1 PLOT DAN ALUR CERITA I. PLOT A.

PENGERTIAN Selama ini pengertian plot sering disalahpahami sebagai alur atau jalan cerita. Mungkin karena keduanya dibangun oleh unsur ‘peristiwa’. Penyamaan begitu saja antara plot dengan alur, apalagi mendifinisikan plot sebagai alur agaknya kuranglah tepat. Di dalam sebuah alur belum tentu terdapat plot, sebaliknya sebuah plot sudah pasti akan membentuk alur. Lalu apakah plot itu? Virgil Scoh (1966) mendefinisikan bahwa plot adalah prinsip yang isensial dalam cerita. Sementara Morjorie Boulton (1975) mendefinisikan plot sebagai pengorganisasian dalam novel atau penentu struktur novel dan Dick Hartoko, (1948) menyatakan bahwa plot sebagai alur cerita yang dibuat oleh pembaca yang berupa deretan peristiwa secara kronologis, saling berkaitan dan bersifat kausalitas sesuai dengan apa yang dialami pelaku cerita. Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan plot adalah suatu cerita yang saling berkaitan secara kronologis untuk menunjukkan suatu maksud jalan cerita yang ada. Perhatikan kalimat berikut: “Ibu meninggal dunia, satu bulan kemudian ayah menyusulnya”. Kalimat tersebut belumlah cukup dikatakan mengandung unsur plot, karena sekedar menunjukan urutan waktu (kronologis) kejadian saja. Peristiwa kematian ayah belum tentu disebabkan oleh kematian ibu. Bisa saja ayah meninggal dunia karena tertabrak motor, misalnya. Sehingga tak ada hubungannya dengan kematian ibu. Akan berbeda apabila kalimatnya diubah menjadi: “Ibu meninggal dunia, satu bulan kemudian ayah menyusulnya karena tak kuasa menanggung kesedihan”. Pada kalimat yang kedua ini, selain terdapat urutan waktu kejadian, juga mengandung unsur sebab akibat. Peristiwa kematian ibu menjadi penyebab kematian ayah. Inilah yang disebut plot. B. UNSUR PEMBANGUN PLOT Seperti yang telah disebutkan di awal, plot dibangun oleh unsur peristiwa. Namun, sebuah peristiwa tidak begitu saja hadir. Peristiwa hadir akibat dari aktivitas tokoh-tokoh di dalam cerita yang memiliki konflik atau pertentangan dengan dirinya sendiri, tokoh lainnya, atau dengan lingkungan di mana tokoh itu berada. Namun

Rangkaian peristiwa-peristiwa fungsional merupakan inti dari cerita. Dengan demikian dapat dikatakan. Semenjak kematian ibu. Apabila kalimat-kalimat lainnya dihilangkan tidak akan mempengaruhi bangunan cerita. 1992: 150). Seorang polisi mengabarkan sebuah kecelakan bus yang terjadi beberapa jam lalu. Perhatikan potongan cerita berikut ini: “Gelas ditangan ayah tiba-tiba saja terjatuh. Peristiwa fungsional adalah peristiwa-peristiwa yang sangat mempengaruhi pengembangan plot. kaitan. ayah menyusul ibu karena tak kuasa menanggung kesedihan”. atau bahkan menjadi tidak logis. 1. Jika sebuah peritiwa fungsional dihilangkan akan menyebabkan cerita itu menjadi lain. Yaitu peristiwa kematian ibu. di mana pertentangan tak dapat lagi dihindari. Hatinya menjadi gelisah. tetapi banyak peristiwa. dan acuan. peristiwa dapat dibedakan menjadi peristiwa fungsional. tidak semua peristiwa di dalam karya fiksi berfungsi sebagai pembangun plot. Ibu meninggal dunia dalam kecelakaan itu.2 peristiwa juga bisa disebabkan oleh aktivitas alam yang menimbulkan konflik dengan manusia. Terdapat dua peristiwa fungsional di dalam paragraf tersebut. Peristiwa kematian ibu menjadi penyebab kematian ayah (perhatikan kalimat yang ditebalkan). Telepon di ruang tengah berbunyi. Namun. . Berdasarkan fungsi terhadap pengembangan plot itulah. Potongan cerita di atas menyuguhkan kepada kita rangkain peristiwa yang membentuk plot.Peristiwa Peristiwa dapat diartikan sebagai peralihan dari satu keadaan ke keadaan lainnya (Luxemburg dkk. sebuah plot dibangun oleh peristiwa. Sebuah karya fiksi tentunya tidak terbangun hanya dari satu peristiwa saja. ayah sering mengurung diri di dalam kamarnya.1. Dia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. 1. Tanpa adanya konflik. yang disusul oleh kematian ayah. dan klimaks. Setiap konflik akan bergerak menuju titik intensitas tertinggi. Itulah yang disebut sebagai klimaks. Satu bulan kemudian. sebuah peristiwa hanya akan menjadi narasi tak sempurna. konflik.

sehingga apabila dihilangkan tidak akan merusak logika cerita. Hatinya menjadi gelisah. Gelas ditangan ayah tiba-tiba saja terjatuh. maka cerita akan bergerak ke arah yang berbeda. tetapi lebih berkaitan dengan unsur-unsur lain seperti perwatakan atau suasana yang melingkupi batin seorang tokoh sebelum terjadi peristiwa penting. ayah menyusul ibu karena tak kuasa menanggung kesedihan. Peristiwa kaitan adalah peristiwa-peristiwa yang berfungsi mengaitkan peristiwa-peristiwa fungsional dalam pengurutan penyajian cerita. Peristiwa mengurung dirinya ayah di dalam kamar semenjak kematian ibu. . Satu bulan kemudian. hanya berfungsi mengait peristiwa kematian ibu dengan peristiwa kematian ayah. atau menjadi kurang logis.3. Gelas ditangan ayah tiba-tiba saja terjatuh. Perhatikan kalimat yang ditebalkan pada paragraf di atas. Dia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Ibu meninggal dunia dalam kecelakaan itu. Peristiwa acuan adalah peristiwa-peristiwa yang tidak secara langsung berhubungan dengan plot. 1. Telepon di ruang tengah berbunyi. 1. Seorang polisi mengabarkan sebuah kecelakan bus yang terjadi beberapa jam lalu. Dia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Hatinya menjadi gelisah. Telepon di ruang tengah berbunyi. Peristiwa tersebut tidak mempengaruhi pengembangan plot. Satu bulan kemudian. Ibu meninggal dunia dalam kecelakaan itu.2. ayah menyusul ibu karena tak kuasa menanggung kesedihan. Semenjak kematian ibu. ayah sering mengurung diri di dalam kamarnya. tetapi hanya sebagai penyeling. Semenjak kematian ibu. ayah sering mengurung diri di dalam kamarnya. Seorang polisi mengabarkan sebuah kecelakan bus yang terjadi beberapa jam lalu.3 Namun sebaliknya apabila salah satu dari peristiwa fungsional itu dihilangkan.

2. kematian ibu. Pada tahap ini konflik yang sudah mulai dimunculkan pada tahap awal mengalami peningkatan.4 Peristiwa jatuhnya gelas ditangan ayah dan kegelisahan yang melingkupi batin ayah sebelum mendapat telepon dari polisi. belum tahu awal dan sebab-sebab terjadinya konflik. Pertentangan itu bisa berupa . Padahal. C. Fungsi pokok tahapan awal adalah memberikan informasi dan penjelasan seperlunya yang berkaitan dengan pelataran dan penokohan. pembaca belum dibawa masuk dalam suasan cerita. atau akhir. tahapan tengah. Tahap awal sebuah cerita merupakan tahap perkenalan. dan tahapan akhir Peristiwa awal yang ditampilkan dalam sebuah karya fiksi mungkin saja langsung berupa adegan-adegan yang memiliki kadar konflik dan dramatik tinggi. Kaitan antarperistiwa haruslah jelas. Hal yang demikian dapat terjadi disebabkan urutan waktu penceritaan yang sengaja dimanipulasi dengan urutan peristiwa untuk mendapatkan efek artistik tertentu. bahkan merupakan konflik yang amat menentukan plot karya yang bersangkutan. memberikan isyarat akan terjadinya sebuah peristiwa penting. juga sudah dimunculkan sedikit demi sedikit masalah yang dihadapi tokoh yang menyulut konflik. Pada umumnya berisi informasi yang berkaitan dengan berbagai hal yang akan dikisahkan pada tahap-tahap berikutnya. pertentanganpertentangan dan lain-lain yang akan memuncak di bagian tengah. semakin menegangkan. Pada tahapan ini. tengah. 1. Tahap tengah sebuah cerita sering juga disebut sebagai tahap tikaian. PENAHAPAN PLOT MENURUT PANDANGAN KLASIK Aristoteles mengemukakan bahwa tahapan plot harus terdiri dari tahapan awal. yang memberikan kejuta dan membangkitkan rasa ingin tahu pembaca. Dalam hal ini konflik memiliki pengertian pertarungan atau pertentangan antara dua hal yang menyebabkan terjadinya aksi reaksi. hingga mencapai titik intensitas tertinggi atau klimaks. logis dan dapat dikenali urutan kewaktuannya terlepas dari penempatannya yang mungkin di awal.

3. Tahapan ini merupakan tahapan penyelesaian masalah atau bisa juga disebut sebagai tahapan anti klimaks. atau masalah yang muncul akibat adanya hubungan sosial antarmanusia. Menurut Stanton dalam An Introduction to Fiction klimaks adalah saat konflik telah mencapai titik intensitas tertinggi. Sedangkan konflik sosial terjadi disebabkan adanya kontak sosial antarmanusia. gempa bumi. pemberontakan terhadap terhadap adat lama. Stanton dalam An Introduction to Fiction membedakan konflik menjadi dua. harapan-harapan dan masalah-masalah lainnya. Tahap akhir sebuah cerita biasa juga disebut sebagai tahapan peleraian yang menampilkan adegan tertentu sebagai akibat dari klimaks. yaitu konflik yang terjadi akibat adanya pertentangan antara manusia dengan alam. Konflik eksternal adalah pertentangan yang terjadi antara manusia dengan sesuatu yang berada di luar dirinya. Misalnya saja konflik yang timbul akibat adanya banjir besar. yaitu konflik eksternal dan konflik internal. a. dsb. Konflik elemental. Pertentangan yang terjadi di dalam diri manusia. Konflik merupakan unsur terpenting dari pengembangan plot.5 pertentangan fisik. Sedangkan penyelesaian terbuka lebih membuka peluang bagi kelanjutan cerita sebab konflik belum sepenuhnya selesai dan membuka peluang untuk berbagai penafsiran dari pembacanya. penghianatan. Konflik Internal adalah konflik yang terjadi di dalam hati atau jiwa seorang tokoh cerita. Bahkan bisa dikatakan sebagai elemen inti dari sebuah karya fiksi. Manusia lawan dirinya sendiri. gunung meletus. b. pilihan yang berbeda. Konflik ini dibagi lagi menjadi dua macam. Misalnya saja berupa masalah penindasan. dan saat itu merupakan sesuatu yang tak dapat . manusia lawan alam. peperangan. Penyelesaian sebuah cerita dapat dikatagorikan menjadi dua: penyelesaian tertutup dan penyelesaian terbuka. ataupun pertentangan yang terjadi di dalam batin manusia. dsb. Misalnya saja konflik yang terjadi akibat adanya pertentangan antara dua keinginan. keyakinan. Penyelesaian tertutup menunjuk pada keadaan akhir sebuah karya fiksi yang memang sudah selesai. konflik sosial bisa terjadi antara manusia lawan manusia atau manusia lawan masyarakat.

Dalam tahapan ini. Falling Action. Bagian ini merupakan titik balik terhadap penyelesaian konflik yang dialami tokoh. Pada bagian ini semua konflik diselesaikan sehingga mengurangi ketegangan dan kekhawatiran pembaca terhadap masalah yang dihadapi oleh tokoh dalam cerita tersebut. dan 5) tokoh dengan ketentuan sang pencipta (takdir). Dalam tahapan ini ada lima jenis konflik yang mungkin terjadi 1) konflik antara tokoh dengan tokoh lain. Oleh sebagian ahli bagian ini sering juga disebut anti-klimaks. Kelim bagian tersebut digambarkan seperti gambar dibawah ini. dan Denouement. 2) tokoh dengan masyarakat. Namun perlu diingat bahwa tidak semua cerita memiliki bagian ini. 4) tokoh dengan alam sekitarnya. Pada tahapan ini akan muncul berbagai konflik sampai mencapai klimak tertentu. tidak boleh tidak. 5. Exposition adalah tahapan pengenalan karakter tokoh dan setting sebuah cerita. Klimaks merupakan pertemuan antara dua hal yang dipertentangkan dan menentukan bagaimana konflik itu akan diselesaikan D. karakter bisa diperkenalkan lewat dialog atau ungkapan pikiran. PENAHAPAN PLOT MENURUT PANDANGAN MODERN Freytag membagi plot sebuah cerita fiksi menjadi lima bagian. 1. 2. Rising Action. Rising Action merupakan bagian terpenting dari sebuah cerita fiksi. Artinya. 3. 4. Denouement atau resolusi merupakan bagian dari cerita yang terdiri atas rentetan kejadian yang mengiringi anti-klimaks dan merupakan kesimpulan cerita. berdasarkan tuntutan dan kelogisan cerita. Exposistion. Climax. 3) tokoh dengan dirinya. dimana tokoh yang terlibat sampai pada puncak konflik permasalahannya. Falling Action merupakan bagian cerita yang mengikuti climax. . peristiwa itu harus terjadi. Climax merupakan poin tertinggi dalam sebuah cerita.6 dihindari kejadiannnya.

Suspense (Kekurangpastian) Suspense memiliki pengertian pada adanya perasaan semacam kurang pasti terhadap peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. menggelitik dan . mampu mengikat pembaca seolah-oleh terlibat dalam kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan dialami oleh tokoh cerita.KAIDAH PENGEMBANGAN PLOT Ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar plot yang kita bangun tidak saja menjadi menarik. Suspense tidak semata-mata hanya berurusan dengan ketidaktahuan pembaca. 2. kejutan (suprise). Apakah jika seseorang berada dalam persoalan dan situasi seperti yang dialami tokoh cerita akan bertindak seperti yang dilakukan tokoh itu? Misalnya saja. adanya unsur rasa ingin tahu (suspense). 1. namun tentunya hal ini sangat tidak bisa dipercaya. dan kesatupaduan (unity). mungkinkah seorang tokoh cerita yang mengalami keterbelakangan mental mampu menjawab soal-soal pertanyaan dalam olimpiade matematika? Dalam sebuah cerita fiksi itu mungkin saja. Kenny mengemukakan kaidah-kaidah pemlotan meliputi masalah plausibilitas (plausibility). Suspense akan mendorong. Plausibilitas cerita tidak berarti peniruan realitas belaka. Dalam buku How to Analyze Fiction. tetapi juga sesuai dengan logika cerita. Plot sebuah cerita harus memiliki sifat plausibel atau dapat dipercaya oleh pembaca. Plausibilitas (Keterpercayaan) Plausibilitas memiliki pengertian suatu hal yang dapat dipercaya sesuai dengan logika cerita. Sebuah cerita yang baik tentunya harus mampu membangkitkan rasa ingin tahu pembaca. khususnya yang menimpa tokoh protagonis atau yang diberi simpati oleh pembaca. tetapi lebih disebabkan ia memiliki keberkaitan dengan pengalaman kehidupan. oleh sebab itu ia tak memiliki sifat plausibel. dan tidak melebar ke mana-mana sehingga kehilangan fokus cerita. Pengembangan cerita yang tak plausibel dapat membingungkan dan meragukan pembaca. tetapi lebih dari itu.7 E. Sebuah cerita dikatakan memiliki sifat plausibel jika tokoh-tokoh cerita dan dunianya dapat diimajinasikan dan jika para tokoh dan dunianya tersebut serta peristiwa-peristiwa yang dikemukakan mungkin saja dapat terjadi.

tetapi juga mampu memberika kejutan atau ketakterdugaan. seperti suasana alam di pagi hari.8 memotivasi pembaca untuk setia mengikuti cerita. ruang tamu yang rapih. gerak (action) tokoh-tokohnya. yang bergerak maju (progressif). konflik. mundur atau kilas balik (flashback). Plot sebuah karya fiksi dikatakan memiliki sebuah kejutan apabila sesuatu yang dikisahkan atau kejadian-kejadian yang ditampilkan menyimpang atau bahkan bertentangan dengan harapan pembaca. Dan dialog adalah kata-kata yang diucapkan oleh para tokoh yang kita buat. yang melibatkan tokoh/karakter. mencari jawaban dari rasa ingin tahu terhadap kelanjutan dan akhir cerita.Kesatupaduan Kesatupaduan memiliki pengertian keberkaitan unsur-unsur yang ditampilkan. Deskripsi penggambaran suasana yang statis. dan acuan. . Atau peristiwa demi peristiwa yang susul menyusul. cenderung tetap. sebuah cerita fiksi tanpa alur pastilah bukan cerita. Jadi. Jadi. Ada dialog lahir (terucapkan). dialog. Alur cerita itu jenisnya beragam. 3. atau sekolahan kita yang lengang saat jam belajar. deskripsi.Suprise (Keterkejutan) Plot sebuah cerita yang menarik tidak saja harus mampu membangkitkan rasa ingin tahu pembaca. dan aksi/laku (action). Dengan kata lain alur itu adalah pergerakan cerita dari waktu ke waktu. pelanggaran atau pertentangan apa yang ditampilkan dalam cerita dengan apa yang telah menjadi kebiasaan. II. dan gabungan keduanya. khususnya peristiwa-peristiwa fungsional. dalam karya itu terdapat suatu penyimpangan. atau mentradisi. kaitan. ada dialog batin (tidak terucapkan). benda-benda yang menjadi penyebab atau akibat aksi para tokoh cerita. dan latar. 4. ALUR Forster mengartikan alur atau jalan cerita sebagai sebuah narasi berbagai kejadian yang sengaja disusun berdasarkan urutan waktu. Menurut Ahmadun Yosi Herfanda (Redaktur Sastra/Budaya Republika). Ada benang merah yang menghubungkan berbagai aspek cerita sehingga seluruhnya dapat terasa sebagai satu kesatuan yang utuh dan padu. Narasi itu penggambaran dinamis. yang mengandung konflik atau pengalaman kehidupan yang hendak disampaikan. alur dibangun oleh narasi.

kau paksa dengan cara apapun. dan latar belakang konflik harus kuat. Biasanya ini menarik perhatian. Hatinya tetap mengatakan. seperti ada rahasia besar yang ingin . bahwa jika hal itu dilakukan adalah dosa. jangan lakukan itu. 9) alur erat. 3) alur tidak kronologis/alur mundur /alur regresif/alur flash-back. Agam bangkit dari persemubunyiannya dan mengejar angsa. Contoh deskripsi: Embun membasahi dedaunan. Terasa antara tokoh “Agam” dengan angsa dan danau ada aksi-reaksi dan dinamis. 6) alur tunggal. jangan. membuat alam terasa sejuk dan dingin. Dengan begini pembaca yang hampir beralih ke topik lain bisa kita gaet lagi untuk meneruskan membaca tulisan kita. Sedangkan contoh dialog (lahir ) yang terucapkan: “Aku tidak akan melakukannya! Itu dosa!” Dan dialog (batin) tidak terucapkan: Dia merasa. 5) alur berdasarkan jumlah. misalnya). Kita juga tidak susah memikirkan transisi waktunya. 7) alur ganda. 8) lur berdasarkan kepadatan / kualitatif. 4) alur campuran. harus memperhatikan transisi waktu.9 Contoh narasi: Agam melemparkan batu ke danau. dan 11) alur menanjak. alur flashback . 2) alur kronologis /alur maju/alur progresif. Batu itu mencebur ke permukaan danau dengan keras. Namun yang biasa digunakan oleh kebanyakan penulis karya fiksi adalah alur progresif. menimbulkan bunyi “bum”! Air danau bergelombang dan angsa-angsa liar itu berlarian seperti pesawat terbang yang hendang take off. 10) alur longgar. karena itu lebih mudah. Penulis tinggal merangkai cerita berdasrkan urutan waktu yang dilalui oleh tokoh (sejak lahir sampai wafat. Ini karena pembaca sudah disuguhi ending atau bagian terakhir tulisan. Semua orang terlena dan bersembunyi di balik selimutnya. Jaring pun dilemparkan ke udara. Sedangkan untuk alur mundur. sesuai dengan kronologi cerita. menyergap angsa-angsa liar itu. dan alur campuran Manakah yang lebih unggul dari 3 jenis alur itu? Untuk para (calon) penulis pemula. aku tidak mau melakukannya! Itu dosa! Hatinya menegaskan. sebaiknya mencoba alur maju (progresif) dulu. A. Ya. Macam-macam Alur Ada beberapa jenis alur yang sering digunakan penulisan cerita fiksi yaitu 1) alur berdasarkan urutan waktu.angsa liar itu untuk dijadikan santapan malamnya. Untuk menarik pembaca maka perlu dibuatkan kejutankejutan-kejutan kecil melalui adegan (action) dalam tulisan.

. jika sudah terbiasa itu. Alur mundur ini saya sarankan bagi penulis-penulis yang sudah trbisa dengan format/struktur karangan yang konvensional (pengenalan karakter/masalah. sesuatu yang tidak diduga sebelumnya. lalu ada flash back pengenalan masalah/karakter dan seterusnya. Hal ini sangat bergantung pada kepiawain penulis dalam merangkai imajinasinya menjadi untaian cerita yang menarik.10 kita temukan jawabannya. biasaya pembaca akan terkecoh setelah membaca ending ceritanya. Gampangnya. Sedangkan alur campuran merupakan perpaduan antara alur progresif dengan alur flashbak. Nah. Alur ini bisa membuat cerita akan menjadi lebih dan membuat penasaran pembaca. kita punya banyak kesempatan untuk mengolah dan menjebak pembaca kita pada sebuah misteri. Dalam penggunaan alur ini tidak mesti alur progresif lebih dahulu kemudian alur flaskbak. Ini juga gampang-gampang susah. Jia kita piawai. kita tinggal meletakn ending di awal cerita. pemecahan masalah/ending). konflik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful