Bunda Maria

Mama Amabilis Regna Immaculata Admirabilis : : : : :
Bunda yang Mencintai yang Memerintah yang Tanpa Dosa yang Mengagumkan

Empat Dogma Santa Perawan Maria: SP Maria Bunda Allah (Theotokos), dimaklumkan dalam Konsili
Efesus pada tahun 431.

SP Maria Tetap Perawan Selamanya, sebelum, selama maupun
sesudah kelahiran Yesus, dimaklumkan dalam Sinode Lateran pada tahun 649.

SP Maria Dikandung Tanpa Dosa, dimaklumkan oleh Paus Pius IX
pada tanggal 8 Desember 1854.

SP Maria Diangkat ke Surga badan dan jiwanya, dimaklumkan oleh
Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950.

Artikel SP Maria Devosi SP Maria Hari Raya & Pesta Santa Perawan Maria

ARTIKEL SP MARIA SP Maria Bunda Allah oleh P. Richard Londsdale SP Maria Bunda Allah oleh P. William P. Saunders

SP Maria Bunda Allah oleh Paus Yohanes Paulus II SP Maria Bunda Allah & Bunda Kita oleh St. Alfonsus de Liguori SP Maria Bunda Gereja oleh P. Matthew R. Mauriello SP Maria dan Gereja oleh Beato Isaac dari Stella SP Maria dalam Injil oleh Kardinal Yohanes Henry Newman SP Maria Yang Dikandung Tanpa Dosa SP Maria Yang Dikandung Tanpa Dosa oleh P. William P. Saunders SP Maria Diangkat ke Surga SP Maria Diangkat ke Surga oleh P. William P. Saunders SP Maria Tetap Perawan Selamanya SP Maria Perempuan Berselubungkan Matahari oleh P. William P. Saunders SP Maria Mediatrix (= Perantara Rahmat) oleh P. William P. Saunders SP Maria Bunda Dukacita oleh St. Alfonsus Maria de Liguori SP Maria Bunda Pengharapan oleh P. William P. Saunders SP Maria Bunda Penolong Abadi oleh P. William P. Saunders SP Maria Bunda Penolong Abadi SP Maria Bunda Pertolongan Orang Kristen SP Maria Ratu Rosario SP Maria Medali Wasiat SP Maria dari Lourdes SP Maria dari Fatima SP Maria dari Guadalupe

SP Maria dari Guadalupe oleh P. William P. Saunders SP Maria dari Pompeii SP Maria dari Naju SP Maria dari Akita SP Maria dari Kibeho, Rwanda SP Maria dari La Salette oleh P. William P. Saunders SP Maria dari Pontmain oleh P. William P. Saunders SP Maria dari Czestochowa (Madonna Hitam) oleh P. William P. Saunders SP Maria oleh St. Yohanes M Vianney SP Maria oleh St. Bernardus dari Clairvaux SP Maria, Gelar2 dalam Litani Santa Perawan Maria SP Maria, Gelar2 dalam Litani Santa Perawan Maria : Meditasi SP Maria Melahirkan Kristus Tanpa Sakit Bersalin? Tertidurnya Maria oleh P. William P. Saunders Penampakan: Haruskah Percaya? oleh P. William P. Saunders

DEVOSI SP MARIA Mengapa Kita Menghormati Bunda Maria? Mengapa Umat Katolik Berdoa kepada SP Maria? MARIA: Persoalan yang tak pernah selesai? Bunda Maria dalam Kalender Liturgi Katolik Angelus Kuasa Doa Satu Salam Maria

Salam Maria dan Rosario Mengapa Berdoa Rosario? Rosario adalah Doa yang Penuh Kuasa Rosario dalam Terang Kitab Suci Meditasi Gelar2 Maria dalam Litani SP Maria Devosi Sabtu Pertama untuk Pemulihan Devosi Santa Perawan Maria Berdukacita Devosi Tujuh Duka Santa Perawan Maria

Kumpulan mengenai Maria Bunda Allah.

Santa Perawan Maria Bunda Allah

Pada tanggal 1 Januari Gereja Katolik tidak hanya sekedar merayakan Tahun Baru. Kita juga merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah. Sebagian orang Kristen tidak dapat percaya bahwa seseorang yang dilahirkan di waktu yang silam dapat menjadi "bunda" dari Allah yang kekal. Mereka berpendapat bahwa Bunda Maria adalah Bunda Yesus, yaitu Yesus sebagai manusia, tetapi bukan bunda Yesus sebagai Allah. Muncul masalah dari pernyataan mereka itu, yaitu tampaknya mereka membagi Yesus menjadi dua: Yesus yang Manusia dan Yesus yang Allah. Malahan sebagian orang beranggapan bahwa Yesus adalah manusia yang "dirasuki oleh Allah." Gereja Katolik selalu percaya bahwa Bunda Maria adalah sungguh-sungguh Bunda Allah. Karena itu, kita harus memperjuangkan dogma (dogma : ajaran resmi Gereja yang dinyatakan secara meriah dengan kekuasaan Bapa Paus) ini lebih dari sekali. Sekitar abad ke-4 dan ke-5 terjadi suatu debat yang amat seru. Hampir semua uskup dari seluruh dunia berkumpul bersama di sebuah kota besar di pesisir barat Turki. Nama kota itu adalah "Efesus". Akhirnya, pada tahun 431 para uskup itu sependapat bahwa tidak ada yang perlu diragukan lagi. Mereka membuat pernyataan resmi bahwa Santa Perawan Maria adalah Theotokos (bahasa Yunani) dan Mater Dei (bahasa Latin), keduanya berarti "Bunda Allah". Jadi bagaimana mungkin Bunda Maria menjadi Bunda Allah jika Allah telah ada sebelum Maria ada? Kalian dapat mengatakan bahwa Maria adalah pintu masuk bagi Tuhan untuk memasuki dimensi Ruang dan Waktu. Yesus memiliki dua sifat. Yesus sekaligus adalah Allah dan Manusia. Bunda Maria adalah Bunda dari Manusia yang adalah Allah. Sama seperti sanaknya, Elizabeth, yang adalah bunda dari orang yang menjadi Pembaptis. sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Richard Lonsdale.”

Santa Perawan Maria Bunda Allah
oleh: Paus Yohanes Paulus II

Audiensi Umum, 27 November 1996

1. Renungan akan misteri kelahiran sang Juruselamat telah menghantar umat Kristiani bukan hanya untuk mengenali Santa Perawan sebagai Bunda Yesus, melainkan juga untuk mengenalinya sebagai Bunda Allah. Kebenaran ini telah ditegaskan serta diterima sebagai harta warisan iman Gereja sejak dari abad-abad awal kekristenan, hingga akhirnya secara resmi dimaklumkan dalam Konsili Efesus pada tahun 431. Dalam komunitas Kristiani yang pertama, sementara para murid semakin menyadari bahwa Yesus adalah Putra Allah, menjadi semakin nyatalah bahwa Bunda Maria adalah Theotokos, Bunda Allah. Inilah gelar yang tidak muncul secara eksplisit dalam ayat-ayat Injil, tetapi dalam ayat-ayat tersebut “Bunda Yesus” disebutkan dan ditegaskan bahwa Yesus adalah Allah (Yoh 20:28; bdk. 5:18; 10:30, 33). Bunda Maria dihadirkan sebagai Bunda Imanuel, yang artinya “Tuhan beserta kita” (bdk. Mat 1:22-23). Telah sejak dari abad ketiga, seperti dapat disimpulkan dari suatu kesaksian tertulis kuno, umat Kristiani Mesir telah mendaraskan doa ini kepada Bunda Maria, “Kami bergegas datang untuk mohon perlindunganmu, ya Bunda Allah yang kudus, janganlah kiranya engkau mengabaikan permohonan dalam kesesakan kami, tetapi bebaskanlah kami dari segala yang jahat, ya Santa Perawan yang mulia” (dari Buku Ibadat Harian). Istilah Theotokos muncul secara eksplisit untuk pertama kalinya dalam kesaksian kuno ini. Dalam mitos kafir, seringkali terjadi bahwa seorang dewi tertentu dihadirkan sebagai ibunda dari beberapa dewa. Sebagai contoh, dewa tertinggi, Zeus, memiliki dewi Rhea sebagai ibundanya. Konteks ini mungkin mendorong umat Kristiani untuk mempergunakan gelar

“Theotokos”, “Bunda Allah”, bagi Bunda Yesus. Namun demikian, patut dicatat bahwa gelar ini tidak ada sebelumnya, melainkan diciptakan oleh umat Kristiani guna mengungkapkan suatu keyakinan yang tidak ada hubungannya dengan mitos kafir, yaitu keyakinan akan perkandungan Dia, yang senantiasa adalah Sabda Allah yang kekal, dalam rahim Maria yang perawan. Konsili Efesus memaklumkan Bunda Maria sebagai Bunda Allah 2. Dalam abad keempat, istilah Theotokos biasa dipergunakan baik di Gereja Timur maupun Barat. Devosi dan teologi merujuk lebih dan lebih banyak lagi pada istilah ini, yang sekarang telah menjadi bagian dari warisan iman Gereja. Oleh karenanya, orang dapat memahami gerakan protes besar yang muncul dalam abad kelima ketika Nestorius menyatakan keraguannya atas kebenaran gelar “Bunda Allah”. Sesungguhnya, berkeyakinan bahwa Bunda Maria hanyalah bunda dari Yesus manusia, ia bersikukuh bahwa “Bunda Kristus” adalah satu-satunya istilah yang benar secara doktrin. Nestorius dihantar pada kesalahan ini karena ketakmampuannya mengakui keutuhan pribadi Kristus dan karena tafsirannya yang salah dalam membuat pemisahan kedua kodrat kodrat ilahi dan kodrat manusiawi - yang ada dalam Kristus. Pada tahun 431, Konsili Efesus mengutuk thesisnya dan, dengan menegaskan kodrat ilahi dan kodrat manusiawi dalam satu pribadi Putra, memaklumkan Bunda Maria sebagai Bunda Allah. 3. Sekarang, kesulitan-kesulitan dan keberatan-keberatan yang diajukan oleh Nestorius memberi kita kesempatan untuk melakukan refleksirefleksi yang berguna demi pemahaman dan penafsiran yang benar atas gelar ini. Istilah Theotokos, yang secara harafiah berarti, “ia yang telah melahirkan Allah,” secara sepintas dapat mengejutkan; sesungguhnya malahan membangkitkan pertanyaan seperti, bagaimana mungkin seorang manusia ciptaan melahirkan Allah. Jawaban atas iman Gereja sangat jelas: Keibuan ilahi Bunda Maria mengacu hanya pada kelahiran Putra Allah sebagai manusia, tetapi bukan pada kelahiran ilahi-Nya. Putra Allah dilahirkan dalam kekekalan oleh Allah Bapa, dan sehakikat dengan-Nya. Bunda Maria, tentu saja tidak ambil bagian dalam kelahiran dalam kekekalan ini. Tetapi, Putra Allah mengambil kodrat manusiawi kita 2000 tahun yang lalu dan dikandung serta dilahirkan oleh Perawan Maria. Dengan memaklumkan Bunda Maria sebagai “Bunda Allah”, Gereja bermaksud untuk menegaskan bahwa ia adalah “Bunda dari Inkarnasi Sabda, yang adalah Allah.” Sebab itu, keibuannya tidak diperluas pada keseluruhan pribadi Tritunggal Mahakudus, melainkan hanya pada Pribadi Kedua, Allah Putra, yang dalam berinkarnasi mengambil kodrat manusiawi-Nya dari Maria.

Keibuan merupakan suatu hubungan dari pribadi ke pribadi: seorang ibu bukanlah sekedar ibu ragawi atau ibu secara fisik belaka dari makhluk yang dilahirkan dari rahimnya, melainkan ibu dari pribadi yang dilahirkannya. Karenanya, dengan melahirkan, menurut kodrat manusiawi-Nya, pribadi Yesus, yang adalah pribadi Allah, Bunda Maria adalah Bunda Allah. Kesediaan Santa Perawan mengawali Peristiwa Inkarnasi 4. Dalam memaklumkan Bunda Maria sebagai “Bunda Allah”, Gereja dalam satu ungkapan menyatakan imannya akan Putra dan Bunda. Kesatuan ini telah dilihat dalam Konsili Efesus; dalam mendefinisikan keibuan ilahi Bunda Maria, para Bapa Gereja bermaksud menegaskan keyakinan mereka akan keilahian Kristus. Walau menghadapi banyak keberatan, baik dulu maupun sekarang, mengenai tepat atau tidaknya dalam menggelari Bunda Maria dengan gelar ini, umat Kristiani sepanjang jaman, dengan menafsirkan secara tepat makna keibuan ini, telah mengungkapan secara istimewa iman mereka akan keilahian Kristus dan akan kasih mereka kepada Santa Perawan. Di satu pihak, Gereja memaklumkan Theotokos sebagai jaminan atas realita Inkarnasi sebab - seperti dinyatakan St Agustinus - “jika Bunda fiktif, maka daging akan juga fiktif … dan merupakan corengan terhadap Kebangkitan” (in evangelium Johannis tractatus, 8, 6-7). Di lain pihak, Gereja juga mengkontemplasikan dengan penuh kekaguman dan merayakannya dengan penghormatan anugerah agung luhur yang dianugerahkan kepada Bunda Maria oleh Ia yang menghendaki untuk menjadi Putranya. Ungkapan “Bunda Allah” juga menunjuk pada Sabda Allah, yang dalam Inkarnasi merendahkan diri dalam rupa manusia guna meninggikan manusia sebagai anak-anak Allah. Tetapi dalam terang martabat luhur yang dianugerahkan kepada Perawan dari Nazaret, gelar ini juga memaklumkan kemuliaan wanita dan panggilannya yang luhur. Sesungguhnya, Tuhan memperlakukan Bunda Maria sebagai pribadi yang bebas dan bertanggung jawab dan tidak mewujud-nyatakan Inkarnasi PutraNya hingga setelah Ia memperoleh kesediaannya. Mengikuti teladan umat Kristiani perdana dari Mesir, kiranya umat beriman mempercayakan diri kepada dia yang, sebagai Bunda Allah, dapat memperolehkan dari Putra Ilahinya rahmat pembebasan dari yang jahat dan keselamatan kekal. sumber : “Church Proclaims Mary 'Mother of God'” Pope John Paul II; Copyright © 1997 Catholic Information Network (CIN) - 04-14, 2003; www.cin.org Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Information Network”

SP Maria Bunda Allah & Bunda Kita
oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

dari: KEMULIAAN MARIA Betapa besar sepantasnya kita menempatkan kepercayaan kita kepada Bunda Maria, sebab ia adalah bunda kita. BUKAN KEBETULAN ataupun dalam kesia-siaan belaka para hamba Maria menyebutnya Bunda. Tak dapat mereka berseru kepadanya dengan nama lain, dan tak bosan-bosannya mereka menyebutnya bunda: sungguh bunda, sebab ia sungguh bunda kita, bukan menurut daging, melainkan bunda rohani dari jiwa dan keselamatan kira. Dosa, ketika merenggut rahmat ilahi dari jiwa kita, juga merenggut hidup darinya. Sebab itu, ketika jiwa kita mati dalam dosa dan sengsara, Yesus, Penebus kita, datang dengan kerahiman dan kasih yang tak terhingga, guna memulihkan hidup yang hilang itu bagi kita dengan wafat-Nya di atas salib, seperti yang Ia Sendiri nyatakan, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10). Dalam segala kelimpahan, sebab, seperti diajarkan para teolog, Yesus Kristus dengan karya penebusan-Nya memperolehkan bagi kita berkat dan rahmat yang jauh lebih besar daripada luka yang ditimbulkan Adam atas kita dengan dosanya; Ia memulihkan hubungan kita dengan Tuhan dan dengan demikian menjadi Bapa bagi jiwa kita, di bawah hukum rahmat yang baru, seperti dinubuatkan nabi Yesaya, “Bapa yang Kekal, Raja Damai” (Yes 9:5).

Jika Yesus adalah Bapa dari jiwa kita, maka Maria adalah bundanya, sebab dengan memberikan Yesus kepada kita, ia memberikan hidup sejati kepada kita, dan dengan mempersembahkan hidup Putranya di atas Kalvari demi keselamatan kita, ia melahirkan kita ke dalam hidup rahmat ilahi. Dalam dua peristiwa yang berbeda, Bunda Maria menjadi bunda rohani kita. Pertama kali ketika ia didapati layak mengandung Putra Allah dalam rahimnya yang perawan, demikian dikatakan Albertus Magnus. St. Bernardinus dari Siena mengajarkan bahwa ketika Santa Perawan Tersuci, pada waktu malaikat menyampaikan kabar sukacita, menyatakan kesediaannya untuk menjadi bunda dari Sabda yang kekal, kesediaan yang dinantikan-Nya sebelum menjadikan Diri-Nya Putranya, Bunda Maria dengan tindakannya ini memohonkan keselamatan kita kepada Tuhan. Begitu khusuk ia dalam memohonkannya, hingga sejak saat itulah ia, seolah-olah, mengandung kita dalam rahimnya, sebagai seorang bunda yang paling penuh kasih sayang. Perihal kelahiran Juruselamat kita, St. Lukas mengatakan bahwa Bunda Maria, “melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung” (Luk 2:7). Oleh sebab itu, seperti diungkapkan seorang penulis, jika penulis Injil menegaskan bahwa Maria melahirkan anaknya yang sulung, tidakkah kita beranggapan bahwa sesudahnya ia mempunyai anak-anak yang lain? Tetapi, penulis yang sama menambahkan bahwa jika menurut iman Bunda Maria tidak mempunyai anak-anak lain menurut daging kecuali Yesus, maka pastilah ia mempunyai anak-anak rohani yang lain, yaitu kita. Dan ini menjelaskan apa yang dikatakan tentang Maria dalam Kidung Agung: “Perutmu timbunan gandum, berpagar bunga-bunga bakung” (7:2). St. Ambrosius menjelaskan ayat ini, “Walaupun dalam rahim Maria yang murni hanya ada satu biji gandum, yang adalah Yesus Kristus, namun demikian disebut timbunan gandum, sebab dalam biji gandum yang satu itu terkandung mereka semua yang terpilih kepada siapa Maria akan menjadi bundanya.” Maka, tulis William sang Abbas, Bunda Maria ketika melahirkan Yesus, yang adalah Juruselamat kita dan hidup kita, melahirkan kita semua dalam hidup dan keselamatan. Kedua kalinya Bunda Maria melahirkan kita dalam rahmat adalah ketika di Kalvari ia mempersembahkan kepada Bapa yang kekal dengan dukacita yang begitu pedih di hati, hidup Putranya terkasih demi keselamatan kita. Sebab itu, St. Agustinus menegaskan, dengan bekerjasama dengan Kristus dalam kelahiran umat beriman ke dalam hidup rahmat, ia dengan kerjasamanya ini juga menjadi bunda rohani dari mereka semua yang adalah anggota-anggota Kepala, yaitu Yesus Kristus. Inilah juga makna dari apa yang dikatakan mengenai Santa Perawan dalam Kidung Agung, “aku dijadikan mereka penjaga kebunkebun anggur; kebun anggurku sendiri tak kujaga” (1:6). Bunda Maria, demi meyelamatkan jiwa kita, rela mengurbankan hidup Putranya sendiri, demikian dikatakan William sang Abbas. Dan siapakah

jiwa sejati Maria, selain daripada Yesus, yang adalah hidupnya dan segenap kasihnya? Maka, St. Simeon menubuatkan kepadanya bahwa jiwanya suatu hari kelak akan ditembus oleh pedang dukacita; yang adalah tombak yang ditikamkan ke lambung Yesus, yang adalah jiwa Maria. Dan kemudian, ia dalam dukacitanya melahirkan kita ke dalam hidup yang kekal, sehingga kita semua dapat menyebut diri kita sebagai anak-anak dari dukacita Maria. Ia, bunda kita yang paling lemah-lembut, senantiasa dan sepenuhnya mempersatukan diri pada kehendak ilahi. Itulah sebabnya St. Bonaventura mengatakan, ketika Maria melihat kasih Bapa yang kekal bagi manusia, yang merelakan Putra-Nya wafat demi keselamatan kita, dan kasih Putra yang bersedia wafat bagi kita, Bunda Maria juga, dengan segenap kesediaannya, mempersembahkan Putranya dan `fiat'-nya bahwa Ia wafat agar kita diselamatkan, memberikan diri dalam ketaatan pada kasih tak terhingga Bapa dan Putra kepada umat manusia. Oleh sebab itu, bersukacitalah, hai kalian semua putera-puteri Maria. Ingatlah bahwa ia mengambil sebagai anak-anaknya mereka semua yang menghendakinya menjadi bunda mereka. Bersukacitalah: adakah yang engkau takuti ketika tersesat apabila Bunda ini membela serta melindungimu? Dengan demikian, kata St. Bonaventura, siapa pun yang mengasihi bunda yang lemah-lembut ini, selayaknya bersikap berani sembari mengulang dalam hatinya: Adakah yang engkau takuti, wahai jiwaku? Sumber keselamatan kekalmu tak akan hilang, sebab pengadilan terakhir ada dalam tangan Yesus, yang adalah saudaramu, dan Bunda Maria, yang adalah bundamu. Dan St. Anselmus, penuh sukacita atas pemikiran ini, berseru guna membesarkan hati kita, “Oh, sumber kepercayaan yang terberkati! Oh, tempat pengungsian yang aman! Bunda Allah adalah bundaku juga. Betapa yakin kita akan pengharapan kita, sebab keselamatan kita tergantung pada pengadilan seorang saudara yang penuh belas-kasihan dan bunda yang lemahlembut!” Sebab itu, dengarkanlah bunda kita yang memanggil kita dan berkata, “Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari” (Ams 9;4). Kata “Mama,” senantiasa ada dalam bibir anak-anak kecil, dan dalam segala bahaya dan dalam segala ketakutan, mereka akan berteriak, “Mama! Mama!” Bunda Maria yang termanis, bunda yang paling penuh kasih sayang, itulah kerinduanmu yang sesungguhnya, yaitu agar kami menjadi anak-anak kecil yang senantiasa menyerukan namamu dalam segala bahaya, serta senantiasa mohon pertolongan darimu, oleh sebab engkau rindu menolong serta menyelamatkan kami, sebagaimana engkau telah menyelamatkan segenap anak-anakmu yang berlindung kepadamu. sumber : "from The Glories Of Mary" by St. Alphonsus Liguori Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

SP Maria dan Gereja
oleh: Beato Isaac dari Stella, Abbas (1100-1169)

Putra Allah adalah putera sulung dari banyak saudara. Meskipun secara manusiawi Ia adalah putra tunggal, tetapi dengan rahmat Ia telah mempersatukan banyak orang kepada Diri-Nya Sendiri dan menjadikan mereka satu dengan-Nya. Sebab, kepada mereka yang menerima-Nya, Ia memberikan kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Putra Allah menjadi Anak Manusia dan menjadikan manusia anak-anak Allah, mempersatukan mereka kepada Diri-Nya Sendiri dengan kasih dan kuasa-Nya, supaya mereka semua menjadi satu. Dalam diri mereka sendiri, mereka banyak menurut keturunan manusiawi, tetapi dalam Dia, mereka semua satu melalui kelahiran baru yang ilahi. Kristus yang seluruhnya dan Kristus yang unik - tubuh dan kepala adalah satu: satu karena dilahirkan dari Allah yang sama di surga, dan dari bunda yang sama di dunia. Ada banyak anak, tetapi satu. Kepala dan anggota adalah satu anak, tetapi banyak; demikian pula halnya, Bunda Maria dan Gereja adalah satu ibu, tetapi lebih dari satu ibu; satu perawan, tetapi lebih dari satu perawan. Keduanya adalah ibu, keduanya adalah perawan. Masing-masing mengandung dari kuasa Roh yang sama, tanpa noda. Masing-masing melahirkan putera Allah Bapa, tanpa dosa. Tanpa dosa, Bunda Maria melahirkan Kristus, sang Kepala, demi tubuh-Nya. Dengan

pengampunan dari segala dosa, Gereja melahirkan tubuh, demi Kepalanya. Masing-masing adalah Bunda Kristus, tetapi tak satu pun melahirkan Kristus seluruhnya tanpa kerjasama dari yang lain. Dalam Kitab-kitab yang diilhami, apa yang dikatakan secara universal sebagai bunda perawan, Gereja, dipahami secara individual sebagai Perawan Maria, dan apa yang dikatakan secara khusus sebagai bunda perawan Maria dengan tepat dipahami secara general sebagai bunda perawan, Gereja. Entah yang mana yang dibicarakan, maknanya dapat diartikan keduanya, hampir tanpa pengecualian. Demikian juga, setiap umat Kristiani diyakini sebagai mempelai Sabda Allah, ibu Kristus, puteri-Nya dan saudari-Nya, sekaligus perawan dan dengan banyak anak. Kata-kata ini dipergunakan secara universal sebagai Gereja, secara istimewa sebagai Bunda Maria, dan secara khusus sebagai individu Kristiani. Semuanya dipergunakan oleh pribadi Kebijaksanaan Allah, Sabda Bapa. Itulah sebabnya mengapa Kitab Suci mengatakan: Aku akan tinggal di rumah Tuhan. Rumah Tuhan adalah, dalam arti general, Gereja; dalam arti istimewa, Bunda Maria, dalam arti individual, umat Kristiani. Kristus tinggal selama sembilan bulan lamanya dalam tabernakel rahim perawan Maria. Ia tinggal hingga akhir abad dalam tabernakel iman Gereja. Ia akan tinggal selama-lamanya dalam benak dan dalam kasih setiap jiwa beriman. sumber : “Mary and the Church” from a sermon by Blessed Isaac of Stella Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

SP Maria dalam Injil
oleh: Kardinal Yohanes Henry Newman

disampaikan di Katedral St. Chad, 1848 Ada suatu ayat dalam Injil yang mungkin membuat sebagian besar dari kita terperanjat, sehingga diperlukan penjelasan. Ketika Yesus sedang berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” (Luk 11:27). Yesus membenarkan, tetapi bukannya tinggal dalam pujian perempuan ini, Ia lalu mengatakan sesuatu yang lebih jauh. Yesus berbicara tentang kebahagiaan yang lebih besar. Kata-Nya, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” Sekarang, perkataan Yesus ini perlu kita pahami dengan baik, sebab banyak orang yang sekarang ini beranggapan bahwa perkataan tersebut dimaksudkan untuk merendahkan kemuliaan dan kebahagiaan Santa Perawan Maria Tersuci; seolah-olah Yesus telah mengatakan, “Bunda-Ku berbahagia, tetapi hamba-hamba-Ku yang sejati lebih berbahagia daripadanya.” Oleh sebab itu, aku akan menyampaikan sedikit komentar atas ayat ini, dan dengan ketepatan yang sepantasnya, sebab kita baru saja melewatkan pesta Bunda Maria, hari raya di mana kita mengenangkan Kabar Sukacita, yaitu, kunjungan Malaikat Gabriel kepadanya, dan perkandungan ajaib Putra Allah, Tuhan dan Juruselamatnya, dalam rahimnya. Sekarang, sedikit penjelasan saja sudah akan cukup untuk menunjukkan bahwa perkataan Kristus bukanlah untuk meremehkan martabat dan kemuliaan Bunda-Nya, sebagai yang paling unggul dari antara ciptaan dan Ratu dari Semua Orang Kudus. Renungkanlah, Ia mengatakan bahwa lebih berbahagia melakukan perintah-Nya daripada menjadi Bunda-Nya, dan apakah kalian pikir bahwa Bunda Allah yang Tersuci tidak melakukan perintah-perintah Allah? Tentu saja tak seorang pun - bahkan seorang Protestan sekalipun - dapat menyangkal bahwa ia

melakukannya. Jadi, jika demikian, apa yang dikatakan Kristus adalah bahwa Santa Perawan lebih berbahagia karena ia melakukan perintahperintah-Nya daripada karena ia menjadi Bunda-Nya. Dan apakah orang Katolik menyangkal hal ini? Sebaliknya, kita semua mengakuinya. Segenap umat Katolik mengakuinya. Para Bapa Gereja yang kudus mengatakan lagi dan lagi bahwa Bunda Maria lebih berbahagia dalam melakukan kehendak Allah daripada menjadi Bunda-Nya. Bunda Maria berbahagia dalam dua hal. Ia berbahagia karena menjadi Bunda-Nya; ia berbahagia karepa dipenuhi dengan semangat iman dan ketaatan. Dan kebahagiaan yang terakhir itu lebih besar dari yang pertama. Aku katakan bahwa para bapa yang kudus menyatakannya dengan begitu jelas. St Agustinus mengatakan, “Bunda Maria lebih berbahagia dalam menerima iman Kristus, daripada dalam menerima daging Kristus.” Serupa dengan itu, St Elisabet mengatakan kepada Bunda Maria saat kunjungannya, “Beata es quee credidisti - berbahagialah ia, yang telah percaya”; dan St Krisostomus lebih jauh mengatakan bahwa ia tak akan berbahagia, meskipun ia mengandung tubuh Kristus dalam tubuhnya, jika ia tidak mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya. Sekarang, aku mempergunakan kalimat “St Krisostomus lebih jauh mengatakan,” bukan berarti bahwa pernyataannya bukanlah suatu kebenaran yang nyata. Aku mengatakan pernyataannya merupakan kebenaran yang nyata bahwa Bunda Maria tidak akan berbahagia, meskipun ia menjadi Bunda Allah, jika ia tidak melakukan kehendakNya; tetapi pernyataan tersebut merupakan suatu pernyataan yang ekstrim, dengan mengandaikan sesuatu yang tidak mungkin, dengan mengandaikan bahwa ia dapat demikian dihormati namun tidak dipenuhi dan dirasuki oleh rahmat Allah, padahal malaikat, ketika datang kepadanya, dengan jelas memberinya salam sebagai yang penuh rahmat. “Ave, gratia plena.” Kedua kebahagiaan di atas tak dapat dipisahkan. (Sungguh luar biasa bahwa Bunda Maria sendiri berkesempatan untuk membedakan dan memilahnya, dan bahwa ia memilih untuk melakukan perintah-perintah Tuhan lebih daripada menjadi Bunda-Nya, seandainya saja ia harus memilih salah satu diantaranya). Ia, yang dipilih untuk menjadi Bunda Allah, juga dipilih untuk gratia plena, penuh rahmat. Kalian lihat, inilah penjelasan dari doktrin-doktrin penting yang diterima di antara umat Katolik mengenai kemurnian dan ketakberdosaan Santa Perawan. St Agustinus tidak akan pernah mau mendengarkan gagasan bahwa Bunda Maria pernah melakukan suatu dosa pun, dan Konsili Trente memaklumkan bahwa oleh rahmat istimewa, Bunda Maria sepanjang hidupnya bebas dari segala dosa, bahkan dosa ringan sekali pun. Dan kalian tahu bahwa hal tersebut merupakan keyakinan Gereja Katolik, yaitu bahwa ia dikandung tanpa dosa asal, dan bahwa perkandungannya tanpa noda dosa. Lalu, darimanakah doktrin-doktrin ini berasal? Doktrin-doktrin tersebut berasal dari prinsip utama yang terkandung dalam perkatan Kristus yang aku komentari ini. Ia mengatakan, “adalah lebih berbahagia melakukan kehendak Allah daripada menjadi Bunda Allah.” Jangan katakan bahwa umat Katolik tidak merasakan hal ini secara mendalam -

begitu mendalam kita merasakannya hingga kita memperluasnya hingga ke keperawanan, kemurnian, perkandungannya yang tanpa dosa, iman, kerendahan hati dan ketaatannya. Jadi, jangan pernah mengatakan bahwa umat Katolik melupakan ayat Kitab Suci ini. Setiap kali kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa, atau semacamnya, kita memperingatinya karena kita memandang begitu dalam pada kebahagiaan kekudusan. Perempuan di antara orang banyak itu berseru, “berbahagialah rahim dan susu Maria.” Perempuan ini berbicara dalam iman; ia tidak bermaksud menolak kebahagiaan Bunda Maria yang lebih besar, tetapi perkataannya hanya mengarah pada satu maksud saja. Oleh sebab itu, Kristus menyempurnakannya. Dan karena itu, Gereja-Nya sesudah Dia, yang tinggal dalam misteri Inkarnasi-Nya yang agung dan sakral, merasa bahwa ia, yang begitu cepat menanggapinya, pastilah seorang yang terkudus. Dan karenanya, demi menghormati Putra, perempuan itu menyanjung kemuliaan Bunda. Seperti kita memberikan yang terbaik bagi-Nya, sebab segala yang terbaik berasal dari-Nya, seperti di dunia kita menjadikan gereja-gereja kita agung dan indah; seperti ketika Ia dirurunkan dari salib, para hamba-Nya yang saleh membungkus-Nya dengan kain kafan yang baik dan membaringkan-Nya dalam suatu makam yang belum pernah dipakai; seperti tempat kediaman-Nya di surga murni dan tak bernoda, begitu terlebih lagi selayaknya dan begitulah adanya - bahwa tabernakel darimana Ia mengambil rupa daging, di mana Ia terbaring, kudus dan tak bernoda dan ilahi. Sementara tubuh dipersiapkan bagi-Nya, demikian juga wadah bagi tubuh itu dipersiapkan pula. Sebelum Bunda Maria dapat menjadi Bunda Allah, dan guna menjadikannya seorang Bunda, ia disisihkan, dikuduskan, dipenuhi rahmat, dan dibentuk agar layak bagi kehadiran yang Kekal. Dan para bapa suci mempelajari dengan seksama ketaatan dan ketakberdosaan Bunda Maria dari kisah Kabar Sukacita, saat ia menjadi Bunda Allah. Sebab ketika malaikat menampakkan diri dan memaklumkan kepadanya kehendak Allah, para bapa suci mengatakan bahwa Bunda Maria menunjukkan teristimewa empat karunia kerendahan hati, iman, ketaatan dan kemurnian. Rahmat-rahmat ini merupakan prasyarat persiapan untuknya dalam menerima penyelenggaraan yang begitu luhur. Jadi, seandainya ia tidak mempunyai iman dan kerendahan hati dan kemurnian dan ketaatan, ia tidak akan memperoleh rahmat untuk menjadi Bunda Allah. Oleh sebab itu wajarlah dikatakan bahwa ia mengandung Kristus dalam benaknya sebelum ia mengandung Kristus dalam tubuhnya, artinya bahwa kebahagiaan iman dan ketaatan mendahului kebahagiaan menjadi seorang Bunda Perawan. Para bapa suci bahkan mengatakan bahwa Tuhan menantikan kesediaannya sebelum Ia datang ke dalam dirinya dan mengambil daging darinya. Sama seperti Ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan ajaib di suatu tempat sebab mereka tidak memiliki iman, demikian juga mukjizat agung ini, di mana Ia menjadi Putra dari makhluk ciptaan, ditangguhkan hingga ia dicoba dan didapati layak untuk itu - hingga ia taat sepenuhnya.

Ada satu hal lagi yang perlu ditambahkan di sini. Baru saja aku katakan bahwa kedua kebahagiaan tersebut tak dapat dipisahkan, bahwa keduanya itu satu. “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau,” dst.; “Yang berbahagia ialah,” dst. Memang benar demikian, tetapi perhatikanlah ini. Para bapa suci senantiasa mengajarkan bahwa dalam peristiwa Kabar Sukacita, ketika malaikat menampakkan diri kepada Bunda Maria, Santa Perawan menunjukkan bahwa ia memilih apa yang disebut Tuhan sebagai kebahagiaan yang terbesar dari antara kedua kebahagiaan itu. Sebab ketika malaikat memaklumkan kepadanya bahwa ia dipersiapkan untuk memperoleh kebahagiaan yang dirindukan para wanita Yahudi selama berabad-abad, untuk menjadi Bunda dari Kristus yang dinantikan, ia tidak menangkap kabar tersebut seperti yang dilakukan dunia, melainkan ia menanti. Ia menanti hingga dikatakan kepadanya bahwa hal tersebut bersesuaian dengan keadaannya yang perawan. Bunda Maria tidak bersedia menerima kehormatan yang paling mengagumkan ini, tidak bersedia hingga ia dipuaskan dalam hal ini, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Para bapa suci beranggapan bahwa ia telah mengucapkan kaul kemurnian, dan menganggap kesucian lebih tinggi daripada melahirkan Kristus. Demikianlah ajaran Gereja, menunjukkan dengan jelas bagaimana cermatnya Gereja memeriksa doktrin dari ayat Kitab Suci yang aku komentari ini, betapa mendalamnya Gereja memahami bahwa Bunda Maria merasakannya yaitu bahwa meskipun berbahagia rahim yang mengandung Kristus dan susu yang menyusui-Nya, namun demikian lebih berbahagialah jiwa yang memiliki rahim dan susu itu, lebih berbahagialah jiwa yang penuh rahmat, yang karena demikian dipenuhi rahmat diganjari dengan hak istimewa luar biasa dengan menjadi Bunda Allah. Sekarang, suatu pertanyaan lebih lanjut muncul, yang mungkin patut kita renungkan. Mungkin orang bertanya, mengapa Kristus tampaknya meremehkan kehormatan dan hak istimewa Bunda-Nya? Ketika perempuan itu mengatakan, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau”, dst. Ia sesungguhnya menjawab, “Ya.” Tetapi, Ia mengatakan, “Yang berbahagia ialah ...” Dan dalam suatu peristiwa lain, Ia menjawab ketika orang memberitahukan kepada-Nya bahwa ibu-Nya dan saudara-saudaranya berusaha menemui Dia, “Siapa ibu-Ku?” dst. Dan di masa yang lebih awal, ketika Ia mengadakan mukjizat-Nya yang pertama di mana Bunda-Nya mengatakan kepada-Nya bahwa para tamu dalam perjamuan nikah kekurangan anggur, Ia mengatakan: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, perempuan? Saat-Ku belum tiba.” Ayatayat ini sepertinya merupakan perkataan yang dingin terhadap Bunda Perawan, meskipun maknanya dapat dijelaskan secara memuaskan. Jika demikian, apa maknanya? Mengapa Ia berbicara demikian? Sekarang saya akan memaparkan dua alasan sebagai penjelasan: Pertama, yang segera muncul dari apa yang saya katakan adalah ini: bahwa selama berabad-abad para wanita Yahudi masing-masing mengharapkan untuk menjadi ibunda sang Kristus yang dinantikan, dan

tampaknya mereka tidak menghubungkannya dengan kekudusan yang lebih tinggi. Sebab itu, mereka begitu merindukan pernikahan; sebab itu pernikahan dianggap sebagai suatu kehormatan yang istimewa oleh mereka. Sekarang, pernikahan merupakan suatu penetapan Tuhan, dan Kristus menjadikannya suatu sakramen - namun demikian, ada sesuatu yang lebih tinggi, dan orang Yahudi tidak memahaminya. Seluruh gagasan mereka adalah menghubungkan agama dengan kesenangankesenangan dunia ini. Mereka tidak tahu, sesungguhnya, apa itu merelakan dunia ini demi yang akan datang. Mereka tidak mengerti bahwa kemiskinan lebih baik dari kekayaan, nama buruk daripada kehormatan, puasa dan matiraga daripada pesta-pora, dan keperawanan daripada perkawinan. Dan karenanya, ketika perempuan dari antara orang banyak itu berseru mengenai kebahagiaan rahim yang telah mengandung dan susu yang telah menyusui-Nya, Ia mengajarkan kepada perempuan itu dan kepada semua yang mendengarkan-Nya bahwa jiwa lebih berharga daripada raga, dan bahwa bersatu denganNya dalam Roh, lebih berharga daripada bersatu dengan-Nya dalam daging. Itu satu alasan. Alasan yang lain lebih menarik. Kalian tahu bahwa Juruselamat kita selama tigapuluh tahun pertama hidup-Nya di dunia tinggal di bawah satu atap dengan Bunda-Nya. Ketika Ia kembali dari Yerusalem pada usia duabelas tahun dengan Bunda-Nya dan St Yosef, dengan jelas dikatakan dalam Injil bahwa Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Pernyataan ini merupakan pernyataan tegas, tetapi asuhan ini, yang adalah kehidupan keluarga yang lazim, tidak untuk selamanya. Bahkan dalam peristiwa di mana penginjil mengatakan bahwa Ia hidup dalam asuhan mereka, Ia telah mengatakan dan melakukan hal yang dengan tegas menyampaikan kepada mereka bahwa Ia mempunyai tugas kewajiban yang lain. Sebab Ia meninggalkan mereka dan tinggal di Bait Allah di antara para alim ulama, dan ketika mereka menunjukkan ketercengangan mereka, Ia menjawab, “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Ini, menurutku, merupakan suatu antisipasi akan masa pewartaan-Nya, saat ketika Ia harus meninggalkan rumah-Nya. Selama tigapuluh tahun Ia tinggal di sana, tetapi sementara Ia dengan tekun menjalankan tugas kewajiban-Nya dalam rumah tangga yang menjadi tanggung-jawab-Nya, Ia begitu merindukan karya Bapa-Nya, saat ketika tibalah waktu bagi-Nya untuk melaksanakan kehendak Bapa. Ketika saat perutusan-Nya tiba, Ia meninggalkan rumah-Nya dan Bunda-Nya, dan meskipun Ia sangat mengasihinya, Ia tak mengindahkannya. Dalam Perjanjian Lama, kaum Lewi dipuji karena mereka tidak kenal lagi ayah ataupun ibu mereka ketika tugas dari Tuhan memanggil. Tentang mereka dikatakan sebagai “berkata tentang ayahnya dan tentang ibunya: aku tidak mengindahkan mereka; ia yang tidak mau kenal saudara-saudaranya dan acuh tak acuh terhadap anak-anaknya” (Ulangan 33). Jika demikian perilaku kaum imam di bawah Hukum, betapa terlebih lagi yang dituntut dari Imam agung sejati dari Perjanjian Baru guna memberikan teladan keutamaan tersebut yang didapati serta

diganjari dalam diri kaum Lewi. Ia Sendiri juga telah mengatakan: “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Dan Ia mengatakan kepada kita bahwa “setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Mat 19). Oleh sebab itu, Ia yang menetapkan perintah haruslah memberikan teladan dan seperti telah dikatakan-Nya kepada para pengikut-Nya untuk meninggalkan segala sesuatu yang mereka miliki demi Kerajaan Allah, Diri-Nya Sendiri harus melakukan segala yang Ia dapat, meninggalkan segala yang Ia miliki, meninggalkan rumah-Nya dan Bunda-Nya, ketika tiba saatnya Ia harus mewartakan Injil. Sebab itu, sejak saat awal pewartaan-Nya, Ia meninggalkan Bunda-Nya. Pada saat Ia melakukan mukjizat-Nya yang pertama, Ia menyatakannya. Ia melakukan mukjizat atas permintaan Bunda-Nya, tetapi secara tak langsung atau lebih tepat menyatakan, bahwa saat itulah Ia mulai memisahkan Diri darinya. Kata Yesus, “Mau apakah engkau dari padaKu, perempuan?” dan lagi, “Saat-Ku belum tiba”; yakni “akan tiba waktunya di mana Aku akan mengenalimu kembali, oh BundaKu. Akan tiba waktunya ketika engkau dengan sepantasnya dan dalam kuasa akan dipersatukan dengan-Ku. Akan tiba waktunya ketika atas permintaanmu, Aku akan melakukan mukjizat-mukjizat; akan tiba waktunya, tetapi bukan sekarang. Dan hingga tiba waktunya, Mau apakah engkau dari pada-Ku? Aku tidak mengenalmu. Untuk sementara waktu Aku telah melupakan engkau.” Sejak saat itu, kita tidak mendapati catatan mengenai perjumpaan-Nya dengan Bunda-Nya hingga Ia melihatnya di bawah salib. Ia berpisah dengannya. Satu kali Bunda-Nya berusaha menemui-Nya. Dikisahkan bahwa Ia tidak sendirian. Murid-murid ada di sekeliling-Nya. Bunda Maria tampaknya kurang suka ditinggalkan sendiri. Ia juga pergi mendapatkan-Nya. Pesan disampaikan kepada-Nya bahwa ibunda dan saudara-saudara-Nya berusaha menemui-Nya, tetapi tidak dapat mencapai-Nya karena orang banyak. Kemudian Ia mengatakan perkataan yang serius ini, “Siapakah ibu-Ku?” dst, artinya, seperti tampaknya, Ia telah meninggalkan segalanya demi melayani Tuhan, dan bahwa seperti Ia telah dikandung dan dilahirkan dari Santa Perawan demi kita, demikian pulalah Ia tidak mengindahkan Bunda-Nya yang Perawan demi kita, agar Ia dapat memuliakan Bapa Surgawi-Nya dan melakukan karya-Nya. Demikianlah perpisahan-Nya dengan Bunda Maria, tetapi ketika di salib Ia berkata, “Sudah selseai.” Saat perpisahan telah berakhir. Dan sebab itu, karena Bunda-Nya telah bergabung dengan-Nya, dan Ia, melihat Bunda-Nya, mengenalinya kembali. Waktunya telah tiba, dan Ia berkata kepadanya tentang St Yohanes, “Perempuan, inilah anakmu!” dan kepada St. Yohanes, “Inilah ibum!”

Dan sekarang, saudara-saudaraku, sebagai kesimpulan aku hanya akan mengatakan satu hal. Aku tidak ingin kata-kata kalian melebihi perasaan kalian yang sesungguhnya. Aku tidak menghendaki kalian mengambil buku-buku berisi puji-pujian kepada Santa Perawan dan mempergunakannya serta menirunya dengan tergesa tanpa merenungkannya. Melainkan, yakinlah akan hal ini, yaitu apabila kalian tidak dapat masuk ke dalam kehangatan buku-buku devosi asing itu, hal itu akan merupakan kelemahan bagimu. Menggunakan kata-kata yang kuat tidak berarti akan menyelesaikan masalah; hal ini merupakan suatu kesalahan yang hanya akan dapat diatasi secara perlahan-lahan, tetapi tetap merupakan suatu kelemahan. Bergantunglah pada cara kalian masuk ke dalam sengsara Putra yang adalah dengan masuk ke dalam sengsara Bunda. Tempatkanlah dirimu di bawah kaki salib, pandanglah Bunda Maria yang berdiri di sana, menengadah ke salib dan dengan jiwanya ditembusi pedang. Bayangkanlah perasaan-perasaan hatinya, jadikan itu perasaan hatimu. Jadikan ia teladanmu yang istimewa. Rasakanlah apa yang ia rasakan dan kalian akan dengan layak menangisi sengsara dan wafat Juruselamatmu dan Juruselamatnya. Teladanilah imannya yang bersahaja dan kalian akan percaya dengan baik. Berdoalah agar dipenuhi rahmat seperti yang dianugerahkan kepadanya. Sayang sekali, kalian pasti akan merasakan banyak perasaan seperti yang tak dimilikinya, perasaan atas dosa pribadi, atas penderitaan pribadi, atas tobat, atas penyangkalan diri, tetapi hal-hal ini dalam diri seorang berdosa pada umumnya akan disertai dengan iman, kerendahan hati, kesahajaan yang adalah perhiasannya yang utama. Menangislah bersama Bunda Maria, berimanlah bersamanya, dan pada akhirnya engkau akan mengalami kebahagiaannya seperti yang dimaksud dalam ayat Kitab Suci. Tak seorang pun sungguh-sungguh dapat memperoleh hak istimewanya yang khusus dengan menjadi Bunda Yang Mahatinggi, tetapi kalian akan ikut ambil bagian dalam kebahagiaanya yang lebih besar, yaitu kebahagiaan dalam melaksanakan kehendak Allah dan mentaati perintah-perintah-Nya. sumber : “Our Lady In The Gospel” by Cardinal John Henry Newman; Copyright © 1997 Catholic Information Network (CIN) - February 9, 1997; www.cin.org Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Information Network”

Yang Dikandung Tanpa Dosa
(Immaculate Conception)

8 DESEMBER : HR SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA

"Akulah Yang Dikandung Tanpa Dosa" "Que Soy Era Immaculada Conceptiou" "I Am The Immaculate Conception" Pesan Bunda Maria dalam suatu penampakan kepada St. Bernadette
Salah satu hal yang khas yang membedakan kita, umat Katolik, dari saudara-saudari kita yang Protestan adalah cinta dan penghormatan yang kita persembahkan kepada Bunda Yesus. Kita percaya bahwa Maria, sebagai Bunda Allah, sudah selayaknya memperoleh penghormatan, devosi dan penghargaan yang sangat tinggi. Salah satu dogma (dogma = ajaran resmi gereja yang dinyatakan secara meriah dengan kekuasaan Paus) Gereja Katolik mengenai Bunda Maria adalah Dogma Dikandung Tanpa Dosa. Pestanya dirayakan setiap tanggal 8 Desember. Masih banyak orang Katolik yang belum paham benar mengenai dogma ini. Jika kalian bertanya kepada beberapa orang Katolik, "Apa itu Dogma Dikandung Tanpa Dosa?", maka sebagian besar dari mereka akan menjawab, "Yaitu bahwa Yesus dikandung dalam rahim Santa Perawan Maria tanpa dosa, atau tanpa seorang bapa manusia." Jawaban demikian adalah jawaban yang salah yang perlu dibetulkan. Ya, tentu saja Yesus dikandung tanpa dosa karena Ia adalah Allah Manusia. Tetapi Dikandung Tanpa Dosa adalah dogma yang menyatakan bahwa Bunda Maria dikandung dalam rahim ibunya, Santa Anna, tanpa dosa asal. Bunda Maria adalah satu-satunya manusia yang dianugerahi karunia ini. Bunda Maria memperoleh keistimewaan ini karena ia akan menjadi bejana yang kudus dimana Yesus, Putera Allah, akan masuk ke dunia melaluinya. Oleh karena itu, Bunda Maria sendiri harus dihindarkan dari dosa asal. Sejak dari awal mula kehadirannya, Bunda Maria senantiasa kudus dan suci - betul-betul"penuh rahmat". Kita menggunakan kata-kata ini ketika kita menyapa Maria dalam doa Salam Maria, tetapi banyak orang yang tidak meluangkan waktu untuk memikirkan apa arti sebenarnya kata-kata ini. Ketika Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Bunda Maria untuk menyampaikan kabar sukacita, dialah yang pertama kali menyapa Maria dengan gelarnya yang penting ini, Lukas 1:28 "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."

Kata-kata "penuh rahmat" ketika diterjemahkan dari teks bahasa Yunani, sesungguhnya digunakan sebagai nama yang tepat untuk menyapa Maria. Istilah Yunani yang digunakan menunjukkan bahwa Maria dalam keadaan penuh rahmat atau dalam keadaan rahmat yang sempurna sejak dari ia dikandung sampai sepanjang hayatnya di dunia. Bukankah masuk akal jika Tuhan menghendaki suatu bejana yang kudus, yang tidak bernoda dosa untuk mengandung Putera-Nya yang Tunggal? Bagaimana pun juga, Yesus, ketika hidup di dalam rahim Maria, tumbuh dan berkembang sama seperti bayi-bayi lainnya tumbuh dan berkembang dalam rahim ibu mereka masingmasing. Ia menerima darah Maria dan menerima makanan untuk pertumbuhan-Nya dari tubuh Maria sendiri. Sebagian kaum Protestan menolak dogma ini dengan mengatakan bahwa Maria berbicara tentang "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku." Mengapa Maria memerlukan seorang Juruselamat, tanya mereka, jika ia tanpa noda dosa? Gereja mengajarkan bahwa karena Maria adalah keturunan Adam, maka menurut kodratnya ia mewarisi dosa asal. Hanya oleh karena campur tangan Allah dalam masalah yang unik ini, Maria dibebaskan dari dosa asal. Jadi, sesungguhnya Maria diselamatkan oleh rahmat Kristus, tetapi dengan cara yang sangat istimewa. Rahmat tersebut dilimpahkan ke atasnya sebelum ia dikandung dalam rahim ibunya. Kaum Protestan juga akan menyanggah dengan mengatakan bahwa dogma ini tidak sesuai dengan ayat Kitab Suci yang mengatakan bahwa "semua orang telah berbuat dosa" (Roma 3:23). Namun demikian, jika kita mempelajari masalah ini dengan sungguh-sungguh, kita akan menemukan beberapa pengecualian. Kitab Suci juga mengajarkan bahwa meskipun semua orang telah berbuat dosa, Yesus yang adalah sungguh-sungguh manusia tidak berbuat dosa. Logis jika kita melanjutkannya dengan mengatakan bahwa Maria juga tidak berdosa dan dihindarkan dari dosa asal agar ia dapat tetap senantiasa menjadi bejana yang kudus untuk mengandung bayi Yesus. Secara sederhana Dogma Dikandung Tanpa Dosa dapat dijelaskan sebagai berikut: Seperti kita ketahui, Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Tuhan memberikan kepada mereka apa saja yang mereka inginkan di Firdaus, Taman Eden. Tetapi Allah berfirman bahwa mereka tidak diperbolehkan makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Lucifer, raja iblis, datang kepada mereka dan

membujuk mereka makan buah pohon tersebut. Adam dan Hawa memakan buah itu; mereka tidak taat kepada Tuhan dan karenanya mereka diusir dari Firdaus. Oleh karena dosa pertama itu, semua manusia yang dilahirkan sesudah Adam dan Hawa mewarisi apa yang disebut "dosa asal". Itulah sebabnya, ketika seorang bayi lahir, ia segera dibaptis supaya dosa asal itu dibersihan dari jiwanya sehingga ia menjadi kudus dan suci, menjadi anak Allah. Ketika Tuhan hendak mengutus Putera-Nya, Yesus, ke dunia untuk menyelamatkan kita, Tuhan memerlukan kesediaan seorang perempuan yang kudus untuk mengandung Yesus dalam rahimnya. Tuhan memutuskan bahwa perempuan ini harus dibebaskan dari dosa asal Adam dan Hawa. Ia juga memutuskan bahwa perempuan ini haruslah seseorang yang istimewa serta amat suci dan kudus. Sama halnya seperti jika kalian mempunyai satu termos air jeruk segar, maka kalian tidak akan menuangkannya ke dalam gelas yang kotor untuk meminumnya, ya kan? Kalian akan menuangkan air jeruk segar itu ke dalam gelas yang bersih untuk meminumnya. Demikian juga Tuhan tidak ingin Putera Tunggal-Nya itu ditempatkan dalam rahim seorang perempuan berdosa. Oleh karena itulah, Tuhan membebaskan Maria dari dosa asal sejak Maria hadir dalam rahim ibunya, yaitu Santa Anna. Inilah yang disebut Dogma Dikandung Tanpa Dosa - memang suatu istilah yang sulit, tetapi artinya ialah Maria tidak mewarisi dosa Adam dan Hawa, sehingga Maria dapat menjadi seorang bunda yang kudus yang mengandung Yesus dalam rahimnya." sumber : “In Defense of the Blessed Virgin Mary”; www.qni.com/~catholic/defense.htm Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Diangkat ke Surga (Maria Assumpta)

15 AGUSTUS : HR SP MARIA DIANGKAT KE SURGA

"Yakinlah anakku, bahwa tubuhku ini, yang telah menjadi bejana bagi Sabda yang hidup, telah dihindarkan dari kerusakan makam. Yakinlah juga, bahwa tiga hari setelah kematianku, tubuhku itu dibawa oleh sayap-sayap malaikat menuju tangan kanan Putera Allah, di mana aku memerintah sebagai ratu." Pesan Bunda Maria dalam suatu penampakan kepada St. Antonius dari Padua
Dogma Santa Perawan Maria diangkat ke surga dirayakan untuk menghormati suatu kebenaran, yaitu bahwa setelah akhir hidupnya di dunia, Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya. Dalam Kitab Kejadian 5:24 dan 2 Raja-raja 2:1-12 Kitab Suci menceritakan bagaimana tubuh Henokh dan Elia diangkat ke surga. Jadi hal diangkat ke surga bukanlah hal baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Gereja tidak pernah menegaskan secara resmi apakah Bunda Maria benar-benar meninggal secara jasmani, meskipun banyak ahli yang beranggapan demikian. Baru-baru ini dalam suatu meditasi mingguan, Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa "Bunda tidak lebih tinggi dari Putera". Pernyataannya itu memperkuat keyakinan bahwa Maria mengalami kematian jasmani. Karena Yesus sendiri harus wafat, maka logis sekali jika kita beranggapan bahwa Bunda Maria juga wafat secara fisik sebelum ia diangkat ke surga. Karena kita yakin bahwa Bunda Maria dikandung tanpa dosa dan tetap "penuh rahmat" sepanjang hidupnya di dunia, logis juga jika kita beranggapan bahwa tubuh jasmaninya dihindarkan dari kerusakan setelah kematiannya. Seandainya Maria dimakamkan di suatu tempat di dunia ini, pastilah ada makamnya. Bunda Maria sangat dihormati dan dicintai oleh Gereja Perdana. Jemaat Gereja Perdana dengan cermat sekali menjaga reliqui

(Latin = peninggalan, yaitu tulang-belulang, pakaian dll peninggalan para kudus), jenasah serta barang-barang peninggalan para martir gereja. Kita mengetahui lokasi di mana Yesus dilahirkan, lokasi penyaliban, lokasi Yesus naik ke surga, serta banyak tempat-tempat penting lainnya yang berhubungan dengan kehidupan Kristus. Kita dapat mengenali tempattempat tersebut karena saudara-saudara kita dari Gereja Perdana meneruskan informasi tersebut kepada kita melalui Tradisi. Reliqui jemaat gereja perdana serta reliqui keduabelas rasul masih ada, demikian juga reliqui Kristus seperti Kain Kafan Turin dan potongan-potongan kayu dari Salib Kristus yang asli. Seandainya saja Bunda Maria mempunyai makam, tentulah makamnya akan dihargai serta dihormati oleh gereja. Karena, bukankah ia adalah Bunda Allah. Kenyataannya, tidak satu pun kota di mana Bunda Maria pernah tinggal, Efesus atau pun Yerusalem, yang menyatakan memiliki makam Maria. Mengapa demikian? Karena memang tidak ada makamnya di dunia. Kaum Protestan tidak setuju dengan dogma Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, meskipun mereka percaya bahwa kelak kita semua 'akan diangkat bersama-sama' dan 'menyongsong Tuhan di angkasa' (1 Tesalonika 4:17). Sebaliknya, umat Katolik percaya bahwa Maria diberi keistimewaan untuk lebih dulu diangkat ke surga. Dan mengapakah ia tidak boleh menerima keistimewaan seperti itu, tubuhnya - yang merupakan bejana kudus bagi bayi Yesus - dihindarkan dari kerusakan duniawi? Secara sederhana Dogma Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dapat dijelaskan sebagai berikut: Tentunya kita masih ingat dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa, yaitu bahwa Tuhan menciptakan Maria dalam rahim ibunya, Santa Anna, tanpa noda dosa asal. Tuhan menghendaki demikian supaya Maria dapat mengandung Yesus, yang adalah Putera Allah. Pada akhir hidup Maria di dunia, Tuhan memutuskan untuk melakukan sesuatu yang istimewa baginya. Tubuhnya tidak dimakamkan, tetapi Tuhan mengangkat tubuhnya ke surga. Inilah yang disebut Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Bunda Maria diangkat jiwa dan raganya ke surga agar ia dapat senantiasa bersama dengan Yesus. Sungguh suatu karunia yang amat istimewa yang dianugerahkan Tuhan kepada Maria, karena Tuhan amat mengasihinya. Sekarang Maria adalah Ratu Surga dan Bumi. Sementara Kitab Suci mengajarkan kita hal-hal yang terpenting, ada banyak keterangan serta informasi yang hanya kita peroleh melalui tradisi

gereja karena pada kenyataannya ada banyak hal yang tidak dicatat dalam Kitab Suci: Yohanes 20:30 "Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini." 2 Tesalonika 2:15 "Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis" Kuasa Gereja untuk menetapkan dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa dan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga datang dari kuasa mengajar yang dilimpahkan Yesus kepada Petrus dan para rasul. Kenyataan mengenai adanya ajaran-ajaran atau pun kejadian-kejadian yang tidak secara khusus dicatat di dalam Kitab Suci tidak berarti bahwa ajaranajaran atau pun kejadian-kejadian itu tidak ada. Gereja telah menetapkan dengan cermat dan tegas demi kepentingan kaum beriman karena Yesus telah berjanji kepada kita bahwa Ia akan membimbing dan mengajar Gereja-Nya dengan mutlak (tanpa salah) melalui para pemimpin gereja serta melalui Magisterium Gereja (Kuasa mengajar Gereja: tak dapat sesat dalam hal iman dan susila (moral) karena dilindungi oleh Allah Roh Kudus) sampai akhir zaman. sumber : In Defense of the Blessed Virgin Mary; www.qni.com/~catholic/defense.htm Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Tetap Perawan Selamanya
Adalah benar bahwa Maria tetap perawan sepanjang hidupnya dan tidak memiliki anak lain kecuali Yesus. Yesus dikandung dari Kuasa Roh Kudus dalam rahim Perawan Maria yang suci dan tak bernoda. Umat Katolik percaya bahwa Maria tetap perawan sepanjang hidupnya di dunia, tetapi sebagian besar orang Protestan berpendapat bahwa Maria mempunyai anak-anak lain selain Yesus. Kerumitan mengenai masalah tersebut timbul

karena adanya kurang lebih 10 ayat dalam Perjanjian Baru di mana digunakan istilah "saudara laki-laki" dan "saudara perempuan" Yesus (misalnya saja dalam Matius 13:55, Markus 3:31-34, Lukas 8:19-20). Dalam ayat-ayat Injil tersebut, istilah "saudara laki-laki dan saudara perempuan" diterjemahkan dari bahasa Yunani adelphos, adelphe atau adelphoi. Dalam bahasa Yunani istilah tersebut berarti saudara sepupu atau sanak saudara, yaitu mereka semua yang termasuk sanak saudara karena hubungan pernikahan atau hukum, meskipun bukan hubungan langsung. Persoalannya ialah bahasa Ibrani dan bahasa Aram, yaitu bahasa yang digunakan oleh Kristus dan murid-murid-Nya, tidak memiliki istilah khusus untuk menyebut saudara sepupu atau sanak saudara, jadi digunakan istilah "saudara laki-laki" dan "saudara perempuan". Suatu informasi kecil yang menarik dan amat penting artinya untuk membuktikan bahwa Yesus tidak memiliki saudara dan saudari kandung. Beberapa orang Rasul, St. Yudas Tadeus dan St. Yakobus, adalah saudara Yesus juga, tetapi mereka adalah saudara sepupu. Suatu bukti lain yang menguatkan bahwa Yesus tidak memiliki saudara dan saudari kandung tampak dari ayat-ayat Kitab Suci yang mengisahkan saatsaat menjelang ajal-Nya: Yohanes 19:25-27 "Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-muridNya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya." Jika saja benar bahwa Yesus memiliki saudara dan saudari kandung, maka sesuai adat orang Yahudi, tentulah Yesus menyerahkan pemeliharaan ibuNya kepada mereka. Tetapi yang terjadi ialah Yesus menyerahkan bundaNya kepada St. Yohanes Rasul, yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengan-Nya. Ini adalah suatu bukti nyata bahwa Yesus tidak memiliki saudara kandung, baik laki-laki maupun perempuan. Karena jika ada saudara dan saudari kandung-Nya, tentulah Yesus meminta mereka untuk merawat bunda-Nya setelah Ia wafat. Kemurnian amatlah penting artinya bagi Maria. St. Yosef juga menghormati prinsip Maria tersebut sepanjang hidup berkeluarga dengan Maria. St. Maria dan St. Yosef hidup dalam cinta kasih yang tulus suci sebagai saudara. Keduanya adalah teladan kesucian dan kemurnian yang

mengagumkan. Kita perlu lebih sering memohon pada mereka untuk menjadi pendoa bagi kita terutama dalam melewati masa remaja kita yang penuh dengan berbagai cobaan dan tantangan agar senantiasa mampu menjaga kemurnian kita masing-masing. sumber : In Defense of the Blessed Virgin Mary; www.qni.com/~catholic/defense.htm Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Perempuan Berselubungkan Matahari
oleh: P William P Saunders * . .

Pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, kita mendengarkan bacaan dari Kitab Wahyu yang mengisahkan seorang perempuan berselubungkan matahari, seorang Anak dan seekor naga. Apakah perempuan yang dimaksud adalah Bunda Maria? Seorang teman Protestan dalam pendalaman Kitab Suci mengatakan bukan. ~ seorang pembaca di Sterling Pertama-tama, marilah menyegarkan ingatan kita dengan ayat dari Kitab Wahyu 11:19 - 12:6, “Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat. Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah

mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan. Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.” Sejak jaman para bapa Gereja perdana, gambaran akan “perempuan berselubungkan matahari” ini mengandung tiga perlambang: bangsa Israel kuno, Gereja dan Bunda Maria. Mengenai bangsa Israel kuno, Yesaya menggambarkan Israel sebagai, “Seperti perempuan yang mengandung yang sudah dekat waktunya untuk melahirkan, menggeliat sakit, mengerang karena sakit beranak, demikianlah tadinya keadaan kami di hadapan-Mu, ya TUHAN” (Yes 26:17). Tentu saja, kita patut ingat juga bahwa dari bangsa Israel kunolah baik Bunda Maria maupun Mesias berasal. “Perempuan berselubungkan matahari” dapat juga melambangkan Gereja. Selanjutnya, dalam Kitab Wahyu bab 12 ayat 17, kita membaca, “Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.” “Keturunannya” adalah anak-anak Allah yang telah dibaptis, para anggota Gereja. Paus St. Gregorius menjelaskan, “Matahari melambangkan terang kebenaran, dan bulan melambangkan kefanaan hal-hal yang sementara sifatnya; Gereja yang kudus bagaikan berselubungkan matahari sebab Gereja dilindungi oleh kemuliaan kebenaran ilahi, dan bulan ada di bawah kakinya sebab ia berada di atas segala hal-hal duniawi” (Moralia, 34, 12). Terakhir, perempuan itu dapat diidentifikasikan sebagai Santa Perawan Maria. Bunda Maria melahirkan Juruselamat kita, Yesus Kristus. St. Bernardus menyatakan pendapatnya, “Matahari mengandung warna dan kemilau yang tetap; sementara cemerlang bulan tidak tetap dan berubah-ubah, tidak pernah sama. Adalah tepat, karenanya, apabila Maria digambarkan sebagai perempuan berselubungkan matahari, sebab ia masuk ke kedalaman kebijaksanaan ilahi, jauh, jauh lebih dalam daripada yang mungkin dapat dipahami manusia” (De B. Virgine, 2). Dalam mengidentifikasikan gambaran “perempuan berselubungkan matahari” sebagai Bunda Maria, muncullah kepenuhan atas gambaran bangsa Israel kuno dan Gereja. Mari kita berpikir tentang bangsa Israel

kuno. Ketika Malaikat Agung Gabriel menampakkan diri kepada Bunda Maria, ia memaklumkan (seperti dicatat dalam Kitab Suci), “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” (Luk 1:28). Selanjutnya, ia mengatakan, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Luk 1:30-33). Pernyataan ini merefleksikan nubuat Zefanya mengenai bangsa Israel kuno dan kedatangan Mesias, “Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem! TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi. Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: "Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu.” (Zef 3:16). Karena itu, Bunda Maria, Bunda sang Mesias, sebagai “perempuan berselubungkan matahari” mewakili kegenapan nubuat yang disampaikan kepada bangsa Israel. Demikian pula, Bunda Maria dipandang sebagai “perempuan berselubungkan matahari,” yang dengan tepat melambangkan Gereja, karena Bunda Maria adalah Bunda Gereja. St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia menegaskan, “…setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.” (4:45). Menguraikan hal ini, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (Lumen Gentium) Konsili Vatikan II, mengajarkan, “Sekaligus perawan dan bunda, Maria merupakan simbol dan realisasi paling sempurna dari Gereja: “Gereja … dengan menerima Sabda Allah dengan setia pula menjadi ibu juga. Sebab melalui pewartaan dan baptis, Gereja melahirkan bagi hidup baru yang kekal abadi putera-puteri yang dikandungnya dari Roh Kudus dan lahir dari Allah.” (No. 64). Lagipula, Konsili Vatikan II melanjutkan bahwa dengan diangkat ke surga dalam kemuliaan, Maria “menjadi citra serta awal Gereja yang harus mencapai kepenuhannya di masa yang akan datang.” (no. 68). Dan yang terakhir, pada akhir sesi ketiga Konsili Vatikan II, pada tanggal 21 November 1964, ketika Lumen Gentium telah diterbitkan, Paus Paulus VI menyatakan, “Kami memaklumkan Santa Perawan Maria sebagai Bunda Gereja, yaitu, ibu seluruh umat kristiani, baik umat beriman maupun para gembalanya, dan kita menyebutnya Bunda yang paling terkasih.” Sebab itu, Bunda Maria mewakili kegenapan gambaran akan Gereja: ia, yang adalah Bunda sang Juruselamat yang mendirikan Gereja, adalah bunda rohani dari mereka semua yang melalui pembaptisan diangkat sebagai anak-anak Allah dan anggota Gereja.

Baiklah kita mengutip ajaran Paus St. Pius X dalam ensikliknya, Ad Diem Illum Laetissimum (1904): "Setiap orang tahu bahwa perempuan ini adalah Perawan Maria… Yohanes, karenanya, melihat Bunda Allah yang Tersuci telah ada dalam kebahagiaan abadi, namun demikian menderita sakit bersalin dalam suatu persalinan yang misterius. Kelahiran apakah itu? Tentu saja kelahiran kita yang, meskipun masih berada di pembuangan, namun akan dilahirkan ke dalam belas kasih Allah yang sempurna dan ke dalam kebahagiaan kekal” (24). Ada beberapa alasan penting lainnya dalam mengidentifikasikan “perempuan berselubungkan matahari” sebagai Bunda Maria. Ayat yang dipertanyakan dimulai dengan wahyu akan Surga, Bait Suci, dan Tabut Perjanjian. Patut diingat bahwa dalam Perjanjian Lama, di dalam tabut perjanjian tersimpan loh-loh batu yang bertuliskan Sepuluh Perintah Allah, Hukum Allah dan Sabda Allah. Dalam Tabut Perjanjian juga tersimpan tongkat Harun dan sebuah buli-buli emas berisi segomer penuh manna (Kel 16:33, Bil 17:10, Ibr 9:4). Sementara bangsa Israel mengembara menuju Tanah Perjanjian, suatu awan, yang melambangkan kehadiran Tuhan, akan turun atas atau “menaungi” kemah di mana tabut perjanjian disimpan. Kelak, dalam Bait Suci di Yerusalem, tabut perjanjian disimpan di tempat yang mahakudus, bagian terdalam Bait Suci yang diyakini bangsa Yahudi sebagai tempat di mana Allah tinggal. Setelah gambaran tentang surga, bait suci dan tabut perjanjian, ayat selanjutnya menggambarkan “perempuan berselubungkan matahari.” Bunda Maria adalah Bunda Yesus, yang dikandungnya dari kuasa Roh Kudus. Seperti dimaklumkan Malaikat Agung Gabriel, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Luk 1:35). Hubungan antara Bunda Maria dan Bait Suci, tempat yang mahakudus dan tabut perjanjian menjadi jelas. Patut diingat juga bahwa ketika St. Yohanes mendapat penglihatan ini, tabut perjanjian telah hilang selama lebih dari 500 tahun. Nabi Yeremia telah menyembunyikannya guna mencegah tabut perjanjian dijarah dan dinajiskan oleh bangsa Babilon, dan menyatakan, “Tempat itu harus tetap rahasia sampai Allah mengumpulkan kembali umat serta mengasihaninya lagi.” (2 Mak 2:7). Dalam penglihatan ini, St. Yohanes melihat tabut perjanjian, dan kemudian ia melihat Bunda Maria. Bunda Maria membawa dalam rahimnya, Kristus, yang adalah Sabda Allah, Imam Agung yang sejati dan Roti Hidup. Sungguh, Bunda Maria adalah Tabut Perjanjian yang baru dari Perjanjian Baru, di mana Kristus sebagai imam akan menumpahkan darah-Nya dalam kurban salib. Jika “perempuan berselubungkan matahari” menunjuk pada Bunda Maria, lalu bagaimana dengan sakit bersalin yang disebutkan dalam Kitab Wahyu itu bisa cocok? Karena Bunda Maria bebas dari Dosa Asal, sebab ia dikandung tanpa dosa, Bunda Maria bebas dari sakit bersalin. Sakit itu, karenanya, pastilah menunjuk pada sakit yang ia alami ketika

ia berdiri di kaki salib (Yoh 19:25), sakit seperti dinubuatkan oleh Nabi Simeon saat Ia dipersembahkan di Bait Allah, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan -dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” (Luk 2:34-35). Yang menarik, St. Paulus juga berbicara mengenai “sakit bersalin” dalam mewariskan iman kepada jemaat, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.” (Gal 4:19). Jadi, sakit itu mengandung makna rohani, yaitu sakit dalam ikut ambil bagian dalam sengsara Kristus, dan sakit dalam menjadi Bunda Gereja dan menghantar yang lain kepada Putranya. Gambaran Bunda Maria sebagai “perempuan berselubungkan matahari” juga menggambarkan kemuliaannya yang digenapi saat ia diangkat ke surga. Paus Pius XII dalam "Munifentissimus Deus," maklumat tentang dogma Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, menyatakan bahwa para bapa Gereja perdana memandang “perempuan berselubungkan matahari” ketika menetapkan dasar Perjanjian Baru bagi iman (no. 27). Perlu dicatat, itulah sebabnya mengapa ayat yang dipertanyakan di atas dibacakan pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Lagipula, Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (Lumen Gentium) mengajarkan, “Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di sorga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan (lih. Why 19:16), yang telah mengalahkan dosa dan maut.” (No. 59). Perhatikan bahwa dalam mengeluarkan pernyataan ini, Konsili Vatikan II mengacu pada ayat dari Kitab Wahyu seperti ditanyakan di atas. Satu pokok pikiran terakhir untuk direnungkan: memahami segala uraian di atas mengenai topik ini, kita dapat melihat bagaimana Bunda Maria - peran dan gambarannya dalam ayat-ayat Kitab Wahyu ini menggenapi Perjanjian Lama. Oleh sebab itu, para bapa Gereja perdana mengidentifikasikan Maria sebagai “Hawa Baru.” Dalam bab ketiga Kitab Kejadian, Hawa pertama jatuh ke dalam pencobaan dengan ingin menjadi serupa dengan Tuhan, melanggar perintah Tuhan dan berbuat dosa. Sebaliknya, Bunda Maria penuh rahmat, bebas dari segala noda dosa. Saat Kabar Sukacita, ia mengatakan kepada Malaikat Agung Gabriel, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu,” menyerahkan diri secara total pada kehendak Allah (Luk 1:38). Melalui Hawa yang pertama, datanglah maut dan pintu gerbang surga ditutup; melalui Maria, datanglah kehidupan kekal yang dimenangkan oleh karya keselamatan Yesus. Hawa pertama disebut “ibu semua yang hidup,” Bunda Maria adalah sungguh Bunda dari mereka semua yang hidup secara rohani dalam keadaan rahmat.

Dan yang terakhir, setelah jatuhnya manusia ke dalam dosa, Tuhan bersabda kepada ular, setan, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya ….” (Kej 3;15). Dalam Kitab Wahyu, setan digambarkan sebagai seekor naga. Kata Ibrani `nahash' yang dipergunakan dalam Kitab Kejadian dapat berarti baik ular maupun naga. Juga, permusuhan antara Maria dan setan, antara keturunannya dan keturunan setan kita temukan dalam Kitab Wahyu. Gambaran Hawa Baru dihadirkan pada masa awal Gereja oleh St. Yustinus Martir, St. Ireneus dari Lyon, Tertulianus, St. Agustinus, St. Yohanes dari Damaskus, sekedar beberapa dari antara mereka, dan juga dipertegas dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja Konsili Vatikan II, Bab VIII, yang berjudul, “Santa Perawan Maria Bunda Allah”. Oleh sebab itu, “perempuan berselubungkan matahari,” seperti dilukiskan dalam Kitab Wahyu jelas merupakan suatu referensi yang indah akan peran Bunda Maria dalam karya keselamatan.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a
professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria. sumber : “Straight Answers: Woman Clothed with the Sun” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Santa Perawan Maria Mediatrix
oleh: P William P Saunders * . .

Mengapa Maria digelari sebagai “mediatrix”? ~ seorang pembaca di Lorton Konsili Vatikan Kedua mempersembahkan bab kedelapan dari “Konstitusi Dogmatis tentang Gereja” mengenai “Santa Perawan Maria Bunda Allah Dalam Misteri Kristus dan Gereja.” Karena Kristus terus melanjutkan karya dan misi penyelamatan-Nya melalui tubuh-Nya, yaitu Gereja, maka para bapa konsili, secara istimewa di bawah bimbingan Paus Paulus VI, memutuskan bahwa sungguh amat tepat menyampaikan peran Bunda Maria di sini sebab “ia dianugerahi kurnia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putera Allah, maka juga menjadi puteri Bapa yang terkasih dan kenisah Roh Kudus” (LG 53). Seluruh Gereja menghormati Maria sebagai anggota Gereja yang mahaunggul dan sangat khusus, dan sebagai teladan dalam iman, harapan dan kasih. Berdasarkan hal tersebut, Konsili Vatikan II sekali lagi mengulangi gelargelar Maria sebagai pengacara (advocata), pembantu (ajutrix), penolong (auxiliatrix), dan perantara (mediatrix) (LG 62). Menurut definisi dasarnya, seorang perantara adalah seorang yang bertindak sebagai penengah antara dua pihak yang berbeda. Seringkali, seorang perantara membantu melerai perbedaan-perbedaan dan membawa pihak-pihak tersebut ke dalam saling pengertian. Dengan memeriksa keterangan-keterangan mengenai Bunda Maria dalam Kitab Suci, kita akan mendapati peran sebagai “perantara” ini. Bunda Maria, disapa oleh Malaikat Agung Gabriel sebagai yang penuh rahmat di hadapan Tuhan, dan terpuji di antara wanita, mengandung dari kuasa Roh Kudus dan melahirkan Yesus Kristus; melalui “perantaraannya” Yesus masuk ke dalam dunia ini - sungguh Allah yang menjelma menjadi sungguh manusia. Dalam ayat-ayat Kitab Suci di mana ia disebutkan, Bunda Maria senantiasa menghadirkan Kristus kepada orang-orang lain: para gembala, para Majus, nabi Simeon dan pada pesta perkawinan di Kana. Bunda Maria berdiri di kaki salib, ambil bagian dalam sengsara Kristus, dan pada saat itulah Ia memberikan Bunda-Nya kepada kita sebagai Bunda kita dengan mengatakan kepada

St. Yohanes, “Inilah ibumu” (Yoh 19:27). Dan akhirnya, Maria ada bersama para rasul pada saat Pentakosta; ia - yang melahirkan Yesus ke dalam dunia ini - ada di sana pada saat kelahiran Gereja. Di akhir hidupnya, Maria diangkat jiwa dan badannya ke surga, yang merupakan kepenuhan janji akan kehidupan kekal bagi jiwa dan badan yang dijanjikan kepada semua orang percaya. “Kosntitusi Dogmatik tentang Gereja” menggambarkan hidupnya dengan baik dengan menyatakan, “ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya Juru Selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrati jiwa-jiwa” (LG 61). Dalam merefleksikan peran Maria sebagai Mediatrix, mukjizat yang terjadi dalam pesta perkawinan di Kana sungguh memainkan peran penting (bdk Yoh 2:1-12). Di sini, Maria sebagai seorang ibu menjadi perantara atas nama pasangan yang menikah, yang pestanya dapat berubah menjadi aib karena kekurangan anggur. Meskipun kepentingan yang demikian tampak kecil bagi keseluruhan rencana Injil, Maria datang sebagai penolong atas kebutuhan-kebutuhan manusia, membawanya, seperti diajarkan oleh Paus Yohanes Paulus II, “ke dalam lingkup tugas Kristus sebagai mesias dan kekuatan penyelamatan-Nya.” (Redemptoris Mater 21). Walaupun saatnya belum tiba bagi Kristus untuk melakukan mukjizat pertama-Nya, pada akhirnya Yesus mengubah kerangka waktu ilahi dan melakukannya juga karena kasih-Nya yang tulus kepada Bunda-Nya, Maria. Pikirkan betapa dahsyat kuasa doa-doa Bunda Maria! Bapa Suci kita menyimpulkan, “Jadi dalam hal itu ada suatu kepengantaraan: Maria menempatkan diri antara Puteranya dan umat manusia dalam situasi kekurangan, kebutuhan dan derita mereka. Dia menempatkan diri 'di tengah-tengah', yaitu dia berlaku sebagai perantara tidak sebagai orang luar, melainkan dalam kedudukannya sebagai seorang ibu. Maria sadar, bahwa sebagai ibu, dia dapat menyampaikan kepada Sang Putera, kebutuhan manusia dan bahkan, dia 'berhak' untuk berbuat demikian. Bahwa Maria berdiri di tengah antara Kristus dan manusia dengan demikian mengandung sifat sebagai pengantara: Maria 'menjadi perantara' bagi manusia. Dan itu belum semuanya: Sebagai seorang ibu ia juga menginginkan agar kekuasaan Puteranya sebagai mesias dinyatakan, yaitu kuasa penyelamatan-Nya, yang dimaksudkan untuk menolong manusia dalam kemalangannya, membebaskannya dari yang jahat, yang dalam berbagai bentuk dan taraf membebani hidup manusia.”(Redemptoris Mater No. 22). Sebab itu, kita dapat memandang Maria sebagai Mediatrix dalam tiga pengertian: Pertama, sebagai bunda penebus, Maria adalah perantara melalui mana Putra Allah masuk ke dalam dunia ini demi menyelamatkan kita dari dosa. Kedua, dengan kesaksian imannya sendiri dan dengan menghadirkan Kristus kepada yang lain, Maria membantu mendamaikan para pendosa dengan Putranya. Bunda Maria, tanpa dosa, namun demikian memahami sengsara yang diakibatkan dosa, terus-menerus memanggil para

pendosa kepada Putranya. Melalui teladannya, ia mendorong kita semua kepada iman, harapan dan kasih yang Tuhan kehendaki kita miliki. Dan akhirnya, karena ia diangkat ke surga dan karena perannya sebagai bunda bagi kita semua, Bunda Maria berdoa bagi kita, bertindak sebagai perantara atas nama kita seperti yang dulu dilakukannya di Kana, mohon pada Kristus untuk melimpahkan rahmat atas kita seturut kehendak-Nya. Tetapi, gelar dan peran Mediatrix ini, sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kristus yang tunggal itu (LG 60). Pengantaraan Kristus itu yang terutama, mencukupi Diri-Nya Sendiri, dan mutlak diperlukan bagi keselamatan kita, sementara perantaraan Bunda Maria sifatnya sekunder dan sepenuhnya tergantung pada Kristus. Konsili Vatikan menyatakan, “Pengantara kita hanya ada satu, menurut sabda Rasul: 'Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia' (1 Tim 2:5-6). Adapun peran keibuan Maria terhadap umat manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kristus yang tunggal itu, melainkan justru menunjukkan kekuatannya. Sebab segala pengaruh Santa Perawan yang menyelamatkan manusia tidak berasal dari suatu keharusan objektif, melainkan dari kebaikan ilahi, pun dari kelimpahan pahala Kristus. Pengaruh itu bertumpu pada pengantaraan-Nya, sama sekali tergantung dari padanya, dan menimba segala kekuatannya dari padanya.” (LG 60). Bahkan dalam pesta perkawinan di Kana, Maria mengatakan kepada para pelayan, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu!” karena ia tahu apa pun yang Kristus hendak lakukan pastilah baik dan benar adanya; Bunda Maria mengucapkan kata-kata yang sama kepada kita sekarang ini. Marilah mohon dengan sangat bantuan doa Bunda Maria. Semoga teladannya mendorong kita untuk senantiasa berjuang agar penuh rahmat, mohon pengampunan atas dosa serta menghadirkan Kristus kepada sesama melalui perkataan dan perbuatan kita. Dengan demikian, kita pun juga boleh menjadi serupa perantara, membawa orang-orang kepada Kristus melalui kesaksian hidup kita sendiri.

* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College
in Alexandria and pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls. sumber : “Straight Answers: Mary as Mediatrix” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2001 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Artikel khusus

Tujuh Duka Santa Perawan Maria
oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

dari: KEMULIAAN MARIA RISALAT IX

Dukacita Maria Dukacita Pertama: Nubuat Nabi Simeon Dukacita Kedua: Melarikan Yesus ke Mesir Dukacita Ketiga: Hilangnya Yesus di Bait Allah Dukacita Keempat: Perjumpaan Bunda Maria dengan Yesus saat Ia Menjalani Hukuman Mati Dukacita Kelima: Yesus Wafat Dukacita Keenam: Lambung Yesus Ditikam dan Jenazah-Nya Diturunkan dari Salib Dukacita Ketujuh: Yesus Dimakamkan
sumber : "Of the Dolours of Mary" by St. Alphonsus Liguori; Copyright © 1996 Catholic Information Network (CIN) - February 6, 1996; www.cin.org

Diperkenankan mengutip / menye

Dukacita Maria

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

Maria adalah Ratu Para Martir, oleh karena kemartirannya jauh lebih lama dan lebih dahsyat dari yang diderita semua martir lainnya.
Adakah orang yang sedemikian keras hatinya, yang tidak luluh mendengar peristiwa paling memilukan yang suatu ketika terjadi di dunia? Adalah seorang ibunda yang berbudi luhur dan kudus, yang memiliki seorang Putra Tunggal. Putranya itu adalah putra yang paling menawan hati yang dapat kita bayangkan - tak berdosa, berbudi luhur, menyenangkan, Yang mencintai Bunda-Nya dengan limpahan kasih sayang-Nya; demikian besar kasih-Nya itu hingga tak pernah sekali pun Ia mengecewakan bunda-Nya walau sedikit saja, melainkan senantiasa hormat, taat, dan penuh cinta mesra. Sebab itu bunda-Nya melimpahkan segala kasih sayangnya di dunia ini kepada Putranya. Dengarlah, apa yang kemudian terjadi. Putranya, karena iri hati, dituduh sewenangwenang oleh para musuh-Nya. Meskipun hakim tahu dan mengakui bahwa Ia tak bersalah, namun karena hakim takut dianggap menghina para musuh-Nya, ia menjatuhkan hukuman mati yang amat keji seperti yang dituntut para musuh-Nya itu. Bunda yang malang ini harus menanggung sengsara menyaksikan Putranya yang menawan dan terkasih itu direnggut darinya secara tidak adil dalam kemekaran usiaNya dengan kematian yang biadab; dengan dera dan siksa, dengan mencurahkan darah-Nya sehabis-habisnya. Ia dihancurbinasakan hingga wafat di kayu salib yang hina di tempat pelaksanaan hukuman mati di hadapan seluruh rakyat, dan itu semua terjadi di depan matanya. Jiwa-jiwa saleh, apa yang hendak kalian katakan? Tidakkah peristiwa ini, dan tidakkah Bunda yang malang ini layak menerima belas kasihan? Kalian tentu paham tentang siapakah aku berbicara. Putranya itu, yang dihukum mati secara keji adalah Yesus Penebus kita yang terkasih, dan Bunda-Nya adalah Santa Perawan Maria; yang karena cintanya kepada kita, rela menyaksikan Putranya dikurbankan bagi Keadilan Ilahi oleh kebiadaban manusia. Dukacita yang dahsyat ini, yang ditanggung Maria

demi kita, - dukacita yang lebih hebat dari dukacita seribu kematian, layak memperoleh baik belas kasihan maupun terima kasih kita. Jika kita tidak dapat membalas cinta yang sedemikian besar itu, setidaktidaknya marilah menyisihkan sedikit waktu pada hari ini untuk merenungkan betapa dahsyat dukacita yang menjadikan Maria Ratu Para Martir; oleh karena sengsaranya dalam kemartirannya yang hebat ini melampaui sengsara semua martir; karena, pertama-tama, terlama menurut ukuran waktu, dan kedua, terdahsyat menurut ukuran intensitas. Point pertama. Sama seperti Yesus disebut Raja Sengsara dan Raja Para Martir, sebab sengsara yang diderita-Nya semasa hidup-Nya jauh melampaui sengsara para martir, demikian juga Maria layak disebut Ratu Para Martir. Maria pantas digelari demikian sebab ia menanggung sengsara kemartiran yang paling ngeri sesudah Putranya. Karenanya, tepat jika Richard dari St. Laurensius menyebutnya “Martir dari para martir”; dan kepada Maria dapatlah dikenakan nubuat nabi Yeremia ini, “Ia mendirikan tembok sekelilingku, mengelilingi aku dengan kesedihan dan kesusahan”, artinya bahwa penderitaan itu sendiri, yang melampaui penderitaan semua martir dijadikan satu, adalah mahkota yang diberikan kepadanya sebagai Ratu Para Martir. Bahwa Maria adalah sungguh seorang martir tak dapat diragukan lagi, seperti yang ditegaskan oleh Denis Carthusian, Pelbart, Catharinus, serta yang lainnya. Merupakan pendapat yang tak dapat disangkal bahwa sengsara yang begitu hebat hingga dapat mengakibatkan kematian merupakan suatu kemartiran, meskipun kematian itu sendiri tidak terjadi. St. Yohanes Penginjil disebut martir, meskipun ia tidak mati ketika diceburkan ke dalam kuali berisi minyak mendidih, melainkan keluar dengan lebih semarak daripada saat ia masuk. St. Thomas mengatakan, “memiliki kemuliaan kemartiran sudah cukup untuk mempraktekkan ketaatan pada tingkatnya yang paling tinggi, yakni, taat sampai mati.” “Bunda Maria adalah seorang martir,” kata St. Bernardus, “bukan oleh pedang algojo, melainkan oleh kegetiran dukacita hatinya.” Tubuhnya tidak terluka oleh tangan algojo, tetapi hatinya yang tak bernoda ditembus dengan pedang dukacita akan sengsara Putranya; dukacita yang cukup hebat untuk mengakibatkan kematiannya, bukan sekali, tetapi beribu kali. Dari sini kita dapat memahami bahwa Bunda Maria bukan saja seorang martir sejati, tetapi bahkan kemartirannya melampaui kemartiran para martir lainnya; karena jangka waktunya lebih lama dari yang lainnya. Seluruh hidupnya dapat dikatakan sebagai suatu kematian yang panjang. “Sengsara Yesus,” demikian kata St. Bernardus, “dimulai sejak kelahiran-Nya”. Demikian juga Maria, dalam segala hal serupa dengan Putranya, menanggung kemartirannya sepanjang hidupnya. Di antara banyak arti nama Maria, demikian Beato (sekarang Santo) Albertus Agung menegaskan, salah satunya berarti 'laut pahit'. Jadi, pada Maria berlaku nubuat nabi Yeremia: “luas bagaikan laut reruntuhanmu.” Sama seperti laut seluruhnya pahit dan asin, demikian juga hidup Maria senantiasa dipenuhi kepahitan karena bayangan akan sengsara Sang Penebus yang senantiasa ada di benaknya. “Tak dapat diragukan lagi

bahwa dengan penerangan Roh Kudus dalam tingkat yang jauh melampaui segala nabi, Maria, yang jauh lebih unggul dari mereka, memahami nubuat-nubuat yang ditulis para nabi dalam Kitab Suci mengenai Mesias.” Hal ini tepat seperti yang dinyatakan malaikat kepada St. Brigitta. B. Albertus Agung menambahkan, “Santa Perawan, bahkan sebelum menjadi Bunda-Nya, paham bagaimana Sabda Yang Menjadi Daging harus menderita sengsara demi keselamatan manusia. Berbelas kasihan kepada Juruselamat yang tak berdosa ini, yang akan dijatuhi hukuman mati secara keji oleh karena kejahatan-kejahatan yang tidak Ia lakukan, bahkan pada saat itu Maria telah memulai kemartirannya yang hebat.” Dukacitanya meningkat tak terhingga ketika ia menjadi Bunda Sang Juruselamat. Jadi, bayangan ngeri akan beratnya sengsara yang harus diderita oleh Putranya yang malang, mengakibatkan Maria sungguh menderita suatu kemartiran yang panjang, kemartiran yang berakhir hingga akhir hayatnya. Hal ini dinyatakan dengan sangat jelas kepada Santa Brigitta dalam suatu penglihatan yang dialaminya ketika ia berada di Roma, dalam gereja Saint Mary Major, di mana Santa Perawan Maria bersama St. Simeon, dan seorang malaikat yang membawa sebilah pedang yang amat panjang, yang merah karena noda darah, menampakkan diri kepada St. Brigitta. Dengan cara demikian ditunjukkan kepadanya betapa panjang dan pahitnya dukacita yang menembus hati Bunda Maria sepanjang hidupnya. Maria berkata, “Jiwajiwa yang telah ditebus, dan anak-anakku yang terkasih, janganlah berbelas kasihan kepadaku hanya pada jam di mana aku menyaksikan Yesus-ku yang terkasih meregang nyawa di hadapan mataku; oleh sebab pedang dukacita yang dinubuatkan Simeon menembus jiwaku sepanjang hidupku: ketika aku menyusui Putraku, ketika aku menggendong-Nya dalam pelukanku, aku telah melihat kematian ngeri yang menanti-Nya. Bayangkan, betapa panjang dan pilunya sengsara yang harus kuderita.” Maria dapat berkata menggunakan kata-kata Daud ini, “Sebab hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah. Sepanjang hari aku berjalan dengan dukacita.” “Seluruh hidupku dilewatkan dalam dukacita dan airmata; karena deritaku, yang adalah kasih sayangku kepada Putraku terkasih, tak pernah lepas dari ingatanku. Aku selalu terbayang akan derita sengsara dan kematian yang suatu hari nanti harus ditanggung-Nya.” Bunda Ilahi sendiri mengungkapkan kepada St Brigitta bahwa bahkan sesudah wafat dan kebangkitan Putra-Nya, apa pun yang ia makan atau kerjakan, kenangan akan sengsara-Nya tertanam begitu kuat dalam ingatannya dan selalu segar dalam hatinya yang lembut. Sebab itu, Tauler mengatakan “Bunda Perawan melewatkan sepanjang hidupnya dalam dukacita yang terusmenerus,” karena hatinya senantiasa diliputi dukacita dan sengsara. Waktu, yang biasanya meringankan dukacita seorang yang dirundung duka, tidak dapat memulihkan Maria; tidak, malahan meningkatkan dukacitanya. Sementara Yesus, di satu pihak, bertambah usianya dan

senantiasa tampil semakin menawan serta penuh kasih karunia; demikian juga, di lain pihak, waktu kematian-Nya semakin dekat, dan dukacita senantiasa bertambah dan bertambah di hati Maria, karena bayangan akan kehilangan Dia di dunia ini. Malaikat mengatakan kepada St Brigitta, “Bagaikan mawar tumbuh di antara duri-duri, demikian juga Bunda Allah melewatkan tahun-tahun dalam duka; dan bagai duri-duri bertumbuh seiring dengan bertumbuhnya sang mawar, demikian juga duri-duri dukacita bertambah di hati Maria, mawar pilihan Allah, sementara ia bertambah dalam usia; dan semakin begitu dalam duri-duri itu menembus hatinya.” Setelah merenungkan kesepuluh dukacita Maria dalam hal waktu, mari kita melanjutkan ke point yang kedua dahsyatnya dukacita Maria dalam hal intensitas. Point kedua. Ah, Bunda Maria bukan hanya Ratu Para Martir oleh karena kemartirannya jauh lebih lama dari yang lainnya, tetapi juga karena kemartirannya jauh lebih dahsyat dari segala kemartiran lainnya. Namun demikian, siapa gerangan yang dapat mengukur kedahsyatannya? Nabi Yeremia tampaknya tak dapat menemukan dengan siapa kiranya ia dapat membandingkan Bunda Dukacita ini, ketika ia memikirkan dukacitanya yang begitu hebat saat kematian Putranya, “Apa yang dapat kunyatakan kepadamu, dengan apa aku dapat menyamakan engkau, ya puteri Yerusalem? Dengan apa aku dapat membandingkan engkau untuk dihibur, ya dara, puteri Sion? Karena luas bagaikan laut reruntuhanmu; siapa yang akan memulihkan engkau?” Kardinal Hugo, dalam sebuah uraian menanggapi pernyataan tersebut mengatakan “Oh Santa Perawan, bagaikan laut kepahitan melampaui segala kepahitan, demikian juga dukacitamu melampaui segala dukacita.” St. Anselmus menegaskan, “andai saja Tuhan tidak memelihara hidup Maria dengan mukjizat istimewa di setiap saat kehidupannya, dukacitanya yang begitu dahsyat itu pastilah telah mengakibatkan kematiannya”. Bernardinus dari Siena lebih jauh mengatakan, “dukacita Maria demikianlah dahsyat, hingga jika saja dukacita itu dibagi-bagikan di antara manusia, masingmasing bagian sudah cukup untuk menyebabkan kematian seketika.” Mari kita merenungkan alasan-alasan bagaimana kemartiran Maria jauh melampaui semua martir. Pertama-tama kita perlu ingat bahwa para martir menanggung penderitaan mereka, yang merupakan akibat siksa api dan alat-alat sarana lainnya di tubuh mereka. Bunda Maria menanggung penderitaannya dalam jiwanya, seperti dinubuatkan oleh St. Simeon, “dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri”. Seolah-olah orang tua kudus itu mengatakan, “Oh, Santa Perawan Tersuci, tubuh para martir akan dikoyakkan dengan besi, tetapi jiwamu akan ditembus olehnya, dan engkau akan menjadi martir karena jiwamu oleh Sengsara Putramu sendiri.” Karena jiwa lebih berharga daripada tubuh, betapa jauh lebih hebat penderitaan Maria dibandingkan para martir lainnya. Seperti yang dikatakan Yesus Kristus sendiri kepada St. Katarina dari Siena, “Penderitaan jiwa dan penderitaan badan tidak dapat dibandingkan.” Sementara Abas kudus, Arnoldus dari Chartres mengatakan, “siapa pun yang hadir di Bukit Kalvari, sebagai saksi atas kurban agung Anak Domba Tak Bercela, akan melihat dua altar besar,

yang satu adalah Tubuh Yesus, yang lain adalah Hati Maria, karena, di bukit itu, pada saat yang sama Putranya mempersembahkan Tubuh-Nya dengan wafat-Nya, Bunda Maria mempersembahkan jiwanya dengan belas kasihannya.” Lagi pula, St. Antonius mengatakan, “sementara para martir lain menderita dengan mengurbankan nyawa mereka sendiri, Santa Perawan menderita dengan mengurbankan nyawa Putranya, nyawa yang dikasihinya jauh melampaui nyawanya sendiri. Jadi, tidak saja Maria menderita dalam jiwanya semua yang diderita Putranya di Tubuh-Nya, tetapi lebih dari itu, menyaksikan derita dan sengsara Putranya mendatangkan dukacita yang lebih dahsyat di hatinya daripada jika ia sendiri yang harus menderita segala sengsara itu di tubuhnya.” Tidak seorang pun dapat meragukan bahwa Bunda Maria menderita dalam hatinya segala kekejian yang ia saksikan menimpa Putranya yang terkasih. Siapa pun dapat mengerti bahwa penderitaan anak-anak adalah juga penderitaan para ibu mereka yang menyaksikannya. St. Agustinus, merenungkan dukacita yang harus ditanggung si ibu dalam Kitab Makabe ketika menyaksikan penganiayaan atas putera-puteranya, mengatakan, “Ia, menyaksikan penderitaan mereka, juga menderita bagi setiap puteranya; sebab ia mengasihi mereka semuanya. Ia menderita dalam jiwanya apa yang diderita putera-puteranya dalam tubuh mereka.” Demikian juga, Bunda Maria menanggung segala siksa, aniaya, dera, mahkota duri, paku dan salib yang meremukkan tubuh Yesus yang tak berdosa. Semuanya itu pada saat yang sama meremukkan hati Sang Perawan untuk melengkapi kemartirannya. “Yesus menderita dengan daging-Nya dan Bunda Maria dengan hatinya,” tulis Beato Amadeus. “Begitu dahsyat,” kata St. Laurensius Giustiniani, “hingga hati Maria menjadi serupa cermin Sengsara Sang Putra, di mana dapat dilihat, tergambar dengan tepat dan jelas, ludah, pukulan dan tamparan, lukaluka, serta semuanya yang diderita Yesus.” St. Bonaventura juga mengatakan, “luka-luka itu - yang tersebar di sekujur tubuh Kristus semuanya dipersatukan dalam hati Maria.” Demikianlah Santa Perawan, melalui belas kasihan dari hatinya yang lembut kepada Putranya, didera, dimahkotai duri, dihina dan dipakukan pada kayu salib. St. Bonaventura ketika merenungkan Maria di Bukit Kalvari, menyaksikan wafat Sang Putra, bertanya kepadanya: “Oh Bunda, katakanlah kepadaku, di manakah engkau berdiri? Apakah hanya di kaki salib? Ah, jauh lebih dari itu, engkau berada di salib itu sendiri, disalibkan bersama Putramu.” Menanggapi kata-kata Sang Penebus seperti yang disuarakan oleh nabi Yesaya, “Aku seorang dirilah yang melakukan pengirikan, dan dari antara umat-Ku tidak ada yang menemani Aku!”, Richard dari St. Laurensius mengatakan, “Benar demikian, O Tuhan, bahwa dalam karya penebusan manusia Engkau menderita seorang diri, tak ada seorang pun yang berbelas kasihan kepada-Mu dengan pantas; hanya ada seorang wanita menyertai Engkau, dan ia adalah Bunda-Mu sendiri; ia menderita dalam hatinya segala yang Engkau derita dalam Tubuh-Mu.”

Tetapi semua perkataan itu terlalu sedikit untuk mengungkapkan dukacita Maria, sebab sejauh yang saya amati, ia jauh lebih menderita menyaksikan sengsara Putranya terkasih daripada jika ia sendiri yang harus menanggung segala kekejian dan wafat Putranya. Eramus, berbicara tentang para orangtua pada umumnya, mengatakan bahwa para orangtua akan lebih tersiksa menyaksikan penderitaan anak-anak mereka daripada mereka harus menanggung penderitaan itu sendiri. Pendapat tersebut tidak selalu benar, tetapi jelas terbukti dalam diri Bunda Maria. Tak diragukan lagi ia mengasihi Putranya dan hidup-Nya jauh melampaui hidupnya sendiri atau bahkan seribu kali hidupnya sendiri. Beato Amadeus dengan tepat menegaskan, “Bunda Dukacita, menyaksikan dengan pilu derita sengsara Putranya terkasih, menderita lebih dahsyat daripada jika ia sendiri yang harus menanggung segala Sengsara Kristus.” Alasannya jelas, seperti yang dikemukakan St. Bernardus, “jiwa lebih melekat pada yang dicintainya daripada di mana ia tinggal.” Kristus Sendiri telah mengatakan hal yang sama, “di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Jadi, jika Bunda Maria, oleh karena cintanya, lebih tinggal dalam diri Putranya daripada dalam dirinya sendiri, tentulah ia menanggung dukacita yang jauh lebih dahsyat dalam sengsara dan wafat Putranya daripada jika ia menanggung sengsara itu sendiri. Bunda Maria menanggung kematian paling keji di seluruh dunia yang telah ditimpakan kepadanya. Kita perlu mempertimbangkan suatu keadaan lain yang menjadikan kemartiran Maria jauh melampaui penderitaaan semua martir lainnya: yaitu, bahwa dalam Sengsara Yesus, Bunda Maria begitu menderita dan berduka, tanpa penghiburan sedikit pun. Para martir menderita karena siksa yang ditimpakan kepada mereka oleh para penganiaya; tetapi cinta Yesus menjadikan penderitaan mereka manis dan menyenangkan. St. Vincentius tubuhnya didera di tiang penderaan, dicabik-cabik dengan sepit, dicap dengan plat besi panas. St. Bonifasius tubuhnya dikoyakkan dengan kait-kait besi; buluh-buluh berujung runcing ditusukkan di antara kuku-kuku dan dagingnya; timah hitam cair dicekokkan ke dalam mulutnya; dan di tengah derita aniaya itu tak henti-hentinya ia berseru “Aku bersyukur kepada-Mu, O Tuhan Yesus Kristus.” St. Markus dan St. Marselinus diikatkan ke sebuah pancang, kaki mereka ditembusi paku; dan ketika penganiaya berkata kepada mereka “Hai orang-orang celaka, lihat keadaanmu kini, selamatkanlah dirimu dari penderitaan ini.” Maka, kedua orang kudus itu menjawab, “Dari siksa apa, penderitaan apakah yang engkau katakan itu? Belum pernah kami menikmati perjamuan begitu mewah seperti pada saat ini, di mana kami menderita dengan penuh sukacita demi cinta kepada Yesus Kristus.” St. Laurensius menderita aniaya; tetapi ketika sedang di panggang di pemanggangan, “api cinta dalam hatinya,” demikian menurut St. Leo, “lebih kuat menghibur jiwanya daripada api yang membakar tubuhnya.” Cinta begitu menguasainya hingga dengan berani St. Laurensius menggoda penganiayanya, “Jika engkau ingin memakan dagingku, sisi sebelah sini sudah matang, baliklah dan makanlah.” Tetapi, bagaimana mungkin, di tengah begitu banyak siksa dan aniaya, ketika meregang nyawa, orang

kudus itu bersukacita? “Ah!” jawab St. Agustinus, “mabuk oleh anggur cinta ilahi, ia tidak merasakan baik penderitaan maupun kematian.” Jadi, semakin para martir kudus itu mencintai Yesus, semakin sedikit mereka merasakan penderitaan dan kematian. Bayangan akan sengsara Yesus yang tersalib saja sudah cukup untuk menjadi penghiburan bagi mereka. Tetapi, apakah Bunda Dukacita kita juga terhibur oleh cintanya kepada Putranya, dan apakah bayangan akan sengsara-Nya menghibur hatinya? Ah, tidak! Justru Putranya yang menderita sengsara itulah yang menjadi sumber dukacitanya, dan cintanya pada Putranya adalah satu-satunya penganiayanya yang paling kejam. Kemartiran Maria sepenuhnya adalah menyaksikan dan berbelas kasihan terhadap Putranya yang terkasih dan yang tak berdosa, yang menderita begitu hebat. Jadi, semakin besar cintanya kepada Putranya, semakin pilu dan tak terhiburkan dukacitanya. “Karena luas bagaikan laut reruntuhanmu; siapa yang akan memulihkan engkau?” Ah, Ratu Surgawi, cinta telah meringankan penderitaan para martir lainnya serta memulihkan lukaluka mereka; tetapi siapakah gerangan yang akan meringankan dukacitamu yang pahit? Siapakah gerangan yang akan memulihkan luka-luka keji yang mengoyak hatimu? “Siapa yang akan memulihkan engkau?” Sebab, Putra yang dapat menjadi sumber penghiburan bagimu, oleh karena sengsara-Nya, justru telah menjadi sumber dukacitamu, dan cinta kasih yang engkau limpahkan kepada-Nya sepenuhnya merupakan penyebab kemartiranmu. Jadi, seperti para martir lain, demikian menurut Diez, semuanya dilambangkan dengan alat-alat penyiksa mereka - St. Paulus dengan pedang, St. Andreas dengan salib, St. Laurensius dengan alat pemanggang - Maria dilambangkan dengan jenasah Putranya dalam pelukannya. Sebab Yesus Sendiri-lah, dan hanya Ia sendiri, yang menjadi penyebab kemartiran Maria, oleh karena begitu besar kasihnya kepada Putra-nya. Richard dari St. Victor menegaskan dalam beberapa kata segala apa yang telah aku katakan: “Bagi para martir lain, semakin besar cinta mereka kepada Yesus akan semakin meringankan sengsara kemartiran mereka; tetapi bagi Santa Perawan, semakin besar cintanya kepada Yesus, semakin dahsyat sengsaranya dan semakin kejam kemartirannya.” Benar bahwa semakin kita mencintai sesuatu, semakin besar kesedihan yang harus kita tanggung apabila ketika kita kehilangan dia. Kita lebih berduka atas kematian seorang saudara daripada kematian seekor binatang beban; kita lebih berduka atas kematian seorang putera daripada kematian seorang teman. Kornelius a Lapide mengatakan, “agar dapat memahami dahsyatnya dukacita Maria pada saat wafat Putranya, kita perlu memahami besarnya kasihnya kepada-Nya.” Tetapi siapakah yang dapat mengukur kasih? Beato Amadeus mengatakan, “dalam hati Maria bersatu dua macam kasih bagi Yesus - kasih adikodrati, di mana ia mengasihi-Nya sebagai Allah-nya, dan kasih kodrati, di mana ia mengasihi-Nya sebagai Putranya.” Begitulah kedua macam kasih ini menyatu, begitu dalam, hingga William dari Paris mengatakan bahwa Santa Perawan “mengasihi-Nya sebanyak yang

mungkin dilakukan oleh suatu makhluk yang murni untuk mengasihiNya.” Richard dari St. Victor menegaskan, “karena tidak ada kasih seperti kasihnya, maka tidak ada dukacita seperti dukacitanya.” Dan jika kasih Maria terhadap Putranya demikian dahsyat, maka pastilah dahsyat pula dukacitanya saat ia kehilangan Putranya oleh karena wafat-Nya. “Di mana terdapat kasih terbesar,” demikian Beato Albertus Agung, “di sana pula terdapat dukacita terdahsyat.” Marilah sekarang kita membayangkan Bunda Ilahi berdiri dekat Putranya yang sedang meregang nyawa di salib, dan dengan demikian tepatlah dikenakan kepadanya kata-kata nabi Yeremia, “Acuh tak acuhkah kamu sekalian yang berlalu? Pandanglah dan lihatlah, apakah ada kesedihan seperti kesedihan yang ditimpakan TUHAN kepadaku.” O kalian yang melewatkan hari-hari kalian di bumi dan tidak berbelas kasihan terhadap aku, berhentilah sejenak dan pandanglah aku, sekarang aku menyaksikan Putraku terkasih meregang nyawa di hadapanku. Pandanglah dan lihatlah, di antara mereka semua yang berduka dan menderita, adakah dukacita yang seperti dukacitaku? “Tidak, o ibu yang paling menderita di antara segala ibu,” jawab St. Bonaventura, “tidak mungkin ditemukan dukacita yang lebih pilu daripada dukacitamu; sebab tidak mungkin ditemukan putra yang lebih terkasih daripada putramu.” Ah, “tak akan pernah ada putra yang lebih menawan hati di dunia ini daripada Yesus,” kata Richard dari St. Laurentius; “dan juga tidak akan pernah ada ibu yang mengasihi putranya lebih lemah lembut daripada Maria! Jadi, karena di dunia ini tidak pernah ada kasih seperti kasih Maria, bagaimana mungkin dapat ditemukan dukacita seperti dukacita Maria?” Karena itu St. Ildephonsus tanpa ragu menegaskan, “mengatakan bahwa dukacita Maria jauh melampaui segala penderitaan para martir lainnya digabung menjadi satu, mengungkapkan terlalu sedikit.” Dan St. Anselmus menambahkan, “aniaya paling keji yang menimpa para martir kudus merupakan hal sepele, atau bahkan tak ada artinya sama sekali, jika dibandingkan dengan kemartiran Maria.” St. Basilus dari Seleucia juga menulis, “bagaikan matahari melampaui semua planet lain dalam kemegahannya, demikian juga penderitaan Maria melampaui penderitaan semua martir.” Seorang penulis terpelajar menyimpulkannya dalam suatu pernyataan yang indah. Ia mengatakan bahwa begitu dahsyat dukacita Bunda yang lemah lembut ini dalam Sengsara Yesus, hingga Bunda Maria sendiri berbelas kasihan pada tingkat yang setara dengan wafat Tuhan yang menjadi manusia. Kepada Santa Perawan, St. Bonaventura bertanya, “Dan mengapakah, O Bunda, engkau juga mengurbankan dirimu sendiri di Kalvari? Tidakkah Tuhan yang Tersalib sudah cukup untuk menebus kami, mengapakah engkau, Bunda-Nya, hendak pula disalibkan bersama-Nya?” Sungguh, wafat Yesus lebih dari cukup untuk menyelamatkan dunia dan mendatangkan kehidupan kekal; akan tetapi Bunda yang amat baik ini, demi kasihnya kepada kita, berharap pula untuk membantu mendatangkan keselamatan bagi kita dengan penderitaannya yang ia

persembahkan bagi kita di Kalvari. Sebab itu, Beato Albertus Agung mengatakan, “sama seperti kita berhutang kepada Yesus atas Sengsara yang Ia derita demi cinta-Nya kepada kita, demikian juga kita berhutang kepada Maria, atas kemartiran yang dengan sukarela ia derita demi keselamatan kita dengan wafatnya Putra-nya.” Saya mengatakan sukarela, sebab, seperti yang diungkapkan St. Agnes kepada St. Brigitta, “Bunda kita yang lemah lembut dan penuh belas kasihan lebih suka menderita sengsara daripada membiarkan jiwa-jiwa kita tidak ditebus dan tinggal dalam kebinasaan kekal.” Sungguh, kita dapat mengatakan bahwa satu-satunya kelegaan Maria di tengah dukacitanya yang dahsyat dalam Sengsara Putra-nya adalah melihat dunia yang sesat ini ditebus oleh wafat-Nya dan hubungan manusia dengan Tuhan dipulihkan kembali. “Sementara berduka, Bunda Maria juga bersukacita,” demikian kata Simon dari Cascia, “bahwa satu kurban telah dipersembahkan sebagai tebusan bagi semua orang, dan dengannya murka Tuhan diredakan kembali.” Cinta Maria yang sedemikian besar pantas mendapatkan terima kasih dari pihak kita. Dan rasa terima kasih itu patut dinyatakan dengan setidak-tidaknya merenungkan dan berbelas kasihan kepadanya dalam dukacitanya. Namun demikian, Bunda Maria mengeluh kepada St. Brigitta bahwa begitu sedikit yang melakukannya dan sebagian besar dunia hidup dengan mengacuhkannya, “Aku melihat berkeliling kepada semua yang tinggal di bumi untuk melihat kalau-kalau ada yang menaruh belas kasihan kepadaku dan merenungkan dukacitaku; aku mendapati hanya sedikit sekali yang melakukannya. Sebab itu, putriku, meskipun aku telah dilupakan banyak orang, setidak-tidaknya engkau janganlah melupakan aku. Renungkanlah sengsaraku, dan teladanilah dukacitaku sebanyak yang engkau mampu.” Untuk memahami betapa menyenangkan bagi Bunda Maria jika kita merenungkan dukacitanya, kita hanya perlu tahu bahwa pada tahun 1239 Santa Perawan menampakkan diri kepada tujuh hambanya yang setia (yang di kemudian hari menjadi para pendiri Ordo Religius Pelayan-pelayan Maria), dengan jubah hitam di tangannya. Bunda Maria menghendaki agar mereka, jika mereka ingin menyenangkan hatinya, seringkali merenungkan dukacitanya. (Jubah hitam dikenakan untuk maksud ini, dan untuk mengingatkan mereka akan dukacitanya). Ia menyatakan keinginannya agar di kemudian hari mereka mengenakan gaun duka itu. Yesus Kristus Sendiri menampakkan diri kepada Beata Veronica da Binasco bahwa Ia, dan selamanya demikian, lebih suka melihat BundaNya yang memperoleh belas kasihan daripada Ia Sendiri. Kata-Nya kepada Veronica, “Puteri-Ku, air mata yang dicurahkan demi SengsaraKu menyenangkan Daku; tetapi, karena Aku mencintai Bunda-Ku Maria dengan kasih yang begitu dalam, renungan akan dukacita yang harus dideritanya pada saat wafat-Ku akan lebih menyenangkan Hati-Ku.” Rahmat-rahmat yang dijanjikan Yesus bagi mereka yang berdevosi kepada dukacita Maria sungguh luar biasa. Pelbert menceritakan bahwa kepada St. Elizabeth dinyatakan, yaitu sesudah Bunda Maria diangkat ke Surga, St. Yohanes Penginjil rindu untuk bertemu dengannya kembali.

Kerinduannya itu dipenuhi; Bundanya yang terkasih menampakkan diri kepadanya; dan bersamanya Yesus Kristus juga menampakkan diri. St. Yohanes kemudian mendengar Maria meminta Putra-nya untuk menganugerahkan rahmat-rahmat istimewa bagi mereka yang berdevosi kepada dukacitanya. Yesus berjanji kepada Bunda-Nya untuk menganugerahkan empat rahmat utama: Pertama, bahwa mereka yang sebelum ajalnya berseru kepada Bunda Ilahi atas nama dukacitanya akan memperoleh tobat sempurna atas dosa-dosanya. Kedua, Ia akan melindungi mereka semua yang mempraktekan devosi ini dalam pencobaan-pencobaan mereka, dan bahwa Ia akan melindungi mereka secara istimewa pada saat ajal mereka. Ketiga, Ia akan membangkitkan dalam benak mereka kenangan akan Sengsara-Nya, dan bahwa mereka akan memperoleh ganjaran untuk itu di surga. Keempat, Ia akan mempercayakan mereka yang dengan setia berdevosi ke dalam tangan Maria, dengan kuasa untuk memberikan kepada mereka apa pun yang ia kehendaki, dan untuk memperolehkan bagi mereka segala rahmat yang ia kehendaki. Sebagai bukti atas janji-Nya ini, marilah kita lihat contoh berikut ini, bagaimana ampuhnya devosi kepada dukacita Maria dalam membantu jiwa memperoleh keselamatan kekal. TELADAN Dalam penampakan-penampakan kepada St. Brigitta kita membaca tentang seorang kaya, seorang keturunan bangsawan, yang jahat dan hidup dalam dosa. Ia memberikan dirinya sebagai budak iblis. Selama enam puluh tahun berikutnya ia mengabdi iblis, hidup dengan cara demikian seperti yang dapat kita bayangkan dan tak pernah sekali pun menerima sakramen-sakramen. Sekarang, bangsawan ini mendekati ajalnya. Yesus Kristus, untuk menunjukkan belas kasihan-Nya, meminta St. Brigitta untuk mengatakan kepada bapa pengakuannya agar pergi mengunjungi sang bangsawan serta mendesaknya untuk mengakukan dosa-dosanya. Imam pergi, tetapi si sakit mengatakan bahwa ia tidak membutuhkan Sakramen Tobat karena ia telah sering menerimanya. Imam pergi untuk kedua kalinya; tetapi budak neraka yang malang ini bersikukuh pada kekerasan hatinya untuk tidak mengakukan dosadosanya. Yesus sekali lagi menyatakan kepada St. Brigitta keinginanNya agar imam datang kembali. Imam melakukannya; dan pada kesempatan ketiga ini, imam mengatakan kepada si sakit tentang penglihatan St. Briggita dan bahwa ia telah kembali berulang kali hanya karena Kristus, yang hendak menunjukkan kerahiman-Nya, memerintahkannya demikian. Mendengar ini, orang yang sedang

menghadapi ajal ini tersentuh hatinya dan mulai mengangis. “Tetapi, bagaimana,” teriaknya, “aku dapat diselamatkan. Aku, yang selama enam puluh tahun mengabdi iblis sebagai budaknya, dan jiwaku sarat dengan dosa-dosa yang tak terbilang banyaknya?” “Anakku,” jawab imam untuk membesarkan hatinya, “janganlah ragu; jika engkau menyesali dosa-dosamu, sebagai wakil dari pihak Allah, aku menjanjikan pengampunan.” Kemudian, setelah kepercayaan dirinya bangkit kembali, ia berkata kepada imam, “Bapa, aku memandang diriku sendiri sebagai orang yang sesat, dan sudah berputus asa untuk memperoleh keselamatan; tetapi sekarang aku merasakan kesedihan mendalam atas dosa-dosaku, yang meyakinkan aku. Dan karena Tuhan tidak meninggalkan aku, maka aku akan mengakukan dosa-dosaku.” Sesungguhnya, ia mengakukan dosanya empat kali pada hari itu, dengan tanda-tanda sesal dan tobat yang sungguh. Keesokan paginya ia menerima Komuni Kudus. Pada hari keenam, penuh rasa sesal dan pasrah, ia meninggal dunia. Sesudah kematiannya, Yesus Kristus kembali berbicara kepada St. Brigitta dan mengatakan kepadanya bahwa pendosa itu telah diselamatkan; bahwa ia sekarang berada dalam api penyucian, dan bahwa ia berhutang keselamatan jiwanya kepada Santa Perawan Bunda-Nya, sebab almarhum, meskipun hidup sesat dalam kejahatan, senantiasa berdevosi kepada dukacita Maria, dan setiap kali ia merenungkannya, ia berbelas kasihan kepada Sang Bunda. DOA O Bundaku yang berdukacita! Ratu para martir dan sengsara, adakah engkau menangisi Putramu dengan pilu, yang wafat demi keselamatanku? Tetapi, apakah gunanya air matamu itu bagiku jika aku sesat? Karenanya, berkat dukacitamu, perolehkanlah bagiku tobat sejati atas dosa-dosaku, dan keteguhan hati untuk mengubah hidupku, bersama dengan belas kasihan yang lembut dan terus-menerus demi sengsara Yesus dan demi dukacitamu. Dan, apabila Yesus dan engkau, yang tak berdosa, telah menderita begitu banyak demi kasih kepadaku, perolehkanlah bagiku agar setidak-tidaknya aku, yang layak menerima hukuman neraka, boleh menderita demi kasih kepada-Mu. O Bunda, bersama St. Bonaventura aku hendak mengatakan, “jika aku telah menghina engkau, demi keadilan lukailah hatiku; jika aku telah melayani engkau, sekarang aku mohon ganjarilah aku dengan luka-luka pula. Sungguh memalukan bagiku melihat Tuhan Yesus-ku penuh luka, dan engkau terluka bersama-Nya, sementara aku sendiri bersih tanpa suatu luka pun.” O Bundaku, melalui dukacita yang engkau derita saat menyaksikan Putra-mu menundukkan kepala-Nya dan wafat di kayu salib dalam siksa sengsara yang begitu keji, aku mohon kepadamu agar memperolehkan bagiku kematian yang bahagia. Ah, janganlah berhenti, O pembela para pendosa, menopang jiwaku yang menderita di tengah pertarungan yang harus dilaluinya dalam perjalanan panjangnya menuju ke keabadian. Dan, sementara mungkin bagiku kehilangan kemampuan berkata-kata, kehilangan kekuatan untuk menyerukan namamu dan Nama Yesus, yang adalah seluruh pengharapanku, maka aku

melakukannya sekarang; aku berseru kepada Putramu dan kepadamu untuk menolongku di saat-saat terakhir. Karenanya aku berkata, Yesus dan Bunda Maria, kepada-Mu kuserahkan jiwaku. Amin. sumber : "Of the Dolours of Mary" by St. Alphonsus Liguori; Copyright © 1996 Catholic Information Network (CIN) - February 6, 1996; www.cin.org Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Information Network” barluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Information Network”

Dukacita Pertama

Nubuat Nabi Simeon
oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

Dalam lembah airmata ini, setiap manusia dilahirkan untuk menangis, dan semua harus menderita, dengan menanggung kemalangankemalangan yang adalah peristiwa sehari-hari. Tetapi, alangkah jauh lebih hebatnya penderitaan hidup ini, andai saja kita mengetahui terlebih dahulu kemalangan-kemalangan yang menanti kita! “Betapa malangnya, sungguh, betapa berat penderitaan dia,” kata Seneca, “yang mengetahui kemalangan yang akan datang, sebab ia harus menderita semuanya sementara menanti.” Kristus menunjukkan belas kasihan-Nya kepada kita dalam hal ini. Ia menyembunyikan pencobaan-pencobaan yang menanti kita, sehingga, apa pun pencobaan itu, kita akan menanggungnya sekali saja. Namun demikian, Kristus tidak menunjukkan belas kasihan yang sama terhadap Bunda Maria; sebab dialah yang dikehendaki Tuhan menjadi Ratu Dukacita, dan seperti Putranya, dalam segala hal ia senantiasa telah melihat terlebih dahulu di depan matanya dan dengan demikian terus-menerus menanggung segala sengsara dan penderitaan yang menantinya; penderitaanpernderitaan itu adalah Sengsara dan Wafat Yesusnya yang terkasih; seperti di Bait Allah Nabi Simeon, sementara menatang Kanak-kanak Yesus dalam tangannya, menubuatkan kepada Maria bahwa Putranya

akan menjadi tanda yang menimbulkan perbantahan. “Sesungguhnya Anak ini ditentukan… untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan.” Dan karenanya, sebilah pedang dukacita akan menembus jiwanya, “dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.” Bunda Maria sendiri mengungkapkan kepada St. Matilda bahwa pada saat menerima nubuat Nabi Simeon ini, “segala sukacitanya berubah menjadi dukacita.” Sebab, seperti dinyatakan kepada St. Teresa, meskipun Bunda Maria telah mengerti bahwa hidup Putranya akan dikurbankan demi keselamatan dunia, namun demikian ia melihat secara lebih jelas dan lebih detail sengsara dan wafat keji yang menanti Putranya yang malang. Ia tahu bahwa Putranya akan ditolak dalam segala hal. Ditolak dalam ajaran-ajaran-Nya; bukannya dipercaya, Ia malahan dianggap seorang penghujat dengan mengajarkan bahwa Ia adalah Putra Allah; hal ini dimaklumkan oleh Kayafas yang kejam dengan mengatakan, “Ia menghujat Allah. Ia harus dihukum mati!” Ia ditolak dalam status-Nya; Ia seorang bangsawan, bahkan keturunan raja, tetapi dipandang rendah sebagai rakyat jelata, “Bukankah Ia ini anak tukang kayu?” “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria?” Ia adalah kebijaksanaan itu sendiri, tetapi diperlakukan sebagai orang dungu, “Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar!” Dianggap sebagai nabi palsu, “Lalu mulailah beberapa orang meludahi Dia dan menutupi muka-Nya dan meninju-Nya sambil berkata kepadanya: `Hai nabi, siapakah yang memukul Engkau?'” Ia diperlakukan sebagai orang yang tidak waras, “Ia kerasukan setan dan gila; mengapa kamu mendengarkan Dia?” Sebagai seorang peminum, pelahap dan sahabat orang-orang berdosa, “Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.” Sebagai tukang sihir, “Dengan penghulu setan Ia mengusir setan.” Sebagai seorang kafir dan kerasukan setan, “Bukankah benar kalau kami katakan bahwa Engkau orang Samaria dan kerasukan setan?” Singkat kata, Yesus dianggap amat cemar karena kejahatan-Nya, hingga, seperti yang dikatakan orang-orang Yahudi kepada Pilatus, pengadilan tak diperlukan lagi untuk menjatuhkan hukuman mati atas-Nya, “Jikalau Ia bukan seorang penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!” Ia ditolak bahkan dalam jiwa-Nya yang terdalam; oleh sebab Bapa-Nya yang Kekal, demi Keadilan Ilahi, menolak-Nya dengan tidak mengindahkan doa-Nya ketika Ia berdoa, “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku.” Bapa-Nya membiarkan Dia dalam keadaan takut, gelisah dan sedih; hingga Tuhan kita yang sengsara berseru, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya,” dan sengsara batin-Nya itu mengakibatkan-Nya meneteskan keringat darah. Ditolak dan dianiaya, pada tubuh-Nya dan sepanjang hidup-Nya; Ia dianiaya di seluruh anggota tubuh-Nya yang kudus, pada tangan-Nya, kaki-Nya, wajah-Nya, kepala-Nya dan sekujur tubuh-Nya; hingga dengan darah-Nya tercurah habis dan sebagai sasaran olok-olok dan makian, Ia wafat penuh sengsara di atas salib yang hina. Ketika Daud, di tengah segala kenikmatan dan kemuliaan kerajaannya, mendengar dari Nabi Natan bahwa puteranya harus mati, “Pastilah anak

yang lahir bagimu itu akan mati,” ia tidak dapat tenang, melainkan meratap, berpuasa dan berbaring di tanah. Bunda Maria dengan ketenangan yang luar biasa menerima nubuat bahwa Putranya harus mati, dan ia senantiasa berserah diri dalam damai akan hal itu; tetapi alangkah hebat dukacita yang harus terus-menerus dideritanya, melihat Putranya yang menawan ini selalu ada di dekatnya, mendengar dari-Nya sabda-sabda kehidupan kekal dan menyaksikan perilaku-Nya yang kudus! Abraham berduka luar biasa selama tiga hari yang ia lewatkan bersama puteranya, Ishak yang terkasih, setelah mengetahui bahwa ia harus kehilangan puteranya itu. Ya Tuhan, bukan selama tiga hari, melainkan tigapuluh tiga tahun lamanya Bunda Maria harus menanggung dukacita serupa. Serupa, kataku? Tidak, melainkan jauh lebih dahsyat, oleh sebab Putra Maria jauh lebih menawan daripada putera Abraham. Bunda Maria sendiri menampakkan diri kepada St Brigitta, mengatakan bahwa semasa di dunia, tak satu detik pun terlewatkan tanpa dukacita ini mengiris jiwanya. “Seringkali,” kata Bunda Maria, “saat aku memandangi Putraku, saat aku membedung-Nya dalam kain lampin, saat aku mengamati tangan dan kaki-Nya, begitu sering jiwaku larut, demikianlah, dalam dukacita yang pedih, karena pemikiran bagaimana Ia akan disalibkan kelak.” Abbas Rupert merenungkan Bunda Maria menyusui Putranya dan berkata tentang-Nya, “Buah hatiku bagaikan sekantong mur bagiku; Ia akan tinggal di antara buah dadaku.” Ah, Putraku, aku mendekap-Mu dalam pelukanku, sebab Engkau-lah jantung hatiku; tetapi semakin Engkau kukasihi, semakin Engkau menjadi sekantung mur dan dukacita bagiku apabila aku memikirkan sengsara-Mu. “Bunda Maria,” kata St Bernardinus dari Siena, “mencerminkan kekuatan para kudus yang diperas dalam penderitaan; keindahan Firdaus yang hilang pesonanya; Tuhan atas dunia yang diperlakukan sebagai penjahat; Pencipta segala sesuatu yang hitam lebam karena pukulan dan deraan; Hakim atas semua yang dijatuhi hukuman mati; Kemuliaan Surgawi yang dihinakan; Raja segala raja yang dimahkotai duri dan diperlakukan sebagai raja olok-olok.” Pastor Engelgrave menceritakan, dinyatakan kepada St Brigitta bahwa Bunda yang berduka telah mengetahui Putranya harus menderita sengsara, “saat menyusui-Nya, terbayanglah empedu dan cuka; saat membedung-Nya, terbayanglah tali-tali yang akan membelenggu-Nya, saat membuai-Nya dalam pelukan, terbayanglah salib di mana Ia akan dipakukan; saat melihat-Nya tertidur lelap, terbayanglah kematian-Nya.” Setiap kali mengenakan pakaian pada-Nya, terpikirlah oleh Bunda Maria bahwa akan tiba harinya di mana pakaian akan ditanggalkan dari tubuhNya, bahwa Ia akan disalibkan; dan apabila ia memandangi tangan dan kaki-Nya yang kudus, ia membayangkan paku-paku yang suatu hari nanti akan dipalukan menembusinya; dan, seperti yang dikatakan Bunda Maria kepada St Brigitta, “mataku bersimbah airmata, dan hatiku didera dukacita.” Para penginjil menulis bahwa sementara Yesus Kristus bertambah besar, Ia juga “bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” Karena Yesus makin dikasihi manusia, betapa

terlebih lagi Ia makin dikasihi Bunda-Nya Maria! Tetapi, ya Tuhan, sementara kasih bertambah dalam hatinya, betapa dukacita jauh lebih bertambah karena bayangan akan kehilangan Dia oleh kematian yang keji; dan semakin dekat saat sengsara Putranya, semakin dalam pedang dukacita, seperti yang dinubuatkan Nabi Simeon, menembus hati Bunda-Nya. Hal ini secara tepat diungkapkan oleh malaikat kepada St Brigitta, “Pedang dukacita itu setiap detik semakin mendekati Santa Perawan sementara saat sengsara Putranya semakin dekat.” Oleh sebab Yesus, Raja kita, dan Bunda-Nya yang Terkudus, tidak menolak, demi kasih kepada kita, untuk menderita sengsara yang demikian kejam sepanjang hidup mereka, maka pantaslah jika kita, sekurang-kurangnya, tidak mengeluh jika harus menderita sesuatu. Yesus yang tersalib, suatu ketika menampakkan diri kepada Sr Magdalena Orsini, seorang biarawati Dominikan yang telah lama menderita karena suatu pencobaan berat. Yesus memberinya semangat untuk tetap, dengan sarana penderitaannya itu, bersama-Nya di salib. Sr Magdalena menjawab dengan mengeluh, “Ya Tuhan, Engkau menderita sengsara di atas salib hanya selama tiga jam saja, sementara aku menanggung sengsaraku selama bertahun-tahun.” Sang Penebus kemudian menjawab, “Ah, jiwa yang bodoh, apakah yang engkau katakan? sejak saat pertama perkandungan-Ku, Aku menderita dalam hati-Ku segala yang kelak Aku derita sementara Aku meregang nyawa di atas salib.” Maka, jika kita juga menderita dan mengeluh, marilah kita membayangkan Yesus dan Bunda-Nya Maria, sambil mengucapkan katakata yang sama kepada diri kita sendiri. TELADAN Pastor Roviglione dari Serikat Yesus bercerita tentang seorang pemuda yang memiliki devosi setiap hari mengunjungi patung Bunda Dukacita, di mana Bunda Maria digambarkan dengan tujuh pedang menembusi hatinya. Pemuda malang ini suatu malam melakukan dosa berat. Keesokan harinya, saat mengunjungi Bunda Maria seperti biasanya, ia memperhatikan bahwa bukan lagi tujuh, melainkan delapan pedang yang menembusi hati Bunda Maria. Ia masih tercengang ketika didengarnya suara yang mengatakan bahwa dosanya telah menambahkan pedang kedelapan. Hal itu begitu menyentuh hatinya. Diliputi sesal mendalam, ia segera mengakukan dosanya dan dengan perantaraan Pembelanya ia dipulihkan kembali dalam keadaan rahmat. DOA Ya, Bunda Maria, bukan hanya sebilah pedang saja yang aku tikamkan pada hatimu, melainkan aku menikamkannya sebanyak dosa-dosa yang aku lakukan. Ah Bunda, bukan engkau yang tanpa dosa yang seharusnya menanggung segala derita itu, melainkan aku, yang bersalah atas begitu banyak dosa. Tetapi oleh karena engkau senantiasa

rela hati menderita begitu banyak demi aku, ya Bunda, demi jasajasamu, perolehkanlah bagiku rahmat sesal mendalam atas dosadosaku, dan ketekunan dalam menghadapi pencobaan-pencobaan hidup. Rahmat-rahmat itu akan senantiasa menjadi terang bagi segala kelemahan dan kekuranganku; oleh sebab aku seringkali lebih pantas mendapatkan neraka. Amin. sumber : "On the First Dolour, Of St. Simeon's Prophesy" by St. Alphonsus Liguori; Copyright © 1996 Catholic Information Network (CIN) - February 9, 1996; www.cin.org Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Information Network”

Dukacita Kedua

Melarikan Yesus ke Mesir
oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

Bagaikan seekor rusa yang terluka oleh panah membawa rasa sakit itu bersamanya kemanapun ia pergi, sebab ia membawa sertanya anak panah yang telah melukainya, demikian juga Bunda Allah. Setelah nubuat memilukan Nabi Simeon, seperti yang telah kita renungkan dalam dukacita pertama, Bunda Maria senantiasa membawa dukacita sertanya oleh karena kenangan terus-menerus akan sengsara Putranya. Hailgrino, menjelaskan baris bait ini, “Rambut di kepalamu, berwarna ungu raja, rapi terjalin,” mengatakan bahwa helai-helai rambut berwarna ungu ini adalah kenangan Bunda Maria yang terus-menerus akan sengsara Yesus, di mana darah yang suatu hari nanti memancar dari luka-luka-Nya senantiasa ada di depan matanya, “Dalam benakmu, ya Maria, dan dalam segala pemikiranmu, bayang-bayang darah sengsara Kristus senantiasa meliputimu dengan dukacita, seolah-olah engkau sungguh melihat darah memancar dari luka-luka-Nya.” Dengan demikian, Putranya sendiri merupakan anak panah di hati Maria;

semakin menawan Ia di hatinya, semakin amat dalamlah bayangan akan kehilangan Dia oleh kematian yang keji menyengsarakan hatinya. Sekarang marilah kita merenungkan pedang dukacita kedua yang melukai Maria dalam melarikan Bayi Yesus dari aniaya Herodes ke Mesir. Herodes, mendengar bahwa Mesias yang dinanti-nantikan telah lahir, dalam kebodohannya, ketakutan kalau-kalau Ia akan menggulingkannya dari kerajaan. St. Fulgentius, mencela kebodohan Herodes dengan mengatakan, “Mengapakah engkau gelisah, hai Herodes? Raja yang baru dilahirkan ini datang tidak untuk menaklukan raja-raja dengan pedang, melainkan menaklukkan mereka secara mengagumkan dengan wafat-Nya.” Herodes yang kafir, menanti kabar dari para Majus di mana sang Raja dilahirkan agar ia dapat segera mencabut nyawa-Nya. Sadar bahwa ia ditipu, Herodes memerintahkan agar semua bayi yang didapati di wilayah Betlehem dan sekitarnya dibunuh. Sementara itu, malaikat menampakkan diri dalam mimpi kepada St Yusuf, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir.” Menurut Gerson, St Yusuf segera, pada malam itu juga, menyampaikan perintah ini kepada Maria; dengan membawa Bayi Yesus, mereka memulai perjalanan mereka, seperti dengan jelas dicatat dalam Kitab Suci, “Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir.” “Ya Tuhan,” demikian kata Beato Albertus Agung atas nama Maria, “Haruskah Ia menyingkir dari manusia, Ia yang datang untuk menyelamatkan manusia?” Maka tahulah Bunda yang berduka bahwa nubuat Simeon mengenai Putranya sudah mulai digenapi, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan.” Menyadari bahwa segera sesudah kelahiran-Nya Ia dikejar-kejar untuk dibunuh, tulis St Yohanes Krisostomus, betapa isyarat pengungsian yang kejam atas dirinya dan Putranya itu telah mengakibatkan dukacita dalam hatinya, “Pergi dari para sahabat kepada orang-orang asing, dari Bait Allah ke kuil-kuil berhala. Adakah penderitaan yang lebih besar dari penderitaan seorang bayi yang baru dilahirkan, yang masih menyusu pada ibunya, dan ibundanya pula dalam keadaan miskin papa, dipaksa mengungsi bersamanya?” Siapa pun dapat membayangkan bagaimana Bunda Maria menderita dalam perjalanan ini. Jarak ke Mesir jauh. Sebagian besar penulis sepakat jaraknya kira-kira 300 mil, suatu perjalanan mendaki selama tigapuluh hari. Jalannya, menurut gambaran St Bonaventura, “tidak rata, tak lazim dan jarang dilewati.” Waktu itu musim dingin, jadi mereka harus berkelana dalam salju, hujan dan angin, melewati jalan-jalan yang becek dan licin. Maria seorang gadis muda belia berusia sekitar limabelas tahun yang lemah lembut, yang tak terbiasa dengan perjalanan yang demikian. Tak ada seorang pun menolong mereka. St Petrus Chrysologus mengatakan, “Yusuf dan Maria tidak mempunyai baik pelayan laki-laki maupun perempuan; mereka sendirilah sekaligus majikan dan pelayan.” Ya Tuhan, pastilah sungguh menyentuh hati melihat Perawan yang lemah lembut, dengan Bayi yang baru lahir dalam pelukannya, berkeliaran di padang dunia! “Tetapi bagaimana,” tanya St

Bonaventura, “mereka mendapatkan makanan? Di manakah mereka beristirahat pada malam hari? Adakah tempat menginap bagi mereka? Adakah yang mereka makan selain dari sepotong roti keras, entah bekal yang dibawa St Yusuf atau yang diterimanya sebagai sedekah? Di manakah gerangan mereka dapat tidur dalam perjalanan yang demikian (teristimewa 200 mil padang pasir, di mana tidak ada baik rumah ataupun penginapan), selain di atas pasir atau di bawah pohon di hutan, rentan terhadap cuaca dan bahaya penyamun serta binatang buas, yang sangat banyak terdapat di Mesir. Ah, andai saja ada yang berjumpa dengan tiga pribadi terbesar di dunia ini, yang sudi memberi tumpangan kepada tiga pengelana miskin yang malang.” Di Mesir, menurut Brocard dan Jansenius, mereka tinggal di daerah yang disebut Maturea; meskipun St Anselmus berpendapat bahwa mereka tinggal di kota Heliopolis, atau di Memphis, yang sekarang disebut Kairo kuno. Sekarang, marilah kita merenungkan kemiskinan sangat yang menurut St Antonius, St Thomas, serta yang lainnya, pastilah mereka alami selama tujuh tahun mereka di sana. Mereka adalah orang asing, tak dikenal, tanpa penghasilan, uang, ataupun sanak saudara, semata-mata bertahan hidup dari perjuangan mereka yang gigih. “Karena mereka melarat,” kata St Basilus, “pastilah mereka berjuang keras guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” Landolph dari Saxony lebih jauh menulis (dan biarlah hal ini menjadi penghiburan bagi kaum miskin), bahwa “Maria tinggal di sana dalam kemiskinan yang sangat hingga terkadang ia bahkan tak mempunyai sebongkah roti pun untuk diberikan kepada Putranya, saat Ia memintanya karena lapar.” Setelah Herodes mangkat, demikian St Matius mencatat, malaikat menampakkan diri lagi kepada St Yusuf dalam mimpi dan memintanya kembali ke Yudea. St Bonaventura menganggap kepulangan ini menyebabkan penderitaan yang lebih besar bagi Santa Perawan mengingat Yesus telah bertambah besar, usianya sekitar tujuh tahun, demikian menurut orang kudus ini, di mana, “Ia terlalu besar untuk digendong, tetapi belum cukup kuat untuk berjalan jauh sendiri tanpa pertolongan.” Gambaran akan Yesus dan Maria yang berkelana sebagai pengembara di dunia, mengajarkan kepada kita agar kita pun selayaknya hidup sebagai pengembara di dunia ini, lepas dari keterikatan terhadap barang-barang yang ditawarkan dunia; kita akan segera meninggalkan dunia ini untuk memasuki keabadian, “Yang kita punyai sekarang bukanlah kota abadi, tetapi carilah kota abadi yang akan datang.” St Agustinus menambahkan, “Kalian adalah pengembara; kalian singgah, dan kemudian berlalu.” Hal ini juga mengajarkan kita untuk memeluk salibsalib kita, sebab tanpa salib kita tak dapat hidup di dunia ini. Beata Veronica da Binasco, seorang biarawati Agustinian, dibawa dalam roh untuk menemani Bunda Maria dan Bayi Yesus dalam perjalanan mereka ke Mesir; sesudahnya Bunda Allah mengatakan, “Puteriku, engkau telah melihat betapa dengan susah payah kami mencapai negeri ini; sekarang ketahuilah bahwa tak seorang pun menerima rahmat tanpa

penderitaan.” Siapa pun yang berharap untuk merasakan penderitaan hidupnya lebih ringan, hendaknya menyertai Yesus dan Maria, “Ambillah Anak serta Ibu-Nya.” Maka segala beban derita terasa ringan, dan bahkan manis serta menyenangkan bagi dia, yang karena kasihnya menempatkan Putra dan Bunda dalam hatinya. Maka, marilah kita mengasihi Mereka; marilah kita menghibur Bunda Maria dengan menyambut dalam hati kita Putranya, yang bahkan hingga kini masih terus-menerus dianiaya oleh manusia dengan dosa-dosa mereka. TELADAN Santa Perawan suatu hari menampakkan diri kepada Beata Koleta, seorang biarawati Fransiskan, serta memperlihatkan kepadanya Bayi Yesus dalam sebuah buaian dalam keadaan terkoyak-koyak, dan mengatakan, “Beginilah para pendosa terus-menerus memperlakukan Putraku, memperbaharui kematian-Nya dan mengoyak hatiku dengan dukacita. Puteriku, berdoalah bagi mereka agar mereka bertobat.” Penampakan serupa dialami Venerabilis Joanna dari Yesus dan Maria, seorang biarawati Fransiskan juga. Suatu hari ia sedang merenungkan Bayi Yesus yang dianiaya Herodes ketika ia mendengar suara amat ribut, seakan-akan prajurit-prajurit bersenjata sedang mengejar seseorang; sekejap kemudian ia melihat di hadapannya seorang Anak yang sungguh elok paras-Nya, yang berlari terengah-engah sambil berseru, “O Joanna-Ku, tolonglah Aku, sembunyikanlah Aku! Aku Yesus dari Nazaret; Aku melarikan diri dari para pendosa yang hendak membunuh-Ku dan menganiaya-Ku seperti yang dilakukan Herodes. Sudikah engkau menyelamatkan Aku?” DOA Ya Bunda Maria, bahkan setelah Putramu wafat di tangan orang-orang yang menyiksa-Nya hingga tewas, orang-orang yang tak tahu berterima kasih ini belum juga berhenti menganiaya-Nya dengan dosa-dosa mereka dan terus-menerus mendukakan engkau, ya Bunda yang berduka! Dan, ya Tuhan, aku juga salah seorang dari mereka. Ah, Bundaku yang penuh kasih sayang, perolehkan bagiku airmata guna menangisi sikap tak tahu terima kasihku. Demi sengsara yang engkau derita selama perjalananmu ke Mesir, tolonglah aku dalam perjalanan yang aku lalui sekarang ini menuju keabadian; dengan demikian pada akhirnya aku akan dapat bersatu denganmu dalam mengasihi Juruselamat-ku yang teraniaya dalam Kerajaan Terberkati. Amin. sumber : "On the Second Dolour, Of the Flight of Jesus to Egypt" by St. Alphonsus Liguori; Copyright © 1996 Catholic Information Network (CIN) - February 9, 1996; www.cin.org

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Information Network”

Dukacita Ketiga

Hilangnya Yesus di Bait Allah
oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

Rasul St Yakobus mengatakan bahwa kesempurnaan dapat dicapai dengan ketekunan. “Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” Kristus memberikan Santa Perawan Maria kepada kita sebagai teladan kesempurnaan, oleh sebab itu perlulah ia ditempa derita agar dalam dia kita dapat mengagumi ketekunannya yang gagah berani dan berusaha meneladaninya. Dukacita yang kita renungkan sekarang ini adalah penderitaan terdahsyat yang harus dialami Bunda Maria dalam hidupnya, kehilangan Putranya di Bait Allah. Ia, yang terlahir buta, merasa menderita karena tak dapat melihat terang; tetapi ia, yang dulu biasa menikmati terang dan sekarang tak lagi dapat menikmatinya karena menjadi buta, merasa jauh lebih menderita. Demikian juga halnya dengan jiwa-jiwa yang malang, yang dibutakan oleh gemerlapnya dunia ini, hanya sedikit mengenal Tuhan, mereka menderita, tetapi sedikit saja, saat tak dapat menemukan-Nya. Tetapi, sebaliknya, ia yang diterangi oleh terang surgawi, telah menjadi layak karena kasih untuk menikmati kehadiran mesra yang Maha Pengasih. Ya Tuhan, betapa pahit dukacitanya apabila ia mendapati dirinya terpisah daripada-Mu! Sekarang, mari kita lihat betapa pastilah Bunda Maria menderita karena pedang dukacita ketiga yang menembus jiwanya, yaitu saat kehilangan Yesus di Yerusalem selama tiga hari, ia terpisah dari kehadiran-Nya yang amat mempesona, sementara ia biasa menikmatinya. St Lukas mencatat dalam bab dua Injilnya bahwa Bunda Maria dengan St Yusuf, suaminya, dan Yesus, tiap-tiap tahun biasa pergi ke Bait Allah

pada hari raya Paskah. Pada waktu Putranya berusia duabelas tahun, Bunda Maria pergi seperti biasanya, dan Yesus tanpa sepengetahuannya tinggal di Yerusalem. Bunda Maria tidak langsung menyadari hal itu, ia beranggapan bahwa Yesus ada bersama yang lainnya. Setibanya di Nazaret, ia mencari Putranya, tetapi tidak mendapatkan-Nya. Segera ia kembali ke Yerusalem untuk mencari-Nya, dan setelah tiga hari barulah ia mendapatkan-Nya. Sekarang marilah kita merenungkan betapa gelisah Bunda yang berduka ini selama tiga hari sementara ia mencari-cari Putranya. Bersama pengantin dalam Kidung Agung ia bertanya tentang-Nya, “Apakah kamu melihat jantung hatiku?” Tetapi, tak didapatkannya kabar berita tentang-Nya. Oh, sungguhlah besar duka dalam hati Maria, dikuasai rasa letih, namun belum juga menemukan Putranya terkasih, ia mengulang kata-kata Ruben mengenai saudaranya, Yusuf, “Anak itu tidak ada lagi, ke manakah aku ini?” “Yesus-ku tidak ada dan aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan untuk menemukan-Nya; tetapi ke manakah aku hendak pergi tanpa jantung hatiku?” Dengan airmata menetes tak henti, diulanginya katakata ini bersama Daud sepanjang tiga hari itu, “Airmataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: `Di mana Allahmu?'” Sebab itu, Pelbart, bukan tanpa alasan mengatakan bahwa `pada malam-malam itu Bunda yang berduka tidak dapat memejamkan mata; terus-menerus ia meneteskan airmata, memohon dengan sangat kepada Tuhan agar Ia menolongnya menemukan Putranya.” Seringkali, selama masa itu, menurut St Bernardus, Bunda Maria memanggil Putranya dengan menggunakan kata-kata pengantin dalam bait ini, “Tunjukkanlah kepadaku, jantung hatiku, di mana engkau menggembalakan domba, di manakah engkau pada petang hari, agar aku segera pergi mencari.” Putraku, katakan di manakah Engkau berada, agar aku tak lagi berkeliling mencari Engkau dengan sia-sia. Sebagian orang menegaskan, dan bukan tanpa alasan, bahwa dukacita ini bukan hanya salah satu yang terbesar, melainkan yang paling dahsyat dan paling menyakitkan dari yang lainnya. Sebab, pertama, Bunda Maria dalam dukacitanya yang lain, ada bersama Yesus: ia berduka saat Nabi Simeon menyampaikan nubuat kepadanya di Bait Allah; ia berduka dalam pengungsian ke Mesir, tetapi semuanya itu dilaluinya bersama Yesus. Tetapi, dalam dukacitanya yang ini, Bunda Maria berduka terpisah dari Yesus, bahkan tak tahu di mana Ia berada, “cahaya matakupun lenyap dari padaku.” Sebab itu, sambil menangis ia mengatakan, “Ah, cahaya mataku, Yesus terkasih, tidak lagi bersamaku; Ia jauh dariku dan aku tidak tahu kemanakah gerangan Ia pergi.” Origen mengatakan bahwa karena kasih sayang yang dilimpahkan Bunda Tersuci ini kepada Putranya, “ia menderita jauh lebih hebat atas kehilangan Putranya Yesus daripada yang pernah ditanggung para kudus manapun dalam perpisahan jiwa dari raganya.” Ah, betapa lamanya masa tiga hari itu bagi Maria; serasa tiga abad lamanya, dan seluruhnya kepahitan belaka, oleh sebab tak ada yang mampu menghiburnya. Dan siapakah yang dapat menghiburku, demikian katanya bersama Nabi Yeremia, siapakah yang dapat menenangkan

hatiku, sebab Ia seorang, yang dapat melakukannya, berada jauh dariku dan karenanya mataku tak akan pernah cukup mencucurkan air mata. “Karena inilah aku menangis, mataku mencucurkan air; karena jauh dari padaku penghibur yang dapat menyegarkan jiwaku.” Dan bersama Tobit ia mengulang, “Adakah sukacita bagiku yang duduk dalam kegelapan dan tidak melihat cahaya surgawi?” Alasan kedua, Bunda Maria, dalam semua dukacitanya yang lain, memahami benar bahwa alasannya adalah demi penebusan umat manusia, yaitu kehendak Allah; tetapi dalam dukacitanya yang ini, ia tidak memahami alasan hilangnya Putranya. “Bunda yang berduka,” kata Lanspergius, “bersedih hati atas tiadanya Yesus, sebab dalam kerendahan hatinya, ia menganggap dirinya tak pantas lagi untuk tetap tinggal bersama ataupun merawat-Nya di dunia ini dan menerima tanggung jawab atas harta pusaka yang luar biasa itu.” “Dan siapa tahu,” demikian pikirnya dalam hati, “mungkin aku tidak melayani-Nya seperti yang seharusnya; mungkin aku bersalah karena lalai, sebab itu Ia meninggalkanku.” “Mereka mencari-Nya,” kata Origen, “kalau-kalau sekiranya Ia telah meninggalkan mereka sama sekali.” Suatu hal yang pasti bahwa bagi jiwa yang mengasihi Tuhan, tak ada kesedihan yang lebih besar daripada takut mengecewakan-Nya. Sebab itu, hanya dalam dukacita ini saja Bunda Maria mengeluh; secara halus ditegurnya Yesus setelah ia menemukan-Nya, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Dengan kata-katanya ini Bunda Maria tidak bermaksud mencela Yesus, seperti dituduhkan oleh mereka yang sesat, melainkan hanya bermaksud mengungkapkan kepada-Nya kesedihan, karena kasihnya yang mendalam kepada-Nya, yang ia alami selama ketidakhadiran-Nya. “Bukan suatu celaan,” kata Denis Carthusian, “melainkan suatu protes kasih.” Singkat kata, pedang dukacita ini begitu kejam menembus hati Santa Perawan Tersuci. Beata Benvenuta, rindu suatu hari dapat berbagi duka dengan Bunda Tersuci dalam dukacitanya ini dan memohon kepada Bunda Maria agar kerinduannya dikabulkan. Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dengan Bayi Yesus dalam pelukannya, tetapi sementara Benvenuta menikmati kehadiran Kanak-kanak yang paling menawan hati ini, dalam sekejap ia dipisahkan dari-Nya. Begitu dalam kesedihan Benvenuta hingga ia mohon pertolongan Bunda Maria untuk meringankan penderitaannya, agar dukacitanya itu jangan sampai mengakibatkan kematian. Tiga hari kemudian, Santa Perawan menampakkan diri kembali dan mengatakan, “Ketahuilah, puteriku, penderitaanmu itu hanyalah sebagian kecil dari yang aku derita ketika aku kehilangan Putraku.” Dukacita Bunda Maria ini, pertama-tama, berguna sebagai penghiburan bagi jiwa-jiwa yang menderita, dan tak lagi menikmati, seperti dulu mereka menikmati, kehadiran mesra Tuhan mereka. Jiwa-jiwa demikian boleh menangis, tetapi sepantasnya mereka menangis dalam damai, seperti Bunda Maria menangisi ketidakhadiran Putranya; dan biarlah jiwa-jiwa itu menimba keberanian, dan bukannya takut bahwa Allah tak

berkenan lagi kepada mereka; sebab Tuhan sendiri telah menegaskan keada St Teresa bahwa “tak seorang pun sesat tanpa mengetahuinya; dan tak seorang pun diperdaya tanpa ia sendiri menghendakinya.” Karenanya, jika Tuhan menarik diri dari suatu jiwa yang mengasihi-Nya, Ia tidak sungguh-sunggh meninggalkan jiwa; Tuhan seringkali menyembunyikam Diri dari suatu jiwa agar jiwa mencari-Nya dengan kerinduan yang lebih berkobar dan dengan cinta yang lebih bernyalanyala. Tetapi, barangsiapa rindu bertemu Yesus, ia harus mencari-Nya, bukan di antara segala kenikmatan dan kesenangan duniawi, melainkan di antara salib-salib dan penyangkalan diri, seperti Bunda Maria mencari-Nya, “aku dengan cemas mencari Engkau,” demikian kata Bunda Maria kepada Putranya. “Jadi, aku belajar dari Maria,” kata Origen, “dalam mencari Yesus.” Lagipula, di dunia ini Bunda Maria tidak mencari yang lain selain Yesus. Ayub tidak mengutuk ketika ia kehilangan segala miliknya di dunia: kekayaan, anak-anak, kesehatan, kehormatan, dan bahkan diturunkan dari tahta ke atas abu; tetapi karena Tuhan bersamanya, ia tetap menerima keadaannya. St Agustinus menyatakan, “ia telah kehilangan segala apa yang Tuhan berikan kepadanya, tetapi ia masih memiliki Tuhan Sendiri.” Betapa menyedihkan dan menderitanya jiwa-jiwa yang kehilangan Tuhan. Jika Bunda Maria menangisi ketidakhadiran Putranya selama tiga hari, betapa terlebih lagi selayaknya para pendosa menangis, mereka yang telah kehilangan rahmat Allah, dan kepadanya Tuhan mengatakan, “kamu ini bukanlah umat-Ku dan Aku ini bukanlah Allahmu.” Inilah akibat dosa; dosa memisahkan jiwa dari Tuhan, “yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu.” Jadi, jika orang-orang berdosa memiliki segala kekayaan dunia, tetapi kehilangan Tuhan, maka segalanya, bahkan yang ada di dunia ini, menjadi sia-sia dan menjadi sumber penderitaan mereka, seperti diakui Salomo, “lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.” Tetapi kemalangan terbesar dari jiwa-jiwa yang buta ini adalah, demikian menurut St Agustinus, “apabila mereka kehilangan kapak, pastilah mereka pergi mencarinya; apabila mereka kehiangan domba, pastilah mereka berusaha keras mencarinya; apabila mereka kehilangan binatang beban, mereka tak dapat beristirahat; tetapi ketika mereka kehilangan Tuhan mereka, yang adalah Yang Mahabaik, mereka makan, minum dan beristirahat.” TELADAN Dalam Surat-surat Tahunan Serikat Yesus dikisahkan bahwa di India, seorang pemuda meninggalkan kamarnya dengan maksud untuk berbuat dosa, ketika didengarnya suatu suara yang mengatakan, “Berhentilah! kemanakah engkau hendak pergi?” Ia melihat sekeliling dan tampaklah olehnya suatu gambar relief yang melukiskan Bunda Dukacita, sedang mengulurkan pedang yang ada di dadanya, katanya, “Ambillah pedang ini, lebih baiklah engkau menusukkannya ke hatiku daripada melukai Putraku dengan berbuat dosa yang demikian.”

Mendengar kata-kata ini, pemuda itu merebahkan diri ke tanah, meledak dalam tangis, penuh sesal mohon pengampunan dari Tuhan dan Bunda Maria. DOA Ya Bunda Maria, mengapakah engkau menyiksa dirimu sendiri saat mencari Putramu yang hilang? Adakah karena engkau tidak tahu di mana Ia berada? Tidak tahukah engkau bahwa Ia ada dalam hatimu? Tidak tahukah engkau bahwa Ia menggembala di tengah-tengah bunga bakung? Engkau sendiri mengatakannya, “Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung.” Segenap pikiran dan kasih sayangmu, yang bersahaja, murni dan suci, adalah bunga-bunga bakung yang mengundang Mempelai Ilahi untuk tinggal dalam engkau. Ah, Bunda Maria, adakah engkau berkeluh-kesah karena Yesus, satu-satunya jantung hatimu? Berikanlah keluh-kesahmu kepadaku, dan kepada begitu banyak orang berdosa yang tidak mengasihi-Nya, dan yang telah kehilangan Dia karena menghina-Nya. Bundaku yang paling menawan, jika karena dosadosaku Putramu belum kembali pada jiwaku, sudilah engkau membantuku agar aku dapat menemukan-Nya. Aku yakin bahwa Ia akan ditemukan oleh mereka yang mencari-Nya, “TUHAN adalah baik bagi jiwa yang mencari Dia” Tetapi, ya Bunda, bantulah aku mencari-Nya seperti yang seharusnya. Engkaulah pintu masuk di mana semua orang dapat menemukan Yesus; melalui engkau, aku juga berharap dapat menemukan Dia. Amin. sumber : "On the Third Dolour, Of the Loss of Jesus in the Temple" by St. Alphonsus Liguori; Copyright © 1996 Catholic Information Network (CIN) - March 3, 1996; www.cin.org Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Information Network”

Dukacita Keempat

Perjumpaan Bunda Maria dengan Yesus saat Ia Menjalani Hukuman Mati
oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

St Bernardinus mengatakan, agar dapat memperoleh gambaran betapa dahsyat dukacita Maria atas wafat Yesus, patutlah kita merenungkan betapa besar kasih sayang Bunda Maria yang dilimpahkannya kepada Putranya. Semua ibu merasakan penderitaan anak-anak mereka sebagai penderitaan mereka sendiri. Sebab itu, ketika wanita Kanaan memohon kepada Juruselamat kita agar membebaskan puterinya dari setan yang menyiksanya, ia mohon pada-Nya untuk berbelas kasihan kepadanya, sang ibu, daripada puterinya, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi, adakah ibu yang mengasihi anaknya lebih dari Bunda Maria mengasihi Yesus? Ia adalah Putra tunggalnya, dibesarkan di tengah begitu banyak kesulitan hidup; seorang Putra yang paling menawan, dan mengasihi Bunda-Nya dengan kasih mesra; Putra, yang bukan saja Putranya, melainkan juga Tuhannya, yang telah datang ke dunia guna menyalakan dalam hati semua orang api kasih ilahi, seperti yang Ia Sendiri nyatakan, “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan api itu telah menyala!” Marilah kita membayangkan betapa api telah Ia nyalakan dalam hati murni BundaNya yang Tersuci, api kasih yang tidak seperti dari dunia ini. Bunda Maria sendiri mengatakan kepada St Brigitta, kasih itu telah membuat hatinya dan hati Putranya menjadi satu. Leburnya antara Hamba dan Bunda, dengan Putra dan Allah, menciptakan dalam hati Maria api yang terdiri dari ribuan nyala api. Namun demikian, keseluruhan nyala api kasih ini kelak, pada saat sengsara, berubah menjadi lautan dukacita, seperti dinyatakan St Bernardinus, “andaikata segala derita sengsara di seluruh dunia dijadikan satu, masih tidak akan sebanding dengan dukacita Perawan Maria yang mulia.” Ya, sebab, seperti ditulis Richard dari St Laurentius, “semakin lemah lembut Bunda Maria mengasihi, semakin dalamlah ia terluka.” Semakin besar kasihnya kepada-Nya, semakin besar dukacitanya saat sengsara-Nya; teristimewa saat Ia berjumpa dengan Putranya, yang telah dijatuhi hukuman mati, memanggul salib-Nya ke tempat pelaksanaan hukuman mati. Inilah pedang dukacita keempat yang kita renungkan pada hari ini. Bunda Maria mengungkapkan kepada St Brigitta bahwa ketika saat sengsara Kristus semakin dekat, matanya senantiasa bersimbah airmata, sementara pikirannya tak lepas dari Putranya terkasih, yang

akan terpisah darinya di dunia ini, dan bayangan akan sengsara yang segera tiba menyebabkannya diliputi ketakutan, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Lihat, waktu yang ditetapkan sejak lama telah tiba, dan Yesus, dengan meneteskan airmata, mohon pamit dari Bunda-Nya sebelum Ia menyongsong maut. St Bonaventura, merenungkan Bunda Maria pada malam itu, mengatakan, “Engkau melewatkan malam-malam tanpa terlelap, dan sementara yang lain tertidur pulas, engkau tetap terjaga.” Pagi harinya, para murid Yesus Kristus datang kepada Bunda yang berduka, seorang memberitakan kabar, yang lain membawa kabar yang lain pula; namun semuanya kabar dukacita, membuktikan digenapinya nubuat Yeremia atasnya, “Pada malam hari tersedu-sedu ia menangis, airmatanya bercucuran di pipi; dari semua kekasihnya, tak ada seorang pun yang menghibur dia.” Sebagian menceritakan kepadanya perlakuan keji terhadap Putranya di rumah Kayafas; yang lain, penghinaan yang Ia terima dari Herodes. Pada akhirnya - aku menghilangkan yang lainnya - St Yohanes datang dan mengabarkan kepada Bunda Maria bahwa Pilatus yang sangat tidak adil telah menjatuhkan hukuman mati disalib atas-Nya. Aku katakan Pilatus yang sangat tidak adil; sebab seperti perkataan St Leo, “Hakim yang tidak adil ini menjatuhkan hukuman mati atas-Nya dengan bibir yang sama yang memaklumkan bahwa Ia tidak bersalah.” “Ah, Bunda yang berduka,” kata St Yohanes, “Putramu telah dijatuhi hukuman mati, Ia telah pergi, memanggul salib-Nya sendiri ke Kalvari,” seperti yang kemudian dikisahkan orang kudus ini dalam Injilnya, “Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.” “Marilah, jika engkau berharap berjumpa dengan-Nya di tengah jalan yang akan dilewati-Nya, dan menyampaikan selamat tinggal.” Bunda Maria pergi bersama St Yohanes, dan dari darah yang tercecer di tanah, ia tahu bahwa Putranya telah lewat. Hal ini dinyatakan Bunda Maria kepada St Brigitta, “Dari jejak-jejak Putraku, aku tahu di mana Ia telah lewat. Sebab sepanjang perjalanan, tanah dibasahi dengan darahNya.” St Bonaventura menggambarkan Bunda yang berduka mengambil jalan pintas, menanti di sudut jalan agar dapat berjumpa dengan Putranya yang sengsara saat Ia lewat. “Bunda yang paling berduka,” kata St Bernardus, “berjuma dengan Putranya yang paling sengsara.” Sementara Bunda Maria menanti di sudut jalan, betapa banyak ia mendengar apa yang dikatakan orang-orang Yahudi, yang segera mengenalinya, segala kata yang menyudutkan Putranya terkasih, dan mungkin bahkan kata-kata yang mencela dirinya juga. Sungguh malang, betapa adegan duka hadir di hadapannya! paku-paku, palu, tali, alat-alat yang mendatangkan maut bagi Putranya, semuanya di bawa mendahului-Nya. Dan betapa suara terompet yang memaklumkan hukuman mati bagi Putranya itu menyayat hatinya! Tetapi lihatlah, segala alat-alat hukuman mati, peniup terompet, dan para algojo, semuanya telah berlalu; ia mengangkat matanya dan melihat, ya Tuhan! seorang pemuda penuh berlumuran darah dan luka-luka dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebuah mahkota duri di sekeliling kepala-Nya,

dan dua palang berat di pundak-Nya. Ia memandang pada-Nya, hampirhampir tak mengenali-Nya, dan berkata bersama Yesaya, “dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia.” Ya, sebab luka-luka, bilur-bilur dan gumpalan-gumpalan darah membuat-Nya tampak seperti seorang kusta: “kita mengira dia kena tulah” sehingga kita tak mengenali-Nya lagi, “ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.” Tetapi, kuasa cinta menyatakan-Nya kepadanya, dan segera setelah ia menyadari bahwa pemuda itu sungguh Putranya, ah betapa cinta dan ngeri menguasai hatinya! demikian dikatakan St Petrus dari Alcantara dalam meditasinya. Di satu pihak, Bunda Maria berhasrat memandangNya, namun, di pihak lain ia takut tak dapat menahan hatinya melihat pemandangan yang menyayat hati itu. Pada akhirnya, mereka saling memandang. Sang Putra menyeka gumpalan darah dari mata-Nya, seperti dinyatakan kepada St Brigitta, yang menghalangi penglihatanNya, dan memandang Bunda-Nya, dan Sang Ibunda memandang Putranya. Ah, lihatlah betapa dukacita yang pahit, bagaikan begitu banyak anak panah menancap serta menembusi kedua jiwa kudus yang penuh kasih itu. Ketika Margareta, puteri St. Thomas More berjumpa dengan ayahnya dalam perjalanan eksekusinya, ia hanya dapat berseru, “O ayah! Ayah!” dan jatuh pingsan di depan kaki ayahnya. Bunda Maria, berjumpa dengan Putranya dalam perjalanan-Nya ke Kalvari, tidak pingsan, tidak, seperti dikatakan Pastor Suarez, bahwa mestinya Bunda ini telah kehilangn akal; atau pun tewas. Namun demikian Tuhan melindunginya guna menanggung dukacita yang lebih dahsyat; walaupun ia tidak mati, dukacitanya cukup menyebabkannya mati seribu kali. “Sang Bunda berhasrat memeluk Putranya,” demikian kata St Anselmus, “tetapi para prajurit mendorongnya ke samping dengan kejam dan memaksa Kristus yang menderita melangkah maju; dan Bunda Maria mengikuti-Nya. Ah, Santa Perawan, ke manakah gerangan engkau hendak pergi? Ke Kalvari. Yakinkah engkau bahwa engkau sanggup memandang Dia, yang adalah hidupmu sendiri, tergantung di salib?” Dan hidupmu akan tergantung di hadapanmu. “Ah, berhentilah BundaKu,” kata St Laurentius Giustiniani atas nama sang Putra, “Ke manakah engkau hendak pergi? Dari manakah engkau datang? Jika engkau pergi ke mana Aku pergi, engkau akan tersiksa karena sengsara-Ku, dan Aku karena sengsaramu.” Namun, meskipun menyaksikan Putranya Yesus yang meregang nyawa akan mengakibatkan dukacita yang dahsyat, Bunda Maria yang penuh kasih tak mau meninggalkan-Nya: sang Putra melangkah maju, sementara Bunda mengikuti, agar juga dapat disalibkan bersama Putranya, seperti dikatakan Abbas William, “sang Bunda juga memikul salibnya dan mengikuti Dia untuk disalibkan bersama-Nya.” “Kita bahkan menaruh belas kasihan kepada binatangbinatang liar,” tulis St Yohanes Krisostomus, “melihat seekor induk singa menyaksikan anaknya mati, bukankah kita akan tergerak oleh belas kasihan? Tidakkah kita juga tergerak oleh belas kasihan melihat Bunda Maria mengikuti Anak Dombanya yang tak bercela ke tempat pembantaian? Jadi, marilah kita menaruh belas kasihan kepadanya, dan

marilah kita juga menemaninya dan menemani Putranya, dengan memikul dengan tekun salib yang Kristus anugerahkan kepada kita. St Yohanes Krisostomus bertanya, mengapa Yesus Kristus, dalam sengsara-Nya yang lain, lebih suka menanggung sengsara-Nya sendiri, tetapi, dalam memikul salib-Nya Ia membiarkan diri dibantu oleh seorang Kirene? Ia menjawab, “hendaknya kamu mengerti bahwa salib Kristus tidak lengkap tanpamu.” TELADAN Juruselamat kita suatu hari menampakkan diri kepada Sr Diomira, seorang biarawati di Florence, dan mengatakan, “Pikirkanlah Aku dan kasihilah Aku, maka Aku akan memikirkan engkau dan mengasihi engkau.” Pada saat yang sama Kristus memberinya seikat bunga dan sebuah salib, dengan cara demikian menyatakan bahwa penghiburan bagi para kudus di dunia ini senantiasa disertai dengan salib. Salib mempersatukan jiwa dengan Tuhan. Beato Hieronimus Emilian, saat masih menjadi seorang tentara dan penuh dosa, dikurung oleh para musuhnya dalam sebuah benteng. Di sana, terdorong oleh kemalangannya, dan memperoleh pencerahan dari Tuhan untuk mengubah hidupnya, ia mohon pertolongan Santa Perawan, dan sejak saat itu, dengan pertolongan Bunda Allah, ia mulai hidup sebagai seorang kudus, begitu saleh hidupnya hingga suatu hari ia beroleh karunia melihat tempat sangat tinggi yang telah Tuhan persiapkan baginya di surga. Ia menjadi pendiri ordo religius Somaschi, wafat sebagai seorang kudus, dan baru-baru ini telah dikanonisasi oleh Gereja yang kudus. DOA Bundaku yang berduka, demi dukacita luar biasa yang engkau derita saat menyaksikan Putramu Yesus yang terkasih digiring menuju pembantaian, perolehkanlah bagiku rahmat agar aku juga senantiasa tekun dalam memikul salib-salib yang Tuhan anugerahkan kepadaku. Alangkah bahagianya aku, seandainya aku tahu bagaimana menyertaimu dengan salibku hingga ajal. Engkau bersama Putramu Yesus - kalian berdua yang sama sekali tak berdosa - telah memikul salib yang jauh lebih berat; layakkah aku, seorang pendosa, yang pantas mendapatkan neraka, menolak memikul salibku? Ah, Santa Perawan yang Dikandung Tanpa Dosa, darimu aku berharap memperoleh pertolongan dalam memikul semua salibku dengan tekun. Amin. sumber : "On the Fourth Dolour On the Meeting of Mary with Jesus, when He was Going to Death" by St. Alphonsus Liguori; Copyright © 1996 Catholic Information Network (CIN) - March 20, 1996; www.cin.org

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Information Network”

Dukacita Kelima

Yesus Wafat
oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

Sekarang kita merenungkan kemartiran Bunda Maria yang lain - seorang ibunda yang diharuskan melihat Putranya yang tak berdosa, dan yang ia cintai dengan segenap kasih sayang jiwanya, disiksa dengan keji dan dijatuhi hukuman mati di depan matanya, “Dekat salib Yesus berdiri ibuNya.” St Yohanes yakin bahwa dengan kata-kata tersebut ia telah cukup mengungkapkan kemartiran Maria. Marilah merenungkan Bunda Maria yang berada di kaki salib, menemani Putranya yang meregang nyawa, dan lihatlah, adakah dukacita seperti dukacitanya. Marilah pada hari ini kita tinggal sejenak di Kalvari dan merenungkan pedang dukacita kelima, yang saat wafat Yesus, menembus hati Maria. Segera setelah Penebus kita yang sengsara tiba di Bukit Kalvari, para algojo menanggalkan pakaian-Nya, dan menembusi tangan-tangan serta kaki-kaki-Nya dengan “bukan paku-paku yang tajam, melainkan pakupaku yang tumpul,” seperti dikatakan St Bernardus, agar lebih menyiksa-Nya, mereka memaku-Nya pada kayu salib. Sesudah menyalibkan-Nya, mereka memancangkan salib lalu membiarkan-Nya mati. Para algojo meninggalkan-Nya, namun tidak demikian dengan Maria. Ia kemudian mendekati salib, agar dapat mendampingi-Nya di saat ajal, “Aku tidak meninggalkan-Nya,” demikian Santa Perawan mengatakan kepada St Brigitta, “melainkan tinggal dekat kaki salibNya.” “Tetapi, apakah gunanya bagimu, ya Bunda,” kata St Bonaventura, “pergi ke Kalvari dan menyaksikan Putramu wafat? Tidakkah rasa malu mencegah engkau pergi, sebab aib-Nya adalah aibmu, karena engkau adalah Bunda-Nya. Setidak-tidaknya rasa ngeri yang mencekam menyaksikan kejahatan yang sedemikian, penyaliban Tuhan oleh makhluk ciptaan-Nya sendiri, mencegah engkau pergi ke sana.” Tetapi,

santo yang sama menjawab, “Ah, hatimu tidak memikirkan dukacitanya sendiri, melainkan sengsara dan wafat Putramu terkasih,” dan oleh sebab itulah engkau lebih suka hadir, setidaknya untuk berbelas kasihan kepada-Nya. “Ah, Bunda yang sejati,” kata Abbas William, “Bunda yang paling penuh cinta kasih, yang bahkan ngeri kematian tak dapat memisahkanmu dari Putramu terkasih.” Tetapi, ya Tuhan, betapa suatu pemandangan yang memilukan melihat Putra menanggung sengsara di atas salib sementara di kaki salib Bunda yang berduka menanggung segala siksa aniaya yang diderita Putranya! Dengarlah kata-kata yang diungkapkan Bunda Maria kepada St Brigitta mengenai dukacita luar biasa saat menyaksikan Putranya meregang nyawa di salib, “Yesusku terkasih napas-Nya tersengal-sengal, tenaga-Nya terkuras, dan dalam sengsara akhirnya di salib; kedua mata-Nya masuk ke dalam, setengah tertutup dan tak bercahaya; bibir-nya bengkak dan mulut-Nya ternganga; pipinya cekung, wajah-Nya kusut; hidung-Nya patah; raut wajah-Nya sengsara: kepala-Nya lunglai ke dada-Nya, rambut-Nya hitam oleh darah, lambung-Nya kempis ke dalam, kedua tangan dan kaki-Nya kaku, sekujur tubuh-Nya penuh dengan luka dan darah.” Segala sengsara Yesus ini adalah juga sengsara Maria, “setiap aniaya yang diderita tubuh Yesus,” kata St Hieronimus, “adalah luka di hati Bunda Maria.” “Siapa pun yang hadir di Bukit Kalvari saat itu,” kata St Yohanes Krisostomus, “akan melihat dua altar di mana dua kurban agung dipersembahkan; yang satu adalah tubuh Yesus, yang lainnya adalah hati Maria.” Tidak, lebih tepat jika kita mengatakannya bersama St Bonaventura, “hanya ada satu altar - yaitu salib Putra, di mana, bersama dengan kurban Anak Domba Allah ini, sang Bunda juga dikurbankan.” Sebab itu, St Bonaventura bertanya kepada sang Bunda, “Oh, Bunda, di manakah gerangan engkau? Di kaki salib? Tidak, melainkan engkau berada di atas salib, disalibkan, mengurbankan diri bersama Putramu.” St Agustinus menegaskan hal yang sama, “Salib dan paku-paku sang Putra adalah juga salib dan paku-paku Bunda-Nya; bersama Yesus Tersalib, disalibkan juga Bunda-Nya.” Ya, seperti dikatakan St Bernardus, “Kasih mengakibatkan dalam hati Maria siksa aniaya yang disebabkan oleh paku-paku yang ditembuskan pada tubuh Yesus.” Begitu dahsyatnya, seperti ditulis St Bernardus, “Pada saat yang sama Putra mengurbankan tubuh-Nya, Bunda mengurbankan jiwaNya.” Para ibu pada umumnya tidak tahan dan menghindarkan diri dari menyaksikan anak-anak mereka mengalami sakrat maut, tetapi apabila seorang ibu harus menghadapi kenyataan yang demikian, ia akan mengusahakan segala daya upaya untuk meringankan penderitaan anaknya; ia merapikan tempat tidurnya agar anaknya merasa lebih nyaman, ia melayani segala kebutuhan anaknya, dengan demikian ibu yang malang itu meringankan penderitanya sendiri. Ah, Bunda yang paling berduka dari segala ibu! Ya Maria, engkau harus menyaksikan sengsara Putramu Yesus yang sedang meregang nyawa; tetapi engkau tak dapat melakukan sesuatu pun guna meringankan penderitaan-Nya. Bunda Maria mendengar Putranya berseru, “Aku haus!” tetapi ia bahkan

tak dapat memberikan setetes air pun untuk melegakan dahaga-Nya yang sangat. Ia hanya dapat mengatakan, seperti dikatakan St Vincentius Ferrer, “Nak, ibu-Mu hanya punya airmata.” Ia melihat bahwa di atas pembaringan salib, Putranya, yang digantung dengan tiga paku, tak dapat beristirahat dengan tenang; betapa ingin ia merengkuh-Nya dalam pelukannya guna meringankan penderitaan-Nya, atau setidaktidaknya Ia boleh menghembuskan napas terakhir-Nya dalam pelukannya, tetapi hal itu tak dapat dilakukannya. “Dengan sia-sia,” kata St Bernardus, “ia merentangkan kedua tangannya, tetapi tangan-tangan itu kembali ke dadanya dengan kosong.” Ia menyaksikan Putranya yang malang, yang dalam lautan sengsara-Nya mencari penghiburan, tetapi sia-sia, seperti dinubuatkan nabi, “Aku seorang dirilah yang melakukan pengirikan, dan dari antara umat-Ku tidak ada yang menemani Aku!” Tetapi, siapakah di antara manusia yang mau menghibur-Nya, karena mereka semua memusuhi-Nya? Bahkan di atas salib Ia dicela dan dihujat oleh orang-orang di sekitarnya, “orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia …sambil menggelengkan kepala.” Sebagian berkata kepada-Nya, “Jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” Yang lain berkata, “Orang lain ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!” Lagi, “Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu.” Bunda Maria sendiri mengatakan kepada St Brigitta, “Aku mendengar sebagian orang mengatakan bahwa Putraku seorang penjahat; sebagian lagi mengatakan bahwa Ia seorang penipu; yang lainnya mengatakan bahwa tak ada yang lebih pantas dijatuhi hukuman mati selain daripada Dia; dan setiap kata yang mereka lontarkan merupakan pedang-pedang dukacita baru yang menembusi hatiku.” Tetapi, yang paling menambah beban duka yang diderita Bunda Maria melalui belas kasihannya terhadap Putranya adalah ketika ia mendengar-Nya mengeluh dari atas salib bahwa bahkan Bapa-Nya yang Kekal telah meninggalkan-Nya, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Kata-kata ini, seperti diungkapkan Bunda Allah kepada St Brigitta, tak pernah dapat, sepanjang hidupnya, lepas dari ingatannya. Jadi, Bunda yang berduka menyaksikan Putranya Yesus menanggung sengsara dari berbagai pihak; ia berhasrat menghiburnya, tetapi tak dapat. Dan yang paling mendukakan hatinya ialah menyadari bahwa dirinya sendiri, kehadiran dan dukacitanya, menambah sengsara Putranya. “Dukacita,” kata St Bernardus, “yang memenuhi hati Maria, bagaikan air bah membanjiri serta melukai hati Yesus.” “Begitu hebatnya,” menurut santo yang sama, “hingga Yesus di atas salib lebih menderita karena belas kasihan-Nya terhadap Bunda-Nya daripada karena sengsara-Nya sendiri.” Kemudian ia berbicara atas nama Bunda Maria, “Aku berdiri dengan mataku terpaku pada-Nya, dan mata-Nya padaku, dan Ia lebih menderita karena aku daripada karena Diri-Nya Sendiri.” Lalu, berbicara mengenai Bunda Maria yang berada di samping Putranya yang meregang nyawa, ia mengatakan, “ia hidup dalam kematian tanpa dapat mati.” “Di kaki salib Kristus, Bunda-Nya berdiri separuh mati; ia tak berbicara, mati sementara ia hidup, dan hidup sementara ia mati; ia tak dapat mati, sebab kematian adalah hidupnya yang sesungguhnya.” Passino menulis bahwa Yesus Kristus Sendiri

suatu hari berbicara kepada Beata Baptista Varani dari Camerino, meyakinkannya bahwa saat di atas salib, begitu hebat dukacitanya melihat Bunda-Nya berdiri di kaki salib dalam dukacita yang luar biasa, hingga belas kasihan-Nya terhadapnya menyebabkan Ia wafat tanpa penghiburan; begitu dahsyat dukacita itu hingga Beata Baptista, yang dianugerahi pencerahan ilahi, merasakan luar biasanya sengsara Yesus ini, berseru, “Ya Tuhan, jangan ceritakan lagi sengsara-Mu ini, sebab aku tak mampu lagi menanggungnya.” “Semua orang,” kata Simon dari Cassia, “yang saat itu menyaksikan Bunda Maria diam seribu bahasa, tanpa sepatah kata pun keluhan, di tengah dukacita yang begitu hebat itu, merasa tercengang.” Tetapi, jika bibirnya tenang, tidak demikian halnya dengan hatinya, sebab tak hentihentinya Bunda Maria mempersembahkan hidup Putra-Nya kepada Keadilan Ilahi demi keselamatan umat manusia. Oleh sebab itu, kita tahu bahwa dengan jasa-jasa dukacitanya, Bunda Maria bekerjasama dengan Allah dalam melahirkan kita ke dalam kehidupan rahmat, dan dengan demikian kita adalah anak-anak dari dukacitanya. “Kristus,” kata Lanspergius, “bersuka hati bahwa ia, rekan dalam penebusan kita, dan yang telah Ia tetapkan untuk diberikan-Nya kepada kita sebagai Bunda kita, hadir di sana; sebab di kaki saliblah ia ditetapkan untuk melahirkan kita, anak-anaknya.” Jika ada setitik penghiburan yang mampu menembus lautan dukacita dalam hati Bunda Maria, satu-satunya penghiburan itu ialah bahwa ia mengetahui, dengan dukacitanya ia menghantar kita pada keselamatan abadi, seperti yang dinyatakan Yesus Sendiri kepada St Brigitta, “Bunda-Ku Maria, oleh karena belas kasihan dan kasih sayangnya, diangkat menjadi Bunda Seluruh Langit dan Bumi.” Dan sungguh, inilah kata-kata terakhir yang diucapkan Yesus sebagai salam perpisahan kepada Bunda-Nya sebelum Ia wafat: inilah pesan terakhir-Nya, mempercayakan kita semua kepadanya sebagai anak-anaknya melalui sosok St Yohanes, “Ibu, inilah anakmu!” Sejak saat itu Bunda Maria memulai perannya sebagai Bunda bagi kita; St Petrus Damianus menegaskan, “melalui doa-doa Maria, yang berdiri di kaki salib antara penyamun yang baik dan Putranya, penyamun itu dipertobatkan dan diselamatkan, dan dengan demikian ia membalas kebaikannya di masa lampau.” Sebab, seperti dikisahkan para penulis lainnya juga, penyamun ini telah bermurah hati kepada Yesus dan Bunda Maria dalam pengungsian mereka ke Mesir. Peran yang sama dari Santa Perawan terus berlanjut, dan masih berlanjut, untuk selamanya. TELADAN Seorang pemuda di Perugia berjanji kepada iblis, jika iblis membuatnya mampu mendapatkan obyek dosa yang ia dambakan, ia akan mempersembahkan jiwanya; ia menyerahkan perjanjian tertulis kepada iblis yang ditandatangani dengan darahnya. Setelah kejahatan dilakukan, iblis menuntut dipenuhinya janji sang pemuda. Untuk itu,

iblis menggiringnya ke tepi sungai yang dalam dan mengancam jika ia tidak menceburkan diri ke dalamnya, iblis akan menyeretnya, tubuh dan jiwa, ke dalam neraka. Pemuda malang ini, berpikir bahwa tidaklah mungkin meloloskan diri dari tangan iblis, naik ke sebuah jembatan kecil di mana ia dapat meloncat; gemetar akan bayangan kematian, ia mengatakan kepada iblis bahwa ia tidak memiliki keberanian untuk meloncat; jika iblis menuntut kematiannya, iblislah yang harus mendorongnya. Pemuda ini mengenakan skapulir SP Maria Berdukacita, sebab itu iblis berkata, “Lepaskan skapulir itu, maka aku akan mendorongmu.” Sang pemuda, menyadari bahwa melalui skapulirnya Bunda Allah masih berkenan memberinya perlindungan, menolak melakukannya. Pada akhirnya, setelah pertengkaran sengit, iblis dengan putus asa pergi; dan si pendosa, penuh rasa syukur kepada Bunda Dukacita, pergi untuk berterima kasih kepadanya dan mengakukan dosa-dosanya. Sesuai nazarnya, sang pemuda mempersembahkan bagi Santa Perawan, di gereja Santa Maria la Nuova di Perugia, sebuah lukisan yang menggambarkan apa yang telah terjadi. DOA Ah, Bunda yang paling berduka dari segala ibunda, Putramu telah wafat; Putra yang begitu menawan dan yang begitu mengasihi engkau! Menangislah, sebab engkau punya alasan untuk mengangis. Siapakah gerangan yang mampu menghibur engkau? Hanya pikiran bahwa Yesus dengan wafat-Nya menaklukkan neraka, membuka pintu gerbang surga yang hingga saat itu tertutup bagi manusia, dan memenangkan banyak jiwa-jiwa, yang mampu menghibur engkau. Dari atas tahta salib, Ia akan berkuasa dalam begitu banyak hati, yang, takluk pada kasih-Nya, akan mengabdi-Nya dengan sepenuh hati. Sementara itu, ya Bundaku, janganlah menolak aku, ijinkan aku berada di dekatmu, menangis bersamamu, sebab aku punya banyak alasan untuk mengangisi dosadosaku dengan mana aku telah menghina-Nya. Ah, Bunda Belas Kasihan, aku berharap, pertama-tama, melalui wafat Penebus-ku, dan kemudian melalui dukacitamu, untuk memperoleh pengampunan serta keselamatan abadi. sumber : "On the Fifth Dolour, Of the Death of Jesus" by St. Alphonsus Liguori; Copyright © 1997 Catholic Information Network (CIN) - 04-14, 2003; www.cin.org Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Information Network”

Dukacita Keenam

Lambung Yesus Ditikam dan JenazahNya Diturunkan dari Salib
oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

“Acuh tak acuhkan kamu sekalian yang berlalu? Pandanglah dan lihatlah, apakah ada kesedihan seperti kesedihan yang ditimpakan Tuhan kepadaku?” Jiwa-jiwa saleh, dengarkanlah apa yang dikatakan Bunda yang berduka hari ini, “Anak-anakku terkasih, aku tidak berharap kalian menghiburku; tidak, sebab jiwaku tak lagi mudah tersentuh oleh penghiburan di dunia ini setelah wafat Putraku Yesus yang terkasih. Jika engkau hendak menyenangkan hatiku, inilah yang aku minta dari kalian; pandanglah aku dan lihatlah adakah kesedihan di dunia ini yang seperti kesedihanku, menyaksikan Dia yang adalah jantung hatiku direnggut dariku dengan keji.” Tetapi, Bunda yang berkuasa, oleh sebab engkau tidak hendak dihibur dan engkau memiliki kerinduan yang begitu besar untuk menderita, harus kukatakan kepadamu, bahwa bahkan dengan wafatnya Putramu, dukacitamu belumlah berakhir. Pada hari ini engkau akan ditembusi oleh pedang dukacita yang lain, sebilah tombak dengan keji akan ditikamkan pada lambung Putramu yang telah wafat, dan engkau akan menerima-Nya dalam pelukanmu setelah jenazah-Nya diturunkan dari salib. Sekarang kita akan merenungkan dukacita keenam yang mendukakan Bunda yang malang ini. Merenunglah dan menangislah. Sampai sekarang dukacita Maria menderanya satu demi satu; pada hari ini seluruh dukacita itu bergabung menjadi satu untuk menyerangnya. Cukuplah mengatakan kepada seorang ibu bahwa anaknya meninggal dunia untuk menggoncangkan segala kasihnya. Sebagian orang, guna meringankan dukacita seorang ibu, mengingatkannya akan kekecewaan yang suatu ketika dilakukan oleh anaknya yang telah meninggal itu. Tetapi aku, ya Ratuku, akankah aku berharap meringankan dukacitamu atas wafat Yesus? Kekecewaan apakah yang pernah dilakukan-Nya terhadapmu? Sungguh, tidak ada. Ia senantiasa mengasihimu, senantiasa mentaatimu, dan senantiasa menghormatimu. Sekarang engkau telah kehilangan Dia, siapakah yang dapat mengungkapkan kesedihan hatimu? Akankah engkau menjelaskannya, engkau yang mengalaminya. Seorang penulis yang saleh mengatakan bahwa ketika Penebus kita yang terkasih wafat, perhatian utama Bunda yang agung ini adalah menemani dalam roh, jiwa Putranya yang terkudus dan mempersembahkan-Nya kepada Bapa yang Kekal. “Kupersembahkan kepada-Mu, ya Tuhanku,” pastilah Bunda Maria berkata demikian, “jiwa

tak berdosa dari PutraMu dan Putraku; Ia taat hingga wafat kepada-Mu; sudilah Engkau menerima-Nya dalam pelukan-Mu. Keadilan-Mu telah dipuaskan sekarang, kehendak-Mu telah digenapi; lihatlah, kurban agung demi kemuliaan-Mu yang kekal telah dikurbankan.” Kemudian, sambil memandangi tubuh Putranya Yesus yang tak bernyawa, ia berkata, “O bilur-bilur, o bilur-bilur cinta, aku menyembahmu, dan dalam engkau aku bersukacita; sebab melalui engkau, keselamatan dianugerahkan kepada dunia. Engkau akan tinggal menganga pada tubuh Putraku, dan menjadi pengungsian bagi mereka yang mohon perlindungan padamu. Oh, betapa banyak jiwa-jiwa, melalui engkau akan beroleh rahmat pengampunan atas dosa-dosa mereka, dan olehmu dikobarkan dalam kasih kepada Allah yang Mahabaik!” Agar tak mengganggu kegembiraan Sabat Paskah, orang-orang Yahudi menghendaki agar tubuh Yesus diturunkan dari salib; tetapi, karena hal ini tak dapat dilakukan kecuali para terhukum telah mati, para prajurit datang dengan palu besi untuk mematahkan kaki-Nya, seperti yang telah mereka lakukan pada dua penyamun yang disalibkan bersama-Nya. Bunda Maria masih menangisi kematian Putranya saat ia melihat prajurit-prajurit bersenjata ini maju mendekati Yesus. Melihat ini, Bunda gemetar ketakukan, lalu berseru, “Ah, Putraku sudah wafat; berhentilah menganiaya-Nya; janganlah siksa aku lagi, Bunda-Nya yang malang.” Ia mohon pada mereka, tulis St Bonaventura, “untuk tidak mematahkan kaki-Nya.” Tetapi sementara ia berkata, ya Tuhan! Ia melihat seorang prajurit menghunus tombaknya dan menikamkannya pada lambung Yesus, “seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.” Saat tombak dihujamkan, salib berguncang, dan, seperti yang kemudian dinyatakan kepada St Brigitta, hati Yesus terbelah menjadi dua. Dari sanalah mengalir darah dan air; sebab hanya sedikit tetes-tetes darah itu saja yang masih tersisa, dan bahkan itu pun rela dicurahkan oleh Juruselamat kita agar kita mengerti bahwa tak ada lagi darah-Nya yang masih tersisa yang tak diberikan-Nya kepada kita. Luka akibat tikaman itu menganga pada tubuh Yesus, tetapi Bunda Marialah yang menderita sakitnya. “Kristus,” kata Lanspergius yang saleh, “berbagi sengsara ini dengan Bunda-Nya; Ia yang menerima penghinaan, Bunda-Nya yang menanggung sengsaranya.” Para bapa kudus berpendapat bahwa inilah sesungguhnya pedang yang dinubuatkan Nabi Simeon kepada kepada Santa Perawan: suatu pedang, bukan pedang materiil, melainkan pedang dukacita, yang menembus jiwanya yang terberkati yang tinggal dalam hati Yesus, di mana ia senantiasa tinggal. Dengan demikian, St Bernardus mengatakan, “Tombak yang ditikamkan ke lambung-Nya menembus jiwa Santa Perawan yang tak pernah meninggalkan hati Putranya.” Bunda Allah sendiri mengungkapkan hal yang sama kepada St Brigitta, “Ketika tombak dicabut, ujungnya tampak merah karena darah; melihat hati Putraku terkasih ditikam, aku merasa seakan-akan hatiku sendiri juga ditikam.” Malaikat menyampaikan kepada santa yang sama, “begitu dahsyat dukacita Maria, hingga hanya karena mukjizat penyelenggaraan Ilahi, ia tidak mati.” Dalam dukacitanya yang lain,

setidak-tidaknya ada Putranya yang berbelas kasihan kepadanya; tetapi sekarang Ia bahkan tak ada untuk berbelas kasihan kepadanya. Bunda yang berduka, khawatir kalau-kalau aniaya yang lain masih akan ditimpakan atas Putranya, mohon pada Yusuf dari Arimatea untuk meminta jenazah Yesus Putranya dari Pilatus, hingga setidak-tidaknya setelah Ia wafat, ia dapat menjaga serta melindungi-Nya dari penghinaan lebih lanjut. Yusuf pergi dan menyampaikan kepada Pilatus kesedihan dan harapan Bunda yang berduka ini. St Anselmus yakin bahwa belas kasihan terhadap sang Bunda telah melunakkan hati Pilatus dan menggerakkannya untuk memberikan jenazah Juruselamat kita. Tubuh Yesus kemudian diturunkan dari salib. O Perawan tersuci, setelah engkau memberikan Putramu kepada dunia dengan cinta yang begitu besar demi keselamatan kami, lihatlah, dunia sekarang mengembalikanNya kepadamu; tetapi, ya Tuhan, dalam keadaan bagaimanakah engkau menerimanya? Ya dunia, kata Maria, bagaimana engkau mengembalikan-Nya kepadaku? “Putraku berkulit putih kemerahmerahan, tetapi engkau mengembalikan-Nya kepadaku dalam keadaan hitam lebam oleh bilur-bilur dan merah - ya! tetapi merah karena lukaluka yang engkau timpakan atas-Nya. Ia elok dan menawan; tetapi sekarang tak nampak lagi keelokan pada-Nya; tak ada lagi semarak-Nya. Kehadiran-Nya memikat semua orang; sekarang Ia menimbulkan kengerian pada semua yang melihat-Nya.” “Oh, betapa banyak pedang,” kata St Bonaventura, “yang menembusi jiwa Bunda yang malang ini ketika ia menerima jenazah Putranya dari salib! Marilah sejenak membayangkan dukacita mendalam yang dialami ibu manapun ketika menerima tubuh anaknya yang tak bernyawa dalam pelukannya. Dinyatakan kepada St Brigitta bahwa tiga tangga disandarkan pada salib untuk menurunkan Tubuh Kudus; para murid yang kudus pertama-tama mencabut paku-paku dari tangan dan kaki-Nya, dan menurut Metaphrastes, menyerahkan paku-paku itu kepada Maria. Kemudian seorang dari mereka menopang tubuh Yesus bagian atas sementara murid yang lain menopang tubuh Yesus bagian bawah; demikianlah Ia diturunkan dari salib. Bernardinus de Bustis menggambarkan Bunda yang berduka, sementara berdiri, merentangkan kedua tangannya untuk merengkuh Putranya terkasih; ia memeluk-Nya dan kemudian duduk bersimpuh di kaki salib. Mulut-Nya ternganga, mata-Nya tanpa cahaya. Bunda Maria lalu memeriksa daging-Nya yang terkoyak dan tulangtulang-Nya yang menyembul; ia melepaskan mahkota duri dan memandangi luka-luka mengerikan yang diakibatkan mahkota duri pada kepala-Nya yang kudus; ia mengamati lubang-lubang di tangan dan kaki-Nya seraya berkata kepada-Nya, “Ah, Putraku, seberapa besarnyakah kasih-Mu kepada manusia; kesalahan apakah yang telah Engkau lakukan terhadap mereka hingga mereka menyiksa-Mu demikian keji? Engkau adalah Bapaku,” lanjut Bernardinus de Bustis atas nama Maria, “Engkau adalah saudaraku, mempelaiku, sukacitaku, kemuliaanku; Engkau adalah segala-galanya bagiku.” Putraku, tengoklah dukacitaku, pandanglah aku; hiburlah aku; tetapi tidak, Engkau tak lagi melihatku. Berbicaralah, sepatah kata saja, dan hiburlah aku; tetapi Engkau tak lagi berbicara, sebab Engkau telah wafat.

Kemudian, berpaling pada alat-alat siksa yang keji, ia berkata, O mahkota duri yang keji, O paku-paku yang kejam, O tombak yang tak berbelas kasihan, bagaimanakah, bagaimana mungkin kalian menganiaya Pencipta-Mu? Tetapi, mengapakah aku berbicara tentang mahkota duri dan paku? Astaga! Para pendosa, serunya, kalianlah yang telah memperlakukan Putraku begitu keji. Demikianlah Bunda Maria berbicara dan mengeluh atas kita. Tetapi apakah yang hendak ia katakan sekarang, apakah ia masih dapat tergerak oleh penderitaan? Bagaimanakah kiranya kesedihan hatinya melihat manusia, walaupun Putranya telah wafat bagi mereka, masih terus-menerus menyiksa dan menyalibkan-Nya dengan dosa-dosa mereka! Marilah kita, setidak-tidaknya, berhenti menyiksa Bunda yang berduka ini, dan jika kita sampai sekarang masih mendukakan hatinya dengan dosa-dosa kita, marilah kita, saat ini juga, melakukan segala yang dikehendakinya. Bunda kita berkata, “Kembalilah, kalian yang berdosa, kepada hati Yesus.” Para pendosa, kembalilah kepada hati Yesus yang terluka; kembalilah sebagai seorang peniten, dan Ia akan menyambutmu. “Larilah dari Dia kepada Dia,” ia melanjutkan perkataannya bersama Abbas Guarric, “dari Hakim kepada Penebus, dari Pengadilan kepada Salib.” Bunda Maria sendiri mengungkapkan kepada St Brigitta bahwa “ia menutup mata Putranya ketika tubuh-Nya diturunkan dari salib, tetapi ia tak dapat menangkupkan tangan-tanganNya.” Dengan demikian Yesus Kristus ingin kita mengetahui bahwa Ia rindu tetap dengan tangan-tangan-Nya terbuka menerima semua orang berdosa yang kembali kepada-Nya. “Oh, dunia,” lanjut Bunda Maria, “lihatlah, masamu adalah masa bagi para kekasih.” “Sekarang, setelah Putraku wafat demi menyelamatkanmu, tak akan ada lagi bagimu masa ketakutan, melainkan masa kasih - suatu masa untuk mengasihi-Nya, Ia yang guna menunjukkan kasih-Nya kepadamu rela menanggung sengsara yang begitu hebat.” “Hati Yesus,” kata St Bernardus, “ditikam, agar melalui luka-luka-Nya yang nampak itu, luka-luka kasih-Nya yang tak nampak menjadi kelihatan.” “Jadi, jika,” Bunda Maria menyimpulkan dengan kata-kata Beato Raymond Jordano, “Putraku, oleh karena kasihNya yang begitu besar, rela lambung-Nya ditikam, agar Ia dapat memberikan hati-Nya kepada kalian, maka sudah selayaknyalah, jika kalian membalas-Nya dengan juga memberikan hati kalian kepada-Nya.” Dan jika kalian rindu, ya putera-puteri Maria, untuk menemukan tempat dalam hati Yesus, tanpa takut ditolak, “pergilah,” kata Ubertino da Casale, “pergilah bersama Maria; karena ia akan memperolehkan rahmat bagi kalian.” Mengenai hal ini, kalian dapat melihat buktinya melalui teladan indah berikut ini. TELADAN Dikisahkan, adalah seorang pendosa malang yang, di antara kejahatankejahatan lain yang dilakukannya, telah pula membunuh ayah dan saudara laki-lakinya, dan karena itu ia menjadi seorang pelarian. Suatu hari di Masa Prapaskah, ia mendengarkan khotbah imam tentang

Kerahiman Ilahi. Maka, pergilah ia mengakukan dosa-dosanya kepada imam pengkhotbah. Bapa pengakuan, mendengar dosa-dosanya yang luar biasa berat, memintanya pergi ke hadapan SP Maria Bunda Dukacita, agar Bunda Maria dapat memperolehkan baginya rahmat tobat mendalam dan pengampunan atas dosa-dosanya. Orang berdosa itu patuh dan mulai berdoa; ketika, lihatlah, tiba-tiba ia roboh dan tewas seketika karena kesedihan yang sangat mendalam. Keesokan harinya, saat imam, dalam intensi Misa, mengunjukkan doa baginya, seekor merpati putih sekonyong-konyong muncul dalam gereja dan menjatuhkan sehelai kartu di kaki imam. Imam memungutnya dan mendapati tulisan berikut tertera di atasnya, “Jiwa almarhum, saat meninggalkan raganya, langsung menuju surga. Teruslah engkau menyampaikan khotbah tentang Kerahiman Ilahi yang tak terbatas.” DOA O Perawan yang berduka! Oh, jiwa yang sarat dengan kebajikan, namun juga sarat dengan dukacita, karena dukacita yang satu dan yang lainnya saling bergantian mendera hatimu yang berkobar-kobar dengan kasih kepada Tuhan, sebab engkau hanya mengasihi Dia saja; ah Bunda, kasihanilah aku, sebab bukannya mengasihi Tuhan, malahan aku menghina-Nya terus-menerus. Dukacitamu, ya Bunda, membangkitkan dalam diriku harapan akan pengampunan. Tetapi ini belumlah cukup; aku rindu mengasihi Tuhan-ku; dan bagaimanakah aku dapat memperoleh kasih ini lebih baik selain melalui engkau, yang adalah Bunda Cinta Kasih? Ah, Bunda Maria, engkau menghibur semua orang, hiburlah aku juga. Amin. sumber : "On the Sixth Dolour, The Piercing of the Side of Jesus, and His descent from the Cross" by St. Alphonsus Liguori; Copyright © 1997 Catholic Information Network (CIN) - 04-14, 2003; www.cin.org Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Information Network”

Dukacita Ketujuh

Yesus Dimakamkan
oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

Ketika seorang ibu berada di samping anaknya yang sedang menderita dan mengalami sakrat maut, tak diragukan lagi ia merasakan dan menanggung segala penderitaan anaknya; tetapi setelah anaknya itu meninggal dunia, sebelum jenazahnya dihantar ke makam, pastilah ibunda yang berduka itu mengucapkan selamat berpisah kepada anaknya; dan kemudian, sungguh, pikiran bahwa ia tak akan pernah melihat anaknya itu lagi merupakan suatu dukacita yang melampaui segala dukacita. Lihatlah pedang dukacita Maria yang terakhir, yang sekarang kita renungkan; setelah menyaksikan wafat Putranya di salib dan memeluk tubuh-Nya yang tak bernyawa untuk terakhir kalinya, Bunda yang terberkati ini harus meninggalkan-Nya di makam, tak akan lagi pernah menikmati kehadiran Putranya yang terkasih di dunia ini. Agar dapat memahami dengan lebih baik dukacita terakhir ini, kita akan kembali ke Kalvari dan merenungkan Bunda yang berduka, yang masih mendekap tubuh Putranya yang tak bernyawa dalam pelukannya. Oh Putraku, demikian ia berkata dengan kata-kata Ayub, Putraku, “Engkau menjadi kejam terhadap aku.” Ya, oleh sebab segala sifat-Mu yang agung, keanggunan-Mu, perilaku-Mu dan kebajikan-kebajikan-Mu, sikapMu yang santun, segala tanda kasih istimewa yang Kau limpahkan kepadaku, karunia-karunia khusus yang Kau anugerahkan kepadaku semuanya sekarang berubah menjadi dukacita, dan bagaikan begitu banyak anak panah yang menembusi hatiku; semakin semuanya itu memperdalam kasihku kepada-Mu, semakin kejam semuanya itu kini memedihkan hatiku karena kehilangan Engkau. Ah, Putraku terkasih, dengan kehilangan Engkau, aku kehilangan segalanya. St Bernardus berbicara atas nama Bunda Maria, “Oh satu-satunya Allah yang Esa, bagiku Engkau adalah Bapaku, Putraku, Mempelaiku: Engkau adalah jiwaku! Sekarang aku direnggut dari Bapaku, menjadi janda dari Mempelaiku, menjadi Bunda yang tak ber-Putra; yang merana karena kehilangan Putra tunggalku, aku telah kehilangan segalanya.” Demikianlah Bunda Maria, dengan sang Putra dalam pelukannya, larut dalam dukacita. Para murid yang kudus, khawatir kalau-kalau Bunda yang malang ini wafat karena duka yang mendalam, menghampirinya untuk mengambil jenazah Putranya dari pelukannya untuk dimakamkan. Kekejaman ini mereka lakukan dengan lemah lembut serta penuh hormat, dan sesudah memburat tubuh-Nya dengan rempah-rempah, mereka mengapani-Nya dengan kain lenan yang telah mereka

persiapkan. Di atas kain ini, yang hingga kini masih tersimpan di Turin, Kristus berkenan meninggalkan bagi dunia gambar tubuh-Nya yang kudus. Para murid lalu menghantar-Nya ke makam. Pertama-tama mereka mengusung Tubuh Kudus di atas bahu mereka dan kemudian iring-iringan duka itu pun berangkat; paduan suara malaikat dari surga mengiringi mereka; para wanita kudus berjalan mengikuti, dan bersama mereka Bunda yang berduka juga menyertai Putranya ke tempat pemakaman. Setiba mereka di sana, “Oh, betapa senang hati Bunda Maria membiarkan dirinya dikubur hidup-hidup bersama Putranya, andai memang demikian kehendak-Nya!” seperti diungkapkan Bunda Maria sendiri kepada St Brigitta. Tetapi karena bukan demikianlah kehendak Ilahi, banyak penulis mengatakan bahwa ia menghantar tubuh kudus Yesus sampai ke makam, di mana menurut Baronius, para murid juga menyertakan paku-paku dan mahkota duri. Saat hendak menggulingkan batu penutup pintu masuk, para murid sang Juruselamat yang kudus terpaksa menghampiri Bunda Maria dan mengatakan, “Sekarang, ya Bunda, kami harus menutup pintu makam: maafkan kami, tengoklah sekali lagi Putramu dan sampaikanlah salam perpisahan kepada-Nya.” Putraku terkasih (pasti demikianlah Bunda yang berduka berkata); aku tak kan melihat-Mu lagi. Sebab itu, pada kesempatan terakhir aku memandang-Mu ini, terimalah salam perpisahanku, salam perpisahan dari Bunda-Mu terkasih, dan terimalah juga hatiku, yang aku tinggalkan agar dikubur bersama-Mu. St Fulgentius menulis, “Dalam diri Bunda Maria berkobar hasrat agar jiwanya dikuburkan bersama tubuh Kristus.” Bunda Maria mengungkapkan kepada St Brigitta, “Sejujurnya aku katakan bahwa saat pemakaman Putraku, dalam makam yang satu itu seolah-olah terdapat dua jiwa.” Akhirnya, para murid menggulingkan batu dan menutup makam yang kudus, di mana di dalamnya terbaring tubuh Yesus, harta pusaka yang agung mulia - begitu agung dan mulia hingga tak ada yang lebih agung dan mulia darinya, baik di bumi maupun di surga. Pada bagian ini, ijinkanlah aku sedikit menyimpang dan menegaskan bahwa hati Bunda Maria dikuburkan bersama Yesus, sebab Yesus adalah satu-satunya hartanya, “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Dan di manakah gerangan, seandainya kita boleh bertanya, hati kita dikuburkan? Pada makhluk-makhluk ciptaan yang mungkin berkubang dalam lumpur. Dan mengapakah tidak pada Yesus, yang, walaupun telah naik ke surga masih dengan senang hati tinggal di bumi dalam Sakramen Mahakudus di altar, bukankah tepat jika jiwa kita ada bersama-Nya, dan menjadi milik-Nya? Baiklah, kita kembali kepada Bunda Maria. Sebelum meninggalkan makam, menurut St Bonaventura, Bunda Maria memberkati makam kudus yang kini telah tertutup rapat dengan berseru, “Oh, makam yang bahagia, dalam rahimmu sekarang terbaring Tubuh Kudus yang selama sembilan bulan aku kandung dalam rahimku; aku memberkati engkau sembari iri padamu; aku percayakan penjagaan Putraku kepadamu, Putra yang adalah satu-satunya hartaku dan kasihku.” Kemudian, dengan mengangkat segenap hati kepada Bapa yang Kekal, ia berkata, “Ya Bapa, kepada-Mu aku persembahkan Dia - Dia yang adalah PutraMu, yang sekaligus adalah Putraku juga.”

Demikianlah Bunda Maria menyampaikan salam perpisahannya kepada Putranya Yesus yang terkasih dan kepada makam di mana tubuh-Nya dibaringkan, lalu ia meninggalkan-Nya dan pulang ke rumah. “Bunda ini,” kata St Bernardus, “pergi dalam keadaan begitu berduka dan sengsara hingga ia menggerakkan banyak orang untuk meneteskan airmata; di manapun ia lewat, semua yang bersua dengannya menangis,” tak kuasa menahan airmata. Ia menambahkan bahwa para murid yang kudus dan perempuan-perempuan yang menyertainya “lebih berdukacita atasnya daripada atas Tuhan mereka.” St Bonaventura mengatakan bahwa saudari-saudari Bunda Maria menyelubunginya dengan jubah duka, “Saudari-saudari Bunda kita mengerudunginya sebagai janda, hingga hampir menutupi seluruh wajahnya.” Ia juga menambahkan bahwa, saat lewat, dalam perjalanan pulang, di depan salib yang masih basah oleh darah Putranya Yesus, dialah yang pertama-tama memujanya, “O Salib Suci,” serunya, “aku mengecupmu, aku memujamu, sebab kini engkau bukan lagi tiang hukuman yang mengerikan, melainkan tahta kasih dan altar belas kasihan, yang dikuduskan oleh darah Anak Domba Allah, yang di atasmu telah dikurbankan demi keselamatan dunia.” Bunda Maria kemudian meninggalkan salib dan pulang ke rumah. Tiba di sana, Bunda yang berduka mengarahkan pandangan ke sekelilingnya, ia tak lagi melihat Yesus; bukan kehadiran Putranya yang menyenangkan, melainkan kenangan akan hidup-Nya yang kudus dan wafat-Nya yang keji yang hadir di hadapan matanya. Ia terkenang bagaimana ia mendekap Putranya erat-erat ke dadanya di palungan di Betlehem; percakapan-percakapan manis bersama-Nya sepanjang tahun-tahun yang mereka lewatkan bersama di rumah di Nazaret: ia terkenang akan kasih sayang mesra di antara mereka, tatapan kasih mereka, perkataanperkataan tentang kehidupan kekal yang meluncur dari bibir Ilahi-Nya; dan kemudian terbayang akan peristiwa mengerikan yang ia saksikan pada hari itu, semuanya hadir kembali di hadapannya. Paku-paku itu, mahkota duri, ceceran daging Putranya, luka-luka yang merobek dagingNya, tulang-tulang yang menyembul, mulut yang ternganga, mata yang tak lagi bercahaya, semuanya hadir kembali di hadapan matanya. Ah, betapa malam itu nerupakan malam yang penuh dukacita bagi Maria! Bunda yang berduka berpaling kepada St Yohanes dan berkata dengan sedih, “Ah Yohanes, katakan, di manakah Guru-mu?” Ia kemudian bertanya kepada Maria Magdalena, “Puteriku, katakan, di manakah kekasih hatimu? Ya Tuhan, siapakah yang telah merenggut-Nya dari kami?” Bunda Maria menangis dan semua yang hadir menangis bersamanya. Dan engkau, wahai jiwaku, tidak meneteskan airmata! Ah, berpalinglah kepada Bunda Maria dan bersama St Bonaventura katakan kepadanya, “Ya, Bundaku yang lemah lembut, ijinkanlah aku menangis; engkau tak berdosa, akulah yang berdosa.” Akhirnya, mohonlah kepadanya untuk menangis bersamanya, “Ijinkanlah aku menangis bersamamu, ya Bunda.” Ia menangis karena cinta, engkau menangis sedih karena dosa-dosamu. Dengan menangis, kiranya engkau beroleh sukacita seperti dia, yang kisahnya kita baca dalam teladan berikut.

TELADAN Pastor Engelgrave menceriterakan tentang seorang religius yang begitu tersiksa oleh skrupel (= kebimbangan batin) hingga ia terkadang hampir putus asa; tetapi karena ia memiliki devosi mendalam kepada Bunda Dukacita, ia senantiasa mohon perlindungan padanya dalam penderitaan batinnya, dan merasa terhibur sementara ia merenungkan sengsaranya. Ajal menjelang dan iblis menyiksanya jauh lebih hebat dari sebelumnya dengan skrupel, dan berusaha menjatuhkannya dalam keputusasaan. Bunda yang berbelas kasihan, melihat puteranya yang malang menderita demikian rupa, menampakkan diri kepadanya dan berkata, “Dan engkau, puteraku, mengapakah engkau begitu dikuasai oleh penderitaan? Mengapakah engkau begitu takut? Engkau telah begitu sering menghibur hatiku dengan berbelas kasihan dalam dukacitaku. Sekarang,” Bunda Maria menambahkan, “Yesus mengutusku untuk menghiburmu; maka, tenanglah; bersukacitalah dan marilah bersamaku ke surga.” Mendengar kata-kata penghiburan ini, religius yang saleh itu dengan dipenuhi sukacita dan kepercayaan, menghembuskan napasnya yang terakhir dalam damai. DOA Bundaku yang berduka, aku tidak akan membiarkan engkau menangis seorang diri, tidak, aku akan menemanimu dengan airmataku. Ijinkan aku mohon rahmat ini daripadamu: perolehkanlah bagiku rahmat agar senantiasa ada dalam benakku dan senantiasa ada dalam hatiku devosi kepada Sengsara Yesus dan kepada Dukacitamu, agar sisa-sisa hariku boleh aku lewatkan dengan menangisi dukacitamu, ya Bundaku yang lemah lembut, dan menangisi Sengsara Penebus-ku. Penderitaanpenderitaan ini, aku yakin, akan memberiku kepercayaan serta kekuatan yang aku butuhkan di saat ajalku, agar aku tidak jatuh dalam keputusasaan menyadari begitu banyak dosa di mana aku telah menghina Tuhan-ku. Penderitaan-penderitaan ini akan mendatangkan bagiku pengampunan, ketekunan dan surga, yang aku rindu untuk menikmatinya bersama engkau, dan agar dapatlah aku memadahkan belas kasihan Allah yang tak terbatas untuk selama-lamanya. Demikianlah yang aku harapkan, semoga terjadilah demikian. Amin. Amin. DOA ST BONAVENTURA Ya Bunda, engkau yang dengan kelemah-lembutanmu menjerat hati umat manusia, sudahkah engkau menjerat hatiku juga? Ya pencuri hati, bilakah engkau memulihkan hatiku? Pimpinlah dan kuasailah hatiku bagaikan milikmu sendiri; simpanlah hatiku dalam Darah Anak Domba dan tempatkanlah di sisi Putramu. Maka, aku akan memperoleh apa yang aku rindukan dan memiliki apa yang aku harapkan, sebab engkaulah harapan kami. Amin.

sumber : "On the Seventh Dolour, The Burial of Jesus" by St. Alphonsus Liguori; Copyright © 1997 Catholic Information Network (CIN) - 04-14, 2003; www.cin.org Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Information Network”

Santa Perawan Maria Bunda Pengharapan
oleh: P William P Saunders * . .

Mohon penjelasan mengenai latar belakang gelar Bunda Maria sebagai “Bunda Pengharapan” ~ seorang pembaca di Sterling Gelar Bunda Maria sebagai “Bunda Pengharapan,” muncul dari penampakannya kepada beberapa anak di Pontmain, Perancis pada tanggal 17 Januari 1871. Patut dicatat bahwa Bunda Maria telah disebut dengan gelar ini sebelumnya; sebuah madah telah ditulis demi menghormati Bunda Pengharapan oleh Komunitas Agung dari Bunda Pengharapan di Saint-Brieuc, Perancis. Namun demikian, devosi yang paling populer kepada “Bunda Pengharapan” berhubungan dengan penampakan ini. Guna memahami kisah dengan sebaik-baiknya, pertama-tama kita perlu melihat latar belakangnya. Pada tahun 1861, Kaiser Wilhelm I menduduki tahta Prussia, dan segera menunjuk Otto von Bismark sebagai penasehatnya. Tujuan mereka adalah mempersatukan segenap negeri yang berbahasa Jerman menjadi satu negara. Bersama-sama, mereka mengambil sikap yang agresif dan

suka berperang. Guna memaksakan kehendak mereka sekaligus menguji posisi di antara negara-negara sekitarnya, Prussia menyulut tiga perang singkat: pertama, melawan Denmark pada tahun 1864, menguasai Holstein; kedua, melawan Austria pada tahun 1866, menempatkan Prussia di bawah kendali Jerman; dan yang terakhir, melawan Perancis pada tahun 1870. Pada tanggal 1 Agustus 1870, meriam pertama ditembakkan dan Perang Perancis - Prussia pun dimulai. Pasukan Perancis dengan segera jatuh ke dalam kekuasaan militer Prussia. Pada tanggal 27 Desember, Prussia telah menyerbu Paris. Sekarang mereka mengarah ke provinsi-provinsi barat yaitu Normandy dan Brittany. Pertengahan Januari 1871, pasukan Prussia hanya beberapa mil saja jauhnya dari kota Pontmain, yang terletak di sebelah kanan dalam garis pertahanan Perancis. Penduduk Pontmain ketakutan. P. Guerin, yang telah menjadi imam paroki selama 35 tahun, meminta anak-anak untuk berdoa kepada Bunda Maria memohon perlindungan. Pada sore hari Selasa, 17 Januari, Eugene Barbadette yang berusia 12 tahun sedang berjalan meninggalkan kandang ayahnya. Anak laki-laki ini mendongak ke atas ke langit yang berbintang dan melihat seorang Perempuan nan elok berdiri di angkasa, sekitar 20 kaki di atas atap rumah, di antara dua cerobong asap rumah milik Jean dan Augustine Guidecoq yang ada di seberang jalan. Perempuan itu mengenakan gaun berwarna biru tua bertaburan bintang-bintang emas, sebuah kerudung hitam dan sebuah mahkota emas sederhana. Eugene berdiri terpesona di sana dalam dinginnya salju sekitar 15 menit lamanya. Ayahnya dan saudara laki-lakinya yang berumur sepuluh tahun, Yosef, keluar dari kandang. Eugene berseru, “Lihat di sana! Di atas rumah! Apakah yang kalian lihat?” Yosef menggambarkan Perempuan itu persis sama seperti yang dilihat Eugene. Ayahnya tidak melihat apa-apa, jadi dengan geram ia memerintahkan anak-anak untuk kembali memberi makan kuda-kuda di kandang. Entah apa alasannya, sejenak kemudian, sang ayah menyuruh kakak beradik itu untuk keluar dan melihat kembali. Mereka melihatnya lagi. Yosef terus-menerus mengatakan, “Alangkah cantiknya dia! Alangkah cantiknya!” Ibu mereka, Victoria Barbadette, sekarang muncul di sana dan menyuruh Yosef diam sebab ia begitu ribut hingga menarik perhatian orang. Tahu bahwa anak-anak itu jujur dan tidak berbohong, ibunya pun mengatakan, “Mungkin itu Santa Perawan yang menampakkan diri kepada kalian. Karena kalian melihatnya, marilah kita mendaraskan lima Bapa Kami dan lima Salam Maria demi menghormatinya.” (Kedua kakak beradik itu amat saleh: mereka memulai hari-hari mereka dengan melayani Misa Kudus, mendaraskan rosario dan mempersembahkan Jalan Salib dengan intensi kakak lakilaki mereka yang bertugas dalam dinas ketentaraan Perancis.)

Setelah mendaraskan doa-doa di dalam kandang agar tak menarik perhatian orang, Nyonya Barbadette bertanya apakah anak-anak masih melihat Perempuan itu. Ketika mereka menjawab, “Ya,” ia pergi mengambil kacamata. Ketika kembali, sang ibu membawa serta saudari mereka, Louise, bersamanya; namun tak seorang pun dari keduanya melihat apa-apa. Perangai sang ibu pun berubah dan ia menuduh kedua anaknya telah berbohong. Terlintas dalam benak Nyonya Barbadette untuk memanggil para biarawati. Katanya, “Para biarawati lebih saleh dari kalian. Jika kalian melihatnya, tentulah mereka melihatnya juga.” Suster Vitaline juga tahu bahwa anak-anak itu tidak berbohong. Tetapi, ia pun tak dapat melihat Perempuan itu. Suster Vitaline kemudian pergi ke rumah tetangga dan meminta dua gadis kecil, Francoise Richer (berusia 11 tahun) dan Jeanne-Marie Lebosse (berusia 9 tahun) untuk datang bersamanya. Kedua gadis kecil itu menggambarkan sang Perempuan tepat sama seperti kedua anak lainnya. Sekarang, Suster Marie Edouard telah bergabung dalam kelompok tersebut. Setelah mendengar apa yang dikatakan kedua gadis kecil, ia pergi memanggil P Guerin dan seorang anak lain, Eugene Friteau (berusia 6 setengah tahun). Eugene juga melihat sang Perempuan. Sekarang telah terkumpul suatu himpunan besar sekitar 50 orang warga desa. Augustine Boitin, yang baru berusia 25 bulan, menggapai sang Perempuan dan berseru, “Yesus! Yesus!” Hanya keenam kanak-kanak ini saja yang melihat penampakan Bunda Pengharapan. P Guerin meminta semua yang hadir untuk berdoa, maka mereka berlutut dan mendaraskan rosario. Suster Marie Edouard memimpin himpunan umat untuk mendaraskan Magnificat. Perlahan-lahan, suatu pesan dalam huruf-huruf emas nampak di langit: “Tetapi, berdoalah anak-anakku.” Semua anak-anak melihat pesan yang sama. Suster Marie Edouard kemudian memimpin yang lainnya memadahkan Litani Santa Perawan Maria. Pesan selanjutnya disingkapkan, “Tuhan akan mendengarkan kalian dalam waktu dekat.” Datang kabar bahwa pasukan Prussia sekarang telah berada di Laval, sangat dekat dengan Pontmain. Pesan berlanjut, “Putraku membiarkan DiriNya tergerak oleh belas kasihan.” Ketika anak-anak memaklumkan pesan ini, P Guerin meminta khalayak ramai untuk menyanyikan madah pujian. Suster Marie Edouard mengatakan, “Bunda Pengharapan, wahai nama yang begitu manis, lindungilah negeri kami, doakanlah kami, doakanlah kami!” Orang banyak menanggapi, “Jika mereka [Prussia] berada di gerbang masuk desa, kami tidak akan takut lagi sekarang!” Di akhir madah, pesan menghilang. Himpunan orang banyak kemudian menyanyikan sebuah madah tobat dan silih kepada Yesus. Bunda Maria tampak berduka, ia memegang sebuah salib merah yang besar dengan tulisan “Yesus Kristus.”

Pada pukul 8.30 petang, orang banyak menyanyikan, “Ave, Maris Stella,” dan salib lenyap. Lagi, Bunda tersenyum dan dua salib putih kecil nampak di kedua pundaknya. Ia merentangkan tangannya ke bawah, seperti yang terlihat dalam gambar-gambar Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa. Sebuah selubung putih secara perlahan-lahan menutupi Bunda Maria dari kaki hingga ke mahkota. Sekitar pukul 8.45 petang, anak-anak mengatakan, “Sudah selesai.” Bunda Maria telah menghilang. Sementara penampakan ini berlangsung, Jenderal Von Schmidt menerima perintah dari Komando Tinggi Prussia untuk menghentikan penyerangan dan mundur. Sepuluh hari kemudian, suatu perjanjian gencatan senjata ditanda-tangani antara Perancis dan Prussia. Perantaraan ajaib Bunda Maria telah menyelamatkan Pontmain. Karena penampakan ini, devosi kepada Bunda Pengharapan segera tersebar luas. Pesan Bunda Maria adalah pesan pengharapan, “Tetapi, berdoalah anak-anakku. Tuhan akan mendengarkan kalian dalam waktu dekat. Putraku membiarkan DiriNya tergerak oleh belas kasihan.” Sementara kita mendaraskan rosario kita setiap hari memohon pemeliharaan keibuan Bunda Maria, patutlah kita ingat bahwa ia, yang berdiri di kaki salib, yang dipenuhi pengharapan akan pengampunan dosa dan kebangkitan ke hidup yang kekal, memberikan pengharapan kepada kita juga sepanjang perjalanan hidup kita. Bersama Bunda Pengharapan, kita sungguh memiliki jaminan bahwa kita tidak akan pernah ditinggalkan, dan bahwa kita senantiasa memiliki pengharapan akan dipersatukan dengan Tuhan kita sekarang dan selama-lamanya di surga.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a
professor of catechetics and theology at Christendom's Notre Dame Graduate School in Alexandria. sumber : “Straight Answers: Mary as Our Lady of Hope” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2006 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Santa Perawan Maria Bunda Penolong Abadi
oleh: P William P Saunders * . .

Bagaimanakah kisah yang melatarbelakangi lukisan Bunda Penolong Abadi? ~ seorang pembaca di Reston Lukisan Bunda Penolong Abadi adalah sebuah ikon, dilukis di atas kayu dan tampaknya berasal dari sekitar abad ketigabelas. Ikon ini (kurang lebih 54 x 41,5 sentimeter) menggambarkan Bunda Maria, di bawah gelar “Bunda Allah,” menggendong Kanak-Kanak Yesus. Malaikat Agung St Mikhael dan Malaikat Agung St Gabriel, melayang di kedua pojok atas, memegang alat-alat Sengsara - St Mikhael (di pojok kiri) memegang tombak, bunga karang yang dicelupkan ke dalam anggur asam dan mahkota duri, sementara St Gabriel (di pojok kanan) memegang salib dan paku-paku. Tujuan dari sang pelukis adalah menggambarkan Kanak-Kanak Yesus menyaksikan penglihatan akan Sengsara-Nya di masa mendatang. Kegentaran yang dirasakan-Nya diperlihatkan melalui terlepasnya salah satu sandal-Nya. Namun demikian, ikon ini juga menyampaikan kemenangan Kristus atas dosa dan maut, yang dilambangkan dengan latar belakang keemasan (lambang kemuliaan kebangkitan) dan dari cara dengan mana para malaikat memegang alatalat siksa, yaitu bagaikan memegang tanda kenang-kenangan yang dikumpulkan dari Kalvari pada pagi Paskah. Dengan suatu cara yang amat indah, Kanak-kanak Yesus menggenggam erat tangan Bunda Maria. Ia mencari penghiburan dari BundaNya, sementara Ia melihat alat-alat sengsara-Nya. Posisi tangan Maria keduanya memeluk Kanak-Kanak Yesus (yang tampak bagaikan seorang dewasa kecil) dan memberikan-Nya kepada kita - menyampaikan realita akan inkarnasi Tuhan kita, bahwa ia adalah sungguh Allah yang juga

menjadi sungguh manusia. Dalam ikonografi, Bunda Maria di sini digambarkan sebagai Hodighitria, yaitu dia yang menghantar kita kepada sang Penebus. Ia adalah juga Penolong kita, yang menjadi perantara kita kepada Putranya. Bintang yang terlukis pada kerudung Maria, yang terletak di tengah atas dahinya, menegaskan peran Maria dalam rencana keselamatan baik sebagai Bunda Allah maupun Bunda kita. Menurut tradisi, seorang saudagar mendapatkan ikon Bunda Penolong Abadi dari pulau Krete dan mengirimkannya ke Roma dengan kapal laut menjelang akhir abad kelimabelas. Dalam perjalanan, mengamuklah suatu badai dahsyat, yang mengancam nyawa mereka semua yang berada dalam kapal. Para penumpang bersama awak kapal berdoa memohon bantuan Bunda Maria, dan mereka diselamatkan. Begitu tiba di Roma, sang saudagar yang menghadapi ajal, memerintahkan agar lukisan dipertontonkan agar dapat dihormati secara publik. Sahabatnya, yang menahan lukisan tersebut, menerima perintah berikutnya: dalam suatu mimpi kepada gadis kecilnya, Bunda Maria menampakkan diri dan menyatakan keinginannya agar lukisan dihormati di sebuah gereja antara Basilika St Maria Maggiore dan St Yohanes Lateran di Roma. Sebab itu, lukisan ditempatkan di Gereja St Matius, dan kemudian terkenal sebagai “Madonna dari St Matius.” Para peziarah berduyun-duyun datang ke gereja tersebut selama tiga ratus tahun berikutnya, dan rahmat berlimpah dicurahkan atas umat beriman. Setelah pasukan Napoleon menghancurkan Gereja St Matius pada tahun 1812, lukisan dipindahkan ke Gereja St Maria di Posterula, dan disimpan di sana hingga hampir 40 tahun lamanya. Di sana, lukisan itu kemudian diabaikan dan dilupakan. Oleh karena penyelenggaraan ilahi, lukisan diketemukan kembali. Pada tahun 1866, Beato Paus Pius IX mempercayakan lukisan kepada kaum Redemptoris, yang baru saja mendirikan Gereja St Alfonsus, tak jauh dari St Maria Maggiore. Semasa kanak-kanak, Bapa Suci berdoa di hadapan lukisan ini di Gereja St Matius. Beliau memerintahkan agar lukisan dipertontonkan kepada publik dan dihormati; beliau juga menetapkan perayaan Santa Perawan Maria Bunda Penolong Abadi pada hari Minggu sebelum Hari Raya Kelahiran St Yohanes Pembaptis. Pada tahun 1867, ketika lukisan sedang dibawa dalam suatu perarakan yang khidmad melalui jalan-jalan, seorang kanak-kanak disembuhkan secara ajaib, yang pertama dari banyak mukjizat yang kemudian dicatat sehubungan dengan Bunda Penolong Abadi. Hingga hari ini, Gereja St Alfonsus mempertontonkan ikon Bunda Penolong Abadi dan menyambut segenap peziarah yang datang untuk berdoa. Kiranya setiap kita tidak pernah ragu untuk memohon bantuan doa dan perantaraan Bunda Maria kapan saja, teristimewa pada masa kesesakan.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a
professor of catechetics and theology at Christendom's Notre Dame Graduate School in Alexandria. sumber : “Straight Answers: Icon Invokes Mary's `Perpetual Help'” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2006 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Bunda Penolong Abadi
27 JULI : PESTA BUNDA PENOLONG ABADI Dalam sebuah pelayaran mengarungi samudera, sebuah kapal diterpa badai. Semua penumpang panik termasuk kapten kapal dan anak buahnya. Berbagai usaha telah dicoba agar kapal tidak tenggelam, namun tampaknya sia-sia. Seorang penumpang teringat akan bawaannya. Ia buka bungkusnya dan nampaklah sebuah lukisan Bunda Maria. Sambil memperlihatkan lukisan Bunda Maria di tangannya ia berkata kepada semua penumpang kapal, "Mari kita berdoa mohon perlindungan Maria Bintang Laut." Tengah mereka berlutut dan berdoa tiba-tiba langit yang tadinya gelap berawan menjadi cerah. Angin yang selama beberapa jam membuat perahu oleng mulai reda. Begitu juga gelombang laut pelan-pelan menjadi teduh. Akhirnya kapal merapat di pelabuhan Roma. Semua penumpang selamat. Pemilik lukisan langsung menuju ke rumah kawannya. Sayang, usia orang itu tidak lama. Sebelum meninggal ia berpesan kepada kawannya untuk menyerahkan lukisan kepada salah satu gereja di Roma. Kawannya melihat lukisan itu indah, tetapi juga aneh. Tidak sebagaimana lukisan Bunda Maria

yang pernah ia lihat, lukisan ini memberi suatu pesan khusus yang sulit dilupakan. Gambar ajaib itu memperlihatkan Bunda Maria sedang menggendong Kanak-kanak Yesus. Sikap dan wajah Yesus memperlihatkan rasa cemas. Yesus yang masih kecil nampaknya mencari perlindungan pada bunda-Nya. Tangan-Nya yang mungil menggenggam erat-erat tangan Bunda Maria. Mata Yesus menunjukkan rasa cemas. Keterkejutan dan usaha menyelamatkan diri secara tergesa-gesa nampak dari salah satu sandalnya yang tergantung dan hampir terlepas . Menurut pelukisnya, kemungkinan ia berasal dari pulau Kreta di Eropa Timur, ketika itu Yesus sedang bermain. Tiba-tiba datang dua orang malaikat. Pasti Yesus terkejut. Ia segera lari ke pangkuan bunda-Nya untuk mohon perlindungan. Bunda Maria juga sempat terkejut sebelum mengetahui apa yang terjadi. Ada alasan yang kuat mengapa Yesus kecil terkejut ketika melihat dua malaikat tersebut. Utusan Tuhan itu memperlihatkan secara jelas salib, paku-paku, lembing dan bunga karang yang penuh cuka dan empedu. barang-barang ini, seperti kita ketahui, kelak akan menjadi alat kesengsaraan Yesus ketika Ia memikul salib dan wafat di Kalvari. Sebagai anak kecil Yesus ketakutan. Ia merasa ngeri. Karena itu Ia memeluk Maria. Jari-jari-Nya gemetar dalam genggaman Bunda Maria yang aman. Dengan penuh kasih keibuan, Bunda Maria merapatkan Kanak-kanak Yesus lebih dekat ke tubuhnya. Dalam pelukan Maria, Yesus merasa aman. Kawan pemilik lukisan sangat menyukai lukisan Bunda Penolong Abadi; ia menyimpannya. Malam hari Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dalam suatu mimpi. Bunda Maria mengingatkannya untuk melaksanakan pesan kawannya sebelum meninggal, yaitu menyerahkan lukisan kepada gereja. Mimpinya disampaikan kepada isterinya, tetapi mereka masih tetap menyimpannya. Tak lama kemudian ia pun meninggal. Ia telah berpesan kepada isterinya untuk menyerahkan lukisan ke gereja. Namun demikian isterinya bertekad untuk tetap menyimpannya. Bunda Maria kembali mengingatkan keluarga itu melalui anak gadisnya, "Ibu, aku melihat seorang wanita yang amat cantik. Ia berkata kepadaku, 'katakan kepada ibumu, Bunda Penolong Abadi minta supaya lukisan dirinya ditempatkan di salah satu gereja.' Akhirnya lukisan diserahkan ke Gereja St. Alfonsus di Roma dan disimpan disana selama kurang lebih 300 tahun. Selama itu pula tempat tersebut menjadi terkenal karena mukjizat-mukjizat yang terjadi. Pada tahun 1798,

di jaman Napoleon berkuasa, para imam diusir. Salah seorang imam sempat menyimpan lukisan Bunda Penolong Abadi di sebuah kapel kecil dan lukisan itu pun terlupakan selama 70 tahun. Seorang bruder tua masih ingat riwayat lukisan itu. Ia menceritakannya kepada seorang anak kecil yang kemudian menjadi seorang imam Redemptoris. Ia menceritakannya pula kepada sesama imam hingga akhirnya berita ini terdengar juga oleh Paus. Paus memerintahkan agar lukisan tersebut diperlihatkan dan dihormati. Pada tahun 1866 lukisan Maria Penolong Abadi ditempatkan kembali secara resmi di Gereja St. Alfonsus, Roma . Lukisan Maria Penolong Abadi yang asli dilukis di atas kayu. Usianya kirakira 500 tahun. Paus Pius IX berpesan kepada para imam Redemptoris, "Perkenalkanlah dia ke seluruh dunia". Sejak itu lukisan Maria Penolong Abadi diperbanyak dan duplikatnya disebarkan ke seluruh dunia. Konsili Vatikan II dalam salah satu butir penghormatan kepada Maria memberikan nama Penolong Abadi (Perpetual Help). Pertimbangannya ialah karena nama itu secara ajaib menonjolkan dan menekankan pengasuhan keibuan yang dilakukan Maria terhadap Gereja yang kini masih berjuang di dunia. MAKNA GAMBAR

a b

Paraf Yunani yang artinya "Bunda Allah"

Bintang di cadar Bunda Maria. Beliaulah Bintang Lautan … yang membawa cahaya Kristu kepada kegelapan dunia ini … Bintang yang membimbing kita dengan aman menuju rumah

Surgawi. c d e f g h i j k l m

Paraf Yunani untuk "Malaikat Agung Mikael". Ia dilukiskan sedang memegang lembing d bunga karang alat sengsara Kristus.

Mulut Maria digambar mungil sebagai lambang sedikit berbicara dan dalamnya kehidupa kontemplasi Sang Perawan. Jubah Merah, warna yang dikenakan oleh para perawan pada zaman Kristus.

Mantel Biru Tua, warna yagn dipakai para ibu di Palestina. Maria adalah perawan dan ib

Tangan-tangan Kristus menggenggam erat ibu jari Bunda-Nya, menyatakan kepada kita kepercayaan yang harus kita berikan di dalam doa-doa kepada Bunda Maria.

Mahkota emas dilukis dalam gambar aslinya, merupakan tanda dari banyaknya doa yang terkabul yang ditujukan kepada Bunda Maria yang disebut sebagai "Bunda Penolong Ab Paraf Yunani untuk "Malaikat Agung Gabriel". Ia memegang salib dan paku-paku.

Mata Bunda Maria digambar besar, mata itu melihat tembus pada kebutuhan-kebutuha dan mengundang permohonan-permohonan. Paraf Yunani untuk "Yesus Kristus".

Tangan Kiri Bunda Maria menopang Kristus dengan eratnya, menyatakan kepada kita ja yang kita peroleh dalam pengabdian terhadap Bunda Allah.

Sandal yang terjatuh, suatu tanda bahwa bagi mereka yang merenungkan sengsara Kris akan memperoleh penyelamatan dan memasuki jenjang pewaris-Nya yang abadi (Rut 4:7

Doa Novena

BUNDA PENOLONG ABADI DOAKANLAH KAMI
Bunda Penolong Abadi, dengan penuh kepercayaan dan harapan kami berlutut di hadapanmu. Belum pernah ada orang yang sia-sia mencari perlindunganmu. Semasa hidupmu sebagai ibu, engkau seringkali memberi pertolongan kepada Yesus Puteramu. Dengan penuh kasih sayang engkau melindungi dan membimbing-Nya selama masa muda-Nya. Selama hidup-Nya di muka umum engkau menghibur-Nya dan memberi dorongan kepada-Nya. Pada saat Dia menderita, engkau mendampingi dan menguatkan-Nya. Demikian juga jadilah bagi kami seorang ibu yang selalu menolong kami. Bunda Maria, kami ini juga anakmu.

Di kayu salib, Putera Ilahimu telah memberikan dikau sebagai bunda kami dan engkau telah menerima kami sebagai anakmu. Kami tahu engkau memberi anak-anakmu -khususnya mereka yang menghormatimu sebagai Bunda Penolong Abadi- rahmat dan berkat yang tak terhitung banyaknya untuk jiwa raga mereka. Dengan penuh syukur kami mengucapkan terima kasih untuk segala perlindungan bagi kami dan bagi mereka semua. Bunda Penolong Abadi, jangan biarkan kami sekarang pergi tanpa penghiburanmu. Kami selalu memerlukan bantuanmu, teristimewa dalam kesulitan yang sekarang ini kami alami ..... Bunda Maria pandanglah kami dengan penuh kebaikan dan kasih sayang. Jadilah perantara kepada Putera Ilahimu untuk memperoleh anugerahanugerah ...... yang kami mohon dengan sangat dalam doa ini. Kami berjanji akan berterima kasih kepadamu selama hidup kami, sampai kami datang bersyukur kepadamu di surga. Bunda yang berkuasa, baik bagi kami, Engkau dapat menolong kami, Engkau pasti berkenan menolong kami, Engkau bersedia menolong kami, O Bunda Penolong Abadi yang setia, terimalah doa kami. Amin. sumber : AVE MARIA No. 9 Juli 1997; diterbitkan oleh Marian Centre Indonesia

Bunda Pertolongan Orang Kristen
Dalam tahun 1571 sebuah armada Turki yang luar biasa besar berlayar menuju Eropa. Sasarannya menaklukkan Kota Abadi Roma. Dari

pihak Eropa dikerahkan sebuah armada gabungan, namun kecil jumlahnya dan sederhana persenjataannya, dipimpin oleh Don Yuan dari Austria. Dalam tahun 1570, Uskup Agung Montufor dari Meksiko menyuruh dibuatkan reproduksi gambar Bunda Maria Guadalupe yang sebelum dikirim kepada Raja Philip II dari Spanyol disentuhkan pada gambar aslinya. Gambar kecil itu diserahkan kepada Admiral Giovani Doria dan disimpan dalam kabin admiral selama pertempuran yang hebat berlangsung di Lepanto. Ia berkata, "Mari kita panjatkan doa mohon bantuan doa Maria untuk menyelamatkan armada kita dalam pertempuran yang jelas-jelas merupakan kehancuran di pihak Barat." Waktu itu Pimpinan Gereja tertinggi adalah Paus Pius V. Beliau menyerukan kepada semua orang Katolik di Eropa untuk memohon bantuan Bunda Allah dengan gelarnya Pertolongan Orang Kristen dengan berdoa rosario tanpa henti. Umat Katolik menanggapi seruan Paus dan berdoa rosario 24 jam terus-menerus. Dalam saat-saat yang amat kritis, pada saat pertempuran berat sebelah dan armada Kristen tak berdaya, tiba-tiba angin yang amat besar datang dan bertiup menerjang armada Turki. Armada yang kuat itu tenggelam dan hancur berantakan. Semestinya berita itu baru sampai di Roma beberapa hari kemudian, tetapi aneh, Paus tiba-tiba berkata, "Marilah kita mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Allah; kemenangan sudah kita capai!" Kata-kata Paus itu dicatat dan disegel. Dua minggu kemudian utusan Don Yuan tiba di Roma membawa berita gembira tersebut. Isinya mengenai kemenangan tepat pada saat Paus mengumumkannya di Roma yaitu tanggal 7 Oktober 1571. Satu hari penuh dipersembahkan untuk menghormati Bunda Maria Bunda Segala Kemenangan. Tahun berikutnya 7 Oktober ditetapkan sebagai Pesta Ratu Rosario Yang Tersuci. Pada tahun 1815, seruan Santa Perawan Maria Pertolongan Orang Kristen ditambahkan dalam Litani Bunda Maria dari Loretto.

MIMPI SANTO YOHANES BOSCO
Mengenai Santo Yohanes Bosco, Paus Pius XI pernah menyatakan: "Untuk Don Bosco, hal yang luar biasa menjadi biasa!" Di antara hal-hal luar biasa yang dianugerahkan Allah kepadanya adalah karunia membaca jiwa seseorang, nubuat, serta mimpi-mimpi yang ternyata berupa visiun (penglihatan, penampakan).

Don Bosco mendapat visiunnya yang pertama ketika berusia sembilan tahun dan kemudian banyak visiun-visiun yang diterimanya sepanjang hidupnya sebagai imam. Pada tahun 1844, Bunda Allah menampakkan diri kepada Don Bosco dan minta supaya didirikan sebuah gereja dengan nama Maria Pertolongan Orang Kristen. Bunda berbicara dengannya secara tepat dan mendetail hingga pada konstruksi bangunannya. Paus Pius IX menyuruh Don Bosco menulis semua mimpinya untuk menyemangati Tarekatnya, Tarekat St. Fransiskus dari Sales, dan seluruh dunia. Dalam buku "Dreams, Visions and Prophecies of Don Bosco" ditemukan "Impian tentang dua tiang utama". Bagian ini ditulis pada tanggal 30 Mei 1862. Tulisan berikut adalah ringkasan dari teks aslinya: "Beberapa menit yang lalu, saya bermimpi... Saya melihat suatu samudera yang amat luas. Seluruhnya air yang ditutupi suatu formasi armada kapalkapal dalam keadaan siap tempur... Semua kapal dilengkapi persenjataan berat dengan meriam, bom pembakar dan macam-macam persenjataan. Ada sebuah kapal yang megah dan lebih agung dari kapal lainnya. Ketika merapat, kapal-kapal lain langsung menghantam, menembakkan api dan menyerangnya habis-habisan. Kapal raksasa yang agung itu dikelilingi sebuah konvoi kapal kecil... Di tengah-tengah lautan yang tak berujung itu, nampak dua tiang besar yang amat kokoh, dalam jarak yang agak jauh, menjulang tinggi ke langit. Tiang yang satu menyangga sebuah patung Santa Perawan Maria yang Tak Bernoda. Di bawah kakinya terbaca hurufhuruf besar yang jelas: PERTOLONGAN ORANG KRISTEN. Tiang yang lainnya jauh lebih kokoh dan tinggi, menyangga sebuah Hosti dan di bawahnya tertulis: KESELAMATAN BAGI UMAT BERIMAN. Komandan kapal raksasa ini ialah Paus. Menghadapi serangan yang berbahaya itu Paus segera memanggil kapten-kapten kapal untuk berunding. Namun, ketika mereka sedang merundingkan strategi, sebuah badai yang ganas datang. Mereka harus kembali ke kapal masing-masing. Sambil berdiri di tempat kemudi, Paus mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengemudikan kapalnya di antara dua tiang besar itu. Semua armada musuh merapat dan dengan segala daya upaya berusaha menenggelamkan kapal besar itu. Meriam-meriam musuh meledak terus. Tiba-tiba Paus jatuh, terluka parah. Ia segera ditolong tetapi jatuh untuk kedua kalinya dan menghembuskan napasnya yang terakhir. Teriakan kemenangan dan luapan kegembiraan dari kapal-kapal musuh semakin menggila.

Tak lama setelah Paus meninggal, yang lain segera mengambil alih. Dengan segala pertahanannya, Paus yang baru berhasil mengemudikan kapal dengan selamat di antara dua tiang besar itu dan menambatkan kapalnya pada kedua tiang itu; pertama pada tiang dengan Hosti di atasnya, dan kemudian pada tiang dengan patung Bunda Maria di atasnya. Sesuatu yang tak terduga terjadi. Kapal-kapal musuh menjadi panik dan tercerai-berai, saling bertabrakan dan menenggelamkan satu sama lain... Sekarang suatu ketenangan yang besar meliputi seluruh samudera itu." Kemudian Don Bosco menjelaskan, "Kapal-kapal musuh melambangkan penganiayaan. Pencobaan yang besar menanti Gereja. Para musuh Gereja dilambangkan oleh kapal-kapal yang menyerang dan berusaha menenggelamkan kapal besar. Hanya dua hal yang dapat menyelamatkan kita pada saat yang kritis itu. Devosi kepada Sakramen Maha Kudus dan Devosi kepada Bunda Allah." Mari kita berusaha sekuat tenaga memanfaatkan kedua devosi ini serta menganjurkannya kepada siapa saja, di mana saja untuk melakukan hal yang sama! sumber : AVE MARIA No. 8 Mei 1997; diterbitkan oleh Marian Centre Indonesia

Artikel khusus.

Ratu Rosario
"Berdoalah Rosario setiap hari... Berdoa, berdoalah sesering mungkin dan persembahkanlah silih bagi para pendosa... Akulah Ratu Rosario... Pada akhirnya Hatiku yang Tak Bernoda akan menang." Pesan Bunda Maria dalam penampakan kepada anak-anak di Fatima Apa itu Rosario? Asal-usul Rosario

7 Oktober : Pesta SP Maria Ratu Rosario 15 Janji Maria

APA ITU ROSARIO?
Rosario berarti "Mahkota Mawar". Bunda Maria menyatakan kepada beberapa orang bahwa setiap kali mereka mendaraskan satu Salam Maria, mereka memberinya sekuntum mawar yang indah dan setiap mendaraskan Rosario secara lengkap mereka memberinya sebuah mahkota mawar. Mawar adalah ratu semua bunga, jadi Rosario adalah ratu dari semua devosi, oleh karenanya rosario adalah devosi yang paling penting. Rosario dianggap sebagai doa yang sempurna karena di dalamnya terkandung warta keselamatan yang mengagumkan. Sesungguhnya, dengan Rosario kita merenungkan peristiwa-peristiwa gembira, sedih dan mulia dalam kehidupan Yesus dan Maria. Rosario adalah doa yang sederhana, sangat sederhana seperti Maria. Rosario adalah doa yang dapat kita doakan bersama dengan Bunda Maria, Bunda Tuhan. Dengan Salam Maria kita memohon Bunda Maria untuk mendoakan kita. Bunda Maria senantiasa mengabulkan permohonan kita. Ia menyatukan doanya dengan doa kita. Oleh karena itu, rosario menjadi doa yang ampuh sebab apa yang Bunda Maria minta, ia pasti menerimanya. Yesus tidak pernah menolak apa pun yang diminta BundaNya. Di setiap penampakan, Bunda Surgawi meminta kita untuk mendaraskan Rosario sebagai senjata ampuh melawan kejahatan, dan sarana pembawa damai sejahtera. Dengan doamu digabungkan dengan doa Bunda Surgawi, kamu dapat memperoleh rahmat yang besar untuk menghasilkan pertobatan. Setiap hari, melalui doa, kamu dapat mengusir dari dirimu sendiri dan dari tanah airmu banyak bahaya dan kejahatan. Tampaknya, Rosario hanyalah doa yang diulang-ulang, tetapi sesungguhnya Rosario itu seperti dua orang yang saling mengasihi yang setiap kali saling mengucapkan: "Aku mengasihimu"… Keseluruhan Rosario terdiri dari lima belas misteri. Dalam satu misteri didaraskan sepuluh Salam Maria untuk menghormati suatu misteri dalam kehidupan Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Biasanya kita mendaraskan lima misteri sekaligus sambil merenungkan suatu peristiwa. Misteri-misteri dapat didoakan sebagian untuk kemudian dilanjutkan kembali, hingga satu peristiwa lengkap didaraskan dalam hari yang sama.

Di setiap misteri yang terdiri dari sepuluh Salam Maria, meditasi dapat dilakukan di setiap manik-manik yang mewakili satu Salam Maria.

ASAL USUL ROSARIO
Karena Rosario dirangkai -terutama dan pada hakekatnyadari Doa Yesus dan Salam Malaikat, yaitu Bapa Kami dan Salam Maria, maka tanpa ragu-ragu kita mengakui doa itu sebagai doa utama sekaligus devosi utama umat beriman. Doa itu telah dipakai berabadabad lamanya semenjak zaman para rasul dan murid-murid hingga sekarang ini. Namun baru pada tahun 1214, Gereja menerima dan mengakuinya dalam bentuknya yang sekarang ini, serta mendaraskannya menurut metode yang kita pakai sekarang ini. Doa ini diwariskan kepada Gereja oleh St. Dominikus, pendiri Ordo Para Pengkotbah, yang menerimanya langsung dari Bunda Perawan Terberkati sebagai sarana yang ampuh untuk mempertobatkan kaum bidaah Albigensia dan pendosa-pendosa lainnya. Sehubungan dengan itu saya mau menceritakan kepada anda kisah St. Dominikus menerima Rosario Suci itu. Kisah ini ditemukan di dalam buku termasyhur Beato Alan de la Roche berjudul De Dignitate Psalterii. Menyadari bahwa gawatnya dosa-dosa umat merintangi pertobatan kaum bidaah Albigensia, Santo Dominikus mengasingkan diri ke sebuah hutan dekat kota Toulouse. Di sana ia berdoa tak henti-hentinya selama tiga hari tiga malam. Selama itu, ia tidak berbuat apa-apa selain berdoa sambil menangis, dan dengan tekun mengusahakan penebusan dosa demi meredakan kemurkaan Allah yang Mahakuasa. Ia berdoa dan bermatiraga dengan pengendalian diri yang sungguh-sungguh sehingga badannya menjadi lemah dan rapuh. Akhirnya ia jatuh sakit parah. Pada saat itulah Bunda Maria, didampingi oleh tiga malaikat, menampakkan diri kepadanya dan berkata: "Dominikus yang terkasih! Tahukah engkau senjata ampuh yang dipakai Tritunggal Mahakudus untuk membaharui dunia ini?" Jawab Santo Dominikus, "Oh, Ibu, engkau tahu senjata itu jauh melebihi saya, karena di samping Puteramu Yesus Kristus, engkau sudah selalu menjadi sarana utama keselamatan kami." Lalu Bunda Maria menjawab: "Aku mau engkau mengetahui bahwa dalam peperangan semacam ini, alat pelantak yang ampuh itu ialah Salam Malaikat, yang merupakan batu fundasi Perjanjian Baru. Oleh karena itu, kalau engkau mau menemui jiwa-jiwa kaum beriman yang bersikap keras, dan memenangkan mereka bagi Allah, wartakanlah mazmurku." Dominikus merasa terhibur lalu bangun. Terbakar oleh semangatnya untuk mempertobatkan orang-orang di daerah itu, ia mendirikan sebuah katedral. Pada suatu hari, malaikat-malaikat yang tak kelihatan membunyikan lonceng-lonceng untuk mengumpulkan orang-orang di daerah itu. Lalu Dominikus mulai berkhotbah kepada mereka.

Pada awal khotbahnya terdengar letusan halilintar yang menggemparkan, bumi bergoncang, matahari tak bersinar, dan guntur serta halilintar menggelegar sambung-menyambung membuat semua orang ketakutan. Mereka semakin takut tatkala memandang gambar Bunda Maria mengangkat tangannya ke surga sebanyak tiga kali untuk menurunkan murka Allah atas mereka apabila mereka tidak mau bertobat, tidak mau merobah hidup mereka, dan tidak mau mencari perlindungan dari Bunda Allah yang kudus. Dengan cara ajaib ini Tuhan bermaksud menyebarluaskan devosi baru kepada Rosario Suci, dan membuatnya lebih dikenal oleh semua orang. Karena doa Dominikus, halilintar itu mulai reda berangsur-angsur, sehingga ia dapat melanjutkan kotbahnya. Dengan tegas dan mendesak, ia menjelaskan nilai dan pentingnya rosario suci sehingga hampir semua orang Toulouse memeluknya dan berjanji untuk meninggalkan kepercayaan mereka yang salah. Dalam waktu yang begitu singkat terjadilah perubahan besar di kota itu. Umat mulai menghayati kehidupan Kristiani, dan menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka. (Sumber: “Rahasia Rosario”, judul asli: The Secret of the Rosary by St Louis-Marie Grignion de Montfort, diterjemahkan oleh B. Mali, Penerbit Obor)

7 OKTOBER : PESTA SANTA PERAWAN MARIA RATU ROSARIO
Pada tanggal 7 Oktober 1571 terjadi suatu pertempuran armada laut yang dahsyat di Laut Tengah, dekat pantai Yunani. Tempat itu disebut Lepanto. Turki memiliki angkatan laut yang paling kuat di bawah pimpinan Halifasha. Sebelum pertempuran ini, Turki telah menyerang semua pelabuhan Katolik di Eropa. Paus Pius V yang pada waktu itu duduk di Tahta St. Petrus di Roma menyerukan supaya semua orang Katolik di Eropa bersatu dan bertahan terhadap serangan armada Halifasha. Kemudian Paus menunjuk Don Yuan dari Austria menjadi komandan armada gabungan Eropa yang akan menghadapi armada Turki. Don Yuan terkenal memiliki devosi yang sangat kuat kepada Bunda Maria. Ketika tentara Katolik naik ke kapal untuk diberangkatkan ke medan perang, mereka masing-masing diberi rosario di tangan kanan, sementara tangan kiri mereka memegang senjata. Paus yang menyadari aramada ini tidak ada artinya dibandingkan dengan armada Turki yang jumlahnya tiga kali lipat, meminta agar seluruh penduduk Eropa berdoa rosario. Di mana-mana orang berdoa rosario selama 24 jam terusmenerus.

7 Oktober 1571 pukul 11.30 kedua armada itu mulai bertempur dengan dahsyat hingga baru berakhir keesokan harinya pukul 5.30 sore. Mukjizat terjadi di sana. Ketika pertempuran sedang berlangsung sengit, tiba-tiba angin berubah arah sehingga menguntungkan pihak armada Katolik. Armada Turki berhasil dikalahkan. Halifasha mati terbunuh. Karena kemenangan rosario ini, maka tanggal 7 Oktober ditetapkan sebagai Hari Raya Rosario.

15 JANJI BUNDA MARIA BAGI MEREKA YANG SETIA BERDOA ROSARIO
1. Mereka yang dengan setia mengabdi padaku dengan mendaraskan Rosario, akan menerima rahmat-rahmat yang berdaya guna. 2. Aku menjanjikan perlindungan istimewa dan rahmat-rahmat terbaik bagi mereka semua yang mendaraskan Rosario. 3. Rosario akan menjadi perisai ampuh melawan neraka. Rosario melenyapkan sifat-sifat buruk, mengurangi dosa dan memenaklukkan kesesatan. 4. Rosario akan menumbuhkan keutamaan-keutamaan dan menghasilkan buah dari perbuatan-perbuatan baik. Rosario akan memperolehkan bagi jiwa belas kasihan melimpah dari Allah, akan menarik jiwa dari cinta akan dunia dan segala kesia-siaannya, serta mengangkatnya untuk mendamba hal-hal abadi. Oh, betapa jiwa-jiwa akan menguduskan diri mereka dengan sarana ini. 5. Jiwa yang mempersembahkan dirinya kepadaku dengan berdoa Rosario tidak akan binasa. 6. Ia yang mendaraskan rosario dengan khusuk, dengan merenungkan misteri-misterinya yang suci, tidak akan dikuasai kemalangan. Tuhan tidak akan menghukumnya dalam keadilan-Nya, ia tidak akan meninggal dunia tanpa persiapan; jika ia tulus hati, ia akan tinggal dalam keadaan rahmat dan layak bagi kehidupan kekal. 7. Mereka yang memiliki devosi sejati kepada Rosario tidak akan meninggal dunia tanpa menerima sakramen-sakramen Gereja. 8. Mereka yang dengan setia mendaraskan Rosario, sepanjang hidup mereka dan pada saat ajal mereka, akan menerima Terang Ilahi dan rahmat Tuhan yang berlimpah; pada saat ajal, mereka akan menikmati ganjaran pada kudus di surga. 9. Aku akan membebaskan mereka, yang setia berdevosi Rosario, dari api penyucian. 10. Putera-puteri Rosario yang setia akan diganjari tingkat kemuliaan yang tinggi di surga. 11. Kalian akan mendapatkan segala yang kalian minta daripadaku dengan mendaraskan Rosario. 12. Aku akan menolong mereka semua yang menganjurkan Rosario Suci dalam segala kebutuhan mereka. 13. Aku mendapatkan janji dari Putra Ilahiku bahwa segenap penganjur Rosario akan mendapat perhatian surgawi secara khusus sepanjang hidup mereka dan pada saat ajal.

14. Mereka semua yang mendaraskan Rosario adalah anak-anakku, saudara dan saudari Putra tunggalku, Yesus Kristus. 15. Devosi kepada Rosarioku merupakan pratanda keselamatan yang luhur.

Sudah di masukan dalam blog pada tanggal 11-09-2008

Artikel khusus tentang Penampakan.

Santa Perawan Maria Medali Wasiat
27 NOVEMBER : SP MARIA DARI MEDALI WASIAT

“Inilah lambang karunia yang kulimpahkan kepada orang-orang yang memintanya kepadaku. Barang-siapa mengenakannya akan menerima karunia yang besar.” ~ Pesan Bunda Maria kepada St. Katarina Laboure
Tengah malam Katarina Laboure dibimbing ke Kapel. Di sana ia berbicara dengan Bunda Allah. Dengan cara yang amat menyentuh hati, ia menikmati kasih sayang serta perhatian Bunda Maria yang ditujukan bagi semua orang, terutama mereka yang bertaut kepada Putera-nya dan menyebut dirinya Kristen. Medali Wasiat yang dianugerahkan kepada kita menjadi tanda kasih sayang serta pemeliharaan yang ditawarkan Bunda Maria kepada kita semua. Mengenakan Medali Wasiat berarti menerima tawaran kasihnya.

Apa itu Yang Dikandung Tanpa Dosa? Siapakah St. Katarina Laboure?

Tanggal 18 Juli 1830 jam setengah dua belas malam terbangunlah Sr Katarina. Dengan jelas ia mendengar suara seseorang memanggil-manggil namanya hingga tiga kali, “Suster Laboure!” Tampaklah seorang anak kecil kira-kira berumur empat atau lima tahun yang berkata kepadanya, “Mari kita pergi ke gereja, Santa Maria menunggumu.” Sr Katarina menjawab: "Kita akan ketahuan." Anak itu tersenyum, "Jangan khawatir, sekarang ini jam setengah dua belas, semua orang sudah tidur ...ayolah, aku menunggumu." Sr Katarina segera bangkit dan bersiap-siap lalu pergi bersama anak itu yang selalu ada di sebelah kirinya dengan memancarkan sinar yang terang benderang. Pintu kapel yang terkunci langsung terbuka oleh sentuhan anak kecil itu. Sr Katerina amat takjub: di dalam gereja semua lilin dan lampu telah menyala, seolah-olah akan dipersembahkan Misa tengah malam. Anak itu menuntunnya ke altar. Kira-kira setengah jam lamanya Sr Katarina berlutut di sana, ketika tiba-tiba terdengar olehnya gemerisik gaun sutera. Anak itu berbisik, “Santa Maria ingin berbicara kepadamu”. Di sebelah altar turunlah Santa Maria. Setelah berlutut di hadapan tabernakel, Bunda Maria duduk di kursi Pastor. “Dengan satu langkah saja,” kata Sr Katarina, “aku berada di dekatnya. Tanganku bertumpu di atas lutut Santa Maria. Itulah saat yang paling membahagiakan dalam hidupku.” Santa Maria bercakap-cakap dengan Sr Katarina selama dua jam mengenai tugas yang hendak diberikan Tuhan kepada Sr Katarina serta kesulitan-kesulitan yang bakal dialaminya dalam mengerjakan tugas tersebut. Setelah Santa Maria pergi, anak kecil itu mengantarkan Sr Katarina kembali ke ruang tidur. Terdengarlah lonceng berbunyi dua kali tetapi Sr Katarina tidak dapat tidur lagi. Tanggal 27 November 1830 jam setengah enam sore, Sr Katarina dan para suster pergi ke Kapel untuk bermeditasi. Samar-samar terdengar gemerisik gaun sutera. Sr Katarina mengarahkan pandangannya ke altar dan di sana ia melihat Santa Perawan Maria berdiri di atas sebuah bola besar. Gaun sutera Maria bersinar kemilau. Kerudung putihnya panjang hingga ke kaki. Di bawah kerudung kepalanya, ia mengenakan sehelai renda untuk mengikat rambutnya. Sebuah bola emas dengan salib di atasnya ada ditangannya. Santa Maria menengadah mohon berkat Tuhan bagi benda itu. Lalu tampaklah pada jari-jemarinya cincin permata yang beraneka warna dan sangat indah. Permata ini memancarkan sinar gilang-gemilang.

Limpahan kemulian demikian terang hingga bola besar tempat Maria berpijak tidak tampak lagi. Sr Katarina mengerti bahwa sinar cahaya melambangkan rahmat yang dilimpahkan bagi mereka yang mencarinya; mutiara-mutiara di jari-jemari Bunda Maria yang tidak memancarkan sinar melambangkan rahmat bagi jiwa-jiwa yang lupa memintanya. Kemudian bola itu menghilang. Tangan Maria terentang ke bawah dan terbentuklah suatu bingkai yang lonjong dengan kata-kata mengelilingi kepalanya: “O Maria, yang dikandung tanpa dosa, doakanlah kami yang berlindung padamu.” Santa Perawan Maria berkata, “Inilah lambang karunia yang kulimpahkan kepada orang-orang yang memintanya kepadaku. Suruhlah membuat sebuah medali menurut bentuk ini. Barangsiapa mengenakannya akan menerima karunia yang besar, terutama jika medali ini dikenakan pada lehernya.” Kemudian berbaliklah gambar tersebut dan tampaklah gambar bagian belakang medali. Yaitu huruf “M” dengan sebuah salib di atasnya. Huruf M terletak di atas sebuah palang di mana di bawahnya terdapat dua buah hati. Hati yang pertama dilingkari mahkota duri - hati Yesus. Hati yang kedua tertusuk pedang - hati Maria. Penjelasannya amat sederhana. Kita umat Kristen telah ditebus oleh Tuhan yang telah disalibkan di hadapan ibu-Nya, Maria Ratu Para Martir. Dua belas bintang mengelilingi penampakan tersebut. Sr Katarina bertanya bagaimana ia dapat mengusahakan medali itu dibuat. Bunda Maria mengatakan bahwa ia harus pergi kepada Bapa Pengakuannya, Romo Jean Marie Aladel karena: "Ia adalah hambaku." Pada mulanya Romo Aladel tidak dapat percaya akan apa yang dikatakan Sr Katarina, namun demikan, setelah dua tahun berlalu, ia pergi juga kepada Uskup Agung Quelen di Paris. Tanggal 20 Juni 1832 Uskup Agung Quelen memerintahkan agar segera dibuat 2000 Medali. Ketika Sr Katarina menerima medalinya, ia berkata, "Sekarang medali ini harus disebarluaskan." Devosi kepada medali yang dianjurkan oleh Sr Katarina secara ajaib menyebar dengan cepat. Pertobatan dan mukjizatmukjizat yang terjadi melalui Medali Santa Perawan Maria tak terhitung banyaknya. Sehingga, nama resmi yang diberikan kepada medali tersebut "Medali dari Yang Dikandung Tanpa Dosa" segera dilupakan orang. Mereka lebih suka menyebutnya Miraculous Medal (Medali Ajaib) atau di Indonesia disebut Medali Wasiat. Pada tahun 1836 Komisi Khusus yang ditunjuk oleh Bapa Uskup Agung menyatakan bahwa penampakan Santa Perawan Maria di Kapel Biara Puteri-Puteri Kasih di 140 Rue du Bac, Paris, Perancis adalah benar.

Kita pun diberi keistimewaan untuk mengenakan Medali Wasiat. Mengenakannya berarti menerima tawaran perlindungan Bunda Maria yang membawa kuasa Putera-nya, Yesus Kristus ke dalam hidup kita.

"O Maria, yang dikandung tanpa dosa, doakanlah kami yang berlindung padamu.”
sumber : 1. AVE MARIA No. 3 April 1996; diterbitkan oleh Marian Centre Indonesia; 2. berbagai sumber Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

SP Maria dari Lourdes
11 FEBRUARI : SP MARIA DARI LOURDES

"Aku tidak menjanjikan kamu kegembiraan di dunia ini, tetapi di dunia yang akan datang." Pesan Bunda Maria dalam suatu penampakan kepada St. Bernadette Soubirous
11 Februari tahun 1858, di sebuah gua di Massabielle, dekat Lourdes, di Perancis selatan, Bunda Maria menampakkan diri sebanyak 18 kali kepada seorang gadis miskin bernama Bernadette Soubirous. Bunda Maria memperkenalkan diri sebagai Yang Dikandung Tanpa Dosa dan minta agar sebuah kapel dibangun di tempat penampakan. Gadis itu diminta minum dari sebuah sumber air di gua. Tidak ada sumber air sama sekali di sana, tetapi ketika Bernadette menggali di suatu tempat yang ditunjukkan kepadanya, sebuah mata air mulai memancar. Air yang hingga kini masih memancar itu mempunyai daya penyembuhan yang luar biasa, meskipun para ahli ilmu pengetahuan tidak

dapat menemukan adanya zat-zat yang berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit. Lourdes telah menjadi suatu tempat ziarah Bunda Maria yang paling terkenal.

Siapa itu Bernadette Soubirous? Kisah Penampakan Jenazah St Bernadette yang Tetap Utuh Apa itu Dikandung Tanpa Dosa?
KISAH PENAMPAKAN SEPERTI DICERITERAKAN SENDIRI OLEH BERNADETTE: "Suatu hari saya dan dua gadis lain pergi ke pinggir sungai Gave. Tiba-tiba saya mendengar bunyi gemerisik. Saya mengarahkan pandangan ke arah padang yang terletak di sisi sungai, tetapi pepohonan di sana tampak tenang dan suara itu jelas bukan datang dari sana. Kemudian saya mendongak dan memandang ke arah gua di mana saya melihat seorang wanita mengenakan gaun putih yang indah dengan ikat pinggang berwarna terang. Di atas masing-masing kakinya ada bunga mawar berwarna kuning pucat, sama seperti warna biji-biji rosarionya. Saya menggosok-gosok mata saya, kemudian saya tergerak untuk memasukkan tangan saya ke dalam lipatan baju saya di mana tersimpan rosario. Saya ingin membuat tanda salib, tetapi tidak bisa, tangan saya lemas dan jatuh kembali. Kemudian wanita itu membuat tanda salib. Setelah usaha yang kedua saya berhasil membuat tanda salib meskipun tangan saya gemetar. Kemudian saya mulai berdoa rosario sementara wanita itu menggerakkan manik-manik di antara jari-jarinya tanpa menggerakkan bibirnya sama sekali. Setelah saya selesai mendaraskan Salam Maria, wanita itu tiba-tiba menghilang. Saya bertanya kepada kedua gadis yang lain apakah mereka melihat sesuatu, tetapi mereka mengatakan tidak. Tentu saja mereka ingin tahu apa yang telah terjadi. Saya katakan kepada mereka bahwa saya melihat seorang wanita mengenakan gaun putih yang indah, namun saya tidak tahu siapa dia. Saya minta mereka untuk tidak menceritakan hal itu kepada siapa pun. Mereka mengatakan saya bodoh karena memikirkan yang bukan-

bukan. Saya katakan bahwa mereka salah, dan saya merasa terdorong untuk kembali lagi ke sana hari Minggu berikutnya. Ketiga kalinya saya ke sana, wanita itu berbicara kepada saya dan meminta saya untuk datang selama lima belas hari. Saya katakan saya bersedia datang. Kemudian wanita itu meminta saya untuk menyampaikan kepada romo agar sebuah kapel dibangun di sana. Ia juga meminta saya minum dari sumber air. Saya pergi ke sungai Gave, satu-satunya sungai yang ada di sana. Tetapi wanita itu menyadarkan saya bahwa bukan Gave yang ia maksudkan. Ia menunjuk ke sebuah aliran air kecil di dekat situ. Ketika saya sampai di sana, saya hanya dapat menemukan beberapa tetes air dan banyak lumpur. Saya menadahkan tangan untuk mendapatkan lebih banyak air, tetapi tidak berhasil. Karenanya saya menggali tanah. Saya berhasil memperoleh beberapa tetes air, baru setelah usaha yang keempat saya mendapatkan cukup air untuk diminum. Kemudian wanita itu menghilang dan pulanglah saya ke rumah. Saya datang setiap hari selama lima belas hari, dan setiap kali, kecuali hari Senin dan Jum'at, wanita itu menampakkan diri. Ia meminta saya mencari aliran sungai dan membersihkan diri di sana serta pergi ke pada romo meminta agar sebuah kapel didirikan di sana. Saya juga harus berdoa, katanya, untuk pertobatan orang-orang berdosa. Berkali-kali saya bertanya kepadanya apa arti semua itu, tetapi wanita itu hanya tersenyum. Akhirnya, dengan tangannya terentang dan matanya memandang ke langit, ia berkata bahwa dialah "Immaculate Conception" (Yang Dikandung Tanpa Dosa). Selama lima belas hari itu, ia mengungkapkan tiga buah rahasia kepada saya, tetapi saya tidak boleh mengatakannya kepada siapa pun juga, dan sejauh ini saya taat kepadanya."

(dari surat Santa Bernadette)
sumber : Our Lady of Lourdes; © Copyright 1990-2001 Catholic Online; www.catholic.org/mary/lourdes1.html Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Santa Perawan Maria dari Fatima

"Setiap orang, mulai dari dirinya sendiri, harus berdoa rosario dengan lebih khidmat ..... dan benar-benar mempraktekkan yang kuanjurkan yaitu devosi Sabtu Pertama setiap bulan." Pesan Bunda Maria Fatima kepada Lucia 1 Mei 1987
Fatima adalah sebuah kota kecil sebelah utara kota Lisbon di Portugal. Pada tahun 1917 Bunda Maria menampakkan diri di Fatima kepada tiga orang anak gembala. Mereka adalah Lucia dos Santos berumur 10 tahun, sepupunya bernama Fransisco Marto berumur 9 tahun dan Jacinta Marto berumur 7 tahun. Penampakan Maria didahului tiga penampakan Malaikat setahun sebelumnya yang mempersiapkan anak-anak ini untuk penampakan Bunda Maria. Malaikat mengajarkan kepada anak-anak, dua doa penyilihan yang harus didoakan dengan hormat yang besar. Pada penampakan terakhir di musim gugur 1916, Malaikat memegang sebuah piala. Ke dalam piala ini meneteslah darah dari sebuah Hosti yang tergantung di atasnya. Malaikat memberi ketiga anak itu Hosti sebagai Komuni Pertama mereka dari piala itu. Anak-anak tidak menceritakan penampakan ini kepada orang lain. Mereka melewatkan waktu yang lama dalam doa dan keheningan. 13 Mei 1917 Pesta Bunda Maria dan Sakramen Mahakudus. Ketiga anak itu sedang menggembalakan ternaknya di Cova da Iria, sebuah padang alam yang amat luas, kira-kira satu mil dari desa mereka. Tiba-tiba mereka melihat sebuah kilatan cahaya dan setelah kilatan yang kedua, muncul seorang wanita yang amat cantik. Pakaiannya putih berkilauan. Wanita yang bersinar bagaikan matahari itu berdiri di atas sebuah pohon oak kecil dan menyapa anak-anak:

"Janganlah takut, aku tidak akan menyusahkan kalian. Aku datang dari surga. Allah mengutus aku kepada kalian. Bersediakah kalian membawa setiap korban dan derita yang akan dikirim Allah kepada kalian sebagai silih atas banyak dosa -sebab besarlah penghinaan terhadap yang Mahakuasa- bagi pertobatan orang berdosa dan bagi pemulihan atas hujatan serta segala penghinaan lain yang dilontarkan kepada Hati Maria yang Tak Bernoda?" "Ya, kami mau," jawab Lucia mewakili ketiganya. Dalam setiap penampakan, hanya Lucia saja yang berbicara kepada Bunda Maria. Jacinta dapat melihat dan mendengarnya, tetapi Fransisco hanya dapat melihatnya saja. Wanita itu juga meminta anak-anak untuk datang ke Cova setiap tanggal 13 selama 6 bulan berturut-turut dan berdoa rosario setiap hari. 13 Juni 1917 ketiga anak itu pergi ke Cova. Pada kesempatan itu Bunda Maria mengatakan bahwa ia akan segera membawa Jacinta dan Fransisco ke surga. Sedangkan Lucia diminta tetap tinggal untuk memulai devosi kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda. Ketika mengucapkan kata-kata ini, muncullah dari kedua tangan Maria sebuah cahaya. Di telapak tangan kanannya nampak sebuah hati yang dilingkari duri, Hati Maria Yang Tak Bernoda yang terhina oleh dosa manusia. "Yesus ingin agar dunia memberikan penghormatan kepada Hatiku yang Tak Bernoda. Siapa yang mempraktekkannya, kujanjikan keselamatan. Jiwa-jiwa ini lebih disukai Tuhan, dan sebagai bunga-bunga akan kubawa ke hadapan takhta-Nya." "Janganlah padam keberanianmu. Aku tidak akan membiarkan kalian. Hatiku yang Tak Bernoda ini akan menjadi perlindungan dalam perjalananmu menuju Tuhan." 13 Juli 1917 "Berkurbanlah untuk orang berdosa. Tetapi teristimewa bila kalian membawa suatu persembahan, ucapkanlah seringkali doa ini: Ya Yesus, aku mempersembahkannya karena cintaku kepada-Mu dan bagi pertobatan orang-orang berdosa serta bagi pemulihan atas segala penghinaan yang diderita Hati Maria yang Tak Bernoda." Kemudian Bunda Maria memperlihatkan neraka yang sangat mengerikan. Begitu ngeri sampai anak-anak itu gemetar ketakutan. "Bila kelak, pada suatu malam kalian melihat suatu terang yang tak dikenal, ketahuilah bahwa itu adalah 'Tanda' dari Tuhan untuk menghukum dunia,

karena banyaklah kejahatan yang telah kalian lakukan. Akan terjadi peperangan, kelaparan dan penganiayaan terhadap Gereja dan Bapa Suci." "Untuk menghindari hal itu, aku mohon, persembahkanlah negara Rusia kepada Hatiku yang Tak Bernoda serta komuni pemulihan pada Sabtu pertama setiap bulan." "Bila kalian berdoa Rosario, ucapkanlah pada akhir setiap peristiwa: Ya Yesus yang baik, ampunilah segala dosa kami, lindungilah kami dari api neraka, hantarkanlah jiwa-jiwa ke dalam surga, terlebih jiwa yang sangat memerlukan pertolongan-Mu." 13 Agustus 1917 anak-anak tidak bisa datang ke Cova karena mereka semua digiring ke pengadilan oleh penguasa daerah setempat. Mereka diancam akan dimasukkan ke dalam minyak panas. Anak-anak dijebloskan ke dalam penjara selama 2 hari. Pada tanggal 19 Agustus Bunda Maria menampakkan diri pada saat anak-anak sedang menggembalakan ternak mereka di Valinhos. "Berdoalah, berdoalah dan bawalah banyak korban bagi orang berdosa. Sebab betapa banyak yang masuk api neraka karena tidak ada yang berdoa dan berkorban bagi mereka." 13 September 1917 Bunda Maria mendesak lagi tentang betapa pentingnya doa dan kurban. Ia juga berjanji akan datang bersama St. Yusuf dan Kanak-kanak Yesus pada bulan Oktober nanti. "Dalam bulan Oktober aku akan membuat suatu tanda heran, agar semua orang percaya." 13 Oktober 1917 Bersama anak-anak, sekitar 70.000 orang datang ke Cova untuk menyaksikan mukjizat yang dijanjikan Bunda Maria. Pagi itu hujan deras turun seperti dicurahkan dari langit. Ladang-ladang tergenang air dan semua orang basah kuyub. Menjelang siang, Lucia berteriak agar orang banyak menutup payung-payung mereka karena Bunda Maria datang. Lucia mengulangi pertanyaannya pada penampakan terakhir ini, "Siapakah engkau dan apakah yang kaukehendaki daripadaku?" Bunda Maria menjawab bahwa dialah Ratu Rosario dan ia ingin agar di tempat tersebut didirikan sebuah kapel untuk menghormatinya. Ia berpesan lagi untuk keenam kalinya bahwa orang harus mulai berdoa Rosario setiap hari.

"Manusia harus memperbaiki kelakuannya serta memohon ampun atas dosa-dosanya." Kemudian dengan wajah yang amat sedih Bunda Maria berbicara dengan suara yang mengiba: "MEREKA TIDAK BOLEH LAGI MENGHINA TUHAN YANG SUDAH BEGITU BANYAK KALI DIHINAKAN." Bunda Maria kemudian pergi ke pohon oak sebagai tanda penampakan berakhir. Awan hitam yang tadinya bagaikan gorden hitam menyingkir ke samping memberi jalan matahari untuk bersinar. Kemudian matahari mulai berputar, gemerlapan berwarna-warni, berhenti sejenak dan mulai berputar-putar menuju bumi. Orang banyak jatuh berlutut dan memohon ampun. Sementara fenomena matahari terjadi, ketiga anak melihat suatu tablo Keluarga Kudus di langit. Di sebelah kanan tampak Ratu Rosario. Di sebelah kirinya St. Yosef menggandeng tangan Kanak-kanak Yesus dan membuat tanda salib tiga kali bagi umatnya. Menyusul visiun yang hanya tampak oleh Lucia seorang diri: Bunda Dukacita bersama Tuhan berdiri di sampingnya dan Bunda Maria dari Gunung Karmel dengan Kanak-kanak Yesus di pangkuannya. Matahari meluncur seolah-olah akan menimpa orang banyak, tiba-tiba ia berhenti dan naik kembali ke tempatnya semula di langit. 70,000 orang yang berkerumun di Cova itu menyadari bahwa pakaian mereka yang tadinya basah kuyub oleh hujan lebat, tiba-tiba menjadi kering. Demikian pula tanah yang tadinya becek dan berlumpur akibat hujan tiba-tiba menjadi kering. Mukjizat matahari selama 15 menit itu disaksikan bukan hanya oleh orang-orang di Cova da Iria saja, tetapi juga oleh banyak orang di sekitar wilayah itu sampai sejauh 30 mil. sumber : 1. Maria dari Fatima, Rm Petrus Pavlicek OFM - Wina; 2. AVE MARIA No. 10 September 1997; diterbitkan oleh Marian Centre Indonesia Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Santa Perawan Maria dari Guadalupe

12 DESEMBER : ST PERAWAN MARIA GUADALUPE

"Janganlah khawatir mengenai apapun, bukankah aku ada di sini? Aku, yang adalah bundamu. Bukankah engkau ada dalam perlindunganku?" Bunda Maria dari Guadalupe
Pada subuh yang dingin 9 Desember 1531, seorang petani yang sudah menjadi duda dalam usia 50 tahun, yang belum lama dibaptis dan menggantikan namanya dari “Elang Bernyanyi” menjadi Juan Diego, keluar dari rumahnya di desa Tolpetlac dekat Guauhtitlan Mexico. Ia bergegas pada Sabtu pagi itu menuju Tlatelolco untuk ikut ambil bagian dalam Misa. Ia memang setiap hari menghadiri Misa. Pagi itu ia berjalan melintasi beberapa punggung bukit menuju Tlatelolco dekat Mexico City. Sementara menyusuri jalan, ia mendengar suara orang menyanyi. Suara seorang perempuan. Dari tempat suara, ia melihat awan putih muncul membentuk pelangi. Tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari tengah-tengah awan dan menjadi terang benderang. Ia melihat seorang perempuan yang amat cantik rupawan berdiri di depan awan. Pakaiannya berkilau keemasan. Juan Diego menunduk dalam sikap berlutut. Perempuan itu kemudian berkata dalam bahasa setempat, bahasa Nahuatl: “Anakku, Juan Diego, kemanakah engkau hendak pergi?” Juan Diego menjawab, “Yang mulia, saya dalam perjalanan menuju gereja di Tlatelolco untuk menghadiri Misa.” Selanjutnya Bunda Maria meminta Juan Diego untuk pergi ke kediaman Uskup dan mengatakan kepadanya bahwa Bunda Maria menginginkan sebuah gereja dibangun di bukit di mana ia menampakkan diri sebagai penghormatan kepadanya. Juan Diego bergegas ke kediaman Mgr Zumarraga, Uskup Mexico. Ia raguragu, ia menyadari dirinya sebagai seorang Indian yang tak dikenal. Menjelang malam, ia datang kembali ke bukit. Bunda Maria sudah menunggu di sana. Juan minta agar Bunda Maria mengirim orang lain saja untuk menghadap Uskup. Katanya, “Saya hanya seorang yang miskin. Saya

merasa tidak layak hadir di tempat Uskup. Maafkan saya, ya Ratu. Saya tidak bermaksud menyakiti hatimu.” Tetapi Bunda Maria menegaskan bahwa ia menghendaki Juan dan bukan orang lain. Sebab itu, keesokan harinya Juan memberanikan diri menghadap Bapa Uskup. Uskup mengajukan sejumlah pertanyaan dan mengatakan bahwa jika benar ia adalah Bunda Allah, maka ia perlu memberi bukti. Pada tanggal 12 Desember, Bunda Maria menampakkan diri lagi kepada Juan. Ia mengajak Juan Diego mendaki sebuah bukit yang gersang, hanya kaktus dan belukar yang tumbuh di sana. Tetapi, setibanya Juan di sana, bukit itu dipenuhi bunga-bunga mawar segar yang berembun dan harum mewangi. Bunda Maria mengambil mawar-mawar yang telah dipetik dan merangkaikannya di dalam lipatan-lipatan TILMA (= mantol kasar yang dipakai suku Indian di Mexico) Juan. Ketika Juan tiba di kediaman Uskup, Juan harus menunggu lama karena dihalang-halangi para penjaga yang dengan penuh rasa ingin tahu berusaha mengambil mawar-mawar dari mantol Juan. Namun, begitu mereka mengulurkan tangan, mawar-mawar itu seperti terpateri di mantol Juan sehingga mereka tidak dapat mengambilnya. Di hadapan Uskup, Juan membuka tilmanya dan mawar-mawar pun berjatuhan ke lantai. Di tilma Juan terlukis gambar Bunda Allah dalam pakaian Indian. Tangannya terkatup dalam sikap berdoa, rambutnya yang hitam lembut terurai sampai ke bahunya. Wajahnya bulat oval dengan matanya setengah tertutup. Senyum merekah di bibirnya. Uskup Juan de Zumarraga jatuh berlutut. Airmata mengalir membasahi pipinya ketika ia berdoa mohon ampun karena kurang percaya. Kemudian Uskup membawa tilma Juan Diego ke dalam kapel dan meletakkannya di depan Sakramen Mahakudus. Di kemudian hari, diadakan penyelidikan yang cermat dan teliti atas lukisan di mantol Juan Diego. Besarnya lukisan itu kurang lebih 1,50 meter. Bunda Maria mengenakan mantol berwarna hijau kebiru-biruan berhiaskan 46 bintang emas, tiap-tiap bintang brujung delapan. Jubah Bunda Maria berwarna merah jambu dengan sulaman bunga-bunga berbenang emas, sangat indah. Tepian leher dan lengan bajunya dilapisi kulit berbulu halus yang putih metah. Sebuah bros dengan salib hitam di tengah-tengah menghiasi lehernya. Di sekeliling tubuhnya bergemerlapanlah gelombang dari cahaya emas di atas latar belakang merah padam. Di pupil mata kanan Bunda Maria tergambar tiga sosok, yaitu Juan Diego, Juan Gonzalez penerjemah, dan Uskup Zumarraga. Lukisan Santa Perawan Maria dari Guadalupe kini ditempatkan di Basilika Santa Perawan Maria dari Guadalupe di Mexico City yang didirikan pada tahun 1977.

Pada tanggal 12 Oktober 1945 Paus Pius XII mengumumkan Bunda Maria dari Guadalupe sebagai “Ratu semua orang Amerika.”

DOA MOHON PERTOLONGAN SANTA PERAWAN MARIA DARI GUADALUPE Bunda tercinta, kami mengasihimu. Kami berterima kasih atas janjimu untuk menolong kami, bila kami berada dalam kesesakan. Kami mempercayakan diri ke dalam kasihmu yang kuasa mengeringkan air mata dan menghibur hati kami. Ajarilah kami menemukan damai di dalam diri Yesus Puteramu dan berkatilah kami di sepanjang hari-hari hidup kami. Tolonglah kami membangun sebuah bait di dalam hati kami. Jadikanlah bait kami itu seindah bait yang telah dibangun di atas Gunung Tepeyac bagimu. Suatu bait penuh penyerahan, pengharapan dan cinta kasih kepada Yesus yang terus berkembang setiap hari. Bunda tercinta, Engkau memilih tinggal bersama kami dengan menghadiahkan gambar dirimu sendiri yang amat ajaib dan suci pada jubah Juan Diego. Biarlah kami menikmati kehadiranmu yang penuh kasih itu apabila kami memandangi wajahmu. Berilah kami keberanian seperti Juan untuk menyampaikan pesan pengharapanmu kepada semua orang. Engkaulah Bunda kami dan sumber inspirasi kami. Sudi dengarkanlah dan jawablah doa-doa kami. Amin 3x Salam Maria. SEKILAS TENTANG JUAN DIEGO Pada tanggal 9 April 1990 Juan Diego dinyatakan Beato oleh Paus Yohanes Paulus II di Vatikan dan pada tanggal 31 Juli 2002 dinyatakan Santo oleh paus yang sama di Basilika Santa Perawan Maria Guadalupe, Mexico.

Santo Juan Diego dilahirkan pada tahun 1474, di Tlayacac, Cuauhtitlan, sebuah dusun sekitar 14 mil sebelah utara Tenochtitlan (Mexico City). Nama aslinya ialah Cuauhtlatoatzin, artinya “Elang Berbicara”. Ia seorang Indian yang miskin. Apabila berbicara kepada Bunda Maria, Juan Diego menyebut dirinya sebagai “bukan siapa-siapa”. Bunda Maria sering memilih untuk menampakkan diri kepada orang-orang seperti Juan, orang yang bersahaja dan rendah hati. Sehari-hari Juan bekerja keras di ladang dan juga menganyam tikar. Ia memiliki sepetak tanah dan sebuah gubug kecil di atasnya. Ia menikah, hidup bahagia, tetapi tidak memiliki anak. Antara tahun 1524 dan 1525, ia dan isterinya dibaptis menjadi Katolik dan menerima nama baptis Juan Diego dan Maria Lucia. Juan Diego adalah seorang yang taat dan saleh, bahkan sebelum dibaptis. Ia penyendiri, karakternya tertutup, cenderung tenggelam dalam keheningan, sering bermati raga dan biasa berjalan kaki dari dusunnya ke Tenochtitlan sejauh ± 14 mil (= 22,5 km), untuk menerima pelajaran iman Katolik. Isterinya, Maria Lucia, jatuh sakit dan meninggal dunia pada tahun 1529. Juan Diego kemudian pindah dan tinggal bersama pamannya, Juan Bernardino, di Tolpetlac, yang lebih dekat jaraknya dari gereja Tenochtitlan. Juan Diego biasa berangkat pagi-pagi sekali sebelum fajar menyingsing, agar tidak terlambat mengikuti Misa di gereja dan kemudian mengikuti pelajaran agama. Ia berjalan bertelanjang kaki, sama seperti orang-orang Indian miskin lainnya. Hanya orang-orang Aztec yang mampu saja yang memakai sandal yang terbuat dari serat tumbuh-tumbuhan atau kulit. Jika udara pagi dingin menusuk, Juan Diego biasa mengenakan kain kasar yang ditenun dari serat kaktus sebagai mantol, yang disebut tilma. Kain katun hanya dipakai oleh orang Aztec yang lebih berada. Di salah satu perjalannya menuju gereja, yang kurang lebih memakan waktu tiga setengah jam melewati desa-desa dan bukit-bukit, Santa Perawan Maria menampakkan diri dan berbicara kepadanya untuk pertama kalinya! Bunda Maria menyapanya dengan sebutan “Juanito”, artinya “Juan, anakku terkasih. Saat penampakan, usia Juan Diego 57 tahun; usia yang cukup lanjut pada masa itu di mana kebanyakan orang hanya berusia ± 40 tahun.

Setelah penampakan Guadalupe, Juan Diego menyerahkan semua usaha dan harta milik kepada pamannya. Kemudian ia sendiri tinggal di sebuah kamar di samping kapel di mana lukisan suci Bunda Maria disimpan. Juan Diego sangat mencintai Sakramen Ekaristi; dengan ijin khusus dari uskup, ia diperkenankan menyambut Komuni Kudus tiga kali seminggu, sesuatu yang tidak lazim pada masa itu. Ia menghabiskan sisa hidupnya untuk mewartakan berita penampakan kepada orang-orang sebangsanya. Juan Diego wafat pada tanggal 30 Mei 1548 dalam usia 74 tahun. Paus Yohanes Paulus II memuji Juan Diego karena imannya yang bersahaja, yang senantiasa terpelihara oleh ajaran agama. Paus menetapkannya sebagai teladan kerendahan hati bagi kita semua.

Santa Perawan Maria dari Guadalupe
oleh: P William P Saunders * . .

Bagaimana dengan gambar Santa Perawan Maria dari Guadalupe? Adakah bukti ilmiah mengenainya? ~ seorang pembaca di Arlington Sebelum membahas gambar Santa Perawan Maria dari Guadalupe, baiklah pertama-tama kita mengingat kembali kisahnya yang indah.

Kisah dimulai pada dini hari tanggal 9 Desember 1531, ketika Juan Diego, seorang petani Indian berusia 57 tahun, sedang berjalan menyusuri jalan setapak Bukit Tepeyac di pinggiran Mexico City. Patut diingat bahwa baru sepuluh tahun sebelumnya, Hernan Cortez menaklukkan Mexico City. Pada tahun 1523, para misionaris Fransiskan datang mewartakan Injil kepada masyarakat Indian. Para misionaris ini berhasil gemilang hingga Keuskupan Mexico City didirikan pada tahun 1528. (Patut diingat juga bahwa Jamestown, koloni Inggris permanen yang pertama, baru didirikan pada tahun 1607.) Juan Diego dan banyak dari kalangan sanak saudaranya termasuk di antara orang-orang pertama yang dipertobatkan dalam iman. Ia dibaptis dengan nama “Juan Diego” pada tahun 1525 bersama isterinya, Maria Lucia, dan pamannya Juan Bernardino. Kita juga jangan lupa bahwa Juan Diego tumbuh dewasa di bawah penindasan Aztec. Praktek keagamaan Aztec, termasuk kurban manusia, memainkan peranan yang penting dan menarik dalam kisah ini. Setiap kota utama Aztec mempunyai sebuah kuil piramid, sekitar 100 kaki tingginya, di mana di atasnya didirikan sebuah altar. Di atas altar ini, para imam Aztec mempersembahkan kurban manusia kepada dewa Huitzilopochtli, yang disebut “Penggemar Jantung dan Penegak Darah,” dengan memotong dan merenggut keluar jantung yang berdenyut dari para kurbannya, pada umumnya laki-laki dewasa, tetapi seringkali pula kanak-kanak. Para imam mengunjukkan tinggi-tinggi jantung yang berdenyut itu agar dapat dilihat semua orang, meminum darahnya, menendang tubuh yang tak bernyawa itu hingga terlempar ke bawah tangga piramid, dan kemudian memotong kedua tangan dan kaki kurban, lalu memakan dagingnya. Mengingat Aztec menguasai 371 kota dan hukum menuntut 1.000 kurban manusia bagi setiap kota dengan sebuah kuil piramid, maka lebih dari 50.000 manusia dikurbankan setiap tahunnya. Di samping itu, ahli sejarah Mexico kuno, Ixtlilxochitl, memperkirakan bahwa satu dari setiap lima kanak-kanak menjadi kurban dari praktek keagamaan yang haus darah ini. Pada tahun 1487, ketika Juan Diego baru berusia tigabelas tahun, ia harus menjadi saksi atas suatu peristiwa yang paling mengerikan: Tlacaellel, seorang pemimpin Aztec yang berusia 89 tahun, meresmikan kuil piramid matahari yang baru, yang dipersembahkan kepada dua dewa utama dari dewa-dewa Aztec - Huitzilopochtli dan Tezcatlipoca, (dewa neraka dan kegelapan) - di pusat Tenochtitlan (kelak Mexico City). Kuil piramid ini 100 kaki tingginya dengan 114 anak tangga untuk mencapai puncaknya. Lebih dari 80.000 laki-laki dikurbankan sepanjang suatu periode empat hari empat malam lamanya. Orang hanya dapat membayangkan curahan darah dan tumpukan mayat dari kurban yang demikian. (Sementara jumlah kurban tampak mencengangkan, bukti menyatakan bahwa dibutuhkan hanya 15 detik saja untuk memotong jantung keluar dari setiap kurban.)

Pada tahun 1520, Hernan Cortes melarang kurban manusia. Ia menyingkirkan kedua berhala dari kuil piramid, membersihkan bebatuannya dari darah dan mendirikan sebuah altar yang baru. Cortes, pasukannya dan P Olmedo kemudian mendaki anak-anak tangga dengan Salib Suci dan lukisan Santa Perawan Maria dan St Kristoforus. Di atas altar baru ini, P Olmedo mempersembahkan kurban Misa Kudus. Di atas apa yang dulunya merupakan tempat kurban kafir yang keji, sekarang dipersembahkan kurban tak berdarah, yang sejati dan abadi dari Tuhan kita. Tetapi, tindakan ini memicu suatu perang habis-habisan dengan kaum Aztec, yang pada akhirnya berhasil dimenangkan oleh Cortes pada bulan Agustus 1521. Sekarang kembali ke kisah kita. Pagi hari itu, 9 Desember 1531, Juan Diego sedang dalam perjalanan ke Misa; pada waktu itu 9 Desember adalah Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa di seluruh Kerajaan Spanyol. Sementara ia menyusuri jalanan di Bukit Tepeyac, ia mulai mendengar suatu alunan musik nan merdu, dan ia melihat seorang perempuan cantik rupawan, yang memanggil namanya, “Juanito, Juan Dieguito.” Ia datang mendekat, dan perempuan itu mengatakan, “Ketahuilah dengan pasti, engkau yang terkecil dari antara puteraputeraku, bahwa aku adalah Santa Maria yang sempurna dan perawan selamanya, Bunda Yesus, Allah yang benar, melalui Siapa segala sesuatu hidup, Tuhan dari segala yang dekat dan yang jauh, Tuhan atas surga dan bumi. Adalah kerinduanku yang sungguh agar sebuah bait didirikan di sini demi menghormatiku. Di sinilah aku akan menunjukkan, aku akan menyatakan, aku akan memberikan segenap cintaku, segenap belas kasihku, pertolonganku dan perlindunganku kepada manusia. Aku adalah Bundamu yang berbelas kasihan, Bunda yang berbelas kasihan dari kalian semua yang tinggal bersatu di negeri ini, dan dari segenap umat manusia, dari segenap mereka yang mengasihiku, dari mereka yang berseru kepadaku, dari mereka yang mencariku, dan dari mereka yang menaruh kepercayaannya kepadaku. Di sinilah aku akan mendengar tangis mereka, keluh-kesah mereka, dan akan menolong serta meringankan segala macam penderitaan, kebutuhan dan kemalangan mereka.” Ia mengatakan kepada Juan Diego untuk menyampaikan kepada Uskup Zumarraga perihal keinginannya agar sebuah gereja didirikan di tempat itu. Menurut tradisi, Juan Diego mempertanyakan nama Bunda Maria. Ia menjawab dalam bahasa ibu Juan Diego, bahasa Nahuatl, “Tlecuatlecupe,” yang artinya “ia yang meremukkan kepala ular” (referensi yang jelas menunjuk pada Kitab Kejadian 3:15 dan mungkin pada simbol utama kepercayaan Aztec). “Tlecuatlecupe” apabila diucapkan dengan lafal yang benar, bunyinya sungguh mirip dengan “Guadalupe.” Sebab itu, ketika Juan Diego menyampaikan kepada Uskup Zumarraga mengenai nama perempuan itu dalam bahasa ibunya, kemungkinan ia keliru dengan “Guadalupe” nama Spanyol yang familiar, sebuah kota yang terkenal dengan tempat ziarah Bunda Maria.

Uskup Zumarraga adalah seorang yang saleh, tulus hati dan penuh belas kasihan. Ia mendirikan rumah sakit yang pertama, perpustakaan dan universitas di Amerika. Ia juga adalah Pelindung Orang-orang Indian, yang diserahi kepercayaan oleh Kaisar Charles V untuk menjalankan dekritnya yang dikeluarkan pada bulan Agustus 1530, yang memaklumkan, “Tak seorang pun diperbolehkan menjadikan seorang Indian sebagai budak belian baik dalam keadaan perang maupun dalam keadaan damai. Entah dengan barter, dengan membeli, dengan perdagangan, atau sebab maupun alasan lain apapun.” (Patut dicatat bahwa pada tahun 1537, Paus Paulus III mengutuk serta melarang perbudakan suku Indian Amerika.) Namun demikian, Uskup Zumarraga mendengarkan Juan Diego dengan sabar dan mengatakan bahwa ia akan memikirkan hal itu, dapat dimaklumi bahwa ia meragukan kisah yang demikian. Juan Diego kembali ke Tepeyac dan melaporkan tanggapan uskup. Maria menyuruhnya untuk mencoba lagi. Maka, hari berikutnya, Juan Diego kembali ke kediaman uskup. Walau kali ini lebih sulit menemui Bapa Uskup, Juan Diego berhasil juga dalam niatnya, dan uskup sekali lagi mendengarkannya dengan sabar. Uskup meminta Juan Diego untuk membawa suatu tanda dari Bunda Maria guna membuktikan kebenaran kisahnya. Lagi, Juan Diego melaporkan hal ini kepada Bunda Maria, yang menyuruhnya untuk kembali lagi keesokan harinya guna menerima suatu “tanda” bagi uskup. Keesokan harinya, tanggal 11 Desember, Juan Diego menghabiskan waktu dengan merawat pamannya, Juan Bernardino, yang sakit parah. Pamannya meminta Juan Diego untuk pergi memanggil seorang imam yang akan mendengarkan pengakuan dosanya dan melayani Sakramen Terakhir baginya. Pada tanggal 12 Desember, Juan Diego berangkat lagi, tetapi ia menghindari Bukit Tepeyac, sebab ia amat malu bahwa ia tidak kembali hari sebelumnya seperti yang diminta Bunda Maria. Sementara ia mengambil jalan memutar, Bunda Maria menghentikannya dan mengatakan, “Dengarkanlah dan camkanlah dalam hatimu, putera kecilku yang terkasih: janganlah biarkan suatupun mengecilkan hatimu, suatupun menyedihkanmu. Janganlah biarkan suatupun mengubah hatimu ataupun wajahmu. Juga, janganlah engkau khawatir akan penyakit atau muram, gelisah atau susah. Bukankah aku ada di sini; aku yang adalah Bundamu? Tidakkah engkau ada dalam naungan dan perlindunganku? Bukankah aku sumber hidupmu? Tidakkah engkau ada dalam naungan mantolku, dalam dekapan pelukanku? Adakah sesuatu lainnya yang engkau butuhkan?” Bunda Maria meyakinkan Juan Diego bahwa pamannya tidak akan meninggal dunia; sesungguhnya, kesehatannya telah dipulihkan kembali. Sebagai tanda bagi uskup, Maria meminta Juan Diego untuk pergi ke puncak bukit dan memetik bunga-bunga. Maka, pergilah ia ke puncak bukit yang kering dan gersang itu - tempat di mana hanya kaktus tumbuh - dan mendapati bunga-bunga mawar seperti yang tumbuh di

Castille, tetapi tak didapati di Mexico. Ia mengumpulkan bunga-bunga mawar dalam tilmanya, yaitu suatu mantol seperti poncho, dan membawanya kepada Maria yang menatanya dan memintanya untuk menyampaikannya kepada uskup. Juan Diego kemudian berangkat kembali menuju kediaman Uskup Zumarraga. Setelah menanti beberapa saat untuk menghadap, ia mengulangi pesan kepada uskup dan membuka tilmanya untuk menyampaikan bunga-bunga mawar. Uskup melihat tidak hanya bungabunga cantik, melainkan juga gambar indah Santa Perawan Maria dari Guadalupe. Uskup Zumarraga mencucurkan airmata melihat Bunda Maria dan memohon pengampunan karena kurang percaya. Ia mengambil tilma dan menempatkannya di altar dalam kapelnya. Pada Hari Raya Natal pada tahun itu, sebuah bangunan dari bata didirikan di puncak Bukit Tepeyac demi menghormati Bunda Maria, Santa Perawan dari Guadalupe, dan diresmikan pada tanggal 26 Desember 1531, pada Pesta St Stefanus, Martir Pertama. Sejak tahun 1929, Gereja mengijinkan berbagai penelitian ilmiah dilakukan atas tilma. Penelitian-penelitian paling awal mendapati adanya pantulan gambar pada kedua pupil mata Bunda Maria, yaitu sosok Juan Diego dan dua orang lainnya (kemungkinan yang seorang adalah sosok Juan Gonzalez, penerjemah bagi Uskup Zumarraga). Gambar tersebut agak sedikit mengalami distorsi, karena lengkungan alamiah dari kornea dan lensa mata. Penemuan ini telah berulang kali diperkuat kebenarannya. Yang menarik, Dr. Charles Wahlig, seorang ahli ilmu fisika nuklir, mengemukakan bahwa Bunda Maria pastilah hadir secara tidak kelihatan ketika Juan Diego menyampaikan bunga-bunga mawar kepada Uskup Zumarraga dan bahwa tilma berfungsi sebagai suatu piringan fotografis yang menangkap gambar Santa Perawan beserta pantulan gambar ketiga orang itu pada kedua matanya. Penelitian-penelitian menggunakan infra merah juga menyingkapkan fenomena lain yang tak dapat dijelaskan: Gambar di tilma tidak dilukis, dan warnanya tidak menembus serat-serat tilma seperti halnya cat. Tilma yang ditenun dari serat-serat yang tidak biasa seperti itu, juga menghasilkan suatu permukaan yang kasar sehingga lukisan sesederhana apapun pastilah akan mengalami distorsi, padahal gambar yang ada di sana sungguh jelas dan tak ada distorsi. Di samping itu, semestinya tilma pastilah sudah lama rusak. Tilma tidak dilapisi lapisan pelindung. Semua yang berasal dari serat kaktus pastilah akan rusak dalam jangka waktu 100 tahun, teristimewa apabila tidak terlindung dari polusi, nyala lilin, dan serupa itu. Walau demikian, tilma tetap seperti semula. Dr. Philip C. Callahan, seorang ahli biologi, berkesimpulan, “Gambar asli termasuk jubah merah muda, mantol biru, tangan dan wajah … sungguh tak dapat dijelaskan. Sepanjang penelitian infra merah ini, tak mungkin dijelaskan baik jenis pigmen warna yang dipergunakan maupun

keawetan dari ketajaman warna dan kecemerlangan pigmen selama berabad-abad. Lagipula, apabila mempertimbangkan fakta bahwa tak didapati lapisan pelindung apapun, dan bahwa tenunan serat itu sendiri dipergunakan untuk memberikan kedalaman gambar, tak ada penjelasan mengenai gambar itu yang mungkin diberikan berdasarkan teknik-teknik infra merah. Sungguh luar biasa bahwa selama lebih dari empat abad, tak didapati pudar atau retak dalam gambar asli sedikitpun dari tilma, yang tanpa lapisan pelindung, yang semestinya telah rusak berabadabad yang lalu” (Mary of the Americas 92). Gambar Santa Perawan Maria dari Guadalupe juga kaya akan simbolisme. Gambar Bunda Maria dikelilingi oleh sinar cemerlang, berdiri di atas bulan, dan dengan bintang-bintang di mantolnya mencerminkan gambaran yang didapati dalam Kitab Wahyu, “Tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya” (12:1). Ini merupakan juga simbol dari kemenangan ilahi atas agama kafir. Sinar matahari adalah simbol dari dewa Aztec Huitzilopochtle. Sebab itu, Bunda Maria berdiri di depan sinar matahari menunjukkan bahwa ia memaklumkan Allah yang benar, yang lebih besar dari Huitzilopochtle dan yang mengungguli kuasanya. Bunda Maria juga berdiri di atas bulan. Bulan melambangkan malam dan kegelapan, dan ini berhubungan dengan dewa Tezcatlipoca. Lagi, Bunda Maria berdiri di atas bulan memaklumkan kemenangan ilahi atas kejahatan. Di samping itu, dalam ikonografi Kristiani, bulan sabit di bawah kaki Bunda Maria juga melambangkan keperawanan yang tetap selamanya dan ini berhubungan dengan Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa dan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Bintang-bintang di mantolnya menyatakan bahwa ia datang dari surga, sebagai Ratu dan Bunda yang mengasihi. Yang menarik, penelitian yang dilakukan oleh P Mario Sanches dan Dr. Juan Hernandez Illescas dari Mexico membuktikan bahwa bintang-bintang di mantol tampak persis sama seperti keadaannya di langit sebelum fajar pada dini hari tanggal 12 Desember 1531. Wajah Bunda Maria, dengan warna kulitnya, rambut dan mata berwarna gelap, mencerminkan sosok seorang Indian. Kedua matanya juga memandang ke bawah, mengungkapkan kerendahan hati dan belas kasihan. Pula, dalam ikonografi Indian, seorang dewa memandang lurus ke depan dengan mata terbuka lebar; jadi, gambar di sini menunjukkan bahwa Maria tidak mengklaim diri sebagai Tuhan, melainkan hanya sebagai utusan-Nya dan sebagai Bunda yang mengasihi.

Bunda Maria didukung oleh seorang malaikat, lambang kerajaan di kalangan bangsa Indian. Sebagian orang menafsirkan gambar ini sebagai suatu tanda bahwa Bunda Maria memaklumkan suatu era baru yang akan datang. Busana Bunda Maria juga memiliki makna istimewa. Warna merah muda dari gaun Bunda Maria memiliki dua penafsiran, sebagai lambang fajar dari suatu era yang baru, atau sebagai tanda kemartiran iman. Bros emas di bawah lehernya melambangkan kekudusan. Dan yang terakhir, pita sekeliling pinggangnya adalah lambang keperawanan. Namun demikian, pita yang bersimpul ini memiliki beberapa makna lainnya dalam budaya Indian Asli: pita bersimpul ini adalah nahui ollin, bunga dari matahari, yang adalah simbol kelimpahan, kesuburan dan kehidupan baru. Letak pita yang tinggi dan perut Bunda Maria yang tampak membuncit membuat sebagian orang berkesimpulan bahwa ia sedang mengandung. Tentu saja, tilma telah menjadi sumber devosi, teristimewa bagi masyarakat Mexico. Kejahatan berusaha menguasai, namun gagal. Sebagai misal, pada tahun 1921, dalam masa pemerintahan Jenderal Calles yang fanatik, yang melarang ke-Katolik-an, sebuah bom ditanam dalam basilika dengan tujuan menghancurkan tilma. Bom diperlemah hingga menghancurkan altar pualam di bawah tilma, memporakporandakan jendela-jendela dan membengkokkan salib altar yang terbuat dari perunggu tebal. Meski begitu, tilma dan bahkan kaca pelindungnya sama sekali tak tersentuh. Sama seperti penampakan Maria menyatakan kemenangan agama sejati atas kekafiran yang haus darah dari kaum Aztec, bahkan dalam perkara ini, Bunda Maria menaklukkan kuasa kejahatan. Sekarang, ribuan peziarah pergi ke Guadalupe demi menghormati gambar suci. Umat Katolik Hispanic mempunyai devosi yang istimewa kepada Santa Perawan Maria dari Guadalupe, dan Bunda Maria memang sungguh layak menerima penghormatan dari semua orang yang tinggal di Amerika maupun di seluruh dunia! Untuk informasi lebih lanjut, bukubuku berikut ini sungguh menarik untuk dibaca: Our Lady of Guadalupe and the Conquest of Darkness oleh Dr. Warren Carroll, dan Mary of the Americas oleh Father Christopher Rengers.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a
professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria. sumber : “Straight Answers: Our Lady of Guadalupe” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Santa Perawan Maria dari Pompeii

Pompeii, Campania, Italia B. Bartolo Longo - Rasul Rosario Basilika SP Maria Ratu Rosario & Mukjizat2 yang Terjadi Devosi Beatifikasi Bartolo Maria Longo Paus Yohanes Paulus II & SP Maria dari Pompeii Meditasi

Pompeii, Campania, Italia
Pompeii mengalami banyak musibah dan masa-masa sulit. Namun demikian, di tahun-tahun belakangan ini, musibah telah diubah menjadi kemenangan Santa Perawan Maria Ratu Rosario, dan masa-masa sedih telah digantikan dengan para peziarah yang tak terhitung banyaknya yang dengan penuh sukacita mengalami berbagai mukjizat dan menerima berlimpah rahmat. Salah satu dari musibah awal yang menimpa Pompeii terjadi pada tahun 79, ketika Gunung Vesuvius meletus dengan dahsyat. Gunung berapi itu menghancur-luluhkan kota Romawi tersebut serta menguburnya dengan abunya selama berabad-abad. Di kemudian hari, kota yang bekembang

sekitar satu mil jauhnya dari reruntuhan tersebut juga mengalami musibah, ketika pada tahun 1659 suatu wabah malaria yang ganas menyerang kota dan membunuh hampir seluruh penduduk di sana. Sebuah gereja kuno yang dibangun sebelum terjadi wabah pada akhirnya hancur pada tahun 1740. Sebuah gereja kecil didirikan sebagai gantinya. Dari paroki yang dulunya berkembang pesat, hanya tinggal sedikit saja umat yang tersisa - dan mereka dilayani oleh seorang imam yang sudah tua dan capai. Akhirnya, di samping berbagai macam takhyul yang menyebar di antara penduduk, mereka juga disusahkan dan dibuat tak berdaya oleh kawanan penyamun yang meneror serta menjarah mereka. Lamakelamaan Pompeii dikenal sebagai “sarang para penyamun yang bengis dan kejam.” Namun demikian, Bunda Maria tidak pernah meninggalkan anakanaknya. Tempat-tempat yang paling tidak mungkin telah dipilihnya untuk medatangkan keajaiban-keajaiban yang dilakukannya bagi mereka yang mengabdi kepadanya. Alat yang dipergunakannya untuk menaklukkan kota yang malang ini adalah Bartolo Longo (1841-1926), yang pada mulanya tampak sebagai pilihan yang sangat tidak tepat.

Beato Bartolo Longo - Rasul Rosario
Bartolo Longo dilahirkan pada tahun 1841, putera seorang dokter. Ia menempuh pendidikan sebagai pengacara di Naples. Dalam masa pendidikannya itu, Bartolo menggabungkan diri dalam suatu sekte setan dan 'ditahbiskan' sebagai imam Setan. Selama bertahun-tahun ia melaksanakan tugasnya sebagai 'imam' dengan menyampaikan khotbah, memimpin ritual-ritual, mencemooh serta menghina Gereja Katolik dan para imam, serta berbicara menentang segala sesuatu yang berhubungan dengan agama Katolik. Seorang teman yang baik, Vincentius Pepe, perlahan-lahan menunjukkan kepada Bartolo kelemah-lembutan Kristus dan mengatur agar Bartolo dapat bertemu dengan seorang imam Dominikan yang kudus, Pastor Alberto Radente. Pastor Alberto memiliki devosi pribadi yang mendalam kepada Bunda Maria dan sebisanya menyebarluaskan devosi rosario. Ketika Bartolo Longo dibaptis, ia memilih nama tengah 'Maria', sebagai nama baptisnya. Ia memandang Bunda Maria sebagai “Pengungsian Orang Berdosa” dan mengungkapkan sesal dan tobatnya yang mengagumkan kepadanya. Maria adalah “Pengungsian” yang akan menghantarnya kepada Kristus. Setelah pertobatannya, Bartolo Maria Longo, ingin melakukan sesuatu sebagai silih atas kehidupannya di masa silam dan melayani Gereja yang dulu difitnahnya dengan keji. Ia bergabung dengan sekelompok orang yang menaruh perhatian kepada mereka yang miskin dan sakit.

Salah seorang anggota kelompok tersebut adalah Countess di Fusco, seorang janda kaya yang mempunyai tanah dan hak milik dekat reruntuhan Pompeii. Dipercaya olehnya untuk mengumpulkan uang sewa, Bartolo melihat sendiri kekumuhan kota Pompeii dan kemiskinan rohani penduduknya. Ia berikrar untuk melayani mereka yang miskin dan papa. Bartolo menerbitkan sebuah pamflet berjudul “Rosario dari Pompeii yang Baru” dan mempergunakan segala daya upayanya untuk menyebarluaskan devosi tersebut. Suatu hari pada bulan Oktober 1872, sementara ia beristirahat di padang dekat Pompeii, ia teringat akan 'pentahbisannya' sebagai imam Setan. Bartolo mengenang saat itu: “Saya berpikir bahwa mungkin, sama seperti imamat Kristus adalah untuk selamanya, demikian juga imamat Setan adalah untuk selamanya. Jadi, meskipun saya telah bertobat, saya berpikir bahwa saya masih tetap imam setan, dan bahwa saya masih menjadi hambanya dan miliknya sementara ia menunggu saya di Neraka. Saat merenungkan keadaan saya itu, saya dilanda rasa putus asa yang begitu hebat, hingga hampir bunuh diri. Kemudian saya mendengar gema suara Pastor Alberto di telinga saya yang mengulangi kata-kata Santa Perawan Maria: 'Jika engkau ingin beroleh keselamatan, sebarluaskanlah Rosario. Inilah janji Bunda Maria sendiri: Barangsiapa menyebarluaskan Rosarioku akan diselamatkan.' Kata-kata ini segera mendatangkan pencerahan bagi jiwa saya. Saya jatuh berlutut dan berseru, 'Jika yang engkau katakan benar, bahwa mereka yang menyebarluaskan Rosariomu akan diselamatkan, maka aku pasti beroleh keselamatan, karena aku tidak akan meninggalkan dunia ini tanpa menyebarluaskan Rosario.' Bagai jawab atas ikrar saya, lonceng kecil gereja paroki Pompeii berdentang, mengundang umat mendaraskan Angelus. Kebetulan ini seperti tanda peneguhan atas kebulatan tekad saya.” Bartolo Maria membujuk masyarakat sekitar untuk membantunya membersihkan gereja yang telah rusak. Kemudian ia mengundang mereka datang sore hari untuk berdoa rosario bersama. Hanya beberapa anak yang ingin tahu saja yang datang. Laskar rosario itu mengunjungi setiap gubug dan rumah untuk membagikan rosario, medali serta mendorong mereka berdoa rosario. Tetapi, misinya itu tidak berhasil baik. Mereka menyukai dan menghormati Don Bartolo, tetapi mereka tidak mengerti dan tidak mau peduli untuk belajar rosario. Bartolo kemudian mensponsori diadakannya festival pada Pesta Ratu Rosario pada tahun 1873. Usahanya gagal. Hujan turun, dan imam menyampaikan khotbahnya dalam bahasa Italia resmi, bukan dalam dialek setempat yang dapat dimengerti penduduk. Tahun berikutnya ia mencoba lagi, tidak lebih berhasil dari sebelumnya, tetapi ia berhasil mengajari beberapa orang berdoa rosario. Tahun ketiga, Bartolo

mengundang Imam-Imam Redemptoris untuk mengadakan misi di sana selama dua minggu. Sebagai persiapan, ia memugar sepenuhnya gereja kecil Pompeii. Kali ini misinya berhasil baik dan mendapat restu dari bapa uskup. Sesungguhnya, bapa uskup telah meramalkan akan adanya sebuah gereja besar dan tempat ziarah di sana di masa mendatang. Bartolo memulai proyeknya dengan pertama-tama mencari sebuah lukisan Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Bartolo mendapatkan lukisan yang cocok di sebuah toko di Naples. Sayangnya, ia tidak mampu membelinya. Ia kemudian memperoleh informasi bahwa lukisan tersebut kurang sesuai untuk maksudnya, karena Hukum Kanon pada waktu itu menetapkan bahwa lukisan haruslah dilukis dengan cat minyak diatas kanvas atau kayu. Sedangkan lukisan yang ia pilih dilukis di atas kertas. Bartolo menceritakan kekecewaannya kepada Pastor Alberto Radente, yang memberitahukan kepadanya akan sebuah lukisan yang dimiliki seorang biarawati, Moeder Concetta, di biaranya. Karena Moeder sudah menyetujuinya, Pastor Alberto mendorong Bartolo untuk meminta lukisan tersebut. Lukisan itu sesungguhnya ditemukan Pastor Alberto di sebuah toko loak. Pastor membelinya dengan harga hanya delapan carlins, atau setara dengan satu dollar. Pastor kemudian memberikan lukisan Santa Perawan tersebut kepada Moeder Concetta. Ketika Bartolo melihat lukisan tersebut, ia sungguh sangat kecewa dengan kondisinya yang menyedihkan. Bartolo menggambarkannya sebagai berikut: “Tidak saja lukisan itu telah dimakan rayap, tetapi wajah Madona adalah wajah wanita desa yang kasar … secuil kanvas hilang tepat di atas kepalanya… mantolnya retak. Tak ada yang dapat dikatakan tentang figur-figur lainnya yang mengerikan. St. Dominikus tampak seperti seorang idiot jalanan. Di sebelah kiri Santa Perawan adalah St. Rosa. Di kemudian hari, saya mengubahnya menjadi St. Katarina dari Siena… Saya ragu-ragu apakah sebaiknya menolak atau menerima pemberian ini.” Moeder Concetta membujuk Bartolo agar menerimanya, “Ambillah; engkau akan melihat bagaimana Bunda Maria akan mempergunakan lukisan ini untuk mendatangkan banyak mukjizat.” Kata-kata tersebut memang terbukti kelak. Lukisan Santa Perawan terlalu besar bagi Bartolo untuk dapat dibawanya pulang dari Naples ke Pompeii. Ia membungkusnya dengan sehelai kain lalu menyerahkannya kepada seseorang yang akan mengantarkannya ke kapel. Karena tidak tahu gambar yang terlukis di dalamnya, orang tersebut menempatkan lukisan di keretanya, di atas pupuk muatannya. Dengan cara demikianlah Ratu Rosario tiba di Pompeii. Lukisan tiba pada tanggal 13 November 1875. Setiap tahun umat beriman merayakan hari kedatangan lukisan tersebut dengan doadoa dan ibadat khusus.

Dua bulan setelah kedatangannya, yaitu pada bulan Januari 1876, restorasi pertama atas lukisan tersebut oleh seorang pelukis amatir berhasil diselesaikan. Pada hari peresmian Persaudaraan dalam Rosario Suci yang dibentuk oleh Bartolo Longo, yaitu pada tanggal 13 Februari 1876, lukisan ditempatkan dalam gereja. Restorasi berikutnya dilakukan pada tahun 1879, oleh Federico Madlarelli, seorang pelukis Italia terkenal. Restorasi terakhir dilakukan oleh para pelukis Vatikan pada tahun 1965.

Basilika SP Maria Ratu Rosario & Mukjizat2 yang Terjadi
Bartolo berencana membangun sebuah gereja yang besar dan indah sebagai tempat yang layak bagi lukisan Ratu Rosario. Tiga ratus umat setempat yang miskin berjanji untuk menyumbangkan satu penny setiap bulan demi karya Santa Perawan, sementara umat yang kaya memberikan sumbangan dengan berlimpah. Sementara gereja masih dalam tahap dibangun, terjadi tiga mukjizat luar biasa. Yang pertama menyangkut seorang anak berusia dua belas tahun, Clorinda Lucarelli, korban serangan epilepsy ganas. Kerabatnya yang putus asa berjanji untuk membantu pendirian gereja jika Clorinda sembuh dari penyakitnya. Gadis kecil itu sembuh pada hari lukisan dipamerkan dalam suatu upacara penghormatan. Dua dokter menyatakan di bawah sumpah bahwa kesembuhan Clorinda sematamata merupakan mukjizat. Seorang wanita muda, Concetta Vasterilla, yang sedang dalam penderitaan menjelang ajal, juga disembuhkan ketika janji serupa dibuat. Pada hari peletakan batu pertama gereja, yaitu pada tanggal 8 Mei 1876, Pastor Anthony Varone, yang telah menerima Sakramen Terakhir dan menghadapi ajal karena suatu penyakit, juga disembuhkan. Ia mempersembahkan Misa Kudus keesokan harinya dan mengumumkan mukjizat kesembuhannya dari ambo pada Pesta SP Maria Ratu Rosario. Sebulan setelah peletakan batu pertama, mukjizat lain terjadi pada Nyonya Giovannina Muta. Ia menderita sakit paru-paru tahap akhir ketika dibujuk untuk mengucapkan suatu janji kepada Santa Perawan Maria dari Pompeii. Pada tanggal 8 Juni, ketika Nyonya Muta terbaring di ranjangnya, ia mendapat penglihatan lukisan Santa Perawan Maria dari Pompeii - meskipun sesungguhnya ia belum pernah melihat lukisan tersebut. Tetapi, sementara ia memandang, Bunda Maria tampak melemparkan kepadanya sebuah pita bertuliskan: “Perawan dari Pompeii mengabulkan permohonanmu, Giovannina Muta.” Ketika penglihatan tersebut berakhir, Nyonya Muta sama sekali sembuh dari penyakitnya.

Sejak saat itu, terutama antara tahun 1891 hingga 1894, ratusan mukjizat telah dicatat secara resmi. Bartolo Maria Longo melakukan banyak karya amal kasih. Ia menikahi Countess Mariana di Fusco, pada tanggal 1 April 1885. Bersama-sama, pasangan tersebut menghabiskan waktu dan harta mereka guna menolong banyak anak yatim piatu yang pemeliharaannya dipercayakan kepada mereka. Bartolo dan istrinya mendirikan sebuah rumah yatim piatu bagi anak-anak perempuan. Anak-anak pertama yang mereka pungut berjumlah 15 orang, masing-masing anak untuk setiap misteri rosario. Ia mendirikan wisma bagi anak-anak laki, anak para narapidana, dan juga wisma serupa bagi anak-anak perempuan. Ia membentuk Puteri-puteri Ratu Rosario dari Pompeii, suatu institut religius bagi para wanita yang dididik untuk merawat gereja, dan membangun asramaasramanya. Ia membentuk Ordo Ketiga Dominikan dekat gereja. Mereka menyokong para calon imam dan mereka yang terpanggil untuk kehidupan religius. Bartolo membiayai pendidikan sekitar 45 orang seminaris. Di samping itu Bartolo juga menulis buku-buku tentang sejarah Rosario dan menyusun novena serta buku doa yang akan dipergunakan di gereja tersebut. Gereja Santa Perawan Maria Ratu Rosario dari Pompeii diberkati oleh Kardinal La Valletta, Duta Kepausan dari Paus Leo XIII, pada bulan Mei 1891. Pada tanggal 19 Februari 1894, Bartolo Longo dan isterinya menyerahkan Gereja SP Maria dari Pompeii kepada Paus Leo XIII. Sejak saat itu kepausan mengambil alih perawatan Gereja. Pada tahun 1934, atas perintah Paus Pius XI, sebuah basilika baru yang besar mulai dibangun. Basilika selesai pada tahun 1939 dan diresmikan atas nama Paus Pius XII oleh Kardinal Magliones, Sekretaris Negara Bapa Suci. Paus St. Pius X sebelumnya telah menyampaikan dukungannya bagi gereja dan devosi kepada Santa Perawan Maria dari Pompeii. Lukisan ajaib Santa Perawan Maria Ratu Rosario ditempatkan jauh tinggi di atas altar utama basilika yang kaya dengan hiasan artistik ini. Dalam bingkai emasnya, lukisan berwarna indah tersebut menggambarkan Santa Perawan Maria duduk di atas tahta. Di pangkuannya duduk Kanak-kanak Yesus, yang sedang memberikan seuntai Rosario kepada St. Dominikus, sementara Bunda Maria memberikan seuntai rosario kepada St. Katarina dari Siena. Paus Leo XIII suatu ketika mengatakan, “Tuhan telah mempergunakan lukisan ini untuk mengabulkan permohonan-permohonan yang telah mengguncang seluruh dunia.” Pada tahun 1965, setelah restorasi lukisan yang ketiga kalinya, Paus Paulus VI mengatakan dalam homilinya, “Sama seperti gambar Santa Perawan telah diperbaiki serta diperindah …, demikian juga hendaknya gambar Maria dalam diri segenap umat Kristiani haruslah dipulihkan, diperbaharui, serta diperkaya.” Pada akhir perayaan yang khidmat tersebut, Paus Paulus VI menempatkan dua mahkota baru di atas kepala

Yesus dan Maria, mahkota berhias intan permata yang dipersembahkan sebagai ucapan syukur oleh abdi-abdi Maria.

Devosi
Suatu devosi khusus yang dikenal sebagai “Permohonan kepada Ratu Kemenangan” dimulai pada bulan Oktober 1883 dan didaraskan di seluruh dunia, teristimewa pada tanggal 8 Mei dan pada hari Minggu pertama bulan Oktober. Devosi ini merupakan suatu permohonan yang dianggap diberikan oleh Santa Perawan kepada salah seorang anak yang disembuhkan di Pompeii, “Barangsiapa menghendaki pertolonganku, hendaklah ia mendaraskan tiga novena permohonan dan tiga novena syukur.”

Beatifikasi Bartolo Maria Longo
Bartolo Longo, yang dulunya abdi Setan, petobat yang hidup saleh, pengacara terhormat dan pemenang hati anak-anak yatim piatu ini, hidup hingga usianya yang ke-85 tahun. Orang kudus ini wafat pada tanggal 5 Oktober 1926. Makam Bartolo Longo dan isterinya dapat ditemukan dalam ruang bawah tanah tempat ziarah. Janji Santa Perawan, “Barangsiapa menyebarluaskan Rosario-ku akan diselamatkan” menjadi kenyataan ketika Paus Yohanes Paulus II menegaskan keselamatan jiwa Bartolo Longo dalam upacara beatifikasinya yang dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober 1980. Bapa Suci menyebutnya sebagai “Putera Madonna” dan “Rasul Rosario”.

Paus Yohanes Paulus II & SP Maria dari Pompeii
Diperkirakan sekurang-kurangnya sekitar 10.000 peziarah datang mengunjungi Basilika SP Maria dari Pompeii setiap harinya. Tetapi dua tahun sekali, yaitu pada tanggal 8 Mei dan pada hari Minggu pertama bulan Oktober, sekurang-kurangnya 100.000 peziarah bersatu hati dalam mendaraskan doa-doa khidmat yang disusun Bartolo Longo. Pada tanggal 21 Oktober 1979, Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Pompeii. Pada kesempatan tersebut diadakan ziarah nasional kepada Santa Perawan Maria dari Pompeii. Dalam Surat Apostoliknya, “Rosarium Virginis Mariae” (Rosario Perawan Maria), Bapa Suci menulis: * “Pada awal tahun ke-25 pelayanan saya sebagai paus, saya mempercayakan Surat Apostolik ini ke tangan Perawan Maria yang penuh kasih, sambil meniarap dalam roh di hadapan patung Maria di

tempat ziarah cemerlang yang dibangun baginya oleh Beato Bartolo Longo, rasul rosario. Dengan tulus ikhlas saya mengutip kata-kata yang menyentuh hati, dengan mana ia mengakhiri Permohonan kepada Ratu Rosario Suci yang terkenal itu: O Rosario suci Maria, rantai halus yang menyatukan kami dengan Allah, ikatan kasih yang memadu kami dengan para malaikat, benteng keselamatan untuk melawan serbuan neraka, pelabuhan aman tatkala perahu universal kami kandas, kami tidak pemah akan meninggalkan engkau. Engkau akan menjadi penopangku di saat ajal: milikmulah ciuman terakhir kami di saat nyawa melayang. Dan kata terakhir yang kami ucapkan adalah namamu yang suci, O Ratu Rosario dari Pompei, O Bunda yang terkasih, O Pengungsian orang berdosa, O Penghibur orang yang berduka. Kiranya engkau dipuji di mana-mana, sekarang dan selalu, di bumi dan di surga. dari Vatikan, pada hari ke-16 bulan Oktober, dalam tahun 2002, awal tahun ke-25 pontifikat saya.”

Meditasi
Lukisan Santa Perawan Maria Ratu Rosario mewakili tradisi umat beriman yang telah berlangsung lama, yang datang kepada Maria sebagai pengungsian dan harapan akan kebutuhan-kebutuhan mereka. Maria adalah tahta bagi Putra-nya yang mungil, Yesus. Yesus menemukan rumah-Nya yang pertama di dunia ini dalam rahim Maria dan dalam pangkuannya. Maria duduk di atas sebuah tahta. Tahta tersebut adalah Gereja. Maria bersama Putra Ilahi-nya bertahta dalam Gereja dan dari Gereja, lambang surga di bumi. Tetapi, apa itu Gereja? Gereja dalam latar belakang lukisan tersebut dilukis dengan garis-garis biasa dan sederhana. Tahtanya terbuat dari kayu, bukan kayu berukir indah seperti yang pada waktu biasa terdapat dalam rumah-rumah orang kaya, melainkan kayu orang miskin. Kaki Madonna bertumpu di atas alas sederhana, bukan alas beludru. Umat Pompeii hendak menghormati Sang Putra dan Bunda-Nya dengan membangun sebuah gereja batu yang besar dan indah. Gereja yang indah, dengan hiasan emas dan persembahan intan permata adakah cara setempat pada masa itu untuk menyatakan cinta dan devosi mereka kepada Santa Perawan. Namun demikian, Bartolo Longo, tahu bahwa gereja batu itu haruslah dibangun dengan batu-batu hidup yang adalah belas kasihan dan damai sejahtera. Adalah tujuan utamanya

untuk mengajar umat berdoa, dan kemudian memperhatikan kebutuhankebutuhan mereka. Kedua rosario dalam lukisan tersebut masing-masing memiliki enam perpuluhan. Ini juga adalah kebiasaan pada masa itu. Sering kali, perpuluhan yang keenam didaraskan demi ujub-ujub bagi mereka yang melayani Gereja dan karya-karya kerasulan Gereja. Bagaimanapun bentuk rosario yang dipergunakan untuk suatu devosi, rosario tetaplah merupakan suatu doa berdasarkan Kitab Suci. Sang pelukis yang tak dikenal namanya itu juga tidak melupakan kebenaran ini. Sebuah buku digambar di dasar tahta. Dari mutiara dan emas, mata kita beralih tertuju kepadanya, kepada buku yang berisi Kebijaksanaan Tuhan yang ada di antara kita, sesungguhnya Santa Perawan dan Sabda Yang Menjadi Daging tinggal di antara kita. sumber : 1.“Our Lady of Pompeii”; www.catholictradition.org; 2.“Our Lady of Pompei” by Sr. M. Jean Frisk; The Marian Library/International Marian Research Institute, Dayton, Ohio; www.udayton.edu/mary; * "Rosarium Virginis Mariae"; Dokpen KWI; diterjemahkan oleh Ernest Mariyanto Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

SP Maria dari Naju

Santa Perawan Maria, Bunda Sang Penebus, mulai menangis melalui patung Bunda Maria milik Yulia Kim di Naju, Korea, pada tanggal 30 Juni 1985. “Naju” dalam karaketer Mandarin berarti kota sutera. Naju

memang merupakan kota kecil, tetapi damai dan indah bagaikan hamparan sutera. Sejak itu, Bunda Maria menyampaikan banyak pesan dan tanda-tanda mukjizat, mendesak anak-anaknya di dunia untuk segera bertobat atas dosa-dosa mereka dan kembali kepada Tuhan, Gereja-Nya, KebenaranNya, dan Kasih-Nya, agar Ia dapat menyembuhkan jiwa-jiwa mereka yang penuh dosa serta memulihkan kembali hidup rohani mereka. Teristimewa Bunda Maria mohon dengan sangat kepada kita agar kita setia pada Warisan Iman yang dipercayakan Kristus kepada Gereja-Nya dua ribu tahun yang silam, dan agar kita saling mengasihi serta saling mengampuni satu sama lain. Bunda Maria juga meminta kita untuk menghormati hidup manusia sejak saat pembuahan dalam rahim ibu. Bunda Maria menghendaki agar masing-masing kita berbalik dari kehidupan yang berpusat pada diri sendiri kepada kehidupan untuk melayani Tuhan, yaitu membela serta mewartakan Kebenaran-Nya, serta menyebarluaskan Kasih-Nya kepada siapa saja di seluruh dunia.

Pesan-pesan dan Tanda-tanda Ajaib di Naju SP Maria Meneteskan Airmata SP Maria Meneteskan Airmata Darah SP Maria Meneteskan Minyak Wangi Mukjizat Ekaristi Hosti Kudus & Piala Darah Yesus Yang Mahasuci Sengsara Mistik Yulia Sumber Mata Air Rahmat Bukit Santa Perawan Maria Pesan-pesan Kasih Yesus dan Bunda Maria Luka-Luka Berdarah Sengsara Jalan Salib Hasil Penelitian Terhadap Darah Yang Mahasuci Siapa itu Yulia Kim?

Pesan-pesan dan Tanda-tanda Ajaib di Naju

1. PESAN-PESAN DARI YESUS DAN BUNDA MARIA

Yulia Kim pertama kali menerima pesan Bunda Maria pada tanggal 18 Juli 1985. (Menarik disimak bahwa penamp Bunda Maria pertama kali kepada St. Katarina Labouré dari Medali Wasiat di Paris, Perancis, juga terjadi pada ta yang sama, yaitu 18 Juli tahun 1830).

Sejak itu, Yulia menerima banyak pesan dari Yesus dan dari Bunda Maria dengan selang waktu yang tak tetap. T Yulia menerima lebih dari satu pesan pada hari yang sama; di lain waktu, dengan selang waktu beberapa minggu bahkan bulan sebelum ia menerima pesan berikutnya. Terkadang, Yulia menerima pesan-pesan tersebut dalam e lain waktu, saat ia sadar. Pesan terakhir diterima Yulia pada tanggal 16 Februari 2003.

2. AIRMATA DAN AIRMATA DARAH DARI PATUNG BUNDA MARIA

Bunda Maria pertama kali meneteskan airmata pada tanggal 30 Juni 1985, sementara airmata darah dimulai pada 19 Oktober 1986. Bunda Maria menangis selama total tepat 700 hari hingga tanggal 14 Januari 1992. Menurut Rm Raymond Spies, pembimbing rohani Yulia, angka 700 mengandung arti penekanan yang kuat serta terus-meneru air mata darah telah diuji dalam laboratorium medis dan dinyatakan sebagai darah manusia.

3. MINYAK WANGI

Minyak dengan bau harum mewangi yang kuat, serupa (tapi tak sama) dengan harum mawar, mulai memancar d Bunda Maria pada tanggal 24 November 1992 dan berlangsung terus-menerus selama tepat 700 hari hingga tang Oktober 1994. Selama rentang waktu itu, Kapel di mana patung ditempatkan hingga sekarang, secara terus-men dipenuhi bau harum. Baru-baru ini, minyak wangi menetes beberapa kali ke atas tanah di Bukit Santa Perawan M dekat Naju ketika Yulia dan para peziarah melakukan Jalan Salib.

4. HARUM MAWAR

Kadang kala harum mawar yang kuat memenuhi Kapel sepanjang malam saat diadakan doa malam; di lain waktu muncul sesaat saja. Sebagian orang mencium harum ini dari air yang berasal dari sumber mata air di Bukit SP M buku yang mencatat pesan-pesan kasih, dari foto-foto, dsbnya. Sebagian lainnya mencium harum mawar semen mereka menuliskan kesaksian mereka. Kadang, harum tersebut hanya tercium oleh orang-orang tertentu saja (y mungkin sedang mengalami pertobatan atau penyembuhan fisik).

5. MUKJIZAT EKARISTI

Mukjizat Ekaristi meliputi perubahan rupa dari Ekaristi Kudus menjadi Daging dan Darah yang kelihatan mata. M terjadi lewat Yulia, di Gereja Paroki Naju dan Kapel, di Bukit Santa Perawan Maria di Naju, di Gereja Katedral di S Malaysia, di sebuah kamar hotel di Roma, di Gereja St. Fransiskus di Lanciano - Italia, di Gereja St. Antonius di K Hawai, dan di kapel pribadi Bapa Suci di Vatikan. Yang paling akhir terjadi di Gereja Paroki Naju pada tanggal 19 1996.

6. MUKJIZAT TURUNNYA HOSTI KUDUS

Mukjizat ini terjadi delapan kali di Kapel dan di bukit di Naju. Yang paling akhir terjadi di Bukit SP Maria pada tan Januari 2002. Beberapa dari Hosti Kudus yang turun secara ajaib itu disimpan di Keuskupan Agung Kwangju da lainnya disantap sesuai instruksi uskup atau imam.

7. STIGMATA

Luka-luka berdarah yang kelihatan muncul secara ajaib pada tubuh Yulia (telapak tangan, kaki dan lambung) beb kali. Stigmata bertahan selama beberapa hari dan kemudian lenyap. Biasanya, stigmata terjadi saat Yulia sedang mengalami sengsara Yesus di Salib. Para dokter memeriksa kondisi Yulia dan menyatakan bahwa luka-lukanya d pendarahannya tidak dapat dijelaskan secara medis.

8. TURUNNYA DARAH YESUS YANG MAHASUCI

Antara tanggal 9 November 2001 hingga 15 Agustus 2002, Darah Yesus Yang Mahasuci turun secara ajaib di Buk Maria beberapa kali. Darah Yesus Yang Mahasuci tercecer di atas ribuan batu-batu kecil. Yulia menyaksikan bag Hati Yesus Yang Mahakudus tercabik-cabik karena dosa-dosa manusia dan karena penolakan manusia untuk be Darah dan potongan-potongan Daging jatuh tercecer dari Hati Yesus Yang Mahakudus. Dari salah satu bebatuan dikumpulkan pada tanggal 15 Agustus 2002, Darah yang Mahasuci didapati berubah-ubah antara cair dan menge Batu-batuan yang bernoda darah disimpan di Naju.

9. PENYEMBUHAN2 JASMANI DAN ROHANI YANG TAK TERHITUNG BANYAKNYA

Air dari sumber mata air di Bukit SP Maria telah berulang kali menjadi sarana penyembuhan. Seringkali Yulia me sakit yang sama seperti yang diderita oleh orang yang sedang disembuhkan penyakitnya.

Banyak orang mendapatkan kembali cinta kasih dan kedamaian dalam keluarga-keluarga mereka serta kembali p Sakramen-sakramen Gereja.

sumber : “Mary's Ark of Salvation”; www.najumary.net

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Blessed Mother's House, Naju - Korea”

Santa Perawan Maria dari Akita

Suster Agnes dan Malaikat Pelindung Stigmata yang Berdarah Patung SP Maria Berubah Secara Ajaib SP Maria Meneteskan Airmata 101 Kali Mukjizat Penyembuhan Persetujuan Resmi Gereja Pesan2 SP Maria dari Akita
Para Abdi Ekaristi adalah sebuah komunitas religius sekulir di Yuzawadai, pinggiran kota Akita, yang dibentuk oleh Uskup Akita, Mgr Yohanes Shojiro Ito. Pada tanggal 12 Mei 1973 Sr Agnes Katsuko Sasagawa, yang pada waktu itu berusia 42 tahun, seorang pemeluk Budha yang baru beberapa tahun menjadi Katolik, bergabung sebagai novis di sana. Ketika masuk, Sr Agnes baru saja kehilangan pendengarannya dan sama sekali tuli tanpa dapat disembuhkan. Peristiwa mukjizat pertama di Akita terjadi pada tanggal 12 Juni 1973, hanya satu bulan setelah Sr Agnes bergabung. Pada hari itu, ia sedang seorang diri saja di kapel biara. Saat ia sedang membuka pintu tabernakel, sekonyong-konyong memancarlah suatu cahaya kemilau dari tabernakel; serta-merta Sr Agnes merebahkan diri di lantai dan tetap dalam keadaan prostratio demikian hingga sekitar satu jam lamanya, takluk oleh suatu kekuatan yang mahadahsyat.

Pada tanggal 14 Juni 1973, Sr Agnes kembali melihat cahaya kemilau dari tabernakel, kali ini dilingkupi oleh suatu nyala api merah yang kuat, yang memancarkan berkas-berkas cahaya ke segala penjuru. Lagi, pada sore hari menjelang Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus tanggal 28 Juni, ia melihat cahaya kemilau dari tabernakel, kali ini tampak juga begitu banyak makhluk serupa para malaikat yang mengelilingi altar dalam sembah sujud di hadapan Sakramen Mahakudus. Keesokan harinya, yang adalah Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus, malaikat menampakkan diri sementara Sr Agnes hendak memulai berdoa rosario. Malaikat kemudian memintanya untuk menambahkan kata “sungguh” dalam doa yang disusun Uskup Ito bagi komunitas. Sejak saat itu, doa ditujukan kepada “Hati Yesus yang Mahakudus, yang SUNGGUH hadir dalam Ekaristi Kudus.” Peristiwa-peristiwa ini merupakan awal dari serangkaian peristiwa adikodrati yang berlangsung selama sembilan tahun lamanya dari tahun 1973 hingga tahun 1982.

Suster Agnes dan Malaikat Pelindung
Ketika diminta untuk menggambarkan malaikat pelindungnya, Sr Agnes menjawab, “wajahnya bulat, dengan ekspresi yang manis … seorang yang diliputi oleh suatu kemilau putih bagai salju ….” Malaikat pelindung mempercayakan banyak pesan kepadanya, kerapkali berdoa bersamanya, pula membimbing serta menasehatinya. Sore hari pada Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus tanggal 28 Juni 1973, Sr Agnes mendapati suatu luka berbentuk salib muncul di telapak tangan kirinya. Luka ini menimbulkan rasa sakit yang luar biasa hingga Sr Agnes mengatakan, “Tak akan pernah aku dapat melupakan rasa sakit itu.” Pada tanggal 5 Juli 1973, suatu lubang kecil muncul di tengahnya darimana darah mulai memancar. Malaikat pelindungnya menampakkan diri dan membimbingnya untuk melakukan silih kepada Hati Yesus yang Mahakudus bagi dosa-dosanya dan bagi dosa-dosa segenap umat manusia.

Stigmata yang Berdarah
Keesokan harinya, pada tanggal 6 Juli 1973, malaikat pelindung kembali menampakkan diri kepada Sr Agnes, “… Luka Bunda Maria jauh lebih dahsyat dan lebih menyengsarakan daripada lukamu. Marilah kita pergi berdoa bersama di kapel.” Setelah memasuki kapel, malaikat menghilang. Sr Agnes kemudian berpaling kepada patung Bunda Maria yang terletak di sisi kanan altar. Patung ini, yang tingginya kira-kira tiga kaki, diukir dari sebatang kayu utuh yang kering dan keras tanpa sambungan, menggambarkan Santa Perawan Maria berdiri di depan sebuah salib, dengan kedua tangannya direntangkan ke arah bawah. Di bawah kaki patung, terdapat sebuah

bola yang menggambarkan dunia. Saburo Wakasa, seorang pemahat Jepang beragama Budha, memahat patung ini sekitar tigapuluh tahun yang lalu dengan mempergunakan sehelai kartu bergambar “Bunda Segala Bangsa” sebagai model, sembari menambahkan profil wajah khas perempuan Jepang dalam patungnya. Sr Agnes mengenang saat itu, “Aku merasa bahwa patung kayu itu menjadi hidup dan hendak berbicara kepadaku … Ia bermandikan cahaya yang cemerlang … dan pada saat yang sama, suatu suara yang merdu tak terperi menembusi telingaku yang sama sekali tuli.” Bunda Maria berkata kepadanya, “Jangan takut. Engkau akan disembuhkan. Bersabarlah ….” Kemudian Bunda Maria bersama Sr Agnes bersama-sama mendaraskan doa komunitas yang disusun Uskup Ito. Pada kata-kata “Yesus yang hadir dalam Ekaristi,” Maria mengatakan, “Mulai sekarang, kalian akan menambahkan SUNGGUH.” Bersama dengan malaikat yang muncul kembali, ketiganya mendaraskan doa persembahan diri kepada Hati Yesus yang Mahakudus, yang SUNGGUH hadir dalam Ekaristi. Sebelum menghilang, Bunda Maria meminta Sr Agnes untuk “berdoa banyakbanyak bagi Paus, para uskup dan para imam.” Keesokan paginya, ketika para biarawati berkumpul bersama untuk mendaraskan Laudes, mereka mendapati darah mengalir dari telapak tangan kanan patung dan juga luka berbentuk salib; di tengah luka terdapat sebuah lubang darimana darah memancar. Luka itu mirip benar dengan luka pada telapak tangan kiri Sr Agnes, hanya saja, karena patung itu kecil maka lukanya juga lebih kecil. Luka itu memancarkan darah pada setiap malam Jumat dan sepanjang hari Jumat, begitu juga luka di tangan Sr Agnes. Yang menarik, tetesan darah mengalir sepanjang tangan patung, yang terentang dan mengarah ke bawah, namun tetesan-tetesan darah itu tidak pernah jatuh dari tangan. Rasa sakit yang diderita Sr Agnes terus berlanjut hingga pada suatu Jumat siang tanggal 27 Juli, menjadi begitu hebat nyaris tak tertahankan. Ia pergi ke kapel guna mendapatkan penghiburan dan prostratio dalam doa. Sejenak kemudian, ia mendengar suara malaikat pelindungnya, “Penderitaanmu akan berakhir hari ini.” Malaikat kemudian menghilang dan rasa sakit di tangannya lenyap seketika; lukanya telah sembuh sama sekali tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. Luka di tangan patung Bunda Maria tetap tinggal hingga kurang lebih dua bulan tiga minggu lamanya dan lenyap dengan sendirinya pada tanggal 29 September 1973. Pada ibadat sore tanggal 29 September itu, seluruh komunitas melihat suatu cahaya cemerlang yang berasal dari patung. Seketika itu juga sekujur tubuh patung diliputi oleh suatu embun serupa keringat.

Malaikat pelindung berkata kepada Sr Agnes, “Bunda Maria bahkan terlebih sedih lagi daripada ketika ia mengucurkan darah. Keringkanlah keringatnya.” Dari “keringat” Bunda Maria ini tercium bau harum mewangi. Para biarawati mempergunakan gumpalan-gumpalan kapas untuk menyeka keringat. Cahaya kemilau yang meliputi patung pun perlahan-lahan lenyap.

Patung SP Maria Berubah Secara Ajaib
Menjelang akhir Mei 1974, suatu fenomena lain terjadi. Sementara gaun dan rambut patung tetap tampak sebagai kayu alami, tetapi wajah, kedua tangan dan kaki Bunda Maria berubah warna menjadi gelap, coklat kemerah-merahan. Delapan tahun kemudian, ketika sang pemahat datang untuk melihat patung ukirannya, tak mampu ia menyembunyikan rasa terkejutnya. Hanya bagian-bagian tubuh Santa Perawan yang kelihatan saja yang berubah warna, dan bahkan wajahnya pun telah berubah ekspresi.

SP Maria Meneteskan Airmata 101 Kali
Patung Bunda Maria mulai meneteskan airmata untuk pertama kalinya pada pagi hari Sabtu, tanggal 4 Januari 1975. Pada siang dan sore hari yang sama, patung kembali meneteskan airmata untuk kedua dan ketiga kalinya. Dalam jangka waktu 6 tahun 8 bulan, dari waktu ke waktu patung Bunda Maria meneteskan airmata; terakhir kalinya, yang ke-101 kalinya terjadi pada tanggal 15 September 1981, pada peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita. Tigabelas hari sesudahnya, pada tanggal 28 September, Sr Agnes merasakan kehadiran malaikat di sampingnya, di depan Sakramen Mahakudus yang ditahtakan, pada saat doa hening sesudah pendarasan rosario bersama oleh para biarawati di kapel. Ketika itu Sr Agnes tidak melihat sosok sang malaikat, melainkan muncul di hadapannya suatu penglihatan misterius akan sebuah Kitab Suci yang agung dan mulia, yang dilingkupi oleh suatu cahaya surgawi. Malaikat memintanya untuk membaca suatu ayat dalam Kitab Suci. Dari halaman Kitab Suci yang terbuka, Sr Agnes dapat melihat referensinya - Kitab Kejadian bab 3 ayat 15. Kemudian ia mendengar suara malaikat yang mengatakan, sebagai pengantar, bahwa terdapat suatu hubungan yang luar biasa antara ayat ini dan Santa Perawan Maria yang menangis. Malaikat selanjutnya mengatakan, “Terdapat suatu makna luar biasa dalam angka 101 dari patung Bunda Maria yang menangis sebanyak seratus satu kali. Hal ini menyatakan bahwa dosa masuk ke dalam dunia melalui seorang perempuan dan, demikian pula, melalui seorang perempuan rahmat keselamatan masuk ke dalam dunia. Angka nol, yang ada di antara dua “satu,” melambangkan Tuhan yang ada sepanjang

kekekalan masa. “satu” yang pertama mewakili Hawa, dan “satu” yang terakhir mewakili Bunda Maria yang kudus.” Kemudian malaikat meminta Sr Agnes untuk membaca kembali Kitab Kejadian bab 3 ayat 15, dan mengatakan, “Haruslah engkau menyampaikan pesan ini kepada imam Katolik yang memberikan bimbingan rohani kepadamu.” Lalu malaikat meninggalkannya. Pada saat yang sama, penglihatan akan Kitab Suci pun lenyap. Segera sesudah adorasi Sakramen Mahakudus, Sr Agnes bergegas menemui P Thomas Teiji Yasuda SVD, pembimbing rohani Sr Agnes Sasagawa (beliau ditunjuk sebagai pembimbing rohani biara di Akita oleh Uskup Ito pada tahun 1974 - setahun sebelum patung Bunda Maria menangis). Imam membuka Kitab Suci dan mendapati ayat yang mencatat pemakluman nubuat Tuhan kepada setan, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Berikut penjelasan P Teiji Yasuda, “Adalah karena pesan malaikat, yang mengutip Kitab Kejadian bab 3 ayat 15, maka makna luar biasa dari airmata Bunda Maria disingkapkan. Ini berarti bahwa airmata patung Bunda Maria berasal dari tujuan ilahi guna mengarahkan perhatian segenap umat Katolik Roma pada sengsara Maria di kaki Salib sebagai Coredemptrix (= Penebus Serta). Airmata mukjizat diciptakan Tuhan demi mengajarkan kepada seluruh Gereja Katolik Roma bahwa Bunda yang kudus menderita sengsara dan mencucurkan airmata sebagai Bunda Yesus Kristus di tengah peran agung keikutsertaannya dalam penebusan, ketika ia memberikan persetujuan penuh atas persembahan kurban Putranya …. St Paulus memperbandingkan Adam yang baru, Yesus Kristus, sang Penebus, dengan Adam yang lama, seorang pendosa. Dalam pesan Akita pada tahun 1981, Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk menyingkapkan perbedaan menyolok antara Hawa yang lama, yang mencobai Adam untuk berdosa, dan Hawa yang baru, Bunda Maria kita yang kudus, yang melahirkan sang Juruselamat. Seratus satu kali patung menangis menunjukkan kebenaran ini, bahwa Tuhan mempersatukan Maria sebagai bagian yang tak terpisahkan dari karya Penebusan-Nya, dari sejak kekekalan masa.”

Mukjizat Penyembuhan
Keotentikan kuasa adikodrati dari airmata yang mengalir dari patung Bunda Maria didukung serta diperkuat oleh dua mukjizat obyektif berikut. Ny Teresa Chun Sun Ho, seorang ibu rumah tangga Korea Selatan, divonis menderita kanker otak pada tahun 1981. Kesehatannya semakin memburuk hingga ia jatuh koma dalam keadaan vegetatif. Keluarga, sanak saudara dan sahabat memohon dengan sangat kepada Santa

Perawan Maria dari Akita demi kesembuhannya, dengan menempatkan selembar foto patung Bunda Maria yang menangis di samping bantalnya. Pada tanggal 4 Agustus, tengah malam, sementara Ny Teresa Chun masih dalam keadaan koma, Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dalam suatu penglihatan; ia tampak persis sama seperti di Akita. Teresa disembuhkan sama sekali dari penyakitnya. Berikut kesaksian Ny Teresa Chun, “Bunda Maria yang kudus dari Akita, yang membopong seekor anak domba putih dalam gendongannya, menampakkan diri kepadaku, ketika aku masih tergolek tak berdaya di pembaringan, dan menghembusi dahiku sebanyak tiga kali. Aku melihat bulu anak domba bergerak dan bergoyang-goyang karena kuatnya hembusan Bunda Tersuci.” Mukjizat ini diakui kebenarannya oleh Dr Gil Song Lee dalam suatu sertifikat kesehatan yang kemudian dikirimkan ke Tahta Suci. Mukjizat kesembuhan yang kedua adalah dipulihkannya Sr Agnes dari ketulian pada tahun 1982. Sr Agnes kehilangan pendengarannya pada tanggal 16 Maret 1973. Ketika bergabung dalam komunitas, ia sama sekali tuli tanpa dapat disembuhkan. Sr Agnes dapat berbicara dan dapat memahami pembicaraan lewat gerakan bibir lawan bicaranya. Pada tanggal 18 Mei 1974, malaikat pelindung mengatakan kepadanya, “Telingamu akan dibuka pada bulan Oktober. Engkau akan dapat mendengar kembali. Engkau akan disembuhkan….” Pada tanggal 13 Oktober 1974, tepat seperti yang telah dinubuatkan malaikat pelindungnya, Sr Agnes untuk sementara waktu memperoleh kembali pendengarannya. Ia menjadi tuli kembali pada tanggal 7 Maret 1975. Pada Hari Raya Kabar Sukacita 1982, ia diberitahu bahwa segera ketuliannya akan “secara definitif disembuhkan agar karya Yang Mahatinggi digenapi.” Tahun yang sama, pada perayaan St Yosef Pekerja, malaikat memaklumkan kepada Sr Agnes “telingamu akan secara definitif disembuhkan pada bulan ini yang dipersembahkan kepada Bunda Maria. Telingamu akan disembuhkan, untuk terakhir kalinya, oleh Dia yang sungguh hadir dalam Ekaristi.” Kedua mukjizat penyembuhan ini terjadi tepat pada saat Pujian kepada Sakramen Mahakudus. Berikut seperti ditulis P Teiji Yasuda SVD, “Sembilan tahun telah berlalu sejak ia kehilangan pendengarannya pada tahun 1973. Pada tanggal 30 Mei, pada Hari Raya Pentakosta, ia disembuhkan secara ajaib saat ia menerima berkat dari Sakramen Mahakudus dalam monstrans yang saya unjukkan dalam sembah sujud Ekaristi di kapel. Begitu berkat Sakramen Mahakudus diberikan, Sr Agnes mendengar lonceng adorasi yang dibunyikan oleh seorang biarawati. Mukjizat kesembuhan ini disahkan dalam suatu sertifikat kesehatan yang dikeluarkan oleh Dr Tatsuhiko Arai dari Rumah Sakit Palang Merah Akita.” Peristiwa yang sungguh indah ini mengakhiri untuk selama-lamanya penampakan-penampakan, pesan-pesan dan peristiwa-peristiwa ajaib di Akita, yang seringkali disebut sebagai Fatima dari Timur.

Persetujuan Resmi Gereja
Uskup Yohanes Ito mengatur agar Profesor Sagisaka, M.D., seorang non-Kristiani, seorang ahli dalam bidang forensik, untuk melakukan penelitian ilmiah yang cermat serta seksama atas ketiga cairan, tanpa menyebutkan apa dan darimana cairan itu berasal. Hasilnya adalah, “Materia yang menempel pada kain kasa adalah darah manusia. Keringat dan airmata yang terkandung dalam dua gumpalan kapas berasal dari manusia.” Pada tanggal 22 April 1984, Uskup Yohanes Shojiro Ito, ordinaris keuskupan di mana penampakan Bunda Maria terjadi, menerbitkan sepucuk surat pastoral di mana ia mengesahkan penghormatan kepada Bunda Tersuci dari Akita. Dalam surat pastoral tersebut, Uskup Ito memaklumkan keotentikan adikodrati dari ketiga pesan Bunda Maria, pesan-pesan malaikat dan peristiwa-peristiwa adikodrati lainnya yang terjadi atas seorang biarawati Jepang sejak 1973 di sebuah biara di Akita, Jepang Utara, yang ada dalam wilayah keuskupannya. Empat tahun kemudian, pada tanggal 20 Juni 1988, dalam kunjungan Uskup Ito ke Roma, Kardinal Joseph Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI), sebagai Prefek Kongregasi Ajaran Iman memberikan persetujuan atas isi surat pastoral Bapa Uskup.

Pesan2 SP Maria dari Akita
Berikut ketiga pesan Santa Perawan Maria dari Akita seperti yang disampaikannya kepada Sr Agnes Sasagawa: 6 Juli 1973 “Puteriku, novisku, engkau telah mentaatiku dengan baik dalam meninggalkan segala sesuatu demi mengikuti aku. Adakah cacat telingamu menyengsarakan? Ketulianmu akan disembuhkan, yakinlah. Adakah luka di tanganmu membuatmu menderita? Berdoalah demi silih bagi dosa-dosa umat manusia. Setiap orang dalam komunitas ini adalah puteri-puteriku yang tak tergantikan. Adakah engkau mendaraskan doa Para Abdi Ekaristi dengan baik? Jika demikian, marilah kita mendoakannya bersama.” “Hati Yesus yang Mahakudus, yang sungguh hadir dalam Ekaristi Kudus, aku persembahkan tubuh dan jiwaku untuk dipersatukan sepenuhnya dengan Hati-Mu, yang dikurbankan setiap saat di segenap altar-altar dunia dan yang mendatangkan kemuliaan bagi Bapa memohon datangnya Kerajaan-Nya. Sudi terimalah persembahan diriku yang hina ini. Pakailah aku seturut kehendak-Mu demi kemuliaan Bapa dan keselamatan jiwa-jiwa.

Bunda Allah yang Tersuci, janganlah pernah biarkan aku terpisah dari Putra Ilahimu. Sudi belalah dan lindungilah aku sebagai Anak Kesayanganmu. Amin.” Ketika doa selesai didaraskan, suara surgawi itu melanjutkan, “Berdoalah banyak-banyak bagi Paus, para Uskup dan para Imam. Sejak pembaptisanmu, engkau telah senantiasa dengan setia berdoa bagi mereka. Teruslah berdoa banyak … banyak sekali. Katakanlah kepada superiormu segala yang terjadi hari ini dan taatilah dia dalam segala hal yang ia katakan kepadamu. Ia telah memintamu untuk berdoa dengan tekun.” 3 Agustus 1973 “Puteriku, novisku, apakah engkau mengasihi Tuhan? Jika engkau mengasihi Tuhan, dengarkanlah apa yang harus aku sampaikan kepadamu.” “Sungguh teramat penting … Engkau akan menyampaikannya kepada superiormu.” “Begitu banyak orang di dunia ini yang menyakiti Tuhan. Aku menghendaki jiwa-jiwa menghibur-Nya demi meredakan murka Bapa Surgawi. Aku berharap, bersama Putraku, akan jiwa-jiwa yang akan menyilih dengan penderitaan dan kemiskinan mereka bagi orang-orang berdosa dan orang-orang yang tak tahu berterima kasih.” “Agar dunia sadar akan murka-Nya, Bapa Surgawi bersiap untuk mendatangkan suatu penghukuman besar atas umat manusia. Bersama Putraku, aku telah begitu banyak kali campur tangan demi meredakan murka Bapa. Aku menghalangi datangnya malapetaka dengan mempersembahkan kepada-Nya sengsara Putra di Salib, Darah-Nya yang Mahasuci, dan jiwa-jiwa terkasih yang menghibur-Nya, yang membentuk suatu himpunan jiwa-jiwa yang berkurban. Doa, penitensi dan kurban-kurban yang gagah berani dapat meredakan murka Bapa. Aku menghendaki ini juga dari komunitas kalian … agar ia mencintai kemiskinan, agar ia menguduskan diri dan berdoa demi silih bagi rasa tidak tahu terima kasih dan kekejian begitu banyak orang.” “Daraskanlah doa Para Abdi Ekaristi dengan pemahaman penuh akan maknanya; amalkanlah; persembahkanlah demi silih (apapun yang Tuhan kirimkan) bagi dosa-dosa. Biarlah tiap-tiap orang berjuang menurut kapasitas dan posisi masing-masing, untuk mempersembahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.” “Bahkan dalam suatu biara sekulir pun doa diperlukan. Jiwa-jiwa yang rindu berdoa sudah berada di jalan bersatu bersama. Tanpa terlalu

terikat pada bentuk, setialah dan bertekunlah dalam doa demi menghibur sang Tuan.” Setelah hening sejenak: “Adakah yang engkau pikirkan dalam hatimu itu benar? Adakah engkau sungguh memutuskan untuk menjadi batu yang dibuang? Novisku, engkau secara terus terang rindu untuk menjadi milik Kristus, menjadi mempelai yang pantas bagi sang Mempelai, engkau berkaul dengan sadar sepenuhnya bahwa engkau harus tergantung pada Salib dengan tiga paku. Ketiga paku ini adalah kemiskinan, kemurnian dan ketaatan. Dari ketiga itu, ketaatan adalah fondasinya. Dalam penyerahan diri secara total, berikanlah dirimu dibimbing oleh superiormu. Ia akan tahu bagaimana memahamimu dan mengarahkanmu.” 13 Oktober 1973 Sr Agnes mengatakan, “Pada hari Sabtu, 13 Oktober 1973, pada hari peringatan penampakan terakhir di Fatima, patung mulai memancarkan bau harum surgawi itu. Aku berlutut, mengambil rosario dan menandai diri dengan Tanda Salib. Sekonyong-konyong, dengan telingaku yang tuli, aku dapat mendengar suatu suara nan merdu tak terperi yang berasal dari patung.” “Puteriku terkasih, dengarkanlah dengan seksama apa yang harus kusampaikan kepadamu. Engkau akan menyampaikannya kepada superiormu.” Setelah hening sejenak: “Seperti telah kukatakan kepadamu, jika manusia tidak bertobat dan memperbaiki diri, Bapa akan mendatangkan suatu penghukuman yang ngeri atas segenap umat manusia. Suatu penghukuman yang lebih dahsyat dari air bah, seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. Api akan jatuh dari langit dan akan membinasakan sebagian besar umat manusia, yang baik maupun yang jahat, tanpa mengecualikan baik para imam maupun umat beriman. Mereka yang selamat akan mendapati diri begitu putus asa hingga mereka akan iri pada yang tewas. Satu-satunya senjata yang akan tetap ada padamu adalah Rosario dan Tanda yang ditinggalkan oleh Putraku. Setiap hari daraskanlah rosario. Dengan rosario, berdoalah bagi Paus, para Uskup dan para Imam.” “Karya setan akan merembes bahkan ke dalam Gereja begitu rupa hingga orang akan melihat kardinal melawan kardinal, uskup melawan uskup. Para imam yang menghormatiku akan dicemooh dan ditentang oleh rekan-rekan mereka … gereja-gereja dan altar-altar dihancurkan; Gereja akan dipenuhi dengan mereka yang menerima kompromi dan iblis akan menekan banyak imam dan jiwa-jiwa yang dipersembahkan bagi Tuhan agar mereka meninggalkan pelayanan bagi Tuhan.”

“Setan akan tanpa ampun khususnya dalam melawan jiwa-jiwa yang dipersembahkan bagi Tuhan. Pemikiran akan hilangnya begitu banyak jiwa adalah penyebab kesedihanku. Jika dosa meningkat dalam jumlah dan dalam kekejiannya, tidak akan ada lagi ampun bagi mereka.” “Dengan gagah berani, sampaikanlah kepada superiormu. Ia akan tahu bagaimana mendorong masing-masing kalian untuk berdoa dan melakukan tindak silih.” “Ialah Uskup Ito, yang akan membimbing komunitas kalian.”

Mgr. Yohanes Shojiro Ito

Sr. Agnes Sasagawa

Santa Perawan tersenyum dan lalu melanjutkan, “Apakah masih ada sesuatu yang hendak engkau tanyakan? Hari ini adalah yang terakhir kalinya aku berbicara kepadamu dalam suara yang hidup. Sejak saat ini engkau akan taat kepada dia yang diutus kepadamu dan kepada superiormu.” “Berdoalah rosario banyak-banyak. Aku sendiri masih dapat menyelamatkan kalian dari malapetaka yang akan datang. Mereka yang mempercayakan dirinya kepadaku akan diselamatkan.” sumber : 1. “Our Lady of Akita”; www.catholictradition.org; 2. “Sr Agnes Sasagawa”; www.ewtn.com; 3. “The Message of Mary Co-redemptrix at Akita and the Proposed Marian Dogma Written by Fr Thomas Teiji Yasuda, SVD”; 4. berbagai sumber Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

SP Maria dari Kibeho

Alphonsine Mumureke

Anathalie

Marie Claire Mukangango

Mukamazimpaka

Penampakan Pertama Para Visioner Penampakan-Penampakan Berikut Perjalanan Mistik Nubuat dan Peringatan Pesan-Pesan Bunda Maria Persetujuan Resmi Gereja
Rwanda adalah sebuah negeri kecil di bagian tengah Afrika; negeri dengan sederetan pegunungan sehingga sering disebut sebagai Swiss Afrika. Penduduknya berjumlah sekitar 5,5 juta jiwa; separuh dari antara mereka adalah Katolik. Ada dua suku besar di Rwanda: suku Hutu dan suku Tutsi, yang saling bersitegang satu sama lain bertahun-tahun lamanya. Kota Kibeho terletak di bagian selatan negeri yang elok ini; wilayah termiskin di Rwanda. Sepanjang tahun 1980-1981, kebrobokan merajalela di seluruh negeri. Hampir semua patung-patung Bunda Maria yang ada di pintu-pintu masuk desa dikudungi, dirusakkan, atau dicuri. Suatu masa yang menyedihkan ketika Bunda Maria nyaris dilupakan dan orang tak lagi datang mohon bantuan doanya. Bahkan sebagian imam tak lagi berdoa rosasio, sebab terpengaruh oleh propaganda teolog-teolog sesat yang hendak meyakinkan kita bahwa devosi yang demikian sudah ketinggalan jaman. Umat Katolik dihinakan; kaum klerus mulai menyerah. Pada masa keputusasaan seperti inilah Bunda Maria memilih untuk mengunjungi Rwanda. Penampakan Bunda sang Sabda dimulai pada tanggal 28 November 1981 dan berakhir pada tanggal 28 November 1989.

Penampakan Pertama
Alphonsine Mumureke, 16 tahun (1965), berasal dari sebuah kelurga Katolik yang miskin, adalah seorang siswi di sebuah sekolah biara yang dikelola oleh para biarawati. Selain amat saleh dan senantiasa menunjukkan kasih yang besar kepada Bunda Allah, ia juga biasa ikut ambil bagian dalam Misa Kudus. Berikut kisah penampakan pertama seperti yang diceritakan sendiri oleh Alphonsine:

“Peristiwa itu terjadi pada hari Sabtu, tanggal 28 November 1981, pukul 12:35 siang. Aku sedang berada di kamar makan sekolah, melayani teman-teman sekelas. Sekonyong-konyong, aku mendengar suara yang memanggilku.” “Puteriku.” “Aku di sini.” “Aku pergi ke lorong, dan melihat seorang perempuan yang amat cantik jelita. Aku berlutut, membuat Tanda Salib dan bertanya, `Siapakah engkau?'” “Ndi Nyina Wa Jambo (dalam bahasa setempat, yang artinya, “Aku adalah Bunda sang Sabda”). Dalam agama, apakah yang engkau sukai?” “Aku mengasihi Tuhan dan BundaNya, yang memberi kami Kanak-kanak yang menebus kami.” “Jika demikian, aku telah datang untuk menenangkanmu, sebab aku telah mendengar doa-doamu. Aku menghendaki teman-temanmu memiliki iman, sebab kepercayaan mereka kurang kuat.” “Bunda sang Juruselamat, jika sungguh engkau itu yang telah datang untuk memberitahukan kepada kami bahwa di sini, di sekolah ini, iman kami lemah, maka engkau sungguh mengasihi kami. Aku sungguh dipenuhi sukacita bahwa engkau menampakkan diri kepadaku.” Bunda Maria kemudian meminta Alphonsine untuk bergabung dengan Legio Maria dan mengatakan bahwa ia ingin dikasihi dan dipercayai sebagai seorang ibunda, agar ia dapat menghantar kita kepada Putranya, Yesus. Ketika ditanyakan kepadanya mengenai penampilan fisik Bunda Maria, Alphonsine menjawab, “Santa Perawan tidak berkulit putih seperti ia biasa digambarkan dalam gambar-gambar kudus. Aku tak dapat menentukan warna kulitnya, tetapi ia sungguh cantik tak terperi. Ia bertelanjang kaki dan mengenakan gaun putih tak berjahit, juga sebuah kerudung putih di atas kepalanya. Kedua tangannya dikatupkan di dada dengan jari-jemarinya mengarah ke langit. Sesudahnya, aku diberitahu bahwa aku sedang berada di kamar makan. Teman-teman sekelas mengatakan bahwa aku berbicara dalam beberapa bahasa: Perancis, Inggris, Kinyarwanda, dsbnya.” “Ketika Santa Perawan hendak pergi, aku mendaraskan tiga `Salam Maria' dan doa `Datanglah Roh Kudus'. Ketika ia pergi, aku melihatnya naik ke surga seperti Yesus.”

Di akhir penampakan, Alphonsine jatuh ke tanah dan tak bergerak hingga seperempat jam lamanya, seolah ia lumpuh; segala usaha untuk membangunkannya dari ekstasi sia-sia belaka. Tak seorang guru maupun biarawati yang percaya akan apa yang diceritakan Alphonsine. Mereka menganggapnya sakit. Fenomena yang sama terjadi lagi keesokan harinya, 29 November 1981. Pada bulan Desember, penampakan terjadi hampir setiap hari Sabtu. Didorong oleh rasa keingintahuan yang besar, para murid dan guru berusaha mencoba menguji realita ekstasi. Mereka menyulut tubuh Alphonsine dengan korek api, atau menusuknya dengan peniti, tetapi ia tidak bereaksi. Alphonsine banyak menderita. Mereka mengolokoloknya, “Ini dia, si penglihat datang!” Dalam penampakan tanggal 8 Mei 1982, Alphonsine mengeluh kepada Bunda Maria, “Orang banyak mengatakan bahwa kita gila.” Sementara itu, sebagian murid datang membawa rosario agar diberkati oleh Santa Perawan. Semua rosario dikumpulkan dan dicampur menjadi satu, hingga tak mungkin bagi Alphonsine untuk mengenali pemilik masing-masing. Ketika Alphonsine mengambil rosario dan menyerahkannya kepada Bunda Maria, sebagian rosario menjadi begitu berat hingga Alphonsine tak mampu mengangkatnya dan memintakan berkat. Sesudahnya, barulah orang tahu bahwa rosario yang demikian adalah milik murid-murid yang tidak percaya akan penampakan dan yang memperoloknya.

Para Visioner
Karena kuatnya pertentangan antara yang percaya dan yang tidak, sebagian guru dan murid mengatakan, “Kami percaya akan kedatangan Bunda Maria, Bunda Allah, ke sekolah kita, hanya jika ia menampakkan diri juga kepada yang lain selain Alphonsine.” Yang ditanggapi Alphonsine dengan, “Berdoalah agar kalian mendapatkan rahmat itu.” Pada tangal 12 Januari 1982, Bunda Maria mengabulkan doa mereka dan menampakkan diri kepada Anathalie Mukamazimpaka (1965), berasal dari sebuah keluarga Katolik, seorang anggota Legio Maria. Pesanpesan yang disampaikan Bunda Maria kepadanya, yang berakhir pada tanggal 3 Desember 1983, berpusat pada doa dari hati, matiraga, penyerahan diri kepada Tuhan, dan kerendahan hati. Begitu Anathalie juga mendapatkan penampakan, sebagian besar komunitas menerima penampakan Bunda Maria sebagai kebenaran. Pada tanggal 2 Maret 1982, semua orang dibuat tercengang-cengang ketika Bunda Maria menampakkan diri pula kepada Marie Claire Mukangango (1961), sebab ia adalah seorang dari mereka yang paling menunjukkan ketidakpercayaannya. Kehidupan Kristianinya tidak istimewa, bahkan jauh dari teladan! Ia mengalami masalah dalam disiplin dan harus satu tahun tinggal kelas. Ia memperolok Alphonsine

sebagai “si tolol”. Dan sekarang, gilirannyalah dikuasai oleh kuasa adikodrati. Sejak saat itu, Marie Claire tak hentinya menasehatkan kepada orang banyak, “Kita patut merenungkan sengsara Yesus dan dukacita mendalam BundaNya. Hendaknyalah kita mendaraskan rosario setiap hari, dan juga Rosario Tujuh Duka SP Maria, demi mendapatkan rahmat tobat.” Penampakan Bunda Maria kepada Marie Claire berlangsung enam bulan lamanya dan berakhir pada Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita, tanggal 15 September 1982. Selain ketiga siswi di atas, ada empat orang lainnya yang menyatakan diri mendapatkan penampakan Bunda Maria juga. Mereka adalah: Stephanie Mukamurenzi (1968); Agnes Kamagaju (1960); Segatashya (1967), seorang anak laki-laki kafir yang kemudian mendapat nama kristen Emanuel; Vestine Salima (1960), seorang wanita muslim. Namun demikian, hingga kini hanya tiga orang saja yang diakui secara resmi oleh Gereja, yaitu: Alphonsine Mumureke, Anathalie Mukamazimpaka dan Marie Claire Mukangango.

Penampakan-Penampakan Berikut
Penampakan pertama pada tanggal 28 November 1981 terjadi siang hari di kamar makan sekolah; hari berikutnya penampakan terjadi sore hari di asrama, di kamar visioner hingga tanggal 16 Januari 1982. Sesudah itu, penampakan biasa terjadi di asrama para murid atau di kapel. Di sanalah para murid datang untuk berdoa sore hari dan merupakan saat yang disukai Bunda Maria untuk datang mengunjungi mereka. Para murid ada di sana selama penampakan; seringkali pembicaraan dengan Bunda Maria adalah mengenai kehidupan sekolah. Bunda Maria memberikan nasehat, membesarkan hati, berbicara demi menghantar mereka di jalan yang benar. Bunda Maria adalah sungguh seorang ibunda yang , dengan kasih keibuannya, mendidik putera-puterinya. Penampakan-penampakan ini dianggap privat dan masyarakat umum tidak diperkenankan ikut. Namun demikian, masyarakat umum dapat ikut ambil bagian dalam penampakan yang juga terjadi di halaman sekolah. Di sana berlangsung pembicaraan antara visioner dengan Bunda Maria. Semua yang hadir dapat mendengar kata-kata yang diucapkan visioner, namun tentu saja, mereka tak dapat mendengarkan perkataan Santa Perawan Maria. Segera saja orang berbondong-bondong datang dari segenap penjuru negeri. Guna mengakomodasi orang banyak itu, sebuah podium yang diperlengkapi dengan pengeras suara didirikan di halaman biara. Dengan demikian, para anggota komisi kesehatan dan komisi teologis dan juga para wartawan dapat bergerak leluasa, dan terlebih lagi, khalayak ramai dapat mendengar dialog yang terjadi. Para visioner akan memadahkan lagu-lagu pujian atau mendaraskan rosario hingga kedatangan Santa Perawan seperti yang telah diberitahukan

sebelumnya kepada mereka. Pada tanggal 15 Agustus 1982, diperkirakan ada sekitar 20.000 orang yang hadir. Terkadang, pada waktu penampakan terjadi, khalayak ramai juga menyaksikan berbagai fenomena adikodrati seperti mukjizat matahari (serupa di Fatima): matahari menari-nari dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah selama sepuluh menit, matahari sekonyong-konyong lenyap ditelan langit dan digantikan oleh bulan yang kehijau-hijauan; pula bintang-bintang menari dan salib-salib bercahaya di langit. Di akhir penampakan, Santa Perawan meminta para visioner untuk memberkati khalayak ramai. Para visioner berada dalam keadaan ekstasi; mereka tidak melihat orang banyak, melainkan sebuah taman bunga, sebagian bunga tampak segar sementara yang lainnya layu. Santa Perawan meminta mereka menyirami bunga-bunga itu, sembari menjelaskan bahwa bunga-bunga segar mewakili jiwa-jiwa yang hatinya bertaut pada Tuhan, sedangkan bunga-bunga layu mewakili jiwa-jiwa yang hatinya bertaut pada hal-hal duniawi, khususnya harta. Meski banyak mukjizat, namun mukjizat terbesar yang terjadi di Kibeho adalah gelombang pertobatan dan doa. Pada akhir tahun 1983, semua penampakan di Kibeho berakhir, terkecuali penampakan kepada Alphonsine yang berakhir pada tanggal 28 November 1989.

Perjalanan Mistik
Alphonsine mengalami fenomena ini pada tanggal 20 dan 21 Maret 1982. Sebelumnya ia telah memberitahukan kepada Suster Direktris dan teman sekelasnya, “Aku akan tampak mati, tapi janganlah takut; jangan kuburkan aku!” Bunda Maria sebelumnya telah mengatakan kepada Alphonsine bahwa ia akan membawanya dalam suatu perjalanan bersamanya; perjalanan ini memakan waktu hingga 18 jam lamanya. Para imam, kaum religius, para perawat, pula para pelayan kesehatan Palang Merah, semuanya dapat melihat Alphonsine tenggelam dalam suatu tidur yang dalam; tubuhnya lurus kaku dan amat berat; mereka tak dapat mengangkat tubuhnya maupun memisahkan kedua tangannya yang terjalin erat. Dalam perjalanan ini, Bunda Maria memperlihatkan kepadanya surga, api penyucian dan neraka. Fenomena mengesankan lainnya yang terjadi di Kibeho adalah puasa dan hening yang diminta oleh Bunda Maria. Anathalie berpuasa selama 14 hari lamanya - dari tanggal 16 Februari hingga 2 Maret 1983 - dan hanya hidup dari Ekaristi Kudus. Ia sama sekali tidak makan apapun sepanjang delapan hari yang pertama, bahkan setetes air pun tidak. Enam hari berikutnya, ia minum hanya sedikit air. Para anggota komisi kesehatan dan teologis memeriksa dengan cermat di setiap menit. Delapan perawat kesehatan ditugaskan secara bergiliran baik pagi maupun malam sepanjang waktu. Para dokter melakukan beberapa pemeriksaan setiap harinya guna memeriksa keadaan kesehatan

Anathalie. Mereka mendapati bahwa tidak ada tanda-tanda dehidrasi, bibirnya tetap basah; ia tidak gemetar seperti yang biasa terjadi pada orang-orang yang kelaparan. Pada hari yang kesebelas dari puasanya, Santa Perawan menampakkan diri kepadanya di bawah panas terik matahari selama 105 menit.

Nubuat dan Peringatan
Salah satu alasan kuat yang membuat otoritas Gereja yang berwenang mengakui penampakan Kibeho sebagai otentik adalah penglihatan akan genosida di Rwanda yang terjadi 12 tahun kemudian. Dalam suatu penampakan pada tahun 1982 yang berlangsung hingga delapan jam lamanya, Bunda Maria memperlihatkan kepada para visioner apa yang akan terjadi di negeri mereka apabila mereka tidak berbalik kepada Allah. “Suatu sungai darah, orang-orang yang saling membunuh satu sama lain, mayat-mayat bergelimpangan tanpa seorang pun menguburkan mereka, pepohonan dilalap api, tubuh-tubuh tanpa kepala.” Mereka menangis dengan begitu pedih dan pilu hingga mengguncangkan hati khalayak ramai yang berkerumun di sana. Nubuat ini tampaknya tak masuk akal, namun, pada musim semi 1994, pecah suatu perang sipil yang paling tragis serta mengerikan. Para pemimpin kaum Hutu mengorganisir suatu genosida yang sistematik yang merenggut nyawa sekitar 800.000 kaum Tutsi dan kaum Hutu moderat; suatu pembantaian besar-besaran yang sebagian besar dilakukan dengan parang. Orang-orang tak bersalah, termasuk anakanak, dibantai secara keji. Kamp pengungsian terbesar berada di Kibeho. Pada tanggal 14 April 1994, seluruh suku Tutsi yang bersembunyi di sebuah gereja paroki di sana, sekitar 4.000 orang, tewas oleh granat-granat yang meledak dalam bangunan gereja yang kemudian terbakar hangus. Hanya dalam waktu tiga bulan saja, April hingga Juni 1994, sekitar 1.000.000 orang tewas, sebagian besar dipenggal kepalanya dan tubuhnya dicampakkan ke dalam Sungai Kagea (= sungai darah). Anathalie selamat, Alphonsine juga berhasil selamat walau seluruh keluarganya tewas terbunuh; sementara Uskup Gahamanyi dan Marie Claire termasuk di antara korban tewas dalam perang sipil ini. Di kemudian hari, Alphonsine menjadi seorang biarawati rabiah sementara Anathalie tinggal di Rwanda mengurus tempat ziarah Santa Perawan Maria Berdukacita yang kemudian dibangun di tempat penampakan. Di Kibeho, Santa Perawan Maria telah memperingatkan kita bahwa seks bebas akan menghantar manusia kepada petaka. Pesan itu dinyatakan sebelum dunia mengenal AIDS, tetapi pada tahun 1994, 70% kasus AIDS sedunia terdapat di Afrika. Sebanyak 25 juta warga Afrika terjangkit penyakit mematikan ini.

Guna menghindari perang dan malapetaka, Bunda sang Sabda mengundang para visioner dan juga seluruh dunia untuk berdoa, berpuasa dan bermatiraga.

Pesan-Pesan Bunda Maria
Inti pesan-pesan Bunda Maria adalah doa dari hati, silih, puasa, tobat, berdoa Rosario, dan persiapan menyambut kedatangan Yesus kembali. Pesan kepada Marie Claire: “Aku menaruh perhatian bukan hanya kepada Rwanda atau kepada seluruh Afrika saja. Aku menaruh perhatian kepada, dan berpaling kepada, seluruh dunia. Dunia sedang berada di ambang bencana.” “Aku datang untuk mempersiapkan jalan bagi Putraku demi kebaikan kalian, dan kalian tidak mau mengerti. Tinggal sedikit saja waktu dan kalian mudah lupa. Kalian terpikat oleh barang-barang dunia ini yang akan binasa. Aku melihat banyak dari antara anak-anakku yang tersesat, dan aku datang untuk menunjukkan jalan yang benar kepada mereka.” “Dunia telah berbalik melawan Allah. Kita harus bertobat dan memohon pengampunan.” “Betobatlah! Betobatlah! Betobatlah!” “Tetapi, aku sudah melakukannya.” “Apabila aku menyampaikan ini kepadamu, aku tidak berbicara hanya kepadamu seorang, melainkan aku berbicara juga kepada semua yang lainnya. Manusia pada masa ini telah mengosongkan segala sesuatu dari maknanya yang sejati; ia yang melakukan kesalahan tidak tahu bahwa ia telah berbuat salah.” (2 April 1982) “Yang aku minta dari kalian adalah tobat. Apabila kalian mendaraskan kaplet ini (Rosario Tujuh Duka SP Maria), dengan merenungkannya, maka kalian akan mendapatkan kekuatan untuk bertobat. Sekarang ini, banyak orang yang tidak tahu lagi bagaimana memohon pengampunan. Mereka memakukan kembali Putra Allah pada Salib. Sebab itu aku menghendaki datang dan mengingatkannya kembali kepada kalian, khususnya di sini di Rwanda, sebab di sini aku masih mendapati orangorang sederhana yang tidak terikat pada kekayaan ataupun uang.” (31 Mei 1982) “Kita patut merenungkan sengsara Yesus dan dukacita mendalam BundaNya. Hendaknyalah kita mendaraskan rosario setiap hari, dan juga Rosario Tujuh Duka SP Maria, demi mendapatkan rahmat tobat.” Pesan kepada Anathalie:

“Bangunlah, berdirilah! Basuhlah dirimu dan lihatlah dengan seksama. Haruslah kita membaktikan diri dalam doa. Haruslah kita mengembangkan dalam diri kita keutamaan-keutamaan belas kasih, keterbukaan hati dan kerendahan hati.” “Kembalilah kepada Tuhan, Sumber Air Hidup.” “Aku berbicara kepada kalian, tetapi kalian tidak mendengarkan aku. Aku hendak mengangkat kalian, tetapi kalian tetap tinggal di bawah. Aku memanggil kalian, tetapi kalian memberiku telinga yang berat mendengar. Bilamanakah kalian akan melakukan apa yang aku minta? Kalian tetap acuh tak acuh terhadap segala permintaanku. Bilakah kalian mau mengerti? Bilamanakah kalian menaruh minat pada apa yang ingin kusampaikan kepada kalian? Aku memberi kalian tanda-tanda, tetapi kalian tetap tidak percaya. Berapa lama lagikah kalian akan menyendengkan telinga yang tuli terhadap permintaanku?” (5 Agustus 1982, keluhan Santa Perawan Maria sehubungan dengan permintaannya untuk mendirikan dua tempat ibadat di tempat penampakan.) Pesan kepada Alphonsine: “Aku berbicara kepada kalian yang memegang kekuasaan, dan yang memimpin negara: selamatkanlah rakyat, dan bukannya menjadi penindas mereka. Janganlah merampas dari rakyat; berbagilah dengan yang lain. Berhati-hatilah untuk tidak menganiaya, membungkam mereka yang hendak mengkritik kesalahan kalian. Aku katakan kepada kalian, aku ulangi, apapun yang kalian lakukan, bahkan meski kalian mengusahakan segala daya upaya untuk mencelakai seseorang sebab ia mengasihi sesamanya, membela hak-hak asazi manusia, berjuang demi harkat hidup yang lain, dan demi kebenaran dan segala yang baik, dan bahkan sebab ia berjuang agar Tuhan dikasihi dan dihormati, apapun yang kalian lakukan, kalian tak akan dapat melakukan sesuatupun untuk melawan dia.” (28 November 1989, penampakan terakhir) “Tak ada yang lebih indah daripada sebentuk hati yang memperembahkan penderitaannya kepada Tuhan. Berdoa, berdoa, berdoalah! Ikutilah Injil Putraku. Janganlah lupa bahwa Tuhan jauh lebih berkuasa dari segala kejahatan di dunia. Berbagilah. Jangan membunuh. Jangan menganiaya. Hormatilah hak-hak manusia, sebab jika kalian bertindak sebaliknya, kalian tidak akan berhasil dan ia akan berbalik melawanmu.” “Meski aku adalah Bunda Allah, aku rendah hati dan bersahaja. Aku senantiasa menempatkan diriku di tempat kalian. Aku mengasihi kalian apa adanya. Tak pernah aku mencela anak-anakku yang kecil. Apabila seorang kanak-kanak tidak dicela oleh ibundanya, maka ia akan mengatakan kepada ibundanya segala sesuatu yang ada dalam hatinya.

Aku bersuka hati apabila anakku bersukacita bersamaku. Sukacita itu merupakan tanda yang paling indah dari kepercayaan dan kasih. Sedikit saja orang yang mengerti misteri kasih Allah. Ijinkanlah aku, sebagai Bunda kalian, memeluk segenap anak-anakku dengan penuh kasih sayang agar kalian boleh mempercayakan kerinduan-kerinduanmu yang terdalam kepadaku. Ketahuilah, bahwa aku menyampaikan segala kerinduan hatimu kepada Putraku, Yesus, Saudara-mu.” “Aku mengasihi seorang kanak-kanak yang bermain bersamaku, sebab ini merupakan suatu perwujudan nyata yang indah dari kepercayaan dan kasih. Bersikaplah bagai kanak-kanak bersamaku sebab aku juga suka membelaimu. Tak seorang pun takut kepada ibundanya. Aku Bundamu. Janganlah kalian takut kepadaku, melainkan hendaknyalah kalian mengasihi aku.” “Aku mengasihi, mengasihi, sangat mengasihi kalian. Janganlah pernah lupa akan kasihku kepada kalian sehingga aku datang di antara kalian. Pesan-pesan ini tidak hanya berguna sekarang ini saja, melainkan juga di masa mendatang.” (28 November 1989, penampakan terakhir)

Persetujuan Resmi Gereja
Pada waktu penampakan terjadi, Kibeho adalah bagian dari Keuskupan Butare di bawah kepemimpinan Uskup Jean Baptiste Gahamanyi; sekarang Kibeho adalah bagian dari Keuskupan Gikongoro di bawah kepemimpinan Uskup Augustin Misago. Menanggapi fenomena penampakan yang terjadi di wilayah keuskupannya, Uskup Gahamanyi segera membentuk dua komisi: komisi teologis dan komisi medis. Kedua komisi ini efektif menjalankan tugasnya sejak April 1982 hingga penampakan Kibeho mendapatkan persetujuan resmi Tahta Suci pada tahun 2001. Sementara itu, berdasarkan hasil penelitian yang cermat dan seksama oleh kedua komisi, pada tanggal 15 Agustus 1988, Uskup setempat berkeputusan untuk memberikan persetujuan atas devosi publik sehubungan dengan penampakan Kibeho. Uskup Gahamanyi memaklumkan, “Saya sama sekali tak ragu bahwa sesuatu yang adikodrati telah terjadi di Kibeho. Pesan-pesannya benar; orang hendaknya menaruh perhatian.” Duapuluh tahun berlalu setelah penampakan pertama, dan pada tanggal 29 Juni 2001, Pesta St Petrus dan St Paulus, dalam suatu Misa Kudus yang khidmad di Katedral Gikongoro, Uskup Augustin Misago yang mewakili otoritas yang berwenang, menerbitkan deklarasi resmi mengenai penilaian definitif penampakan di Kibeho, Rwanda. Antara lain beliau memaklumkan, “Ya, Santa Perawan Maria menampakkan diri di Kibeho pada tanggal 28 November 1981, dan pada bulan-bulan berikutnya. Ada lebih banyak alasan untuk percaya pada penampakanpenampakan yang terjadi daripada mengingkarinya. Hanya tiga kesaksian pertama yang dianggap sebagai otentik; yaitu yang kesaksian

yang diberikan oleh Alphonsine Mumureke, Anathalie Mukamazimpaka, dan Marie Claire Mukangango.” Pada tanggal 2 Juli 2001 Tahta Suci memberikan persetujuan akan keotentikan penampakan Kibeho dan menerbitkan laporan lengkap mengenainya dalam koran Vatikan L'Osservatore Romano. Nama yang diberikan kepada tempat ziarah Bunda Maria di Kibeho adalah `Santa Perawan Maria Berdukacita'; peletakan batu pertamanya dilakukan pada tanggal 28 November 1992. Dalam deklarasinya, Uskup Gikongoro, Rwanda, memaklumkan: “Bahwa Kibeho menjadi suatu tempat ziarah dan tempat perjumpaan bagi segenap mereka yang mencari Kristus dan yang datang ke sana untuk berdoa, suatu pusat fundamental dari pertobatan, silih atas dosadosa dunia dan rekonsiliasi, suatu tempat pertemuan bagi `mereka semua yang tercerai-berai', pula bagi mereka yang merindukan nilai-nilai kasih dan persaudaraan tanpa batas, suatu pusat fundamental yang mengingatkan orang akan Injil Salib.” sumber : 1. “Messages of Our Lady of Sorrows in Kibeho, Rwanda by Thérèse Tardif”; Michael Journal; www.michaeljournal.org; 2. “Rwanda The Visions of Life and Death”; www.mrosa.szm.sk/341998/angl/; 3. berbagai sumber Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Santa Perawan Maria dari La Salette
oleh: P William P Saunders * . .

Minggu lalu, saya menghadiri ulang tahun tahbisan yang ke-50 dari P Joseph Loftus. Beliau dari Misionaris dari La Salette. Bagaimanakah kisah Santa Perawan Maria dari La Salette? ~ seorang pembaca di Arlington Pada suatu hari Sabtu siang, 19 September 1846, dua orang anak Maximin Guiraud (berusia 11 tahun) dan Melanie Calvat (berusia 14 tahun) - sedang menggembalakan domba milik majikan mereka dekat La Salette di pegunungan Alpen, Perancis. Dampak Revolusi Perancis yang telah meneror Gereja, darah yang tertumpah sepanjang masa berkuasanya Napoleon, meningkatnya sekularisasi pemikiran masyarakat dan maraknya kekacauan politik yang menyelimuti Eropa telah mengakibatkan kerusakan serius atas iman masyarakat. Di paroki La Salette, sedikit dan semakin sedikit saja umat yang ikut ambil bagian dalam Misa Kudus dan sakramen-sakramen diacuhkan. Kutuk dan sumpah serapah menggantikan doa; kebejadan moral menggantikan kemurnian; ketamakan dan kesenangan diri menggantikan kesalehan dan matiraga. Melanie Calvat, seorang dari delapan bersaudara, berasal dari sebuah keluarga miskin dan harus mulai bekerja ketika usianya tujuh tahun. Ia tidak pernah bersekolah, hanya tahu sedikit saja mengenai Katekese, jarang ke Misa, dan nyaris tak dapat mendaraskan Bapa Kami ataupun Salam Maria. Begitu pula, Maximin Guiraud, yang ibunya telah meninggal dunia dan tidak cocok dengan ibu tirinya, hanya mempunyai sedikit saja pendidikan agama dan tidak bersekolah. Ketika sedang menggembalakan domba, mereka melihat suatu cahaya kemilau yang lebih cemerlang dari matahari. Sementara mereka mendekat, mereka melihat seorang “Perempuan Cantik” duduk di atas sebuah batu karang dan menangis, wajahnya dibenamkan ke dalam kedua tangannya. Dengan berurai airmata, perempuan itu berdiri dan berbicara kepada anak-anak dalam dialek Perancis setempat. Ia mengenakan hiasan kepala dengan sebuah mahkota transparan di atasnya dan rangkaian mawar sekelilingnya, gaun yang bersinar dengan cahaya dan alas kaki berpinggiran bunga-bunga mawar. Di lehernya tergantung sebuah salib emas: di salah satu ujung palang salib terdapat sebuah palu serta paku-paku, dan di ujung lainnya terdapat sebuah penjepit. Di sekeliling pundaknya tergantung sebuah rantai yang berat. Katanya, “Datanglah kepadaku, anak-anakku. Janganlah kalian takut. Aku ada di sini untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Jika umatku tidak taat, aku akan harus terpaksa melepaskan lengan Putraku. Lengan-Nya begitu berat, begitu menekan, hingga aku tak lagi dapat menahannya. Berapa lama aku telah menderita demi kalian! Jika aku tidak menghendaki Putraku meninggalkan kalian, aku harus memohon

dengan sangat kepada-Nya tanpa henti. Tetapi, kalian nyaris tidak mengindahkan hal ini. Tak peduli betapa baiknya kalian berdoa di masa mendatang, tak peduli betapa baiknya kalian berbuat, kalian tidak akan pernah dapat memberikan kepadaku ganti atas apa yang telah aku tanggung demi kalian. Aku memberikan kepada kalian enam hari untuk bekerja. Hari ketujuh Aku peruntukkan bagi DiriKu Sendiri. Namun, tak seorang pun hendak memberikannya kepada-Ku. Inilah yang menyebabkan lengan Putraku berat menekan. Mereka yang mengemudikan kereta tak dapat bersumpah serapah tanpa membawa-bawa nama Putraku. Inilah dua hal yang membuat lengan Putraku begitu berat menekan. Apabila panenan rusak, itu adalah karena kesalahan kalian sendiri. Aku telah memperingatkan kalian tahun lalu lewat kentang-kentang. Kalian mengacuhkannya. Malah sebaliknya, ketika kalian mendapati bahwa kentang-kentang itu telah membusuk, kalian bersumpah serapah, dan kalian mencemarkan nama Putraku. Kentang-kentang itu akan terus rusak, dan pada waktu Natal tahun ini tak akan ada lagi yang tersisa. Apabila ada pada kalian jagung, maka tak akan ada gunanyalah menabur benih. Binatang-binatang liar akan melahap apa yang kalian tabur. Dan semuanya yang tumbuh akan menjadi debu ketika kalian mengiriknya. Suatu bencana kelaparan hebat akan datang. Tetapi sebelum itu terjadi, anak-anak di bawah usia tujuh tahun akan diliputi kegentaran dan mati dalam pelukan orangtua mereka. Orang-orang dewasa akan harus membayar hutang dosa-dosa mereka dengan kelaparan. Buah-buah anggur akan menjadi busuk, dan biji-bijian akan menjadi rusak.” Sungguh, suatu pesan yang serius. Kemudian Bunda Maria mengatakan, “Apabila orang bertobat, maka batu-batu akan menjadi tumpukan gandum, dan kentang-kentang akan didapati tersebar di tanah.” Lalu ia bertanya kepada anak-anak, “Adakah kalian berdoa dengan baik, anak-anakku?” “Tidak, kami nyaris tak pernah berdoa sama sekali,” gumam mereka. “Ah, anak-anakku, sungguh amat penting memanjatkan doa, malam maupun pagi. Apabila kalian tak punya cukup waktu, setidak-tidaknya daraskanlah satu Bapa Kami dan satu Salam Maria. Dan apabila memungkinkan, berdoalah lebih banyak.” Bunda Maria kemudian kembali kepada penghukuman orang banyak, “Hanya ada sedikit perempuan tua yang pergi ke Misa pada musim

panas. Semua lainnya bekerja setiap hari Minggu sepanjang musim panas. Dan pada musim dingin, ketika mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, mereka pergi ke Misa hanya untuk memperolok agama. Sepanjang Masa Prapaskah mereka berkerumun di kedai tukang daging bagaikan anjing-anjing yang kelaparan.” Ia mengakhirinya dengan mengatakan, “Anak-anakku, kalian akan menyampaikan ini kepada segenap umatku.” Kemudian ia berjalan pergi, mendaki sebuah jalanan yang tinggi, dan kemudian menghilang dalam cahaya yang cemerlang. Anak-anak mengulangi kisah ini kepada majikan masing-masing. Ketika orang banyak memastikan bahwa kedua kisah tersebut cocok sama, dan beberapa orang saleh menyimpulkan bahwa ini adalah penampakan Bunda Maria, maka anak-anak dikirim ke imam paroki La Salette. Imam mengisahkan kembali cerita anak-anak pada waktu Misa. Para pejabat pemerintahan memulai suatu penyelidikan dan anak-anak tetap bersikukuh pada kisah mereka walau diancam hukuman penjara. Suatu ketika saat menyelidiki tempat kejadian, seseorang mematahkan sebongkah dari batu karang di mana tadinya Santa Perawan duduk; maka memancarlah suatu sumber mata air di tempat yang tadinya kering terkecuali ketika saat salju mencair. Mata air ini terus memancar dengan berlimpah. Orang mengambil air dari sumber mata air dan memberikannya kepada seorang perempuan yang menderita suatu penyakit serius yang telah menahun; ia meminum sedikit dari air tersebut setiap hari sambil mendaraskan novena, dan pada hari kesembilan, ia disembuhkan! Kasus ini kemudian disampaikan kepada Uskup Bruillard dari Grenoble, yang memprakarsai suatu penyelidikan yang seksama atas penampakan. Sementara itu, semakin banyak mukjizat penyembuhan yang terjadi. Mukjizat yang terbesar adalah sungguh mukjizat rohani: orang-orang ikut ambil bagian dalam Misa Kudus dengan setia dan mengakukan dosa-dosa mereka secara teratur. Mereka berhenti bekerja pada hari-hari Minggu dan kembali hidup saleh serta penuh devosi. Ziarah ke tempat ini menjadi semakin populer. Lima tahun kemudian, pada tanggal 19 September 1851, Uskup Bruillard menetapkan bahwa penampakan “memaklumkan dari dirinya sendiri segala tanda-tanda kebenaran dan bahwa umat beriman dibenarkan untuk mempercayainya sebagai dapat dipercaya dan tak diragukan.” Pertobatan sejati telah terjadi. Tahun berikutnya, suatu komunitas religius baru dibentuk, Misionaris dari La Salette. Juga, Uskup Bruillard meletakkan batu pertama untuk sebuah basilika baru. Para peziarah semakin banyak mengunjungi lokasi penampakan, dan Santa Perawan digelari sebagai “Pendamai orang-orang berdosa” (= Reconcilatrix of sinners). Banyak orang kudus besar berdevosi kepada Santa Perawan Maria dari La Salette, di

antaranya St Yohanes Bosco, St Yohanes Vianney, dan St Madeleine Sophie Barat. Sementara kita merenungkan penampakan ini, pesan Bunda Maria masih sama relevannya dulu dan sekarang: Berapa banyak orang tidak punya waktu untuk Misa hari Minggu, tetapi menyempatkan diri untuk membaca koran, berolah-raga atau pergi shopping? Berapa banyak yang tidak mengakukan dosanya selama bertahun-tahun? Berapa banyak yang biasa mempergunakan nama Tuhan sebagai kata-kata carut-marut yang tidak pantas? Berapa banyak yang tidak berdoa setiap hari? Berapa banyak yang menyenangkan diri dengan hujat-hujat macam The Da Vinci Code? Oh ya, pesannya masih menggema. Dunia dan masing-masing kita membutuhkan pertobatan. Marilah kita berpaling kepada Santa Perawan Maria dari La Salette dan mendaraskan Memorare kepadanya: Ingatlah, ya Santa Perawan Maria dari La Salette, Bunda Dukacita sejati, akan airmata yang engkau curahkan bagi kami di Kalvari. Ingatlah pula akan kasih sayang pemeliharaanmu agar kami tetap setia kepada Kristus, Putramu. Setelah berbuat begitu banyak bagi anak-anakmu, engkau tidaklah akan meninggalkan kami sekarang. Terhibur oleh pemikiran yang menenangkan hati ini, kami datang memohon kepadamu, kendati ketidaksetiaan dan tidak tahu terima kasih kami. Perawan Pendamai, janganlah kiranya engkau menolak doa-doa kami, melainkan jadilah perantara kami, perolehkanlah bagi kami rahmat untuk mengasihi Yesus di atas segala-galanya. Kiranya kami boleh menghibur engkau dengan mengamalkan hidup kudus dan dengan demikian boleh ikut ambil bagian dalam hidup kekal yang Kristus perolehkan bagi kami melalui salib-Nya. Amin. (Dialog seperti tertulis di atas diambil dari “The Lady in Tears,” oleh Msgr. John S. Kennedy dalam A Woman Clothed with the Sun.)

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and professor
of catechetics and theology at Christendom's Notre Dame Graduate School in Alexandria. sumber : “Straight Answers: Our Lady of La Salette” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright (c) 2006 Arlington Catholic Herald; www.catholicherald.com Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Santa Perawan Maria Bunda Pengharapan

oleh: P William P Saunders * . .

Mohon penjelasan mengenai latar belakang gelar Bunda Maria sebagai “Bunda Pengharapan” ~ seorang pembaca di Sterling Gelar Bunda Maria sebagai “Bunda Pengharapan,” muncul dari penampakannya kepada beberapa anak di Pontmain, Perancis pada tanggal 17 Januari 1871. Patut dicatat bahwa Bunda Maria telah disebut dengan gelar ini sebelumnya; sebuah madah telah ditulis demi menghormati Bunda Pengharapan oleh Komunitas Agung dari Bunda Pengharapan di Saint-Brieuc, Perancis. Namun demikian, devosi yang paling populer kepada “Bunda Pengharapan” berhubungan dengan penampakan ini. Guna memahami kisah dengan sebaik-baiknya, pertama-tama kita perlu melihat latar belakangnya. Pada tahun 1861, Kaiser Wilhelm I menduduki tahta Prussia, dan segera menunjuk Otto von Bismark sebagai penasehatnya. Tujuan mereka adalah mempersatukan segenap negeri yang berbahasa Jerman menjadi satu negara. Bersama-sama, mereka mengambil sikap yang agresif dan suka berperang. Guna memaksakan kehendak mereka sekaligus menguji posisi di antara negara-negara sekitarnya, Prussia menyulut tiga perang singkat: pertama, melawan Denmark pada tahun 1864, menguasai Holstein; kedua, melawan Austria pada tahun 1866, menempatkan Prussia di bawah kendali Jerman; dan yang terakhir, melawan Perancis pada tahun 1870. Pada tanggal 1 Agustus 1870, meriam pertama ditembakkan dan Perang Perancis - Prussia pun dimulai. Pasukan Perancis dengan segera jatuh ke dalam kekuasaan militer Prussia. Pada tanggal 27 Desember, Prussia telah menyerbu Paris. Sekarang mereka mengarah ke provinsi-provinsi barat yaitu Normandy dan Brittany.

Pertengahan Januari 1871, pasukan Prussia hanya beberapa mil saja jauhnya dari kota Pontmain, yang terletak di sebelah kanan dalam garis pertahanan Perancis. Penduduk Pontmain ketakutan. P. Guerin, yang telah menjadi imam paroki selama 35 tahun, meminta anak-anak untuk berdoa kepada Bunda Maria memohon perlindungan. Pada sore hari Selasa, 17 Januari, Eugene Barbadette yang berusia 12 tahun sedang berjalan meninggalkan kandang ayahnya. Anak laki-laki ini mendongak ke atas ke langit yang berbintang dan melihat seorang Perempuan nan elok berdiri di angkasa, sekitar 20 kaki di atas atap rumah, di antara dua cerobong asap rumah milik Jean dan Augustine Guidecoq yang ada di seberang jalan. Perempuan itu mengenakan gaun berwarna biru tua bertaburan bintang-bintang emas, sebuah kerudung hitam dan sebuah mahkota emas sederhana. Eugene berdiri terpesona di sana dalam dinginnya salju sekitar 15 menit lamanya. Ayahnya dan saudara laki-lakinya yang berumur sepuluh tahun, Yosef, keluar dari kandang. Eugene berseru, “Lihat di sana! Di atas rumah! Apakah yang kalian lihat?” Yosef menggambarkan Perempuan itu persis sama seperti yang dilihat Eugene. Ayahnya tidak melihat apa-apa, jadi dengan geram ia memerintahkan anak-anak untuk kembali memberi makan kuda-kuda di kandang. Entah apa alasannya, sejenak kemudian, sang ayah menyuruh kakak beradik itu untuk keluar dan melihat kembali. Mereka melihatnya lagi. Yosef terus-menerus mengatakan, “Alangkah cantiknya dia! Alangkah cantiknya!” Ibu mereka, Victoria Barbadette, sekarang muncul di sana dan menyuruh Yosef diam sebab ia begitu ribut hingga menarik perhatian orang. Tahu bahwa anak-anak itu jujur dan tidak berbohong, ibunya pun mengatakan, “Mungkin itu Santa Perawan yang menampakkan diri kepada kalian. Karena kalian melihatnya, marilah kita mendaraskan lima Bapa Kami dan lima Salam Maria demi menghormatinya.” (Kedua kakak beradik itu amat saleh: mereka memulai hari-hari mereka dengan melayani Misa Kudus, mendaraskan rosario dan mempersembahkan Jalan Salib dengan intensi kakak lakilaki mereka yang bertugas dalam dinas ketentaraan Perancis.) Setelah mendaraskan doa-doa di dalam kandang agar tak menarik perhatian orang, Nyonya Barbadette bertanya apakah anak-anak masih melihat Perempuan itu. Ketika mereka menjawab, “Ya,” ia pergi mengambil kacamata. Ketika kembali, sang ibu membawa serta saudari mereka, Louise, bersamanya; namun tak seorang pun dari keduanya melihat apa-apa. Perangai sang ibu pun berubah dan ia menuduh kedua anaknya telah berbohong. Terlintas dalam benak Nyonya Barbadette untuk memanggil para biarawati. Katanya, “Para biarawati lebih saleh dari kalian. Jika kalian melihatnya, tentulah mereka melihatnya juga.” Suster Vitaline juga tahu bahwa anak-anak itu tidak berbohong. Tetapi, ia pun tak dapat melihat Perempuan itu. Suster Vitaline kemudian pergi ke rumah tetangga dan

meminta dua gadis kecil, Francoise Richer (berusia 11 tahun) dan Jeanne-Marie Lebosse (berusia 9 tahun) untuk datang bersamanya. Kedua gadis kecil itu menggambarkan sang Perempuan tepat sama seperti kedua anak lainnya. Sekarang, Suster Marie Edouard telah bergabung dalam kelompok tersebut. Setelah mendengar apa yang dikatakan kedua gadis kecil, ia pergi memanggil P Guerin dan seorang anak lain, Eugene Friteau (berusia 6 setengah tahun). Eugene juga melihat sang Perempuan. Sekarang telah terkumpul suatu himpunan besar sekitar 50 orang warga desa. Augustine Boitin, yang baru berusia 25 bulan, menggapai sang Perempuan dan berseru, “Yesus! Yesus!” Hanya keenam kanak-kanak ini saja yang melihat penampakan Bunda Pengharapan. P Guerin meminta semua yang hadir untuk berdoa, maka mereka berlutut dan mendaraskan rosario. Suster Marie Edouard memimpin himpunan umat untuk mendaraskan Magnificat. Perlahan-lahan, suatu pesan dalam huruf-huruf emas nampak di langit: “Tetapi, berdoalah anak-anakku.” Semua anak-anak melihat pesan yang sama. Suster Marie Edouard kemudian memimpin yang lainnya memadahkan Litani Santa Perawan Maria. Pesan selanjutnya disingkapkan, “Tuhan akan mendengarkan kalian dalam waktu dekat.” Datang kabar bahwa pasukan Prussia sekarang telah berada di Laval, sangat dekat dengan Pontmain. Pesan berlanjut, “Putraku membiarkan DiriNya tergerak oleh belas kasihan.” Ketika anak-anak memaklumkan pesan ini, P Guerin meminta khalayak ramai untuk menyanyikan madah pujian. Suster Marie Edouard mengatakan, “Bunda Pengharapan, wahai nama yang begitu manis, lindungilah negeri kami, doakanlah kami, doakanlah kami!” Orang banyak menanggapi, “Jika mereka [Prussia] berada di gerbang masuk desa, kami tidak akan takut lagi sekarang!” Di akhir madah, pesan menghilang. Himpunan orang banyak kemudian menyanyikan sebuah madah tobat dan silih kepada Yesus. Bunda Maria tampak berduka, ia memegang sebuah salib merah yang besar dengan tulisan “Yesus Kristus.” Pada pukul 8.30 petang, orang banyak menyanyikan, “Ave, Maris Stella,” dan salib lenyap. Lagi, Bunda tersenyum dan dua salib putih kecil nampak di kedua pundaknya. Ia merentangkan tangannya ke bawah, seperti yang terlihat dalam gambar-gambar Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa. Sebuah selubung putih secara perlahan-lahan menutupi Bunda Maria dari kaki hingga ke mahkota. Sekitar pukul 8.45 petang, anak-anak mengatakan, “Sudah selesai.” Bunda Maria telah menghilang. Sementara penampakan ini berlangsung, Jenderal Von Schmidt menerima perintah dari Komando Tinggi Prussia untuk menghentikan penyerangan dan mundur. Sepuluh hari kemudian, suatu perjanjian

gencatan senjata ditanda-tangani antara Perancis dan Prussia. Perantaraan ajaib Bunda Maria telah menyelamatkan Pontmain. Karena penampakan ini, devosi kepada Bunda Pengharapan segera tersebar luas. Pesan Bunda Maria adalah pesan pengharapan, “Tetapi, berdoalah anak-anakku. Tuhan akan mendengarkan kalian dalam waktu dekat. Putraku membiarkan DiriNya tergerak oleh belas kasihan.” Sementara kita mendaraskan rosario kita setiap hari memohon pemeliharaan keibuan Bunda Maria, patutlah kita ingat bahwa ia, yang berdiri di kaki salib, yang dipenuhi pengharapan akan pengampunan dosa dan kebangkitan ke hidup yang kekal, memberikan pengharapan kepada kita juga sepanjang perjalanan hidup kita. Bersama Bunda Pengharapan, kita sungguh memiliki jaminan bahwa kita tidak akan pernah ditinggalkan, dan bahwa kita senantiasa memiliki pengharapan akan dipersatukan dengan Tuhan kita sekarang dan selama-lamanya di surga.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a
professor of catechetics and theology at Christendom's Notre Dame Graduate School in Alexandria. sumber : “Straight Answers: Mary as Our Lady of Hope” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2006 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Santa Perawan Maria dari Czestochowa
oleh: P William P Saunders * . .

Saya tahu bahwa Bapa Suci Yohanes Paulus II memiliki devosi yang kuat kepada Santa Perawan Maria dari Czestochowa. Mohon penjelasan mengenai asal-usul devosi ini. ~ seorang pembaca di Sterling Paus Yohanes Paulus II mengunjungi tempat ziarah Santa Perawan Maria dari Czestochowa dalam perjalanan pertamanya ke Polandia pada tahun 1979. Beliau mengatakan, “Panggilan kepada seorang putera dari Polandia ke Katedral St Petrus mengandung suatu bukti dan pertalian yang erat dengan tempat kudus ini, dengan tempat ziarah pengharapan ini: Totus tuus (“Aku sepenuhnya milikmu”), telah saya bisikkan begitu banyak kali dalam doa di hadapan lukisan ini” (4 Juni 1979). Devosi kepada Santa Perawan Maria dari Czestochowa berpusat pada ikon Bunda Maria. Dilukis di atas kayu, ikon itu sendiri menggambarkan Bunda Maria menunjuk dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggendong Bayi Yesus. Secara teknis, gambaran Bunda Maria ini dalam ikonografi diidentifikasikan sebagai Hodegetria. Seperti dalam ikon-ikon lainnya, Yesus tampak bagaikan seorang dewasa kecil dalam gendongan BundaNya, suatu gambaran yang mengingatkan umat beriman bahwa Yesus sepenuhnya dewasa dalam kodrat ilahi-Nya. Seturut berlalunya waktu, akibat tak terlindungi dari nyala lilin-lilin devosional, maka lukisan menjadi hitam, dan sebab itu Santa Perawan Maria dari Czestochowa dikenal juga sebagai “Madonna Hitam”. Menurut tradisi St Lukas yang melukis ikon tersebut pada daun meja kayu buatan St Yosef, yang dibawa serta oleh Bunda Maria ketika ia pindah ke Efesus dan tinggal dalam pemeliharaan St Yohanes Rasul. Ingat bahwa St Lukas mencatat dalam Injilnya kisah terperinci mengenai

kabar sukacita, Maria mengunjungi Elisabet, Natal, Yesus dipersembahkan di Bait Allah, dan Yesus diketemukan dalam Bait Allah, yang tidak kita dapati dalam Injil-Injil lainnya, dan yang pastilah ia ketahui dari Bunda Maria sendiri. St Helena disebut sebagai yang menemukan ikon ini pada awal tahun 300-an. Theodorus Lector (± 530) menyebutkan tentang keberadaan ikon Hodegetria dalam sebuah gereja di Konstantinopel sebelum tahun 450. Pada tahun 988, ikon ini menjadi milik Puteri Anna, puteri Kaisar Byzantine Basilus II dan isteri St Vladimir dari Kiev (± 975-1015), yang telah dipertobatkan dalam iman dan menjadi penguasa Rusia pertama yang memeluk kekristenan. Pada tahun 1382, Pangeran Ladislaus Opolczyk membawa ikon ke kastilnya di Belz. Di kemudian hari, ia bermaksud memindahkan ikon ke tempat kelahirannya, yakni kota Opala. Dalam perjalanan ke Opala, ia dan mereka yang menyertainya singgah dan bermalam di Czestochowa, sebuah kota di sebelah selatan pusat Polandia di Sungai Warta. Keesokan harinya, kuda-kuda yang dipasangkan pada kereta yang membawa ikon menolak bergerak maju, yang ditafsirkan Pangeran Ladislaus sebagai suatu tanda ajaib bahwa ikon harus tinggal di Czestochowa. Karenanya, ia mempercayakan ikon dalam pemeliharaan para biarawan Paulite (Ordo Pertapa dari St Paulus), yang memiliki sebuah biara di Jasna Gora (= Bukit Terang). Pada tahun 1386, Raja Jagiella (dikenal juga sebagai Wladyslaw II) membangun sebuah gereja yang lebih indah bagi biara. Laporan-laporan pertama mengenai mukjizat seputar penghormatan kepada ikon didapati tertanggal 1402. Sekitar pada masa yang sama, umat beriman mulai menyebut Maria sebagai “Penyembuh yang Sakit, Bunda Belas Kasihan dan Ratu Polandia.” Segera saja, ratusan peziarah berdatangan demi menghormati ikon dan memohon bantuan doa Bunda Maria. Sebab itu, pada tahun 1430, kaum Hussite (kaum bidaah pengikut John Hus yang menyangkal devosi kepada Bunda Maria dan penghormatan ikon-ikon) menyerang tempat ziarah. Salah seorang dari kelompok Hussite mencemarkan ikon dengan pedangnya; ia menorehkan tiga goresan pada pipi kanan Bunda Maria. Setelah menorehkan goresannya yang terakhir, orang Hussite itu sekonyong-konyong jatuh terkapar dan mati seketika. Sesungguhnya, peristiwa ini mendorong devosi yang terlebih lagi kepada Santa Perawan Maria dari Czestochowa. Pada tahun 1655, Raja Charles Gustavus dari Swedia bersama pasukannya menyerbu Polandia dan menaklukkan hampir seluruh negeri. Pasukan Swedia ini diikuti oleh pasukan Rusia dan Tartar yang juga menduduki sebagian wilayah Polandia. Namun demikian, ketika bala tentara Swedia yang berjumlah sekitar 2000 orang menyerang biara di Czestochowa, para biarawan Paulite menghalau mereka dan mensyukuri keberhasilan mereka sebagai berasal dari perantaraan Santa Perawan Maria dari Czestochowa. Kemenangan ini mengubah perang menjadi pertikaian antar agama: Katolik melawan Lutheran Swedia, Orthodox Rusia dan Muslim Tartar. Dengan mengandalkan perlindungan Bunda Maria, orang-orang Polandia bangkit kembali. Pada

tanggal 3 Mei 1556, Raja Jan Casimir membuat pernyataan kepada Santa Perawan Maria dari Czestochowa, “Aku, Jan Casimir, Raja Polandia, menempatkan engkau sebagai Ratu dan Pelindung Kerajaanku. Aku mempercayakan rakyatku dan bala tentaraku di bawah perlindunganmu.” Dan kemenangan berhasil diraih. Sejak saat itu, Santa Perawan Maria dari Czestochowa, Ratu Polandia, menjadi lambang nasionalisme, patriotisme dan kebebasan beragama di Polandia. Iman dan patriotisme dipandang sebagai tak terpisahkan dan “Demi Iman dan Tanah Air” menjadi seruan persatuan mereka. Pada tanggal 14 September 1920, pada Pesta Salib Suci, pasukan Rusia telah berada di Sungai Vistula, siap menyerbu Polandia. Menurut tradisi, pasukan Rusia melihat suatu penampakan Santa Perawan Maria dari Czestochowa di langit, hingga akhirnya mereka mengundurkan diri. Peristiwa ini dikenal sebagai “Mukjizat Vistula.” Pada masa pendudukan Nazi dan Komunis, pemerintah melarang pergi ke tempat ziarah dan mengenakan hukuman yang berat bagi mereka yang melanggar. Walau demikian, berjuta-juta umat beriman tetap mengambil resiko itu demi menghormati Santa Perawan Maria dari Czestochowa. Pada tanggal 26 Agustus 1982, pada perayaan Santa Perawan Maria dari Czestochowa, Paus Yohanes Paulus II merayakan peringatan 600 tahun kedatangan ikon dan penghormatan ikon Santa Perawan Maria dari Czestochowa di Polandia. Dari kapelnya di Castel Gandolofo, yang memajang lukisan Santa Perawan Maria dari Czestochowa, di altar utama, ia menyampaikan suatu pesan istimewa kepada saudara-saudari setanahair, yang pada waktu itu tengah berjuang demi kemerdekaan dari tirani komunis, “Saudara-saudari sebangsa yang terkasih! Betapapun sulitnya kehidupan masyarakat Polandia sepanjang tahun ini, kiranya kesadaran ini lekat dalam diri kalian bahwa hidup ini dipeluk oleh Hati sang Bunda. Seperti ia menang dalam Maximilianus Kolbe, Ksatria dari Immaculata, demikian pula kiranya ia menang dalam kalian. Kiranya hati sang Bunda menang! Kiranya Bunda dari Jasna Gora menang dalam kita dan melalui kita! Kiranya ia menang bahkan melalui penderitaan dan kekalahan kita. Kiranya ia memastikan bahwa kita tidak akan berhenti berusaha dan berjuang demi kebenaran dan keadilan, demi kebebasan dan martabat dalam hidup kita. Tidakkah kata-kata Maria, “Apa yang dikatakan (Putraku) kepadamu, buatlah itu!” berarti demikian pula? Kiranya kuasa dengan sepenuhnya dinyatakan dalam kelemahan, sesuai nasehat Rasul orang Kafir dan seturut teladan saudara sebangsa kita, Pastor Maximilianus Kolbe. Ratu Polandia, aku di dekatmu, aku mengenangkanmu, aku berjaga!”

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a
professor of catechetics and theology at Christendom's Notre Dame Graduate School in Alexandria.

sumber : “Straight Answers: Our Lady of Czestochowa” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2005 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Artikel khusus.

Katekese tentang Santa Perawan Maria
oleh: St. Yohanes Maria Vianney

Bapa bersukacita memandang hati Santa Perawan Maria Tersuci, sebagai karya tangan-Nya yang paling agung; sama seperti kita selalu senang akan karya kita sendiri, terlebih apabila hasilnya sungguh baik. Putra bersukacita atas hati Bunda-Nya, sumber darimana Ia mendapatkan Darah-Nya yang telah menebus kita. Roh Kudus bersukacita atas Bait-Nya. Para nabi mewartakan kemuliaan Maria sebelum kelahirannya; mereka memperbandingkannya dengan matahari. Sungguh, kehadiran Santa Perawan dapat diperbandingkan dengan seberkas sinar matahari yang cemerlang di pagi yang berkabut. Sebelum kedatangan Maria, murka Allah menggelantung di atas kepala kita bagaikan sebilah pedang yang siap menebas kita. Segera setelah kehadiran Santa Perawan di dunia, murka-Nya reda…. Maria tidak tahu bahwa ia akan menjadi Bunda Allah. Ketika masih kanak-kanak, ia biasa berkata, “Bilakah aku memandang ciptaan agung yang akan menjadi Bunda Allah?” Santa Perawan dihadapkan kepada kita dua kali: dalam Inkarnasi dan di kaki salib; dengan demikian ia Bunda kita dua kali lipat. Santa Perawan seringkali diperbandingkan dengan seorang ibu, namun demikian ia tetap jauh lebih mengagumkan daripada seorang ibu terbaik sekalipun; sebab ibu terbaik kadang-kadang menghukum anaknya apabila anaknya itu mengecewakan hatinya, dan bahkan menghajarnya:

ia pikir ia melakukan hal yang tepat. Tetapi, Santa Perawan tidak melakukan itu semua; ia begitu lembut hati hingga ia memperlakukan kita dengan penuh kasih sayang dan tak pernah sekali pun menghukum kita. Hati Bunda yang amat lemah-lembut ini sepenuhnya adalah cinta dan belas kasihan; ia hanya menginginkan kita bahagia. Kita hanya perlu datang kepadanya agar ia mendengar kita. Putra memiliki keadilan-Nya, tetapi Bunda tak memiliki apa-apa kecuali kasih sayangnya. Tuhan begitu mengasihi kita sehingga Ia rela wafat bagi kita; tetapi dalam hati Kristus ada keadilan-Nya, yang adalah atribut Allah; dalam hati Santa Perawan Tersuci, tak ada yang lain selain belas kasihan. Putranya siap menghukum mereka yang berdosa, Maria menengahi, ia menahan pedang keadilan, memohon dengan sangat pengampunan bagi pendosa yang malang. “Ibu,” demikian Kristus berkata kepada Bunda-Nya, “Aku tak dapat menolak apa pun permohonanmu. Bahkan jika neraka bertobat, engkau akan beroleh pengampunan baginya.” St. Perawan Tersuci menempatkan dirinya di antara Putranya dan manusia. Semakin berdosa kita, semakin besar kelemahlembutan dan belaskasihan yang ia rasakan bagi kita. Anak yang menyebabkan ibunya meneteskan paling banyak airmata adalah anak yang paling dicintainya. Tidakkah seorang ibu senantiasa bergegas menolong anaknya yang paling lemah dan paling rentan terhadap bahaya? Tidakkah seorang dokter di rumah sakit lebih memperhatikan mereka yang menderita sakit yang paling serius? Hati Bunda Maria begitu lemah lembut terhadap kita, hingga andai saja hati segenap ibu di seluruh dunia digabung menjadi satu akan serupa sekeping es saja dibandingkan dengan hatinya. Lihat, betapa amat baiknya Perawan Tersuci! Hambanya yang mengagumkan, St. Bernardus, biasa menyapanya, “Salam bagimu, Maria”. Suatu hari, Bunda yang baik ini menjawabnya, “Salam bagimu, puteraku Bernardus.” Ave Maria adalah doa yang tak pernah membosankan. Devosi kepada Perawan Tersuci begitu nikmat, begitu manis dan begitu menyegarkan jiwa. Apabila kita membicarakan masalah-masalah duniawi atau politik, kita akan merasa bosan; tetapi apabila kita membicarakan Perawan Tersuci, kita akan selalu bersemangat. Semua orang kudus memiliki devosi yang mendalam kepada Bunda Maria; tak ada rahmat datang dari surga tanpa melalui tangan-tangannya. Kita tak akan dapat masuk ke dalam rumah tanpa berbicara kepada penjaga pintunya; nah, Perawan Tersuci adalah penjaga pintu Surgawi. Apabila kita hendak menyampaikan sesuatu kepada seorang tokoh yang kita hormati, kita menyampaikannya melalui orang yang dekat dengannya, agar pemberian kita itu berkenan padanya. Demikian juga doa-doa kita akan memperolehkan manfaat yang berbeda apabila disampaikan melalui Bunda Maria, sebab ia adalah satu-satunya makhluk yang tidak pernah menghina Allah. Perawan Tersuci seorang saja yang memenuhi perintah pertama - mengagungkan Tuhan saja dan

mengasihi-Nya dengan sempurna. Ia melakukannya dengan sempurna tanpa cela. Segala yang diminta Putra dari Bapa diberikan kepada-Nya. Segala yang diminta Bunda dari Putra, demikian juga, diberikan kepadanya. Jika kita menggenggam sesuatu yang harum, maka tangan kita akan mengharumkan apa saja yang disentuhnya: biarlah doa-doa kita melewati tangan-tangan Perawan Tersuci; ia akan mengharumkan doadoa kita. Aku pikir bahwa pada akhir dunia Perawan Tersuci akan sangat tenang dan damai; tetapi sementara dunia berakhir, kita menariknariknya ke segala penjuru …. Perawan Tersuci bagaikan seorang ibunda dengan begitu banyak anak - ia terus-menerus sibuk memeriksa dan memelihara anak-anaknya satu persatu. sumber : “Catechism on the Blessed Virgin by Saint John Vianney”; www.catholicforum.com Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Maria menurut St. Bernardus dari Clairvaux:

Jika angin godaan menerpa, jika engkau tertumbuk karang kesusahan, pandanglah bintang itu, berserulah kepada Maria. Jika engkau diombang-ambingkan oleh gelombang

keangkuhan, ketamakan, penghianatan, kedengkian, pandanglah bintang itu, berdoalah kepada Maria. Jika amarah atau kekikiran, atau keinginan tak murni menghempas perahu kecil jiwamu, pandanglah Maria. Jika engkau gelisah oleh besarnya kejahatanmu, resah oleh buruknya hati nuranimu, ketakutan oleh pikiran akan pengadilan, dan engkau mulai dilanda oleh golakan kesedihan, oleh golakan keputus-asaan yang dalam, datanglah kepada Maria. Dalam bahaya, dalam kebimbangan, dalam kesulitan, datanglah kepada Maria, dan berserulah kepadanya. Hendaknya ia tak jauh dari bibirmu, dari hatimu, dan agar beroleh bantuan doanya, janganlah lalai mengikuti teladan hidupnya. Jika engkau mengikutinya, engkau tak akan tersesat. Jika engkau berseru kepadanya, engkau tak akan putus pengharapan. Jika engkau senantiasa menghadirkannya dalam pikiranmu, engkau tak akan salah langkah. Jika ia menggenggam tanganmu, engkau tak akan jatuh. Jika ia melindungimu, engkau tak perlu takut akan apapun juga. Jika ia membimbing jalanmu, engkau tak akan lelah. Jika ia berbelas kasihan padamu, engkau akan sampai ke tujuan.

Gelar-gelar Maria dalam Litani Santa Perawan Maria
oleh: P William P Saunders * . .

Dalam Litani Santa Perawan Maria terdapat gelar-gelar Maria yang tidak saya pahami, misalnya Benteng Daud, Rumah Kencana, Tabut Perjanjian, Benteng Gading, Mawar yang Gaib, Bintang Timur, Bintang Samudera. Dapatkah dijelaskan? ~ seorang pembaca di Alexandria Kita mendapati gelar-gelar tersebut dalam Litani Santa Perawan Maria (terutama versi Loreto), yang disusun sekitar pertengahan abad ke-16. St. Petrus Kanisius mempopulerkan Litani Santa Perawan pada tahun 1558 saat ia mempublikasikannya guna menggairahkan devosi kepada Bunda Maria sebagai tanggapan atas “Reformasi” Protestan yang menyerang devosi-devosi sejenis. Litani ini merupakan seruan gelar pujian kepada Santa Perawan yang digunakan dalam perayaan-perayaan di Gereja Loreto, Italia sejak abad ketigabelas. Sebagian besar gelar yang ditanyakan di atas berhubungan dengan nubuat dan perlambang dalam Perjanjian Lama yang menubuatkan peran Bunda Maria dalam misteri keselamatan. Beberapa di antaranya berfokus pada kesucian dan peran keibuannya. Sebagai contoh, “Benteng Daud” berdiri menyolok dan kokoh di puncak tertinggi pegunungan yang mengelilingi Yerusalem. Benteng yang demikian merupakan sarana pertahanan kota. Dengan benteng itu, peringatan akan dapat segera disampaikan apabila musuh datang menyerang. Maria diperbandingkan dengan Benteng Daud karena kesuciannya, karena ia dikenal sebagai yang penuh rahmat dan karena ia dikandung tanpa dosa. Dengan doa-doa dan teladannya, Maria merupakan bagian dari “sarana pertahanan” Tuhan dengan mana Kerajaan Allah akan berdiri tegak tak terkalahkan dan dosa akan senantiasa dikalahkan (bdk Kid 4:4). Maria disebut “Benteng Gading”. Gelar ini juga digunakan dalam Kidung Agung (Kid 7:4) yang menggambarkan pengantin terkasih. (Ungkapan

serupa, “Istana Gading” digunakan dalam Mazmur 45:9, untuk alasan yang sama). Kedua ilustrasi tersebut menubuatkan hubungan perkawinan antara Kristus dan pengantin-Nya, Gereja, seperti disampaikan dalan Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus. Di sini patut kita ingat, seperti diajarkan dalam Vatikan II, bahwa Maria adalah “serupa Gereja”: Ia mengandung dari kuasa Roh Kudus dan melalui dia, Juruselamat kita masuk ke dalam dunia ini. Gereja, “oleh menerima Sabda Allah dengan setia pula - menjadi ibu juga. Dan sambil mencontoh Bunda Tuhannya, Gereja dengan kekuatan Roh Kudus secara perawan mempertahankan imannya, keteguhan harapannya, dan ketulusan cinta kasihnya” (Lumen Gentium no. 64). Peran keibuan Maria terutama tampak jelas dalam istilah “Tabut Perjanjian”. Perlu diingat bahwa dalam Perjanjian Lama, Tabut Perjanjian adalah rumah bagi Sepuluh Perintah Allah, Hukum Tuhan. Sementara bangsa Israel dalam pengembaraan menuju tanah terjanji, suatu tiang awan, yang melambangkan kehadiran Allah, akan turun atas atau “menaungi” kemah di mana Tabut disimpan. Yesus datang untuk menggenapi perjanjian dan hukum. Dalam kisah Kabar Sukacita, perkataan Malaikat Agung Gabriel kepada Maria, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau,” (Luk 1:35) menyatakan gagasan yang sama. Karena itu, Maria yang memberi “rumah” Yesus dalam rahimnya; adalah “Tabut” baru, dan bunda dari pelaksana perjanjian yang sempurna dan kekal. Atas dasar ini bermunculan gelar-gelar yang lain: Yeremia menubuatkan bahwa Mesias akan disebut, “TUHAN - keadilan kita.” (Yer 23:6); Maria adalah “Cermin keadilan” karena tak seorang pun dapat mencerminkan kasih dan penghormatan kepada Kristus dalam hidupnya lebih baik dari Maria. Karena kemurniannya, kelimpahan kasihnya dan karena ia menjadi “rumah” bagi Yesus, Maria disebut “Rumah Kencana”. Yesus adalah Kebijaksanaan Tuhan, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh 1:14); karenanya, Maria, yang mengandung Kristus, digelari “Takhta Kebijaksanaan”. Bagi kita, Bunda Maria juga melambangkan pengharapan yang besar. Vatikan II menyatakan, “Sementara itu Bunda Yesus telah dimuliakan di surga dengan badan dan jiwanya, dan menjadi citra serta awal Gereja yang harus mencapai kepenuhannya di masa yang akan datang. Begitu pula di dunia ini ia menyinari Umat Allah yang sedang mengembara sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan, sampai tibalah hari Tuhan.” (Lumen Gentium no. 68). Karena alasan ini Bunda Maria digelari “Bintang Timur”, karena ia melambangkan orang-orang Kristen yang menang, yaitu mereka yang bertekun dalam iman dan beroleh bagian dalam kuasa Mesianis Kristus dan menang atas kuasa kegelapan yaitu dosa dan maut. Istilah ini dapat ditemukan dalam Kitab Wahyu (Why 2:26-28): “Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa; dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi; mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang periuk - sama seperti

yang Kuterima dari Bapa-Ku - dan kepadanya akan Kukaruniakan bintang timur.” Juga dalam Kidung Agung (Kid 6:10) kita temukan, “Siapakah dia yang muncul laksana fajar merekah, indah bagaikan bulan purnama, bercahaya bagaikan surya…”; sama seperti cemerlangnya terang menghalau kegelapan fajar, Maria memaklumkan kedatangan Putranya, yang adalah Terang Dunia (bdk Yoh 1:5-10, 3:19). Maria juga adalah “Pintu Surga”. Maria adalah sarana yang dipergunakan Kristus untuk datang dari surga demi membebaskan kita dari dosa. Di akhir hidupnya, kita percaya bahwa Bunda Maria diangkat jiwa dan badannya ke surga, suatu kepenuhan janji akan kehidupan kekal dan kebangkitan badan yang dijanjikan Yesus. Sebab itu, Maria adalah pintu melalui mana Yesus masuk ke dalam dunia ini dan pintu kepada kepenuhan janji di mana kita akan beroleh bagian dalam kehidupan kekal. Karena itu, kita memandang Maria sebagai “Bintang Samudera”. Bagaikan bintang samudera membimbing para nahkoda mengarungi lautan berbadai menuju pelabuhan yang aman, demikian juga Maria, melalui segala doa dan teladannya, membimbing kita sepanjang perjalanan hidup kita, kadang melalui samudera yang bergolak, menuju pelabuhan surgawi. Secara keseluruhan, Maria adalah “Mawar yang Gaib”. Mawar dianggap sebagai bunga yang terindah, bunga kerajaan yang harumnya melampaui segala bunga lainnya. Bunda Maria memiliki kekudusan yang manis dan keutamaan yang cantik. Singkatnya, segala gelar ini mengingatkan kita akan pentingnya peran Bunda Maria dalam spiritualitas Katolik, sebagai teladan keutamaan dan kekudusan dalam peran keibuannya, dan sebagai tanda akan kehidupan yang akan datang.

* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College
in Alexandria and pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls. sumber : “Straight Answers: The Litany of the Blessed Virgin Mary” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2001 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Santa Perawan Maria:

Melahirkan Kristus Tanpa Sakit Bersalin?

oleh: P William P Saunders * . .

Kita, orang Katolik, percaya dan yakin bahwa Bunda Maria “tetap perawan selamanya.” Ketekismus Gereja Katolik menegaskan, “Pengertian imannya yang lebih dalam tentang keibuan Maria yang perawan, menghantar Gereja kepada pengakuan bahwa Maria dengan sesungguhnya tetap perawan, juga pada waktu kelahiran Putera Allah yang menjadi manusia” (No. 499). Ajaran ini, keperawanan Maria yang abadi menurut tradisi telah dibela dan dipelajari dalam tiga bagian: Maria mengandung Kristus (virginitas ante partum); Maria melahirkan Kristus (virginitas in partu); dan Maria tetap perawan setelah kelahiran Kristus (virginitas post partum). Rumusan ini dipergunakan oleh banyak bapa Gereja - St. Agustinus, St. Petrus Chrysologus, Paus St. Leo Agung, St. Gregorius Nazianze dan St. Gregorius Nyssa. Sebagai contoh, Katekismus mengutip penjelasan St. Agustinus: Bunda Maria “tetap perawan, ketika ia mengandung Puteranya, perawan ketika ia melahirkan-Nya, perawan ketika ia menyusui-Nya. Selalu perawan.” (No. 510). Keperawanan Maria sebelum mengandung Yesus Kristus sudah cukup jelas dari kesaksian Injil St. Matius maupun St. Lukas di mana Maria secara jelas disebutkan sebagai “seorang perawan” (bdk. Luk 1:26-27, Mat 1:18). Di samping itu, ketika Malaikat Agung St. Gabriel memaklumkan kepada Maria bahwa ia akan menjadi Bunda Mesias, ia menjawab, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” menunjukkan keperawanannya. Bagian terakhir adalah keperawanan Maria sesudah kelahiran Kristus. Dalam artikel sebelumnya mengenai apakah Yesus mempunyai saudara dan saudari kandung, “Apakah Yesus Mempunyai Saudara?” jawab atas pertanyaan ini telah diuraikan secara terperinci. Singkat kata, kita umat Katolik yakin bahwa Bunda Maria dan Santo Yosef tidak mempunyai anak-anak lain sesudah kelahiran Kristus. Tak ada bukti-bukti, baik menurut Kitab Suci maupun menurut Tradisi, yang menunjukkan sebaliknya.

Bagian yang paling rumit adalah bagian yang di tengah - keperawanan Maria dalam melahirkan Kristus. Kita ingat bahwa salah satu bentuk penderitaan yang diwariskan kepada kita akibat dosa asal adalah “sakit bersalin.” Tuhan Allah bersabda kepada Hawa, “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu” (Kej 3:16). Karena Bunda Maria bebas dari dosa asal sebab ia dikandung tanpa noda dosa, sebagai konsekuensinya adalah ia bebas dari “sakit bersalin”. Dalam bergumul mengenai keyakinan ini, para bapa Gereja berjuang untuk menjelaskan makna virginitas in partu. Sebagian besar bapa-bapa Gereja Barat tampaknya menekankan integritas fisik Maria. Sebagai contoh, Paus St. Leo Agung mengatakan, “… Ia (Bunda Maria) melahirkan-Nya tanpa kehilangan keperawanannya, …. (Yesus Kristus) dilahirkan dari rahim Santa Perawan karena kelahiran-Nya adalah kelahiran yang ajaib…” Mereka memperbandingkan kelahiran Kristus dengan munculnya Dia secara ajaib dari makam yang tertutup ataupun sekonyong-konyong menampakkan diri di ruang atas meskipun pintu-pintu terkunci. Beberapa bapa Gereja mengggunakan analogi kelahiran Kristus dengan seberkas cahaya matahari yang bersinar menembus kaca: sama seperti kaca tetap “tak berubah; karena berkas cahaya, demikian juga Bunda Maria karena kelahiran Kristus. (Bahkan Paus Pius XII dalam ensikliknya “Mystici Corporis” (1943) menegaskan, “Dialah [Bunda Maria] yang secara ajaib melahirkan Kristus Tuhan kita….”) Sebaliknya, para Bapa Gereja Timur menekankan sukacita Maria dan bebasnya Maria dari sakit bersalin dalam melahirkan Yesus, Putra Allah. Mereka memandang Bunda Maria sebagai Hawa Baru, yang bebas dari siksa dosa asal. Di samping itu, mereka tidak hendak kehilangan gagasan akan Bunda Maria sebagai seorang ibu dalam arti sepenuhpenuhnya. Ingat, Injil St Lukas hanya menyebutkan, “ia melahirkan …” (Luk 2:7), yang tidak mengandaikan adanya suatu proses kelahiran yang ajaib. Secara resmi, Gereja menjunjung tinggi keperawanan Maria yang abadi. Paus Siricius pada tahun 390 menulis: “Inilah perawan yang mengandung dalam rahimnya dan sebagai seorang perawan melahirkan seorang putera.” Konsili Kalsedon (451) mensahkan ajaran Paus Leo I bahwa Maria Tetap Perawan Selamanya. Konsili Lateran (649) (tidak termasuk dalam konsili umum) menyatakan: “Barangsiapa tidak, menurut para bapa suci, mengakui dengan sesungguhnya dan sepantasnya bahwa Maria Tersuci, yang tetap perawan selamanya dan yang dikandung tanpa noda dosa, adalah Bunda Allah, karena dalam hari-hari terakhir ini ia mengandung dalam realitas sebenarnya tanpa benih manusia, dari Roh Kudus, Allah Sabda Sendiri, yang dilahirkan dari Bapa sebelum segala waktu, dan melahirkan-Nya tanpa sakit, keperawanannya tetap utuh murni sesudah kelahiran Putranya, biarlah ia dikutuk.” Pada tahun 1555, Paus Paulus IV menegaskan keperawanan Maria sebelum, selama dan sesudah kelahiran Kristus. Namun demikian, Gereja tidak mendefinisikan secara khusus bagaimana Bunda Maria tetap virginitas in partu.

Sekitar tahun 1950-an, suatu kontroversi besar muncul di antara para teolog mengenai tafsiran atas virginitas in partu. Kontroversi yang dilakukan Albert Mitterer begitu menekankan kualitas fisik keperawanan sehingga orang gagal melihat keunggulan peran Maria sebagai bunda dan dalam melahirkan Yesus. Bebas dari “sakit bersalin” tidak menuntut bebas dari tindakan melahirkan. Dr. Ludwig Ott menyatakan, “Tampaknya hampir tak masuk akal membuktikan bahwa martabat Putra Allah ataupun martabat Bunda Allah menuntut adanya suatu kelahiran yang ajaib.” Pastor Karl Rahner, tanpa mempelajari segala detail anatomi, memfokuskan diri pada realita rohani akan keperawanan Maria: Maria mengandung Putra Allah. Persalinannya pada intinya pastilah berbeda dari para wanita lainnya sebab ia bebas dari akibat dosa asal. Oleh sebab itu, keperawanannya, persalinannya, dan keibuannya, seluruhnya ada dalam persatuan dengan kehendak Allah. Akhirnya, pada tanggal 27 Juli 1960, Biro Suci (sekarang Kongregasi untuk Ajaran Iman) mengeluarkan peringatan, “Beberapa studi teologis telah dipublikasikan di mana masalah keperawanan Maria virginitas in partu yang sensitif dibahas dengan istilah-istilah yang tak pantas, dan yang lebih buruk, dengan cara yang secara jelas bertentangan dengan tradisi doktrin Gereja dan perasaan devosi umat beriman.” Sejujurnya, pembahasan virginitas in partu yang berfokus pada segala detil anatomi tubuh tidak hanya gagal melihat keindahan teologi inkarnasi, melainkan juga memalukan. Pada intinya, kita perlu menegaskan dan menghormati baik keperawanan maupun keibuan Bunda Maria. Konstitusi Dogmatis tentang Gereja Konsili Vatikan II menegaskan bahwa kelahiran Kristus “tidak mengurangi keutuhan keperawanannya, melainkan justru menyucikannya” (No. 57). Sebab itu, “dalam misteri Gereja, yang tepat juga disebut Bunda dan Perawan, Santa Perawan Maria mempunyai tempat utama, serta secara ulung dan istimewa memberi teladan perawan maupun ibu” (No. 63).

* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College
and pastor of Queen of Apostles Parish, both in Alexandria. sumber : “Straight Answers: The Painless Birth of Christ” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1998 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Tertidurnya Maria
oleh: P William P Saunders * . .

Saya menyetel Channel 118 untuk mengikuti program Rosario. Ketika imam sampai pada misteri keempat, “Maria Diangkat ke Surga,” mereka memperlihatkan pemandangan sebuah gereja di Israel yang diberi nama “Tertidurnya Maria.” Di sana terdapat sebuah patung Bunda Maria yang tertidur dan sebuah makam kosong. Saya belum pernah mendengar tentang tertidurnya Maria. Mohon penjelasan. ~ seorang pembaca ACH Istilah “Tertidurnya Maria” (bahasa Latin “dormire” artinya tidur) dapat menyesatkan sebab seolah lebih terfokus pada wafat dan pemakaman Bunda Maria. Keyakinan seputar tertidurnya Maria pada hakekatnya berhubungan dengan diangkatnya Santa Perawan Maria, badan dan jiwa, ke surga. Dengan jawaban pendahuluan seperti di atas, kita perlu meninjau kembali Dogma Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dan bagaimana dogma ini berhubungan dengan “Tertidurnya Maria”. Memang, peristiwa Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga tidak dicatat dalam Kitab Suci. Sebab itu, banyak kaum fundamentalis yang menafsirkan Kitab Suci secara harafiah akan mengalami kesulitan dalam memahami keyakinan ini. Namun demikian, pertama-tama kita patut berdiam diri dan merenungkan peran Bunda Maria dalam misteri keselamatan, sebab inilah yang menjadi dasar dari keyakinan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.

Kita percaya teguh bahwa sejak dari awal mula perkandungannya, karena kasih karunia istimewa dari Allah Yang Mahakuasa, Maria bebas dari segala noda dosa, termasuk dosa asal. Malaikat Agung St Gabriel mengenali Maria sebagai “penuh rahmat,” “terpuji di antara perempuan,” dan “bersatu dengan Tuhan.” Maria telah dipilih untuk menjadi Bunda Juruselamat kita. Dari kuasa Roh Kudus, ia mengandung Tuhan kita, Yesus Kristus, dan melalui dia, sungguh Allah menjadi juga sungguh manusia, “Sabda itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh 1:14). Sepanjang masa hidupnya, walau catatan dalam Injil amat terbatas, Maria senantiasa menghadirkan Tuhan kita kepada yang lain: kepada Elisabet dan puteranya, Yohanes Pembaptis, yang melonjak kegirangan dalam rahim ibundanya atas kehadiran Tuhan yang masih berada dalam rahim BundaNya; kepada para gembala yang sederhana dan juga kepada para majus yang bijaksana; pula kepada warga Kana ketika Tuhan kita meluluskan kehendak BundaNya dan melakukan mukjizatNya yang pertama. Terlebih lagi, Maria berdiri di kaki salib bersama Putranya, memberi-Nya dukungan dan berbagi penderitaan dengan-Nya lewat kasihnya seperti yang hanya dapat diberikan oleh seorang ibunda. Dan akhirnya, Maria ada bersama para rasul pada hari Pentakosta ketika Roh Kudus turun dan Gereja dilahirkan. Sebab itu, masing-masing dari kita dapat melihat serta merenungkan Maria sebagai hamba Allah yang setia, yang ikut ambil bagian secara intim dalam kelahiran, kehidupan, wafat dan kebangkitan Tuhan kita. Karena alasan-alasan ini, kita percaya bahwa janji Tuhan yang diberikan kepada setiap kita akan keikutsertaan dalam hidup yang kekal, termasuk kebangkitan badan, digenapi dalam diri Maria. Sebab Maria bebas diri dosa asal dan segala konsekuensinya (salah satunya adalah kerusakan badan setelah kematian), sebab ia ikut ambil bagian secara intim dalam hidup Tuhan dan dalam sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, dan sebab ia ada saat Pentakosta, maka model dari pengikut Kristus ini sungguh pantas ikut ambil bagian dalam kebangkitan badan dan kemuliaan Tuhan di akhir hidupnya. Berdasarkan pemahaman ini, Paus Pius XII dengan khidmad memaklumkan dalam Munificentissimus Deus tanggal 1 November 1950, bahwa “Bunda Allah yang Tak Bernoda Dosa, Maria yang tetap perawan selamanya, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya.” Patut dicatat bahwa definisi khidmad tersebut tidak menjelaskan apakah Maria wafat secara fisik sebelum diangkat ke surga atau langsung diangkat ke surga; hanya dikatakan, “Maria, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia ….” Jadi apakah Bunda Maria wafat terlebih dahulu sebelum diangkat ke surga? Apakah ia “tertidur”? Apakah ia dimakamkan? Gereja tidak mengikat kita pada suatu jawab tertentu sebab tradisi mengenainya kurang jelas. Dalam suatu kumpulan kisah apokrif berjudul Transitus

Mariae (Perjalanan Maria), yang dianggap sebagai tulisan Uskup St. Melito dari Sardis (wafat ±thn 200), Bunda Maria wafat dihadapan para rasul di Yerusalem, dan kemudian menurut kisah tersebut, tubuhnya menghilang begitu saja, atau dimakamkan dan kemudian menghilang. St Yohanes Damaskus (wafat 749) juga menuliskan suatu kisah yang menarik sehubungan dengan SP Maria Diangkat ke Surga, “St Juvenal, Uskup Yerusalem, dalam Konsili Kalsedon (451), memberitahukan kepada Kaisar Marcian dan Pulcheria, yang ingin memiliki tubuh Bunda Allah, bahwa Maria wafat di hadapan segenap para rasul, tetapi bahwa makamnya, ketika dibuka atas permintaan St Thomas, didapati kosong; dari situlah para rasul berkesimpulan bahwa tubuhnya telah diangkat ke surga.” Namun demikian, kisah-kisah ini janganlah lebih diutamakan dari dasar teologis mengenai keyakinan kita akan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Sebaliknya, patutlah kita ingat bahwa para Bapa Gereja membela dogma SP Maria Diangkat ke Surga dengan dua alasan: Sebab Maria bebas dari noda dosa dan tetap perawan selamanya, ia tidak mengalami kerusakan badan, yang adalah akibat dari dosa asal, setelah wafatnya. Juga, jika Maria mengandung Kristus dan memainkan peran yang akrab mesra sebagai BundaNya dalam penebusan manusia, maka pastilah juga ia ikut ambil bagian badan dan jiwa dalam kebangkitan dan kemuliaan-Nya. Namun demikian, kisah-kisah saleh mempopulerkan istilah “tertidur,” merenungkan bahwa Maria di akhir hidupnya “tertidur” dan kemudian diangkat ke dalam kemuliaan surga. Kaisar Byzantine Mauritius (582602) menetapkan perayaan Tertidurnya Santa Perawan Maria pada tanggal 15 Agustus bagi Gereja Timur demi memperingati wafat dan diangkatnya Santa Perawan Maria ke surga. (Sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa perayaan ini telah tersebar luas sebelum Konsili Efesus pada tahun 431.) Pada akhir abad keenam, Gereja Barat juga merayakannya dengan nama SP Maria Diangkat ke Surga. Entah kita mempergunakan istilah “tertidur” atau “diangkat ke surga,” keyakinan dasarnya tetap sama. Katekismus, dengan mengutip Liturgi Byzantine, memaklumkan, “Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Putranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain. `Pada waktu persalinan engkau tetap mempertahankan keperawananmu, pada waktu meninggal, engkau tidak meninggalkan dunia ini, ya Bunda Allah. Engkau telah kembali ke sumber kehidupan, engkau yang telah menerima Allah yang hidup dan yang akan membebaskan jiwa-jiwa kami dari kematian dengan doa-doamu'” (No 966). Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga memberikan kepada masing-masing kita pengharapan besar sementara kita merenungkan satu sisi ini dari Bunda Maria. Maria menggerakkan kita dengan teladan dan doa agar bertumbuh dalam rahmat Tuhan, agar berserah pada

kehendak-Nya, agar mengubah hidup kita melalui kurban dan penitensi, dan mencari persatuan abadi dalam kerajaan surga. Pada tahun 1973, Konferensi Waligereja Katolik dalam surat “Lihatlah Bundamu” memaklumkan, “Kristus telah bangkit dari mati; kita tidak membutuhkan kepastian lebih lanjut akan iman kita ini. Maria diangkat ke surga lebih merupakan suatu pengingat bagi Gereja bahwa Tuhan kita menghendaki agar mereka semua yang telah diberikan Bapa kepada-Nya dibangkitkan bersama-Nya. Dalam Maria diangkat ke dalam kemuliaan, ke dalam persatuan dengan Kristus, Gereja melihat dirinya menjawab undangan dari Mempelai surgawi.”

* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College
in Alexandria and pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls. sumber : “Straight Answers: The Dormition of Mary” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2001 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Penampakan: Haruskah Percaya?
oleh: P William P Saunders * . .

Lourdes (1858)

La Salette (1846)

Baru-baru ini saya berziarah ke Lourdes. Kepada seorang teman, saya menceritakan kisah penampakan Santa Perawan Maria kepada St

Bernadette, tetapi ia mengatakan, “Kau tidak sungguh-sungguh percaya akan semua cerita itu kan?” Tentu saja saya percaya, tetapi apakah orang Katolik harus percaya akan penampakan Bunda Maria di Lourdes? ~ seorang pembaca di Arlington Gereja Katolik membedakan antara wahyu umum dan wahyu pribadi. Wahyu umum didefinisikan sebagai berikut: Tuhan, dalam kebajikan dan kebijaksanaan-Nya yang tak terhingga, memilih untuk menyatakan DiriNya kepada umat manusia. Sesuai dengan rencana keselamatan Allah, Yesus Kristus - sungguh Allah yang menjadi sungguh manusia, Sabda Allah yang berinkarnasi - dalam persatuan dengan Roh Kudus, secara sempurna dan sepenuhnya menyatakan Bapa kepada kita. St Paulus dalam surat kepada orang Ibrani (1:1-3) mengajarkan dengan tepat definisi ini, “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.” Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi dari Konsili Vatikan II (No. 4) secara khusus memaklumkan, “Setelah berulang kali dan dengan berbagai cara Allah bersabda dengan perantaraan para Nabi, `akhirnya pada zaman sekarang Ia bersabda kepada kita dalam Putera' (Ibr 1:1-2). Sebab Ia mengutus PuteraNya, yakni sabda kekal, yang menyinari semua orang, supaya tinggal di tengah umat manusia dan menceritakan kepada mereka hidup Allah yang terdalam (lih. Yoh 1:1-18). Maka Yesus Kristus, Sabda yang menjadi daging, diutus sebagai `manusia kepada manusia', `menyampaikan sabda Allah' (Yoh 3:34), dan menyelesaikan karya penyelamatan, yang diserahkan oleh Bapa kepada-Nya (lih. Yoh 5:36; 17:4). Oleh karena itu Dia - barang siapa melihat Dia, melihat Bapa juga (1ih. Yoh 14:9) - dengan segenap kehadiran dan penampilan-Nya, dengan sabda maupun karya-Nya, dengan tanda-tanda serta mukjizatmukjizat-Nya, namun terutama dengan wafat dan kebangkitan-Nya penuh kemuliaan dari maut, akhirnya dengan mengutus Roh Kebenaran, menyelesaikan wahyu dengan memenuhinya, dan meneguhkan dengan kesaksian ilahi, bahwa Allah menyertai kita, untuk membebaskan kita dari kegelapan dosa serta maut, dan untuk membangkitkan kita bagi hidup kekal. Adapun tata keselamatan Kristiani, sebagai perjanjian baru dan tetap, tidak pernah akan lampau; dan sama sekali tidak boleh dinantikan lagi wahyu umum yang baru, sebelum Tuhan kita Yesus Kristus menampakkan Diri dalam kemuliaan-Nya (lih.1Tim 6:14 dan Tit 2:13).” Wahyu yang telah Tuhan berikan kepada semua orang sepanjang segala abad ini dipelihara dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci. Kitab Suci adalah

Sabda Tuhan yang dicatat dalam tulisan oleh penulis manusia dengan inspirasi dari Roh Kudus; tak akan ada kitab atau ayat yang akan ditambahkan ataupun dikurangkan dari Kitab Suci. Tradisi Suci adalah warisan Sabda Allah, yang dipercayakan Yesus kepada para rasul; para rasul dan penerus mereka, dengan dibimbing dan diterangi Roh Kudus, yang disebut Kristus sebagai Roh Kebenaran, telah memelihara, menjelaskan dan mewartakannya dengan setia. Salah satu contoh Tradisi Suci adalah Kredo Nicea. Keduanya, Kitab Suci dan Tradisi Suci, membentuk satu warisan wahyu ilahi, “sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama” (Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi, No. 9). Dalam definisi-definisi di atas, suatu poin penting digarisbawahi, “Walaupun wahyu itu sudah selesai, namun isinya sama sekali belum digali seluruhnya; masih merupakan tugas kepercayaan umat Kristen, supaya dalam peredaran zaman lama-kelamaan dapat mengerti seluruh artinya (Katekismus Gereja Katolik, No. 66; bdk juga No. 74-83). Di sinilah terletak peran Magisterium sebagai pelindung, penafsir dan guru yang otentik dari wahyu ilahi, dengan dibimbing dan dihindarkan dari salah oleh Roh Kudus. Segenap umat beriman Katolik wajib menerima kebenaran-kebenaran yang dinyatakan ini dengan iman ilahi. Menyangkalnya berarti sesat; misalnya menyangkal misteri inkarna si Tuhan kita, kehadiran nyata Tuhan kita dalam Ekaristi Kudus, ataupun adanya neraka. Dengan dasar pemahaman yang kokoh tentang wahyu umum ini, sekarang kita bertolak ke wahyu pribadi dan pertanyaan di atas. Selama berabad-abad, pribadi-pribadi tertentu dianugerahi wahyu pribadi oleh Tuhan, yaitu pesan yang hanya disampaikan kepada mereka. Sebagai contoh, para kudus berikut menerima pesan-pesan khusus dari Tuhan kita: St. Hildegarde (wafat 1179), St. Gertrude (wafat 1301), St. Birgitta dari Swedia (wafat 1373), St. Katarina dari Siena (wafat 1380), St. Vincentius Ferrer (wafat 1419), St. Theresia dari Avila (wafat 1582), St. Yohanes dari Salib (wafat 1591), dan St. Margareta Maria Alacoque (wafat 1690). Berbagai penampakan Santa Perawan Maria juga merupakan wahyu pribadi, di mana Bunda Maria berbicara atas nama Putranya; beberapa dari antaranya yang paling terkenal adalah di Guadalupe (1531), Rue du Bac (1830), La Salette (1846), Lourdes (1858), Pontmain (1871), dan Fatima (1917). Walau Gereja mengakui wahyu-wahyu pribadi ini dan membenarkan isi pesan-pesan yang disampaikan, namun wahyu-wahyu pribadi ini tidak menambah ataupun melengkapi warisan iman. Berdasarkan keadaan Gereja pada saat wahyu pribadi disampaikan, pesan-pesan tersebut hanya mengilhami orang untuk hidup lebih taat dan setia, serta mendorong orang untuk semakin mendekatkan diri pada Kristus. Sebagai contoh, pada tahun 1983, dalam ziarahnya ke Fatima, Paus Yohanes Paulus II menyatakan, “Gereja telah senantiasa mengajarkan

dan akan terus memaklumkan bahwa wahyu ilahi mencapai kepenuhannya dalam Yesus Kristus, yang adalah kepenuhan dari wahyu itu dan bahwa `sama sekali tidak boleh dinantikan lagi wahyu umum yang baru, sebelum Tuhan kita Yesus Kristus menampakkan Diri dalam kemuliaan-Nya' (Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi, No. 4). Gereja mengevaluasi dan menilai wahyu-wahyu pribadi menurut kriteria keselarasannya dengan Wahyu yang satu itu. Jika Gereja menerima pesan-pesan Fatima, di atas segalanya adalah karena pesan-pesan yang disampaikan mengandung suatu kebenaran dan suatu panggilan yang intinya adalah kebenaran dan panggilan dari Injil itu sendiri.” Pada pokoknya, Bapa Suci menekankan bahwa wahyu pribadi di Fatima tidak menambah, tidak bertentangan, ataupun mengurangi warisan wahyu yang terdapat dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci; walau demikian, sungguh wahyu pribadi ini menggerakkan umat beriman untuk memberikan perhatian dan mengamalkan pesan warisan wahyu itu. Sebagai contoh, penampakan Tuhan kita kepada St. Margareta Maria Alacoque di mana Yesus menunjukkan HatiNya yang Mahakudus dan menyampaikan Duabelas Janji kepadanya. Walau penampakan ini diselidiki dengan seksama dan dinilai dapat dipercaya, namun kita patut ingat bahwa devosi kepada Hati Yesus Yang Mahakudus berakar dari Kitab Suci sendiri, disajikan dalam tulisan-tulisan para Bapa Gereja, dan diajarkan banyak orang baik sebelum maupun sesudah St. Margareta Maria. Hal ini dengan terang dan jelas ditekankan dalam ensiklik Paus Pius XII “Haurietis aquas” (1956) yang sangat indah mengenai devosi yang pantas kepada Hati Yesus yang Mahakudus. Seorang beriman Katolik wajib memiliki penghormatan yang saleh kepada Hati Yesus yang Mahakudus, entah apakah ia secara pribadi menerima, meragukan ataupun menolak wahyu-wahyu pribadi yang disampaikan Tuhan kepada St. Margareta Maria. Beberapa hal penting patut diperhatikan menyangkut wahyu-wahyu pribadi. Pertama, wahyu-wahyu pribadi tidak menambah ataupun melengkapi warisan wahyu ilahi dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci. Wahyu pribadi tidak pernah boleh disejajarkan dengan Kitab Suci dan Tradisi Suci. Gereja senantiasa memperingatkan umat beriman terhadap antusiasme rohani yang meluap atas wahyu pribadi yang demikian hingga melalaikan Kitab Suci dan Tradisi Suci. Kedua, Magisterium harus dengan cermat dan seksama memeriksa semua wahyu-wahyu pribadi. Karena wahyu pribadi ini dianugerahkan kepada pribadi-pribadi tertentu, maka ada kemungkinan terjadi kesalahan manusiawi, ilusi dan distorsi (= penyimpangan) dalam melaporkan atau mengingat. Sejujurnya, perlu dipertimbangkan juga kemungkinan tindakan setan, sebab setan bahkan mempergunakan apaapa yang tampaknya baik untuk menarik orang dari Tuhan. Ketiga, pengakuan yang diberikan Gereja terhadap suatu wahyu pribadi berarti bahwa wahyu pribadi tersebut tidak bertentangan dengan warisan wahyu dalam hal iman ataupun moral, bahwa isinya dapat

disebarluaskan, dan bahwa umat beriman dapat mempercayainya dengan hati-hati dan bijaksana. Jika Gereja belum secara resmi mengakui suatu wahyu pribadi, berhati-hatilah. Jika Gereja telah memaklumkan bahwa suatu wahyu pribadi tidak benar dan bertentangan dengan iman, baiklah kita menjauhkan diri darinya. Keempat, bahkan jika Gereja telah memberikan pengakuan resmi terhadap suatu wahyu pribadi, umat beriman tidak wajib mempercayai wahyu pribadi tersebut. Seorang beriman Katolik dipanggil untuk meyakini iman sesuai warisan iman dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci. Dalam budaya spiritualitas “peradaban baru” di mana kita hidup, umat beriman Katolik patut memfokuskan diri pada bacaan-bacaan: pertama dan terutama, Kitab Suci dan Katekismus Gereja Katolik; dan kedua, tulisan-tulisan para kudus yang telah diakui. Apabila timbul suatu kegemparan akibat berita adanya penampakan-penampakan atau fenomena rohani lainnya, patut kita ingat hal ini, “Konsumen waspadalah!”

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and dean of
the Notre Dame Graduate School of Christendom College. sumber : “Straight Answers: Apparitions and Dogmas” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2002 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Artikel khusus.

Mengapa Kita Menghormati Bunda Maria?
Sepanjang bulan Mei, Gereja meminta kita untuk memberi perhatian secara lebih istimewa kepada Santa Perawan Maria, Bunda Allah. Bunda Maria sangat berarti bagi kita karena beberapa alasan:

MARIA, GADIS YAHUDI

Pertama-tama karena Bunda Maria adalah Bunda Yesus. Maria adalah seorang gadis belia, mungkin usianya masih belasan tahun, ketika ia menjadi Bunda Yesus. Kemungkinan besar Maria dilahirkan di kota Sepphoris, yang terletak di sebelah utara Palestina. Sepphoris adalah sebuah kota besar di mana bangsa Yahudi dan bangsa Romawi hidup berdampingan dengan damai. Sepphoris merupakan ibu kota Galilea. Kota itu memiliki banyak rumah yang indah dan bahkan sebuah gedung teater yang besar. Sepphoris hancur luluh dilanda gempa bumi besar ketika Maria masih kanak-kanak. Jadi keluarga Maria pindah beberapa mil jauhnya ke Nazareth, sebuah dusun kecil yang berpenduduk hanya 150 hingga 300 orang. “Nazareth” dalam bahasa Ibrani mempunyai dua arti yang berbeda. Nazareth bisa berarti “lili, bunga bakung” yang merupakan simbol kehidupan, dapat juga berarti “keturunan”. Keluarganya berasal dari keturunan Raja Daud. Baik itu artinya bunga bakung ataupun keturunan, Nazareth adalah nama yang indah bagi tempat tinggal Maria. Di sanalah Maria bertemu dengan Yusuf, seorang tukang kayu. Kemungkinan Yusuf tidak jauh lebih tua dari Maria. Mereka pun bertunangan. Biasanya, masa pertungangan berlangsung selama satu tahun atau lebih. Si gadis akan menenun dan melakukan pekerjaan rumah tangga, sementara sang pria akan membangun rumah tempat tinggal mereka. Kisah selanjutnya kita baca setiap tahun pada hari Natal.

MARIA, BUNDA ALLAH
Kita tidak boleh lupa bahwa Yesus adalah sungguh Allah. Yesus juga sungguh Manusia, dan Ia bangga menjadi manusia. Yesus sering menyebut diri-Nya, “Anak Manusia.” Dalam bahasa Ibrani ungkapan tersebut berarti “manusia”. Karena Yesus tidak dapat dibagi menjadi dua: Yesus yang Allah dan Yesus yang Manusia, maka bunda-Nya juga disebut Bunda Allah.

MARIA, BUNDA KITA
Menjelang ajal-Nya di salib, Yesus memberikan Bunda Maria kepada kita untuk menjadi bunda kita juga. Yesus melakukannya ketika Ia menyerahkan Bunda Maria ke dalam pemeliharaan St. Yohanes, Rasul. Yesus berkata, " Inilah ibumu." Artinya Tuhan telah mengangkat kita sebagai anak-anak-Nya sendiri. Ingatlah, ketika Yesus bangkit dari antara

orang mati, Ia berkata, “Aku akan pergi kepada Allah-Ku dan Allah-mu, kepada Bapa-Ku dan Bapa-mu.” Jadi kita mempunyai Bapa dan Bunda yang sama dengan Yesus. Dengan demikian kita semua menjadi saudara dan saudari-Nya. Kita semua merupakan suatu keluarga yang mengagumkan! Tunjukkanlah hormatmu kepada Bunda Maria. Ia membawa kita kepada Putera-nya, Yesus. sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Richard Lonsdale.”

Mengapa Umat Katolik Berdoa kepada Santa Perawan Maria

Banyak orang non-Katolik telah diajari sedari kecil untuk meyakini bahwa salah satu bukti nyata akan ketidakbenaran ajaran Katolik dapat dilihat dalam penghormatan yang disampaikan kepada Santa Perawan Maria dalam Gereja Katolik, dan dalam begitu banyaknya doa yang dengan penuh kepercayaan disampaikan kepada Bunda Maria oleh umat Katolik. Sementara itu, benar juga bahwa banyak orang non-Katolik, setelah mempelajari dasar-dasar kebenaran akan devosi umat Katolik kepada Maria, begitu terpikat olehnya hingga akhirnya mereka menjadi Katolik. Kebenaran tersebut sangat sederhana dan gamblang dan seluruhnya terkandung dalam dua kebenaran berikut. 1. MARIA ADALAH BUNDA ALLAH.

Katolik percaya bahwa Allah tidak terikat oleh suatu kewajiban apapun untuk memiliki seorang ibunda; Katolik percaya bahwa Ia memilih untuk memiliki seorang ibunda dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Ia memilih untuk memperkenankan tubuh manusiawi-Nya dibentuk dalam rahimnya. Ia memilih untuk memperkenankan ibunda-Nya melahirkan-Nya ke dunia sebagai seorang bayi kecil mungil. Ia memilih untuk mengijinkan ibunda-Nya menyusui-Nya, menggendong-Nya dalam pelukannya, melindungi-Nya dari mara bahaya, dan mengajari-Nya seperti layaknya seorang anak diajari oleh orangtuanya: berjalan, berbicara dan berdoa. Dengan demikian, Ia memilih untuk memberikan kepada Maria kuasa atas Diri-Nya yang hanya dapat dinyatakan dengan cinta. Katolik percaya bahwa dalam memilih ibunda-Nya, Putra Allah memilih untuk memberikan kepadanya kuasa atas kehendak-Nya, yang karena kasih senantiasa dimiliki oleh seorang ibu yang baik bagi anaknya. 2. MARIA ADALAH BUNDA SELURUH UMAT MANUSIA. Katolik percaya bahwa Putra Allah memilih untuk datang ke dunia melalui seorang ibunda agar ibunda-Nya itu dapat menerima pula segenap anak manusia yang berdosa sebagai saudara-saudari-Nya. Ia memberikan teladan bagaimana bunda-Nya harus dihormati dan dikasihi. Ia mempersiapkan bunda-Nya sebagai bunda seluruh umat manusia dengan memintanya untuk menanggung segala bentuk penderitaan yang mungkin, dan dengan demikian, mengajarkan kepadanya untuk menaruh belas kasihan pada segala bentuk penderitaan anak-anaknya. Jika ibunda-Nya itu adalah Bunda bagi DiriNya Sendiri, pastilah Ia membebaskannya dari penderitaan, oleh sebab Ia mempunyai kuasa untuk melakukannya dan karena Ia mencintai Bunda-Nya dengan kasih yang tak terbatas. Ia mengadakan mukjizatNya yang pertama di hadapan publik atas permintaan Bunda-Nya, dan menjelang ajal-Nya, Ia mengingatkan Bunda-Nya bahwa ia telah dipersiapkan sejak dari semula untuk menjadi bunda bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, Katolik percaya bahwa Maria pastilah dengan antusias menolong mereka, dalam pencobaan jiwa maupun badan, seperti layaknya seorang ibu dengan antusias mengusahakan kesejahteraan bagi anaknya. Rosario yang didaraskan umat Katolik merupakan ungkapan kepercayaan mereka terhadap kedua kebenaran di atas. Umat Katolik yakin bahwa jika Maria berbicara kepada Putra Ilahi-nya bagi mereka, tak perlu diragukan lagi mereka pasti akan menerima jawab atas doa-doa mereka. Imprimi Potest: John N. McCormick, C.SS.R. Provincial, St. Louis Province Redemptorist Fathers, May 2, 1960

Imprimatur: + Joseph E. Ritter, Archbishop of St. Louis, May 5, 1960 sumber : “Why Catholics Pray to the Blessed Virgin Mary”; www.catholictradition.org Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Tradition.”

MARIA: Persoalan yang tak pernah selesai?

Kita kenal ungkapan ini: "Bicara tentang Maria, tak akan ada habisnya!" Pada tgl 13 April 2001, ketika orang Katolik berbondong-bondong ke gereja untuk upacara cium salib, sebagian orang pergi ke satu tempat di Surabaya ini untuk melihat kebenaran berita "Maria yang menangis air mata madu". Berita ini tidak terlalu heboh. Mungkin karena orang mulai bosan dengan sensasi-sensasi seperti ini. Tetapi untuk saya, berita ini menarik buat direnungkan. Kenapa demikian? Karena belum selesai kita dikejutkan dengan berita: "Maria menangis air mata darah", tiba-tiba kita dihadapkan dengan berita "air mata madu". Lalu saya berpikir praktis: "Bunda Maria ini dari tahun ke tahun koq makin aneh?" Atau yang aneh itu siapa? Maria-nya atau orang-orangnya yang aneh? Menurut catatan sejarah gereja, sudah terjadi banyak penampakan Santa Maria. Ada yang sudah diakui secara resmi oleh gereja, yang lain masih dalam proses penyelidikan. Gereja selalu mengambil sikap "hati-hati", tidak terlalu cepat mengakui semua penampakan itu. Pada bulan Mei dan Oktober, ribuan bahkan jutaan orang Katolik berziarah dan berdoa menghormati secara khusus Bunda Maria. Gereja menghimbau agar setiap anggotanya menaruh hormat yang penuh terhadap Bunda Gereja ini. Ada dua hal ekstrim yang harus dijauhkan

dalam sikap seseorang terhadap devosi kepada Bunda Maria. Yang pertama adalah godaan untuk melebih-lebihkan peran Ilahi dalam karya penyelamatan. Dalam argumen ini Allah tidak perlu kerja-sama manusiawi. Manusia tidak punya peran apa-apa. Sehingga tidak seorang manusia pun, termasuk Maria, bisa layak dihormati. Karena, penghormatan seperti itu akan mengurangi kemuliaan yang hanya ditujukan kepada Allah. Akibat dari ekstrim ini muncul apa yang kita sebut "Mariophobia". Godaan yang kedua yakni melebih-lebihkan peran manusiawi dalam karya penyelamatan sampai melalaikan peran Ilahi. Argumen ini menegaskan bahwa Allah membutuhkan sarana untuk menghadirkan diri. Dan sarana paling nyata adalah Yesus Putra-Nya yang lahir dari rahim Maria. Akibat yang muncul dari ekstrim ini, orang berkeyakinan bahwa sarana saja sudah cukup. Hormati Maria saja sudah lumayan atau ungkapan lazimnya "Mariocentricisme". Gereja menganjurkan agar setiap anggota membangun penghormatan yang benar dan sehat terhadap Bunda Maria. Keibuan Maria dalam kehidupan gereja sungguh-sungguh memberi inspirasi pelayanan bagi gereja. Uskup Fulton J. Sheen dalam bukunya: "Treasure in Clay" menulis: "Saya berkeyakinan bahwa kelemahan agama-agama dewasa ini yakni pada mereka tidak ada 'aspek keibuan'. Agama-agama sering terjebak kepada wajah agama yang keras dan fanatik. Mungkin boleh ditegaskan di bulan Maria ini, bahwa dunia kita, negara kita, gereja kita, terancam konflik dan menjadi goncang, karena banyak orang kehilangan aspek tadi. Jangan sampai kehidupan kita diwarnai dengan kekerasan dan sikap fanatik, justru karena agama-agama kita kehilangan anggotanya yang berhati ibu.

Berbahagialah kamu yang menerima dan mengakui Maria sebagai Bunda Gereja.
dikutip dari : “Semoga Saya Melihat”; Kumpulan Suara Gembala Gereja Katolik Gembala Yang Baik, Surabaya

Bunda Maria dalam Kalender Liturgi Katolik
oleh: P Kasmirus Jumat, SMM * .

Alonso Calo, The Immaculate Conception, 1650 Penghormatan kepada Bunda Maria pada dasarnya sudah ada sejak zaman Gereja Perdana. Namun, karena suasana penganiayaan dan perlawanan yang kuat terhadap penyebaran agama Kristen pada masa itu tidak memungkinkan umat Gereja Perdana untuk memberikan penghormatan seperti yang kita adakan dewasa ini. Namun, bagaimanapun juga, penghor- matan kepada Bunda Maria sudah ada dalam liturgi, bahkan sejak sebelum Konsili Efesus (tahun 421). Kita tahu bahwa para penulis besar dari abad pertama seperti St. Ignatius dari Antiokhia, St. Yustinus Martir, St. Ireneus, dan lain-lain telah menulis dan mengakui bahwa Maria adalah Perawan dan Bunda Allah. Setelah Konsili Nicea (325 CE), tulisan-tulisan tentang Bunda Maria makin berkembang, bukan hanya di Gereja Timur melainkan juga di Gereja Barat. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari kontroversi tentang Kristus sebagai Allah yang secara tidak langsung berhubungan dengan Maria sebagai Bunda Allah. Perkembangan akan cinta dan devosi kepada Kristus dan BundaNya memberikan Maria tempat yang istimewa dalam liturgi dan hal ini semakin nyata setelah Konsili Efesus. Namun kapan persisnya devosi kepada Maria dimasukkan dalam liturgi Gereja, tidak dapat diketahui dengan pasti. Dalam tulisan ini, kami hanya membatasi pada perayaan-perayaan Maria dalam Liturgi Gereja Katolik Roma serta asal usul perayaan tersebut. Berbagai perayaan Maria dirayakan secara universal dan dicantumkan secara resmi dalam kalender Liturgi Gereja Katolik Roma. Perayaanperayaan itu dibeda-bedakan sesuai tingkatnya, ada yang setingkat Hari Raya (Sollemnitas), Hari Pesta (Festum) dan Peringatan (Memoria). Harihari peringatan pun dibagi lagi dalam kategori peringatan wajib, fakultatif, dan peringatan khusus.

PERAYAAN-PERAYAAN YANG SETINGKAT HARI RAYA (SOLLEMNITAS) Perayaan-perayaan setingkat Hari Raya (Solemnitas) dirayakan seperti hari Minggu. Dalam Ibadat Harian (Officium Divinum), perayaan pada tingkat ini dimulai pada sore hari sebelum hari raya yang bersangkutan, yang dikenal dengan istilah Ibadat Sore Pertama. Dengan demikian, Perayaan Ekaristi yang diadakan sore hari ini dapat menggantikan misa pada hari berikutnya. Dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik, terdapat empat perayaan Maria yang setingkat Hari Raya. 1. Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah Perayaan ini dirayakan pada tanggal 1 Januari. Pengakuan akan kebundaallahan Maria merupakan unsur sentral dalam penghormatan umat Katolik terhadap Bunda Maria. Dasar pengakuan ini terutama Kitab Suci yang menyebutkan bahwa Yesus dilahirkan dari Santa Perawan Maria. Kalau kita mengakui Yesus sebagai Allah, maka kita pun mengakui Maria sebagai Bunda Allah. Sekitar tahun 430, Nestorius memberikan ajaran bahwa Maria hanyalah Christotokos dan bukannya Theotokos. Dengan memberi gelar Christotokos, Nestorius mau mengatakan bahwa Yesus itu hanyalah Kristus, manusia yang terurapi dan bukan Allah. Dengan demikian, Maria hanyalah Bunda Kristus dan bukannya Bunda Allah. Ajaran sesat Nestorius ini terkenal dengan sebutan Nestorianisme. Aliran Nestorianisme ini ditentang keras oleh Konsili Efesus (431). Konsili menegaskan bahwa Maria itu Bunda Allah, Theotokos, karena dia melahirkan Allah. 2. Hari Raya Kabar Sukacita Dasar biblis perayaan ini adalah kunjungan Malaikat Gabriel kepada Bunda Maria (Luk 1:26-38). Dalam kunjungan itu Malaikat Allah meminta kesediaan Maria untuk menjadi ibu bagi Putra Allah yang Mahatinggi. Peristiwa ini menjadi awal sejarah kekristenan dan atas kesediaan Maria, maka Allah menjelma menjadi manusia. Santo Louis-Marie de Montfort (1673-1716) mengatakan bahwa Hari Raya Kabar Sukacita merupakan cikal bakal kehadiran Gereja. Bertitik tolak dari ajaran yang mengatakan bahwa Gereja adalah Tubuh Kristus di mana Yesus berperan sebagai Kepalanya, St. Montfort berpandangan bahwa seorang ibu tidak mungkin hanya mengandung kepala tanpa tubuh. Dengan demikian, penyerahan Gereja kepada Bunda Maria, bukan dimulai pada peristiwa di kaki salib ketika murid yang dikasihi Yesus diserahkan kepada Maria dan sebaliknya (Yoh 19:25-27), melainkan pada saat Maria dipercayakan untuk mengandung Putra Allah (Luk 1:28-38).

Pesta ini dirayakan Gereja Katolik pada tanggal 25 Maret, tepat sembilan bulan sebelum kelahiran Yesus (Perayaan Natal). 3. Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Perayaan ini jatuh pada tanggal 15 Agustus, berdasarkan dogma yang dikeluarkan oleh Paus Pius XII tanggal 15 Agustus 1950. Ini merupakan dogma yang paling banyak menimbulkan kontroversi. Keyakinan dan khotbah-khotbah tentang pengangkatan Bunda Maria ke surga sudah mulai sejak abad ke-6. Namun sebagai dogma, baru dipromulgasikan pada tanggal 15 Agustus 1950 oleh Paus Pius XII. Gereja meyakini bahwa Bunda Maria, yang secara istimewa dipersiapkan Allah menjadi tempat kediaman PutraNya, yang telah menjalani hidup dengan kesucian yang luar biasa, pada akhir hidupnya pasti mendapatkan keistimewaan dari Allah. Kalau sekedar mengatakan bahwa Maria dikandung secara istimewa, menjalani hidup secara istimewa dan mendapatkan pahala abadi secara istimewa, sebenamya tidak mengalami kesulitan. Tetapi yang menjadi kontroversi adalah pernyataan bahwa Bunda Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan badan. Surga bukanlah locus, jadi bagaimana mungkin ada tempat untuk badan yang berbentuk materi? Ajaran yang mengatakan bahwa Bunda Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan badan merupakan suatu ungkapan dan keyakinan iman. Manusia kehabisan kata-kata untuk bisa menjelaskan dan mengungkapkan penghormatan dan penghargaannya atas keistimewaan Maria itu. 4. Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Perayaan ini jatuh pada tanggal 8 Desember karena berdasarkan pada dogma yang dikeluarkan oleh Paus Pius IX tanggal 8 Desember 1854. Dikatakan bahwa Bunda Maria sejak dikandung ibunya, tidak ternoda oleh dosa asal. Hal ini merupakan berkat rahmat dan keistimewaan yang secara khusus diberikan Allah karena dia dipersiapkan untuk menyambut Sabda Allah yang menjelma. Dalam Bula “Ineffabilis Deus” Paus Pius IX mendefenisikan dogma Maria Dikandung Tanpa Noda sebagai berikut: “Santa Perawan Maria, sejak saat pertama ia dikandung, oleh rahmat dan karunia yang istimewa dari Allah yang Mahakuasa, demi jasa-jasa Yesus Kristus, penyelamat bangsa manusia, tetap terjaga, luput dari segala noda dosa asal.” Gereja percaya bahwa Allah menyiapkan suatu wadah yang pantas, yang khusus dan tak bercela. Suatu tempat yang layak bagi kediaman PutraNya. Dan Maria-lah yang dipilih Allah untuk menjadi wadah tersebut, sehingga sejak dikandung, Maria tidak terjangkit dosa asal.

PERAYAAN-PERAYAAN YANG SETINGKAT HARI RAYA (FESTUM) 1. Pesta Santa Perawan Maria Mengunjungi Elizabeth Pesta ini dirayakan untuk mengenang kunjungan Maria kepada saudaranya Elizabeth di Ain Karim. Ain Karim adalah sebuah kota di Yehuda (di sebelah barat Yerusalem) yang berjarak kira-kira 10 km dari Yerusalem dan menurut tradisi merupakan tempat tinggal keluarga Imam Zakaria. Maria tinggal di sana selama tiga bulan (bdk. Luk 1:39-56). Pesta ini dirayakan tanggal 31 Mei. 2. Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria Kita tidak mempunyai informasi biblis dan historis tentang kapan dan di mana Bunda Maria dilahirkan. Penyebutan nama Yoakim dan Ana sebagai orangtuanya pun hanyalah berdasarkan tradisi dan Injil Apokrief (Apokrief adalah buku-buku yang seringkali penuh legenda dan merupakan jiplakan dari kitab-kitab asli yang termasuk Kitab Suci, biasanya dibubuhi nama seorang tokoh Perjanjian Lama atau seorang Rasul sebagai pengarangnya). Perayaan ini berawal dari tradisi Gereja Timur dan mulai berkembang di Gereja Barat sejak abad ke lima. Hari kelahiran Bunda Maria dirayakan Gereja Katolik pada tanggal 8 September. PERAYAAN-PERAYAAN YANG SETINGKAT PERINGATAN (MEMORIA) 1. Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Ratu Setelah diangkat ke surga dengan jiwa dan badannya, Bunda Maria dinobatkan sebagai Ratu. Peringatan ini dirayakan tujuh hari setelah Hari Raya Bunda Maria diangkat ke Surga, yaitu pada tanggal 22 Agustus. Apakah Bala Malaikat di surga memerlukan waktu tujuh hari untuk mempersiapkan upacara penobatan Maria sebagai Ratu? Ini juga merupakan ungkapan iman yang tidak bisa lagi dijelaskan secara logis dan kronologis. Gereja kehabisan kosa kata untuk mengungkapkan penghargaannya atas keistimewaan Bunda Maria. 2. Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita Kehidupan Bunda Maria tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Yesus. Setelah merayakan Pesta Salib Suci, Gereja memperingati kedukaan Maria yang antara lain karena penyaliban Putranya. Maka peringatan ini dirayakan pada tanggal 15 September. Peringatan ini mulai dirayakan tahun 1668 dan ditetapkan sebagai perayaan untuk seluruh Gereja oleh Paus Pius VII pada tahun 1814 untuk mengenang penderitaan yang dialaminya dalam masa pembuangan di Prancis.

Peringatan Bunda Maria Berdukacita dikenal juga dengan nama “Tujuh Kedukaan Maria”. Ada begitu banyak kejadian dalam kehidupan Bunda Maria yang menggambarkan penderitaannya, namun Gereja menyebut tujuh yang lazim, yaitu: nubuat Simeon tentang suatu pedang yang akan menembus jiwanya, pengungsian ke Mesir, Yesus hilang di Bait Allah pada umur 12 tahun, Yesus ditangkap dan diadili, Yesus disalibkan dan wafat, Yesus diturunkan dari salib, dan Yesus dimakamkan. 3. Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Ratu Rosario Pada abad-abad pertama, peringatan Maria selalu dikaitkan dengan kehidupan Bunda Maria, namun sejak abad abad ke-12 Gereja menambah perayaan Maria yang berkaitan dengan kejadian-kejadian tertentu dalam kehidupan menggereja. Misalnya Peringatan “Maria Ratu Rosario” yang jatuh pada tanggal 7 Oktober. Peringatan ini dirayakan untuk mengenang kemenangan pasukan Katolik dalam perang Lepanto pada abad ke-15. Kemenangan ini diyakini karena umat berdoa memohon bantuan Bunda Maria dengan berdoa rosario. Tahun 1571 Paus Pius V menetapkan peringatan ini sebagai perayaan syukur dan pada tahun 1716 Paus Clement XI menetapkannya sebagai perayaan untuk seluruh Gereja. 4. Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Dipersembahkan kepada Allah Persembahan Maria ke Kenisah juga tidak mempunyai informasi biblis, selain bersumber pada tradisi dan Injil Apokrief. Dalam hal ini Gereja boleh mengakui keunggulan Kitab Suci Al Quran yang memberikan informasi yang agak memadai tentang masa kecil Maria (bdk. Q 4 atau Sura Al Imran dan Q 19 atau Sura Al Maryam), termasuk persembahannya ke Kenisah. Peringatan Santa Perawan Maria dipersembahkan kepada Allah ini berawal dari tahun 543 untuk mengenang pemberkatan Gereja Bunda Maria di Yerusalem. Tahun 1585 perayaan ini dimasukkan dalam Kalender Liturgi Gereja Barat dan sekarang dirayakan sebagai pengakuan akan Bunda Maria yang merupakan kenisah di mana Allah (Putra) berdiam. Gereja merayakan peringatan ini pada tanggal 21 November. Masih ada banyak peringatan lain yang dirayakan dalam liturgi Gereja Katolik baik yang bersifat fakultatif maupun secara khusus dirayakan oleh kelompok atau tarekat religius tertentu.

* Imam biarawan Serikat Maria Montfortan; Studi Teologi Dogmatik, khususnya
memperdalam Mariologi di Universitas Santo Thomas, Manila, Filipina. sumber : Majalah Liturgi Vol. 17, No. 3, Mei-Juni 2006; diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI

Angelus

Sebagian besar umat Katolik Roma mempunyai kebiasaan untuk mengucapkan serangkaian doa tiga kali dalam sehari. Rangkaian doa tersebut dikenal dengan “Doa Angelus” atau “Doa Malaikat Tuhan” Angelus didaraskan pada jam 6 pagi, jam 12 siang dan jam 6 petang. Nama Angelus diambil dari kata pertama dalam doa tersebut dalam bahasa Latin, artinya “Malaikat”. Beginilah bunyinya: Angelus Domini nuntiavit Mariae atau Malaikat Tuhan menyampaikan kabar kepada Maria. Doa Angelus mungkin adalah suatu cara bagi umat beriman untuk berdoa bersama seperti dalam Breviary atau Ofisi, yaitu doa yang didoakan oleh para imam dan para anggota komunitas suatu Ordo Religius. Umat yang tidak dapat membaca, dapat menghafalkan doanya. Doa Angelus sudah dimulai sejak tahun 1263 oleh Santo Bonaventura dalam Sidang Umum Ordo Fransiskan. Doa ini berkembang dari abad ke abad sampai dengan zaman Paus Yohanes XXII yang memberikan indulgensi kepada orang yang mengucapkan Doa Angelus. Paus Pius V dalam tahun 1571 memperbaharui dan melengkapi bentuknya seperti yang kita kenal sekarang ini. Pada waktu itu, Doa Angelus diucapkan pada dini hari untuk menghormati kebangkitan Yesus, pada siang hari untuk menghormati sengsara Yesus dan pada senja hari untuk menghormati peristiwa Inkarnasi. Di Italia, Doa Kemuliaan ditambahkan sesudah setiap Salam Maria untuk menghormati Tritunggal Mahakudus dalam hubungannya dengan Maria. Paus Yohanes XXIII dalam catatannya tentang lonceng Angelus yang didentangkan pada pada pagi hari menggambarkan, lonceng dini hari merupakan tanda pergantian malam menjadi siang yang gemilang, pada saat itu langit menunduk untuk bertemu dengan bumi. Paus Paulus VI dalam ensiklik “Marialis Cultus” menulis, “Doa ini sesudah berabad-abad tetap mempertahankan nilainya dan kesegaran

aslinya.” Paus Yohanes Paulus II menandaskan bahwa Doa Angelus tak perlu diubah sebab bentuknya sederhana, diangkat dari Injil, dan asalmuasalnya berkaitan dengan doa perdamaian dan misteri Paska. Banyak keluarga Katolik dengan setia mengucapkan Doa Angelus pagi, siang dan malam hari. Juga di Indonesia, sejak puluhan tahun yang lampau, bila mendengar lonceng Angelus berbunyi, umat langsung meninggalkan segala kesibukannya untuk sejenak memanjatkan Doa Angelus. Pada Masa Paskah, Doa Angelus diganti dengan Doa Ratu Surga. Dalam Doa Angelus, biasanya satu orang akan mengucapkan suatu kalimat dan yang lain memberikan tanggapan. Mengapa kita tidak mulai ikut mendoakannya juga? Bapa Suci sendiri memimpin umatnya berdoa Angelus setiap hari Minggu siang. Beginilah doanya: DOA RATU SURGA Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan, bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus. Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan pada waktu kami mati. Amin. Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu. Salam Maria .... Sabda sudah menjadi daging, dan tinggal di antara kita. Salam Maria .... Doakanlah kami, ya Santa Bunda Allah, supaya kami dapat menikmati janji Kristus. Ya Allah, karena kabar malaikat kami mengetahui bahwa Yesus Kristus Putra-Mu menjadi manusia; curahkanlah rahmat-Mu ke dalam hati kami, supaya karena sengsara dan salib-Nya, kami dibawa kepada kebangkitan yang mulia. Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami. Amin. DOA RATU SURGA (dalam Masa Paskah)

Ratu Surga bersukacitalah, alleluya, sebab Ia yang sudi kau kandung, alleluya, telah bangkit seperti disabdakan-Nya, alleluya! Doakanlah kami pada Allah, alleluya! Bersukacita dan bergembiralah, Perawan Maria, alleluya, sebab Tuhan sungguh telah bangkit, Alleluya! Ya Allah, Engkau telah menggembirakan dunia dengan kebangkitan PutraMu, Tuhan kami Yesus Kristus. Kami mohon, perkenankanlah kami bersukacita dalam kehidupan kekal bersama BundaNya, Perawan Maria. Demi Kristus, pengantara kami. Amin. sumber : 1. Kartu Doa Gereja Katolik Roh Kudus, Surabaya; 2. News For Kids, Rm Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com; disesuaikan dengan buku Puji Syukur; Komisi Liturgi KWI Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Kuasa Doa Satu Salam Maria

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.
Jutaan umat Katolik biasa mendaraskan Salam Maria. Sebagian mendaraskannya dengan begitu cepat, bahkan tanpa memikirkan katakata yang mereka ucapkan. Pernyataan-pernyataan berikut ini semoga dapat membantu kita mendaraskannya dengan lebih khusuk.

Satu Salam Maria yang didaraskan dengan baik memenuhi hati Bunda Maria dengan sukacita dan memperolehkan bagi diri kita sendiri rahmatrahmat luar biasa yang tak terkatakan, yang ingin dilimpahkan Bunda Maria kepada kita. Satu Salam Maria yang didaraskan dengan baik memperolehkan bagi kita jauh lebih banyak rahmat daripada seribu Salam Maria yang didaraskan secara asal. Doa Salam Maria bagaikan suatu tambang emas di mana kita senantiasa dapat menggali darinya tanpa ia pernah menjadi habis. Sulitkah mendaraskan Salam Maria dengan baik? Yang kita perlukan hanyalah belajar memahami nilai dan artinya. St. Hieronimus mengatakan bahwa “kebenaran yang terkandung dalam Salam Maria begitu agung dan luhur, begitu mengagumkan, hingga tak ada manusia atau pun malaikat yang dapat memahami sepenuhnya.” St. Thomas Aquinas, Pujangga Gereja yang terkemuka, 'yang paling bijaksana di antara para kudus dan yang paling kudus di antara para bijaksana', seperti dinyatakan oleh Paus Leo XIII, berkhotbah selama 40 hari lamanya di Roma hanya tentang Salam Maria, membuat para pendengarnya terpesona serta penuh sukacita. Pastor F. Suarez, seorang imam Yesuit yang terpelajar dan kudus, ketika sedang menghadapi ajal menyatakan bahwa dengan senang hati ia akan menyerahkan seluruh dari banyak buku berbobot yang ia tulis, juga seluruh karya sepanjang hidupnya, demi mendapatkan ganjaran dan jasa dari satu doa Salam Maria yang didaraskan dengan khusuk dan tulus. St. Mechtilda, yang sangat mengasihi Bunda Maria, suatu hari sedang berusaha keras untuk menggubah sebuah doa yang indah untuk menghormati Bunda Maria. Bunda Maria menampakkan diri kepadanya, dengan tulisan emas di dadanya: “Salam Maria penuh rahmat.” Santa Perawan berkata kepadanya, “Berhentilah, anakku terkasih, dari usahamu itu, oleh sebab tidaklah mungkin engkau dapat menggubah suatu doa yang dapat memberiku sukacita dan kebahagiaan seperti Salam Maria.” Seorang pria memperoleh sukacita luar biasa dengan mendaraskan Salam Maria secara perlahan-lahan. Santa Perawan menampakkan diri kepadanya dengan tersenyum dan mengatakan kepadanya hari serta jam bilamana ia akan meninggal, serta memperolehkan baginya kematian yang paling kudus dan bahagia. Setelah kematiannya, sekuntum bunga bakung putih yang indah tumbuh dari mulutnya. Pada daun-daun bunganya tertulis “Salam Maria”. Cesarius menceritakan kisah serupa. Seorang biarawan yang rendah hati dan kudus tinggal di sebuah biara. Daya tangkap dan daya ingatnya begitu lemah hingga ia hanya dapat menghafalkan satu doa saja, yaitu

“Salam Maria”. Setelah kematiannya, sebatang pohon tumbuh di atas kuburnya dan pada semua daun-daunnya tertulis: “Salam Maria”. Kisah-kisah indah berikut ini menunjukkan kepada kita betapa tinggi nilai devosi kepada Bunda Maria dan betapa besar kuasa doa Salam Maria yang didaraskan dengan khusuk. Setiap kali kita mengucapkan Salam Maria, kita mengulangi kata-kata yang sama yang diucapkan Malaikat Agung St. Gabriel pada waktu menyampaikan salam kepada Maria pada Hari Kabar Sukacita, yaitu ketika ia menjadi Bunda Putra Allah. Begitu banyak rahmat dan sukacita yang memenuhi jiwa Maria saat itu. Sekarang, pada saat kita mendaraskan Salam Maria, kita mempersembahkan sekali lagi segala rahmat dan sukacita tersebut kepada Bunda Maria dan ia menerimanya dengan bahagia yang mendalam. Sebagai balasnya, ia membagikan sukacitanya itu kepada kita. Suatu ketika, Yesus meminta St. Fransiskus Asisi untuk memberi-Nya sesuatu. Orang kudus itu menjawab, “Tuhan terkasih, aku tak dapat memberi-Mu apa-apa lagi, sebab aku telah memberikan segalanya untuk-Mu, yaitu segenap cintaku.” Yesus tersenyum dan berkata, “Fransiskus, berikan pada-Ku segenap cintamu itu lagi dan lagi, setiap kali, cintamu itu mendatangkan kesukaan yang sama bagi-Ku.” Demikian juga dengan Bunda kita terkasih. Setiap kali kita mendaraskan Salam Maria, Bunda Maria menerima dari kita segala sukacita dan kebahagiaan yang sama seperti yang ia terima dari perkataan St. Gabriel. Allah yang Mahakuasa telah menganugerahkan kepada Bunda-Nya yang Terberkati segala kemuliaan, keagungan, dan kekudusan yang diperlukan untuk menjadikannya Bunda-Nya Sendiri yang paling sempurna. Namun demikian, Ia juga menganugerahkan kepada Bunda-Nya segala pesona, cinta, kelemah-lembutan serta kasih sayang yang diperlukan untuk menjadikannya Bunda kita yang paling terkasih. Bunda Maria adalah sungguh-sungguh dan benar-benar Bunda kita. Seperti anak-anak lari kepada ibunya ketika menghadapi bahaya untuk minta perlindungan, demikian juga patutlah kita lari segera dengan keyakinan tak terbatas kepada Maria.

St. Bernardus dan banyak para kudus lainnya mengatakan bahwa tak pernah sekali pun terdengar pernah terjadi di suatu waktu atau pun tempat bahwa Bunda Maria menolak mendengarkan doa anak-anaknya yang di bumi. Mengapakah kita tidak menyadari kebenaran yang sangat menghibur hati kita ini? Mengapakah kita menolak cinta dan penghiburan yang ditawarkan oleh Bunda Allah yang Manis kepada kita? Adakah sikap acuh kita yang mengerikan, yang menjauhkan kita dari pertolongan dan penghiburan yang sedemikian itu? Mengasihi dan mengandalkan Maria berarti berbahagia di dunia sekarang ini dan berbahagia kelak di Surga. Dr. Hugh Lammer adalah seorang Protestan fanatik, dengan prasangkaprasangka kuat menentang Gereja Katolik. Suatu hari ia menemukan suatu penjelasan tentang Salam Maria dan membacanya. Ia begitu terpesona olehnya hingga mulai mendaraskannya setiap hari. Tanpa disadarinya, segala antipati dan kebenciannya terhadap Gereja Katolik mulai lenyap. Ia menjadi seorang Katolik, seorang imam yang kudus dan profesor Teologi Katolik di Breslau. Seorang imam diminta datang ke sisi pembaringan seorang yang sedang menghadapi ajal dalam keputusasaan oleh karena dosadosanya. Namun demikian, orang itu bersikukuh menolak mengakukan dosa-dosanya. Sebagai usahanya yang terakhir, imam meminta si sakit agar setidak-tidaknya ia mendaraskan Salam Maria. Sesudah mendoakan Salam Maria, pria malang itu mengakukan dosanya dengan tulus dan meninggal dengan kudus. Di Inggris, seorang imam paroki diminta untuk pergi menemui seorang wanita Protestan yang sedang sakit parah dan rindu menjadi seorang Katolik. Ketika ditanya apakah ia pernah pergi ke Gereja Katolik, atau apakah ia pernah belajar dari umat Katolik, atau apakah ia membaca buku-buku Katolik, ia menjawab, “Tidak, tidak pernah.” Sejauh yang dapat diingatnya ialah - ketika masih kanak-kanak - ia belajar dari seorang gadis kecil tetangga yang Katolik doa Salam Maria, yang kemudian dilakukannya setiap malam. Wanita itu kemudian dibaptis dan sebelum meninggal boleh menikmati kebahagian menyaksikan suami dan anak-anaknya dibaptis juga. St. Gertrude mengatakan dalam bukunya, “Wahyu” bahwa ketika kita mengucap syukur kepada Tuhan atas rahmat-rahmat yang Ia berikan kepada seorang kudus tertentu, kita juga memperoleh bagian besar atas rahmat-rahmat tersebut. Jika demikian, rahmat-rahmat apakah yang tidak akan kita peroleh jika kita mendaraskan Salam Maria sementara kita mengucap syukur

kepada-Nya atas segala rahmat tak terkatakan yang telah Ia anugerahkan kepada Bunda-Nya Maria? With Ecclesiastical Approval “. . . Satu Ave Maria (Salam Maria) yang didaraskan tanpa perasaan mendalam, tetapi dengan kehendak yang tulus dalam masa kekeringan, jauh lebih bernilai di hadapanku daripada satu Rosario penuh yang didaraskan di tengah penghiburan.” Bunda Maria kepada Sr. Benigna Consolata Ferrero “Seorang imam Yesuit yang kudus dan terpelajar, Pastor Suarez, memahami dengan begitu mendalam nilai Salam Malaikat (Salam Maria) hingga ia mengatakan bahwa ia akan dengan senang hati menyerahkan segala ilmu yang diperolehnya demi memperoleh ganjaran dan jasa satu Salam Maria yang didaraskan dengan pantas.” St. Louis De Montfort, Rahasia Rosario, hal. 48 sumber : “The Power of One Hail Mary”; www.catholictradition.org Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauly Fongemie ~ Catholic Tradition.”

Salam Maria dan Rosario
oleh: P Victor Hoagland, C.P . .

Kita mengatakan Bapa “kami” dalam doa Bapa Kami. Dengan mengatakan “kami”, kita menyatakan bahwa doa bukanlah suatu tindakan yang kita lakukan seorang diri. Kita berdoa bersama dengan yang lain. Bersama siapakah kita berdoa? Kita berdoa bersama Yesus Kristus. Yesus tidak hanya mengajar kita bagaimana harus berdoa, tetapi Ia juga berdoa bersama kita serta mempersatukan doa-doa kita dengan doa-Nya sendiri. Oleh karena kita berdoa bersama Dia, doa-doa kita seringkali diakhiri dengan kata-kata sebagai berikut: “dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra Tunggal Allah, Tuhan kita, yang hidup dan berkuasa untuk selama-lamanya.” Kita berdoa bersama Yesus Kristus. Bapa “kami” berarti kita berdoa bersama yang lain juga; sebagai contoh, mereka semua yang telah dibaptis dalam nama Kristus. Doa Bapa Kami hendaknya senantiasa mengingatkan umat Kristiani akan persatuan mereka satu dengan yang lain, meskipun sayangnya, perbedaanperbedaan masih memisahkan gereja-gereja Kristen. Kita, umat Kristen, percaya bahwa kita bersatu dalam doa; kita dapat berdoa bersama yang lain serta saling mendoakan satu sama lain. Doa merupakan sumber hidup yang mempersatukan kita semua. Dalam Gereja Katolik, keyakinan bahwa kita bersatu dalam doa dengan yang lain diungkapkan dalam doa kepada Bunda Maria, Bunda Yesus, dan kepada para kudus. “Kita percaya akan persekutuan para kudus” yang berdoa bersama kita dan bagi kita, dalam persatuan dengan Yesus Kristus. Doa yang indah bagi Bunda Maria dalam tradisi Katolik adalah doa Salam Maria. Bagian pertama dari doa tersebut berkembang dalam abad pertengahan ketika Maria, Bunda Yesus, menjadi perhatian umat Kristiani sebagai saksi terbesar atas hidup, wafat serta kebangkitan Kristus. Bagian awal doa merupakan salam Malaikat Gabriel di Nazaret, menurut Injil Lukas:

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu,
Dengan perkataan tersebut, malaikat Tuhan menyatakan belas kasih Ilahi. Tuhan akan menyertai Maria. Maria akan melahirkan Yesus Kristus ke dunia. Bagian selanjutnya, adalah salam yang disampaikan kepada Maria oleh Elisabet, sepupunya, seperti ditulis dalam Injil St. Lukas:

terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.

Dan akhirnya, pada abad ke-15, bagian doa selanjutnya ditambahkan:

Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati.
Bagian doa tersebut memohon kepada Maria, yang penuh rahmat serta dekat dengan Putra-nya, untuk mendoakan kita orang berdosa, sekarang dan saat ajal menjelang. Bersama dengan murid kepada siapa Yesus mempercayakan ibunda-Nya di Kalvari dengan mengatakan “Inilah ibumu!”, kita mengakui Bunda Maria sebagai bunda kita. Bunda Maria akan senantiasa mendekatkan kita pada Kristus. Sejak dari permulaan Bunda Maria mengenal-Nya; ia menjadi saksi atas hidup, wafat dan kebangkitan Kristus; tidakkah Bunda Maria akan membantu kita untuk lebih mengenal Putra-nya dan misteri hidup-Nya? Kita mengandalkan belas kasih Bunda Maria kepada kita seperti yang ia lakukan bagi pasangan pengantin di Kana, di Galilea. Kita mempercayakan segala kebutuhan kita kepada Bunda Maria. Pada akhir abad ke-16, kebiasaan mendaraskan 150 Salam Maria dalam suatu rangkaian doa atau perpuluhan menjadi populer di kalangan umat Kristiani. Dalam doa-doa tersebut, peristiwa-peristiwa hidup, wafat dan kebangkitan Yesus direnungkan. Praktek doa itu sekarang dikenal sebagai Doa Rosario. Bunda Maria senantiasa menjadi teladan iman dan pelindung orangorang Kristen yang percaya. Ketika Malaikat Gabriel datang kepadanya, ia percaya akan warta yang disampaikan malaikat dan tetap teguh pada imannya tanpa ragu sedikit pun meskipun harus melewati pencobaan gelap Kalvari. Bunda Maria mendampingi kita juga yang adalah saudara dan saudari Putra-nya, sepanjang ziarah kita di dunia yang penuh dengan kesulitan dan mara bahaya. Selama berabad-abad telah banyak umat Kristiani mengakui bahwa Salam Maria dan Rosario merupakan sumber rahmat rohani. Doa rosario adalah doa yang sederhana sekaligus mendalam. Rosario dapat dilakukan siapa saja, pengulangan kata-katanya mendatangkan kedamaian bagi jiwa. Renungan akan kisah hidup Yesus dalam peristiwa-peristiwa gembira, cahaya, sedih, maupun mulia dimaksudkan agar diamalkan dalam hidup kita sendiri. Melalui peristiwa-peristiwa tersebut, kita berharap untuk “meneladani apa yang diteladankan dan memperoleh apa yang dijanjikan”. sumber : “The Hail Mary and the Rosary” by Fr. Victor Hoagland, C.P.; Copyright 1997-1999 - The Passionist Missionaries; www.cptryon.org/prayer Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Victor Hoagland, CP.”

Mengapa Berdoa Rosario?
oleh: P Francis J. Peffley .

Apa itu doa? Doa ialah berbicara dengan Tuhan; mengangkat hati serta
pikiran kita kepada Tuhan. "Doa adalah kunci Surga." - St. Agustinus

Mengapa kita berdoa? Kita berdoa agar kita dapat masuk Surga. St.
Agustinus mengatakan: “Sama seperti tubuh tidak dapat hidup tanpa makanan, demikian juga jiwa kita tidak dapat hidup secara rohani tanpa doa.” St. Alfonsus mengatakan: “Ia yang berdoa, diselamatkan; ia yang tidak berdoa, celaka!” Doa sangat besar kuasanya. (Yak 5:16-18, 2Raj 20:1-6).

Siapa yang berdoa? Yang berdoa ialah orang yang ingin berbahagia
selamanya bersama Tuhan di surga.

Kapan kita berdoa? Kita berdoa senantiasa, siang dan malam. Di mana kita berdoa? Kita berdoa di rumah, di kamar kita (Mat 6:1-6),
di Gereja dengan keluarga kita (Mat 21:13), atau di mana saja. Dengan doa kita dapat menguduskan saat-saat senggang kita, kita dapat berdoa ketika sedang berjalan-jalan di taman, mengendarai mobil atau naik bis dan mempersembahkan waktu luang kita itu kepada Tuhan.

Apakah Tuhan selalu menjawab doa-doa kita? Ya. Ada tiga bentuk
jawaban doa - ya, tidak, dan tunggu. Tidak ada doa yang tidak dijawab dan tidak ada doa yang tidak didengarkan. St. Thomas Aquinas mengajarkan: "Tuhan tidak mengabulkan apa yang kita minta dalam doa jika permintaan kita itu tidak baik bagi keselamatan kita." Kita harus bertanya apa kehendak Tuhan bagi kita. "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan

kepadamu.” (Mat 6:31-33) “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26). Tuhan memenuhi kebutuhan kita, tetapi tidak keserakahan kita.

Bagaimana kita dapat berdoa dengan baik? Konsentrasi (Mat
6:7,8), Iman (Ibr 11:6), Kerendahan hati (Yak 4:6, lihat juga Mat 6:1-6, Lukas 18:9-14). Prioritas yang Benar (Luk 22:42), Devosi (Mat 15:8), Kesungguhan (Luk 22:43,44), Ketekunan (Luk 11:5-10 / Luk 18:1-8, Mat 24:13), dan dengan tidak jemu-jemu. Kita wajib berdoa sekurangkurangnya 15 menit setiap hari. Di dunia ini kita mempersiapkan diri untuk tinggal bersama Tuhan selama-lamanya. Karena Tuhan adalah Pribadi yang paling penting dalam hidup kita, kita wajib berbicara kepada-Nya setiap hari. Setiap harinya kita menghabiskan lebih banyak waktu sekedar untuk makan, bersantai dan menikmati hiburan. Jiwa kita jauh lebih penting daripada tubuh kita. Dan Tuhan pastilah jauh lebih penting daripada siapa pun atau apa pun juga dalam hidup kita, jadi Ia layak mendapatkan prioritas utama. Berapa banyak kita harus berdoa? Kitab Suci mengatakan: - selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu (Luk 18:1, 1Tes 5:17, Ef 6:18 dan Kis 6:4).

Mengapa Tuhan menghendaki kita berdoa kepada Bunda Maria?
Kita berdoa kepada Bunda Maria karena ia adalah Bunda Allah dan doadoanya sangatlah besar kuasanya (Yoh 2:1-11). Ketika kita berdoa Salam Maria, kita menggabungkan penyembahan kepada Tuhan dan penghormatan kepada Bunda Maria. Kita menyatukan doa-doa kita kepada Tuhan dengan doa-doa Bunda Maria kepada Tuhan. Kita tidak menyembah Bunda Maria, kita hanya menyembah Tuhan saja. Ketika kita berdoa kepada Bunda Maria, kita menghormatinya sebagai Bunda Allah dan sebagai Bunda Rohani kita (Why 12:17, Yoh 19:26,27). Saat kita amat membutuhkan pertolongan, kita tidak saja berdoa sendiri kepada Tuhan secara langsung, tetapi kita juga meminta orang lain berdoa bagi kita dan bersama kita. Ketika kita berdoa Rosario, kita didukung oleh Bunda Maria, Bunda Allah yang Kudus, yang berdoa kepada Tuhan bagi kita dan bersama kita. Tuhan menghendaki kita menghormati Bunda Maria karena perannya yang istimewa dalam karya keselamatan Allah. Tuhan menghendaki Bunda Maria ambil bagian dalam penebusan umat manusia, sama seperti Hawa ambil bagian dalam jatuhnya umat manusia ke dalam dosa. Sama seperti seorang Bapa dipenuhi sukacita karena cinta dan penghormatan yang diberikan orang kepada anak-anaknya, demikian juga Allah Bapa dipenuhi sukacita dan menghendaki kita menghormati puteri-Nya, Maria, Bunda PuteraNya, Yesus.

Mengapa kita wajib berdoa Rosario? Karena doa Rosario telah
didaraskan serta dianjurkan selama berabad-abad oleh para Paus dan santo/santa besar, dan juga karena pengaruhnya yang baik - sama seperti pohon yang baik menghasilkan buah yang baik (Mat 7:17). Juga, karena ke-15 Janji Bunda Maria bagi umat Kristiani yang berdoa Rosario dan karena Bunda Maria menampakkan diri di Lourdes dan di Fatima untuk meminta kita berdoa rosario. Rosario telah menyelamatkan serta

mengubah ribuan jiwa, mengapa tidak menggunakannya untuk menyelamatkan jiwamu?

Bagaimana kita berdoa Rosario? Dengan merenungkan ke-15
misteri, dengan mendaraskan sepuluh Salam Maria pada manikmaniknya serta satu Bapa Kami dan Kemuliaan di setiap misteri.

Bagaimana kita merenungkan misteri-misteri Rosario? Kita
merenungkan misteri-misteri rosario dengan menggunakan imajinasi kita untuk menghadirkan misteri yang sedang kita renungkan di hadapan kita. Kemudian sambil membayangkan imajinasi yang hadir di pikiran, kita mengucapkan doa Salam Maria. Sementara merenung, kita mengulang-ulang doa kita, sama seperti yang dilakukan Yesus (Mat 26:44). Dalam berdoa Rosario, pada dasarnya kita mengatakan, “Yesus dan Bunda Maria, aku mencintaimu” berulang-ulang kali. Sementara kita melakukannya, kita bertumbuh dalam cinta kepada Tuhan. Mengatakan, “Aku mencintaimu” tidak pernah basi. Jika kita sungguh-sungguh mencintai, pernyataan cinta seperti itu akan semakin memperdalam cinta kita.

Bagaimana kita dapat mulai berdoa Rosario setiap hari? Dengan
mendoakan hanya satu misteri dengan sepuluh Salam Maria setiap hari, hingga kita merasa rindu untuk berdoa lebih banyak. sumber : "Why Pray the Rosary" by Father Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley

"Rosario adalah doa yang penuh kuasa bagi perdamaian"
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan a

oleh: Cindy Wooden Catholic News Service, 16 Oktober 2002

VATIKAN CITY (CNS) -- Rosario adalah doa yang penuh kuasa untuk perdamaian, untuk keluarga, serta untuk merenungkan peristiwaperistiwa dalam hidup Yesus, demikian kata Paus Yohanes Paulus II dalam surat apostolik yang baru diterbitkannya. Sementara memuji mereka yang dengan setia berdoa rosario dengan merenungkan peristiwa-peristiwa seperti yang biasa dipakai selama ini, paus juga menganjurkan tambahan lima “peristiwa cahaya” - yaitu masa perutusan Yesus di hadapan orang banyak - untuk lebih menekankan fokus rosario pada Kristus. Paus Yohanes Paulus II menandai peringatan 24 tahun pelantikannya sebagai paus pada tanggal 16 Oktober dengan menandatangani surat apostolik “Rosarium Virginis Mariae” (“Rosario Santa Perawan Maria”), pada saat mengadakan audiensi umum mingguan. Bapa Suci memaklumkan Tahun Rosario hingga bulan Oktober mendatang, serta meminta setiap orang untuk berdoa rosario dengan lebih sering, dengan penuh cinta dan dengan pemahaman bahwa doa rosario akan mempersatukan mereka dengan Bunda Maria serta menghantar mereka kepada Yesus. Kelima peristiwa baru yang dianjurkan Bapa Suci adalah: Yesus Dibaptis di Sungai Yordan Yesus Menyatakan Diri-Nya dalam perjamuan nikah di Kana Yesus Mewartakan Kerajaan Allah serta Menyerukan Pertobatan Yesus Dipermuliakan

Yesus Menetapkan Ekaristi Paus Yohanes Paulus II juga mengungkapkan cintanya yang istimewa akan doa-doa Maria dan menyampaikan saran-saran bagaimana umat beriman dapat berdoa rosario dengan lebih baik. “Rosario telah menyertai saya di saat-saat suka dan di saat-saat duka,” tulisnya. “Dalam rosario saya selalu menemukan penghiburan.” Hanya selang dua minggu setelah pengangkatannya sebagai Bapa Suci pada tahun 1978, ia mengatakan, “Sejujurnya saya mengakui: Rosario adalah doa favorit saya.” Dan, katanya, “mengenang kembali segala kesulitan yang juga menjadi bagian dari pelaksanaan tugas perutusan saya, saya merasa perlu untuk menyampaikan sekali lagi, sebagai suatu undangan yang hangat kepada siapa saja untuk mengalami secara pribadi bahwa: Rosario sungguh `meningkatkan irama hidup manusia', dan menjadikannya selaras dengan `irama' hidup Tuhan sendiri.” Bapa Suci meminta bantuan setiap orang untuk menanggapi “krisis rosario” yang ditandai dengan kelalaian mengajarkannya kepada anakanak serta keragu-raguan -yang didukung oleh beberapa teolog- bahwa rosario itu kuno, takhyul atau pun anti-ekumene. Terutama setelah “serangan yang mengerikan” tanggal 11 September 2001, paus mengatakan: menggairahkan kembali doa rosario merupakan sumbangan umat Katolik yang amat berharga bagi perwujudan perdamaian dunia. Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa rosario memberi “rasa damai bagi mereka yang mendoakannya,” membimbing mereka untuk memandang wajah Kristus dalam diri sesama, untuk peka terhadap kesedihan serta penderitaan sesama, serta membangkitkan kerinduan untuk menjadikan dunia “lebih indah, lebih adil, lebih selaras dengan rencana Tuhan.” “Sekarang ini, saya hendak mempercayakan diri kepada kuasa doa rosario …. sebagai sumber damai di dunia dan sumber damai dalam keluarga,” tulisnya. Rosario, kata paus, adalah dan akan selalu merupakan doa dari dan bagi keluarga. Mendaraskan doa rosario bersama-sama dalam keluarga akan mempersatukan mereka dengan Keluarga Kudus, membawa harapanharapan serta persoalan-persoalan mereka kepada Tuhan, serta memusatkan perhatian mereka kepada gambaran kehidupan Kristus, dan bukannya gambar televisi, katanya.

Berbicara tentang praktek doa rosario, Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa rosario mengulang-ulang doa yang sama dengan tujuan merenungkan serta memusatkan pikiran, dan bukannya mendatangkan kejenuhan. Pertama-tama, katanya, biji-biji rosario janganlah dipandang sebagai “barang jimat,” tetapi sebagai sarana untuk melambangkan “perenungan serta usaha terus-menerus untuk mencapai kesempurnaan Kristiani.” Biji-biji rosario juga dapat “mengigatkan kita akan begitu banyaknya persahabatan dan ikatan persatuan serta persaudaraan yang mempersatukan kita dengan Kristus.” Peristiwa-peristiwa rosario, meskipun bukan pengganti bacaan Kitab Suci, haruslah menghantar pikiran kita kepada Kristus dan kepada peristiwa-peristiwa lain dalam hidup-Nya, demikian kata paus. Sebagian orang mungkin akan merasa tertolong dengan gambar atau ikon Kitab Suci dari peristiwa yang sedang direnungkan, atau setidak-tidaknya, dengan menggambarkan peristiwa -peristiwa tersebut dalam pikiran mereka. Paus Yohanes Paulus II juga menganjurkan agar umat membaca ayat Kitab Suci yang berhubungan dengan peristiwa yang direnungkan, bukan sebagai sarana untuk mengingat kembali informasi yang ada, “tetapi untuk mengijinkan Tuhan berbicara.” Seringkali terjadi, pada waktu berdoa rosario, kata paus, umat beriman lupa bahwa bagian penting dari suatu doa kontemplasi adalah keheningan; karenanya baik pada waktu mendaraskan doa rosario secara pribadi atau pun bersama-sama dalam suatu kelompok, dianjurkan untuk berhenti sejenak dalam keheningan setelah suatu ayat dibacakan. Sementara sepuluh Salam Maria dalam suatu peristiwa merupakan “elemen paling penting” dalam rosario, paus meminta umat beriman untuk lebih memperhatikan pendarasan doa Bapa Kami dan Kemuliaan, doa-doa yang menghantar umat kepada Allah Bapa dan kepada Allah Tritunggal. Bapa Suci menganjurkan bahwa jika rosario didaraskan dalam suatu kelompok, Kemuliaan sebaiknya dinyanyikan “sebagai suatu cara untuk memberikan penekanan yang pantas kepada Tritunggal Mahakudus yang amat penting dalam semua doa Kristiani.” Paus Yohanes Paulus II juga meminta umat beriman untuk sekali-kali berhenti serta memandang salib yang tergantung pada rosario mereka. “Hidup dan doa umat beriman berpusat pada Kristus,” tulisnya. Sama seperti Rosario, “segala sesuatu berasal dari Dia, segala sesuatu

menghantar kita kepada Dia, segala sesuatu, melalui Dia, dalam persatuan dengan Roh Kudus, menuju kepada Bapa.” Rosario itu doa yang fleksibel, katanya. Ujud-ujud doa khusus dapat diucapkan pada akhir setiap peristiwa; sebagian dapat dinyanyikan; sebagai penutup, berbagai kelompok yang berbeda dalam usia, budaya serta etnis dapat memilih doa atau lagu-lagu Maria yang sesuai. Terutama ketika berusaha menghidupkan doa rosario bagi anak-anak, beberapa penyesuaian juga diperkenankan, katanya: “Mengapa tidak mencobanya?” sumber : "Rosary is powerful prayer for peace, pope says in apostolic letter" by Cindy Wooden; Catholic News Service; Copyright (c) 2002 Catholic News Service/U.S. Conference of Catholic Bishops; www.catholicnews.com Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic News Service” rtikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Francis J. Peffley.”

ROSARIO dalam Terang Kitab Suci
oleh: P Victor Hoagland, C.P . .

Pengantar Rosario dalam terang Kitab Suci untuk anak-anak Bagaimana Berdoa Rosario? Pengantar Peristiwa-peristiwa Gembira Merenungkan Peristiwa-peristiwa Gembira:

"Peristiwa-peristiwa Gembira mengingatkan kita agar senantiasa bersukacita." 1. Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel 2. Maria mengunjungi Elisabet, saudarinya 3. Yesus dilahirkan di Betlehem 4. Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah 5. Yesus diketemukan dalam Bait Allah

Pengantar Peristiwa-peristiwa Cahaya Merenungkan Peristiwa-peristiwa Cahaya:
"Peristiwa-peristiwa Cahaya mengingatkan kita agar meneladani Yesus, sang Terang Dunia." 1. Yesus dibaptis di Sungai Yordan 2. Yesus menyatakan Diri-Nya dalam perjamuan nikah di Kana 3. Yesus mewartakan Kerajaan Allah serta menyerukan pertobatan 4. Yesus dipermuliakan 5. Yesus menetapkan Ekaristi

Pengantar Peristiwa-peristiwa Sedih Merenungkan Peristiwa-peristiwa Sedih:
"Kisah-kisah sengsara Yesus hendak mengatakan kepada kita agar tidak menyerah - bahkan dalam situasi yang amat buruk sekalipun. Tuhan akan menolong kita agar mampu melewatinya; Tuhan akan menguatkan kita agar mampu melangkah maju." 1. Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di surga dalam sakrat maut 2. Yesus didera 3. Yesus dimahkotai duri 4. Yesus memanggul salib-Nya (ke Gunung Kalvari) 5. Yesus wafat disalib

Pengantar Peristiwa-peristiwa Mulia Merenungkan Peristiwa-peristiwa Mulia:

"Tuhan memberi kita hidup baru yang tak akan berkesudahan." 1. Yesus bangkit dari kematian 2. Yesus naik ke surga 3. Roh Kudus turun atas para Rasul 4. Maria diangkat ke surga 5. Maria dimahkotai di surga

Doa-doa Dasar: Syahadat Para Rasul Tanda Salib Bapa Kami Kemuliaan Salam Maria Catatan:
“Rosario Dalam Terang Kitab Suci” telah dicetak dan disebarluaskan oleh Karya Kepausan Indonesia. Bagi yang berminat memiliki buku tersebut, dapat memesannya dengan mengganti biaya cetak sebesar Rp 3.000 /eks ke Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia, Jl. Cut Meutia 10, Jakarta 10340, Telp & Fax: 021 31924819; e-mail: kki-kwi@kawali.org sumber : “A Scriptural Rosary for Children” by Fr Victor Hoagland, C.P. ; Copyright 2002 - The Passionist Missionaries - All rights reserved; www.cptryon.org/prayer/child/rosary disesuaikan dengan : 1. Alkitab Deuterokanonika; diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia - Lembaga Biblika Indonesia; 2. Puji Syukur; disusun oleh Komisi Liturgi KWI ayat-ayat Kitab Suci: dikutip dari Alkitab Deuterokanonika; copyright Lembaga Alkitab Indonesia

Devosi Sabtu Pertama untuk Pemulihan
oleh: P Francis J. Peffley .

Pada tanggal 13 Juli 1917, Bunda Maria menampakkan diri untuk ketiga kalinya kepada anak-anak dari Fatima: Jacinta Francisco, dan Lucia. Bunda Maria memperlihatkan kepada mereka suatu penglihatan yang amat mengerikan tentang neraka dan berkata: “Kalian telah melihat neraka, ke mana jiwa-jiwa para pendosa yang malang itu akan pergi. Untuk menyelamatkan mereka, Tuhan menghendaki agar di dunia diadakan devosi kepada Hati-ku Yang Tak Bernoda….. Aku akan datang untuk meminta Komuni pemulihan pada hari Sabtu Pertama.” Pada tanggal 10 Desember 1925, Bunda Maria menampakkan diri bersama Kanak-kanak Yesus kepada Lucia, yang pada waktu itu menjadi postulan (masa percobaan, persiapan masuk biara sebelum masa novisiat) Dorothean di Pontevedra, Spanyol. Bunda Maria berkata kepada Lucia: “Puteriku, pandanglah Hati-ku yang dikelilingi oleh duriduri, yang setiap saat ditusukkan oleh orang-orang yang tidak tahu berterimakasih, dengan hujatan-hujatan serta rasa tidak tahu terimakasih mereka. Setidak-tidaknya engkau, berusahalah untuk menghiburku, dan menyebarluaskan bahwa aku berjanji untuk menolong pada saat ajal dengan segala rahmat yang dibutuhkan bagi keselamatan jiwa, kepada mereka semua yang pada Sabtu Pertama selama lima bulan berturut-turut: pergi menerima Sakramen Tobat, menerima Komuni Kudus, mendaraskan lima peristiwa Rosario, serta menemaniku selama 15 menit dengan merenungkan peristiwa-peristiwa Rosario, dengan ujud untuk pemulihan Hati-ku Yang Tak Bernoda. Bayi Yesus menampakkan diri kepada Lucia kembali pada tahun 1926 dan, atas permintaannya, Yesus memberikan persetujuan bahwa “praktek devosi ini dapat dilakukan pada hari Minggu sesudah Sabtu Pertama, karena alasan-alasan tertentu, selama para imam mengijinkan.” Yesus juga mengatakan kepada Lucia bahwa Sakramen Tobat dapat dilakukan dengan tenggang waktu delapan hari dari hari devosi, asalkan orang tersebut berada dalam keadaan rahmat. Di Vatikan, Paus Yohanes Paulus II secara pribadi memimpin doa Rosario

pada hari Sabtu Pertama pada waktu menerima-Nya, dengan ujud untuk mempersembahkannya bagi pemulihan Hati Maria Yang Tak Bernoda. Dalam penampakan Tuhan Yesus selanjutnya pada tahun 1930, Lucia bertanya kepada-Nya mengapa Ia menghendaki devosi lima Sabtu pertama, dan bukannya sembilan atau tujuh sebagai penghormatan atas Tujuh Duka Maria. “Puteri-Ku,” jawab-Nya, “alasannya sederhana.” Yesus mengatakan kepada Lucia bahwa ada lima jenis penghinaan serta hujatan yang dilontarkan terhadap Hati Maria Yang Tak Bernoda:

1. Hujat menentang Maria Yang Dikandung Tanpa Dosa 2. Hujat menentang Maria tetap perawan selamanya 3. Hujat menentang Maria Bunda Allah serta menolak untuk menerima Maria sebagai Bun segenap umat manusia 4. Hujat yang dilakukan oleh mereka yang berusaha secara terang-terangan menanamka rasa acuh, benci serta memandang hina Bunda Yang Dikandung Tanpa Dosa dalam ha anak-anak. 5. Hujat yang dilakukan oleh mereka yang menghina Bunda Maria secara langsung deng gambar-gambar kudusnya. Suster Lucia, dalam sepucuk surat kepada ibunya, menekankan akan pentingnya Devosi Sabtu Pertama sebagai sarana untuk memberikan penghiburan kepada Bunda Maria. Sr Lucia menulis: “Saya berharap bahwa ibu akan menjawab saya dengan mengatakan bahwa ibu mempraktekan devosi Sabtu pertama serta melakukannya dengan cara yang terbaik, sehingga semua orang yang datang ke rumah ibu turut mempraktekkannya pula. Ibu tidak akan pernah dapat memberikan penghiburan kepadaku yang lebih besar daripada ini….Hiburlah Bunda Surgawi kita dengan devosi Sabtu pertama serta berusahalah agar orang-orang lain pun ikut menghibur Bunda Maria juga, dan dengan berbuat demikian, ibu akan membuatku amat bahagia.” Ketika kita memenuhi segala persyaratan sederhana yang diminta bagi devosi Sabtu Pertama dengan semangat pemulihan, kita membantu meringankan penderitaan yang diakibatkan oleh penghinaanpenghinaan terhadap Hati Maria Yang Tak Bernoda. Kita juga memperoleh keuntungan dari penyembuhan Tuhan atas dosa, dan kita mulai mengikuti jalan damai-Nya. Pada saat ini, dilakukan usaha di seluruh dunia untuk menjawab permintaan Tuhan Yesus dan Bunda Maria atas devosi Lima Sabtu Pertama untuk Pemulihan. Di Amerika Serikat, di setiap keuskupan dilakukan usaha untuk memulai devosi Sabtu Pertama di setiap paroki, dan di banyak paroki di Amerika Serikat praktek devosi ini telah dilakukan. Sesungguhnya orang banyak dapat melihat perubahan-perubahan yang menggembirakan yang terjadi di Eropa Timur dan belahan-belahan bumi lainnya sebagai hasil dari meningkatnya praktek devosi Sabtu Pertama

atas permintaan Bunda Maria dari Fatima. Keikutsertaan dalam devosi Sabtu Pertama dapat dilakukan baik secara bersama-sama maupun secara pribadi. Jika devosi dilakukan secara bersama-sama, Rosario dapat didaraskan sebelum atau sesudah Misa Sabtu pagi atau Misa Sabtu sore. Renungan akan peristiwa-peristiwa Rosario dapat dilakukan secara pribadi. sumber : "The First Saturdays of Reparation" by Father Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Francis J. Peffley.”

Santa Perawan Maria Berdukacita
oleh: P William P Saunders . .

Pada bulan September kita memperingati Santa Perawan Maria Berdukacita. Dapatkah dijelaskan makna dan asal-mula peringatan ini? ~ seorang pembaca di Fairfax Gelar “Bunda Dukacita” diberikan kepada Bunda Maria dengan menitikberatkan pada sengsara dan dukacitanya yang luar biasa selama sengsara dan wafat Kristus. Menurut tradisi, sengsara Bunda Maria ini tidak terbatas hanya pada peristiwa-peristiwa sengsara dan wafat Kristus; melainkan meliputi “tujuh dukacita” Maria, seperti yang dinubuatkan Nabi Simeon yang memaklumkannya kepada Maria, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan - dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri -, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

(Lukas 2:34-35). Tujuh Dukacita Bunda Maria meliputi Nubuat Simeon, Pengungsian Keluarga Kudus ke Mesir; Kanak-kanak Yesus Hilang dan Diketemukan di Bait Allah; Bunda Maria Berjumpa dengan Yesus dalam Perjalanan-Nya ke Kalvari; Bunda Maria berdiri di kaki Salib ketika Yesus Disalibkan; Bunda Maria Memangku Jenasah Yesus setelah Ia Diturunkan dari Salib; dan kemudian Yesus Dimakamkan. Secara keseluruhan, nubuat Simeon bahwa sebilah pedang akan menembus hati Bunda Maria digenapi dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Oleh sebab itu, Bunda Maria terkadang dilukiskan dengan hatinya terbuka dengan tujuh pedang menembusinya. Dan yang terpenting ialah bahwa setiap dukacita diterima Bunda Maria dengan gagah berani, dengan penuh kasih, dan dengan penuh kepercayaan, seperti digemakan dalam Fiat-nya, “jadilah padaku menurut perkataan Tuhan,” yang diucapkannya pertama kali dalam peristiwa Kabar Sukacita. Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita mulai populer pada abad keduabelas, meskipun dalam berbagai gelar yang berbeda. Beberapa tulisan didapati berasal dari abad kesebelas, teristimewa di kalangan para biarawan Benediktin. Pada abad keempatbelas dan kelimabelas, peringatan dan devosi ini telah tersebar luas di kalangan Gereja. Yang menarik, pada tahun 1482, peringatan ini secara resmi dimasukkan dalam Misale Romawi dengan gelar “Santa Perawan Maria Bunda Berbelas Kasihan,” (Our Lady of Compassion) dengan menekankan besarnya cinta kasih Bunda Maria yang diperlihatkannya dalam sengsara bersama Putranya. Kata `compassion' berasal dari kata Latin `cum' dan `patior' yang artinya “menderita bersama”. Dukacita Bunda Maria melampaui dukacita siapa pun oleh sebab ia adalah Bunda Yesus, yang bukan hanya Putranya, melainkan juga Tuhan dan Juruselamatnya; Bunda Maria sungguh menderita bersama Putranya. Pada tahun 1727, Paus Benediktus XIII memasukkan Peringatan Santa Perawan Maria Bunda Berbelas Kasihan dalam Penanggalan Romawi, yang jatuh pada hari Jumat sebelum Hari Minggu Palma. Peringatan ini kemudian ditiadakan dengan revisi penanggalan yang diterbitkan dalam Misale Romawi tahun 1969. Pada tahun 1668, peringatan guna menghormati Tujuh Dukacita Maria ditetapkan pada hari Minggu setelah tanggal 14 September, yaitu Pesta Salib Suci. Peringatan ini kemudian disisipkan dalam penanggalan Romawi pada tahun 1814, dan Paus Pius X menetapkan tanggal yang permanen, yaitu tanggal 15 September sebagai Peringatan Tujuh Duka Santa Perawan Maria (yang sekarang disederhanakan menjadi Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita). Penekanan utamanya di sini adalah Bunda Maria yang berdiri dengan setia di kaki salib di mana Putranya meregang nyawa; seperti dicatat dalam Injil St. Yohanes, “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: `Ibu, inilah, anakmu!' Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: `Inilah ibumu!'” (Yohanes 19:26-27). Konsili Vatikan Kedua dalam Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja menulis, “…ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya.

Di situlah ia menanggung penderitaan yang dahsyat bersama dengan Putranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya.” (#58). St. Bernardus (wafat tahun 1153) menulis, “Sungguh, ya Bunda Maria, sebilah pedang telah menembus hatimu…. Ia wafat secara jasmani oleh karena kasih yang jauh lebih besar daripada yang dapat dipahami manusia. Bunda-Nya wafat secara rohani oleh karena kasih seperti yang tak dapat dibandingkan selain dengan kasih-Nya.” (De duodecim praerogatativs BVM). Dengan menekankan belas kasihan Bunda Maria, Bapa Suci kita, Paus Yohanes Paulus II, mengingatkan umat beriman, “Bunda Maria yang Tersuci senantiasa menjadi penghibur yang penuh kasih bagi mereka yang mengalami berbagai penderitaan, baik fisik maupun moral, yang menyengsarakan serta menyiksa umat manusia. Ia memahami segala sengsara dan derita kita, sebab ia sendiri juga menderita, dari Betlehem hingga Kalvari. 'Dan jiwa mereka pula akan ditembusi sebilah pedang.' Bunda Maria adalah Bunda Rohani kita, dan seorang ibunda senantiasa memahami anak-anaknya serta menghibur dalam penderitaan mereka. Dengan demikian, Bunda Maria mengemban suatu misi istimewa untuk mencintai kita, misi yang diterimanya dari Yesus yang tergantung di Salib, untuk mencintai kita selalu dan senantiasa, dan untuk menyelamatkan kita! Lebih dari segalanya, Bunda Maria menghibur kita dengan menunjuk pada Dia Yang Tersalib dan Firdaus!” (1980). Oleh sebab itu, sementara kita menghormati Bunda Maria, Bunda Dukacita, kita juga menghormatinya sebagai murid yang setia dan teladan kaum beriman. Marilah kita berdoa seperti yang didaraskan dalam doa pembukaan Misa merayakan peringatan ini: “Bapa, sementara PutraMu ditinggikan di atas salib, Bunda-Nya Maria berdiri di bawah kaki salib-Nya, menanggung sengsara bersama-Nya. Semoga Gereja-Mu dipersatukan dengan Kristus dalam Sengsara dan Wafat-Nya, sehingga beroleh bagian dalam kebangkitan-Nya menuju hidup baru.” Dengan meneladani Bunda Maria, semoga kita pun dapat mempersatukan segala penderitaan kita dengan sengsara Kristus, serta menghadapinya dengan gagah berani, penuh kasih dan kepercayaan. sumber : “Straight Answers: Mother of Sorrows” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Devosi Tujuh Duka Santa Perawan Maria

persetujuan resmi Paus Pius VII tahun 1815

PENDAHULUAN TUJUH RAHMAT MANFAAT MADAH STABAT MATER DOLOROSA DOA-DOA DOA KEPADA SP MARIA BERDUKACITA MEDITASI TUJUH DUKA SP MARIA oleh St Alfonsus Maria de Liguori PERINGATAN SP MARIA BERDUKACITA PENDAHULUAN
Tujuan dari Devosi Tujuh Duka Santa Perawan Maria adalah mendorong persatuan dengan sengsara Kristus melalui persatuan dengan sengsara istimewa yang ditanggung Santa Perawan sebab ia adalah Bunda Allah. Dengan mempersatukan diri dengan, baik Sengsara Kristus dan

Dukacita BundaNya yang Tersuci, kita masuk ke dalam Hati Yesus dan menghormatinya dengan terlebih lagi; Yesus dihormati dengan terlebih lagi sebab kita begitu menghormati BundaNya. Tujuh Dukacita Santa Perawan Maria diambil dari peristiwa-peristiwa yang dicatat dalam Kitab Suci. Devosi ini memiliki sejarah yang panjang, meskipun tidak secara resmi disebarluaskan Gereja hingga awal abad kesembilanbelas. Sebelum persetujuan resmi Paus Pius VII, Ordo Servite mendapatkan ijin pada tahun 1668 untuk merayakan Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita; Ordo Servite banyak berupaya dalam mempopulerkan Devosi Tujuh Duka Santa Perawan Maria. Pada Abad Pertengahan, Teologi Katolik memusatkan diri terutama pada Sengsara Kristus; namun demikian, di samping Manusia Sengsara, umat beriman senantiasa juga merenungkan dukacita Ratu Para Martir. Devosi kepada Kristus yang Tersalib dan kepada Santa Perawan Maria Berdukacita berkembang seiring. Di Kalvari, dalam satu pengertian, terdapat dua altar besar, yang satu adalah Tubuh Yesus, dan yang lain adalah Hati Maria yang Tak Bernoda. Kristus mempersembahkan TubuhNya; Bunda Maria mempersembahkan hatinya, jiwanya sendiri. Setiap tanggal 15 September, sehari sesudah Pesta Salib Suci, Gereja mengenangkan belas kasih Santa Perawan Maria dalam Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita; namun tepat juga dalam tahun liturgi, teristimewa dalam Masa Prapaskah, kita menghormati Dukacita Santa Perawan Maria. Maria tidak diceritakan dalam kisah-kisah Injil mengenai Transfigurasi ataupun masuknya Yesus dengan jaya ke Yerusalem, tetapi ia diceritakan ada di Kalvari. Maria memahami benar apa Kehendak Allah dan ia setia serta taat, bekerjasama dengan Putranya sebagai Coredemptrix. Ia telah mempersiapkan kurban bagi persembahan dan sekarang ia mempersembahkan-Nya di altar Kalvari. Injil Yohanes 19:25 mengatakan, “Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.” Atas amanat wasiat Kristus dari atas salib, Bunda Maria dimaklumkan sebagai Bunda seluruh umat manusia. Maria mempunyai tiga kekasih dalam Hatinya yang Tak Bernoda: Tuhan, Putranya, dan jiwa-jiwa. Ia begitu mengasihi dunia hingga ia menyerahkan Putra tunggalnya. Seperti dikatakan St Bernardus, “Pedang tidak akan sampai kepada Yesus apabila ia tidak terlebih dahulu menembusi hati Maria.” Maria mencintai jiwa-jiwa; dan di Kalvari, setelah menanggung sengsara yang begitu keji, ia memperoleh ganjaran menjadi bunda segenap umat manusia. Maria adalah Rasul, sebab ia adalah Co-redemptrix: Lihatlah Maria di Kalvari, ia berduka dan berdoa; ia berdiri, bagaikan seorang yang mempersembahkan kurban.

St Ambrosius mengatakan, “Aku membaca bahwa ia berdiri, tetapi aku tidak membaca bahwa ia menangis.” Ketika Maria menyerahkan Putra tunggalnya bagi kita, ia menyerahkan semuanya bagi kita. Sebab itu, dengan tepat dapat dikatakan: “Lihatlah hati ini yang begitu mengasihi segenap umat manusia hingga tak menyisakan sedikitpun bagi mereka.”

TUJUH RAHMAT DARI DEVOSI INI
1. Aku akan menganugerahkan damai dalam keluarga mereka. 2. Mereka akan mendapatkan pencerahan mengenai misteri-misteri ilahi. 3. Aku akan menghibur mereka dalam kesesakan dan aku akan menyertai mereka dalam karya mereka. 4. Aku akan memberikan apapun yang mereka minta sepanjang tidak bertentangan dengan kehendak Putra ilahiku atau menodai kekudusan jiwa-jiwa mereka. 5. Aku akan membela mereka dalam pertempuran rohani melawan musuh neraka, dan aku akan melindungi mereka di setiap saat hidup mereka. 6. Aku akan memberikan pertolongan yang kelihatan di saat ajal mereka; mereka akan memandang wajah Bunda mereka. 7. Aku memperolehkan rahmat ini dari Putra Ilahiku, bahwa mereka yang menyebarluaskan devosi kepada airmata dan dukacitaku, akan direnggut langsung dari kehidupan duniawi ini ke kebahagiaan surgawi yang abadi, sebab segala dosa mereka telah diampuni, dan Putraku serta aku akan menjadi penghiburan dan sukacita abadi mereka.

MANFAAT DEVOSI KEPADA BUNDA DUKACITA
1. Menyadari nilai suatu jiwa, yang begitu tak ternilai hingga dibayar dengan Kurban Agung di Kalvari. 2. Giat berkarya bagi jiwa-jiwa, melalui pewartaan, menunaikan kewajiban hidup, dan berdoa bagi orang-orang berdosa. 3. Berdoa senantiasa, hidup dalam persatuan dengan Tuhan; siapa pun yang memiliki hati serupa dengan Hati Yesus dan Hati Maria, akan bekerja demi keselamatan jiwa-jiwa. Apabila kita berdosa, kita membuat Santa Perawan berduka, sebab dia adalah sungguh Bunda kita, Bunda rohani kita, dan ia merawat kita seperti merawat Bayinya, lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Adalah kehendak Yesus bahwa kita merenungkan Sengsara-Nya, berdevosi kepada-Nya dan memperbaharui duka kita atas dosa. Adalah kehendak-Nya juga, seperti yang diterangkan dengan jelas oleh Gereja, bahwa kita merenungkan belas kasih Maria dalam Sengsara-Nya. Misa Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita memasukkan madah tradisional, Stabat Mater, yang menurut tradisi syair-syairnya

dimasukkan ke dalam 14 Perhentian Jalan Salib. St Bonaventura dianggap sebagai pencipta madah ini. Kami menyajikannya di bawah ini secara keseluruhan baik dalam bahasa Latin maupun terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia. Di akhir renungan Tujuh Duka, akan kita dapati dua doa kepada Santa Perawan Maria Berdukacita: satu oleh St Bonaventura dan yang lainnya oleh St. Alfonsus Maria de Liguori.

STABAT MATER DOLOROSA

LATIN Stabat mater dolorosa iuxta crucem lacrimosa dum pendebat filius cuius animam gementem contristantem et dolentem pertransivit gladius quam tristis et afflicta fuit illa benedicta mater unigenti quae maerebat et dolebat et tremebat dum videbat nati poenas incliti Quis est homo qui no fleret matrem Christi si videret in tanto supplicio Quis non posset contristari piam matrem contemplari dolentem cum filio Pro peccatis suae gentis vidit Iesum in tormentis et flagellis subditum vidit suum dulcem natum morientem desolatum dum emisit spiritum Eia mater fons amoris Me sentire vim doloris fac ut tecum lugeam Fac ut ardeat cor meum in amando Christum Deum ut sibi complaceam Sancta mater istud agas crucifixi fige plagas cordi meo valide tui nati vulnerati tam dignati pro me pati poenas mecum divide Fac me vere tecum flere crucifixo condolere donec ego vixero

INDONESIA Dekat Salib, berdiri Bunda yang berduka berurai airmata, dekat dengan Yesus, akhirnya. Walau sukacita jiwa telah sirna, didera derita, dirundung duka, masih pula sebilah pedang menembusinya. Oh betapa pilu dan pedih. Adakah itu Bunda yang terberkati, dari seorang Putra yang tunggal! Wahai ratapan bisu yang tak kunjung henti, wahai mata pudar, yang tak pernah lagi bersinar dari Putra menawan yang penuh sengsara! Bunda Kristus yang terkasih memandang, dalam sengsaranya yang sungguh dahsyat, Siapakah yang lahir dari seorang perempuan yang tidak akan menangis? Bunda Kristus yang terkasih merenungkan, piala sengsara yang harus direguknya, adakah yang tak hendak berbagi sengsara dengannya? Oleh sebab dosa-dosa bangsa-Nya sendiri, ia melihat-Nya tergantung dalam kehinaan hingga Ia menyerahkan RohNya; dihancur-binasakan, dinistakan, dikutuk, dihujat; ia memandang Putranya yang lemah lembut, sekujur tubuh-Nya terkoyak payah berlumuran darah akibat penderaan. Wahai, engkau Bunda sumber belas kasih. Sentuhlah rohku dari atas sana, jadikan hatiku serupa hatimu. Buatlah aku merasa seperti engkau merasa; buatlah jiwaku bernyala-nyala dan lebur dalam kasih Kristus, Tuhan-ku. Bunda Tersuci, tembusilah hatiku. Dalam hatiku, biarlah setiap luka memulihkan Juruselamat-ku yang tersalib. Perkenankanlah aku berbagi bersamamu sengsara-Nya; Ia, yang dihukum mati demi dosa-dosaku, Ia, yang wafat disiksa demi aku. Perkenankanlah airmataku berbaur dengan airmatamu, meratapi Dia yang meratapi aku, setiap hari sepanjang masa hidupku.

sumber : “The Seven Dolors”; Catholic Tradition; www.catholictradition.org Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Tradition”

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful