P. 1
Asuhan Keperawatan Kejang Demam

Asuhan Keperawatan Kejang Demam

|Views: 178|Likes:
Published by ninja cyber

More info:

Published by: ninja cyber on Jul 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/05/2015

pdf

text

original

Asuhan Keperawatan Kejang demam I. PENGERTIAN a).

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada saat suhu meningkat disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. b). Kejang adalah pembebasan listrik yang tidak terkontrol dari sel syaraf cortex serebral yang ditandai dengan serangan yang tiba ± tiba (marillyn, doengoes. 1999 : 252) II. ETIOLOGI Penyebab dari kejag demam dibagi menjadi 6 kelompok, yaitu : 1. Obat ± obatan racun, alkhohol, obat yang diminum berlebihan 2. Ketidak seimbangan kimiawi hiperkalemia. Hipoglikemia dan asidosis 3. Demam paling sering terjadi pada anak balita 4. Patologis otak akibat dari cidera kepala, trauma, infeksi, peningkatan tik 5. Eklampsia hipertensi prenatal, toksemia gravidarum 6. Idiopatik penyebab tidak diketahui

III. PATOFISIOLOGI

IV. MANIFESTASI KLINIK Ada 2 bentuk kejang demam, yaitu : 1. Kejang demam sementara ‡ Umur antara 6 bulan ± 4 tahun ‡ Lama kejang <15 menit ‡ Kejang bersifat umum ‡ Kejang terjadi dalam waktu 16 jam setelah timbulnya demam ‡ Tidak ada kelainan neurologis, baik klinis maupun laboratorium ‡ Eeg normal 1 minggu setelah bangkitan kejang 2. Kejang demam komplikata ‡ Diluar kriteria tersebut diatas V. KOMPLIKASI DARI KEJANG DEMAM 1. hipoksia 2. hiperpireksia 3. asidosis 4. ernjatan atau sembab otak VI. FASE ± FASE KEJANG DEMAM 1. Fase prodromal Perubahan alam perasaan atau tingkah laku yang mungkin mengawali kejang beberapa jam/ hari

Elektrolit : tidak seimbang dapat berpengaruh pada aktivitas kejang 2. 5. Pengkajian Data Dasar Pasien 1. mengukur aktivitas otak.8 mg/ kg BB/ 24 jam 2 . 3. 2. ASUHAN KEPERAWATAN A. Elektroensepalogram (eeg) : dapat melokalisir daerah serebral yang tidak berfungsi dengan baik. VII. X. yang biasanya berupa gangguan penglihatan dan pendengaran.5 mg/ kg bb/ dosis iv (perlahan ) ‡ bila kejang belum berhenti dapat diulang dengan dosisi ulangan setelah 20 menit 2. 4. PENATALAKSANAAN MEDIK 1. Turunkan demam ‡ anti piretik : para setamol atau salisilat 10 mg/ kg bb/ dosis ‡ kompres air biasa 3. Diberikan sampai 2 tahun bebas kejang atau sampai umur 6 tahun IX. Penanganan suportif ‡ bebaskan jalan nafas ‡ beri zat asam ‡ jaga keseimbangan cairan dan elektrolit ‡ pertahankan tekanan darah VIII. Pencegahan kontinu untuk kejang komplikata ‡ fenobarbital : 5 ± 7 mg/ kg BB/ 24 jam dibagi 3 dosis ‡ fenotoin : 2. Beri diazepam dan anti piretika pada penyakit yang disetai demam. Fase aura Merupakan awal dari munculnya aktivitas kejang. Aktivitas/ istirahat Gejala : keletihan.2.3 dosis ‡ klonazepam : indikasi khusus 3. 3. peka rangsang yang terjadi setelah kejang tersebut. Ureum/ kreatinin : dapat maningkatkan resiko timbulnya aktivitas kejang 4. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. kelemahan umum Keterbatasan dalam beraktivitas Tanda : perubahan tonus dan kekuatan 2. Kadar obat dalam serum : untuk membuktikan batas obat anti konvulsi yang terapeutik. Fase postiktal Periode waktu dari kekacauan mental atau somnolen.3 ± 0. Glukosa : hipoglikemia dapat menjadi presipitasi (pencetus) kejang. PENCEGAHAN KEJANG DEMAM 1. Sirkulasi . Pencegahan berkala (intermitten) untuk kejang demam sederhana. Pemberian diazepam ‡ dosis awal : 0. Fase iktal Merupakan aktivitas kejang yag biasanya terjadi gangguan muskulosketal.

area paralitik 6. sianosis.Gejala : iktal : hiertensi. mual. Pertahankan bantalan lunak pada penghalang tempat tidur dengan tempat tidur rendah R/ : mengurangi trauma saat kejang 2. aktivitas kejang berulang. orientasi R/ : mencatat keadaan postiktal dan waktu penyembuhan 6. Observasi TTV R/ : menentukan kegawatan kejang dan intervensi yang sesuai 4. tingkat kesadaran. catat tipe dari aktivitas kejang R/ : membantu untuk melokalisir daerah otak 5. pusing Postiktal : kelemahan. Lakukan penilaian neurologis. Kolaborasi dalam pemberian obat anti convulsi R/ : untuk mencegah kejang ulangan DX 2 : Bersihan Jalan Nafas Inefektif Berhubungan Dengan Peningkatan Sekresi Mukus. Bersihkan jalan nafas inefektif berhubungan dengan obstruksi trakeobronkial dan peningkatan sekresi mukus C. Intervensi Keperawatan DX 1 : Resiko Terhadap Penghentian Pernafasan Berhubungan Dengan Kelemahan Dan Kehilangan Koordinasi Otot Besar Dan Kecil Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan penghentian pernafasan tidak terjadi Kriteria hasil : RR dalam batas normal (16 ± 20 x/ menit ) Tak kejang Klien mengungkapkan perbaikan pernafasannya Intervensi : 1. Pernafasan Gejala : iktal : gigi mengatup. Elimnasi Gejala : inkontinensia episodik Tanda : iktal : peningkatan tekanan kandung kemih Posiktal : inkontenensia urine 4. muntah Tanda : kerusakan jaringan lunak (cidera selama kejang) 5. Makanan dan cairan Gejala : sensitivitas terhadap makanan. peningkatan nadi. peningkatan sekresi mukus B. pernafasan menurun/ cepat. pinsang. sianosis Postiktal : depresi dengan penurunan nadi dan pernafasan 3. Masukan jalan nafas buatan yang terbuat dari plastik / biarkan pasien menggigit benda lunak atara gigi. Obstruksi Jalan Nafas . R/ : menurunkan resiko terjadinya trauma mulut 3. Diagnosa Yang Mungkin Muncul 1. Biarkan tingkah laku ³ automatik´ tanpa menghalangi R/ : untuk menghindari cidera atau trauma yang lebih lanjut 7. Resiko terhadap penghentian pernafasan barhubungan dengan kelemahan dan kehilangan koordinasi otot besar dan kecil 2. nyeri otot. Neurosensori/ kenyamanan Gejala : riwayat sakit kepala.

patofisologi konsep klinis. gerak. KONSEP DASAR 1. Proses penyakit. Anjurkan klien mengosongkan mulut dari benda R/ : menurunkan aspirasi atau masukanya benda asing ke faring 2. Lakukan penghisapan lendir R/ : menurunkan resiko aspirasi DAFTAR PUSTAKA Marillyn. Jakarta : EGC Sylvia. Letakan klien pada posisi miring dan permukaan datar R/ : mencegah lidah jatuh dan menyumbat jalan nafas 3. Wikson. Jakarta : EGC ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KEJANG DEMAM A. rencana asuhan keperawatan.Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan bersihan jalan nafas efektif Kriteria hasil : sekresi mukus berkurang tak kejang gigi tak menggigit Intervensi : 1. A.1996). sensasi atau memori yang bersifat sementara (Hudak and Gallo. (Sylvia A. Pengertian Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran. Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Price. Kejang demam sering juga disebut kejang demam tonik-klonik. Masukan spatel lidah R/ : untuk membuka rahang dan mencegah tergigitnya lidah 5.1996). Kejang demam adalah serangan pada anak yang terjadi dari kumpulan gejala dengan demam (Walley and Wong¶s edisi III. . sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. 2001. Latraine M. Tanggalkan pakaian pada daerah leher atau dada dan abdomen R/ : untuk memfasilitasi usaha bernafas 4. 1995). pierce.1999. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus. doengoes.

trauma. dan gejala putus alkohol dan obat gangguan metabolik. sindrom zelluarge. Sindrom Smith ± Lemli ± Opitz. 3) Idiopatik Kejang neonatus fanciliel benigna. Yang terdiri dari . Berdasarkan hal diatas bahwa energi otak adalah glukosa yang melalui proses oxidasi. Sel dikelilingi oleh membran sel. virus. gangguan elektrolit. meningitis. 2. hipomognesemia. atau intra ventrikular Infeksi : Bakteri.Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena peningkatan suhu tubuh yang sering di jumpai pada usia anak dibawah lima tahun.sifat proses itu adalah oxidasi dengan perantara pungsi paru-paru dan diteruskan keotak melalui system kardiovaskuler. bekuan darah pada otak. 2) Ekstra kranial Gangguan metabolik : Hipoglikemia. ketergantungan dan kekurangan produksi kernikterus. Patofisiologi Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel / organ otak diperlukan energi yang didapat dari metabolisme. parasit Kelainan bawaan : disgenesis korteks serebri. uremia. kejang hari ke-5 (the fifth day fits) b. Etiologi Kejang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi patologis. ensefalitis. subdural. gangguan elektrolit (Na dan K) Toksik : Intoksikasi anestesi lokal. Patofisiologi a. overhidrasi. termasuk tumor otak. 1) Intrakranial Asfiksia : Ensefolopati hipoksik ± iskemik Trauma (perdarahan) : perdarahan subaraknoid. Sebagian kejang merupakan idiopati (tidak diketahui etiologinya). Kelainan yang diturunkan : gangguan metabolisme asam amino. sindrom putus obat. toksik subcutan dan anoksia serebral. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah glucose. dan dipecah menjadi karbon dioksidasi dan air. hipokalsemia.

Perubahan dari patofisiologisnya membran sendiri karena penyakit/keturunan. Pada seorang anak sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh dibanding dengan orang dewasa 15 %. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan & 4 tahun . Lepasnya muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter sehingga mengakibatkan terjadinya kejang. c. Kriteria Livingstone tersebut setelah dimanifestasikan di pakai sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam sederhana. rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis. yaitu : 1. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim NA. Kejang yang yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa. Maka terdapat perbedaan membran yang disebut potensial nmembran dari neuron. Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah dengan perubahan konsentrasi ion diruang extra selular. ATP yang terdapat pada permukaan sel. bronkhitis. serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik. yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat : misalnya tonsilitis. Kejang demam sederhana (simple fibrile convulsion) 2. kebutuhan O2 dan energi untuk kontraksi otot skeletal yang akhirnya terjadi hipoxia dan menimbulkan terjadinya asidosis. Dan karena itu pada anak tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dalam singkat terjadi dipusi di ion K+ maupun ion NA+ melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepasnya muatan listrik. menghadapi pasien dengan kejang demam. kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya. Manifestasi klinik Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat. kecuali ion clorida. otitis media akut.karena itu perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel. Kejang berhenti sendiri.permukaan dalam yaitu limford dan permukaan luar yaitu tonik. Tetapi kejang yang berlangsung lama lebih 15 menit biasanya disertai apnea. RSCM Jakarta. Sedangkan didalam sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. NA meningkat. Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi NA+ rendah. mungkin timbul pertanyaan sifat kejang/gejala yang manakah yang mengakibatkan anak menderita epilepsy. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui oleh ion NA + dan elektrolit lainnya. Epilepsi yang di provokasi oleh demam epilepsi trigered off fever Disub bagian anak FKUI. untuk itu livingston membuat kriteria dan membagi kejang demam menjadi 2 golongan yaitu : 1. K.

Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya seminggu sesudah suhu normal tidak menunjukkan kelainan. Kejang Klonik Kejang Klonik dapat berbentuk fokal. Bentuk kejang tonik yang menyerupai deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang disebabkan oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau kernikterus 1. Kejang bersifat umum. Bentuk klinis kejang klonik fokal berlangsung 1 ± 3 detik. tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak diikuti oleh fase tonik. 1. Gerakan tersebut menyerupai reflek moro. 3. Diagnosa banding kejang pada anak Adapun diagnosis banding kejang pada anak adalah gemetar. 1. Klasifikasi kejang Kejang yang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan dan tungkai dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu : kejang. Kejang berlangsung hanya sebentar saja.Frekuensi kejang bangkitan dalam 1th tidak > 4 kali 4. tak lebih dari 15 menit. kejang tonik dan kejang mioklonik. . terlokalisasi dengan baik. unilateral. Kejang Tonik Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat. Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. 4. Bentuk kejang ini dapat disebabkan oleh kontusio cerebri akibat trauma fokal pada bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensepalopati metabolik. 3. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam 5. klonik. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal 6. bilateral dengan pemulaan fokal dan multifokal yang berpindah-pindah. apnea dan mioklonus nokturnal benigna. Gambaran EEG pada kejang mioklonik pada bayi tidak spesifik. Kejang Mioklonik Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Kejang ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan hebat.2.

Serangan apnea selama 10 ± 15 detik terdapat pada hampir semua bagi prematur. b. Berhentinya pernafasan tidak disertai dengan perubahan denyut jantung. Biasanya timbul pada waktu permulaan tidur berupa pergerakan fleksi pada jari persendian tangan dan siku yang berulang. kadang-kadang pada bayi cukup bulan. warna kulit. Penatalaksanaan Pada umumnya kejang pada BBLR merupakan kegawatan. c. yang memerlukan tindakan segera untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut. Bentuk pernafasan ini disebut pernafasan di batang otak. bayi dengan ensepalopati hipoksik iskemi dan BBLR. Pada keadaan ini USG perlu segera dilakukan. Gemetar adalah gerakan tremor cepat dengan irama dan amplitudo teratur dan sama. hipokapnia dengan hiperiritabilitas neuromuskular. Apabila serangan tersebut berlangsung lama dapat dapat disalahartikan sebagai bentuk kejang klonik fokal atau mioklonik. Gemetar Gemetar merupakan bentuk klinis kejang pada anak tetapi sering membingungkan terutama bagi yang belum berpengalaman. Perlu dipasang infus untuk pemberian glukosa dan obat lain . Mioklonik nokturnal benigna ini dapat dibedakan dengan kejang dan gemetar karena timbulnya selalu waktu tidur tidak dapat di stimulasi dan pemeriksaan EEG normal. Usahakan suhu tetap stabil d. Penatalaksanaan Umum terdiri dari : a. Mioklonus Nokturnal Benigna Gerakan terkejut tiba-tiba anggota gerak dapat terjadi pada semua orang waktu tidur. Keadaan ini dapat terlihat pada anak normal dalam keadaan lapar seperti hipoglikemia. Serangan apnea tiba-tiba yang disertai kesadaran menurun pada BBLR perlu di curigai adanya perdarahan intrakranial dengan penekanan batang otak. tekanan darah. Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan 5. Apnea Pada BBLR biasanya pernafasan tidak teratur. Mengawasi bayi dengan teliti dan hati-hati b. Serangan Apnea yang termasuk gejala kejang adalah apabila disertai dengan bentuk serangan kejang yang lain dan tidak disertai bradikardia. kadang-kadang bentuk gerakannya menyerupai klonik . diselingi dengan henti napas 3-6 detik dan sering diikuti hiper sekresi selama 10 ± 15 detik. karena kejang merupakan tanda adanya penyakit mengenai susunan saraf pusat. Memonitor pernafasan dan denyut jantung c. suhu badan.1.

berikan larutan Ca glukosa 10 % sebanyak 10 ml per oral setiap sebelum minum susu. 6. 2) Kesadaran tiba-tiba menurun sampai koma dan berlanjut dengan hipoventilasi. Pengobatan dengan antikonvulsan dapat dimulai bila gangguan metabolik seperti hipoglikemia atau hipokalsemia tidak dijumpai. Pemeriksaan EEG. Obat konvulsan pilihan utama untuk bayi baru lahir adalah Fenobarbital (Efek mengatasi kejang.e. Pemeriksaan fisik dan laboratorium a. reaksi pupil terhadap cahaya negatif. Banyak penulis tidak atau jarang menggunakan diazepam untuk memberantas kejang pada BBL dengan alasan a. mengurangi metabolisme sel yang rusak dan memperbaiki sirkulasi otak sehingga melindungi sel yang rusak karena asfiksia dan anoxia). Bila kejang tidak hilang. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik lengkap meliputi pemeriksaan pediatrik dan neurologik. Hatihati terjadi hipermagnesemia sebab gejala hipotonia umum menyerupai floppy infant dapat muncul. pemeriksaan ini dilakukan secara sistematis dan berurutan seperti berikut : 1) hakan lihat sendiri manifestasi kejang yang terjadi. Bila terdapat hipogikemia. Fenobarbital dengan dosis awal 20 mg . misal : pada kejang multifokal yang berpindah-pindah atau kejang tonik. kg BB IV berikan dalam 2 dosis selama 20 menit. Bila secara intravena tidak mungkin.2 ml/kg BB (IM) atau larutan 2-3 % mg SO4 (IV) sebanyak 2 ± 6 ml. posisi deserebrasi. kejang tonik. Zat pelarut diazepam mengandung natrium benzoat yang dapat menghalangi peningkatan bilirubin dalam darah. yang biasanya menunjukkan adanya kelainan struktur otak. Kemudian dilanjutkan dengan peroral sesuai kebutuhan. Efek diazepam hanya sebentar dan tidak dapat mencegah kejang berikutnya b. . beri larutan glukosa 20 % dengan dosis 2 ± 4 ml/kg BB secara intravena dan perlahan kemudian dilanjutkan dengan larutan glukosa 10 % sebanyak 60 ± 80 ml/kg secara intravena. dan terdapatnya kuadriparesis flasid mencurigakan terjadinya perdarahan intraventikular. harus pikirkan pemberian magnesium dalam bentuk larutan 50% Mg SO4 dengan dosis 0. terutama pada pemberian pridoksin intravena Bila etiologi telah diketahui pengobatan terhadap penyakit primer segera dilakukan. Pemberian bersama-sama dengan fenobarbital akan mempengaruhi pusat pernafasan c. henti nafas. Pemberian Ca ± glukosa hendaknya disertai dengan monitoring jantung karena dapat menyebabkan bradikardi.

Bila cairan serebro spinal berdarah. depresi atau mulase kepala berlebihan yang disebabkan oleh trauma. 7) Pemeriksaan umum penting dilakukan misalnya mencari adanya sianosis dan bising jantung. kalium. nitrogen.3) Pada kepala apakah terdapat fraktur. Bayi yang menunjukkan EEG latar belakang abnormal dan terdapat gelombang tajam multifokal atau dengan brust supresion atau bentuk isoelektrik. 3) Fungsi lumbal. yang dapat membantu diagnosis iskemia otak. Pemeriksaan darah rutin secara berkala penting untuk memantau pendarahan intraventikuler. amonia dan analisis gas darah. Tanda stasis vaskuler dengan pelebaran vena yang berkelok ± kelok di retina terlihat pada sindom hiperviskositas. EEG juga diperlukan untuk menentukan pragnosis pada bayi cukup bulan. sebagian cairan harus diputar. 5) Pemeriksaan fundus kopi dapat menunjukkan kelainan perdarahan retina atau subhialoid yang merupakan gejala potogonomik untuk hematoma subdural. Hb. Pemeriksaan laboratorium Perlu diadakan pemeriksaan laboratorium segera. Selain itu pemeriksaan laboratorium lainnya yaitu 1) Pemeriksaan darah rutin . perlu dicari luka atau bekas tusukan janin dikepala atau fontanel enterior yang disebabkan karena kesalahan penyuntikan obat anestesi pada ibu. Mempunyai prognosis yang tidak baik dan hanya 12 % diantaranya mempunyai / . Untuk mengatasi terjadinya trauma pada fungsi lumbal dapat di kerjakan hitung butir darah merah pada ketiga tabung yang diisi cairan serebro spinal 4) Pemeriksaan EKG dapat mendekteksi adanya hipokalsemia 5) Pemeriksaan EEG penting untuk menegakkan diagnosa kejang. 6) Transluminasi kepala yang positif dapat disebabkan oleh penimbunan cairan subdural atau kelainan bawaan seperti parensefali atau hidrosefalus. Ubun ±ubun besar yang tegang dan membenjol menunjukkan adanya peninggian tekanan intrakranial yang dapat disebabkan oleh pendarahan sebarakhnoid atau subdural. pemeriksaan kimia. urea. dan bila cairan supranatan berwarna kuning menandakan adanya xantrokromia. magnesium. b. 2) Pemeriksaan gula darah. peradangan. untuk menentukan perdarahan. kalsium. 4) Terdapatnya stigma berupa jarak mata yang lebar atau kelainan kraniofasial yang mungkin disertai gangguan perkembangan kortex serebri. Hal ini berguna untuk menentukan sikap terhadap pengobatan hipoglikemia dan meningitis bakterilisasi. Ht dan Trombosit. berupa pemeriksaan gula dengan cara dextrosfrx dan fungsi lumbal. Ditemukannya korioretnitis dapat terjadi pada toxoplasmosis. Pada bayi yang lahir dengan kesadaran menurun. infeksi sitomegalovirus dan rubella.

Fisik f. dilakukan sesudah fungsi lumbal bila transluminasi positif dengan ubun ± ubun besar tegang. 6) Bila terdapat indikasi. Menarik dan mendorong mainan d. Melempar bola diatas tangan tanpa jatuh 3. 7. Pemeriksaan EEG dapat juga digunakan untuk menentukan lamanya pengobatan. Motorik halus a. g. membenjol dan kepala membesar. c) Foto rontgen kepala bila ukuran lingkar kepala lebih kecil atau lebih besar dari aturan baku d) USG kepala untuk mendeteksi adanya perdarahan subepedmal. Melompat ditempat dengan kedua kaki e. Ubun-ubun anterior tertutup. Berlari dengan tidak mantap b. Motorik kasar a. EEG pada bayi prematur dengan kejang tidak dapat meramalkan prognosis. pemeriksaan lab. Tumbuh kembang pada anak usia 1 ± 3 tahu 1. dilanjutkan untuk mendapatkan diagnosis yang pasti yaitu mencakup : a) Periksaan urin untuk asam amino dan asam organic b) Biakan darah dan pemeriksaan liter untuk toxoplasmosis rubella. pervertikular. Berjalan diatas tangga dengan satu tangan c. perdarahan intrakranial. klasifikasi dan kelainan bawaan otak e) Top coba subdural. Physiologis dapat mengontrol spinkter 2.menunjukkan perkembangan normal. dan vertikular e) Penataan kepala untuk mengetahui adanya infark. Dapat duduk sendiri ditempat duduk f. Dapat membangun menara 3 dari 4 bangunan . citomegalovirus dan virus herpes.

dan dapat menggigit serta dapat mendepak saat berinteraksi. Sosialisasi atau kognitif a. Vokal atau suara a. menghisap jempol. Dampak hospitalisasi Pengalaman cemas pada perpisahan. Permasalahan yang ditemukan yaitu sebagai berikut : a) Rasa takut 1) Memandang penyakit dan hospitalisasi 2) Takut terhadap lingkungan dan orang yang tidak dikenal 3) Pemahaman yang tidak sempurna tentang penyakit 4) Pemikiran yang sederhana : hidup adalah mesin yang menakutkan 5) Demonstrasi : menangis. protes secara fisik dan menangis. b. Ansietas . protes secara verbal. Mengatakan 10 kata atau lebih b. Menggunakan sarung tangan d. merengek. Menggunakan sendok dengan baik c. takut terhadap luka dan nyeri. Melepaskan dan meraih dengan baik c. Watak pemarah mungkin lebih jelas e. menunjukkan regresi. Membuka halaman buku 2 atau 3 dalam satu waktu d. Menyebutkan beberapa obyek seperti sepatu atau bola dan 2 atau 3 bagian tubuh 5. perasaan hilang kontrol menunjukkan temperamental. mengangkat lengan. Menggambar dengan membuat tiruan 4.b. Mulai sadar dengan barang miliknya 8. menyentuh tubuh yang sakit berulang-ulang. Meniru b.

1. Pengkajian Yang paling penting peran perawat selama pasien kejang adalah observasi kejangnya dan gambarkan kejadiannya. orang asing. kontraksi otot lateral harus didokumentasikan termasuk waktu kejang dimulai dan lamanya kejang. perubahan tonus / kekuatan otot. Setiap episode kejang mempunyai karakteristik yang berbeda misal adanya halusinasi (aura ). tanda vital tidak normal atau depresi dengan penurunan nadi dan pernafasan . kehilangan ketrampilan yang baru tidak berminat 4) Menyendiri terhadap lingkungan rumah sakit 5) Tidak berdaya 6) Merasa gagap karena kehilangan ketrampilan 7) Mimpi buruk dan takut kegelapan.1) Cemas tentang kejadian yang tidakdikenal 2) Protes (menangis dan mudah marah. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS 1. kelemahan umum. Gangguan citra diri 1) Sedih dengan perubahan citra diri 2) Takut terhadap prosedur invasive (nyeri) 3) Mungkin berpikir : bagian dalam tubuh akan keluar kalau selang dicabut B. orang berseragam dan yang memberi pengobatan atau perawatan Regresi dan Ansietas tergantung saat makan menghisap jempol 9) Protes dan Ansietas karena restrain c. sianosis. (merengek) 3) Putus harapan : komunikasi buruk. Aktivitas / istirahat : keletihan. motor efek seperti pergerakan bola mata . Riwayat penyakit juga memegang peranan penting untuk mengidentifikasi faktor pencetus kejang untuk pengobservasian sehingga bisa meminimalkan kerusakan yang ditimbulkan oleh kejang. Sirkulasi : peningkatan nadi. Gerakan involunter 2.

Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi 3. perubahan kesadaran. Eliminasi : inkontinensia episodik. peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus spinkter 5. meningkatkan keamanan lingkungan Intervensi . Neurosensor : aktivitas kejang berulang. Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neoromuskular 3. perubahan kesadaran. penurunan kekuatan 5. Integritas ego : stressor eksternal / internal yang berhubungan dengan keadaan dan atau penanganan.3. riwayat truma kepala dan infeksi serebra 7. Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan. 2. Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh 4. Tujuan Cidera / trauma tidak terjadi Kriteria hasil Faktor penyebab diketahui. INTERVENSI Diagnosa 1 Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan. 4. Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul 1. kerusakan jaringan lunak / gigi 6. kehilangan koordinasi otot. Makanan / cairan : sensitivitas terhadap makanan. mempertahankan aturan pengobatan. mual dan muntah yang berhubungan dengan aktivitas kejang. Riwayat jatuh / trauma 2. Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi. peka rangsangan. kehilangan koordinasi otot.

suhu tubuh kembali normal Intervensi Kaji factor pencetus kejang. suara napas vesikuler. tanda-tanda vital setelah kejang. selama. Catat tipe dari aktivitas kejang dan beberapa kali terjadi. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi anti compulsan Diagnosa 2 Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neuromuskular Tujuan Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi Kriteria hasil Jalan napas bersih dari sumbatan. atur posisi tidur klien fowler atau semi fowler. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien. sebelum. Lakukan penghisapan lendir. dan sesudah kejang. Diagnosa 4 Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi. penurunan kekuatan . Observasi tanda-tanda vital. Lakukan penilaian neurology. kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi Diagnosa 3 Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh Tujuan Aktivitas kejang tidak berulang Kriteria hasil Kejang dapat dikontrol. Observasi keadaan umum. Berikan kompres dingin pda daerah dahi dan ketiak. RR dalam batas normal Intervensi Observasi tanda-tanda vital.Kaji dengan keluarga berbagai stimulus pencetus kejang. sekresi mukosa tidak ada. Lindungi klien dari trauma atau kejang. Lindungi anak dari trauma. Berikan kenyamanan bagi klien.

Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan.Tujuan Kerusakan mobilisasi fisik teratasi Kriteria hasil Mobilisasi fisik klien aktif . perawatan dan kondisi klien. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan pada klien. keluarga klien tidak bertanya lagi tentang penyakit. Pengetahuan keluarga meningkat . Diagnosa 5 Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi Tujuan Pengetahuan keluarga meningkat Kriteria hasil Keluarga mengerti dengan proses penyakit kejang demam. Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi 3. Cidera / trauma tidak terjadi 2. EVALUASI 1. Kaji tingkat pengetahuan keluarga klien. Kaji tingkat kerusakan mobilsasi klien. kejang tidak ada. Beri kesempatan pada keluarga untuk menanyakan hal yang belum dimengerti. kebutuhan klien teratasi Intervensi Kaji tingkat mobilisasi klien. Jelaskan pada keluarga klien tentang penyakit kejang demam melalui penkes. Latih klien dalam mobilisasi sesuai kemampuan klien. Aktivitas kejang tidak berulang 4. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan klien. 6. Intervensi Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kerusakan mobilisasi fisik teratasi 5.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->