P. 1
TA Refrigerasi

TA Refrigerasi

|Views: 414|Likes:

More info:

Published by: Davian Galasta Ibranez on Jul 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/26/2013

pdf

text

original

Sections

TUGAS SARJANA

UJI EKSPERIMENTAL MINYAK PELUMAS PADA KOMPRESOR
HERMETIK DENGAN REFRIGERAN HCR-22

Diajukan sebagai salah satu tugas dan syarat
Untuk memperoleh gelar Strata-1 (S-1)
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik

Oleh :

DWI PURWANTO

NIM. L2E 302 413

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2004

1

TUGAS SARJANA

Diberikan kepada

:Nama: Dwi purwanto
NIM: L2E 302 413

Dosen Pembimbing

:1. Dr. Ir. Berkah Fajar, Dipl, Ing
2. Ir. Bambang Yunianto, MSc

Jangka Waktu

:

Judul

:Uji Eksperimental Minyak Pelumas pada Kompresor
Hermetik dengan Viskositas 32 dan Refrigeran HCR-22

Isi Tugas

: 1. Merakit mesin pendingin yang akan digunakan dalam
penelitian.

2.Melakukan pengujian dan pengambilan data dari
prestasi kerja mesin pendingin dan penggunaan
pelumas pada kompresor hermetik selama 2000
jam.
3.Melakukan pengujian dan analisa minyak
pelumas serta analisa visual kompresor dan
perhitungan data

Semarang, Pebruari 2004

Dosen Pembimbing II

Dosen Pembimbing I

Ir. Bambang Yunianto, MSc

Dr. Ir. Berkah Fajar, Dipl, Ing

NIP : 131 668 514

NIP : 131 668 482

2

HALAMAN PENGESAHAN

Tugas Sarjana dengan judul “Uji Eksperimental Minyak Pelumas pada
Kompresor Hermetik Dengan Viskositas 32 dan Refrigeran HCR-22“ telah diperiksa
dan disetujui pada :
Hari

:

Tanggal

:

Oleh

Dosen Pembimbing II

Dosen Pembimbing I

Ir. Bambang Yunianto, MSc

Dr. Ir. Berkah Fajar, Dipl, Ing

NIP : 131 668 514

NIP : 131 668 482

Mengetahui,
Koordinator Tugas Akhir

Ir. Bambang Yunianto, MSc
NIP : 131 668 514

3

ABSTRAK

Semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya teknologi yang ramah
lingkungan saat ini mendorong para ilmuwan untuk menciptakan teknologi baru
disegala bidang. Bidang refrigerasi dan pengkondisian udara (air conditioning) juga
tidak terlepas dari perkembangan ini. Penggunaan refrigeran CFC dan HCFC yang
relatif merusak lingkungan sudah mulai dikurangi, bahkan beberapa tahun lagi
diharapkan refrigeran jenis ini tidak lagi digunakan secara menyeluruh di seluruh dunia.
Sebagai konsekuensinya diperlukan adanya refrigeran pengganti bagi CFC dan HCFC.
Refrigeran berbahan dasar hidrokarbon saat ini mulai banyak dilirik kembali
sebagai salah satu alternatif pengganti, namun masih diperlukan banyak penelitian dan
percobaan untuk dapat meningkatkan performa dan faktor keamanannya agar dapat
menggantikan refrigeran CFC dan HCFC. Salah satu hal yang perlu mendapatkan
perhatian adalah pemilihan jenis minyak pelumas yang sesuai dan pengujian ini
bertujuan untuk mendapatkan kombinasi yang sesuai antara refrigeran yang digunakan
dengan berbagai variasi viskositas minyak pelumas.
Uji eksperimental dilakukan pada kompresor hermetik dengan menggunakan
minyak pelumas Kompen dengan viskositas 100 dengan refrigeran HCR-22. Pengujian
ini sendiri dilaksanakan selama 2000 jam non stop. Setelah pengujian selesai, kemudian
dilakukan penelitian dan analisa terhadap minyak pelumas untuk mengetahui
kondisinya setelah beroperasi selama 2000 jam dan juga dilakukan pemeriksaan pada
komponen – komponen kompresor untuk mengetahui pengaruhnya. Hasil yang
diperoleh dari pengujian ini yaitu adanya penurunan viskositas dari pelumas menjadi
90,59 cSt dari nilai viskositas semula yaitu 100,1 cSt dan pada minyak pelumas terdapat
wear metal berupa Al (1 ppm), Cu (2 ppm), Fe (2 ppm) dan Si (2 ppm).

4

HALAMAN PERSEMBAHAN

Tugas Sarjana ini
Kupersembahkan untuk
Orang Tuaku yang
Aku Hormati dan Aku Sayangi

Sesungguhnya Allah SWT tidak
merubah keadaan suatu kaum
sehingga mereka merubah
keadaan yang ada pada diri
mereka sendiri…

(Q.S. Ar rad : 11)

.

5

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya serta sholawat dan salam tidak lupa kita
sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa manusia menuju jalan
yang lurus dan diridhoi Allah swt.

Laporan Tugas Sarjana ini diberi judul “Uji Eksperimental Minyak Pelumas
Kompresor Hermetik dengan Viskositas 32 dan Refrigeran HCR-22”
. Laporan ini
disusun untuk memenuhi syarat yang dibebankan pada setiap mahasiswa yang
mengambil mata kuliah Tugas Akhir di Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro Semarang.
Pada kesempatan ini, Penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih yang

sebesar-besarnya kepada:
1.Dr. Ir. Berkah Fajar, Dipl, Ing selaku Ketua Jurusan Teknik Mesin.
2.Dr. Ir. Berkah Fajar, Dipl, Ing selaku Dosen Pembimbing yang telah
membimbing, membantu dan mengarahkan selama penulis menyelesaikan
Tugas Sarjana ini.
3.Ir. Bambang Yunianto, MSc selaku Dosen Pembimbing II atas bimbingan,
nasehat dan petunjuknya sehingga Tugas Sarjana ini dapat terselesaikan.
4.Ir. Bambang Yunianto, MSc selaku Dosen Wali dan Dosen Koordinator tugas

sarjana .

5.Teman-teman di Team Kulkas, Rizky, Budi, Momiek, Fajar, Dani, Anom, and
Derry, i hope after this “Battle”, we can achieve greatness.

6

6.“My Palls” di Kramast Enterprise, Atmo “Pak Kost”, Derry, Momiek, Pak Dhe
and Puji yang selalu memberikan support dan “gasa’an”nya disaat senang dan
susah.

7.Rekan - rekan angkatan ’98 yang selalu kompak hingga sekarang dan mudah-
mudahan hingga setelah lulus kita selalu kompak.
8.Seluruh dosen – dosen Teknik Mesin yang telah memberikan ilmunya dan staff
Tata Usaha.
9.Bapak Joko, ST selaku penanggung jawab Laboratorium Fenomena Dasar
10.Mas Broto, selaku penanggung jawab Laboratorium Prestasi Mesin.
11.Semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya laporan Tugas Akhir

ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Tugas Akhir ini masih banyak
kekurangan, sehingga dengan lapang dada penulis akan menerima kritik dan saran yang
bersifat membangun. Akhir kata penulis mengucapkan semoga laporan Tugas Sarjana
ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca.

Semarang, Desember 2003

Penulis

7

DAFTAR ISI

Halaman Judul

i

Halaman Tugas Sarjana

ii

Halaman Pengesahan

iii

Halaman Abstrak

iv

Halaman Persembahan

v

Kata Pengantar

vi

Daftar Isi

vii

Daftar Gambar

xii

Daftar Tabel

xv

BAB IPENDAHULUAN
1.1Latar Belakang

1

1.2Perumusan Masalah

2

1.3Batasan Masalah

3

1.4Tujuan Penulisan

3

1.5Metodologi Penelitian

3

1.6Sistematika Penulisan Laporan

4

BAB IIDASAR TEORI

2.1 REFRIGRASI DALAM KEHIDUPAN MANUSIA 5
2.2 DAUR KOMPRESI UAP

5

8

2.2.1Daur Refrigarasi Carnot

6

2.2.2daur Kompresi Uap standar

8

2.2.3Daur Kompresi Uap Nyata

11

2.2.4Analisa Matematis Siklus Kompresi Uap

12

2.2.4.1Proses Pencekikan (Throttling Process)
2.2.4.2Koefisien Prestasi (COP)

2.2.5Komponen Utama Kompresi Uap

12

2.2.5.1Kompresor

12

2.2.5.2Kondensor

13

2.2.5.3Evaporator

14

2.2.5.4Pengering (drier) dan Saringan (strainer)

15

2.2.5.5Alat Expansi

16

2.3

KOMPRESOR

17

2.3.1Kompresor torak

18

2.3.2kompresor Rotari

19

2.3.3Kompresor Sekrup

23

2.3.4Kompresor Terbuka

24

2.3.5Kompresor semi Hermetik

25

2.3.6Kompresor Hermetik

26

2.4

REFRIGERAN

33

2.4.1Refrigeran Hydrocarbon

36

2.4.1.1Keuntungan Refrigeran Hydrocarbon

37
2.4.1.2Aspek Lingkungan Refrigeran Hydrocarbon37
2.4.1.3Aspek Keamanan Penggunaan
Refrigeran Hydrocarbon

37

2.4.1.4Kompatabilitas dengan Minyak Pelumas

38

2.5

MINYAK PELUMAS

39

2.5.1Fungsi Minyak Pelumas

40

2.5.2Bahan Dasar Minyak Pelumas

41

9

2.5.3Sifat-sifat Dasar Minyak Pelumas

42

2.5.3.1Viskositas Minyak Pelumas

42

2.5.3.2

Indeks Viskositas

44

2.5.3.3

Titik Nyala Minyak Pelumas

44

2.5.3.4

Titik Tuang Minyak Pelumas

45

2.5.3.5

Warna Minyak Pelumas

45

2.5.3.6Oksidasi pada Minyak Pelumas

46

2.5.3.7Keasaman dari Minyak Pelumas

47

2.5.4Bahan Tambahan Minyak Pelumas

47

2.5.5Kontaminan Minyak Pelumas

49

2.5.5.1Efek Kontaminasi

49

2.5.6Jenis Pelumas

51

2.5.6.1Pelumasan Hydrodinamika

51
2.5.6.2Pelumasan Tipis (Thin Film Lubrication)52
2.5.6.3Pelumasan batas (Boundary Lubrication)

52

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

54

3.1

Pendahuluan

54

3.2

Penentuan Parameter-parameter Pengukuran

54

3.3

Tahap Persiapan Instalasi
55

3.3.1

Persiapan Peralatan Refrigerasi
55
3.3.1.1

Penambahan bagian-bagian pada Unit

Lemari ES

56

3.3.1.2

Pembuangan dan Pengisian Minyak

Pelumas

56

3.3.1.3

Pengisian refrigerant
57

3.3.1.4

Menguji Kebocporan pada Instalasi
58

10

3.3.2

Persiapan Alat dan Bahan yang digunakan
59
3.3.2.1

Peralatan Pengujian
59

3.3.3

Persiapan Analisa Minyak Pelumas
64

3.3.4

Persiapan Analisa Secara Visual pada
Bagian-bagian Kompresor

64

3.4

Tahap Kalibrasi Alat Ukur

65

3.4.1

Pressure Gauge

65

3.4.2

Panel Meter
65

3.5

Tahap Pengujian Refrigerator selama 2000 jam Non-Stop66

3.6

Tahap Analisa Minyak Pelumas
67

3.6.1

Analisa Viskositas
67

3.6.2

Analisa Metal Content

68

3.6.3

Analisa Water Content dan Soot
69

3.6.4

Analisa TAN ( Total Acid Number )
70

BAB IV

PENGAMBILAN DATA DAN ANALISA DATA

72

4.1 Data Pengujian Refrigerator Selama
2000 jam Non-Stop

72

4.1.1

Data Pengujian Temperatur
72

4.1.1.1

Temperatur T1
73

4.1.1.2

Temperatur T2

11

73

4.1.1.3

Temperatur T374

74

4.1.1.4

Temperatur T4

74

4.1.2

Data Pengujian Tekanan
75

4.1.2.1

Tekanan P1
75

4.1.2.2

Tekanan P2
75

4.1.2.3

Tekanan P3
76

4.1.2.4

Tekanan P4
76

4.1.3

Data Peenganpan Daya
77

4.1.4

Data Pengamatan Temperatur

Lingkungan

77

4.2Analisa Data Pengujian

78

4.2.1

Analisa Pengujian Refrigerator selama

Beroperasi 2000 jam

78

4.2.1.1 Perhitungan COP

78

4.2.1.2 Analisa Pengaruh Daya
terhadap COP

80

4.2.1.3 Analisa Pengaruh Tlingkungan
terhadap COP

81

4.3Data Hasil Pengujian Pelumas di Laboratorium
Pertamina

81

12

4.4Analisa Data Pengujian Pelumas di Laboratorium 83

4.4.1

Analisa Hasil Pengujia Pelumas
83
4.4.1.1 Analisa Viskositas Pelumas

83

4.4.1.2Analisa TAN

84

4.4.1.3Analisa soot dan water content

84

4.4.1.4 Analisa Metal content

84

4.4.2

Analisa Visual PengaruhTerhadap
Kompresor setelah bekerja selama
2000 jam

85

BAB VIIKESIMPULAN DAN SARAN

89
7.1Kesimpulan 89
7.2Saran 90

DAFTAR PUSTAKA 91
LAMPIRAN

13

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1:(a) mesin carnot

7

(b) diagram suhu-entropi mesin kalor Carnot

7

Gambar 2.2:(a) daur refrigerasi Carnot

8

(b) diagram suhu-entropi daur refrigerasi carnot

8

Gambar 2.3:(a) daur kompresi uap standar

9

(b) daur kompresi uap standar dalam diagram tekanan- entalpi

9

(c) diagram aliran

9

Gambar 2.4:Daur kompresi uap nyata dibandingkan daur standar

11

Gambar 2.5:Kondensor tipe pipa dengan plat besi berpendingin udara

14

Gambar 2.6:Evaporator sistem langsung

15

Gambar 2.7:Saringan (Stainer)

16

Gambar 2.8: Pipa kapiler

17

Gambar 2.9: kompresor torak

19

Gamabr 2.10:Kompresor Rotari dengan daun pisau tetap

21

Gambar 2.11:Kompresor Rotari dengan daun pisau berputar

22

Gambar 2.12:Kontuksi dari kompresor sekrup

23

Gambar 2.13:Mekanisme dari kompresor sekrup

24

Gambar 2.14:Kompresor terbuka

25

Gambar 2.15:Penampang kompresor semi Hemetik

26

Gambar 2.16:Kompresor Hermetik

27

Gambar 2.17:Potongan suction chamber

27

Gambar 2.18:Suction tube

28

Gambar 2.19:A. Katub suction ; B. Katub discharge

28

Gambar 2.20: Piston

28

Gambar 2.21:Connecting rod

28

Gambar 2.22: Potongan discharge chamber

29

Gambar 2.23: (a) Rotor ; (b) Stator

29

Gambar 2.24:Rumah kompresor

29

Gambar 2.25:crank shaft

30

14

Gambar 2.26: Internal discharge tube

30

Gambar 2.27:Oil discharge tube

30

Gambar 2.28: Potongan discharge tube accumulator

31

Gambar 2.29:suction tube

31

Gambar 2.30:(A) Discharge tube ; (B) Pipa pengisian refrigerant

31

Gambar 2.31:Syarat terjadinya penyalaan

38

Gambar 2.32:Penambahan aditif pada lube base oil menjadi pelumas

41

Gambar 2.33:Perubahan Viskositas disebabkan kenaikan suhu dari
suatu minyak pelumas

43

Gambar 2.34:Proses oksidasi pelumas

46

Gambar 2.35:Koefesien gesek sebagi fungsi dari (ZN/P)

51

Gambar 2.36 :Hydrodinamic Lubrication

51

Gambar 2.37:Pembentukan wedge pada pelumasam hidrodinamika

52

Gambar 2.38:Pelumasan tipis / Thin Film Lubrication

52

Gambar 2.39:Pelumasan batas

53

Gambar 3.1:Skema instalasi peralatan pengujian

56

Gambar 3.2:Panel peralatan pengujian

59

Gambar 3.3:Kompresor Hermetik

60

Gambar 3.4:Evaporator permukaan datar (Plate Surfrace Evaporator)

61

Gambar 3.5:Kondensor dengan pipa dan pelat besi

61

Gambar 3.6:Pipa kapiler

61

Gambar 3.7:Strainer (saringan) dengan satu lubang

61

Gambar 3.8:Termometer paying

62

Gambar 3.9:Pengukur tekanan tinggi

62

Gambar 3.10:Pengukur tekanan rendah

63

Gambar 3.11:Panel meter

63

Gambar 3.12:Viscometer

68

Gambar 3.13:ICP (Inductively Coupled Plasma)

69

Gambar 3.14:FTIR ( Fourier Transform Infra Red)

70

Gambar 3.15:Titrimeter

71

Gambar 4.1:Grafik temperatur T1 pada mesin pendingin

73

15

Gambar 4.2:Grafik temperatur T2 pada mesin pendingin

73

Gambar 4.3:Grafik temperatur T3 pada mesin pendingin

74

Gambar 4.4:Grafik temperatur T4 pada mesin pendingin

74

Gambar 4.5:Grafik tekanan P1 pada mesin pendingin

75

Gambar 4.6:Grafik tekanan P2 pada mesin pendingin

75

Gambar 4.7:Grafik tekanan P3 pada mesin pendingin

76

Gambar 4.8:Grafik tekanan P4 pada mesin pendingin

76

Gambar 4.9:Grafik Power / Daya selama 2000 jam

77

Gambar 4.10:Grafik Tlingkungan selama 2000 jam

78

Gambar 4.11:Grafik COP rata-rata selama 2000 jam operasi

79

Gambar 4.12:Grafik pengaruh Daya terhadap COP

80

Gambar 4.13:Grafik pengaruh Tlingkungan terhadap COP

81

Gambar 4.14:Komponen klep luar kepala silinder sebelum pengujian

85

Gambar 4.15:Komponen klep luar kepala silinder setelah digunakan
selama 2000 jam 86
Gambar 4.16 :Komponen klep dalam kepala silinder sebelum pengujian 86
Gambar 4.17 :Komponen klep dalam kepala silinder setelah digunakan
selama 2000 jam 87
Gambar 4.18:Piston 87
Gambar 4.19 :Silinder 87
Gambar 4.20 : Poros kruk as 88

16

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1:Beberapa senyawa halocarbon

34

Tabel 2.2:Beberapa senyawa anorganik

34

Tabel 2.3:Beberapa senyawa Hidrokarbon

35

Tabel 2.4:Perbandingan ODP dan GWP berbagai refrigerant

37

Tabel 4.1:Data pelumas sebelum pengujian

82

Tabel 4.2 :Data pelumas setelah pengujian

82

Tabel 4.3:Hasil pengujian viscositas minyak pelumas kompen 32
setelah bekerja selama 2000 jam

83

Tabel 4.4:Hasil pengujian metal content pada kompen 32 HCR-22.

85

17

NOMENKLATUR

Simbol

Keterangan

Satuan

Metal Content

(ppm)

Soot

(A/.1mm)

Water Content

(%)

h

Entalpi

(kJ/kg)

i

Kuat Arus

(Ampere)

p

Tekanan

(Psia)

P

Daya

(Watt)

s

Entropi

(kJ/kg K)

T

Temperatur

(o

C)

TAN

Total Acid Number(mg KOH/g)

Tfp

Flash Point

(o

C)

Tpp

Pour Point

(o

C)

v

Kinematic Viscosity(cSt)

V

Tegangan

(Volt)

VG

Viscosity Grade

(SAE)

18

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1 LATAR BELAKANG

Belakangan ini penggunaan alternatif refrigeran telah meningkatkan nilai dari
sistem disain baru untuk refrigeran alami. Peningkatan perpindahan panas dan
pengoptimalisasian sistem disain sering membutuhkan penggunaan akan teknologi
pelumasan baru untuk memaksimalkan effisiensi operasional.
Ada kecenderungan dalam industri refrigerasi terhadap penggunaan refrigeran
alami. Hidrokarbon, karbondioksida dan amonia semua terbukti sebagai refrigeran yang
dapat digunakan. Kelompok itu juga dapat digunakan sebagai alternatif yang dapat
diterima untuk HFC (hydrofluorocarbon) dan HCFC (hydroclhorofluorocarbon) dalam
beberapa aplikasi. Dengan batas waktu untuk HCFC semakin dekat, peralihan ke
refrigeran alami adalah momen yang tepat. Perubahan ini merupakan bukti utama di
eropa utara dimana beberapa negara sedang mempertimbangkan larangan total terhadap
penggunaan HFC.

Pada satu waktu, karbondioksida telah luas penggunaannya sebagai refrigeran.
Refrigeran ini berharga murah, tidak mudah terbakar dan gas ini berkadar racun rendah.
Bagaimanapun juga, temperatur kritis yang rendah dan effisiensi cycle yang rendah dari
karbondioksida telah membatasi penggunaannya dalam sistem refrigerasi.
Amonia dan propana telah lama digunakan sebagai refrigeran penting dan telah
diketahui oleh sebagian besar orang dalam industri refrigerasi. Keuntungan dari
refrigeran ini meliputi ketersediaannya, harga yang murah, ramah lingkungan dan efek
refrigerating yang cukup besar. Titik didih yang rendah dari amonia dan propana
memungkinkan temperatur refrigerasi dibawah nol tanpa memerlukan tekanan sub-
atmosfer di evaporator.

Pelumas telah berkembang untuk peningkatan properties dengan
karbondioksida, amonia dan refrigeran hidrokarbon. Kemampuan untuk bercampur,

19

daya larut dan mencair dalam temperatur rendah adalah parameter kritis untuk pelumas
dalam aplikasi ini.

Begitu pula pelumas sintetis yang telah ada dalam 50 tahun terakhir. Kemajuan
dan pembersihan yang berkesinambungan dalam bidang teknologi telah mengantarkan
ke pengembangan produk dengan peningkatan stabilitas, temperatur cair rendah,
penurunan kecenderungan berbusa dan penguapan yang rendah. Pembaharuan
kepentingan dalam produk refrigeran telah mengantarkan kepada pengembangan
pemakaian yang cepat dimana teknologi pelumasan dapat memainkan peranan penting
dalam performa sistem.

Suatu kombinasi baru dari refrigeran dan pelumas telah menawarkan solusi yang
aman untuk lingkungan pada masa kini sejalan dengan effisiensi energi yang signifikan
dan perbaikan kapasitas sistem.

1 . 2 PERUMUSAN MASALAH

Perumusan masalah dalam penyusunan tugas akhir ini adalah pengujian
ketahanan kompresor dan pengujian karakteristik kombinasi penggunaan refrigeran dan
pelumas pada suatu mesin pendingin.
Uji ketahanan ini menggunakan kompresor hermetik untuk mempelajari
kemampuan penggunaan gabungan bahan kimia dan meterial yang dipakai dari bagian-
bagian yang ditujukan untuk refrigeran dan pelumas.
Pengujian ini memberikan gambaran dari ketahanan kompresor setelah
digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama. Dengan mempertimbangkan sifat-
sifat dari material-material pada kompresor dalam keadaan refrigeran dan pelumasnya
bekerja pada suhu dan tekanan yang relatif tinggi.
Pengujian ini juga menggunakan pemakaian kombinasi dari pelumas Kompen
32, 46, 68 dan 100 dengan refrigeran HCR - 12 dan HCR - 22. Pengujian ini dilakukan
selama 2000 jam setelah itu dilakukan inspeksi terhadap kerusakan-kerusakan pada
material yang tercatat sewaktu pengambilan data seperti yang disebabkan oleh suhu dan
bahan kimia.

20

Percobaan ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Sukumar Devotta,
Nitin N. Sawant, Shaelish N. Joshi, dengan judul “Life Cycle Testing Of Hermetic
Compressor with Alternative to CFC-12”
, dimana penelitian mereka mengacu pada
penelitian dari pengembangan yang dilakukan di Research Center for Refrigeration and
Heat Pumps Ltd
yang bekerja sama dengan University of Hannover, Germany.

1 . 3 PEMBATASAN MASALAH

Analisa penggunaan minyak pelumas Kompen dengan viskositas 100 dan

refrigeran HCR - 22.

1 . 4 TUJUAN

Tujuan Khusus

1. Mengetahui efek pemakaian kombinasi refrigeran dan pelumas terhadap
bagian - bagian kompresor
2. Sampling pelumas:- Mengetahui kadar keasaman dari pelumas
- Mengetahui kandungan logam pelumas
- Mengetahui viskositas kinetik setelah pengujian
- Mengetahui kandungan air dan kadar kerak dari
pelumas

Tujuan Umum

Mengetahui ketahanan kompresor hermetik yang digunakan.

1 . 5 METODE PENELITIAN

Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam pengujian ketahanan kompresor
hermetik dan pengujian karakteristik kombinasi pelumas dan refrigeran adalah:

a.Studi Pustaka

Dalam kaji eksperimental ini, studi pustaka sangat penting untuk mengetahui
dasar teori yang berkaitan dengan masalah diatas.

21

Adapun studi pustaka ini diperoleh dari beberapa literatur, baik berupa buku-
buku perpustakaan, karya ilmiah maupun skripsi yang berhubungan dengan
pengujian ini.

b. Perancangan dan Pembuatan Alat

Sebelum pengujian ini tentunya perlu dilakukan perancangan alat dan instalasi
terlebih daluhu yang sesuai dengan spesifikasi kompresor hermetik yang dipilih.

c. Pengambilan Data dan Analisa

Pengujian ini dilakukan dengan pengambilan data, pengolahan dan analisa data
serta menarik kesimpulan dari hasil pengujian yang dilakukan.

1. 6 SISTEMATIKA PENULISAN

Untuk mempermudah memahami penulisan tugas akhir ini perlu disusun sitematika
penulisan yang meliputi:

BAB I

PENDAHULUAN

Bab I ini berisi latar belakang masalah, perumusan masalah,
pembatasan masalah, tujuan serta sistematika penulisan tugas akhir.

BAB II

DASAR TEORI

Bab II ini berisi dasar – dasar teori dari kompresor, pelumas, daur
kompresi uap dan refrigran.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Bab III ini berisi langkah – langkah mulai dari instalasi alat sampai
dengan metode pemeriksaan pelumas hasil pengujian di LAB.
PERTAMINA.

BAB IV

DATA dan ANALISA DATA

Bab IV ini berisi data hasil pengujian dan analisa dari data tersebut.

BAB V

PENUTUP

Bab V ini berisi kesimpulan dan saran.

22

BAB II
DASAR TEORI

1.1

REFRIGERASI DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

Refrigerasi adalah proses pendinginan, biasanya ke temperatur jauh dibawah
titik beku air. Refrigerasi ini telah digunakan untuk mengawetkan makanan dan
meningkatkan kenyamanan manusia. Pada zaman dahulu, artian refrigerasi hanya yang
tersedia atau yang didapat dari alam, seperti halnya goa dingin, air dingin, dan es yang
dikumpulkan dan disimpan untuk digunakan pada saat udara panas. Dengan adanya
pengembangan mekanis untuk mendapatkan dan menjaga udara pada temperatur
rendah, kegunaan refrigerasi pada saat ini telah menjadi sangat penting, sehingga
kehidupan moderen kita akan tidak mungkin tanpa adanya refrigerasi. Pengelolaan es
untuk barang-barang yang tidak tahan lama, gudang penyimpanan dingin, makanan
beku, semuanya dimungkinkan karena refrigerasi mekanis, yang pelayanannya akan
memungkinkan keanekaragaman makanan sepanjang tahun akan tetap ada.
Pemakaiannya dalam Air-Conditioner memungkinkan untuk mengatasi udara panas
seperti di Indonesia ini untuk perkantoran, pertokoan, rumah ibadah, rumah tinggal,
bioskop, dan masih banyak tempat lain yang akan sangat bergantung pada sistem
refrigerasi. Refrigerasi yang telah dipakai dalam ilmu pengetahuan dan industri telah
memberikan ke pengembangan dan produksi dari banyak barang-barang yang sangat
berguna, dan penggunaannya pasti masih akan sangat luas untuk menambah
kenyamanan dan kemudahan dalam kehidupan kita.

DAUR KOMPRESI UAP

Di dalam sistem refrigerasi, daur kompresi uap merupakan daur yang terbanyak
digunakan [Ref. 10, hal. 175]. Pada daur kompresi uap, uap ditekan kemudian
diembunkan kembali menjadi cairan, lalu dilakukan penurunan tekanan agar cairan
tersebut dapat menguap kembali.

23

1.1

Daur Refrigerasi Carnot

Daur refrigerasi Carnot merupakan suatu pembatas yang tak dapat dilebihi jika
melakukan kerja diantara dua suhu tertentu Dari kajian termodinamika, daur Carnot
dikenal terjadi pada mesin-mesin kalor. Daur refrigerasi Carnot berbeda dengan mesin
Carnot. Prinsip kerja mesin Carnot adalah dengan menerima energi kalor pada suhu
tinggi, merubah sebagian menjadi kerja, dan kemudian mengeluarkan sisanya sebagai
kalor pada suhu yang lebih rendah. Sedangkan daur refrigerasi Carnot merupakan
kebalikan dari mesin Carnot. Daur refrigerasi Carnot membutuhkan kerja luar untuk
dapat bekerja. Daur refrigerasi Carnot menyalurkan energi dari suhu rendah menjadi
suhu yang lebih tinggi. [Ref. 11, hal. 175]

Proses-proses yang membentuk daur refrigerasi Carnot adalah :
1-2. Kompresi adiabatic
2-3. Pelepasan kalor isothermal
3-4. Ekspansi adiabatic
4-1. Pemasukan kalor isothermal

Seluruh proses pada daur Carnot secara termodinamika bersifat reversibel. Oleh
karena itu proses 1-2 dan 3-4 bersifat isentropik.
Pada daur refrigerasi Carnot, proses penyerapan kalor dari sumber bersuhu rendah pada
proses 4-1 merupakan tujuan utama dari daur ini. Seluruh proses lainnya pada daur
berfungsi sedemikian rupa sehingga energi bersuhu rendah dapat dikeluarkan ke
lingkungan yang bersuhu lebih tinggi. Pada kenyataannya daur refrigerasi Carnot adalah
suatu daur yang ideal dan tidak dapat dicapai, tetapi daur ini memberikan pedoman
tentang suhu yang harus dipertahankan sehingga diperoleh keefektifan yang maksimum
[Ref. 11, hal. 175].

24

.

(a)

(b)

Gb. 2.1 (a) Mesin Kalor Carnot; (b) Diagram Temperatur-Entropi Mesin Kalor
Carnot
[Ref. 11, hal. 176]

2

4

3

Kalor dari sumber
bersuhu tinggi

Kerja

Turbin

Kompresor

11

Kerja

Kalor ke penyerap (lingkungan)
bersuhu rendah

Suhu,

oK

Entropi kJ/kg °K

4

3

1

2

Kerja bersih

1

2

3

Kalor menuju
lingkungan bersuhu tinggi

Kerja

Kompresor

Turbin

14

Kerja

Kalor dari
sumber bersuhu rendah

25

(a)

(b)

Gb. 2.2 (a) Daur Refrigerasi Carnot; (b) Diagram Suhu Entropi Daur Refrigerasi
Carnot
[Ref. 11, Hal. 179]

1.2

Daur Kompresi Uap Standar

Yang perlu diperhatikan dalam daur kompresi uap standar adalah uap refrigeran
yang keluar dari evaporator dan masuk ke kompresor merupakan uap jenuh pada
tekanan dan temperatur penguapan. Selain itu, refrigeran yang keluar dari kondensor
dan masuk ke alat ekspansi berupa cairan jenuh pada tekanan dan temperatur
pengembunan.

Gambar 2.3a berikut ini menyatakan skema siklus kompresi uap, siklus ini
dibentuk oleh proses kompresi, kondensasi, ekspansi dan evaporasi.

4

Entropi kJ/kg °K

Suhu, K

1

2

3

Kerja Bersih

26

(a)

(b)

(c)

Suhu, K

1

2

3

4

Entropi, kJ/kg . K

Tekanan, kPa

Entalpi kJ/kg

Ekspansi

Kompresi

Penguapan

Pengembunan

1

4

3

2

4

1

2

3

KATUP
EKSPANSI

KOMPRESOR

KONDENSOR

EVAPORATOR

27

Gb. 2.3 (a) Daur Kompresi Uap Standar; (b) Daur Kompresi Uap Standar Dalam
Diagram Tekanan- Entalpi; (c) Diagram Aliran
[Ref. 11, hal.185-187]

1.

Proses Kompresi
Proses kompresi berlangsung dari titik 1 ke titik 2. Pada siklus teoritis
diasumsikan refrigeran tidak mengalami perubahan kondisi selama
mengalir di jalur hisap. Pada proses ini uap refrigeran pada tekanan
evaporasi di kompresi sampai pada tekanan kondensasi. Proses kompresi
diasumsikan isentropik sehingga pada diagram tekanan entalpi, titik 1 dan
titik 2 berada pada satu garis entropi konstan. Pada titik 2 uap refrigeran
berada pada kondisi superheat. Proses kompresi memerlukan kerja luar,
entalpi uap naik yaitu dari h1 ke h2. Besarnya kenaikan ini sama dengan
besarnya kerja mekanis yang dilakukan pada uap refrigeran.

2.

Proses Kondensasi
Proses 2 – 3 terjadi dikondensor. Uap panas refrigeran yang keluar dari
kompresor didinginkan sampai pada temperatur kondensasi dan kemudian
di kondensasikan. Titik 2 adalah kondisi refrigeran yang keluar dari
kompresor. Pada proses 2-3 ini refrigeran mula-mula berada pada kondisi
uap jenuh pada tekanan dan temperatur kondensasi yang selanjutnya akan
mengalami proses kondensasi uap di dalam kondensor. Proses kondensasi
terjadi pada tekanan konstan. Jumlah panas yang dipindahkan selama proses
ini adalah beda entalpi antara 2 –3. Panas total ini berasal dari panas
yang diserap oleh refrigeran yang menguap di dalam evaporator dan panas
yang masuk karena adanya kerja mekanis pada kompresor.

3.

Proses Ekspansi
Proses ekspansi berlangsung dari titik 3 ke titik 4. Pada siklus standar
diasumsikan tidak terjadi perubahan kondisi cairan refrigeran yang
mengalir di dalam jalur cairan sampai ke throttling device. Kondisi
refrigeran masuk ke alat pengontrol dinyatakan oleh titik 3. Pada proses ini
terjadi penurunan tekanan refrigeran dari tekanan kondensasi titik 3
menjadi tekanan evaporasi titik 4. Pada waktu cairan diekspansikan melalui

28

alat ekspansi ke evaporator, temperatur refrigeran juga turun dari
temperatur kondensasi ke temperatur evaporasi. Hal ini disebabkan oleh
terjadinya penguapan sebagian cairan refrigeran selama proses ekspansi.
Proses 3 – 4 merupakan proses ekspansi adiabatik dimana entalpi fluida
tidak berubah di sepanjang proses. Refrigeran pada titik 4 berada pada
kondisi campuran cair – uap.

4.

Proses Evaporasi
Proses 4 – 1 adalah proses penguapan refrigeran pada evaporator. Proses ini
berlangsung pada temperatur dan tekanan tetap. Pada titik 1 seluruh
refrigeran berada pada kondisi uap jenuh. Selama proses 4 – 1 entalpi yang
diserap adalah beda entalpi antara titik 1 dan titik 4 disebut efek
refrigerasi (RE).

1.3

Daur Kompresi Uap Nyata

Daur kompresi uap nyata mengalami pengurangan efisiensi dibandingkan

dengan daur standar.

Perbedaan penting antara daur nyata dan standar terletak pada penurunan
tekanan didalam kondensor dan evaporator, dalam pembawahdinginan (subcooling)
cairan yang meninggalkan kondensor, dan dalam pemanasan lanjut (superheat) uap
yang meninggalkan evaporator. Pada daur nyata penurunan tekanan karena adanya
gesekan. Akibat dari penurunan ini, kompresi pada titik 1 dan 2 memerlukan lebih
banyak kerja dibandingkan dengan daur standar.

29

Gb. 2.4 Daur Kompresi Uap Nyata Dibanding Dengan Daur Standar [Ref. 11. hal. 191]

Subcooling yang terjadi pada kondensor merupakan peristiwa yang normal dan
menguntungkan karena dengan adanya proses ini maka refrigeran yang memasuki katup
ekspansi seluruhnya dalam keadaan cair, sehingga menjamin efektifitas alat ini.
Superheat yang terjadi pada evaporator juga merupakan sesuatu yang
menguntungkan karena peristiwa ini dapat mencegah refrigeran yang masih dalam fase
cair memasuki kompresor. Perbedaan terakhir pada siklus nyata kompresi yang tidak
lagi isentropik dan terdapat kerugian akibat gesekan dan hal – hal lain.

1.4

Analisis Matematis Siklus Kompresi Uap

2.2.4.1 Proses Pencekikan (Throttling Process)

Proses ini terjadi di dalam pipa kapiler atau pada katup ekspansi. Pada
proses ini tidak ada kerja yang dilakukan atau ditimbulkan sehingga W = 0.
Perubahan energi kinetik dan potensial dianggap nol. Proses dianggap adiabatik
sehingga q = 0. Persamaan energi aliran menjadi [Ref. 12, hal. 188]:

h3 = h4 ( kJ/kg )

Daur nyata

2

Penurunan
tekanan

Penurunan
tekanan

Daur
standar

Panas lanjut

Tekanan, kPa

Entalpi kJ/kg

1

4

3

Bawah dingin

30

2.2.4.2 Koefisisen Prestasi (COP)

Koefisien prestasi dari sistem refrigeran adalah perbandingan besarnya
panas dari ruang pendingin (efek refrigerasi) dengan besarnya kerja yang
dilakukan kompresor. Koefisien prestasi (COP) dirumuskan sebagai berikut

[Ref. 12 hal. 187] :

1

2

4

1

--

=

h
hh

h

COP

1.5

Komponen Utama Siklus Kompresi Uap

Komponen utama dari daur kompresi uap yang penting yaitu bagian yang dialiri
bahan pendingin diantaranya adalah kompresor, kondensor, evaporator, pengering dan
saringan, serta alat ekspansi yang dapat berupa pipa kapiler.

1.5.1Kompresor

Kompresor adalah bagian yang terpenting dari lemari es. Pada tubuh
manusia kompresor dapat diumpamakan sebagai jantung yang memompa darah
ke seluruh tubuh kita. Sedangkan kompresor menekan bahan pendingin ke
semua bagian dari sistem.
Kompresor pada sistem refrigerasi berfungsi untuk:
1.Menurunkan tekanan di dalam evaporator, sehingga bahan pendingin cair
di evaporator dapat menguap pada suhu yang lebih rendah dan menyerap
panas lebih banyak dari ruang di dekat evaporator.
2.Menghisap bahan pendingin gas dari evaporator dengan suhu rendah dan
tekanan rendah lalu memampatkan gas tersebut sehingga menjadi gas
suhu tinggi dan tekanan tinggi. Kemudian mengalirkannya ke kondensor,
sehingga gas tersebut dapat memberikan panasnya kepada zat yang
mendinginkan kondensor lalu mengembun [Ref. 5, hal. 75].

31

Sehingga dengan kata lain, pada sistem refrigerasi kompresor bekerja
membuat perbedaan tekanan, sehingga bahan pendingin dapat mengalir dari satu
bagian ke lain bagian dari sistem. Karena adanya perbedaan tekanan antara sisi
tekanan tinggi dan sisi tekanan rendah, maka bahan pendingin cair dapat
mengalir melalui alat pengatur bahan pendinginan (pipa kapiler) ke evaporator.

1.5.2Kondensor

Kondensor adalah alat penukar kalor. Kondensor seperti namanya adalah alat
untuk membuat kondensasi dari bahan pendingin gas atau refrigeran dari
kompresor dengan suhu tinggi dan tekanan tinggi, sehingga berubah wujudnya
dari gas menjadi cair. Pada saat bekerja, refrigeran di dalam kondensor akan
mengeluarkan kalor yang telah diserap dari evaporator dan panas yang
ditambahkan oleh kompresor.
Kondensor ditempatkan diantara kompresor dan alat pengatur bahan pendingin
(pipa kapiler), jadi pada sisi tekanan tinggi dari sistem. Kondensor pada sistem
pendingin biasanya terletak dibagian luar dan berhubungan langsung dengan
medium pendinginnya yang dapat berupa udara dan juga air. Hal ini
dimaksudkan agar panas refrigeran dapat dibuang keluar. Dengan adanya
pendingin yang baik pada bagian kondensor akan membantu memperlancar
terjadinya proses-proses selanjutnya.
Dibawah ini adalah gambar kondensor yang digunakan pada pengujian ini. Kondensor
ini menempel pada dinding belakang sebelah dalam dari kotak lemari es.

32

Gb. 2.5 Kondensor Tipe Pipa dengan Pelat Besi Berpendingin Udara.

1.5.3Evaporator

Evaporator disebut juga : Boiler, Freezer, Froster, Cooling coil, Chilling
unit
dan lain-lain. Seperti kondensor, evaporator adalah alat penukar kalor.
Fungsi dari evaporator kebalikan dari kondensor. Evaporator dalam sistem
pendingin berfungsi untuk menyerap panas dari udara atau benda di dalam
lemari es dan mendinginkannya. Prinsip kerja dari evaporator adalah panas dari
udara atau dari benda diserap oleh refrigeran yang terdapat didalam evaporator
sebagai kalor laten penguapan, sehingga refrigeran tersebut menguap.
Refrigeran akan mambawa kalor yang diserapnya ke kompresor yang kemudian
akan dibuang oleh kondensor [Ref. 2, hal. 97].
Evaporator dalam instalasi mesin pendingin terletak diantara pipa kapiler
dan kompresor, jadi pada sisi tekanan rendah dari sistem.
Pada instalasi ini dipakai evaporator sistem langsung, dimana evaporator
yang berisi refrigeran yang sedang menguap langsung berhubungan dengan
ruang refrigeran yang panasnya akan di serap.

33

Gb. 2.6 Evaporator Sistem Langsung [Ref. 5, hal. 103]

1.2.5.4Pengering (Drier ) dan Saringan (Strainer)

Pengering (Drier), keberadaan bahan pengering didalam sistem
refrigerasi sangat penting. Dengan adanya bahan pengering ini, kotoran-kotoran
berupa uap air, air, asam, hasil uraian minyak pelumas, tir, lumpur dan endapan-
endapan dapat diserap. Sehingga, pemakaian pengering dalam sistem refrigerasi
sangat penting sekali, sebab apabila didalam sistem masih terdapat uap air maka
kita dapat mengalami kebuntuan dalam sistem akibat pembekuan uap air
tersebut. Selain itu uap air juga dapat bereaksi dengan bahan pendingin dan
minyak pelumas kompresor sehingga dapat menghasilkan asam dan
menyebabkan korosi. Akibat yang lebih fatal adalah air dan asam dapat merusak
minyak pelumas kompresor dan membentuk endapan yang dapat membuntukan
pipa kapiler dan juga dapat mengganggu kinerja serta menimbulkan kerusakan
kompresor.

Pengering yang digunakan pada sistem refrigerasi dapat menyerap air
dan menyimpan uap air tersebut sampai suhu 50 o

C tanpa mempengaruhi
efisiensi, kapasitas dan kecepatan aliran bahan pendingin. Selain itu pengering
tidak bereaksi dengan minyak pelumas kompresor, refrigeran dan benda-benda
lain yang terdapat dalam sistem refrigerasi, dan setelah menjadi jenuh dapat
dilarutkan kembali. Macam-macam bahan pengering yang digunakan adalah

34

Silica gel(

2

SiO), Activated Alumina (

3

2O

Al

), Calcium Chloride (

2

CaCl),

Methyl Chloride, dll [Ref. 5, hal. 93-94].

Saringan (Strainer) terdiri dari kawat kasa halus yang gunanya untuk
menyaring kotoran dalam sistem yang berupa timah, karet, serta butiran-butiran
kotoran di dalam sistem. Kasa halus pada saringan terbuat dari kawat dengan
diameter 0,004 – 0,005 inci dan dalam 1 inci persegi terdapat 10.000 – 22.500
lubang [Ref. 5, hal 95]. Penggunaan saringan dalam instalasi sistem pendingin
adalah mutlak.
Apabila bahan pengering yang kita gunakan berupa caian, bahan pendingin
tersebut dapat dimasukkan melewati salah satu ujung dari saringan ini.

Gb. 2.7 Saringan (Stainer) [Ref. 5, hal. 95]

3.2.5.5Alat Ekspansi

Alat ekspansi yang digunakan pada peralatan pengujian ini adalah pipa
kapiler. Pipa kapiler terbuat dari tembaga dengan lubang dalam yang sangat
kecil (0.2 – 0.8 mm). Pipa kapiler dipasang sebagai pengganti katup ekspansi.
Tahanan dari pipa kapiler inilah yang dipergunakan untuk mentrotel dan
menurunkan tekanan. Parameter yang perlu diperhatikan dalam pemilihan pipa
kapiler adalah diameter dan panjang pipa, untuk meningkatkan hambatan dalam
pipa kapiler dapat dilakukan dengan jalan memperkecil lubangnya atau
memperpanjang pipanya. Disamping itu pipa kapiler berguna untuk :
1.Menurunkan tekanan bahan pendingin cair yang mengalir didalamnya.

35

2.Mengatur jumlah bahan pendingin cair yang mengalir melaluinya.
3.Membangkitkan tekanan bahan pendingin di kondensor.

Pemilihan pipa kapiler didasarkan pada kemudahan dan murah.
Sejumlah refrigeran cair berubah menjadi uap ketika refrigeran mengalir
melalui pipa tersebut.

Gb. 2.8 Pipa Kapiler

2.3

KOMPRESOR

Pada sistem refrigeran kompresor berfungsi untuk mempertahankan perbedaan tekanan
dalam sistem dan mengalirkan refrigeran dari evaporator ke kondensor. Kompresor
mempunyai berbagai klasifikasi akan tetapi pada umumnya dalam dua jenis utama
yaitu:

1.

Kompresor positif, dimana gas dihisap masuk kedalam silinder dan
di kompresikan. Yang termasuk jenis ini adalah kompresor torak, kompresor
rotari, dan kompresor sekrup.

2.

Kompresor non positif (sentrifugal), dimana gas yang dihisap
masuk dipercepat alirannya oleh sebuah impeller yang kemudian
mengubah energi kinetik untuk menaikkan tekanan. Yang termasuk jenis ini
adalah kompresor sentrifugal.

Ketepatan pemilihan kompresor untuk sistem refrigerasi sangat penting sekali.
Untuk menentukan berapa rendah suhu yang harus dicapai oleh evaporator, antara lain
ditentukan oleh berapa rendah suhu penguapan di evaporator. Hal ini tergantung dari
bahan pendingin dan macam kompresor yang dipakai.

36

Pada saat ini kompresor yang banyak dipakai untuk sistem refrigerasi adalah
kompresor torak (Reciprocating) dan kompresor rotari (Rotary). Penggolongan
kompresor menurut konstruksinya ada tiga, yaitu; jenis terbuka (open type), jenis semi
hermetik, dan jenis hermetik .

2.1

Kompresor Torak

Kompresor torak sampai saat ini yang terbanyak dipakai untuk keperluan
refrigerasi. Terutama dipakai dengan bahan pendingin yang memerlukan pergerakan
torak (piston displacement) yang kecil dan mengembun pada tekanan yang tinggi. Juga
dapat dipakai pada sistem yang memerlukan tekanan evaporator di atas satu atmosfir.
Bahan pendingin yang banyak dipakai dengan kompresor torak : R – 12, R – 22, R –
290, R - 717 (amonia). Kompresor torak dibuat mulai dari 1/2 DK untuk lemari es
sampai 100 DK bahkan lebih pada instalasi untuk keperluan industri yang besar.
Pada kompresor torak terdapat silinder di mana torak (piston) bergerak bolak – balik di
dalamnya. Gerak bolak – balik ini disebabkan oleh gerak putar poros engkol (crank
shaft)
yang digerakkan oleh motor listrik.
Pada waktu langkah hisap, torak bergerak ke bawah. Terjadi penurunan tekanan
atau vakum di dalam silinder antara torak dan tutup silinder, sehingga katup hisap
(suction valve) terbuka. Bahan pendingin gas dapat dihisap masuk melalui katup hisap
ke dalam silinder. Pada langkah tekan (kompresi atau pemampatan) torak bergerak ke
atas memampatkan gas dan mendorongnya keluar melalui katup tekan ( discharge
valve )
ke kondensor. Kemudian torak bergerak ke bawah dan kembali ke atas lagi.
Demikianlah kerja torak bolak – balik ke atas dan ke bawah, sehingga kompresor torak
juga disebut kompresor bolak – balik.
Di antara torak dan dinding silinder mempunyai celah kebocoran yang sempit
(0,003 cm untuk tiap cm diameter torak). Pada kompresor yang kecil, lapisan film
minyak pelumas pada dinding silinder telah cukup kuat untuk menahan tekanan gas
yang bocor diantara torak dan dinding silinder. Oleh karena itu torak dengan diameter
kurang dari 50 mm, pada umumnya tidak memakai cincin torak ( piston ring ).

37

Untuk menghindari gas bocor kembali melalui katup kompresor, maka katup kompresor
harus direncanakan agar dapat menutup dengan cepat dan rapat. Agar katup dapat
dengan mudah membuka dan menutup, katup harus dibuat dari logam yang ringan dan
konstruksinya dibuat agar dapat cepat terangkat. Katup harus kuat dan dapat diandalkan
juga harus bekerja dengan teratur dan otomatis.

Gb. 2.9 Kompresor Torak

1. keran hisap 2. Saluran minyak pelumas kembali 3. Tempat memeriksa minyak
pelumas 4. Keran tekan
[Ref. 5, hal. 76]

2.3.2 Kompresor Rotari

Keuntungan kompresor rotari adalah :
1.Pemakaian energi listrik lebih hemat
2.Bentuk kompak, kecil dan sederhana
3.Tekanannya rata, suara tenang
4.Getarannya kecil

38

Kekurangan kompresor rotari adalah :
1.Jika terjadi kerusakan sukar diperbaiki
2.Pembuatannya lebih sukar
3.Harganya lebih mahal

Kompresor rotari ada dua macam :
1.Daun pisau tetap (Stationary blade atau Roller type)
2.Daun pisau berputar (Rotary blade atau Vane type)

Kompresor rotari dengan daun pisau tetap (Stationary blade) terdiri dari :
roller sebuah besi baja berbentuk silinder yang berputar pada ujung poros rotor yang
tidak sepusat (eksentrik). Keduanya, roller dan ujung poros berputar dalam rumah yang
berbentuknya silindris yang selanjutnya akan disebut silinder. Oleh karena ujung poros
tidak sepusat, maka roller juga berputar tidak sepusat dan menyinggung bagian dalam
dinding silinder pada satu garis. Jika poros berputar, roller juga ikut berputar pada
bagian dalam dari silinder tersebut.
Sebuah pisau (blade) yang ditekan oleh pegas dari belakang melalui alur pada
silinder selalu menekan roller pada satu garis. Daun pisau bergerak maju – mundur
pada alur dari silinder mengikuti roller selama roller berputar pada bagian dalam
silinder. Kedua ujung silinder, atas dan bawah mempunyai dinding penutup dan dari
padanya berfungsi sebagai penunjang poros. Roller dan pisau mempunyai tinggi yang
sama dengan tinggi silinder. Hanya mempunyai sedikit kelonggaran dengan kedua
dinding penutup silinder tersebut. Saluran hisap dan tekan berpangkal dari silinder
tersebut , pada bagian kanan dan kiri di dekat alur dari daun pisau.

39

Gb. 2.10 Kompresor Rotari dengan Daun Pisau Tetap

1. Poros 2. Roller 3. Silinder / Rumah 4. Blade / pisau 5. Pegas 6. Tabung

[Ref. 5, hal 77]

Saluran hisap tidak mempunyai katup hisap (suction valve), tetapi memiliki
saringan untuk menyaring kotoran agar tidak masuk ke dalam silinder. Saluran tekan
mempunyai katup tekan (discharge valve) untuk menghindarkan gas tekanan tinggi
pada waktu kompresor sedang berhenti, agar tidak mengalir kembali ke dalam silinder.
Di dalam silinder pada umumnya ada dua buah ruangan, yaitu: ruang tekan rendah dan
ruang tekan tinggi. Pada waktu roller menutup ruang saluran hisap dan tekan pada saat
yang bersamaan, maka di dalam silinder hanya ada satu ruang tekanan rendah saja.
Semua bagian kompresor : roller, silinder, daun pisau, poros dan kedua dinding
penutup atas dan bawah dibuat dari baja khusus yang dipoles dengan ukuran yang
sangat teliti / presisi. Seluruh rumah kompresor ditempatkan dalam sebuah tabung dan
direndam dalam minyak pelumas kompresor. Di dalam tabung, saluran pipa tekan
ujungnya keluar diatas permukaan minyak pelumas. Minyak pelumas yang bercampur
dengan beban pendingin gas, karena berat jenisnya lebih besar akan jatuh ke bawah
bercampur dengan minyak pelumas di dalam tabung. Bahan pendingin gas akan terus
mengalir melalui pipa tekan keluar dari tabung kompresor lalu masuk ke kondensor.

Kompresor rotari dengan daun pisau berputar (Rotary Blade) terdiri dari
satu silinder yang di dalamnya terdapat roller yang dilengkapi dengan 2 atau 4 buah
daun pisau. Ujung poros yang tidak sepusat dapat memutar roller di dalam silinder

40

dengan satu sisi roller selalu menyinggung dinding silinder bagain dalam. Jarak dari
roller dan silinder hanya dipisahkan oleh lapisan minyak yang sangat tipis. Kedua
dinding penutup silinder menutup bagian bawah dan atas silinder sambil memegang
poros yang berputar. Pisau – pisau bergerak maju dan mundur pada alurnya.
Waktu poros berputar ujung pisau selalu menempel pada dinding silinder
bagian dalam. Ujung pisau ini dapat menempel pada dinding silinder, karena dorongan
gaya sentrifugal dari poros yang sedang berputar. Ada juga yang diberi pegas
dibelakang pisau agar dapat menekan lebih kuat dan rapat.

Gb. 2.11 Kompresor Rotari dengan Daun Pisau Berputar

1. Roller 2. Daun pisau 3. Silinder / rumah 4. Tabung [Ref. 5, hal79]

Gas masuk melalui saluran hisap dan dimampatkan oleh pisau – pisau yang
berputar lalu mendorongnya keluar melalui saluran tekan. Kompresor ini mempunyai
sebuah katup tekan pada saluran tekan, untuk menghindari gas tekanan tinggi mengalir
kembali ke kompresor pada waktu kompresor sedang berhenti. Silinder, roller dan pisau
semua direndam dalam minyak pelumas kompresor, hanya saluran hisap dan tekan yang
berada di atas permukaan minyak pelumas tersebut.

41

2.3

Kompresor Sekrup

Kompresor sekrup yang semula dirancang untuk memperoleh kompresor udara
tanpa minyak pelumas, memiliki dua buah rotor yang berpasangan, berturut-turut
dengan gigi jantan dan gigi betina. Dalam beberapa tahun terakhir ini, kompresor
sekrup dibuat juga untuk dipergunakan pada mesin refrigerasi, seperti terlihat pada
gambar 2.4, dengan mekanisme pelumas yang terpadu.
Kompresor sekrup memiliki beberapa keuntungan, yaitu lebih sedikit jumlah
bagian yang bergesekan, perbandingan kompresi yang tinggi dalam satu tingkat, relatif
stabil terhadap pengaruh cairan (kotoran) yang terserap dalam refrigerasi.
Seperti pada kompresor torak, mekanisme kompresi dari kompresor sekrup
melakukan tiga langkah, yaitu langkah hisap, langkah kompresi, dan langkah keluar.
Untuk mengurangi kerugian gesek pada aliran gas, seperti terlihat pada gambar 2.5, gas
diisap, dikompresikan, dan dikeluarkan dalam arah aksial.

Gb. 2.12 Konstruksi Kompresor Sekrup [Ref. 12, hal. 130]

42

Gb. 2.13 Mekanisme Kompresor Sekrup [Ref. 12, hal. 131]

2.4

Kompresor Terbuka

Kompresor terbuka biasa disebut juga Belt-driven unit atau Open type
compressor
. Kompresor terbuka terpisah dari tenaga penggeraknya, yang umumnya
menggunakan motor listrik walaupun ada juga yang menggunakan motor bensin atau
diesel.

Penghubung antara poros dari kompresor dengan poros mekanis penggerak
biasanya menggunakan puli yang terpasang pada masing-masing poros dan
dihubungkan dengan tali kipas (V belt).
Puli pada kompresor juga memiliki bilah-bilah kipas yang memiliki fungsi untuk
menghasilkan angin pendingin untuk kompresor. Kompresor terbuka bekerja pada
putaran 500 – 1500 putaran per menit dan dapat dipercepat atau diperlambat dengan
mengubah diameter pulinya.
Keuntungan dari kompresor model terbuka ini adalah:

43

1.Jika motornya rusak, dapat diperbaiki motornya saja tanpa mengganggu
kompresor dan refrigeran pada sistem pendingin.
2.Putaran kompresor mudah diubah-ubah dengan mengubah diameter puli pada
kompresor dan puli pada motor penggerak.
3.Minyak pelumas pada kompresor mudah diperiksa melelui gelas pemeriksa.
4.Pada daerah yang belum terhubung dengan jaringan listrik, dapat digunakan
tenaga penggerak dari motor bensin atau diesel.

Sedangkan kerugian dari kompresor terbuka adalah:
1.Bentuknya lebih besar, lebih berat dan harganya juga mahal.
2.Sil dari kompresor pada poros engkol sering rusak, sehingga minyak pelumas
dan refrigeran mengalami kebocoran.

Gb. 2.14 Kompresor Terbuka [Ref. 5, hal. 80]

2.5

Kompresor Semi Hermetik

Pada kompresor semi hermetik, motor listrik dibuat menjadi satu dengan
kompresor. Jadi, rotor motor listrik tersebut berada di dalam perpanjangan ruang engkol
dari kompresor tersebut. Dengan jalan demikian tidak diperlukan penyekat poros,
sehingga dapat dicegah terjadinya kebocoran gas refrigeran. Di samping itu
konstruksinya lebih kompak dan bunyi mesin menjadi lebih halus.

44

Namun demikian, haruslah diperhatikan agar dipergunakan isolator listrik
(motor listrik) yang sebaik – baiknya, yaitu tahan terhadap pengaruh gas refrigeran.
Untuk hal tersebut, gas refrigeran freon sangat tepat, sebab selain tidak merusak isolator
listrik, gas freon juga memiliki sifat mengisolasi.
Pada waktu ini, kompresor semi hermetik untuk gas refrigeran freon dibuat
sampai kira-kira 40 kW. Dari segi konstruksinya, kompresor semi hermetik juga dapat
dibuat bersilinder banyak, dengan momen putar start yang rendah.

Gb. 2.15 Penampang Kompresor Semi Hermetik [Ref. 12, hal 132]

2.3.6Kompresor Hermetik

Pada dasarnya, kompresor hermetik hampir sama dengan kompresor semi
hermetik. Perbedaannya hanya terletak pada cara penyambung rumah kompresor
dengan stator motor penggeraknya. Pada kompresor hermetik dipergunakan sambungan
las, sehingga rapat udara, gambar 2.16. Pada kompresor semi hermetik dengan rumah
terbuat dari besi tuang, bagian – bagian penutup dan penyambungnya masih dapat
dibuka. Sebaliknya dengan kompresor hermetik, rumah kompresor dibuat dari baja
dengan pengerjaan las, sehingga baik kompresor maupun motor listrik tak dapat
diperiksa tanpa memotong rumah kompresor. Oleh karena itu, komponen dari
kompresor hermetik haruslah terpercaya dan dapat diandalkan.

45

Gb. 2.16 Kompresor Hermetik

1. suction accumulator 2. suction tube 3. kepala silinder 4. piston 5. poros engkol
6.discharge accumulator 7.stator 8. rumah kompresor 9.crank shaft
10.internal discharge tube 11. oil discharge tube 12. crankcase 13. rotor.
14.discharge tube accumulator 15. discharge tube 16. pipa pengisian refrigeran
.

Pada kompresor hermetik motor ditempatkan di dalam rumah kompresor. Motor listrik
rotornya menjadi satu dengan poros engkol kompresor, sehingga jumlah putaran
kompresor sama dengan jumlah putaran motor listrik.
Kompresor hermetik dapat terdiri dari kompresor torak atau kompresor rotari.
Kompresor torak pada kompresor hermetik ada yang terdiri dari satu sampai beberapa
silinder. Kompresor torak dengan satu silinder untuk kompresor lemari es yang kecil,
sedangkan dua atau lebih silinder untuk unit yang lebih besar.
Kompresor hermetik biasanya dibuat untuk unit berkapasitas rendah, sampai 7,5
kW, misalnya pada penyegar udara paket.
Pada saat ini kompresor hermetik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1.Bentuknya harus kecil
2.Putaran motor harus tinggi.

46

3.Tekanan kerja harus tinggi, maka suhu kerja pun menjadi tinggi
Semua syarat diatas dapat memperpendek daya tahan motor listrik dan
kompresor. Juga dapat menyebabkan mudah timbulnya gangguan-gangguan.
Mendinginkan motor listrik di dalam kompresor hermetik sangat sukar. Salah satu cara
mendinginkan motor listrik dengan memperpendek jarak stator dari motor listrik ke
rumah kompresor, sehingga dapat memindahkan panas motor listrik melalui rumah
kompresor ke udara luar. Cara lain dengan mengalirkan bahan pendingin gas yang
dingin dari evaporator melalui kumparan motor listrik sebelum dihisap oleh kompresor.

Keuntungan kompresor hermetik :
1.Tidak memakai seal pada porosnya, sehingga jarang terjadi kebocoran bahan
pendingin.
2.Bentuknya kecil, kompak dan harganya murah.
3.Tidak memakai tenaga penggerak dari luar, suara tenang, getarannya kecil

Kerugian kompresor hermetik :
1.Bagian yang rusak di dalam rumah kompresor tidak dapat diperbaiki sebelum
rumah kompresor dipotong.
2.Minyak pelumas di dalam kompresor hermetik sukar diperiksa.

2.4

REFRIGERAN

Refrigeran adalah zat yang berfungsi sebagai media pendingin dengan menyerap
kalor dari benda atau bahan lain seperti air atau udara ruangan, sehingga refrigeran
tersebut dapat dengan mudah merubah phasanya dari cair menjadi gas, sedangkan pada
saat terjadi pelepasan kalor oleh refrigeran terjadi perubahan phasa dari gas bertekanan
tinggi jenuh menjadi cair.
Refrigeran primer yang biasa digunakan dapat digolongkan sebagai berikut:

47

1.

Senyawa Halokarbon
Refrigeran yang memiliki satu atau lebih atom dari salah satu halogen yaitu
(klorin, fluorin, bromin). Beberapa jenis freon yang populer digunakan seperti
R-12, R-22, R-13 termasuk jenis refrigeran halokarbon.

Tabel 2.1 Beberapa Senyawa Halokarbon [Ref. 10 hal. 23]
Ketentuan
Penomoran

Nama Kimia

Rumus Kimia

R-11

Trikloromonofluorometana

CCl3F

R-12

Diklorodifluorometana

CCl2F2

R-13

Monoklorotrifluorometana

CClF3

R-22

Monoklorodifluorometana

CHClF2

R-40

Metil Klorida

CH3Cl

R-113

Triklorotrifluoroetana

CCl2FCClF2

R-114

Diklorotetrafluoroetana

CClF2CClF2

2.

Senyawa Anorganik
Senyawa anorganik sering digunakan pada masa awal perkembangan bidang
refrigerasi dan pengkondisian udara.

Tabel 2.2 Beberapa Senyawa Anorganik [Ref. 10 hal. 24]
Ketentuan
Penomoran

Nama Kimia

Rumus Kimia

717

Amonia

NH3

718

Air

H2O

729

Udara

-

744

Karbondioksida

CO2

764

Sulfurdioksida

SO2

3.

Senyawa Hidrokarbon
Banyak senyawa hidrokarbon yang cocok digunakan sebagai refrigeran
khususnya dipakai untuk industri perminyakan dan petrokimia.

48

Tabel 2.3 Beberapa Senyawa Hidrokarbon [Ref. 10 hal. 24]
Ketentuan
Penomoran

Nama Kimia

Rumus Kimia

50

Metana

CH4

170

Etana

C2H6

290

Propana

C3H8

Refrigeran yang digunakan pada sistem refrigerasi harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut :
1.Tidak mudah meledak
2.Tidak beracun, berwarna, tidak berbau dalam berbagai keadaan
3.Tidak bersifat korosif terhadap logam yang banyak dipakai pada sistem refrigerasi
dan tata udara
4.Tidak mudah terbakar
5.Dapat bercampur dengan minyak pelumas kompresor, tetapi tidak mempengaruhi
dan merusak minyak pelumas tersebut
6.Mempunyai struktur kimia yang stabil, tidak boleh terurai setiap kali
dimampatkan, diembunkan dan diuapkan
7.Mempunyai titik didih yang rendah, harus lebih rendah dari temperature
evaporator yang direncanakan
8.Mempunyai tekanan kondensasi yang tidak terlalu tinggi, tekanan kondensasi
yang tinggi memerlukan kompresor yang besar dan kuat, juga pipa-pipanya harus
kuat dan kemungkinan bocor besar
9.Mempunyai tekanan penguapan yang sedikit lebih tinggi dari atmosfir, sehingga
jika terjadi kebocoran, udara luar tidak masuk ke dalam sistem
10.Mempunyai kalor laten uap yang besar, sehingga menghasilkan efek pendinginan
yang besar

49

11.Mempunyai kalor uap per massa yang rendah, sehingga menurunkan langkah
kompresor yang dibutuhkan

3.1

Refrigeran Hidrokarbon

Pada tahun 1930-an hidrokarbon telah banyak digunakan sebagai refrigeran pada
unit-unit pendingin. Beberapa tahun kemudian diperkenalkan refrigeran sintetik yang
mempunyai karekteristik dan sifat baik, antara lain, tidak berbau, tidak beracun dan
mudah diperoleh sehingga harganya murah. Refrigeran sintetik yang langsung
mendominasi pasaran baru-baru ini diketahui memiliki sifat merusak lingkungan
terutama yang mengandung senyawa CFC seperti R-12 dan R-13. Kesadaran akan
kelestarian lingkungan inilah yang akhirnya membuat refrigeran hidrokarbon kembali
digunakan. Refrigeran hidrokarbon memiliki sifat tidak merusak lingkungan. Refrigeran
hidrokarbon mempunyai banyak kelebihan, kelemahan dari refrigeran hidrokarbon
adalah sifatnya yang mudah terbakar, namun dengan perkembangan teknologi hal ini
dapat diatasi.

Di Indonesia, larangan penggunaan refrigeran sintetik yang merusak lingkungan
juga ditanggapi dengan positif. Pada bulan Januari 1998 menteri perindustrian dan
perdagangan RI mengeluarkan SK no. 110 dan 111 yang berisi pelanggaran impor
bahan yang dapat merusak ozon (ODS, ozone Depleting Substance) serta penghapusan
produksi barang-barang pengguna ODS. Beberapa bulan kemudian, SK No. 110 dan
111 direvisi dengan dikeluarkannya SK Memperindag No. 410 dan 411 pada tahun yang
sama.

Dengan dikeluarkannya larangan impor ODS, termasuk CFC, maka pasar
refrigeran hidrokarbon di Indonesia semakin terbuka. Pada tahun 1998 PERTAMINA
memproduksi refrigeran hidrokarbon Indonesia secara komersial dengan merek
Petrozone Rossi. Pada tahun yang sama lahir beberapa merek refrigeran hidrokarbon
Indonesia lainnya, yaitu: refrigeran hidrokarbon Hycool yang diproduksi oleh PT. Citra
Total Buana Biru dan refrigeran Sejuk yang diproduksi oleh PT. Arion Teknik.

50

3.1.1Keuntungan Refrigeran Hidrokarbon

Perbandingan kinerja hidrokarbon sudah sering kali dipublikasikan
dalam berbagai makalah maupun seminar. Dalam beberapa perbandingan yang
telah dilakukan, refrigeran hidrokarbon memiliki kinerja (COP) yang lebih baik
Secara umum, keuntungan penggunaan refrigeran hidrokarbon adalah:
1.Penggantian refrigeran hidrokarbon tidak memerlukan penggantian
perangkat yang ada
2.Memiliki unjuk kerja (COP) yang lebih baik
3.Penggunaan refrigeran hidrokarbon lebih hemat, sekitar 40% dari refrigeran
biasa (R-12) [Ref. 8, hal. 2]

3.1.2Aspek Lingkungan Refrigeran Hidrokarbon

Refrigeran hidrokarbon mempunyai nilai ODP yang nihil, jadi tidak
merusak lapisan ozon, demikian pula dengan GWP yang dimilikinya relatif
sangat kecil bila dibandingkan dengan GWP berbagai refrigeran lainnya [Ref. 4,
hal 6]. Sebagai perbandingan, harga ODP dan GWP berbagai refrigeran yang
umum.

Tabel 2.4 Perbandingan ODP dan GWP Berbagai Refrigeran [Ref. 4, hal 6]

No

Refrigeran

ODP

GWP

1.

R-11

1.00

3500

2.

R-12

1.00

7300

3.

R-22

0.06

1700

4.

R- 134a

0.00

3800

5.

R-290 (hidrokarbon)

0.00

< 5

6.

R- 600 (hidrokarbon)

0.00

< 5

7.

R-600a (hidrokarbon)

0.00

< 5

3.1.3Aspek Keamanan Penggunaan Refrigeran Hidrokarbon

51

Penggunaan bahan hidrokarbon harus memperhatikan petunjuk dan
prosedur yang benar, khususnya pada saat pengisian dan perbaikan.
Syarat untuk terjadinya penyalaan harus ada tiga unsure yaitu udara dan gas
yang bercampur pada konsentrasi yang tepat serta sumber api.

Gb. 2.17 Syarat Terjadinya Penyalaan [Ref. 8, hal 2]

Bila salah satu dari ketiga unsur tersebut tidak terpenuhi, maka tidak akan terjadi
penyalaan.

Konsentrasi isobutane dalam udara untuk dapat menyala:
-

Batas bawah 1.7% volume udara atau setara dengan ± 43

3

gr/m

-

Batas atas 9.75 % volume udara atau setara dengan ± 202

3

gr/m [Ref. 8, hal.2]
Yang perlu diperhatikan adalah pada lemari es yang menggunakan refrigeran
hidrokarbon harus menggunakan komponen listrik yang tertutup atau
memindahkan pada lokasi yang aman.

3.1.4Kompatabilitas dengan Minyak Pelumas

Kompatabilitas refrigeran hidrokarbon dengan minyak pelumas juga
telah diteliti. Penelitian yang cukup intensif dalam masalah ini telah dilakukan
antara lain oleh Devotta et al. Mereka memperbandingkan kandungan asam pada

Udara

Bahan bakar

Sumber api

52

minyak pelumas baru (40,86 ppm) dengan kadar asam minyak pelumas setelah
digunakan pada suatu sistem yang bekerja dengan refrigeran R-12 atau
hidrokarbon. Ternyata setelah minyak pelumas digunakan untuk sistem yang
bekerja dengan R-12, terjadi kenaikan kandungan asam menjadi 85, 34 ppm,
sedangkan setelah dioperasikan dengan refrigeran hidrokarbon tidak terjadi
kenaikan kadar asam (40,54 ppm).
Selain memilih kadar asam dalam minyak pelumas sebagai kriteria
kompatabilitas minyak pelumas dengan refrigeran, mereka juga memilih
kandungan logam, yaitu kadar Fe, Cu, Al, dalam minyak pelumas sebagai
kriteria. Mereka mengukur kandungan logam – logam tersebut dalam minyak
pelumas yang baru, serta dalam minyak pelumas yang telah digunakan pada
sistem yang beroperasi dengan refrigeran R-12 atau hidrokarbon. Dalam
penelitian tersebut, mereka berkesimpulan baik minyak pelumas yang telah
digunakan dengan refrigeran R-12 maupun hidrokarbon tidak menunjukkan
kadar logam yang berarti. Jadi dalam hal ini tidak terjadi keausan komponen
kompresor secara berarti.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1

PENDAHULUAN

53

Untuk menunjang kelancaran dan mempermudah dalam pelaksanaan Tugas
Akhir dengan judul “Uji Eksperimental Minyak Pelumas pada Kompresor Hermetik
Dengan Refrigeran HCR-22”, maka dibuat suatu perencanaan dan tahapan kerja yang
sistematis. Sehingga dengan dibuatnya perencanaan dan tahapan kerja ini diharapkan
hasil yang diperoleh dari penelitian ini berjalan dengan optimal.
Tahapan dan perencanaan kerja pelaksanaan Tugas Akhir ini meliputi :
1.Penentuan parameter – parameter pengukuran.
2.Tahap persiapan instalasi.
3.Tahap kalibrasi alat ukur
4.Tahap pengujian refrigerator selama 2000 jam non-stop.
5.Tahap analisa minyak pelumas.

3.2

TAHAP PENENTUAN PARAMETER-PARAMETER PENGUKURAN

Tahap ini merupakan awal dari perencanaan untuk melakukan penelitian. Tahap
ini menentukan parameter yang akan dijadikan ukuran untuk melihat performansi dari
kompresor hermetik dan pengaruhnya terhadap pelumas selama beroperasi 2000 jam
non-stop.

Akibat kerja sistem, maka akan terjadi perubahan temperatur, tekanan dan
adanya kontaminasi pada minyak pelumas yang digunakan, sehingga menyebabkan
perubahan pada minyak pelumas, baik itu viskositas, kandungan logam, keasaman, dan
parameter-parameter yang berhubungan dengan performansi dari sistem refrigerasi yang
digunakan.

Parameter – parameter pengukuran yang ditentukan untuk mengetahui pengaruh
yang terjadi pada pelumas refrigerasi selama beroperasi 2000 jam non-stop saat
menggunakan bahan pendingin HCR-22, yaitu :

•Viskositas kinetik minyak pelumas (cSt)

Wear metal (ppm)

•Tingkat keasaman pelumas / TAN (ppm)

Soot dan water contents

54

•Parameter–parameter yang berhubungan dengan performansi dari sistem

refrigerasi, seperti : tekanan (psig), temperatur (o

C), arus listrik dan daya listrik.

3.3

TAHAP PERSIAPAN INSTALASI

Tahap ini merupakan tahap awal dalam pelaksanaan Tugas Akhir. Tahap ini
akan dijadikan acuan dalam pelaksanaan tahap – tahap berikutnya. Tahap persiapan
penelitian meliputi :
a.Persiapan pada peralatan refrigerasi
b.Persiapan alat dan bahan yang digunakan
c.Persiapan analisa minyak pelumas
d.Persiapan analisa visual

3.3.1Persiapan Peralatan Refrigerasi

Persiapan–persiapan yang dilakukan pada peralatan refrigerasi untuk menunjang
pengambilan data pada penelitian ini yaitu :
a.Penambahan bagian–bagian pada unit Lemari Es sesuai dengan desain
rancangan untuk mempermudah dalam pengambilan data.
b.Pembungan dan pengisian minyak pelumas
c.Pengisian refrigeran
d.Menguji kebocoran pada instalasi

3.3.1.1Penambahan Bagian –Bagian Pada Unit Lemari Es

Untuk menunjang dan mempermudah dalam pengambilan data,
diperlukan penambahan pada bagian–bagian seperti :

•Penambahan pressure gauge pada sisi suction dan discharge pada

kompresor, setelah kondensor, dan sebelum masuk evaporator.

•Penambahan termometer pada sisi suction dan discharge pada

kompresor, setelah kondensor, dan sebelum masuk evaporator.

55

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->