P. 1
Evaluasi Kesesuaian Lahan Mendukung Dissiminasi Teknologi Budidaya Jagung Berkelanjutan

Evaluasi Kesesuaian Lahan Mendukung Dissiminasi Teknologi Budidaya Jagung Berkelanjutan

|Views: 270|Likes:
Published by Abadi Girsang

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Abadi Girsang on Jul 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2014

pdf

text

original

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN MENDUKUNG DISEMINASI TEKNOLOGI BUDIDAYA JAGUNG BERKELANJUTAN DI KABUPATEN PAKPAK BHARAT

Moral Abadi Girsang dan Khadijah El Ramija Lubis Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara (Jl. Jend. A.H. Nasution 1 B Medan, Sumatera Utara)
ABSTRAK Tujuan dari penelitian evaluasi kesesuaian lahan komoditi jagung di Kabupaten Pakpak Bharat adalah untuk memberikan acuan kepada pemerintah kabupaten dan penyuluh pertanian dalam pengembangan pertanaman jagung serta memberikan dukungan dalam pelaksanaan diseminasi teknologi budidaya jagung yang efisien. Dari hasil evaluasi kesesuaian lahan didapatkan bahwa luas kesesuaian lahan untuk jagung di Kabupaten Pakpak Bharat adalah 63.409 ha. Lahan yang sesuai untuk komoditi jagung terdapat di Kecamatan Kerajaan, Siempat Rube, Salak, Mahala Majanggut, Sitelu Tali Urang Julu dan Perketeng-Keteng Sekut. Hasil evalusi lahan ini diharapkan dapat digunakan untuk perluasan lahan untuk komoditi jagung dan mendukung kegiatan diseminasi teknologi budidaya jagung oleh penyuluh pertanian lapangan. Hasil ini juga diharapkan dapat mendukung pertanaman jagung yang berkelanjutan, di samping memberikan keuntungan kepada petani.

ABSTRACT The aim of this study was to evaluate the land suitability for maize at Pakpak Bharat Regency. This study also will give a guideline for local government and extension on development maize and also to support the technology dissemination of maize. The results of this study shown that suitable land for maize at Pakpak Bharat regency were 63.409 ha. There were some districts that appropriate for maize development includes Kerajaan, Siempat Rube, Salak, Mahala Majanggut, Sitelu Tali Urang Julu dan Perketeng-Keteng Sekut district. The results of this study also will support the sustainable agriculture of maize at Pakpak Bharat regency Keywords: Land Evaluate, Land Suitablity, Maize. Pakpak Bharat

1. PENDAHULUAN Permasalahan usahatani jagung di Pakpak Bharat adalah produktivitasnya yang masih rendah dengan mutu yang masih beragam. Salah satu upaya dalam meningkatkan pendapatan usahatani adalah dengan membentuk Sentra atau Wilayah Pengembangan Agribisnis komoditas jagung. Dalam upaya agar wilayah pengembangan tersebut mencapai derajat kesuksesan yang diharapkan, diperlukan sistem usahatani spesifik lokasi yang bersifat efisien, terlanjutkan dan memiliki keunggulan komparatif dengan mempertimbangkan ketersediaan tenaga kerja, modal dan kemampuan petani (Amien dan Karama, 1993). Agar sistem dan juga teknologi spesifik lokasi tersebut dapat dihasilkan dengan lebih efisien, hemat, terarah dan sesuai untuk wilayah pengembangan perlu dilakukan zonasi agro-ekologi atau ZAE (Amien, 1996). Melalui pengenalan agro-ekologi wilayah, sumberdaya lahan dapat dimanfaatkan secara terarah dan efisien (Puslittanak, 1993). Analisis seperti ini dapat dilakukan melalui metoda Analisis Agro-ekosistem (AAES) yang baik namun cepat dan ringkas serta sesuai dengan program pembangunan daerah (Saefuddin, 1993) guna lebih menjamin keberhasilan program dimaksud. Menurut KEPAS (1985), AAES bertujuan merumuskan dan sekaligus menjawab sejumlah isu kunci yang memungkinkan suatu

pemahaman yang seksama terhadap berbagai proses yang berperan dalam dinamika suatu agro-ekosistem, sehingga berbagai kebijakan dan keputusan dapat dirumuskan. AAES yang menurut Saefuddin (1993) dilakukan secara cepat dan sistematis ini mungkin saja hanya dapat merekomendasikan suatu hipotesis pendahuluan yang selanjutnya perlu diuji namun tidak menutup kemungkinan untuk menghasilkan inovasi yang dapat langsung diterapkan. Dalam upaya menyediakan informasi mengenai wilayah atau sentra pengembangan komoditas jagung Kabupaten Pakpak Bharat maka perlu dilakukan kegiatan zonasi komoditas jagung berdasarkan kondisi agro-ekologi pada daerah yang diperuntukan bagi sektor pertanian. Hasil pengkajian ini akan menyajikan peta operasional wilayah pengembangan jagung di Kabupaten Pakpak Bharat dalam bentuk peta sekala 1: 50.000. Hasil dari studi ini diharapkan dapat digunakan oleh para penyuluh pertanian untuk kegiatan diseminasi teknologi budidaya jagung spesifik lokasi yang efisien. Peta yang dihasilkan dapat membantu para penyuluh pertanian menyebarkan teknologi budidaya jagung pada lokasi yang sesuai, sehingga pengembangan komoditas jagung di Kabupaten pakpak Bharat dapat dilakukan secara efisien, menguntungkan secara ekonomi dan berkelanjutan. Selama ini petani masih mengandalkan teknik bertani yang tradisional dan berdasarkan pengalaman saja, sedangkan dukungan teknologi yang didukung oleh basis ilmiah masih kurang sehingga mereka tergantung kepada produsen saprotan. 1. METODOLOGI Peta pewilayahan komoditas sekala 1 : 50.000 untuk komoditas jagung dilakukan berdasarkan peta skala 1 : 250.000 yang telah tersedia sebelumnya. Lahan yang sesuai untuk komoditas jagung tersebut di analisis kembali dengan metode analisis terrain untuk mendapatkan peta sekala 1 : 50.000, pengambilan contoh tanah akan dilakukan pada titik-titik yang ditentukan. Penyusunan peta pewilayahan komoditas jagung sekala 1 : 50.000 didasarkan pada data hasil evaluasi lahan untuk komoditas jagung, baik berupa data tabular maupun data spasial (peta kesesuaian lahan). Sedangkan evaluasi lahan didasarkan pada karakteristik lahan yang bersumber dari data/peta satuan lahan hasil analisis terrain yang telah dilengkapi dengan data tanah dan iklim, serta data sosial ekonomi. Penyajian hasil evaluasi lahan dalam wujud spasial atau peta dilakukan dengan cara mengimpor data tabulasi hasil ALES kedalam format GIS. Penyajian peta kesesuaian lahan dibuat berdasarkan jenis komoditas pertanian yang dikaji dengan menggunakan program ArcView. Selanjutnya peta kesesuaian lahan dioverlaykan dengan peta administratif sehingga diketahui peta wilayah pengembangan potensial di setiap kecamatan di Kabupaten Pakpak Bharat. Penajaman arahan dilakukan secara redaksional dan didasarkan kepada hasil validasi di lapangan. Sejalan dengan pelaksanaan validasi juga dilakukan konsultasi hasil analisis dengan penentu kebijakan di Kabupaten tersebut sehingga keluaran kegiatan dapat dipakai sebagai acuan perencanaan bagi Pemerintah Daerah setempat. Untuk mempercepat evaluasi lahan dilakukan secara komputasi dengan menggunakan program Automated Land Evaluation System/ALES versi 4.65 d (Rossiter dan Wambeke, 1997). Pelaksanaan komputasi dilakukan dengan mengimport data SDPLE atau data yang sudah tersedia dalam format Excel ke dalam program ALES.Untuk melaksanakan evaluasi lahan selanjutnya mengacu ke Petunjuk Teknis No. 1.0 versi 1.0 tahun 2001. Sedangkan untuk pengoperasian program ALES dapat digunakan Petunjuk Teknis yang disusun oleh Marwan dkk. (1996).

2.

HASIL DAN PEMBAHASAN 2.1. Aspek Sumberdaya lahan a. Kondisi Iklim

Rata-rata total curah hujan tahunan selama periode 1992 2002 adalah 2298 mm/tahun dengan hari hujan 159 hari/tahun (Sumber Bappeda Kabupaten Pakpak Bharat). Curah hujan menyebar sepanjang tahun dimana rata-rata hujan setiap bulannya >100mm/bulan. Namun puncak musim hujan terjadi pada bulan Maret, April oktober dan November dengan rata-rata curah hujan >200 mm/bulan, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Juni. Curah hujan yang tinggi dan merata sepanjang tahun ini berpotensi besar menyebabkan terjadinya erosi terutama pada lahan yang diusahakan untuk budidaya tanaman semusim, khususnya pada periode awal dari pertumbuhan tanaman. Sementara syarat iklim untuk pertanaman jagung menurut Badan Litbang Pertanian (2007) adalah sebagai berikut: y Iklim yang dikehendaki oleh sebagian besar tanaman jagung adalah daerah-daerah beriklim sedang hingga daerah beriklim sub-tropis/tropis yang basah. Jagung dapat tumbuh di daerah yang terletak antara 0-50 derajat LU hingga 0-40 derajat LS. y Pada lahan yang tidak beririgasi, pertumbuhan tanaman ini memerlukan curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji tanaman jagung perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya jagung ditanam diawal musim hujan, dan menjelang musim kemarau y Pertumbuhan tanaman jagung sangat membutuhkan sinar matahari. Tanaman jagung yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat/ merana, dan memberikan hasil biji yang kurang baik bahkan tidak dapat membentuk buah. y Temperatur berkisar antara 16 sampai 32 0C, yang optimum antara 20 sampai 26 0C. Curah hujan berkisar antara 500 sampai 5.000 mm/tahun dan yang optimum antara 1000 sampai 1500 mm/tahun y Saat panen jagung yang jatuh pada musim kemarau akan lebih baik daripada musim hujan, karena berpengaruh terhadap waktu pemasakan biji dan pengeringan hasil b. Tanah Dari hasil pengamatan dan analisis laboratorium jenis tanah yang mendominasi di Kabupaten Pakpak Bharat adalah typic dystrudepts, hapludands dan dan hydridands. Persyaratan kebutuhan tanah sebagai berikut: Tanah dalam, konsistensi gembur (lembab), permeabilitas sedang, drainase agak sepat sampai baik, tingkat kesuburan sedang, tekstur lempung dan lempung berdebu dengan kandungan humus sedang. pH berkisar 5,2 8,5 yang optimum antara 5,8 7,8. Penurunan hasil bisa terjadi karena salinitas dengan DHL mencapai > 1,7 dS/m. Penurunan hasil bisa mencapai 50% bila DHL mencapai 5,9 dS/m atau ESP mencapai 15%, dan tanaman tidak mampu berproduksi bila DHL mencapai 10 dS/m. Persyaratan penggunaan lahan komoditi jagung lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 1. Sedangkan peta jenis tanah di Kabupaten Pakpak Bharat dapat dilihat pada Gambar 1.

Tabel 1. Persyaratan Penggunaan Lahan Komoditi Jagung (Puslittanak, 1993)
Persyaratan Pengguna/ Karakteristik lahan Temperatur (tc) Temperatur rata (0C) Ketersediaan air (wa) Curah hujan (mm) Kelembaban (%) Ketersediaan O2 Drainase Media perakaran Tekstur Bahan kasar Kedlman tnh (cm) Gambut: - Ketebalan - + dgn sisipan - Kematangan Retensi hara KTK liat (cmol) KB (%) pH H2O C org (%) Toksisitas Salinitas (dS/m) Sodisitas ESP (%) Bhya sulfudik Kedlman sulfudik (cm) Bhy erosi Lereng (%) Bhy erosi Bhy banjir Genangan Penyiapan lhn Batuan dipermukaan (%) Singkapan batuan (%) Kelas Kesesuaian Lahan S1 20 - 26 S2 26 - 30 1200 1600 400 500 36 - 42 Agak cepat S3 16 20 30 - 32 > 1600 300 400 30 - 36 terhambat N > 32 < 16 < 300 < 30 Sangat trhmbt & cepat k > 55 < 25 > 200 > 400 fibrik

500 1200 > 42 Baik s/d agak trhmbat h ah, ss < 15 > 60 < 60 < 140 saprik +

h, ah, s 15 - 35 40 - 60 60 - 140 140 - 200 saprik/hemik +

ak 35 - 55 25 - 40 140 - 200 200 - 400 hemik/fibrik+

> 16 > 50 5,8 7,8 > 0,4 <4 < 15 > 100 <8 sr FO <5 <5

16 35 - 50 5,5 5,8 7,8 8,2 0,4 4 15 75 8 r 5 5 15 15 6 20 100 16 sd

< 35 < 5,5 > 8,2

6

8

>8 > 25 < 40 > 30 sb > F2 > 40 > 25

20 - 25 40 - 75 16 b F1 15 40 15 - 25 30

Keterangan: Tekstur h = halus; ah = agak halus; s = sedang; ak = agak kasar + = gambut dengan pengkayaan bahan mineral Bahaya erosi sr = sangat ringan; r = ringan; sd = sedang; b = berat; sb = sangat berat

380000 310000

390000

400000

410000

420000

430000

440000

450000 310000

PETA JENIS TANAH KABUPATEN PAKPAK BHARAT
N W S E

300000

300000

4

0

4 Kilometers

290000

290000

280000

280000

LEGENDA

Typic Typic Typic Typic Typic

Dystrudepts Epiaquands Hapludands Hydrudands Melanudands

270000

270000

260000

260000

250000

250000

380000

390000

400000

410000

420000

430000

440000

450000

Gambar 1. Peta Jenis Tanah di Kabupaten Pakpak Bharat 2.2. Aspek Sosial Ekonomi

Jika dilihat dari perkembangan pertanaman jagung di Kabupaten Pakpak Bharat selama lima tahun (2005-2009) terlihat bahwa terjadi penurunan luas panen komoditi jagung yang konsisten. Namun terjadi peningkatan produksi dan produktifitas yang cukup signifikan. Penurunan luas panen ini terjadi kemungkinan karena banyak petani yang mengkonversi lahan mereka ke pertanaman komoditi pertanian lainnya, terutama komoditi jeruk dan sayuran. Hal ini terjadi karena menurut petani tingkat keuntungan dari usaha komoditi jeruk dan sayuran relatif lebih tinggi dibandingkan komoditi jagung. Perkembangan luas panen, produksi dan produktifitas komoditi jagung di Kabupaten Pakpak Bharat dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Perkembangan Pertanaman Komoditi Jagung Di Kabupaten Pakpak Bharat 2005-2009 No 1 2 3 Indikator 2005 2006 Luas Panen (ha) 7.756 2.128 Produksi (ton) 25.653 7.145 Produktivitas 3,30 3,36 (ton/ha) Sumber: BPS Sumut 2006,2007,2008,2009 dan 2007 2.128 7.145 3,36 2010 2008 1.481 6.625 4,47 2009 1.158 5.327 4,60

Tingkat keuntungan dari hasil usahatani komoditi jagung yang masih relatif rendah dibandingkan dengan komoditi lain, disebabkan pertanaman jagung yang dilakukan oleh petani

umumnya masih secara tradisional, tidak efisien dan kemungkinan faktor pemilihan lokasi lahan yang kurang sesuai sehingga biaya input usaha tani relatif lebih tinggi. Supaya pertanaman komoditi jagung di kabupaten ini dapat lebih menguntungkan bagi petani maka pelaksanaan kegiatan penyuluhan atau diseminasi teknologi budidaya jagung perlu dilakukan lebih intensif. Kegiatan diseminasi teknologi budidaya jagung ini akan berhasil bila para penyuluh pertanian didukung dengan ilmu yang memadai serta pengetahuan tentang kondisi dan lokasi lahan yang sesuai untuk pertanaman jagung yang efisien. Dukungan data tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman jagung akan mempermudah para penyuluh pertanian lapangan dalam melakukan diseminasi teknologi yang sesuai serta dapat merekomendasikan penggunaan pupuk yang efisien kepada petani jagung di Kabupaten Pakpak Bharat. Usaha peningkatan luas panen jagung di kabupaten ini juga dapat dilakukan oleh penyuluh pertanian lapangan berdasarkan hasil evaluasi kesesuaian lahan untuk tanaman jagung. Para penyuluh pertanian lapangan dapat berkonsentrasi melakukan pembinaan kepada petani jagung pada wilayah atau lahan-lahan yang memang sesuai untuk pertanaman jagung. Perluasan areal pertanaman jagung pada lahan yang memang sesuai untuk komoditi tersebut akan memberikan keuntungan yang lebih tinggi, efisien, berkualitas dan berkelanjutan. Tabel 2 . Analisis Usahatani Komoditi Jagung di Kabupaten Pakpak Bharat
No 1 2 3 Faktor Produksi Sewa Lahan Benih Jagung Hibrida Pupuk: -Urea -TSP -KCl -NPK(15-15-15) 4 5 Herbisida Pengolahan tanah:  Traktor (Bajak 1x)  Perataan tanah  Tanam  Memupuk  Menyiang/bumbun  Menyemprot pestisida 6  Biaya panen + angkut  Pemipilan  Penjemuran 7 8 9 10 Total Biaya Penerimaan Keuntungan R/C Ratio 4300 kg 880 1 ha 14 HOK 5 HOK 3 HOK 9 HOK 2 HOK 8 HOK 4300 kg 1,5 HOK 200.000 15.000 15.000 15.000 15.000 15.000 15.000 25 15.000 200.000 210.000 75.000 45.000 135.000 30.000 120.000 107.500 22.500 2.460.500 3.784.000 1.323.500 1,54 Volume 1 ha 25 kg 200 kg 140 kg 70 kg 25 kg 4l Hrg (Rp) 250.000 21.000 1200 1800 2300 2500 35.000 Nilai (Rp) 250.000 410.000 240.000 252.000 161.000 62.500 140.000

2.3. Kesesuaian Lahan Dari hasil analisis kesesuaian lahan didapatkan bahwa luas kesesuaian lahan untuk jagung di Kabupaten Pakpak Bharat adalah 63.409 ha. Komoditi jagung juga merupakan program kerja Pemkab Pakpak Bharat, komoditi ini sudah dikembangkan juga oleh petani. Luas panen jagung pada tahun 2009 di kabupaten ini baru 1.158 ha dengan produksi sebesar 5.327 ton (BPS Sumut 2010). Jadi produktivitas tanaman jagung di kabupaten ini baru 4,6 ton/ha, padahal potensi produksi jagung adalah 6 ton/ha. Dengan luas kesesuaian lahan untuk komoditi jagung seluas 63.409 ha dan potensi peningkatan produksi sekitar 1,4 ton/ha maka pengembangan jagung di kabupaten ini sangat layak jika diikuti dengan perogram diseminasi teknologi pertanian

Sukaramai

iah Mer Kuta

Tanjung Mulia

a ag tas Ku

Pa rp ul un ga n

m da ta Ku

e
r ba ta Ku u

MajanggutI

Bandar Baru

Mahala

Ke cu pa k II

Sala B. k II Tinada M. Sa lak Siempa t Rub eI

Sala kI

Ke cu pa kI

Kaban Tengah

Simerpara Aornakan

Binanga Boang

Sibagindar

Keterangan : S1 : Sangat Sesuai, S2 : Sesuai, S3 : Sesuai Bersyarat, N : Tidak Sesuai eh : Bahaya Erosi, nr : Retensi hara, rc : Kondisi Perakaran, oa : Ketersediaan Oksigen, tc: Ketinggian Tempat, lp: Penyiapan Lahan

Gambar 2. Peta Kesesuaian Lahan Komoditi Jagung di Kabupaten Pakpak Bharat

a a a riah M M M Me n n n ung a a aj Tan

n ua om Silimakuta rd Pa

Mungkur

Siempat Rube II
Pa rdo mu an

t II gu ng aja M

Ulu Merah

Kuta Tinggi

Sibongkaras

Dari hasil evaluasi kesesuaian lahan untuk komoditi jagung di Kabupaten Pakpak Bharat (Gambar 2.) maka kegiatan penyuluhan, diseminasi teknologi budidaya jagung dan program perluasan lahan pertanaman jugung sebaiknya di arahkan ke Kecamatan Kerajaan, Siempat Rube, Salak, Mahala Majanggut, Sitelu Tali Urang Julu dan Perketeng-Keteng Sekut.

3. KESIMPULAN y Hasil analisis kesesuaian lahan menunjukkan bahwa luas kesesuaian lahan untuk jagung di Kabupaten Pakpak Bharat adalah 63.409 ha y Arah pengembangan pertanaman jagung dan diseminasi teknologinya sebaiknya dilakukan pada lahan yang memang sesuai untuk komoditi jagung yaitu di Kecamatan Kerajaan, Siempat Rube, Salak, Mahala Majanggut, Sitelu Tali Urang Julu dan PerketengKeteng Sekut

Daftar Pustaka Amien, I dan S. Karama. 1993. Zona Agroekologi dan Alternatif Pengembangan Pertanian. Bull.Perhimpi 1(2): 55-71 Amien, I. 1996. Panduan Karakterisasi dan Analisis Zona Agroekologi. Pembahasan Pemantapan Metodologi Karakterisasi Zona Agroekologi. Badan Litbang Pertanian, Puslittanak bekerjasama dengan Proyek Pembinaan Kelembagaan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pekanbaru. Badan Pusat Statistik Kabupaten Pakpak Bharat, 2009. Kabupaten Pakpak Bharat Dalam Angka Tahun 2009. BPS dan Bappeda Kabupaten Pakpak Bharat. Badan Statistik Propinsi Sumatera Utara. 2006. Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2006. BPS dan Bappeda Propinsi Sumatera Utara. Badan Statistik Propinsi Sumatera Utara. 2007. Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2007. BPS dan Bappeda Propinsi Sumatera Utara. Badan Statistik Propinsi Sumatera Utara. 2008. Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2008. BPS dan Bappeda Propinsi Sumatera Utara. Badan Statistik Propinsi Sumatera Utara. 2009. Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2009. BPS dan Bappeda Propinsi Sumatera Utara.

Badan Statistik Propinsi Sumatera Utara. 2010. Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2010. BPS dan Bappeda Propinsi Sumatera Utara. KEPAS,(Kelompok Peneliti Agroekosistem). 1985. The Critical Uplands of Eastern Java: An Agro-Ecosystems Analysis, Agency for Agricultural Research and Development, Republic of Indonesia. Marwan, H.,D.Djainudin, Subagyo,H.,S.Hardjowigeno,dan E.R.Jordens. 1996. Petunjuk Teknis Pengoperasian ALES. Puslittanak Badan Litbang Pertanian Bogor. Puslittanak.1993. Petunjuk teknis evaluasi lahan. Puslittanak berkerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta. 113 halaman. Rossitter,D. and A.R. Van Wambeke. 1997. Automated Land Evaluation System. ALES Version 4.65 User s Manual. SCAS Cornell University. Saefuddin, A. 1993. Analisis Agroekosistem untuk Pengembangan Pertanian Pedesaan. Bahan Pelatihan, disampaikan pada Pelatihan Analisa Agroekosistem Tgl. 8 12 September 1993 di Banda Aceh. Balai Informasi Pertanian Propinsi Daerah Istimewa Aceh

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->