P. 1
cerpen bintang sunyi

cerpen bintang sunyi

|Views: 51|Likes:
Published by Landu Kanna

More info:

Published by: Landu Kanna on Jul 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/21/2011

pdf

text

original

BINTANG SUNYI Rumahku berada di tengah perkampungan yang penuh sesak dengan perumahan.

Jalan masuk ke rumahku hanyalah jalan setapak yang tidak bisa di lewati kendarana, walau beroda dua sekalipun. Pengap yang sering kurasakan. Maka aku setiap malam menyalakan lampu neon yang sangat terang di samping kanan dan bagian depan rumahku. Selain untuk menerangi jalan, sinar terang tersebut untuk sekedar menghilangkan kesumpekan yang aku rasa. Meski tetangga selalu heran, kok terang amat apa tidak sayang pasang lampu begitu besar watt nya? Aku tidak peduli dengan keheranan mereka. Dengan memasukkan kedua tanganku ke dalam saku jaket. Aku berjalan santai keluar rumah malam hari. Sunyi. Padahal, waktu baru menunjukan pukul delapan malam. Di luar rumah aku bersapa sejenak dengan bintang-bintang di langit. Sunyi. Lalu aku teruskan langkah ke rumah tetangga karena tadi sudah janjian kalau aku mau datang malam ini. Dua puluh menit kemudian. Aku sudah kembali berdiri di pelataran dengan wajah mendongak berusaha bersapa dengan bintang. Lagi-lagi kesunyian ku dapat. Aku masuk rumah mengambil tikar, koran, dan karpet hijau. Lalu balik lagi mengambil bantal dan selimut. Aku gelar karpet di dasari koran dan tikar. Aku tiduran di pelataran sambil berusaha memahami kesunyian dan bahasa alam. Aku berusaha ramah bertegur sapa dengan bintang gemintang. Aku berusaha memahami bahasa angin yang bertiup menampar wajahku. Bunyi jangkrik sekejab mengerik akhirnya diam tak berkutik. Memandangi sosokku yang membujur kaku di pelataran bagai patung batu. Aku cemas. Begitu cemas saat bintang itu, satu persatu merasa malu dan satu persatu bersembunyi di balik awan. Sendiri lagi, haruskah aku sendiri lagi? Aku tak sanggup wahai bintang sunyi. Munculah. Tampakkan rona ceriamu. Kamu sudah berjanji padaku untuk selalu menemaniku disaat aku sunyi dan sepi. Jangan kau sembunyi lagi. Aku tahu kamu bisa menyingkirkan awan dengan auroramu. Dengan sinar indahmu. Dengan kegagahanmu. Dengan kesaktianmu. Jangan bikin aku cemas begini wahai bintang sunyi tunjukakan kesetiaanmu padaku jangan sampai kau di pandang remeh oleh mereka yang tidak mengenalmu. Muncul dan sembunyi, itulah alammu tapi mana

mereka mau tahu wahai bintang kesayanganku.Ya. kaulah bintang kejora ku. Aku akan menunggumu sampai batas mana kau setia menemaniku dalam hidupku. Aku bisa tertawa ya karenamu, bisa tersenyum juga karenamu. Ceriamu ceriaku juga. Keberadaanmu menambah semangat hidupku. Tidak tahu kenapa aku gemetar ketakutan di tinggalkan bintang-bintang yang tadi sedang bercanda namun tiba-tiba menghilang di balik awan yang menggoda. Bibirku menggerimit mengucap doa atau mantra agar sang bintang jangan sembunyi di balik awan dan menampakkan dirinya. Terus terang aku takut terkapar di bawahnya sendirian. Dalam lelah aku hampir ketiduran di atas tikar yang ku gelar di pelataran. Mataku menyipit mengerjap, memuntahkan kubangan air di pelupuk mataku, yang tadi menghalangi padanganku untuk tetap mencari bintangku. Hingga mataku lelah jiwaku resah. Kudengar suara burung ketuhu berteriak dari samping rumahku seolah memaki kelamahan dan kekuatiranku. Aku jadi malu, dan pelan-pelan kupejamkan mataku hingga terlena di udara terbuka. Denging suara kepak sayap nyamuk-nyamuk tidak membuatku bergeming. Bisik jangkrik yang tiba-tiba menderik di daun telingaku. Membuat mataku nyalang memandang kembali langit kelabu di atas kepalaku tanpa bintang. Aku tidak bergerak, dan kubiarkan jangkrik itu menjajah dan melecehkanku dengan meloncat seenaknya naik puncak hidungku yang saat itu terasa dingin berembun. Aku terbangun karena kakiku terinjak oleh kakinya orang yang sedang lewat. Dia tidak bersalah menginjakku sekalipun. Karena aku sendiri yang nekad tidur di pelataran yang biasa buat jalan orang banyak. Saat kubuka mata. Terlihat perempuan paroh baya itu sedang termangu dan terheran-heran melihatku tidur di atas karpet di pelataran. Sinar baterei yang ia pegang, sungguh mengangguku, aku merasa terusik saat ia menyoroti wajahku. Aku tidak bicara tapi tanganku menggapainya agar ia matikan saja lampu baterei yang berada di tangannya. “Nak…?ngapain tidur di sini?” akupun tidak menjawab. Namun telunjukku menunjuk sebuah bintang. Ya. Satu-satunya bintang kejora yang sedang memancarkan sinar terangnya. Bintang yang lainnya masih sembunyi di balik awan. “Nanda sedang menghitung bintang, atau sedang mengukur ketinggiannya?” “Iya. Dua-duanya. Tolong jangan ganggu aku? aku sedang memanggil bintang-bintang dengan doa agar sang bintang muncul dengan ceria.”

“Nanda seperti seorang penyair saja. Tahukah Nanda, kalau penyair itu adalah Raja yang tumbang, yang duduk di antara puing-puing tahtanya dan mencoba untuk menciptakan khayalan dari puing-puing tersebut.” “Raja??? penyair??? mungkin benar, atau malah mungkin aku orang gila. Karena aku sedang berharap pada kemurahan hati seseorang. Meski aku tahu. Bila nasib malang menindihku. Pada tanganku sendiri aku bertumpu.” “Banyak kabut, penuh kabut. Sadarkah kamu Nak? Bintang menghilang tak tampak” “Sudahlah kalau mau lewat. Tak usah urusi keberadaanku” “Ya. Aku terkejut saja. Tadi aku mengira dirimu adalah setumpukan kayu milik tetanggamu. Maka kakiku main injak saja. Maafkan aku.” “Tak ada yang perlu dimaafkan maka tak perlu minta maaf. Mungkin keberadaanku ini memang pantas untuk di injak-injak. Bahkan kalau kau mengira aku kayu, itu lebih berharga dari pada aku yang sekarang. Seseorang yang menyandang gelar tidak terang, seorang perempuan yang sok kuat, padahal sangat rapuh yang butuh perlindungan, seorang pengemis cinta yang sedang menunggu kepastian tapi entah kapan kepastian itu akan datang dengan menahan seribu satu gejolak di jiwa” “Masihkah mau menunggu sang bintang?” “Ya. Akan kutunggu bintang datang membawa sinarnya sampai kapanpun. Karena tanpa sinarnya, hidupku bagai kerakap tumbuh di batu. Mati segan hidup pun aku tak mau.” “Masih banyak jalan bisa kau pilih. Kenapa tidak ambil jalan yang lain? Jangan cari mati dengan mempertaruhkan cintamu pada bintang sunyi.” “Lihat?! Dia bukan bintang sunyi lagi. Pandang baik-baik kerlip cahaya yang memancar. Kau tahu? Pancarannya itu?” “Iya. Dia memancarkan sinarnya ke seluruh penjuru. Bukan hanya kepadamu Nanda sadarlah itu. Aku melihat dengan mata hatiku kalau dia belum siap memancarkan sinarnya hanya satu tertuju, kepadamu. Belum Nanda belum. Kalau kamu tidak percaya silahkan bertanyalah pada sang bayu. Aku jalan dulu silahkan menikmati kesepianmu.” “Bedebah!!” Ingin kumaki dia, ingin ku damprat dia karena berani menghina bintang kejoraku yang kini sedang bertapa di peraduannya. Kalau dia bukan sama-sama

perempuan pasti ku tantang duel pertaruhkan nyawa untuk membela bintang yang ku puja. Tapi apa salahnya kalau aku bertanya pada sang bayu seperti saran perempuan paroh baya tadi. Akupun duduk mencakung berselimut sampai sebahu. Aku tak bisa pejamkan mata lagi. Kusapa hangat salam lembut bayu yang datang mengelus pipiku dan mempermainkan rambutku hingga berkibar-kibar. Kutanyakan padanya. Apa benar kata perempuan tadi kalau bintangku belum siap memancarkan sinarnya untuk melindungiku? Gemerisik daun tebu di samping rumahku menjawab tanyaku, katanya tidak sepenuhnya benar tapi ada benarnya. Akupun bertanya lagi. Mampukah bintangku mencari cara agar bisa tetap menyorotkan sinarnya padaku, selamanya satu dan secepatnya bersatu? Kali ini alam yang menjawabnya dengan mengutus seekor kunang-kunang yang datang lewat depan mataku. Dengan sinar fosfor nya yang berpijar-pijar, dia bisa menjadi penunjuk jalan bagi orang yang tersesat. Aku berusaha mengartikan apa kata alam. Dan hatiku makin terbuka. Kalau aku susah meraih bintang kejora untuk menyinari sepanjang hidupku. Kenapa aku tak berfikir. Anggap saja bintang kejora telah berubah menjadi kunang-kunang yang sedang melintas di depan mata. Ya. Betapa berharganya kunang-kunang bagi manusia yang tersesat digelap malam gulita. Karena dialah satu-satunya sumber cahaya yang ada yang bisa menunjukan ke arah mana jalan menuju haribaannya. Dengan ringan aku lipat rapi tikar, karpet, bantal dan selimutku. Ku angkat semua untuk di bawa kembali masuk ke rumahku. “Badai pasti berlalu meski bintang berubah wujud menjadi kunang-kunang. Ya. Kunang-kunang yang lemah tapi aku senang dan aku tenang. Aku akan menunggu selalu kau datang membawa terang cahaya cinta untuk masa depan yang ceria.” Bisikku. Ayam jantan berkokok. Aku melirik telpon sellulerku yang tadi ku taruh di meja kamar ku. Ada satu gambar amplop surat di layar monitorku. Aku buka sms itu dan tertulis kata dari cinta. Sayang…nikmati hidup indah dengan karyamu. Kabar terbaru, aku sudah mendapatkan surat perlengkapan itu. Tunggu aku, jaga diri dan anak-anak. Aku akan segera datang. Miss u tenan je…?! Pagi sekali. Bisikku. Apa yang sedang dia lakukan sepagi ini? Apa seperti aku yang sedang menanti pertemuan itu. Bersatunya kasih di kursi pelaminan. Dia calon

suamiku dan calon ayah bagi anak-anakku dari mantan suamiku yang dulu. Kini mataku nyalang tak bisa tidur sama sekali. Hatiku sejuk, sesejuk suasana pagi ini. Aku buka-buka sms yang ia kirimkan yang lalu yang masih ku simpan di outbok handphon ku. Kutemukan satu sms darinya Amare est gaudere felicitate olterius. Itu kata bijak dari seorang filsuf yang bernama Leibniz. Yang kutahu artinya : Mencintai adalah mengupayakan kebahagiaan orang yang di cintainya. Jadi, apalagi yang harus ku ragukan? Kayaknya tak ada kecuali kecemasan, kegagalan untuk bersatu di kursi pelaminan. Untuk itu aku tak sanggup membayangkan. Aku balas sms nya dengan enteng ku ketik kata demi kata dengan hati yang bertaburan bunga-bunga cinta. Bintangku, kunang-kunangku. So many night. I sit by my window waitting for someone to sing me his song. You light up my life.I’ll always love you. Kubaca ulang lalu ku sent ke dia yang aku cinta sepenuh jiwa raga.

@ Istana Rumbia, 2008 Penulis: Maria Bo N iok ***

Curiculum Vitae Nama : Siti Mariam Ghozali Nama pena : Maria Bo Niok Tempat/Tanggal lahir: Wonosobo, 1 Januari 1966 Alamat : Pasunten 03/02, Lipursari, Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah 56362. Mobile phone : 0813-1494-3509 Multiply: http://boniok.multiply.com Surat Elektronik: maria_gh69@yahoo.com (Friendster) Hobi : Catur dan olahraga Pendidikan Sekolah: - SD Lipursari, Wonosobo

- MTs Kalibeber, Wonosobo Pendidikan Luar Sekolah: - Kursus Menjahit (1982) - Kursus Komputer di Kowloon, Hong Kong (2001 s.d. 2002) - Kursus Bahasa China di Abraham College, Hong Kong (2004) - Taekwondo di Korean Taekwondo Cheung Do Kwan, Kowloon, Hong Kong (2000 s.d. 2003) Pekerjaan : - Pedagang (1983 s.d. 1995) - Pengasuh Orang Tua Jompo di Taiwan selama 2 tahun. - Pekerja Rumah Tangga di Hong Kong selama 6 tahun. - Staff Operasional PJTKI di Temanggung (2006) - Penulis Buku (Sastra dan Buku Panduan) - Pengelola rumah baca ”Istana Rumbia” di Wonosobo, Jawa Tengah. - Pengelola Komunitas Terminal Tiga, DIY dan Wonosobo - Swasta (Kiostel "Palupi") Wonosobo Kegiatan: - Selama berada di Indonesia (sejak 2005), aktif bergerilya di Surabaya, Daerah Istimewa Yogyakarta, Surakarta, Jakarta dan beberapa kota besar lain untuk memberi kesaksian tentang kehidupan dunia pekerja migran (khususnya pekerja rumah tangga, pengasuh orang tua jompo dan pengasuh anak) melalui tulisan, buku, dan ceramah dalam seminar maupun sarasehan. Karya tulis dan buku: - Tulisan sesekali masuk: surat kabar: Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Berita Indonesia, Apa Kabar, Majalah: Ekspresi, Peduli, Kombinasi, Imajio, milis Komunitas Merapi, dan antologi puisi bersama lainnya. - Novel ’Ranting Sakura’ (P_idea, April, 2007, Yogyakarta) - Antologi Kisah ’Geliat Sang Kung Yan’ (autobiografi) (Gama Media, Juli 2007, Yogyakarta). - Buku Panduan ”Gee Sky! Terbanglah Untuk Kembali” (dalam proses) - Novel “Sumi Ryusho: Anak Bakul Areng (menunggu diterbitkan) - Novellete "Serpihan Cinta" (menunggu diterbitkan) Publikasi: -Profil saya pernah dimuat di kolom sosok harian Kompas (28/2/2006), kolom features The Jakarta Post News (28/4/2006), mingguan Cempaka (edisi 01/XVII/6 tanggal 12/4/2006), majalah Peduli edisi mei 2006, Kedaulatan Rakyat (Juni 2006),

harian Jawa Pos (04/01/ 2007), Suara Merdeka (Mei 2007), Majalah Liberty (Juni 2007), Tabloid Apa Kabar yang terbit di Hongkong (15 Juli 2007) -Pembicara pada tanggal 17 desember 2006 dalam peringatan hari buruh migran sedunia yang bertema "Refleksi 7 tahun Terminal Tiga" di hotel Bumi Karsa Bidakara Jakarta bersama Anis Hidayah (direktur Migran Care) dan baca puisi di pelataran Tugu Monas Jakarta. -Pembicara “Multi-Stakeholders Workshop on Indonesian Woman Migrant Workers Hong Kong : September, 28-29, 2007 yang diselenggarakan oleh Departemen Luar Negeri bekerjasama dengan Konsulat Jenderal RI di Hong Kong -Fasilitator dalam acara Training of Traineer (T.O.T) : "Menguatkan kapasitas TKI" di Purnama Hotel, Cipayung, Jawa Barat, pada tanggal 7 s.d. 8 December 2007. yang di adakan oleh BNP2TKI Jakarta bermitra dengan Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat - Institut Pertanian Bogor.

Rekening Bank: Bank B C A KCP.Wonosobo. No: 2390329841
Atas nama : Siti Mariam

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->