P. 1
KAJIAN PUSTAKA

KAJIAN PUSTAKA

|Views: 62|Likes:
Published by anon_173604383
NAMA : QODRIYATUL.A. NIM : 07302241036
PEMBBIMBING I : A.ABU HAMID,M.Pd
PEMBIMBING II : RAHAYU DWI SIWI RETNOWATI,M.Pd
NAMA : QODRIYATUL.A. NIM : 07302241036
PEMBBIMBING I : A.ABU HAMID,M.Pd
PEMBIMBING II : RAHAYU DWI SIWI RETNOWATI,M.Pd

More info:

Published by: anon_173604383 on Jul 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/04/2012

pdf

text

original

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori dan Penelitian yang Relevan

1. Kualitas Siswa

Kualitas siswa ditunjukkan oleh tiga hal yaitu

a. Output berupa hasil ujian akhir b. Produk berupa karya c. Outcome berupa pekerjaan yang diperoleh siswa setelah lulus sekolah

Pada kurikulum KTSP kriteria kualitas siswa ditunjukkan oleh empat ranah yang secara eksplisit keempat ranah tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Keempat ranah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

(1) Ranah Iman dan Taqwa

Pendidikan modern telah mempengaruhi peserta didik dari berbagai arah sehingga merasuki jiwa generasi penerus. Oleh karena itu, kita harus pandai membina jiwa generasi mendatang dengan menanamkan nilai-nilai keimanan pada nalar, fikir, dan akal budi mereka supaya mereka selamat dari pengaruh negatif pendidikan modern.

Ranah iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan aspek yang berhubungan selain kepada sesama manusia yaitu kepada Tuhan atau Sang Pencipta agar kehidupan kita selalu di jalan yang benar. Ranah iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa telah dimulai sejak berabad - abad yang lalu.

8

9

Contoh sederhana penanaman ranah ini adalah pada saat masih kecil kita selalu di tuntun menjadi pribadi yang baik melalui arahan agama atau ranah iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kehidupan yang kita jalani menjadi lurus dan terarah. Undang ± Undang Dasar (UUD) 1945 (amandemen) menjelaskan bahwa pengembangan pendidikan nasional diorientasikan ³ «..untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa´ (Pasal 31 Ayat 3) dan ³ «. Memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai ± nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia´ (Pasal 31 Ayat 5). Di dalam pembelajaran Fisika ranah ini bertujuan agar siswa dapat membuktikan kebenaran ± kebenaran ajaran Tuhan Yang Maha Esa dengan pendekatan Fisika. Tabel 1 Taksonomi Tujuan Pendidikan Ranah Spiritual No 1. 2. Tingkat Mengagumi (admiring) Meyakini (believing) Kemampuan/tingkah-laku Mengagumi alam dan isinya Meyakini adanya Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam Kata kerja Operasional Mengungkapkan rasa kagum (misal mengucapkan Subhanallah). Meng-Esakan Allah SWT (misal mengucapkan tahlil Laa ilaaha illallaah, mengucapkan kalimat sahadat) Menyadari dirinya sebagai hamba Allah SWT Tidak menyekutukan Allah SWT

3.

Mentaati aturan Allah Mentaati perintah-Nya SWT, Tuhan seru sekalian Menjauhi larangan-Nya alam Mencegah perbuatan mungkar Mengendalikan nafsu Memohon ampun jika melanggar aturan-Nya (misal mengucapkan Astaghfirullaahal¶azhiim) 4. Menyelaraskan Menyelaraskan diri dengan Meluhurkan Asma-Nya (misal diri sifat-sifat Allah SWT mengucapkan takbir Allahu Akbar, (synchronizing) mengucapkan Asmaulhusna) Menyelaraskan tindakannya sesuai sifat-sifat-Nya Berbudi luhur (mulia) (Prof.Dr.Jumadi,M.Pd : 2009 : 16)

Mentaati (obeying)

10

Implikasi adanya taksonomi tujuan pendidikan ranah spiritual dalam teknologi pembelajaran Fisika adalah perlunya reorientasi, revitalisasi, dan rekonstruksi (1) standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam kurikulum (2) proses pembelajaran di kelas; dan (3) evaluasi pembelajaran; agar mengakomodasi dan sejalan (sinkron) dengan tujuan pendidikan ranah spiritual. (Prof.Dr.Jumadi,M.Pd : 2009:26)

(2) Ranah Kognitif

Ranah kognitif lebih menekankan pada teori dan selalu mengandung ranah afektif.Tujuan ranah kognitif bersudut pandang pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan

kecerdasan yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa pemikiran, pendapat, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut. Menurut taksonomi Bloom yang telah direvisi ranah kognitif terdiri atas enam tingkatan yaitu: (a) tingkat pengetahuan (knowledge)

Tahap ini menuntut siswa untuk mampu mengingat (recall) berbagai informasi yang telah diterima sebelumnya. Misalnya : menyatakan rumus, terminology, dan strategi pemecahan masalah.

(b) tingkat pemahaman (comprehension)

Pada tahap ini tingkat pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk menjelaskan pengetahuan, berita yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri, menerjemahkan, dan menyebutkan kembali yang telah didengar dengan kata-kata sendiri.

11

(c) tingkat penerapan (application)

Penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari ke keadaan yang baru, serta memecahkan berbagai masalah .

(d) tingkat analisis (analysis)

Analisis

merupakan

kemampuan mengidentifikasi,

memisahkan,

dan

membedakan

komponen-komponen atau elemen suatu fakta, konsep, pendapat, acuan, dugaan, kesimpulan, dan memeriksa setiap komponen tersebut untuk melihat ada atau tidaknya kontradiksi. Dalam tingkat ini peserta didik diharapkan menunjukkan hubungan di antara berbagai gagasan dengan cara membandingkan gagasan tersebut dengan standar, prinsip atau prosedur yang telah dipelajari. (e) tingkat evaluasi (evaluation)

Evaluasi mengharapkan peserta didik mampu membuat penilaian dan keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode, produk atau benda dengan menggunakan kriteria tertentu. Apabila melihat kenyataan yang ada dalam sistem pendidikan yang diselenggarakan, pada umumnya baru menerapkan beberapa aspek kognitif tingkat rendah, seperti pengetahuan dan pemahaman. Sedangkan tingkat analisis, sintesis, dan evaluasi jarang sekali diterapkan. Apabila semua tingkat kognitif diterapkan secara merata dan terus-menerus maka hasil pendidikan akan lebih baik.

(f) kreatif

Kemampuan berfikir kreatif merupakan kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah. Oleh karena itu, pemikiran kreatif perlu

12

dilatih agar anak mampu berpikir lancar (fluency) dan luwes (flexibility), mampu melihat masalah dari berbagai sudut pandang, dan mampu melahirkan berbagai ide.

Kreativitas memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam era globalisasi ini tak dapat dipungkiri bahwa kesejahteraan dan kejayaan masyarakat dan negara kita bergantung pada sumbangan kreatif, berupa ide-ide baru, penemuan-penemuan baru, dan teknologi baru dalam anggota masyarakat. Disamping itu, berfikir kreatif dan kritis memungkinkan siswa untuk mempelajari masalah secara sistematis, menghadapi berjuta tantangan dengan cara yang terorganisasi, merumuskan pertanyaan inovatif, dan merancang solusi orisinal

Kreativitas dapat muncul di sekolah ± sekolah dengan syarat adanya keselamatan psikologis (psychological safety) dan kebebasan psikologis (psychological freedom).Artinya, sekolah harus benar-benar memberi jaminan akan eksistensi para siswa dilihat dari aspek psikologis mereka.

Metode dan teknik-teknik kreatif membantu peserta didik untuk berfikir dan mengungkapkan diri secara kreatif, yaitu mampu memberikan macam-macam ide dan macammacam jawaban dari suatu masalah dan sekaligus dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik.

13

Gambar 1 Pembagian domain kognitif menurut Taksonomi Bloom yang telah direvisi

(Abihasna : http://www.squidoo.com/cara-berpikir-kreatif : 21 Juni 2011, Jimmy wales, Larry sanger dkk : http://id.wikipedia.org/wiki/Kreativitas : 21 Juni 2011, Kurnia septa : http://kurniasepta.blogdetik.com/ciri-ciri-orang-yang-kreatif/ : 23 Juni 2011). (3) Ranah Afektif

B.S. Bloom membagi ranah afektif (affective domain) menjadi lima tingkatan yaitu :

(a) penerimaan

Mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan rangsangan itu, seperti buku pelajaran atau penjelasan yang diberikan oleh guru.

(b) partisipasi

Mencakup kerelaan untuk memperhatikan secara aktif dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan.

14

(c) penilai/penentuan sikap

Mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaian itu.

(d) organisasi

Mencakup kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan.

(e) pembentukan pola hidup

Mencakup kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan sedemikian rupa, sehingga menjadi milik pribadi (internalisasi) dan menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur kehidupannya sendiri. Sistematika yang dipakai adalah melalui fase pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, evaluasi, dan hasil.

(Sumber : Jimmy Wales, Larry Sanger dkk :http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom:21 Juni 2011)

Penekanan perkembangan ranah afektif adalah bagaimana perasaan anak, bukan

apa yang

dirasakan oleh anak. Dengan kata lain yang menjadi pertanyaan utama adalah bagaimana perasaan atau emosi berubah atau bagaimana afeksi ditransformasikan. Dengan demikian pendekatan yang dipakai lebih bersifat pedagogis (melihat dari bagaimana metode pengajarannya), karena mengutamakan aspek transfer of values.

Kompetensi siswa dalam ranah afektif yang perlu dinilai utamanya menyangkut sikap dan minat siswa dalam belajar. Secara teknis penilaian ranah afektif dilakukan melalui dua hal yaitu: (1) laporan diri oleh siswa yang biasanya dilakukan dengan pengisian angket anonim

15

(2) pengamatan sistematis oleh guru terhadap ranah afektif siswa dan perlu lembar pengamatan.

(4) Ranah Psikomotorik

Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dari enam aspek, yaitu: gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretative.Ranah ini dapat difasilitasi lewat adanya praktikum-praktikum dengan tujuan terbentuknya keterampilan eksperimental.

Ranah psikomotorik terdiri dari tujuh tingkatan yaitu :
(a) persepsi

Berhubungan dengan penggunaan untuk memperoleh petunjuk yang membimbing kegiatan motorik.Persepsi dapat dipengaruhi oleh faktor yang terletak dalam diri pembentuk persepsi, dalam diri objek, atau dalam situasi di mana persepsi tersebut dibuat.

Teori hubungan adalah usaha ketika individu-individu mengamati perilaku untuk menentukan apakah hal ini disebabkan secara internal atau eksternal. Persepsi selektif adalah menginterpretasikan secara selektif apa yang dilihat seseorang berdasarkan minat, latar belakang, pengalaman, dan sikap seseorang.

Efek halo adalah membuat sebuah gambaran umum tentang seseorang berdasarkan sebuah karakteristik. Ketika membuat sebuah kesan umum tentang seorang individu berdasarkan sebuah karakteristik, seperti kepandaian, keramahan, atau penampilan, efek halo sedang bekerja. Kenyataan akan efek halo diperkuat dalam sebuah penelitian yaitu saat para pelaku diberi daftar

16

sifat seperti pandai, mahir, praktis, rajin, tekun, dan ramah, kemudian diminta untuk mengevaluasi individu dengan sifat-sifat tersebut diberlakukan. Ketika sifat-sifat itu digunakan, individu tersebut dinilai bijaksana, humoris, populer, dan imajinatif. Ketika daftar yang sama dimodifikasi diperoleh serangkaian persepsi yang sama sekali berbeda.

Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh oleh indera menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis yaitu persepsi visual, persepsi auditori, persepsi perabaan, persepsi penciuman, dan persepsi pengecapan

(b) kesiapan (set)

Kesiapan berkenaan dengan sesuatu kesiapsediaan yang meliputi kesiapan mental, fisik, dan emosi untuk melakukan suatu kegiatan keterampilan (gerakan) sebagai langkah setelah persepsi. (c) respon terpimpin Merupakan langkah permulaan dalam mempelajari keterampilan yang kompleks. (d) mekanisme Adalah suatu penampilan keterampilan yang sudah terbiasa atau bersifat mekanis dan gerakan-gerakan yang dilakukan dengan penuh keyakinan, mantap, tertib, santun, dan sempurna.

(e) respon tampak yang kompleks (complex overt response)

Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks. Gerakan kompleks mencakup kemampuan untuk melaksanakan suatu keterampilan, yang terdiri atas beberapa komponen dengan lancar, tepat, dan efisien. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam suatu rangkaian perbuatan yang berurutan dan menggabungkan beberapa subketerampilan menjadi suatu keseluruhan gerak-gerik yang teratur.

17

(f)

penyesuaian (adaptation) Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.

Adaptasi ini mencakup kemampuan untuk mengadakan perubahan dan menyesuaikan pola gerak-gerik dengan kondisi setempat atau dengan menunjukkan taraf keterampilan yang telah mencapai kemahiran. (g) penciptaan (origination) Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan tertentu. Penciptaan atau kreativitas adalah mencakup kemampuan untuk melahirkan aneka pola gerakgerik yang baru, seluruhnya atas dasar prakarsa dan inisiatif sendiri. (Sumber : Jimmy Wales, Larry Sanger dkk :http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom: 21 Juni 2011)

Hasil belajar keterampilan (psikomotor) dapat diukur melalui (a) pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung, (b) sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap, (c) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya.

2. PAIKEM

a. Pengertian

PAIKEM adalah singkatan dari pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan .

18

Kelima aspek tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

(1) Aktif

Aktif artinya dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa gemar bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Di dalam implementasinya, seorang guru harus merancang dan melaksanakan kegiatan-kegiatan atau strategi-strategi yang memotivasi siswa berperan secara aktif di dalam proses pembelajaran.

(2) Inovatif

Salah satu cara membangun metode pembelajaran inovatif yaitu dengan mengakomodir setiap karakteristik diri. Artinya, mengukur daya kemampuan serap ilmu masing-masing orang.Misal : sebagian orang ada yang berkemampuan dalam menyerap ilmu dengan menggunakan visual atau mengandalkan kemampuan penglihatan, auditory atau kemampuan mendengar, dan

kinestetik.Akan tetapi, hal tersebut harus disesuaikan pula dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang akan mengakibatkan proses renovasi mental, diantaranya membangun rasa percaya diri siswa.

(3) Kreatif

Kreatif dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.

Pembelajaran PAIKEM juga dirancang untuk mampu mengembangkan kreativitas. Pebelajar haruslah memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, inisiatif, dan kreativitas serta kemandirian siswa sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologisnya.

19

Kemandirian dan kemampuan pemecahan masalah merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh semua bentuk pembelajaran. Dengan dua bekal itu setiap orang akan mampu belajar sepanjang hidupnya. Ciri seorang pebelajar yang mandiri adalah mampu secara cermat meramalkan situasi pembelajaran tertentu yang sedang dihadapinya, mampu memilih strategi belajar tertentu untuk menyelesaikan masalah belajarnya, memonitor keefektifan strategi tersebut, dan termotivasi untuk terlibat dalam situasi belajar tersebut sampai masalahnya terselesaikan.

(4) Efektif

Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, maksudnya tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.

Banyak orang beranggapan bahwa berbagai strategi pembelajaran inovatif termasuk PAIKEM seringkali tidak efisien (memakan waktu lebih lama) dibandingkan dengan pembelajaran tradisional/konvensional. Hal tersebut tentu amat mudah dipahami, dalam pembelajaran PAIKEM banyak hasil belajar yang dicapai sehingga memerlukan waktu yang lama, sementara pada pembelajaran tradisional hasil belajar yang dicapai hanya pada tataran kognitif saja.

(5) Menyenangkan

Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (³time

20

on task´) tinggi. Istilah menyenangkan berarti seluruh komponen fisik dan non fisik kita bebas dari tekanan. Istilah menyenangkan berarti kita berada dalam keadaan yang amat rileks, tidak ada sama sekali ketegangan yang mengancam pada sudut ± sudut terkecil dalam diri fisik dan non fisik kita.Istilah menyenangkan juga berarti diri kita berada dalam keadaan yang benar-benar lepas dan bebas sehingga suasana santai dan menyenangkan ini merupakan suasana yang

kondusif untuk terjadinya interaksi antar peserta didik maupun antara peserta didik dengan lingkungannya.

Menurut penelitian anak-anak menjadi berminat untuk belajar jika topik yang dibahas sedapat mungkin dihubungkan dengan pengalaman mereka dan disesuaikan dengan alam berfikir mereka. Yang dimaksudkan adalah bahwa pokok bahasannya dikaitkan dengan pengalaman siswa sehari-hari dan disesuaikan dengan dunia mereka dan bukan dunia guru sebagai orang dewasa. Apa lagi jika disesuaikan dengan kebiasaan mereka dalam belajar.

Secara garis besar, PAIKEM dapat digambarkan sebagai berikut:

(1) siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. (2) guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa. (3) guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan µpojok baca¶ (4) guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.

21

(5) guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

PAIKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama KBM. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut.

SISWA

Proses Pembelajaran

LULUSAN

Pembelajaran PAIKEM

Gambar 2. Alur penerapan PAIKEM di dalam proses pembelajaran

b.

Pemahaman Proses Pembelajaran dengan PAIKEM

Pengalaman nyata dari lingkungan sekitar menunjukkan bahwa minat dan prestasi siswa dalam bidang sains meningkat secara drastis pada saat mereka dibantu untuk membangun keterkaitan antara informasi (pengetahuan) baru dengan pengalaman (pengetahuan lain) yang telah mereka miliki atau mereka kuasai.

Pembelajaran sebaiknya dimulai dari masalah ± masalah aktual, otentik, relevan, dan bermakna bagi siswa.Pembelajaran yang berbasis subjek seringkali tidak relevan dan tidak

22

bermakna bagi siswa sehingga tidak menarik perhatian siswa.Pembelajaran yang dibangun berdasarkan subjek seringkali terlepas dari kejadian aktual di masyarakat.Akibatnya siswa tidak dapat menerapkan konsep/teori yang dipelajarinya di dalam kehidupan nyata.Dengan pembelajaran yang di mulai dari masalah maka siswa belajar suatu konsep atau teori dan prinsip sekaligus memecahkan masalah.Dengan demikian sekurang-kurangnya ada dua hasil belajar yang dicapai, yaitu jawaban terhadap masalah (produk) dan cara memecahkan masalah (proses).

Kemampuan tentang pemecahan masalah lebih dari sekedar akumulasi pengetahuan dan hukum/teori, tetapi merupakan perkembangan kemampuan fleksibilitas, strategi kognitif yang membantu mereka menganalisis situasi tak terduga dan mampu menghasilkan solusi yang bermakna.

Strategi PAIKEM merupakan pendekatan dalam proses belajar mengajar yang bila diterapkan secara tepat berpeluang dalam meningkatkan maksimalisasi pengaruh fisik terhadap jiwa, maksimalisasi pengaruh jiwa terhadap proses psikofisik dan psikososial, dan bimbingan kearah pengalaman kehidupan sehari-hari. Pembelajaran dilandasi strategi yang berprinsip pada:

(1)

berpusat pada peserta didik

Ciri-cirinya : (a) siswa aktif (b) komunikasi lebih dari satu arah (c) pertanyaan terbuka (d) menemukan jawaban sendiri

23

(e) belajar kooperatif (f) terjadi interaksi sosial (g) siswa belajar membuat keputusan (h) belajar mencari makna (oh ternyata begitu, aku ngerti sekarang«) (i) guru sebagai fasilitator (j) siswa memahami konsep melalui apa yang dikerjakannya (k) pengalaman siswa digunakan sebagai dasar untuk belajar hal yang baru (l) yang saya dengar, saya lupa (m) yang saya lihat, saya ingat (n) yang saya kerjakan, saya pahami

(2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

mengembangkan kreativitas peserta didik suasana yang menarik, menyenangkan, dan bermakna prinsip Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan menyenangkan (PAIKEM) mengembangkan beragam kemampuan yang bermuatan nilai dan makna belajar melalui berbuat, peserta didik aktif berbuat. menekankan pada penggalian, penemuan, dan penciptaan. pembelajaran dalam situasi nyata dan konteks sebenarnya. menggunakan pembelajaran tuntas di sekolah.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran PAIKEM antara lain :

(1) faktor internal

(a) bakat, kecerdasan, (intelektual, emosional, dan spiritual)

24

(b) minat, motivasi, sikap (c) latar belakang ekonomi, sosial budaya

(2) faktor eksternal (a) tujuan pembelajaran, materi (b) strategi, metode, dan media pembelajaran (c) pengorganisasian kelas, penguatan reinforcement, iklim sosial dalam kelas (d) waktu yang tersedia, sistem, dan teknik evaluasi (e) sikap guru dan upaya menangani kesulitan belajar siswa

25

Tabel 2. Beberapa contoh kegiatan KBM dengan PAIKEM dan kemampuan guru yang besesuaian.
Kemampuan Guru Kegiatan Belajar Mengajar Guru melaksanakan KBM dalam kegiatan yang beragam, misalnya: percobaan diskusi kelompok memecahkan masalah mencari informasi menulis laporan berkunjung keluar kelas

Guru merancang dan mengelola KBM yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran

y y y y y y

Sesuai mata pelajaran, guru menggunakan, misalnya: alat yang tersedia atau yang dibuat sendiri gambar studi kasus nara sumber lingkungan

Guru menggunakan alat bantu dan sumber yang beragam.

y y y y y

Siswa: Melakukan percobaan dan pengamatan Mengumpulkan data/jawaban dan mengolahnya sendiri Menarik kesimpulan Memecahkan masalah, mencari rumus sendiri. Menulis laporan hasil karya orang lain dengan kata-kata sendiri. Melalui: Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan

Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan

y y y y y

y y y

Diskusi Lebih banyak pertanyaan terbuka Hasil karya anak sendiri

Siswa dikelompokkan sesuai dengan kemampuan (untuk kegiatan tertentu) Guru menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa Bahan pelajaran disesuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut. y Siswa diberi tugas perbaikan atau pengayaan.

y Siswa menceritakan atau memanfaatkan pengalamannya sendiri. Guru mengaitkan KBM dengan pengalaman siswa y Siswa menerapkan hal yang dipelajari dalam kegiatan sehari-hari sehari-hari. y Guru memantau kerja siswa. Menilai KBM dan kemajuan belajar siswa secara y Guru memberikan umpan balik. terus-menerus

(Mochammad Haikal : http://www.scribd.com/doc/32572123/1-PAIKEM : 28 Mei 2011)

26

c.

Pembelajaran PAIKEM

Untuk dapat menghasilkan sistem pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan sebaiknya kita mengenal lebih jauh tentang beberapa metode mengajar yang ada, diantaranya yaitu :

(1) Metode Eksperimen

Ada beberapa definisi metode eksperimen yaitu :

(a) Metode eksperimen adalah metode pengajaran dengan guru dan murid bersama-sama mengerjakan sesuatu sebagai latihan praktis dari yang telah diketahui (misalnya : mengadakan eksperimen tentang menemukan rumus energi potensial dan energi kinetik yang diperoleh dari gerak jatuh bebas). (b) Metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami sendiri sesuatu yang dipelajari. (Djamarah, 2002:95) (c) Metode Eksperimen adalah metode yang bertitik tolak dari suatu masalah yang hendak dipecahkan dan dalam prosedur kerjanya berpegang pada prinsip metode ilmiah. (Al-farisi, 2005:2) (d) Menurut Schoenherr (1996) metode eksperimen adalah metode yang sesuai untuk pembelajaran sains, karena metode eksprimen mampu memberikan kondisi belajar yang dapat mengembangkan kemampuan berfikir dan kreativitas secara optimal. Siswa diberi kesempatan untuk menyusun sendiri konsep-konsep dalam struktur kognitifnya, selanjutnya dapat diaplikasikan dalam kehidupannya. (Palendeng:2003:81)

Pembelajaran dengan metode eksperimen meliputi tahap-tahap sebagai berikut :

27

(a)

percobaan awal, pembelajaran diawali dengan melakukan percobaan yang didemonstrasikan guru atau dengan mengamati fenomena alam. Demonstrasi ini menampilkan masalah-masalah yang berkaitan dengan materi fisika yang akan dipelajari.

(b)

pengamatan, merupakan kegiatan siswa saat guru melakukan percobaan. Siswa diharapkan untuk mengamati dan mencatat peristiwa tersebut.

(c)

hipotesis awal, siswa dapat merumuskan hipotesis sementara berdasarkan hasil pengamatannya.

(d)

verifikasi , kegiatan untuk membuktikan kebenaran dari dugaan awal yang telah dirumuskan dan dilakukan melalui kerja kelompok. Siswa diharapkan merumuskan hasil percobaan dan membuat kesimpulan, selanjutnya dapat dilaporkan hasilnya.

(e)

aplikasi konsep , setelah siswa merumuskan dan menemukan konsep, hasilnya diaplikasikan dalam kehidupannya. Kegiatan ini merupakan pemantapan konsep yang telah dipelajari.

(f)

evaluasi,

merupakan

kegiatan

akhir

setelah

selesai

satu

konsep.

(Palendeng:2003:82)

Prosedur eksperimen adalah :

(a) perlu dijelaskan kepada siswa tentang tujuan eksprimen, mereka harus memahami masalah yang akan dibuktikan melalui eksprimen.

(b) memberi penjelasan kepada siswa tentang alat-alat serta bahan-bahan yang akan dipergunakan dalam eksperimen, hal-hal yang harus dikontrol dengan ketat, urutan eksperimen, dan hal-hal yang perlu dicatat.

28

(c) selama eksperimen berlangsung guru harus mengawasi pekerjaan siswa. Bila perlu memberi saran atau pertanyaan yang menunjang kesempurnaan jalannya eksperimen.

(d) setelah eksperimen selesai guru harus mengumpulkan hasil penelitian siswa, mendiskusikan di kelas, dan mengevaluasi dengan tes atau tanya jawab.(Roestiyah :2001:81) Agar penggunaan metode eksperimen itu efisien dan efektif, maka perlu diperhatikan halhal sebagai berikut :

(a) dalam eksperimen setiap siswa harus mengadakan percobaan, maka jumlah alat dan bahan atau materi percobaan harus cukup bagi tiap siswa.

(b) agar eksperimen itu tidak gagal dan siswa menemukan bukti yang meyakinkan atau mungkin hasilnya tidak membahayakan, maka kondisi alat dan mutu bahan percobaan yang digunakan harus baik dan bersih.

(c) dalam eksperimen siswa perlu teliti dan konsentrasi dalam mengamati proses percobaan , maka perlu adanya waktu yang cukup lama, sehingga mereka menemukan pembuktian kebenaran dari teori yang dipelajari itu.

(d) siswa dalam eksperimen adalah sedang belajar dan berlatih , maka perlu diberi petunjuk yang jelas, sebab mereka disamping memperoleh pengetahuan, pengalaman serta keterampilan, juga kematangan jiwa dan sikap perlu diperhitungkan oleh guru dalam memilih objek eksperimen itu.

(e) tidak semua masalah bisa dieksperimenkan, seperti masalah mengenai kejiwaan, beberapa segi kehidupan sosial dan keyakinan manusia. Kemungkinan lain karena sangat

29

terbatasnya suatu alat, sehingga masalah itu tidak bisa diadakan percobaan karena alatnya belum ada.

Dalam metode eksperimen, guru dapat mengembangkan keterlibatan fisik dan mental, serta emosional siswa. Keterlibatan fisik dan mental serta emosional siswa diharapkan dapat diperkenalkan pada suatu cara atau kondisi pembelajaran yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan perilaku yang inovatif dan kreatif.Selain itu, siswa mendapat kesempatan untuk melatih keterampilan proses agar memperoleh hasil belajar yang maksimal.

Pembelajaran dengan metode eksperimen melatih dan mengajar siswa untuk belajar konsep Fisika sama halnya dengan seorang ilmuwan Fisika. Siswa belajar secara aktif dengan mengikuti tahap-tahap pembelajarannya. Dengan demikian, siswa akan menemukan sendiri konsep sesuai dengan hasil yang diperoleh selama pembelajaran.

Hal ± hal yang berlaku pada metode eksperimen /metode perbedaan (method of difference) yaitu :

(a) variabel tunggal dapat diterapkan pada suatu keadaan yang ditaksir. (b) paling sedikit satu kondisi yang dapat dimanipulasi, kondisi yang lain konstan, dan kemudian pengaruh perbedaan kondisi satu variabel tersebut dapat diukur. (c) pemanipulasian variabel merupakan karakteristik yang membedakan dengan penelitian lain.

Karakteristik metode eksperimen yaitu :

(a) variabel bebas adalah variabel yang dimanipulasi. (b) semua variabel kecuali variabel terikat adalah konstan.

30

(c) pengaruh pemanipulasian variabel bebas atas variabel terikat dapat diamati atau dapat diukur.

Langkah-langkah dasar metode eksperimen yaitu :

(a) identifikasi (b) penyeleksian (c) pendefinisian masalah (d) penyusunan hipotesis (e) penyeleksian subyek-subyek dan alat ukur (f) pemilihan rancangan yang akan digunakan (g) pelaksanaan prosedur (h) penganalisisan data dan penyusunan kesimpulan (i) hindari kesalahan dengan tidak memberikan perlakuan pada kelompok kontrol (j) jenis kelamin, kemampuan mental, status sosial-ekonomi termasuk variabel yang tidak dapat dimanipulasi karena bukan variabel aktif (k) subyek variabel manipulative yaitu dapat ditetapkan secara acak (disebut variabel aktif)

Ancaman validitas metode eksperimen yaitu :

(a) eksperimen valid bila hasil yang diperoleh semata-mata disebabkan oleh pemanipulasian variabel bebas dan memperoleh hasil yang sama bila dilakukan di luar situasi eksperimen

31

(b) validitas internal mengarah pada suatu kondisi bahwa perbedaan yang diamati pada variabel terikat adalah semata-mata hasil langsung dari pemanipulasian variabel bebas, bukan dari variabel-variabel lain.

Ancaman validitas internal pada metode eksperimen yaitu :

(a) sejarah, beberapa peristiwa dapat terjadi selama eksperimen (yang bukan bagian dari perlakuan) sehingga mengakibatkan perubahan serius pada variabel terikat. (b) kematangan, proses psikologis atau biologis yang secara sistematis bervariasi sesuai dengan perjalanan waktu, serta bebas dari kejadian eksternal khusus. (c) pengujian, peningkatan prestasi subyek pada pascauji yang merupakan fungsi dari prauji, dan bukan karena perlakuan eksperimental (dikontrol dengan tidak memberikan prauji atau dengan bentuk ujian lain).

Metode eksperimen tepat dipergunakan :

(a) apabila akan memberikan keterampilan tertentu. (b) untuk memudahkan berbagai jenis penjelasan, sebab penggunaan bahasa lebih terbatas. (c) untuk menghindari verbalisme. (d) untuk membantu anak memahami dengan jelas jalannya suatu proses dengan penuh perhatian, sebab lebih menarik.

Penggunaan metode eksperimen adalah :

(a) untuk menjawab pertanyaan ³Bagaimana cara mengatur sesuatu ?´

32

(b) untuk menjawab pertanyaan ³Bagaimana membuatnya ?" (c) untuk menjawab pertanyaan ³Bagaimana bekerjanya ?´ (d) untuk menjawab pertanyaan ³Bagaimana mengerjakannya ?´ (e) untuk menjawab pertanyaan ³Cara manakah yang lebih baik ?´ (f) untuk menjawab pertanyaan ³Terdiri dari apa ?´ (g) untuk mengetahui ³kebenaran dari sesuatu´ Segi keunggulan metode eksperimen yaitu :

(a) dengan metode ini anak-anak dapat menghayati dengan sepenuh hatinya mengenai pelajaran yang diberikan. (b) memberikan pengalaman praktis yang dapat membentuk perasaan dan kemauan anak. (c) perhatian anak akan terpusat kepada apa yang dieksperimenkan. (d) dengan metode ini sekaligus masalah-masalah yang mungkin timbul dalam hati anak-anak dapat langsung terjawab. (e) akan mengurangi kesalahan dalam mengambil kesimpulan, karena anak mengamati langsung terhadap suatu proses.

Segi negatif metode eksperimen yaitu :

(a) dalam pelaksanaan metode eksperimen biasanya memerlukan waktu yang banyak (panjang).

33

(b) apabila sarana peralatan kurang memadai atau alat-alatnya tidak sesuai dengan kebutuhan, maka metode ini kurang efektif. (c) metode ini sukar dilaksanakan apabila anak belum matang untuk melaksanakan eksperimen. (d) banyak hal-hal yang tidak dapat dieksperimenkan di dalam kelas. Saran-saran pelaksanaan metode eksperimen :

(a) metode eksperimen hendaknya dilakukan dalam hal-hal yang bersifat praktis dan urgen dalam masyarakat. (b) hendaknya metode eksperimen diarahkan agar murid-murid dapat memperoleh pengertian yang lebih jelas, pembentukan sikap serta kecakapan praktis. (c) hendaknya diusahakan agar semua anak dapat mengikuti eksperimen dengan jelas (pengaturan ruang dan tempat duduk) (d) sebagai pendahuluan, berilah pengertian sejelas-jelasnya landasan teori dari apa yang akan dieksperimenkan.

(2) Metode Ceramah

Metode ceramah adalah penuturan bahan pelajaran secara lisan. Metode ini senantiasa bagus bila penggunaannya betul-betul disiapkan dengan baik, didukung alat dan media serta

34

memperhatikan batas-batas kemungkinan penggunaannya. Metode ceramah merupakan metode yang sampai saat ini sering digunakan oleh setiap guru atau instruktur. Hal ini selain disebabkan oleh beberapa pertimbangan tertentu, juga adanya faktor kebiasaan baik dari guru atau pun siswa. Guru biasanya belum merasa puas manakala dalam proses pengelolaan pembelajaran tidak melakukan ceramah. Demikian juga dengan siswa, mereka akan belajar manakala ada guru yang memberikan materi pelajaran melalui ceramah, sehingga ada guru yang berceramah berarti ada proses belajar dan tidak ada guru berarti tidak ada belajar. Ada beberapa kelebihan sebagai alasan mengapa ceramah sering digunakan yaitu : (a) ceramah merupakan metode yang ¶murah¶ dan ¶mudah¶ untuk dilakukan. Murah dalam arti proses ceramah tidak memerlukan peralatan-peralatan yang lengkap, berbeda dengan metode yang lain seperti demonstrasi atau peragaan.Mudah berarti ceramah hanya

mengandalkan suara guru, dengan demikian tidak terlalu memerlukan persiapan yang rumit. (b) ceramah dapat menyajikan materi pelajaran yang luas. Artinya, materi pelajaran yang banyak dapat dirangkum atau dijelaskan pokok-pokoknya oleh guru dalam waktu singkat. (c) ceramah dapat memberikan pokok-pokok materi yang perlu ditonjolkan. Artinya, guru dapat mengatur pokok-pokok materi yang mana yang perlu ditekankan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. (d) melalui ceramah, guru dapat mengontrol keadaan kelas, oleh karena sepenuhnya kelas merupakan tanggung jawab guru yang memberikan ceramah.

35

(e) organisasi kelas dengan menggunakan ceramah dapat diatur menjadi lebih sederhana. Ceramah tidak memerlukan setting kelas yang beragam, atau tidak memerlukan persiapan-persiapan yang rumit. Asal siswa dapat menempati tempat duduk untuk mendengarkan guru, maka ceramah sudah dapat dilakukan. Di samping beberapa kelebihan di atas, ceramah juga memiliki beberapa kelemahan, di antaranya: (a) materi yang dapat dikuasai siswa sebagai hasil dari ceramah akan terbatas pada apa yang dikuasai guru. Kelemahan ini memang kelemahan yang paling dominan, sebab apa yang diberikan guru adalah apa yang dikuasainya, sehingga apa yang dikuasai siswa pun akan tergantung pada apa yang dikuasai guru. (b) ceramah yang tidak disertai dengan peragaan dapat mengakibatkan terjadinya verbalisme. (c) guru yang kurang memiliki kemampuan bertutur yang baik, ceramah sering dianggap sebagai metode yang membosankan. Sering terjadi, walaupun secara fisik siswa ada di dalam kelas, namun secara mental siswa sama sekali tidak mengikuti jalannya proses pembelajaran, pikirannya melayang ke mana-mana, atau siswa mengantuk, oleh karena gaya bertutur guru tidak menarik. (d) metode ceramah sangat sulit untuk mengetahui apakah seluruh siswa sudah mengerti hal yang dijelaskan atau belum. Walaupun ketika siswa diberi kesempatan untuk bertanya, dan tidak ada seorang pun yang bertanya, semua itu tidak menjamin siswa seluruhnya sudah paham. Dalam metode ceramah ada tiga langkah pokok yang harus diperhatikan yaitu : (a) tahap persiapan

36

Pada tahap ini yang harus dilakukan adalah merumuskan tujuan yang ingin dicapai, menentukan pokok-pokok materi yang akan diceramahkan, dan mempersiapkan alat bantu.

(b) tahap pelaksanaan Pada tahap ini ada tiga langkah yang harus dilakukan adalah o langkah pembukaan. Langkah pembukaan dalam metode ceramah merupakan langkah yang menentukan keberhasilan pelaksanaan ceramah. o langkah penyajian. Tahap penyajian adalah tahap penyampaian materi pembelajaran dengan cara bertutur. Agar ceramah berkualitas sebagai metode pembelajaran, maka guru harus menjaga perhatian siswa agar tetap terarah pada materi pembelajaran yang sedang disampaikan. o langkah mengakhiri atau menutup ceramah. Ceramah harus ditutup dengan ringkasan pokok-pokok materi agar materi pelajaran yang sudah dipahami dan dikuasai siswa tidak hilang. Ciptakanlah kegiatan-kegiatan yang memungkinkan siswa tetap mengingat materi pembelajaran. Perlu diperhatikan, bahwa ceramah akan berhasil baik, bila didukung oleh metode-metode lainnya, misalnya tanya jawab, tugas, latihan, dan lain - lain. Metode ceramah itu wajar dilakukan bila: (a) ingin mengajarkan topik baru (b) tidak ada sumber bahan pelajaran pada siswa

37

(c) menghadapi siswa yang cukup banyak. Untuk mendapatkan hasil yang optimal hendaknya ditunjang dengan penggunaan media yang baik, seperti peta konsep, LCD-media, power point, gambar, OHP, dan Internet.Juga disarankan disisipi dengan metode-metode lain seperti tanya jawab, dan pemberian tugas.Dalam penelitian ini menggunakan media power point dan internet. (Sumber : Tri : www.scribd.com/doc/27644307/Metode-Ceramah - Tembolok : 12 April 2011).

(f) Peranan Guru dalam Pembelajaran dengan PAIKEM

Secara teoritis dalam peningkatan mutu pendidikan guru memiliki peran antara lain :

(1) sebagai salah satu komponen sentral dalam sistem pendidikan. (2) sebagai tenaga pengajar sekaligus pendidik dalam suatu instansi pendidikan (sekolah maupun kelas bimbingan). (3) penentu mutu hasil pendidikan dengan mencetak peserta didik yang benar-benar menjadi manusia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, percaya diri, disiplin, dan bertanggung jawab. (4) sebagai faktor kunci, mengandung arti bahwa semua kebijakan, rencana inovasi, dan gagasan pendidikan yang ditetapkan untuk mewujudkan perubahan sistem pendidikan, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. (5) sebagai pendukung serta pembimbing peserta didik sebagai generasi yang akan meneruskan estafet pejuang bangsa untuk mengisi kemerdekaan dalam kancah pembangunan nasional serta dalam penyesuaian perkembangan zaman dan teknologi yang semakin spektakuler. (6) sebagai pelayan kemanusiaan di lingkungan masyarakat. (7) sebagai pemonitor praktek profesi.

38

(g) Hal ± Hal yang Harus Diperhatikan dalam Melaksanakan PAIKEM

Hal ± hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan PAIKEM yaitu : (1) memahami sifat dasar anak Pada dasarnya anak memiliki rasa ingin tahu dan suka berimajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia atau anak bukan Indonesia, selama mereka normal terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berfikir kritis dan kreatif. Suasana pembelajaran ditunjukkan dengan guru memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang subur bagi rasa ingin tahu dan imajinasi tersebut. (2) mengenal perbedaan setiap anak Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda.Dalam PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Karena itu, semua anak dalam kelas tidak harus selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan bisa berbeda sesuai dengan kecepatan. Kegiatan belajar mengajar menarik karena guru aktif membantu belajar anak. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya ketika dia mendapat kesulitan sehingga anak tersebut bisa belajar secara optimal. (3) memahami anak sebagai makhluk sosial

39

Sebagai makhluk sosial anak sejak kecil secara alami cenderung melibatkan anak lain dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok.Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar fikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang. (4) mengembangkan kemampuan berfikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah. Keterampilan pemecahan masalah memerlukan kemampuan berfikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berfikir tersebut kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sesering mungkin memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka.Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata ³Apa yang terjadi jika «´ lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata ³Apa, berapa, kapan´, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu). (5) mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menyenangkan Dalam kelas yang menerapkan PAIKEM anak-anak banyak belajar melalui bekerja dan berbuat sehingga banyak menghasilkan produk. Hasil pekerjaan siswa tersebut sebaiknya

dipajangkan untuk membuat kelas menjadi hidup dan menarik. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan bisa memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok.

40

Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, karangan, dan sebagainya. Guru perlu memastikan bahwa setiap siswa mempunyai karyanya yang dipajangkan. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa dan ditata dengan baik dapat membantu guru dalam KBM karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah. (6) memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar Lingkungan (fisik, sosial atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati

(dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis (membuat dugaan), mengklasifikasikan, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram. (7) memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka (nilai). (8) membedakan antara aktif fisik dan aktif mental

41

Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak.Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAIKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut. Banyak siswa merasa takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menciptakan suasana kelas di mana guru tidak marah kepada siswa dan siswa tidak menertawakan siswa lain jika mereka memberi jawaban yang tidak benar. Siswa harus didorong untuk mencoba dan berbuat kesalahan adalah bagian penting dari belajar. Guru juga tidak menyepelekan siswa. Pada dasarnya guru harus berusaha menghilangkan penyebab rasa takut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya.Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan PAIKEM. Beberapa penelitian yang dijadikan acuan dalam penelitian ini yaitu : (1) penelitian yang dilakukan oleh Setyo budiono dalam skripsinya yang berjudul ³Efektivitas Penggunaan Metode Mengajar Eksperimen dan Model Mengajar Delik (Dengar ± Lihat ± Kerja) dalam Pengajaran Fisika Siswa SMU Muhammadiyah 4 Yogyakarta Kelas II Tahun Ajaran 1998/1999´ ini mempunyai tujuan untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar Fisika melalui penerapan metode mengajar eksperimen, model mengajar DELIK, dan metode ceramah.Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas II SMU Muhammadiyah 4 Yogyakarta tahun ajaran 1998/1999 yang terdiri dari 5 kelas paralel.Dalam penelitian ini yang menjadi kelompok eksperimen yaitu kelas IIE yang mendapat perlakuan dengan metode mengajar eksperimen sebagai kelompok eksprimen pertama (KE-1), kelas IID mendapatkan perlakuan dengan metode model mengajar DELIK sebagai kelompok eksperimen kedua (KE-2), sedangkan kelas IIC mendapatkan perlakuan dengan metode

42

mengajar ceramah sebagai kelompok kontrol (KK). Hasil penelitian menunjukkan, bahwa ada perbedaan prestasi belajar Fisika pada pokok bahasan listrik statis, listrik arus searah, dan medan magnet dengan menggunakan metode mengajar eksperimen, model mengajar DELIK, dan metode mengajar ceramah dalam pengajaran Fisika siswa kelas IIC, kelas IID, dan kelas IIE SMU Muhammadiyah 4 Yogyakarta tahun ajaran 1998/1999.Terbukti bahwa penggunaan metode mengajar eksperimen lebih efektif dibandingkan dengan penggunaan model mengajar DELIK maupun metode ceramah. B. Kerangka Berfikir Sejalan dengan kurikulum yang berlaku saat ini yaitu KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) kriteria kualitas siswa mencakup empat ranah yaitu ranah iman dan taqwa, ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Penggunaan PAIKEM dengan metode eksperimen dalam pembelajaran merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas siswa yang pada umumnya semakin menurun pada saat-saat ini.Pemberian peran aktif diharapkan dapat memberikan ruang gerak yang cukup bagi para peserta didik untuk menunjukkan kemampuan mereka. Kedua metode tersebut masing-masing akan diterapkan pada dua kelas yang memiliki kemampuan yang sepadan.Kemudian akan dilihat efeknya terhadap proses perkembangan kualitas siswa.Dari proses tersebut dimungkinkan terdapat peningkatan kualitas siswa dan perbedaan peningkatan kualitas siswa pada PAIKEM dengan metode eksperimen dan ceramah yang ditunjukkan oleh prestasi hasil belajar siswa di materi pokok Usaha dan Energi.

43

Untuk lebih jelasnya ditunjukkan oleh bagan di bawah ini
Im
KE PAIKEM ME KUALITAS SISWA

K A P

1

2

Im
KK PAIKEM MC KUALITAS SISWA

K A P

AFEKTIF DAN PSIKOMOTORIK

DENGAN BANTUAN ALAT PERAGA

SULIT

DEMONSTRASI

METODE DEMONSTRASI

KETERBATASAN PENELITIAN

Gambar 3. Penerapan PAIKEM dengan metode eksperimen dan ceramah menghasilkan kualitas siswa. Keterangan : KE = Kelompok eksperimen

KK = Kelompok kontrol

44

ME = metode eksperimen M = metode ceramah = Pengaruh Im = Ranah iman dan taqwa K = Ranah kognitif A = Ranah afektif P = Ranah psikomotorik
1

= Uji validitas pada kualitas siswa yang dihasilkan oleh PAIKEM dengan metode eksperimen.

2

= Uji validitas pada kualitas siswa yang dihasilkan oleh PAIKEM dengan metode ceramah.

C. Hipotesis Penelitian Berdasarkan penjelasan di atas, hipotesis yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah : 1. Terdapat dampak positif penggunaan PAIKEM dengan metode eksperimen ditunjukkan dengan naiknya kualitas siswa di kelas XI IIA SMA N 8 Jogjakarta pada materi pokok Usaha dan Energi
2. Terdapat perbedaan pada besar angka peningkatan kualitas siswa di kelas XI IIA SMA N 8

Jogjakarta pada materi pokok Usaha dan Energi menggunakan PAIKEM dengan metode eksperimen dan ceramah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->