P. 1
Sejarah Perkembangan Musik

Sejarah Perkembangan Musik

|Views: 495|Likes:

More info:

Published by: Johan Kanani Tarigan on Jul 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/03/2015

pdf

text

original

Sejarah Perkembangan Musik Rohani

I. Sebelum Masa Kristus Pada dasarnya manusia merupakan makhluk religius walaupun ia sering ingkar janji. Dalam kehidupan manusia terdapat suatu kesadaran akan adanya suatu makhluk yang mahakuasa. Sekalipun suku bangsa yang paling primitif pun merupakan makhluk religius ketika ia mencoba untuk menggenapi kewajibannya terhadap kuasa yang tak kelihatan itu. Sejak permulaan sejarah musik. selalu menjadi suatu hubungan yang unik dengan pengalaman ibadah manusia. Ada banyak bukti mennnjukkan bahwa kebudayaan Mesir, salain satu kebudayaan yang paling awal, menggunakan musik secara intensif dalam upacara ritual religius, Orang Mesir memiliki banyak instrumen musik, dari sistrum sampai harpa dengan 12 atau 13 senar. Tak diragukan lagi, Yunani, yang kebudayaannya tak kalah pentingnya memperoleh pengetahuan tentang musik dan prakteknya dari orang-orang Mesir. Orang Yunani sangat banyak menggunakan musik dalam upacara keagamaan mereka dan menyatakan bahwa musik mempengaruhi moral dan emosi manusia dan menganggap musik berasal dari dewa-dewa. mereka. Walaupun bangsa Ibrani, menggunakan musik dalam ibadah mereka kepada Yehova, namun musik tidak pernah dikembangkan seperti bangsa Yunani. Orang Ibrani, tidak Seperti orang Yunani, tidak menghubungkan musik dengan moralitas. Bagi orang Ibrani, seni yang dianggap penting kalau bila dipakai untuk memuja dan memuji Yehova. Sebagian besar yang kita ketahui tentang ibadah orang Ibrani ada dalam kitab Perjanjian Lama. Di dalamnya kita mendapati sejumlah besar acuan yang membuktikan pentingnya musik vokal dan instrumental dalam ibadah orang Ibrani. Kata musik pertama-tama tertulis dalam Kejadian 4:21, di mana Yubal disebutkan sebagai “bapa, semua orang yang memainkan kecapi dan suling”. Dalam Kitab. Suci ada kira-kira 13 instrumen yang berbeda, yang disebutkan, yang dapat diklasifikasikan sebagai instrumen dengan senar, instrumen tiup atau perkusi. Ada sejumlah penyanyi dan lagu disebutkan dalam Perjahjian Lama, misalnya: Lagu Miriam (Keluaran 15:20-21) Lagu Musa (Keluaran 15:2) Lagu Debora dan Barak (Hakim-Hakim 5:3) ` Lagu ucapan Syukur Hana (1 Samue12:1-10) Lagu ueapan syukur dan pelepasan dari kejaran Saulus yang dinyanyikan Daud (II Samuel 22) Semua kata yang berkenaan dengan musik, pemusik, instrumen musik, lagu, penyanyi dan nyanyian disebutkan 575 kali dalam seluruh isi Alkitab. Acuan yang berkaitan dengan musik didapati dan 44 dari 66 kitab dalam, Alkitab. Kitab Mazmur yang terdiri dari 150 pasal, dianggap berasal mula dari sebuah kitab yang berisi nyanyian. Dengan jatuhnya Yerusalem di bawah kekuasaan Daud dan ditempatkannya kemah suci di kota itu, ibadah yang dilakukan menjadi semakin semarak dan dilengkapi dengan pagelaran musik. Suku Lewi ditugaskan untuk memberikan pelayanan musik dan memimpin ibadah ini. Di bawah kepemimpinan Daud paduan suara dan orkestra besar pertama dikelola untuk dipakai sebagai bagian dari ibadah di kemah suci. Ketika Salomo, anak Daud, menjadi raja dan membangun Bait Allah yang pertama, semarak,pagelaran musik menjadi semakin agung Yosephus, sejarawan Yahudi yang terkenal, menulis bahwa dalam Bait Allah yang pertama ada 200.000 peniup terompet dan 200.000 penyanyi berjubah yang dilatih untuk ikut serta dalam ibadah ini. II Tawarikh pasal lima memberikan laporan tentang hadirnya sejumlah besar penyanyi dan instrumen musik, dalam ibadah tersebut:

Setelah kembali dari tampat pembuangan di Babel, ibadah di Bait Allah kembali dilaksanakan, dengan pembangunan Bait Allah, yang kedua. Walaupun yang kedua ini tidak seindah yang pertama, namun jelas bahwa pagelaran musik merupakan bagian dari ibadah orang Ibrani. Kitab Talmud Yahudi menjelaskan tradisi menyanyikan mazmur dalam Bait Allah kedua. II Kelahiran Yesus Kristus Dengan datangnya era baru, yaitu kelahiran Yesus Kristus, suatu semangat dan motif baru, yang tak dikenal oleh orang Mesir, Yunani,; Romawi dan Yahudi, rnelanda kesadaran beragama. Ini merupakan suatu kesukacitaan karena memiliki hubungan secara pribadi dan akrab dengan Allah melalui pribadi dan karya keselamatan Anak-Nya, Yesus Kristus ibadah tidak lagi terbatas pada Bait Allah atau rumah ibadat, tetapi setiap orang percaya menjadi bait bagi Allah yang hidup. Ini tidaklah sema dengan demonstrasi yang semarak dan berirama yang dikumandangkan agamaagama purba: Ini merupakan sukacita disertai dengan ibadah kepada Pribadi Kristus. Walaupun sebagian besar ibadat umat Kristen dilakukan secara rahasia karena penindasan pemerintah Romawi, namun tidak dapat disangkal musik sudah menjadi ekspresi natural bagi sukacita kristiani. Sejarah gereja mencatat bahwa banyak martir yang menghadapi kematian sambil mendendangkan lagu pujian tentang Juruselamat mereka. Kita melihat bahwa musik digunakan secara ekstensif sejak zaman awal para rasul dan masa gereja pasca para rasul dan kita dapat membacanya dalam Efesus 6:19, Kolose 3:16, Kisah Para Rasul 16:25, den Yakobus 5:13. Memang benar bahwa sumber utama, baik pada zaman Yudaisme kuno dan orang Kristen yang mula-mula, ialah mazmur. Namun, selain itu kita juga mendapati nyanyian Maria, Magnificat – Lukas 1:46-55; nyanyian Zakharia, Benedictus —Lukas 1:68-79; nyanyian para malaikat, Gloria in Exelsis . Lukas 2:14; nyanyian Simeon, Nunc Dimittis — Lukas 2:29; nyanyian Yesus – Matius 26:30. Nyanyian lain dalam Perjanjian Baru ialah nyanyian Paulus dan Silas dalam Kisch Para Rasul 16:25, dan nyanyian orang-orang tertebus dalam Wahyu 14:3 dan 15:3. Musik gereja Kristen yang mula-mula kebanyakan vokal, dengan sedikit perhatian terhadap pemakaian instrumen. Dengan diizinkannya kekristenan berkembang di bawah pemerintahan Konstantin Agung, organisasi yang sederhana dari gereja, para rasul lambat laun berkembang menjadi suatu sistem liturgi dan ibadah yang kompleks. Pada masa inilah St. Ambrose dari Milan banyak mendorong jemaat agar banyak memuji Tuhan. Akan tetapi lambat laun, para pengikut perorangan semakin sedikit memperoleh porsi dalam ibadah sementara pendeta memegang seluruh rincian liturgi, termasuk puji- pujian dalam ibadah. III. Abad Pertengahan Seribu tahun berikutnya, meliput kurun waktu dari abad keempat sampai kepada periode Renaissance-Reformasi, yang biasa disebut sebagai Abad Pertengahan, atau Abad kegelapan oleh para sejarawan. Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para imam merupakan perkembangan musik gereja yang paling penting dari abad keempat sampai keenam. Asal mula sebenarnya dari lagu-lagu ini tidak diketahui. Pemimpin musik yang terkenal saat itu ialah St. Gregory Agung yang hidup menjelang akhir abad keenam. Lagu-lagu gereja pada masa ini sering disebut sebagai “Lagu- Lagu Cregoriari. Abad ketujuh sampai masa Renaissance-Reformasi menyaksikan banyak aktivitas dan perkembangan musik yang penting Liturgi untuk misi dibuat dan ditetapkan Liturgi ini terdiri dari dua bagian utama: Misa umum dan berjenis-jenis bagian sebuah misi. Misa umum tergantung pada penekanannya. Jenis-jenis misi lainnya juga dikembangkan pada masa ini. Liturgi dari misa-misa ini penting karena memberikan struktur-struktur musikal bagi banyak

komposisi paduan suara, baik oleh orang Katolik maupun Protestan, selama berabad-abad. Salah satu contohnya ialah B. Minor Mass karangan Bach. Abad pertengahan ini juga menandai bertumbuhnya harmoni, yang semakin maju dari nyanyian bersama menjadi mengharmoniskan dua atau lebib suara kepada satu suara melodi utama. Bagian-bagian melodi utama ini, yang dikenai sebagai cantus firmus, secara umum dipinjam dari lagu-lagu gereja yang mula-mula. Alat-alat polifonik dan untuk mengiringi lagu digunakan dalam musik ini mencapai hasil yang sempurna melalui musik duu komposer terbaik dari lagu rohani sepanjang zaman, yaitu Palestine dari abad keenam belas dan J.S. Bach, 1685-17b0. IV. Periode Renaissance Reformasi Periode berikutnya yang penting dalam sejarah ialah periode Renaissance-Reformasi dari tahun 1450 sampai 1600. Periode ini ditandai dengan bangkitnya perhatian dalam aktivitas intelektual dan seni. Dalam arti religius, Reformasi, yang mencapai klimaksnya oleh Martin Luther dengan “95 Tesis pada Pengakuan Augsburg” pada tahun 1517, sangat panting baik secara teologis maupun secara musikal bagi seluruh pengikut aliran ini. Pada masa itu orang-orang Kristen menyadari kebenaran dari suatu hubungan pribadi dengan Allah melalui iman di dalam Yesus Kristus saja. Adalah wajar bila dengan hadirnya kesukacitaan baru timbullah keinginan untuk mengekspresikan penyembahan dan pujian. Jemaat menyanyikan lagu-lagu pujian dan paduan suara merupakan suatu kekuatan dalam gerakan baru ini. Baik teman-teman maupun musuh Luther mengatakan bahwa ia memperoleh lebih banyak petobat barn melalai. pemanfaatan dan dorongan nyanyian jernaat daripada yang dilakukannya melalui khotbah Luther sendiri mengatakan bahwa musik merupakan pemberian Allah yang paling baik dan agung di dunia. John Calvin dan El-ich Zwingli juga menyadari pentingnya nyanyian jemaat walaupun tidak seintensitas Luther. Calvin menyarankan agar musik diajarkan di sekolah sehingga mereka dapat belajar menyanyikan mazmur di sana dan akibatnya, dapat menyanyi dengan baik dalam ibadah d hari Minggu. Karena para reformator merasa bahwa hanya lagu- lagu dengan latar belakang Kitab Sucilah yang tepat untuk ibadah, maka hanya versi metrikal dari mazmur yang dipakai di gereja beraliran reformasi dan dinyanyikan bersama. Clement Marot merupakan tokoh . penyanyi mazmur metiikal pads mase itu dan kitab nyanyian Mazmur yang paling panting ialah Kitab Nyanyian Mazmur Jenewa, yang diterbitkan pada tabun 1562. V. Ahad Ketujuh Belas Pada masa ini di Inggris kaum Puritan menjadi musuh utama gereja Anglikan. Mereka menuduh bahwa gereja sudah tidak murni lagi berafiliasi dengan gereja Roma. Mereka berusaha untuk mengurangi jatah ibadah sesederhana mungkin, selain membentuk pemerintahan gereja yang lebih demokratis. Kaum “Puritan berkembang di bawah pemerintahan yang lemah, tetapi bila pemerintahan, kuat, pengaruh mereka semakin memudar. Praktek-praktek golongan Puritan yang menentang tata cara ibadah terutama disebabkan oleh ajaran Bohn Calvin. Sering, para pengikutnya menjadi lebih fanatik daripada pemimpinnya sendiri: Sebagai pengikut Calvin, mereka menerima isi Alkitab sebagai dasar semua aturan, hanya menerima nyanyian mazmur metrikal dinyanyikan bersama, menolak paduan suara, dan organ gereja, dan mereka memakai taktik yang, radikal dan kejam untuk mencapai cita-cita mereka. Ini merupakan lembaran hitam dalam sejarah gereja. Pada masa itu banyak tempat ziarah kuno dihancurkan, kaca-kaca berwarna dipecahkan, ornamen dihancurkan, perpustakaan dan organ gereja juga ikut dimusnahkan.

Dengan terjadinya restorasi hukum Stuart, Charles II dan penetapan kembali liturgi gereja Anglikan, berkembanglah suatu bentuk musik; yaitu nyanyian gereja yang diambil dari Kitab Suci (anthem). Bentuk modern dari anthem dalam bahasa Inggris banyak dipengaruhi oleh. salah satu komposer Inggris – yang terkenal, Henry Purell. Anthem dalam bentuk nya yang sekarang merupakan campuran dari motet kuno dan kantata Jerman. VI. Abad Kedelapan Belas Abad kedelapan belas sudah siap menerima nyanyian pujian baru dari Isaac – Watts, 16741748, yang sering disebut sebagai “Bapak Lagu Pujian” dan musik: penggerak jiwa dari keluarga Wesley. Isaac Watts menggunakan lagu pujiannya untuk meringkaskan khotbahnya dan mengekspresikan teologi Calvinistiknya. Ia percaya sepenuhnya bahwa karena lagu pujian merupakan persembahan kepada Allah, maka setiap orang harus menyanyikannya sendiri. Jika nyanyian mazmur harus dipakai menegaskan bahwa nyanyian itu harus dikristenkan dan dipermodern. Beberapa hasil karyanya ialah: “When I Survey the Wondrous Cross”, “Jesus Shall Reign Wherever the Sun”. Gerakan Wesleyan merupakan percikan api yang menimbulkan kebangunan rohani beserbesaran di Inggris. Mereka berjuang melawan agnostisisme dan lagu-lagu yang diperkenalkan oleh keluarga Wesley merupakan suatu faktor penting daiam kebangunan rohani tersebut. John sebagai pengkhotbah dan Charles sebagai pemusik menulis dan menerjemahkan 6500 lagu pujian, walaupun sebagian besar kini sudah tak terpakai lagi. Teologi mereka menentang penekanan pada “pilihan” dari ajaran Calvin. Mereka menggubah lagu pujian mengenai hampir seluruh tahapan dalam pengalaman kristiani dengan penuh kehangatan dan keyakinan. Abad kedelapan belas juga menghasilkan bentuk lain dari musik rohani, yaitu oratorio. Walaupun Heinrich Schuitz dan kemudian J.S. Bach telah menggubah banyak musik drama yang dikenal sebagai Passion Music, yang menggambarkan penderitaan Kristus, namun George Frederick Handel, 1686-1759, yang pertama menulis musik dramatis rohani dalam bahasa Inggris. Oratorionya yang paling terkenal, The Messiah, pertama kali dipagelarkan di Irlandia pads taun 1742. Komposer oratorio lain yang terkenal ialah: Franz Joseph Haydn yang menciptakan The Creation dan Felix Mendelssohn yang menciptakan The Elijah. VII: Abad Kesembilan Belas Sementara kebanyakan penulis lagu pujian pada abad ke-17 dan 18 membuat komposisi musik yang sarat dengan keyakinan doktrin mereka, para penggubah lagu pujian abad ke-19 banyak dipengaruhi oleh semangat abad Romantik yang berniat memperbaiki kualitas literatur dari lagulagu pujian. Salah satu kompo ser lagu pada malam ini ialah Reginald Heber yang menciptakan lagu “Kudus, Kudus, Kudus”. Pada tanggal 14 Juli J833 suatu gerakan religius baru muncul di Inggris dengan sebutan Gerakan Oxford atau Trac tarian. Gerakan ini berusaha menegakkan suatu ibadah yang lebih saleh dengan khidmat dengan penggunaan musik dalam kebaktian. Gerakan ini mempertahankan teori gereja yang universal dan rasuli, seperti yang diajarkan oleh Kristus sendiri. Gerakan ini memberi banyak pengaruh kepada gereja-gereja Protestan dengan dibentuknya paduan suara anak-anak, penggunaan jubah, dan praktek ritualistik rumit lainnya, seperti penggunaan lambang, arakarakan, dan nyanyian di akhir kebaktian. VIII. Nyanyian Rohani di Amerika Serikat

IX. Obsek. lagulagu pujian dari Watts. Wesley mulai diterima di gereja-gereja di Inggris. nyanyian mazmur metrikal yang dimasukkan Calvin. dan seminari yang memberi penekanan dan penganjaran tentang musik gereja lebih daripada sebelumnya”. Semakin banyak gereja yang menyadari akan pentingnya paduan suara dan untuk itu persiapan memang harus dilakukan sejak usia dini. pra sangka. terutama sangat berguna untuk usaha penginjilan dan akhir abad ke-19 dan ke-20 dengan penekanan kuat pada tingkah laku kristiani dan tanggung jawab social terhadap Injil. Sumber: Kenneth W. Oleh karena itu program musik gereja harus dititikberatkan untuk menarik individu-individu kepada karya keselamatan yang sudah diberikan Kristus dan kemudian memimpin mereka kepada kehidupan Kristen yang lebih penuh dan dipenuhi Roh Kudus (TRA). seperti: kelalaian puas dengan diri sendiri. tradisi.L.http://gema. dan sesuai dengan kelompok usia. The Ministry of Music. Biasanya ada banyak kendala menghadang. para pendatang baru menggunakan nyanyian mazmur yang dipakai mereka di Inggris. Grand Rseids. Lagu tersebut I Love Thy Kingdom.Di AS. Akhir-akhir ini semakin banyak pimpinan gereja yang tertarik untuk mengembangkan musik gerejawi. X. Kraaal Publiestinn. bahwa gereja Kristen telah mewarisi kekayaan musik sepanjang abad Baru sumber-sumber seperti: terjemahan dari lagu-lagu pujian Yunani dan Latin. Dan satu hal yang perlu diingat bahwa musik yang baik dan program musik yang hebat bukanlah tujuan utama dalam kehidupan berjemaat. dengan pikiran bahwa Allah akan tersinggung bila me reka menggunakan iagu pujian lain yang tidak sesuai dengan apa yang ditulis dalam Kitab Suci. lagu lagu pujian Watts. Selamanya. Kesimpulan Kenneth W. banyak yang harus dibenahi. Wesley yang mengandung unsur “ketenangan manusiawi” dan komposer abad ke-17 dan 18 lain yang memiliki ajaran doktrin yang kuat. maka suatu program musik yang terpadu di gereja merupakan alat yang penting untuk mengembangkan suatu program pendidikan Kristen yang kuat. Suatu Pandangan ke Masa Lalu. Mungkin Salah satu bentuk nyanyian yang berbeda yang disumbangkan dalam khazanah lagulagu pujian di AS ialah dengan munculnya lagu. yaitu sejak di Sekolah Minggu. Ada beberapa seminar tentang musik.sabda. Mungkin juga seorang pimpinan musik di gereja tidak sampai melihat hasil nyata dari kepemimpinannya pelayanan musiknya di gereja. Lord ditulis oleh Timothy Dwight.org/sejarah_perkembangan_musik_rohani. langkanya latar belakang pendidikan musik. . perlu kita akui bahwa masih. antara tahun 1620-1820. Orang banyak mengatakan bahwa lagu-lagu Injil berasal mula dari lagu-lagu spiritual dan Sekolah Minggu dari abad ke-19. musik-musik Injil dari abad ke-19 dan ke-20. Moody dan Iran Sankey. karena musik dan pendidikan memiliki hubungam erat. Semakin banyak sekolah Alkitab. Pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. dan penyanyi mazmur pada zaman itu. 1971. hanya satu lagu yang digubah komposer AS yang masih dapat ditemukan dalam buku nyanyian dewasa ini. Marot. Masa Sekarang. akademi. Lagu-lagu Injil memperoleh dorongan yang nyata dalam masa paruh kedua abad ke19 dengan usaha penginjilan yang dilakukan oleh D. Tetapi. aesa sekarang dan ke masa depan menunjukkan banyak trend yang akan menguasai musik gereja injili. Osbeck dalam bukunya The Ministry of Music menyatakan bahwa untuk mencapai program musik yang efektif dan utuh dalam gereja biasanya membutuhkan usaha dan kesabaran. lagu pujian dan nyanyian untuk paduan suara dari periode Reformasi. Sebuah lagu pujian gerejawi yang baik seharusnya mewakili seluruh unsur-unsur komposisi yang baik. Sangat menarik untuk dicatat bahwa pada awal sejarah AS.lagu Injil (gospel songs). dan Masa Depan Suatu studi tentang masa yang silam mengungkapkan.

[1] Pandangan seperti ini sayangnya banyak dianut oleh kaum Injili. beri saja teks firman Tuhan di dalamnya. 23:19) Yang terbaik dari buah bungaran hasil tanahmu haruslah kaubawa ke dalam rumah TUHAN. melainkan juga termasuk apa yang dipersembahkan itu sendiri harus diuji. Yang paling banyak dipikirkan dalam pandangan seperti ini adalah: ya.Pada bagian 1-3 kita sudah membahas bahwa kebudayaan tidak bebas dari nilai moral. yang tidak bercacat (Im. otomatis menjadi lagu Kristen yang baik dan memuliakan Allah. Pandangan seperti ini sebenarnya dangkal dan kurang bertanggungjawab.[2] Saya pikir sebagai orang Kristen. 2:1) . maka musik otomatis akan mengalami transformasi. Tidak ada kebudayaan yang netral. Kita dapat memberikan satu argumentasi lagi dari Alkitab sendiri bahwa bagi Allah bukanlah hal yang basa-basi ketika Ia menuntut agar yang dipersembahkan kepadaNya adalah korban domba yang tidak bercela. Di sini kita melihat bahwa bukan hanya tujuannya yang perlu diuji dan diperhatikan. 22:21). 18:6) Yang terbaik dari buah bungaran hasil tanahmu haruslah kaubawa ke dalam rumah TUHAN. karena yang disebut mandat budaya adalah pengaruh filsafat Firman Tuhan yang dipancarkan dalam kebudayaan yang bersifat transformatif. Dalam tulisan yang lalu kita juga sudah membahas bahwa dengan menguji telos saja sebenarnya bersifat reduktif dan akhirnya salah. Sama seperti di atas jika kita menerima pandangan musik netral sepenuhnya (hal mana sebenarnya sulit untuk dipertahankan dengan dasar alkitabiah) maka pembicaraan tranformasi kuasa Firman Tuhan di dalam musik juga tidak terlalu relevan. Janganlah engkau masak anak kambing dalam susu induknya (Kel. hendaklah persembahannya itu tepung yang terbaik dan ia harus menuangkan minyak serta membubuhkan kemenyan ke atasnya (Im. adalah lebih baik bagi kita untuk lebih mengikuti Alkitab daripada ajaran-ajaran dunia seperti utilitarianism dan pragmatism. Tidak semua layak dipersembahkan kepada Tuhan. Jika kita percaya kebudayaan bersifat netral maka konsekuensi logisnya adalah kita sebagai orang Kristen tidak perlu menjalankan mandat budaya. Setiap reduksi yang dipertahankan akan selalu membawa kerugian bagi kita dan orang-orang yang kita layani karena ini sama dengan menolak pertumbuhan yang sedang dikerjakan oleh Tuhan. Allahmu. kudus dan berkenan kepada Allah atau sebaliknya buruk. demikian juga motivasi saja tidak cukup. banyak dipengaruhi sifat dosa. maka seluruh pembicaraan tentang transformasi kebudayaan adalah sia-sia dan juga tidak relevan. Ini mirip dengan orang yang menggumulkan bagaimana mentransformasi dunia pekerjaan berdasarkan prinsip Kristen dengan mengadakan persekutuan kantor atau berdoa sebelum saya memulai pekerjaan. Sebagaimana kita tahu. Janganlah kaumasak anak kambing dalam susu induknya (Kel. musik termasuk atau menjadi bagian dari kebudayaan manusia. Asal di dalamnya ada teks firman Tuhan. Beberapa ini contoh dari firman Tuhan bahwa orang-orang saleh mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan: Abraham mempersembahkan roti bundar dari tiga sukat tepung yang terbaik (Kej. Allahmu. Banyak ajaran-ajaran yang seolah-olah berasal dari Alkitab namun tanpa kita sadar sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh filsafat-filsafat dunia. 34:26) Apabila seseorang hendak mempersembahkan persembahan berupa korban sajian kepada TUHAN. Jika tidak relevan membicarakan apakah suatu kebudayaan merupakan suatu kebudayaan yang baik. merusak dsb.

Kita tahu bahwa Alkitab memang membicarakan pluralitas tapi Alkitab memberitakan pluralitas yang terbatas. yang dari Timur bisa alkitabiah bisa juga tidak. sebaliknya juga tidak benar mengatakan semua jenis musik adalah benar dan kudus (unreflected pluralism kontemporer). Dalam zaman seperti ini saya percaya salah satu karunia yang sangat penting adalah karunia membedakan bermacam-macam roh (1Kor. mengakomodasi semua pluralitas tanpa merefleksikan atau mengujinya apakah keanekaragaman itu dibenarkan oleh Firman Tuhan atau tidak. Tidak cukup hanya dengan menguji asal tujuan dan motivasinya saja benar. Dalam musik berlaku prinsip yang sama. Memang tidak.[3] Ada beberapa argumentasi yang salah untuk menilai bahwa Bach pasti lebih baik daripada Cage. Yang dari Barat bisa alkitabiah bisa tidak. Namun di sisi yang lain. Bach dimulai dengan huruf B seperti kata “better” sementara Cage dengan huruf C seperti “chaotic”. Tanggapan: wig (rambut palsu) sama sekali tidak berperan dalam komposisi yang alkitabiah atau tidak. Menerima semua pluralitas. bukan satu-satunya Pribadi. sementara Cage artinya adalah kurungan alias tidak bebas. dan juga tidak perlu. Saya coba sharing dari beberapa karya musik di mana kita dapat menguji bahwa ada estetika yang dipengaruhi oleh Alkitab atau wahyu umum. Bach dan John Cage. tapi Alkitab membicarakan tentang apa itu keindahan. Sekarang pertanyaannya: bagaimana kita bisa menguji musik itu sendiri sebagai apa yang kita persembahkan kepada Tuhan? Karena sebagaimana sering dikatakan: Alkitab tidak membicarakan nada-nada. Tanggapan: argumentasi ini tidak dapat diterima karena yang alkitabiah tidak ditentukan oleh ras atau bangsa tertentu. Kalau kita menerima ajaran Alkitab kita akan sangat berhati-hati uniformitas seperti diajarkan dalam modernism (hanya ada satu-satunya jenis musik yang benar dan Alkitabiah). Bagian inilah yang bisa dibenturkan (baca: diuji berdasarkan firman Tuhan). sebagai seseorang yang hidup di zaman Barock lebih banyak menggunakan wig (rambut palsu) daripada Cage yang hidup di zaman kita. kita juga tidak menerima pandangan pluralisme radikal yang mengatakan bahwa semua jenis musik dapat dipergunakan. ada juga yang sebenarnya dipengaruhi bukan oleh filsafat sekuler yang tidak setia kepada Alkitab. Bach. Allah Tritunggal adalah Allah di dalam tiga Pribadi. Dua tokoh yang coba untuk dinilai di sini adalah J. Pandangan ini berasal dari filsafat kontemporer yang merupakan pendulum sebaliknya dari modernism. Tanggapan: argumentasi ini lebih mengada-ada dan konyol. dengan demikian lebih menyatakan kehidupan Kristen yang seharusnya mengalirkan berkat.Dan masih banyak ayat-ayat lainnya yang mengatakan bahwa apa yang kita persembahkan kepada Tuhan juga harus kita uji. . sebenarnya hanya merupakan respons simetris dari kesalahan modernism. Bach artinya sungai kecil. Pandangan demikian bukan ajaran Alkitab karena Alkitab memberitakan tentang diversitas atau keaneka-ragaman. maka seperti belum ditebus. S. Tidak ada satu-satunya jenis musik yang benar dan Alkitabiah (modern uniformitas). misalnya:[4] Bach adalah komponis Jerman dan Cage komponis Amerika. Dalam study saya pribadi saya mempelajari bahwa memang tidak ada satu-satunya zaman yang menghasilkan estetika musik yang alkitabiah. saya kuatir. Tanggapan: penyelidikan ‘etimologis’ seperti ini tampaknya tidak terlalu berguna dan mengada-ada. 12:10). filsafat keindahan menurut sudut pandang Alkitab dan bahwa seni tidak mungkin terlepas dari filsafat keindahan (atau filsafat ketidakindahan) yang ada di dalamnya. Tanpa karunia ini Gereja akan tersesat ke dalam pluralisme radikal.

[6] Atau karya lain yang diberi judul HPSCHD di mana 7 pemain harpsichord sekaligus memainkan cuplikan dari karya Cage secara ‘kebetulan’ (chance-determined) ditambah dengan suara-suara elektronik yang lain. malahan dia sendiri belajar hal ini dari komponis-komponis sebelum dia. Argumentasi ini konyol karena yang alkitabiah bisa terjadi di masa lampau maupun di masa sekarang. penarikan seperti ini sangat mungkin karena banyak karya musik dari tradisi Barat yang sangat dipengaruhi oleh estetika alkitabiah. atau Imaginary Landscape No. theolog yang kadang-kadang membicarakan integrasi antara theologi dan musik adalah Karl Barth. Bonhoeffer (seorang theolog dan juga seorang pianis yang berbakat) pernah menjelaskan tentang kasih dengan mengatakan bahwa kasih kita kepada Kristus seperti cantus firmus sedangkan kasih kepada sesama adalah seperti polyphonic counterpoint yang dirajut berdasarkan cantus firmus itu. dan terutama belakangan ini Jeremy Begbie (Cambridge). Begbie berusaha untuk menelaah lebih banyak musical language untuk memberikan insights bagi theologi. materialisme. misalnya karya ‘monumental’nya yaitu 4’33’’. Seperti kita tahu. Apa yang dikatakan Bonhoeffer sebenarnya bukan dari pemikiran dia sendiri. 4 yang ditulis untuk 12 radio. D. Perdebatan musik yang berkecimpung antara musik tradisional dan kontemporer sebenarnya membuang-buang tenaga yang seharusnya bisa dipergunakan untuk mengerjakan hal-hal yang lebih baik bagi Tuhan. Persoalannya bukan mengenai musik masa lampau dan musik kontemporer. violence. Sekarang kita coba melihat karya John Cage. juga dari Barat. Kebudayaan yang dipengaruhi oleh filsafat Firman Tuhan pasti lebih tinggi (lebih baik. namun banyak diterima yaitu: Bach adalah komponis zaman Barock. konsumerisme. Bagi saya pribadi. egalitarianisme.[5] Di samping itu kita juga melihat bahwa di Barat juga banyak kebudayaan yang dihasilkan dari spirit yang melawan Tuhan (mis. yang juga tercermin dalam karya seni mereka. lebih membangun) daripada yang dipengaruhi oleh filsafat yang melawan Tuhan. lebih kudus. Pada karya yang terakhir ini sekalipun Cage memberikan instruksi bagi para ‘pemain’ radio itu. namun mungkin ada 1 argumentasi lagi yang mirip dengan yang di atas dan sebenarnya juga konyol. Selain Bonhoeffer. dll). anti-otoritarianisme. Hans Urs von Balthasar. Bach bukanlah satu-satunya komponis yang menggunakan teknik ini. melainkan karena tradisi kebudayaan mereka banyak dipengaruhi oleh Alkitab sehingga kebudayaan yang dihasilkan juga memiliki kualitas yang tinggi. lebih indah. Bach yang rada old-fashioned itu masih menggunakan teknik komposisi polyphonic music dengan cantus firmus sebagaimana digunakan dalam zaman sebelumnya (Renaissance dan middle ages). hedonisme. melainkan yang terjadi lebih dahulu adalah estetika kristologis (Kristus sebagai fokus yang mempersatukan keaneka-ragaman) mewarnai penggarapan musik mulai dari abad pertengahan dan diteruskan sampai kepada Bach.Demikian kita dapat menambahkan beberapa argumentasi konyol yang lain. sementara yang rusak dan yang melawan Alkitab juga bisa terjadi di masa lampau dan juga masa sekarang. dengan demikian ia adalah tradisional sementara Cage adalah komponis kontemporer. Musik seperti itu indah (menurut pengertian Alkitab) karena dipengaruhi oleh estetika yang alkitabiah. Ini tidak menyatakan bahwa Barat lebih superior dari Timur. melainkan pengujian estetis menurut terang firman Tuhan. Yang dilakukan Bonhoeffer sebenarnya hanya menggunakan insight musical untuk menjelaskan theologinya. ‘musik’ yang dihasilkan darinya tidak pernah mungkin bisa dikontrol (kita tidak tahu . sementara insight musical itu sendiri dipengaruhi oleh pemikiran dari Alkitab.

Pengujian estetis yang sama kita bisa lakukan terhadap lukisan (abstract) expressionism dari Polluck misalnya atau ekspresionisme dalam musik Schoenberg. [2] Mengenai pandangan telos seperti yang banyak dianut saat ini sebenarnya merupakan pengaruh dari filsafat utilitarianisme dan pragmatisme. dll. Jimmy tentang cultural elitist.. tidak perlu banyak .. Inilah yang membuat musik tidak mungkin netral. over-simplifikasi. tidak perlu banyak bergumul. penetralan segala sesuatu. Ide “musical happenings” ini merupakan produk estetika postmodern non-intentionality (yang rusak dan melawan Alkitab). Dia juga selalu mengerjakan serta mempersembahkan hal yang benar (ini bukan aspek telos tapi merupakan aspek yang lain). perbandingan ini akan menyatakan bahwa tidak semua musik dari tradisi ‘klassik’ selalu baik dan membangun. tidak cukup hanya dengan mengadakan persekutuan kantor saja (memasukkan life sphere ibadah dalam dunia pekerjaan). pikul salib. jalan yang lebar. Entah kita mau membicarakannya dalam konteks etika Kristen atau tidak. ________________________________________ [1] Tentunya tidak salah mengadakan persekutuan kantor atau berdoa sebelum bekerja. saya pikir kita perlu membacanya dengan double perspective: di satu sisi para elitists bersalah karena kecenderungan menghina/merendahkan mereka yang memiliki kebudayaan yang lebih rendah karena ini sebenarnya merupakan penyangkalan dari theologi anugerah: “Apakah yang engkau miliki yang tidak engkau terima (dari Tuhan)?” Persoalan para elitists adalah kekurangan spirit inkarnasi.[7] Melakukan pengujian seperti ini selalu tidak mudah dan terutama di zaman yang serba instant.. namun Alkitab memerintahkan kita untuk “menguji segala sesuatu dan memegang yang baik” (1Tes. Yesus Kristus tidak hanya memiliki telos yang benar. Tiga hal ini dicatat oleh Alkitab sendiri. dan dia juga selalu memiliki motivasi yang benar. [3] Untuk membereskan kesalah-pahaman pandangan karikatural bahwa semua musik ‘klasik’ pasti baik dan bermutu. namun di sisi yang lain pandangan yang mengatakan bahwa kebudayaan tertentu memang higher dan lebih berkualitas/bermutu daripada kebudayaan yang lain adalah pendapat yang tidak salah. Mengatakan semua kebudayaan (musik termasuk di dalamnya) tidak memiliki perbedaan . 5:21). itu dapat menjadi hal yang menjadi berkat. karena itu berarti dictatorship. demikian juga dengan jenis musik yang lain. terlepas dari etika membicarakan ini atau tidak. silahkan bagian ini diskip dan langsung saja pada argumentasi terakhir di akhir paragraf:) [5] Menanggapi pernyataan Sdr. mau langsung jadi. Yang saya maksud adalah kalau kita mau memikirkan theology of work secara komprehensif. pengujian seperti ini sangat melelahkan dan dalam natur kita yang lemah kita lebih suka (saya juga!) mencari jalan yang mudah. musik bi-tonality. suatu bentuk negasi atau perlawanan terhadap one single opinion. Sekarang banyak orang berpikir “atas nama pluralitas” kita melakukan ‘pemutihan’.gelombang hari itu mengeluarkan bunyi apa). Cage sendiri banyak dipengaruhi oleh estetika Taoisme dan Zen Buddhism. tidak perlu banyak belajar. Pekerjaan itu sendiri harus menjadi suatu ibadah di hadapan Tuhan. yang tidak perlu banyak bergumul. Seorang filsuf bahkan menelusuri kemiripan estetika Cage dengan filsafat dari Martin Heidegger. [4] Bagi mereka yang sibuk dan terlalu serius. yang jelas ALKITAB membicarakan lebih daripada sekadar tinjauan teleologis. Karya seperti HPSCHD menggambarkan kompleksitas kehidupan (yang fragmented dan tidak perlu ada integrasi). Tidak ada yang bebas dari konsep estetika.

kita tahu bahwa dalam bahasa apa pun di dunia ini ada kata-kata makian. Bahasa. meskipun mereka sudah menulis musik polyphonic yang progresif. Salah satu aspek estetika yang ditonjolkan dalam karya-karya ini adalah kesederhanaan iman (simplicity of faith) yang dituangkan dalam gaya musik satu suara. sedikit sekali (kalau tidak mau dikatakan hampir tidak ada) jenisjenis lagu Gregorian yang masih dinyanyikan dalam ibadah. Penggunaan tangga nada modus dan bukan mayor-minor seperti yang ada pada zaman-zaman selanjutnya juga memiliki keunikan tersendiri. Modus-modus yang beraneka ragam ini bagaikan warna dalam sebuah lukisan. Iman Kristen dan Musik (5) Hari ini saya ingin sharing sedikit tentang perkembangan musik yang terjadi di zaman Middle Ages. Bahasa pun (meskipun sekali lagi sebagai analogi untuk musik sangat lemah dan tidak memadai) ternyata tidak senetral yang kita pikirkan. Emmanuel. Jimmy kurang memadai untuk menggambarkan ketidaknetralan musik/seni/culture. Dalam ibadah. Sayang warisan seni dalam bidang musik tidak banyak dirayakan dibandingkan dengan seni-seni yang lain (kemungkinan besar kita akan lebih kagum memandangi Kathedral di Köln. Sainte-Chapelle di Paris atau Duomo di Milano daripada mendengarkan sebuah Gregorian Chant). apalagi dalam kalangan gereja-gereja Injili. Ada keindahan tersendiri dalam karya-karya ini. sebagai salah satu modus dalam hidup manusia. kata-kata yang mengekspresikan kebencian yang berdosa. Bahasa juga perlu dikuduskan oleh Firman Tuhan. kata-kata yang menghujat dsb. dengan suatu penggarapan konsep estetika yang berbeda sebagaimana dimengerti oleh zaman-zaman selanjutnya. sulit untuk ditandingi dengan musik-musik polyphonic atau homophonic (meskipun tentunya karya-karya polyphonic dan homophonic memiliki keunikannya tersendiri yang juga sulit untuk diterapkan dalam karya seperti Gregorian chant). tidak luput dari pencemaran dosa. satu suara tanpa iringan. O come. tanpa melodi tandingan. [7] Analogi bahasa seperti diusulkan oleh Sdr. . Bahkan komponis-komponis Renaissance awal masih berpikir dalam tatanan tangga nada modus. Lagu-lagu Gregorian ditulis monophonic. Yang terdengar di situ adalah mungkin suara audience yang sedang gelisah dan iri terhadap seorang musician yang makan gaji buta. Mungkin hampir satu-satunya yang paling populer adalah O come. Beberapa orang bahkan mengatakan jenis musik seperti ini sebenarnya masih belum berkembang alias primitif sehingga sulit untuk diapresiasi. meskipun tentunya bisa dinyanyikan bersama-sama. harus dikuduskan dan tidak layak dipergunakan untuk memuji Tuhan. Tapi seandainya analogi ini (bahasa) tetap dipertahankan. Ulm. Kata-kata atau kalimat-kalimat tersebut tidak mungkin tidak. Tangga nada modus to certain extent menyajikan perbedaan yang lebih kaya dibandingkan tangga nada mayor-minor (yang hanya dua macam). [6] Tidak sulit untuk membayangkan karya ini: seorang performer berdiri di atas panggung selama empat menit tigapuluhtiga detik tanpa memainkan suatu nada.kualitas merupakan either ignorance atau penipuan diri.

melainkan merangsang pendengarnya untuk terus menggumulkan. pengembangan diri ala new age. another rare jewel in our post-industrial era yang dengan pandangan reduktifnya memperlakukan manusia sebagai mesin produksi. Beberapa groups pop and rock. Konsep transendensi dalam Gregorian Chant ini erat hubungannya dengan eschatological character. Khotbah-khotbah yang baik juga demikian. karena hanya dengan menekankan imanensi-Nya (kedekatan) saja. kemuliaan dan kebesaran Allah yang dimengerti secara antitetis dengan keadaan manusia sebagai ciptaan yang kecil. Kiranya Tuhan menguatkan dan menolong kita . dan merenungkannya lebih lanjut.Selain kesederhanaan iman yang dituangkan dalam gaya musik monophonic dan kekayaan nuansa dalam tangga nada modus. Jikalau Kekristenan tidak tahu menghargai tradisi yang baik sebagaimana pernah Tuhan karuniakan dalam sejarah Gereja. 6:1-5). kita cenderung kurang menghargai Allah. literatur. Kita tahu bahwa Gregorian Chant ini menjadi inspirasi karya-karya polyphonic di kemudian hari dalam penggarapan teknik komposisi cantus firmus (melodi utama) seperti ternyata dalam karya Leoninus. karena presuposisi dasarnya memang melawan Alkitab. Transendensi Allah. khususnya dalam gerakan monastik. Potensi sedemikian hanya mungkin terjadi dari bahan dasar yang memiliki kualitas yang cukup untuk dikembangkan. melainkan dengan memberikan inspirasi kepada yang membacanya untuk bukan hanya mengolah melainkan juga mengembangkannya lebih lanjut. other-worldly nuance yang terdapat dalam karya-karya ini. Tidak heran jika banyak musikus-musikus kontemporer yang mencoba untuk menimba dari Gregorian Chant untuk meminjam suasana mistik yang ada di dalamnya. tanpa melakukan suatu pengujian yang bertanggung jawab sebagai seorang percaya yang mengaku dan berkomitmen untuk taat kepada Firman Tuhan. keindahan estetika dalam musik ini adalah terkandungnya potensi yang besar untuk berkembang/dikembangkan. Perotinus dan Guillaume de Machaut pada zaman Abad Pertengahan. techno dan bahkan black metal menimba inspirasi dari Gregorian Chant. Kehausan spiritualitas di dalam zaman kita (saya percaya bukan hanya di Barat tapi di Timur juga) tidak dapat ditutup-tutupi lagi. Konsep transendensi Allah seperti diajarkan oleh Alkitab penting untuk terus diberitakan. dan juga sejalan dengan komposisi arsitektural yang ternyata dalam katedral-katedral Gotik yang menjulang tinggi ke atas. Penghayatan iman seperti ini berkait erat dengan suatu hidup yang berserah sepenuhnya (absolute surrender/totale Gelassenheit). tidak hanya memberikan solusi how-to terhadap pergumulan hidup seseorang. Estetika yang keliru dan berdosa akan menghasilkan musik yang keliru dan berdosa. Selain kesederhanaan iman. kekudusan. New age aesthetics mengajarkan bad and wrong aesthetics. pengolahannya dalam film. musikmusik new age. hina dan berdosa (Yes. orang-orang Kristen sendiri tidak tahu bagaimana harus menghargai tradisi musik yang sangat berharga ini dan menggunakannya untuk tujuan yang mulia. kesadaran eskatologis (bahwa kita hanya sementara berada dalam dunia yang fana ini) dan other-worldly character dari Gregorian Chant memiliki keindahan estetika yang unik yang memperkaya pengertian iman Kristen. Yang ironis adalah. saya khawatir kita akan mencoba pendekatan trial and error terhadap semua jenis culture yang ada. musik-musik Gregorian Chant juga menonjolkan aspek transendensi Allah. kekayaan nuansa dalam tangga nada modus dan kemungkinan potensi untuk terus berkembang. dll). Sekaligus jenis musik seperti ini juga dapat menjadi alternatif tandingan terhadap new age culture (baik itu praktek-praktek meditasi transendental. Kita bisa membandingkannya dengan pemikiran-pemikiran yang besar biasanya ditandai dengan tidak berhentinya pikiran-pikiran tersebut. Konsep transendensi Allah ini sejalan dengan perkembangan Theologia Mistik dalam abad pertengahan (sebagian sangat baik sebagian lagi tidak). memikirkan.

pengujian musik yang good or bad. Sola Gratia. skeptisisme. Mungkin inilah perbedaan kita berdua..yang sangat lemah. saya angkat topi untuk upaya kamu meninjau masalah ini dari seluruh dimensi yang penting. Jimmy—S dan Pdt. Kalau kita mulai starting point dari diri (padahal kita tahu diri kita berdosa dan tidak sempurna) maka yang akan terjadi adalah “you can choose whatever you like. relativisme.. namun kita harus selalu ingat bahwa ketika kita membicarakan “starting point” (bukan “approach”) maka hanya ada satusatunya starting point yaitu penilaian dari Alkitab sendiri. sekalipun mungkin kita belum bisa 100% sependapat. B: As you already noticed. Kamu berangkat dari estetika.[2] Tentang approach (pendekatan) tentunya bisa beraneka-ragam dan tidak mutlak.. melainkan sudah berurusan dengan “starting point”.. Pembahasan kamu menyegarkan motivasi saya untuk belajar lebih serius lagi. kamu musik B. what you think is best and good for you”. apalagi)? Saya setuju bahwa dari sudut pandang estetika. . Billy Kristanto—B) J: Sekali lagi. Persoalan berangkat dari preferensi musikal bagi saya adalah ini bukan hanya sekadar perbedaan approach (which I have no problem at all with). B: Saya pikir diskusi ini juga mempertajam dan memperjelas kesimpangsiuran konsep tentang musik gerejawi yang banyak dianut. kamu sangat bertanggung jawab dan serius mendalami hal ini. atau lebih baik: better and worst. Soli Deo Gloria. Sedangkan saya berangkat dari preferensi musikal manusianya. maka ada kemungkinan bahwa jenis musik tertentu (seperti Klasik) adalah high-art.. yang lain lagi musik C dan seterusnya).[1] Pengujian ini terutama dilakukan dengan menyelidiki estetika musik tersebut... Dengan kata lain starting pointnya masih berada di bawah tradisi filsafat Cartesian (Rene Descartes). Musicology yang dimulai dengan starting point diri bukan jalan dari Alkitab tetapi dari Descartes and co.. Iman Kristen dan Musik (6)—Diskusi (Sdr. Starting point dari diri (manusia) pasti tidak akan ada jalan temu karena setiap orang mempunyai pendapatnya sendirisendiri. J: Satu pertanyaan saja karena saya belum menemukan jawabannya secara lugas dalam pembahasan kamu: Apa properties dari suatu jenis musik yang memungkinkan kita melakukan pengkategorian musik yang kudus atau tidak (selain teks. Tidak disangkal lagi. Kita tahu bahwa pengaruh Descartes dan Kant (yang mulai dari diri manusia sebagai subyek) hanya membawa kepada agnostisisme. dan terakhir (menurut Hauerwas) nihilism. Preferensi musikal ini berangkat dari diri sebagai subyek yang menyukai musik tertentu (saya suka musik A. Kami semua dapat belajar banyak dari kamu.

merupakan ketidak-mengertian terhadap theology of grace. musik yang tidak indah adalah tidak kudus dan tidak benar. dengan demikian. instead of high and low. tidak bisa diuji etc. terlepas dari pendapat saya sebagai manusia yang berdosa dan tidak sempurna. kesucian. Dengan kata lain. kita tahu bahwa keindahan memiliki kriteria obyektif dalam suatu pengujian yang dilakukan di bawah terang Alkitab. Dengan kata lain. Dalam tradisi Reformed theology orang lebih suka menggunakan . ritme. Atau kalau mempelajari estetika komponis tertentu. Namun. Sementara bahasa Yunani mungkin lebih tinggi daripada bahasa Inggris. melodi. dinamika dan suara [Klang]). kebudayaan dsb).Sebaliknya ketika kita melakukan penyelidikan estetis. Alkitab memberikan prinsip-prinsip tentang apa itu keindahan. kita percaya bahwa terlepas dari selera musik saya secara pribadi. adakah pengaruh estetika Kristen dalam tradisi ini? Jika ada. Saya pribadi lebih suka menggunakan istilah kebudayaan yang lebih kompleks/berbobot dan kebudayaan yang lebih sederhana. Contohnya saja bahasa Inggris dan Indonesia lebih unggul Inggris karena memiliki tenses. kemuliaan. Dan kalau kita menerima pandangan Alkitab tentang keindahan (bukan pandangan relativisme). there is better aesthetics and worst aesthetics. ya. kepercayaan atau ideologi yang dia anut (saya sudah sharingkan secara singkat di tulisan yang terdahulu tentang John Cage misalnya yang banyak dipengaruhi oleh Zen-Buddhism). dsb). suatu karya komponis tertentu? Untuk suatu pengujian yang lebih kompleks dan komprehensif kita perlu untuk mempelajari musik tersebut terbentuk dari latar belakang yang bagaimana (di sini diperlukan studi interdisipliner bidang-bidang yang lain seperti sosiologi. Estetika tertentu digarap dalam harmoni atau melodi tertentu yang merefleksikan estetika tadi (kembali dalam pembahasan tentang John Cage saya mencoba untuk mensharingkan kaitan antara estetika yang dianut oleh Cage dengan teknik penggarapan komposisi musiknya). Ada pula yang bilang bahasa Mandarin lebih tinggi karena kandungan filosofis dalam perkawinan pelbagai karakter yang menghasilkan karakter baru. Sehingga musik yang indah (menurut kriteria Alkitab) dapat juga dikatakan kudus. Bagaimana kita menguji estetika suatu musik tertentu. seperti sudah saya bahas sebelumnya. apakah dengan demikian kita seharusnya berdoa/berkomunikasi kepada Tuhan dalam bahasa Yunani/Inggris/Mandarin ketimbang Indonesia karena Indonesia lebih inferior? B: Kamu mengangkat satu point yang penting di sini (“higher culture”) yang saya percaya akan semakin memperjelas diskusi ini. Yang indah adalah kudus dan benar. J: Analogi saya sederhana saja. Dengan demikian musik tidak mungkin netral. kita perlu mengetahui biografinya. filsafat. Pembedaan high and low arts bisa membawa orang terjebak dalam spirit cultural elitist yang salah (menghina culture yang lebih rendah). Mengenai “higher culture” ini saya ada beberapa tanggapan: 1. keadilan. Menurut Filipi 4:8 ada kaitan antara keindahan (aspek estetik) dengan kebenaran. seberapa jauh? Berapa banyak penyimpangannya? Konsep estetika ini berkaitan dengan penggarapan yang terjadi dalam 5 musical parameter dasar (harmoni. atau lebih detail. Alkitab membicarakan tentang estetika. Pandangan itu bukan pandangan Alkitab tapi pandangan filsafat dunia. Estetika tidak relatif menurut konsep Alkitab. Apa yang indah adalah apa yang kudus dan apa yang benar. yang tidak indah tidak kudus dan tidak benar. Di sini kita langsung berbeda dengan para relativist yang mengatakan bahwa indah adalah persoalan selera. Dalam dunia linguistik pun kita dapat menemukan beberapa bahasa yang jauh lebih tinggi dalam pengungkapan dan kedalaman makna. dsbnya. Selain itu juga dia berada di bawah pengaruh tradisi apa.

Sekalipun benar memang ada perbedaan seni yang lebih kompleks dan yang lebih sederhana. dalam pengenalan akan firman Tuhan juga bisa merembet spirit pop-culture. Namun ini tidak berarti bahwa takaran itu statis dan tidak dapat berubah.istilah kebudayaan yang lebih kompleks di satu sisi dan lebih sederhana di sisi yang lain. kudus dan tidak kudus (bukan tinggi atau rendah). termasuk di dalamnya pengenalan theologis yang lebih dalam dan lebih kaya akan Firman Tuhan. Jika analogi ini tetap mau dipaksakan juga. saya sudah pernah singgung bahwa analogi ini lemah dan tidak cukup untuk menggambarkan kompleksitas persoalan dalam pengujian estetika. “how-to Christianity” yang mau jawaban siap pakai (tanpa harus bergumul) menjadi karakteristik umum di zaman kita sekarang. kedua-duanya (musik yang kompleks atau yang sederhana) dapat dipakai oleh Tuhan.[4] dalam filsafat pelayanan juga dapat dipengaruhi oleh pop-culture. yang juga ada pada setiap bangsa/suku. 2. Sebagai orang percaya kita mempertahankan yang good aesthetics dan membuang yang bad aesthetics (mengikuti anjuran Paulus untuk menguji segala sesuatu dan memegang yang baik [1Tes. New Age. Persoalan yang terjadi pada cultural elitist adalah tidak mengerti bahwa setiap orang memiliki takaran yang berbeda-beda dari Tuhan. karena bagi saya. Ini termasuk dalam bagian pertumbuhan yang wajar dalam hidup Kristen. kita harus dengan rendah hati untuk terus mau bertumbuh dengan dipercayakan perkara yang lebih besar oleh Tuhan. I have no problem at all dengan estetika musik yang lebih sederhana.” Yang terbaik. namun concern saya sebagai orang percaya lebih berurusan dengan apakah suatu karya memiliki good or bad aesthetics daripada ‘high’ or ‘low’ aesthetics. juga musik yang lebih berbobot dan lebih kompleks yang Tuhan ingin berikan kepada kita.[5] Spirit instant dan mau langsung jadi. ‘high’ cultural living. Yang penting di sini adalah setiap orang harus jujur dan mengenal diri dengan benar. karena tanpa pengertian ini kita cenderung menjadikan konsep takaran itu sebagai rasionalisasi untuk mempertahankan status quo alias keengganan untuk bertumbuh dan terus maju. and yet bad aesthetics (seperti John Cage misalnya). sesuai dengan takaran yang Tuhan percayakan pada saya. “Yang terbaik” yang dimaksud di sini tentunya adalah “yang terbaik yang dapat saya berikan.[3] Bukan hanya di dalam musik/seni saja. Bagi kita. Alkitab juga mengajarkan bahwa mereka yang setia dalam perkara kecil akan dipercayakan perkara yang lebih besar. Sama halnya dengan perdebatan musik trasional – kontemporer. bi-tonality. melainkan estetika yang benar atau tidak.[7] Sementara jenis musik seperti Rock. Yang menjadi persoalan bukanlah tingkat kompleksitas musiknya. good aesthetics bisa ada pada karya seni yang kompleks maupun yang lebih sederhana. Pembedaan ini penting karena adanya konsep takaran yang berbeda-beda bagi setiap orang. Alkitab mengajarkan agar kita memberikan yang terbaik bagi Tuhan (motivasi. dll. Dalam takaran pun terjadi progresi. 4. Sebaliknya ada musik yang lebih sederhana and good aesthetics.[6] Mengenai analogi bahasa. yang paling dasar yang ada pada setiap bangsa/suku. perdebatan musik dalam kategori ‘high – low’ arts totally miss the point. Di sinilah perbedaan kita dengan para cultural elitists karena mereka (para elitists) akan mempertahankan ‘high’ arts dan menghina serta membuang ‘low’ arts. ‘high’ civilization dsb. Tidak setiap orang diberikan takaran yang sama. 3. 5:21]). demikian juga halnya dengan bad aesthetics. bukanlah produk universal setiap bangsa . let say. yang mungkin dapat menjadi perbandingan yang lebih tepat adalah dengan etno-musik. Di sini saya sulit untuk menerima pop-culture karena salah satu kecenderungan yang sangat kuat dalam kebudayaan ini adalah spirit yang suka mempertahankan “lack of depth” yang menjadi karakteristiknya. untuk mengecap ‘high’ education. Ada musik yang sangat kompleks estetikanya. Mengapa? Karena bahasa lebih bersifat universal. tujuan dan pemberiannya sendiri). karena yang dipersoalkan Alkitab adalah benar dan tidak benar. Sebaliknya jika kita mengikuti Alkitab. Expressionism. Point ini juga sama pentingnya dengan point ke2.

. bahkan agama tertentu. maka berikan musik kontemporer terbaik. itu memang ‘bahasa musik’ kamu …” karena saya tahu musik-musik seperti itu lahir dari pergumulan agamawi yang melawan Tuhan. keanekaragaman ini dipersatukan oleh kasih. jika kita mau pakai musik kontemporer. Tapi itu matters jika berurusan dengan good/bad aesthetics (bagi saya memberikan yang terbaik mencakup pengujian musik yang baik dan benar). Tuhan memberkati kita sekalian.. karena dalam Firman Tuhan kita tidak mendapati bahwa keindahan (yang berkait dengan kebenaran. namun tetap terapkan striving for excellence within each categories. . Sudah saya bahas di atas bahwa concern kita lebih berurusan dengan good or bad music instead or ‘high/low’ (complex/simple).. Allah yang kita percaya adalah Allah yang benar. Kebenaran ada dalam keanekaragaman faset (namun ini tidak berarti semua faset dapat ditampung dalam kebenaran). bagaimana respons kita? Saya pribadi sulit dengan hati nurani yang jujur dan bertanggungjawab di hadapan Tuhan mengatakan “silahkan saja. di dalam kebenaran. Allah yang mengasihi. makanya dalam credo saya. B: Jika ada seseorang yang dilahirkan dalam ‘bahasa musik’ New Age lalu dia ingin bertumbuh dalam ‘bahasa musik’nya itu dan menggunakannya dalam ibadah. melainkan merupakan kebudayaan yang lebih banyak berkait dengan ideologi. Saya melihat begini: mari kita pakai bahasa musik kita masing-masing.. Mengenal kebenaran berarti menerima keanekaragaman di dalam kasih. quality saya letakan setelah diversity dan love. B: Saya sependapat dengan kamu jika itu berurusan dengan estetika ‘tinggi – rendah’ maka tidak terlalu matters (asal kita tetap memperhatikan bahwa takaran kita bersifat progresif). dan Allah di dalam tiga Pribadi. kekudusan tidak mungkin dipisahkan dari kasih. kekudusan. Sebaliknya hanya menekankan ‘kebenaran’ tanpa bisa menerima keaneka-ragaman di dalam kasih juga bukanlah merupakan pengenalan kebenaran yang sejati. kekudusan. tanpa mendahulukan yang satu dan mengesampingkan yang lain.. Ini yang membuat kategori jenis musik yang terakhir ini sangat tidak tepat jika dianalogikan dengan bahasa (karena kandungan nilai kepercayaannya yang sangat kuat). Dalam Alkitab kebenaran. kemuliaan dsb. saya sedikit terganggu dengan kalimat di atas bahwa keindahan boleh ditempatkan setelah diversity and love...(seperti keanekaragaman dalam etno musik misalnya). keindahan. ‘Bahasa musik’ kita pun tidak netral. Ketika kita menomorduakan kebenaran (yang berkait dengan keindahan. bukan titik awal. dan perlu terus dikuduskan oleh Firman Tuhan... kemuliaan dsb) kita cenderung akan terjebak pada pluralisme yang diajarkan oleh dunia (bukan pluralitas yang diajarkan oleh Alkitab) dan kasih kita akan menjadi kasih yang tidak berkait dengan pengertian (blind love). semuanya harus diuji.. J: Kembali ke ibadah. Sulit untuk mendapati bahwa Firman Tuhan mengajarkan bahwa pluralitas dan kasih lebih dahulu daripada kebenaran. kemuliaan..[8] Bagi saya. dsb) boleh dibicarakan ‘belakangan’. J: Saya tidak menolak aspek keunggulan estetika namun itu menjadi tahap berikut. kekudusan. saya melihat kesamaan masalah bila kita juga apply cara pikir yang sama. Dalam konteks yang pertama (good and bad aesthetics). Sola scriptura. keindahan.

seperti misalnya estetika musik Rock. itu hanya bikin tambah bingung. Barock Jerman. expressionism. dan lebih detail lagi: bagian tertentu pada karya tertentu. lebih detail lagi: Mozart pada periode kehidupan yang mana. Pop-culture yang menuju kepada “depth” tidak akan menjadi pop-culture lagi dan akan dituduh menjadi penganut cultural elitist. Bagi saya pilihan cultural elitist di satu sisi dan pop-culture di sisi yang lain. Pengujiannya adalah kesetiaan kepada Firman Tuhan (entah kompleks atau sederhana). atau lebih detail lagi: per karya. new age. Klassik. pengertian wahyu umum sesungguhnya kabur dan bahkan cenderung ditekan oleh manusia berdosa (Rm. [8] Sekali lagi menurut Alkitab konsep keindahan tidak dapat dipisahkan dengan kebenaran. serial music. maupun juga khotbah-khotbah yang sangat sederhana dari D. [3] Ini wajar dan dapat dimengerti karena jika goal yang ingin dicapai adalah mendapatkan jangkauan sebanyak-banyaknya maka yang sering kali harus dikompromikan adalah kualitasnya. one of the greatest sinners. Di satu sisi kita percaya seperti diajarkan dalam Reformed Theology. dll. [5] Misalnya mencoba untuk mendapatkan jiwa sebanyak-banyaknya dengan mengkompromikan kualitas yang ditakar oleh Tuhan. Dalam Alkitab kasih tidak dapat dipisahkan dengan pengertian yang benar. kemuliaan. mulai dari tahap yang paling general. demikian pula sebaliknya. namun juga sekaligus produk keberdosaan dan ketidak-taatan manusia. L. dalam berbagai macam tingkat kebaikan atau kerusakan. forgiven by God ________________________________________ [1] Seperti sudah saya bahas dalam tulisan yang lalu bahwa tidak ada musik yang sepenuhnya sempurna. dan di sisi yang lain kita juga tidak boleh melupakan tanpa pencerahan wahyu khusus. Alkitab memberikan alternatif yang lain mengenai ini yaitu konsep takaran dalam progresi. Kalau kita mau melakukan pengujian yang lebih kompleks harus bicara lebih detail. 1:21-23). [7] Ini pun bagi saya juga tidak dapat diakomodasi begitu saja sebagai totally neutral tanpa critical reflection terlebih dahulu.In Christ. Dalam etno-musik pasti ada respons terhadap pengenalan akan Allah dalam wahyu umum (bayang-bayang dan kabur). Maka kita lebih baik berbicara tentang musik yang lebih baik dan kurang baik. [6] Tuhan dapat memakai tulisan dengan kapasitas theologi yang sangat kompleks seperti Jonathan Edwards. . [4] Kalimat seperti “Untuk apa susah-susah mempelajari theologi. dll. kekudusan. dan lebih detail lagi dengan menguji estetika per komponis (let say Mozart misalnya). Moody. yang lebih alkitabiah dan kurang alkitabiah. dua-duanya salah. demikian juga tidak ada musik yang sepenuhnya rusak dan tidak ada keindahan yang tersisa di dalamnya. musik medieval. bahkan sombong. Italia. dll). Pengujian estetika yang general mencoba untuk mencari karakteristik umum dari musik yang diuji (misalnya musik Rock. lebih baik kita belajar saling mengasihi saja” saya kuatir tanpa sadar sebenarnya juga dipengaruhi oleh kecenderungan pop-culture yang cenderung menolak untuk belajar lebih dalam dan terus maju. Romantik. dsb. ada anugerah umum dalam setiap kebudayaan. Tulisan Kant boleh jadi jauh lebih kompleks. atau yang lebih detail misalnya Barock Perancis. [2] Penyelidikan estetis ini bisa terjadi dalam beberapa tahap tentunya. musik Barock. lebih ‘tinggi’ daripada Moody namun ini tidak berarti pemikiran Kant lebih benar dan kudus daripada Moody hanya karena dia lebih kompleks. kelemahan dari pengujian yang seperti ini pasti adalah kecenderungan generalisasinya (ini tidak bisa dihindarkan karena memang pengujiannya terjadi pada tahap yang general).

B: Di sini Anda salah mengerti. kita harus mempelajari latar belakang musik tersebut. H: Beberapa minggu yang lalu. ada juga yang menge-post soal musik. biografi. Billy Kristanto—B terhadap pertanyaan Sdr. Tetapi.Iman Kristen dan Musik (7)—Tanya Jawab (Jawaban Pdt.” yang dinyanyikan dengan irama dangdut adalah lagu yang tidak kudus. betapa indahnya. Dan pendapat dia bahkan jauh lebih ekstrim. Tuhan tidak pernah sama sekali menegur dia untuk tidak menari dan meloncat. "Apakah yang Alkitab katakan tentang musik yang kudus dan tidak kudus?" Billy: Saya sudah coba sharingkan prinsip ini. Dia seolah-olah berkata hanya musik hymne sajalah yang paling baik. B: Bagian ini ditujukan kepada saya? Kalau kepada saya: Ya. Satu pertanyaan saya belum terjawab bahkan setelah membaca 6 email tentang musik yang Saudara post. Karena itu. Saudara berkata bahwa untuk menguji estetika jenis musik tertentu. kita sama sekali tidak boleh bergoyang. sebagai hamba Tuhan. setelah itu pengujian tersebut dibawa dan diuji di bawah terang Alkitab. lagu “Oh. tradisi musik yang mempengaruhi suatu karya tertentu perlu untuk suatu penyelidikan yang lebih komprehensif. tidak ada ayat Alkitab sama sekali di dalam email yang dia kirim itu. Mempelajari latar belakang. sayang sekali Anda tidak menangkap pointnya:) H: Mempelajari latar belakang sebuah musik dan kemudian mendasarkan keputusan kita berdasarkan latar belakang tersebut berarti kita mendasarkan keputusan kita pada apa yang kita tahu. Hansel—H) Hansel: Shalom Pak Billy. Kesulitan penafsiran Alkitab yang seperti ini adalah kerancuan dan kegagalan untuk membedakan bagian Firman Tuhan yang bersifat preskriptif (pengajaran) dan deskriptif . Ketika kita menyanyi untuk Tuhan. Berbicara soal bergoyang. dan bukan pada Alkitab. tahukah Saudara bahwa Raja Daud pernah memuji dan menyanyi untuk Tuhan sambil menari dan meloncat sekuat tenaga? Tetapi anehnya. puji syukur saya mengenal bagian Alkitab tersebut:) Hanya saja kesimpulan seperti ini bagi saya terlalu cepat dan cenderung menimbulkan pengertian yang salah.

“Yang saya tahu dan kenal sebagai sumber segala kebenaran hanyalah Alkitab” juga berada di bawah pengaruh tradisi theologi tertentu:) Mengenai gerakan tubuh dalam ibadah. lebih sesuai dengan natur kasih daripada hanya membangun diri sendiri. 14:26-40). Sering kali tanpa sadar kita banyak dipengaruhi oleh school of thought theologi tertentu. kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri kita masing-masing untuk melakukan suatu pengujian: .Apakah saya menganggap ekspresi itu sebagai sesuatu yang tabu dan tidak alkitabiah?[1] .Apakah gerakan tubuh/ekspresi yang saya lakukan itu berkaitan dengan apa yang menjadi isi hati saya? (dalam bagian ini Tuhan Yesus memberikan kritik kepada orang Farisi yang menyalahgunakan ekspresi sebagai suatu kemunafikan. terutama karena pembahasan ini ada dalam konteks ibadah (pertemuan bersama). perlu dipikirkan suatu pembahasan yang mengaitkan antara sikap hati dan filsafat tubuh. Tuhan memberkati kita sekalian. dan bukan dari theologi ini dan itu. dapat kita pelajari dari 1 Korintus 14:1-5. Statement Anda. karena pandangan yang mengaitkan kekudusan atau kerohanian yang tinggi dengan semakin meninggalkan ekspresi tubuh lebih banyak dipengaruhi oleh filsafat Yunani kuno daripada Alkitab.Apakah ekspresi yang dituangkan dalam gerakan tubuh tersebut bersifat self-centered (saya harus mengekspresikan diri saya) atau God-centered (ekspresi itu sebagai respons kita menikmati Tuhan dalam ibadah). Semper reformanda. . bagian deskriptif adalah khusus/unik terjadi pada orang tersebut. Pembahasan ini akan menarik jika dikaitkan dengan thema ekspresi.[2] . H: Saya ingin jawaban yang saya dapatkan benar-benar dari Alkitab. Bagian yang preskriptif berlaku bagi semua orang percaya. bukan berarti setiap orang percaya boleh berjalan di atas air sebagai tindakan imannya. [2] Di sini sebagai orang percaya kita perlu berhati-hati dan membedakan dengan kritis ekspresi yang diajarkan oleh Alkitab dengan ekspresi seperti yang dimengerti oleh aliran expressionisme . precisely karena apa yang tampak di luar tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam hati). kita perlu berhati-hati dan kritis terhadap pandangan seperti itu.(penggambaran). Yours in Christ. ________________________________________ [1] Jika kita cenderung berpendapat ya. B: Tidak mungkin kita tidak memiliki pengetahuan apa-apa tentang theologi. Terus terang.Apakah ekspresi atau gerakan tubuh itu membangun sesama jemaat (dan bukan hanya membangun diri saya saja). Yang saya tahu dan kenal sebagai sumber segala kebenaran hanyalah Alkitab. . Untuk sederhananya. Bahwa prinsip membangun jemaat lebih baik dan lebih dewasa. Petrus berjalan di atas air sebagai suatu tindakan iman (deskriptif).Apakah ekspresi/gerakan tubuh itu berlangsung dalam batasan kesopanan dan keteraturan (1Kor. saya tidak memiliki pengetahuan apa-apa tentang theologi.

Ph.) beliau menjabat sebagai Dekan School of Church Music di Institut Reformed Jakarta. Mitzi Meyerson (1990-96).) lahir pada tahun 1970 di Surabaya.? . Billy Kristanto.(yang terakhir ini berpusat kepada diri).水. M. Setelah lulus pada tahun 2002 dengan mendapatkan gelar Master of Christian Studies (M. Setelah menamatkan studi musik di Hochschule der Künste di Berlin pada tahun 1996 Pdt. Beliau menikah dengan Suzianty Herawati dan dikaruniai dua orang anak.´. 53:1) Sumber: http://groups. Jerman.? 4782767f1d2a3f4 AQBRHWL_ { Share • • 4 people like this.€.C. Ditahbiskan menjadi pendeta sinode GRII di tahun 2005 beliau saat ini menggembalakan jemaat Mimbar Reformed Injili Indonesia (MRII) Berlin. Setelah lulus SMA melanjutkan study musik di Hochschule der Künste di Berlin majoring in harpsichord (Cembalo) di bawah Prof. Sejak di sekolah minggu mengambil bagian dalam pelayanan musik gerejawi. (Cand.–Cand.D.S.D..) di bidang musikologi dan Evangelische Theologie di Universitas Heidelberg.grii. Beliau melayani sebagai Penginjil Musik di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Jakarta sejak Februari 1999 and pada tahun yang sama memulai studi theologi di Institut Reformed. Billy Kristanto) Profil Pdt. MRII Hamburg. Dipl. Billy Kristanto: Pdt. • ○ . Pristine Gottlob Kristanto dan Fidelle Gottlieb Kristanto.Mus. Saat ini beliau sedang menyelesaikan studi doktoral (Ph. Persekutuan Reformed Injili Indonesia (PRII) Munich. Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio Top of Form €.de/ = Quis credidit auditui nostro? et brachium Domini cui revelatum est? (Is.yahoo. dan Persekutuan Reformed Stockholm.com/group/METAMORPHE (mailinglist Pdt..S. Billy Kristanto melanjutkan post-graduate studi di Koninklijk Conservatorium (Royal Conservatory).´. Billy Kristanto = http://www.C.

tetapi syair dan puisinya buanyak bahkan menjadi"Pondasi" para pencipta lagu rohani.Submit Liedya Setiawan Jika zaman ini sangat menyukai jenis music yang easy listening... tumbuh di dalam lingkungan keluarga yang menyukai musik.. suatu bidang yang dihadirkan Tuhan dalam kehidupan saya sejak kecil (namun saya tidak pernah terjatuh ke dalam piano. khususnya berkenaan dengan musik.. . PLEASING GOD or MARKET ORIENTED ato Satisfaction of your emotions n ego.... hanya saja di antara keluarga saya..eperti didunia barat..karena itu Pendidikan Musik didalam Umat perlu diperdalam.. apalagi tertimpa piano ketika masih orok.jazz.maka seyogyanya umat lebih pandai memilih composisi yang membangun menggugah dan menyadarkan jiwa .Bersyukur Kepada Allah jika Bpk. Saya ingin sharing pengertian yang saya dapatkan melalui perjalanan kehidupan saya mengikut Tuhan.Pdt Billy kristanto dipilih dan dipakai-Nya sebagai penyuara kebenaran ..thats perfect harmony. Saya lebih mennyukai "MOTIVASI HATI" dari sebuah karya lagu... SDG.seperti daud jaman itu belum ada peralatan musik s..THeology dan Music . saya satu-satunya yang diberi kesempatan oleh Tuhan boleh mengembangkan talenta yang Dia berikan melalui suatu pendidikan musik yang formal. 2010 at 4:19am Bottom of Form Facebook © 2011 · English (US) About · Advertising · Create a Page · Developers · Careers · Privacy · Terms · Help Iman Kristen dan Musik (1) Dear beloved brothers and sisters in Christ. seperti halnya Obelix ke dalam ramuan ajaib).dan pop kontemporer..See More May 27.. Saya lahir dalam keluarga Kristen..

suatu kultur yang pada umumnya dapat diterima oleh sebagian besar manusia kesederhanaan kualitas yang tidak harus menuntut penggemarnya untuk banyak berpikir dan mempersoalkannya. Tampaknya konsep steril tentang Kerajaan Allah di mana hanya ada gandum saja merupakan impian yang tidak mungkin akan terwujud selama kita masih berada di dunia ini. Keluarga saya tampaknya tidak keberatan untuk menyediakan konsumsi ini sepanjang hari dengan volume suara yang dapat didengar oleh seluruh karyawan. melody and rhythm. Saya kadang-kadang juga dipercaya untuk ikut bermain di dalamnya. Orang-orang yang sangat bergairah dalam memberitakan Injil keselamatan. Orang-orang percaya yang dengan tulus melayani Tuhan dengan kerelaan berkorban. tidak takut susah. baik di dalam aspek harmony. sekalipun kita tahu setiap orang punya kelebihan dan kekurangan serta kelemahannya masing-masing. Ada banyak hal di mana Tuhan membentuk dan menenun kehidupan saya melalui komunitas di tempat ini. Selain musik ini saya sangat akrab dengan musik dangdut yang banyak dikonsumsi oleh karyawan yang bekerja di tempat saya. and so God will. pikir saya. Orang-orang yang saling menerima dan mengasihi satu sama lain. Saya mulai lebih tertarik dengan jenis musik ini bahkan juga belajar untuk bisa memainkannya sendiri. termasuk saya sendiri. pelayanan yang dimotivasi oleh uang dan kekayaan. Saya terbentuk dalam suatu kultur yang sangat menggemari pop-culture. kami menggunakan seperangkat alat musik yang membentuk suatu band dalam ibadah. Sampai suatu saat saya berkenalan dengan musik jazz yang certainly much more deeper and has a certain depth and quality di dalamnya. keuangan perpuluhan yang tidak jelas digunakan untuk apa. Saya menyaksikan teladan orang-orang Kristen yang suka berdoa dan hidup bergantung kepada Tuhan dengan iman yang sederhana. sehingga saya sempat hafal paling sedikit puluhan lagu-lagu jenis ini. memikul salib dan mengikut Yesus. hidup memikul salib. seperti pada umumnya. biasanya saya mengisi keyboard atau piano. Keluarga saya beribadah di Gereja Pentakosta. surely it’s OK because I feel good. segera melanjutkan konflik dan kepahitan di antara jemaat. Alkitab sendiri mengatakan bahwa realitas Kerajaan Allah pun digambarkan oleh Yesus sebagai benih gandum dan ilalang yang tumbuh bersama.Sejak sekolah minggu saya mulai melayani musik di gereja di mana saya beribadah. Namun sekaligus di tempat yang sama saya juga menyaksikan kehidupan yang berkeping-keping. tidak seharusnya miskin) yang menyusup menggantikan ajakan hidup menyangkal diri. saya juga bisa . I can enjoy. di tengah segala kekurangan dan kelemahan yang ada. termasuk mulai merambatnya ajaran-ajaran kesuksesan (orang Kristen tidak seharusnya sakit. Membandingkan jenis musik ini dengan yang selama ini banyak saya konsumsi. sehabis menerima Perjamuan Kudus yang selalu mengharukan banyak orang. menyaksikannya kepada orang-orang yang belum mengerti pengorbanan Tuhan Yesus Kristus. so I just consume it. Ya. saya sadar bahwa yang dulu jauh lebih sederhana daripada yang terakhir.

New Age or Gregorian Chant. dan di sisi lain pengenalan akan Tuhan yang saya peroleh melalui merenungkan dan membaca firman Tuhan dan buku-buku yang membangun iman saya. postmodern. Saya mendapati bahwa karya-karya seperti ini berbeda dan memiliki keunikan tersendiri. a very simple piece. tapi juga bukan jenis keserdahanaan seperti musik-musik jenis pertama yang saya pernah konsumsi. tanpa bisa mengaitkan kedua hal ini. matematika. Sampai suatu saat saya berkenalan dengan karya piano dari Beethoven. Saya percaya bagian penjelasan yang seperti itu tidak ada dan memang juga tidak perlu. ekonomi. Alkitab menjadi buku pedoman how-to. Kita juga pasti akan sangat kecewa jika kita berusaha dengan segala kesungguhan untuk mendapatkan dalam Alkitab apakah pada bagian tertentu dari suatu lagi saya lebih baik bergerak ke c-minor atau C Mayor atau ke D7. Saya mulai belajar untuk memainkan jenis musik ini. Saya sadar bahwa Alkitab memang bukanlah buku musik. perlu pakai sus4 atau saya lebih baik diam saja (seperti diusulkan oleh John Cage misalnya). demikian seterusnya untuk mempersingkat cerita. di mana kita dapat menyelesaikan seluruh persoalan dari rumus fisika.menggunakan kreativitas ini ketika saya melayani di Gereja. yang kita semua sekarang tidak tahu lagi bagaimana merekonstruksinya). saya berusaha untuk mempertanggungjawabkan apa yang saya percaya saya terima sebagai anugerah Tuhan dengan mengembalikannya kepada Sang Pencipta. Klassik. sampai suatu saat saya akhirnya memutuskan untuk mengambil studi jurusan musik setelah lulus dari SMA. atau jangan-jangan musik yang pernah dipakai oleh Daud. kita semua pasti tidak sanggup untuk beribadah dengan membawa Kitab Suci. science. Kita akan kecewa jika mencari untuk mendapatkan di dalam Alkitab bagian yang menyatakan penggunaan alat musik tertentu yang lebih “kudus” daripada yang lain. . Romantik. atau jenis musik apa yang disetujui oleh Alkitab (pop-culture kah. kimia. Barock. karena itu akan menjadikan iman kita iman instant yang tidak perlu lagi bergumul. Dalam periode ini saya mulai belajar dan mengaitkan apa yang saya pelajari dan geluti (yaitu bidang musik) dan berusaha untuk mengintegrasikannya dengan apa yang saya pelajari dari firman Tuhan. dan akhirnya juga seni dan musik. Namun ini juga tidak berarti bahwa Alkitab tidak membicarakan tentang ekologi. namun saya belum dapat mengetahuinya dengan jelas mengapa. karena itu berarti saya harus membawa buku dengan berat berton-ton. Why not? Musical creativity is God’s gift and definitely not from Satan! Dalam kesungguhan saya untuk melayani Tuhan dan dengan motivasi yang saya rasa cukup tulus. dangdut kah. Kalau Alkitab harus memuat semuanya seperti layaknya sebuah textbook. perhaps not so complicated seperti kebanyakan musik-musik rumit yang sebelumnya saya pernah dengar. Saya tidak puas jika hanya sampai pada batas penguasaan bidang saya pelajari (dalam hal ini musik) di satu sisi. persoalan ekologi.

teori ekologi juga terserah. kita boleh memiliki pandangan ekonomi apa pun. politics. karena di situ kerajaan Kristus (the kingship of Christ) tidak boleh dinyatakan dalam bidang apa pun kecuali theologi (itupun kalau masih ada kekuatan!). Yang menyedihkan adalah pendapat yang banyak diterima saat ini adalah Alkitab hanya membicarakan kehidupan gerejawi. karena science adalah wilayah fakta sedangkan Alkitab berbicara dalam wilayah nilai. entah itu fisika. Karena kita percaya ilmu-ilmu itu (logi) sebenarnya berasal dari LOGOS atau Firman. yaitu alam di mana manusia menggali dan menemukan berbagai macam disiplin ilmu yang menyatakan kemuliaan Allah di dalamnya. science. science dsb. sebab hati kita sangat luas. Kita sekarang berada dalam keadaan pengaruh ecological disaster yang makin lama akan makin mengerikan. Teori seperti ini sebenarnya bukanlah apa yang kita terima dari Firman Tuhan. Maka kita harus memisahkan keduanya. Dengan kata lain: ilmu-ilmu tersebut silahkan independen dari Alkitab. Di mana pengaruh pandangan Kristen terhadap ekologi? Tidak perlu? Karena Alkitab tidak membicarakan geologi. . ekologi. membicarakan theologi. itu toh juga berasal dari Tuhan? Kalau seandainya John Cage dan Stockhausen mengusulkan musiknya dipakai dan dipergunakan untuk ibadah. komposisi musik. Allah yang menyatakan diri-Nya melalui firman Tuhan (Mzm. seni. kita bukanlah orang-orang sempit yang tidak bisa menerima keanekaragaman? Welcome to our contemporary time: a world with an almost unlimited possibilities to embrace and accomodate all theories of ecology. Konsekuensi dari pandangan seperti ini adalah: kita boleh menggunakan dan menkonsumsi jenis seni/musik apa pun. sinful culture yang tidak tunduk pada Alkitab segera akan meresap ke dalam bagian-bagian yang dengan sengaja dibuka untuk dibebaskan dari otoritas firman Tuhan. tapi Alkitab tidak mungkin membicarakan tentang musik. geologi. Kita tidak mungkin memisahkan penemuan dalam alam (sebagai wahyu umum Allah) dengan pengenalan melalui firman Tuhan dan di dalam Yesus Kristus (wahyu khusus Allah). 19:8-12) adalah Allah yang sama yang juga menyatakan diri-Nya melalui alam (Mzm. sociology. sociology … (BTW we don’t even know which one is ecology. Alkitab tidak membicarakan semua bidang yang lain. ekonomi karena memang Alkitab hanya membicarakan urusan keselamatan jiwa manusia. economy. melainkan suatu dualisme yang diciptakan oleh para pemikir enlightenment. aesthetics. 19:1-7). theology.ekonomi. Pandangan seperti ini langsung akan menyediakan angin untuk sekularisme masuk ke dalam semua bidang. jenis musik. kita pasti selalu akan ada tempat untuk memberikan akomodasi berbintang lima baginya. sama seperti juga tidak membicarakan c-minor atau aminor? Kita tidak boleh membicarakan teori Adam Smith berdasarkan perspektif Alkitab karena Alkitab adalah buku theologi? Biarkanlah Picasso dan Polluck mengembangkan talenta dan kreativitasnya. Bidang-bidang yang lain pada akhirnya akan diisi oleh isme-isme yang lain. economy. sociology … it looks all the same). Alkitab tidak usah mencampuri hal itu karena kedua hal tersebut adalah hal yang terpisah satu dengan yang lainnya.

Tu excitas. kudus – tidak kudus. Kebenaran selalu bersifat integratif dan tidak mungkin fragmented. bahkan suka menghakimi. Kita berada dalam perubahan budaya modern dan pasca-modern sekaligus. Orang yang berusaha untuk menguji dikatakan berpikiran sempit. budaya merayakan keanekaragaman. quia fecisti nos ad te et inquietum est cor nostrum. baik – buruk. termasuk juga siapa pun berhak membicarakan segala sesuatu. and thank you for listening my confused thoughts. Sayangnya. Sebagai orang percaya. Alkitab menyatakan kebenaran memang tunggal (dalam pengertian ada kesatuan/unity. Sementara dalam kebudayaan pasca-modern ada kecenderungan untuk mengakomodasi semua perbedaan yang ada. Mythos yang keliru dari orang-orang modern adalah percaya satu-satunya kebenaran tunggal yang harus diterima secara seragam dengan menolak semua perbedaan yang ada. Sejarah biasa bergerak dari suatu pendulum dari satu arah ke arah yang lain. kita perlu kembali kepada apa yang dikatakan oleh Alkitab. instead mengikuti begitu saja semangat zaman tanpa melakukan suatu refleksi kritis terhadapnya. dengan demikian persoalan salah – benar. and the strength . karena manusia tidak percaya lagi adanya suatu jawaban otoritatif yang dianggap mengulang kesalahan modern totaliterism atau bahkan kesalahan gereja pada zaman abad pertengahan (yang dipersoalkan oleh Luther). Alkitab mengajarkan kepada kita untuk menguji segala sesuatu dan memegang yang baik (1Tes. ut laudare te delectet..I’m terribly sorry to stop here today. to continue …. donec requiescat in te (Augustinus) Iman Kristen dan Musik (2) Di bagian pertama kita sudah membahas bahwa tidak mungkin untuk membiarkan suatu ilmu independen dari penilaian Firman Tuhan. 5:21)... tidak akan menyusahkan manusia lagi. sifat koherensi di dalamnya). Tidak menguji adalah suatu bentuk ketidaktaatan terhadap ayat ini. I really hope I may have the same patience as yours …. tidak mempunyai kasih. kita sekarang berada dalam suatu kondisi dunia yang mendiscourage segala pengujian. Dunia lebih suka berada dalam suatu keadaan di mana segala sesuatu sebisa mungkin dianggap netral. Sekaligus kata integrasi atau unity sebenarnya menyatakan adanya aspek pluralitas/diversitas di dalamnya. tidak memiliki spirit toleransi. Allah Tritunggal adalah .

absolut otoritarianism. di mana unity cenderung dimengerti sebagai uniformity (maksudnya tidak boleh ada perbedaan). menasihati orang lain daripada dinasihati. Orang yang tidak dipanggil menjadi ekonom berbicara banyak tentang ekonomi. orang yang memiliki takaran 1 talenta mencoba mengerjakan porsi 5 talenta. dan juga banyak karunia satu Roh menyatakan hal yang sama. memimpin orang lain daripada dipimpin. merupakan hal urgent yang harus digumulkan oleh setiap orang percaya. di mana Tuhan menempatkan saya dalam Kerajaan Allah. setiap orang boleh mengajar yang lain. Dengan runtuhnya paradigma modern totaliterism. mengubah orang lain daripada sendiri terlebih dahulu diubahkan oleh Tuhan. yang bukan fisikawan mengajar kelas tinjauan iman Kristen terhadap fisika. dan juga penggalian talenta yang berbeda-beda (bukan hanya jenis tapi juga takarannya). Orang yang memiliki talenta A mencoba untuk mengerjakan talenta H. Saya pribadi merindukan suatu kebangunan rohani yang menyentuh salah satu . perbedaan selalu dianggap sebagai ancapan terhadap kesatuan (unity). This is a very sad condition. Orang yang tidak memiliki karunia X memaksakan diri untuk tampil sebagai orang yang berkarunia X. pemahaman tentang karunia-karunia rohani yang berbeda-beda. Sejujurnya kita lebih suka mengajar orang lain daripada diajar. tapi kita sendiri tidak suka mendengarkan orang lain. Di dalam kultur modern selalu ada ketakutan terhadap perbedaan. setiap orang boleh menjadi guru. namun diversitas ini akhirnya menimbulkan division atau fragmentasi karena kita tahu memang tidak mungkin untuk mengakomodasi semua pluralitas.Allah yang esa. Sementara dalam pasca-modern kecenderungannya sekali lagi adalah merayakan diversitas. menyambut semua keanekaragaman dalam hidup sama dengan tindakan memecah-belah diri alias memeluk suatu kehidupan yang fragmented (baca: tidak memiliki integrasi). karena sekarang seolah setiap orang berhak bicara apa saja. sementara ia sendiri mungkin tidak jelas pimpinan Tuhan secara khusus di dalam dirinya. dan yang paling kacau: tidak mengerti theologi berani bicara di atas mimbar! Everybody can teach everything. sementara yang memiliki 5 talenta begitu “rendah hati” dengan mencukupkan diri puas dengan hasil 1 talenta. sekarang orang berada dalam keadaan confusion. Humility is a very rare jewel in our age. sekaligus dalam tiga Pribadi. banyak orang tidak sabar (I’m certainly one of them!) dengan masa pembentukan padang gurun selama 40 tahun yang merupakan periode sangat penting dalam kehidupan Musa. mereka yang tidak mempelajari seni membicarakan segala sesuatu tentang seni. isn’t it? Kita ingin apa yang kita katakan berdampak begitu besar dan semua orang mendengarkan kita dengan terangguk-angguk. Dalam zaman seperti ini kita cenderung kehilangan pengertian akan keunikan diri sendiri. sementara yang sungguh-sungguh dipercayakan Tuhan dengan karunia X tidak puas dengan hal itu dan mencoba untuk mengambil karunia A. Dalam zaman seperti ini. Demikian juga metafora banyak anggota satu tubuh. Yang jelas.

Sola gratia.aspeknya: kebangunan pelayanan kaum awam. jika ada sesuatu yang berlainan di antara kita. Soli Deo Gloria! I'd like to thank God for the beautiful weather today .. di mana setiap anggota tubuh Kristus menyadari keunikan panggilannya masing-masing. Mari kita belajar saling mengasihi satu sama lain dengan terus mempertahankan kerendahan hati untuk semakin mengenal kebenaran Allah dan sesuai dengan janji-Nya. Mengapa tidak menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk mengerjakan hal-hal yang sungguh Tuhan percayakan di dalam hidup kita masing-masing dengan mempertahankan keluasan pandangan Kerajaan Allah (supaya kita tidak menganggap beban kita yang paling penting daripada semua yang lain). we have our limitation. because God loves you:) Tu excitas. biarkan dia mengajar bidang yang dia gumuli bersama dengan Tuhan lalu menjadi berkat bagi Kekristenan. We are created. Mengapa saya harus memaksakan diri menjadi guru dalam semua bidang? We should follow the biblical story. seumur hidup menjalankan talenta tertentu dengan takaran tertentu yang Tuhan percayakan dalam dirinya. quia fecisti nos ad te et inquietum est cor nostrum. rather than Superman story. to shape our life. maka Tuhan juga yang akan menyatakannya.and ecological confusion in our time . karena itu mungkin adalah panggilan Tuhan di dalam dirinya dan bukan panggilan saya. dengan kebudayaan pasca-modern yang merayakan pluralitas namun akhirnya jatuh ke dalam disintegritas atau fragmentasi. donec requiescat in te (Augustinus) Iman Kristen dan Musik (3) Pada bagian yang kedua kita sudah membahas kecenderungan baik kebudayaan modern yang anti perbedaan dan menekankan konsep unity in uniformity. Firman Tuhan memberikan alternatif yang jauh lebih indah daripada kedua kebudayaan yang sangat mewarnai kehidupan kita di atas. Saya tidak perlu menjadi gelisah apalagi iri dan marah-marah jika di dalam Kerajaan Allah saya mendapati orang lain jauh lebih menguasai ekonomi daripada saya. sementara kelebihan saya mencukupkan kekurangan orang lain sehingga terjadi keseimbangan seperti dikatakan oleh Paulus. sehingga ada kekuatan yang saling melengkapi satu sama lain? Kelebihan orang lain mencukupkan kekurangan saya. May God bless you abundantly today and give you all a reason to smile. ut laudare te delectet. the story of the gospel. Konsep multi-dimensi atau multi-perspektif bukanlah konsep yang asing . despite the theo... mengenal karunia tertentu yang pasti Tuhan percayakan dalam hidupnya..

Culture pun suatu saat akan dihakimi oleh Tuhan sendiri. di mana setiap orang berjalan sesuai dengan apa yang dia pandang baik. He is truth Himself (yang ini saya tidak sanggup memberikan kategori apa-apa karena kalimat ini terlalu dalam dan kaya sehingga tidak dapat direduksi dengan satu/dua kategori). Namun di sisi yang lain. Ada godly culture ada pula sinful culture. Dalam sepanjang hidup-Nya Ia selalu menjaga tujuan hidup yang benar (teleological). Lalu bagaimana kita menguji musik? Saya percaya tidak cukup hanya dengan prinsip telos (seperti diusulkan Sdr. sekaligus Alkitab mencatat bahwa Ia tidak pernah berbuat dosa.[2] Tiga hal ini adalah merupakan hal minimal yang harus digenapi untuk melakukan suatu pengujian yang Alkitabiah. relativisasi kebudayaan yang dibuat independen dari penilaian firman Tuhan. Alkitab membicarakan bukan hanya telos saja yang harus benar. Keengganan orang percaya untuk “menguji segala sesuatu dan memegang yang baik” akan semakin menyuburkan angin sekularisme. Mari kita melihat kehidupan Yesus Kristus sendiri.[1] Kita harus selalu kembali kepada Firman Tuhan. Saya percaya. selera yang membentuk dia sejak kecil.bagi firman Tuhan karena firman Tuhan mengajarkan kesatuan dalam keanekaragaman. yaitu kasih. sehingga kita tidak gampang terjebak pada ajaran-ajaran fragmented yang ditawarkan oleh dunia ini. Adalah suatu kefatalan jika kita sebagai orang percaya berpikir bahwa budaya netral adanya. In fact kita percaya bahwa kebudayaan manusia sendiri merupakan campuran antara penaburan benih gandum dan lalang. kita juga harus menguji musiknya sendiri: is it the right or wrong music? Is it good music or bad music? Is it holy or sinful? . melainkan means untuk mencapai tujuan ke situ juga harus benar dan kudus ditambah lagi sedikitnya dengan motivasi kita juga harus kudus. dan Ia adalah penyataan kasih Allah dalam wujud Pribadi yang berinkarnasi. Yesus tidak pernah memakai sarana-sarana apa pun juga asal saja mencapai goal yang benar dalam pelayanan-Nya. deontological and situational) masih banyak aspek yang lain yang kita bisa pelajari dari kehidupan Yesus Kristus. jika kita ingin melakukan suatu pengujian yang lebih komprehensif dan bertanggung-jawab. Kembali kepada musik. firman Tuhan juga memberikan prinsip agar kita tidak jatuh dalam chaotic pluralism. selain menguji tujuan serta motivasinya yang harus kudus dan benar. Kita sudah membahas pada bagian yang pertama jika kita berusaha untuk membebaskan musik dari penilaian firman Tuhan. sebenarnya yang terjadi adalah kita sedang membuka pintu lebar-lebar untuk masuknya sekularisme ke dalam musik. turun ke dunia (menjawab tuntutan situation ethics). musik juga tidak bebas dari nilai. Jesus always does the right thing (aspek deontological). Sekarang bagaimana dengan musik? Sebagai bagian dari culture. Tidak ada habisnya kita mengagumi serta menggali dari kelimpahan hidup yang ada pada-Nya. Jimmy misalnya). selain tiga hal ini (teleological. sesuai dengan pandangan subyektifnya masingmasing.

Jika kita percaya pandangan bahwa segala sesuatu yang kita anggap benar . Memang. bukan di dunia yang berdosa ini). yang di dalam Yesus Kristus boleh berharap bahwa hari demi hari ia semakin dikuduskan dan disempurnakan. namun ada pula yang dibentuk dari spirit yang sangat melawan Tuhan (yang juga ternyata dalam komposisi musiknya). namun ini tidak berarti bahwa dalam pengujian musik yang benar dan baik semata-mata hanya diwarnai oleh bias subyektif dan tidak ada standard atau kriteria obyektif di dalamnya. bagaimanapun musik adalah hasil karya manusia yang berdosa. kesalehan. selalu ada ruang untuk setitik (atau mungkin dua – tiga titik) keindahan di dalamnya.Tentu dalam realitasnya. Saya sejak kecil sudah terbiasa mendengar musik ini. maka musik ini indah. dsb. Adalah suatu kecelakaan besar di zaman kita yang selalu terbiasa dan latah mengatakan apa yang dipercaya oleh para penganut agama subjectivism bahwa keindahan semata-mata hanya tergantung pada mata si pelihat (beauty in the eyes of the beholder). kebaikan. Kita tidak menyangkali bahwa apa yang kita percaya sebagai kebenaran tidak mungkin lepas dari konteks kebudayaan yang membentuk kita (termasuk di dalamnya selera musik yang mewarnai hidup kita sejak kecil). ada common grace (anugerah umum) yang tetap menyatakan secercah kebaikan di dalamnya. Keindahan menurut konsep Firman Tuhan tidak dapat dilepaskan/dipisahkan dengan kebenaran. adalah lebih bijaksana bagi kita untuk tetap kembali kepada Firman Tuhan. Namun Alkitab membicarakan mengenai apa itu keindahan. instead of diombang-ambingkan oleh ruparupa angin pengajaran dari filsafat-filsafat dari dunia yang melawan Tuhan kita. Mengapa saya sebut musik ini indah? Karena memang itu indah bagi saya. kita tidak dapat melakukan pemisahan putih-hitam karena kita percaya dalam kejahatan yang bagaimanapun selalu masih ada anugerah Tuhan yang menahan dari kerusakan yang serusak-rusaknya. saya dibesarkan dalam selera musik ini.[4] Tidak sama. tidak ada musik yang serusak-rusaknya sehingga tidak mungkin menjadi lebih rusak lagi (karena sudah terlalu rusak). Alkitab tidak membicarakan nada-nada dan juga tidak dimaksudkan sebagai textbook untuk semua logi. Ada musik yang sangat dipengaruhi oleh keindahan Firman Tuhan. yang tidak sempurna. NAMUN. kalau begitu semua musik sama adanya. tidak ada musik atau seni yang begitu sempurna sehingga dikatakan musik ini adalah musik yang tanpa cacat sesuai dengan selera Tuhan (itu mungkin pengharapan eskatologis. ini tidak berarti bahwa karena semua musik toh tidak ada yang sempurna. kekudusan. selalu merupakan campuran antara yang baik dari Tuhan dan kelemahan manusia yang berdosa. Sebaliknya.[5] Sekali lagi saya menghimbau.[3] Demikian halnya dengan musik. sekali lagi. keadilan. Sampai di sini saya ingin share apa yang saya pelajari dalam pergumulan pribadi saya mengikut Tuhan khususnya dalam integrasi Firman Tuhan dan musik.

yang tadinya saya sukai dan gemari berdasarkan selera pribadi saya. memang ketika saya tidak mempercayai-Nya sebagai kebenaran yang subyektif (maksudnya hal itu juga saya imani secara pribadi). karena itu diturunkan dari atas. Adalah suatu kebohongan dari dunia ini bahwa segala sesuatu yang kita percaya dan kita anggap benar semata-mata adalah kepercayaan serta pandangan subyektif yang tidak ada dasar obyektivitasnya sama sekali. Hanya saja. sekarang saya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna dan tidak membangun. dengan menggantikannya dengan sikap “ah. Yesus tetap adalah Tuhan. pantesan engkau menyebut Dia Tuhan. tidak mendengar pembentukan kebudayaan cerita-cerita sekolah minggu sejak kecil? Saya percaya tidak sedikit dan saya percaya masih banyak yang akan menyusul. dari Bapa segala terang. Ketidak-percayaan terhadap pencarian kebenaran yang bersifat obyektif ini. Kita menganggap Roh Kudus tidak cukup berkuasa untuk memimpin kita ke dalam kebenaran yang sejati seperti dijanjikan Yesus. bukannya tidak boleh (1Kor. tidak ada kepalsuan di dalam-Nya. karena pandangan hidup kebebasan Kristen bukan persoalan boleh – tidak boleh. 16:13). itu kan selera kamu.[6] atau sederhananya: “kebenaran yang sejati”. itu kan pandangan subyektif kamu belaka” adalah suatu penghinaan terhadap Allah Roh Kudus yang dijanjikan oleh Yesus Kristus sebagai yang “akan memimpin kamu dalam seluruh kebenaran” (Yoh.sebenarnya adalah merupakan produk selera subyektif kita. Ada musik-musik tertentu – mungkin terlalu general mengatakan musik-musik tertentu – katakanlah lagu-lagu tertentu. kebenaran itu tidak menjadi kebenaran yang menyelamatkan saya. ada saat-saat yang menyakitkan dalam kehidupan saya di mana saya harus belajar melepaskan selera saya yang tidak kudus dan menggantikannya dengan yang lebih baik yang Tuhan sediakan. maka berdasarkan prinsip ini kita juga bisa mengatakan: “Yesus Kristus adalah Tuhan bagimu. yang pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran (Yak. Pantes saja engkau berselera terhadap ajaran Yesus.” Berapa banyak di antara kita di sini yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat namun tidak dibesarkan dalam keluarga Kristen.” Yesus Kristus Tuhan adalah suatu fakta kebenaran obyektif yang tidak dipengaruhi oleh kepercayaan subyektif saya sebagai orang Kristen. “Entah saya percaya Yesus sebagai Tuhan atau tidak. 10:23). melainkan bahwa di dalam kebebasan saya sebagai orang percaya. Apakah Yesus baru menjadi Tuhan lantaran bias subyektif kita sebagai orang Kristen? Kita berani berkata. orang yang masih percaya seperti itu adalah orang-orang yang tidak jujur dan sedang berbohong! Kalau boleh sedikit saya sharing dari perjalanan hidup saya pribadi. saya . This is a very serious sin! Dan yang lebih kacau adalah: dunia menuduh bahwa orang yang masih mempertahankan iman yang sederhana bahwa ada kebenaran transendental yang terlepas dari selera subyektif kita. itu karena engkau dibesarkan sejak kecil dalam keluarga Kristen. namun bahwa itu tetap adalah kebenaran adalah suatu fakta yang tidak dapat diubah (meskipun saya tidak mempercayainya). 1:17).

My conscience is captive to the Word of God. hari ini sampai di sini dulu. sarananya. [4] Kita dapat memberi analogi di sini yaitu theologi. saya belajar untuk menyangkal diri dan mengubah selera saya yang tidak selalu benar dan kudus. Pandangan etika seperti ini bersifat reduktif dan karena itu kurang komprehensif dan integratif. Theologi pun merupakan hasil karya manusia yang berdosa yang berusaha untuk taat serta merefleksikan Firman Tuhan dalam kehidupan yang sementara ini. Ada theologi dengan tingkat kerusakan minor. Ah. ada hal-hal yang tadinya saya sangat tidak berselera untuk melakukannya. banyak pemikir postmodernist sekuler yang menganut pandangan seperti ini (saya mengatakan sekuler karena tidak semua pemikir kontemporer menyembah ilah zamannya. berharga dan nikmat yang Tuhan sediakan bagi saya.. Namun ini tidak berarti bahwa semua theologi pasti sama dan semuanya relatif adanya. masih ada sebagian pemikir yang mempertahankan iman yang sederhana kepada ajaran Alkitab sembari terus kritis menyikapi Zeitgeist yang ditawarkan oleh dunia ini). sudah tiga halaman lebih saya menulis. ada hal yang jauh lebih indah.tidak memerlukan hal itu lagi. setara dengan Alkitab. [6] Maafkan keterbatasan bahasa saya. jalannya. 10:10). ________________________________________ [1] Sebenarnya pandangan yang hanya menekankan the ultimate goal dalam disiplin ilmu disebut teleological ethics. .. deontological ethics (it is the right thing to do) maupun situation ethics (yang menekankan motivasi kasih) memiliki kelemahan serta kesempitannya masing-masing. Pandangan utilitarianisme sangat dekat dengan konsep seperti ini. caranya. [2] Kembali di sini kita melihat bahwa baik teleological ethics. Tidak ada theologi yang sempurna. [3] Orang suka mengatakan tentang hal ini “Jam rusak pun dalam satu hari paling sedikit cocok dua kali”. ada manfaat dan hasil yang terlihat. jika di sini terpaksa menggunakan kutub “subyektif-obyektif” yang sangat berbau Cartesian untuk menjelaskan tentang iman Kristen. Hopefully. whatever it is. Di sisi yang lain. yang dapat dikatakan infallible. Kecenderungan konsep demikian adalah: yang penting tujuannya baik. namun karena saya mengetahui bahwa itu adalah perintah Tuhan. Kiranya Tuhan sumber segala berkat mengaruniakan kepada kita sekalian hidup dalam segala kelimpahan (Yoh. ada pula theologi yang – kita sungguh dibuat sangat bingung – mengapa hal seperti itu masih bisa disebut theologi! [5] Indeed. ada theologi dengan tingkat kerusakan sangat parah. for to go against conscience is neither right nor safe (Luther at the Imperial Diet of Worms) . next time masih bisa sharing lagi. doesn’t matter.

Jika tidak relevan membicarakan apakah suatu kebudayaan merupakan suatu kebudayaan yang baik.C. otomatis menjadi lagu Kristen yang baik dan memuliakan Allah.IMAN KRISTEN DAN MUSIK Bag. maka seluruh pembicaraan tentang transformasi kebudayaan adalah sia-sia dan juga tidak relevan.S. Sebagaimana kita tahu.. on Wednesday. 10 June 2009 at 08:22 Iman Kristen dan Musik (4) Pada bagian 1-3 kita sudah membahas bahwa kebudayaan tidak bebas dari nilai moral.S. 4-7 (Pdt. Kita dapat memberikan satu argumentasi lagi dari Alkitab sendiri bahwa bagi Allah . Yang paling banyak dipikirkan dalam pandangan seperti ini adalah: ya. karena yang disebut mandat budaya adalah pengaruh filsafat Firman Tuhan yang dipancarkan dalam kebudayaan yang bersifat transformatif.) by Pdt. M.Mus. Jika kita percaya kebudayaan bersifat netral maka konsekuensi logisnya adalah kita sebagai orang Kristen tidak perlu menjalankan mandat budaya. Billy Kristanto. Dipl. Dalam tulisan yang lalu kita juga sudah membahas bahwa dengan menguji telos saja sebenarnya bersifat reduktif dan akhirnya salah.[1] Pandangan seperti ini sayangnya banyak dianut oleh kaum Injili. maka musik otomatis akan mengalami transformasi. banyak dipengaruhi sifat dosa.Mus. Ini mirip dengan orang yang menggumulkan bagaimana mentransformasi dunia pekerjaan berdasarkan prinsip Kristen dengan mengadakan persekutuan kantor atau berdoa sebelum saya memulai pekerjaan. adalah lebih baik bagi kita untuk lebih mengikuti Alkitab daripada ajaran-ajaran dunia seperti utilitarianism dan pragmatism. kudus dan berkenan kepada Allah atau sebaliknya buruk. Billy Kristanto. Pandangan seperti ini sebenarnya dangkal dan kurang bertanggungjawab. Asal di dalamnya ada teks firman Tuhan. beri saja teks firman Tuhan di dalamnya. Sama seperti di atas jika kita menerima pandangan musik netral sepenuhnya (hal mana sebenarnya sulit untuk dipertahankan dengan dasar alkitabiah) maka pembicaraan tranformasi kuasa Firman Tuhan di dalam musik juga tidak terlalu relevan.[2] Saya pikir sebagai orang Kristen. musik termasuk atau menjadi bagian dari kebudayaan manusia.C. Tidak ada kebudayaan yang netral.. Dipl. Setiap reduksi yang dipertahankan akan selalu membawa kerugian bagi kita dan orang-orang yang kita layani karena ini sama dengan menolak pertumbuhan yang sedang dikerjakan oleh Tuhan. merusak dsb. Banyak ajaran-ajaran yang seolah-olah berasal dari Alkitab namun tanpa kita sadar sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh filsafat-filsafat dunia. M.

18:6) Yang terbaik dari buah bungaran hasil tanahmu haruslah kaubawa ke dalam rumah TUHAN. tapi Alkitab membicarakan tentang apa itu keindahan. melainkan juga termasuk apa yang dipersembahkan itu sendiri harus diuji. Pandangan demikian bukan ajaran Alkitab karena Alkitab memberitakan tentang diversitas atau keaneka-ragaman. Allahmu. filsafat keindahan menurut sudut pandang Alkitab dan bahwa seni tidak mungkin terlepas dari filsafat keindahan (atau filsafat ketidakindahan) yang ada di dalamnya. Pandangan ini berasal dari filsafat kontemporer yang merupakan pendulum sebaliknya dari modernism. Allah Tritunggal adalah Allah di dalam tiga Pribadi. Namun di sisi yang lain. Dalam study saya pribadi saya mempelajari bahwa memang tidak ada satu-satunya zaman yang menghasilkan estetika musik yang alkitabiah. Memang tidak. Tidak semua layak dipersembahkan kepada Tuhan. yang tidak bercacat (Im. Kalau kita menerima ajaran Alkitab kita akan sangat berhati-hati uniformitas seperti diajarkan dalam modernism (hanya ada satu-satunya jenis musik yang benar dan Alkitabiah). kita juga tidak menerima pandangan pluralisme radikal yang mengatakan bahwa semua jenis musik dapat dipergunakan. Di sini kita melihat bahwa bukan hanya tujuannya yang perlu diuji dan diperhatikan. 22:21). Janganlah engkau masak anak kambing dalam susu induknya (Kel. Beberapa ini contoh dari firman Tuhan bahwa orang-orang saleh mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan: Abraham mempersembahkan roti bundar dari tiga sukat tepung yang terbaik (Kej. Janganlah kaumasak anak kambing dalam susu induknya (Kel. Bagian inilah yang bisa dibenturkan (baca: diuji berdasarkan firman Tuhan). Kita tahu bahwa Alkitab memang membicarakan pluralitas tapi Alkitab memberitakan pluralitas yang terbatas. Allahmu. bukan satu-satunya Pribadi. 34:26) Apabila seseorang hendak mempersembahkan persembahan berupa korban sajian kepada TUHAN. Tidak cukup hanya dengan menguji asal tujuan dan motivasinya saja benar. Sekarang pertanyaannya: bagaimana kita bisa menguji musik itu sendiri sebagai apa yang kita persembahkan kepada Tuhan? Karena sebagaimana sering dikatakan: Alkitab tidak membicarakan nada-nada.bukanlah hal yang basa-basi ketika Ia menuntut agar yang dipersembahkan kepadaNya adalah korban domba yang tidak bercela. . demikian juga motivasi saja tidak cukup. dan juga tidak perlu. 23:19) Yang terbaik dari buah bungaran hasil tanahmu haruslah kaubawa ke dalam rumah TUHAN. 2:1) Dan masih banyak ayat-ayat lainnya yang mengatakan bahwa apa yang kita persembahkan kepada Tuhan juga harus kita uji. hendaklah persembahannya itu tepung yang terbaik dan ia harus menuangkan minyak serta membubuhkan kemenyan ke atasnya (Im.

Tidak ada satu-satunya jenis musik yang benar dan Alkitabiah (modern uniformitas). namun mungkin ada 1 argumentasi lagi yang mirip dengan yang di atas dan sebenarnya juga konyol. . Tanggapan: wig (rambut palsu) sama sekali tidak berperan dalam komposisi yang alkitabiah atau tidak. Tanggapan: argumentasi ini lebih mengada-ada dan konyol. Persoalannya bukan mengenai musik masa lampau dan musik kontemporer. Yang dari Barat bisa alkitabiah bisa tidak. namun banyak diterima yaitu: Bach adalah komponis zaman Barock. Tanggapan: penyelidikan ‘etimologis’ seperti ini tampaknya tidak terlalu berguna dan mengada-ada. misalnya:[4] Bach adalah komponis Jerman dan Cage komponis Amerika. melainkan pengujian estetis menurut terang firman Tuhan. yang dari Timur bisa alkitabiah bisa juga tidak. Argumentasi ini konyol karena yang alkitabiah bisa terjadi di masa lampau maupun di masa sekarang. dengan demikian lebih menyatakan kehidupan Kristen yang seharusnya mengalirkan berkat. Demikian kita dapat menambahkan beberapa argumentasi konyol yang lain. Bach dimulai dengan huruf B seperti kata “better” sementara Cage dengan huruf C seperti “chaotic”. Bach. mengakomodasi semua pluralitas tanpa merefleksikan atau mengujinya apakah keanekaragaman itu dibenarkan oleh Firman Tuhan atau tidak. sebagai seseorang yang hidup di zaman Barock lebih banyak menggunakan wig (rambut palsu) daripada Cage yang hidup di zaman kita. Tanpa karunia ini Gereja akan tersesat ke dalam pluralisme radikal. sebaliknya juga tidak benar mengatakan semua jenis musik adalah benar dan kudus (unreflected pluralism kontemporer). Tanggapan: argumentasi ini tidak dapat diterima karena yang alkitabiah tidak ditentukan oleh ras atau bangsa tertentu. S. Saya coba sharing dari beberapa karya musik di mana kita dapat menguji bahwa ada estetika yang dipengaruhi oleh Alkitab atau wahyu umum. sementara yang rusak dan yang melawan Alkitab juga bisa terjadi di masa lampau dan juga masa sekarang. Dalam musik berlaku prinsip yang sama. Bach dan John Cage. Bach artinya sungai kecil.[3] Ada beberapa argumentasi yang salah untuk menilai bahwa Bach pasti lebih baik daripada Cage. sebenarnya hanya merupakan respons simetris dari kesalahan modernism. Dalam zaman seperti ini saya percaya salah satu karunia yang sangat penting adalah karunia membedakan bermacam-macam roh (1Kor. maka seperti belum ditebus. sementara Cage artinya adalah kurungan alias tidak bebas. Dua tokoh yang coba untuk dinilai di sini adalah J. ada juga yang sebenarnya dipengaruhi bukan oleh filsafat sekuler yang tidak setia kepada Alkitab. 12:10). dengan demikian ia adalah tradisional sementara Cage adalah komponis kontemporer. saya kuatir. Perdebatan musik yang berkecimpung antara musik tradisional dan kontemporer sebenarnya membuang-buang tenaga yang seharusnya bisa dipergunakan untuk mengerjakan hal-hal yang lebih baik bagi Tuhan.Menerima semua pluralitas.

Bonhoeffer (seorang theolog dan juga seorang pianis yang berbakat) pernah menjelaskan tentang kasih dengan mengatakan bahwa kasih kita kepada Kristus seperti cantus firmus sedangkan kasih kepada sesama adalah seperti polyphonic counterpoint yang dirajut berdasarkan cantus firmus itu. dan terutama belakangan ini Jeremy Begbie (Cambridge). melainkan karena tradisi kebudayaan mereka banyak dipengaruhi oleh Alkitab sehingga kebudayaan yang dihasilkan juga memiliki kualitas yang tinggi. Ide “musical happenings” ini merupakan produk estetika postmodern non-intentionality (yang rusak dan melawan Alkitab). ‘musik’ yang dihasilkan darinya tidak pernah mungkin bisa dikontrol (kita tidak tahu gelombang hari itu mengeluarkan bunyi apa). atau Imaginary Landscape No. suatu bentuk negasi atau . malahan dia sendiri belajar hal ini dari komponis-komponis sebelum dia. penarikan seperti ini sangat mungkin karena banyak karya musik dari tradisi Barat yang sangat dipengaruhi oleh estetika alkitabiah. D. anti-otoritarianisme.[5] Di samping itu kita juga melihat bahwa di Barat juga banyak kebudayaan yang dihasilkan dari spirit yang melawan Tuhan (mis. Apa yang dikatakan Bonhoeffer sebenarnya bukan dari pemikiran dia sendiri. Ini tidak menyatakan bahwa Barat lebih superior dari Timur. theolog yang kadang-kadang membicarakan integrasi antara theologi dan musik adalah Karl Barth. Yang dilakukan Bonhoeffer sebenarnya hanya menggunakan insight musical untuk menjelaskan theologinya. yang juga tercermin dalam karya seni mereka. juga dari Barat. Karya seperti HPSCHD menggambarkan kompleksitas kehidupan (yang fragmented dan tidak perlu ada integrasi). Bach bukanlah satu-satunya komponis yang menggunakan teknik ini. Hans Urs von Balthasar. Pada karya yang terakhir ini sekalipun Cage memberikan instruksi bagi para ‘pemain’ radio itu. egalitarianisme. Bach yang rada old-fashioned itu masih menggunakan teknik komposisi polyphonic music dengan cantus firmus sebagaimana digunakan dalam zaman sebelumnya (Renaissance dan middle ages). Kebudayaan yang dipengaruhi oleh filsafat Firman Tuhan pasti lebih tinggi (lebih baik. konsumerisme. hedonisme. misalnya karya ‘monumental’nya yaitu 4’33’’. Musik seperti itu indah (menurut pengertian Alkitab) karena dipengaruhi oleh estetika yang alkitabiah. materialisme. lebih kudus. melainkan yang terjadi lebih dahulu adalah estetika kristologis (Kristus sebagai fokus yang mempersatukan keaneka-ragaman) mewarnai penggarapan musik mulai dari abad pertengahan dan diteruskan sampai kepada Bach. Selain Bonhoeffer.Seperti kita tahu. lebih membangun) daripada yang dipengaruhi oleh filsafat yang melawan Tuhan. Sekarang kita coba melihat karya John Cage. 4 yang ditulis untuk 12 radio. dll). Begbie berusaha untuk menelaah lebih banyak musical language untuk memberikan insights bagi theologi. violence. Bagi saya pribadi. sementara insight musical itu sendiri dipengaruhi oleh pemikiran dari Alkitab.[6] Atau karya lain yang diberi judul HPSCHD di mana 7 pemain harpsichord sekaligus memainkan cuplikan dari karya Cage secara ‘kebetulan’ (chance-determined) ditambah dengan suara-suara elektronik yang lain. lebih indah.

tidak perlu banyak belajar. Tiga hal ini dicatat oleh Alkitab sendiri. Yang saya maksud adalah kalau kita mau memikirkan theology of work secara komprehensif. dan dia juga selalu memiliki motivasi yang benar.perlawanan terhadap one single opinion.. 5:21). Cage sendiri banyak dipengaruhi oleh estetika Taoisme dan Zen Buddhism. namun Alkitab memerintahkan kita untuk “menguji segala sesuatu dan memegang yang baik” (1Tes. [2] Mengenai pandangan telos seperti yang banyak dianut saat ini sebenarnya merupakan pengaruh dari filsafat utilitarianisme dan pragmatisme. Jimmy tentang cultural elitist. [3] Untuk membereskan kesalah-pahaman pandangan karikatural bahwa semua musik ‘klasik’ pasti baik dan bermutu. Inilah yang membuat musik tidak mungkin netral. tidak perlu banyak . pikul salib. perbandingan ini akan menyatakan bahwa tidak semua musik dari tradisi ‘klassik’ selalu baik dan membangun. dll. saya pikir kita perlu membacanya dengan double perspective: di satu sisi para elitists bersalah karena kecenderungan menghina/merendahkan mereka yang memiliki kebudayaan yang lebih rendah karena ini sebenarnya merupakan penyangkalan dari theologi anugerah: “Apakah yang engkau miliki yang tidak engkau terima (dari Tuhan)?” . itu dapat menjadi hal yang menjadi berkat. Pekerjaan itu sendiri harus menjadi suatu ibadah di hadapan Tuhan. pengujian seperti ini sangat melelahkan dan dalam natur kita yang lemah kita lebih suka (saya juga!) mencari jalan yang mudah. Entah kita mau membicarakannya dalam konteks etika Kristen atau tidak.. jalan yang lebar. Yesus Kristus tidak hanya memiliki telos yang benar. ________________________________________ [1] Tentunya tidak salah mengadakan persekutuan kantor atau berdoa sebelum bekerja. yang jelas ALKITAB membicarakan lebih daripada sekadar tinjauan teleologis.[7] Melakukan pengujian seperti ini selalu tidak mudah dan terutama di zaman yang serba instant. Tidak ada yang bebas dari konsep estetika. over-simplifikasi. musik bi-tonality. tidak perlu banyak bergumul. karena itu berarti dictatorship.. tidak cukup hanya dengan mengadakan persekutuan kantor saja (memasukkan life sphere ibadah dalam dunia pekerjaan). silahkan bagian ini diskip dan langsung saja pada argumentasi terakhir di akhir paragraf:) [5] Menanggapi pernyataan Sdr. demikian juga dengan jenis musik yang lain. Pengujian estetis yang sama kita bisa lakukan terhadap lukisan (abstract) expressionism dari Polluck misalnya atau ekspresionisme dalam musik Schoenberg. mau langsung jadi. Dia juga selalu mengerjakan serta mempersembahkan hal yang benar (ini bukan aspek telos tapi merupakan aspek yang lain). yang tidak perlu banyak bergumul. Sekarang banyak orang berpikir “atas nama pluralitas” kita melakukan ‘pemutihan’. terlepas dari etika membicarakan ini atau tidak. [4] Bagi mereka yang sibuk dan terlalu serius. Seorang filsuf bahkan menelusuri kemiripan estetika Cage dengan filsafat dari Martin Heidegger. penetralan segala sesuatu.

dengan suatu penggarapan konsep estetika yang berbeda sebagaimana dimengerti oleh zaman-zaman selanjutnya. satu suara tanpa iringan. sebagai salah satu modus dalam hidup manusia. Salah satu aspek . harus dikuduskan dan tidak layak dipergunakan untuk memuji Tuhan. meskipun tentunya bisa dinyanyikan bersama-sama. kata-kata yang mengekspresikan kebencian yang berdosa. kita tahu bahwa dalam bahasa apa pun di dunia ini ada kata-kata makian. kata-kata yang menghujat dsb. Kata-kata atau kalimat-kalimat tersebut tidak mungkin tidak. Emmanuel. [6] Tidak sulit untuk membayangkan karya ini: seorang performer berdiri di atas panggung selama empat menit tigapuluhtiga detik tanpa memainkan suatu nada. Dalam ibadah. Bahasa pun (meskipun sekali lagi sebagai analogi untuk musik sangat lemah dan tidak memadai) ternyata tidak senetral yang kita pikirkan. Lagu-lagu Gregorian ditulis monophonic. tidak luput dari pencemaran dosa. Sayang warisan seni dalam bidang musik tidak banyak dirayakan dibandingkan dengan seni-seni yang lain (kemungkinan besar kita akan lebih kagum memandangi Kathedral di Köln. Bahasa juga perlu dikuduskan oleh Firman Tuhan. tanpa melodi tandingan. O come. Iman Kristen dan Musik (5) Hari ini saya ingin sharing sedikit tentang perkembangan musik yang terjadi di zaman Middle Ages. sedikit sekali (kalau tidak mau dikatakan hampir tidak ada) jenis-jenis lagu Gregorian yang masih dinyanyikan dalam ibadah. Jimmy kurang memadai untuk menggambarkan ketidaknetralan musik/seni/culture.Persoalan para elitists adalah kekurangan spirit inkarnasi. Tapi seandainya analogi ini (bahasa) tetap dipertahankan. Ulm. Mengatakan semua kebudayaan (musik termasuk di dalamnya) tidak memiliki perbedaan kualitas merupakan either ignorance atau penipuan diri. Ada keindahan tersendiri dalam karya-karya ini. Bahasa. apalagi dalam kalangan gereja-gereja Injili. Mungkin hampir satu-satunya yang paling populer adalah O come. Yang terdengar di situ adalah mungkin suara audience yang sedang gelisah dan iri terhadap seorang musician yang makan gaji buta. [7] Analogi bahasa seperti diusulkan oleh Sdr. Beberapa orang bahkan mengatakan jenis musik seperti ini sebenarnya masih belum berkembang alias primitif sehingga sulit untuk diapresiasi. Sainte-Chapelle di Paris atau Duomo di Milano daripada mendengarkan sebuah Gregorian Chant). namun di sisi yang lain pandangan yang mengatakan bahwa kebudayaan tertentu memang higher dan lebih berkualitas/bermutu daripada kebudayaan yang lain adalah pendapat yang tidak salah.

Potensi sedemikian hanya mungkin terjadi dari bahan dasar yang memiliki kualitas yang cukup untuk dikembangkan. Perotinus dan Guillaume de Machaut pada zaman Abad Pertengahan. kekudusan. Modus-modus yang beraneka ragam ini bagaikan warna dalam sebuah lukisan.estetika yang ditonjolkan dalam karya-karya ini adalah kesederhanaan iman (simplicity of faith) yang dituangkan dalam gaya musik satu suara. Kita bisa membandingkannya dengan pemikiran-pemikiran yang besar biasanya ditandai dengan tidak berhentinya pikiran-pikiran tersebut. keindahan estetika dalam musik ini adalah terkandungnya potensi yang besar untuk berkembang/dikembangkan. melainkan merangsang pendengarnya untuk terus menggumulkan. kita cenderung kurang menghargai Allah. kemuliaan dan kebesaran Allah yang dimengerti secara antitetis dengan keadaan manusia sebagai ciptaan yang kecil. Penggunaan tangga nada modus dan bukan mayor-minor seperti yang ada pada zaman-zaman selanjutnya juga memiliki keunikan tersendiri. dan merenungkannya lebih lanjut. Selain kesederhanaan iman yang dituangkan dalam gaya musik monophonic dan kekayaan nuansa dalam tangga nada modus. khususnya dalam gerakan monastik. Selain kesederhanaan iman. Konsep transendensi Allah seperti diajarkan oleh Alkitab penting untuk terus diberitakan. hina dan berdosa (Yes. Konsep transendensi dalam Gregorian Chant ini erat hubungannya dengan eschatological character. kekayaan nuansa dalam tangga nada modus dan kemungkinan potensi untuk terus berkembang. tidak hanya memberikan solusi how-to terhadap pergumulan hidup seseorang. 6:1-5). Bahkan komponis-komponis Renaissance awal masih berpikir dalam tatanan tangga nada modus. dan juga sejalan dengan komposisi arsitektural yang ternyata dalam katedral-katedral Gotik yang menjulang tinggi ke atas. sulit untuk ditandingi dengan musik-musik polyphonic atau homophonic (meskipun tentunya karya-karya polyphonic dan homophonic memiliki keunikannya tersendiri yang juga sulit untuk diterapkan dalam karya seperti Gregorian chant). memikirkan. Konsep transendensi Allah ini sejalan dengan perkembangan Theologia Mistik dalam abad pertengahan (sebagian sangat baik sebagian lagi tidak). Khotbah-khotbah yang baik juga demikian. Kita tahu bahwa Gregorian Chant ini menjadi inspirasi karya-karya polyphonic di kemudian hari dalam penggarapan teknik komposisi cantus firmus (melodi utama) seperti ternyata dalam karya Leoninus. Tangga nada modus to certain extent menyajikan perbedaan yang lebih kaya dibandingkan tangga nada mayor-minor (yang hanya dua macam). karena hanya dengan menekankan imanensi-Nya (kedekatan) saja. other-worldly nuance yang terdapat dalam karya-karya ini. musik-musik Gregorian Chant juga menonjolkan aspek transendensi Allah. Tidak heran jika banyak musikus-musikus kontemporer yang mencoba untuk menimba dari Gregorian Chant . melainkan dengan memberikan inspirasi kepada yang membacanya untuk bukan hanya mengolah melainkan juga mengembangkannya lebih lanjut. meskipun mereka sudah menulis musik polyphonic yang progresif.

dll). musik-musik new age. literatur... Yang ironis adalah. karena presuposisi dasarnya memang melawan Alkitab. orang-orang Kristen sendiri tidak tahu bagaimana harus menghargai tradisi musik yang sangat berharga ini dan menggunakannya untuk tujuan yang mulia.. Transendensi Allah.. Jikalau Kekristenan tidak tahu menghargai tradisi yang baik sebagaimana pernah Tuhan karuniakan dalam sejarah Gereja. techno dan bahkan black metal menimba inspirasi dari Gregorian Chant. Kiranya Tuhan menguatkan dan menolong kita yang sangat lemah. New age aesthetics mengajarkan bad and wrong aesthetics. tanpa melakukan suatu pengujian yang bertanggung jawab sebagai seorang percaya yang mengaku dan berkomitmen untuk taat kepada Firman Tuhan. Jimmy—S dan Pdt. saya khawatir kita akan mencoba pendekatan trial and error terhadap semua jenis culture yang ada. pengembangan diri ala new age. saya angkat topi untuk upaya kamu meninjau masalah ini dari seluruh dimensi yang penting. kamu sangat bertanggung jawab dan serius mendalami hal ini. Kami semua dapat belajar banyak dari kamu. another rare jewel in our post-industrial era yang dengan pandangan reduktifnya memperlakukan manusia sebagai mesin produksi. Sekaligus jenis musik seperti ini juga dapat menjadi alternatif tandingan terhadap new age culture (baik itu praktek-praktek meditasi transendental.untuk meminjam suasana mistik yang ada di dalamnya. B: Saya pikir diskusi ini juga mempertajam dan memperjelas kesimpangsiuran konsep . Kehausan spiritualitas di dalam zaman kita (saya percaya bukan hanya di Barat tapi di Timur juga) tidak dapat ditutup-tutupi lagi. Estetika yang keliru dan berdosa akan menghasilkan musik yang keliru dan berdosa. Penghayatan iman seperti ini berkait erat dengan suatu hidup yang berserah sepenuhnya (absolute surrender/totale Gelassenheit).. Soli Deo Gloria. Sola Gratia. pengolahannya dalam film. Beberapa groups pop and rock. Tidak disangkal lagi. Billy Kristanto—B) J: Sekali lagi.... kesadaran eskatologis (bahwa kita hanya sementara berada dalam dunia yang fana ini) dan other-worldly character dari Gregorian Chant memiliki keindahan estetika yang unik yang memperkaya pengertian iman Kristen. Iman Kristen dan Musik (6)—Diskusi (Sdr. Pembahasan kamu menyegarkan motivasi saya untuk belajar lebih serius lagi.

Alkitab membicarakan tentang estetika. relativisme. B: As you already noticed. pengujian musik yang good or bad. Sedangkan saya berangkat dari preferensi musikal manusianya. Mungkin inilah perbedaan kita berdua. sekalipun mungkin kita belum bisa 100% sependapat. terlepas dari pendapat saya sebagai manusia yang berdosa dan tidak sempurna. Apa yang indah adalah apa yang kudus dan apa yang benar. Preferensi musikal ini berangkat dari diri sebagai subyek yang menyukai musik tertentu (saya suka musik A. musik yang tidak indah adalah tidak kudus dan tidak benar. Di sini kita langsung berbeda dengan para relativist yang mengatakan bahwa indah adalah persoalan selera. kamu musik B. J: Satu pertanyaan saja karena saya belum menemukan jawabannya secara lugas dalam pembahasan kamu: Apa properties dari suatu jenis musik yang memungkinkan kita melakukan pengkategorian musik yang kudus atau tidak (selain teks. Alkitab memberikan prinsip-prinsip tentang apa itu keindahan.[1] Pengujian ini terutama dilakukan dengan menyelidiki estetika musik tersebut. maka ada kemungkinan bahwa jenis musik tertentu (seperti Klasik) adalah high-art. Kalau kita mulai starting point dari diri (padahal kita tahu diri kita berdosa dan tidak sempurna) maka yang akan terjadi adalah “you can choose whatever you like. Dengan kata lain. ya. dsb). Musicology yang dimulai dengan starting point diri bukan jalan dari Alkitab tetapi dari Descartes and co. atau lebih baik: better and worst.[2] Tentang approach (pendekatan) tentunya bisa beraneka-ragam dan tidak mutlak. Sehingga musik yang indah (menurut kriteria Alkitab) dapat juga dikatakan kudus. apalagi)? Saya setuju bahwa dari sudut pandang estetika. kita percaya bahwa terlepas dari selera musik saya secara pribadi. Starting point dari diri (manusia) pasti tidak akan ada jalan temu karena setiap orang mempunyai pendapatnya sendiri-sendiri. skeptisisme. namun kita harus selalu ingat bahwa ketika kita membicarakan “starting point” (bukan “approach”) maka hanya ada satu-satunya starting point yaitu penilaian dari Alkitab sendiri. keadilan. Menurut Filipi 4:8 ada kaitan antara keindahan (aspek estetik) dengan kebenaran. Sebaliknya ketika kita melakukan penyelidikan estetis. what you think is best and good for you”. Kita tahu bahwa pengaruh Descartes dan Kant (yang mulai dari diri manusia sebagai subyek) hanya membawa kepada agnostisisme. Persoalan berangkat dari preferensi musikal bagi saya adalah ini bukan hanya sekadar perbedaan approach (which I have no problem at all with). Kamu berangkat dari estetika.tentang musik gerejawi yang banyak dianut. Pandangan itu bukan . dan terakhir (menurut Hauerwas) nihilism. yang lain lagi musik C dan seterusnya). Dengan kata lain starting pointnya masih berada di bawah tradisi filsafat Cartesian (Rene Descartes). melainkan sudah berurusan dengan “starting point”. kemuliaan. kesucian. tidak bisa diuji etc.

kita perlu mengetahui biografinya. dsbnya. Atau kalau mempelajari estetika komponis tertentu. Bagaimana kita menguji estetika suatu musik tertentu.pandangan Alkitab tapi pandangan filsafat dunia. apakah dengan demikian kita seharusnya berdoa/berkomunikasi kepada Tuhan dalam bahasa Yunani/Inggris/Mandarin ketimbang Indonesia karena Indonesia lebih inferior? B: Kamu mengangkat satu point yang penting di sini (“higher culture”) yang saya percaya akan semakin memperjelas diskusi ini. yang tidak indah tidak kudus dan tidak benar. seberapa jauh? Berapa banyak penyimpangannya? Konsep estetika ini berkaitan dengan penggarapan yang terjadi dalam 5 musical parameter dasar (harmoni. Mengenai “higher culture” ini saya ada beberapa tanggapan: 1. kebudayaan dsb). ritme. Estetika tidak relatif menurut konsep Alkitab. kepercayaan atau ideologi yang dia anut (saya sudah sharingkan secara singkat di tulisan yang terdahulu tentang John Cage misalnya yang banyak dipengaruhi oleh ZenBuddhism). Dan kalau kita menerima pandangan Alkitab tentang keindahan (bukan pandangan relativisme). dinamika dan suara [Klang]). Yang indah adalah kudus dan benar. Dengan kata lain. suatu karya komponis tertentu? Untuk suatu pengujian yang lebih kompleks dan komprehensif kita perlu untuk mempelajari musik tersebut terbentuk dari latar belakang yang bagaimana (di sini diperlukan studi interdisipliner bidang-bidang yang lain seperti sosiologi. there is better aesthetics and worst aesthetics. Pembedaan high and low arts bisa membawa orang terjebak dalam spirit cultural . Dengan demikian musik tidak mungkin netral. filsafat. Sementara bahasa Yunani mungkin lebih tinggi daripada bahasa Inggris. Saya pribadi lebih suka menggunakan istilah kebudayaan yang lebih kompleks/berbobot dan kebudayaan yang lebih sederhana. Estetika tertentu digarap dalam harmoni atau melodi tertentu yang merefleksikan estetika tadi (kembali dalam pembahasan tentang John Cage saya mencoba untuk mensharingkan kaitan antara estetika yang dianut oleh Cage dengan teknik penggarapan komposisi musiknya). adakah pengaruh estetika Kristen dalam tradisi ini? Jika ada. J: Analogi saya sederhana saja. kita tahu bahwa keindahan memiliki kriteria obyektif dalam suatu pengujian yang dilakukan di bawah terang Alkitab. atau lebih detail. Contohnya saja bahasa Inggris dan Indonesia lebih unggul Inggris karena memiliki tenses. Dalam dunia linguistik pun kita dapat menemukan beberapa bahasa yang jauh lebih tinggi dalam pengungkapan dan kedalaman makna. instead of high and low. Selain itu juga dia berada di bawah pengaruh tradisi apa. Ada pula yang bilang bahasa Mandarin lebih tinggi karena kandungan filosofis dalam perkawinan pelbagai karakter yang menghasilkan karakter baru. Namun. melodi.

“Yang terbaik” yang dimaksud di sini tentunya adalah “yang terbaik yang dapat saya berikan. karena bagi saya. Di sinilah perbedaan kita dengan para cultural elitists karena mereka (para elitists) akan mempertahankan ‘high’ arts dan menghina serta . kedua-duanya (musik yang kompleks atau yang sederhana) dapat dipakai oleh Tuhan. Sebaliknya jika kita mengikuti Alkitab. melainkan estetika yang benar atau tidak. Yang penting di sini adalah setiap orang harus jujur dan mengenal diri dengan benar. Yang menjadi persoalan bukanlah tingkat kompleksitas musiknya. Persoalan yang terjadi pada cultural elitist adalah tidak mengerti bahwa setiap orang memiliki takaran yang berbeda-beda dari Tuhan. sesuai dengan takaran yang Tuhan percayakan pada saya. Dalam takaran pun terjadi progresi. merupakan ketidak-mengertian terhadap theology of grace. and yet bad aesthetics (seperti John Cage misalnya). 2. Alkitab juga mengajarkan bahwa mereka yang setia dalam perkara kecil akan dipercayakan perkara yang lebih besar. dalam pengenalan akan firman Tuhan juga bisa merembet spirit pop-culture. I have no problem at all dengan estetika musik yang lebih sederhana. Point ini juga sama pentingnya dengan point ke-2. termasuk di dalamnya pengenalan theologis yang lebih dalam dan lebih kaya akan Firman Tuhan. 4. let say. “how-to Christianity” yang mau jawaban siap pakai (tanpa harus bergumul) menjadi karakteristik umum di zaman kita sekarang.elitist yang salah (menghina culture yang lebih rendah). kita harus dengan rendah hati untuk terus mau bertumbuh dengan dipercayakan perkara yang lebih besar oleh Tuhan. Ini termasuk dalam bagian pertumbuhan yang wajar dalam hidup Kristen. seperti sudah saya bahas sebelumnya. juga musik yang lebih berbobot dan lebih kompleks yang Tuhan ingin berikan kepada kita. namun concern saya sebagai orang percaya lebih berurusan dengan apakah suatu karya memiliki good or bad aesthetics daripada ‘high’ or ‘low’ aesthetics. 3. untuk mengecap ‘high’ education.[5] Spirit instant dan mau langsung jadi. Pembedaan ini penting karena adanya konsep takaran yang berbeda-beda bagi setiap orang. Sebaliknya ada musik yang lebih sederhana and good aesthetics. Namun ini tidak berarti bahwa takaran itu statis dan tidak dapat berubah.” Yang terbaik. Sebagai orang percaya kita mempertahankan yang good aesthetics dan membuang yang bad aesthetics (mengikuti anjuran Paulus untuk menguji segala sesuatu dan memegang yang baik [1Tes. dengan demikian. ‘high’ cultural living. Di sini saya sulit untuk menerima pop-culture karena salah satu kecenderungan yang sangat kuat dalam kebudayaan ini adalah spirit yang suka mempertahankan “lack of depth” yang menjadi karakteristiknya. karena tanpa pengertian ini kita cenderung menjadikan konsep takaran itu sebagai rasionalisasi untuk mempertahankan status quo alias keengganan untuk bertumbuh dan terus maju. Ada musik yang sangat kompleks estetikanya.[4] dalam filsafat pelayanan juga dapat dipengaruhi oleh pop-culture. Dalam tradisi Reformed theology orang lebih suka menggunakan istilah kebudayaan yang lebih kompleks di satu sisi dan lebih sederhana di sisi yang lain. Alkitab mengajarkan agar kita memberikan yang terbaik bagi Tuhan (motivasi. Sekalipun benar memang ada perbedaan seni yang lebih kompleks dan yang lebih sederhana. Tidak setiap orang diberikan takaran yang sama. ‘high’ civilization dsb.[3] Bukan hanya di dalam musik/seni saja. tujuan dan pemberiannya sendiri). 5:21]).

B: Jika ada seseorang yang dilahirkan dalam ‘bahasa musik’ New Age lalu dia ingin bertumbuh dalam ‘bahasa musik’nya itu dan menggunakannya dalam ibadah.. jika kita mau pakai musik kontemporer.. Saya melihat begini: mari kita pakai bahasa musik kita masingmasing.. quality saya letakan setelah diversity dan love. namun tetap terapkan striving for excellence within each categories. perdebatan musik dalam kategori ‘high – low’ arts totally miss the point.membuang ‘low’ arts. yang juga ada pada setiap bangsa/suku...[6] Mengenai analogi bahasa. karena yang dipersoalkan Alkitab adalah benar dan tidak benar. Jika analogi ini tetap mau dipaksakan juga. Ini yang membuat kategori jenis musik yang terakhir ini sangat tidak tepat jika dianalogikan dengan bahasa (karena kandungan nilai kepercayaannya yang sangat kuat).. Bagi kita.[7] Sementara jenis musik seperti Rock. Expressionism. dan perlu terus dikuduskan oleh Firman Tuhan. good aesthetics bisa ada pada karya seni yang kompleks maupun yang lebih sederhana. maka berikan musik kontemporer terbaik. itu memang ‘bahasa musik’ kamu …” karena saya tahu musik-musik seperti itu lahir dari pergumulan agamawi yang melawan Tuhan. bukanlah produk universal setiap bangsa (seperti keanekaragaman dalam etno musik misalnya).. bi-tonality. demikian juga halnya dengan bad aesthetics. B: Saya sependapat dengan kamu jika itu berurusan dengan estetika ‘tinggi – rendah’ . Mengapa? Karena bahasa lebih bersifat universal. bahkan agama tertentu. ‘Bahasa musik’ kita pun tidak netral. New Age.. J: Saya tidak menolak aspek keunggulan estetika namun itu menjadi tahap berikut. kudus dan tidak kudus (bukan tinggi atau rendah). bagaimana respons kita? Saya pribadi sulit dengan hati nurani yang jujur dan bertanggungjawab di hadapan Tuhan mengatakan “silahkan saja. makanya dalam credo saya. yang paling dasar yang ada pada setiap bangsa/suku. yang mungkin dapat menjadi perbandingan yang lebih tepat adalah dengan etno-musik. dll. Sama halnya dengan perdebatan musik trasional – kontemporer... melainkan merupakan kebudayaan yang lebih banyak berkait dengan ideologi. saya melihat kesamaan masalah bila kita juga apply cara pikir yang sama. bukan titik awal. J: Kembali ke ibadah. saya sudah pernah singgung bahwa analogi ini lemah dan tidak cukup untuk menggambarkan kompleksitas persoalan dalam pengujian estetika..

kemuliaan dsb. dan lebih detail lagi: bagian tertentu pada karya tertentu. Tuhan memberkati kita sekalian. Sulit untuk mendapati bahwa Firman Tuhan mengajarkan bahwa pluralitas dan kasih lebih dahulu daripada kebenaran. keindahan. karena dalam Firman Tuhan kita tidak mendapati bahwa keindahan (yang berkait dengan kebenaran. atau lebih detail lagi: per karya. atau yang lebih detail misalnya Barock Perancis. Ketika kita menomorduakan kebenaran (yang berkait dengan keindahan. tanpa mendahulukan yang satu dan mengesampingkan yang lain. Barock Jerman. dsb) boleh dibicarakan ‘belakangan’. [2] Penyelidikan estetis ini bisa terjadi dalam beberapa tahap tentunya. semuanya harus diuji. serial music. Dalam konteks yang pertama (good and bad aesthetics). Sudah saya bahas di atas bahwa concern kita lebih berurusan dengan good or bad music instead or ‘high/low’ (complex/simple). Maka kita lebih baik berbicara tentang musik yang lebih baik dan kurang baik. kemuliaan dsb) kita cenderung akan terjebak pada pluralisme yang diajarkan oleh dunia (bukan pluralitas yang diajarkan oleh Alkitab) dan kasih kita akan menjadi kasih yang tidak berkait dengan pengertian (blind love). keindahan. In Christ.[8] Bagi saya. Sebaliknya hanya menekankan ‘kebenaran’ tanpa bisa menerima keaneka-ragaman di dalam kasih juga bukanlah merupakan pengenalan kebenaran yang sejati. kekudusan tidak mungkin dipisahkan dari kasih. one of the greatest sinners. kekudusan. Mengenal kebenaran berarti menerima keanekaragaman di dalam kasih. expressionism. new age. di dalam kebenaran. yang lebih alkitabiah dan kurang alkitabiah. Italia. forgiven by God ________________________________________ [1] Seperti sudah saya bahas dalam tulisan yang lalu bahwa tidak ada musik yang sepenuhnya sempurna. musik Barock. Dalam Alkitab kebenaran. dan Allah di dalam tiga Pribadi. kekudusan. Pengujian estetika yang general mencoba untuk mencari karakteristik umum dari musik yang diuji (misalnya musik . Kebenaran ada dalam keanekaragaman faset (namun ini tidak berarti semua faset dapat ditampung dalam kebenaran). dan lebih detail lagi dengan menguji estetika per komponis (let say Mozart misalnya). saya sedikit terganggu dengan kalimat di atas bahwa keindahan boleh ditempatkan setelah diversity and love. demikian juga tidak ada musik yang sepenuhnya rusak dan tidak ada keindahan yang tersisa di dalamnya. lebih detail lagi: Mozart pada periode kehidupan yang mana. mulai dari tahap yang paling general. musik medieval. keanekaragaman ini dipersatukan oleh kasih. dll. dll. Tapi itu matters jika berurusan dengan good/bad aesthetics (bagi saya memberikan yang terbaik mencakup pengujian musik yang baik dan benar).maka tidak terlalu matters (asal kita tetap memperhatikan bahwa takaran kita bersifat progresif). Allah yang mengasihi. Allah yang kita percaya adalah Allah yang benar. dalam berbagai macam tingkat kebaikan atau kerusakan. kemuliaan. kekudusan. Sola scriptura. seperti misalnya estetika musik Rock.

Moody. Pop-culture yang menuju kepada “depth” tidak akan menjadi pop-culture lagi dan akan dituduh menjadi penganut cultural elitist. [4] Kalimat seperti “Untuk apa susah-susah mempelajari theologi. demikian pula sebaliknya. Pengujiannya adalah kesetiaan kepada Firman Tuhan (entah kompleks atau sederhana). lebih baik kita belajar saling mengasihi saja” saya kuatir tanpa sadar sebenarnya juga dipengaruhi oleh kecenderungan popculture yang cenderung menolak untuk belajar lebih dalam dan terus maju. itu hanya bikin tambah bingung. pengertian wahyu umum sesungguhnya kabur dan bahkan cenderung ditekan oleh manusia berdosa (Rm. kekudusan. [8] Sekali lagi menurut Alkitab konsep keindahan tidak dapat dipisahkan dengan kebenaran. Hansel—H) . Klassik. [6] Tuhan dapat memakai tulisan dengan kapasitas theologi yang sangat kompleks seperti Jonathan Edwards. [3] Ini wajar dan dapat dimengerti karena jika goal yang ingin dicapai adalah mendapatkan jangkauan sebanyak-banyaknya maka yang sering kali harus dikompromikan adalah kualitasnya. Di satu sisi kita percaya seperti diajarkan dalam Reformed Theology. Dalam Alkitab kasih tidak dapat dipisahkan dengan pengertian yang benar. L. Alkitab memberikan alternatif yang lain mengenai ini yaitu konsep takaran dalam progresi. dll). Dalam etno-musik pasti ada respons terhadap pengenalan akan Allah dalam wahyu umum (bayangbayang dan kabur). Romantik. dan di sisi yang lain kita juga tidak boleh melupakan tanpa pencerahan wahyu khusus. Iman Kristen dan Musik (7)—Tanya Jawab (Jawaban Pdt. namun juga sekaligus produk keberdosaan dan ketidak-taatan manusia. Kalau kita mau melakukan pengujian yang lebih kompleks harus bicara lebih detail. Billy Kristanto—B terhadap pertanyaan Sdr. 1:21-23). maupun juga khotbah-khotbah yang sangat sederhana dari D. lebih ‘tinggi’ daripada Moody namun ini tidak berarti pemikiran Kant lebih benar dan kudus daripada Moody hanya karena dia lebih kompleks. Bagi saya pilihan cultural elitist di satu sisi dan pop-culture di sisi yang lain. duaduanya salah. [5] Misalnya mencoba untuk mendapatkan jiwa sebanyak-banyaknya dengan mengkompromikan kualitas yang ditakar oleh Tuhan.Rock. dsb. Tulisan Kant boleh jadi jauh lebih kompleks. kemuliaan. bahkan sombong. ada anugerah umum dalam setiap kebudayaan. [7] Ini pun bagi saya juga tidak dapat diakomodasi begitu saja sebagai totally neutral tanpa critical reflection terlebih dahulu. kelemahan dari pengujian yang seperti ini pasti adalah kecenderungan generalisasinya (ini tidak bisa dihindarkan karena memang pengujiannya terjadi pada tahap yang general).

sebagai hamba Tuhan. sayang sekali Anda tidak menangkap pointnya:) H: Mempelajari latar belakang sebuah musik dan kemudian mendasarkan keputusan kita berdasarkan latar belakang tersebut berarti kita mendasarkan keputusan kita pada apa yang kita tahu. B: Bagian ini ditujukan kepada saya? Kalau kepada saya: Ya. betapa indahnya. setelah itu pengujian tersebut dibawa dan diuji di bawah terang Alkitab. puji syukur saya mengenal bagian Alkitab tersebut:) Hanya saja kesimpulan seperti ini bagi saya terlalu cepat dan cenderung menimbulkan pengertian yang salah. Karena itu. biografi. dan bukan pada Alkitab. tradisi musik yang mempengaruhi suatu karya tertentu perlu untuk suatu penyelidikan yang lebih komprehensif. Tetapi. Bagian yang . lagu “Oh. Saudara berkata bahwa untuk menguji estetika jenis musik tertentu.Hansel: Shalom Pak Billy. Dia seolah-olah berkata hanya musik hymne sajalah yang paling baik. H: Beberapa minggu yang lalu. Dan pendapat dia bahkan jauh lebih ekstrim. tidak ada ayat Alkitab sama sekali di dalam email yang dia kirim itu. "Apakah yang Alkitab katakan tentang musik yang kudus dan tidak kudus?" Billy: Saya sudah coba sharingkan prinsip ini. kita sama sekali tidak boleh bergoyang. Ketika kita menyanyi untuk Tuhan. Satu pertanyaan saya belum terjawab bahkan setelah membaca 6 email tentang musik yang Saudara post. Kesulitan penafsiran Alkitab yang seperti ini adalah kerancuan dan kegagalan untuk membedakan bagian Firman Tuhan yang bersifat preskriptif (pengajaran) dan deskriptif (penggambaran). B: Di sini Anda salah mengerti.” yang dinyanyikan dengan irama dangdut adalah lagu yang tidak kudus. Mempelajari latar belakang. ada juga yang menge-post soal musik. Tuhan tidak pernah sama sekali menegur dia untuk tidak menari dan meloncat. kita harus mempelajari latar belakang musik tersebut. tahukah Saudara bahwa Raja Daud pernah memuji dan menyanyi untuk Tuhan sambil menari dan meloncat sekuat tenaga? Tetapi anehnya. Berbicara soal bergoyang.

Pembahasan ini akan menarik jika dikaitkan dengan thema ekspresi. bukan berarti setiap orang percaya boleh berjalan di atas air sebagai tindakan imannya. 14:26-40). . Statement Anda. “Yang saya tahu dan kenal sebagai sumber segala kebenaran hanyalah Alkitab” juga berada di bawah pengaruh tradisi theologi tertentu:) Mengenai gerakan tubuh dalam ibadah. Sering kali tanpa sadar kita banyak dipengaruhi oleh school of thought theologi tertentu. Terus terang. lebih sesuai dengan natur kasih daripada hanya membangun diri sendiri.Apakah ekspresi/gerakan tubuh itu berlangsung dalam batasan kesopanan dan keteraturan (1Kor. .[2] . Bahwa prinsip membangun jemaat lebih baik dan lebih dewasa. dan bukan dari theologi ini dan itu. Petrus berjalan di atas air sebagai suatu tindakan iman (deskriptif). precisely karena apa yang tampak di luar tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam hati). Yang saya tahu dan kenal sebagai sumber segala kebenaran hanyalah Alkitab.Apakah ekspresi yang dituangkan dalam gerakan tubuh tersebut bersifat selfcentered (saya harus mengekspresikan diri saya) atau God-centered (ekspresi itu sebagai respons kita menikmati Tuhan dalam ibadah).preskriptif berlaku bagi semua orang percaya.Apakah gerakan tubuh/ekspresi yang saya lakukan itu berkaitan dengan apa yang menjadi isi hati saya? (dalam bagian ini Tuhan Yesus memberikan kritik kepada orang Farisi yang menyalahgunakan ekspresi sebagai suatu kemunafikan. . Yours in Christ. bagian deskriptif adalah khusus/unik terjadi pada orang tersebut.Apakah ekspresi atau gerakan tubuh itu membangun sesama jemaat (dan bukan hanya membangun diri saya saja). Semper reformanda. Tuhan memberkati kita sekalian. Untuk sederhananya. terutama karena pembahasan ini ada dalam konteks ibadah (pertemuan bersama). H: Saya ingin jawaban yang saya dapatkan benar-benar dari Alkitab. dapat kita pelajari dari 1 Korintus 14:1-5. saya tidak memiliki pengetahuan apa-apa tentang theologi. kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri kita masing-masing untuk melakukan suatu pengujian: . B: Tidak mungkin kita tidak memiliki pengetahuan apa-apa tentang theologi. perlu dipikirkan suatu pembahasan yang mengaitkan antara sikap hati dan filsafat tubuh.Apakah saya menganggap ekspresi itu sebagai sesuatu yang tabu dan tidak alkitabiah?[1] .

53:1) Sumber: http://groups. dan Persekutuan Reformed Stockholm. karena pandangan yang mengaitkan kekudusan atau kerohanian yang tinggi dengan semakin meninggalkan ekspresi tubuh lebih banyak dipengaruhi oleh filsafat Yunani kuno daripada Alkitab. kita perlu berhati-hati dan kritis terhadap pandangan seperti itu.grii.com/group/METAMORPHE (mailinglist Pdt.. [2] Di sini sebagai orang percaya kita perlu berhati-hati dan membedakan dengan kritis ekspresi yang diajarkan oleh Alkitab dengan ekspresi seperti yang dimengerti oleh aliran expressionisme (yang terakhir ini berpusat kepada diri). Pristine Gottlob Kristanto dan Fidelle Gottlieb Kristanto.D.de/ = Quis credidit auditui nostro? et brachium Domini cui revelatum est? (Is. Billy Kristanto melanjutkan post-graduate studi di Koninklijk Conservatorium (Royal Conservatory). Sejak di sekolah minggu mengambil bagian dalam pelayanan musik gerejawi.C. Billy Kristanto = http://www. Mitzi Meyerson (1990-96). Beliau melayani sebagai Penginjil Musik di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Jakarta sejak Februari 1999 and pada tahun yang sama memulai studi theologi di Institut Reformed.S. Dipl..yahoo.________________________________________ [1] Jika kita cenderung berpendapat ya. Setelah lulus SMA melanjutkan study musik di Hochschule der Künste di Berlin majoring in harpsichord (Cembalo) di bawah Prof. Billy Kristanto. Setelah lulus pada tahun 2002 dengan mendapatkan gelar Master of Christian Studies (M. Billy Kristanto: Pdt. Ph. Jerman. Persekutuan Reformed Injili Indonesia (PRII) Munich.Mus.S. . Saat ini beliau sedang menyelesaikan studi doktoral (Ph. M.) lahir pada tahun 1970 di Surabaya. Setelah menamatkan studi musik di Hochschule der Künste di Berlin pada tahun 1996 Pdt. Billy Kristanto) Profil Pdt.– Cand. Ditahbiskan menjadi pendeta sinode GRII di tahun 2005 beliau saat ini menggembalakan jemaat Mimbar Reformed Injili Indonesia (MRII) Berlin. (Cand.) di bidang musikologi dan Evangelische Theologie di Universitas Heidelberg. MRII Hamburg. Beliau menikah dengan Suzianty Herawati dan dikaruniai dua orang anak.C.) beliau menjabat sebagai Dekan School of Church Music di Institut Reformed Jakarta.D.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->