Sungai Kapuas a) Tahap I. Sungai Barito a) Tahap I. konsentrasi deterjen yang melebihi baku mutu adalah di Masaran sebesar 0. Konsentrasi deterjen disemua lokasi masih diatas baku mutu yang dipersyaratkan. b) Tahap II. Konsentrasi deterjen tertinggi ditemukan di Muara Lahung sebesar 0.Tilu sebesar 0.035 mg/liter dan konsentrasi deterjen terendah di Mentangai 0.308 mg/l dan Masaran Hulu sebesar 0. konsentrasi deterjen disemua lokasi masih dibawah baku mutu. Konsentrasi deterjen tertinggi ditemukan di Sungai Lumuk sebesar 0. Konsentrasi deterjen disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan.563 mg/l dan konsentrasi deterjen terendah di Pelabuhan Buntok sebesar 0. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -71 . yaitu dapat dipecah menjadi senyawa-senyawa sederhana oleh bakteri yang terdapat di lingkungan. sedangkan surfaktan yang digunakan sebelum tahun 1965 tidak dapat dipecah oleh bakteri sehingga terdapat dalam bentuk tetap tidak berubah dalam jangka waktu lama di lingkungan. Konsentrasi deterjen tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 0. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter deterjen yaitu 0.254 mg/l 2.03 mg/liter.05 mg/liter.029 mg/liter.

46. Grafik Konsentrasi Deterjen Sungai Barito Gambar 4.47.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Grafik Konsentrasi Deterjen Sungai Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -72 .

konsentrasi Fecal Coli tertinggi di Timpah sebesar 240 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Kuala Kapuas. b) Tahap II. Gambar 4. konsentrasi Fecal Coli tertinggi ditemukan di Muara Lahung dan Pendang sebesar 13 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Tumbang Lahung sebesar 2 APM/100 ml. Sungai Barito a) Tahap I. konsentrasi Fecal Coli tertinggi di Masaran sebesar 6 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Kuala Kapuas. b) Tahap II. Timpah dan Masaran Hulu sebesar 2 APM/100 ml. Timpah Hulu dan Masaran Hilir sebesar < 2 APM/100 ml. 2.5.Tilu. Grafik Konsentrasi Fecal Coli Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -73 .1. Sungai Kapuas a) Tahap I. Mentangai.(Persero) CABANG I MALANG 4.48. P. konsentrasi Fecal Coli tertinggi ditemukan di Bintang linggi sebesar 240 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Pendang 2 APM/100 ml. Adapun konsentrasi Fecal Coli di masing – masing sungai sebagai berikut : 1.18 Fecal Coli Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Fecal Coli tidak dipersyaratkan.

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. tetapi sampai saat ini. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -74 . konsentrasi Total Coliform tertinggi ditemukan di Bintang linggi sebesar 300 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Pendang 2 APM/100 ml.19 Total Coliform Jumlah perkiraan terdekat (JPT) bakteri coliform/100 cc air digunakan sebagai indikator kelompok mikrobiologis. Adapun konsentrasi Total Coliform di masing –masing sungai sebagai berikut: 1.49.1. Mayoritas sungai yang terdapat di kota padat penduduk seperti di Pulau Jawa cenderung lebih tercemar oleh bakteri coliform dan fecal coli. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Total Coliform tidak dipersyaratkan. Grafik Konsentrasi Fecal Coli Sungai Kapuas 4. Sungai Barito a) Tahap I.5. bakteri inilah yang paling ekonomis dapat digunakan untuk kepentingan tersebut. yang menunjukkan telah terjadinya pencemaran tinja pada sungai tersebut dan dapat menyebabkan penyakit diare. Hal ini tentunya tidak terlalu tepat.

2.50. konsentrasi Total Coliform tertinggi di Masaran sebesar 6 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Mentangai. konsentrasi Total Coliform tertinggi ditemukan di Muara Lahung dan Pendang sebesar 13 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Tumbang Lahung sebesar 2 APM/100 ml. Sungai Kapuas a) Tahap I. Gambar 4. P.(Persero) CABANG I MALANG b)Tahap II.Tilu dan Masaran Hilir sebesar < 2 APM/100 ml. konsentrasi Total Coliform tertinggi di Timpah sebesar 240 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Kuala Kapuas. b) Tahap II. Grafik Konsentrasi Total Coliform Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -75 . Timpah dan Masaran Hulu sebesar 2 APM/100 ml.

Tujuan perhitungan Pollution Indeks (PI) adalah untuk menggambarkan secara utuh kualitas air sungai yang ada di lokasi studi. hanya diambil paramater-paremeter yang terdeteksi keberadaannya dan dipersyaratkan dalam baku mutu. Grafik Konsentrasi Total Coliform Sungai Kapuas 4.2 Status Mutu Air (SMA) Status Mutu Air (SMA) dapat diketahui dengan cara membandingkan kualitas air hasil pengukuran dengan Kriteria Mutu Air dari PP 82/2001. Prosedur perhitungan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air.5. Penentuan Status Mutu Air dengan menggunakan Metode Polutant Index. Dari seluruh parameter yang diuji. kelas dua. Hal ini disebabkan persamaanpersamaan matematis yang dipergunakan untuk menghitung Pollution Indeks (PI) mempersyaratkan hal tersebut. sedangkan untuk parameter yang tidak terdeteksi keberadaanya dan besarannya tidak dipersyaratkan dalam baku mutu tidak akan dilakukan perhitungan. kelas tiga dan kelas empat.51. tentang “Pengelolan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air” yang terdiri dari empat kelas.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. dan Ci menyatakan konsentrasi parameter kualitas air (i) yang diperoleh dari hasil analisis cuplikan air pada suatu lokasi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -76 . maka dalam penentuan Pollution Indeks (PI) ini. Jika Lij menyatakan konsentrasi parameter kualitas air yang dicantumkan dalam Baku Peruntukan Air (j). yaitu Kelas satu.

Bilamana nilai konsentrasi parameter yang menurun menyatakan tingkat pencemaran meningkat. maka Cim merupakan nilai DO jenuh). 4. 6. Penggunaan nilai (Ci/Lij)baru jika nilai (Ci/Lij)hasil pengukuran lebih besar dari 1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -77 . 3. misal DO.0.0+P. Memilih konsentrasi parameter baku mutu yang tidak memiliki rentang. Bilamana Nilai Lij memiliki Rentang : Untuk Ci ≤ Lijrata-rata (Ci / Lij ) baru = [Ci − ( Lij ) rata − rata ] [( Lij ) min imum − ( Lij ) rata − rata ] Untuk Ci ≥ Lij rata-rata (Ci / Lij )baru = [Ci − ( Lij ) rata − rata ] [( Lij ) maksimum − ( Lij ) rata − rata ] Penggunaan nilai (Ci/Lij)hasil pengukuran kalau nilai ini lebih keci dari 1.log(Ci/Lij)hasil pengukuran P adalah konstanta dan nilainya ditentukan dengan bebas dan disesuaikan dengan hasil pengamatan lingkungan dan atau persyaratan yang dikehendaki untuk suatu peruntukan (biasanya digunakan nilai 5).0. ((Ci/Lij)R dan (Ci/Lij)M). makaPIj ini dapat ditentukan dengan cara : 1. maka ditentukan nilai teoritik atau nilai maksimum Cim (misal untuk DO. Menentukan nilai rata-rata dan nilai maksimum dari keseluruhan Ci/Lij.(Persero) CABANG I MALANG pengambilan cuplikan dari suatu alur sungai. maka PIj adalah Indeks Pencemaran bagi peruntukkan (j) yang merupakan fungsi dari Ci/Lij. (Ci/Lij)baru = 1. Memilih parameter-parameter yang jika harga parameter rendah maka kualitas air akan membaik. yaitu : (Ci / Lij ) baru = Cim − Ci(hasil Pengukuran) Cim − Lij 5. 2. Menghitung harga Ci/Lij untuk tiap parameter pada setiap lokasi pengambilan cuplikan. Dalam kasus ini nilai Ci/Lij hasil pengukuran digantikan oleh nilai Ci/Lij hasil perhitungan.

masing-masing sungai disajikan pada Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -78 .0 ≤ PI ≤ 10 10 ≤ PI ≤ 15 tabel berikut : : Memenuhi Baku Mutu : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Berat Hasil perhitungan Pollutant Index. Menentukan harga PIj (Ci / Clj ) M 2 + (Ci / Lij ) 2 R 2 Pl j = Evaluasi terhadap Nilai PI adalah : 0 ≤ PI ≤ 1.0 1.0 5.(Persero) CABANG I MALANG 7.0 ≤ PI ≤ 5.

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.23 Perhitungan Pollutant Index Sungai Barito Tahap I Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -79 .

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.24 Perhitungan Pollutant Index Sungai Barito Tahap II Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -80 .

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.25 Perhitungan Pollutant Index Sungai Kapuas Tahap I Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -81 .

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.26 Perhitungan Pollutant Index Sungai Kapuas Tahap II Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -82 .

Lokasi 4 : Pelabuhan Hulu .Lokasi 7 : Sungai Pendang .Lokasi 26 : Pelabuhan Puruk Cahu : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Sedang : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan .Lokasi 16 : Muara Lahei . dapat dikemukakan bahwa kualitas air di masing-masing sungai adalah : 1.Lokasi 22 : Tumbang Lahung .Lokasi 15 : Lahei .Lokasi 20 : Sungai Lumuk Hulu .Lokasi 13 : Muara Sungai Tewah .Lokasi 23 : Muara Lahung . Tahap II (September 2007) .Lokasi 17 : Puruk Cahu .Lokasi 19 : Sungai Lumuk . Sungai Barito Tahap I (Juni 2007) .Lokasi 22 : Tumbang Lahung .(Persero) CABANG I MALANG Dari hasil perhitungan di atas.Lokasi 9 : Montalat .Lokasi 5 : Kalahien .Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok .Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .Lokasi 24 : Laung Tuhup b.Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri : Memenuhi Baku Mutu .Lokasi 8 : Bintang Linggi .Lokasi 12 : Muara Teweh .Lokasi 14 : Sungai Tewah .Lokasi 24 : Laung Tuhup .Lokasi 21 : Jembatan Penyebrangan : Cemar Ringan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -83 .Lokasi 1 : Baru Hilir / Buntok .Lokasi 10 : Kandui .Lokasi 2 : Baru .Lokasi 23 : Muara Lahung .Lokasi 25 : Jembatan Bahitom .Lokasi 12 : Muara Teweh : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan .Lokasi 6 : Pendang .

Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok 2.Lokasi 6 : Pendang . Sungai Kapuas a. c Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata Pollutant Index pada tahap I (musim penghujan) dan tahap II (musim kemarau). pada umumnya berasal dari kegiatan Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI).Sungai Kapuas : PI = 3.Lokasi 5 : Masaran .Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri : Cemar Ringan . Tahap I (Juni 2007) : .Lokasi 1 : K. maka mutu air di masing-masing sungai tahun 2007 pada umumnya sebagai berikut : . Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -84 .Lokasi 7 : Masaran Hilir .Lokasi 4 : Timpah .Lokasi 6 : Masaran Hulu b. Kapuas .Sungai Barito : PI = 3.Lokasi 6 : Masaran Hulu .54 (Cemar Ringan) . maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : a Salah satu prosedur penting dalam proses pengelolaan kualitas air adalah melaksanakan pemantauan air secara kontinyu dan berkesinambungan.Lokasi 3 : Mentangai .Lokasi 5 : Masaran .Lokasi 3 : Mentangai .Lokasi 8 : Timpah Hulu .Lokasi 4 : Timpah . Tilu .Lokasi 1 : K.7217 (Cemar Ringan) d Sumber utama pencemaran yang mengakibatkan penurunan kualitas air sungai. b Hasil pemantauan memberikan informasi faktual tentang kondisi (status) lingkungan masa sekarang dan kecenderungan kondisi masa lalu serta prediksi masa datang.(Persero) CABANG I MALANG .Lokasi 9 : Mandomai : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan Dari uraian dan pembahasan tersebut di atas. Kapuas .Lokasi 2 : P.Lokasi 2 : P. Tahap II (Oktober 2007) . Tilu .

kegiatan industri dan pertanian yang ada disepanjang sungai yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah 4.3 Permasalahan Lingkungan Beberapa hal yang berakibat pada permasalahan lingkungan di WS BaritoKapuas diantaranya : Belum terdapat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) penduduk secara terpusat Sarana pengolahan limbah tinja penduduk dengan menggunakan tangki septik terbatas dan terdapat sebagian membuang kotoran ke sungai. Prediksi kualitas air kedepan apabila tanpa dilakukan pengelolaan areal pertanian dan pengolahan limbah penduduk maka kualitas air WS BaritoKapuas diduga lebih memburuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -85 . ini merupakan indikator bahwa air sungai Barito di beberapa titik pengambilan sampel telah mengalami pencemaran. namun seperti sungai besar lainnya kemungkinan tidak memenuhi untuk air Kelas 1. sehingga masih terdapat sumber air minum yang tidak terlindung.5. tanah dsb. maka Kualitas air dari segi sedimentasi atau indikator erosi sangat dominan Nilai COD dan BOD di beberapa lokasi masih lebih tinggi dari nilai baku Mutu Air.5. walaupun dari segi bakteriologi tidak dapat diulas.4 Prediksi Kualitas Air WS Barito – Kapuas Berdasarkan tiga kali pengukuran dari kegiatan studi sebelumnya maupun pengukuran oleh Balai Barito-Kapuas Ciwulan. Cakupan PDAM untuk melayani air bersih penduduk terbatas.(Persero) CABANG I MALANG limbah organik dari kegiatan rumah tangga. Kemungkinan pencemaran terjadi karen adanya buangan limbah penduduk. 4. konsekwensinya sumber air minum penduduk sangat beragam.

suatu prosedur penghitungan erosi yang umum dilakukan di Indonesia.(Persero) CABANG I MALANG 4. Jenis erosi yang kedua ini umumnya yang menjadi permasalahan utama pada kawasan daerah aliran sungai.21 x (Rain)m1. Besarnya erosi yang terjadi dihitung berdasarkan satuan Sub DAS dengan menggunakan persamaan USLE (Universal Soil Loss Equation) dari Wischmeier dan Smith (1965). Faktor indeks panjang dan kemiringan lereng dihitung dengan menggunakan rumus dan nomograf. Indeks pengelolaan tanaman (C) dan indeks pengawetan tanah (P) serta nilai indeks erodibilitas tanah (ketiganya merupakan nilai tertimbang) diperoleh dari tabel yang memuat nilai K.36 Rm (Rain)m R = Erosivitas curah hujan bulanan rata-rata (EI30) = Jumlah curah hujan bulanan rata-rata dalam cm = Erosivitas curah hujan tahunan rata-rata = jumlah Rm selama 12 bulan. dan CP untuk berbagai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -86 .1 Erosi dan Sedimen Secara umum proses erosi terdiri atas dua jenis.6 ANALISIS KONSERVASI LAHAN DAN AIR 4. Rumus umum dari persamaan tersebut adalah: A = R x K x LS x C x P A R K = Erosi aktual (ton/ha/th) = faktor indeks erosivitas hujan = faktor indeks erodibilitas tanah LS = faktor indeks panjang dan kemiringan lereng C P = faktor indeks pengelolaan tanaman = faktor indeks pengawetan tanah Indeks erosivitas hujan diperoleh dengan menggunakan rumus Lenvain yaitu: Rm = 2. yaitu (a) erosi geologi (geological erosion) akibat proses alamiah yang berjalan secara normal jika pembentukan tanah lebih besar dari kehilangan tanah dan (b) erosi dipercepat (accelerated erosion) akibat aktivitas manusia pada permukaan tanah yang menyebabkan pembentukan tanah lebih kecil dari kehilangan tanah.6.

Aspek tata ruang yang selalu diperbaharui sesuai dengan perencanaan Pemerintah Daerah sangat menentukan penutupan lahan.6. jarang sekali ada penelitian erosi yang berkelanjutan pada satu DAS sehingga menyebabkan data time series erosi menjadi tidak tersedia.(Persero) CABANG I MALANG tanah. Akan tetapi.006607X1. prediksi besarnya erosi di masa yang akan datang merupakan aspek penting dalam perencanaan konservasi Daerah Aliran Sungai. tanaman dan pengawetan tanah. faktor penutupan lahan dan pengelolaan tanah bersifat dinamis perubahannya. Analisis sedimentasi yang digunakan didasarkan pada rumus hasil penelitian Al Khadimi (1981) yang dikembangkan oleh DPMA (1987) melalui persamaan sebagai berikut: Y = 0. dan lereng dapat diasumsikan sama untuk jangka prediksi 20 tahun. Nilai tersebut merupakan nilai empiris dari hasil penelitian lapangan pada berbagai tempat. Adapun data yang digunakan untuk menghitung setiap komponen rumus USLE tersebut diperoleh dari data sekunder. 4. Salah satu contoh perubahan penutupan lahan dan pengolahan tanah adalah konversi sawah menjadi pemukiman akan mengubah indeks CP dari 0.5 untuk pemukiman. tiga faktor yaitu erosivitas.0987 Y = sedimentasi dalam mm/tahun X = besarnya erosi dalam ton/ha/tahun Persamaan tersebut di atas cocok digunakan untuk menentukan besarnya sedimen yang terjadi untuk kawasan DAS yang terdapat di Pulau Kalimantan dan digunakan oleh BPDAS dalam menghitung besarnya sedimentasi. erodibilitas tanah.0001 untuk sawah menjadi 0. Dari lima faktor yang mempengaruhi erosi sebagaimana yang ditulis pada rumus USLE.2 Prediksi Erosi dan Sedimentasi Pada dasarnya. Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap penutupan lahan adalah tingginya kerusakan hutan akibat pembalakan hutan serta meningkatnya luasan lahan kritis sepanjang tahun. Sungguhpun demikian. Sudah diketahui bahwa hutan yang utuh sangat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -87 .

unsur Institusi Pengelola sumberdaya air dan dari unsur masyarakat. mempunyai fungsi pengaturan dan kebijakan baik pada tingkat Nasional (Makro) maupun tingkat daerah (Operasional) dan bertugas melaksanakan kegiatan yang terkait dengan kewenangan publik. berhak memungut iuran dari para pemanfaat dan menerima kontribusi dari Pemerintah (untuk pembiayaan yang ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat dan keselamatan umum) dan berkewajiban memberi pelayanan prima dan mengupayakan penigkatanperan serta masyarakat dan swasta dalam melakukan pengelolaan wilayah sungai serta mempertanggung-jawabkan pelaksanaan tugas kepada Pemerinatah dan msayarakat.(Persero) CABANG I MALANG berperan dalam mengurangi besarnya aliran permukaan yang pada akhirnya berdampak kepada erosi. berhak memperoleh sebagian laba bersih dari institusi pengelola dan berkewajiban memberikan kontribusi untuk membiayai kegiatan yang ditujukan bagi kesejahteraan dan keselamatan umum.7 ANALISIS KELEMBAGAAN 4. Unsur dari masyarakat adalah sekelompok masyarakat. Pemerintah selaku owner (pemilik) sumberdaya air dan prasarana pengairan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -88 . Selaku oerator yang memperoleh konsesi untuk mengelola sumberdaya air dan prasarana pengairan bertugas melaksanakan pengelolaan wilayah sungai dan mengembangkan sistem pengelolaan sungai.7. badan usaha milik daerah atau milik negara maupun swasta yang bergerak dalam bidang sumberdaya air. 4. Selaku pemanfaat mempunyai hak memperoleh pelayanan yang baik dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan namun diharapkan dapat menggunakan air secara efisien dan ikut menjaga kelestarian lingkungan serta wajib memberikan kontribusi pembiayaan dan kontrol sosial yang positip atas pengelolaan wailayah sungai. pemerhati atau akademisi yang berkaitan dan concern dengan pengembangan sumberdaya air. Institusi pengelola sumberdaya air antara lain adalah pengusaha/kelompok pengusaha.1 Peranan Kelembagaan Kelembagaan pengelolaan sumber daya air berasal dari unsur Pemerintah.

Provinsi dan Kabupaten 4. PU T SA PU D EP. Per Men PU No 11A/PRT/M/2006) dibawah pembinaan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum.(Persero) CABANG I MALANG Gambar dibawah memperlihatkan Instansi kelembagaan dari unsur pemerintah yang terlibat dalam perencanaan/pengelolaan sumber daya air wilayah sungai mulai dari pemerintah/instansi pusat sampai dengan unsur pemerintah/instansi kabupaten. Kelembagaan pengelolaan SDA level Pusat.52.2 Kelembagaan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas Wilayah sungai Barito-Kapuas merupakan wilayah sungai yang pengelolaannya ditangani oleh Balai Besar Wilayah Sungai Kalimantan II ( Kode A2-18.LH D EP KEH TAN U AN D EP PERTAN IAN D ITJENSD A D EKTO AT IR R Bina Program D EKTO AT IR R PSD A DIR EKTO AT R Irigasi D EKTO AT IR R Raw Pantai a DIREKTO AT R SU AW D A PR PIN O SI G BER U U NR Pem binaan teknis dan penelitian PTPA BAPPED A Perencanaan W ilayah Sungai BAPPELD A ALD D AS IN D AS IN DIN PEN AIR AS G AN U Perencanaan nit O w P ilayah sungai Konsultasi Tata Ruang BALAI PSD (PPTPA) A KETER AN ANG : BU PATI Perintah Perw akilan Pengguna/ Kom unikasi Pem binaan P3A D INASPUPEN AIR G AN KABU PATEN Konsultasi Gambar 4.7.DAG I R BAPPEN AS M ENEG . Wilayah sungai Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -89 .

7. Peraturan Daerah tentang Sumber Daya Air yang dibuat disusun berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Pengelolaan SDA Provinsi tercermin dalam Rencana Strategis masing-masing Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan yang disusun berdasarkan Peraturan Pemerintah No. No. menyeluruh berkelanjutan (hulu-hilir. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -90 . 1 Tahun 1994 tentang RTRW Kabupaten Barito Kuala yang diperbaharui dengan Perda Kabupaten Barito Kuala.1 Pendekatan Menyeluruh dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Pengelolaan sumber daya air dilaksanakan secara terpadu (multi sektoral). berwawasan kuantitas-kualitas).3.3 tahun 1999 tentang RTRW Provinsi Kalimantan Tengah yang diperbaharui dengan Peraturan Daerah No 9 Tahun 2000 tentang RTRW Provinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan untuk wilayah hilir sungai Barito-Kapuas yang masuk wilayah Kalimantan Selatan terkait dengan beberapa Peraturan Daerah Kabupaten Barito Kuala yaitu Perda No. (antar instream-offstream. suatu pendekatan regional dalam pengembangan sumber daya air telah diikuti untuk mengatasi konflik yang muncul dengan cepat pada penggunaan air dan kaitannya dengan tata ruang wilayah. ekosistem) dengan wilayah sungai (satuan wilayah hidrologis) sebagai suatu kesatuan pengelolaan. lingkungan (konservasi generasi). 18 tahun 1995 tentang RTRW 4. Dalam tahun-tahun belakangan ini.7.3 Strategi Kelembagaan dan Koordinasi 4. yang diperlukan untuk optimalisasi penggunaan sumber daya wilayah sungai.(Persero) CABANG I MALANG merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Mengingat bahwa sumber daya air menyangkut berbagai sektor pembangunan (multi sector). Beberapa Peraturan Daerah yang terkait dengan kebijakan Sumber Daya Air Provinsi khususnya Kalimantan Selatan telah disusun Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan No. oleh karenanya perlu dikelola berdasarkan pendekatan peran serta (participatory approach) semua stakeholders dan segala keputusan publik tentang pengelolaan sumber daya air perlu didahului dengan konsultasi publik sebelum menjadi ketetapan.108 tahun 2000 tentang Tata Cara Pertanggungjawaban Kepala Daerah.

untuk mensosialisasikan proyek dan tujuannya. dan mengidentifikasi berbagai kegiatan yang dapat menghasilkan suatu pedoman pengelolaan sumber daya air di Indonesia. 2. Menjabarkan kerangka kerja institusi pemerintah pusat dalam kegiatan manajemen sumber daya air. Pada tingkat pusat. mengontrol akses ke sumber daya air. 3. yang bertanggung jawab kepada Provinsi. institusi dan legislatif. Departemen-departemen ini juga mengalokasikan biaya (budget) untuk pengembangan sumber daya air. Pihak lainnya dilibatkan dalam hal koordinasi perencanaan. dan mengatur alokasi air.(Persero) CABANG I MALANG Suatu pendekatan kewilayahan dapat memberikan perhatian. harus memperkirakan kebutuhan air baik untuk saat ini maupun proyeksinya di masa mendatang. 4. masalah hukum. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back). Mengadakan seminar informasi dan diskusi bulanan antara pihak pemerintah. Untuk merumuskan suatu perencanaan termasuk menyusun dokumentasi sumber daya air. Menjabarkan semua pihak yang terkait yang terlibat dalam manajemen sumber daya air dan menggunakan kerangka kerja pada tingkat WS. penegakan hukum. mengatur. mengontrol penggunaan sumber daya air. badan perencanaan bertugas merencanakan. juga dibutuhkan evaluasi terhadap alternatif kegiatan untuk memanfaatkan sumber daya air tersebut secara lebih baik. mengontrol kualitas sumber daya air. pengawasan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -91 . alokasi. Pendekatan ini telah mengarah pada definisi batas wilayah sungai dan pada beberapa sungai pembentukan Satuan Pengelola Teknis Wilayah Sungai. Hal ini juga diikuti dengan studi masalah. Definisi fungsi institusi yang mewakili pemerintah pusat adalah sebagai berikut: 1. Perencanaan sumber daya air salah satunya dapat berupa program komprehensif pengembangan sumber daya air untuk jangka pendek dan jangka panjang. Inggris atau Belanda) dan Asia Tenggara (Serawak dan Malaysia). fokus dan integrasi dari berbagai aspek serta sebagai saluran bagi umpan balik pengguna dan dalam pengembalian biaya. seperti dari Eropa (Republik Checz. seperti seminar. Keterlibatan penggunaan berbagai sektor kebutuhan air dapat menyebabkan konflik untuk penggunaan sumber daya air.

000 yang menggambarkan kondisi batas WS. perawatan air. sub komite manajemen batas air dan daerah pantai.000. penggunaan. 6. kontrol penggunaan sumber daya air. Komite ini terdiri dari pihak lain yang terkait. Menghindari pengaturan tanggung jawab dan kawasan kerja pada lembaga-lembaga yang ada. Pembagian area DAS tersebut adalah sebagai berikut : ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Daerah aliran air bagian hulu Daerah aliran air bagian tengah Daerah aliran air bagian hilir Daerah pantai Saluran sungai Dataran banjir yang diatur Daerah banjir DAS Daerah tangkapan hujan (catchment area) Daerah pinggiran banjir yang diatur (regulatory foodway fringe) perencanaan. kontrol kualitas sumber daya air. Bappenas telah mempersiapkan peta Indonesia skala 1:1. Provinsi. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back) yang terdiri dari perwakilan 17 departemen pemerintah dan lembaga yang terlibat dalam perencanaan manajemen dan penggunaan sumber daya air. 7. sub komite manajemen suplai air. manajemen. fungsi dan yurisdiksi untuk koordinasi sektor-sektor yang ada pada manajemen sumber daya air dan pada tingkat nasional. Untuk keperluan ini. 8. Pembuatan prinsip dan konsep institusi dan tanggung jawab mengenai manajemen integrasi DAS dan daerah pantai dibagi berdasarkan area DAS. kontrol akses. kabupaten dan kecamatan serta batas kawasan kerja pihak lainnya yang terkait. terutama dari sektor swasta. Pembagian Institusi yang bertanggung jawab adalah sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -92 . Mengklarifikasi pembagian tugas. diantaranya: • • • • sub komite manajemen sumber daya air permukaan dan air tanah. Hal ini dibagi berdasarkan WS yang ada. dan kualitas air. sub komite koordinasi dan legistatif sumber daya air.(Persero) CABANG I MALANG 5.

13. pengembangan sumber daya manusia. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -93 . dan perikanan air tawar dan air asin.(Persero) CABANG I MALANG ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● pengguna dan aplikasi sumber daya air. 12. banjir serta kualitas air adalah termasuk upaya penanggulangan secara struktural dan non struktural pengembangan sumber daya air dalam era otonomi daerah.3. Menyiapkan pilihan dan alterbatif untuk pemerintah pusat tentang pembagian tugas antar pihak swasta yang terkait. 4. 11. Mengidentifikasi pilihan alternatif pemecahan masalah dengan pernyataan yang jelas tentang kelebihan dan kekurangannya. pembangkit listrik tenaga air. masalah hukum. air irigasi. mengontrol pembiayaan. Identifikasi tugas institusi dalam kondisi yang baru. masalah legistatif. Mengadakan studi banding mengenai integrasi. Merumuskan kekurangan infrastruktur perawatan air dan legalisasi untuk kota dan daerah urban. alokasi keuangan dan 9. planning perencanaan pengembangan partisipasi publik. 10. resolusi konflik. evaluasi dan pengawasan. industri. memperkirakan resiko yang mungkin terjadi. 15. penegakan hukum. Informasi diatas digunakan untuk mengkoordinasikan secara fungsional dan spasial antara sektor berikut: suplai air minum. masalah institusi.2 Pengelolaan Sumber Daya Air dalam Era Otonomi Daerah Di dalam upaya penanggulangan masalah pengembangan sumber daya air. 14.7. baik masalah kurangnya air. erosi dan sedimentasi. Menyiapkan kerangka kerja tugas dan fungsi koordinasi institusi suplai air pada lembaga pemerintah dan pihak terkait lainnya. koordinasi pengembangan. alokasi sumber daya air. Merumuskan kurangnya koordinasi antar institusi pada suplai air industri. 16.

Pelaksanaan otonomi daerah yang bertumpu pada otonomi daerah kabupaten dan daerah kota juga memberikan pengaruh yang besar terhadap pengelolaan sumber daya air. Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota dan semua produk hukum yang isinya bertentangan dengan Peraturan perundang-undangan tersebut perlu direvisi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -94 .(Persero) CABANG I MALANG Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan Provinsi sebagai otonomi daerah. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 merupakan faktor pendorong untuk memberdayakan masyarakat. 2. Pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan melibatkan seluas-luasnya peran serta masyarakat. Pengelolaan sumber daya air meliputi kegiatan konservasi. meningkatkan peran serta masyarakat serta mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air. menumbuhkan prakarsa dan kreativitas. Pengelolaan sumber daya air ditetapkan berdasarkan wilayah sungai 3. UU SDA ini menggantikan Undang-undang yang berlaku sebelumnya. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 menempatkan otonomi daerah secara utuh pada daerah kabupaten dan daerah kota. pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air. yaitu UU Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. disebutkan bahwa: 1. pemerintah dan DPR telah mengeluarkan Undang-undang (UU) Nomor 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air. Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000. yang dalam Undangundang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang Pokok-pokok Pemerintah di Daerah. akan banyak memberikan perubahanperubahan mendasar dalam sistem ketatanegaraan. Dalam UU SDA Pasal 5 dan Pasal 6 Tentang Pengelolaan Sumber daya Air. maka untuk saat ini kedua produk hukum tersebut digunakan sebagai acuan untuk pembagian kewenangan antara Pusat. berkedudukan sebagai daerah otonomi dan mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat di daerahnya.

4. namun juga biaya jasa pengelolaan sumber daya (termasuk pengembalian biaya investasi) dan biaya konservasi. Sumber pembiayaan dari setiap jenis kegiatan antara lain: (a) Dana Pemerintah. ditetapkan sebagai berikut : Tabel 4. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. dimasa depan dibutuhkan sumber dana dari masyarakat untuk pengembangan sumber daya air. telah disebutkan prinsip-prinsip dan kebijakan tentang pembiayaan sumber daya air (water financing) yang meletakan dasar-dasar ke depan keberlanjutan dalam aspek pembiayaan untuk menjamin keberlanjutan sumber daya air. Penetapan Pola dan Pelaksanan Pengelolaan SDA Bupati/Walikota Gubernur (konsultasi dengan Dewan Nasional Sumberdaya Air) Menteri (konsultasi dengan Dewan Nasional Sumberdaya Air) Pemerintah (dengan persetujuan dan dilakukan bersama Pemerintah Daerah) Pengelolaan sumberdaya air memerlukan dukungan penuh dan terus-menerus dari institusi jajaran pemerintah Provinsi/kabupaten/kota dan stakeholders. termasuk para kelompok pengguna air di dalam pengelolaan sumberdaya air. 7 Tahun 2004 Wewenang Penetapan Wilayah Sungai.27 Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Wilayah Sungai Wilayah Sungai Dalam satu Kabupaten/Kota Lintas Kabupaten/Kota dalam satu Provinsi Lintas Provinsi Sungai Strategis Sumber: UU No. baik dari unsur pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah Provinsi.7. 4. Untuk itu diperlukan suatu terobosan berupa suatu kesepakatan operasional pelayanan sumberdaya air yang mengikutsertakan para penanggung jawab operasional di lapangan.(Persero) CABANG I MALANG 4. Berdasarkan prinsip keterpaduan tanpa mengurangi Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Pengelolaan Wilayah Sungai. Di dalam UU No.4 Strategi Pembiayaan 4.7. (b) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -95 . Pembiayaan sumber daya air tidak hanya untuk mendanai pembangunan infrastruktur serta operasi dan pemeliharaan.1 Kebijakan Public Service Obligation Sumber Daya Air di Indonesia Di dalam kondisi keuangan Negara yang sangat terbatas.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -96 . Provinsi.7.(Persero) CABANG I MALANG Dana swasta (termasuk pinjaman atau hibah). dapat dilakukan kerjasama pengelolaan dana untuk wilayah sungai. PTPA dan PPTPA harus ditingkatkan fungsinya dan disempurnakan keanggotaannya sebagai wadah koordinasi dan konsultasi serta sebagai regulatory body/parlemen air yang dapat dipergunakan sebagai sarana untuk memungkinkan diterapkannya pendekatan partisipatif dalam pengembangan dan pengelolaan sumber daya air sehingga prinsip keterbukaan. 4.2 Konsep Dasar Sistem Pembiayaan Berkelanjutan Konsep dasar sistem pembiayaan berkelanjutan: 1. pemerintah pemanfaat. Sistem pembiayaan yang memperhitungkan sebagai saham atas kontribusi biaya publik dan subsidi pelayanan sosial yang akan diperhitungkan sebagai daerah.4. dan kabupaten/kota sesuai UU Sumber Daya Air. transparasi dan akuntabilitas dapat diterapkan secara memadai. masyarakat swasta dalam pembiayaan pengembangan dan pengelolaan sumber daya air. demokratisasi. keadilan. 3. dan (c) Dana yang diperoleh dari jasa pengelolaan sumber daya air (misalnya dana untuk konservasi serta pemantauan dan pembinaan). Institusi pengelolaan sumber daya air di Tingkat Wilayah Sungai yang dapat merealisasikan keberlanjutan aspek finansial dalam pengembangan dan pengelolaan sumber daya air adalah BUMN/BUMD yang berbentuk Perusahaan Publik yang netral dan profesional yang secara seimbang menerapkan norma-norma pengusahaan yang sehat dan kaidah-kaidah pelayanan umum yang handal atas air dan sumber-sumber air dengan bertumpu pada partisipasi masyarakat dan kemitraan dengan swasta. 4. Di samping itu. Prinsip Pengelolaan sumber daya air yang dapat lebih menjanjikan dalam aspek finansial untuk menjamin keberlanjutan sumber daya air di era otonomi daerah adalah ”One River – one plan – one system of multi level basin management” 2. Kewenangan mengelola dana di wilayah sungai didasarkan pada pembagian kewenangan antara pusat. saham dalam usaha pengelolaan dan sumber daya air akan memberikan iklim kondisif untuk partisipasi pemerintah.

(Persero) CABANG I MALANG Badan-Badan Pengelola Sistem Pendukung (BPSP) Pemerintah/Perintah Daerah (Cost & Fee) Recovery Badan Pengelola Sistem Utama (BPSU) (Cost & Fee)* Recovery* Badan-badan Pengelola Sistem Pemanfaat (BPSM) (Cost & Fee)** Recovery** Pemanfaat Air (Pemanfaat Spesifik) Pemanfaat Air (Pemanfaat Umum/Non Spesifik) Pelayanan air Pelayanan dari badan pengelola di hulunya Pembayaran iuran Pembayaran pajak Konstribusi pembiayaan Subsidi biaya publik & biaya sosial Gambar 4.53. Sistem Multilevel Basin Management Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -97 .

54. Diagram Skematik Sistem Sharing dan Deviden Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -98 .(Persero) CABANG I MALANG Pemerintah Pemerintah Daerah (Propinsi/Kabupaten/Kota) Pemanfaat air dan Sumber-sumber air Masyarakat umum dan swasta Badan Pengelola SDA (BPSU/BPSP) Share Deviden Pengembangan dan Pengelolaan SDA Konstribusi biaya Investasi Subsidi biaya publik & sosial u/ pengelolaan Deviden atas konstribusi biaya investasi Deviden atas subsidi biaya publik & sosial Gambar 4.

7. Mengacu pada kenyataan dengan adanya peningkatan kontribusi pemanfaat untuk membiayai pengelolaan sumber daya air di WS BaritoKapuas sedang di lain pihak Goverment Obligation Principles belum dapat direalisasikan. perlu diupayakan secara bertahap realisasi konstribusi pemerintah untuk membiayai pelayanan umum dan subsidi untuk pelayanan sosial.5 Strategi Implementasi 1. Mengingat irigasi sebagai pengguna air terbesar dan mengingat prinsip keadilan. maka guna menjaga kelestarian fungsi sarana dan prasarana pengairan dalam rangka dapat menjamin keberlanjutan pelayanan kepada masyarakat.(Persero) CABANG I MALANG Pemerintah/ Pemda (Owner/ Regulator) Dewan Daerah SDA (PTPA/PPTPA) Masyarakat (User/ Beneficieries) Badan Usaha Pengelola SDA (Operator/ Service Providers/ Developer) Gambar 4. Kelompok Stakeholders dan Dewan Daerah SDA 4. 2. sesuai kemampuannya. petani pemakai air dapat memberikan konstribusi dalam bentuk iuran pembiayaan pengelolaan sumber daya air.55. maka secara bertahap. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -99 .

KONSERVASI SDA. irigasi. 5. PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR Sesuai dengan amanat dalam Undang Undang SDA No7 tahun 2004. UMP. 4. Dalam rangka memberikan kontinuitas pelayanannya. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -100 .(Persero) CABANG I MALANG 3. Kenaikan tarif di samping memperhatikan faktor-faktor kenaikan harga juga harus mencakup peningkatan derajat pelaksanaan O & P dengan jangka waktu ideal selambat-lambatnya 5 – 10 tahun untuk mencapai O & M Cost Recovery. air bersih. Pengawasan oleh Dewan Daerah Sumber Daya Air yang bagaimana yang tidak menimbulkan duplikasi dengan pengawasan oleh pihak pemilik perusahaan yang dilakukan oleh Badan/Dewan Pengawas Perusahaan. inflasi rata di wilayah sungai yang bersangkutan). pengendalian banjir. 6. Dengan demikian dalam pembentukan kelembagaan dikemudian hari keikutsertaan stakeholder dalam wadah Dewan Air nantinya sangat berperan dalam PENDAYAGUNAAN SDA. Pembebanan biaya kepada kelompok-kelompok pemanfaat (listrik. maka tarif pajak pengambilan dan pemanfaatan air agar dapat ditetapkan yang proporsional terhadap tarif iuran pembiayaan pengelolaan sumber daya air sehingga dana kontribusi dari pemanfaat tersebut dapat sebesar-besarnya dipergunakan secara langsung untuk membiayai pengelolaan sumber daya air yang bersangkutan. industri. dan pengendalian kualitas air) perlu dilakukan berdasarkan metode sederhana (berdasar nilai manfaat) dengan dibuat suatu formula kenaikan tarif berkala dengan memperhatikan unsur-unsur biaya yang berpengaruh secara dominan terhadap biaya pengelolaan sumber daya air (BBM.

1 UMUM Perencanaan pengembangan wilayah sungai merupakan suatu proses perencanaan secara spasial dan temporal yang sangat kompleks.(Persero) CABANG I MALANG BAB 5 SIMULASI MODEL ALOKASI AIR WS BARITO-KAPUAS 5. antara lain sebagai berikut: 1) Evaluasi alternatif dan potensi pengembangan sumberdaya air. pemeliharaan aliran. penyediaan air baku untuk rumah-tangga. irigasi. maka diperlukan bantuan dari suatu model komputer untuk alokasi air.2 MODEL SIMULASI WILAYAH SUNGAI Pemodelan simulasi alokasi air di tingkat wilayah sungai akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kerap kali muncul dalam pengembangan sumberdaya air. Untuk mengantisipasi hal ini maka perlu dilakukan pengelolaan distribusi air pada tingkat wilayah sungai atau bahkan antar wilayah sungai. Situasi ini jika dibiarkan berlarutlarut akan dapat mengganggu kehidupan masyarakat dan pembangunan nasional pada umumnya. secara komprehensif dan terpadu. 2) Untuk suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan ketersediaan airnya yang berfluktuasi. perkotaan dan industri. Dilain pihak ketersediaan air jumlahnya tetap sehingga sudah mulai terasa adanya conflict of interest dalam hal pemakaian air. maka semakin meningkat pula kebutuhan akan air untuk berbagai keperluan (terutama untuk domestik. yang tidak hanya digunakan pada tahap perencanaan. dan melibatkan berbagai aspek sosial dan ekonomi dalam meningkatkan produksi pangan. wisata dan lingkungan). perkotaan dan industri. Mengingat kompleksnya sistem alokasi air ini. akan tetapi juga secara operasional untuk memxbantu para pengelola air sebagai suatu decision support system (sistem pendukung pengambilan keputusan). sampai sejauh mana dapat dikembangkan jaringan irigasi dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-1 . dan lainnya. listrik. Sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya perekonomian dan industri. 5.

maka disusun skematisasi sistem tata air yang dapat menggambarkan sistem tata air secara hidrologis. 5.(Persero) CABANG I MALANG pemasokan air baku tanpa menimbulkan kekurangan air atau merugikan pemakai air lainnya? 3) Apakah akan terjadi benturan kepentingan (conflict of interests) antara para pemakai air (irigasi. lengkap dengan bangunan-bangunan air dan sarana pembawanya. yaitu kondisi sistem tata air yang dinyatakan dalam Skematisasi Sistem Tata Air. kebutuhan air dan infrastruktur. dan Alternatif Pengembangan Sumberdaya Air yang direncanakan. terutama ketersediaan air. 7) Seberapa efektif upaya pembangunan waduk terhadap pemenuhan kebutuhan air irigasi dan tambak? 8) Berapa ukuran waduk yang diperlukan.2. dan bagaimana pola pengoperasian yang optimal? Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas. Artinya model harus mampu menirukan karakteristik penting dari wilayah sungai. disamping memberikan kemudahan pemasukan data dan keluaran informasi secara efisien. listrik tenaga air.1 Skematisasi Sistem Tata Air Untuk dapat mensimulasikan satuan wilayah sungai sebagai suatu sistem tata air. dan cabang-cabang yang menyatakan sungai. terowongan atau pipa. dan dampak alternatif pengembangan (dalam bentuk peta dan grafik) yang mudah dievaluasi dengan cepat. Dalam simulasi wilayah sungai terdapat dua hal penting. saluran. maka suatu model simulasi wilayah sungai harus dapat melakukan perhitungan simulasi dengan baik. dan mudah dioperasikan. yaitu simpul biasa. dalam format yang mudah disajikan. pengoperasian sistem tata air. dan kemungkinan alternatif pengembangan. dan lainnya) di masa mendatang? Bilamana dan dimana? 4) Berapa potensi listrik tenaga air? 5) Berapa debit andalan (reliable flow) dengan atau tanpa waduk? 6) Pengkajian upaya-upaya pembangunan infrastruktur pengairan dan upayaupaya pengelolaan air. simpul aktivitas. dan simpul kendali sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-2 . kebutuhan air. Simpul-simpul tersebut terdiri atas tiga jenis. Skematisasi sistem tata air terdiri atas simpul-simpul yang menyatakan sumber air. air baku.

Masing-masing sub-WS ini mempunyai karakteristik tertentu yang secara umum dapat digolongkan atas tiga bagian. c) Simpul kendali merupakan infrastruktur pengairan yang dapat digunakan untuk mengendalikan sistem tata air. Sub-WS di bagian Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-3 . dan Simpul Kehilangan Air (loss flow).2. maka biasa dilakukan deliniasi Wilayah Sungai (WS) atas beberapa sub-WS. tergantung pada detil wilayah dari analisa kebutuhan dan pasokan dan lokasi pada bangunan utama pada sungai. Simpul Penyadapan Air untuk Sub-Wilayah Sungai (district extraction node). b) Simpul aktivitas yang merupakan simpul kebutuhan air. sistem saluran utama dll. yaitu sub-WS di hulu. waduk. Simpul Semu (dummy node). yang selanjutnya digunakan untuk penggambaran daerah studi dalam bentuk Skematisasi. Simpul Akhir (terminal node). dan dapat berupa: Simpul Air Bersih (public water supply node). Batas dari sub-WS pada suatu DAS bagian hulu biasanya bertepatan dengan batas dari DAS Pada bagian tengah dan hilir dari WS kondisinya lebih kompleks dengan adanya bangunan-bangunan air seperti bendung. dan Simpul Drainase Sub-Wilayah Sungai (district drainage node). Simpul Pertemuan (confluence node). dengan batas potongan berupa infrastruktur di sungai atau batas alami berupa anak atau cabang sungai. Simpul Listrik Mikrohidro (run-of-river node). atau water district.(Persero) CABANG I MALANG a) Simpul biasa merupakan unsur dalam tata air yang tidak mengatur aliran air.2 Water District Untuk dapat menggambarkan skematisasi dengan baik. Simpul Irigasi (irrigation node). tengah dan pantai. 5. dapat berupa: waduk dan bendung. Simpul Aliran Rendah (low flow node). Sub-WS ini mencirikan: unit hidrologi terkecil yang mencakupi kebutuhan air dan pasokan air mempunyai persamaan sifat dalam merespon hujan dan aliran unit yang saling melengkapi dalam pengaturan sumber daya air dan dapat dimungkinkan untuk membuat keseimbangan Ukuran dari pembagian sub-WS banyak pertimbangannya. Sub-WS atau Water District merupakan suatu satuan luasan alami terkecil. Simpul Tambak (fishpond node). Simpul-simpul ini dapat berupa Simpul Aliran (inflow node).

Pemodelan pada kawasan yang menjadi simpul inflow ini menyangkut kalibrasi hubungan hujanlimpasan. Pada kawasan ini perlu diberikan perlindungan konservasi lahan. merupakan daerah tangkapan air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-4 . penampungan air dan pengendalian anak-anak sungai.(Persero) CABANG I MALANG hulu.

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 5. Berbagai tipe water district Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-5 .1.

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 5. Daerah Tangkapan Air Bendung sebagai water district Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-6 .2.

maka paling tidak harus dilakukan dua buah simulasi yaitu: a) Simulasi Pertama. perikanan. Perbedaan ini misalnya dapat berupa: debit air. misalnya peningkatan operasi waduk. Upaya Operasional. b) Simulasi Kedua dan seterusnya. dan skenario kondisi hidrologi. serta Upaya Hukum dan Kelembagaan. dan intrusi air laut. dan Upaya yang terarah pada Kebutuhan (demand oriented). untuk kondisi tanpa upaya. dan perkotaan dengan permasalahan alokasi air. antara lain adalah model WRMM (Water Resources Management Model) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-7 . sebab merupakan daerah produksi dan pemanfaatan. Selain itu upaya-upaya dapat pula dikelompokkan atas Upaya yang terarah pada Pasok (supply oriented).3 Alternatif Pengembangan Sumber Daya Air Setiap alternatif pengembangan sumberdaya air pada umumnya terdiri atas gabungan beberapa upaya (proyek).2. pembebasan lahan. dan sebagainya. Skenario adalah parameter sistem yang tidak dapat diubah oleh proyek dan bersifat probabilistik. kebutuhan air baku. Upaya-upaya tersebut dapat berupa Upaya Teknis / Infrastruktural seperti pembangunan waduk dan pengembangan irigasi. dan analisis multi kriteria untuk menyajikan hasil kajian alternatif pengembangan kepada para pengambil keputusan.(Persero) CABANG I MALANG Pada sub-WS di bagian tengah lebih kompleks. produksi hasil pertanian. pengendalian muara pantai. Kasus-kasus simulasi tersebut diatas disimulasikan menurut skenario yang digunakan. dan pemeliharaan. 5. dicirikan dengan adanya pertanian. maka dapat dilakukan analisis ekonomi teknik. yang dinamakan dengan Kasus Dasar (Base Case) dan terdiri atas Kasus Dasar Masa Kini (untuk kalibrasi sistem) dan Kasus Dasar Masa Mendatang (untuk perbandingan alternatifalternatif). Setelah dilakukan perkiraan biaya konstruksi. dapat berupa daerah irigasi teknis. operasi. Model alokasi pembagian air yang telah umum digunakan pada beberapa Wilayah Sungai di Indonesia. skenario tingkat sukubunga. Perbedaan hasil dari kedua buah simulasi tersebut merupakan dampak dari alternatif pengembangan yang dikaji. pasokan air terhadap suatu kebutuhan air. Untuk dapat mengevaluasi hasil alternatif pengembangan. misalnya skenario laju pertumbuhan penduduk. tambak. dengan berbagai alternatif pengembangan. Sub-WS di daerah hilir merupakan daerah pemanfaatan dan juga pembuangan. dan produksi energi listrik.

3.(Persero) CABANG I MALANG dari Kanada.4. Gambar 5. model ad-hoc yang berdasarkan Lotus-123 atau Microsoft-Excel. dan DSSRibasim. Simulasi Wilayah Sungai Gambar 5. Tahun Hidrologi dan Tahun Kebutuhan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-8 .

Simulasi Alternatif Pengembangan 5.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 5.3 DSS-RIBASIM UNTUK WILAYAH SUNGAI BARITO KAPUAS DSS.5. Model ini dikembangkan oleh Delft Hydraulic dari Negeri Belanda sejak tahun 1985.Ribasim merupakan salah satu model alokasi air yang dapat digunakan pada tahap perencanaan pengembangan sumberdaya air. Model yang konsep dasarnya Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-9 . maupun secara operasional untuk membantu pengambilan keputusan taktis (misalnya sebagai sarana negosiasi operasi beberapa waduk. atau pemberian ijin pengambilan air industri.

10 . 26 Juni 2006 telah membagi Wilayah Sungai menjadi 11 sub-DAS. Tg. 26 Juni 2006 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V .3. 11A/PRT/M/2006. Ambawang PALANGKARAYA ! . . . . . PEMBAGIAN DAS DI WS BARITO KAPUAS BERDASARKAN PERMEN PU No. 5. 11A/PRT/M/2006 Tg. Murung Barito Kapuas PROPINSI KALIMANTAN TIMUR PROPINSI KALIMANTAN TENGAH DAS : Barito Kapuas Murung Martapura Riam Kanan Riam Kiwa Negara Ambawang Kubu Landak Tapin . Kubu Landak . . .(Persero) CABANG I MALANG diilhami oleh model MITSIM dari Amerika Serikat ini telah digunakan pada lebih dari 20 negara di dunia. Negara . . . Riam Kanan Riam Kiwa .1 Sistem Tata Air Berdasarkan PERMEN PU No. yaitu : Barito Kapuas Murung Martapura Riam Kanan Riam Kiwa Negara Ambawang Kubu Landak Tapin. KETERANGAN : Batas Propinsi Batas Kabupaten Area DAS Barito Area DAS Kapuas Sungai Jalan B !ANJ ARMASIN . PROPINSI KALIMANTAN SELATAN Tapin Martapura .

sebagai berikut: No. Montalat Kec. Timpah Kec. Mengkutup S. Kuantan S. Permata Intan Kec. Mantangai Kec. Laung Timur Kec.(Persero) CABANG I MALANG Agar kita dapat mengetahui dimana terjadi kekurangan air. Danumbul S. Teweh Tengah Muara Lahai Bangkanal Kec. Dusun Utara Kota Buntok Kec. Berioi Sungai di timur Kota Muara Sungai Montalat Main stream Barito S. Murui S. Gunung Butang Awal Kec. Lahung S. Murung Kabupaten Kab Murung Raya Kecamatan Kec. Kapuas Tengah Pujon Kec.11 . sesuai dengan Pedoman Perencanaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (Ditjen Sumber Daya Air. Alar S. Murung Kec. Lahei S. Laung S. Kapuas S. Mantangaik S. Murung Kec. Teweh besar S. dan bagaimana upayaupaya penanggulangannya. Gunung Pirel Kec. Timpah Kec. Ayuh Main stream Barito S. 1 Sub DAS Barito Sungai-sungai S. Teweh Tengah Kec. Lahei Kec. Gunung Timang Muara Bitung Kec. Mengkatip Kab Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V . Tuhup Main stream barito S. Bebem S. Timpah Kec. 2004) dalam water district. Timpah Kec. Mantangai Kec. Sbr Barito Desa Muara Joloi I Tumbang Tulang Tanjung Belatung Main stream barito S. Dusun Tengah Kota Ampah Balawa Sei Hanyu Sei Hanyu Kec. Pematang Kanan Kec. Tanah Siang Kec. Mantangai Palingkau 2 Kapuas S. Karau Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Selatan Kab Barito Selatan Kab Barito Selatan Kec. Mantangai Kec. Mantangin S. Teweh Timur Kec. maka pada studi ini diperlukan pembagian sub-DAS yang lebih detail. Singkap S.

Kapuas Murung S. Tapin S. Tabalong Kanan S. Juloi (selatan) 4 5 Martapura Riam Kanan S. Pitap S.(Persero) CABANG I MALANG No. Sub DAS 3 Murung Sungai-sungai Main stream kapuas S. Batangalai 8 9 10 11 Ambawang Kubu Landak Tapin Kab Murung Raya Kab Banjar Kab Banjar Kota Martapura Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Muara Juloi II Parahali Tumbang Julung Tumbang Kalasin Tumbang Maan Tumbang Tuhai Kab Banjar Kab Hulu Sungai Utara S. Riam Kanan S. Halong S. Kumap S. Maluka S. Alalak S. Tabalong S. Tabalong Kiwa S. Mangkook 7 Negara S. Riam Kiwa S. Busang Kabupaten Kecamatan Mandomai Barimba Lupak Dalam Desa Kab Murung Raya S. Pulau Petak S. Balangan S. Martapura S. Amandit Kab Hulu Sungai Selatan Rantau Kandangan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V .12 . Kalaan 6 Riam Kiwa S.

3 Proses Perumusan Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air Perumusan Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air dengan alur pikir dilakukan dengan mengikuti prinsip-prinsip yang ada pada: UU No. yaitu “ Gambaran mengenai keadaan yang diinginkan pada masa 10-20 tahun yang akan datang” sedangkan untuk merealisasikan Visi tersebut. 6. untuk mewujudkan cita-cita nasional. diperlukan usaha-usaha atau “Misi”. yang berkaitan dengan sumber daya air. 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air berikut Peraturan Pemerintahnya. yang mempunyai kepentingan dengan sumber daya air.1 RUMUSAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA NASIONAL 6. yang akan dicapai. makna dari Kebijakan Nasional Sumber Daya Air adalah merupakan ‘Arah’ dan ‘Tujuan’ yang akan diikuti oleh masyarakat pada tingkat nasional. Tata kelola Sumber Daya Air dengan paradigma baru (New Paradigm of Water Governance) dan Kesepakatan-kesepakatan global Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .1.1 Makna Kebijakan Nasional Sumber Daya Air ‘KEBIJAKAN’ adalah ‘Arah’ atau ‘Tujuan’. yang merupakan haluan yang akan diikuti oleh segenap pemilik kepentingan untuk mewujudkan cita-cita yang akan dicapai. 6.(Persero) CABANG I MALANG BAB 6 TINJAUAN KEBIJAKAN SUMBER DAYA AIR 6. yaitu “Uraian mengenai hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai keadaan sebagaimana tersebut pada Visi”.1.2 Makna Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air Cita-cita mulia tersebut adalah ‘Visi’ dari kebijakan nasional sumber daya air. Dengan demikian.1.1 .

6.4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .1. berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup Tertingkatkannya perlindungan masyarakat dari bencana daya rusak air Terpenuhinya kecukupan air bagi sebagian besar masyarakat dengan prioritas utama untuk kebutuhan pokok masyarakat dan pertanian rakyat.2. iii) Misi 3: Mengendalikan daya rusak air yang dapat memberikan insentif dan disinsentif dengan memanfaatkan berbagai sumber daya secara sinergi dan terintegrasi. termasuk UU No.1. v) Terlaksananya suatu prinsip pembiayaan jasa pengelolaan sumber daya air 6.2 . iv) Terwujudnya keterlibatan peran masyarakat secara aktif dalam pengelolaan sumber daya air melalui Dewan Sumber Daya Air yang merupakan Forum Dialog dan Koordinasi antar Pemilik Kepentingan yang terlegitimasi. diperlukan Misi sebagai berikut: i) ii) Misi 1: Misi 2: Mengkonversi sumber daya air secara berkelanjutan Mendayagunakan sumber daya air secara adil serta memenuhi persyaratan kualitas dan kuantitas untuk berbagai kebutuhan masyarakat. dan kebijakankebijakan sejenis yang ada di Negara lain.1.4 Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air 6.4. Misi Untuk merealisasikan Visi tersebut di atas. terpadu.(Persero) CABANG I MALANG Selain mengikuti prinsip-prinsip dari ketiga hal tersebut. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Visi Jangka Panjang (20 tahun atau sampai dengan Tahun 2025) Terwujudnya kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.1. Visi dan Misi juga memperhatikan Latar Belakang penyusunan Kebijakan Nasional Sumber Daya Air ini serta hasil kajian dari kebijakan-kebijakan sumber daya air yang ada. Adapun gambaran umum keadaan yang akan dicapai pada tahun 2025 adalah: i) Tercapainya pengelolaan sumber daya air berdasar pola pengelolaan wilayah ii) iii) sungai yang menyeluruh.

7 sampai butir 8 di atas sebagai kulminasinya boleh dikatakan adalah suatu upaya besar yang sudah dilakukan pemerintah. 11 tahun 1974 yang dilengkapi dengan berbagai kebijakan/arahan sebagai hasil studi mulai dari butir 1. 6. PU (sekarang Ditjen SDA Dept. ADB 2000 (Reformasi Kebijakan Pengelolaan SDA) Pengelolaan yang didasarkan pada UU. Dikaitkan dengan perkembangan yang terjadi di tingkat global berbagai kesepakatan telah dilakukan. keadaannya sangat cocok dengan perkembangan di Indonesia. KEPMEN Kebijakan O & P Irigasi diterbitkan 1987 Workshop on Water for Sustainable Development 1992 Java Irrigation and Water Manajement Project (JIWMP) 1993 Formulasi Program Irigasi 1993 (JICA) dilanjutkan dengan studi Sustainable Irrigation Manajement bantuan PTPA. Sejak 1987 situasi daya dukung SDA di Indonesia mulai terancam. antara lain The Dublin Statement. 3.5 Studi-Studi Kebijakan yang Pernah Ada Studi-studi mengenai kebijakan yang pernah ada antara lain: i) ii) iii) iv) v) vi) vii) Paket UU 11 Tahun 1974 tentang Pengairan dan Peraturan turutannya – PP. 4. 6. World Summit on Sustainable Development. Khususnya jajaran Ditjen Pengairan Dep.(Persero) CABANG I MALANG iv) v) Misi 4: Misi 5: Memberdayakan dan meningkatkan peran masyarakat dan Pemerintah dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Meningkatkan keterbukaan serta ketersediaan data dan informasi dalam pembangunan Sumber Daya Air. Earth Summit Agenda 21. Pekerjaan Umum) dalam merespon cepatnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan selama orde baru dan lebih lagi selama periode reformasi yaitu sejak terjadinya krisis ekonomi/ moneter 1998. ADB tahun 1998 Nasional Water Resources Policy Study. PERMEN.1. Rio De Jenairo. 5. Yohannesburg dan lain-lain. IBRD 2000 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .3 . FAO 1995 Capacity Building Project for Water Resources Sector. 2. Ancaman tersebut diakibatkan perubahan/pemerosotan DAS hulu dengan cepatnya eksploitasi hutan untuk mendukung pendapatan nasional disamping viii) Water Resources Sector Adjustment Loan (WATSAL).

7 tentang SDA pada Februari 2004. Proses pergeseran paradigma SDA mulai dirasakan sejak 1980 dimana fungsi pemerintah sebagai penyedia sarana dan prasarana tanpa partisipasi masyarakat yang menerima manfaat akan berat sekali beban pemerintah. Sumber Daya Alam dan SDA yang cukup untuk dapat menyediakan pangan sejalan dengan kebutuhan oleh pertumbuhan penduduk dan kemakmuran masyarakat. Kebijakan lingkungan ternyata jiwanya bersamaan dengan penataan ruang.6 Tinjauan Pada Kebijakan-Kebijakan yang Ada 6. Penataan Ruang. Kebijakan Tata Ruang. yaitu multi sektor dan terpadu hulu hilir dan antar wilayah. Tuntutan lahan dan SDA ini berlawanan dengan keinginan lingkungan yang membatasi pembukaan lahan baru dan pembangunan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Kebijakan SDA.1. Lingkungan dan Pangan seyogianya diselaraskan secara timbal balik sedemikian akan dicapai rencana dan implementasi pembangunan beberapa sarana dan prasarana secara berkelanjutan.4 . selaras dan seimbang serta berkelanjutan dan. dengan mensyaratkan rambu-rambu pembangunan antara lain: Kebijakan pangan disisi lain menuntut ketersediaan lahan.1. Kulminasi pergeseran/ pembaharuan kebijakan ini diawali dengan Kepmenko tentang Kebijakan Pengelolaan SDA tahun 2001 dan dikunci dengan diterbitkannya UU No. c.1. b. 6. Lingkungan dan Pangan Tiga aspek penting pembangunan yang erat kaitannya dengan SDA ialah Penataan Ruang.6. (iii) pencegahan kerusakan fungsi lingkungan. Lingkungan dan Pangan yang semuanya terkait dengan ruang/ lahan. Kebijakan penataan ruang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan melalui (i) pemanfaatan sumber daya alam dan buatan secara optimal (ii) keseimbangan perkembangan antara kawasan melalui pemanfaatan ruang kawasan secara serasi. Perubahan atau pembaharuan kebijakan sejalan dengan pergeseran paradigma sudah benar jalur dan prosesnya dalam menuju pengelolaan SDA yang ideal harus menyeluruh dan terpadu.(Persero) CABANG I MALANG besarnya tekanan atas DAS oleh pertumbuhan penduduk dan ekonomi sosial masyarakat. Berikut dapat kita bandingkan tiga kebijakan tersebut: a.

UU keuangan ini mewajibkan tiap kementrian membuat rencana rolling 3 tahunan yang berbeda dengan rencana 5 tahun selama ini (Pelita atau Propenas 1999-2004). dan tiga tahunan secara rolling serta rencana jangka menengah dan jangka panjang.2. 6. Diharapkan penataan ruang dapat menyikapi secara optimal dan berkelanjutan kepentingan sektor pertanian pangan dan lingkungan dan sektor SDA. Tiap negara mempunyai undang-undang yang mengatur kebijakan keuangan negara/ pemerintah yang berarti mengatur pemasukan dan pengeluaran uang dan semua kekayaan negara. Menururt UU No. pada negara maju misalnya ada tiga fungsi pokok pemerintah yang amat menonjol yaitu: (i) memelihara keamanan yang baik agar rakyat bisa berkinerja optimal (ii) penyediaan infrastruktur kebutuhan hidup dan ekonomi yang tidak bisa disediakan dunia usaha dan masyarakat dan (iii) memelihara kesamaan hak dan tanggungjawab warga negara dengan penerapan hukum yang adil Dari mana sumber dana pemerintah untuk membiayai 3 fungsi tersebut? Tentu saja dari pajak perusahaan dan pajak perseorangan/ warga negara. menuju good government.1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Kebijakan Keuangan Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.(Persero) CABANG I MALANG waduk serta daerah irigasi yang mengubah bentang alam secara signifikan d. Tentu saja semua hal ini akan mempengaruhi kebijakan pengelolaan SDA ke depan terutama aspek perencanaan perlu lebih akurat dan lengkap berupa rencana kerja tahunan.5 . Undang-Undang ini mensyaratkan dana anggaran berdasarkan kinerja. Sampai sekarang peranan dan hasil penataan ruang baik nasional. pulau dan propinsi/ kabupaten belum memberikan kinerja yang maksimal karena masih banyaknya pelanggaran tata ruang. sebagai paket reformasi bidang keuangan. 17/2003 tentang keuangan bersama UU lain sebagai satu paket akan diberlakukan mulai tahun anggaran 2006.6.

Departemen Pertanian. Tugas pokok dan fungsi: penataan ruang.6. Pada tahun 1974 awal Pelita II berhasil diterbitkan UU. karena pola perumahan/ permukiman dan pembangunan lingkungan terbangun horisontal selama ini tampaknya telah membuat lingkungan SDA sangat kritis karena resapan air hujan dan retensi atau tempat parkir air menjadi sangat minim. tetapi juga mulai ditangani Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Pembangunan baru irigasi dan penanganan/pengaturan sungai untuk pengendalian banjir dan penyediaan air dengan waduk mulai dilakukan pada Pelita II ini. penyediaan air bersih. Besarnya import karena kemerosotan jaringan irigasi yang sangat parah sehingga produksi beras nasional jauh di bawah kebutuhan b. Kebijakan pada Pelita I ditekankan pada rehabilitasi dan peningkatan daerah irigasi untuk dapat menekan import beras dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani. perlu mendapat perhatian khusus. barulah melakukan keterpaduan eksternal dengan sektor-sektor lain di luar Departemen Pekerjaan Umum seperti Departemen Kehutanan.1. Demikian juga kebijakan penanganan limbah rumah tangga. Meneg Lingkungan. pengembangan perkotaan.6.11-1974 tentang Pengairan.3.1. c. Pada pelita III dan IV kebijakan mulai bergeser ke keterpaduan pengelolaan SDA. pengelolaan SDA yang diemban oleh Departeman Pekerjaan Umum seyogianya benar-benar dipadukan internal lebih dahulu.(Persero) CABANG I MALANG 6. UU ini meletakkan kebijakan nasional pengelolaan SDA sebagai pengganti peraturan Per-UU jaman Kolonial. Pelita I 1968 diawali dengan keadaan pangan beras import mencapai 4 juta ton yaitu lebih kurang 25% kebutuhan nasional. 6. pengembangan permukiman. bukan hanya irigasi. perkotaan dan industri yang belum jelas apakah sistem sewarage atau terus seperti sekarang semua pembuangan ke saluran umum dan sungai.4. Kebijakan Pelita I sampai dengan Pelita VI a. d. telah membuat beban pencemaran makin berat. Kebijakan Departemen Pekerjaan Umum Keterpaduan yang saling mengisi dan selaras antara kebijakan perkotaan dan permukiman dengan kebijakan trasportasi jalan dan pengelolaan SDA. Departemen ESDM dan sebagainya.6 .

antara lain Bank Dunia. 3. terutama terkait dengan isu sosial dan lingkungan. 2. 5. Bank Asia. Pengembangan dan penerapan sistem conjunctive use antara pemanfaatan air permukaan dan air tanah akan digalakkan. antara pengelolaan demand dan supply. OECF (JBIC) dan Government to Government (G to G) seperti Canada. tetapi juga diarahkan untuk memelihara kualitas air.7 . e. sedangkan pembangunan tampungan air dalam skala besar perlu pertimbangan yang lebih hati-hati karena menghadapi masalah yang lebih kompleks. 6.11 tahun 1974 kebijakan tersebut tertuang dalam berbagai Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri.1. antara pemanfaatan air permukaan dan air tanah. Pengelolaan sumber daya air dilaksanakan dengan memperhatikan keserasian antara konservasi dan pendayagunaan. serta antara pemenuhan kepentingan jangka pendek dan kepentingan jangka panjang. 4. Dalam situasi sebagian besar pendanaan bersumber dari BLN maka kebijakan pengelolaan SDA dalam situasi tertentu dipengaruhi oleh aturan dan persyaratan dari pemberi bantuan tersebut di atas. antara lain rekayasa keteknikan yang lebih Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .7 Arah Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air 1. Pendayagunaan sumber daya air untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi pada lima tahun ke depan difokuskan pada upaya: • Peningkatan fungsi jaringan irigasi yang sudah dibangun tetapi belum berfungsi dalam rangka konservasi sumber-sumber air diimbangi dengan upaya lain. Pada Pelita III dan IV berbagai kebijakan diterbitkan sebagai implementasi UU. 6. antara hulu dan hilir.(Persero) CABANG I MALANG penyediaan Air Baku untuk rumah tangga. Pembangunan tampungan air berskala kecil akan lebih dikedepankan. Upaya konservasi sumber-sumber air dilakukan tidak hanya untuk melestarikan kuantitas air. perkotaan dan industri (RKI) dan penanganan masalah banjir yang lebih besar karena kerusakan DAS. Pendekatan vegetatif bersifat quick yielding. Belanda. Pendanaan/Anggaran untuk pembangunan sektor Pengairan sebagian besar diperoleh dari Bantuan Luar Negeri (BLN).

pulau-pulau kecil serta pusat kegiatan ekonomi. terutama untuk menggali dan merevitalisasi kearifan lokal (local wisdom) yang secara tradisi banyak tersebar di masyarakat Indonesia untuk menjamin keberlanjutan fungsi infrastruktur. 11. 9. Pengembangan modal sosial dilakuakn dengan pendekatan budaya. dan wilayah strategis. Pengendalian daya rusak air • Pengendalian banjir mengutamakan pendekatan non-struktur melalui konservasi sumber daya air dan pengelolaan daerah aliran sungai dengan memperhatikan keterpaduan dengan tata ruang wilayah • Peningkatan partisipasi masyarakat dan kemitraan diantara pemangku kepentingan terus diupayakan tidak hanya pada saat kejadian banjir • Pengendalian banjir diutamakan pada wilayah berpenduduk padat dan wilayah strategis • Pengamanan pantai dari abrasi terutama dilakukan pada daerah perbatasan. Penataan dan penguatan sistem pengolahan data dan informasi sumber daya air dilakukan secara terencana dan dikelola secara berkesinambungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . 10.(Persero) CABANG I MALANG Dilakukan hanya pada areal yang ketersediaan airnya terjamin dan petani penggarapnya sudah siap • Rehabilitasi pada areal irigasi berfungsi yang mengalami kerusakan Diprioritaskan pada areal irigasi di daerah lumbung padi • Skema insentif kepada petani agar bersedia mempertahankan lahan sawahnya 7. keterlibatan masyarakat. 12. Penataan kelembagaan melalui pengaturan kembali kewenangan dan tanggung jawab masing-masing pemangku kepentingan.8 . Pendayagunaan sumber daya air untuk pemenuhan kebutuhan air baku diprioritaskan pada pemenuhan kebutuhan pokok rumahtangga terutama di wilayah rawan defisit air. Dalam upaya memperkokoh civil society. wilayah tertinggal. BUMN/D dan swasta terus didorong. 8.

Melaksanakan rasionalisasi. dan refungsionalisasi kelembagaan pengelolaan sumber daya air yang menuju terciptanya pemisahan fungsi pengaturan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Menyelenggarakan sistem pembiayaan yang menerapkan prinsip penerima manfaat dan pencemar menanggung biaya jasa pengelolaan Sumber Daya Air dengan mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat sehingga pengelolaan sumber daya air dapat dilakukan secara efektif. Mengembangkan dan menerapkan instrumen kebijakan untuk mendorong alokasi air dan penggunaan yang efektif dan efisien serta memberikan manfaat sosial dan ekonomi paling besar pedoman bagi masyarakat dengan jasa memperhatikan kaidah lingkungan hidup.(Persero) CABANG I MALANG 6. fungsi pelaksanaan. 5.2 INDIKASI PROGRAM KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA WS BARITO-KAPUAS KAITANNYA DENGAN KEBIJAKAN NASIONAL Sebagai landasan dalam pembuatan Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas perlu disiapkan Indikasi Program Kebijakan Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas kaitannya Kebijakan Nasional sebagai berikut : 6. fungsi pemanfaatan. dan berkelanjutan. Menyusun dan menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada Wilayah Sungai Barito-Kapuas berdasarkan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air dengan pada tahun 2008. berkeadilan. restrukturisasi. pendayagunaan sumber daya air. Menetapkan melaksanakan perhitungan biaya pengelolaan Sumber Daya Air dalam upaya konservasi. Menerapkan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air di Wilayah Sungai Barito-Kapuas secara bertahap dimulai tahun 2009.1 Umum 1. 4. 2. 6. 3.9 . Melaksanakan kepentingan dan sumber meningkatkan daya air koordinasi dalam antar para pemilik tingkat wadah koordinasi kabupaten/kota dan wilayah sungai Barito-Kapuas. efisien. dan fungsi koordinasi di WS BaritoKapuas dengan tetap menjaga sinergi antar fungsi.2. dan pengendalian daya rusak air untuk para pemilik kepentingan Sumber Daya Air di WS Barito-Kapuas. 7. pengoperasian dan pemeliharaan.

4. embung.(Persero) CABANG I MALANG 8. rawa. recycle). Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan. waduk dengan prioritas daerah pemukiman. embung. c. rawa. situ/ embung dan mata air dengan aturan : a. Penyuluhan peraturan perundang-undangan tentang Sumber Daya Air kepada seluruh masyarakat di dalam WS Barito-Kapuas 9. Sekurang kurangnya 100 (seratus) meter dari dari muka air tertinggi situ / embung ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau. 6. Mendorong upaya pengawetan air melalui pembudayaan prinsip 3 (tiga) R (reduce. 3.2 Konservasi Sumber Daya Air 1. Meningkatkan upaya pemeliharaan sumber air (antara lain : danau. Menetapkan dan mengelola kawasan danau. Menetapkan dan mengelola daerah resapan air dalam rangka mengupayakan peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak air melalui rehabilitasi hutan dan lahan kiritis. Mendorong dan mengupayakan pembangunan sistem pengelolaan limbah cair komunal di kawasan pemukiman dan kawasan industri. situ. Pembentukan wadah koordinasi Sumber Daya Air Wilayah Sungai BaritoKapuas sesuai dengan kebutuhan. 5. Menetapkan dan mengelola daerah batas sempadan sungai. Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter dari muka air tertinggi rawa ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau. reuse. rawa) dan pengawetan air berupa pembangunan antara lain: waduk dan embung. Sekurang kurangnya 500 (lima ratus) meter dari muka air tertinggi danau dan waduk ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau b.10 . 7. mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi sumber daya air. 6. danau. waduk. Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekeliling mata air harus berfungsi sebagai sabuk hijau. 2.2. situ. d.

Memelihara fungsi sistem irigasi yang sudah ada dengan menyelenggarakan operasi dan pemeliharaan untuk seluruh jaringan irigasi dan rawa yang ada.11 . Menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air. 1. 9. 6. sumur resapan air hujan dan menyediakan lumbung air minimal 1 (satu) unit setiap kecamatan. embung.3 Pendayagunaan Sumber Daya Air. 9. Memperbaiki kualitas air pada sumber air dengan cara antara lain: aerasi. 6. Merehabilitasi dan/atau meningkatkan jaringan irigasi dan rawa untuk mengembalikan dan/atau menigkatkan kinerja seluruh jaringan irigasi dan rawa. reuse). 8. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . secara biologi. pemulihan. 5. Menyediakan pasokan untuk memenuhi kebutuhan air sesuai dengan prioritas dan rencana alokasi yang telah ditetapkan. Mengendalikan penggunaan air melalui mekanisme perizinan berdasarkan rencana alokasi air yang telah ditetapkan. Menegakkan hukum yang tegas bagi pelanggar ketentuan kualitas serta sistem penerapan insentif-disinsentif pengelolaan sumber daya air dan lingkungan dengan target minimal selesai tahun 2010. 7. selambat-lambatnya pada tahun 2026.(Persero) CABANG I MALANG 8. Membangun sistem pemantauan kualitas air pada sumber air dan kualitas limbah cair secara berkelanjutan. Mengupayakan ”pengelolaan permintaan air” (demand management) yang efektif dan efisien (reduce. Menetapkan alokasi dan hak guna air bagi pengguna yang sudah ada dengan target penyelesaian paling lambat pada tahun 2010. 3.2. 2. Meningkatkan daya tampung air dengan membangun bendungan. dengan target efektif 2010. Menyediakan pasokan air baku untuk air minum sehingga pada tahun 2015 dapat memenuhi separuh jumlah penduduk yang belum memiliki akses air minum. 10. 4. waduk.

serta menyelenggarakan simulasi dalam rangka menghadapi banjir. 15. Mendorong pengembangan Sumber Daya Air untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. Menerapkan sistem peringatan dini kepada masyarakat dan menyiapkan sistem evakuasi. perikanan. Menyusun dan menetapkan mekanisme perizinan dan sistem pemantauan penambangan bahan galian di sumber air. 11. dan revitalisasi serta pengendaliannya.(Persero) CABANG I MALANG 10. Menyebarluaskan dan menciptakan sistem perizinan dengan prinsip “zero delta q policy” .2. Menetapkan sistem perizinan dan sistem pengawasan pengusahaan Sumber Daya Air. 7. 12. 8. tata kota dan tata bangunan. 6. 14. Meningkatkan penegakan hukum yang konsisten atas pelanggaran tata ruang. 2. Inventarisasi perubahan fungsi lahan yang menyebabkan masalah banjir. Melakukan pencegahan perubahan fungsi daerah manfaat sungai. 3. Menyusun dan melaksanakan program pengembangan Sumber Daya Air terpadu berdasarkan pola dan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air. 13. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Menyusun dan menetapkan rencana pengelolaan sedimen pada sumber air berdasarkan pola dan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air . olah raga air dan transportasi air. 5. pariwisata. 1.4 Pengendalian Daya Rusak Air. dengan memperhatikan kepentingan antar sektor dan antar Wilayah Sungai dengan tidak mengorbankan lingkungan. 16. Menerapkan Perda penerima manfaat menanggung biaya jasa pengelolaan Sumber Daya Air secara konsisten. menerapkan dan mengevaluasi pelaksanaan sistem insentif dan disinsentif antara hulu-hilir. sehingga biaya jasa pengelolaannya lebih terjangkau. 4. Pengkajian ulang tata ruang pada kawasan rawan banjir dan kawasan penyebab banjir. Merasionalisasikan biaya pengelolaan Sumber Daya Air. Menyiapkan. Meningkatkan pemberian informasi mengenai kawasan rawan bencana akibat daya rusak air. 6.12 .

perbaikan darurat prasarana sumber daya air dan prasarana Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Swasta dan dalam upaya penyelamatan jiwa manusia. Melakukan penyuluhan. 16. 14. Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun nonstruktural. prasarana umum dan daerah produksi nonpertanian dengan prasarana pengendalian banjir terhadap banjir tahunan dengan resiko sama atau lebih besar 4 (empat) persen serta perlindungan daerah produksi pertanian terhadap banjir dengan resiko sama atau lebih besar 10 (sepuluh) persen. Memberikan pengakuan hak ulayat masyarakat hukum adat setempat dalam pengelolaan Sumber Daya Air pada wilayahnya. Menumbuhkembangkan peran serta masyarakat dan swasta kegiatan pemulihan akibat bencana. dan Peningkatan Peran Masyarakat. 4.13 . 3. 1. 6. Mengintegrasikan pengelolaan drainase perkotaan. Menyediakan pembiayaan untuk penanggulangan daya rusak air yang bersumber dari dana APBN dan APBD dalam jumlah yang memadai. Menumbuhkan prakarsa serta memberikan peran kepada masyarakat disertai dengan pemberdayaan untuk meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan Sumber Daya Air.2. 10. Melakukan perlindungan daerah permukiman. 15. 12. Melakukan pemisahan prasarana pembuangan limbah cair dan drainase. utamanya pada daerah pengembangan baru. Melakukan kegiatan tanggap darurat yang terdiri dari evaluasi tingkat bahaya dan kesiap-siagaan menghadapi bencana. 11. Menyelenggarakan pendampingan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kepedulian dan kemampuan masyarakat untuk berperan serta dan bertanggung jawab dalam pengelolaan Sumber Daya Air di setiap Wilayah Sungai secara berkelanjutan.(Persero) CABANG I MALANG 9.5 Pemberdayaan Pemerintah. 2. Dalam keadaan terjadi bencana dilakukan umum lainnya. pelatihan. 13. dan pembinaan dalam menyikapi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan Sumber Daya Air kepada dunia usaha. pengendalian air larian di tingkat kawasan dengan prasarana pengendalian banjir.

14 . Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan Sumber Daya Manusia dalam rangka memenuhi standard kompetensi. Menyusun tata tertib koordinasi dan pengambilan keputusan wadah koordinasi Sumber Daya Air dan meningkatkan konsultasi serta koordinasi antar wadah koordinasi SDA baik secara horisontal maupun vertikal. 11. Barito-Kapuas yang melibatkan seluruh pihak terkait dengan Sumber Daya Air. hidrometeorologi. dll. 6. Menyusun dan menerapkan standar kompetensi Sumber Daya Manusia yang sesuai dengan tugas pokoknya dalam pengelolaan Sumber Daya Air. hidrogeologi. data informasi akurat. 2. Memfasilitasi penyediaan data meliputi data hidrologi. 6. dan mengembangkan partisipasi masyarakat secara luas dalam memberikan informasi tentang SDA. 1. 4. teknologi Sumber Daya Air. Meningkatkan kemampuan komunikasi. Meningkatkan pelayanan informasi pengelolaan Sumber Daya Air dengan penyediaan data dan informasi melalui website dan media lainnya. Melibatkan semua pemilik kepentingan melalui prinsip keterwakilan dalam pengelolaan Sumber Daya Air dan melaksanakan penyuluhan keberadaan wadah koordinasi SDA. prasarana Sumber Daya Air. Kebijakan Sumber Daya Air. 7. 8. Menyiapkan Peraturan Daerah yang kondusif dan menyebarluaskan program SDA bagi dunia usaha untuk berperan serta dalam pengelolaan Sumber Daya Air. sistem pembiayaan dan yang memadai. Membangun jaringan informasi Sumber Daya Air dalam WS. 10. 3. yang sehingga tepat mampu waktu. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .6 Keterbukaan dan Ketersediaan Data serta Informasi Sumber Daya Air. 9. BaritoKapuas yang terpadu dan didukung oleh kelembagaan yang tangguh serta responsif.(Persero) CABANG I MALANG 5. Mengembangkan sistem informasi Sumber Daya Air dalam WS.2. menyampaikan berkelanjutan. Menyesuaikan dan menyempurnakan kelembagaan pemerintah di kabupaten/kota dan Wilayah Sungai dalam pengelolaan Sumber Daya Air sesuai dengan peraturan perundang-undangan. kerjasama dan koordinasi antar lembaga pemerintah yang terkait dalam pengelolaan Sumber Daya Air.

Membangun jaringan basis data dalam WS. 6. dan kabupaten/kota.3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI BARITO-KAPUAS 6.1. 6. proses data dan metode/ prosedur pengumpulan data dan informasi. provinsi dan kabupaten/kota. 7. dan kabupaten/kota. provinsi. Barito-Kapuas. (3) Kebijakan sumber daya air provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan sumber daya air di tingkat kabupaten/kota. (2) Kebijakan nasional sumber daya air menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan sumber daya air di tingkat provinsi. atau kabupaten/kota. Arahan strategis sebagaimana dimaksud meliputi arahan strategis konservasi dan pendayagunaan sumber daya air serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah sumber daya air dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan di tingkat nasional. klasifikasi. Menerapkan standar untuk format. Menerapkan prosedur operasi standard tentang keterbukaan data dan informasi kepada masyarakat. kodifikasi.15 . Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air berdasarkan Undang Undang no 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air menyebutkan bahwa (1) Kebijakan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 disusun di tingkat nasional. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Kebijakan Sumber Daya Air Kebijakan sumber daya air disusun dengan maksud untuk memberikan arahan strategis dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air guna mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air. (4) Kebijakan sumber daya air dapat ditetapkan baik sebagai kebijakan tersendiri maupun terintegrasi ke dalam kebijakan pembangunan di tingkat nasional. Kebijakan sumber daya air meliputi arahan strategis konservasi dan pendayagunaan sumber daya air serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah sumber daya air dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan di tingkat nasional. atau provinsi. provinsi.3.(Persero) CABANG I MALANG 5.

(Persero) CABANG I MALANG (5) Kebijakan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan secara terpadu yang mencakup kebijakan semua air. disusun secara komprehensif dan selaras dengan kebijakan pembangunan di wilayah yang bersangkutan. Pola Pengelolaan Sumber Daya Air. Perumusan Kebijakan sumber daya air Wilayah Sungai Barito-Kapuas ini akan ditentukan oleh: (1) Kebijakan nasional sumber daya air dirumuskan oleh Dewan Sumber Daya Air Nasional dan ditetapkan oleh Presiden. prioritas kegiatan pengelolaan dan strategi dalam pencapaian tujuan pengelolaan. c. (2) Kebijakan sumber daya air di tingkat provinsi dirumuskan oleh wadah koordinasi sumber daya air provinsi yang bernama dewan sumber daya air provinsi atau dengan nama lain dan ditetapkan oleh gubernur. pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai dan cekungan air dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . (2) Pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat: a. Prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air tanah diselenggarakan dengan memperhatikan wewenang dan tanggung jawab masing-masing instansi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Pola Pengelolaan SDA disusun dan ditetapkan berdasarkan : (1) Pola pengelolaan sumber daya air disusun dan ditetapkan sebagai kerangka dasar dalam tanah. (6) Kebijakan sumber daya air yang ditetapkan secara tersendiri.16 . dasar-dasar yang dipergunakan dalam melakukan pengelolaan sumber daya air. b.2.3. (3) Kebijakan sumber daya air di tingkat kabupaten/kota dirumuskan oleh wadah koordinasi sumber daya air kabupaten/kota yang bernama dewan sumber daya air kabupaten/kota atau dengan nama lain dan ditetapkan oleh bupati/walikota. 6. tujuan umum pengelolaan sumber daya air.

d. Rancangan pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai Barito-Kapuas yang merupakan lintas provinsi diusulkan oleh instansi teknis tingkat pusat kepada dewan nasional sumber daya air untuk dirumuskan dengan mengikutsertakan ketua dewan atau wadah koordinasi sumber daya air provinsi terkait dan selanjutnya ditetapkan oleh Menteri. pengelolaan sumber daya air dilakukan secara berkelanjutan untuk menjamin pendayagunaannya pada masa mendatang dan berwawasan lingkungan hidup. Pengelolaan sumber daya air dilakukan secara menyeluruh dalam satu kesatuan sistem hidrologis dengan memperhatikan sifat alami dan karakteristik masing-masing air. konsepsi kebijakan operasional yang ditetapkan dalam pengelolaan sumber daya air. e. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Pola pengelolaan sumber daya air disusun dengan memperhatikan: a.17 . Rancangan pola pengelolaan sumber daya air yang diusulkan oleh instansi teknis merupakan hasil kerja bersama instansi terkait. kebutuhan sumber daya air bagi semua pemanfaat di wilayah sungai yang bersangkutan. Pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) disusun berdasarkan kebijakan sumber daya air pada wilayah administratif yang bersangkutan.(Persero) CABANG I MALANG d. Untuk wilayah sungai Barito-Kapuas Pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai lintas propinsi disusun berdasarkan kebijakan nasional sumberdaya air. Instansi teknis tingkat pusat adalah instansi teknis yang membidangi sumber daya air di tingkat pusat. b. rencana pengelolaan strategis. kepentingan dan kebijakan wilayah administrasi yang bersangkutan. c.

Berkurangnya dampak bencana banjir dan kekeringan.3. 2. swasta dan pemerintah 5. Kebijakan Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas 6. 3.2. berwawasan lingkungan dan berkesinambungan secara kualitas dan kuantitas dan mampu menunjang pertumbuhan berbagai sektor untuk kesejahteraan masyarakat di Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Terkendalinya pencemaran air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Terkendalinya pemanfaatan air tanah. Meningkatnya kemampuan pemenuhan kebutuhan air bagi rumah tangga. Konservasi SDA yang berkelanjutan.3. Barito-Kapuas Misi pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Barito-Kapuas yaitu: 1. 7. Visi Dan Misi Visi Pengelolaan Sumber Daya Air WS. dan indutri dengan prioritas utama untuk kebutuhan pokok masyarakat dan pertanian rakyat. Barito-Kapuas Sasaran pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Barito-Kapuas antara lain adalah: 1. permukiman.3. Sasaran Pengelolaan Sumber Daya Air WS. pertanian.3. Terlindunginya daerah pantai dari abrasi air laut terutama pada pulaupulau kecil. Pengendalian Daya Rusak Air (termasuk kekeringan) 4. Misi Pengelolaan Sumber Daya Air WS.1. 4. Barito-Kapuas Terwujudnya pemanfaatan SDA Sungai Barito-Kapuas yang lestari. 5.(Persero) CABANG I MALANG 6. Pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat.3. Tercapainya pola pengelolaan sumber daya air yang terpadu dan berkelanjutan 2. Terkendalinya potensi konflik air.3. Peningkatan keterbukaan dan ketersediaan data serta informasi dalam pembangunan SDA 6. Pendayagunaan Sumber Daya Air yang adil untuk berbagai kebutuhan masyarakat yang memenuhi kualitas dan kuantitas 3. daerah perbatasan dan wilayah strategis.18 . 6.

Peraturan Menteri No. Undang-Undang No. Pulihnya kondisi sumber-sumber air dan prasarana sumber daya air.4 LANDASAN HUKUM Beberapa Undang-Undang.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Meningkatnya kualitas koodinasi dan kerjasama antar instansi 10. Ketersediaan air baku bagi masyarakat. 5. Undang-Undang No.20 Tahun 2006 tentang Irigasi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . 7. Peraturan Pemerintah No. 11. 3. Keputusan Menteri dan Peraturan Pemerintah serta Peraturan Daerah yang terkait dengan kebijakan penyusunan Pola Pengelolaan SDA wilayah sungai Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : 1. 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup. Undang-Undang No. 12. Meningkatnya partisipasi aktif masyarakat 9. Undang-Undang No. Pengendalian banjir terutama pada daerah perkotaan. Undang-Undang No. 8. 35 Tahun 1991 tentang Sungai. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. 2. Instruksi Presiden. 4. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah. 14. Peraturan Pemerintah No. Undang-Undang Dasar 1945. Peraturan Pemerintah No.11A Tahun 2006 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai. Undang-Undang No.82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air & Pengendalian Pencemaran Air. Tersedianya data dan sistem informasi yang aktual. Terciptanya pola pembiayaan yang berkelanjutan 11. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.19 . 6. 13. 6.(Persero) CABANG I MALANG 8. 9. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. 12. akurat dan mudah diakses. 10.

Untuk maksud ini sebagai bagian dari kegiatan Penyusunan Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito . pelaksanaan konstruksi. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air menyebutkan bahwa Penyusunan pola pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan melibatkan peran masyarakat dan dunia usaha seluas-luasnya. badan usaha milik negara. pemantauan. masyarakat tidak hanya diberi peran dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air.Kapuas. Penyusunan pola pengelolaan perlu melibatkan seluas-luasnya peran masyarakat dan dunia usaha. dan/atau keinginan dari para pemilik kepentingan (stakeholders) untuk diolah dan dituangkan dalam arahan kebijakan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai. Pelibatan masyarakat dan dunia usaha tersebut dilakukan melalui konsultasi publik yang diselenggarakan minimal dalam 2 (dua) tahap. Pelibatan masyarakat dan dunia usaha dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air dimaksudkan untuk menjaring masukan. Kegiatan ini telah dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Tengah. permasalahan. Departemen Pekerjaan Umum. permasalahan.1 . Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. baik koperasi. dan/atau keinginan masyarakat dan dunia usaha atas pengelolaan sumber daya air wilayah sungai. Konsultasi publik tahap kedua dimaksudkan untuk sosialisasi pola yang ada guna mendapatkan tanggapan dari masyarakat dan dunia usaha yang ada di wilayah sungai yang bersangkutan. Konsultasi publik tahap pertama dimaksudkan untuk menjaring masukan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII . badan usaha milik negara.1 UMUM Menurut pasal 11 ayat (3) Undang-Undang No. Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Provinsi Kalimantan Tengah dengan pelaksana Konsultan PT.(Persero) CABANG I MALANG BAB 7 PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM) 7. badan usaha milik daerah maupun badan usaha swasta. Sejalan dengan prinsip demokratis. Indra Karya (persero) Cabang I Malang telah mengadakan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I). tetapi berperan pula dalam proses perencanaan. Dunia usaha yang dimaksud di sini adalah koperasi. operasi dan pemeliharaan. serta badan usaha milik daerah dan swasta. serta pengawasan atas pengelolaan sumber daya air.

3) Mengidentifikasi permasalahan pengelolaan SDA dan keinginan pengembangan SDA yang berbeda untuk masing-masing Sub WS.(Persero) CABANG I MALANG 7. PLN) 7.1. Pelaksanaan Ekspose dan Peserta Yang Terlibat Kegiatan PKM I yang pemaparannya dilakukan oleh Konsultan. keinginan. dimaksudkan untuk menjaring informasi dan aspirasi secara luas tentang permasalahan daerah.2. Tujuan PKM I Tujuan penyelenggaraan pertemuan konsultasi ini adalah untuk : 1) Menjaring informasi dan aspirasi secara luas tentang permasalahan daerah. Adapun peserta yang diundang untuk pengumpulan aspirasi dan masalah tersebut adalah : Departemen Pekerjaan Umum.2 . Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. kendala. 5) Mengupayakan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .2. aspirasi dan usulan terhadap pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air. keinginan.2. aspirasi dan usulan terhadap pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air.kendala. 4) Meningkatkan kesadaran para pengguna air akan tujuan dan kegiatan studi Rancangan Pola Wilayah Sungau . 2) Menambah pemahaman tentang situasi permasalahan air dan isu-isu yang menyangkut air dan para pengguna air.2 PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM) I 7. Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Tengah Kepala Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Para Kepala Bappeda Kabupaten Para Kepala Dinas Kabupaten yang terkait dengan SDA Para akademisi dari kalangan Perguruan Tinggi Lembaga Swadaya Masyarakat yang terkait dengan SDA Pelaku industri yang berhubungan dengan SDA (PT. Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Provinsi Kalimantan Tengah Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Selatan.

tanggal 23 Oktober 2008.2. Dokumentasi : Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII . Kalimantan Selatan. Pukul 09. Pembiayaan Seluruh rangkaian kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I) ini menjadi tanggungan pihak Konsultan PT.4. sebagai pelaksana pekerjaan ini. 7.(Persero) CABANG I MALANG pengelolaan SDA WS Barito .5.2. 7. Tempat Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I) dilaksanakan di Palangkaraya. 6) Mempergunakan hasil identifikasi tentang permasalahan pengelolaan SDA dan keinginan terhadap pembangunan untuk memformulasikan kebutuhan akan pengembangan SDA dan strategi dalam rangka menyusun Pola Pengelolaan SDA.3 .00 WITA sampai Selesai. Waktu Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I) dilaksanakan pada hari Rabu.Kapuas.2. 7.3. Indra Karya (persero) Cabang 1 Malang.

4 . TA 2008 Peserta Moderator Peserta PKM I Panitia Peserta PKM I Pembawa Acara Hari/Tanggal Rabu.00 Pengisian Daftar Hadir 09.00 – 09. Indra Karya (Persero) 10.30 – 10. 23 Agustus 2008 Peserta PKM I Peserta PKM I Pembawa Acara Pembawa Acara Peserta PKM I Peserta PKM I Bappeda Prop.(Persero) CABANG I MALANG 7.2.KAPUAS.00 – 12. Kalsel Pembawa Acara Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .30 Pengarahan oleh Ditjen Sumber Daya Air.6.00 Paparan PKM I oleh Konsultan PT.30 – 09. Jadwal JADWAL ACARA PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM I) dalam rangka PENYUSUNAN RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI Waktu Acara 08.15 – 09.15 Pembukaan oleh Ka Bappeda Propinsi Kalimantan Selatan 09.00 Diskusi dan Pembahasan Kuisener 12. Jakarta 09.00 Penutup dan Makan Siang BITO .00 – 13.

pelestarian sumber air. legalitas kesepakatan antar kepentingan Terutama daerah hulu sungai Barito 5. pelatihan. pengembangan hutan kemasyarakatan dan resetlement penduduk di luar kawasan hutan lindung Perlu adanya Perda tentang sempadan sungai Perlu sosialisasi peran serta masyarakat. KONSERVASI DAERAH TANGKAPAN AIR Kawasan hutan lindung dikelola berdasarkan ketentuan atau tata cara pemanfaatan hutan lindung yaitu pemanfaatan semaksimal mungkin untuk kepentingan masyarakat dengan tetap memperhatikan aspek perlindungan pada kawasan budidaya di bawahnya. penanganan secara terpadu oleh instansi terkait. penyuluhan. 41 Terutama daerah hulu sungai Barito 3. sosial dan ekologi yang maksimal bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan Kawasan resapan air meliputi sebaran air tanah yang terdiri atas endapan aluvial sungai dan tanah.(Persero) CABANG I MALANG 7. penegakan hukum. Analisis Persandingan Dari PKM 1 yang telah dilaksanakan. Penebangan Hutan Penghutanan kembali. Kawasan sempadan sungai besar 100 m di kiri kanan diukur dari tepi sungai. Pendayagunaan SDA. agro forestry. sungai kecil 50 m 1. Pengendalian Daya Rusak Air. penambahan polisi hutan Terutama daerah hulu sungai Barito 2. Secara keseluruhan kawasan resapan air tersebar di semua wilayah kabupaten/kota di Kalteng Pemanfaatannya secara umum dikuasai oleh negara khususnya pemerintah daerah tetapi pengembangannya harus tetap memperhatikan kepentingan masyarakat setempat Tata guna air ditujukan untuk menjamin pemenuhan kebutuhan air bersih dan irigasi bagi penduduk dan aktifitasnya melalui pengelolaan lahan terpadu di DAS dan kawasan pesisir sebagai suatu ekosistem Kawasan sentra perkebunan khususnya pengembangan komoditi unggulan diarahkan ke wilayah pegunungan. yang meliputi Konservasi Daerah Tangkapan Air.7. terasering Seluruh WS Barito 4. embung. Hutan Milik Dinas Kehutanan Penataan batas kawasan hutan. Pengelolaan hutan produksi dilakukan dengan pemanfaatan dan pelestarian hasil (kayu dan non kayu) sehingga diperoleh manfaat ekonomi. Pemberdayaan masyarakat. BIDANG /LINGKUP 1 PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 LOKASI 3 ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 Komponen 1. Pengisian air pada sumber air Pembuatan embung.2. penghijauan. penyuluhan Hulu dan hilir DAS Barito 6. Perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air Pemanfaatan ladang di pegunungan Reboisasi. diperoleh beberapa Isu pokok meliputi beberapa komponen. Pemanfaatan Potensi Hutan (Kayu) Hutan desa. Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan serta Sistem Informasi Sumber Daya Air. sosialisasi UU No. diperlukan perencanaan terpadu. koordinasi lintas sektoral. pembangunan waduk. Hulu WS Barito 7 Pengaturan daerah sempadan air Konservasi oleh Masyarakat (swadaya) Seluruh WS Barito Hulu WS Barito 8 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-5 . pemberdayaan masyarakat.

Sungai atau sumber air lainnya Kerusakan Sumber Mata Air 3 Hulu WS Barito 1. 2. PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1. taman nasional. penyediaaan air baku Kota dan Kabupaten Arahan pengembangan air bersih adalah pengembangan sistem pelayanan air baku dan air bersih secara terpadu.(Persero) CABANG I MALANG BIDANG /LINGKUP PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 Pelestarian hutan lindung. Kebutuhan air minum binatang ternak Ketersediaan air untuk listrik Pembagunan embung dan chekdam Pengamanan hutan pada daerah hulu Di daerah peternakan Hulu WS BaritoKapuas 9 Memantapkan Kerangka Institusi Pengelola SDA Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-6 . peningkatan pelayanan air bersih melalui kerjasama antar daerah dan kerjasama dengan swasta. Tradisional/Desa Pemberdyaan P3A 7 Perikanan darat dan tambak Pembangunan jaringan irigasi tambak 8. kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam Kualitas Air Kondisi Air di Mata Air. peningkatan pelayanan air bersih dengan penambahan kapasitas produksi air. pengamanan khusus sumber-sumber air Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air hulu sungai Barito Dalam WS Barito Meminimalkan pencemaran air baik di darat maupun di laut termasuk dampak negatif dari penambangan bahan galian golongan C di sungai 3 Kondisi Air Distribusi dari PDAM (Kebutuhan Domestik) Pembangunan IPA. Kebutuhan air irigasi 5. Kondisi Air Baku Perdesaan / Perkotaan Kondisi lokasi pengambilan air baku Kebutuhan air industri Diharapkan dibangun wadukwaduk penampungan air Dalam WS S Barito Pengembangan irigasi sawah diprioritaskan pada kegiatan rehabilitasi dan pengembangan irigasi kecil Penyediaan air baku yang berkualitas baik dari air permukaan maupun air tanah Pembangunan sarana dan prasarana air baku untuk air bersih Kota dan Kabupaten Dalam WS Barito 2. Penambahan jaringan. 4. suaka marga satwa dan taman wisata. 9 1 Pelestarian hutan lindung. Konservasi SDA dan pembangunan waduk. penyuluhan LOKASI ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 Kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam meliputi cagar alam. 3. Permasalahan Irigasi Teknis. embung dll. Komponen 2. Semi Teknis. Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi Peningkatan/pemeliharaan sarana/prasarana irigasi Dalam WS Barito 6.

Banjir hilir Barito 2. PEMBERDAYAAN STAKEHOLDERS DAN KELEMBAGAAN 1.(Persero) CABANG I MALANG BIDANG /LINGKUP PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 Perlu dibentuk Balai DAS dan pembuatan Perda Pemberdayaan P3A Dibentuk pengelola air ditingkat desa Perlu adanya program pemantauan survai dan ditunjuk fasilitator pengairan Disediakan biaya pelaporan dan petugas yang memadai LOKASI ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 1 1. 4. Erosi . rehabilitasi hutan kritis Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi.Sedimentasi Dalam WS Barito Kegiatan yang dapat dilakukan di kawasan sempadan sungai diijinkan sepanjang tidak mempengaruhi fungsi lindungnya terhadap ekosistem sungai tersebut. beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana 7 WS Barito 8 Pembuangan Sampah oleh Masyarakat Program kali bersih Sungai Barito Komponen 4. antara lain budidaya pertanian tanaman tahunan. PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR Konservasi hulu sungai. 3. beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana 1. perbaikan hilir sungai. perbaikan hilir sungai. 7 tahun 2004 WS Barito 4 Bangunan Pengendali Banjir yang ada Peringatan Dini tentang Bahaya Banjir Upaya untuk Menanggulangi Kerugian Banjir Desa-desa Rawan Tergenang Pembangunan bangunan pengendali banjir pada daerah rawan banjir Pengadaaan alat peringatan dini bila terjadi banjir Pembangunan bangunan pengendali banjir pada daerah rawan banjir Pemetaan dan pembuatan saluran pembuangan WS Barito Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi. WS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-7 . 5 Komponen 3. pembangunan bendungan pengendali banjir Konservasi hulu sungai. peta rawan daerah banjir. P3A Pengelola air di tingkat desa Pemantauan Survai dan Fasilitator Pengairan lainnya Sistem Pelaporan Kondisi Sungai dan Bangunan yang ada Kab dalam WS Barito-Kapuas Seluruh desa 3. Balai DAS / BP-DAS 3 2. beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana 5 WS Barito 6 WS Barito Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi. Perambahan Bantaran Sungai Sosialisasi UU No. Upaya pemberdayaan oleh Pemda Belum terbentuknya Dewan Sumber Daya Air Provinsi dan Sosialisasi petunjuk pelaksanaan UU dan Perda dan pengucuran dana Perlu dibentuk Dewan SDA WS Barito 2.

dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. Dengan maksud meningkatkan koordinasi antar instansi terkait. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. Dalam rangka peningkatan peran masyarakat dalam pengelolaan SDA.(Persero) CABANG I MALANG BIDANG /LINGKUP PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 LOKASI ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 1 Kabupaten 3 3. SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA AIR 1. sebagian masyarakat mengusulkan agar dibentuk Dewan SDA dan Komisi Irigasi Kabupaten/ Kota Wilayah Sungai Barito-Kapuas. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. dibuat database di kabupaten 2. Informasi mengenai kondisi hidrologi Informasi mengenai kondisi hidrometeorologi Informasi mengenai kondisi hidrogelogi Informasi mengenai kondisi kebijakan sumber daya air Informasi mengenai kondisi prasarana sumber daya air Informasi mengenai kondisi teknologi sumber daya air Informasi mengenai kondisi lingkungan pada sumber daya air Informasi mengenai kondisi kegiatan sosial ekonomi budaya terkait dengan SDA Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. di kabupaten 3. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. Belum terbentuknya Balai PSDA Kurangnya peran masyarakat dan swasta dalam pengelolaan SDA Konflik masyarakat antar kelompok/daerah Pembentukan balai PSDA WS BaritoKapuas Provinsi 4 Sosialisasi 5 di kabupaten Komponen 5. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. di kabupaten 4 di kabupaten 5 di kabupaten 6 di kabupaten 7 di kabupaten 8 di kabupaten Komponen Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan 1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-8 . dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. sebagian besar masyarakat mengusulkan agar dibentuk dan diaktifkan IP3A/GP3A/P3A dan organisasi pemanfaat air lainnya. 2.

1.(Persero) CABANG I MALANG 3. 2. Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Tengah. audio visual. sebagian besar masyarakat mengusulkan agar pengelola SDA melakukan penyuluhan semua aspek pengelolaan SDA. Komponen Sistem Informasi SDA 1. sebagian besar masyarakat masyarakat. Pelaksanaan Ekspose dan Peserta yang Terlibat Kegiatan PKM II yang pemaparannya dilakukan oleh Konsultan. 5. media massa. Adapun peserta yang diundang dalam rangka sosialisasi rancangan pola pengembangan dan pengelolaan SDA adalah : Departemen Pekerjaan Umum. Dengan maksud untuk meningkatkan rasa tanggung jawab dan memiliki dalam pengelolaan SDA. sebagian besar masyarakat mengusulkan agar menyiapkan Sistem Informasi Manajemen (melalui: radio. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan mengusulkan agar pihak pengelola SDA melakukan inventarisasi. sebagian masyarakat mengusulkan agar dibentuk dan diaktifkan unit yang menangani SIM dan kontrol kualitas.3 PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM) II 7. Dengan maksud untuk memudahkan mendapatkan data.3. 4. sebagian masyarakat mengusulkan agar pemanfaat air dilibatkan dalam mengambil keputusan. 7. Dalam rangka penyebarluasan informasi pengelolaan SDA. sebagian masyarakat mengusulkan agar diterbitkan Perda dan keputusan Bupati/ Walikota dalam pengelolaan SDA serta penerapan sanksinya. Dalam rangka pengelolaan SDA secara efektif. dimaksudkan untuk memberikan sosialisasi terhadap rancangan pola pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air. Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Provinsi Kalimantan Tengah Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Selatan. pengumpulan data dan menyediakan informasi SDA kepada Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-9 . Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Dalam rangka peningkatan pemahaman masyarakat tentang SDA. internet) 3. Sehubungan dengan peningkatan kinerja pengelolaan SDA.

4) Mengupayakan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan dan pengelolaan SDA WS Barito . Waktu Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat II (PKM II) dilaksanakan pada hari Rabu. 2) Menambah pemahaman tentang situasi permasalahan air dan isu-isu yang menyangkut air dan para pengguna air.(Persero) CABANG I MALANG Tengah Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Para Kepala Bappeda Kabupaten Para Kepala Dinas Kabupaten yang terkait dengan SDA Para akademisi dari kalangan Perguruan Tinggi Lembaga Swadaya Masyarakat yang terkait dengan SDA Pelaku industri yang berhubungan dengan SDA (PT. Tempat Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat II (PKM II) dilaksanakan di Jakarta.4.3. Tujuan PKM II Tujuan penyelenggaraan pertemuan Sosialisasi ini adalah untuk : 1) Memberikan sosialisasi terhadap rancangan pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air. 3) Meningkatkan kesadaran para pengguna air akan tujuan dan kegiatan studi Rancangan Pola Wilayah Sungau . 7. Indra Karya (persero) Cabang 1 Malang. 5) Mempergunakan hasil identifikasi tentang permasalahan pengelolaan SDA dan keinginan terhadap pembangunan untuk dilaksanakan sesuai dengan rancangan pengembangan SDA dan strategi dalam SDA.3.3. Pukul 09.5. tanggal 10 Desember 2008. PLN) 7.00 WIB sampai Selesai.3. sebagai pelaksana pekerjaan ini. Pembiayaan Seluruh rangkaian kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat II (PKM II) ini menjadi tanggungan pihak Konsultan PT.3.Kapuas. 7. 7.2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-10 .

10 Desember 2008 Waktu 08.11 .00 09.00 – 09.00 Peserta PKM II Peserta PKM II Bappeda Prop.30 – 09. TA 2008 Hari/Tanggal Rabu.(Persero) CABANG I MALANG 7.00 Peserta PKM II Peserta PKM II Pembawa Acara Pembawa Acara 10.3.30 09.00 – 13.30 – 10. Kalimantan Tengah Pembawa Acara Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .00 – 12.00 12. Jadwal JADWAL ACARA PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM II) dalam rangka SOSIALISASI RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BITO .15 Acara Pengisian Daftar Hadir Pembukaan oleh Ka Satker Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Propinsi Kalimantan Tengah Pengarahan oleh Ditjen Sumber Daya Air.6. Jakarta Paparan PKM II oleh Konsultan PT.KAPUAS.15 – 09. Indra Karya (Persero) Diskusi dan Penyampaian saran serta masukan Penutup dan Makan Siang Peserta Peserta PKM II Peserta PKM II Moderator Panitia Pembawa Acara 09.

Barito Timur . penegakan hukum. Hasil Sosialisasi PKM II Hasil PKM tahap II yang telah dilaksanakan di Jakarta diperoleh beberapa masukan meliputi aspek Konservasi.7.Kab.Kab. Pengendalian Daya Rusak Air. Komponen Konservasi Daerah Tangkapan Air NO I 1 Usulan Program Konservasi Daerah Tangkapan Air Rehabilitasi hutan dan lahan kritis . Kelembagaan dan Sistem Informasi Managemen sebagai berikut : 7.12 .Sub DAS Martapura .Sub DAS Barito Tengah .Kabupaten Barito Utara .Barito Timur .1. sosialisasi UU No.Sungai Barito .Sub DAS Barito Hilir . penambahan polisi hutan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .Kab.Barito Selatan .Kab.3.7.3.Kab.Kabupaten Barito Kuala Reboisasi .Sub DAS Negara Pembangunan (Arbaretum/ pelestarian sumber air) di kawasan sungai danmata air: .Kabupaten Kapuas . penyuluhan.Kabupaten Barito Utara .Kabupaten Kapuas . Murung Raya .Kab.daerah hulu Sungai Barito Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 √ 3 √ Tetapi Arbaretum bukan upaya untuk aspek Konservasi tetapi lebih cocok untuk aspek Pendayagunaan SDA Hutan desa diperlukan koordinasi lintas sektoral. agro forestry. Pendayagunaan SDA. 41 4 √ 5 √ Penghutanan kembali.Barito Selatan .(Persero) CABANG I MALANG 7. Murung Raya .Kabupaten Barito Kuala Memberikan contoh cara bercocok tanam pada lahan miring berdasarkan kaidah konservasi Pembuatan tras bangku (demplot) : .Mata air Perencanaan terpadu pemanfaatan potensi hutan (kayu) .Sungai Kapuas .

Penyediaan air ini bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga. Komponen Pendayagunaan Sumber Daya Air N O II 1 Usulan Program Pendayagunaan SDA Penyediaan Air Baku .Kab.Kab.Barito Selatan .Barito Timur .Kab.Kabupaten Barito Utara .Kabupaten Barito Kuala √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .Kabupaten Barito Utara .2.Kabupaten Kapuas . dengan target tingkat pelayanan 80 % & seluruh kota kecamatan dapat terlayani kebutuhan air bersihnya hingga tahun 2025 Membangun prasarana air baku baru untuk tingkat kecamatan yang belum ada prasarananya.Kab.Barito Selatan .Sungai Barito .Barito Timur . Target pelayanan RKI untuk seluruh kabupaten di WS Barito Kapuas: . √ Penyediaan air baku yang berkualitas baik dari air permukaan maupun air tanah.Barito Timur .Kab. Murung Raya .3.Sungai Kapuas .Kabupaten Kapuas . Murung Raya .Kabupaten Kapuas .Kabupaten Barito Utara . √ Banyaknya lahan pertanian yang belum termanfaatkan karena kurangnya fasilitas irigasi.Barito Timur . industri maupun PDAM Peningkatan/pemelihar aan sarana/prasarana irigasi √ Peningkatan fungsifungsi fasilitas irigasi yang sudah ada.(Persero) CABANG I MALANG 7.Kab.7.Kab.Kab.13 .Barito Selatan .Kabupaten Barito Utara .Kab. Murung Raya .Barito Selatan .Sumber Air Lainnya Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 3 4 5 Rehabilitasi/peningkatan jaringan irigasi sederhana .Kab.Kabupaten Kapuas .Kabupaten Barito Kuala Pembangunan irigasi baru .Kabupaten Barito Kuala Optimalisasi sistem irigasi pada DI Teknis /semi teknis : .Kabupaten Barito Kuala Meningkatkan pelayanan untuk RKI.Kab. Murung Raya .Kab.

Balai DAS/BP-DAS . Dimaksudkan untuk memantau kondisi terakhir dari sumbersumber air yang ada. Sehingga akan didapat data kualitas air sungai-sungai di WS Citanduy secara lengkap 7 8 Pemanfaatan air untuk binatang ternak . Perlu dibangun waduk sebagai tampungan untuk sistem PLTA Perlunya dibangun embung atau chekdam untuk tempat minum binatang ternak Pembangunan jaringan irigasi untuk tambak dan perikanan darat.Sungai Kapuas . Pembentukan lembaga pengelola air dimaksudkan agar terjadi koordinasi antar instansi dan antar pengguna SDA sehingga bisa dihindari penggunaan SDA yang kurang bertanggungjawab.Sungai Kapuas .Waduk Muara Juloi Tanggapan Setuju √ Tidak Keterangan Ketersediaan air yang melimpah belum termanfaatkan secara optimal. Penyediaan karamba untuk budidaya ikan di sungai Untuk mencukupi kebutuhan air bersih rumah tangga dan pertanian tanaman kering.Fasilitator pengelola air lainnya √ 11 Sistem pelaporan kondisi sumber air .Sungai Barito .14 .Sungai Kapuas .Sumber Air Lainnya Meningkatkan kontrol terhadap kualitas air dengan memasang titik kontrol BOD dan BO di sugai-sungai √ 12 √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .(Persero) CABANG I MALANG N O 6 Usulan Program Ketersediaan air untuk listrik .Pengelola air di tingkat desa .Sungai Barito .Sumber Air Lainnya Pemanfaatan air untuk Perikanan darat dan Tambak .Sungai Barito .Sumber Air Lainnya Pembangunan sumur-sumur air tanah : √ √ 9 √ 10 Kelembagaan sumber daya air .P3A .

Kabupaten Barito Kuala Pengendalian penambangan galian C 1) Penyusunan perda tentang perizinan dan tata cara penambangan Penanggulangan Daya Rusak air Perbaikan/perkuatan tebing kritis yang belum ditangani dan memelihara serta memonitor yang sudah ditangani Penanggulangan darurat bencana 1) Penyediaan bronjong. Murung Raya .Sungai Barito .Barito Selatan .Kab.Sungai Kapuas Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 Pencegahan Erosi dan Sedimentasi .7. kemah. 5 √ 6 √ B 1 2 3 √ √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII . karung pasir. Komponen Pengendalian Daya Rusak Air N O III A 1 Usulan Program Pengendalian Daya Rusak Air WS BaritoKapuas Pencegahan Daya Rusak Air Konservasi hulu sungai.Sungai Kapuas Menjadikan DAS bagian hulu sebagai waduk alam dengan pengelolaan DAS yg baik sesuai dengan kaidah konservasi Flood Zoning. perbaikan hilir sungai.Sungai Barito .Kab.Barito Timur . (jika upaya lainnya sulit dan mahal.3.Kabupaten Kapuas . dll Flood warning √ Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi. beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana Konservasi hulu sungai. rehabilitasi hutan kritis 3 √ 4 √ Penetapan daerahdaerah resapan air. pembangunan bendungan pengendali banjir . pompa air cerucuk Perahu karet.15 . Flood Proofing. perbaikan hilir sungai.3.Kabupaten Barito Utara . perlu diterapkan Flood Proofing) Meningkatkan managemen banjir melalui partisipasi masyarakat & sosialisasi . peta rawan daerah banjir.Kab.(Persero) CABANG I MALANG 7.

Kabupaten Barito Utara .Kabupaten Kapuas . Murung Raya .5.Kabupaten Kapuas .Kabupaten Barito Utara .4.Kab.16 .Kab.data hujan .(Persero) CABANG I MALANG 7.Kabupaten Barito Kuala Penyuluhan kepada petani memberi peran pada P3A untuk ikut mengendalikan & pengawasan pemakaian air 1) Penyuluhan pada P3A 2) Mengeffektifkan semua P3A yang ada Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 √ 3 √ 7.Kab. Murung Raya . Komponen Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan N O IV 1 Usulan Program Pemberdayaan Masyarakat (Sosial dan Budaya) Pemberdayaan/penguatan petani pemakai air (P3A) dan peningkatan Partisipasi masyarakat pemakai air Penyuluhan kepada masyarakat tentang kepedulian terhadap penanganan banjir .Kabupaten Barito Kuala Pengelolaan data hidrologi . Komponen Sistem Informasi Sumber Daya Air N O V 1 Usulan Program Sistem Informasi Sumber Daya Air Membangun sistem pengelolaan data dan informasi (6 Kabupaten / Kota) .Kab.Kab.3.7.Barito Selatan .Barito Timur .Kab.Barito Selatan .7.Barito Timur .data klimatologi O & P bangunan hidrologi termasuk pengadaan kertas alat dan perlengkapan lainnya Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 √ 3 √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .data pengamat muka air .3.

agar bisa menganalisis secara spasial dari wilayah S. Barito-Kapuas beserta konservasi dan pendayagunaan airnya √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .17 .Stasiun pengamat muka air .(Persero) CABANG I MALANG N O Usulan Program .Stasiun hujan .Stasiun klimatologi Publikasi data hidrologi ditingkatkan : Setiap bulan sekali data-data hidrologi di publikasikan melalui internet Tanggapan Setuju Tidak Keterangan 4 √ 5 Pengukuran debit dan pengambilan sampel air ditingkatkan (setiap seminggu sekali diadakan pengukuran debit dan pengambilan sampel air) √ Dirasakan masih sulit untuk dilaksanakan karena tidak bisa tiap bulan datadata hidrologi bisa tiap bulan dipublikasikan Dirasakan masih sulit untuk dilaksanakan karena melihat dari faktor biaya dan petugas yang ada minimum 6 SIM agar dilengkapi dengan sistem informasi Geografis SDA.

(Persero) CABANG I MALANG BAB 8 RANCANGAN POLA PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI BARITO-KAPUAS 8. Salah satu penyebabnya adalah belum adanya sistem pengaturan kompensasi atas kehilangan kesempatan pemanfaatan ruang di bagian hulu untuk penggunaan yang lebih produktif dan dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang lebih besar daripada untuk daerah resapan air.2 ISU POKOK NASIONAL PERMASALAHAN SDA 8.1. diantara masalah-masalah sbb: Kebijakan pemerintah tentang penetapan kawasan konservasi / resapan di bagian hulu dan kawasan budidaya di bagian hilir suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) banyak yang tidak berjalan efektif. Barito-Kapuas perlu disiapkan Rancangan Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas yang dijiwai oleh Kebijakan Nasional maupun kebijakan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Kalimantan Selatan dan masukan dari stakeholder melalui PKM. Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Semakin meluasnya degradasi DAS dan semakin tingginya sedimentasi akibat pembabatan hutan dan praktek pertanian dan perkebunan yang tidak mengikuti aspek konservasi lahan yang didorong oleh tekanan kependudukan dan meningkatnya kegiatan ekonomi dan tata guna tanah serta tata ruang yang tidak kondusif.1.2. Ketidak konsistenan Tata Ruang.1 UMUM Sebagai landasan dalam pembuatan Pola Pengelolaan SDA WS. 8. Hal ini diperparah adanya Kebijakan RTRW per Kabupaten yang belum mempertimbangkan Tata Ruang Wilayah Sungai.1 . Permasalahan SDA dari Sisi Pasokan/ Ketersedian Air 8. Rancangan pola ini disusun berdasarkan hasil kajian permasalahan dan isu yang ada di Wilayah Sungai Barito-Kapuas baik permasalahan umum maupun khusus serta hasil masukan dalam PKM 1.1.2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .

Akibatnya banyak bantaran sungai dijadikan permukiman sehingga mempersempit palung sungai yang pada gilirannya dapat mengakibatkan terjadinya banjir/ genangan dan daerah kumuh.3. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .2. Adanya kawasan hutan lindung yang dikonversi menjadi daerah permukiman dan pertanian/perkebunan. (penerapan Flood zoning regulation) Penggunaan kawasan lindung untuk kegiatan ekonomi-sosial maupun pertanian dan perkebunan. akibatnya semakin menurunkan luas areal retensi air untuk banjir dan juga menurunkan resepan untuk “recharge” air tanah. Tercemarnya sumber-sumber air seperti sungai dan danau oleh limbah penduduk maupun pertanian. Kerusakan Sumber Air Masalah kerusakan sumber air di wilayah sungai Barito-Kapuas akhir akhir ini adalah mencakup : Menyempitnya sungai sungai dan saluran drainasi baik dalam DAS Barito maupun DAS Kapuas akibat tingginya kandungan lumpur yang dibawa oleh aliran air sungai maupun drainasi sebagai akibat rusaknya DAS maupun akibat sampah yang dibuang penduduk disekitar sungai maupun drainasi yang pada akhirnya akan menurunkan kemampuan kapasitas sungai/drainasi sehingga menyebabkan banjir. Selain itu sebagian sarana dan prasarana irigasi yang ada telah mengalami penurunan kinerja karena kerusakan/penurunan fungsi bangunan irigasi. ketersediaan air untuk irigasi sangat mencukupi. dilaksanakan secara sengaja maupun tidak sengaja dan dengan skala kecil maupun besar.1. semi teknis dan sederhana di beberapa lokasi terpencar juga mengalami penurunan fungsi pelayanan.2. Terbatasnya Prasarana Penyedia / Pengendali Pasokan Air Dilihat dari potensi pasokan air dari kedua sungai.(Persero) CABANG I MALANG Kurangnya perhatian dan keberpihakan pihak perencana tata ruang untuk mengalokasikan ruang bagi permukiman yang aman dan sehat penduduk golongan miskin. Daerah Irigasi lainnya yang dikelola oleh Dinas Pengelolaan SDA yang terdiri dari jaringan irigasi teknis.2 . Terbatasnya jumlah bangunan penyedia air telah menyebabkan kurang berkembangnya pertanian/persawahan di WS Barito-Kapuas. 8.2. 8.1.

4.2. perkotaan dan industri ) daerah perkotaan s/d tahun 2025 akan diperlukan penambahan air baku yang cukup signifikan dari yang ada sekarang ini.(Persero) CABANG I MALANG 8. Namun yang kenyataannya yang terjadi adalah kurangnya sawah beririgasi teknis dan kurangnya fasilitas sarana dan prasarana irigasi.2. 8.2. jasa dan perkotaan memerlukan dukungan berbagai sektor diantaranya penyediaan air baku untuk industri. Dampak Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi yang dimanifestasikan dalam meningkatnya kegiatan industri.2. Rendahnya (tidak memadainya) alokasi dana untuk O&P prasarana SDA Dengan adanya pembagian wewenang dalam pengelolaan jaringan irigasi yang diindikasikan dari luasan jaringan irigasi.2.2. Perilaku Boros Air. jasa dan perkotaan diperkirakan akan meningkat sebesar 2 s/d 3 kali dari kebutuhan. dana OP pada daerah irigasi yang dikelola oleh pemerintah Kabupaten menjadi sangat minim rendah. Sedangkan untuk kebutuhan air bersih (domestik.4. 8.3 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS . 8.2. Tidak Peduli dan Tidak Ramah Lingkungan Perilaku masyarakat yang boros air dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.2. Penanganan untuk membangkitkan kesadaran dan kepedulian masyarakat antara lain melalui : • • Informasi publik tentang air belum tertata/ berkembang Pendidikan publik tentang air belum tertata/ berkembang VIII . Masalah Sumber Daya Air dari Sisi Permintaan (Penggunaan) 8.1.1. Ketahanan Pangan Memerlukan Air dan Lahan Upaya ketahanan pangan memerlukan peningkatan produksi pangan terutama pada lahan beririgasi.2.2% pertahun akan menimbulkan bertambahnya kebutuhan pangan dan bahkan tekanan yang sangat besar di atas tanah (lahan). Dampak Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan penduduk sebesar rata-rata 1.2.2.3. Kurangnya sawah beririgasi teknis dan kurangnya fasilitas sarana dan prasarana irigasi adalah ancaman bagi swasembada pangan 8. Untuk memenuhi kebutuhan pangan (beras) sampai dengan tahun 2025 maka sawah beririgasi baru harus dibangun. Dilain pihak konsumsi beras di Indonesia akan meningkat dari tahun ke tahun yang memerlukan pertambahan sawah beririgasi baru dan sarana irigasi yang memadai. demikian juga pembuangan sampah padat dan limbah cair ke air dan sumber air tidak saja menyebabkan penyempitan sungai tetapi juga menebarkan bau tidak sedap disepanjang sungai/kanal.2.

(Persero) CABANG I MALANG

8.2.3. Masalah Manajemen Sumber Daya Air 8.2.3.1. Penanganan Yang Terfragmentasi Dengan sifat SDA yang dinamis, maka penanganan SDA menjadi terfragmentasi di beberapa Departemen. Tiap sektor menangani sehingga cenderung membentuk egoisme sektoral yang menitikberatkan kepada kepentingan masing-masing. Akibatnya terjadi tumpang tindih maupun ”gap” (kekosongan) tanggung jawab dan wewenang institusi yang merencanakan dan membuat aturan. Institusi yang berhubungan dengan kualitas air misalnya, juga bermacam-macam sehingga sampai saat ini masalah lingkungan masih belum terpecahkan. 8.2.3.2. Kelemahan Koordinasi Koordinasi pengelolaan Sumber Daya Air di pusat maupun di daerah masih lemah : • • Lembaga koordinasi di tingkat pusat baru mencakup antar instansi terkait dan belum melibatkan seluruh komponen stakeholder secara lengkap; Belum optimalnya fungsi lembaga koordinasi di tingkat Provinsi yaitu Panitia Tata Pengaturan air ( PTPA ) dan tingkat Wilayah Sungai (WS) yaitu Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air ( PPTPA ) . • PTPA dan PPTPA belum mencakup seluruh komponen stakeholders.

8.2.3.3. Konsep dan Perangkat Desentralisasi Pengelolaan SAD Belum Mantap Tersedianya dana, tersedianya semberdaya manusia dan kemampuan manajemen selalu menjadi kendala utama. Disamping itu desentralisasi tidak hanya menyangkut hak dan wewenang tetapi melekat didalamnya adalah tugas dan kewajiban. Dengan desentralisasi maka institusi daerah perlu dikembangkan termasuk posisi baru. Jika terjadi ”perubahan lagi” maka posisi akan hilang kembali. Karena itu sebaiknya desentralisasi dilakukan dengan persiapan yang matang, secara bertahap dan berjenjang. 8.2.3.4. ”User Pays Principle & Polluters Pays Principle” Instrumen dan mekanisme untuk operasionalisasi prinsip pemakai air atau menerima manfaat dan “pembuangan limbah“ harus membayar belum memadai sehingga masih memerlukan penyempurnaan dan perlu disesuaikan dengan UU dan PP desentralisasi dan perimbangan keuangan pusat dan daerah baru.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 4

(Persero) CABANG I MALANG

8.2.3.5. Mekanisme Perijinan Belum Bemadai Mekanisme perijinan khususnya yang menyangkut “hak guna” untuk “bulk water“ (air dalam jumlah besar) untuk pemakaian yang bersifat komersial belum memadai dan perlu disesuaikan dengan UU dan PP desentralisasi dan perimbangan keuangan pusat dan daerah baru. 8.2.3.6. Organisasi Masyarakat Pemakai Air Belum Mandiri Organisasi masyarakat pemakai air belum mampu berkontribusi dalam pembiayaan untuk kegiatan Operasi & Pemeliharaan (O&P), perbaikan dan pemeliharaan prasarana-sarana pengairan maupun ”cost recovery” untuk investasi di bidang pengembangan SDA. Sehingga keseluruhan biaya pengelolaan SDA (dari O&P s/d pembangunan prasarana pengairan) menjadi beban pemerintah. 8.2.3.7. Keterbatasan Investasi Dari Pemerintah dan Swasta Sejak REPELITA II s/d sekarang (TA 2008) investasi untuk prasarana dan sarana SDA skala besar hampir semua didanai dengan pinjaman luar negeri seperti OECF/ JBIC, Bank Dunia, ADB dan sebagainya. Keberlanjutan pembangunan prasarana dan sarana skala besar dimasa depan tergantung kebijakan pemerintah, yaitu apakah akan meneruskan pola penyediaan dana seperti sebelumnya (dengan Loan) atau dengan skema pembiayaan yang lain. Di sisi yang lain peranan swasta dalam negeri maupun luar negeri untuk investasi bersama dengan pemerintah untuk membangun prasarana SDA masih sangat terbatas karena kompleksnya permasalahan dan resiko yang tinggi seperti kepastian hukum, kemampuan pemakai air/ penerima manfaat untuk membayar layanan dan sebagainya. 8.2.3.8. Penerapan Prinsip Good Governance Penerapan prinsip-prinsip good governance dalam pengelolaan SDA masih pada tataran konsep dengan operasionalisasi masih sangat terbatas, misalnya proses Konsultasi Masyarakat untuk mendapat masukan dari stakeholders pada berbagai tingkatan Pusat, Provinsi, Kabupaten/kota, belum maksimal. 8.2.3.9. Akuntabilitas Publik Pengelolaan SDA Masih banyak institusi yang menangani masalah yang bersifat kebijakan dan strategi masih menyatu dengan institusi yang menjalankan operasional. Dengan demikian maka akuntabilitas kedua hal tersebut menjadi kabur dan rancu. Institusi itu membuat kebijakan dan sekaligus melaksanakan sendiri kebijakannya. Disamping itu satu sektor pembangunan ditangani oleh berbagai institusi sehingga akuntabilitas institusi sulit diwujudkan.
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 5

(Persero) CABANG I MALANG

8.2.3.10. Lemahnya Lembaga Pengelola SDA Wilayah Sungai Belum efektifnya kerangka kelembagaan dan lembaga pengelola prasarana dan sarana Wilayah Sungai. 8.2.3.11. Tidak Efektifnya Pemeliharaan Jaringan Irigasi Tidak efektifnya pemeliharaan jaringan irigasi dan tidak berlanjutnya (unsustainable) penyediaan dana untuk rehabilitasi/ perbaikan jaringan irigasi. 8.2.3.12. Lemahnya Management Informationt System (MIS) Sumber Daya Air Kurang andalnya data hidrologi dan kualitas air serta tidak tersedianya Manajemen Informasi Sumber Daya Air yang handal menyebabkan akurasi dan kualitas produk perencanaan maupun manajemen SDA belum mencapai ke tingkat yang diharapkan. 8.2.4. Masalah Yang Berkembang Saat Ini Berdasarkan Hasil PKM Hasil PKM Tahap I ditinjau dari 5 komponen, yaitu : Aspek Konservasi Daerah Tangkapan Air. Aspek Pendayagunaan SDA. Aspek Pengendalian Daya Rusak Air. Aspek Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan. Aspek Sistem Informasi Sumber Daya Air. Hasil Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) I dan II seperti yang dijelaskan pada bab 7 sebelumnya. 8.3 KONSEPSI POLA PENGELOLAAN SDA WS BARITO-KAPUAS Uraian dibawah ini merupakan konsepsi Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas yang dijiwai oleh Indikasi Program yang telah diuraikan terdahulu. Secara MATRIKS akan dijelaskan pada lampiran bab ini kaitan antara indikasi Program dengan Konsepsi Pola SDA yang dijabarkan dalam arahan kegiatan operasional. 8.3.1 Konservasi Sumber Daya Air Konservasi sumberdaya air merupakan salah satu misi yang diemban dalam arahan pengelolaan SDA menurut UU No 7/2004. tiga hal, yaitu : Kebijakan yang berkaitan dengan konservasi sumber daya air dalam Kebijakan Nasional Sumber Daya Air mencakup

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 6

(Persero) CABANG I MALANG

a) meningkatkan, memulihkan dan mempertahankan daya dukung, daya tampung dan fungsi daerah aliran sungai untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. b) meningkatkan, memulihkan dan mempertahankan daya dukung, daya tampung, dan fungsi sumber daya air untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. c) memulihkan dan mempertahankan kualitas air untuk memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan. Pola pengelolaan Sumber Daya air adalah kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. Dalam hubungannya dengan aspek konservasi Sumber Daya Air, maka pola pengelolaan Sumber Daya Air di WS Barito-Kapuas diarahkan pada beberapa hal berikut : a) peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak air. b) Pengembangan dan rehabilitasi sarana dan prasarana sumberdaya air dan upaya pemeliharaan sumber air. c) Menetapkan dan pengelolaan daerah sabuk hijau untuk kawasan danau, waduk, rawa, situ/ embung dan mata air serta sempadan sungai dengan prioritas daerah permukiman. d) Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air. e) Memperbaiki kualitas air pada sumber air dan meningkatkan kualitas air dengan cara mengelola industri serta berkesinambungan. f) Menegakkan hukum yang tegas bagi pelanggar ketentuan kualitas serta system penerapan insentif-disinsentif pengelolaan sumberdaya air dan lingkungan. g) Memberdayakan masyarakat dalam aktivitas konservasi sumberdaya air. limbah cair komunal di kawasan permukiman dan system pemantauan kualitas air secara membangun

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 7

(Persero) CABANG I MALANG

Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Konservasi SDA di WS BARITOKAPUAS diarahkan untuk dapat : 1. Mengupayakan selalu tersedianya air dengan kualitas dan kuantitas yang memadai. 2. Melestarikan sumber-sumber air dengan memperhatikan kearifan lokal/adat istiadat setempat. 3. Melindungi sumber air dengan lebih mengutamakan kegiatan rekayasa sosial, peraturan perundang-undangan, monitoring kualitas dan kuantitas air dan kegiatan vegetatif. 4. Meningkatkan daerah resapan air dan daerah tangkapan air dengan konservasi 5. Mempertahankan dan memulihkan kualitas dan kuantitas air yang berada pada sumber-sumber air 6. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam kegiatan konservasi SDA. Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air Beberapa aktivititas yang harus dilakukan dalam kaitannya dengan perlindungan dan pelestarian sumber air adalah sebagai berikut: a. Rehabilitasi, konservasi dan perlindungan hutan dalam kaitannya dengan fungsi hutan sebagai penyimpan air. Keberadaan hutan dengan vegetasi penuh akan mengurangi erosi yang mempunyai dampak negatif terhadap sumber daya alam lainnya dan Sumber Daya Air. b. Reboisasi dalam kawasan hutan yang rusak akibat penggundulan hutan, penebangan liar dan pembangunan liar di hulu sungai harus dilakukan. c. Penghijauan di lahan kritis tidak dapat dibudidayakan. d. Penanaman tanaman bakau pada kawasan pantai dan rawa dan perlindungan tanaman yang sudah ada. e. Penetapan dan pengelolaan kawasan sempadan sungai, danau, waduk, rawa, situ/ embung sebagai sabuk hijau terutama yang saat ini digunakan sebagai permukiman oleh masyarakat. f. Penatagunaan lahan sesuai dengan kelas kesesuaian lahannya dan aktivitas budidaya pertanian dengan memperhatikan kaedah-kaedah konservasi tanah. g. Pelestarian dan perlindungan sumber mata air serta inventarisasi sumber daya air secara menyeluruh sehingga kerusakan ekosistem Sumber Daya Air dapat dicegah. h. Penertiban usaha penambangan galian C terutama yang berkaitan dengan kawasan sumber air.
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

milik masyarakat yang jumlahnya cukup luas.

Lahan semacam ini jika tidak dihijaukan berpotensi semakin terdegradasi dan

VIII - 8

(Persero) CABANG I MALANG

Pengawetan Air Walaupun usaha-usaha pengawetan air pada dasarnya lebih sulit dari pengawetan tanah karena air merupakan komponen ekosistem yang dinamik, beberapa aktivitas yang dapat dilakukan dalam rangka pengawetan air adalah sebagai berikut : 1. Meningkatkan pemanfaatan air permukaan dengan cara, antara lain : a) Pengendalian aliran permukaan untuk memperpanjang waktu air tertahan di atas permukaan tanah dan meningkatkan jumlah air yang masuk ke dalam tanah melalui : Pengolahan tanah untuk setiap aktivitas budidaya pertanian Penanaman tanaman menurut garis kontur (contour cultivation) Penanaman dalam strip (sistem penanaman berselang seling antara tanaman yang tumbuh rapat (misal rumput atau leguminosa) dan strip tanaman semusim Pembuatan teras yang dapat menyimpan air, misalnya teras bangku konservasi (Conservation Bench Terrace) Zingg Pembangunan waduk dan embung

b) Penyadapan air (water harvesting) c) Meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah dengan cara memperbaiki struktur tanah. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian tanaman penutup tanah (mulsa) atau bahan organik. d) Pengolahan tanah minimum (minimum tillage). 2. Pengelolaan Air Tanah (Soil Water Management), dapat dilakukan antara lain dengan: perbaikan drainase yang akan meningkatkan efisiensi penggunaan air oleh tanaman melalui fasilitas drainase permukaan, drainase dalam, atau kombinasi keduanya. 3. Meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi melalui antara lain pengurangan tinggi penggenangan atau pemberian air, mengurangi kebocoran saluran irigasi dan galengan, pergiliran pemberian air dan pemberian air secara terputus. Dua aktivitas terakhir ini harus disertai dengan peraturan dan pengawasan yang ketat dan tegas. Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Pencemaran Air Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan dalam kaitannya dengan pengelolaan kualitas dan pengendalian pencemaran air adalah :
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 9

(Persero) CABANG I MALANG

1. Kali bersih dengan kontrol yang ketat terhadap pembuangan limbah domestik dengan membuat peraturan limbah domestik dan sosialisasi terhadap masyarakat tentang hidup sehat yang terkaitan dengan permasalahan sampah. 2. Pengelolaan sampah domestik secara terpadu dengan sistem daur ulang, pembuatan produk yang mudah didaur ulang, pemisahan jenis sampah organik dengan sampah anorganik. 3. Pengendalian/pengawasan pembuangan limbah industri sesuai dengan baku mutu yang sudah ditetapkan pemerintah. Pengendalian limbah industri dapat dilakukan dengan cara good house keeping (pengelolaan internal), minimasi limbah, dan pemantauan periodik. 4. Pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk industri, baik berupa IPAL individu (industri besar) atau IPAL bersama (industri kecil dan menengah). 5. Audit lingkungan. 8.3.2 Pendayagunaan SDA Pendayagunaan sumber daya air ditujukan untuk memanfaatkan sumber daya air secara berkelanjutan dengan mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil. Pendayagunaan sumber daya air dilakukan melalui kegiatan penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan dan pengusahaan sumber daya air dengan mengacu pada Pola Pengelolaan Sumber Daya Air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. Beberapa komponen penting dalam pendayagunaan SDA yang telah di uraikan pada indikasi program menjadi titik tolak penyusunan konsep pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Dari Indikasi Program tersebut akan dijabarkan dalam matriks Indikasi Program Versus Konsepsi Pola khususnya dalam aspek pendayagunaan SDA. Dengan mengacu kepada arah kebijakan nasional dan memperhatikan hasil kajian terhadap isu-isu utama yang ada di WS. Barito-Kapuas serta analisis atas kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman terhadap pengelolaan SDA, disusunlah arah kebijakan pengelolan sumber daya air di WS. Barito-Kapuas yang akan menjadi pedoman dalam penyusunan agenda pengelolaan SDA selama 20 tahun ke depan (2006-2025), sebagai penjabaran pelaksanaan misi dalam rangka mewujudkan visi pengelolaan SDA yang telah disepakati bersama.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 10

(Persero) CABANG I MALANG

Pendayagunaan SDA merupakan upaya penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan Sumber Daya Air secara optimal agar berhasil guna dan berdaya guna. Sumber air mengandung arti tempat atau wadah air alami dan atau buatan yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah. Sumber air memiliki fungsi sosial, lingkungan dan ekonomi bagi kehidupan manusia yang perlu dipelihara keselarasannya. Pengelolaan sumberdaya air sampai saat ini belum memberikan kejelasan dalam hal proporsi antar fungsi sumber daya air, sehingga pendayagunaan lebih lanjut dari Sumber Daya Air dapat mengakibatkan ketidakseimbangan fungsi yang menjurus kepada kerusakan atau menjadi bencana di kemudian hari dari sumber air. Di dalam menyelaraskan fungsi-fungsi tersebut, akan diperlukan sistem pengkajian, pemantauan dan evaluasi yang dapat memberikan data dan informasi yang transparan yang diperlukan didalam pengembangan pengelolaan sumber air lebih lanjut secara berkesinambungan. Transparansi dan akuntabilitas dari suatu pengelolaan sumber air akan menjamin keberlanjutan dari penyelenggaraan pengelolaan sumber air. Salah satu kunci di dalam upaya meningkatkan transparansi dan akuntabiliti dari suatu pengelolaan sumber air adalah dengan merumuskan, menentukan dan menetapkan “zona pemanfaatan sumber air” sebagai suatu unit terkecil didalam pengelolaan sumber air. Bupati/ Walikota dan Gubernur wilayah terkait, sesuai dengan kewenangannya bekerjasama merumuskan rencana Zona Pemanfaatan Sumber Air. Penetapan Zona Pemanfaatan Sumber Air di koordinasikan melalui wadah koordinasi sumber air (PPTPA) pada Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Penetapan rencana Zona pemanfaatan sumber air merupakan bagian dari proses penyusunan pola pengelolaan SDA dan rencana induk pengelolaan SDA. Kebutuhan masyarakat terhadap air yang semakin meningkat mendorong lebih meningkatnya nilai ekonomi air dibanding fungsi sosialnya. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan konflik kepentingan antar sektor, antar wilayah dan berbagai pihak yang terkait dengan Sumber Daya Air. Di sisi lain, pengelolaan Sumber Daya Air yang lebih bersandar kepada nilai ekonomi akan cenderung lebih memihak kepada pemilik modal serta dapat mengabaikan fungsi sosial Sumber Daya Air. Untuk mengantisipasi terjadinya hal tersebut akan diperlukan penetapan peruntukan air pada sumber air. Pemerintah, pemerintah daerah wajib menyelenggarakan berbagai upaya untuk menjamin ketersediaan air bagi setiap orang yang tinggal di wilayahnya. Jaminan tersebut menjadi tanggungan bersama antara pemerintah, pemerintah daerah,
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 11

(Persero) CABANG I MALANG

termasuk di dalamnya menjamin akses setiap orang ke sumber air untuk mendapatkan air. Jaminan penataan sumber air secara layak akan mendorong peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.
Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pendayagunaan SDA di WS BARITO-KAPUAS diarahkan untuk dapat: 1. Mendayagunakan fungsi atau potensi yang terdapat pada sumber air secara berkelanjutan. 2. Mengupayakan penyediaan Air untuk berbagai kepentingan secara proporsional dan berkelanjutan. 3. Mengupayakan penataan sumber air secara layak. 4. Memanfaatkan sumber daya air dan prasarananya sebagai media/materi sesuai prinsip penghematan penggunaan, ketertiban dan keadilan, ketapatan penggunaan, keberlanjutan penggunaan, dan saling menunjang antara sumber air dengan memprioritaskan penggunaan air permukaan. 5. Meningkatkan kemanfaatan fungsi sumber daya air, dan atau peningkatan ketersediaan dan kualitas air. 6. Meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air dengan prinsip meningkatkan efisiensi alokasi dan distribusi kemanfaatan sumber air.

8.3.2.1 Penetapan zona pemanfaatan sumber air 1. Menetapkan rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/ Kota dalam zone pemanfaatan sumber air meliputi: hutan lindung, kawasan resapan air, sempadan sungai, sempadan pantai, cagar alam, cagar budaya dan ilmu pengetahuan, tanaman lahan basah, tanaman lahan kering, rawan bencana dengan memperhatikan semua pengguna sumber air terakomodasi, meminimalkan dampak negatif kelestarian air, konflik penggunaan sumber air dari kawasan lindung dan fungsi kawasan. 2. Menetapkan zone pemanfaatan sumber air dikoordinasikan melalui Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air (PPTPA) Wilayah Sungai. 8.3.2.2 Peruntukan SDA 1. Menetapkan Perda peruntukan air dengan memperhatikan penyebaran penduduk di wilayah sungai. Proyeksi kebutuhan dan pemanfaatan air yang sudah ada untuk keperluan kolam ikan, PDAM dan irigasi dalam kurun waktu/ proyeksi 20 tahun kedepan. 2. Menetapkan peruntukan air yang dikoordiansikan melalui PPTPA wilayah sungai 8.3.2.3 Penyediaan SDA 1. Mengusahakan dan menyediakan air untuk irigasi sawah sesuai dengan luasannya, kebutuhan air minum di masing-masing kabupaten/ kota dan pelayanan kebutuhan kolam ikan. 2. Menyediakan sumber air sesuai dengan prinsip-prinsip urutan prioritas penyediaan air dan apabila menimbulkan kerugian bagi pemakai air
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 12

4 Penggunaan SDA 1. keringanan biaya jasa pengelolaan SDA. 3. 4.3.3. Penetapan Perda tata cara pemberian kompensasi dapat berupa.(Persero) CABANG I MALANG sebelumnya diatur bersama-sama dengan PPTPA WS. 8.13 . 4.2.2. Pengembangan SDA yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup dikenakan ketentuan-ketentuan tentang analisis mengenai dampak lingkungan.3. danau atau tampungan air hanya dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan PPTPA WS. Barito-Kapuas.5 Pengembangan SDA 1. ganti rugi. maka rencana tersebut dapat ditinjau kembali.2. program pembangunan. Memberikan prioritas yang tinggi kepada pemenuhan kebutuhan pokok seharihari dalam hal terjadi situasi kekeringan yang ekstrim. Barito-Kapuas. BaritoKapuas. 3. Barito-Kapuas. Barito-Kapuas. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Jika dalam pengembangan SDA sebagian masyarakat yang terkena dampak kegiatan menyatakan keberatan. 3. 8.6 Pengusahaan SDA Pengusahaan SDA dilakukan dengan memperhatikan pemanfaatan air untuk kebutuhan sehari-hari telah terpenuhi dan memperhatikan lingkungan dan berkelanjutan SDA melalui konsultasi dengan PPTPA WS. Menetapkan Perda penggunaan air yang mengatur waktu izin menyangkut hak guna air paling sedikit 5 (lima) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun sesuai pertimbangan PPTPA WS. Barito-Kapuas dan memberikan kompensasi secara wajar kepada pemakai. Pengembangan SDA dilakukan melalui tahapan perencanaan dan pelaksanaan dengan melalui pertimbangan PPTPA WS. memperoleh penyediaan air dari sumber lain. 8. 2. 2. memperoleh perpanjangan ijin. Barito-Kapuas. Barito-Kapuas yang ditetapkan 5 (lima) tahun sekali. Pembentukan pemegang izin dilakukan dengan pertimbangan PPTPA WS. Hasil monitoring oleh pemerintah ditembuskan kepada PPTPA WS. dengan menetapkan urutan prioritas yang disetujui oleh Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air WS. Pengembangan teknologi modifikasi cuaca yang ditujukan untuk menambah volume air waduk.

Meningkatkan peran masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan daya rusak air. amblesan tanah. terancam kepunahan jenis tumbuhan dan atau satwa serta wabah penyakit yang dikonsultasikan kepada PPTPA WS.3. Mengupayakan sistem pencegahan bencana akibat daya rusak air. 5. perubahan sifat dan kandungan kimiawi. Diutamakan pada upaya pencegahan melalui perencanaan pengendalian daya rusak air yang disusun secara terpadu dan menyeluruh dalam Pola Pengelolaan Sumber Daya Air dan diselenggarakan dengan melibatkan masyarakat. biologi. banjir lahar dingin. 8. terancamnya kepunahan jenis tumbuhan dan/atau satwa. erosi. Pengendalian Daya Rusak Air adalah upaya untuk mencegah.3 Pengendalian Daya Rusak Air Pengendalian daya rusak air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan. kekeringan. Daya rusak air dapat berupa banjir. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pengendalian Daya Rusak Air di WS BARITOKAPUAS diarahkan untuk dapat: 1.3. Kabupaten/Kota terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui upaya peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. 1.14 . Sejalan dengan kepentingan yaitu untuk pemerintah. Pemerintah dan masyarakat telah banyak melakukan upaya pengendalian baik yang bersifat upaya pencegahan sebelum terjadi bencana. Barito-Kapuas. perubahan sifat dan kandungan kimiawi. banjir lahar dingin. penanggulangan dan pemulihan.1 Pencegahan Bencana Alam rawan banjir. Mengupayakan Keberlangsungan Aktivitas Masyarakat dan terlindunginya sarana dan prasarana pendukung aktivitas masyarakat.3. sedimentasi. amblesan tanah.(Persero) CABANG I MALANG 8. kekeringan. biologi dan fisika air. longsoran tanah. mempercepat pemerintah daerah Provinsi. dan fisika air. Hal tersebut telah banyak menimbulkan kerugian baik yang terhitung maupun yang tidak terhitung. Menetapkan kawasan rawan bencana alam dalam zona-zona dengan Perda Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . dan upaya pemulihan akibat bencana. erosi dan sedimentasi. Memulihkan fungsi sarana dan prasarana guna pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari. Meningkatkan sistem penanggulangan bencana. 4. upaya penanggulangan pada saat terjadi bencana. dan/atau wabah penyakit. tanah longsor. menanggulangi dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air. 2. 3. Dampak daya rusak air terhadap kondisi sosial-ekonomi yang utama adalah terganggunya aktivitas masyarakat dalam menjalankan kehidupannya. maka upaya peningkatan sistem pencegahan dan penanggulangan bencana dan pemulihan fungsi sarana dan prasarana berkaitan dengan daya rusak air perlu dilaksanakan.

8. dilakukan dengan melalui radio dalam acara Pengelolaan Sumber Daya Air WS.3. 4.3. Barito-Kapuas. 3.4 Antisipasi Perkembangan Kebutuhan Pembangunan Pengelolaan sumber daya air perlu melihat ke depan agar dapat memperkirakan proyeksi pengembangan dan dampaknya terhadap kebutuhan air.15 . 2. elemen masyarakat. Tabel berikut ini adalah matriks indikasi program dan konsepsi Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas. BaritoKapuas. Penetapan prosedur operasi standar penanggulangan kerusakan bencana akibat 4.3. Pengendalian pemanfaatan kawasan rawan bencana dengan melibatkan masyarakat.3. BaritoKapuas.2 1. Pernyataan Pemerintah Kabupaten/Kota atau Provinsi tentang tingkat kejadian bencana alam diperlukan pembahasan dengan PPTPA WS.3. 8. Selain permasalahan. daya rusak air ditetapkan melalui Perda masing-masing Kabupaten/Kota dan Provinsi. Penanggulangan Bencana Alam Pelaksanaan tindakan penanggulangan kerusakan dan atau bencana akibat daya rusak air dilakukan oleh Pemerintah bersama-sama masyarakat yang dibantu oleh PPTPA WS. Berbagai permasalahan yang telah muncul pada saat ini jika tidak diantisipasi akan berkembang dan menjadi persoalan yang sulit untuk diselesaikan. Penyampaian berita tentang kejadian bencana alam di sebar luaskan melalui radio. Melakukan penyebaran berita melalui radio yang ditetapkan oleh pemerintah.3 Pemulihan Bencana Alam Pemulihan daya rusak air oleh Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya dengan melibatkan semua unsur. 3. berbagai isu strategis berkaitan dengan rencana pembangunan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . 8.3. wilayah telah pula disampaikan.(Persero) CABANG I MALANG 2. Peringatan dini dilakukan di lokasi yang rawan bencana.

pola pengelolaan sumber daya air.16 .sedangkan alokasi untuk kebutuhan lainnya dengan memperhatikan nilai lingkungan dan ekonomi air Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .1 Matriks Indikasi Program Dan Konsep Pola PSDA NO A. Penerapan keterpaduan disusun dengan memperhatikan wadah koordinasi. dan SIM yang pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap. Mengembangkan sistem alokasi air untuk kebutuhan pokok mahluk hidup termasuk pertanian rakyat sebagai prioritas utama. pelaksana. 100% tahun 2026. UMUM 1 Melaksanakan dan meningkatkan koordinasi antar para pemilik kepentingan sumber daya air dalam wadah koordinasi tingkat kabupaten/kota dan wilayah sungai Barito-Kapuas Menyusun dan menetapkan Rencana Induk pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai Barito-Kapuas berdasarkan pola pengelolaan sumber daya air pada tahun 2008. Menetapkan dan menerapkan pola pengelolaan sumber daya air yang didasarkan atas wilayah Menerapkan prinsip kesimbangan antara permintaan dan penyediaan air dan daya air dengan pola pengelolaan SDA secara terpadu dan berkelanjutan Menyusun perencanaan pengelolaan SDA agar upaya konservasi dan pendayagunaan SDA lebih seimbang Menerapkan pengelolaan sumber daya air terpadu di wilayah sungai Barito-Kapuas. target 25% tahun 2011. rencana induk. 50% tahun 2016.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 8. Mewujudkan sinergi dan mencegah konflik antar wilayah dan antar sektor dalam rangka memperkokoh ketahanan nasional. 4 Mengembangkan dan menerapkan instrumen kebijakan untuk mendorong alokasi air dan penggunaan yang efektif dan efisien serta memberikan manfaat sosial ekonomi paling besar bagi masyarakat dengan memperhatikan kaidah lingkungan hidup. persatuan dan kesatuan bangsa. INDIKASI PROGRAM KONSEPSI POLA KETERANGAN 2 3 Menerapkan rencana pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai Barito-Kapuas secara bertahap dimulai tahun 2009. pembiayaan. serta memperhatikan kebutuhan generasi sekarang dan akan datang.

Mengembangkan sistem penegakan hukum dengan menetapkan pejabat penyidik pegawai negeri sipil sebagai ”polisi jaga air” sesuai dengan pasal 93 Undang-undang No. dan fungsi koordinasi di WS Barito-Kapuas dengan tetap menjaga sinergi antarfungsi. Melaksanakan rasionalisasi. fungsi pemanfaatan. kabupaten/kota. dan pengendalian daya rusak air untuk para pemilik kepentingan sumber daya air di WS Barito-Kapuas Menyelenggarakan sistem pembiayaan yang menerapkan prinsip penerima manfaat dan pencemar menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air dengan mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat sehingga pengelolaan sumber daya air dapat dilakukan secara efektif. tanggung jawab. Melaksanakan koordinasi antar pemilik kepentingan SDA dalam wadah koordinasi tingkat Nasional. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air serta menyediakan pos-pos pengaduan. pengoperasian dan pemeliharaan. berkeadilan dan berkelanjutan. kabupaten/kota dan wilayah sungai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Provinsi. efisien.17 . Menyelenggarakan sistem pembiayaan pengelolaan sumber daya air meliputi bukan hanya untuk kebutuhan teknis tetapi juga untuk pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada berkelanjutan Melaksanakan rasionalisasi kelembagaan pengelolaan sumber daya air di tingkat nasional. fungsi pelaksanaan.pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air yang dilaksanakan oleh pemilik kepentingan SDA. dan refungsionalisasi kelembagaan pengelolaan sumber daya air yang menuju terciptanya pemisahan fungsi pengaturan. Penyuluhan peraturan perundang-undangan tentang sumber daya air kepada seluruh masyarakat didalam WS BaritoKapuas KONSEPSI POLA Menetapkan pedoman tentang standar pelayanan dan jasa pengelolaan SDA dan memberlakukan pedoman tersebut dalam upaya konservasi. restrukturisasi. dan wilayah sungai agar lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan tugas.(Persero) CABANG I MALANG NO 5 INDIKASI PROGRAM Menetapkan dan melaksanakan pedoman perhitungan biaya jasa pengelolaan sumber daya air dalam upaya konservasi. pendayagunaan sumber daya air. KETERANGAN 6 7 Rasionalisasi adalah penyesuaian kelembagaan termasuk kompetensi sumber daya manusianya agar sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing 8 9 Pembentukan wadah koordinasi sumber daya air wilayah sungai Barito-Kapuas sesuai dengan kebutuhan. Menerapkan diversifikasi sumber pembiayaan pengelolaan SDA . dan kewenangannya. Sosialisasi peraturan perundang-undangan tentang sumber daya air kepada seluruh masyarakat.

waduk dengan prioritas daerah permukiman.BaritoKapuas dengan prioritas daerah hulu sungai Barito dan Kapuas serta bantaran sungai. Merehabilitasi hutan dan lahan kritis untuk WS. 3 4 Menata daerah sempadan sungai utamanya di daerah permukiman. mata air ) dan pengawetan air berupa pembangunan antara lain: waduk dan embung. embung.5 % di tahun 2011. waduk. mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi sumber daya air. dengan target 12. Pemeliharaan embung dan rawa serta mata air Pembangunan Embung Pembangunan Waduk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .teknik pemanenan hujan dll) -. serta menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan & lahan. Checkdam. Sosialisasi dan desiminasi mengenai fungsi dan manfaat sempadan sumber air -.25 % di tahun 2016 . situ. sumur resapan. danau. Sekurang kurangnya 500 (lima ratus) meter dari muka air tertinggi danau dan waduk ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau b. embung. rawa. Sekurang kurangnya 100 (seratus) meter dari dari muka air tertinggi embung ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau d. rawa. danau dan waduk dengan target 15% tiap 5 tahun. menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan. Perlu melakukan pematokan batas sempadan sumber air -. KONSERVASI SUMBER DAYA AIR Menetapkan dan mengelola daerah resapan air dalam rangka mengupayakan peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak air melalui rehabilitasi hutan dan lahan kiritis. Perlunya penyuluhan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran sempadan sumber air 2 Menetapkan dan mengelola kawasan danau. Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekeliling mata air harus berfungsi sebagai sabuk hijau Menetapkan dan mengelola daerah batas sempadan sungai.50 % di tahun 2026. Mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi SDA dengan target minimal 25 % tiap 5 tahun (small and medium pond.18 .(Persero) CABANG I MALANG NO INDIKASI PROGRAM KONSEPSI POLA KETERANGAN B.groundsill. Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter dari muka air tertinggi rawa ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau c. Meningkatkan upaya pemeliharaan sumber air (antara lain : danau. rawa dan mata air dengan aturan : a.

melaksanakan penyuluhan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran penambangan galian C. KONSEPSI POLA Menyusun aturan. Pemantauan kualitas sumber air -. -.recycle). Menentukan baku mutu sumber air.reuse. 3 4 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . reuse. PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1 2 Menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air. Menyusun aturan. -. Menetapkan alokasi dan hak guna air bagi pengguna yang sudah ada dengan target penyelesaian paling lambat pada tahun 2010. -. C. Pembangunan dan peningkatan sarana dan prasarana air baku untuk air minum dengan target pelayanan: 65 % untuk tahun 2011. pemulihan. Meningkatkan monitoring dan pengawasan kualitas air limbah. selambat-lambatnya pada tahun 2025. Menyediakan pasokan untuk memenuhi kebutuhan air sesuai dengan prioritas dan rencana alokasi yang telah ditetapkan. Penertiban sumber pencemar dengan mengolah limbah sebelum dibuang Menetapkan alokasi air dan hak guna air pada lokasi sumber air Perlu dipersiapkan Perda Hak Guna Air Perlu dibuat ketetapan prioritas penggunaan air Perlu ditetapkan kebutuhan pokok minimal kehidupan sehari hari air per kapita (lt/kapita/hari) Penyediaan pasokan air dengan target minimal 25% tiap 5 tahun guna memenuhi kekurangan pasokannya. Mengupayakan”pengelolaan permintaan air” yang effektip dan effesien (reduce. secara biologi. Pembangunan baru IPAL penduduk komunal -.(Persero) CABANG I MALANG NO 5 6 INDIKASI PROGRAM Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air dan kegiatan Mendorong dan mengupayakan pembangunan sistem pengelolaan limbah cair komunal di kawasan permukiman dan kawasan industri. Menyediakan pasokan air baku untuk air minum sehingga pada tahun 2015 dapat memenuhi separuh jumlah penduduk yang belum memiliki akses air minum.19 . Membangun sistem pemantauan kualitas air pada sumber air dan kualitas limbah cair secara berkelanjutan.recycle) serta sekaligus mengkampanyekan budaya hemat air dengan target minimal pada 25 % pengguna air dan target minimal 5 % dari kehilangan air tiap 5 tahun -. melaksanakan penyuluhan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran.70 % untuk tahun 2016 dan 80 % untuk tahun KETERANGAN 7 8 9 Memperbaiki kualitas air pada sumber air dengan cara antara lain: aerasi. Mendorong upaya pengawetan air melalui pembudayaan prinsip 3 (tiga) R (reduce. dengan target efektif 2010.

Menyusun dan melaksanakan program pengembangan sumber daya air terpadu berdasarkan pola dan rencana pengelolaan sumber daya air.(rencana program kegiatan ) Memelihara fungsi sistem irigasi yang sudah ada dengan menyelenggarakan operasi dan pemeliharaan untuk seluruh jaringan irigasi yang ada serta rehabilitasi jaringan irigasi Merehabilitasi dan meningkatkan jaringan irigasi dengan target 9685 ha tiap 5 tahun pada daerah yang telah ditempati penduduk. reuse). Mengendalikan penggunaan air melalui mekanisme perizinan berdasarkan rencana alokasi air yang telah ditetapkan. perikanan.(Persero) CABANG I MALANG NO 6 7 INDIKASI PROGRAM Memelihara fungsi sistem irigasi yang sudah ada dengan menyelenggarakan operasi dan pemeliharaan untuk seluruh jaringan irigasi dan rawa yang ada. Mengupayakan ”pengelolaan permintaan air” yang efektif dan efisien dengan target minimal pada 25% pengguna air dan target minimal 5% dari kehilangan air tiap 5 tahun Mencegah pendayagunaan SDA pada kawasan suaka alam danKawasan pelestarian Pengendalian pendayagunaan SDA pada kawasan lindung Mengembangkan dan menerapkan mekanisme pengelolaan SDA antar kepentingan sektor. serta mengembangkan dan menerapkan teknologi pengelolaan rawa termasuk pengembangan perikanan rawa dan memberdayakan masyarakat agar penduduk yang bermukim di daerah rawa dapat hidup secara harmoni dengan lingkungannya. KONSEPSI POLA 2021.20 . olah raga air. dan transportasi air Menyusun dan menetapkan rencana pengelolaan sedimen pada sumber air berdasarkan pola dan rencana pengelolaan sumber daya air. Merehabilitasi dan/atau meningkatkan jaringan irigasi dan rawa untuk mengembalikan dan/atau menigkatkan kinerja seluruh jaringan irigasi dan rawa. 11 12 13 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .wilayah dan dampak jangka panjang.antar wilayah sungai tanpa mengorbankan lingkungan Mengembangkan potensi SDA untuk menunjang kebutuhan berbagai sektor dan mendukung perkembangan ekonomi secara effektip dan effisien dengan mempertimbangkan kepentingan antar sektor. Mendorong pengembangan sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. Menyusun dan menetapkan mekanisme perizinan dan sistem pemantauan penambangan bahan galian di sumber air. Menyusun persyaratan dan prosedur pengelolaan sedimen pada sumber air pada tahun 2009 dan penerapannya secara konsisten Menyempurnakan persyaratan dan sistem pemantauan penambangan bahan galian pada 2009 KETERANGAN 8 9 10 Mengupayakan ”pengelolaan permintaan air” (demand management) yang efektif dan efisien (reduce. dengan memperhatikan kepentingan antar sektor dan antar wilayah sungai dengan tidak mengorbankan lingkungan. pariwisata.

pedoman. tata kota dan tata bangunan.(Persero) CABANG I MALANG NO 14 15 16 INDIKASI PROGRAM Menerapkan Perda penerima manfaat menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air secara konsisten. Melakukan pencegahan perubahan fungsi daerah manfaat sungai. Merasionalisasikan biaya pengelolaan sumber daya air. dan manual pengembangan kawasan. dan mengevaluasi pelaksanaan sistem insentif dan disinsentif antara hulu-hilir.21 . sehingga biaya jasa pengelolaannya lebih terjangkau. standar. PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR 1 2 3 4 Menyiapkan informasi daerah rawan banjir dan sosialisasi kepada masyarakat Perencanaan tata ruang perlu memperhatikan kemungkinan terjadinya banjir Sosialisasi PERDA kepada masyarakat dan mengajak masyarakat ikut peran serta Prinsip ”zero delta q policy” perlu dimasukan ke dalam penyusunan norma. menerapkan. dengan target selesai tahun 2009 Mengeffisienkan pengelolaan SDA. Pengkajian ulang tata ruang pada kawasan rawan banjir dan kawasan penyebab banjir. Menerapkan sistem peringatan dini kepada masyarakat dan menyiapkan sistem evakuasi. serta menyelenggarakan simulasi dalam rangka menghadapi banjir. Menciptakan sistem perizinan bagi pelaku pengubah daerah tangkapan air Melakukan upaya pengendalian erosi dan sedimen pada daerah yang dikembangkan Daerah yang menerima manfaat dari perlindungan banjir dikenakan kontribusi. dan revitalisasi serta pengendaliannya. Meningkatkan penegakan hukum yang konsisten atas pelanggaran tata ruang. Inventarisasi perubahan fungsi lahan yang menyebabkan masalah banjir. Menyebarluaskan dan menciptakan sistem perizinan dengan prinsip “zero delta q policy” KONSEPSI POLA Menetapkan pedoman perhitungan biaya jasa pengelolaan SDA serta metode pembebanannya kepada para pemanfaat. 6 7 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .yang akan diberikan sebagai kompensasi kepada daerah yang dapat memberi manfaat penanggulangan bahaya banjir di hilirnya. sehingga biayan jasa pengelolaan terjangkau Koordinasi dalam Penyusunan PERDA KETERANGAN D. Meningkatkan kesiapan dan ketahanan pemilik kepentingan dalam menghadapi segala akibat daya rusak air Mencegah pengembangan permukiman dan bangunan lainnya yang akan menyebabkan terjadinya “inundasi” (genangan yang berlebihan) 5 Menyiapkan. Menetapkan sistem perizinan dan sistem pengawasan pengusahaan sumberdaya air.

Melakukan perlindungan daerah permukiman. Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun nonstruktural. prasarana umum. dan daerah produksi nonpertanian dengan prasarana pengendalian banjir terhadap banjir tahunan dengan resiko sama atau lebih besar 4 (empat) persen serta perlindungan daerah produksi pertanian terhadap banjir dengan resiko sama atau lebih besar 10 (sepuluh) persen. Melakukan pemisahan prasarana pembuangan limbah cair dan drainase. KONSEPSI POLA Menyediakan informasi daerah rawan banjir dan disosialisasikan kepada masyarakat Melakukan perlindungan daerah permukiman.tenda tenda. Menyiapkan bahan untuk penanggulangan darurat seperti. Menyiapkan lokasi lokasi untuk evakuasi.pompa pompa air. Dalam keadaan terjadi bencana dilakukan upaya penyelamatan jiwa manusia. pengendalian air larian di tingkat kawasan dengan prasarana pengendalian banjir. Mengintegrasikan pengelolaan drainase perkotaan. utamanya pada daerah pengembangan baru.karung pasir.(Persero) CABANG I MALANG NO 8 9 INDIKASI PROGRAM Meningkatkan pemberian informasi mengenai kawasan rawan bencana akibat daya rusak air.bronjong kawat. Menyediakan pembiayaan untuk penanggulangan daya rusak air yang bersumber dari dana APBN dan APBD dalam jumlah yang memadai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Melakukan kegiatan tanggap darurat yang terdiri dari evaluasi tingkat bahaya dan kesiap-siagaan menghadapi bencana.perahu karet. prasarana umum.cerucuk dll.jembatan yang limpas dll Rekonstruksi bangunan bangunan yang rusak akibat daya rusak air. dan daerah produksi non pertanian terhadap banjir 25 tahunan sampai dengan tahun 2025 serta perlindungan daerah produksi pertanian terhadap banjir 10 tahunan Membuat perencanaan yang terpadu antara drainasi perkotaan dengan sistem pengendalian banjir kawasan tersebut Menyusun pedoman penanggulangan bencana banjir pada masing masing sungai yang rawan banjir.terutama revitalisasi obyek umum yang mengalami kerusakan Menanggulangi stress atau trauma masyarakat yang tertimpa musibah daya rusak air Mengikut sertakan masyarakat dan pihak swasta dalam rangka revitalisasi sarana dan prasarana umum maupun SDA yang rusak akibat daya rusak air Perlu adanya sharing dalam pembiayaan penanggulangan daya rusak air antara daerah dan pusat KETERANGAN 10 11 12 13 14 15 16 Menumbuhkembangkan peran serta masyarakat dan swasta dalam kegiatan pemulihan akibat bencana. perbaikan darurat prasarana sumber daya air dan prasarana umum lainnya.22 . Penanggulangan darurat prasaran SDA seperti tanggul yang bocor .

pelatihan. Menyusun dan menerapkan standar kompetensi sumber daya manusia yang sesuai dengan tugas pokoknya dalam pengelolaan sumber daya air. DAN PEMERINTAH 1 Menyelenggarakan pendampingan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kepedulian dan kemampuan masyarakat untuk berperan serta dan bertanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya air di setiap wilayah sungai secara berkelanjutan. Menyiapkan peraturan daerah yang kondusif dan menyebarluaskan program SDA bagi dunia usaha untuk berperan serta dalam pengelolaan sumber daya air Menyesuaikan dan menyempurnakan kelembagaan pemerintah di kabupaten/kota dan wilayah sungai dalam pengelolaan sumber daya air sesuai dengan peraturan perundang-undangan. kerjasama. dan koordinasi antarlembaga pemerintah yang terkait dalam Menyelenggarakan pendampingan dan pelatihan dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia pemilik kepentingan dengan target minimal satu kali dalam setahun pada seluruh yang telah terbentuk dewan sumber daya airnya Memberi peran kepada masyarakat disertai dengan pemberdayaan untuk meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan SDA pada Wilayah Sungai 2 3 4 5 6 Sosialisasi UU no 7 tahun 2004 Menciptakan kepastian hukum bagi swasta untuk berperan dalam pengelolaan SDA Meningkatkan kinerja lembaga Pemeritah dalam pengelolaan sumber daya air Penerapan NSPM Pelatihan yang terorganisir melalui dewan air 7 8 9 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .23 . Melakukan penyuluhan. PEMBERDAYAAN DAN PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT. Memberikan pengakuan hak ulayat masyarakat hukum adat setempat dalam pengelolaan sumber daya air pada wilayahnya. Menumbuhkan prakarsa serta memberikan peran kepada masyarakat disertai dengan pemberdayaan untuk meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. Meningkatkan kemampuan komunikasi. SWASTA.(Persero) CABANG I MALANG NO INDIKASI PROGRAM KONSEP POLA KETERANGAN E. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka memenuhi standard kompetensi. dan pembinaan dalam menyikapi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan sumber daya air kepada dunia usaha.

Membangun jaringan informasi sumber daya air dalam WS Barito-Kapuas yang melibatkan seluruh pihak terkait dengan sumber daya air. transparan.24 . tepat waktu. Menyusun tata tertib koordinasi dan pengambilan keputusan wadah koordinasi sumber daya air dan meningkatkan konsultasi serta koordinasi antar wadah koordinasi SDA baik secara horisontal maupun vertikal. berkelanjutan. dll. dan mengembangkan partisipasi masyarakat secara luas dalam memberikan informasi tentang SDA. tepat waktu. hidrogeologi. sehingga mampu menyampaikan data dan informasi yang akurat. hidrometeorologi. Meningkatkan pemerataan informasi pengelolaan SDA dengan menghilangkan kendala dan masalah yang menghambat pemerataan informasi pengelolaan SDA Membangun sistem pengelolaan data dan informasi Meningkatkan keterbukaan publik dalam 2 3 4 5 6 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . serta berorientasi pada pengguna. KETERANGAN 11 F. Meningkatkan konsultasi dan koordinanasi antar wadah koordinasi SDA baik secara horisontal maupun vertikal. Membangun jaringan basis data dalam WS Barito-Kapuas Menerapkan prosedur operasi standard tentang keterbukaan data dan Meningkatkan ketersediaan data dan informasi sumber daya air secara akurat.(Persero) CABANG I MALANG NO 10 INDIKASI PROGRAM pengelolaan sumber daya air. Meningkatkan pelayanan informasi pengelolaan sumber daya air dengan penyediaan data dan informasi melalui website dan media lainnya. KETERBUKAAN DAN KETERSEDIAAN DATA DAN INFORMASI SUMBER DAYA AIR. dan mudah diakses. Membangun jaringan bank data dan basis data dengan sasaran 50% wilayah sungai pada tahun 2011 dan 100% wilayah sungai 2016. kebijakan sumber daya air. Memberikan hak memperoleh informasi tentang pengelolaan sumber daya air kepada masyarakat. Memfasilitasi penyediaan data meliputi data hidrologi. prasarana sumber daya air. KONSEP POLA Membentuk Dewan Sumber Daya Air yang melibatkan semua pemilik kepentingan melalui prinsip keterwakilan dalam pengelolaan SDA . Melibatkan semua pemilik kepentingan melalui prinsip keterwakilan dalam pengelolaan sumber daya air dan melaksanakan penyuluhan keberadaan wadah koordinasi SDA. teknologi sumber daya air. berkelanjutan. 1 Mengembangkan sistem informasi sumber daya air dalam WS BaritoKapuas yang terpadu dan didukung oleh kelembagaan yang tangguh serta responsif. sistem pembiayaan yang memadai.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . KETERANGAN 7 Menerapkan standar untuk format. klasifikasi. dan metode/prosedur pengumpulan data dan informasi. kodifikasi.25 . Menetapkan standar untuk pengkodean data. proses data.(Persero) CABANG I MALANG NO INDIKASI PROGRAM informasi kepada masyarakat KONSEP POLA proses penyusunan kebijakan dan pengelolaan sumber daya air.

Instansi lain yang terkait Badan Pengelola WS Barito-Kapuas Konsep Dewan Sumber Daya Air Mengacu pada Undang Undang SDA No 7 Tahun 2004 disebutkan bahwa kelembagaan dewan Sumber Daya Air termuat dalam dalam BAB XII. Pasal 85. Lebih lanjut Pasal 86 menyebutkan bahwa : a. disamping itu sebagai sarana mengintergrasikan kepentingan berbagai sektor. keanggotaan serta susunan organisasi dan tata kerja. Selain itu keberadaan Dewan Sumber Daya Air juga disinggung pada BAB II Pasal 14 tentang kewenangan presiden. hubungan antar jenjang dewan air serta pedoman pembentukan dewan air.26 . Pasal 86 berisi tentang panduan tugas pokok.3. Dinas Pengairan / Sumber Daya Air Kabupaten 5. Beberapa kelembagaan terkait tersebut adalah : 1. Menurut pasal-pasal ini dewan Sumber Daya Air disebut sebagai wadah koordinasi untuk menjamin tercapainya keterpaduan pengelolaan Sumber Daya Air. Sedang dalam Pasal 87 memuat basis pembentukan Dewan Air. Dewan air sebagai wadah koordinasi beranggotakan Unsur Pemerintah dan Unsur Non Pemerintah dalam jumlah yang seimbang atas dasar prinsip keterwakilkan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Tugas pokok Dewan Sumber Daya Air adalah menyusun dan merumuskan kebijakan strategi serta strategi pengelolaan sumberdaya air b. Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Tengah 2. Balai Pendayagunaan Sumber Daya Air Barito-Kapuas 4.(Persero) CABANG I MALANG 8. jenjang organisasi dewan air mengikuti jenjang administrasi pemerintahan. Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Selatan 3. PTPA di Tingkat Provinsi dan PPTPA ditingkat Kabupaten 6. wilayah dan pemegang kepentingan dalam bidang sumber daya air (Pasal 85).4 Kelembagaan dan Peran Masyarakat Dengan terbentuknya Balai Wilayah Sungai Kalimantan II yang menangani WS Barito-Kapuas yang mulai diberlakukan tahun 2007 maka selama masa peralihan tersebut diharapkan adanya koordinasi dengan institusi lainnya yang terkait dengan pengelolaan SDA di Wilayah Sungai Barito-Kapuas. 86 dan 87 tentang koordinasi pengelolaan.

provinsi. c. Pedoman mengenai pembentukan wadah koordinasi pada tingkat provinsi.27 . Lintas Kabupaten/ Kota atau (b) Lintas Negara. Ini tercermin dalam pernyataan dewan pengelolaan Sumber Daya Air yang terdiri dari semua pemangki kepentingan (pemerintah dan perwakilan masyarakat umum dan industri pengguna air) secara proporsional. Keberadaan dean air nampak dimaksudkan untuk memberikan warna koloboratif dan koordinatif dalam pengelolaan Sumber Daya Air.(Persero) CABANG I MALANG c. b. Koordinasi pada tingkat nasional dilakukan oleh Dewan Sumber Daya Air Nasional yang dibentuk oleh pemerintah dan pada tingkat provinsi dilakukan oleh wadah koordinasi dengan nama Dewan Sumber Daya Air Provinsi atau dengan nama lain yang dibentuk oleh pemerintah provinsi sedangkan untuk koordinasi pada tingkat kabupaten/ kota dapat dibentuk wadah koordinasi dengan nama lain oleh pemerintah kabupaten/ kota. Ada lima tingkatan atau bentuk dewan sumberdaya air yaitu tingkat nasional. provinsi. b. Wadah koordinasi pada Wilayah Sungai dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan pengelolaan Sumber Daya Air pada Wilayah Sungai yang bersangkutan c. Dari diskripsi diatas dapat ditarik beberapa konsepsi utama tentang dewan air sebagai berikut : a. Susunan keanggotaan ini berbeda dengan konsep dewan serupa di Undang Undang sebelumnya. Susunan organisasi dan tata kerja dewan air sebagai wadah koordinasi akan diatur lebih lanjut dengan keputusan Presiden Sementara Pasal 87 menyatakan bahwa : a. kabupaten/kota dan wilayah sungai bersifat konsutatif dan koordinatif d. kabupaten/kota dan Dewan Sumber Daya Air Wilayah Sungai khusus apabila Wilayah Sungai bersifat (a) Lintas Provinsi. kabupaten/ kota dan Wilayah Sungai diatur lebih lanjut dengan keputusan Menteri yang membidangi Sumber Daya Air. Dengan demikian dewan air diharapkan untuk menjamin terwujudnya asas Community Based dalam pengelolaan SDA. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Hubungan kerja antar wadah koordinasi tingkat nasional. Hingga sat ini belum ada bentuk baik mengenai dewan air baik nasional maupun provinsi.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Oleh karena itu dewan ini seharusnya memprakarsai pembentukan / penyusunan Rencana Induk Pengelolaan SDA nantinya. yang bisa diwujudkan dalam bentuk pro aktif saat perencanaan dan penentuan kebijakan umum pengelolaan. misalnya dalam bentuk nota kesepakatan (Memorandum of Understanding) c. Namun hal ini tidak disebutkan dalam UU SDA No 7 2004. Secara teoritik dewan air yang efektif minimal bersifat Advisory kepada pemerintah. Semua pemangku kepentingan yang telah teridentifikasi kepentingannya atas DAS harus tahu dan ambil bagian dalam proses perencanaan.28 . d. harus menjadi satu-satunya wahana koordinasi Stakeholder yang menerapkan mitra Stakeholders dalam pengambilan keputusan (One Decision Making Process) untuk menjamin tercapainya sebagai wujud dari prinsip One River One Plan One Management Dewan Sumber Data Air harus menjadi satu-satunya tempat dan proses perencanaan pengelolaan.(Persero) CABANG I MALANG Berdasarkan hal diatas beberapa rekomendasi dalam pembentukan dewan sumberdaya air wilayah sungai adalah sebagai berikut : a. Memiliki Kapasitas Pengambilan Keputusan. Mengingat kesenjangan antara teori dan praktis dalam aspek institusi selama ini. swasta maupun masyarakat. Keterwakilkan yang proporsional dan setara. Dewan Sumber Air WS Barito-Kapuas harus diakui oleh semua stakeholders yang ada di kabupaten/ kota terkait dengan wilayah sungai baik jajaran pemerintah. Partisipasi yang Luas. e. Legitimacy. yakni mereka memiliki peran kepemimpinan dan bukan anggota. Untuk itu Dewan sumber daya air harus memiliki paling tidak peran kontrol. (Pemangku kepentingan – stakeholders adalah mereka yang menimbulkan dan terkena dampak pengelolaan DAS). Ini hanya dimungkinkan kalau keanggotaannya sudah mencakup semua stake holder yang secara faktual punya kepentingan terhadap DAS. Pengakuan dapat berujud dokumen formal yang ditandatangai oleh semua pemangku kepentingan. keterwakilkan pihak yang terkena dampak bisa dinyatakan dalam posisi penting mereka dalam dewan air. b. Namun dalam kenyataannya di Indonesia lembaga yang tidak memiliki wewenang eksekusi biasanya akan berhenti sebagai organisasi tanpa peran penting. operator industri (barang dan jasa) harus berperan dalam perencanaan. Dewan air. dan idealnya para pemilik properti.

Termasuk disini adalah kejelasan pemerintah kabupaten/kota yang harus disepakati dari awal. pengendalian polusi dan pengelolaan kualita air 6.4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI 8. Barito-Kapuas. teknik perlakuan dan penggunaan kembali air. industri dan masyarakat pengenalan dalam dan proses pengelolaan peran antar DAS adalah esensial provinsi bagi dan keberhasilan pengelolaan dan pengaturan kerja. permasalahan sumber daya air yang ada di WS.4. Rumusan Standar pengendalian daya rusak air dan resiko sumberdaya air. Secara lebih rinci sebagai otonom Dewan Sumber Air WS Barito-Kapuas diharapkan bisa memfungsikan diri dalam : 1. masukan dan usulan dari Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) I dan analisis konsultan yang didasarkan analisa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Pembinaan Jejaring dan pertukaran informasi 4. konservasi dan proteksi. Mekanisme Penyelesaian Sengketa. Barito-Kapuas disusun berdasarkan arah kebijakan nasional pengelolaan SDA.(Persero) CABANG I MALANG f. Pengendalian dan penegakan 8.29 .1. Perumusan kebijakan dan Rencana Induk Pengelolaan SDA WS BaritoKapuas 2. Edukasi dan promosi bagi berhasilnya Pola Pengelolaan yang dihasilkan 3. Umum Strategi pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) WS. Perumusan Standar Alokasi hak PEMANFAATAN PASOKAN AIR 5. Memiliki Kejelasan Peran. g. Pemahaman dan kesepakatan yang jelas mengenai peran dan tanggung jawab antara pemerintah. Perumus mekanisme dan wadah bagi penyelesaian sengketa 8. Perumusan Regulasi Pengelolaan 7. Dewan sumberdaya air wahana sebagai perencanaan kemitraan pengelolaan yang kolaboratif harusmenyediakan mekanisme penyelesaian sengketa yang mungkin timbul antar pemangku kepentingan yang tidak bisa diselesaikan secara internal.

terutama ditekankan pada lereng dengan kemiringan >15%. dalam Aspek Sumber Daya Air (Mencakup Sosial Ekonomi. hasil analisis dari data biofisik merupakan parameter utama yang menjadi pertimbangan yang akan dilaksanakan. Pola Konservasi WS Barito-Kapuas Dalam merancang konservasi di WS Barito-Kapuas yang dilakukan terhadap setiap sub DAS yang tercakup dalam kawasan wilayah sungai tersebut. tanggap terhadap berbagai permasalahan tersebut 5.4. Ketersediaan dan Kebutuhan Air) dan Sektor Terkait 4.2. (e) Lahan kritis. Tinjauan Atas Lingkup Kebijakan Nasional dan Provinsi serta Kebijakan Pengelolaan Wilayah Sungai Barito-Kapuas 2.2. Wilayah Sungai.Barito-Kapuas mengacu pada arah kebijakan nasional yang telah diatur dalam Undang Undang no 7 tahun 2004 tentang SDA yang meliputi: Konservasi SDA. Parameter biofisik tersebut mencakup: (a) Erosi aktual serta penyebarannya dalam satu kawasan Sub DAS. (d) Kondisi lereng. Kajian Strategi Yang Diusulkan dengan Prioritas yang sesuai dengan Kondisi Wilayah Sungai Barito-Kapuas 3. Fisik DAS. Sekarang dan Mendatang. Tinjauan Atas Permasalahan yang di-Identifikasi dalam Potensi dan Tantangan untuk menjamin bahwa Strategi yang dirumuskan. Kelembagaan. Analisa Kecenderungan Masa Lalu. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .30 . Perumusan Strategi dan Komponennya yang mengacu pada Isu Pokok 8.4. Arah kebijakan pengelolaan SDA WS. baik yang terdapat di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. Barito-Kapuas 8.(Persero) CABANG I MALANG SWOT dan rasionalisasi program (analisis Hymos dan Ribasin) serta penentuan prioritas program berdasarkan pada kebutuhan mendesak. Konservasi SDA WS. Pendayagunaan SDA dan Pengendalian Daya Rusak Air Langkah langkah dalam Perumusan Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air ditetapkan sebagai berikut : 1. (b) Kedalaman tanah.1. (c) Kondisi penutupan lahan.

(Persero) CABANG I MALANG Adapun aspek sosial ekonomi yang dipertimbangkan dalam menyusun pola konservasi adalah (a) Tekanan Penduduk. Waduk/Danau. Keputusan Presiden No. (b) Sistem budidaya pertanian. Kerangka penyusunan pola konservasi untuk WS. Sungai dan anak sungai. Undang-Undang Pokok Kehutanan No. pasang surut. Barito-Kapuas dapat dilihat pada diagram alir. mata air. kiri kanan tepi sungai. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Tentang Penanganan Konservasi Tanah dalam Rangka Pengamanan Daerah Aliran Sungai Prioritas. yakni waduk/danau.31 . khususnya pasal-pasal yang terkait dengan konservasi seperti bagian keempat dan kelima dari UU tersebut. Keputusan-keputusan Dirjen RLPS yang terkait dengan konservasi lahan kritis. Pasal 50 secara khusus mengatur tentang konservasi sumber-sumber air. Bagian keempat memuat tentang Rehabiltasi dan Reklamasi. Keputusan Menteri Kehutanan No. dan Menteri Pekerjaan Umum No: 19 Tahun 1984 – No: 059/Kpts-II/1984 – No: 124/Kpts/1984 tanggal 4 April 1984. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Hutan. Di samping aspek biofisik dan sosial ekonomi seperti tersebut di atas. Hutan Cadangan dan Hutan Lainnya. penyusunan pola konservasi di WS. 353/Kpts-II/1986 Tentang Penetapan Radius/Jarak Larangan Penebangan Pohon dari Mata Air. kiri kanan tepi anak sungai. Tepi Jurang. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Menteri Kehutanan. kiri kanan tepi sungai di daerah rawa. tepi jurang. Barito-Kapuas ini juga mengacu kepada : Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri. sedangkan bagian kelima memuat tentang perlindungan hutan dan konservasi alam.

Strategi Pengelolaan SDA untuk aspek konservasi SDA WS Barito-Kapuas diarahkan untuk dapat : i.4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Memulihkan dan mempertahankan kualitas air guna memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan. Meningkatkan. Strategi Konservasi SDA. memulihkan dan mempertahankan daya dukung.(Persero) CABANG I MALANG 8.32 . daya tampung dan fungsi DAS untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. ii.2.2. Menetapkan dan mengelola daerah resepan air dalam rangka penyediaan air bagi kemamfaatan umum secara berkelanjutan dan pengurangan daya rusak air.

.(Persero) CABANG I MALANG Wilayah Sungai Barito-Kapuas DAS - - Barito Kapuas Murung Martapura Riam Kanan - Riam Kiwa Negara Ambawang Kubu Landak Tapin Di luar kawasan hutan Di dalam kawasan hutan Analisis Biofisik: .kedalaman tanah .lahan kritis Analisis Sosial Ekonomi: . Diagram Alir Strategi Konservasi di WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .erosi .lereng .penutupan lahan .1.Sistem budidaya pertanian Input PKM I & II STRATEGI KONSERVASI Gambar 8. Penduduk.33 .Tek.

BaritoKapuas dapat diuraikan berupa: a) Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air (1) Rehabilitasi dan perlindungan hutan (2) Reboisasi kawasan hutan yang rusak (3) Penghijauan di lahan kritis milik masyarakat dan negara yang jumlahnya cukup luas (4) Penetapan dan pengelolaan kawasan sempadan sungai. penanaman dalam strip (system penanaman berselang seling antara tanaman yang tumbuh rapat (misal rumput atau leguminosa) dan strip tanaman semusim.34 . pembangunan waduk dan embung. embung dan rawa sebagai sabuk hijau terutama yang saat ini digunakan sebagai permukiman oleh masyarakat.(Persero) CABANG I MALANG Dari tiga butir strategi pokok tersebut. misalnya teras bangku konservasi. • • Penyadapan air (water harvesting) Meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah dengan cara memperbaiki struktur tanah. (5) Penatagunaan lahan sesuai dengan kaidah-kadiah konservasi tanah (6) Pelestarian dan perlindungan sumber air serta inventarisasi sumber daya air secara menyeluruh sehingga kerusakan ekosistem sumber daya air dapat dicegah (7) Penertiban penambangan galian Golongan C b) Pengawetan Air (1) Peningkatan pemanfaatan air permukaan dengan cara antara lain: • Pengendalian aliran permukaan untuk memperpanjang waktu air tertahan di atas permukaan tanah dan meningkatkan jumlah air yang masuk ke dalam tanah melalui: pengolahan tanah untuk setiap aktivitas budidaya pertanian. penanaman tanaman menurut garis kontur (contour cultivation). Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian tanaman penutup tanah (mulsa) atau bahan organik. waduk. beberapa kegiatan di WS. • Pengolahan tanah minimum (minimum tillage) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . danau. pembuatan teras yang dapat menyimpan air.

termasuk pergiliran tanaman. drainase dalam. dan penanaman lorong Manajemen bahan organik termasuk mulsa. (3) Peningkatan efisiensi penggunaan air irigasi antara lain dengan: pengurangan tinggi penggenangan atau pemberian air. Dua aktivitas terakhir ini harus disertai dengan peraturan dan pengawasan yang ketat dan tegas. pupuk hijau dan sisa tanaman Hutan produksi. dilakukan antara lain dengan: perbaikan drainase yang akan meningkatkan efisiensi penggunaan air oleh tanaman melalui fasilitas drainase permukaan.35 . termasuk hutan produksi terbatas dan hutan rakyat Prasyarat dan Lokasi Dalam kawasan hutan Persentase penutupan lahan kecil Semak belukar Di luar kawasan hutan lahan kritis/tidak produktif Lahan milik Di luar kawasan hutan/lahan pertanian Lereng 0 – 15% Kedalaman tanah minimum 30 . pencampuran kompos. pupuk kandang.>60% Fungsi lahan: Budidaya tahunan Di luar kawasan hutan/lahan pertanian Lereng kecil dari 40% Kedalaman tanah minimum >15 cm Fungsi lahan : budidaya tahunan/ semusim Di luar kawasan hutan/lahan pertanian Lereng kecil dari 60% Kedalaman tanah minimum >15 cm Fungsi lahan : Budidaya tahunan/ semusim Diluar/dalam kawasan hutan Lahan tidak produktif lereng kecil dari 60% 3 4 5 6 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . mengurangi kebocoran saluran irigasi dan galengan. strip. atau kombinasi keduanya.2 Rencana Strategi konservasi WS Barito-Kapuas No 1 2 Pola Konservasi Reboisasi Penghijauan Pertanaman campuran. pergiliran pemberian air. dan pemberian air secara terputus.(Persero) CABANG I MALANG (2) Pengelolaan air tanah. tumpang gilir dan tumpang sari Penanaman menurut kontur. c) Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (1) Pengelolaan kali bersih dengan kontrol yang ketat terhadap pembuangan limbah domestik (2) Pengendalian/ pengawasan pembuangan limbah industri (3) Pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk industri (4) Pelaksanaan audit lingkungan Tabel berikut memuat rencana strategi konservasi di WS Barito-Kapuas Tabel 8.

Barito-Kapuas 8. dan teras kebun . Pendayagunaan SDA WS.36 . budidaya tahunan/semusim . termasuk kebun rumah 8 Suksesi Alami 9 Vegetasi permanen.Lereng 15 – 60% . (5). (2). termasuk teras bangku datar.Pada lahan pertanian/kawasan budidaya .3. Pengusahaan sumber daya air (A). termasuk pematang kontur 11 Teras bangku. Penetapan zona pemanfaatan sumber air.Pada lahan pertanian/kawasan budidaya .4. Penentuan zona pemanfaatan sumber air ditujukan untuk pendayagunaan fungsi atau potensi yang terdapat pada sumber air yang bersangkutan secara berkelanjutan. Penatagunaan sumber daya air ditujukan untuk menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air. budidaya tahunan/semusim 8.4.(Persero) CABANG I MALANG No Pola Konservasi - Prasyarat dan Lokasi Kedalaman tanah minimum 15 cm Fungsi lahan: budidaya Status lahan jelas Di luar kawasan hutan Lereng kecil dari 80% Kedalaman tanah minimum 15 cm Fungsi lahan: Budidaya Lahan masyarakat Dalam kawasan hutan Dapat dilakukan pada semua kondisi lereng Kedalaman tanah minimum 15 cm Potensi kawasan masih baik Fungsi lahan: lindung dan budidaya Di dalam/luar kawasan hutan Lereng kecil dari 60% Kedalaman tanah minimum 15 cm Fungsi lahan : lindung dan budidaya 7 Agroforestry kebun campuran. perkebunan dan kebun 10 Teras gulud. 1. (3). teras bangku miring. Pengembangan sumber daya air. termasuk tanaman industri. (4).Kedalaman tanah minimum >30 cm Fungsi lahan : lindung. Penetapan zona pemanfaatan sumber air didasarkan pada pertimbangan : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .1.3. Penyediaan sumber daya air. Penggunaan sumber daya air.kedalaman tanah minimum >30 cm Fungsi lahan: lindung.Lereng 10 – 60% . Cakupan Kegiatan Pendayagunaan Sumber Daya Air Pendayagunaan sumber daya air mencakup kegiatan : (1).

Penetapan rencana peruntukan air pada sumber air. 4. Peruntukan air pada sumber air 1. Merumuskan rencana zona pemanfaatan sumber air dan melakukan kegiatan sbb: • • Penelitian dan pengukuran parameter fisik dan karakter sumber air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Rencana tata ruang wilayah Pemanfaatan air yang sudah ada 3. (B). 3. Potensi konplik antar jenis penggunaan yang minimal Fungsi lindung dan budi daya Fungsi kawasan Hasil penelitian dan pengukuran secara teknis hidrologi 2. Dampak negatif terhadap kelestarian sumber daya air yang minimal. Pedoman dan petunjuk teknis penetapan peruntukan air ditetapkan oleh Menteri.(Persero) CABANG I MALANG • • • • • • Terakomodasinya semua jenis pemanfaatan secara layak. Peruntukan air pada sumber air ditentukan berdasarkan klasifikasi atau penggolongan mutu air yang ditetapkan 2.dikoordinasikan melalui wadah koordinasi sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. Inventarisasi jenis-jenis pemanfaatan yang sudah dilakukan diseluruh bagian sumber air. kimia dan biologi pada sumber air. Penetapan rencana zona pemanfaatan sumber air.37 .dikoordinasikan melalui wadah koordinasi sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. Dalam • • • • • menetapkan rencana peruntukan air pada sumber air perlu melakukan pengumpulan data dan informasi mengenai : Daya dukung sumber air Jumlah dan penyebaran penduduk serta proyeksi pertumbuhannya Perhitungan dan proyeksi kebutuhan sumber air.

Penyediaan sumber daya air dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip: • • • Mengutamakan penyediaan air untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat pada sistem irigasi yang sudah ada. Memperhatikan penyediaan air untuk kebutuhan pokok sehari-hari penduduk yang berdomisili dekat dengan sumber air dan atau di sekitar jaringan pembawa air.(Persero) CABANG I MALANG (C). Dalam hal terjadi situasi kekeringan yang ekstrim sehingga timbul konflik kepentingan antara pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan pemenuhan kebutuhan air irigasi untuk pertanian rakyat. 6. 2. Ketersediaan air pada musim kemarau dan musim hujan. Rencana penyediaan sumber daya air tahunan disusun sesuai dengan : • • Urutan prioritas penyediaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. Penggunaan sumber daya air. Penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan irigasi bagi pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang sudah ada merupakan prioritas utama penyediaan sumber daya air diatas semua kebutuhan.38 . Menjaga kelangsungan penyediaan air untuk pemakai air lainnya yang sudah ada. Rencana penyediaan sumber daya air yang berasal dari cekungan air tanah disesuaikan dengan kapasitas cekungan air tanah yang bersangkutan. 3. (D). Penyediaan sumber daya air 1. kebutuhan air pada wilayah sungai yang bersangkutan dan disesuaikan kondisi setempat. peruntukan air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . 4. 5. Penggunaan sumber daya air dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip: • Penghematan penggunaan. 1. Rencana penyediaan sumber daya air terdiri dari rencana penyediaan sumber daya air tahunan dan rencana penyediaan sumber daa air rinci. prioritas penyediaan air ditempatkan pada pemenuhan kebutuhan pokok sehari hari. Prioritas penyediaan sumber daya air untuk kebutuhan air lainnya ditetapkan berdasarkan hasil penetapan zona pemanfaatan sumber air.

3. Pengambilan langsung dari sumber air. Menyediakan air yang memenuhi persyaratan kualitas dan kuantitas sesuai dengan ruang dan waktu untuk memenuhi kebutuhan air pokok secara berkelanjutan. Meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. (F). Keberlanjutan penggunaan. 8. Pengusahaan sumber daya air Pengusahaan sumber daya air diselenggarakan untuk : • • • Meningkatkan pelayanan kebutuhan masyarakat akan air. Penggunaan air dapat dilakukan dengan cara : • • • • • Penyadapan bebas.(Persero) CABANG I MALANG • • • • Ketertiban dan keadilan.4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Pemompaan air dari sumber air. 2.2. Kelestarian keanekaragaman hayati sumber air bersangkutan. Kemampuan pembiayaan. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi penyediaan serta penggunaan air irigasi dengan lebih mengutamakan kegiatan operasi dan pemeliharaan. Pengembangan sumber daya air Rencana pengembangan sumber daya air disusun dengan memperhatikan : • • • • Daya dukung sumber daya air yang ada. Langkah Kebijakan Pendayagunaan SDA 1. Pembangunan bendung dan bendungan.39 . baik secara kuantitas maupun kualitas. Ketepatan penggunaan. Penggunaan yang saling saling menunjang antara air permukaan dan air tanah dengan memprioritaskan penggunaan air permukaan. Meningkatkan effisiensi alokasi dan distribusi kemamfaatan sumber daya air. (E). Kekhasan dan aspirasi daerah dan masyarakat setempat. 2. Penggunaan langsung dari sumber air.

40 . Mendayagunakan potensi sumber daya air secara berkelanjutan.3. • • • Meningkatkan kemanfaatan fungsi sumber daya air. keberlanjutan penggunaan dan saling menunjang antara sumber air dengan memprioritaskan penggunaan air permukaan. 4.3. Strategi Pendayagunaan SDA Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pendayagunaan SDA di WS Barito-Kapuas di arahkan untuk dapat: • • • Mengupayakan penyediaan Air untuk berbagai kepentingan secara proporsional dan berkelanjutan. BaritoKapuas dapat diuraikan berupa: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Meningkatkan efisiensi alokasi air dan distribusi kemanfaatan sumber air. pendayagunaan ekonomi sumber daya air dan untuk menunjang dengan secara efektif efisien mempertimbangkan kepentingan antar sektor.(Persero) CABANG I MALANG optimalisasi. 6. rehabilitasi dan peningkatan kinerja sistem irigasi yang ada secara berkelanjutan. Mengupayakan penataan sumber air secara layak. 8. Memanfaatkan sumber daya air dan prasarananya sebagai media/materi sesuai prinsip penghematan penggunaan ketertiban dan keadilan. Melaksanakan perkembangan panjang. dan atau peningkatan ketersediaan dan kualitas air. Meningkatkan peran dunia usaha dalam pengusahaan sumber daya air dengan tetap mengutamakan kepentingan masyarakat.4. Menerapkan prinsip penerima manfaat menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air kecuali untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat. 3. wilayah dan dampak jangka Dari beberapa butir strategi pokok tersebut beberapa kegiatan di WS. Mendorong pengembangan irigasi dan rawa dalam rangka mendukung produktifitas usaha tani untuk meningkatkan produksi pertanian dalam rangka ketahanan pangan nasional dan mensejahterakan masyarakat khususnya petani. 5. ketapatan penggunaan. untuk mendorong penghematan penggunaan air dan meningkatkan kinerja pengelolaan sumber daya air.

terancamnya kepunahan jenis tumbuhan dan atau satwa dan atau wabah penyakit. (3) Penetapan ijin penggunaan air berkaitan dengan hak guna air. Barito-Kapuas 8. Penyediaan. (2) Penyediaan air sesuai prioritas yaitu untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat. menanggulangi dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air.1.4. penanggulangan dan pemulihan.(Persero) CABANG I MALANG 1. Penetapan zona pemanfaatan sumber air (1) Penetapan zona pemanfaatan sumber air ke dalam peta tata ruang wilayah Kabupaten/ Kota di WS. Barito-Kapuas.41 . Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . kekeringan. Pengendalian Daya Rusak Air WS. pelaksanaan dan dilengkapi dengan studi Analisis Dampak Lingkungan (2) Pengembangan terhadap modifikasi cuaca untuk menambah volume sumber air.4. longsoran tanah. Penggunaan dan Pengusahaan SDA (1) Penetapan peruntukan air untuk berbagai kepentingan. Pengembangan SDA (1) Pengembangan (AMDAL). banjir lahar dingin. erosi dan sedimentasi. Pengendalian Daya Rusak Air adalah upaya untuk mencegah. Peruntukan.4. (4) Pengusahaan SDA tanpa mengabaikan fungsi sosial SDA. SDA dilakukan melalui tahapan perencanaan. biologi. Umum Pengendalian daya rusak air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan. 2.4. perubahan sifat dan kandungan kimiawi. Diutamakan pada upaya pencegahan melalui perencanaan pengendalian daya rusak air yang disusun secara terpadu dan menyeluruh dalam Pola Pengelolaan Sumber Daya Air dan diselenggarakan dengan melibatkan masyarakat. 3. amblesan tanah. 8. dan fisika air. Daya rusak air dapat berupa banjir. (2) Penetapan zona pemanfaatan sumber air yang sudah dikoordinasikan melalui PPTPA/ Dewan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas.

kepunahan flora dan fauna serta wabah penyakit. maka upaya peningkatan sistem pencegahan dan penanggulangan bencana dan pemulihan fungsi sarana dan prasarana berkaitan dengan daya rusak air perlu dilaksanakan. upaya penanggulangan pada saat terjadi bencana. biologi dan fisikan air. Dampak daya rusak air terhadap kondisi sosial-ekonomi yang utama adalah terganggunya aktivitas masyarakat dalam menjalankan kehidupannya. Pencegahan bencana alam (1) Penetapan zona rawan banjir. 2. Sejalan dengan kepentingan pemerintah. perubahan sifat dan kandungan kimiawi. kekeringan. banjir lahar dingin. Dari dua butir strategi pokok tersebut. amblesan tanah. erosi. dan upaya pemulihan akibat bencana. Mengupayakan sistem pencegahan bencana akibat daya rusak air.2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .4. tanah longsor. Meningkatkan peran masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan daya rusak air.(Persero) CABANG I MALANG Hal tersebut telah banyak menimbulkan kerugian baik yang terhitung maupun yang tidak terhitung. Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pengendalian Daya Rusak Air di WS Barito-Kapuas di arahkan untuk dapat: 1. Pemerintah dan masyarakat telah banyak melakukan upaya pengendalian baik yang bersifat upaya pencegahan sebelum terjadi bencana. Strategi Pengendalian Daya Rusak Air.42 . pemerintah daerah Provinsi.4. (2) Pengendalian pemanfaatan kawasan rawan bencana dengan melibatkan masyarakat. (3) Peringatan dini dilakukan di lokasi rawan bencana. beberapa kegiatan di WS. BaritoKapuas antara lain : 1. 8. Kabupaten/Kota yaitu untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui upaya peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. sedimentasi.

bencana kekeringan maupun bencana tanah longsor sbb. Pemulihan Pasca Banjir atau disebut juga Rehabilitasi Pasca Banjir. 3. (3) Penilaian kerusakan.(Persero) CABANG I MALANG 2. Kegiatan yang dibutuhkan antara lain : Data awal. Inventarisasi terdiri dari kegiatan (1) Jenis kerusakan (2) Karakter banjir. (2) Penetapan prosedur operasi standart penanggulangan bencana alam. baik berupa bencana banjir.: (1) Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun non struktural. (2) Menumbuh kembangkan peran pemulihan akibat bencana. Revitalisasi Evaluasi kelayakan terdiri dari (1) Kriteria legalitas (2) Kriteria tingkat resiko banjir Rekonstruksi mengembalikan seperti semula dengan: (1) Pengembalian total seperti kondisi sebelum banjir atau (2) Tidak melakukan perubahan atau desain ulang Konstruksi lebih baik dari semula yaitu: (1) Peningkatan di lokasi semula (2) Bangunan jenis baru (3) Pindah ke lokasi baru (relokasi) serta masyarakat dalam kegiatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Pemulihan daya rusak air Pemulihan daya rusak air merupakan penanganan pasca bencana. (3) Revitalisasai wadah wadah air pada daerah aliran sungai.43 . adalah proses perbaikan keadaan terencana berdasarkan hasil evaluasi kelayakan agar keadaan kembali sama dengan atau lebih baik dari keadaan semula. Penanggulangan bencana alam (1) Pelaksanaan tindakan penanggulangan kerusakan dan atau bencana akibat daya rusak air. (3) Penyampaian berita tentang kejadian bencana alam.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Rehabilitasi tanggul pengendali banjir yang mengalami kerusakan atau penurunan fungsi. Langkah I ini terdiri dari kegiatan Pemulihan sarana dan prasarana pengendalian banjir akibat daya rusak air termasuk kawasan yang terkena bencana akibat daya rusak air dan penanggulangan daya rusak air dengan menerapkan sistem peringatan dini dalam WS.3.44 . baik berupa bencana banjir. A. kegiatan ini merupakan program mendesak jangka menengah. Rehabilitasi atau perbaikan bangunan pengendali banjir • • • • Rehabilitasi atau perbaikan pintu pengendali banjir yang rusak atau mengalami penurunan fungsi. Langkah Strategis Pengendalian Daya Rusak Air WS. Revitalisasi wadah wadah air pada daerah aliran sungai. Menumbuh kembangkan peran masyarakat dalam kegiatan pemulihan akibat bencana. bencana kekeringan maupun bencana tanah longsor sebagai berikut : Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun non struktural.Barito-Kapuas 1. Rehabilitasi atau perbaikan tidal gate yang rusak atau mengalami penirunan fungsi. Pemulihan sarana dan prasarana pengendalian banjir akibat Daya rusak Air Pemulihan sarana dan prasarana merupakan penanganan pasca bencana. Langkah I (Jangka Menengah / Mendesak ) Merupakan langkah kegiatan jangka pendek/ menengah yang harus segera dilaksanakan untuk memulihkan sarana dan prasarana pengendalian daya rusak air sungai Barito-Kapuas yang mengalami kerusakan akibat daya rusak air maupun penurunan kinerja yang cukup serius. Barito-Kapuas.(Persero) CABANG I MALANG 8.4.4. Rehabilitasi tidal levee yang mengalami kerusakan atau penurunan fungsi.

Sosialisasi dan pelatihan RTD Pengamatan dan tahapan siaga banjir Penyiapan dan mobilisasi kebutuhan Pengungsian penduduk dan penentuan tempat evakuasi Prasarana darurat banjir Pencarian dan pertolongan orang hilang Pelayanan korban banjir Deklarasi pengakhiran keadaan darurat Pemulangan pengungsi 2). Manajemen penanggulangan banjir atau yang lazim disebut Manajemen Tanggap Darurat yaitu: Dilaksanakan secara terencana dan terkoordinir. Manajemen Tanggap Darurat terdiri dari : Penyusunan Rencana Tanggap Darurat (RTD). Tujuannya untuk menyelamatkan jiwa dan meminimalkan kerugian. Umum Sistem peringatan banjir dini adalah cara yang relatif murah untuk mengurangi korban dan kerugian akibat banjir. Upaya ini dapat membantu penanggulangan bahaya banjir secara dini sehingga mengurangi kerugian yang mungkin terjadi misalnya relokasi penduduk ke daerah yang aman.(Persero) CABANG I MALANG B. Dilaksanakan sejak banjir diperkirakan akan terjadi. Penerapan Sistem Peringatan Dini (Flood Warning System) a). hingga banjir berakhir. Ada dua Strategi untuk penanggulangan banjir sungai Barito-Kapuas yaitu: 1).penanggulangan darurat pada lokasi lokasi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Penanggulangan Daya Rusak Air Kondisi DAS wilayah sungai Barito-Kapuas termasuk DAS kritis dengan tingkat erosi dan sedimen yang tinggi hal ini dapat dilihat dari data erosi dan juga diindikasikan dari fluktuasi debit rata rata maksimun dan debit rata rata minimum besar.45 .

Informasi banjir yang akan didapat terdiri dari 2 sumber. sehingga besarnya banjir yang akan terjadi dapat diketahui lebih dini sehingga daerah daerah rawan banjir dapat segera ditanggulangi bahaya banjirnya termasuk lokasi tanggul yang akan terlampuai kemampuannya terhadap banjirnya. Data ramalan banjir tersebut di informasikan kepada penduduk di daerah banjir melalui Instansi terkait. Sistem ini terdiri 2 komponen yaitu hardware dan software. melalui mekanisme yang berlaku. Informasi banjir yang berasal dari peramalan banjir dengan menggunakan fasilitas flood warning and forecasting system.46 . Komponen Software terdiri dari: Telemetri software yaitu program komputer yang berfungsi sebagai sarana untuk mengumpulkan data hujan. Flood warning and forecasting system adalah suatu sistem yang dapat digunakan untuk meramal tentang waktu dan besarnya banjir yang akan terjadi pada suatu titik pengamatan yang terjangkau di dalam sistem tersebut. Keluaran (output) dari sistem ini adalah berupa data ramalan banjir yang terdiri dari :data muka air. peronda. data debit dan waktu kejadian banjir serta tempat dimana banjir tersebut terjadi.(Persero) CABANG I MALANG tanggul yang mengalami kebocoran atau pada lokasi tanggul yang akan melimpas akibat banjir Pada WS Barito-Kapuas seharusnya dipasang peralatan Flood Warning and Forecasting system. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . masyarakat dan Pokmas. Informasi banjir yang merupakan hasil pengamatan langsung di lapangan yang dilakukan oleh pengamat. cuaca maupun muka air dari lapangan secara tepat waktu. Hydrological software yaitu program komputer yang berfungsi sebagai sarana untuk menghitung berapa besar debit yang akan terjadi pada suatu titik (stasiun pengamat muka air) berdasarkan data hujan yang diterima.

serta menahan air di sepanjang wilayah sungai. Siaga banjir IV. menahan air di bagian hulu dan hilir. yaitu bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Wilayah Sungai (WS). Dalam penanggulangan banjir dengan konsep eko-hidraulik dikenal kunci pokok penyelesaian banjir. Jadi dalam konsep dasar penanggulangan banjir eko-hidraulik adalah dengan meretensi air dari hulu hingga hilir secara merata. Siaga banjir II. Cara ini sekaligus merupakan cara menanggulangi kekeringan suatu kawasan atau DAS. Sempadan Sungai (SS) dan Badan Sungai (BS) harus dipandang sebagai kesatuan sistem dan ekosistem ekologi-hidraulik yang integral. dalam arti Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .2 m dari permukaan tanggul. apabila kondisi muka air berjarak 1.8 m dari permukaan tanggul. Pembagian kritaria Siaga Banjir secara umum adalah sebagai berikut: Siaga banjir I. Langkah ke II Pencegahan Daya Rusak Air (Jangka Panjang ) Alternatif 1 : Melayani Debit Banjir Dengan Peningkatan Kapasitas Bangunan pengendali banjir Alternatif 2 : Dengan meningkatkan fungsi retensi ekologis (Eko-Hidraulis) di sepanjang alur sungai dari hulu hingga hilir untuk redaman banjir. 2. tengah dan hilir. apabila kondisi muka air berjarak 0. sempadan sungai dan badan sungai di bagian hulu tengah dan hilir.47 . Dalam menahan air ini diberlakukan konsep keseimbangan alamiah. karena sebenarnya banjir dan kekeringan ini merupakan kejadian yang saling susul dan saling memperparah.(Persero) CABANG I MALANG b) Tingkat Siaga Banjir Ada 4 macam pemberitaan siaga banjir yang masing masing akan berdampak pada daerah rawan banjir. Penyelesaian banjir harus dilakukan secara konprehensif dengan metode menahan atau meretensi air di DAS bagian hulu.tanggul dan bangunan pengendali banjir) tidak berfungsi. Siaga banjir III. apabila kondisi muka air berjarak 1.5 m dari permukaan tanggul. apabila sebagian/semua bangunan utama pengendali banjir (tanggul.

Selanjutnya reboisasi juga mengarah ke DAS bagian tengah dan hilir. 3) Sungai Barito-Kapuas yang bermeander justru dipertahankan sehingga dapat menyumbangkan retensi. Penanganan banjir dengan konsep ekologi-hidraulik secara konkrit terdiri dari: 1) DAS bagian hulu dengan reboisasi dan konservasi hutan untuk meningkatkan retensi dan tangkapan air di hulu terutama pada lahan kritis. 8) Mencari berbagai alternatif untuk mengembangkan kolam konservasi alamiah di sepanjang sungai atau di lokasi-lokasi yang memungkinkan baik Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Konsep ini sesuai dengan kebijakan dalam UU No. mengurangi erosi dan meningkatkan konservasi. 6) Memfungsikan daerah genangan atau rawa sebagai polder alamiah di sepanjang sempadan sungai dari hulu sampai hilir untuk menampung air.48 .(Persero) CABANG I MALANG mengacu pada kondisi karakteristik alamiah sebelumnya. 7) Beberapa rawa yang terdapat di sepanjang sungai Barito-Kapuas dapat difungsikan sebagai folder alamiah atau daerah penahan banjir (detention basin). Untuk Itu kami usulkan Semua lahan pertanian pada lahan miring di WS Barito-Kapuas di buat dengan sistem teras mengikuti kontur. yaitu sistem pengolahan lahan dengan membuat terasering mengikuti kontur lahan sehingga air hujan tidak langsung mengalir tapi tertahan dulu di teras teras. di sepanjang sempadan sungai dan badan sungai justru ditingkatkan.7 tahun 2004 tentang SDA . 2) Penataan tataguna lahan yang meminimalisir limpasan langsung dan mempertinggi retensi dan konservasi air di DAS. maka kesempatan infiltrasi akan lebih banyak dan akan menurunkan koefisien runoff dan mengurangi erosi lahan. 5) Tebing-tebing sungai yang mengalami erosi atau scouring terutama pada tikungan luar jika memungkinkan dilaksanakan dengan cara penanaman dengan teknologi Eco-Engineering dengan menggunakan vegetasi setempat. 4) Komponen retensi alamiah di wilayah sungai. dengan cara menanami atau merenaturalisasi kembali sempadan sungai yang telah rusak.

Rekomendasi yang termuat dalam peta rawan banjir (flood zoning ) dengan segala resikonya. bila penerapan dari perda ini harus membongkar banyak bangunan yang telah ada. Alternatif 3 : Pengendalian dan Pengelolaan Dataran Banjir (Flood Zoning/ Flood Proofing) 1) Flood Zoning Pengendalian dan pengelolaan dataran banjir atau dapat juga disebut pengelolaan Tata Ruang dataran banjir bertujuan untuk memperkecil kerugian yang diakibatkan banjir. pada prinsipnya harus mempunyai tujuan yang mencakup hal-hal sebagai berikut : 1. 9) Disamping solusi eko-hidroteknis tersebut. sempadan dan badan sungai. terutama pada daerah yang akan dikembangkan. Selain hal-hal tersebut diatas sumur-sumur resapan perlu digalakkan pembuatannya. Dengan demikian keuntungan ekonomi jangka panjang serta kecilnya dampak lingkungan sebagai konsekuensi dari usaha ini dapat diperoleh. Untuk bangunan yang telah ada dikenakan aturan lain yaitu tentang sandi bangunan (flood proofing). Peraturan daerah ini lebih ditujukan kepada pembangunan dan pengembangan baru (setelah perda berlaku secara hukum).49 . Genangan-genangan alamiah ini berfungsi meretensi banjir tanpa menyebabkan banjir lokal karena banjir di bagi-bagi di DAS dan di sepanjang wilayah. harus ditetapkan berdasarkan peraturan daerah (perda). sangat diperlukan juga pendekatan sosio-hidraulik sebagai bagian dari eko-hidraulik dengan meningkatkan kesadaran masyarakat secara terus-menerus akan peran mereka dalam ikut mengatasi banjir. agar tidak menimbulkan dampak sosial yang merugikan. termasuk kerugian sosial ekonomi dan kerusakan lingkungan. agar dapat dilaksanakan dengan baik. sehingga kerugian material dapat dikurangi dan korban jiwa dapat dihindarkan. Peraturan daerah untuk penetapan daerah rawan banjir. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .(Persero) CABANG I MALANG di perkotaan-hunian atau di luar perkotaan. Membatasi atau mencegah pembangunan baru pada daerah yang mempunyai resiko kerugian akibat banjir (rawan banjir).

Pada upaya pencegahan bahaya dan kerugian banjir. Bentang Sungai Barito-Kapuas termasuk pendek sehingga sulit untuk memperpanjang waktu rayapan. Pembuatan bendungan merupakan cara yang paling langsung untuk mengendalikan debit banjir. oleh karena itu waduk biasanya dibangun untuk berbagai jenis kegunaan (multiple purpose). Alternatif 4 : Pengendalian Debit Banjir 1). karena tertalu mahal atau sulit dari segi sosial. Bangunannya sendiri dihindarkan dari genangan banjir dengan cara meninggikan lantainya.50 . peninggian lantai bangunan lebih dari muka air banjir. Harus dapat mencegah timbulnya kegiatan-kegiatan baru yang dapat menempati daerah genangan dan akibatnya memperdalam genangan banjir. 2) Flood Proofing Bilamana upaya pencegahan bahaya dan kerugian banjir lainnya kurang efektif untuk dilaksanakan. maka waduk ini dibangun di bagian hulu dari daerah pengendali sungai. baik secara ekonomis maupun teknis. Meninggikan lantai bangunan (di atas muka air banjir). terlebih-lebih bilamana kondisi DAS-nya telah rusak.(Persero) CABANG I MALANG 2. biasanya analisis ekonomi menunjukkan kurang layak. Bilamana waduk ini dibuat khusus untuk maksud pengendalian banjir. Pengendalian Debit Banjir Dengan Waduk Pengendalian debit banjir merupakan alternatif penanggulangan banjir dengan cara memperpanjang waktu rayapan baik dalam bentuk storage (in-stream ataupun off-stream) maupun dengan pendekatan cascade sepanjang sungai. agar lebih layak. Berdasarkan kecocokan topografi dan maksud pengendalian banjir. flood proofing mempunyai dua maksud yaitu: 1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . 2. dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan penimbunan tanah dan di atas tiang. maka flood proofing dapat dilaksanakan. Bangunan beserta komponen-komponennya stabil (tahan) terhadap ancaman banjir.

Bangunan Checkdam kami usulkan berupa konstruksi bronjong karena konstruksinya praktis.51 . 2). karena upaya ini merupakan pemaksaan terhadap perubahan rezim sungai. dengan demikian banjir di bagian hilir dapat diatur dan dikendalikan. untuk selanjutnya dilepaskan sedikit demi sedikit menurut daya tampung sungai di bagian hilirnya. Bilamana fungsi pengendalian banjir dari waduk merupakan prioritas utama. dengan maksud mengurangi kemiringan slope alur sungai sehingga akan dapat memperpanjang time peak debit banjir. maka sebagian besar dari seluruh kapasitas waduk harus diperuntukkan bagi pengendalian banjir sedangkan bagian sisanya untuk fungsi waduk yang lain yang merupakan prioritas selanjutnya. tetapi juga pada DAS yang memberi pelimpahan sebagian debit banjirnya. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Untuk mengetahui sejauh mana efektifitas bangunan checkdam dalam mengurangi puncak banjir perlu dikaji lebih lanjut termasuk seberapa banyak jumlah checkdam yang perlu dibangun. 3). Transfer Antar Basin Metode pengendalian banjir dengan metode transfer antar basin bertujuan untuk menurunkan ketinggian puncak banjir dengan cara memindahkan sebagian debit banjir ke DAS lain yaitu dengan membangun bangunan pelimpah dan dialirkan ke DAS lain yang terdekat. pemindahan sebagain debit banjir ke DAS lain memerlukan pertimbangan ekstra hati-hati atas perubahan morfologi sungai. sekaligus akan dapat menurunkan puncak banjirnya. Metode transfer antar basin ini harus ditinjau dengan hati-hati untuk menjamin agar jangan sampai memindahkan masalah banjir dari satu tempat ke tempat lainnya. Selain itu. Pertimbangan atas perubahan morfologi sungai yang diakibatkan pembuatan bangunan pelimpah antar basin ini tidak hanya pada DAS yang menerima pelimpahan saja.(Persero) CABANG I MALANG Waduk ini menampung aliran banjir untuk sementara. mudah pelaksanaannya dan tidak terlalu rumit dalam perencanaannya. Membangun checkdam Membangun checkdam checkdam secara cascade sepanjang alur Sungai Barito-Kapuas dan anak anak sungainya di bagian hulu sungai.

Dunia Usaha. Perguruan Tinggi dan LSM dalam pendayagunaan SDA. untuk diusulkan kepada Pemerintah. 2 3 Melibatkan perguruan tinggi dan LSM dalam program penguatan (capacity building) institusi PSDA.52 . 7 di lingkungan stakeholders. dengan memperhatikan aspek hidrologis dan topografis serta melibatkan stakeholder di Wilayah Sungai Barito-Kapuas. yaitu Jangka Pendek dan Jangka Panjang. Meningkatkan penyelenggaraan sosialisasi UU no. Pengembangan sistem operasional pengelolaan SDA melalui penetapan Zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air. 7 Sosialisasi/Diseminasi mengenai ancaman yang dapat timbul sebagai akibat dari alih fungsi lahan terhadap kondisi lahan kepada unsur perencana pembangunan Pemerintah Daerah di Wilayah Sungai BaritoKapuas 8 Meningkatkan kerjasama antara perencana wilayah yang terkait dengan PSDA untuk mendorong tersusunnya SK Gubernur mengenai Baku Mutu Peruntukan Air Sungai pada semua sungai di Wilayah Sungai Barito- Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Rancangan Jangka Pendek merupakan strategi yang dilaksanakan pada 5 tahun pertama setelah Pola Pengelolaan Sumber Daya Air ini ditetapkan. Rancangan Jangka Panjang merupakan strategi yang dilaksanakan sampai dengan rentang waktu 20 tahun ke depan.5 RANCANGAN POLA PENGELOLAAN SDA Rancangan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Barito-Kapuas disusun berdasarkan 2 (dua) kerangka waktu. Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Tengah menyusun kesepakatan mengenai peningkatan kapasitas Institusi Pengelola SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas.(Persero) CABANG I MALANG 8. 1 Mensinergiskan kegiatan Institusi pengelola SDA dengan kegiatan yang positip dari Masyarakat. utamanya agar fungsi pemantauan dan pengendalian yang dapat mencakup seluruh Wilayah Sungai Barito-Kapuas dapat berjalan. Kabupaten dan Kota. 4 5 6 Meningkatkan koordinasi unsur-unsur perencanaan PSDA dengan Institusi Perencana Pembangunan (Bapeda) Provinsi.

8. 10 Meningkatkan koordinasi diantara pengelola SDA baik di tingkat perencanaan. Dunia Usaha. kepentingan. Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : Usulan strategi kebijakan pada periode 5 tahun pertama ini sebagian besar lebih merupakan strategi yang ditujukan untuk penguatan institusi pengelolaan SDA WS. Perguruan Tinggi. 2 Sosialisasi/Diseminasi persoalan (key issues) mengenai Konservasi. 12 Menyusun Program perbaikan fungsi sarana dan prasarana SDA dengan melibatkan peran serta masyarakat. 8. pelaksanaan. Barito-Kapuas. 11 Menyusun peta potensi sumber daya air yang dapat mendukung pembuatan sonasi (zoning). 9 Meningkatkan koordinasi dan memperkuat posisi institusi PSDA di lingkungan institusi perencana pembangunan Pemerintah Daerah.2 Rancangan/Strategi Jangka Panjang (20 Tahun Ke Depan) Strategi Jangka Panjang dalam Pola Pengelolaan SDA WS. Secara logis strategi yang menempatkan penguatan kelembagaan di awal ini akan sangat berguna untuk memantapkan jalannya pengelolaan SDA di masa depan. Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : 1 Mensinergiskan Kegiatan Institusi pengelola SDA dengan Kegiatan yang positip dari Masyarakat. dan LSM dalam pendayagunaan SDA. Dalam implementasinya nanti berbagai rancangan strategi tersebut akan dijabarkan kedalam berbagai program kegiatan yang disusun sesuai dengan kebutuhan nyata dan kondisi nyata yang dituangkan dalam matrik pola pengelolaan SDA. dan pengawasan dalam rangka mengantisipasi meningkatnya aktivitas penggunaan air untuk berbagai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .5.5.53 .(Persero) CABANG I MALANG Kapuas.1 Rancangan/strategi Jangka Pendek (5 Tahun) Strategi Jangka Pendek dalam Pola Pengelolaan SDA WS.

12 Peningkatan monitoring penggunaan air untuk berbagai kepentingan usaha dan atau kegiatan. 13 Menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga internasional maupun pelaksanaan. BLN atau dari Stakeholders). 7 8 Meningkatkan kerjasama dengan perguruan tinggi dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia yang dimiliki instansi PSDA. 9 Meningkatkan fungsi sarana dan prasarana SDA dengan melibatkan peran serta masyarakat. kepentingan. Perda Irigasi. dst) dengan melibatkan peranserta masyarakat. dan pengawasan dalam rangka mengantisipasi meningkatnya aktivitas penggunaan air untuk berbagai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . segera munculnya mengenai mengantisipasi pelanggaran pemanfaatan SDA (Perda Sungai. sementara untuk kebutuhan lainnya diupayakan dari sumber lain (APBN.(Persero) CABANG I MALANG pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air kepada unsur perencana pembangunan Pemerintah Daerah di Wilayah Sungai Barito-Kapuas 3 Memasukkan unsur Lokal Inflow yang cukup signifikan besarnya dalam perhitungan ketersediaan air sehingga dapat mengurangi dampak dari tingginya fluktuasi aliran sungai antara musim kemarau dengan musim hujan. dan aktivitas non pertanian.54 . kolam ikan. 4 Mengembangkan Sistem Database (untuk wadah dari hasil inventarisasi potensi internal dan ancaman external) untuk mendukung pelaksanaan pengelolaan SDA dengan baik. Mengarahkan alokasi dana dari PAD untuk keperluan operasional dengan selalu mengadakan alokasi untuk peningkatan SDM di lingkungan Institusi pengelola SDA. 5 Memberikan masukan sebanyak-banyaknya kepada unsur perencana pembangunan 6 Mendorong daerah agar perubahan perda tata guna SDA lahan/RTRW yang dapat memperhatikan arah kebijakan konservasi sumber daya air. 10 Melengkapi dan mengintegrasikan penyusunan profil SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas dengan melibatkan perencana pembangunan Pemerintah Daerah 11 Meningkatkan koordinasi diantara pengelola SDA baik di tingkat perencanaan.

16 Peningkatan kapasitas SDM dengan memanfaatkan kerjasama dengan perguruan tinggi. 17 Mengembangkan Sistem Informasi SDA dengan melibatkan Institusi Pengusahaan dan Pemanfaat SDA. termasuk OP. perguruan tinggi. yang sangat diperlukan untuk keperluan pembiayaan pengelolaan sumber daya air. Asosiasi. penataan pengelolaan mendukung terealisasikannya penggalangan dana dari potensi yang ada.(Persero) CABANG I MALANG lembaga donor lainnya yang concern dengan pengelolaan SDA untuk mendapatkan 14 Menyusun grant/hibah/softloan sistem yang dapat yang digunakan dapat untuk mendukung pengelolaan SDA wilayah sungai Barito-Kapuas dengan baik. maupun lembaga lain baik di dalam maupun di luar negeri. 15 Menyusun regulasi yang mengatur kegiatan masyarakat yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan SDA khususnya kegiatan konservasi agar tidak terjadi hal-hal yang negatip. 20 Meningkatkan daya dukung lingkungan melalui pengembangan sewerage system Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .55 . 18 Membuat Warning System untuk banjir dengan partisipasi masyarakat. dan lembaga lain yang terkait dengan PSDA 19 Menyusun regulasi yang dapat mendorong partisipasi masyarakat untuk ikut mendanai kebutuhan pengelolaan SDA.

Sebagai hasil akhir dari proses tersebut telah dihasilkan suatu rumusan Rancangan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air di WS Barito-Kapuas. maka diperlukan pengaturan dalam bentuk kebijakan Provinsi. upaya-upaya konservasi sumber daya air . Analisis DSS-Ribasim pada WS. Strategi. Studi ini telah menghasilkan suatu rumusan . yang selanjutnya dijadikan acuan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (termasuk kabupaten/kota) dalam menyusun rencana induk/ master plan serta rencana pengelolaan sumber daya air WS Barito Kapuas.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis serta kajian pada bab-bab sebelumnya serta hasil rumusan pada Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) I dan II yang telah diselenggarakan beberapa waktu yang lalu. diharapkan rumusan rancangan tersebut dapat disepakati oleh kedua provinsi dan dijadikan bahan rumusan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah. sasaran. selanjutnya dianalisis lebih lanjut tingkat kepentingannya. kebijakan dan program yang diperoleh berdasarkan Analisis dan informasi teknik yang diperoleh dari berbagai aspek teknis antara lain. Barito-Kapuas. yaitu serta masyarakat serta sistem informasi.1 Aspek Kebijakan 1. pendayagunaan sumber daya air.1. 2. pengendalian daya rusak air. maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut : 9. tujuan. Konsep kebijakan tersebut di atas pada dasarnya mengacu pada lima buah pilar pengelolaan sumber daya air. Dalam rangka mewujudkan pencapaian visi dan misi pengelolaan sumber daya air serta mengimplementasikan strategi. peningkatan peran Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-1 .(Persero) CABANG I MALANG BAB 9 KESIMPULAN DAN SARAN 9. kebijakan dan indikasi program.

hal ini telah mengakibatkan meningkatnya debit sungai pada musim penghujan.1.2 Aspek Tata Ruang 1. meningkatnya pencemaran air sungai. Erosi yang terjadi di WS Barito-Kapuas untuk setiap DAS berdasarkan perhitungan tahun 2006 pada umumnya berkisar dari sedang sampai berat Prediksi erosi hingga tahun 2025 menunjukkan klasifikasi yang sama yaitu dari sedang sampai berat. 2. berwawasan lingkungan dan berkesinambungan perlu adanya keterpaduan dan sinkronisasi dalam penataan ruang di wilayah perbatasan. 3. berkurangnya debit aliran rendah pada musim kemarau. kekeringan pada musim kemarau serta 9. Nilai erosi tersebut diasumsikan akan terjadi jika tidak dilakukan usaha pengawetan tanah dan air. Perubahan pemanfaatan fungsi ruang di daerah tangkapan air WS Barito-Kapuas telah semakin memprihatinkan. namun sesuai dengan UU SDA merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari hulu ke hilir. Diperlukan suatu kesepakatan.(Persero) CABANG I MALANG 9. yaitu: 1. 4. menyebabkan terjadinya bencana banjir dan pendangkalan sungai. Dalam mewujudkan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi/ kabupaten/ kota yang lestari. tidak bisa dipisah-pisah sesuai dalam wilayah pengelolaan sumber daya air yang berbasis wilayah sungai. 2. menurunnya kualitas air. Usaha konservasi tanah dan air merupakan salah satu upaya yang harus dilakukan untuk menahan laju peningkatan nilai erosi tersebut dari tahun ke Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-2 . tingginya laju erosi dan sedimentasi yang menurunnya kualitas lingkungan keairan. Adanya konflik kepentingan antar sektor dalam pemanfaatan lahan sehingga pelaksanaan di lapangan tidak konsisten dengan rencana tata ruang.1. WS Barito-Kapuas administrasi. keterpaduan dan kesinambungan yang bersifat lintas provinsi.3 Aspek Konservasi Beberapa kesimpulan dapat ditarik berdasarkan hasil analisis beberapa sifat biofisik di WS Barito-Kapuas.

1. aktivitas perambahan hutan. maka dapat diketahui bahwa rata-rata Pollutant Index pada tahap I (musim penghujan) dan tahap II (musim kemarau). diperlukan pengolahan limbah cair RKI. tidak ada kekurangan air untuk rumah-tangga. Status Mutu Air (SMA) berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan di Sungai Barito-Kapuas dan beberapa anak sungainya. Pembangunan bangunan penyedia air baku dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-3 . karena apabila dibiarkan akan menurunkan kualitas sumber daya air yang berfungsi sebagai penampung limbah RKI. Mengingat kualitas limbah RKI yang dihasilkan mengandung kadar pencemar tinggi.7217 (Cemar Ringan) terhadap kualitas air Sungai. Upaya konservasi ini dapat dilakukan dengan metode vegetatif dan cara mekanik. 2025 dan masing-masing upaya. 3.Sungai Kapuas : PI = 3.4 Aspek Kualitas Air Berdasarkan hasil analisis sebagai berikut : 1. diperoleh kesimpulan 9. Hasil simulasi base case 2007 menunjukkan bahwa dari ketersediaan air alami.54 (Cemar Ringan) .1. 9. 2. Oleh karena itu. maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. Simulasi menunjukkan tidak ada kekurangan air baku sampai dengan tahun 2025. 2.Sungai Barito : PI = 3. di masing-masing sungai tahun 2007 pada umumnya sebagai berikut : . Keberadaan hutan yang utuh merupakan salah satu upaya untuk mengurangi terjadinya erosi. pembalakan liar serta konversi hutan menjadi peruntukan lain harus dicegah secara maksimal. Dari aspek kuantitas terjadi peningkatan jumlah limbah cair RKI yang terus meningkat dari tahun ke tahun sesuai dengan penggunaan air bersih. perkotaan dan industri (semua sukses diatas 90%).(Persero) CABANG I MALANG tahun.5 Aspek Pendayagunaan SDA Dari hasil simulasi DSS-Ribasim untuk kasus dasar 2007.

Menurunnya kapasitas dari sungai-sungai / drainasi karena sedimentasi c. d. dan debit andalan Q90%. dengan kondisi ketersediaan air rata-rata. Sedangkan kebutuhan air terdiri atas kebutuhan air irigasi dan pemeliharaan aliran untuk lingkungan. Kebiasaan masyarakat membuang sampah ke sungai atau drain mengakibatkan pendangkalan sungai. b. Perubahan fungsi Retarding Basin yang berubah menjadi daerah pemukiman & pertanian. 2. yang pada akhirnya mengurangi kapasitas sungai. Banjir yang terjadi di WS Barito-Kapuas disebabkan oleh beberapa faktor. Prilaku masyarakat yang kurang memperhatikan fungsi dari sungai dan prasarana banjir yang dibangun. debit andalan Q80%. 9. Pada beberapa bendung strategis di Wilayah Sungai Barito-Kapuas. maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. yaitu: a.(Persero) CABANG I MALANG 3. maka dalam studi ini telah ditetapkan bahwa strategi Pengendalian Daya Rusak Air dibagi dalam dua periode waktu.6 Aspek Pengendalian Daya Rusak Air (DRA) Berdasarkan analisis dan hasil simulasi yang telah dilakukan. Mengingat banjir tidak dapat dihilangkan secara absulut. yaitu : Jangka Menengah/ Mendesak a) Pemulihan sarana dan prasarana pengendalian banjir akibat Daya rusak Air meliputi : − − − − − Rehabilitasi / normalisasi jaringan drainasi Normalisasi alur sungai Pengerukan muara sungai yang mengalami pendangkalan Rehabilitasi atau perbaikan bangunan pengendali banjir Rehabilitasi / perbaikan tebing kritis Manajemen penanggulangan banjir atau yang lajim disebut Manajemen Tanggap Darurat Penerapan Sistem Peringatan Dini (Flood Warning System) b) Penanggulangan Daya Rusak Air − − Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-4 .1.

2 SARAN Usulan saran terhadap pengembangan wilayah sungai meliputi usulan pengelolaan sesuai tahapan dalam Undang-undang No. c) Pengendalian Debit Banjir − − Pengendalian Debit Banjir Dengan Waduk Transfer Antar Basin 9. dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan penimbunan tanah dan di atas tiang. Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Kalimantan Selatan perlu menyusun kesepakatan mengenai peningkatan kapasitas Institusi Pengelola SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas. dst) dengan melibatkan peranserta masyarakat.(Persero) CABANG I MALANG Jangka Panjang a) Dengan meningkatkan fungsi retensi ekologis (Eko-Hidraulis) di sepanjang alur sungai dari hulu hingga hilir untuk redaman banjir. peninggian lantai bangunan lebih dari muka air banjir. utamanya agar fungsi pemantauan dan pengendalian yang dapat mencakup seluruh Wilayah Sungai Barito-Kapuas dapat berjalan. − Flood Proofing Meninggikan lantai bangunan (di atas muka air banjir). untuk diusulkan kepada Pemerintah. 3. 2. Perlunya mempercepat munculnya perda mengenai SDA yang dapat mengantisipasi pelanggaran pemanfaatan SDA (Perda Sungai. 7 Tahun 2004. tentang Sumber Daya Air dan usulan pengembangan pengelola SDA lintas Propinsi adalah sebagai berikut : 1. Konservasi dan perlindungan daerah tangkapan air di wilayah hulu sungai perlu dilakukan secara intensif mengingat daya dukung lingkungan dan daya tampung Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-5 . menahan air di bagian hulu dan hilir b) Pengendalian dan Pengelolaan Dataran Banjir (Flood Zoning/ Flood Proofing) − Flood Zoning Daerah daerah rawan banjir yang perlu ditetapkan sebagai flood zoning yang didasarkan atas frekuensi banjir yang terjadi. Perda Irigasi.

Harus diolah sebelum dibuang ke badan air. Perlu dilakukan audit lingkungan secara komprehensif baik secara biogeofisik maupun sosial budaya air di wilayah sungai. selanjutnya disalurkan dan diolah di IPAL terpusat. tetapi untuk grey water ( air bekas mandi. cuci menggunakan tanaman (wetland system) atau Echo Garden dapat dibuang ke badan air. Alternatif pengolahan. ini sesuai Pasal 38 ayat (2) butir (a) dari PP 82/2001 (”Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air”). sumur resapan. selanjutnya effluent Echo Garden Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-6 . yaitu : (a). Untuk permukiman yang terpisah dengan pertimbangan daya dukung lahan masih memadai dapat dan dapur) dapat diolah diolah secara individu dengan tangki dengan konsep ekoteknologi yang yang septik untuk tinjanya. sehingga jaringan perpipaan lebih sederhana dan kapasitas IPAL terpusat bisa lebih kecil. Dalam mengatasi jumlah limbah cair RKI yang terus meningkat dari tahun ke tahun dengan kuantitas yang banyak dan memilki potensi untuk mencemari WS Barito-Kapuas.(Persero) CABANG I MALANG sudah tidak memadai lagi. Untuk permukiman dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan ekonomi sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan kebijakan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya menggunakan ”Off Site System”. yaitu dengan menggunakan jaringan perpipaan air limbah untuk menampung air limbah dari setiap sumber pencemar. Air Limbah Rumah Tangga dan Perkotaan. serta menerapkan Q – Delta Policy dalam setiap pembangunan . 3). terdiri dari : dapat menyerap unsur pencemar. maka perlu pengolahan limbah. (b). Untuk mengatasi banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau. tentang kewajiban untuk mengolah limbah dari industri. Untuk areal permukiman terpencar dilakukan secara komunal di daerah bersangkutan. Air Limbah Industri : 1). di daerah hulu sungai perlu dibuatkan embungembung penampungan air hujan. 4. dengan alternatif pengolahan : 1). 5. 2).

2). Upaya-upaya konservasi yang perlu segera dilakukan di WS Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : Menetapkan dan mengelola daerah resepan air dalam rangka penyediaan air bagi kemamfaatan umum secara berkelanjutan dan pengurangan DRA 1. Rehabilitasi hutan dan lahan kritis 2 Menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan konservasi SDA 3. 6. Pariwisata dan juga perikanan darat. PLTA. Mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana untuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-7 . Meningkatkan kemampuan lembaga pengelolaan sumber daya air (capacity building) serta meningkatkan tingkat kesadaran serta peran serta masyarakat. Untuk memanfaatkan sumber daya air yang ada. selanjutnya disalurkan dan diolah di IPAL terpusat.(Persero) CABANG I MALANG • • Dengan pengolahan individu di masing masing industri Untuk areal industri yang memiliki limbah sejenis dan terkumpul dalam suatu area dapat dilakukan Pengolahan Terpusat. Perguruan Tinggi. sehingga limbah cair yang disalurkan ke jaringan pengumpul limbah memiliki mutu tertentu sesuai dengan ketentuan yang diberikan dari Badan Pengelola. Menerapkan Aspek Hukum yaitu sangsi dan penghargaan bagi industri yang belum dan telah memenuhi Ketentuan Baku Mutu Limbah Cair. 8. sesuai dengan Pasal. tentang Persyaratan melakukan pemantauan mutu dan debit air limbah. swasta dan LSM dalam upaya memelihara dan melindungi sempadan sungai 7. maka dapat dipertimbangkan pembangunan waduk Muara Julai yang diharapkan akan dapat menyediakan air untuk irigasi teknis. dan LSM dalam pendayagunaan SDA 9. Mensinergiskan Kegiatan Institusi pengelola SDA dengan Kegiatan yang positip dari Masyarakat. Dunia Usaha. (c). Limbah industri harus dipantau secara kontinyu. dimana setiap industri biasanya diwajibabkan melakukan Pra Pengolahan. 38 ayat (2) butir (e) : dari PP 82/20012001 (”Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air”).

Pengendalian penggunaan air tanah kota Memulihkan dan mempertahankan kualitas air untuk memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan 10.(Persero) CABANG I MALANG Meningkatkan. Upaya-upaya pengendalian banjir yang perlu segera dilakukan di WS BaritoKapuas adalah sebagai berikut : (a) Penanganan banjir supaya dilakukan secara menyeluruh. daya tampung dan fungsi sumber daya air secara berkelanjutan 1. Pengawetan SDA 2. (c) Tidak kalah pentingnya upaya penataan penggunaan bantaran dan alur sungai serta kegiatan konservasi untuk daerah hulu untuk mencegah adanya trend kenaikan debit banjir akibat kerusakan daerah resapan air (d) Perlu dilakukan pengaturan tanggung jawab dan wewenang pada sektor/ dinas/ instansi di daerah yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air Wilayah Sungai Barito-Kapuas serta pengkoordinasiannya agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaannya. memulihkan dan mempertahankan daya dukung. Barito-Kapuas yang harus mendapatkan perhatian yang memadai dari Pemerintah Daerah. Pelestarian situ 6. Menetapkan daerah batas sempadan sungai. (b) Rasionalisasi alur sungai dan drainase kota merupakan upaya penanganan banjir WS. rawa. Menetapkan dan mengelola kawasan danau rawa. embung & mata air dgn aturan. 3. Pemeliharaan mata air 5. dengan memperhatikan faktor penyebab yang paling dominan dan optimasi penanganannya baik yang dilakukan secara struktural maupun non struktural. embung dengan prioritas daerah pemukiman 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-8 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful