P. 1
MAKALAH KDM

MAKALAH KDM

|Views: 4,030|Likes:

More info:

Published by: Nurul Qomariyah Qomariyah on Jul 23, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/17/2013

pdf

text

original

MAKALAH KDM

³KONSEP PENGOBATAN´
Dosen : Karyo S.Kep.Ns

KELOMPOK 5: 1. Andi Jatmiko 2. Andi juli pradana 3. Enggar dwi prasetyo 4. Hendra sari purnafita 5. M. Abdul Majid.H 6. Pujo Utomo 7. Sunarto 8 Sri Retno Wati 9. Siska wahyu Risma A 10. Zeny Purnawati (09.02.00.126) (09.02.00.127) (09.02.00.137) (09.02.00.098) (09.02.00.106) (09.02.00.114) (09.02.00.161) (09.02.00.158) (09.02.00.118) (09.02.00.168)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN Prodi S1 Keperawatan Jln.Letda Sucipto No.211 Tuban (0356) 321287 TP : 2009-2010

KATA PENGANTAR Assalammualaikum WR.WB Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena limpahan Rahmat dan HidayahNya kami dapat menyusun makalah sebagai tugas dari mata kuliah KEBUTUHAN DASAR MANUSIA II dengan judul ³KONSEP PENGOBATAN´. Terimakasih kami sampaikan atas bimbingan dan arahannya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik. Terima kasih juga untuk semua teman dan kelompok kami atas kegigihan dan kerjasamanya. Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini, atas perhatiannya kami sampaikan terimakasih, semoga makalah ini dapat dipahami dan berguna bagi para pembaca. Wassalammualaikum WR.WB

PENULIS

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 1.3 Tujuan Masalah .. .................................................................................

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi obat ............................................................................................. 2.2 sifat kerja obat .......................................................................................... 2.3 Efek dari pengobatan................................................................................. 2.4 Efek obat terhadap tubuh ........................................................................... 2.5 Faktor yang mempengarui kerja obat ......................................................... 2.6 Rute pemberian obat.................................................................................. 2.7 Prosedur pemberian obat ...........................................................................
y y PROSEDUR PEMBERIAN OBAT ORAL

PROSEDUR PEMBERIAN INJEKSI SUBKUTAN PROSEDUR PEMBERIAN INJEKSI INTRAKUTAN PROSEDUR PEMBERIAN INJEKSI INTRAMUSKULER PROSEDUR PEMBERIAN OBAT PADA INTRAVENA PROSEDUR PEMBERIKAN OBAT TOPIKAL(KULIT) PROSEDUR PEMBERIAN PEMBERIAN TETES TELINGA PEMBERIAN OBAT SECARA INHALASI PROSEDUR PPEMBERIAN OBAT PADA MATA PROSEDUR PPEMBERIAN OBAT PADA VAGINA PROSEDUR PEMBERIAN OBAT PADA SEMPROT HIDUNG PROSEDUR PEMBERIAN OBAT PADA SUPOSITORIA

y y y y y y y y y y BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan .............................................................................................. 3.2 Saran ........................................................................................................ DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Pemberian obat yang aman dan akurat merupakan salah satu obat terpenting perawat.obat adalah alat utama terapi yang digunakan dokter untuk mengobati klien yang memiliki masalah kesehatan.walaupun obat menguntungkan klien dalam banyak hal,beberapa obat yang menimbulkan efek yang berbahaya yang bila tidak samping yang ditimbulkan,memberikan obat dengan tepat,memantau respon dan membantu klien menggunakannya dengar benar dan berdasarkan pengetahuan. Selain mengetahui kerja suatu obat tertentu, perawat juga harus memahami masalah kesehatan klien saat ini dan sebelumnya untuk menentukan apakah obat tertentu aman untuk diberikan.Pertimbangan perawt yaat penting dalam pemberian obang tepat dan aman.

1.2 RUMUSAN MASALAH 1. Apakah definisi obat ? 2. Bagaimana sifat kerja obat ? 3. Apa efek dari pengobatan ? 4. Bagaimana reaksi obat terhadap tubuh? 5. Apa factor yang mempengaruhi kerja obat? 6. Rute pemberian obat? 1.3 TUJUAN MASALAH Tujuan Umum Diharapkan mahasiswa memahami tentang cara pemberian oabat yang tepat sesuai dengan obat dan rute pemberian yang benar. Tujuan Khusus a. Menjelaskan pengertian obat b. Mengetahui sifat kerja obat c. Menjelaskan efek dari pengobatan d. Menjelaskan teknik-teknik pemberian obat

BAB II PEMBAHASAN 2.1Definisi obat Obat adalah zat yang digunakan dalam diaknosis terapi,penyembuhan,penurunan, atau pencegahan penyakit.Sediaan atau paduan bahan bahan yg siap untuk digunakan mempengaruhi atau menyelidiki sisstem fisiologis atau keadaan patologis dalam rangka diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi (Kebijakan Obat Nasional, DepKes RI) Obat tersedia dalam berbagai bentuk 1. Solid ( Padat) y Pulvis (Serbuk) : Campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan y Kapsul : Sediaan padat yang terdiri dari bahan obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut Macam-macam : a. Kapsul b. Soft Kapsul (Kapsul Lunak) Exp : Natur E y Tablet : Sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa pengisi dengan metode pembuatan dikempa atau dicetak. Tablet dpt berupa : Tablet Kunyah Tablet Hisap (Pastiles, Troches) Tablet Effervescent Tablet Salut Gula Tablet Salut Enteric Tablet Lepas Lambat dll ‡ Suppositoria : Sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk yang diberikan melalui rectal, vaginal atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut dalam suhu tubuh

2. Semi Solid ‡ Cream : Bentuk sediaan setengah padat mengandung satu/lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai Gel : Merupakan sistem semi padat yang terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil dan partikel organik yang besar. Lotion : Emulsi tapi lebih padat

‡

‡

3. Liquid ‡ Emulsi : Sistem dua fase yang salah satu cairannya terdisfersi dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil Larutan (True Solution) : Sediaan cair yang mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut Suspensi : Sediaan cair yang mengandung partikel padat tak larutyang terdispersi dalam fase cair

‡

‡

1. Gas ‡ Aerosol : Sediaan yang dikemas dibawah tekanan mengandung zat aktif terapetik yang dilepas saat sistem katup yang sesuai di tekan

2.2 Sifat Kerja Obat Obat bekerja menghasilkan efek teraputi yang bermanfaat.sebuah obat tidak menciptakan suatu fungsi dalam jaringan tubuh atau organ,tetapi mengubah fungsi fisiologis.obat dapat malindungi sel dari pengaruh agen kimia lain,meningkatkan fungsi sel,atau mempercepat atau memperlambat peroses kerja sel.obat menghasilkan kerja dengan mengubah cairan tubuh atau membrane sel atau dengan berinteraksi dengan tempat reseptor. Mekanisme kerja obat yang paling umum ialah terikat pada tempat reseptor sel.reseptor melokalisasi efek obat. Tempat reseptor berinteraksi dengan obat karena memiliki bentuk kimia yang sama.ketika obat reseptor saling berikatan efek terapotik dirasakan.setiap jaringan atau sel dalam tubuh memiliki kelompok reseptor yang unik. Misalnya reseptor pada sel jantung berespon terhadap preparet digitalis. 2.3 Efek Dari Pengobatan Karena sruktur kimia dan kerja fisiologisnya sebuah obat dapat menghasilkan lebih dari satu efek di antaranya : 1. Efek Terapotik Merupakan respon fisiologis obat yang diharapkan atau yang diperkiraakan timbul. Setiap obat yang diprogramkan memiliki efek terapotik yang diinginkan. 2. Efek Samping Sebuah obat diperkirakan akan menimbulkan efek sekunder yang tidak diinginkan yang disebut efek samping. Efek samping ini mungkin tidak berbahaya tetapi ada efek samping yang cukup serius hingga menghilangkan efek terapotik obat sehingga perlu penghentian pemberian obat akibatnya klien sering kali berhenti meminum obat tanpa berkonsultasi. 3. Efek Toksik Ekef ini terjadi setelah klien meminum obat berdosis tinggi dalam jangka waktu lama, setelah suatu obat berakumulasi di dalam darah akibat kerusakan metabolisme atau

eskresi.satu dosis obat dapat menimbulkan dapat menimbulkan efek toksik pada beberapa klien.
2.4 Reaksi Obat Terhadap Tubuh

Dalam pemberian obat muncul beberapa reaksi terhadap tubuh diantaranya 1. Reaksi ideosintratik Reaksi ini meliputi klien beraksi berlebihan,tidak bereaksi tau tidak normal terhadap obat contoh : seorang anak yang menerima anti histamine menjadi sangat gelisah atau sangat gembira,bukan mengantuk adalah tidak mungkin memperkirakan klien mana yang akan mengalami respon ideosintratik 2. Reaksi Alergi Adalah respon lain yang tidak dapat di perkirakan terhadap obat. Kekebalan tubuih seseorang dapat tersensitisasi terhadap dosis awal obat. Apabila obat di berikan secara berulang kepada klien, ia akan mengalami respon alergi terhadap obat.Dalam hal ini obat bekerja sebagai antigen,memicu pelepasan antibody. Alergi obat dapat bersifat ringan atau berat.gejala alergi tergantung pada individu dan obat.reaksi yang berat ditandai oleh kontriksi otot bronkiolus,edema fariinitis.ng dan laring,mengi berat dan sesek napas.reaksi alergi ringan ditandai seperti urtikaria,ruam,pruritus dan rhinitis. 2.5 Faktor yang mempengaruhi kerja obat Akibat perbedaan cara dan tipe kerja obat,respon terhadap obat sangat bervariasi. Faktor selain karakterisatik obat juga mempengaruhi kerja obat diantaranya 1. Perbedaan Genetik Faktor genetic menentukan apakah enzime yang terbentuk secra alami ada untuk membantu oenguraian obat 2. Variabel Fisiologis Sistem tubuh mengalami perubahan fungsi dan struktur yang mengubah pengaruh obat apabila status nutrisi klien buruk sel tidak dapat berfungsi dengan normal sehingga biotrnformasi tidak berlangsung.Metabolisme obat bergantung pada nutrisi yang adikuat untuk membentuk enzime Dan protein dan obat berikatan dengan protein sebelum distribusi ke tempat kerja obat. 3. Kondisi Lingkungan Reaksi suatu obat bervariasi tergantung pada lingkungan obat tersebut digunakan. Stress fisik dan emosi yang berat akan memicu respon hormonal yang pada akhirnya menganggu metabolisme obat pada klien. 4. Faktor Psikologis Sejumlah factor psikologis mempengaruhi pengunaan obat dan respon terhadap obat. Sikap seseorang terhadap obat berakar dari pengalaman sebelumnya atau pengaruh keluarga.

2.6 Rute pemberiaan Obat Dalam pemberian obat perawat mengunakan lima benar untuk menjamin pemberian obat yang aman yaitu benar obat,benar dosis, benar klien, benar waktu dan benar rute pemberian. Piliha rute pemberian obat tergantung pada kandungan obat dan efek yang diinginkan juga kondidi fisik dan mental klien. Rute pemberian obat diantaranya : 1. Rute Oral Rute yang paling mudah dan paling umum digunakan. Obat diberikan melalui mulut yang di telan.Kerja obat oral lebih lambat dan efeknya lebih lama klien umumnya lebih memilih rute oral. 2. Pemberian Sublingual Obat sublingual dirancang supaya setelah diletakan dibawah lidah dan kemudian larut mudah diabsobsi. Oabat yang diberikan dibawah lidah tidak boleh ditelan karena efek yang diharapkan tidak tercapai. 3. Rute Parental Ialah pemberian obat dengan injeksinya kedalam jaringan tubuh meliputi : a. Subkutan (SC): injeksi kedalam jaringan tepat dibawah jaringan dermis kulit b. Intradermal (ID): injeksi kedalam dermis tepat dibawah epidermis. c. Intramuskular (IM): Injeksi kedalam otot tubuh. d. Intravena(IV) : Suntikan kedalam vena. 4. Pemberian Topical Pemberian topikal dilakukan dengan mengoleskannya disuatu daerah kulit, memasang balutan yang lembab, merendam bagian tubuh dalam larutan atau menyediakan air mandi yang dicampur obat.Obat diberikan secara topikal dengan mengunakan cakram atau lempeng transdermal. 5. Supositorial Obat supositorial terbagi menjadi 2 a. Supositorial Vagina Obat ini tersedia dalam bungkus satuan dan dikemas dalam pembungkus timah. Setelah obat supositorial dimasukkan ke dalam rongga Vagina suhu tubuh akan membuat obat meleleh, Didistribusikan dan diarbsopsi b. Sipositorial Rektal Bentuk obat ini lebih tipis dan bulat untuk mencegah trauma anal ketika obat dimasukkan. Obat supositorial dimasukkan melewati sfingter anal dalam dan menyentuh mukosa rektal agar obat tersebut dapat keluar sebelum obat ralut dan di arbsobsi mukosa.

6. Inhalasi Obat melalui inhalasi sering menderita penyakit pernafasan kronis. Obat inhalasi diberikan melalui pasase nasal, nasase oral atau selang yang dipasang kedalam tracea a. Inhalasi nasal Obat di inhalasi melalui hidung menggunakan sebuah alat yang menghantar obat yaitu tipe semprotan. b. Inhalasi oral Obat yang diberikan menggunakan inhaler yang dipegang di tangan disebar melalui sebuah semprot aerosol, uap atau bubuk yang masuk ke saluran udara di paru. c. Melalui endotracea Beberapa obat darurat dapat diberikan melalui selang yang telah ditempatkan ke dalam tracea klien. 7. Irigasi Paling sering dilakukan menggunakan air steril, salin atau larutan anti septik pada mata, telinga, tenggorok, vagina dan saluran kemih. Irigasi dapat digunakan untuk membersihkan suatu area atau untuk memberikan obat atau kompres panas atau dingin kejaringan yang cidera. 8. Pengunaan Obat Mata Obat yang biasa digunakan oleh klien ialah tetes mata dan salep meliputi preparet yang dibeli bebas misal: Air mata buatan dan Fasokonstriktor obat yang diberikan dengan cara ini menyerupai lensa kontak kemudian penempatan obat ke kantong konjugtiva 9. Pengunaan Tetes Telingga Struktur Telinga dalam sangat sensitif terhadap suhu yang ekstrim. Perawat tidak boleh menyumbat saluran telinga dengan alat tetes atau spuit irigasi memaksa obat masuk dapat menciptakan tekanan yang menimbulkan cidera pada gendang telinga untuk memasukkan obat pada dewasa dengan meluruskan saluran kartilago telinga dengan memegang daun telinga dan menarik kebawah dan kebelakang dengan lembut, pada orang dewasa menarik daun telinga keatas dan kebelakang. 10. Tetes Hidung Sinus hidung dapat diberi obat dengan cara senprot, tetes atau tampon.pemberian obat dilakukan pada posisi terlentang dengan kepala ditekuk kebelakang klien harus diperingatan untuk menghindari pengunaan obat yang berlebihan kerena memicu efek berulang yang menyebpkan hidung tersumbat. Obat tetes Nasal efektif untuk mengobati infeksi si

2.7 PROSEDUR TINDAKAN

PROSEDUR PEMBERIAN OBAT ORAL
LANGKAH PEERSIAPAN PASAIEN 1) KIE pada pasien tentang tindakan yang akan kita lakukan 2) Posisi duduk atau berbaring miring -Mengurangi ansietas dan meningkatkan kerja sama. -Agar mudah menelan obat. PERSIAPAN ALAT 1) Kartu,format catatan atau huruf cetak nama obat 2) Nampan atau kereta obat 3) Mangkuk obat sekali pakai 4) Segelas air,jus atau cairan yang dipilih 5) Sedotamn 6) Alat penghancur pil(bila perlu) PROSEDUR KERJA 1) Periksa keakuratan dan kelengkapan setiap kartu ,format.periksa nama klien dan nama,dosis,rute pemberian dan waktu pemberian obat. 2) Siap[kan obat 1.cuci tangan 1.Mengurangi perpindahan mikroorganisme dari tangan anda keobat dan peralatan. 2.atur nampan dan mangkuk obat didalam pengobatan 3.pilih obat yang tepat,hitung dosis obat yang benar. 2.Menghemat waktu dan mengurangi kesalahan. 3.Mengurangi kesalahan,perhitungan akan lebih akurat bila informasi dari label obat tersedia ditangan. 4.Mempertahankan kebersihan obat. -Program dokter adalah sumber yang paling dapat dipercaya dan merupakan satusatunya catatan resmi obat yang akan diterima klien. RASIONAL

4.menyiapkan tablet atau kapsul dari botol,tuang jumlah yang dibutuhkan ke dalam tutup botol lalu pindahkan ke mangkuk obat 5.tempatkan semua atau kapsul yang akan diberikan pada waktu yang sama didalam sebuah cangkir

5.Menyiapkan obat yang membutuhkan pengkajian sebelum diberikan terpisah dari obat lain membuat anda lebih mudah menunda pemberian obat tersebut,jika diperlukan.

6.jika klien sulit mnelan gerus tablet dalam alat penghancur

6.Obat berukuran besar mungkin sulit untuk menelan.Tablet yang telah digerus dan dicampur dengan makanan lunak yang enak biasanya mudah ditelan.Pastikan obat dapat dihancurkan sebelum Anda menghancurkan diseranya obat bersalut enreric tidak didesain untuk diserap dilambung. 7.Melarutkan obat.

7. siapkan cairan kocok merata sebelum diberikan,bias berupa segelas air atau jus. 3) Berikan obat 1.beri obat pada klien pada waktu yang benar

1.Obat diberikan dalam 30 menit sebelum atau setelah waktu yang diresepkan.Obat cepat (stat)atau obat yangdiresepkan dalam bentuk tunggal harus diberikan pada saat diprogramkan. 2.Gelang identifikasidibuat pada saat klien mendaftar dan merupakan sumber identifikasi yang paling dapat dipercaya. 3.Klien mempuyai hak untuk diberi tahu, dan memahami pengobatan meningkatkan kepatuhan klien terhadap terapi. 4.Mencegah aspirasi sewaktu menelan.

2.Identifikasi klien dengan membandingkan nama pada kartu,format obat. 3.jelaskan tujuan setiap pengobatan dan kerja obat pada klien.

4.bantu klien mengambil posisi duduk atau berbaring miring. 4) Tanyakan apakah klien ingin memegang obat padat di tangannya atau di mangkuk sebelum memasukanya ke dalam mulut. 5) Tawarkan air segelas penuh atau jus untuk menelan obat 6) Untuk obat yang diberikan secara sublingual mionta klien meletakkanya di bawah lidah dan biarkan obat larut seluruhnyua

-Klien akan mengenal obat karena melihat setiap obat.

-Pilihan cairan meningkat kenyamanan dan obat meningkatkan asupan cairan. -Obat diabsorpsi melalui pembuluh darah dibawah permukaan lidah.Jika ditelan, obat hancur akibat kerja getah lambung atau didetoksifikasi dengan sangat cepat oleh hati sehingga kadar teraputik darah tidak dicapai. -Mencegah obat terkontaminasi.Memberikan tablet atau kapsul satu persatu memudahkan klien menelan dan mencegah aspirasi. -Perawat bertanggung jawab memastikan

7) Apabila klien tidak mampu menahan obat tempatkan cangkir berisi obat pada bibir dan dengan perlahan masukkan setiap obat kedalam mulut satu persatu 8) Temani klien sampai semua obat

ditelan

klien menerima dosis yang diprogramkan,Apabila tidak diawasi, ada kemungkinan klien tidak meminum obatnya atau menyimpannya,menimbulkan resiko pada kesehatan. -Mempertahankan rasa nyaman. -Mengurangi transisi mikroorganisme. Dokumentasi cepat mencegah kesalahan,mis.pengulangan pemberian dosis obat.Tanda tangan mencerminkan akuntabilitas pemberian obat. Digunakan untuk mengkaji manfaat teraputik obat mendeteksi awitan efek samping.

9) Bantu klien kembali ke posisi yang nyaman 10) Buang suplai yang kotor dan cuci tangan 11) Catat waktu actual setiap obat diberikan pada catatan obat

12) Kembali dalam waktu 30 menit untuk mengevaluasi respon terhadap pengobatan.

PROSEDUR PEMBERIAN INJEKSI SUBKUTAN
INDAKAN PERSIAPAN PASIEN 1) KIE pada pasien tentang tindakan yang dilakukan 2) Posisi klien untuk merelaksasikan tangan ,kaki,atau abdomen tergantung tempat injeksi yang dipilih PERSIAPAN ALAT 1) Spuit berukuran 1ML,100 U insulin 2) Jarum berukuran 25G dan panjang 3/8 sampai 5/3 inci 3) Swab antiseptic(Betadin atau alkhohol) 4) Sarung tangan sekali pakai 5) Obat ampul atau vial 6) Kartu,format dan huruf cetak nama obat 1.Mengurangi ansietas dan meningkatkan kerja sama. 2.Agar tidak tegang sehingga tidak menimbulkan rasa tidak nyaman. RASIONAL

-Digunakan untuk membersikan kulit.

-Mengidentifikasi di programkan dan nama klien. PROSEDUR KERJA 1) Cuci tangan 2) Cek program obat 1.Mengurangi penularan mikroorganisme.

2.Memastikan keakuratan. 3) Siapkan dosis obat yang tepat dari ampul atau vial 3.Memastikan obat steril,teknik menyiapkan vial dan ampul yang berbedah menginjeksi volume udarah dalam jumlah kecil membersikan jarum dari obat dan mencegah jejak obat yang tertinggal dijarempat injeksi. 4.Injeksi dapat menyebabkan sedikit rembesan darah pada tempat injeksi.sarung tangan resiko terpajan. 5.Memastikan klien yang menerima dosis obat yang diprogramkan benar. 6.Membantu klien mengantisipasi tindakan.pendekatan yang tenang meminimalkan kecemasan. 7.Menjaga privasi. 8.Untuk memilih tempat injeksi yang tepat, bagian tubuh tertentu perlu terpajankan. 9.Tempat injeksi harus bebas dari anomali yang dapat mempengaruhi absorbsi obat.tempat injeksi yang digunakan berulang kali dapat mengeras akibat (lipohipertropi) peningkatan pertumbuhan jaringan.

4) Kenakan sarung tangan sekali pakai

5) Identifikasi klien dengan memeriksa pita lengan yang memuat identitasnya dan menanyakan nama klien. 6) Jelaskan prosedur kepada klien

7) Tutup gorden atau pintu kamar 8) Pertahankan atau gaun yang membungkus bagian tubuh yang tidak perlu dipajankan 9) Pilih tempat ineksi yang tepat Palpasi adanya nyeri tekan atau masa di tempat injeksi.untuk pemberian insulin harian rotasi tempat injeksi setiap hari.pastikan ukuran jarum benar dengan memegang lipatan kulit ditempat injeksi dengan ibu jari dan telunjuk.ukur lipatan kulit dari atas kebawah.panjang jar um harus 1,5 kali panjang lipatan kulit. 10) Bantu klien mendapatkan posisi yang nyaman. 11) Meelokasi tempat injeksi menggunakan penanda anatomi tubuh

10.Relaksasi tempat injeksi meminimalkan rasa tidak nyaman. 11.Injeksi yang akurat dilakukan dengan menginsersi jarum ditempat yang tepat untuk menghindari cedera pada jaringan,pembuluh darah, syaraf atau tulang dibawahnya. 12.Kerja mekanisme swab membuang sekresi yang mengandung mikroorganisme.

12) Bersihkan tempat injeksi dengan swab antiseptic.usap bagian tengah tempat injeksi dengan arah gerakan berputar keluar sepanjang 5 cm. 13) Pertahankan swab dekat tangan

13.Swab tetap dapat dengan mudah diambil ketika jarum diambil. 14. Mencegah kontaminasi.

14) Lepas tutup dari jarum dengan menariknya dengan arah lurus.

15) Pegang spuit dengan benar diantara ibu jari dan jari telunjuk tangan yang dominan,pegang seperti memegang anak panah telapak tangan dibawah 16) Lakukan injeksi a.untuk klien yang ukuran tubuhnya rata-rata gunakan tangan tidak dominan untuk merenggangkan kulit supaya tegang ditempar injrksi atau pegang jaringan sehingga tercipta suatu gulungan kulit setebal 0,5 inci. b.injeksikan jarum dengan cepat dan mantap pada sudut 4 5-90 derajat

15.Injeksi yang cepat dan lancar dilakukan dengan memanipulasi bagian spuit dengan benar. a.Jarum mepenestrasi kulit yang tegang dengan lebih mudah daripada kulit yang kendor. Mencubit kulit mengangkat jaringan SO dan mengurangi kepekaan tempat injeksi.

b.Insersi yang cepat dan mantap meminimalkan rasa tidak nyaman.(menginjeksi obat kedalam jaringan yang dikompresi akan mengiritasi pada kulit) c.Untuk menginjeksi dengan benar bagianbagian spuit perlu dimanipulasi .gerakan spuit dapat mengeser jarum dan menimbulkan rasa tidak nyaman.Aspirasi darah spuit mengindefisikan masuk kedalam vena.injeksi SC dan IM tidak digunakan untuk injeksi IV(Dermis relatif mengandung pembuluh darah

c.pegang ujung bawah badan spluit sampai ujung penghisap dengan tangan tidak dominan.hindari menggerakan spluit ketika menarik pengisap secara perlahan kebelakang untuk mengaspirasi obat .apabila darah terlihat di spluit lepas jarum,buang obat dan spluit,dan ulangi prosedur.pengecualian jangan mengaspirasi obat saat menginjeksi heparin d.injeksi obat perlahan lahan

d.Aspirasi pada injeksi hepari dapat membuat jarum bergerak,sehingga dapat terjadi kerusakan dan pendarahan jaringan 17) Tarik jarum sambil mengusapkan 17.Menyokong jaringan disekitar tempat swab alkhohol dengan perlahan diatas injeksi untuk meminimalkan rasa tidak atau ditmpat injeksi. nyaman selama menarik jarum. 18) Untuk injeksi SC atau IM,beri pijatan ringan pada kulit yang baru diinjeksi heparin SC atau insulin, BILA PERLU: pasang perban, untuk injeksi ID,jangan pijat tempat injeksi. 19) Bantu klienmendapatkan posisi yang nyaman. 20) Buang jarum yang tidak ditutup atau jarum yang dibungkus dalam kantong pengaman dan tempatkan dalam wadah berlabel,Apabila perawat tidak bisa meninggalkan sisi tempat tidur klien,teknik menutup jarum dengan satu tangan dapat dilakukan. 18.Memijat daerah yang baru diinjeksi heparin dapat mengakibatkan pendarahan dan dapat meningkatkan laju absorpsi insulin. 19.Mengurangi penularan mikroorganisme. 20.CDC dan OSHA Mendapatkan jarum tidak ditutup kembali untuk mencegah petugas tertusuk jarum dan penularan penyakit.

21) Lepas sarung tangan sekali pakai. Cuci tangan. 22) Untuk injeksi SC dan IM, catat dosis obat,rute pemberian tempat injeksi, dan waktu serta tanggal injeksi pada catatan pengobatan.Tanda tangani dengan benar sesuai kebijakan institusi. 23) Kembali kekamar dan tanya apakah klien merasakan nyeri akut,sensasi terbakar,kesemutan,pada tempat injeksi.observasi adanya reaksi alergi setelah injeksi.

21.Mengurangi penularan mikroorganisme. 22. Dokumentasiyang tepat waktu mencegah kesalahan dalam pemberian obat.

23.Rasa tidak nyaman yang berlanjut dapat mengidikasikan cedera pada tulang,atau syaraf dibawah tempat injeksi.Reaksi anafilatik dapat timbul secara tiba-tiba ID akibat toksisitas obat. 24.Obat IM mengabsorpsi lebih cepat dari pada SC efek yang tidak diinginkan juga berkembang dengan cepat.Observasi menentukan kemanjuran.

24) Kembali untuk mengevaluasi respon terhadap pengobatan 10-30 menit.

PROSEDUR PEMBERIAN INJEKSI INTRAMUSKULER
TINDAKAN PERSIAPAN PASIEN 1.KIE pada pasien tentang tindakan yang dilakukan 2.Posisi klien untuk merelaksasikan tangan ,kaki,atau abdomen tergantung tempat injeksi yang dipilih PERSIAPAN ALAT 1 .IM: 2 sampai 5 ml untuk dewasa,1 sampai 2ml untuk anak. 2.IM 19G sampai 27G dan panjang 1 sampai 1 ½ inci untuk orang dewasa ,25G sampai 27G dan panjang sampai ½ sampai 1 inci untuk anak dan 5/8 untuk bayi baru lahir. 3.Swab antiseptic(Betadin atau alkhohol) 4.Sarung tangan sekali pakai 5.Obat ampul atau vial
-Digunakan untuk membersikan kulit.

RASIONAL

1.Mengurangi ansietas dan meningkatkan kerja sama. 2.Agar tidak tegang sehingga tidak menimbulkan rasa tidak nyaman.

6.Kartu,format dan huruf cetak n ama obat

PROSEDUR KERJA 1.Cuci tangan 2.Cek program obat 3.Siapkan dosis obat yang tepat dari ampul atau vial 1.Mengurangi penularan mikroorganisme. 2.Memastikan keakuratan. 3.Memastikan obat steril,teknik menyiapkan vial dan ampul yang berbedah menginjeksi volume udarah dalam jumlah kecil membersikan jarum dari obat dan mencegah jejak obat yang tertinggal dijarempat injeksi. 4.Injeksi dapat menyebabkan sedikit rembesan darah pada tempat injeksi.sarung tangan resiko terpajan. 5.Injeksi dapat menyebabkan sedikit rembesan darah pada tempat injeksi.sarung tangan resiko terpajan.

4.Kenakan sarung tangan sekali pakai

5.Kenakan sarung tangan sekali pakai

6.Identifikasi klien dengan memeriksa pita 6.Memastikan klien yang menerima dosis obat yang diprogramkan benar. lengan yang memuat identitasnya dan menanyakan nama klien. 7.Jelaskan prosedur kepada klien 7.Membantu klien mengantisipasi tindakan.pendekatan yang tenang meminimalkan kecemasan. 8.Menjaga privasi. 9.Untuk memilih tempat injeksi yang tepat, bagian tubuh tertentu perlu terpajankan.

8.Tutup gorden atau pintu kamar 9.Pertahankan atau gaun yang membungkus bagian tubuh yang tidak perlu dipajankan 10.Pilih tempat injeksi yang tepat .Inspeksi adanya memar , peradangan ,atau udem dipermukaan kulit tempat injeksi. IM:Perhatikan integritas dan ukuran otot dan palpasi adanya nyeri tekan atau pengerasan.Apabila injeksi diberikan dengan sering rotasi tempat injeksi. 11.Bantu klien mendapatkan posisi yang nyaman. IM:Minta klien berbaring datar,miring atau tengkurap atau minta klien duduk,tergantung pada tempat yang akan diinjeksi. 12.Meelokasi tempat injeksi menggunakan penanda anatomi tubuh

10.Tempat injeksi harus bebas dari anomali yang dapat mempengaruhi absorbsi obat.tempat injeksi yang digunakan berulang kali dapat mengeras akibat (lipohipertropi) peningkatan pertumbuhan jaringan.

-Mengurangi ketegangan pada otot dan

meminilmalkan rasa tidak nyaman yang timbul akibat injeksi.

12.Injeksi yang akurat dilakukan dengan menginsersi jarum ditempat yang tepat untuk menghindari cedera pada jaringan,pembuluh

darah, syaraf atau tulang dibawahnya. 13.Bersihkan tempat injeksi dengan swab antiseptic.usap bagian tengah tempat injeksi dengan arah gerakan berputar keluar sepanjang 5 cm. 14.Pertahankan swab dekat tangan 13.Kerja mekanisme swab membuang sekresi yang mengandung mikroorganisme.

14.Swab tetap dapat dengan mudah diambil ketika jarum diambil. 15. Mencegah kontaminasi.

15.Lepas tutup dari jarum dengan menariknya dengan arah lurus. 16.Pegang spuit dengan benar diantara ibu jari dan jari telunjuk tangan yang dominan,pegang seperti memegang anak panah telapak tangan dibawah 17.Lakukan injeksi a.Tempatkan tangan yang tidak dominan pada penanda anatomi yang tepat dan regangkan kulit untuk membuat tegang.injeksikan jarum dengan cepat kedalam otot pada sudut 90 derajat. b.jika masa otot kecil,cubit badan otot tubuh antara ibu jari dan jari lain. c.Apabila obat mengiritasi,gunakan metode Z-track. d.Injeksi obat dengan perlahan

16.Injeksi yang cepat dan lancar dilakukan dengan memanipulasi bagian spuit dengan benar.

a.Mempercepat injeksi dan mengurangi rasa tidak nyaman.

b.Memastikan obat mencapai masa otot.

c.Digunakan untuk mencegah jejak obat tertinggal dijaringan SC. d.Aspirasi pada injeksi hepari dapat membuat jarum bergerak,sehingga dapat terjadi kerusakan dan pendarahan jaringan 18.Menyokong jaringan disekitar tempat injeksi untuk meminimalkan rasa tidak nyaman selama menarik jarum. 19.Memijat daerah yang baru diinjeksi heparin dapat mengakibatkan pendarahan dan dapat meningkatkan laju absorpsi insulin.

18.Tarik jarum sambil mengusapkan swab alkhohol dengan perlahan diatas atau ditmpat injeksi. 19.Untuk injeksi SC atau IM,beri pijatan ringan pada kulit yang baru diinjeksi heparin SC atau insulin, BILA PERLU: pasang perban, untuk injeksi ID,jangan pijat tempat injeksi. 20.Bantu klienmendapatkan posisi yang nyaman. 21.Buang jarum yang tidak ditutup atau jarum yang dibungkus dalam kantong pengaman dan tempatkan dalam wadah

20.Mengurangi penularan mikroorganisme.

21.CDC dan OSHA Mendapatkan jarum tidak ditutup kembali untuk mencegah petugas

berlabel,Apabila perawat tidak bisa meninggalkan sisi tempat tidur klien,teknik menutup jarum dengan satu tangan dapat dilakukan. 22.Lepas sarung tangan sekali pakai. Cuci tangan. 23.Untuk injeksi SC dan IM, catat dosis obat,rute pemberian tempat injeksi, dan waktu serta tanggal injeksi pada catatan pengobatan.Tanda tangani dengan benar sesuai kebijakan institusi. 24.Kembali kekamar dan tanya apakah klien merasakan nyeri akut,sensasi terbakar,kesemutan,pada tempat injeksi.observasi adanya reaksi alergi setelah injeksi. 25) Kembali untuk mengevaluasi respon terhadap pengobatan 10-30 menit.

tertusuk jarum dan penularan penyakit.

22.Mengurangi penularan mikroorganisme.

23. Dokumentasiyang tepat waktu mencegah kesalahan dalam pemberian obat.

24.Rasa tidak nyaman yang berlanjut dapat mengidikasikan cedera pada tulang,atau syaraf dibawah tempat injeksi.Reaksi anafilatik dapat timbul secara tiba-tiba ID akibat toksisitas obat.

25.Obat IM mengabsorpsi lebih cepat dari pada SC efek yang tidak diinginkan juga berkembang dengan cepat.Observasi menentukan kemanjuran.

PROSEDUR PEMBERIAN OBAT PADA INTRAVENA
MEMBERI CAIRAN IV LANGKAH 1. Pasien diberi penjelasan mengenai tindakan yang akan kita lakukan. a. KIE b. Menatur posisi yang sesuai 2. Menyiapkan lingkungan. a. Menjaga privasi klien. b. Pencahayaan yang cukup. RASIONAL

a.Mengurangi ansietas dan kerja sama klien.
b.Agar klien merasa nyaman.

a.Agar klien merasa nyaman. b.Memudahkan perawat saat melakukan prosedur tindakan.

3. Persiapan alat. a. Baki dan alasnya b. Kotentang dan tempatnya. c. Standar infuse d. Cairan sesuai instruksi e. Set infuse steril

f.

g. h. i. j. k. l. m. n. o. p. q.

Jarum/wing niddle/abocath/surflo dengan nomor yang sesuai. Gunting dan plester Kapas alkhohol Bengkok Kasa steril 2x2cm pada tempatnya. Sarung tangan Betadin Bidai dan pembalut Tali pengikat Tali pembendung Piset(anatomis dan sirugis) Tromol a.Mengurangi penularan mikroorganisme. b.lebel dapat dibaca dengan mudah selama menginfus c.mengurangi resiko masuknya mikroorganisme. d.mencegah infusi cauran yang cepat. e.agar cairan bisa masuk f.mencegah masuknya cairan yang cepat. g.mencegah agar tidak terjadi emboli udarah. h.volume yang sesuai dibutuhkan untuk mengencerkan obat secara adekuat.

4. Mengisi selang infuse a. Mencuci tangan b. Memeriksa etiket atau lebel infuse c. Mencuci hama karet penutup botol d. Pengatur tetesan ditutup,jarak 24cm dibawah ruang tetesan e. Menusukkan set infuse kebotol f. Mengantungkan botol kestandat infuse g. Ruang tetesan diisi cairan ½ (jangan sampai terendam) h. Selang infuse diisi cairan infuse jangan sampai ada udarah didalam selang 5. Melakukan venaponksi a. Menentukan lokasi y Bila di lengan pakaian atas dibuka y Bila dikaki,pakaian bawah dibuka y Dikepala b. Perlak dan alasnya dipasang dibawah anggota tubuh yang akan dipasang infuse c. Kaji tempat penusukan (cari,periksa,dan raba vena yang tepat) d. Melakukan pembendungan (pasang tourniquet) e. Meminta pasien mengepalkan tangan f. Manghapus hama lokasi punksi - Gunakan sarung tangan g. Tangan yang tidak dominan menekan vena dibawah daerah tusukan h. Menusukan jarum infuse ke dalam vena dengan posisi 15-30 derajat, jika jarum telah menembus kulit rubah posisi jar um sejjar dengan kulit dan tusuk ke vena i. Jika darah telah memasuki lumen jarum, jarum penuntun

c.memudahkan perawat saat penusukan vena.

d.memudahkan perawat saat penusukan vena. e.memudahkan perawat saat penusukan vena. f.mengurangi resiko masuknya mikroorganisme.

i.menentukan apakah jarum Ivatau kateter

j.

k.

l.

m.

n. o. p. q. r. s.

dikendorkan/ditarik kemudian dorong perlahan sampai posisi tepat Tangan yang tidak dominan menekan vena dan tangan dominan menghubungkan ujung jarum dengan infuse set. Buka pembendung dan sambungkan dengan selang infuse dan pengatur tetesan dibuka/dites ada tetesan apa tidak Periksa daerah sekitar penusukan apakah terdapat tanda-tanda infiltrasi Bila tidak ada tanda-tanda infiltrasi,jarum ditambahkan kasa steril dikasih betadin dan di plester. Pasang bidai Pasang tali pengikat Mengaur tetesan infuse dalam satu menit sesuai intrukksi Merapikan pasien,bereskan alat Mencuci tangan Dokumentasi

berada didalam vena.

k.mencegah kebocoran.

i.Agar cairan tidak masuk ke vena didalam jaringan.

p.mencegah masuknya cairan yang cepat.

r.Mengurangi penularan mikroorganisme s.pencatatan tepat waktu mencegah kesalahan pengobatan keseimbangan cairan diatur dan dipantau berdasarkan masuknya obat.

PROSEDUR PEMBERIAN INJEKSI OBAT INTRAMEDAL
INDAKAN PERSIAPAN PASIEN 1.KIE pada pasien tentang tindakan yang dilakukan 2.Posisi klien untuk merelaksasikan tangan ,kaki,atau abdomen tergantung tempat injeksi yang dipilih PERSIAPAN ALAT 1 .ID:1-ml, 100 U insulin 2.ID:26 sampai 27 3.Swab antiseptic(Betadin atau alkhohol) 4.Sarung tangan sekali pakai 5.Obat ampul atau vial 6.Kartu,format dan huruf cetak n ama obat
-Mengidentifikasi dosis obat yang -Digunakan untuk membersikan kulit

RASIONAL

1.Mengurangi ansietas dan meningkatkan kerja sama. 2.Agar tidak tegang sehingga tidak menimbulkan rasa tidak nyaman.

diprogramkan dan nama klien.

PROSEDUR KERJA 1.Cuci tangan 2.Cek program obat 3.Siapkan dosis obat yang tepat dari ampul atau vial 1.Mengurangi penularan mikroorganisme. 2.Memastikan keakuratan. 3.Memastikan obat steril,teknik menyiapkan vial dan ampul yang berbedah menginjeksi volume udarah dalam jumlah kecil membersikan jarum dari obat dan mencegah jejak obat yang tertinggal dijarempat injeksi. 4.Injeksi dapat menyebabkan sedikit rembesan darah pada tempat injeksi.sarung tangan resiko terpajan. 5.Injeksi dapat menyebabkan sedikit rembesan darah pada tempat injeksi.sarung tangan resiko terpajan. 6.Memastikan klien yang menerima dosis obat yang diprogramkan benar.

4.Kenakan sarung tangan sekali pakai

5.Kenakan sarung tangan sekali pakai

6.Identifikasi klien dengan memeriksa pita lengan yang memuat identitasnya dan menanyakan nama klien. 7.Jelaskan prosedur kepada klien

7.Membantu klien mengantisipasi tindakan.pendekatan yang tenang meminimalkan kecemasan. 8.Menjaga privasi. 9.Untuk memilih tempat injeksi yang tepat, bagian tubuh tertentu perlu terpajankan. Tempat injeksi harus bebas dari anomali yang dapat mempengaruhi absorbsi obat.tempat injeksi yang digunakan berulang kali dapat mengeras akibat (lipohipertropi) peningkatan pertumbuhan jaringan.ID harus bersih supaya hasil tes kulit dapat dilihat dan diinterpretasi dengan benar.

8.Tutup gorden atau pintu kamar 9.Pertahankan atau gaun yang membungkus bagian tubuh yang tidak perlu dipajankan 10. Pilih tempat injeksi yang tepat .Inspeksi adanya memar , peradangan ,atau udem dipermukaan kulit tempat injeksi. ID: Perhatikan lesi atau perubahan warna pada lengan atas.pilih tempat dengan lebar 3 atau 4 jari dibawah daerah antekubital dan dengan lebar tangan diatas pergelangan tangan. 11.Bantu klien mendapatkan posisi yang nyaman: ID:minta klien mengektensi siku lengan dan menopangnya dan lengan atas diatas permukaan datar. 12.Meelokasi tempat injeksi menggunakan penanda anatomi tubuh

-Mestabilkan tempat injeksi supaya menjadi

sangat mudah sukses.

12.Injeksi yang akurat dilakukan dengan menginsersi jarum ditempat yang tepat untuk menghindari cedera pada jaringan,pembuluh darah, syaraf atau

tulang dibawahnya. 13.Bersihkan tempat injeksi dengan swab antiseptic.usap bagian tengah tempat injeksi dengan arah gerakan berputar keluar sepanjang 5 cm. 14.Pertahankan swab dekat tangan 13.Kerja mekanisme swab membuang sekresi yang mengandung mikroorganisme.

14.Swab tetap dapat dengan mudah diambil ketika jarum diambil. 15. Mencegah kontaminasi.

15.Lepas tutup dari jarum dengan menariknya dengan arah lurus. 16.Pegang spuit dengan benar diantara ibu jari dan jari telunjuk tangan yang dominan,

16.Injeksi yang cepat dan lancar dilakukan dengan memanipulasi bagian spuit dengan benar. -Dengan bevel menghadap keatas,kemungkinan obat masuk kedalam jaringan dibawah dermis lebih kecil.

ID:pertahankan bevel jarum menghadap keatas. 17.Lakukan injeksi a.Dengan tangan tidak dominan,reggangkan kulit tempat injeksi dengan jari telunjuk atau ibu jari. b.Ketika jarum mendekati kulit,dengan perlahan insersi jarum pada sudut 5 sampai 15 derajat sampai terasa terasa tertahan.Masukan terus jarum melalui epidermis sampai kira-kira 3mm dibawah permukaan kulit .ujung jarum dapat dilihat melalui kulit.

a.Jarum lebih mudah menembus kulit yang tegang.

b.Memastikan ujung jarum berada didalam dermis.

c.Injeksikan obat dengan perlahan (adalah c.Lapisan dermis kencang dan tidak mudah normal jika terasa tahanan ,jika tidak, melebar .Tidak perlu mengaspirasi karena jarum masuk terlalu dalam dan harus dermis relatif tidak mengandung pembuluh ditarik) darah. d.Ketika menginjeksi obat,ditempat injeksi terbentuk lingkaran berwarna terang menyerupai gigitan nyamuk dengan diameter kira-kira 6 mm dan kemudian lenyap . 18.Tarik jarum sambil mengusapkan swab alkhohol dengan perlahan diatas atau ditmpat injeksi. 19.Untuk injeksi SC atau IM,beri pijatan ringan pada kulit yang baru diinjeksi heparin SC atau insulin, BILA PERLU: pasang perban, d.Mengindikasikan obat telah tersimpan didalam dermis.

18.Menyokong jaringan disekitar tempat injeksi untuk meminimalkan rasa tidak nyaman selama menarik jarum. 19.Memijat daerah yang baru diinjeksi heparin dapat mengakibatkan pendarahan dan dapat meningkatkan laju absorpsi

untuk injeksi ID,jangan pijat tempat injeksi. 20.Bantu klienmendapatkan posisi yang nyaman. 21.Buang jarum yang tidak ditutup atau jarum yang dibungkus dalam kantong pengaman dan tempatkan dalam wadah berlabel,Apabila perawat tidak bisa meninggalkan sisi tempat tidur klien,teknik menutup jarum dengan satu tangan dapat dilakukan. 22.Lepas sarung tangan sekali pakai. Cuci tangan. 23.Untuk injeksi SC dan IM, catat dosis obat,rute pemberian tempat injeksi, dan waktu serta tanggal injeksi pada catatan pengobatan.Tanda tangani dengan benar sesuai kebijakan institusi. 24.Untuk injeksi ID,catat daerah injeksi, jumlah,dan tipe zat yang diuji,dan tanggal serta waktu catatan obat. 25.Kembali kekamar dan tanya apakah klien merasakan nyeri akut,sensasi terbakar,keseatmutan,pada tempat injeksi.observasi adanya reaksi alergi setelah injeksi.

insulin. 20.Mengurangi penularan mikroorganisme.

21.CDC dan OSHA Mendapatkan jarum tidak ditutup kembali untuk mencegah petugas tertusuk jarum dan penularan penyakit.

22.Mengurangi penularan mikroorganisme.

23. Dokumentasiyang tepat waktu mencegah kesalahan dalam pemberian obat.

24.Pencatatan yang tepat waktu mencegah kesalahan dalam pemberian obat dan memungkinkan pengkajian selanjutnya. 25.Rasa tidak nyaman yang berlanjut dapat mengidikasikan cedera pada tulang,atau syaraf dibawah tempat injeksi.Reaksi anafilatik dapat timbul secara tiba-tiba ID akibat toksisitas obat

26) Kembali untuk mengevaluasi respon terhadap pengobatan 10-30 menit.

26.Obat IM mengabsorpsi lebih cepat dari pada SC efek yang tidak diinginkan juga berkembang dengan cepat.Observasi menentukan kemanjuran.

PROSEDUR PEMBERIAN PEMBERIAN TETES TELINGA
TINDAKAN PERSIAPAN PASIEN 1.KIE pada pasien tentang tindakan yang dilakukan PERSIAPAN ALAT 1. Botol Obat dan alat tetes RASIONAL 1. Mengurangi ansietas dan meningkatkan kerja sama.

2. Kartu,format atau huruf cetak naman obat 3. Lidi kapas 4. Tisu 5. Bola kapas(obsional) 6. Sarung tangan sekali pakai

-digunakan untuk membuang serumen atau dreinasi .

PROSEDUR KERJA 1. Cuci tangan 2. Kenakan sarung tangan 3. Kaji kondisi struktur telinga luar dan salurannya -mengurangi penularan mikroganisme. -mengurangi pajanan pada mikroganisme. -memberikan dasar untuk menentukan apakah timbul respon local terhadap pengobatan,apakah kondisi klien membaik,atau apakah telinga perlu dibersikan dahulu sebelum obat diberikan. -Mengurangi rasa cemas -Memastikan prosedur brajalan lancar -Memudahkan memasukan obat ke dalam telinga.saluran telinga dlam posisi menerima obat -Meluruskan saluran telinga memberikan jalan masuk langsung ke bagian struktur telinga luar yang lebih dalam -Mendorong tetesan ke dalam saluran yang tersumbat akan menyebabkan cedera pada gendang telinga -Memungkinkan distribusi obat yang menyeluruh.tekanan dan pijatan mengerakan obat ke dalam. -memasukan kapas ke dalam saluran luar mencegah obat keluar ketika klien duduk atau berdiri.kapas tidak boleh menyumbat saluran,sehingga merusak pendengaran. Meningkatkan distribusi dan absobsi obat. Menjaga kerapian sisi tempat tidur,mengurangi penularan infeksi. Mengembalikan rasa nyaman. Menentukan respon terhadap obat.

4. Jelaskan prosedur kepada klien 5. Atur suplai disisi tempat tidur 6. atur posisi dengan telinga yang akan diobati berada diatas

7. luruskan saluran telinga dengan menarik daun telinga kebawah dan kebelakang(pada anak-anak) atau keatas dan keluar (dewasa) 8. masukan tetesan obat yang diresepkan ,pegang alat tetes 1cm diatas saluran telinga 9. minta klien ambil posisi miring 2-3 menit.beri pijatan atau tekanan lembut pada tragus telinga dengan menggunakan jari tangan. 10. Kadang-kadang dokter mengintruksikan penempatan kapas kebagian terluar ssaluran telbagian telinga dan jangan menekan kapas kebagian terdalam saluran 11. Lepaskan kapas dalam 15menit 12. Buang suplai dan sarung tangan yang kotor dan cuci tangan 13. Bantu klien mengambil piosisi yang nyaman setelah tetetsn diabsorpsi 14. Evalusi kondisi telinga luar diantara pemasukan obat

15. Catat obat,konsentrasinya,jumlah tetesan,waktu pemberian,telinga mana yang dimasukan obat pada format obat. 16. Catat kondisi saluran teliga pada catatan keperawatan

Pencatatan obat yang tepat pada waktunya mencegah kesalahan pada pemberian obat(misalnya pengulangan pemberian dosis obat) Mencatat status klien dan responya terhadap terapi.

PROSEDUR PEMBERIAN IRIGASI TELINGA
LANGKAH 1. Tinjau kembali program dokter, meliputi nama klien, tujuan irigasi, tipe irigan yang diprogramkan, dan waktu pemberiannya. 2. Periksa identifikasi klien dengan membaca gelang identifikasi dan menanyakan nama. 3. Cuci tangan, kenakan sarung tangan. 4. Kaji adanya kemerahan, pembengkakan, dan rabas pada struktur luar telinga dan salurannya. 5. Tentukan apakah klien mengalami nyeri tekan setempat atau rasa tidak nyaman. 6. Siapkan peralatan dan suplai:  Wadah larutan irigasi steril dihangatkan pada suhu ruangan.  Spuit irigasi(pentol karet atau asepto)  Baskom berbentuk ginjal.  Handuk.  Swap aplikator dan bola kapas. 7. Jelaskan prosedur. Peringati bahwa irigasi dapat menimbulkan rasa pusing, penuh dan hangat. 8. Atur suplay disisi tempat tidur. 9. Tutup gorden atau pintu kamar. 10. Bantu klien mengambil posisi duduk atau berbaring dengan kepala dimiringkan atau ditekuk ke arah telinga yang di irigasi. Letakkan handuk di bawah telinga dan bantu klien dan minta klien memegang baskom di bawah telinga yang di irigasi. 11. Bersihkan daun telinga dan saluran telinga dengan lembut menggunakan aplikator kapas. Jangan memaksakan drinase atau serumen ke dalam saluran telinga. 12. Isi sepuit irigasi dengan larutan(50ml) RASIONAL 1.Memastikan pemberian irigasi yang aman dan benar. 2.Memastikan klien yang menerima irigasi benar. 3.Menurunkan perpindahan mikroganisme. 4.Bukti tanda infeksi menjadi data dasar dalam menentukan keefektifan irigasi. 5.Mengindikasikan peradangan pada struktur luar telinga. -Larutan hangat meminimalkan peluang klien merasa pusing ketika larutan menyentuh membran timpani.

7.Mempersiapkan klien mengantisipasi efek irigasi dan meningkatkan kerja sama 8.menjamin kelancaran prosedur. 9.Menjaga privasi 10. Posisi meminimalkan kebocoran cairan disekeliling daerah leher dan wajah,sehingga klien merasa nyaman.larutan akan mengalir dari saluran telinga kebaskom.

11.Mencegah materi terinfeksi kembali masuk kedalam saluran telinga.

13. Dengan lembut, pegang daun telinga dan luruskan saluran telinga dengan menarik daun telinga ke bawah dan

12.Cairan yang cukup diperlukan untuk menghasilkan aliran irigasi yang tetp. 13.Memunggkinkan cairan mengalir disepanjang saluran telinga.

kebelakang (pada anak ) atau ke atas dan keluar (dewasa) 14. Masukkan larutan irigasi secara perlahan dengan memegang ujung spluit 1cm di atas muara saluran telinga. Selama cairan dimasukkan, biarkan cairan kembali mengalir keluar. Lanjutkan sampai saluran dibersihkan atau semua larutan digunakan. 15. Jangan menyumbat saluran telinga dengan ujung sepluit. 16. Keringkan bagian luar saluran telinga dengan bola kapas. Biarkan kapas bebas ditempat selama 5-10 menit. 17. Bantu klien mengambil posisi duduk. 18. Lepas sarung tangan dan cuci tangan, buang suplai. 19. Catat dan laporkan larutan irigasi yang digunakan, kateter struktur telinga, penampilan cairan yang keluar kembali atau rabas, dan respon klien.

14.Memberikan cairan irigasi secara perlahan mencegah terciptanya tekanan didalam saluran telinga dan memastikan obat menyentuh seluruh permukaan saluran telinga. 15.Berkumpulnya cairan didalam saluran dibawah tekanan yang mendorong dapat menyebabkan ruptur membran timpani. 16.Mempertahankan rasa nyaman. Menyerap rasa kelembapan berlebihan di dalam saluran telinga. 17. Mempertahankan rasa nyaman . 18. Mengurangi penularan infeksi. 19.Mendokumentasi respons klien terhadap terapi.

PROSEDUR PEMBERIAN OBAT SUPOSITORIA VAGINA
LANGKAH 1. Tinjau kembali program dari dokter, termasuk nama klien, nama obat, bentuk (krim atau supositori), rute pemberian, dosis, dan waktu pemberian obat. 2. Cuci tangan. 3. Siapkan suplay:  Memasukkan supositorial: 1. Supositoria vagina 2. Sarung tangan bersih, sekali pakai 3. Gel pelumas 4. Tisu wajah yang bersih 5. Bantelan perineom(bila perlu) 6. Tiket, format, atau huruf cetak nama obat  Memasukkan krim atau sabun vagina: 1. Krim atau sabun vagina 2. Aplikator plastik 3. Sarung tangan bersih, sekali pakai. 4. Serbet kertas 5. Pembalut perinium (opsional) 6. Tiket, format, atau huruf cetak nama obat. RASIONAL Menjamin pemberian obat yang aman dan benar.

Mengurangi penularan infeksi. Disimpan didalam lemari pendingin untuk mempertahankan bentuk padat. Mempermudah pemasukan supositoria.

Disiapkan dalam tube atau kaleng plastik.

4. Periksa identifikasi klien dengan membaca gelang identifikasi dan menanyakan nama klien

Memastikan klien yang menerima obat benar.

5. Inspeksi kondisi genetalia eksterna dan saluran vagina. 6. Kaji kemampuan klien menggunakan aplikator atau supositorial dan mengambil posisi sat obat dimasukkan. 7. Jelaskan prosedur kepada klien, jelaskan secara rinci, jika klien ingin memasukkan obatnya sendiri. 8. Atur suplay disisi tempat tidur. 9. Tutup korden atau pintu kamar. 10. Bantu klien dengan berbaring dengan posisi dorsal rekomban.

Temuan menjadi data dasar untuk memantau efek obat. Pembatasan mobilitas mengindikasikan tingkat bantuan yang diperlukan perawat. Meningkatkan pemahaman.Akan memampukan klien memasukkan obatnya sendiri,jika secara fisik dia tidak mampu Menjamin kelancaran prosedur Menjaga privasi. Mempermudah akses ke saluran vagina dan memajankan saluran vagina dengan baik.juga memungkinkan supositoria larut tanpa keluar melalui orifisum. Meminimalkan rasa malu. Mencegah penularan infeksi antara anda dan klien. Supaya dapat memasukkan dengan tepat,genetalia eksterna harus dapat dilihat

11. Jaga abdomen dan ekstremitas bawah tetap tertutup. 12. Kenakan sarung tangan sekali pakai.

13. Pastikan orivisiom vagina disinari dengan baik denagn lampu kamar atau lampu leher angsa. 14. Masukkan supositorial denagn tangan terbungkus sarung tangan:  Keluarkan supositorial dari bungkus timah dan diolesi sejumlah jeli petrolium pada ujung yang bundar atau licin. Lumasi jari telunjuk yang di bungkus sarung tangan pada tangan yang dominan.  Dengan tangan tidak dominan yang dibungkus sarung tangan, dengan perlahan tarik lipatan labia.  Masukkan ujung bundar supositorial di sepanjang dinding posterior saluran vagina dengan sepanjang jari tangan(7,5-10cm)  Tarik jari dan seka pelumas dari daerah sekeliling orifisium dan labia 15. Beri krim atau sabun:  Isi aplikator krim atau sabun sesuai dengan petunjuk pada kemasan obat.  Dengan tangan tidak dominan yang dibungkus sarung tangan, tarik lipatan labia dengan lembut.  Dengan tangan dominan yang dibungkus dengan sarung tangan, masukkan aplikator kira 5-7,5 cm. Dorong pengisap aplikator untuk menempatkan obat kedalam vagina.  Tarik aplikator dan letakkan di atas serbet kartas \.seka sisa krim dari labia atau lubang vagina.

Pelumas mengurangi gesekan pada permukaan mukosa selama insersi supositoria.

Memajankan orifisium vagina. Penempatan yang tepat memastikan distribusi obat yang merata disepanjang dinding rongga vagina. Mempertahankan kenyamanan. Dosis ditentukan oleh volume di dalam aplikator. Memajankan orifisium vagina.

Memungkinkan distribusi obat yang merata disepanjang dinding vagina.

Krim residu pada aplikator dapat mengandung mikroorganisme

16. Lepas sarung tangan dengan menarik bagian dalam sarung tangan keluar dan buang ke dalam wadah yang tepat. Cuci tangan. 17. Intruksikan klien untuk tetap berbaring terlentang selama 15 menit.

Mengurangi perpindahan infeksi . Obat akan didistribusikan dan diabsorpsi merata melalui rongga vagina dan tidak keluar melalui orifisium

18 Jika aplikator digunakan, cuci dengan sabun dan air hangat, bilas, dan simpan untuk penggunaan selanjutnya.

Rongga vagina tidak steril.sabun dan air membantu memindahkan bakteri dan krim residu.

19 Tawarkan klien pembalut perinium ketika ia mulai bergerak. 20 Inspeksi kondisi saluranvagina dan genetalia eksterna di antara pemberian obat

Memberi rasa nyaman Mengevaluasi apakah obat vagina mengurangi iritasi atau inflamasi jaringan dengan efektif.

18. Catat nana obat,dosis,cara pemberian,dan waktu pemberian obat pada catatan obat.

Pencatatan yang tepat pada waktunya mencegah kesalahan dalam pemberian obat.

PROSEDUR PEMBERIAN CAIRAN INTRAVENA
LANGKAH 6. Pasien diberi penjelasan mengenai tindakan yang akan kita lakukan. c. KIE d. Menatur posisi yang sesuai 7. Menyiapkan lingkungan. c. Menjaga privasi klien. d. Pencahayaan yang cukup. RASIONAL

a.Mengurangi ansietas dan kerja sama klien.
b.Agar klien merasa nyaman. a.Agar klien merasa nyaman. b.Memudahkan perawat saat melakukan prosedur tindakan.

8. Persiapan alat. r. Baki dan alasnya s. Kotentang dan tempatnya. t. Standar infuse u. Cairan sesuai instruksi v. Set infuse steril w. Jarum/wing niddle/abocath/surflo dengan nomor yang sesuai. x. Gunting dan plester y. Kapas alkhohol z. Bengkok aa. Kasa steril 2x2cm pada tempatnya. bb. Sarung tangan cc. Betadin dd. Bidai dan pembalut ee. Tali pengikat

ff. Tali pembendung gg. Piset(anatomis dan sirugis) hh. Tromol 9. Mengisi selang infuse i. Mencuci tangan j. Memeriksa etiket atau lebel infuse k. Mencuci hama karet penutup botol l. Pengatur tetesan ditutup,jarak 24cm dibawah ruang tetesan m. Menusukkan set infuse kebotol n. Mengantungkan botol kestandat infuse o. Ruang tetesan diisi cairan ½ (jangan sampai terendam) p. Selang infuse diisi cairan infuse jangan sampai ada udarah didalam selang 10. Melakukan venaponksi t. Menentukan lokasi y Bila di lengan pakaian atas dibuka y Bila dikaki,pakaian bawah dibuka y Dikepala u. Perlak dan alasnya dipasang dibawah anggota tubuh yang akan dipasang infuse v. Kaji tempat penusukan (cari,periksa,dan raba vena yang tepat) w. Melakukan pembendungan (pasang tourniquet) x. Meminta pasien mengepalkan tangan y. Manghapus hama lokasi punksi - Gunakan sarung tangan z. Tangan yang tidak dominan menekan vena dibawah daerah tusukan aa. Menusukan jarum infuse ke dalam vena dengan posisi 15-30 derajat, jika jarum telah menembus kulit rubah posisi jar um sejjar dengan kulit dan tusuk ke vena bb. Jika darah telah memasuki lumen jarum, jarum penuntun dikendorkan/ditarik kemudian dorong perlahan sampai posisi tepat cc. Tangan yang tidak dominan menekan vena dan tangan dominan menghubungkan ujung jarum dengan infuse set. dd. Buka pembendung dan sambungkan dengan selang infuse dan pengatur tetesan dibuka/dites ada tetesan apa tidak

a.Mengurangi penularan mikroorganisme. b.lebel dapat dibaca dengan mudah selama menginfus c.mengurangi resiko masuknya mikroorganisme. d.mencegah infusi cauran yang cepat. e.agar cairan bisa masuk f.mencegah masuknya cairan yang cepat. g.mencegah agar tidak terjadi emboli udarah. h.volume yang sesuai dibutuhkan untuk mengencerkan obat secara adekuat.

c.memudahkan perawat saat penusukan vena. d.memudahkan perawat saat penusukan vena. e.memudahkan perawat saat penusukan vena. f.mengurangi resiko masuknya mikroorganisme.

i.menentukan apakah jarum Ivatau kateter berada didalam vena.

k.mencegah kebocoran.

ee. Periksa daerah sekitar penusukan apakah terdapat tanda-tanda infiltrasi ff. Bila tidak ada tanda-tanda infiltrasi,jarum ditambahkan kasa steril dikasih betadin dan di plester. gg. Pasang bidai hh. Pasang tali pengikat ii. Mengaur tetesan infuse dalam satu menit sesuai intrukksi jj. Merapikan pasien,bereskan alat kk. Mencuci tangan ll. Dokumentasi

i.Agar cairan tidak masuk ke vena didalam jaringan.

p.mencegah masuknya cairan yang cepat.

r.Mengurangi penularan mikroorganisme s.pencatatan tepat waktu mencegah kesalahan pengobatan keseimbangan cairan diatur dan dipantau berdasarkan masuknya obat.

PROSEDUR PEMBERIKAN OBAT TOPIKAL(KULIT)
LANGKAH RASIONAL

PEERSIAPAN PASAIEN 3) KIE pada pasien tentang tindakan yang akan kita lakukan 2) Posisi duduk atau berbaring miring -Mengurangi ansietas dan meningkatkan kerja sama. -Agar mudah menelan obat.
PERSIAPAN ALAT a. Ember yang berisi air sabun b. Losian c. Pasta d. Patches (koyo) e. Salep f. Kapas alkhohol g. Sarung tangan(steril) PROSEDUR TINDAKAN 1. Cuci tangan dan memakai hanscon. 1. Mengurangi penularan mikroorganisme saat menangani peralatan steril 2. Mengurangi penularan mikroorganisme

2. Bersihkan daerah yang akan diolesi obat dengan air bersih 3. Gosok perlahan pada kulit 4. Bedak ditabur dengan ringan untuk menutup daerah yang diobati dengan lapisan tipis. 5. Perawat menggunakan obat transendel(pathes)pada daerah tubuh yang bersih,kering dan tidak berambut dengan pengecualian daerah ekstermitas dibawah lutut atau siku. 6. Cuci tangan 7. Dokumentasikan

3. Agar pasien tidak kesakitan

11. Mengurangi penularan mikroorganisme 12. pencatatan tepat waktu mencegah kesalahan pengobatan keseimbangan

cairan diatur dan dipantau berdasarkan masuknya obat.

PEMBERIAN OBAT SECARA INHALASI
Langkah-langkah
1. Tinjau kembali program obat dari dokter, termasuk nama klien, nama obat, jumlah inhalasi, dan waktu pemberian. 2.Kaji kemampuan klien memegang dan menggunakan Inhaler 3.Kaji jadwal obat dan jumlah Inheler yang diresepkan untuk setiap dosis. 4.Minta klien menyiapkan peralatan dan suplai: a. MDI dan Tromol obatnya (canister) b. Tisu wajah (bila perlu) c. Baskom cuci atau rendam dengan air hangat d. Serbet kertas 5. Instruksikan klien untuk tetap berada dalam lingkungan yang nyaman dengan duduk dikursi diruang rumah sakit atau di meja dapur rumah. 6. Biarkan klien menggunakan Inhaler dan tromolnya. 7. Jelaskan ukuran dosis (metered dose) dan peringatan klien tentang penggunaan Inheler yang berlebihan.termasuk efek samping obat. 8.jelaskan langkah yang digunakan untuk memberikan dosis obat yang di hirup. a. Lepas tutup dan pegang inhaler dalam posisi tegak dengan ibu jari dan dua jari pertama.

Rasional
Memastikan pemberian obat yang aman dan benar. Gangguan menggengam,kekuatan otot atau tremor Inheler Mempengaruhi penjelasan yang diberikan perawat tentang penggunaan Inhaler

Digunakan untuk membersihkan Inheler Klien akan lebih cenderung tetap perseptif terhadap penjelasan yang diberikan.

Klien harus mengenal cara penggunakan alat.

Klien tidak boleh sembarangan memutuskan untuk melakukan Inhalasi secara berlebihan karena ada resiko efek samping yang serius. Penjelasan yang sederhana dan bertahap memungkinkan klien bertanya kapan saja selama prosedur. Perawat mendemonstrasikan cara menekan tromol tanpa tanpa memberikan dosis pada dirinya. Mencampur obat merata di dalam larutan sehingga konsentrasi aerosol merata. Memaksimalkan pajanan jalan napas terhadap obat dari inhaler . Menghindari influks cepat partikel dari obat inhalasi dan iritasi jalan napas selanjutnya Menghilangkan influks cepat partikel dari obat yang di inhalas

b. Kocok inhaler

c. Tekuk kepala sedikit ke belakang dan hembuskan napas. d. Atur posisi inhaler dengan salah satu cara berikut 1) Buka mulut dengan inhaler berjarak 0,5 sampai 1 cm dari mulut 2) PILIHAN: sambungkan pengatur jarak (spacer) kebagian mulut inhaler. 3) Tempatkan bagian mulut inhaler atau spacer di dalam mulut

Obat didistribusikan ke jalan napas selama

e. Tekan inhaler ke bawah untuk melepaskan obat(satu tekanan) sambil menghirupkan dengan perlahan. f. bernapas perlahan selama dua sampai tiga detik g. tahan napas selama sekitar 10 detik

inhalasi.inhalasi melalui mulut dibandingkan melalui hidung menarik obat dengan lebih efektif ke jalan napas. Saat klien menarik napas, partikel obat disalurkan ke jalan napas. Memungkinkan efek yang maksimal pada jalan napas akibat paemberian obat yang partama.oleh karena itu, jalan napas lebih terbuka setelah pemberian obat kedua.dengan demikian , jumlah partikel yang dikirim langsung ke jalan napas lebih banyak. Obat harus di hirup secara berurutan.

9.jika yang diresepkan dua obat inhalasi, tunggu 5 sampai 10 menit di antara inhalasi atau sesuai program dokter. 10.jelaskan bahwa klien dapat merasa seperti menelan di dalam tenggorok akibat droplet obat pada faring atau lidah 11.instruksikan klien, untuk melepas tromol obat dan membersihkan inhaler di dalam air hangat.

Perasaan ini muncul, bila inhalan tidak disemprot dan dihirup dengan benar.

Akumulasi semprotan di sekeliling bagian mulut inhaler dapat mengganggu distribusiyang baik selama inhaler digunakan. Akumulasi di bagian mulut inhaler meningkatkan resiko akumulasi mikroorganisme dan infeksi oral

12.ajerkan klien untuk mengukur jumlah obat yang tersisa dalam tromol ke dalam mangkuk besar berisi air 13.tanyakan apakah klien memiliki pertanyaan Memungkinkan klarifikasi, bila ada salah pengertian atau salah pemahaman Memberikan umpan balik untuk menilai pembelejara.meningkatkan kemungkinan klien mematuhi terapi obat Obat diresepkan dalam interval selama sehari,sehingga dilatasi bronkus konstan dan efek samping minimal. Memungkinkan kontinuitas rencana pengajaran,sehingga staf keperawatan lain tidak mengajarkan materi yang sama.

14.minta klien mendemonstrasikan penggunaan inhaler dan menjelaskan jadwal obat 15.instruksikan klien untuk tidak mengulangi inhalasi sebelum jaswal dosis berikutnya.

16.jelaskan dalam catatan perawat isi ketrampilan yang diajarkan dan kemampuan klien melaksanakanya.

PROSEDUR PPEMBERIAN OBAT PADA MATA
LANGKAH-LANGKAH RASIONAL

111. Tinjau kembali program obat dari Memastikan ketepatan pemberian obat dokter,termasuk nama klien,nama obat,konsentrasi obat,jumlah tetesan obat (jika

dalam bentuk cair),waktu,dan mata (kanan atau kiri) yang menerima obat. J22. Cuci tangan 3.siapkan peralatan dan suplai: Mengurangi penularan mikroorganisme Tetes mata tersedia dalam botol plastic ayau kaca.

a) Tetes atau salep mata 1) Botol obat dengan tetes mata steril atau tube salep. 2) patch dan plester mata (bila Salep disiapkan dalam tubekecil perlu). 3) Kartu,format,atau huruf cetak nama obat. 4) Bola kapas tau tisu. 5) Wadah cuci berisi air hangat dan lap. 6) Sarung tangan sekali pakai. b) Cakram intraokuler 1) Cakram obat 2) Kartu,format,atau huruf cetak obat. 3) Sarung tangan sekali pakai. 4. periksa identifikasiklien dengan membaca Memastikan klien yang menerima obat gelang identifikasi dan menanyakan nama klien. 5. jika terdapat patch mata dilepaskan. 6. kaji kondisi struktur mata luar

Member data dasar yang selanjutnya digunakan untuk menentukan apakah timbul respons local terhadap pengobatan,juga mengindikasikan perlunya membersihkan mata sebelum obat diberikan.

7.periksa apakah klien alergi terhadap Klien akan mengalami respons lateks,jika alergi,gunakan sarung tangan bukan hipersensitivitas,jika sarung tangan menyentuh lateks. membrane mukosa. 8.jelaskan prosedur pada klien Klien sering merasa cemas tentang obat yang dimasukan dimata karena adanya kemungkinan rasa tidak nyaman

9.Atur posisi disisi tempat tidur dan gunakan sarung tangan

Memastikan prosedur yang lancar dan teratur sarung tangan mengurangi pajanan terhadap drainase yang infeksius

10.minta klien untuk berbaring telentang atau Memudahkan obat dimasukan ke mata dan duduk di kursi dengan kepala sedikit meminimalkan drainase yang keluar dari saluran hiperwkstensi mata. 11.masukan obat tetes,salep,atau cakram: a) Jika anda memasukan obat tetes atau salep, dengan tangan yang tidak dominan, pegang bola kapas atau tisu pembersih pada tulang pipi klien tepat dibawah kelopak mata bawah b) Jika anda memasukan obat tetes aau Kapa atau tisu mengabsorpsi yang keluar dari mata Teknik ini memanjankan kantong konjugtiva.menarik kempali(Retraksi) lingkaran tulang mata mencegah tekanan dan trauma pada bola mata dan mencegah jari menyentuh

salep, dengan tisu atau kapas diletakan di bawah kelopak mata bawah,tekan ke bawah dengan lembut,dengan ibu jari atau jari telunjuk pda lingkaran tulang mata. c) Minta klien melihat ke langit-langit. d) Memasukan tetes mata: 1) Dengan tangan dominan pada dahi klien,pegang alat tetes mata berisi obat kirakira 1sampai 2 cm di atas kantong konjungtiva 2) Teteskan sejumlah tetesan yang diresekan ke dalam konjungtiva. 3) Setelah memasukan obat,minta klien menutup matanya dengan lembut. e) Memasukan salep mata: 1) Dengan memegang aplikator salep di atas batas kelopak mata,berikan aliran salep tipis merata di sepanjang sisi dalam kelopak mata bawah pada konjungtiva. 2) Minta klien melihat kebawah.

matA. Tindakan ini menarik kornea ke atas dan menjahui kantong konjungtiva dan mengurangi stimulasi reflek mengedip Menbantu mencegah alat tetes mata menyentuh struktur mata secara tidak sengaja, sehingga mengurangi resiko cedera pada mata dan perpindahan infeksi ke alat tetes mata. Obat mata sudah disterilkan. Kantong konjungtiva biasanya menampung 1 sampai 2 tetes. Memasukkan tetesan ke dalam kantong memungkinkan distribusi yang merata didalam mata. Membantu distribusi obat,mengedip atau maemejamkan mata mendorong obat dari kantong konjutiva.

Obat didistribusi merata di dalam mata dan batas kelopak mata. Mengurangi refleks mengedip selama pemberiansalep. Mendistribusi obat merata di dalam mata dan batas kelopak mata. Mendistribusi obat lebih lanjut menimbulkan trauma pada mata. tanpa

f)

3) Berikan aliran tipis salep konjungtiva disepanjang batas kelopak atas mata. 4) Minta klien menutup mata dan menggosok kelopaqk dengan lembut dalam gerakan memutar menggunakan bola kapas. Memasang cakram intraokuler. 1) Buka kemasan berisi cakram obat. Dengan lembut tekan cakram pada ujung jari anda

Memungkinkan perawat menginspeksi adanya kerusakan atau deformitas cakram sebelum diberikan.

Dengan tangan yang lain, tarik kelopak mata bawah klien menjahui matanya.minta klien melihat ke atas saat anda melakukan ini. 3) Tempatkan cakram didalam kantong konjugtiva,sehingga cakram mengapung pada seklera antara iris dan kelopak mata bawah 4) Tarik kelopak mata bawah klien keluar dan keatas cakram. Ulangi tindakan ini, jika anda dapat melihat cakram obat 12.keluarkan cakram intraokuler

2)

Menyiapkan kantong menerima cakram obat

konjungtiva

untuk

Menjamin pengantaran obat

Menjamin keakuratan pengantaran obat

a) Cuci tangan dan kenakan sarung tangan. b) Jelaskan prosedur pada klien c) Dengan lembut tarik kelopak mata bawah klien untuk memajankan cakram. d) Dengan jari telunjuk dan ibu jari tangan anda yang lain,jepit cakrm obat dan angkat keluar dari mata klien 13.buang suplai yang kotorkedalam wadah yang tepat,lepas dan buang sarung tangan.cuci tangan. 14.observasi respons klien terhadap pengobatan,perhatikan tanda dan gejala efek sistemik yang potensial dan kondisi mata. 15.catat konsentrasi obat, jumlah tetesan atau cakram,waktu pemberian,dan mata,(kanan,kiri,atau keduanya) yang menerima obat.

Mengurangi penularan mikroorganisme Menyiapkan klien untuk menjalani prosedur.

Mempertahankan lingkungan yang rapi pada sisi tempat tidur dan mengurangi penularan mikroorganisme. Mengevaluasi reaksi terhadap obat.

Pencatatan yang tepat pada waktunya mencegah kesalahan dalam pemberian obat (misal.pengulangan pemberian dosis obat atau pemberian obat terlewat)

PROSEDUR PEMBERIAN OBAT PADA SEMPROT HIDUNG
LANKAH 1. Preriksa program obat dari dokter,meliputi nama kien,nama obat,konsentrasi larutan,jumlah tetesan dan waktu pemberian obat. 2. Merujuk pada catatan medis untuk menentukan sinus mana yang perlu untuk diobati. 3. Cuci tangan. 4. Siapkan peralatan dan suplai: a. Obat yang disiapkan dengan alat tetes yang bersih. b. Kartu,format,atau huruf cetak nama obat. c. Tisu wajah. d. Bantal kecil(bila perlu) e. Kain lap(bila perlu) 5. Periksa identifikasi klien dengan membaca gelang identifikasi dan menanyakan nama klien. 6. Mengenakan sarung tangan.Infeksi kondisi hidung dan sinus. Palpasi adanya nyeri tekan pada sinus. 7. Jelaskan prosedur tentang pengaturan posisi dan sensasi yang akan timbul,misalnya rasa terbakar atau tersengat pada mukosa atau sensasi tersedap ketika obat menetes kedalam tengggorok. RASIONAL -Memastikan pemberian obat yang aman dan tepat.

-Akan mempengaruhi posisi yang akan klien ambil selama obat dimasukkan. -Mengurangi penularan infeksi -Alat tetes atau aplikator tidak perlu steril,tetapi harus bersih. -Digunakan dalam mengatur posisi klien -Digunakan untuk membersihkan nares.

Memastikan klien yang menerima obat benar.

-Temuan menjadi dasar untuk memantau efek obat.rabas akan menganggu absopsi obat -Membantu menggurangi kecemasan.

8. Atur suplai dan obat disisi tempat tidur.

-Memastikan prosedur berlangsung lancar dan teratur. -Mengeluarkan mukus dan sekresi yang dapat menghambat distribusi obat.

9. Intrksikan klien untuk menghembuskan udarah,kecuali dikontraindikasikan (mis.resiko peningkatan tekanan intra klanial atau hidung berdarah) 10. Memberi obat tetes hidung: a. Bantu klien mengambil posisi terlentang. b. Atur posisi kepala yang tepat: 1. Faring posterior-tekuk kepalah klien kebelakang 2. Sinus ethmoit atau sfenoit-tekuk kepala kebelakang diatas pinggiran tempat tidur atau tempatkan bantal dibawah bahu dan tekuk kepala kebelakang. 3. Sinus frontal dan maksilaris-tekuk kepala kebelakang diatas pinggiran tempat tidur atau kepala ditengokkan kesisi yang akan diobati. Sangga kepala klien dengan tangan dengan tangan tidak dominan. c. Instruksikan klien untuk bernapas melalui mulut. d. Pegang alat tetes 1 cm diatas nares dan masukan jumlah tetesan yang diintruksikan melalui garis tengah ethmoit. e. Minta klien berbaring terlentang selama 5 menit. f. Tawarkan tisu wajah untuk mengeringkan hidung yang berair(ingusan),tetapi peringatkan klien untuk tidak menghembuskan napas dari hidung selama beberapa menit. 11.Memberi semprot hidung: a. Bantu klien terlentang b. Atur posisi kepala yang tepat: 1. Tekuk kepala klien kebelakang 2. Sangga kepala klien dengan tangan tidak dominan 3. Untuk anak-anak,jaga kepala dalam posisi tegak. c. Pegang ujung wadah tepat di bawah nares d. Intruksikan klien untuk menarik napas ketika semprot masuk kedalam jalan saluran hidung. 12.Bantu klien mengambil posisi yang nyaman

-Posisi ini memberi akses kesaluran hidung. -Posisi memungkinkan obat mengalir kesinus yang tergaggu.

-Mencegah otot leher meregang. -Mengurangi peluang tetesan nasal teraspirasi kedalam trakea dan paru- paru. -Mencegah kontaminasi alat tetes.memasukkan obat ketulang ethmoit memfasilitasi distribusi obat kemukosa hidung -mencegah kehilangan obat sebelum waktunya melalui nares. -Memungkinkan jumlah obat yang diabsorpsi maksimal

-Posisi memberi akses kesaluran hidung. -Posisi memungkingkan obat mencapai saluran hidung. -Mencegah peregangan otot leher -Mencegah semprot tertelan. Posisi menjadi akses terbaik bagi semprot untuk mencapai saluran hidung. -Meningkatkan jumlah obat yang mencapai saluran hidung maksimal. -Mengembalikan rasa nyaman

setelah obat diabsorpsi. 13.Lepas sarung tangan dan buang suplai yang kotor dalam wadah yang tepat.cuci tangan. -Mempoertahankan lingkungan yang rapi dan teratur,mengurangi penularan mikroorganisme. -Pencatatan yang tepat pada watunya mencegah kesalahan dalam pemberian obat(mis.pengulangan pemberian dosis obat) -Obat yang diabsorpsi melalui mukosa dapat menimbulkan reaksi sistemik.

14.Catat pemberian obat,termasuk nama obat,jumlah tetesan,lubang hidung yang dimasukkan obat,dan watu pemberian obat. 15.Observasi adanya efek samping pada klien selama 15-30 menit setelah obat diberikan.

PROSEDUR PEMBERIAN OBAT PADA SUPOSITORIA RECTAL
Langkah 1.Tinjau kembali program obat dari dokter,termasuk nama klien,nama obat,bentuk,rute dan waktu pemberian obat 2.tinjau kembali catatan medis untuk melihat adanya pembedahan atau perdarahan rektum 3.cuci tangan. 4.siapkan peralatan dan suplai : a.supositoria rektum pelumas larut air sarung tangan sekali pakai tisu format obat atau huruf cetak nama obat 5.kenakan sarung tangan sekali pakai. 6.Periksa identifikasi klien dengan membaca gelang identifikasi dan menanyakan nama klien. 7.Jelaskan prosedur.jelaskan secara rinci,jika klien ingin memasukkan obatnya sendiri. 8.Atur suplai di sisi tempat tidur. 9.Tutup korden atau pintu kamar. 10.Bantu klien mengambil posisi Sim.jaga agar klien tetap terbungkus pakaian dengan hanya daerah anus yang terpajan. 11.Periksa kondisi di daerah luar anus dan palpasi dinding rektum sesuai kebutuhan.Apabila sarung tangan kotor,buang dengan membaliknya dan      -mencegah kontak dengan bahan feses terinfeksi. RASIONAL Menjamin pemberian obat yang aman dan benar.

-Kondisi ini merupakan kontra indikasi penggunaan supositoria -Mengurangi perpindahan organisme

-Memastikan klien yang menerima obat benar. -Meningkatkan pemahaman dan kerja sama. Klien dapat memasukan obatnya sendiri,jika mampu secara fisik. -Memastikan kelancaran prosedur.

-Mempertahankan privasi dan meminimalkan rasa malu. -Memajankan anus dan membantu klien merelaksasikan sfingter anus luar.mempertahankan privasi dan memfasilitasi relaksasi. -Menentukan keberadaan perdarahan rektum yang aktif.Palpasi menentukan apakah rektum terisi feses.Hal ini dapat mempengaruhi

tempatkan di wadah yang tepat. 12.Kenakan sarumg tangan sekali pakai(jika sarung tangan sebelumnya telah di buang). 13.Keluarkan supositoria dari bungkusnya dan lumasi ujung yang bundar.Lumasi jari telunjuk pada tangan dominan dengan pelumas larut air. 14.Minta klien tarik nafas dalam dengan perlahan melalui mulut dan relaksasi sfingter anus. 15.Retraksi bokong dengan tangan tidak dominan.Masukkan supositoria dengan perlahan melalui anus,melalui sfingter internal dan ke arah dinding rektum,10 cm pada dewasa ,5 cm pada anak dan bayi. 16.Tarik jari dan seka daerah anus dengan tisu. 17.Lepas sarung tangan dengan membaliknya dan buang kedalam wadah yang tepat. 18.Minta klien untuk tetap dalam posisi datar atau berbaring miring selama 5 menit. 19Jika supositoria berisi laksatif atau pelembut feses,letakkan lampu pemanggil(call light)ditempat yang dapat dijangkau klien. 20.Cuci tangan. 21.Kembali dalam 5 menit untuk mengetahui apakah supositoria keluar. 22.Catat nama obat, dosis,rute,dan waktu pemberian pada catatan obat. 23.Observasi adanya efek supositoria(mis.defikasi,mual mereda) 30 menit setelah obat diberikan.

penempatan supositoria. -Menguranggi penularan infeksi.

-Meminimalkan kontak dengan feses dan menguranggi penularan mikroorganisme.

-Mendorng supositoria melalui sfingter yang konstriksi menyebabkan timbulnya nyeri.

-Supositoria harus ditempatkan pada mukosa rektum supaya pada akhirnya diserap dan memberikan efek terapeutik. -Memberi rasa nyaman.

-Mengurangi penularan mikroorganisme.

-Mencegah supositoria keluar. -Memberi klien perasaan dapat mengontrol eliminasi. Biarkan klien dibantu dalam menggunakan bedpan,atau pergi ketoilet.

-mengurangi resiko penularan infeksi. -Mungkin supositoria perlu dimasukkan kembali.

-Pencatatan yang tepat pada waktunya mencegah kesalahan dalam pemberian obat. -Mengevaluasi keefektifan pengobatan dan meredakan gejala pada klien.

BAB III PENUTUP 3,1 KESIMPILAN Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa obat merupakan terapi yang digunakan untuk mengobati klien dalam masalah kesehatan.dan obat tersebut dan setiap obat dapat menimbulkan obat hingga efek dan reaksi yang tidak diinginkan apabila tidak diberikan dengan baik . Pemberian obat yang baik meliputi: Benar obat, benar dosis, benar klien, benar rute pemberian dan benar waktu. Kelima hal tersebut berpengaruh pada manfaat obat yang akan dirasakan oleh klien sehingga kelima hal tersebut harus diperhatikan dalam setiap pemberian obat kepada klien.
2.5 SARAN

Setelah membaca makalah ini,diharapkan ada kritik dan saran yang dapatTmembangun sehingga kami dapat menyempurnakan makalah kami.

Tuban, 24 November 2010

Tim penyusun

DAFTAR PUSTAKA
1. Fundamental of Nursing Edisi 2. Walton,Robert L. 1990. Perawatan Luka dan Penderita Perlukaan Ganda, Alih bahasa. Sonny Samsudin, Cetakan I. Jakarta : EGC. 3. Oswari E, Bedah dan perawatannya, Gramedia, Jakarta, 1993. 4. http://epaper.kompas.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->