P. 1
Bunda Maria

Bunda Maria

4.4

|Views: 3,633|Likes:
Published by Harso Laksono

More info:

Published by: Harso Laksono on Sep 16, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2013

pdf

text

original

Sections

Bunda Maria

Mama

:Bunda

Amabilis

:yang Mencintai

Regna

:yang Memerintah

Immaculata

:yang Tanpa Dosa

Admirabilis

:yang Mengagumkan

Empat Dogma Santa Perawan Maria:

SP Maria Bunda Allah (Theotokos), dimaklumkan dalam Konsili
Efesus pada tahun 431.

SP Maria Tetap Perawan Selamanya, sebelum, selama maupun
sesudah kelahiran Yesus, dimaklumkan dalam Sinode Lateran pada
tahun 649.

SP Maria Dikandung Tanpa Dosa, dimaklumkan oleh Paus Pius IX
pada tanggal 8 Desember 1854.

SP Maria Diangkat ke Surga badan dan jiwanya, dimaklumkan oleh
Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950.

Artikel SP Maria
Devosi SP Maria
Hari Raya & Pesta Santa Perawan Maria

ARTIKEL SP MARIA
SP Maria Bunda Allah
oleh P. Richard Londsdale
SP Maria Bunda Allah oleh P. William P. Saunders

SP Maria Bunda Allah oleh Paus Yohanes Paulus II
SP Maria Bunda Allah & Bunda Kita oleh St. Alfonsus de

Liguori

SP Maria Bunda Gereja oleh P. Matthew R. Mauriello
SP Maria dan Gereja oleh Beato Isaac dari Stella
SP Maria dalam Injil oleh Kardinal Yohanes Henry Newman
SP Maria Yang Dikandung Tanpa Dosa
SP Maria Yang Dikandung Tanpa Dosa
oleh P. William P.

Saunders

SP Maria Diangkat ke Surga
SP Maria Diangkat ke Surga
oleh P. William P. Saunders
SP Maria Tetap Perawan Selamanya
SP Maria Perempuan Berselubungkan Matahari
oleh P.

William P. Saunders

SP Maria Mediatrix (= Perantara Rahmat) oleh P. William

P. Saunders

SP Maria Bunda Dukacita oleh St. Alfonsus Maria de Liguori
SP Maria Bunda Pengharapan oleh P. William P. Saunders
SP Maria Bunda Penolong Abadi oleh P. William P. Saunders
SP Maria Bunda Penolong Abadi
SP Maria Bunda Pertolongan Orang Kristen
SP Maria Ratu Rosario
SP Maria Medali Wasiat
SP Maria dari Lourdes
SP Maria dari Fatima
SP Maria dari Guadalupe

SP Maria dari Guadalupe oleh P. William P. Saunders
SP Maria dari Pompeii
SP Maria dari Naju
SP Maria dari Akita
SP Maria dari Kibeho, Rwanda
SP Maria dari La Salette
oleh P. William P. Saunders
SP Maria dari Pontmain oleh P. William P. Saunders
SP Maria dari Czestochowa (Madonna Hitam) oleh P.

William P. Saunders

SP Maria oleh St. Yohanes M Vianney
SP Maria oleh St. Bernardus dari Clairvaux
SP Maria, Gelar2 dalam Litani Santa Perawan Maria
SP Maria, Gelar2 dalam Litani Santa Perawan Maria :

Meditasi

SP Maria Melahirkan Kristus Tanpa Sakit Bersalin?
Tertidurnya Maria
oleh P. William P. Saunders
Penampakan: Haruskah Percaya? oleh P. William P.

Saunders

DEVOSI SP MARIA
Mengapa Kita Menghormati Bunda Maria?
Mengapa Umat Katolik Berdoa kepada SP Maria?
MARIA: Persoalan yang tak pernah selesai?
Bunda Maria dalam Kalender Liturgi Katolik
Angelus
Kuasa Doa Satu Salam Maria

Salam Maria dan Rosario
Mengapa Berdoa Rosario?
Rosario adalah Doa yang Penuh Kuasa
Rosario dalam Terang Kitab Suci
Meditasi Gelar2 Maria dalam Litani SP Maria
Devosi Sabtu Pertama untuk Pemulihan
Devosi Santa Perawan Maria Berdukacita
Devosi Tujuh Duka Santa Perawan Maria

Kumpulan mengenai Maria Bunda Allah.

Santa Perawan Maria Bunda
Allah

Pada tanggal 1 Januari Gereja Katolik tidak hanya sekedar merayakan
Tahun Baru. Kita juga merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda
Allah.

Sebagian orang Kristen tidak dapat percaya bahwa seseorang yang
dilahirkan di waktu yang silam dapat menjadi "bunda" dari Allah yang
kekal. Mereka berpendapat bahwa Bunda Maria adalah Bunda Yesus, yaitu
Yesus sebagai manusia, tetapi bukan bunda Yesus sebagai Allah. Muncul
masalah dari pernyataan mereka itu, yaitu tampaknya mereka membagi
Yesus menjadi dua: Yesus yang Manusia dan Yesus yang Allah. Malahan
sebagian orang beranggapan bahwa Yesus adalah manusia yang "dirasuki
oleh Allah."

Gereja Katolik selalu percaya bahwa Bunda Maria adalah sungguh-sungguh
Bunda Allah. Karena itu, kita harus memperjuangkan dogma (dogma :
ajaran resmi Gereja yang dinyatakan secara meriah dengan kekuasaan
Bapa Paus) ini lebih dari sekali. Sekitar abad ke-4 dan ke-5 terjadi suatu
debat yang amat seru. Hampir semua uskup dari seluruh dunia berkumpul
bersama di sebuah kota besar di pesisir barat Turki. Nama kota itu adalah
"Efesus". Akhirnya, pada tahun 431 para uskup itu sependapat bahwa tidak
ada yang perlu diragukan lagi. Mereka membuat pernyataan resmi bahwa
Santa Perawan Maria adalah Theotokos (bahasa Yunani) dan Mater Dei
(bahasa Latin), keduanya berarti "Bunda Allah".

Jadi bagaimana mungkin Bunda Maria menjadi Bunda Allah jika Allah telah
ada sebelum Maria ada? Kalian dapat mengatakan bahwa Maria adalah
pintu masuk bagi Tuhan untuk memasuki dimensi Ruang dan Waktu. Yesus
memiliki dua sifat. Yesus sekaligus adalah Allah dan Manusia. Bunda Maria
adalah Bunda dari Manusia yang adalah Allah. Sama seperti sanaknya,
Elizabeth, yang adalah bunda dari orang yang menjadi Pembaptis.

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Richard
Lonsdale.”

Santa Perawan Maria Bunda
Allah

oleh: Paus Yohanes Paulus II

Audiensi Umum, 27 November 1996

1. Renungan akan misteri kelahiran sang Juruselamat telah menghantar
umat Kristiani bukan hanya untuk mengenali Santa Perawan sebagai
Bunda Yesus, melainkan juga untuk mengenalinya sebagai Bunda Allah.
Kebenaran ini telah ditegaskan serta diterima sebagai harta warisan
iman Gereja sejak dari abad-abad awal kekristenan, hingga akhirnya
secara resmi dimaklumkan dalam Konsili Efesus pada tahun 431.

Dalam komunitas Kristiani yang pertama, sementara para murid
semakin menyadari bahwa Yesus adalah Putra Allah, menjadi semakin
nyatalah bahwa Bunda Maria adalah Theotokos, Bunda Allah. Inilah
gelar yang tidak muncul secara eksplisit dalam ayat-ayat Injil, tetapi
dalam ayat-ayat tersebut “Bunda Yesus” disebutkan dan ditegaskan
bahwa Yesus adalah Allah (Yoh 20:28; bdk. 5:18; 10:30, 33). Bunda Maria
dihadirkan sebagai Bunda Imanuel, yang artinya “Tuhan beserta kita”
(bdk. Mat 1:22-23).

Telah sejak dari abad ketiga, seperti dapat disimpulkan dari suatu
kesaksian tertulis kuno, umat Kristiani Mesir telah mendaraskan doa ini
kepada Bunda Maria, “Kami bergegas datang untuk mohon
perlindunganmu, ya Bunda Allah yang kudus, janganlah kiranya engkau
mengabaikan permohonan dalam kesesakan kami, tetapi bebaskanlah
kami dari segala yang jahat, ya Santa Perawan yang mulia” (dari Buku
Ibadat Harian). Istilah Theotokos muncul secara eksplisit untuk pertama
kalinya dalam kesaksian kuno ini.

Dalam mitos kafir, seringkali terjadi bahwa seorang dewi tertentu
dihadirkan sebagai ibunda dari beberapa dewa. Sebagai contoh, dewa
tertinggi, Zeus, memiliki dewi Rhea sebagai ibundanya. Konteks ini
mungkin mendorong umat Kristiani untuk mempergunakan gelar

“Theotokos”, “Bunda Allah”, bagi Bunda Yesus. Namun demikian, patut
dicatat bahwa gelar ini tidak ada sebelumnya, melainkan diciptakan oleh
umat Kristiani guna mengungkapkan suatu keyakinan yang tidak ada
hubungannya dengan mitos kafir, yaitu keyakinan akan perkandungan
Dia, yang senantiasa adalah Sabda Allah yang kekal, dalam rahim Maria
yang perawan.

Konsili Efesus memaklumkan Bunda Maria sebagai Bunda Allah

2. Dalam abad keempat, istilah Theotokos biasa dipergunakan baik di
Gereja Timur maupun Barat. Devosi dan teologi merujuk lebih dan lebih
banyak lagi pada istilah ini, yang sekarang telah menjadi bagian dari
warisan iman Gereja.

Oleh karenanya, orang dapat memahami gerakan protes besar yang
muncul dalam abad kelima ketika Nestorius menyatakan keraguannya
atas kebenaran gelar “Bunda Allah”. Sesungguhnya, berkeyakinan
bahwa Bunda Maria hanyalah bunda dari Yesus manusia, ia bersikukuh
bahwa “Bunda Kristus” adalah satu-satunya istilah yang benar secara
doktrin. Nestorius dihantar pada kesalahan ini karena
ketakmampuannya mengakui keutuhan pribadi Kristus dan karena
tafsirannya yang salah dalam membuat pemisahan kedua kodrat -
kodrat ilahi dan kodrat manusiawi - yang ada dalam Kristus.

Pada tahun 431, Konsili Efesus mengutuk thesisnya dan, dengan
menegaskan kodrat ilahi dan kodrat manusiawi dalam satu pribadi
Putra, memaklumkan Bunda Maria sebagai Bunda Allah.

3. Sekarang, kesulitan-kesulitan dan keberatan-keberatan yang diajukan
oleh Nestorius memberi kita kesempatan untuk melakukan refleksi-
refleksi yang berguna demi pemahaman dan penafsiran yang benar atas
gelar ini. Istilah Theotokos, yang secara harafiah berarti, “ia yang telah
melahirkan Allah,” secara sepintas dapat mengejutkan; sesungguhnya
malahan membangkitkan pertanyaan seperti, bagaimana mungkin
seorang manusia ciptaan melahirkan Allah. Jawaban atas iman Gereja
sangat jelas: Keibuan ilahi Bunda Maria mengacu hanya pada kelahiran
Putra Allah sebagai manusia, tetapi bukan pada kelahiran ilahi-Nya.
Putra Allah dilahirkan dalam kekekalan oleh Allah Bapa, dan sehakikat
dengan-Nya. Bunda Maria, tentu saja tidak ambil bagian dalam kelahiran
dalam kekekalan ini. Tetapi, Putra Allah mengambil kodrat manusiawi
kita 2000 tahun yang lalu dan dikandung serta dilahirkan oleh Perawan
Maria.

Dengan memaklumkan Bunda Maria sebagai “Bunda Allah”, Gereja
bermaksud untuk menegaskan bahwa ia adalah “Bunda dari Inkarnasi
Sabda, yang adalah Allah.” Sebab itu, keibuannya tidak diperluas pada
keseluruhan pribadi Tritunggal Mahakudus, melainkan hanya pada
Pribadi Kedua, Allah Putra, yang dalam berinkarnasi mengambil kodrat
manusiawi-Nya dari Maria.

Keibuan merupakan suatu hubungan dari pribadi ke pribadi: seorang
ibu bukanlah sekedar ibu ragawi atau ibu secara fisik belaka dari
makhluk yang dilahirkan dari rahimnya, melainkan ibu dari pribadi yang
dilahirkannya. Karenanya, dengan melahirkan, menurut kodrat
manusiawi-Nya, pribadi Yesus, yang adalah pribadi Allah, Bunda Maria
adalah Bunda Allah.

Kesediaan Santa Perawan mengawali Peristiwa Inkarnasi

4. Dalam memaklumkan Bunda Maria sebagai “Bunda Allah”, Gereja dalam
satu ungkapan menyatakan imannya akan Putra dan Bunda. Kesatuan
ini telah dilihat dalam Konsili Efesus; dalam mendefinisikan keibuan
ilahi Bunda Maria, para Bapa Gereja bermaksud menegaskan keyakinan
mereka akan keilahian Kristus. Walau menghadapi banyak keberatan,
baik dulu maupun sekarang, mengenai tepat atau tidaknya dalam
menggelari Bunda Maria dengan gelar ini, umat Kristiani sepanjang
jaman, dengan menafsirkan secara tepat makna keibuan ini, telah
mengungkapan secara istimewa iman mereka akan keilahian Kristus
dan akan kasih mereka kepada Santa Perawan.

Di satu pihak, Gereja memaklumkan Theotokos sebagai jaminan atas
realita Inkarnasi sebab - seperti dinyatakan St Agustinus - “jika Bunda
fiktif, maka daging akan juga fiktif … dan merupakan corengan terhadap
Kebangkitan” (in evangelium Johannis tractatus, 8, 6-7). Di lain pihak,
Gereja juga mengkontemplasikan dengan penuh kekaguman dan
merayakannya dengan penghormatan anugerah agung luhur yang
dianugerahkan kepada Bunda Maria oleh Ia yang menghendaki untuk
menjadi Putranya. Ungkapan “Bunda Allah” juga menunjuk pada Sabda
Allah, yang dalam Inkarnasi merendahkan diri dalam rupa manusia guna
meninggikan manusia sebagai anak-anak Allah. Tetapi dalam terang
martabat luhur yang dianugerahkan kepada Perawan dari Nazaret, gelar
ini juga memaklumkan kemuliaan wanita dan panggilannya yang luhur.
Sesungguhnya, Tuhan memperlakukan Bunda Maria sebagai pribadi
yang bebas dan bertanggung jawab dan tidak mewujud-nyatakan
Inkarnasi PutraNya hingga setelah Ia memperoleh kesediaannya.

Mengikuti teladan umat Kristiani perdana dari Mesir, kiranya umat
beriman mempercayakan diri kepada dia yang, sebagai Bunda Allah,
dapat memperolehkan dari Putra Ilahinya rahmat pembebasan dari yang
jahat dan keselamatan kekal.

sumber : “Church Proclaims Mary 'Mother of God'” Pope John Paul II; Copyright ©
1997 Catholic Information Network (CIN) - 04-14, 2003; www.cin.org

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic
Information Network”

SP Maria Bunda Allah & Bunda
Kita

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

dari:
KEMULIAAN MARIA

Betapa besar sepantasnya kita menempatkan kepercayaan kita kepada
Bunda Maria, sebab ia adalah bunda kita.

BUKAN KEBETULAN ataupun dalam kesia-siaan belaka para hamba
Maria menyebutnya Bunda. Tak dapat mereka berseru kepadanya
dengan nama lain, dan tak bosan-bosannya mereka menyebutnya
bunda: sungguh bunda, sebab ia sungguh bunda kita, bukan menurut
daging, melainkan bunda rohani dari jiwa dan keselamatan kira.

Dosa, ketika merenggut rahmat ilahi dari jiwa kita, juga merenggut hidup
darinya. Sebab itu, ketika jiwa kita mati dalam dosa dan sengsara,
Yesus, Penebus kita, datang dengan kerahiman dan kasih yang tak
terhingga, guna memulihkan hidup yang hilang itu bagi kita dengan
wafat-Nya di atas salib, seperti yang Ia Sendiri nyatakan,
“Aku datang,
supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala
kelimpahan” (Yoh 10:10). Dalam segala kelimpahan, sebab, seperti
diajarkan para teolog, Yesus Kristus dengan karya penebusan-Nya
memperolehkan bagi kita berkat dan rahmat yang jauh lebih besar
daripada luka yang ditimbulkan Adam atas kita dengan dosanya; Ia
memulihkan hubungan kita dengan Tuhan dan dengan demikian menjadi
Bapa bagi jiwa kita, di bawah hukum rahmat yang baru, seperti
dinubuatkan nabi Yesaya,
“Bapa yang Kekal, Raja Damai” (Yes 9:5).

Jika Yesus adalah Bapa dari jiwa kita, maka Maria adalah bundanya,
sebab dengan memberikan Yesus kepada kita, ia memberikan hidup
sejati kepada kita, dan dengan mempersembahkan hidup Putranya di
atas Kalvari demi keselamatan kita, ia melahirkan kita ke dalam hidup
rahmat ilahi.

Dalam dua peristiwa yang berbeda, Bunda Maria menjadi bunda rohani
kita. Pertama kali ketika ia didapati layak mengandung Putra Allah dalam
rahimnya yang perawan, demikian dikatakan Albertus Magnus. St.
Bernardinus dari Siena mengajarkan bahwa ketika Santa Perawan
Tersuci, pada waktu malaikat menyampaikan kabar sukacita,
menyatakan kesediaannya untuk menjadi bunda dari Sabda yang kekal,
kesediaan yang dinantikan-Nya sebelum menjadikan Diri-Nya Putranya,
Bunda Maria dengan tindakannya ini memohonkan keselamatan kita
kepada Tuhan. Begitu khusuk ia dalam memohonkannya, hingga sejak
saat itulah ia, seolah-olah, mengandung kita dalam rahimnya, sebagai
seorang bunda yang paling penuh kasih sayang.

Perihal kelahiran Juruselamat kita, St. Lukas mengatakan bahwa Bunda
Maria,
“melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung” (Luk
2:7). Oleh sebab itu, seperti diungkapkan seorang penulis, jika penulis
Injil menegaskan bahwa Maria melahirkan anaknya yang sulung,
tidakkah kita beranggapan bahwa sesudahnya ia mempunyai anak-anak
yang lain? Tetapi, penulis yang sama menambahkan bahwa jika menurut
iman Bunda Maria tidak mempunyai anak-anak lain menurut daging
kecuali Yesus, maka pastilah ia mempunyai anak-anak rohani yang lain,
yaitu kita. Dan ini menjelaskan apa yang dikatakan tentang Maria dalam
Kidung Agung:
“Perutmu timbunan gandum, berpagar bunga-bunga
bakung” (7:2). St. Ambrosius menjelaskan ayat ini, “Walaupun dalam
rahim Maria yang murni hanya ada satu biji gandum, yang adalah Yesus
Kristus, namun demikian disebut timbunan gandum, sebab dalam biji
gandum yang satu itu terkandung mereka semua yang terpilih kepada
siapa Maria akan menjadi bundanya.” Maka, tulis William sang Abbas,
Bunda Maria ketika melahirkan Yesus, yang adalah Juruselamat kita dan
hidup kita, melahirkan kita semua dalam hidup dan keselamatan.

Kedua kalinya Bunda Maria melahirkan kita dalam rahmat adalah ketika
di Kalvari ia mempersembahkan kepada Bapa yang kekal dengan
dukacita yang begitu pedih di hati, hidup Putranya terkasih demi
keselamatan kita. Sebab itu, St. Agustinus menegaskan, dengan
bekerjasama dengan Kristus dalam kelahiran umat beriman ke dalam
hidup rahmat, ia dengan kerjasamanya ini juga menjadi bunda rohani
dari mereka semua yang adalah anggota-anggota Kepala, yaitu Yesus
Kristus. Inilah juga makna dari apa yang dikatakan mengenai Santa
Perawan dalam Kidung Agung,
“aku dijadikan mereka penjaga kebun-
kebun anggur; kebun anggurku sendiri tak kujaga” (1:6).

Bunda Maria, demi meyelamatkan jiwa kita, rela mengurbankan hidup
Putranya sendiri, demikian dikatakan William sang Abbas. Dan siapakah

jiwa sejati Maria, selain daripada Yesus, yang adalah hidupnya dan
segenap kasihnya? Maka, St. Simeon menubuatkan kepadanya bahwa
jiwanya suatu hari kelak akan ditembus oleh pedang dukacita; yang
adalah tombak yang ditikamkan ke lambung Yesus, yang adalah jiwa
Maria. Dan kemudian, ia dalam dukacitanya melahirkan kita ke dalam
hidup yang kekal, sehingga kita semua dapat menyebut diri kita sebagai
anak-anak dari dukacita Maria. Ia, bunda kita yang paling lemah-lembut,
senantiasa dan sepenuhnya mempersatukan diri pada kehendak ilahi.
Itulah sebabnya St. Bonaventura mengatakan, ketika Maria melihat kasih
Bapa yang kekal bagi manusia, yang merelakan Putra-Nya wafat demi
keselamatan kita, dan kasih Putra yang bersedia wafat bagi kita, Bunda
Maria juga, dengan segenap kesediaannya, mempersembahkan
Putranya dan `fiat'-nya bahwa Ia wafat agar kita diselamatkan,
memberikan diri dalam ketaatan pada kasih tak terhingga Bapa dan
Putra kepada umat manusia.

Oleh sebab itu, bersukacitalah, hai kalian semua putera-puteri Maria.
Ingatlah bahwa ia mengambil sebagai anak-anaknya mereka semua
yang menghendakinya menjadi bunda mereka. Bersukacitalah: adakah
yang engkau takuti ketika tersesat apabila Bunda ini membela serta
melindungimu? Dengan demikian, kata St. Bonaventura, siapa pun yang
mengasihi bunda yang lemah-lembut ini, selayaknya bersikap berani
sembari mengulang dalam hatinya: Adakah yang engkau takuti, wahai
jiwaku? Sumber keselamatan kekalmu tak akan hilang, sebab
pengadilan terakhir ada dalam tangan Yesus, yang adalah saudaramu,
dan Bunda Maria, yang adalah bundamu. Dan St. Anselmus, penuh
sukacita atas pemikiran ini, berseru guna membesarkan hati kita, “Oh,
sumber kepercayaan yang terberkati! Oh, tempat pengungsian yang
aman! Bunda Allah adalah bundaku juga. Betapa yakin kita akan
pengharapan kita, sebab keselamatan kita tergantung pada pengadilan
seorang saudara yang penuh belas-kasihan dan bunda yang lemah-
lembut!”

Sebab itu, dengarkanlah bunda kita yang memanggil kita dan berkata,
“Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari” (Ams 9;4). Kata
“Mama,” senantiasa ada dalam bibir anak-anak kecil, dan dalam segala
bahaya dan dalam segala ketakutan, mereka akan berteriak, “Mama!
Mama!” Bunda Maria yang termanis, bunda yang paling penuh kasih
sayang, itulah kerinduanmu yang sesungguhnya, yaitu agar kami
menjadi anak-anak kecil yang senantiasa menyerukan namamu dalam
segala bahaya, serta senantiasa mohon pertolongan darimu, oleh sebab
engkau rindu menolong serta menyelamatkan kami, sebagaimana
engkau telah menyelamatkan segenap anak-anakmu yang berlindung
kepadamu.

sumber : "from The Glories Of Mary" by St. Alphonsus Liguori

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

SP Maria dan Gereja

oleh: Beato Isaac dari Stella, Abbas (1100-1169)

Putra Allah adalah putera sulung dari banyak saudara. Meskipun secara
manusiawi Ia adalah putra tunggal, tetapi dengan rahmat Ia telah
mempersatukan banyak orang kepada Diri-Nya Sendiri dan menjadikan
mereka satu dengan-Nya. Sebab, kepada mereka yang menerima-Nya, Ia
memberikan kuasa untuk menjadi anak-anak Allah.

Putra Allah menjadi Anak Manusia dan menjadikan manusia anak-anak
Allah, mempersatukan mereka kepada Diri-Nya Sendiri dengan kasih
dan kuasa-Nya, supaya mereka semua menjadi satu. Dalam diri mereka
sendiri, mereka banyak menurut keturunan manusiawi, tetapi dalam Dia,
mereka semua satu melalui kelahiran baru yang ilahi.

Kristus yang seluruhnya dan Kristus yang unik - tubuh dan kepala -
adalah satu: satu karena dilahirkan dari Allah yang sama di surga, dan
dari bunda yang sama di dunia. Ada banyak anak, tetapi satu. Kepala
dan anggota adalah satu anak, tetapi banyak; demikian pula halnya,
Bunda Maria dan Gereja adalah satu ibu, tetapi lebih dari satu ibu; satu
perawan, tetapi lebih dari satu perawan.

Keduanya adalah ibu, keduanya adalah perawan. Masing-masing
mengandung dari kuasa Roh yang sama, tanpa noda. Masing-masing
melahirkan putera Allah Bapa, tanpa dosa. Tanpa dosa, Bunda Maria
melahirkan Kristus, sang Kepala, demi tubuh-Nya. Dengan

pengampunan dari segala dosa, Gereja melahirkan tubuh, demi
Kepalanya. Masing-masing adalah Bunda Kristus, tetapi tak satu pun
melahirkan Kristus seluruhnya tanpa kerjasama dari yang lain.

Dalam Kitab-kitab yang diilhami, apa yang dikatakan secara universal
sebagai bunda perawan, Gereja, dipahami secara individual sebagai
Perawan Maria, dan apa yang dikatakan secara khusus sebagai bunda
perawan Maria dengan tepat dipahami secara general sebagai bunda
perawan, Gereja. Entah yang mana yang dibicarakan, maknanya dapat
diartikan keduanya, hampir tanpa pengecualian.

Demikian juga, setiap umat Kristiani diyakini sebagai mempelai Sabda
Allah, ibu Kristus, puteri-Nya dan saudari-Nya, sekaligus perawan dan
dengan banyak anak. Kata-kata ini dipergunakan secara universal
sebagai Gereja, secara istimewa sebagai Bunda Maria, dan secara
khusus sebagai individu Kristiani. Semuanya dipergunakan oleh pribadi
Kebijaksanaan Allah, Sabda Bapa.

Itulah sebabnya mengapa Kitab Suci mengatakan: Aku akan tinggal di
rumah Tuhan. Rumah Tuhan adalah, dalam arti general, Gereja; dalam
arti istimewa, Bunda Maria, dalam arti individual, umat Kristiani. Kristus
tinggal selama sembilan bulan lamanya dalam tabernakel rahim perawan
Maria. Ia tinggal hingga akhir abad dalam tabernakel iman Gereja. Ia
akan tinggal selama-lamanya dalam benak dan dalam kasih setiap jiwa
beriman.

sumber : “Mary and the Church” from a sermon by Blessed Isaac of Stella

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

SP Maria dalam Injil

oleh: Kardinal Yohanes Henry Newman

disampaikan di Katedral St. Chad, 1848

Ada suatu ayat dalam Injil yang mungkin membuat sebagian besar dari
kita terperanjat, sehingga diperlukan penjelasan. Ketika Yesus sedang
berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan
berkata kepada-Nya,
“Berbahagialah ibu yang telah mengandung
Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” (Luk 11:27). Yesus
membenarkan, tetapi bukannya tinggal dalam pujian perempuan ini, Ia
lalu mengatakan sesuatu yang lebih jauh. Yesus berbicara tentang
kebahagiaan yang lebih besar. Kata-Nya,
“Yang berbahagia ialah mereka
yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” Sekarang,
perkataan Yesus ini perlu kita pahami dengan baik, sebab banyak orang
yang sekarang ini beranggapan bahwa perkataan tersebut dimaksudkan
untuk merendahkan kemuliaan dan kebahagiaan Santa Perawan Maria
Tersuci; seolah-olah Yesus telah mengatakan, “Bunda-Ku berbahagia,
tetapi hamba-hamba-Ku yang sejati lebih berbahagia daripadanya.” Oleh
sebab itu, aku akan menyampaikan sedikit komentar atas ayat ini, dan
dengan ketepatan yang sepantasnya, sebab kita baru saja melewatkan
pesta Bunda Maria, hari raya di mana kita mengenangkan Kabar
Sukacita, yaitu, kunjungan Malaikat Gabriel kepadanya, dan
perkandungan ajaib Putra Allah, Tuhan dan Juruselamatnya, dalam
rahimnya.

Sekarang, sedikit penjelasan saja sudah akan cukup untuk
menunjukkan bahwa perkataan Kristus bukanlah untuk meremehkan
martabat dan kemuliaan Bunda-Nya, sebagai yang paling unggul dari
antara ciptaan dan Ratu dari Semua Orang Kudus. Renungkanlah, Ia
mengatakan bahwa lebih berbahagia melakukan perintah-Nya daripada
menjadi Bunda-Nya, dan apakah kalian pikir bahwa Bunda Allah yang
Tersuci tidak melakukan perintah-perintah Allah? Tentu saja tak seorang
pun - bahkan seorang Protestan sekalipun - dapat menyangkal bahwa ia

melakukannya. Jadi, jika demikian, apa yang dikatakan Kristus adalah
bahwa Santa Perawan lebih berbahagia karena ia melakukan perintah-
perintah-Nya daripada karena ia menjadi Bunda-Nya. Dan apakah orang
Katolik menyangkal hal ini? Sebaliknya, kita semua mengakuinya.
Segenap umat Katolik mengakuinya. Para Bapa Gereja yang kudus
mengatakan lagi dan lagi bahwa Bunda Maria lebih berbahagia dalam
melakukan kehendak Allah daripada menjadi Bunda-Nya. Bunda Maria
berbahagia dalam dua hal. Ia berbahagia karena menjadi Bunda-Nya; ia
berbahagia karepa dipenuhi dengan semangat iman dan ketaatan. Dan
kebahagiaan yang terakhir itu lebih besar dari yang pertama. Aku
katakan bahwa para bapa yang kudus menyatakannya dengan begitu
jelas. St Agustinus mengatakan, “Bunda Maria lebih berbahagia dalam
menerima iman Kristus, daripada dalam menerima daging Kristus.”
Serupa dengan itu, St Elisabet mengatakan kepada Bunda Maria saat
kunjungannya, “Beata es quee credidisti - berbahagialah ia, yang telah
percaya”; dan St Krisostomus lebih jauh mengatakan bahwa ia tak akan
berbahagia, meskipun ia mengandung tubuh Kristus dalam tubuhnya,
jika ia tidak mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya.

Sekarang, aku mempergunakan kalimat “St Krisostomus lebih jauh
mengatakan,” bukan berarti bahwa pernyataannya bukanlah suatu
kebenaran yang nyata. Aku mengatakan pernyataannya merupakan
kebenaran yang nyata bahwa Bunda Maria tidak akan berbahagia,
meskipun ia menjadi Bunda Allah, jika ia tidak melakukan kehendak-
Nya; tetapi pernyataan tersebut merupakan suatu pernyataan yang
ekstrim, dengan mengandaikan sesuatu yang tidak mungkin, dengan
mengandaikan bahwa ia dapat demikian dihormati namun tidak dipenuhi
dan dirasuki oleh rahmat Allah, padahal malaikat, ketika datang
kepadanya, dengan jelas memberinya salam sebagai yang penuh
rahmat. “Ave, gratia plena.” Kedua kebahagiaan di atas tak dapat
dipisahkan. (Sungguh luar biasa bahwa Bunda Maria sendiri
berkesempatan untuk membedakan dan memilahnya, dan bahwa ia
memilih untuk melakukan perintah-perintah Tuhan lebih daripada
menjadi Bunda-Nya, seandainya saja ia harus memilih salah satu
diantaranya). Ia, yang dipilih untuk menjadi Bunda Allah, juga dipilih
untuk gratia plena, penuh rahmat. Kalian lihat, inilah penjelasan dari
doktrin-doktrin penting yang diterima di antara umat Katolik mengenai
kemurnian dan ketakberdosaan Santa Perawan. St Agustinus tidak akan
pernah mau mendengarkan gagasan bahwa Bunda Maria pernah
melakukan suatu dosa pun, dan Konsili Trente memaklumkan bahwa
oleh rahmat istimewa, Bunda Maria sepanjang hidupnya bebas dari
segala dosa, bahkan dosa ringan sekali pun. Dan kalian tahu bahwa hal
tersebut merupakan keyakinan Gereja Katolik, yaitu bahwa ia dikandung
tanpa dosa asal, dan bahwa perkandungannya tanpa noda dosa.

Lalu, darimanakah doktrin-doktrin ini berasal? Doktrin-doktrin tersebut
berasal dari prinsip utama yang terkandung dalam perkatan Kristus
yang aku komentari ini. Ia mengatakan, “adalah lebih berbahagia
melakukan kehendak Allah daripada menjadi Bunda Allah.” Jangan
katakan bahwa umat Katolik tidak merasakan hal ini secara mendalam -

begitu mendalam kita merasakannya hingga kita memperluasnya hingga
ke keperawanan, kemurnian, perkandungannya yang tanpa dosa, iman,
kerendahan hati dan ketaatannya. Jadi, jangan pernah mengatakan
bahwa umat Katolik melupakan ayat Kitab Suci ini. Setiap kali kita
merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa, atau
semacamnya, kita memperingatinya karena kita memandang begitu
dalam pada kebahagiaan kekudusan. Perempuan di antara orang banyak
itu berseru,
“berbahagialah rahim dan susu Maria.” Perempuan ini
berbicara dalam iman; ia tidak bermaksud menolak kebahagiaan Bunda
Maria yang lebih besar, tetapi perkataannya hanya mengarah pada satu
maksud saja. Oleh sebab itu, Kristus menyempurnakannya. Dan karena
itu, Gereja-Nya sesudah Dia, yang tinggal dalam misteri Inkarnasi-Nya
yang agung dan sakral, merasa bahwa ia, yang begitu cepat
menanggapinya, pastilah seorang yang terkudus. Dan karenanya, demi
menghormati Putra, perempuan itu menyanjung kemuliaan Bunda.
Seperti kita memberikan yang terbaik bagi-Nya, sebab segala yang
terbaik berasal dari-Nya, seperti di dunia kita menjadikan gereja-gereja
kita agung dan indah; seperti ketika Ia dirurunkan dari salib, para
hamba-Nya yang saleh membungkus-Nya dengan kain kafan yang baik
dan membaringkan-Nya dalam suatu makam yang belum pernah
dipakai; seperti tempat kediaman-Nya di surga murni dan tak bernoda,
begitu terlebih lagi selayaknya dan begitulah adanya - bahwa tabernakel
darimana Ia mengambil rupa daging, di mana Ia terbaring, kudus dan tak
bernoda dan ilahi. Sementara tubuh dipersiapkan bagi-Nya, demikian
juga wadah bagi tubuh itu dipersiapkan pula. Sebelum Bunda Maria
dapat menjadi Bunda Allah, dan guna menjadikannya seorang Bunda, ia
disisihkan, dikuduskan, dipenuhi rahmat, dan dibentuk agar layak bagi
kehadiran yang Kekal.

Dan para bapa suci mempelajari dengan seksama ketaatan dan
ketakberdosaan Bunda Maria dari kisah Kabar Sukacita, saat ia menjadi
Bunda Allah. Sebab ketika malaikat menampakkan diri dan
memaklumkan kepadanya kehendak Allah, para bapa suci mengatakan
bahwa Bunda Maria menunjukkan teristimewa empat karunia -
kerendahan hati, iman, ketaatan dan kemurnian. Rahmat-rahmat ini
merupakan prasyarat persiapan untuknya dalam menerima
penyelenggaraan yang begitu luhur. Jadi, seandainya ia tidak
mempunyai iman dan kerendahan hati dan kemurnian dan ketaatan, ia
tidak akan memperoleh rahmat untuk menjadi Bunda Allah. Oleh sebab
itu wajarlah dikatakan bahwa ia mengandung Kristus dalam benaknya
sebelum ia mengandung Kristus dalam tubuhnya, artinya bahwa
kebahagiaan iman dan ketaatan mendahului kebahagiaan menjadi
seorang Bunda Perawan. Para bapa suci bahkan mengatakan bahwa
Tuhan menantikan kesediaannya sebelum Ia datang ke dalam dirinya
dan mengambil daging darinya. Sama seperti Ia tidak melakukan
perbuatan-perbuatan ajaib di suatu tempat sebab mereka tidak memiliki
iman, demikian juga mukjizat agung ini, di mana Ia menjadi Putra dari
makhluk ciptaan, ditangguhkan hingga ia dicoba dan didapati layak
untuk itu - hingga ia taat sepenuhnya.

Ada satu hal lagi yang perlu ditambahkan di sini. Baru saja aku katakan
bahwa kedua kebahagiaan tersebut tak dapat dipisahkan, bahwa
keduanya itu satu.
“Berbahagialah ibu yang telah mengandung
Engkau,” dst.; “Yang berbahagia ialah,” dst. Memang benar demikian,
tetapi perhatikanlah ini. Para bapa suci senantiasa mengajarkan bahwa
dalam peristiwa Kabar Sukacita, ketika malaikat menampakkan diri
kepada Bunda Maria, Santa Perawan menunjukkan bahwa ia memilih
apa yang disebut Tuhan sebagai kebahagiaan yang terbesar dari antara
kedua kebahagiaan itu. Sebab ketika malaikat memaklumkan kepadanya
bahwa ia dipersiapkan untuk memperoleh kebahagiaan yang dirindukan
para wanita Yahudi selama berabad-abad, untuk menjadi Bunda dari
Kristus yang dinantikan, ia tidak menangkap kabar tersebut seperti yang
dilakukan dunia, melainkan ia menanti. Ia menanti hingga dikatakan
kepadanya bahwa hal tersebut bersesuaian dengan keadaannya yang
perawan. Bunda Maria tidak bersedia menerima kehormatan yang paling
mengagumkan ini, tidak bersedia hingga ia dipuaskan dalam hal ini,
“Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Para
bapa suci beranggapan bahwa ia telah mengucapkan kaul kemurnian,
dan menganggap kesucian lebih tinggi daripada melahirkan Kristus.
Demikianlah ajaran Gereja, menunjukkan dengan jelas bagaimana
cermatnya Gereja memeriksa doktrin dari ayat Kitab Suci yang aku
komentari ini, betapa mendalamnya Gereja memahami bahwa Bunda
Maria merasakannya yaitu bahwa meskipun berbahagia rahim yang
mengandung Kristus dan susu yang menyusui-Nya, namun demikian
lebih berbahagialah jiwa yang memiliki rahim dan susu itu, lebih
berbahagialah jiwa yang penuh rahmat, yang karena demikian dipenuhi
rahmat diganjari dengan hak istimewa luar biasa dengan menjadi Bunda
Allah.

Sekarang, suatu pertanyaan lebih lanjut muncul, yang mungkin patut
kita renungkan. Mungkin orang bertanya, mengapa Kristus tampaknya
meremehkan kehormatan dan hak istimewa Bunda-Nya? Ketika
perempuan itu mengatakan,
“Berbahagialah ibu yang telah
mengandung Engkau”, dst. Ia sesungguhnya menjawab, “Ya.” Tetapi, Ia
mengatakan,
“Yang berbahagia ialah ...” Dan dalam suatu peristiwa lain,
Ia menjawab ketika orang memberitahukan kepada-Nya bahwa ibu-Nya
dan saudara-saudaranya berusaha menemui Dia,
“Siapa ibu-Ku?” dst.
Dan di masa yang lebih awal, ketika Ia mengadakan mukjizat-Nya yang
pertama di mana Bunda-Nya mengatakan kepada-Nya bahwa para tamu
dalam perjamuan nikah kekurangan anggur, Ia mengatakan:
“Mau
apakah engkau dari pada-Ku, perempuan? Saat-Ku belum tiba.” Ayat-
ayat ini sepertinya merupakan perkataan yang dingin terhadap Bunda
Perawan, meskipun maknanya dapat dijelaskan secara memuaskan. Jika
demikian, apa maknanya? Mengapa Ia berbicara demikian?

Sekarang saya akan memaparkan dua alasan sebagai penjelasan:

Pertama, yang segera muncul dari apa yang saya katakan adalah ini:
bahwa selama berabad-abad para wanita Yahudi masing-masing
mengharapkan untuk menjadi ibunda sang Kristus yang dinantikan, dan

tampaknya mereka tidak menghubungkannya dengan kekudusan yang
lebih tinggi. Sebab itu, mereka begitu merindukan pernikahan; sebab itu
pernikahan dianggap sebagai suatu kehormatan yang istimewa oleh
mereka. Sekarang, pernikahan merupakan suatu penetapan Tuhan, dan
Kristus menjadikannya suatu sakramen - namun demikian, ada sesuatu
yang lebih tinggi, dan orang Yahudi tidak memahaminya. Seluruh
gagasan mereka adalah menghubungkan agama dengan kesenangan-
kesenangan dunia ini. Mereka tidak tahu, sesungguhnya, apa itu
merelakan dunia ini demi yang akan datang. Mereka tidak mengerti
bahwa kemiskinan lebih baik dari kekayaan, nama buruk daripada
kehormatan, puasa dan matiraga daripada pesta-pora, dan keperawanan
daripada perkawinan. Dan karenanya, ketika perempuan dari antara
orang banyak itu berseru mengenai kebahagiaan rahim yang telah
mengandung dan susu yang telah menyusui-Nya, Ia mengajarkan
kepada perempuan itu dan kepada semua yang mendengarkan-Nya
bahwa jiwa lebih berharga daripada raga, dan bahwa bersatu dengan-
Nya dalam Roh, lebih berharga daripada bersatu dengan-Nya dalam
daging.

Itu satu alasan. Alasan yang lain lebih menarik. Kalian tahu bahwa
Juruselamat kita selama tigapuluh tahun pertama hidup-Nya di dunia
tinggal di bawah satu atap dengan Bunda-Nya. Ketika Ia kembali dari
Yerusalem pada usia duabelas tahun dengan Bunda-Nya dan St Yosef,
dengan jelas dikatakan dalam Injil bahwa Ia tetap hidup dalam asuhan
mereka. Pernyataan ini merupakan pernyataan tegas, tetapi asuhan ini,
yang adalah kehidupan keluarga yang lazim, tidak untuk selamanya.
Bahkan dalam peristiwa di mana penginjil mengatakan bahwa Ia hidup
dalam asuhan mereka, Ia telah mengatakan dan melakukan hal yang
dengan tegas menyampaikan kepada mereka bahwa Ia mempunyai
tugas kewajiban yang lain. Sebab Ia meninggalkan mereka dan tinggal di
Bait Allah di antara para alim ulama, dan ketika mereka menunjukkan
ketercengangan mereka, Ia menjawab,
“Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku
harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Ini, menurutku, merupakan
suatu antisipasi akan masa pewartaan-Nya, saat ketika Ia harus
meninggalkan rumah-Nya. Selama tigapuluh tahun Ia tinggal di sana,
tetapi sementara Ia dengan tekun menjalankan tugas kewajiban-Nya
dalam rumah tangga yang menjadi tanggung-jawab-Nya, Ia begitu
merindukan karya Bapa-Nya, saat ketika tibalah waktu bagi-Nya untuk
melaksanakan kehendak Bapa. Ketika saat perutusan-Nya tiba, Ia
meninggalkan rumah-Nya dan Bunda-Nya, dan meskipun Ia sangat
mengasihinya, Ia tak mengindahkannya.

Dalam Perjanjian Lama, kaum Lewi dipuji karena mereka tidak kenal lagi
ayah ataupun ibu mereka ketika tugas dari Tuhan memanggil. Tentang
mereka dikatakan sebagai
“berkata tentang ayahnya dan tentang
ibunya: aku tidak mengindahkan mereka; ia yang tidak mau kenal
saudara-saudaranya dan acuh tak acuh terhadap anak-anaknya”
(Ulangan 33). Jika demikian perilaku kaum imam di bawah Hukum,
betapa terlebih lagi yang dituntut dari Imam agung sejati dari Perjanjian
Baru guna memberikan teladan keutamaan tersebut yang didapati serta

diganjari dalam diri kaum Lewi. Ia Sendiri juga telah mengatakan:

“Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak
layak bagi-Ku.” Dan Ia mengatakan kepada kita bahwa “setiap orang
yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki
atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau
ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan
memperoleh hidup yang kekal” (Mat 19). Oleh sebab itu, Ia yang
menetapkan perintah haruslah memberikan teladan dan seperti telah
dikatakan-Nya kepada para pengikut-Nya untuk meninggalkan segala
sesuatu yang mereka miliki demi Kerajaan Allah, Diri-Nya Sendiri harus
melakukan segala yang Ia dapat, meninggalkan segala yang Ia miliki,
meninggalkan rumah-Nya dan Bunda-Nya, ketika tiba saatnya Ia harus
mewartakan Injil.

Sebab itu, sejak saat awal pewartaan-Nya, Ia meninggalkan Bunda-Nya.
Pada saat Ia melakukan mukjizat-Nya yang pertama, Ia menyatakannya.
Ia melakukan mukjizat atas permintaan Bunda-Nya, tetapi secara tak
langsung atau lebih tepat menyatakan, bahwa saat itulah Ia mulai
memisahkan Diri darinya. Kata Yesus,
“Mau apakah engkau dari pada-
Ku, perempuan?” dan lagi, “Saat-Ku belum tiba”; yakni “akan tiba
waktunya di mana Aku akan mengenalimu kembali, oh BundaKu. Akan
tiba waktunya ketika engkau dengan sepantasnya dan dalam kuasa akan
dipersatukan dengan-Ku. Akan tiba waktunya ketika atas permintaanmu,
Aku akan melakukan mukjizat-mukjizat; akan tiba waktunya, tetapi
bukan sekarang. Dan hingga tiba waktunya, Mau apakah engkau dari
pada-Ku? Aku tidak mengenalmu. Untuk sementara waktu Aku telah
melupakan engkau.”

Sejak saat itu, kita tidak mendapati catatan mengenai perjumpaan-Nya
dengan Bunda-Nya hingga Ia melihatnya di bawah salib. Ia berpisah
dengannya. Satu kali Bunda-Nya berusaha menemui-Nya. Dikisahkan
bahwa Ia tidak sendirian. Murid-murid ada di sekeliling-Nya. Bunda
Maria tampaknya kurang suka ditinggalkan sendiri. Ia juga pergi
mendapatkan-Nya. Pesan disampaikan kepada-Nya bahwa ibunda dan
saudara-saudara-Nya berusaha menemui-Nya, tetapi tidak dapat
mencapai-Nya karena orang banyak. Kemudian Ia mengatakan
perkataan yang serius ini,
“Siapakah ibu-Ku?” dst, artinya, seperti
tampaknya, Ia telah meninggalkan segalanya demi melayani Tuhan, dan
bahwa seperti Ia telah dikandung dan dilahirkan dari Santa Perawan
demi kita, demikian pulalah Ia tidak mengindahkan Bunda-Nya yang
Perawan demi kita, agar Ia dapat memuliakan Bapa Surgawi-Nya dan
melakukan karya-Nya.

Demikianlah perpisahan-Nya dengan Bunda Maria, tetapi ketika di salib
Ia berkata,
“Sudah selseai.” Saat perpisahan telah berakhir. Dan sebab
itu, karena Bunda-Nya telah bergabung dengan-Nya, dan Ia, melihat
Bunda-Nya, mengenalinya kembali. Waktunya telah tiba, dan Ia berkata
kepadanya tentang St Yohanes,
“Perempuan, inilah anakmu!” dan
kepada St. Yohanes,
“Inilah ibum!”

Dan sekarang, saudara-saudaraku, sebagai kesimpulan aku hanya akan
mengatakan satu hal. Aku tidak ingin kata-kata kalian melebihi perasaan
kalian yang sesungguhnya. Aku tidak menghendaki kalian mengambil
buku-buku berisi puji-pujian kepada Santa Perawan dan
mempergunakannya serta menirunya dengan tergesa tanpa
merenungkannya. Melainkan, yakinlah akan hal ini, yaitu apabila kalian
tidak dapat masuk ke dalam kehangatan buku-buku devosi asing itu, hal
itu akan merupakan kelemahan bagimu. Menggunakan kata-kata yang
kuat tidak berarti akan menyelesaikan masalah; hal ini merupakan suatu
kesalahan yang hanya akan dapat diatasi secara perlahan-lahan, tetapi
tetap merupakan suatu kelemahan. Bergantunglah pada cara kalian
masuk ke dalam sengsara Putra yang adalah dengan masuk ke dalam
sengsara Bunda. Tempatkanlah dirimu di bawah kaki salib, pandanglah
Bunda Maria yang berdiri di sana, menengadah ke salib dan dengan
jiwanya ditembusi pedang. Bayangkanlah perasaan-perasaan hatinya,
jadikan itu perasaan hatimu. Jadikan ia teladanmu yang istimewa.
Rasakanlah apa yang ia rasakan dan kalian akan dengan layak
menangisi sengsara dan wafat Juruselamatmu dan Juruselamatnya.
Teladanilah imannya yang bersahaja dan kalian akan percaya dengan
baik. Berdoalah agar dipenuhi rahmat seperti yang dianugerahkan
kepadanya. Sayang sekali, kalian pasti akan merasakan banyak
perasaan seperti yang tak dimilikinya, perasaan atas dosa pribadi, atas
penderitaan pribadi, atas tobat, atas penyangkalan diri, tetapi hal-hal ini
dalam diri seorang berdosa pada umumnya akan disertai dengan iman,
kerendahan hati, kesahajaan yang adalah perhiasannya yang utama.
Menangislah bersama Bunda Maria, berimanlah bersamanya, dan pada
akhirnya engkau akan mengalami kebahagiaannya seperti yang
dimaksud dalam ayat Kitab Suci. Tak seorang pun sungguh-sungguh
dapat memperoleh hak istimewanya yang khusus dengan menjadi
Bunda Yang Mahatinggi, tetapi kalian akan ikut ambil bagian dalam
kebahagiaanya yang lebih besar, yaitu kebahagiaan dalam
melaksanakan kehendak Allah dan mentaati perintah-perintah-Nya.

sumber : “Our Lady In The Gospel” by Cardinal John Henry Newman; Copyright ©
1997 Catholic Information Network (CIN) - February 9, 1997; www.cin.org

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic
Information Network”

Yang Dikandung Tanpa Dosa

(Immaculate Conception)

8 DESEMBER : HR SP MARIA DIKANDUNG
TANPA DOSA

"Akulah Yang Dikandung Tanpa Dosa"
"Que Soy Era Immaculada Conceptiou"
"I Am The Immaculate Conception"

Pesan Bunda Maria dalam suatu
penampakan kepada St. Bernadette

Salah satu hal yang khas yang membedakan kita, umat Katolik, dari
saudara-saudari kita yang Protestan adalah cinta dan penghormatan yang
kita persembahkan kepada Bunda Yesus. Kita percaya bahwa Maria,
sebagai Bunda Allah, sudah selayaknya memperoleh penghormatan, devosi
dan penghargaan yang sangat tinggi. Salah satu dogma (dogma = ajaran
resmi gereja yang dinyatakan secara meriah dengan kekuasaan Paus)
Gereja Katolik mengenai Bunda Maria adalah Dogma Dikandung Tanpa
Dosa. Pestanya dirayakan setiap tanggal 8 Desember. Masih banyak orang
Katolik yang belum paham benar mengenai dogma ini. Jika kalian bertanya
kepada beberapa orang Katolik, "Apa itu Dogma Dikandung Tanpa Dosa?",
maka sebagian besar dari mereka akan menjawab, "Yaitu bahwa Yesus
dikandung dalam rahim Santa Perawan Maria tanpa dosa, atau tanpa
seorang bapa manusia." Jawaban demikian adalah jawaban yang salah yang
perlu dibetulkan. Ya, tentu saja Yesus dikandung tanpa dosa karena Ia
adalah Allah Manusia. Tetapi Dikandung Tanpa Dosa adalah dogma yang
menyatakan bahwa Bunda Maria dikandung dalam rahim ibunya, Santa
Anna, tanpa dosa asal. Bunda Maria adalah satu-satunya manusia yang
dianugerahi karunia ini. Bunda Maria memperoleh keistimewaan ini karena
ia akan menjadi bejana yang kudus dimana Yesus, Putera Allah, akan masuk
ke dunia melaluinya. Oleh karena itu, Bunda Maria sendiri harus
dihindarkan dari dosa asal. Sejak dari awal mula kehadirannya, Bunda
Maria senantiasa kudus dan suci - betul-betul"penuh rahmat". Kita
menggunakan kata-kata ini ketika kita menyapa Maria dalam doa Salam
Maria, tetapi banyak orang yang tidak meluangkan waktu untuk memikirkan
apa arti sebenarnya kata-kata ini. Ketika Malaikat Gabriel menampakkan
diri kepada Bunda Maria untuk menyampaikan kabar sukacita, dialah yang
pertama kali menyapa Maria dengan gelarnya yang penting ini,

Lukas 1:28 "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai
engkau."

Kata-kata "penuh rahmat" ketika diterjemahkan dari teks bahasa Yunani,
sesungguhnya digunakan sebagai nama yang tepat untuk menyapa Maria.
Istilah Yunani yang digunakan menunjukkan bahwa Maria dalam keadaan
penuh rahmat atau dalam keadaan rahmat yang sempurna sejak dari ia
dikandung sampai sepanjang hayatnya di dunia. Bukankah masuk akal jika
Tuhan menghendaki suatu bejana yang kudus, yang tidak bernoda dosa
untuk mengandung Putera-Nya yang Tunggal? Bagaimana pun juga, Yesus,
ketika hidup di dalam rahim Maria, tumbuh dan berkembang sama seperti
bayi-bayi lainnya tumbuh dan berkembang dalam rahim ibu mereka masing-
masing. Ia menerima darah Maria dan menerima makanan untuk
pertumbuhan-Nya dari tubuh Maria sendiri.

Sebagian kaum Protestan menolak dogma ini dengan mengatakan bahwa
Maria berbicara tentang "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku
bergembira karena Allah, Juruselamatku." Mengapa Maria memerlukan
seorang Juruselamat, tanya mereka, jika ia tanpa noda dosa? Gereja
mengajarkan bahwa karena Maria adalah keturunan Adam, maka menurut
kodratnya ia mewarisi dosa asal. Hanya oleh karena campur tangan Allah
dalam masalah yang unik ini, Maria dibebaskan dari dosa asal. Jadi,
sesungguhnya Maria diselamatkan oleh rahmat Kristus, tetapi dengan cara
yang sangat istimewa. Rahmat tersebut dilimpahkan ke atasnya sebelum ia
dikandung dalam rahim ibunya.

Kaum Protestan juga akan menyanggah dengan mengatakan bahwa dogma
ini tidak sesuai dengan ayat Kitab Suci yang mengatakan bahwa "semua
orang telah berbuat dosa" (Roma 3:23). Namun demikian, jika kita
mempelajari masalah ini dengan sungguh-sungguh, kita akan menemukan
beberapa pengecualian. Kitab Suci juga mengajarkan bahwa meskipun
semua orang telah berbuat dosa, Yesus yang adalah sungguh-sungguh
manusia tidak berbuat dosa. Logis jika kita melanjutkannya dengan
mengatakan bahwa Maria juga tidak berdosa dan dihindarkan dari dosa
asal agar ia dapat tetap senantiasa menjadi bejana yang kudus untuk
mengandung bayi Yesus.

Secara sederhana Dogma Dikandung Tanpa Dosa dapat dijelaskan sebagai
berikut:

Seperti kita ketahui, Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang
diciptakan Tuhan. Tuhan memberikan kepada mereka apa saja yang mereka
inginkan di Firdaus, Taman Eden. Tetapi Allah berfirman bahwa mereka
tidak diperbolehkan makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang
baik dan yang jahat. Lucifer, raja iblis, datang kepada mereka dan

membujuk mereka makan buah pohon tersebut. Adam dan Hawa memakan
buah itu; mereka tidak taat kepada Tuhan dan karenanya mereka diusir
dari Firdaus. Oleh karena dosa pertama itu, semua manusia yang dilahirkan
sesudah Adam dan Hawa mewarisi apa yang disebut "dosa asal". Itulah
sebabnya, ketika seorang bayi lahir, ia segera dibaptis supaya dosa asal itu
dibersihan dari jiwanya sehingga ia menjadi kudus dan suci, menjadi anak
Allah.

Ketika Tuhan hendak mengutus Putera-Nya, Yesus, ke dunia untuk
menyelamatkan kita, Tuhan memerlukan kesediaan seorang perempuan
yang kudus untuk mengandung Yesus dalam rahimnya. Tuhan memutuskan
bahwa perempuan ini harus dibebaskan dari dosa asal Adam dan Hawa. Ia
juga memutuskan bahwa perempuan ini haruslah seseorang yang istimewa
serta amat suci dan kudus. Sama halnya seperti jika kalian mempunyai satu
termos air jeruk segar, maka kalian tidak akan menuangkannya ke dalam
gelas yang kotor untuk meminumnya, ya kan? Kalian akan menuangkan air
jeruk segar itu ke dalam gelas yang bersih untuk meminumnya. Demikian
juga Tuhan tidak ingin Putera Tunggal-Nya itu ditempatkan dalam rahim
seorang perempuan berdosa. Oleh karena itulah, Tuhan membebaskan
Maria dari dosa asal sejak Maria hadir dalam rahim ibunya, yaitu Santa
Anna. Inilah yang disebut Dogma Dikandung Tanpa Dosa - memang suatu
istilah yang sulit, tetapi artinya ialah Maria tidak mewarisi dosa Adam dan
Hawa, sehingga Maria dapat menjadi seorang bunda yang kudus yang
mengandung Yesus dalam rahimnya."

sumber : “In Defense of the Blessed Virgin Mary”;
www.qni.com/~catholic/defense.htm

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Diangkat ke Surga
(Maria Assumpta)

15 AGUSTUS : HR SP MARIA
DIANGKAT KE SURGA

"Yakinlah anakku, bahwa
tubuhku ini, yang telah
menjadi bejana bagi Sabda
yang hidup, telah dihindarkan
dari kerusakan makam.
Yakinlah juga, bahwa tiga hari
setelah kematianku, tubuhku
itu dibawa oleh sayap-sayap
malaikat menuju tangan kanan
Putera Allah, di mana aku
memerintah sebagai ratu."

Pesan Bunda Maria dalam
suatu penampakan kepada St.
Antonius dari Padua

Dogma Santa Perawan Maria diangkat
ke surga dirayakan untuk menghormati suatu kebenaran, yaitu bahwa
setelah akhir hidupnya di dunia, Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan
raganya. Dalam Kitab Kejadian 5:24 dan 2 Raja-raja 2:1-12 Kitab Suci
menceritakan bagaimana tubuh Henokh dan Elia diangkat ke surga. Jadi
hal diangkat ke surga bukanlah hal baru yang belum pernah terjadi
sebelumnya. Gereja tidak pernah menegaskan secara resmi apakah Bunda
Maria benar-benar meninggal secara jasmani, meskipun banyak ahli yang
beranggapan demikian.

Baru-baru ini dalam suatu meditasi mingguan, Paus Yohanes Paulus II
menyatakan bahwa "Bunda tidak lebih tinggi dari Putera". Pernyataannya
itu memperkuat keyakinan bahwa Maria mengalami kematian jasmani.
Karena Yesus sendiri harus wafat, maka logis sekali jika kita beranggapan
bahwa Bunda Maria juga wafat secara fisik sebelum ia diangkat ke surga.
Karena kita yakin bahwa Bunda Maria dikandung tanpa dosa dan tetap
"penuh rahmat" sepanjang hidupnya di dunia, logis juga jika kita
beranggapan bahwa tubuh jasmaninya dihindarkan dari kerusakan setelah
kematiannya.

Seandainya Maria dimakamkan di suatu tempat di dunia ini, pastilah ada
makamnya. Bunda Maria sangat dihormati dan dicintai oleh Gereja
Perdana. Jemaat Gereja Perdana dengan cermat sekali menjaga reliqui

(Latin = peninggalan, yaitu tulang-belulang, pakaian dll peninggalan para
kudus), jenasah serta barang-barang peninggalan para martir gereja. Kita
mengetahui lokasi di mana Yesus dilahirkan, lokasi penyaliban, lokasi Yesus
naik ke surga, serta banyak tempat-tempat penting lainnya yang
berhubungan dengan kehidupan Kristus. Kita dapat mengenali tempat-
tempat tersebut karena saudara-saudara kita dari Gereja Perdana
meneruskan informasi tersebut kepada kita melalui Tradisi. Reliqui jemaat
gereja perdana serta reliqui keduabelas rasul masih ada, demikian juga
reliqui Kristus seperti Kain Kafan Turin dan potongan-potongan kayu dari
Salib Kristus yang asli.

Seandainya saja Bunda Maria mempunyai makam, tentulah makamnya akan
dihargai serta dihormati oleh gereja. Karena, bukankah ia adalah Bunda
Allah. Kenyataannya, tidak satu pun kota di mana Bunda Maria pernah
tinggal, Efesus atau pun Yerusalem, yang menyatakan memiliki makam
Maria. Mengapa demikian? Karena memang tidak ada makamnya di dunia.

Kaum Protestan tidak setuju dengan dogma Santa Perawan Maria Diangkat
ke Surga, meskipun mereka percaya bahwa kelak kita semua 'akan
diangkat bersama-sama' dan 'menyongsong Tuhan di angkasa' (1
Tesalonika 4:17). Sebaliknya, umat Katolik percaya bahwa Maria diberi
keistimewaan untuk lebih dulu diangkat ke surga. Dan mengapakah ia tidak
boleh menerima keistimewaan seperti itu, tubuhnya - yang merupakan
bejana kudus bagi bayi Yesus - dihindarkan dari kerusakan duniawi?

Secara sederhana Dogma Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dapat
dijelaskan sebagai berikut:

Tentunya kita masih ingat dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa
Dosa, yaitu bahwa Tuhan menciptakan Maria dalam rahim ibunya, Santa
Anna, tanpa noda dosa asal. Tuhan menghendaki demikian supaya Maria
dapat mengandung Yesus, yang adalah Putera Allah. Pada akhir hidup Maria
di dunia, Tuhan memutuskan untuk melakukan sesuatu yang istimewa
baginya. Tubuhnya tidak dimakamkan, tetapi Tuhan mengangkat tubuhnya
ke surga. Inilah yang disebut Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.
Bunda Maria diangkat jiwa dan raganya ke surga agar ia dapat senantiasa
bersama dengan Yesus. Sungguh suatu karunia yang amat istimewa yang
dianugerahkan Tuhan kepada Maria, karena Tuhan amat mengasihinya.
Sekarang Maria adalah Ratu Surga dan Bumi.

Sementara Kitab Suci mengajarkan kita hal-hal yang terpenting, ada
banyak keterangan serta informasi yang hanya kita peroleh melalui tradisi

gereja karena pada kenyataannya ada banyak hal yang tidak dicatat dalam
Kitab Suci:

Yohanes 20:30 "Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di
depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini."

2 Tesalonika 2:15 "Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada
ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun
secara tertulis"

Kuasa Gereja untuk menetapkan dogma Santa Perawan Maria Dikandung
Tanpa Dosa dan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga datang dari kuasa
mengajar yang dilimpahkan Yesus kepada Petrus dan para rasul. Kenyataan
mengenai adanya ajaran-ajaran atau pun kejadian-kejadian yang tidak
secara khusus dicatat di dalam Kitab Suci tidak berarti bahwa ajaran-
ajaran atau pun kejadian-kejadian itu tidak ada. Gereja telah menetapkan
dengan cermat dan tegas demi kepentingan kaum beriman karena Yesus
telah berjanji kepada kita bahwa Ia akan membimbing dan mengajar
Gereja-Nya dengan mutlak (tanpa salah) melalui para pemimpin gereja
serta melalui Magisterium Gereja (Kuasa mengajar Gereja: tak dapat
sesat dalam hal iman dan susila (moral) karena dilindungi oleh Allah Roh
Kudus) sampai akhir zaman.

sumber : In Defense of the Blessed Virgin Mary; www.qni.com/~catholic/defense.htm

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Tetap Perawan Selamanya

Adalah benar bahwa Maria tetap perawan
sepanjang hidupnya dan tidak memiliki anak lain
kecuali Yesus. Yesus dikandung dari Kuasa Roh
Kudus dalam rahim Perawan Maria yang suci dan tak
bernoda. Umat Katolik percaya bahwa Maria tetap
perawan sepanjang hidupnya di dunia, tetapi
sebagian besar orang Protestan berpendapat bahwa
Maria mempunyai anak-anak lain selain Yesus.
Kerumitan mengenai masalah tersebut timbul

karena adanya kurang lebih 10 ayat dalam Perjanjian Baru di mana
digunakan istilah "saudara laki-laki" dan "saudara perempuan" Yesus
(misalnya saja dalam Matius 13:55, Markus 3:31-34, Lukas 8:19-20).

Dalam ayat-ayat Injil tersebut, istilah "saudara laki-laki dan saudara
perempuan" diterjemahkan dari bahasa Yunani adelphos, adelphe atau
adelphoi. Dalam bahasa Yunani istilah tersebut berarti saudara sepupu
atau sanak saudara, yaitu mereka semua yang termasuk sanak saudara
karena hubungan pernikahan atau hukum, meskipun bukan hubungan
langsung. Persoalannya ialah bahasa Ibrani dan bahasa Aram, yaitu bahasa
yang digunakan oleh Kristus dan murid-murid-Nya, tidak memiliki istilah
khusus untuk menyebut saudara sepupu atau sanak saudara, jadi digunakan
istilah "saudara laki-laki" dan "saudara perempuan". Suatu informasi kecil
yang menarik dan amat penting artinya untuk membuktikan bahwa Yesus
tidak memiliki saudara dan saudari kandung. Beberapa orang Rasul, St.
Yudas Tadeus dan St. Yakobus, adalah saudara Yesus juga, tetapi mereka
adalah saudara sepupu.

Suatu bukti lain yang menguatkan bahwa Yesus tidak memiliki saudara dan
saudari kandung tampak dari ayat-ayat Kitab Suci yang mengisahkan saat-
saat menjelang ajal-Nya:

Yohanes 19:25-27 "Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara
ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat
ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada
ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-
Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam
rumahnya."

Jika saja benar bahwa Yesus memiliki saudara dan saudari kandung, maka
sesuai adat orang Yahudi, tentulah Yesus menyerahkan pemeliharaan ibu-
Nya kepada mereka. Tetapi yang terjadi ialah Yesus menyerahkan bunda-
Nya kepada St. Yohanes Rasul, yang sama sekali tidak ada hubungan darah
dengan-Nya. Ini adalah suatu bukti nyata bahwa Yesus tidak memiliki
saudara kandung, baik laki-laki maupun perempuan. Karena jika ada
saudara dan saudari kandung-Nya, tentulah Yesus meminta mereka untuk
merawat bunda-Nya setelah Ia wafat.

Kemurnian amatlah penting artinya bagi Maria. St. Yosef juga
menghormati prinsip Maria tersebut sepanjang hidup berkeluarga dengan
Maria. St. Maria dan St. Yosef hidup dalam cinta kasih yang tulus suci
sebagai saudara. Keduanya adalah teladan kesucian dan kemurnian yang

mengagumkan. Kita perlu lebih sering memohon pada mereka untuk menjadi
pendoa bagi kita terutama dalam melewati masa remaja kita yang penuh
dengan berbagai cobaan dan tantangan agar senantiasa mampu menjaga
kemurnian kita masing-masing.

sumber : In Defense of the Blessed Virgin Mary; www.qni.com/~catholic/defense.htm

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Perempuan Berselubungkan
Matahari

oleh: P. William P. Saunders *

Pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, kita
mendengarkan bacaan dari Kitab Wahyu yang mengisahkan seorang
perempuan berselubungkan matahari, seorang Anak dan seekor naga.
Apakah perempuan yang dimaksud adalah Bunda Maria? Seorang
teman Protestan dalam pendalaman Kitab Suci mengatakan bukan.
~ seorang pembaca di Sterling

Pertama-tama, marilah menyegarkan ingatan kita dengan ayat dari Kitab
Wahyu 11:19 - 12:6, “Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan
kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah
kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat. Maka
tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan
berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah

mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang
mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak
melahirkan ia berteriak kesakitan. Maka tampaklah suatu tanda yang
lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar,
berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh
mahkota. Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit
dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan
perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya,
segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. Maka ia melahirkan
seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa
dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari
kepada Allah dan ke takhta-Nya. Perempuan itu lari ke padang gurun, di
mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia
dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.”

Sejak jaman para bapa Gereja perdana, gambaran akan “perempuan
berselubungkan matahari” ini mengandung tiga perlambang: bangsa
Israel kuno, Gereja dan Bunda Maria. Mengenai bangsa Israel kuno,
Yesaya menggambarkan Israel sebagai,
“Seperti perempuan yang
mengandung yang sudah dekat waktunya untuk melahirkan, menggeliat
sakit, mengerang karena sakit beranak, demikianlah tadinya keadaan
kami di hadapan-Mu, ya TUHAN” (Yes 26:17). Tentu saja, kita patut ingat
juga bahwa dari bangsa Israel kunolah baik Bunda Maria maupun
Mesias berasal.

“Perempuan berselubungkan matahari” dapat juga melambangkan
Gereja. Selanjutnya, dalam Kitab Wahyu bab 12 ayat 17, kita membaca,

“Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi
keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan
memiliki kesaksian Yesus.” “Keturunannya” adalah anak-anak Allah
yang telah dibaptis, para anggota Gereja. Paus St. Gregorius
menjelaskan, “Matahari melambangkan terang kebenaran, dan bulan
melambangkan kefanaan hal-hal yang sementara sifatnya; Gereja yang
kudus bagaikan berselubungkan matahari sebab Gereja dilindungi oleh
kemuliaan kebenaran ilahi, dan bulan ada di bawah kakinya sebab ia
berada di atas segala hal-hal duniawi” (Moralia, 34, 12).

Terakhir, perempuan itu dapat diidentifikasikan sebagai Santa Perawan
Maria. Bunda Maria melahirkan Juruselamat kita, Yesus Kristus. St.
Bernardus menyatakan pendapatnya, “Matahari mengandung warna dan
kemilau yang tetap; sementara cemerlang bulan tidak tetap dan
berubah-ubah, tidak pernah sama. Adalah tepat, karenanya, apabila
Maria digambarkan sebagai perempuan berselubungkan matahari,
sebab ia masuk ke kedalaman kebijaksanaan ilahi, jauh, jauh lebih
dalam daripada yang mungkin dapat dipahami manusia” (De B. Virgine,
2).

Dalam mengidentifikasikan gambaran “perempuan berselubungkan
matahari” sebagai Bunda Maria, muncullah kepenuhan atas gambaran
bangsa Israel kuno dan Gereja. Mari kita berpikir tentang bangsa Israel

kuno. Ketika Malaikat Agung Gabriel menampakkan diri kepada Bunda
Maria, ia memaklumkan (seperti dicatat dalam Kitab Suci),
“Salam, hai
engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” (Luk 1:28).
Selanjutnya, ia mengatakan,
“Jangan takut, hai Maria, sebab engkau
beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan
mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah
engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut
Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan
kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja
atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya
tidak akan berkesudahan.” (Luk 1:30-33). Pernyataan ini merefleksikan
nubuat Zefanya mengenai bangsa Israel kuno dan kedatangan Mesias,

“Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel!
Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri
Yerusalem! TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu,
telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di
antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi. Pada hari itu
akan dikatakan kepada Yerusalem: "Janganlah takut, hai Sion!
Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu.” (Zef 3:16). Karena itu, Bunda
Maria, Bunda sang Mesias, sebagai “perempuan berselubungkan
matahari” mewakili kegenapan nubuat yang disampaikan kepada
bangsa Israel.

Demikian pula, Bunda Maria dipandang sebagai “perempuan
berselubungkan matahari,” yang dengan tepat melambangkan Gereja,
karena Bunda Maria adalah Bunda Gereja. St. Paulus dalam suratnya
kepada jemaat di Galatia menegaskan,
“…setelah genap waktunya,
maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan
takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang
takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.” (4:4-
5). Menguraikan hal ini, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (Lumen
Gentium) Konsili Vatikan II, mengajarkan, “Sekaligus perawan dan
bunda, Maria merupakan simbol dan realisasi paling sempurna dari
Gereja: “Gereja … dengan menerima Sabda Allah dengan setia pula -
menjadi ibu juga. Sebab melalui pewartaan dan baptis, Gereja
melahirkan bagi hidup baru yang kekal abadi putera-puteri yang
dikandungnya dari Roh Kudus dan lahir dari Allah.” (No. 64). Lagipula,
Konsili Vatikan II melanjutkan bahwa dengan diangkat ke surga dalam
kemuliaan, Maria “menjadi citra serta awal Gereja yang harus mencapai
kepenuhannya di masa yang akan datang.” (no. 68). Dan yang terakhir,
pada akhir sesi ketiga Konsili Vatikan II, pada tanggal 21 November
1964, ketika Lumen Gentium telah diterbitkan, Paus Paulus VI
menyatakan, “Kami memaklumkan Santa Perawan Maria sebagai Bunda
Gereja, yaitu, ibu seluruh umat kristiani, baik umat beriman maupun
para gembalanya, dan kita menyebutnya Bunda yang paling terkasih.”
Sebab itu, Bunda Maria mewakili kegenapan gambaran akan Gereja: ia,
yang adalah Bunda sang Juruselamat yang mendirikan Gereja, adalah
bunda rohani dari mereka semua yang melalui pembaptisan diangkat
sebagai anak-anak Allah dan anggota Gereja.

Baiklah kita mengutip ajaran Paus St. Pius X dalam ensikliknya, Ad Diem
Illum Laetissimum (1904): "Setiap orang tahu bahwa perempuan ini
adalah Perawan Maria… Yohanes, karenanya, melihat Bunda Allah yang
Tersuci telah ada dalam kebahagiaan abadi, namun demikian menderita
sakit bersalin dalam suatu persalinan yang misterius. Kelahiran apakah
itu? Tentu saja kelahiran kita yang, meskipun masih berada di
pembuangan, namun akan dilahirkan ke dalam belas kasih Allah yang
sempurna dan ke dalam kebahagiaan kekal” (24).

Ada beberapa alasan penting lainnya dalam mengidentifikasikan
“perempuan berselubungkan matahari” sebagai Bunda Maria. Ayat yang
dipertanyakan dimulai dengan wahyu akan Surga, Bait Suci, dan Tabut
Perjanjian. Patut diingat bahwa dalam Perjanjian Lama, di dalam tabut
perjanjian tersimpan loh-loh batu yang bertuliskan Sepuluh Perintah
Allah, Hukum Allah dan Sabda Allah. Dalam Tabut Perjanjian juga
tersimpan tongkat Harun dan sebuah buli-buli emas berisi segomer
penuh manna (Kel 16:33, Bil 17:10, Ibr 9:4). Sementara bangsa Israel
mengembara menuju Tanah Perjanjian, suatu awan, yang
melambangkan kehadiran Tuhan, akan turun atas atau “menaungi”
kemah di mana tabut perjanjian disimpan. Kelak, dalam Bait Suci di
Yerusalem, tabut perjanjian disimpan di tempat yang mahakudus,
bagian terdalam Bait Suci yang diyakini bangsa Yahudi sebagai tempat
di mana Allah tinggal.

Setelah gambaran tentang surga, bait suci dan tabut perjanjian, ayat
selanjutnya menggambarkan “perempuan berselubungkan matahari.”
Bunda Maria adalah Bunda Yesus, yang dikandungnya dari kuasa Roh
Kudus. Seperti dimaklumkan Malaikat Agung Gabriel,
“Roh Kudus akan
turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau;
sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak
Allah.” (Luk 1:35). Hubungan antara Bunda Maria dan Bait Suci, tempat
yang mahakudus dan tabut perjanjian menjadi jelas.

Patut diingat juga bahwa ketika St. Yohanes mendapat penglihatan ini,
tabut perjanjian telah hilang selama lebih dari 500 tahun. Nabi Yeremia
telah menyembunyikannya guna mencegah tabut perjanjian dijarah dan
dinajiskan oleh bangsa Babilon, dan menyatakan,
“Tempat itu harus
tetap rahasia sampai Allah mengumpulkan kembali umat serta
mengasihaninya lagi.” (2 Mak 2:7). Dalam penglihatan ini, St. Yohanes
melihat tabut perjanjian, dan kemudian ia melihat Bunda Maria. Bunda
Maria membawa dalam rahimnya, Kristus, yang adalah Sabda Allah,
Imam Agung yang sejati dan Roti Hidup. Sungguh, Bunda Maria adalah
Tabut Perjanjian yang baru dari Perjanjian Baru, di mana Kristus sebagai
imam akan menumpahkan darah-Nya dalam kurban salib.

Jika “perempuan berselubungkan matahari” menunjuk pada Bunda
Maria, lalu bagaimana dengan sakit bersalin yang disebutkan dalam
Kitab Wahyu itu bisa cocok? Karena Bunda Maria bebas dari Dosa Asal,
sebab ia dikandung tanpa dosa, Bunda Maria bebas dari sakit bersalin.
Sakit itu, karenanya, pastilah menunjuk pada sakit yang ia alami ketika

ia berdiri di kaki salib (Yoh 19:25), sakit seperti dinubuatkan oleh Nabi
Simeon saat Ia dipersembahkan di Bait Allah, “
Sesungguhnya Anak ini
ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di
Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan --
dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--, supaya menjadi
nyata pikiran hati banyak orang.” (Luk 2:34-35). Yang menarik, St.
Paulus juga berbicara mengenai “sakit bersalin” dalam mewariskan
iman kepada jemaat,
“Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita
sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”
(Gal 4:19). Jadi, sakit itu mengandung makna rohani, yaitu sakit dalam
ikut ambil bagian dalam sengsara Kristus, dan sakit dalam menjadi
Bunda Gereja dan menghantar yang lain kepada Putranya.

Gambaran Bunda Maria sebagai “perempuan berselubungkan matahari”
juga menggambarkan kemuliaannya yang digenapi saat ia diangkat ke
surga. Paus Pius XII dalam "Munifentissimus Deus," maklumat tentang
dogma Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, menyatakan bahwa
para bapa Gereja perdana memandang “perempuan berselubungkan
matahari” ketika menetapkan dasar Perjanjian Baru bagi iman (no. 27).
Perlu dicatat, itulah sebabnya mengapa ayat yang dipertanyakan di atas
dibacakan pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.
Lagipula, Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja
(Lumen Gentium) mengajarkan, “Akhirnya Perawan tak bernoda, yang
tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah
menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui
kemuliaan di sorga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh
Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh
menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan (lih. Why 19:16), yang
telah mengalahkan dosa dan maut.” (No. 59). Perhatikan bahwa dalam
mengeluarkan pernyataan ini, Konsili Vatikan II mengacu pada ayat dari
Kitab Wahyu seperti ditanyakan di atas.

Satu pokok pikiran terakhir untuk direnungkan: memahami segala
uraian di atas mengenai topik ini, kita dapat melihat bagaimana Bunda
Maria - peran dan gambarannya dalam ayat-ayat Kitab Wahyu ini -
menggenapi Perjanjian Lama. Oleh sebab itu, para bapa Gereja perdana
mengidentifikasikan Maria sebagai “Hawa Baru.” Dalam bab ketiga Kitab
Kejadian, Hawa pertama jatuh ke dalam pencobaan dengan ingin
menjadi serupa dengan Tuhan, melanggar perintah Tuhan dan berbuat
dosa. Sebaliknya, Bunda Maria penuh rahmat, bebas dari segala noda
dosa. Saat Kabar Sukacita, ia mengatakan kepada Malaikat Agung
Gabriel,
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku
menurut perkataanmu itu,” menyerahkan diri secara total pada
kehendak Allah (Luk 1:38).

Melalui Hawa yang pertama, datanglah maut dan pintu gerbang surga
ditutup; melalui Maria, datanglah kehidupan kekal yang dimenangkan
oleh karya keselamatan Yesus. Hawa pertama disebut “ibu semua yang
hidup,” Bunda Maria adalah sungguh Bunda dari mereka semua yang
hidup secara rohani dalam keadaan rahmat.

Dan yang terakhir, setelah jatuhnya manusia ke dalam dosa, Tuhan
bersabda kepada ular, setan,
“Aku akan mengadakan permusuhan
antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan
keturunannya ….” (Kej 3;15). Dalam Kitab Wahyu, setan digambarkan
sebagai seekor naga. Kata Ibrani `nahash' yang dipergunakan dalam
Kitab Kejadian dapat berarti baik ular maupun naga. Juga, permusuhan
antara Maria dan setan, antara keturunannya dan keturunan setan kita
temukan dalam Kitab Wahyu. Gambaran Hawa Baru dihadirkan pada
masa awal Gereja oleh St. Yustinus Martir, St. Ireneus dari Lyon,
Tertulianus, St. Agustinus, St. Yohanes dari Damaskus, sekedar
beberapa dari antara mereka, dan juga dipertegas dalam Konstitusi
Dogmatis tentang Gereja Konsili Vatikan II, Bab VIII, yang berjudul,
“Santa Perawan Maria Bunda Allah”.

Oleh sebab itu, “perempuan berselubungkan matahari,” seperti
dilukiskan dalam Kitab Wahyu jelas merupakan suatu referensi yang
indah akan peran Bunda Maria dalam karya keselamatan.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a
professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.

sumber : “Straight Answers: Woman Clothed with the Sun” by Fr. William P.
Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic
Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington
Catholic Herald.”

Santa Perawan Maria
Mediatrix

oleh: P. William P. Saunders *

Mengapa Maria digelari sebagai “mediatrix”?

~ seorang pembaca di Lorton

Konsili Vatikan Kedua mempersembahkan bab kedelapan dari
“Konstitusi Dogmatis tentang Gereja” mengenai “Santa Perawan Maria
Bunda Allah Dalam Misteri Kristus dan Gereja.” Karena Kristus terus
melanjutkan karya dan misi penyelamatan-Nya melalui tubuh-Nya, yaitu
Gereja, maka para bapa konsili, secara istimewa di bawah bimbingan
Paus Paulus VI, memutuskan bahwa sungguh amat tepat menyampaikan
peran Bunda Maria di sini sebab “ia dianugerahi kurnia serta martabat
yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putera Allah, maka juga menjadi
puteri Bapa yang terkasih dan kenisah Roh Kudus” (LG 53). Seluruh
Gereja menghormati Maria sebagai anggota Gereja yang mahaunggul
dan sangat khusus, dan sebagai teladan dalam iman, harapan dan kasih.

Berdasarkan hal tersebut, Konsili Vatikan II sekali lagi mengulangi gelar-
gelar Maria sebagai pengacara (advocata), pembantu (ajutrix), penolong
(auxiliatrix), dan perantara (mediatrix) (LG 62). Menurut definisi
dasarnya, seorang perantara adalah seorang yang bertindak sebagai
penengah antara dua pihak yang berbeda. Seringkali, seorang perantara
membantu melerai perbedaan-perbedaan dan membawa pihak-pihak
tersebut ke dalam saling pengertian.

Dengan memeriksa keterangan-keterangan mengenai Bunda Maria
dalam Kitab Suci, kita akan mendapati peran sebagai “perantara” ini.
Bunda Maria, disapa oleh Malaikat Agung Gabriel sebagai yang penuh
rahmat di hadapan Tuhan, dan terpuji di antara wanita, mengandung dari
kuasa Roh Kudus dan melahirkan Yesus Kristus; melalui
“perantaraannya” Yesus masuk ke dalam dunia ini - sungguh Allah yang
menjelma menjadi sungguh manusia. Dalam ayat-ayat Kitab Suci di
mana ia disebutkan, Bunda Maria senantiasa menghadirkan Kristus
kepada orang-orang lain: para gembala, para Majus, nabi Simeon dan
pada pesta perkawinan di Kana. Bunda Maria berdiri di kaki salib, ambil
bagian dalam sengsara Kristus, dan pada saat itulah Ia memberikan
Bunda-Nya kepada kita sebagai Bunda kita dengan mengatakan kepada

St. Yohanes, “Inilah ibumu” (Yoh 19:27). Dan akhirnya, Maria ada
bersama para rasul pada saat Pentakosta; ia - yang melahirkan Yesus ke
dalam dunia ini - ada di sana pada saat kelahiran Gereja. Di akhir
hidupnya, Maria diangkat jiwa dan badannya ke surga, yang merupakan
kepenuhan janji akan kehidupan kekal bagi jiwa dan badan yang
dijanjikan kepada semua orang percaya. “Kosntitusi Dogmatik tentang
Gereja” menggambarkan hidupnya dengan baik dengan menyatakan, “ia
secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya Juru Selamat,
dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang
berkobar, untuk membaharui hidup adikodrati jiwa-jiwa” (LG 61).

Dalam merefleksikan peran Maria sebagai Mediatrix, mukjizat yang
terjadi dalam pesta perkawinan di Kana sungguh memainkan peran
penting (bdk Yoh 2:1-12). Di sini, Maria sebagai seorang ibu menjadi
perantara atas nama pasangan yang menikah, yang pestanya dapat
berubah menjadi aib karena kekurangan anggur. Meskipun kepentingan
yang demikian tampak kecil bagi keseluruhan rencana Injil, Maria datang
sebagai penolong atas kebutuhan-kebutuhan manusia, membawanya,
seperti diajarkan oleh Paus Yohanes Paulus II, “ke dalam lingkup tugas
Kristus sebagai mesias dan kekuatan penyelamatan-Nya.” (Redemptoris
Mater 21). Walaupun saatnya belum tiba bagi Kristus untuk melakukan
mukjizat pertama-Nya, pada akhirnya Yesus mengubah kerangka waktu
ilahi dan melakukannya juga karena kasih-Nya yang tulus kepada
Bunda-Nya, Maria. Pikirkan betapa dahsyat kuasa doa-doa Bunda Maria!
Bapa Suci kita menyimpulkan, “Jadi dalam hal itu ada suatu
kepengantaraan: Maria menempatkan diri antara Puteranya dan umat
manusia dalam situasi kekurangan, kebutuhan dan derita mereka. Dia
menempatkan diri 'di tengah-tengah', yaitu dia berlaku sebagai
perantara tidak sebagai orang luar, melainkan dalam kedudukannya
sebagai seorang ibu. Maria sadar, bahwa sebagai ibu, dia dapat
menyampaikan kepada Sang Putera, kebutuhan manusia dan bahkan,
dia 'berhak' untuk berbuat demikian. Bahwa Maria berdiri di tengah
antara Kristus dan manusia dengan demikian mengandung sifat sebagai
pengantara: Maria 'menjadi perantara' bagi manusia. Dan itu belum
semuanya: Sebagai seorang ibu ia juga menginginkan agar kekuasaan
Puteranya sebagai mesias dinyatakan, yaitu kuasa penyelamatan-Nya,
yang dimaksudkan untuk menolong manusia dalam kemalangannya,
membebaskannya dari yang jahat, yang dalam berbagai bentuk dan taraf
membebani hidup manusia.”(Redemptoris Mater No. 22).

Sebab itu, kita dapat memandang Maria sebagai Mediatrix dalam tiga
pengertian: Pertama, sebagai bunda penebus, Maria adalah perantara
melalui mana Putra Allah masuk ke dalam dunia ini demi
menyelamatkan kita dari dosa.

Kedua, dengan kesaksian imannya sendiri dan dengan menghadirkan
Kristus kepada yang lain, Maria membantu mendamaikan para pendosa
dengan Putranya. Bunda Maria, tanpa dosa, namun demikian memahami
sengsara yang diakibatkan dosa, terus-menerus memanggil para

pendosa kepada Putranya. Melalui teladannya, ia mendorong kita semua
kepada iman, harapan dan kasih yang Tuhan kehendaki kita miliki.

Dan akhirnya, karena ia diangkat ke surga dan karena perannya sebagai
bunda bagi kita semua, Bunda Maria berdoa bagi kita, bertindak sebagai
perantara atas nama kita seperti yang dulu dilakukannya di Kana,
mohon pada Kristus untuk melimpahkan rahmat atas kita seturut
kehendak-Nya.

Tetapi, gelar dan peran Mediatrix ini, sedikit pun tidak menyuramkan
atau mengurangi pengantaraan Kristus yang tunggal itu (LG 60).
Pengantaraan Kristus itu yang terutama, mencukupi Diri-Nya Sendiri,
dan mutlak diperlukan bagi keselamatan kita, sementara perantaraan
Bunda Maria sifatnya sekunder dan sepenuhnya tergantung pada
Kristus. Konsili Vatikan menyatakan, “Pengantara kita hanya ada satu,
menurut sabda Rasul:
'Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang
menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus
Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua
manusia' (1 Tim 2:5-6). Adapun peran keibuan Maria terhadap umat
manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan
Kristus yang tunggal itu, melainkan justru menunjukkan kekuatannya.
Sebab segala pengaruh Santa Perawan yang menyelamatkan manusia
tidak berasal dari suatu keharusan objektif, melainkan dari kebaikan
ilahi, pun dari kelimpahan pahala Kristus. Pengaruh itu bertumpu pada
pengantaraan-Nya, sama sekali tergantung dari padanya, dan menimba
segala kekuatannya dari padanya.” (LG 60). Bahkan dalam pesta
perkawinan di Kana, Maria mengatakan kepada para pelayan,
“Apa yang
dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu!” karena ia tahu apa pun yang
Kristus hendak lakukan pastilah baik dan benar adanya; Bunda Maria
mengucapkan kata-kata yang sama kepada kita sekarang ini.

Marilah mohon dengan sangat bantuan doa Bunda Maria. Semoga
teladannya mendorong kita untuk senantiasa berjuang agar penuh
rahmat, mohon pengampunan atas dosa serta menghadirkan Kristus
kepada sesama melalui perkataan dan perbuatan kita. Dengan demikian,
kita pun juga boleh menjadi serupa perantara, membawa orang-orang
kepada Kristus melalui kesaksian hidup kita sendiri.

* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College
in Alexandria and pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.

sumber : “Straight Answers: Mary as Mediatrix” by Fr. William P. Saunders;
Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2001 Arlington Catholic Herald. All
rights reserved; www.catholicherald.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington
Catholic Herald.”

Artikel khusus

Tujuh Duka Santa Perawan
Maria

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

dari:
KEMULIAAN MARIA
RISALAT IX

Dukacita Maria
Dukacita Pertama: Nubuat Nabi Simeon
Dukacita Kedua: Melarikan Yesus ke Mesir
Dukacita Ketiga: Hilangnya Yesus di Bait Allah
Dukacita Keempat: Perjumpaan Bunda Maria dengan
Yesus saat Ia Menjalani Hukuman Mati
Dukacita Kelima: Yesus Wafat
Dukacita Keenam: Lambung Yesus Ditikam dan
Jenazah-Nya Diturunkan dari Salib
Dukacita Ketujuh: Yesus Dimakamkan

sumber : "Of the Dolours of Mary" by St. Alphonsus Liguori; Copyright © 1996
Catholic Information Network (CIN) - February 6, 1996; www.cin.org

Diperkenankan mengutip / menyeDukacita Maria

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

Maria adalah Ratu Para Martir, oleh karena kemartirannya jauh
lebih lama dan lebih dahsyat dari yang diderita semua martir
lainnya.

Adakah orang yang sedemikian keras hatinya, yang tidak luluh
mendengar peristiwa paling memilukan yang suatu ketika terjadi di
dunia? Adalah seorang ibunda yang berbudi luhur dan kudus, yang
memiliki seorang Putra Tunggal. Putranya itu adalah putra yang paling
menawan hati yang dapat kita bayangkan - tak berdosa, berbudi luhur,
menyenangkan, Yang mencintai Bunda-Nya dengan limpahan kasih
sayang-Nya; demikian besar kasih-Nya itu hingga tak pernah sekali pun
Ia mengecewakan bunda-Nya walau sedikit saja, melainkan senantiasa
hormat, taat, dan penuh cinta mesra. Sebab itu bunda-Nya melimpahkan
segala kasih sayangnya di dunia ini kepada Putranya. Dengarlah, apa
yang kemudian terjadi. Putranya, karena iri hati, dituduh sewenang-
wenang oleh para musuh-Nya. Meskipun hakim tahu dan mengakui
bahwa Ia tak bersalah, namun karena hakim takut dianggap menghina
para musuh-Nya, ia menjatuhkan hukuman mati yang amat keji seperti
yang dituntut para musuh-Nya itu. Bunda yang malang ini harus
menanggung sengsara menyaksikan Putranya yang menawan dan
terkasih itu direnggut darinya secara tidak adil dalam kemekaran usia-
Nya dengan kematian yang biadab; dengan dera dan siksa, dengan
mencurahkan darah-Nya sehabis-habisnya. Ia dihancurbinasakan
hingga wafat di kayu salib yang hina di tempat pelaksanaan hukuman
mati di hadapan seluruh rakyat, dan itu semua terjadi di depan matanya.
Jiwa-jiwa saleh, apa yang hendak kalian katakan? Tidakkah peristiwa ini,
dan tidakkah Bunda yang malang ini layak menerima belas kasihan?
Kalian tentu paham tentang siapakah aku berbicara. Putranya itu, yang
dihukum mati secara keji adalah Yesus Penebus kita yang terkasih, dan
Bunda-Nya adalah Santa Perawan Maria; yang karena cintanya kepada
kita, rela menyaksikan Putranya dikurbankan bagi Keadilan Ilahi oleh
kebiadaban manusia. Dukacita yang dahsyat ini, yang ditanggung Maria

demi kita, - dukacita yang lebih hebat dari dukacita seribu kematian,
layak memperoleh baik belas kasihan maupun terima kasih kita. Jika
kita tidak dapat membalas cinta yang sedemikian besar itu, setidak-
tidaknya marilah menyisihkan sedikit waktu pada hari ini untuk
merenungkan betapa dahsyat dukacita yang menjadikan Maria Ratu
Para Martir; oleh karena sengsaranya dalam kemartirannya yang hebat
ini melampaui sengsara semua martir; karena, pertama-tama, terlama
menurut ukuran waktu, dan kedua, terdahsyat menurut ukuran
intensitas.
Point pertama. Sama seperti Yesus disebut Raja Sengsara dan Raja Para
Martir, sebab sengsara yang diderita-Nya semasa hidup-Nya jauh
melampaui sengsara para martir, demikian juga Maria layak disebut Ratu
Para Martir. Maria pantas digelari demikian sebab ia menanggung
sengsara kemartiran yang paling ngeri sesudah Putranya. Karenanya,
tepat jika Richard dari St. Laurensius menyebutnya “Martir dari para
martir”; dan kepada Maria dapatlah dikenakan nubuat nabi Yeremia ini,

“Ia mendirikan tembok sekelilingku, mengelilingi aku dengan kesedihan
dan kesusahan”, artinya bahwa penderitaan itu sendiri, yang melampaui
penderitaan semua martir dijadikan satu, adalah mahkota yang
diberikan kepadanya sebagai Ratu Para Martir. Bahwa Maria adalah
sungguh seorang martir tak dapat diragukan lagi, seperti yang
ditegaskan oleh Denis Carthusian, Pelbart, Catharinus, serta yang
lainnya. Merupakan pendapat yang tak dapat disangkal bahwa sengsara
yang begitu hebat hingga dapat mengakibatkan kematian merupakan
suatu kemartiran, meskipun kematian itu sendiri tidak terjadi. St.
Yohanes Penginjil disebut martir, meskipun ia tidak mati ketika
diceburkan ke dalam kuali berisi minyak mendidih, melainkan keluar
dengan lebih semarak daripada saat ia masuk. St. Thomas mengatakan,
“memiliki kemuliaan kemartiran sudah cukup untuk mempraktekkan
ketaatan pada tingkatnya yang paling tinggi, yakni, taat sampai mati.”
“Bunda Maria adalah seorang martir,” kata St. Bernardus, “bukan oleh
pedang algojo, melainkan oleh kegetiran dukacita hatinya.” Tubuhnya
tidak terluka oleh tangan algojo, tetapi hatinya yang tak bernoda
ditembus dengan pedang dukacita akan sengsara Putranya; dukacita
yang cukup hebat untuk mengakibatkan kematiannya, bukan sekali,
tetapi beribu kali. Dari sini kita dapat memahami bahwa Bunda Maria
bukan saja seorang martir sejati, tetapi bahkan kemartirannya
melampaui kemartiran para martir lainnya; karena jangka waktunya lebih
lama dari yang lainnya. Seluruh hidupnya dapat dikatakan sebagai suatu
kematian yang panjang.

“Sengsara Yesus,” demikian kata St. Bernardus, “dimulai sejak
kelahiran-Nya”. Demikian juga Maria, dalam segala hal serupa dengan
Putranya, menanggung kemartirannya sepanjang hidupnya. Di antara
banyak arti nama Maria, demikian Beato
(sekarang Santo) Albertus
Agung menegaskan, salah satunya berarti 'laut pahit'. Jadi, pada Maria
berlaku nubuat nabi Yeremia:
“luas bagaikan laut reruntuhanmu.” Sama
seperti laut seluruhnya pahit dan asin, demikian juga hidup Maria
senantiasa dipenuhi kepahitan karena bayangan akan sengsara Sang
Penebus yang senantiasa ada di benaknya. “Tak dapat diragukan lagi

bahwa dengan penerangan Roh Kudus dalam tingkat yang jauh
melampaui segala nabi, Maria, yang jauh lebih unggul dari mereka,
memahami nubuat-nubuat yang ditulis para nabi dalam Kitab Suci
mengenai Mesias.” Hal ini tepat seperti yang dinyatakan malaikat
kepada St. Brigitta. B. Albertus Agung menambahkan, “Santa Perawan,
bahkan sebelum menjadi Bunda-Nya, paham bagaimana Sabda Yang
Menjadi Daging harus menderita sengsara demi keselamatan manusia.
Berbelas kasihan kepada Juruselamat yang tak berdosa ini, yang akan
dijatuhi hukuman mati secara keji oleh karena kejahatan-kejahatan yang
tidak Ia lakukan, bahkan pada saat itu Maria telah memulai
kemartirannya yang hebat.”

Dukacitanya meningkat tak terhingga ketika ia menjadi Bunda Sang
Juruselamat. Jadi, bayangan ngeri akan beratnya sengsara yang harus
diderita oleh Putranya yang malang, mengakibatkan Maria sungguh
menderita suatu kemartiran yang panjang, kemartiran yang berakhir
hingga akhir hayatnya. Hal ini dinyatakan dengan sangat jelas kepada
Santa Brigitta dalam suatu penglihatan yang dialaminya ketika ia berada
di Roma, dalam gereja Saint Mary Major, di mana Santa Perawan Maria
bersama St. Simeon, dan seorang malaikat yang membawa sebilah
pedang yang amat panjang, yang merah karena noda darah,
menampakkan diri kepada St. Brigitta. Dengan cara demikian
ditunjukkan kepadanya betapa panjang dan pahitnya dukacita yang
menembus hati Bunda Maria sepanjang hidupnya. Maria berkata, “Jiwa-
jiwa yang telah ditebus, dan anak-anakku yang terkasih, janganlah
berbelas kasihan kepadaku hanya pada jam di mana aku menyaksikan
Yesus-ku yang terkasih meregang nyawa di hadapan mataku; oleh
sebab pedang dukacita yang dinubuatkan Simeon menembus jiwaku
sepanjang hidupku: ketika aku menyusui Putraku, ketika aku
menggendong-Nya dalam pelukanku, aku telah melihat kematian ngeri
yang menanti-Nya. Bayangkan, betapa panjang dan pilunya sengsara
yang harus kuderita.”

Maria dapat berkata menggunakan kata-kata Daud ini, “Sebab hidupku
habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah.
Sepanjang hari aku berjalan dengan dukacita.” “Seluruh hidupku
dilewatkan dalam dukacita dan airmata; karena deritaku, yang adalah
kasih sayangku kepada Putraku terkasih, tak pernah lepas dari
ingatanku. Aku selalu terbayang akan derita sengsara dan kematian
yang suatu hari nanti harus ditanggung-Nya.” Bunda Ilahi sendiri
mengungkapkan kepada St Brigitta bahwa bahkan sesudah wafat dan
kebangkitan Putra-Nya, apa pun yang ia makan atau kerjakan, kenangan
akan sengsara-Nya tertanam begitu kuat dalam ingatannya dan selalu
segar dalam hatinya yang lembut. Sebab itu, Tauler mengatakan “Bunda
Perawan melewatkan sepanjang hidupnya dalam dukacita yang terus-
menerus,” karena hatinya senantiasa diliputi dukacita dan sengsara.

Waktu, yang biasanya meringankan dukacita seorang yang dirundung
duka, tidak dapat memulihkan Maria; tidak, malahan meningkatkan
dukacitanya. Sementara Yesus, di satu pihak, bertambah usianya dan

senantiasa tampil semakin menawan serta penuh kasih karunia;
demikian juga, di lain pihak, waktu kematian-Nya semakin dekat, dan
dukacita senantiasa bertambah dan bertambah di hati Maria, karena
bayangan akan kehilangan Dia di dunia ini. Malaikat mengatakan kepada
St Brigitta, “Bagaikan mawar tumbuh di antara duri-duri, demikian juga
Bunda Allah melewatkan tahun-tahun dalam duka; dan bagai duri-duri
bertumbuh seiring dengan bertumbuhnya sang mawar, demikian juga
duri-duri dukacita bertambah di hati Maria, mawar pilihan Allah,
sementara ia bertambah dalam usia; dan semakin begitu dalam duri-duri
itu menembus hatinya.” Setelah merenungkan kesepuluh dukacita Maria
dalam hal waktu, mari kita melanjutkan ke point yang kedua -
dahsyatnya dukacita Maria dalam hal intensitas.

Point kedua. Ah, Bunda Maria bukan hanya Ratu Para Martir oleh karena
kemartirannya jauh lebih lama dari yang lainnya, tetapi juga karena
kemartirannya jauh lebih dahsyat dari segala kemartiran lainnya. Namun
demikian, siapa gerangan yang dapat mengukur kedahsyatannya? Nabi
Yeremia tampaknya tak dapat menemukan dengan siapa kiranya ia
dapat membandingkan Bunda Dukacita ini, ketika ia memikirkan
dukacitanya yang begitu hebat saat kematian Putranya,
“Apa yang
dapat kunyatakan kepadamu, dengan apa aku dapat menyamakan
engkau, ya puteri Yerusalem? Dengan apa aku dapat membandingkan
engkau untuk dihibur, ya dara, puteri Sion? Karena luas bagaikan laut
reruntuhanmu; siapa yang akan memulihkan engkau?” Kardinal Hugo,
dalam sebuah uraian menanggapi pernyataan tersebut mengatakan “Oh
Santa Perawan, bagaikan laut kepahitan melampaui segala kepahitan,
demikian juga dukacitamu melampaui segala dukacita.” St. Anselmus
menegaskan, “andai saja Tuhan tidak memelihara hidup Maria dengan
mukjizat istimewa di setiap saat kehidupannya, dukacitanya yang begitu
dahsyat itu pastilah telah mengakibatkan kematiannya”. Bernardinus
dari Siena lebih jauh mengatakan, “dukacita Maria demikianlah dahsyat,
hingga jika saja dukacita itu dibagi-bagikan di antara manusia, masing-
masing bagian sudah cukup untuk menyebabkan kematian seketika.”

Mari kita merenungkan alasan-alasan bagaimana kemartiran Maria jauh
melampaui semua martir. Pertama-tama kita perlu ingat bahwa para
martir menanggung penderitaan mereka, yang merupakan akibat siksa
api dan alat-alat sarana lainnya di tubuh mereka. Bunda Maria
menanggung penderitaannya dalam jiwanya, seperti dinubuatkan oleh
St. Simeon,
“dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri”.
Seolah-olah orang tua kudus itu mengatakan, “Oh, Santa Perawan
Tersuci, tubuh para martir akan dikoyakkan dengan besi, tetapi jiwamu
akan ditembus olehnya, dan engkau akan menjadi martir karena jiwamu
oleh Sengsara Putramu sendiri.” Karena jiwa lebih berharga daripada
tubuh, betapa jauh lebih hebat penderitaan Maria dibandingkan para
martir lainnya. Seperti yang dikatakan Yesus Kristus sendiri kepada St.
Katarina dari Siena, “Penderitaan jiwa dan penderitaan badan tidak
dapat dibandingkan.” Sementara Abas kudus, Arnoldus dari Chartres
mengatakan, “siapa pun yang hadir di Bukit Kalvari, sebagai saksi atas
kurban agung Anak Domba Tak Bercela, akan melihat dua altar besar,

yang satu adalah Tubuh Yesus, yang lain adalah Hati Maria, karena, di
bukit itu, pada saat yang sama Putranya mempersembahkan Tubuh-Nya
dengan wafat-Nya, Bunda Maria mempersembahkan jiwanya dengan
belas kasihannya.”

Lagi pula, St. Antonius mengatakan, “sementara para martir lain
menderita dengan mengurbankan nyawa mereka sendiri, Santa Perawan
menderita dengan mengurbankan nyawa Putranya, nyawa yang
dikasihinya jauh melampaui nyawanya sendiri. Jadi, tidak saja Maria
menderita dalam jiwanya semua yang diderita Putranya di Tubuh-Nya,
tetapi lebih dari itu, menyaksikan derita dan sengsara Putranya
mendatangkan dukacita yang lebih dahsyat di hatinya daripada jika ia
sendiri yang harus menderita segala sengsara itu di tubuhnya.” Tidak
seorang pun dapat meragukan bahwa Bunda Maria menderita dalam
hatinya segala kekejian yang ia saksikan menimpa Putranya yang
terkasih. Siapa pun dapat mengerti bahwa penderitaan anak-anak adalah
juga penderitaan para ibu mereka yang menyaksikannya. St. Agustinus,
merenungkan dukacita yang harus ditanggung si ibu dalam Kitab
Makabe ketika menyaksikan penganiayaan atas putera-puteranya,
mengatakan, “Ia, menyaksikan penderitaan mereka, juga menderita bagi
setiap puteranya; sebab ia mengasihi mereka semuanya. Ia menderita
dalam jiwanya apa yang diderita putera-puteranya dalam tubuh mereka.”
Demikian juga, Bunda Maria menanggung segala siksa, aniaya, dera,
mahkota duri, paku dan salib yang meremukkan tubuh Yesus yang tak
berdosa. Semuanya itu pada saat yang sama meremukkan hati Sang
Perawan untuk melengkapi kemartirannya. “Yesus menderita dengan
daging-Nya dan Bunda Maria dengan hatinya,” tulis Beato Amadeus.
“Begitu dahsyat,” kata St. Laurensius Giustiniani, “hingga hati Maria
menjadi serupa cermin Sengsara Sang Putra, di mana dapat dilihat,
tergambar dengan tepat dan jelas, ludah, pukulan dan tamparan, luka-
luka, serta semuanya yang diderita Yesus.” St. Bonaventura juga
mengatakan, “luka-luka itu - yang tersebar di sekujur tubuh Kristus -
semuanya dipersatukan dalam hati Maria.”

Demikianlah Santa Perawan, melalui belas kasihan dari hatinya yang
lembut kepada Putranya, didera, dimahkotai duri, dihina dan dipakukan
pada kayu salib. St. Bonaventura ketika merenungkan Maria di Bukit
Kalvari, menyaksikan wafat Sang Putra, bertanya kepadanya: “Oh
Bunda, katakanlah kepadaku, di manakah engkau berdiri? Apakah hanya
di kaki salib? Ah, jauh lebih dari itu, engkau berada di salib itu sendiri,
disalibkan bersama Putramu.” Menanggapi kata-kata Sang Penebus
seperti yang disuarakan oleh nabi Yesaya,
“Aku seorang dirilah yang
melakukan pengirikan, dan dari antara umat-Ku tidak ada yang
menemani Aku!”, Richard dari St. Laurensius mengatakan, “Benar
demikian, O Tuhan, bahwa dalam karya penebusan manusia Engkau
menderita seorang diri, tak ada seorang pun yang berbelas kasihan
kepada-Mu dengan pantas; hanya ada seorang wanita menyertai
Engkau, dan ia adalah Bunda-Mu sendiri; ia menderita dalam hatinya
segala yang Engkau derita dalam Tubuh-Mu.”

Tetapi semua perkataan itu terlalu sedikit untuk mengungkapkan
dukacita Maria, sebab sejauh yang saya amati, ia jauh lebih menderita
menyaksikan sengsara Putranya terkasih daripada jika ia sendiri yang
harus menanggung segala kekejian dan wafat Putranya. Eramus,
berbicara tentang para orangtua pada umumnya, mengatakan bahwa
para orangtua akan lebih tersiksa menyaksikan penderitaan anak-anak
mereka daripada mereka harus menanggung penderitaan itu sendiri.
Pendapat tersebut tidak selalu benar, tetapi jelas terbukti dalam diri
Bunda Maria. Tak diragukan lagi ia mengasihi Putranya dan hidup-Nya
jauh melampaui hidupnya sendiri atau bahkan seribu kali hidupnya
sendiri. Beato Amadeus dengan tepat menegaskan, “Bunda Dukacita,
menyaksikan dengan pilu derita sengsara Putranya terkasih, menderita
lebih dahsyat daripada jika ia sendiri yang harus menanggung segala
Sengsara Kristus.” Alasannya jelas, seperti yang dikemukakan St.
Bernardus, “jiwa lebih melekat pada yang dicintainya daripada di mana
ia tinggal.” Kristus Sendiri telah mengatakan hal yang sama, “di mana
hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Jadi, jika Bunda Maria,
oleh karena cintanya, lebih tinggal dalam diri Putranya daripada dalam
dirinya sendiri, tentulah ia menanggung dukacita yang jauh lebih
dahsyat dalam sengsara dan wafat Putranya daripada jika ia
menanggung sengsara itu sendiri. Bunda Maria menanggung kematian
paling keji di seluruh dunia yang telah ditimpakan kepadanya.

Kita perlu mempertimbangkan suatu keadaan lain yang menjadikan
kemartiran Maria jauh melampaui penderitaaan semua martir lainnya:
yaitu, bahwa dalam Sengsara Yesus, Bunda Maria begitu menderita dan
berduka, tanpa penghiburan sedikit pun. Para martir menderita karena
siksa yang ditimpakan kepada mereka oleh para penganiaya; tetapi cinta
Yesus menjadikan penderitaan mereka manis dan menyenangkan. St.
Vincentius tubuhnya didera di tiang penderaan, dicabik-cabik dengan
sepit, dicap dengan plat besi panas. St. Bonifasius tubuhnya dikoyakkan
dengan kait-kait besi; buluh-buluh berujung runcing ditusukkan di
antara kuku-kuku dan dagingnya; timah hitam cair dicekokkan ke dalam
mulutnya; dan di tengah derita aniaya itu tak henti-hentinya ia berseru
“Aku bersyukur kepada-Mu, O Tuhan Yesus Kristus.” St. Markus dan St.
Marselinus diikatkan ke sebuah pancang, kaki mereka ditembusi paku;
dan ketika penganiaya berkata kepada mereka “Hai orang-orang celaka,
lihat keadaanmu kini, selamatkanlah dirimu dari penderitaan ini.” Maka,
kedua orang kudus itu menjawab, “Dari siksa apa, penderitaan apakah
yang engkau katakan itu? Belum pernah kami menikmati perjamuan
begitu mewah seperti pada saat ini, di mana kami menderita dengan
penuh sukacita demi cinta kepada Yesus Kristus.” St. Laurensius
menderita aniaya; tetapi ketika sedang di panggang di pemanggangan,
“api cinta dalam hatinya,” demikian menurut St. Leo, “lebih kuat
menghibur jiwanya daripada api yang membakar tubuhnya.” Cinta
begitu menguasainya hingga dengan berani St. Laurensius menggoda
penganiayanya, “Jika engkau ingin memakan dagingku, sisi sebelah sini
sudah matang, baliklah dan makanlah.” Tetapi, bagaimana mungkin, di
tengah begitu banyak siksa dan aniaya, ketika meregang nyawa, orang

kudus itu bersukacita? “Ah!” jawab St. Agustinus, “mabuk oleh anggur
cinta ilahi, ia tidak merasakan baik penderitaan maupun kematian.”

Jadi, semakin para martir kudus itu mencintai Yesus, semakin sedikit
mereka merasakan penderitaan dan kematian. Bayangan akan sengsara
Yesus yang tersalib saja sudah cukup untuk menjadi penghiburan bagi
mereka. Tetapi, apakah Bunda Dukacita kita juga terhibur oleh cintanya
kepada Putranya, dan apakah bayangan akan sengsara-Nya menghibur
hatinya? Ah, tidak! Justru Putranya yang menderita sengsara itulah
yang menjadi sumber dukacitanya, dan cintanya pada Putranya adalah
satu-satunya penganiayanya yang paling kejam. Kemartiran Maria
sepenuhnya adalah menyaksikan dan berbelas kasihan terhadap
Putranya yang terkasih dan yang tak berdosa, yang menderita begitu
hebat. Jadi, semakin besar cintanya kepada Putranya, semakin pilu dan
tak terhiburkan dukacitanya.
“Karena luas bagaikan laut reruntuhanmu;
siapa yang akan memulihkan engkau?” Ah, Ratu Surgawi, cinta telah
meringankan penderitaan para martir lainnya serta memulihkan luka-
luka mereka; tetapi siapakah gerangan yang akan meringankan
dukacitamu yang pahit? Siapakah gerangan yang akan memulihkan
luka-luka keji yang mengoyak hatimu?
“Siapa yang akan memulihkan
engkau?” Sebab, Putra yang dapat menjadi sumber penghiburan
bagimu, oleh karena sengsara-Nya, justru telah menjadi sumber
dukacitamu, dan cinta kasih yang engkau limpahkan kepada-Nya
sepenuhnya merupakan penyebab kemartiranmu. Jadi, seperti para
martir lain, demikian menurut Diez, semuanya dilambangkan dengan
alat-alat penyiksa mereka - St. Paulus dengan pedang, St. Andreas
dengan salib, St. Laurensius dengan alat pemanggang - Maria
dilambangkan dengan jenasah Putranya dalam pelukannya. Sebab
Yesus Sendiri-lah, dan hanya Ia sendiri, yang menjadi penyebab
kemartiran Maria, oleh karena begitu besar kasihnya kepada Putra-nya.
Richard dari St. Victor menegaskan dalam beberapa kata segala apa
yang telah aku katakan: “Bagi para martir lain, semakin besar cinta
mereka kepada Yesus akan semakin meringankan sengsara kemartiran
mereka; tetapi bagi Santa Perawan, semakin besar cintanya kepada
Yesus, semakin dahsyat sengsaranya dan semakin kejam
kemartirannya.”

Benar bahwa semakin kita mencintai sesuatu, semakin besar kesedihan
yang harus kita tanggung apabila ketika kita kehilangan dia. Kita lebih
berduka atas kematian seorang saudara daripada kematian seekor
binatang beban; kita lebih berduka atas kematian seorang putera
daripada kematian seorang teman. Kornelius a Lapide mengatakan,
“agar dapat memahami dahsyatnya dukacita Maria pada saat wafat
Putranya, kita perlu memahami besarnya kasihnya kepada-Nya.” Tetapi
siapakah yang dapat mengukur kasih? Beato Amadeus mengatakan,
“dalam hati Maria bersatu dua macam kasih bagi Yesus - kasih
adikodrati, di mana ia mengasihi-Nya sebagai Allah-nya, dan kasih
kodrati, di mana ia mengasihi-Nya sebagai Putranya.” Begitulah kedua
macam kasih ini menyatu, begitu dalam, hingga William dari Paris
mengatakan bahwa Santa Perawan “mengasihi-Nya sebanyak yang

mungkin dilakukan oleh suatu makhluk yang murni untuk mengasihi-
Nya.” Richard dari St. Victor menegaskan, “karena tidak ada kasih
seperti kasihnya, maka tidak ada dukacita seperti dukacitanya.” Dan jika
kasih Maria terhadap Putranya demikian dahsyat, maka pastilah dahsyat
pula dukacitanya saat ia kehilangan Putranya oleh karena wafat-Nya. “Di
mana terdapat kasih terbesar,” demikian Beato Albertus Agung, “di sana
pula terdapat dukacita terdahsyat.”

Marilah sekarang kita membayangkan Bunda Ilahi berdiri dekat Putra-
nya yang sedang meregang nyawa di salib, dan dengan demikian
tepatlah dikenakan kepadanya kata-kata nabi Yeremia,
“Acuh tak
acuhkah kamu sekalian yang berlalu? Pandanglah dan lihatlah, apakah
ada kesedihan seperti kesedihan yang ditimpakan TUHAN kepadaku.” O
kalian yang melewatkan hari-hari kalian di bumi dan tidak berbelas
kasihan terhadap aku, berhentilah sejenak dan pandanglah aku,
sekarang aku menyaksikan Putraku terkasih meregang nyawa di
hadapanku. Pandanglah dan lihatlah, di antara mereka semua yang
berduka dan menderita, adakah dukacita yang seperti dukacitaku?
“Tidak, o ibu yang paling menderita di antara segala ibu,” jawab St.
Bonaventura, “tidak mungkin ditemukan dukacita yang lebih pilu
daripada dukacitamu; sebab tidak mungkin ditemukan putra yang lebih
terkasih daripada putramu.” Ah, “tak akan pernah ada putra yang lebih
menawan hati di dunia ini daripada Yesus,” kata Richard dari St.
Laurentius; “dan juga tidak akan pernah ada ibu yang mengasihi
putranya lebih lemah lembut daripada Maria! Jadi, karena di dunia ini
tidak pernah ada kasih seperti kasih Maria, bagaimana mungkin dapat
ditemukan dukacita seperti dukacita Maria?”

Karena itu St. Ildephonsus tanpa ragu menegaskan, “mengatakan
bahwa dukacita Maria jauh melampaui segala penderitaan para martir
lainnya digabung menjadi satu, mengungkapkan terlalu sedikit.” Dan St.
Anselmus menambahkan, “aniaya paling keji yang menimpa para martir
kudus merupakan hal sepele, atau bahkan tak ada artinya sama sekali,
jika dibandingkan dengan kemartiran Maria.” St. Basilus dari Seleucia
juga menulis, “bagaikan matahari melampaui semua planet lain dalam
kemegahannya, demikian juga penderitaan Maria melampaui
penderitaan semua martir.” Seorang penulis terpelajar
menyimpulkannya dalam suatu pernyataan yang indah. Ia mengatakan
bahwa begitu dahsyat dukacita Bunda yang lemah lembut ini dalam
Sengsara Yesus, hingga Bunda Maria sendiri berbelas kasihan pada
tingkat yang setara dengan wafat Tuhan yang menjadi manusia.

Kepada Santa Perawan, St. Bonaventura bertanya, “Dan mengapakah, O
Bunda, engkau juga mengurbankan dirimu sendiri di Kalvari? Tidakkah
Tuhan yang Tersalib sudah cukup untuk menebus kami, mengapakah
engkau, Bunda-Nya, hendak pula disalibkan bersama-Nya?” Sungguh,
wafat Yesus lebih dari cukup untuk menyelamatkan dunia dan
mendatangkan kehidupan kekal; akan tetapi Bunda yang amat baik ini,
demi kasihnya kepada kita, berharap pula untuk membantu
mendatangkan keselamatan bagi kita dengan penderitaannya yang ia

persembahkan bagi kita di Kalvari. Sebab itu, Beato Albertus Agung
mengatakan, “sama seperti kita berhutang kepada Yesus atas Sengsara
yang Ia derita demi cinta-Nya kepada kita, demikian juga kita berhutang
kepada Maria, atas kemartiran yang dengan sukarela ia derita demi
keselamatan kita dengan wafatnya Putra-nya.” Saya mengatakan
sukarela, sebab, seperti yang diungkapkan St. Agnes kepada St. Brigitta,
“Bunda kita yang lemah lembut dan penuh belas kasihan lebih suka
menderita sengsara daripada membiarkan jiwa-jiwa kita tidak ditebus
dan tinggal dalam kebinasaan kekal.” Sungguh, kita dapat mengatakan
bahwa satu-satunya kelegaan Maria di tengah dukacitanya yang dahsyat
dalam Sengsara Putra-nya adalah melihat dunia yang sesat ini ditebus
oleh wafat-Nya dan hubungan manusia dengan Tuhan dipulihkan
kembali. “Sementara berduka, Bunda Maria juga bersukacita,” demikian
kata Simon dari Cascia, “bahwa satu kurban telah dipersembahkan
sebagai tebusan bagi semua orang, dan dengannya murka Tuhan
diredakan kembali.”

Cinta Maria yang sedemikian besar pantas mendapatkan terima kasih
dari pihak kita. Dan rasa terima kasih itu patut dinyatakan dengan
setidak-tidaknya merenungkan dan berbelas kasihan kepadanya dalam
dukacitanya. Namun demikian, Bunda Maria mengeluh kepada St.
Brigitta bahwa begitu sedikit yang melakukannya dan sebagian besar
dunia hidup dengan mengacuhkannya, “Aku melihat berkeliling kepada
semua yang tinggal di bumi untuk melihat kalau-kalau ada yang
menaruh belas kasihan kepadaku dan merenungkan dukacitaku; aku
mendapati hanya sedikit sekali yang melakukannya. Sebab itu, putriku,
meskipun aku telah dilupakan banyak orang, setidak-tidaknya engkau
janganlah melupakan aku. Renungkanlah sengsaraku, dan teladanilah
dukacitaku sebanyak yang engkau mampu.” Untuk memahami betapa
menyenangkan bagi Bunda Maria jika kita merenungkan dukacitanya,
kita hanya perlu tahu bahwa pada tahun 1239 Santa Perawan
menampakkan diri kepada tujuh hambanya yang setia (yang di
kemudian hari menjadi para pendiri Ordo Religius Pelayan-pelayan
Maria), dengan jubah hitam di tangannya. Bunda Maria menghendaki
agar mereka, jika mereka ingin menyenangkan hatinya, seringkali
merenungkan dukacitanya. (Jubah hitam dikenakan untuk maksud ini,
dan untuk mengingatkan mereka akan dukacitanya). Ia menyatakan
keinginannya agar di kemudian hari mereka mengenakan gaun duka itu.
Yesus Kristus Sendiri menampakkan diri kepada Beata Veronica da
Binasco bahwa Ia, dan selamanya demikian, lebih suka melihat Bunda-
Nya yang memperoleh belas kasihan daripada Ia Sendiri. Kata-Nya
kepada Veronica, “Puteri-Ku, air mata yang dicurahkan demi Sengsara-
Ku menyenangkan Daku; tetapi, karena Aku mencintai Bunda-Ku Maria
dengan kasih yang begitu dalam, renungan akan dukacita yang harus
dideritanya pada saat wafat-Ku akan lebih menyenangkan Hati-Ku.”

Rahmat-rahmat yang dijanjikan Yesus bagi mereka yang berdevosi
kepada dukacita Maria sungguh luar biasa. Pelbert menceritakan bahwa
kepada St. Elizabeth dinyatakan, yaitu sesudah Bunda Maria diangkat ke
Surga, St. Yohanes Penginjil rindu untuk bertemu dengannya kembali.

Kerinduannya itu dipenuhi; Bundanya yang terkasih menampakkan diri
kepadanya; dan bersamanya Yesus Kristus juga menampakkan diri. St.
Yohanes kemudian mendengar Maria meminta Putra-nya untuk
menganugerahkan rahmat-rahmat istimewa bagi mereka yang berdevosi
kepada dukacitanya. Yesus berjanji kepada Bunda-Nya untuk
menganugerahkan empat rahmat utama:

Pertama, bahwa mereka yang sebelum ajalnya berseru kepada Bunda
Ilahi atas nama dukacitanya akan memperoleh tobat sempurna atas
dosa-dosanya.

Kedua, Ia akan melindungi mereka semua yang mempraktekan devosi
ini dalam pencobaan-pencobaan mereka, dan bahwa Ia akan melindungi
mereka secara istimewa pada saat ajal mereka.

Ketiga, Ia akan membangkitkan dalam benak mereka kenangan akan
Sengsara-Nya, dan bahwa mereka akan memperoleh ganjaran untuk itu
di surga.

Keempat, Ia akan mempercayakan mereka yang dengan setia berdevosi
ke dalam tangan Maria, dengan kuasa untuk memberikan kepada
mereka apa pun yang ia kehendaki, dan untuk memperolehkan bagi
mereka segala rahmat yang ia kehendaki.

Sebagai bukti atas janji-Nya ini, marilah kita lihat contoh berikut ini,
bagaimana ampuhnya devosi kepada dukacita Maria dalam membantu
jiwa memperoleh keselamatan kekal.

TELADAN

Dalam penampakan-penampakan kepada St. Brigitta kita membaca
tentang seorang kaya, seorang keturunan bangsawan, yang jahat dan
hidup dalam dosa. Ia memberikan dirinya sebagai budak iblis. Selama
enam puluh tahun berikutnya ia mengabdi iblis, hidup dengan cara
demikian seperti yang dapat kita bayangkan dan tak pernah sekali pun
menerima sakramen-sakramen. Sekarang, bangsawan ini mendekati
ajalnya. Yesus Kristus, untuk menunjukkan belas kasihan-Nya, meminta
St. Brigitta untuk mengatakan kepada bapa pengakuannya agar pergi
mengunjungi sang bangsawan serta mendesaknya untuk mengakukan
dosa-dosanya. Imam pergi, tetapi si sakit mengatakan bahwa ia tidak
membutuhkan Sakramen Tobat karena ia telah sering menerimanya.
Imam pergi untuk kedua kalinya; tetapi budak neraka yang malang ini
bersikukuh pada kekerasan hatinya untuk tidak mengakukan dosa-
dosanya. Yesus sekali lagi menyatakan kepada St. Brigitta keinginan-
Nya agar imam datang kembali. Imam melakukannya; dan pada
kesempatan ketiga ini, imam mengatakan kepada si sakit tentang
penglihatan St. Briggita dan bahwa ia telah kembali berulang kali hanya
karena Kristus, yang hendak menunjukkan kerahiman-Nya,
memerintahkannya demikian. Mendengar ini, orang yang sedang

menghadapi ajal ini tersentuh hatinya dan mulai mengangis. “Tetapi,
bagaimana,” teriaknya, “aku dapat diselamatkan. Aku, yang selama
enam puluh tahun mengabdi iblis sebagai budaknya, dan jiwaku sarat
dengan dosa-dosa yang tak terbilang banyaknya?” “Anakku,” jawab
imam untuk membesarkan hatinya, “janganlah ragu; jika engkau
menyesali dosa-dosamu, sebagai wakil dari pihak Allah, aku
menjanjikan pengampunan.” Kemudian, setelah kepercayaan dirinya
bangkit kembali, ia berkata kepada imam, “Bapa, aku memandang diriku
sendiri sebagai orang yang sesat, dan sudah berputus asa untuk
memperoleh keselamatan; tetapi sekarang aku merasakan kesedihan
mendalam atas dosa-dosaku, yang meyakinkan aku. Dan karena Tuhan
tidak meninggalkan aku, maka aku akan mengakukan dosa-dosaku.”
Sesungguhnya, ia mengakukan dosanya empat kali pada hari itu,
dengan tanda-tanda sesal dan tobat yang sungguh. Keesokan paginya
ia menerima Komuni Kudus. Pada hari keenam, penuh rasa sesal dan
pasrah, ia meninggal dunia. Sesudah kematiannya, Yesus Kristus
kembali berbicara kepada St. Brigitta dan mengatakan kepadanya bahwa
pendosa itu telah diselamatkan; bahwa ia sekarang berada dalam api
penyucian, dan bahwa ia berhutang keselamatan jiwanya kepada Santa
Perawan Bunda-Nya, sebab almarhum, meskipun hidup sesat dalam
kejahatan, senantiasa berdevosi kepada dukacita Maria, dan setiap kali
ia merenungkannya, ia berbelas kasihan kepada Sang Bunda.

DOA

O Bundaku yang berdukacita! Ratu para martir dan sengsara, adakah
engkau menangisi Putramu dengan pilu, yang wafat demi
keselamatanku? Tetapi, apakah gunanya air matamu itu bagiku jika aku
sesat? Karenanya, berkat dukacitamu, perolehkanlah bagiku tobat sejati
atas dosa-dosaku, dan keteguhan hati untuk mengubah hidupku,
bersama dengan belas kasihan yang lembut dan terus-menerus demi
sengsara Yesus dan demi dukacitamu. Dan, apabila Yesus dan engkau,
yang tak berdosa, telah menderita begitu banyak demi kasih kepadaku,
perolehkanlah bagiku agar setidak-tidaknya aku, yang layak menerima
hukuman neraka, boleh menderita demi kasih kepada-Mu. O Bunda,
bersama St. Bonaventura aku hendak mengatakan, “jika aku telah
menghina engkau, demi keadilan lukailah hatiku; jika aku telah melayani
engkau, sekarang aku mohon ganjarilah aku dengan luka-luka pula.
Sungguh memalukan bagiku melihat Tuhan Yesus-ku penuh luka, dan
engkau terluka bersama-Nya, sementara aku sendiri bersih tanpa suatu
luka pun.” O Bundaku, melalui dukacita yang engkau derita saat
menyaksikan Putra-mu menundukkan kepala-Nya dan wafat di kayu
salib dalam siksa sengsara yang begitu keji, aku mohon kepadamu agar
memperolehkan bagiku kematian yang bahagia. Ah, janganlah berhenti,
O pembela para pendosa, menopang jiwaku yang menderita di tengah
pertarungan yang harus dilaluinya dalam perjalanan panjangnya menuju
ke keabadian. Dan, sementara mungkin bagiku kehilangan kemampuan
berkata-kata, kehilangan kekuatan untuk menyerukan namamu dan
Nama Yesus, yang adalah seluruh pengharapanku, maka aku

melakukannya sekarang; aku berseru kepada Putramu dan kepadamu
untuk menolongku di saat-saat terakhir. Karenanya aku berkata, Yesus
dan Bunda Maria, kepada-Mu kuserahkan jiwaku. Amin.

sumber : "Of the Dolours of Mary" by St. Alphonsus Liguori; Copyright © 1996
Catholic Information Network (CIN) - February 6, 1996; www.cin.org

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic
Information Network”
barluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA:
www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Information Network”

Dukacita Pertama

Nubuat Nabi Simeon

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

Dalam lembah airmata ini, setiap manusia dilahirkan untuk menangis,
dan semua harus menderita, dengan menanggung kemalangan-
kemalangan yang adalah peristiwa sehari-hari. Tetapi, alangkah jauh
lebih hebatnya penderitaan hidup ini, andai saja kita mengetahui terlebih
dahulu kemalangan-kemalangan yang menanti kita! “Betapa malangnya,
sungguh, betapa berat penderitaan dia,” kata Seneca, “yang mengetahui
kemalangan yang akan datang, sebab ia harus menderita semuanya
sementara menanti.” Kristus menunjukkan belas kasihan-Nya kepada
kita dalam hal ini. Ia menyembunyikan pencobaan-pencobaan yang
menanti kita, sehingga, apa pun pencobaan itu, kita akan
menanggungnya sekali saja. Namun demikian, Kristus tidak
menunjukkan belas kasihan yang sama terhadap Bunda Maria; sebab
dialah yang dikehendaki Tuhan menjadi Ratu Dukacita, dan seperti
Putranya, dalam segala hal ia senantiasa telah melihat terlebih dahulu di
depan matanya dan dengan demikian terus-menerus menanggung
segala sengsara dan penderitaan yang menantinya; penderitaan-
pernderitaan itu adalah Sengsara dan Wafat Yesusnya yang terkasih;
seperti di Bait Allah Nabi Simeon, sementara menatang Kanak-kanak
Yesus dalam tangannya, menubuatkan kepada Maria bahwa Putranya

akan menjadi tanda yang menimbulkan perbantahan. “Sesungguhnya
Anak ini ditentukan… untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan
perbantahan.” Dan karenanya, sebilah pedang dukacita akan menembus
jiwanya,
“dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.”

Bunda Maria sendiri mengungkapkan kepada St. Matilda bahwa pada
saat menerima nubuat Nabi Simeon ini, “segala sukacitanya berubah
menjadi dukacita.” Sebab, seperti dinyatakan kepada St. Teresa,
meskipun Bunda Maria telah mengerti bahwa hidup Putranya akan
dikurbankan demi keselamatan dunia, namun demikian ia melihat secara
lebih jelas dan lebih detail sengsara dan wafat keji yang menanti
Putranya yang malang. Ia tahu bahwa Putranya akan ditolak dalam
segala hal. Ditolak dalam ajaran-ajaran-Nya; bukannya dipercaya, Ia
malahan dianggap seorang penghujat dengan mengajarkan bahwa Ia
adalah Putra Allah; hal ini dimaklumkan oleh Kayafas yang kejam
dengan mengatakan,
“Ia menghujat Allah. Ia harus dihukum mati!” Ia
ditolak dalam status-Nya; Ia seorang bangsawan, bahkan keturunan
raja, tetapi dipandang rendah sebagai rakyat jelata,
“Bukankah Ia ini
anak tukang kayu?” “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria?” Ia
adalah kebijaksanaan itu sendiri, tetapi diperlakukan sebagai orang
dungu,
“Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian
tanpa belajar!” Dianggap sebagai nabi palsu, “Lalu mulailah beberapa
orang meludahi Dia dan menutupi muka-Nya dan meninju-Nya sambil
berkata kepadanya: `Hai nabi, siapakah yang memukul Engkau?'” Ia
diperlakukan sebagai orang yang tidak waras,
“Ia kerasukan setan dan
gila; mengapa kamu mendengarkan Dia?” Sebagai seorang peminum,
pelahap dan sahabat orang-orang berdosa,
“Lihatlah, Ia seorang
pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.”
Sebagai tukang sihir, “Dengan penghulu setan Ia mengusir setan.”
Sebagai seorang kafir dan kerasukan setan, “Bukankah benar kalau
kami katakan bahwa Engkau orang Samaria dan kerasukan setan?”

Singkat kata, Yesus dianggap amat cemar karena kejahatan-Nya, hingga,
seperti yang dikatakan orang-orang Yahudi kepada Pilatus, pengadilan
tak diperlukan lagi untuk menjatuhkan hukuman mati atas-Nya,
“Jikalau
Ia bukan seorang penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!” Ia
ditolak bahkan dalam jiwa-Nya yang terdalam; oleh sebab Bapa-Nya
yang Kekal, demi Keadilan Ilahi, menolak-Nya dengan tidak
mengindahkan doa-Nya ketika Ia berdoa,
“Ya Abba, ya Bapa, tidak ada
yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku.” Bapa-Nya
membiarkan Dia dalam keadaan takut, gelisah dan sedih; hingga Tuhan
kita yang sengsara berseru,
“Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati
rasanya,” dan sengsara batin-Nya itu mengakibatkan-Nya meneteskan
keringat darah. Ditolak dan dianiaya, pada tubuh-Nya dan sepanjang
hidup-Nya; Ia dianiaya di seluruh anggota tubuh-Nya yang kudus, pada
tangan-Nya, kaki-Nya, wajah-Nya, kepala-Nya dan sekujur tubuh-Nya;
hingga dengan darah-Nya tercurah habis dan sebagai sasaran olok-olok
dan makian, Ia wafat penuh sengsara di atas salib yang hina.

Ketika Daud, di tengah segala kenikmatan dan kemuliaan kerajaannya,
mendengar dari Nabi Natan bahwa puteranya harus mati,
“Pastilah anak

yang lahir bagimu itu akan mati,” ia tidak dapat tenang, melainkan
meratap, berpuasa dan berbaring di tanah. Bunda Maria dengan
ketenangan yang luar biasa menerima nubuat bahwa Putranya harus
mati, dan ia senantiasa berserah diri dalam damai akan hal itu; tetapi
alangkah hebat dukacita yang harus terus-menerus dideritanya, melihat
Putranya yang menawan ini selalu ada di dekatnya, mendengar dari-Nya
sabda-sabda kehidupan kekal dan menyaksikan perilaku-Nya yang
kudus! Abraham berduka luar biasa selama tiga hari yang ia lewatkan
bersama puteranya, Ishak yang terkasih, setelah mengetahui bahwa ia
harus kehilangan puteranya itu. Ya Tuhan, bukan selama tiga hari,
melainkan tigapuluh tiga tahun lamanya Bunda Maria harus
menanggung dukacita serupa. Serupa, kataku? Tidak, melainkan jauh
lebih dahsyat, oleh sebab Putra Maria jauh lebih menawan daripada
putera Abraham. Bunda Maria sendiri menampakkan diri kepada St
Brigitta, mengatakan bahwa semasa di dunia, tak satu detik pun
terlewatkan tanpa dukacita ini mengiris jiwanya. “Seringkali,” kata
Bunda Maria, “saat aku memandangi Putraku, saat aku membedung-Nya
dalam kain lampin, saat aku mengamati tangan dan kaki-Nya, begitu
sering jiwaku larut, demikianlah, dalam dukacita yang pedih, karena
pemikiran bagaimana Ia akan disalibkan kelak.” Abbas Rupert
merenungkan Bunda Maria menyusui Putranya dan berkata tentang-Nya,
“Buah hatiku bagaikan sekantong mur bagiku; Ia akan tinggal di antara
buah dadaku.” Ah, Putraku, aku mendekap-Mu dalam pelukanku, sebab
Engkau-lah jantung hatiku; tetapi semakin Engkau kukasihi, semakin
Engkau menjadi sekantung mur dan dukacita bagiku apabila aku
memikirkan sengsara-Mu. “Bunda Maria,” kata St Bernardinus dari
Siena, “mencerminkan kekuatan para kudus yang diperas dalam
penderitaan; keindahan Firdaus yang hilang pesonanya; Tuhan atas
dunia yang diperlakukan sebagai penjahat; Pencipta segala sesuatu
yang hitam lebam karena pukulan dan deraan; Hakim atas semua yang
dijatuhi hukuman mati; Kemuliaan Surgawi yang dihinakan; Raja segala
raja yang dimahkotai duri dan diperlakukan sebagai raja olok-olok.”

Pastor Engelgrave menceritakan, dinyatakan kepada St Brigitta bahwa
Bunda yang berduka telah mengetahui Putranya harus menderita
sengsara, “saat menyusui-Nya, terbayanglah empedu dan cuka; saat
membedung-Nya, terbayanglah tali-tali yang akan membelenggu-Nya,
saat membuai-Nya dalam pelukan, terbayanglah salib di mana Ia akan
dipakukan; saat melihat-Nya tertidur lelap, terbayanglah kematian-Nya.”
Setiap kali mengenakan pakaian pada-Nya, terpikirlah oleh Bunda Maria
bahwa akan tiba harinya di mana pakaian akan ditanggalkan dari tubuh-
Nya, bahwa Ia akan disalibkan; dan apabila ia memandangi tangan dan
kaki-Nya yang kudus, ia membayangkan paku-paku yang suatu hari
nanti akan dipalukan menembusinya; dan, seperti yang dikatakan Bunda
Maria kepada St Brigitta, “mataku bersimbah airmata, dan hatiku didera
dukacita.”

Para penginjil menulis bahwa sementara Yesus Kristus bertambah
besar, Ia juga “bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi
oleh Allah dan manusia.” Karena Yesus makin dikasihi manusia, betapa

terlebih lagi Ia makin dikasihi Bunda-Nya Maria! Tetapi, ya Tuhan,
sementara kasih bertambah dalam hatinya, betapa dukacita jauh lebih
bertambah karena bayangan akan kehilangan Dia oleh kematian yang
keji; dan semakin dekat saat sengsara Putranya, semakin dalam pedang
dukacita, seperti yang dinubuatkan Nabi Simeon, menembus hati
Bunda-Nya. Hal ini secara tepat diungkapkan oleh malaikat kepada St
Brigitta, “Pedang dukacita itu setiap detik semakin mendekati Santa
Perawan sementara saat sengsara Putranya semakin dekat.”

Oleh sebab Yesus, Raja kita, dan Bunda-Nya yang Terkudus, tidak
menolak, demi kasih kepada kita, untuk menderita sengsara yang
demikian kejam sepanjang hidup mereka, maka pantaslah jika kita,
sekurang-kurangnya, tidak mengeluh jika harus menderita sesuatu.
Yesus yang tersalib, suatu ketika menampakkan diri kepada Sr
Magdalena Orsini, seorang biarawati Dominikan yang telah lama
menderita karena suatu pencobaan berat. Yesus memberinya semangat
untuk tetap, dengan sarana penderitaannya itu, bersama-Nya di salib. Sr
Magdalena menjawab dengan mengeluh, “Ya Tuhan, Engkau menderita
sengsara di atas salib hanya selama tiga jam saja, sementara aku
menanggung sengsaraku selama bertahun-tahun.” Sang Penebus
kemudian menjawab, “Ah, jiwa yang bodoh, apakah yang engkau
katakan? sejak saat pertama perkandungan-Ku, Aku menderita dalam
hati-Ku segala yang kelak Aku derita sementara Aku meregang nyawa di
atas salib.” Maka, jika kita juga menderita dan mengeluh, marilah kita
membayangkan Yesus dan Bunda-Nya Maria, sambil mengucapkan kata-
kata yang sama kepada diri kita sendiri.

TELADAN

Pastor Roviglione dari Serikat Yesus bercerita tentang seorang pemuda
yang memiliki devosi setiap hari mengunjungi patung Bunda Dukacita,
di mana Bunda Maria digambarkan dengan tujuh pedang menembusi
hatinya. Pemuda malang ini suatu malam melakukan dosa berat.
Keesokan harinya, saat mengunjungi Bunda Maria seperti biasanya, ia
memperhatikan bahwa bukan lagi tujuh, melainkan delapan pedang
yang menembusi hati Bunda Maria. Ia masih tercengang ketika
didengarnya suara yang mengatakan bahwa dosanya telah
menambahkan pedang kedelapan. Hal itu begitu menyentuh hatinya.
Diliputi sesal mendalam, ia segera mengakukan dosanya dan dengan
perantaraan Pembelanya ia dipulihkan kembali dalam keadaan rahmat.

DOA

Ya, Bunda Maria, bukan hanya sebilah pedang saja yang aku tikamkan
pada hatimu, melainkan aku menikamkannya sebanyak dosa-dosa yang
aku lakukan. Ah Bunda, bukan engkau yang tanpa dosa yang
seharusnya menanggung segala derita itu, melainkan aku, yang
bersalah atas begitu banyak dosa. Tetapi oleh karena engkau senantiasa

rela hati menderita begitu banyak demi aku, ya Bunda, demi jasa-
jasamu, perolehkanlah bagiku rahmat sesal mendalam atas dosa-
dosaku, dan ketekunan dalam menghadapi pencobaan-pencobaan
hidup. Rahmat-rahmat itu akan senantiasa menjadi terang bagi segala
kelemahan dan kekuranganku; oleh sebab aku seringkali lebih pantas
mendapatkan neraka. Amin.

sumber : "On the First Dolour, Of St. Simeon's Prophesy" by St. Alphonsus Liguori;
Copyright © 1996 Catholic Information Network (CIN) - February 9, 1996;
www.cin.org

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic
Information Network”

Dukacita Kedua

Melarikan Yesus ke Mesir

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

Bagaikan seekor rusa yang terluka oleh panah membawa rasa sakit itu
bersamanya kemanapun ia pergi, sebab ia membawa sertanya anak
panah yang telah melukainya, demikian juga Bunda Allah. Setelah
nubuat memilukan Nabi Simeon, seperti yang telah kita renungkan
dalam dukacita pertama, Bunda Maria senantiasa membawa dukacita
sertanya oleh karena kenangan terus-menerus akan sengsara Putranya.
Hailgrino, menjelaskan baris bait ini, “Rambut di kepalamu, berwarna
ungu raja, rapi terjalin,” mengatakan bahwa helai-helai rambut berwarna
ungu ini adalah kenangan Bunda Maria yang terus-menerus akan
sengsara Yesus, di mana darah yang suatu hari nanti memancar dari
luka-luka-Nya senantiasa ada di depan matanya, “Dalam benakmu, ya
Maria, dan dalam segala pemikiranmu, bayang-bayang darah sengsara
Kristus senantiasa meliputimu dengan dukacita, seolah-olah engkau
sungguh melihat darah memancar dari luka-luka-Nya.” Dengan
demikian, Putranya sendiri merupakan anak panah di hati Maria;

semakin menawan Ia di hatinya, semakin amat dalamlah bayangan akan
kehilangan Dia oleh kematian yang keji menyengsarakan hatinya.

Sekarang marilah kita merenungkan pedang dukacita kedua yang
melukai Maria dalam melarikan Bayi Yesus dari aniaya Herodes ke Mesir.
Herodes, mendengar bahwa Mesias yang dinanti-nantikan telah lahir,
dalam kebodohannya, ketakutan kalau-kalau Ia akan menggulingkannya
dari kerajaan. St. Fulgentius, mencela kebodohan Herodes dengan
mengatakan, “Mengapakah engkau gelisah, hai Herodes? Raja yang
baru dilahirkan ini datang tidak untuk menaklukan raja-raja dengan
pedang, melainkan menaklukkan mereka secara mengagumkan dengan
wafat-Nya.” Herodes yang kafir, menanti kabar dari para Majus di mana
sang Raja dilahirkan agar ia dapat segera mencabut nyawa-Nya. Sadar
bahwa ia ditipu, Herodes memerintahkan agar semua bayi yang didapati
di wilayah Betlehem dan sekitarnya dibunuh. Sementara itu, malaikat
menampakkan diri dalam mimpi kepada St Yusuf,
“Bangunlah, ambillah
Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir.” Menurut Gerson, St Yusuf
segera, pada malam itu juga, menyampaikan perintah ini kepada Maria;
dengan membawa Bayi Yesus, mereka memulai perjalanan mereka,
seperti dengan jelas dicatat dalam Kitab Suci,
“Maka Yusuf pun
bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu
menyingkir ke Mesir.” “Ya Tuhan,” demikian kata Beato Albertus Agung
atas nama Maria, “Haruskah Ia menyingkir dari manusia, Ia yang datang
untuk menyelamatkan manusia?” Maka tahulah Bunda yang berduka
bahwa nubuat Simeon mengenai Putranya sudah mulai digenapi,

“Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjadi suatu tanda yang
menimbulkan perbantahan.” Menyadari bahwa segera sesudah
kelahiran-Nya Ia dikejar-kejar untuk dibunuh, tulis St Yohanes
Krisostomus, betapa isyarat pengungsian yang kejam atas dirinya dan
Putranya itu telah mengakibatkan dukacita dalam hatinya, “Pergi dari
para sahabat kepada orang-orang asing, dari Bait Allah ke kuil-kuil
berhala. Adakah penderitaan yang lebih besar dari penderitaan seorang
bayi yang baru dilahirkan, yang masih menyusu pada ibunya, dan
ibundanya pula dalam keadaan miskin papa, dipaksa mengungsi
bersamanya?”

Siapa pun dapat membayangkan bagaimana Bunda Maria menderita
dalam perjalanan ini. Jarak ke Mesir jauh. Sebagian besar penulis
sepakat jaraknya kira-kira 300 mil, suatu perjalanan mendaki selama
tigapuluh hari. Jalannya, menurut gambaran St Bonaventura, “tidak rata,
tak lazim dan jarang dilewati.” Waktu itu musim dingin, jadi mereka
harus berkelana dalam salju, hujan dan angin, melewati jalan-jalan yang
becek dan licin. Maria seorang gadis muda belia berusia sekitar
limabelas tahun yang lemah lembut, yang tak terbiasa dengan
perjalanan yang demikian. Tak ada seorang pun menolong mereka. St
Petrus Chrysologus mengatakan, “Yusuf dan Maria tidak mempunyai
baik pelayan laki-laki maupun perempuan; mereka sendirilah sekaligus
majikan dan pelayan.” Ya Tuhan, pastilah sungguh menyentuh hati
melihat Perawan yang lemah lembut, dengan Bayi yang baru lahir dalam
pelukannya, berkeliaran di padang dunia! “Tetapi bagaimana,” tanya St

Bonaventura, “mereka mendapatkan makanan? Di manakah mereka
beristirahat pada malam hari? Adakah tempat menginap bagi mereka?
Adakah yang mereka makan selain dari sepotong roti keras, entah bekal
yang dibawa St Yusuf atau yang diterimanya sebagai sedekah? Di
manakah gerangan mereka dapat tidur dalam perjalanan yang demikian
(teristimewa 200 mil padang pasir, di mana tidak ada baik rumah
ataupun penginapan), selain di atas pasir atau di bawah pohon di hutan,
rentan terhadap cuaca dan bahaya penyamun serta binatang buas, yang
sangat banyak terdapat di Mesir. Ah, andai saja ada yang berjumpa
dengan tiga pribadi terbesar di dunia ini, yang sudi memberi tumpangan
kepada tiga pengelana miskin yang malang.”

Di Mesir, menurut Brocard dan Jansenius, mereka tinggal di daerah
yang disebut Maturea; meskipun St Anselmus berpendapat bahwa
mereka tinggal di kota Heliopolis, atau di Memphis, yang sekarang
disebut Kairo kuno. Sekarang, marilah kita merenungkan kemiskinan
sangat yang menurut St Antonius, St Thomas, serta yang lainnya,
pastilah mereka alami selama tujuh tahun mereka di sana. Mereka
adalah orang asing, tak dikenal, tanpa penghasilan, uang, ataupun
sanak saudara, semata-mata bertahan hidup dari perjuangan mereka
yang gigih. “Karena mereka melarat,” kata St Basilus, “pastilah mereka
berjuang keras guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” Landolph
dari Saxony lebih jauh menulis (dan biarlah hal ini menjadi penghiburan
bagi kaum miskin), bahwa “Maria tinggal di sana dalam kemiskinan yang
sangat hingga terkadang ia bahkan tak mempunyai sebongkah roti pun
untuk diberikan kepada Putranya, saat Ia memintanya karena lapar.”

Setelah Herodes mangkat, demikian St Matius mencatat, malaikat
menampakkan diri lagi kepada St Yusuf dalam mimpi dan memintanya
kembali ke Yudea. St Bonaventura menganggap kepulangan ini
menyebabkan penderitaan yang lebih besar bagi Santa Perawan
mengingat Yesus telah bertambah besar, usianya sekitar tujuh tahun,
demikian menurut orang kudus ini, di mana, “Ia terlalu besar untuk
digendong, tetapi belum cukup kuat untuk berjalan jauh sendiri tanpa
pertolongan.”

Gambaran akan Yesus dan Maria yang berkelana sebagai pengembara di
dunia, mengajarkan kepada kita agar kita pun selayaknya hidup sebagai
pengembara di dunia ini, lepas dari keterikatan terhadap barang-barang
yang ditawarkan dunia; kita akan segera meninggalkan dunia ini untuk
memasuki keabadian, “Yang kita punyai sekarang bukanlah kota abadi,
tetapi carilah kota abadi yang akan datang.” St Agustinus
menambahkan, “Kalian adalah pengembara; kalian singgah, dan
kemudian berlalu.” Hal ini juga mengajarkan kita untuk memeluk salib-
salib kita, sebab tanpa salib kita tak dapat hidup di dunia ini. Beata
Veronica da Binasco, seorang biarawati Agustinian, dibawa dalam roh
untuk menemani Bunda Maria dan Bayi Yesus dalam perjalanan mereka
ke Mesir; sesudahnya Bunda Allah mengatakan, “Puteriku, engkau telah
melihat betapa dengan susah payah kami mencapai negeri ini; sekarang
ketahuilah bahwa tak seorang pun menerima rahmat tanpa

penderitaan.” Siapa pun yang berharap untuk merasakan penderitaan
hidupnya lebih ringan, hendaknya menyertai Yesus dan Maria,
“Ambillah Anak serta Ibu-Nya.” Maka segala beban derita terasa ringan,
dan bahkan manis serta menyenangkan bagi dia, yang karena kasihnya
menempatkan Putra dan Bunda dalam hatinya. Maka, marilah kita
mengasihi Mereka; marilah kita menghibur Bunda Maria dengan
menyambut dalam hati kita Putranya, yang bahkan hingga kini masih
terus-menerus dianiaya oleh manusia dengan dosa-dosa mereka.

TELADAN

Santa Perawan suatu hari menampakkan diri kepada Beata Koleta,
seorang biarawati Fransiskan, serta memperlihatkan kepadanya Bayi
Yesus dalam sebuah buaian dalam keadaan terkoyak-koyak, dan
mengatakan, “Beginilah para pendosa terus-menerus memperlakukan
Putraku, memperbaharui kematian-Nya dan mengoyak hatiku dengan
dukacita. Puteriku, berdoalah bagi mereka agar mereka bertobat.”
Penampakan serupa dialami Venerabilis Joanna dari Yesus dan Maria,
seorang biarawati Fransiskan juga. Suatu hari ia sedang merenungkan
Bayi Yesus yang dianiaya Herodes ketika ia mendengar suara amat
ribut, seakan-akan prajurit-prajurit bersenjata sedang mengejar
seseorang; sekejap kemudian ia melihat di hadapannya seorang Anak
yang sungguh elok paras-Nya, yang berlari terengah-engah sambil
berseru, “O Joanna-Ku, tolonglah Aku, sembunyikanlah Aku! Aku Yesus
dari Nazaret; Aku melarikan diri dari para pendosa yang hendak
membunuh-Ku dan menganiaya-Ku seperti yang dilakukan Herodes.
Sudikah engkau menyelamatkan Aku?”

DOA

Ya Bunda Maria, bahkan setelah Putramu wafat di tangan orang-orang
yang menyiksa-Nya hingga tewas, orang-orang yang tak tahu berterima
kasih ini belum juga berhenti menganiaya-Nya dengan dosa-dosa
mereka dan terus-menerus mendukakan engkau, ya Bunda yang
berduka! Dan, ya Tuhan, aku juga salah seorang dari mereka. Ah,
Bundaku yang penuh kasih sayang, perolehkan bagiku airmata guna
menangisi sikap tak tahu terima kasihku. Demi sengsara yang engkau
derita selama perjalananmu ke Mesir, tolonglah aku dalam perjalanan
yang aku lalui sekarang ini menuju keabadian; dengan demikian pada
akhirnya aku akan dapat bersatu denganmu dalam mengasihi
Juruselamat-ku yang teraniaya dalam Kerajaan Terberkati. Amin.

sumber : "On the Second Dolour, Of the Flight of Jesus to Egypt" by St. Alphonsus
Liguori; Copyright © 1996 Catholic Information Network (CIN) - February 9, 1996;
www.cin.org

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic
Information Network”

Dukacita Ketiga

Hilangnya Yesus di Bait Allah

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

Rasul St Yakobus mengatakan bahwa kesempurnaan dapat dicapai
dengan ketekunan.
“Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah
yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak
kekurangan suatu apapun.” Kristus memberikan Santa Perawan Maria
kepada kita sebagai teladan kesempurnaan, oleh sebab itu perlulah ia
ditempa derita agar dalam dia kita dapat mengagumi ketekunannya yang
gagah berani dan berusaha meneladaninya. Dukacita yang kita
renungkan sekarang ini adalah penderitaan terdahsyat yang harus
dialami Bunda Maria dalam hidupnya, kehilangan Putranya di Bait Allah.

Ia, yang terlahir buta, merasa menderita karena tak dapat melihat terang;
tetapi ia, yang dulu biasa menikmati terang dan sekarang tak lagi dapat
menikmatinya karena menjadi buta, merasa jauh lebih menderita.
Demikian juga halnya dengan jiwa-jiwa yang malang, yang dibutakan
oleh gemerlapnya dunia ini, hanya sedikit mengenal Tuhan, mereka
menderita, tetapi sedikit saja, saat tak dapat menemukan-Nya. Tetapi,
sebaliknya, ia yang diterangi oleh terang surgawi, telah menjadi layak
karena kasih untuk menikmati kehadiran mesra yang Maha Pengasih. Ya
Tuhan, betapa pahit dukacitanya apabila ia mendapati dirinya terpisah
daripada-Mu! Sekarang, mari kita lihat betapa pastilah Bunda Maria
menderita karena pedang dukacita ketiga yang menembus jiwanya, yaitu
saat kehilangan Yesus di Yerusalem selama tiga hari, ia terpisah dari
kehadiran-Nya yang amat mempesona, sementara ia biasa
menikmatinya.

St Lukas mencatat dalam bab dua Injilnya bahwa Bunda Maria dengan
St Yusuf, suaminya, dan Yesus, tiap-tiap tahun biasa pergi ke Bait Allah

pada hari raya Paskah. Pada waktu Putranya berusia duabelas tahun,
Bunda Maria pergi seperti biasanya, dan Yesus tanpa
sepengetahuannya tinggal di Yerusalem. Bunda Maria tidak langsung
menyadari hal itu, ia beranggapan bahwa Yesus ada bersama yang
lainnya. Setibanya di Nazaret, ia mencari Putranya, tetapi tidak
mendapatkan-Nya. Segera ia kembali ke Yerusalem untuk mencari-Nya,
dan setelah tiga hari barulah ia mendapatkan-Nya. Sekarang marilah kita
merenungkan betapa gelisah Bunda yang berduka ini selama tiga hari
sementara ia mencari-cari Putranya. Bersama pengantin dalam Kidung
Agung ia bertanya tentang-Nya,
“Apakah kamu melihat jantung hatiku?”
Tetapi, tak didapatkannya kabar berita tentang-Nya. Oh, sungguhlah
besar duka dalam hati Maria, dikuasai rasa letih, namun belum juga
menemukan Putranya terkasih, ia mengulang kata-kata Ruben mengenai
saudaranya, Yusuf,
“Anak itu tidak ada lagi, ke manakah aku ini?
“Yesus-ku tidak ada dan aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan
untuk menemukan-Nya; tetapi ke manakah aku hendak pergi tanpa
jantung hatiku?” Dengan airmata menetes tak henti, diulanginya kata-
kata ini bersama Daud sepanjang tiga hari itu,
“Airmataku menjadi
makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata
kepadaku: `Di mana Allahmu?'” Sebab itu, Pelbart, bukan tanpa alasan
mengatakan bahwa `pada malam-malam itu Bunda yang berduka tidak
dapat memejamkan mata; terus-menerus ia meneteskan airmata,
memohon dengan sangat kepada Tuhan agar Ia menolongnya
menemukan Putranya.” Seringkali, selama masa itu, menurut St
Bernardus, Bunda Maria memanggil Putranya dengan menggunakan
kata-kata pengantin dalam bait ini, “Tunjukkanlah kepadaku, jantung
hatiku, di mana engkau menggembalakan domba, di manakah engkau
pada petang hari, agar aku segera pergi mencari.” Putraku, katakan di
manakah Engkau berada, agar aku tak lagi berkeliling mencari Engkau
dengan sia-sia.

Sebagian orang menegaskan, dan bukan tanpa alasan, bahwa dukacita
ini bukan hanya salah satu yang terbesar, melainkan yang paling
dahsyat dan paling menyakitkan dari yang lainnya. Sebab, pertama,
Bunda Maria dalam dukacitanya yang lain, ada bersama Yesus: ia
berduka saat Nabi Simeon menyampaikan nubuat kepadanya di Bait
Allah; ia berduka dalam pengungsian ke Mesir, tetapi semuanya itu
dilaluinya bersama Yesus. Tetapi, dalam dukacitanya yang ini, Bunda
Maria berduka terpisah dari Yesus, bahkan tak tahu di mana Ia berada,
“cahaya matakupun lenyap dari padaku.” Sebab itu, sambil menangis ia
mengatakan, “Ah, cahaya mataku, Yesus terkasih, tidak lagi bersamaku;
Ia jauh dariku dan aku tidak tahu kemanakah gerangan Ia pergi.” Origen
mengatakan bahwa karena kasih sayang yang dilimpahkan Bunda
Tersuci ini kepada Putranya, “ia menderita jauh lebih hebat atas
kehilangan Putranya Yesus daripada yang pernah ditanggung para
kudus manapun dalam perpisahan jiwa dari raganya.” Ah, betapa
lamanya masa tiga hari itu bagi Maria; serasa tiga abad lamanya, dan
seluruhnya kepahitan belaka, oleh sebab tak ada yang mampu
menghiburnya. Dan siapakah yang dapat menghiburku, demikian
katanya bersama Nabi Yeremia, siapakah yang dapat menenangkan

hatiku, sebab Ia seorang, yang dapat melakukannya, berada jauh dariku
dan karenanya mataku tak akan pernah cukup mencucurkan air mata.

“Karena inilah aku menangis, mataku mencucurkan air; karena jauh dari
padaku penghibur yang dapat menyegarkan jiwaku.” Dan bersama Tobit
ia mengulang, “Adakah sukacita bagiku yang duduk dalam kegelapan
dan tidak melihat cahaya surgawi?”

Alasan kedua, Bunda Maria, dalam semua dukacitanya yang lain,
memahami benar bahwa alasannya adalah demi penebusan umat
manusia, yaitu kehendak Allah; tetapi dalam dukacitanya yang ini, ia
tidak memahami alasan hilangnya Putranya. “Bunda yang berduka,”
kata Lanspergius, “bersedih hati atas tiadanya Yesus, sebab dalam
kerendahan hatinya, ia menganggap dirinya tak pantas lagi untuk tetap
tinggal bersama ataupun merawat-Nya di dunia ini dan menerima
tanggung jawab atas harta pusaka yang luar biasa itu.” “Dan siapa
tahu,” demikian pikirnya dalam hati, “mungkin aku tidak melayani-Nya
seperti yang seharusnya; mungkin aku bersalah karena lalai, sebab itu
Ia meninggalkanku.” “Mereka mencari-Nya,” kata Origen, “kalau-kalau
sekiranya Ia telah meninggalkan mereka sama sekali.” Suatu hal yang
pasti bahwa bagi jiwa yang mengasihi Tuhan, tak ada kesedihan yang
lebih besar daripada takut mengecewakan-Nya.

Sebab itu, hanya dalam dukacita ini saja Bunda Maria mengeluh; secara
halus ditegurnya Yesus setelah ia menemukan-Nya,
“Nak, mengapakah
Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan
cemas mencari Engkau.” Dengan kata-katanya ini Bunda Maria tidak
bermaksud mencela Yesus, seperti dituduhkan oleh mereka yang sesat,
melainkan hanya bermaksud mengungkapkan kepada-Nya kesedihan,
karena kasihnya yang mendalam kepada-Nya, yang ia alami selama
ketidakhadiran-Nya. “Bukan suatu celaan,” kata Denis Carthusian,
“melainkan suatu protes kasih.” Singkat kata, pedang dukacita ini
begitu kejam menembus hati Santa Perawan Tersuci. Beata Benvenuta,
rindu suatu hari dapat berbagi duka dengan Bunda Tersuci dalam
dukacitanya ini dan memohon kepada Bunda Maria agar kerinduannya
dikabulkan. Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dengan Bayi
Yesus dalam pelukannya, tetapi sementara Benvenuta menikmati
kehadiran Kanak-kanak yang paling menawan hati ini, dalam sekejap ia
dipisahkan dari-Nya. Begitu dalam kesedihan Benvenuta hingga ia
mohon pertolongan Bunda Maria untuk meringankan penderitaannya,
agar dukacitanya itu jangan sampai mengakibatkan kematian. Tiga hari
kemudian, Santa Perawan menampakkan diri kembali dan mengatakan,
“Ketahuilah, puteriku, penderitaanmu itu hanyalah sebagian kecil dari
yang aku derita ketika aku kehilangan Putraku.”

Dukacita Bunda Maria ini, pertama-tama, berguna sebagai penghiburan
bagi jiwa-jiwa yang menderita, dan tak lagi menikmati, seperti dulu
mereka menikmati, kehadiran mesra Tuhan mereka. Jiwa-jiwa demikian
boleh menangis, tetapi sepantasnya mereka menangis dalam damai,
seperti Bunda Maria menangisi ketidakhadiran Putranya; dan biarlah
jiwa-jiwa itu menimba keberanian, dan bukannya takut bahwa Allah tak

berkenan lagi kepada mereka; sebab Tuhan sendiri telah menegaskan
keada St Teresa bahwa “tak seorang pun sesat tanpa mengetahuinya;
dan tak seorang pun diperdaya tanpa ia sendiri menghendakinya.”
Karenanya, jika Tuhan menarik diri dari suatu jiwa yang mengasihi-Nya,
Ia tidak sungguh-sunggh meninggalkan jiwa; Tuhan seringkali
menyembunyikam Diri dari suatu jiwa agar jiwa mencari-Nya dengan
kerinduan yang lebih berkobar dan dengan cinta yang lebih bernyala-
nyala. Tetapi, barangsiapa rindu bertemu Yesus, ia harus mencari-Nya,
bukan di antara segala kenikmatan dan kesenangan duniawi, melainkan
di antara salib-salib dan penyangkalan diri, seperti Bunda Maria
mencari-Nya,
“aku dengan cemas mencari Engkau,” demikian kata
Bunda Maria kepada Putranya. “Jadi, aku belajar dari Maria,” kata
Origen, “dalam mencari Yesus.”

Lagipula, di dunia ini Bunda Maria tidak mencari yang lain selain Yesus.
Ayub tidak mengutuk ketika ia kehilangan segala miliknya di dunia:
kekayaan, anak-anak, kesehatan, kehormatan, dan bahkan diturunkan
dari tahta ke atas abu; tetapi karena Tuhan bersamanya, ia tetap
menerima keadaannya. St Agustinus menyatakan, “ia telah kehilangan
segala apa yang Tuhan berikan kepadanya, tetapi ia masih memiliki
Tuhan Sendiri.” Betapa menyedihkan dan menderitanya jiwa-jiwa yang
kehilangan Tuhan. Jika Bunda Maria menangisi ketidakhadiran Putranya
selama tiga hari, betapa terlebih lagi selayaknya para pendosa
menangis, mereka yang telah kehilangan rahmat Allah, dan kepadanya
Tuhan mengatakan,
“kamu ini bukanlah umat-Ku dan Aku ini bukanlah
Allahmu.” Inilah akibat dosa; dosa memisahkan jiwa dari Tuhan, “yang
merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala
kejahatanmu.” Jadi, jika orang-orang berdosa memiliki segala kekayaan
dunia, tetapi kehilangan Tuhan, maka segalanya, bahkan yang ada di
dunia ini, menjadi sia-sia dan menjadi sumber penderitaan mereka,
seperti diakui Salomo,
“lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan
usaha menjaring angin.” Tetapi kemalangan terbesar dari jiwa-jiwa yang
buta ini adalah, demikian menurut St Agustinus, “apabila mereka
kehilangan kapak, pastilah mereka pergi mencarinya; apabila mereka
kehiangan domba, pastilah mereka berusaha keras mencarinya; apabila
mereka kehilangan binatang beban, mereka tak dapat beristirahat; tetapi
ketika mereka kehilangan Tuhan mereka, yang adalah Yang Mahabaik,
mereka makan, minum dan beristirahat.”

TELADAN

Dalam Surat-surat Tahunan Serikat Yesus dikisahkan bahwa di India,
seorang pemuda meninggalkan kamarnya dengan maksud untuk
berbuat dosa, ketika didengarnya suatu suara yang mengatakan,
“Berhentilah! kemanakah engkau hendak pergi?” Ia melihat sekeliling
dan tampaklah olehnya suatu gambar relief yang melukiskan Bunda
Dukacita, sedang mengulurkan pedang yang ada di dadanya, katanya,
“Ambillah pedang ini, lebih baiklah engkau menusukkannya ke hatiku
daripada melukai Putraku dengan berbuat dosa yang demikian.”

Mendengar kata-kata ini, pemuda itu merebahkan diri ke tanah, meledak
dalam tangis, penuh sesal mohon pengampunan dari Tuhan dan Bunda
Maria.

DOA

Ya Bunda Maria, mengapakah engkau menyiksa dirimu sendiri saat
mencari Putramu yang hilang? Adakah karena engkau tidak tahu di
mana Ia berada? Tidak tahukah engkau bahwa Ia ada dalam hatimu?
Tidak tahukah engkau bahwa Ia menggembala di tengah-tengah bunga
bakung? Engkau sendiri mengatakannya,
“Kekasihku kepunyaanku,
dan aku kepunyaan dia yang menggembalakan domba di tengah-tengah
bunga bakung.” Segenap pikiran dan kasih sayangmu, yang bersahaja,
murni dan suci, adalah bunga-bunga bakung yang mengundang
Mempelai Ilahi untuk tinggal dalam engkau. Ah, Bunda Maria, adakah
engkau berkeluh-kesah karena Yesus, satu-satunya jantung hatimu?
Berikanlah keluh-kesahmu kepadaku, dan kepada begitu banyak orang
berdosa yang tidak mengasihi-Nya, dan yang telah kehilangan Dia
karena menghina-Nya. Bundaku yang paling menawan, jika karena dosa-
dosaku Putramu belum kembali pada jiwaku, sudilah engkau
membantuku agar aku dapat menemukan-Nya. Aku yakin bahwa Ia akan
ditemukan oleh mereka yang mencari-Nya,
“TUHAN adalah baik bagi
jiwa yang mencari Dia” Tetapi, ya Bunda, bantulah aku mencari-Nya
seperti yang seharusnya. Engkaulah pintu masuk di mana semua orang
dapat menemukan Yesus; melalui engkau, aku juga berharap dapat
menemukan Dia. Amin.

sumber : "On the Third Dolour, Of the Loss of Jesus in the Temple" by St. Alphonsus
Liguori; Copyright © 1996 Catholic Information Network (CIN) - March 3, 1996;
www.cin.org

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic
Information Network”

Dukacita Keempat

Perjumpaan Bunda Maria
dengan Yesus
saat Ia Menjalani Hukuman
Mati

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

St Bernardinus mengatakan, agar dapat memperoleh gambaran betapa
dahsyat dukacita Maria atas wafat Yesus, patutlah kita merenungkan
betapa besar kasih sayang Bunda Maria yang dilimpahkannya kepada
Putranya. Semua ibu merasakan penderitaan anak-anak mereka sebagai
penderitaan mereka sendiri. Sebab itu, ketika wanita Kanaan memohon
kepada Juruselamat kita agar membebaskan puterinya dari setan yang
menyiksanya, ia mohon pada-Nya untuk berbelas kasihan kepadanya,
sang ibu, daripada puterinya,
“Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud,
karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.”

Tetapi, adakah ibu yang mengasihi anaknya lebih dari Bunda Maria
mengasihi Yesus? Ia adalah Putra tunggalnya, dibesarkan di tengah
begitu banyak kesulitan hidup; seorang Putra yang paling menawan,
dan mengasihi Bunda-Nya dengan kasih mesra; Putra, yang bukan saja
Putranya, melainkan juga Tuhannya, yang telah datang ke dunia guna
menyalakan dalam hati semua orang api kasih ilahi, seperti yang Ia
Sendiri nyatakan,
“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan
betapakah Aku harapkan api itu telah menyala!” Marilah kita
membayangkan betapa api telah Ia nyalakan dalam hati murni Bunda-
Nya yang Tersuci, api kasih yang tidak seperti dari dunia ini. Bunda
Maria sendiri mengatakan kepada St Brigitta, kasih itu telah membuat
hatinya dan hati Putranya menjadi satu. Leburnya antara Hamba dan
Bunda, dengan Putra dan Allah, menciptakan dalam hati Maria api yang
terdiri dari ribuan nyala api. Namun demikian, keseluruhan nyala api
kasih ini kelak, pada saat sengsara, berubah menjadi lautan dukacita,
seperti dinyatakan St Bernardinus, “andaikata segala derita sengsara di
seluruh dunia dijadikan satu, masih tidak akan sebanding dengan
dukacita Perawan Maria yang mulia.” Ya, sebab, seperti ditulis Richard
dari St Laurentius, “semakin lemah lembut Bunda Maria mengasihi,
semakin dalamlah ia terluka.” Semakin besar kasihnya kepada-Nya,
semakin besar dukacitanya saat sengsara-Nya; teristimewa saat Ia
berjumpa dengan Putranya, yang telah dijatuhi hukuman mati,
memanggul salib-Nya ke tempat pelaksanaan hukuman mati. Inilah
pedang dukacita keempat yang kita renungkan pada hari ini.

Bunda Maria mengungkapkan kepada St Brigitta bahwa ketika saat
sengsara Kristus semakin dekat, matanya senantiasa bersimbah
airmata, sementara pikirannya tak lepas dari Putranya terkasih, yang

akan terpisah darinya di dunia ini, dan bayangan akan sengsara yang
segera tiba menyebabkannya diliputi ketakutan, keringat dingin
membasahi sekujur tubuhnya. Lihat, waktu yang ditetapkan sejak lama
telah tiba, dan Yesus, dengan meneteskan airmata, mohon pamit dari
Bunda-Nya sebelum Ia menyongsong maut. St Bonaventura,
merenungkan Bunda Maria pada malam itu, mengatakan, “Engkau
melewatkan malam-malam tanpa terlelap, dan sementara yang lain
tertidur pulas, engkau tetap terjaga.” Pagi harinya, para murid Yesus
Kristus datang kepada Bunda yang berduka, seorang memberitakan
kabar, yang lain membawa kabar yang lain pula; namun semuanya kabar
dukacita, membuktikan digenapinya nubuat Yeremia atasnya, “
Pada
malam hari tersedu-sedu ia menangis, airmatanya bercucuran di pipi;
dari semua kekasihnya, tak ada seorang pun yang menghibur dia.”

Sebagian menceritakan kepadanya perlakuan keji terhadap Putranya di
rumah Kayafas; yang lain, penghinaan yang Ia terima dari Herodes.
Pada akhirnya - aku menghilangkan yang lainnya - St Yohanes datang
dan mengabarkan kepada Bunda Maria bahwa Pilatus yang sangat tidak
adil telah menjatuhkan hukuman mati disalib atas-Nya. Aku katakan
Pilatus yang sangat tidak adil; sebab seperti perkataan St Leo, “Hakim
yang tidak adil ini menjatuhkan hukuman mati atas-Nya dengan bibir
yang sama yang memaklumkan bahwa Ia tidak bersalah.” “Ah, Bunda
yang berduka,” kata St Yohanes, “Putramu telah dijatuhi hukuman mati,
Ia telah pergi, memanggul salib-Nya sendiri ke Kalvari,” seperti yang
kemudian dikisahkan orang kudus ini dalam Injilnya,
“Sambil memikul
salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama tempat Tengkorak,
dalam bahasa Ibrani: Golgota.” “Marilah, jika engkau berharap berjumpa
dengan-Nya di tengah jalan yang akan dilewati-Nya, dan menyampaikan
selamat tinggal.”

Bunda Maria pergi bersama St Yohanes, dan dari darah yang tercecer di
tanah, ia tahu bahwa Putranya telah lewat. Hal ini dinyatakan Bunda
Maria kepada St Brigitta, “Dari jejak-jejak Putraku, aku tahu di mana Ia
telah lewat. Sebab sepanjang perjalanan, tanah dibasahi dengan darah-
Nya.” St Bonaventura menggambarkan Bunda yang berduka mengambil
jalan pintas, menanti di sudut jalan agar dapat berjumpa dengan
Putranya yang sengsara saat Ia lewat. “Bunda yang paling berduka,”
kata St Bernardus, “berjuma dengan Putranya yang paling sengsara.”
Sementara Bunda Maria menanti di sudut jalan, betapa banyak ia
mendengar apa yang dikatakan orang-orang Yahudi, yang segera
mengenalinya, segala kata yang menyudutkan Putranya terkasih, dan
mungkin bahkan kata-kata yang mencela dirinya juga.

Sungguh malang, betapa adegan duka hadir di hadapannya! paku-paku,
palu, tali, alat-alat yang mendatangkan maut bagi Putranya, semuanya di
bawa mendahului-Nya. Dan betapa suara terompet yang memaklumkan
hukuman mati bagi Putranya itu menyayat hatinya! Tetapi lihatlah,
segala alat-alat hukuman mati, peniup terompet, dan para algojo,
semuanya telah berlalu; ia mengangkat matanya dan melihat, ya Tuhan!
seorang pemuda penuh berlumuran darah dan luka-luka dari ujung
kepala hingga ujung kaki, sebuah mahkota duri di sekeliling kepala-Nya,

dan dua palang berat di pundak-Nya. Ia memandang pada-Nya, hampir-
hampir tak mengenali-Nya, dan berkata bersama Yesaya,
“dan
semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia.” Ya, sebab
luka-luka, bilur-bilur dan gumpalan-gumpalan darah membuat-Nya
tampak seperti seorang kusta:
“kita mengira dia kena tulah” sehingga
kita tak mengenali-Nya lagi,
“ia sangat dihina, sehingga orang menutup
mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.”

Tetapi, kuasa cinta menyatakan-Nya kepadanya, dan segera setelah ia
menyadari bahwa pemuda itu sungguh Putranya, ah betapa cinta dan
ngeri menguasai hatinya! demikian dikatakan St Petrus dari Alcantara
dalam meditasinya. Di satu pihak, Bunda Maria berhasrat memandang-
Nya, namun, di pihak lain ia takut tak dapat menahan hatinya melihat
pemandangan yang menyayat hati itu. Pada akhirnya, mereka saling
memandang. Sang Putra menyeka gumpalan darah dari mata-Nya,
seperti dinyatakan kepada St Brigitta, yang menghalangi penglihatan-
Nya, dan memandang Bunda-Nya, dan Sang Ibunda memandang
Putranya. Ah, lihatlah betapa dukacita yang pahit, bagaikan begitu
banyak anak panah menancap serta menembusi kedua jiwa kudus yang
penuh kasih itu. Ketika Margareta, puteri St. Thomas More berjumpa
dengan ayahnya dalam perjalanan eksekusinya, ia hanya dapat berseru,
“O ayah! Ayah!” dan jatuh pingsan di depan kaki ayahnya. Bunda Maria,
berjumpa dengan Putranya dalam perjalanan-Nya ke Kalvari, tidak
pingsan, tidak, seperti dikatakan Pastor Suarez, bahwa mestinya Bunda
ini telah kehilangn akal; atau pun tewas. Namun demikian Tuhan
melindunginya guna menanggung dukacita yang lebih dahsyat;
walaupun ia tidak mati, dukacitanya cukup menyebabkannya mati seribu
kali.

“Sang Bunda berhasrat memeluk Putranya,” demikian kata St Anselmus,
“tetapi para prajurit mendorongnya ke samping dengan kejam dan
memaksa Kristus yang menderita melangkah maju; dan Bunda Maria
mengikuti-Nya. Ah, Santa Perawan, ke manakah gerangan engkau
hendak pergi? Ke Kalvari. Yakinkah engkau bahwa engkau sanggup
memandang Dia, yang adalah hidupmu sendiri, tergantung di salib?”
Dan hidupmu akan tergantung di hadapanmu. “Ah, berhentilah Bunda-
Ku,” kata St Laurentius Giustiniani atas nama sang Putra, “Ke manakah
engkau hendak pergi? Dari manakah engkau datang? Jika engkau pergi
ke mana Aku pergi, engkau akan tersiksa karena sengsara-Ku, dan Aku
karena sengsaramu.” Namun, meskipun menyaksikan Putranya Yesus
yang meregang nyawa akan mengakibatkan dukacita yang dahsyat,
Bunda Maria yang penuh kasih tak mau meninggalkan-Nya: sang Putra
melangkah maju, sementara Bunda mengikuti, agar juga dapat
disalibkan bersama Putranya, seperti dikatakan Abbas William, “sang
Bunda juga memikul salibnya dan mengikuti Dia untuk disalibkan
bersama-Nya.” “Kita bahkan menaruh belas kasihan kepada binatang-
binatang liar,” tulis St Yohanes Krisostomus, “melihat seekor induk
singa menyaksikan anaknya mati, bukankah kita akan tergerak oleh
belas kasihan? Tidakkah kita juga tergerak oleh belas kasihan melihat
Bunda Maria mengikuti Anak Dombanya yang tak bercela ke tempat
pembantaian? Jadi, marilah kita menaruh belas kasihan kepadanya, dan

marilah kita juga menemaninya dan menemani Putranya, dengan
memikul dengan tekun salib yang Kristus anugerahkan kepada kita. St
Yohanes Krisostomus bertanya, mengapa Yesus Kristus, dalam
sengsara-Nya yang lain, lebih suka menanggung sengsara-Nya sendiri,
tetapi, dalam memikul salib-Nya Ia membiarkan diri dibantu oleh
seorang Kirene? Ia menjawab, “hendaknya kamu mengerti bahwa salib
Kristus tidak lengkap tanpamu.”

TELADAN

Juruselamat kita suatu hari menampakkan diri kepada Sr Diomira,
seorang biarawati di Florence, dan mengatakan, “Pikirkanlah Aku dan
kasihilah Aku, maka Aku akan memikirkan engkau dan mengasihi
engkau.” Pada saat yang sama Kristus memberinya seikat bunga dan
sebuah salib, dengan cara demikian menyatakan bahwa penghiburan
bagi para kudus di dunia ini senantiasa disertai dengan salib. Salib
mempersatukan jiwa dengan Tuhan. Beato Hieronimus Emilian, saat
masih menjadi seorang tentara dan penuh dosa, dikurung oleh para
musuhnya dalam sebuah benteng. Di sana, terdorong oleh
kemalangannya, dan memperoleh pencerahan dari Tuhan untuk
mengubah hidupnya, ia mohon pertolongan Santa Perawan, dan sejak
saat itu, dengan pertolongan Bunda Allah, ia mulai hidup sebagai
seorang kudus, begitu saleh hidupnya hingga suatu hari ia beroleh
karunia melihat tempat sangat tinggi yang telah Tuhan persiapkan
baginya di surga. Ia menjadi pendiri ordo religius Somaschi, wafat
sebagai seorang kudus, dan baru-baru ini telah dikanonisasi oleh Gereja
yang kudus.

DOA

Bundaku yang berduka, demi dukacita luar biasa yang engkau derita
saat menyaksikan Putramu Yesus yang terkasih digiring menuju
pembantaian, perolehkanlah bagiku rahmat agar aku juga senantiasa
tekun dalam memikul salib-salib yang Tuhan anugerahkan kepadaku.
Alangkah bahagianya aku, seandainya aku tahu bagaimana
menyertaimu dengan salibku hingga ajal. Engkau bersama Putramu
Yesus - kalian berdua yang sama sekali tak berdosa - telah memikul
salib yang jauh lebih berat; layakkah aku, seorang pendosa, yang
pantas mendapatkan neraka, menolak memikul salibku? Ah, Santa
Perawan yang Dikandung Tanpa Dosa, darimu aku berharap
memperoleh pertolongan dalam memikul semua salibku dengan tekun.
Amin.

sumber : "On the Fourth Dolour On the Meeting of Mary with Jesus, when He was
Going to Death" by St. Alphonsus Liguori; Copyright © 1996 Catholic Information
Network (CIN) - March 20, 1996; www.cin.org

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic
Information Network”

Dukacita Kelima

Yesus Wafat

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

Sekarang kita merenungkan kemartiran Bunda Maria yang lain - seorang
ibunda yang diharuskan melihat Putranya yang tak berdosa, dan yang ia
cintai dengan segenap kasih sayang jiwanya, disiksa dengan keji dan
dijatuhi hukuman mati di depan matanya,
“Dekat salib Yesus berdiri ibu-
Nya.” St Yohanes yakin bahwa dengan kata-kata tersebut ia telah cukup
mengungkapkan kemartiran Maria. Marilah merenungkan Bunda Maria
yang berada di kaki salib, menemani Putranya yang meregang nyawa,
dan lihatlah, adakah dukacita seperti dukacitanya. Marilah pada hari ini
kita tinggal sejenak di Kalvari dan merenungkan pedang dukacita
kelima, yang saat wafat Yesus, menembus hati Maria.

Segera setelah Penebus kita yang sengsara tiba di Bukit Kalvari, para
algojo menanggalkan pakaian-Nya, dan menembusi tangan-tangan serta
kaki-kaki-Nya dengan “bukan paku-paku yang tajam, melainkan paku-
paku yang tumpul,” seperti dikatakan St Bernardus, agar lebih
menyiksa-Nya, mereka memaku-Nya pada kayu salib. Sesudah
menyalibkan-Nya, mereka memancangkan salib lalu membiarkan-Nya
mati. Para algojo meninggalkan-Nya, namun tidak demikian dengan
Maria. Ia kemudian mendekati salib, agar dapat mendampingi-Nya di
saat ajal, “Aku tidak meninggalkan-Nya,” demikian Santa Perawan
mengatakan kepada St Brigitta, “melainkan tinggal dekat kaki salib-
Nya.” “Tetapi, apakah gunanya bagimu, ya Bunda,” kata St Bonaventura,
“pergi ke Kalvari dan menyaksikan Putramu wafat? Tidakkah rasa malu
mencegah engkau pergi, sebab aib-Nya adalah aibmu, karena engkau
adalah Bunda-Nya. Setidak-tidaknya rasa ngeri yang mencekam
menyaksikan kejahatan yang sedemikian, penyaliban Tuhan oleh
makhluk ciptaan-Nya sendiri, mencegah engkau pergi ke sana.” Tetapi,

santo yang sama menjawab, “Ah, hatimu tidak memikirkan dukacitanya
sendiri, melainkan sengsara dan wafat Putramu terkasih,” dan oleh
sebab itulah engkau lebih suka hadir, setidaknya untuk berbelas kasihan
kepada-Nya. “Ah, Bunda yang sejati,” kata Abbas William, “Bunda yang
paling penuh cinta kasih, yang bahkan ngeri kematian tak dapat
memisahkanmu dari Putramu terkasih.” Tetapi, ya Tuhan, betapa suatu
pemandangan yang memilukan melihat Putra menanggung sengsara di
atas salib sementara di kaki salib Bunda yang berduka menanggung
segala siksa aniaya yang diderita Putranya! Dengarlah kata-kata yang
diungkapkan Bunda Maria kepada St Brigitta mengenai dukacita luar
biasa saat menyaksikan Putranya meregang nyawa di salib, “Yesusku
terkasih napas-Nya tersengal-sengal, tenaga-Nya terkuras, dan dalam
sengsara akhirnya di salib; kedua mata-Nya masuk ke dalam, setengah
tertutup dan tak bercahaya; bibir-nya bengkak dan mulut-Nya
ternganga; pipinya cekung, wajah-Nya kusut; hidung-Nya patah; raut
wajah-Nya sengsara: kepala-Nya lunglai ke dada-Nya, rambut-Nya hitam
oleh darah, lambung-Nya kempis ke dalam, kedua tangan dan kaki-Nya
kaku, sekujur tubuh-Nya penuh dengan luka dan darah.”

Segala sengsara Yesus ini adalah juga sengsara Maria, “setiap aniaya
yang diderita tubuh Yesus,” kata St Hieronimus, “adalah luka di hati
Bunda Maria.” “Siapa pun yang hadir di Bukit Kalvari saat itu,” kata St
Yohanes Krisostomus, “akan melihat dua altar di mana dua kurban
agung dipersembahkan; yang satu adalah tubuh Yesus, yang lainnya
adalah hati Maria.” Tidak, lebih tepat jika kita mengatakannya bersama
St Bonaventura, “hanya ada satu altar - yaitu salib Putra, di mana,
bersama dengan kurban Anak Domba Allah ini, sang Bunda juga
dikurbankan.” Sebab itu, St Bonaventura bertanya kepada sang Bunda,
“Oh, Bunda, di manakah gerangan engkau? Di kaki salib? Tidak,
melainkan engkau berada di atas salib, disalibkan, mengurbankan diri
bersama Putramu.” St Agustinus menegaskan hal yang sama, “Salib
dan paku-paku sang Putra adalah juga salib dan paku-paku Bunda-Nya;
bersama Yesus Tersalib, disalibkan juga Bunda-Nya.” Ya, seperti
dikatakan St Bernardus, “Kasih mengakibatkan dalam hati Maria siksa
aniaya yang disebabkan oleh paku-paku yang ditembuskan pada tubuh
Yesus.” Begitu dahsyatnya, seperti ditulis St Bernardus, “Pada saat
yang sama Putra mengurbankan tubuh-Nya, Bunda mengurbankan jiwa-
Nya.”

Para ibu pada umumnya tidak tahan dan menghindarkan diri dari
menyaksikan anak-anak mereka mengalami sakrat maut, tetapi apabila
seorang ibu harus menghadapi kenyataan yang demikian, ia akan
mengusahakan segala daya upaya untuk meringankan penderitaan
anaknya; ia merapikan tempat tidurnya agar anaknya merasa lebih
nyaman, ia melayani segala kebutuhan anaknya, dengan demikian ibu
yang malang itu meringankan penderitanya sendiri. Ah, Bunda yang
paling berduka dari segala ibu! Ya Maria, engkau harus menyaksikan
sengsara Putramu Yesus yang sedang meregang nyawa; tetapi engkau
tak dapat melakukan sesuatu pun guna meringankan penderitaan-Nya.
Bunda Maria mendengar Putranya berseru,
“Aku haus!” tetapi ia bahkan

tak dapat memberikan setetes air pun untuk melegakan dahaga-Nya
yang sangat. Ia hanya dapat mengatakan, seperti dikatakan St
Vincentius Ferrer, “Nak, ibu-Mu hanya punya airmata.” Ia melihat bahwa
di atas pembaringan salib, Putranya, yang digantung dengan tiga paku,
tak dapat beristirahat dengan tenang; betapa ingin ia merengkuh-Nya
dalam pelukannya guna meringankan penderitaan-Nya, atau setidak-
tidaknya Ia boleh menghembuskan napas terakhir-Nya dalam
pelukannya, tetapi hal itu tak dapat dilakukannya. “Dengan sia-sia,” kata
St Bernardus, “ia merentangkan kedua tangannya, tetapi tangan-tangan
itu kembali ke dadanya dengan kosong.” Ia menyaksikan Putranya yang
malang, yang dalam lautan sengsara-Nya mencari penghiburan, tetapi
sia-sia, seperti dinubuatkan nabi,
“Aku seorang dirilah yang melakukan
pengirikan, dan dari antara umat-Ku tidak ada yang menemani Aku!”

Tetapi, siapakah di antara manusia yang mau menghibur-Nya, karena
mereka semua memusuhi-Nya? Bahkan di atas salib Ia dicela dan
dihujat oleh orang-orang di sekitarnya,
“orang-orang yang lewat di sana
menghujat Dia …sambil menggelengkan kepala.” Sebagian berkata
kepada-Nya,
“Jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” Yang
lain berkata,
“Orang lain ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak
dapat Ia selamatkan!” Lagi, “Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib
itu.” Bunda Maria sendiri mengatakan kepada St Brigitta, “Aku
mendengar sebagian orang mengatakan bahwa Putraku seorang
penjahat; sebagian lagi mengatakan bahwa Ia seorang penipu; yang
lainnya mengatakan bahwa tak ada yang lebih pantas dijatuhi hukuman
mati selain daripada Dia; dan setiap kata yang mereka lontarkan
merupakan pedang-pedang dukacita baru yang menembusi hatiku.”

Tetapi, yang paling menambah beban duka yang diderita Bunda Maria
melalui belas kasihannya terhadap Putranya adalah ketika ia
mendengar-Nya mengeluh dari atas salib bahwa bahkan Bapa-Nya yang
Kekal telah meninggalkan-Nya,
“Allahku, Allahku, mengapa Engkau
meninggalkan Aku?” Kata-kata ini, seperti diungkapkan Bunda Allah
kepada St Brigitta, tak pernah dapat, sepanjang hidupnya, lepas dari
ingatannya. Jadi, Bunda yang berduka menyaksikan Putranya Yesus
menanggung sengsara dari berbagai pihak; ia berhasrat menghiburnya,
tetapi tak dapat. Dan yang paling mendukakan hatinya ialah menyadari
bahwa dirinya sendiri, kehadiran dan dukacitanya, menambah sengsara
Putranya. “Dukacita,” kata St Bernardus, “yang memenuhi hati Maria,
bagaikan air bah membanjiri serta melukai hati Yesus.” “Begitu
hebatnya,” menurut santo yang sama, “hingga Yesus di atas salib lebih
menderita karena belas kasihan-Nya terhadap Bunda-Nya daripada
karena sengsara-Nya sendiri.” Kemudian ia berbicara atas nama Bunda
Maria, “Aku berdiri dengan mataku terpaku pada-Nya, dan mata-Nya
padaku, dan Ia lebih menderita karena aku daripada karena Diri-Nya
Sendiri.” Lalu, berbicara mengenai Bunda Maria yang berada di samping
Putranya yang meregang nyawa, ia mengatakan, “ia hidup dalam
kematian tanpa dapat mati.” “Di kaki salib Kristus, Bunda-Nya berdiri
separuh mati; ia tak berbicara, mati sementara ia hidup, dan hidup
sementara ia mati; ia tak dapat mati, sebab kematian adalah hidupnya
yang sesungguhnya.” Passino menulis bahwa Yesus Kristus Sendiri

suatu hari berbicara kepada Beata Baptista Varani dari Camerino,
meyakinkannya bahwa saat di atas salib, begitu hebat dukacitanya
melihat Bunda-Nya berdiri di kaki salib dalam dukacita yang luar biasa,
hingga belas kasihan-Nya terhadapnya menyebabkan Ia wafat tanpa
penghiburan; begitu dahsyat dukacita itu hingga Beata Baptista, yang
dianugerahi pencerahan ilahi, merasakan luar biasanya sengsara Yesus
ini, berseru, “Ya Tuhan, jangan ceritakan lagi sengsara-Mu ini, sebab
aku tak mampu lagi menanggungnya.”

“Semua orang,” kata Simon dari Cassia, “yang saat itu menyaksikan
Bunda Maria diam seribu bahasa, tanpa sepatah kata pun keluhan, di
tengah dukacita yang begitu hebat itu, merasa tercengang.” Tetapi, jika
bibirnya tenang, tidak demikian halnya dengan hatinya, sebab tak henti-
hentinya Bunda Maria mempersembahkan hidup Putra-Nya kepada
Keadilan Ilahi demi keselamatan umat manusia. Oleh sebab itu, kita tahu
bahwa dengan jasa-jasa dukacitanya, Bunda Maria bekerjasama dengan
Allah dalam melahirkan kita ke dalam kehidupan rahmat, dan dengan
demikian kita adalah anak-anak dari dukacitanya.

“Kristus,” kata Lanspergius, “bersuka hati bahwa ia, rekan dalam
penebusan kita, dan yang telah Ia tetapkan untuk diberikan-Nya kepada
kita sebagai Bunda kita, hadir di sana; sebab di kaki saliblah ia
ditetapkan untuk melahirkan kita, anak-anaknya.” Jika ada setitik
penghiburan yang mampu menembus lautan dukacita dalam hati Bunda
Maria, satu-satunya penghiburan itu ialah bahwa ia mengetahui, dengan
dukacitanya ia menghantar kita pada keselamatan abadi, seperti yang
dinyatakan Yesus Sendiri kepada St Brigitta, “Bunda-Ku Maria, oleh
karena belas kasihan dan kasih sayangnya, diangkat menjadi Bunda
Seluruh Langit dan Bumi.” Dan sungguh, inilah kata-kata terakhir yang
diucapkan Yesus sebagai salam perpisahan kepada Bunda-Nya sebelum
Ia wafat: inilah pesan terakhir-Nya, mempercayakan kita semua
kepadanya sebagai anak-anaknya melalui sosok St Yohanes,
“Ibu, inilah
anakmu!” Sejak saat itu Bunda Maria memulai perannya sebagai Bunda
bagi kita; St Petrus Damianus menegaskan, “melalui doa-doa Maria,
yang berdiri di kaki salib antara penyamun yang baik dan Putranya,
penyamun itu dipertobatkan dan diselamatkan, dan dengan demikian ia
membalas kebaikannya di masa lampau.” Sebab, seperti dikisahkan
para penulis lainnya juga, penyamun ini telah bermurah hati kepada
Yesus dan Bunda Maria dalam pengungsian mereka ke Mesir. Peran
yang sama dari Santa Perawan terus berlanjut, dan masih berlanjut,
untuk selamanya.

TELADAN

Seorang pemuda di Perugia berjanji kepada iblis, jika iblis membuatnya
mampu mendapatkan obyek dosa yang ia dambakan, ia akan
mempersembahkan jiwanya; ia menyerahkan perjanjian tertulis kepada
iblis yang ditandatangani dengan darahnya. Setelah kejahatan
dilakukan, iblis menuntut dipenuhinya janji sang pemuda. Untuk itu,

iblis menggiringnya ke tepi sungai yang dalam dan mengancam jika ia
tidak menceburkan diri ke dalamnya, iblis akan menyeretnya, tubuh dan
jiwa, ke dalam neraka. Pemuda malang ini, berpikir bahwa tidaklah
mungkin meloloskan diri dari tangan iblis, naik ke sebuah jembatan
kecil di mana ia dapat meloncat; gemetar akan bayangan kematian, ia
mengatakan kepada iblis bahwa ia tidak memiliki keberanian untuk
meloncat; jika iblis menuntut kematiannya, iblislah yang harus
mendorongnya. Pemuda ini mengenakan skapulir SP Maria Berdukacita,
sebab itu iblis berkata, “Lepaskan skapulir itu, maka aku akan
mendorongmu.” Sang pemuda, menyadari bahwa melalui skapulirnya
Bunda Allah masih berkenan memberinya perlindungan, menolak
melakukannya. Pada akhirnya, setelah pertengkaran sengit, iblis dengan
putus asa pergi; dan si pendosa, penuh rasa syukur kepada Bunda
Dukacita, pergi untuk berterima kasih kepadanya dan mengakukan
dosa-dosanya. Sesuai nazarnya, sang pemuda mempersembahkan bagi
Santa Perawan, di gereja Santa Maria la Nuova di Perugia, sebuah
lukisan yang menggambarkan apa yang telah terjadi.

DOA

Ah, Bunda yang paling berduka dari segala ibunda, Putramu telah wafat;
Putra yang begitu menawan dan yang begitu mengasihi engkau!
Menangislah, sebab engkau punya alasan untuk mengangis. Siapakah
gerangan yang mampu menghibur engkau? Hanya pikiran bahwa Yesus
dengan wafat-Nya menaklukkan neraka, membuka pintu gerbang surga
yang hingga saat itu tertutup bagi manusia, dan memenangkan banyak
jiwa-jiwa, yang mampu menghibur engkau. Dari atas tahta salib, Ia akan
berkuasa dalam begitu banyak hati, yang, takluk pada kasih-Nya, akan
mengabdi-Nya dengan sepenuh hati. Sementara itu, ya Bundaku,
janganlah menolak aku, ijinkan aku berada di dekatmu, menangis
bersamamu, sebab aku punya banyak alasan untuk mengangisi dosa-
dosaku dengan mana aku telah menghina-Nya. Ah, Bunda Belas
Kasihan, aku berharap, pertama-tama, melalui wafat Penebus-ku, dan
kemudian melalui dukacitamu, untuk memperoleh pengampunan serta
keselamatan abadi.

sumber : "On the Fifth Dolour, Of the Death of Jesus" by St. Alphonsus Liguori;
Copyright © 1997 Catholic Information Network (CIN) - 04-14, 2003; www.cin.org

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic
Information Network”

Dukacita Keenam

Lambung Yesus Ditikam dan Jenazah-
Nya Diturunkan dari Salib

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

“Acuh tak acuhkan kamu sekalian yang berlalu? Pandanglah dan
lihatlah, apakah ada kesedihan seperti kesedihan yang ditimpakan
Tuhan kepadaku?” Jiwa-jiwa saleh, dengarkanlah apa yang dikatakan
Bunda yang berduka hari ini, “Anak-anakku terkasih, aku tidak berharap
kalian menghiburku; tidak, sebab jiwaku tak lagi mudah tersentuh oleh
penghiburan di dunia ini setelah wafat Putraku Yesus yang terkasih. Jika
engkau hendak menyenangkan hatiku, inilah yang aku minta dari kalian;
pandanglah aku dan lihatlah adakah kesedihan di dunia ini yang seperti
kesedihanku, menyaksikan Dia yang adalah jantung hatiku direnggut
dariku dengan keji.” Tetapi, Bunda yang berkuasa, oleh sebab engkau
tidak hendak dihibur dan engkau memiliki kerinduan yang begitu besar
untuk menderita, harus kukatakan kepadamu, bahwa bahkan dengan
wafatnya Putramu, dukacitamu belumlah berakhir. Pada hari ini engkau
akan ditembusi oleh pedang dukacita yang lain, sebilah tombak dengan
keji akan ditikamkan pada lambung Putramu yang telah wafat, dan
engkau akan menerima-Nya dalam pelukanmu setelah jenazah-Nya
diturunkan dari salib. Sekarang kita akan merenungkan dukacita
keenam yang mendukakan Bunda yang malang ini. Merenunglah dan
menangislah. Sampai sekarang dukacita Maria menderanya satu demi
satu; pada hari ini seluruh dukacita itu bergabung menjadi satu untuk
menyerangnya.

Cukuplah mengatakan kepada seorang ibu bahwa anaknya meninggal
dunia untuk menggoncangkan segala kasihnya. Sebagian orang, guna
meringankan dukacita seorang ibu, mengingatkannya akan kekecewaan
yang suatu ketika dilakukan oleh anaknya yang telah meninggal itu.
Tetapi aku, ya Ratuku, akankah aku berharap meringankan dukacitamu
atas wafat Yesus? Kekecewaan apakah yang pernah dilakukan-Nya
terhadapmu? Sungguh, tidak ada. Ia senantiasa mengasihimu,
senantiasa mentaatimu, dan senantiasa menghormatimu. Sekarang
engkau telah kehilangan Dia, siapakah yang dapat mengungkapkan
kesedihan hatimu? Akankah engkau menjelaskannya, engkau yang
mengalaminya. Seorang penulis yang saleh mengatakan bahwa ketika
Penebus kita yang terkasih wafat, perhatian utama Bunda yang agung
ini adalah menemani dalam roh, jiwa Putranya yang terkudus dan
mempersembahkan-Nya kepada Bapa yang Kekal. “Kupersembahkan
kepada-Mu, ya Tuhanku,” pastilah Bunda Maria berkata demikian, “jiwa

tak berdosa dari PutraMu dan Putraku; Ia taat hingga wafat kepada-Mu;
sudilah Engkau menerima-Nya dalam pelukan-Mu. Keadilan-Mu telah
dipuaskan sekarang, kehendak-Mu telah digenapi; lihatlah, kurban
agung demi kemuliaan-Mu yang kekal telah dikurbankan.” Kemudian,
sambil memandangi tubuh Putranya Yesus yang tak bernyawa, ia
berkata, “O bilur-bilur, o bilur-bilur cinta, aku menyembahmu, dan dalam
engkau aku bersukacita; sebab melalui engkau, keselamatan
dianugerahkan kepada dunia. Engkau akan tinggal menganga pada
tubuh Putraku, dan menjadi pengungsian bagi mereka yang mohon
perlindungan padamu. Oh, betapa banyak jiwa-jiwa, melalui engkau
akan beroleh rahmat pengampunan atas dosa-dosa mereka, dan olehmu
dikobarkan dalam kasih kepada Allah yang Mahabaik!”

Agar tak mengganggu kegembiraan Sabat Paskah, orang-orang Yahudi
menghendaki agar tubuh Yesus diturunkan dari salib; tetapi, karena hal
ini tak dapat dilakukan kecuali para terhukum telah mati, para prajurit
datang dengan palu besi untuk mematahkan kaki-Nya, seperti yang telah
mereka lakukan pada dua penyamun yang disalibkan bersama-Nya.
Bunda Maria masih menangisi kematian Putranya saat ia melihat
prajurit-prajurit bersenjata ini maju mendekati Yesus. Melihat ini, Bunda
gemetar ketakukan, lalu berseru, “Ah, Putraku sudah wafat; berhentilah
menganiaya-Nya; janganlah siksa aku lagi, Bunda-Nya yang malang.” Ia
mohon pada mereka, tulis St Bonaventura, “untuk tidak mematahkan
kaki-Nya.” Tetapi sementara ia berkata, ya Tuhan! Ia melihat seorang
prajurit menghunus tombaknya dan menikamkannya pada lambung
Yesus,
“seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan
tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.” Saat tombak
dihujamkan, salib berguncang, dan, seperti yang kemudian dinyatakan
kepada St Brigitta, hati Yesus terbelah menjadi dua. Dari sanalah
mengalir darah dan air; sebab hanya sedikit tetes-tetes darah itu saja
yang masih tersisa, dan bahkan itu pun rela dicurahkan oleh
Juruselamat kita agar kita mengerti bahwa tak ada lagi darah-Nya yang
masih tersisa yang tak diberikan-Nya kepada kita. Luka akibat tikaman
itu menganga pada tubuh Yesus, tetapi Bunda Marialah yang menderita
sakitnya. “Kristus,” kata Lanspergius yang saleh, “berbagi sengsara ini
dengan Bunda-Nya; Ia yang menerima penghinaan, Bunda-Nya yang
menanggung sengsaranya.” Para bapa kudus berpendapat bahwa inilah
sesungguhnya pedang yang dinubuatkan Nabi Simeon kepada kepada
Santa Perawan: suatu pedang, bukan pedang materiil, melainkan
pedang dukacita, yang menembus jiwanya yang terberkati yang tinggal
dalam hati Yesus, di mana ia senantiasa tinggal. Dengan demikian, St
Bernardus mengatakan, “Tombak yang ditikamkan ke lambung-Nya
menembus jiwa Santa Perawan yang tak pernah meninggalkan hati
Putranya.” Bunda Allah sendiri mengungkapkan hal yang sama kepada
St Brigitta, “Ketika tombak dicabut, ujungnya tampak merah karena
darah; melihat hati Putraku terkasih ditikam, aku merasa seakan-akan
hatiku sendiri juga ditikam.” Malaikat menyampaikan kepada santa yang
sama, “begitu dahsyat dukacita Maria, hingga hanya karena mukjizat
penyelenggaraan Ilahi, ia tidak mati.” Dalam dukacitanya yang lain,

setidak-tidaknya ada Putranya yang berbelas kasihan kepadanya; tetapi
sekarang Ia bahkan tak ada untuk berbelas kasihan kepadanya.

Bunda yang berduka, khawatir kalau-kalau aniaya yang lain masih akan
ditimpakan atas Putranya, mohon pada Yusuf dari Arimatea untuk
meminta jenazah Yesus Putranya dari Pilatus, hingga setidak-tidaknya
setelah Ia wafat, ia dapat menjaga serta melindungi-Nya dari penghinaan
lebih lanjut. Yusuf pergi dan menyampaikan kepada Pilatus kesedihan
dan harapan Bunda yang berduka ini. St Anselmus yakin bahwa belas
kasihan terhadap sang Bunda telah melunakkan hati Pilatus dan
menggerakkannya untuk memberikan jenazah Juruselamat kita. Tubuh
Yesus kemudian diturunkan dari salib. O Perawan tersuci, setelah
engkau memberikan Putramu kepada dunia dengan cinta yang begitu
besar demi keselamatan kami, lihatlah, dunia sekarang mengembalikan-
Nya kepadamu; tetapi, ya Tuhan, dalam keadaan bagaimanakah engkau
menerimanya? Ya dunia, kata Maria, bagaimana engkau
mengembalikan-Nya kepadaku? “Putraku berkulit putih kemerah-
merahan, tetapi engkau mengembalikan-Nya kepadaku dalam keadaan
hitam lebam oleh bilur-bilur dan merah - ya! tetapi merah karena luka-
luka yang engkau timpakan atas-Nya. Ia elok dan menawan; tetapi
sekarang tak nampak lagi keelokan pada-Nya; tak ada lagi semarak-Nya.
Kehadiran-Nya memikat semua orang; sekarang Ia menimbulkan
kengerian pada semua yang melihat-Nya.” “Oh, betapa banyak pedang,”
kata St Bonaventura, “yang menembusi jiwa Bunda yang malang ini
ketika ia menerima jenazah Putranya dari salib! Marilah sejenak
membayangkan dukacita mendalam yang dialami ibu manapun ketika
menerima tubuh anaknya yang tak bernyawa dalam pelukannya.
Dinyatakan kepada St Brigitta bahwa tiga tangga disandarkan pada salib
untuk menurunkan Tubuh Kudus; para murid yang kudus pertama-tama
mencabut paku-paku dari tangan dan kaki-Nya, dan menurut
Metaphrastes, menyerahkan paku-paku itu kepada Maria. Kemudian
seorang dari mereka menopang tubuh Yesus bagian atas sementara
murid yang lain menopang tubuh Yesus bagian bawah; demikianlah Ia
diturunkan dari salib. Bernardinus de Bustis menggambarkan Bunda
yang berduka, sementara berdiri, merentangkan kedua tangannya untuk
merengkuh Putranya terkasih; ia memeluk-Nya dan kemudian duduk
bersimpuh di kaki salib. Mulut-Nya ternganga, mata-Nya tanpa cahaya.
Bunda Maria lalu memeriksa daging-Nya yang terkoyak dan tulang-
tulang-Nya yang menyembul; ia melepaskan mahkota duri dan
memandangi luka-luka mengerikan yang diakibatkan mahkota duri pada
kepala-Nya yang kudus; ia mengamati lubang-lubang di tangan dan
kaki-Nya seraya berkata kepada-Nya, “Ah, Putraku, seberapa
besarnyakah kasih-Mu kepada manusia; kesalahan apakah yang telah
Engkau lakukan terhadap mereka hingga mereka menyiksa-Mu demikian
keji? Engkau adalah Bapaku,” lanjut Bernardinus de Bustis atas nama
Maria, “Engkau adalah saudaraku, mempelaiku, sukacitaku,
kemuliaanku; Engkau adalah segala-galanya bagiku.” Putraku,
tengoklah dukacitaku, pandanglah aku; hiburlah aku; tetapi tidak,
Engkau tak lagi melihatku. Berbicaralah, sepatah kata saja, dan hiburlah
aku; tetapi Engkau tak lagi berbicara, sebab Engkau telah wafat.

Kemudian, berpaling pada alat-alat siksa yang keji, ia berkata, O
mahkota duri yang keji, O paku-paku yang kejam, O tombak yang tak
berbelas kasihan, bagaimanakah, bagaimana mungkin kalian
menganiaya Pencipta-Mu? Tetapi, mengapakah aku berbicara tentang
mahkota duri dan paku? Astaga! Para pendosa, serunya, kalianlah yang
telah memperlakukan Putraku begitu keji.

Demikianlah Bunda Maria berbicara dan mengeluh atas kita. Tetapi
apakah yang hendak ia katakan sekarang, apakah ia masih dapat
tergerak oleh penderitaan? Bagaimanakah kiranya kesedihan hatinya
melihat manusia, walaupun Putranya telah wafat bagi mereka, masih
terus-menerus menyiksa dan menyalibkan-Nya dengan dosa-dosa
mereka! Marilah kita, setidak-tidaknya, berhenti menyiksa Bunda yang
berduka ini, dan jika kita sampai sekarang masih mendukakan hatinya
dengan dosa-dosa kita, marilah kita, saat ini juga, melakukan segala
yang dikehendakinya. Bunda kita berkata, “Kembalilah, kalian yang
berdosa, kepada hati Yesus.” Para pendosa, kembalilah kepada hati
Yesus yang terluka; kembalilah sebagai seorang peniten, dan Ia akan
menyambutmu. “Larilah dari Dia kepada Dia,” ia melanjutkan
perkataannya bersama Abbas Guarric, “dari Hakim kepada Penebus,
dari Pengadilan kepada Salib.” Bunda Maria sendiri mengungkapkan
kepada St Brigitta bahwa “ia menutup mata Putranya ketika tubuh-Nya
diturunkan dari salib, tetapi ia tak dapat menangkupkan tangan-tangan-
Nya.” Dengan demikian Yesus Kristus ingin kita mengetahui bahwa Ia
rindu tetap dengan tangan-tangan-Nya terbuka menerima semua orang
berdosa yang kembali kepada-Nya. “Oh, dunia,” lanjut Bunda Maria,
“lihatlah, masamu adalah masa bagi para kekasih.” “Sekarang, setelah
Putraku wafat demi menyelamatkanmu, tak akan ada lagi bagimu masa
ketakutan, melainkan masa kasih - suatu masa untuk mengasihi-Nya, Ia
yang guna menunjukkan kasih-Nya kepadamu rela menanggung
sengsara yang begitu hebat.” “Hati Yesus,” kata St Bernardus, “ditikam,
agar melalui luka-luka-Nya yang nampak itu, luka-luka kasih-Nya yang
tak nampak menjadi kelihatan.” “Jadi, jika,” Bunda Maria menyimpulkan
dengan kata-kata Beato Raymond Jordano, “Putraku, oleh karena kasih-
Nya yang begitu besar, rela lambung-Nya ditikam, agar Ia dapat
memberikan hati-Nya kepada kalian, maka sudah selayaknyalah, jika
kalian membalas-Nya dengan juga memberikan hati kalian kepada-Nya.”
Dan jika kalian rindu, ya putera-puteri Maria, untuk menemukan tempat
dalam hati Yesus, tanpa takut ditolak, “pergilah,” kata Ubertino da
Casale, “pergilah bersama Maria; karena ia akan memperolehkan rahmat
bagi kalian.” Mengenai hal ini, kalian dapat melihat buktinya melalui
teladan indah berikut ini.

TELADAN

Dikisahkan, adalah seorang pendosa malang yang, di antara kejahatan-
kejahatan lain yang dilakukannya, telah pula membunuh ayah dan
saudara laki-lakinya, dan karena itu ia menjadi seorang pelarian. Suatu
hari di Masa Prapaskah, ia mendengarkan khotbah imam tentang

Kerahiman Ilahi. Maka, pergilah ia mengakukan dosa-dosanya kepada
imam pengkhotbah. Bapa pengakuan, mendengar dosa-dosanya yang
luar biasa berat, memintanya pergi ke hadapan SP Maria Bunda
Dukacita, agar Bunda Maria dapat memperolehkan baginya rahmat tobat
mendalam dan pengampunan atas dosa-dosanya. Orang berdosa itu
patuh dan mulai berdoa; ketika, lihatlah, tiba-tiba ia roboh dan tewas
seketika karena kesedihan yang sangat mendalam. Keesokan harinya,
saat imam, dalam intensi Misa, mengunjukkan doa baginya, seekor
merpati putih sekonyong-konyong muncul dalam gereja dan
menjatuhkan sehelai kartu di kaki imam. Imam memungutnya dan
mendapati tulisan berikut tertera di atasnya, “Jiwa almarhum, saat
meninggalkan raganya, langsung menuju surga. Teruslah engkau
menyampaikan khotbah tentang Kerahiman Ilahi yang tak terbatas.”

DOA

O Perawan yang berduka! Oh, jiwa yang sarat dengan kebajikan, namun
juga sarat dengan dukacita, karena dukacita yang satu dan yang lainnya
saling bergantian mendera hatimu yang berkobar-kobar dengan kasih
kepada Tuhan, sebab engkau hanya mengasihi Dia saja; ah Bunda,
kasihanilah aku, sebab bukannya mengasihi Tuhan, malahan aku
menghina-Nya terus-menerus. Dukacitamu, ya Bunda, membangkitkan
dalam diriku harapan akan pengampunan. Tetapi ini belumlah cukup;
aku rindu mengasihi Tuhan-ku; dan bagaimanakah aku dapat
memperoleh kasih ini lebih baik selain melalui engkau, yang adalah
Bunda Cinta Kasih? Ah, Bunda Maria, engkau menghibur semua orang,
hiburlah aku juga. Amin.

sumber : "On the Sixth Dolour, The Piercing of the Side of Jesus, and His descent
from the Cross" by St. Alphonsus Liguori; Copyright © 1997 Catholic Information
Network (CIN) - 04-14, 2003; www.cin.org

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic
Information Network”

Dukacita Ketujuh

Yesus Dimakamkan

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

Ketika seorang ibu berada di samping anaknya yang sedang menderita
dan mengalami sakrat maut, tak diragukan lagi ia merasakan dan
menanggung segala penderitaan anaknya; tetapi setelah anaknya itu
meninggal dunia, sebelum jenazahnya dihantar ke makam, pastilah
ibunda yang berduka itu mengucapkan selamat berpisah kepada
anaknya; dan kemudian, sungguh, pikiran bahwa ia tak akan pernah
melihat anaknya itu lagi merupakan suatu dukacita yang melampaui
segala dukacita. Lihatlah pedang dukacita Maria yang terakhir, yang
sekarang kita renungkan; setelah menyaksikan wafat Putranya di salib
dan memeluk tubuh-Nya yang tak bernyawa untuk terakhir kalinya,
Bunda yang terberkati ini harus meninggalkan-Nya di makam, tak akan
lagi pernah menikmati kehadiran Putranya yang terkasih di dunia ini.

Agar dapat memahami dengan lebih baik dukacita terakhir ini, kita akan
kembali ke Kalvari dan merenungkan Bunda yang berduka, yang masih
mendekap tubuh Putranya yang tak bernyawa dalam pelukannya. Oh
Putraku, demikian ia berkata dengan kata-kata Ayub, Putraku,
“Engkau
menjadi kejam terhadap aku.” Ya, oleh sebab segala sifat-Mu yang
agung, keanggunan-Mu, perilaku-Mu dan kebajikan-kebajikan-Mu, sikap-
Mu yang santun, segala tanda kasih istimewa yang Kau limpahkan
kepadaku, karunia-karunia khusus yang Kau anugerahkan kepadaku -
semuanya sekarang berubah menjadi dukacita, dan bagaikan begitu
banyak anak panah yang menembusi hatiku; semakin semuanya itu
memperdalam kasihku kepada-Mu, semakin kejam semuanya itu kini
memedihkan hatiku karena kehilangan Engkau. Ah, Putraku terkasih,
dengan kehilangan Engkau, aku kehilangan segalanya. St Bernardus
berbicara atas nama Bunda Maria, “Oh satu-satunya Allah yang Esa,
bagiku Engkau adalah Bapaku, Putraku, Mempelaiku: Engkau adalah
jiwaku! Sekarang aku direnggut dari Bapaku, menjadi janda dari
Mempelaiku, menjadi Bunda yang tak ber-Putra; yang merana karena
kehilangan Putra tunggalku, aku telah kehilangan segalanya.”

Demikianlah Bunda Maria, dengan sang Putra dalam pelukannya, larut
dalam dukacita. Para murid yang kudus, khawatir kalau-kalau Bunda
yang malang ini wafat karena duka yang mendalam, menghampirinya
untuk mengambil jenazah Putranya dari pelukannya untuk dimakamkan.
Kekejaman ini mereka lakukan dengan lemah lembut serta penuh
hormat, dan sesudah memburat tubuh-Nya dengan rempah-rempah,
mereka mengapani-Nya dengan kain lenan yang telah mereka

persiapkan. Di atas kain ini, yang hingga kini masih tersimpan di Turin,
Kristus berkenan meninggalkan bagi dunia gambar tubuh-Nya yang
kudus. Para murid lalu menghantar-Nya ke makam. Pertama-tama
mereka mengusung Tubuh Kudus di atas bahu mereka dan kemudian
iring-iringan duka itu pun berangkat; paduan suara malaikat dari surga
mengiringi mereka; para wanita kudus berjalan mengikuti, dan bersama
mereka Bunda yang berduka juga menyertai Putranya ke tempat
pemakaman. Setiba mereka di sana, “Oh, betapa senang hati Bunda
Maria membiarkan dirinya dikubur hidup-hidup bersama Putranya, andai
memang demikian kehendak-Nya!” seperti diungkapkan Bunda Maria
sendiri kepada St Brigitta. Tetapi karena bukan demikianlah kehendak
Ilahi, banyak penulis mengatakan bahwa ia menghantar tubuh kudus
Yesus sampai ke makam, di mana menurut Baronius, para murid juga
menyertakan paku-paku dan mahkota duri. Saat hendak menggulingkan
batu penutup pintu masuk, para murid sang Juruselamat yang kudus
terpaksa menghampiri Bunda Maria dan mengatakan, “Sekarang, ya
Bunda, kami harus menutup pintu makam: maafkan kami, tengoklah
sekali lagi Putramu dan sampaikanlah salam perpisahan kepada-Nya.”
Putraku terkasih (pasti demikianlah Bunda yang berduka berkata); aku
tak kan melihat-Mu lagi. Sebab itu, pada kesempatan terakhir aku
memandang-Mu ini, terimalah salam perpisahanku, salam perpisahan
dari Bunda-Mu terkasih, dan terimalah juga hatiku, yang aku tinggalkan
agar dikubur bersama-Mu. St Fulgentius menulis, “Dalam diri Bunda
Maria berkobar hasrat agar jiwanya dikuburkan bersama tubuh Kristus.”
Bunda Maria mengungkapkan kepada St Brigitta, “Sejujurnya aku
katakan bahwa saat pemakaman Putraku, dalam makam yang satu itu
seolah-olah terdapat dua jiwa.”

Akhirnya, para murid menggulingkan batu dan menutup makam yang
kudus, di mana di dalamnya terbaring tubuh Yesus, harta pusaka yang
agung mulia - begitu agung dan mulia hingga tak ada yang lebih agung
dan mulia darinya, baik di bumi maupun di surga. Pada bagian ini,
ijinkanlah aku sedikit menyimpang dan menegaskan bahwa hati Bunda
Maria dikuburkan bersama Yesus, sebab Yesus adalah satu-satunya
hartanya,
“Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Dan di
manakah gerangan, seandainya kita boleh bertanya, hati kita
dikuburkan? Pada makhluk-makhluk ciptaan yang mungkin berkubang
dalam lumpur. Dan mengapakah tidak pada Yesus, yang, walaupun telah
naik ke surga masih dengan senang hati tinggal di bumi dalam
Sakramen Mahakudus di altar, bukankah tepat jika jiwa kita ada
bersama-Nya, dan menjadi milik-Nya? Baiklah, kita kembali kepada
Bunda Maria. Sebelum meninggalkan makam, menurut St Bonaventura,
Bunda Maria memberkati makam kudus yang kini telah tertutup rapat
dengan berseru, “Oh, makam yang bahagia, dalam rahimmu sekarang
terbaring Tubuh Kudus yang selama sembilan bulan aku kandung dalam
rahimku; aku memberkati engkau sembari iri padamu; aku percayakan
penjagaan Putraku kepadamu, Putra yang adalah satu-satunya hartaku
dan kasihku.” Kemudian, dengan mengangkat segenap hati kepada
Bapa yang Kekal, ia berkata, “Ya Bapa, kepada-Mu aku persembahkan
Dia - Dia yang adalah PutraMu, yang sekaligus adalah Putraku juga.”

Demikianlah Bunda Maria menyampaikan salam perpisahannya kepada
Putranya Yesus yang terkasih dan kepada makam di mana tubuh-Nya
dibaringkan, lalu ia meninggalkan-Nya dan pulang ke rumah. “Bunda
ini,” kata St Bernardus, “pergi dalam keadaan begitu berduka dan
sengsara hingga ia menggerakkan banyak orang untuk meneteskan
airmata; di manapun ia lewat, semua yang bersua dengannya
menangis,” tak kuasa menahan airmata. Ia menambahkan bahwa para
murid yang kudus dan perempuan-perempuan yang menyertainya “lebih
berdukacita atasnya daripada atas Tuhan mereka.”

St Bonaventura mengatakan bahwa saudari-saudari Bunda Maria
menyelubunginya dengan jubah duka, “Saudari-saudari Bunda kita
mengerudunginya sebagai janda, hingga hampir menutupi seluruh
wajahnya.” Ia juga menambahkan bahwa, saat lewat, dalam perjalanan
pulang, di depan salib yang masih basah oleh darah Putranya Yesus,
dialah yang pertama-tama memujanya, “O Salib Suci,” serunya, “aku
mengecupmu, aku memujamu, sebab kini engkau bukan lagi tiang
hukuman yang mengerikan, melainkan tahta kasih dan altar belas
kasihan, yang dikuduskan oleh darah Anak Domba Allah, yang di
atasmu telah dikurbankan demi keselamatan dunia.” Bunda Maria
kemudian meninggalkan salib dan pulang ke rumah. Tiba di sana, Bunda
yang berduka mengarahkan pandangan ke sekelilingnya, ia tak lagi
melihat Yesus; bukan kehadiran Putranya yang menyenangkan,
melainkan kenangan akan hidup-Nya yang kudus dan wafat-Nya yang
keji yang hadir di hadapan matanya. Ia terkenang bagaimana ia
mendekap Putranya erat-erat ke dadanya di palungan di Betlehem;
percakapan-percakapan manis bersama-Nya sepanjang tahun-tahun
yang mereka lewatkan bersama di rumah di Nazaret: ia terkenang akan
kasih sayang mesra di antara mereka, tatapan kasih mereka, perkataan-
perkataan tentang kehidupan kekal yang meluncur dari bibir Ilahi-Nya;
dan kemudian terbayang akan peristiwa mengerikan yang ia saksikan
pada hari itu, semuanya hadir kembali di hadapannya. Paku-paku itu,
mahkota duri, ceceran daging Putranya, luka-luka yang merobek daging-
Nya, tulang-tulang yang menyembul, mulut yang ternganga, mata yang
tak lagi bercahaya, semuanya hadir kembali di hadapan matanya. Ah,
betapa malam itu nerupakan malam yang penuh dukacita bagi Maria!
Bunda yang berduka berpaling kepada St Yohanes dan berkata dengan
sedih, “Ah Yohanes, katakan, di manakah Guru-mu?” Ia kemudian
bertanya kepada Maria Magdalena, “Puteriku, katakan, di manakah
kekasih hatimu? Ya Tuhan, siapakah yang telah merenggut-Nya dari
kami?” Bunda Maria menangis dan semua yang hadir menangis
bersamanya. Dan engkau, wahai jiwaku, tidak meneteskan airmata! Ah,
berpalinglah kepada Bunda Maria dan bersama St Bonaventura katakan
kepadanya, “Ya, Bundaku yang lemah lembut, ijinkanlah aku menangis;
engkau tak berdosa, akulah yang berdosa.” Akhirnya, mohonlah
kepadanya untuk menangis bersamanya, “Ijinkanlah aku menangis
bersamamu, ya Bunda.” Ia menangis karena cinta, engkau menangis
sedih karena dosa-dosamu. Dengan menangis, kiranya engkau beroleh
sukacita seperti dia, yang kisahnya kita baca dalam teladan berikut.

TELADAN

Pastor Engelgrave menceriterakan tentang seorang religius yang begitu
tersiksa oleh skrupel (= kebimbangan batin) hingga ia terkadang hampir
putus asa; tetapi karena ia memiliki devosi mendalam kepada Bunda
Dukacita, ia senantiasa mohon perlindungan padanya dalam
penderitaan batinnya, dan merasa terhibur sementara ia merenungkan
sengsaranya. Ajal menjelang dan iblis menyiksanya jauh lebih hebat dari
sebelumnya dengan skrupel, dan berusaha menjatuhkannya dalam
keputusasaan. Bunda yang berbelas kasihan, melihat puteranya yang
malang menderita demikian rupa, menampakkan diri kepadanya dan
berkata, “Dan engkau, puteraku, mengapakah engkau begitu dikuasai
oleh penderitaan? Mengapakah engkau begitu takut? Engkau telah
begitu sering menghibur hatiku dengan berbelas kasihan dalam
dukacitaku. Sekarang,” Bunda Maria menambahkan, “Yesus
mengutusku untuk menghiburmu; maka, tenanglah; bersukacitalah dan
marilah bersamaku ke surga.” Mendengar kata-kata penghiburan ini,
religius yang saleh itu dengan dipenuhi sukacita dan kepercayaan,
menghembuskan napasnya yang terakhir dalam damai.

DOA

Bundaku yang berduka, aku tidak akan membiarkan engkau menangis
seorang diri, tidak, aku akan menemanimu dengan airmataku. Ijinkan
aku mohon rahmat ini daripadamu: perolehkanlah bagiku rahmat agar
senantiasa ada dalam benakku dan senantiasa ada dalam hatiku devosi
kepada Sengsara Yesus dan kepada Dukacitamu, agar sisa-sisa hariku
boleh aku lewatkan dengan menangisi dukacitamu, ya Bundaku yang
lemah lembut, dan menangisi Sengsara Penebus-ku. Penderitaan-
penderitaan ini, aku yakin, akan memberiku kepercayaan serta kekuatan
yang aku butuhkan di saat ajalku, agar aku tidak jatuh dalam
keputusasaan menyadari begitu banyak dosa di mana aku telah
menghina Tuhan-ku. Penderitaan-penderitaan ini akan mendatangkan
bagiku pengampunan, ketekunan dan surga, yang aku rindu untuk
menikmatinya bersama engkau, dan agar dapatlah aku memadahkan
belas kasihan Allah yang tak terbatas untuk selama-lamanya.
Demikianlah yang aku harapkan, semoga terjadilah demikian. Amin.
Amin.

DOA ST BONAVENTURA

Ya Bunda, engkau yang dengan kelemah-lembutanmu menjerat hati
umat manusia, sudahkah engkau menjerat hatiku juga? Ya pencuri hati,
bilakah engkau memulihkan hatiku? Pimpinlah dan kuasailah hatiku
bagaikan milikmu sendiri; simpanlah hatiku dalam Darah Anak Domba
dan tempatkanlah di sisi Putramu. Maka, aku akan memperoleh apa
yang aku rindukan dan memiliki apa yang aku harapkan, sebab
engkaulah harapan kami. Amin.

sumber : "On the Seventh Dolour, The Burial of Jesus" by St. Alphonsus Liguori;
Copyright © 1997 Catholic Information Network (CIN) - 04-14, 2003; www.cin.org

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic
Information Network”

Santa Perawan Maria Bunda
Pengharapan

oleh: P. William P. Saunders *

Mohon penjelasan mengenai latar belakang gelar Bunda Maria sebagai
“Bunda Pengharapan”

~ seorang pembaca di Sterling

Gelar Bunda Maria sebagai “Bunda Pengharapan,” muncul dari
penampakannya kepada beberapa anak di Pontmain, Perancis pada
tanggal 17 Januari 1871. Patut dicatat bahwa Bunda Maria telah disebut
dengan gelar ini sebelumnya; sebuah madah telah ditulis demi
menghormati Bunda Pengharapan oleh Komunitas Agung dari Bunda
Pengharapan di Saint-Brieuc, Perancis. Namun demikian, devosi yang
paling populer kepada “Bunda Pengharapan” berhubungan dengan
penampakan ini. Guna memahami kisah dengan sebaik-baiknya,
pertama-tama kita perlu melihat latar belakangnya.

Pada tahun 1861, Kaiser Wilhelm I menduduki tahta Prussia, dan segera
menunjuk Otto von Bismark sebagai penasehatnya. Tujuan mereka
adalah mempersatukan segenap negeri yang berbahasa Jerman menjadi
satu negara. Bersama-sama, mereka mengambil sikap yang agresif dan

suka berperang. Guna memaksakan kehendak mereka sekaligus
menguji posisi di antara negara-negara sekitarnya, Prussia menyulut
tiga perang singkat: pertama, melawan Denmark pada tahun 1864,
menguasai Holstein; kedua, melawan Austria pada tahun 1866,
menempatkan Prussia di bawah kendali Jerman; dan yang terakhir,
melawan Perancis pada tahun 1870.

Pada tanggal 1 Agustus 1870, meriam pertama ditembakkan dan Perang
Perancis - Prussia pun dimulai. Pasukan Perancis dengan segera jatuh
ke dalam kekuasaan militer Prussia. Pada tanggal 27 Desember, Prussia
telah menyerbu Paris. Sekarang mereka mengarah ke provinsi-provinsi
barat yaitu Normandy dan Brittany.

Pertengahan Januari 1871, pasukan Prussia hanya beberapa mil saja
jauhnya dari kota Pontmain, yang terletak di sebelah kanan dalam garis
pertahanan Perancis. Penduduk Pontmain ketakutan. P. Guerin, yang
telah menjadi imam paroki selama 35 tahun, meminta anak-anak untuk
berdoa kepada Bunda Maria memohon perlindungan.

Pada sore hari Selasa, 17 Januari, Eugene Barbadette yang berusia 12
tahun sedang berjalan meninggalkan kandang ayahnya. Anak laki-laki
ini mendongak ke atas ke langit yang berbintang dan melihat seorang
Perempuan nan elok berdiri di angkasa, sekitar 20 kaki di atas atap
rumah, di antara dua cerobong asap rumah milik Jean dan Augustine
Guidecoq yang ada di seberang jalan. Perempuan itu mengenakan gaun
berwarna biru tua bertaburan bintang-bintang emas, sebuah kerudung
hitam dan sebuah mahkota emas sederhana. Eugene berdiri terpesona
di sana dalam dinginnya salju sekitar 15 menit lamanya.

Ayahnya dan saudara laki-lakinya yang berumur sepuluh tahun, Yosef,
keluar dari kandang. Eugene berseru, “Lihat di sana! Di atas rumah!
Apakah yang kalian lihat?” Yosef menggambarkan Perempuan itu persis
sama seperti yang dilihat Eugene. Ayahnya tidak melihat apa-apa, jadi
dengan geram ia memerintahkan anak-anak untuk kembali memberi
makan kuda-kuda di kandang.

Entah apa alasannya, sejenak kemudian, sang ayah menyuruh kakak
beradik itu untuk keluar dan melihat kembali. Mereka melihatnya lagi.
Yosef terus-menerus mengatakan, “Alangkah cantiknya dia! Alangkah
cantiknya!” Ibu mereka, Victoria Barbadette, sekarang muncul di sana
dan menyuruh Yosef diam sebab ia begitu ribut hingga menarik
perhatian orang. Tahu bahwa anak-anak itu jujur dan tidak berbohong,
ibunya pun mengatakan, “Mungkin itu Santa Perawan yang
menampakkan diri kepada kalian. Karena kalian melihatnya, marilah kita
mendaraskan lima Bapa Kami dan lima Salam Maria demi
menghormatinya.” (Kedua kakak beradik itu amat saleh: mereka
memulai hari-hari mereka dengan melayani Misa Kudus, mendaraskan
rosario dan mempersembahkan Jalan Salib dengan intensi kakak laki-
laki mereka yang bertugas dalam dinas ketentaraan Perancis.)

Setelah mendaraskan doa-doa di dalam kandang agar tak menarik
perhatian orang, Nyonya Barbadette bertanya apakah anak-anak masih
melihat Perempuan itu. Ketika mereka menjawab, “Ya,” ia pergi
mengambil kacamata. Ketika kembali, sang ibu membawa serta saudari
mereka, Louise, bersamanya; namun tak seorang pun dari keduanya
melihat apa-apa. Perangai sang ibu pun berubah dan ia menuduh kedua
anaknya telah berbohong.

Terlintas dalam benak Nyonya Barbadette untuk memanggil para
biarawati. Katanya, “Para biarawati lebih saleh dari kalian. Jika kalian
melihatnya, tentulah mereka melihatnya juga.” Suster Vitaline juga tahu
bahwa anak-anak itu tidak berbohong. Tetapi, ia pun tak dapat melihat
Perempuan itu. Suster Vitaline kemudian pergi ke rumah tetangga dan
meminta dua gadis kecil, Francoise Richer (berusia 11 tahun) dan
Jeanne-Marie Lebosse (berusia 9 tahun) untuk datang bersamanya.
Kedua gadis kecil itu menggambarkan sang Perempuan tepat sama
seperti kedua anak lainnya.

Sekarang, Suster Marie Edouard telah bergabung dalam kelompok
tersebut. Setelah mendengar apa yang dikatakan kedua gadis kecil, ia
pergi memanggil P Guerin dan seorang anak lain, Eugene Friteau
(berusia 6 setengah tahun). Eugene juga melihat sang Perempuan.
Sekarang telah terkumpul suatu himpunan besar sekitar 50 orang warga
desa. Augustine Boitin, yang baru berusia 25 bulan, menggapai sang
Perempuan dan berseru, “Yesus! Yesus!” Hanya keenam kanak-kanak
ini saja yang melihat penampakan Bunda Pengharapan.

P Guerin meminta semua yang hadir untuk berdoa, maka mereka
berlutut dan mendaraskan rosario. Suster Marie Edouard memimpin
himpunan umat untuk mendaraskan Magnificat. Perlahan-lahan, suatu
pesan dalam huruf-huruf emas nampak di langit: “Tetapi, berdoalah
anak-anakku.” Semua anak-anak melihat pesan yang sama.

Suster Marie Edouard kemudian memimpin yang lainnya memadahkan
Litani Santa Perawan Maria. Pesan selanjutnya disingkapkan, “Tuhan
akan mendengarkan kalian dalam waktu dekat.”

Datang kabar bahwa pasukan Prussia sekarang telah berada di Laval,
sangat dekat dengan Pontmain. Pesan berlanjut, “Putraku membiarkan
DiriNya tergerak oleh belas kasihan.” Ketika anak-anak memaklumkan
pesan ini, P Guerin meminta khalayak ramai untuk menyanyikan madah
pujian. Suster Marie Edouard mengatakan, “Bunda Pengharapan, wahai
nama yang begitu manis, lindungilah negeri kami, doakanlah kami,
doakanlah kami!” Orang banyak menanggapi, “Jika mereka [Prussia]
berada di gerbang masuk desa, kami tidak akan takut lagi sekarang!”

Di akhir madah, pesan menghilang. Himpunan orang banyak kemudian
menyanyikan sebuah madah tobat dan silih kepada Yesus. Bunda Maria
tampak berduka, ia memegang sebuah salib merah yang besar dengan
tulisan “Yesus Kristus.”

Pada pukul 8.30 petang, orang banyak menyanyikan, “Ave, Maris Stella,”
dan salib lenyap. Lagi, Bunda tersenyum dan dua salib putih kecil
nampak di kedua pundaknya. Ia merentangkan tangannya ke bawah,
seperti yang terlihat dalam gambar-gambar Santa Perawan Maria
Dikandung Tanpa Dosa. Sebuah selubung putih secara perlahan-lahan
menutupi Bunda Maria dari kaki hingga ke mahkota. Sekitar pukul 8.45
petang, anak-anak mengatakan, “Sudah selesai.” Bunda Maria telah
menghilang.

Sementara penampakan ini berlangsung, Jenderal Von Schmidt
menerima perintah dari Komando Tinggi Prussia untuk menghentikan
penyerangan dan mundur. Sepuluh hari kemudian, suatu perjanjian
gencatan senjata ditanda-tangani antara Perancis dan Prussia.
Perantaraan ajaib Bunda Maria telah menyelamatkan Pontmain.

Karena penampakan ini, devosi kepada Bunda Pengharapan segera
tersebar luas. Pesan Bunda Maria adalah pesan pengharapan, “Tetapi,
berdoalah anak-anakku. Tuhan akan mendengarkan kalian dalam waktu
dekat. Putraku membiarkan DiriNya tergerak oleh belas kasihan.”
Sementara kita mendaraskan rosario kita setiap hari memohon
pemeliharaan keibuan Bunda Maria, patutlah kita ingat bahwa ia, yang
berdiri di kaki salib, yang dipenuhi pengharapan akan pengampunan
dosa dan kebangkitan ke hidup yang kekal, memberikan pengharapan
kepada kita juga sepanjang perjalanan hidup kita. Bersama Bunda
Pengharapan, kita sungguh memiliki jaminan bahwa kita tidak akan
pernah ditinggalkan, dan bahwa kita senantiasa memiliki pengharapan
akan dipersatukan dengan Tuhan kita sekarang dan selama-lamanya di
surga.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a
professor of catechetics and theology at Christendom's Notre Dame Graduate School
in Alexandria.

sumber : “Straight Answers: Mary as Our Lady of Hope” by Fr. William P. Saunders;
Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2006 Arlington Catholic Herald. All
rights reserved; www.catholicherald.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington
Catholic Herald.”

Santa Perawan Maria Bunda
Penolong Abadi

oleh: P. William P. Saunders *

Bagaimanakah kisah yang melatarbelakangi lukisan Bunda Penolong
Abadi?

~ seorang pembaca di Reston

Lukisan Bunda Penolong Abadi adalah sebuah ikon, dilukis di atas kayu
dan tampaknya berasal dari sekitar abad ketigabelas. Ikon ini (kurang
lebih 54 x 41,5 sentimeter) menggambarkan Bunda Maria, di bawah gelar
“Bunda Allah,” menggendong Kanak-Kanak Yesus. Malaikat Agung St
Mikhael dan Malaikat Agung St Gabriel, melayang di kedua pojok atas,
memegang alat-alat Sengsara - St Mikhael (di pojok kiri) memegang
tombak, bunga karang yang dicelupkan ke dalam anggur asam dan
mahkota duri, sementara St Gabriel (di pojok kanan) memegang salib
dan paku-paku. Tujuan dari sang pelukis adalah menggambarkan
Kanak-Kanak Yesus menyaksikan penglihatan akan Sengsara-Nya di
masa mendatang. Kegentaran yang dirasakan-Nya diperlihatkan melalui
terlepasnya salah satu sandal-Nya. Namun demikian, ikon ini juga
menyampaikan kemenangan Kristus atas dosa dan maut, yang
dilambangkan dengan latar belakang keemasan (lambang kemuliaan
kebangkitan) dan dari cara dengan mana para malaikat memegang alat-
alat siksa, yaitu bagaikan memegang tanda kenang-kenangan yang
dikumpulkan dari Kalvari pada pagi Paskah.

Dengan suatu cara yang amat indah, Kanak-kanak Yesus menggenggam
erat tangan Bunda Maria. Ia mencari penghiburan dari BundaNya,
sementara Ia melihat alat-alat sengsara-Nya. Posisi tangan Maria -
keduanya memeluk Kanak-Kanak Yesus (yang tampak bagaikan seorang
dewasa kecil) dan memberikan-Nya kepada kita - menyampaikan realita
akan inkarnasi Tuhan kita, bahwa ia adalah sungguh Allah yang juga

menjadi sungguh manusia. Dalam ikonografi, Bunda Maria di sini
digambarkan sebagai Hodighitria, yaitu dia yang menghantar kita
kepada sang Penebus. Ia adalah juga Penolong kita, yang menjadi
perantara kita kepada Putranya. Bintang yang terlukis pada kerudung
Maria, yang terletak di tengah atas dahinya, menegaskan peran Maria
dalam rencana keselamatan baik sebagai Bunda Allah maupun Bunda
kita.

Menurut tradisi, seorang saudagar mendapatkan ikon Bunda Penolong
Abadi dari pulau Krete dan mengirimkannya ke Roma dengan kapal laut
menjelang akhir abad kelimabelas. Dalam perjalanan, mengamuklah
suatu badai dahsyat, yang mengancam nyawa mereka semua yang
berada dalam kapal. Para penumpang bersama awak kapal berdoa
memohon bantuan Bunda Maria, dan mereka diselamatkan.

Begitu tiba di Roma, sang saudagar yang menghadapi ajal,
memerintahkan agar lukisan dipertontonkan agar dapat dihormati
secara publik. Sahabatnya, yang menahan lukisan tersebut, menerima
perintah berikutnya: dalam suatu mimpi kepada gadis kecilnya, Bunda
Maria menampakkan diri dan menyatakan keinginannya agar lukisan
dihormati di sebuah gereja antara Basilika St Maria Maggiore dan St
Yohanes Lateran di Roma. Sebab itu, lukisan ditempatkan di Gereja St
Matius, dan kemudian terkenal sebagai “Madonna dari St Matius.” Para
peziarah berduyun-duyun datang ke gereja tersebut selama tiga ratus
tahun berikutnya, dan rahmat berlimpah dicurahkan atas umat beriman.

Setelah pasukan Napoleon menghancurkan Gereja St Matius pada tahun
1812, lukisan dipindahkan ke Gereja St Maria di Posterula, dan disimpan
di sana hingga hampir 40 tahun lamanya. Di sana, lukisan itu kemudian
diabaikan dan dilupakan.

Oleh karena penyelenggaraan ilahi, lukisan diketemukan kembali. Pada
tahun 1866, Beato Paus Pius IX mempercayakan lukisan kepada kaum
Redemptoris, yang baru saja mendirikan Gereja St Alfonsus, tak jauh
dari St Maria Maggiore. Semasa kanak-kanak, Bapa Suci berdoa di
hadapan lukisan ini di Gereja St Matius. Beliau memerintahkan agar
lukisan dipertontonkan kepada publik dan dihormati; beliau juga
menetapkan perayaan Santa Perawan Maria Bunda Penolong Abadi
pada hari Minggu sebelum Hari Raya Kelahiran St Yohanes Pembaptis.
Pada tahun 1867, ketika lukisan sedang dibawa dalam suatu perarakan
yang khidmad melalui jalan-jalan, seorang kanak-kanak disembuhkan
secara ajaib, yang pertama dari banyak mukjizat yang kemudian dicatat
sehubungan dengan Bunda Penolong Abadi.

Hingga hari ini, Gereja St Alfonsus mempertontonkan ikon Bunda
Penolong Abadi dan menyambut segenap peziarah yang datang untuk
berdoa. Kiranya setiap kita tidak pernah ragu untuk memohon bantuan
doa dan perantaraan Bunda Maria kapan saja, teristimewa pada masa
kesesakan.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a
professor of catechetics and theology at Christendom's Notre Dame Graduate School
in Alexandria.

sumber : “Straight Answers: Icon Invokes Mary's `Perpetual Help'” by Fr. William P.
Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2006 Arlington Catholic
Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington
Catholic Herald.”

Bunda Penolong Abadi

27 JULI : PESTA BUNDA PENOLONG
ABADI

Dalam sebuah pelayaran mengarungi
samudera, sebuah kapal diterpa badai.
Semua penumpang panik termasuk kapten
kapal dan anak buahnya. Berbagai usaha
telah dicoba agar kapal tidak tenggelam,
namun tampaknya sia-sia. Seorang
penumpang teringat akan bawaannya. Ia buka
bungkusnya dan nampaklah sebuah lukisan
Bunda Maria. Sambil memperlihatkan lukisan
Bunda Maria di tangannya ia berkata kepada
semua penumpang kapal, "Mari kita berdoa mohon perlindungan Maria
Bintang Laut."

Tengah mereka berlutut dan berdoa tiba-tiba langit yang tadinya gelap
berawan menjadi cerah. Angin yang selama beberapa jam membuat perahu
oleng mulai reda. Begitu juga gelombang laut pelan-pelan menjadi teduh.
Akhirnya kapal merapat di pelabuhan Roma. Semua penumpang selamat.

Pemilik lukisan langsung menuju ke rumah kawannya. Sayang, usia orang itu
tidak lama. Sebelum meninggal ia berpesan kepada kawannya untuk
menyerahkan lukisan kepada salah satu gereja di Roma. Kawannya melihat
lukisan itu indah, tetapi juga aneh. Tidak sebagaimana lukisan Bunda Maria

yang pernah ia lihat, lukisan ini memberi suatu pesan khusus yang sulit
dilupakan.

Gambar ajaib itu memperlihatkan Bunda Maria sedang menggendong
Kanak-kanak Yesus. Sikap dan wajah Yesus memperlihatkan rasa cemas.
Yesus yang masih kecil nampaknya mencari perlindungan pada bunda-Nya.
Tangan-Nya yang mungil menggenggam erat-erat tangan Bunda Maria.
Mata Yesus menunjukkan rasa cemas. Keterkejutan dan usaha
menyelamatkan diri secara tergesa-gesa nampak dari salah satu sandalnya
yang tergantung dan hampir terlepas .

Menurut pelukisnya, kemungkinan ia berasal dari pulau Kreta di Eropa
Timur, ketika itu Yesus sedang bermain. Tiba-tiba datang dua orang
malaikat. Pasti Yesus terkejut. Ia segera lari ke pangkuan bunda-Nya
untuk mohon perlindungan. Bunda Maria juga sempat terkejut sebelum
mengetahui apa yang terjadi. Ada alasan yang kuat mengapa Yesus kecil
terkejut ketika melihat dua malaikat tersebut. Utusan Tuhan itu
memperlihatkan secara jelas salib, paku-paku, lembing dan bunga karang
yang penuh cuka dan empedu. barang-barang ini, seperti kita ketahui,
kelak akan menjadi alat kesengsaraan Yesus ketika Ia memikul salib dan
wafat di Kalvari. Sebagai anak kecil Yesus ketakutan. Ia merasa ngeri.
Karena itu Ia memeluk Maria. Jari-jari-Nya gemetar dalam genggaman
Bunda Maria yang aman. Dengan penuh kasih keibuan, Bunda Maria
merapatkan Kanak-kanak Yesus lebih dekat ke tubuhnya. Dalam pelukan
Maria, Yesus merasa aman.

Kawan pemilik lukisan sangat menyukai lukisan Bunda Penolong Abadi; ia
menyimpannya. Malam hari Bunda Maria menampakkan diri kepadanya
dalam suatu mimpi. Bunda Maria mengingatkannya untuk melaksanakan
pesan kawannya sebelum meninggal, yaitu menyerahkan lukisan kepada
gereja. Mimpinya disampaikan kepada isterinya, tetapi mereka masih tetap
menyimpannya. Tak lama kemudian ia pun meninggal. Ia telah berpesan
kepada isterinya untuk menyerahkan lukisan ke gereja. Namun demikian
isterinya bertekad untuk tetap menyimpannya. Bunda Maria kembali
mengingatkan keluarga itu melalui anak gadisnya, "Ibu, aku melihat
seorang wanita yang amat cantik. Ia berkata kepadaku, 'katakan kepada
ibumu, Bunda Penolong Abadi minta supaya lukisan dirinya ditempatkan di
salah satu gereja.'

Akhirnya lukisan diserahkan ke Gereja St. Alfonsus di Roma dan disimpan
disana selama kurang lebih 300 tahun. Selama itu pula tempat tersebut
menjadi terkenal karena mukjizat-mukjizat yang terjadi. Pada tahun 1798,

di jaman Napoleon berkuasa, para imam diusir. Salah seorang imam sempat
menyimpan lukisan Bunda Penolong Abadi di sebuah kapel kecil dan lukisan
itu pun terlupakan selama 70 tahun.

Seorang bruder tua masih ingat riwayat lukisan itu. Ia menceritakannya
kepada seorang anak kecil yang kemudian menjadi seorang imam
Redemptoris. Ia menceritakannya pula kepada sesama imam hingga
akhirnya berita ini terdengar juga oleh Paus. Paus memerintahkan agar
lukisan tersebut diperlihatkan dan dihormati. Pada tahun 1866 lukisan
Maria Penolong Abadi ditempatkan kembali secara resmi di Gereja St.
Alfonsus, Roma .

Lukisan Maria Penolong Abadi yang asli dilukis di atas kayu. Usianya kira-
kira 500 tahun. Paus Pius IX berpesan kepada para imam Redemptoris,
"Perkenalkanlah dia ke seluruh dunia". Sejak itu lukisan Maria Penolong
Abadi diperbanyak dan duplikatnya disebarkan ke seluruh dunia. Konsili
Vatikan II dalam salah satu butir penghormatan kepada Maria
memberikan nama Penolong Abadi (Perpetual Help). Pertimbangannya ialah
karena nama itu secara ajaib menonjolkan dan menekankan pengasuhan
keibuan yang dilakukan Maria terhadap Gereja yang kini masih berjuang di
dunia.

MAKNA GAMBAR

a

Paraf Yunani yang artinya "Bunda Allah"

b

Bintang di cadar Bunda Maria. Beliaulah Bintang Lautan … yang membawa cahaya Kristus
kepada kegelapan dunia ini … Bintang yang membimbing kita dengan aman menuju rumah

Surgawi.

c

Paraf Yunani untuk "Malaikat Agung Mikael". Ia dilukiskan sedang memegang lembing dan
bunga karang alat sengsara Kristus.

d

Mulut Maria digambar mungil sebagai lambang sedikit berbicara dan dalamnya kehidupan
kontemplasi Sang Perawan.

e

Jubah Merah, warna yang dikenakan oleh para perawan pada zaman Kristus.

f

Mantel Biru Tua, warna yagn dipakai para ibu di Palestina. Maria adalah perawan dan ibu.

g

Tangan-tangan Kristus menggenggam erat ibu jari Bunda-Nya, menyatakan kepada kita
kepercayaan yang harus kita berikan di dalam doa-doa kepada Bunda Maria.

h

Mahkota emas dilukis dalam gambar aslinya, merupakan tanda dari banyaknya doa yang
terkabul yang ditujukan kepada Bunda Maria yang disebut sebagai "Bunda Penolong Abadi"

i

Paraf Yunani untuk "Malaikat Agung Gabriel". Ia memegang salib dan paku-paku.

j

Mata Bunda Maria digambar besar, mata itu melihat tembus pada kebutuhan-kebutuhan kita
dan mengundang permohonan-permohonan.

k

Paraf Yunani untuk "Yesus Kristus".

l

Tangan Kiri Bunda Maria menopang Kristus dengan eratnya, menyatakan kepada kita jaminan
yang kita peroleh dalam pengabdian terhadap Bunda Allah.

m

Sandal yang terjatuh, suatu tanda bahwa bagi mereka yang merenungkan sengsara Kristus
akan memperoleh penyelamatan dan memasuki jenjang pewaris-Nya yang abadi (Rut 4:7-8)

Doa Novena

BUNDA PENOLONG ABADI
DOAKANLAH KAMI

Bunda Penolong Abadi, dengan penuh kepercayaan dan harapan kami
berlutut di hadapanmu.
Belum pernah ada orang yang sia-sia mencari perlindunganmu.
Semasa hidupmu sebagai ibu, engkau seringkali memberi pertolongan
kepada Yesus Puteramu.
Dengan penuh kasih sayang engkau melindungi dan membimbing-Nya
selama masa muda-Nya.
Selama hidup-Nya di muka umum engkau menghibur-Nya dan memberi
dorongan kepada-Nya.
Pada saat Dia menderita, engkau mendampingi dan menguatkan-Nya.
Demikian juga jadilah bagi kami seorang ibu yang selalu menolong kami.

Bunda Maria, kami ini juga anakmu.

Di kayu salib, Putera Ilahimu telah memberikan dikau sebagai bunda kami
dan engkau telah menerima kami sebagai anakmu.
Kami tahu engkau memberi anak-anakmu -khususnya mereka yang
menghormatimu sebagai
Bunda Penolong Abadi- rahmat dan berkat yang tak terhitung banyaknya
untuk jiwa raga mereka.
Dengan penuh syukur kami mengucapkan terima kasih untuk segala
perlindungan
bagi kami dan bagi mereka semua.

Bunda Penolong Abadi, jangan biarkan kami sekarang pergi tanpa
penghiburanmu.
Kami selalu memerlukan bantuanmu, teristimewa dalam kesulitan yang
sekarang ini kami alami .....
Bunda Maria pandanglah kami dengan penuh kebaikan dan kasih sayang.
Jadilah perantara kepada Putera Ilahimu untuk memperoleh anugerah-
anugerah ......
yang kami mohon dengan sangat dalam doa ini.
Kami berjanji akan berterima kasih kepadamu selama hidup kami,
sampai kami datang bersyukur kepadamu di surga.

Bunda yang berkuasa, baik bagi kami,
Engkau dapat menolong kami,
Engkau pasti berkenan menolong kami,
Engkau bersedia menolong kami,
O Bunda Penolong Abadi yang setia,
terimalah doa kami. Amin.

sumber : AVE MARIA No. 9 Juli 1997; diterbitkan oleh Marian Centre Indonesia

Bunda
Pertolongan
Orang Kristen

Dalam tahun 1571 sebuah armada
Turki yang luar biasa besar berlayar
menuju Eropa. Sasarannya
menaklukkan Kota Abadi Roma. Dari

pihak Eropa dikerahkan sebuah armada gabungan, namun kecil jumlahnya
dan sederhana persenjataannya, dipimpin oleh Don Yuan dari Austria.

Dalam tahun 1570, Uskup Agung Montufor dari Meksiko menyuruh
dibuatkan reproduksi gambar Bunda Maria Guadalupe yang sebelum dikirim
kepada Raja Philip II dari Spanyol disentuhkan pada gambar aslinya.
Gambar kecil itu diserahkan kepada Admiral Giovani Doria dan disimpan
dalam kabin admiral selama pertempuran yang hebat berlangsung di
Lepanto. Ia berkata, "Mari kita panjatkan doa mohon bantuan doa Maria
untuk menyelamatkan armada kita dalam pertempuran yang jelas-jelas
merupakan kehancuran di pihak Barat."

Waktu itu Pimpinan Gereja tertinggi adalah Paus Pius V. Beliau menyerukan
kepada semua orang Katolik di Eropa untuk memohon bantuan Bunda Allah
dengan gelarnya Pertolongan Orang Kristen dengan berdoa rosario tanpa
henti. Umat Katolik menanggapi seruan Paus dan berdoa rosario 24 jam
terus-menerus.

Dalam saat-saat yang amat kritis, pada saat pertempuran berat sebelah
dan armada Kristen tak berdaya, tiba-tiba angin yang amat besar datang
dan bertiup menerjang armada Turki. Armada yang kuat itu tenggelam dan
hancur berantakan. Semestinya berita itu baru sampai di Roma beberapa
hari kemudian, tetapi aneh, Paus tiba-tiba berkata, "Marilah kita
mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Allah; kemenangan sudah
kita capai!" Kata-kata Paus itu dicatat dan disegel. Dua minggu kemudian
utusan Don Yuan tiba di Roma membawa berita gembira tersebut. Isinya
mengenai kemenangan tepat pada saat Paus mengumumkannya di Roma
yaitu tanggal 7 Oktober 1571.

Satu hari penuh dipersembahkan untuk menghormati Bunda Maria Bunda
Segala Kemenangan. Tahun berikutnya 7 Oktober ditetapkan sebagai
Pesta Ratu Rosario Yang Tersuci. Pada tahun 1815, seruan Santa Perawan
Maria Pertolongan Orang Kristen ditambahkan dalam Litani Bunda Maria
dari Loretto.

MIMPI SANTO YOHANES BOSCO

Mengenai Santo Yohanes Bosco, Paus Pius XI pernah menyatakan: "Untuk
Don Bosco, hal yang luar biasa menjadi biasa!" Di antara hal-hal luar biasa
yang dianugerahkan Allah kepadanya adalah karunia membaca jiwa
seseorang, nubuat, serta mimpi-mimpi yang ternyata berupa visiun
(penglihatan, penampakan).

Don Bosco mendapat visiunnya yang pertama ketika berusia sembilan tahun
dan kemudian banyak visiun-visiun yang diterimanya sepanjang hidupnya
sebagai imam. Pada tahun 1844, Bunda Allah menampakkan diri kepada Don
Bosco dan minta supaya didirikan sebuah gereja dengan nama Maria
Pertolongan Orang Kristen. Bunda berbicara dengannya secara tepat dan
mendetail hingga pada konstruksi bangunannya.

Paus Pius IX menyuruh Don Bosco menulis semua mimpinya untuk
menyemangati Tarekatnya, Tarekat St. Fransiskus dari Sales, dan seluruh
dunia. Dalam buku "Dreams, Visions and Prophecies of Don Bosco"
ditemukan "Impian tentang dua tiang utama". Bagian ini ditulis pada
tanggal 30 Mei 1862. Tulisan berikut adalah ringkasan dari teks aslinya:

"Beberapa menit yang lalu, saya bermimpi... Saya melihat suatu samudera
yang amat luas. Seluruhnya air yang ditutupi suatu formasi armada kapal-
kapal dalam keadaan siap tempur... Semua kapal dilengkapi persenjataan
berat dengan meriam, bom pembakar dan macam-macam persenjataan.
Ada sebuah kapal yang megah dan lebih agung dari kapal lainnya. Ketika
merapat, kapal-kapal lain langsung menghantam, menembakkan api dan
menyerangnya habis-habisan. Kapal raksasa yang agung itu dikelilingi
sebuah konvoi kapal kecil... Di tengah-tengah lautan yang tak berujung itu,
nampak dua tiang besar yang amat kokoh, dalam jarak yang agak jauh,
menjulang tinggi ke langit. Tiang yang satu menyangga sebuah patung
Santa Perawan Maria yang Tak Bernoda. Di bawah kakinya terbaca huruf-
huruf besar yang jelas: PERTOLONGAN ORANG KRISTEN. Tiang yang
lainnya jauh lebih kokoh dan tinggi, menyangga sebuah Hosti dan di
bawahnya tertulis: KESELAMATAN BAGI UMAT BERIMAN.

Komandan kapal raksasa ini ialah Paus. Menghadapi serangan yang
berbahaya itu Paus segera memanggil kapten-kapten kapal untuk
berunding. Namun, ketika mereka sedang merundingkan strategi, sebuah
badai yang ganas datang. Mereka harus kembali ke kapal masing-masing.
Sambil berdiri di tempat kemudi, Paus mengerahkan seluruh tenaganya
untuk mengemudikan kapalnya di antara dua tiang besar itu. Semua armada
musuh merapat dan dengan segala daya upaya berusaha menenggelamkan
kapal besar itu. Meriam-meriam musuh meledak terus. Tiba-tiba Paus
jatuh, terluka parah. Ia segera ditolong tetapi jatuh untuk kedua kalinya
dan menghembuskan napasnya yang terakhir. Teriakan kemenangan dan
luapan kegembiraan dari kapal-kapal musuh semakin menggila.

Tak lama setelah Paus meninggal, yang lain segera mengambil alih. Dengan
segala pertahanannya, Paus yang baru berhasil mengemudikan kapal dengan
selamat di antara dua tiang besar itu dan menambatkan kapalnya pada
kedua tiang itu; pertama pada tiang dengan Hosti di atasnya, dan kemudian
pada tiang dengan patung Bunda Maria di atasnya. Sesuatu yang tak
terduga terjadi. Kapal-kapal musuh menjadi panik dan tercerai-berai,
saling bertabrakan dan menenggelamkan satu sama lain... Sekarang suatu
ketenangan yang besar meliputi seluruh samudera itu."

Kemudian Don Bosco menjelaskan, "Kapal-kapal musuh melambangkan
penganiayaan. Pencobaan yang besar menanti Gereja. Para musuh Gereja
dilambangkan oleh kapal-kapal yang menyerang dan berusaha
menenggelamkan kapal besar. Hanya dua hal yang dapat menyelamatkan
kita pada saat yang kritis itu. Devosi kepada Sakramen Maha Kudus dan
Devosi kepada Bunda Allah."

Mari kita berusaha sekuat tenaga memanfaatkan kedua devosi ini serta
menganjurkannya kepada siapa saja, di mana saja untuk melakukan hal yang
sama!

sumber : AVE MARIA No. 8 Mei 1997; diterbitkan oleh Marian Centre Indonesia

Artikel khusus.

Ratu Rosario

"Berdoalah Rosario setiap hari...
Berdoa, berdoalah sesering mungkin
dan persembahkanlah silih bagi para
pendosa... Akulah Ratu Rosario... Pada
akhirnya Hatiku yang Tak Bernoda
akan menang."

Pesan Bunda Maria dalam
penampakan kepada anak-anak di
Fatima

Apa itu Rosario?

Asal-usul Rosario

7 Oktober : Pesta SP Maria Ratu Rosario

15 Janji Maria

APA ITU ROSARIO?

Rosario berarti "Mahkota Mawar". Bunda Maria menyatakan
kepada beberapa orang bahwa setiap kali mereka mendaraskan satu
Salam Maria, mereka memberinya sekuntum mawar yang indah dan
setiap mendaraskan Rosario secara lengkap mereka memberinya
sebuah mahkota mawar. Mawar adalah ratu semua bunga, jadi Rosario
adalah ratu dari semua devosi, oleh karenanya rosario adalah devosi
yang paling penting. Rosario dianggap sebagai doa yang sempurna
karena di dalamnya terkandung warta keselamatan yang mengagumkan.

Sesungguhnya, dengan Rosario kita merenungkan peristiwa-peristiwa
gembira, sedih dan mulia dalam kehidupan Yesus dan Maria. Rosario
adalah doa yang sederhana, sangat sederhana seperti Maria. Rosario
adalah doa yang dapat kita doakan bersama dengan Bunda Maria,
Bunda Tuhan. Dengan Salam Maria kita memohon Bunda Maria untuk
mendoakan kita. Bunda Maria senantiasa mengabulkan permohonan
kita. Ia menyatukan doanya dengan doa kita. Oleh karena itu, rosario
menjadi doa yang ampuh sebab apa yang Bunda Maria minta, ia pasti
menerimanya. Yesus tidak pernah menolak apa pun yang diminta
BundaNya.

Di setiap penampakan, Bunda Surgawi meminta kita untuk mendaraskan
Rosario sebagai senjata ampuh melawan kejahatan, dan sarana
pembawa damai sejahtera. Dengan doamu digabungkan dengan doa
Bunda Surgawi, kamu dapat memperoleh rahmat yang besar untuk
menghasilkan pertobatan. Setiap hari, melalui doa, kamu dapat
mengusir dari dirimu sendiri dan dari tanah airmu banyak bahaya dan
kejahatan. Tampaknya, Rosario hanyalah doa yang diulang-ulang, tetapi
sesungguhnya Rosario itu seperti dua orang yang saling mengasihi
yang setiap kali saling mengucapkan: "Aku mengasihimu"…

Keseluruhan Rosario terdiri dari lima belas misteri. Dalam satu misteri
didaraskan sepuluh Salam Maria untuk menghormati suatu misteri
dalam kehidupan Tuhan Yesus dan Bunda Maria.
Biasanya kita mendaraskan lima misteri sekaligus sambil
merenungkan suatu peristiwa.
Misteri-misteri dapat didoakan sebagian untuk kemudian dilanjutkan
kembali, hingga satu peristiwa lengkap didaraskan dalam hari yang
sama.

Di setiap misteri yang terdiri dari sepuluh Salam Maria, meditasi dapat
dilakukan di setiap manik-manik yang mewakili satu Salam Maria.

ASAL USUL ROSARIO

Karena Rosario dirangkai -terutama dan pada hakekatnya-
dari Doa Yesus dan Salam Malaikat, yaitu Bapa Kami dan Salam Maria,
maka tanpa ragu-ragu kita mengakui doa itu sebagai doa utama
sekaligus devosi utama umat beriman. Doa itu telah dipakai berabad-
abad lamanya semenjak zaman para rasul dan murid-murid hingga
sekarang ini.

Namun baru pada tahun 1214, Gereja menerima dan mengakuinya dalam
bentuknya yang sekarang ini, serta mendaraskannya menurut metode
yang kita pakai sekarang ini. Doa ini diwariskan kepada Gereja oleh St.
Dominikus, pendiri Ordo Para Pengkotbah, yang menerimanya langsung
dari Bunda Perawan Terberkati sebagai sarana yang ampuh untuk
mempertobatkan kaum bidaah Albigensia dan pendosa-pendosa
lainnya. Sehubungan dengan itu saya mau menceritakan kepada anda
kisah St. Dominikus menerima Rosario Suci itu. Kisah ini ditemukan di
dalam buku termasyhur Beato Alan de la Roche berjudul
De Dignitate
Psalterii.

Menyadari bahwa gawatnya dosa-dosa umat merintangi pertobatan
kaum bidaah Albigensia, Santo Dominikus mengasingkan diri ke sebuah
hutan dekat kota Toulouse. Di sana ia berdoa tak henti-hentinya selama
tiga hari tiga malam. Selama itu, ia tidak berbuat apa-apa selain berdoa
sambil menangis, dan dengan tekun mengusahakan penebusan dosa
demi meredakan kemurkaan Allah yang Mahakuasa. Ia berdoa dan
bermatiraga dengan pengendalian diri yang sungguh-sungguh sehingga
badannya menjadi lemah dan rapuh. Akhirnya ia jatuh sakit parah. Pada
saat itulah Bunda Maria, didampingi oleh tiga malaikat, menampakkan
diri kepadanya dan berkata: "Dominikus yang terkasih! Tahukah engkau
senjata ampuh yang dipakai Tritunggal Mahakudus untuk membaharui
dunia ini?" Jawab Santo Dominikus, "Oh, Ibu, engkau tahu senjata itu
jauh melebihi saya, karena di samping Puteramu Yesus Kristus, engkau
sudah selalu menjadi sarana utama keselamatan kami." Lalu Bunda
Maria menjawab: "Aku mau engkau mengetahui bahwa dalam
peperangan semacam ini, alat pelantak yang ampuh itu ialah Salam
Malaikat, yang merupakan batu fundasi Perjanjian Baru. Oleh karena itu,
kalau engkau mau menemui jiwa-jiwa kaum beriman yang bersikap
keras, dan memenangkan mereka bagi Allah, wartakanlah mazmurku."

Dominikus merasa terhibur lalu bangun. Terbakar oleh semangatnya
untuk mempertobatkan orang-orang di daerah itu, ia mendirikan sebuah
katedral. Pada suatu hari, malaikat-malaikat yang tak kelihatan
membunyikan lonceng-lonceng untuk mengumpulkan orang-orang di
daerah itu. Lalu Dominikus mulai berkhotbah kepada mereka.

Pada awal khotbahnya terdengar letusan halilintar yang
menggemparkan, bumi bergoncang, matahari tak bersinar, dan guntur
serta halilintar menggelegar sambung-menyambung membuat semua
orang ketakutan. Mereka semakin takut tatkala memandang gambar
Bunda Maria mengangkat tangannya ke surga sebanyak tiga kali untuk
menurunkan murka Allah atas mereka apabila mereka tidak mau
bertobat, tidak mau merobah hidup mereka, dan tidak mau mencari
perlindungan dari Bunda Allah yang kudus.

Dengan cara ajaib ini Tuhan bermaksud menyebarluaskan devosi baru
kepada Rosario Suci, dan membuatnya lebih dikenal oleh semua orang.
Karena doa Dominikus, halilintar itu mulai reda berangsur-angsur,
sehingga ia dapat melanjutkan kotbahnya. Dengan tegas dan mendesak,
ia menjelaskan nilai dan pentingnya rosario suci sehingga hampir
semua orang Toulouse memeluknya dan berjanji untuk meninggalkan
kepercayaan mereka yang salah. Dalam waktu yang begitu singkat
terjadilah perubahan besar di kota itu. Umat mulai menghayati
kehidupan Kristiani, dan menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruk
mereka.

(Sumber: “Rahasia Rosario”, judul asli: The Secret of the Rosary by St Louis-Marie
Grignion de Montfort, diterjemahkan oleh B. Mali, Penerbit Obor)

7 OKTOBER : PESTA SANTA PERAWAN MARIA RATU
ROSARIO

Pada tanggal 7 Oktober 1571 terjadi suatu pertempuran armada laut
yang dahsyat di Laut Tengah, dekat pantai Yunani. Tempat itu disebut
Lepanto. Turki memiliki angkatan laut yang paling kuat di bawah
pimpinan Halifasha. Sebelum pertempuran ini, Turki telah menyerang
semua pelabuhan Katolik di Eropa. Paus Pius V yang pada waktu itu
duduk di Tahta St. Petrus di Roma menyerukan supaya semua orang
Katolik di Eropa bersatu dan bertahan terhadap serangan armada
Halifasha. Kemudian Paus menunjuk Don Yuan dari Austria menjadi
komandan armada gabungan Eropa yang akan menghadapi armada
Turki.

Don Yuan terkenal memiliki devosi yang sangat kuat kepada Bunda
Maria. Ketika tentara Katolik naik ke kapal untuk diberangkatkan ke
medan perang, mereka masing-masing diberi rosario di tangan kanan,
sementara tangan kiri mereka memegang senjata. Paus yang menyadari
aramada ini tidak ada artinya dibandingkan dengan armada Turki yang
jumlahnya tiga kali lipat, meminta agar seluruh penduduk Eropa berdoa
rosario. Di mana-mana orang berdoa rosario selama 24 jam terus-
menerus.

7 Oktober 1571 pukul 11.30 kedua armada itu mulai bertempur dengan
dahsyat hingga baru berakhir keesokan harinya pukul 5.30 sore.
Mukjizat terjadi di sana. Ketika pertempuran sedang berlangsung sengit,
tiba-tiba angin berubah arah sehingga menguntungkan pihak armada
Katolik. Armada Turki berhasil dikalahkan. Halifasha mati terbunuh.
Karena kemenangan rosario ini, maka tanggal 7 Oktober ditetapkan
sebagai Hari Raya Rosario.

15 JANJI BUNDA MARIA BAGI MEREKA YANG SETIA BERDOA
ROSARIO

1. Mereka yang dengan setia mengabdi padaku dengan mendaraskan
Rosario, akan menerima rahmat-rahmat yang berdaya guna.
2. Aku menjanjikan perlindungan istimewa dan rahmat-rahmat terbaik bagi
mereka semua yang mendaraskan Rosario.
3. Rosario akan menjadi perisai ampuh melawan neraka. Rosario
melenyapkan sifat-sifat buruk, mengurangi dosa dan memenaklukkan
kesesatan.
4. Rosario akan menumbuhkan keutamaan-keutamaan dan menghasilkan
buah dari perbuatan-perbuatan baik. Rosario akan memperolehkan bagi
jiwa belas kasihan melimpah dari Allah, akan menarik jiwa dari cinta
akan dunia dan segala kesia-siaannya, serta mengangkatnya untuk
mendamba hal-hal abadi. Oh, betapa jiwa-jiwa akan menguduskan diri
mereka dengan sarana ini.
5. Jiwa yang mempersembahkan dirinya kepadaku dengan berdoa Rosario
tidak akan binasa.
6. Ia yang mendaraskan rosario dengan khusuk, dengan merenungkan
misteri-misterinya yang suci, tidak akan dikuasai kemalangan. Tuhan
tidak akan menghukumnya dalam keadilan-Nya, ia tidak akan meninggal
dunia tanpa persiapan; jika ia tulus hati, ia akan tinggal dalam keadaan
rahmat dan layak bagi kehidupan kekal.
7. Mereka yang memiliki devosi sejati kepada Rosario tidak akan
meninggal dunia tanpa menerima sakramen-sakramen Gereja.
8. Mereka yang dengan setia mendaraskan Rosario, sepanjang hidup
mereka dan pada saat ajal mereka, akan menerima Terang Ilahi dan
rahmat Tuhan yang berlimpah; pada saat ajal, mereka akan menikmati
ganjaran pada kudus di surga.
9. Aku akan membebaskan mereka, yang setia berdevosi Rosario, dari api
penyucian.
10. Putera-puteri Rosario yang setia akan diganjari tingkat kemuliaan yang
tinggi di surga.
11. Kalian akan mendapatkan segala yang kalian minta daripadaku dengan
mendaraskan Rosario.
12. Aku akan menolong mereka semua yang menganjurkan Rosario Suci
dalam segala kebutuhan mereka.
13. Aku mendapatkan janji dari Putra Ilahiku bahwa segenap penganjur
Rosario akan mendapat perhatian surgawi secara khusus sepanjang
hidup mereka dan pada saat ajal.

14. Mereka semua yang mendaraskan Rosario adalah anak-anakku, saudara
dan saudari Putra tunggalku, Yesus Kristus.
15. Devosi kepada Rosarioku merupakan pratanda keselamatan yang luhur.

Sudah di masukan dalam blog
pada tanggal 11-09-2008

Artikel khusus tentang Penampakan.

Santa Perawan Maria Medali
Wasiat

27 NOVEMBER : SP MARIA DARI
MEDALI WASIAT

“Inilah lambang karunia yang
kulimpahkan kepada orang-orang
yang memintanya kepadaku.
Barang-siapa mengenakannya akan
menerima karunia yang besar.”

~ Pesan Bunda Maria kepada St.
Katarina Laboure

Tengah malam Katarina Laboure dibimbing ke
Kapel. Di sana ia berbicara dengan Bunda
Allah. Dengan cara yang amat menyentuh
hati, ia menikmati kasih sayang serta
perhatian Bunda Maria yang ditujukan bagi semua orang, terutama mereka
yang bertaut kepada Putera-nya dan menyebut dirinya Kristen.

Medali Wasiat yang dianugerahkan kepada kita menjadi tanda kasih sayang
serta pemeliharaan yang ditawarkan Bunda Maria kepada kita semua.
Mengenakan Medali Wasiat berarti menerima tawaran kasihnya.

Apa itu Yang Dikandung Tanpa Dosa?

Siapakah St. Katarina Laboure?

Tanggal 18 Juli 1830 jam setengah dua belas malam terbangunlah Sr
Katarina. Dengan jelas ia mendengar suara seseorang memanggil-manggil
namanya hingga tiga kali, “Suster Laboure!” Tampaklah seorang anak kecil
kira-kira berumur empat atau lima tahun yang berkata kepadanya, “Mari
kita pergi ke gereja, Santa Maria menunggumu.”

Sr Katarina menjawab: "Kita akan ketahuan."

Anak itu tersenyum, "Jangan khawatir, sekarang ini jam setengah dua
belas, semua orang sudah tidur ...ayolah, aku menunggumu."

Sr Katarina segera bangkit dan bersiap-siap lalu pergi bersama anak itu
yang selalu ada di sebelah kirinya dengan memancarkan sinar yang terang
benderang. Pintu kapel yang terkunci langsung terbuka oleh sentuhan anak
kecil itu. Sr Katerina amat takjub: di dalam gereja semua lilin dan lampu
telah menyala, seolah-olah akan dipersembahkan Misa tengah malam. Anak
itu menuntunnya ke altar. Kira-kira setengah jam lamanya Sr Katarina
berlutut di sana, ketika tiba-tiba terdengar olehnya gemerisik gaun
sutera. Anak itu berbisik, “Santa Maria ingin berbicara kepadamu”.

Di sebelah altar turunlah Santa Maria. Setelah berlutut di hadapan
tabernakel, Bunda Maria duduk di kursi Pastor. “Dengan satu langkah
saja,” kata Sr Katarina, “aku berada di dekatnya. Tanganku bertumpu di
atas lutut Santa Maria. Itulah saat yang paling membahagiakan dalam
hidupku.” Santa Maria bercakap-cakap dengan Sr Katarina selama dua jam
mengenai tugas yang hendak diberikan Tuhan kepada Sr Katarina serta
kesulitan-kesulitan yang bakal dialaminya dalam mengerjakan tugas
tersebut. Setelah Santa Maria pergi, anak kecil itu mengantarkan Sr
Katarina kembali ke ruang tidur. Terdengarlah lonceng berbunyi dua kali
tetapi Sr Katarina tidak dapat tidur lagi.

Tanggal 27 November 1830 jam setengah enam sore, Sr Katarina dan para
suster pergi ke Kapel untuk bermeditasi. Samar-samar terdengar
gemerisik gaun sutera. Sr Katarina mengarahkan pandangannya ke altar
dan di sana ia melihat Santa Perawan Maria berdiri di atas sebuah bola
besar. Gaun sutera Maria bersinar kemilau. Kerudung putihnya panjang
hingga ke kaki. Di bawah kerudung kepalanya, ia mengenakan sehelai renda
untuk mengikat rambutnya. Sebuah bola emas dengan salib di atasnya ada
ditangannya. Santa Maria menengadah mohon berkat Tuhan bagi benda itu.
Lalu tampaklah pada jari-jemarinya cincin permata yang beraneka warna
dan sangat indah. Permata ini memancarkan sinar gilang-gemilang.

Limpahan kemulian demikian terang hingga bola besar tempat Maria
berpijak tidak tampak lagi. Sr Katarina mengerti bahwa sinar cahaya
melambangkan rahmat yang dilimpahkan bagi mereka yang mencarinya;
mutiara-mutiara di jari-jemari Bunda Maria yang tidak memancarkan sinar
melambangkan rahmat bagi jiwa-jiwa yang lupa memintanya. Kemudian bola
itu menghilang. Tangan Maria terentang ke bawah dan terbentuklah suatu
bingkai yang lonjong dengan kata-kata mengelilingi kepalanya: “O Maria,
yang dikandung tanpa dosa, doakanlah kami yang berlindung padamu.”

Santa Perawan Maria berkata, “Inilah lambang karunia yang kulimpahkan
kepada orang-orang yang memintanya kepadaku. Suruhlah membuat sebuah
medali menurut bentuk ini. Barangsiapa mengenakannya akan menerima
karunia yang besar, terutama jika medali ini dikenakan pada lehernya.”
Kemudian berbaliklah gambar tersebut dan tampaklah gambar bagian
belakang medali. Yaitu huruf “M” dengan sebuah salib di atasnya. Huruf M
terletak di atas sebuah palang di mana di bawahnya terdapat dua buah
hati. Hati yang pertama dilingkari mahkota duri - hati Yesus. Hati yang
kedua tertusuk pedang - hati Maria. Penjelasannya amat sederhana. Kita
umat Kristen telah ditebus oleh Tuhan yang telah disalibkan di hadapan
ibu-Nya, Maria Ratu Para Martir. Dua belas bintang mengelilingi
penampakan tersebut.

Sr Katarina bertanya bagaimana ia dapat mengusahakan medali itu dibuat.
Bunda Maria mengatakan bahwa ia harus pergi kepada Bapa Pengakuannya,
Romo Jean Marie Aladel karena: "Ia adalah hambaku." Pada mulanya Romo
Aladel tidak dapat percaya akan apa yang dikatakan Sr Katarina, namun
demikan, setelah dua tahun berlalu, ia pergi juga kepada Uskup Agung
Quelen di Paris. Tanggal 20 Juni 1832 Uskup Agung Quelen
memerintahkan agar segera dibuat 2000 Medali.

Ketika Sr Katarina menerima medalinya, ia berkata, "Sekarang medali ini
harus disebarluaskan." Devosi kepada medali yang dianjurkan oleh Sr
Katarina secara ajaib menyebar dengan cepat. Pertobatan dan mukjizat-
mukjizat yang terjadi melalui Medali Santa Perawan Maria tak terhitung
banyaknya. Sehingga, nama resmi yang diberikan kepada medali tersebut
"Medali dari Yang Dikandung Tanpa Dosa" segera dilupakan orang. Mereka
lebih suka menyebutnya Miraculous Medal (Medali Ajaib) atau di
Indonesia disebut Medali Wasiat.

Pada tahun 1836 Komisi Khusus yang ditunjuk oleh Bapa Uskup Agung
menyatakan bahwa penampakan Santa Perawan Maria di Kapel Biara
Puteri-Puteri Kasih di 140 Rue du Bac, Paris, Perancis adalah benar.

Kita pun diberi keistimewaan untuk mengenakan Medali Wasiat.
Mengenakannya berarti menerima tawaran perlindungan Bunda Maria yang
membawa kuasa Putera-nya, Yesus Kristus ke dalam hidup kita.

"O Maria, yang dikandung tanpa dosa, doakanlah kami yang
berlindung padamu.”

sumber : 1. AVE MARIA No. 3 April 1996; diterbitkan oleh Marian Centre Indonesia;
2. berbagai sumber

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“disarikan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

SP Maria dari Lourdes

11 FEBRUARI : SP MARIA DARI
LOURDES

"Aku tidak menjanjikan kamu
kegembiraan di dunia ini,
tetapi di dunia yang akan
datang."

Pesan Bunda Maria dalam
suatu penampakan kepada St.
Bernadette Soubirous

11 Februari tahun 1858, di sebuah gua
di Massabielle, dekat Lourdes, di
Perancis selatan, Bunda Maria
menampakkan diri sebanyak 18 kali
kepada seorang gadis miskin bernama
Bernadette Soubirous. Bunda Maria memperkenalkan diri sebagai Yang
Dikandung Tanpa Dosa dan minta agar sebuah kapel dibangun di tempat
penampakan. Gadis itu diminta minum dari sebuah sumber air di gua. Tidak
ada sumber air sama sekali di sana, tetapi ketika Bernadette menggali di
suatu tempat yang ditunjukkan kepadanya, sebuah mata air mulai
memancar. Air yang hingga kini masih memancar itu mempunyai daya
penyembuhan yang luar biasa, meskipun para ahli ilmu pengetahuan tidak

dapat menemukan adanya zat-zat yang berkhasiat untuk menyembuhkan
penyakit. Lourdes telah menjadi suatu tempat ziarah Bunda Maria yang
paling terkenal.

Siapa itu Bernadette Soubirous?

Kisah Penampakan

Jenazah St Bernadette yang Tetap Utuh

Apa itu Dikandung Tanpa Dosa?

KISAH PENAMPAKAN SEPERTI DICERITERAKAN SENDIRI

OLEH BERNADETTE:

"Suatu hari saya dan dua gadis lain pergi ke pinggir sungai Gave. Tiba-tiba
saya mendengar bunyi gemerisik. Saya mengarahkan pandangan ke arah
padang yang terletak di sisi sungai, tetapi pepohonan di sana tampak
tenang dan suara itu jelas bukan datang dari sana. Kemudian saya
mendongak dan memandang ke arah gua di mana saya melihat seorang
wanita mengenakan gaun putih yang indah dengan ikat pinggang berwarna
terang. Di atas masing-masing kakinya ada bunga mawar berwarna kuning
pucat, sama seperti warna biji-biji rosarionya.

Saya menggosok-gosok mata saya, kemudian saya tergerak untuk
memasukkan tangan saya ke dalam lipatan baju saya di mana tersimpan
rosario. Saya ingin membuat tanda salib, tetapi tidak bisa, tangan saya
lemas dan jatuh kembali. Kemudian wanita itu membuat tanda salib.
Setelah usaha yang kedua saya berhasil membuat tanda salib meskipun
tangan saya gemetar. Kemudian saya mulai berdoa rosario sementara
wanita itu menggerakkan manik-manik di antara jari-jarinya tanpa
menggerakkan bibirnya sama sekali. Setelah saya selesai mendaraskan
Salam Maria, wanita itu tiba-tiba menghilang.

Saya bertanya kepada kedua gadis yang lain apakah mereka melihat
sesuatu, tetapi mereka mengatakan tidak. Tentu saja mereka ingin tahu
apa yang telah terjadi. Saya katakan kepada mereka bahwa saya melihat
seorang wanita mengenakan gaun putih yang indah, namun saya tidak tahu
siapa dia. Saya minta mereka untuk tidak menceritakan hal itu kepada
siapa pun. Mereka mengatakan saya bodoh karena memikirkan yang bukan-

bukan. Saya katakan bahwa mereka salah, dan saya merasa terdorong
untuk kembali lagi ke sana hari Minggu berikutnya.

Ketiga kalinya saya ke sana, wanita itu berbicara kepada saya dan meminta
saya untuk datang selama lima belas hari. Saya katakan saya bersedia
datang. Kemudian wanita itu meminta saya untuk menyampaikan kepada
romo agar sebuah kapel dibangun di sana. Ia juga meminta saya minum dari
sumber air. Saya pergi ke sungai Gave, satu-satunya sungai yang ada di
sana. Tetapi wanita itu menyadarkan saya bahwa bukan Gave yang ia
maksudkan. Ia menunjuk ke sebuah aliran air kecil di dekat situ. Ketika
saya sampai di sana, saya hanya dapat menemukan beberapa tetes air dan
banyak lumpur. Saya menadahkan tangan untuk mendapatkan lebih banyak
air, tetapi tidak berhasil. Karenanya saya menggali tanah. Saya berhasil
memperoleh beberapa tetes air, baru setelah usaha yang keempat saya
mendapatkan cukup air untuk diminum. Kemudian wanita itu menghilang dan
pulanglah saya ke rumah.

Saya datang setiap hari selama lima belas hari, dan setiap kali, kecuali hari
Senin dan Jum'at, wanita itu menampakkan diri. Ia meminta saya mencari
aliran sungai dan membersihkan diri di sana serta pergi ke pada romo
meminta agar sebuah kapel didirikan di sana. Saya juga harus berdoa,
katanya, untuk pertobatan orang-orang berdosa. Berkali-kali saya
bertanya kepadanya apa arti semua itu, tetapi wanita itu hanya tersenyum.
Akhirnya, dengan tangannya terentang dan matanya memandang ke langit,
ia berkata bahwa dialah "Immaculate Conception" (Yang Dikandung Tanpa
Dosa).

Selama lima belas hari itu, ia mengungkapkan tiga buah rahasia kepada
saya, tetapi saya tidak boleh mengatakannya kepada siapa pun juga, dan
sejauh ini saya taat kepadanya."

(dari surat Santa Bernadette)

sumber : Our Lady of Lourdes; © Copyright 1990-2001 Catholic Online;
www.catholic.org/mary/lourdes1.html

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Santa Perawan Maria dari
Fatima

"Setiap orang, mulai dari
dirinya sendiri, harus berdoa
rosario dengan lebih khidmat
.....
dan benar-benar
mempraktekkan yang
kuanjurkan yaitu devosi Sabtu
Pertama setiap bulan."

Pesan Bunda Maria Fatima
kepada Lucia 1 Mei 1987

Fatima adalah sebuah kota kecil
sebelah utara kota Lisbon di Portugal.
Pada tahun 1917 Bunda Maria
menampakkan diri di Fatima kepada
tiga orang anak gembala. Mereka
adalah Lucia dos Santos berumur 10
tahun, sepupunya bernama Fransisco
Marto berumur 9 tahun dan Jacinta

Marto berumur 7 tahun.

Penampakan Maria didahului tiga penampakan Malaikat setahun
sebelumnya yang mempersiapkan anak-anak ini untuk penampakan Bunda
Maria. Malaikat mengajarkan kepada anak-anak, dua doa penyilihan yang
harus didoakan dengan hormat yang besar. Pada penampakan terakhir di
musim gugur 1916, Malaikat memegang sebuah piala. Ke dalam piala ini
meneteslah darah dari sebuah Hosti yang tergantung di atasnya. Malaikat
memberi ketiga anak itu Hosti sebagai Komuni Pertama mereka dari piala
itu. Anak-anak tidak menceritakan penampakan ini kepada orang lain.
Mereka melewatkan waktu yang lama dalam doa dan keheningan.

13 Mei 1917 Pesta Bunda Maria dan Sakramen Mahakudus. Ketiga anak itu
sedang menggembalakan ternaknya di Cova da Iria, sebuah padang alam
yang amat luas, kira-kira satu mil dari desa mereka. Tiba-tiba mereka
melihat sebuah kilatan cahaya dan setelah kilatan yang kedua, muncul
seorang wanita yang amat cantik. Pakaiannya putih berkilauan. Wanita yang
bersinar bagaikan matahari itu berdiri di atas sebuah pohon oak kecil dan
menyapa anak-anak:

"Janganlah takut, aku tidak akan menyusahkan kalian. Aku datang dari
surga. Allah mengutus aku kepada kalian. Bersediakah kalian membawa
setiap korban dan derita yang akan dikirim Allah kepada kalian sebagai
silih atas banyak dosa -sebab besarlah penghinaan terhadap yang
Mahakuasa- bagi pertobatan orang berdosa dan bagi pemulihan atas
hujatan serta segala penghinaan lain yang dilontarkan kepada Hati Maria
yang Tak Bernoda?"

"Ya, kami mau," jawab Lucia mewakili ketiganya. Dalam setiap penampakan,
hanya Lucia saja yang berbicara kepada Bunda Maria. Jacinta dapat
melihat dan mendengarnya, tetapi Fransisco hanya dapat melihatnya saja.

Wanita itu juga meminta anak-anak untuk datang ke Cova setiap tanggal 13
selama 6 bulan berturut-turut dan berdoa rosario setiap hari.

13 Juni 1917 ketiga anak itu pergi ke Cova. Pada kesempatan itu Bunda
Maria mengatakan bahwa ia akan segera membawa Jacinta dan Fransisco
ke surga. Sedangkan Lucia diminta tetap tinggal untuk memulai devosi
kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda. Ketika mengucapkan kata-kata ini,
muncullah dari kedua tangan Maria sebuah cahaya. Di telapak tangan
kanannya nampak sebuah hati yang dilingkari duri, Hati Maria Yang Tak
Bernoda yang terhina oleh dosa manusia.

"Yesus ingin agar dunia memberikan penghormatan kepada Hatiku yang
Tak Bernoda. Siapa yang mempraktekkannya, kujanjikan keselamatan.
Jiwa-jiwa ini lebih disukai Tuhan, dan sebagai bunga-bunga akan kubawa ke
hadapan takhta-Nya."

"Janganlah padam keberanianmu. Aku tidak akan membiarkan kalian.
Hatiku yang Tak Bernoda ini akan menjadi perlindungan dalam
perjalananmu menuju Tuhan."

13 Juli 1917 "Berkurbanlah untuk orang berdosa. Tetapi teristimewa bila
kalian membawa suatu persembahan, ucapkanlah seringkali doa ini: Ya
Yesus, aku mempersembahkannya karena cintaku kepada-Mu dan bagi
pertobatan orang-orang berdosa serta bagi pemulihan atas segala
penghinaan yang diderita Hati Maria yang Tak Bernoda."

Kemudian Bunda Maria memperlihatkan neraka yang sangat mengerikan.
Begitu ngeri sampai anak-anak itu gemetar ketakutan.

"Bila kelak, pada suatu malam kalian melihat suatu terang yang tak dikenal,
ketahuilah bahwa itu adalah 'Tanda' dari Tuhan untuk menghukum dunia,

karena banyaklah kejahatan yang telah kalian lakukan. Akan terjadi
peperangan, kelaparan dan penganiayaan terhadap Gereja dan Bapa Suci."

"Untuk menghindari hal itu, aku mohon, persembahkanlah negara Rusia
kepada Hatiku yang Tak Bernoda serta komuni pemulihan pada Sabtu
pertama setiap bulan."

"Bila kalian berdoa Rosario, ucapkanlah pada akhir setiap peristiwa: Ya
Yesus yang baik, ampunilah segala dosa kami, lindungilah kami dari api
neraka, hantarkanlah jiwa-jiwa ke dalam surga, terlebih jiwa yang sangat
memerlukan pertolongan-Mu."

13 Agustus 1917 anak-anak tidak bisa datang ke Cova karena mereka
semua digiring ke pengadilan oleh penguasa daerah setempat. Mereka
diancam akan dimasukkan ke dalam minyak panas. Anak-anak dijebloskan
ke dalam penjara selama 2 hari. Pada tanggal 19 Agustus Bunda Maria
menampakkan diri pada saat anak-anak sedang menggembalakan ternak
mereka di Valinhos.

"Berdoalah, berdoalah dan bawalah banyak korban bagi orang berdosa.
Sebab betapa banyak yang masuk api neraka karena tidak ada yang berdoa
dan berkorban bagi mereka."

13 September 1917 Bunda Maria mendesak lagi tentang betapa pentingnya
doa dan kurban. Ia juga berjanji akan datang bersama St. Yusuf dan
Kanak-kanak Yesus pada bulan Oktober nanti.

"Dalam bulan Oktober aku akan membuat suatu tanda heran, agar semua
orang percaya."

13 Oktober 1917 Bersama anak-anak, sekitar 70.000 orang datang ke Cova
untuk menyaksikan mukjizat yang dijanjikan Bunda Maria. Pagi itu hujan
deras turun seperti dicurahkan dari langit. Ladang-ladang tergenang air
dan semua orang basah kuyub. Menjelang siang, Lucia berteriak agar orang
banyak menutup payung-payung mereka karena Bunda Maria datang.

Lucia mengulangi pertanyaannya pada penampakan terakhir ini, "Siapakah
engkau dan apakah yang kaukehendaki daripadaku?" Bunda Maria
menjawab bahwa dialah Ratu Rosario dan ia ingin agar di tempat tersebut
didirikan sebuah kapel untuk menghormatinya. Ia berpesan lagi untuk
keenam kalinya bahwa orang harus mulai berdoa Rosario setiap hari.

"Manusia harus memperbaiki kelakuannya serta memohon ampun atas
dosa-dosanya."

Kemudian dengan wajah yang amat sedih Bunda Maria berbicara dengan
suara yang mengiba:

"MEREKA TIDAK BOLEH LAGI MENGHINA TUHAN YANG SUDAH
BEGITU BANYAK KALI DIHINAKAN."

Bunda Maria kemudian pergi ke pohon oak sebagai tanda penampakan
berakhir. Awan hitam yang tadinya bagaikan gorden hitam menyingkir ke
samping memberi jalan matahari untuk bersinar. Kemudian matahari mulai
berputar, gemerlapan berwarna-warni, berhenti sejenak dan mulai
berputar-putar menuju bumi. Orang banyak jatuh berlutut dan memohon
ampun. Sementara fenomena matahari terjadi, ketiga anak melihat suatu
tablo Keluarga Kudus di langit. Di sebelah kanan tampak Ratu Rosario. Di
sebelah kirinya St. Yosef menggandeng tangan Kanak-kanak Yesus dan
membuat tanda salib tiga kali bagi umatnya. Menyusul visiun yang hanya
tampak oleh Lucia seorang diri: Bunda Dukacita bersama Tuhan berdiri di
sampingnya dan Bunda Maria dari Gunung Karmel dengan Kanak-kanak
Yesus di pangkuannya. Matahari meluncur seolah-olah akan menimpa orang
banyak, tiba-tiba ia berhenti dan naik kembali ke tempatnya semula di
langit. 70,000 orang yang berkerumun di Cova itu menyadari bahwa
pakaian mereka yang tadinya basah kuyub oleh hujan lebat, tiba-tiba
menjadi kering. Demikian pula tanah yang tadinya becek dan berlumpur
akibat hujan tiba-tiba menjadi kering. Mukjizat matahari selama 15 menit
itu disaksikan bukan hanya oleh orang-orang di Cova da Iria saja, tetapi
juga oleh banyak orang di sekitar wilayah itu sampai sejauh 30 mil.

sumber : 1. Maria dari Fatima, Rm Petrus Pavlicek OFM - Wina; 2. AVE MARIA No.
10 September 1997; diterbitkan oleh Marian Centre Indonesia

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“disarikan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Santa Perawan Maria dari
Guadalupe

12 DESEMBER : ST PERAWAN MARIA
GUADALUPE

"Janganlah khawatir mengenai
apapun,
bukankah aku ada di sini?
Aku, yang adalah bundamu.
Bukankah engkau ada dalam
perlindunganku?"

Bunda Maria dari Guadalupe

Pada subuh yang dingin 9 Desember 1531,
seorang petani yang sudah menjadi duda
dalam usia 50 tahun, yang belum lama
dibaptis dan menggantikan namanya dari
“Elang Bernyanyi” menjadi Juan Diego, keluar dari rumahnya di desa
Tolpetlac dekat Guauhtitlan Mexico. Ia bergegas pada Sabtu pagi itu
menuju Tlatelolco untuk ikut ambil bagian dalam Misa. Ia memang setiap
hari menghadiri Misa. Pagi itu ia berjalan melintasi beberapa punggung
bukit menuju Tlatelolco dekat Mexico City.

Sementara menyusuri jalan, ia mendengar suara orang menyanyi. Suara
seorang perempuan. Dari tempat suara, ia melihat awan putih muncul
membentuk pelangi. Tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari tengah-tengah
awan dan menjadi terang benderang. Ia melihat seorang perempuan yang
amat cantik rupawan berdiri di depan awan. Pakaiannya berkilau keemasan.

Juan Diego menunduk dalam sikap berlutut. Perempuan itu kemudian
berkata dalam bahasa setempat, bahasa Nahuatl: “Anakku, Juan Diego,
kemanakah engkau hendak pergi?” Juan Diego menjawab, “Yang mulia, saya
dalam perjalanan menuju gereja di Tlatelolco untuk menghadiri Misa.”
Selanjutnya Bunda Maria meminta Juan Diego untuk pergi ke kediaman
Uskup dan mengatakan kepadanya bahwa Bunda Maria menginginkan
sebuah gereja dibangun di bukit di mana ia menampakkan diri sebagai
penghormatan kepadanya.

Juan Diego bergegas ke kediaman Mgr Zumarraga, Uskup Mexico. Ia ragu-
ragu, ia menyadari dirinya sebagai seorang Indian yang tak dikenal.
Menjelang malam, ia datang kembali ke bukit. Bunda Maria sudah
menunggu di sana. Juan minta agar Bunda Maria mengirim orang lain saja
untuk menghadap Uskup. Katanya, “Saya hanya seorang yang miskin. Saya

merasa tidak layak hadir di tempat Uskup. Maafkan saya, ya Ratu. Saya
tidak bermaksud menyakiti hatimu.” Tetapi Bunda Maria menegaskan
bahwa ia menghendaki Juan dan bukan orang lain. Sebab itu, keesokan
harinya Juan memberanikan diri menghadap Bapa Uskup. Uskup
mengajukan sejumlah pertanyaan dan mengatakan bahwa jika benar ia
adalah Bunda Allah, maka ia perlu memberi bukti.

Pada tanggal 12 Desember, Bunda Maria menampakkan diri lagi kepada
Juan. Ia mengajak Juan Diego mendaki sebuah bukit yang gersang, hanya
kaktus dan belukar yang tumbuh di sana. Tetapi, setibanya Juan di sana,
bukit itu dipenuhi bunga-bunga mawar segar yang berembun dan harum
mewangi. Bunda Maria mengambil mawar-mawar yang telah dipetik dan
merangkaikannya di dalam lipatan-lipatan TILMA (= mantol kasar yang
dipakai suku Indian di Mexico) Juan.

Ketika Juan tiba di kediaman Uskup, Juan harus menunggu lama karena
dihalang-halangi para penjaga yang dengan penuh rasa ingin tahu berusaha
mengambil mawar-mawar dari mantol Juan. Namun, begitu mereka
mengulurkan tangan, mawar-mawar itu seperti terpateri di mantol Juan
sehingga mereka tidak dapat mengambilnya. Di hadapan Uskup, Juan
membuka tilmanya dan mawar-mawar pun berjatuhan ke lantai. Di tilma
Juan terlukis gambar Bunda Allah dalam pakaian Indian. Tangannya
terkatup dalam sikap berdoa, rambutnya yang hitam lembut terurai sampai
ke bahunya. Wajahnya bulat oval dengan matanya setengah tertutup.
Senyum merekah di bibirnya. Uskup Juan de Zumarraga jatuh berlutut.
Airmata mengalir membasahi pipinya ketika ia berdoa mohon ampun karena
kurang percaya. Kemudian Uskup membawa tilma Juan Diego ke dalam
kapel dan meletakkannya di depan Sakramen Mahakudus.

Di kemudian hari, diadakan penyelidikan yang cermat dan teliti atas lukisan
di mantol Juan Diego. Besarnya lukisan itu kurang lebih 1,50 meter. Bunda
Maria mengenakan mantol berwarna hijau kebiru-biruan berhiaskan 46
bintang emas, tiap-tiap bintang brujung delapan. Jubah Bunda Maria
berwarna merah jambu dengan sulaman bunga-bunga berbenang emas,
sangat indah. Tepian leher dan lengan bajunya dilapisi kulit berbulu halus
yang putih metah. Sebuah bros dengan salib hitam di tengah-tengah
menghiasi lehernya. Di sekeliling tubuhnya bergemerlapanlah gelombang
dari cahaya emas di atas latar belakang merah padam. Di pupil mata kanan
Bunda Maria tergambar tiga sosok, yaitu Juan Diego, Juan Gonzalez -
penerjemah, dan Uskup Zumarraga. Lukisan Santa Perawan Maria dari
Guadalupe kini ditempatkan di Basilika Santa Perawan Maria dari
Guadalupe di Mexico City yang didirikan pada tahun 1977.

Pada tanggal 12 Oktober 1945 Paus Pius XII mengumumkan Bunda Maria
dari Guadalupe sebagai “Ratu semua orang Amerika.”

DOA MOHON PERTOLONGAN SANTA PERAWAN MARIA DARI
GUADALUPE

Bunda tercinta, kami mengasihimu.
Kami berterima kasih atas janjimu untuk menolong kami,
bila kami berada dalam kesesakan.
Kami mempercayakan diri ke dalam kasihmu
yang kuasa mengeringkan air mata dan menghibur hati kami.

Ajarilah kami menemukan damai di dalam diri Yesus Puteramu
dan berkatilah kami di sepanjang hari-hari hidup kami.

Tolonglah kami membangun sebuah bait di dalam hati kami.
Jadikanlah bait kami itu seindah bait yang telah dibangun
di atas Gunung Tepeyac bagimu.
Suatu bait penuh penyerahan, pengharapan dan cinta kasih kepada Yesus
yang terus berkembang setiap hari.

Bunda tercinta, Engkau memilih tinggal bersama kami
dengan menghadiahkan gambar dirimu sendiri yang amat ajaib dan suci
pada jubah Juan Diego.
Biarlah kami menikmati kehadiranmu yang penuh kasih itu
apabila kami memandangi wajahmu.
Berilah kami keberanian seperti Juan
untuk menyampaikan pesan pengharapanmu kepada semua orang.
Engkaulah Bunda kami dan sumber inspirasi kami.
Sudi dengarkanlah dan jawablah doa-doa kami.
Amin
3x Salam Maria.

SEKILAS TENTANG JUAN DIEGO

Pada tanggal 9 April 1990 Juan Diego dinyatakan Beato oleh Paus Yohanes
Paulus II di Vatikan dan pada tanggal 31 Juli 2002 dinyatakan Santo oleh
paus yang sama di Basilika Santa Perawan Maria Guadalupe, Mexico.

Santo Juan Diego dilahirkan pada tahun 1474, di Tlayacac,
Cuauhtitlan, sebuah dusun sekitar 14 mil sebelah utara
Tenochtitlan (Mexico City). Nama aslinya ialah
Cuauhtlatoatzin, artinya “Elang Berbicara”. Ia seorang
Indian yang miskin. Apabila berbicara kepada Bunda Maria,
Juan Diego menyebut dirinya sebagai “bukan siapa-siapa”.
Bunda Maria sering memilih untuk menampakkan diri kepada
orang-orang seperti Juan, orang yang bersahaja dan rendah
hati.

Sehari-hari Juan bekerja keras di ladang dan juga
menganyam tikar. Ia memiliki sepetak tanah dan sebuah
gubug kecil di atasnya. Ia menikah, hidup bahagia, tetapi tidak memiliki
anak. Antara tahun 1524 dan 1525, ia dan isterinya dibaptis menjadi
Katolik dan menerima nama baptis Juan Diego dan Maria Lucia.

Juan Diego adalah seorang yang taat dan saleh, bahkan sebelum dibaptis.
Ia penyendiri, karakternya tertutup, cenderung tenggelam dalam
keheningan, sering bermati raga dan biasa berjalan kaki dari dusunnya ke
Tenochtitlan sejauh ± 14 mil (= 22,5 km), untuk menerima pelajaran iman
Katolik. Isterinya, Maria Lucia, jatuh sakit dan meninggal dunia pada tahun
1529. Juan Diego kemudian pindah dan tinggal bersama pamannya, Juan
Bernardino, di Tolpetlac, yang lebih dekat jaraknya dari gereja
Tenochtitlan.

Juan Diego biasa berangkat pagi-pagi sekali sebelum fajar menyingsing,
agar tidak terlambat mengikuti Misa di gereja dan kemudian mengikuti
pelajaran agama. Ia berjalan bertelanjang kaki, sama seperti orang-orang
Indian miskin lainnya. Hanya orang-orang Aztec yang mampu saja yang
memakai sandal yang terbuat dari serat tumbuh-tumbuhan atau kulit. Jika
udara pagi dingin menusuk, Juan Diego biasa mengenakan kain kasar yang
ditenun dari serat kaktus sebagai mantol, yang disebut tilma. Kain katun
hanya dipakai oleh orang Aztec yang lebih berada.

Di salah satu perjalannya menuju gereja, yang kurang lebih memakan
waktu tiga setengah jam melewati desa-desa dan bukit-bukit, Santa
Perawan Maria menampakkan diri dan berbicara kepadanya untuk pertama
kalinya! Bunda Maria menyapanya dengan sebutan “Juanito”, artinya “Juan,
anakku terkasih. Saat penampakan, usia Juan Diego 57 tahun; usia yang
cukup lanjut pada masa itu di mana kebanyakan orang hanya berusia ± 40
tahun.

Setelah penampakan Guadalupe, Juan Diego menyerahkan semua usaha dan
harta milik kepada pamannya. Kemudian ia sendiri tinggal di sebuah kamar
di samping kapel di mana lukisan suci Bunda Maria disimpan. Juan Diego
sangat mencintai Sakramen Ekaristi; dengan ijin khusus dari uskup, ia
diperkenankan menyambut Komuni Kudus tiga kali seminggu, sesuatu yang
tidak lazim pada masa itu. Ia menghabiskan sisa hidupnya untuk
mewartakan berita penampakan kepada orang-orang sebangsanya.

Juan Diego wafat pada tanggal 30 Mei 1548 dalam usia 74 tahun. Paus
Yohanes Paulus II memuji Juan Diego karena imannya yang bersahaja,
yang senantiasa terpelihara oleh ajaran agama. Paus menetapkannya
sebagai teladan kerendahan hati bagi kita semua.

Santa Perawan Maria dari
Guadalupe

oleh: P. William P. Saunders *

Bagaimana dengan gambar Santa Perawan Maria dari Guadalupe?
Adakah bukti ilmiah mengenainya?

~ seorang pembaca di Arlington

Sebelum membahas gambar Santa Perawan Maria dari Guadalupe,
baiklah pertama-tama kita mengingat kembali kisahnya yang indah.

Kisah dimulai pada dini hari tanggal 9 Desember 1531, ketika Juan
Diego, seorang petani Indian berusia 57 tahun, sedang berjalan
menyusuri jalan setapak Bukit Tepeyac di pinggiran Mexico City. Patut
diingat bahwa baru sepuluh tahun sebelumnya, Hernan Cortez
menaklukkan Mexico City. Pada tahun 1523, para misionaris Fransiskan
datang mewartakan Injil kepada masyarakat Indian. Para misionaris ini
berhasil gemilang hingga Keuskupan Mexico City didirikan pada tahun
1528. (Patut diingat juga bahwa Jamestown, koloni Inggris permanen
yang pertama, baru didirikan pada tahun 1607.) Juan Diego dan banyak
dari kalangan sanak saudaranya termasuk di antara orang-orang
pertama yang dipertobatkan dalam iman. Ia dibaptis dengan nama “Juan
Diego” pada tahun 1525 bersama isterinya, Maria Lucia, dan pamannya
Juan Bernardino.

Kita juga jangan lupa bahwa Juan Diego tumbuh dewasa di bawah
penindasan Aztec. Praktek keagamaan Aztec, termasuk kurban manusia,
memainkan peranan yang penting dan menarik dalam kisah ini. Setiap
kota utama Aztec mempunyai sebuah kuil piramid, sekitar 100 kaki
tingginya, di mana di atasnya didirikan sebuah altar. Di atas altar ini,
para imam Aztec mempersembahkan kurban manusia kepada dewa
Huitzilopochtli, yang disebut “Penggemar Jantung dan Penegak Darah,”
dengan memotong dan merenggut keluar jantung yang berdenyut dari
para kurbannya, pada umumnya laki-laki dewasa, tetapi seringkali pula
kanak-kanak. Para imam mengunjukkan tinggi-tinggi jantung yang
berdenyut itu agar dapat dilihat semua orang, meminum darahnya,
menendang tubuh yang tak bernyawa itu hingga terlempar ke bawah
tangga piramid, dan kemudian memotong kedua tangan dan kaki
kurban, lalu memakan dagingnya. Mengingat Aztec menguasai 371 kota
dan hukum menuntut 1.000 kurban manusia bagi setiap kota dengan
sebuah kuil piramid, maka lebih dari 50.000 manusia dikurbankan setiap
tahunnya. Di samping itu, ahli sejarah Mexico kuno, Ixtlilxochitl,
memperkirakan bahwa satu dari setiap lima kanak-kanak menjadi
kurban dari praktek keagamaan yang haus darah ini.

Pada tahun 1487, ketika Juan Diego baru berusia tigabelas tahun, ia
harus menjadi saksi atas suatu peristiwa yang paling mengerikan:
Tlacaellel, seorang pemimpin Aztec yang berusia 89 tahun, meresmikan
kuil piramid matahari yang baru, yang dipersembahkan kepada dua
dewa utama dari dewa-dewa Aztec - Huitzilopochtli dan Tezcatlipoca,
(dewa neraka dan kegelapan) - di pusat Tenochtitlan (kelak Mexico City).
Kuil piramid ini 100 kaki tingginya dengan 114 anak tangga untuk
mencapai puncaknya. Lebih dari 80.000 laki-laki dikurbankan sepanjang
suatu periode empat hari empat malam lamanya. Orang hanya dapat
membayangkan curahan darah dan tumpukan mayat dari kurban yang
demikian. (Sementara jumlah kurban tampak mencengangkan, bukti
menyatakan bahwa dibutuhkan hanya 15 detik saja untuk memotong
jantung keluar dari setiap kurban.)

Pada tahun 1520, Hernan Cortes melarang kurban manusia. Ia
menyingkirkan kedua berhala dari kuil piramid, membersihkan
bebatuannya dari darah dan mendirikan sebuah altar yang baru. Cortes,
pasukannya dan P Olmedo kemudian mendaki anak-anak tangga
dengan Salib Suci dan lukisan Santa Perawan Maria dan St Kristoforus.
Di atas altar baru ini, P Olmedo mempersembahkan kurban Misa Kudus.
Di atas apa yang dulunya merupakan tempat kurban kafir yang keji,
sekarang dipersembahkan kurban tak berdarah, yang sejati dan abadi
dari Tuhan kita. Tetapi, tindakan ini memicu suatu perang habis-habisan
dengan kaum Aztec, yang pada akhirnya berhasil dimenangkan oleh
Cortes pada bulan Agustus 1521.

Sekarang kembali ke kisah kita. Pagi hari itu, 9 Desember 1531, Juan
Diego sedang dalam perjalanan ke Misa; pada waktu itu 9 Desember
adalah Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa di
seluruh Kerajaan Spanyol. Sementara ia menyusuri jalanan di Bukit
Tepeyac, ia mulai mendengar suatu alunan musik nan merdu, dan ia
melihat seorang perempuan cantik rupawan, yang memanggil namanya,
“Juanito, Juan Dieguito.” Ia datang mendekat, dan perempuan itu
mengatakan,

“Ketahuilah dengan pasti, engkau yang terkecil dari antara putera-
puteraku, bahwa aku adalah Santa Maria yang sempurna dan perawan
selamanya, Bunda Yesus, Allah yang benar, melalui Siapa segala
sesuatu hidup, Tuhan dari segala yang dekat dan yang jauh, Tuhan atas
surga dan bumi. Adalah kerinduanku yang sungguh agar sebuah bait
didirikan di sini demi menghormatiku. Di sinilah aku akan menunjukkan,
aku akan menyatakan, aku akan memberikan segenap cintaku, segenap
belas kasihku, pertolonganku dan perlindunganku kepada manusia. Aku
adalah Bundamu yang berbelas kasihan, Bunda yang berbelas kasihan
dari kalian semua yang tinggal bersatu di negeri ini, dan dari segenap
umat manusia, dari segenap mereka yang mengasihiku, dari mereka
yang berseru kepadaku, dari mereka yang mencariku, dan dari mereka
yang menaruh kepercayaannya kepadaku. Di sinilah aku akan
mendengar tangis mereka, keluh-kesah mereka, dan akan menolong
serta meringankan segala macam penderitaan, kebutuhan dan
kemalangan mereka.”

Ia mengatakan kepada Juan Diego untuk menyampaikan kepada Uskup
Zumarraga perihal keinginannya agar sebuah gereja didirikan di tempat
itu. Menurut tradisi, Juan Diego mempertanyakan nama Bunda Maria. Ia
menjawab dalam bahasa ibu Juan Diego, bahasa Nahuatl,
“Tlecuatlecupe,” yang artinya “ia yang meremukkan kepala ular”
(referensi yang jelas menunjuk pada Kitab Kejadian 3:15 dan mungkin
pada simbol utama kepercayaan Aztec). “Tlecuatlecupe” apabila
diucapkan dengan lafal yang benar, bunyinya sungguh mirip dengan
“Guadalupe.” Sebab itu, ketika Juan Diego menyampaikan kepada
Uskup Zumarraga mengenai nama perempuan itu dalam bahasa ibunya,
kemungkinan ia keliru dengan “Guadalupe” nama Spanyol yang familiar,
sebuah kota yang terkenal dengan tempat ziarah Bunda Maria.

Uskup Zumarraga adalah seorang yang saleh, tulus hati dan penuh
belas kasihan. Ia mendirikan rumah sakit yang pertama, perpustakaan
dan universitas di Amerika. Ia juga adalah Pelindung Orang-orang
Indian, yang diserahi kepercayaan oleh Kaisar Charles V untuk
menjalankan dekritnya yang dikeluarkan pada bulan Agustus 1530, yang
memaklumkan, “Tak seorang pun diperbolehkan menjadikan seorang
Indian sebagai budak belian baik dalam keadaan perang maupun dalam
keadaan damai. Entah dengan barter, dengan membeli, dengan
perdagangan, atau sebab maupun alasan lain apapun.” (Patut dicatat
bahwa pada tahun 1537, Paus Paulus III mengutuk serta melarang
perbudakan suku Indian Amerika.) Namun demikian, Uskup Zumarraga
mendengarkan Juan Diego dengan sabar dan mengatakan bahwa ia
akan memikirkan hal itu, dapat dimaklumi bahwa ia meragukan kisah
yang demikian.

Juan Diego kembali ke Tepeyac dan melaporkan tanggapan uskup.
Maria menyuruhnya untuk mencoba lagi. Maka, hari berikutnya, Juan
Diego kembali ke kediaman uskup. Walau kali ini lebih sulit menemui
Bapa Uskup, Juan Diego berhasil juga dalam niatnya, dan uskup sekali
lagi mendengarkannya dengan sabar. Uskup meminta Juan Diego untuk
membawa suatu tanda dari Bunda Maria guna membuktikan kebenaran
kisahnya. Lagi, Juan Diego melaporkan hal ini kepada Bunda Maria,
yang menyuruhnya untuk kembali lagi keesokan harinya guna menerima
suatu “tanda” bagi uskup.

Keesokan harinya, tanggal 11 Desember, Juan Diego menghabiskan
waktu dengan merawat pamannya, Juan Bernardino, yang sakit parah.
Pamannya meminta Juan Diego untuk pergi memanggil seorang imam
yang akan mendengarkan pengakuan dosanya dan melayani Sakramen
Terakhir baginya. Pada tanggal 12 Desember, Juan Diego berangkat lagi,
tetapi ia menghindari Bukit Tepeyac, sebab ia amat malu bahwa ia tidak
kembali hari sebelumnya seperti yang diminta Bunda Maria. Sementara
ia mengambil jalan memutar, Bunda Maria menghentikannya dan
mengatakan, “Dengarkanlah dan camkanlah dalam hatimu, putera
kecilku yang terkasih: janganlah biarkan suatupun mengecilkan hatimu,
suatupun menyedihkanmu. Janganlah biarkan suatupun mengubah
hatimu ataupun wajahmu. Juga, janganlah engkau khawatir akan
penyakit atau muram, gelisah atau susah. Bukankah aku ada di sini; aku
yang adalah Bundamu? Tidakkah engkau ada dalam naungan dan
perlindunganku? Bukankah aku sumber hidupmu? Tidakkah engkau ada
dalam naungan mantolku, dalam dekapan pelukanku? Adakah sesuatu
lainnya yang engkau butuhkan?” Bunda Maria meyakinkan Juan Diego
bahwa pamannya tidak akan meninggal dunia; sesungguhnya,
kesehatannya telah dipulihkan kembali.

Sebagai tanda bagi uskup, Maria meminta Juan Diego untuk pergi ke
puncak bukit dan memetik bunga-bunga. Maka, pergilah ia ke puncak
bukit yang kering dan gersang itu - tempat di mana hanya kaktus
tumbuh - dan mendapati bunga-bunga mawar seperti yang tumbuh di

Castille, tetapi tak didapati di Mexico. Ia mengumpulkan bunga-bunga
mawar dalam tilmanya, yaitu suatu mantol seperti poncho, dan
membawanya kepada Maria yang menatanya dan memintanya untuk
menyampaikannya kepada uskup.

Juan Diego kemudian berangkat kembali menuju kediaman Uskup
Zumarraga. Setelah menanti beberapa saat untuk menghadap, ia
mengulangi pesan kepada uskup dan membuka tilmanya untuk
menyampaikan bunga-bunga mawar. Uskup melihat tidak hanya bunga-
bunga cantik, melainkan juga gambar indah Santa Perawan Maria dari
Guadalupe. Uskup Zumarraga mencucurkan airmata melihat Bunda
Maria dan memohon pengampunan karena kurang percaya. Ia
mengambil tilma dan menempatkannya di altar dalam kapelnya. Pada
Hari Raya Natal pada tahun itu, sebuah bangunan dari bata didirikan di
puncak Bukit Tepeyac demi menghormati Bunda Maria, Santa Perawan
dari Guadalupe, dan diresmikan pada tanggal 26 Desember 1531, pada
Pesta St Stefanus, Martir Pertama.

Sejak tahun 1929, Gereja mengijinkan berbagai penelitian ilmiah
dilakukan atas tilma. Penelitian-penelitian paling awal mendapati adanya
pantulan gambar pada kedua pupil mata Bunda Maria, yaitu sosok Juan
Diego dan dua orang lainnya (kemungkinan yang seorang adalah sosok
Juan Gonzalez, penerjemah bagi Uskup Zumarraga). Gambar tersebut
agak sedikit mengalami distorsi, karena lengkungan alamiah dari kornea
dan lensa mata. Penemuan ini telah berulang kali diperkuat
kebenarannya. Yang menarik, Dr. Charles Wahlig, seorang ahli ilmu
fisika nuklir, mengemukakan bahwa Bunda Maria pastilah hadir secara
tidak kelihatan ketika Juan Diego menyampaikan bunga-bunga mawar
kepada Uskup Zumarraga dan bahwa tilma berfungsi sebagai suatu
piringan fotografis yang menangkap gambar Santa Perawan beserta
pantulan gambar ketiga orang itu pada kedua matanya.

Penelitian-penelitian menggunakan infra merah juga menyingkapkan
fenomena lain yang tak dapat dijelaskan: Gambar di tilma tidak dilukis,
dan warnanya tidak menembus serat-serat tilma seperti halnya cat.
Tilma yang ditenun dari serat-serat yang tidak biasa seperti itu, juga
menghasilkan suatu permukaan yang kasar sehingga lukisan
sesederhana apapun pastilah akan mengalami distorsi, padahal gambar
yang ada di sana sungguh jelas dan tak ada distorsi.

Di samping itu, semestinya tilma pastilah sudah lama rusak. Tilma tidak
dilapisi lapisan pelindung. Semua yang berasal dari serat kaktus
pastilah akan rusak dalam jangka waktu 100 tahun, teristimewa apabila
tidak terlindung dari polusi, nyala lilin, dan serupa itu. Walau demikian,
tilma tetap seperti semula.

Dr. Philip C. Callahan, seorang ahli biologi, berkesimpulan, “Gambar asli
termasuk jubah merah muda, mantol biru, tangan dan wajah … sungguh
tak dapat dijelaskan. Sepanjang penelitian infra merah ini, tak mungkin
dijelaskan baik jenis pigmen warna yang dipergunakan maupun

keawetan dari ketajaman warna dan kecemerlangan pigmen selama
berabad-abad. Lagipula, apabila mempertimbangkan fakta bahwa tak
didapati lapisan pelindung apapun, dan bahwa tenunan serat itu sendiri
dipergunakan untuk memberikan kedalaman gambar, tak ada penjelasan
mengenai gambar itu yang mungkin diberikan berdasarkan teknik-teknik
infra merah. Sungguh luar biasa bahwa selama lebih dari empat abad,
tak didapati pudar atau retak dalam gambar asli sedikitpun dari tilma,
yang tanpa lapisan pelindung, yang semestinya telah rusak berabad-
abad yang lalu” (Mary of the Americas 92).

Gambar Santa Perawan Maria dari Guadalupe juga kaya akan
simbolisme. Gambar Bunda Maria dikelilingi oleh sinar cemerlang,
berdiri di atas bulan, dan dengan bintang-bintang di mantolnya
mencerminkan gambaran yang didapati dalam Kitab Wahyu,

“Tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan
berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah
mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya” (12:1).

Ini merupakan juga simbol dari kemenangan ilahi atas agama kafir. Sinar
matahari adalah simbol dari dewa Aztec Huitzilopochtle. Sebab itu,
Bunda Maria berdiri di depan sinar matahari menunjukkan bahwa ia
memaklumkan Allah yang benar, yang lebih besar dari Huitzilopochtle
dan yang mengungguli kuasanya.

Bunda Maria juga berdiri di atas bulan. Bulan melambangkan malam dan
kegelapan, dan ini berhubungan dengan dewa Tezcatlipoca. Lagi, Bunda
Maria berdiri di atas bulan memaklumkan kemenangan ilahi atas
kejahatan.

Di samping itu, dalam ikonografi Kristiani, bulan sabit di bawah kaki
Bunda Maria juga melambangkan keperawanan yang tetap selamanya
dan ini berhubungan dengan Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa
Dosa dan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.

Bintang-bintang di mantolnya menyatakan bahwa ia datang dari surga,
sebagai Ratu dan Bunda yang mengasihi. Yang menarik, penelitian yang
dilakukan oleh P Mario Sanches dan Dr. Juan Hernandez Illescas dari
Mexico membuktikan bahwa bintang-bintang di mantol tampak persis
sama seperti keadaannya di langit sebelum fajar pada dini hari tanggal
12 Desember 1531.

Wajah Bunda Maria, dengan warna kulitnya, rambut dan mata berwarna
gelap, mencerminkan sosok seorang Indian. Kedua matanya juga
memandang ke bawah, mengungkapkan kerendahan hati dan belas
kasihan. Pula, dalam ikonografi Indian, seorang dewa memandang lurus
ke depan dengan mata terbuka lebar; jadi, gambar di sini menunjukkan
bahwa Maria tidak mengklaim diri sebagai Tuhan, melainkan hanya
sebagai utusan-Nya dan sebagai Bunda yang mengasihi.

Bunda Maria didukung oleh seorang malaikat, lambang kerajaan di
kalangan bangsa Indian. Sebagian orang menafsirkan gambar ini
sebagai suatu tanda bahwa Bunda Maria memaklumkan suatu era baru
yang akan datang.

Busana Bunda Maria juga memiliki makna istimewa. Warna merah muda
dari gaun Bunda Maria memiliki dua penafsiran, sebagai lambang fajar
dari suatu era yang baru, atau sebagai tanda kemartiran iman. Bros
emas di bawah lehernya melambangkan kekudusan. Dan yang terakhir,
pita sekeliling pinggangnya adalah lambang keperawanan. Namun
demikian, pita yang bersimpul ini memiliki beberapa makna lainnya
dalam budaya Indian Asli: pita bersimpul ini adalah nahui ollin, bunga
dari matahari, yang adalah simbol kelimpahan, kesuburan dan
kehidupan baru. Letak pita yang tinggi dan perut Bunda Maria yang
tampak membuncit membuat sebagian orang berkesimpulan bahwa ia
sedang mengandung.

Tentu saja, tilma telah menjadi sumber devosi, teristimewa bagi
masyarakat Mexico. Kejahatan berusaha menguasai, namun gagal.
Sebagai misal, pada tahun 1921, dalam masa pemerintahan Jenderal
Calles yang fanatik, yang melarang ke-Katolik-an, sebuah bom ditanam
dalam basilika dengan tujuan menghancurkan tilma. Bom diperlemah
hingga menghancurkan altar pualam di bawah tilma, memporak-
porandakan jendela-jendela dan membengkokkan salib altar yang
terbuat dari perunggu tebal. Meski begitu, tilma dan bahkan kaca
pelindungnya sama sekali tak tersentuh. Sama seperti penampakan
Maria menyatakan kemenangan agama sejati atas kekafiran yang haus
darah dari kaum Aztec, bahkan dalam perkara ini, Bunda Maria
menaklukkan kuasa kejahatan.

Sekarang, ribuan peziarah pergi ke Guadalupe demi menghormati
gambar suci. Umat Katolik Hispanic mempunyai devosi yang istimewa
kepada Santa Perawan Maria dari Guadalupe, dan Bunda Maria memang
sungguh layak menerima penghormatan dari semua orang yang tinggal
di Amerika maupun di seluruh dunia! Untuk informasi lebih lanjut, buku-
buku berikut ini sungguh menarik untuk dibaca: Our Lady of Guadalupe
and the Conquest of Darkness oleh Dr. Warren Carroll, dan Mary of the
Americas oleh Father Christopher Rengers.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a
professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.

sumber : “Straight Answers: Our Lady of Guadalupe” by Fr. William P. Saunders;
Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic Herald. All
rights reserved; www.catholicherald.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington
Catholic Herald.”

Santa Perawan Maria dari
Pompeii

Pompeii, Campania, Italia
B. Bartolo Longo - Rasul Rosario
Basilika SP Maria Ratu Rosario & Mukjizat2 yang Terjadi
Devosi
Beatifikasi Bartolo Maria Longo
Paus Yohanes Paulus II & SP Maria dari Pompeii
Meditasi

Pompeii, Campania, Italia

Pompeii mengalami banyak musibah dan masa-masa sulit. Namun
demikian, di tahun-tahun belakangan ini, musibah telah diubah menjadi
kemenangan Santa Perawan Maria Ratu Rosario, dan masa-masa sedih
telah digantikan dengan para peziarah yang tak terhitung banyaknya
yang dengan penuh sukacita mengalami berbagai mukjizat dan
menerima berlimpah rahmat.

Salah satu dari musibah awal yang menimpa Pompeii terjadi pada tahun
79, ketika Gunung Vesuvius meletus dengan dahsyat. Gunung berapi itu
menghancur-luluhkan kota Romawi tersebut serta menguburnya dengan
abunya selama berabad-abad. Di kemudian hari, kota yang bekembang

sekitar satu mil jauhnya dari reruntuhan tersebut juga
mengalami musibah, ketika pada tahun 1659 suatu
wabah malaria yang ganas menyerang kota dan
membunuh hampir seluruh penduduk di sana.

Sebuah gereja kuno yang dibangun sebelum terjadi
wabah pada akhirnya hancur pada tahun 1740. Sebuah
gereja kecil didirikan sebagai gantinya. Dari paroki yang
dulunya berkembang pesat, hanya tinggal sedikit saja umat yang tersisa
- dan mereka dilayani oleh seorang imam yang sudah tua dan capai.
Akhirnya, di samping berbagai macam takhyul yang menyebar di antara
penduduk, mereka juga disusahkan dan dibuat tak berdaya oleh
kawanan penyamun yang meneror serta menjarah mereka. Lama-
kelamaan Pompeii dikenal sebagai “sarang para penyamun yang bengis
dan kejam.”

Namun demikian, Bunda Maria tidak pernah meninggalkan anak-
anaknya. Tempat-tempat yang paling tidak mungkin telah dipilihnya
untuk medatangkan keajaiban-keajaiban yang dilakukannya bagi mereka
yang mengabdi kepadanya. Alat yang dipergunakannya untuk
menaklukkan kota yang malang ini adalah Bartolo Longo (1841-1926),
yang pada mulanya tampak sebagai pilihan yang sangat tidak tepat.

Beato Bartolo Longo - Rasul Rosario

Bartolo Longo dilahirkan pada tahun 1841, putera seorang dokter. Ia
menempuh pendidikan sebagai pengacara di Naples. Dalam masa
pendidikannya itu, Bartolo menggabungkan diri dalam suatu sekte setan
dan 'ditahbiskan' sebagai imam Setan. Selama bertahun-tahun ia
melaksanakan tugasnya sebagai 'imam' dengan menyampaikan
khotbah, memimpin ritual-ritual, mencemooh serta menghina Gereja
Katolik dan para imam, serta berbicara menentang segala sesuatu yang
berhubungan dengan agama Katolik.

Seorang teman yang baik, Vincentius Pepe, perlahan-lahan
menunjukkan kepada Bartolo kelemah-lembutan Kristus dan mengatur
agar Bartolo dapat bertemu dengan seorang imam Dominikan yang
kudus, Pastor Alberto Radente. Pastor Alberto memiliki devosi pribadi
yang mendalam kepada Bunda Maria dan sebisanya menyebarluaskan
devosi rosario. Ketika Bartolo Longo dibaptis, ia memilih nama tengah
'Maria', sebagai nama baptisnya. Ia memandang Bunda Maria sebagai
“Pengungsian Orang Berdosa” dan mengungkapkan sesal dan tobatnya
yang mengagumkan kepadanya. Maria adalah “Pengungsian” yang akan
menghantarnya kepada Kristus.

Setelah pertobatannya, Bartolo Maria Longo, ingin melakukan sesuatu
sebagai silih atas kehidupannya di masa silam dan melayani Gereja
yang dulu difitnahnya dengan keji. Ia bergabung dengan sekelompok
orang yang menaruh perhatian kepada mereka yang miskin dan sakit.

Salah seorang anggota kelompok tersebut adalah Countess di Fusco,
seorang janda kaya yang mempunyai tanah dan hak milik dekat
reruntuhan Pompeii. Dipercaya olehnya untuk mengumpulkan uang
sewa, Bartolo melihat sendiri kekumuhan kota Pompeii dan kemiskinan
rohani penduduknya. Ia berikrar untuk melayani mereka yang miskin
dan papa. Bartolo menerbitkan sebuah pamflet berjudul “Rosario dari
Pompeii yang Baru” dan mempergunakan segala daya upayanya untuk
menyebarluaskan devosi tersebut.

Suatu hari pada bulan Oktober 1872, sementara ia beristirahat di padang
dekat Pompeii, ia teringat akan 'pentahbisannya' sebagai imam Setan.
Bartolo mengenang saat itu:

“Saya berpikir bahwa mungkin, sama seperti imamat Kristus adalah
untuk selamanya, demikian juga imamat Setan adalah untuk selamanya.
Jadi, meskipun saya telah bertobat, saya berpikir bahwa saya masih
tetap imam setan, dan bahwa saya masih menjadi hambanya dan
miliknya sementara ia menunggu saya di Neraka. Saat merenungkan
keadaan saya itu, saya dilanda rasa putus asa yang begitu hebat, hingga
hampir bunuh diri. Kemudian saya mendengar gema suara Pastor
Alberto di telinga saya yang mengulangi kata-kata Santa Perawan Maria:

'Jika engkau ingin beroleh keselamatan, sebarluaskanlah Rosario. Inilah
janji Bunda Maria sendiri: Barangsiapa menyebarluaskan Rosarioku
akan diselamatkan.'

Kata-kata ini segera mendatangkan pencerahan bagi jiwa saya. Saya
jatuh berlutut dan berseru, 'Jika yang engkau katakan benar, bahwa
mereka yang menyebarluaskan Rosariomu akan diselamatkan, maka
aku pasti beroleh keselamatan, karena aku tidak akan meninggalkan
dunia ini tanpa menyebarluaskan Rosario.' Bagai jawab atas ikrar saya,
lonceng kecil gereja paroki Pompeii berdentang, mengundang umat
mendaraskan Angelus. Kebetulan ini seperti tanda peneguhan atas
kebulatan tekad saya.”

Bartolo Maria membujuk masyarakat sekitar untuk membantunya
membersihkan gereja yang telah rusak. Kemudian ia mengundang
mereka datang sore hari untuk berdoa rosario bersama. Hanya beberapa
anak yang ingin tahu saja yang datang. Laskar rosario itu mengunjungi
setiap gubug dan rumah untuk membagikan rosario, medali serta
mendorong mereka berdoa rosario. Tetapi, misinya itu tidak berhasil
baik. Mereka menyukai dan menghormati Don Bartolo, tetapi mereka
tidak mengerti dan tidak mau peduli untuk belajar rosario.

Bartolo kemudian mensponsori diadakannya festival pada Pesta Ratu
Rosario pada tahun 1873. Usahanya gagal. Hujan turun, dan imam
menyampaikan khotbahnya dalam bahasa Italia resmi, bukan dalam
dialek setempat yang dapat dimengerti penduduk. Tahun berikutnya ia
mencoba lagi, tidak lebih berhasil dari sebelumnya, tetapi ia berhasil
mengajari beberapa orang berdoa rosario. Tahun ketiga, Bartolo

mengundang Imam-Imam Redemptoris untuk mengadakan misi di sana
selama dua minggu. Sebagai persiapan, ia memugar sepenuhnya gereja
kecil Pompeii. Kali ini misinya berhasil baik dan mendapat restu dari
bapa uskup. Sesungguhnya, bapa uskup telah meramalkan akan adanya
sebuah gereja besar dan tempat ziarah di sana di masa mendatang.

Bartolo memulai proyeknya dengan pertama-tama mencari sebuah
lukisan Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Bartolo mendapatkan
lukisan yang cocok di sebuah toko di Naples. Sayangnya, ia tidak
mampu membelinya. Ia kemudian memperoleh informasi bahwa lukisan
tersebut kurang sesuai untuk maksudnya, karena Hukum Kanon pada
waktu itu menetapkan bahwa lukisan haruslah dilukis dengan cat
minyak diatas kanvas atau kayu. Sedangkan lukisan yang ia pilih dilukis
di atas kertas.

Bartolo menceritakan kekecewaannya kepada Pastor Alberto Radente,
yang memberitahukan kepadanya akan sebuah lukisan yang dimiliki
seorang biarawati, Moeder Concetta, di biaranya. Karena Moeder sudah
menyetujuinya, Pastor Alberto mendorong Bartolo untuk meminta
lukisan tersebut. Lukisan itu sesungguhnya ditemukan Pastor Alberto di
sebuah toko loak. Pastor membelinya dengan harga hanya delapan
carlins, atau setara dengan satu dollar. Pastor kemudian memberikan
lukisan Santa Perawan tersebut kepada Moeder Concetta.

Ketika Bartolo melihat lukisan tersebut, ia sungguh sangat kecewa
dengan kondisinya yang menyedihkan. Bartolo menggambarkannya
sebagai berikut:

“Tidak saja lukisan itu telah dimakan rayap, tetapi wajah Madona adalah
wajah wanita desa yang kasar … secuil kanvas hilang tepat di atas
kepalanya… mantolnya retak. Tak ada yang dapat dikatakan tentang
figur-figur lainnya yang mengerikan. St. Dominikus tampak seperti
seorang idiot jalanan. Di sebelah kiri Santa Perawan adalah St. Rosa. Di
kemudian hari, saya mengubahnya menjadi St. Katarina dari Siena…
Saya ragu-ragu apakah sebaiknya menolak atau menerima pemberian
ini.”

Moeder Concetta membujuk Bartolo agar menerimanya, “Ambillah;
engkau akan melihat bagaimana Bunda Maria akan mempergunakan
lukisan ini untuk mendatangkan banyak mukjizat.” Kata-kata tersebut
memang terbukti kelak.
Lukisan Santa Perawan terlalu besar bagi Bartolo untuk dapat
dibawanya pulang dari Naples ke Pompeii. Ia membungkusnya dengan
sehelai kain lalu menyerahkannya kepada seseorang yang akan
mengantarkannya ke kapel. Karena tidak tahu gambar yang terlukis di
dalamnya, orang tersebut menempatkan lukisan di keretanya, di atas
pupuk muatannya. Dengan cara demikianlah Ratu Rosario tiba di
Pompeii. Lukisan tiba pada tanggal 13 November 1875. Setiap tahun
umat beriman merayakan hari kedatangan lukisan tersebut dengan doa-
doa dan ibadat khusus.

Dua bulan setelah kedatangannya, yaitu pada bulan
Januari 1876, restorasi pertama atas lukisan tersebut
oleh seorang pelukis amatir berhasil diselesaikan.
Pada hari peresmian Persaudaraan dalam Rosario
Suci yang dibentuk oleh Bartolo Longo, yaitu pada
tanggal 13 Februari 1876, lukisan ditempatkan dalam
gereja. Restorasi berikutnya dilakukan pada tahun
1879, oleh Federico Madlarelli, seorang pelukis Italia
terkenal. Restorasi terakhir dilakukan oleh para

pelukis Vatikan pada tahun 1965.

Basilika SP Maria Ratu Rosario & Mukjizat2 yang Terjadi

Bartolo berencana membangun sebuah gereja yang besar dan indah
sebagai tempat yang layak bagi lukisan Ratu Rosario. Tiga ratus umat
setempat yang miskin berjanji untuk menyumbangkan satu penny setiap
bulan demi karya Santa Perawan, sementara umat yang kaya
memberikan sumbangan dengan berlimpah.

Sementara gereja masih dalam tahap dibangun, terjadi tiga mukjizat luar
biasa. Yang pertama menyangkut seorang anak berusia dua belas tahun,
Clorinda Lucarelli, korban serangan epilepsy ganas. Kerabatnya yang
putus asa berjanji untuk membantu pendirian gereja jika Clorinda
sembuh dari penyakitnya. Gadis kecil itu sembuh pada hari lukisan
dipamerkan dalam suatu upacara penghormatan. Dua dokter
menyatakan di bawah sumpah bahwa kesembuhan Clorinda semata-
mata merupakan mukjizat.

Seorang wanita muda, Concetta Vasterilla, yang sedang dalam
penderitaan menjelang ajal, juga disembuhkan ketika janji serupa
dibuat. Pada hari peletakan batu pertama gereja, yaitu pada tanggal 8
Mei 1876, Pastor Anthony Varone, yang telah menerima Sakramen
Terakhir dan menghadapi ajal karena suatu penyakit, juga disembuhkan.
Ia mempersembahkan Misa Kudus keesokan harinya dan
mengumumkan mukjizat kesembuhannya dari ambo pada Pesta SP
Maria Ratu Rosario.

Sebulan setelah peletakan batu pertama, mukjizat lain terjadi pada
Nyonya Giovannina Muta. Ia menderita sakit paru-paru tahap akhir
ketika dibujuk untuk mengucapkan suatu janji kepada Santa Perawan
Maria dari Pompeii. Pada tanggal 8 Juni, ketika Nyonya Muta terbaring di
ranjangnya, ia mendapat penglihatan lukisan Santa Perawan Maria dari
Pompeii - meskipun sesungguhnya ia belum pernah melihat lukisan
tersebut. Tetapi, sementara ia memandang, Bunda Maria tampak
melemparkan kepadanya sebuah pita bertuliskan: “Perawan dari
Pompeii mengabulkan permohonanmu, Giovannina Muta.” Ketika
penglihatan tersebut berakhir, Nyonya Muta sama sekali sembuh dari
penyakitnya.

Sejak saat itu, terutama antara tahun 1891 hingga 1894, ratusan mukjizat
telah dicatat secara resmi.

Bartolo Maria Longo melakukan banyak karya amal kasih. Ia menikahi
Countess Mariana di Fusco, pada tanggal 1 April 1885. Bersama-sama,
pasangan tersebut menghabiskan waktu dan harta mereka guna
menolong banyak anak yatim piatu yang pemeliharaannya dipercayakan
kepada mereka. Bartolo dan istrinya mendirikan sebuah rumah yatim
piatu bagi anak-anak perempuan. Anak-anak pertama yang mereka
pungut berjumlah 15 orang, masing-masing anak untuk setiap misteri
rosario. Ia mendirikan wisma bagi anak-anak laki, anak para narapidana,
dan juga wisma serupa bagi anak-anak perempuan. Ia membentuk
Puteri-puteri Ratu Rosario dari Pompeii, suatu institut religius bagi para
wanita yang dididik untuk merawat gereja, dan membangun asrama-
asramanya. Ia membentuk Ordo Ketiga Dominikan dekat gereja. Mereka
menyokong para calon imam dan mereka yang terpanggil untuk
kehidupan religius. Bartolo membiayai pendidikan sekitar 45 orang
seminaris. Di samping itu Bartolo juga menulis buku-buku tentang
sejarah Rosario dan menyusun novena serta buku doa yang akan
dipergunakan di gereja tersebut.

Gereja Santa Perawan Maria Ratu Rosario dari Pompeii diberkati oleh
Kardinal La Valletta, Duta Kepausan dari Paus Leo XIII, pada bulan Mei
1891. Pada tanggal 19 Februari 1894, Bartolo Longo dan isterinya
menyerahkan Gereja SP Maria dari Pompeii kepada Paus Leo XIII. Sejak
saat itu kepausan mengambil alih perawatan Gereja. Pada tahun 1934,
atas perintah Paus Pius XI, sebuah basilika baru yang besar mulai
dibangun. Basilika selesai pada tahun 1939 dan diresmikan atas nama
Paus Pius XII oleh Kardinal Magliones, Sekretaris Negara Bapa Suci.
Paus St. Pius X sebelumnya telah menyampaikan dukungannya bagi
gereja dan devosi kepada Santa Perawan Maria dari Pompeii.

Lukisan ajaib Santa Perawan Maria Ratu Rosario ditempatkan jauh
tinggi di atas altar utama basilika yang kaya dengan hiasan artistik ini.
Dalam bingkai emasnya, lukisan berwarna indah tersebut
menggambarkan Santa Perawan Maria duduk di atas tahta. Di
pangkuannya duduk Kanak-kanak Yesus, yang sedang memberikan
seuntai Rosario kepada St. Dominikus, sementara Bunda Maria
memberikan seuntai rosario kepada St. Katarina dari Siena. Paus Leo
XIII suatu ketika mengatakan, “Tuhan telah mempergunakan lukisan ini
untuk mengabulkan permohonan-permohonan yang telah mengguncang
seluruh dunia.”

Pada tahun 1965, setelah restorasi lukisan yang ketiga kalinya, Paus
Paulus VI mengatakan dalam homilinya, “Sama seperti gambar Santa
Perawan telah diperbaiki serta diperindah …, demikian juga hendaknya
gambar Maria dalam diri segenap umat Kristiani haruslah dipulihkan,
diperbaharui, serta diperkaya.” Pada akhir perayaan yang khidmat
tersebut, Paus Paulus VI menempatkan dua mahkota baru di atas kepala

Yesus dan Maria, mahkota berhias intan permata yang dipersembahkan
sebagai ucapan syukur oleh abdi-abdi Maria.

Devosi

Suatu devosi khusus yang dikenal sebagai “Permohonan kepada Ratu
Kemenangan” dimulai pada bulan Oktober 1883 dan didaraskan di
seluruh dunia, teristimewa pada tanggal 8 Mei dan pada hari Minggu
pertama bulan Oktober. Devosi ini merupakan suatu permohonan yang
dianggap diberikan oleh Santa Perawan kepada salah seorang anak
yang disembuhkan di Pompeii, “Barangsiapa menghendaki
pertolonganku, hendaklah ia mendaraskan tiga novena permohonan dan
tiga novena syukur.”

Beatifikasi Bartolo Maria Longo

Bartolo Longo, yang dulunya abdi Setan, petobat yang hidup saleh,
pengacara terhormat dan pemenang hati anak-anak yatim piatu ini,
hidup hingga usianya yang ke-85 tahun. Orang kudus ini wafat pada
tanggal 5 Oktober 1926. Makam Bartolo Longo dan isterinya dapat
ditemukan dalam ruang bawah tanah tempat ziarah.

Janji Santa Perawan, “Barangsiapa menyebarluaskan Rosario-ku akan
diselamatkan” menjadi kenyataan ketika Paus Yohanes Paulus II
menegaskan keselamatan jiwa Bartolo Longo dalam upacara
beatifikasinya yang dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober 1980. Bapa
Suci menyebutnya sebagai “Putera Madonna” dan “Rasul Rosario”.

Paus Yohanes Paulus II & SP Maria dari Pompeii

Diperkirakan sekurang-kurangnya sekitar 10.000 peziarah datang
mengunjungi Basilika SP Maria dari Pompeii setiap harinya. Tetapi dua
tahun sekali, yaitu pada tanggal 8 Mei dan pada hari Minggu pertama
bulan Oktober, sekurang-kurangnya 100.000 peziarah bersatu hati dalam
mendaraskan doa-doa khidmat yang disusun Bartolo Longo.

Pada tanggal 21 Oktober 1979, Paus Yohanes Paulus II mengunjungi
Pompeii. Pada kesempatan tersebut diadakan ziarah nasional kepada
Santa Perawan Maria dari Pompeii.

Dalam Surat Apostoliknya, “Rosarium Virginis Mariae” (Rosario
Perawan Maria), Bapa Suci menulis:

*

“Pada awal tahun ke-25 pelayanan saya sebagai paus, saya
mempercayakan Surat Apostolik ini ke tangan Perawan Maria yang
penuh kasih, sambil meniarap dalam roh di hadapan patung Maria di

tempat ziarah cemerlang yang dibangun baginya oleh Beato Bartolo
Longo, rasul rosario. Dengan tulus ikhlas saya mengutip kata-kata yang
menyentuh hati, dengan mana ia mengakhiri Permohonan kepada Ratu
Rosario Suci yang terkenal itu:

O Rosario suci Maria,
rantai halus yang menyatukan kami dengan Allah,
ikatan kasih yang memadu kami dengan para malaikat,
benteng keselamatan untuk melawan serbuan neraka,
pelabuhan aman tatkala perahu universal kami kandas,
kami tidak pemah akan meninggalkan engkau.
Engkau akan menjadi penopangku di saat ajal:
milikmulah ciuman terakhir kami di saat nyawa melayang.
Dan kata terakhir yang kami ucapkan adalah namamu yang suci,
O Ratu Rosario dari Pompei,
O Bunda yang terkasih,
O Pengungsian orang berdosa,
O Penghibur orang yang berduka.
Kiranya engkau dipuji di mana-mana,
sekarang dan selalu,
di bumi dan di surga.

dari Vatikan, pada hari ke-16 bulan Oktober, dalam tahun 2002, awal
tahun ke-25 pontifikat saya.”

Meditasi

Lukisan Santa Perawan Maria Ratu Rosario mewakili tradisi umat
beriman yang telah berlangsung lama, yang datang kepada Maria
sebagai pengungsian dan harapan akan kebutuhan-kebutuhan mereka.
Maria adalah tahta bagi Putra-nya yang mungil, Yesus. Yesus
menemukan rumah-Nya yang pertama di dunia ini dalam rahim Maria
dan dalam pangkuannya. Maria duduk di atas sebuah tahta. Tahta
tersebut adalah Gereja. Maria bersama Putra Ilahi-nya bertahta dalam
Gereja dan dari Gereja, lambang surga di bumi.

Tetapi, apa itu Gereja? Gereja dalam latar belakang lukisan tersebut
dilukis dengan garis-garis biasa dan sederhana. Tahtanya terbuat dari
kayu, bukan kayu berukir indah seperti yang pada waktu biasa terdapat
dalam rumah-rumah orang kaya, melainkan kayu orang miskin. Kaki
Madonna bertumpu di atas alas sederhana, bukan alas beludru.

Umat Pompeii hendak menghormati Sang Putra dan Bunda-Nya dengan
membangun sebuah gereja batu yang besar dan indah. Gereja yang
indah, dengan hiasan emas dan persembahan intan permata adakah
cara setempat pada masa itu untuk menyatakan cinta dan devosi
mereka kepada Santa Perawan. Namun demikian, Bartolo Longo, tahu
bahwa gereja batu itu haruslah dibangun dengan batu-batu hidup yang
adalah belas kasihan dan damai sejahtera. Adalah tujuan utamanya

untuk mengajar umat berdoa, dan kemudian memperhatikan kebutuhan-
kebutuhan mereka.

Kedua rosario dalam lukisan tersebut masing-masing memiliki enam
perpuluhan. Ini juga adalah kebiasaan pada masa itu. Sering kali,
perpuluhan yang keenam didaraskan demi ujub-ujub bagi mereka yang
melayani Gereja dan karya-karya kerasulan Gereja. Bagaimanapun
bentuk rosario yang dipergunakan untuk suatu devosi, rosario tetaplah
merupakan suatu doa berdasarkan Kitab Suci. Sang pelukis yang tak
dikenal namanya itu juga tidak melupakan kebenaran ini. Sebuah buku
digambar di dasar tahta. Dari mutiara dan emas, mata kita beralih tertuju
kepadanya, kepada buku yang berisi Kebijaksanaan Tuhan yang ada di
antara kita, sesungguhnya Santa Perawan dan Sabda Yang Menjadi
Daging tinggal di antara kita.

sumber : 1.“Our Lady of Pompeii”; www.catholictradition.org; 2.“Our Lady of
Pompei” by Sr. M. Jean Frisk; The Marian Library/International Marian Research
Institute, Dayton, Ohio; www.udayton.edu/mary; * "Rosarium Virginis Mariae";
Dokpen KWI; diterjemahkan oleh Ernest Mariyanto

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan:

“disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

SP Maria dari Naju

Santa Perawan Maria, Bunda Sang Penebus, mulai menangis melalui
patung Bunda Maria milik Yulia Kim di Naju, Korea, pada tanggal 30 Juni
1985. “Naju” dalam karaketer Mandarin berarti kota sutera. Naju

memang merupakan kota kecil, tetapi damai dan indah bagaikan
hamparan sutera.

Sejak itu, Bunda Maria menyampaikan banyak pesan dan tanda-tanda
mukjizat, mendesak anak-anaknya di dunia untuk segera bertobat atas
dosa-dosa mereka dan kembali kepada Tuhan, Gereja-Nya, Kebenaran-
Nya, dan Kasih-Nya, agar Ia dapat menyembuhkan jiwa-jiwa mereka
yang penuh dosa serta memulihkan kembali hidup rohani mereka.
Teristimewa Bunda Maria mohon dengan sangat kepada kita agar kita
setia pada Warisan Iman yang dipercayakan Kristus kepada Gereja-Nya
dua ribu tahun yang silam, dan agar kita saling mengasihi serta saling
mengampuni satu sama lain. Bunda Maria juga meminta kita untuk
menghormati hidup manusia sejak saat pembuahan dalam rahim ibu.

Bunda Maria menghendaki agar masing-masing kita berbalik dari
kehidupan yang berpusat pada diri sendiri kepada kehidupan untuk
melayani Tuhan, yaitu membela serta mewartakan Kebenaran-Nya, serta
menyebarluaskan Kasih-Nya kepada siapa saja di seluruh dunia.

Pesan-pesan dan Tanda-tanda Ajaib di Naju
SP Maria Meneteskan Airmata
SP Maria Meneteskan Airmata Darah
SP Maria Meneteskan Minyak Wangi
Mukjizat Ekaristi
Hosti Kudus & Piala
Darah Yesus Yang Mahasuci
Sengsara Mistik Yulia
Sumber Mata Air Rahmat
Bukit Santa Perawan Maria
Pesan-pesan Kasih Yesus dan Bunda Maria
Luka-Luka Berdarah Sengsara Jalan Salib
Hasil Penelitian Terhadap Darah Yang Mahasuci
Siapa itu Yulia Kim?

Pesan-pesan dan Tanda-tanda Ajaib di Naju

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->