P. 1
pencegahan DBD

pencegahan DBD

|Views: 938|Likes:
Published by Rikki Ardhiareza

More info:

Published by: Rikki Ardhiareza on Jul 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/06/2013

pdf

text

original

LAPORAN Kajian Kebijakan Penanggulangan (Wabah) Penyakit Menular

(Studi Kasus DBD)

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat

Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2006

LAPORAN AKHIR

KAJIAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN (WABAH) PENYAKIT MENULAR
Studi Kasus DBD

DIREKTORAT KESEHATAN DAN GIZI MASYARAKAT BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2006

Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular

LAPORAN AKHIR

Ringkasan Eksekutif
Kajian ini dilatarbelakangi adanya kecenderungan terus meningkatnya wabah penyakit menular di berbagai daerah di Indonesia. Selain penyakit menular yang telah lama ada, penyakit menular baru (new emerging diseases) juga menunjukkan peningkatan. Kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi antara lain berkaitan dengan (1) pelaksanaan surveilans, (2) upaya penanggulangan, serta (3) adanya desentralisasi kewenangan pengelolaan. Berdasarkan hasil penelitian WHO Tahun 2003 dilaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan surveilans masih menghadapi kendala antara lain berkaitan dengan (1) kebijakan sistem surveilans yang belum dipahami sampai ke petugas teknis di lapangan, (2) terbatasnya tenaga pelaksana surveilans, (3) adanya ketidaksesuaian kompetensi, (4) terbatasnya dana pelaksanaan surveilans di tingkat operasional, dan (5) belum optimalnya penggunaan sarana kesehatan dalam mendukung pelaksanaan surveilans penyakit seperti pemanfaatan laboratorium dan peralatan. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan utama kajian adalah menyusun rumusan kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular secara terpadu berdasarkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh melalui (1) identifikasi kinerja surveilans, (2) identifikasi kinerja penanggulangan wabah penyakit , serta (3) identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah. Metode kajian dilakukan melalui analisis diskriptif (kualitatif) berdasarkan data dan informasi yang didapat di lapangan, baik berbentuk data sekunder maupun hasil wawancana mendalam serta melakukan pembahasan dengan nara sumber dalam bentuk focus group discussion (FGD) dan workshop. Landasan pemikiran kajian didasarkan pada asumsi adanya hubungan timbal balik antara rendahnya kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan dengan implementasi kebijakan wabah penyakit menular khususnya dalam kasus kebijakan penanganan penyakit DBD. Kinerja surveilans diukur dengan melihat (1) keberadaan peta rawan, (2) pelaksanaan diseminasi informasi DBD, dan (3) Pelaporan serta dengan melihat faktor-faktor berpengaruh mencakup (1) tenaga, (2) data, (3) sarana, (4) dana, dan (5) SOP. Kinerja Penanggulangan diukur dengan melihat (1) Frekuensi KLB, (2) Jumlah Kasus, (3) Jumlah Kematian, (4) Luas Daerah Terserang serta dengan melihat faktor-faktor berpengaruh mencakup (1) tenaga, (2) data, (3) sarana, (4) dana, dan (5) SOP. Implementasi kebijakan wabah penyakit menular juga dipengaruhi kebijakan desentralisasi kewenangan pengelolaan pembangunan. Kajian menyimpulkan bahwa kendala utama yang dihadapi dalam implementasi kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular dalam kasus DBD adalah (1) koordinasi antar instansi dan antar unit yang bertanggung jawab dalam penanganan DBD masih belum optimal, khususnya dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD, (2) koordinasi antara pusat dan daerah belum dilandasi suatu kebijakan operasional yang jelas tentang kewenangan dan tanggung jawab masingmasing, (3) sistem pengelolaan program penanganan penyakit menular masih didominasi pusat, (4) tingginya beban puskesmas sebagai unit operasional utama di lapangan dalam implementasi kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular. Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan mencakup (1) Peta rawan, hampir semua dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota memiliki peta rawan, sedangkan di Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar dan rumah sakit sebagai unit pelayanan rujukan, peta rawan tidak selalu tersedia, (2) proses diseminasi informasi dilakukan
Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular ii

Hampir semua unit pelayanan kesehatan di daerah memiliki pedoman dan peraturan dalam rangka pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. dan (6) data. Namun demikian kebanyakan SOP tersebut belum operasional. Kualitas dan kualifikasi masih belum terpenuhi sesuai dengan bidang tugas dan kompetensinya. Operasi lapangan untuk suatu kasus (DBD) serentak dilakukan. Walaupun kondisi sarana dan prasarana untuk kegiatan penanggulangan penyakit menular tidak selalu memadai. Data. khususnya ketika kasus terjadi. Pemahaman tentang surveilans dan penanggulangan KLB masih belum sama. Data yang ada belum dilakukan analisis. dana untuk pelaksanaan penanggulangan wabah penyakit menular dirasakan pihak daerah mencukupi. baik di tingkat propinsi maupun kabupaten (baru bersifat pengumpulan data). namun ketepatannya masih 60%.LAPORAN AKHIR melalui penerbitan buletin kajian epidemiologi yang diterbitkan oleh dinkes propinsi dan dinkes kabupaten/kota. Puskesmas tidak memiliki alokasi dana khusus untuk kegiatan surveilans. Pengetahuan. Sarjana (SKM) dan MKes. Sarana. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. belum dilakukan. dan (3) proporsi anggaran untuk preventif dan kuratif yang tidak seimbang. Sehingga untuk SKDKLB data yang seharusnya dapat dilihat/diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB. (5) sarana. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja surveilans dan penanggulangan terkait dengan (1) tenaga. (2) pengetahuan. perpindahan yang begitu cepat. Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular iii . mengadakan pertemuan/ lokakarya. Ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten masih rendah. Selain pelatihan formal. kualifikasi pendidikan yang belum sesuai. Dana operasional selain bersumber dari dana operasional umum juga memanfaatkan dana JPK-MM. Struktur organisasi Dinkes propinsi maupun Kab/Kota tidak menggambarkan pembedaan kedua tugas tersebut. Tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara Surveilans dan Penanggulangan dalam praktek operasional di lapangan. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. Kurangnya jumlah SDM. beban kerja yang tinggi merupakan masalah yang hampir ditemukan disemua tingkatan. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penangulangan penyakit. Pada tingkat propinsi. (4) Jumlah Kasus periode 2003-2005 cenderung stagnan untuk propinsi lokasi kajian (kecuali Jatim meningkat). (3) dana. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. Beberapa dinkes kabupaten/kota inisiatif melakukan modifikasi terhadap SOP yang dibuat Depkes. Dana. Validitas data yang dilaporkan tidak pernah dipermasalahkan. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. (3) sistem pelaporan ditunjukkan dengan kelengkapan laporan mencapai 90-100%. Dana menjadi persoalan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. (2) ada masa ketiadaan anggaran. Untuk tingkat kabupaten/kota. Tenaga. khusus untuk KLB tersedia block grant dari pusat. Sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya mesin fogging serta insektisida. Pengadaan insektisida dan mesin fogging di supply oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap. (4) SOP. Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan data. hampir semuanya menggunakan dana APBD. Pendidikan rata-rata perawat. dan epidemiologi. Case Fatality Rate (CFR) DBD fluktuatif. SOP. sedangkan data kematian cenderung meningkat. Bidang pendidikan yang ada adalah perawat. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. Hampir semua level baik di propinsi hingga kabupaten/kota termasuk puskesmas dan rumah sakit mengalami masalah ketenagaan dalam kegiatan surveilans dan penanggulangan. Permasalahan dana terutama berkaitan dengan (1) keterlamabatan turunnya DIPA. tetapi tidak menjadi kendala dalam berjalannya sistem.

Penyelidikan Epidemiologi (PE) yang dilakukan Puskesmas belum maksimal. dekonsentrasi maupun tugas perbantuan). Komitmen daerah dalam penyediaan anggaran (APBD) untuk penanganan wabah penyakit menular belum optimal. (iii) Peningkatan kualitas sistem pelaporan melalui ketepatan data. akibatnya kegiatan tindak lanjut yang seharusnya dilakukan tidak berjalan. Gubernur. (7) Melakukan bimbingan. (ii) Penyempurnaan SOP sesuai “local specific”. promosi dan koordinasi. baik pada internal sektor maupun lintas sektor. sebagai suatu kegiatan rutin. (4) Memperkuat kapasitas dan kapabilitas Puskesmas sebagai unit terdepan dalam operasionalisasi surveilans dan penanggulangan wabah penyakit menular. serta pelaporan (evaluasi). keterbatasan dana. Namun pada saat kasus. (5) Meningkatkan peran dan tanggung jawab Pemerintah Daerah melalui intensifikasi kegiatan sosialisasi. malalui (i) Peningkatan dukungan dana yang memadai dari APBN maupun APBD. namun belum maksimal melaksanakan surveilans karena keterbatasan tenaga. jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit. (3) Mengurangi secara bertahap dominasi peran pengelolaan program oleh pusat melalui pendelegasian kewenangan ke daerah serta peningkatan profesionalisme pengelola program di daerah. bukan sebaliknya pemerintah daerah yang aktif meminta informasi. (iv) Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana dengan melibatkan peran aktif masyarakat. analisis. dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. (10) Diperlukan dukungan dalam bentuk peraturan perundangan dalam meningkatkan komitmen para pihak di daerah dalam rangkan pencegahan dan penanggulangan DBD. namun belum maksimal.LAPORAN AKHIR Kondisi umum Pelaksanaan Surveilans dan Penanggulangan DBD: (1) Ujung tombak pelaksanaan surveilans ada di Puskesmas. Keperdulian pemerintah daerah masih belum terlihat. hal ini tampak dari keaktifan instansi kesehatan dalam penyebaran informasi kesehatan. Hal ini berkaitan dengan masih cukup besarnya alokasi dana yang berasal dari APBN (dalam bentuk DAU. Permasalahan operasional penanganan DBD juga dipengaruhi oleh sistem kepemerintahan yang belum sepenuhnya dapat mengakomodasi sistem perencanaan dan sistem keuangan yang baru. Bupati/Walikota . Pengobatan dapat dilakukan dengan baik kecuali kalau ada keterlambatan datang ke sarana pengobatan dan akibat terlambat merujuk. tidak setiap kasus DBD ditindaklnajuti dengan PE karena DBD dianggap kasus rutin. (2) Aktivitas surveilans dilakukan oleh Tim Lapangan. belum tertata dalam sebuah sistem yang aktif dan terstruktur. Rekomendasi kajian yang diusulkan mencakup (1) Peningkatan koordinasi antar instansi dan antar unit dalam berbagai tingkatan dalam penanganan wabah penyakit menular yang dilakukan oleh Menko Kesra. Koordinasi penanganan kasus masih bersifat sporadis. advokasi. karena tidak seimbang antar area yang harus dipantau dengan kemampuan sumberdaya yang tersedia. pemantauan. (8) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah. PE tidak dilakukan maksimal sesuai prosedur yang ada. (3) Surveilans mulai diperlukan ketika ada kasus. pelaksanaan (monitoring). antara lain keterbatasan tenaga. (2) Percepatan penyusunan kebijakan operasional dalam koordinasi pelaksanaan program antar pusat daerah yang mencakup aspek perencnaaan. sarana dan dana. Penanggulangan DBD di Rumah sakit relatif tidak masalah. Banyak kendala. (6) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko. (11) Diperlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular iv . (9) Membangun dan mengembangkan kemitraan. Pengobatan dan isolasi penderita dirujuk ke rumah sakit. yang paling menonjol adalah penanggulangan (PE). validasi dan pengembangan “respond system”. ketiadaan sarana. dan sistem kewaspadaan dini (early warning system). kecuali kalau ada kasus KLB yang menyebabkan sarana TT tidak mencukupi.

(2) Pendanaan. Implikasi Kebijakan dan Rencana Tindak Lanjut mencakup aspek-aspek: (1) Kelembagaan. perlu terus dikembangkan pola pendanaan sistem jaminan kesehatan seperti askeskin sehingga kepastian dana sampai kepada masyarakat terjamin. diperlukan revitalisasi peran kelembagaan khususnya kelembagaan Puskesmas. Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular v . dibuat sesederhana mungkin agar memudahkan pelaksanaan operasional tenaga lapangan dan distribusikan. (3) Data dan Informasi. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. mendorong terbangunnya motivasi dan komitmen para pelaksana pembangunan kesehatan di lapangan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. perlu di kelola secara profesional dan berkesinambungan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan mudah diaplikasikan serta dimungkinkan adanya Pusat Informasi Penanaganan DBD (DBD Center). (5) SOP.LAPORAN AKHIR komprehensif. preventif. dan rehabilitatif. Puskesmas perlu diperkuat dengan kapasitas manajemen pelayanan untuk kegiatan yang bersifat promotif. Dukungan pendanaan serta tenaga dan sarana dalam rangka pelaksanaan operasional pencegahan dan penanggulangan (preventif. Motivasi dankomitmen selain muncul atas kesadaran memerlukan dukungan eksternal dalam bentuk insentif. (4) Ketenagaan. selain kuratif. Keberadaan data dan informasi yang akurat dan sinambung menjadi salah satu indikator kinerja pembangunan kesehatan. promotif dan rehabilitatif) menyertai peran dimaksud secara memadai. Sebagai perangkat utama Kesehatan. sekaligus menjamin setiap masyarakat terlayani untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Hadiat. Mudah-mudahan laporan kajian ini memliki kontribusi substansial bagi penataan kebijakan di bidang kesehatan maupun menjadi salah satu referensi bagi penelitian kebijakan selanjutnya maupun untuk kepentingan bersifat akademis. Kasus penyakit menular dalam kajian ini adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Nurlaili Aprilianti Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular vi . Desember 2006 Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan 1. DR. DR. Ucapan terima kasih pada seluruh pihak yang telah memberikan kontribusi pada pelaksanaan kajian ini mulai dari tim perumus rekomendasi kebijakan. MPH 2. Dadang Rizki Ratman. ME 6. Jakarta. Hasil kajian ini jelas belum menggambarkan kondisi utuh pelaksanaan kabijakan sehingga langkah kebijakan yang diambil pun tidak luput dari bias dari peneliti dan pengkaji. anggota FGD. Selain penyakit menular yang telah lama ada. SKM. bappeda serta masyarakat. para nara sumber. serta responden di dinas kesehatan propinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota. Hasil temuan dan kesimpulan dirumuskan menjadi suatu rekomendasi kebijakan yang diharapkan dapat memperbaiki kebijakan dalam penanggulangan wabah penyakit menular. MPA 4. Ir. MA 3. masyarakat serta FGD dari Bappenas. Arum Atmawikarta. STP. Dinas Teknis terkait. MPM 5. MS 7. Yosi Diani Tresna. penyakit menular baru (new emerging diseases) juga menunjukkan peningkatan. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. Pelaksanaan kajian telah melibatkan Deputi bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas. Inti Wikanestri. Sularsono.LAPORAN AKHIR KATA PENGANTAR Dengan memanjat puji dan syukur pada Allah SWT. dibuat implikasi kebijakan yang harus menjadi langkah tindak lanjut. SP. Kajian ini dilatarbelakangi adanya kecenderungan terus meningkatnya wabah penyakit menular di berbagai daerah di Indonesia. akhirnya Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Banyak hal telah didapat dari pelaksanaan kajian ini. khususnya Subdit Arbovirosis. khususnya kasus Demam Berdarah dengue (DBD). SKM 8. Unuk itu saran dan masukan guna penyempurnaan hasil kajian ini secara terbuka dinantikan. Kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Selanjutnya berdasarkan rekomendasi yang dirumuskan. SH. Tiada gading yang tak retak. khususnya dalam penanganan kasus demam berdarah. Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat serta seluruh staf di lingkungan Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas serta melibatkan nara sumber dari Departemen Kesehatan. Perguruan Tinggi. baik di di tingkat kebijakan makro (RKP) maupun dalam bentuk kebijakan teknis yang perlu di tindak lanjuti oleh departemen/instansi teknis maupun instansi terkait lainnya. Pungkas Bahjuri Ali. Pemerintah Daerah. tidak saja dalam bentuk temuan tetapi juga pengalaman proses pelaksanaan survey lapangan yang dilakukan sampai ke tingkat Puskesmas dan pelosok masyarakat untuk melakukan wawancara dan diskusi.

6 Latar Belakang .2 3.vi BAB 1 : PENDAHULUAN .1 1.6 2.2 1.2 Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Kinerja Penangulangan KLB – 46 (1) Tenaga .4 1.5 Tujuan dan Sasaran – 5 Keluaran Kajian .1 Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB – 42 4.6 Ruang Lingkup Kajian .4 2.6 Kerangka Pemikiran – 27 Disain Kajian .1.i Kata Pengantar .1.1 2.46 (2) Dana – 51 (3) Standar Operasi dan Prosedur – 53 (4) Data – 56 (5) Sarana – 57 vii 4.25 BAB 3 : METODOLOGI .LAPORAN AKHIR DAFTAR ISI Ringkasan Eksekutif .2.3 3.5 3.1 3.7 2.5 2.3 Kendala Penanggulangan DBD – 41 Kinerja Surveilans dan Penanggulangan DBD – 41 4.2 Kebijakan Penanggulangan Penyakit DBD – 35 4.1.27 3.1 Perumusan Masalah .1 Implementasi Kebijakan Penanggulangan DBD – 33 4.6 Sistematika Penulisan .1 1.29 Jenis dan Sumber Data – 30 Responden Kajian – 31 Lokasi Kajian – 32 Teknik Analisis – 32 BAB 4 : HASIL DAN PEMBAHASAN .3 2.3 1.8 2.Tatalaksana Penanggulangan DBD – 23 .4 3.2 2.Kendala Pencegahan DBD – 21 .2 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular .8 2.Peran Masyarakat dalam Penanggulangan DBD .1 Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rata (CFR) – 33 4.33 4.6 BAB 2 : LANDASAN TEORI .5 1.2.9 Penyakit Menular di Indonesia – 8 Surveilans Epidemiologi – 8 Kebijakan Sistem Surveilans – 10 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan – 11 Penanggulangan Wabah Penyakit Menular – 14 Epidemiologi Global Penyakit – 16 Strategi Pengendalian Penyakit – 18 Kejadian Luar Biasa – 18 Penyakit Demam Berdarah – 20 .

3.68 DAFTAR PUSTAKA .2 Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan DBD – 61 4.LAPORAN AKHIR 4.3 Implikasi Kebijakan .70 DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1: Instrumen Kajian – 72 LAMPIRAN 2: Pelaksanaan Kegiatan dan Pembahasan – 76 LAMPIRAN 3 : Struktur Organisasi/Tim Pelaksana LAMPIRAN 4: Notulen Pembahsan Dengan Tim Pakar – 81 LAMPIRAN 5 : Pokok-Pokok Pikiran Hasil Ekspose dengan Tim Ahli – 83 LAMPIRAN 6 : Laporan Pelaksanaan Survey – 86 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular viii .1 Kesimpulan – 65 5.2 Rekomendasi Kebijakan – 68 5.3.65 5.3 Koordinasi Antar Sektor – 63 BAB 5 : KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN .3 Peran dan Tanngung Jawab Pememrintah Daerah dalam Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit DBD – 59 4.1 Kewenangan Daerah dan Stndar Pelayanan Minumum – 59 4.3.

RS dan Puskesmas – 56 : Distribusi Ketersediaan Data Penanggulangan KLB Propinsi.LAPORAN AKHIR DAFTAR TABEL Tabel 1. RS dan Puskesmas – 54 : Distribusi Ketersediaan SOP Penanggulangan KLB di Propinsi. RS dan Puskesmas – 57 : Distribusi Ketersediaan Sarana Surveilans di Dinkes Propinsi. Kab/Kota . Dikes Kab/Kota.3 Tabel 4.7 Tabel 4.11 Tabel 4.15 : Sepuluh Penyakit Utama Pada Pasien Rawat Inap Tahun 2003 – 2 : Target dan Capaian Pemberantasan Penyakit DBD . Kab/Kota.6 Tabel 4.8 Tabel 4.1 Tabel 1. Kab/kota. RS dan Puskesmas – 58 : Distribusi Ketersediaan Sarana Penanggulangan di Dinkes Propinsi.1 Tabel 4.5 Tabel 4. Kab/Kota.9 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 55 : Distribusi Ketersediaan Data Surveilans di Dinkes Propinsi. Dinkes Kab/Kota. Rs dan Puseksmas – 42 : Distribusi Indikator Diseminasi Informasi Surveilans di Dinkes Propinsi.1 Tabel 3.10 Tabel 4.2 Tabel 4.13 Tabel 4.12 Tabel 4.4 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 58 : Daftar KW dan SPM Bidang Kesehatan – 60 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular ix .2 Tabel 2. Dnkes Kab/Kota.14 Tabel 4.1 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 44 : Distribusi Jenis Tenaga di Dinkes Propinsi dan Kab/Kota – 47 : Distribusi Jenis Tenaga di Rumah Sakit dan Puskesmas – 48 : Persepsi Responden Tentang Surveilans DBD – 49 : Persepsi Responden Tentang Penanggulangan DBD – 50 : Distribusi Sumber Dana di Dinkes Propinsi dan Kab/Kota – 51 : Distribusi Sumber Dana di Rumah Sakit dan Puskesmas – 52 : Distribusi Ketersediaan SOP Surveilans dan Dinkes Propinsi.4 : Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan – 12 : Responden Kajian – 31 : Distribusi Indikator Kinerja Surveilans di Dinkes Propinsi. Kab/Kota .

4 Gambar 4.2 Gambar 4.5 Gambar 4.2 Gambar 3.6 Gambar 4.1 Gambar 2.LAPORAN AKHIR DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Gambar 4.1 Gambar 3.3 Gambar 3.3 Gambar 3. Tahuan 2005-20006 – 34 : Jumlah Kasus DBD di Indonesia Tahun 2005-2006 – 35 : Data Kasus DBD di Lokasi Kajian – 44 : Data Kematian DBD di Lokasi Kajian – 45 : Case Fatality Rate (CFR) DBD di Lokasi Kajian – 46 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular x .7 : Alusr Distribusi Data Surveilans Terpadu Penyakit – 10 : Skema Program Penanggulangan KLB – 15 : Bagan Penanggulangan Fokus (Penanggulangan Penderita DBD di Lapangan) – 24 : Kerangka Pikir Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular – 27 :Kerangka Konsep Kinerja Surveilans – 28 : kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan – 28 : Tahapan Pelaksanan Kajian – 32 : IR & CFR DBD Tahun 1968-2004 – 33 : Perkembangan Kasus DBD Nasional Per bulan – 34 : Kasus DBD Per Bulan di Indonesia.4 Gambar 4.3 Gambar 4.2 Gambar 2.

Mengubur ABJ : Angka Bebas Jentik APBN : Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara APBD : Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah Askeskin : Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin Bappeda : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional COMBI : Communication for Behavioral Impact CFR : Case Fatality Rate DAU : Dana Alokasi Umum DBD : Demam Berdarah Dengue Dekon : Dekonsentrasi DOP : Dana Operasional Puskesmas DPRD : Dewan Perwakilan Daerah Epidemiologi : Ilmu yang mempeljari penyebaran penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit pada manusia Epidemiologis: Orang yang ahli dalam ilmu epidemiologi FGD : Focused Group Discussion Gakin : Keluarga Miskin HIV/AIDS : Human Immuno deficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome IPTEK : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi IR : Incidence Rate ISPA : Infeksi Saluran Pernafasan Akut JPK-MM : Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat miskin KIE : Komunikasi. Pemeriksaan Jentik Berkala PKK : Pembinaan Kesejahteraan Kelaurga PKPS-BBM : Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak Pokjanal : Kelompok Kerja Operasional Posyandu : Pos Pelayanan Terpadu PP & PL : Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan PSN : Pemberantasan Sarang Nyamuk Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah SARS : Severe Acute Respiratory Syndrome SKD-KLB : Sistem Kesiapan Dini Kejadian Luar Biasa SOP : Standar Operasional Prosedur SDM : Sumber Daya Manusia SKM : Sarjana Kesehatan Masyarakat Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular xi . Informasi dan Edukasi KLB : Kejadian Luar Biasa LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat MDGs : Millennium Development Goals P2B2 : Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang P2M : Pemberantasan Penyakit Menular PE : Penyelidikan Epidemiologi PHBS : Pola Hidup Bersih dan Sehat PI : Perencanaan dan Informasi PJB .LAPORAN AKHIR DAFTAR SINGKATAN & DEFINISI ISTILAH 3M : Menguras. Menutup.

dan menginterpretasi suatu fenomena peristiwa kesehatan pada manusia/masyarakat tertentu yang hasilnya dipakai untuk melakukan tindakan terhadap peristiwa kesehatan tersebut : Tuberculosis : Tempat Penampungan Air : Unit Gawat Darurat : Usaha Kesehatan Sekolah : Unit Pelaksanan Teknis : Suatu peningkatan kejadian kesakitan dan atau kematian suatu penyakit di suatu tempat tertentu. mengumpulkan. emnganalisis. secara aktif maupun pasif dalam mengamati. yang melebihi keadaan biasanya : World Health Organization : Pelayanan Medik Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular xii .LAPORAN AKHIR SPIRS SP2PT SST STP Surveilans TBC TPA UGD UKS UPT Wabah WHO Yanmedik : Sistem Pelaporan Rumah Sakit : Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas : Sistem Surveilans Terpadu : : Rangkaian kegiatan secara teratur dan terus menerus.

(4) menekan penyebaran penyakit HIV/AIDS.2 tahun (2003). Masalah kesehatan dapat disebabkan oleh berbagai sebab.1 Latar Belakang a. dan Philipina. kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. indikator kesehatan dan gizi yang telah dicapai selama ini masih jauh dari sasaran yang telah ditargetkan dalam Millennium Development Goals (MDGs). Beberapa target MDG yang ingin dicapai pada akhir tahun 2015. status kesehatan masyarakat Indonesia masih tertinggal.000 kelahiran hidup (2002-2003). telah menurun dari 34. sebagai “benchmarks” untuk mengukur perkembangan dalam pencapaian Deklarasi Millenium 2000.8 tahun (1999) menjadi 66. (5) menekan penyebaran penyakit malaria dan TBC. kemauan. kematian ibu melahirkan dan prevalensi gizi kurang. Malaysia.8 persen (2002). dan (7) mengurangi separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses terhadap penyediaan air bersih.BAB 1 PENDAHULUAN 1. Kondisi Umum Pembangunan Kesehatan Pembangunan kesehatan di Indonesia ditujukan untuk meningkatkan kesadaran. AKB dan AKI lebih tinggi di daerah perdesaan. oleh karena itu secara operasional masalah-masalah kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular . Pembangunan kesehatan selama ini secara umum dapat dilihat dari status kesehatan dan gizi masyarakat yang telah menunjukkan perbaikan seperti terlihat dari angka kematian bayi. Prevalensi gizi kurang (underweight) pada anak balita. Umur harapan hidup meningkat dari 65. serta pada penduduk dengan tingkat ekonomi dan pendidikan rendah. Angka kematian bayi menurun dari 46 (1997) menjadi 35 per 1. (6) meningkatkan akses terhadap obat esensial. MDGs merupakan suatu kesepakatan global. (2) mengurangi dua per tiga angka kematian bayi dan angka kematian balita. Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN seperti Thailand. memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata. baik ditinjau dari tingkat sosial ekonomi. yang ditandai dengan penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat. dan antar perkotaan-perdesaan. Selain itu. (3) mengurangi tiga per empat angka kematian ibu. di masa datang pembangunan kesehatan menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang cukup berat. yang berkaitan dengan pembangunan kesehatan di Indonesia antara lain adalah: (1) mengurangi separuh penduduk yang mengalami kelaparan.000 kelahiran hidup (2002–2003) dan angka kematian ibu melahirkan menurun dari 334 (1997) menjadi 307 per 100. Disparitas status kesehatan masih cukup tinggi. Di samping kemajuan yang telah dicapai di atas.4 persen (1999) menjadi 25. antar kawasan. di kawasan timur Indonesia.

Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. malaria. Tidak ada obat untuk penyakit polio.9 4 Demam tifoid dan paratifoid 2. Lampung dan Sumatera Selatan. Tabel 1. Untuk itu perlu dikembangkan subsistem surveilans epidemiologi kesehatan yang terdiri dari Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular.6 Salah satu penyakit menular yang akhir-akhir ini menonjol adalah munculnya kasus polio di beberapa wilayah seperti Provinsi Jawa Barat. Diperlukan tatalaksana terintegrasi dan komprehensif dengan kerjasama yang harmonis antar sektor dan antar program. kabupaten/kota bahkan antar negara. hewan dan lain-lain antar Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 2 .LAPORAN AKHIR sektor kesehatan sendiri.9 7 Demam yang sebabnya tidak tahu 1. 5-10 % pasien meninggal akibat kelumpuhan pada otot pernafasan. misalnya antar propinsi.0 2 Demam berdarah dengue 3. dan Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra. Jawa Tengah.9 8 Diabetes Melietus 1. influenza. Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan.9 9 Cedera YDT lainnya. b. demam berdarah dengue. disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif. Satu dari 200 kasus infeksi virus akan menyebabkan kelumpuhan.7 5 Cedera intrakanial 2. penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya. sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah. YYT dan daerah badan multiple 1.7 3 Penyakit kehamilan dan persalinan lainnya 2.8 10 Pneumonia 1. Berbagai emerging diseases misalnya polio dan flu burung dapat terjadi antara lain karena tingginya mobilitas penduduk antar negara. Penyakit Menular Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. Penyakit ini hanya bisa dicegah dengan imunisasi. Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Dengan demikian penularan penyakit antar negara (trans-nasional) ini dapat terjadi dengan mudah mengingat semakin mudahnya transportasi manusia.0 6 Tuberkulosis paru 1. Banten.1 Sepuluh Penyakit Utama Pada Pasien Rawat Inap Tahun 2003 No Pasien Rawat inap % 1 Diare dan gastroenteritis infeksi tertentu 8. tifus abdominalis. Polio merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya disebabkan oleh virus yang menyerang sistem syaraf dan bisa menyebabkan kelumpuhan total.

3 persen. chikunguya. (5) ganti rugi dan penghargaan. Penyakit DBD merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di wilayah tropis. tetapi bahkan semakin mewabah. Vietnam (0. DBD masih sulit diberantas karena tidak tersedianya vaksin dan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 3 . Kebijakan penanggulangan penyakit menular khususnya dalam penanggulangan wabah telah diatur dalam bentuk peraturan perundangan. Indonesia juga menghadapi emerging diseases seperti demam berdarah dengue (DBD). dan berulang kali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) disertai kematian yang banyak. Sejak Januari sampai 17 Maret 2004. yaitu UU No 4 Tahun 1984 tentang Penyakit Menular serta Peraturan Pemerintah No. Thailand (0. Pola penyakit yang diderita oleh masyarakat sebagian besar adalah penyakit infeksi menular seperti tuberkulosis paru. serta (7) pelaporan.000 penduduk pada tahun 2010. Daerah endemis tersebar di sebagian besar wilayah Indonesia. HIV/AIDS. kejadian luar biasa (KLB) DBD di Indonesia telah menyerang 39. infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Dengan demikian telah terjadi transisi epidemiologi sehingga Indonesia menghadapi beban ganda pada waktu yang bersamaan (double burden).2 persen). padahal tujuan program pemberantasan DBD dalam Indonesia Sehat 2010 adalah menurunkan angka kejadian di bawah 5 per 100. (3) peran serta masyarakat. Oleh karena itu perlu upaya ekstra agar penularan dapat dicegah dan ditangani sedini mungkin.938 orang dengan angka kematian 1. Namun demikian. Walaupun demikian.LAPORAN AKHIR negara.3 persen). (2) upaya penanggulangan. malaria. Penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti lingkungan domestik maupun iklim. dengan keterlibatan petugas kesehatan maupun pemberdayaan masyarakat. Berbagai penelitian mengenai faktor risiko terhadap kejadian DBD telah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan memberikan hasil yang selaras maupun yang kontradiktif.9 persen). serta diabetes mellitus dan kanker. India (0. pada waktu yang bersamaan terjadi peningkatan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah. Peraturan tersebut pada intinya mengatur (1) tata cara penetapan dan pencabutan penetapan daerah wabah . polio dan penyakit kulit. demografi.1 persen).000 penduduk. Meskipun sudah lebih dari 35 tahun berada di Indonesia. sebenarnya angka kematian masih terlalu tinggi jika dibandingkan dengan Singapura (0. (6) pembiayaan penanggulangan wabah. (4) pengelolaan bahan-bahan yang mengandung penyebab penyakit. dan Filipina (1 persen). Salah satu penyakit menular yang merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi adalah penyakit demam berdarah dengue (DBD). DBD bukannya terkendali. Meskipun dibandingkan dengan KLB 1968 angka kematiannya jauh telah menurun.3 persen). 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. Dalam KLB 2004 tercatat angka kejadian (incidence rate) 15 per 100. Severe Acute Respiratory Syndrom (SARS) dan Flu Burung. pada umumnya kajian menunjukkan bahwa pengendalian DBD perlu dilakukan secara komprehensif dari berbagai aspek baik medis maupun sosial. sosial ekonomi dan perilaku. Malaysia (0. diare.

25 2003 4.34 TAHUN 2004 4 37. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. entomologi. Ketiadaan vaksin merupakan penghambat utama eradikasi DBD. Berdasarkan hasil penelitian WHO Tahun 2003 dilaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan surveilans masih menghadapi kendala. Berdasarkan data Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan.2 Target dan Capaian Pemberantasan Penyakit DBD TARGET DAN CAPAIAN PEMBERANTASAN DBD 60 RASIO 40 20 0 Target Realisasi 2001 5. Kendala yang dihadapi antara lain berkaitan dengan (1) kebijakan sistem surveilans yang belum dipahami sampai ke petugas teknis di lapangan. rasio penderita DBD per 100.000 penduduk selama periode tahun 2001-2005 selalu menunjukkan diatas rasio yang ditargetkan. Gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan instrumen 3M (menguras.7 21.1 2005 10 43. serta (3) adanya desentralisasi kewenangan pengelolaan. pengetahuan. Meskipun demikian. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi antara lain berkaitan dengan (1) pelaksanaan surveilans. Pemerintah sejak tahun 1993 telah berusaha membina peran serta masyarakat melalui berbagai kelompok kerja pemberantasan DBD di desa atau kelurahan. dan mengubur) sudah sering disosialisasikan namun hasilnya belum menggembirakan. menutup. dan sikap masyarakat. saat ini perkembangan vaksin masih memerlukan penelitian lebih lanjut agar dapat digunakan ke manusia. juga masih belum optimalnya pengendalian penyakit yang dilakukan oleh Pemerintah. (2) terbatasnya tenaga pelaksana Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 4 . Tabel 1. 2006 Kebijakan penanggulangan penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan.31 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes.LAPORAN AKHIR kurangnya peran serta masyarakat. Data ini selain menunjukkan kecenderungan makin tingginya penderita DBD dari tahun ke tahun.5 24. Gerakan 3M selama 30 menit setiap minggu juga dicanangkan.66 2002 5 19. Semuanya menyadari bahwa strategi hanya dapat diperoleh dengan melaksanakan analisis situasi berdasarkan aspek epidemiologi. (2) upaya penanggulangan.

Identifikasi kinerja penanggulangan penyakit menular serta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja penanggulangan penyakit menular 3. Langkah-langkah apa yang diperlukan untuk penanggulangan penyakit menular. dana. dukungan logistik. Identifikasi kinerja surveilans serta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja surveilans penyakit menular 2. kemampuan SDM dan sumber dana daerah. fasilitas pendukung.LAPORAN AKHIR surveilans. Adanya otonomi daerah ini juga berpengaruh terhadap peran dan tanggung jawab Kabupaten/Kota/Propinsi untuk mengembangkan diri sesuai masalah kesehatan masyarakat. Tujuan khusus : 1. Identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam penanggulangan penyakit menular Sasaran Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 5 . Permasalahan yang dihadapi dalam penanggulangan wabah terutama berkaitan dengan aspek manajemen menyangkut kesiapan tenaga lapangan.3 Tujuan dan Sasaran Tujuan Tujuan utama kajian adalah menyusun rumusan kebijakan penanggulangan penyakit menular secara terpadu berdasarkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh dalam pelaksanaan kebijakan penanggulangan penyakit menular di pusat dan daerah. dana serta sistem pelaporan.2 Perumusan Masalah Berdasarkan permasalahan di atas. 32 dan 33 Tahun 2005 telah memberikan pembagian kewenangan dalam pengelolaan pemerintahan di daerah. SOP dan data ? 3. Berkaitan dengan desentralisasi kewenangan pengelolaan kebijakan pembangunan (otonomi daerah). 22 dan 25 tahun 1999 yang kemudian direvisi dengan UU No. beberapa pertanyaan penelitian yang melandasi kajian ini antara lain adalah : 1. (3) adanya ketidaksesuaian kompetensi. adanya regulasi pemerintahan dalam bentuk UU No. Faktor-faktor apa saja yang mwempengaruhi kinerja surveilans dan penaggulangan penyakit menular ? 2. (4) terbatasnya dana pelaksanaan surveilans di tingkat operasional. Reformasi pemerintahan tersebut memberi dampak perubahan cukup signifikan terhadap peran pemerintah dan swasta dalam program dan pelayanan kesehatan. sarana. Bagaimana peran dan tanggungjawab (kewenangan) pemerintah daerah dalam penanggulangan penyakit menular ? 1. dan (5) belum optimalnya penggunaan sarana kesehatan dalam mendukung pelaksanaan surveilans penyakit seperti pemanfaatan laboratorium dan peralatan. mencakup aspek tenaga. 1.

dana. sarana dan SOP 5. serta tanggung jawab dan kewenangan antara pusat dan daerah. jenis. disain kajian. adalah : 1. Identifikasi kinerja surveilans yang mencakup (1) ketersediaan peta rawan KLB DBD. Identifikasi kinerja penanggulangan KLB DBD yang mencakup frekuensi KLB.LAPORAN AKHIR Tersusunnya rumusan kebijakan upaya penanggulangan penyakit menular secara terpadu melalui optimalisasi sumberdaya yang tersedia sekaligus sebagai acuan bagi pelaksanaan program penanggulangan penyakit menular di pusat dan daerah. tujuan dan sasaran kajian. data. Identifikasi faktor berpengaruh terhadap kinerja penanggulangan KLB DBD mencakup tenaga. jumlah kasus. Identifikasi faktor berpengaruh terhadap kinerja surveilans mencakup kondisi tenaga. 1. dan SOP.4 Keluaran Keluaran kajian adalah rumusan kebijakan penanggulangan penyakit menular yang mencakup aspek surveilans. sumber. Bab III membahas tentang metodologi yang digunakan berkaitan dengan kerangka pemikiran. jumlah kematian dan luas daerah terserang 4. dan (2) pelaksanaan diseminasi informasi 2.6 Sistematika Penulisan Penulisan laporan dibuat dengan sistematika sebagai berikut: Bab I membahas tentang latar belakang. dan pengumpulan data serta metode analisis. Identifikasi peran dan tanggung jawab daerah dalam penanganan penyakit menular khususnya pada kasus DBD.5 Ruang Lingkup Kajian ini difokuskan pada evaluasi kebijakan penanggulangan penyakit menular yang telah dilakukan selama ini. Lingkup kegiatan yang akan dilakukan dalam kajian ini antara lain. Bab II membahas tentang landasan teori mencakup pengertian dan hasil kajian yang sudah dilakukan. 1. data. 3. penanganan wabah. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 6 . sarana. keluaran serta ruang lingkup kajian. 1. dana.

Kinerja Surveilans dan Penanggulangan DBD. Indikator kinerja surveilans dan penanggulangan KLB. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 7 . Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan.LAPORAN AKHIR Bab IV Hasil dan Pembahasan. mencakup tenaga. Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB. dana. sarana dan SOP. data. mencakup Gambaran Umum Penanggulangan DBD.

HIV/AIDS (pertama kali di Denpasar 1987) kini merambah ke Indonesia. Strategi pengendalian penyakit menular secara umum pada dasarnya sama. merupakan kawasan endemik berbagai penyakit menular. Epidemiologi global yakni perjalan penyakit antar benua. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. Indonesia sebagai wilayah tropik dan wilayah dinamik secara sosial ekonomi. kini diberbagai kota pelabuhan. yakni menghilangkan sumber penyakit dengan cara menemukan dan mencari kasus secara proaktif. sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah. Masing-masing penyakit memiliki peta endemisitas tersendiri. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif. demam berdarah dengue. Pengertian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 8 .2 Surveilans Epidemiologi Selama ini pengertian konsep surveilans epidemiologi sering dipahami hanya sebagai kegiatan pengumpulan data dan penanggulangan KLB. orgfanisasi nonpemerintah. kemudian melakukan pengobatan hingga sembuh. misalnya antar propinsi. swasta. partner nonkesehatan. penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya. disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. influenza. virus hantaan (1977) dijumpai pada tikus diberbagai pelabuhan. Sekaligus merupakan kawasan yang berpotensi tinggi untuk hadirnya penyakit infeksi baru. misalnya lingkungan dan intervensi terhadap perilaku. Beberapa penyakit infeksi baru (ketika itu) dan kini endemik adalah demam berdarah dengue (pertama kali tahun 1968 di Surabaya). Manajemen pemberantasan dan pengendalian penyakit menular juga memiliki dua perspektif: a. malaria.LAPORAN AKHIR BAB 2 LANDASAN TEORI 2. Penyakit lain merupakan penyakit infeksi endemik dan sudah lama di Indonesia dan endemik di berbagai kabupaten (daerah pegunungan maupun pantai) yaitu TBC dan Malaria. Semua institusi pelayanan seperti kuratif penyakit menular maupun pelayanan kesehatan masyarakat. yakni apa yang dikenal sebagai Sistem Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. tifus abdominalis. Intervensi faktor resiko. pemerintah. Kabupaten/kota bahkan antar negara. 2. b. Tiap tahun diselenggarakan pertemuan nasional semacam konvensi untuk melakukan monitoring kemajuan program serta perkuatan dari networking. Epidemiologi lokal yang intinya dinamika tranmisi penyakit tertentu pada wilayah tertentu.1 Penyakit Menular di Indonesia Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. bergabung menjadi satu sistem.

Menurut WHO. sehingga membutuhkan dukungan perencanaan. upaya peningkatan kemampuan sumberdaya antara unit surveilans Dinas Kesehatan Kab/Kota. tanpa melupakan pentingnya kegiatan pengumpulan dan pengolahan data. Rumah Sakit. Surveilans Terpadu Penyakit merupakan proses kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan sistematis. Rumah Sakit. Jejaring surveilans dalam pertukaran data. Dalam sistem ini yang dimaksud dengan surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efesien melalui proses pengumpulan data. Jejaring surveilans dalam distribusi informasi kepada program terkait pusatpusat penelitian. surveilans adalah proses pengumpulan. Laboratorium. b. pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan. Jejaring Surveilans Jejaring surveilans digunakan dalam Surveilans terpadu penyakit adalah a. Alur distribusi data dan umpan balik dalam dilihat dalam skema di bawah. pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan. unit surveilans di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Propinsi dan Pusat. pelaksanaan. unit surveilans Dinas Kesehatan Propinsi dan Unit Surveilans Ditjen PPM & PL Depkes. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 9 . analisis dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk mengambil tindakan. pusat penelitian. pengendalian dan evaluasi serta dukungan sumberdaya yang memadai sebagai suatu program surveilans terpadu. Dinas Kesehatan Propinsi dan Ditjen PPM & PL Depkes termasuk Puskesmas Sentinel dan Rumah Sakit Sentinel c. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu definisi surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan analisis atau kajian epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi. Dinas Kesehatan Kab/Kota. pengolahan. sumber-sumber data. pusat-pusat kajian. unit surveilans program pada masingmasing Puskesmas. unit surveilans di Dinas Kesehatan Propinsi dan unit surveilans di Ditjen PPM & PL Depkes.LAPORAN AKHIR seperti itu menyembunyikan makna analisis dan penyebaran informasi epidemiologi sebagai bagian yang sangat penting dari proses kegiatan surveilans epidemiologi. meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah Kabupaten/Kota. Jejaring surveilans dalam pengiriman data dan informasi serta peningkatan kemampuan manajemen surveilans epidemiologi antara Puskesmas. kajian. termasuk Puskesmas dan Rumah Sakit Sentinel. Sistem surveilans epidemiologi merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintehrasi antara unit-unit penyelenggara surveilans dengan laboratorium.

3 Kebijakan Sistem Surveilans Surveilans Epidemiologi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam manajemen kesehatan untuk memberikan dukungan data dan informasi epidemiologi agar pengelolaan program kesehatan dapat berdaya guna secara optimal. Untuk melakukan upaya pemberantasan penyakit menular.LAPORAN AKHIR Unit Surveilans Ditjen PPM & PL Depkes Unit Surveilans Dinas Kesehatan Propinsi Unit Surveilans Dinas Kesehatan Kab/Kota Unit Surveilans Puskesmas Unit Surveilans Rumah Sakit Unit Surveilans Laboratorium Gambar 2. penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit dan keracunan. cepat. akurat merupakan evidance atau bukti untuk digunakan dalam proses pengambilan kebijakan yang tepat dalam pembangunan kesehatan. Informasi epidemiologi yang berkualitas. serta penanggulangan penyakit tidak menular diperlukan suatu sistem surveilans penyakit yang mampu memberikan dukungan upaya program dalam daerah kerja Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 10 .1 Alur Distribusi Data Surveilans Terpadu Penyakit 2.

dan sistem Pelaporan Rumah Sakit (SPIRS). Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. proses dan keluaran.4 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Kinerja penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan diukur dengan indikator masukan. Sistem surveilans tersebut perlu dikembangkan dan disesuaikan dengan ketetapan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. Beberapa produk hukum lain terkait dengan pelaksanaan surveilans epidemiologi adalah 1. Peraturan Pemerintah No. Propinsi dan Nasional. dan Keputusan Menteri Kesehatan No. Propinsi. Disamping keberadaan SST telah juga dikembangkan beberapa Sistem Surveilans khusus penyakit.LAPORAN AKHIR Kabupaten/Kota. 1479 tahun 2003 tentang Surveilans Terpadu Penyakit. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 949 tahun 2004. Peraturan Menteri Kesehatan No. 6. tatacara penyampaian laporannya dan tacara penanggulangan seperlunya. Peraturan Menteri Kesehatan tentang Sistem Kewaspadan Dini KLB No. Undang-Undang No. Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). dukungan kerjasama antar program dan sektor serta kerjasama antara Kabupaten/Kota. 4. 2. Pada tahun 1987 telah dikembangkan Sistem Surveilans Terpadu (SST) berbasis data. Ketiga indikator tersebut merupakan satu kesatuan. 1116 tahun 2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Surveilans Epidemilogi Kesehatan. 7. Indikator-indikator tersebuat adalah sebagai berikut: Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 11 . 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. Undang-Undang No. 560 tahun 1989 tentang Jenis Penyakit yang dapat menimbulkan wabah. 3. 2. dimana kelemahan salah satu indikator tersebut menunjukkan kinerja sistem surveilans yang belum memadai. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pemerintah Pusat dan Daerah. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. yang telah mengalami beberapa kali perubahan dan perbaikan. 242 tahun 2003 tentang Penetapan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) sebagai penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan pedoman penanggulangannya. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 1116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan serta kebutuhan informasi epidemiologi untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular. 5. Nasional dan internasional. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.

Pusat Indikator Unit utama Departemen Kesehatan memiliki a. 4 tenaga epidemiologi terampil d. Propinsi 3. 1 paket kepustakaan d. 1 paket jaringan elektromedia b. 2 tenaga epidemiologi ahli (S2) b.1 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Masukan Tenaga Tingkat 1. 1 paket alat komunikasi (telepon. 1 tenaga dokter umum a. 2 tenaga epidemiologi ahli (S1) c. 4 tenaga epidemiologi ahli (S1) c. Kabupaten/Kota Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 12 . SSB dan telekomunikasi lainnya) c. 1 paket formulir 2. 1 tenaga dokter umum a. 4 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi f. faksimili. 1 tenaga epidemiologi ahli b. 1 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. Puskesmas 1. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. 1 tenaga dokter umum a. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. 1 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. Pusat. 32 tenaga epidemiologi terampil UPT Departemen Kesehatan memiliki a. Propinsi 2. Kabupaten/Kota 4. SSB dan telekomunikasi lainnya) c. 2 tenaga epidemiologi terampil d. 1 paket kepustakaan d. 1 paket jaringan elektromedia b. 2 tenaga epidemiologi ahli (S1) atau terampil c.LAPORAN AKHIR Tabel 2. 16 tenaga epidemiologi ahli (S1) d. 1 tenaga epidemiologi ahli (S3) b. faksimili. 1 roda dua a. 8 tenaga epidemiologi ahli (S2) c. 1 tenaga epidemiologi terampil 1 tenaga epidemiologi terampil a. 1 paket alat komunikasi (telepon. 1 roda empat. Rumah Sakit Sarana 5.

faksimili. 1 roda empat. 1 paket formulir f. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 4 kali atau lebih setahun d. Propinsi a. 1 paket komputer Rumah Sakit b. Kelengkapan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih b. Kelengkapan laporan bulanan STP unit pelayanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebesar 90% Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 13 . Kelengkapan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih b. Puskesmas dan a. SSB) c. 2003 Selanjutnya Indikator Surveilans Kesehatan dijabarkan dalam Indikator Kinerja Penyelenggaraan terpadu Penyakit sebagai berikut: a. Pusat Profil Surveilans Epidemiologi Nasional sebesar 1 kali setahun Profil Surveilans Epidemiologi Propinsi sebesar 1 kali setahun Profil Surveilans Epidemiologi Kabupaten/ Kota sebesar 1 kali setahun Sumber: Inspektorat Jenderal Depkes RI.LAPORAN AKHIR Proses Kegiatan Surveilans Keluaran f. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 1. 1 roda dua 3. Ketepatan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih c. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 3. 1 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi g. 2 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi g. Ketepatan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih c. Pusat a. 1 paket kepustakaan d. Kabupaten/Kota a. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 12 kali atau lebih setahun d. 1 roda dua 1. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 12 kali atau lebih setahun d. Kelengkapan laporan unit pelapor sebesar 80% atau lebih b. Ketepatan laporan unit pelapor sebesar 80% atau lebih c. 1 paket alat komunikasi (telepon. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 2.

2. Penanggulangan wabah penyakit menular bukan hanya semata menjadi wewenang dan tanggung jawab Departemen Kesehatan. Penerbitan buletin Epidemologi di propinsi dan nasional adalah sebesar 12 kali setahun l. Penerbitan profil tahunan atau buku data surveilans epidemiologi Kabupaten/Kota. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 90% h. Berbagai lintas sektor Pemerintah misalnya Departemen Pertahanan Keamanan. propinsi dan nasional sebesar 100% i. penyembuhan dan pemulihan kesehatan. Depatemen Sosial. Wabah penyebaran penyakit dapat berlangsung secara cepat. Selain itu dalam upaya Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 14 . maupun kontak hubungan langsung atau karena jenis dan sifat dari kuman penyebab penyakit wabah itu sendiri. baik melalui perpindahan. Dalam upaya penanggulangan penyakit menular. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 90% f. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 100% e. Distribusi data dan informasi bulanan Kabupaten/Kota. harus dilakukan secara terpadu dengan upaya kesehatan lain.5 Penanggulangan Penyakit Menular Penanggulangan penyakit menular merupakan bagian dari pelaksanaan pembangunan kesehatan. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 100% g.LAPORAN AKHIR b. Oleh karena itu penanggulangan wabah harus dilakukan secara dini. Keterkaitan sektor-sektor dalam upaya penanggulangan wabah tersebut sesuai dengan tugas. Penanggulangan secara dini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya kejadian luar biasa dari suatu penyakit wabah yang dapat menjurus terjadinya wabah yang dapat mengakibatkan malapetaka. Propinsi dan Nasional adalah satu kali setahun. Ketepatan laporan bulanan STP Unit Pelayanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Kota sebesar 80% c. tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mencapai indikator Epidemiologi STP sebesar 80% d. Kondisi lain yang dapat menimbulkan penyakit menular adalah akibat kondisi masyarakat dari suatu wilayah tertentu yang kurang mendukung antara lain kesehatan lingkungan yang kurang baik atau gizi masyarakat yang belum baik. Departemen Komunikasi dan Informasi. Oleh karena itu dalam pelaksanaan penanggulangannya memerlukan keterkaitan dan kerjasama dari berbagai lintas sektor Pemerintah dan masyarakat. Umpan balik laporan bulanan Kabupaten/Kota. Departemen Keuangan dan Departemen Dalam Negeri. Penerbitan buletin Epidemiologi di Kabupaten/Kota adalah 4 kali setahun k. propinsi dan nasional sebesar 100% j. wewenang dan tanggung jawabnya dalam upaya penanggulangan wabah. yaitu upaya pencegahan.

perlu diidentifikasi adanya ancaman KLB beserta kondisi rentan yang memperbesar resiko terjadinya KLB agar dapat dilakukan peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan KLB. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. masyarakat juga dapat diikutsertakan dalam penanggulangannya. yamg kemudian diikuti dengan terbitnya PP No. Pada tahun 2000. Peraturan Menteri Kesehatan No. Undang-undang tersebut kemudian direvisi menjadi UU No. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. PP No. Indonesia menerapkan secara penuh UU No. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.2 Skema Program Penanggulangan KLB Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 15 .LAPORAN AKHIR penanggulangan wabah tersebut. yang keseluruhannya harus dilaksanakan secara terpadu. Kejadian-kejadian KLB perlu dideteksi secara dini dan diikuti tindakan yang cepat dan tepat. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. Data & Informasi Penduduk dan Lingkungan Perbaikan kondisi rentan KLB Prioritas Penanggulangan KLB SKD-KLB KLB tidak Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat Penanggula ngan KLB Data KLB dan Data Epidemiologi Lain Kesiapsiagaan Menghadapi KLB Gambar 2. KLB penyakit dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan kesakitan dan kematian yang besar. yang juga berdampak pada pariwisata. sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan oleh semua pihak terkait. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom yang berpengaruh terhadap penyelenggaraan penanggulangan KLB. Penanggulangan wabah/KLB penyakit menular diatur dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan No. ekonomi dan sosial. 560 tentang Jenis Penyakit Tertentu Yang dapat Menimbulkan Wabah.

Lintas Batas Penyakit menular bersifat lintas batas. Oleh karena itu. KLB polio pada awal tahun 2005. Peta endemisitas malaria terbentang dari Asia Tenggara. Misalnya. Afrika Tengah. dan mekanisme jaringan antar negara yang bersifat lintas batas. Demikian juga dengan daerah wisata internasional. migrasi berbagai binatang seperti migrasi burung antar benua bisa merupakan sumber pembawa penyakit. kemudian melalui apa penyakit tersebut datang. Sedangkan wilayah timur dari arah utara menyusur pantai timur China. lebih dipengaruhi oleh batasan ekosistem. harus memahami hal ini. dua kabupaten berbatasan yang memiliki ekosistem penyakit yang sama wajib bekerjasama. Penyakit menular juga dapat berpindah atau bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya melalui mobilitas penduduk sebagai sumber penularan maupun komoditas sebagai wahana transmisi.LAPORAN AKHIR 2. Maksudnya. maka memiliki masalah yang sama seperti malaria. Misalnya. migrasi burung utara selatan dan sebaliknya. memiliki jalur barat yakni kawasan semenanjung Malaysia. serta sebaliknya. Sumatera. Dalam perspektif global. setiap sudut Kabupaten dan Kota di Indonesia harus dianggap sebagai bagian dari komunitas dunia. Nusa Tenggara Timur. Dalam hal ini Dinas Kesehatan. Sebagai contoh Avian influenza. Penyakit menular yang sifatnya relatif “tertutup”. Dengan demikian. Filipina. Atau perjalanan kelelawar yang dapat menyebarluaskan virus Nipah. hendaknya meningkatkan kemampuannya untuk mengahadapi globalisasi penyakit menular.6. maupun masyarakat hendaknya memiliki kapasitas terhadap permasalahan epidemiologi global. Selain itu. LSM. hingga Amerika Latin. Seorang Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/kota yang berbatasan dengan negara lain. penyakit menular dipengaruhi mobilitas penduduk sebagai sumber penyakit. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 16 . penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administratif pemerintah. Seorang Kepala Dinas Kesehatan harus memahami benar apakah daerahnya termasuk lalulintas internasional atau bukan. ketimbang batasan administratif. Sulawesi Utara. kemudian langsung ke selatan menuju Australia. Dengan kata lain. Seperti asal datangnya penyakit. Epidemiologi Global Penyakit Penyakit menular bersifat global. Jawa. terutama penyakit menular melalui transmisi serangga atau binatang yang memiliki reservoir. Termasuk petugas yang mengawasi jalur-jalur penerbangan internasional. Hal ini memerlukan kerjasama global. kabupaten/kota terikat pada komitmen dunia. Wilayah-wilayah yang merupakan jalur transmisi sebaiknya memiliki kapasitas dan aktif mengakses informasi. Penyebaran global memiliki potensi terjadinya pandemik. Sebab. Binatang umumnya memiliki habitat tertentu dan terkait dan batasan ekosistem. Sedangkan wilayah yang sifatnya “terbuka” dengan teknologi transportasi jarak jauh. kabupaten dan kota di Indonesia merupakan wilayah yang terkena resiko yang sama dalam perspektif global. wilayah tropik secara umum memiliki karakteristik ekosistem sama. Dengan kata lain. epidemiologi global harus pempelajari kejadian dan persebaran dalam perspektif dunia.

mitra mana yang dianggap berkepentingan. sedangkan di wilayah Riau risiko tertular malaria datang ketika sedang menyadap karet di pagi buta. tenaga. pendekatan wilayah kabupaten/kota membantu perencanaan dan pelaksanaan serta pelaksanaan program lebih fokus. Desentralisasi juga memudahkan identifikasi faktor resiko yang bersifat lokal. Kemudian keterpaduan dikaitkan dengan promosi kesehatan seperti penggunaan alat pelindung ketika bekerja. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. dan berbagai upaya lain secara bersama dengan lintas sektor. seorang “kepala” pengendalian penyakit harus mampu menemukan dan mengobati sumber penularan penyakit secara aktif. Yakni. Di lain pihak. memerlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif komprehensif. untuk kepentingan perencanaan dan kegiatan berdasarkan keperluan (fakta). maka perlu identifikasi mitra kerja untuk menangani faktor risiko tersebut. Didukung fakta hasil surveilans terpadu. Kemudian ditentukan siapa saja yang harus diikutsertakan. Sehingga intervensi faktor resiko yang bersifat lokal lebih bisa mudah dikendalikan. Sebagai contoh. intervensi holistik. sehingga dapat meyakinkan pihak-pihak otoritas pendanaan seperti DPRD. Keterpaduan pun termasuk penggunaan sumber daya. penderita penyakit menular itu sendiri. Serta mengendalikan faktor risiko penyakit. antar propinsi. Dengan memahami faktor-faktor yang berperan timbulnya penyakit menular khas daerahnya. sekaligus sebagai mata air. penularan Malaria di Kabupaten Banjarnegara berkenaan dengan nyamuk yang memiliki habitat kebun salak dan/atau kolam yang merupakan jamban keluarga. kendaraan. Keterpaduan Untuk memvisualisasikan proses transmisi penyakit serta simpul manajemen. membutuhkan model manajemen penyakit menular berbasis wilayah kabupaten/kota. Kemudian. Dengan demikian. Analisis masing-masing faktor risiko dilakukan sekaligus dan terpadu melalui perencanaan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 17 . Semua itu dituangkan dalam bentuk perencanaan yang didukung fakta (evidences) lokal.LAPORAN AKHIR dalam satu wilayah otonomi kabupaten. antara penyakit. Di satu sisi. antar negara. seperti yang telah diuraikan sebelumnya hal-hal yang bersifat lintas batas berpotensi terabaikan. Bahkan keterpaduan surveilans yakni surveilans kasus sekaligus bersama-sama dengan faktor risiko terkait. penggunaan mikroskop. jadwal. antara stakeholder. Namun. secara teoritis Bupati atau Kepala Dinas Kesehatan secara efektif melakukan upaya pemberantasan penyakit menular yang bersifat spesifik lokal. dalam perspektif ekosistem maupun dinamika/mobilitas faktor risiko penyakit antar kabupaten. di daerah Pacitan berkaitan dengan cekungan-cekungan padas di sungai-sungai. Untuk itu. desentralisasi berati mengharuskan manajemen penyakit menular melakukan pendekatan wilayah administratif.

baik dari segi jumlah kasus maupun wilayah yang terkena persebaran penyakit tersebut. Namun. (2) Memberikan Perlindungan Spesifik dan Imunisasi Manajemen pengendalian penyakit menular dapat dilakukan dengan cara memberikan kekebalan secara artifisial yaitu imunisasi. Dalam satu wilayah kabupaten dapat dilakukan secara intensif dengan memperluas jangkauan pelayanan.7 Strategi Pengendalian Penyakit Strategi pemberantasan penyakit menular berbasis wilayah memiliki pengertian bahwa setiap wilayah administrasi pembangunan (kabupaten/kota) pemberantasan penyakit menggunakan “paket” pendekatan strategi sebagai berikut : (1) Intensifikasi Pencarian dan Pengobatan Kasus Melakukan pencarian dan pengobatan secara intensif terhadap penderita. perlu dilakukan upaya alternatif berupa pemberantasan penyakit yang berbasis lingkungan. demam berdarah dengue baru dikenal pada tahun 1968 dalam KLB di Jakarta dan Surabaya dengan angka kematian sangat tinggi sekitar 41.3 persen.8 Kejadian Luar Biasa (KLB) Kejadian Luar Biasa (KLB) yaitu munculnya penyakit di luar kebiasaan (base line condition) yang terjadi dalam waktu relatif singkat serta memerlukan upaya penanggulangan secepat mungkin. 2. Untuk itu. selain mengobati dan menyembuhkan penderita yang juga merupakan upaya pokok untuk menghilangkan sumber penularan dengan cara pemutusan mata rantai penularan. Oleh sebab itu. seperti pemberdayaan tenaga semi-profesional terlatih misalnya juru Malaria Desa. tentu saja tidak semua penyakit menular dapat dicegah dengan imunisasi. Kejadian luar biasa pertama di Indonesia dilaporkan oleh David Beylon di Batavia (Jakarta) pada tahun 1779. Untuk beberapa penyakit menular yang memerlukan pengobatan jangka panjang seperti halnya TBC. Untuk penyakit tertentu yang membutuhkan konfirmasi laboratorium lebih tinggi. karena dikhawatirkan akan meluas. Juru Kusta. keluarga terdekat atau tokoh masyarakat setempat dapat meminta bantuan Pengawas Menelan Obat (PMO). Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 18 .LAPORAN AKHIR 2. harus ada jaminan ketersediaan obat dan jaminan disiplin menelan obat. Di masa mendatang sebaiknya diciptakan petugas lapangan penyakit menular setara dengan bidan di desa untuk menekan angka kematian ibu. memerlukan bantuan pemeriksaan yang dilakukan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Penyelidikan Penyakit (Labkes) terdekat yang secara regional harus tersedia. Cakupan imunisasi amat penting karena dapat mencegah penyakit dalam satu wilayah. dan sebagainya. Namun.

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 19 . namun draft Permenkes menyebutkan Pemerintah Daerah atas usulan Kepala Dinas Kesehatan setempat menetapkan dan mencabut KLB. adanya indikasi peningkatan jumlah dan kepadatan vektor penular penyakit. Bila KLB terjadi lebih dari satu wilayah kabupaten/kota maka penanggulangannya dikoordinasikan oleh Gubernur. terjadinya kerusakan hutan secara terus menerus. pemantauan kondisi kualitas lingkungan tertentu yang menurun. Penetapan daerah wabah merupakan pertimbangan epidemologis dan keadaan masyarakat (mencakup keamanan. sosial. ekonomi dan budaya) yang disampaikan Kepala Daerah. serta korban kejadian penyakit yang berlangsung dalam tempo yang relatif singkat. Sedangkan untuk penetapan dan pencabutan KLB hingga saat ini belum diatur. Kepala wilayah ketika mengetahui adanya tersangka di wilayah atau adanya tersangka penderita penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah. atau suhu yang meningkat sehingga menimbulkan populasi nyamuk atau ledakan gas. Pasal 12. tahun 1991. KLB merupakan kejadian proses awal. Misalnya. amat penting. penanganan saat kejadian KLB dan pascaKLB. dapat juga ditetapkan pada faktor risiko penyakit seperti bila terjadi ledakan gas beracun. dan sebagainya. ledakan industri. Penyakit menular adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat dengan jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi keadaan yang lazim pada waktu daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (UU Nomor 4. pencermatan ini dikenal sebagai pencermatan pra-KLB. Gempa bumi di sebuah wilayah endemik malaria memerlukan peta dimana pengungsi akan ditempatkan. dan akhirnya berupa pencegahan. Manajemen pra-KLB termasuk sistem kewaspadaan dini. Ayat 1). informasi pra-KLB menjadi penting. Penetapan KLB. Pasal 2 sampai 5). Sedangkan yang menetapkan penyakit menular dan kemudian mencabut ketetapan tersebut adalah Menteri Kesehatan (UU Nomor 4. Pasal 4. Ayat 1 dan 2 serta PP Nomor 40. Apabila kita mencermati proses kejadiannya. dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. Penetapan atau pencabutan daerah wabah diberlakukan dalam suatu wilayah Kabupaten/Kota. memang tidak lazim disebut sebagai KLB. Mengacu kepada teori simpul atau mengacu kepada patogenesis kejadian penyakit. prediktif.LAPORAN AKHIR Menurut PP 40. Pasal 1 Ayat 7. Tahun 1984. Tahun 1984. Bab I. Bab IV. Tahun 1984. tidak hanya mencegah terjadinya KLB. KLB pada dasarnya merupakan suatu kejadian baik pada sumber penyakit (penyebab) dengan dinamika transmisi. namun terminologi ini digunakan untuk tujuan atau rumusan upaya antisipatif. Pasal 1). Kemudian kegiatan tersebut harus dilaporkan kepada Menteri Kesehatan secara berjenjang. Tahun 1991. KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Penanggungjawab operasional pelaksanaan penanggulangan KLB adalah Bupati/Walikota. Pengertian KLB seringkali dikacaukan dengan pengertian wabah. Sedangkan penanggugjawab teknis adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Bab 1. wajib melakukan tindakan secara cepat berupa penanggulangan seperlunya (UU Nomor 4.

Manajemen kasus menjadi amat penting. atau penyakit infeksi lama-selalu memiliki dua makna manajemen. yakni manajemen kesehatan masyarakat untuk mengendalikan jatuhnya korban berikutnya. Oleh sebab itu. Hal ini tampak adanya kesimpang siuran menajemen penyakit menular pada saat dimulainya otonomi atau peralihan sistem tersebut. Avian influenza. maka berpotensi menyebarkan KLB ke saentero Nusantara. dan menetapkan sasaran nasional. filariasis. Bahkan bila dipandang perlu. Pemerintah Pusat dapat mengambil inisiatif melakukan penanganan KLB. Sebagai perwujudan demokratisasi pembangunan maka sejak tahun 2000. Manajemen kasus maupun faktor risiko mencegah timbulnya eskalasi yang lebih luas. Kurun waktu 2000-2005 banyak terjadi kejadian luar biasa. dan sebagainya. upaya-upaya kesehatan termasuk didalamnya manajemen KLB semuanya sudah di desentralisasikan kepada Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota. Di samping itu. TBC. Sedangkan kewenangan pelaksanaan ada pada pemerintah Kabupaten/Kota. Manajemen public health (manajemen faktor risiko) Manajemen public health atau manajemen kesehatan masyarakat. selama sistem atau kapasitas manajemen penyakit berbasis wilayah secara terintegrasi belum mapan. KLB pada dasarnya merupakan ujung dari sebuah proses. dengan mobilitas penduduk yang tinggi akibat krisis sosial. konflik sosial maupun timbulnya penyakit baru seperti SARS. Mengapa hal tersebut terjadi? Pemberantasan penyakit menular memerlukan sistem manajemen. b. Kegagalan manajemen penyakit secara terintegrasi dalam satu wilayah. tetapi sistem baru belum established atau mapan.9 Penyakit Demam Berdarah Penyakit Demam berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. bencana lingkungan karena ulah manusia. HIV/AIDS. tetapi keduanya memiliki batas wlayah ekosistem. apabila dibiarkan berkembang. Keadaan ini erat kaitannya dengan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 20 . Sejak tahun 1968 jumlah kasusnya cenderung meningkat dan penyebarannya bertambah luas. menyusun guidlines petunjuk. khususnya saat penanganan KLB penyakit menular. akan menimbulkan KLB. Satu foci penyakit menular –entah itu demam berdarah. namun dalam hal KLB dan bencana dapat meminta bantuan Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Pusat. Sementara sistem lama telah dicabut. 2. standar. malaria. maka KLB akan terus menjadi ancaman. dan harus dilakukan secara simultan dalam waktu relatif singkat. Tugas Pemerintah Nasional (Pusat) antara lain menyusun berbagai kebijakan nasional. perencanaan strategik. penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administratif seperti halnya kesehatan lingkungan. memerlukan waktu. Manajemen kasus. Manajemen KLB secara terintegrasi berbasis wilayah adalah juga manajemen dua bagian penting yang tak terpisahkan. untuk mencegah terjadinya penularan penyakit lebih lanjut.LAPORAN AKHIR Setiap KLB-apakah itu bencana alam. pada hakekatnya adalah manejemen faktor risiko kejadian KLB. Contohnya tahun 2005 yaitu penyakit polio. Untuk membangun sistem tersebut. yakni : a.

0%. Di Indonesia sendiri. namun pada tahun-tahun berikutnya tampak adanya peningkatan IR. maka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 21 .000 penduduk dan CFR 2. kurangnya persediaan air bersih. yaitu urbanisasi yang cepat. KLB yang terbesar terjadi pada tahun 1998 dilaporkan dari 16 propinsi dengan IR=35.24 per 100. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10. Di Asia Tenggara. dan 19. Dengan fogging yang disemprotkan ke udara. Jumlah kasus terus meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis. mengembangkan teknologi pemberantasan. penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1953 di Manila. Cara penularan penyakit DBD adalah melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang menggigit penderita DBD kemudian ditularkan kepada orang sehat. penyakit DBD dilaporkan pertama kali di Surabaya dan DKI Jakarta. tetapi juga menyebar ke daerah pedesaan. yaitu 15. Pemberantasan nyamuk dewasa dilakukan dengan menggunakan racun serangga (insektisida) yang disemprotkan atau dengan pengasapan (fogging) bila dilakukan pada wilayah yang luas. Kendala Pencegahan DBD Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dewasa. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh virus Dengue dan dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat oleh karena terjadinya perdarahan dan shock. 21. yaitu: (1) Peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor.000 penduduk berturutturut pada tahun 2000 sampai 2002. dengan perkembangan waktu penyakit ini kemudian tidak hanya berjangkit di daerah perkotaan. selalu menjadi KLB setiap tahun.17 per 100.000 penduduk.75. memberikan pelatihan dan bantuan teknis. Namun. Usia penderita juga cenderung bergeser menyerang usia dewasa. perkembangan pembangunan di daerah pedesaan. Tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam upaya pemberantasan penyakit DBD antara lain membuat kebijakan dan rencana strategis penanggulangan penyakit DBD. selanjutnya menyebar ke berbagai negara. Melihat kondisi tersebut penyakit DBD harus diwaspadai kemungkinan adanya KLB lima tahunan. adanya pemanasan global yang dapat mempengaruhi bionomik vektor Aedes aegypti. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyebaran dan penularan penyakit DBD.99. mengembangkan pedoman pemberantasan. melakukan penyuluhan dan promosi kesehatan serta penggerakan masyarakat. (3) Peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD. Penyakit DBD sering kali muncul sebagai wabah. mudahnya transportasi yang menyebabkan mudahnya lalu lintas manusia antardaerah. Pada awalnya penyakit DBD ini merupakan penyakit perkotaan dan menyerang terutama anak-anak usia di bawah 5 tahun. Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal.LAPORAN AKHIR peningkatan mobilitas penduduk sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transportasi serta tersebar luasnya virus dengue dan nyamuk penularnya di berbagai wilayah Indonesia. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah baik lintas sektor maupun lintas program dan masyarakat termasuk sektor swasta. (2) Diagnosis dini dan pengobatan dini.19 per 100.

Apalagi nyamuk Aedes aegypti mampu terbang dalam radius 100 meter dari sarang asalnya. dalam waktu beberapa hari akan tumbuh nyamuk dewasa. Dari jentik nyamuk yang hidup di dalam air (tandon air). selain termasuk kategori korupsi. Dengan melakukan fogging di sekitar tempat tinggal penderita. termasuk kaleng-kaleng berisi air atau bak mandi. Sebab. Gerakan PSN harus dilakukan terus-menerus. selama tandon-tandon air masih dijumpai. Menutup rapat tempat penyimpanan air bersih dan mengurasnya sesering mungkin akan bermanfaat mengurangi kesempatan nyamuk untuk bertelur dan berkembang biak. baik di musim hujan maupun di musim kemarau. penularan virus oleh nyamuk dapat dihentikan segera. jika ada satu rumah saja tidak melakukan PSN. Karena itu. Semua insektisida adalah bahan beracun yang jika penggunaannya tidak tepat dapat mengganggu kesehatan manusia maupun hewan dan dapat mencemari lingkungan. Fogging tidak akan berefek lama dan tidak boleh dilakukan terus-menerus karena insektisida yang digunakan adalah bahan beracun. sebelum seseorang menunjukkan gejala klinis DBD dalam darahnya sudah beredar virus dengue yang dapat ditularkan kepada orang lain. Takaran insektisida yang dikurangi (asal bau obat). Karena itu. Dengan demikian. Tidak usah menunggu terjadinya KLB atau wabah yang lebih luas. ia menjadi sumber terbentuknya populasi nyamuk Aedes aegypti untuk wilayah di sekitarnya. Gagalnya atau tidak efektifnya fogging dapat terjadi akibat salahnya lokasi pengasapan (yang diasapi adalah got-got atau saluran kota yang kotor dan mampet. Selain itu. juga dapat menimbulkan dampak serius di kemudian hari. Selain itu. bukan sarang nyamuk Aedes aegypti). penggunaan insektisida menjadi rawan keracunan bagi penghuni dan lingkungan hidup sekitar rumah. Hal ini harus dilakukan karena sarang-sarang nyamuk Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 22 . sarang nyamuk harus segera dimusnahkan. nyamuk dewasa yang beterbangan atau yang hinggap di tempat persembunyiannya di lingkungan rumah penderita akan mati. seharusnya segera dilakukan fogging terhadap rumah tinggal penderita dan area dengan radius 100 meter di sekitarnya. Keberadaan sarang nyamuk Aedes aegypti di dalam rumah memerlukan tindakan yang spesifik. pada waktu ada laporan kasus DBD di satu rumah.LAPORAN AKHIR nyamuk dewasa yang beterbangan atau yang hinggap di tempat persembunyiannya di lingkungan rumah penderita akan mati. sepanjang tahun. Pemberian abate untuk membunuh jentik nyamuk yang terdapat di dalam air bak kamar mandi atau tandon air bersih lainnya cukup efektif mencegahnya berkembang biak. Karena nyamuk dewasa Aedes aegypti berada di dalam lingkungan rumah tinggal. penggunaan insektisida yang tidak tepat dosisnya atau tidak tepat jenisnya dapat menjadikan fogging tidak memberikan hasil yang memuaskan atau gagal sama sekali. fogging harus segera diikuti dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Karena itu. yaitu terjadinya kekebalan nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida yang digunakan saat ini. sebelum larva berubah jadi nyamuk dewasa. Fogging ditujukan untuk memberantas nyamuk betina dewasa karena hanya nyamuk betina yang mengisap darah. PSN harus dilakukan segenap warga. baik untuk manusia maupun lingkungan hidup.

untuk mencegah penyebaran penyakit. larvadiasasi. Tata Laksana Penanggulangan DBD Setiap diketahui adanya penderita DBD. melalui GGPSN (Gebyar Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk). tanpa menunggu terjadinya KLB. Tujuannya adalah membatasi penularan DBD dan mencegah terjadinya KLB di lokasi tempat tinggal penderita DBD dan rumah/bangunan sekitarnya serta tempat-tempat umum yang berpotensi menjadi sumber penularan DBD lebih lanjut. Penanggulangan Fokus adalah kegiatan pemberantasan nyamuk penular DBD yang dilaksanakan dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD). Adanya nyamuk Aedes aegypti penular DBD sepanjang tahun di Indonesia menyebabkan penularan virus dengue juga akan terjadi sepanjang tahun. dan menentukan jenis tindakan (penanggulangan fokus) yang akan dilakukan. keluarga. Karena itu. Jika terjadi kegagalan fogging. tindakan yang pertamatama harus dilakukan adalah memberantas nyamuk dewasa di lingkungan tempat tinggal penderita dan sekitarnya dengan melakukan fogging. PE juga dilakukan untuk mengetahui adanya penderita dan tersangka DBD lainnya. • Penyelidikan Epidemiolegis (PE) adalah kegiatan pencarian penderita DBD atau tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD di tempat tinggal penderita dan rumah/bangunan sekitarnya. baik untuk membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan pemberantasan maupun dalam memberantas jentik nyamuk penularnya. sehingga kemungkinan penyebarluasan DBD dapat dibatasi dan KLB dapat dicegah. segera ditindaklanjuti dengan kagiatan Penyelidikan Epidemiologis (PE) dan Penanggulangan Fokus. dan lingkungannya dari penularan DBD. misalnya. Sosialisasi dalam pelaksanaan PSN dan cara hidup gotong royong harus kembali digalakkan. • Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 23 . Tujuannya adalah untuk mengetahui penularan dan penyebaran DBD lebih lanjut serta tindakan penanggulangan yang perlu dilakukan di wilayah sekitar tempat penderita. penyuluhan dan penyemprotan (pengasapan) menggunakan insektisisda sesuai kriteria. baik di musim penghujan maupun di musim kemarau. harus dicari penyebabnya.LAPORAN AKHIR merupakan sumber produksi nyamuk dewasa. sehingga setiap warga dapat saling melindungi diri. termasuk tempat-tempat umum dalam radius sekurang-kurangnya 100 m. apakah telah terjadi resistensi nyamuk terhadap insektisida yang digunakan. Fogging akan sangat efisien jika dilakukan pada waktu populasi nyamuk masih rendah. ataukah terjadi "kesalahan teknis" di lapangan. Selanjutnya dalam melaksanakan kegiatan pemberantasan DBD sangat diperlukan peran serta masyarakat. mengetahui ada tidaknya jentik nyamuk penular DBD. jika terdapat laporan adanya kasus DBD.

jentik dan kepompong nyamuk penular DBD (Aedes aegypti) di tempat-tempat perkembangbiakannya. sehingga penularan DBD dapat dicegah dan dikurangi. Bagan Penanggulangan Fokus (Penanggulangan Penderita DBD di Lapangan) • Penanggulangan • Pemberantasan Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah upaya penanggulangan yang meliputi : pengobatan/perawatan penderita.LAPORAN AKHIR Penderita/tersangka DBD Penyelidikan Epidemiologi (PE) . Tujuannya adalah mengendalikan populasi nyamuk. Sarang Nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD) adalah kegiatan memberantas telur. pemberantasan vektor penular DBD. Penilaian operasional ditujukan untuk mengetahui persentase (coverage) pemberantasan vektor dari jumlah yang direncanakan.Pencarian Penderita Panas Ada penderita DBD lain atau ada jentik dan ada penderita panas ≥ 3 orang dan ditemukamn jentik (≥ 25%) Ya Penyuluhan PSN DBD Fogging radius 200m - Tidak Penyuluhan PSN FDBD Larvasidasi Gambar 2. Keberhasilan PSN DBD diukur dengan Angka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 24 .Pemeriksaan Jentik .3. Sedangkan penilaian epidemiologi ditujukan untuk mengetahui dampak upaya penanggulangan terhadap jumlah penderita dan kematian DBD dengan cara membandingkan data kasus/kematian DBD sebelum dan sesudah penanggulangan KLB. penyuluhan kepada masyarakat dan evaluasi/penilaian penanggulangan yang dilakukan di seluruh wilayah yang terjadi KLB. sehingga KLB yang terjadi di suatu wilayah tidak meluas ke wilayah lainnya. Tujuannya adalah membatasi penularan DBD. Penilaian Penanggulangan KLB meliputi penilaian operasional dan penilaian epidemiologi. larvasidasi dan penyuluhan. Penilaian ini dilakukan melalui kunjungan rumah secara acak dan wilayah-wilayah yang direncanakan untuk pengasapan.

Obat penurun panas yang tidak boleh diberikan adalah dari jenis yang mengandung asam salisilat yang dapat memperberat perdarahan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 25 . Tujuan pemberian pertolongan pertama di atas adalah untuk mempertahankan volume cairan dalam pembuluh darah penderita sehingga dapat membantu mengurangi angka kematian karena DBD. kaleng bekas yang dapat menampung air hujan.LAPORAN AKHIR • Pemeriksaan Bebas Jentik (ABJ). Sebagai contoh: peran masyarakat dalam kegiatan surveilans penyakit. Cara PSN DBD dilakukan dengan ”3M”. Pertolongan pertama kepada tersangka penderita DBD dapat dilakukan di rumah sebelum dirujuk ke tempat pelayanan kesehatan yaitu dengan memberikan minum sebanyak-banyaknya dengan oralit. sirup. yaitu masyarakat dapat mengenali secara dini tanda-tanda penyakit DBD yang menimpa salah satu anggota keluarga maupun tetangga mereka dan segera merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Tujuannya adalah melakukan pemeriksaan jentik nyamuk penular demam berdarah dengue termasuk memotivasi keluarga/masyarakat dalam melaksanakan PSN DBD. Dalam upaya pemberantasan vektor tersebut antara lain masyarakat berperan secara aktif dalam pemantauan jentik berkala dan melakukan gerakan serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Dengan demikian gerakan PSN dengan 3M Plus yaitu Menguras tempat-tempat penampungan air minimal seminggu sekali atau menaburinya dengan bubuk abate untuk membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti. (2) menutup rapat-arapat tempat penampungan air. Sehingga bisa dilakukan penegakan diagnosa secara dini dan diberikan pertolongan dan pengobatan dini. juice buah-buahan. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air agar nyamuk Aedes aegypti tidak bisa bertelur di tempat itu. Peran Masyarakat dalam Penanggulangan DBD Masyarakat berperan dalam upaya pemberantasan penyakit DBD. Seperti diketahui nyamuk Aedes aegipty adalah nyamuk domestik yang hidup sangat dekat dengan pemukiman penduduk seperti halnya Culex. Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi. Mengubur/membuang pada tempatnya barang-barang bekas seperti ban bekas. Jentik Berkala adalah pemeriksaan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang dilakukan secara teratur oleh petugas kesehatan atau kader atau petugas pemantau jentik (jumantik). teh manis. Sehingga upaya pemberantasan dan pencegahan penyebaran penyakit DBD adalah upaya yang diarahkan untuk menghilangkan tempat perindukan (breeding places) nyamuk Aedes aegypti yang ada dalam lingkungan permukiman penduduk. yaitu (1) menguras dan menyikat tempat-trempat penampungan air. Masyarakat juga berperan dalam upaya pemberantasan vektor yang merupakan upaya paling penting untuk memutuskan rantai penularan dalam rangka mencegah dan memberantas penyakit DBD muncul di masa yang akan datang. dan (3) mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan. pemberian obat penurun panas seperti paracetamol.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD oleh masyarakat sangat besar.. menyemprot rumah dengan obat nyamuk yang tersedia luas di pasaran. terus-menerus berupa gerakan serentak. Berbagai negara yang mempunyai masalah yang sama dengan Indonesia menggunakan berbagai macam pendekatan dalam melakukan PSN antara lain Singapura dan Malaysia menggunakan pendekatan hukum yaitu masayarakat yang rumahnya kedapatan ada jentik Aedes aegypti dihukum dengan membayar denda. sehingga dapat mengubah perilaku masyarakat dan lingkungannya ke arah perilaku dan lingkungan yang bersih dan sehat.LAPORAN AKHIR Masyarakat juga melakukan upaya mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan obat gosok antinyamuk. Sejak dulu tidak ada yang berubah dengan bionomik atau perilaku hidup nyamuk Aedes aegypti sehingga teknologi pemberantasannya pun dari dulu tidak berubah. Teknologi yang digunakan oleh Jenderal Gorgas adalah gerakan PSN yang dilaksanakan serentak dan secara besar-besaran di seluruh negeri. Adipura. Dan upaya tersebut sangat berkaitan dengan faktor perilaku dan faktor lingkungan. dua tiga pulau terlampaui. tidur dengan kelambu. Pemberantasan DBD akan berhasil dengan baik jika upaya PSN dengan 3M Plus dilakukan secara sistematis. Jika ini dilakukan maka selain penyakit DBD maka penyakit-penyakit lain yang berbasis lingkungan seperti leptospirosis. boleh dikatakan lebih dari 90% dari keseluruhan upaya pemberantasan penyakit DBD. Berbagai gerakan yang pernah ada di masyarakat seperti Gerakan Disiplin Nasional (GDN). Gerakan Jumat Bersih (GJB).. Sri Lanka menggunakan gerakan Green Home Movement untuk tujuan yang sama yaitu menempelkan stiker hijau bagi rumah yang memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan termasuk bebas dari jentik Aedes aegypti dan menempelkan stiker hitam pada rumah yang tidak memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan.. Dalam era otonomi dan desentralisasi saat ini Pemerintah Kabupaten/Kota dalam mengatur rumah tangganya sendiri dapat melakukan gerakan-gerakan inovatif seperti yang disebutkan di atas yang didukung dengan berbagai Peraturan Daerah. Kota Sehat dan gerakangerakan lain serupa dapat dihidupkan kembali untuk membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)." Keberhasilan Jenderal WC Gorgas memberantas nyamuk Aedes aegypti untuk memberantas demam kuning (Yellow Fever) lebih dari 100 tahun yang lalu di Kuba dapat kita ulangi di Indonesia. Bagi pemilik rumah yang ditempeli stiker hitam diberi peringatan 3 kali untuk membersihan rumah dan lingkungannya dan jika tidak dilakukan maka orang tersebut dipanggil dan didenda. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 26 . tidak kondusif untuk hidup nyamuk Aedes aegypti aegypti. Hal sederhana lainnya yang dilakukan oleh masyarakat adalah menata gantungan baju dengan baik agar tidak menjadi tempat hinggap dan istirahat nyamuk Aedes aegypti. Agar gerakan yang dilakukan oleh Jenderal Gorgas bisa dilakukan di Indonesia diperlukan komitmen yang kuat dari seluruh jajaran struktur pemerintahan bersama-sama masyarakat dan swasta. diare dan lain-lain akan ikut terberantas ibaratkan "sekali merengkuh dayung.

(2) pelaksanaan diseminasi informasi DBD. (3) Jumlah Kematian. (2) Jumlah Kasus. Kinerja surveilans diukur dengan melihat (1) keberadaan peta rawan.LAPORAN AKHIR METODOLOGI 3. (4) dana.1 Kerangka Pemikiran Kajian ini dilandasi pemikiran adanya hubungan timbal balik antara rendahnya kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan dalam implementasi kebijakan penyakit menular khususnya dalam kasus kebijakan penanganan penyakit DBD. Faktor-faktor yang terkait dengan kinerja surveilans mencakup (1) tenaga. Kinerja Penanggulangan diukur dengan melihat (1) Frekuensi KLB. Faktor-faktor yang terkait dengan kinerja surveilans mencakup (1) tenaga. (4) Luas Daerah Terserang. (4) dana. dan (5) SOP. Implementasi kebijakan penyakit menular juga dipengaruhi kebijakan desentralisasi kewenangan pengelolaan pembangunan. (2) data. (3) sarana. dan (5) SOP. dan (3) pelaporan. Berdasarkan landasan pemikiran diatas.1 Kerangka Pikir Kajian Kebijakan Penannggulangan Penyakit Menular Kerangka pikir kajian tersebut selanjutnya dijabarkan dalam kerangka konsep kinerja surveilans dan kerangka konsep kinerja penanggulangan yang digambarkan dalam skema berikut: Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 27 . (2) data. (3) sarana. kerangka pikir kajian digambarkan dalam skema berikut: BAB 3 Kinerja Surveilans DESENTRALISASI KEWENANGAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENYAKIT MENULAR Kinerja Penanggulangan Gambar 3.

Pengolah data. Jumlah . 2. Peraturan Gambar 3. Prilaku (3M). 2. 6. Jenis pengeluaran Data Kasus. Vektor. Komunikasi. PHLN) 2. 2. Pedoman. Peraturan Gambar 3. 4. 3. 3.2 Kerangka Konsep Kinerja Surveilans Tenaga 1. Jumlah . Monev Kerangka Konsep Kinerja Surveilans Dana 1. Transportasi . Transportasi. insektisida. support). Jentik .Peta Rawan KLB DBD •Diseminasi Informasi . 4. Sumber . Komunikasi SOP 1.Diseminasi Informasi . 5. APBD. 2. Vektor . Sumber (APBD. 2. 3.LAPORAN AKHIR Tenaga 1. Pengetahuan (Penyelidikan & Penanggulangan) Kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan Dana 1. Tim Penanggulangan (epid. 2. Pedoman (7 seri : modelpokjanal . 2. Curah Hujan Kinerja Surveilans DBD •Peta Rawan KLB DBD . 3. 3. Pengetahuan . Curah Hujan. klinis.3 Kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 28 .Pelaporan Sarana 1. Logistik Kinerja Penanggulangan KLB DBD •Frekuensi KLB •Jumlah Kasus •Jumlah Kematian •Luas Daerah Terserang Sarana 1. jenis pengeluaran Data Kasus . Lingkungan (genangan). Pengolah data. Logistik. 4. lab. Proses. Obat. alat penyemprotan SOP 1. Jentik. Proses . motivasi .

Jumlah Kematian 4. klinis. Proses 4. Jumlah 2. Jentik 3. Kasus 2. Tujuannya adalah untuk memperoleh berbagai gambaran yang jelas dan diskripsi yang lengkap tentang variabel penelitian. support) 2. Jumlah 2. Variabel Penelitian Variabel penelitian mencakup 2 aspek. Jumlah Kasus 3. Pengetahuan 4. Komunikasi 5 SOP 1. Monitoring dan Evaluasi 2 Dana 1. Sumber 3. Frekuensi KLB 2. Pelaporan Dependent Variabel 1. Curah Hujan 4 Sarana 1. Peta rawan KLB DBD 2 Diseminasi informasi 3. Tim Penanggulangan (epid. yaitu kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan No Variabel Parameter yang diukur KINERJA SURVEILANS DBD Idependent Variabel 1 Kinerja Surveilans 1. Sumber 3. lab. Pengolah data 3. Peraturan KINERJA PENANGGULANGAN KLB DBD Idependent Variabel 1 Tenaga 1 Kinerja Penanggulangan KLB 1. Transportasi 2.LAPORAN AKHIR 3. Pengetahuan (penyelidikan & Dependent Variabel 1 Tenaga Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 29 .2 Disain Kajian 1. Vektor 4. Luas Daerah Terserang 1. Pedoman (7 seri modul pokjanal) 2. Kajian ini menggunakan metode penelitian survey explanatory. 2. Jenis pengeluaran 3 Data 1. dimana data diperoleh melalui angket dan wawancara kepada sejumlah responden terpilih secara acak.

propinsi dan kab/kota. serta focus group discussion. Kasus 2. Jentik 3. Untuk interpretasi hasil analisis data. Peraturan Pemerintah. Keputusan Dirjen. Data primer yang didapat melalui wawancara mendalam (indepth interview) di berbagai tingkat (Pusat. Obat 6.3 Jenis. Logistik 1. Alat penyemprotan 1. baik dalam bentuk data kualitatif maupun kuantitatif. Sumber dan Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dalam kajian ini meliputi data primer dan data sekunder. Pengolah data 3. Prilaku (3M) 5. Sumber 3. Vektor 6. Logistik 5. Jumlah 2. pengisian kuesioner. laporan tahunan tentang Penanggulangan Penyakit Menular (P2M). Lingkungan (genangan) 4. laporan tentang wabah. Peraturan 3. Keputusan Presiden. propinsi. Data sekunder mencakup data berkaitan dengan profil kesehatan pusat. dilakukan pula studi kepustakaan terutama kajian teoritis dari hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan kajian ini Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 30 . Pedoman (7 seri modul pokjanal) 2. Jenis pengeluaran 1. Keputusan Menteri Kesehatan.LAPORAN AKHIR 2 Dana 3 Data 4 Sarana 5 SOP penanggulangan) 1. peraturan perundangan dalam bentuk Undang-Undang. Curah hujan 7. Insektisida 7. Transportasi 2. kab/kota). Peraturan Daerah maupun Peraturan Gubernur. Proses 4. Komunikasi 4.

(3) P2B2. yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam penanggulangan penyakit menular. (3) unit penanggulangan P2B2. Tabel 3. Gowa Nusa Tenggara Barat 1.LAPORAN AKHIR 3. Siak Jawa Barat 1. Kab. (3) pakar lain dari WHO. Kota Samarinda 2. Kab. (4) unit kepegawaian. Bogor Jawa Timur 1. Kelompok Pakar yang menjadi responden adalah (1) ahli epidemiologi dari Perguruan Tinggi. Kab. Kelompok Pelaksana yang menjadi responden mencakup Pusat: Dit Epidemiologi dan P2B2 Ditjen P2M. yaitu (1) kelompok pelaksana yang terlibat dalam penanggulangan penyakit menular. Kota Makasar 2. bagian PI dan kepegawaian. (6) Kasubag Umum Kabupaten Dinas Kesehatan: (1) subdin P2M.1 Responden Kajian No 1 2 3 4 5 6 Propinsi/Kab Riau 1. Yanmedik dan Binkesmas Dinas Kesehatan Propinsi: (1) Kasubdin P2M. Kota Mataram 2. Rumah Sakit. (5) Kabag Keuangan. (2) UGD. (2) unit surveilans.4 Responden Kajian Responden Kajian mencakup 2 (dua) kelompok. Kab. subdit arbovirosis. (2) ahli epidemiologi dari Departemen Kesehatan. (2) Seksi Surveilans. (3) staf Kesling Rumah Sakit: (1) Wakil Direktur Yanmed. Kab Lombok Tengah TOTAL Dinas 5 3 2 3 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 3 2 3 47 PKM 4 5 3 2 3 4 2 2 4 4 4 6 43 Rumah Sakit 1 1 2 1 2 1 1 4 1 2 2 3 21 Bapp 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 15 Masy 1 1 20 1 1 18 1 1 13 2 1 20 1 1 25 2 0 13 122 Jml 26 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 31 . Kota Bandung 2. Kota Balikpapan Sulawesi Selatan 1. Gresik Kalimantan Timur 1. serta (2) kelompok pakar. Kota Pekanbaru 2. Kota Surabaya 2. (3) Bag. Medical Record. (5) unit umum Puskesmas : (1) Kepala Puskesmas. (4) Kabag Kepegawaian. (4) Lab. (2) petugas P2M.

LAPORAN AKHIR 3. o Prevalensi kasus DBD tinggi dan rendah o Puskesmas di ibukota kabupaten o Puskesmas di kecamatan di luar ibu kota kab/kota Dengan demikian jumlah sampel kabupaten/kota sebanyak 12 buah.Interpertasi data .Data Primer (kuesioner & wawancara) Pengolahan Data . Analisis dan interpretsi selanjutnya data yang sudah dibuat dalam bentuk tabulasi serta berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan responden. Lokasi Kajian Kajian ini dilaksanakan di 6 (enam) propinsi terpilih yang ditentukan berdasarkan karakteristik frekuensi terjadinya kejadian penyakit menular dari kelompok propinsi di Indonesia Bagian Barat. dan 12 rumah sakit 3. Pengumpulan Data . mendapatkan rumusan hasil kajian lebih fokus. Hasil FGD disosialisasikan dalam bentuk workshop untuk kemudian dirumuskan dalam bentuk kesimpulan dan rekomendasi serta implikasi kebijakan. Tengah dan Timur.Interpretasi hasil wawancara FGD Kesimpulan & Rekomendasi Kebijakan Gambar 3. Pada setiap propinsi di ambil 2 (dua) Kabupaten/Kota dengan kriteria pemilihan kabupaten adalah o Prevalensi kasus DBD yang tinggi dan rendah o 1 kab/kota terletak di ibu kota propinsi dan 1 kab/kota di luar kab/ibu kota propinsi Pada setiap kabupaten dipilih dua puskesmas dan 1 (satu) rumah sakit. dengan kriteria. Selanjutnya data hasil pengumpulan di lapangan dikelompokan.6 Teknik Analisis Teknik analisis yang dilakukan dalam kajian ini adalah dengan melakukan analisis diskriptif (kualitatif) berdasarkan data dan informasi yang didapat di lapangan.Mengelompokkan .5. 24 puskesmas.4 Tahapan Pelaksanaan Kajian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 32 .Mengolah .Mentabulasi Analisis Data . baik berbentuk data sekunder maupun hasil wawancara mendalam. Berdasarkan hasil analisis dan temuan yang didapat selanjutnya dilakukan pembahasan dengan nara sumber dalam bentuk focus group discussion (FGD). diolah dan ditabulasikan untuk memudahkan dalam proses analisis.Data Sekunder .

1988.0 0 3 0. terlihat makin menurunnya CFR.00 4 5.00 1 0. Angka tertinggi IR terjadi pada tahun 1968. Ditjen PP&PL. Kesadaran masyarakat mengenai kasus DBD dapat memperkecil peningkatan CFR. peningkatan IR yang paling tinggi tidak mengakibatkan CFR meningkat di tahun yang sama.00 0. di bawah ini). Depkes. R 2 0.00 CFR 4 0.2004. hal ini dimungkinkan makin banyaknya kasus-kasus DBD yang tertangani.0 0 5. namun demikian. Implementasi Kebijakan Penanggulangan DBD 4.1 Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rate (CFR) Berdasarkan data tahun 1968 sampai dengan tahun 2004. PHBS yang rendah masih menjadi salah satu pemicu tidak menurunnya kasus IR.0 0 3 0. dan tidak terlaksananya program baik PSN Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 33 .1.1.0 0 1 0. gambaran Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rate (CFR) penyakit DBD ini dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.0 0 1 5.00 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 00 01 02 03 04 TAHUN 0 .00 1 5.0 0 2 5. Tingginya curah hujan menyebabkan banyaknya genangan-genangan air yang memudahkan nyamuk untuk berkembangbiak. Gambar 4. 2005 Apabila dilihat secara khusus per bulan selama kurun waktu 2003 . Jika diperhatikan gambaran IR dan CFR (gambar) antara kurun waktu 1968 sampai 2004. Pada kurun waktu tahun 2000 – 2004 terjadi kecenderungan peningkatan IR.00 Sumber: Subdit Arbovirosis. 1999 dan tahun 2004.00 2 0.00 5 .00 CFR 2 5. maka kecenderungan terjadinya peningkatan kasus DBD lazimnya dimulai pada akhir bulan Desember sampai dengan terbanyak yang lazimnya terjadi pada sekitar bulan Februari – Maret (lihat Gambar 1.0 0 I.1 IR & CFR Tahun 1968-2004 IR & CFR DBD DI INDONESIA TAHUN 1968-2004 4 0.0 0 IR 3 5. Dapat dilihat pada tahun 1998.LAPORAN AKHIR BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.7.00 3 5.

2 Perkembangan Kasus DBD Nasional Per Bulan PERKEMBANGAN KASUS DBD NASIONAL PER BULAN 30000 2003-2004 25000 20000 S SU KA 15000 KASUS IK NA 10000 5000 0 JAN FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP OCT NOV DEC JAN FEB MAR APR 2003 2004 Sumber: Subdit Arbovirosis. Gambar 4. data tahun 2005 – 2006.0 335 KASUS 9.27 1.a).41 19.000 20. 2005 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 34 .000 25.000 0 JAN FEB MARAPRMAYJUN JUL AUGSEPOCT NOVDECJAN FEB MARAPRMAYJUN JUL AUGSEPOCT NOVDES JAN FEB MARAPRMAY 2. Ditjen PP&PL. 2006 11.65 5.03 5. 3 KASUS DBDPer Bulan di Indonesia.94 6.000 10. Ditjen PP&PL.004 2.10 908 992 1.59 2. 7.61 5.000 15. menunjukkan bahwa kecenderungan peningkatan kasus DBD per bulan hampir sama polanya dengan tahun 2003 – 2004. Gambar 4.3 18. Depkes. yaitu pada bulan akhir Desember (lihat Gambar 1.LAPORAN AKHIR (Pemberantasan Sarang Nyamuk) maupun 3M mengakibatkan kecenderungan peningkatan kasus DBD.76 1. Depkes.79 1.61 10.52 6.8 30. 2005 Sementara itu.77 2.7.99 7.03 8. Sumber: Subdit Arbovirosis.005 14.9 7. tahun 2005-2006 Kasus DBD PER BULAN DI INDONESIA TAHUN 2005-2006 35.7 15.4 10.35 5.0 6.000 30. Hal ini ada kaitannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan.000 5.

Kedua metode ini sampai sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan dimana terbukti dengan peningkatan kasus dan bertambahnya jumlah wilayah yang terjangkit DBD. Mengingat obat dan vaksin untuk membunuh virus dengue belum ada.935 1 2005 2006 6475 2 10916 3 7610 4 5033 5 5652 335 6 5357 7 5.1. Kebijakan dalam rangka penanggulangan menyebarnya DBD adalah (1) peningkatan perilaku dalam hidup sehat dan keamandiriian masyarakat terhadap penyakit DBD.7.7a. 4.LAPORAN AKHIR Gambar 4. seperti di atas. dan 1. (2) meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penyakit DBD.034 8 8528 9 6997 10 7610 11 12 10712 15355 18. dan (4) memantapkan kerjasama lintas sektor/lintas program. Depkes. 2005 Berdasarkan gambar 1. Hal ini menurut beberapa hasil analisa ada kaitannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan. Ditjen PP&PL.686 Total sd Akhir Mei 2006: 50. 1.4 JUMLAH KASUS DBD DI INDONESIA TAHUN 2005 & 2006 JUMLAH KASUS DBD DI INDONESIA TAHUN 2004 DAN 2005 (SITUASI SD TGLJuni 2006) (s/d 19 19 JUNI 2006) 20000 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 2005 2006 Total sd Akhir Mei 2005: 35. (3) meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi program pemberantasan DBD.01 14.028 Sumber: Subdit Arbovirosis. Strategi dalam pelaksanaan kebijakan di atas dilakukan melalui Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 35 .418 7. terlihat pola yang jelas mengenai kecenderungan peningkatan kasus DBD.2 Kebijakan Penanggulangan Penyakit DBD Departemen Kesehatan telah melewati pengalaman yang cukup panjang dalam penanggulangan penyakit DBD.143 11. Kemudian strategi diperluas dengan menggunakan larvasida yang ditaburkan ke Tempat Penampungan Air (TPA). yaitu kecenderungan terjadinya peningkatan kasus DBD pada akhir bulan Desember sampai dengan kasus terbanyak pada bulan Februari – Maret.8. data tahun 2003 hingga Juni 2006. maka cara yang paling efektif untuk mencegah penyakit DBD ialah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilaksanakan oleh masyarakat/keluarga secara teratur setiap seminggu sekali. Pada awalnya strategi utama pemberantasan DBD adalah pemberantasan nyamuk dewasa melalui pengasapan.

dan berbagai upaya penyuluhan kesehatan lainnya dilaksanakan secara intensif dan berkesinambungan melalui berbagai media massa dan sarana. guna memadukan berbagai sumber daya yang tersedia di masing-masing mitra. advokasi. Optimalisasi pendelegasian wewenang pengelola kepada kabupaten/kota. social marketing. tata laksana kasus harus dikuasai karena hal-hal tersebut merupakan landasan dalam penyususnan kebijaksanaan program P2 DBD. peran sektor terkait pemberantasan penyakit DBD sangat menentukan. (4) Penanggulangan kasus. merupakan langkah awal dalam menggalang. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. sehingga populasi vektor sebagai penular penyakit DBD dapat berkurang. SDM yang terampil dan menguasai IPTEK merupakan salah satu unsur penting dalam pelaksanaan program P2 DBD. dimana Puskesmas melakukan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 36 .LAPORAN AKHIR (1) Pemberdayaan masyarakat. virology dan faktor-faktor perubahan iklim. (2) Peningkatan Kemitraan Berwawasan Bebas dari Penyakit DBD. Jaringan kemitraan diselenggarakan melalui pertemuan berkala. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. (3) Peningkatan Profesionalisme Pengelola Program. dikarenakan perbedaan situasi dan kondisi wilayah. (5) Pembangunan Berwawasan Kesehatan Lingkungan. maka upaya-upaya KIE. Angka kesakitan penyakit ini bervariasi antara satu wilayah dengan wilayah lain. dan berbagai kegiatan KIE kepada semua pihak yang terkait perlu dilaksanakan agar semuanya dapat memahami peran lingkungan dalam pemberantasan penyakit DBD. meningkatkan dan mewujudkan kemitraan. Orientasi. Upaya pemberantasan penyakit DBD tidak dapat dilaksanakan oleh sektor kesehatan saja. Oleh sebab itu. pemantauan dan penilaian. Meningkatnya mutu lingkungan hidup dapat mengurangi angka kesakitan penyakit DBD karena di tempat-tempat penampungan air bersih dapat dibersihkan setiap minggu secara berkesinambungan. maka identifikasi stakeholders baik sebagai mitra maupun pelaku potensial. Pertemuan berkala sejak dari tahap perencanaan sampai tahap pelaksanaan. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. Pengetahuan mengenai Bionomic vektor. Untuk mendorong meningkatnya peran aktif masyarakat. Penyakit DBD hampir tersebar luas di seluruh Indonesia kecuali di daerah yang di atas 1000 m diatas permukaan air laut. (4) Desentralisasi. sosialisasi. Meningkatnya peran aktif masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit DBD merupakan salah satu kunci keberhasilan upaya pemberantasan penyakit DBD. Pokok-pokok program pemberantasan DBD mencakup (1) Kewaspadaan dini DBD.

(2) pemberantasan vektor. (2) surveilans epidemiologi. Program yang dilakukan mencakup (1) kewaspadaan dini DBD melalui penyuluhan intensif. (2) Di Kota Pekanbaru. Bila Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 37 . (6) peningkatan profesionalisme SDM. Depag dan pihak legislatif. menyiapkan juknis dan juklaknya. Ketiga dana tersebut diatas berasal dari dana Kantor Walikota. sedangkan sekretariat berada di kantor Dinas Kesehatan. Strategi dan program adalah (1) pertemuan dengan tim pokjanal DBD propinsi Riau menghasilkan beberapa kesepakatan yang menitikberatkan pada peran aktif dari pokja/pokjanal DBD dengan melibatkan masyarakat. melalui perencanaan. melalui penyediaan insektisida dan larvasida. (4) menyiapkan pengadaan dan distribusi kebutuhan obatobatan dan bahan-bahan yang esensial. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. Dana KLB dianggarkan dengan menggunakan pola kinerja artinya bila KLB tidak terjadi. (3) Bila terjadi KLB. PMD. (3) meningkatkan SDM. pemantauan dan informasi program pemberantasan penyakit dan meningkatkan kewaspadaan di semua tingkat administrasi. kewaspadaan dini. tersedia pos untuk penanggulangan. Bappeda. (5) meningkatkan kemampuan penggalian sumberdaya daerah dan sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan program P2M. melengkapi sarana pemberantasan vektor. kab/kota. (8) Penelitian. serta kemitraan dengan masyrakat (LSM) termasuk swasta.LAPORAN AKHIR penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. Hasil implementasi kebijakan. Strategi yang dilakukan mencakup (1) intensifikasi pelaksanaan kasus melalui pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan. sedangkan dana dari Dinas Kesehatan diutamakan untuk membeli peralatan dan kegiatan yang sifatnya pencegahan. (3) memantapkan jejaring lintas program. (5) penanggulangan KLB. Implementasi kebijakan. melalui pelaksanaan pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. sebagai dasar tindak lanjut perencanaan program dan penanggulangan KLB. pembinaan dalam pelaksanaan gerakan 3M. dan menyiapkan sarana pemeriksaan untuk diagnosa melaksanakan PE dan penanggulangan fokus. komunikasi perubahan perilaku. Tim Pokjanal DBD terdiri dari unsur-unsur Diknas. pelatihan tenaga puskesmas dan rumah sakit. perbaikan manajemen kasus diagnostik dan pengobatan serta rujukan. maka uang tidak bisa dicairkan. Dinkes. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. dana bencana dan dana belanja rutin sekretariat daerah. yaitu dana tak terduga. PKK. pelatihan tenaga operasional. lintas sektor. pengendalian faktor resiko dan penyehatan lingkungan. lintas program dan lintas sektor terkait serta mengaktifkan kembali peran UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk menggerakkan anak sekolah dalam pemberantasan demam berdarah. strategi dan program penanggulangan DBD di daerah lokasi kajian dilaporkan sebagai berikut: Propinsi Riau Kebijakan Daerah mecakup (1) pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat.

(3) komitmen dari pimpinan unit penyelenggara kesehatan diperlukan untuk kegiatan surveilans epidemiologi. fogging focus massal. (5) penanggulangan KLB. dokter. Strategi dalam penanggulangan DBD dilakukan melalui (1) penemuan kasus dan kematian melalui surveilans di rumah sakit. dimana Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. (8) Penelitian. (4) Penanggulangan kasus. pemeriksaan jentik dengan memberdayakan tenaga jumantik.LAPORAN AKHIR terjadi KLB. Propinsi Jawa Barat Kebijakan penanggulangan di Jawa Barat secara umum mengacu pada kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (Pusat). Propinsi Jawa Timur Kebijakan daerah mencakup (1) upaya penanggulangan masalah-masalah kesehatan yang dilakukan merupakan hasil dari kajian surveilans epidemiologi. Kegiatan pokok adalah melakukan rapat lintas sektor untuk menangani masalah-masalah khususnya penyakit menular. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. dan melakukan ”CLEAN-UP” lingkungan yang dipimpin oleh walikota selama 1-2 jam. (6) Sosialisasi Pola Hidup Bersih (PHBS). Hasil pelaksanaan program ditunjukkan antara lain (1) pemantauan jentik belum optimal dilakukan oleh kader dengan alasan terbatasnya dana operasional. (5) Pelibatan lintas sektor. (2) kegiatan surveilans epidemiologi dilaksanakan oleh tim fungsional di masingmasing tingkat mulai dari Puskesmas. (6) peningkatan profesionalisme SDM. Kota Pekanbaru juga memiliki Forum Perkampungan Sehat. (2) upaya preventif yang dilakukan melalui ”managing vector and environment” malalui gerakan 3M yang dilakukan secara lintas sektor dalam wadah Pokjanal DBD. yaitu mencakup 1) Kewaspadaan dini DBD. dukun bayi dan kendaraan kesehatan. maka kinerjanya akan dipertanyakan (3) Disamping Tim Pokjanal DBD. diketuai oleh Bappeda dan sekretariat juga berada di Bappeda. perawat. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. dan tidak seimbangnya jumlah kader dengan cakupan daerah yang harus diselidiki. uang dicairkan. puskesmas dan masyarakat. praktek swasta. bidan. (4) Pelibatan partisipasi masyarakat melalui gerakan PSN setiap hari Jumat pagi. (2) Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 38 . (3) Upaya peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dalam penanggulangan DBD secara kuratif dilakukan melalui ”workshop tata laksana” dengan melibatkan dokter spesialis dan urusan dalam. (4) penemuan kasus dilaksanakan secara bekerjasama dengan masyarakat. kesibukan kader. kab/kota. dan propinsi. yaitu pada setiap kasus petugas siap melakukan PE sehingga ditemukan akar permasalahan dan sumber penyebabnya untuk kemudian dilakukan tindakan agar tidak menyebar ke tempat lain. Strategi pelaksanaan kebijakan penanggulangan DBD di Propinsi Jawa Barat dilakukan melalui (1) pendekatan ”gerak cepat” dan putus rantai. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. (2) Fogging dilaksanakan apabila terjadi KLB dengan menggunakan dana yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten dengan peruntukan untuk larvasidasi dan abatesisasi.

pelaksanaan PE. mengamati indikasi pra-KLB misal cakupan program. status gizi. (2) Pemberantasan vector. penyuluhan. dan (3) Membangun kerja sama lintas sektor.LAPORAN AKHIR pencarian kasus tambahan dilakukan pada saat penyelidikan epidemiologi. Strategi yang dilakukan mencakup (1) peningkatan pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan perbaikan manajemen pengobatan serta rujukan. memastikan diagnostik etiologi. (5) melakukan studi epidemiologi pada daerah dengan kinerja yang tidak baik. perilaku masyarakat. (4) melakukan kajian epidemiologi harus bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor. mengidentifikasi dan menghitung kasus atau paparan. (3) Untuk tahun 2005. pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. (5) Dinas kesehatan kota Balikpapan selalu melaksanakan pendataan DBD dengan rutin. penyehatan lingkungan. (2) penyelidikan dan penanggulangan KLB. (3) penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dicurigai pada daerah yang resiko rendah. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. Pokok-pokok Program yang dilakukan mencakup Kewaspadaan Dini DBD. lintas program dan lintas sekor terkait. membuat cara penanggulangan sementara. menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB. pelaksanaan gerakan 3M. (2) Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 39 . pengolahan dan analisis data untuk penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi. (3) Pelatihan tenaga surveilens (pelatihan epidemiologi. merencanakan penelitian lain yang sistematis. Pelaksanaan program penanggulangan DBD mencakup (1) SKD-KLB melalui kegiatan pengumpulan data baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi KLB. Propinsi Kalimantan Timur Kebijakan Daerah yang dilakukan mencakup (1) Pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. (4) Di samping Tim Pokjanal DBD. pelatihan tenaga kesehatan. kewaspadaan dini. melalui persiapan penyelidikan lapangan. menetapkan rekomendasi cara pencegahan dan penanggulangan. Kota Balikpapan memiliki Yayasan DBD yang ketuanya adalah kasubdin P2M Dinkes dan didanai oleh perusahaan minyak swasta. mengidentifikasikan sumber dan cara penyebaran. (2) Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. APBD mengalokasikan dana 500 juta untuk penanggulangan KLB dan habis untuk penanggulangan KLB DBD. mengidentifikasikan keadaan penyebab KLB. mendeskripsikan kasus berdasarkan waktu. menetapkan sistem penemuan kasus baru. kerja sama dengan dengan masyarakat dan swasta. melengkapi sarana pemerantasan vektor. (6) Pelatihan khusus tentang epidemiologi dan surveillens baru dilakukan 1 kali dalam 5 tahun terakhir. sehingga sesuai data memang DBD di Kota Balikpapan tinggi. Gambaran implementasi adalah (1) Pelaksanaan penanggulangan DBD melibatkan masyarakat. perubahan perilaku dalam pola hidup bersih dan sehat. orang dan tempat. beranggotakan kepala – kepala dinas yang ketika diadakan rapat-rapat selalu dihadiri oleh personal yang berlainan. penyediaan insektisida dan larvasida.

pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). Propinsi Nusa Tenggara Barat Pedoman surveilans dan KLB kurang operasional. Namun terdapat ”gap” pelaksanaan/penanganan KLB. gerakan PSN. dan fogging massal. pemantauan jentik berkala. bulan kewaspadaan DBD. Dengan demikian Puskesmas sebagai fasilitas yang paling dekat dengan masyarakat tidak dimanfaatkan dengan baik dalam penanggulangan KLB DBD. penanggulangan fokus. dukungan dana surveilans tertolong oleh adanya subsidi dari Askeskin. (3) Penanggulangan KLB. pertemuan Kewaspadaan Dini DBD sebanyak 4 kali melibatkan sektor terkait. melalui penemuan dan pelaporan penderita. terutama untuk insentif tenaga kesehatan dan kader. kab/kota dan puskesmas. dimana peran puskesmas sangat kecil karena dukungan dana dan personil sangat kecil. melalui pelatihan petugas kesehatan. lintas program dan kabupaten/kota terdekat. (3) Peningkatan Sumber Daya Manusia. Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. penyuluhan intensif melalui media cetak dan elektronik. (2) Penanggulangan KLB menemukan jumlah kasus KLB DBD tahun 2005 sebanyak 66 kasus.1. Surveilans dilaksanakan pada tingkat dinas kesehatan propinsi. Pada pelaksanaan di Puskesmas. Dinkes Propinsi Nusa Tenggara Barat membuat pedoman operasional yang berisi ”step by step” metodologi penanggulangan DBD. menghasilkan penemuan dan pelaporan penderita.3 Kendala Penanggulangan DBD Kendala penting yang masih terjadi saat ini adalah kurang atau tidak adanya koordinasi dari instansi-instansi yang seharusnya terkait dalam menangani Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 40 . pemantauan jentik berkala di berbagai kabupaten endemis dengan sasaran masing-masing 100 rumah. 4. Materi yang disusun dalam prosedur tetap (Protap) ini adalah langkahlangkah penanggulangan DBD sebagai berikut: (1) Kewaspadan Dini. (2) Pemberantasan Nyamuk Penular DBD terhadap nyamuk dewasa dan jentik nyamuk.LAPORAN AKHIR Propinsi Sulawesi Selatan Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. melakukan pelatihan tatalaksana DBD bagi dokter di rumah sakit pada daerah endemis. khususnya penyakit DBD di Propinsi Sulawesi Selatan. pembinaan di 23 kab/kota. melalui penyuluhan. Di kabupaten Lombok Tengah. Implementasi kebijakan penanggulangan DBD di Sulawesi Selatan antara lain (1) Kewaspadaan Dini. sedangkan tahun 2004 jumlah KLB DBD sebanyak 88 kasus. abatisasi. pengamatan bebas jentik dilakukan oleh murid-murid sekolah dan telah terbukti cukup efektif untuk dapat direflikasi di daerah lain. pelatihan bagi pengelola program P2 DBD di 23 kab/kota. (4) Peningkatan SDM.

Sebagai contoh. 2. maka penduduk masih terpaksa menyiapkan bak mandi dan tandon-tandon air (yang dapat menjadi sarang nyamuk) untuk menampung air yang sering hanya menetes bahkan mampet.LAPORAN AKHIR DBD sehingga menimbulkan masalah tersendiri di lapangan. selama PDAM belum mampu menyediakan air bersih untuk seluruh penduduk. melainkan juga terkait dengan instansi lainnya. serta melakukan wawancara ke Bappeda dan masyarakat. pemerintah pusat mengalami kendala dalam pendistribusiannya ke daerah. Pihak daerah seringkali kewalahan dalam penyediaan biaya operasional penanganan penyakit karena keterbatasan sumberdaya. baik dana maupun tenaga. Beberapa kendala yang ditemukan di lapangan. bahkan Dinas Pendidikan. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. 3. sarang-sarang nyamuk Aides akan tetap ada di sepanjang tahun. yaitu propinsi Riau.2. dilakukan kunjungan ke dinas kesehatan kabupaten/kota. Kebijakan tersebut terkait dengan anggaran kesehatan untuk pencegahan serta pemberantasan penyakit menular. 4. Dengan demikian. serta instansi penyedia sarana air bersih (PDAM) juga harus ikut pula berpartisipasi. Jawa Barat. Adanya intervensi dari pendamping (orang dinas) dalam wawancara di tingkat Kab/kota. diantaranya: 1. yang memang membutuhkan biaya sangat tinggi. dan di tiap kabupaten/kota tersebut. Hal ini menjadi faktor penghambat praktek penanganan kasus di lapangan. populasi nyamuk Aides dewasa yang mempunyai potensi menyebarkan virus dengue juga akan selalu dijumpai dan menjadi sumber penularan di sepanjang tahun. 4. Responden yang diharapkan sebagai informan tidak sesuai.4. Disisi lain adanya desentralisasi sumberdaya yang dimiliki. Instansi-instansi yang mengatur tata kota dan permukiman. Sumber informan yang seharusnya dan pada saat yang bersamaan tidak berada di tempat sehingga dilakukan wawancara terhadap informan pengganti. puskesmas dan rumah sakit. kebersihan dan lingkungan hidup. Karena itu. 2 puskesmas dan 1 Rumah Sakit. 4. Pada tiap propinsi dilakukan kunjungan dan wawancara terhadap 2 kabupaten/kota. hal ini dikarenakan adanya perubahan posisi (rolling) yang terjadi beberapa bulan sebelum kunjungan. Dengan adanya kewenangan penanganan yang didaerahkan terkadang menyulitkan dalam koordinasi penganggaran. Kalimantan Timur. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 41 . nanggulangan DBD Kajian P2M KLB DBD dilakukan di enam propinsi. Jawa Timur. Kinerja Surveilans dan Pe 4.3. baik di musim penghujan maupun di musim kemarau. Penanganan DBD tidak semata-mata tugas Dinas Kesehatan. Kebijakan desentralisasi juga berpengaruh terhadap koordinasi antara pusat dan daerah dalam kewenangan penanganan DBD. Adanya intervensi dalam pemilihan responden di tingkat dinas.

Tabel di bawah ini memperlihatkan persentase keberadaan indikator tersebut di Dinkes Propinsi.1 Distribusi Indikator Kinerja Surveilans di Dinkes Propinsi.2. Dari 19 puskesmas yang dikunjungi.1 Sumber: Data Lapangan. Kesulitan pada proses wawancara di beberapa puskesmas dan RS dikarenakan waktu wawancara dilakukan pada saat jam kerja. dari 12 dinkes kab/kota sebanyak 10 dinkes kab/kota atau 83.0 80. DP-DBD. tak satupun memiliki peta rawan DBD.7 83. RS dan Puskesmas DINKES DINKES RUMAH INDIKATOR PUSKESMAS KAB/KOTA PROPINSI SAKIT (ntot =24.1 71.0 75.1 Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB (1) Indikator Kinerja Surveilans Peta Rawan Indikator Kinerja Surveilans bisa dilihat dari peta rawan. 1 miss ) (ntot =12) Peta rawan DP-DBD K-DBD W2-DBD W1 jml 4 4 3 3 4 % 80.3 58. Indikator kinerja surveilans tersebut tidak sepenuhnya merupakan indikator surveilans. KDBD. K-DBD. W2 DBD. 5 miss) KINERJA (ntot =12. Berdasarkan data tersebut terlihat 4 dari 5 dinkes propinsi memiliki peta rawan sebagai salah satu indikator kinerja surveilans.9 57. peta rawan tidak tersedia disemua puskesmas. Sementara di Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan dasar. RS dan Puskesmas. Tidak demikian dengan Rumah Sakit. Hal ini dapat dipahami berkaitan dengan fungsi rumah sakit sebagai unit rujukan yang berperan melakukan tindakan medis atas kejadian kasus.4 57.0 jml 10 7 6 9 9 % 83. Ketidaklengkapan data dikarenakan keterbatasan waktu dalam pengumpulan data 3 tahun terakhir (tahun 2003-2005). Tabel 4. 6.0 60. 2006 Selain peta rawan. dari sebanyak 12 rumah sakit kab-kota yang menjadi lokasi kajian. Begitu pula pada tingkat dinkes kab/kota.3 50.3 83.7 16.0 16. W2-DBD dan W1.LAPORAN AKHIR 5.4%) yang memiliki peta rawan.4 42.0 jml 0 1 1 5 5 % 0. 6 miss) (nto= 5. indikator kinerja surveilans lainnya adalah DP-DBD.0 80. 4.0 60. Dinkes Kab/Kota. dan W1.0 75.3% memiliki peta rawan. hanya 11 (52.3 jml 11 9 12 15 12 % 52. Dinkes Kab/Kota. Sedangkan di tingkat kab/kota indikator kinerja surveilans yang dimiliki dinkes kab/kota dan RS lebih banyak pada Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 42 . Dari tabel di atas tergambarkan di tingkat propinsi data tersebut hampir semuanya tersedia.

Diseminasi Informasi Kinerja surveilans juga diukur berdasarkan indikator diseminasi informasi seperti terlihat pada tabel di bawah ini. laporan peta rawan. ketiadaan indikator di atas karena pendekatan rumah sakit yang lebih kepada kuratif. Di Samarinda. setelah kejadian KLB laporan W2 seringkali terlupakan untuk dilaporkan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota. Lokasi yang tercakup dalam peta rawan kadang kali tidak kecil. sementara untuk rumah sakit hanya 1 buah rumah sakit saja yang menerima laporan umpan balik dari Pemda kab/kota. Di Dinkes kota Samarinda. maka peta rawan adalah seluruh kota Samarinda itu sendiri. Pada tingkat puskesmas. Surveilans hanya menerima laporan yang berkaitan dengan KLB. meskipun kelengkapan laporan puskesmas mencapai 90-100%. DP-DBD. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 43 . Kadangkala diperlukan pengiriman informasi melalui short message system (sms dengan hand phone) untuk melaporkan kejadian BDB. dan K-DBD. diperoleh dari bagian program pemberantasan DBD. Dalam pembuatan laporan. keberadaaan datadata tersebut relatif tersedia. Seperti halnya di propinsi Riau. Yang perlu diperhatikan adalah meskipun semua indikator terpenuhi. dinkes kab/kota dan puskesmas. dalam hal ini laporan W1. Sementara. Penerbitan bulletin kajian epidemiologi ternyata lebih banyak dilakukan oleh Dinkes propinsi. pengumpulan data surveilans dilakukan oleh dua bagian. faktor ketepatan juga sangat penting. Sedangkan di tingkat Puskesmas. Ke dua pertanyaan lainnya (penerbitan epidemiologi dan laporan umpan balik dari propinsi) tidak berkaitan langsung pada aktifitas puskesmas. Pada level puskesmas. W2. informasi mengenai ke lima indikator. Pada tingkatan rumah sakit.LAPORAN AKHIR indikator W2 DBD dan W1. seksi surveilans dan program pemberantasan penyakit (dalam hal ini program DBD/pemberantasan penyakit bersumber binatang). Dari hasil keseluruhan memperlihatkan adanya persentase yang tinggi dalam hal kinerja ditingkat propinsi. 76% puskesmas sudah menerima laporan umpan balik dari Pemda kab/kota. namun apakah laporan tersebut tepat waktu atau tidak. Pembuatan laporan pun tidak dilakukan setiap hari. walau tidak semua puskesmas memilikinya. karena merupakan kota endemis. hanya pertanyaan mengenai adanya umpan balik dari kabupaten dan profil surveilans epidemiologi yang ditanyakan. namun ketepatannya hanya 60% saja. Laporan umpan balik ke RS sangat jarang dilakukan. Di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota. merupakan gabungan dari bagian seksi surveilans dan program pemberantasan penyakit (DBD). Laporan umpan balik dari propinsi sudah dilakukan oleh sebagian dinkes propinsi. Demikian pula untuk pembuatan profil surveilans epidemiologi. Sehingga.

5 Data Kasus DBD di Lokasi Kajian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 44 .3 10 76.7 Sumber: Data Lapangan.2 Distribusi Indikator Diseminasi Informasi Surveilans di Dinkes Propinsi. 2006 (3) Indikator Kinerja Penanggulangan Data Kasus Hasil kinerja surveilans dan penanggulangan diukur dengan penemuan kasus.4 2 50.0 6 66.6 7 53.0 1 7.9 3 75.6 0 0.0 DINKES KAB/KOTA ntot =12) jml 1 % 11.0 PUSKESMAS (ntot =24) jml 2 % 15. angka kematian dan Case Fatality Rate (CFR).0 5 55. Grafik diatas ini memperlihatkan dari ke 6 lokasi kajian. RS dan Puskesmas INDIKATOR KINERJA DINKES PROPINSI (ntot=6) jml Penerbitan buletin kajian epidemiologi Laporan umpan balik dari propinsi Laporan umpan balik dari kab/kota (untuk RS & puskesmas) Profil survaeilans epidemiologi 3 % 75.7 2 28. Gambar 4.LAPORAN AKHIR Tabel 4.8 1 14.1 RUMAH SAKIT (ntot =12) jml 0 % 0. Dinkes Kab/Kota.

Berdasarkan data tersebut kecenderungan data selama tahun 2003-2005 menunjukkan peningkatan kasus di semua propinsi. NTB adalah propinsi terendah Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 45 . 2006 Sementara untuk jumlah kematian. Sedangkan kasus terendah terjadi di propinsi Nusa Tenggara Barat. Gambar 4.6 Data Kematian DBD di Lokasi Kajian DATA KEMATIAN DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 300 250 200 150 100 50 0 RIAU JABAR JATIM KALTIM SULSEL NTB 39 8 2003 6 201 59 2004 21 214 120 41 25 16 2005 32 285 254 82 59 15 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI. grafik di atas memperlihatkan jumlah kematian tertinggi di Jabar disusul dengan Jatim.LAPORAN AKHIR DATA KASUS DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 20000 15000 10000 5000 0 RIAU JABAR JATIM KALTIM SU LSEL N TB 2003 739 8932 4243 2004 1059 19012 8321 2276 2005 1897 18590 14796 3165 3164 1062 2628 198 4175 805 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI. disusul dengan Propinsi Jawa Timur. Grafik ini adalah data yang diambil di Dinkes propinsi. 2006 Berdasarkan gambar tersebut terlihat propinsi Jawa Barat memiliki kasus DBD yang paling banyak.

Salah satu penyebab tingginya kasus DBD adalah faktor geografis dan perilaku masyarakat.39 0. dapat dilihat dengan indikator CFR. bahkan di atas angka nasional. Gambar 4.13 1.44 1.25 1. CFR tertinggi adalah NTB.2 2005 1. Namun bila Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 46 .04 1.36 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI.53 1.5 2004 1.00 3. Masyarakat pun memiliki kebiasaan menampung air hujan (tadah hujan) yang menambah habitat jentik.99 1. Grafik di atas memperlihatkan pada tahun 2003.00 2. yaitu di propinsi Riau.00 0. Jatim. Jabar.50 2. Sementara Dinkes tidak memiliki kendaraan untuk menjangkaunya.48 4.00 RIAU JABAR JATIM KALTIM SULSEL NTB NAS 2003 0.00 1.60 1.72 2. Seperti terjadi di Samarinda. Dari data yang dicatat dinkes propinsi selama tahun 2003-2005 menunjukkan sejumlah propinsi mengalami peningkatan jumlah kematian.59 1.69 1. Tipe rumah panggung yang merupakan ciri masyarakat asli Kaltim turut menambah risiko pertumbuhan habibat jentik karena biasanya bagian bawah rumah tergenang air buangan rumah tersebut dan menjadi sarang nyamuk.80 0.00 1.50 0. dan Sulsel.LAPORAN AKHIR dalam jumlah kematian. Pada tahun 2004 CFR di lokasi kajian terlihat rendah.41 1. 2006 Untuk melihat kinerja penanganan kasus.7 Case Fatality Rate (CFR)DBD di Lokasi Kajian CASE FATALITY RATE (CFR) DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 4.81 2.98 1.86 1.50 4.50 3. Kaltim. khususnya pada rumah sakit yang berfungsi kuratif. Indikator ini menunjukkan jumlah penderita DBD yang meninggal dari tiap 100 penderita DBD.50 1. di sana banyak perumahan penduduk yang tersebar di pulau-pulau kecil sehingga menyulitkan petugas untuk memantau.

9 3.6 jml 5 17 65 6 % 2.1 34. SKM. lulusan SMA. tenaga rekam medis.7 9. angka CFR kembali meningkat di bandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2004. kesehatan lingkungan/ sanitasi. APK. CFR yang paling tertinggi dimiliki oleh Riau dan NTB.6 8.6 9. lulusan D3. Lulusan S1 dan S2 Epidemiologi lebih banyak berperan sebagai tenaga surveilans. Kaltim dan NTB. dokter gigi. staf administrasi.2 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 47 . manajemen kesehatan. CFR sejumlah propinsi lebih tinggi. Data pada grafik memperlihatkan pula adanya kenaikan CFR dari tahun 2003-2005 di sejumlah propinsi yaitu Jatim.9 11. Yang dimaksud tenaga pendukung/lainnya adalah tenaga yang berprofesi/ berpendidikan perawat.3 jml 1 3 4 2 % 4.6 8. Pada tahun 2005. tenaga fogging.0 9. sementara di tingkat dinkes kab/kota adalah dokter umum dan tenaga pendukung laibnya. CFR tertinggi pada tahun 2005 adalah di propinsi Kaltim. Pada tingkat dinkes propinsi. ahli gizi. Tabel 4.3 19.2.LAPORAN AKHIR dibandingkan dengan angka nasional. 4. teknik lingkungan. dan kader kesehatan/posyandu.5 jml 3 14 4 8 % 8. komposisi jenis tenaga yang bertugas dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan terbanyak adalah S1 dan S2 Epidemiologi. sementara dokter umum berperan sebagai tenaga penanggulangan KLB. Semua CFR berada di atas angka nasional.3 Distribusi Jenis Tenaga di Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota DINKES PROPINSI JENIS TENAGA SURVEILANS PENANGGULA NGAN KLB DINKES KAB/KOTA SURVEILANS PENANGGULA NGAN KLB Jml S2 Epidemiologi S1 Epidemiologi Dokter umum Epidemiologi terampil 9 15 5 4 % 20.8 14.6 8.9 34. Sementara di propinsi lain CFR terlihat fluktuatif (naik dan turun).2 Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Kinerja Penanggulangan KLB (1) Tenaga Tenaga adalah sumberdaya manusia dari pihak provider kesehatan yang terlibat langsung dalam kegiatan surveilans maupun penanggulangan KLB.

1 PENANGGU LANGAN KLB jml 0 4 39 % 0.1 65.0 11. dokter umum paling banyak terlibat dalam kegiatan surveilans maupun penanggulangan. 2006 Di Rumah Sakit.0 23. maupun sebagai tenaga klinis pada saat penanggulangan. tenaga dokter masuk dalam kategori sebagai ‘pengumpul data’.4 2.0 0 18 118 179 0. Sementara.9 100.6 35 59 187 18. peran propinsi hanya sebagai koordinator.0 2 1 7 % 4.0 50.6 PENANGGU LANGAN KLB jml 1 0 18 % 1.7 100. Tabel 4.0 0 6 35 8. Hal yang sama juga ditemukan pada tingkat puskesmas.0 1 10 21 4.5 0.5 Sumber: Data Lapangan.2 15. dimana mereka sebagai pemeriksa pasien.8 Sumber: Depkes RI.2 21.0 5 2 17 44 11. dalam pengelompokkan dimasukkan dalam tenaga yang mempunyai latar belakang S2 Epidemiologi.5 38.8 31. kepala seksi surveilans adalah seorang dokter dengan pendidikan strata dua epidemiologi. Banyaknya tenaga dokter untuk penanggulangan di tingkat kabupaten/kota dikarenakan pelaksana operasional penanggulangan KLB berada di tingkat kabuapten/kota. Sehingga.6 100.6 8. tenaga dokter yang ada.8 20. Sehingga.6 100. Seperti halnya di dinas kesehatan propinsi Riau.2 6.LAPORAN AKHIR Analis Laboratorium Pendukung/lainnya Jumlah 0 10 43 0. 2006 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 48 .0 27.3 100.7 68. sehingga sumber daya yang bersifat klinis tidak banyak tersedia.9 100.4 Distribusi Jenis Tenaga di RS dan Puskesmas RS JENIS TENAGA SURVEILAN S jml S2 Epidemiologi S1 Epidemiologi Dokter umum Epidemiologi terampil Analis Laboratorium Pendukung/lainnya Jumlah 1 3 31 45 2. adalah semua dokter yang berada di puskesmas.0 0 33 13 65 0.0 2.0 100. Sementara di tingkat puskesmas maupun rumah sakit.6 8.7 PUSKESMAS SURVEILA NS jml 0 5 15 % 0.4 4.8 47.4 34.0 10.

Sementara bila dokter umum tidak terlibat dalam kegiatan penanggulangan seperti yang terjadi di kabupaten Lombok Tengah. Ketiadaan tenaga epidemiologi pada tingkat rumah sakit salah satunya disebabkan karena sudah adanya tim pokja DBD seperti yang ada di di RSUD Mataram. Bahkan di tingkat puskesmas.LAPORAN AKHIR Untuk penanggulangan. karena mereka berasumsi bahwa yang dimaksud dengan tim penanggulangan adalah tim penanggulangan yang berada di dinas kesehatan kabupaten itu sendiri. Tenaga laboran cenderung banyak di RS yang berfungsi sebagai RS pendidikan. ada pula RS yang mengkategorikan dokter sebagai tenaga surveilans seperti di rumah sakit daerah Siak. Khusus Jawa Barat sebagai daerah P2M pengetahuan praktis tenaga surveilans dan penanggulangan melebihi pengetahuan bersifat formal Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 49 . terlihat jumlah tenaga dokter umum yang banyak. malaria. yaitu orang yang melakukan rekap data. Salah satu upaya untuk mengatasinya adalah pelatihan di dalam atau di luar negeri seperti terjadi di Jabar. filariasis dan zoonosis. Sehingga dokter-dokter tidak dianggap bukan tenaga surveilans. Di rumah sakit ini yang mengumpulkan data adalah bagian rekam medis yang bertugas mengumpulkan dan merekap data. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penanggulangan penyakit. Hal ini mungkin yang menyebabkan tidak adanya laboran di tingkat dinas kabupaten/kota. Hal ini dikarenakan tenaga dokter yang diasumsikan oleh responden adalah tenaga dokter yang berada di puskesmas (seluruh puskesmas). Selain pelatihan formal. ada hal yang menarik dari pernyataan dinas kota pekan baru. tenaga perawat atau sanitarian sering dijadikan petugas yang merangkap sebagai tenaga surveilans dan penyelidikan epidemiologi (PE). Puskesmas Tambak Rejo. yang langsung berada di bawah institusi dinas kesehatan kabupaten/kota dan terlibat sebagai tim penanggulangan. satu tenaga berperan sebagai tenaga DBD merangkap tenaga untuk program malaria dan zoonosis. kualifikasi tenaga masih kurang. Usaha lain yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. Selain jumlah. seperti yang terjadi di propinsi Sulawesi Selatan. Selain itu. sehingga sudah terlihat hasil laboratoriumnya. Di tingkat Puskesmas. “kalau sudah terjadi KLB. Di puskesmas Pekanbaru Kota. laporan kasus yang masuk biasanya penderita sudah dari rumah sakit. Di lapangan juga ditemukan masih adanya perbedaan persepsi tentang tenaga surveilans dan tenaga penanggulangan. Perawat atau sanitarian puskesmas sering merangkap sebagai tenaga surveilans dan tenaga penyelidikan epidemiologi (PE). Namun. yang berasumsi bahwa dokter juga merupakan tenaga surveilans. mengadakan pertemuan/lokakarya. Hal yang berbeda di puskesmas lainnya. Sementara itu untuk tenaga laboran/laboratorium. satu tenaga juga merangkap sebagai tenaga untuk program DBD. Jumlah tenaga dirasakan masih kurang. dan Puskesmas Kota Mataram berpendapat bahwa tenaga surveilans merupakan tenaga tersendiri. Pada Dinas Kesehatan kabupaten atau kota. seperti terjadi di RS Mataram. untuk apa tenaga laboran?”.

Tiap pertanyaan mempunyai skala 1 sampai 5 (buruk hingga baik).6% responden memiliki pengetahuan tinggi dan 47. Data menunjukkan bahwa total skor persepsi surveilans berkisar dari 93-181. Cut off dipilih median karena distribusi data tidak normal. dan 14.3 Total 21 100.6 Persepsi Responden Tentang Penanggulangan DBD Tingkat Pengetahuan Tinggi Rendah Total Sumber: data Lapangan. 2006 Berdasarkan tabel di atas tergambarkan bahwa pengetahuan para petugas (responden) terhadap pengetahuan surveilans cukup baik. Apabila dibandingkan persepsi responden terhadap Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 50 . Berdasarkan cut off ≥ 128 untuk kategori pengetahuan tinggi didapat bahwa hanya 53 % dari 19 sampel tenaga mempunyai tingkat pengetahuan yang baik.LAPORAN AKHIR Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang surveilans oleh tenaga surveilans. 19 sampel dari daftar tenaga diambil.3% responden memiliki pengetahuan rendah. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang penanggulangan oleh tenaga penanggulangan. Berdasarkan cut off ≥ 156 untuk kategori pengetahuan tinggi didapat bahwa 85% dari 21 sampel tenaga mempunyai tingkat pengetahuan yang baik. 85.3 100. rerata 127 dan median 128.0 Berdasarkan data di atas dapat digambarkan bahwa persepsi responden terhadap pengetahuan berkaitan dengan penanggulangan DBD cukup baik.7 Rendah 3 14. rerata 150 dan median 156. Tabel 4.6 47. Tabel 4. Dari sejumlah responden yang ditanya. 2006 Total 10 9 19 % 52.7 % responden menyatakan cukup memahami tentang pengetahuan surveilans. Tiap pertanyaan mempunyai skala 1 sampai 5 (buruk hingga baik).0 Sumber: Data Lapangan. sejumlah sampel dari daftar tenaga diambil. Pengetahuan ini diukur dengan persepsi terhadap 36 pertanyaan tentang penanggulangan DBD.3menyatakan kurang memahami. Dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya pemahaman aparat terhadap program surveilans cukup baik. Data menunjukkan bahwa total skor persepsi penanggulangan berkisar dari 86-156. Pengetahuan ini diukur dengan persepsi terhadap 40 pertanyaan tentang surveilans. yaitu 52.5 Persepsi Responden Tentang Surveilans DBD Total % Tinggi 18 85.

Namun setiap usulan dana dari APBD untuk kegiatan Pokjanal sering tidak mendapat persetujuan Pemda karena urusan DBD dianggap urusan dinas kesehatan. Dalam operasional di lapangan sudah baik karena mereka langsung cepat tanggap untuk menangani KLB dan mencegah penyebaran lebih luas. masing-masing kabupaten atau kota dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya terkesan tidak memerlukan bantuan dinkes propinsi. Sedangkan praktek penanggulangan dipahami lebih banyak oleh tenaga medis di rumas sakit sebagai unit rujukan dalam kasus penanganan DBD. Hal ini menandakan terutama pada praktek di lapangan. Namun pemahaman ditingkat kabupaten/kota secara general terhadap penanggulangan KLB belum optimal. namun dalam sistem pelaporan mereka masih ada masalah. Setiap terjadi KLB.LAPORAN AKHIR pengetahuan berkaitan dengan surveilans dan pengetahuan berkaitan dengan penanggulangan. terlihat persentase responden lebih tinggi dalam pemahaman surveilans. sesuai dengan standar. Data di atas juga menggambarkan masih adanya persoalan berkaitan dengan tenaga dalam penanganan DBD khususnya dalam hal koordinasi. kabupaten/kota sering lupa untuk mengirimkan laporan W2 (mingguan). Hal ini sejalan dengan kebijakan yang ada. dana yang bersumber APBN sangat kecil. dimana dana APBN berkaitan dengan operasional di Puskesmas terbatas pada dana perbantuan untuk penguatan kapasitas. kabupaten/kota tidak mengirimkan. Pengetahuan dalam penyelidikan dan penanggulangan KLB DBD sudah bagus. yang sebenarnya merupakan salah satu tools untuk melakukan evaluasi. meskipun sudah teralokasi namun sebagian besar alokasi anggaran dipergunakan untuk pengadaan obat dan peralatan (investasi) tidak berupa biaya operasional. Selain itu. Masih banyak ditemukan masalah kurangnya atau lemahnya koordinasi untuk pemberantasan DBD. Hal tersebut berdampak pada pembiayaan untuk operasional Puskesmas dalam upaya penanggulangan KLB. Sebagian besar dana ternyata berasal dari APBD. Dari hasil kunjungan lapangan ke Puskesmas diketahui bahwa dana atau anggaran yang dipergunakan untuk operasional penanggulangan penyakit menular di Puskesmas adalah sebagian besar mempergunakan dana operasional yang diperoleh dari program asuransi kesehatan masyarakat miskin (Askeskin). Untuk puskemas. Adanya otonomi daerah pun malah mempersulit koordinasi. Seperti terjadi di Sulsel.7 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 51 . Kalau tidak diminta oleh propinsi. Tabel 4. Di Sulsel terdapat Pokjanal yang terdiri dari lintas sektor. dimana sebagian responden adalah tenaga aparat dinas dan tenaga puskesmas yang memiliki informasi dalam praktek kegiatan surveilans. Sumber dana untuk kegiatan surveilans dan penanggulangan DBD di lokasi kajian terlihat pada tabel di bawah ini. (2) Dana Masalah pembiayaan dalam penanggulangan penyakit DBD menjadi permasalahan yang dihadapi setiap tahunnya oleh Dinas Kesehatan karena alokasi anggaran yang bersumber dari APBD tidak/belum mencukupi sesuai dengan kebutuhan.

penyuluhan. pembuatan laporan.0 30. peralatan fogging.0 75. jasa dokter. sumber dana untuk pelaksanaan opersional penanggulangan DBD juga bersumber dari APBN dan APBD serta sumber lainnya. sebagian dana diberikan untuk pembelian bahan operasional. Sementara di tingkat puskesmas. seperti dalam pelaksanaan fogging fokus. transport supervisor. Yang dimaksud dengan sumber dana lainnya adalah swadaya RS.0 Sumber: Data Lapangan. pembelian bahan bakar/solar. seperti JPK-MM. Tidak ada dana yang spesifik diperuntukkan untuk kegiatan surveilans.0 0. Dana APBN didapat dalam bentuk dana dekonsentrasi yang disalurkan melalui APBD propinsi. dan swadana puskesmas. jasa kader. Dana tersebut digunakan untuk kegiatan peningkatan kapasitas. penanggulangan kasus.0 14.6 PENANGGULA NGAN KLB jml 10 1 3 % 100. Kader merupakan salah satu tenaga yang terlibat dan dibiayai dengan dana kegiatan surveilans dan penanggulangan KLB. biaya perawatan. seperti insektisida. fogging. sumber dana untuk kegiatan surveilans berasal dari dana operasional puskesmas (DOP).3 28. 2006 Sumber dana untuk kegiatan surveilans dan penanggulangan di tingkat dinkes propinsi bersumber dari APBN (dekonsentrasi) dan APBD propinsi. pembelian mesin. larvasida. Bila tidak mencukupi menggunakan dana program. pembelian insektisida. Sumber dana lain tersebut didapat dari kelompok masyarakat yang peduli terhadap penanganan kesehatan masyarakat. serta partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan penyuluhan. Sedangkan di tingkat dinkes kab/kota. selain berasal dari APBN (dalam bentuk dana tugas perbantuan) dan APBD propinsi dan APBD kab/kota. serta peningkatan manajamen puskesmas. Salah satu peran kader jumantik adalah mendampingi petugas puskesmas dalam melakukan pemeriksaan di 20 rumah sekeliling rumah penderita jika ada kasus DBD.0 10.LAPORAN AKHIR Distribusi sumber dana di Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota DINKES PROPINSI SUMBER DANA SURVEILANS jml APBD APBN Lainnya 4 3 0 % 100.0 DINKES KAB/KOTA SURVEILAN S jml 7 1 2 % 100. seperti pelatihan tenaga puskesmas. pembelian obat-obatan. penyelidikan epidemiologi. biaya transfusi darah.0 80. khususnya di lingkungan RT/RW melalui posyandu. selain untuk peningkatan kapasitas puskesmas. Berdasarkan wawancara dengan beberapa kepala puskesmas di lapangan.0 0. penyediaan bahan-bahan pendukung untuk promosi kesehatan. biaya akomodasi. dan penanggulangan fokus. juga berasal dari sumber lainnya. sebagian besar kegiatan operasional surveilans dan penanggulangan DBD mengggunakan dana Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 52 . Begitupula dana APBD. upah kader.0 PENANGGULA NGAN KLB jml 5 4 0 % 100. swadaya masyarakat.

0 PENANGGUL ANGAN KLB jml 4 0 1 % 100.LAPORAN AKHIR operasional umum yang ada di puskesmas. Namun tidak menutup kemungkinan pendanaan dapat juga berasal dari APBN. Hal tersebut karena dalam prakteknya kegiatan operasional di lapangan dilakukan oleh semua petugas puskesmas. Tabel 4.0 25. Alokasi dana terbanyak adalah untuk obat dan peralatan (investasi). Untuk tingkat kabupaten/kota penggunaan dana terbanyak berasal dari APBD baik APBD murni. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. 2 milyar yang berasal dari dana dekon (APBN) khusus untuk penanggulangan KLB.0 0. hampir semuanya menggunakan dana APBD.9 14.0 0. yaitu berasal dari APBN dan APBD (Gakin). Sehingga wajar saja jika digunakan sumber lain.4 Sumber: Data Lapangan. maupun APBD-ABT yang diajukan sebagai tambahan.8 Distribusi Sumber Dana di RS dan Puskesmas RS SUMBER DANA SURVEILANS jml APBD APBN Lainnya 1 1 0 % 100. seperti terjadi di Sulsel. Masalah lain dalam aspek dana berkaitan dengan proses pencairan yang dirasakan prosesnya selalu lama dan terlambat. Di kota Surabaya bahkan terkadang menggunakan dana pribadi. Untuk tingkat puskesmas. serta dana APBD. Sementara untuk puskesmas. Contoh di Jawa Barat DIPA Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 53 . Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD.1 71.0 PUSKESMAS SURVEILAN S jml 3 1 6 % 42. Seperti ditemukan di puskesmas Duduk Sampeyan dan puskesmas Kebomas. selain dana penanggulangan dari APBD. seperti halnya kabupaten Gresik. Hal ini karena adanya kebijakan setiap propinsi mendapatkan dana Rp. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. Hanya rumah sakit Gresik yang menyatakan adanya dana surveilans. Tidak jarang puskesmas juga harus menggunakan dana swadaya masyarakat atau pribadi.1 7. seringkali harus menggunakan dana tambahan dari PKPS-BBM (JPKMM) maupun Askeskin karena seringnya dana terlambat dicairkan.3 85. 2006 Operasional surveilans di tingkat propinsi menggunakan dana APBN murni maupun Dekon. Sedangkan untuk tingkat kabupaen/kota. Walaupun beberapa puskesmas terkadang menggunakan dana JPKMM sebagai tambahan. rata-rata penggunaan operasional surveilans berasal dari APBD. bila dana yang diusulkan belum turun.0 100.7 PENANGGUL ANGAN KLB jml 8 1 10 % 57.

(3) Standar Operasi dan Prosedur (SOP) Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. DBD masih merupakan masalah besar di Kaltim. Dinas Kesehatan Propinsi selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pada tingkat dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota keberadaan SOP dalam bentuk peraturan dan pedoman cukup baik. Di propinsi Kalimantan Timur yang merupakan daerah endemis DBD. (b) penangggulangan focus. Tabel 4. (c) abatisasi. (a) penyuluhan. peran swasta dalam kontribusi dana belum optimal. (b) terhadap jentik nyamuk. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). (d) fogging massal. Proporsi anggaran untuk preventiv (surveilans) dan kuratif (penanggulangan) tidak seimbang. Keberadaan SOP penting untuk panduan petugas. Penanggulangan KLB. Lebih banyak dana dikucurkan untuk kuratif. Peningkatan SDM. 3. Materi yang disusun dalam Protap ini adalah langkah-langkah penanggulangan DBD sebagai berikut: 1. (a) penemuan dan pelaporan penderita. Pelaksanaan SOP kegiatan surveilans dilakukan berdasarkan pedoman dan peraturan. 2. Sedangkan di tingkat puskesmas dan RS masih sangat rendah. (c) bulan kewaspadaan DBD. (a) terhadap nyamuk dewasa. Bahkan meskipun sudah dibentuk Yayasan Penanggulangan DBD dengan SK Walikota dan didanai oleh perusahaanperusahaan minyak. (b) Gerakan PSN. Pedoman yang bersifat teknis di lapangan diwujudkan dalam bentuk SOP. (d) pemantauan jentik berkala. RS dan Puskesmas Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 54 . antara lain pelatihan petugas kesehatan.9 Distribusi Ketersediaan SOP Surveilans di Dinkes Propinsi. Dinkes Kab/Kota. Sementara SOP kegiatan penanggulangan KLB tampaknya sudah cukup banyak dimiliki di semua level.LAPORAN AKHIR seringkali terlambat. khususnya penyakit DBD. Pemberantasan Nyamuk Penular DBD. Kewaspadaan Dini. 4.

0 DINKES KAB/KOTA jml 7 9 10 10 7 9 4 % 63. 2006 SOP dalam rangka penanggulangan KLB di Dinkes propinsi.6 81. Tabel 4. pedoman penanggulangan KLB.0 75.8 42.10 Distribusi Ketersediaan SOP Penanggulangan KLB di Propinsi. selama ini masih mengikuti pedoman dari pusat.0 80.0 Pedoman Peraturan 4 1 Sumber: Data Lapangan. pedoman SKD-KLB. Penyusunan SOP dimaksud dilakukan dengan melibatkan lintas program. laporan penyakit potensi KLB.9 90. Kedepan propinsi juga akan menyusun Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar operasional (SOP) agar SOP bisa operasional di lapangan.LAPORAN AKHIR SOP DINKES PROPINSI jml % 5 3 83. dan laporan kondisi rentan KLB.1 SOP Sumber: Data Lapangan. rumah sakit maupun puskesmas yang ada mencakup peraturan SKD-KLB.9 63. 2006 Propinsi belum membuat SOP sendiri.4 jml 3 3 2 3 2 2 3 RS % 75.0 100.4 57.1 14.3 100.0 80. Di tingkat kabupaten/kota SOP yang ada selain mengadopsi dari pusat juga mengadopsi SOP yang dibuat oleh Dinkes propinsi. pedoman penyelidikan KLB. RS dan Puskesmas DINKES PROPINSI jml Peraturan SKD-KLB Pedoman SKD-KLB Pedoman penyelidikan KLB Pedoman Penanggulangan KLB Pedoman Cara Pelaporan Laporan Penyakit Potensi KLB Laporan Kondisi Rentan KLB 5 5 5 5 5 4 4 % 100. pedoman cara pelaporan. kab/kota.8 90. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 55 .0 50.8 36.0 100.9 42.0 50.0 75.1 jml RS % 57.1 78.3 PUSKESMAS jml 12 0 % 50.0 75.4 68.6 81.0 0. Dinkes Kab/Kota.9 68.0 DINKES KAB/KOTA jml 11 4 % 91.0 PUSKESMA S jml 7 8 15 13 13 11 8 % 36.0 100.0 50.7 57.0 100.

LAPORAN AKHIR

Dari Tabel 4.10 tergambarkan keberadaan SOP di masing-masing tingkatan. Seperti halnya SOP dalam rangka kegiatan surveilans, pada kegiatan penanggulangan, setiap dinkes propinsi dan kabupaten/kota memiliki cukup lengkap pedoman dan peraturan sebagai landasan operasional penanggulangan penyakit. Namun demikian SOP dimaksud tidak secara lengkap dimiliki oleh puskesmas. Rumah sakit memiliki SOP penanggulangan cukup baik dibandingkan SOP surveilans. Hal ini dipahami berkaitan dengan fungsi rumah sakit sebagai unit rujukan dalam penanganan kasus penyakit menular termasuk kasus DBD. Walaupun keberadaan SOP dimaksud cukup lengkap hampir pada setiap tingkat unit pelayanan kesehatan, namun demikian keberadaan pedoman belum tentu digunakan. Seperti halnya di RSU Ujung Berung, di propinsi Jawa Barat SOP yang ada dianggap kurang operasional karena tidak sesuai dengan kondisi dan permasalahan yang ada di lapangan. Upaya yang dilakukan dalam melakukan operasionalnya dilakukan dengan membuat SOP yang lebih rinci dan sederhana menjabarkan SOP yang dibuat dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota. Yang menarik adalah di RSUD Mataram yang juga merupakan rumah sakit pendidikan dan memilki tim pokja DBD, hanya laporan kondisi rentan KLB yang mereka miliki. Namun mereka juga membuat standar operasional dalam pertolongan pasien DBD yang tidak terdapat dalam ke-enam SOP tersebut. (4) Data

Ketersediaan data, baik pada kegiatan surveilans maupun penanggulangan KLB sangat penting. Data untuk surveilans yang dibutuhkan mencakup kasus, jentik, vektor dan curah hujan. Dari ke-4 data tersebut ternyata hanya data kasus yang tersedia di semua tingkatan. Data jentik yang sangat penting pun tidak tersedia kecuali pada level puskesmas. Jumlah puskesmas yang memiliki data tersebut sangat sedikit. Ketiadaan data di tingkat RS dikarenakan fungsi rumah sakit yang lebih sebagai kuratif. Informasi data surveilans diperoleh berdasarkan data dari seksi surveilans, yang notabene tidak melakukan pengumpulan data jentik, vektor maupun curah hujan. Baik di tingkat propinsi maupun di tingkat kabupaten/kota. Adapun informasi jentik dan curah hujan dilakukan oleh seksi pemberantasan penyakit (program DBD) yang bekerjasama dengan sanitasi. Oleh karena informasi yang diperoleh berasal dari seksi surveilans, maka ketiga data tersebut tidak ada. Sementara di bagian pemberantasan penyakit sendiri juga terdapat bagian surveilans, yang melakukan pengumpulan data rutin DBD. Oleh karena itu bukan berarti dalam surveilans data mengenai jentik dan vektor tidak ada, informasi mengenai jentik dan vektor tidak bisa didapatkan. Hal tersebut dapat dilihat dari informasi penanggulangan yang merupakan perpaduan informasi dari seksi surveilans dan pemberantasan. Tabel 4.11 Distribusi Ketersediaan Data Surveilans di Dinkes Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

56

LAPORAN AKHIR

DATA

DINKES PROPINSI jml % 100.0 0.0 0.0 0.0

DINKES KAB/KOTA jml 6 0 0 1 % 100.0 0.0 0.0 16.7 jml 4 0 0 0

RS % 80.0 0.0 0.0 0.0

PUSKESMAS jml 11 2 0 0 % 100.0 18.2 0.0 0.0

Kasus Jentik Vektor Curah hujan

3 0 0 0

Sumber: Data Lapangan, 2006 Data yang dibutuhkan untuk penanggulangan DBD mencakup kasus, jentik, lingkungan/genangan, perilaku 3M, vektor, curah hujan dan logistik. Terlihat pada tabel di bawah ini bahwa data yang paling banyak tersedia adalah data kasus dan jentik. Tampaknya di dinkes propinsi dan dinkes kab/kota, data lebih lengkap tersedia dibandingkan di tingkat RS dan puskesmas. Tabel 4.12 Distribusi Ketersediaan Data Penanggulangan KLB di Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas
DINKES PROPINSI jml Kasus Jentik Lingkungan/genan gan Perilaku 3M Vektor Curah hujan Logistik 5 3 1 0 1 1 2 % 100.0 60.0 20.0 0.0 20.0 20.0 40.0 DINKES KAB/KOTA jml 12 12 4 2 1 1 4 % 100.0 100.0 33.3 16.7 8.3 8.3 33.3 jml 5 0 0 0 0 0 2 RS % 71.4 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 28.6 PUSKESMAS jml 18 7 1 0 1 2 5 % 94.7 36.8 5.3 0.0 5.3 10.5 26.3

DATA

Sumber: Data Lapangan, 2006 Di Dinkes Kota Bandung Jawa Barat kegiatan surveilans dilakukan secara manual dengan cara pengumpulan data, pencatatan dan pelaporan. Sementara pelaporan yang dilakukan Puskesmas dikirim langsung oleh petugas puskesmas ke dinas kesehatan kota sesuai format yang ditentukan dalam bentuk manual. Sharing informasi antar petugas bidang/unit puskesmas dilakukan dalam bentuk ”rakor bulanan”, sekaligus ajang tukar informasi dan pengalaman serta upaya pemecahan masalah yang ditemukan.
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

57

LAPORAN AKHIR

Temuan lain yang di dapat di lapangan adalah tidak dikumpulkannya data jentik, vektor, dan curah hujan. Selain itu ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten masih rendah. Juga belum dilakukan analisis data baik di tingkat propinsi maupun kabupaten (baru bersifat pengumpulan data). Sehingga untuk SKD-KLB data yang seharusnya dapat dilihat /diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB, belum dilakukan. Selama ini propinsi tidak pernah mempermasalahkan validitas data yang dilaporkan. Untuk pengecekan data biasanya menyamakan informasi yang berasal dari media massa. Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan. (5) Sarana Ketersediaan sarana penunjang kegiatan surveilans terlihat pada tabel berikut ini. Dari tabel tersebut terlihat bahwa jumlah sarana masih sangat terbatas. Kepemilikan sarana transportasi dan pengolah data, dari level puskesmas hingga dinkes propinsi berkisar 11-50% saja. Sementara untuk sarana komunikasi sudah lebih baik; meskipun untuk level RS dan puskesmas masih perlu ditambah. Tabel 4.13 Distribusi Ketersediaan Sarana Surveilans di Dinkes Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas
DINKES PROPINSI jml Transportasi Pengolah data Komunikasi 3 3 6 % 50.0 50.0 100.0 DINKES KAB/KOTA jml 4 5 10 % 36.4 41.7 83.3 jml 1 4 6 RS % 11.1 44.4 66.7 PUSKESMAS jml 11 9 14 % 50.0 40.9 63.6

SARANA

Sumber: Data Lapangan, 2006 Bila di lokasi kajian lain, peralatan pengolah data sudah menggunakan komputer, tidak halnya di Puskesmas Benteng Hilir yang masih menggunakan cara manual. Padahal di puskesmas lainnya, sudah disediakan komputer. Faktor geografis rupanya menentukan jenis alat komunikasi dan dipakai. Di propinsi Jawa Timur, semua wilayah dapat dijangkau dengan telepon, sementara di NTB tidak hanya memanfaatkan telepon sebagai alat komunikasi, tetapi juga SSB. Di kabupaten Lombok Tengah yang menggunakan SSB sebagai sarana komunikasi karena belum adanya kabel telepon. Di propinsi Riau, sarana komunikasi menggunakan telepon, walaupun tidak semua wilayah dapat dijangkau dengan fasilitas telepon. Untuk kegiatan penanggulangan KLB, ketersediaan/kepemilikan sarana yang diperlukan terlihat sudah jauh lebih baik daripada ketersediaan/kepemilikan
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

58

2 77. yaitu di Dinas Kesehatan Kota Bandung. tersedia 3 mobil. Kaltim. Pengadaan insektisida dan fogging fokus untuk beberapa propinsi di kirim oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap. misalnya.0 0 DINKES KAB/KOTA jml 10 10 9 4 11 12 7 % 83.6 SARANA Sumber: Data Lapangan. Bahkan yang Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 59 . Di Dinkes Kota Samarinda. 0 80.3 0.2 44. Kondisinya pun belum tentu bisa digunakan. maupun dinkes di kab/kota.0 33. 2006 Sarana yang dimiliki ada yang statusnya “tidak khusus” untuk kegiatan surveilans atau penanggulangan KLB. obat.0 66. Sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya fogging fokus serta insektisida.7 100. Tabel 4. Berkaitan dengan jumlah dan jenis sarana.7 PUSKESMAS jml 12 13 14 9 13 8 10 % 66. Namun. Selain itu. alat transportasi untuk surveilans dalam kondisi rusak.LAPORAN AKHIR sarana untuk kegiatan surveilans.14 Distribusi Ketersediaan Sarana Penanggulangan KLB di Propinsi.8 50. Senter digunakan untuk surveilans khususnya dalam penemuan jentik dari rumah ke rumah.3 66. Di propinsi Jabar.4 55. untuk insektisida. Artinya bisa digunakan juga untuk kegiatan lainnya. alat penyemprot dan alat penyuluhan masih kurang tersedia di semua level. Untuk alat komunikasi.7 33. dalam kenyataannya terdapat variasi di berbagai dinkes propinsi. Dinkes Kab/Kota. tetapi hanya 1 yang bisa digunakan.7 66.0 58. Umumnya sarana yang demikian adalah untuk jenis transportasi. 0 100.3 jml 2 5 4 4 2 0 4 RS % 33. seperti yang terjadi di Dinkes Kabupaten Gowa dan Puskesmas Palangga di Sulsel.7 72. rumah sakit dan puskesmas. dan di Puskesmas Bojong Gede selain ada 1 mobil juga tersedia 1 motor. RS dan Puskesmas DINKES PROPINSI jml Transportasi Pengolah data Komunikasi Obat Insektisida Alat penyemprot Alat Penyuluhan 4 5 5 4 5 3 0 % 80.3 75.0 100. seringkali digunakan fasilitas pribadi seperti handphone. karena tidak adanya fasilitas kantor.3 91.3 83. 0 60. kondisinya pun belum tentu bagus.0 72. sementara di Dinkes Kabupaten Bogor hanya 1 mobil.3 83.0 100. Satu hal yang unik adalah ketiadaan sarana senter. Misalnya di Dinkes Kota Samarinda tersedia 2 motor.

LAPORAN AKHIR

sangat menyedihkan, di puskesmas Temindung Kaltim penggantian biaya batere untuk senter hanya setahun sekali saja. 4.3 Peran dan Tanggung Jawab Penanggulangan Penyakit DBD Pemerintah Daerah dalam

4.3.1 Kewenangan Daerah dan Standar Pelayanan Minimum Sejak diberlakukannya paket UU Otonomi Daerah (UU No. 22 dan No. 25 tahun 1999 yang kemudian direvisi menjadi UU No. 32 dan No. 33 tahun 2004) telah terjadi perubahan pembagian fungsi antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Sesuai dengan UU No. 22 tahun 1999 dan SK Menkes RI No. 1147 tahun 2000, maka tugas Depkes Pusat adalah menyusun kebijakan nasional, pedoman, standar, petunjuk teknis, fasilitasi dan bantuan teknis kepada daerah, sementara fungsi-fungsi yang bersifat operasional sudah harus diserahkan kepada daerah (propinsi dan kabupaten/kota). Penerapan UU tersebut, khususnya di bidang kesehatan belum disikapi dengan utuh, sehingga terkesan tidak tuntas dalam bertindak. Ini disebabkan adanya kegamangan dalam peran dan tanggungjawab di masing-masing jenjang ataupun instansi di pemerintahan. Selanjutnya pasal 12 UU No. 32/2004 menyatakan bahwa fungsi yang telah dilimpahkan kepada daerah tersebut termasuk tanggung jawab daerah untuk menyediakan sumberdaya yang diperlukan, termasuk pembiayaan, sarana dan ketenagaan yang diperlukan untuk melaksanakan standar pelayanan minimum (SPM). Untuk itu daerah wajib menyediakan pelayanan dasar yang dianggap esensial bagi kesejahteraan penduduk, termasuk di bidang kesehatan. SPM yang sekarang ini berlaku adalah daftar yang ditetapkan dalam Keputusan Menkes No. 1457/2003 (saat ini sedang dilakukan proses revisi). Dalam daftar tersebut ada 9 kewenangan wajib (KW) dan 31 jenis kegiatan/pelayanan/program, seperti dalam tabel di bawah. Tabel 4.15 Daftar KW dan SPM Bidang Kesehatan
No 1 Kewenangan Wajib (KW) Pelayanan Dasar No 1 2 3 4 5 6 7 8 Standar Pelayanan Minimum (SPM) KIA Kesehatan anak pra-sekolah 7 sekolah KB Imunisasi Pengobatan dan perawatan dasar Kesehatan Jiwa Kesehatan kerja *) Kesehatan usila *) Pemantauan pertumbuhan balita Pelayanan gizi

2

Giji Masyarakat

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

60

LAPORAN AKHIR 3 4 Rujukan dan Pelayanan Penunjang Pencegahan dan Penyakit Menular Pemberantasan 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Pelayanan obstetri dan neonatal emergency dasar Pelayanan emergency Surveilans dan pengendalian KLB kurang gizi Pencegahan dan pengobatan polio Pencegahan dan pengobatan TBC Pencegahan dan pengobatan infeksi saluran nafas Pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS Pencegahan dan pengobatan DBD Pencegahan dan pengobatan Diare Pencegahan dan pengobatan Malaria *) Pencegahan dan pengobatan Kusta *) Pencegahan dan pengobatan Filaria *) Kesehatan lingkungan Pengendalian vektor Hygiene dan sanitasi tempat umum Promosi Kesehatan Promkes dan pengendalian penyalahgunaan obat Pengadaan obat dan bahan medis Obat generik Pembiayaan untuk pelayanan kesehatan perorangan Pembiayaan kesehata penduduk miskin dan risti

5 6 7 8 9

Kesehatan Dasar

Lingkungan

dan

Sanitasi

Promosi Kesehatan Pengendalian Napza Pelayanan Farmasi Pembiayaan kesehatan, kesehatan perorangan dan auransi kesehatan

18 19 20 21 22 23 24 25 26

Sumber: Depkes RI, 2006 *) Hanya di kab/kota tertentu

Berdasarkan hasil analisis tentang daftar SPM tersebut disebutkan bahwa kriteria yang tersirat dalam 3 kegunaan SPM seperti disebutkan dalam UU No. 32/2004 belum seluruhnya terakomodir. Tiga pelayanan dasar menurut UU tersebut adalah (1) hak konstitusi penduduk, (2) kepentingan nasional untuk kesejahteraan masyarakat, keamanan dan ketertiban umum serta integritas dan kesatuan nasional, (3) komitmen nasional terhadap kesepakatan dan konvensi internasional. Pelaksanaan SPM di tingkat kabupaten/kota ternyata menimbulkan kebingungan dan masalah. Pertama, penghitungan kebutuhan biaya untuk semua pelayanan dalam daftar SPM tersebut menghasilkan suatu jumlah yang tidak dapat ditanggung oleh banyak daerah. Ada daerah beranggapan bahwa pemerintah pusat harus menanggung selisih biaya yang tidak bisa ditanggung pemerintah daerah. Kedua, banyak daerah mengalami kesulitan menterjemahkan target nasional dalam target daerah. Misalnya, tidak banyak kabupaten/kota yang memiliki data dasar tentang prevalens penyakit, masalah kesehatan kerja, TBC dan penyakit lainnya, sehingga kesulitan dalam menetapkan target untuk Indonesia Sehat 2010. Ketiga, tidak mudah menterjemahkan target 2010 dalam target tahunan. Dalam kenyataan, banyak kabupaten/kota yang menetapkan target programnya atas dasar plafond anggaran yang akan diterima untuk tahun bersangkutan.
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

61

LAPORAN AKHIR

4.3.2 Peran Pemerintah daerah dalam Penanggulangan DBD Pemberantasan penyakit demam berdarah dengue (DBD) sangat tergantung pada peran besar pemerintah daerah, yang langsung menghadapi masyarakat. Daerah diharapkan lebih aktif menggerakkan masyarakatnya untuk menjaga lingkungan masing-masing. Peran daerah dalam penanggulangan DBD antara lain dilakukan dengan tindakan preventif seperti (1) mengeluarkan surat edaran kewaspadaan penyakit DBD kepada semua kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, (2) kampanye gerakan pembersihan sarang nyamuk, (3) penyebaran poster, ceramah klinik penyegaran tata laksana kasus, maupun membahas penanganan dan antisipasi DBD. Pemerintah Provinsi memfasilitasi teknis dan pengamatan DBD di daerah endemis, membagikan bubuk abate dan malathion untuk pengasapan ke kabupaten/kota, selain juga memberikan bantuan cairan infus. Kebijakan pemerintah melalui PSN dalam mengendalikan tempat perindukan telah ditetapkan dan disosialisasikan melalui berbagai media. Usaha promosi kesehatan secara konvensional telah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai pemberantasan DBD, namun belum diikuti dengan perbaikan sikap. Belajar dari negara tropis lainnya yang telah mengembangkan inovasi pemberdayaan masyarakat melalui COMBI (Communication for Behavioural Impact) menunjukkan bahwa sebelum menetapkan intervensi, perlu didasari pada suatu formative research yang mengungkap hal-hal yang dibutuhkan masyarakat (Park 2004, WHO 2003). Inovasi ini masih belum menjadi fokus perhatian dalam kegiatan PSN di Indonesia. Di propinsi pemantauan kasus terus dilakukan, para bupati dan wali kota disurati untuk mengantisipasi DBD, termasuk kampanye di media massa. Pemerintah Provinsi juga mendistribusikan abate, malathion, cynoft, dan filter paper ke kabupaten/kota. Selain itu juga dilakukan penyuluhan dan gerakan 3 M (menguras, menimbun, dan menutup tempat-tempat potensial perindukan nyamuk). Strategi penanganan DBD dilakukan dengan pengumpulan data kasus DBD dari RS, puskesmas, klinik swasta, pengumpulan data morbiditas kasus DBD yang lalu (tiga-lima tahun) yang akan dipakai sebagai data dasar. Pengumpulan data lapangan dengan mengunjungi rumah penderita, dan pencarian kasus baru, serta pengamatan terhadap perilaku masyarakat disertai penaburan abate 10 gr/100 lt pada TPA di setiap rumah penduduk dengan radius 400 meter persegi dari rumah kasus. Dinkes mengembangkan sistem kerja deteksi dini, yaitu mengidentifikasi berbagai kasus penyakit yang timbul, mulai dari gejala, penyebab, dan daerah sebarannya, terutama daerah rawan endemi. Pelaporan dini, pada tahap ini dilakukan Puskesmas sebagai ujung tombak dalam tindakan darurat mengatasi berbagai permasalahan.

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

62

LAPORAN AKHIR Kebijakan desentralisasi semakin rumit ketika harus dilaksanakan di sektor kesehatan yang mencakup area kegiatan luas dan yang selama ini didominasi peran pemerintah pusat. Setelah desentralisasi kebijakan sektor kesehatan menghadapi apa yang disebut anggaran pembangunan melalui Dana Alokasi Umum (DAU) yang berbasis pada formula. Metode konvensional promosi kesehatan melalui KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) dan advokasi telah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat. Koordinasi yang sulit terlihat dari lambatnya mekanisme pelaporan kasus KLB. karena tenaga Pokja DBD tidak aktif. Sebelum desentralisasi alokasi anggaran kesehatan dilakukan oleh pemerintah pusat dengan menggunakan model negosiasi ke propinsi-propinsi. masih dijumpai dalam pelaksanaan penanggulangan penyakit. Hal ini diperkuat oleh Halstead (2000) mengenai sukses dan kegagalan pengendalian penyakit DBD. Praktis sektor kesehatan harus berjuang di tiap propinsi dan kabupaten/kota untuk mendapatkan anggaran. pelaksanaan tugas kelompok kerja operasional (Pokjanal) DBD tingkat Propinsi. sektor kesehatan masih dipandang sebagai aktor dan inisiator utama dalam pencegahan DBD. Pada umumnya. Masalah penanggulangan KLB semakin sulit penanganannya manakala mekanisme pelaporan tidak berjalan baik. abatisasi. Hal ini sejalan dengan temuan Siregar (2003) tentang tidak adanya hubungan bermakna antara fogging. 4. Dalam formula ini pembagian alokasi anggaran tidak hanya ke propinsi melainkan sampai ke sekitar 400-an kabupaten/kota di Indonesia. PSN dan PJB dalam menurunkan insidens DBD di Kota Medan. Dengan demikian daerah harus merencanakan dan menganggarkan program kesehatan dan bersaing dengan sektor lain untuk mendapatkannya. meski prosedur telah ada dan baku. tidak/belum dapat berjalan dengan baik. Masalah lemahnya koordinasi lintas program dan lintas sektor. Pemberdayaan lintas sektor dalam menjalankan Pokja/Pokjanal DBD yang telah dibentuk. tidak melibatkan instansi di luar kesehatan. Secara implisit DAU kesehatan dianggap sudah termasuk dalam formula tersebut walaupun sebenarnya secara eksplisit tidak ada.3. dengan pertimbangan antara lain bahwa urusan penyakit menular DBD adalah urusan dinas kesehatan. Hal ini dikarenakan ada kesan masing-masing Kabupaten/Kota dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya tidak memerlukan bantuan/koordinasi Dinas Kesehatan Propinsi. Setiap usulan rencana kegiatan dan pembiayaan kegiatan Pokjanal DBD yang diajukan oleh masing-masing instansi terkait di luar kesehatan sering tidak mendapat persetujuan untuk mendapat dana APBD dari Pemerintah Daerah setempat. namun belum berhasil Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 63 . meskipun prosedur pelaporan ada dan telah baku.3 Koordinasi antar sektor Koordinasi dengan instansi terkait di tingkat Kabupaten/Kota setelah adanya desentralisasi dan otonomi daerah. belum optimal. Di tingkat Propinsi. yang merupakan salah satu wadah koordinasi antar instansi/lintas sektor. menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Hal ini disebabkan tidak adanya dukungan pendanaan dari masing-masing instansi terkait yang tergabung dalam Pokjanal DBD.

Walaupun demikian hasil wawancara dengan masyarakat menunjukkan bahwa masyarakat mengakui PSN melalui 3M lebih baik dan lebih murah daripada pengasapan. kesehatan lingkungan. Diakui oleh para petugas kesehatan adanya peminatan masyarakat yang lebih tinggi terhadap fogging bila dibandingkan dengan PSN. Semua petugas sektor kesehatan memiliki panduan mengenai tata laksana penanggulangan penyakit DBD yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI. bahkan seorang di antara enam Kepala Puskesmas yang diwawancarai. Petugas dinas kesehatan mengemukakan esensi intensifikasi penyuluhan mengenai PSN-DBD pada masa rendah penularan penyakit Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 64 . diharapkan dapat merangkum berbagai pihak terkait dari lintas program pemberantasan penyakit. 2004. Parks. promosi kesehatan maupun lintas sektor dari lingkungan dan dinas tata kota. tidak dilakukan sebelum masa penularan. 2004: Umniyati. walaupun tidak di seluruh tempat. menindaklanjutinya dengan menyusun protap pelaksanaan di lapangan. Adanya usulan mengenai pembentukan dan pengaktifan Tim Epidemiologi Kota sebagai wahana untuk penelusuran penyakit berbasis lingkungan. 2004). Communication for Behavioural Impact (COMBI) menawarkan pendekatan dinamis untuk mengubah perilaku dalam pengembangan sosial (Kusriastuti.LAPORAN AKHIR memperbaiki perilaku. Hampir seluruh petugas memahami takaran larutan untuk fogging dan mengatakan bahwa fogging fokus dilaksanakan hanya setelah ada kasus. Mekanisme PSN-DBD terhadap masyarakat diakui berjalan dengan baik.

hampir semua dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota memiliki peta rawan. Case Fatality Rate (CFR) DBD fluktuatif. (4) tingginya beban puskesmas sebagai unit operasional utama di lapangan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. Tenaga.1 Kesimpulan (1) Kendala utama yang dihadapi dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular dalam kasus DBD adalah (1) koordinasi antar instansi dan antar unit yang bertanggung jawab dalam penanganan DBD masih belum optimal. sedangkan data kematian cenderung meningkat. Kurangnya jumlah SDM. peta rawan tidak selalu tersedia. Kualitas dan kualifikasi masih belum terpenuhi sesuai dengan bidang tugas dan kompetensinya. (3) sistem pengelolaan program penanganan penyakit menular masih didominasi pusat. Diseminasi informasi dilakukan melalui penerbitan buletin kajian epidemiologi yang diterbitkan oleh dinkes propinsi dan dinkes kabupaten/kota. (5) sarana. khususnya dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. namun ketepatannya masih 60%. Peta rawan. Sistem Pelaporan ditunjukkan dengan kelengkapan laporan mencapai 90-100%. sedangkan di Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar dan rumah sakit sebagai unit pelayanan rujukan. (4) SOP. (2) koordinasi antara pusat dan daerah belum dilandasi suatu kebijakan operasional yang jelas tentang kewenangan dan tanggung jawab masing-masing. iii. beban kerja yang tinggi merupakan masalah yang hampir ditemukan disemua tingkatan. perpindahan yang begitu cepat. (3) dana. (2) pengetahuan. i. Hampir semua level baik di propinsi hingga kabupaten/kota termasuk puskesmas dan rumah sakit mengalami masalah ketenagaan dalam kegiatan surveilans dan penanggulangan.LAPORAN AKHIR BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5. kualifikasi pendidikan yang belum sesuai. (3) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja surveilans dan penanggulangan terkait dengan (1) tenaga. dan (6) data. iv. (2) Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan i. Pendidikan rata-rata perawat. Sarjana (SKM) dan MKes. ii. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 65 . Jumlah Kasus periode 2003-2005 cenderung stagnan untuk propinsi lokasi kajian (kecuali Jatim meningkat). Tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara Surveilans dan Penanggulangan dalam praktek operasional di lapangan.

hampir semuanya menggunakan dana APBD. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penangulangan penyakit. Namun demikian kebanyakan SOP tersebut belum operasional. ii. tetapi tidak menjadi kendala dalam berjalannya sistem. Beberapa dinkes kabupaten/kota inisiatif melakukan modifikasi terhadap SOP yang dibuat Depkes. Puskesmas tidak memiliki alokasi dana khusus untuk kegiatan surveilans. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. Dana operasional selain bersumber dari dana operasional umum juga memanfaatkan dana JPK-MM.LAPORAN AKHIR Struktur organisasi Dinkes propinsi maupun Kab/Kota tidak menggambarkan pembedaan kedua tugas tersebut. (2) ada masa ketiadaan anggaran. v. Selain pelatihan formal. sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya fogging fokus serta insektisida Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 66 . Hampir semua unit pelayanan kesehatan di daerah memiliki pedoman dan peraturan dalam rangka pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. khusus untuk KLB tersedia block grant dari pusat. dana untuk pelaksanaan penanggulangan penyakit menular dirasakan pihak daerah mencukupi. iv. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. Operasi lapangan untuk suatu kasus (DBD) serentak dilakukan Bidang pendidikan yang ada adalah perawat. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. iii. SOP. Untuk tingkat kabupaten/kota. dan epidemiologi. Sarana. dan (3) proporsi anggaran untuk preventif dan kuratif yang tidak seimbang. khususnya ketika kasus terjadi. mengadakan pertemuan/ lokakarya. Permasalahan dana terutama berkaitan dengan (1) keterlambatan turunnya DIPA. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. Dana. Walaupun kondisi sarana dan prasarana untuk kegiatan penanggulangan penyakit menular tidak selalu memadai. Pemahaman tentang surveilans dan penanggulangan KLB masih belum sama. Pada tingkat propinsi. Pengetahuan. Dana menjadi persoalan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular.

i. Validitas data yang dilaporkan tidak pernah dipermasalahkan Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan data. kecuali kalau ada kasus KLB yang menyebabkan sarana TT tidak mencukupi Pengobatan dapat dilakukan dengan baik kecuali kalau ada keterlambatan pengobatan akibat terlambat merujuk (5) Permasalahan operasional penanganan DBD juga dipengaruhi oleh sistem kepemerintahan yang belum sepenuhnya dapat mengakomodasi sistem perencanaan dan sistem keuangan yang baru. dekonsentrasi maupun tugas perbantuan). Banyak kendala.LAPORAN AKHIR pengadaan insektisida dan fogging fokus di supply oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap vi. yang paling menonjol adalah penanggulangan (PE). Ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten/kota masih rendah. Penyelidikan Epidemiolegi (PE) yang dilakukan Puskesmas belum maksimal. Sehingga untuk SKD-KLB data yang seharusnya dapat dilihat /diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB. baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota (baru bersifat pengumpulan data). namun belum maksimal. (3) ketiadaan sarana. sebagai suatu kegiatan rutin. tidak setiap kasus DBD ditindaklanjuti dengan PE karena DBD dianggap kasus rutin. akibatnya kegiatan tindak lanjut yang seharusnya dilakukan tidak berjalan. karena tidak seimbang antar area yang harus dipantau dengan kemampuan sumberdaya yang tersedia. belum dilakukan. Pengobatan dan isolasi penderita dirujuk ke rumah sakit. PE tidak dilakukan maksimal sesuai prosedur yang ada. Komitmen daerah dalam penyediaan anggaran (APBD) untuk penanganan penyakit menular belum optimal. Aktivitas surveilans dilakukan oleh Tim Lapangan. (4) Kondisi umum Pelaksanaan Surveilans dan Penanggulangan DBD Ujung tombak pelaksanaan surveilans ada di Puskesmas. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 67 . Data. antara lain (1) keterbatasan tenaga. Penanggulangan DBD di Rumah sakit relatif tidak masalah. Data yang ada belum dilakukan analisis. Namun pada saat kasus. sarana dan dana. namun belum maksimal melaksanakan surveilans karena keterbatasan tenaga. Surveilans mulai diperlukan ketika ada kasus. Hal ini berkaitan dengan masih cukup besarnya alokasi dana yang berasal dari APBN (dalam bentuk DAU. (2) Keterbatasan dana.

Koordinasi penanganan kasus masih bersifat sporadis. 7. belum tertata dalam sebuah sistem yang aktif dan terstruktur. 6.LAPORAN AKHIR ii. Membangun dan mengembangkan kemitraan. Meningkatkan peran dan tanggung jawab Pemerintah Daerah melalui intensifikasi kegiatan sosialisasi. d. 9. 5. 5. dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. c. Peningkatan koordinasi antar instansi dan antar unit dalam berbagai tingkatan dalam penanganan penyakit menular. Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. Keperdulian pemerintah daerah masih belum terlihat. 4. jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit. surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah. Melakukan bimbingan. analisis. bukan sebaliknya pemerintah daerah yang aktif meminta informasi. promosi dan koordinasi. serta pelaporan (evaluasi). dan sistem kesiapan dini (early warning system). Peningkatan dukungan dana yang memadai dari APBN maupun APBD. Mengurangi secara bertahap dominasi peran pengelolaan program oleh pusat melalui pendelegasian kewenangan ke daerah serta peningkatan profesionalisme pengelola program di daerah. Penyepurnaan SOP sesuai “local specific”. 8. validasi dan pengembangan “respond system”. Diperlukan dukungan dalam bentuk peraturan perundangan dalam meningkatkan komitmen para pihak di daerah dalam rangkan pencegahan dan penanggulangan DBD. hal ini tampak dari keaktifan instansi kesehatan dalam penyebaran informasi kesehatan. malalui a. Memperkuat kapasitas dan kapabilitas Puskesmas sebagai unit terdepan dalam operasionalisasi surveilans dan penanggulangan penyakit menular. advokasi. pelaksanaan (monitoring). Peningkatan kualitas sistem pelaporan melalui ketepatan data. Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana dengan melibatkan peran aktif masyarakat. Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko. b. 2. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 68 . 3.2 Rekomendasi Kebijakan Rekomendasi kajian yang diusulkan mencakup 1. iii. 10. Percepatan penyusunan kebijakan operasional dalam koordinasi pelaksanaan program antar pusat daerah yang mencakup aspek perencanaaan. baik pada internal sektor maupun lintas sektor. pemantauan.

langkah tindak lanjut yang diperlukan mencakup 1. Diperlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif komprehensif. Aspek Pendanaan.LAPORAN AKHIR 11. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. Data dan Informasi. Pola pendanaan diharapkan dapat lebih fleksibel dan dimungkinkan untuk kebutuhan KLB dalam bentuk multiyears fund. Aspek Kelembagaan. promotif dan rehabilitatif) menyertai peran dimaksud secara memadai. diperlukan revitalisasi peran kelembagaan khususnya kelembagaan Puskesmas. opersional tenaga lapangan. dibuat sesederhana mungkin agar memudahkan pelaksanaan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 69 . Keberadaan data dan informasi yang akurat dan sinambung menjadi salah satu indikator kinerja pembangunan kesehatan. Puskesmas perlu diperkuat dengan kapasitas manajemen pelayanan untuk kegiatan yang bersifat promotif. sekaligus menjamin setiap masyarakat terlayani untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. perlu terus dikembangkan pola pendanaan sistem jaminan 3. kesehatan seperti askeskin sehingga kepastian dana sampai kepada masyarakat terjamin. Aspek SOP. Motivasi dan komitmen selain muncul atas kesadaran memerlukan dukungan eksternal dalam bentuk insentif. 4. dan rehabilitatif. perlu di kelola secara profesional dan berkesinambungan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan mudah diaplikasikan. selain kuratif. 5. preventif.3 Implikasi Kebijakan dan Rencana Tindak Lanjut Berdasarkan kesimpulan dan rekomendasi yang disampaikan. Sebagai perangkat utama Kesehatan. Aspek Ketenagaan. pelaksana pembangunan kesehatan di lapangan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. Dukungan pendanaan serta tenaga dan sarana dalam rangka pelaksanaan operasional pencegahan dan penanggulangan (preventif. 2. mendorong terbangunnya motivasi dan komitmen para 5.

Parks. Umar Fahmi. Jakarta: EGC Noor.LAPORAN AKHIR DAFTAR PUSTAKA Achmadi. 2005. 2004. Departemen Kesehatan RI Halstead. Sri Rezeki. Kebijakan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue di Indonesia. 2001. 2006. Pencegahan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia dan dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2005. December-2000 [cited 9 Juli 2005] Available from : http://w3. Manajemen Berbasis Lingkungan. Jakarta: Penerbit Buku KOMPAS Anies. Standar Pengawasan Program Bidang Kesehatan. dkk. Jakarta: Reka Cipta. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) Hadinegoro. Successes and Failures in Dengue Control-Global Experience. Nur Nasry. 2005. Dengue Bulletin Volume 24. Jakarta: Ditjen P2M & PL. Solusi Mencegah Menanggulangi Penyaki Menular. A.2006. Will & Linda Lloyd. Jakarta: Rekacipta. Mewaspadai Penyakit Lingkungan. Planning social mobilization and communication for dengue fever prevention and control.A. Progress Report on The Millenium Development Goals Chin. 2005. Jakarta: Elex Media Komputindo Anies. Metodologi Penelitian Kesehatan. 2003. Jakarta: Prestasi Pustaka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 70 .org/en/Section10/Section332 Kusriastuti. Tata Laksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Soekidjo.whosea. Modul Surveilans Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. Subdit Arbovirosis. 2000. Jakarta: Infomedika Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Rita. Notoatmodjo. Scott B. 2005. 2005. JMES. Ditjen PP & PL Depkes RI Muninjaya. 2004. 2006. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. World Health Organization Santoso. Jakarta: PT Gramedia Bappenas. Gempur. Manajemen Kesehatan. Gde.2004.

949/MENKES/SK/VIII/2004 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 71 . Sulastomo. dan Azrul Azwar. 1989. EGC. 1479/MENKES/SK/X/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 4 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. Soerawidjaja. Panduan Lengkap Pencegahan & Pengendalian Dengue dan Deman Berdarah Dengue.LAPORAN AKHIR Siregar. 2001. Universitas Airlangga. 2003. 2003. Resna A. 949/Menkes/SK/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Penyakit Menular Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Jakarta : Bina Putra Aksara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama World Health Organization. Analisa Penatalaksanaan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam menurunkan Insidens DBD dan Menentukan Kebijakan Operasional di Kota Medan. Penanggulangan Wabah Oleh Puskesmas. 1116/MENKES/SK/VIII/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Sari Nurhamida. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. Manajemen Kesehatan.. Peraturan Perundangan Peraturan Pemerintah No.

LAPORAN AKHIR Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 72 .

LAPORAN LAMPIRAN 1 AKHIR RANCANGAN INSTRUMEN KAJIAN I. Tujuan a. Tenaga • Sarana • Dana • Protap • Pengetahuan ttg Wabah & Penanggulangan • Pelatihan Definisi Operasional • • Informasi surveilans • Pengambilan Keputusan SURVEILANS • Potensi komunitas Input Koordinasi lintas sektor Upaya perbaikan kondisi rentan Sistem kewaspadaan dini Penyelidikan & Penanggulangan wabah Kesiapsiagaan menghadapi wabah • Wabah tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 73 . Identifikasi faktor-faktor yang menghambat system informasi manajemen surveilans penyakit menular b. Identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam penanggulangan penyakit menular c. Kerangka Konsep SURVEILANS INPUT • • • • • • • PROSES • Koordinasi kegiatan pengumpulan • Validasi • Pengolahan data • Analisis data • Supervisi pengumpulan • Supervisi pengolahan OUTPUT Tenaga Dana Sarana Pengetahuan yang benar Pelatihan Metoda pengumpulan data Potensi komunitas • Identifikasi masalah • Penyelidikan sebab masalah • Diseminasi PENANGGULANGAN WABAH PENYAKIT MENULAR INPUT PROSES OUTPUT • • • • • III. Identifikasi langkah-langkah yang dilakukan dalam penanggulangan penyakit menular II.

Pelatihan merupakan pernah dan tidaknya petugas mendapatkan pelatihan tentang surveilans penyakit. Tenaga merupakan pelaksana kegiatan penanggulangan wabah yang meliputi jumlah pelaksana dan latar belakang pendidikan serta lamanya bekerja. Sarana merupakan ketersediaan dan kesuaian fasilitas alat atau bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan surveilans. 3. 6. 4. 2. Proses 1. Metoda pengumpulan data merupakan keberadaan tata laksana kegiatan pengumpulan data dan kesesuaian dengan fungsinya. Identifikasi masalah merupakan hasil analisis data yang sudah diproses untuk mengetahui kemungkinan munculnya/timbulnya kejadian (morbiditas/mortalitas) penyakit menular. Pengetahuan petugas merupakan pemahaman petugas tentang karakteristik dan kegiatan penanggulangan penyakit menular. 3. Pengolahan data merupakan ketapatan waktu dan keakuratan suatu data di olah. 2. masyarakat/toma/toga) dalam kegiatan surveilans. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 74 . 5. 7. Kelengkapan diukur berdasarkan SOP yang ada PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR Input 1. Protap merupakan keberadaan peraturan yang sesuai dengan fungsinya dalam kegiatan. Pengetahuan petugas merupakan pemahaman petugas tentang survailans penyakit menular. 6. Output 1. Dana merupakan ketersediaan pengalokasian. 4.LAPORAN AKHIR 1. Penyelidikan sebab masalah merupakan proses identifikasi sumber/penyebab timbulnya masalah 3. pemenuhan dan sumber dana kegiatan surveilans. pemenuhan dan sumber dana kegiatan. Analisis data merupakan ketepatan penggunaan teknik analisa data. Supervisi pengumpulan merupakan keberadaan pengawasan terhadap proses pengumpulan data. Partisipasi komunitas merupakan peran serta berbagai kelompok komunitas (seperti: tenaga kesehatan. Validasi merupakan kesesuaian proses kegiatan dengan SOP yang sudah ada. Tenaga merupakan pelaksana kegiatan surveilans yang meliputi jumlah pelaksana dan tingkat pendidikan serta lamanya bekerja di surveilans. 2. 3. Pelatihan merupakan pernah dan tidaknya petugas mendapatkan pelatihan tentang penanggulangan penyakit. Sarana merupakan ketersediaan dan kesuaian fasilitas alat atau bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan penanggulangan wabah. Supervisi pengolahan merupakan keberadaan pengawasan terhadap proses pengolahan data. Koordinasi kegiatan pengumpulan merupakan kerjasama tim surveilan dengan komunitas dan koordinasi di dalam tim itu sendiri dalam melakukan pengumpulan data 2. Diseminasi merupakan ketepatan waktu penyebaran dan kelengkapan informasi surveilans kepada pihak-pihak yang berkepentingan (pengambil keputusan). 4. 6. Dana merupakan ketersediaan pengalokasian. 5. 5.

Pelayanan pengobatan merupakan upaya pengobatan terhadap kelompok yang berisiko. Proses 1. Pengambilan Keputusan merupakan individu yang bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan dalam kegiatan penanggulangan. 3. masyarakat/toma/toga) dalam kegiatan penanggulangan wabah. Surveilans Ketat merupakan upaya pemantauan kecenderungan wabah. dan penyilidikan wabah yang dilakukan oleh pihak yang bertanggung jawab (Dinas kesehatan dan pusat). 6. dan peningkatan jumlah penderita yang merupakan indikasi adanya kemungkinan meletusnya suatu wabah. Informasi Surveilans merupakan hasil output system surveilans yang sudah diolah dan dianalisis dengan melihat ada dan tidaknya informasi.LAPORAN AKHIR 7. Pencegahan merupakan upaya memutus mata rantai penularan. 4. 8. 5. Output 1. Koordinasi lintas sektor merupakan kerjasama antar pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam penanggulangan wabah. dan ketepatan waktu yang diterima oleh pihak-pihak pengambil keputusan. Wabah tidak menjadi masalah kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 75 . Potensi komunitas merupakan peran serta berbagai kelompok komunitas (seperti: tenaga kesehatan. Sistem kewaspadaan dini merupakan pelaksanaan pemantauan terus menerus terhadap munculnya kerawanan yang terjadi pada unsur-unsur dasar penyebab terjadinya suatu wabah. Penyelidikan merupakan proses kegiatan kajian penyelidikan pendahuluan dan laporan awal. ketepatan dan kelengkapan data. penyelidikan awal dan laporan perkembangan wabah (periodik). 2. 7. Upaya perbaikan kondisi rentan merupakan upaya pencegahan melalui perbaikan keadaan yang menjadi sebab timbulnya kerentanan. 9.

Bappeda. yaitu: 1. seksi surveilance. kasubdin P2M. Masyarakat anatar lain: : Ka Desa. Draft Instrumen Instrumen yang akan dirancang adalah instrument untuk wawancara mendalam (indepth interview) dan instrument observasi (check list). Tingkat Pusat antara lain P2M..LAPORAN AKHIR IV. Puskesmas: Kepala Puskesmas. Yanmedik dan Binkesmas 2. Ka RT.Pustu/polindes. Tingkat Kabupaten antara lain: kepala dinas kesehatan. LMD/Dewan Kel. Kader Kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 76 . Biro Kesra 4. staf Kesling 5. Sumber Informan adalah petugas yang terkait dengan pelaksanaan surveilans dan penanggulangan penyakit menular. petugas P2M. Tingkat Provinsi antara lain: 3.

Penyempurnaan Proposal Dalam rangka memperkaya proposal telah dilakukan beberapa kegiatan mencakup (1) pelaksanaan brainstorming dengan Tim Pakar. Dr.Prof.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 2 PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PEMBAHASAN A. Dedi M. penetapan responden. Masukan yang diharapkan dari pelaskanaan brainstorming mencakup perbaikan konsep. Balitbang Depkes . Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas Brainstorming dengan tim pakar dimaksudkan untuk mendapatkan wawasan yang lebih jelas mengenai penanggulangan penyakit menular. Dalam aspek metodologi masukan dari brainstorming yang diharapkan berkiatan dengan aspek runga lingkup kajian. serta variabel kajian Hasil brainstorming selengkapnya pada LAMPIRAN 2. rumusan masalah serta tujuan dan sasaran penelitian. Dr. yaitu . dan Masa Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 77 .Dr. mencakup aspek • Review tentang Kajian Penyakit Menulat (Aspek Metodologi Kajian. kerangka pemikiran. dr. Ph. Tim yang diundang dalam acara brainstorming adalah nara sumber dari kajian ini serta beberapa pakar lainnya.Dr. Sukirman. Ahli Gizi IPB . pemilihan lokasi peneltian.Dr. Soedarto Romoatmojo. Masykur Riyadi.Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia . (2) Ekspose Tim Ahli Ekspose Tim Ahli dilaksanakan pada tanggal 5 April 2006 Ekspose Tim Pakar dimaksudkan untuk menggali lebih dalam lagi berbagai aspek yang berkaitan dengan Penanggulangan Penyakit Menular. Dadi Argadiredja. Broto Warsito.Dr. MPH. (2) Ekspose Tim Ahli. Erna Tresnaningsih Suharsa. Setditjen P3L Depkes .D. FKM-UI • Tinjauan Umum tentang Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular di Indonesia (Kebijakan Masa Lalu. MPH . serta (3) Diskusi Internal. oleh Prof. MPH. (1) Brainstorming dengan Tim Pakar Pelaksanaan brainstorming dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 28 Pebruari 2006. Indrijono Tantoro. Fakultas Kedokteran Unpad . Masa Kini.Dr. MOH.

(3) perumusan kuesioner. Dalam diskusi internal juga dilakukan kesepakatan akhir berkaitan dengan disain kajian. serta rencana analisis data dan informasi dan bentuk laporan kajian. oleh Dr. Imunisasi dan Kesehatan Matra. oleh Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang. Depkes Tinjauan terhadap Kebijakan Surveilans Epidemiologi. oleh Kepala Pusat Kajian Kebijakan Pembangunan Kesehatan.LAPORAN AKHIR • • • • • . Yang Akan datang. (B) Pembahasan Disain Riset Pembahsan disain riset yang dilakukan mencakup aspek (1) penetapan lokasi kajian. Depkes Penanggulangan penyakit Menular di Rumah Sakit Kabupaten/Kota. (3) Diskusi Internal Diskusi internal dilakukan pada berbagai kesempatan diskusi yang diselenggarakan di Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Diskusi inernal dilakukan diantara anggota Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan dengan melibatkan Tim dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Diskusi internal dilakukan dalam rangka menyempurnakan kerangka acuan kajian dengan mengakomodasi berbagai masukan yang didapat dalam pertemuan brainstorming tim pakar maupun dari hasil ekspose tim ahli. Depkes. Indriono. (2) penentuan sampel dan responden. metodologi serta teknis pelaksanaan survei lapangan. oleh Direktur Bina Kesehatan Komunitas. Dalam diskusi internal juga dibahas berbagai pertauran perundangan yang berkaitan dengan penanggulangan penyakit menular. oleh Direktur Bina Pelayanan Medik dasar. ole Direktur Surveilans Epidemiologi. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 78 . Depkes Penanggulangan Penyakit Menular di Puskesmas. sekaligus dibahs tentang aspek kewenangan dari masing-masing tingkatan. Setditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Kebijakan Umum Departemen Kesehatan dan/atau Nasional dalam Upaya Penanggulangan Penyakit Menular. Teori dan Praktek dalam Penanggulangan Penyakit Menular. Depkes Pokok-pokok Pikiran hasil Ekspose Tim Ahli selengkapnya dalam LAMPIRAN-3. Penetapan Lokasi Kajian Lokasi kajian ditetapkan di 6 propinsi dengan kriteria pemilihan propinsi didasrkan pada ferkuensi dan jumlah kasus Keadaan Luar Biasa (KLB) penyakit. Kebijakan Penanggulangan Wabah DHF. serta (4) teknik analisis data.

Propinsi Sumatera Selatan 3. dengan responden adalah petugas di lingkungan Dinas Kesehatan. Uji coba juga dilakukan untuk melihat kesesuaian. Propinsi Kalimantan Timur 4. mencakup (1) aspek surveilans dan (2) aspek penanggulangan wabah Kuesioner bersifat terbuka akan dilakukan dalambentuk interview dan wawancana mendalam Kuesioner dalam bentuk tertutup akan disampaikan kepada responden untuk mengisi Kuesioner Pada LAMPIRAN 1 Teknik Analisis Data Untuk menganalisis data yang bersumber dari responden dilakukan analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif Analisis statistik deskriptif dilakukan dengan cara mengelompokkan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 79 . mentabulasikan dan menginterpertasikan data C. mengolah. ditetapkan propinsi yang akan menjadi lokasi kajian adalah 1. Aspek realibilitas dan vailiditas materi kuesioner juga menjadi target uji coba. Pelaksanaan Uji Coba Kuesioner Uji Coba Kuesioner dilakukan dalam rangka menguji sejauhmana materi pertanyaan dan isian dalam kuesioner dapat dijawab sesuai dengan tujuan kajian. pada tanggal 3-11 Juli 2006. Propinsi Nusa Tenggara Barat Pada setiap porpinsi ditetapkan sampel 2 kabupaten . konsistensi dari materi kuesioner sehingga runtut dan dapat dijawab dengan baik oleh responden. Pada setiap kabupaten ditetapkan 2 kecamatan/puskesmas Penetapan Responden Pada setiap Propinsi dan Kabupaten ditetapkan 4 orang responden mencakup Kepala Dinas/Subdinas Kepala Rumah Sakit/Bagian P2M Kepala Puskesmas pada 2 kecamatan Perumusan Kuesioner Rumusan Kuesioner dibuat dalam bentuk pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup Pengelompokkan didasarkan pendekatan sistem serta berdasarkan kalster variabel dari konsep penanggulangan penyakit menular.LAPORAN AKHIR Berdasarkan hasil pembahasan dengan kriteria di atas. Popinsi Jawa Timur 6. Pelaksanaan Uji Coba Kuesioner dilakukan di Kota Depok. Propinsi Riau 2. Propinsi Sulawesi Selatan 5.

Bappeda. propinsi. 2 puskesmas. termasuk lokasi.. (2) penetapan kontak person di lapangan. Hal lain yang juga menjadi masukan dari pelaksanaan uji coba kuesioner adalah berkaitan dengan (1) perijinan dalam pelaksanaan wawancara. survey lapangan dilakukan di 6 (enam) provinsi... Pelaksanaan Survey Lapangan Sesuai dengan lokasi kajian yang telah ditetapkan.. Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Laporan umum hasil uji coba kuesioner dalam LAMPIRAN .LAPORAN AKHIR Puskesmas serta Rumah Sakit yang menangani bidang penyakit menular. Provinsi Kalimantan Timur. kabupaten/kota. khususnya terkait dengan penanganan surveilans dan penaggulangan penyakit Demam Berdarah (DHF). yaitu Provinsi Riau. D. Jadwal dan Tim pelaksana dari Survei Lapangan dalam LAMPIRAN . 1 rumah sakit dan tokoh/perwakilan warga masyarakat. Beberapa masukan dari FGD adalah • Responden perlu ditambah tidak hanya unsur aparat (institution base). Pelaksanaan Survey di masing-masing propinsi dilakukan di 2 (dua) kabupaten. Provinsi Jawa Timur.. mencakup aspek (1) Tujuan. (2) Lingkup Kajian. (3) penetapan waktu wawancara yang sesuia sehingga tidak berbebnturan dengan agenda lain bagi petugas di lapangan. dan fasilitas kesehatan (facility based). Hasil uji coba kuesioner selanjutnya dianalisa untuk kemudian dijadikan bahan perbaikan. Namun pusat tepat ”take a lead” • Perlu kejelasan antara survailans dan penanggulangan: mekanisme kerja serta proses pengambilan keputusannya E. dan pada masing-masing kabupaten dilakukan wawancara mendalam serta pengisian kuesioner pada dinas kesehatan. Pembahasan Dengan FGD Pembahasan dengan Forum Group Disscussion dilakukan untuk mendapatkan masukan dan penyempurnaan konsep kajian.. variabel serta parameter kajian. Provinsi Jawa Barat. tetapi juga dari unsur masyarakat (community based) • Unsur institusi selain Dinkes juga ditambah Bappeda • Bagaimana menemukan sistem penanggulangan yang cepat (efektif dan efesien) dengan mempertimbangkan sistem pelaporan (survailans) yang ada dan cenderung birokratis • Masalah kewenangan penanganan perlu diperjelas (otorisasi) antara kewenangan pusat. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 80 .. (3) Metode Kajian.

Deputi SDM dan Kebudayaan TPRK 1. Hadiat. Dr. Sulaeman Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 81 . SKM. Ir. Dedy M. Yosi Diani Tresna. Drs. MPA. Nurlaily Aprilianti 2. 3. MPH Dr. 2. Arum Atmawikarta. Dadi Argadiredja. Broto Wasisto. 2. MA Dadang Rizki Ratman. MPH Dr. 4. Sularsono. Soekirman Dr. SH. MOH. MPH Dr. 5. Indrijono Tantoro. Masykur Riyadi. 4. MPH Prof. TIM PENDUKUNG 1.D. 3. Ph. Erna Tresnaningsih Suharsa.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 3 Struktur Organisasi/Tim Pelaksana PENANGGUNG JAWAB Dr. 5. SP. MPM NARA SUMBER 1. Dr. ME.

Biro Kesra – Kabupaten : idem – Puskesmas : Kepala Puskemas. Puskesmas dan Desa. LMD/Dewan Kel. Propinsi. Yanmedik dan Binkesmas – Propinsi: Kadinkes. Pustu/polindes. 28 Februari 2006 • Fokus yang akan diteliti – Umum. Ka RT. Rumah Sakit terpilih • Responden – Pusat: P2M. Kasubdin P2M. – Case Study : DBD • Kriteria Lokasi Kajian – Endemis dan Non Endemis – Sedang ada KLB dan tidak ada KLB – Pusat. staf Kesling – Desa: Ka Desa. Kabupaten/Kota. petugas P2M. Bappeda..LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 4 NOTULENSI PEMBAHASAN DENGAN TIM PAKAR KAJIAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN WABAH PENYAKIT MENULAR Jakarta. Seksi Surveilance. Kader Kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 82 .

SASARAN dan REKOMENDASI Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 83 .LAPORAN AKHIR • Design Penelitian: Case Control • Variabel Penelitian: – Peraturan perundang-undangan (pusat. kab/kota & kec) – Operasional (puskesmas ke bawah) • Cara Pengumpulan Data – data sekunder – data primer : wawancara mendalam di berbagai tingkat (Pusat s/d kab/kota) dan focus group discussion di tingkat Kecamatan dan desa • Perlu diperhatikan – Kaitan antara JUDUL. propinsi. propinsi. PERTANYAAN PENELITIAN. PERUMUSAN MASALAH. TUJUAN. kab/kota) – Managerial/sistem (pusat.

LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 5 POKOK-POKOK PIKIRAN EKSPOSE TIM AHLI Kajian Penanggulangan Wabah Penyakit Menular Jakarta. Jenis Penelitian: Penelitian Operasional 3. 5 April 2006 I. METODOLOGI KAJIAN 1. Ruang Lingkup: Umum dengan case DBD Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 84 . Pendekatan kajian: • • policy review dengan fokus pada management oriented system model Identifikasi terhadap faktor penghambat dan diakhiri dengan rekomendasi kebijakan 2. Sampling: Non Propability Sampling 4.

Infrastruktur Puskesmas untuk surveilans ditingkatkan : Poskesdes Vs Pustu III. Dalam Renstra Depkes Penanggulangan Wabah masuk dalam 2 strategi utama: (1) memberdayakan masy. tenaga dan koordinasi 6.LAPORAN AKHIR II. sarana. PRAKTEK PENANGGULANGAN DI LAPANGAN PUSKESMAS • Surveilans di Puskesmas belum Optimal • Koordinasi lintas sektor belum terintegrasi • Keterbatasan tenaga yang kompeten • Kontribusi utama Puskesmas dalam penanggulangan wabah PP dalam jejaring pelayanan. sesuai dengan kasus penyakit • • • • Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 85 . Pemahaman terhadap produk hukum yang ada masih rendah 3. sistem pencatatan RUMAH SAKIT Pelayanan gawat darurat masih di bawah standar Sistem monev periodik antar pusat dan daerah belum terbangun Insentif petugas perlu menjadi perhatian Kelengkapan sarana. Kebijakan yang ada belum fokus 2. Kebijakan peraturan perundangan dapat diikuti oleh stakeholder: Kepmen Perpres 4. tenaga. Ketentuan yang ada belum dilaksanakan secara optimal di tingkat operasional akibat keterbatasan dana. TINJAUAN KABIJAKAN 1. u/ hidup sehat dan (2) peningkatan sistem surveilans 5. sarana.

KEBIJAKAN SURVEILANS 1. Surveilans faktor resiko selain surveilans penyakit 5. KEBIJAKAN PENANGGULANGAN DBD 1. Dukungan tenaga. Perlu Advokasi untuk dukungan legal aspek pelaksanaan dilapangan 3. Penguatan komitmen semua pihak 2. Mobilisasi Sosial Gerakan Masyarakat “3M” Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 86 .LAPORAN AKHIR IV. Daerah berperan dalam pengambilan keputusan menentukan prioritas masalah maupun penanggulangan 2. sarana dan anggaran V. Optimalisasi dan profesionalisme Sumber Daya (SDM dan dana) 4. Pengembangan jejaring kerjasama dan kemitraan 3. Fleksibilitas pencairan dana KLB 7. Pelaksanaan SKD-KLB belum optimal 4. desa siaga 6. Manajemen terpadu berbais wilayah: Jumantik. prioritisasi 5. Penguatan program: evidence based.

Kota Samarinda 2. Kota Bandung 2. pengendalian faktor resiko dan penyehatan lingkungan. sebagai dasar tindak lanjut perencanaan program dan penanggulangan KLB. Kesimpulan Hasil Survey PROPINSI RIAU Kebijakan Daerah mecakup (1) pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. Kota Balikpapan Sulawesi Selatan 1. Kab. Siak Jawa Barat 1. Kota Pekanbaru 2. perbaikan manajemen kasus diganostik dan pengobatan serta rujukan. Gresik Kalimantan Timur 1. imunisasi.LAPORAN AKHIR LAPORAN PELAKSANAAN SURVEY KAJIAN KEBIJAKAN PENYAKIT MENULAR 1. Kab. (4) menyiapkan pengadaan dan distribusi kebutuhan obatobatan dan bahan-bahan yang esensial. Gowa Nusa Tenggara Barat 1. Kab. Kab. Strategi yang dilakukan mencakup (1) intensifikasi pelaksanaan kasus melalui pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan. kewaspadaan dini. melalui Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 87 . (5) meningkatkan kemampuan penggalian sumberdaya daerah dan sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan program P2M. Responden Kajian No 1 2 3 4 5 6 Propinsi/Kab Riau 1. Kota Makasar 2. Kota Mataram 2. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. (2) surveilans epidemiologi. kab/kota. Kab Lombok Tengah TOTAL Dinas 5 3 2 3 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 3 2 3 47 PKM 4 5 3 2 3 4 2 2 4 4 4 6 43 Rumah Sakit 1 1 2 1 2 1 1 4 1 2 2 3 21 Bapp 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 15 Masy 1 1 20 1 1 18 1 1 13 2 1 20 1 1 25 2 0 13 122 Jml 26 2. serta kemitraan dengan masyrakat (LSM) termasuk swasta. (3) memantapkan jejaring lintas program. Bogor Jawa Timur 1. Kota Surabaya 2. perubahan perilaku. lintas sektor.

melalui penyediaan insektisida dan larvasida. (2) Di Kota Pekanbaru. uang dicairkan. maka kinerjanya akan dipertanyakan. lintas program dan lintas sektor terkait serta mengaktifkan kembali peran UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk menggerakkan anak sekolah dalam pemberantasan demam berdarah. Strategi pelaksanaan kebijakan penanggulangan DBD di Propinsi Jawa Barat dilakukan melalui (1) pendekatan ”gerak cepat” dan putus rantai. Kota Pekanbaru juga memiliki Forum Perkampungan Sehat. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. (3) meningkatkan SDM. (5) penanggulangan KLB. dan menyiapak sarana pemeriksaan untuk diagnosa melaksanakan PE dan penanggulangan fokus. Ketiga dana tersebut diatas berasal dari dana Kantor Walikota. yaitu dana tak terduga. sedangkan dana dari Dinas Kesehatan diutamakan untuk membeli peralatan dan kegiatan yang sifatnya pencegahan. yaitu mencakup 1) Kewaspadaan dini DBD. menyiapkan juknis dan juklaknya. pelatihan tenaga operasional. maka uang tidak bisa dicairkan. (6) peningkatan profesionalisme SDM. Depag dan pihak legislatif. Tim Pokjanal DBD terdiri dari unsur-unsur Diknas. dana bencana dan dana belanja rutin sekretariat daerah. yaitu pada setiap Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 88 . melalui pelaksanaan pertemuan berkala Pojanal/Pokja DBD. PMD. pelatihan tenaga puskesmas dan rumah sakit. Hasil implemnatsi kebijakan. diketuai oleh Bappeda dan sekretariat juga berada di Bappeda. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. dimana Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. Strategi dan program adaah (1) pertemuan dengan tim pokjanal DBD propinsi Riau menghasilkan beberpa kesepakatan yang menitikberatkan pada peran aktif dari pokja/pokjanal DBD dengan melibatkan masyarakat. pematauan dan informasi program pemberantasan penyakit dan meningkatkan kewaspadaan di semua tingkat administrasi. pembinaan dalam pelaksanaan gerakan 3M. Program yang dilakukan mencakup (1) kewaspadaan dini DBD melalui penyuluhan intensif. PKK.LAPORAN AKHIR perencanaan. Kegiatan pokok adalah melakukan rapat lintas sektor untuk menangani masalah-masalah khususnya penyakit menular. (8) Penelitian. (4) Penanggulangan kasus. (2) pemberantasan vektor. PROVINSI JAWA BARAT Kebijakan penannggulangan di Jawa Barat secara umum mengacu pada kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (Pusat). melengkapi sarana pemberantasan vektor. Nbila terjadi KLB. (3) Disamping Tim Pokjanal DBD. Bappeda. (3) Bila terjadi KLB. Dinkes. sedangkan sekretariat berada di kantor Dinas Kesehatan. tersedia pos untuk penanggulangan. Dana KLB dianggarakan dengan menggunakan pola kinerja artinya bila KLB tidak terjadi. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota.

membuat cara penanggulangan sementara. perilaku masyarakat. pemeriksaan jentik dengan memberdayakan tenaga jumantik. (5) Pelibatan lintas sektor. Strategi dalam penanggulangan DBD dilakukan melalui (1) penemuan kasus dan kematian melalui surveilans di rumah sakit. (2) Fogging dilaksanakan apabila terjadi KLB dengan menggunakan dana yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten dengan peruntukan untuk larvasidasi dan abatesisasi. praktek swasta. dan tidak seimbangnya jumlah kader dengan cakupan daerah yang harus diselediki. (2) pencarian kasus tambahan dilakukan pada saat penyelidikan epidemiologi. (2) kegiatan surveilans epidemiologi dilaksanakan oleh tim fungsional di masingmasing tingkat mulai dari Puskesmas. kab/kota. dan propinsi. (3) komitmen dari pimpinan unit penyelenggara kesehatan diperlukan untuk kegiatan surveilans epidemiologi. (4) Pelibatan partisipasi masyarakat melalui gerakan PSN setiap hari Jumat pagi. (2) upaya preventif yang dilakukan melalui ”managing vector and environment” malalui ger kan 3M yang dilakukan secara linta sektor dalam wadah Pokjanal DBD.LAPORAN AKHIR kasus petugas siap melakukan PE sehingga ditemukan akar permasalahan dan sumber penyebabnya untuk kemudian dilakukan tindakan agar tidak menyebar ke tempat lain. (5) melakukan studi epidemiologi pada daerah dengan knerja yang tidak baik. Pelaksanaan program penannggulangan DBD mencakup (1) SKD-KLB melalui kegiatan pengumpulan data baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi KLB. dokter. orang dan tempat. perawat. melalui persiapan penyelidikan lapangan. (3) Upaya peningkatan kemamampuan tenaga kesehatan dalam penanggulangan DBD secara kuratif dilakukan melalui ”workshop tata laksana” dengan melibatkan dokter spesialis dan urusan dalam. (4) melakukan kajian epidemiologi harus bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor. (3) penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dicurigai pada daerah yang resiko rendah. PROVINSI JAWA TIMUR Kebijakan daerah mencakup (1) upaya penanggulangan masalah-masalah kesehatan yang dilakukan merupakan hasil dari kajian surveilans epidemiologi. memastikan diagnostik etiologi. bidan. status gizi. menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB. (6) Sosialissi Pola Hidup Bersih (PHBS). (4) penemuan kasus dilaksnakan secara bekerjasama dengan masyarakat. foggig focus massal. mengidentifikasi dan menghitung kasus atau paparan. mengamati indikasi pra-KLB misala cakupan program. mendeskripsikan kasus berdasarkan waktu. Hasil pelaksanaan program ditunjukkan antara lain (1) pemantauan jentik belum optimal dilakukan oleh kader dengan alasan terbatasnya dana operasional. mengidentifikasikan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 89 . kesibukan kader. (2) penyeldikan dan penanggulangan KLB. dukun bayi dan kendaraan kesehatan. pengolahan dan analisis data untuk penyususnan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi. dan melakukan ”CLEAN-UP” lingkungan yang dipimpin oleh wali kota selama 1-2 jam. puskesmas dan masyarakat.

PROVINSI SULAWESI SELATAN Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. Strategi yang dilakukan mencakup (1) peningkatkan pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan perbaikan manajemen pengobatan serta rujukan. mengidentifikasikan keadaan penyebab KLB. (2) Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi. beranggotakan kepala – kepala dinas yang ketika diadakan rapatrapat selalu dihadiri oleh personal yang berlainan. (5) Dinas kesehatan kota Balikpapan selalu melaksanakan pendataan DBD dengan rutin. APBD mengalokasikan dana 500 juta untuk peanggulangan KLB dan habis untuk penanggukangan KLB DBD. merencanakan penelitian lain yang sistematis. melengkapi sarana pemerantasan vektor. perubahan perilaku dalam pola hidup bersih dan sehat. menetapkan rekomendasi cara pencegahan dan penanggulangan. penyehatan lingkungan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 90 . (6) Pelatihan khusus tentang epidemiologi dan surveillens baru dilakukan 1 kali dalam 5 tahun terakhir. dan (3) Membangun kerja sama lintas sektor. PROVINSI KALIMNATAN TIMUR Kebijakan Daerah yang dilakukan mencakup (1) Pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. penyediaan insektiside dan larvasida. penyuluhan. khususnya penyakit DBD di Propinsi Sulawesi Selatan. (2) Pemberantasan vector. pelaksanaan gerakan 3M. Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupten/Kota. lintas program dan lintas sekor terkait. (3) Untuk tahun 2005. Pokok-pokok Program yang dilakukan mencakup Kewaspadaan dini DBD. Kota Balikpapan memiliki Yayasan DBD yang ketuanya adalah kasubdin P2M Dinkes dan didanai oleh perusahaahn2 minyak swasta. pelaksanaan PE. Gambaran implementasi adalah (1) Pelaksanaan penanggulangan DBD melibatkan masyarakat. kerja sama dengan dengan masyarakat dan swasta. (4) Di samping Tim Pokjanal DBD. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. sehingga sesuai data memang DBD di Kota Balikpapan tinggi. menetapkan sistem penemuan kasus baru. (2) Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. (3) Pelatihan tenaga surveilens (pelatihan epidemiologi. kewaspadaan dini. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD.LAPORAN AKHIR sumber dan cara penyebaran. pelatihan tenaga kesehatan.

lintas program dan kabupaten/kota terdekat. melakukan pelatihan tatalaksana DBD bagi dokter di rumah sakit pada daerah endemis. (2) Pemberantasan Nyamuk Penular DBD terhdap nyamuk dewasa dan jentik nyamuk. pelatihan bagi pengelola program P2 DBD di 23 kab/kota. melalui penemuan dan pelaporan penderita. pertemuan Kewaspadaan Dini DBD sebanyak 4 kali melibatkan sektor terkait. abatisasi. pemantauan jentik berkala di berbagai kabupaten endemis dengan sasaran masing-masing 100 rumah. penanggulangan fokus. dan fooging massal. melalui penyuluhan. pembinaan di 23 kab/kota. Implementasi kebijakan penanggulangan DBD di Sulawesi Selatan antara lain (1) Kewaspadaan Dini. sedangkan tahun 2004 jumlah KLB DBD sebanyak 88 kasus. terutma untuk insentif tenaga kesehatan dan kader.LAPORAN AKHIR Materi yang disusun dalam Protap ini adalah langkah-langkah penanggulangan DBD sebagai berikut: (1) Kewaspadan Dini. (2) Penanggulangan KLB menemukan jumah kasus KLB DBD tahun 2005 sebanyak 66 kasus. pemantauan jentik berkala. Dinkes Propinsi Nusa Tenggara Barat membuat pedoman operasional yang berisi ”step by step” metodologi penanggulangan DBD. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 91 . Pada pelaksanaan di Puskesmas. Dngan demikian Puskesmas sebagai fasilitas yang paling dekat edngan masyarakat tidak dimanfaatkan dengan baik dalam penanggulangan KLB DBD. gerakan PSN. (4) Peningkatan SDM. menghasilkan penemuan dan pelaporan penderita. kab/kota dan puskesmas.. bulan kewaspadaan DBD. pengamatan bebas jentik dilakukan oleh murid-murid sekolah dan telah terbukti cukup efektif untuk dapat direflikasi di daerah lain. Di kabupaten Lombok Tengah. dimana peran puskesmas sangat kecil karena dukungan dana dan personil sangat kecil. Surveilans dilaksanakan pada tingkat dinas kesehatan propinsi. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Pedoman surveilans dan KLB kurang operasional. penyuluhan intensif melalui media cetak dan elektronik. (3) Penanggulangan KLB. (3) Peningkatan Sumber Daya Manusia. dukungan dana surveilans tertolong oleh adanya subsidi dari Askeskin. melalui pelatihan petugas kesehatan. Namun terdapat ”gap” pelaksanaan/penanganan KLB.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->