P. 1
SNI_01-3141-1998_produk peternakan

SNI_01-3141-1998_produk peternakan

5.0

|Views: 3,660|Likes:
Published by Putra Syah
Tulisan ini memberikan informasi mengenai standar nasional indonesia mengenai deskripsi, devinisi, serta maksimum jumlah cemaran pada produk-produk peternakan
Tulisan ini memberikan informasi mengenai standar nasional indonesia mengenai deskripsi, devinisi, serta maksimum jumlah cemaran pada produk-produk peternakan

More info:

Published by: Putra Syah on Jul 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

11/18/2015

Sections

Susu Segar

Badan Standardisasi Nasional - BSN

Standar Nasional Indonesia

SNI 01-3141-1998

Berdasarkan usulan dari Departemen Pertanian
standar ini disetujui oleh Dewan Standardisasi Nasional
menjadi Standar Nasional Indonesia dengan nomor :

SNI 01-3141-1998

Penerbitan standar ini dilakukan setelah memperhatikan semua data
dan masukan dari berbagai pihak. Kritik dan saran untuk penyempurnaan
standar ini, dapat disampaikan kepada :

BADAN STANDARDISASI NASIONAL - BSN

Sekretariat : Pusat Standardisasi - LIPI, Sasana Widya Sarwono Lantai 5
Jalan Jenderal Gatot Subroto 10 - Telepon (021) 5206574, 5221687, 511542,
Pes. 296, 305, 450, Fax. 5206574, 5207226, Telex 62875 PD II IA, 62554 IA

PUSAT STANDARDISASI DAN AKREDITASI
BADAN AGRIBISNIS, DEPARTEMEN PERTANIAN
Kantor Pusat Departemen Pertanian Gedung F
Jalan Harsono RM No. 3 Ragunan - Pasar Minggu
Jakarta 12550
Tlp./Fax. (021) 7804367
Edisi 1998

DAFTAR ISI

Pendahuluan

DAFTAR ISI ............................................................................................ i

JUDUL .................................................................................................... 1

1

Ruang Lingkup .............................................................................. 1

2

Definisi .......................................................................................... 1

3

Syarat Mutu ................................................................................... 1

4

Cara Pengambilan Contoh .............................................................. 3

5

Cara Uji ............. ........................................................................... 3

6

Syarat Penandaan............ .............................................................. 3

7

Cara Pengemasan ........................................................................... 3

SUSU SEGAR

Pendahuluan

Standar ini merupakan Revisi SNI 01-3141-1992 mengenai standar susu segar.

Revisi diutamakan pada persyaratan mutu dengan alasan sebagai berikut :

a)

Menunjang Surat Keputusan Bersama Menteri Perdagangan dan

Koperasi, Menteri Perindustrian dan Menteri Pertanian No. 236/Kpb/VII/1982,

No. 341/M/SK/7/1982, No. 521/Kpts/Um/1982.

b)

Menunjang Keputusan Menteri Pertanian No. 751/Kpts/Um/10/1982.

c)

Melindungi konsumen

d)

Mendukung perkembangan agribisnis dan agroindustri

e)

Menunjang ekspor non-migas

Standar ini disusun sebagai hasil pembahasan rapat-rapat teknis, prakonsensus

dan terakhir dirumuskan dalam rapat konsensus nasional.

Hadir dalam rapat-rapat tersebut wakil-wakil dari lembaga penelitian,

perguruan tinggi, produsen, konsumen dan instansi terkait lainnya.

Sebagai acuan diambil dari standar dan peraturan Codex Alimentarius

Commission.

SUSU SEGAR

1

Ruang Lingkup

Standar ini meliputi definisi, syarat mutu, cara uji, syarat penandaan, dan cara

pengemasan susu segar.

2

Definisi

Susu murni adalah cairan yang berasal dari ambing sapi sehat dan bersih, yang

diperoleh dengan cara yang benar, yang kandungan alaminya tidak dikurangi

atau ditambah sesuatu apapun dan belum mendapat perlakuan apapun.

Susu segar adalah susu murni yang disebutkan diatas dan tidak mendapat

perlakuan apapun kecuali proses pendinginan tanpa mempengaruhi

kemurniannya.

3

Syarat Mutu

Syarat mutu susu segar seperti tabel dibawah ini :

Tabel 1

Syarat mutu susu segar

Karakteristik

Syarat

a Berat Jenis (pada suhu 27,5 0

C)

minimum

1,0280

b Kadar lemak minimum

3,0 %

c Kadar bahan kering tanpa lemak

minimum

8,0 %

d Kadar protein minimum

2,7%

e Warna, bau, rasa dan kekentalan

tidak ada perubahan

f Derajat asam

6 - 7 0

SH

g Uji alkohol (70 %)

negatif

h Uji katalase maksimum

3 (cc)

i Angka refraksi

36 - 38

j Angka reduktase

2 - 5 (jam)

k Cemaran mikroba maksimum :

1

Total kuman

1 X 10 6

CFU/ml

2

Salmonella

negatif

3

E. coli (patogen)

negatif

4

Coliform

20/ml

5

Streptococcus Group B

negatif

6

Staphylococus aureus

1 X 10 2

/ml

l Jumlah sel radang maksimum

4 X 10 5

/ml

m Cemaran

logam

berbahaya,

maksimum :

1

Timbal (Pb)

0,3 ppm

2

Seng (Zn)

0,5 ppm

3

Merkuri (Hg)

0,5 ppm

4

Arsen (As)

0,5 ppm

n Residu :

sesuai

dengan

peraturan

Keputusan

- Antibiotika;

Bersama Menteri Kesehatan dan

- pestisida/insektisida

Menteri Pertanian yang berlaku

o Kotoran dan benda asing

negatif

p Uji pemalsuan

negatif

q Titik beku

-0,520 0

C s/d -,560 0

C

r Uji peroxidase

positif

4

Cara Pengambilan Contoh

Cara pengambilan contoh sesuai dengan Peraturan Departemen Pertanian yang

berlaku mengenai Petunjuk Teknis Pengawasan Peredaran dan Pengujian

Kualitas Susu Produksi Dalam Negeri dan Susu yang Beredar.

5

Cara Uji

Cara uji susu sesuai dengan Peraturan Departemen Pertanian yang berlaku

mengenai Petunjuk Teknis Pengawasan Peredaran dan Pengujian Kualitas Susu

Produksi Dalam Negeri dan Susu yang Beredar.

6

Syarat Penandaan

Sesuai dengan peraturan Departemen Kesehatan Republik Indonesia yang

berlaku tentang label dan periklanan makanan.

7

Cara Pengemasan

Susu segar dikemas dalam wadah yang tertutup rapat, aman selama

penyimpanan dan pengangkutan, tidak dipengaruhi dan mempengaruhi isi.

Karkas Ayam Pedaging

Pendahuluan

Untuk menghindari pemasaran daging ayam yang membahayakan konsumen,

tidak layak sebagai bahan pangan dan pemalsuan, perlu disusun standar karkas

ayam pedaging yang dapat dilaksanakan oleh para produsen dan dapat diterima

oleh konsumen. Selain itu dengan adanya standar untuk karkas ayam pedaging,

konsumen akan lebih mudah menentukan pilihannya, produsen akan

meningkatkan usahanya untuk menghasilkan produk yang baik dan

memungkinkan adanya persaingan harga yang sehat.

1 dari 8

Karkas Ayam Pedaging

1

Ruang Lingkup

Standar ini meliputi klasifikasi yang terdiri dari cara penanganan, cara

pemotongan karkas, ukuran dan mutu; persyaratan yang meliputi bahan asal,

penyiapan karkas, pengolahan pasca panen, bahan pembantu, bahan tambahan,

mutu produk akhir dan pengemasan serta cara pengambilan contoh dan

methoda analisis.

2

Diskripsi

Karkas ayam pedaging ialah bagian dari ayam pedaging hidup, setelah

dipotong, dibului, dikeluarkan jeroan dan lemak abdominalnya, dipotong

kepala dan leher serta kedua kakinya (ceker).

3

Klasifikasi

3.1 Berdasarkan cara penanganannya, dibedakan menjadi :

3.1.1 Karkas segar ialah karkas segar yang baru selesai diproses selama tidak

lebih dari 6 jam dan tidak mengalami perlakuan lebih lanjut.

3.1.2 Karkas dingin segar ialah karkas segar yang segera didinginkan setelah

selesai diproses sehingga suhu di dalam daging menjadi antara 40

-50

C.

3.1.3 Karkas beku ialah karkas yang telah mengalami proses pembekuan

cepat atau lambat dengan suhu penyimpanan antara 120

C sampai dengan suhu

180

C.

2 dari 8

3.2 Berdasarkan cara pemotongan karkas dibedakan menjadi :

3.2.1 Karkas utuh

3.2.2 Potongan separuh (halves) karkas dibagi menjadi dua potong sama

besar.

3.2.3 Potongan seperempat (quartes) karkas dibagi menjadi empat potong

sama besar.

3.2.4 Potongan bagian-bagian badan (chiken part atau cut up).

3.2.5 "Debone" yaitu karkas ayam pedaging tanpa tulang atau tanpa kulit dan

tulang.

3.3 Ukuran

Ukuran karkas ditentukan berdasarkan bobotnya.

Bobot karkas individual ditentukan oleh bobot karkas itu sendiri, berdasarkan

pembagian sebagai berikut :

a)

Ukuran kecil

0,8 - 1 kg

b)

Ukuran sedang

1 - 1,2 kg

c)

Ukuran besar

1,2 - 1,5 kg

3.4 Mutu

Tingkatan mutu karkas ayam pedaging baik yang segar, dingin segar dan beku

dapat dibagi dalam 3 (tiga) tingkatan mutu.

3 dari 8

4

Persyaratan

4.1 Bahan asal atau ayam hidup

Menggunakan ayam hidup yang sehat, sesuai dengan ketentuan peraturan yang

berlaku.

4.2 Penyiapan (processing) karkas :

Penyiapan (processing) karkas perlu dilakukan dengan ketentuan-ketentuan

sebagai berikut :

4.2.1 Pemotongan dilakukan ditempat yang bersih, cukup ai berasal dari

sumber berkualitas baik, dan khusus.

4.2.2 Cara pemotongan mengikuti persyaratan agama Islam.

4.2.3 Pengeluaran darah (bleeding) harus tuntas sehingga ayam benar-benar

mati.

4.2.4 Sebelum pencabutan bulu, ayam diseduh (scalding) dengan temperatur

520

-600

C, selama 3 - 5 menit.

4.2.5 Setelah dilakukan pencabutan bulu, kemudian karkas ayam dicuci

dengan air yang mengalir atau didinginkan (chilling) dengan temperatur 0 - 50

C.

4.2.6 Pemeriksaan kesehatan terhadap karkas dilakukan sebelum jeroan

dipisahkan dari tubuh oleh petugas yang berwenang.

4.2.7 Setelah pemeriksaan dan pencucian, karkas didinginkan.

4 dari 8

4.3 Penanganan Pasca Panen

Penanganan Pasca Panen bertujuan mencegah perkembangan mikroba

pembusuk yang tergolong bakteri psychrophyl, khamir dan kapang.

a)

Pencucian karkas dilakukan terpisah dari jeroan.

b)

Karkas harus segera didinginkan setelah selasai diproses.

c)

Untuk penyimpanan dalam jangka waktu pendek (+ 2 hari) harus

didinginkan paling tinggi pada suhu 100

C.

d)

Untuk penyimpanan dalam jangka waktu panjang harus dibekukan.

4.4 Bahan pembantu

Bahan pembantu harus bersifat tidak beracun, mudah larut dalam air, tidak

merubah rasa dan merusak daging, serta hilang oleh pemasakan (contoh chlor).

4.5 Bahan tambahan

Bahan tambahan harus tidak membahayakan kesehatan sebelum produk

dimasak maupun setelah dimasak (contoh : air, garam).

4.6 Mutu Produk Akhir

Mutu produk akhir ditentukan oleh :

4.6.1 Konformasi

Bentuk kerangka dan tubuh, terutama dada, paha dan punggung.

4.6.2 Perdagingan

Ketebalan daging pada tulang dada, paha, betis dan punggung.

5 dari 8

4.6.3 Perlemakan

Penyebaran dan ketebalan lemak dibawah kulit.

4.6.4 Keutuhan

Ada tidaknya tulang yang patah atau hilang, persendian yang lepas, kulit yang

sobek atau daging yang sobek maupun hilang, luka maupun adanya penebalan.

4.6.5 Perubahan warna

Ada tidaknya memar, "Freezer burn" dan perubahan warna yang disebabkan

mikroba atau zat-zat kontaminan lain.

4.6.6 Kebersihan

Ada tidaknya bulu-bulu besar maupun bulu jarum yang tertinggal, atau kotoran

yang menempel.

Tabel 1

Persyaratan tingkatan mutu

No. Faktor Mutu

Tingkatan Mutu

Mutu I

Mutu II

Mutu III

1

2

3

4

5

1

Konformasi

Sempurna

Boleh ada cacat

sedikit tetapi

tidak ada pada

bagian dada dan

paha

Boleh cacat

sedikit

2

Perdagingan

Tebal

Sedang

Tipis

3

Perlemakan

Cukup

Cukup

Tipis

6 dari 8

1

2

3

4

5

4

Keutuhan

Sempurna

Tulang

sempurna, kulit

boleh sobek

sedikit, tetapi

tidak pada

bagian dada

Tulang boleh

ada yang patah,

ujung sayap

boleh terlepas

boleh terlepas.

Boleh ada kulit

yang

sobek,tetapi

tidak terlalu

lebar

5

Perubahan

warna

Bebas dari

memar dan

“Frozen burn”

Boleh ada

memar sedikit

tetapi tidak pada

bagian dada dan

tidak “Frozen
burn”

Boleh ada

memar sedikit

tetapi tidak

ada“Frozen
burn”

6

Kebersihan

Bebas dari bulu

jarum

Boleh ada bulu

jarum sedikit

yang menyebar,

tetapi tidak pada

bagian dada

Boleh ada bulu

jarum sedikit

Catatan :

Bila tidak termasuk dalam persyaratan Tingkatan Mutu, dapat

dapat diperdagangkan menjadi potongan bagian-bagian badan (chiken part atau

cut up).

5

Pengemasan

Pengemasan dengan menggunakan bahan yang baik sebagai pembungkus tidak

merusak daging serta tidak membahayakan kesehatan manusia.

Pada kemasan yang digunakan diwajibkan mencantumkan label :

a)

Nama dan alamat perusahaan dan/atau nomor register

b)

Jenis ayam

7 dari 8

c)

Bobot

d)

Tingkatan mutu

e)

Tanggal kadaluarsa

Bila kemasan berisi lebih dari satu potong, isinya harus seragam dalam hal

jenis tingkatan mutu dan tanggal pemanenan.

Untuk kemasan potongan bagian-bagian badan tidak dicantumkan bobot-

bobotnya tetapi dicantumkan jumlah potongannya.

6

Cara pengambilan contoh dan methoda analisa

6.1 Cara pengambilan contoh :

Pengambilan contoh dilakukan dengan menggunakan methoda pengambilan

contoh acak sederhana (simple random sampling) tanpa pemilihan dengan

perincian sebagai berikut :

6.1.1 Dari sejumlah pasar atau rumah potong ayam yang ada disuatu daerah

dilakukan pengambilan contoh secara acak, sebesar 5% (minimal 1 buah pasar

atau 1 buah rumah potong ayam). Untuk rumah potong ayam dibedakan antara

yang modern dan tradisionil *)

6.1.2 Kemudian dilakukan pendaftaran (listing) jumlah pedagang karkas

ayam yang ada ditiap-tiap pasar yang diambil sebagai contoh (sample) dan

dihitung jumlah karkas ayam yang dijual.

Untuk sejumlah rumah potong ayam yang diambil sebagai contoh (sample)

dihitung jumlah ayam yang dipotong dan/atau jumlah karkas ayam yang

disimpan (dibekukan).

6.1.3 Dari jumlah karkas ayam yang dijual ditiap-tiap pasar tersebut, atau

jumlah ayam yang dipotong dan/atau jumlah karkas ayam yang disimpan

dirumah potong ayam dilakukan pengambilan contoh secara acak sebesar 2%.

*)

Untuk pasar dibedakan berdasarkan strata pasar sesuai dengan ketentuan yang berlaku

8 dari 8

6.2 Petugas pengambil contoh

Pengambilan contoh dilakukan oleh petugas yang memenuhi syarat dan yang

ditunjuk oleh Direktur Jenderal Peternakan.

6.3 Methoda Analisa

Jenis Pemeriksaan :

Methoda Pengujian Nomor :

a )

Pemeriksaan Organoleptik

008-MP/SPI-NAK

b)

Pemeriksaan Uji Kebusukan

009-MP/SPI-NAK

c)

Pemeriksaan Jumlah Kuman

010-MP/SPI-NAK

Karkas Ayam Pedaging

Dewan Standardisasi Nasional - DSN

Standar Nasional Indonesia

SNI 01-3924-1995

Berdasarkan usulan dari Departemen Pertanian
standar ini disetujui oleh Dewan Standardisasi Nasional
menjadi Standar Nasional Indonesia dengan nomor :

SNI 01 - 3924 - 1995

Penerbitan standar ini dilakukan setelah memperhatikan semua data
dan masukan dari berbagai pihak. Kritik dan saran untuk penyempurnaan
standar ini, dapat disampaikan kepada :

DEWAN STANDARDISASI NASIONAL - DSN

Sekretariat : Pusat Standardisasi - LIPI, Sasana Widya Sarwono Lantai 5
Jalan Jenderal Gatot Subroto 10 - Telepon (021) 5206574, 5221687, 511542,
Pes. 296, 305, 450, Fax. 5206574, 5207226, Telex 62875 PD II IA, 62554 IA

BAGIAN PROYEK PEMBINAAN MUTU HASIL PERTANIAN
T.A. 1998/1999

PUSAT STANDARDISASI DAN AKREDITASI
BADAN AGRIBISNIS, DEPARTEMEN PERTANIAN
Kantor Pusat Departemen Pertanian Gedung F
Jalan Harsono RM No. 3 Ragunan - Pasar Minggu
Jakarta 12550
Tlp./Fax. (021) 7804367
Edisi 1998

Daftar Isi

Halaman

Pendahuluan

Daftar Isi

.................................................................................. i

Judul .............................................................................................. 1

1

Ruang Lingkup

............................................................

1

2

Diskripsi

....................................................................... 1

3

Klasifikasi ........................................................................

1

4

Persyaratan .........................................................................

3

5

Pengemasan ..........................................................................

6

6

Cara pengambilan contoh dan metoda analisa

............................

7

Telur Ayam Konsumsi

Pendahuluan

Standar kualitas telur ayam perlu diterapkan dalam pemasaran telur terutama

untuk memudahkan konsumen dalam menentukan pilihannya sehingga akan

lebih memberi kepuasan pada konumen dan lebih memberi kepastian mutu

untuk pembeli. Selain itu standar kualitas juga bermanfaat untuk mencegah

beredarnya/pemasaran telur yang tidak sesuai untuk bahan pangan atau

membahayakan konsumen. Dengan demikian produsen akan terangsang untuk

menhasilkan telur ayam yang berkualitas baik.

1 dari 6

Telur Ayam Konsumsi

1

Ruang lingkup

Standar ini meliputi :

1.1 Klasifikasi yang berdasarkan pada jenis, warna kerabang (kulit telur),

dan bobot.

1.2 Persyaratan yang meliputi mutu, penanganan pasca panen, bahan

pembantu, mutu produk akhir dan pengemasan serta cara pengambilan contoh

dan methoda analisis.

2

Diskripsi

Telur ayam konsumsi segar adalah telur ayam yang tidak mengalami proses

pendinginan dan tidak mengalami penanganan pengawetan serta tidak

menunjukan tanda-tanda pertumbuhan embrio yang jelas, kuning telur belum

tercampur dengan putih telur, utuh dan bersih.

3

Klasifikasi

3.1 Berdasarkan Jenis dibedakan :

a)

telur ayam ras

b)

telur ayam buras (bukan ras)

3.2 Berdasarkan Warna Kerabang (Kulit telur) dibedakan :

a)

warna putih

b)

warna coklat

2 dari 6

3.3 Berdasarkan Berat dibedakan menjadi :

a)

Untuk telur ayam ras

1)

Telur ekstra besar dengan berat lebih dari 60 gram

2)

Telur besar dengan berat 56 - 60 gram

3)

Telur sedang dengan berat 51 - 55 gram

4)

Telur kecil dengan berat 46 - 50 gram

5)

Telur ekstra kecil dengan berat kurang dar 46 gram.

b)

Untuk telur ayam buras

Digolongkan sebagai telur ekstra kecil pada ayam ras.

3.4 Berdasarkan mutu dibedakan menjadi :

a)

Mutu kelas 1

b)

Mutu kelas 2

c)

Mutu kelas 3

4

Persyaratan

4.1 Kebersihan telur

harus bersih, Telur-telur yang kotor boleh dibersihkan :

a)

Dengan kain lap yang bersih dan kering

b)

Bila telur terpaksa dicuci, harus dilakukan dengan cara yang benar

yaitu:

1)

Air pencuci harus hangat, suhu + 350

C dan bersih.

2)

Harus menggunakan detergen khusus untuk telur atau senyawa Cl

(Clorine Compound).

3)

Setelah dicuci harus segera dikeringkan. Dapat digunakan alat

pengering.

3 dari 6

4.2 Bahan Pembantu

Bahan pembantu harus bersifat tidak membahayakan kesehatan, tidak berbau,

tidak menjadi medium pertumbuhan mikroba dan tidak menurunkan kualitas.

Contoh : Untuk menutup pori-pori kerabang dapat digunakan minyak mineral

atau minyak sayur yang berkualitas baik dan lain-lain.

4.3 Mutu Produk Akhir

Mutu telur ditentukan oleh :

4.3.1 Kulit telur (kerabang)

keutuhan, bentuk, kelicinan, kebersihan.

4.3.2 Kantong udara

Kedalaman rongga udara, kebebasan bergerak.

4.3.3 Keadaan putih telur

Kekentalan dan kebersihan.

4.3.4 Keadaan kuning telur

Bentuk, posisi dan kebersihan.

4.3.4 Bau

Bau telur harus khas.

4 dari 6

Tabel 1

Persyaratan Tingkatan Mutu

No

.

Faktor Mutu

Tingkatan mutu

Mutu I

Mutu II

Mutu III

1

2

3

4

5

1. Kerabang

a.

Keutuhan Utuh

Utuh

Utuh

b.

Bentuk

normal

normal

boleh abnormal

c.

Kelicinan licin (halus)

boleh ada

bagian-bagian

yang kasar

boleh kasar

d.

Kebersih

an

bersih bebas

dari kotoran

yang menempel

maupun noda

bersih bebas

dari kotoran

yang menempel,

boleh adasedikit

noda

bersih bebas

dari kotoran

yang menempel,

bole ada noda

2. Kantong udara

(dilihat dengan peneropongan)

a

Kedalam

an

kurang dari 0,5

cm

0,5 - 0,9 cm

1 cm atau lebih

b

Kebebasa

n bergerak

tetap ditempat bebas bergerak bebas bergerak

dan mungkin

seperti busa

3 Keadaan putih telur

dilihat dengan (peneropongan)

a. Kebersihan

bebas dari noda

(darah, daging

atau benda

asing lainnya)

bebas dari noda

(darah, daging

atau benda

asing lainnya)

boleh ada

sedikit

nodatetapi tidak

boleh ada benda

asing lainnya

b. Kekentalan

kental

sedikit encer

encer, tetapi

5 dari 6

kuning telur

belum

tercampur

dengan putih

telur

1

2

3

4

5

4 Keadaan kuning telur

(dilihat dengan peneropongan

a

Bentuk

bulat

agak gepeng

gepeng

b

Posisi

ditengah

ditengah

agak kepinggir

c

bayangan

batas-batas

tidak jelas

agak jelas

jelas

d. kebersihan

bersih

bersih

boleh ada

sedikit noda

5 Bau

khas

khas

khas

5

Pengemasan

Khusus untuk para penjual telur yang menggunakan kemasan, perlu mengikuti

persyaratan sebagai berikut :

5.1 Bahan kemasan tidak beracun maupun mengeluarkan bau.

5.2 Bahan kemasan harus mampu melindungi kerabang dari tekanan-

takanan dari luar yang mengakibatkan kerusakan.

5.3 Pada kemasan harus dicantumkan :

a)

Nama perusahaan

b)

Bobot telur dan jumlah butir (keseluruhan) yang ada dalam kemasan

c)

Warna kerabang telur

6 dari 6

d)

Tingkatan Mutu

e)

Jenis telur

5.4 Telur dalam satu kemasan harus mempunyai tingkatan mutu yang sama,

dan tingkatan bobot yang sama.

7 dari 6

6

Cara Pengambilan Contoh Dan Metoda Analisis

6.1 Cara pengambilan contoh :

Pengambilan contoh dilakukan dengan menggunakan methoda pengambilan

contoh acak sederhana (simple random sampling) tanpa pemilihan dengan

perincian sebagai berikut :

6.1.1 Dari sejumlah pasar atau toko/warung yang menjual telur disuatu

daerah dilakukan pengambilan contoh secara acak, sebesar 5% dari setiap strata

pasar sesuai dengan ketentuan yang berlaku (minimal) 1 buah pasar atau 1 buah

toko/warung.

6.1.2 Kemudian dilakukan pendaftaran (listing) jumlah pedagang telur yang

ada di pasar tersebut dan dihitung jumlah telur yang dijual. Untuk sejumlah

toko/warung yang diambil sebagai contoh (sample), dihitung jumlah telur yang

dijual.

6.1.3 Dari jumlah telur yang dijual dilakukan pengambilan contoh secara

acak sebesar 2 %. Bila ada dua macam kerabang (kulit telur), harus diambil

contoh dari setiap warna kerabang.

6.2 Petugas pengambilan contoh :

Pengambilan contoh dilakukan oleh petugas yang ditunjuk oleh Direktur

Jenderal Peternakan. Petugas tersebut harus memenuhi syarat, yaitu orang yang

berpengalaman atau dilatih lebih dahulu.

6.3 Methoda Analisis

a)

Pemeriksaan mutu dengan methoda peneropongan 011-MP/SPI-NAK

b)

Pemeriksaan mutu dengan methoda pemecahan

012-MP/SPI-NAK

Telur Ayam Konsumsi

Dewan Standardisasi Nasional - DSN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->