P. 1
Growth Hormone and Insulin

Growth Hormone and Insulin

|Views: 126|Likes:
Published by Fitri Astari Pisesa

More info:

Published by: Fitri Astari Pisesa on Jul 23, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2012

pdf

text

original

Level Hormon Pertumbuhan dan Insulin-like Growth Factor dan hubungannya dengan kelangsungan hidup anak dengan

sepsis bakteri dan septik syok

Tujuan: Meskipun perawatan pendukung telah ditingkatkan, mortalitas terhadap sepsis dan septic shock masih tinggi. Perubahan-perubahan yang multipel pada sistem neuroendokrin, paling tidak hanya sebagian saja, bertanggung jawab terhadap tingginya morbiditas dan mortalitas. Penurunan level insulin-like growth factor yang bersirkulasi dan peningkatan level hormon pertumbuhan dilaporkan telah ditemukan

karakterisasinya di awal penanganan sepsis dan septic shock pada dewasa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi perubahan-perubahan poros growth hormone/insulin-like growth factor 1 pada sepsis dan septic shock dan menginvestigasi hubungan antara kedua hormon ini dan kelangsungannya. Metode: Lima puluh satu anak dengan sepsis (S), 21 anak dengan septic shock (SS) dan 30 anak yang sehat, umur- dan jenis kelamin ±anak disesuaikan (C) pada saat mendaftar pada studi ini. Level hormon pertumbuhan, insulin-like growth factor 1 dan level kortisol terhadap kelompok anak dengan sepsis dan septic shock diperoleh sebelum mereka menerima beberapa agent inotropik. Has il: Level hor mon pert u mbuha n adalah 32.3 ± 1.5 µIU/mL (range 4±56), 15.9 ± 0.6 µIU/mL (range 11±28) and 55.7 ± 2.7 µIU/mL (range 20±70) pada kelompok S, C dan SS, secara berturut-turut. Perbedaan antara level hormon pertumbuhan pada kelompok S dan C, kelompok S dan SS, dan kelompok C dan SS adalah signifikan (P < 0.001). Non-survivor (54.7 1.6 µIU/mL) memiliki level 1.5

hormon pertumbuhan yang signifikan lebih tinggi daripada survivor (29.4 µIU/mL) (P < 0.001). Level Insulin-like growth factor 1 adalah 38.1

2.1 ng/mL

9 µg/dL) ( P < 0.9 ng/mL (range 10± 46) pada kelompok S. dan kelompok C dan SS adalah signifikan (P < 0.2 ± 1.6 ng/mL (range 48 ±250) dan 22. insulin-like growth factor 1.9 ± 9.8 µg/dL) dan survivor (33. Kesimpulan: Terdapat peningkatan pada level hormon pertumbuhan dengan penurunan level insulin-like growth factor 1 pada anak selama kejadian sepsis dan septic shock dibandingkan dengan subjek yang sehat.secara berturut-turut. maka sepsis dapat berkembang menjadi sepsis yang lebih berat. bahkan terdapat peningkatan level hormon pertumbuhan yang sangat tinggi dan penurunan level insulin-like growth factor 1 yang lebih rendah pada non-survivor daripada survivor. Kata Kunci: anak. hormon pertumbuhan. Kami mendeteksi perbedaan yang signifikan antara level kortisol pada non. S dan SS. septic shock dan .(range 19±100).001). Sepsis adalah suatu respon sistemik terhadap infeksi dengan agen-agen infeksius yang berbeda-beda.1 µg/dL) (P < 0.01).8 ± 1.1 µg/dL) memiliki level kortisol yang signifikan lebih rendah daripada survivor (40.9 ± 2. 122. Sebagai tambahan. Jiak gejalanya tidak dikenal dan tidak ditangani secara dini. Non-survivor (8. studi-studi lain yang mencakup sejumlah besar dan menambahkan evaluasi mengenai sitokin dan insulin-like growth factor yang berprotein diperlukan untuk mengetahui hal ini lebih lanjut. Kami memperkirakan bahwa baik hormon pertumbuhan dan insulin-like growth factor 1 mungkin memiliki nilai prognostik yang potensial untuk bertindak sebagai marker pada sepsis bakteri dan septic shock pada anak-anak.7 ± 1. dan perbedaan antara level insulin-like growth factor 1 pada kelompok S dan C.001). Sepertinya terdapat data yang kurang mencukupi pada kelompok usia paediatric.9 ± 0.survivor (19. C dan SS. sepsis.

khususnya pasien dengan sepsis. dan bahkan menyebabkan kematian. studi-studi klinis ini telah ditangguhkan oleh karena meningkatnya mortalitas yang dilaporkan pada beberapa studi yan dilakukan. Bagaimanapun. Sekresi GH diinduksi oleh stress pada seseorang. dan rerata dari level serum GH akan meningkat pada awal pengobatan sepsis. level GH dalam keadaan normal. meskipun terdapat 50% penurunan pada GH yang telah disekresikan pada pulse. Pada penyakit pasien dewasa yang dalam kondisi kritis. namun mortalitas dari sepsis dan septic shock masih tinggi. Hal-ahal penting di antara semua ini adalah sistem kompleks yang berhubungan dengan hormon pertumbuhan growth hormone (GH). yang mana akan meningkatkan metabolisme protein dan meregulasikan sistem imun dengan bantuan IGF-1 dalam keadaan katabolik. Hal ini kelihatannya akan menjadi sebuah hubungan paradoksial yang kompleks antara GH dan IGF-1 pada sepsis sebagaimana level IGF-1 hampir selalu rendah. GH adalah hormon anabolik. Pengobatan GH biasa digunakan untuk meningkatkan outcome penyakit kritis pada pasien-pasien dewasa. yang sangat penting dalam sepsis. Penurunan level IGF-1 yang bersirkulasi adalah suatu ciri khas yang ditemukan pada subjek dewasa yang dalam keadaan kritis. operasi besar dan trauma multiple organ. insulin-like growth factors (IGF) dan insulin-like growth factor-binding proteins (IGFBP). kebanyakan sistem endokrin menjadi terganggu.sindrom disfungsi organ yang multiple. septic shock. luka bakar. Pada penyakit kritis yang berlangsung lama. Proses sintesis dan sekresi diinisiasi dan dimodulasi oleh GH. ecuali satu studi yang melakukan penelitian pada anak yang hanya dengan .1 pada sepsis yang diderita anak. Meskipun perawatan pendukung telah ditingkatkan. Yang terbaik dari pengetahuan kami adalah belum ada studi literatur yang membahas tentang perubahan pada poros GH/IGF.

>2 SD di atas normal atau pCO2 < 32 mmHg. yang akan dibandingkan dengan anak-anak yang sehat. dan untuk menginvestigasi jika terdapat hubungan antara hormon-hormon ini dan kelangsungan hidup dan mortalitas.0 mmol\L).3 atau basa yang lebih di bawah±5 mmol\L atau level laktat plasma >2. (iv) jumlah leukosit. laju respirasi. kami mengujikan pengaruh dari nutrisi.5 mL/kg/h selama paling kurang 1 jam meskipun beban volume akut atau volume . saturasi oksigen transkutan < 92%) pada pasien tanpa penyakit kardiopulmonari yang jelas (iii) gagal ginjal akut (output urin . laju jantung >2 SD di atas normal. (iii) tachypnea. hypoglycaemia. Septic shock didefenisikan sebagai sepsis dengan bukti adanya hipoperfusi organ atau disfungsi dengan paling tidak ada dua parameter berikut ini: (i) asidosis metabolisme yang tidak dapat dijelaskan (pH < 7. paO2/FiO2 ratio < 250. >38°C atau < 36°C. tujuan penelitian kami adalah untuk mengukur level GH dan IGF-1 pada anak-anak selama bacterial sepsis dan septic shock di unit perawatan intensif anak (PICU). < 0. indeks massa tubuh dan kortisol pada level GH dan IGF-1. >12 × 109/L atau < 4 × 109/L. Kelompok kontrol terdiri dari anak-anak yang sehat dengan usia. Sepsis didefenisikan sebagai sindrom respon inflamasi sistemik yang disebabkan oleh bakteri yang telah terdokumentasikan dan telah dibuktikan melalui kultur darah positif dan paling tidak menampakkan ciri-ciri berikut ini: (i) temperatur tubuh. Dan juga.dan jenis kelamin-yang disesuaikan (C) dari Unit Anak-anak Sehat. METODE Anak-anak dengan bacterial sepsis (S) dan septic shock (SS) memerlukan pengobatan perawatan intensif pada saat terdaftar dalam studi ini. (ii) tachycardia. Pada studi prospektif ini. (ii) arterial hypoxia (paO2 < 75 mmHg.meningococcal sepsis. atau (v) neutrophils yang belum matang. menunjukkan >10%.

Rerata usia pada kelompok ini adalah 36.80 µIU/mL) dan IGF-1 (Immunotech IGF-I IRMA. Konsentrasi serum glukosa diukur dengan metode oksidase enzimatik (Glucosio GOD-PAP. yang terdaftar di kelompok SS.7 bulan (range 5 120 bulan).5 5. sesuai dengan cairan dan inotropik. HASIL Terdapat 51 anak pada kelompok S. Mannheim.adekuat intravaskular tanpa penyakit ginjal sebelumnya). atau (iv) tiba-tiba mengalami gangguan status mental baseline. Paris. Hipoglikemia didefenisikan sebagai level serum glukosa di bawah 40 mg/dL. Bechman Coulter. Germany).9 bulan (range 5 108 .8 bulan (range 6 120 bulan). Kelompok C terdiri dari 30 anak. GH (Bi Source hGH-IRMA. Level serum kortisol diukur melalui competitive luminescence immunoassay (kisaran normal range = 5±25 µg/dL). Nivelles. Seluruh pasien diobati dengan antibiotik-antibiotik spektrum luas. Indek massa tubuh dihitung dengan menggunakan rumus: berat badan (kg)/tinggi badan(m2). Sampel serum untuk GH dan IGF.8 5.1 dibekukan segera dan disimpan sementara pada suhu±20°C. Dua puluh satu anak terdiri dari 11 anak perempuan (52%) dan 10 anak laki-laki (48%). Belgium. Sampel darah diperoleh dari jalur arterial dalam satu jam pada saat admisi di PICU sebelum pemberian agen-agen inotropik. konsentrasi minimal yang dapat terdeteksi = 0. France. 15 anak perempuan (50%) dan 15 anak laki-laki (50%) dengan usia rerata adalah 35. konsentrasi minimal yang dapat terdeteksi = 0. terdapat 25 anak laki-laki (49%) dan 26 anak perempuan (51%) yang berusia rata-rata 33. Total nutrisi parenteral (TPN) dimulai pada hari kedua pengobatan dan dilanjutkan selama periode penelitian.9 5.2 ng/mL) diukur dengan immunoradiometric assay. Dari 51 anak. Komite etik lokal telah menyetujui penelitian ini dan informed parental consent telah diperoleh. Roche.

meskipun durasi pemakaian ventilasi mekanik lenih lama pada kelompok S (6.54.005).5 mg/dL) dan pada non-survivor (31.9 0.38) tidak lebih rendah secara signifikan 0.6 3.05).4 0. 11 anak dari kelompok S dan 12 dari kelompok SS menderita hypoglycaemia (konsentrasi glukosa serum 25 40 mg/dL).001).27 dengan kelompok SS (3. Tidak terdapat perbedaan secara statistik antara durasi lama rawat inap untuk kelompok survivor S dan SS (P > 0.4%) dari kelompok SS meninggal setelah sepuluh jam setelah admisi (P < 0.7 signifikan secara statistik (P < 0. . P < 0.3. Pasien-pasien baik pada kelompok S dan SS tidak dapat makan secara oral mulai dari 48 hingga 60 jam setelah admisi rumah sakit.4) dan SS (13. Terdapat 87 pasien dengan kultur darah positif.6 0.001).5 mg/dL) adalah signifikan (P < 0.00 1).7 perbedaan antara survivor (14. 0. sebelas pasien (21.7 1.6%) dari kelompok S meninggal setelah tinggal dengan rerata lama perawatan selama 3 hari dan 15 pasien (7 1. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa (18/87). Tidak terdapat perbedaan antara usia dan jenis kelamin dari ketiga kelompok (P > 0. P < 0. Bagaimanapun.bulan) (Tabel 1).4) dan non-survivor (12. barangkali disebabkan oleh laju mortalitas yang tinggi pada kelompok terakhir (Tabel 1). Staphylococcus aureus (12/87) dan Escherichia coli (9/87) baik pada kelompok S dan kelompok SS. Pada saat admisi. Perbedaan antara level glukosa pada survivor (61.47.001) dibandingkan dengan kelompok C (15.27 hari. Dua puluh lima anak (49%) dengan S dan 15 anak (71. P > 0. Kami tidak menemukan perbedaan antara umur survivor dan non-survivor. Klebsiella pneumonia (14/87).4%) dengan SS membutuhkan ventilasi mekanis di samping terapi-terapi suportif lainnya (P < 0.49 days) dibandingkan 0. 0.05).001). Indeks massa tubuh pada kelompok S (14.05).

8 µg/dL (range 20 45 µg/dL).00 1) berbeda signifikan (Tabel 2.8 µg/dL) memiliki level kortisol secara signifikan lebih rendah daripada 0. Non-survivor (54. Perbedaan antara kelompok SS dan S (P < 0. 5).1 2.9 Level hormon pertumbuhan adalah 32.473. dan perbedaan antara evel IGF-1 pada kelompok S dan C (P < 0.01) (Tabel 3.7 µIU/mL survivor (33.5 µg/dL (range 7 46 µg/dL) dan 10.639.7 µIU/mL (range 11 28 µIU/mL) dan 55.5 µIU/ mL. Gbr.8 1.4 0. P < 0. C dan SS. Gbr.9 0.5 µg/dL (range 2 19 µg/dL) pada kelompok S. C dan kelompok SS. P < 0. P < 0. Perbedaan antara level GH pada kelompok S dan kelompok C (P < 0.9 µg/dL. Gbr. Non-survivor (19. 1).001) (Gbr. 1.5 µIU/mL (range 14 56 2. secara berturut-turut. P = 0. 7). Gbr.6 µIU/mL) memiliki level GH yang secara signifikan 1. dan kelompok C dan SS adalah signifikan (Tabel 2. 15. P < 0.001) (Tabel 3. 6).00 1) adalah signifikan (Tabel 2.001).2 1.001). S dan SS (P < 0. r = 0. Kami tidak menemukan perbedaan gender pada level GH dan IGF. Gbr. 29.1 ng/dL.1 ng/mL (range 19 100 ng/mL).9 ng/mL (range 48 250 ng/mL) dan 22.8 1. dan kelompok C dan SS (P < 0.005).7 1.4 1. dan SS dan C (P < 0.7 (20 70 µIU/mL) pada kelompok S. kelompok S dan SS (P < 0.1 ng/dL) memiliki level IGF.1 yang s ecara signifikan lebih rendah daripada survivor (40. Non-survivor (8.6 lebih tinggi daripada s ur vivor (29. 122.015.001) (Tabel 3. C dan kelompok SS. Level IGF-1 adalah 38. Gbr.Level kortisol serum adalah 30.1 dan kortisol pada kelompok non-survivor dan survivor. 3).7 1.9 ng/mL (range 10 46 ng/mL) pada kelompok S. 2). secara berturut-turut.9 2.001).001).1.3 µIU/mL). Kami tidak menemukan korelasi antara GH dan kortisol atau IGF. secara berturut-turut. . Kami menemukan korelasi yang baik antara level GH dan level IGF-1 pada kelompok non-survivor dan survivor (r = 0.4 4). 9.

Sepsis dihubungkan dengan tingginya mortalitas bahkan pada unit-unit perawatan intensif yang telah modern. Melimpahnya mediator-mediator seluler dan sistemik yang tidak lagi terkontrol.000 pasien yang berkembang menjadi sepsis setiap tahun. Di samping itu. ini adalah laporan pertama yang mendeskripsikan perubahan pada poros GH/IGF. Untuk pengetahuan terbaik kami kecuali pada penelitian yang telah dilakukan oleh Lin et al. tumor necrosis factor.DISKUSI Hormon pertumbuhan adalah salah satu kelompok dari sistem neuro-endokrin yang disekresikan dalam responnya terhadap sepsis dalam upaya untuk meningkatkan sintesis protein. menurunkan pemecahan protein dan mengurangi penggunaan glukosa sebagai sumber energi.1 pada sepsis dan septic shock yang disebabkan oleh bakteri yang berbeda-beda pada anak. Diperkirakan 50% dari pasien ini berkembang menjadi sepsis yag berat dan/atau septic shock. seperti interleukin. Hal ini diperkirakan bahwa 400. dengan mortalitas sebesar 20 hingga 50%. studi ini adalah studi pertama yang membandingkan antara GH dan IGF-1 pada anak-anak dengan sepsis dan septic shock. level GH bahkan lebih tinggi dan level IGF-1 lebih rendah pada kelompok SS daripada kelompok S. Juga terdapat perbedaan yang signifikan antara level GH dan IGF-1 pada survivor dan non-survivor. Di samping itu. kami menemukan level GH yang lebih tinggi pada kelompok S dan SS jika dibandingkan dengan anak-anak yang sehat pada kelompok C. nitric oxide dan . Pada studi yang kami lakukan saat ini. Mekanisme yang bertanggungjawab untuk peningkatan dalam katabolisme protein dan pertahanan tubuh host pada sepsis sangat kompleks dan tidak belum dapat dipahami seutuhnya. yang membahas tentang anak-anak dengan meningococcal sepsis. Ini disebabkan karena katabolisme yang meningkat dan menurunnya pertahanan tubuh host.

juga telah melaporkan adanya penurunan pada level kortisol pada anak-anak dengan septic shock yang disebabkan oleh meningococcaemia.prostaglandin. Kami tidak mampu untuk membahas tentang perubahan-perubahan pada hormon adrenocorticotropic /sumbu cortisol. bertanggung jawab untuk tingginya morbiditas dan mortalitas dalam sepsis dan septic shock. meningkatnya level GH menunjukkan adanya korelasi dengan level interleukin (IL)-6 dan tumour-necrosis factor-á (TNF-á) pada anak-anak non-surviving dengan meningococcal sepsis. Selama penyakit dalam keadaan kritis. Kami menemukan level kortisol yang secara signifikan lebih rendah pada pasien -pasien dengan septic shock. Untuk alasan ini. Pada studi kali ini.1. pada sisi lain. akan tetapi secara statistik level kortisol yang terdeteksi lebih rendah pada pasien non-surviving pada studi yang kami lakukan ini yang dapat mengindikasikan suatu kemungkinan peran untuk hypoadrenalism bersama-sama dengan perubahan pada GH/IGF-1 terhadap laju mortalitas. . GH dan banyak sitokin lainnya memiliki famil reseptor yang sama dan membagi sejumlah jalur-jalur signaling post-reseptor yang sama. dan perubahan pada fungsi akhir organ. glukosa dan protein. tingginya level sitokin dan GH dapat menginduksi aktifitas yang berlebihan atau disregulasi dari reseptor-reseptor atau mesenjer yang penting selama transduks sinyal. tidak terdapat perbedaan pada level kortisol antara pasien yang mengalami sepsis dan kontrol. dan juga perubahan-perubahan yang multiple pada sistem neuro-endokrin meskipun paling tidak hanya sebagian . kami tidak dapat menjawab tentang hubungan antara mediator-mediator dengan GH dan IGF. kortisol memainkan peranan yang penting pada metabolisme asam-asam lemak. Suti-studi yang dilakukan pada dewasa menunjukkan adanya peningkatan level kortisol pada sepsis. Joosten et al. Sebagaimana halnya dengan level IL atau TNF-á yang telah kami ukur.

Lin et al. Studi-studi pada dewasa yang sakit dengan kritis menyatakan adanya level GH yang tinggi tanpa mempertimbangkan outcome pasien. Lin et al. Level plasma GH ditemukan dalam batasan normal pada anak-anak dengan HIVseropositive yang bebas dari infeksi aktif atau lenyakit liver pada saat studi berlangsung. TPN dapat menjadi kurang efektif dari pada nutrisi enteral dalam menjaga dihasilkannya IGF-1. Sama halnya dengan. Level independen GH dan IGF-1pada anak yang berusia lebih muda selalu memiliki faktor prognostik yang buruk pada anaka-anak dengan . Meskipun kami berusaka melakukan untuk memperbaiki kesetimbangan nutrisi.1 mengalami penurunan selama periode puasa. dan hal ini berlaku sama dengan anak-anak yang sehat. dan bahkan pada saat TPN tersedia.Kami berpendapat bahwa durasi rasa lapar dan perbedaan yang ringan pada indeks massa tubuh antara anak-anak yang surviving dan non. melaporkan bahwa anak-anak yang berusia lebih muda akan memiliki faktor prognosis yang buruk. Data yang kami peroleh dan perhatin kami tentang level GH meningkat meskipun jika agen infeksius menyebabkan sepsis. defisit kalori total yang terjadi dan intake protein dapat mempengaruhi level GH dan IGF-1. melaporkan rerata level GH yang sangat tinggi pada anak-anak dengan GH meningococcal sepsis. Total level IGF. kami menemukan perbedaan yang sangat signifikan antara level GH pada survivor dan non. Lin et al.survivor pada kejadian bacterial sepsis dan septic shock. namun sebaliknya terjadi pada GH. level IGF-1 secara abnormal menurun. telah menunjukkan bahwa level GH plasma sangat dihubungkan dengan fatal outcome pada meningococcal sepsis. akan tetapi dengan jumlah pasien yang sangat banyak. Hypoglycaemia diamati pada pasien yang akan dapat menjadi faktor kontribusi untuk meningkatkan level GH.surviving dapat mempengaruhi level GH dan IGF-1.

Di samping itu. Kami tidak mendeteksi kesamaan dalam perbedaan jenis kelamin pada pasien -pasien kami dan pada kelompok kontrol. septic shock dan anak-anak yang sehat sangat mengesankan pada penelitian ini. Perbedaan antara level IGF-1 pada septic. yang menyatakan adanya level GH normal bersamaan dengan menurunnya level IGF-1. Bagaimanapun. Penlitian yang dilakukan oleh O¶Leary dan koleganya pada tikus telah memperlihatkan . dan keadaan katabolik lainnya.sepsis dan septic shock. yang sebagian besar terjadi di hati. rendahnya level serum IGF-1 mungkin mengintensifkan produksi GH dengan mengurangi penghambatan feedback dari sekresi pituitary GH. Kami menemukan level IGF-1 yang menurun tajam pada sepsis dan septic shock. IGF-1 ditemukan pada jaringan ekstrahepatik dan pada hewan-hewan yang telah di-hipofisektomi. telah menunjukkan adanya peningkatan pa a d level GH dan menurunnya level IGF-1. Selanjutnya. Hubungan yang paradoksial antara GH dan IGF-1 dapat mengindikasikan adanya gangguan pada transduksi sinyal GH. GH mungkin tidak penting untuk produksi dan sekresi IGF-1. Beberapa laporan menginvestigasi level basal GH dan IGF-1 pada pasien dewasa yang mengalami sepsis. seluruh studi lain yang telah dilakukan yang membahas mengenai sepsis dan septic shock pada pasie dewasa atau pada hewan coba. Penemuan ini menyatakan adanay sekresi parakrin dan/atau autokrin IGF-1 yang mungkin terjadi di samping terjadinya sekresi endokrin. barangkali hal ini disebabkan karena faktanya hampir dari seluruh pasien kami pada masa pra-pubertas. yang mana dapat terjadi pada level GH reseptor atau lada jalurjalur signaling intrasellular. Studi-studi yang dilakukan pada dewasa telah memperlihatkan perbedaan gender yang mana lebih banyak ditemukan pada wanita terhadap level GH/IGF-1 selama sepsis. kisaran usia yang mencakup pada studi lebih luas.

kami bahkan menemukan level GH yang lebih tinggi dan level IGF. Kami memperkirakan bahwa baik GH dan IGF-1 memiliki nilai prognostik yang potensial untuk berperan sebagai marker pada sepsis dan septic shock pada anak-anak.1 pada anak-anak selama sepsis dan shock. . kami telah memberikan bukti-bukti lanjut untuk peningkatan level GH dan menurunnya level IGF. level GH yang paling tinggi terdeteksi bersamaan dengan level IGF-1 terendah. yang mana tidak dihubungkan dengan menurnnnya jumlah reseptor GH.adanya kecenderungan terhadap peningkatan hepatic GH binding dan resistensi GH.1 yang tinggi dan kelangsungan hidup yang telah dilaporkan. terdapat peningkatan yang signifikan pada level IGFBP-1 pada penyakit yang kritis. Koelasi negatif terlihat antara level IGFBP. Di samping adanya perubahan pada level GH/IGF-1 axis. Sebagai kesimpulan. Sebagai tambahan. Namun sayangnya.1 yang lebih rendah pada non-survivor daripada survivor. Pada studi yang kami lakukan. Kami berpendapat bahwa baik defesiensi IGF-1 dan resistensi GH hepatik yang diperantarai oleh endotoxindapat menjadi faktor yang bertanggung jawab untuk hubungan paradoksial antara GH dan IGF-1. kami tidak mengevaluasi level IGFBP pada studi ini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->