STRATEGI BELAJAR MENGAJAR PEMBELAJARAN TUNTAS (MASTERY-LEARNING) DALAM KTSP A.

Latar Belakang Salah satu di antara masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya rata-rata prestasi belajar, khususnya peserta didik Sekolah Menengah Atas (SMA). Masalah lain adalah bahwa pendekatan dalam pembelajaran masih terlalu didominasi peran guru (teacher centered). Guru lebih banyak menempatkan peserta didik sebagai objek dan bukan sebagai subjek didik. Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam berbagai mata pelajaran, untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh), kreatif, objektif, dan logis, belum memanfaatkan quantum learning sebagai salah satu paradigma menarik dalam pembelajaran, serta kurang memperhatikan ketuntasan belajar secara individual. Demikian juga proses pendidikan dalam sistem persekolahan kita, umumnya belum menerapkan pembelajaran sampai peserta didik menguasai materi pembelajaran secara tuntas. Akibatnya, banyak peserta didik yang tidak menguasai materi pembelajaran meskipun sudah dinyatakan tamat dari sekolah. Tidak heran kalau mutu pendidikan secara nasional masih rendah. Penerapan Standar Isi yang berbasis pendekatan kompetensi sebagai upaya perbaikan kondisi pendidikan di tanah air ini memiliki beberapa alasan, di antaranya: potensi peserta didik berbeda-beda, dan potensi tersebut akan berkembang jika stimulusnya tepat; mutu hasil pendidikan yang masih rendah serta mengabaikan aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni & olah raga, serta kecakapan hidup (life skill); persaingan global yang memungkinkan hanya mereka yang mampu akan berhasil; 1. persaingan kemampuan SDM (Sumber Daya Manusia) produk lembaga pendidikan; 2. persaingan yang terjadi pada lembaga pendidikan, sehingga perlu rumusan yang jelas mengenai standar kompetensi lulusan. Upaya-upaya dalam rangka perbaikan dan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi meliputi: kewenangan pengembangan, pendekatan pembelajaran, penataan isi/konten, serta model sosialisasi, lebih disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi serta era yang terjadi saat ini. Pendekatan pembelajaran diarahkan pada upaya mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengelola perolehan belajar (kompetensi) yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing. Dengan demikian proses pembelajaran lebih mengacu kepada bagaimana peserta didik belajar dan bukan lagi pada apa yang dipelajari. Sesuai dengan cita-cita dari tujuan pendidikan nasional, guru perlu memiliki beberapa prinsip mengajar yang mengacu pada peningkatan kemampuan internal peserta didik di dalam merancang strategi dan melaksanakan pembelajaran. Peningkatan potensi internal itu misalnya dengan menerapkan jenis-jenis strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara penuh, utuh dan kontekstual.

terutama mereka yang mengalami kesulitan belajar. Jika kepada mereka diberikan pembelajaran yang sama dalam jumlah pembelajaran dan waktu yang tersedia untuk belajar. berarti pembelajaran tuntas merupakan sesuatu yang harus dipahami dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh warga sekolah. Langkah metode pembelajaran yang dipilih memainkan peranan utama. Untuk itu perlu adanya panduan yang memberikan arah serta petunjuk bagi guru dan warga sekolah tentang bagaimana pembelajaran tuntas seharusnya dilaksanakan. maka hasil belajar yang dicapai akan tersebar secara normal pula. Dalam model yang paling sederhana. Asumsi Dasar Metode pembelajaran adalah cara untuk mempermudah peserta didik mencapai kompetensi tertentu. akan makin efektif pula pencapaian tujuan belajar (Winarno Surahmad. dikemukakan bahwa jika setiap peserta didik diberikan waktu sesuai dengan yang diperlukan untuk mencapai suatu tingkat penguasaan. Masalah ketuntasan belajar merupakan masalah yang penting. maka tingkat penguasaan kompetensi peserta didik tersebut belum optimal. Dengan demikian makin baik metode. Dengan menempatkan pembelajaran tuntas (mastery learning) sebagai salah satu prinsip utama dalam mendukung pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi. sebab menyangkut masa depan peserta didik. Tetapi jika peserta didik tidak diberi cukup waktu atau dia tidak dapat menggunakan waktu yang diperlukan secara penuh. Block (1971) menyatakan tingkat penguasaan kompetensi peserta didik sebagai berikut : Model ini menggambarkan bahwa tingkat penguasaan kompetensi (degree of learning) ditentukan oleh seberapa banyak waktu yang benar-benar digunakan (time actually spent) untuk belajar dibagi dengan waktu yang diperlukan (time needed) untuk menguasai kompetensi tertentu. atau belum terwujudnya keterampilan proses dan pembelajaran yang menekankan pada peran aktif peserta didik. Dalam pembelajaran konvensional. Pembelajaran tuntas (mastery learning) dalam proses pembelajaran berbasis kompetensi dimaksudkan adalah pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan peserta didik menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran tertentu. bakat (aptitude) peserta didik tersebar secara normal. Pendekatan pembelajaran tuntas adalah salah satu usaha dalam pendidikan yang bertujuan untuk memotivasi peserta didik mencapai penguasaan (mastery level) terhadap kompetensi tertentu. Secara skematis konsep tentang prestasi belajar sebagai dampak pembelajaran dengan pendekatan konvensional dapat digambarkan .Berbicara tentang rendahnya daya serap atau prestasi belajar. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa hubungan antara bakat dan tingkat penguasaan adalah tinggi. maka besar kemungkinan peserta didik akan mencapai tingkat penguasaan kompetensi. Hal ini berlaku baik bagi guru (dalam pemilihan metode mengajar) maupun bagi peserta didik (dalam memilih strategi belajar). B. 1982). inti persoalannya adalah pada masalah ketuntasan belajar yakni pencapaian taraf penguasaan minimal yang ditetapkan bagi setiap kompetensi secara perorangan. yang berakhir pada semakin meningkatnya prestasi belajar peserta didik. dan jika dia menghabiskan waktu yang diperlukan.

kiranya cukup jelas bahwa harapan dari proses pembelajaran dengan pendekatan belajar tuntas adalah untuk mempertinggi rata-rata prestasi peserta didik dalam belajar dengan memberikan kualitas pembelajaran yang lebih sesuai. dan pembelajaran dipecah-pecah ke dalam satuan-satuan (cremental units). pendekatan sistem yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam teknologi pembelajaran harus benar-benar dapat diimplementasikan. Dalam pola ini. Evaluasi yang digunakan adalah penilaian acuan patokan. Dalam hal pemberian kebebasan belajar. serta untuk mengurangi kegagalan peserta didik dalam belajar. Dalam hal ini hubungan antara bakat dengan keberhasilan akan menjadi semakin kecil. apabila bakat peserta didik tersebar secara normal. bantuan. dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada sekelompok peserta didik (klasikal). dapat dikemukakan prinsip-prinsip utama pembelalaran tuntas adalah: Kompetensi yang harus dicapai peserta didik dirumuskan dengan urutan yang hirarkis. sehingga dengan penerapan pembelajaran tuntas memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing peserta didik secara optimal. Peserta didik belajar selangkah demi selangkah dan boleh mempelajari kompetensi dasar berikutnya setelah menguasai sejumlah kompetensi dasar yang ditetapkan menurut kriteria tertentu.sebagai berikut : Sebaliknya. Dari konsep tersebut. (Gentile & Lalley: 2003) C. seorang peserta didik yang mempelajari unit satuan pembelajaran tertentu . Untuk merealisasikan pengakuan dan pelayanan terhadap perbedaan individu. Pemberian pembelajaran remedial serta bimbingan yang diperlukan. Salah satu caranya adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar harus dinyatakan secara jelas. Secara skematis konsep prestasi belajar sebagai dampak pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran tuntas. Perbedaan antara Pembelajaran Tuntas dengan Pembelajaran Konvensional Pembelajaran tuntas adalah pola pembelajaran yang menggunakan prinsip ketuntasan secara individual. serta perhatian khusus bagi peserta didik yang lambat agar menguasai standar kompetensi atau kompetensi dasar. dapat digambarkan sebagai berikut: Dari konsep-konsep di atas. dan kepada mereka diberi kesempatan belajar yang sama untuk setiap peserta didik. maka besar kemungkinan bahwa peserta didik yang dapat mencapai penguasaan akan bertambah banyak. dan setiap kompetensi harus diberikan feedback. Dasar pemikiran dari belajar tuntas dengan pendekatan individual ialah adanya pengakuan terhadap perbedaan individual masing-masing peserta didik. pembelajaran harus menggunakan strategi pembelajaran yang berasaskan maju berkelanjutan (continuous progress). strategi belajar tuntas menganut pendekatan individual. tetapi diberikan perlakuan yang berbeda dalam kualitas pembelajarannya. tetapi mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan perorangan peserta didik sedemikiah rupa. Pemberian program pengayaan bagi peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar lebih awal. Untuk itu.

dapat berpindah ke unit satuan pembelajaran berikutnya jika peserta didik yang bersangkutan telah menguasai sekurang-kurangnya 75% dari kompetensi dasar yang ditetapkan. b. sifatnya berpusat pada guru. buku-buku kerja. Pembelajaran tuntas sangat mengandalkan pada pendekatan tutorial dengan sesion-sesion kelompok kecil. Memonitor seluruh pekerjaan peserta didik e. c. tutorial orang perorang. Berbagai jenis metode (multi metode) pembelajaran harus digunakan untuk kelas atau kelompok. Peran Guru Strategi pembelajaran tuntas menekankan pada peran atau tanggung jawab guru dalam mendorong keberhasilan peserta didik secara individual. Menyajikan materi pembelajaran dalam bentuk yang bervariasi d. Metode Pembelajaran Strategi pembelajaran tuntas sebenarnya menganut pendekatan individual. Pendekatan yang digunakan mendekati model Personalized System of Instruction (PSI) seperti dikembangkan oleh Keller. Menggunakan teknik diagnostik . 1996) 2. Mengembangkan indikator berdasarkan SK/KD. sehingga pelaksanaannya kurang memperhatikan keseluruhan situasi belajar (non belajar tuntas). c. mengukur pencapaian kompetensi peserta didik. dan bekerja dalam kelompok kecil. permainan dan pembelajaran berbasis komputer (Kindsvatter. mengidentifikasi prasyarat (prerequisite). membuat tes untuk mengukur perkembangan dan pencapaian kompetensi. Adapun langkah-langkahnya adalah : a.Menjabarkan/memecah KD (Kompetensi Dasar) ke dalam satuan-satuan (unit-unit) yang lebih kecil dengan memperhatikan pengetahuan prasyaratnya. Metode pembelajaran yang sangat ditekankan dalam pembelajaran tuntas adalah pembelajaran individual. Indikator Pelaksanaan Pembelajaran Tuntas 1. b. pembelajaran dengan teman atau sejawat (peer instruction). Sedangkan pembelajaran konvensional dalam kaitan ini diartikan sebagai pembelajaran dalam konteks klasikal yang sudah terbiasa dilakukan. Peran guru harus intensif dalam hal-hal berikut: a. yang lebih menekankan pada interaksi antara peserta didik dengan materi/objek belajar. D. dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada sekelompok peserta didik (klasikal). tetapi juga mengakui dan memberikan layanan sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual peserta didik. pembelajaran terprogram. sehingga pembelajaran memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing peserta didik secara optimal.

misalnya apakah peserta didik harus mencapai nilai 75. . Fokus program pembelajaran bukan pada Guru dan yang akan dikerjakannya melainkan pada Peserta didik dan yang akan dikerjakannya . Evaluasi Penting untuk dicatat bahwa ketuntasan belajar dalam KTSP ditetapkan dengan penilaian acuan patokan (criterion referenced) pada setiap kompetensi dasar dan tidak ditetapkan berdasarkan norma (norm referenced). yang ciri-cirinya adalah: Ulangan dilaksanakan untuk melihat ketuntasan setiap Kompetensi Dasar Ulangan dapat dilaksanakan terdiri atas satu atau lebih Kompetensi Dasar (KD) Hasil ulangan dianalisis dan ditindaklanjuti melalui program remedial dan program pengayaan. Ulangan mencakup aspek kognitif dan psikomotor Aspek afektif diukur melalui kegiatan inventori afektif seperti pengamatan. kuesioner. Mengingat kecepatan tiap-tiap peserta didik dalam pencapaian KD tidak sama. Kemajuan peserta didik sangat bertumpu pada usaha serta ketekunannya secara individual. dan hasil evaluasi adalah lulus atau tidak lulus. peserta didik dimungkinkan dapat menilai sendiri hasil tesnya. Oleh karena itu.3. (Gentile & Lalley: 2003) Sistem evaluasi menggunakan penilaian berkelanjutan. dsb. 4. 55. Dalam hal ini batas ketuntasan belajar harus ditetapkan oleh guru. Sedangkan penentuan batas pencapaian ketuntasan belajar. Dalam pembelajaran tuntas tes diusahakan disusun berdasarkan indikator sebagai alat diagnosis terhadap program pembelajaran. Peran Peserta didik Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang memiliki pendekatan berbasis kompetensi sangat menjunjung tinggi dan menempatkan peran peserta didik sebagai subjek didik. 65. maka dalam pembelajaran terjadi perbedaan kecepatan belajar antara peserta didik yang sangat pandai dan pandai. Dengan menggunakan tes diagnostik yang dirancang secara baik. standar harus ditetapkan terlebih dahulu. peserta didik diberi kebebasan dalam menetapkan kecepatan pencapaian kompetensinya. pembelajaran tuntas memungkinkan peserta didik lebih leluasa dalam menentukan jumlah waktu belajar yang diperlukan. meskipun umumnya disepakati pada skor/nilai 75 (75%) namun batas ketuntasan yang paling realistik atau paling sesuai adalah ditetapkan oleh guru mata pelajaran. hanya waktu yang diperlukan berbeda. Sistem penilaian mencakup jenis tagihan serta bentuk instrumen/soal. termasuk mengenali di mana ia mengalami kesulitan dengan segera. Asumsi dasarnya adalah: bahwa semua orang bisa belajar apa saja. atau sampai nilai berapa seorang peserta didik dinyatakatan mencapai ketuntasan dalam belajar. Artinya. sehingga memungkinkan adanya perbedaan dalam penentuan batas ketuntasan untuk setiap KD maupun pada setiap sekolah dan atau daerah.

upi. Sementara pembelajaran berbasis kompetensi mengharuskan pencapaian ketuntasan dalam pencapaian kompetensi untuk seluruh kompetensi dasar secara perorangan. SUMBER: http://forum. Implikasi dari prinsip tersebut mengharuskan dilaksanakannya program-program remedial dan pengayaan sebagai bagian tak terpisahkan dari penerapan sistem pembelajaran tuntas.dengan yang kurang pandai dalam pencapaian kompetensi.edu .

Teori ini menegaskan betapa pentingnya sekolah dikondisikan agar dapat memberi perlakuan belajar dan menyediakan waktu belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Berdasarkan analisis teori di atas ditegaskan pula bahwa tingkat kebutuhan perlakuan dan waktu belajar sengat bergantung pada potensi siswa sehingga sekolah yang efektif memberi perlakuan belajar tidak sama untuk seluruh siswa karena harus disesuaikan dengan tingkat kebutuhan pelayanan. pendidik memperlakukan siswa dengan perlakuan ratarata. Kelompok atas berarti siswa yang dapat belajar dengan cepat. Perlakuan awal belajar terhadap siswa juga sama. (http://en. Berdasarkan konsep ini maka siswa dikelompokan dalam 3 kelompok yaitu atas. mengembangkan ide secara utuh dan menyeluruh.edu/whuitt/col/instruct/ mastery.Carol. mendapat perlakuan belajar yang sesuai dan mendapat waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas belajar maka hasil studi di beberapa negara termasuk di Amerika. kelompok tengah siswa rata-rata. Siswa yang telah tuntas mendapat pengayaan sehingga mereka pun memulai mempelajari topik baru bersama-sama dengan kelompoknya dalam kelas. dan dua persen dari kelompok bawah siswa yang daya belajarnya sangat lambat (Disso95. kemampuan berargumentasi. Dalam pelaksanaannya peserta didik memulai belajar dari topik yang sama dan pada waktu yang sama pula. dan 68% kelompok tengah pada antara 85 -115. Kembali pada potensi siswa. Satu persen dari kelompok atas tergolong siswa yang amat cerdas. serta kemampuan belajar. 1996). Terdapat dua faktor utama yang menentukan kecepatan siswa mencapai ketuntasan belajar. maka semakin besar motivasi dan semakin tinggi kecerdasannya maka semakin besar kemungkinannya siswa itu masuk dalam kelompok atas. tengah dan bawah.wikipedia.com). Siswa yang tidak dapat menguasai seluruh materi pada topik yang dipelajarinya mendapat pelajaran tambahan sehingga mencapai hasil yang sama dengan kelompoknya. karakter. http://www. Seperti dalam distribusi sebaran IQ pengelompokan berdasarkan proporsi antara 26% kelompok atas dan 26% kelompok bawah. Hal itu mengandung arti bahwa hampir seluruh data berada dalam kurva. ilmu pengetahuan atau kebijakan (http://en. . jika siwa berada pada kondisi yang tepat. Kecerdasan juga meliputi kreativitas. memecahkan masalah. 90% siswa dapat mencapai target belajar secara normal. Secara empirik sebaran kecerdasan siswa dalam kelas berada pada kelompok rata-rata.wikipedia. Konsekuensi dari penyikapan ini sesungguhnya yang pelayanan yang guru lakukan lebih . org/wiki/ Mastery_ learning: 2008) Konsep dasar yang perlu mendapat perhatian pendidik ialah peta sebaran potensi sebelum siswa mendapat perlakuan belajar. Istilah kecerdasan memayungi gambaran makna yang terkandung dalam pikiran yang berhubungan membentuk berbagai kemampuan. kepribadian. Motivasi itu dapat diumpamakan sebagai mesin penggerak.youtube. berpikir abstrak. Secara empirik data potensi tersebar normal (John B.FILOSOFI BELAJAR TUNTAS Belajar tuntas (Mastery Learning) adalah pendekatan pembelajaran berdasar pandangan filosofis bahwa seluruh peserta didik dapat belajar jika mereka mendapat dukungan kondisi yang tepat.html. http://chiron. Hal yang fenomenal dalam proses pembelajaran. W.Huitt. dan kelompok bawah adalah siswa yang berkarakter belajar lambat. Kalau pada sepeda motor besarnya motivasi itu bergantung pada besar CC pada mesin. pertama adalah kecerdasannya dan kedua motivasinya.valdosta.org/ wiki/Intelligence_(trait). merencanakan. Secara empirik.

Atas dasar argumentasi inilah maka sistem kredit semester itu diperlukan sebagai solusi agar kecepatan belajar siswa dapat berkembang menurut potensi dirinya. Jika tidak memperoleh perlakuan dalam masa menunggu itu siswa pandai selalu mencari kesibukan lain. Akibatnya.id . siswa kelompok atas selalu harus menunggu teman sekelompoknya selesai menyelesaikan pelajarannya. Oleh karena itu siswa yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi selalu lebih cepat menguasai pengetahuan maupun dalam memecahkan masalah. pelayanan pengayaan untuk siswa kelompok atas dan pelayanan perbaikan untuk siswa kelompok bawah. Dengan pelayanan sistem kredit semester (1) seluruh individu dapat belajar sesuai dengan potensinya (2) seluruh individu belajar dengan caranya masing-masing pada tingkat kecepatan yang berbeda (3) dengan pelayanan belajar yang kondusif maka potensi perbedaan karakter tiap individu akan lebih jelas terlihat (4) bias yang tidak terkoreksi akan lebih mudah dipertanggung-jawabkan pada hampir seluruh bentuk kesulitan belajar. Dengan memperhatikan kondisi ini maka dalam pelayanan pendidikan memerlukan memerlukan pelayanan standar untuk siswa rata-rata.web. Ada kalanya mereka menjadi pengganggu temannya sehingga bisa jadi karena itu dicap sebagai siswa nakal.banyak memenuhi kebutuhan siswa rata-rata pula. Sumber:http://bandono. Sebaliknya siswa yang paling bawah akan selalu menghadapi kendala ketertinggalan.

lebih disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi serta era yang terjadi saat ini. Guru lebih banyak menempatkan peserta didik sebagai objek dan bukan sebagai subjek didik. umumnya belum menerapkan pembelajaran sampai peserta didik menguasai materi pembelajaran secara tuntas. guru perlu memiliki beberapa prinsip mengajar yang mengacu pada peningkatan kemampuan internal peserta didik di dalam merancang strategi dan melaksanakan pembelajaran. 4. serta model sosialisasi. Latar Belakang Guru KonstruktivisSalah satu di antara masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya rata-rata prestasi belajar. Upaya-upaya dalam rangka perbaikan dan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi meliputi: kewenangan pengembangan. Peningkatan potensi internal itu misalnya dengan menerapkan jenis-jenis strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara penuh. Akibatnya. di antaranya: 1. serta kecakapan hidup (life skill). sehingga perlu rumusan yang jelas mengenai standar kompetensi lulusan. khususnya peserta didik Sekolah Menengah Atas (SMA). Pendekatan pembelajaran diarahkan pada upaya mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengelola perolehan belajar (kompetensi) yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing. serta kurang memperhatikan ketuntasan belajar secara individual. untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh). mutu hasil pendidikan yang masih rendah serta mengabaikan aspek-aspek moral. dan logis. Tidak heran kalau mutu pendidikan secara nasional masih rendah. persaingan yang terjadi pada lembaga pendidikan. penataan isi/konten. seni & olah raga. Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam berbagai mata pelajaran. persaingan kemampuan SDM (Sumber Daya Manusia) produk lembaga pendidikan. Penerapan Standar Isi yang berbasis pendekatan kompetensi sebagai upaya perbaikan kondisi pendidikan di tanah air ini memiliki beberapa alasan. belum memanfaatkan quantum learning sebagai salah satu paradigma menarik dalam pembelajaran. banyak peserta didik yang tidak menguasai materi pembelajaran meskipun sudah dinyatakan tamat dari sekolah. 5. Masalah lain adalah bahwa pendekatan dalam pembelajaran masih terlalu didominasi peran guru (teacher centered). dan potensi tersebut akan berkembang jika stimulusnya tepat. 4. akhlak. persaingan global yang memungkinkan hanya mereka yang mampu akan berhasil. objektif. 3. kreatif. potensi peserta didik berbeda-beda. Demikian juga proses pendidikan dalam sistem persekolahan kita. . Dengan demikian proses pembelajaran lebih mengacu kepada bagaimana peserta didik belajar dan bukan lagi pada apa yang dipelajari. budi pekerti. 2. pendekatan pembelajaran.PEMBELAJARAN TUNTAS (Mastery-Learning) DALAM KTSP A. Sesuai dengan cita-cita dari tujuan pendidikan nasional.

Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa hubungan antara bakat dan tingkat penguasaan adalah tinggi. Secara skematis konsep tentang . Pendekatan pembelajaran tuntas adalah salah satu usaha dalam pendidikan yang bertujuan untuk memotivasi peserta didik mencapai penguasaan (mastery level) terhadap kompetensi tertentu. Masalah ketuntasan belajar merupakan masalah yang penting. Berbicara tentang rendahnya daya serap atau prestasi belajar. terutama mereka yang mengalami kesulitan belajar. sebab menyangkut masa depan peserta didik. inti persoalannya adalah pada masalah ketuntasan belajar yakni pencapaian taraf penguasaan minimal yang ditetapkan bagi setiap kompetensi secara perorangan. maka hasil belajar yang dicapai akan tersebar secara normal pula. Hal ini berlaku baik bagi guru (dalam pemilihan metode mengajar) maupun bagi peserta didik (dalam memilih strategi belajar). B. 1982). Dalam pembelajaran konvensional. dan jika dia menghabiskan waktu yang diperlukan.utuh dan kontekstual. Langkah metode pembelajaran yang dipilih memainkan peranan utama. Dengan demikian makin baik metode. berarti pembelajaran tuntas merupakan sesuatu yang harus dipahami dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh warga sekolah. Pembelajaran tuntas (mastery learning) dalam proses pembelajaran berbasis kompetensi dimaksudkan adalah pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan peserta didik menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran tertentu. Dengan menempatkan pembelajaran tuntas (mastery learning) sebagai salah satu prinsip utama dalam mendukung pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi. bakat (aptitude) peserta didik tersebar secara normal. Untuk itu perlu adanya panduan yang memberikan arah serta petunjuk bagi guru dan warga sekolah tentang bagaimana pembelajaran tuntas seharusnya dilaksanakan. dikemukakan bahwa jika setiap peserta didik diberikan waktu sesuai dengan yang diperlukan untuk mencapai suatu tingkat penguasaan. maka besar kemungkinan peserta didik akan mencapai tingkat penguasaan kompetensi. akan makin efektif pula pencapaian tujuan belajar (Winarno Surahmad. Jika kepada mereka diberikan pembelajaran yang sama dalam jumlah pembelajaran dan waktu yang tersedia untuk belajar. Tetapi jika peserta didik tidak diberi cukup waktu atau dia tidak dapat menggunakan waktu yang diperlukan secara penuh. Block (1971) menyatakan tingkat penguasaan kompetensi peserta didik sebagai berikut : Model ini menggambarkan bahwa tingkat penguasaan kompetensi (degree of learning) ditentukan oleh seberapa banyak waktu yang benar-benar digunakan (time actually spent) untuk belajar dibagi dengan waktu yang diperlukan (time needed) untuk menguasai kompetensi tertentu. maka tingkat penguasaan kompetensi peserta didik tersebut belum optimal. Dalam model yang paling sederhana. atau belum terwujudnya keterampilan proses dan pembelajaran yang menekankan pada peran aktif peserta didik. Asumsi Dasar Metode pembelajaran adalah cara untuk mempermudah peserta didik mencapai kompetensi tertentu. yang berakhir pada semakin meningkatnya prestasi belajar peserta didik.

prestasi belajar sebagai dampak pembelajaran dengan pendekatan konvensional dapat digambarkan sebagai berikut : Sebaliknya. Untuk itu. dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada sekelompok peserta didik (klasikal). maka besar kemungkinan bahwa peserta didik yang dapat mencapai penguasaan akan bertambah banyak. Dari konsep tersebut. tetapi diberikan perlakuan yang berbeda dalam kualitas pembelajarannya. Dalam hal ini hubungan antara bakat dengan keberhasilan akan menjadi semakin kecil. pembelajaran harus menggunakan strategi pembelajaran yang berasaskan maju berkelanjutan (continuous progress). dan setiap kompetensi harus diberikan feedback. Kompetensi yang harus dicapai peserta didik dirumuskan dengan urutan yang hirarkis. Pemberian program pengayaan bagi peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar lebih awal. Pemberian pembelajaran remedial serta bimbingan yang diperlukan. dan kepada mereka diberi kesempatan belajar yang sama untuk setiap peserta didik. dapat digambarkan sebagai berikut: Dari konsep-konsep di atas. Evaluasi yang digunakan adalah penilaian acuan patokan. Secara skematis konsep prestasi belajar sebagai dampak pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran tuntas. sehingga dengan penerapan pembelajaran tuntas memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing peserta didik secara optimal. kiranya cukup jelas bahwa harapan dari proses pembelajaran dengan pendekatan belajar tuntas adalah untuk mempertinggi rata-rata prestasi peserta didik dalam belajar dengan memberikan kualitas pembelajaran yang lebih sesuai. bantuan. pendekatan sistem yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam teknologi pembelajaran harus benar-benar dapat diimplementasikan. apabila bakat peserta didik tersebar secara normal. 4. strategi belajar tuntas menganut pendekatan individual. tetapi mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan perorangan peserta didik sedemikiah rupa. (Gentile & Lalley: 2003) C. Dalam hal pemberian kebebasan belajar. serta untuk mengurangi kegagalan peserta didik dalam belajar. serta perhatian khusus bagi peserta didik yang lambat agar menguasai standar kompetensi atau kompetensi dasar. dapat dikemukakan prinsip-prinsip utama pembelalaran tuntas adalah: 1. 3. Salah satu caranya adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar harus dinyatakan secara jelas. Untuk merealisasikan pengakuan dan pelayanan terhadap perbedaan individu. dan pembelajaran dipecah-pecah ke dalam satuan-satuan (cremental units). Peserta didik belajar selangkah demi selangkah dan boleh mempelajari kompetensi . Perbedaan antara Pembelajaran Tuntas dengan Pembelajaran Konvensional Pembelajaran tuntas adalah pola pembelajaran yang menggunakan prinsip ketuntasan secara individual. Dasar pemikiran dari belajar tuntas dengan pendekatan individual ialah adanya pengakuan terhadap perbedaan individual masing-masing peserta didik. 2.

berdiskusi. tanya jawab. Satuan Acara Pembelajaran Dibuat untuk satu minggu pembelajaran. namun tetap ada variasi Kemampuan peserta didik dianggap sama B. Penentuan keputusan mengenai satuan pembelajaran Ditentukan oleh peserta didik dengan bantuan guru Ditentukan sepenuhnya oleh guru C. Dalam pola ini. Sedangkan pembelajaran konvensional dalam kaitan ini diartikan sebagai pembelajaran dalam konteks klasikal yang sudah terbiasa dilakukan. Tabel 1: Perbandingan Kualitatif antara Pembelajaran Tuntas dengan Pembelajaran Konvensional Langkah Aspek Pembeda Pembelajaran Tuntas Pembelajaran Konvensional A. Dengan memperhatikan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa perbedaan antara pembelajaran tuntas dengan pembelajaran konvensional adalah bahwa pembelajaran tuntas dilakukan melalui asasasas ketuntasan belajar. Instrumen umpan balik Menggunakan berbagai jenis serta bentuk tagihan secara berkelanjutan Lebih mengandalkan pada penggunaan tes objektif untuk penggalan waktu tertentu . dan dipakai sebagai pedoman guru serta diberikan kepada peserta didik Dibuat untuk satu minggu pembelajar-an. dan membaca (tidak terkontrol) 6. Orientasi pembelajaran Pada terminal performance peserta didik (kompetensi atau kemampuan dasar) secara individual Pada bahan pembelajaran 7. Pelaksanaan pembelajaran 4. dan hanya dipakai sebagai pedoman guru 3. Setiap peserta didik harus mencapai nilai 75 Diukur dari performance peserta didik yang dilakukan secara acak 2. sehingga pelaksanaannya kurang memperhatikan keseluruhan situasi belajar (non belajar tuntas). sedangkan pembelajaran konvensional pada umumnya kurang memperhatikan ketuntasan belajar khususnya ketuntasan peserta didik secara individual. Fokus kegiatan pembelajaran Ditujukan kepada masing-masing peserta didik secara individual Ditujukan kepada peserta didik dengan kemampuan menengah 9. Cara pembelajaran dalam setiap standar kompetensi atau kompetensi dasar Pembelajaran dilakukan melalui penjelasan guru (lecture). Bentuk pembelajaran dalam satu unit kompetensi atau kemampuan dasar Dilaksanakan melalui pendekatan klasikal. Persiapan 1. Pandangan terhadap kemampuan peserta didik saat memasuki satuan pembelajaran tertentu Kemampuan hampir sama. Peranan guru Sebagai pengelola pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan peserta didik secara individual Sebagai pengelola pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan seluruh peserta didik dalam kelas 8. seorang peserta didik yang mempelajari unit satuan pembelajaran tertentu dapat berpindah ke unit satuan pembelajaran berikutnya jika peserta didik yang bersangkutan telah menguasai sekurang-kurangnya 75% dari kompetensi dasar yang ditetapkan. dan belajar secara individual Dilakukan melalui mendengarkan (lecture). Secara kualitatif perbandingan ke dua pola tersebut dapat dicermati pada Tabel berikut. Umpan Balik 10.Tingkat ketuntasan Diukur dari performance peserta didik dalam setiap unit (satuan kompetensi atau kemampuan dasar). membaca secara mandiri dan terkontrol. kelompok dan individual Dilaksanakan sepenuhnya melalui pendekatan klasikal 5.dasar berikutnya setelah menguasai sejumlah kompetensi dasar yang ditetapkan menurut kriteria tertentu. sifatnya berpusat pada guru.

* mengukur pencapaian kompetensi peserta didik. 1996) 2. Pendekatan yang digunakan mendekati model Personalized System of Instruction (PSI) seperti dikembangkan oleh Keller. psikomotor. Berbagai jenis metode (multi metode) pembelajaran harus digunakan untuk kelas atau kelompok. dan afektif) . Peran Guru Strategi pembelajaran tuntas menekankan pada peran atau tanggung jawab guru dalam mendorong keberhasilan peserta didik secara individual. tutorial orang perorang. Peran guru harus intensif dalam hal-hal berikut: * Menjabarkan/memecah KD (Kompetensi Dasar) ke dalam satuan-satuan (unit-unit) yang lebih kecil dengan memperhatikan pengetahuan prasyaratnya. Pembelajaran tuntas sangat mengandalkan pada pendekatan tutorial dengan sesion-sesion kelompok kecil. buku-buku kerja. Metode pembelajaran yang sangat ditekankan dalam pembelajaran tuntas adalah pembelajaran individual. Adapun langkah-langkahnya adalah : * mengidentifikasi prasyarat (prerequisite). Metode Pembelajaran Strategi pembelajaran tuntas sebenarnya menganut pendekatan individual. Cara membantu peserta didik Menggunakan sistem tutor dalam diskusi kelompok (small-group learning activities) dan tutor yang dilakukan secara individual Dilakukan oleh guru dalam bentuk tanya jawab secara klasikal D.11. * membuat tes untuk mengukur perkembangan dan pencapaian kompetensi. sehingga pembelajaran memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing peserta didik secara optimal. pembelajaran terprogram. * Mengembangkan indikator berdasarkan SK/KD. pembelajaran dengan teman atau sejawat (peer instruction). dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada sekelompok peserta didik (klasikal). yang lebih menekankan pada interaksi antara peserta didik dengan materi/objek belajar. dan bekerja dalam kelompok kecil. permainan dan pembelajaran berbasis komputer (Kindsvatter. Indikator Pelaksanaan Pembelajaran Tuntas 1. tetapi juga mengakui dan memberikan layanan sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual peserta didik. * Menyajikan materi pembelajaran dalam bentuk yang bervariasi * Memonitor seluruh pekerjaan peserta didik * Menilai perkembangan peserta didik dalam pencapaian kompetensi (kognitif.

Sistem penilaian mencakup jenis tagihan serta bentuk instrumen/soal. Artinya. 55. atau sampai nilai berapa seorang peserta didik dinyatakatan mencapai ketuntasan dalam belajar. peserta didik dimungkinkan dapat menilai sendiri hasil tesnya. dsb. (Gentile & Lalley: 2003) Sistem evaluasi menggunakan penilaian berkelanjutan. pembelajaran tuntas memungkinkan peserta didik lebih leluasa dalam menentukan jumlah waktu belajar yang diperlukan. yang ciri-cirinya adalah: * Ulangan dilaksanakan untuk melihat ketuntasan setiap Kompetensi Dasar * Ulangan dapat dilaksanakan terdiri atas satu atau lebih Kompetensi Dasar (KD) * Hasil ulangan dianalisis dan ditindaklanjuti melalui program remedial dan program pengayaan. * Ulangan mencakup aspek kognitif dan psikomotor * Aspek afektif diukur melalui kegiatan inventori afektif seperti pengamatan. Dalam hal ini batas ketuntasan belajar harus ditetapkan oleh guru. misalnya apakah peserta didik harus mencapai nilai 75. Dalam pembelajaran tuntas tes diusahakan disusun berdasarkan indikator sebagai alat diagnosis terhadap program pembelajaran. dan hasil evaluasi adalah lulus atau tidak lulus. hanya waktu yang diperlukan berbeda. Kemajuan peserta didik sangat bertumpu pada usaha serta ketekunannya secara individual. Asumsi dasarnya adalah: * bahwa semua orang bisa belajar apa saja. Evaluasi Penting untuk dicatat bahwa ketuntasan belajar dalam KTSP ditetapkan dengan penilaian acuan patokan (criterion referenced) pada setiap kompetensi dasar dan tidak ditetapkan berdasarkan norma (norm referenced). 4. Sedangkan penentuan batas pencapaian ketuntasan belajar. * standar harus ditetapkan terlebih dahulu. Fokus program pembelajaran bukan pada Guru dan yang akan dikerjakannya melainkan pada Peserta didik dan yang akan dikerjakannya . peserta didik diberi kebebasan dalam menetapkan kecepatan pencapaian kompetensinya. kuesioner. sehingga memungkinkan adanya perbedaan dalam penentuan batas . meskipun umumnya disepakati pada skor/nilai 75 (75%) namun batas ketuntasan yang paling realistik atau paling sesuai adalah ditetapkan oleh guru mata pelajaran. 65. Dengan menggunakan tes diagnostik yang dirancang secara baik. Peran Peserta didik Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang memiliki pendekatan berbasis kompetensi sangat menjunjung tinggi dan menempatkan peran peserta didik sebagai subjek didik.* Menggunakan teknik diagnostik * Menyediakan sejumlah alternatif strategi pembelajaran bagi peserta didik yang mengalami kesulitan 3. Oleh karena itu. termasuk mengenali di mana ia mengalami kesulitan dengan segera.

maka dalam pembelajaran terjadi perbedaan kecepatan belajar antara peserta didik yang sangat pandai dan pandai. Implikasi dari prinsip tersebut mengharuskan dilaksanakannya program-program remedial dan pengayaan sebagai bagian tak terpisahkan dari penerapan sistem pembelajaran tuntas.com/2009/11/02/pembelajaran-tuntas-mastery-learningdalam-ktsp .wordpress. Sementara pembelajaran berbasis kompetensi mengharuskan pencapaian ketuntasan dalam pencapaian kompetensi untuk seluruh kompetensi dasar secara perorangan. dengan yang kurang pandai dalam pencapaian kompetensi. Mengingat kecepatan tiap-tiap peserta didik dalam pencapaian KD tidak sama. Sumber: http://akhmadsudrajat.ketuntasan untuk setiap KD maupun pada setiap sekolah dan atau daerah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful