P. 1
Kritik Sastra

Kritik Sastra

|Views: 184|Likes:
Published by Muhammad Danil

More info:

Published by: Muhammad Danil on Jul 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/29/2015

pdf

text

original

Proposal Kritik Mitepoik Pada Cerpen Siti Rahima

Diajukan untuk memenuhi syarat salah satu tugas mata kuliah “KRITIK SASTRA”

Dosen Pengampu :Drs. Eddy Mulyadi. Disusun Oleh : Sukmawati Kls : 1V A 0800888201021

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS BATANGHARI JAMBI

unity. dan intensif (brevity.BAB 1 KAJIAN TEORI 1. . 1. and intensity). • Ciri-ciri utama cerita pendek adalah singkat. Sementara itu. cerita pendek adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri. sedangkan pendek berarti kisah pendek (kurang dari 10. padu. Dari beberapa pendapat di atas penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan cerita pendek adalah karangan yang bersifat nasehat yang berupa fiktif yang menceritakan suatu peristiwa dalam kehidupan pelakundan padat. ciri-ciri cerita pendek adalah sebagai berikut. Sumardjo dan Saini (1997 : 37) mengatakan bahwa cerita pendek adalah cerita atau parasi (bukan analisis argumentatif) yang fiktif (tidak benar-benar terjadi tetapi dapat terjadi dimana Saja dan kapan saja.1 Pengertian Cerpen Cerita pendek apabila diuraikan menurut kata yang membentuknya berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut : cerita artinya tuturan yang membentang bagaimana terjadinya suatu hal. Menurut Susanto dalam Tarigan (1984 : 176). serta relative pendek).2 Ciri-Ciri Cerpen Menurut Morris dalam Tarigan (1985 : 177).ya relatif singkat dan padat.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam situasi atau suatu ketika ( 1988 : 165 ).

Seorang perempuan. suggestive. Tetapi. Setting Cerpen Setting adalah waktu. Maksudnya sebagian besar setting dari sebuah karya sastra adalah merupakan tempat dari pengalaman penulis yang sangat berkesan. Jauh sebelum jalan lingkar luar ini dibangun oleh konsorsium kontraktor Jepang-Indonesia. Tema yang bisa diangkat dari Hikayat Siti Rahima adalah : “ Perjuangan seorang gadis dalam mempertahankan kisah hidupnya di dunia fana”.• Unsur-unsur cerita pendek adalah adegan. toko. Tema Menurut Brook dan Waren dalam Guntur (93:125) menyatakan tema adalah unsur atau makna suatu cerita atau novel. • Bahasa cerita pendek harus tajam. dan Purser menyatakan tama adalah pandangan hidup yang tertentu atau perasaan tertentu mengenai kehidupan atau rangkaian nilai-nilai tertentu yang membentuk atau membangun dasar atau gagasan utama dari suatu bentuk karya tulis. 1.3 Unsur Intrinsik A. Sedangkan disatu sisi yang berbeda Brooks. Setting kadangkala diangkat tidak jauh dari latarbelakang penulis sebuah karya sastra. B. Tema merupakan gagasan pokok yang terdapat adalm sebuah wacana. sudah lama sekali. character. and action). dan gerak (scena. sugestif. Dalam Cerpen Hikayat Siti Rahima berlatar belakang setting di sebuah kampung dipinggiran kota yang berbatasan langsung dengan Ibukota Negara Jakarta. . itu duli. “ Dulu aku manusia juga. dan menarik perhatian (incicive. and alert). tempat. suasana yang terjadi didalam cerita. Waren.

Tokoh-Tokoh Cerpen Tokoh merupakan orang-orang yang diceritakan dalam sebuah karya sastra. 3. 2. wanita yang sangat taat pada suaminya. Pria yang menjadi pacar Rahima ( seorang Konsorsium Kontrkator Jalan) Pria pekerja keras. Penggambaran watak tokoh dalam novel sangat detail. Siti Rahima Seorang wanita yang terlahir dari keluarga sederhana. ketika beliau mengusir Rahima dari rumah. 10). taat pada ajaran agamanya. Pria yang mengusir anaknya gadisnya karena telah mencoreng nama baik keluarga. Ibu Seorang wanita yang lembut. . berwibawa. Kembang kampung yang baru merasakan jatuh cinta kepada seorang konsorsium kontrkator jalan. tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerpen hikayat Siti Rahima yaiti : 1.masingmasing tokoh tersebut. Wanita tegar. pria yang tidak bertanggung jawab. sehingga pembaca bisa memilai . 4. Setiap tokoh dalam novel memiliki karakter yang berbeda-beda.C. Dia tidak bisa menetang ayah. sampai sang gadis Mengandung benih dari cinta mereka. (Bahasa Indonesia. lemah. Pria yang meninggalkan Siti Rahima setelah ia meraih hati dan tubuh gadis itu. yang lagi berputus asa dalam pencarian sang lelaki pujaan hati yang pergi entah ke mana. Tim Pengembangan Kurikulum . Ayah Pria yang tegas.

Orang-Orang Kampung Orang-orang yang kurang mengecam pendidikan. Ø Asidenton Adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari pasidenton. kata orang. agar dia dia bisa diterima di surge atau neraka. 5. Masih percaya kepada yang namanya dukun dan percaya kepada mitos. Alur Yang Digunakan Dalam Cerpen. Gaya bahasa yang dipakai dalam cerpen Hikayat Siti Rahima adalah : Ø Anastrof/inverse adalah semacam gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang ada pada kalimat “ Esok paginya orang-orang kampung . dan akhirnya menuju kesuatu akhir cerita (ending). Gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa. Artinya sebuah karya novel bergerak maju dari suatu permulaan (beginning). Masih menganut sistem yang sangat tradisional. melalaui suatu pertengahan (middle). kata yang lain. Gaya Bahasa Yang Digunakan Dalam Cerpen. . Rahima bunuh diri. D. Dibunuh orang.alur dalam cerpen Hikayat Siti Rahima Yaitu alur maju.5. Alur adalah struktur yang terdapat dalam fiksi atau drama (Brook dalam Guntur 1995:126). Dan diakhiri dengan pencarian tempat kehidupan oleh Rahima.menemukan tubuhku tergeletak kaku. style atau gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. dengan lidah yang terjulur di dalam gerowong pohon asam.

lelaki itu tidak hanya mengukur.Beberapa kata.. Amanat yang Terdapat Dalam Cerpen Amanat yang disampaikan melalui cerpen Hikayat Siti Rahima adalah bahwa kita manusia jangan terlalu mengutamakan kehidupan dunia saja. Matahari akan hilang. semacam gaya bahasa yang mengadung suatu pernyataan yang berlebihan dengan membesar-besarkan sesuatu hal. . “ namun. Jangan mudah berputus asa. apalagi yang bisa menjerumuskan kita kedalam dunia penuh dosam seperti free sexs. Ø Hiperbola. mengeker. frasa atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung. Sebab Tuhan tidak akan memberikan sebuah cobaan melebihi kemampuan umatnya. E. dan mencatat. Tong.“ Pejamkan matamu. Ia memindai percik api dimataku. Dan aku merasakan debur ombak di dadanya. apaun masalah yang lagi kita hadapi. Hujan pertama akan datang. Kita harus menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat.

Kritikus mitepoik pun mendapatkan fakta-fakta yang dikumpulkan dari hasil riset histories dan kuantitatifnya dalam mitos. Puh!” aku tertawa mendengarnya. Yang nyangkut ngoyor kelaut. Hikayat berkisah tentang seseorang.1 Kritik Mitepoik Pada cerpen ini Kritik yang dapat diangkat yaitu. adalah bahwa Zen Hae . Hikayat tidak selalu harus bercerita tentang orang-orang besar. menjadi petunjuk jalan yang telah hampir hilang dalam perjalan kritik ke dalam sastra. di dalam novel ini Zen Hae menceritakan tentang penduduk kampung yang masih memegang erat tentang mitos dalam kehidupan. dan hal inilah yang membuat sebuah hikayat menjadi cukup berharga untuk dituturkan. kritik mitepoik ini adalah kritik yang paling baru dan yang paling ambisius dianta pendekatan-pendekatan kritik konterporer yang barang kali juga yang paling profokatif dalam tindakantindakan dan kemungkinannya.BAB 11 PEMBAHASAN 2. yang selalu lebih besar dari hidup. sang dukun membakar dupa dan membaca mantra di depan gerowong tubuhku. Begitu kental mitos yang ada di kampung itu sehingga pohon itu dijadikan tempat sacral pemujaan. atau sesuatu. Aer manek aer sagu. Hal pertama yang paling kuat tertinggal di dalam benak setelah membaca ceritacerita dalam kumpulan cerpen Zen Hae. Rumah Kawin. Di hari yang ditentukan. tetapi ia pasti berisi perbuatan-perbuatan besar. Setan Rahima jangan ngeganggu. “ dut serudut ular kadut. Cerpen Hikayat Siti Rahima mengangkat kritik tentang mitepoik. “Akhirnya mereka panggil seorang lelaki tua bermisai panjang dan bermata picak.

dan ia . Tokoh-tokoh Zen Hae adalah orang-orang yang ditaklukkan dan terpinggirkan di sebuah latar urban yang jauh dari kemanusiaan. Ia menjadi sebuah pohon yang ditakuti karena keangkerannya. meski hanya menjadi bayangbayang cerita di latar belakang. yang tak lagi punya tempat di kota besar yang. Hikayathikayat dalam Rumah Kawin adalah hikayat tentang kekalahan manusia dan kehidupan dari kemajuan dan zaman. menghisap segenap elan dari yang lemah yang hidup di dalamnya. Lihat saja beberapa tokoh dalam kumpulan cerpen ini. Siti Rahima. Namun. tetapi mewujudkan impian tersebut juga merupakan satu-satunya kemungkinan yang tersisa baginya. tokoh dalam cerpen “Hikayat Siti Rahimah” adalah sebatang pohon asam tua yang dahulu konon merupakan jelmaan seorang gadis yang terusir dan mati merana. secara mengherankan ia tumbuh kembali seperti sedia kala. Bahkan. sejenak Rahima mencicipi rasanya “berkuasa”. melainkan juga berkisah tentang kekalahan-kekalahan alih-alih kebesaran-kebesaran. ketika ditebang pun.tampaknya menciptakan hikayat-hikayat yang bukan saja tidak berisikan kronikel orang-orang besar. burung kecil yang tak punya apa-apa kecuali kebebasan karena kemampuannya untuk terbang dan melampaui dunia. Seperti Mamat Jago. yakni terbang dan melepaskan diri dari kehidupan urban yang tak berwajah dan tak berhati. Kemustahilan ini justru merupakan titik persilangan eksistensi bagi si pemulung. Dalam “Taman Pemulung”. tokoh pemulung yang tak bernama dari semula telah dihadap-hadapkan dengan suatu kemustahilan: bagaimana caranya menjadi seekor jekimpreng. modernitas adalah pemangsa yang tak kenal lelah. Mustahil bagi si pemulung untuk mewujudkan mimpinya.

Untunglah bahwa Zen Hae tidak sekalipun jatuh dalam idealisasi kaum lemah ataupun terperangkap oleh wacana bahwa yang lemah. Kalaupun mereka bersuara. Akan tetapi. Mereka harus bercerita tentang dirinya sendiri. seolah-olah meleburkan fakta dan fiksi. Sebabnya adalah mereka bukan pelaku-pelaku persitiwa besar yang kisah hidupnya layak dikenang dan diturunkan dari generasi ke generasi. tokoh-tokoh dalam kisah modern yang berhadapan dengan modernitas: sendirian dan bernasib tragis. atau kisah-kisah itu akan selamanya lenyap dan tak sampai kepada siapa-siapa.punya kuasa yang tanpa batas. Seperti kata tokoh ‘saya’ dalam “Kota Anjing”.’ Meski demikian. Dalam “Rumah Jagal”. Sentimentalisme seperti ini hanyalah isapan jempol kaum idealis dan romantik. yang dalam tradisinya biasa dituturkan oleh seorang penglipur lara. Ini konsisten dengan takdir yang telah dijatuhkan atas mereka. hikayat. peristiwa-peristiwa. bagaimanapun juga. dan tanggal-tanggal yang . Memang ada jejak-jejak realisme yang kuat dalam banyak cerpennya yang. ada nama-nama. masih mampu memberdayakan dirinya sendiri. tempat-tempat. sebagaimana diidentifikasi dengan jeli oleh Kurnia Effendi. agaknya Zen Hae juga bukan seorang realis. itu adalah suara yang menyampaikan berita tentang kekalahan dan bukan kejayaan. jalan terakhir inipun bahkan tak mampu menyelamatkan mereka dari kebinasaan Jadi. bukan pula cerita tentang kekuatan transenden yang ada dalam jiwa setiap manusia dan selalu muncul di kala manusia terjepit di antara persoalan hidup dan mati. dalam kumpulan cerpen ini dikisahkan oleh mulut para tokoh atau pelaku sendiri. ‘Saya sedang mengalami keterasingan daari realitas sehari-hari dan saya menemukan penyelamatan dalam dunia binatang. misalnya.

memang hadir dalam kenyataan. perempuan panri yang secara gaib muncul di hadapan lelaki tua dalam “Kereta Ungu” dengan tarian erotisnya. bukan dimensi kesejarahan dirinya yang utama. Perempuan Cina yang menjelma jadi burung jekimpreng dalam “Taman Pemulung”. tokoh ‘saya’ yang menjelma seekor anjing dalam “Kota Anjing”. melainkan pesan yang disampaikannya melalui berbagai perlambangan. Namun. Bagi sebuah hikayat. Dalam . yang kita saksikan bukan sekadar penggabungan antara fiksi dan fakta. tetapi ia juga menolak menjadi bagian dari “realitas” yang dikisahkannya dengan cara bermain-main dalam tataran simbolik: ada pesan lain di balik yang tersurat atau yang terlihat. Ia adalah semacam kronikel yang kental dengan unsur kesejarahan. hanya dapat disampaikan melalui peranti-peranti simbolik. tak dapat dipungkiri pula bahwa ada sejumlah cerpen yang mustahil dapat ditangkap isinya bila kita membacanya dengan kacamata realis. tetapi juga penuh dengan peristiwaperistiwa aneh yang tak berbasiskan logika realitas. Barangkali. Persoalan ini membawa kita kembali kepada genre hikayat. dan Si Naga Merah dalam “Kelewang Batu” tak dapat dicerna dengan akal sehat yang berbasis pada realisme. serta cerpen-cerpen lainnya. ikan-ikan yang berlompatan keluar dari dalam kepala si anggora betina dalam “Segalanya Terbakar di Matamu. Hikayat boleh jadi mengandung derajat ke-nyata-an yang tertentu. Demikian pula dalam “Taman Pemulung” dan “Rumah Kawin”. Rahima yang menjadi pohon asam dalam “Hikayat Siti Rahima”. melainkan sebuah upaya mengawinkan realisme dan simbolisme dengan cara yang tidak biasa. dan yang karena satu dan lain hal.

jiwa. Bagaimana caranya membuat kenyataan berbicara dengan sendirinya tanpa dibuat menjadi . jelas bahwa common sense terganggu ketika dalam proses membaca kita sampai pada kejanggalan-kejanggalan yang berserakan di sana-sini dalam hampir semua cerpen.bentuknya yang tradisional. sehingga realisme belaka tak akan mampu mementaskan kembali kekerasan dan kepahitan itu. tampaknya menawarkan alternatif bagi kebuntuan tersebut. walaupun kadarnya bisa saja tidak terlalu tinggi. Mendefinisikan yang hilang itu sebagai esensi-esensi. Yang hilang itu. dsb. Dalam cerpencerpen Zen Hae. yang selalu punya jalan untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang lain. hikayat selalu memiliki kandungan moral atau didaktik tertentu. kenyataan yang hendak dilukiskan terlalu keras dan pahit untuk menjadi nyata. ketertaklukan. bisa jadi kita malahan terperangkap dalam idealisasi dan sentimentalisme. Lewat simbolisme. yang tak terpahami dan tak terjangau oleh akal sehat. hanya dapat dimunculkan kembali secara simbolik. yakni lewat berbagai keganjilan di luar logika di tengahtengah daya realis yang mendesakkan dirinya. Bahkan. Namun. seperti kemanusiaan. dan keterpinggiran tanpa mengatakannya? Karena mengatakan itu semua sama artinya dengan mereduksinya menjadi kategori-kategori yang dangkal. Simbolisme. hanya akan menafikan apa yang simbolik dan mengembalikannya pada realisme yang mentah. yang memungkinkan pembaca melihat apa yang hilang dalam kenyataan alih-alih menemukan keutuhan suatu kenyataan. tercipta jarak antara pembaca dan realitas dalam cerpen. Apakah strategi simbolik ini lalu hanya berfungsi sebagai pelarian belaka dari kenyataan yang bahkan tak mampu ditangkap sepenuhnya oleh realisme? Bagaimana caranya berbicara tentang penderitaan.

tetapi persoalannya adalah untuk siapakah hal tersebut penting? Ada jebakan universalisme di sini jikalau penulis tidak berhati-hati. secara sambil lalu. Memang. melainkan pada ada atau tidaknya pilihan lain untuk menggambarkan apapun wajah kenyataan yang hendak ditampilkan itu. tetapi ia adalah juga pembawa berita. seberapapun realistisnya isi sebuah kisah. Ini memang bukan realisme. ia tetap harus dipertahankan sebagai sebuah kisah.stylized oleh realisme? Karena mendandaninya dengan gaya realis sama artinya dengan menggunakan bentuk untuk menyangkali substansi kenyataan. Semoga bukan Cuma ini alasannya. hikayathikayat Zen Hae tidak mengambil posisi “sepenting” itu. ia sempat melontarkan guyonan. Seperti dilukiskan . Inilah cara sebuah kisah untuk tampil secara jujur sebagai dirinya sendiri. Dan inilah yang mungkin membuat kumpulan cerpen ini tampak jadi bernuansa simbolik sekaligus realis. tetapi ketelanjangannya jelas nyata. melainkan juga untuk semua orang di dunia ini. dalam salah satu cerpennya. Pertama. Ada hal mahapenting yang mendesak untuk disampaikan di balik kisahan yang dituturkan. ‘Aku pengarang yang menyukai simbolisme’ [‘Ahai. saya mulai berteori sekenanya’]. yang tanpa sungkan-sungkan atapun tinggi hati mengakui bahwa dirinya secara sengaja diberi beraneka macam bumbu. Ini menjadi beberapa problematika yang agaknya dihadapi oleh Zen Hae. Inikah pertimbangan yang membawa Zen Hae ke jalur hikayat? Bilamana epik menokohkan orang-orang besar. kisah ini bukan sekadar kisah. Kedua. Persoalannya barangkali bukan terletak pada preferensi stilistik pribadi penulis. dan mengasumsikan bahwa segala hal yang dialami oleh tokoh besar itu adalah penting tidak hanya untuk tokoh itu sendiri. bahkan yang setengah dewa.

tukang kayu. penggali kubur.’ ujar Siti Rahima yang menjelma pohon asam. Maka itu. penyabung ayam. . Mustahil untuk secara tuntas mengupas keseluruhan cerpen di dalam Rumah Kawin ini bukan terutama karena keterbatasan ruang. melainkan terlebuh karena tingka kerumitan makna yang dihadirkannya. menjadi demikian halnya karena peristiwa yang diceritakannya dialami oleh manusia. adalah “Rumah Jagal”. Siapa lagi yang akan menuturkan kisah hidup mereka yang tak dianggap ada itu? Di sini kita melihat pertalian antara substansi cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini dengan sudut pandang orang pertama yang dominan dalam penceritaan. dan “Segalanya Terbakar di Matamu”. kalaupun penting.sendiri olehnya dalam “Kelewang Batu”. mudah-mudahan. ‘yang sehari-harinya bekerja sebagai petani. harus diakui bahwa nyaris separuh dari cerpen-cerpen yang dimuat menghadapkan kita dengan jejaring perlambangan yang sangat sulit untuk direka-reka maknanya. ‘Aku berbicara langsung padamu. “Kereta Ungu”. Isi hikayatnya. mereka yang ‘berperuntungan kecil’. para sahibul hikayat pun adalah orangorang biasa. ‘Setelah ini. Pendek kata. antara lain. peramal kode buntut. tetapi kita juga mendengarkan suarasuara yang tak kunjung henti menuturkan cerita. kisah-kisah yang diceritakan pun bisa saja kisah-kisah tentang kehidupan para sahibul hikayat itu sendiri meski mereka bukan orang-orang penting ataupun orang-orang besar. tukang gado-gado’. Cuma ini. kau punya sedikit kerendahan hati untuk memahami kami…’Sebagai penutup. Termasuk dalam kategori ini. Dan ukuran besar kecil pun tak lagi menjadi soal di sini. Tanpa perantaraan mimpi. makelar tanah. Kita membaca kisah-kisah tentang keterusiran dan kekalahan yang mengecilkan harapan.

BAB 111 PENUTUP 3. Cerpen adalah jenis prosa yang berisi cerita sebuah peristiwa kehidupan sang pelaku pada suatu saat. Untuk dapat menetukan apakah suatu karya sastra itu mutunya baik atau buruk. .1 Kesimpulan Salah satu bentuk karya sastra adalah cerpen. yang tidak memungkinkan adanya digresi. Pertikaian yang terjadi tidak menimbulkan perubahan nasib pelaku. seorang penilai tentu harus membaca karya itu terlebih dahulu. kritik sastra dapat diartikan sebagai penilaian terhadap mutu karya sastra berdasarkan kriteria dan pendekatan tertentu. Jadi secara sederhana.

Siti Rahima mati. Pohon asam. Siti Rahima duduk untuk sekedar beristirahat. karena ia tidak lagi suci. karena telah mencoreng nama baik keluarga dan masyarakat kampungnya.Sinopsis Cerpen Seorang gadis yang sedang berputus asa. warga kampung menemukan Siti Rahima tanpa nyawa. masuk dan tumbuhnya menyatu ke dalam Pohon Asam tersebut. Siti Rahima nama gadis itu mengandung benih dari seorang pria yang bekerja sebagai kontraktor jalan. Tiba di sebuah tempat. . Keesokan harinya. Akhirnya Siti Rahima diusir oleh keluarganya. Dengan keputus asaan Siti Rahima berjalan mencari lelakinya itu. di bawah sebuah pohon besar.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->