TINJAUAN HUKUM WARIS MENURUT ADAT KASULTANAN YOGYAKARTA

Tugas Makalah Hukum Waris Adat Magister Kenotariatan C1 2010

Hukum kewarisan merupakan salah satu ajaran islam, sebuah ajaran keberagaman yang dipeluk dan diterapkan di Kesultanan Yogyakarta. Dan, para swargi Sultan Hamengku Buwono IX beserta para Putera dalem menerapkan ajaran ini. Hukum kewarisan Islam sebagai bagian tak terpisahkan dari ajaran islam, juga digunakan dan dipertahankan di dalam kehidupan mereka. Makalah ini disusun oleh:

MAGISTER KENOTARIATAN

UNIVERSITAS GAJAH MADA
YOGYAKARTA 2011

hukum merupakan bagian yang tidak bisa dilepaskan dari sistem kebudayaan. dan bahkan dalam khasanah antropologi. Hukum dalam terminologi Islam sering disebut dengan Fiqh. 1991. hlm. dkk. Menjadikan Hukum Islam Sebagai Penunjang Pembangunan. 1 sistem religi.2 Di samping itu. Islam. Oleh karena itu. 1. salah satunya ialah hukum keluarga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Dengan demikian. dan fiqh menjadi salah satu sumber hukum islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. dan Jawa diyakini banyak pihak sebagai "syntum" tata-nilai kebudayaan Indonesia. . termasuk para priyayi Kesultanan Yogyakarta dapat dilihat melalui hukum yang mereka gunakan dan yang dilaksanakan.. Islam sebagai sebuah sistem religi memiliki hukum sebagai salah satu aspek ajarannya. hukum islam memiliki berbagai cabang. Kraton.BAB I PENDAHULUAN A. Interaksi Islam dan Kraton-Jawa. hukum merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat. Salah satu "syntum" tata-nilai yang dianggap "sakral" dalam kebudayaan Kraton Ngayogyakarta adalah sistem pewarisannya. yang di dalamnya mengatur tentang aspek perkawinan dan kewarisan. 43 Abdurrahman Wahid. sebenarnya bisa dilihat dalam konteks pewarisan ini. buku ini masuk pada relung terdalam dialog Islam dan Kraton melalui optik sistem pewarisan. dalam Eddi Rudiana Arief. Latar Belakang Pemahaman kebudayaan masyarakat nusantara. 2003. Perempuan di Antara Berbagai Pilihan Hukum. hlm. Hukum Islam di Indonesia: Pemikiran dan Praktiknya. Penulis menunjukkan bahwa sistem pewarisan Kraton Ngayogyakarta 1 2 Sulistyowati Irianto. dan cabang-cabang hukum islam tersebut mengatur berbagai aspek kehidupan manusia.

Aturan-aturan hukum kewarisan tidak hanya mengalami perubahan-perubahan pada sistem sosial.3 Salah satu sistem yang mempengaruhi hukum Kesultanan Yogyakarta adalah sistem hukum kewarisan Islam. Titik singgung tersebut dalam terminologi lain disebut konvergensi hukum kewarisan. Konvergensi hukum kewarisan Islam dan hukum kewarisan adat Jawa merupakan sestem hukum yang bijaksana dalam pelaksanaan kewarisan di Kesultanan 3 B. Hukum kewarisan Kesultanan Yogyakarta melahirkan pergumulan kuat dan waktu yang panjang untuk menerapkan aturan hukum kewarisan Islam dan hukum kewarisan adat Jawa sehingga melahirkan titik singgung dalam pelaksanaan kewarisan. Kesultanan Yogyakarta tidak langsung menerapkan asas keislaman dalam kehidupan sehari-hari bahkan untuk syari’at sekalipun. hlm. para swargi Sultan Hamengku Buwono IX beserta para Putera dalem menerapkan ajaran ini. Hukum kewarisan Islam sebagai bagian tak terpisahkan dari ajaran islam juga digunakan dan dipertahankan di dalam kehidupan mereka. Dan. 1976. Ter Haar Bzn. Asas-asas dan Susunan Hukum Adat. Pelaksanaan hukum kewarisan di lingkungan Kesultanan Yogyakarta mengakomodasi khasanah local dan nilai-nilai kebudayaan jawa. Jakarta: Pradnya Paramita. yakni Islam yang "mengadat" dan Kraton yang mengintrodusir nilai kewarisan Islam.manawarkan dialektika yang dinamis. hukum waris juga mengalami perubahan sistem yang dipengaruhi oleh sistem hukum asing. 232 . sebuah ajaran keberagaman yang dipeluk dan diterapkan di Kesultanan Yogyakarta. Hukum kewarisan merupakan salah satu ajaran islam.

Sistem Kekerabatan dan Pola Kewarisan. Sistem kekerabatan jenis ini dianut oleh masyarakat Jawa. hlm. Ngarsa Dalem Dundum Warisan. Tinjauan Pustaka 1. Rumusan Masalah wujud pewarisan adat ditinjau dari pembagian harta sultan maupun 1.5 a. Bagaimanakah kasultanan di Kraton Dalem Yogyakarta? 2..4 B. 2 . Jakarta: PT. Yahya Mansyur. yakni keluarga dan kekerabatan. Sejak awal. Dkk. yaitu sistem kekerabatan bilateral atau parental. hlm. Pusaka Grafika Kita.Yogyakarta. Tinjauan dari Segi Adat Sistem kewarisan sangat tergantung pada pola kekerabatan yang dianut oleh masyarakat. “Pengantar”. manusia telah mengembangkan pranata dan lembaga yang mengatur dan mengelola persekutuan hidup. Kalimantan. Persekutuan hidup yang mereka bentuk sangat mendasar dan kecil (primordial small group). 1988. Konsep konvergensi dua sistem hukum kewarisan tersebut mempunyai karakteristik dalam pelaksanaan kewarisan di Yogyakarta. Yogyakarta: PT. patrilineal. Bagaimanakah Kedudukan Kompilasi Hukum Islam di dalam pewarisan adat Kraton Dalem Yogyakarta? C. 2008. dan Sulawesi. dan matrilineal. dalam M.A Rumawi Eswe. Ada beberapa sistem kekerabatan di dalam masyarakat Indonesia. Sumatra Utara. 4 5 M. Riau. Sistem kekerabatan bilateral atau parental adalah sistem kekerabatan dimana setiap laki-laki maupun perempuan berhak untuk menarik garis keturunan ke atas baik melalui garis keturunan bapak maupun ibu. LKIS Pelangi Aksara Yogyakarta. 6 S. Budhisantoso.

Sistem kewarisan Individual adalah sistem kewarisan dimana harta peninggalan dapat dibagikan dan dimiliki secara individual para ahli waris. 10 Hilman Hadikusumo. dan Timor. Lampung. Yogyakarta: BPFH UII. hlm. Sistem kekerabatan matrilineal adalah sistem kekerabatan dimana setiap laki-laki maupun perempuan berhak menarik garis keturunannya hanya melalui garis darah ibunya. 1981. Hendak Kemana Hukum Islam. yaitu sistem kewarisan dimana harta peninggalan diwarisi oleh sekelompok ahli waris dalam bentuk persekutuan hak-hak.6 Sistem kekerabatan baik patrilineal. Hukum Kewarisan Menurut Hukum Adat dan Hukum Islam. Enggano. hlm. Alas.7 a. dan 6 7 8 Hazairin. Misal. para ahli warisnya tidak terikat dalam satu rumah kerabat (rumah gadang) atau rumah orang tuanya. Nusa Tenggara. Pembagian waris secara individual ini dimungkinkan apabila seorang individu (ahli waris) tidak memiliki hasrat untuk menguasai harta warisan tersebut. dalam M. matrilineal maupun bilateral sudah tentu menentukan sistem waris yang dipilih oleh masyarakat yang bersangkutan sehingga tidak mengherankan selama ini proses kewarisan yang ada menggunakan sistem individual. hlm. Cit. Jakarta: Tintamas. 9 . dan sistem mayorat. Buru. 35. 5 Ahmad Azhar Basyir. dan Papua. hlm. 1976. Seram.A Rumawi Eswe.b. Sistem kewarisan kolektif. Gayo. Sistem kekerabatan patrilineal ini dianut oleh masyarakat Batak. Nias. Op. Sedangkan sistem kekerabatan patrilinial adalah sistem kekerabatan dimana setiap laki-laki maupun perempuan berhak menarik garis keturunan hanya dari garis darah ayahnya.. dan sistem kekerabatan matrilineal ini dianut oleh masyarakat Minangkabau. sistem kolektif.. c.8 b. Hukum….

Esposito. Femmy S.harta peninggalan tersebut tidak dibagikan kepada ahli warisnya untuk dimiliki secara individu. Tinjauan Dari Segi Hukum Waris Islam a. Kalimantan Barat.9 2. Bandung: Mizan. faraidh berasal dari kata al-fara’idh. Batak. yakni cara untuk menghitung pembagian dari masing-masing ahli waris. sedangkan untuk masyarakat yang disebut berikutnya. Faraidh dimaknai sebagai pengetahuan yang berkaitan dengan harta peninggalan (Harta pusaka). bentuk jamak dari kata faridah. Sebagai khasanah hukum islam.. c. Sistem kewarisan ini dianut oleh masyarakat Bali.10 Secara terminologis. Poerwanto. 2001. Tanah Semendo. Rofik S. Masyarakat yang disebut pertama dan kedua. kewarisan barang kalakeran atau tanah dati bagi masyarakat patrilineal di Ambon. kewarisan disinonimkan dengan ilmu faraidh. yakni bagian yang ditentukan kadar jumlahnya. Sistem kewarisan mayorat adalah sistem kewarisan dimana anak tertua laki-laki maupun perempuan memperoleh hak tunggal untuk mewarisi seluruh atau sejumah harta pokok dari harta peninggalan. 10 9 . Kata faridah berasal dari kata farad. yang berarti ketetapan atau ketentuan (at-taqdir) dari Allah. dan suku Dayak. Jarot W.11 Ibid. Sumatera Selatan.. misalnya. Ensiklopedia Dunia Islam modern... 307 11 Ibid. alih bahasa Eva Y. harta kewarisan dimiliki oleh anak tertua laki-laki yang dinamakan dengan mayorat lelaki. juga berlaku dalam batas-batas tertentu dalam masyarakat parental di Minahasa. Pengertian Kewarisan Islam Dalam khasanah hukum islam. Sistem kewarisan ini dianut oleh masyarakat matrilineal di Minangkabau. harta warisan dimiliki oleh anak tertua perempuan atau biasa disebut mayorat perempuan..N. hlm 39 John L. secara etimologis. hlm.

Pewarisan adalah sumber harta kekayaan. bahwa waris ialah warisnya yang masih hidup. Disinilah timbul pengertian tentang hukum waris. Menurut Syekh Muhammad Ali Ash Shabuni dalam bukunya hukum waris menurut Al-Qur’an dan hadits. Menurut Drs. Menurut H. melainkan karena ketentuan-ketentuan undang-undang atau hukum yang berlaku dalam masyarakat. hlm. Beralihnya harta kekayaan tersebut bukan karena perjanjian. 2005. maka persoalan yang muncul adalah siapa yang berhak mewaris dan memiliki harta kekayaan yang ditinggalkannya. Harta kekayaan yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia itu kepada keturunannya. 3. Adapun mengenai pengertian tentang hukum waris Islam ada beberapa pendapat antara lain:12 1. Ali Ash Shabuni 1995:40). (Studi Kasus Tentang Pengesahan Anak Angkat dan Pembagian Harta Warisan di Pengadilan Negeri Kudus. 2. Arief 1986:1). bahwa ilmu waris ialah ilmu yang menjelaskan tentang perpindahan berbagai hak dan kewajiban tentang kejayaan seseorang yang meninggal dunia kepada orang lian yang masih hidup. baik berupa harta benda. Status Anak Angkat Menurut Kompilasi Hukum Islam. bahwa hukum waris Islam adalah hukum yang menjelaskan bagian yang diqadarkan / ditentukan bagi waris (Moh. 12 Evy Khristiana. Apabila orang yang meninggal dunia memiliki harta kekayaan. Muslich Maruzi dalam bukunya pokok-pokok ilmu waris. Pewarisan merupakan peristiwa hukum yang menjadi sebab beralihnya harta kekayaan pewaris (almarhum) kepada ahli waris. tanah maupun suatu hak dari hak-hak syara (M. 25 . Muhammad Arief dalam bukunya hukum warisan dalam Islam.

. perpindahan. Menurut Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy dalam bukunya Fiqh Mawaris. menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing.4. Menurut KHI pasal 171: bahwa hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris. orang yang tidak dapat menerima pusaka. Hasbi Ash Shiddieqy 1997:6) 5. Proses peralihannya itu sendiri. bahwa ilmu mawaris ialah ilmu untuk mengetahui orang yang berhak menerima pusaka. sesungguhnya sudah dapat dimulai pada saat pemilik harta kekayaan itu masih hidup serta proses itu selanjutnya berjalan terus hingga keturunannya mempunyai keluarga-keluarga baru yang berdiri sendirisendiri yang kelak pada waktunya mendapat giliran juga untuk meneruskan proses tersebut kepada generasi berikutnya. tentang siapa yang menjadi ahli waris dan berapa bagiannya. kadar yang diterima oleh tiap-tiap waris dan cara-cara pembagiannya (M. Namun demikian yang terjadi pada masyarakat kita proses peralihan tersebut seringkali dilakukan pada waktu orang yang memiliki harta kekayaan itu meninggal dunia.13 13 Ibid. penerusan dan pengoperan harta kekayaan seseorang kepada keturunannya atau generasi berikutnya. Dari kelima pendapat tersebut dapatlah dipahami bahwa hukum waris Islam adalah hukum yang mengatur cara pengalihan.

Ahli Waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris. Hal ini dapat dimengerti.14 b. c. 3) Tidak terhalang menjadi ahli waris.. hlm.Di dalam hukum pewarisan Islam berdasar KHI pasal 71 mempunyai tiga unsur pokok yaitu: a. pembayaran hutang dan pemberian untuk kerabat. 26 . 2) Harus beragama Islam. biaya pengurusan jenazah. amat mudah menimbulkan sengketa diantara ahli waris. beragama Islam. b. dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris. Setiap terjadi perstiwa kematian seseorang segera timbul pertanyaan bagaimana harta peninggalannya harus diperlakukan dan kepada siapa saja harta itu dipindahkan serta bagaimana caranya. meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan. Dengan demikian bahwa seseorang yang bisa menjadi ahli waris menurut KHI harus memenuhi kriteria antara lain: 1) Harus mempunyai hubungan darah / perkawinan dengan pewaris. Pewaris adalah orang yang pada saat meninggalnya atau yang dinyatakan meninggal berdasarkan putusan Pengadilan Agama Islam. Hukum waris menduduki tempat yang amat penting dalam hukum Islam. Harta warisan adalah harta bawaan ditambah bagian dari harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakitsampai meninggalnya. Kecuali itu ketentuan-ketentuan pasti. 14 Rukun Kewarisan Islam Ibid. sebab masalah warisan pasti dialami oleh setiap orang.

yaitu harta peninggalan si mati yang sudah bersih setelah dikurangi untuk biaya perawatan jenazahnya. 2. Jakarta: PT. Asas Ijbari Asas ijbari ialah peralihan harta kekayaan dari orang yang telah meninggal dunia kepada ahli waris yang masih hidup. Mauruts. hlm. Al-Muwaris. Seseorang yang menjadi ahli waris akan menerima kenyataan berpindahnya harta pewaris kepada ahli waris sesuai dengan kadar yang telah ditentukan.Rukun kewarisan ada tiga. yaitu orang yang akan mewarisi harta warisan di mati lantaran memiliki dasar/sebab kewarisan. 3. seperti karena adanya hubungan nasab atau perkawinan atau hak perwalian (al-wala’) dengan si mati. Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Minangkabau. 1984. Mati hukmi yaitu suatu kematian yang dinyatakan oleh hakim karena adanya beberapa pertimbangan. Ada beberapa asas yang berlaku dalam hukum kewarisan Islam. yaitu orang yang meninggal dunia. Asas ijbari ini menyangkut berbagai 15 Amir Syarifuddin. Al-Waris atau Ahli Waris. Asas-Asas Hukum Kewarisan Islam hukum kewarisan Islam mengandung asas-asas sebagai prinsip dalam menerapkan sistem pembagian kewarisan. (Muslich Maruzi. 18-25 . 1981 : 11) c. baik haqiqi maupun mati hukmi. yaitu: 1.15 antara lain: 1). pembayaran hutangnya dan pelaksanaan wasiatnya yang tidak lebih dari sepertiga. Gunung Agung. Ketentuan ini berlaku dengan sendirinya menurut kehendak Allah tanpa bergantung pada kehendak pewaris maupun ahli waris.

yaitu (1) laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama sebagai ahli waris dan (2) pemenuhan hak dan kewajiban secara proporsional. 2004. Asas Individual Asas Individual adalah harta warisan dibagi sesuai dengan ahli waris untuk dimiliki secara individu. Asas Bilateral Asas bilateral ialah seseorang yang menerima hak kewarisan dari dua garis keturunan kekerabatan.16 yaitu (1) peralihan harta. yakni garis darah laki-laki maupun pihak kerabat dari garis darah perempuan. Dalam konteks ini. 2). Keseimbangan ini didasarkan pada asas keadilan dalam pembagian warisan sehingga perbedaan jenis kelamin tidak dapat mempengaruhi hak kewarisan laki-laki maupun perempuan. Artinya. Jakarta: Prenada Media.segi. hlm. 18 . Asas Keadilan Berimbang Asas keadilan berimbang ialah seorang ahli waris menerima bagiannya sesuai dengan keseimbangan antara hak dan kewajiban serta asas kebutuhan dan kegunaan. Maka hak dan kedudukan yang sama juga berlaku untuk saudara laki-laki dan perempuan agar saling mewarisi. dimana 16 Amir Syarifudin. 3). Keseluruhan harta warisan dinyatakan dalam nilai tertentu yang dibagikan kepada ahli waris menurut kadar bagian masingmasing. 4). seseorang berhak menerima warisan dari kedua belah pihak baik baik dari garis keturunan laki-laki maupun garis keturunan perempuan. Hukum Kewarisan Islam. (2) jumlah harta yang beralih. esensi keadilan hukum kewarisan Islam terdapat di dalam dua aspek. dan (3) kepada siapa harta itu beralih.

Peralihan harta warisan tidak akan terjadi jika seseorang yang memiliki harta tidak meninggal dunia. Asas ini menetapkan bahwa peralihan harta seseorang .laki-laki mempunyai tanggung jawab yang lebih besar dan berhak atas harta dua kali dari bagian perempuan. Asas Kewarisan Akibat Kematian Asas akibat kematian ialah peralihan harta kepada ahli waris setelah pewaris meninggal dunia. 5).

asas perdamaian. dan selama pihak yang lebih berhak itu masih ada. Pertama. Artinya. asas perdamaian yakni para ahli waris mengadakan rembug keluarga untuk membuat kesepakatan mengenai pembagian harta warisan. asas personalitas keislaman. Ketiga. Kedua. ahli waris laki-laki maupun perempuan memperoleh harta kewarisan dari lajur darah bapak maupun lajur darah ibu. asas individual ialah sistem kewarisan individual adalah suatu sistem kewarisan yang harta peninggalan dapat dibagi-bagikan dan dimiliki secara individual di antara para ahli waris. Asal semua ahli waris sepakat dengan suatu kesepakatan untuk membagi harta warisan cara yang mereka sepakati. asas keutamaan merupakan penerimaan harta kewarisan. ` . terdapat tingkatan-tingkatan hak yang menyebabkan satu pihak lebih berhak dibandingkan dengan pihak lain. Asas-asas itu anatara lain: asas individual-bilateral. maka pihak yang lain tidak menerimanya. asas kewarisan semata akibat kematian dan asas mayorat laki-laki. asas bilateral adalah setiap ahli waris baik laki-laki maupun perempuan berhak atas harta kewarisan dari kedua orang tua mereka. asas keutamaan.BAB II HUKUM WARIS MENURUT ADAT KASULTANAN YOGYAKARTA Studi ini secara antropologis menunjukkan bahwa pelaksanaan kewarisan di Kesultanan Yogyakarta secara asasi menganut beberapa asas. Keempat. asas penggantian ahli waris.

pembagian harta warisan . dilaksanakan setelah orang yang memiliki harta sudah meninggal dunia. Artinya. posisi istri/janda tidak mempengaruhi waktu pelaksanaan pembagian harta warisan. atau harta kesultanan harus anak lelaki. asas mayorat lakilaki adalah suatu sistem kewarisan yang anak tertua laki-laki maupun perempuan pada saat wafatnya pewaris berhak tunggal untuk mewaris seluruh atau sejumlah harta pokok dari harta peninggalan. Kedua. asas personalitas keislaman adalah seluruh ahli waris dan pewaris beragama Islam. di Kesultanan Yogyakarta berlaku asas kewarisan atas dasar mayorat lelaki. Anak laki-laki berhak atas tahta trah kesultanan sebagai sultan sekaligus menguasai serta mengelola harta kesultanan. Di kraton Kesultanan Yogyakarta. pembagian harta warisan diselenggarakan setelah pewaris meninggal dunia. Keenam. Sedang. seseorang dapat menguasai dan mewarisi harta sultan sebagai kepala kraton. Agama Islam merupakan agama resmi Kesultanan Yogyakarta. asas kewarisan semata akibat kematian merupakan Proses pewarisan atas peralihan harta warisan dari pewaris kepada generasi berikut sebagai ahli waris.Kelima. Artinya. hukum kewarisan adat Jawa harta warisan tidak akan dibagikan kepada ahli waris (anak pewaris) selama seorang janda/istri masih hidup. hukum Kewarisan pada pelaksanaan kewarisan swargi Sultan Hamengku Buwono IV menyatukan unsurunsur dari sistem hukum kewarisan Islam dan hukum kewarisan adat Jawa. Hubungan hukum kewarisan Islam dengan hukum kewarisan Kesultanan Yogyakarta terjadi konvergensi unsur-unsur kewarisan. Ketujuh. Kedelapan. Maka. asas penggantian ahli waris adalah ahli waris pokok yang meninggal terlebih dahulu daripada pewaris maka kedudukan sebagai ahli waris dapat digantikan anaknya. Unsurunsur yang diadopsi dari sistem hukum kewarisan Islam meliputi: pertama.

hukum kewarisan adat Jawa seorang istri/janda berhak atas seluruh harta warisan peninggalan suaminya selama dia hidup. diwariskan secara tuggal harta tanah subur digunakan untuk kepentingan keluarga. Unsur ini adalah adopsi ahli waris pengganti.dengan perbandingan dua banding satu. Ahli waris pengganti terjadi dalam pelaksanaan kewarisan Kesultanan Yogyakarta. Unsur ini ialah harta warisan tidak dikategorisasi berdasarkan hubungan perkawinan (harta bersama dan harta bawaan) sebagaimana terjadi dalam hukum kewarisan Islam dan hukum kewarisan adat Jawa. Ketiga. untuk ahli waris anak laki-laki dan anak perempuan. Ada unsur-unsur dalam pelaksanaan kewarisan Kesultanan Yagyakarta yang disesuai dengan unsur hukum kewarisan Islam maupun hukum kewarisan adat Jawa. Di samping itu. ada unsur yang tidak ada menganut pola hukum kewarisan Islam maupun kewarisan adat Jawa. Meski. Hukum kewarisan adat Jawa anak laki-laki dan anak perempuan memperoleh hak yang sama dari harta warisan. Harta yang disebut pertama sebagai harta biasa.17 17 MA Rumawi Eswe. harta kesultanan sebagai harta istimewa. atau satu banding setengah. Ketiadaan harta warisan klasifikasi berdasarkan hubungan perkawinan ini merupakan ciri khas dalam pelaksanaan pembagian harta warisan di Kesultanan Yogyakarta. Ngarsa Dalem Dundum Warisan . Sedang. Harta biasa itu di masyarakat Jawa dibagikan kepada seluruh ahli waris. Sedang. Unsur-unsur yang diambil dari sistem kewarisan adat Jawa adalah klasifikasi harta berdasarkan harta Sultan dan harta kesultanan. istri/janda memperoleh bagian tertentu yaitu seperdelapan dari harta warisan. Harta istimewa di masyarakat Jawa sebagai harta tanah yang subur. Tanah subur itu diwariskan secara tunggal kepada salah satu ahli waris yang biasanya anak tertua.

Artinya.BAB IV ANALISA PROSES PEWARISAN DALAM MASYARAKAT ADAT JAWA Secara umum. perempuan mempunyaikesempatan yang sama dengan laki-laki. sistem kewarisan yang biasa digunakan didalam masyarakat adat Jawa banyak mempunyai kesamaandengan sistem kewarisan dalam hukum Islam di Indonesia yangdalam hal ini adalah Kompilasi Hukum Islam. Kewarisan adat Jawa maupun kewarisan dalam KompilasiHukum Islam sama-sama menggunakan sistem kekerabatanbilateral atau parental. mempunyai kesamaan. penarikan garis keturunan pada sistem bilateralatau parental diambil dari kedua orang tua (bapak dan ibu). 25 . dimana ahli waris tidakdidominasi oleh anggota keluarga garis keturunan bapak atauibu. Mengenai asas kewarisannya pun. harta warisantersebut dibagi-bagi kepada masing-masing ahli waris menurutbagiannya masing-masing dan setiap ahli waris berhak memilikidan menguasainya. Halini berakibat dalam masalah kewarisan. dimana pada sistem kekerabatan ini tidakberlaku penarikan garis keturunan dari jalur ayah atau jalur ibu. Persamaan tersebutterutama terletak pada sistem kekerabatan dan asas kewarisanyang digunakan dan melekat pada keduanya.yaitu sama-sama menggunakan asas kewarisan individual. harta warisan tidak dikuasi hanya oleh anggota keluargatertentu dan tidak pula digunakan secara bersama-sama denganhanya mengambil manfaatnya. Akan tetapi.Akan tetapi. karena hartapada asas kewarisan individualbersifat ‘bisa dibagi-bagi’. tetapi oleh kedua-duanya.

sehingga ahli waris baru bisa mendapatkan harta warisan ketikapewaris meninggal.Mengenai Proses Pewarisan Proses pewarisan dalam sistem adat Jawa dan KompilasiHukum Islam sangat berbeda. Demikian juga pewaris.yang menjadi ahli waris adalah orang-orang yang mempunya . Yang pertama.mengenai ahli waris anak angkat. dan cara pembagian hartanya. baru bisamewariskan hartanya kepada para ahli warisnya ketika ia sudah meninggal. pada kewarisan adat Jawa. penunjukan. A. Perbedaan tersebut terutama terletak pada prosespewarisanya.Sistem kewarisan adat Jawa dengan Kompilasi HukumIslam juga mempunyai perbedaan-perbedaan yang cukupsignifikan. Adapunsecara singkat akan dijelaskan pada sub bab berikut. berwasiat).dalam waris sistem KHI juga menganut asas kematian semata. B. hartawarisan selain diwaris setelah pewaris meninggal. yaitu dengan cara penerusan ataupengalihan. juga bisadiwariskan pada saat pewaris masih hidup.Mengenai Ahli Waris dan Cara Pembagian Dalam hal ahli waris kedua sistem tersebut jugamempunyai perbedaan yang sangat mencolok. Berbeda dengan sistem kewarisan adat Jawa yang tidak menganut asas kematian semata. Cara yang biasaditempuh ada tiga macam. Perbedaan ini akibat adanyaperbedaan salah satu asas kewarisannya. Dengan kata lain. Dalam Kompilasi Hukum Islam. ahli waris. danweling atauwekas (berpesan. Sehingga hal inimengakibatka n harta warisan bisa diwariskan ketika pewarismasih hidup. Selain asas individual.

Sistem kewarisan adat Jawa tidak relevan dengan hukum Islam di Indonesia (KHI). d. sehingga ahliwaris perempuan mendapatkan bagian yang samadengan ahli waris lakilaki. maka ahli waris lain akanterhalang. 1981: 2). sehinggaapabila ahli waris utama ada.c.Dalam adat Jawa terdapat ahli waris utama dan menggunakan sistem pembagian bertingkat. Sedangan dalam KHI tidak menganut adanyaahli waris utama. Bahkan bila mungkin diperkembangkan untuk kesejahteraan hidupnya. Hukum waris adat mempunyai corak tersendiri dari alam fikiran masyarakat tradisional dengan bentuk kekerabatan yang sistem keturunannya patrilineal. Pada umumnya para ahli waris adalah anak-anak termasuk anak dalam kandungan ibunya jika lahir dalam keadaan hidup. Sedangkan dalam KHI. sehingga laki-laki mendapatkan dua kalilipat dari pada perempuan. Tetapi tidak . Penerusan atau pengoperan harta kepada keturunannya di dalam pewarisan dimaksudkan agar supaya dapat digunakan sebagai dasar materiil bagi setiap anak atau keturunannya. 1982: 82). Cara pembagian dalam kewarisan adat Jawa dilakukandengan cara pembagian yang sama besar. 3. Karena antara keduanyamempunyai perbedaan dalam hal-hal yang sangatmendasar dan prinsipil. matrilineal dan parental atau bilateral (Hazairin. Semua ahli waris yang memang tidakberhalangan mewaris mendapat kesempatan yangsama sesuai dengan bagiannya.pembagiannya sesuai dengan bagian masing-masingahli waris yang telah ditentukan dengan formulasi duabanding satu. Hukum waris adat memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan barang-barang yang tidak berwujud benda (immateren goederen) dari satu angkatan manusia (generatie) kepada keturunannya (Soepomo.

karena pada hakikatnya anak kandung merupakan ahli waris yang utama dan pertama. ada golongan anak yang tidak termasuk ahli waris yaitu anak angkat menurut sistem hukum waris islam dan anak tiri dalam sistem hukum waris manapun. . Artinya anggota kerabat yang lain tidak akan menjadi ahli waris apabila si pewaris mempunyai anak kandung.semua anak adalah ahli waris. Dalam hukum waris adat anak-anak dari si pewaris merupakan golongan ahli waris yang terpenting.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful