P. 1
Manajemen rumah sakit

Manajemen rumah sakit

|Views: 306|Likes:
Published by Haifa Ros

More info:

Published by: Haifa Ros on Jul 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/02/2014

pdf

text

original

Manajemen rumah sakit Di samping masalah-masalah manajemen, rumah sakit kita juga menghadapi masalah-masalah yang

lebih mendasar, yaitu aspekaspek filosofi. Apakah RS harus tetap merupakan instansi social yang non-profit making atau boleh profit making? Dalam Majalah Manajemen (No. 4, Mei 1981) telah dikemukakan sebuah artikel: ³Organisasi Rumah Sakit Mengapa Kurang Efektif?´ Artikel tersebut ditulis oleh J. Sadiman, dan mengemukakan aspekaspek hubungan antara pengurus/yayasan yang memiliki rumah sakit dengan direksi rumah sakit serta kemungkinan adanya kekaburan mengenai menajemen organisasi rumah sakit. Masalah manajemen rumah sakit pada akhir-akhir ini memang banyak disorot. Tidak saja atas keluhan-keluhan masyarakat yang merasa kecewa dengan pelayanan rumah sakit, baik dari segi mutu, kemudahan, dan tarif, tetapi juga perkembangan zaman yang memang sudah mendesak ke arah perbaikan-perbaikan itu. Setidak-tidaknya ada beberapa alasan untuk meningkatkan kemampuan manajemen rumah sakit: 1. Perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran yang cepat. Dalam 10-20 tahun terakhir, ilmu kedokteran (termasuk di Indonesia) telah berkembang tidak saja ke tingkat spesialisasi dalam bidang-bidang ilmu kedokteran, tetapi sudah ke superspesialisasi. Sejalan dengan ini, teknologi yang dipergunakan juga semakin meningkat. Bisa dipahami bahwa investasi dalam dunia kedokteran dan rumah sakit akan semakin mahal (termasuk human invesmentnya). Karena itu, manajemen rumah sakit yang tidak baik akan menimbulkan pelayanan kesehatan yang semakin mahal atau sebaliknya, bahwa rumah sakit tidak dapat berjalan dan bangkrut. Dalam hal ini perlu disadari bahwa dengan perkembangan tersebut, pelayanan rumah sakit pada dasarnya memang cenderung menjadi mahal´. 2. Demand masyarakat yang semakin meningkat dan meluas. Masyarakat tidak saja menghendaki mutu pelayanan kedokteran yang baik, tetapi juga semakin meluas. Masalahmasalah yang dahulu belum termasuk bidang kedokteran sekarang menjadi tugas bidang kedokteran. Terjadi apa yang disebut proses medicalization. Dapat dimengerti bahwa karenanya beban rumah sakit akan semakin berat. 3. Dengan semakin luasnya bidang kegiatan rumah sakit, semakin diperlukan unsur-unsur penunjang medis yang semakin luas pula, misalnya: masalah-masalah administrasi, pengelolaan keuangan, hu-bungan masyarakat dan bahkan aspek-aspek hukum/legalitas. Belum lagi kehendak pasien yang menghendaki unsur penunjang nonmedis yang semakin meningkat sesuai dengan kebutuhan manusia masa kini. Manajemen rumah sakit dengan demikian akan semakin kompleks. Makin lama makin dirasakan perlunya peningkatan pengelolaan rumah sakit secara profesional. Ada kesan bahwa kecenderungan di atas kurang diperhitungkan. Rumah sakit seolah-olah ³ketinggalan kereta´ menanggapi kecenderungan itu. Di samping itu, juga masalah-masalah yang elementer banyak yang belum terselesaikan, misalnya seperti yang ditulis oleh J. Sadiman, yaitu

hubungan antara direksi rumah sakit dan pemilik rumah sakit (yayasan) sehingga sering terjadi kesalahpahaman di antara keduanya. Artinya. Hubungan ini membawa implikasi yang pelik dalam hubungan keuangan. yaitu apakah rumah sakit dimungkinkan dikelola secara ³bisnis´ dalam arti menjadi suatu instansi yang profit making? Polemik ini sudah tentu menyangkut landasan kenegaraan/falsafah kenegaraan kita. yang biasanya diprakarsai oleh kalangan masyarakat atau orang-orang yang terhormat. yaitu Pancasila dan UUD 1945. akhirnya toh tidak dapat disembunyikan bahwa rumah sakit ini mempunyai kemampuan finansial yang kuat yang tentunya sulk untuk menyatakan bahwa rumah sakit ini adalah non-profit making dan sosial sematamata. Menjadi pertanyaan. terutama pada sekitar tahun 1975. Dewasa ini mereka bekerja secara lepas dan tersendiri dan rumah sakit semata-mata memberikan hak kepada dokter-dokter untuk merawat pasien di rumah sakit. listrik. yang dikelola dengan motivasi yang agak berlainan. Dalam keadaan sekarang. rumah sakit yang selama ini memang lebih mementingkan aspek sosial. air. hampir seluruh rumah sakit swasta menghadapi realita kehidupan yang semakin meterialistis. Namun sudah ada rumah sakit swasta yang justru melepas keterikatan dengan dokterdokter ahli ini. muncul rumah sakit swasta di kotakota besar. dan bahkan imbalan jasa dokter dan paramedic dengan mengikuti harga pasar. rumah sakit toh tidak mungkin dikelola semata-mata sosial. hampir seluruh rumah sakit yang besar sekalipun tidak memiliki dokter ahli yang tetap. ada kesan bahwa rumah sakit seperti ini dikelola ³asal jalan´ dan sematamata mengutamakan pelayanan medis pasien-pasien yang dirawat. pasien yang dirawat di rumah sakit itu pasien dokter atau pasien rumah sakit? Apabila mereka itu pasien para dokter. Tidak terlepas dalam hubungan ini adalah rumah sakit pemerintah di mana meskipun seluruh biaya eksploitasi/personel/gedung dan lain sebagainya ditanggung oleh pemerintah (secara teoretis). rumah sakit seperti ini membawa missi sosial dan karena itu tidak profit making. Baru pada akhir-akhir ini. Sebagian rumah sakit me-nyelenggarakan hubungan kerja secara part time untuk suatu jabatan rumah sakit tertentu. Sudah tentu. Seperti dikatakan di atas. dari donasi/sumbangan yang diperolehnya. Kerugian yang ada biasanya akan ditangani lembaga-lembaga keagamaan/sosial yang bersangkutan. dalam perkembangan dewasa ini. Rumah sakit di Indonesia untuk sebagian besar (± 70%) dimiliki oleh Pemerintah. Sebagian rumah sakit swasta didirikan oleh lembaga-lembaga/yayasan. Mungkin karena sifat non-profit making inilah. seolah-olah ketinggalan ³kereta´. bukankah rumah sakit harus berterima kasih kepada dokter-dokter? Dokter-dokter dengan demikian benar-benar ³tamu rumah sakit´. . Fenomena ini telah menumbuhkan polemik baru dari segi filosofis. Hubungan Dokter²Rumah Sakit Masalah ini juga sangat pelik. Meskipun rumah sakit ini tidak secara berterus terang merupakan lembaga yang profit making. dapur. Meskipun demikian. Dalam keadaan inilah. Rumah sakit harus membayar teknologi kedokteran. keperluan mengelola rumah sakit sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen adalah sangat mutlak. misalnya untuk direksi medis atau kepala-kepala bagian. dari segi manajemen. khususnya dengan latar belakang keagamaan atau lembaga-lembaga sosial lainnya.

mereka memperoleh insentif dari aspek-aspek material. artinya mempertahankan status hubungan sebagai ³dokter tamu´ atau ³status part timer´ dengan dokterdokter ahli. Keadaan seperti ini. Di sini. masalah-masalah ini menjadi semakin komplelcs. betapapun (mungkin) ke. di mana terjadi disparitas yang besar antara rumah sakit pemerintah dan swasta. Dalam menghadapi masalah ini.bijaksanaan yang diberikan oleh pengurus yayasan/pemilik rumah sakit mungkin sudah baik. Pada dasarnya. Tetapi. tetapi berakibat kualitas pelayanannya sering dianggap kurang. rumah sakit (sebenarnya) lebih banyak harus menyesuaikan dini dengan kebijalcsanaan pemerintah.spesialisasi. atau sebagai ³konsultan´. Pelayanan administrasi/penunjang/hubungan masyarakat dan aspek-aspek hukum/peraturan rumah sakit semakin luas. Scperti dikatakan di atas. pola-pola hubungan itu sudah harus diletakkan dari sekarang. dalam perkembangan waktu. banyak direktur rumah sakit yang sebenarnya tidak bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi dokter-dokter. Karena itu. rumah sakit dapat saja bertahan -dalam ke. sehingga banyak dimanfaatkan °rang. Dengan peranan yang besar dari para dokter dan sebaliknya. Konon sedang dipikirkan. Sedangkan di rumah sakit swasta. ada anggapan bahwa dokter-dokter (secara profesional) sayang apabila menangani masalah-masalah yang nonmedis. Rumah sakit pemerintah mampu memberikan pelayanan yang murah.katkan manajemen rumah sakit seperti di atas. karena hampir semua dokter spesialis berada dalam kewenangan pemerintah. Dan i segi manajemen. Hospital management telah berkembang menjadi ilmu yang tersendiri. dengan adanya kebutuhan untuk mening. berada di luar organisasi rumah sakit. begitu ³kendornya´ hubungan antara dokter dan rumah sakit dewasa ini tidak saja memberi dokter posisi unik di rumah sakit. Sebaliknya.adaan sekarang. namun (akhirnya) masyarakat yang menjadi korban. Hal ini memerlukan penanganan manajemen secara lebih profesional. dengan peningkatan ilmu kedokteran ke tingkat super. Seperti yang kita lihat sekarang. Disparitas ini mengesankan bahwa rumah sakit swasta untuk golongan yang mampu dan rumah sakit pemerintah untuk melayani golongan yang kurang mampu. juga diakomodir kepentingan dokter dari segi material. Meskipun demikian. citra rumah sakit akan terbentuk oleh pelaksanaan tugas sehari-hari. tetapi menentukan jalannya rumah sakit. . pada akhir-akhir ini telah memperoleh perhatian. rumah sakit pemerintah pun didorong untuk memiliki fasilitas golongan yang mampu dengan timbulnya fasilitas-fasilitas khusus di rumah sakit pemerintah.reksi rumah sakit sendiri. tetapi juga sangat berpengaruh dalam memberikan warna terhadap pengelolaan rumah sakit secara keseluruhan. dari segi pengabdian merupakan tempat pengabdian yang utama. Pengelolaan Rumah Sakit Pengelolaan rumah sakit sehari-hari menjadi wewenang dan tugas di. karena ± 80% dari biaya rumah sakit pada hakikatnya dikontrol oleh dokter-dokter.orang yang dihormati. sehingga pelayanan rumah sakit semakin dapat dijangkau oleh masyarakat luas. bagaimana rumah sakit juga dapat memiliki dokter-dokter ahli yangfid/ time. Sebaliknya.

untuk kemudahan komunikasi. karena dari segi personalia sering tidak dapat dipisahkan tugas seorang dokter yang menjadi direksi rumah sakit yang sekaligus merawat pasien. rumah sakit. Pustaka Manajemen kesehatan Oleh Sulastomo . Dalam tahap sekarang masalah ini memang (dalam batas-batas tertentu) tidak dapat dihindari. Ketiga Badan ini. semakin dihadapkan pada masalah-masalah yang semakin pelik. Apabila masalah ini sudah dicapai. khusus di Indonesia. baik pengurus yayasan. Masalah ini dalam tahap pertama tentunya dapat dikurangi dengan suatu job discription yang sejelas-jelasnya. yaitu penyelenggaraan organisasi diagnostik. perawatan pasien. ketiga badan ini pada umumnya masih sering terjadi semacam conflict of interest dari masing-masing anggota badan tersebut. saling mengisi dan mengontrol. masalah ini perlu dipecahkan. namun dalam meng. perlu disadari pentingnya keseragaman pandangan di antara pendukung suatu rumah sakit. Direksi Rumah Sakit.orang dokter yang telah memperoleh pendidikan dalam Hospital Management. Dalam hubungan ini. apabila seorang direktur adalah se. jelaslah bahwa ada tiga badan yang semestinya sangat penting dengan tugas dan wewenang yang cukup jelas. adiminstrasi/keuangan. Staf Kedokteran (Medical Staff). sesuai dengan fungsi dan wewenangnya. yang dengan sendirinya mempengaruhi jalannya organisasiorganisasi rumah sakit. 2. Tentunya akan sangat ideal. Dalam tahap pertama. sehingga kemampuan rumah sakit menyelenggarakan rumah sakit itu dapat ditingkatkan. Kepentingan untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan rumah sakit memang sudah mendesak. 3. direksi rumah sakit yang bertugas mengelola rumah sakit akan banyak didorong dan lebih mudah menerapkan prinsip-prinsip Hospital Administration secara semestinya. rumah tangga. Untuk itu pengelolaan rumah sakit harus semakin ditingkatkan sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen yang berlaku. perlengkapan dan lain sebagainya. penyediaan/logistik. Tetapi. Atau anggota yayasan yang juga merawat pasien. Tidak berlebihan bahwa para manajer rumah sakit di Indonesia telah banyak belajar dari pengalaman. direksi dan para dokter. Pemilik Rumah Sakit/Yayasan/Governing Board.hadapi perumahsakitan yang semakin komplelcs. therapy. karena peranan yang besar dari para dokter dalam badan-badan tersebut. lambat atau cepat.Masalah itu perlu dikemukakan. sebelum diputus oleh yayasan/ Governing Board/pemilik rumah sakit. yaitu: 1. Di masa depan. ketiga badan ini dapat membentuk semacam ³Badan Musyawarah´ yang merumuskan dan menampung permasalahanpermasalahan yang ada. tentunya dianjurkan adanya pemisahan yang jelas. sehingga tercapai keseimbangan untuk mengarahkan tujuan yang hendak dicapai oleh rumah sakit itu. dengan perkembangan rumah sakit yang semakin kompleks. Struktur Organisasi Dengan memperhatikan uraian di atas. karena peranan dokter adalah sangat kuat dan pengelolaan rumah sakit di Indonesia dewasa ini.

di lingkungan Asean. dan terlalu tua untuk hamil. terlalu muds. 2. terlalu banyak anak.5 %.Upaya Kesehatan Dalam Pelayanan Kebidanan Ilmu kebidanan adalah ilmu yang mempelajari tentang kehamilan. Pengawasan antenatal masih belum memadai sehingga penyulit hamil dan hamil dengan risiko tinggi tidak atau terlambat diketahui. Dikemukakan bahwa angka kematian perinatal lebih mencerminkan kesanggupan satu negara untuk memberikan pelayanan kesehatan. infeksi gestosis 17. trauma persalinan 2-7 %.5 %.000 atau terjadi sctiap 18-20 menit sekali. Penyebab kematian ibu adalah perdarahan 30. 3. persalinan. dapat dikemukakan bahwa: 1. Masih banyak dijumpai ibu dengan jarak hamil pendek. infeksi 24-34 %. persalinan.0 %. dan anestesia 2.500-20. Dengan perkiraan persalinan di Indonesia setiap tahunnya sekitar 5. Gerakan keluarga berencana masih dapat digalakkan untuk meningkatkan cumber daya manusia melalui norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKKBS). merupakan negara dengan angka kematian ibu dan perinatal tertinggi. 2. . 4. yang berarti kemampuan untuk memberikan pelayanan kesehatan masih memerlukan perbaikan yang bersifat menyeluruh dan lebih bermutu. Penyebab kematian bayi adalah asfiksia neonatorum 49-60 %. Angka kematian ibu sebesar 19.000 jiwa dapat dijabarkan bahwa: 1. Kematian bayi sebesar 56/10.000 menjadi sekitar 280. dan cacat bawaan 1-3 %. Sebagian besar kematian ibu dan perinatal terjadi saat pertolongan pertama sangat dibutuhkan.000. dan kala nifas serta kembalinya alat reproduksi ke keadaan normal. prematuritas/BBLR 15-20 %. Memperhatikan angka kematian ibu dan bayi. Indonesia. Tujuan ilmu kebidanan adalah untuk mengantarkan kehamilan.000 setiap tahunnya atau terjadi setaip 26-27 menit. dan kala nifas serta pemberian ASI dengan selamat dengan kerusakan akibat persalinan sekecil-kecilnya dan kembalinya alat rcproduksi kekeadaan normal. Kemampuan pelayanan kesehatan suatu negara ditentukan dengan perbandingan tinggi rendahnya angka kematian ibu dan angka kematian perinatal.

5. 6. Nusa Dua. Berdasarkan tingginya angka kematian ibu dan perinatal yang diatami sebagian besar negara berkembang. Jumlah anemia pada ibu hamil cukup tinggi. ‡ Pendidikan masyarakat yang masih rendah. Bali 1994 . diharapkan dapat mengendalikan faktor dalam masyarakat sehingga mampu memberikan pelayanan yang lebih bermutu dan menyeluruh dengan tujuan menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian perinatal. ‡ Meningkatkan gizi ibu hamil dan menyusui. yang meliputi: ‡ Gerakan keluarga berencana masih dapat ditingkatkan penerimaannya. dan menyusui. ‡ Meningkatkan upaya kesehatan lingkungan. . 2. Faktor sosial. Salah satu usaha yang sangat penting untuk dapat mencapai peningkatan pelayanan kebidanan yang menyeluruh dan bermutu adalah menyebarkan ³Bidan di desa dengan polindesnya´ sesuai dengan gagasan Bapak Presiden Soeharto pada pembukaan ³World congress on human reproduction. Indonesia sebagai negara berkembang menerima gagasan pelayinan kesehatan utma dan memasukkannya ke dalam ³Sistem Kesehatan Nasional´ yang telah dikeinukakan tahun 1982. ‡ Meningkatkan pelaksanaan imunisasi. sesuai dengan kemampuan masyarakat sehingga dicapai Health for all by year the 2000. ‡ Faktor gizi masyarakat belum mcmenuhi untuk kesehatan ibu hamil. dan belum slap menerima pelaksanaan keschatan modern. Yang bersifat ilmu kebidanan murni: ‡ Pelaksanaan pengawasan hamil belum menjangkau masyarakat menyeluruh dan bermutu. ‡ Meningkatkan upaya sistem rujukan. Mulai tahun itu pelayanan kesehatan kebidanan tidak terbatas ditingkat klinik tetapi telah menyebarkan upaya promotif. ‡ Lemahnya sistem rujukan. maka WHO dan UNICEF di Alma Ata. Melalui gagasan ilmu kebidanan sosial. ‡ Meningkatkan penerimaan keluarga berencana. ‡ Menerapkan pelayanan kesehatan yang terjangkau masyarakat. ‡ Pertolongan pertama hamil dan persalinan yang belum memadai. preventif dan rehabilitasi ke dalam gagasan Ilmu Kebidanan Sosial. Di masa yang akan datang ³Bidan di Desa´ diharapkan dapat memberikan pelayanan kebidanan yang lebih bcrmutu dan menyeluruh dan sebagai pengganti ³dukun beranak´. Uni Sovyet 1978 telah menyelenggarakan pertemuan dengan menghasilkan gagasan untuk menerapkan ³Primary health care´ yaitu upaya kesehatan utama dengan teknologi berdaya guna dan tepat guna. Pendidikan masyarakat yang rendah cendrung memilih pemeliharaan kesehatan secara tradisional. Gagasan Pelayanan Kesehatan Utama tersebut mempunyai unsur: ‡ Meningkatkan pelaksanaan pengawasan hamil. Kalau disimak ternyata faktor-faktor tersebut dapat dibagi dua yaitu: 1.

Oleh karena itu. Pelayanan kesehatan didasari atas kerahasiaan dan kepercayaan yang mempunyai ciri sebagai berikut: 1. khususnya unhuk menurunkan angka kematian anak. 5. Secara umum tenaga profesi kesehatan dibatasi oleh tiga kaedah utama. Sifat pekerjaan profesi ini tidak mampu mcmberikan jaminan pasti. Kerja sama dengan masyarakat melalui posyandu. Oleh karena itu. dan pengawasan neonatus dan pada persalinan ibu postpartum. Mereka yang meminta pertolongan tidak dapat menilai sampai scberapa jauh keahlian pemberi pertolongan. jaminan yang diharapkan dilandasi pada sumpah profesi dan etika profesi yang mengatur tingkah laku seseorang. Berdasarkan peranan bidan yang vital itulah diperlukan pengaturan profesi bidan dalam memberikan pertolongan yang optimal. pertolongan. 2. profesi tenaga kesehatan yang selalu berkaitan dengan manusia geraknya sangat terbatas. yaitu sumpah profesi. Di samping itu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia dapat dibebankan kepada bidan melalui pelayanan keluarga berencana. Oleh karena itu. Dengan dasar demikian berarti masyarakat sulit untuk memberikan penilaian kemampuan profesi. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan pemerataan pelayanan kesehatan . di antaranya sebagai berikut: 1. bidan dapat berdiri sendiri dalam memberikan pertolongan kesehatan kepada masyarakat khususnya pertolongan persalinan normal. bidan mengucapkan janji atau sumpah saat menamatkan diri dari pendidikannya. 3. Mereka yang memerlukan pertolongan profesi berada pada pihak yang tergantung pada pemberi pertolongan. sehingga mampu menekan angka kesakitan dan kematian maternal dan perinatal. Bidan merupakan mata rantai yang sangat penting karena kedudukannya sebagai ujung tombak dalam upaya meningkatkin sumber daya manusia melalui kemampuannya untuk melakukan pengawasan. Cara Menurunkan Angka Kematian Anak Balita Pemerintah telah membuat berbagai kebijakan untuk mengatasi persoalan kesehatan anak. Atas dasar kepercayaan berarti bahwa yang meminta pertolongan akan memberikan keterangan yang diperlukan untuk dapat menegakkan penyakitnya dan sekaligus pengobatannya. Mereka yang mempunyai profesi sebagai tenaga kesehatan hampir dapat dipastikan ³bebas.´ tidak tergantung kepada orang lain sehingga hanya bila ada tuntutan hukum saja pihak yang berwenang dapat melakukan tindakan.Etika Profesi Bidan Berbeda dengan profesi tenaga kesehatan lainnya. tctapi akan diupayakan agar tercapai tingkat maksimal. bersama Program Kesehatan Keluarga (PKK) penting artinya dalam menapis kehamilan risiko tinggi. dan kaedah masyarakat dalam bentuk tertulis atau kebiasaan yang perlu dihormati pula. 4. kaedah hukum yang mengatur tata nilai di dalam masyarakat. Peranan penting bidan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian maternal dan perinatal melalui pendekatan kepada dukun beranak dengan membcrikan bimbingan pada kasus yang memerlukan rujukan medis.

salah satunya adalah dengan meletakkan dasar pelayanan kesehatan pada sektor pelayanan dasar. buku KIA yang digunakan sejak tahun 1948 mampu menurunkan secara signifikan angka kematian bayi²AKB dan angka kematian ibu²AKI (Hapsari. Berkaitan dengan kematian bayi akibat persalinan. Kegiatan UPGK tersebut didorong dan diarahkan pada peningkatan status gizi. Upaya pemerataan tersebut dapat dilakukan dengan penyebaran bidan desa. Pelayanan dasar dapat dilakukan di puskesmas induk. Selain itu. di samping dapat memperbaki status kesehatan anak. .Untuk meningkatkan mutu pelayanan serta pemerataan pelayanan kesehatan yang ada di masyarakat telah dilakukan berbagai upaya. 3. 4. Tenaga kesehatan yang dimaksud antara lain tenaga perawat. Dengan pemberian gizi yang baik diharapkan pertumbuhan dan perkembangan anak akan baik pula. Semua bentuk pelayanan kesehatan perlu didorong dan digerakkan untuk menciptakan pelayanan yang prima. Meningkatkan manajemen kesehatan Upaya pelaksanaan program pelayanan kesehatan anak dapat berjalan dan berhasil dengan baik bila didukung dengan perbaikan dalam pengelolaan pelayanan kesehatan.serta dokter yang berada di puskesmas yang . Upaya tersebut dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan. sebab upaya pemerintah dalam rangka menurunkan kematian bayi dan anak tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah. pos kesehatan desa.bidan. Bentuk pelayanan tersebut dilakukan dalam rangka jangkauan pemerataan pelayanan kesehatan. penyediaan air bersih. dan puskesmas keliling. dan Upaya tersebut akan memudahkan pelaksanaan program kesehatan yang tepat pada sasaran yang ada. khususnya pada masyarakat yang rawan atau memiliki risiko tinggi terhadap kematian atau kesakitan. ibu hamil. melainkan peran serta masyarakat dengan keterlibatan atau partisipasi secara langsung. Upaya atau program pelayanan kesehatan yang membutulikan peran serta masyarakat antara lain pelaksanaan imunisasi. dan alat komunikasi antara tenaga kesehatan dengan pasien. Meningkatkan peran serta masyarakat Peningkatan peran serta masyarakat dalam membantu perbaikan status kesehatan ini penting. Upaya masyarakat tersebut sangat menentukan keberhasilan program pemerintah sehingga mampu mengatasi berbagai masalah kesehatan. Meningkatkan status gizi masyarakat Peningkatan status gizi masyarakat inerupakan bagian dari upaya untuk mendorong terciptanya perbaikan status kesehatan. dan lansia yang golongan ekonominya rendah. cakupan pelayanan diperluas dengan pemerataan pelayanan kesehatan untuksegala aspekatau lapisan masyarakat. ibu menyusui. sanitasi lingkungan. Kelompok risiko tinggi terdiri atas anak balita. peningkatan kesehatan akan tercakup pada semua lapisan masyarakat klnisusnya pada kelompok risiko tinggi. di antaranya upaya perbaikan gizi keluarga atau dikenal dengan nama UPGK. perawat komunitas. puskesmas pembantu. 2004). serta unit-unit yang terkait di masyarakat. perbaikan gizi. Dalam hal ini adalah peningkatan manajemen pelayanan kesehatan melalui pendayagunaan tenaga kesehatan profesional yang mampu secara langsung mengatasi masalah kesehatan anak. posyandu. alat monitor kesehatan oleh tenaga kesehatan. maka upaya yang dapat dilakukan adalah memperbaiki pelayanan kebidanan serta menyebarkan buku KIA. Di Jepang. fasilitas balai kesehatan. Melalui upaya tersebut. Melalui peran serta masyarakat diharapkan mampu pula bersifat efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan.

Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan Oleh A. Ida Bagus Gde Manuaba . Aziz Alimul .secara langsung berperan dalam pemberian pelayanan kesehatan. Dr.Ilmu Kebidanan. Sumber Pustaka . Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan Oleh Prof.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->