P. 1
contoh kontrak

contoh kontrak

|Views: 1,317|Likes:
Published by Rini Fazriah

More info:

Published by: Rini Fazriah on Jul 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2013

pdf

text

original

KONTRAK BISNIS

Oleh: Prof. Hikmahanto Juwana, SH., LL.M, Ph.D

MODUL – I

PENGERTIAN DASAR
KONTRAK BISNIS INTERNASIONAL I.1 Pengertian Kontrak Kontrak adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh dua atau lebih pihak dimana masing-masing pihak yang ada didalamnya dituntut untuk melakukan satu atau lebih prestasi. Dalam pengertian demikian kontrak merupakan perjanjian. Namun demikian kontrak merupakan perjanjian yang berbentuk tertulis. I.2 Pengertian Kontrak Bisnis Kontrak Bisnis merupakan suatu perjanjian dalam bentuk tertulis dimana substansi yang disetujui oleh para pihak yang terkait didalamnya bermuatan bisnis. Adapaun bisnis adalah tindakan-tindakan yang mempunyai nilai komersial. Dengan demikian kontrak bisnis adalah perjanjian tertulis antara dua atau lebih pihak yang mempunyai nilai komersial. Dalam pengertian yang demikian kontrak bisnis harus dibedakan dengan suatu kontrak kawin atau perjanjian kawin. Kontrak Bisnis dapat dibagi menjadi empat bagian apabila dilihat dari segi pembuktian. Pertama adalah Kontrak Bisnis yang dibuat dibawah tangan dimana para pihak menandatangani sebuah Kontrak Bisnis diatas meterai. Kedua adalah Kontrak Bisnis yang didaftarkan (waarmerken) oleh notaris. Ketiga adalah Kontrak Bisnis yang didelegasi didepan notaris. Keempat adalah Kontrak Bisnis yang dibuat dihadapan notaris dan dituangkan dalam bentuk akta notaris. Walaupun ada empat pembedaan dari segi pembuktian namun demikian hal tersebut tidak mempengaruhi keabsahan isi dari apa yang diperjanjikan oleh para pihak. Sehubungan dengan Kontrak Bisnis yang dituangkan dalam bentuk akta notaris, ada beberapa Kontrak Bisnis yang oleh undang-undang harus dibuat dalam bentuk akta notaris, misalnya perjanjian yang menyangkut pendirian perseroan terbatas atau perjanjian jual beli tanah. Sedangkan ada Kontrak Bisnis yang karena kebiasaan dituangkan dalam bentuk akta notaris, misalnya Perjanjian Pinjam Meminjam, Perjanjian Penjaminan Emisi dan lain-lain. Ada pula

Kontrak Bisnis yang dituangkan dalam bentuk akta notaris karena memang dikehendaki secara demikian oleh para pihak. I.3 Pengertian Kontrak Bisnis Internasional Kontrak Bisnis dilihat dari unsurnya dapat dibagi menjadi dua kategori. Pertama adalah Kontrak Bisnis Domestik dan kedua adalah Kontrak Bisnis Internasional. Adapun yang membedakan antara Kontrak Bisnis Domestik dengan Kontrak Bisnis Internasional adalah ada tidaknya unsur internasional. Unsur internasional dapat berupa para pihaknya, substansi yang diatur, dan lainlain. Sebagai contoh apabila dalam suatu kontrak bisnis para pihak yang mengikatkan diri adalah warga negara atau badan hukum asing maka hal ini sudah dapat dikategorikan Kontrak Bisnis Internasional. Contoh Kontrak Bisnis Internasional adalah Perjanjian Pendirian Usaha Patungan (Joint Venture Agreement), Perjanjian Pinjam Meminjam (Loan Agreement) antara badan hukum Indonesia dengan bank asing, Perjanjian Penjaminan Emisi (Underwriting Agreement) antara Emiten Indonesia dengan Penjamin Emis Efek berbadan hukum asing dan lain-lain. I.4 Pengertian Kontrak Bisnis Internasional yang Berdimensi Publik Kontrak Binsis yang Berdimensi Publik adalah suatu kontrak bisnis dimana salah satu atau para pihaknya adalah Pemerintah atau aparatnya. Adapun yang dimaksud dengan Pemerintah atau aparatnya dapat berupa Presiden selaku kepala administratif, Menteri yang memimpin Departemen, Kepala Kantor Wilayah, Kepala Staf Angkatan dan lain-lain sepanjang mereka mempunyai wewenang untuk melakukan dan mengikatkan diri pada suatu perjanjian. Berbeda dengan subyek hukum yang dikenal dalam hukum perdata, maka pemerintah atau aparatnya ini lebih merupakan busyek hukum administrasi negara. Perlu ditegaskan disini bahwa perjanjian yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bukanlah merupakan kontrak bisnis yang berdimensi publik. Hal ini karena BUMN bukanlah suatu entitas publik melainkan suatu badan hukum sebagaimana dikenal dalam hukum perdata. Kontrak Bisnis Domestik yang Berdimensi Publik sangat banyak dikenal. Sebagai contoh suatu instansi pemerintah melakukan kontrak bisnis dengan perusahaan swasta tentang pengadaan gedung atau barang. Contoh lain adalah instansi pemerintah yang melakukan tukar guling dengan perusahaan swasta. Sedangkan Kontrak Bisnis Internasional yang Berdimensi Publik adalah suatu kontrak bisnis dimana salah satu pihaknya adalah Pemerintah atau aparatnya. Sebagai contoh sebuah Departemen mengadakan suatu kontrak bisnis dengan badan hukum swasta di luar negeri sehubungan dengan pengiriman seorang atau beberapa ahli. Contoh lain adalah Departemen Luar Negeri melakukan pinjam meminjam secara komersial dengan suatu Bank di luar negeri guna pembiayaan gedung kedutaan di luar negeri. Kontrak Bisnis yang Berdimensi Publik ini harus dibedakan dengan suatu perjanjian internasional. Perjanjian internasional merupakan suatu perjanjian yang dilakukan oleh subyek hukum internasional, khususnya antara negara dengan negara atau negara dengan organisasi

internasional. Dapat saja suatu perjanjian internasional bermuatan bisnis, misalnya pemerintah Republik Indonesia melakukan pinjaman kepada Bank Dunia (World Bank) atau IMF (International Monetary Found) oooHikmahantoooo Selanjutnya: Modul 2

KONTRAK BISNIS
Oleh: Prof. Hikmahanto Juwana, SH., LL.M, Ph.D

MODUL – II

TAHAPAN KONTRAK BISNIS
DAN PERAN IN HOUSE COUNSEL II.1 Tahapan Kontrak Bisnis Pembuatan (drafting) dan penelaahan (reviewing) auatau rancangan kontrak bisnis tidak dilakukan secara tiba-tiba tanpa ada tindakan sebelumnya yang mendasarinya. Pembuatan kontrak bisnis biasanya diikuti pula dengan tindakan-tindakan selanjutnya. Dalam pengertian yang demikian pembuatan kontrak bisnis merupakan salah satu tahapan dari sekian rangkaian tahapan. Tahapan yang dimaksud dimulai dengan suatu kesepakatan para pihak untuk melakukan suatu transaksi bisnis tertentu. Pada halaman berikut divisualkan urutan-urutan dari rangkaian tahapan suatu kontrak bisnis:

Independent counsel adalah konsultan hukum yang mempunyai kemandirian dan biasanya adalah kantor-kantor konsultan hukum Selanjutnya dalam modul ini akan dibahas peran dari seorang in house counsel dalam tahapantahapan setiap kontrak.1 Pengertian In House Counsel Dewasa ini dalam perusahaan maupun instansi pemerintah seringkali dibuat sebuah divisi tempat berkumpul para sarjana hukum. Perlu diketahui bahwa walaupun suatu perusahaan atau instansi pemerintah sudah memiliki in house counsel namun demikian untuk transaksi-transaksi bisnis tertentu mereka menunjuk konsultan hukum independen yang dianggap sangat menguasai transaksi bisnis yang akan dilakukan. In house counsel harus dibedakan dengan independent counsel. Divisi ini disebut dalam berbagai penyebutan. Dalam suatu Departemen divisi ini disebut sebagai Biro Hukum. Mereka-mereka yang bekerja pada divisi hukum ini disebut sebagai in house counsel.II.2. Hal yang perlu dicatata adalah perusahaan atau instansi pemerintah yang menggunakan inhouse counsel tidak bekerjasama dengan konsultan hukum apabila tidak adanya penunjukan konsultan hukum independen oleh perusahaan atau instansi pemerintah. . Ada pula perusahaan yang tidak menyebutnya sebagai suatu divisi karena hanya ada satu pegawai yang bertangung jawab atas aspek hukum dari perusahaan tersebut. atau dalam perusahaan swasta ada yang menyebutnya sebagai Divisi Hukum atau Legal Department. Dalam keadaan demikian seorang in house counsel harus dapat bekerjasama dengan konsultan hukum yang dutunjuk oleh perusahaan atau instansi pemerintah-nya.2 Pengertian In House Counsel dan Perannya dalam Tahapan Kontrak Bisnis II.

Apabila ia diminta maka seorang in house counsel harus membuat dan mempersiapkan rancangan kontrak bisnis yang dikehendaki. In house counsel tentunya akan berusaha untuk mengakomodasi kepentingan para kliennya dan melindunginya .2. dalam salah satu dari dua peran yang akan dilakukan oleh in house counsel. Dalam kaitan ini seorang in house counsel dapat diminta untuk (i) membuat rancangan kontrak bisnis yang akan ditandatangani oleh para pihak atau seorang in house counsel dapat diminta untuk (ii) melakukan penelaahan (review) terhadap kontrak bisnis yang telah dipersiapkan oleh pihak lainnya.2.II. maka in house counsel dituntut untuk dapat menterjemahkan transaksi bisnis yang hendak dilakukan oleh para pihak dan mengakomodasi hal-hal yang telah disepakati oleh para pihak pada pebicaraan awal dalam rancangan kontrak bisnis yang hendak ditandatangani. Terlepas dari peran yang diemban.2. Namun apabila ia tidak diminta untuk membuat dan mempersiapkan rancangan kontrak bisnis maka seorang in house counsel mempunyai tanggung jawab untuk memeriksa isi yang diatur dalam rancangan kontraik bisnis yang telah disiapkan oleh pihak lainnya. II. Hal ini karena kontrak bisnis yang telah dibuat atau diperiksa oleh in house counsel hukum tidak begitu saja akan ditandatangani oleh para pihak. Para pihak akan menuntut satu sama lainnya untuk mengakomodasi hal-hal tertentu bahkan mengadakan perubahan-perubahan yang dianggap tidak mengakomodasi kepentingannya atau kurang memberikan perlindungan. Dalam tahap negosiasi rancangan kontrak bisnis seringkali membutuhkan waktu yang cukup panjang sampai pada akhirnya rancangan siap untuk ditandatangani oleh pihak-pihak terkait. Disamping itu in house counsel harus pula dapat melindungi kepentingan kliennya klausulaklausula yang ada dalam rancangan kontrak bisnis.1 Tahap Kesepakatan Para Pihak Dalam tahapan kesepakatan para pihak peran dari in house counsel kurang dominan.2.2. in house counsel memiliki peran yang sama dominannya pada saat tahapan pembuatan atau penelaahan rancangan kontrak bisnis. Hal ini karena pihak-pihak yang hendak mengikatkan diri jarang sekali menyertakan in house counsel dalam perundingan awal dengan berbagai alasan diantaranya khawatir bahwa kehadiran in house counsel akan merusak hubungan yang hendak dibina oleh para pihak.2 Peran In House Counsel dalam Tahapan Kontrak Bisnis II.3 Tahap Negosiasi Rancangan Kontrak Bisnis Dalam tahap negosiasi kontrak bisnis. Perbedaan peran ini tergantung pada diminta atau tidaknya in house counsel mempersiapkan sebuah rancangan kontrak bisnis.2.2. Adapun langkah-langkah yangharus diperhatikan oleh seorang in house counsel baik untuk membuat atau menelaah rancangan kontrak bisnis akan dijelaskan dalam Modul – IV (Penelaahan terhadap Rancangan Kontrak Bisnis). II.2 Tahap Pembuatan atau Penelaahan Rancangan Kontrak Bisnis Pada tahap pembuatan atau penelaahan rancangan kontrak bisnis terhadap apa yang telah disepekati oleh para pihak maka peran in house counsel sangat dominan.

Adapun dalam tahapan dimana pelanggaran terhadap kontrak bisnis terjadi maka in house counsel akan berperan sebatas membantu pengacara dalam usaha pengacara tersebut memahami betul isi kontrak bisnis yang ada.2. Perannya antara lain adalah meneliti apakah pihak-pihak yang menandatangani merupakan pihak-pihak yang memang secara hukum diperbolehkan menandatangani kontrak. Apabila memang ada peristiwa cidera janji maka biasanya dilakukan penyelesaian sengketa secara musyawarah untuk mufakat. Atau mungkin ada suatu transaksi lain yang berkaitan dengan kontrak bisnis yang telah ditandatangani dimana atasan menginginkan kepastian bahwa instansi tidak melanggar ketentuan dari kontrak bisnis yang ditandatangani.2. II. Selanjutnya in house counsel harus memastikan bahwa penandatanganan rancangan kontrak bisnis yang dilakukan di Indonesia harus dibutuhkan materai secukupnya. Ia harus menentukan dalam tahap awal apakah memang betul telah terjadi peristiwa cidera janji sebagaimana diatur dalam kontrak yang dilakukan dan karenanya dapat menuntut ganti rugi. Peran in house counsel disini walaupun tidak terlalu dominan namun ia tetap mempunyai peran. apakah pihak yang menandatangani harus memperoleh persetujuan dari Komisaris atau rapat umum pemegang saham (dapat dilihat dalam anggaran dasar PT yang bersangkutan). Dalam hal yang demikian maka peran in house counsel akan menjdai dominan kembali.dari kemungkinan-kemungkinan masalah yang timbul (klausula-klausula antisipatif) yang akan dicerminkan dalam pengaturan klausula-klausula kontrak bisnis. seperti misalnya dimintakan nasehat sehubungan dengan pelaksanaan dari pasal tertentu.2.2. apaka surat kuasa (apabila diperlukan) sudah ada. yang pada umumnya diatur dalam salah satu klausula dalam kontrak bisnis.2. II. apakah orang yang akan menandatangani memang memiliki kemampuan untuk itu.5 Tahap Sengketa Kontrak Bisnis Tahap berikutnya adalah tahap sengketa yaitu tahap dimana mungkin dalam pelaksanaan dari kontrak bisnis para pihak tidak memenuhi salah satu kewajibannya. Apabila pihak yang menandatangani adalah suatu perseroan terbatas (selanjutnya disingkat “PT”). Misalnya pihak tersebut telah memenuhi ketentuan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Seorang in house counsel umumnya tidak memiliki izin untuk beracara dan karenanya untuk pembelaan instansinya di forum pengadilan perlu untuk menyewa jasa pengacara.2. . Ia akan mempunyai peran apabila dimintakan oleh atasannya.5 Tahap Pelaksanaan Kontrak Bisnis Dalam tahap pelaksanaan kontrak bisnis dapat dikatakan bahwa peran in house counsel sangat pasif. apakah melalui forum pengadilan atau arbitrase (sebagaimana ditentukan dalam kontrak bisnis). II.4 Tahap Penandatanganan Rancangan Kontrak Bisnis Segera setalah tahap negosiasi selesai maka para pihak akan menandatangani rancangan kontrak bisnis. Apabila cara musyawarah untuk mufakat tidak dapat itempuh maka diambil jalan untuk menyelesaikan sengketa melalui badan peradilan.

Tanggal dari kontrak yang dibuat dan ditandatangani. Barikut akan dijelaskan satu persatu bagian tersebut. Ph. III.2 Bagian Pendahuluan Dalam bagian pendahuluan dibagi menjadi beberapa sub-bagian sebagai berikut: III.oooHikmahantoooo KONTRAK BISNIS Oleh: Prof.2 Sub-bagian Pencantuman Identitas Para Pihak Dalam sub-bagian ini identitas para pihak yang akan mengikatkan diri dalam kontrak dan siapasiapa yang akan menandatangani kontrak (catatan: tidak semua pihak yang terikat dapat menandatangani kontrak.2.2. Hal-hal sebagai berikut terkadang perlu untuk diperhatikan: Dalam penyebutan para pihak maka harus disebutkan secara jelas.1 Bagian-Bagian Utama Sebuah Kontrak Bisnis Kontrak Bisnis seperti halnya sebuah tulisan maka dapat diidentifikasi tiga bagian utama.2.1 Sub-bagian Pembuka Dalam sub-bagian ini dimuat dua hal sebagai berikut: Sebutan atau nama kontrak dan penyebutan selanjutnya (penyingkatan) yang akan dilakukan. yaitu bagian pendahuluan. Hikmahanto Juwana. III. Sub-bagian Penjelasan .3.. Dalam sub-bagian ini seringkali dilakukan pendefinisian pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. III. maka harus dilakukan oleh “orang” yang mempunyai otoritas atau kuasanya) dicantumkan.D MODUL – III ANATOMI KONTRAK BISNIS III. SH. Tempat dibuat dan ditandatanganinya kontrak (catatan: tidak selalu harus ada). isis dan penutup. LL.M. Orang yang menandatangani harus disebutkan kapasitasnya sebagai apa.

keseluruhan dari perjanjian dan banyak lagi (akan diterangkan dalam contoh-contoh klausula). racitals.3. . pemberitahuan. III. Demikian pula dengan suatu kontrak usaha patungan maka perlu diatur tentang kesepakatan para pihak dalam kontrak untuk mendirikan suatu perseroan terbatas dengan komposisi pemilihan saham tertentu. III.1 Klausula Definisi Dalam klausula definis biasanya dicantumkan berbagai definisi untuk keperluan kontrak.3 Bagian Isi Dalam bagian isi terdapat empat hal pengaturan. III.3. Definici hanya berlaku pada kontrak tersebut dan dapat mempunyai arti dari pengertian umum. yaitu: III. penyelesaian sengketa. Dan kata singular akan sama dengan plural dan demikian plural dan demikian juga sebaliknya. Artinya klausula tersebut tidak terdapat dalam kontrak dengan transaksi yang berbeda. Misalnya dalam jual beli aset mak aharus diatur tentang obyek yang akan dibeli dan pembayaran. Klausula ini antara lain mengatur tentang domisili hukum. whereby. pilihan hukum. III.3 Klausula Spesifik Klausula spesifik mengatur hal-hal yang spesifik dalam suatu transaksi. Klausula definisi penting dalam rangka lebih mengefisienkan klausula-klausula selanjutnya karena tidak perlu diadakan pengusulan.Pada sub-bagian ini diberikan penjelasan mengapa para pihak mengadakan kontrak (sering disebut sebagai premis.3. Demikian pula dalam kontrak pinjam meminjam maka harus terdapat klausula yang mengatur tentang kesediaan kreditur meminjamkan uangnya kepada debitur dan kesediaan debitur untuk mendapatkan pinjaman dari kreditur. Demikian pula dalam kontrak yang megatur perjanjian penjaminan emisi (bidang pasar modal) maka dibuat klausula-klausula yang berisi tentang kesediaan perusahaan penjamin emisi untuk menjamin pelaksanaan emisi saham oleh emiten (perseroan terbatas yang hendak menjual sahamnya melalui bursa efek). witnesseth. Selain definisi biasanya juga diatur tentang status judul dari tiap-tiap pasal. menerangkan terlebih dahulu dan lainlain).4 Klausula Ketentuan Umum Adapun yang dimaksud dengan pengaturan klausula ketentuan umum adalah klausula yang sering kali dijumpai dalam berbagai kontrak bisnis.2 Klausula Transaksi Adapun yang dimaksud dengan klausula transaksi adalah klausula-klausula yang berisi tentang transaksi yang akan dilakukan.3.

III.5 Contoh-contoh Tiap bagian III. Namun dalam kontrak bisnis lain seringkali diatur banyak pasal. III. Contoh Bagian Pendahuluan III.4.Dalam beberapa kontrak bisnis klausula lain-lain terkadang hanya diatur dalam beberapa pasal dan seringkali dimasukkan dalam ayat-ayat. III. nama jelas “orang” yang menandatangani dan jabatan dari orang yang menandatangani.1 Status Lampiran Lampiran selalu disebut sebagai sesuatu yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kontrak.4.2 Isi Lampiran Lampiran pada dasarnya dapat berisi berbagai hal.5.5.4.1.4 Bagian Penutup Pada bagian penutup terdapat dua hal: III.1 Sub-bagian Kata Penutup Kata penutup biasanya menerangkan bahwa perjanjian tersebut dibvuat dan ditandatagani oleh pihak-pihak yang memiliki kapasitas untuk itu. III. Format kontrak-kontrak yang menyertai kontrak utama.2 Sub-bagian Ruang Penempatan Tanda Tangan Tempat dimana pihak-pihak menandatangani perjanjian dengan menyebutkan nama pihak yang terlibat dalam kontrak. dan lain-lain. format legal opinion. Atau para pihak menyatakan ulang bahwa mereka akan terikat dengan si kontrak.1.3.4. termasuk dokumen-dokumen pendukung.4. III.3 Lampiran (apabila ada) III.3.1 Sub-sub Pembuka Perjanjian Kerjasama Operasi (selanjutnya disebut “Perjanjian”) ini dibuat pada hari ini _______________ di ________________ oleh dan antara: Perjanjian Jual Beli Aset (“Perjanjian”) ini dibuat dan ditandatangani di _________ pada hari ini _________ tanggal ____________ 199_ oleh dan antara: This Assignment of Project Construction Contract (hereinafter referred to as the “Agreement”) is made and entered into as of ________________ by and between: .

PT NMR. berkedudukan di _______________. a company duly organized and validly existing under the laws of the Repblic of Indonesia. NPWP N0. selanjutnya disebut “KMN”. . __________ tanggal ________ sebagaimana telah diubah dan terakhir dengan Akta No. Direktur Utama PT XYZ. PT TRI. _______ Tahun ______ (Berita Negara Repiblik Indonesia tanggal ________ No. with its office at _______________ (hereinafter referred to as the “Lander”). suatu badan usaha patungan dalam pendirian yang sahamnya dimiliki oleh: PT VKL sejumlah _____ % PT BKL sejumlah _____ % PT NOP sejumlah _____ % yang didirikan berdasarkan Akta Notaris _______________. __________ tanggal __________ yang telah disahkan dengan Keputusan Menteri Kehakiman No. hereinafter referred to as the “Producer”. berkedudukan di _______. PT HIK. PT KMN. dalam hal ini diwakili oleh _______________ yang bertindak dalam kedudukannya selaku ______________ dan untuk tindakan hukum sebagaimana dimaksud dalam Perjanjian ini telah mendapatkan persetujuan dari rapat umum luar biasa pemegang saham PT TRI sebagaimana terbukti dalam Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham PT TRI tertanggal ______________ yang dilampirkan dalam perjanjian ini (selanjutnya disebut “Penjual”). ___________ tanggal __________ dan telah diumumkan dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia No. _____). PT AMPL of _________ [alamat] __________ (“A<PL”). _______. yang didirikan dengan Akta Notaris ____________.5. yang sedang dalam proses pengesahan Menteri Kehakiman. SH di Jakarta No. Direktur Utama PTKMN. selanjutnya disebut “XYZ”. SH di _____________ No. domiciled in ___________.2 Sub-bagian Pencantuman Identitas Para Pihak PT XYZ. dalam perbuatan hukum ini diwakili secara sah oleh ____________. suatu perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan hukum negara Republik Indonesia.This Joint Venture Agreement (“JVA”) is made the ____________ day if _______________ between: This Refining Agreement (“the Agreement”) is concluded on the _______ [tanggal] ______ of _____[bulan]__________ 199_ between: III. dalam perbuatan hukum ini diwakili secara sah oleh ______________. _____ tanggal ____________. berkedudukan di ________________. a limited liability company formed under the laws of the Republic of Indonesia and having a place of business at ___________________.1.

5.2 Contoh Bagian Isi III. Bahwa __________________________. Commitment” shall mean the commitment of the Lenders to provide the Borrower with the Facility under and subject to the terms and conditions of this Agreement. Bahwa __________________________. __________________________. III.5.III.1. __________________________.5.3 Sub-bagian Penjelasan Para Pihak menerangkan terlebih dahulu hal-hal sebagai berikut: Bahwa __________________________. . established pursuant to Article _____. WITNESSETH WHERREAS: __________________________. Whereas _________________.1 Klausula Definisi Contoh Definisi “PT PMA Company shall mean the Indonesian limited liability company incorporated by notarial deed after approval by the relevant Governmental Authorities. Whereas _________________.2. RECITASL: Whereas _________________. “Agen Penjualan” berarti pihak yang menjual Saham dalam suatu Penawaran Umum tanpa perjanjian dengan Emitmen dan tanpa kewajiban untuk membeli Saham.

2. yang untuk selanjutnya dicatatkan dan diperdagangkan di Bursa Efek.1 Dalam suatu transaksi Pendirian PT Usaha Patungan: Article 2 Purpose and Objective of the Joint Venture “The Parties agree to make a joint capital investment in Indonesia through the Company for the purpose of manufacturing the Products”.2 Klausula Transaksi III. and an individual includes a corporation. Untuk maksud tersebut dalam huruf (a) tersebut di atas.2 Dalam suatu transaksi Penjaminan Emisi Efek: Pasal 2 Penawaran Umum (1) Berdasarkan keterangan-keterangan dan jaminan serta kesanggupan para pihak sebagaimana dimaksud dalam Perjanjian ini dan tergantung pada terpenuhinya persyaratan agar Pernyataan Pendaftaran Menjadi Efektif dan semua ijin serta persyaratan yang disyaratkan untuk menawarkan dan menjual Saham-saham kepada Masyarakat. kiasan mana berlaku efektif pada saat ditandatanganinya Perubahan Perjanjian: mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka Penawaran Umum. menawarkan dan menjual Saham-saham untuk dibeli Masyarakat dengan Harga Penawaran menurut syarat dan ketentuan yang tercantum dalam Prospektus dan Formulis Pemesanan Pembelian Saham dan Perjanjian ini. III. III.5. and vice versa.5. Contoh Interpretasi A wording denoting: the singular the plural. Emiten dengan ini setuju untuk mengeluarkan dan menempatkan Saham-saham untuk ditawarkan dan dijual kepada Masyarakat melalui Penawaran Umum. (dst-nya)”. Headings are for convenience only and a hall not affect the construction of this Agreement.2.Harga Penawaran” adalah harga saham yang ditawarkan melalui Penawaran Umum ini yang besarnya akan ditentukan dan disepakati oleh Emitment dan Penjamin Pelaksana Emisi Efek sebagaimana diatur dalam Pasal ____ Perjanjian ini. and vice versa.2. Judul-judul dari pasal-pasal dalam Perjanjian ini dibuat untuk kemudahan saja dan tidak dipakai untuka menafsirkan isi dari pasal yang bersangkutan.5. .2. any gender includes each other gender.2. Emitmen dengan ini memberikan kuasa kepada Penjamin Emisi Efek untuk bertindak untuk dan atas nama Emiten.

2.5.3. __________ (___________________ ).III.2. Bank C : Rp.5. provided that if any Party ceases to be a shareholder of the Company. __________ (___________________ ). as the case may be.” III.3.2 Dalam suatu transaksi Penjaminan Emisi Efek: Apabila sampai dengan 1 (satu) hari bursa sebelum masa penawaran Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Jakarta (IHSG BEJ) mengalami penurunan sebesar 6. the Parties shall undertake to cause that the name of that Party.5% (enam koma lima persen) sejak ditandatanganinya Perjanjian ini atau kumulatif 5% (lima persen) dalam waktu 5 (lima) hari bursa terakhir sebelum Masa Penawaran maka Emiten dan Penjamin Pelaksana Emisi akan merumuskan kembali Harga Penawaran.2. Bank D : Rp. whereunder upon the terms and subject further to the availability of the required funds by each Lender. provided that the participation of each Lender in an Advance or the Loan shall not exceed the following principle amounts: Bank A : Rp. __________ (___________________ ).3 Dalam suatu transaksi Loan Syndication: The Lenders and the Borrower hereby expressly agree that the promulgation of any rule. III. prohibiting or impending in any way the payment in or remittance of foreign currency to the Lenders shall under no circumstances constitute a ground for asserting the existence of a force majeure situation and as such shall not release the Borrower from the due performance of its obligations .3 Klausula Spesifik III.3.5.2.2.T. the Lenders shall from time to time during the Commitment Period provide the Borrower with Advances. shall be discontinued as part of the name of the Company and the Parties shall vote in a general meeting of shareholders and do anything required under the Articles of Association to cause the change of the name of the Company to omit the name of the resinging or withdrawaing Party. regulation or law or any interpretation thereof having the effect of restricting.3 Dalam suatu transaksi Loan Syndication: Article 2 The Facility The Lenders hereby grant the Borrower with the Facility.” III.5.5. the Parties shall establish an Indonesian limited liability company (perseroan terbatas) which shall utilize the name “P.2. ______________” or such other name as may be acceptable to the Parties and the Department of Justice of the Republic of Indonesia.1 Dalam suatu transaksi Pendirian PT Usaha Patungan: Subject to obtaining all consents required under the Forign Capital Investment Law and any other applicable laws prevailing in the Republic of Indonesia.

setiap dan seluruh biaya yang timbul sebagai akibat dari Perjanjian ini termasuk tetapi tidak terbatas pada biaya notaris menjadi tanggungan dan karenanya menjadi beban langsung _____________. Para pihak sepakat bahwa terhadap perselisihan yang tidak dapat diselesaikan secara musyawarah untuk mufakat sebagaimana tercantum dalam ayat (1) pasal ini akan diselesaikan melalui Pengadilan Negeri _______.2. then any such (even)s shall constitute “Event of Deafult” hereunder and an obligations of the Assignor to the Agent shall become immediately due and payable upon demand and shall forthwith be paid and discharged by the Assignor notwithstanding any time or credit otherwise allowed.2 Peristiwa Cidera Janji (Event of Default) If any representation or statement of the Assignor contained this Agreement or any records. III.under this Agreement or under any of the Security Agreements in other lawful manner or currency as may be determined by the Lenders in such event.4 Klausula Lain-lain III.5. Musyawarah dan Arbitrase .2.4.2.5.4.2.2. III.5 Penyelesaian Perselisihan (Dispute Settlement) Musyawarah dan Pengadilan Para pihak sepakat bahwa setiap dan semua perselisihan yangmungkin timbul sebagai akibat dari penafsiran dan/atau pelaksanaan Perjanjian ini akan diselesaikan secara musyawarah untuk mufakat. III.5. certificate.4.1 Biaya (Expenses) Kecuali ditentukan lainn oleh Para Pihak.5. III.5.4. III.4 Domisili (Domicile) Para pihak dengan ini sepakat untuk memilih domisili hukum yang tetap dan tidak berubah pada Kantor Panitera Pengadilan Negeri _______________. statement or other document given to the Agent regarding the Assigned Account Receivable or any transaction contemplated herein or undertaken pursuant here to is untrue or incorrect.2. or in the event of any breach on the part of the Assignor to make due and punctual payment of any of the Outstanding when and as due.5.3 Hukum yang Berlaku (Governing Law) Perjanjian ini tunduk pada dan karenanya wajib ditafsirkan menurut ketentuan dan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia.4.

memberitahukan kepada pihak yang tidak terkena Keadaan Memaksa secara tertulis mengenai penangguhan pelaksanaan pekerjaan.2.5.2.8 Pemberitahuan (Notice) Setiap pemberitahuan atau komunikasi lainnya yang akan dibuat atau disampaikan menurut Perjanjian ini wajib dilakukan secara tertulis dan dikirimkan melalui faksimili atau diserahkan langsung ke alamat masing-masing pihak dibawah ini: Apakah kepada Pihak Pertama _______________________________ .If any dispute arises between the Parties relating to this Agreement. execution.2. III. III. validity. (d) Pihak yang terkena Keadaan Memaksa wajib berusaha semaksimal mungkin untuk memulai kembali pekerjaan dan/atau kewajiban lain dalam Perjanjian ini. including without limitation of existence. peledakan. termination of expiration of this Agreement or amounts due hereunder.4. badai. peraturan perundang-undangan. perang atau keadaan yang timbul dari atau sebagai akibat perang. huru hara. III.5. baik yang dinyatakan maupun yang tidak. namun tidak lebih dari 10 (sepuluh) hari. banjir. gempa bumi. kecelakaan atau sebabsebab lain yang sejenis (selanjutnya disebut “Keadaan Memaksa”).4. kekeringan atau kondisi cuaca yang luar biasa buruk. alasannya dan perkiraan lamanya penangguhan. performance. makar atau pemberontakan. (b) Dalam hal terjadi Keadaan Memaksa Para Pihak setuju bahwa pihak yang tidak terkena Keadaan Memaksa tidak dapat mengajukan tuntutan hukum maupun terhadap pihak yang terkena Keadaan Memaksa. tindakan sabotase oleh teroris atau tindak pidana lainnya. letusan gunung berapi.5.4.7 Pengakhiran (Termination) Perjanjian ini dapat diakhiri dengan pemberitahuan secara tertulis terlebih dahulu oleh Penjamin Pelaksana Emisi Efek apabila Emiten lalai untuk memenuhi syarat-syarat dan ketentuanketentuan dari Perjanjian ini dan kelalaian itu tidak dapat diperbaiki dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari sejak diterima surat pemberitahuan tertulis dari Penjamin Pelaksana Emisi Efek atau apabila karena sebab apapun juga Emiten tidak dapat melaksanakan kewajibankewajiban sehingga mengakibatkan dampak negatif yang sangat berarti menurut Perjanjian ini. which cannot be settled amicably by mutual agreement. kebakaran. (c) Pihak yang terkena Keadaan Memaksa harus segera. such dispute shall be referred to and finally resolved by Badan Arbitrase Nasional Indonesia (“BANI”) in accordance with BANI Rules (the Rules”) for the time being in force which Rules. musibah/bencana alam.6 Keadaan Memaksa (Force Majeure) (a) Kewajiban salah satu pihak dalam Perjanjian ini akan ditangguhkan sepanjang dan selama pelaksanaannya terhalang oleh persengketaan perburuhan.

karyawan dan sub-kontraktor atau pihak-pihak lain yang perlu untuka mengetahui dan menggunakan Informasi Rahasia dengan ketentuan pihak-pihak lain tersebut mendapat persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Para Pihak.4._______________________________ _______________________________ _______________________________ No.: __________________________ III.: __________________________ Apabila kepada Pihak Kedua _______________________________ _______________________________ _______________________________ _______________________________ No.4. Faksimili: _________________ U. penasehat profesional. personil.4.p. Informasi Rahasia dapat disampaikan dan dipakai oleh para pemegang saham Para Pihak.2. Faksimili: _________________ U.5. III.9 Kerahasiaan (Confidentialy) Kecuali diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. III.10 Perubahan dalam Peraturan Perundang-undangan (Change of Law) Dalam hal setelah ditandatanganinya Perjanjian ini terjadi suatu perubahan dalam peraturan perundang-undangan yang secara material dapat mendatangkan kerugian kepada salah satu pihak. pemberi pinjaman.2.5. tidak ada satu pihakpun dalam Perjanjian ini yang dibenarkan untuk membeberkan isi dari Perjanjian ini dan/atau memanfaatkan data-data yang digunakan dalam pelaksanaan Perjanjian ini baik yang bersifat teknis maupun komersial dalam bentuk apapun (selanjutnya disebut “Informasi Rahasia”).11 Keseluruhan Perjanjian (Entire Agreement) . manajemen.5.2.p. maka Para Pihak sepakat untuk mengadakan perundingan kembali sehingga dapat menghilangkan atau memperkecil kerugian yang diderita oleh salah satu pihak.

Setiap pihak yang menerima pengalihan hak wajib untuk menyetujui secara tertulis untuk mengikatkan diri pada ketentuan dalam Perjanjian ini secara keseluruhan tanpa ada yang dikecualikan.5.12 Keterpisahan (Severability) Dalam hal suatu ketentuan yang terdapat dalam perjanjian ini dinyatakan sebagai tidak sah atau tidak dapat diberlakukan secara hukum baik secara keseluruhan maupun sebagian.5. Para Pihak selanjutnya setuju bahwa terhadap ketentuan yang tidak sah atau tidak dapat diberlakukan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini akan diganti dengan ketentuan yang sah menurut hukum dan sejauh serta sedapat mungkin mencerminkan maksud dan tujuan komersial dibuatnya ketentuan tersebut oleh Para Pihak.Perjanjian ini merupakan keseluruhan perjanjian antara Para Pihak berkenan dengan materi yang diperjanjikan. maka ketidaksahan atau ketidakberlakuan tersebut hanya berkaitan pada ketentuan itu atau sebagian dari padanya saja. III. IN WITNESS WHEREOF the Parties have signed this Agreement under the hand of their duly authorized representatives.4. III.13 Pengalihan Hak (Assignment of Rights) Hak dan kewajiban yang timbul berdasarkan Perjanjian ini tidak dapat dialihkan oleh salah satu pihak kepada siapapun tanpa persetujuan tertulis dari pihak lainnya.1. Sub-bagian Kalimat Penutup Demikian Perjanjian ini ditandatangani oleh Para Pihak melalui wakil yang berwenang dari masing-masing pihak.5.5.2. Perjanjian ini membatalkan dan menggantikan kesepakatan yang dibuat sebelumnya oleh Para Pihak yang dilakukan secara lisan maupun tulisan.2.3 Contoh Bagian Penutup III. masingmasing berlaku sebagai aslinya dan mempunyai kekuatan hukum yang sama.2.4. III. Sedangkan ketentuan lainnya dari Perjanjian ini akan tetap berlaku dan mempunyai kekuatan hukum secara penuh. III.4. .5.3.14 Perubahan (Amendement) Tidak ada perubahan atau modifikasi atau penambahan pada Perjanjian ini yang sah atau mengikat Para Pihak kecuali dinyatakan secara tertulis dan ditandatangani oleh Para Pihak. Demikian Perjanjian ini dibuat dalam rangkap ___ (_________) bermetarai cukup.

2 Sub-bagian Ruang Penempatan Tanda Tangan Borrower Lender PT XYZ PT Bank ADC By ________________ By _________________ Name : Name : Title : Title : Debitur PT WYW PT Bank KMN By ________________ By _________________ Name : Name : Title : Title : oooHikmahantoooo MODUL – IV LANGKAH-LANGKAH PENELAAHAN TERHADAP RANCANG KONTRAK BISNIS INTERNASIONAL IV.IN WITNESS WHEREOF.1 Langkah Persiapan IV.5.1 Kejelasan Transaksi .1. this Agreement has been signed on the day and year first above written. IN WITNESS WHEREOF the Parties have executed and delivered this Agreement as of the date and year first above written.3. III.

1.1.1. Pengetahuan ini paling sedikit meliputi (i) pengetahuan tentang industri atau bisnis yang hendak dilakukan. Sebagai contoh seorang in house counsel apabila diminta menelaah sebuah perjanjian usaha patungan maka ia harus mengetahui secara mendalam tentang pengetahuan dasar dari industri atau bisnis yang akan dimasuki. Untuk mengetahui secara jelas maka dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: mendapatkan penjelasan yang menyeluruh dari pihak yang berkompeten (atasan atau mereka yang terlibat langsung pada proses kesepakatan). (ii) sifat dari industri atau bisnis tersebut. Untuk itu seorang in house counsel perlu melakukan penelusuran terhadap peraturan perundang-undangan ataupun keputusan-keputusan badan peradilan yang perlu untuk diperhatikan (legal research).3 Pengetahuan Peraturan Perundang-undangan yang terkait Selanjutnya setelah seorang in house counsel mengetahui tentang transaksi yang hendak dilakukan oleh para pihak maka ia wajib mempelajari peraturan perundang-undangan yang berlaku pada transaksi yang akan dilakukan. proposal tender yang telah dinyatakan menang. Umumnya . Industri dibidang perdagangan (retail) tentunya berbeda dengan industri dibidang pembuatan barang (manufacturing) dan berbeda pula dengan industri dibidang keuangan (misalnya: pembentukan joint venture security company). IV.4. Demikian pula dalam suatu perjanjian usaha patungan perlu diketahui secara pasti apakah ada persyaratan prosentase bagi penanam modal lokal. bahkan surat menyurat antar para pihak.1. IV.In house Counsel wajib mengetahui secara jelas tentang transaksi yang akan dilakukan oleh para pihak karena kontrak bisnis yang akan ditandatangani harus mencerminkan apa yang dikehendaki secara komersial oleh para pihak yang terlibat dalam suatu transaksi.1 Pihak yang Terlibat Seorang in house counsel wajib mengetahui secara jelas tentag pihak-pihak yang akan menandatangani kontrak dan pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kontrak. memperhatikan terms notes atau info memo yang telah disetujui oleh para pihak. memorandum of understanding yang telah ditandatangani. Sebagai contoh dalam suatu kontrak pinjam meminjam (loan agreement) antar bank dan nasabahnya maka perlu diperhatikan ketentuan tentang persetujuan Tim PKLN. seperti: letter of intent.4 Pihak dalam Transaksi IV. IV. (iii) terminologi atau istilah-istilah khusus (jargon) yang sering digunakan.2 Pengetahuan dan Pemahaman tentang Transaksi Sebelum kontrak bisnis ditelaah maka seorang in house counsel perlu untuk mengetahui secara pasti transaksi yang akan dilakukan oleh para pihak. mempelajari berkas-berkas dalam bentuk tertulis sebelum dibuatnya kontrak.

IV. Namun demikian sangat tidak dianjurkan untuk menggunakan suatu preseden untuk transaksi yang hendak dilakukan tanpa memperhatikan klausula-klausula yang diatur.2 Penyebutan Para Pihak Apabila transaksi yang akan dilakukan sudah diketahui maka harus ditelaah tentang penyebutan para pihak. Penyebutan yang demikian merupakan penyebutan para pihak dengan istilah umum. Sebagai contoh adalah dalam suatu perjanjian kredit para pihak disebut sebagai “Kreditur” atau “Creditor” dan “Debitur” atau “Debtor”.4. Pada dasarnya tidak ada kontrak yang bersifat standar dan setiap kontrak harus mencerminkan keinginan dari pihak yang hendak melakukan pengikatan. Seringkali juga penyebutan para pihak dilakukan dengan cara penyingkatan.5 Preseden Untuk bahan perbandingan sebelum dilakukan penelaah terhadap kontrak bisnis maka ada baiknya mempelajari kontrak sejenis yang telah ada. IV. Kontrak-kontrak sejenis dengan transaksi yang hendak dilakukan sering disebut sebagai “Preseden” (Precedent).1.1. Namun demikian dalam beberapa situasi terdapat kemungkinan pihak-pihak yang menandatangani kontrak adalah bukan pihak-pihak yang melaksanakan kontrak. para pihak disebut “Emiten” dan “Penjamin Pelaksana Emiten Efek” atau dalam suatu perjanjian pengalihan tagihan.pihak-pihak yang menandatangani kontrak sama dengan pihak-pihak yang melaksanakan isi dari kontrak. Para pihak dalam sebuah kontrak bisnis sering disebut sebagai “Pihak Pertama” dan “Pihak Kedua” (apabila perlu “Pihak Ketiga” dan seterusnya) atau “First Party” dan “Second Party” (apabila perlu “Third Party” dan seterusnya). Sebagai misal sebuah perusahaan holding membuat kontrak dengan sebuah perusahaan dimana perusahaan holding akan melaksanakan isi dari kontrak melalui anak perusahaannya yang dimiliki secara mayoritas. Apabila transaksi yang hendak dilakukan merupakan transaksi yang tidak umum dilakukan atau para pihak sulit diidentifikasi dengan istilah baku maka ada baiknya menyebutkan para pihak dengan istilah umum. Pada dasarnya para pihak dapat disebut apa saja sepanjang didefinisikan dalam kontrak bisnis yang akan ditandatangani. Pengecualian ini adalah dalam hal salah satu pihak dalam kontrak mempunyai posisi wajar (bargaining position) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pihak lainnya. Dalam hal yang demikian maka perusahaan holding akan “menyebabkan” anak perusahaannya untuk melaksanakan isi kontrak dengan mitranya. seperti PT Permana Hasta Lentera menjadi “Permana” atau “PHL”. Perlu dicatat bahwa dalam penyebutan para pihak dengan istilah tertentu harus dilakukan setelah mengetahui secara betul transaksi akan dilakukan para pihak. Namun demikian terdapat pengecualian terhadap asas umum bahwa tidak ada kontrak yang standar. Contoh lain adalah dalam suatu perjanjian penjaminan emisi efek. Perlu dipahami bahwa karena suatu kontrak bisnis merupakan “pelaksanaan” dari apa yang diinginkan tersebut harus tercermin dalam kontrak bisnis. Sehingga kontrak tersebut lebih . para pihak disebut sebagai “Assignor” dan “Assignee”. Namun demikian ada beberapa kontrak bisnis dimana pentebutan dari para pihak dilakukan dengan istilah tertentu yang sudah baku.

2 Menelaah Formulasi Latar Belakang Sebagaimana telah disebutkan diatas seorang in house counsel perlu mengetahui latar belakang dari akan ditandatanganinya suatu kontrak. bab atau judul dari pasal-pasal telah tepat sehingga terlihat sistematis dan mudah dimengerti. yaitu “Bagaimana sampai para pihak sepakat untuk saling mengikatkan diri?” Jawaban atas pertanyaan ini menjadi dasar dibuatnya premis dari rancangan kontrak bisnis. IV. Menalaah Bagian. Klausula transaksi perlu untuk dibaca secara seksama sehingga dapat dengan secara tegas dipastikan bahwa formulasi dari klausula transaksi benar-benar mencerminkan kehendak para pihak. Dalam kaitan ini fungsi preseden cukup penting karena dengan adanya preseden seorang in house counsel akan dengan mudah mengetahui bagaimana bagian. utamanya pihak yang diwakili oleh seorang in house counsel.1 Menelaah Pihak yang akan Mengadakan Kontrak Pertama-tama yang perlu diidentifikasi oleh seorang in house counsel apakah pencantuman para pihak dalam rancangan kontrak bisnis telah dilakukan dengan tepat sesuai yang dikehendaki oleh para pihak.2 Langkah Pelaksanaan Pada intinya dalam tahap pelaksanaan seorang in house counsel akan mencoba untuk memastikan bahwa rancangan konrak bisnis yang dibuat oleh pihak lawan telah memformulasikan atau menterjemahkan serta mengakomodasikan apa yang dikehendaki oleh pihak yang diwakilinya. IV. Di dalam langkah pelaksanaan hal-hal sebagai berikut perlu untuk mendapat perhatian: IV. Untuk mempermudah pekerjaan . Untuk memastikan bahwa perumusan atau formulasi latar belakang yang dibuat dalam rancangan kontrak bisnis maka seorang in house counsel dapat melakukannya dengan menanyakan sebuah pertanyaan. siapa pihak yang akan mengikatkan diri. utamanya pihak yang diwakilinya.3. bab atau judul yang hendak diatur dilakukan secara sistematis dan mudah dimengerti.2. Bab atau Judul Seorang in house counsel perlu untuk menelaah keseluruah kerangka dari sebuah rancangan kontrak bisnis. Sebagai contoh dalam kontrak bisnis pinjam meminjam uang antara bank dan nasabah dalam jumlah tertentu maka pihak bank akan menyodorkan kontrak kepada nasabahnya yang sifatnya “standar”. Dalam suatu kontrak bisnis internasional yang berdimensi publik perlu ditentukan oleh in house counsel.2. direktur jenderal atau setingkatnya atau kepala kantor wilayah dan lain-lain. Hal ini karena latar belakang seputar kontrak akan dijadikan premis dalam kontrak bisnis yang akan diadakan. IV. Dalam hal yang demikian nasabah tidak memiliki posisi tawar terhadap bank.4. Apakah penempatan bagian. Menelaah Klausula Transaksi Seorang in house counsel perlu untuk menelaah dengan seksama klausula transaksi.2.2. IV. apabila ia mewakili instansi pemerintah. apakah menteri.merupakan “take it or leave it” bagi pihak yang posisi tawarnya lebih rendah.

1 Komentar Umum terhadap Rancangan Kontrak Bisnis Komentar umum membuat penilaian rancangan kontrak bisnis secara keseluruhan. Umumnya perumusan pasal atau ayat menjadi perdebatan karena sesuatu yang dirumuskan dengan kata-kata akan mempunyai konotasi atau pengertian yang sempit atau luas. yaitu: IV.1. IV.2 Pengecekan atas Penelaahan Sebaiknya sebelum poin-poin komentar disampaikan kepada pihak counterpart dilakukan pengecekan ulang atas apa yang hendak disampaikan.2. IV.ini maka seorang inhouse counsel apat memvisualkannya dengan cara membuat skema-skema antara apa yang diatur dalam rancangan kontrak bisnis dengan kesepakatan awal dari para pihak.2 Komentar Khusus terhadap Rancangan Kontrak Bisnis Adapun yang dimaksud dengan komentar khusus adalah komentar yang dilakukan atas pasal per pasal atau ayat per ayat.6 Menalaah Klausula Ketentuan Umum Penelaahan terhadap klausula ketentuan umum perlu pula dilakukan secara seksama karena hal ini menyangkut aspek yang wajib untuk diketahui oleh seorang in house counsel.3. Apabila perlu minta kolega atau atasan meneliti dan memeriksanya kembali.5 Menelaah Klausula Ketentuan Spesifik Seorang in house counsel perlu untuk memastikan bahwa klausula ketentuan spesifik telah diformulasikan secara tepat dalam rancagan kontrak bisnis. IV. Misalnya apakah para pihak yang disebutkan dalam rancangan kontrak bisnis telah tepat. apakah formulasi terhadap klausula transaksi dan klausula spesifik telah sesuai dengan kehendak para pihak.3.1 Membuat Poin-poin Komentar terhadap Rancangan Konrak Bisnis Dalam membuat poin-poin komentar atas rancangan kontrak bisnis maka ada baiknya untuk membagi menjadi dua.3.1. oooHikmahantoooo MODUL – V . IV. Selanjutnya apakah kerangka rancangan kontrak bisnis telah dibuat secara sistematis dan lainlain.2.3 Langkah Akhir IV.2. IV.

Pihak Dalam Transaksi Pihak yang Terlibat . Demikian pula dalam suatu perjanjian usaha patungan perlu diketahui secara pasti apakah ada persyaratan prosentase bagi penanam modal local dan lain-lain. Sebagai contoh seorang perancang kontrak apabila diminta untuk membuat sebuah perjanjian usaha patungan maka ia harus tahu secara mendalam tentang pengetahuan dasar dari industri atau bisnis yang akan dimasuki. Hal ini dapat dilakukan dengan cara: mendapatkan penjelasan yang menyeluruh dari pihak yang kompeten 1. melihat terms notes atau info memo yang telah disetujui oleh para pihak 2. Pengetahuan ini paling sedikit meliputi (i) pengetahuan tentang bisnis yang hendak dilakukan. Langkah Persiapan Kejelasan Transaksi Mengetahui secara jelas tentang transaksi yang akan dilakukan oleh para pihak karena kontrak bisnis yang dibuat harus mencerminkan apa yang dikehendaki secara komersial oleh para pihak yang terlibat dalam suatu transaksi. (iii) terminologi atau jargon yang sering digunakan. memorandum of understanding atau surat menyurat antar para pihak. Pengetahuan dan Pemahaman tentang Transaksi Sebelum kontrak bisnis dibuat maka perancang (drafter) perlu mengetahui secara pasti transaksi yang akan dilakukan oleh para pihak. seperti: letters of intent. mempelajari berkas-berkas dalam bentuk tertulis sebelum dibuatnya kontrak. (ii) sifat dari industri atau bisnis tersebut. Industri dibidang perdagangan (retail) tentunya berbeda dengan industri dibidang pembuatan barang (manufacturing) dan berbeda pula dengan industri dibidang keuangan (misalnya: pembentukan joint venture securities company) Pengetahuan Peraturan Perundang-undangan yang Terkait Selanjutnya setelah seorang perancang kontrak bisnis mengetahui tentang transaksi yang henda dilakukan oleh para pihak maka ia wajib mempelajari peraturan perundang-undangan ataupun keputusan-keputusan badan peradilan yang perlu untuk diperhatikan (legal research) Sebagai contoh dalam suatu kontrak pinjam meminjam antar bank dan nasabahnya maka perlu diperhatikan ketentuan tentang persetujuan tim PKLN.TIGA LANGKAH PEMBUATAN KONTRAK 1.

Sebagai missal sebuah perusahaan holding akan melaksanakan isi dari kontrak melalui anak perusahaannya yang dimiliki secara mayoritas. Dengan demikian.Mengetahui secara jelas tentang pihak-pihak yang akan menandatangani kontrak dengan pihakpihak yang terlibat dalam pelaksanaan kontrak. Namun demikian ada beberapa kontrak bisnis dimana penyebutan dari para pihak dilakukan dengan istilah tertentu yang sudah baku. Kontrak-kontrak sejenis dengan transaksi yang hendak dilakukan sering disebut sebagai “Preseden” (Precedent) . Dalam hal yang demikian maka perusahaan holding akan “menyebabkan” anak perusahaan untuk melaksanakan isi kontrak dengan mitranya. seperti PT. Namun demikian dalam beberapa situasi terdapat kemungkinan pihak-pihak yang menandatangani kontrak adalah bukan pihak-pihak yang melaksanakan kontrak. Pengecualian ini adalah dalam hal salah satu pihak dalam kontrak mempunyai posisi . Preseden Untuk bahan perbandingan sebelum dilakukan pembuatan kontrak bisnis maka ada baiknya mempelajari kontrak sejenis yang telah ada. Perlu dicatat bahwa dalam penyebutan para pihak dengan istilah tertentu harus dilakukan setelah mengetahui secara betul transaksi akan yang dilakukan para pihak. Apabila transaksi yang hendak dilakuakan merupakan transaksi yang tidak umum dilakukan atau para pihak sulit diidentifikasi dengan istilah baku maka ada baiknya menyebut para pihak dengan istilah umum. para pihak disebut sebagai “Emiten” dan “Penjamin Pelaksana Emisi Efek” atau dalam suatu perjanjian pengalihan tagihan. Permana Hasta Lentera menjadi “Permana” atau “PHL”. Pada dasarnya para pihak dapat disebut apa saja sepanjang didefinisikan. para pihak disebut sebagai “Assignor” dan “Assignee”. Seringkali juga penyebutan para pihak dilakukan dengan cara penyingkatan. Contoh lain adalah dalam suatu perjanjian penjaminan emisi efek. Umumnya pihak-pihak yang menandatangani kontrak sama dengan pihak-pihak yang melaksanakan isi dari kontrak. Penyebutan yang demikian merupakan penyebutan para pihak dengan istilah umum. untuk mudah atau praktisnya. Namun demikian sangat tidak dianjurkan untuk menggunakan suatu preseden untuk transaksi yang hendak dilakukan tanpa memperhatikan klausula-klausula yang diatur. Namun demikian terdapat pengecualian terhadap asas umum bahwa tidak ada kontrak yang standar. Penyebutan Para Pihak Apabila transaksi yang akan dilakukan sudah diketahui maka harus ditentukan penyebutan para pihak. Para pihak dalam sebuah kontrak bisnis sering disebut sebagai “Pihak Pertama” dan “Pihak Kedua” (apabila perlu “Pihak Ketiga” dan seterusnya) atau “First Party” dan “Second Party(apabila perlu “Third Paty” dan seterusnya). Perlu dipahami bahwa karena suatu kontrak bisnis merupakan “ pelaksanaan” dari apa yang diinginkan oleh para pihak maka apa yang diinginkan tersebut harus tercermin dalam kontrak bisnis. seorang perancang menggunakan preseden dan menggantikan pihak-pihak yang mengikatkan diri. Pada dasarnya tidak ada kontrak yang bersifat standar dan setiap kontrak harus mencerminkan keinginan dari pihak yang hendak melakukan pengikatan. Sebagai contoh adalah dalam suatu perjanjian kredit para pihak disebut sebagai “Kreditur” atau “Creditor” dan “Debitur” atau “Debtor”.

2.1 Pihak yang akan Mengadakan Kontrak Pertama-tama yang perlu diidentifikasika olah seorang perancang adalah menentukan pihakpihak yang akan mengikatkan diri dalam kontrak. Dalam kaitan ini fungsi preseden cukup penting karena dengan adanya preseden seorang perancang akan mendapatkan bagian. bab atau judul setelah ditentukan tidaklah statis melainkan dapat diubah-ubah. Langkah Persiapan Pada intinya dalam tahap pelaksanaan seorang perancang akan mencoba untuk memformulasikan atau menterjemahkan apa yang dikehendaki oleh para pihak pelaku bisnis secara komersial dalam bentuk kontrak. bab atau judul dari apa yang hendak diatur oleh para pihak.2 Formulasi latar Belakang Seorang perancang kontrak bisnis perlu mengetahui latar belakang dari para pihak yang akan terikat dalam kontrak.4 Formulasi Klausula Transaksi Setelah ditentukan bagian. Sebagai contoh dalam kontrak bisnis pinjam meminjam uang antara bank dan nasabah dalam jumlah tertentu maka pihak bank akan menyodorkan kontrak kepada nasabahnya yang sifatnya “standar”. bab atau judul. bab atau judul dilakukan secara sistematis sehingga memudahkan pihak lain yang mempelajari kontrak yang dibuat. 2. Bab atau Judul Sebelum membuat klusula-klusula kontrak dalam bentuk pasal-pasal dan ayat-ayat. Dalam hal demikian nasabah tidak memiliki posisi tawar terhadap bank. Tentunya bagian. Hal ini dapat dilakukan olah perancang dengan menanyakan sebuah pertanyaan yaitu “ Bagaimana sampai para pihak sepakat untuk saling mengikatkan diri?” Jawaban atas pertanyaan ini menjadi dasar dibuatnya premis dari kontrak. Dalam perumusan pasal sedapat mungkin digunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. langkah selanjutnya adalah membuat klausula dari tiap-tiap bagian. seorang perancang kontrak perlu untuk membuat bagian.3 Pembuatan Bagian. Dalam suatu grup perusahaan misalnya maka harus ditentukan perseroan terbatas mana yang akan mengikatkan diri dalam suatu kontrak. 2. bab atau judul merupakan “outline” dari apa yang hendak ditulis. Sedapat mungkin penentuan bagian. bab atau judul yang hendak diatur secara menyeluruh. bab atau judl dalam bentuk pasal-pasal. Sehingga kontrak tersebut lebih merupakan “take it or leave it” bagi pihak yang posisi tawarnya lebih rendah. 2.tawar (bargaining position) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pihak lainnya. . Apabila dibandingkan dengan tata cara penulisan ilmiah (semisal skripsi) maka penentuan bagian. 2.

. Ada beberapa cara untuk melakukan ini diantaranya adalah menerangkan secara sistematis rancangan kontrak yang dibuat dan selanjutnya mendiskusikannya. “ 2. 2. 2. Disamping itu perancang perlu untuk membuat klausulaklausula yang melindungi pihak yang meminta dibuatkan kontrak (apabila kontrak diminta dibuatkan oleh salah satu pihak). Sampai dengan langkah ini rancangan (draft) kontrak telah selesai dibuat. Penentuan klausula ketentuan umum disesuaikan dengan kebutuhan para pihak dan umumnya umumnya perancang-lah yang menentukan mana klausula ketentuan umum yang dibuat oleh para pihak. Umumnya pembahasan terhadap rancangan kontrak tidak dilakukan hanya sekali.8 Perbaikan Mengakomodasi perubahan-perubahan yang dikehendaki oleh pihak yang meminta pembuatan kontrak dan memberikan nasehat apakah perubahan-perubahan tersebut dapat diakomodasi secara hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk itu ada baiknya setiap perubahan yang dilakukan dalam setiap pembahasan dicatat dan dibuat “mark up” nya. Atau meminta komentar secara tertulis dari kontrak yang telah dibuat. Hal ini dilakuakan untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu yang mungkin ditemui oleh pihak yang meminta dibuatkan kontrak. Namun demikian untuk lebih menyempurnakan rancangan kontrak maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagaimana akan diterangkan di bawah ini.7 Konfirmasi Langkah selanjutnya setelah pengecekan adalah rancangan kontrak bisnis disampaikan kepada pihak yang meminta dibuatkan kontrak dan meminta konfirmasi apakah rancangan kontrak bisnis telah sesuai atau mencerminkan apa yang diinginkan.Dalam perumusan pasal maka seorang perancang harus betul-betul dapat menterjemahkan dari apa yang diinginkan oleh para pihak.6 Pengecekan Rancangan kontrak bisnis yang telah selesai dibuat ada baiknya untuk diteliti oleh teman sekerja atau atasan. langkah selanjutnya adalah menentukan klausula ketentuan umum yang sering dijumpai dalam berbagai kontrak dalam kontrak yang dibuat. Contoh mark up: “ Business plan menas a long term bussiness plan prepared yearly by the board of Directors of the company for a rolling period of 5 (five) years.5 Penentuan Klausula Ketentuan Umum Setelah klausula sehubungan dengan transaksi diformulasikan. 2.

2 Pengecekan Dalam Rangka “Error Free” Langkah selanjutnya dalah memastikan tidak ada kesalahan tik (Typo error) atau kesalahan komputer. Dalam keadaan yang demikian perancang kontrak harus dapat menjawab setiap pertanyaan yang berkaitan dengan rancangan kontrak yang dibuatnya. Langkah Terakhir 3. oooHikmahantoooo MODUL – VI MENGIDENTIFIKASIKAN POKOK PIKIRAN DAN MENUANGKAN POKOK PIKIRAN DALAM KALIMAT HUKUM Mengidenftifikasikan Pokok Pikiran Bagi seorang pembuat kontrak (legal drafter) yang perlu untuk diperhatikan adalah memperoleh pokok-pokok pikiraan sebelum menuangkannya kedalam kalimat hukum.Apabila pengerjaan perancangan kontrak dilakukan dengan menggunakan komputer ada baiknya untuk tidak menghapus setiap perubahan yang dilakukan sampai dengan tahap dimana kontrak siap untuk dinegosiasikan. Pokok-pokok pikiran ini adalah hal yang hendak diatur dan dituangkan dalam kalimat hukum. 3. 3.1 Koreksi terakhir Baca ulang kontrak yang telah didiskusikan dan dimintakan komentar. Pada dasarnya pokok pikiran tersebut dapat dibagi menjadi lima bagian. Jangan ada kalimat yang tidak “Jalan” setelah ada komentar dari berbagi pihak. yaitu: Pokok pikiran untuk menjelaskan mengapa para pihak sampai pada kesepakatan untuk membuat kontrak. . 3. Untuk itu perlu diidentifikasi pokok-pokok pikiran tersebut.3 Pemahaman Komprehensif Sebagai langkah terakhir adalah memahami betul setiap apa yang ditulis dalam kontrak mengingat perancang kontrak diharapkan akan menjadi pihak yang memimpin pada saat rancangan kontrak dinegosiasikan.

Atau kemungkinan lain adalh kalimat-kalimat ini dapat menjadi pasal-pasal yang berdiri sendiri. Pihak Pertama bersedia untuk menjual dan menyerahkan sebagian dariKaveling kepada Pihak Kedua dan Pihak Kedua bersedia untuk membeli dan menerima sebagian Kaveling milik Pihak Pertama. (iii) klausula transaksi. Penuangan Pokok Pikiran Kedalam Kalimat Hukum Adapun proses selanjutnya setelah pokok pikiran diidentifikasi adalah menuangkan pokok-pokok pikiran tersebut kedalam kalimat hukum. (ii) klausula definisi. 2. Bahwa. sesuai dengan persyaratan dan ketentuan-ketentuan dalam Perjanjian ini.Pokok pikiran tentang pengertian dari istilah-istilah yang digunakan dalam kontrak. 1. dan 3. Namun karena konsumen belum melunasi harga jual rumah dan juga pihak pengembang belum membangun rumah yang dimaksud para pihak sepakat untuk membuat perjanjian pengikatan jual beli. Pokok pikiran tentang hal-hal yang spesifik sehubungan dengan transaksi yang hendak dilangsungkan oleh para pihak dalam kontrak. Contoh Pokok Pikiran yang Dituangkan Dalam Kalimat Hukum 3. Pihak Pertama adalah pemilik yang sah dari sebidang kaveling yang merupakan sebagian dari Proyek Perumahan dari Pihak pertama (sebagaimana yang akan didefinisikan dalam pasal 1 perjanjian ini) yang dibuktikan dengan Sertifikat Hak Guna Bangunan No. Penuangan ini tidak harus dilakuakan dalam satu kalimat. Pokok pikiran tentang transaksi yang hendak dilangsungkan oleh para pihak dalam kontrak. Bahwa. Semua itu tergantung dari pembuat kontrak yang penting adalah pemecahan kalimat-kalimat ini bertujuan untuk memperjelas pokok pikiran. Dalam hal demikian maka latar belakang dari perjanjian pengikatan jual beli adalah sebagai berikut: • • • Bahwa. mengingat salah satu persyaratan untuk melaksanakan penjualan dan penyerahan hak atas Kaveling sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 Perjanjian ini . ------------. Pokok pikiran tentang hal-hal yang bersifat umum sehubungan dengan kontrak yang akan dilangsungkan oleh para pihak. Hal ini dilakuakn sebelum para pihak membuat akta jual beli dihadapan notaries. Beberapa kalimat ini dapat dipisahkan menjadi bagian-bagian atau apabila dalam perumusan pasal bisa menjadi ayat-ayat dari pasal tersebut. (v) klausula ketentua umum. dengan persyaratan Pihak Kedua memenuhi kewajiban-kewajibannya dalam Perjanjian ini dan perjanjian serta dokumen lain yang mengikat Pihak Kedua. (iv0 klausula spesifik. Dari kelima hal tersebut diatas sebenarnya pokok-pokok pikiran yang ada mencerminkan pengaturan untuk (i) latar belakang (premis) dari kontrak. 3. tetapi dapat juga dilakuakan dalam beebrapa kalimat.1 Contoh Pokok Pikiran yang dituangkan dalam bentuk Latar Belakang Sebuah perusahaan pengembang hendak menjual kaveling kepada konsumennya.

Kata kabur sebaiknya dihindari sehingga tidak menimbulkan perbedaan penafsiran di kemudian hari.2 Pengguanaan Struktur Kalimat Struktur kalimat yang digunakan sedapat mungkin dalam bentuk aktif dimana subyek diletakkan pada awal kalimat. 3. 4.2 Contoh Pokok Pikiran yang dituangkan dalam bentuk Pasal Banyak perumusan pasal sebenarnya mengadung pokok pikiran tertentu. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Pembuatan Kalimat Hukum 4. tegas dan sederhana. Pengguanaan Kata “Wajib” dan “Dapat” Dalam memformulasikan pasal apabila ada kewajiban yang harus dilakukan maka gunakan kata “wajib”. Sedangkan apabila ada alternatif tindakan maka gunakan kata “dapat”. Demikian pula dalam KUHPerdata terdapat pokok pikiran “ Kebebasan berkontrak” dimana dalam bentuk pasal diformulasikan sebagai berikut: Semua Persetujuan yang dibuat sesuai dengan undang-undang berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya (KUHPerdata terjemahan Niniek Suparni).1 Penggunaan Kata Penggunaan kata yang jelas.3 Contoh Pokok Pikiran yang dituangkan dalam bentuk Pasal Kontrak Bisnis Pokok pikiran untuk suatu pengikatan menjual dan membeli tanah maka dapat diformulasikan dalam bentuk pasal sebagai berikut: Apabila menurut Pihak Pertama. Misalnya dalam hukum pidana terdapat pokok pikiran tentang larangan untuk membunuh orang. maka sementara menunggu dipenuhinya persyaratan tersebut Para Pihak sepakat untuk membuat dan menandatangani Perjanjian ini. .belum dipenuhi. maka Pihak Pertama berjanji dan mengikatkan diri untuk menjual dan menyerahkan Kaveling kepada dan untuk dimiliki oleh Pihak Kedua dan Pihak Kedua berjanji untuk mengikatkan diri untuk membeli dan menerima penyerahan Kaveling dari Pihak Pertama dengan ketentuan-ketentuan dan persyaratan-persyaratan dari Perjanjian ini. 4. Larangan untuk membunuh beserta sangsinya dalam bentuk pasal diformulasikan sebagai berikut: Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama 15 tahun ( KUHP terjemahan Andi Hamzah). Pihak Kedua telah memenuhi setiap dan seluruh kewajibankewajibannya sebagaimana dimaksud dan dirinci dalam Perjanjian ini. 3.

oooHikmahantoooo .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->