P. 1
1. Asesmen Autentik Dalam Kenyataan_Corebima

1. Asesmen Autentik Dalam Kenyataan_Corebima

5.0

|Views: 904|Likes:
Published by Mochammad Haikal

More info:

Published by: Mochammad Haikal on Jul 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/16/2014

pdf

text

original

ASESMEN AUTENTIK

:
Gambaran Penerapannya
Oleh: Prof. Dr. Duran Corebima A. MPd

Tugas 1
(langsung dikerjakan sebelum pembahasan materi) 1. Paparkan macam-macam asesmen yang diterapkan pada pembelajaranmu selama ini (di , SD & MI, SMP & MTs, SMA & MA & SMK maupun di PT) ! 2. Golongkan macam-macam asesmen itu, mana yang tergolong asesmen autentik dan yang bukan autentik, serta mana yang tergolong asesmen alternatif dan yang bukan asesmen alternatif (tradisional)! Kemukakan juga alasan penggolongan semacam itu! 3. Presentasikan hasil kerja dan berdiskusilah! 4. Mintalah masukan dari fasilitator!

Tugas 2
(langsung dikerjakan sebelum pembahasan materi) 1. Bagaimana manajemen macam-macam asesmen yang telah dipaparkan pada Tugas 1 untuk kepentingan evaluasi pembelajaran (misalnya yang terkait dengan silabus & RPP, maupun terkait dengan kontribusinya terhadap nilai akhir hasil pembelajaran, yang menjadi dasar evaluasi)? 2. Presentasikan hasil kerja, berdiskusilah dan minta masukan dari fasilitator!

Beberapa Contoh Implementasi Asesmen di Jur. Biologi FMIPA UM (2011)
Berikut ini ditunjukkan contoh-contoh implementasi asesmen pada beberapa kuliah di Jurusan Biologi FMIPA UM, yang dapat dipandang sebagai gambaran pelaksanaan pada tahun 2010 dan 2011. Paparan ini tidak bermaksud menghakimi asesmen mana yang tergolong asesmen autentik, dan mana yang bukan; bagaimanapun yang lebih tahu adalah para dosen pengampu mata kuliah itu. Informasi implementasi asesmen ini diperoleh melalui hasil wawancara dengan dosen-dosen pengampu mata kuliah, maupun yang merupakan pengalaman penulis sendiri.

1. Metode Penelitian Pendidikan (Pengampu: Prof. Dra. Herawati Susilo MSc. PhD. dkk) Berikut ini adalah asesmen-asesmen yang diterapkan selama perkuliahan. a. Penugasan diskusi tentang macam-macam penelitian pendidikan b. Penugasan pembuatan dan penyajian poster c. Penugasan mencari masalah penelitian untuk didiskusikan d. Penugasan pembuatan analisis kritis tiga artikel berbahasa Indonesia dan tiga artikel berbahasa Inggris (seluruh penugasan ini direkam sebagai satu skor) e. Telaah presensi mata kuliah f. Telaah keaktifan selama perkuliahan (hasil telaah ini direkam sebagai satu skor) g. Penugasan pengembangan proposal penelitian h. Penugasan presentasi proposal penelitian yang telah dikembangkan untuk memperoleh masukan dari para sejawat dan dosen (pelaksanaan tugas presentasi ini direkam sebagai satu skor) i. Penugasan penulisan jurnal belajar j. Penugasan pengembangan portofolio (portofolio yang dihasilkan, direkam sebagai satu skor) k. Pelaksanaan tes tertulis sebanyak dua kali, hasil tes dari kedua tes itu direkam sebagai dua skor l. Penugasan pembuatan makalah (makalah yang dihasilkan, direkam sebagai satu skor). Dari hasil wawancara yang sudah dipaparkan terlihat bahwa tidak semua penugasan/asesmen direkam sebagai sesuatu skor, yang akan menjadi dasar kuantitatif evaluasi pembelajaran pada mata kuliah tsb. Terkait mata kuliah ini, evaluasi pembelajaran secara kuantitatif didasarkan pada rata-rata hitung dari seluruh skor penugasan/asesmen (yang direkam), dalam bobot yang sama.

2. Metode Penelitian (Pengampu: Prof. Dra. Herawati Susilo MSc. PhD. Dkk) 2

a. Penugasan penyusunan proposal penelitian (proposal yang dihasilkan, direkam sebagai satu skor). b. Penugasan pengambilan data penelitian. c. Penugasan penyusunan laporan penelitian (laporan penelitian yang telah dihasilkan direkam sebagai satu skor). d. Penugasan untuk membuat analisis kritis artikel (tiga artikel berbahasa Indonesia dan tiga artikel berbahasa Inggris); hasil analisis kritis itu akan digunakan untuk penyusunan portofolio. e. Telaah keaktifan dalam kelas yang direkam sebagai satu skor, atas dasar: penugasan untuk mengerjakan latihan soal tentang disain penelitian yang selanjutnya didiskusikan, penugasan untuk diskusi, serta telaah presensi f. Pelaksanaan tes tertulis sebanyak 2 – 3 kali (hasil tiap tes tertulis direkam sebagai satu skor). Dari hasil wawancara yang sudah dipaparkan terlihat bahwa tidak semua penugasan/asesmen direkam sebagai sesuatu skor, yang akan menjadi dasar kuantitatif evaluasi pembelajaran pada mata kuliah tsb. Terkait mata kuliah ini, evaluasi pembelajaran secara kuantitatif didasarkan pula pada rata-rata hitung dari seluruh skor penugasan/asesmen (yang direkam), dalam bobot yang sama.

3. Fisiologi Tumbuhan (Pengampu: Prof. Dra. Herawati Susilo MSc. PhD. Dkk) a. Penugasan untuk mempresentasikan materi pada bab yang dikaji. b. Penugasan untuk membuat soal (yang bertujuan untuk mengaktifkan). c. Penugasan untuk melakukan praktikum. d. Penugasan untuk menyusun laporan praktikum (laporan praktikum direkam sebagai satu skor). e. Pelaksanaan tes tertulis teori sebanyak dua kali (hasil tiap tes tulis direkam sebagai satu akor). f. Pelaksanaan tes tertulis untuk praktikum sebanyak dua kali (hasil tiap tes tulis praktikum direkam sebagai satu skor). Dari hasil wawancara terungkap bahwa evaluasi pembelajaran kuantitatif didasarkan hanya pada skor tes tertulis teori, tes tertulis praktikum, dan laporan 3

praktikum. Bobot yang dberlakukan pada kuantifikasi evaluasi pembelajaran ini adalah dua untuk tes tertulis teori, sedangkan untuk tes tertulis praktikum dan laporan praktikum, masing-masingnya diberlakukan bobot satu.

4. Biologi Sel (Pengampu: Dr. Umie Lestari dkk.) a. Penugasan untuk membuat makalah (Tiap makalah yang telah dihasilkan direkam sebagai satu skor). b. Pelaksanaan Tes tengah semester (Tiap hasil tes tengah semester direkam sebagai satu skor). c. Pelaksanaan Tes akhir semester (Hasil tes akhir semester direkam sebagai satu skor). Dari hasil wawancara terungkap bahwa evaluasi pembelajaran kuantitatif didasarkan hanya pada skor tes tengah semester, tes akhir semester, serta makalah yang ditugaskan. Bobot yang dberlakukan pada kuantifikasi evaluasi

pembelajaran ini adalah dua untuk tes, sedangkan untuk skor makalah diberlakukan bobot satu.

5. Perkembangan Hewan (Pengampu: Dr. Umie Lestari dkk.) a. Penugasan untuk membuat makalah (Tiap makalah yang telah dihasilkan direkam sebagai satu skor). b. Pelaksanaan Tes teori tengah semester (Tiap hasil tes teori tengah semester direkam sebagai satu skor). c. Pelaksanaan Tes teori akhir semester (Hasil tes teori akhir semester direkam sebagai satu skor). d. Penugasan untuk melaksanakan praktikum. e. Penugasan untuk menyusun laporan praktikum (Laporan praktikum direkam sebagai satu skor). f. Pelaksanaan tes praktikum (Tiap hasil tes praktikum direkam sebagai satu skor) Dari hasil wawancara terungkap bahwa evaluasi pembelajaran kuantitatif didasarkan pada skor tes teori tengah semester, tes teori akhir semester, tes praktikum, serta makalah yang ditugaskan. Bobot yang diberlakukan pada 4

kuantifikasi evaluasi pembelajaran ini adalah dua untuk tes teori, sedangkan untuk skor tes praktikum maupun makalah diberlakukan bobot satu.

6. Bioteknologi (Pengampu: Dr. Umie Lestari dkk.) a. Penugasan untuk membuat makalah (Tiap makalah yang telah dihasilkan direkam sebagai satu skor). b. Penugasan untuk presentasi makalah dan didiskusikan (Tiap tugas presentasi makalah dan diskusi ini direkam sebagai satu skor c. Pelaksanaan Tes tengah semester (Tiap hasil tes tengah semester direkam sebagai satu skor). d. Pelaksanaan Tes akhir semester (Hasil tes akhir semester direkam sebagai satu skor). Dari hasil wawancara terungkap bahwa evaluasi pembelajaran kuantitatif didasarkan pada skor tes tengah semester, tes akhir semester, serta skor makalah yang ditugaskan, maupun skor presentasinya. Bobot yang diberlakukan pada kuantifikasi evaluasi pembelajaran ini adalah dua untuk tes, sedangkan untuk skor makalah maupun presentasinya diberlakukan bobot satu.

7. Evolusi (Pengampu: Dr. Umie Lestari dkk.) a. Penugasan untuk membuat makalah (Tiap makalah yang telah dihasilkan direkam sebagai satu skor). b. Penugasan untuk presentasi makalah dan didiskusikan (Tiap tugas presentasi makalah dan diskusi ini direkam sebagai satu skor c. Pelaksanaan Tes tengah semester (Tiap hasil tes tengah semester direkam sebagai satu skor). d. Pelaksanaan Tes akhir semester (Hasil tes akhir semester direkam sebagai satu skor). Dari hasil wawancara terungkap bahwa evaluasi pembelajaran kuantitatif didasarkan pada skor tes tengah semester, tes akhir semester, serta skor makalah yang ditugaskan, maupun skor presentasinya. Bobot yang diberlakukan pada kuantifikasi evaluasi pembelajaran ini adalah dua untuk tes, sedangkan untuk skor makalah maupun presentasinya diberlakukan bobot satu. 5

8. Botani Tumbuhan Bertalus /BTB (Pengampu Dra. Eko Sri Sulasmi Msi dkk.) a. Penugasan pembuatan portofolio, yang tiap minggu dilaporkan. b. Penugasan untuk melaksanakan proyek terbimbing secara berkelompok, yang hasilnya akan ditampilkan berupa poster & makalah (hasil penugasan ini direkam sebagai satu skor). c. Penugasan untuk presentasi (Pelaksanaan tugas ini direkam sebagai satu skor). d. Pelaksanaan kuis pada tiap kali perkuliahan, yang difungsikan sebagai pemacu dan pemeriksaan konsep. e. Pelaksanaan tes unit (hasil tes unit direkam sebagai satu skor). f. Pelaksanaan tes akhir (Hasil tes akhir direkam sebagai satu skor. Dari hasil wawancara terungkap bahwa evaluasi pembelajaran kuantitatif didasarkan pada skor penugasan proyek terbimbing berkelompok, penugasan presentasi, skor tes unit dan skor ters akhir.. Bobot yang diberlakukan pada kuantifikasi evaluasi pembelajaran ini adalah dua untuk tes, sedangkan untuk skor non tes masing-masingnya diberlakukan bobot satu.

9. Biosistematik (Pengampu Dra. Eko Sri Sulasmi Msi dkk.) a. Penugasan pembuatan portofolio, yang tiap minggu dilaporkan. b. Penugasan untuk melaksanakan proyek terbimbing secara berkelompok, yang hasilnya akan ditampilkan berupa poster & makalah (hasil penugasan ini direkam sebagai satu skor). c. Penugasan untuk presentasi (Pelaksanaan tugas ini direkam sebagai satu skor). d. Penugasan untuk melaksanakan proyek individu sampai dengan penyusunan laporan akhir dan didiskusikan (Hasil penugasan ini direkam sebagai satu skor). e. Pelaksanaan kuis pada tiap kali perkuliahan, yang difungsikan sebagai pemacu dan pemeriksaan konsep. f. Pelaksanaan tes unit (hasil tes unit direkam sebagai satu skor). 6

g. Pelaksanaan tes akhir (Hasil tes akhir direkam sebagai satu skor. Dari hasil wawancara terungkap bahwa evaluasi pembelajaran kuantitatif didasarkan pada skor penugasan proyek terbimbing berkelompok, penugasan presentasi, penugasan proyek individu, skor tes unit dan skor tes akhir. Bobot yang diberlakukan pada kuantifikasi evaluasi pembelajaran ini adalah dua untuk tes, sedangkan untuk skor non tes masing-masingnya diberlakukan bobot satu.

10. Morfologi Tumbuhan (Pengampu Dra. Eko Sri Sulasmi Msi dkk.) Terkait perkuliahan ini ragam asesmen maupun evaluasi kuantitatifnya relatif sama dengan yang diimplementasikan pada perkuliahan BTB, sekalipun pelaksanaan perkuliahannya agak berbeda. Dalam hal ini pada perkuliahan Morfologi Tumbuhan, tidak ada perkuliahan teori; perkuliahan dimulai dengan pelaksanaan praktikum yang dilanjutkan dengan pemberian masukan yang berkenaan praktikum tsb.

11. Botani Tumbuhan Bertalus/BTB (Pengampu Dra. Murni Saptasari Msi dkk) a. Penugasan untuk melaksanakan kegiatan praktikum proyek, yang hasilnya dipresentasikan (Hasil penugasan ini direkam sebagai satu skor). b. Penugasan yang terkait download materi dari internet, yang selanjutnya dipresentasikan (Hasil penugasan direkam sebagai satu skor. c. Pelaksanaan tes untuk materi alga (Hasil tes direkam sebagai satu skor). d. Pelaksanaan tes untuk materi jamus (Hasil tes direkam sebagai satu skor). e. Pelaksanaan tes untuk materi lumut (Hasil tes direkam sebagai satu skor). f. Pelaksanaan tes praktikum (Hasil tes praktikum direkam sebagai satu skor). Dari hasil wawancara terungkap bahwa evaluasi pembelajaran kuantitatif didasarkan pada skor penugasan praktikum proyek, penugasan download materi dari internet, serta skor-skor tes termasuk tes praktikum. Bobot yang diberlakukan pada kuantifikasi evaluasi pembelajaran ini untuk seluruh skor tes maupun yang non tes masing-masingnya satu.

12. Avertebrata (Pengampu Dr. Endah Indriwati dkk.) 7

a. Penugasan untuk membuat makalah (Hasil makalah direkam sebagai satu skor). b. Penugasan untuk melaksanakan diskusi (Pelaksanaan tugas ini direkam sebagai satu akor). c. Penugasan untuk membuat jurnal mingguan, yang akan diases sendiri, oleh sejawat, maupun oleh dosen; skor dari ketiga pihak itu selanjutnya disatukan menjadi satu skor. d. Penugasan untuk melaksanakan praktikum dan menyusun laporannya (Hasil penugasan ini direkam sebagai satu skor). e. Penugasan untuk membuat analisis kritis (Hasil analisis kritis direkam sebagai satu skor) f. Penugasan untuk membuat pertanyaan yang mengacu kepada rambu-rambu yang telah ditetapkan (Hasil penugasan ini direkam sebagai satu skor). g. Pelaksanaan tes tengah semester dan akhir semester (Kedua skor hasil tes itu disatukan menjadi satu skor). Dari hasil wawancara terungkap bahwa evaluasi pembelajaran kuantitatif didasarkan pada skor makalah diskusi, jurnal, laporan praktikum, hasil analisis kritis, pertanyaan, serta tes. Bobot yang diberlakukan pada kuantifikasi evaluasi pembelajaran ini adalah dua untuk tes, sedangkan untuk skor-skor lain masingmasingnya diberlakukan bobot satu.

13. Anatomi Fisiologi Manusia (Pengampu Dra. Sri Rahayu Lestari Msi dkk.) a. Penugasan untuk menyusun makalah yang akan dipresentasikan (Hasil penugasan direkam sebagai satu skor). b. Penugasan untuk melaksanakan diskusi (Keaktifan diskusi atas dasar pertanyaan dan jawaban direkam sebagai satu skor, dengan bantuan lembaran kerja). c. Penugasan untuk melaksanakan praktikum serta menyusun laporannya (Hasil penugasan ini direkam sebagai satu skor; aktivitas praktikum tidak ikut dipertimbangkan dalam perekaman skor)..

8

d. Pelaksanaan tes kecil di akhir tiap bab (Hasil seluruh tes kecil direkam sebagai satu skor). e. Pelaksanaan tes teori sebanyak dua kali, di tengah semester (TP1) dan di akhir semester yang diberi notasi TP2 (Hasil tiap tes direkam sebagai satu skor). f. Pelaksanaan tes praktikum sebanyak dua kali, ditengah semester TT1 dan di akhir semester yang diberi notasi TT2 (Hasil tiap tes direkam sebagai satu skor). Dari hasil wawancara terungkap bahwa evaluasi pembelajaran kuantitatif didasarkan pada lima kelompok skor (X1, X2, .... X5). Dalam hal ini skor makalah dan laporan praktikum disatukan menjadi skor X1, skor TT1 dan TP1 disatukan menjadi skor X2 (UTS), skor aktivitas diskusi diberlakukan sebagai X3, skor tes kecil diberlakukan sebagai X4, serta skor TT2 dan TP2 disatukan sebagai X5. Pada kuantifikasi evaluasi pembelajaran, X1, X3, dan X4 masing-masing diberi bobot satu, sedangkan X2 dan X5 masing-masing diberi bobot dua.

14. Fisiologi Manusia (Pengampu Dra. Sri Rahayu Lestari Msi dkk.) Terkait perkuliahan ini ragam asesmen maupun evaluasi kuantitatifnya relatif sama dengan yang diimplementasikan pada perkuliahan Anatomi Fisiologi Manusia.

15. Parasitologi (Pengampu Dr. Endang Suarsini Msi dkk.) a. Penugasan untuk menyusun proposal penelitian secara individual dan dipresentasikan (Hasil penugasan direkam sebagai satu skor, dan dinyatakan sebagai X1). b. Penugasan untuk melaksanakan praktikum dan menyusun laporannya (Hasil penugasan direkam sebagai satu skor, dan dinyatakan sebagai X2). c. Penugasan untuk melakukan diskusi tentang materi perkuliahan (Kegiatan diskusi ini direkam sebagai satu skor oleh dosen dan mahasiswa; kedua skor itu selanjutnya disatukan, dan dinyatakan sebagai X3). d. Penugasan untuk melakukan penelitian mandiri secara berkelompok (Hasil penugasan direkam sebagai satu skor, dan dinyatakan sebagai X4). 9

e. Pelaksanaan tes praktikum (satu kali dan hasilnya direkam sebagai satu skor dan dinyatakan sebagai X5). f. Pelaksanaan tes teori tengah semester dan akhir semester (Masing-masing hasil tes direkam sebagai satu skor, dan selanjutnya disatukan serta dinyatakan sebagai X6). Dari hasil wawancara terungkap bahwa evaluasi pembelajaran kuantitatif didasarkan pada keenam kelompok skor (X1, X2, .... X6). Dalam hal ini skor X2, X3, X4, dan X5 diberi bobot satu, sedangkan skor X1 dan X6 masing-masing diberi bobot 2.

16. Evaluasi (Pengampu Dr. Susriyati Mahanal MPd., dkk.) a. Penugasan untuk membuat makalah (sekitar tiga makalah; tiap makalah direkam berupa satu skor, dan dinyatakan sebagai X1 ..X3). b. Penugasan untuk melakukan elaborasi KD tertentu menjadi Indikator (Hasil penugasan direkam berupa satu skor, dan dinyatakan sebagai X4). c. Penugasan untuk menyusun soal atas dasar Indikator-indikator yang telah dirumuskan; soal-soal itu diimplementasikan di sekolah pilihan sendiri, dalam rangka uji validitas, reliabilitas dan daya beda (Hasil penugasan direkam berupa satu skor, dan dinyatakan sebagai X5). d. Penugasan untuk membuat asesmen autentik dan rubrik terkait (Hasil penugasan direkam sebagai satu skor, dan dinyatakan sebagai X6). e. Pelaksanaan tes akhir semester (Hasil tes direkam sebagai satu skor, dan dinyatakan sebagai X7). Dari hasil wawancara terungkap bahwa evaluasi pembelajaran kuantitatif didasarkan pada ketujuh skor (X1, X2, .... X7). Dalam hal ini ketujuh skor diberi bobot yang sama.

17. Genetika I (Pengampu Prof. Dr. AD. Corebima MPd, Prof. Dr. Siti Zubaidah MPd dan Dr. Moh. Amin Msi.) a. Penugasan untuk membuat ringkasan materi kuliah yang diakses dari buku, ataupun sumber di website internet, satu minggu sebelum pelaksanaan

10

perkuliahan yang membahas materi itu (Jumlah penugasan semacam ini sebanyak 5 -7; tiap hasil penugasan direkam sebagai satu skor). b. Penugasan untuk membuat pertanyaan dan menjawabnya sendiri secara individual maupun berkelompok (2 orang), yang terkait model pembelajaran RQA (Reading Questioning and Answering), satu minggu sebelum perkuliahan yang membahas materi itu (Jumlah penugasan semacam ini sebanyak 9 – 11; tiap hasil penugasan direkam sebagai satu skor). c. Penugasan untuk melaksanakan praktikum proyek, menyusun laporannya berupa laporan penelitian, serta dipresentasikan dalam seminar kuliah selama 1/3 semester terakhir. Konsep genetika yang dipelajari melalui kegiatan praktikum tidak dipelajari/dibahas pada perkuliahan teori (tidak ada duplikasi pembelajaran). Praktikum dilaksanakan dalam kelompok yang beranggota dua orang, sesuai agenda tiap kelompok. Judul praktikum tidak ditunjukkan dan harus ditemukan sendiri; para mahasiswa hanya memperoleh beberapa informasi terkait gambaran umum pelaksanaannya. Prosedur pelaksanaan praktikum tidak ditunjukkan, dan para mahasiswa harus merancangnya sendiri dalam koordinasi konsultasi dengan para asisten; cara analisis data juga tidak diinformasikan, sehingga harus ditemukan sendiri oleh para mahasiswa dalam koordinasi konsultasi dengan para asisten. Laporan praktikum direkam sebagai satu skor; kinerja praktikum atas dasar keaktifan dan kesungguhan kerja, direkam sebagai satu skor juga. d. Pelaksanaan tes praktikum sebanyak 2 kali (Tiap hasil tes direkam sebagai satu skor). e. Pelaksanaan tes teori sebanyak 2 – 3 kali (Tiap hasil tes direkam sebagai satu skor) Evaluasi pembelajaran kuantitatif didasarkan pada 20 – 25 skor asesmen dalam bobot yang sama, dan kesimpulan kualifikasi evaluasi kuantitatif mengacu kepada PAP lembaga. Jelas terlihat bahwa asesmen alternatif yang diterapkan pada perkuliahan genetika I, yang menjadi dasar evaluasi kuantitatif berjumlah

11

antara 16 – 20 buah; sedangkan jumlah asesmen bukan alternatif (tradisional: tes, termasuk tes tertulis adalah antara 4 – 5 buah.

18. Genetika II (Pengampu Prof. Dr. AD. Corebima MPd, Prof. Dr. Siti Zubaidah MPd dan Dr. Moh. Amin Msi.) Terkait perkuliahan ini ragam asesmen maupun evaluasi kuantitatifnya pada dasarnya sama dengan yang diimplementasikan pada perkuliahan Genetika I. Jika terdapat perbedaan maka perbedaan itu mungkin berkaitan dengan jumlah asesmen alternatif, sedangkan ragam asesmen alternatifnya sama.

19. Teknik Analisis Biologi Molekuler/ TABM (Pengampu Prof. Dr. AD. Corebima MPd, dan Prof. Dr. Siti Zubaidah MPd.) a. Penugasan untuk membuat ringkasan materi kuliah, sebanyak dua kali, terhadap sekitar 12 – 13 kelompok (beranggota 2 orang) dengan judul materi yang berbeda-beda, karena secara keseluruhan terdapat sekitar 24 – 26 materi yang dibahas pada perkuliahan ini; penugasan diberikan pada minggu pertama perkuliahan (Tiap penugasan direkam sebagai satu skor; jadi terkait penugasan ini terdapat dua skor, X1 dan X2). b. Penugasan untuk menyusun proposal penelitian molekuler yang diserahkan di akhir semester (Proposal penelitian molekuler direkam sebagai satu skor, X3). c. Penugasan untuk melaksanakan praktikum klasikal, yang selama ini biasanya dilaksanakan di balai penelitian di luar lembaga; hasil praktikum ditulis sebagai laporan praktikum berkelompok (Hasil penugasan ini direkam sebagai satu skor, X4). d. Pelaksanaan tes sebanyak dua kali (Tiap hasil tes direkam sebagai satu skor, X5 dan X6). Evaluasi pembelajaran kuantitatif didasarkan pada 6 skor asesmen dalam bobot yang sama, dan kesimpulan kualifikasi evaluasi kuantitatif mengacu kepada PAP lembaga. Jelas terlihat bahwa asesmen alternatif yang diterapkan pada perkuliahan TABM, yang menjadi dasar evaluasi kuantitatif berjumlah 4 buah;

12

jumlah asesmen bukan alternatif (tradisional: tes, termasuk tes tertulis) adalah 2 buah.

20. Biometri (Pengampu Prof. Dr. AD. Corebima MPd, dkk.) a. Penugasan untuk mengerjakan analisis hasil penelitian eksperimen terkait macam-macam RANCOB (Uji beda), yang nonfaktorial maupun faktorial (sebanyak 10 kali), dan untuk mengerjakan hasil penelitian terkait korelasi & regresi linier (2 kali) dan nonlinier (1 kali). Semua penugasan itu direkam sebagai satu skor, b. Pelaksanaan tes sebanyak 2 – 3 kali (Tiap hasil tes direkam sebagai satu skor). Evaluasi pembelajaran kuantitatif didasarkan pada 3 skor asesmen dalam bobot yang sama, dan kesimpulan kualifikasi evaluasi kuantitatif mengacu kepada PAP lembaga. Jelas terlihat bahwa asesmen alternatif yang diterapkan pada perkuliahan biometri, yang menjadi dasar evaluasi kuantitatif berjumlah satu buah (yang merupakan gabungan dari 13 buah penugasan), sedangkan jumlah asesmen bukan alternatif (tradisional: tes, termasuk tes tertulis) adalah antara 2 - 3 buah.

Konsep-Konsep Utama Asesmen Autentik
Banyak diantara kita membaurkan asesmen, tes, dan evaluasi. Ketiga konsep tersebut tidak sama. Asesmen adalah proses pengumpulan informasi tentang peserta didik, tentang apa yang mereka ketahui dan apa yang mereka dapat lakukan (Hart, 1994). Banyak cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi tersebut, misalnya dengan mengamati peserta didik belajar, menguji apa yang mereka hasilkan, menguji pengetahuan dan keterampilan mereka. Tes adalah satu instrumen untuk mengukur antara lain hasil belajar. Evaluasi adalah proses penafsiran dan pembuatan keputusan berkenaan dengan informasi asesmen (Hart, 1994). Dalam batas asesmen itu sendiri, data asesmen tidak dapat dinyatakan baik atau tidak baik. Data asesmen baru bermakna bilamana kita memutuskan bahwa informasi itu mereflesikan sesuatu yang kita nilai, misalnya seberapa jauh seorang peserta didik sudah menguasai materi pembelajaran. 13

A. Pengertian Asesmen Autentik Arti AA dapat kita lihat pada berbagai sumber. Berikut ini dicuplik beberapa pengertian terhadap AA dari berbagai sumber. 1. AA adalah soal-soal tes atau latihan yang sangat mendekati hasil pendidikan sains yang diinginkan. Latihan-latihan informasi dan penalaran ilmiah pada situasi-situasi semacam yang akan mereka hadapi di luar kelas, sebagaimana halnya kerja para ilmuwan (The National Science Education Standards, 1995, dalam Voss, tanpa tahun). 2. Suatu asesmen dinyatakan autentik bilamana asesmen itu melibatkan peserta didik pada tugas-tugas yang bermanfaat, penting, serta bermakna (Hart, 1994). Asesmen semacam itu terlihat sebagai aktivitas pembelajaran, yang melibatkan keterampilan berpikir tinggi serta koordinasi tentang pengetahuan yang luas. 3. AA menantang peserta didik untuk menerapkan informasi maupun keterampilan akademik baru pada suatu situasi riil untuk suatu maksudyang jelas. AA memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya sembari memperlihatkan apa yang telah dipelajarinya (Johnson, 2002). Lebh lanjut dinyatakan bahwa AA mendorong peserta didik untuk menggunakan pengetahuan ilmiah pada suatu konteks riil untuk suatu maksud yang jelas. 4. AA yang terkait presentasi pendidikan secara langsung mengukur perbuatan atau penampilan yang sebenarnya pada suatu mata pelajaran (Anonim, tanpa tahun). 5. AA adalah suatu cara pengukuran penguasaan peserta didik terhadap suatu mata pelajaran dengan cara yang lain dibanding regurgitasi sederhana dari pengetahuan. AA harus mengukur proses pemahaman dan bukan secara sederhana hanya berupa potongan-potongan informasi yang dihafal

(http://www.cast.org/neac/AnchoredInstruction1663.cfm). 6. AA memeriksa atau menguji kemampuan kolektif seseorang, dalam rangka mengevaluasi secara tepat apa yang telah dipelajarinya. AA memberikan tantangan dunia nyata kepada peserta didik, menuntut mereka untuk menerapkan keterampilan dan pengetahuannya yang relevan (Anonim, 2001). 14

Dalam hubungan ini AA mengarah kepada tiap tujuan seperti di bawah ini. a. Menuntut peserta didik mengembangkan respon dan bukan sekedar memiliki opsion yang telah ditetapkan. b. Menggugah pemikiran tingkat tinggi disamping keterampilan dasar. c. Secara langsung mengevaluasi proyek (tugas) yang holistik. d. Menyatu dengan pengajaran. e. Menggunakan contoh-contoh kerja peserta didik (portofolio) yang dikumpulkan dalam periode yang lama. f. Berasal dari kriteria yang jelas untuk peserta didik. g. Memungkinkan munculnya banyak pendapat. h. Berhubungan lebih dekat dengan pembelajaran di kelas. i. Mengajarkan peserta didik untuk mengevaluasi kerjanya sendiri. 7. Suatu asesmen dikatakan autentik jika asesmen itu memeriksa/menguji secara langsung perbuatan atau prestasi peserta didik berkaitan dengan tugas intelektual yang layak (Grant, 1990). Dalam hal ini AA menuntut peserta didik untuk menjadi pelaku (orang) yang efektif yang memiliki pengetahuan yang dibutuhkan. Asesmen menjadi autentik bilamana pembelajaran yang diukur oleh asesmen itu memiliki nilai di luar kelas serta bermakna bagi peserta didik (Kerka, 1995). AA mengamanatkan keterampilan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas yang sesungguhnya. 8. Asesmen dinyatakan autentik bilamana peserta didik mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui dalam suatu konteks kehidupan riil (Anonim, tanpa tahun). 9. Authentic assessment is an evaluation process that involves multiple forms of performance measurement reflecting the student's learning, achievement, motivation, and attitudes on instructionally-relevant activities. Examples of authentic assessment techniques include performance assessment, portfolios, and self-assessment." American Library Association dalam Mandernach, B. J. (2003). insert appropriate page title. Retrieved insert date, from Park University Faculty Development Quick Tips 15

10. Authentic assessment refers to assessment tasks that resemble reading and writing in the real world and in school (Hiebert, Valencia & Afflerbach, 1994; Wiggins, 1993). Its aim is to assess many different kinds of literacy abilities in contexts that closely resemble actual situations in which those abilities are used. 11. .Authentic assessment is a method of evaluation in which students perform real-life tasks to demonstrate their ability to apply relevant knowledge and skills (EDUC6040Fall10) Berikut ini dikemukakan pula karakteristik AA yang merujuk pada sumber tertentu (anonim, tanpa tahun). Adapun karakteristik AA tersebut adalah bahwa asesmen itu: a. merupakan suatu bagian tak terpisahkan dari pembelajaran di kelas, b. merupakan cerminan dari dunia nyata bukan sebagai macam kerja sekolah yang memecahkan masalah, c. menggunakan banyak ukuran/metode/kriteria, d. bersifat komprehensif dan holistik. Terkait karakteristik asesmen autentik yang telah disebutkan dikemukakan gambaran lain berikut ini, yaitu Ten Features of Authentic Assessments (EDUC6040Fall10) 1. Authentic activities have real-world relevance: Activities match as nearly as possible the real-world tasks of professionals in practice rather than decontextualized or classroom-based tasks 2. Authentic activities are ill-defined, requiring students to define the tasks and sub-tasks needed to complete the activity: Problems inherent in the activities are ill-defined and open to multiple interpretations rather than easily solved by the application of existing algorithms. Learners must identify their own unique tasks and sub-tasks in order to complete the major task. 3. Authentic activities comprise complex tasks to be investigated by students over a sustained period of time: Activities are completed in days, weeks and months rather than minutes or hours. They require significant investment of time and intellectual resources. 4. Authentic activities provide the opportunity for students to examine the task from different perspectives, using a variety of resources: The task affords learners the opportunity to examine the problem from a variety of theoretical and practical perspectives, rather than allowing a single perspective that learners must imitate to be successful. The use of a variety 16

of resources rather than a limited number of preselected references requires students to detect relevant from irrelevant information. 5. Authentic activities provide the opportunity to collaborate: Collaboration is integral to the task, both within the course and the real world, rather than achievable by the individual learner. 6. Authentic activities provide the opportunity to reflect: Activities need to enable learners to make choices and reflect on their learning both individuall and socially. 7. Authentic activities can be integrated and applied across different subject areas and lead beyond domain-specific outcomes: Activities encourage interdisciplinary perspectives and enable students to play diverse roles thus building robust expertise rather than knowledge limited to a single well-defined field or domain. 8. Authentic activities are seamlessly integrated with assessment: Assessment of activities is seamlessly integrated with the major task in a manner that reflects real-world assessment, rather than separate artificial assessment removed from the nature of the task. 9. Authentic activities create polished products valuable in their own right rather than as preparation for something else: Activities culminate in the creation of a whole product rather than an exercise or sub-step in preparation for something else. 10. Authentic activities allow competing solutions and diversity of outcomes: Activities allow a range and diversity of outcomes open to multiple solutions of an original nature, rather than a single correct response obtained by the application of rules and procedures. Memperhatikan macam-macam makna tentang asesmen autentik dari berbagai sumber seperti yang telah dipaparkan, tampak jelas bahwa konsep kinerja demikian kuat ditonjolkan, mungkin atas dasar keyakinan bahwa manakala sesuatu kinerja sudah terekspresi, maka konsep-konsep lain (termasuk yang hanya terkait pemahaman konsep sekalipun) sudah terwakili. Di lain pihak ada juga fakta yang membuktikan bahwa hasil belajar tertentu, misalnya yang berupa sesuatu pemahaman konsep tidak dapat langsung terekspresi sebagai suatu kinerja dalam proses pembelajaran, sekalipun konsep itu benar-benar telah menjadi milik pebelajar. Oleh karena itu penulis kurang sepakat dengan pengartian asesmen autentik yang seolah-olah hanya mengukur kinerja. Penulis berpendapat bahwa asesmen autentik juga dapat dipakai hanya untuk mengukur pemahaman konsep sekalipun, apalagi untuk mengukur kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi pada taksonomi Bloom, meskipun tidak terekspresi sebagai sesuatu kinerja.

17

Menurut penulis asesmen autentik adalah asesmen pembelajaran yang mampu mengukur hasil belajar yang autentik. Hasil belajar yang autentik adalah hasil belajar bermakna, benar-benar demikian, tidak mudah hilang dalam perjalanan waktu, yang berpeluang besar akan terekspresi sebagai kinerja selayaknya yang dijumpai dalam situasi riil pada waktunya, tidak terbatas selama berlangsungnya proses pembelajaran. Berkenaan dengan pemikiran yang telah dikemukakan, maka sesuatu tes tertulis sekalipun dapat tergolong sebagai suatu bentuk asesmen autentik, sepanjang manajemen pelaksanaan tes itu sedemikian sehingga mampu mengukur hasil belajar (misalnya pemahaman konsep) benar-benar sesuai dengan apa adanya. Dalam arti bahwa konsep yang dipahami itu sudah menjadi milik (bermakna), sehingga tidak mudah hilang dalam perjalanan waktu. B. Mengapa Asesmen Autentik Dibutuhkan? Berikut ini dikemukakan pandangan/pendapat yang menjelaskan mengapa asesmen autentik memang dibutuhkan. Pandangan pertama yang dikemukakan adalah yang merujuk langsung ke EDUC6040Fall10 tentang Why do We Need Authentic Assessment? Preparing Students for the Real World; sedangkan pandangan kedua adalah yang berasal dari penulis. Terkait pandangan pertama (EDUC6040Fall10), dikatakan bahwa: While multiple-choice tests can be valid indicators or predictors of academic performance, too often our tests mislead students and teachers about the kinds of work that should be mastered. Norms are not standards; items are not real problems; right answers are not rationales. Multiple-choice tests also encourage memorization of facts, rather than acquiring specific skills standards are designed to enforce. What most defenders of traditional tests fail to see is that it is the form, not the content of the test that is harmful to learning; demonstrations of the technical validity of standardized tests should not be the issue in the assessment reform debate. Students come to believe that learning is cramming; teachers come to believe that tests are after-the-fact, imposed nuisances composed of contrived questions--irrelevant to their intent and success. Both parties are led to believe that right answers matter more than habits of mind and the justification of one's approach and results. This type of assessment also sends a message to students 18

that information is learned for a test, and as soon as the test is completed, students often do not see the importance of retaining this information. A move toward more authentic tasks and outcomes thus improves teaching and learning: students have greater clarity about their obligations (and are asked to master more engaging tasks), and teachers can come to believe that assessment results are both meaningful and useful for improving instruction. When students leave high school or even college they are expected to be able to function in our world based on a certain standard set of skills. Those life skills often do not include knowledge on ancient civilizations or chemical composition. It is great for students to have a well rounded education and a plethora of content knowledge, but if they cannot apply their skills to any content or task, teachers or schools have not prepared them for the real world. Pandangan pertama yang telah dipaparkan tsb. sangat jelas menggarisbawahi kinerja, yang di dalamnya sudah tercakup domain kognitif, afektif dan psikomotor. Pada pendapat penulis, tidak selalu hasil belajar langsung muncul dalam/sebagai suatu konsep kinerja, sekalipun pada akhirnya diharapkan demikian. . Oleh karena itu penjelasan tentang mengapa dibutuhkan asesmen autentik tidak hanya mengacu kepada konsep kinerja, tetapi juga mengacu kepada konsep-konsep lain sebelum kinerja, antara lain pemahaman konsep. Pemahaman konsep yang bermakna adalah manakala sesuatu konsep menjadi milik sehingga bertahan lama dalam perjalanan waktu. Pemahaman konsep yang terungkap pada pengukuran dengan sesuatu bentuk asesmen autentik, diyakini merupakan suatu pemahaman konsep yang bermakna, dan tentu akan bertahan lama, tidak mudah terlupakan. Konsep-konsep yang telah menjadi milik seseorang sangat diyakini akan mudah tampak sebagai kinerja pada waktunya, yang dapat mencakup domain afektif dan psikomotor, selain domain kognitif. Pada pendapat penulis, inilah alasanya mengapa asesmen autentik dibutuhkan Jadi, asesmen autentik sangat dibutuhkan untuk mengungkap sesuatu hasil pembelajaran yang bermakna, termasuk sekalipun masih dalam batas pemahaman konsep sekalipun. Hasil pembelajaran bermakna pada tingkat apapun, termasuk hanya di tingkat pemahaman konsep sekalipun, berpeluang sangat besar muncul sebagai sesuatu kinerja pada saatnya yang tepat.

C. Bentuk Penerapan Asesmen Autentik Berikut ini dikemukakan bentuk-bentuk penerapan AA yang dicuplik dari berbagai sumber. 19

1. Pada umumnya para pendidik mengenal empat macam asesmen autentik, yaitu portofolio, perbuatan atau kinerja (performance), proyek, dan respon tertulis secara luas (Johnson, 2002). Dikatakan lebih lanjut bahwa peluang macam tugas-tugas asesmen autentik adalah sebanyak atau seluas imaginasi seseorang. 2. Asesmen autentik dapat mencakup aktivitas yang beragam seperti wawancara lisan, tugas problem solving kelompok, pembuatan portofolio (Hart, 1994). Dalam paparannya yang lebih lanjut dinyatakan bahwa asesmen autentik tes hanyalah satu dari antara sekian banyak cara asesmen. Dalam cara lain dinyatakan pula bahwa cara-cara asesmen dikelompokkan menjadi tiga kategori besar, yaitu observasi, contoh-contoh perbuatan, serta tes dan prosedur serupa tes atau pengukuran prestasi peserta didik pada suatu waktu maupun tempat tertentu. 3. Peserta didik untuk mengilustrasikan informsasi akademis yang telah dipelajarinya, misalnya dalam bidang sains, pendidikan kesehatan,

matematika, dan bahasa Inggris, dengan cara merancang sebuah mobil atau membuat sebuah presentasi tentang emosi orang (Johnson, 2002). 4. AA memberikan kesatuan utuh tugas kepada peserta didik yang

mencerminkan prioritas dan tantangan yang dijumpai dalam aktivitas pembelajaran yang paling baik seperti melakukan penelitian, menulis, merevisi, dan mendiskusikan masalah, mengadakan analisis lisan yang menraik terhadap suatu kejadian politik yang sedang berlangsung, berkolaborasi terlibat dalam debat, dan sebagainya. AA juga mengikuti (attend to) apakah peserta didik dapat terampil memberikan jawaban perbuatan atau produk yang seksama dan yang dapat dipertanggung jawabkan. AA menjadi valid dan reliabel dengan cara menekankan dan membakukan kriteria penskoran produk yang sesuai (Grant, 1990). 5. Atas dasar Custer (1994), Lazar dan Bean (1991), Rerf (1995), serta Rudner dan Boston (1994), dinyatakan bahwa beberapa alat yang digunakan pada AA adalah seperti di bawah ini. a. Ceklist (tentang tujuan pebelajar, kemajuan menulis/membaca, kelancaran menulis dan membaca, kontak pembelajaran, dan sebagaimana). 20

b. Simulasi c. Essei dan contoh penulisan lain. d. Demonstrasi atau perbuatan. e. Wawancara masuk dan kemajuan. f. Presentasi lisan. g. Evaluasi oleh instruktur sejawat ataupun yang lainnya baik informal maupun formal. h. Asesmen sendiri. i. Pertanyaan-pertanyaan untuk respon yang tergagas. Dalam hubungan ini peserta didik dapat diminta mengevaluasi studi kasus, menulis definisi serta mempertahankannya secara lisan, bermain peran serta membaca dan merekam bacaannya pada tape recorder; para peserta didik juga dapat mengumpulkan berkas tulisan yang berisi draft serta revisi yang memperlihatkan perubahan ejaan maupun hal-hal yang bersifat mekanis, revisi strategis, serta sejarah perkembangannya menjadi seorang penulis. Dalam hal ini barangkali teknik yang paling banyak digunakan adalah asesmen portofolio (Kerka, 1995). Berkenaan dengan asesmen kinerja yang tergolong (bersifat) AA, Frazee dan Rudnitski (1995) mengemukakan beberapa cara implementasi asesmen tersebut, yaitu: a. menulis sampel, b. berbicara, c. essay (yang dapat memperlihatkan kemampuan analisis, sintesis, serta meringkas informasi), d. proyek penelitian, e. pameran, f. portofolio. Berikut ini dikemukakan juga bentuk-bentuk asesmen autentik dari sumber lain, yang diistilahkan sebagai Types of Authentic Assessment atas dasar Mandernach, B. J. (2003). insert appropriate page title. Retrieved insert date, from Park University Faculty Development Quick Tips

21

• • • •

• •

Scoring Guides/Rubric: A scoring scale used to assess student performance along a task-specific set of criteria. A list of required elements are grouped together to make the scoring guide with point specific designations. Portfolio/E-Portfolio: A collection of a student's work specifically selected to highlight achievements or demonstrate improvement over time (eportfolio is electronic and usually accessible on the Internet). Authentic Task: An assignment given to students designed to assess their ability to apply standard-driven knowledge and skills to real-world challenges. Self-Assesment: Evaluating one's own performance to determine stregth and weaknesses and reflecting on what improvements can be made to enhance product Oral Interviews: Teacher asks student questions about personal background, activities, readings, and other interests. Story or Text Retelling: Student retells main ideas or selected details of text experienced through listening or reading. Writing Samples: Student generates narrative, expository, persuasive, or reference paper. Projects/Exhibitions: Student works with other students as a team to create a project that often involves multimedia production, oral and written presentations, and a display. Experiments/Demonstrations: Student documents a series of experiments, illustrates a procedure, performs the necessary steps to complete a task, and documents the results of the actions. Constructed-Response Items: Student responds in writing to open-ended questions. Teacher Observations: Teacher observes and documents the students attention and interaction in class, response to instructional materials, and cooperative work with other students

D. Prosedur untuk Merancang Suatu Tugas Asesmen Autentik (diambil dari Susilo, 2003) Menurut Johnson (2002), guru CTL (contextual teaching learning) menemukan bahwa prosedur berikut ini bermanfaat: a. Mendeskripsikan secara tepat apa yang harus diketahui siswa dan apa yang dapat mereka demonstrasikan. Beritahukan pada mereka standar yang harus mereka kuasai. b. Berusaha mengkaitkan kegiatan akademis secara bermakna dengan konteks dunia sehari-hari atau mengajak untuk mensimulasi konteks dunia nyata yang mengandung makna. c. Meminta siswa untuk menunjukkan apa yang mereka dapat lakukan dengan apa yang mereka dapat ketahui, untuk menunjukkan pengetahuan dan 22

keterampilan yang mendalam, dengan memproduksi suatu hasil, misalnya suatu produk yang nyata, presentasi, koleksi karya. d. Menentukan tingkat kecakapan/keahlian yang harus dikuasai. e. Mengekspresikan tingkat kecakapan/keahlian dalam bentuk rubrik, yaitu suatu pedoman penilaian yang memberikan kriteria untuk menilai tugas (Lewin & Shoemaker, 1998). f. Mengenalkan siswa dengan rubrik tersebut. Mengajak siswa untuk terus menerus melakukan evaluasi diri sementara mereka menilai kualitas pekerjaan mereka sendiri dalam asesmen ini. g. Melibatkans seorang audiens/penilai lain selain guru untuk merespon asesmen itu (Lewin & Shoemaker, 1998). E. Penggunaan Asesmen Autentik Terkait penggunaan asesmen autentik, berikut ini dikemukakan informasi How to Use Authentic Assessment (EDUC6040Fall10); dikatakan bahwa:

Follow these helpful steps to create your own authentic assessment 1. Identify which standards you want your students to meet through this assessment. 2. Choose a relevant task for this standard, or set of standards, so that students can demonstrate how they have or have not met the standards. 3. Define the characteristics of good performance on this task. This will provide useful information regarding how well students have met the standards. 4. Create a rubric, or set of guidelines, for students to follow so that they are able to assess their work as they perform the assigned task. F. Pembuatan Rubrik Asesmen Autentik Berikut ini dikemukakan beberapa informasi tentang pembuatan rubric yang diambil dari EDUC6040Fall10, yaitu Creating Rubrics for Authentic Assessment. Berkenaan dengan hal ini dikatakan bahwa: Before making a rubric teachers need to identify what they want to assess. Rubrics should be created before the unit to ensure the students are taught the main components. In addition, it can assess criteria from previous units. Assessments should usually evaluate no more than five elements for each task. If too much is being assessed it is difficult to truly identify the strengths and weaknesses of a student 23

Once the criteria for the assessment is identified, a rubric can be created. Making a rubric is simplified with the aid of online rubric-makers. Before teachers create a rubric it is best to do a search for the specific rubric to save time. For example, input letter writing rubrics into a search address box and numerous letter writing sample rubrics will be displayed. Making rubrics are time consuming in the initial stages but are worth the investment. Rubrics are a wonderful tool to ensure a more authentic assessment of student work. The assessment tool gives students a framework on expectations and teachers a framework on what is being graded.

A rubric provides a teacher with a scale of where the student's current knowledge and performance are currently at as well as what they may need to improve upon. A rubric provides a student with their own guidelines while they are working on an assessment. They are able to guide themselves, as well as assess their own work or the work of their classmates using the rubric provided to them. A teacher can work with his or her students to develop assessment criteria for a rubric. This way, students are taking part in the evaluation process and feel more of an attachment to what they are working on. They need to live up to their own standards (criteria) as well as that of the teacher.

G. Penyekoran Asesmen Autentik (diambil dari Susilo, 2003) Menurut Hart (1994), penyekoran asesmen autentik dilakukan berdasarkan standar kinerja yang jelas, bukan dengan kurva normal atau acuan norma. Alat yang dipakai untuk membantu guru melakukan penyekoran adalah rubrik penyekoran. Rubrik penyekoran adalah suatu perangkat kriteria yang digunakan untuk menyekor atau menempatkan posisi siswa pada tes, portofolio, atau kinerja. Rubrik penyekoran mendeskripsikan tingkat kinerja yang diharapkan dicapai siswa secara relatif bila dibandingkan dengan standar pencapaian yang diinginkan. Jadi deskriptor, atau deskripsi kinerja-kinerja siswa dan bagaimana menempatkan kinerja tersebut dalam suatu rentangan nilai yang telah ditetapkan sebelumnya. Berikut ini diberikan contoh rubrik penyekoran (Tabel 1) yang dirancang guru untuk mengukur dan menyekor kinerja siswa dalam IPA SD yaitu dalam menarik kesimpulan berdasarkan data eksperimen. Tabel 1. Contoh Rubrik Menarik Kesimpulan
Angka 0 1 2 Karakteristik Gagal mencapai kesimpulan Menarik kesimpulan yang tidak didukung data Menarik kesimpulan yang didukung data, tetapi gagal menunjukkan buktibukti untuk kesimpulan tersebut.

24

3

Menarik kesimpulan yang didukung data dan memberi bukti-bukti pendukung untuk kesimpulan tersebut.

Rubrik sederhana semacam ini mengkombinasikan beberapa kelebihan. Rubrik ini mengkomunikasikan secara jelas standar pemerolehan yang bagaimana yang diinginkan. Rubrik ini juga menciptakan suatu sistem penyekoran yang mudah dipelajari dan digunakan. Dengan mendeskripsikan karakteristik kinerja yang khusus dan dapat diamati, akan dikurantgi kemungkinan menyekor sembarangan. Rubrik juga membantu siswa mengases di tingkat mana mereka pada skala pencapaian dan bagaimana mereka mungkin meningkatkan kinerjanya. Akhirnya, rubrik juga dapat digunakan berulang-ulang sepanjang tahun untk mendokumentasikan suatu pola atau kinerja atau progres. Seringkali rubrik dilengkapi dengan benchmark, atau contoh kinerja yang berfungsi sebagai standar konkrit sebagai pembanding. Umumnya benchmark ini diberikan untuk setiap tingkat pencapaian pada rubrik penyekoran. Penilai dapat merancang rubrik penyekoran dan benchmark dengan menggunakan salah satu dari dua cara, yaitu secara holistik (menyeluruh) berdasarkan kesan menyeluruh terhadap salah satu contoh karya siswa. Penyeloran secara holistik umumnya menghasilkan satu nilai dari skala 0-4 atau 0-5, dan digunakan apabila diinginkan penyekoran yang cepat tetapi konsisten, seperti pada asesmen skala luas. Cara kedua adalah penyekoran analitis, yang meliputi pemberian skor terpisah untuk berbagai ciri atau dimensi hasil karya siswa. Cara ini menuntut lebih banyak waktu tetapi menghasilkan informasi yang lebih rinci. Cara ini umumnya digunakan untuk tujuan diagnostik atau apabila siswa membutuhkan balikan khusus mengenai kekuatan dan kelemahan mereka. Penyekoran analitis juga digunakan untuk mengevaluasi kurikulum dan program pembelajaran dan untuk menunjukkan dengan tepat bidang-bidang yang memerlukan perbaikan. Contoh penggunaan penyekoran analitis ini adalah di negara bagian Vermont yaitu untuk menyekor asesmen portofolio untuk kemampuan menulis. Penilai menggunakan pedoman asesmen analitis yang rinci untuk mengevaluasi karya yang dikumpulkan dalam portofolio berdasarkan lima dimensi kemampuan menulis, yaitu 1) kejelasan tujuan dan kesadaran mengenai jenis audiens, 2) 25

organisasi dan koherensi, 3) ketepatan penggunaan rincian, 4) kejelasan pembedaan nada dan irama, 5) penggunaan tata penulisan tanda baca dan tata bahasa secara benar. Semuanya diskor berdasarkan apakah portofolio itu menunjukkan setiap ciri secara luar biasa, sering, kadang-kadang, atau jarang. Setelah diperoleh skor dari asesmen autentik (misalnya portofolio, asesmen kinerja, jurnal, hasil pengamatan tentang keaktifan siswa di kelas, dan lain-lain, guru sendiri ataupun guru bersama siswa dapat berunding untuk menetapkan berapa bobot untuk masing-masing hasil asesmen dan bagaimana mengolah seluruh hasil menjadi nilai akhir atau nilai kesimpulan.

H. Manfaat Asesmen Autentik Berikut ini dikemukakan manfaat AA bagi para peserta didik yang dicuplik dari Johnson (2002) atas dasar Newmann dan Wehlage (1993). Dalam hal ini terhadap peserta didik AA: a. menunjukkan secara lengkap seberapa baik pemahaman terhadap materi akademik; b. menunjukkan dan memperkuat kompetensi-kompetensi seperti pengumpulan informasi, pemanfaatan sumber penanganan teknologi, dan pemikiran sistematik; c. menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman mereka, dunia mereka maupun dengan masyarakat yang lebih luas; d. meningkatkan keterampilan berpikir tinggi seperti analisis, sintesis,

identifikasi permasalahan, menemukan solusi, serta mengikuti hubungan sebab-akibat; e. menerima tanggungjawab dan membuat pilihan-pilihan; f. menghubungkan mereka dengan orang lain, termasuk berkolaborasi dalam tugas; g. belajar mengevaluasi tingkat kinerja (performance) mereka sendiri. I. Asesmen Autentik dan Asesmen Non Autentik Berbicara tentang AA, sebenarnya kita juga sedang berbicara tentang asesmen non autentik, ”lawan” dari AA bukan asesmen lain, tetapi asesmen non autentik, karena sudut pandangnya memang demikian. Oleh karena itu adalah 26

tidak tepat membayangkan ”lawan” dari AA adalah asesmen yang berupa paper and pencil test; tidak semua paper and pencil test secara otomatis bersifat non autentik. Sumber referensi tertentu semacam Hart (1994), Grant (1990), dan sebagainya mempertentangkan AA dan traditional test ataupun traditional assesment. Di lain pihak saya berpendapat dikotomi semacam inipun tidak tepat. Traditional test tidak serta merta menjadi alat ukur pada asesmen non autentik; demikian pula traditional assesment tidak sekaligus tergolong asesmen non autentik. Betapapun demikian berikut ini dikemukakan juga perbandingan antara asesmen tradisional dan AA menurut Frazee dan Rudnitski (1995). Tabel 2. Perbandingan antara asesmen tradisional dan AA (Frazee dan Rudnitski, 1995) Asesmen Tradisional Periode waktu khusus Mengukur kecakapan tingkat rendah Asesmen Tradisional Menerapkan driil dan latihan Memiliki perspektif sempit Mengungkap fakta Menggunakan strandar kelompok Bertumpu pada ingatan (memorisasi) Hanya satu solusi yang benar Mengungkap kecakapan Mengajar untuk ujian AA Waktu ditentukan oleh guru dan siswa Mengukur kecakapan tingkat tinggi AA Menerapkan strategi-strategi kritis dan kreatif Memiliki perspektif menyeluruh Mengungkap konsep Menggunakan standar individu Bertumpu pada internalisasi Solusi yang benar banyak Mengungkap proses Mengajar demi kebutuhan

J. Asesmen Autentik dan Asesmen Alternatif Asesmen alternatif adalah asesmen yang lain dari yang lazimnya. Bentukbentuk asesmen alternatif antara lain asesmen kinerja (performance), observasi, dan kegiatan bertanya, presentasi dan diskusi, proyek dan investigasi, portofolio dan jurnal, wawancara dan konferensi, asesmen diri sendiri (Glencoe/McGrowHill, tanpa tahun). Jelaslah bahwa asesmen alternatif bukan ”lawan” dari AA. Demikian pula AA bukan tergolong ke dalam asesmen alternatif sekalipun sumber tertentu seperi Frazee dan Rudnitski (1995) menyatakan bahwa AA adalah suatu strategi asesmen alternatif. Contoh asesmen alternatif antara lain mencakup pertanyaan terbuka, pameran, demonstrasi, eksperimen, hands-on, penciptaan produk baru, kinerja, 27

simulasi komputer dan portofolio (Frazee dan Rudnitski, 1995). Dalam hal ini dinyatakan lebih lanjut bahwa asesmen alternatif mendorong siswa menguasai bukan hanya kecakapan-kecakapan dasar. Apakah asesmen alternatif tergolong AA? Pada pendapat saya asesmen alternatif tidak otomati tergolong AA. Bagaimanapun suatu asesmen alternatif tergolong AA atau tidak, ditentukan oleh manajemen pelaksanaan asesmen alternatif tersebut. Sebagai contoh misalnya portofolio seorang peserta didik yang hanya sekedar hasil editing dari portofolio temannya, tentu saja sama sekali tidak merupakan bagian dari AA. Demikian pula kegiatan bertanya seorang peserta didik yang hanya sekedar memamerkan bahwa ”saya” rajin bertanya, dan sebagainya. K. Asesmen Alternatif dan Asesmen Tradisional Pada pendapat kami ”lawan” dari asesmen alternatif adalah asesmen tradisional. Hal ini mudah dipahami jika kita memperhatikan contoh-contoh asesmen tradisional yang sangat kuat bertumpu pada tes terutama ”paper and pencil test”. Dalam hal ini masih perlu digarisbawahi lagi bahwa asesmen alternatif tidak otomatis tergolong AA; dan asesmen tradisional juga tidak langsung tergolong non autentik. L. AA dan Tes Standar Munculnya AA bukan menyingkirkan penggunaan tes standar. Frazee dan Rudnitski malahan menyatakan bahwa penggunaan AA berkombinasi dengan tes standar secara berimbang. Dinyatakan lebih lanjut, bahwa penggunaan kedua macam startegi asesmen itu memberikan pemahaman yang lebih baik tentang tingkat dan mutu pembelajaran kepada guru, serta memberikan suatu penilaian komprehensif terhadap pembelajaran siswa; bahkan menempatkan demikian banyak tekanan maupun tuntutan akuntabilitas di pundak guru, maka AA seharusnya digunakan sebagai suatu teknik yang melengkapi tes standar

M. Manajemen Asesmen Asesmen apapun yang akan diterapkan pada sesuatu proses pembelajaran seyogyanya sudah dirancang dan sudah dikomunikasikan pada silabus maupun 28

RPP yang terkait. Diharapkan asesmen yang dirancang untuk diimplementasikan tergolong ke dalam assesment for learning dan assesment of learning, tidak hanya semata-mata hanya assesment of learning..Dalam hal ini yang dimaksud dengan assesment for learning adalah macam-macam asesmen yang

diimplementasikan selama proses pembelajaran, yang segera dapat dimanfaatkan juga untuk kepentingan perbaikan proses pembelajaran; sedangkan assesment of learning adalah macam-macam asesmen yang diimplementasikan di akhir suatu proses pembelajaran (biasanya berupa tes, baik tes tengah semester maupun tes akhir semester), yang tidak segera dapat dimanfaatkan untuk kepentingan perbaikan proses pembelajaran. Apapun macam asesmen yang telah dirancang dan diimplementasikan perlu diberi skor; tidak dikehendaki sesuatu asesmen yang telah dirancang dan diimplementasikan, tetapi tidak diberi skor. Skor dari macam-macam asesmen itu selanjutnya digabung untuk memunculkan suatu nilai yang akan digunakan untuk kepentingan evaluasi. Bagaimana cara pengabungan aneka skor itu, pada dasarnya tidak ada suatu pola yang seragam mengikat, sekalipun untuk kepentingan praktis demi penyeragaman,di tingkat tertentu dapat juga diberlakukan rumus penggabungan tertentu.

Pengalaman Implementasi Asesmen Autentik sebagai Dasar Evaluasi Autentik
A. Domain Pembelajaran Kognitif, Afektif dan Psikomotor pada Asesmen Autentik Evaluasi pembelajaran yang lengkap adalah yang mencakup domain kognitif, afektif, dan psikomotor. Oleh karena itu asesmen yang mendasari evaluasi pembelajaran semacam itu seharusnya juga yang mampu memberikan informasi tentang ketiga domain itu. Apabila diperhatikan berbagai hal terkait konsep utama asesmen autentik yang telah dipaparkan, sebenarnya ketiga domain pembelajaran itu sudah tercakup atau diperhatikan pada asesmen autentik, sekalipun secara eksplisit tidak terlalu terlihat. Sebagai contoh atau bukti, mari kita cermati lagi bentuk-bentuk penerapan asesmen autentik menurut Mandernach, B. J. (2003). insert 29

appropriate page title. Retrieved insert date, from Park University Faculty Development Quick Tips, maupun rujukan-rujukan lain yang telah ditunjukkan. Yang menjadi perhatian kita terpenting adalah memilih bentuk-bentuk penerapan asesmen autentik, yang sesuai untuk domain kognitif, afektif, dan psikomotor; tentu saja pemilihan bentuk-bentuk asesmen autentik itu tetap memperhatikan karakteristik materi pembelajaran. Pada perkuliahan genetika I, II, TABM, dan biometri yang berlangsung selama ini, kami sangat yakin bahwa secara keseluruhan asesmen yang diterapkan bersifat autentik, dan bentuk-bentuk asesmen autentik yang digunakan juga dapat dipilah terkait domain kognitif, afektif, maupun psikomotor, sekalipun secara eksplisit tidak disebutkan/dituliskan. Sebagaimana yang telah dipaparkan di awal makalah ini seluruh skor dari bentuk-bentuk asesmen autentik itu digabung atau disatukan dalam bobot yang sama.

B. Capaian Pemahaman Konsep Terkait Implementasi Asesmen Autentik Pada bagian ini akan dikemukakan capaian pemahaman konsep genetika pada perkuliahan genetika di Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang, yang telah menerapkan asesmen autentik selama belasan tahun. Paparan tentang capaian pemahaman konsep ini bukan bermaksud menyatakan bahwa capaian pemahaman konsep pada sesuatu pembelajaran sangat dominan dipengaruhi atau ditentukan oleh macam asesmen (dalam hal ini asesmen autentik) yang diterapkan. Sebagaimana diketahui capaian pemahaman konsep pada sesuatu pembelajaran ditentukkan oleh banyak faktor lain, misalnya model pembelajaran, media pembelajaran dsb. Secara umum capaian pemahaman konsep para mahasiswa pada perkuliahan genetika hingga sekarang masih belum memuaskan, sekalipun implementasi asesmen autentik pada perkuliahan ini telah berlangsung sejak belasan tahun (tidak mustahil fakta ini juga ditemukan pada perkuliahan lain di Jurusan Biologi FMIPA UM). Terkait perkuliahan genetika (I dan II), fenomena ini mungkin disebabkan oleh demikian banyaknya kesalahan konsep yang dibawa para mahasiswa sebagai warisan dari peringkat sekolah menengah; mungkin juga

30

disebabkan oleh penerapan model pembelajaran perkuliahan yang belum tepat, atau faktor yang lain. Selama bertahun-tahun model perkuliahan yang diterapkan memang belum berbentuk mengacu kepada sesuatu model atau strategi pembelajaran yang sudah dikenal, sekalipun sudah cukup konstruktivistik; tidak berlebihan model pembelajaran yang diterapkan selama bertahun-tahun itu sepantasnya disebut sebagai amorf learning, yang seringkali karena alasan sopan-santun disebut sebagai pembelajaran multistrategi. Menyadari adanya kenyataan terkait model pembelajaran semacam itu, maupun karena alasan tertentu yang lain, sejak tahun 2009 telah dikembangkan dan diimplementasikan suatu model pembelajaran perkuliahan baru yang diberi nama Reading Questioning and Answering (RQA). Implementasi model pembelajaran RQA pada perkuliahan genetika selama tiga tahun terakhir, didukung oleh upaya-upaya perbaikan lain seperti penulisan buku, diktat, maupun handout, dsb. telah berhasil meningkatkan capaian pemahaman konsep para mahasiswa, bergeser dari modus 20 – 30 menjadi 40 – 50 (dalam rentang 0 – 100. Upaya perbaikan capaian pemahaman konsep masih tetap dilakukan di waktu yang akan datang, misalnya mulai mengelola miskonsepsi; pada saat ini sedang berlangsung penulisan satu disertasi atas nama Elya Nusantari atas dasar kajian penelitian miskonsepsi di Jurusan Biologi FMIPA UM, termasuk khususnya yang terkait dengan perkuliahan genetika. Model pembelajaran perkuliahan RQA ini telah dikaji secara

eksperimental melalui penelitian pembelajaran kuasi eksperimental terkait parameter-parameter tertentu, maupun secara survei melalui penelitian

pembelajaran survei; hasil penelitian kuasi eksperimental itu bahkan telah disosialisasikan pada simposium internasional di Nanyang Institute of Education (NTU) Singapore pada akhir Mei 2011.

C. Catatan Lain Berikut ini akan dikemukakan suatu catatan lain yang disikapi selama ini pada keputusan kualifikasi evaluasi hasil pembelajaran perkuliahan genetika I dan II, TABM, dan Biometri di Strata 1 Jurusan Biologi FMIPA UM. Selama ini di saat melakukan keputusan kualifikasi evaluasi, selalu diperhatikan bahwa 31

pengalaman pernah mendengar dan pernah membaca sebenarnya merupakan pengalaman yang sangat bermanfaat bagi seseorang dalam perjalanan waktu panjang ke depan. Hal lain yang juga diperhatikan adalah bahwa aplikasi sesuatu hasil pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari pada dasarnya berkarakter open book dan bukan semata-mata dipercayakan kepada ingatan saja, tanpa merujukannya kembali ke referensi yang terkait.

Tugas 3
1. Rancanglah satu silabus dan RPP untuk topik tertentu dari materi ajarmu (di , SD & MI, SMP & MTs, SMA & MA & SMK maupun di PT), yang sudah

memperlihatkan implementasi asesmen autentik, dan serahkan hasil kerja itu kepada fasilitator! 2. Lengkapi tugas no. 1 dengan cara merancang rubriknya yang terkait, dan serahkan juga ke fasilitator!

PENUTUP
Telah dipaparkan tentang pengertian seputar AA dan sedikit informasi tentang operasionalisasinya. Dipaparkan pula macam asesmen lain seperti asesmen non autentik tradisional dan sebagainya. Dalam hal ini dijelaskan hubungan antara macam-macam asesmen lain itu dengan AA.

Daftar Rujukan Anonim. Tanpa tahun. Diakses dari internet pada tanggal 5 November 2003. Anonim. Tanpa tahun. http://www.cast.org/ncac/AnchoredInstruction1663.cfm Anonim.2001. Understanding Authentic Assesment. Diakses dari internet pada tangal 5 September 2003 Anonim. Tanpa tahun. Diakses dari internet pada tanggal 5 September 2003 Anonim. Tanpa tahun. Alternate Assesment in the Science Classroom. Glencoe/McGrow-Hill.

32

Corebima, Duran. 2004. Pemahaman tentang asesmen autentik. Makalah disajikan dalam seminar dengan tema “Upaya peningkatan pembelajaran di National School Buin Batu Town Site NTT” pada Desember 2004. Grant, Wiggins. 1990. The Case for Authentic Assesment. Diakses dari internet pada tanggal 5 Oktober 2003 Frazee, Bruce, M., dan Rose A. Rudnitski. 1995. Integrated Teaching Method: Theory, Classroom Amplications, and Fields-Based Connections. Albany: Delmar Publishers. Hart, Diane. 1994. Authentic Assesment: A Handbook for Educators. AddisonWesley Publishing Company. Johnsons, Elaine, B. 2002. Contextual Teaching and Learning. California: Corwin Press Inc. Kerka, Sandra. 1995. Technique for Authentic Assesment. Diakses dari internet pada tanggal 5 Oktober 2003. Susilo, Herawati. 2003. Asesmen Autentik pada Pembelajaran IPA Biologi. Makalah dipresentasikan dalam rangka Pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran Biologi di Malang pada tanggal 30 Agustus 2003. Voss, Burton. 1995. The National Science Education Standards: Alternative Assesment in K-12 Science Education.

33

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->