P. 1
skripsi

skripsi

|Views: 628|Likes:
Published by firaokliiza

More info:

Published by: firaokliiza on Jul 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/18/2013

pdf

text

original

1

gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008

2

I. PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang Masalah Pembangunan di bidang kesehatan pada hakikatnya merupakan bagian integral dari pembangunan kesejahteraan bangsa secara berkesinambungan, terus menerus dilakukan bangsa Indonesia untuk menggapai cita-cita luhur, yakni terciptanya masyarakat yang adil dan makmur, baik spiritual maupun material. GBHN 1999

mengamanatkan perlunya meningkatkan mutu sumber daya manusia dan lingkungan yang saling mendukung melalui pendekatan paradigma sehat, dengan memberikan prioritas pada upaya

peningkatan kesehatan, pencegahan, penyembuhan , pemulihan, dan rehabilitasi (Aditama dan Hastuti, 2002). Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat, kesehatan yang prima, serta cerdas. Bukti empiris menunjukkan bahwa hal ini sangat ditentukan oleh status gizi yang baik. Status gizi yang baik ditentukan oleh jumlah asupan pangan yang dikonsumsi. Masalah gizi kurang dan buruk dipengaruhi langsung oleh faktor konsumsi pangan dan penyakit infeksi. Secara tidak langsung dipengaruhi oleh pola asuh, ketersediaan pangan, faktor sosial ekonomi, budaya dan politik.

3

Apabila gizi kurang dan gizi buruk terus terjadi dapat menjadi faktor penghambat dalam pembangunan nasional. Secara perlahan

kekurangan gizi akan berdampak pada tingginya angka kematian ibu, bayi, dan balita, serta rendahnya umur harapan hidup. Selain itu, dampak kekurangan gizi terlihat juga pada rendahnya partisipasi sekolah, rendahnya pendidikan, serta lambatnya pertumbuhan ekonomi (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2007 ). Kesepakatan global berupa Millenium Development Goals (MDGS) yang terdiri dari 8 tujuan, 18 target dan 48 indikator, menegaskan bahwa pada tahun 2015 setiap negara menurunkan

kemiskinan dan kelaparan separuh dari kondisi pada tahun 1990. Untuk Indonesia, indikator yang digunakan adalah peresentase anak berusia di bawah 5 tahun (balita) yang mengalami gizi buruk (severe underweight) dan persentase anak-anak berusia 5 tahun (balita) yang mengalami gizi kurang (moderate underweight) (Ariani, 2007). Kurang gizi atau gizi buruk dinyatakan sebagai penyebab tewasnya 3,5 juta anak di bawah usia lima tahun (balita) di dunia. Mayoritas kasus fatal gizi buruk berada di 20 negara, yang merupakan negara target bantuan untuk masalah pangan dan nutrisi. Negara tersebut meliputi wilayah Afrika, Asia Selatan, Myanmar, Korea Utara, dan Indonesia. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam

Sumatera Barat. kebanyakan kasus fatal tersebut secara tidak langsung menimpa keluarga miskin yang tidak mampu atau lambat untuk berobat.4 jurnal kesehatan Inggris The Lanchet ini mengungkapkan. serta menimpa anak pada usia dua tahun pertama.0%.4%. Keduanya menunjukkan bahwa baik target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi (20%).5%) telah tercapai pada 2007. Berbagai penelitian membuktikan lebih dari separuh kematian bayi dan balita disebabkan oleh keadaan gizi yang jelek. sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional. Prevalensi nasional Gizi Buruk pada Balita adalah 5. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Jambi. 2007). WHO memperkirakan bahwa 54% penyebab kematian bayi dan balita didasari oleh keadaan gizi anak yang jelek (Irwandy. Sumatera Utara. dan Gizi Kurang pada Balita adalah 13. Nusa . Namun demikian. Angka kematian balita karena gizi buruk ini terhitung lebih dari sepertiga kasus kematian anak di seluruh dunia (Malik. Resiko meninggal dari anak yang bergizi buruk 13 kali lebih besar dibandingkan anak yang normal. Riau. 2008). kekurangan vitamin A dan zinc selama ibu mengandung balita. maupun target Millenium Development Goals pada 2015 (18.

.5 Tenggara Kalimantan Barat. Di provinsi Sulawesi Tenggara jumlah kasus gizi buruk pada balita mengalami kenaikan dari tahun 2006 ke tahun 2007. Maluku Utara. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan provinsi Sulawesi Tenggara. dan pada tahun 2007 jumlah kasus gizi buruk pada balita meningkat menjadi 1. Sulawesi Barat. Maluku. Selatan. Papua Barat dan Papua (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. Gorontalo. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan kota Kendari bagian UKM dan Gizi. jumlah kasus gizi buruk pada balita di Sulawesi Tenggara pada tahun 2006 yaitu terdapat 803 balita yang mengalami gizi buruk. Timur. 2008). serta terjadi penurunan pada tahun 2008 yaitu 108 balita yang mengalami gizi buruk. Kalimantan Kalimantan Barat. Sulawesi Tenggara. jumlah kasus gizi buruk pada balita di kota Kendari pada tahun 2006 yaitu 107 kasus balita yang mengalami gizi buruk dan mengalami peningkatan menjadi 139 balita yang mengalami gizi buruk pada tahun 2007. Kalimantan Sulawesi Tengah. Tengah.113 balita yang mengalami gizi buruk Pada daerah Kota Kendari dalam tiga tahun terakhir jumlah kasus gizi buruk pada balita mengalami perubahan yang berfluktuasi. Nusa Tenggara Timur.

ketersediaan bahan pangan pada tingkat rumah tangga rendah. politik dan sosial menimbulkan dampak negatif seperti kemiskinan. kesempatan kerja kurang. pendidikan dan pengetahuan rendah. jumlah kasus gizi buruk pada balita yaitu 8 balita yang mengalami gizi buruk. pola . Sedangkan. pola makan. Selain itu. pada wilayah kerja Puskesmas lainnya seperti di wilayah kerja Puskesmas Perumnas jumlah kasus gizi buruk pada balita yaitu 19 balita yang mengalami gizi buruk dan pada wilayah kerja Puskesmas Benu- benua terdapat 16 balita yang mengalami gizi buruk. kemudian meningkat pada tahun 2007 menjadi 22 balita yang mengalami gizi buruk dan terus meningkat pada tahun 2008 menjadi 23 balita yang mengalami gizi buruk.6 Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan kota Kendari bagian UKM dan Gizi untuk tahun 2008 jumlah kasus gizi buruk pada balita yang tertinggi berada pada wilayah kerja Puskesmas Mata yaitu 23 balita yang mengalami gizi buruk. pada wilayah kerja Puskesmas Mata berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan kota Kendari untuk tiga tahun terakhir jumlah kasus gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata terus mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2006. Penyebab gizi buruk dan gizi kurang di Indonesia sesuai hasil penelitian bermula dari krisis ekonomi.

Berdasarkan uraian dan permasalahan yang ada dengan melihat faktor-faktor penyebab terjadinya kejadian gizi buruk dan masih adanya kasus gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata. pendapatan keluarga yang rendah.258 penduduk miskin dari 22. Hal ini mengindikasikan bahwa adanya pengaruh tingkat pendapatan.310 penduduk yang ada pada wilayah kerja Puskesmas Mata. penduduk yang tergolong penduduk miskin melebihi setengah dari keseluruhan jumlah penduduk pada wilayah kerja Puskesmas Mata yaitu berjumlah 14. pada wilayah kerja Puskesmas Mata yang terdiri dari 9 Kelurahan yang ada pada Kecamatan Kendari. maka menarik untuk dilakukan suatu penelitian analisis faktor risiko . dkk (2004)). pada wilayah kerja ini terdapat penyakit ISPA dan diare pada balita yang juga merupakan salah satu masalah penyakit infeksi yang terjadi pada wilayah kerja Puskesmas Mata. yang tentunya akan berpengaruh pada pola makan balita dan pengetahuan ibu tentang gizi yang merupakan faktor-faktor penyebab terjadinya kasus gizi buruk pada balita. 1999 dalam Khomsan. Selain itu. Berdasarkan data yang diperoleh dari profil Puskesmas Mata tahun 2007.7 asuh anak yang tidak memadai. sanitasi dan air bersih serta pelayanan kesehatan dasar yang tidak memadai (Unicef.

2. dan penyakit infeksi. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut. maka yang menjadi masalah adalah seberapa besarkah faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008 ditinjau dari pola makan. Untuk mengetahui faktor risiko pola makan terhadap kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari tahun 2008. tingkat pendapatan. tingkat pendapatan. Tujuan Khusus a. tingkat pengetahuan gizi ibu. 1. B. tingkat pengetahuan gizi ibu. Tujuan Penelitian Tujuan Umum Untuk mengetahui faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari tahun 2008 ditinjau dari pola makan. C. . dan penyakit infeksi.8 kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008.

Hasil penelitian ini bermanfaat dalam menentukan kebijakan penanggulangan gizi buruk pada balita di Dinas Kesehatan Kota Kendari.9 b. 2. c. D. Sebagai salah satu referensi untuk studi lebih lanjut bagi para peneliti lain yang tertarik pada masalah gizi buruk pada balita di masa yang akan datang. Untuk mengetahui faktor risiko tingkat pendapatan terhadap kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari tahun 2008. Untuk mengetahui faktor risiko tingkat pengetahuan gizi ibu terhadap kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari tahun 2008. . d. 3. Untuk mengetahui faktor risiko penyakit infeksi terhadap kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari tahun 2008. Manfaat Penelitian 1. Penelitian ini bermanfaat sebagai data dan informasi tentang faktor-faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari .

II. Status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat . kurang. kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik. Status gizi kurang terjagi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial.10 4. Pengertian status gizi Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang . Dibedakan antara status gizi buruk. TINJAUAN PUSTAKA A. Bagi peneliti merupakan pengalaman yang berharga dalam rangka memperluas wawasan serta pengetahuan melalui penelitian yang dilakukan di lapangan. Tinjauan Umum Tentang Status Gizi 1. dan lebih. baik. Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien. perkembangan otak.

dkk.. biokimia dan biofisik. sehingga menimbulkan efek toksis atau membahayakan. Adapun penilaian secara langsung dibagi menjadi empat penilaian yaitu antropometri. klinis. a. Ditinjau dari sudut pandang gizi. 1) Penilaian secara langsung Antropometri Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Penilaian status gizi Penilaian status gizi terbagi atas penilaian secara langsung dan penilaian secara tidak langsung. . maupun status gizi lebih (Almatsier. 2001). 2. maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Supariasa. statistik vital dan faktor ekologi. Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Gangguan gizi terjadi baik pada status gizi kurang. Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Sedangkan penilaian status gizi secara tidak langsung terbagi atas tiga yaitu survei konsumsi makanan. 2004).11 gizi dalam jumlah berlebihan.

Rekomendasi dalam menilai status gizi anak di bawah lima tahun yang dianjurkan untuk digunakan di Indonesia adalah baku World Health Organization-National Centre for Health Statistic (WHO-NCHS).12 Kombinasi antara beberapa parameter disebut indeks antropometri. Tabel 1. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan yaitu berat badan menurut umur (BB/U). Klasifikasi Status Gizi Anak (Balita) INDEKS Berat badan menurut umur (BB/U) STATUS GIZI Gizi lebih Gizi baik Gizi kurang Gizi buruk AMBANG BATAS >+ 2 Standar Deviasi (SD) ≥ . tinggi badan menurut umur (TB/U). dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).2 SD Sampai + 2 SD < -2 SD Sampai ≥ -3 SD < -3 SD .

. kurang nafsu makan dan menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. misalnya terserang infeksi. Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan keadaan yang mendadak. dimana keadaan kesehatan dan keseimbangan antara intake dan kebutuhan gizi terjamin. Berat badan memberikan gambaran tentang massa tubuh (otot dan lemak). menyebabkan indeks ini lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini (Current Nutritional Status) (Supariasa. . 920/Menkes/SK/VII/2002 a) Indeks berat badan menurut umur (BB/U) Merupakan pengukuran antropometri yang sering digunakan sebagai indikator dalam keadaan normal. 2001). dkk. Berat badan yang bersifat labil. BB/U lebih menggambarkan status gizi sekarang.2 SD < -2 SD Sampai ≥ -3 SD < -3 SD Kurus sekali Sumber : Keputusan Menkes RI No.13 Tinggi badan menurut umur (TB/U) Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) Normal Pendek (Stunted) Gemuk Normal Kurus (Wasted) ≥ -2 SD < -2 SD > + 2 SD ≥ + 2 SD Sampai .

dengan perkembangan badan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu (Supariasa. dkk. Berbagai indeks menginterpretasinya antropometri. dibutuhkan ambang untuk batas.. juga lebih erat kaitannya dengan status ekonomi (Beaton dan Bengoa (1973) dalam Supariasa. Rumus perhitungan Z-Skor adalah : Z-Skor = Rujukan Nilai Simpang Baku Rujukan 2) Klinis Nilai individu subyek-Nilai median Baku . berat Dalam akan keadaan searah normal. Penentuan ambang batas yang paling umum digunakan saat ini adalah dengan memakai standar deviasi unit (SD) atau disebut juga Z-Skor. 2001). (2001)).14 b) Indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) Indeks TB/U disamping memberikan status gizi masa lampau. c) Indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. dkk.

2001).2001).. mata. gigi.bibir. Bagian tubuh yang harus lebih diperhatikan dalam pemeriksaan klinis adalah kulit. mata (Arisman dalam Yuliaty. lidah.. 3) Biokimia Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. 4) Biofisik . dkk.15 Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. rambut dan mukosa oral atau pada organorgan yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid (Supariasa. tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot (Supariasa. 2008). Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah. termasuk riwayat kesehatan. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi . Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (supervicial epithelial tissues) seperti kulit. dkk. gusi. urine. Pemeriksaan klinis meliputi pemeriksaan fisik secara menyeluruh.

Metode survei konsumsi makanan untu individu antara lain : a) b) c) d) Metode recall 24 jam Metode esthimated food record Metode penimbangan makanan (food weighting) Metode dietary history e) Metode frekuensi makanan (food frequency).. 2) Statistik vital Pengukuran gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka . b. Penilaian secara tidak langsung 1) Survei konsumsi makanan Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. dkk. 2001).16 Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan (Supariasa.

. B. frekuensi. dan jenis bahan makanan yang dikonsumsi setiap hari dimana merupakan bagian dari gaya hidup atau ciri khusus suatu kelompok (Astawan. dkk. irigasi dan lainlain (Supariasa. biologis dan lingkungan budaya. 2001).. 1998). Tinjauan Tentang Pola Makan Pola makan adalah gambaran pola menu. 1.. tanah.17 kematian berdasarkan umur. Tinjauan Tentang Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Gizi Buruk Berdasarkan hasil studi kepustakaan yang telah ditemukan sebelumnya yaitu beberapa variabel bebas (independen) yang merupakan faktor. 3) Faktor ekologi Malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik. angka kesakitan dan kematian sebagai akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi (Supariasa. 2001). dkk. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim.faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi buruk pada balita.

Daerah-daerah dengan produk utama jagung seperti pulau Madura dan Jawa Timur bagian selatan. Pola makan suatu daerah dapat berubah-ubah. Pengertian pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan tiap hari oleh satu orang dan merupakan . Daerah-daerah pertanian padi . masyarakatnya berpola pangan pokok jagung. Pola makan merupakan ciri khas untuk status kelompok masyarakat tertentu. Gunung Kidul dan beberapa daerah lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur masyarakatnya berpola pangan pokok ubi kayu karena produksi tanaman pangan utama adalah ubi kayu (Khumaidi. sosial dan budaya diukur dengan frekuensi. jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi setiap hari (Suhardjo. masyarakat berpola makan pokok beras. Pola makan masyarakat pedesaan di Indonesia pada umumnya diwarnai oleh jenis-jenis bahan makanan yang umum dan diproduksi setempat.18 Pola makan adalah cara individu atau kelompok individu memilih bahan makanan dan mengkonsumsinya sebagai tanggapan dari pengaruh fisiologi. Misalnya pada masyarakat nelayan di daerahdaerah pantai ikan merupakan makanan sehari-hari yang dipilih karena dapat dihasilkan sendiri. 2003). 1994).

taraf ekonomi. Pola makan di suatu daerah dapat berubah-ubah sesuai dengan perubahan beberapa faktor ataupun kondisi setempat. dan persediaan suatu daerah. Termasuk di sini faktor geografi. kekuasaan. adalah faktor-faktor dan adat kebiasaan yang berhubungan dengan konsumen. sumber daya perairan. hal yang dapat berpengaruh di sini adalah bantuan atau subsidi terhadap bahan-bahan tertentu. transportasi. Sejak zaman dahulu kala. juga mendapat tempat sebagai lambang yaitu lambang kemakmuran. yang dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu pertama adalah faktor yang berhubungan dengan persediaan atau pengadaan bahan pangan. Taraf sosio-ekonomi dan adat kebiasaan setempat memegang peranan penting dalam pola konsumsi penduduk. agama. iklim. dan sebagainya. distribusi. Ketiga. kemajuan teknologi. Pola makan ini dipengaruhi oleh beberapa hal. ketentraman dan persahabatan. lingkungan alam. Semua faktor di atas bercampur membentuk suatu ramuan yang kompak yang dapat disebut pola konsumsi (Santoso dan Ranti. kesuburan tanah berkaitan dengan produksi bahan makanan. antara lain adalah : kebiasaan kesenangan. Selain . 2004). memenuhi rasa lapar. budaya.19 ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu. makanan selain untuk kekuatan/pertumbuhan. Kedua. dan selera.

sumber-sumber pengetahuan masyarakat dalam memilih dan mengolah pangan mereka sehari-hari. Ketiga. Arab. proses sosialisasi dan interaksi anggota keluarga dengan media massa. Termasuk dalam sumber pengetahuan dalam memilih dan mengolah pangan adalah : sistem sosial keluarga secara turun temurun. jika keluarga yang memperoleh pangan atau nafkah berupa uang kontan melalui usaha tani majikan (Santoso dan Ranti. Kedua. Cina. dan Eropa (Santoso dan Ranti. 2004). aspek aset dan akses masyarakat terhadap pangan mereka sehari-hari. pengaruh tokoh panutan atau yang berpengaruh. mengkonsumsi. pola makan setempat juga dapat diperkaya dengan pengaruh budaya asing yang datang dari India. dan menggunakan makanan- . Kebiasaan makan adalah cara-cara individu dan kelompok individu memilih. Pengaruh tokoh panutan terutama berkenaan dengan hubungan bapak anak. Pertama. 2004).20 itu. Unsur aset dan akses terhadap pangan adalah berkenaan dengan pemilikan dan peluang upaya yang dapat dimanfaatkan oleh keluarga guna melakukan budidaya tanaman pangan dan atau sumber nafkah yang menghasilkan bahan pangan atau natura (uang). Pemilihan bahan makanan ternyata dipengaruhi oleh unsurunsur tertentu.

kondisi tanah. keluarga dan masyarakat dipengaruhi oleh : a) Faktor perilaku termasuk di sini adalah cara berpikir. iklim. system usaha tani. dinyatakan dalam bentuk tindakan makan dan memilih makanan. Kejadian ini berulang kali dilakukan sehingga menjadi kebiasaan makan. sistem pasar. perundang-undangan. prasarana dan sarana kehidupan (jalan raya dan lain-lain). dan sifat-sifatnya. yang didasarkan kepada faktor-faktor sosial dan budaya di mana ia/mereka hidup. lingkungan biologi. Kebiasaan makan individu. . ketersediaan uang kontan.21 makanan yang tersedia. dipengaruhi oleh kondisi- kondisi yang bersifat hasil karya manusia seperti sistem pertanian (perladangan). b) Faktor lingkungan sosial. Kemudian berperasaan. d) Lingkungan ekologi. segi kependudukan dengan susunan. berpandangan tentang makanan. dan pelayanan pemerintah. c) Faktor lingkungan ekonomi. daya beli. dan sebagainya. tingkat. dan sebagainya. e) Faktor ketersediaan bahan makanan.

menarik. di lingkungan anak hidup terutama keluarga perlu pembiasaan makan anak yang memperhatikan kesehatan dan gizi (Santoso dan Ranti. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. seperti bioteknologi yang menghasilkan jenis-jenis bahan makanan yang lebih praktis dan lebih bergizi. Oleh karena itu. yakni : a. 2003). 2004). 2. dan daya terima anak akan suatu makanan.22 f) Faktor perkembangan teknologi. Tahu (Know) Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat. dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo. . selera. akan sangat mempengaruhi kebiasaan makan. Pola makan masyarakat atau kelompok di mana anak berada. Tinjauan Tentang Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Pengetahuan adalah merupakan hasil ”tahu”. awet dan lainnya.

dan masih ada kaitannya satu sama lain. Penilaian-penilaian . Analisis (Analysis) Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. Memahami (Comprehension) Diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui. dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar. Evaluasi (Evaluation) Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Sintesis (Synthesis) Menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. d. c. tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut. e.23 b. e. Aplikasi (Aplication) Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).

24 itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut di atas (Notoatmodjo. pemeliharaan dan energi. c) Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi perbaikan gizi. Suatu hal yang meyakinkan tentang pentingnya pengetahuan gizi didasarkan pada tiga kenyataan : a) Status gizi yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. b) Setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal. 2003). Kurangnya pengetahuan dan salah konsepsi tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan adalah umum dijumpai setiap . atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

Kemiskinan dan kekurangan persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi. hasil menjual barang. yang selanjutnya mempengaruhi kuantitas dan kualitas konsumsi pangan. Rendahnya kualitas dan kuantitas konsumsi pangan. Rendahnya tingkat pendapatan keluarga. Lain sebab yang penting dari gangguan gizi adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi atau kemampuan untuk menerapkan informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. 3. yang pada gilirannya akan berimplikasi terhadap rendahnya tingkat pengetahuan dan perilaku (khususnya pengetahuan dan perilaku . merupakan penyebab langsung dari kekurangan gizi pada anak balita (Suhardjo.25 negara di dunia. 2003). termasuk semua jenis pemasukan yang diterima oleh keluarga dalam bentuk uang. akan sangat berdampak rendahnya daya beli keluarga tersebut. rendahnya tingkat pendapatan keluarga . sangat berdampak terhadap rendahnya rata-rata tingkat pendidikan. Pada masyarakat nelayan. Tinjauan Tentang Tingkat Pendapatan Tingkat pendapatan adalah total jumlah pendapatan dari semua anggota keluarga . pinjaman dan lain-lain (Thaha. 1996 dalam Rasifa 2006). Rendahnya pengetahuan gizi dapat mempengaruhi ketersediaan pangan dalam keluarga.

Kebanyakan keluarga telah merasa lega kalau mereka telah dapat mengkonsumsi makanan pokok (nasi. mempengaruhi selanjutnya pangan.26 gizi). 2003). selain memanfaatkan penghasilannya itu untuk keperluan makan keluarga. Kehidupan di kota-kota pada dewasa ini. juga harus membagi-baginya untuk berbagai keperluan . keadaan yang umum ini dikarenakan rendahnya pendapatan yang mereka peroleh dan banyaknya anggota keluarga yang harus diberi makan dengan jumlah pendapatan yang rendah. ketersediaan mempengaruhi pangan keluarga kualitas yang kuantitas konsumsi Rendahnya kualitas dan kuantitas konsumsi pangan. jagung) dua kali dalam sehari dengan lauk pauknya kerupuk dan ikan asin. bahkan tidak jarang mereka juga telah merasa lega kalau mereka telah dapat mengkonsumsi nasi atau jagung cukup dengan sambal dan garam. Rendahnya pengetahuan dalam dan gizi dapat . Penduduk kota dan penduduk pedesaan yang kebanyakan berpenghasilan rendah. terutama dalam pemberian atau penyajian makanan keluarga pada kebanyakan penduduk dapat dikatakan masih kurang mencukupi yang dibutuhkan oleh tubuh masing-masing. merupakan penyebab langsung dari kekurangan gizi pada anak balita (Suhardjo. Menurut penelitian.

2008).per bulan (Dinas Sosial. 2002).27 lainnya (pendidikan. Berkaitan dengan besarnya pendapatan keluarga. sehingga tidak jarang persentase penghasilan untuk keperluan untuk keperluan penyediaan makanan hanya kecil saja. 4. transportasi. Selain itu. Tingkat pendapatan keluarga akan mempengaruhi mutu fasilitas perumahan. penghasilan keluarga akan menentukan daya beli keluarga termasuk makanan. pemerintah Kota Kendari berdasarkan Peraturan Gubernur No. penyediaan air bersih dan sanitasi yang pada dasarnya sangat berperan terhadap timbulnya penyakit infeksi. Mereka pada umumnya hidup dengan makanan yang kurang bergizi (Kartasapoetra. 810. tanggal 5 Desember Tahun 2008 menetapkan Upah Minimum Kota (UMK) Kendari tahun 2009 sebesar Rp. Tinjauan Tentang Penyakit Infeksi . 2009).. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Kendari. 35 Tahun 2008.000. dan lain-lain). sehingga mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan yang tersedia dalam rumah tangga dan pada akhirnya mempengaruhi asupan zat gizi (Suhardjo dalam Yuliati.

yaitu : a. dan juga infeksi akan mempengaruhi status gizi dan mempercepat malnutrisi. Mereka menekankan interaksi yang sinergis antara malnutrisi dengan penyakit infeksi. 1997). virus dan parasit) dengan malnutrisi. baik secara sendiri-sendiri maupun bersamaan. Penurunan asupan zat gizi akibat kurangnya nafsu makan. Sebaliknya malnutrisi walaupun ringan berpengaruh negatif terhadap daya tahan tubuh terhadap infeksi (Pudjiadi. atau pada barang. Adanya kehidupan agent menular pada permukaan luar tubuh. . bertumbuh dan berkembangnya agent penyakit menular dalam tubuh manusia atau hewan. Mekanisme patologisnya dapat bermacam-macam. Infeksi tidaklah sama dengan penyakit menular karena akibatnya mungkin tidak kelihatan atau nyata. Ada hubungan yang sangat erat antara infeksi (bakteri. tetapi merupakan kontaminasi pada permukaan tubuh atau benda (Noor. menurunnya absorpsi.28 Infeksi adalah masuknya. pakaian atau barangbarang lainnya. Infeksi berat dapat memperjelek keadaan gizi melalui gangguan masukan makanannya dan meningkatnya kehilangan zat-zat gizi esensial tubuh. bukanlah infeksi. dan kebiasaan mengurangi makan pada saat sakit. 2003).

yang disertai dengan kekurangan zat gizi. dapat respon metabolik bagi penderitanya. pada infeksi akan memberikan efek berupa gangguan pada tubuh. yang dapat menyebabkan kekurangan gizi. Penelitian yang dilakukan. Pada umumnya baik infeksi umum maupun infeksi lokal. hingga suatu penyakit infeksi yang baru akan menyebabkan kekurangan gizi yang lebih berat. malnutrisi (gizi lebih dan gizi kurang). Di lain pihak. dapat menyebabkan gangguan pada pertahanan tubuh.29 b. 2001). . adanya penyakit infeksi. Peningkatan kehilangan cairan/zat gizi akibat diare. mual/muntah dan pendarahan yang terus menerus. Ada tendensi di mana. menyebabkan tingginya angka kematian di negara tersebut (Supariasa. Meningkatnya kebutuhan. Penyakit infeksi dapat menyebabkan kurang gizi sebaliknya kurang gizi juga menyebabkan penyakit infeksi. baik dari peningkatan kebutuhan akibat sakit (human host) dan parasit yang terdapat dalam tubuh. yang terjadi secara bersamaan di mana akan bekerjasama (secara sinergis). Ini dikenal dengan siklus sinergis (vicious cycle) yang banyak dan sering terjadi di negara-negara berkembang. ditemui bahwa kurang gizi. c.

Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein. karbohidrat . C. Status gizi buruk dibagi menjadi tiga bagian.30 Terjadinya hubungan timbal balik antara kejadian infeksi penyakit dan gizi kurang maupun gizi buruk. yakni gizi buruk karena kekurangan protein (disebut kwashiorkor). atau nutrisinya di bawah standar rata-rata. Pengertian gizi buruk Gizi buruk merupakan status kondisi seseorang yang kekurangan nutrisi. Di sisi lain anak yang menderita sakit infeksi akan cenderung menderita gizi buruk (Depkes dalam Yuliaty 2008). sehingga rentan terhadap penyakit infeksi. Gizi buruk ini biasanya terjadi pada anak balita (bawah lima tahun) dan ditampakkan oleh membusungnya perut (busung lapar).Anak yang menderita gizi kurang dan gizi buruk akan mengalami penurunan daya tahan. Tinjauan Umum Tentang Gizi Buruk 1. atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. karena kekurangan karbohidrat atau kalori (disebut marasmus). dan kekurangan kedua-duanya. Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi.

Secara garis besar penyebab anak kekurangan gizi disebabkan karena asupan makanan yang kurang atau anak sering sakit/terkena infeksi.31 dan kalori. Faktor-faktor penyebab gizi buruk Gizi buruk disebabkan oleh beberapa faktor. . yaitu kemiskinan. Gizi buruk dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait. yakni adanya penyakit kronis terutama gangguan pada metabolisme atau penyerapan makanan. Selain itu. ada tiga hal yang saling kait mengkait dalam hal gizi buruk. 2005). Ketiga hal itu mengakibatkan kurangnya ketersediaan pangan di rumah tangga dan pola asuh anak keliru. kesehatan dan kedokteran. Hal ini mengakibatkan kurangnya asupan gizi dan balita sering terkena infeksi penyakit (Mardiansyah. 2008). Gizi buruk (severe malnutrition) adalah suatu istilah teknis yang umumnya dipakai oleh kalangan gizi. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kurangnya potensi alam atau kesalahan distribusi. 2. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun (Nency. Faktor kedua. adalah dari segi kesehatan sendiri. pendidikan rendah dan kesempatan kerja rendah. Pertama adalah faktor pengadaan makanan yang kurang mencukupi suatu wilayah tertentu.

2) Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang. perang. Asupan yang kurang disebabkan oleh banyak faktor antara lain : 1) Tidak tersedianya makanan secara adekuat. Makin kecil pendapatan penduduk. Data Indonesia dan negara lain menunjukkan bahwa adanya hubungan timbal balik antara kurang gizi dan kemiskinan. Kadang kadang bencana alam. Kemiskinan sangat identik dengan tidak tersedianya makan yang adekuat. Makanan alamiah terbaik bagi bayi yaitu Air Susu Ibu. makin tinggi persentasi anak yang kekurangan gizi. Tidak tersedianya makanan yang adekuat terkait langsung dengan kondisi sosial ekonomi. baik jumlah dan kualitasnya akan berkonsekuensi terhadap status gizi bayi. maupun kebijaksanaan politik maupun ekonomi yang memberatkan rakyat akan menyebabkan hal ini. dan sesudah usia 6 bulan anak tidak mendapat Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat. Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk. Proporsi anak malnutrisi berbanding terbalik dengan pendapatan.32 a. MP-ASI yang baik tidak hanya cukup mengandung energi .

tetapi juga mengandung zat besi. vitamin A. MP-ASI yang tepat dan baik dapat disiapkan sendiri di rumah. vitamin B serta vitamin dan mineral lainnya. Kebiasaan. Anak yang diasuh ibunya sendiri dengan kasih sayang.33 dan protein. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak. meskipun sama-sama miskin. Pola pengasuhan anak berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. manfaat posyandu dan kebersihan. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan. asam folat. mitos ataupun kepercayaan / adat istiadat masyarakat tertentu yang tidak benar dalam pemberian . mengerti soal pentingnya ASI. kemungkinan juga dapat menyebabkan anak menderita gizi buruk. ternyata anaknya lebih sehat. Banyaknya perempuan yang meninggalkan desa untuk mencari kerja di kota bahkan menjadi TKI. apalagi ibunya berpendidikan. 3) Pola makan yang salah. Sebaliknya sebagian anak yang gizi buruk ternyata diasuh oleh nenek atau pengasuh yang juga miskin dan tidak berpendidikan.

34 makan akan sangat merugikan anak . b. apalagi di negara negara terbelakang dan yang sedang berkembang seperti Indonesia. hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk mendapat asupan lemak. protein maupun kalori yang cukup. khususnya infeksi kronik seperti misalnya tuberculosis (TBC) masih sangat tinggi. dimana kesadaran akan kebersihan / personal hygine yang masih kurang. Patofisiologi gizi buruk . telur. serta ancaman endemisitas penyakit tertentu. Sering sakit (frequent infection) Menjadi penyebab terpenting kedua kekurangan gizi. berpantang pada makanan tertentu (misalnya tidak memberikan anak anak daging. 3. Misalnya kebiasaan memberi minum bayi hanya dengan air putih. santan dll). memberikan makanan padat terlalu dini. Kaitan infeksi dan kurang gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar diputuskan. Kondisi infeksi kronik akan meyebabkan kurang gizi dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan akan memberikan dampak buruk pada sistem pertahanan tubuh. karena keduanya saling terkait dan saling memperberat.

Jika terjadi kekurangan protein. vitamin C dan vitamin E. pengaturan makanan dan lingkungan. Jadi. maka sel tersebut akan terurai.35 Patofisiologi gizi buruk pada balita yaitu anak sulit makan atau anorexia bisa terjadi karena penyakit akibat defisiensi gizi. Sel batang lebih hanya bida membedakan cahaya terang dan gelap. Inilah yang disebut adaptasi rodopsin. Cu dan Mg seperti gangguan neurotransmitter. Rabun senja terjadi karena defisiensi vitamin A dan protein. Tugor atau elastisitas kulit jelek karena sel kekurangan air (dehidrasi). vitamin A. psikologik sperti suasana makan. Adaptasi ini butuh waktu. rabun senja terjadi karena kegagalan atau kemunduran adaptasi rodopsin. Pada retina ada sel batang dan sel kerucut. Karena keempat elemen ini meurpakan nutrisi yang penting bagi rambut. Sel batang atau rodopsin ini terbentuk dari vitamin A dan suatu protein. Pasien juga mengalami rabun senja. maka terjadi penurunan pembentukan . Sedangkan. Jika cahaya terang mengenai sel rodopsin. Rambut mudah rontok dikarenakan kekurangan protein. Sel tersebut akan mengumpul lagi pada cahaya yang gelap. hepatomegali terjadi karena kekurangan protein. Reflek patella negatif terjadi karena kekurangan aktin myosin pada tendo patella dan degenerasi saraf motorik akibat dari kekurangn protein.

Jika hal ini terjadi. selain defisiensi protein juga defisiensi multinutrien. 4.36 lipoprotein. Edema biasanya terjadi pada ekstremitas bawah karena pengaruh gaya gravitasi. Plasma masuk ke intertisial. Yang khas pada penderita kwashiorkor adalah pitting edema. pada akhirnya penumpukan lemak di hepar. 2008). Karena penurunan VLDL dan LDL. sulit kembali seperti semula. Pitting edema adalah edema yang jika ditekan. maka terjadi ekstravasasi plasma ke intertisial. tekanan hidrostatik dan onkotik (Sadewa. Hal ini membuat penurunan VLDL dan LDL. Untuk kembalinya membutuhkan waktu yang lama karena posisi sel yang rapat. maka plasma pada intertisial lari ke daerah sekitarnya karena tidak terfiksasi oleh membran sel. maka lemak yang ada di hepar sulit ditransport ke jaringan-jaringan. Pada penderita kwashiorkor. karena pada penderita kwashiorkor tidak ada kompensansi dari ginjal untuk reabsorpsi natrium. sehingga tekanan onkotik intravaskular menurun. Padahal natrium berfungsi menjaga keseimbangan cairan tubuh. Ketika ditekan. Gejala klinis gizi buruk . Pitting edema disebabkan oleh kurangnya protein. tidak ke intrasel.

kemerahan seperti warna rambut jagung. i) Sering disertai : penyakit infeksi. diare. kwashiorkor. h) Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas. lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk. atau marasmic-kwashiorkor. anemia. apatis. Kwashiorkor a) Edema. Tanpa mengukur atau melihat berat badan bila disertai edema yang bukan karena penyakit lain adalah KEP berat / gizi buruk tipe kwashiorkor. Marasmus a) Tampak sangat kurus. umumnya seluruh tubuh. mudah dicabut tanpa rasa sakit atau rontok e) Perubahan status mental. b. terutama pada punggung kaki.37 Gejala klinis gizi buruk secara garis besar dapat dibedakan sebagai marasmus. a. b) Wajah membulat c) Pandangan mata sayu d) Rambut tipis. dan rewel f) Pembesaran hati g) Otot mengecil ( hipotrofi ). tinggal tulang terbungkus kulit b) Wajah seperti orangtua .

Dampak gizi buruk Gizi Buruk bukan hanya menjadi stigma yang ditakuti. di samping berbagai konsekuensi yang diterima anak itu sendiri. Gizi buruk akan memporak porandakan .NCHS disertai edema yang tidak mencolok. hal ini tentu saja terkait dengan dampak terhadap sosial ekonomi keluarga maupun negara. Kondisi gizi buruk akan mempengaruhi banyak organ dan sistem. rewel d) Kulit keriput. dengan BB/U <60% baku median WHO. jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada. Marasmik-Kwashiorkor Gambaran klinis merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwashiorkor dan marasmus. e) Sering disertai : penyakit infeksi ( umumnya kronis berulang ) f) Diare kronis atau konstipasi / susah buang air c. karena kondisi gizi buruk ini juga sering disertai dengan defisiensi (kekurangan) asupan mikro/makro nutrien lain yang sangat diperlukan bagi tubuh. 5.38 c) Cengeng.

. lamanya dan waktu pertumbuhan otak itu sendiri. ancaman yang timbul antara lain hipotermi (mudah kedinginan) karena jaringan lemaknya tipis. Dampak terhadap pertumbuhan otak ini menjadi vital karena otak adalah salah satu aset yang vital bagi anak. akibat kondisi ”stunting” (postur tubuh kecil pendek) yang diakibatkannya. Secara garis besar. Akibat gizi buruk terhadap pertumbuhan sangat merugikan performance anak. dalam kondisi akut. gizi buruk bisa mengancam jiwa karena berberbagai disfungsi yang di alami. Jika fase akut tertangani dan namun tidak di follow up dengan baik akibatnya anak tidak dapat ”catch up” dan mengejar ketinggalannya maka dalam jangka panjang kondisi ini berdampak buruk terhadap pertumbuhan maupun perkembangannya. hipoglikemia (kadar gula dalam darah yang dibawah kadar normal) dan kekurangan elektrolit dan cairan tubuh. perkembangan anak pun terganggu.39 sistem pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme maupun pertahanan mekanik sehingga mudah sekali terkena infeksi. Efek malnutrisi terhadap perkembangan mental dan otak tergantung dangan derajat beratnya. Yang lebih memprihatinkan lagi.

Pencegahan Menimbang begitu pentingnya menjaga kondisi gizi balita untuk pertumbuhan dan kecerdasannya. Setelah itu. Sedangkan dampak jangka panjang adalah penurunan skor tes IQ. dampak jangka pendek gizi buruk terhadap perkembangan anak adalah anak menjadi apatis. lemak. 2005). anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur. 6. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari . gangguan penurunan rasa percaya diri dan tentu saja merosotnya prestasi anak (Nency. lalu disapih setelah berumur 2 tahun. 2) Anak diberikan makanan yang bervariasi. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak: 1) Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. penurunan integrasi sensori.40 Beberapa penelitian menjelaskan. mengalami gangguan bicara dan gangguan perkembangan yang lain. penurunan perkembangn kognitif. maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang dapat mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. gangguan pemusatan perhatian. seimbang antara kandungan protein. vitamin dan mineralnya.

sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat. Pada kondisi yang sudah berat. Namun.41 total kalori yang dibutuhkan. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. 5) Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi. biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari. bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit. maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat. terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. 4) Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk. segera konsultasikan hal itu ke dokter. lemak. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. dan gula. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. . Jika tidak sesuai. 3) Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu.

42

7. Tindakan pemerintah untuk menanggulangi gizi buruk Menurut Menteri Kesehatan RI, tanggung jawab pemerintah Pusat dalam hal ini Depkes adalah merencanakan dan

menyediakan anggaran bagi keluarga miskin melalui Jaminan Kesehatan Masyarakat, membuat standar pelayanan, buku

pedoman serta melakukan pembinaan dan supervisi program ke provinsi, kabupaten dan kota. Dalam kaitannya dengan gizi buruk, Depkes pada tahun 2005 telah mencanangkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk 2005–2009. Menkes menambahkan, pemerintah berusaha

meningkatkan aktivitas pelayanan kesehatan dan gizi yang bermutu melalui penambahan anggaran penanggulangan gizi kurang dan gizi buruk menjadi Rp. 600 milyar pada tahun 2007 dari yang sebelumnya 63 milyar pada tahun 2001. Anggaran tersebut ditujukan untuk:
a)

Meningkatkan cakupan deteksi dini gizi buruk melalui

penimbangan bulanan balita di posyandu. b) Meningkatkan cakupan dan kualitas tatalaksana kasus gizi buruk di Puskesmas/RS dan rumah tangga.

43

c) Menyediakan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) kepada balita kurang gizi dari keluarga miskin. d) Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu dalam memberikan asuhan gizi kepada anak (ASI/MP-ASI). e) Memberikan suplementasi gizi (kapsul Vitamin A) kepada semua balita. Adapun strategi dan kegiatan Depkes dan organ-organnya, untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut antara lain: Strategi: a. Revitalisasi pertumbuhan b. Melibatkan peran aktif tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuka adat dan kelompok potensial lainnya. c. Meningkatkan cakupan dan kualitas melalui peningkatan keterampilan tatalaksana gizi buruk. d. Menyediakan sarana pendukung (sarana dan prasarana). e. Menyediakan dan melakukan KIE. f. Meningkatkan kewaspadaan dini KLB gizi buruk. Kegiatan: a. Deteksi dini gizi buruk melalui bulan penimbangan balita di posyandu posyandu untuk mendukung pemantauan

44 1)

Melengkapi kebutuhan sarana di posyandu (dacin,

KMS/Buku KIA). 2) 3) 4) 5) Orientasi kader. Menyediakan biaya operasional. Menyediakan materi KIE. Menyediakan suplementasi vitamin A.

b.. Tatalaksana kasus gizi buruk
1)

Menyediakan biaya rujukan khusus untuk gizi

buruk gakin baik di Puskesmas/RS. 2) Kunjungan rumah tindak lanjut setelah perawatan di puskesmas/RS. 3) Menyediakan paket PMT bagi pasien pasca perawatan. 4) Meningkatkan ketrampilan petugas puskesmas/RS dalam tatalaksana gizi buruk. c. Pencegahan gizi buruk
1)

Pemberian makanan tambahan pemulihan (MP-

ASI) kepada balita gakin yang berat badannya tidak naik atau gizi kurang.

PMT penyuluhan setiap bulan di 3) Konseling kepada ibu-ibu yang anaknya mempunyai gangguan pertumbuhan. dan jumlahnya dalam populasi besar. 3) Pemantauan status gizi (PSG). 2) Pelaksanaan sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa gizi buruk. Advokasi. 2) Kampanye penanggulangan gizi buruk melalui media efektif.45 2) Penyelenggaraan posyandu. Kerangka Konsep Anak balita juga merupakan kelompok umur yang rawan gizi. Surveilans gizi buruk 1) Pelaksanaan pemantauan wilayah setempat gizi (PWS-Gizi). Status gizi . d. Kelompok ini yang merupakan kelompok umur yang paling menderita akibat gizi. sosialisasi dan kampanye penanggulangan gizi buruk 1) Advokasi kepada pengambil keputusan (DPR. e. dunia usaha dan masyarakat). LSM. Pemda. DPRD. Manajemen program: 1) Pelatihan petugas 2) Bimbingan teknis D. f.

pola asuh makan. pengetahuan gizi ibu. tingkat pendapatan perkápita keluarga. pengetahuan gizi dan ketersediaan pangan. tingkat pendapatan keluarga. Salah satu penyebab tidak langsung dari kekurangan gizi pada balita adalah rendahnya tingkat pengetahuan gizi keluarga. Sedangkan yang menjadi variabel terikat adalah kejadian gizi buruk pada balita. sedangkan faktor tidak langsung berupa faktor sosial ekonomi yang meliputi tingkat pendidikan. Ada beberapa faktor domain yang saling berhubungan dalam mempengaruhi konsumsi pangan dan gizi keluarga adalah pengetahuan gizi keluarga (khususnya ibu) dan tingkat pendapatan keluarga. Untuk mencapai status gizi baik. harus ditunjang oleh tingkat pengetahuan gizi yang baik serta pendapatan yang memadai. dan penyakit infeksi. Pada penelitian ini. yang disertai dengan rendahnya perilaku gizi keluarga.46 dipengaruhi oleh faktor langsung berupa asupan makanan/ tingkat konsumsi dan penyakit infeksi. Pola Makan Pengetahuan Gizi Ibu . Adapun kerangka konsep secara lengkap dapat dilihat pada gambar 1. yang menjadi variabel bebas yang diteliti adalah pola makan.

Kerangka Konsep Penelitian Keterangan : : Variabel dependent (terikat) : : Variabel independent / bebas yang diteliti Variabel independent / bebas yang tidak diteliti : Hubungan variabel bebas yang diteliti dengan variabel dependent (terikat) .47 Tingkat Pendapatan Penyakit Infeksi Konsumsi Makanan Tingkat Pendidikan Jumlah Anggota Keluarga Pola Asuh anak tidak memadai Pelayanan Kesehatan yang tidak memadai Gizi Buruk pada Balita Ketersediaan Pangan di Rumah tangga Gambar 1.

Penyakit infeksi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita. Tingkat pendapatan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.48 : Hubungan variabel bebas yang tidak diteliti dengan variabel dependent (terikat) E. Hipotesis 1. Ho : ρ = 0 1) Pola makan bukan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita. b. 3) Tingkat pendapatan bukan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita. d. Tingkat pengetahuan gizi ibu merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita. Hipotesis Kerja a. 2) Pengetahuan ibu tentang gizi bukan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita. . c. 2. Hipotesis Statistik a. Pola makan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.

Ho : ρ ≠ 0 1) Pola makan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita. 2) Pengetahuan ibu tentang gizi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.49 4) Penyakit infeksi bukan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita. 3) Tingkat pendapatan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita. . b. 4) Penyakit infeksi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.

Rancangan bergerak dari akibat/efek Pengetahuan Gizi Ibu + Tingkat Pendapatan + (penyakit) kemudian+ditelusuri faktor risiko atau penyebabnya. Penyakit Infeksi Kasus : Gizi Buruk Pola Makan Pengetahuan Gizi Ibu Tingkat Pendapatan Penyakit Infeksi Sampel : Balita yang mengalami gizi buruk dan gizi baik dengan responden adalah ibu balita Matching (Umur dan Jenis kelamin) Pola Makan Pengetahuan Gizi Ibu Tingkat Pendapatan Penyakit Infeksi Pola Makan Pengetahuan Gizi Ibu Tingkat Pendapatan Penyakit Infeksi + + + + - Kontrol : Gizi baik . METODE PENELITIAN A. kemudian faktor risiko diidentifikasi dengan membandingkan antara kelompok kasus Pola Makan dengan kelompok + kontrol. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah analitik observasional dengan rancangan case control study yaitu suatu penelitian analitik yang menyangkut bagaimana faktor risiko ditelusuri dengan menggunakan pendekatan retrospektif yaitu efek (gizi buruk pada balita) diidentifikasi pada saat ini.50 III.

51 Gambar 2. Populasi Populasi pada penelitian ini adalah semua balita gizi buruk yang ada di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari tahun 2008 yaitu sebanyak 23 orang. Desain Penelitian Case Control B. 2. Kontrol Kontrol merupakan balita dengan status gizi baik (berdasarkan hasil pengukuran antropometri BB/U) dengan . hal ini berdasarkan pada pengukuran antropometri BB/U. C. Sampel a. Kasus Kasus adalah balita dengan status gizi buruk yang ada di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008 sebanyak 23 orang. b. Populasi dan Sampel 1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 23-26 Mei tahun 2009 di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari.

. Responden Pada penelitian ini responden adalah ibu dari balita yang terpilih menjadi sampel dan bersedia untuk menjadi responden pada penelitian ini. Variabel bebas (independent variable) yaitu pola makan. tingkat pendapatan dan penyakit infeksi. Matching pada kontrol didasarkan pada hanya dua karakteristik untuk memudahkan mendapatkan kontrol. pengetahuan gizi ibu. Teknik pengambilan sampel Pada penelitian ini pemilihan sampel dilakukan secara total sampling yaitu semua populasi dijadikan sebagai sampel.52 jumlah balita sebanyak 23 orang. karena pengambilan banyak faktor yang harus disamakan dengan kasus akan menyebabkan kesulitan untuk menentukan kontrol. Variabel Penelitian. Adapun jumlah sampel pada penelitian ini adalah 23 orang kemudian kontrol 23 orang. d. sehingga untuk total keseluruhannya adalah 46 orang. D. c. Kontrol diperoleh dari tetangga terdekat dari kasus dengan karakteristik sama dengan kasus melalui proses matching umur dan jenis kelamin. Variabel Penelitian a. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif 1.

Variabel terikat (dependent variable) yaitu kejadian gizi buruk pada balita. Adapun kriteria objektifnya adalah sebagai berikut : 1) Cukup : Bila pola makan balita > 50 % dari total skor jawaban benar . Pola makan : : Bila Z-Score ≥ -2 SD sampai +2 SD Bila Z-Score < -3 SD Pola makan adalah kebiasaan makan dari balita yang memberikan gambaran mengenai macam makanan dan frekuensi makan seseorang balita.53 b. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif a. Pola makan diukur melalui nilai dari kuesioner. dilakukan dengan pengukuran BB/U dan dibandingkan dengan standar WHO-NCHS dengan simpang baku Z-Score. Adapun kriteria objektifnya yaitu : 1) Gizi baik 2) Gizi buruk b. 2. Status Gizi Status gizi adalah gambaran keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi.

0 % = 100 % K = Kategori = Jumlah kategori sebanyak 2 yaitu cukup dan kurang I = 100 % 2 I = 50 % c. Pengetahuan Ibu Tentang Gizi .54 2) Kurang : Bila pola makan balita ≤ 50 % dari total skor jawaban benar Kriteria penilaian didasarkan atas jumlah pertanyaan keseluruhan yaitu sebanyak 8 pertanyaan dan setiap pertanyaan di berikan nilai 1 (satu) jika menjawab benar dan nilai 0 (nol) jika menjawab salah. sehingga diperoleh skor nilai : Skor tertinggi Skor terendah : : 8 x 1 = 8 (100 %) 8 x 0 = 0 (0 %) Kemudian diukur dengan menggunakan rumus menurut Sudjana (2002) sebagai berikut : I = R K I = Interval kelas R = Range atau kisaran yaitu nilai tertinggi – nilai terendah = 100 % .

2) Kurang : Bila pengetahuan gizi ibu ≤ 50 % dari total skor jawaban benar. yang diukur melalui nilai dari daftar pertanyaan/kuesioner.55 Merupakan pengetahuan responden (ibu balita) tentang hal-hal yang berhubungan dengan gizi. Kriteria penilaian didasarkan atas jumlah pertanyaan dan setiap keseluruhan yaitu sebanyak 12 pertanyaan pertanyaan di berikan nilai 1 (satu) jika menjawab benar dan nilai 0 (nol) jika menjawab salah. Adapun kriteria objektifnya adalah sebagai berikut : 1) Cukup : Bila pengetahuan gizi ibu > 50 % dari total skor jawaban benar. sehingga diperoleh skor nilai : Skor tertinggi Skor terendah : : 12 x 1 = 12 (100 %) 12 x 0 = 0 (0 %) Kemudian diukur dengan menggunakan rumus menurut Sudjana (2002) sebagai berikut : I = R K I = Interval kelas R = Range atau kisaran yaitu nilai tertinggi – nilai terendah .

0 % = 100 % K = Kategori = Jumlah kategori sebanyak 2 yaitu cukup dan kurang I = 100 % 2 I = 50 % d.56 = 100 % . 810. Adapun kriteria objektifnya sebagai berikut : 1) Cukup = Bila pendapatan keluarga ≥ Rp. 2) Kurang = Bila pendapatan keluarga < Rp.per bulan. Tingkat Pendapatan Tingkat pendapatan adalah jumlah pendapatan perkapita yang diperoleh oleh kepala keluarga. Tingkat pendapatan perkapita keluarga pada tiap rumah tangga dinilai berdasarkan standar Upah Minimum Kota Kendari Tahun 2009. .per bulan. anak maupun anggota keluarga lainnya yang tinggal pada rumah tangga tersebut yang dinilai dalam bentuk uang dan barang yang dinilai dengan uang (rupiah) kemudian dibagi dengan jumlah anggota keluarga. 810.000.000. istri...

Adapun kriteria objektifnya adalah sebagai berikut : 1) Ya : Apabila balita menderita salah satu atau lebih penyakit infeksi dalam enam bulan terakhir. pola makan. tingkat pendapatan perkapita keluarga dan penyakit infeksi. Penyakit infeksi Penyakit infeksi adalah penyakit yang diderita oleh balita selama berada pada wilayah lokasi penelitian dalam enam bulan terakhir sesuai dengan medical recordnya dan hasil wawancara. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Kendari. Selain itu juga . Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa daftar pertanyaan/kuesioner yang di dalamnya terdapat pertanyaanpertanyaan yang menyangkut variabel-variabel dalam penelitian ini yang meliputi status gizi. 2009). e. 2) Tidak : Apabila balita tidak pernah menderita salah satu atau lebih penyakit infeksi dalam enam bulan terakhir.57 (Dinas Sosial. pengetahuan gizi ibu. E.

58 menggunakan timbangan balita (Dacin) untuk mengukur berat badan dari balita. pola makan. Prosedur Pengumpulan Data 1. 2. identitas sampel (tidak termasuk balita gizi buruk). Dinas Kesehatan Kota Kendari. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota . tingkat pendapatan dan penyakit infeksi. Data sekunder Data sekunder diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Data yang dikumpulkan berupa identitas responden. Puskesmas Mata. manfaat dan kejelasan tentang kerahasiaan subyek. Sumber Data a. Pemberian Informed Consent (Formulir Persetujuan) Setiap responden dalam penelitian ini akan dimintai persetujuan dengan mengisi lembar informed consent yang berisikan tujuan. b. F. Data primer Data primer diperoleh dengan wawancara secara langsung dengan orang tua balita (ibu) yang menggunakan alat bantu berupa kuesioner . Dinas Sosial. pengetahuan gizi ibu.

Pengolahan Data Pengolahan data dilakukan secara manual dan menggunakan komputer menggunakan program Statistic and Service Solution (SPSS) for Windows versi 13. 2007. Data yang dikumpulkan antara lain : data jumlah kasus balita gizi buruk di Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2006 dan 2007. G. Analisis Data Analisis data dilakukan sebagai berikut : 1. dan data Upah Minimum Kota Kendari tahun 2009.0. data jumlah kasus balita gizi buruk setiap Puskesmas tahun 2006. H. Analisis univariat Analisis univariat dilakukan secara deskriptif dari masingmasing variabel dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi disertai penjelasan. dan 2008. dan 2008. 2007. 2. data jumlah kasus balita gizi buruk di Kota Kendari tahun 2006.59 Kendari serta instansi lain yang berhubungan dengan penelitian ini. Analisis bivariat Untuk menguji hipotesis nol (Ho) digunakan analisis bivariat (Odds Ratio) dengan menggunakan tabel 2x2 dengan formulasi sebagai berikut : .

2000) Jumlah Keterangan : a b c d : : : : jumlah kasus dengan resiko (+) jumlah kontrol dengan resiko (+) jumlah kasus dengan resiko (-) jumlah kontrol dengan resiko (-) Menurut Multono (2000). Jika OR = 1. merupakan faktor risiko proteksi/ perlindungan terjadinya kasus. Untuk menentukan apakah nilai OR yang diperoleh mempunyai pengaruh . kontigensi 2x2 pada kejadian gizi buruk pada balita Kejadian Gizi Buruk Pada Faktor Resiko Kasus Faktor Resiko + Faktor Resiko Jumlah a c a+c OR = Balita Kontrol b d b+d axd bxc a+b c+d a + b + c +d (Multono. estimasi Coefisien Interval (CI) ditetapkan pada tingkat kepercayaan 95 % dengan interpretasi : a. b. bukan faktor risiko terjadinya kasus. Jika OR > 1. Jika OR < 1. c.60 Tabel 2 . Nilai OR dikatakan bermakna apabila nilai lower limit dan upper limit tidak mencakup nilai 1 (Ho ditolak). merupakan faktor risiko terjadinya kasus.

Untuk mengetahui batas atas dan batas bawah tersebut dapat digunakan rumus : Upper limit Lower limit : : OR x e+ f OR x e− f Di mana. . gambar dan selanjutnya dinarasikan. 1996) I. Penyajian Data Data disajikan dalam bentuk tabel. f= E= 1 1 1 1 + + + a b c d log nature (2.72) (Chandra.61 kemaknaan maka harus dihitung nilai batas bawah (lower limit) dan nilai batas atas (upper limit).

Jarak dari Kantor Walikota lebih kurang 12 km ke arah barat. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Soropia . Letak Geografis Puskesmas Mata merupakan salah satu dari 11 Puskesmas yang ada di Kota Kendari.62 IV. Wilayah kerja Puskesmas Mata ± 67. Gambaran Umum Lokasi 1. yang terletak di Kecamatan Kendari Kelurahan Kessilampe. Adapun batas-batas wilayah kerja Puskesmas Mata antara lain : a.805 hektar yang berjarak ± 25 KM dari Ibukota Propinsi.

Mata pencaharian terbesar penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mata adalah pedagang/industri (44%). Sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Kendari c. Kondisi Demografis Berdasarkan hasil pendataan terakhir. Iklim di wilayah kerja Puskesmas Mata adalah iklim tropis dengan musim hujan umumnya bulan Desember – Mei dan musim kemarau terjadi bulan Juni November. Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Banda Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kendari Barat Jumlah desa/kelurahan seluruhnya di wilayah kerja Puskesmas Mata ada 9 kelurahan.044.310 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 5. Suhu udara rata-rata berkisar antara 270C – 370C. Keadaan alam di wilayah kerja Puskesmas Mata terdiri dari dataran (35%). yang tersebar dalam 9 wilayah kelurahan. pegunungan/bukit (65%).63 b. jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mata adalah 22. d. . e.

Sebagian besar memeluk agama Islam. Katolik. Masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Mata terdiri dari berbagai macam suku. Distribusi balita menurut umur . tani/nelayan (15%) dan sisanya buruh. Sarana Kesehatan Sarana pelayanan kesehatan di terdapat di wilayah kerja Puskesmas Mata yang dijadikan sebagai unit pelayanan kesehatan bagi masyarakat setempat terdiri dari sarana kesehatan pemerintah dan sarana kesehatan yang bersumber daya masyarakat antara lain sebagai sarana kesehatan pemerintah terdiri dari 1 Puskesmas non perawatan dan 3 Puskesmas Pembantu. Agama lain yang dianut adalah Kristen. Mayoritas adalah suku Bugis. Jawa. Analisis univariat a. Muna dan Tolaki. juga terdapat kelompok suku minoritas yaitu Buton. B. Hindu dan Budha. sopir dan pekerja lainnya (18%). f. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. sedangkan sarana kesehatan bersumber daya masyarakat terdiri dari 15 Posyandu Balita dan 2 Posyandu Lansia. dan Makassar.64 Sedangkan yang lainnya adalah PNS/ABRI (23%).

Tabel 3. 2008). jumlah balita yang menjadi sampel lebih banyak pada kelompok umur 12-23 bulan yaitu sebanyak 20 balita (10 balita pada kasus dan 10 balita pada kontrol) dan tidak ditemukan balita pada kelompok umur 48-59 bulan (tidak ada balita baik pada kelompok kasus maupun kontrol). Distribusi Kelompok Umur Kelompo k Sampel Kasus Kontrol Kelompok Umur 0-11 bln 5 5 12-23 bln 10 10 24-35 bln 7 7 36-47 bln 1 1 2 48-59 bln 0 0 0 Matching Sampel Berdasarkan Jumlah 10 20 14 Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009 Tabel 3 memperlihatkan bahwa dari 46 balita yang menjadi sampel. . Penentuan matching umur sampel (kasus dan kontrol) berdasarkan kelompok umur dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3.65 Umur adalah umur pada saat ulang tahun terakhir (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Serang.

0 Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009 Gambar 3.7 1 2-23bln 20 43.5%) dan tidak ditemukan balita pada kelompok umur 48-59 bulan (0%). jumlah balita yang menjadi sampel lebih banyak pada kelompok umur 12-23 bulan yaitu sebanyak 20 balita (43. 2008). . Grafik Balita Menurut Umur di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008 Pada gambar 3 telihat bahwa dari 46 balita yang menjadi sampel. Distribusi balita menurut jenis kelamin Jenis kelamin adalah kata yang umumnya digunakan untuk membedakan seks seseorang seperti laki-laki dan perempuan (Komsiah.4 36-47bln 2 4.3 48-59bln 0 0.5 24-35bln 1 4 30. b.66 Kelompok umur balita dalam penelitian ini dapat juga dilihat pada gambar 3 berikut : Grafik Balita Menurut Umur di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008 50 40 30 20 10 0 J um Sam lah pel % 0-1 bln 1 1 0 21 .

. Tabel 4.67 Penentuan matching sampel (kasus dan kontrol) berdasarkan jenis kelamin dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4. jumlah balita yang menjadi sampel lebih banyak pada jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 24 balita (12 balita pada kasus dan 12 balita pada kontrol) dan balita dengan jenis kelamin laki-laki yaitu 22 balita (11 balita pada kasus dan 11 balita pada kontrol). Karakteristik balita menurut jenis kelamin dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 4. Distribusi Kelamin Matching Sampel berdasarkan Jenis Kelompok Jenis Kelamin Sampel Laki-Laki Perempuan Kasus 11 12 Kontrol 11 12 Jumlah 22 24 Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009 Jumlah 23 23 46 Tabel 4 memperlihatkan bahwa dari 46 balita yang menjadi sampel.

atau pada barang.8%) berjenis kelamin laki-laki. pakaian atau barang-barang .2%). Distribusi balita menurut jenis penyakit infeksi Infeksi adalah masuknya.8 P erem puan 24 52.68 Grafik Balita M enurut Jenis K elamin di Wilayah K erja Puskesmas M K K ata ota endari T ahun 2008 60 40 20 0 Jum lah % Laki – Laki 22 47. dan sebanyak 22 balita (47. bertumbuh dan berkembangnya agent penyakit menular dalam tubuh manusia atau hewan. c. Adanya kehidupan agent menular pada permukaan luar tubuh. Infeksi tidaklah sama dengan penyakit menular karena akibatnya mungkin tidak kelihatan atau nyata. sebagian besar balita berjenis kelamin perempuan sebanyak 24 orang (52.2 Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009 Gambar 4. Grafik Balita Menurut Jenis Kelamin di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008 Gambar 4 menunjukkan bahwa dari 46 balita yang menjadi sampel.

1997). Data diperoleh dari keterangan responden dan diagnosa penyakit didasarkan pada catatan medik (medical record) Puskesmas Mata. 5 orang (10.3 4 Tidak Menderita 7 15.8%). sebagian besar sampel menderita penyakit infeksi yaitu 39 orang (84. Tabel 5.3%) menderita cacar. Sedangkan yang tidak menderita penyakit infeksi sebanyak 7 orang (15.9%) menderita diare dan 2 orang (4. Distribusi Balita Berdasarkan Jenis Penyakit Infeksi di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008 No Penyakit Infeksi Jumlah % 1 ISPA 32 69. tetapi merupakan kontaminasi pada permukaan tubuh atau benda (Noor. 32 orang (69.2 %).9 3 Cacar 2 4.69 lainnya. Jenis penyakit infeksi yang diderita oleh balita dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 5. bukanlah infeksi.6%) diantaranya menderita ISPA.6 2 Diare 5 10.2 Penyakit Infeksi Total 46 100 Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009 Tabel 5 memperlihatkan bahwa dari 46 balita yang menjadi sampel. d. Distribusi balita menurut pola makan .

Distribusi Sampel Berdasarkan Pola Makan di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008 Kelompok Pola Makan Jumlah Sampel Kurang Cukup Kasus 21 2 23 Kontrol 10 13 23 Jumlah 31 15 46 Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009 Tabel 6 memperlihatkan bahwa dari 46 balita yang menjadi sampel. Distribusi balita menurut pengetahuan ibu tentang gizi Gambaran pengetahuan ibu tentang gizi dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 7.70 Gambaran pola makan balita dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 6. jumlah balita yang menjadi sampel lebih banyak yang pola makannya kurang yaitu sebanyak 31 balita (21 balita pada kasus dan 10 balita pada kontrol) dan balita dengan pola makan cukup yaitu 15 balita (2 balita pada kasus dan 13 balita pada kontrol). Tabel 7. e. Distribusi Sampel Berdasarkan Pengetahuan Gizi Ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008 Kelompok Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Jumlah Sampel Kurang Cukup Kasus 13 10 23 Kontrol 2 21 23 Jumlah 15 31 46 Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009 . Tabel 6.

71 Tabel 7 memperlihatkan bahwa dari 46 sampel. jumlah sampel yang banyak yang memiliki pendapatan kelarga yang kurang yaitu sebanyak 41 balita (21 balita pada kasus dan 20 balita pada kontrol) dan balita dengan pendapatan kelarga yang cukup yaitu 5 balita (2 balita pada kasus dan 3 balita pada kontrol). Tabel 8. Distribusi Sampel Berdasarkan Tingkat Pendapatan Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008 Kelompok Pendapatan Keluarga Jumlah Sampel Kurang Cukup Kasus 21 2 23 Kontrol 20 3 23 Jumlah 41 5 46 Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009 Tabel 7 memperlihatkan bahwa dari 46 sampel. Distribusi responden menurut tingkat pendidikan . g. f. jumlah sampel yang banyak yang memiliki pengetahuan ibu tentang gizi yang cukup yaitu sebanyak 31 balita (10 balita pada kasus dan 21 balita pada kontrol) dan balita dengan pengetahuan ibu tentang gizi yang kurang yaitu 15 balita (13 balita pada kasus dan 2 balita pada kontrol). Distribusi balita menurut tingkat pendapatan Gambaran tingkat pendapatan keluarga balita dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 8.

7 SM A 14 30. sebagian besar responden mempunyai tingkat pendidikan SMP sebanyak 21 orang (45.7%) dan hanya 4 responden . Karakteristik responden menurut tingkat pendidikan dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 5 berikut : G rafik R ond M esp en enurut T ingkat Pend ikan d id i W ilayah K erja Puskesm M K K ari T as ata ota end ahun 2008 50 40 30 20 10 0 Jumlah % SD 7 15.72 Tingkat pendidikan adalah suatu proses jangka panjang yang menggunakan prosedur sistematis dan terorganisir. yang mana tenaga kerja manajerial mempelajari pengetahuan konsepsual dan teoritis untuk tujuan tujuan umum (Mangkunegara.4 PT 4 8.7 Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009 Gambar 5. 2003). Grafik Responden Menurut Tingkat Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008 Gambar 5 menunjukkan bahwa dari 46 responden.2 SM P 21 45.

Grafik Responden Menurut Jenis Pekerjaan Kepala Rumah Tangga di Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008 .8 B h uru 12 26. 2009).7%) yang mempunyai tingkat pendidikan perguruan tinggi.73 (8.0 W ira sw asta 22 47 . Karakteristik ibu balita menurut jenis pekerjaan kepala keluarga dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 6 berikut : G rafik R po d M u t Jen Pek es n en en ru is erjaan K ala ep K arg d W elu a i ilayah K erja Pu kes asM s m ata K ta K o end ari T un 20 ah 08 6 0 5 0 4 0 3 0 2 0 1 0 0 P S N Jum h la % 6 13.1 T kan u g K yu a 1 2 .7 N layan e 1 2.2 Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009 Gambar 6. h.akukan untuk menafkahi diri dan keluarganya dimana pekerjaan tersebut tidak ada yang mengatur dan dia bebas karena tidak ada etika yang mengatur (Cookeyzone. Distribusi responden menurut jenis pekerjaan kepala keluarga Pekerjaan adalah suatu kegiatan yang dil.2 O jek 4 8 .

57 72. Faktor risiko pola makan dengan kejadian gizi buruk pada balita Pola makan adalah gambaran pola menu. Sedangkan sebagian kecil mempunyai pekerjaan sebagai buruh.6 CI 95 % 2. sebagian besar kepala keluarga mempunyai mata pencaharian sebagai wiraswasta yaitu sebanyak 22 orang (47. PNS.8%).3 10 . dan jenis bahan makanan yang dikonsumsi setiap hari dimana merupakan bagian dari gaya hidup atau ciri khusus suatu kelompok (Astawan. 1998). Analisis bivariat a. tukang kayu dan nelayan . Distribusi Frekuensi Menurut Pola Makan Di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008 N o Pola Makan n 1 Kurang 21 Status Balita Kasus % Kontrol n % 43. ojek.5 OR 13. frekuensi. Tabel 9. 2. Distribusi balita berdasarkan pola makan di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari dapat dilihat pada tabel 9.74 Gambar 6 menunjukkan bahwa dari 46 responden.39 91.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Manjilala (2007) yang dari penelitiannya . terdapat 10 (43.7%) balita dengan pola makan cukup. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa balita dengan pola makan kurang memiliki risiko kejadian gizi buruk 13. karena lower limit dan upper limit tidak mencakup nilai 1. Hasil uji statistik bermakna pada tingkat kepercayaan 95%. Sedangkan pada kelompok kontrol dari 23 balita yang termasuk kelompok kontrol. dengan nilai OR=13.39).6 kali daripada balita dengan pola makan cukup. sebagian besar balita yaitu 21 (91.3%) balita pola makannya kurang dan 2 (8.5%) balita pola makannya kurang. memiliki peluang 13. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa sampel yang pola makannya kurang.6 kali berisiko untuk menderita gizi buruk dibanding balita yang pola makannya cukup.57<OR<72. dan 13 (56.6 (2.7 100 13 23 56.75 2 Cukup Total 2 23 8.5 100 Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009 Tabel 9 menunjukkan bahwa dari 23 balita yang termasuk kelompok kasus.5%) balita yang pola makannya cukup.

Adanya penyakit infeksi seperti ISPA maupun diare pada balita menyebabkan makanan yang dikonsumsi balita akan . hal inilah yang menjadi pemicu terjadinya gizi buruk pada balita. tetapi ada beberapa faktor lain seperti salah satunya adalah penyakit infeksi. Hal ini di duga disebabkan karena pola makan yang cukup bukan satu-satunya faktor yang menjadikan balita terhindar dari kejadian gizi buruk. Balita tersebut pola makannya telah cukup. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pada kelompok kasus sebagian besar balita memiliki pola makan yang kurang hal ini disebabkan oleh karena pola hidangan sehari-hari yang tidak tepat dan frekuensi makan balita dalam sehari terhadap bahan makanan yang mengandung zat-zat gizi seperti makanan pokok. tetapi masih menderita gizi buruk.lauk pauk. sayuran dan buah masih kurang yang pada umumnya diberikan tidak tentu.7%) balita.76 berkesimpulan bahwa status gizi balita di Wilayah Kerja Puskesmas Mamajang dipengaruhi oleh pola makan balita. Pada kelompok kasus juga terdapat balita yang pola makannya cukup sebanyak 2 (8.

Distribusi balita berdasarkan pengetahuan ibu tentang gizi di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari dapat dilihat pada tabel 10.5 10 43. Faktor risiko pengetahuan ibu tentang gizi dengan kejadian gizi buruk pada balita Pengetahuan adalah merupakan hasil ”tahu”. dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Distribusi Frekuensi Menurut Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008 N o Pengetahua n Ibu Tentang Gizi Kurang Cukup Status Balita Kasus n % Kontrol n 2 % 8. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden.7 OR 13.77 terhambat penyerapannya dan energi didapatkan dari makanan akan habis atau berkurang. b.6 CI 95% 2. Tabel 10.39 1 2 13 56.57 72. 2003). Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut di atas (Notoatmodjo.5 21 91.3 .

dengan nilai OR = 13. sebagian besar (91. Sedangkan pada kelompok kontrol.6 (2.39).5%) ibu balita dengan tingkat pengetahuan cukup.3%) ibu balita mempunyai tingkat pengetahuan cukup dan 2 (8. .7%) ibu balita dengan tingkat pengetahuan yang kurang. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan gizi ibu merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari.57<OR<72. dari 23 ibu balita yang termasuk kelompok kontrol.5%) ibu balita dengan tingkat pengetahuan yang kurang dan 10 (43. terdapat 13 (56.6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang berpengetahuan gizi cukup.78 Total 23 100 23 100 Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009 Dari tabel 10 menunjukkan bahwa dari 23 ibu balita yang termasuk kelompok kasus. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa ibu yang kurang pengetahuan gizinya berisiko mengalami kejadian gizi buruk pada balita 13. Hasil uji statistik bermakna pada tingkat kepercayaan 95% karena lower limit dan upper limit tidak mencakup nilai 1.

79 Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Yuliati (2008) yang dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang gizi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di Kecamatan Mandonga tahun 2008. Hal ini disebabkan karena ibu yang memiliki pengetahuan gizi yang cukup akan lebih memiliki informasi yang terkait dengan pemenuhan gizi balita dengan baik dan tentunya akan berpengaruh pada proses praktek pengelolaan makanan di rumahnya mulai dari persiapan sampai dengan pendistribusiannya pada . karena dengan hal itu ibu akan mengetahui pola pemberian makanan yang memiliki gizi kepada balita maupun keluarga sehingga pemenuhan gizi bagi keluarga akan terjadi dan dengan hal ini akan membuat kecukupan gizi bagi balita dan keluarga akan terpenuhi. Pengetahuan ibu tentang gizi yang cukup akan memberikan pengaruh pada status gizi anak yang lebih baik jika dibandingkan dengan ibu yang memiliki pengetahuan tentang gizi yang kurang. Pengetahuan ibu tentang gizi yang cukup akan membantu ibu khususnya dalam hal pemenuhan zat-zat gizi dalam penyediaan makanan sehari-hari.

Distribusi balita berdasarkan Tingkat Pendapatan di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari dapat dilihat pada tabel 11. hasil menjual barang.80 setiap anggota rumah tangga khusunya kepada balitanya. pemeliharaan dan energi. Banyak para peneliti menemukan masalah gizi buruk disebabkan karena ketidaktahuan terhadap gizi sehingga banyak jenis-jenis bahan makanan yang tidak dimanfaatkan untuk konsumsi anak . Setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal. termasuk semua jenis pemasukan yang diterima oleh keluarga dalam bentuk uang. bila dibandingkan dengan ibu yang memilki pengetahuan tentang gizi yang kurang. Tingkat pendapatan adalah total jumlah pendapatan dari semua anggota keluarga . Faktor risiko tingkat pendapatan keluarga dengan kejadian gizi buruk pada balita c. . pinjaman dan lain-lain (Thaha. 1996 dalam Rasifa 2006).

7 100 3 23 13.43 2 23 8.0%) responden dengan tingkat pendapatan yang kurang dan hanya 3 (13.0 100 Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009 Dari tabel 11 menunjukkan bahwa dari 23 balita yang termasuk kelompok kasus. sebagian besar (87.0 1. Sedangkan dari 23 balita yang termasuk kelompok kontrol. Distribusi Frekuensi Menurut Tingkat Pendapatan Keluarga Di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008 Status Balita Kasus n % Kontrol n % OR CI 95% N o Pendapata n Keluarga Kurang Cukup Total 1 2 21 91.0%) responden dengan tingkat pendapatan yang cukup.7%) responden dengan tingkat pendapatan yang cukup.3%) tingkat pendapatan keluarga responden masih kurang dan hanya 2 (8.23 – 10. Hasil uji statistik tidak bermakna secara signifikan pada tingkat kepercayaan .81 Tabel 11. sebagian besar (91.57 0.3 20 87.

sedangkan nilai OR = 1.23<OR<10. kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi.43). ini disebabkan karena faktor lain seperti balita yang malas makan. .57 kali lebih tinggi dibanding dengan responden yang mempunyai tingkat pendapatan keluarganya cukup. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tingkat pendapatan keluarga merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari. serta balita menderita penyakit infeksi.57 (0.82 95% karena lower limit mencakup nilai 1. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Yuliati (2008) yang dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tingkat pendapatan keluarga merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di Kecamatan Mandonga tahun 2008. pemberian makanan yang tidak tentu pada balita anak. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa responden yang kurang tingkat pendapatan keluarganya kurang berisiko mengalami kejadian gizi buruk pada balita 1. Dari hasil penelitian juga terdapat responden yang mempunyai tingkat pendapatan yang cukup tetapi balita berstatus gizi buruk.

1997). penghasilan keluarga akan menentukan daya beli keluarga termasuk makanan. atau pada barang. sehingga mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan yang tersedia dalam rumah tangga dan pada akhirnya mempengaruhi asupan zat gizi (Suhardjo dalam Yuliati. 2008). bertumbuh dan berkembangnya agent penyakit menular dalam tubuh manusia atau hewan. tetapi merupakan kontaminasi pada permukaan tubuh atau benda (Noor. Infeksi tidaklah sama dengan penyakit menular karena akibatnya mungkin tidak kelihatan atau nyata. pakaian atau barang-barang lainnya. Adanya kehidupan agent menular pada permukaan luar tubuh. . Selain itu. bukanlah infeksi. d. Faktor risiko penyakit infeksi dengan kejadian gizi buruk pada balita Infeksi adalah masuknya.83 Tingkat pendapatan keluarga akan mempengaruhi mutu fasilitas perumahan. penyediaan air bersih dan sanitasi yang pada dasarnya sangat berperan terhadap timbulnya penyakit infeksi.

50 – 16.7 100 Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009 Data tabel 12 menunjukkan bahwa dari 23 balita yang termasuk kelompok kasus. . sebagian besar (91. Tabel 12. sebagian besar (78.7%) tidak menderita penyakit infeksi.3%) yang menderita penyakit infeksi dan hanya 5 (21. Distribusi Frekuensi Menurut Penyakit Infeksi Di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008 N o Penyakit Infeksi Status Balita Kasus n 1 2 Ya Tidak Total % Kontrol n % 2.3 18 78.9 0.50<OR<16. sedangkan nilai OR = 2. Hasil uji statistik tidak bermakna secara signifikan pada tingkat kepercayaan 95% karena lower limit mencakup nilai 1.3 2 23 8.7%) yang tidak menderita penyakit infeksi.3%) sampel menderita penyakit infeksi dan hanya 2 (8.89 OR CI 95% 21 91. Sedangkan dari 23 balita yang termasuk kelompok kontrol.9 (0.7 100 5 23 21.84 Distribusi balita berdasarkan faktor risiko penyakit infeksi di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari dapat dilihat pada tabel 12.89).

9%) balita dan cacar sebanyak 2 (4. Di sisi lain anak yang menderita sakit infeksi akan cenderung menderita gizi buruk (Depkes dalam Yuliaty 2008). Hal tersebut dapat dikatakan bahwa sampel yang menderita penyakit infeksi berisiko mengalami kejadian gizi buruk 2.Anak yang menderita gizi kurang dan gizi buruk akan mengalami penurunan daya tahan. Data penyakit infeksi diperoleh melalui keterangan dari responden dan didukung oleh data dari catatan medik (medical record) sampel Puskesmas Mata. sehingga rentan terhadap penyakit infeksi.9 kali lebih tinggi dibanding dengan sampel yang tidak menderita penyakit infeksi. diare sebanyak 5 (10. Terjadinya hubungan timbal balik antara kejadian infeksi penyakit dan gizi kurang maupun gizi buruk.85 Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penyakit infeksi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari.3%) balita .6%) balita. Adapun jenis penyakit infeksi yang diderita oleh sampel adalah ISPA sebanyak 32 (69. .

sehingga banyak balita dan juga orang dewasa kebanyakan menderita batuk dan pilek terutama pada anak yang berstatus gizi buruk. infeksi akan . sehingga terdapat balita pada kelompok kontrol yang menderita penyakit infeksi juga. Hal ini karena daya tahan tubuh menurun.49 kali untuk menderita kekurangan gizi dibandingkan dengan anak balita yang tidak menderita penyakit infeksi. Di lain pihak. Pada anak yang menderita infeksi terjadi gangguan pada pertahanan tubuh dan sebagai akibatnya akan terjadi penurunan berat badan dalam waktu yang singkat sehingga menyebabkan kekurangan gizi. Penyakit infeksi banyak diderita oleh balita pada saat penelitian disebabkan adanya perubahan cuaca sehingga sangat mempengaruhi kondisi kesehatan.86 Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Yuliati (2008) yang dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penyakit infeksi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di Kecamatan Mandonga tahun 2008. memiliki resiko 4. Penelitian yang dilakukan oleh Asni (2006) di Kecamatan Sangia Wambulu juga menunjukkan bahwa anak balita yang menderita penyakit infeksi.

yang dapat menyebabkan kekurangan gizi. . Berdasarkan pengamatan lapangan yang dilakukan pada saat penelitian diketahui bahwa balita berstatus gizi buruk pada umumnya ditemui dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi dengan berbagai kondisi yang dapat menyebabkan status kesehatan yang jelek dan menyebabkan penyakit infeksi seperti sanitasi lingkungan perumahan yang sangat tidak memadai. Penyakit infeksi dapat menyebabkan kurang gizi sebaliknya kurang gizi juga menyebabkan penyakit infeksi.87 memberikan efek berupa gangguan pada tubuh.

88

V. PENUTUP A. Simpulan Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Pola makan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada

balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008. Pola makan yang kurang, berisiko mengalami kejadian gizi buruk pada balita 13,6 kali jika dibandingkan dengan balita yang pola makannya cukup.
2. Pengetahuan ibu tentang gizi merupakan faktor risiko kejadian gizi

buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008. Ibu dengan pengetahuan gizi yang kurang, berisiko mengalami kejadian gizi buruk pada balita 13,6 kali jika dibandingkan dengan ibu dengan pengetahuan gizi yang cukup.
3. Tingkat pendapatan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk

pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008. Pendapatan keluarga yang kurang pada responden, berisiko mengalami kejadian gizi buruk pada balita 1,57 kali jika

89

dibandingkan dengan pendapatan keluarga yang cukup pada responden.
4. Penyakit infeksi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada

balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008. Balita yang menderita penyakit infeksi, berisiko mengalami kejadian gizi buruk 2,9 kali jika dibandingkan dengan balita yang tidak menderita penyakit infeksi. B. Saran Berdasarkan kesimpulan diatas, dibuat saran penelitian sebagai berikut : 1. Bagi masyarakat yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas

Mata Kota Kendari, agar meningkatkan konsumsi makanan balita baik secara kuantitas maupun kualitas sesuai dengan

kebutuhannya, dan juga menggalakkan sadar gizi dalam keluarga guna memperbaiki pola makan bagi balita.
2.

Bagi ibu-ibu balita yang ada di wilayah kerja Puskesmas

Mata agar senantiasa meningkatkan pengetahuannya tentang gizi bagi keluarga dan balita melalui berbagai media maupun dengan mengikuti penyuluhan kesehatan tentang gizi oleh tenaga

90

kesehatan agar menambah pengetahuan dalam hal pemenuhan gizi keluarga dan balita.
3.

Bagi masyarakat yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas

Mata Kota Kendari, agar mengatur pendapatan keluarga guna mendukung pemenuhan gizi yang baik dalam keluarga khususnya bagi balitanya.
4.

Bagi masyarakat yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas

Mata Kota Kendari, agar senantiasa meningkatkan upaya preventif (pencegahan) terhadap penyakit infeksi dengan menerapkan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. 5. Bagi peneliti lain yang tertarik dengan masalah gizi buruk

pada balita dapat mengambil variabel lain sebagai variabel bebas penelitian karena masih banyak faktor-faktor yang berkaitan dengan terjadinya gizi buruk pada balita.

Jakarta. 2002. . Almatsier. S. Kalimantan Barat dan Jawa Timur. Gizi dan Kesehatan Manula. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. M. T. 2004. Ariani. Astawan. Wilayah Rawan Pangan dan Gizi Kronis di Papua. M. 1998. Gramedia Pustaka Utama.Bogor.91 DAFTAR PUSTAKA Aditama.Y dan Tri Hastuti. Jakarta. PT. Jakarta. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Pusat Analisis dan Kebijakan Pertanian Departemen Pertanian. Medyatama Sarana Pustaka. 2007. UI-Press.

Sulawesi Selatan Daerah Penghasil Pangan dan Gizi Buruk. Khumaidi. Penerbit EGC. 1994.lifestyle. www. PT. Pengantar Pangan dan Gizi. Pengantar Prinsip dan Metodologi Epidemiologi. Komsiah. Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. M. 2008. . Kendari. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007. 2008.92 Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Cookeyzone. Com. Profil Penduduk Kabupaten Serang. 2007. Irwandy. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Kendari. Blogspot. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Kendari. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. Dinas Sosial. Kesehatan dan Produktivitas Kerja). Malik. Jakarta. dkk. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI.com. Kartasapoetra. 2004. Khomsan. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Serang. 2008. 2002. Ilmu Gizi (Korelasi Gizi. 2008. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Gizi Buruk Tewaskan 3. UMK (Upah Minimum Kota) Kendari. Pengertian Profesi dan Pekerjaan.okezone. S. Banten. Jakarta. Penebar Swadaya. 2009. www. Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006-2010. G. Rineka Cipta. Cookeyzone. Jakarta. Pengantar Sosiologi. Makassar. Jakarta. Jakarta. 1996. BPK Gunung Mulia. Dinas Sosial. 2007. Jakarta. Gizi Masyarakat. 2009. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Serang. PT. A. Jakarta.5 Juta Balita Per tahun. Chandra. Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercubuana.

Skripsi yang tidak diterbitkan Universitas Haluoleo. Jakarta. Santoso. Bandung. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. . Multono. 5 November 2005 Noor. 2003.L. Jakarta.com. 2004. Ilmu Kebidanan Edisi 3.ppi-jepang. Sadewa. SMP 167. Gizi Buruk di Indonesia. http://ayahaja. Notoadmodjo. Makalah KEP.. 2000. Kec. Mardiansyah. Jakarta. Supariasa. . Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta. 2008. Berbagai Cara Pendidikan Gizi. 28 November 2008. 1997. Penerbit EGC. Perencanaan Pangan dan Gizi. 2003. Y. Penerbit Bumi Aksara. Gizi Buruk Ancaman Generasi Yang Hilang. N. S. http://io. Kendari. Betoambari Kota Bau Bau Tahun 2006.P. Pudjiadi. S dan Anne Lies Ranti. Rasifa. 2001. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Penilaian Status Gizi.org/article.wordress. A. Nency. Jakarta.php?id=113. 2003. 2006. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta. 2008. Penerbit Rineka Cipta. Rineka Cipta.. Jakarta. Refika Aditama. 2005. 2003.93 Mangkunegara. A. Jakarta. Penerbit Bumi Aksara. Gramedia. S. L. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. Kesehatan dan Gizi. Suhardjo. Ilmu Gizi Khusus Pada Anak. dkk. 2002. Hubungan Sosial Ekonomi Keluarga dengan Status Gizi Balita Berdasarkan Indeks Tinggi Badan Menurut Umur di Wilayah Kerja Puskesmas Betoambari.

Skripsi yang tidak diterbitkan Universitas Haluoleo.94 Yuliati. Faktor Risiko Kejadian Gizi Buruk Pada Balita di Kecamatan Mandonga Kota Kendari Tahun 2008. Kendari. 2008. LAMPIRAN -LAMPIRAN .

95 LAMPIRAN I NASKAH PENJELASAN UNTUK MENDAPATKAN PERSETUJUAN SUBJEK DAN FORMULIR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (INFORMED CONSENT) Kami meminta anda untuk turut mengambil bagian dalam suatu penelitian berjudul : ” Faktor.Faktor Resiko Kejadian Gizi Buruk Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008 ”. tingkat pendapatan dan penyakit infeksi. Pelaksanaan wawancara hanya dilaksanakan 3 (tiga) hari saja. MANFAAT Informasi yang anada berikan akan sangat bermanfaat sebagai salah satu sumber pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan upaya pencegahan dan perbaikan status gizi buruk pada balita dan merupakan sumber informasi bagi pembuat kebijakan khususnya Dinas Kesehatan Kota Kendari dan instansi terkait lainnya dalam upaya menanggulangi masalah gizi balita di Kota Kendari. pengetahuan ibu tentang gizi. KERAHASIAAN . WAWANCARA Dalam penelitian ini dilakukan wawancara untuk mengetahui pola makan.

96 Catatan mengenai kerahasiaan dan keterlibatan anda dalam penelitian ini akan dirahasiakan. Anda berhak sewaktu-waktu menolak melanjutkan partisipasi anda tanpa perlu memberikan alasan. PARTISIPASI SUKARELA Anda tidak akan dipaksa untuk ikut dalam penelitian ini bila anda tidak menghendakinya . TANDA TANGAN Saya telah membaca. Dengan membubuhkan tanda tangan saya di bawah ini. atau dibacakan pada saya apa yang telah tetera di atas ini dan saya telah diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan membicarakan penelitian ini dengan peneliti. Anda hanya boleh ikut atas kehendak anda sendiri. saya menegaskan keikutsertaan saya secara sukarela dalam penelitian ini. Kendari. Maret 2009 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->