PROCEEDING

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

“ Prospek dan Tantangan Pengembangan Program Keahlian Administrasi Perkantoran Modern Berbasis Teknologi Informasi “

Vol. 1

No. 01

2010

ISSN 2087-2917

0

KATA PENGANTAR Seminar Nasional dan Call for Paper ini diselenggarakan oleh Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang (UNNES). Kegiatan ini bertujuan strategis memberi kontribusi dalam pengembangan Administrasi Perkantoran, baik dari sisi keilmuan maupun praktis, yang didasarkan pada perkembangan terkini yang terjadi. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi sarana untuk bertukar pikiran dalam mengembangkan Administrasi Perkantoran yang professional. Peserta dalam kegiatan ini berjumlah 200 orang yang berasal dari para akademisi dan praktisi di bidang Administrasi Perkantoran dari berbagai institusi seperti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Negeri Malang, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Surakarta, Universitas Diponegoro, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Universitas Brawijaya dan Universitas Merdeka Malang, serta beberapa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah Propinsi Jawa Tengah yang memiliki program studi/ jurusan Administrasi Perkantoran. Beragam topik, baik hasil riset empiris, studi literatur atau konsep praktis, dirangkum dalam sebuah tema besar “Prospek dan Tantangan Pengembangan Program Keahlian Administrasi Perkantoran Modern Berbasis Teknologi Informasi”. Kami berharap, bahwasanya kegiatan ini dapat memberikan dampak positif dan dukungan bagi pengembangan program keahlian Administrasi Perkantoran, baik pada institusi bisnis, nirlaba maupun pendidikan. Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Rektor Univeristas Negeri Semarang dan seluruh jajarannya, pihak sponsor (Bank Bukopin, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BPD Jawa Tengah, Harian Suara Merdeka, CV. Hamparan Karya) serta seluruh peserta dan pemakalah yang mendukung kesuksesan kegiatan ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh Panitia yang terlibat, juga tim Reviewer dan Editor, yang tanpanya, tujuan diadakannya kegiatan ini, tidak akan tercapai. Semarang, 16 Oktober 2010 Sri Wartini, S.E.,M.M. Ketua Panitia

1

PROCEEDINGS

Seminar Nasional dan Call for Paper “Prospek dan Tantangan Pengembangan Program Keahlian Administrasi Perkantoran Modern Berbasis Teknologi Informasi”

Reviewer: Prof. Dr. Joko Widodo, M.Pd. Dr. Kardoyo, M.Pd. Dra. Murwatiningsih, MM Drs. Martono, M.Si. Dra. Nanik Suryani, M.Pd. Editor Kepala: Arief Yulianto, SE,MM Editor Pembantu: Andhi Wijayanto, SE, MM Desti Ranihusna, SE, MM Moh. Khoiruddin, SE, MM Nury Ariani, SE, M.Sc. Vitradesie Noekent, SE, MM

2

DAFTAR ISI Kata Pengantar Dewan Redaksi Administrasi Perkantoran Dalam Perspektif Modern (Ade Rustiana) Pengarsipan Digital Pada Instansi Pemerintah :Sebuah Langkah Menuju Manajemen Perkantoran Modern (Vitradesie Noekent) Pengaturan Tata Ruang Kantor Pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus (Wiwin Anugrahati) Memodernisasi Sistem Perkantoran Melalui Peran Teknologi Informasi (Wahyono) Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw II Pada Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas VIII B SMPN 1 Tersono Kabupaten Batang (Yulia Ratnaningsih) Pengaruh Kompetensi Pedagogik Guru Dan Fasilitas Belajar Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Mengelola Kearsipan Pada Siswa Kelas XI Jurusan Administrasi Perkantoran Smk Taman Siswa Kudus (Nova Chotibul Umam) Model Manajemen Kearsipan Sebagai Upaya Unnes Meraih Sertifikat ISO 9001: 2008 (Agung Kuswantoro) Pengaruh Catatan Siswa Terhadap Ingatan Siswa dalam Mata Pelajaran Ekonomi, Kelas X, SMA Negeri 1 Boja Kendal (Fridolin Palupi Sri Kurniawati) Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar Mata Pelajaran Teknologi Informasi Komunikasi pada Siswa Kelas VIII di SMP Negeri 1 Ungaran (Rizal Fadilla Septian) dan

Komparatif Pembelajaran Mengetik Sebelum dan Sesudah Menggunakan Media Audio Visual Program Macromedia Flash pada Siswa Kelas X Pemasaran di SMK Negeri 9 Semarang (Sri Sukariyah) Komparasi Pembelajaran Stenografi Dasar Sebelum dan Sesudah Menggunakan Media Audiovisual „filmstrip‟ pada Siswa Kelas XI AP di SMK Widya Praja Ungaran (Wardah Rizqi Tourviana) Informatics-Based HR Quality Improvement in Dealing with Globalization and Industrial Era Challenges (Sri Wartini, SE, MM) Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation dalam Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas VII SMP Negeri 2 Ungaran (Widya Latif Kartika) Pengaruh Strategi Guru Mengajar dan Strategi Belajar Siswa Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (Ips) Terpadu Kelas Vii di Smp Negeri 5 Ungaran (Winarti) Pengaruh Motivasi Belajar, Lingkungan Keluarga dan Strategi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Mengelola Sistem Kearsipan Siswa Kelas Xi Jurusan Administrasi Perkantoran SMK Taman Siswa Kudus (Rita Trisna Deasyanti) Prosedur Pengelolaan Surat Masuk dan Surat Keluar Pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang (Sischa Apriliyanti)

3

Politik. Penggunaan Media Pembelajaran dan Motivasi terhadap Prestasi Belajar Kewirausahaan Siswa Kelas X SMK Negeri 1 Pringapus Kabupaten Semarang Tahun Ajaran 2009/2010 (Erni Dwijayanti) Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesiapan Kerja Siswa Kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran Smk Negeri 1 Boyolali (Laela Nur Farida) Upaya Pengembangan Kompetensi Pegawai Pada Badan Kesatuan Bangsa. Politik Dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang (Sri Haryati) Manajemen Administrasi Informasi Pertanian Berbasis IT di Provinsi Jawa Tengah (Sucihatiningsih DWP dan Himawan Arif S) Kompetensi Profesional Guru dan Fasilitas Belajar Pengaruhnya Terhadap Kemampuan Mengetik Sistem 10 Jari Buta Siswa Kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Pemalang (Nur Aeni Yuniarsih) Perbandingan Hasil Belajar Sebelum dan Sesudah Menggunakan Media Visual Berbasis Macromedia Flash Mx dalam Pembelajaran Mata Diklat Kearsipan pada Kelas XI Jurusan Administrasi Perkantoran Smk N 1 Boyolali (Nurul Khaqim) Prosedur Administrasi Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor pada Up3ad Kabupaten Kendal (Khusnul Budi Ani) Peningkatan Motivasi Kerja Pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah (Heni Maulidah) Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Kewirausahaan Siswa Kelas XI Smk N I Punggelan Banjarnegara (Ristian Cahyo Saputro) Pengaruh Keterlibatan Orang Tua dan Minat Siswa Memilih Program Keahlian Administrasi Perkantoran terhadap Prestasi Belajar Mata Diklat Produktif Siswa Kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran Smk Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal (Silfia Rizqi Amalia) Pengaruh Pendidikan Sistem Ganda. Dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang (Indah Fitria Rahayuningrum) Prosedur Administrasi Peralatan Kantor pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah (Rodhiana Dewi Nugrah Apriliana) Desain Implementasi TIK dalam Administrasi Perkantoran (Arief Yulianto) Pengaruh Kompetensi Profesional Guru dalam Proses Belajar Mengajar dan Kebiasaan Membaca Buku terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas VIII Smp Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes (Dede Atikah) Pengaruh Cara Belajar. Penguasaan Mata Pelajaran Produktif Administrasi Perkantoran Dan Fasilitas Belajar terhadap Kesiapan Kerja Siswa Kelas XI Prodi Administrasi Perkantoran XI SMK N 1 Kendal Kabupaten Kendal Tahun Ajaran 2009/2010 (Siti Susanti) 4 .Upaya Peningkatan Kualitas Sekretaris Dalam Manajemen Perkantoran Pada Badan Kesatuan Bangsa.

5 . Sebagai buktinya bahwa dalam ilmu administrasi perkantoran terjadi perubahan paradigma yaitu dari paradigma lama menjadi paradigma baru dengan tanpa meninggalkan esensi-esensi yang ada di paradigma sebelumnya (lama) yaitu paradigma administrasi perkantoran konvesional yaitu bahwa : 1) bersifat Tayloristik. 3) hubungan timbal balik baik dalam organisasi intern ataupun ekstern. namun dalam parakteknya tuntutan tidak semua dapat dijalankan dalam semua aspek lebih-lebih dalam administrasi perkantoran. Pakar perilaku manusia menganggap penting arti teknologi seperti (a) Farrow. Urwick. dan Drukcker). Manajemen memodifikasikan teknologi informasi agar dapat menyesuaikan diri dengan organisasi perkantoran yang telah ada dan telah berjalan. 3) Bersifat Teknis. 2) bersifat fungsionalistik: administrasi perkantoran meliputi : menghimpun dan merekam data intern dan ekstern organisasi. Alternatif pendekatan untuk menghadapi masalah konflik antara kebutuhan teknologi dan kebutuhan organisasi seperti: 1. i Frank J. menganalisis data. (b) Dubin. perubahan. menunjukan sinyalemennya bahwa perubahan organisasi garis kepada organisasi garis dan staf disebabkan oleh dampak teknologi. 3. 3) bersifat manajerial. 4) Setiap orang dalam organisasi perkantoran memiliki tujuan individu. 2) bersifat klerikalistik.Administrasi Perkantoran dalam perspektif modern Oleh: Ade Rustiana* Abstrak Perkembangan ilmu administrasi perkantoran tidak dapat dihindari dari tuntutan moderenisasi/ globalisasi . Sehingga dari dua hal tersebut dapat dimaknai bahwa administrasi perkantoran ada yang dapat berkembang secara terus menerus tetapi ada pula yang harus mengikuti pola sebelumnya. Jasinki mengemukakan bahwa “suatu perubahan dalam produksi atau teknologi mempengaruhi hubungan-hubungan organisatoris”. Brech. pelengkap bukan berarti keberfungsiannya berkurang atau sewaktu-waktu dapat dihilangkan tetapi pelengkap yang dimaksud sebagai sistem yang tidak dapat dipisah satu dengan lainnya. kedua bahwa administrasi perkantoran adalah pelengkap dalam sistem administrasi perkantoran untuk pencapaian tujuan organisasi. Ada lima fakta yang jamak terdapat dan berlangsung dalam organisasi perkantoran yaitu: Setiap organisasi perkantoran pasti mencakup SDM baik disebabkan oleh struktur formal atau informal. 5) pencapaian tujuan secara bersama. menyajikan informasi. 4) bersifat Partisipatif. hal itu seperti dikemukakan oleh Kuhn bahwa setiap disiplin ilmu mengalami “pasang surut.yaitu pertama bahwa administrasi perkantoran adalah sistem pelayanan dalam sebuah organisasi perkantoran baik itu dalam organisasi yang berorientasi pada profit maupun pada organisasi nirlaba karena ini merupakan sistem dalam pelayanan tentu ada aspek-aspek administrasi perkantoran yang dapat disentuh oleh modernisasi tetapi ada hal lain yang harus dengan manual . dan perkembangan terus menerus”. (c) Walker. 4) bersifat sekunder sedangkan Paradigma baru administrasi perkantoran struktural yaitu : 1) bersifat Druckeristik. walaupun mungkin caranya berbeda-beda. 2. Manajemen memodifikasikan organisasi perkantoran agar dapat menetapkan dan memformalkan hubungan-hubungan yang diminta oleh teknologi informasi. Pandangan para ahli Manajemen terhadap pengaruh teknologi: Tidak banyak menaruh minat terhadap faktor teknologi (Fayol. menaruh perhatian besar. 2) Interaksi baik berhubungan dengan arus pekerjaan maupun arus informasi. Hal ini disebabkan dua hal. Manajemen mempertahankan baik organisasi perkantoran yang ada maupun teknologi informasi yang tersedia namun pendekatan itu dibarengi oleh kegiatan untuk memperkenalkan mekanisme agar dapat mengurangi ketaksesuaian dan konflik diantara organisasi dan teknologi informasi tersebut. mengatakan bahwa suatu pandangan organisasi sebagai system teknologi memberikan kepada organisasi itu dasar yang lebih baik untuk pemahaman dan perbandingan. dan merawat aktiva.

Pemikiran paradigmatik ini dapat di contohkan pada pemikiran filsafat tentang organisasi (dalam hal perkantoran). semua persoalan dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan bersangkutan secara relevan. dimana terjadi apa yang diistilahkan oleh Kuhn sebagai anomali. berlari tak ada ujung tujuan hingga semua orang hampir bahkan lupa dengan masa lalunya lebih-lebih pada masa sebelum hidupnya. pengamatan yang berlainan tersebut melahirkan pendekatan paradigmatik dimana pendekatan yang melihat dan mengkaji fokus dan lokus dari hal yang akan dikaji. Kita menyadari perkembangan dan kemajuan zaman adalah tuntutan ilmu pengetahuan untuk dapat mengimbanginya namun perlu pula disadari bahwa dalam perkembangan administrasi diamati dari waktu ke waktu dalam paradigma ontologi administrasi melalui metodologi ilmu. akan mendobrak terjadinya revolusi berpikir yang dapat melahirkan Paradigma kedua atau berikutnya dan akan begitu seterusnya setiap ilmu pengetahuan seiring dengan pemikiran filsafat para pemikir. objek filsafat administrasi akan terlihat berlainan. memahami dan menganalisis hanya pada satu aspek saja lebih-lebih pada Dunia Pendidikan kita harus melihat sebagai sistem yang tak terpisahkan. Pemikiran paradigmatik ini melahirkan pertanyaan: Bagaimana ilmu administrasi Perkantoran dari pendekatan ini? Tentunya hal ini terkait dengan aspek ontologis sebagai sisi yang harus dipahami secara filsafat. yaitu organisasi bekerja berdasarkan perilaku manusia yang membentuk kerjasama yang memiliki wadah atau tempat dengan segala fasilitas yang harus dimilikinya dengan etika dan segala ketentuan yang pada akibatnya melahirkan struktur yang baku. seperti persoalan otonom dalam kerangka organisasi negara sehingga seakan terjadi anomali sebagaimana dikemukakan oleh Amien dalam kemandirian Lokal Perspektif Sains Baru terhadap Organisasi. Pasang surut itu digambarkan bahwa: Paradigma pertama mengembangkan sesuatu ilmu pengetahuan secara normal. Pembangunan dan Pendidikan. Hal Inilah yang membuat penulis untuk mengungkapkan sepercik pemikiran lewat call paper ini. Pertanyaan sederhana muncul mengapa? dan apa penyebabnya? Jawab sederhana hanya satu kata “Kemajuan”. persoalan yang muncul dalam sebuah organisasi tidak bisa kita melihat. Teori organisasi ini secara normal dapat menjawab permasalahan yang timbul dalam kehidupan organisasi bagaimanapun bentuknya apalagi dalam organisasi negara. Namun jika suatu ketika ilmu pengetahuan bersangkutan tidak lagi dapat memecahkan masalah yang dihadapkan padanya. Perkembangan inilah pada semua aspek ilmu pengetahuan tak dapat dihalangi lagi termasuk pada aspek Administrasi Perkantoran. 6 . dengan aliran pemikiran kausalitas (atau yang disebut filsafat determinisme). Kuhn dengan judul the structure of scientific Revolution dalam Faried Ali berpendapat bahwa setiap disiplin ilmu mengalami “pasang surut. Dan kalau masa krisis berlanjut. Dalam perkembangan. Pada paradigma yang berlaku dimana organisasi dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang normal dengan berbagai teori yang dikembagkannnya. akibat selanjutnya akan terjadi masa krisis. Era kemajuan identik dengan era Globalisasi yaitu bahwa semua orang memandang diera global sudah tidak trend lagi kalau berbicara ilmu pengetahuan modern masih membicarakan hal-hal yang tidak mengikuti perkembangan dan sangat ironis pada saat bicara global (kemajuan) di satu sisi masih ada yang berbicara tradisional (ilmu yang sudah jauh ketinggalan). teori ini ternyata tidak lagi dapat menjawab persoalan-persoalan yang timbul dalam keorganisasian. perubahan. dan perkembangan terus menerus”.Pendahuluan Peradaban kemajuan zaman tak terasa begitu cepat bagaikan kilat. khususnya dalam ilmu organisasi yang melahirkan teori struktur yang antisipatif untuk terjadi proses pencapaian tujuan. Kemajuan sering diartikan sebagai cikal bakal dari segala perubahan yang diakibatkan karena tuntutan perkembangan yang semakin meneuntut. Disinilah terjadi krisis yaang mendobrak terjadinya revolusi ilmu. Fokus bisa saja sama tetapi lokuslah yang membedakan satu disiplin dengan displin lainnya. Berbicara Ilmu Administrasi Perkantoran tidak terlepas dari sistem yang ada pada sebuah organisasi lebih-lebih pada Dunia Pendidikan.

Pemikiran ini pula yang melahirkan pemikiran tentang fungsi-fungsi manajemen dalam kegiatan administrasi perkantoran seperti muncul fungsi perencanaan (Planning). manajemen produksi berfungsi sebelum administrasi perkantoran Itu berfungsi. (b) menganalisis data agar menjadi informasi yang signifikan. Pertimbangan aliran pemikiran ini adalah membagi keteraturan dalam jenjang kekuasaan yang secara formal (bentuk) terpisah (keteraturan dalam bentuk kegiatan administrasi dan keteraturan dalam bentuk politik). (c) menyajikan informasi untuk pembuatan keputusan. dan memahami administrasi sebagai proses manajemen. Konsekuensi perkembangan tersebut administrasi perkantoran yang semula paradigma administrasi perkantoran konvesional yaitu bahwa : 1) Bersifat Tayloristik: manajemen perkantoran sebagai kajian mengenai organisasi tingkat bawah. Perkembangan menuntut sebagai konsekuensi keterbukaan pengetahuan maka perubahan paradigma dalam perkantoran pun terjadi dimana administrasi perkantoran struktural yaitu : 1) bersifat Druckeristik: administrasi perkantoran sebagai kajian mengenai sistem informasi untuk pembuatan keputusan. setelah muncul aliran pemikiran yang mengembangkan pemikiran prinsip-prinsip administrasi secara universal. pendekatan dan terminologi. bukan juga sebagai suatu disiplin yang memiliki objek. Sebagai sebuah komponen dalam suatu keseluruhan sistem administrasi perkantoran Ikut membentuk ”kemitraan yang sederajat” (partnership of equals) dan ikut serta bertanggung jawab dalam memasok masukan ketika proses pembuatan keputusan itu berlangsung. pembagian kerja dan adanya sistem kerja. 2) Bersifat klerikalistik: manajemen perkantoran sebagai pekerjaan tatausaha (paper works). dan (d) merawat aktiva. eksekutif maupun manajerial. penggerakan (actuating) dan pengawasan (controling). operatif. Pengorganisasian (organizing). Hal ini berlangsung lama sejak seratus enam puluh lima tahun sebelum masehi yaitu yang ditandai dengan lahirnya teori Dichotomy yang dikenalkan dan dikembangkan oleh Woodrow Wilson yaitu bahwa apa yang menjadi keteraturan yang di aktualisasikan dalam kegiatan-kegiatan kerja sama yang disebut dengan administrasi (tatkala admiinistrasi telah memperoleh kedudukan sebagai ilmu). Bagaimana Adminiastrasi Perkantoran dalam perspektif modern Untuk menjawab hal tersebut perlu kita kembali pada persoalan dasar bahwa program administrasi perkantoran adalah sebagai sistem lebih-lebih sebagai suatu organisasi yang terprogram 7 . harus dipahami dalam perspektif: Politik sebagai etik. bukan sebagai ilmu. 2) Bersifat fungsionalistik: administrasi perkantoran meliputi : (a) menghimpun dan merekam data intern dan ekstern organisasi. baik keputusan teknis. Dalam kerangka inilah administrasi Perkantoran dipahami sebagai politik sebagai etik yaitu suatu proses yang berkenaan denngan perumusan tujuan dan sebagai politik teknik yaitu suatu proses administrasi yang berkenaan dengan pelaksnanaan. 3) Bersifat Teknis: manajemen Perkantoran hanya berhubungan dengan keputusan-keputusan operatif. dan politik sebagai teknik. administrasi Perkantoran mempunyai yang sama dengan fungsi manajemen lainnya. tetapi memikirkan. Perkembangan selanjutnya terjadi perubahan dalam paradigma yang secara ontologi ilmu administrasi perkantoran berkembang ke paradigma lanjut. politik dan administrasi. Oleh karena itu dalam pemikiran dikotomi berkembanglah pemikiran pemisahan politik dan administrasi. 3) Bersifat manajerial.Paradigma Ontologi Administrasi Perkantoran Pada awalnya administrasi dilihat sebagai administraasi. administrasi perkantoran menyajikan informasi untuk proses pembuatan keputusan bagi semua hierarkii manajemen. Aliran inilah yang disebut aliran manajemen dalam administrasi. Pada saat itu administrasi dipandang tidak lain sebagai seni pengaturan. seperti prinsip pembagian kegiatan. Aliran struktural fungsional ini diadopsi dari teori-teori ilmu sosial. 4) Bersifat sekunder yaitu administrasi perkantoran merupakan fungsi sekunder terhadap tujuan pokok usaha. Manajemen disini tidak dimaksudkan bahwa administrasi lebih luas dari manajemen. 4) Bersifat Partisipatif. yaitu aliran struktural formal. secara ontologis melahirkan paradigma awal dari ilmu administrasi dengan melakukan pengaturan bahwa kegiatan-kegiatan harus dilihat sebagai kegiatan politik ( ini berarti berkaitan dengan kekuasaan-influencing) dimana secara dikotomi. Pemisahan ini didasarkan pada pertimbangan tuntutan keteraturan yang diharapkan dan dipengaruhi oleh aliran pemikiran yang berkembang pada saat itu.

sebagaimana di ungkapkan J. 3) Prinsip hubungan individual.B. 2) Setelah organisasi kantor terwujud. mengatakan bahwa kondisi yang dibutuhkan organisasi adalah interaksi antara dua orang atau lebih yang merasa bahwa kebutuhankebutuhan individual mereka dapat lebih baik terpenuhi melalui perpaduan kemampuan atau sumber daya yang dimiliki secara pribadi. 5) Interaksi sosial yang terjadi dalam menejemen perkantoran tersebut juga dapat membantu pencapaian tujuan bersama. Untuk dapat mewujudkan itu semua organisasi perkantoran memiliki prinsip kerja yang harus dipatuhi sebagai kesatuan sistem dalam mencapai tujuan yaitu Prinsip Organisasi Perkantoran. Baton Rauge dari Lousiana state university.J. Neuner dan L. sedangkan interelasi yang jelas mengurangi keraguan. serta fasilitas lainnya dan (c) Sumber daya konseptual dari kelompok khusus yaitu para manajer. 4) Prinsip kesederhanaan. 5) Prinsip wewenang sepadan dengan tanggung jawab. Unsur kerja (Working elements) yang muncul dalam organisasi perkantoran meliputi: (a) Sumber daya insani. setiap orang dalam organisasi perkantoran mesti diberi wewenang yang sesuai dengan tugas tanggung jawabnya sehingga dapat bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya tersebut.. Kesederhanaan memudahkan para pelaksana untuk memahaminya. Kendatipun organisasi perkantoran itu merupakan sebuah system. 4) Setiap orang dalam organisasi perkantoran memiliki tujuan individu. baik disebabkan oleh struktur formal atau informal. organisasi perkantoran atau kelompok fungsi dalam organisasi perkantoran mesti dirumuskan dan dimengerti oleh setiap personalis. 7) Prinsip kepengawasan dan kepemimpinan. setiap organisasi perkantoran mempunyai hubungan timbal balik baik dalam organisasi intern ataupun ekstern. agar tiap personalia mengetahui dengan jelas kepada siapa ia melapor. sedangkan unsur kerja membuatnya efektif atau inefektif. organisasi perkantoran yang efektif terbentuk oleh pribadi-pribadi yang mesti melaksanakan pekerjaan. 6) Prinsip laporan kepada atasan tunggal. Keeling menyatakan ada delapan prinsip organisasi perkantoran yang esensial meliputi: 1) Prinsip tujuan. yaitu kemampuan para karyawan kantor dan pengaruh pribadi mereka. yaitu orang-orang tertentu yang komunikasi dan interaksinya membentuk organisasi perkantoran. Mengacu pada interaksi yang sering disebut sebagai komunikasi bagaimanapun yang terjadi akan di dapat dua jenis unsur yang umum terjadi dalam setiap organisasi perkantoran yaitu: 1) Unsur inti adalah manusia. maka tiap petugas dalm organisasi perkantoran tersebut harus menerima perintah dari dan bertanggung jawab hanya kepada satu orang atasan. sebagian daripadanya merupakan alasan tindakannya. dan menyajikan informasi serta merawat aktiva. memasok informasi untuk pembuatan keputusan dan merawat aktiva.yang akan memiliki output yang jelas yaitu menghasilkan tenaga ahli (profesional) dalam bidang administrasi perkantoran. seperti mesin-mesin. 3) Organisasi perkantoran mencakup susunan staf dan alokasi tugas dan tanggung jawab dalam mengolah data. 3) Sebagai suatu system terbuka. (b) Sumber daya nirinsani. 2) Prinsip kesatuan fungsi. organisasi perkantoran yang efektif bekerja berdasarkan atas kesederhanaan dan interelasi yang jelas. setiap organisasi perkantoran terdiri atas sejumlah fungsi yang mesti bekerja sama untuk mencapai tujuan utama organisasi perkantoran itu. yaitu barang ekonomi. kepemimpinan dan pengawasan yang efektif mesti ditegakan sehingga tujuan organisasi perkantoran itu dapat 8 .W. unsur inti mulai terpengaruh oleh unsur kerja. 1) Organisasi perkantoran adalah suatu rangka dasar yang menjadi tempat orang-orang melangsungkan kegiatannya untuk menerima. Tujuan yang dimengerti akan berubah menjadi motivasi untuk mencapainya. menyimpan. maka Unsur kerja menentukan mutu interaksi. Para anggota yang berinteraksi membentuk sebuah organisasi perkantoran. perlengkapan kantor dan komputer. Organisasi perkantoran merupakan suatu system yang terdiri atas sejumlah fungsi yang saling berhubungan dengan saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan. Berdasarkan ke lima fakta itu dapat dikemukakan bahwa: 1) Organisasi perkantoran adalah suatu proses yang menjadi tempat orang-orang berinteraksi untuk mencapai tujuan kantor. oleh karena itu dalam upaya pengembangan Program administrasi perkantoran sebagai wujud nyata mengikuti perkembangan teknologi disamping sebagai konsekuansi paradigma baru yang bersifat struktural setidak-tidaknya ada lima buah fakta yang jamak terdapat dan berlangsung dalam organisasi perkantoran yaitu 1) Setiap organisasi perkantoran pasti mencakup SDM yang terlibat dalam interaksi sosial. namun individu-individulah yang menyelesaikan pekerjaannya masing-masing. mereka masing-masing mengharapkan organisasi dapat membantu mencapai tujuannya. baik berhubungan dengan arus pekerjaan maupun arus informasi. 2) Interaksi dalam system sosial itu tersusun dalam sebuah struktur yang menjamin perintah dan laporan. mengolah. walaupun mungkin berbeda namun berkaitan dengan tujuantujuan individu tesebut.

Organisasi Perkantoran dan Perubahan Teknologi Pendiri mazhab klasik dan master ekonomi negara dari Inggris.tercapai. jumlah bawahan yang dapat diawasi seorang atasan dapat bertambah. Manajemen memodifikasikan organisasi perkantoran agar dapat menetapkan dan memformalkan hubungan-hubungan yang diminta oleh teknologi informasi. Manajemen mempertahankan baik organisasi perkantoran yang ada maupun teknologi informasi yang tersedia namun pendekatan itu dibarengi oleh kegiatan untuk memperkenalkan mekanisme agar dapat mengurangi ketaksesuaian dan konflik diantara organisasi dan teknologi informasi tersebut. Teknologi Perkantoran dalam Dimensi Metode dan Prosedur Kerja Teknologi dan menejemen kantor Suatu organisasi dalam aktifitasnya hampir dapat dipastikan tidak lepas dari aktifitas menejerial. menyatakan bahwa “bentuk-bentuk organisasi usaha tumbuh dari kebutuhan manusia dan kondisi lingkungan. mungkin dapat dibenarkan pernyataan”. sejak dari perencanaan. 3. pengawasan yang efektif pun merupakan proses belajar bagi organisasi di waktu yang akan datang. Brech. Suatu proses manajemen kantor selalu melahirkan dokumen-dokumen yang merupakan bagian dari bentuk hasil dari pengolahan data menjadi sebuah informasi yang berguna bagi pimpinan maupun unit-unit organisasi. maupun pihak lain yang membutuhkan. Urwick. Pada awalnya tambahan kemampuan pengawasan itu akan meningkat sampai mencapai titik optimum pengawasan. Gejala ini melahirkan apa yang disebut hukum semakin berkurangnya tambahan kemampuan pengawasan. Manajemen memodifikasikan teknologi informasi agar dapat menyesuaikan diri dengan organisasi perkantoran yang telah ada dan telah berjalan. seringkali terlalu ditekankan pada pentingnya peningkatan produktivitas organisasi dan efesiensi biaya. antara personalia dengan personalia lainya dalam manajemen perkantoran tersebut. semakin jauh pengawasan manajer kantor semakin besar kemungkinan menurunnya pertambahan kemampuan pengawasan. jangkauan pengawasan di bawah pengawasan langsung dari seorang manajer kantor atau seorang pengawas seyogyanya dibatasi. Perubahan-perubahan yang terjadi yang disebabkan oleh penerapan teknologi perkantoran akan mempengaruhi hubungan sosial diantara manajer dan bawahan. menaruh perhatian besar. Teknologi dapat mendorong sentralisasi mamajemen. lima hingga enam orang bawahan pada tingkat tinggi. Jasinki mengemukakan bahwa “suatu perubahan dalam produksi atau teknologi mempengaruhi hubungan-hubungan organisatoris”. pengorganisasian. Pengawasan yang efektif akan mencegah perubahan arah dalam mencapai tujuan. mengatakan bahwa suatu pandangan organisasi sebagai system teknologi memberikan kepada organisasi itu dasar yang lebih baik untuk pemahaman dan perbandingan. (b) Dubin. Setelah itu tambahan kemampuan pengawasan tersebut akan semakin berkurang. penggerakan dan pengawasan. (c) Walker. Memaslahatkan seperangkat teknologi baru. sekalipun bukan segala-galanya. Sementara itu. menunjukan sinyalemennya bahwa perubahan organisasi garis kepada organisasi garis dan staf disebabkan oleh dampak teknologi. seperti komputer elektronik. Ada beberapa alternatif pendekatan untuk menghadapi masalah yang menimbulkan konflik antara kebutuhan teknologi dan kebutuhan organisasi seperti: 1. Kebanyakan ahli menejemen melihat dua belas hingga lima belas bawahan sebagai jangkauan maksimum pada tingkat organisasi rendahan. Manusia dalam usaha mengatur dan mengorganisasikan dirinya banyak dipengaruhi oleh kondisi produksi dan perkembangan teknologi”. 2. 8) Prinsip jangkauan pengawasan. agar pengawasan dan kepemimpinan dalam organisasi perkantoran efektif. Peringatan dari Frank J. 2) Pakar perilaku manusia menganggap penting arti teknologi seprti (a) Farrow. Jika manajemen perkantoran mengabaikan perubahan hubungan sosial seperti itu (yang disebut sebagai perubahan unsur inti ). maka manajemen perkantoran akan mengalami kegagalan dalam memahami potensi penuh dari perubahan yang terjadi dalam teknologi. hingga akhirnya mencapai titik nol (bahkan negatif atau kekecauan pengawasan). 9 . Bagaimana Sikap para ahli Manajemen terhadap pengaruh teknologiI: 1) Tidak banyak menaruh minat terhadap faktor teknologi (Fayol. Adam Smith. Namun demikian berkat perkembangan teknologi khususnya komputer elektronika dan system mesin dengan pelaksanaan bawahan yang kurang lebih serupa melalui prosedur pengawasan rutin. dan Drukcker).

c) Mengadakan penghematan waktu dan biaya. dan mesin-mesin guna melaksanakan kegiatan-kegiatan kantor tersebut. mengorganisasi dan mengolah data secara lebih komprehensif dan terpadu. Semakin berkembangnya perangkat hardware yang mendukung bidang perkantoran ini. b) Semakin lancarnya kegiatan kerja sehingga menghasilkan pekerjaan tang efektif. d)Semakin efisien kerja (cepat selesai). Untuk menghemat waktu. semakin memberikan keringanan dan kemudahan bagi manusia di dalam melaksanakan proses aktifitas kantor dalam manajemen kantor. Menciptakan metode kerja yang mengarah pada pencapaian tujuan yang efektif dan efisien dapat menimbulkan: a Menambah efisiensi kerja kantor. akan semakin menuntut seperangkat hardware yang modern pula.perabot. bahwa setiap pola sistem yang berlaku akan terdiri dari sejumlah prosedur. 4. Perkembangan kemajuan teknologi perkantoran semakin pesat. alat inventaris.Dalam suatu manajemen kantor. bentuk serta kecanggihannya semakin bermunculan saat ini. karena pekerjaan dapat dikerjakan lebih cepat dan tepat.sejak dari penerimaan atau pembuatan sampai pada tahap akhir penyimpanan adalah merupakan rangkaian kerja/mekanisme sistem yang terdiri dari prosedurprosedur kerja. 6. Prosedur merupakan urutan pekerjaan atau kegiatan yang terencana dengan tujuan untuk menangani aktifitas yang berulang. Untuk memperlancar efektifitas pengolahan data. 10 . Sedangkan dilihat dari prosedur kerja dapat mengakibatkan: a) Semakin mempermudah pelaksanaan kegiatan sehingga berjalan secara efisien dalam hal waktu dan tenaga. Teknologi perkantoran ditinjau dari metode dan prosedur kerja dalam suatu organisasi kantor adalah menyesuaikan teknologi dengan metode dan prosedur kerja yang ditetapkan serta di sesuaikan dengan karakteristik kantor tersebut. Seperangkat alat Bantu/hardware inilah yang disebut dengan teknologi perkantoran. Untuk mengurangi kelelahan pegawai sehingga tidak mengurangi semangat dan etos kerja. dengan lahirnya peralatan yang menggunakan mesin-mesin modern. Pola sistem yang bekerja di dalam suatu manajemen kantor merupakan gambaran sempurna dari seluruh kantor untuk di ketahui. sehingga perencanaan. yang dalam perkembangannya merupakan teknologi yang sangat diperluka. Dapat menampung. Metode dan prosedur kerja Proses manajemen di dalam manajemen kantor adalah suatu sistem rangkaian aktifitas manajemen kantor. serta di sisi lain tuntutan kemajuan organisasi dan kebutuhan masyarakat sendiri akan informasi. 2. dilakukan pemrosesan dan pengolahannya dengan pemanfaatan peralatan dan mesin-mesin kantor. terdiri dari kegiatan-kegiatan subsistem-subsistem yang saling berkaitan serta tidak dapat di pisahkan satu sama lain. d) Memeriksa pengeluaran yang sifatnya memboroskan penggunaan pegawai dan catatan-catatan yang tidak perlu. maka teknologi (khususnya teknologi perkantoran) ikut berkembang seiring dengan meningkatnya kecerdasan manusia dalam menciptakan teknologi modern. karena organisasi turut berkembang dan tuntutan masyarakat semakin pesat dan kompleks. Semakin modern suatu organisasi. adalah rangkaian kegiatan dari komponen-kompenen sistem yang saling terintegrasi untuk suatu sistem mekanisme kerja yang baik. rapi dan tersistem. 3. 5. Teknologi Perkantoran dalam Dimensi Seperangkat Alat Bantu/Hardware Organisasi kantor menggarap bidang penyediaan dan penggunaan seperangkat bahan. b) Membantu manajemen dalam menilai pekerjaan kantor dan subsistem-subsistem pekerjaan. Maka secara bertahap alat-alat konvensionalpun kemudian berkembang semakin pesat. harus di tunjang dengan prosedur dan metode kerja yang baik pula. Untuk meniningkatkan ketelitian dan memperbaiki suatu pekerjaan. Hasil pekerjaan akan lebih kuat. Teknologi Perkantoran dalam dimensi Metode dan Prosedur Kerja Suatu aktifitas kantor yang merupakan suatu mekanisme sistem. Contoh sederhana adalah penanganan surat masuk atau keluar. Keuntungan dari penggunaan alat-alat teknologi kantoran antara lain: 1. informasi yang dihasilkan baik berupa dokumen-dokumen maupun bentuk informasi lain. berbagai macam dana corak. c) Semakin sederhana (singkat). demikian berulang-ulang pada setiap jenis kegiatan yang sama. perkakas.

pelaporan. Penyediaan dan pemanfaatan hardware kantor di dalam suatu organisasi kantor diarahkan sepenuhnya terhadap upaya pencapaian tujuan organisasi. maka dalam upaya pelayanan tersebut tidak bisa meninggalkan pada aspek-aspek yang mendasar seperti apa yang dijelaskan dalam paradigma administrasi perkantoran konvensional yang pada akhirnya berkembang ke dalam paradigma struktural. Perkembangan perangkat hardware kantor ini lebih tampak terlihat sejak manusia (baca: organisasi) mulai meminimalkan peran tanaga ekstra manusia yang dikerahkan pada alat-alat manusia konvensional masih berjaya. khususnya komputer atau microprocessor senantiasa melakukan apa yang disebut “Rekayasa dan desain ulang atas dirinya sendiri” sehingga perangkat ini akan berkembang dan sempurna dari generasi ke generasi. Yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah unit record (Panch Card). Pekerjaan administrasi perkantoran tidak lepas dari pencatatan. dan komunikasi. Perkembangan perangkat alat Bantu/hardware bidang perkantoran Hardware kantor adalah seluruh paket atau komponen peralatan yang membentuk suatu sistem. accounting machines. efisien dan tersistem. akurat dalam kondisi kerja yang efektif dan efisien. sehingga memungkinkan kantor dapat melaksanakan aktifitasnya sesuai fungsinya. efisien. baik dalam suatu integrated data processing system. Maka pekerjaan kantor yang begitu kompleks khususnya dan proses manajemen kantor secara lebih luas. Kesimpulan Tuntutan perubahan tak dapat dihindarkan sebagai konsekuensi dari perkembangan dan kemajuan ilmu dan teknologi. Komputer sebagai salah satu alat Bantu/hardware dalam bidang perkantoran. 2. Berikan perawatan kepada hardware kantor yang digunakan 3. di samping kemampuan untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi yang terjadi secara pesat dan semakin sempurna 11 . dengan alat bantu komputer ini. terarah dan terpadu. hampir tidak lepas dari peranannya yang multiguna dan multifungsi. yang lainnya prosedur dan metode kerja. pengetahuan dan profesionalisme. serta mampu mengolah dan memproses data menjadi suatu informasi yang tepat. menjadi “raja” dalam suatu organisasi kantor. telecommunication machines dan komputerisasi. Seluruh proses aktifitas kantor yang berjalan secara efektif. pengklasifikasian. Masing-masing perangkat ini pada dasarnya memiliki tugas yang sama yakni mengolah data sehingga menghasilkan informasi yang lebih akurat dan tersistem. Ikutilah system prosedur dan metode kerja yang ada. Setiap perngkat hardware kantor. pada saat kapanpun proses manajemen kantor berlangsung. dapat diselesaikan dan dilakukan dengan waktu relatif singkat tetapi tetap akurat. ataupun yang di butuhkan pula oleh unit-unit organisasi dan pihak lain yang memerlukan informasi. Jika diperinci perangkat hardware kantor ini dapat diklasifikasikan antara lain: 1. 2. menjadi penentu efektif tidaknya proses aktifitas kantor dapat berjalan. Teknologi perkantoran ditinjau dari keberadaan dan pemanfaatan seperangkat alat Bantu/hardware adalah rangkaian upaya penyediaan dan pemanfaatan perangkat hardware yang dibutuhkan dalam seluruh aktifitas kantor. Sesempurna apapun perangkat hardware kantor yang tersedia. Untuk itu dianjurkan kepada pengguna teknologi hardware kantor: 1. copyng machine. namun disadari atau tidak bahwa setiap kemajuan bukan berarti semua harus diikutinya. Machines activated by a language : adalah mesin-mesin yang berada di dalam suatu sistem tertentu dengan menggunakan bahasa mesin. perhitungan.penyimpanan. terutama tentunya dalam menghasilkan informasi yang dibutuhkan di dalam pembuatan keputusan. maupun dalam bentuk electrical data processing system. pengolahan serta pengawasan kantor dapat berjalan lancer.pengorganisasian. oleh karena itu peran dari teknologi menjadi penting. perhatian terhadap mekanisme kerja (system. Tingkatkan kemampuan. Machine activites by a person : yang termasuk di dalam klasifikasi ini antara lain type writer. dan metode) serta memelihara dan perawatan hardware. adding and calculating. Administrasi perkantoran memiliki prinsip keilmuan sebagai upaya efisiensi dan efektivitas pelayanan dalam proses pencapai tujuan organisasi. penyusunan. pengambilan data kembali. prosedur. agar mampu memanfaatkan hardware kantor secara efektif dan efisien.

D. Jakata 2006.J.. Jakarta. Bombay.B.W. Bandung 1985 Miftah Thoha. Faried. & Perincian Ilmu Administrasi.Woodrow. Kedudukan. Te Study of Administration. Administrasi Perkantoran Modern. 1980 Wilson. MPA Kerangka Dasar Ilmu Administrasi. Manajemen Adminstrasi Perkantoran Modern.B. Neuner dan L. Siagian. Taraporevala Sons & Co.. Filsafat Administrasi. 1992 Pariata Westra. Pengertian. 12 .. Ilmu Administrasi Publik. Rineka Cipta Jakarta The Liang Gie & Drs. Erlangga Jakarta 2007 Inu Kencana Syafiie.. Aneka Sari Ilmu Administrasi. Balai Pembinaan Administrasi. dkk. Badri Munir Sukoco. PT Raja Grafindo.. Keeling.Daftar bacaan Ali. M. reproduced in Peter Woll (ed) “Public Administration “ Harper and Rom. Sinar Baru. Sutarto. Manajemen Kantor (Teori dan Praktek). 1970 Komaruddin. Akademi Administrasi Negara Yogyakarta. Rineka Cipta. Super Sukses Yogyakarta The Liang Gie. Liberty Yogyakarta..Aspek-Aspek Pokok Ilmu Administrasi Ghalia Indonesia Jakarta Sondang P. Private Ltd. Modern Office Management. 2006 J.

Dalam kenyataannya. seperti keuntungan dalam hal kecepatan. Penggunan TIK pada Instansi Pemerintah Daerah Kab. Usulan pemerintah tersebut telah dituangkan dalam UU No. terutama di kota-kota kecil atau di daerah terpencil.detiknews. Perubahan besar telah terjadi dalam lingkungan perkantoran.Kendal Seluruh Indonesia Intansi Pemerintah KPU Perpusda Provinsi Kantor Kecamatan Samsat Kantor Pelayanan Pajak Penggunaan TIK Pemungutan Suara PILKADA Katalog KTP Pembayaran pajak kendaraan bermotor Pembuatan NPWP secara on line 13 . Jakarta (www. telah secara nyata memberi berbagai keuntungan. Berikut petikan pernyataan Menpan : "Ada konsep digitalisasi arsip. Aparatur pemerintah yang professional. Dan tanpa menunggu terlalu lama. mudah penyimpanan. Untuk mencapai tujuan tersebut. serta hemat biaya. Salah satu solusinya adalah memanfaatkan teknologi informasi berupa suatu aplikasi yang terkomputerisasi untuk menyimpan arsip. setelah pemerintah menggulirkan reformasi birokrasi di beberapa departemen. manajemen informasi berbasis TIK.43 tahun 2009 tentang Kearsipan. bagaimana cara menyimpan dan mengemas arsip agar tetap memiliki nilai. Jateng Kab. Senayan. dengan kata lain arsip yang dikemas dalam bentuk elektronik atau digital yang dapat diakses bagi yang berkepentingan dan mempunyai otoritas untuk mengakses arsip tersebut." seusai rapat kerja dengan Komisi II DPR di Gedung DPR. arsip digital. berkompeten dan memiliki etos kerja yang tinggi seolah menjadi harga mati. dibutuhkan kemampuan untuk menata pekerjaan organisasi yang beragam agar bersinergi ke arah tujuan yang ditetapkan. Proses alih media arsip menjadi arsip digital dilakukan dengan proses scanning dan arsip disimpan dalam format PDF agar keabsahan dokumen atau arsip tetap terjamin. kehandalan dan kemutakhiran komunikasi dan pengolahan data. Jembrana.com). tidak rusak.PENGARSIPAN DIGITAL PADA INSTANSI PEMERINTAH (Sebuah Langkah Menuju Manajemen Perkantoran Modern) Vitradesie Noekent Abstrak Kesadaran institusi pemerintah akan pentingnya arsip telah memicu pemikiran. masih banyak kantor pemerintah yang belum menggunakan sistem pengolahan data dengan memanfaatkan TIK. Muara akhir dari tujuan tersebut adalah efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan roda kepemerintahan. antara lain: Tabel 1. Kata Kunci: arsip. Di sisi lain. Latar Belakang Tuntutan masyarakat pada instansi pemerintah untuk dapat menerapkan good corporate governance semakin menjadi hal yang tak terhindarkan. UU tersebut direspon dengan sangat baik oleh beberapa instansi pemerintah. kecermatan. akan dituangkan dalam RUU Kearsipan.1. Bali Prov. Perkembangan TIK bahkan telah mengharuskan instansi pemerintah untuk selalu siap menghadapi perubahan yang terjadi. PENDAHULUAN 1. mudah ditemukan kembali. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mengalami kemajuan yang sangat pesat. secara bertahap akan ditentukan yang mana hardcopy dan yang mana bisa disimpan dalam bentuk softcopy.

Selain itu. Gambaran Masalah yang Dikaji Tidaklah berlebihan jika disebutkan bahwa pengarsipan sebagai pusat ingatan organisasi untuk merujuk pada fungsi arsip yang vital dalam organisasi.1. maka aparat pemerintah akan dapat menyediakan informasi yang tepat. Memberikan gambaran permasalahan yang akan dihadapi jika sebuah instansi pemerintah menerapkan digitalisasi pengarsipan.Polres SIM Sumber: berbagai terbitan Surat Kabar. 2. Memberikan gambaran alternatif pengelolaan arsip menggunakan TIK berupa digitalisasi pengarsipan pada instansi pemerintah. maka keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan karena memiliki landasan empiris. beberapa instansi pemerintah yang masih menggunakan arsip secara fisik/ konvensional. Beberapa gejala kurang efektifnya sistem kearsipan di sebuah instansi pemerintah dapat dilihat dari sulitnya mencari kembali arsip pada saat diperlukan. banjir arsip dan ruang kantor yang tersita untuk tempat penyimpanan arsip. berjamur. sobek. Khusus untuk arsip yang bernilai sejarah. Resiko kecurian juga mungkin terjadi. Proses pengambilan keputusan oleh seorang pimpinan amat dipengaruhi oleh seberapa akurat data yang dimilikinya. Tabel 2. Kumpulan data yang menggambarkan perjalanan sebuah organisasi inilah yang disebut sebagai arsip. Untuk itulah dibutuhkan upaya pendokumentasian. tinta luntur dan sebagainya) dan resiko kebakaran atau bencana lain (kebakaran atau banjir). fisik arsip sangat rentan dengan resiko akibat kerusakan (aus. dokumen semakin dimakan usia. GAMBARAN MASALAH 2. maka penulisan artikel ini bertujuan untuk: 1. lengkap. Penggunaan Pengarsipan Konvensional pada Instansi Pemerintah Instansi Pemerintah Pengadilan Jenis Arsip Sifat Arsip Vital Berita Acara Penyidikan Berkas penuntutan dari JPU Berita Acara Persidangan Putusan pengadilan Alat Bukti Surat Rumah Sakit Catatan medik Arsip Nasional Kolonial Memorie van Overgare Staatsblad Regeering Almanak Besluit Kementerian Luar Negeri Dokumen Negara MOU antar Negara Sumber: berbagai terbitan Surat Kabar. relevan dan tepat waktu secara efektif dan efisien. diolah kembali (2010) 1. Selain kepentingan tersebut. Berdasar data. dengan metode pengarsipan yang tepat.2. hilangnya arsip penting. akurat. diolah kembali (2010) Vital Vital Vital 14 . Berikut ini. selain merestorasinya. Tujuan Berdasar latar belakang di atas.

go. Identifikasi Digitalisasi dokumen merupakan suatu proses alih media dari dokumen secara fisik menjadi bentuk dokumen secara digital yang tersimpan dalam bentuk soft copy. Berikut kami identifikasi beberapa hal yang dibutuhkan untuk menerapkan digitalisasi pengarsipan pada instansi milik pemerintah menggunakan pendekatan 5 M. “Setelah hacker Indonesia melakukan penyerangan terhadap situs-situs milik pemerintahan Israel. memodifikasi.Selain kelemahan di atas. IDENTIFIKASI. Sumber gangguan internal antara lain kerusakan komponen atau kesalahan sub sistem yang mengganggu sistem secara keseluruhan. Kutipan berikut ini bukti ancaman tersebut. sedang sumber gangguan eksternal berasal dari para perentas (hacker/ cracker)1. ANALISIS DAN ALTERNATIF 3. yaitu yang berasal dari internal dan eksternal. bisa membuat. Secara nasional. Tempat penyimpanan arsip konvensional Pada kantor modern. menganalisa. institusi pemerintah yang mengelola arsip adalah Arsip Nasional (www. Pelaksana Kegiatan (Man) dan Biaya (Money) Pelaksana kegiatan digitalisasi pengarsipan harus dilakukan oleh pihak yang berkompeten yang disebut Arsiparis.1.500. Ancaman para perentas ini tidak dapat dipandang sebelah mata. kekurangan terbesar arsip konvensional pada kebutuhan biaya yang relatif tinggi (untuk pengadaan filling cabinet dan ruang/ gudang penyimpanan). Kami mencontohkan sebuah institusi pemerintah yang sudah menerapkan pengarsipan digital.000 (termasuk pajak) Dibebankan kepada APBD Kota Bontang tahun 2010 1Hacker adalah orang yang mempelajari.com/2009/01/serangan-hacker-indonesia-semakin-membabibuta.html ). atau bahkan mengeksploitasi sistem yang terdapat di sebuah perangkat seperti perangkat lunak komputer dan perangkat keras komputer seperti program komputer dan administrasi terutama keamanan 15 . Para hacker ini sudah tidak pandang bulu tidak hanya situs besar namun situs-situs kecil pun menjadi incarannya ( http://www.anri. yaitu: Kegiatan : Kegiatan Aplikasi Komputerisasi Sistem Pengarsipan Dokumen Nama Instansi : Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Bontang Nilai : Rp 304. terutama bagi keamanan arsip yang memiliki nilai sejarah tinggi mengingat beberapa naskah sejarah mulai rapuh termakan usia.id). Gambar 1. kini mereka mengalihkan perhatiannya untuk melakukan pembobolan situs-situs yang ada di Indonesia. Proses alih media harus didukung dengan hardware yang dapat melakukan digitalisasi dokumen menjadi format digital dengan kecepatan yang tinggi dan software yang mendukung proses digitalisasi. sangat mungkin terjadinya gangguan terhadap sistem yang digunakan. dan selanjutnya bila menginginkan.teknologinet. Gangguan tersebut dibedakan menjadi dua.

Jangka waktu : 3 (tiga) bulan 16 .

gambar bergerak dan gambar statis. Gambar 2. Security Layer System 17 . Secara garis besar. peta. sebagai berikut: Identifikasi User Otorisasi User Filterisasi Top Secret Secret Confiden tial Enkripsi Gambar 3. seperti. alur ini dapat diidentifikasi. Mesin scanner untuk dokumen berukuran kecil dan besar Metode Pelaksanaan (Method) Salah satu resiko pengarsipan digital menyangkut keamanan data dan kehandalan system pengamannya (security layer). naskah. gabungan dari bahan-bahan konvensional dan media baru.Alat dan Bahan (Material) Bahan-bahan yang dimasukkan antara lain: sumber-sumber yang diperlukan untuk keperluan proses belajar dan penelitian. rekaman suara.

Penyimpanan secara 18 . Kebutuhan untuk mem-back up Penyimpanan secara digital akan membuat kita memiliki back up data. 2. etc) Gambar 4. Hal ini sangat diperlukan mengingat banyak sekali berbagai data yang hilang. Tuntutan less paper Saat ini banyak dicanangkan tentang pemeliharaan pohon. Analisis Berdasar uraian yang telah disampaikan. Metode Pengalihan Dokumen 3. Search Word by word. dokumen maupun foto secara digital akan membuat kita lebih ramah lingkungan. Status konservasi menjadi acuan untuk sedapat mungkin menyimpan berbagai data secara digital.Dokumen Aktif Arsip Kerja Buku Jilid Arsip Sejarah Arsip Legal Scannin g PDF/TIFF/J PG OCR/ICR (Optical/Intelligent Character Recognition) Imaging Untuk diproses lebih lanjut (edit. terdapat beberapa masalah yang perlu dipecahkan. kita dapat menggunakan data bahkan diharapkan data beberapa tahun (sepuluh tahun) dapat kita lihat kembali. Dalam pemeriksaan keuangan. Penyimpanan berbagai arsip. Hal ini berpengaruh langsung terhadap penggunaan kertas. antara lain: 1.2. copy.

digital akan membuat kita lebih memiliki tempat serta tidak akan merusak dokumen tersebut. 3. SDM (Sumber Daya Manusia) Sumber daya manusia merupakan hal yang sangat penting dalam perkantoran modern. Adanya SDM akan membuat perkantoran modern lebih baik dalam penyimpanan dokumen. Penyimpanan dokumen secara digital akan membuat pengurangan pegawai. Hal inilah yang suatu saat harus dilihat oleh perkantoran tersebut. Pengertian pengarsipan digital adalah suatu sistem berbasis IT yang berfungsi membantu memenuhi kebutuhan untuk memelihara dan melindungi data. Digitalisasi pengarsipan bermanfaat, sebagai berikut: 1. Untuk memungkinkan sektor pendidikan pada semua level mempunyai akses yang baik, sehingga kebutuhan-kebutuhan pendidikan nasional terpenuhi; 2. Untuk menjamin bahwa institusi-institusi publik, pada level lokal (propinsi dan kabupaten/kota) dan nasional, menseleksi, melestarikan dan mengelola arsip dinamis dan arsip statis mereka dengan baik, sesuai dengan dengan ketentuan-ketentuan perundang-undangan, pedoman dan standar-standar profesional yang terkait; 3. Untuk mendorong organisasi-organisasi swasta dan perorangan untuk mengelola arsip-arsip mereka secara efektif, dan melestarikan arsip-arsip statis yang bernilai historis dan bila memungkinkan memberikan kemudahan akses publik terhadap arsiparsip tersebut; 4. Untuk memungkinkan sektor kearsipan siap terhadap pengolahan data elektronik yang jumlahnya semakin meningkat; 5. Untuk memaksimalkan nilai sumber informasi yang disimpan oleh sektor kearsipan. 3.3. Alternatif Pemecahan Masalah Dokumen-dokumen yang akan didigitalisasi dibedakan berdasarkan pemilihan tematema tertentu. Hal ini lebih efisien dibanding melakukan digitalisasi terhadap semua khasanah arsip yang ada. Tahapan tersebut dibagi dibagi menjadi: 1. Pembuatan standard and operating procedure (SOP) Kearsipan; 2. Perencanaan dan perancangan disain sistem berdasar SOP Kearsipan; 3. Pembuatan aplikasi dan pembangunan data base; 4. Instalasi aplikasi; 5. Elektronisasi data persuratan dan kearsipan/ entry data; 6. Pengujian aplikasi; 7. Implementasi aplikasi; 8. Sosialisasi, pelatihan dan pendampingan. Berdasar urutan pelaksanaan di atas, maka hasil yang diharapkan akan dapat dicapai oleh institusi pemerintah dalam lima tahun mendatang adalah: 1. Akses ke arsip-arsip statis atau warisan dokumenter lainnya yang telah didigitalisasi akan tersedia bagi siapapun yang menginginkannya; 2. Penyelenggara kearsipan statis akan memberikan layanan-layanan publik baik secara onsite maupun online, yang akan merespon sesuai dengan kebutuhankebutuhan pengguna; 3. Links antara arsip nasional dan universitas-universitas, sekolah-sekolah, dan sektor-sektor pendidikan lainnya akan semakin kuat dan akan memenuhi kebutuhan para pengguna di sektor tersebut; 4. Semua arsip statis dalam tempat-tempat penyimpanan milik pemerintah, maupun dalam pengelolaan non-pemerintah (swasta dan perorangan) akan dilestarikan

19

secara aman dan disediakan bagi masyarakat dalam suatu provisi jaringan yang komprehensif. Untuk mencapai kondisi tersebut, diperlukan adanya perubahan-perubahan perilaku pada: 1. Tingkat individual pengelola arsip, untuk menjamin bahwa nilai informasi arsip ditentukan dan tetap terjaga saat arsip diciptakan, dipelihara dan digunakan, serta disusutkan sesuai dengan sistem pengelolaan arsip yang menjamin kelengkapan, reliabilitas dan autentisitasnya. 2. Tingkat lembaga, untuk menjamin pelaksanaan manajemen arsip yang efektif dan efisien dalam upaya pemberdayaan arsip bagi keperluan manajemen. 3. Tingkat nasional, untuk menjamin pengelolaan keseluruhan arsip kepemerintahan sebagai sebuah khasanah yang utuh dan menjamin penggunaan bersama informasinya oleh Lembaga-lembaga Negara, Badan-badan Pemerintahan, swasta dan perseorangan dalam rangka penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. 4. Tingkat pengguna, untuk memelihara kesadaran bahwa telah tersedia arsip kepemerintahan yang sarat dengan informasi dan kemudahan untuk memanfaatkannya.

PENUTUP 4.1. Kesimpulan Digitalisasi dokumen sudah menjadi kebutuhan utama. Sebaiknya proses tersebut dilakukan berdasarkan pemilahan tema tertentu karena efisiensi organisasi menjadi prioritas tertinggi. Walaupun perubahan berpotensi menimbulkan ketidakpastian, namun demikian sudah menjadi kebutuhan publik untuk mendapatkan kemudahan akses informasi. Dilihat dari tingkat pengguna, perlu dipelihara kesadaran bahwa sudah tersedia arsip kepemerintahan yang sarat dengan informasi dan kemudahan untuk memanfaatkannya, sehingga tercipta Indonesia yang baik sesuai cita-cita bersama-sama. 4.2. Saran 1. Perluasan dan peningkatan kualitas jaringan komunikasi dan informasi kearsipan ke seluruh wilayah negara. 2. Pembentukan portal-portal informasi dan layanan arsip yang dapat mengintegrasikan sistem manajemen dan proses kerja pengelolaan arsip di antara instansi pemerintah terkait; sasaran ini akan diperkuat dengan kebijakan tentang keawajiban instansi pemerintah pusat dan daerah untuk menyediakan informasi dan layanan arsip secara on-line. 3. Pembentukan jaringan organisasi pendukung yang menjembatani portal-portal informasi dan layanan arsip tersebut di atas dengan situs dan sistem pengolahan dan pengelolaan informasi yang terkait pada sistem manajemen dan proses kerja pengelolaan arsip di instansi yang berkepentingan. Sasaran ini mencakup pengembangan kebijakan pemanfaatan dan pertukaran informasi arsip antar instansi pemerintah pusat dan daerah. 4. Pembakuan sistem manajemen arsip elektronik untuk menjamin kelancaran dan keandalan transaksi informasi antar organisasi diatas. REFERENSI www.anri.go.id http://www.teknologinet.com/2009/01/serangan-hacker-indonesia-semakin-membabibuta.html

20

PENGATURAN TATA RUANG KANTOR PADA DINAS SOSIAL, TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI KABUPATEN KUDUS Wiwin Anugrahati ABSTRAK Tata ruang perkantoran merupakan salah satu penunjang kelancaran dalam menyelesaikan tugas. Sistem tata ruang kantor ada 3 yaitu tata ruang terbuka, tata ruang tertutup dan campuran. Lingungan fisik kantor meliputi cahaya, warna, udara, suara. Permasalahan dalam tugas akhir ini adalah: (1). bagaimana sistem tata ruang kantor pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus? (2). Kendala-kendala apa saja yang timbul dalam pengelolaan tata ruang kantor Dinas Sosial, Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sistem tata ruang kantor pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus, untuk mengetahui kendala-kendala yang timbul dalam pengelolaan tata ruang kantor pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan bahwa tata ruang pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus menggunakan sistem tata ruang terbuka dan sistem tata ruang tertutup. Lingkungan fisik :(1) Pencahayaan, pencahayaan utama yang sering digunakan adalah pencahayaan sinar matahari,(2) Warna, warna dominan yang digunakan pada Dinas adalah warna kuning kecoklatan,(3) Udara, pertukaran udara yang ada pada tiap ruangan menggunakan saluran udara yang ada pada setiap sisi atas ruangan dan di lengkapi dengan jendela kaca,(4) Suara, suara yang mengganggu berasal dari internal kantor sendiri. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpukan bahwa(1)Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus menggunakan tata ruang terbuka dan tata ruang tertutup hal ini karena untuk membedakan antara bagian yang satu dengan yang lain,(2) kendala- kendala,(a) kendala dalam penerapan sistem tata ruang kantor,(b) kendala dalam penerapan lingkungan fisik. Kata kunci: pengaturan tata ruang, kantor 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan pesat dewasa ini, kantor mempunyai makna lebih dari hanya sebagai tempat, melainkan sebagai pusat kegiatan penyediaan informasi, guna menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan disegala bidang (Sedarmayanti,2001: 2). Dalam menunjang kelancaran kantor, salah satu faktor penting yang ikut menentukan adalah penyusunan tempat kerja dan alat perlengkapan kantor sebaik-baiknya. Penyusunan alat-alat kantor pada letak yang tepat serta pengaturan tempat kerja yang menimbulkan kepuasan bekerja bagi para pegawai disebut tata ruang kantor (The Liang Gie, 2000:186). Di Indonesia tata ruang masih kurang mendapat perhatian dalam instansi-instansi pemerintah dan perusahan-perusahan swasta. Misalnya banyak terlihat suatu instansi yang banyak melayani publik ditempatkan dibelakang sehingga orang-orang harus bertanya kesana kemari sebelum dapat menjumpainya. Hal ini menyita banyak waktu dan mengganggu pegawai lain yang setiap kalinya harus memberi petunjuk itu. Tidak banyak dijumpai pula perusahaan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, pegawai-pegaiwainya berjalan dari satu meja kemeja orang lain. Sehingga mengurangi keefektifan dalam suatu pekerjaan, ini terjadi

21

karena tata ruang yang buruk. (The Liang Gie, 2000 : 187). Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus merupakan kantor yang bergerak dalam bidang sosial, tenaga kerja dan transmigrasi yang dalam tugasnya memberikan pelayanan publik yang memiliki 2 unit kantor yang berbeda tempatnya, dengan demikian penataan tata ruangnya harus sesuai dengan fungsi kantor itu sendiri agar tidak mengganggu aktifitas staf lainnya dalam menyelesaikan suatu pekerjaan maupun tamu yang hendak berkunjung tidak akan kebingungan. Beberapa hal yang menurut penulis bahwa tata ruang kantor pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus yang kurang sesuai dengan teori yang ada yaitu belum maksimalnya bangunan kantor untuk mempermudah kegiatan kantor sedangkan pegawai yang ada banyak, ini terjadi pada kantor unit 1 yang luas gedung hanya 469 m2 tetapi di tempati pegawai sebanyak 28 orang di tambah dengan adanya perabotan kantor yang penempatannya tidak sesuai, ini kan menambah ruangan menjadi sempit. Demikian ini, pegawai yang berada dalam kantor akan merasa tidak nyaman, panas dan efektifitas kerjanya jadi tidak maksimal karena ruang geraknya yang sempit, ini ditambah dengan fasilitas kantor yang penggunaannya belum maksimal yaitu jendela yang merupakan ventilasi udara tidak dapat dibuka sehingga udara tidak bisa bebas keluar masuk sehingga suhu pada ruangan menjadi panas. Adapun penempatan peralatan dan perlengkapan kantor yang kurang tepat, antara lain: penyusunan meja saling berdekatan dengan jarak 50 cm dan letak lemari arsip yang tidak sesuai. 1.2. Rumusan Masalah 1. Bagaimana sistem tata ruang pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus? 2. Kendala- kendala apa saja yang timbul dalam penataan tata ruang kantor pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus? 1.3. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui sistem tata ruang kantor pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. 2. Untuk mengetahui Kendala- kendala apa saja yang timbul dalam penataan tata ruang kantor pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. 2. Hasil penelitian 2.1. Tata Ruang Kantor Pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. Berdasarkan dari penelitian penulis di lapangan mengenai penerapan sistem tata ruang kantor yang diterapkan di Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus adalah sebagai berikut: 2.2.1. Penerapan Sistem tata ruang kantor Penggunaan tata ruang kantor merupakan segi yang terpenting dalam suatu perencanaan manajemen perkantoran. Ruangan yang disusun secara tepat dan memperhatikan semua komponen fisik yang ada di dalamnya akan sangat membantu kelancaran pelaksanaan pekerjaan. Sistem tata ruang yang diterapkan oleh Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Trnasmigrasi Kabupaten Kudus adalah sistem tata ruang terbuka dan sistem tata ruang tertutup. 1. Tata Ruang Terbuka Dalam penerapan sistem tata ruang terbuka tidak menggunakan dinding atau papan penyekat yang membatasi antara pegawai satu dengan yang lainnya. Pada penerapan sistem

22

Lalu lalang pegawai dan tamu dapat terhindari. 1. 1. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. Sekretaris. dan Kepala Seksi Informasi. Dalam penerapan sistem tata ruang kantor tertutup terdapat keuntungan-keuntungan dan kerugian yang diperoleh Dinas Sosial. Tata ruang untuk resepsionis dan ruang tamu berada di depan ruang kepala dinas sehingga dapat mengganggu konsentrasi kepala dinas dalam menyelesaikan pekerjaan yang disebabkan oleh tamu yang sedang bertanya dengan resepsionis ataupun tamu yang mengobrol saat menunggu. Biaya pengelolaan ruangan relatif besar. Kerahasiaan kerjaan kurang terjamin. Lingkungan Fisik Kantor 2. Fleksibilitas tata ruang yang lebih besar. Namun yang lebih sering digunakan adalah penerangan cahaya sinar matahari yang 23 . Kepala Sub Bagian Keuangan. sistem tata ruang kantor tertutup diterapkan pada ruangan Kepala Dinas. b. Keuntungan penerapan sistem tata ruang kantor tertutup pada Dinas Sosial.2. Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi . Kepala Bidang Sosial. Tata Ruang Tertutup Dalam tata ruang tertutup susunan tata ruang untuk bekerja terbagi-bagi dalam beberapa kamar atau sekat atau sengaja dibuat pemisahan buatan diantara pegawainya. Keuntungan Penerapan sistem tata ruang kantor terbuka pada Dinas Sosial. 3. Evaluasi Dan Pelaporan. Kerugian penerapan sistem tata ruang kantor tertutup pada Dinas Sosial. 2. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. Sering terjadi pembicaraan dan mengobrol diantara pegawai. Ketenangan ruangan lebih baik sehingga mudah dalam konsentrasi 2. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus menggunakan penerangan melalui penerangan cahaya sinar matahari dan penerangan lampu neon. 2. a. Hubungan komunikasi kerja antar pegawai lebih mudah. Penerangan Pada kantor Dinas Sosial. Pengawasan pegawai kurang efektif. 3. 3. 3. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus adalah a. Kepala Seksi Perselisihan Ketenagakerjaaan.1. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. Mudah terjadi penularan penyakit di antara pegawai seperti influenza. Kepala Sub Bagian Perencanaan. 2. sehingga dapat menumbuhkan rasa kekeluargaan dan persatuan yang lebih erat antara pegawai. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. sistem tata ruang terbuka diterapkan pada ruang staf tiap bidang pada Dinas Sosial. Berdasarkan penerapan sistem tata ruang kantor tertutup pada Dinas Sosial. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. 2.tata ruang terbuka terdapat keuntungan. 1. Kerugian penerapan sistem tata ruang kantor terbuka pada Dinas Sosial. Pengawasan yang lebih baik terhadap para pegawai. b. Kepala Bidang Pengawasan. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. Berdasarkan rumusan sistem tata ruang kantor terbuka pada Dinas Sosial. 2.2. Keamanan dan kerahasiaan pekerjaan lebih terjamin.keuntungan dan kerugian yang diperoleh Dinas Sosial. Hubungan antar satuan kurang lancar atau banyak mondar-mandir. Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Dan Transmigrasi. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. 1.Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Perselisihan.

sumber suara sering mengganggu aktiviats kantor dan pegawai adalah dari pihak kantor sendiri seperti percakapan antar pegawai yang satu dengan pegawai yang lain dan suara gaduh dari peralatan kantor seperti mesin ketik. Adapun jenis data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini. Dokumentasi Teknik dokumentasi adalah suatu usaha yang dilakukan dalam penelitian untuk mengumpulkan dokumen yang tersedia sebagai sumber informasi untuk mencapai tujuan yang diharapkan. 3. 2.4. bangunan. 2. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus menggunakan warna kuning kecoklatan.2.2. Petunjuk wawancara hanya berisi petunjuk secara garis besar tentang proses dan isi wawancara untuk menjaga agar pokok-pokok yang direncanakan dapat tercukupi semua.maka udara pada ruangan menjadi panas dan sumpek akibatnya pegawai tidak merasa nyaman dan efektivitas pekerjaan terganggu. Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari pegawai Dinas Sosial. Data Sekunder Data yang diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti (Marzuki. Dalam hal ini dokumen yang digunakan berasal dari literatur dan dokumen instansi yang digunakan untuk mendukung metode wawancara.2. Warna Warna merupakan faktor yanng sangat penting untuk memperlancar efektivitas kerja pegawai karena warna sangat mempengaruhi keadaan jiwa mereka. Sumber Data Teknik pengumpulan data sangat penting bagi penulis untuk memperoleh data yang diinginkan. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus.2. Suara Pada kantor Dinas Sosial Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus.2. Wawancara ( Interview) Adalah mengajukan pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula. Metode Pengumpulan Data a. 1999: 83). Peniliti melakukan wawancara dengan pendekatan mengunakan petunjuk umum wawancara. METODOLOGI RISET 3. Penggunaan warna pada Kantor Dinas Sosial.jendala tertutup rapat tidak dapat dibuka sehingga karbon dioksida ataupun oksigen tidak bisa keluar /masuk dengan lancar . dengan membuat kerangka dan garis besar pokok-pokok yang ditanyakan dalam proses wawancara. Data Primer Data yang diperoleh langsung dari sumbernya diambil dan dicatat pertama kalinya (Marzuki. Udara Udara yang berada pada kantor Dinas Sosial Tenaga Kerja Dan Transmigrasi panas pada musim kemarau. 2. 2. yaitu : 1. Dengan teknik wawancara.masuk melalui jendela-jendela yanng berada samping kantor.1. 3. Data yang ada adalah data mengenai gambaran umum Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus yang meliputi lokasi. 1997: 56). Sedangkan lampu neon dipergunakan apabila cuaca mendung atau gelap. (Maman Rachman. b.3. warna tersebut dipertimbangkan memberi kesan tenang dan ruangan terlihat lebih terang. 24 . 1997: 55). peneliti berusaha mencari informasi dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan tema Tugas Akhir. dan struktur organisasi. Pada Dinas Sosial. ini dikarenakan ventilasi seperti jendela tidak bisa bermanfaat sesuai fungsinya yang seharusnya dapat mengalirkan udara keluar masuk. Tenaga Kerja dan Transmigrasi . Sedangkan pihak luar tidak begitu mengganggu karena tamu berada di depan bagian kantor.

Hal ini sudah menjadi bagian dari suatu perusahaan atau instansi maupun dalam melaksanakan kegiatan perkantoran. Kendala dalam penerapan sistem tata ruang kantor Dengan terdapatnya sistem tata ruang tertutup pada tiap bagian atau seksi maka kantor akan terlihat kecil sehingga antara meja yang satu dengan meja yang lain saling berdekatan dan ruang gerak pegawai menjadi kecil. Sumber suara yang mengganggu yaitu dari pihak dari kantor sendiri seperti mesin ketik manual yang tidak di beri peredam suara dan pembicaraan pegawai waktu jam kantor. Tetapi pada setiap bagian ruangan pada Dinas Sosial. Tenaga Kerja dan Transmigrasi secara keseluruhan menggunakan tata ruang terpisah-pisah yaitu susunan ruangan untuk bekerja terbagi-bagi dalam beberapa satuan yang dibagi-bagi karena keadaan gedung yang terdiri atas kamar-kamar. Tata ruang terbuka digunakan berdasarkan banyak pegawai serta untuk menunjang kelancaran pegawai dalam bekerja. dan merasa tenang dalam bekerja sehingga hasil yang dicapai akan maksimal. (Maman Rachman.4.kendala yang meliputi sebagai berikut: a. 3. sub bagian umum dan kepegawaian.2. Dalam teknik analisis ini akan membandingkan antara teori dengan fakta yang terjadi. b. Tata ruang kantor yang baik sangat mampu memotivasi para pegawai untuk menjadi lebih efektif dalam bekerja . 1999: 77). 4. dan biaya.1. Kendala dalam penerapan lingkungan fisik Udara yang tidak dapat keluar masuk karena jendela yang tidak dimanfaatkan sesuai fungsinya mengakibatkan udara dalam ruangan menjadi panas sehingga dalam mengganggu konsentrasi pegawai dalam bekerja. Ruang gerak pegawai yang kecil dapat mengurangi efektivitas kerja pegawai. Kendala – kendala dalam tata ruang kantor Dalam penerapan tata ruang kantor yang dimiliki oleh Dinas Sosial.c. Tehnik Analisis Data Setelah data terkumpul perlu segera diolah oleh staf peneliti khususnya yang bertugas mengelola data (Suharsimi Arikunto.3. tidak bosan. 4. Observasi Adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematisk terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. membuat ringkasan menerapkan suatu teknik. Dalam penelitian ini data-data dan informasi yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif yaitu dengan menggambarkan keadaan atau fenomena. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. pegawai akan merasa nyaman. yaitu mengenai tata ruang kantor Dinas Sosial. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi di temukan kendala. Sistem tata ruang kantor Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada Dinas Sosial. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus menggunakan tata ruang terbuka. bekerja tanpa pemborosan tenaga. sering mengganggu pegawai lain yang sedang melaksanakan tugas sehingga konsentrasi menjadi berkurang. 2002: 240). waktu. 4. seksi pengawasan kesehatan 25 . Pembahasan Lingkungan fisik kantor adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pekerjaan terselesaikan dengan baik. seksi pengawasan norma kerja.1. Dalam hal ini observasi dilakukan oleh peneliti guna mendapatkan kejelasan dari data yang sudah didapatkan dari dokumentasi dan wawancara. Jenis tata ruang terbuka terdapat pada bagian staff sekretariat. METODOLOGI PENELITIAN 4. Analisis data biasanya mencakup pekerjaan meringkas dari beberapa data yang telah dikumpulkan oleh peneliti untuk selanjutnya dikelola.

suara yang mengganggu dalam pekerja kantor dari internal kantor sendiri yaitu dari mesin ketik dan pegawai yang berbincang-bincang pada waktu jam kerja. Suara Pada Dinas Sosial. Lingkungan fisik pada Dinas Sosial. Lingkungan Fisik Kantor Pada Dinas Sosial. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus menggunakan cahaya alam yaitu sinar matahari yang tembus dari jendela kaca pada setiap ruangan yang berada di sebelah kanan kiri gedung.3. kasub Bag keuangan. Hal ini dikarenakan tidak adanya peraturan yang mengatur tentang tata ruang kantor. pada Dinas Sosial.4. dan pelaporan. pencahayaan lampu listrik di gunakan pada saat cuaca mendung dan gelap.2. hal ini dapat menunjang kelancaran aktivitas pekerjaan kantor pada Dinas Sosial. Udara Pertukaran udara pada Dinas Sosial. Salah satu tujuan dari tata ruang kantor yang baik adalah penggunaan segenap ruang kantor secara efisien untuk keperluan pekerjaan (http://iyanarafah. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus meliputi: a.4. Pemanfaatan ruang efektif. Cahaya Pencahayaan pada kantor Dinas Sosial. c. lingkungan fisik kantor belum sepenuhnya diperhatikan dengan baik. ruang kepala sekretariat. ini disebabkan masih terdapat ruangan yag terlihat sempit serta mengurangi ruang gerak pegawai dan ditambah dengan banyaknya barang. Warna ini memberikan kesan tenang. seksi perselisihan ketenagakerjaan. namun ada beberapa hal yang perlu diperhatian dalam beberapa ruangan seperti ruangan kepala dinas. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus yang memerlukan konsentrasi tinggi dalam menyelesaikan pekerjaan kantor yang bersifas biasa maupun rahasia.dan keselamatan kerja. Kasub Bag perencanaan. 4. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus belum diterapkan dengan baik karena adanya ketidakseimbangan yang disebabkan pemanfaatan ruangan yang kurang efektif. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus.blogspot. Meskipun letak Dinas Sosial. kabid hubungan industrial dan perselisihan ketenagakerjaan menggunakan sistem tata ruang tertutup atau terpisah – pisah. Dari keseluruhan kantor Dinas Sosial. seksi hubungan industrial.barang yang diletakkan tidak sesuai dengan tempatnya. Warna Dinas Sosial.com/2010). Hal tersebut mengakibatkan kondisi udara menjadi panas walaupun telah dibantu dengan kipas angin. Sedangkan ruangan lain yang cukup besar tetapi tidak dimanfaatkan dengan baik. evaluasi. d. sehingga penataannya tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan mengakibatkan para pegawai kurang maksimal dalam melaksanakan pekerjaannya. b. kabid pengawasan . Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus menggunakan warna kuning kecoklatan. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus adalah instansi pemerintahan sehingga menggunakan warna yang umum digunakan oleh kantor-kantor instansi pemerintahan yang lainnya yaitu warna kuning kecoklatan.Kendala Dalam Tata Ruang Kantor 26 . Tenaga Kerja dan Transmigrasi berada di dekat jalan raya akan tetapi suara bising kendaraan hampir tidak terdengar karena bangunannya letaknya menjorok ke dalam. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus di setiap ruangan menggunakan saluran udara yang ada disetiap sisi atas ruangan dan dilengkapi dengan jendela kaca namun saluran udara tersebut kurang berfungsi dengan baik karena tidak dapat dibuka. lebih terang dan luas. 4. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. Kendala.

pengap sehingga sulit bernafas.kendala yang ada meliputi: a. Sistem tata ruang tertutup adalah susunan ruangan untuk bekerja terbagi-bagi dalam beberapa kesatuan. (Badri. Pembagian itu dapat terjadi karena keadaan gedungnya yang terdiri atas kamar-kamar maupun karena memang sengaja di buat pemisah buatan misalnya dengan sketsel kayu atau dinding kaca. Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada musim kemarau tiba bersuhu berkisar 30 derajat celsius. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. Tingkat kebisingan pada kantor merupakan faktor lingkungan fisik kantor yang harus dipertimbangkan untuk mengelola tingkat produktivitas pegawai yang diinginkan. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus terdapat kendala-kendala yang ditemukan yaitu a. pegawai akan merasa kurang nyaman dan mengakibatkan pekerjaan menjadi kurang maksimal.Dalam tata ruang kantor Dinas Sosial. yang dapat membantu penukaran udara dengan lancar. 2007: 217). Pada kantor Dinas Sosial. Kendala dalam penerapan sistem tata ruang kantor Pada Dinas Sosial. (Sedarmayanti. Sedangkan pekerjaan kantor dengan suhu udara yang dianggap baik berkisar 13-24 derajat celsius. Dalam tata ruang Kantor Dinas Sosial. Kendala dalam penerapan sistem tata ruang kantor Dengan terdapatnya sistem tata ruang tertutup pada tiap bagian atau seksi maka kantor akan terlihat kecil sehingga antara meja yang satu dengan meja yang lain saling berdekatan 27 .kebisingan yang terjadi diakibatkan dari suara mesin ketik manual dan pegawai yang berbicara waktu jam kerja sehingga akan mengganggu pegawai yang lain dan akan mempengaruhi konsentrasi pegawai. sehingga para pegawai di ruang kerjanya tetap mendapat udara yang segar dan nyaman. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus terdapat kendala-kendala yang dapat menyebabkan pelaksanaan kerja menjadi kurang maksimal. Dengan ruangan yang panas. senang dan efisien. Kendala. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus menggunakan tata ruang terbuka dan tata ruang tertutup hal ini karena untuk membedakan antara bagian yang satu dengan yang lain. evaluasi dan pelaporan. ( The Liang Gie. Jika demikian. Kendala dalam penerapan lingkungan fisik Pegawai akan sulit dapat bekerja dengan baik. Pada Dinas Sosial. Oleh karena itu perlu diusahakan adanya ventilasi cukup. ruang kepala sub bagian perencanaan. 5.ruang sekretaris. Udara di dalam ruang kantor Dinas Sosial. Ruangan yang kecil ini akan menimbulkan ketidaknyamanan para pegawai karena ruang geraknya terbatasi atau menjadi kecil sehingga dapat mengurangi efektif kerja pegawai. apabila mereka bekerja di ruang kantor yang udaranya panas.2000:193). KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat dimbil dalam penelitian ini adalah: 1. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. pada ruang kepala dinas. 2. ruang kepala sub bagian keuangan dan ruang kepala bidang menggunakan tata ruang tertutup sedangkan bagian yang menggunakan tata ruang terbuka yaitu ruang staff pada Dinas Sosial. ini disebabkan oleh pemanfaatan ventilasi kurang maksimal sehingga ruangan menjadi panas. Dinas Sosial. b. makan akan mempengaruhi produktivitas pegawai. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus menggunakan sistem tata ruang terbuka dan tertutup.2001:133). Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebagian menggunakan sistem tata ruang tertutup sehingga gedung yang luas ruangannya sudah kecil ditambah dengan adanya sekat seperti dinding tembok maka akan menambah ruangan tersebut menjadi kecil.

2008.. sering mengganggu pegawai lain yang sedang melaksanakan tugas sehingga konsentrasi menjadi berkurang. DAFTAR PUSTAKA Badri Munir Sukoco.15/06/2010 Marzuki. b.html 10:37 Selasa.Jakarta:Rinika Cipta The liang Gie. Semarang: IKIP Press.Surabaya: PT.2002. 1999. Metodologi Riset. Strategi dan Langkah-Langkah Penelitian.2001. Kendala dalam penerapan lingkungan fisik Udara yang tidak dapat keluar masuk karena jendela yang tidak dimanfaatkan sesuai fungsinya mengakibatkan udara dalam ruangan menjadi panas sehingga dalam mengganggu konsentrasi pegawai dalam bekerja.Bandung : Mandar Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek.blogspot. Sedarmayanti. Manajemen Perkantoran. Administrasi Perkantoran Modern. Sumber suara yang mengganggu yaitu dari pihak dari kantor sendiri seperti mesin ketik manual yang tidak di beri peredam suara dan pembicaraan pegawai waktu jam kantor.dan ruang gerak pegawai menjadi kecil. 2001. Maman.2000. Erlangga http://iyanarafah. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta 28 . Yogyakarta: BPFE Rachman.com/2010/02/tata-ruang-kantor.Manajemen Administrasi Perkantoran Modern. Ruang gerak pegawai yang kecil dapat mengurangi efektif kerja pegawai.

yaitu strategic. Dalam rerangka tersebut. Sebagai contoh. turnaround. dan mampu mengubah cara perusahaan dalam bersaing (Alter 1996. Ini menunjukkan bahwa peranan TI menjadi semakin meningkat mengikuti perkembangan teknologi informasi. mampu mengubah cara perusahaan dalam beroperasi. MM Di Era Globalisasi saat ini penggunaan TI terus melesat cepat.toko swalayan. factory. Secara tradisional. Di era teknologi informasi telah mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat. manajemen dan akademisi memandang peranan TI sebagai fungsi pendukung dalam operasi perusahaan. Drs. PENDAHULUAN Pada masa sekarang. Ives et al. (1980) mendefinisikan SI sebagai fungsi pendukung dalam melaksanakan aktivitas dan fungsi manajemen. (1983) menggunakan strategic grid sebagai rerangka untuk menjelaskan peranan TI yang berbedabeda di dalam organisasi. keterampilan dan pendidikan mental SDM sehingga menghasilkan SDM yang profesional dan beretika terhadap penggunaan TI. manajemen dan akademisi memandang peranan TI sebagai enabler bagi perusahaan untuk memperoleh keunggulan kompetitif. sumber yang potensil untuk mendapatkan keunggulan dalam bersaing (Raghunathan dan Raghunathan 1990. melainkan cukup dalam hitungan detik. hal. hal. Sebenarnya istilah information technology (IT) yang di bahasa Indonesia-kan dengan teknologi informasi (TI) ini mulai populer di penghujung tahun 1970-an. Laudon dan Laudon 1991. dan scanner yang terdapat di toko. Informasi. Begitu pula dalam Lingkup organisasi perkantoran baik negeri ataupun swasta penggunaan TI merupakan menjadi suatu kebutuhan penting terutama yang terkait dengan penyerapan informasi-informasi. McFarlan et al. Sistem informasi mampu mengubah bentuk organisasi. dan support. Bahkan untuk memperoleh informasi-informasi apa pun bukan lagi dalam hitungan bulan. Kemudian. Di masa itulah teknologi informatika dikenal dengan sebutan teknologi komputer atau pengolahan data elektronik. satu dasawarsa berikutnya terjadi perkembangan yang cukup menakjubkan dimana teknologi 29 . Ein-Dor dan Segev (1978). sehingga untuk memperoleh informasi dari segala penjuru dunia bukanlah suatu hal yang sulit lagi. misalnya fasilitas ATM. mereka mengklasifikasikan organisasi ke dalam empat lingkungan TI. dengan berbagai dampak yang akan mengikuti si pengguna atau user. Dengan melihat kondisi tersebut SDM saat ini di tuntut terampil dalam penggunaan TI. hari atau pun jam. 191-193).Memodernisasi sistem Perkantoran Melalui Peran Teknologi Informasi ABSTRAK Oleh: Wahyono. CD-ROM yang terdapat di perpustakaan. Pandangan mereka ini sesuai dengan definisi awal TI. Hal ini dapat dilihat dari perubahan yang ada di sekitar kita. Saat ini. teknologi informasi (TI) telah mengubah cara perusahaan melakukan bisnis yang mengakibatkan banyak hal-hal baru terjadi dalam suatu organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa TI memainkan berbagai peran dalam organisasi. sekarang dilihat sebagai sumber daya stratejik. Untuk itu adalah suatu kewajiban bagi pihak akademisi dalam hal ini dalah pendidikan sekaligus sebagai lembaga pemberi ilmu. 72) atau sebagai senjata stratejik untuk mendapatkan keunggulan kompetitif dalam iklim bisnis yang baru (Ives dan Learmonth 1984).

dll) berpadu dengan teknologi komunikasi menghasilkan apa yang dikenal saat ini dengan “internet”. rentang waktu perencanaan. dan support.TI. Maka peranan TI didefinisikan dengan rerangka strategic grid yang terdiri dari dua dimensi yaitu dampak stratejik TI saat ini dan dampak stratejik SI masa yang akan datang. yang sangat urgen adalah dibidang teknologi informasi ini. yaitu efektivitas perencanaan. dan dampak stratejik TI saat ini rendah berarti operasi perusahaan kurang bergantung pada fungsi TI. bukan hanya bersifat verbal melainkan juga berupa visualisasi. Perguruan Tinggi sebagai salah satu bagian dari sistem Pendidikan telah melakukan beberapa agenda reformasinya. swasta. Arti penting penggunaan teknologi adalah untuk mempermudah semua aktivitas dan kegiatan manusia agar tujuannya tercapai. struktur operasional dan manajemen dalam suatu organisasi (pemerintahan. oleh karenanya harus diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia (SDM). Perencanaan TI dibagi dalam tiga karakteristik. Dengan demikian internet merupakan salah satu teknologi informasi yang berperan sangat penting dalam segala kegiatan atau seluruh sektor kehidupan. dan telah dimulai pada . lembaga pendidikan. dan dari sedemikan banyak agenda tersebut. menyampaikan informasi. dan mempunyai andil besar dalam mereform sistem informasi. kualitas mekanisme pendukung. Misalnya. Melihat pentingnya penerapan teknologi informasi ini. Internet ini adalah suatu kumpulan yang luas dari jaringan-jaringan komputer yang saling terkoneksi dengan menggunakan jaringan komunikasi yang ada di seluruh dunia. Karakteristik organisasional terdiri dari lima variabel. karakteristik kinerja. sama-sama kita ketahui bahwa sains dan teknologi telah semakin canggih. karakteristik organisasional. serta menerapkan manajemen dan administrasinya se-efektif dan se-efisien mungkin. dan sumber-sumber perencanaan TI. keterlibatan pemakai. Dimana berperan membantu masyarakat umum agar mudah memperoleh informasi secara terbuka bahkan bagi internal perguruan tinggi sendiri dapat mempermudah untuk mengakses informasi-informasi yang up to date. dan sumbersumber TI. Dampak stratejik SI saat ini tinggi berarti operasi perusahaan sangat bergantung pada fungsi TI. elektronik digital.ingkungan organisasi bisnis atau non bisnis mau tidak mau wajib hukumnya menerapkan teknologi informasi 30 . Penerapan Sistem Informasi Berkaitan dengan empat lingkungan TI. Karakteristik perencanaan terdiri dari tiga variabel. karakteristik kinerja terdiri dari tiga variabel.informasi yang tadinya dikenal dengan teknologi komputer beserta perangkat elektronik lainnya (software. yaitu kualitas proses perencanaan. Dan. urusan bisnis. Dengan adanya internet ini menjadikan manusia dapat secara mudah berkomunikasi antara satu dengan lainnyadiseluruh dunia. dan lembaga yang berbasiskan pelayanan publik. yaitu karakteristik perencanaan. Dewasa ini internet sudah digunakan baik di instansi pemerintahan maupun swasta sebagai media yang memudahkan dalam pelayanan publik. dan kontribusi SI terhadap kinerja organisasional. informasi. kinerja fungsi TI. yaitu integrasi bisnis . factory. LSM. hardware. yaitu strategic. dll). keterlibatan manajemen puncak. Dampak stratejik TI masa yang akan datang tinggi berarti TI merupakan salah satu aktivitas yang penting yang harus dipertimbangkan dengan matang jika ingin survive dan flourish di masa yang akan datang. modern dan berkembang cepat. Teknologi Informatika dan Peranannya di Lingkungan organisasi bisnis dan Non Bisnis Dalam perkembangannya. bahkan menjadikannya sebagai media berbagi informasi dan pengetahuan. dan dampak stratejik TI rendah berarti pengembangan TI bukan merupakan suatu aktivitas yang kritis yang harus dilakukan perusahaan walaupun bermanfaat. manusia baik per-orangan maupun melalui organisasinya menggunakan teknologi informatika dalam wujud internet sebagai media memperoleh pengetahuan. turnaround. dll.

akan tetapi penggunaan teknologi informasi pun dapat pula disalah-gunakan atau berdampak negatif. bisa digunakan untuk mempermudah pekerjaan atau bisa juga untuk berbuat tidak baik. Oleh karena itu. 2. Bukan hal yang mustahil. merusak serta merubah data yang ada. parasitware. dapat membantu prosedur penerbitan surat keputusan/ keputusan dari kenaikan pangkat sampai pemberitahuan promosi mutasi (sehingga tidak terjadi seperti saat ini dimana pengiriman via pos sangat memakan waktu dan tidak sedikit yang hilang/ tercecer atau terjadi kesalahan. pemberian gaji langsung masuk ke rekening masingmasing (ini sudah berlangsung bagi pegawai di bank-bank). lembaga pendidikan baik yang ada di dalam maupun luar negeri). kemudian dimasa mendatang akan terjadi. Di bidang administrasi keuangan . Untuk mengantisipasinya. seperti dapat penulis contohkan sebagai berikut : 1. kumpulan tulisan-tulisan masyarakat umum (akademisi dan pemerhati masalah perkantoran) serta pustakawan handal di bidang teknologi informatika. Ancaman dari luar ini seperti : virus. Di bidang administrasi kepegawaian . dan untuk menduduki suatu jabatan maka pejabat atasan yang berwenang dapat mengetahui secara jelas komposisi pegawai yang up to date. kegiatan-kegiatan diklat dilaksanakan dengan modus jarak jauh (distance learning) sehingga para pengajar (terutama para pejabat fungsional dan struktural yang berkompeten) sesibuk apapun dapat meluangkan waktunya serta menghemat biaya. karena dimasa mendatang sektor ini termasuk yang paling dominan bahkan sangat pesat perkembangan dan inovasinya. mensosialisasi kebijakan penggunaan anggaran. spayware. 3. dialer. adanya perpustakaan online yang berisi buku-buku digital. 5. dll. keylogger. masing-masing lembaga organisasi perkantoran baik swasta atau negeri yang menggunakan teknologi informasi memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang memahami secara komprehensif dan mendalam. tanpa harus menunggu dibukanya kantor. Peningkatan Pemahaman Pengetahuan/wawasan global 31 . aspek-aspek kemudahan melaksanakan pekerjaan yang saat ini belum terpikirkan. sehingga kerusakan sistem yang mengakibatkan hilangnya data-data penting dapat dihindari. Di bidang perpustakaan . tergantung orang yang menggunakannya. baik segi manfaat penggunaan maupun ancaman bahaya yang mungkin timbul. 7 hari dalam seminggu. hack. sarana praktek menggunakan teknologi multimedia secara virtual. lembaga non pemerintah. dsb. malware. diantaranya melalui: a. seorang petugas dibidang teknologi informasi tersebut harus yang tahu betul akan seluk beluk teknologi informasi. adware. dari mengaplikasikan aneka produk teknologi dengan baik dan benar sampai maintenance serta memproteksi adanya ancaman luar yang menyusup. mempermudah dari penyusunan RKA-KL sampai dengan pelaksanaan dan pertanggung-jawaban anggaran.tersebut. browser hijacker. adanya sharing resource antara lembaga peradilan dengan lembaga-lembaga lain (lembaga pemerintah. Di bidang pendidikan dan pelatihan . Contoh-contoh diatas merupakan peranan teknologi informasi yang secara umum bersifat positif. bisa juga atasan yang tidak berada dikantor masih bisa memonitor bawahannya atau saling berinteraksi dalam pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu mendesak. maka salah satunya adalah institusi pendidikan mempunyai peranan dalam mewujudkan harapan tersebut. 4. memudahkan memberikan informasi atau konferansi pers melaui sistem otomasi dengan jaringan world wide web (internet) danpelayanan pun dapat disediakan selama 24 jam sehari. Mempersiapkan Kompetensi SDM Berbasis TI melalui Peran Institusi Pendidikan Untuk mempersiapkan kompetensi SDM perkantoran yang mumpuni terhadap TI. Di bidang pelayanan publik dan kehumasan .

sehingga mempermudah pencarian data-data oleh pengguna dari manapun. 32 . agama. penuh Inisiatif & Proaktif. Adapun untuk menyiapkan SDM yang kompeten dapat melalui:1)peningkatan pemahaman/wawasan 2) peningkatan keterampilan dan perbaikan akan perilaku. semua informasi-informasi yang berkenaan dengan perkantoran di lingkungan organisasi pemerintah ataupun swasta dapat diintegrasikan. Arti penting kemajuan teknologi informasi tersebut adalah selain agar dimanfaatkan dalam memberikan pelayanan kepada publik juga untuk lebih memperlancar. selalu berpikir inovatif & Kreatif serta mempunyai jiwa Mandiri / “Survive. cepat. meningkatkan daya kreativitas dan inovasi baik dari cara berpikir maupun bertindak serta tetap perpegang teguh pada pemahaman nilai-nilai atau norma-norma yang berlaku dalam unsur budaya. instutsi pendidikan mempunyai peranan penting tidak hanya dalam lingkup teori akan tetapi mulai di kembangkan dengan sesuai perubahan dan perkembangan pengetahuan yang berbasis teknologi informasi. dan responsif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Urgennya sarana dan prasarana teknologi informatika ini dikarenakan perkembangan teknologi yang begitu cepat juga membantu untuk pengembangan sistem tenologi infomasi di perkantoran di zaman yang serba efektif dan efisen. Hal ini sesuai dengan pendapat para ahli yaitu Miftah Thoha dibidang Administrasi Publik dari Universitas Gajah Mada menyatakan bahwa Manajemen PNS dimasa mendatang perlu dan mutlak melakukan perubahan dalam pengelolaan manajemen kepegawaian dari yang masih konvensional ke arah yang berbasis Informasi Teknologi (E-Government). terutama dalam hal keterbatasan SDM dan dana untuk pengadaan perangkat teknologi informasi. jangan sampai lembaga organisasi perkantoran baik negeri tertinggal jauh dengan instansi pemerintahan lainnya apalagi instansi swasta (terutama dalam hal SDM atau tenaga ahli dibidang teknologi informasi). dinamis &Flexible. hukum dan sosial masyarakat. untuk itu institusi berperan aktif untuk membangun perilaku SDM yang positif dan sehat secara utuh. mempercepat dan mempernyaman suatu pekerjaan. pengembagangan Iptek dan informatika serta keterampilan khusus dalam peningkatan mutu profesionlitas yang mampu berkompeten c. b. Dengan teknologi informasi ini pula. dalam rangka mengantisipasi terhadap perubahan lingkungan eksternal yang menuntut pengelolaan manajemen PNS yang profesional. PENUTUP Upaya dalam memoderenisasi sistem perkantoran adalah memalui aplikasi Teknologi Informasi dalam sistem organisasi baik pemerintah mapun swasta di masa depan merupakan suatu yang tidak bisa terelakan lagi. Sehingga mencerminkan SDM yang memiliki tingkat kedisiplinan. Bahkan teknologi ini bagian dari tuntutan era reformasi terhadap lembaga organisasi perkantoran di Indonesia.Terkait dengan pemberian pengetahuan / wawasan. Peningkatan Sikap atau perilaku Perilaku SDM juga turut menjadi sorotan dalam kehidupan sosial dan organisasi. Peningkatan keterampilan global Peningkatan keterampilan yang berbasis TI dapat juga terus ditingkat oleh peserta didik atau mahasiswa melalui penggunaan komunikasi multiguna. Meskipun dalam kenyataan saat ini masih terdapat beberapa kendala (teknis maupun non teknis).

wirausaha. www.allbusiness.binamanajemen. 2010 3.com 4. “Peran Teknologi Informasi dalam memodernisasi sistem Peradilan di Indonesia” 2.com 5.SH. www. Sony Teguh T.com 33 . Agus Budi Susilo.. Peran TI dalam Bisnis Global dan Sistem Perkantoran Moderen. www.REFERENSI 1.MH.

00. kemampuan mereka dalam kegiatan belajar mengajar sudah cukup bagus. kompetensi pedagogik guru. PENDAHULUAN 1. Variabel dalam penelitian ini adalah dua variabel bebas yaitu kompetensi pedagogik guru dan fasilitas belajar kemudian satu variabel terikat yaitu hasil belajar siswa Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. dari sarana umum sudah tersedianya ruang belajar/kelas yang cukup untuk menampung siswa hingga 46 orang. para guru pada umumnya yang masih belum melaksanakan kompetensi tersebut secara utuh.PENGARUH KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DAN FASILITAS BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN MENGELOLA KEARSIPAN PADA SISWA KELAS XI JURUSAN ADMINISTRASI PERKANTORAN SMK TAMAN SISWA KUDUS. Peraturan dari SISDIKNAS mengatakan bahwa “setidaknya seorang guru mempunyai empat kompetensi utama yaitu kompetensi pedagogik. Hasil penelitian regresi linier berganda menunjukakan persamaan Y = -51. Data yang ada menunjukkan siswa yang belum mencapai nilai KKM terdapat 35 siswa atau sekitar 39. Sebagai guru. Oleh : Nova Chotibul Umam SARI Penelitian ini bertujuan untuk menganaliasis besarnya pengaruh kompetensi pedagogik guru dan fasilitas belajar terhadap hasil belajar mata pelajaran mengelola kearsipan siswa kelas XI di SMK Tamansiswa Kudus secara parsial dan simultan. Dengan demikian menunjukkan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan baik secara simultan maupun parsial dari pengaruh kompetensi pedagogik guru dan fasilitas terhadap hasil belajar mata pelajaran mengelola kearsipan pada siswa kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus. Kata Kunci : Hasil Belajar. data tersebut diambil dari jumlah populasi dari dua kelas sebanyak 88 siswa. kompetensi pribadi. kompetensi sosial. 34 . map. Menurut pengamatan dan data yang ada secara umum fasilitas belajar yang menunjang pembelajaran mata pelajaran mengelola kearsipan di SMK Tamansiswa Kudus sudah cukup memadai.941 X1 + 0. untuk laboratorium/ruang praktik kearsipan di SMK Tamansiswa belum tersedia karena keterbatasan tempat. teknik analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis regresi berganda. guide. Berdasarkan informasi dari sebagian siswa seperti memanfaatkan teknologi komunikasi dalam pembelajaran dan lain-lain.25+ 0. Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan pada mata pelajaran mengeloala kearsipan yaitu 72. fasilitas belajar I. setiap mengadakan praktek siswa SMK Tamansiswa menggunakan ruangan yang lain.77% yang terdiri dari siswa kelas administrasi perkantoran 1 terdapat 6 siswa yang belum tuntas dan kelas administrasi perkantoran 2 terdapat 29 siswa yang belum tuntas.746 X2. Selain memiliki fasilitas belajar yang cukup memadai. namun untuk alat-alat penunjang proses pembelajaran mengelola kearsipan sudah cukup tersedia seperti filling kabinet. kartu kendali dan kertas pinjam arsip. stepler.1 Latar Belakang Hasil belajar siswa jurusan administrasi perkantoran kelas XI pada mata pelajaran mengelola kearsipan masih belum optimal. Dalam penelitian ini menggunakan populasi karena respondennya terdiri kurang dari 100 yaitu 88 siswa. penerangan yang cukup dengan 4 lampu untuk ruang laboratorium dan 2 lampu untuk ruang kelas. SMK Tamansiswa Kudus juga memiliki guru-guru yang berkompeten dan mempunyai keahlian sesuai bidangnya masingmasing. dan kompetensi professional” Namun pemahaman dan penerapan tentang kompetensi tersebut masih belum maksimal terlebih lagi kompetensi pedagogik guru disini.

membimbing. Darji Darmodihardjo menunjukkan suatu usaha yang lebih ditunjukkan kapada pengembangan budi pekerti. Seberapa besar pengaruh kompetensi pedagogik guru dan fasilitas belajar terhadap hasil belajar mata pelajaran mengelola kearsipan siswa kelas XI di SMK Tamansiswa Kudus? II. LANDASAN TEORI 2. rasa kesusilaan.2 Rumusan Masalah Dari identifikaksi masalah di atas penelitian ini akan dibahas tentang beberapa masalah diantaranya: 1. 2010: 2 ). 35 . 2010: 2). dan obyektif mengembangkan konsep-konsepnya mengenal hakekat proses pendidikan. semangat kecintaan. dan “agogos” artinya mengantar. Penelitian ini mengkaji fakta-fakta yang sudah ada dan tidak memanipulasinya atau mengubah data tersebut sehinggga penelitian ini termasuk penelitian non eksperimen. mendidik anak kearah tujuan tertentu. mendidik berarti memberi tuntutan kepada manusia yang belum dewasa dalam pertumbuhan dan perkembangan. kritis. Seberapa besar pengaruh fasilitas belajar terhadap hasil belajar mata pelajaran mengelola kearsipan siswa kelas XI di SMK Tamansiswa Kudus? 3. mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota.1 Konsep Dasar tentang Fasilitas Belajar Bafadal (2004: 2). 2. Seberapa besar pengaruh kompetensi pedagogik guru terhadap hasil belajar mata pelajaran mengelola kearsipan siswa kelas XI di SMK Tamansiswa Kudus? 2. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku manusia yang diperoleh setelah mengalami proses belajar. yang berarti anak laki-laki. 1. Menurut Hoogeveld. Brojonegoro. Hasil belajar mata pelajaran mengelola kearsipan merupakan hasil perubahan perilaku berupa pengetahuan yang siswa dapatkan setelah proses pembelajaran dan keterampilan mengelola kearsipan yang siswa peroleh. mendefinisikan sarana/fasilitas belajar adalah semua perangkat peralatan. dan menunjang pelaksanaan kegiatan belajar di sekolah.1 Konsep Dasar tentang Hasil Belajar “Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya” (Slameto. Pedagogik merupakan suatu teori dan kajian yang secara teliti. 2. dan ketaqwaan. Menuurt S. yang menjadi tujuan dari pembelajaran adalah pendiskripsian tentang perubahan perilaku yang diinginkan atau gambaran produk yang menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut sudah terjadi. Menurut Ki Hajar Dewantara. (Sadulloh. selain itu penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif karena peneliti memaparkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan. III.1 Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif. sampai tercapainya kedewasaan dalam arti rohani dan jasmani. METODOLOOGI PENELITIAN 3. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang telah dipelajari oleh pembelajar. mendidik adalah membantu anak supaya anak itu kelak cakap menyelesaikan tugas hidupnya atas tanggung jawab sendiri. dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses belajar di sekolah. artinya pendekatan ini untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh atau tidak antara variabel bebas dan variabel terikat dan seberapa besar pengaruh tersebut.2 Konsep Dasar tentang Kompetensi Pedagogik Pedagogik merupakan suatu kajian tentang pendidikan anak. Defininisi tentang istilah padagogik diuraikan oleh beberapa ahli dalam Sadulloh (2010: 3). bahan. Pendapat lain juga mengatakan hal yang sama bahwa pedagogik merupakan ilmu mendidik. Dari pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa fasilitas belajar adalah semua kebutuhan yang diperlukan oleh peserta didik dalam rangka untuk memudahkan. berasal dari bahasa yunani ”paedos”.Dari uraian tersebut peneliti tertarik untuk meneliti tentang kompetensi pedagogik guru dan fasilitas belajar yang berada di SMK Tamansiswa dengan judul ”Pengaruh Kompetensi Pedagogik Guru Dan Fasilitas belajar Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Mengelola Kearsipan Siswa Kelas XI Jurusan Administrasi Perkantoran Di SMK Tamansiswa Kudus”. Secara kiasan pedagogik adalah seorang ahli yang membimbing anak. melancarkan.

(7) berkomunikasi secara efektif. rapat. Uji Multikolinieritas c. Populasi Penelitian Obyek dalan penelitian ini adalah seruh siswa kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa yang jumlahnya 88 siswa. (3) mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran. Fasilitas Belajar Fasilitas belajar yaitu segala sesuatu yang digunakan untuk memperlancar proses pembelajaran mata pelajaran mengelola kearsipan. (5) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. surat kabar. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut: 1. Analisis Regresi Linier Berganda 36 .2 3. Bagaimana seorang guru dalam mendidik siswa. penulis menggunakan teknik sebagai berikut: Angket “Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya.3. dimana responden telah diberikan pilihan jawaban. atau hal-hal yang diketahui” (Suharsimi.Uji Heteroskedastisitas 3. yaitu seperangkat perlengakapan dasar yang tidak secara langsung menunjang proses pembelajaran. Variable Penelitian Dalam penelitian ini terdapat dua variabel bebas dan satu variabel terikat. buku.Uji Normalitas b. Indikator hasil belajar adalah nilai dari tes subsumatif atau nilai ulangan tengah semester. Analisis Deskriptif 2.3 3. yang didalamnya mencakup pengelolaan kelas. Variabel yang dipaparkan dalam penelitian ini adalah: Kompetensi Pedagogik Kompetensi pedagogik guru adalah kemampuan seorang guru dalam mengelola kelas.3. leger. Pertanyaan yang disediakan dalam angket merupakan jenis pertanyaan tertutup. (8) menyelenggarakan penilaian evaluasi dan proses dan hasil belajar. agenda dan sebagainya” (Suharsimi. Peneliti menggunakan teknik dokumentasi ini karena ingin memperoleh data-data yang relevan dengan tujuan penelitian sehingga dapat mempermudah dalam proses penelitian. berhubung jumlah obyek yang diteliti kurang dari 100 maka peneliti menggunakan penelitian jenis populasi. (9) memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi. 2006:158). (2) prasarana.4 1. (6) memfasilitasi pemngembangan potensi peserta didik.3.2 3. notulen. dan fasilitas belajar. Indikator fasilitas belajar adalah (1) sarana. (2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. Tujuan dari penggunaan teknik ini adalah untuk mengetahui tanggapan responden tentang kompetensi pedagogik guru. 2.1 3. (4) menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Teknik ini digunakan untuk memperoleh data berupa daftar nilai ulangan tengah semester dari pihak guru mata pelajaran mengelola kearsipan di SMK Tamansiswa Kudus 3. 2006: 151). Indikator kompetensi pedagogik meliputi : (1) menguasai karakteristik peserta didik. Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini. majalah. Dokumentasi “Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa cacatan. (10) melakukan tindakan reflektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Hasil belajar Hasil belajar merupakan perubahan perilaku manusia yang diperoleh setelah mengalami proses belajar.3. empatik dan santun. Uji Asumsi Klasik a. yaitu segala peralatan yang digunakan secara langsung dalam proses pembelajaran. transkip.5 Teknik Analisis Data.3 3.

7436Sangat 19 9152 baik 2. 2464 baik Persentas e 22% 68% 10% 0% Frekuen si 6 42 33 7 Persenta se 7% 48% 38% 8% 37 . l Skor 1 4576Sangat .IV. Interval Frekuen Kriteria Skor si 1. 4576 3 2464Kurang . 40049 Kurang 5720 baik 4. 3520 baik 4 1408Tidak . 22880 Tidak 4004 baik Kriteria Deskriptif Fasilitas Belajar N Interva Kriteria o. 5632 baik 2 3520Baik . 572060 Baik 7436 3. 4. Koefisien Determinasi Simultan dan Parsial HASIL DAN PEMBAHASAN Kriteria Deskriptif Kompetensi Pedagogik Guru No.

Namun dalam penelitian ini variabel intervening tersebut tidak diteliti.248 1. .616 5.323 Sig.746 .104 .000 Correlatio ns Partial . Adapun kelemahan penelitian adalah sebagai berikut: 1. Predictors: (Constant).478 a Coefficients Model 1 (Constant) Kompetensi Pedagogik Guru Fasilitas Belajar t -4.253 11. 3.248 a.535 .441 .118 Standardized Coefficients Beta . Dependent Variable: Hasil Belajar Hasil Koefisien Determinasi secara Parsial Unstandardized Coefficients B Std. Dependent Variable: Hasil Belajar Hasil Koefisien Determinasi Secara Simultan b Model Summary Change Statistics Model 1 R .801 1.941 .602 Std. Kompetensi pedagogik guru dan fasilitas belajar tidak dapat berpengaruh secara langsung terhadap hasil belajar.248 a.611 Adjusted R Square .161 .000 .000 .941 .118 Standardized Coefficients Beta .535 .02251 F Change 66. 2.782a R Square . . Dependent Variable: Hasil Belajar Keterbatasan Penelitian Dalam penelitian ini penulis mendapati keterbatasan penelitian.253 11.1 Simpulan Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat diketahui bahwa kompetensi pedagogik guru dan fasilitas belajar mempengaruhi hasil belajar siswa kelas XI jurusan administrasi perkantoran di SMK Tamansiswa Kudus dengan simpulan sebagai berikut: 38 .839 6.000 . Error -51. Fasilitas Belajar.161 . akan tetapi harus melalui variabel intervening.566 Collinearity Statistics Tolerance VIF .801 .746 . namun dalam penelitian ini hanya ditujukan kepada satu guru saja yaitu kompetensi pedagogik guru pada mata pelajaran mengelola kearsipan sesuai dengan instrumen yang diberikan kepada para siswa. Kompetensi Pedagogik Guru b. Angket yang dibagikan pada responden menayakan kemampuan kompetensi guru secara keseluruhan. sedangkan yang diteliti hanya pada satu guru mata pelajaran V.Regresi linier berganda a Coefficients Model 1 (Constant) Kompetensi Pedagogik Guru Fasilitas Belajar Unstandardized Coefficients B Std. dikarenakannya kelemahan peneliti dalam menganalisis permasalahan yang di angakat.478 t -4.801 1. adapun variabel yang dimaksud adalah proses pembelajaran. F Change . Variabel kompetensi pedagogik guru yang dibahas seharusnya kompetensi pedagogik guru secara keseluruhan.000 .616 5.000 Correlatio ns Partial .744 df1 2 df2 85 Sig. PENUTUP 5.441 .323 Sig.839 6.566 Collinearity Statistics Tolerance VIF .801 .104 .248 1. Error -51. Error of the Estimate 12.000 a.

Bagi siswa Disarankan bagi siswa kelas XI untuk lebih giat dalam belajar. Gie. 2007. Perencanaan Pembelajaran. lebih memanfaatkan fasilitas yang telah di sediakan oleh sekolah. Jakarta: Bumi Aksasa. Bandung: PT. Perpustaan yang sudah disediakan dibenahi lagi dalam koleksi buku-buku literaturnya agar siswa mudah dalam memperoleh dan menambah pengetahuan mereka 3. Teacher Educational Pogramadmission Criteria And What Beginning Teachers Need To Know To Be Successful Teachers. dkk. 2006. Sistem Pendidikan Nasional. 2009. 1984. Abdul. maka saran yang dapat diberikan oleh peneliti antara lain: 1. Remaja Rosdakarya. 2007. agar nilai ketuntasan dapat dicapai oleh seluruh siswa 4. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Ghozali.pdf. 2006.ca/publications/cjeap/pdf_files/childs_casey. Casey & Ruth. 1998. Fasilitas sarana yang dibutuhkan perindividu perlu ditambah disesuaikan dengan jumlah siswa mengingat banyaknya mata pelajaran yang praktek yang siswanya harus benar-benar faham. Bagi sekolah . http://www. Asmani. Jamal Ma’mur. dimaksudkan agar proses pembelajaran dapat lebih variatif 2. Psikologi Belajar. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Salam. Kompetensi pedagogik guru dan fasilitas belajar mempunyai pengaruh cukup besar terhadap hasil belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran mengelola kearsipan di SMK Tamansiswa Kudus 5. Jakarta: Rineka Cipta. Imam. 2003. The Liang. Sedang Selangor. Ibrahim. Chtarina. Bagi peneliti lanjut Disarankan menambah variabel lain yang berpengaruh dengan hasil belajar. Majid. Semarang: UPT MKK UNNES. Prosedur Penelitian. Pengantar Pedagogik. Himpunan Perundang-undangan Republik Indonesia. Kompetensi pedagogik guru mempunyai pengaruh relatif kecil terhadap hasil belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran mengelola kearsipan jurusan administrasi perkantoran di SMK Tamansiswa Kudus 2. Jogjakarta Kontin. Malaysia. Bafadal. 7 kompetensi guru. Universiti Putra Malaysia Press. 2009. Bagi guru Dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi lebih ditingkatkan. ( 15 Mei 2010). Burhanuddin. Power books Banguntapan. 2002. Canadian Journal of education Administration and policy. Majid. Jakarta: Rineka Cipta. Suharsimi. a.1. Cara Belajar Yang Efisien. Tri Anni. b. Fasilitas belajar mempunyai pengaruh relatif kecil terhadap hasil belajar siswa kelas XI mata pelajaran mengelola kearsipan jurusan administrasi perkantoran di SMK Tamansiswa Kudus 3. Teacher Effectiveness. Ekonometrika.umanitoba. Bandung: Nuansa Aulia. 39 . Moh. 2004. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Manajemen Perlengkapan Sekolah dan Aplikasinya.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh.

multiply. Raja Grafindo Persada. suggestion from findings of the development of secondary science techers practice and cognizance of the lerning proses.Natioanal Clearinghouse For Educational Facilities. Kenneth. 2010) R. Developing pedagogical competence in online environments. (12Mei 2010) Slameto.Nevin.net/jurnal1. 2003. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. 2006.wordpress. 2009. Do school faciliti affect Academic Outcome.com/journal/item/8 (23 Mei 2010) Syaiful. Universitas Negeri Semarang. Arina. Jakarta: Rineka Cipta. Pengaruh Kompetensi Professional Dan Kompetensi Pedagogik Guru Ekonomi Terhadap Akuntansi Terahadap Prestasi Belajar Di SMK Kabupaten Magelang. Ann. 2006.html#smkmenarik (3 April.org. European journal Of Teacher Education. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. 2009. http://jurnal. http://unikharynizar.com/2009/11/15/ranah-penilaian-kognitif-afektif dan-psikomotorik/ (10 Juni 2010) Zakiyati. Usulan Model Pembaharuan Untuk pengembangan sekolah. Skripsi.central conneticut Satate University Zaifbio.edfacilities. Implementasi Pembelajaran Aktif. Efektif dan Menyenangkan (PAKEM). University of South Carolina Ruzana. New Maxico Republika 2007. 2007. Eko. Sri. Educational Facilities w ith in the Context of a Changing 21st Century America. Universitas Negeri Semarang. Pengaruh Komunikasi Guru Dan Fasilitas Belajar Siswa Jurusan Administrasi Perkantoran Mata Pelajaran Bekerjasama Dengan Kolega Dan Pelanggan Di Smk SeKabupaten Purbalingga. Jakarta: Rineka Cipta.pendidikan . Sardiman. Kreatif. 40 . 2010. Evaluasi Pendidikan http://zaifbio. 2010. 2007. Schneider. Stevenson. Strategi Belajar Mengajar. 2006. Skripsi. Mark. Jakarta: PT. Invigorating pedagogic change. Pedagogik. Sadullah. Bandung: Alfabeta. www. 202. Albuquer. Bahri Djamarah. Srihartanto. Uyoh. 2010.

Dalam proses belajar mengajar ekonomi. antara lain disebabkan kurangnya keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar. Adapun dalam pembelajaran tradisional tersebut. Objek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII B SMP N 1 Tersono Kabupaten Batang yang berjumlah 30 siswa. sehingga menimbulkan sikap negatif siswa terhadap mata pelajaran ekonomi yang akhirnya berpengaruh pula terhadap pencapaian hasil belajar mata pelajaran ekonomi Selain itu. Bahkan saat guru memberikan waktu kepada siswa untuk bertanya tidak ada siswa yang bertanya. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. sehingga hasil belajar ekonomi siswapun meningkat. maka permasalahan yang diteliti yaitu apakah model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII B SMP N 1 Tersono Kabupaten Batang? Berdasarkan masalah yang telah dikemukakan diatas. perubahan kurikulum tersebut harus pula diikuti oleh guru yang bertanggung jawab atas terselenggaranya pembelajaran di sekolah. guru tidak menggunakan alat dan praktek. khususnya pada jenis dan jenjang pendidikan formal (sekolah). Oleh karena itu. dan memotivasi diri sendiri. guru ekonomi harus mampu memotivasi siswa serta melakukan usaha-usaha lain dalam menyampaikan materi pelajaran di kelas agar siswa termotivasi dan berminat dalam pembelajaran ekonomi. Hasil Belajar PENDAHULUAN Rendahnya hasil belajar siswa kelas VIII B SMP N 1 Tersono dalam mata pelajaran ekonomi. Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw II. serta hanya menjelaskan konsep-konsep yang terdapat dalam buku ajar (Trianto 2007:1). suasana kelas cenderung teachercentered.IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW II PADA MATA PELAJARAN EKONOMI SISWA KELAS VIII B SMP N 1 TERSONO KABUPATEN BATANG Yulia Ratnaningsih NIM 3301403128 Abstrak: Makalah ini menjelaskan tentang metode pembelajaran kooperatif jigsaw II dan penerapannya yang dirancang dengan design penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam dua siklus. Oleh karena itu. berpikir. Dalam hal ini. tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII B SMP N 1 Tersono Kabupaten Batang. Salah satu cara untuk mewujudkan hal itu yaitu dengan diterapkannya metode pembelajaran kooperatif jigsaw II dalam pembelajaran. penyampaian materi oleh guru masih dilakukan dengan menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas. Berdasarkan latar belakang di atas. diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran sebagai alternatif perbaikan dalam 41 . Bahkan mereka kurang tertarik terhadap mata pelajaran ekonomi. siswa tidak dipahamkan tentang bagaimana cara belajar. perlu diterapkan model pembelajaran yang dapat membantu siswa kelas VIIIB SMP Negeri 1 Tersono untuk memahami materi ajar dan mampu melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat. Berlakunya kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi yang telah direvisi melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut adanya perubahan adanya pemahaman tentang pendidikan dan pembelajaran. Penilaian diambil dari nilai ulangan harian siswa sebelum diterapkannya metode pembelajaran kooperatif jigsaw II (sebagai data pembanding) yang dibandingkan dengan nilai postes dari siklus I dan siklus II. Hal tersebut mengakibatkan siswa jenuh dalam menerima pelajaran. Batang dari hasil penelitian yang diperoleh. Siswa hanya mendengarkan dan mencatat apa yang disampaikan oleh guru dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Hal ini disebabkan karena siswa merasa takut untuk melontarkan pertanyaan atau bahkan siswa merasa malu untuk bertanya. Dengan demikian suasana belajar mengajar menjadi tidak kondusif dan siswa cenderung pasif. Oleh sebab itu. Kata Kunci: Implementasi. baik di dalam kelas maupun di luar kelas. berdasarkan hasil pengamatan terhadap rendahnya hasil belajar peserta didik di kelas VIII B SMP Negeri 1 Tersono disebabkan proses pembelajaran yang didominasi oleh pembelajaran tradisional. Manfaat hasil penelitian bagi SMP N 1 Tersono Kab.

setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerjasama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa. meliputi keluarga. sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. dan saling membantu untuk mencapai ketuntasan dalam belajar. belajar mengajar meliputi suatu komponen. sekolah. dan penghargaan kooperatif. meliputi intelegensi dan bakat. metode. Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran didorong dan atau dikehendaki untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama. Agar tujuan itu tercapai. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. semua komponen yang ada harus diorgnisasikan sehingga antar sesama komponen terjadi kerja sama. (2) Hasil belajar siswa. siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks. dan sebagainya. tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Belajar mengajar selaku suatu sistem instruksional mengacu kepada pengertian sebagai seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan (Djamarah 2002 : 10). dan psikomotor (Djamarah. sikap kurang sopan menjadi sopan. (5) hipotesis. Dalam penerapan kooperatif dua atau lebih individu saling tergantung 42 .proses pembelajaran dan peningkatan kualitas pendidikan. bahan. 2002:13). (3) faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar. selama bekerja dalam kelompok tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan oleh guru. LANDASAN TEORI Untuk memecahkan masalah yang telah dikemukakan diatas. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya. Oleh karena itu. misalnya dari tidak tahu menjadi tahu. Adapun tujuan dibentuknya kelompok adalah untuk memberikan kesempatan pada semua siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dalam pembelajaran. metode mengajar. masyarakat. Peneliti sebagai calon guru dapat menambah pengetahuan untuk meningkatkan kemampuannya dalam dunia pendidikan. Menurut Slameto dalam Djamarah (2002:13). Selaku suatu sistem. belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan. Dengan demikian kerjasama dalam kelompok merupakan aspek utama dalam pembelajaran kooperatif. guru. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya. Dalam pembelajaran kooperatif. dan lingkungan sekitar. minat dan motivasi. belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran. Perubahan tersebut dapat diartikan terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibanding dengan sebelumnya. situasi dan evaluasi. (4) model pembelajaran kooperatif jigsaw II. Dalam pembelajaran. Sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu. Sedangkan bagi guru diantaranya adalah dengan adanya penelitian ini diharapkan Guru memperoleh tambahan wawasan atau informasi mengenai penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS Ekonomi dan memberikan pedoman bagi guru dalam memotivasi siswa untuk belajar sehingga menumbuhkan keinginan pada diri siswa untuk berprestasi lebih baik. afektif. tujuan. yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan sikap dan keterampilan. khususnya belajar IPS Ekonomi dan pendidikan pada umumnya. antara lain tujuan. landasan teori dalam penelitian ini meliputi: (1) pembelajaran sebagai suatu sistem. dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas tersebut. Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif. Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw II Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi (Trianto 2007 : 41). Dalam pembelajaran kooperatif dicirikan oleh struktur tugas. siswa. kesehatan.

Setelah membaca materinya. Tatap muka Dalam pembelajaran kooperatif setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. 43 . Dalam teknik ini siswa bekerja dalam anggota kelompok yang sama dengan latar belakang yang berbeda. Mereka akan berbagi penghargaan tersebut jika mereka berhasil sebagai kelompok. Evaluasi proses kelompok Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. lalu mereka kembali kepada timnya untuk mengajarkan topik mereka itu kepada teman satu timnya. biografi. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan. Untuk itu harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong yaitu: a. Alasan lain adalah tumbuhnya kesadaran bahwa para siswa perlu belajar untuk berpikir. c. b. Jigsaw II adalah suatu model pembelajaran kooperatif yang melibatkan kelompok-kelompok kecil yaitu 5-6 siswa. Menurut Roger dan David Johnson dalam bukunya Anita Lie (2004 : 31-35) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative Learning. Tiap anggota tim ditugaskan secara acak untuk menjadi “ahli” dalam aspek tertentu dari tugas membaca tersebut. Komunikasi antar anggota Unsur ini menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif. karena keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkin. dan mengintegrasikan serta mengaplikasikan kemampuan dan pengetahuan mereka. Tanggung jawab perseorangan Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif. tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Bentuk adaptasi jigsaw yang lebih praktis dan mudah adalah Jigsaw II (Slavin 2008 : 237). Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran koopertif membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan. d. memanfaatkan kelebihan. Namun proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa. setiap siswa akan merasa bertanggungjawab untuk melakukan yang terbaik. 2008:4-5) Menurut Anita Lie (2004:38) dalam bukunya Cooperative Learning bahwa model pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar kelompok. atau materi-materi yang bersifat penjelasan terperinci lainnya. Para siswa ditugaskan untuk membaca bab. buku kecil. atau materi lain. Saling ketergantungan positif Keberhasilan suatu karya sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya. Metode pengajaran jigsaw dikembangkan oleh Elliot Aronson dan rekan-rekannya di Universitas Texas. dan mengisi kekurangan. biasanya bidang studi sosial. Ada banyak alasan yang membuat pembelajaran kooperatif memasuki jalur utama praktik pendidikan.satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama. e. dan meningkatkan rasa harga diri. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. menyelesaikan masalah. Salah satunya adalah untuk meningkatkan pencapaian prestasi siswa. dan juga akibatakibat positif lainnya yang dapat mengembangkan hubungan antar kelompok. para ahli dari tim berbeda bertemu untuk mendiskusikan topik yang sedang mereka bahas. dan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan sarana yang baik untuk mencapai hal-hal semacam itu (Slavin. Hasil pemikiran beberapa kepala akan lebih kaya daripada hasil pemikiran dari satu kepala saja. Keterampilan berkomunikasi dalam berkelompok juga merupakan proses panjang. penerimaan terhadap teman sekelas yang lemah dalam akademik. pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.

Ilustrasi Kelompok Jigsaw II Langkah-langkah dalam penerapan teknik Jigsaw II adalah sebagai berikut. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Tujuan dari pemberian penghargaan ini adalah untuk memotivasi siswa supaya para siswa termotivasi untuk mempelajari materi dengan baik dan untuk bekerja keras dalam kelompok ahli mereka supaya mereka dapat membantu timnya melakukan tugas dengan baik. setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Penghargaan tersebut dapat berupa sertivikat atau bentuk-bentuk rekognisi tim lainnya. siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal. Misal suatu kelas dengan jumlah 30 siswa dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran. Gambar 2. maka dari 30 siswa dibagi menjadi 5 kelompok ahli yang beranggotakan 6 siswa dan 6 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Dalam kelompok ahli. dengan setiap kelompok terdiri dari 4 – 6 siswa dengan kemampuan yang berbeda. Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya.Dalam model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II. 44 . Kelompok ini disebut kelompok asal. Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok. Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut: Kelompok Asal Kelompok Ahli Gambar 1. Sedangkan kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Dalam tipe Jigsaw II ini. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok Jigsaw (gigi gergaji). Kelompok asal adalah kelompok awal siswa yang terdiri dari beberapa anggota kelompok ahli yang dibentuk dengan memperhatikan keragaman dan latar belakang siswa. serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kunci metode Jigsaw II ini adalah interdependensi: tiap siswa bergantung kepada teman satu timnya untuk dapat memberikan informasi yang diperlukan supaya dapat berkinerja baik pada saat penilaian. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli. Contoh Pembentukan Kelompok Jigsaw II Guru memberikan kuis (yang mencakup seluruh topik) untuk siswa secara individual.

digunakan untuk mengamati kegiatan guru dan siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Dalam validitas isi sampel untuk tes dapat dimintakan bantuan ahli bidang studi untuk menelaah apakah konsep materi yang diajukan telah memadai atau tidak sebagai sampel tes. Pada siklus II diketahui skor terendah = 60. 2007:256). tes. diperoleh adanya peningkatan terhadap hasil belajar siswa. metode ini digunakan untuk mengumpulkan daftar nama dan jumlah siswa yang akan digunakan sebagai objek penelitian yaitu kelas VIII B. Sedangkan keberhasilan kelas dilihat dari jumlah peserta didik yang mampu menyelesaikan atau mencapai minimal 65%. Persentase ketuntasan belajar klasikal = 63. digunakan untuk mengambil data tentang hasil belajar IPS-Ekonomi pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Tersono Kabupaten Batang yang telah diajar dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II. Dengan demikian validitas isi tidak memerlukan uji coba dan analisa statistik atau dinyatakan dalam bentuk angka-angka (Nana Sudjana. Persentase ketuntasan belajar klasikal = 93.3%. dan yang belum tuntas belajar = 2 siswa.7%. Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan Jigsaw II untuk belajar materi baru maka perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Validitas isi dilakukan dengan cara menelaah soal secara teoritis dengan seorang ahli / guru bidang studi IPS-Ekonomi. 2008:13-14). dan siswa yang belum tuntas belajar = 4 siswa. SMP Negeri 1 Tersono beralamat di Jalan Raya Tersono. menguasai kompetensi atau mencapai tujuan pembelajaran minimal 65% dari seluruh tujuan pembelajaran.3%. Sekurang-kurangnya 75% dari keseluruhan siswa yang ada di kelas tersebut mencapai ketuntasan belajar afektif dan psikomotorik 75% (Mulyasa. Kecamatan Tersono Kabupaten Batang. skor tertinggi = 85. serta untuk memperoleh daftar nilai siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Tersono. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. dan refleksi (Suharsimi Arikunto 2007 : 16). Setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan dan masing-masing kegiatan tatap muka adalah dua jam pelajaran dengan alokasi waktu satu jam pelajaran sama dengan 40 menit.Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran. dimana dari 30 siswa yang telah tuntas belajar = 26 siswa. dimana dari 30 siswa yang telah tuntas belajar = 19 siswa. siswa yang telah tuntas belajar = 28 siswa. Seorang peserta didik dipandang tuntas belajar jika ia mampu menyelesaikan. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila tes tersebut mampu mengungkapkan isi suatu konsep atau variabel yang hendak diukur. pengamatan. Dalam penelitian ini tiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan. dan siswa yang belum tuntas belajar = 11 siswa. Proses penelitiannya terdiri dari dua siklus. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Analisis hasil belajar sebelum diterapkan metode pembelajaran kooperatif jigsaw II diketahui skor terendah = 40. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Tersono. pelaksanaan. Indikator keberhasilan yang dijadikan tolok ukur dalam penelitian ini adalah: 1. Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan validitas isi. Berdasarkan hasil penelitian. maka hasil belajar siswa akan meningkat. Jawa Tengah. sekurang-kurangnya 85% dari jumlah peserta didik yang ada di kelas tersebut (Mulyasa. Persentase ketuntasan belajar klasikal = 86.2 dengan ketuntasan 45 .2. rerata (mean) = 84. dengan rerata (mean) = 77. Nilai rata-rata kelas sebelum diterapkannya metode kooperatif jigsaw II adalah 63. Setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif jigsaw II pada siklus I diketahui skor terendah = 50. skor tertinggi = 100. Hipotesis dalam penelitian ini adalah dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Tersono. 2007:254) 2. skor tertinggi = 95. dengan rerata (mean) = 63. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini antara lain: metode dokumentasi. dan observasi.

Dengan demikian dapat disimpulkan hipotesis yang menyatakan bahwa dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Tersono. Strategi Belajar Mengajar. Anita. 2007. PENUTUP Hasil dari penelitian ini yaitu bahwa pembelajaran IPS Ekonomi dengan metode Kooperatif Jigsaw II menggunakan desain penelitian tindakan kelas dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIIIB SMP N 1 Tersono Kabupaten Batang tahun pelajaran 2008/2009.3%. Suharjono. Mulyasa.3 %.7% sedangkan pada tes akhir siklus II nilai rata-rata kelas mencapai 84. 46 . Bandung: Remaja Rosda Karya. Jakarta: Prestasi Pustaka. 2008.3%. Robert E. E.0 dengan ketuntasan belajar klasikal 93. Sudjana. Syaiful Bahri dan Aswan Zain. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. 2007. Jakarta: Rineka Cipta. Lie. 2007. Cooperative Learning. Bumi Aksara. Nana. dan Supardi. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Setelah diterapkannya metode kooperatif jigsaw II pada siklus I nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 77 dengan ketuntasan belajar sebesar 86. 2002. Djamarah. Jakarta: Grasindo. ______. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar ekonomi siswa serta tercapainya indikator keberhasilan. Suharsimi. 2008. Bandung: Remaja Rosda Karya. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. 2007. Trianto. Hal ini dibuktikan dengan perolehan nilai tes dari masing-masing siklus yang mengalami peningkatan. Jakarta: PT. 2004. Terjamahan Nurulita Yusron. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar pembelajaran dengan metode kooperatif tipe jigsaw II dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran bagi guru dalam rangka menambah variasi model mengajar dan perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui keefektifan pembelajaran dengan metode kooperatif jigsaw II sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa.belajar klasikal 63. Bandung: Nusa Media. Hasil tes siklus I nilai rata-rata kelas mencapai 77 dengan ketuntasan belajar klasikal 86. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. maka hasil belajar siswa akan meningkat diterima (terbukti).0 dengan ketuntasan belajar klasikal sebesar 93.7 % dan pada siklus II nilai rata-rata kelas adalah 84. Slavin. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Prestasi Pustaka. Cooperative Learning Mempraktikkan Kooperative Learning di Ruang-ruang Kelas.

desentralisasi dan azas kombinasi yang paling tepat. pelaksanaan dan penyelenggaraan kehidupan kebangsaan serta untuk menyediakan bahan pertanggungjawaban tersebut bagi kegiatan pemeritahan. maka harus ada system dan prosedur kerja yang baik dibidang kearsipan. System kearsipan yang dibangun adalah manajemen filling dalam computerisasi dan dibuktikan dengan print out. kemudian dikendalikan dengan system kartu kendali. Swasta dan Perguruan Tinggi. Mengurus arsip. Sehingga arsip sebagai sumber informasi harus dikelola dengan baik. di mana dalam klausul ISO tersebut Sistem Manajemen Mutu. lengkap dan akurat. sumber informasi serta alat pengawasan yang sangat diperlukan dalam setiap organisasi dalam rangka melaksanakan segala kegiatan-kegiatan di Perguruan Tinggi. salah satunya terdapat pengendalian kearsipan. Unnes dalam peningkatan mutu. Selain itu kearsipan juga merupakan salah satu bahan untuk penelitian ilmiah. pengendalian. Filling komputerisasi dan print out tersebut disimpan berdasarkan pokok permasalahan (subjek). 7 Tahun 1971. Kata kunci : manajemen kearsipan dan ISO 9001: 2008 Pendahuluan Kearsipan mempunyai peranan sebagai pusat ingatan. perlu disadari bahwa mengurus arsip adalah bukan sesuatu hal yang mudah. bukan hanya soal menyimpan warkat-warkat yang pada saatnya nanti harus dibuang Sistem penyimpanan yang mana akan digunakan. yaitu baik sebagai alat untuk membantu daya ingatan manusia. sumber informasi serta alat pengawasan yang sangat diperlukan dalam setiap organisasi dalam rangka melaksanakan segala kegiatan-kegiatan. perlu memberikan informasi yang lengkap pada pengguna (user).MODEL MANAJEMEN KEARSIPAN SEBAGAI UPAYA UNNES MERAIH SERTIFIKAT ISO 9001: 2008 (Kajian Konseptual) Agung Kuswantoro. Ini pun tidak asal saja ditentukan. antara lain dirumuskan bahwa tujuan kearsipan adalah untuk menjamin keselamatan bahan pertanggungjawaban nasional tentang perencanaan. Dalam proses penyajian informasi agar pimpinan dapat membuat keputusan dan merencanakan kebijakan. tetapi memerlukan penanganan yang serius. pada saat ini sedang mengajukan diri untuk mendapatkan sertifikat ISO 9001 tahun 2008 untuk dapat menjamin 47 . jika kantor tersebut tidak memelihara kearsipan yang baik dan teratur sesuai dengan ketentuan-ketentuan kearsipan yang telah ditetapkan. pemeliharaan. penggolongan. penyimpanan. Pada pasal 3 Undang-Undang No. Universitas Negeri Semarang sebagai kampus konservasi. baik pada kantor-kantor Lembaga Negara.Pd Abstract Kearsipan mempunyai peranan sebagai pusat ingatan. azas efisiensi perlu dipertimbangkan dengan seksama. UNNES saat ini. perlu ditentukan. Menggunakan azas sentralisasi. Dalam kesibukan pembangunan seperti sekarang ini. Dari pengertian tersebut tampak bahwa arti pentingnya kearsipan ternyata mempunyai jangkauan yang amat luas. Sarannya adalah perlu adanya pelatihan manajemen kearsipan bagi para pegawai pada tiap unit pengolah dalam pengelolaan arsip. sehingga arsip akan mudah ditemukan. S. dan pemusnahan. akan menerapkan system ISO 9001: 2008. salah satunya Unnes. pemindahan. maupun dalam rangka pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan pelaksanaan kehidupan kebangsaan. penyusutan. Hal yang sangat tidak mungkin suatu kantor mampu memberikan data informasi yang baik. Pengendalian arsip meliputi pencatatan. pendistribusian.

Perumusan Masalah Dari latar belakang di atas maka rumusan permasalahannya yaitu bagaimana model kearsipan berdasarkan sertifikat ISO 9001: 2008 di Universitas Negeri Semarang? Kegunaan dan Manfaat Penelitian Berdasarkan masalah di atas maka kegunaan penelitiannya untuk mengetahui model kearsipan berdasarkan sertifikat ISO 9001: 2008 di Universitas Negeri Semarang. (2) Mengkaji atau mengkonfirmasi tentang sistem pengelolaan arsip dinamis aktif yang baik dan benar. dengan tetap memperhatikan efektifitas penerapannya. baik kantor pemerintah. (2) Bagi penulis untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman penulis terutama pada masalah yang berhubungan dengan pengelolaan arsip. 2003:2). Dari latar belakang tersebut. tanpa mengabaikan pemenuhan terhadap persyaratan standar internasional ISO 9001: 2008 serta peraturan lainnya yang diamanatkan oleh Dirjen Dikti sebagai institusi yang bertanggung jawab melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap institusi-institusi perguruan tinggi yang ada. penyelenggaraan kehidupan kebangsaan pada umumnya atau arsip yang digunakan secara langsung dalam penyelenggaraan administarsi negara. pelaksanaan. (3) Untuk memberikan masukan sebagai bahan referensi dan pertimbangan bagi Universitas Negeri Semarang untuk lebih memperhatikan dan meningkatkan dalam sistem pengelolaan arsip. maka saya akan membahas tentang Model Kearsipan Berdasarkan Sertifikat ISO 9001: 2008 di Universitas Negeri Semarang. swasta atau organisasi kemasyarakatan karena masih dipergunakan secara langsung dalam perencanaan. LANDASAN TEORI Pengertian Arsip Arsip dinamis adalah arsip yang masih diperlukan secara langsung dalam perencanaan. pelaksanaan dan kegiatan administrasi lainnya (Amsyah. Arsip sebagai bukti penyelenggaraan proses akademik harus dikumpulkan. Sedangkan arsip aktif adalah arsip yang secara langsung dan terus-menerus diperlukan dan digunakan dalam penyelenggaraan administrasi sehari-hari serta masih dikelola oleh unit pengolah (Barthos. Manfaat secara praktis dalam penelitian ini adalah (1) Bagi lembaga akademik diharapkan dapat memberikan masukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan terutama ilmu manajemen dan dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya. Salah satu sistem manajemen mutu di antaranya adalah pengendalian arsip. 48 . disimpan dan dipelihara secara sistematis sehingga apabila dibutuhkan ddapat diperoleh dengan mudah.mutu perguruan tinggi secara institusi atau kelembagaan dengan tujuan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas serta sebagai pemenuhan persyaratan pelanggan/ stake holder. Tujuan dari penyusunan manual mutu adalah memberi arahan bagi manajemen maupun sivitas akademika Universitas Negeri Semarang dalam penerapan system yang efektif dalam melakukan perbaikan secara berkelanjutan dan memelihara kesesuaian penerapan system manajemen mutu sesuai persyaratan standat International ISO 9001: 2008. Arsip dinamis aktif adalah semua arsip yang masih berada di kantor. Universitas Negeri Semarang selalu melakukan perbaikan secara berkelanjutan terhadap sistem yang telah dikembangkan. Manfaat secara teoritis dalam penelitian ini adalah (1) Sebagai bahan pemahaman teori yang diperoleh penulis yang diterapkan pada dunia kerja. 2003:4).

49 . 1) Arsip tidak penting. Penggolongan Arsip Menurut Sularso Mulyono. guna informasi. 4.Guna Arsip Menurut Agus Sugiarto dan Teguh Wahyono (2005:9-10) dalam Manajemen Kearsipan Modern. guna sejarah. yaitu puak arsip yang mempunyai nilai guna saat ini dan masih diperlukan pada waktu yang akan datang dalam jangka waktu 1-5 tahun. Warkat sebagai bahan arsip mempunyai 4 kegunaan. guna yuridis. menyebutkan bahwa arsip mempunyai beberapa kegunaan yaitu : 1. 3. Daya Guna Warkat Warkat adalah catatan tertulis. Dengan demikian kita bisa mengingat atau menemukan kembali informasi-informasi yang terekam dalam arsip tersebut. 2) Arsip biasa. Jadi. Hal ini untuk memudahkan pemilahan dalam penyimpanan maupunpenyingkaran bagi arsip yang sudah tidak memiliki nilai. Puak arsip ini tidak perlu disimpan dalam jangka waktu lama. 2. yuridis atau guna yang lain. perlu dikelompokkan dalam empat golongan arsip. 2. dkk dalam rangka menata arsip dengan baik. suatu warkat dapat hanya mempunyai satu macam kegunaan dan dapat pula mempunyai lebih dari satu macam kegunaan. Arsip sebagai bahan pengambil keputusan Pihak manajemen dalam kegiatannya tentunya memerlukan berbagai data atau informasi yang akan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Arsip sebagai sumber ingatan atau memori Arsip yang disimpan merupakan bank data yang dapat dijadikan rujukan pencarian informasi apabila diperlukan. yaitu puak (kelompok) arsip yang nilai kegunaannya hanya sebatas sebagai informasi. yaitu: 1. Data dan informasi tersebut dapat ditemukan dalam arsip yang disimpan dalam berbagai media baik media elektronik maupun non elektronik. Suatu warkat mungkin mempunyai guna informasi saja atau dapat pula suatu warkat mempunyai guna informasi. karena setelah apa yang diinformasikan sudah selesai berarti sudah tidak ada nilai kegunaannya. 3. Arsip sebagai rujukan historis Arsip merekam informasi masa lalu dan menyediakan informasi untuk masa yang akan datang. guna ilmu pengetahuan. gambar atau rekaman yang memuat sesuatu hal atau peristiwa yang digunakan orang untuk sebagai pengingat (alat bantu ingatan). Puak arsip ini akan disimpan paling lama dalam jangka waktu 1 tahun. Arsip sebagai bukti atau legalitas Arsip yang dimiliki organisasi memiliki fungsi sebagai pendukung legalitas atau buktibukti apabila diperlukan. 4. Puak arsip ini dapat diberi tanda (T). Puak arsip ini dapat diberi tanda (B). Warkat otomatis menjadi arsip begitu diproses untuk penyelesaian suatu kegiatan organisasi. Empat golongan arsip itu adalah seperti berikut ini.

penyelenggaraan kehidupan kebangsaan pada umumnya maupun untuk penyelenggaraan sehari-hari administrasi negara (pasal 2 ayat b UU No.3) Arsip penting. 7 tahun 1971). Berdasarkan frekuensi penggunaan arsip sebagai bahan informasi. yaitu arsip yang dipergunakan secara langsung dalam perencanaan. sebagian lagi disimpan 1-5 tahun. Sistem Penyimpanan Arsip Sistem penyimpanan arsip menurut Sedarmayanti (2003:69-76) sebagai berikut : 1. Arsip inakif (dinamis inaktif). daerah atau wilayah tertentu. 2. Sistem Masalah/Perihal/Pokok Soal ( Subject Filing System ) Sistem masalah adalah salah satu sistem penyimpanan berkas berdasarkan kegiatankegiatan yang berkenaan dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan perusahaan yang menggunakan sistem ini. Puak arsip ini termasuk arsip vital sehingga harus disimpan terus dan dapat diberi tanda (V). Ada arsip yang perlu disimpan sementara (1 tahun). 4. yaitu puak arsip yang dipakai sebagai pengingat dalam jangka waktu yang tidak terbatas (abadi). 2. dibedakan jenis arsip seperti berikut ini. 7 tahun 1971). Untuk arsip yang disimpan di unit kearsipan adalah arsip-arsip yang frekuensi penggunaannya sangat rendah. Arsip aktif (dinamis aktif). 3. Arsip statis. yaitu arsip yang secara langsung masih digunakan dalam proses kegiatan kerja. 1. dan sebagian kecil dari jumlah arsip perlu disimpan secara abadi. Puak arsip ini akan disimpan dalam jangka waktu 5-10 tahun dan dapat diberi tanda (P). 50 . Sistem Abjad ( Alphabetical Filing System ) Sistem abjad adalah salah satu sistem penyimpanan berkas yang umumnya dipergunakan untuk menata berkas yang berurutan dari A sampai dengan Z dengan berpedoman pada peraturan mengindeks. 4) Arsip sangat penting. Sistem Wilayah/Regional/Daerah ( Geographical Filing System ) Sistem wilayah adalah salah satu sistem penyimpanan berkas berdasarkan tempat (lokasi). Sistem Tanggal/Urutan Waktu ( Chronological Filing System ) Sistem tanggal adalah salah satu sistem penyimpanan berkas berdasarkan urutan tanggal. 3. yang lain 5-10 tahun. 4. bulan dan tahun yang mana pada umumnya tanggal yang dijadikan pedoman termaksud diperhatikan dari datangnya surat (akan lebih baik bila berpedoman pada cap datangnya surat). pelaksanaan penyelenggaraan kehidupan kebangsaan pada umumnya atau dipergunakan secara langsung dalam penyelenggaraan administrasi negara (pasal 2 ayat a UU No. Jenis Arsip Arsip yang timbul karena kegiatan suatu organisasi. Arsip yang disimpan pada bagian pengolah adalah arsip-arsip yang frekuensi penggunaannya cukup tinggi. Arsip dinamis. berdasarkan golongan arsip perlu disimpan dalam jangka waktu tertentu. yaitu puak arsip nilai gunanya mempunyai hubungan dengan kegiatan masa lampau dan masa yang akan datang. yaitu arsip yang penggunaannya tidak langsung sebagai bahan informasi. 5. yaitu arsip yang tidak dipergunakan secara langsung untuk perencanaan. Sistem Nomor ( Numerical Filing System ) Sistem nomor adalah salah satu sistem penyimpanan berkas berdasarkan kelompok permasalahan yang kemudian masing-masing atau setiap masalah diberi nomor tertentu.

seorang [petugas kearsipan harus terampil dalam memilah golongan arsip. Dengan ketelitian yang dimiliki arsiparis. Untuk mencegah hilangnya arsip yang dikeluarkan dari tempat penyimpanan karena dipinjam oleh unit lain maupun oleh organisasi lain. Keterampilan. adalah suatu sikap pandang tentang keteraturan. ini dimaksudkan agar ia cekatan dalam menempatkan dan menemukan kembaki arsip. Apabila masih tetap menggunakan lemari (lemari kayu) sebagai tempat penyimpanan arsip karena tidak memiliki lemaci maka penggunaan lemari tersebut harus memperhatikan tiga hal: 1. ketertiban. Konstruksi lemari harus memungkinkan adanya kemudahan dalam menyimpan. dan apik.Seorang arsiparis perlu memiliki sifat kerapian. menempatkan. Dengan demikian. Implikasi kerapian seorang petugas. 2. tertib. Dengan kecekatan yang dimiliki. penanganan arsip selalu diusahakan teratur. Dengan menggunakan kartu pinjam arsip pihak pengolah arsip mengetahui keberadaan arsip apabila suatu saat ingin menggunakan dan ternyata tidak ada. keberesan. penyimpanan arsip tidak mungkin dihindari. keterteban dan keapikan. beres. Kenyataan dilapangan masih ada penggunaan lemari bukan lemari khusus arsip dan belum menggunakan lemari sebagai tempat penyimpanan arsip. dan kerapian. dan apik dipandang. merupakan persyaratan yang harus dimiliki oleh arsiparis (orang yang bertugas di bagian arsip). Tidak tertutup kenungkinan terjadi peminjaman di unit penyimpanan arsip (peminjaman terhadap arsip dinamis inaktif). 3. Lemari harus kuat (dari kayu jati atau kayu yang kualitasnya baik) supaya tidak cepat rusak karena dimakan rayap atau dimasuki hewan pengerat maupun rusak karena usia. 51 . Persyaratan Petugas Kearsipan 1. Demikian pula. guide (lembar petunjuk) maupun laci-laci penyimpanan akan ditata secara teratur. map atau folder. Tempat Penyimpanan arsip Arsip disimpan di lemari atau di filing kabinet yang ditempatkan di suatu ruang atau gedung. maka diatur pencatatan peminjaman dengan menggunakan kartu pinjam arsip (out slip). lembaga lain memanfaatkan informasi yang bersumber dari arsip yang tidak ada organisasinya. dimaksudkan bahwa petugas kearsipan harus harus memiliki tingkat kecermatan yang memadai sehingga dapat membedakan secara pasti kata yang sepintas sama tapi sebenarnya tidak sama.Peminjaman Arsip Arsip yang disimpan baik berstatus arsip aktif maupun arsip inaktif dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam mengambil kebijakan baik untuk unit kerja bersangkutan atau pun unit kerja lain dalam satu lembaga. berarti segala sesuatu disikapi dengan keteraturan. diharapkan petugas dapat menyajikan data tepat waktu. Hal ini terbuka kemungkinan. Oleh karena itu. tentu akan membantu kemudahan dan kecepatan dalam penyimpanan dan penemuan kembali arsip yang diperlukan. Filing kabinet atau lemari arsip berlaci disingkat lemaci. Ukuran sekat lemari harus disesuaikan dengan ukuran map atau folder sebagai tempat penyimpanan arsip 3. tertib. Ketelitian. maupun menemukan kembaki arsip yang disimpan. Frekuensi peminjaman arsip terbesar di unit pengolah. maka arsip. Kerapian dalam menempatkan arsip yang disimpan. diharapkan penyajian informasi dari sumber data (kumpulan arsip) tidak mengalami kesalahan. 2. Kerapian. Arsiparis harus memiliki ketelitian untuk menentukan deretan angka yang disajikan.

Tujuan Pembuatan ISO 9001 adalah memahami pentingnya mutu. Angka cermatan adalah angka perbandingan antara jumlah arsip yang tidak ditemukan pada waktu diperlukan dengan jumlah arsip yang ditemukan. Kecerdasan. Cerdas berarti memiliki tingkat pemahaman yang memadai sesuai dengan porsi dan tugas pekerjaannya. Akibat kekurang efektifan dalam pengelolaan kearsipan. Jadi. Yang dimaksud dengan keberhasilan system kearsipan. secara makro dapat menimbulkan kegagalan suatu organisasi atau terhambatnya kemajuan suatu organisasi. ATK AC x100% ADK Keterangan : AC = Angka Cermatan ATK = Arsip Tidak Ditemukan ADK = Arsip Ditemukan Angka cermatan ini digunakan untuk menentukan apakah system yang digunakan dalam penyimpanan arsip masih cukup absah (cermat) untuk mengelola arsip organisasi yang bersangkutan. yaitu prosedur penataan tidak mengalami hambatan. Seorang yang cerdas dapat mengurusi masalah-masalah yang dihadapi secara tepat dan cepat. (Agus Syukur 2009). dinyatakan dalam persentase. Pengamanan Arsip Arsip yang disimpan harus dijamin aman. perlu diamankan.4. apakah prosedur penataan selama ini tidak mengalami hambatan sehingga menimbulkan kesalahan atau kegagalan baik secara mikro (prosedur penataan tidak terlaksana dengan baik) maupun secara makro (system penataan kearsipan kurang atau tidak mempunyai daya guna yang memadai). memahami system manajemen mutu ISO 9001: 2008 dan persyaratan-persyaratannya. 7 tahun 1971 tentang ketentuan-ketentuan pokok kearsipan. Angka Cermatan Tata-Arsip Penilaian pengelolaan arsip adalah suatu putusan apakah kearsipan dilaksanakan dengan baik dalam suatu periode (jangka waktu tertentu) sehingga dapat terus dipertahankan atau perlu diadakan pembenahan. Artinya informasi yang seharusnya tidak boleh diketahui orang yang tidak berhak. mengetahui Quality 52 . keamanan arsip termasuk aman informasi yang terkandung dalam arsip. SMM menyediakan kerangka kerja bagi perusahaan anda dan seperangkat prinsip-prinsip dasar dengan pendekatan manajemen secara nyata dalam aktifitas rutin perusahaan untuk terciptanya konsistensi mencapai kepuasan pelanggan. Berdasarkan pasal 11 UU No. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini dapat terjadi disebabkan kurang tepatnya penyajian informasi dari sumber data (arsip) atau kurang cepatnya penyajian informasi sehingga keputusan yang diambil oleh organisasi kurang akurat. tidak selalu identik dengan pendidikan tinggi. selain aman dari kerusakan dan kehilangan. arsip harus aman dari bocornya informasi. perlu adanya penilaian terhadap keberhasilan system kearsipan. Angka cermatan itu dinyatakan dengan rumus berikut ini. baik dari kerusakan maupun dari kehilangan. Pengertian ISO 9001 ISO 9001 adalah standar internasional yang diakui untuk sertifikasi Sistem Manajemen Mutu (SMM). Nilai Arsip Pengelolaan kearsipan pada suatu periode perlu ditinjau. system penyimpanan dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan serta kecepatan dan ketepatan penyajian informasi terjamin.

Objective and Target. memahami cara pembuatan dan pengembangan semua dokumen system manajemen mutu seperti yang dipersyaratkan. 53 . dan memahami bahwa mutu merupakan tanggung jawab bersama. memahami cara membuat cross reference proses yang telah diidentifikasi dengan standar ISO 9001: 2008.

Tempat penyimpanan dan Pemeliharaan arsip. Proses terkait dengan pelanggan c. Umpan Balik PEMBAHASAN Berdasarkan frekuensi penggunaan arsip sebagai bahan informasi. 8. Ruang lingkup Referensi normative Istilah dan definisi System Manajemen Mutu a. surat-surat administrasi (registrasi mahasiswa. pembimbingan akademik. Pembelian e. Kegunaan Arsip 1. Analisis data e. Memori Pengambil Keputusan Legalitas Historis Agus Sugiharto dan Teguh Wahyono 2005) 7. Sumber daya manusia c. Pemindahan arsip 7. Pemantauan dan pengukuran c. 3. Penyediaan sumber daya b. Pengendalian produk tidak sesuai d. Kebijakan mutu d. Persyaratan dokumen 1) Manual Mutu 2) Pengendalian dokumen 3) Pengendalian record/ catatan Tanggung jawab manajemen a. 5. Perencanaan realisasi produk b. Pengendalian Arsip 1. Focus pada pelanggan c. 6. 4. Peminjaman 4. 3. Pengendalian sarana pemantauan dan pengukuran Pengukuran. penyusunan satuan acara 54 . analisis dan mpeningkatan a. 4. Pencatatan dan penggolongan arsip 2. Improvement (Agus Syukur 2009). registrasi mata kuliah. Sistim Penyimpanan arsip. 3. Komitmen manajemen b. Pemusnahan arsip 5. Umum b. penyusunan silabi. Infrastruktur d. Lingkungan kerja Realissasi produk a. Penyediaan produk dan jasa f. Persyaratan Umum b. dan komunikasi f. Arsip aktif (dinamis aktif). merupakan arsip yang secara langsung masih digunakan dalam proses kegiatan kerja. Arsip yang termasuk di dalamnya adalah dukumen perkuliahan (kehadiran). Penyusutan arsip 6. 2. Tanggung jawab. Perencanaan e. 1. wewenang. dibedakan jenis arsip seperti berikut ini. Tinjauan manajemen Manajemen sumber daya a. Desain dan development d.DESAIN PEMIKIRAN Klausul ISO 9001 : 2008 1. 2.

dokumen bergantinya IKIP Semarang menjadi UNNES. Empat golongan arsip itu adalah Arsip tidak penting. penyusunan rentra. buku penetapan sumber belajar. renop. Arsip statis. Arsip dinamis. dokumen bergantinya IKIP Semarang menjadi UNNES. Contoh arsip dalam hal ini adalah sebagaimana arsip aktif 4. Ujian semester g. Arsip tidak penting. Arsip biasa. perhitungan beban mengajar. Daftar hadir perkuliahan m. dan Arsip sangat penting. surat pemberitahuan. dan lainnya. Surat pindah kuliah p. Penyusunan kurikulum 55 . pemeliharaan sistem informasi. 3. dokumen lahirnya Fakultas Ekonomi UNNES dan lainnya. pelaksanaan ujian kuliah. pernyataan. jadual kuliah. Contoh arsip ini adalah arsip tentang berdirinya IKIP SEMARANG. standar kompetensi dosen. 4. Surat pengabdian r. undangan. Ujian mid semester f. 2. Pendaftaran mahasiswa lama d. Arsip penting. Evaluasi perkuliahan n. Contohnya arsip ini adalah rencana jurusan. mutu mengajar. Contohnya dokumen penelitian. sasaran program studi. penyusunan silabi. Penyusunan silabi s. Arsip biasa. Pendaftaran ulang mahasiswa baru c. 3. Berdasarkan kelemahan dan kelebihaanya masingmasing. Arsip penting. observasi. Draf nilai ujian skripsi k. dokumen lahirnya Fakultas Ekonomi UNNES. ijin penelitian) q. Contoh arsip ini adalah IKIP SEMARANG. Arsip sangat penting. Dalam hal ini adalah uraian tugas dan wewenang. Contoh arsip ini adalah surat undangan. maka dalam lembaga ini yang paling cocok adalah sistem pokok masalah. ijin tidak mengajar) 2. rumusan kompetensi lulusan. laporan data. yaitu arsip yang penggunaannya tidak langsung sebagai bahan informasi. Cuti kuliah o. surat pengumuman. cuti kuliah dan lainnya). Surat tugas penguji skripsi i. dan lainnya. Sistem Penyimpanan Arsip Penyimpanan arsip perlu ada lima. 5) Arsip dalam administrasi akademik mahasiswa a. Arsip inakif (dinamis inaktif). dan lainnya. administrasi dosen (kehadiran dosen. pelakasanaan ujian skripsi. satuan acara perkuliahan.perkuliahan. pengabdian. evaluasi kerja lembaga. Surat tugas pembimbing h. rencana fakultas. surat edaran dan lainnya. ijin penelitian. prosedur pemilihan pejabat. Pendaftaran wisuda l. Pelaksanaan ujian skripsi j. dan lainnya. Jadual kuliah e. 1. Seleksi penerimaan mahasiswa baru b. Surat penelitian (ijin obeservasi. rencana universitas.

Daftar kenaikan pangkat g. Dengan demikian arsip yang keluar akan terkendali. ventilasi yang cukup. gunakan kapur barus kapur barus. dan guide. Kartu kendali terdiri dari tiga lembar yaitu putih untuk bagian agendaris. surat masuk/ keluar. folder Perhitungan Beban Mengajar. Pemeliharaan arsip yang harus dilakukan adalah pengaturan ruangan yang kering. Semua arsip yang keluar akan terkontrol oleh petugas arsip. dan umur dari nilai guna arsip. Jika kita mencari arsip tentang beban mengajar dosen A maka kita akan mencari arsip tersebut pada laci Administrasi dosen. Daftar hadir dosen c. dan kertas warna orange untuk bagian arsiparis. Contoh dalam system kearsipan dikenal dengan laci. jadual retensi. Tempat Penyimpanan dan Pemeliharaan Arsip Tempat menyimpan arsip menggunakan filling cabinet atau lemari yang memang khusus untuk arsip. dan nilai guna arsip. Dengan adanya system ini. Kalau tertutup harus sering dibuka agar tidak lembab.t. Penyusunan satuan acara perkuliahan u. dan tanda tangan penyimpan. hal surat. Untuk mencagah kerusakan. terdiri empat laci. tanggal surat. Peminjaman Arsip Untuk mencegah hilangnya arsip yang dikeluarkan dari tempat penyimpanan karena dipinjam oleh unit lain maupun oleh organisasi lain. rak terbuka. Surat pergantian pengajar f. Dengan menggunakan kartu pinjam arsip pihak pengolah arsip mengetahui keberadaan arsip apabila suatu saat ingin menggunakan dan ternyata tidak ada. dan kita akan menemukan arsip atas nama dosen A. Misal DP3 pegawai disimpan/berlaku hanya 4 tahun. biru. Ruang yang digunakan untuk menyimpan arsip harus memperhatikan beberapa ketentuan agar arsip yang disimpan terjamin aman. Surat ijin tidak mengajar e. Penyusunan buku pegangan kuliah 6) Arsip dalam administrasi dosen a. biru untuk bagian pengarah. Filling computerisasi dan Print out tersebut disimpan berdasarkan pokok permasalahan. kertas warna biru untuk bagian pengarah. Di mana kertas putih yang akan ditinggal pada filling cabinet arsip tersebut ditempatkan. dan jagalah agar arsip tidak melipat. Penyusutan Penyusutan arsip yang digunakan berdasarkan rambu-rambu penyusutan arsip yaitu angka pemakaian. Angka pakai yang digunakan adalah antara 15% . Tujuan dari kartu kendali ini adalah mengendalikan arsip yang akan disimpan. dan orange. tanggal penyimpanan. Perhitungan beban mengajar d. Kartu pinjam (out slip) yang terdiri dari tiga lembar yaitu kertas yang berwarna putih. Filing cabinet yang berukuran standart yang biasa untuk menyimpan arsip. maka diatur pencatatan peminjaman dengan menggunakan kartu pinjam arsip (out slip). dan orange/untuk bagian arsiparis. maka sangat kecil akan kehilangan arsip. Studi lanjut dosen Sistem kearsipan yang dibangun adalah manajemen filling dalam computerisasi dan dibuktikan dengan print out. Penyusunan akan kebutuhan dosen b. petugas penyimpan. terang. folder. 56 . nomor surat. cap tertinggal.20%. Suatu daftar yang memuat kebijaksanaan seberapa jauh sekelompok arsip dapat disimpan atau dimusnahkan. Dalam penyimpanan arsip perlu adanya system kartu kendali. Dalam kartu kendali terdapat keterangan kode masalah subjek.

Kearsipan.google. Jadi pemusnahan arsip adalah tindakan menghancurkan secara fisik arsip-arsip yang sudah berakhir fungsinya dan sudah tidak memiliki nilai kegunaan. diberi bahan kimia dan dicacah dengan mesin pencacah kertas. Sistem kearsipan yang dibangun adalah manajemen filling dalam computerisasi dan dibuktikan dengan print out. Bumi Aksara: Jakarta Budiman. Tiap unit pengolah dalam pengelolaan arsip perlu mendapatkan pengetahuan manajemen kearsipan. tetapi dilakukan per berkas (bendel). KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dalam makalah ini adalah perlu adanya pengendalian kearsipan yang baik mulai dari penggolongan. Filling computerisasi dan Print out tersebut disimpan berdasarkan pokok permasalahan (subjek). Amsyah. Cahaya Aksara Agung: Jakarta. 2003. Caranya dibakar. Pemindahan arsip dilakukan dengan cara menyiangi arsip yang telah habis jangka waktu penyimpanannya dan tidak dipakai lagi. Pola Kearsipan Modern Sistem Kartu Kendali. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta Barthos. Pengelolaan Arsip elektronik Format Dokumen. Mandar Maju: Bandung Sugiarto. tidak dilakukan lembar demi lembar. 1993. perlu memperhatikan ketentuan-ketentuan : 1. dkk. Namun dibenarkan jika berujud kawul yaitu dicacah dengan mesin penhancur kertas. Martono. Tidak dibenarkan bekas arsip dipakai untuk sampul. Sedarmayanti. Tata Kearsipan Dengan Memanfaatkan Teknologi Modern.Pemindahan Arsip Pemindahan arsip ke pusat penyimpanan arsip. peminjaman. DAFTAR PUSTAKA Abubakar. Sularso. 3. Yogyakarta : Liberty. Dalam melakukan pemusnahan arsip. 2005. Agus dan Teguh Wahyono. system penyimpanan arsip. PT. Hadi. sehingga arsip akan mudah ditemukan. daftar pemindahan arsip dan berita acara. pemindahan. Gava Media: Yogyakarta 57 . 2003. 2010. 2003. Penataan Berkas Dalam Manajemen Kearsipan. 1990. penyusutan. Harus disaksikan oleh 2 (dua) orang pejabat yang berwenang. tempat penyimpanan dan pemeliharaan. Dharma Karsa Utama: Jakarta Mulyono. diunduh 1 Januari 2010. 1984. Penghapusan dilakukan secara total sehingga identitas arsip hilang sama sekali. www. Perlu membuat daftar pertelaan arsip-arsip yang akan dimusnahkan. PT. Salah satunya dengan jalan pelatihan pada pegawai tentang manajemen kearsipan.id/pengelolaanarsipelektronikformatdokumen.co. Sedangkan arsip yang sifatnya abadi dapat dipindahkan ke ANRI. tali. Perlengkapan yang dibutuhkan folder. Rosyid. dan pemusnahan arsip. Basir. Manajemen Kearsipan. Manajemen Kearsipan Modern. Pemusnahan Arsip Memusnahkan arsip berarti menghapus keberadaan arsip dari tempat penyimpanan. kemudian dikendalikan dengan system kartu kendali. Zulkifli. Budiman. dengan maksud untuk lebih dapat diketahui informasi keberadaan arsip tersebut sehingga orang mudah mencarinya. Harus dibuatkan berita acara. box. dijual/dikiloan untuk pembungkus. Manajemen Kearsipan. 2. Budi. PT.

Kearsipan 1. Organisasi dan Administrasi Kantor Modern. Ignasius. 2009. 1991. Sekretaris dan Tata Warkat. Penerbit Kanisius: Yogyakarta 58 . Drs. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta The Liang Gie. Agus. diunduh tanggal 12 Januari 2010 Wursanto.Sukur. 1981. Bambang. ANRI: Jakarta . 5R. Penerbit Balai Pembinaan Administrasi Universitas Gadjahmada Yogyakarta. ISO 9001: 2008 Yogjakarta : Kata Buku Sutarto. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1971 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kearsipan.co.id/manajementarsipdinamis. Manajemen Arsip Dinamis.google. Utomo. www.. 1970.

2003:28)”. dan kemudian diambil kembali saat diperlukan atau dibuang melalui proses lupa. Pada dasarnya ingatan adalah sesuatu yang membentuk jati diri manusia dan membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Hal 59 . Ingatan Siswa. yakni sebagai makhluk bio-psiko-sosial-spiritual ciptaan Tuhan (Harefa. pengorganisasian. kelas X.28% siswa menyatakan sikap positif yaitu catatan mempengaruhi ingatan mata pelajaran ekonomi. pengontrolan catatan tersebut. Dalam belajar inilah. lebih buruk lagi infomasi yang dibutuhkan tidak dapat diambil kembali dan hilang. sel otak manusia adalah 1.000. Jensen dan Karen (2003:21) menyatakan “ingatan yang sifatnya dinamis ini terus berubah dan berkembang sejalan dengan pertambahan informasi yang disimpan”. Ingatan menurut Jansen dan Karen (2003:22) didefiniskan sebagai suatu proses psikologis Proses psikologis. diberikan kode-kode tertentu. Catatan Siswa.000 sedangkan jumlah manusia dimuka bumi ini adalah 6. SMA NEGERI 1 BOJA KENDAL Abstraksi Fridolin Palupi Sri Kurniawati Mencatat merupakan pelaksanaan kegiatan manajemen kearsipan individul yang dilakukan oleh semua pelajar dan mahasiswa serta oleh sebagian besar orang. Belajar memungkinkan manusia untuk “tumbuh menjadi yang terbaik dari diri sendiri. seringkali manusia mengalami lupa. dan evaluasi terhadap catatan yang telah dibuat. informasi. Namun ingatan manusia bukanlah sebuah mesin yang sempurna tanpa gangguan-gangguan.000. diproses dalam ingatan. dalam penelitian ini adalah catatan. Penelitian dilakukan mulai semester gasal 2009 hingga pertengahan semester genap 2010 dengan menggunakan angket serta pedoman observasi catatan siswa sebagai instrumen untuk memperoleh data.000. Sifat dinamis dan terus berkembang ini seharusnya memungkinkan manusia untuk mampu mengingat semua peristiwa. Kegiatan mencatat atau membuat catatan ini telah ada dan diajarkan pada seseorang dalam pendidikan formal. yaitu otak. Dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa tiap manusia pada dasarnya telah memiliki modalitas belajar yang sangat luar biasa.000 (Buzan. SMA Negeri 1 Boja Kendal.namun yang terjadi dalam belajar sering ditemui sebuah hambatan berupa kegagalan untuk memanggil ulang informasi yang telah tersimpan. KELAS X. serta semua yang terekam yang telah diterima.Sel otak (hanya dalam satu kepala manusia) yang lebih besar 166 kali jumlah manusia dimuka bumi ini. namun tidak semua catatan yang dibuat oleh siswa memberikan kontribusi terhadap ingatan siswa dalam mengulang maupun proses belajar. Proses pengarsipan terjadi dalam ingatan seseorang yaitu informasi yang diterima disimpan.000. Serta catatan menyumbangkan pengaruh terhadap terbentuknya ingatan siswa sebesar 35. Dengan bertumbuh menjadi makhluk yang utuh inilah manusia akan mampu untuk bertahan hidup dan memiliki suatu kekhasan. ingatan berkedudukan sebagai hal utama. didalam otak inilah proses ingatan terbentuk dan diproses.PENGARUH CATATAN SISWA TERHADAP INGATAN SISWA DALAM MATA PELAJARAN EKONOMI. Dalam mencatat seseorang melakukan semua fungsi manajeman mulai dari perencanaan. Semua informasi yang diterima melalui indera diterima. karena kekuatan otak manusia lebih besar dari sekedar kekuatan intelegensi. Kemampuan dasar otak sebagai sebuah modalitas saja belumlah cukup. 2003:23)”. Pada dasarnya setiap orang telah memiliki modalitas belajar bawaan yaitu otak serta indera. Pendahuluan Manusia sebetulnya memiliki sebuah modalitas belajar yang luar biasa.60%.. 1. Oleh karena itu maka dibutuhkan alat bantu ingatan yaitu mnemonik. “.. sehingga proses mengingat dan belajar terganggu karena butuh beberapa waktu untuk menggali kembali informasi yang tersimpan. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa 87. manusia masih membutuhkan sebuah proses belajar. yakni informasi diberi kode dan dipanggil kembali. tes Intelegensi saja tidak cukup digunakan untuk menyatakan masa depan seseorang akan gagal atau berhasil. Kata Kunci. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besarkan pengaruh keberadaan catatan siswa terhadap ingatan siswa dalam mata pelajaran ekonomi.

Catatan yang baik dan efektif menurut DePorter dan Hernacki (2000:150) “mampu membantu anda untuk mengingat detaildetail tentang poin-poin kunci. Alat bantu ingatan mekanis atau eksterior menurut Jensen dan Karen (2003:115) diantaranya berupa “Daftar. menempelkan penanda didinding atau papan pesan. jadwal. Dari 110 siswa tersebut 60 orang siswa mencatat pada buku tersendiri (tidak dicampur dengan mata pelajaran yang lain). Guna mengukur ingatan siswa selama setengah semester dan satu semester proses pembelajaran siswa diukur melalui tes UTS dan UAS. jadi murni menggunakan informasi yang telah terekam dalam ingatan siswa selama belajar hingga pertengahan mapun akhir semester berjalan. SMA Negeri 1 Boja Kendal. mesin penjawab dan pencatat pesan elektronik. kebanyakan orang hanya mampu mengingat sebagian kecil materi yang baca atau dengar kemarin (DePorter dan Hernacki. agenda.” Namun alat bantu ingatan yang lebih tepat dalam belajar adalah catatan. Namun hasil yang dicapai bukanlah semaksimal apa yang dibayangkan.3% atau 74 siswa memiliki catatan. Tujuan penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: Apakah terdapat pengaruh catatan siswa terhadap ingatan siswa dalam mata pelajaran ekonomi.53% siswa tuntas. Kebanyakan orang cenderung berpikir bahwa cara memasukkan materi yang paling efektif adalah mencatat semuanya pada bersamaan dengan mereka mendengarkan materi tersebut. sebagai objek penelitian adalah siswa SMA Negeri 1 Boja. 60 . Dalam pembelajaran ekonomi dalam tiga rombongan belajar yaitu kelas X. 67. Hal ini karena timbul sebuah kesalahan dalam pembuatan catatan. jam beker atau timer. peta pikiran. Tahun ajaran 2009/2010? Seberapa besarkah pengaruh catatan siswa terhadap ingatan siswa dalam mata pelajaran ekonomi. yang disebut mnemonik. Svantesson (2004:5) mengartikan catatan sebagai ”sebuah teknik baik biasa maupun peta pembelajaran yang dibuat dengan kalimat penuh atau frasa kalimat. belajar verbal menurut Slameto (2003:8) adalah ”belajar mengenai materi verbal dengan melalui latihan dan ingatan. kelas X. Kemampuan mencatat ini telah diajarkan pada tiap orang dalam proses pendidikan formal disekolah. 2000:150)”.52% siswa tuntas.3% siswa memiliki catatan maka seharusnya ingatan yang dimiliki siswa akan sangat baik. Sedangkan pada UAS jumlah siswa tuntas turun menjadi hanya 30 siswa saja yang tuntas KKM atau 27. 67. “Disekolah setiap orang dulunya (dan hingga sekarang masih) dilatih untuk mencatat dalam kalimat-kalimat atau daftar-daftar berbentuk vertikal (Buzan.3 yang terdiri dari 110 siswa. Segelintir orang menggunakan hanya kata kunci”.1. Bukti Empiris Dalam penelitian ini. Tahun ajaran 2009/2010? 2. Penggunaan catatan ini tidak sepenuhnya membantu memaksimalkan daya ingat seseorang. Svantesson (2004:6) “untuk mencerna apa yang mereka dengar dan mencatatnya dalam waktu yang bersamaan sangat tidak mungkin. Namun ternyata ingatan siswa yang diukur melalui tes dan diperolehlah hasil berupa nilai siswa. kalender. SMA Negeri 1 Boja Kendal. nota dan kerangka tulis. peta pikiran. tidak ada yang terekam”. memahami konsep-konsep utama. Dari hasil tes tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak siswa yang tidak mampu memenuhi kriteria ketuntasan minimum (KKM). Mencatat merupakan bagian dari belajar verbal.2 dan X. kelas X.ini yang sering disebut dengan lupa. X. Pada UTS yang dilangsungkan bulan Oktober 2009 dari 109 siswa terdapat 42 siswa yang tuntas KKM atau 38. 2004:102)”. lupa merupakan sebuah gangguan. “Tanpa mencatat dan mengulangi. Hal ini nampak dalam persentase yang menurun dalam UTS dan UAS. dalam ujian tengah semester dan ujian akhir semester gasal 2009 masih sangat kurang. jurnal atau buku harian. Dimana dalam tes tengah semester maupun ujian akhir semester siswa tidak dapat menggunakan alat bantu apapun untuk dapat mengerjakan soal. Karena itulah dibutuhkan alat bantu ingatan ekstern untuk memperkecil jumlah informasi yang hilang atau gagal dipanggil kembali. dan melihat kaitannya”.

3 yang berjumlah 110 siswa. 2006:243). Kerangka Analisis 3. mulai awal semester gasal 2009 hingga pertengahan semester genap 2010.2 Pengumpulan Data dan Analisis Data Penelitian dilakukan pada Siswa kelas X SMA Negeri 1 Boja tahun ajaran 2009/2010 pada rombongan belajar (rombel) mata pelajaran ekonomi rombel X. Uji Validitas dengan rumus koefisien korelasi product moment. Angket disebarkan pada seluruh rombel sebagai populasi. b adalah penduga bagi koefisien regresi (β) (Somantri dan Sambas. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode kuantitatif (Arikunto. analisis regresi linear sederhana. Analisis deskriptif menggunakan skala likert dengan skala lima untuk menentukan pengukuran untuk mengukur sikap dengan menempatkan kedudukan sikapnya pada kesatuan perasaan kontinum berkisar dari ”sangat positif” hingga ke ”sangat negatif” terhadap sesuatu (objek psikologis) (Somantri dan Sambas. Selama satu setengah semester dilakukan pengamatan terhadap catatan siswa dan ingatan yang terbentuk dalam jangka panjang. Tabel 1. Pengamatan dilakukan dengan mengumpulkan hasil catatan siswa selama kurun waktu satu setengah semester dan kemudian dianalisis. dan X. x adalah variabel bebas.1.Dengan y adalah variabel tak bebas (nilai duga). penyebaran angket dilakukan langsung oleh peneliti. melalui tiga metode pengumpulan data yaitu. Penelitian dilakukan dalam kurun tahun ajaran 2009/2010. dan peneliti membimbing.2. Hubungan tersebut kemudian dinyatakan dalam sebuah persamaan matematik yang ˆ ˆ menyatakan hubungan fungsional antar variabel y a b( x) .1 Alat Analisis Regresi linear sederhana digunakan untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel. 3. memberikan arahan dan memandu siswa untuk mengerjakan tiap pernyataan yang ada dalam angket. a adalah penduga bagi intersap (α). X. Terdapat tiga teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif. Dalam jangka pendek selama satu bulan dilakukan observasi terhadap proses pembelajaran ekonomi pada tiga rombel objek penelitian untuk mengamati kebiasaan siswa dalam membuat catatan pada saat proses pembelajaran berlangsung. 2006: 35). dan penentuan rumusan hipotesis Ho dan Ha. dengan kriteria pengambilan keputusan bila nilai r hitung lebih besar dari r tabel maka instrumen dinyatakan reliabel. Uji reliabilitas dilakukan dengan rumus koefisien alfa (α) dari Cronbach. jika rxy > rtabel maka soal dikatakan valid dan sebaliknya. metode dokumentasi. dengan kriteria pengambilan keputusan Korelasi haruslah memiliki nilai/arah positif yaitu setelah diperoleh harga rxy kemudian dikonsultasikan dengan rtabel Product moment pada taraf α = 5 %.3. Untuk mengetahui apakah instrumen tersebut baik untuk digunakan maka dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas. Langkah awal dalam analisis data penelitian adalah menguji coba instrumen (angket) yang akan digunakan. Data yang digunakan adalah data primer yang diambil langsung dari objek penelitian. 2006:14) dengan keberadaan data yang diteliti sudah tersedia dalam objek penelitian (peneliti tidak dengan sengaja menimbulkan). metode observasi/pengamatan. Skala Pengukuran Likert Pilihan Skor item Skor item Option Jawaban positif negatif A Sangat setuju 5 1 B Setuju 4 2 C Ragu-ragu 3 3 D Tidak setuju 2 4 E Sangat tidak setuju 1 5 61 . dan metode angket/kuisioner.

SMA Negeri 1 Boja Kendal.kuartil 3). 38 76 114 152 190 Min kuartil 1 median kuartil 3 max Sangat negatif Negatif Positif Sangat positif Tabel 2. Distribusi Jawaban Responden Frekuensi Sikap Tiap Responden Kategori sikap Kategori skor frekuensi persent ase Sangat positif 152. Hasil Empiris Berdasarkan analisis deskriptif sikap tiap responden diperoleh hasil. 4. Ho:β1 ≠ 0. Kemudian pengujian hipotesis dilakukan dengan ketentuan jika Ho:β1 = 0.19% Positif 114 . Kelas X. Sikap positif ini disimpulkan dari 87.Teknik regresi linear sederhana yang dinyatakan dalam sebuah persamaan matematik ˆ y a b( x) . Artinya bahwa secara keseluruhan responden memandang bahwa catatan berpengaruh positif terhadap ingatan siswa dalam mata pelajaran ekonomi. yaitu tidak ada pengaruh catatan siswa terhadap ingatan siswa dalam mata pelajaran ekonomi.28% Negatif 76 . kelas X. sikap tiap responden tentang pengaruh catatan terhadap ingatan dalam mata pelajaran ekonomi. Tidak ada responden yang menyatakan sikap bahwa catatan sangat tidak berpengaruh terhadap ingatan dan keberadaan catatan tidak penting. Garis skala jawaban responden frekuensi sikap tiap responden. kelas X. kelas X.114 5 4. Garis skala jawaban responden frekuensi seluruh responden 14558 4180 Min kuartil 1 8360 12540 median 16720 kuartil 3 20900 max Sangat negatif Negatif Positif Sangat positif Tabel 3.76 0 0% Dan secara keseluruhan sikap responden tentang pengaruh catatan siswa terhadap ingatan siswa dalam mata pelajaran ekonomi. Hal ini ditunjukkan oleh skor total responden yang terletak antara skor 12. Gambar 1.540– 16. yang merupakan batas skor pada kategori positif.190 9 8. SMA Negeri 1 Boja. Distribusi Jawaban Responden Frekuensi Sikap Seluruh Responden Kategori sikap Kategori skor Berdasarkan perhitungan (terlampir) diperoleh skor total seluruh responden yaitu 14558. sehingga masuk 62 . SMA Negeri 1 Boja Kendal ada pada sikap positif. Sebaliknya jika. Gambar 2. yaitu ada pengaruh catatan siswa terhadap ingatan siswa dalam mata pelajaran ekonomi. berdasarkan penelitian ada pada sikap positif.28% responden atau dapat dikatakan mayotiras responden sepakat bahwa catatan memberikan pengaruh positif terhadap ingatan. SMA Negeri 1 Boja Kendal.152 96 87.55% Sangat negatif 38 .720 (median .

000.720 – 20.21 8 a.60%. diperoleh F tabel 3. Koefisien slope catatan adalah 0.356 .720 8.657 dengan t hitung sebesar 4.540 – 16.Sangat positif Positif Negatif 16.729 dan sig 0.360 Pengaru h catatan siswa terhadap ingatan siswa dapat dilihat pada analisis regresi.93. dan membandingkan antara sig dengan nilai alpa (0. Uji Parsial (Uji t) Hasil perhitungan koefisien regresi memperlihatkan nilai koefisien konstanta sebesar 23. Dependent Variable: Y 2. dengan nilai F hitung lebih besar daripada F tabel dan nilai sig lebih kecil daripada alpha maka dapat ditarik kesimpulan bahwa menolak Ho dan menerima Ha yang berarti koefisien determinasi signifikan secara statistik atau persamaan regresi yang terbentuk linear.35 3 2858.471 F 59. Uji F (Kelinieran) Untuk melihat kelinearan persamaan regresi ini dengan membandingkan nilai F hitung dengan nilai F tabel.356. Nilai F hitung diperoleh 59.000. X b. Error of the Estimate 1 .597a .000 a 1581.180 – 8. Dependent Variable: Y 3. hal ini berarti catatan berpengaruh terhadap ingatan siswa sebesar 35. sedangkan 64.739 dan F tabel diperoleh dengan cara mencari pada tabel F dengan df1 = 1 dan df2 = 108. Nilai t tabel untuk uji 63 .86 5 4440. Harga koefisien determinasi R square sebesar 0.468 dengan t hitung adalah 7.05). Predictors: (Constant). Predictors: (Constant). dan nilai sig 0.3 53 26.7 39 Sig.900 12.540 Sangat negatif 4. Koefisien Determinasi (R2) Catatan siswa mempengaruhi terhadap ingatan secara signifikan.360 – 12.334. X b.350 5.14500 a. 1. .40% ingatan dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti pada penelitian ini. Tabel 5 Uji Linearitas ANOVAb Model 1 Regre ssion Resid ual Total Sum of Squares df 1 108 109 Mean Square 1581. Tabel 4 Uji R2 Koefisien Determinasi Model Summaryb Mo del R R Square Adjusted R Square Std.

penggunaan penekanan. terlihat bahwa nilai t hitung lebih besar dari t tabel dan sig lebih kecil dari alpha. dibandingkan dengan distribusi frekuensi yang telah ditentukan.597 Standar dized Coefficients Beta t 4.458 .657 . kelas X. Tabel 6 Uji Parsial (Uji t) Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1 (Con stant) X B 23.000 4.000 . Uji Normalitas Gambar 4. dengan konstanta 23. menghubungkan antar materi. ˆ Dari Tabel 6 koefisien diperoleh persamaan regresi Y 23.468 dapat dibaca setiap kenaikan 1 satuan X dapat menaikan Y sebanyak 0. Dari persamaan regresi diatas.468 Std. .72 9 Sig.10 diatas adalah grafik P-Plot. Guna memperbesar pengaruh keberadaan catatan isi catatan harus juga diperhatikan selain memperhatikan tampilan. Simpulan Terdapat pengaruh positif catatan siswa terhadap ingatan siswa dalam mata pelajaran ekonomi. Jika titik-titik distribusi frekuensi pengamatan sama dengan distribusi uji yang berarti data terdistribusi secara normal. Jika nilai t tabel dibandingkan dengan nilai t hitung koefisien konstanta. karena catatan merupakan alat bantu ingatan (mnemonik) utama yang hingga kini masih digunakan siswa dalam belajar dan memiliki kedudukan tersendiri dalam belajar. warna. kesimpulan yang bisa diambil adalah menolak Ho yang berarti koefisien konstanta adalah signifikan secara statistic. kelengkapan materi. Error 5.657 dan variabel independen catatan (X) sebesar 0. meliputi aspek penggunaan poin kunci. Tahun ajaran 2009/2010. Gambar 10 diatas memperlihatkan bahwa titik-titik distribusi terletak digaris lurus. gambar. Dengan kondisi demikian maka dapat diambil kesimpulan bahwa penyebaran nilai ingatan mengikuti distribusi normal. Sedangkan untuk koefisien konstanta catatan terlihat bahwa t hitung lebih besar dari t tabel dan sig lebih kecil dari alpha makan dapat disimpulkan bahwa koefisien slope catatan adalah signifikan secara statistic.657 0. SMA Negeri 1 Boja Kendal.468.33 4 7.98 yang diperoleh dari alpha 5% dan df 109. Grafik ini menggambarkan distibusi frekuensi dari nilai ingatan.ini adalah 1.061 . Gambar 3 Normalitas P-Plot Residual 5.468X . simbol dan hal artistik. 64 . sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai ingatan sesuai dengan distribusi uji.

Jakarta: Pustaka Delapratasa. Pada 8 Juni 2009. Buzan. Mengasah paradigma pembelajar. 2005. DePorter. pukul 11:22 WIB. pukul 11. Use Both Sides Of Your Brain: Teknik Pemetaan Kecerdasan Dan Kreativitas Pikiran. LLC 2009 Slameto. 2009. kebersihan. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek.Anthony V. Suharsimi. 2006. Henry Guntur. Jakarta: Penerbit Erlangga. Diunduh dari http://www. Belajar Dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. 2006/ Journal of Chiropractic Humanities 2006. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2003.com pada 23 Februari 2009. kerapian. dan kejelasan tulisan.journalchirohumanities.com. Memory Boosters: Penguat Ingatan. 2006. penambahan ide pribadi siswa dalam catatan. Buzan. Ating dan Sambas Ali Muhidin. 2008. 65 . Published online: 5 March pringer Science + Business Media. 1985. Diunduh dari 2009. 2004. Jensen. Bandung: Mizan Media Utama. MSa dan Genevieve Pinto Zipp. D’Antoni. 2004. Jakarta : Rineka Cipta. Applications of the Mind Map Learning Technique in Chiropractic Education: A Pilot Study and Literatur. 2004. Tony. Eric dan Keren Markowitz. Iddon. Learning Maps and Memory Skills. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bobbi dan Mike Hernacki. Surabaya: Ikon Teralitera. 2003. 2006. Directory: School of Graduate Medical Education. Andreas. Somantri. Jo dan Huw Williams. Harefa. Aplikasi Statistik Dalam Penelitian. Tony. DC. Jane Marie. Bandung: Penerbit Angkasa. Svantesson.Gramedia Pustaka Utama. 6. Referensi Arikunto. Ingeman. Kibum and Team. Tarigan. Seton Hall University/ Paper submitted April 24. Kim. Yogyakarta: Penerbit Gradien. waktu/tanggal. Buku Pintar Mind Map. Jakarta : Rineka Cipta. 2006. 1997.00. Mengoptimalkan Daya Pikir: Meningkatkan daya ingat dengan mengarahkan seluruh kemampuan otak. Bandung: Pustaka Setia. # Shttp://sringerlink. Requirements for electronic note taking systems: A field study of note taking in university classrooms. Stine. sub-judul. Menulis: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Mizan Media Utama. visualisasi ide materi pelajaran misal penggunaan peta konsep. Jakarta: PT.identitas catatan meliputi judul. in revised form August 10. Otak Sejuta Gigabyte: Buku Pintar Membangun Ingatan Super. 2006.

kondisi kesehatan siswa yang sering sakit-sakitan dapat mengganggu kerja otak yang mengakibatkan terganggunya kondisi dan konsentrasi belajar sehingga siswa akan tertinggal jauh dari pelajarannya. dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalah adakah faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi yang dialami siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Ungaran. bakat khusus. Motivasi. sedangkan faktor ekstern meliputi keadaan keluarga. Keadaan gedung. Cacat tubuh. Intelegensi. yaitu faktor intern (faktor yang berasal dari diri siswa) dan faktor ekstern (faktor yang berasal dari luar). faktor VII diberi nama Media pengajaran. Berdasarkan hasil analisis faktor menggunakan program bantu SPSS seperti yang telah di uraikan di atas. Cara orang tua mendidik. agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja kurikulum mata pelajaran Dasar Komputer harus disesuaikan dengan kurikulum saat ini. Hubungan antar anggota keluarga. Keadaan ekonomi keluarga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi yang dialami oleh siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Ungaran Kesulitan Belajar.FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESULITAN BELAJAR MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI PADA SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 1 UNGARAN Abstrak Rizal Fadilla Septian Kesulitan belajar yang berasal dari faktor internal siswa antara lain kondisi kesehatan. Teman bergaul. Kematangan. Latar belakang kebudayaan. Pendahuluan Pada hakikatnya di dalam belajar senantiasa ada rintangan dan hambatan yang akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Perhatian. gangguan psikis. Lingkungan tetangga. 66 . faktor II diberi nama Jasmaniah dan Pendukung belajar. kondisi kesehatan siswa yang sering sakit-sakitan dapat mengganggu kerja otak yang mengakibatkan terganggunya kondisi dan konsentrasi belajar sehingga siswa akan tertinggal jauh dari pelajarannya. Kesulitan ini tidak selalu disebabkan oleh faktor intelegensi. faktor VIII diberi nama Kebutuhan. Relasi siswa dengan siswa. Mass media. Relasi guru dengan siswa. Waktu sekolah. dan faktor XI diberi nama Lingkungan Belajar. Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriono (2003 : 77). Aktivitas dalam masyarakat. intelegensi. menunjukkan bahwa dari 48 (empat puluh delapan) indikator yang diindikasikan dapat mempengaruhi kesulitan belajar mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Ungaran yang terdiri dari faKtor Kesehatan.2003 : 54-72). Pengertian orang tua. Kurikulum. keadaan sekolah dan keadaan lingkungan masyarakat” (Slameto. “Kesulitan belajar adalah keadaan dimana anak didik tidak dapat belajar sabagaimana mestinya”. dan faktor V diberi nama Pergaulan. faktor IV diberi nama Kemampuan dan Minat. memaparkan atau mempresentasikan serta mengetahui bagian-bagian dasar atau komponen mengenai perangkat komputer. Faktor X diberi nama Gedung dan Peralatan Sekolah. “Faktor intern meliputi keadaan fisik. faktor III diberi nama Komunikasi dan Relasi. Faktor IX diberi nama Intelegensi. Bakat. Suasana rumah. menyusun informasi. Tugas rumah. Alat pelajaran. dan adanya perhatian. Faktor penyebab kesulitan belajar ada dua macam. Minat. Kesiapan. faktor VI diberi nama kesehatan. Ternyata terbagi dalam 11 (sebelas) kelompok faktor. Kesulitan belajar yang berasal dari faktor internal siswa antara lain kondisi kesehatan. yaitu faktor I yang diberi nama Keluarga. Mata pelajaran TIK memiliki tujuan agar siswa mampu menggunakan komputer sebagai alat bantu untuk mencari informasi. keadaan emosi. Metode mengajar. Mata pelajaran TIK merupakan mata pelajaran yang wajib bagi siswa SMP dan merupakan mata pelajaran adaptif yang setiap waktu mengalami perubahan.

maka penulis dalam penelitian ini mengambil judul tentang FAKTOR -FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESULITAN BELAJAR MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI PADA SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 1 UNGARAN. Oleh sebab itu perlu adanya usaha untuk mencari faktor penyebab kesulitan belajar yang dialami siswa. 2003 : 54-72). Dalam daftar tersebut menunjukkan bahwa ada 41 siswa dari 166 siswa yang memperoleh nilai dibawah kriteria ketuntasan minimum (KKM) dalam ujian semester ganjil.5) 20 siswa 18 siswa 12 siswa 18 siswa 23 siswa 17 siswa 17 siswa Jumlah siswa 24 siswa 24 siswa 23 siswa 24 siswa 23 siswa 24 siswa 24 siswa Sumber: Dokumen guru mata pelajaran TIK SMP Negeri 1 Ungaran Dari data tersebut menunjukkan bahwa ada beberapa siswa yang memiliki nilai dibawah kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan oleh sekolah yaitu sebesar 25 % dari 166 siswa. penulis mendapat daftar nilai TIK siswa kelas VIII dari guru TIK yakni Bapak Yubaidi. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar Faktor – faktor belajar adalah peristiwa belajar yang terjadi pada diri Faktor faktor yang menyebabkan kesulitan belajar pada pokoknya dapat digolongkan menjadi dua faktor (Slameto.Dari hasil observasi awal di SMP N 1 Ungaran pada tanggal 10 Januari 2010. dengan ditandainya hambatan-hanbatan tetentu untuk mencapai hasil belajar.Kom. 67 . Berkaitan dengan latar belakang masalah tersebut diatas.5) 4 siswa 6 siswa 11 siswa 6 siswa 7 siswa 7 siswa Nilai diatas KKM (> 7. sehingga pihak sekolah harus mengadakan ujuan remidi. Berikut data dari$ hasil belajar siswa pada mata pelajaran TIK kelas VIII SMP Negeri 1 Ungaran : Tabel Hasil belajar siswa pada mata pelajaran TIK Siswa Kelas VIII Kela s VIII A VIII B VIII C VIII D VIII E VIII F VIII G Nilai dibawah KKM (< 7.5. agar siswa tersebut memiliki nilai sesuai kriteria ketuntasan minamum (KKM) yang berlaku yaitu 7. S. maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalah adakah faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi yang dialami siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Ungaran ? Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi yang dialami oleh siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Ungaran Kesulitan Belajar Kesulitan belajar adalah suatu kondisi proses anak didik yang tidak dapat belajar dengan sebagaimana mestinya.

meliputi : metode mengajar.1. bakat. Perhatian orang tua. Latar belakang kebudayaan. b. Waktu sekolah. 2. Faktor sekolah. Faktor jasmaniyah. suasana rumah. a.78 Orang tua mendampingi belajar Keharmonisan keluarga I Penghasilan orang tua Pemberian motivasi Durasi pelajaran TIK Pemahaman pelajaran TIK Kondisi jasmani I Minat TIK I Pemberian tugas oleh guru lingkungan tempat tinggal I Fisik yang kurang sempurna 8. relasi siswa dengan siswa. Kesiapan b. baik yang berasal dari dalam siswa (intern) maupun yang berasal dari luar diri siswa (eksternal). relasi antara anggota keluarga. Relasi siswa dengan siswa. Faktor psikologis. keadaan ekonomi keluarga. perhatian. meliputi : kesehatan dan cacat tubuh. Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar. Dokumentasi c.88 Jasmaniah dan Pendukung belajar Komunikasi dan 6. Faktor ekstern. Intelegensi. Bakat. minat. kegiatan sosial dan bentuk kehidupan masyarakat. pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan. adalah faktor-faktor yang ada di luar individu. meliputi : intelegensi. Faktor masyarakat. Faktor Diri Siswa (Intern) Kesehatan. b. Faktor keluarga. Tugas rumah. alat pelajaran. Mass media. Perhatian. penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut : a. meliputi : cara orang tua mendidik. meliputi : a. keadaan gedung dan tugas rumah. Keadaan gedung. Kurikulum . c.81 68 . relasi guru dengan siswa. teman bergaul.meliputi : mass media. kurikulum. Teman bergaul. Alat pelajaran. Faktor lingkungan sekolah. kematangan dan kesiapan. motif. Minat. Motivasi. Metode mengajar. dapat dikelompokkan menjadi tiga faktor yaitu : faktor keluarga. Variabel Penelitian Variabel-variabel yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa dalam mata pelajaran TIK. waktu sekolah. Faktor Luar Siswa (Faktor Ekstern) Cara orang tua mendidik anaknya. Kematangan. Hubungan antar anggota keluarga. Lingkungan tetangga. Cacat Tubuh. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas Hasil Analisis Faktor N O INDIKATOR MUATA N FAKTOR PENAMAAN FAKTOR Keluarga 32. Kuesioner (angket) b. Aktivitas dalam masyarakat Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini. Faktor intern. Keadaan ekonomi keluarga. faktor sekolah dan faktor masyarakat. adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar yang meliputi : a. Relasi guru dengan siswa. Suasana rumah.

Ternyata terbagi dalam 11 (sebelas) kelompok faktor. Relasi guru dengan siswa. menunjukkan bahwa dari 48 (empat puluh delapan) indikator yang diindikasikan dapat mempengaruhi kesulitan belajar mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Ungaran yang terdiri dari faKtor Kesehatan. faktor II diberi nama Jasmaniah dan Pendukung belajar. Waktu sekolah. Motivasi. Aktivitas dalam masyarakat. dan faktor V diberi nama Pergaulan.95 Media pengajaran 3. Latar belakang kebudayaan. Cacat tubuh. Kesiapan. Minat. Keadaan ekonomi keluarga.91 2. Bakat. Alat pelajaran. Lingkungan tetangga. yaitu faktor I yang diberi nama Keluarga. faktor III diberi nama Komunikasi dan Relasi. Pengertian orang tua. faktor VII diberi nama Media pengajaran. Relasi siswa dengan siswa.16 2. faktor VI diberi nama kesehatan.22 Kesehatan 3. Faktor X diberi nama Gedung dan Peralatan Sekolah. Kurikulum. Perhatian. Kematangan. Suasana rumah. Teman bergaul. Mass media. faktor VIII diberi nama Kebutuhan. Metode mengajar.87 3.82 Kebutuhan Intelegensi Gedung dan Peralatan Sekolah Lingkungan Belajar Berdasarkan hasil analisis faktor menggunakan program bantu SPSS seperti yang telah di uraikan di atas. dan faktor XI diberi nama Lingkungan Belajar. Intelegensi.44 Kemampuan dan Minat 4. 69 . Faktor IX diberi nama Intelegensi. faktor IV diberi nama Kemampuan dan Minat.79 Pergaulan 4. Hubungan antar anggota keluarga. Keadaan gedung. Tugas rumah. Cara orang tua mendidik.Komposisi pelajaran TIK Komunikasi guru pada siswa Hubungan siswa dengan siswa Kondisi ruangan Tidak Membolos saat pelajaran Tulisan rapi Aktif bertanya saat pelajaran I Tidak terlambat saat V pelajaran Metode mengajar guru Materi sesuai dengan waktunya Menyiapkan keperluan sekolah V Teman bergaul Guru memperhatikan siswanya Mengkonsumsi makanan V bergizi I Perhatian orang tua Bakat V Guru memberikan II kesempatan Media pengajaran V Kebutuhan belajar siswa III Peralatan praktek baik I Kemampuan intelegensi X Mengikuti kegiatan kursus Peralatan praktek lengkap X Gedung dalam kondisi baik X Suasana rumah I Minat siswa pada TIK Sumber : Data primer yang diolah II Relasi 6.

81 4 54.5 Tabel Hasil faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa N Nama Faktor Persentase Persentas o dari Varian e Kumulatif 1 32.95%).79 6 63. Kebutuhan (3.94 Intelegensi 3.88 3 48.22%) . Pergaulan (4.16 1 77. Lingkungan Belajar (2.82%). penghasilan orang tua.78 2 41. Hasil perhitungan analisis faktor menunjukkan bahwa dari faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi diperoleh faktor yang dominan yaitu Keluarga yakni dengan persentase sebesar 32.78%).78 % yang terdiri dari orang tua mendampingi belajar. Dari hasil analisis faktor terdapat 11 (sebelas) faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran Teknologi informasi dan komuni di SMP N 1 Ungaran.22 7 67. yaitu : Keluarga (32.95 8 71. Jasmaniah dan Pendukung belajar (8.88%) .87 9 74. Kesehatan (4.92 Kemampuan dan Minat 6. Gedung dan Peralatan Sekolah (2.91%).16 %).48 Komunikasi dan Relasi 6. pemberian motivasi.78 Keluarga 32.91 0 1 80.87%). 2.66 Jasmaniah dan Pendukung belajar 8.44 5 59. keharmonisan keluarga.Komunikasi dan Relasi (6.79%).90 Media pengajaran 3. durasi pelajaran TIK 70 .44%).82 1 Sumber : Data primer yang diolah Simpulan Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dapat diambil simpulan sebagai berikut: 1.68 Lingkungan Belajar 2.81%).77 Kebutuhan 3.86 Gedung dan Peralatan Sekolah 2.Untuk mengetahui besarnya faktor kesulitan belajar siswa yang paling dominan dapat dilihat melalui analisis deskriptif menggunakan eigenvalue dari persentase varian yang tampak pada tabel 4.72 Pergaulan 4. Media pengajaran (3. Kemampuan dan minat (6. Intelegensi (3.95 Kesehatan 4.

KOMPARATIF PEMBELAJARAN MENGETIK SEBELUM DAN SESUDAH MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL PROGRAM MACROMEDIA FLASH PADA SISWA KELAS X PEMASARAN DI SMK NEGERI 9 SEMARANG Abstrak Sri Sukariyah Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar mengetik sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash pada kelas X Pemasaran di SMK Negeri 9 Semarang. Hal itu di dasarkan atas konsep bahwa pengajaran adalah bagian dari pendidikan. dan organisasi serta pengolahan cara-cara pemecahan masalah-masalah pendidikan yang terdapat di dalam situasi-situasi belajar yang bertujuan dan disengaja. The importance of multiple channels for delivery of educational content can be found in the theory of multi-channel communication which confirms that when information is presented by more than one channel. 2004:2. Multimedia pada umumnya didefinisikan sebagai 71 . Daniels. peralatan.16%. observasi. Kata Kunci : Pembelajaran. dan angket. sedangkan variabel terikatnya adalah hasil belajar mengetik sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash. yaitu media. teknologi dipercaya mampu memberikan mekanisme penyampaian paling baik untuk mencapai sasaran peningkatan dan pengembangan mutu pendidikan. Teknologi pengajaran merupakan satu himpunan dari proses terintegrasi yang melibatkan manusia. there will be eddition reinforcement. 1. 1994:2). taste. Respon siswa saat meggunakan media audio visual program macromedia sangat positif. This interactive component must allow the learner to interact with the material in such a way as to control the outcome of the presentation. tes. Variabel bebasnya adalah pembelajaran sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash. Hasil belajar mengetik sebelum menggunakan media audio visual program macromedia flash rata-rata 66. 1969:2). terdapat perbedaan nilai rata rata pre-test dan nilai rata-rata post-test. i. termasuk saluran audio dan visual ( Paivio.32. Bagui. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi. Human receive data through multiple channels. 1998:2. resulting. in greater retention and improved learning ( Ellis. dan saat menggunakan media menjadi 90%. Sedang hasil analisis uji-t diperoleh hasil. Persentase skor sebelum menggunakan media audio visual program macromedia flash adalah sebesar 72% dan saat menggunakan media sebesar 86%. Media Audio Visual Program Macromedia Flash. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik sampling sensus. Manusia menerima data melalui banyak saluran. dan rasa. juga sentuhan. yaitu analisis deskriptif persentase dan menggunakan uji-t. dan Mengetik. prosedur. Teknologi pengajaran merupakan bagian dari teknologi pendidikan. namun sebenarnya pengaruh terhadap hasil pembelajaran masih belum jelas. Aktivitas siswa saat menggunakan media audio visual program macromedia flash. still graphics. media. 1998:2). Besarnya peningkatan persentasi dari pre-test ke post-test adalah sebesar 16. dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima. Ho ditolak ini berarti .e.05 dan sesudah menggunakan media meningkat menjadi 76. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Pemasaran di SMK Negeri 9 Semarang. persentase sebelum menggunakan media sebesar 70%. 1969:2) as well as touch. Dengan perkembangan zaman sekarang yang semakin canggih. including audio and visual channels ( Paivio. gagasan.73. Tannenbaum ( 1998:2) posits that multimedia must include an interactive component. yaitu nilai t hitung = -23. and text. Multimedia is most commonly defined as the use of at least two of these elements: sound ( audio). Walaupun perkembangan teknologi yang menunjang pendidikan begitu cepat. Pendahuluan Peningkatan dan pengembangan mutu pendidikan merupakan masalah yang selalu menuntut perhatian. berjumlah 80 siswa. Hasil penelitian analisis deskriptif persentase menunjukkan bahwa persentase kinerja guru menggunakan media audio visual program macromedia flash. and motion graphics ( visual) ( Tannenbaum. thereby necessitating that it be under the control of a computer. Dalam penelitian ini menggunakan dua analisis.

Multimedia dapat menyampaikan pesan dalam bentuk audio dan visual.50 40 11 9 Pemasaran2 % % 42. untuk pembelajaran mengetik dikatakan belum optimal. dari hasil data nilai diatas belum mendapatkan hasil yang memuaskan. 1 Rumusan Masalah Apakah ada perbedaan hasil belajar mengetik. sehingga komponen ini perlu dikendalikan oleh komputer. Komponen interaktif ini harus memungkinkan pelajar untuk berinteraksi dengan materi untuk itu siswa dapat mengendalikan hasil dari presentasi.50 Jumlah 80 18 45% 17 % Sumber: data nilai ulangan harian siswa kelas X Pemasaran SMK Negeri 9 Semarang yang sudah diolah. grafis diam. Secara umum orang akan ingat 85% dari apa yang mereka lihat dari suatu tayangan setelah 3 jam kemudian. kinerja guru. Daniels. Pembelajaran tersebut belum dikatakan optimal karena pembelajaran yang masih berpusat pada guru. dan guru menjelaskan hanya dengan metode konvensional dengan menggunakan buku teks wajib. Hal ini bisa dilihat dari hasil belajar siswa baik dari ulangan pertama dan ulangan kedua.penggunaan setidaknya dua dari elemen-elemen diatas: suara ( audio). dan grafis bergerak ( visual) ( Tannenbaum.50%). aktivitas siswa. Padahal menurut Sudjana ( 2009:2) “ media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya”. dan teks. 2005:2). Berdasarkan observasi awal dapat diketahui adanya kesenjangan kesenjangan antara teori dan kenyataan. dan 65% setelah 3 hari kemudian ( Dudung/ upload. Media audio visual mampu membuat orang pada umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka melihat dan mendengar walaupun hanya sekali ditayangkan. yaitu pada kegiatan belajar mengajar pelajaran mengetik kelas X Pemasaran di SMK Negeri 9 Semarang. 1998:2). 1998:2. yang mengakibatkan lebih lamanya informasi diingat dan perbaikan pembelajaran ( Ellis. 17 siswa ( 42. ada beberapa siswa yang nilainya masih di bawah KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal) sebesar 71. selama ini kurang memanfaatkan penggunaan media. Pengemasan materi pembelajaran dalam bentuk tayangan-tayangan audio visual mampu merebut 90% saluran masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga. 18 siswa ( 45%). 2004:2. Tabel 1. akan terjadi penguatan tambahan. Adapun tabel nilai siswa pada tahun 2009 pada ulangan pertama dan ulangan kedua seperti berikut : Tabel 1. Pentingnya banyak saluran bagi penyampaian muatan pendidikan dapat ditemukan didalam teori komunikasi multi-saluran yang memberikan konfirmasi bahwa jika informasi disampaikan dengan lebih dari satu saluran. Berdasarkan observasi awal bahwa pemahaman konsep yang dicapai siswa di SMK Negeri 9 Semarang pada program keahlian pemasaran. 72 . 1994:2). 1 Data nilai ulangan I dan II siswa kelas X Pamasaran 2009 : Jumlah Jumlah siswa siswa Jumlah bernilai di Prosent bernilai di Prosent Kelas siswa bawah ase bawah ase KKM KKM (ulangan I) (ulangan II) XP X 17. Walaupun sekolah tersebut sudah tersedia LCD ( Liquid Crystal Display) dan komputer. Menurut Tannenbaum ( 1998:2) mengusulkan bahwa multimedia harus melibatkan suatu komponen interaktif. tanggapan siswa sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash pada siswa kelas X Pemasaran di SMK Negeri 9 Semarang.50 22.1 menjelaskan hasil observasi data nilai siswa yang masih mendapatkan nilai dibawah KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal) menunjukkan ulangan I. 1.50 40 7 8 20% Pemasaran 1 % X 27. sedangkan pada ulangan II. tetapi guru tidak memanfaatkan fasilitas tersebut untuk proses pembelajaran. Bagui.

Tahap-tahap Belajar Keterampilan ( Hamalik. 2007:138). tahap otonom terdapat peningkatan kecepatan melakukan keterampilan-keterampilan yang berdaya guna untuk memperbaiki kecermatan di mana tidak terjadi lagi kekeliruan. 3 Manfaat Penelitian Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan. “ Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar” ( Anni. Pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat 73 . Bagi guru sebagai media pembelajaran baru untuk mempermudah guru dalam proses belajar mengajar. e. sikap. keterampilan. 2009:55) mengemukakan ada lima tipe hasil belajar yakni : a. 2. c. 2006:295). kinerja guru. keterampilan motorik. 3 Pengertian Hasil Belajar Proses pembelajaran akan memberikan suatu perubahan pada siswa yang bisa dilihat dari hasil belajarnya. Bukti Empiris 2. “ pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan. 2006:5). Kemahiran intelektual ( kognitif). perilaku dan keterampilan dengan cara mengolah bahan belajar” (Mudjiono. Manfaat Praktis Bagi siswa terciptanya suasana pembelajaran yang menyenangkan.1. 2007:138) : a. siswa berusaha mengintelektualkan keterampilan yang akan dilakukan. Pendapat Gagne ( dalam Sudjana. pola-pola tingkah laku yang betul dilatih sampai tidak terjadi lagi kekeliruan. yakni menunjukkan rangkaian respons motorik. “ Keterampilan motorik adalah serangkaian gerakan otot untuk menyelesaikan tugas dengan berhasil” ( Hamalik. dan dapat memberikan hasil belajar yang baik. 2006:157). b. d. khususnya pada aspek pembelajaran mengetik dengan menggunakan media audio visual program macromedia flash. 4 Pengertian Media Pembelajaran “ Kata media berasal dari bahasa latin Medius yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. dan mengorganisasi rangkaian respons menjadi pola-pola respons yang kompleks. mengatur kegiatan intelektual. 2 Tujuan Penelitian Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar mengetik. 1. 1 Pengertian Belajar Belajar bukan hanya mengingat. b. tanggapan siswa sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash pada siswa kelas X Pemasaran di SMK Negeri 9 Semarang. tahap fiksasi. Bagi peneliti dapat memperoleh pengalaman langsung dalam pembelajaran menggunakan media audio visual program macromedia flash. Terdapat beberapa pendapat mengenai hasil belajar. informasi verbal. c. 2 Pengertian Pembelajaran Situasi belajar diperoleh dari proses pembelajaran. “ belajar adalah kegiatan individu memperoleh pengetahuan. 2. melibatkan koordinasi gerakan tangan dan mata. aktivitas siswa. Keterampilan memiliki tiga karasteristik. tahap kognitif. menarik dalam mengikuti pembelajaran mengetik. dan sikap” ( Mudjiono. sehingga akan ada nuansa baru dalam pembelajaran. 2. 2.

b. maka media itu disebut media pembelajaran ( Arsyad. poster. 3) video. 4) pameran. antara lain : a. h. dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai kemampuan dan minatnya. media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwaperistiwa dilingkungan mereka. b. reel. Media berbasis telekomunikasi : 1) Telekonferen. b. diagram. Pilihan Media Teknologi Mutakhir : a. Sedangkan manfaat media ( Arsyad. media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera. 2) pita kaset. grafik. 5) lembaran lepas ( hand-out). 4) majalah ilmiah. berkala. media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar. Visual dinamis yang diproyeksikan : 1) Film. interaksi yang langsung antara siswa dan lingkungannya. 2) specimen ( contoh). 2) multi-image. e. Permainan : 1) Teka-teki. Penyajian multimedia : 1) Slide plus suara ( tape). Cetak : 1) Buku teks. media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar. Audio : 1) Rekaman piringan. papan info. 3) manipulatif ( peta. 4) filmstrips. f. Apabila media itu membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran. Pengelompokan berbagai jenis media apabila dilihat dari segi perkembangan teknologi menurut Seels dan Glasgow ( dalam Arsyad. 2) simulasi. 2) foto. dan waktu. atau elektronis untuk menangkap kembali informasi visual atau verbal”. ruang. 2) proyeksi overhead. g. Media berbasis mikroprosesor : 74 . Realia : 1) Model. 2) televisi. 2002:33-34) dibagi ke dalam dua kategori luas yaitu : 1. serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung. Visual yang tak diproyeksikan : 1) Gambar. c. 2) kuliah jarak jauh. 2. 3) permainan papan. c.grafis. 3) chart. photografis. cartridge. 3) slides. papan-bulu. Pilihan Media Tradisional : a. 2002:26-27). 2) modul. Visual diam yang diproyeksikan 1) Proyeksi opaque ( tak-tembus pandang). d. teks terprogram. boneka). 3) workbook. 2002:3-4).

2) Metode tes Metode ini digunakan untuk mendapatkan data tentang hasil belajar. yaitu dengan menggunakan kedua jari telunjuk. baik itu organisasi pemerintah ataupun itu organisasi kepartaian maupun organisasi yang lain” ( Sularso. Cara mengetik sederhana yang banyak kita kenal adalah cara mengetik dengan menggunakan dua jari. Cara ini sebenarnya kurang baik dan tidak efisien jika dibandingkan dengan mengetik yang menggunakan sistem 10 ( sepuluh) jari buta. 5 Computer-assisted instruction. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Hipotesis Hipotesis yang dikemukakan oleh peneliti adalah ada perbedaan sebelum dan sesudah menggunakan audio visual program macromedia flash dalam pembelajaran mengetik pada siswa kelas X Pemasaran di SMK Negeri 9 Semarang. compact ( video) disc. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik sampling sensus. baik sebelum maupun sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash. 3) Metode observasi Untuk mengamati seberapa besar kinerja guru dan aktivitas siswa. 4) Metode Angket atau Kuesioner (Questionnaires) Angket digunakan untuk memperoleh informasi dari penerapan media pembelajaran audio visual program macromedia flash dalam mengetik. 3. 2006:2). interaktif. 3. 2. 75 .1) 2) 3) 4) 5) 6) 2. 7 Pengertian Mengetik “ Mengetik adalah pekerjaan yang hampir terdapat pada semua bilang. serta untuk memperoleh data nilai mengetik tahun sebelumnya. 1984:1). Metedologi Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Pemasaran di SMK Negeri 9 Semarang yang berjumlah 80 siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugiyono ( 2008:85) teknik ini digunakan jika semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. sistem tutor intelijen. 2006:124). 1 Variabel Penelitian Variabel bebas ( X) : Pembelajaran mengetik sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash. data yang terkait untuk mengajar mengetik ( silabus. 2 Metode Pengumpulan Data 1) Metode dokumentasi Metode ini dilakukan untuk memperoleh data nama peserta didik yang termasuk dalam populasi dan sampel penelitian. 3. Pengertian Media Audio Visual “ Media audio visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar”. 6 Program Macromedia Flash “ Flash Professional 8 adalah program animasi berbasis vektor yang sangat populer dan paling banyak digunakan saat ini untuk membuat animasi dan aplikasi web profesional yang dinamis dan interaktif” ( Chandra. permainan komputer. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik ( Djamarah. Variabel terikat ( Y) : Hasil belajar mengetik sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash. saat proses belajar. hypermedia. 2.

= Rata-rata nilai sampel 2. 4 Teknik Analisis Perangkat Tes Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Sedangkan rumus untuk menghitung t-test adalah : Keterangan : = Rata-rata nilai sampel 1.3. (2-tailed) 40 . Karena taraf signifikasi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu sebesar 0. 3) Tahap observasi.000 < 0.859 ** Soal2 1 . Hasil analisis reliabilitas menggunakan SPSS 16 for windows sebesar 0.05.000 40 1 40 . Correlations Soal1 Soal1 Pearson Correlation Sig. s12 = Varians sampel 1. 4) Tahap refleksi. 5 Teknik Analisis Data 1.859 dengan taraf signifikansi sebesar 0. Analisis t-test Rumus untuk menghitung simpangan baku adalah : ( Sugiyono. 2008:122). yang mempunyai 2 siklus dengan tahapan-tahapan : 1) Tahap perencanaan.000 dan batas kesalahan sebesar 0. s2 = Simpangan baku sampel 2. s1 = Simpangan baku sampel 1.859** . 3.000 N 40 **.05 maka soal evaluasi tersebut reliabel.\ 76 . Reliabilitas teknik yang digunakan dalam pengujian reliabilitas dalam penelitian ini adalah tes ulang ( test-retest). 3 Jenis dan Prosedur Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. 2008:58). s22 = Varians sampel 2. Correlation is significant at the 0. 3. (2-tailed) N Soal2 Pearson Correlation Sig. r = Korelasi antara dua sampel ( Sugiyono. 2) Tahap tindakan.01 level (2-tailed).

Analisis Deskriptif Prosentase Penelitian ini akan menggunanakan tabel statistik yang menunjukkan angka kisaran teoritis dan sesungguhnya. sedangkan rata-rata dari siklus II adalah 76. 3 Paired Samples Test. Analisis uji –t Analisis t-test dalam penelitian ini menggunakan SPSS 16 for windows dengan analisis paired. Tabel 4. Kriteria pengambilan keputusan. rata-rata standart deviasi dengan rumus : DP = 100% Keterangan: DP n N x ( Ali dalam Lely. 2 Paired Samples Correlations.769 . 4. 2009:59).000 r1 Sumber: Data primer diolah. 2010.05 dengan deviasi standar 6. hal ini berarti ada hubungan yang erat antar sampel atau korelasi signifikan secara statistik. karena merupakan penelitian sebelum dan sesudah yang berarti subjeknya sama yaitu siswa kelas X Pemasaran SMK Negeri 9 Semarang. Pai Siklus1 & Siklus2 80 . = Depkriptif Persentase.000. Hasil tabel paired sample statistics di atas. Tabel paired samples correlations di atas diperoleh hasil korelasi = 0. Tabel 4. Deviation 6. Ada perbedaan sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash dalam pembelajaran mengetik pada siswa kelas X Pemasaran SMK Negeri 9 Semarang. tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95% atau dengan menggunakan alpha 5%.51366 s2 75 Sumber: Data primer diolah.2. dapat diketahui bahwa rata-rata dari siklus I adalah 66. Tabel 4. = Nilai yang diperoleh.39. 1 Paired Sample Statistics.05 00 N 80 Std. 2010. Hipotesis : Ho : 3 = 0 Tidak ada perbedaan hasil sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash dalam pembelajaran mengetik pada siswa kelas X Pemasaran SMK Negeri 9 Semarang. Paired Samples Statistics Mean Pai r1 Siklu s1 66. Hasil Empiris 1.59428 .05 yaitu 0.39204 Std.769 dengan signifikansi kurang dari 0.71465 Siklu 76. = Jumlah seluruh nilai.73 dengan deviasi 4. 77 . Dari rata-rata tersebut dapat dilihat ada peningkatan hasil belajar mengetik dari siklus I ke siklus II. Paired Samples Correlations N Correlation Sig.59.73 80 4. Error Mean . Ha : 3 0.

James McKee. 1 Siklus 1.06. (13 Maret 2010). Syaiful Bahri dan Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar. 2006.Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t S ig. 5. Dahlia.000 maka Ha diterima ada perbedaan rata-rata pada nilai mengetik sebelum dan sesudah menggunakan media. Gregory. Error Deviation Mean P Sik air lus1 4. 2010. Palembang: Maxikom. Respon siswa saat meggunakan media audio visual program macromedia sangat positif. Kesimpulan Ada perbedaan hasil belajar mengetik. (2d taile f d) Mean Std Std. karena signifikasi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0.09. Aktivitas siswa saat menggunakan media audio visual program macromedia flash. Prosedur Penelitian. Multimedia use inhigher education: promises and pitfalls.322 9 000 2 Sumber: Data primer diolah.32 dan signifikansi sebesar 0. Baharuddin dan Wahyuni .77537 23. maka dapat dilihat persentase kenaikan nilai rata-rata siklus I ke siklus II adalah 2.06875E1 6 826 11.0987 . A. 7 Jam Belajar Interaktif Flash Profesional 8 Untuk Orang Awam. Suharsimi. terdapat peningkatan kinerja guru. sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash. Catharina. Deskrptif prosentase Hasil penelitian analisis deskriptif persentase menunjukkan bahwa persentase kinerja guru menggunakan media audio visual program macromedia flash.com/manuscripts/09329pdf.00. dengan deviasi standar 4. Jakarta: Rineka Cipta. 2002. www. 2006. Lely. tanggapan siswa yang positif. Psikologi Belajar. terdapat peningkatan aktivitas siswa.59963 9. Universitas Negeri Semarang. Arikunto. Semarang : Unnes Press.aabri.2006. Daftar Pustaka Anni. Skripsi. 78 . Teori Belajar dan Pembelajaran. Djamarah. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Krippel. Azhar.. and Janette Moody. 2009. Media Pembelajaran. persentase sebelum menggunakan media sebesar 70%. Nilai rata–rata siklus II lebih tinggi dibanding nilai rata-rata siklus I. Jakarta: Rineka Cipta. Arsyad. 6. Hasil dari tabel paired samples test diperoleh siklus I dan siklus II adalah -1. Persentase skor sebelum menggunakan media audio visual program macromedia flash adalah sebesar 72% dan saat menggunakan media sebesar 86%. . Hasil thitung menghasilkan nilai sebesar -23. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan kerja siswa kelas XII program keahlian akuntansi di SMK negeri 3 Jepara Tahun Ajaran 2008/2009. dan saat menggunakan media menjadi 90%. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. Tri. 2008. Chandra . 2006.45 7 .

Nana dan Rivai. Somantri. Jakarta: Rineka Cipta. Pustaka Setia. Analisis Statistik dengan Microsoft. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Bumi Aksara. http://pendidikansains. Statistika Untuk Penelitian. Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya. 1994. Samsudin. Yogyakarta: ANDI. Sugiyono . Syah. Sudjana. Sularso. Evaluasi Pendidikan. 2007. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Bandung: Armico. Santosa. 2009.Mudjiono dan Dimyati. 2009.2008. Ating dan Muhidin Sambas Ali. 2006. 1984. Teknologi Pengajaran.html. Metodologi Penelitian. Excel dan SPSS. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar.Yogyakarta: Liberty. Iwan. Nana. Budi Purbayu. Marimin. 2007. Narbuko dan Achmadi. Bandung: Alfabeta. Bandung: CV. 2003. 79 . Pengetahuan Mengetik SMK. Mengetik Dengan Sistem 10 ( Sepuluh) Jari . Bandung: Sinar Baru Algensindo. ( 10 Mei 2010). Slameto. dan Ashari. 2004. Sukardi. 2006.blogspot. 2008. Belajar dan Pembelajaran.com/2008/02/e-learning-merupakan-inovasi-pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. E-learning Merupakan Inovasi Pendidikan Dalam Proses Pembelajaran Fisika. A. Muhibbin. Statistika Dalam Penelitian. Sudjana. dan Muhsin. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2005 . Setiawan. Psikologi Belajar.

dan Stenografi. Ini bisa dilihat dari hasil belajar siswa banyak yang nilainya masih di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) sebesar 7. Dari analisis deskriptif persentase menunjukkan bahwa persentase kinerja guru pada siklus II lebih baik dengan persentase 88% dibandingkan siklus I sebesar 78%. dan angket. Kemajuan teknologi saat ini. Pendahuluan Pendidikan yang semakin berkembang dengan adanya kemajuan teknologi dan era globalisasi sekarang ini. Besarnya peningkatan persentase dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 23. Penting bagi pengajar sebagai fasilitator untuk memilih dan menyajikan bahan-bahan dengan menggunakan stimulus yang dapat menarik minat belajar siswa. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan teknik pengambilan data adalah dokumentasi. Stimulus yang digunakan bisa berupa media pembelajaran. Aktivitas belajar manusia akan berlangsung terus menerus sepanjang waktu. Hasil penelitiannya adalah terdapat perbedaan nilai rata-rata dari siklus I dan nilai rata-rata siklus II. Hasilnya pembelajaran stenografi sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ lebih baik daripada sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. karena persentase siklus I adalah sebesar 70%. Aktivitas siswa pada siklus II juga lebih baik. dan manusia akan mereaksinya (memberi respon). Berdasarkan observasi awal bahwa pemahaman konsep yang dicapai siswa di SMK Widya Praja Ungaran. dituntut untuk bisa lebih melatih keterampilan siswa. Dalam penelitian ini menggunakan dua analisis. siswa dituntut untuk terampil menulis cepat secepat pembicaraan. pada kompetensi Mencatat Dikte Untuk Mempersiapkan Naskah (Stenografi) dikatakan belum optimal. Namun tulisan stenografi sekarang masih relevan. Apalagi bagi siswa SMK jurusan AP. dan pada siklus II menjadi 86%. Kata Kunci : Pembelajaran. untuk penulisan suatu risalah atau pidato. Bisa dilihat dari tabel nilai seperti berikut: 80 . yaitu analisis deskriptif persentase dan menggunakan uji-t. wacana atau reportase.19%. Dictaphone. Kinerja guru dan aktivitas siswa sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ lebih baik daripada ssebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. maka akan membuat siswa kalah bersaing di dunia nyata. setiap kali manusia berinteraksi dengan lingkungan (stimulus). Tanggapan siswa saat menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ adalah sangat positif. Persaingan yang semakin ketat. untuk mengetahui bagaimana kinerja guru dan aktivitas siswa sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. rapat-rapat penting. Stenografi merupakan kompetensi wajib bagi siswa SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) jurusan AP (Administrasi Perkantoran). observasi. semua siswa memberikan tanggapan yang sangat positif. tacothype dan sejenisnya. dan lain-lain dapat menggunakan alatalat seperti tape recorder. Media Audiovisual „Filmstrip‟. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar stenografi dasar sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟.Komparasi Pembelajaran Stenografi Dasar Sebelum dan Sesudah Menggunakan Media Audiovisual ‘Filmstrip’ Pada Siswa Kelas XI AP di SMK Widya Praja Ungaran Abstrak Wardah Rizqi Tourviana Makalah ini berisi tantang salah satu cara untuk meningkatkan perhatian belajar siswa adalah dengan pemberian stimulus dengan penggunaan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran stenografi dasar. tes. Menurut Skinner dalam Catharina (2006:20-21) menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan perilaku. Dari angket. dan hasil belajar itu berupa perilaku yang lebih sempurna dibandingkan dengan perilaku sebelum melakukan kegiatan belajar. Sebagai suatu proses. Kesimpulannya adalah bahwa terdapat perbedaan hasil belajar stenografi antara sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. dalam kegiatan belajar dibutuhkan waktu sampai mencapai hasil belajar. apabila tidak diimbangi dengan pendidikan yang memadai.00. tachograph. dan untuk mengetahui tanggapan siswa saat menggunakan media audiovisual „filmstrip‟.

72 27 23 mlah 50% 94% (Sumber : Data nilai siswa kelas XI AP SMK Widya Praja 2009. 4. 38 13 11 AP 2 21% 95% Ju 37. Dengan gambar-gambar tersebut siswa diharapkan dapat mengerti huruf-huruf stenografi. Juga diiringi dengan iringan musik yang dapat memberi stimulus siswa. Landasan Teori Pembelajaran Pengertian pembelajaran menurut teori neobehavioristik yaitu upaya membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan supaya terjadi hubungan lingkungan dengan tingkah laku pembelajar (Sugandi. digunakan untuk menyerap informasi itu 81 . Untuk mengetahui kinerja guru sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran stenografi dasar pada siswa kelas XI Administrasi Perkantoran di SMK Widya Praja Ungaran. Informasi akan mudah dimengerti karena sebanyak mungkin indera. Bagaimana tanggapan siswa kelas XI Administrasi Perkantoran di SMK Widya Praja Ungaran terhadap penggunaan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran stenografi dasar? Tujuan 1. 34 14 12 AP 1 18% 29% XI 34. Rumusan Masalah 1.Tabel 1. Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar Stenografi dasar sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ pada siswa kelas XI Administrasi Perkantoran di SMK Widya Praja Ungaran. Untuk mengetahui tanggapan siswa kelas XI Administrasi Perkantoran di SMK Widya Praja Ungaran terhadap penggunaan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran stenografi dasar. 2. Pesan atau isi pelajaran disimpan dalam bentuk filmstrip untuk mengajar huruf-huruf dasar pada penulisan huruf stenografi dengan sistem karundeng disertai dengan gambar-gambar yang disesuaikan dengan abjad serta contoh penulisan gabungan dari beberapa huruf. terutama telinga dan mata. 28. Bagaimana aktivitas siswa sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran stenografi dasar pada siswa kelas XI Administrasi Perkantoran di SMK Widya Praja Ungaran? 4. dapat dilihat di layar monitor atau ketika diproyeksikan ke layar lebar melalui overhead projector.1 Data Nilai Siswa Ju Jumlah siswa di Jumlah siswa di Kel mlah bawah KKM (tugas % bawah KKM (ulangan % as siswa I) I) XI 41. Untuk mengetahui aktivitas siswa sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran stenografi dasar pada siswa kelas XI Administrasi Perkantoran di SMK Widya Praja Ungaran. yang diolah) Media audiovisual yang digunakan adalah CD interaktif. Bagaimana kinerja guru sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran stenografi dasar pada siswa kelas XI Administrasi Perkantoran di SMK Widya Praja Ungaran? 3. Apakah ada perbedaan hasil belajar Stenografi dasar sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ pada siswa kelas XI Administrasi Perkantoran di SMK Widya Praja Ungaran? 2. Media Audiovisual „Filmstrip‟ Informasi yang disajikan melalui multimedia ini berbentuk dokumen yang hidup. 35. 3. 31. 2006:9). dan dapat didengar suaranya. dilihat gerakannya (video atau animasi).

sedangkan hasil tes. Hasil Analisis t-test (uji-t) Analisis t-test ini digunakan untuk membuktikan hipotesis yang telah ditentukan. karena merupakan penelitian sebelum dan sesudah yang berarti subjeknya sama. Karena jumlah populasi kurang dari 100. jawaban B diberi skor 4. Analisis t-test dalam penelitian ini menggunakan SPSS 16 for windows dengan analisis paired. 1993:1). observasi. Dengan kata lain berarti menulis steno adalah menulis dengan huruf-huruf singkat (pendek) (Mulyono. tes. 2009:49). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran stenografi sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ (konvesional) dan pembelajaran stenografi pada saat menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. Metode dokumentasi menggunakan data sekunder digunakan untuk mendapatkan data nama siswa dan data nilai Stenografi tahun 2009. maka penelitian ini disebut penelitian populasi (Arikunto. observasi. apakah ada perbedaan hasil belajar stenografi sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. Untuk angket digunakan skala likert dengan modifikasi. dan jawaban E diberi skor 1. jawaban D diberi skor 2. Jadi stenografi berarti menulis singkat (shorthand). Penentuan skor dari jawaban responden adalah untuk jawaban A diberi skor 5. jawaban C diberi skor 3. 2006:130). Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder dengan menggunakan empat metode penelitian yaitu metode dokumentasi. dan angket digunakan sebagai data primer berdasarkanpenelitian yang dilakukan bulan Juli 2010. Stenografi Stenografi yang berasal dari bahasa yunani mempunyai arti : stenos berarti singkat dan graphein berarti menulis. 2009:170-172). 82 . Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar stenografi sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟.(Arsyad. Film atau gambar hidup merupakan gambar-gambar dalam frame dimana frame demi frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar itu hidup (Arsyad. dan angket. Metodologi Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Administrasi Perkantoran yang berjumlah 70 siswa. Kerangka Berpikir Pembelajar an Sebelum Menggunakan Media Audiovisual Pembelajar ‘filmstrip’ an Sesudah Menggunakan Media Audiovisual ‘filmstrip’ Apakah hasil belajar siswa setelah menggunakan media Audiovisual ‘filmstrip’ lebih baik dibandingkan dengan Pembelajaran Sebelum Menggunakan Media Audiovisual ‘filmstrip’ Siswa Kelas XI AP 1 Hasil Belajar Dibandingka n Hasil Belajar Gambar Kerangka Berpikir Hipotesis Hipotesis yang dikemukakan oleh peneliti adalah ada perbedaan sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran Stenografi dasar pada siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK Widya Praja Ungaran.

hal ini berarti nilai siklus I siswa berhubungan positif dengan nilai siklus II siswa.6000.33 air 1 Siklus II 1. Std.05 (batas kesalahan) dan signifikasi 0.600 70 II 0 Sumber (Data primer diolah. Dengan tingkat kepercayaan = 95% atau ( ) = 0. Mean Error 1.16113 7. d(2tailed) 6 0 . sedangkan mean atau rata-rata dari siklus II adalah 87. Deviation 14.307 Sumber (Data primer diolah. Sedangkan tabel paired samples correlations di atas diperoleh nilai korelasi = 0.000 maka Ha diterima ada perbedaan rata-rata pada nilai stenografi sebelum dan sesudah menggunakan media .0001 dengan t hitung sebesar – 12.114 N 70 Std.00 P Siklus I – 11.615 dengan signifikansi kurang dari 5% atau 0. Dari rata-rata tersebut dapat dilihat ada peningkatan hasil belajar stenografi dari siklus I ke siklus II.64857E1 84 959 19. Ha : 3 0. Nilai rata –rata siklus 2 lebih tinggi dibanding nilai rata rata siklus 1.207 1. 2010) Tabel Paired Samples Correlations N Pair 1 on Correlati Sig.05 yaitu 0. 2010) Hipotesis : Ho : 3 = 0 Tidak ada perbedaan hasil sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran Stenografi dasar pada siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK Widya Praja Ungaran.307. Error Lowe Deviation Mean r Upper Mean t f 9 Sig.000.81330 12. Tabel Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Std.Tabel Paired Samples Statistics Mean Pair 1 I Siklus 3 71.000 Siklus II Sumber (Data primer diolah.76167 Std.1143. maka dapat dilihat persentase kenaikan nilai rata-rata siklus 1 ke siklus adalah Deskriptif Persentase 83 . Ada perbedaan sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran Stenografi dasar pada siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK Widya Praja Ungaran.69258 . Karena signifikasi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0. dapat diketahui bahwa mean dari siklus I adalah 71. 2010) Tabel paired sample statistics di atas.15813 13. Siklus I & 70 .615 .92770 Siklus 87.

Kompeten 0% b. 2009: 15) menyatakan bahwa pemakaian media 84 . Pada pembelajaran stenografi sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. Karena media sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran berfungsi meningkatkan peranan strategi pembelajaran sebab media pembelajaran menjadi salah satu komponen pendukung strategi pembelajaran. Berdasarkan uraian di atas.” Mengutip dari jurnal Guttormsen (2000). dan angket tanggapan siswa terhadap pembelajaran stenografi dengan menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. maka suara mampu menciptakan efek strukturisasi dan menarik perhatian pengguna terhadap elemen-elemen penting dalam gambar.Sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ 62. Aktivitas Siswa 70% . aktivitas siswa dalam pembelajaran stenografi sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual ‟filmstrip‟. Dalam perpaduan suara dan gambar. Kinerja Guru 78% . Pada pembelajaran stenografi sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. the voice can have a structuring effect and attract the user‟s attention to important elements in the picture. Hasilnya dapat dilihat dari tabel berikut : Aspek yang diteliti Skor dalam persen (%) A. Yang berarti setelah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ kinerja guru menjadi meningkat dari sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. yang artinya masih di bawah KKM. Sebanyak 70 siswa atau 100% sudah memenuhi KKM atau berpredikat kompeten.14% b. Sedangkan sesudah menggunakan media audiovisual ‟filmstrip‟ hasil belajar stenografi siswa meningkat.86% a. Overload on one sense modality causes tiredness and reduced attention. Kompeten 37. sebanyak 26 siswa atau 37. Penyampaian yang berlebihan dengan hanya menggunakan satu model bisa menyebabkan kelebihan dan dapat mengurangi perhatian. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hamalik (dalam Arsyad. Belum kompeten .Sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ C. dikatakan bahwa media kombinasi visual dan pendengaran merupakan kombinasi pemilihan media yang dapat mengurangi beban kognitif. Hal tersebut sesuai dengan jurnal Guttormsen (2000) “Visual versus auditory.Sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ 86% . 7 In the combination voice and picture. persentase kinerja guru dalam mengelola pembelajaran adalah sebesar 78% sehingga termasuk dalam kategori baik.Analisis deskriptif persentase terhadap skor yang diperoleh digunakan untuk mendeskripsikan hasil belajar stenografi siswa. Pada pembelajaran Stenografi sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. A combination of these modalities enables a media selection with less cognitive load. Hasil Belajar Stenografi .14% berpredikat belum kompeten. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugandi (2006:30). persentase aktivitas siswa adalah sebesar 86% sehingga termasuk dalam kategori sangat tinggi. persentase kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran adalah sebesar 88% sehingga termasuk dalam kategori sangat baik.Sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ 100% a. persentase aktivitas siswa adalah sebesar 70% sehingga termasuk dalam kategori tinggi. A balance between visual and auditory information reduces the cognitive load. Hal ini berarti bahwa hasil belajar siswa sesudah menggunakan media audiovisual ‟filmstrip‟ lebih baik dibandingkan hasil belajar siswa sebelum menggunakan media audiovisual ‟filmstrip‟.Sebelum Menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ 88% . Keseimbangan antara informasi yang disampaikan dengan audiovisual akan mengurangi beban kognitif. Belum kompeten B. kinerja guru.Sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ Dari hasil sebelum menggunakan media. dapat dilihat bahwa ada peningkatan aktivitas siswa sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran stenografi sebesar 16%. Pada pembelajaran stenografi sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟.

2. Tri. Belajar dan pembelajaran. 2007. Persentase aktivitas siswa sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ lebih tinggi daripada sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. Jakarta : PT. (2009: 2). Pengembangan. Dahlia. Skripsi. Sehingga dari pembelajaran yang lebih aktif dan bervariasi. Djamarah. Jakarta : RajaGrafindo Persada. karena guru lebih semangat dan lebih bias menarik perhatian siswa dengan bantuan media audiovisual „filmstrip‟. karena merupakan sebuah media yang baru dalam pembelajaran stenografi sehingga siswa lebih tertarik belajar stenografi. Krippel. Media Pendidikan Pengeertian.Saifuddin. www. Tanggapan siswa terhadap penggunaan media mendapat tanggapan yang sangat positif dari siswa.Realibilitas dan Validitas. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Darsono. Ahmad. Azhar. Semarang : IKIP Semarang Press. menganggap bahwa penggunaan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran stenografi dasar dapat meningkatkan hasil belajar mereka. Media Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta. Tabel Distribusi Jawaban Frekuensi Sikap Tiap Responden Kategori sikap Kategori skor Frekuensi Persentase Sangat positif 40 – 50 70 100% Positif 30 – 40 0 0% Negatif 20 – 30 0 0% Sangat negatif 10 – 20 0 0% Sumber (Data primer diolah. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesiapan Kerja Siswa Kelas XI Program Keahlian Akuntansi di SMK 3 Jepara Tahun Ajaran 2008/2009. Azwar. Jakarta : Rineka cipta. 2009. Multimedia Use in Higher Education : Promises and Pitfalls.M. Lely. Terdapat peningkatan kinerja guru sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Rineka Cipta. Catharina. (Accessed 9 January 2010). Sebanyak 70 siswa yang semuanya dijadikan sebagai responden. Arikunto. 2000. 1997. karena sebelumnya belum diajarkan di kelas X. max. serta peningkatan hasil belajar stenografi dasar. Daftar Pustaka Anni. Mulyono.com/manuscripts/09329pdf. yang artinya mereka menganggap penggunaan media audiovisual „filmstrip‟ dapat meningkatkan hasil belajar stenografi siswa. maka siswa memberikan sikap yang sangat positif dalam penggunaan media audiovisual „filmstrip‟. Kesimpulan Berdasarkan pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Terdapat Perbedaan hasil belajar stenografi antara sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. Strategi Belajar Mengajar. Hal ini dikarenakan stenografi merupakan hal yang baru diterima siswa.pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. Suharsimi. Rohani. Stenografi Sistem Karundeng. Semarang : Unnes Press. 2009. 1. A. Media Instruksional Edukatif. 2010) Dari distribusi jawaban di atas.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Persentase kinerja guru sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ lebih tinggi daripada sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. 4. Psikologi Belajar. 2009. 2006. Arif. 2006. Hand Out.2008. Universitas Negeri Semarang. 85 . Gregory.aabri. dkk. 2007. 1993. dan Zain. dan Pemanfaatannya. 1995. Terdapat peningkatan aktivitas siswa sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. Semarang : FKIS IKIP Semarang. Arsyad. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sudjana dkk. James McKee & Janette Moody. 3. Rata-rata hasil belajar siswa dalam pembelajaran stenografi sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ secara signifikan lebih baik dibandingkan rata-rata hasil belajar siswa sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. Sadiman. dapat dilihat bahwa 100% dari jumlah responden. Sardiman. atau semua siswa bersikap sangat positif. Sularso.

Teori Pembelajaran. Sumantri.Schar.195. Semarang : UPT Unnes Press. Sugiyono. 2008. 2006.pdf_template=1&loginState=2&userData=Gadjah%2BMada%2BUniversity%253Ag adjah%2BMada%2Buniversity%253A124. Aplikasi Statistika Dalam Penelitian. 2000. Sumaryati. Bandung : Sinar Baru Algensindo. Using New Learning Technologies with Multimedia. (Accessed 10 January 2010). Sudjana. Bandung : Alfabeta. Sugandi. Mencatat Dikte Untuk Mempersiapkan Naskah. Sissel Guttormsen & Helmut Krueger. Media Pengajaran. Bandung : Pustaka Setia. Stenografi. 2009. Yeti dan Ratu Evi Zulfikar. Asep dan Sumpena Nana. Bandung : Titian Ilmu. 2000. 2004. Ating dan Ali Muhidin Sambas.pdf. Nana dan Rivai Ahmad. Online at U3040. 2006. A.55. Sumaryana. Bandung : Armico. Statistika Untuk Penelitian. 86 .

termasuk Indonesia. SE. Essensi dari kemampuan bersaing itu adalah bahwa setiap negara harus dapat menghasilkan produk (barang dan jasa) yang bermutu tinggi. sehingga yang namanya informasi menjadi barang yang paling berharga. mengungkapkan bahwa tantangan dan peluang di Era Globalisasi serta antisipasi yang perlu dilakukan dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang tangguh merupakan tema yang sangat relevan dengan situasi saat ini karena berbagai alasan. informatics constitutes a relatively new discipline. Hal ini terjadi karena topik sumber daya manusia dan globalisasi memang menyangkut masalah dasar yang amat penting bagi kelangsungan hidup kita sebagai bangsa kini dan dimasa mendatang. mendukung adanya globalisasi. simposium dan artikel koran sampai saat ini yang tak henti-hentinya mengangkat topik tersebut baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri. MM The need of HR for mastering informatics has been increasing with the progress of information industrial and globalization era. i. improvement of formal education. dll) menjadi komputer yang semakin hari semakin kecil bahkan menjadi komputer pribadi. ceramah. Pengembangan kualitas SDM melalui pendidikan perlu dilaksanakan secara terpadu khususnya dalam rangka upaya meningkatkan kemampuan bangsa Indonesia untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan bagi peningkatan kesejahteraan. Khususnya dibidang ekonomi dan bisnis. Hal-hal yang dimaksud terakhir ini dapat disebut dengan kinerja organisasi (Organizational performance) dan menjadi tantangan bagi semua fihak yang terkait untuk mewujudkannya. particularly in dealing with challenges and in accomplishing the opportunity in this global era.INFORMATICS-BASED HR QUALITY IMPROVEMENT IN DEALING WITH GLOBALIZATION AND INDUSTRIAL ERA CHALLENGES ABSTRACT By Sri Wartini. 1995 dalam isfenty). and work apprenticeship courses. one of which can be conducted through the development of HR quality in addition to academic aspects. There have been numerous efforts performed by both colleges and companies to meet the demands. kemajuan. information is increasingly valuable and the use of computer to support other fields is growing. Salah satu diantaranya adalah karena masalah sumber daya manusia dan globalisasi adalah dua dari sekian banyak topik yang paling hangat dibicarakan akhir-akhir ini. Untuk itu . Keyword: Informatics technology. the aspects of science and technology improvement and socialization.e. and it develops with the progress of the said information industrial and globalization era. Human Resource quality PENDAHULUAN Dalam Artikelnya isfenty (2005). Dari komputer yang tadinya merupakan komputer milik segelintir pemakai dengan kemesteriusannya (besar. Perkembangan teknologi di bidang perangkat keras komputer mendukung perkembangan globalisasi informasi tersebut. biaya rendah. sulit dioperasikan. as well as the upgrading of organizational system. serta ketangguhan daya saing bangsa Indonesia (Djojo-negoro. Era informasi membawa angin yang baru : barang yang justru tidak terwujud. dalam ruang khusus. Kemajuan di bidang informasi melaju. Informasi dengan cepat berkembang dan bermakna serta berharga disebarkan ke segala penjuru seolah "tanpa batas". akan dituntut untuk mampu bersaing . lokakarya. kita akan menghadapi era perdagangan bebas di wilayah Asia Tenggara Asean Free Trade Area (AFTA) tahun 2003 dan wilayah Asia Fasific tahun 2020 sebagai hasil kesepakatan negara-negara anggota APEC (Asia Pasific Economic Cooperation). work training. peradapan. effisien dalam proses dan cepat dalam penyerahan/pelayanan. Tidak terhitung sudah berapa banyak seminar. perlu operator. In relation to the mastery of informatics in this globalization and industrial era. yang dapat 87 . college as the center of education also plays its role in generating professional HR with reliable mastery of informatics technology. Thus. This has made informatics (information processing with computer) to keep developing along with time. maka setiap negara di Asia Pasific. In this era.

kepraktisan dan keamanan. Indonesia saat ini sedang membangun dan kemajuan IpTek dari negara lain juga sedang mempengaruhi secara deras perkembangan IpTek di Indonesia. Salah satu aspek sistem pendidikan yang amat berperan dalam menghasilkan sumber daya manusia berkualitas dan mampu beradaptasi dengan teknologi informasi di era galbalisasi dan industri itu adalah organisasi atau lembaga pendidikan . karenanya dituntut untuk secara terus menerus mampu mengikuti dan menyesuaikan diri dengan irama perubahan yang terjadi khususnya yang menyangkut dengan perubahan teknologi informasi yang semakin pesat . Perangkat lunak yang hanya dituntut berfungsi secara fungsional dalam skala kecil cukup dikembangkan oleh pemrogram sekaligus pemakainya. Informatika adalah salah satu bentuk IpTek. perangkat lunak banyak yang diwujudkan menjadi komponen perangkat keras. Menurut Robbins (1990) : "Organisasi adalah suatu kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar. pengguna perangkat lunak semkain banyak dan ukuran komplektisitas perangkat lunak juga bertambah. Pembangunan negara dan kemajuan IpTek tidak ada gunanya jika tanpa diikuti dengan pembangunan SDM. Batasan antara perangkat lunak dan perangkat keras menjadi semakin kabur. Penggunaan sistem komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang semakin berkembang menunjukkan bahwa kita memang berada pada era informasi dan sesuai dengan hukum "supply and demand". Hal ini mengakibatkan komputer semakin digunakan diberbagai bidang. Perangkat lunak yang semakin mudah untuk digunakan pemakai. Perangkat lunak yang tadinya hanya difokuskan untuk memenuhi kebutuhan fungsional. Perangkat lunak yang besar dan kompleks harus dikembangkan oleh suatu tim dengan berbagai keahlian serta metodelogi tertentu. especially one that required education and trainning. Karena alasan efisiensi. Berkembang menjadi perangkat lunak yang selain fungsional juga mudah dan nyaman dipakai (friendly). Perkembangan teknologi perangkat lunak juga tidak kalah pesatnya. yang tidak mungkin berfungsi tanpa adanya perangkat lunak jaringan komputer. Organisasi adalah salah satu hasil peradapan manusia yang penting bagi kehidupan umat manusia modern. dsb. Dikatakan demikian karena melalui organisasi orang-orang dapat mencapai tujuannya dengan lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan kalau orang-orang itu melakukan usaha pencapaian tujuannya secara sendiri-sendiri. maka manusia akan dikuasai oleh IpTek atau manusia lain. pengolah dan pemelihara informasi karena pengguna informatika yang semakin banyak. Komputer yang tadinya "sendiri-sendiri" menjadi komputer yang dapat berkomunikasi dengan "teman-temannya" dalam suatu jaringan komputer. yang menguasai IpTek. langkah-langkah kearah penyesuaian diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan. asalkan mau memulai membuka komunikasi akan mempunyai cakrawala yang luas untuk dapat berkomunikasi dengan siapa saja di segala penjuru dunia sesuai dengan topik yang diminati bersama. Apa yang disebut dengan pembangunan SDM ? tidak lain adalah penguasaan IpTek itu sendiri. problem. Akibatnya. Internet makin mendukung perkembangan tersebut dan rasanya saat ini semua manusia. Tanpa SDM yang dibangun. dan Wide Area Network atau WAN. dan kegembiraan. Sedangkan professional : person qualified or employed in one of the profession. 88 . dibutuhkan penyedia jasa informatika sebagai pengelola. Untuk itu perkembangan dalam teknologi informatika di era globalisasi dan industri. RELEVANSI SUMBER DAYA MANUSIA DENGAN INFORMATIKA Sumber Daya Manusia adalah aset yang paling penting dalam suatu perusahaan. Perkembangan perangkat keras selanjutnya membentuk jaringan komputer berkat kemajuan teknologi komunikasi. bahkan bisa "berbicara" (mengeluarkan suara). Misalnya jaringan komputer. Pendidikan sebagai suatu upaya membentuk sumber daya manusia yang berkualitas. hampir semua tawaran lowongan pekerjaan di bidang apapun di beberapa tingkatan pekerjaan memasyarakatkan penguasaan akan komputer (computer literate). sebenarnya makin sulit dikembangkan. dan bukannya manusia menguasai IpTek serta menggunakannya dengan sebaikbaiknya. Profession menurut kamus Oxford adalah : paid occuption. harus mulai berpikir tentang pembangunan SDM Informatika yang professional . mulai jaringan lokal yang sering disebut dengan local area network atau LAN. dengan batasan yang relatif dapat diidentifikasi. bahkan untuk saling membagi pengalaman. Bahkan saat ini.diletakkan bersama barang lain dengan cara yang nyaman. Oleh karenanya. yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk tujuan bersama atau sekelompok tujuan".

sesuai dengan standar Internasional yang berlaku. bahkan seorang insinyur sipil yang menggunakan program komputer tidak dapat disebut berprofesi di bidang Informatika. Industri ini harus didukung oleh SDM di bidang perangkat keras dan elektronika. Sumber daya Manusia yang bekerja dalam dunia industri saat ini mempunyai karakteristik sebagai berikut : 1. Seseoang yang profesional di bidangnya akan melakukan pekerjaan itu sendiri dengan kepakarannya. Berdasarkan hasil pertemuan jurusan teknik informatika dengan pihak industri sebagai pemakai tenaga lulusan Informatika manapun. Contohnya adalah PT. serta hasil survey yang dilakukan oleh beberapa kelompok. Perlu mengetahui Standar Proses Produksi. dan tujuannya adalah untuk kesenangan. Jenjang Pendidikan Sarjana ke bawah 3. Contoh : industri manufaktur yang memakai robot atau perangkat lunak untuk optimasi penjadwalan produksi. agar inovatif dalam menciptakan produk-produk baru Sedangkan pihak Industri menghendaki agar Sumber Daya Manusia yang dihasilkan oleh Perguruan Tinggi tidak saja memiliki potensi akademik melainkan juga ketrampilan dalam penggunaan dan penguasaan informatika yang sangat baik. Berdasarkan hal-hal tersebut. Hobby adalah sesuatu yang kita lakukan untuk mengisi waktu senggang. Industri jasa. yang produk utamanya bersifat "soft" dalam hal ini dibedakan menjadi industri jasa sebagai berikut : a. Industri manufaktur. Pihak industri yang menjadi bahasan adalah industri yang berkaitan dengan kegiatan pengembangan Rekayasa Perangkat Lunak.Inti. profesi adalah sesuatu yang kita lakukan berdasarkan keahlian dan dari situ kita hidup/mencari nafkah. maka diperoleh informasi tentang kebutuhan SDM oleh industri. karena tingkatan user di Indonesia yang umumnya masih awam dengan proses Rekayasa Perangkat Lunak menyebabkan sulit diajak berkomunikasi tentang kebutuhan yang perlu didukung oleh komputer.Telkom yang produknya berupa jasa telekomunikasi berbantuan komputer (perangkat lunak menjadi bagian dari jasa tersebut). SW developer. customization). Untuk tingkatan tertentu. Latar belakang pendidikan non-Informatika/Komputer 2. disusun suatu usulan tingkatan keahlian Sumber Daya Manusia Informatika di antaranya: 89 . Biasanya ini menyangkut perusahaan yang mengembangkan perangkat lunak mulai dari scracth (sesuai pesanan) atau yang menyediakan jasa pengubahan perangkat lunak tertentu supaya dapat dipakai sesuai dengan kebutuhan (tailoring. dituntut untuk dapat mengetahui strategi bisnis. dapat disimpulkan juga bahwa sudah saatnya dilakukan Sertifikasi Sumber daya Manusia dalam bidang Rekayasa perangkat Lunak . menyediakan jasa berupa pengembangan perangkat lunak. Industri ini membutuhkan SDM yang berlatar belakang informatika. diperlukan suatu pengetahuan dan keahlian khsusus. Industri jasa yang memanfaatkan perangkat lunak. b. Sehingga dapat di simpulkan bahwa pengguna komputer pada profesi yang "lain" seperti sekretaris. yang dapat dikelompokkan atas jenis sebagai berikut : 1. Dalam menganalisis kebutuhan user (semua perangkat lunak dikembangkan berdasarkan kebutuhan user). keahlian dan spesialisasi yang terdefinisi dengan jelas. Contoh lain adalah PT. 2. Untuk itu. berikut pemantauan dan pemeliharaan proses produksi. pegawai administrasi. industri manufaktur yang produknya berupa peralatan telekomunikasi (mencakup perangkat keras dan perangkat lunak) b. Industri hardware yang memproduksi perangkat keras komputer dan periperalnya. Contoh nyata dari industri ini adalah produktor dan perakit komputer.Jadi. antara lain: 1. dalam rangka mendukung kebutuhan sertifikasi Sumber Daya Manusia di Indonesia. Industri pemroduksi "barang" yang dalam proses produksinya membutuhkan perangkat lunak. 4. dan 2. yaitu yang lebih menyangkut "hardware" a. Belum ada pengelompokan untuk : ketrampilan.

Dalam konteks pendidikan. Organisasi. komunikasi dan informasi yang menjadi ciri utama dari proses globalisasi itu menyebabkan terjadinya berbagai perubahan yang bersifat menyeluruh fundamental dan berdimensi banyak. dan oleh karenanya peranan organisasi atau lembaga pendidikan yang menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu menjadi semakin penting. 10. b. Perubahan-perubahan pada skala global itu selanjutnya memicu timbulnya transformasi struktural yang pada gilirannya dapat memberikan dampak pada proses pergeseran nilai. Kitalah yang harus pandai-pandai memanfaatkannya. ekonomi telah menjadi kekuatan utama yang lain di dalam fenomena global itu. kelembagaan dan lain-lain. 12. 4. 9. memperluas bidang lingkupnya dengan mengambil tindakan dan meningkatkan efisiensi ekonomi mereka. Disamping teknologi. globalisasi itu pada dasarnya menitikberatkan dua hal sekaligus: tantangan dan peluang. 3. cara hidup. dan modal dari sumber-sumber yang paling efektif di seluruh dunia. Secara spesifik. yaitu dirasakannya tuntutan kebutuhan akan periunya peningkatan pemahaman bahasa asing (terutama bahasa lnggeris) dikalangan tenaga pengajar dan mahasiswa. menyatakan bahwa dampak dari globalisasi dan regionalisasi itu dapat dirasakan pada 4 (empat ) level yaitu : a. Sebagai konsekwensinya. hal ini menyebabkan semakin tajamnya persaingan antar negara dan organisasi dalam merebut pasar serta usaha menghasilkan kinerja dan kualitas produk yang prima. 11. Fenomena globalisasi (dan regionalisasi) juga membawa dampak terhadap masyarakat perguruan tinggi. Globalisasi : Tantangan Dan Peluang Globalisasi telah menjadi kata yang amat populer akhir-akhir ini karena banyak dibicarakan dan dibahas oleh berbagai kalangan. Dalam kaitan. lni semua merupakan fenomena yang tak terelakkan. menaikkan efisiensi ekonominya dengan belajar tentang dan mendapatkan masukan berupa bahan sumber daya manusia (SDM). 6. Kemajuan yang pesat dalam teknologi transportasi. dalam alam keterbukaan itu kuaiitas manusia menjadi kuncinya. maka pada gilirannya organisasi bisnis yang terlibat dalam persaingan itu akan menuntut kualitas sumber daya manusia yang tinggi dan bersaing. lndividu . 2. perilaku manusia. Termasuk dalam 90 . Programmer Programmer Analyst Software Tester Data Base Engineer Data Communication Engineer Network Engineer Software Configuration Manager System Analyst Software Engineer System Engineer Software Project Manager Software Quality Assurance TANTANGAN DAN PELUANG DI ERA GLOBALISASI DAN INDUSTRI SERTA ANTISIPASI SDM UNTUK MENGHADAPINYA 1. 8.1. globalisasi yang pada intinya merupakan rekayasa ekonomi itu telah menjadikan kehidupan manusia menjadi begitu terbuka. yang merujuk Wichit Srisaan dari Suranaree University of Technology di Thailand. Reid (1997). tekhnologi baru di bidang infoimasi dan komunikasi memungkinkan organisasiorganisasi itu memasarkan produknya secara internasional. sistem. Jadi. Fenomena globalisasi yang terjadi belakangan ini juga telah menarik perhatian sejumlah ahli manajemen internasional belum lama ini. yakni adanya tuntutan untu melakukan pembenahan/pembangunan kelembagaan (institutional building) yang diarahkan pada pencapaian kinerja yang tinggi. Singkatnya. Untuk ini semua. Dengan demikian. 7. 5. sumber daya manusia yang berkualitas yakni yang menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi akan memegang peranan yang sangat strategis dan mampu memacu pertumbuhan dan pengembangan disegala bidang kehidupan manusia. sikap. Perusahaan-perusahaan multinasional besar khususnya telah mampu. Lebih jauh lagi. dengan tekhnologinya.

kemampuan dan ketrampilan kerja seseorang melakukan berbagai kegiatan untuk menghasilkan barang dan jasa yang ikut serta menentukan kualitas hidupnya. 2. perubahan dan penyesuaian kurikulum. Jadi. Jalur Pendidikan Formal. kemampuan analisis. Mengutip kata John Naisbitt :"In an information society. yang menengah berkenaan dengan kualitas teknis operasional. Lebih-lebih dalam era informasi dan globalisasi seperti sekarang. Untuk peningkatan kualitas SDM. Jalur pendidikan formal bertujuan membekali seseorang dengan dasar-dasar pengetahuan. maupun sosial dan budaya. "Assets make things possible. kiranya tidak salah kalau perusahaan besar seperti Union Carbide menetapkan slogannya yang berbunyi . yang pada gilirannya juga menurut kualitas SDM yang tinggi dan bersaing. b. kreativitas. Peranan SDM Peranan SDM memang sangat peting. Latihan kerja menekankan peningkatan kemampuan professional dan mengutamakan praktek daripada teori. yaitu adanya tuntutan untuk melakukan perubahanperubahan pada sistem pendidikan tinggi sehingga mampu mengakomodasikan kebutuhan yang semakin meningkat. ekonomi. Pergaulan dan hubungan antar bangsa di dunia pun telah berlangsung demikian erat dan mudahnya. lni semua dimungkinkan oleh semakin maju dan berkembangnya teknologi informasi. perlombaan untuk menghasilkan kinerja dan kualitas produk dan jasa yang prima menjadi keharusan. Nasional . d. Intemasional. supervisor dan managerialnya. baik ditingkat regional (seperti ASEAN dan Asia Pasific) maupun ditingkat yang lebih luas lagi. Sebagai konsekwensi logisnya. dan bagi tenaga kerja tingkat tinggi menyangkut kualitas managerial dan komunikasinya. sekolah menengah tingkat pertama dan atas. pada dasarnya dapat dilakukan melalui tiga jalur utama. much more important in their organization". yaitu sebagai berikut : a. ketrampilan dan motivasi kerja biasanya ditumbuhkan dilingkungan pendidikan 91 . Khususnya bidang ekonomi dan bisnis. telah menjadi semakin sempit. Dunia kita sekarang ini. manusialah yang membuat barang-barang dan jasa yang bernilai bagi suatu bangsa. human resource is at the cutting edge. dan terjadi diberbagai arena. Jalur Latihan Kerja. c. teori dan logika. nilai-nilai masyarakat yang menyangkut sikap mental. dan perguruan tinggi. Hai ini dapat dimaklumi karena manusia merupakan unsur utama dari setiap organisasi. Tegasnya. terdiri dari pendidikan umum dan kejuruan mulai dari tingkat sekolah dasar. sistem latihan kerja dapat dipandang sebagai kelengkapan atau suplemen sistem pendidikan formal. baik dalam politik. Nilai-nilai pengembangan bakat. peoples make things happen". pengetahuan umum. yaitu proses pengembangan keahlian dan ketrampilan kerja . Karena memang benar.pembangunan kelembagaan ini di antaranya adalah -. Pernyataan Nasibitt diatas jelas menunjukkan betapa besar dan pentingnya peranan SDM pada masa kini dan akan datang. Secara garis besar. fasilitas teknologi pengajaran. yang sering disebut dengan masyarakat informasi itu. yaitu adanya tuntutan untuk melakukan kerjasama antar lembaga pendidikan tinggi. inovasi. dan hasil-hasil yang bernilai inilah yang menentukan derajat kesejahteraan dan taraf hidup suatu masyarakat. menurut Simanjuntak (1992). 3. misainya meialui : Undang-undang. media komunikasi dan alat transportasi. bagi tenaga yang berada pada tingkat bawah/operasi menyangkut kualitas tehnis operasionalnya. Bagimana Peningkatan Kualitas SDM Kualitas SDM pada dasarnya berkenaan dengan keahlian. kata sementara orang. keadaan ini menyebabkan semakin tumbuhnya persaingan antar negara dan perusahaan dalam merebut pasar. serta pengembangan watak dan kepribadian. And it means that human resource professionals are becoming much. Peraturan Pemerintah dan Keputusan Presiden serta seperangkat Hukum lainnya.. Merekalah yang menciptakan berbagai inovasi dan kemudian membuat banyak organisasi menjadi dikenal luas. Tak ada keraguan akan hal ini. Dengan demikian. moral dan dedikasi terhadap pelaksanaan tugas dapat dikembangkan meialui sistem latihan kerja. serta peningkatan mutu tenaga pengajar dan semacamnya.

teknologi bagaikan pisau bermata dua. melainkan oleh manusia sebagai mahiuk yang mempergunakan teknologi tersebut. Berkaitan dengan peningkatan kinerja perguruan tinggi maka upaya-upaya yang perlu dilakukan adalah : a. c. perhatian pada imbalan. d. penerapan dan pengembangan yang memadai. yaitu wahana meialui mana seseorang dapat meningkatkan pengetahuan teknis maupun ketrampilan kerjanya dengan mengamati orang lain. Harus diakui bahwa selama ini kita sangat kekurangan dalam menangani masalah "link and match" ini. sistem pendidikan hendaknya senantiasa diarahkan pada penyediaan tenaga kerja yang cakap. b. seseorang bukan saja akan menjadi lebih mahir meiaksanakan tugasnya tetapi juga akan terbuka peluang baginya untuk menemukan cara-cara kerja yang lebih praktis. menirukan dan melakukan tugas-tugas pekerjaan yang ditekuninya. Ha] ini penting. Peningkatan kerja sama dengan instansillembaga lain yang terkait. dan pada kesempatan lain komputer dan keahliannya itu dapat juga dipakai untuk membobol bank. Perbaikan Organisasi Usaha-usaha ke arah peningkatan mutu SDM tidak bisa lepas dari usaha-usaha perbaikan organisasi dan kinerja organisasi pendidikan pada umumnya. Pengembangan SDM (pengajar dan staf penunjang) atau peningkatan mutu dan kualifikasi staf meialui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kebutuhan organisasi. Pengembangan dan penyesuaian teknologi dan metode kerja yang dari waktu ke waktu terus berkembang dengan cepat.formal dan dikembangkan dalam proses latihan kerja. peranan pendidikan dan latihan menjadi sangat strategis. c. termasuk organisasi perguruan tinggi. Sebagai contoh. karena seperti kata Suriasumantri (1991) :"Sebagai alat. serta penyediaan sarana dan prasarana penefitian. 92 . Dalam kaitan ini. seperti : pengendalian mutu terpadu (TQM) dan reenginering. Dengan melakukan pekerjaan secara berulang-ulang. Jadi. Pada masa yang akan datang. jaminan karier dan promosi. Jalur Pengalaman Kerja. maka usaha-usaha membina dan mengembangkan keterkaitan (link) antara lembaga pendidikan dengan dunia keda dan industri harus menjadi priohtas. baik dibidang spesialisasi pekerjaan maupun dalam hal kemampuan bahasa lnggeris dan komputer. disamping juga dapat menumbuhkan kemampuan tenaga keoa itu sebagai kekuatan yang mendorong pembangunan nasional.kondisi kerja. Perbaikan dan peningkatan sistem dan teknik manajemen di bidangbidang yang terkait. manfaat yang diberikan oleh suatu teknologi tidak lagi ditentukan oleh teknologi itu sendiri. nilai budaya bangsa. Dalam konteks ini. pengembangan dan penerapan IPTEK haruslah didukung oleh SDM yang berkualitas metalui pendidikan dan petatihan. baik di dalam negeri maupun di luar negeri untuk menunjang kegiatan pendidikan dan riset. Hal penting lain yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa dalam rangka pengembangan IPTEK ini kita harus senantiasa berpedoman pada nilai agama. dana penefitian dan pengembangan yang mendorong orang untuk berprestasi optimal sangatiah diperlukan. Selanjutnya. Pengembangan IPTEK Upaya yang lain adalah menurut Suriasumantri (1991) menjelaskan bahwa'teknologi merupakan penerapan pengetahuan ilmiah dalam bentuk peralatan yang membantu manusia memecahkan masalah-masalah yang bersifat praktis. Untuk menghasilkan manusia yang berkualitas seperti yang ditentukan oleh GBHN. sehingga lembaga pendidikan kita selama ini lebih banyak sibuk menghasilkan lulusan yang sulit mendapatkan pekerjaan danlatau sulit bekerja. efisien dan lebih baik dalam melaksanakan pekerjaan yang dimaksud. serta memperhatikan keterbatasan sumber daya dan kelestahan lingkungan hidup. seorang pemakai komputer yang ahli dapat menggunakan komputernya untuk menghitung dan menyelesaikan persoalan matematika dan statistika yang rumit dalam waktu amat cepat. sepadan (match) dengan kebutuhan pembangunan. juga dapat membawa dampak yang berakibat buruk". dapat dipakai untuk kebaikan manusia atau sebaliknya. atau perangkat kera yang berbentuk peralatan fisik". Sehingga daiam hal ini program latihan dapat memberikan tambahan nilai bagi keluaran sistem pendidikan formal. Peralatan ini bisa berupa perangkat lunak yang berbentuk metode dan teknik. penataan sistem keiembagaan.

Makalah Rapat Kerja Nasional. Inggriani Liem Farid Wazdi. Kajian. 9. Dengan melihat kecenderungan kebutuhan tenaga keda pada masamasa mendatang.(1993). Isfenti Sadalia. FTI-ITB. Laporan Akhir dari Program Peningkatan Relevansi Pendidikan Teknik. Maret 1997. Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Universitas Sumatera Utara 11. Upaya yang lainnya untuk menghasilkan SDM yang berkualitas .J. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Karena SDM yang berkualitas merupakan kunci bagi keberhasilan kita menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas yang berintikan persaingan. Habibie. 10. 3: 3-12. Paradigma Baru Pengelolaan Pendidikan Tinggi. dan bukan sebaliknya. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA 1. B. Pramutadi. "Masalah Tenaga Kerja di Indonesia" Jurnal 2. Sri Purwanti : "Paradigma Pemrograman di masa mendatang". Naisbitt. DiktiDepdikbud. Ten New Directions For the 13. Depdikbud. Transformasi Masyarakat. f. Makalah Simposium Nasional Cendikiawan Muslim. Djojonegoro. maret 1997) 12. 1 1995. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. ada bebarapa pokok yang dapat di simpulkan antara lain: Teknologi informatika yang makin merambah berbagai bidang mendorong SDM untuk terus semakin meningkatkan kualitasnya dalam penguasaan Iptek. Salah satu upaya Pengembangan SDM bagi Iptek adalah tidak terlepas landasan nilai agama dan budaya perlu sekaii untuk menjamin terkendalinya pemanfaatan IPTEK demi tujuan-tujuan yang meningkatkan kesejahteraan orang banyak. 1994. 4. 14. 3. merupakan alternatif yang tepat bagi pengembangan kualitas SDM yang sesuai dengan tuntutan kerja di masa-masa yang akan datang. W. Dahlan Abdullah. Seminar Komunikasi Hasi Penelitian ITB.002/Th. Tantangan dan Peluang Sumber Daya Manusia di Era Globalisasi. PERANAN SUMBER DAYA MANUSIA BIDANG INFORMATIKA DALAM ERA GLOBALISASI DAN INDUSTRI 6. Informasi singkat tentang Jurusan Teknik Informatika (Program Studi Sarjana dan Megister). Pembangunan Pendidikan Nasional Dalam Memacu Pertumbuhan Ekonomi Menjelang Era Persaingan Global. maka kinerja organisasi penyelenggara pendidikan tinggi mempunyai peran yang penting. Malang.1996. John & Aburden. termasuk pendidikan program diploma. g. 5.1990. No. Peranan limu Pengetahuan dan Teknologi Dalam Proses 7. Megatrends Ltd.4-31. 93 . 8. PENUTUP Akhimya sebagai penutup dari paper ini. Pembentukan dan pemantapan budaya dari ikiim akademik yang mendukung bagi tercapainya kinerja institusi yang tinggi. Ilmu-Ilmu Sosial. "Pengembangan Silabus Rekayasa Perangkat Lunak untuk Program Pasca Sarjana Teknik Informatika". Monitoring dan evaluasi proses dan kinerja organisasi secara terus menerus untuk mendapatkan masukan bagi usaha-usaha perbaikan mutu berkelanjutan (continous improvement).ST. Link and Match. Karenanya berbagai usaha dalam meningkatkan kualitas SDM harus terus menerus diupayakan. 15. nampaknya pendidikan professional. Evaluasi dan pembaharuan kurikulum secara periodik sehingga mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan tuntutan yang berubah secara cepat dari waktu ke waktu. 1990's Megatrends 2000.e.S. Patrivia. 1992.l-. Batubara. Cosmas.

memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi. 94 . Group Investigation. Untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPS Terpadu. reliabilitas. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh bahwa ada perbedaan rata-rata hasil belajar yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dan rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol. Jadi rata-rata nilai tes hasil evaluasi pembelajaran kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol yaitu dengan rata-rata kelas kontrol mencapai 63. Faktanya banyak peserta didik mampu menyajikan tingkat hafalan yang baik… namun pada kenyataannya mereka tidak memahaminya”(Suprijono. Pada akhir pembelajaran. Sehingga pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation lebih efektif daripada pembelajaran dengan metode konvensional dan siswa memberikan respon positif terhadap pembelajaran Group Investigation. 67. 102 dan = 1. > maka ditolak. Hal ini berarti. Disarankan guru dapat mengembangkan pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dan menerapkan pada pokok bahasan lain serta hendaknya guru menerapkan suatu model pembelajaran yang tepat sesuai dengan pokok bahasan yang akan disampaikan.EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN IPS TERPADU KELAS VII SMP NEGERI 2 UNGARAN ABSTRAK Widya Latif Kartika Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat. taraf kesukaran dan daya pembedanya.38 dan rata-rata kelas eksperimen mencapai 71. Berdasarkan hasil uji normalitas dan homogenitas data hasil tes dari kedua kelompok. 3% dengan katagori sangat setuju dan setuju. kedua kelompok sampel diberi tes dengan menggunakan instrumen yang sama yang telah diuji validitas. Hal ini berarti siswa memberikan respon positif terhadap pembelajaran Group Investigation. maka dilakukan penelitian dengan metode kooperatif tipe Group Investigation. Permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) apakah ada perbedaan hasil belajar IPS Terpadu menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas VII (2) apakah model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation efektif untuk mengajarkan IPS Terpadu kelas VII (3) bagaimana tanggapan siswa terhadap pembelajaran IPS Terpadu pada kelas dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Perumusan masalah pada penelitian ini adalah sebanyak 67. Jadi rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol. 2009: VI-VIII). Metode Pengumpulan data pada penelitian ini adalah dokumentasi. diperoleh bahwa data kedua kelompok sampel normal dan homogen. terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar yang signifikan. Hasil observasi awal di SMP 2 Negeri Ungaran diperoleh data bahwa pembelajaran IPS Terpadu di kelas VII memiliki indikasi hasil belajar yang rendah. dan hasil belajar PENDAHULUAN “Dunia pendidikan kita ditandai oleh disparitas antara pencapaian academic standard dan performance standard. artinya diterima. Kemudian tanggapan siswa terhadap pembelajaran Group Investigation sebesar 79. tes dan angket. Dari hasil perhitungan dengan uji t diperoleh = 3. 17. Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ungaran tahun pelajaran 2009/2010.6 % siswa kelas VII memperoleh nilai dibawah kriteria ketuntasan minimum. Kata Kunci: Cooperative learning. dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Dengan teknik pengambilan sampel menggunakan cara cluster random sampling diambil sampel sebanyak 2 kelas yaitu siswa kelas VII-9 sebagai kelompok kontrol yang dikenai pembelajaran dengan metode konvensional dan siswa kelas VII-3 yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation.

Sugandi (2004: 84) ”menyimpulkan bahwa model pembelajaran merupakan inti atau jantungnya strategi pembelajaran”. menyenangkan dan efektif. Salah satu diantaranya mengindikasikan bahwa metode Grup Investigation sangat menarik. Gagne mengatakan pula bahwa segala sesuatu yang dipelajari oleh manusia dapat dibagi menjadi 5 kategori.1 LANDASAN TEORI Pengertian Belajar Menurut Gagne (Chatarina. “Belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan. Dalam kegiatan belajar mengajar siswa cenderung pasif. strategi belajar-mengajar ataupun model pembelajaran yang tepat. yang berlangsung selama periode waktu tertentu.Menurut Depdiknas. Kesanggupan untuk menggunakan bahasa ini penting artinya untuk belajar. siswa hanya mendengarkan ceramah guru. Salah satu metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar adalah pembelajaran kooperatif. 2006: 2) “belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia. 1992. 1999 (Chin Tan. yang disebut The domains of learning yaitu : 1. Jadi untuk mewujudkan suatu proses pembelajaran menggunakan kemasan metode mengajar.fun and effective. Gagne (Anni. The students‟ written statements of their perceptions and experience of learning with the Group Investigation method provided insights into their attitudes and orientations toward school learning. Keterampilan Motorik (motor skill) 95 . Four main categories of positive statements emerged. learning skills and academic achievement interms of deeper understanding of the topics investigated. (Para siswa menulis pernyataan dari persepsinya dan pengalaman mereka belajar dengan metode Investigasi Kelompok yang memberikan wawasan ke dalam sikap dan orientasi terhadap belajar sekolah. dan tingkah laku . 2005: 1). tetapi baru dalam bentuk sensori-motor coordination. 2. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). 2) Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi. meliputi bahan kajian: sosiologi. 2002: 1). Dalam rangka memecahkan masalah tersebut para pakar pendidikan Indonesia mengenalkan apa yang disebut model pembelajaran. One category indicated that the Group Investigation method was interesting. Kemudian ia mulai belajar berbicara dan menggunakan bahasa. IPS terpadu menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah yang dianggap membosankan karena terlalu banyak materi sehingga para siswa susah dan malas memahami semua materi pada IPS Terpadu. Gagne Terhadap masalah belajar. kebiasaan. geografi. sejarah. keahlian pembelajaran dan pencapaian prestasi akademik dalam hal pemahaman yang mendalam mengenai topik yang diinvestigasi). Untuk itu diperlukan cara atau prosedur bagaimana mengorganisir unsur-unsur tersebut agar menghasilkan hasil belajar yang lebih efektif. sehingga pada saat mereka dihadapkan materi yang sangat banyak susah bagi para siswa untuk memahaminya dan tujuan pembelajaran tidak tercapai dan hasil belajar siswa rendah. Bahan kajian itu menjadi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu. Sebanyak 68 % siswa kelas VII memperoleh nilai dibawah kriteria ketuntasan minimum. Mulai masa bayi manusia mengadakan interaksi dengan lingkungan. Kriteria ketuntasan minimum di SMP Negeri 2 Ungaran untuk mata pelajaran IPS Terpadu adalah 68. Munculnya empat kategori utama dari pernyataan positif. tidak terjadinya komunikasi yang maksimal antara guru dan siswa. yaitu : 1) Belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan. dan perubahan perilaku itu tidak berasal dari proses pertumbuhan”. ekonomi. keterampilan . keterampilan dan sikapnya” (Arsyad. Hal tersebut terbukti banyak siswa di kelas VII SMP Negeri 2 Ungaran yang mendapatkan nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Sharan & Sharan. Teori Belajar Teori dari R. 2006: 71) memberikan dua definisi. sementara kategori lain mencerminkan pendapat positif siswa tentang hubungan sosial mereka. while the other categories reflected the students positive perception of their social relationships.

Sikap Hasil Belajar Menurut Bennyamin Bloom dalam Suprijono (2009: 6-7) mengklasifikasikan hasil belajar yang secara garis besar di bagi menjadi tiga ranah sebagai berikut. 1992. Tahap 4: Menyiapkan Laporan Akhir e. Kemampuan Intelektual 4. namun kadang disertai pertanyaan”. Tahap 5: Mempresentasikan Laporan Akhir Pembelajaran Konvensional Menurut Budiarsih (2007: 55) “dalam proses belajar mengajar jenjang pendidikan dasar dan menengah.2. 1999 dalam (Chin Tan. Tahap 3: Melaksanakan Investigasi d. Menurut Budiarsih (2007: 27) secara sederhana konsep belajar tuntas mengatakan bahwa bilamana siswa diberi kesempatan mempergunakan waktu yang dibutuhkannya untuk belajar. Gulo (2002: 136) mengemukakan bahwa “ceramah merupakan satusatunya metode yang konvensional dan masih tetap digunakan dalam strategi belajar mengajar”. c. menyelesaikan suatu tugas. kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol. Ranah kognitif b. atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya”. 2003: 36). jika diberi waktu yang cukup untuk belajar. dan ia mempergunakan dengan sebaik-baiknya. metode yang sering dan banyak dilakukan oleh guru adalah metode ceramah. METODOLOGI PENELITIAN Populasi Dan Sampel Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 173 siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ungaran. bahwa sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random dari populasi tertentu. Tahap 1 : Mengidentifikasikan Topik dan Mengatur Murid ke dalam b. Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation Group Investigation menurut Sharan & Sharan. mensintesis anggota kelompok temuan dan membuat presentasi untuk seluruh kelas. “Selama kerja kelompok. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. artinya penguasaan penuh ( Nasution. Informasi verbal 3. Ini disebut “mastery learning” atau belajar tuntas. Setelah diketahui banyak sampel berdistribusi normal dan 96 . Tahap 2: Merencanakan Tugas yang akan Dipelajari. a.tugas secara tuntas sepanjang kondisi belajar yang tersedia cukup menguntungkan. Sampel adalah bagian kecil dari anggota populasi yang diambil menurut prosedur tertentu sehingga mewakili populasinya. tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi dan saling membantu teman sekelompok mencapai ketuntasan” (Slavin. merencanakan dan melaksanakan penyelidikan. 1995: 73). Menurut Budiarsih (2007: 32) pembelajaran kooperatif adalah “pembelajaran yang mendorong siswa bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah. maka ia akan mencapai tingkat hasil belajar yang seperti yang diharapkan atau dengan kata lain akan dirumuskan bahwa setiap siswa yang mempunyai kecakapan rata-rata atau normal. Ranah psikomotoris Ketuntasan Ketuntasan Belajar Tujuan proses belajar mengajar secara ideal adalah agar bahan yang dipelajari dikuasai sepenuhnya oleh siswa. Strategi kognitif 5. Ranah afektif c. 2005: 1) mengharuskan mahasiswa untuk membentuk kelompok-kelompok kepentingan kecil. mereka akan menyelesaikan tugas. Slavin (2008: 218) mengemukakan tahapan-tahapan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif GI adalah sebagai berikut: a.

Bila ( > maka instrumen ini sudah realiabel. 6. 21. diperoleh = 0. 10. 30.862. 17. Pada penelitian ini diambil satu kelas untuk kelas kontrol yang dikenai model pembelajaran konvensional yaitu kelas VII-9 sejumlah 29 siswa. 7. 16. siswa yang menjadi objek penelitian duduk pada kelas yang sama dan pembagian tidak ada kelas yang unggulan. 9. Kemudian satu kelas eksperimen untuk pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation yaitu kelas VII-3 sejumlah 29 siswa. metode kooperatif model Group Investigation b. Dalam variabel ini penelitiannya adalah: 1. Dengan sebesar 0. 29 7 . dan = 0. Realibilitas Realibilitas adalah ketetapan suatu tes apabila diteskan kepada subyek yang sama. bila > maka instrumen ini sudah valid. 24. mlah 1 Sukar 20. Taraf Kesukaran Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. 1. Berdasarkan hasil uji validitas terdapat 25 butir soal yang valid. Varibel bebas : a. Variabel Dalam penelitian ini terdapat dua jenis variabel. 25. Sedangkan variabel bebas adalah variabel yang secara sengaja dipelajari pengaruhnya terhadap variabel terikat. 23.413 dan n = 23 dan taraf nyata 5 %. 15 . Perhitungan Tingkat Kesukaran Soal N Kriteria No. Berdasarkan hasil uji coba soal dapat diperoleh hasil sebagai berikut : 97 . Soal Ju o. Variabel terikat : hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ungaran. Berdasarkan uji realibilitas. 12. metode konvensional 2. 5. 3. 3 Mudah 1. Instrument Penelitian Instrumen penelitian dalam penelitian ini meliputi: soal tes.563 dan sebesar 0. Variabel terikat merupakan suatu akibat yang keadaannya dipengaruhi oleh variabel bebas. Soal tes Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument. yaitu variabel bebas dan variabel terikat. 13. Jumlah yang diperoleh kemudian n dikonsultasikan dengan dengan taraf signifikan 5 % dan n = 23. 18. 22. angket dan lembar observasi untuk siswa. 27. Hal ini dilakukan setelah memperhatikan ciri-ciri antara lain: siswa diampu oleh guru yang sama. 14. 4.homogen.413. Daya Pembeda Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai dengan siswa yang bodoh. maka sampel dalam penelitian ini diambil dengan teknik Cluster Random Sampling. 15. 2 Sedang 2. 28 3 .

3. 5. 24. 25. Ju mlah 1 14 10 2. 27. 3. Adapun rumus yang digunakan adalah seperti pada analisis data awal. 14. 3 . 17. Lembar Observasi 1. 30. uji homogenitas. SMP Negeri 2 Ungaran merupakan salah satu sekolah menegah pertama yang berada di kecamatan Ungaran kabupaten Semarang.2 : Perhitungan Daya Beda Soal N Kriteria No. Hipotesis yang akan diuji sebagai berikut : Kriteria pengujian adalah Ho diterima jika <t< dengan peluang (1-α) dengan dk = dan Ho ditolak jika t mempunyai harga-harga lain. 98 . Lembar Observasi Tanggapan siswa HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Ungaran. 18. Cukup baik sekali Baik 16 2.12. 7. Soal o. Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut : = rata-rata hasil belajar pada kelas ekperimen = rata-rata hasil belajar pada kelas kontrol Kriteria Ho diterima jika dengan taraf signifikansi 5% dan tolak Ho jika t mempunyai harga-harga lain. Dapat pula ditentukan dengan = Dengan kriteria pengujian sebagai berikut : Tolak Ho jika > Uji Kesamaan Rata-rata Untuk mengetahui kesamaan rata-rata dua kelompok sebelum perlakuan maka perlu di uji menggunakan uji kesamaan dua rata-rata. 20. 13. Teknik analisa data Analisis tahap awal Uji normalitas Sebelum sampel diberi perlakuan maka perlu dianalisis dahulu melalui uji normalitas. dan uji kesamaan rata-rata. 15. 21. Lembar observasi aspek afektif 2.Tabel 3. 4. Analisis Tahap Akhir Sebelum dilakukan analisis data akhir terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. apakah mendapat respon positif atau negatif. 2 . yaitu untuk mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran. 1. 22. Dengan taraf signifikan 5 % derajat kebebasan pembilang (dk) pembilang = dan derajat kebebasan (dk) penyebut = . 6. Lembar observasi aspek Psikomotorik 3. 23. Lembar Observasi Lembar observasi digunakan untuk mengamati kegiatan pembelajaran dikelas. 29. Uji hipotesis ini bertujuan untuk mengetahui hasil akhir penelitian apakah Ho diterima atau ditolak. 9. setelah itu baru dilakukan uji hipotesis. 10. Angket Angket digunakan untuk mengetahui bagaimana respon siswa setelah pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dilaksanakan. 1 .

diperoleh = 1. 102 dan = 1. Jadi nilai evaluasi pembelajaran pada kelompok eksperimen berdistribusi normal (lampiran 13: 103). Perhitungan selengkapnya terdapat pada (lampiran 15: 105).8 4 Tidak Setuju 1 28-30. 172 Dari kedua kelompok diperoleh = 9. Analisis data tahap akhir meliputi uji normalitas.38 dan = 109. Pada kelompok eksperimen diketahui = 71. Uji normalitas nilai akhir pada kelompok kontrol Berdasarkan perhitungan uji normalitas diperoleh = 5. artinya kedua kelompok sampel mempunyai varians tidak sama. Tabel 4.8 %) dan siswa yang tidak setuju sebanyak 2 (6. sedangkan siswa yang setuju sebanyak 16 (55. artinya kedua kelompok sampel mempunyai varians sama.9 %). Jadi rata-rata nilai tes hasil evaluasi pembelajaran kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol.5 16 55. Perhitungan selengkapnya terdapat pada (lampiran 14: 104). Uji Normalitas 1.1 %). Karena < artinya data yang diperoleh berdistribusi normal. dan psikomotorik.17 dan = 73.5-38 7 24. Uji Normalitas nilai akhir pada kelompok eksperimen Berdasarkan perhitungan uji normalitas diperoleh = 7. . Uji Kesamaan Dua Varian (Uji homogenitas) Uji homogenitas ini digunakan uuntuk mengetahui apakah nilai evaluasi sampel yang diambil mempunyai varian yang homogen. artinya rata-rata hasil belajar siswa pada kelas eksperimen sama dengan rata-rata nilai hasil belajar siswa pada kelas kontrol.2 %). .Penelitian ini dimulai pada bulan Mei 2010. Hasil penelitian dan pembahasan pada bab ini merupakan hasil studi lapangan untuk memperoleh data baik kognitif. Siswa yang kurang setuju sebanyak 4 (13. sedangkan data afektif dan psikomotorik diambil saat pembelajaran berlangsung. Berdasarkan perhitungan uji homogenitas dengan taraf nyata 5 %. 67 Karena > maka ditolak.1 2 Setuju 3 33-35. Uji Hipotesis . 6055 dan = 7.1. 81. Jadi prosentase terbesar siswa adalah setuju menggunakan pembelajaran Group Investigation. Hasil Tanggapan Siswa No Kriteria Sikap Skor Range Skor Frekuensi % 1 Sangat Setuju 4 35. 88.9 Berdasarkan tabel 4. 862 Pada kelompok kontrol diketahui = 63. 566 Dengan uji t diperoleh = 3. Tanggapan Siswa terhadap pembelajaran Group Investigation Hasil tanggapan siswa kelas eksperimen adalah untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran Group Investigation dapat dilihat pada tabel 1 berikut.5 2 6. artinya diterima. 81. Data kognitif diambil setelah melakukan kegiatan pembelajaran. afektif. 2. Karena < artinya data yang diperoleh berdistribusi normal.1 diatas diketahui bahwa tanggapan siswa kelas eksperimen prosentase kriteria sikap sangat setuju adalah 7 (24. 0192 dan = 7. 4781 dan = 1. 99 . artinya rata-rata nilai hasil belajar siswa pada kelas eksperimen lebih dari rata-rata nilai hasil belajar siswa pada kelas kontrol. Jadi nilai evaluasi pembelajaran pada kelompok kontrol berdistribusi normal (lampiran 12: 102). dan uji hipotesis.5-33 4 13. Karena < maka diterima yang artinya kedua kelompok sampel mempunyai varian yang sama. uji kesamaan dua varians( homogenitas).2 3 Kurang Setuju 2 30.

162 dan = 1. sedangkan siswa yang setuju sebanyak 16 siswa (55. Hasil uji perbedaan rata-rata menggunakan uji t diperoleh = 3. pada kelas kontrol rata-rata kelas sebesar 63. Selanjutnya kedua sampel tersebut diberi perlakuan yang berbeda. 100 . 17. artinya diterima. Karena > maka ditolak.38.8 %) dan siswa yang tidak setuju sebanyak 2 (6. Pada kelompok eksperimen memiliki rata-rata 71. Siswa lebih dapat berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan. 67. c. Siswa yang kurang setuju sebanyak 4 siswa (13. diketahui bahwa data berdistribusi normal dan homogen serta dari uji kesamaan rata-rata menunjukan < < . Bagi siswa 1. supaya pembelajaran dapat mencapai tujuan yang diharapkan. b.8 %) dan siswa yang tidak setuju sebanyak 2 siswa (6. Ini membuktikan bahwa pembelajaran pada kelas eksperimen yang diajar menggunakan metode Group Investigation lebih efektif dari pada pembelajaran di kelas kontrol yang menggunakan metode cemarah. 38 sedangkan kelas eksperimen rata-rata kelas sebesar 71. Berdasarkan tanggapan siswa kelas eksperimen prosentase kriteria sikap sangat setuju adalah 7 (24. 67.2 %). Jadi prosentase terbesar siswa adalah setuju menggunakan pembelajaran Group Investigation pada mata pelajaran IPS Terpadu. b. maka dapat disimpulkan : a. Berdasarkan hasil tabel tanggapan siswa kelas eksperimen prosentase kriteria sikap sangat setuju adalah 7 siswa (24. Bagi sekolah Sebagai bahan pertimbangan di SMP Negeri 2 Ungaran perlu ditingkatkan sarana yang menunjang pembelajaran IPS Terpadu. Jadi rata-rata nilai tes hasil evaluasi pembelajaran kelompok eksperimen lebih efektif daripada kelompok kontrol pada mata pelajaran IPS Terpadu siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ungaran tahun pelajaran 2009/2010. Hal tersebut menunjukan pengaruh positif tanggapan siswa kelas eksperimen atas pembelajaran Group Investigation.Berdasarkan hasil análisis data awal dari ulangan tengah semester siswa kelas VII-3 dan VII-9 pada semester genap di SMP Negeri 2 Ungaran Kabupaten Semarang tahun 2009/2010. Kelompok eksperimen diberi perlakuan dengan Group Investigation (kelas VII-3) sedangkan kelompok kontrol diberi perlakuan dengan pembelajaran konvensional (kelas VII-9). Adapun perbedaannya dapat dilihat nilai post tes antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Siswa diharapkan lebih berani mengeluarkan pendapat dalam proses pembelajaran Group Investigation.1 %). maka dapat disimpulkan bahwa kedua sampel berangkat dari keadaan awal yang sama. Bagi guru Guru dalam menerapkan metode pembelajaran perlu didukung lebih banyak lagi media pembelajaran sehingga penyampaian belajar mengajar berlangsung optimal. sedangkan siswa yang setuju sebanyak 16 (55. yaitu = 0.1 %).17 sedangkan pada kelas kontrol memiliki rata-rata nilai sebesar 63.9 %).9 %). Jadi prosentase terbesar siswa adalah setuju menggunakan pembelajaran Group Investigation. 102 dan = 1. Ada perbedaan hasil belajar Mata Pelajaran IPS terpadu antara pembelajaran dengan metode Group Investigation dan pembelajaran dengan metode konvensional pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ungaran. Perbedaan perolehan nilai aspek kognitif dapat dilihat pada perhitungan antara nilai rata-rata post test antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Perhitungan selengkapnya terdapat pada (lampiran 78: 97-98). Saran Saran yang dapat penyusun berikan sehubungan dengan hasil penelitian ini sebagai berikut: a.2 %). seperti menambah sarana prasarana pada laboratorium IPS. supaya dalam proses belajar mengajar berlangsung optimal. Siswa yang kurang setuju sebanyak 4 (13. 2. c.

Arikunto. Singapore. Ibrahim. Slavin. 2007. Catharina Tri. Riani.. Metode Statistika. 2003. Robert E. 4. 2002. 2007. 2009. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstrutivistik. Etin dan Raharjo. 2005. 2009. Aplikasi Statistika Dalam Penelitian. Arikunto. Cooperative Learning : Theory. 2008. Cooperative Learning. Somantri. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Pembelajaran Kooperatif . Azhar. Jakarta : PT Raja Gravindo Persada. 2003. Jakarta : Rineka Cipta. Cooperative Learning Analisis Model Pembelajaran IPS. 2004. International Research in Geographical and Environmental Education Vol. Pusat Bahasa dan Departemen Nasional. Media Pembelajaran. 14. Psikologi Belajar. Jakarta : Prestasi Pustaka. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. 2005. Jakarta: Bumi Aksara. Singapore: National Institute of Education. Trianto. Research and Practice. M. Lie. Students‟ Perceptions of Learning Geography through Group Investigation in Singapore. Budiarsih. Bandung: CV Pustaka Setia Sudjana.Shlomo Sharan. Dalam Tesis. Suharsimi. 2007. Bandung: Tarsito.DAFTAR PUSTAKA Anni. Ating dan Muhidin. 2006. 2006. Sambas Ali. Grasindo. Semarang: UPT MKK UNNES. Suharsimi. London: Allyn & Bacon Slavin. No.dkk. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Doantara. Muhibbin. 2005. Yasa. Cooperative Learning Mempraktekkan di Ruang-Ruang Kelas. Chin Tan. 2006. Pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation (GI) 101 . 1995. London: Allyn & Bacon Solihatin. Surabaya: Unesa Press. Semarang: UNNES. Psikologi Belajar. Syah. dan Christine Kim-Eng Lee. Jakarta : PT. Robert E. Jakarta : RajaGrafindo Persada. Keefektifan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw berbantuan MOD (Math On Display) Untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar materi geometri siswa kelas VII. Jakarta: PT Bumi Aksara. Jakarta: Balai Pustaka. 2005 261. Arsyad. Anita. Ivy Geok.

Strategi mengajar merupakan salah satu usaha guru bagi anak didiknya agar bisa memahami dengan mudah konsep materi yang diajarkan.199 X2.51%. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Hasil belajar yang baik merupakan hal yang paling didambakan oleh setiap siswa yang sedang belajar. Menurut Sahertian (2000:1) salah satu usaha yang ditempuh untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia ialah melalui proses pembelajaran disekolah. Upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa diperlukan strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa yang tepat. strategi belajar siswa termasuk kategori sedang sebesar 59.118 X1 + 0.6%. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung pada proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik.180 dengan signifikasi = 0.15%.05 maka Ha3 diterima. Salah satu tujuan pendidikan itu sendiri untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas.05 karena signifikasi kurang dari 0. kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok.Pengaruh Strategi Guru Mengajar Dan Strategi Belajar Siswa Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu Kelas VII Di SMP Negeri 5 Ungaran Abstrak Winarti Makalah ini berisi tentang bagaimana manfaat sebuah strategi dalam proses belajar mengajar.05 maka Ha1 dan Ha2 diterima.592 dengan nilai signifikasi 0. strategi mengajar guru.000 dan X2 sebesar 6. Kata Kunci : Hasil belajar siswa. Strategi mengajar bagi guru merupakan pedoman dan acuan bertindak yang sistematis dalam pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah. pengaruh strategi guru mengajar (X 1) terhadap Y sebesar 17. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan deskriptif presentase dan analisis regresi linear berganda dengan bantuan SPSS For windows release 16.93% dan hasil belajar siswa masuk dalam kategori sedang sebesar 58.63%. Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu. Hasil deskriptif presentase menunjukkan bahwa strategi guru mengajar termasuk dalam kategori baik 72.81% dan pengaruh strategi belajar siswa sebesar (X2) sebesar 26. Hasil belajar dapat ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru sebagai hasil penguasaan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu kelas VII di SMP Negeri 5 Ungaran. Hasil belajar dapat dijadikan indikator keberhasilan seseorang dalam kegiatan belajar (Sardiman 2006:49).181+ 0. 102 .000 karena signifikasi kurang dari 0.000< 0. (Slameto 2003:1).093 dengan nilai signifikasi 0. Pada pengujian secara parsial dengan uji t diperoleh Fhitung untuk X1 sebesar 5. Hasil analisis regresi berganda diperoleh persamaan Ȳ = 4. pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran tersebut (Tu’u 2004:75). Secara simultan strategi guru mengajar (X1) dan strategi belajar siswa (X2) berpengaruh terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu (Y) sebesar 37. Sedangkan secara parsial. Tujuan pendidikan dikatakan tercapai apabila hasil belajar siswa mengalami perkembangan dan peningkatan. Berdasarkan perhitungan uji simultan diperoleh Fhitung sebesar 36. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh dari strategi belajar siswa lebih besar pengaruhnya dibandingkan strategi guru mengajar terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu. strategi belajar siswa Pendahuluan Latar belakang masalah Pendidikan merupakan usaha sadar yang sengaja dirancang pemerintah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

13 BC 8 26. Guru dalam mengajar sudah menggunakan model pembelajaran yang bervariasi seperti : dengan membentuk kelompok belajar dalam memecahkan tugas yang diberikan guru.15 BC 8 27.41% 4 VII D 30 63. Rumusan Masalah 1. Selain itu aktivitas siswa didalam kelas sangat tertip akan tetapi hasil belajar siswa yang dihasilkan belum optimal. Suasana pedesaan yang tenang dan jauh dari keramaian serta ketersediaan berbagai sarana belajar yang memadai sangat menunjang aktivitas belajar siswa.90% atau sekitar 55 anak. observasi.33% 20 66.09 BC 10 33. Adakah pengaruh strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran IPS Terpadu kelas VII di SMP Negeri 5 Ungaran? Tujuan penelitian Tujuan yang ingin dicapai dengan diadakannya penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.86% 23 82.10% (Sumber: Daftar Nilai UAS IPS Terpadu Kelas VII SMP 5 Ungaran) Ket : Terlampaui ( TL) Tercapai ( TC) Belum Tercapai (BC) Berdasarkan tabel 1. OHP.16% JUMLAH 178 61.43 BC 10 33. agar dapat mencapai hasil yang maksimal” (Wena 2009:3). 103 .30 BC 14 45.1 hasil belajar mata pelajaran IPS Terpadu yang dicapai siswa pada semester dua kelas VII di SMP Negeri 5 Ungaran sebagian besar siswa belum memenuhi nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 68.6% 6 VII F 28 62.33% 2 VII B 31 64. Adakah pengaruh strategi guru mengajar terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran IPS Terpadu Siswa kelas VII SMP Negeri 5 Ungaran? 2. Sedangkan 123 siswa lainnya atau 69.90% 123 69. Dari semua siswa kelas VII yang berjumlah 178. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh strategi guru mengajar terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran IPS Terpadu siswa kelas VII SMP Negeri 5 Ungaran.04 BC 5 17. mengadakan tanya jawab dengan siswa. Pada saat berlangsungnya proses pembelajaran siswa selalu aktif mengikuti pembelajaran dapat dilihat ketika guru memberikan pertanyaan semua siswa aktif berusaha menjawab pertanyaan tersebut.67% 22 73. Adakah pengaruh strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran IPS Terpadu siswa kelas VII SMP Negeri 5 Ungaran? 3. Selain itu media yang digunakan dalam proses belajar mengajar meliputi penggunaan White Board.1 Nilai Rata-rata UAS IPS Terpadu Semester II Tahun Pelajaran 2009/2010 No Kelas Jumla RataKriteria Jumlah siswa h rata Nilai Persen Nilai tdk Persen siswa Nilai Tuntas (%) Tuntas (%) UAS 1 VII A 30 60.69 BC 55 30.69 hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar hasil belajar siswa masih rendah dan jauh dibawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan dari pihak sekolah.”Setiap strategi mengajar yang dirancang guru bertujuan untuk mempermudah proses belajar siswa.16% 17 54. SMP Negeri 5 Ungaran yang berstatus Sekolah Standar Nasional (SSN) dan memiliki tenaga pengajar yang profesional ditunjukkan dengan mayoritas guru sudah bergelar sarjana dan mengajar sesuai disiplin ilmu masing-masing. Data nilai di SMP Negeri 5 Ungaran kelas VII sebagai berikut: Tabel 1. SMP Negeri 5 Ungaran terletak di Jalan Nakula kelurahan kalongan.83% 3 VII C 29 56.67% 5 VII E 30 64.10% belum dapat memenuhi kriteria ketuntasan minimun (KKM) yang ditetapkan disekolah. kecamatan Ungaran Timur merupakan salah satu lembaga pendidikan yang letaknya sangat mendukung untuk kegiatan belajar mengajar. Alat Peraga dan LCD.33% 20 66. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti di SMP Negeri 5 Ungaran. diskusi. pesentase ketuntasan siswa yang mampu memenuhi KKM hanya 30. Nilai rata-rata keseluruhan pada mata pelajaran IPS Terpadu dari keenam kelas yaitu 61.59% 21 72.

Sedangkan menurut Djamarah (2008:13) hasil belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik setelah mengalami aktivitas belajar yang menyangkut kognitif. Sedangkan menurut Brown (2007:119) menyatakan bahwa “strategies are defined as the specific methods of approaching a problem or task. Menurut Gulo (2002:2) mendefinisikan Strategi guru mengajar adalah suatu seni dan ilmu guru untuk membawakan pengajaran dikelas sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien. 3. Landasan Teori Pengertian hasil belajar Menurut Anni (2004:4) hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. 2. serta evaluasi) agar dapat mempengaruhi para siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan. teratur dan terarah serta terencana dengan mengatur waktu yang seefisien mungkin untuk mencapai hasil yang maksimal.2. Strategi Guru Mengajar (X1) Kemampuan guru dalam membuka pelajaran Kemampuan guru dalam menerapkan metode pembelajaran Kemampuan guru menyampaikan materi pelajaran Kemampuan guru menggunakan sumber belajar Kemampuan guru dalam menggunakan media pembelajaran Kemampuan guru melakukan evaluasi pembelajaran Kemampuan guru menutup pelajaran (Wena 2009:18) STRATEGI BELAJAR SISWA (X2) Membuat jadwal dan pelakasanaanya Membaca dan membuat catatan Mengulangi bahan pelajaran Konsentrasi Mengerjakan tugas (Slameto 2003:82) Hasil Belajar Mata Pelajaran IPS Terpadu (Y) Ranah kognitif Ranah afektif Ranah psikomotorik (Anni 2004:6) 1. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran IPS Terpadu siswa kelas VII SMP Negeri 5 Ungaran. Dari definisi diatas dapat disimpulkan strategi guru mengajar adalah cara-cara atau usaha guru yang berbeda dalam upaya membelajarkan siswa supaya siswa mudah memahami materi yang sedang dipelajari. the modes of operation for achieving a particular and the planed design for controlling and manipulating certain information”( Strategi didefinisikan sebagai metode spesifik menyelesaikan masalah atau tugas. 104 . Kerangka Berfikir Gambar 1.1 kerangaka berfikir 1. 3. Menurut Roestiyah (2008: 1) yang mengatakan strategi belajar merupakan cara-cara belajar yang baik. 7. cara-cara operasi untuk mencapai tujuan khusus dan desain yang direncanakan untuk mengendalikan dan memanipulasi informasi tertentu). bahan. afektif dan psikomotorik . 4. Dimana perubahan perilaku tersebut tergantung dengan apa yang telah dipelajari oleh pembelajar. metode dan alat. 4. Pengertian strategi mengajar Menurut Sudjana (2009:149) Strategi mengajar adalah tindakan guru melaksanakan rencana mengajar. 3. 5. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran IPS Terpadu siswa kelas VII SMP Negeri 5 Ungaran. Pengertian Strategi belajar Menurut Djamarah (2006:5) “Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan”. 5. 6. artinya usaha guru dalam menggunakan beberapa variabel pengajaran (tujuan. 2.

81. Rentang persentase = 100 % . 3. Ha2 : Ada pengaruh strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan deskriptif presentase dan analisis regresi berganda dengan bantuan SPSS for Windows release 16. Ha1 : Ada pengaruh strategi guru mengajar terhadap hasil belajar siswa. 43. Karena koofisien tersebut lebih besar dari nilai rtabel. 62. sedangkan sampel yang digunakan adalah Propotional Random Sampling yang dihitung dengan rumus slovin dengan persen kelonggaran 5% yaitu sebanyak 123 siswa. Hasil uji reabilitas angket menggunakan rumus Alpha diperoleh koofisien sebesar 0. Berdasarkan hasil uji coba angket kepada 20 responden waktu penelitian diketahui dari 63 butir soal yang diujikan terdapat 12 soal yang tidak valid karena rxy < rtabel = 0. Menentukan angka persentase terendah = (1/4) x 100% = 25% 3.75% Tidak Baik Tidak Baik 105 . maka hipotesis yang penulis ajukan sebagai dugaan sementara adalah sebagai berikut : 1. Hasil Analisis Analisis Deskriptif Persentase Analisis Deskriptif Persentase adalah metode yang digunakan untuk mendeskripsikan masingmasing variabel bebas yaitu strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa. Pada taraf kesalahan 5% dengan n = 20 diperoleh rtabel 0.Hipotesis Berdasarkan permasalahan dan teori yang dikumpulkan. dokumentasi dan wawancara. Menentukan angka persentase tertinggi = (4/4) x 100% = 100% 2. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas adalah strategi guru mengajar (X1) dan strategi belajar siswa (X2) serta hasil belajar siswa sebagai variabel terikat (Y).444. Dalam analisis deskriptif ini.75 % Dengan demikian tabel kategori untuk masing-masing variabel yaitu strategi guru mengajar (X1) dan strategi belajar siswa (X2) adalah sebagai berikut : Tabel 1.25 % = 75 % 4.50% Sedang Sedang 4. perhitungan yang digunakan untuk mengetahui tingkat persentase skor jawaban dari masingmasing siswa yang diambil sebagai sampel ditulis dengan rumus sebagai berikut: % Dimana : n = Jumlah skor jawaban responden N = Jumlah skor jawaban ideal % = Tingkat persentase Cara menentukan tingkat kriteria adalah sebagai berikut : 1. 2.26 % Baik Baik 3. dapat dinyatakan bahwa angket tersebut realibel dan dapat digunakan untuk pengambilan data penelitian.2. Ha3 : Ada pengaruh strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa Metodologi Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII di SMP Negeri 5 Ungaran yang berjumlah 178 siswa. 25% ≤ % Skor ≤ 43. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan angket. Interval kelas persentase = 75 % : 4 = 18.26% <%Skor ≤100% Sangat Baik Sangat Baik 2. Kriteria strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa No Interval Kriteria Strategi guru Strategi belajar mengajar siswa 1.444. Dengan demikian 51 soal saja yang digunakan untuk pengambilan data penelitian.76% <%Skor ≤62.51% <%Skor ≤81.951.

68 -78 Cukup 4.000 X2 . . Tabel 1.000 X2 .118 Std.029 .4 di bawah ini : Tabel 1. Pengaruh strategi guru mengajar (X1) terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu 106 . Kriteria hasil belajar siswa No Interval Kriteria 1. Hasil analisis regresi linier berganda Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1 nt) X1 (Consta B 4.000 a.118 X1 + 0.023 .181+ 0. Persamaan regresi tersebut mempunyai makna persamaan tersebut diperoleh koefisien positif artinya kenaikan variabel independen akan diikuti kenaikan dependen Pengujian Hipotesis secara Parsial (Uji t) Pengujian hipotesis secara parsial ini dimaksudkan untuk menguji keberhatian pengaruh dari masing-masing variabel bebas.118 Std.199 X2.05 atau jika menggunakan penentuan kritis thitung > ttabel a.093 Sig. Berdasarkan hasil perhitungan SPSS diperoleh hasil perhitungan seperti pada tabel 1.061 5.041 .181 .000 a.5. Error 2. yang diolah) Tabel 1.030 .592 .100 Sangat Baik 2.023 .199 . Error 2.093 Sig.592 . Dependent Variable: Hasil belajar (Sumber : data penelitian. 79 – 89 Baik 3.368 Standardize d Coefficients Beta t 2.3.476 6.4.Sedang tabel kategori nilai mata pelajaran IPS Terpadu di SMP Negeri 5 Ungaran sebagai berikut : Tabel 1. 90 .061 5.181 .476 6.029 . dengan kaidah Ha diterima jika p value< 0.041 . Dependent Variable: Hasil belajar Pengujian secara parsial ini digunakan uji t. Hasil Uji Parsial Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1 nt) X1 (Consta B 4. . 0 .67 Belum Tuntas Analisis Regresi berganda Pengaruh strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu dapat dilihat dari analisis regresi berganda yang meliputi uji parsial dan uji simultan.030 . yaitu strategi guru mengajar (X1) dan strategi belajar siswa (X2) terhadap hasil belajar pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu (Y).199 .4 di atas menunjukkan bahwa dari hasil analisis diperoleh persamaan regresi ganda Y= 4.368 Standardize d Coefficients Beta t 2.

000. Tabel 1.030 . dengan kaidah Ha diterima p value < 0.422)2 atau 17.516)2 atau 26.masing variabel independen yang mempengaruhi variabel dependen secara parsial.000a Std.81% dan besarnya kontribusi strategi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu sebesar (0. Pengaruh strategi belajar siswa (X2) terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa thitung untuk variabel strategi belajar siswa sebesar 6.388 . Pengujian dilakukan dengan SPSS for Windows release 16 sebagai berikut Tabel 1.491 . Koefisien Determinasi Parsial (Uji r2) Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1 ant) X1 X2 (Const B 4.6. Pengujian hipotesis secara simultan (uji F) Pengujian secara simultan ini mengggunakan uji F. 592 000 .093 dengan taraf signifikasi 0.51 6 .592 dengan taraf signifikasi 0. 2.05.180 .199 a.05 dapat disimpulkan bahwa Ha2 diterima yang berarti ada pengaruh antara strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu. X2. Error 2.023 .47 5 Correlations Zeroorder Par tial Pa rt Total 1101.134 2 120 122 207. 093 000 6.63% .029 .b.7. Predictors: (Constant). X1 107 .368 . Karena taraf signifikasi yang diperoleh lebih kecil dari 0. Karena taraf signifikasi yang diperoleh lebih kecil dari 0.726 36.345 687.480 a.476 Standardi zed Coefficients S Beta t ig.000.5 tersebut terlihat bahwa thitung untuk variabel strategi guru mengajar sebesar 5. Besarnya kontribusi strategi guru mengajar terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu adalah (0. 061 041 5.173 5. Koefisien Determinasi Parsial (Uji r2) Uji r2 untuk mengetahui seberapa besar sumbangan yang diberikan masing. . .05 dapat disimpulkan bahwa Ha1 diterima yang berarti ada pengaruh antara strategi guru mengajar (X1) terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu (Y).36 7 . Hasil analisis regresi secara simultan ANOVAb Sum of Mean Model Squares df Square F Sig. 1 n Residual Regressio 414.42 2 . Berdasarkan tabel 1.118 . . Dependent Variable:Hasil belajar Besarnya kontribusi masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat diketahui dari besarnya koofisien determinasi secara parsial (r2) dari masing-masing variabel tersebut.181 .

108 .726 F 36. Rineka Cipta. bahwa strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa secara bersama-sama mempengaruhi hasil belajar siswa mata pelajaran IPS sebesar 37.376 . Strategi Belajar Mengajar.27.613a . Djamarah. Sardiman. . 2004. Jakarta: PT Grasindo.000a Total 1101. Hal 126175 Departement of ELT: Hacettepe University.173 5.613. “ The effect of Relationship Between Learning and Teaching Strategies on Academic Achievement”. Dependent Variable: Hasil Belajar (Sumber: data penelitian 2010. 2006. 2002. Belajar dan Faktor Faktor yang Mempengaruhinya. X1 Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dengan analisis regresi ganda menggunakan SPSS 16 diperoleh Fhitung = 36. Raja Grafindo Persada. Sahaertian. Jadi hipotesis Ha3 yang menyatakan ada pengaruh strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu diterima. diolah) Tabel 4. Jakarta: PT Rineka Cipta.6%.000. Koefisien determinasi simultan ( Uji R2 ) Model Summary Mo del R R Square Adjusted R Square Std. Volume 12 No. Gulo. 2008.180 Sig. 3. ________. Psikologi Belajar. Daftar Pustaka Anni.39293 a. Hasil analisis hubungan antara strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa terhadap hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu diperoleh data harga koofisien korelasi secara simultan sebesar 0.480 122 b. Rahasia Sukses Belajar. Predictors: (Constant).134 df 2 120 Mean Square 207. 2006.4 % dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dikaji dalam penelitian ini. karena p value < 0. yang artinya ada pengaruh antara strategi guru mengajar (X1) dan strategi belajar siswa (X2) terhadap hasil belajar siswa. Strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa berpengaruh terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu kelas VII di SMP Negeri 5 Ungaran. ________. ChatarinaTri.6% dan sisanya 62. Semarang: UPT UNNES Press Arif And Aysel. Jakarta: PT. 2000.05 maka Ha3 diterima. Error of the Estimate 1 . Psikologi Belajar. Jakarta: PT. 2003. X2.180 dengan p value sebesar 0. Dalam jurnal Novitas-ROYAL. Jakarta: PT Rineka Cipta. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Rineka Cipta. 2. 2008. Sedangkan besarnya kontribusi strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa terhadap hasil belajar mata pelajaran IPS secara simultan diketahui dari harga koofisien determinasi (R)2 yaitu sebesar 37. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan : 1. Dalam penelitian ini variabel strategi belajar siswa mempunyai pengaruh lebih besar daripada variabel strategi guru mengajar. Ada pengaruh antara strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu kelas VII di SMP Negeri 5 Ungaran. Slameto. Jakarta: PT Rineka Cipta. Strategi Belajar Mengajar.Model 1 n Residual Regressio Sum of Squares 414. Jakarta: PT. 2002. Ada pengaruh antara strategi guru mengajar terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu kelas VII di SMP Negeri 5 Ungaran 2. Kesimpulan penjelasan diatas.345 687.366 2. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan.

2009. Bandung: Sinar Baru Algesindo. 2004. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Tu’u. Sugandi. 2004. Rineka Cipta. 2009. Strategi Belajar Mengajar. Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa. Semarang: UNNES Pres Roestiyah. Jakarata: PT. Jakarta: Bumi Aksara 109 . 2008. Teori Pembelajaran. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Wena. Tulus. Nana. Made.Sudjana. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Variabel dalam penelitian ini adalah tiga variabel bebas yaitu motivasi belajar. sehingga pada saat pelajaran berlangsung siswa selalu memperhatikan penjelasan guru. Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan pada mata pelajaran mengelola sistem kearsipan yaitu 72. PENDAHULUAN 1.4 Rumusan Masalah 110 . Abstrak Oleh : Rita Trisna Deasyanti Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya pengaruh motivasi belajar.00. Kata Kunci : Motivasi Belajar. Data yang ada menunjukkan siswa yang belum mencapai nilai KKM terdiri dari siswa kelas administrasi perkantoran 1 terdapat 17 siswa yang belum tuntas dan kelas administrasi perkantoran 2 terdapat 27 siswa yang belum tuntas. LINGKUNGAN KELUARGA DAN STRATEGI BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN MENGELOLA SISTEM KEARSIPAN SISWA KELAS XI JURUSAN ADMINISTRASI PERKANTORAN SMK TAMAN SISWA KUDUS.3 Latar Belakang Hasil belajar siswa jurusan administrasi perkantoran kelas XI pada mata pelajaran mengelola sistem kearsipan masih belum optimal. lingkungan keluarga dan strategi belajar terhadap prestasi belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan siswa kelas XI di SMK Tamansiswa Kudus secara parsial dan simultan. lingkungan keluarga dan strategi belajar siswa pada mata pelajaran mengelola sistem kearsipan sangatlah penting dalam menentukan keberhasilan siswa untuk mencapai prestasi belajar.PENGARUH MOTIVASI BELAJAR. Berdasarkan hal diatas. Melihat keadaan yang demikian.816 X1 + 0. Dari lingkungan keluarga sebagian besar siswa berasal dari kondisi keluarga menengah kebawah. tetapi prestasi siswa yang dihasilkan belum optimal. peneliti tertarik untuk mengkaji lebih lanjut dengan mengambil judul penelitian “Pengaruh Motivasi Belajar. Dengan demikian menunjukkan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan baik secara simultan maupun parsial dari pengaruh motivasi belajar. Lingkungan Keluarga. motivasi belajar. Dan Strategi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Mengelola Sistem Kearsipan Siswa Kelas XI Jurusan Administrasi Perkantoran SMK Tamansiswa Kudus” 1. lingkungan keluarga dan strategi belajar kemudian satu variabel terikat yaitu prestasi belajar siswa Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. namun perhatian dan pengawasan orangtua terhadap anaknya mengenai pendidikan serta tersedianya dana yang cukup untuk biaya pendidikan dapat mendorong anak untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal. Strategi Belajar. Lingkungan Keluarga.725 X3. lingkungan keluarga dan strategi belajar terhadap prestasi belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan siswa kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus. Dalam penelitian ini menggunakan populasi karena respondennya terdiri kurang dari 100 yaitu 88 siswa. teknik analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis regresi berganda. Hasil penelitian regresi linier berganda menunjukkan persamaan Y = 12.077 + 0. data tersebut diambil dari jumlah populasi dari dua kelas sebanyak 88 siswa.584 X2 + 0. Menurut pengamatan dan data yang ada diperoleh informasi bahwa siswa menyenangi mata pelajaran mengelola sistem kearsipan. Prestasi Belajar VI. terlihat dari aktivitas siswa didalam kelas baik dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan dilihat situasi siswa yang tenang ketika pada saat guru memberikan meteri pelajaran. Berdasarkan Observasi yang peneliti lakukan di SMA Tamansiswa Kudus strategi belajar siswa diduga sudah baik.

5 Konsep Dasar tentang Lingkungan Keluarga Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. mau dan mampu belajar. motivasi berasal dari kata motif dapat dikatakan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.6 Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif. 2. artinya: mungkin strategi yang digunakan itu efektif untuk seseorang. yang menjadi tujuan dari pembelajaran adalah pendiskripsian tentang perubahan perilaku yang diinginkan atau gambaran produk yang menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut sudah terjadi. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku manusia yang diperoleh setelah mengalami proses belajar. METODOLOOGI PENELITIAN 3. Apabila yang dipelajari itu berupa konsep. Untuk mengoptimalkan kemampuaan dan kepribadian anak. Adakah pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan kelas XI jurusan adminintrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus? Adakah pengaruh lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus 6. Penentuan strategi belajar umumnya tidak seluruhnya efektif bagi setiap orang. 2. 2.7 Populasi Penelitian 5. selain itu penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif karena peneliti memaparkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan.4 Konsep Dasar tentang Motivasi Belajar Menurut Sardiman (2007 :73).Dari identifikaksi masalah di atas penelitian ini akan dibahas tentang beberapa masalah diantaranya: 4. LANDASAN TEORI 2. Adakah pengaruh strategi belajar terhadap prestasi belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus? 7. 3. dan penggunaan strategi belajar dalam mempelajari sesuatu. 2010: 2 ). Kebermaknaan strategi belajar yang efektif itu tergantung pada karakteristik individu dalam belajar.6 Konsep Dasar tentang Strategi Belajar Strategi belajar dalam penerapannya pada siswa memiliki tujuan untuk membentuk siswa mandiri dan diharapkan siswa memiliki kesadaran yang timbul dari dalam. orangtua harus menumbuhkan suasan edukatif dilingkungan keluarganya sedini mungkin. Hasil belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan merupakan hasil perubahan perilaku berupa pengetahuan yang siswa dapatkan setelah proses pembelajaran dan keterampilan mengelola kearsipan yang siswa peroleh. Keluarga memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan kepribadian anak. dan strategi belajar terhadap prestasi belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus? VII. 111 . atau motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam diri subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. lingkungan keluarga. karena sebagian besar kehidupan anak berada ditengah-tengah keluarganya. namun tidak efektif bagi orang lain. Suasana edukatif yang dimaksud adalah orangtua yang mampu menciptakan pola hidup dan tata pergaulan dalam keluarga dengan baik sejak anak dalam kandungan (Suwarno. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang telah dipelajari oleh pembelajar. misalnya. artinya pendekatan ini untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh atau tidak antara variabel bebas dan variabel terikat dan seberapa besar pengaruh tersebut. tentu menggunakan strategi yang berbeda ketika seseorang belajar dengan fakta. Adakah pengaruh motivasi belajar. VIII. Penelitian ini mengkaji fakta-fakta yang sudah ada dan tidak memanipulasinya atau mengubah data tersebut sehinggga penelitian ini termasuk penelitian non eksperimen. 2009:40).3 Konsep Dasar tentang Prestasi Belajar “Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya” (Slameto.

4 3.8. Dengan indikator : (a) Tekun menghadapi tugas. dan strategi belajar. (c) Berorientasi jauh kedepan. 7. Indikator hasil belajar adalah nilai dari tes subsumatif atau nilai ulangan tengah semester.3 3. transkip.8 Obyek dalan penelitian ini adalah seruh siswa kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa yang jumlahnya 88 siswa. 2003:2). (d) Mengerjakan tugas.Uji Multikolinieritas f. (d) Konsentrasi. Dengan indikator : (a) Cara orang tua mendidik. Pertanyaan yang disediakan dalam angket merupakan jenis pertanyaan tertutup. Teknik ini digunakan untuk memperoleh data berupa daftar nilai ulangan tengah semester dari pihak guru mata pelajaran mengelola sistem kearsipan di SMK Tamansiswa Kudus Teknik Analisis Data. Strategi belajar diperlukan untuk dapat mencapai hasil yang semaksimal mungkin. 2006: 151). dimana responden telah diberikan pilihan jawaban. Uji Heteroskedastisitas Analisis Regresi Linier Berganda 3. Variabel Penelitian Dalam penelitian ini terdapat dua variabel bebas dan satu variabel terikat. Variabel yang dipaparkan dalam penelitian ini adalah: Motivasi Belajar Menurut Mc Donald (Sardiman.3.10 5. Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Tujuan dari penggunaan teknik ini adalah untuk mengetahui tanggapan responden tentang motivasi belajar.2 3. karena sebagian besar kehidupan anak berada di tengah-tengah keluarganya. 112 . (c) Keadaan ekonomi keluarga. majalah.8. Dokumentasi “Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa cacatan. (b) Ulet menghadapi kesulitan. (b) Relasi antar anggota keluarga. notulen. Peneliti menggunakan teknik dokumentasi ini karena ingin memperoleh data-data yang relevan dengan tujuan penelitian sehingga dapat mempermudah dalam proses penelitian.1 3. Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini.(d) Suasana rumah. 2006:158).8. Keluarga memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan kepribadian anak. leger. Lingkungan Keluarga Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. atau hal-hal yang diketahui” (Suharsimi.9 3. 6. (b) Membaca dan membuat catatan. surat kabar. Dengan indikator : (a)Membuat jadwal dan pelaksanaannya. Strategi Belajar Belajar yang efisien dapat tercapai apabila dapat menggunakan strategi belajar yang tepat. penulis menggunakan teknik sebagai berikut: Angket “Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya. Prestasi Belajar Prestasi belajar merupakan perubahan perilaku manusia yang diperoleh setelah mengalami proses belajar. berhubung jumlah obyek yang diteliti kurang dari 100 maka peneliti menggunakan penelitian jenis populasi.8. 4. (d) Senang mencari dan memecahkan masalah. sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto. rapat. agenda dan sebagainya” (Suharsimi. 3. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut: Analisis Deskriptif Uji Asumsi Klasik d. (c) Mengulangi bahan pelajaran. buku. lingkungan keluarga.2010:73) motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Uji Normalitas e.

62.764 Sedang 62. 81. 43.5139 Tinggi . si 1 81.25 3 43. 8.51.76. .26Sangat 53 100 tinggi 2. 25-43. 81.50 4.25 3.IX. 100 tinggi 2 62.26100 2 62. 62.5131 Tinggi 81.26Sangat 37 .25 3 43.50 4 25. Koefisien Determinasi Simultan dan Parsial HASIL DAN PEMBAHASAN Kriteria Deskriptif Motivasi Belajar No.769 Sedang . Frekuen Rentang Kriteria si 1.75 Frekuen si 38 45 4 1 Persentas e 43% 51% 5% 1% Regresi linier berganda 113 . 43. 62.50 4 253 Rendah . 81. 43.75 0 Rendah Persentase 60% 35% 5% 0% Kriteria Deskriptif Lingkungan Belajar N Frekuen Rentang Kriteria o.75 Kriteria Deskriptif Strategi Belajar N Rentang Kriteria 1 Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Persentas e 42% 44% 10% 3% o. 81.

332 .54 7 . Dependent Variable: Y B 12. Error R Square of the Estimate . 615 2.2 19 .238 .0 77 .0 11 .273 .725 Std.55597 B 12. 540 2.2 22 Correlations Zer o-order Pa rtial Pa rt 114 . X1 Hasil Koefisien Determinasi secara Parsial Coefficientsa Stand ardized Unstandardize Coefficie d Coefficients nts Model 1 (Co nstant) X1 X2 X3 a.2 78 .2 78 .584 .411 a. 615 2.2 19 .2 74 . . 459 2. Dependent Variable: Y Hasil Koefisien Determinasi Secara Simultan Model Summary Model R R Square Adjusted Std.1 27 .390 7. 655 g.54 3 .43 5 .292 Si Beta t 1.332 .292 Si Beta t 1. Error 7.84 4 .0 09 .641a . 459 2.224 .816 .584 . Error 7.725 Std. .273 .54 3 .43 5 .0 11 .238 .54 7 . 655 g.272 .2 74 .1 27 .0 77 .2 22 Correlations Zer o-order Pa rtial Pa rt 1 .0 16 .0 16 .2 59 .Coefficientsa Stand ardized Unstandardize Coefficie d Coefficients nts Model 1 (Co nstant) X1 X2 X3 a. 540 2.0 09 . X2.2 06 .2 06 .224 .2 59 .272 . Predictors: (Constant).84 4 .816 . X3.

maka dari itu agar prestasi belajar siswa jauh lebih bagus diharapkan siswa lebih meningkatkan strategi/cara belajarnya lebih efektif seperti membaca. 2006. basir. 2007. Strategi belajar sangat berpengaruh positif dengan prestasi belajar mengelola sistem kearsipan. maka dari itu siswa diharapkan lebih meningkatkan motivasinya baik intrinsik maupun ekstrinsik. Sedangkan secara simultan memberikan kontribusi sebesar 39%. Selcuk.pp. Jakarta: Rineka Cipta. 511-512.X. Jakarta: Bumi Aksara. Journal of Physics Education Department. Secara parsial dan simultan ada pengaruh yang positif motivasi belajar. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Motivasi belajar sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar mengelola sistem kearsipan. lingkungan keluarga dan strategi belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus memberikan pengaruh yang nyata terhadap perubahan prestasi belajar dengan kontribusi masing-masing 6. Abdurrahmat. Jogjakarta : Ar-ruzz media. Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi. 2005. Arikunto. 115 . muhammad.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Semarang: UPT MKK UNNES. 4. 2000. Serap Caliskan. Manajemen Kearsipan. 1996. Bandung: Angkasa. Jakarta: Bumi Aksara. 2006. Ada pengaruh yang positif lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus. 2. 7. maka dari itu orang tua dalam mendidik dan memperhatikan anaknya lebih diutamakan lagi seperti memperhatikan jadwal belajar anaknya selama sekolah. Yogyakarta: BPFE. Teori Belajar dan Pembelajaran. Analisis Regresi. sehingga siswa dapat memperoleh hasil belajar yang lebih baik lagi.51%. Belajar dan Pembelajaran. Anni. Psikologi Belajar. PENUTUP 10. 2006. 3. Fathoni. cara orang tua dalam mendidik anaknya sudah tergolong tinggi. Learning Strategies of Physics Teacher Candidates: Relationships with Physics Achievement and Class Level. Oemar. Baharuddin dan Esa. Lingkungan keluarga siswa kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus sudah tergolong baik. karena membaca besar pengaruhnya terhadap belajar. dan 7.73%. Hamalik. bermotivasi secara intrinsik yaitu dengan lebih tekun dalam mengerjakan tugastugas belajarnya dan motivasi ekstrinsik yaitu dengan lebih sering untuk belajar kelompok dengan teman-teman.71%. Ali. sehingga siswa dapat memperoleh hasil belajar yang lebih baik lagi. Kurikulum dan Pembelajaran. 2010. 2009. 2. Mustafa Erol. Penelitian Pendidikan Prosedur dan Teknologi. suharsimi. DAFTAR PUSTAKA Algifari. Jakarta : Rineka Cipta. Barthos. Gamze S. 3. 10. Ada pengaruh yang positif motivasi belajar terhadap prestasi belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus. Ada pengaruh yang positif strategi belajar terhadap prestasi belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus. Dimyati dan Mudjiono. 2006. Jakarta: Rineka Cipta.2 Saran 1. chatarina tri.

Jakarta: Rajawali Pers. 10/01. Journal of Educational Psychology. Elida. 2009. Casanova. Journal Of Instructional Pshychology. 1994. The Effect Of Motivation. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. 2005. M. Metoda statistika. Sudjana. Journal Of Education Economics. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Slameto. 25/ 04. Sugiyono. Manuel J.Ibtesam Halawah. M. and Learning Strategies on Academic Success. 2003. Motivasi Dalam Belajar. 2005. And Student Characteristics On Academic Achievement. Nopitahari. de la Villa Carpio. Pengantar Pendidikan. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Prayitno. Tu’u. 33/02: 91-99 Manuchehr Irandoust. 2002. 2004. Peran Disiplin Pada Perilaku Dan Prestasi Siswa. Jakarta: FKIP IKIP Padang. Family Environment. Tirtarahardja. Pengaruh Kompetensi Guru dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Pada Mata Pelajaran Bekerjasama Dengan Kolega Kelas X Jurusan Administrasi Perkantoran(X AP) SMK Antonius Semarang Tahun 2008-2009. Jakarta: Rineka Cipta. Bandung: Alfabeta. 2007. Pedro F. 41-48. tulus. Wiji. de la Torre. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.umar. Influence of family and Socio-Demographic Variables on Students with Low Academic Achievement. 423-435. Suwarno. 2009. Cruz Garcia-Linares. Skripsi. pp. Statistika Untuk Penelitian. 2010. Impact of preferences. Jogjakarta: Ar-ruzz media. pp. Niklas Karlsson. Curriculum. Semarang: FE UNNES. 2002. Sardiman. Bandung: Tarsito. Jakarta: Grasindo 116 .

Permasalahan yang dibahas adalah mengenai bagaimana pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang. hal ini sangat mempengaruhi dalam perkembangan bisnis di sektor pemerintah maupun swasta. Oleh karena itu peneliti menyarankan Pengelolaan surat masuk pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang sebaiknya lebih teliti dalam mengecek surat masuk. dan metode dokumentasi. pencatatan. Metode Pengumpulan data yang digunakan adalah dengan metode interview atau wawancara. pengendalian. sehingga tidak ada surat masuk yang alamatnya tidak lengkap. tetapi masih ada kendala. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian ini dilakukan oleh penulis pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang yang beralamat di Jalan Pemuda no 07 Ungaran dengan objek pengelolaan surat masuk dan surat keluar. Kata kunci : Prosedur Pengelolaan surat masuk dan surat keluar PENDAHULUAN Perkembangan ilmu dan tehnologi sekarang ini sangat pesat. pengarahan surat serta penyimpanan. Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut suatu organisasi memerlukan suatu informasi serta kebenaran data sangat diperlukan. Dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang dan bagaimana cara mengatasi kendala-kendala tersebut. maka diharapkan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang mengadakan pelatihan untuk pegawai untuk lebih mengenal atau menguasai tentang pengelolaan surat. penandatanganan. pengetikan. Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut suatu organisasi memerlukan suatu informasi serta kebenaran data sangat diperlukan. Pengelolaan surat masuk dan surat keluar menggunakan sistem kartu kendali dan buku agenda. Kendala yang dihadapi yaitu adanya surat masuk yang alamat pengirim atau tujuannya tidak lengkap. Dalam pengelolaan surat diperlukan pegawai 117 . Mereka bersaing dalam meningkatkan kemampuan kerja. Hasil penelitian yang diperoleh pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang sudah berjalan baik.PROSEDUR PENGELOLAAN SURAT MASUK DAN SURAT KELUAR PADA DINAS SOSIAL TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI KABUPATEN SEMARANG Abstrak Sischa Apriliyanti Perkembangan ilmu dan teknologi sekarang ini sangat pesat. Pengelolaan surat masuk meliputi penerimaan. Pengelolaan surat keluar meliputi pembuatan konsep surat. hal ini sangat mempengaruhi dalam perkembangan bisnis di sektor pemerintah maupun swasta. persetujuan konsep surat. yaitu terdapat surat masuk yang alamat pengirim atau pembuat surat tidak lengkap dan terdapat surat yang tidak menuliskan alamat ke bidang yang di tuju. yaitu adanya surat masuk yang alamat pengirim atau alamat yang di tuju tidak lengkap. Mereka bersaing dalam kemampuan kerja. Salah satu sumber informasi itu yang otentik adalah surat. mengingat pentingnya surat bagi instansi pemerintahan. dan menggunakan sistem sentralisasi yaitu pengelolaannya melalui satu pintu. sehingga akan menghambat proses pengelolaan surat. sehingga akan menghambat proses pengelolaan surat. pencatatan. Salah satu sumber informasi itu yang otentik adalah surat. Kesimpulan yang diperoleh dan pembahasan mengenai pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang dilaksanakan dengan baik. pemberian nomor dan pemberian cap dinas. dan cara mengatasi kendala yaitu surat masuk yang alamat pengirimnya atau tujuannya tidak lengkap untuk segera dikembalikan kepada pengirim agar dilengkapi alamat pengirim atau tujuannya. penyerahan dan penyimpanan. kendala-kendala yang dihadapi dalam pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang. Oleh karena itu pengurusan dan penanganan surat masuk dan keluar harus dilaksanakan secara tepat agar sesuai dengan perkembangannya.

Kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang ? Tujuan Penelitian 1.1982:139) Hasil Penelitian 2.1 Pengertian Surat Surat adalah sehelai kertas yang ditulis (pada waktu sekarang umumnya diketik)atas nama pribadi penulis atau atas nama kedudukan dalam organisasi yang ditujukan kepada suatu alamat tertentu dan memuet suatu bahan komunikasi(Prajudi Atmosudirjo. Untuk mengetahui bagaimana pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinsosnakertrans Kabupaten Semarang ? 2. Dalam pengelolaan suratnya sudah berjalan dengan baik. Dari uraian di atas. sehingga akan menghambat proses pengelolaan surat. sedangkan pada surat keluar terdapat sedikit kendala yaitu pada unit pengolah surat yang bertugas melakukan penggarapan isi surat terkadang lupa mencantumkan nomor surat keluar sehingga surat tersebut kembali. disini dalam penyimpanan surat masih belum menggunakan filing cabinet atau almari arsip yang digunakan untuk menyimpan arsip yang di dalamnya terdapat suatu susunan sekat dan folder sacara vertical dalam laci-lacinya. yang dimaksud disini adalah nama instansi yang dituju kurang jelas atau terdapat kesalahan penulisan. Warna putih disimpan sebagai arsip. maka pengelolaan surat akan terhambat. ketelitian dan pengetahuan tentang surat menyurat. Dari kepala Dinas surat diserahkan kembali ke sub bagian umum dan kepegawaian. merah muda. dan transmigrasi. Kemudian surat tersebut akan diserahkan ke Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Semarang untuk disahkan.yang memiliki ketrampilan. maka penulis tertarik untuk menyusun tugas akhir ini dengan judul “Prosedur Pengelolaan Surat Masuk dan Surat Keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang” Rumusan Masalah 1. dan kuning. Surat masuk beserta lembar kendali warna merah muda dilanjutkan untuk diajukan ke sekretariat untuk ditentukan disposisi sesuai dengan pokok permasalahan. masih ada beberapa kendala yaitu adanya surat masuk yang alamat tujuan surat tidak lengkap. Bagaimana pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang ? 2. hal ini dapat disebabkan oleh kesalahan pegawai atau petugas yang lalai dalam mengurusi pengelolaan surat tersebut.Warna kuning disimpan di almari arsip. Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinsosnakertrans Kabupaten Semarang ? BUKTI EMPIRIS DARI HASIL TEORI ` 2.2 Pembahasan Dinsosnakertrans Kabupaten Semarang merupakan unsur pelaksana otonomi daerah di bidang sosial. apabila pegawai atu petugas pengelolaan surat tersebut kurang menguasai dan memahami cara pengelolaan surat yang baik. Kemudian surat akan 118 . namun belum sepenuhnya mengacu pada posedur pengelolaan surat yang ada. Kemudian diagendakan pada buku kendali surat masuk dan dicatat pada kartu kendali surat masuk rangkap tiga warna putih. tenaga kerja dan transmigrasi yang mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan pemerintahan Daerah di bidang sosial tenaga kerja. Pengelolaan surat masuk pada Dinsosnakertrans Kabupaten Semarang dimulai dari surat masuk diterima oleh unit kearsipan yang berada pada sub bagian umum dan kepegawaian. Bagian umum pada Dinas Sosial Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Semarang adalah bagian yang mengurusi jalannya surat masuk dan surat keluar.

diserahkan ke bidang yang dituju dan disertakan pula lembar disposisi dan kartu kendali warna merah muda. Pengelolaan surat masuk pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi sudah berjalan dengan cukup baik. Sedangkan prosedur pengelolaan surat keluar pada Dinsosnakertrans meliputi pembuatan konsep oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kepala dinas tersebut. Bentuk surat yang digunakan dalam pembuatan konsep disesuaikan dengan petunjuk atau aturan yang berlaku yaitu bentuk official style. Setelah konsep surat jadi selanjutnya dimintakan persetujuan/pengesahan Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Semarang. Setelah surat disetujui dan diketik selanjutnya diberi nomor surat. Selanjutnya adalah pengagendaan atau pengendalian surat yaitu berupa pengisian lembar kartu kendali surat keluar. Untuk kartu kendali yang berwarna putih disimpan oleh bagian arsip, warna merah diberikan kepada unit pengolah untuk disimpan, sedangkan warna kuning disimpan di bagian umum dan kepegawaian untuk arsip. Langkah selanjutnya pengiriman surat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan dikirim secara langsung dan dikirim melalui sarana jasa. Pengiriman melalui sarana jasa bisa melalui pos atau fax. Dalam pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinsosnakertrans masih terdapat kendala-kendala, diantaranya : Adanya surat masuk yang alamat tujuan surat tidak lengkap, yang dimaksutd disini adalah nama instansi yang dituju kurang jelas atau terdapat kesalahan penulisan, sehingga dapat menghambat proses pengelolaannya, kurangnya ketelitian pegawai dalam pengelolaan surat, yaitu pegawai pengolah surat yang bertugas melakukan penggarapan surat lupa menulis nomor surat dan alamat surat yang akan dituju, sehingga surat tersebut kembali. METODE PENELITIAN 3.1 Sumber dan jenis data Jenis data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah : 1. Data Primer Data primer adalah data yang dikumpulkann langsung di lapangan oleh orang-orang yang melakukan penelitian. 2. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dengan cara membaca dan mempelajari buku-buku literature yang berkaitan dengan permasalahan. 3.2 Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Metode wawancara Wawancara (interview) adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari nterwawancara (Suharsimi Arikunto 2006:155).Penulis melakukan metode wawancara dengan mengajukan pertanyaanpertanyaan kepada pihak Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang mengenai pengelolaan surat masuk dan surat keluar. 2. Metode Dokumentasi Metode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, agenda atau sebagainya (Arikunto 2006 : 231) yang dilakukan penulis yaitu dengan mengumpulkan data dari buku-buku mengenai arsip maupun surat. 3.3 Metode Analisis Data Dalam hal ini penulis menggunakan metode analisis deskriptif. Metode analisis deskriptif adalah metode penelitian yang dilakukan dengan menjelaskan atau menggambarkan variable masa lalu dan sekarang (Suharsimi,2002:9) Penulis menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dimaksudkan agar memperoleh gambaran dan tata secara sistematis tentang berbagai hal yang berkaitan

119

dengan pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang serta kendala yang dihadapi dalam pengelolaan surat masuk dan surat keluar, sehingga penulis dapat menyusun dalam bentuk laporan dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. PENUTUP Simpulan Dari penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa : 1. Pengelolaan surat masuk pada Dinas Sosial Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Semarang dilaksanakan di Sub Bagian Umum dan Kepegawaian yang meliputi penerimaan surat, pencatatan surat, pengendalian surat, pengarahan surat dan penyimpanan. Pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Semarang pada subbagian umum dan kepegawaian sudah berjalan cukup baik. Pada Dinas Sosial Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Semarang menggunakan sistem satu pintu, dan menggunakan sistem kartu kendali dan buku agenda, alasan menggunakan dua sistem ini yaitu jika terdapat kesalahan dalam penyimpanan kartu kendali dapat dibantu pencariannya dengan buku agenda. 2. Kendala-kendala yang dihadapi Dinas Sosial Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Semarang yaitu adanya surat masuk yang alamat pengirim atau alamat yang di tuju tidak lengkap, yaitu terdapat surat masuk yang alamat pengirim atau pembuat surat tidak lengkap dan terdapat surat yang tidak menuliskan alamat ke bidang yang di tuju, sehingga akan menghambat proses pengelolaannya, kurangnya ketelitian pegawai dalam pengelolaan surat, yaitu pegawai lupa menulis nomor surat dan alamat surat yang akan dituju, sehingga terkadang ada surat kembali DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Yogyakarta : Rineka Cipta Atmosudirjo, Prajudi. 1982. Kesekertarisan dan Administrasi Perkantoran. Jakarta : Ghalia Indonesia. Barthos, Basir. 2000. Manajemen Kearsipan. Jakarta : Bumi Aksara Moekijat. 1982. Tata Laksana Kantor. Bandung : Alumni Panji, Suhanda. 1981. Dasar-Dasar Korespondensi Niaga Bahasa Indonesia. Jakarta : Karya Utama Silmi, Sikka Mutiara. 2002. Panduan Menulis Surat Lengkap. Yogyakarta : Absolut Sutarto. 1981. Sekretaris Dan Tatawarkat. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press Widjaja, A W. 1990. Administrasi Kearsipan. Jakarta : CV Rajawali Wirladiharjo, H. Moeftie. 1991. Pedoman Administrasi Umum. Jakarta : Balai Pustaka Wursanto, Ig. 1991. Kearsipan I. Yogyakarta : Kanisius

120

UPAYA PENINGKATAN KUALITAS SEKRETARIS DALAM MANAJEMEN PERKANTORAN PADA BADAN KESATUAN BANGSA, POLITIK, DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT KOTA SEMARANG ABSTRAK INDAH FITRIA RAHAYUNINGRUM

Agar pelaksanan kegiatan kantor dapat berjalan dengan baik diperlukannya manajemen perkantoran untuk mengatasinya. Sekretaris dibutuhkan oleh setiap organisasi untuk membantu dalam bidang organisasi dan kedinasan, atau dengan kata lain, melaksanakan fungsi perkantoran pimpinan agar bisa berkonsentrasi dan melaksanakan tugas-tugas manajerialnya dengan baik. pengembangan diri sekretaris menjadi tuntutan dan kebutuhan yang terus menerus dan berkesinambungans sebagai upaya untuk meningkatkan kualitasnya dalam menghadapi tugasnya sehari-hari Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 1) Untuk mengetahui peranan sekretaris organisasi dalam manajemen perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang. 2) Untuk mengetahui upaya yang dilakukan sekretaris organisasi untuk meningkatkan kinerjanya pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang. 3) Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi sekretaris organisasi dalam melaksanakan pekerjaannya di perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang. Kesimpulan, 1) Peranan sekretaris pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang diatur dalam Peraturan Walikota Nomor 44 mengenai penjabaran tugas dan fungsi Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang. Sebagai sekretaris organisasi kadang-kadang sekretaris melaksanakan peran ganda sebagai sekretaris pribadi yang bertugas membantu pimpinan. 2) Upaya peningkatan kualitas seketaris dalam manajemen perkantoran pada pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang adalah pengembangan kepribadian yang dilakukan oleh diri sendiri dan pengembangan dari kantor. 3) Kendala-kendala yang Dihadapi Sekretaris dalam Manajemen Perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang adalah adanya keterlambatan pertanggung jawaban dari masing-masing bidang. Selain itu terjadinya tumpang tindih kegiatan sekretaris. Saran, 1) Karena ada indikasi peran sekretaris ganda, hendaknya ada kejelasan mengenai tugas sekretaris sebagai sekretaris organisasi. Agar tidak terjadi tumpang tindih antara tugasnya sebagai sekretaris organisasi dan sebagai sekretaris pribadi. 2) Apabila pekerjaan sekretaris organisasi sedang menumpuk, hendaknya sekretaris menunjuk bawahannya untuk menangani sebagian pekerjaannya yang sesuai dengan kompetensi bawahnnya tersebut. Kata kunci : Peningkatan Kualitas, Sekretaris, Manajemen Perkantoran, PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sesuai dengan fungsinya kantor mempunyai kegiatan perkantoran yang meliputi korespondensi, kearsipan, kepegawaian, dan sebagainya yang diatur dalam manajemen perkantoran. Agar manajemen perkantoran tersebut dapat berjalan dengan lancar dibutuhkan sumber daya manusia yang mumpuni. Untuk memperlancar pekerjaan pimpinan dibutuhkan sekretaris untuk membantu menyelesaikan tugas pimpinan supaya tujuan suatu organisasi dapat tercapai dengan baik. Tugas seorang sekretaris tentunya sesuai dengan fungsi jabatannya. Sekretaris organisasi yang mempunyai tugas lebih berat daripada sekretaris pribadi karena sekretaris organisasi mempunyai bawahan yang besar kecilnya ditentukan oleh besarnya organisasi tersebut. Seorang sekretaris organisasi, disamping bekerja atas instruksi, kadang-kadang juga bertugas dan mempunyai kedudukan sebagai pemimpin pelaksana yang memiliki wewenang ikut membuat keputusan, pengarahan,

121

melakukan koordinasi atas pelayanan administrasi, mengadakan pengawasan, serta melakukan penyempurnaan organisasi dan tata kerja. Untuk itu seorang sekretaris organisasi haruslah mempunyai kompetensi dan kepribadian yang sesuai dengan profesinya. Hal itu dilakukan dengan upaya pengembangan diri ataupun pengembangan dari instansi. Itu semua dilakukan agar dalam melaksanakan tugasnya dapat tepat sesuai dengan tujuan perusahaan serta mempunyai kualitas yang baik di mata atasan dan bawahannya. Dari hasil wawancara dengan Bapak Ari Djoko Santoso, SH, MM selaku sekretaris Badan terdapat satu sekretaris yang menjabat sebagai sekretaris organisasi. Sebagai sekretaris organisasi mempunyai wewenang mengatur manajemen perkantoran dan bertanggung jawab atas semua bidang yang ada di organisasi. Namun pada pelaksanaannya sekretaris juga melaksanakan tugas sesuai dengan perintah atasan untuk menyelesaikan tugas perkantoran seperti yang dilakukan sekretaris pribadi. Hal ini menyebabkan pekerjaan kantor sering tertunda sehingga produktivitas kantor menjadi menurun. Untuk itu dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas sekretaris dalam menjalankan manajemen perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang agar pekerjaan kantor menjadi lancar. B. Tujuan Peneliitan 1. Untuk mengetahui peranan sekretaris 2. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan sekretaris untuk meningkatkan kualitasnya 3. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi sekretaris LANDASAN TEORI Kata sekretaris berasal dari Bahasa Latin yaitu secretum yang berarti rahasia. Kata ini juga dikenal dalam Bahasa Belanda secretaries, dalam bahasa Inggrisnya secretary. Dari pengertian ini seorang sekretaris dituntut untuk mampu menyimpan rahasia dalam melaksanakan pekerjaannya (Ernawati, 2004 :1). Menurut Rosidah dan Ambar Teguh Sulistiyani (2005 : 12), secara umum sekretaris berarti seseorang yang membantu pimpinan untuk melakukan pekerjaan kesekretariatan. Pekerjaan kesekretariatan meliputi korespondensi, kearsipan, analisa prosedur pekerjaan kantor, administrasi kepegawaian, dsb. Sedangkan sekretaris organisasi adalah seorang yang memimpin suatu sekretariat dari suatu perusahaan atau sekretariat dari suatu instansi pemerintah tertentu, dengan fungsi utama yaitu mengoordinasikan seluruh pelayanan administrasi yang menunjang operasional perusahaan (Yatimah, 2009 : 35). Menurut The Liang Gie dalam buku Durotul Yatimah (2009 : 20) manajemen perkantoran merupakan rangkaian aktivitas merencanakan, mengorganisasikan (mengatur dan menyusun), mengarahkan (memberikan arah dan petunjuk), mengawasi, dan mengendalikan (melakukan control) sampai menyelenggarakan secara tertib, sesuatu hal. Hal atau sasaran yang terkena oleh rangkaian kegiatan itu pada umumnya adalah office work (pekerjaan perkantoran). Menurut Hendarto dan Tulusharyono (2004 : 6) sekretaris memainkan peranan-peranan seperti : 1. Penjaga/beranda perusahaan Dalam menerima tamu, sekretaris menyeleksi siapa yang biasa dan tidak bisa bertemu dengan pimpinan, kapan waktunya supaya diatur jadwalnya dan tidak salaing bertabrakan. 2. Filter dan pengelola informasi Surat yang masuk dicatat, diatur, dan diolah terlebih dahulu. Sekretaris mencari, mengolah, menyimpan, mengatur, dan bila diperlukan mencari informasi-informasi yang diperlukan pimpinan. Boleh dikatakan bahwa sekretaris adalah orang yang paling tahu berbagai hal yang strategis sebuah perusahaan. 3. Asisten pribadi/tangan kanan pimpinan Sekretaris membantu pimpinan dalam tugas-tugas sehari-hari bahkan untuk banyak kesempatan mewakili pimpinan untuk keperluan perusahaan. 4. Screet keeper/pemegang rahasia Sekretaris yang baik menyadari bahwa ia memiliki informasi yang tidak boleh diteruskan kepada pihak lain yang tidak berhak. 5. Penasihat unutk dimintakan berbagai pendapat

122

Objek Penelitian Bidang Kesekretariatan Badan Kesatuan Bangsa. latihan jabatan ini dilaksanakan oleh organisasi/perusahaan. dsb. yang meliputi : a. Metode Wawancara Wawancara dilakukan sesuai dengan pedoman wawancara yang telah dibuat sebelumnya. etika yang harus dimiliki oleh seorang sekretaris. sekretaris harus memperhatiakan keselamatan dan kesehatan pimpinan termasuk di dalamnya menciptakan suasana kerja yang menyenangkan sehingga pimpinan tidak cepat lelah. dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kota Semarang yang terletak di lantai 6 Gedung Pandanaran. C. Selain itu Tugas-tugas yang tidak terselesaikan secara tuntas akan mengakibatkan adanya rasa tidak puas yang pada akhirnya menimbulkan stress. 2. Semarang. Untuk itu sekretaris harus pandai menjabarkan kebijakan pimpinan ataupun menjadi penyampai informasi dari luar. keinginan. 2. D. Kendala-kendala yang dihadapi sekretaris meliputi kendala-kendala dan upaya-upaya dalam menangani manajemen perkantoran. 6. 7. kebutuhan. SH. kendala. Pre Service Trainning Adalah latihan yang diberikan pada waktu sekarang belum menempati jabatan tertentu. fungsi. METODE PENELITIAN A. Objek Kajian 1. Peranan yang berisi kedudukan. Konflik juga berarti perselisihan dan keberadaan konflik memang tidak terhindarkan. In Service Trainning Yaitu latihan yang dilakukan pada saat sekretaris sedang menduduki jabatannya. dan usaha mengembangkan kepribadian sekretaris . Salah satu diantaranya yaitu dengan melalui pendidikan dan latihan. Jl. 3. dan peranan sekretaris dalam manajemen perkantoran. Jenis Data 1. Konflik merupakan perbedaan pada opini.Penghuibung atau humas Sekretaris berdiri diantara pimpinan dan pihak lain. Perawat/pelindung Walaupun bersifat priobadi. Politik. Pendidikan formal yang diselenggarakan pendidikan umum. tugas. 1990 : 143). kebiasaan. Data Primer wawancara langsung dengan Bapak Ari Djoko Santoso. MM selaku sekretaris Badan mengenai peran sekretaris. Menurut ISI Jabar & sekretaris di PT Sanbe Farma sekretaris tak lepas dari konflik. mencakup : 1. ide. serta upaya peningkatan kualitas sekretaris. Upaya peningkatan kualitas sekretaris meliputi syarat-syarat untuk menjadi sekretaris. tempat sekretaris bekerja. Pemuda No. b. 2. Data Sekunder sumber data sekunder adalah dokumentasi dari sumber bacaan yang berkaitan dengan masalah yang terjadi untuk mendukung hasil wawancara. Metode Pengumpulan Data 1. Latihan pra jabatan. (Sedarmayanti. 123 .175. Pengembangan sekretaris dalam realisasinya dapat dilakukan baik oleh dirinya sendiri maupun atas prakarsa organisasi. B.

2. Dokumentasi mengumpulkan data seperti buku profil, Peraturan Walikota, struktur organisasi sebagai data untuk memperkuat pernyataan yang dikemukakan oleh narasumber dalam wawancara.

E. Metode Analisis Data
Menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Data yang diperoleh dianalisa dengan argumen-argumen dan tidak menggunakan angka-angka yang dihitung secara statistik. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Peranan Sekretaris dalam Manajemen Perkantoran a. Kedudukan Sekretaris dalam Organisasi Kedudukan seorang sekretaris di Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kota Semarang termasuk Sekretaris Organisasi dan merupakan kepala bidang Sekretariat. Berada di bawah Pimpinan langsung maka bertanggung jawab langsung kepada pimpinan. serta mempunyai kewenangan di atas Kepala Bagian.

b.

Tugas Sekretaris Sesuai dengan dengan Peraturan Walikota tahun 2008 Nomor 44 Tentang Penjabaran Tugas dan Fungsi Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang, pasal 6 sekretariat mempunyai tugas merencanakan, mengkoordinasikan dan mensinkronisasian, membina, mengawasi dan mengendalikan serta mengevaluasi pelaksanaan tugas Kesekretariatan, bidang Idiologi dan Kewaspadaan Nasional, bidang Ketahanan Bangsa, bidang Politik Dalam Negeri, serta bidang Perlindungan Masyarakat. Fungsi Sekretaris Fungsi sekretariat pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat tertuang pada pasal 7 Peraturan Walikota Nomor 44 tahun 2008 tentang Penjabaran Tugas dan Fungsi Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang yang merupakan penjabaran dari tugas sekretaris yang terdapat pada pasal 6.

c.

Peran Sekretaris dalam Manajemen Perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang 1. Pelindung organisasi 2. Sebagai pusat informasi 3. Wakil pimpinan 4. Pemegang rahasia 5. Humas 2. Upaya Peningkatan Kualitas Seketaris dalam Manajemen Perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang a. Syarat-syarat menjadi seketaris Berdasar hasil wawancara dengan Bapak Ari Djoko Santoso, SH, MM selaku Seketaris Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang mengatakan bahwa tidak ada syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi untuk menjadi sekretaris pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang. Karena Sekretaris diangkat oleh Walikota melalui promosi jabatan yang disarankan oleh kepala badan. b. Etika yang Harus dimiliki Sekretaris

d.

124

Sesuai dengan Undang-undang Pegawai Negeri Sipil, sama seperti Pegawai Negeri Sipil lainnya kode etik Sekretaris diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. c. Usaha Pengembangan Kepribadian Sekretaris 1) Pengembangan diri sendiri a) Banyak membaca buku tidak hanya buku mengenai sekretaris, namun buku-buku lain yang dapat menunjang kemampuan sekretaris sesuai dengan peranannnya. b) Memperbaharui berita dengan menyaksikan siaran berita, membaca koran, atau browsing di internet. c) Bersikap terbuka atas kritik baik dari atasan maupun dengan bawahan. d) Bertanggung jawab atas tugas yang dibebankan kepadanya. e) Mendekatkan diri tidak hanya dengan atasan tapi dengan bawahan agar bisa terjalin komunikasi yang baik dengan bawahan. 2) Pengembangan dari instansi a) Mengikuti diklat Diklat yang pernah diikuri sekretaris antara lain diklat mengenai wawasan kebangsaan yang diselenggarakan oleh Pemprov Jawa Tengah, diklat mengenai manajemen kantor, diklat mengenai pelaksanan tata usaha, kepegawaian dan sarana prasarana rumah tangga kantor aparatur pemerintah. b) Mengikuti seminar Biasanya keikutsertaan sekretaris dalam seminar adalah atas undangan dari penyelenggara seminar. Dalam seminar ini sekretaris berlaku sebagai perwakilan Badan atau mewakili Kepala Badan jika berhalangan hadir. Seminar yang pernah diikuti sekretaris antara lain seminar Pelaksanaan Demokrasi warga Jawa Tengah yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum Provinsi Jawa Tengah pada saat menjelang Pemilu Gubernur Jawa Tengah. Selain itu beliau juga pernah mengikuti Seminar tentang Birokrasi yang diadakan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). c) Mengikuti Outbond Kegiatan outbond dilaksanakan tidak hanya sebagai media untuk refressing bagi pegawai, namun yang lebih penting adalah mengakrabkan seluruh pegawai yang bekerja di kantor. Diharapkan dari kegiatan ini dapat menambah keakraban diantara semua pegawai sehingga kerjasama yang dilakukan saat bekerja bisa terjalin dengan baik. Outbond ini dilaksanakan setahun dengan menggunakan anggaran rumah tangga badan.

3. Kendala-kendala yang dihadapi Seketaris dalam Manajemen Perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang 1) Pertanggung jawaban kegiatan kepada sekretaris sebagai kepala sekretariat, dari masingmasing bidang sering tidak tepat dalam pelaporannya, sehingga kegiatan lain dari bidang tersebut menjadi terhenti. Hal ini terjadi karena bidang-bidang biasanya untuk membuat laporan kurang adanya kontrol dari kepala bidang kepada staff untuk membuat pelaporan kegiatan yang telah dilaksanakan. Untuk mengatasi masalah ini, sekretaris melakukan rapat koordinasi dengan bidang-bidang yang menangani kegiatan tersebut kemudian dicari akar permasalahan yang menyebabkan masalah itu terjadi, untuk kemudian dicari jalan keluarnya. 2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagai sekretaris organisasi kadang-kadang terjadi tumpang tindih antara kegiatan satu dengan kegiatan yang lain. Hal itu terjadi karena antara kegiatan satu yang belum terselesaikan ada kegiatan yang lain yang harus dikerjakan baik yang berasal dari pimpinan atau bukan. Untuk mengatasi masalah tesebut beliau memilih pekerjaan mana yang perlu diselesaikan terlebih dahulu kemudian

125

menyelesaikan pekerjaan yang lain. Bahkan kadang-kadang pekerjaan tersebut bila tidak selesai dilanjutkan dirumah. B. PEMBAHASAN Peranan sekretaris organisasi tersebut cukup baik, karena sudah sesuai dengan fungsi-fungsi manajemen. Namun sebagai sekretaris organisasi kadang-kadang melakukan tugas ganda sebagai sekretaris pribadi, yaitu dengan melaksanakan tugas yang biasa dilakukan sekretaris pribadi seperti membuat perencanaan perjalanan dinas pimpinan, menemani pimpinan menghadiri suatu acara, serta menerima tamu yang datang untuk kepentingan pimpinan. Namun hal itu dilaksanakan dengan sadar dan sudah biasa dilakukannya setiap saat sebagai bentuk pengabdiannya kepada pimpinan. Padahal secara tidak langsung itu dapat menghambat pekerjaan sekretaris yang lainnya yang seperti diketahui tugas sebagai seorang sekretaris organisasi tidaklah sedikit, sehingga memungkinkan pekerjaan lain akan terbengkalai. Untuk itu sekretaris hendaklah mengatur jadwal kegiatannya dengan baik, agar semua kegiatan yang dilaksanakannya dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan fungsi dan peranannya. Dari usaha pengembangan diri sekretaris sudah melakukan pengembangan dengan baik karena disela-sela waktu sibuk melaksanakan tugas yang banyak, dia masih meluangkan waktu untuk menambah ilmu pengetahuannya dengan membaca buku atau memperbaharui berita. Selain itu sebagai orang yang disegani oleh bawahannya dia dapat bersikap terbuka atas kritik, serta bertanggung jawab atas tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Hal itu dilakukan agar dia bisa menjadi jembatan antara bawahan dengan atasan. Sedangkan dari Badan pengembangan kepribadian dari instansi sudah memfasilitasi pegawainya tidak hanya sekretaris organisasi saja untuk berkembang dan meningkatkan kompetensinya. Untuk itu sudah selayaknya sekretaris organisasi dapat memanfaatkannya sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuannya baik untuk diri sendiri atau untuk instansi untuk kemudian diterapkan dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai sekretaris organisasi dalam menjalankan manajemen kantor. Agar sekretaris menjadi sekretaris organisasi yang berkualitas di mata bawahan dan atasannya. Dalam melaksanakan peranannya dalam manajemen perkantoran kadang-kadang sekretaris menemui kendala yang terjadi namun dalam mengatasi kendala dalam hal pelaporan pertanggung jawaban kegiatan jika terlambat sebaiknya sekretaris tidak membiarkannya berlarut-larut dengan cara memberikan batas waktu kepada bidang tersebut. Karena jika keterlambatan semakin lama akar permasalahannya semakin sulit untuk dipecahkan dan menyita banyak waktu. Dan mengenai tugas yang tumpang tindih seharusnya sekretaris tidak melanjutkan pekerjaan yang belum selesai ke rumah jika hal itu diteruskan maka sekretaris tidak akan mempunyai waktu untuk istirahat di rumah maka yang terjadi dia akan merasa lelah atau mengantuk di kantor sehingga pekerjaan kantor menjadi terbengkalai.

PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis mengenai upaya peningkatan kualitas sekretaris dalam manajemen perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang serta pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Peranan sekretaris pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang sudah diatur dalam Peraturan Walikota Nomor 44 mengenai penjabaran tugas dan fungsi Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang. Sebagai sekretaris organisasi kadang-kadang sekretaris melaksanakan peran ganda sebagai sekretaris pribadi yang bertugas membantu pimpinan. 2. Upaya peningkatan kualitas seketaris dalam manajemen perkantoran pada pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang adalah pengembangan kepribadian yang dilakukan oleh diri sendiri dan pengembangan dari kantor. 3. Kendala-kendala yang Dihadapi Sekretaris dalam Manajemen Perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang adalah adanya

126

keterlambatan pertanggung jawaban dari masing-masing bidang. Selain itu terjadinya tumpang tindih kegiatan sekretaris. B. Saran Kualitas sekretaris dalam manajemen perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang sudah baik namun ada beberapa kekuarangan yang dapat mengurangi kelancaran pekerjaan kantor. Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis saran yang dapat disampaikan antara lain : 1. Karena ada indikasi peran sekretaris ganda, hendaknya ada kejelasan mengenai tugas sekretaris sebagai sekretaris organisasi. Agar tidak terjadi tumpang tindih antara tugasnya sebagai sekretaris organisasi dan sebagai sekretaris pribadi. 2. Apabila pekerjaan sekretaris organisasi sedang menumpuk, hendaknya sekretaris menunjuk bawahannya untuk menangani sebagian pekerjaannya yang sesuai dengan kompetensi bawahnnya tersebut.

127

PROSEDUR ADMINISTRASI PERALATAN KANTOR PADA DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA PROVINSI JAWA TENGAH Abstrak Rodhiana Dewi Nugrah Apriliana Peralatan kantor sangat penting bagi perusahaan. Permintaan barang tidak bisa dilakukan secara mendadak harus melalui perencanaan terlebih dahulu. penempatan. untuk mendapatkan peralatan kantor harus sesuai dengan Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah. maka diperlukan suatu tindakan penanganan dan pengelolaan terhadap peralatan tersebut secara baik. pengadaan. Prosedur administrasi peralatan kantor adalah ”suatu urutan kegiatan klerikal di mana terdapat ketergantungan sistem. dan lain-lain. tenaga dan waktu juga menjamin kecermatan dan ketelitian kerja pegawai. orang dan teknologi untuk menangani data dan informasi mulai dari perencanaan. pengadaan. Suatu urutan kegiatan klerikal dimana terdapat ketergantungan sistem. Peralatan kantor mempunyai berbagai macam kegunaan antara lain: dapat mempertinggi tingkat kemampuan kerja pegawai. pengadaan. 2) pengadaan. pemeliharaan dan penghapusan barang perbekalan kerja dalam pencapaian tujuan organisasi disebut Prosedur Administrasi Peralatan Kantor. terganggunya aktivitas perusahaan akan menimbulkan pengaruh buruk pada hasil/tujuan yang hendak dicapai oleh perusahaan. 4) penempatan. jam. penempatan. orang dan teknologi untuk menangani data dan informasi mulai dari perencanaan. Suatu urutan kegiatan klerikal dimana terdapat ketergantungan sistem. pengadaan. Tujuan dalam pelaksanaan penelitian pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah adalah untuk mengetahui perencanaan. penempatan. pemeliharaan dan penghapusan peralatan kantor. kursi. pencatatan. mesin pengganda. Peralatan kantor sangat penting bagi perusahaan. Pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah yang beralamatkan di Jalan Jenderal Gatot Subroto. misalnya: mesin. Key word : prosedur administrasi peralatan kantor I. penghematan biaya. 3) pencatatan. Apabila prosedur administrasi peralatan kantor tidak berjalan dengan baik. akan menimbulkan hambatan-hambatan. pemeliharaan dan penghapusan barang perbekalan kerja dalam pencapaian tujuan organisasi disebut Prosedur Administrasi Peralatan Kantor. almari arsip. PENDAHULUAN Perusahaan selain memiliki Sumber Daya Manusia yang terampil (Skill). Salah satu sarana dan prasarana yang mutlak diperlukan adalah peralatan kantor. Hambatan-hambatan tersebut misalnya apabila terjadi kerusakan total pada peralatan kantor akan mengganggu jalannya aktivitas perusahaan. pencatatan. meja. Contoh kasus 128 . Metode pengumpulan data wawancara dan dokumentasi. pencatatan. pemeliharaan dan penghapusan barang perbekalan kerja dalam pencapaian tujuan organisasi”. komputer. Dalam pengadaan peralatan kantor harus melalui prosedur antara lain: 1) penggolongan dan perencanaan. mesin hitung. penempatan. pencatatan. orang dan teknologi untuk menangani data dan informasi mulai dari perencanaan. maka diperlukan suatu tindakan penanganan dan pengelolaan terhadap peralatan tersebut secara baik. Tarubudaya Ungaran. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif dengan jenis data primer dan sekunder. 5) pemeliharaan dan 6) penghapusan peralatan kantor (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007: pasal 4 ayat 2). sehingga untuk memperoleh peralatan kantor harus melalui beberapa tahapan. juga harus memiliki sarana dan prasarana yang baik untuk menunjang kegiatan operasional perusahaan.

6. Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (RKPBMD). 2006:155). Metode pengumpulan data 1. Data sekunder diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian yang berupa informasi secara tertulis. Untuk mengetahui Penempatan Peralatan Kantor. Data sekunder ini dapat berupa dokumen-dokumen mengenai masalah tersebut baik dari brosur-brosur. buku.pada Bagian Umum dan Kepegawaian ada komputer rusak sehingga menghambat pekerjaan. buku-buku literatur. 2. Jenis Data 1. 5. C. 2. prasasti. METODE PENELITIAN A. Dokumen pengadaan Barang. 2. 7. KESIMPULAN Prosedur administrasi peralatan kantor adalah ”suatu urutan kegiatan klerikal di mana terdapat ketergantungan sistem. Rencana Kerja dan Anggaran (RKA). TUJUAN PENELITIAN Tujuan dalam pelaksanaan penelitian pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah adalah: 1. 4. 4. 3. Bagan Organisasi. transkrip. surat kabar. majalah. Untuk mengetahui Perencanaan Peralatan Kantor. 3. Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara (interviewer) (Suharsimi. Form Kartu Inventaris Ruangan. pencatatan. notulen rapat. Form Buku Penerimaan. Untuk mengetahui Pengadaan Peralatan Kantor. Rencana biaya pemeliharaan Dinas. III. 8. II. Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan. pengadaan. 5. dan dicatat untuk pertama kalinya 2. 9. orang dan teknologi untuk menangani data dan informasi mulai dari perencanaan. Untuk mengetahui penghapusan Peralatan Kantor. untuk melakukan service/pengadaan peralatan tersebut harus melalui prosedur yang ada. yang ada hubungannya dengan penyusunan karya ilmiah. Dokumen penghapusan. dan sebagainya (Suharsimi. Untuk mengetahui pemeliharaan Peralatan Kantor. Prosedur administrasi peralatan kantor dapat dilihat pada gambar dibawah ini: 129 . Sumber Data Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan yang selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen B. diamati. 2006:231). catatan-catatan tertulis. Rencana Operasional Kerja (ROK). IV. agenda. pemeliharaan dan penghapusan barang perbekalan kerja dalam pencapaian tujuan organisasi”. lengger. 6. Pengeluaran dan Persediaan Barang. penempatan. Untuk mengetahui Pencatatan Peralatan Kantor. Adapun data-data yang diperoleh dari metode dokumentasi adalah: 1. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya.

Cara Swakelola 130 .. Penggolongan Perlatan Kantor yaitu: a. menjaga tingkat persediaan barang agar efisien dan efektif. atau sebab lain. Adanya barang-barang rusak. Perencanaan Peralatan Kantor Dalam melakukan perencanaan kebutuhan dilaksanakan berdasarkan pertimbangan yaitu: untuk mengisi kebutuhan barang. Peralatan kantor tahan lama yaitu peralatan yang dipakai/ dimanfaatkan untuk memperlancar pekerjaan lebih satu tahun b. Peralatan Kantor tidak tahan lama atau habis pakai adalah peralatan yang biasanya hanya dipakai dalam waktu singkat 2. PERENCANAAN Penggolongan Peralatan Penganggaran PENGADAAN PENCATATAN PENEMPATAN PEMELIHARAAN PENGHAPUSAN A. a..Bagian Program (direkap) Form RKA dijadikan Form DPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran) Monitoring dan Evaluasi (monev) Pelaksana an kegiatan (12bulan) Dokumen Rencana Operasional kegiatan ROK (belanja per kegiatan perbulan) DPA diserahkan oleh Gubernur kepada Kepala SKPD Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah B.000. 2. Menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa. Pertimbangan teknologi.000. Pantia pengadaan barang/jasa dibentuk apabila pengadaan barang/jasa dengan nilai Pagu anggaran lebih dari Rp. dijual.000. Penetapan paket-paket pengadaan barang/jasa.GAMBAR 1 PROSEDUR ADMINISTRASI PERALATAN KANTOR 1. 3. Mengangkat Panitia/Pejabat pengadaan barang/jasa. b.(lima puluh juta rupiah). Pengadaan Peralatan Kantor Pengadaan Peralatan Kantor di Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah meliputi: 1. 50. 50. Pengadaan peralatan Barang/Jasa yang dilakukan di Dinas menggunakan dua cara yaitu: a. 1.(lima puluh juta rupiah).000. 2. Pejabat pengadaan barang/jasa dibentuk apabila pengadaan barang/jasa dengan nilai Pagu anggaran kurang dari Rp. dihapus. Tahapan Penganggaran Peralatan Kantor pada Dinas dapat dilihat pada gambar berikut ini Gambar 1 Penganggaran Peralatan Kantor Perencanaan Penganggaran Usulan (RKA&RAB) Masuk ke Sub.

E.000. 100. Penandatanganan fakta Integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa sebelum dimulai. Barang dicatat dalam kartu inventaris ruangan (KIR. 10. Pengawasan pelaksanaan perjanjian/Pagu anggaran . Pemilihan Langsung adalah pelaksanaan pekerjaan yang dikerjakan cara pemilihan langsung dari sekurang-kurangnya ada 3 (tiga) penyedia barang/jasa dengan nilai pagu anggaran di atas Rp. Dicatat pada buku pengeluaran barang (pakai habis). Menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/Pagu anggaran dengan pihak penyedia barang/jasa. Pencatatan pemeliharaan Barang a.Penetapan harga perkiraan sendiri (HPS) Penetapan Jadwal Pelaksanaan. d. b. Barang Tahan Lama Tahapan dalam pencatatan barang tahan lama adalah sebagai berikut: a.000. Pemeliharaan Peralatan Kantor Pemeliharaan peralatan kantor pada Dinas adalah sebagai berikut: 131 . Dicatat pada buku pengadaan barang. Pencatatan dalam kartu pemeliharaan/perawatan barang dilakukan oleh pengurus barang. c.000. 3. Asas mengenai jarak terpendek.000. Menyerahkan aset pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada pimpinan dengan berita acara penyerahan. 7. Penempatan Peralatan Kantor Penempatan peralatan kantor yang dilakukan pada Dinas menggunakan asas-asas sebagai berikut: 1. Rp. 11.000. Barang dicatat pada buku penerimaan barang.d. Dicatat pada buku Penerimaan barang (pakai habis) .000. b. 6. Dicatat pada buku barang inventaris 2. e.000. 8. 5. Pelelangan adalah pelaksanaan pekerjaan yang dikerjakan cara diumumkan secara terbuka melalui media cetak dan papan pengumuman. Dicatat pada buku pengadaan barang. Menggunakan Penyedia Barang/Jasa jika pengadaan barang dengan nilai di atas Rp. 9. 100. 2.. D. b. Menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku. Pencatatan Peralatan Kantor 1.000.000.000. 5.mengacu pada Keppres 80 tahun 2003 tentang pengadaan barang/jasa yang terdiri dari:  Penunjukan Langsung adalah pelaksanaan pekerjaan yang dikerjakan dengan cara menunjuk langsung dari sekurang-kurangnya ada satu penyedia barang/jasa. Kemudian peralatan di tulis pada bon permintaan/ pengeluaran. c. Barang dicatat dalam kartu inventaris barang (KIB). Menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia/pejabat pengadaan barang/jasa. 12. C. 50.s.4. Melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/jasa kepada Pimpinan Instansinya. d. Asas mengenai penggunaan segenap ruangan. Dengan nilai pagu anggaran sampai dengan Rp. dengan nilai pagu anggaran lebih dari Rp. Setiap jenis barang harus dibuat kartu pemeliharan/perawatan yang memuat: b. Barang Habis Pakai (Alat Tulis Cetak = ATC) Tahapan pencatatan barang habis pakai pada Dinas adalah sebagai berikut: a. Asas mengenai rangkaian kerja. 3. 50..

1995. 2009. ittelkom. Bandung : PT. Metodologi Penelitian Kualitatif. Perbekalan / Perabotan / Alat – Alat Kantor.uns. Mengapa Manajemen Pemeliharaan. Kiat Memenangkan Tender Barang & Jasa. Bumi Aksara: Jakarta Silalahi. CV. 2. (31 Maret 2010) 132 . Hendi. Petugas Penghapusan membuat rencana penghapusan barang. Belajar. 2009.com/ doc/5226194/BAb-7-penghapusan-perbekalan. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN. 2000. Petugas penghapusan mendata barang atau peralatan tersebut. Badan Diklat Prajabatan Golongan III: Jakarta Tizna. Remaja Rosdakarya. V.com/2009/07/05/mengapa-manajemen-pemeliharaan/. PT. Manajemen administrasi Perkantoran. Pengantar Bisnis. Sabinus. Mulyadi.fkip. Selanjutnya uji fisik/keur dilakukan oleh kantor Komunikasi Informasi (KOMINFO) dan Dinas Perhubungan. Erlangga: Jakarta Nuraida. Kemudian Dinas mengadakan lelang untuk barang tersebut. Diunduh dari http://www. 2010. 2008. Diunduh dari http://supardiyo. Liberty: Yogyakarta Haryadi.ac. Politeknik Negeri Semarang: Semarang Sadar. Barang tersebut diletakkan dalam gudang. dkk. Ida. Administrasi Perkantoran. Lexy J. Penghapusan Peralatan Kantor Penghapusan peralatan kantor pada Dinas dikarenakan: 1. (31 Maret 2010) Mardiasmo. barang atau peralatan didalam ruangannya dalam kondisi rusak 2. Liberty: Yogyakarta Supardiyo. Andi: Yogyakarta Moekijat. 2002.php?view=article&catid=25%3 Aindustri&id= 457%3Amanajemenperawatan&option=com_content&Itemid=15. Yogyakarta Munir Sukoco. Administrasi Perkantoran Untuk Manajer dan Staf. Duta Nusindo Poniman.ac. Suharsimi. PT Penebar Swadaya: Jakarta Siagian.scribd. Ulbert. (31 Maret 2010) Sutopo. Diunduh dari http://www. Setelah persetujuan Dewan/Gubernur dijual secara umum. Ilmu Administrasi. 2006. Semarang: Diperbanyak oleh Cv. The Liang. Manajemen Perawatan. Cv Armico: Yogyakarta Arikunto. 4. 2008. 1998. DAFTAR PUSATAKA Adya Barata. 2009. 1993. 2008. Dasar-dasar Akuntansi. Pemeliharaan setiap hari atau secara rutin oleh pegawai sendiri. John Soeprihanto. Murti. 2009. (19 Maret 2010) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 95 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Heri.wordpress. Sistem Akuntansi. Badri. 2005.id Blogs weblog. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.id/library/index. 6. 2003. Administrasi Perkantoran Modern. 3. Atep. Rineka Cipta: Jakarta Gie. 5. Manajemen Administrasi Perkantoran Modern. Perencanaan tersebut dajukan ke kantor DPPAD 7. Sinar Baru Algensindo: Bandung Sumarni. 2008. Akuntansi Sektor Publik. 9. Barang dicatat dalam buku inventaris dengan keterangan rusak. DPPAD akan mengusulkan kepada DPRD 8. Diunduh dari Just another Student. 10.1. Dagang dan Industri. Akuntansi Bisnis untuk Perusahaan Jasa. 2009. Filsafat Administarsi. Sondang P. Pemeliharaan dilakukan oleh pihak kedua (rekanan/penyedia jasa) F. 1988. Kanisius: Yogyakarta Olah. 2006. Penghapusan Perbekalan. Administrasi Manajemen dan Organisasi. 2004. Visimedia: Jakarta Kurniawan. Mandar Maju: Bandung Moleong.

Pemanfaatan dan penggunaan TIK akan lebih meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam semua aktivitas yang dilakukannya.com Abstrak Kondisi rendahnya kepemilikan dan penggunaan TIK ini terjadi pada semua sektor di Indonesia. Pendahuluan Penetrasi pengguna komputer dan internet juga masih tertinggal jauh dari negara lain. Model Kompetensi Guru RSBI. Perubahan tersebut telah membawa dampak terhadap strategi bisnis serta realisasi rencana pengembangan ke depan yang meninggalkan cara-cara konvensional Administrasi yang merupakan salah satu fungsi dalam perkantoran tidak dapat terlepas dari perubahan paradigma pemanfaatan dan penggunaan TIK. Alifia Yulfitri. Hal ini menjadikan informasi sebagai komoditas penting dan strategis yang sekaligus menjadi kebutuhan masyarakat modern. Pemanfaatan dan penggunaan TIK akan lebih meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam semua aktivitas yang dilakukannya. Melihat permasalahan dalam aktivitas perkantoran yang dituntut efektif dan efisien dan adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Pada sektor pendidikan. Densitas Pengguna Internet juga masih rendah yaitu 7. 2009. Kondisi rendahnya kepemilikan dan penggunaan TIK ini terjadi pada semua sektor di Indonesia. Makalah disampaikan dalam Konferensi dan Temu Nasional TIK untuk Indonesia.DESAIN IMPLEMENTASI TIK DALAM ADMINISTRASI PERKANTORAN Arief Yuliato Email : ariefyoelianto@gmail. 2008. processing serta keluaran yang akan berguna dalam pengambilan keputusan. Makin besar organisasi akan menyebabkan alur birokrasi yang makin panjang sehingga proses dokumen akan menjadi makin lama. Strategi Pemberdayaan Infrastruktur Telekomunikasi dan Pemberdayaan SDM dalam Mendukung TIK. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang semakin berkembang pesat. telah berpengaruh pada segala aspek kehidupan baik personal maupun komunal. maka perlu dibangun suatu desain TIK terpadu dalam implementasi untuk mendukung aktivitas administrasi perkantoran.47 komputer per 100 penduduk yang berada pada urutan ke-15 dari 18 negara di Asia Pasifik dan ke-7 dari 10 negara di ASEAN. Pengukuran Kesenjangan Digital dalam Pelaksanaan TIK di Lingkungan Pegawai Pemerintahan. Menurut International Telecommunication Union (ITU). Untuk mengatasinya seringkali proses administrasi dokumen disederhanakan atau bahkan diabaikan. Selain itu. Untuk mengatasinya seringkali proses administrasi dokumen disederhanakan 2 Jurnal Depkominfo Vol 2 Tahun 2009 3 Tatiek Maryati. 2009. baik sektor public maupun sector private. 21 – 23 Mei 2008 di Jakarta 4 Arief Yulianto.18 per 100 penduduk2. masih terjadi kesenjangan penguasaan TIK (digital devides) antar staf sehingga menjadi salah satu penghambat pelaksanaan pelayanan publik. Pada sektor pendidikan. Makin besar organisasi akan menyebabkan alur birokrasi yang makin panjang sehingga proses dokumen akan menjadi makin lama. Komputer-Densitas di Indonesia yaitu 1. Impelementasi TIK dalam administrasi perkantoran yang berfungsi sebagai komunikator dan pemberi informasi sangat tergantung pada sumber daya fisik yang berfungsi pemberi input. masih terdapat lemahnya penguasaan dan pemanfaatan TIK dalam pembelajaran oleh guru RSBI. Semarang : Penelitian Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah 133 . baik sektor public maupun sector private. masih terdapat lemahnya penguasaan dan pemanfaatan TIK dalam pembelajaran oleh guru RSBI4. masih terjadi kesenjangan penguasaan TIK (digital devides) antar staf sehingga menjadi salah satu penghambat pelaksanaan pelayanan publik3. pada sektor pelayanan publik. telah berpengaruh pada segala aspek kehidupan baik personal maupun komunal. pada sektor pelayanan publik. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang semakin berkembang pesat.

Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo 134 . 1981. Untuk memberikan keterangan. Menyediakan sistem administrasi terpadu sehingga memudahkan penelusuran surat (tracking). Kegiatan perkantoran berfungsi untuk memberikan pelayanan komunikasi dan catatan-catatan (dokumen. kepemimpinan dan pengawasan. (d) Adanya bimbingan. maka perlu dibangun suatu desain TIK terpadu dalam implementasi untuk mendukung aktivitas administrasi perkantoran. dan sebagainya Administrasi sebagai kegiatan dari pada kelompok yang mengadakan kerja sama untuk menyelesaiakan tujuan bersama. Yogyakarta : Nurcahya Yogyakarta Irwan Yantu. Berdasarkan definisi konsep tersebut. data) yang dibutuhkan oleh pihak yang membutuhkan. Untuk menyusun keterangan. sehingga akan meminimalkan bahkan mengeliminasi proses dan prosedur yang dapat dihilangkan. misalnya: dalam pembiayaan.atau bahkan diabaikan. misalnya: pemeliharaan uang kontan. misalnya: daftar barang-barang dagangan. harga-harga. Aktivitas administrasi akan berlangsung dengan lancar bila (a) Adanya kelompok manusia. 2006 Bahan Ajar Mata Kuliah Manajemen Perkantoran. Saat ini administrasi perkantoran tidak dapat terlepas dari pemanfaatan dan penggunaan TIK atau sering disebut sebagai era otomatisasi perkantoran (Office Automation / OA). Hal tersebut berdampak menimbulkan masalah dalam monitoring dan pencarian dokumen selain tentu saja mengurangi legalitas kegiatannya. maka administrasi perkantoran dapat diuraikan fungsi pendukung dalam penyelengaraan aktivitas perkantoran yang meliputi pelayanan komunikasi dan catatan-catatan dari suatu organisasi. dimana proses dan prosedural tersebut akan berdampak pada penghematan biaya. sehingga : 1. pembukuan. Pentingnya TIK dalam Administrasi Perkantoran Perubahan lingkungan eksternal yang cenderung uncontrollable dan lingkungan internal yang dinamis menuntur organisasi untuk melakukan penyesuain dalam kegiatan perkantoran. pencarian data dan monitoring 4. dan sebagainya 5. pengadaan persediaan. Digitalisasi semua perangkat perkantoran yang kemudian berkonvergensi dengan perangkat komputer berdampak pada penggunaan alat-alat yang dapat menggantikan fungsi manusia dan penyederhaan prosedur dalam perkantoran yang akan berakibat pada semakin efisien dan efektif fungsi administrasi perkantoran. (c) Adanya kegiatan/proses/usaha. harga. Untuk mencatat keterangan. (b) Adanya kerja sama dari kelompok tersebut. IMPLEMENTASI TIK DALAM ADMINISTRASI PERKANTORAN Melihat permasalahan dalam aktivitas perkantoran yang dituntut efektif dan efisien dan adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). yaitu kelompok yang terdiri atas 2 orang atau lebih. antar personal dalam organisasi maupun antar organisasi itu sendiri. (e) Adanya tujuan yang telah ditetapkan6. Untuk menjamin aktiva. dan sebagainya 4. Administrasi Perkantoran Modern. Efisiensi dan efektivitas sebagai dasar aktivitas organisasi. Menyediakan akses secepatnya dari mana saja bagi yang membutuhkan dalam mengirim ataupun merespon surat yang diterima. fungsi perkantoran memiliki fungsi utama sebagai mediator dan fasilitator antar fungsi dan bagian dalam organisasi. Dwi Eko Waluyo 5 6 The Liang Gie. 3. Di lain pihak. waktu dan semakin cepatnya pengambilan keputusan yang dilakukan. Secara terinci fungsi kantor itu adalah sebagai berikut5 : 1. Memudahkan seluruh staf administrasi pada masing-masing fungsi dan bagian dalam organisasi sehingga menjamin tertib administrasi 2. Dalam sebuah organisasi. Memberikan fasilitas dalam pembuatan laporan administrasi dokumen pada setiap fungsi dan bagian organisasi. dan sebagainya 2. taksiran-taksiran. misalnya: catatan –catatan tentang pegawai. 3. perangkat telekomunikasi berkembang pesat saat mulai diimplementasikannya teknologi digital menggantikan teknologi analog yang mulai menampakkan batas-batas maksimal pengeksplorasiannya dalam administrasi perkantoran. dan sebagainya. Untuk menerima keterangan misalnya : surat-surat.

Tabel 1 : Definisi dan Aktivitas tentang Database dan Aplikasi TIK dalam Perkantoran Keterangan Data base Aplikasi TIK Definisi Kumpulan data yang terintegrasi dari Aplikasi perkantoran menggunakan seluruh sumber daya dalam peralatan elektronik non komputer perusahaan. Dalam yang sudah terproses menjadi banyak hal fungsi dari kedua jenis informasi dalam database juga aplikasi di atas adalah sama hanya didapatkan dari lingkungan sistem peralatannya saja yang berbeda perusahaan serta data-data hasil olahan dari para manager sebagai problem solver. mengolah data. mengolah data. 8th edition. Impelementasi TIK dalam administrasi perkantoran yang berfungsi sebagai komunikator dan pemberi informasi sangat tergantung pada sumber daya fisik yang berfungsi pemberi input. Sistem Elektronik Informal berarti sistem perkantoran yang tidak direncanakan atau diuraikan secara tertulis. diakses tanggal 2 Oktober 2010 8 Adopsi dari Raymond Mc Leod. DESAIN PENGEMBANGAN IMPLEMENTASI TIK DALAM ADMINISTRASI PERKANTORAN BERBASIS BEST PRACTISES 7 Disampaikan pada Lokakarya Pengembangan Alat dan Lab Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Semarang tanggal 25 Nopember 2000. Misalnya untuk pengelolaan informasi yang didistribusikan ke manajer yang berupa laporan-laporan periodik amupun laporan khusus. software dan brainware) yang dapat diuraikan sebagai berikut. Semua perusahaan menerapkan sistem formal untuk memenuhi kebutuhan organisasi. tanpa aplikasi TIK. 2001 135 . menyiapkan dokumen berdasarkan pemakai dokumen berdasarkan pemakai database dan dari sudut pandang database dan dari sudut pandang perancang database perancang database Dari tabel di atas diketahui bahwa aktivitas antara database dan aplikasi TIK adalah sama yaitu saling terkait. menyimpan data. Aktivitas Mendapatkan data. Data menggunakan komputer. Sumber : http://www. menyiapkan menyimpan data. Management Informastion System. baik sumber daya dan aplikasi perkantoran masukan. Misalnya melakukan konsultasi atau diskusi dengan pengambil keputusan lain. 2. yang dapat didefinisikan sistem elektronik tersebut sebagai berikut : 1.org/TR/REC-html40.w3. database yang dimiliki kurang maksimal begitu pula jika aplikasi TIK tidak mampu menghasilkan data base akan berdampak pada aktivitas admistrasi perkantoran. processing serta keluaran yang akan berguna dalam pengambilan keputusan.(2000)7 mengungkapkan bahwa OA mencakup semua sistem elektronik formal dan informal yang terutama berkaitan dengan komunikasi informasi ke dan dari orang-orang di dalam maupun di luar perusahaan. proses maupun output. Mendapatkan data. Sistem Elektronik Formal dimaksudkan sebagai kegiatan perkantoran yang didokumentasikan dengan suatu prosedur tertulis. a Study of Computer-Based Information System. seperti pada gambar berikut : Tabel 1 : Implementasi TIK dalam Administrasi Perkantoran8 TIK Terdapat dua variabel utama dalam implementasi TIK yang harus tersedia yaitu database dan applikasi TIK (hardware. Prentice Hall. Sistem-sistem OA informal ini diterapkan saat diperlukan oleh perorangan untuk memenuhi keperluannya sendiri.

Dalam perkembangannya. 136 . dengan harapan ketersediaan infrastruktur menjadi efisien dan optimal dalam pelayanan. bahwa ada organisasi ada yang mampu menyesuaikan dan beradaptasi dengan perkembangan TIK namun ada pula yang tidak. facsimile dan telepon. Inti utama dalam desain ini adalah pemberdayaan SDM departemen sendiri tanpa melakukan outsourcing SDM profesional dari luar. menara. agar layanan bidang telekomunikasi dapat lebih baik lagi. printer. Sehingga desain implementasi TIK adalah sebagai berikut : 9 Jurnal Depkominfo Vol 2 Tahun 2009 Tatiek Maryati. infrastruktur perkantoran misalnya komputer. Kendala yang dihadapi dalam memenuhi kualitas infrastruktur terkait keterbatasan anggaran organisasi menjadikan kualitas maupun kuantitas infrastruktur masih lemah. Infrastruktur telekomunikasi antara lain terdiri dari jaringan telekomunikasi. berlaku “seleksi alam”. Pemanfaatan TIK tidak hanya terbatas pada organisasi saja tapi juga meluas sampai ke pemanfaatan secara personal. Keberadaan infrastruktur yang ada perlu memiliki keseimbangan kesiapan SDM yang profesional sebagai pelaksana tugas terkait yang dapat mengimbangi dengan fasilitas infrastruktur yang ada. di dalam mengoperasikan infrastruktur telekomunikasi dibutuhkan SDM yang profesional di bidangnya yang dapat mendukung kelancaran tugas penyelenggaraan layanan infrastruktur telekomunikasi.Pemanfaatan TIK mengalami perkembangan pesat dalam pemanfaatan dan penggunaannya. Organisasi sebagai salah satu pengguna TIK dituntut untuk dapat beradaptasi terhadap perkembangan TIK tersebut. 2009. infrastruktur penunjang kerja seperti alat monitoring spektrum frekuensi serta infrastruktur penunjang seperti kabel LAN atau Hub. Strategi Pemberdayaan Infrastruktur Telekomunikasi dan Pemberdayaan SDM dalam Mendukung TIK. Tatiek Maryati (2009)9 menjelaskan hasil penelitiannya yang dilaksanakan di Unit Pelaksana Teknis. Penggunaannya TIK ini hampir pada semua aktivitas kehidupan manusia atau dapat dikatakan bahwa saat ini tingkat ketergantungan manusia dalam kehidupannya sangat tinggi terhadap TIK. Langkah pemberdayaan SDM juga sangat penting dalam mengantisipasi perkembangan teknologi informasi. hal ini tentunya akan berdampak pada proses komunikasi dan penggunaan informasi dalam pengambilan keputusan. Selain infrastruktur. khususnya terkait dengan fasilitas infrastruktur yang tersedia. Departemen Perhubungan adalah mampu implementasi TIK dalam aktivitas administrasi perkantoran adalah keterbatasan organisasi dalam beradaptasi terhadap perkembangan TIK adalah pada aspek ketersediaan SDM dan infrastruktur TIK sehingga mengakibatkan kesenjangan digital (digital devides).

Sumber : http://www.Gambar 2 : Desain Pemberdayaan SDM dalam Impelementasi TIK di UPT Departemen Perhubungan Kondisi saat ini Infrastruktur telekomunikasi dan SDM Telekomunikasi di Unit Pelaksana Teknis Depkominfo Perkembangan global infrastruktur telekomunikasi dan perkembangan ICT - Analisis dan Evaluasi: kondisi SDM pada UPT Pemberdayaan saat ini Kendala yang dihadapi =Peraturan Perundangan =Kebijakan Pembangunan TIK =Konvergensi teknologi =Digital divide Keberdayaan infrastruktur telekomunikasi dan kemampuan SDM dalam pemanfaatan infrastruktur telekomunikasi Tingkat kebutuhan : -infrastruktur telekomuniks -pengembangan SDM – TIK -Manajemen Sistem untuk optimalisasi kinerja Profesionalisme SDM dan optimalisasi infrastruktur telekomunikasi Seamolec (2008)10 merancang mekanisme pembelajaran dengan nama JENI yaitu JENI Mobile Game Base Learning(jmGBL) menawarkan suatu model pembelajaran baru yang menarik dan menyenangkan karena dengan bermain game tanpa terasa meningkatkan pemahaman materi yang telah disampaikan di kelas.org/rnd2008f/laporan%20penelitian. Permainan Edukatif Berbasis Mobile Sebagai Media Pembelajaran Matematika dan Bahasa Inggris. seperti pada gambar berikut : Gambar 3 : JENI Mobile Game Base Learning 10 Laporan Penelitian 2008.seamolec.DOC. Diakses tanggal 2 Oktober 2010 137 .

provinsi terbatas SDM guru dan murid terbatas dan membutuhkan sosialisasi yang lama sebelum diimplementasikan Infrastruktur dengan kondisi yang telah ada namun lebih pada peningkatan software SDM TIK SDM outsourcing atau dari luar organisasi Aksesbilitas Sentralisasi data sehingga dalam pencarian dokumen lebih mudah Desentralisasi pada masing-masing unit atau bagian dan sentralisasi secara proporsional Dari kedua desain yang telah diimplementasikan.Desain di UPT (Tatiek Mariyati. maka “best practises” desain implementasi TIK dalam administrasi perkantoran dapat dijelaskan pada gambar berikut : 138 . 2009) Terkendala dengan anggaran dari pusat dalam peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur Sulitnya melakukan pemberdayaan SDM departemen sendiri Adanya pemisahan wewenang input dan penggunannya pada database yang berdasarkan pada UPT Seamolec (2008) Best Practises Ketersediaan Infrastruktur Infrastruktur yang besar dan kemampuan kabupaten/kota.

Authorized : Keamanan hak akses terhadap data yang vital dan non-publik. 2. Sistem juga menerapkan prinsip client- 11 Albarda. 5. 2006. akurat. pengguna tidak terbebani dengan keharusan untuk memiliki.Gambar 4 : Desain Implementasi TIK best practises11 Gambar tersebut menjelaskan tentang beberapa aspek dalam implementasi best practises penggunaan TIK dalam administrasi perkantoran adalah (a) pengadaan SDM sebagai konsultan dapat diperoleh dari luar organisasi. Centrelized : Penggunaan Database Terpusat menjamin agar setiap pengguna memperoleh informasi yang sama. dimana organisasi hanya sebagai pengguna bukan sebagai pembuat (2) infrastruktur yang hanya meningkatkan kualitas software yang dapat diuraikan secara positif dalam implementasinya yaitu : 1. 3. Fleksibility : Berbagai jenis komputer pengguna dengan berbagai sistem operasi akan tetap dapat menggunakan sistem informasi tersebut. dan menggunakan berbagai software untuk berbagai aplikasi tetapi hanya cukup membutuhkan 1 (satu) program web browser yang amat mudah penggunaannya dan biasanya telah tersedia. Prosiding Konferensi Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi untuk Indonesia 3-4 Mei 2006. namun tetap memberikan kemudahan bagi pengguna yang punya kewenangan untuk mendapatkan atau mengolah data yang diperlukan. 4. Web-Based : Setiap informasi dapat diakses dengan mudah baik melalui intranet untuk kalangan terbatas maupun internet untuk umum. Three-Tiered : Konsep arsitektur Three-Tiered memfasilitasi kemungkinan terjadinya perubahan aturan administrasi di organisasi tersebut. dan paling aktual sehingga akan mengurangi duplikasi data serta dapat langsung diproses lebih lanjut (waktu yang lebih singkat). mempelajari. Pengelolaan Dokumen Perkantoran Berbasis TI (e-administration). Aula Barat & Timur Institut Teknologi Bandung 139 . Dengan basis seperti ini. memasang.

8th edition Seamolec. Prosiding Konferensi Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi untuk Indonesia 3-4 Mei 2006. Strategi Pemberdayaan Infrastruktur Telekomunikasi dan Pemberdayaan SDM dalam Mendukung TIK. Aula Barat & Timur Institut Teknologi Bandung Alifia Yulfitri. maka organisasi perlu terus mengembangan diri beradaptasi dengan perubahan paradigma dalam administrasi perkantoran Pertimbangan aspek teknis dan non-teknis dalam hubungan antar organisasi harus menjadi kriteria yang menentukan. Permainan Edukatif Berbasis Mobile Sebagai Media Pembelajaran Matematika dan Bahasa Inggris. Aspek teknologi terkait lainnya yang juga perlu dipertimbangkan adalah keamanan sistem informasi dan dokumen elektronik itu sendiri DAFTAR PUSTAKA Albarda.DOC. 2001. Semarang : Penelitian Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Dwi Eko Waluyo.org/TR/REC-html40. Administrasi Perkantoran Modern. Disampaikan pada Lokakarya Pengembangan Alat dan Lab Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Semarang tanggal 25 Nopember 2000. Makalah disampaikan dalam Konferensi dan Temu Nasional TIK untuk Indonesia.server sehingga memungkinkan untuk perluasan sistem yang secara teoritis tidak terbatas. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo Raymond Mc Leod. Yogyakarta : Nurcahya Yogyakarta 140 . Prentice Hall. Jurnal Depkominfo Vol 2 Tahun 2009 The Liang Gie. 2008. Diakses tanggal 2 Oktober 2010 Tatiek Maryati. Sumber : http://www. Laporan Penelitian 2008.org/rnd2008f/laporan%20penelitian. 2009. Pengukuran Kesenjangan Digital dalam Pelaksanaan TIK di Lingkungan Pegawai Pemerintahan. 2006. 1981. baik dalam ruang lingkup maupun jumlah data yang diolah. diakses tanggal 2 Oktober 2010 Irwan Yantu. Management Informastion System. Pengelolaan Dokumen Perkantoran Berbasis TI (e-administration). PENUTUP Sebagai institusi yang rentan terhadap perubahan berupa perkembangan dinamis organisasi dan TIK. 2009.w3. 21 – 23 Mei 2008 di Jakarta Arief Yulianto. a Study of Computer-Based Information System. 2006 Bahan Ajar Mata Kuliah Manajemen Perkantoran.seamolec. Model Kompetensi Guru RSBI. Sumber : http://www.

PENGARUH KOMPETENSI PROFESIONAL GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DAN KEBIASAAN MEMBACA BUKU TERHADAP HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN EKONOMI SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 3 KETANGGUNGAN KABUPATEN BREBES Dede Atikah (Universitas Negeri Semarang) Sarjana Pendidikan Ekonomi. sarana dan prasarana. media.600 dengan sig 0. Dari hasil analisis deskriptif persentase diperoleh kompetensi profesional guru (X1)= 60. dan pendidikan tidak akan banyak memberikan dukungan yang maksimal atau tidak dapat dimanfaatkan secara optimal bagi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran tanpa didukung oleh keberadaan guru yang secara continue berupaya mewujudkan gagasan. Email: hakitaeded@yahoo. Pendahuluan Latar Belakang Mutu pendidikan suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh mutu pendidik.000 < 0. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu Kompetensi Profesional Guru (X1) dan Kebiasaan Membaca Buku (X2). Jurusan manajemen. Kata Kunci : Kompetensi Profesional Guru. Proses belajar dan hasil belajar para siswa tidak hanya ditentukan oleh sekolah.63% dengan kriteria belum tuntas.55% dengan kriteria sangat baik. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang. Demikian pula untuk variabel kebiasaan membaca buku (X2) didapat thitung = 2.05 maka Ho ditolak sehingga H2 yang berbunyi kebiasaan membaca buku berpengaruh secara parsial terhadap hasil belajar diterima.29% dengan kriteria baik.390 dengan tingkat sig 0. Rendahnya mutu pendidikan telah memberikan akibat langsung pada rendahnya mutu sumber daya manusia bangsa kita.05. Semua komponen dalam proses belajar mengajar seperti materi. Kebiasaan Membaca Buku. Bila dilihat lebih jauh. serta variabel terikat yaitu Hasil belajar (Y).770 dengan sig 0. 1.000 < 0. akan tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi profesional guru yang mengajar dan membimbing mereka. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuesioner (Angket) dan dokumentasi. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan 141 . Karena proses untuk melahirkan sumber daya manusia yang bermutu hanya bisa melalui jalur pendidikan dan proses pembelajaran yang bermutu pula. struktur. sedangkan hasil belajar (Y)=59. Dan Hasil Belajar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi profesional guru dan kebiasaan membaca buku mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar. dan pemikiran dalam bentuk perilaku dan sikap yang terunggul dalam tugasnya sebagai pendidik.05 sehingga H3 yang berbunyi ada pengaruh kompetensi professional guru dalam proses belajar mengajar dan kebiasaan membaca buku terhadap hasil belajar diterima. Guru mempunyai posisi dan peranan yang sangat penting dan strategis dalam keseluruhan upaya pencapaian mutu pendidikan (Sholeh. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif persentase dan regresi linier berganda. ide. 2006: 5).id Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya Pengaruh Kompetensi Profesional Guru dalam Proses Belajar Mengajar dan Kebiasaan Membaca Buku Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes. Secara parsial menunjukkan bahwa variabel kompetensi profesional guru menunjukan bahwa thitung = 3. pola. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan yang berjumlah 109 siswa. maka Ho ditolak sehingga H1 yang berbunyi kompetensi profesional guru berpengaruh secara parsial terhadap hasil belajar diterima.co. 2003: 4).000 < 0. dan isi kurikulumnya. Kebiasaan membaca buku (X2)= 52. Guru merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan (Bafadal. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan (Uji F) yang menunjukkan bahwa Fhitung = 36. rendahnya mutu pendidikan bangsa ini tidak bisa lepas dari kondisi para guru sebagai salah satu unsur penyelenggara pendidikan.

Perolehan hasil belajar siswa dapat dilihat sebagai berikut: 142 . Kebiasaan belajar siswa dapat dilihat dari hasil belajar. Jadi. Dengan kompetensi professional. oleh karena itu perpustakaan merupakan faktor pendukung proses belajar siswa. Karena proses penyusutan atau pengurangan inilah muncul suatu pola bertingkah laku baru yang relatif menetap dan otomatis. Menurut Burghardt (1973) dalam Muhibbin Syah (1995: 118) ”kebiasaan itu timbul karena proses penyusutan kecenderungan respons dengan menggunakan stimulasi yang berulang-ulang”. membaca kiranya merupakan sarana utama bagi siswa untuk mencapai keberhasilan belajar (The Liang Gie. Keberadaan perpustakan membawa dampak positif untuk mendukung keberhasilan pelajaran ekonomi. Sedangkan menurut pakar lain Kompetensi professional guru merupakan kemampuan penguasaan mata pelajaran secara luas dan mendalam. sehingga belajar para siswa berada pada tingkat optimal (Hamalik. Dalam proses belajar. apabila tidak dilakukan maka akan timbul perasaan kurang lengkap. Setiap siswa yang telah mengalami proses belajar. 2002: 57)”. 2008: 65). keluarga merupakan salah satu potensi yang besar dan positif memberi pengaruh pada hasil belajar siswa. ada sebagian siswa yang menggunakan perpustakaan hanya untuk meminjam buku saja. dan bahkan persepsi manusia. Berdasarkan hasil observasi pendahuluan di SMP Negeri 3 Ketanggungan pada kelas VIII yang terdiri dari 3 kelas. Oleh karena itu kebiasaan membaca dapat diartikan kegiatan membaca yang biasa dilakukan. yang harus dikuasai oleh guru (Harwanto. Oleh karena itu. dan akan lebih mampu mengelola kelasnya. 2008: 36). Perpustakaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan sekolah dan dengan perpustakaan mempermudah siswa memperoleh buku bacaan tanpa harus membeli. dengan jumlah 109 siswa. Keluarga adalah orang yang paling dekat dengan dirinya. Walaupun demikian. kemampuan membaca tidak terjadi secara otomatis karena harus didahului oleh aktivitas dan kebiasaan membaca yang merupakan wujud dari adanya minat membaca. dapat diduga berpengaruh pada proses pengelolaan pendidikan sehingga mampu melahirkan keluaran pendidikan yang bermutu (Hamzah. 2008: 46). sikap. kebiasaan juga meliputi pengurangan perilaku yang tidak diperlukan. mereka memilih untuk mempelajarinya di rumah.belajar yang efektif. Kebiasaan membaca tidak hanya dapat dilakukan di perpustakaan. sifatnya relatif menetap dan otomatis. Belajar memegang peranan penting dalam perkembangan. Sebaiknya orang tua mengenalkan aktivitas membaca sedini mungkin. Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan ia mencakup segala sesuatu yang difikirkan dan dikerjakan. mengenalkan buku pada anak sesuai usianya. Suatu pola bertingkah laku baru yang relatif menetap dan otomatis dapat digambarkan dari perilaku membaca. Membaca merupakan kegiatan dan kemampuan khas manusia. kepribadian. kebiasan-kebiasaannya akan tampak berubah. orang tua berperan besar untuk menumbuhkan kebiasaan membaca anak. Misalnya. tujuan. sekitar 85% dari semua kegiatan belajar di sekolah terdiri atas membaca. kebiasaan. Membaca merupakan suatu kegiatan belajar siswa yang paling banyak memakan waktu dan memerlukan pemikiran sepenuhnya. Mereka dapat meminjam buku pelajaran atau mencari referensi untuk mengerjakan tugas. Pembelajaran pertama seorang anak diperoleh dari keluarga. keyakinan. Menurut pendapat William Baker. Kebiasaan membaca pada siswa di sekolah dapat dilihat kebiasaan membaca buku-buku terkait mata pelajaran ekonomi di perpustakaan. menyenangkan. Kompetensi professional guru merupakan salah satu dari kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang apapun. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kebiasaan diartikan sebagai sesuatu yang biasa dikerjakan. memberikan pengalaman yang menyenangkan dalam kegiatan membaca serta memberikan stimulasi berkaitan dengan membaca.

Padahal tidak sedikit koleksi buku-buku yang disediakan sekolah. sehingga mempengaruhi data peminjam buku dan jumlah siswa yang berkunjung di perpustakaan.0 < 7.0 ≥7. mampu menyediakan media pembelajaran.Tabel 1 Nilai Ulangan Harian Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Nilai Ulangan Harian keNilai Ulangan Harian ke-2 1 Kelas ≥ 7. menilai siswa secara obyektif. peminjaman buku. sebagai motivator belajar. dan dapat menjadi konselor bagi siswa terkait permasalahan mata pelajaran ekonomi. memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi. dan jumlah siswa yang berkunjung ke perpustakaan SMP Negeri 3 Ketanggungan.0 < 7. Di bawah ini adalah daftar koleksi buku. mampu mengelola kelas.0 VIII 61 Siswa 48 Siswa 43 Siswa 66Siswa Sumber: Data sekolah 2010 Kompetensi profesional ini dapat dilihat dari guru mampu menguasai materi. Tabel 2 Koleksi Buku Ekonomi Kelas VIII di Perpustakaan SMP Negeri 3 Ketanggungan Tahun 2009/ 2010 N Ju o Judul Buku Penerbit mlah 1 IPS Ekonomi Erlangga 125 2 IPS Ekonomi Yudhistira 135 Buku Kerja Ekonomi 3 2A Erlangga 150 Buku Kerja Ekonomi 4 2B Erlangga 150 Pusat Perbukuan 5 IPS Terpadu Depdiknas 135 Pusat Perbukuan 6 IPS Ekonomi Depdiknas 150 Sumber: Perpustakaan SMP Negeri 3 Ketanggungan 143 . mampu memberikan bahan-bahan ajar dengan contoh-contoh yang benar. berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar. mempunyai keterampilan memilih bahan ajar. mengarahkan dan mendorong kegiatan belajar siswa. dapat mengaktifkan siswa. menjaga ketertiban kelas.

tetapi meminjam untuk dibaca di rumah.Tabel 3 Data Peminjam Buku Ekonomi di Perpustakaan SMP Negeri 3 Ketanggungan Tahun 2009/ 2010 Jumlah Peminjam Bulan Kelas VIII 0743 Siswa 2009 0842 Siswa 2009 0924 Siswa 2009 1048 Siswa 2009 1147 Siswa 2009 1219 Siswa 2009 0146 Siswa 2010 0217 Siswa 2010 0328 Siswa 2010 Sumber: Perpustakaan SMP Negeri 3 Ketanggungan Dapat dilihat dari tabel peminjaman buku di perpustakaan. Tabel 4 Data Kunjungan Siswa ke Perpustakaan SMP Negeri 3 Ketanggungan Tahun 2009/ 2010 Kelas Bulan VIII 07-2009 67 Siswa 08-2009 64 Siswa 09-2009 40 Siswa 10-2009 84 Siswa 11-2009 95 Siswa 12-2009 34 Siswa 01-2010 71 Siswa 02-2010 31 Siswa 03-2010 45 Siswa Sumber: Perpustakaan SMP Negeri 3 Ketanggungan 144 . siswa tidak hanya membaca buku pada saat di perpustakaan saja.

Dengan kondisi buku yang rapi dan penataan yang tersistem. Adakah pengaruh kebiasaan membaca buku terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes tahun ajaran 2009/2010? 3. membuat siswa menjadi berminat untuk membaca buku perpustakaan. Oleh karena itu upaya peningkatan kebiasaan membaca sangat penting untuk pencapaian tujuan pembelajaran. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kompetensi profesional guru dalam proses belajar mengajar dan kebiasaan membaca buku terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes tahun ajaran 2009/2010 baik secara simultan maupun parsial. 3.Hal ini dapat dilihat pada kondisi di mana ruang perpustakaan dipadati siswa membaca. menandakan bahwa buku-buku tersebut dibaca dan jumlah kunjungan siswa yang banyak. Berdasarkan uraian di atas. Dalam kegiatan belajar sebagian besar adalah aktifitas membaca. 4. Untuk mengetahui adakah pengaruh kompetensi profesional guru dalam proses belajar mengajar terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes tahun ajaran 2009/2010. Untuk mengetahui adakah pengaruh kebiasaan membaca buku terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes tahun ajaran 2009/2010. Seberapa besar pengaruh kompetensi profesional guru dalam proses belajar mengajar dan kebiasaan membaca buku terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes tahun ajaran 2009/2010 baik secara simultan maupun parsial? Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan di atas. maka akan diadakan penelitian tentang “Pengaruh Kompetensi Profesional Guru dalam Proses Belajar Mengajar dan Kebiasaan Membaca Buku terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes Tahun Ajaran 2009/2010” Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas. Dari beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa ada kesenjangan yang terjadi di SMP Negeri 3 Ketanggungan yaitu mengenai kompetensi profesional guru dalam proses belajar mengajar dan kebiasaan membaca buku dengan hasil belajar siswa mata pelajaran ekonomi. maka tujuan penelitian ini adalah: 1. maka peneliti mengajukan permasalahan sebagai berikut: 1. Adakah pengaruh kompetensi profesional guru dalam proses belajar mengajar dan kebiasaan membaca buku terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes tahun ajaran 2009/2010? 4. 2. 145 . Adakah pengaruh kompetensi profesional guru dalam proses belajar mengajar terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes tahun ajaran 2009/2010? 2. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh kompetensi profesional guru dalam proses belajar mengajar dan kebiasaan membaca buku terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes tahun ajaran 2009/2010.

Artinya. Sangat Tidak Setuju (STS). Menurut Nurhadi (2005: 13). Karena proses penyusutan atau pengurangan inilah. 2007: 275). 2008: 46). yang harus dikuasai oleh guru. 2006: 5).2. Tidak saja materi yang sesuai bidang tugasnya. Menurut The Liang Gie (1995: 194) kebiasaan adalah perilaku seseorang yang dilakukannya secara tetap atau sama dari waktu ke waktu tanpa pemakaian banyak pikiran. Angket/kuesioner yang digunakan menggunakan pendekatan skala likert dimana setiap pernyataan dalam angket memiliki lima alternatif jawaban yaitu Sangat Setuju (SS). Kurang Setuju (KS). Thorndike. membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Reading as Thinking dan Reading as Reasoning. Setuju (S). membaca pada hakikatnya adalah proses berfikir. 1995: 272). Metodologi Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggunagan Kabupaten Brebes tahun ajaran 2009/2010 dengan jumlah 109 siswa terdiri dari tiga kelas yaitu kelas VIII A dengan jumlah 37 siswa. karena subyek yang berjumlah 109 siswa seluruhnya dijadikan subyek penelitian. bahwa proses membca itu sebenarnya tak ubahnya dengan proses ketika seseorang sedang berpikir dan bernalar. Analisis regresi yang dipergunakan menggunakan rumus: Y = a + b1X1 + b2X2 Keterangan: Y = variabel terikat (hasil belajar) a = konstanta b1 = Nilai koefisien variabel bebas X1 b2 = Nilai koefisien variabel bebas X2 (Sugiono. muncul suatu pola bertingkah laku baru yang relatif menetap dan otomatis. 3. merupakan kemampuan penguasaan mata pelajaran secara luas dan mendalam. Bukti Empiris Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 20) hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. sehingga seorang guru mampu menyajikan materi secara utuh kepada anak muridnya (Harwanto. kebiasaan juga meliputi pengurangan perilaku yang tidak diperlukan. Kompetensi profesional. seperti tampak pada tabel berikut ini: Tabel 5 Populasi penelitian N Kelas Jumlah o siswa 1 VIII A 37 Siswa 2 VIII B 35 Siswa 3 VIII C 37 Siswa Jumlah 109 Siswa Sumber : Tata Usaha SMP Negeri 3 Ketanggungan Penelitian ini merupakan penelitian populasi. tetapi juga kemampuan mengintegrasikan dan menghubungkan dengan materi-materi mata pelajaran lainnya. Sedangkan menurut Tarigan (1986: 7). Dalam proses belajar. Ingat apa kata seorang ahli membaca yang bernama Edward L. Tidak Setuju (TS). Menurut Burghardt (1973) dalam Muhibbin Syah (1995: 118) ”kebiasaan itu timbul karena proses penyusutan kecenderungan respon dengan menggunakan stimulasi yang berulang-ulang”. kelas VIII B dengan jumlah 35 siswa dan kelas VIII C dengan jumlah 37 siswa. Dari kelima jawaban tersebut 146 . Membaca adalah serangkaian kegiatan pikiran seseorang yang dilakukan secara penuh perhatian untuk memahami makna sesuatu keterangan yang disajikan kepada indera penglihatan dalam bentuk lambang huruf dan tanda lainnya (The Liang Gie. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar (Tri Anni.

Cetakan Ke Dua Belas.000 . Kesimpulan Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab IV dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1.237 . Skor 5 untuk jawaban Sangat Setuju (SS) b. Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara kebiasaan membaca buku terhadap hasil belajar pada mata pelajaran Ekonomi Kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan sebesar 6. Dasar-dasar Proses Belajar mengajar. Daftar Pustaka Arikunto. 1994. 1987. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Noerhayati.770 Sig. Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara kompetensi profesional guru dalam proses belajar mengajar dan kebiasaan membaca buku terhadap hasil belajar pada mata pelajaran Ekonomi Kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan sebesar 39. Skor 2 untuk jawaban Tidak setuju (TS) e. Darsono. Bandung: Sinar Baru Algesindo.481 2. Hasil Empiris Coefficientsa Unstandardized Coefficients B Std. . Error 23.122 Standardized Coefficients Beta . 2008. Sardiman. 2008. 2.000 .066 .388 . Skor 3 untuk jawaban Kurang Setuju (KS) d.330 . 147 . Nurhadi. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Ahmad. 2003. 3. Soedibyo. Jakarta: Depdikbud Dan Rineka Cipta. 2000. Slameto.269 . Sudjana. Jakarta: Rineka Cipta. Psikologi Pendidikan. Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara kompetensi profesional guru dalam proses belajar mengajar terhadap hasil belajar mata pelajaran Ekonomi Kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan sebesar 10. Bafadal. Niam Sholeh.600 2. 2009. Skor tersebut terdiri dari: a. Edisi Revisi V. Dependent Variable: Y 5. Hamalik.260 Collinearity Statistics Tolerance VIF . 2006. Skor 4 untuk jawaban Setuju (S) c. Jakarta: Bumi Aksara. 2002. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. 2003. 2005. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. 2008. Oemar. Pengelolalaan Perpustakaan Jilid 1-2. Ibrahim. Membaca Cepat dan Efektif.299 Correlations Partial . Memilih Profesi Guru?. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.89%. 2008.681 5. Membangun Profesionalitas guru. Max.224 .007 Zero-order . Semaranng: IKIP Semarang Press.338 . Djaali. Belajar dan Pembelajaran.578 Part .603 .masing-masing memiliki skor yang akan menentukan apakah jawaban dari pernyataan tentang variabel-variabel penelitian tersebut tinggi atau tidak. Belajar dan Pembelajaran. Salam.207 a. Harwanto. Nana. 6. Skor 1 untuk jawaban Sangat tidak Setuju (STS) 4.481 . Jakarta: Bumi Aksara. 2009. Pengaruh Minat. Semarang: UNDIP Press. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Banten: Cerad Insan Cendekia Mulyono. Jakarta: Rineka Cipta. Cara Belajar Sukses Di Perguruan Tinggi. Ghozali. Semarang.079 2. Jakarta: Paramuda. Suharsimi. Dimyati dan Mudjiono. Burhanudin. 2009.533 3.76%. UNNES.60%. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar. Bandung: Alumni. 2004.079 Model 1 (Constant) X1 X2 t 4. Kebiasaan Membaca Buku Perpustakaan Dan Lingkungan Keluarga Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas X Di Smk Negeri 2 Semarang Tahun Ajaran 2008/2009. Jakarta: Bumi aksara. Jakarta: Bumi Aksara. 1994. Asrorun. Jakarta: Rineke Cipta.

Psikologi Belajar. 2008. Bandung: PT Rosdakarya. Membaca Sebagai Ketrampilan Berbahasa.Sugiyono. Alfabeta. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Henry Guntur. 1995. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: PUBIB. Semarang : UPT UNNES Press. Tri Arni. 1995. Tarigan. Muhibbin. Umar. Catharina. 148 . Psikologi Pendidikan. 2001. Uno. 1986. Bandung : Alfabeta. Bandung: Angkasa. Husein. dkk. The Liang Gie. Bandung: CV. 2004. Statistik Untuk Penelitian. Kualitatif dan R&D. Syah. Riset Akuntansi. Jakarta: Bumi aksara. Cara Belajar Yang Efisien Jilid II. Hamzah. 2008. Profesi Kependidikan. 2007.

Instrumen yang disusun kemudian diuji validitas menggunakan rumus product moment dan reliabilitas menggunakan rumus alpha. Kata Kunci : Cara Belajar. Untuk mengetahui pengaruh cara belajar. penggunaan media pembelajaran dalam kriteria tinggi (65.2 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 1. Prestasi belajar yang diperoleh siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor.6%). Penggunaan Media Pembelajaran.391 dan signifikansi sebesar 0. Berdasarkan analisis deskriptif persentase menunjukkan bahwa cara belajar dalam kriteria tinggi (57. (Suryana. diantaranya adalah cara belajar. Motivasi. Sampel penelitian adalah seluruh siswa kelas X SMK Negeri 1 Pringapus tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah 137. 1. dan tersebar secara proporsional merata kesetiap kelas. pengaruh secara simultan cara belajar. PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN DAN MOTIVASI TERHADAP PRESTASI BELAJAR KEWIRAUSAHAAN SISWA KELAS X SMK NEGERI 1 PRINGAPUS KABUPATEN SEMARANG TAHUN AJARAN 2009/2010 Erni Dwijayanti ABSTRAK Keberhasilan siswa dalam belajar dapat dilihat dari prestasi belajar siswa yang bersangkutan.009. motivasi dan prestasi belajar kewirausahaan siswa Kelas X SMK Negeri 1 Pringapus Tahun Ajaran 2009/2010. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh secara parsial cara belajar. Metode pengumpulan data yang digunakan angket dan dokumentasi. dan prestasi belajar dalam kriteria baik (58.981 + 0. maka teknik pengambilan sampel dengan menggunakan proporsional random sampling. penggunaan media pembelajaran dan motivasi terhadap prestasi belajar kewirausahaan siswa kelas X SMK Negeri 1 Pringapus Tahun Ajaran 2009/2010. penggunaan media pembelajaran dan motivasi terhadap prestasi belajar kewirausahaan siswa kelas X SMK Negeri 1 Pringapus Tahun Ajaran 2009/2010. 2003:3) 1.563 dan keberartian koefisien regresi uji t sebesar 2. penggunaan media pembelajaran. Sehingga setiap responden mempunyai kesempatan yang sama 149 . penggunaan media pembelajaran dan motivasi terhadap prestasi belajar kewirausahaan siswa kelas X SMK Negeri 1 Pringapus Tahun Ajaran 2009/2010. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui pengaruh cara belajar.3%).183 serta keberartian koefisien regresi uji t sebesar 2. maupun di pendidikan profesional yang masih kurang memperhatikan penumbuhan sikap dan perilaku kewirausahaan sasaran didik. motivasi dan prestasi belajar kewirausahaan siswa Kelas X SMK Negeri 1 Pringapus Tahun Ajaran 2009/2010. Ada pengaruh yang signifikan penggunaan media pembelajaran terhadap prestasi belajar kewirausahaan siswa kelas X SMK Negeri 1 Pringapus secara parsial dengan koefisien korelasi sebesar 0. pengaruh secara parsial cara belajar. penggunaan media pembelajaran dan motivasi.183 X1 + 0. Prestasi Belajar. Banyak kita jumpai pendidik baik di sekolah-sekolah kejuruan. penggunaan media pembelajaran.046.PENGARUH CARA BELAJAR. Ada pengaruh yang signifikan motivasi terhadap prestasi belajar kewirausahaan siswa kelas X SMK Negeri 1 Pringapus secara parsial dengan koefisien regresi sebesar 0. baik oleh dunia pendidikan maupun masyarakat. Berdasarkan analisis regresi berganda diperoleh model regresi Y = 47. Mengingat sifat populasi bersifat homogen pada siswa kelas X Program Keahlian Multimedia dan Tata Busana SMK Negeri 1 Pringapus Kabupaten Semarang Tahun Ajaran 2009/2010.873 serta keberartian koefisien regresi uji t sebesar 2.018.3 Sampel Penelitian Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan mempertimbangkan sifat populasi.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan kewirausahaan di Indonesia masih kurang memperoleh perhatian yang cukup memadai. 2.4%).657 dan signifikansi 0. Ada pengaruh yang signifikan cara belajar terhadap prestasi belajar kewirausahaan siswa kelas X SMK Negeri 1 Pringapus secara parsial dengan koefisien korelasi sebesar 0.563 X3 .873 X2 + 0.012 dan signifikansi sebesar 0.6%). 1. motivasi dalam kriteria tinggi (56.

sebagai sampel dalam penelitian. Kelas X MM 1 X MM 2 X TB 1 X TB 2 X TB 3 Tabel 3. Untuk mengetahui jumlah sampel yang akan diambil dalam penelitian ini peneliti menggunakan rumus Slovin (Husein Umar. e derajat kesalahan dalam penelitian sebesar 5% dengan tingkat signifikan 95% (137) Berdasarkan perhitungan tersebut maka sampel yang dipakai dalam penelitian ini adalah berjumlah 137 orang siswa kelas X Program Keahlian Multimedia dan Tata Busana SMK Negeri 1 Pringapus Kabupaten Semarang Tahun Ajaran 2009/2010. Penyebaran sampel dari populasi secara lebih lengkap adalah sebagai berikut : N o 1 .2006:78) yaitu : Keterangan : N : Ukuran populasi n : Ukuran Sampel e : Persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang dapat ditorerir atau diinginkan.1 Sampel Penelitian Teknik Jumlah Pengambilan Populasi sampel 38 37 34 33 33 Jumlah Sampel 25 24 22 22 22 22 X TB 33 4 Jumlah 208 Populasi Keterangan : MM : Multimedia TB : Tata Busana (Sumber : Tata Usaha SMK N 1 Pringapus) Jumlah Sample 137 150 . 5 . 3 . 6 . 4 . 2 .

2006:162) Dimana: = koefisien korelasi. nama siswa. = skor item angket.338 Valid 11 0.2.4. Data yang terkumpul diuji dengan teknik korelasi product moment dari Karl Pearson (Suharsimi.338 Valid 3 0.2 Hasil Uji Coba Validitas Variabel Cara Belajar ( No.501 0. = jumlah responden.547 0. Adapun uji coba instrumen menggunakan SPSS for windows 13 dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3. Validitas Dalam penelitian ini pengukuran validitas diukur dengan menggunakan bentuk metode statistik.338 Valid 15 0.338 Valid 4 0.453 0. dan data prestasi belajar kewirausahaan siswa kelas X pada mata pelajaran kewirausahaan yang diambil dari nilai ulangan pada semester II tahun ajaran 2009/2010.338 Valid 13 0.4 1.338 Valid 6 0.548 0.338 Valid Sumber : Data penelitian diolah. Data yang dapat diambil dengan metode dokumentasi tersebut adalah data tentang jumlah siswa. Metode Pengumpulan Data Metode Dokumentasi Dalam penelitian ini data diambil dari arsip yang dimiliki oleh guru mata pelajaran kewirausahaan kelas X SMK Negeri 1 Pringapus.1. Tujuan dari uji coba instrumen adalah untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan-pernyataan yang kurang jelas maksudnya. 1.2.338 Valid 9 0.338 Valid 12 0.338 Valid 5 0.696 0.491 0.338 Valid 2 0. Uji Instrumen Uji coba instrumen penelitian dilakukan sebelum angket diberikan kepada responden.579 0.5.563 0. yaitu angket yang memungkinkan responden hanya memilih alternatif jawaban yang disediakan. Metode Angket (kuesioner) Adapun jenis kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup.398 0.492 0.338 Valid 8 0.668 0. mempertimbangkan penambahan atau mengurangi item.4.639 0.338 Valid 10 0.588 0.576 0. menghilangkan kata-kata yang sulit dipahami. 1.338 Valid 7 0.1. Soal Kriteria 1 0.338 Valid 14 0. = skor total angket.5. 1.660 0. 2010 ) 151 .

338 Valid ) Sumber : Data penelitian diolah.266 0. 4.1 Metode Analisis Deskriptif Persentase Langkah-langkah yang ditempuh dalam penggunaan teknik analisis ini adalah: 1. 2004:186) sebagai berikut: Persentase skor (%) = 100% Keterangan: 152 .626 0.627 0.338 Valid 27 0.378 0.7.338 Tidak Valid 22 0. Menentukan skor jawaban responden dengan ketentuan skor yang telah ditetapkan.7.6.338 Valid 21 0. Hasil pengolahan data ini digunakan untuk menjawab masalah yang telah dirumuskan. 2010 1.338 Valid 26 0.505 0.338 Valid Valid Valid Valid ) Sumber : Data penelitian diolah.524 0. 1.511 0. Soal Kriteria 20 0.516 0.338 Valid 25 0. 3.338 Valid 23 0. = jumlah varians butir.3 Hasil Uji Coba Validitas Variabel Penggunaan Media Pembelajaran( No.338 Valid 28 0.338 0.4 Hasil Uji Coba Validitas Variabel Motivasi ( No. Sebelum menggunakan rumus Alpha terlebih dahulu harus dicari varian butirnya dengan rumus : ( X )2 ( X )2 2 N : Varian Tiap butir N X : Jumlah Skor butir N : Jumlah Responden 1. 2010 Tabel 3. Memasukkan skor tersebut kedalam rumus (Ali. Adapun rumus yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumus Alpha (Suharsimi.338 0. Membuat tabel distribusi jawaban angket.338 Tidak Valid 24 0.496 0. 2. 2006:193) yaitu: = Dimana: = reliabilitas instrumen. Reliabilitas Reliabilitas adalah ketepatan atau keajegan suatu alat ukur dalam mengukur apa yang diukur.439 0. = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal. Soal Kriteria 16 17 18 19 0. = varians total.344 0. Metode Analisis Data Analisis data adalah cara-cara mengolah data yang telah terkumpul kemudian dapat memberikan interpretasi.Tabel 3.645 0. Menjumlahkan skor jawaban yang diperoleh dari tiap-tiap responden.338 0.316 0.

51% 81. 5.76% .62. Analisis Regresi Ganda Dalam penelitian ini analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan persamaan sebagai berikut : Y = β0 + β1X1 + β2X2 β3X3 e Dimana : Y : Prestasi belajar X1 : Cara Belajar X2 : Penggunaan media pembelajaran X3 : Motivasi β0 : Konstanta β1 : Koefisien regresi e : Error Toleransi kesalahan yang ditetapkan sebesar 5 % dengan signifikansi sebesar 95 %. Persentase minimal = (1/4) x 100% = 25% 3.6 Kriteria Prestasi Belajar Interval Kriteria 85 – 100 Sangat Baik 70 – 84 Baik 55 – 69 Cukup < 54 Kurang 1.75% Maka tabel kriteria untuk variabel cara belajar ( ).00% 62. Untuk mengetahuinya didasarkan pada nilai atau skor yang telah ditetapkan untuk setiap alternatif jawaban yang tersedia dalam angket.7. Hasil yang diperoleh dikonsultasikan dengan tabel. dan motivasi ( ) serta prestasi belajar (Y) sebagai berikut : Tabel 3.00% .26% 100.2. Dalam penyajiannya. maka dibuat tabel kategori yang disusun dengan perhitungan sebagai berikut: 1. hasil analisis ini didasarkan pada distribusi frekuensi yang memberikan gambaran mengenai distribusi subjek menurut kategori-kategori nilai variabel. Penggunaan Media Pembelajaran. Untuk menentukan kategori deskripsi persentase (DP) yang diperoleh. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan uji F yaitu membandingkan dan yang terdapat pada tebel Analysis of Variance yang dihitung melalui SPSS For Windows 13.25% 43.5 Kriteria Cara Belajar.3.7. Interval kelas persentase = 75% / 4 = 18.75% Cara Belajar Sangat Tinggi Tinggi Rendah Sangat Rendah Motivasi Sangat Tinggi Tinggi Rendah Sangat Rendah Tabel 3. Uji F atau Simultan Pengujian simultan bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas secara bersama-sama atau simultan terhadap variabel terikat.25% = 75% 4. 1. 153 . Persentase maksimal = (4/4) x 100% = 100% 2.n = jumlah nilai yang diperoleh.50% 25. dan Motivasi Kriteria Penggunaan Media Pembelajaran Sangat Tinggi Tinggi Rendah Sangat Rendah Interval 81.43. N = jumlah nilai ideal (jumlah responden x jumlah skor x skor tertinggi). Rentang persentase = 100% . penggunaan media pembelajaran ( ).

Untuk mengetahui nilai .05 = 5% dengan derajat kebebasan df = (N-k) dimana N adalah jumlah observasi dan k adalah jumlah variabel. 1. variabel dependen dan variabel independen keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak (Ghozali. Kriteria uji yang digunakan adalah: Jika ( ditolak Jika ( diterima Adapun uji hipotesisnya adalah: = .7.5. artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama dari seluruh variabel independen terhadap variabel dependen. 1. ditentukan tingkat signifikansi 0. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi. Secara aljabar dinyatakan : 0 secara sederhana merupakan suatu ukuran kemajuan ditinjau dari sudut pengurangan kesalahan total (total error). = . karena itu letak berada dalam selang (interval) antara 0 dan 1. bila koefisien determinasi =1. 154 . Kriteria uji yang digunakan adalah: Jika ( ditolak Jika ( diterima Adapun uji hipotesisnya adalah: = . tingkat signifikansi yang digunakan sebesar 0. berarti variabel bebas tidak mempunyai pengaruh sama sekali (=0%) terhadap variabel tidak bebas. berarti variabel tidak bebas 100% dipengaruhi oleh variabel bebas. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. 1. artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama dari seluruh variabel independen terhadap variabel dependen.Untuk menentukan nilai . Koefisien Determinasi ( ) Koefisien determinasi merupakan ukuran yang dapat dipergunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak bebas. Sebaliknya. = . menunjukkan pengurangan atas kesalahan total ketika diplot sebuah garis regresi.7.7.6 Uji Asumsi Klasik 1. = 0.4. Pengujian ini dihitung melalui SPSS For Windows 13. Bila koefisien determinasi = 0. . 2005:110). artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen. . = 0. Uji t atau Parsial Uji t digunakan untuk menguji koefisien regresi secara parsial dari variabel independennya. artinya terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.05 = 5% dengan derajat kebebasan (degree of freedom) df = (N – k) dan (k – 1) dimana N adalah jumlah observasi dan k adalah jumlah variabel.

Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual Dependent Variable: Prestasi Belajar 1.2 0.2 3. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas dilihat dari grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residualnya (SRESID).4 0.6 0.8 1.0 0. (Imam Ghozali.0 0.8 Expected Cum Prob 0.6 0.7 Uji Multikolinearitas 155 .4 0. dan sumbu X adalah residual (Y-prediksi – Y sesungguhnya) yang telah di-studentized.1 Uji Asumsi Normalitas (Normal P-Plot) 2. Uji Multikolinearitas Tabel 3.0 0. 2005: 105) Scatterplot Dependent Variable: Prestasi Belajar 3 Regression Studentized Residual 2 1 0 -1 -2 -3 -3 -2 -1 0 1 2 Regression Standardized Predicted Value Gambar 3.0 Observed Cum Prob Gambar 3. Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi.2 0.

521.603 3. Hal ini sesuai pendapat (Sardiman.8. Karakteristik individu yang mempunyai cara belajar tersebut antara lain adalah dalam cara belajar siswa membuat jadwal dan melaksanakannya.a Coefficients Model 1 Cara Belajar Penggunaan Media Pembelajaran Motivasi Collinearity Statistics Tolerance VIF . Dependent Variable: Prestasi Belajar Dari tabel 3.8. Hal ini berarti tidak terdapat asumsi multikolinearitas dalam model regresi pada penelitian ini. mengulangi bahan pelajaran.521 . 1.8. mengulangi bahan pelajaran.5. 1.382. 2004:75). Prestasi Belajar dalam Mata Pelajaran Kewirausahaan Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran. bersikap aktif pada saat pelajaran dan memiliki hasrat untuk berprestasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Slameto (2003:82) yang menyatakan bahwa kebiasaan yang mempengaruhi belajar yaitu pembuatan jadwal dan pelaksanaannya.296 2.8.1.3.3% dari 137 siswa yang berarti bahwa pada diri siswa sudah terdapat karakteristik individu yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi. Dalam pembelajaran kewirausahaan media hendaknya benar-benar diperhatikan karena selain berfungsi untuk mempermudah penjelasan materi di kelas media disini berfungsi juga sebagai alat atau bahan praktek pembelajaran di lapangan. 1. 1. yang berarti bahwa dalam mata pelajaran kewirausahaan siswa telah menggunakan media pembelajaran dengan baik. Cara Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Kewirausahaan Cara belajar siswa SMK Negeri 1 Pringapus dalam mata pelajaran kewirausahaan termasuk dalam kriteria tinggi yaitu sebesar 57. membaca dan membuat catatan. VIF untuk variabel penggunaan media belajar sebesar 2.6% dari 137 siswa. Pembahasan 1.6.8. konsentrasi. minat dan semangat untuk belajar.8.8.397 2. Peranannya yang khas adalah dalam hal menumbuhkan gairah. Penggunaan Media Pembelajaran dalam Mata Pelajaran Kewirausahaan Penggunaan media pembelajaran dalam mata pelajaran kewirausahaan termasuk dalam kriteria tinggi yaitu sebesar 65. berkonsentrasi pada saat pelajaran.603 dan VIF untuk variabel motivasi sebesar 3. Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar 156 . 1. Karakteristik individu yang mempunyai motivasi berprestasi tersebut adalah adanya minat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi kuat. konsentrasi dan senantiasa mengerjakan tugas. Pengaruh Cara Belajar terhadap Prestasi Belajar Untuk menguasai materi kewirausahaan diperlukan adanya cara belajar yang mana siswa itu harus belajar dengan sungguh-sungguh seperti membaca dan mencatat. lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru (Tu’u.6% dari 137 siswa yang berarti bahwa pada diri siswa sudah terdapat karakteristik individu yang mempunyai cara belajar yang tinggi. Motivasi dalam Mata Pelajaran Kewirausahaan Motivasi dalam mata pelajaran kewirausahaan siswa SMK Negeri 1 Pringapus termasuk dalam kriteria tinggi yaitu sebesar 56.2.384 .4.7 di atas diperoleh angka VIF yaitu kurang dari 10 yaitu untuk variabel cara belajar sebesar 2. konsentrasi dan mengerjakan tugas.382 a. 1. dan mengerjakan tugas. akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Cara belajar yang baik dapat membuat siswa lebih mudah mempelajari materi yang disampaikan dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa tersebut. mengulang bahan pelajaran agar tidak lupa. 2005:75) yang menyatakan bahwa Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. membaca dan membuat catatan untuk mempermudah belajar.

046.05. Bandung: Angkasa. 1. bersikap aktif dan memiliki hasrat untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi. Jakarta: PT.183 serta keberartian koefisien regresi uji t sebesar 2.4%). tampak aktif.012 dan signifikansi sebesar 0.7. tidak mau menyerah. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Dalam hal kelengkapan media hendaknya siswa memiliki lebih dari satu buku penunjang selain LKS dan buku paket untuk menambah wawasan kewirausahaan dan sekolah hendaknya menyediakan LCD sebagai media untuk menyampaikan materi kewirausahaan. 3. penggunaan media pembelajaran dan motivasi.8. 1.10. Penggunaan Media Pembelajaran dan Motivasi terhadap Prestasi Belajar Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa secara simultan cara belajar. 2. Prosedur dan Strategi Penelitian Kependidikan. Daftar Pustaka Abdurrohman. giat membaca buku untuk meningkatkan prestasi belajarnya.9. 2. 1.000 0. konsentrasi tertuju pada pelajaran. Saran Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa cara belajar. Rineka Cipta.3% dari 137 siswa. juga dipengaruhi oleh faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini.039 dengan probabilitas 0. Mulyono. Ali. Muhammad. berkonsentrasi. dari 137 siswa yang memiliki prestasi yang baik terdapat 80 siswa (58. dan motivasi termasuk dalam kriteria tinggi. Ada pengaruh yang signifikan antara cara belajar terhadap prestasi belajar kewirausahaan siswa kelas X SMK Negeri 1 Pringapus secara parsial dengan koefisien korelasi sebesar 0. penggunaan media pembelajaran. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapi tujuan sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesan. 1999.8. hal ini dikarenakan media berfungsi sebagai fasilitator untuk membantu menyederhanakan materi yang rumit pada saat guru menjelaskan.8.6% dan diperoleh nilai = 39. 1. Berdasarkan deskriptif cara belajar menunjukkan bahwa cara belajar siswa kelas X SMK Negeri 1 Pringapus termasuk kriteria tinggi yaitu sebesar 57. Bagi peneliti selanjutnya agar dapat melakukan penelitian serupa pada mata diklat lainnya. sehingga ditolak dan menerima yang berarti ada pengaruh yang signifikan antara cara belajar. Tingkat penggunaan media pembelajaran termasuk kriteria tinggi yaitu sebesar 65. maka saran yang dapat diajukan di dalam penelitian ini antara lain : 1.6%. 1993.11. Berdasarkan analisis deskriptif bahwa prestasi belajar kewirausahaan dalan kriteria baik.6% dan motivasi dalam mata pelajaran kewirausahaan juga termasuk kriteria tinggi yaitu sebesar 56. 157 . Di samping prestasi belajar kewirausahaan dipengaruhi oleh cara belajar. Pengaruh Motivasi terhadap Prestasi Belajar Motivasi harus didasari dari adanya minat untuk belajar. 1. penggunaan media pembelajaran dan motivasi terhadap prestasi belajar kewirausahaan siswa sebesar 45. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka simpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini antara lain : 1. Dalam mengikuti mata pelajaran kewirausahaan hendaknya siswa meningkatkan konsentrasinya ketika guru sedang menyampaikan materi dengan cara tidak berbicara sendiri di dalam kelas. penggunaan media pembelajaran dan motivasi terhadap prestasi belajar kewirausahaan.Penggunaan media sangat penting dalam proses pembelajaran terutama dalam penyampaian materi oleh guru pada siswanya. Pengaruh Cara Belajar.

kelembagaan. siswa mulai berorientasi ke masa depan untuk mencapai cita-cita dan pada saat yang sama mereka juga senang bermain di masa remajanya yang kadang mengesampingkan tugas pokoknya. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan angket/kuesioner. PENDAHULUAN 1. keterampilan. baik yang 158 . kegiatan belajar di industri.Mengapa masyarakat atau para remaja bersikap seperti itu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 17 variabel mereduksi menjadi 11 variabel yang masing-masing mengelompok menjadi 3 faktor yaitu : 1) Pribadi Siswa dan Guru yang meliputi taraf inteligensi. asumsi mereka adalah makin tinggi ijazah yang dapat diraih makin cepat dapat pekerjaan serta makin besar gaji yang diterima. kegiatan industri. Hal ini disebabkan karena pemakai tenaga kerja tidak percaya begitu saja kepada isi ijazah. yaitu belajar yang dapat bermanfaat. Lulusan S1 misalnya. dan tempat belajar. walaupun ada sejumlah kasus orang tua menolak menyekolahkan anak dengan dalih untuk membantu mencari nafkah. Pendidikan mempunyai peranan penting dalam membentuk sumber daya manusia yanng memiliki keahlian akademik dan profesionalisme untuk menghadapi kemajuan jaman. mereka lebih percaya kepada kemampuan. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas XI program keahlian administrasi perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah 79 siswa.1 Latar Belakang Menurut Tirtarahardja dan La Sulo (2005:263) “Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar dapat berperan aktif dan positif dalam hidupnya sekarang dan yang akan datang”. Hal ini sesuai dengan tujuan SMK yaitu meningkatkan kecerdasan. Dalam dunia pendidikan formal khususnya pada jenjang sekolah menengah atas. kepribadian. banyak sekali yang belum bisa bekerja. Faktor kesiapan kerja yang dominan yaitu faktor pribadi siswa dan guru. Kata kunci : Faktor-Faktor Kesiapan Kerja I. Namun kenyataan menunjukkan tidak persis seperti itu. sehingga lulusannya dapat mengembangkan kinerja apabila terjun dalam dunia kerja. keterampilan dan keahlian. dan minat. dan kepribadian para pencari kerja. 3) Kurikulum yang meliputi kurikulum. dan bakat khusus. akhlak mulia. SMK Negeri 1 Boyolali merupakan salah jalur pendidikan formal yang tidak hanya memberikan teori pada siswanya tetapi juga dengan keterampilan berupa praktik. sifat-sifat. Menurut Pidarta (2007:183) Sebagian masyarakat Indonesia sekarang sudah sadar akan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan hidup dan kehidupan. strategi mengajar. pengetahuan. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. Sekolah Menengah Kejuruan merupakan salah satu lembaga pendidikan formal di Indonesia yang bertanggungjawab untuk menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan. 2) On The Job Training meliputi dunia industri dan sekolah. Di mana-mana tampak anakanak muda mereka berebut untuk mendapatkan sekolah. Dan teknik analisa data menggunakan analisis faktor.ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESIAPAN KERJA SISWA KELAS XI PROGRAM KEAHLIAN ADMINISTRASI PERKANTORAN SMK NEGERI 1 BOYOLALI Oleh : Laela Nur Farida ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor kesiapan kerja yang dialami siswa kelas XI program keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali dan untuk menganalisis faktor-faktor kesiapan kerja yang dominan.

Adakah faktor-faktor kesiapan kerja yang dialami siswa kelas XI program keahlian administrasi perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali tahun ajaran 2009/2010? b. pengetahuan dan pengertian yang lain yang telah dipelajari. kesiapan yaitu penyesuaian kondisi seseorang dalam menghadapi suatu hal yang menjadi tujuannya. Kebutuhan-kebutuhan. 1. Seseorang dikatakan telah memiliki kesiapan ketika ia mampu menghadapi sesuatu hal dengan respon yang cepat dan tepat. dan orang berharap bahwa aktivitas kerja yang dilakukannya akan membawanya kepada suatu keadaan yang lebih memuaskan daripada keadaan sebelumnya. 1996:121). Berdasarkan pengertian di atas. Kebutuhan itu bisa bermacam-macam. LANDASAN TEORI 2.1 Kesiapan Kerja Menurut Slameto (2003:113) “kesiapan adalah keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberi respons atau jawaban di dalam cara tertentu terhadap suatu situasi”. Berdasarkan kondisi ini diketahui bahwa jumlah tamatan yang dapat tersalurkan dari tahun ke tahun mengalami penurunan dan masih ada sebagian siswa tamatan SMK Negeri 1 Boyolali yang belum memperoleh pekerjaan setelah lulus. Adakah faktor-faktor kesiapan kerja yang dominan pada siswa kelas XI program keahlian administrasi perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali tahun ajaran 2009/2010? 1. setidaknya mencakup 3 aspek : 1. berkembang dan berubah. Hal ini menunjukkan bahwa memang sebagian besar tujuan siswa masuk di SMK yaitu untuk mempersiapkan diri mereka untuk memasuki dunia kerja setelah lulus. sehingga jelas terlihat bahwa perencanaan tenaga kerja merupakan bagian integral dari perencanaan pembangunan dan sekaligus mencakup perencanaan pendidikan (Simanjuntak dalam Wena. mental dan emosional 2. motif dan tujuan 3. 159 . 62 siswa belum bekerja/tidak diketahui. diketahui bahwa mayoritas siswa memiliki latar belakang ekonomi keluarga menengah kebawah dan banyak lulusan yang bekerja dibandingkan melanjutkan studi. 14 siswa melanjutkan studi. Seseorang bekerja karena ada sesuatu yang hendak dicapainya. Dari jumlah tersebut 139 siswa dinyatakan sudah bekerja. dari data penelusuran tamatan 3 tahun terakhir diketahui bahwa jumlah tamatan sebanyak 237 siswa. bahkan seringkali tidak disadari oleh pelakunya. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di SMK Negeri 1 Boyolali. b. Oleh sebab itu perlu adanya usaha untuk mencari faktor yang dapat mempengaruhi kesiapan kerja siswa. Kesiapan diperlukan dalam menghadapi atau memecahkan suatu permasalahan saat menerima reaksi dari luar. Namun. Untuk menganalisis faktor-faktor kesiapan kerja pada siswa kelas XI program keahlian administrasi perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali tahun ajaran 2009/2010. Kondisi fisik. Proses penyiapan tenaga kerja pada dasarnya dapat dilakukan melalui jalur pendidikan formal. II. Untuk menganalisis faktor-faktor kesiapan kerja yang dominan pada siswa kelas XI program keahlian administrasi perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali tahun ajaran 2009/2010. Keterampilan.dilaksanakan di sekolah maupun di industri yang nantinya dapat membekali siswa sehingga mampu bersaing dalam menghadapi dunia kerja. Chaplin dalam Kartono (2004:540) “kerja yaitu penyelesaian suatu tugas”.2 Perumusan Masalah a. Sedangkan menurut Chaplin dalam Kartono (2004:419) “Readiness (kesiapan) adalah tingkat perkembangan dari kematangan / kedewasaan yang menguntungkan ”. jalur latihan kerja dan jalur pemantapan dalam pengalaman lapangan kerja. Menurut Anoraga (2006:11) “Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia”. 22 siswa berwirausaha.3 Tujuan penelitian a. Hal ini dikarenakan adanya faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesiapan kerja siswa.

Sekolah Menengah Kejuruan merupakan suatu lembaga pendidikan yang menerapkan konsep pendidikan sistem ganda. “Di dalam analisis faktor. Perkembangan karier remaja menurut Ginzberg dalam Sunarto dan Hartono (2008:202) ada pada periode pilihan tentatif (11-17 tahun). Sejalan dengan itu Tilaar (1991:12) dalam Muhidin (2009) menegaskan bahwa: “pendidikan formal (sekolah kejuruan) seharusnya menghasilkan lulusan yang memiliki kualifikasi siap latih yang kemudian diteruskan dengan program pelatihan. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI program keahlian administrasi perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali tahun ajaran 2009/2010 dengan jumlah 79 siswa.Pendidikan merupakan salah satu persiapan menuju suatu karier. pendidikan kejuruan pada dasarnya merupakan subsistem dari sistem pendidikan”. 3. variabel tidak dikelompokkan menjadi variabel bebas dan variabel terikat. Variabel-variabel yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan kerja siswa dapat berasal dari dalam diri siswa (internal) dan dari luar diri siswa (eksternal).3 Variabel Penelitian Pada analisis faktor. III. 2005:128). yang diambil dari teori-teori kesiapan yang dikemukakan oleh Winkel dan Sri Hastuti (2006:647) serta dikembangkan dengan teori Wena (1996:17) dalam konsep kesiapan kerja dalam penelitian ini. Hal diatas menekankan bahwa lulusan pendidikan kejuruan diharapkan memiliki nilai tambah daripada sekolah menengah umum lainnya. baik di dalam industri atau lembaga pelatihan tertentu”. Variabel-variabel yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. kegiatan belajar selain dilakukan di lingkungan sekolah juga dilakukan pada dunia kerja atau industri.2 Populasi Penelitian Populasi menurut Babbie dalam Sukardi (2008:53) adalah “elemen penelitian yang hidup dan tinggal bersama-sama dan secara teoretis menjadi target hasil penelitian”. yaitu mampu dan atau siap bekerja sesuai dengan program keahliannya. Sifat-Sifat (X5) 160 . Bakat Khusus (X3) 4. Minat (X4) 5. 3. Dalam hal ini menjelaskan hubungan antara tujuh belas (17) faktor kesiapan kerja siswa serta menganalisis relevansi antara beberapa indikator yang tercantum dalam faktor-faktor tersebut. Dalam Undang-Undang RI No 2 Tahun 1989 Pasal 11 tentang Jenis pendidikan menyebutkan bahwa : “Pendidikan Kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu”(Ihsan. 2004:113). teknik ini disebut dengan teknik interdependensi” (Supranto.2 Karakteristik Sekolah Menengah Kejuruan Menurut Muchlas Samani dalam Muhidin (2009) “secara sistemik. Terdapat banyak definisi yang diajukan oleh para ahli tentang pendidikan kejuruan dan definisi-definisi tersebut berkembang seirama dengan persepsi dan harapan masyarakat tentang peran yang harus dijalankannya. Penelitian ini merupakan penelitian populasi karena memakai seluruh subyek penelitian yang kurang dari 100 siswa. Oleh karena itu semua kegiatan pada pendidikan sistem ganda ini harus tetap mengacu pada prinsip-prinsip pendidikan kejuruan. 2. Pada pendidikan kejuruan. Nilai-nilai Kehidupan (X1) 2. sebaliknya sebagai penggantinya seluruh set hubungan interdependen antar variabel diteliti. dimana semua yang terlibat dalam kegiatan ini harus saling bekerjasama dan saling mendukung. METODOLOGI PENELITIAN 3. 2008:20). Taraf Intelegensi (X2) 3. Hal itu ditandai oleh meluasnya pengenalan anak terhadap berbagai masalah dalam memutuskan pekerjaan apa yang akan dikerjakannya di masa mendatang.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan “Metode Eksplanatif (explanative research) karena ditujukan untuk memberikan penjelasan tentang hubungan antar fenomena atau variabel” (Sukmadinata.

sehingga akan menghasilkan pengelompokan atau tepatnya abstraction dari banyak variabel menjadi hanya beberapa variabel baru atau factor IV. dokumen. nama siswa. Dunia industri dan sekolah (X14) 15. Teknik dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk mencari data jumlah siswa.5% variasi dan faktor 3 dapat menjelaskan 9.6. Pengetahuan (X6) 7. penelusuran tamatan dan hal lain yang berkaitan dengan penelitian ini. Pengajar (X16) 17. notulen rapat. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner skala Likert dimana setiap item soal disediakan lima jawaban dengan skor masing-masing sebagai berikut : 1) Jawaban SS (Sangat Setuju) = skor 5 2) Jawaban S (Setuju) = skor 4 3) Jawaban KS (Kurang Setuju) = skor 3 4) Jawaban TS (Tidak Setuju) = skor 2 5) Jawaban STS (Sangat Tidak Setuju) = skor 1 3. buku. Kelembagaan (X8) 9. Faktor-faktor yang ada akan dilihat hubungannya (interdependen antar variabel). Dokumentasi “Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis faktor dari tabel Total Variance Explained terbentuk 3 faktor. Kegiatan industri (X12) 13. Dalam penelitian ini analisis faktor digunakan untuk mengungkap faktorfaktor yang mempengaruhi kesiapan kerja siswa kelas XI program keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali Tahun Ajaran 2009/2010. presensi kehadiran siswa. transkip. Kegiatan Belajar di industri (X13) 14. Kurikulum (X9) 10.5 Teknik Analisis Data Analisis faktor digunakan untuk mereduksi data atau meringkas dari variabel yang jumlahnya sedikit. Faktor pertama dapat menjelaskan 38. nilai praktek industri. Kepentingan (X15) 16. Tempat belajar (X17) 3. 161 . yaitu kuesioner yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih dan dijawab secara langsung oleh responden. Angket/Kuesioner Angket dalam penelitian ini adalah bersifat tertutup. peraturan-peraturan. agenda dan sebagainya” (Suharsimi.16% variasi. jumlah kelas. Keadaan Jasmani (X7) 8. b. Faktor kedua dapat menjelaskan 14. 2006:158). Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data dari responden mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan kerja siswa kelas XI program keahlian administrasi perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali tahun ajaran 2009/2010. Persentase kumulatif dari eigenvalue menunjukkan bahwa faktor dominan yang mempengaruhi kesiapan kerja siswa yaitu faktor pribadi siswa dan guru sebesar 69.87%.4 Teknik Pengumpulan Data a. Strategi mengajar (X11) 12.84% variasi. Materi Pembelajaran (X10) 11.

585 4. X12.958 17. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization.658 1. Hasil analisis faktor dari 17 indikator mereduksi menjadi 11 yang mengelompok menjadi 3 faktor yang mempengaruhi kesiapan kerja siswa kelas XI program keahlian administrasi perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali tahun ajaran 2009/2010.616 .160 1. maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1.583 5.078 .160 38.082 9. V.012 .498 52.775 .071 .599 81.672 .787 2.479 44. X13.082 . Rotation converged in 6 iterations.812 .265 . X5.399 .595 14.027 .658 9.287 3 -.230 .096 . X3 dan 3) Kurikulum terdiri dari X9.723 .198 38.873 6.384 100.198 1.838 62. 2) On The Job Training terdiri dari X14.378 69. a Rotated Component Matrix X2 X5 X11 X4 X14 X13 X12 X3 X9 X8 X17 1 .002 86. X17.421 .692 1.616 2.984 5. X4.287 -. yaitu : 162 .829 97. a.374 90.256 Component 2 .828 94.092 . PENUTUP 5.496 Rotation Sums of Squared Loadings Total % of Variance Cumulative % 2.498 52.792 .550 .595 1.828 .130 . X11.213 2.616 . X8.363 21.054 .481 .085 .686 .803 62.311 .337 . masing-masing pengaruh 11 indikator terhadap kesiapan kerja siswa.111 75.750 .553 23.000 Extraction Sums of Squared Loadings Total % of Variance Cumulative % 4.213 23.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bagian sebelumnya.496 Component 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Total 4.248 .028 .095 .959 3. Berdasarkan tabel output Rotated Component Matrix faktor 1) Pribadi Siswa dan Guru terdiri dari X2.Total Variance Explained Initial Eigenvalues % of Variance Cumulative % 38.719 .160 14.496 7.291 .734 .838 62.469 .160 38.025 .679 .670 Extraction Method: Principal Component Analysis.262 Extraction Method: Principal Component Analysis.

Faktor kesiapan kerja yang paling besar pengaruhnya berasal dari internal siswa.679 0.723 Variabel Pribadi Siswa dan Guru On The Job Training Kurikulum 0.16% variasi.775 0. Bagi Sekolah a.719 0. Pihak sekolah lebih meningkatkan kerjasama yang baik dengan Dunia Usaha/Industri (DU/DI) dalam kegiatan on the job training agar kegiatan siswa di tempat praktik bisa terkontrol dengan baik. 2. c.734 0.87% 5.2 Saran Ada 11 indikator yang dapat mempengaruhi kesiapan kerja siswa. Hal ini dapat menjadi waktu yang baik bagi siswa untuk melihat dan belajar pada dunia kerja yang sesungguhnya.5% variasi dan selebihnya sebesar 37.792 0. Besarnya faktor kesiapan kerja yang dominan yaitu faktor pribadi siswa dan guru dilihat dari nilai persentase kumulatif varian sebesar 69.84% atau ketiga faktor mampu menjelaskan 62. Bagi Peneliti Selanjutnya a. b. Sekolah lebih meningkatkan kualitas pembelajaran serta memanfaatkan fasilitas belajar yang ada sehingga dapat membantu kegiatan belajar siswa. Dari hasil penelitian ini. 2. Oleh karena itu hendaknya on the job training dapat dilaksanakan siswa dengan sungguh-sungguh. sifat-sifat. Penelitian berikutnya hendaknya dapat mengembangkan tulisan ini sehingga dapat membantu berbagai pihak yang terkait dalam pendidikan menengah kejuruan terutama dalam menangani masalah kesiapan kerja siswa. b. kegiatan industri. b.5% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak masuk dalam model. 163 . faktor 3 mampu menjelaskan 9. Oleh karena itu siswa hendaknya memotivasi dirinya serta mengembangkan kemampuan yang dimiliki guna mempersiapkan diri dalam menghadapi dunia kerja. Kegiatan belajar pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dilakukan di sekolah dan dunia industri.N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 Indikator Taraf Inteligensi Sifat-sifat Strategi Mengajar Minat Dunia Industri dan Sekolah Kegiatan Belajar di Industri Kegiatan Industri Bakat Khusus Kurikulum Kelembagaan Muatan Faktor 0. kegiatan belajar di industri. 3.828 0.750 0. kelembagaan. 2) on the job training (dunia industri dan sekolah. Sekolah bisa menjadi penghubung antara siswa dengan DU/DI baik ketika siswa masih dalam masa studi maupun setelah lulus dalam rangka penyaluran tenaga kerja. bakat khusus). pengaruh 3 faktor terhadap kesiapan kerja siswa yaitu: Faktor 1 mampu menjelaskan 38. tempat belajar).616 0. diberikan saran sebagai berikut: 1. Faktor 2 mampu menjelaskan 14. Skripsi ini dapat dijadikan referensi dan acuan bagi penelitian berikutnya. dan 3) kurikulum (kurikulum.686 0. minat). Indikator tersebut membentuk 3 faktor baru yaitu : 1) pribadi siswa dan guru (taraf inteligensi.5%. Bagi Siswa a.670 Tempat Belajar Secara keseluruhan. strategi mengajar.

Sukmadinata.DAFTAR PUSTAKA Anoraga. 2008. Jakarta : Rineka Cipta. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : Rinneka Cipta. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Arikunto. Djaali. 1996. Sunarto dan Hartono. 164 . Pengantar Pendidikan. 2004. 2008. Ali. Psikologi Pendidikan. Sri Hastuti. Pendidikan Sistem Ganda. 2004. Semarang : UNNES Press. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung : Tarsito. Jakarta : Rineka Cipta. Kartini. Remaja Rosdakarya. 2008. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Undang-Undang RI No. Sumadi. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Supranto. 2006. Jakarta : PT. Tirtarahardja. Imam. Jakarta : CV. Bandung : PT. Mulyasa. 2006.J dan MM. Jakarta : Rineka Cipta. 2006. Konsep Pendidikan Kejuruan. 2005. Dasar-Dasar Kependidikan. Statistika Untuk Penelitian. Pengantar Pendidikan Sebuah Studi Awal tentang Dasar-Dasar Pendidikan Pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia. Psikologi Pendidikan. Bandung : Alfabeta. Metodologi Penelitian Pendidikan. Muhidin. Metode Penelitian Pendidikan. J. Jakarta : Rineka Cipta. Suharsimi. Sugiyono. _______ 2010. Made. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. 2006. 2008. 2001. Kartono. http://sambasalim.html. Fuad. Sukardi. Sambas. Jakarta : Rineka Cipta. Psikologi Perkembangan. Analisis Multivariat Arti dan Interpretasi. Slameto. Perkembangan Peserta Didik. 2009. Yogyakarta : Media Abadi. 2006.Raja Grafindo Persada. Agung. Kurikulum Berbasis Kompetensi. (27 Oktober 2009). Syaodih. Soeparwoto. Wena. Winkel S. Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta : PT. 2005. Bumi Aksara. 2001. Bandung : PT. 2007. Nana. Semarang : BP. Umar dan La Sulo.UNDIP. 2008.com/pendidikan/konsep-pendidikan-kejuruan. Psikologi Kerja. Ihsan. Jakarta : Grafindo Mudyahardjo. 2004. Suryabrata. Jakarta : Rineka Cipta. Jakarta : Rineka Cipta. Redja. Rosdakarya Pidarta. 2003. Made. Jakarta : Bumi Aksara Ghozali. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta. Pandji. Rajawali.

Menurut Spencer and spencer (1993) dalam buku (Sutrisno. Kompetensi pegawai yang diharapkan adalah pegawai yang mempunyai pengetahuan dan tanggung jawab dalam 165 . segala aktifitas dalam suatu instansi tidak akan berjalan optimal. perkembangan. dan moral karyawan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan atau jabatan melalui pendidikan dan pelatihan (Hasibuan. mengidentifikasi tahapan pengembangan kompetensi pegawai. teoritis. Ada dua tujuan utama program latihan dan pengembangan karyawan. instansi atau departemen. Dengan demikian upaya pengembang karyawan dirasa sangat penting manfaatnya karena tuntutan jabatan atau pekerjaan. Hasil penelitian menyatakan bahwa pengembangan kompetensi pegawai untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dilakukan melalui diklat sudah baik. latihan dan pengembangan dilakukan untuk menutup “gap” ntara kecakapan atau kemampuan karyawan dengan permintaan jabatan. dan perubahan suatu organisasi. Pertama. Oleh sebab itu kegiatan pengembangan pegawai dirancang untuk memperoleh pegawai-pegawai yang mampu berprestasi dan fleksibel untuk suatu organisasi atau instansi dalam geraknya kemasa depan (Notoadmojdo. karena tanpa pegawai yang berkualitas. segala aktifitas dalam suatu instansi tidak akan berjalan optimal. 2001: 103). program-program tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja karyawan dalam mencapai sasaran-sasaran kerja yang telah ditetapkan ( Handoko. menyebutkan bahwa kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang pegawai negeri sipil berupa : pengetahuan. mengubah sikap dan perilaku melalui diklat ESQ (Emotional Spiritual Quality) belum cukup baik. POLITIK DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT KOTA SEMARANG Sri Haryati Abstrak Peran pegawai merupakan salah satu faktor penting. 2009: 222).serta pemilihan metode pengembangan melalui off the job training. 2008: 69). konseptual.UPAYA PENGEMBANGAN KOMPETENSI PEGAWAI PADA BADAN KESATUAN BANGSA. Badan Kesatuan Bangsa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk pengembangan kompetensi pegawai untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan. Pengembangan adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis. Karakteristik dasar kompetensi berarti kemampuan adalah suatu yang kronis dan dalam bagian dari kepribadian seseorang dan dapat diramalkan perilaku di dalam suatu tugas pekerjaan. proses pendidikan dan pelatihan pada aBadan Kesatuan Bangsa. Untuk meningkatkan kinerja pegawai agar tujuan dari organisasi dapat terlaksana perlu dilakukannya upaya pengembangan pegawai. instansi atau departemen. 2009: 221) mengatakan kompetensi adalah suatu yang mendasari karakteristik dari suatu individu yang dihubungkan dengan hasil yang diperoleh dalam suatu pekerjaan. sikap perilaku yang diperlukan dalam tugas dan jabatannya (Sutrisno. sebagai akibat kemajuan teknologi dan semakin ketatnya persaingan di antara perusahaan yang sejenis. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2001 pasal 3. perkembangan. Peran pegawai merupakan salah satu faktor penting. Untuk melaksankan tugas dan fungsinya tersebut Badan Kesbangpol Dan Linmas perlu adanya pegawai yang berkompeten di bidangnya. Pengembangan pegawai dapat diartikan sebagai upaya unytuk mempersiapkan pegawai agar bergerak dan berperan dalam organisasi sesuai dengan pertumbuhan. Politik Dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang merupakan salah satu instansi pemerintah yang mempunyai tugas memantau situasi daerah dan menerbitkan surat perijinan pelaksanaan kegiatan di Kota Semarang. Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang. karena tanpa pegawai yang berkualitas. Dari uraian diatas kompetensi dapat diartikan sebagai kemampuan dan karakteristik yang merupakan bagian dari kepribadian seseorang serta perilaku yang diperlukan dalam menyelesaikan berbagai tugas pekerjaan. Kedua. 1998: 97). Pengembangan pegawai dapat diartikan sebagai upaya untuk mempersiapkan pegawai agar bergerak dan berperan dalam organisasi sesuai dengan pertumbuhan. PENDAHULUAN Latar Belakang Dalam menjalankan kegiatan operasional suatu instansi ada beberapa faktor yang mendukung untuk tercapainya kinerja yang baik. sikap dan perilaku. dan perubahan suatu organisasi.

pemecahan masalah. yaitu : 1) Tahap idientifikasi 2) Tahap perencanaan 3) Penyelenggaraan 4) Evaluasi Tahap-tahap pendidikan dan pelatihan pada Badan Kesbangpol dan Linmas Kota Semarang sudah baik. hal ini dikarenakan anggaran dana yang tersedia dan pelaksanannya hanya terbatas melalui diklat yang bekerja sama dengan badan diklat yang dimiliki oleh pemerintah. Politik Dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang ( Badan Kesbangpol dan Linmas Kota Semarang). ataupun perubahan sikap dan perilaku. Pengembangan kompetensi untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan Pada badan kesbangpol dan linmas kota semarang dari segi peningkatan pengetahuan dan ketrampilan sudah baik Hal ini dapat dilihat dari beberapa program-program diklat yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi. Diklat yang dilaksanakan meliputi pendidikan dan pelatihan dalam jabatan serta pendidikan dan pelatihan teknis atau fungsional. Konsep tersebut sesuai degan pengertian pelatihan menurut ( (Simamora. dapat dilakukakan melalui tahap-tahap pendidikan dan pelatihan dibagi menjadi 4 tahap. a.. Hal ini terjadi dikarenakan anggaran dana yang terbatas. Indikator tersebut menjadi faktor penghambat kelancaran proses pelatihan dan pengembangan yang diikuti peserta. Akan tetapi waktu penyelenggaraan terlalu sempit dan singkat. Sehingga manfaat yang diperoleh dapat lebih maksimal c. tetapi untuk pelatihan dan pengembangan itu sendiri belum dilaksanakan dengan maksimal. 2009: 66) yaitu dalam konteks SDM pengembangan dipandang sebagai peningkatan kualitas SDM melalui program-program pelatihan. kerja sama. yaitu pengetahuan. peserta kurang antusias dalam mengikuti pelatihan dan kurang cakapnya instruktur pelatih.menyelesaikan tugasnya secara efektif dan efisien. 2009: 223-224). pengalaman. Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang cukup baik yaitu untuk meningkatkan pengetahuan. dan lain-lain. 2003: 178) yaitu 166 . pengetahuan. b. Tahap-tahap pengembangan kompetensi pegawai Pengembangan kompetensi pegawai pada badan kesbangpol dan linmas kota semarang. Konsep tersebut memiliki kesamaan dengan teori (Sutrisno. Penyelenggaraan pengembangan kompetensi pegawai merupakan tugas pokok yang harus dilaksanakan oleh Badan Kesatuan Bangsa. menyebutkan bahwa kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang pegawai negeri sipil berupa : pengetahuan. Waktu penyelenggaraan diklat antara 4 hari. sikap dan minat. pendidikan. karena sesuai dengan teori Barnardin dan Russel dalam buku (Sulistyani. 2009: 222). Akan lebih efektif bila pelaksanaan pengembangan kompetensi pegawai yang dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan tidak hanya bekerja sama dengan badan-badan diklat pemerintah melainkan juga bekerjasama dengan badan diklat yang dikelola swasta dan dilaksanakan dengan jangka waktu lebih lama. pemahaman. Dengan adanya upaya pengembangan kompetensi pegawai diharapkan akan terwujud produktifitas yang tinggi. ISI 1. kemampuan. Namun masih ada kekurangnnya karena pelatihan ini dilakukan minimal 1 tahun sekali dan dilaksanakan dalam 1 hari. dapat dicapai. keterampilan dan sikap perilaku. Hendaknya benar-benar direncanakan dengan terpirinci anggaran dana yang ada agar pelaksanaan diklat tersebut tidak hanya satu hari saja. kemampuan dalam bersikap. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2001 pasal 3. Diklat tersebut sudah mencakup pendidikan dan pelatihan bagi para pegawai. sikap perilaku yang diperlukan dalam tugas dan jabatannya (Sutrisno. Pengembangan kompetensi pegawai sikap dan perilaku Pengembangan kompetensi pegawai sikap dan perilaku pada badan kesatuan bangsa politik dan perlindungan masyarakat kota semarang cukup baik. Hal ini dikarenakan tingkat pendidikan. Sehingga konsep kompetensi menurut Gordon (1988) dalam buku (Sutrisno. Hal ini dapat dilihat dari adanya pelaksanakan diklat ESQ (Emotional Spiritual Quality) yang dilakukan untuk merubah sikap perilaku sehingga dapat meningkatkan mental spiritual aparatur pemerintah. nilai. Hal tersebut sangat ditentukan oleh kemampuan pegawai yang mencakup beberapa aspek antara lain pengetahuan. 1987: 287) yaitu pelatihan adalah serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan keahlian-keahlian. 1 minggu atau 1 bulan. Pengembangan Kompetensi Pegawai Pengembangan kompetensi pegawai pada Badan Kesatuan Bangsa.

Namun metode tersebut kurang bervariasi. Mengurangi waktu belajar yang diperlukan karyawan agar mencapai standar-standar kinerja yang dapat diterima. dan methods) dimasukkan dalam input. Manfaat Pengembangan Kompetensi Pegawai Manfaat yang diperoleh dari program pengembangan yang diperoleh Badan Kesbangpol dan Linmas Kota Semarang sudah baik. sikap moral serta menciptakan visi. Hal ini dikarenakan kompetensi jabatan idientik dengan seorang pimpinan yang harus mampu mengatur bawahannya . 2. dimana hal tersebut dapat mengakibatkan kejenuhan dari para pegawai yang mengikuti program pengembangan kompetensi pegawai. dimana tujuan pengembangan pegawai difokuskan untuk memperbaiki kinerja pegawai. ketrampilan. yaitu menggunakan metode off the job trainning meliputi : studi kasus. Di dalam manajemen sumber daya ( 4M yaitu man. Kemampuan pegawai dalam memimpin karyawan lain maupun dalam maelaksanakan tugasnya dapat terlaksana secara efektif dan efisien. karena sesuai dengan teori (Simamora. memantapkan sikap pengabdian dalam melaksanakan tugas pemerintah. dimana manfaat pengembangan yang diperoleh Badan Kesbangpol dan linmas kota semarang antara lain Meningkatkan kuantitas dan kualitas produktivitas. pengembangan program pelatihan. proses dan output . kuliah dan role playing. Tenaga pengajar yaitu pengajar widyaiswara dari diklat yang sudah menjalani Trainning of trainer yang berasal dari depdagri disesuaikan dengan kebutuhan yang dibutukan. Menciptakan sikap loyalitas. Memenuhi persyaratan-persyaratan perencanaan sumber daya manusia. 167 . Metode Pengembangan Kompetensi Pegawai Metode pada Badan Kesbangpol dan Linmas Kota Semarang untuk meningkatkan pengembangan kompetensi pegawai yang dimiliki menggunakan berbagai metode. 3. 2003:32) yaitu kurikulum itu merupakan faktor tersendiri yang sangat besar pengaruhnya terhadap proses pendidikan dan pelatihan. Semua pembelajaran yang telah diperoleh dalam diklat akan dipraktekkan dan dibuat hasil laporan dalam bentuk makalah.dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan organisasi. Tujuan pengembangan memiliki kesamaan dengan teori yang diungkapkan oleh Henry Simamora dalam buku (Sulistyani. Seharusnya metode pengembangan kompetensi tidak hanya dilakukan melalui off the job trainning saja akan tetapi juga melalui metode on the job trainning. Metode-metode pengembangan kompetensi pegawai yang dilaksanakan oleh badan kesbangpol dan linmas kota semarang sudah cukup baik. 2001: 113-116). 2003: 176). mengurangi waktu belajar bagi karyawan baru supaya menjadi kompeten dalam pegawai. Proses pendidikan dan pelatihan yang ada sudah sesuai dengan teori (Notoatmodjo. Tujuan Pengembangan Kompetensi Pegawai Tujuan pengembangan kompetensi pegawai yang dilakukan oleh Badan Kesbangpol dan Linmas Kota Semarang sudah baik. hasil kerja yang diberikan pada bawahan. materiil. input. evaluasi program pelatihan. dengan demikian program pengembangan akan lebih menarik karena lebih bervariasi. Membantu karyawan dalam peningkatan dan pengembangan pribadi mereka. Akan tetapi pada tahap-tahap yang dilakukan oleh Badan Kesbangpol dan Linmas Kota Semarang lebih terinci dan jelas dikarenakan tidak digabungkannya tahap perencanaan dan penyelenggaraan dalam satu tahap pengembangan program pelatihan yang dikemukakan oleh Barnardin dan Russel dalam buku (Sulistyani. Proses pendidikan dan pelatihan Proses pendidikan dan pelatihan yang dilakukan sudah baik karena setiap diklat yang dilakukkan dalam pemberian kurikulum disesuikan dengan jabatan yang bersangkutan ditambah dengan kurikulum yang bersifat kepemimpinan. Dengan memperhatikan kurikulum yang dipakai diharapkan output yang diperoleh dari proses diklat akan lebih maksimal.yaitu bagaimana seni memimpinnya. 1987: 290). dan kerjasama yang lebih menguntungkan.penilaian kebutuhan pelatihan. Sedangkan pada Badan Kesbangpol dan Linmas Kota Semaranng tujuan pelaksanaan pengembangan kompetensi pegawai dititik beratkan kepada para pegawai dimana pengembangan yang dilakukan untuk menciptakan aparatur yang memiliki pengetahuan. maney. sehingga hanya ada 3 unsur yakni. memutakhirkan keahlian karyawan sejalan dengan kemampuan teknologi. 4. dimana metodemetode yang digunakan sesuai dengan beberapa konsep (Handoko. Dengan tujuan pengembangan kompetensi pegawai yang ditik beratkan pada para pegawai diharapkan kompetensi jabatan dapat dicapai dengan demikian karier jabatanpun akan meningkat. 2003: 178) d.

b. Diklat tersebut meliputi pelatihan dan pendidikan yang diberikan kepada pegawai untuk memenuhi kompetensi yang dibutuhkan. oleh karena itu tiap-tiap instansi atau organisasi yang akan melaksanakan pengembangan kompetansi pegawai harus memperhatikan kendala yang dihadapi. akan berpengaruh pada kemampuan personel dalam mengambil keputusan dan cara mengambil sikap dalam menghadapi permasalahan tugas. 5. PENUTUP Berdasarkan uraian mengenai upaya pengembangan kompetensi pegawai pada Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang. Adapun pendidikan dan pelatihan yang dilakukan. Diklat tersebut dilakukan setiap adanya pergantian jabatan. Sedangkan kendala dari segi kebijakan pengembangan. Upaya pengembangan kompetensi pegawai untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dilakukan melalui diklat sudah baik. Pada pelaksanaan pengembangan kendala-kendala memang selalu terjadi yang mungkin akan menghambat jalannya pelaksanaan pengembangan. anggaran dan seleksi peserta diklat. maupun untuk memenuhi kompetensi teknis/ fungsional. yang meliputi : studi kasus. Hal ini dikarenakan program tersebut hanya dilaksanakan pada 1 hari saja dan tidak adanya monitoring setelahnya untuk mengetahui perkembangan pegawai setelah pelatihan. 2008: 85-86). 168 . sehingga pelaksanaan pengembangan kompetensi pegawai lebih efektif.Diharapkan dengan adanya program diklat dapat memperlancar tugas-tugas unit kerja dalam melaksanakan tugas pemeintah karena dengan profesionalisme yang dia peroleh selama pendidikan kilat. Pelaksanaan pengembangan kompetensi untuk mengubah sikap dan perilaku melalui diklat ESQ (Emotional Spiritual Quality) belum cukup baik. d. c. yaitu diklat struktural dan diklat fungsional. kuliah dan role playing sudah cukup baik. maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : a. yaitu kendala datang dari para peserta. Kendala yang berasal dari peserta hendaknya pimpinan mampu menumbuhkan kesadaran diri pada para pegawai agar lebih memahami makana pentingnya program-program diklat yang diselenggarakan. Kendala Pengembangan Kompetensi Pegawai Kendala pelaksanaan pengembangan kompetensi pegawai yang dihadapi oleh badan kesbangpol dan linmas kota semarang sama dengan beberapa kendala yang diungkapkan dalam teori (Hasibuan. hendaknya lebih memperhatikan waktu penyelenggaraan diklat. Kendala yang dari segi pelatih yang ada hendaknya benar-benar dilakukan seleksi agar pelatih tersebut mampu menyampaikan materi-materi diklat dengan baik. dalam jabatan. pelatih atau instruktur dan kebijakan pengembangan. Kendala-kendala yang dihadapi badan Kesbangpol dan Linmas Kota Semarang yaitu aspek sumber daya manusia yaitu peserta dan pelatih/ widyaiswara. Sehingga peserta mampu memahami dan mempraktekkan materi tersebut. agar kelak kendala tersebut dapat dihilangkan atau paling tidak dikurangi. Metode yang digunakan dalam program pengembangan kompetensi pegawai melalui off the job trainning.

2003. Pengembangan Sumber Daya Manusia. 1987. Hasibuan. Ambar Teguh dan Rosidah. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Soekidjo. 2003. Soekidjo. ManajemenSumber Daya Manusia. Manajemen Sumber Daya Manusia. 2001. Yogyakarta: Bagian Penerbitan STIE YKPN. Manajemen Sumber Daya Manusia. 1998. Sutrisno.SP. Edy.Hani. Simamora. Jakarta : Kencana. 2009. Yogyakarta: Amara Books. Henry. Malayu.DAFTAR PUSTAKA Handoko. Jakarta: Rieneka Cipta. Yogyakarta : Graha Ilmu. T. Notoatmodjo. Sulistyani. Jakarta: Rieneka Cipta. 169 . 2008. Manajemen Personalia dan Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara. Notoatmodjo. Manajemen Sumber Daya Manusia.

dan penataan pembiayaan. penataan penyelenggaraan penyuluh. dapat ditegaskan bahwa salah satu hal yang menghambat rendahnya produktivitas hasil pertanian dan kendala rendahnya pendapatan petani adalah lemahnya kelembagaan pertanian. menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang terkoordinasi. khususnya untuk memasuki ekonomi modern saat ini.MANAJEMEN ADMINISTRASI INFORMASI PERTANIAN BERBASIS IT DI PROVINSI JAWA TENGAH Oleh Sucihatiningsih DWP12) Himawan Arif S. serta social network yang kurang mendukung. Permasalahan ketenagaan yang meliputi penyebaran tenaga penyuluh pertanian masih bias kepada sub sektor pangan. menciptakan mekanisme kerja penyuluhan yang efektif dan efisien. Qualitative descriptive analysis was used to analyze the data. Untuk membangkitkan kembali penyuluhan pertanian. Pemuda 4A Semarang. Seiring dengan rendahnya kapasitas pengetahuan petani dalam memuliakan pertaniannya (Mudjijo. Namun demikian sejak diberlakukannya UU No. 22 Tahun 1999 tentang otonomi Daerah. 1999). ketika sektor-sektor lain ambruk. diharapkan peran penyuluh pertanian mampu hadir untuk membangun sistem kelembagaan pertanian yang masih lemah itu. penataan sarana dan prasarana. Fokus revitalisasi pertanian meliputi. email: dianwisika@yahoo. Jl. kondisi penyuluhan pertanian terus mengalami keterpurukan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk pengembangan network tersebut adalah melalui strategi pendekatan kelembagaan.com 170 .13) Abstract This research aims to design IT-based agricultural information management. Tujuan dari revitalisasi pertanian adalah menata kelembagaan di propinsi. penataan kelembagaan penyuluhan. Email: himawanmiesp@gmail. There are 30 people key person who understands and relates to agriculture is taken as a sample with a multistage sampling. Dalam rangka memberdayakan penyuluh pertanian. dan tidak mampunyai kelembagaan pendukung dalam memberi jalan keluar untuk mengatasi perihal hambatan dan kendala dalam meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. yang dibuktikan dengan daya hidupnya yang tinggi. Pendahuluan Menurut Syahyuti. literature studies and FGD (Focus Group Discussion). Ciri khas usaha pada sektor pertanian adalah melibatkan begitu banyak orang dengan pemilikan sumber daya dan keterampilan yang rendah. menyediakan tenaga penyuluh yang kompeten dan professional. yang selama ini tampaknya belum mendapat penanganan yang memadai. setiap era pemerintahan di Indonesia selalu berupaya untuk meningkatkan kualitas kinerja penyuluh pertanian. (2003) sektor pertanian sesungguhnya dapat menjadi salah satu strategi untuk recovery sekaligus memberikan landasaan bagi perkembangan sektor riil dari krisis ekonomi yang dialami Indonesia semenjak tahun 1997.com STIE Bank BPD Jateng. et al. menyelenggarakan dukungan biaya peyeleggaraan penyuluhan di daerah. Dari paparan Syahyuti di atas. Era tahun 1980-an penyuluh dianggap berhasil menghantarkan bangsa Indonesia dari Negara pengimpor beras terbesar menjadi negara swasembada beras. terintegrasi dan sinergik antara pusat dan daerah. penataan ketenagaan penyuluh. kabupaten/ kota dan kecamatan. This research conducted in Central Java provinceResearch data collection is done with in-depth interviews. banyak terjadi alih status penyuluh pertanian dari Jabatan fugsional ke 12 13 FE Unnes Semarang. The results showed that the management of IT-based agricultural information is very beneficial to farmers in order to increase welfare 1. Departemen Pertanian telah mencanangkan program Revitalisasi Penyuluhan pertanian tertanggal 3 Desember 2005 di Banyuasin Sumatera Selatan.

usia penyuluh sebagian besar diatas 50 tahun. Salah satunya dengan membangun system yang dapat memberikan informasi yang cepat dan tepat kepada petani sehingga diharapakan usahataninya dapat berkembang dengan baik. yang telah dilakukan oleh pemerintah adalah sebagai berikut : Penataan kelembagaan penyuluhan. kenaikan pangkat sering terhambat. Batas yurisdiksi berarti hak hukum atas (batas 171 . Penyelenggaraan penyuluhan pertanian belum dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip penyuluhan partisipatif. Menurut Akhmadi (2004). penempatan dan penugasan penyuluh pertanian tidak sesuai dengan tugas dan fungsinya. Permasalahan penyelenggaraan meliputi penyusunan program penyuluhan pertanian belum sesuai dengan kebutuhan lapangan. memfasilitasi pembentukan organisasi profesi penyuluh pertanian. dan memfasilitasi pembetukan pos penyuluhan di tingkat desa Keberadaan ragam kelembagaan pertanian dalam memompa denyut nadi kebangkitan pertanian nasional. Kelembagaan ini memfasilitasi pembentukan badan pelaksanan penyuluhan pertanian. transportasi. sudah saatnya dihadirkan (Alihamsyah et al. penyuluh pertanian lapangan dan beberapa lembaga yang kehadirannya fungsional dalam meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. (2) hak kepemilikan (property right).jabatan struktural. Sejalan dengan itu. sejak tahun 2001 dilimpahkan kepada pemerintah daerah agar daerah mampu meningkatkan kinerja penyuluh pertanian. teknologi pertanian.(2000).2006). antara eksekutif dan legislatif terhadap arti penting dan peran penyuluhan pertanian. 19/1999. otoritas penyuluhan pertanian juga telah didelegasikan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah tingkat kabupaten. lembaga studi pertanian. dan lain-lain. tidak lepas dengan kehadiran ragam kelembagaan pertanian. Permasalahan pembiayaan yang timbul adalah alokasi anggaran penyuluhan pertanian di daerah masih sangat terbatas. lembaga pemetaan wilayah. dan (3) aturan representasi (rule of represen-tation). 2. informasi dan komunikasi. pemasaran. peningkatan kompetensi penyuluh pertanian sangat jarang dilakukan. penyuluh pertanian swakarsa dan swasta belum berkembang dengan baik. Kegiatan penyuluhan pertanian masih bersifat parsial dan belum didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Dengan adanya permasalahan tersebut. Cirri-ciri tersebut yaitu: (1) batas yurisdiksi (yurisdiction of boundary). penyelenggaraan penyuluhan pertanian masih berorietasi proyek. yang telah dilakukan adalah pembentukan kelembagaan penyuluhan pertanian di tingkat pusat. Dalam tahun 2006 sampai dengan 2007. Kinerja dan aktivitas penyuluhan pertanian yang menurun antara lain disebabkan oleh perbedaan persepsi antara pemerintah pusat dan daerah. memfasilitasi pembetukan BPP di tingkat kecamatan. Keterbatasan anggaran untuk penyuluhan pertanian dari pemerintah daerah. Oleh karena itu diperlukan peningkatan peran kelembagaan pertanian. Namun sampai saat ini sebagian besar penelitian ahli kelembagaan pertanian menyimpulkan bahwa peranan lembaga pertanian nasional relatif masih lemah. Kecenderungan umum menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah daerah beberapa tahun terakhir kurang pro terhadap kegiatan terkait penyuluhan pertanian sehingga kinerja penyuluhan pertanian menurun. Kelembagaan yang konsen di bidang saprodi. era pemerintahan SBY lebih memberdayakan penyuluh pertanian melalui program Revitalisasi Penyuluh Pertanian yang fokus pada permasalahan tersebut diatas. dalam rangka revitalisasi penyuluh pertanian. ketersediaan materi informasi terbatas. memfasilitasi pembentukan badan koordinasi penyuluhan pertanian. rekruitmen dan pembinaan karir penyuluh pertanian belum berpedoman pada SK Menkowasbangpan No. penurunan kapasitas dan kemampuan managerial dari penyuluh serta penyuluh pertanian kurang aktif untuk mengunjungi petani dan kelompoknya. irigasi. kontribusi dana dari petani dan swasta relative masih kecil. Materi dan Metode Pakpahan (1989) mengemukakan suatu kelembagaan dicirikan oleh 3 hal utama. Ananto et al (2000). agribisnis. karena kurang berfungsinya sistem penilaian angka kredit. permodalan. kewenangan di bidang penyuluhan pertanian. Pranaji et al. perikanan dan kehutanan serta sekretariat bakor di tingkat propinsi. sesuai dengan otonomi daerah. kunjungan lebih banyak dikaitkan dengan proyek (Subedjo. dibeberapa daerah pengukuhan kembali penyuluh pertanian sebagai pejabatan fungsional belum dilakukan. (2000).

menentukan siapa yang termasuk kita dan siapa yang termasuk mereka. skala ekonomi menunjuk suatu situasi dimana ongkos per-satuan terus menurun apabila output ditingkatkan. Hal ini erat kaitannya dengan konsep jarak sosial yang akan menentukan kadar komitmen yang dimiliki oleh suatu masyarakat terhadap suatu kebijakasanaan. Homogenitas. Skala ekonomi. Batas yuridiksi menentukan siapa dan apa yang tercakup dalam kelembagaan masyarakat. mengubah. (4) bak-hak istimewa. homogenitas. adat dan tradisi. situasi atau kondisi. (5) kewajiban.(2) ongkos atau biaya (3) informasi. atau konsensus yang mengatur hubungan antar anggota masyarakat dalam hal kepentingannya terhadap sumberdaya (Pakpahan.dan (4) skala ekonomi (Pakpahan.menelaah permasalahan batas yurisdiksi. mentransfomasi atau bahkan menghancurkan suatu aset. konsep skala ekonomi ini memegang peranan penting dalam . Homogenitas preferensi dan distribusi individu masyarakat yang memiliki preferensi yang berbeda akan mempengaruhi jawaban atas pertanyaan siapa yang memutuskan. OIeh karena itu. dan (b) hak seperti dicerminkan oleh kepemilikan adalah sumber kekuatan untuk akses dan kontrol terhadap hak miliknya. Perasaan sebagai satu masyarakat. Konsep batas yurisdiksi dapat berarti batas wilayah kekuasaan dan atau batas otoritas yang dimiliki oleh suatu kelembagaan. 1990). yang di dalam terminologi Karl Mark adalah “labour”. (2) ekstemalitas. Hak kepemilikan juga merupakan sumber konsep. Dalam kaitannya dengan hal ini permasalahannya menjadi preferensi siapa yang memutuskan. Konsep property atau pemilikan sendiri muncul dari konsep hak (right) dan kewajiban (obligations) yang diatur oleh hukum. Konsep ini penting dalam menentukan batas yurisdiski untuk merefleksikan kebutuhan masyarakat. Dalam pengertian ekonomi. dipandang sebagai karakteristik inheren yang dimiliki oleh beberapa komoditas. administrasi (regulasi) dan hibah. satuan analisis dalam mempelajari institusi adalah transaksi mencakup transaksi melalui mekanisme pasar. Hak milik dalam pengertian inilah yang oleh Adam Smith disinyalir “cenderung dipertukarkankan”. tidak seorangpun yang dapat menyatakan hak milik tanpa pengesahan dari masyarakat dimana dia berada. eksternalitas. yaitu (1) hak untuk menggunakan. (2) hak untuk memperoleh penghasilan dan suatu aset. Perhitungan siapa memperoleh apa dan berapa banyak ditentukan oleh batas yurisdiksi karena batas inilah yang menentukan apakah sesuatu itu internal atau eksternal bagi pihak-pihak yang bertransaksi. Tidak seorangpun yang dapat menyatakan hak milik tanpa pengesahan dari masyarakat di mana dia berada. Sumber daya fundamental yang dimiliki setiap orang adalah apa yang melekat pada dirinya. 1990). Implikasi dari hal ini adalah: (a) hak seseorang adalah kewajiban orang lain. termasuk hak untuk memperoleh 172 . Hak tersebut dapat diperoleh melalui berbagai cara seperti melalui pembelian apabila barang danjasa yang dimaksud boleh dijualbelikan. maka isu batas yurisdiksi menjadi penting dalam merefleksikan preferensi konsumer dalam aturan pengambilan keputusan. 1990:33). Penentuan siapa dan apa yang tercakup dalam suatu organisasi atau masyarakat ditentukan oleh batas yurisdiksi. Batas yurisdiksi yang sesuai akan menghasilkan ongkos persatuan yang lebih. Setiap transaksi selalu terjadi transfer sesuatu yang dapat berupa: (1) manfaat. dan tradisi. melalui pemberian hadiah dan melalui pengaturan administrasi seperti halnya pemerintah memberikan subsidi terhadap sekelompok masyarakat. homogenitas preferensi dan kepekaan politik ekonomi terhadap perbedaan preferensi merupakan hal yang penting dalam menentukan batas yurisdiksi. Apabila barang dan jasa yang harus dikonsumsi secara kolektif. ditentukan oleh empat hal. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi performa apabila terjadi perubahan batas yurisdiksi antara lain: (1) perasaan sebagai satu kelompok (masyarakat). Perubahan batas yurisdiksi akan menghasilkan performance yang diinginkan. (3) homogenitas. atau konsesus yang mengatur hubungan antar anggota masyarakat dalam hal kepentingannya terhadap sumberdaya. Dalam bentuk lainnya property rights merupakan produk dari tradisi atau adat kebiasaan dalam suatu masyarakat. Skala ekonomi. Konsep ini muncul dari hak dan kewajiban yang didefinisikan atau diatur oleh hukum. rendah dibanding dengan alternatif batas yurisdiksi yang lainnya. Dalam bentuk formal property rights merupakan produk dari sistem hukum formal. adat. dan skala ekonomi (economic of scale). Menurut Eggertsson (1990:34) ada tiga kategori hak milik. Hak milik adalah hak individu untuk menggunakan sumberdaya (Eggertsson. karena skala ekonomi merupakan sumber interdependensi. dan lainnya. atau mengandung makna kedua-duanya. Perubahan batas yurisdiksi akan merubah struktur eksternalitas yang pada akhirnya merubah siapa yang menanggung apa. Eksternalitas.wilayah kekuasaan) atau (batas otoritas) yang dimiliki oleh suatu lembaga. yaitu: perasaan sebagai satu masyarakat (sense of community).

akan menentukan apakah keputusan akan dihasilkan efisien atau tidak. Aturan representasi (rule of representation) mengatur permasalahan siapa yang berhak berpartisipasi terhadap apa dalam proses pengambilan keputusan. 1990:33). Disamping hak. Jiwa analisis institusi adalah interdependensi antar partisipan terhadap sesuatu. Metode pemberian otoritas kepada individu tertentu untuk memilih cara menggunakan hak miliknya disebut sebagai sistem of property (Eggertsson. aturan representasi mempengaruhi ongkos membuat keputusan. penggunaan. iuran untuk desa atau adat. Dipandang dari segi ekonomi. bisa pula melalui mekanisme transaksi kontra kekuatan untuk akses dan kontrol terhadap sumberdaya. Hak kepemilikan atas lahan (land right) pada kelembagaan adat setempat yang berkaitan dengan lahan dapat dilihat pada hak masyarakat baik secara kelompok (comunal) maupun secara individu (private) dalam pengaturan. Setiap bentuk aturan representasi harus berhadapan dengan tiga jenis biaya. dukungan anggota pada pimpinan dan mengurangi tekanan internal serta biaya transaksi yang pada akhirnya akan meningkatkan performa organisasi. Jenis keputusan apa yang dihasilkan oleh masyarakat juga ditentukan oleh aturan representasi dari kepentingan rnasyarakat. Oleh karena itu. juga ada kewajiban-kewajiban berupa pembayaran pajak. Disamping itu masih ada biaya eksternal yang ditanggung oleh seseorang atau sebuah lembaga sebagai akibat keputusan orang lain atau lembaga lain. termasuk lembaga penyuluh pertanian. Keputusan apa yang diambil dan apa akibatnya terhadap performa akan ditentukan oleh kaidah representasi yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan. perlu dicari suatu mekanisme representasi yang efisien sehingga dapat menurunkan ongkos transaksi. Lembaga penyuluh pertanian perlu mengantisipasi program-program yang akan diterapkan kepada pihak petani dalam usahatani dengan lebih sensitif kepada aspek sosial budaya. Partisipasi dalam suatu organisasi ditentukan oleh keputusan politik organisasi. Analisis deskritif kualitatif digunakan untuk menganalisis data. Sebanyak 30 penyuluh pertanian diambil sebagai sampel dengan multistage sampling. sehingga hak milik yan non eksklusif (nonexlusive property) dan barang publik (public goods) yang mempunyai dua ciri menonjol. Bagaimana partisipasi terbentuk ditentukan oleh aturan representasi partisipan yang terlibat. Konteks tersebut yaitu berkaitan dengan kondisi sosial maupun budaya dari masyarakat setempat. dan pemeliharaan sumberdaya lahan. Tubbs (1984) dan Hanel (1989) menyatakan bahwa pengambilan keputusan atas dasar group process akan meningkatkan loyalitas. kondisi atau situasi dengan menggunakan transaksi sebagai aktivitas ekonomi. studi literature dan FGD (Focus Group Discussion). Hak milik esklusif terwujud bila untuk menguasainya perlu menyingkirkan orang lain. 1992). serta gotong royong yang dikaitkan dengan kepemilikan atas sumberdaya lahan tersebut. Aturan representasi menentukan alokasi dan distribusi sumberdaya.upah atas tenaga kerja yang diberikan individu dalam aktivitas ekonomi. Hak milik bisa bersifat ekslusif bisa pula non eksklusif. Ongkos transaksi yang tinggi dapat menyebabkan output tidak bernilai untuk diproduksi. Dalam hal itu. Pembagunan akan berhasil atau tidak dapat ditentukan karena kedua aspek tadi. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan wawancara mendalam. Hak esklusif ini dapat dipertukarkan melalui mekanisme trasaksi otonom (pasar). ownership menunjuk pada sifat dan kwalitas penguasaan atas suatu property rights. Biaya representasi yang tinggi baik dalam artian nilai uang atau bukan uang. (2) Biaya informasi (sosialisasi) dan (3) Biaya pengamanan atau monitoring. Mclean (1982) menyebut sebaai barang prifat (private goods). yaitu: (1) Biaya pengambilan keputusan (policing cost atau lobying cost atau (contract cost atau negoisasi) sebagai partisipasi. yaitu nonrivairy dan nonexciudable ( Mclean. Dari laporan- 173 . 3. kerja-sama. Pembahasan Pembangunan sumber daya manusia melalui suatu kelembagaan perlu memahami konteks masyarakat yang akan dibangun. motivasi. dan (3) hak untuk menjual aset. maka dari itu perspektif sosial dan budaya dalam hal ini perlu menjadi fokus utama dalam penerapan suatu program dari lembaga.

balai penelitian ini sangat penting karena akan dapat dijadikan pula oleh dinas pemerintah (dinas pertanian) sebagai acuan dalam pemberian kebijakan kepada para petani seperti kebijakan dalam hal fasilitas ataupun yang lainnya. rencana penerapan model IT ini jika dianalisis akan bisa berhasil karena melihat pada kondisi sosial budaya masyarakat petani (di Grobogan. Selain mengakses kepada para pedagang tadi. pihak yang terkait lainnya adalah pihak penyuluh pertanian atau dinas pertanian. ibu mempunyai peran sendiri dan anak-anak mempunyai peran sendiri. Yaitu dengan meminta bantuan dari anak-anaknya yang sudah paham akan teknologi. program ini sekiranya menjadi suatu kekhawatiran yang lebih. Dalam hubungan melalui IT ini akan mempermudah juga bagi para penyuluh pertanian serta hubungannya dengan masalah-masalah yang dihadapi para petani. karena hal ini dapat diantisipasi dari pihak keluarga sebagai keseluruhan sistem perekonomian. artinya pengelolaan ekonomi dilakukan secara bersama-sama antara angoota keluarga satu dengan yang lain. Penjelasan mengenai model yang bisa diterapkan dalam kelembagaan penyuluh pertanian kepada petani dapat dilihat dalam gambar di bawah ini: 174 . pihak penyuluh pertanian tentunya akan melakukan program pelatihan terlebih dahulu kepada petani agar mampu mengoprasikan teknologi IT ini. melalui kelompok tani sebagai media penyampai pesan kepada pihak penyuluh pertanian akan dipertemukan dalam wadah yang akan mengatasi masalah mereka. permasalahan petani akan dibahas dan dicarikan solusinya. akan tetapi dalam kasus tertentu peran ini bisa diputar aruskan menjadi peran yang fleksibel. Fasilitas ini sangat penting bagi para petani dalam rangka spekulasi penjualan hasil panen yang terkadang “terperosok” oleh para tengkulak. Jika tidak. diharapkan petani mampu mengakses segala keperluannya dalam meningkatkan usahataninya. Dengan bantuan teknologi informasi ini. Selebihnya. dan bagaimana bagi petani yang sudah tua. Seperti contoh. Maka dari itu. perekonomian pertanian adalah bentuk perekonomian keluarga. penyuluh atau pihak pemerintah dan kelompok petani itu sendiri. Oleh karena itu. bisa meminta arahan atau bantuan dari petani yang lain. Ayah memiliki peran sendiri. kebanyakan petani sudah mencapai taraf pengetauan akan informasi melalui Handphone (HP). hal ini akan bisa diterima oleh masyarakat atau tidak melihat pada aspek budaya. Seperti penerapan IT oleh kelembagaan dalam penguatan kapasitasnya. Melalui balai penelitian ini. Jika suatu kelembagaan pertanian menginginkan suatu model penguatan kapasitas agar dapat mencapai target pembangunan masyarakat petani secara optimal. Jika mereka tidak mampu mengoprasikannya. untuk lebih validnya. Apakah pihak petani akan mampu menggunakan IT ini atau tidak. dari hasil penelitian di lapangan. Masih banyak lagi permasalahn pembangunan yang gagal karena kurang memperhatikan aspek social dan budaya masyarakat. Wadah itu adalah balai penelitian. harus mampu berpegang pada model kelembagaan yang berperspektif sosial budaya. Petani sebagai sentral dari proses hubungannya dengan semua pihak yang terkait dalam usahatani memiliki peran penting dalam kegiatan penerapan IT yang diajukan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi petani. Dari hasil penelitian di lapangan. Seperti dalam hal akses para pedagang ataupun pengusaha (dalam ataupun luar kota) sebagai tempat penjualan hasil panen serta dapat mengakses pula perkembangan harga saat ini. Dengan pihak-pihak yang terkait inilah diharapkan sistem IT bisa diterapkan dengan baik dalam rangka meningkatkan produktivitas dan kinerja para petani. ternyata kurang berhasil karena aspek budaya dalam hal ini belum mengena. Melalui bantuan mereka para petani dapat mengakses masalah harga ataupun masalah lainnya. pihak lembaga penyuluh pertanian harus lebih peka lagi dalam menerapkan program-programnya guna meningkatkan usahatani masyarakat. Dengan demikian. didapatkan bahwa. Klaten dan Magelang) yang sudah peka dengan teknologi. pegusaha. Beberapa personal ini memiliki peran masing-masing dan masih berkaitan. Petani dalam sistem IT yang diajukan ini didampingi oleh beberapa pihak seperti pedagang. Perlu di pahami bahwa.laporan mengenai proyek pembangunan suatu lembaga yang diterapkan kepada masyarakat seringkali mengalami kegagalan karena kurang melihat pada kondisi sosial ataupun budaya suatu masyarakat. perekonomian petani lebih bersifat sederhana dan terikat. Dengan bantuan IT ini. pembangunan kakus oleh pemerintah kepada masyarakat di pinggiran sungai sebagai antisipasi pencemaran air. Akan tetapi.

Model Pengembangan Kapasitas Lembaga Perspektif Budaya Lahan kualitas tanam Diversifikasi Pengusah a Tahu Tempe Pedagang Lokal Luar kabupaten Produsen Pupuk Pupuk Distributo r Penyal ur Balai Penelitian Dinas Pertanian Penyulu h Bak ul Kel. Info pasar Pet ani Ka ya Status Ekonomi ? kup Manfaat / Hasil Peternak Sapi Pupuk organik Orientasi kemungkinan / kehidupan Mi skin Cu Kebijakan Keterampilan Fasilitas o Benih o Pupuk o Pupuk o Alat Hubungan Komunikasi Input Informasi Hubungan Informasi 175 . Kualitas. Tani Informasi Kontinu.Gambar 1.

brosur maupun iklan di media cetak. merupakan hambatan bagi seseorang dalam mendapatkan informasi dari internet. Kemudahan dan penghematan dalam komunikasi adalah salah satu muara efisiensi. WAP dan SMS diajukan sebagai Penguatan Menghemat biaya dan waktu dalam advertising. Teknologi informatika yang semakin berkembang saat ini. dimana saja. Beberapa alasan Pemilihan Media Kelembagaan Pertanian Lapangan a Website. dsb. tidak hanya lokal. Kedua layanan tersebut sangat membantu proses penyebaran informasi. Short Message Service (SMS) dan Wireless Application Protocol (WAP) merupakan contoh aplikasi mobile yang mendukung proses pertukaran informasi. Internet dan telepon selular merupakan salah satu contoh sarana yang populer sebagai media komunikasi. Selain katalog. maka data olahan bisa disajikan menurut kepentingan dan kedalaman data yang diperlukan. WAP dan SMS Memperhatikan sejumlah permasalahan lapangan dalam pemberdayaan kelembagaan pertanian maka hal yang mendasar adalah masalah komunikasi. Pengunjung dapat langsung membeli produk yang dijual melalui internet. Memotong rantai birokrasi dan ekonomi. Informasi mengenai produk baru dapat secara mudah dikirim kepada customer melalui SMS. Dengan teknologi ini. Pemangku kepentingan pertanian tidak perlu membayar mahal untuk melakukan sosialisasi kebijakan. b c d e 176 . dapat melihat informasi dari website bilamana diperlukan. tetapi nasional bahkan ke pasar global Mensinergikan semua pemangku kepentingan pertanian dalam suatu wadah yang terkoordinasi. Layanan informasi melalui ponsel merupakan solusi bagi kendala di atas. Peluang mendapatkan customer juga menjadi lebih besar. Melalui internet. Kemudahan dalam komunikasi. Akses informasi dapat dilakukan kapan saja. Layanan ini sangat populer karena biayanya yang relatif lebih murah dibanding dengan biaya telepon. dengan memiliki website di internet anda dapat memperluas jaringan promosi sebuah perusahaan. Dengan semakin banyaknya pengguna internet saat ini maka jalur distribusi suatu barang dapat dilakukan melalui internet. Melalui website pesan informasi bisnis dapat disampaikan lebih lengkap. Dengan akses database yang tersedia. Tidak tersedianya fasilitas internet di suatu daerah. Sementara WAP merupakan protocol yang menghubungkan internet dengan ponsel. Fungsi Modeling IT dari segi pemasaran 1. termasuk akses internet. Pemangku kepentingan dapat memilih layanan informasi menurut media yang sesuai baik lewat ponsel maupun internet. Mendayagunakan semua pemangku kepentingan pertanian menuju sumatu kemandirian dan profesionalitas institusi dan perorangan Informasi pasar pertanian yang up to date. Para peminat atau calon pelanggan. mudah dan up to date. layanan WAP atau dan email dari website. Berbagai aplikasi dan layanan mobile. oleh siapa saja. Memperluas Ruang Promosi Sebagai Media Komunikasi dan Wadah Penyedia berbagai Informasi maka website dapat digunakan sebagai sarana pendukung promosi seperti suatu perusahaan. dewasa ini telah berkembang pesat hingga memungkinkan pengguna untuk melakukan berbagai hal hanya dengan menggunakan ponsel. informasi tehnologi. berbagai macam informasi bisa didapat dengan mudah selama 24 jam tanpa harus beranjak dari depan komputer yang telah terkoneksi dengan internet. ponsel bisa digunakan sebagai media untuk mendapatkan informasi dari internet. Jangkauan pasar bertambah.Modeling IT melalui Web. sehingga menjadikan data olahan siap saji dan terkini. tentu menjadi faktor yang sangat mendukung dalam proses penyebaran informasi di segenap lapisan masyarakat. dengan kemampuannya yang memungkinkan pengguna untuk menerima dan mengirimkan informasi dari jarak jauh. SMS adalah layanan untuk mengirim dan menerima pesan singkat melalui ponsel.

Para pengunjung website akan selalu menerima informasi yang up to date dari perusahaan. akademisi dilibatkan dan juga memiliki akses ke data base sehingga mampu menjadi administrator bisa memasukkan semua data yang berkaitan dengan kebutuhan petani dan perniagaan bahan pangan nasional dengan daerah tanggung jawab masing masing. Hal ini mengakibatkan diperlukannya sebuah sistem kebergantungan. dinas pertanian kabupatan dan institusi lain seperti deperindag. Tabel 1 Jalur input –proses dan inputnya N o 1 Jalur Input Proses Database Jalur Output Data primer & sekunder SMS/WAP/Web Data Publikasi/Analisis Data Info Data Pemangku kepentingan pemerintah 2 Data/info tehnologi 3 Institusi lain/akademisi 4 Permintaan data Database data Data proses Data proses 177 . bakorluh. Adapun jalur input –proses dan inputnya adalah sebagai berikut. Media Interaksi Website dapat dijadikan ajang interaksi dengan para pengunjung website antara lain dapat dijadikan ajang jual-beli. Jadi fungsi website disini bukan hanya sebagai wadah penyedia informasi saja. SMS dan WAP serta web merupakan contoh aplikasi yang bisa dijadikan layanan informasi untuk kepentingan ini . tetapi di website pengunjung website dapat mendapat detil spesifikasi dari produk tersebut. upload/download file dan lain sebagainya. 2. perusahaan dapat menjalin komunikasi melalui email ataupun informasi kontak yang berada dalam website. Hal ini terlihat jika dibandingkan dengan iklan (yang mempunyai space terbatas). pola hubungan dan pemberdayaan sebagai wadah untuk mengelola berbagai data informasi sebagai data base pertanian & komoditas. Sebagai contoh pada sebuah brosur bisaanya penjelasan yang diterima hanya berupa pokok-pokok dari produk sebuah perusahaan. website mempunyai keuntungan sebagai berikut : Informasi lebih detail dan tuntas dari produk dan jasa. Komunikasi akan lebih mudah walaupun perbedaan lokasi sangat jauh dan sudah tentu lebih efisien dalam hal biaya dan waktu. Mempermudah Komunikasi Agar dapat saling berkomunikasi dengan para klien atau customer. tidak terbatas oleh waktu dan tempat. 3. a Diagram Konteks Karena pemangku kepentingan untuk urusan ketahanan pangan dan khususnya pertanian cakupannya luas. b Tampilan yang baik akan memberikan akan memberi image yang baik dan menarik bagi calon klien. maka sejumlah institusi terkait seperti beberapa institusi di bawah departemen pertanian. c Isi yang selalu up to date. forum diskusi.Sebagai alat pendukung promosi. Dari data base tersebut selanjutnya melalui desain teknologi dapat disajikan sebagai bentuk informasi yang bisa diakses oleh Pemangku dan publik pertanian Salah satu kemudahan dalam mengakses informasi adalah jika informasi bisa diakses secara online.

termasuk membuat analisis dan pengamatan tertentu. LSM. pelajar. Diagram konteks sistem Informasi pertanian 1. pengawas dan pembuatan kebijakan pertanian lokal. mahasiswa. 8. perdagangan dan pemasaran/distribusi bahan pangan nasional Dinas pertanian daerah sebagai pembina. 3. pengkaji dan pengembang teknologi baru bidang pertanian dengan spesifikasi dan ketertarikan tertentu Balai litbang pertanian sebagai institusi yang menggeluti dan mengembangankan bidang tertentu spesifik. sebagai pengamat. pemerhati dan pengawas pertanian termasuk kebijakan.Gambar 2. 7. 6. publik Institusi lain seperti lembaga swasta. wartawan dsb yang dapat berinteraksi dengan pertanian. Pihak yang terlibat dalam sistem IT yang diajukan Departement Pertanian berikut strukturalnya sebagai departemen teknis yang menangani pertanian dan ketahanan pangan Penyuluh/Bakorluh sebagai penyedia dan pengguna informasi pertanian. 2. 178 . tata niaga maupun operasional lapangan. mengkaji penerapan teknologi yang dapat digunakan dalam usaha bidang pertanian termasuk personil kunci yang bertanggungjawab untuk topik tertentu dan bisa dimintai informasi publik. menganalisa data untuk menyuluh dan menjawab pertanyaan teknis yang muncul di lapangan Petani sebagai pelaku pertanian di lapangan Pedagang/Pengusaha sebagai penampung hasil produksi pertanian dan pendistribusi ke pasar Akademisi sebagai peneliti. Deperindag sebagai departemen tehnis yang menawasi industri. 5. 4. 9.

Diagram Institusi Pemangku kepentingan untuk database Pertanian & komoditas Untuk mengkomunikasikan database menjadi informasi tehnis dan aplikatif di lapangan maka data base dapat disajikan dalam berbagai kemasan informasi menurut kepentingan dan tujuan tertentu dengan melakukan akses ke data base. yakni layanan informasi pertanian dapat dilihat pada ilustrasi di bawah ini. Jenis layanan Informasi Pertanian & komoditas Database Pertanian & Komoditas Web data internet WAP SMS User 179 .Gambar 3. Gambar 4.

Kesimpulan Pemberian informasi yang cepat dan tepat pada petani dapat meningkatkan kesejahteran petani karena dengan adanya informasi harga jual komoditas produk pertanian petani dapat memilih dimana yang memberikan keuntungan lebih besar.Adapun isi database yang diperlukan adalah data primer dan data terolah dari beberapa informasi yang lazim diperlukan oleh petani. pasca panen komoditas pertanian dan informasi lainnya yang mendukung pengembangan pertanian. 180 . bibit unggul.6. Selain itu juga petani dapat dengan mudah mengetahui informasi lainya seperti kondisi cuaca. Salah satu pemberian informasi pertanian yang terintregasi ini adalah dengan membangun system manajemen informasi pertanian melalu Information Teknologi (IT) yang dapat menghubungan antara pemerintah pusat. penyuluh serta masyarakat pertanian lainnya. pemerintah daerah. Gambar 5. petani dan kelembagaan pertanian. Cakupan layanan menurut ukuran informasi 4. Gambar 5. Bagan komponen database .

S.” European Economic Review 34(2-4): 450-457. Pembentukan Struktur Agraria pada Masyarakat Pinggiran Hutan. Ismail dan DE.smeru. G. K. Sianturi. 181 . 1989. Bogor. Hermanto. Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu – ISDP. Makalah. Pelaksanaan Otonomi Daerah.Mudjijo. I. E. Muslim (200) Perekayasaan Sosiobudaya dalam percepatan Transformasi Masyarakat Pedesaan. Agus. T. 2 Desember 1995. 9 No 2. 1999. Majalah Forum Agro Ekonomi.G. 2004. E. Vol. Setyo dan C.W. (2000) Laporan Utama : Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.or.Referensi Akhmadi. Subejo. Yogyakarta. I. 2000. A. Ketut. Penyuluhan Pertanian Indonesia : Isu Privatisasi dan Implikasinya. Pembangunan pertanian indonesia dalam pengaruh kapitalisme dunia: analisis ekonomi politik perberasan. aporan Bidang Penelitian Penyuluhan Pertanian.. Pendekatan Kelompok dalam Pelaksanaan Program/Proyek Pembangunan Pertanian. Bogor. H.Alihamsyah. Desember 2004. Institut Pertanian Bogor. Pusat Penelitain Agro Ekonomi. Wahyuni. Perikanan dan Kehutanan (Bakorluh). Survei Evaluasi Intensifikasi Padi dan Palawija Tahun1971-1978. No.(www. ______2003. Hastuti. Soentoro. 2002. Mengubah Pertanian Tradisional Dalam Pembangunan Jangka Panjang. Desember 2002. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 pada tanggal 14 Nopember 2007 telah ditetapkan Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 58 Tahun 2007 tentang Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian. Badan Litbang Pertanian.. Situmorang.id/newslet/2004/ed12/2004/200412spotlight.. “The Role of Transaction Costs and Property Rights in Institutional Analysis. I. 2002. Jurnal Agro Ekonomi Vol. Bogor. Pakpahan.. Kerangka Analitik untuk Penelitian Rekayasa Sosial: Perspektif Ekonomi Institusi. Ananto. Ananto. dan T. 1989. Prosiding Patanas: Evolusi Kelembagaan Pedesaan di Tengah Perkembangan Teknologi Pertanan. Eggertsson. T. EL. Dwi Windu Penelitian Lahan Rawa : Mendukung Pertanian Masa Depan. Suastika. Badan Litbang Pertanian.. Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian UGM.E. _____1995.M Subiksa. Syahyuti. Tahap kedua : Pendekatan Kelembagaan.html). Nuning. J. Pranaji. Pusat penelitian dan pembangunan sosial ekonomi pertanian. E. SMERU Newsletter. Bogor.Pakpahan. 13. P2SLPS2. Thráinn (1990). Supriadi. IPB. Tesis pada Jurusan Sosiologi Pedesaan. Alihamsyah.

Dan Kemampuan Mengetik Sistem 10 Jari Buta. dan fasilitas belajar (X2). dan fasilitas belajar terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta. Kata Kunci : Kompetensi Profesional Guru. Mengetik 1 Mesin ketik manual 2 Buku paket: Mengetik SMK jilid 1 Mengetik SMK jilid 2 Mengetik SMK jilid 3 3 Lampu penerangan Jumlah 40 40 40 40 9 182 . tes dan dokumentasi. Hasil uji parsial diperoleh t hitung = 2. Berikut daftar inventaris laboratorium mengetik manual: Tabel 1. Nur Aeni Yuniarsih (Universitas Negeri Semarang) Sarjana Pendidikan Ekonomi. hal ini terlihat dari adanya laboratorium mengetik manual yang luas dengan penerangan yang cukup dan kondisi laboratorium yang bersih.140X1 + 0.037 < 0. jumlah mesin ketik manual yang sesuai dengan jumlah siswa kelas X yaitu 40 unit mesin ketik dan kertas untuk mengetik yang tersedia bagi siswa.05 yang berarti secara simultan ada pengaruh positif dan signifikan antara kompetensi profesional guru. Pendahuluan Latar belakang masalah Berdasarkan observasi pendahuluan di SMK Negeri 1 Pemalang. Universitas Negeri Semarang.880 + 0.119 dengan nilai signifikansi antara 0. serta variabel terikat yaitu kemampuan mengetik sistem 10 jari buta (Y). Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu kompetensi profesional guru (X 1).000 < 0.126 dengan nilai signifikansi 0. Hasil penelitian dengan menggunakan SPSS 12 diperoleh persamaan regresi berganda Y = 39.05 hal ini berarti ada pengaruh secara signifikan antara X2 terhadap Y. Email: yuniarsihnuraeni@yahoo. Uji keberartian persamaan regresi dengan uji F diperoleh F hitung = 19.037 < 0. penelitian ini disebut penelitian populasi. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskripsi persentase dan regresi linier berganda. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode kuesioner (angket).168X2.1 Daftar Inventaris Laboratorium Mengetik Manual No Inventaris lab. 1.com Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara kompetensi profesional guru dan fasilitas belajar terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta siswa kelas X program keahlian administrasi perkantoran di SMK negeri 1 Pemalang baik secara parsial ataupun simultan.KOMPETENSI PROFESIONAL GURU DAN FASILITAS BELAJAR PENGARUHNYA TERHADAP KEMAMPUAN MENGETIK SISTEM 10 JARI BUTA SISWA KELAS X PROGRAM KEAHLIAN ADMINISTRASI PERKANTORAN DI SMK NEGERI 1 PEMALANG.05 hal ini berarti ada pengaruh secara signifikan antara X1 terhadap Y. Jurusan Manajemen. bahwa fasilitas belajar mengajar mengetik di SMK Negeri 1 Pemalang cukup memadai. thitung = 2. Fakultas Ekonomi.494 dengan nilai signifikansi = 0. serta buku pegangan dimana setiap siswa mendapat satu buku latihan mengetik. Fasilitas Belajar. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X program keahlian administrasi perkantoran dengan jumlah 80 siswa.

hal ini dapat diketahui dari latar belakang pendidikan guru dan pengalaman mengajarnya. rata-rata kecepatan berkisar kurang dari 150 epm. belum ada yang mencapai target indikator keberhasilan kecepatan mengetik sampai 200 epm. Untuk mengatasi hal tersebut guru selalu mengadakan program remidial sampai siswa mampu mengetik dengan hasil yang maksimal berdasarkan standar yang ditetapkan. belum ada yang mencapai target indikator keberhasilan kecepatan mengetik sebuah surat dalam berbagai bentuk selama 20 menit dengan cepat. serta setiap kali praktek mengetik siswa selalu didampingi oleh dua guru sekaligus sebagai pengajar. diolah. sehingga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mengetik sistem 10 jari buta. Kompetensi guru terutama dalam proses belajar mengajar mengetik dapat dikatakan baik. bahwa dalam kegiatan belajar mengajar guru telah menguasai materi.4 Meja mengetik siswa 5 Kursi mengetik siswa 6 Meja guru 7 Kursi guru 8 Whiteboard 9 Rak buku Sumber: Data SMK N 1 Pemalang. diketahui bahwa fasilitas belajar mengetik dan kompetensi profesional guru baik. 183 . mampu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh siswa.2 Prestasi Mengetik Siswa Hasil praktek kemampuan mengetik sistem 10 jari buta No Kelas Belum kompeten Kompeten 1 X AP 1 29 11 2 X AP 2 27 13 Sumber: guru. akan tetapi apabila dilihat dari tabel prestasi mengetik siswa di atas terlihat bahwa sebagian besar siswa masih belum kompeten dalam hal mengetik sistem 10 jari buta. telah sertivikasi dan memiliki pengalaman mengajar lebih dari 10 tahun (wawancara dengan Ibu Dra. terlihat dari waktu yang dibutuhkan siswa untuk mengetik sebuah surat lebih dari 20 menit. Akan tetapi jika dilihat melalui hasil praktek mengetik siswa kelas X program keahlian Administrasi Perkantoran di SMK N 1 Pemalang bahwa pencapaian hasil belajar mengetik manual sebagian siswa masih belum optimal. diolah. yakni guru yang mengampu mata diklat mengetik manual adalah guru yang berasal dari lulusan program studi pendidikan administrasi perkantoran. Retno Ari Budi selaku guru mata diklat mengetik manual). Berdasarkan urian tersebut maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul “Kompetensi Profesional Guru dan Fasilitas Belajar Pengaruhnya Terhadap Kemampuan Mengetik Sistem 10 (sepuluh) Jari Buta Siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Pemalang”. Saat praktek berlangsung dari cara kerja siswa masih terlihat belum mampu menghentakan jarinya sesuai tugas entakan jari dan masih melihat papan tuts. Disamping itu berdasarkan pengamatan langsung penulis dan wawancara dengan beberapa murid. mampu menyampaikan materi dengan baik kepada siswa. Berikut tabel hasil praktek mengetik: Tabel 1. dan membimbing siswa agar dalam mengetik siswa selalu menggunakan 10 jarinya. 40 40 1 2 1 1 Latar belakang pendidikan dan pengalamam mengajar adalah dua aspek yang mempengaruhi kompetensi seorang guru di bidang pendidikan dan pengajaran (Djamarah 1994:127). Sebagian siswa juga belum bisa menyelesaikan pekerjaan mengetik sebuah surat dalam berbagai bentuk dengan maksimal. Hal ini dapat diketahui dari kemampuan kecepatan mengetik sistem 10 jari buta siswa masih bervariasi hasil pengetikannya. dan rapi. Jumlah murid 40 40 Berdasarkan pengamatan di SMK Negeri 1 Pemalang. Hal ini mendorong penulis untuk mengungkapkan lebih jauh tentang pengaruh kompetensi profesional guru dan fasilitas belajar terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta. tepat.

Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut ; 1. Adakah pengaruh kompetensi profesional guru terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta pada siswa kelas X program keahlian Administrasi Perkantoran di SMK N 1 Pemalang. 2. Adakah pengaruh fasilitas belajar terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta pada siswa kelas X program keahlian Administrasi Perkantoran di SMK N 1 Pemalang. 3. Adakah pengaruh kompetensi profesional guru dan fasilitas belajar terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta pada siswa kelas X program keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Pemalang. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Mengetahui adakah pengaruh kompetensi profesional guru terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta pada siswa kelas X program keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Pemalang. 2. Mengetahui adakah pengaruh fasilitas belajar terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta pada siswa kelas X program keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Pemalang. 3. Mengetahui adakah pengaruh kompetensi profesional guru dan fasilitas belajar terhadap kemampuan mengetik sisitem 10 jari buta pada siswa kelas X program keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Pemalang. 2. Bukti Empiris Kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, dan kekuatan (Poerwadarminto, 2000:628). Menurut Spencer and Spencer dalam Uno (2008:62), mendefinisikan kemampuan sebagai karakteristik yang menonjol dari seorang individu yang berhubungan dengan kinerja efektif dan atau superior dalam suatu pekerjaan atau situasi. Menurut Suwandi (2007:10), mengetik sepuluh jari yaitu teknik mengetik dengan memanfaatkan semua jari tangan. Setiap jari mempunyai tugas sendiri yang harus dilatih satu demi satu dan berkelanjutan, sehingga jari tersebut secara maksimal dan optimal dapat bekerja dengan baik. Kemampuan mengetik sistem 10 jari buta yaitu kesanggupan, kecakapan, dan kekuatan yang dimiliki oleh individu dalam kegiatan mengetik dengan melakukan entakan jari sesuai dengan tugas entakan jari secara tepat tanpa melihat naskah. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam, yang harus dikuasai oleh seorang guru, tidak saja materi yang sesuai dengan bidang tugasnya, tetapi juga kemampuan mengintegrasikan dan menghubungkan materi-materi pelajaran lainnya, sehingga seorang guru mampu menyajikan materi pelajaran secara utuh kepada muridnya (Harwanto, 2008:46). Fasilitas adalah sarana dan prasarana. Menurut Bafadal (2003: 2) Sarana pendidikan adalah semua perangkat peralatan, bahan dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah. Sedangkan prasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan proses pendidikan di sekolah. 3. Metodologi Penelitian ini merupakan penelitian populasi. Hal ini dikarenakan jumlah subyek penelitian kurang dari 100 siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X program studi Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Pemalang Tahun pelajaran 2009/2010 yang berjumlah 80 siswa. Analisis regresi yang dipergunakan menggunakan rumus: Keterangan: Y = variabel terikat (kemampuan mengetik sistem 10 jari buta) a = konstanta

184

b1 = Nilai Koefisien variabel bebas X1 b2 = Nilai Koefisien variabel bebas X2 (Sugiyono, 2007: 275) Angket/kuesioner yang digunakan menggunakan pendekatan skala likert dimana setiap pernyataan dalam angket memiliki lima alternatif jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Kurang Setuju (KS), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS). Dari kelima jawaban tersebut masing-masing memiliki skor yang akan menentukan apakah jawaban dari pernyataan tentang variabel-variabel penelitian terebut tinggi atau tidak. Skor tersebut terdiri dari: 1. Skor 5 untuk jawaban Sangat Setuju (SS) 2. Skor 4 untuk jawaban Setuju (S) 3. Skor 3 untuk jawaban Kurang Setuju (KS) 4. Skor 2 untuk jawaban Tidak setuju (TS) 5. Skor 1 untuk jawaban Sangat tidak Setuju (STS) 4. Hasil empiris
a Coefficients

Model 1

(Constant) Kompetensi Profesional Guru Fasilitas Belajar

Unstandardized Coefficients B Std. Error 39.880 4.429 .140 .168 .066 .079

Standardized Coefficients Beta .309 .308

t 9.004 2.126 2.119

Sig. .000 .037 .037

Correlations Partial .235 .235

Collinearity Statistics Tolerance VIF .409 .409 2.447 2.447

a. Dependent Variable: Kemampuan mengetik 10 jari buta

5. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dapat diambil beberapa simpulan, antara lain: 1. Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara kompetensi profesional guru terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta. 2. Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara fasilitas belajar terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta. 3. Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara kompetensi profesional guru dan fasilitas belajar terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta. 6. Daftar pustaka Ali, Muhammad. 1984. Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Bandung: Angkasa. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. . 1988. Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Jakarta: Departmen Pendidikan dan Kebudayaan Diektorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Asman, Jamal Mamur. 2009. 7 Kompetensi Guru Menyenangkan dan profesional. Jogjakarta: Power Book Banguntapan. Bafadal, Ibrahim. 2004. Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori Dan Aplikasinya. Jakarta: Bumi Aksara. Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Teknis Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Silabus Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Depdiknas. Dimyati, dkk. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

185

Dr. (Mrs.) Ihuoma P. Asiabaka. “The Need for Effective Facility Management in Schools in Nigeria”. New York Science Journal. Department of Education Foundations and Administration, Faculty of Education, Imo State University, Owerri, Nigeria. Feryal Cubukcu.” student teachers’ perceptions of teacher competence and their attributions for success and failure in learning”. Faculty of Education, Dokuz eylul University. Ghozali, Ahmad. 2007. Dasar-Dasar Ekonometrika. Jakarta: Sinar Baru Algesindo. Hamalik, Oemar. 2008. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Jakarta: Bumi Aksara. . 2008. Perencanaa Pengajaran Berdasarkan pendekatan Sistem. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Harwanto. 2008. Memilih Profesi Guru?. Banten: Cerad Insan Cendekia. Mendiknas. 2008. Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejurun (SMK/MAK). Jakarta: Citra Utama Media. Mustaqim. 2008. Psikologi Pendidikan. Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang. Naree Aware Achwarin. “The study of teacher competence of teachers at schools in the three southern provinces of thailand”. Graduate School of Education, Assumption University of Thailand. Poerwadarminta, WJS. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Rianggoro, Krisna. 2001. Marilah Belajar Mengetik. Semarang: Aneka ilmu. Sardiman. 1994. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Setiawan, Iwan dkk. 1994. Pengetahuan Mengetik SMK. Bandung: Armico. Sudarmin, Djanewar. 1999. Mengetik SMK jilid 1 Kelompok Bisnis dan manajemen. Bandung: Armico. Sudjana. 2005. Metode Statistika. Bandung: Tarsito. Sudjana, Nana. 2008. Dasar-dasar Proses Belajar mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Sugiyono. 2008. Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung :Alfabeta Sularso, dkk. 1984. Mengetik dengan sistem 10 jari. Yogyakarta: Liberty. Suwandi. 2007. Makalah Peranan Mesin Ketik Manual dan Keterampilan Mengetik 10 Jari di Era Komputerisasi. Probolinggo. Uno, Hamzah. 2008. Profesi Kependidikan. Jakarta: Bumi aksara.

186

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR SEBELUM DAN SESUDAH MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL BERBASIS MACROMEDIA FLASH MX DALAM PEMBELAJARAN MATA DIKLAT KEARSIPAN PADA KELAS XI JURUSAN ADMINISTRASI PERKANTORAN SMK N 1 BOYOLALI Nurul Khaqim S. Pd., (Universitas Negeri Semarang) Sarjana Pendidikan Ekonomi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang. Email : Hakim.ragil31@gmail.com Abstrak Makalah ini berisi tantang salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan pemberiaan stimulus dengan penggunaan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa, kinerja guru, aktivitas siswa sebelum menggunakan media pembelajaran dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan. Data yang digunakan adalah data primer, berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan teknik pengambilan data adalah dokumentasi, tes, observasi, dan angket. Dalam penelitian ini menggunakan dua analisis, yaitu analisis deskriptif persentase dan menggunakan uji-t. Hasil penelitiannya adalah terdapat perbedaan nilai rata-rata dari siklus I dan nilai rata-rata siklus II. Besarnya peningkatan persentase hasil belajar dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 18,06%. Dari analisis deskriptif persentase menunjukkan bahwa persentase kinerja guru meningkat sebesar 8%, dan persentase aktivitas siswa meningkat sebesar 22%. Dari hasil pengisian angket, semua siswa memberikan tanggapan yang sangat positif. Kesimpulannya adalah bahwa terdapat perbedaan hasil belajar mata diklat kearsipan antara sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Hasilnya pembelajaran mata diklat kearsipan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx lebih baik daripada sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Kinerja guru dan aktivitas siswa sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx lebih baik daripada sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Tanggapan siswa saat menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx adalah sangat positif. Kata Kunci : Hasil Belajar, Media Visual Berbasis Macromedia Flash MX. 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah Model pembelajaran yang diterapkan oleh guru administrasi perkantoran di SMK N 1 Boyolali adalah model pembelajaran ekspositori. Sedangkan salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai pada mata diklat kearsipan jurusan administrasi perkantoran adalah mengimplementasikan sistem kearsipan. Pada tahun ajaran sebelumnya, yaitu tahun ajaran 2008/2009. Berdasarkan rincian nilai mata diklat kearsipan pada model pembelajaran ekspositori, terlihat jelas meski nilai siswa sudah mencapai KKM yang ditetapkan, namun sebagian besar hanya mencapai batas minimumnya saja yaitu 70. Dari kenyataan tersebut, perlu adanya suatu inovasi baru pada pembelajaran ekspositori agar nilai siswa dapat meningkat, tidak sebatas mencapai nilai yang ditetapkan pada KKM atau nilai minimumnya saja. Guru dapat membuat siswa merasa tertarik dan termotivasi dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan menggunakan media pembelajaran yang tepat. 1.2. Rumusan Masalah 1. Adakah perbedaan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan pada kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali? 2. Bagaimanakah kinerja guru sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan pada kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali?

187

sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Kinerja guru sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan pada kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali. Bagaimanakah tanggapan siswa terhadap pembelajaran mata diklat kearsipan dengan menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx? 1. Aktivitas siswa sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan pada kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali. Jika pembelajar mempelajari pengetahuan tentang konsep. Hasil Belajar Hasil belajar merupakan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. game. Perbedaan hasil belajar siswa sebelum menggunakan media pembelajaran dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. 2. movie.1. 2. Media Pembelajaran Menurut Sugandi (2006: 30) media pembelajaran adalah alat atau wahana yang digunakan pengajar dalam proses pembelajaran untuk membantu penyampaian pesan pembelajar. Tanggapan siswa terhadap pembelajaran mata diklat kearsipan dengan menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Pembelajaran Pengertian pembelajaran menurut teori neobehavioristik yaitu upaya membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan supaya terjadi hubungan lingkungan dengan tingkah laku pembelajar (Sugandi. Bagaimanakah aktivitas siswa sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan pada kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali? 4. Belajar Slameto (2003: 2) mendefinisikan belajar sebagai usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. 2. Anni. 2.3.4. maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep.7.3. 2. Pengenalan Cara Pembuatan Media Visual berbasis Macromedia Flash MX Macromedia Flash MX merupakan sebuah program aplikasi standar authoring tool profesional yang dikeluarkan oleh perusahaan internasional Macromedia yang digunakan untuk membuat animasi vektor dan bitmap yang sangat menakjubkan untuk keperluan pembangunan situs web yang interaktif dan dinamis.6. 2. Landasan Teori 2. dkk (2006: 5). 2.5. 2006: 9). Media Visual berbasis Macromedia Flash MX Media visual berbasis macromedia flash mx adalah gabungan dari media visual dengan program macromedia flash mx yang mengandalkan indera penglihatan dengan menampilkan animasi gambar atau gambar bergerak.2. 2. 4. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada yang dipelajari oleh pembelajar.3. Tujuan 1. pembuatan 188 . Model Pembelajaran Ekspositori Model pembelajaran ekspositori atau langsung menurut Nur dalam Widdiharto (2004: 33) menyatakan bahwa model ini dirancang secara khusus untuk menunjang proses belajar siswa berkenaan dengan pengetahuan prosedural (pengetahuan mengenai bagaimana orang melakukan sesuatu) dan pengetahuan deklaratif (pengetahuan tentang sesuatu) yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Selain itu aplikasi ini juga dapat digunakan untuk memuat animasi logo. 3.

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran mata diklat kearsipan sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx (ekspositori) dan pembelajaran mata diklat kearsipan pada saat menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. tombol animasi. Analisis t-test dalam penelitian ini menggunakan SPSS 16 for windows dengan analisis paired. 2010 Siklus I 75. apakah ada perbedaan hasil belajar mata diklat kearsipan sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx.navigasi pada situs web. huruf ataupun kombinasi huruf dan nomor sebagai identitas arsip yang terkait. 2003: 3). 3. metode tes digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa baik pembelajaran sebelum maupun sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx pada mata diklat kearsipan standar kompetensi mengimplementasikan sistem kearsipan kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran. Hasil 4. Angket ini digunakan untuk memperoleh informasi data tentang penerapan media pembelajaran visual berbasis macromedia flash mx pada mata diklat kearsipan standar kompetensi mengimplementasikan sistem kearsipan kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali.1. Karena jumlah populasi kurang dari 100. dan angket. Metodologi Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI AP 1 yang berjumlah 40 siswa.075 0 N 40 40 Std. 2006: 130). karena merupakan penelitian sebelum dan sesudah yang berarti subjeknya sama. Metode dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data nama siswa dan data nilai mata diklat kearsipan tahun sebelumnya. 3.81724 . e-card. interaktif form isian. banner.1. Tabel Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Siklus II Sumber: Data Diolah. dan pembuatan situs web atau pembuatan aplikasi-aplikasi web lainnya (Suciadi. observasi. numerik / nomor. Materi Mengimplementasikan Sistem Kearsipan Sistem Kearsipan Sistem kearsipan adalah cara pengaturan atau penyimpanan arsip secara logis dan sistematis dengan memakai abjad. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada mata diklat kearsipan sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx.450 0 89. Analisis t-test (uji-t) Analisis t-test ini digunakan untuk membuktikan hipotesis yang telah ditentukan. 2. maka penelitian ini disebut penelitian populasi (Arikunto.8. Deviation 5.16869 4. menu interaktif.79048 Tabel Paired Samples Correlations 189 .99942 Std. tes. Deskripsi Data Data yang digunakan adalah data primer dengan menggunakan empat metode penelitian yaitu metode dokumentasi. Error Mean . 4. screen server.

Hasil belajar siswa dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx kurang baik atau sama dibandingkan dengan hasil belajar siswa dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. td. us I – 5. 2010 Hipotesis : Ho : 3 = 0. Ha : 3 0.0 -1.2632 Sikl 254 11.2. (2D tailed f ) Mean Pair 1 t Sikl .000 maka Ha diterima ada perbedaan rata-rata pada nilai stenografi sebelum dan sesudah menggunakan media .05 (batas kesalahan) dan signifikasi 0. Tabel Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval S of the Difference Std. persentase kinerja guru dalam 190 .0001 dengan t hitung sebesar -16. dan tanggapan siswa terhadap pembelajaran mata diklat kearsipan dengan menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Observasi kinerja guru sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja guru dalam pembelajaran mata diklat kearsipan pada kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali. aktivitas siswa dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx.822 9 00 4 7 us II Sumber: Data Diolah. 2010 Dari tabel korelasi diperoleh nilai korelasi = 0. Nilai rata-rata siklus 2 lebih tinggi dibanding nilai rata rata siklus 1. Karena signifikasi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0.493 Sig.36250E1 8099 15.98673 16. Dengan tingkat kepercayaan = 95% atau ( ) = 0.001 Sumber: Data Diolah. 4.493 dan signifikan pada 5% hal ini berarti rata-rata nilai hasil belajar siswa dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx berhubungan positif dengan rata-rata nilai hasil belajar siswa sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx.822.12 3 . Deskriptif Persentase Analisis deskriptif persentase terhadap skor yang diperoleh digunakan untuk mendeskripsikan kinerja guru dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. maka dapat dilihat persentase kenaikan nilai rata-rata siklus 1 ke siklus adalah .N Pair 1 Siklus I & Siklus II 40 Correlati on . Deviatio Error Low n Mean er Upper Si g. . Pada pembelajaran mata diklat kearsipan sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx.

Jika kinerja guru baik maka tujuan dari pembelajaran akan tercapai dan hasil belajar siswa akan baik pula. menyatakan bahwa media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Hal tersebut sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 17) bahwa media pembelajaran adalah media yang digunakan pada proses pembelajaran sebagai penyalur pesan antara guru dan siswa agar tujuan pengajaran tercapai. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hamalik dalam Arsyad (2009: 15). Jika kinerja guru baik maka tujuan dari pembelajaran akan tercapai dan hasil belajar siswa akan baik. dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Pada pembelajaran mata diklat kearsipan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. yaitu hasil belajar siswa dalam pembelajaran mata diklat kearsipan 191 . sehingga guru menjadi lebih semangat dan lebih bervariasi dalam menyajikan materi yang sedang dipelajari. Hasil dari penelitian aktivitas siswa sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx mempunyai pengaruh positif terhadap aktivitas siswa dalam pembelajaran mata diklat kearsipan pada kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali. dapat dilihat bahwa ada peningkatan aktivitas siswa sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sebesar 22%.mengelola pembelajaran diklat kearsipan adalah termasuk dalam kategori baik. Berdasarkan uraian tersebut dapat dilihat bahwa ada peningkatan kinerja guru sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sebesar 8%. Terdapat Perbedaan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan pada kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali. Hal ini dikarenakan mata diklat kearsipan yang diajarkan sebelumnya hanya disampaikan dengan pembelajaran ekspositori. Dari data tersebut terlihat bahwa siswa memberikan tanggapan sangat positif yang bererti bahwa siswa tertarik dan lebih semangat dalam pembelajaran mata diklat kearsipan dengan menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx sehingga nilai hasil belajar siswa dapat meningkat. Selain itu juga karena media visual berbasis macromedia flash mx adalah media baru sehingga siswa lebih tertarik dan menjadi lebih aktif. Sehingga dari pembelajaran yang lebih aktif dan bervariasi. Terlihat bahwa aktivitas siswa dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx meningkat sebesar 22%. 30% dalam kategori sangat baik. serta peningkatan hasil belajar mata diklat kearsipan. Berdasarkan data hasil penelitian menggunakan skala likert seperti dalam tabel 4. Berdasarkan uraian di atas. persentase aktivitas siswa termasuk dalam kategori sangat baik. persentase aktivitas siswa adalah dalam kategori cukup baik.7 terlihat bahwa tanggapan siswa terhadap pembelajaran mata diklat kearsipan dengan menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx pada kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali memberikan tanggapan yang sangat positif. maka siswa memberikan sikap yang sangat positif dalam penggunaan media visual berbasis macromedia flash mx. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sudjana dkk (2009: 2). Terlihat bahwa kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran mata diklat kearsipan sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam kategori baik. menyatakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. antara lain: 5. Pada pembelajaran mata diklat kearsipan sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Dari 40 siswa yang mengisi angket. Karena penggunaan media visual berbasis macromedia flash mx merupakan inovasi baru. Pada pembelajaran mata diklat kearsipan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx persentase kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran mata diklat kearsipan adalah termasuk dalam kategori sangat baik. 5. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dapat diambil beberapa simpulan.

Daniel Purnomo. Media Pembelajaran. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Psikologi Belajar. Jakarta: Balai Pustaka. Semarang : UPT Unnes Press. Azhar. Suciadi. 192 . Suharsimi. 2006. 2009. Jakarta: Rineka Cipta. 2006. Semarang: UPT MKK UNNES. 2006. Slameto. Angket tanggapan siswa terhadap penggunaan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan mendapat tanggapan yang sangat positif dari siswa. Sugandi. Andreas. 6. Daftar Pustaka Anni. A. Terdapat peningkatan aktivitas siswa sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Arsyad. Media Pengajaran. Widdiharto. 2003. Terdapat peningkatan kinerja guru sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. 2002. 2003. Chatarina Tri . Eddy Purwanto. Jakarta : Rineka Cipta. Persentase aktivitas siswa sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx lebih tinggi daripada sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Bandung : Sinar Baru Algensindo. Rachmadi. 8. 7. karena media tersebut merupakan sebuah media yang baru dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sehingga siswa lebih tertarik dalam mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) mata diklat kearsipan. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi III. Artinya mereka menganggap penggunaan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajari sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Pusat Bahasa Depdiknas. PT Elex Media Komputindo : Jakarta. Achmad Rifa’i. Nana dan Rivai Ahmad. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Persentase kinerja guru sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx lebih tinggi daripada sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Sudjana. Makalah disajikan dalam Diklat Instruktur / Pengembang Matematika SMP Jenjang Dasar. 2004. 2009. Arikunto.sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx secara signifikan lebih baik dibandingkan hasil belajar siswa sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Model – Model Pembelajaran Matematika SMP. Menguasai Pembuatan Animasi dengan Macromedia Flash MX. karena guru lebih semangat dan lebih dapat menarik perhatian siswa dengan bantuan media visual berbasis macromedia flash mx. Teori Pembelajaran. 10 – 23 Oktober 2004.

Untuk menyelenggarakan kegiatan pembayaran pajak diperlukan prosedur untuk memaksimalisasi hasil usaha yang sedang dijalankan.argumen dan tidak menggunakan angka. Pajak daerah yang biasanya dipungut selama ini merupakan sumber pendapatan daerah yang digunakan untuk membiayai pelaksanaan pemerintahan disuatu daerah. penetapan PKB dan SKPD. pelayanan korektor. registrasi otorisasi data statis kendaraan. Karena sebagian besar pendapatan daerah berasal dari sektor pajak maka kelancaran penyelenggaraan pembangunan pemerintahan daerah dipengaruhi oleh keberhasilan dari hasil penerimaan pajak daerah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis diskriptif kualitatif yaitu data tersebut diperoleh. 2) Untuk mengetahui permasalahan apa saja yang dihadapi. Sebaiknya UP3AD mengefektifkan lagi sosialisasi di kecamatan-kecamatan di daerah kendal secara menyeluruh. 2) Permasalahan yang dialami dari dalam yaitu kurang efektifnya sosialisasi dan staf lain yang membayar pajak pada saat jam kerja. Hendaknya UP3AD agar lebih menyederhanakan prosedur yang ada. Kedudukannya sangatlah penting sebab sah atau tidaknya perbuatan orang dalam organisasi 193 . hal tersebut untuk membantu kelancaran pembayaran pajak juga sebagai pertimbangan suatu organisasi dalam mengambil keputusan-keputusan penting. dianalisa dengan argumen. 3) Cara untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan mengefektifkan lagi sosialisasi di kecamatan di Kendal secara menyeluruh. menertibkan wajib pajak dengan memberikan nomer antrean pada oket SPPKB. serta untuk calo harus mengikuti prosedur sebagaimana mestinya. pembayaran PKB. Untuk menyelenggarakan kegiatan pembayaran pajak yang baik dan berjalan dengan lancar diperlukan suatu sistem administrasi yang baik juga. Pajak Kendaraan Bermotor. sedangkan permasalahan dari luar adalah kurang tertibnya wajib pajak dan masalah calo. Administrasi. Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa 1) prosedur administrasi pembayaran PKB di UP3AD kabupaten Kendal sudah sesuai dengan standar prosedur yang ada pada UP3AD diseluruh Jawa Tengah yang artinya tata cara dan prosedurnya sudah sesuai dengan garis kebijakan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah. mendahulukan wajib pajak pada pelayanan SPPKB. Berdasarkan hasil penelitian penulis menyarankan : (1). Penelitian ini bertujuan 1) Untuk mengetahui prosedur administrasi pembayaran PKB di UP3AD. 3) Untuk mengetahui bagaimana cara menghadapi permasalahan tersebut. Prosedur biasa diterjemahkan sebagai tata cara yang berlaku dalam organisasi. wawancara dan dokumentasi. (2). Validitas STNK dan TNKB dan yang terakhir penyerahan STNK. selain itu juga harus di dukung dengan sistem informasi yang lengkap pula.PROSEDUR ADMINISTRASI PEMBAYARAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR PADA UP3AD KABUPATEN KENDAL Khusnul Budi Ani Abstrak Pajak daerah yang biasanya dipungut selama ini merupakan sumber pendapatan daerah yang digunakan untuk membiayai pelaksanaan pemerintahan disuatu daerah. Latar Belakang. agar masyarakat mengetahui tentang prosedur adminastrasi pembayaran pajak kendaraan bermotor Kata kunci : Prosedur. PENDAHULUAN A. Prosedur pembayaran pajak kendaraan bermotor di UP3AD Kabupaten Kendal dimulai dari pengambilan formulir SPPKB. Hasil penelitian diketahui bahwa bahwa pada dasarnya prosedur administrasi pembayaran PKB di UP3AD kabupaten Kendal sudah sesuai dengan standar prosedur yang ada pada UP3AD diseluruh Jawa Tengah yang artinya tata cara dan prosedurnya sudah sesuai dengan garis kebijakan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah.angka yang dihitung secara statistik sedangkan metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi.

ada juga yang beranggapan bahwa proses pembayaran pajak kendaraan bermotor rumit. 2005:5) Administrasi dalam arti sempit merupakan pencatatan data dan informasi secara sistematis dengan maksud untuk menyediakan keterangan serta memudahkan keterangan untuk memperolehnya kembali secara keseluruhan dan dalam hubungannya satu sama lain. 2000:187) Prosedur digunakan perusahaan atau organisasi untuk membantu pelaksanaan kegiatan operasional. 194 . Dari jumlah tersebut 7% orang kebanyakan belum paham mengenai prosedurnya. dan memakan waktu lama sehingga kebanyakan masyarakat menyerahkan pembayarannya kepada makelar pajak atau calo. Bagaimana cara mengatasi permasalahan tersebut? LANDASAN TEORI A. Informasi sangat dibutuhkan oleh masyarakat. 2006:105). Permasalahan apa saja yang dialami dalam proses kegiatan pembayaran pajak kendaraan bermotor? 3. Bagaimana Prosedur administrasi pembayaran pajak kendaraan bermotor pada UP3AD Kabupaten Kendal? 2. Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk mengambil judul “PROSEDUR ADMININISTRASI PEMBAYARAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR PADA UP3AD KABUPATEN KENDAL” B. Pengertian Prosedur Prosedur adalah suatu rangkaian metode yang telah menjadi pola tetap dalam melakukan suatu pekerjaan yang merupakan suatu kebulatan. padahal sebenarnya pembayaran akan lebih ekonomis dan efisien apabila masyarakat mau membayarkan pajak terutangnya sendiri serta tidak menyita waktu. sehingga pelaksanaan sistem administrasi perpajakan diharapkan dapat dilaksanakan lebih tertib. PERUMUSAN MASALAH Atas dasar uraian latar belakang di atas maka perumusan masalahnya adalah : 1. Kurangnya komunikasi dan sosialisasi mengenai informasi prosedur pembayaran pajak kendaraan bermotor menyebabkan kurangnya minat para wajib pajak untuk membayarkan pajak terutangnya. B. membayar dan melaporkan sendiri pajak yang terutang. Pembayaran pajak merupakan wujud pengabdian dan peran serta masyarakat dalam membantu kelancaran pemerintahan daerah. karena perbedaan latar belakang pendidikan sehingga penyampaian informasi terkadang kurang bisa diterima. Kegiatan administrasi dalam arti sempit sering disebut juga sebagai tata usaha. Kaitanya dengan pembayaran pajak adalah prosedur pembayaran pajak kendaraan bermotor diperlukan untuk membantu organisasi dan wajib pajak dalam pelaksanaan pembayaran pajak agar berjalan dengan baik dan lancar. Pembayaran membutuhkan waktu kurang dari satu jam. terkendali. Dari pengamatan langsung di kantor UP3AD Kabupaten Kendal dan dari daftar pembayar pajak kendaraan bermotor di UP3AD jumlah pembayar atau wajib pajak rata-rata berjumlah 200 orang setiap harinya. Pengertian Administrasi Menurut (Silalahi.ditentukan oleh tingkah lakunya berdasarkan prosedur itu. (Gie. Karena setiap anggota masyarakat diberi kepercayaan pajak untuk dapat melaksanakan keikutsertaan nasional melalui sistem menghitung. Dengan adanya suatu prosedur maka kegiatan yang akan dicapai dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang di inginkan (Moenir. memperhitungkan.sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat wajib pajak.

C. sehingga membantu kita untuk menarik satu kesimpulan dari objek atau fenomena yang diteliti. tidak termasuk alat-alat besar. dalam hal ini aparat perpajakan. yang menjadi objek penelitian penulis adalah di kantor Unit Pelayanan Pendapatan dan Pembardayaan Aset Daerah (UP3AD) di jalan Soekarno Hatta No 101 Kendal. permasalahan apa saja yang di hadapi dan cara mengatasi permasalahan tersebut. METODE PENELITIAN A. D. Dan Peraturan Pelaksanaannya berdasarkan pada Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor : 75 Tahun 2002 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor dan pada Peraturan Daerah Povinsi Jawa Tengah No. Sumber dan Jenis Data Definisi sumber data menurut (Arikunto. pelayanan. sehingga melalui sistem ini administrasi perpajakan diharapkan dapat dilaksanakan dengan rapi. sederhana dan mudah untuk dipahami oleh anggota masyarakat Wajib Pajak. Anggota masyarakat Wajib Pajak diberi kepercayaan untuk dapat melaksanakan kegotongroyongan nasional melalui sistem menghitung. Pajak Kendaraan Bermotor Pajak Kendaraan Bermotor atau disebut (PKB) merupakan pajak yang dipungut atas kepemilikan dan atau penguasaan terhadap kendaraan bermotor (Tarmudji dan Suryarini. Lokasi Penelitian Dalam penelitian ini. membayar dan melaporkan sendiri pajak yang terutang (self assessment).3 tahun 2002 tentang Pajak Kendaraan Bermotor UU No. Sedangkan menurut UU No 18 tahun 1997 Pajak Kendaraan Bermotor adalah pajak atas kepemilikan dan atau penguasaan kendaraan bermotor. 2002:107) adalah subjek darimana data diperoleh. sesuai dengan fungsinya berkewajiban melakukan pembinaan. 2009:26).C. Objek kajian dalam penelitian ini adalah mengenai prosedur administrasi pembayaran pajak kendaraan bermotor pada UP3AD Kabupaten Kendal. 16 tahun 2000 tentang tata cara perpajakan di Indonesia a. dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu kendaraan bermotor yang bersangkutan. memperhitungkan. 2002:96). Data merupakan sumber tertulis yang sangat penting dalam penyusunan Tugas Akhir. B. 195 . Kendaraan bermotor adalah semua kendaraan beroda dua atau lebih beserta gandengannya yang digunakan di jalan umum. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dipungut berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 3 Tahun 2002 Tentang Pajak Kendaraan Bermotor. Pemerintah. c. Objek Kajian Objek kajian adalah objek penelitian yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data merupakan satu tahapan dalam proses penelitian dan sifatnya mutlak untuk dilakukan karena data merupakan fenomena yang diteliti. Bahwa pemungutan pajak merupakan perwujudan dari pengabdian dan peran serta Wajib Pajak untuk secara langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban perpajakan yang diperlukan untuk pembiayaan negara dan pembangunan nasional. Tanggung jawab atas kewajiban pelaksanaan pemungutan pajak sebagai pencerminan kewajiban di bidang perpajakan berada pada anggota masyarakat Wajib Pajak sendiri. Dokumentasi dan Wawancara. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah Observasi. dan pengawasan terhadap pemenuhan kewajiban perpajakan berdasarkan ketentuan yang digariskan dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. terkendali. b. Data yang diperoleh dari penelitian dapat memperkuat hasil penelitian dan memudahkan penyusunan Tugas Akhir.

2002:213). Metode Analisis Data Dalam penulisan Tugas Akhir ini. Tanda tangan Validitas STNK dan TNKB Penyerahan STNK 1. Hasil Penelitian 1. Registrasi Otorisasi Data Statis Kendaraan Order TNBK/STNK Cek fisik Pembayaran PKB Penetapan PKB dan SKPD Keterangan : PKB : Pajak Kendaraan Bermotor SPPKB : Surat Pendaftaran Pembayaran Kendaraan Bermotor. Berikut ini merupakan gambar alur pembayaran pajak kendaraan bermotor di UP3AD Kendal : Alur Rangkaian Pembayaran PKB Mulai Formulir SPPKB Penelitiankelengkap an. Metode deskriptif kualitatif adalah suatu metode analisis dimana data itu tidak dianalisis secara sistematis.E. TNKB : Tanda Nomor Kendaraan Bermotor. 5. tetapi hanya menguraikan dan menggambarkan suatu keadaan berdasarkan data pada waktu tertentu (Arikunto. 4. STNK :Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor. Pelayanan Korektor 1. 196 . SKPD : Surat Ketetapan Pajak Daerah. TandaTerima. 2. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. penulis menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. 3.

Staf lain yang kadang membuat tidak efisienya kerja staf pelayanan SPPKB karena membayar pajak pada saat kerja. Lebih menertibkan wajib pajak dengan cara memberikan nomer antrean juga pada loket pelayanan SPPKB. B. lalu menuju ke Penetapan PKB dan SKPD. Dimana secara umum dapat kami sampaikan bahwa prosedur standar yang dilakukan oleh wajib pajak adalah. Tetap mendahulukan wajib pajak dan untuk calo atau makelar pajak seharusnya mengikuti prosedur pembayaran seperti wajib pajak yang semestinya. kemudian menuju ke registrasi otorisasi data statis kendaraan dimana tempat untuk order STNK / TNBK dan cek fisik. pelayanan korektor. maka wajib pajak diminta untuk memenuhi kewajibannya membayar pajak kendaraan bermotor. sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat wajib pajak. uji validitas dan penyerahan STNK. Sesuai dengan UU No 16 tahun 2000 Karena setiap anggota masyarakat diberi kepercayaan pajak untuk dapat melaksanakan keikutsertaan nasional melalui sistem menghitung. Staf pelayanan SPPKB sudah seharusnya mendahulukan wajib pajak terlebih dahulu daripada orang dalam karena untuk memaksimalisasi kerja agar berjalan lebih efektif dan efisien. Banyak calo atau makelar yang terkadang sedikit mengganggu kerja para staf pada saat pengambilan formulir SPPKB karena tidak mengantri dahulu. d. Kurang efektifnya sosialisasi mengenai prosedur pembayaran pajak kendaraan bermotor. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya prosedur administrasi pembayaran PKB di UP3AD kabupaten Kendal sudah sesuai dengan standar prosedur yang ada pada UP3AD diseluruh Jawa Tengah yang artinya tata cara dan prosedurnya sudah sesuai dengan garis kebijakan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah. c. b. Pembayaran PKB. sehingga pelaksanaan sistem administrasi perpajakan diharapkan dapat dilaksanakan lebih tertib. penetapan. b. Berikut permasalahan dari dalam yang dialami dalam pembayaran pajak kendaraan bermotor yaitu : 1. Dan proses kegiatanya dimulai dari penghimpunan data dan kelengkapanya. pembayaran PKB lewat kasir. 197 . 2. Berikut merupakan permasalahan yang timbul dari luar adalah : a. pengesahan STNK dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu jam sejak saat pendaftaran /penyerahan berkas permohonan.kecamatan di daerah Kendal. membayar dan melaporkan sendiri pajak yang terutang.Berikut merupakan alurnya dimulai dari pengajuan persyaratan untuk memperoleh formulir SPPKB. Permasalahan yang timbul dalam proses kegiatan administrasi pembayaran pajak kendaraan bermotor di UP3AD dan cara mengatasi permasalahan tersebut. Mengefektifkan lagi sosialisasi ke kecamatan. 2. validitas STNK/TNKB dan terahir adalah penyerahan STNK. koreksi. Penentuan besarnya pajak yang terutang sesuai dengan jenis kendaraan dan besarnya SKPD. Cara untuk mengatasi permasalahan yang timbul dalam proses pembayaran pajak kendaraan bermotor di UP3AD Kabupaten Kendal : a. memperhitungkan. terkendali. pada saat jatuh tempo masa pembayaran pajak kendaraan bermotor sebagaimana tertera dalam Notice Pajak/STNK. Kurang tertibnya wajib pajak pada saat pengambilan formulir SPPKB.

agar masyarakat mengetahui tentang prosedur adminastrasi pembayaran pajak kendaraan bermotor. Hendaknya UP3AD agar lebih menyederhanakan prosedur yang ada untuk mempemudah dan memperlancar kegiatan administrasi pembayaran pajak kendaraan bermotor. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya prosedur administrasi pembayaran PKB di UP3AD kabupaten Kendal sudah sesuai dengan standar prosedur yang ada pada UP3AD diseluruh Jawa Tengah yang artinya tata cara dan prosedurnya sudah sesuai dengan garis kebijakan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah. Permasalahan dari luar banyak calo atau makelar yang terkadang sedikit mengganggu kerja para staf karena tidak mengantri dahulu. kurang tertibnya wajib pajak. 3.kecamatan di daerah Kendal.kecamatan di daerah kendal secara menyeluruh. Kesimpulan 1. Staf pelayanan SPPKB sudah seharusnya mendahulukan wajib pajak terlebih dahulu daripada orang dalam karena untuk memaksimalisasi kerja agar berjalan lebih efektif dan efisien.SIMPULAN DAN SARAN A. 2. Staf lain terkadang membuat tidak efisienya kerja para staf pelayanan SPPKB. Untuk calo atau makelar pajak seharusnya mengikuti prosedur pembayaran seperti wajib pajak yang semestinya. Saran Dari pembahasan di atas penulis dapat saran. Sebaiknya UP3AD untuk lebih mengefektifkan sosialisasi di kecamatan. Lebih menertibkan wajib pajak dengan pemberian nomer antrean pada loket pelayanan SPPKB.saran sebagai berikut : 1. 2. Cara untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan mengefektifkan kembali sosialisasi ke kecamatan. Permasalahan dari dalam yang dihadapi dalam proses pembayaran pajak kendaraan bermotor yaitu kurang efektifnya sosialisasi mengenai prosedur pembayaran pajak kendaraan bermotor sehingga membuat wajib pajak kurang memahami tentang prosedurnya. B. 198 .

(2) Kendala apa saja yang dihadapi dalam peningkatan motivasi kerja pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah ?.PENINGKATAN MOTIVASI KERJA PEGAWAI DI BIRO SDM DAN UMUM SEKSI PENGELOLAAN ASET PERUSAHAAN PERUM PERHUTANI UNIT I JAWA TENGAH Heni Maulidah ABSTRAK Motivasi merupakan serangkaian sikap dan nilai-nilai yang mempengaruhi individu untuk mencapai hal yang spesifik sesuai dengan tujuan individu. Hal ini tidak terlepas dari peran pimpinan. Untuk menyediakan fasilitas pimpinan diharapkan aktif untuk mengajukan pengadaan fasilitas yang dianggap penting untuk menunjang suatu pekerjaan. Dan sebaiknya perusahaan segera menambahkan karyawan untuk menggantikan posisi pegawai yang dipindah. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana upaya yang dilakukan dalam peningkatan motivasi kerja pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah ?. Kata Kunci : Peningkatan. Dengan adanya pemberian motivasi dari pimpinan diharapkan pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan akan lebih giat dan bersemangat dalam bekerja. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui upayaupaya yang dilakukan dalam peningkatan motivasi kerja pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Saran yang dapat peneliti sampaikan berdasarkan hasil penelitian adalah diharapkan pimpinan memberikan pelatihan terhadap pegawai. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu analisis dengan memaparkan faktafakta yang diamati dengan diikuti teori-teori yang mendukung. Motivasi 199 . observasi dan dokumentasi. (2) Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam peningkatan motivasi kerja pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. karena latar belakang pegawai di Biro SDM dn Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan yang berbeda-bada. sehingga karyawan lain tidak terbebani dengan pekerjaan yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. pada dasanya motivasi dapat memacu karyawan untuk bekerja keras sehingga dapat mencapai tujuan mereka. pemberian promosi dan pemberian bonus bagi pegawai yang berprestasi. upaya yang dilakukan pimpinan dalam memotivasi kerja pegawai yaitu dengan mengadakan rapat pembinaan. sedangkan metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara. Hal ini akan meningkatkan produktivitas kerja sehingga berpengaruh pada pencapaian tujuan perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa peningkatan motivasi kerja pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan sudah cukup baik.

Dalam suatu perusahaan potensi tenaga kerja merupakan modal yang sangat penting bagi pencapaian keberhasilan serta tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. perusahaan harus menjaga hubungan kerja yang baik dengan pegawainya. dan setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk menjalankan tugas masingmasing. sehingga pekerjaan yang diberikan akan cepat selesai serta pegawai akan lebih terampil dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Salah satu hal yang perlu ditingkatkan perusahaan adalah mengenai motivasi pegawai. Oleh karena itu.PENDAHULUAN Pada saat ini telah memasuki era global. Tujuan perusahaan dapat tercapai jika manajemen mampu mengelola dan menggerakan sumber daya manusia secara efektif dan efisien. Organisasi dikelola oleh sumber daya manusia didalamnya. Selain itu pegawai juga akan tergerak untuk lebih meningkatkan ketrampilan dan kualitas kerjanya guna mencapai prestasi yang diharapkan. dimana perusahaan-perusahaan baik yang berorientasi pada keuntungan maupun organisasi yang tidak berorientasi pada keuntungan bersaing untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. Karena dengan adanya motivasi maka pegawai akan terdorong untuk melaksanakan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh serta dengan penuh rasa tanggung jawab. 200 . Meningkatkan motivasi merupakan hal yang sangat penting dalam upaya pengembangan pegawai.

hal ini tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang yang bersangkutan (Winardi. Sumber data dari penelitian ini adalah dari pimpinan dan pegawai Bagian SDM dan Umum Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Motivasi merupakan subyek yang membingungkan. Manajer perlu memahami orang-orang berperilaku tertentu agar dapat mempengaruhinya untuk bekerja sesuai dengan yang diinginkan organisasi. Untuk meningkatkan produktifitas yang tinggi perlu adanya motivasi kerja dari para karyawan. Data Sekunder Yaitu data yang diperoleh penulis dari buku-buku literatur yang terkait dengan penulisan Tugas Akhir ini sebagai penunjang dalam penelitian. Pada Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah untuk menjalankan misi perusahaan maka pegawai harus diberi motivasi kerja yang tinggi agar dapat bekerja dengan baik sesuai yang diharapkan. 2001 : 6). karena motivasi adalah suatu kekuatan potensial yang ada dalam diri seorang manusia. Karyawan membutuhkan semangat yang tinggi untuk meningkatkan hasil yang diharapkan. Dalam hal ini peneliti (penulis) secara langsung observasi ke obyek penelitian yaitu pada Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah melalui wawancara. Produktivitas pegawai menjadi pusat perhatian dalam upaya meningkatkan kualitas kerja yang mempengaruhi tingkat efisiensi dan efektifitas organisasi. b. dan memelihara perilaku manusia. Jenis Data a. Hubungan karyawan yang tertata baik sangat bermanfaat bagi organisasi. yang dapat mempengaruhi hasil kinerjanya secara positif atau secara negatif. menyalurkan.Dengan adanya motivasi diharapkan setiap pegawai mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi. Seseorang yang termotivasi maka seseorang tersebut akan melaksanakan tugasnya sebagai pegawai dimana ia bekerja dengan penuh rasa ta nggu ngjawa b. Dalam melakukan suatu pekerjaan tidak jarang pegawai menemukan kesulitan yang mampu menghambat pencapaian hasil kerja yang maksimal. 2002: 107) . dan imbalan nonmoneter. 1. Sumber Data Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah subjek dimana data dapat diperoleh (Arikunto. Motivasi bertujuan untuk meningkatkan semangat kerja dan produktivitas pegawai. tetapi harus disimpulkan dari perilaku yang tampak ( Handoko. atau dikembangkan oleh sejumlah kekuatan luar yang pada intinya berkisar sekitar imbalan moneter.2. Motivasi ini merupakan subyek yang penting bagi manajer.2003 : 251). karena banyak kendalakendala yang dihadapi dalam memberikan motivasi kerja pegawai.1. yang dapat dikembangkannya sendiri. Dalam proses pemberian motivasi kerja tidak selamanya berjalan sesuai yang diharapkan. Motivasi merupakan kegiatan yang mengakibatkan. Data Primer Yaitu data yang diambil langsung dari sumbernya. Dan merupakan data yang sudah baku serta dipublikasikan dari data sekunder ini akan diperoleh data penelitian kepustakaan yaitu 201 . Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk menyusun Tugas Akhir ini dengan judul : “PENINGKATAN MOTIVASI KERJA PEGAWAI DI BIRO SDM DAN UMUM SEKSI PENGELOLAAN ASET PERUSAHAAN PERUM PERHUTANI UNIT I JAWA TENGAH” METODE PENELITIAN Sumber dan Jenis Data 1. karena manajer harus bekerja dengan dan melalui orang lain. karena motivasi tidak dapat diamati atau diukur secara langsung. Motivasi juga merupakan salah satu faktor yang dapat mendukung efektifitas kerja. Tujuan pimpinan adalah memberikan dorongan kepada pegawainya agar bisa bekerja sesuai dengan tujuan yang diharapkan oleh organisasi.

surat kabar. Suharsimi (2002:236) Metode Analisis Data Untuk mencapai tujuan penelitian sesuai dengan yang diharapkan dalam penyusunan Tugas Akhir ini dan untuk diperoleh suatu kesimpulan maka data yang telah terkumpul akan dianalisis dengan mengamati mengenai diperlukannya sesuai kriteria halhal yang diperlukan dalam suatu penyajian. Diberikan bonus kepada karyawan yang berprestasi yang dapat melaksanakan penjualan melebihi target yang telah ditetapkan. buku-buku. Arikunto. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai peningkatan motivasi kerja pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Pemberian motivasi kepada pegawai sangat berpengeruh terhadap produktivitas kerja yang tinggi. Diadakannya rapat pembinaan yang dihadiri oleh semua pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan dan biasanya dilakukan 1 minggu sekali oleh pimpinan. pekerjaan itu sendiri. Dokumentasi Adalah data yang diperoleh dengan cara mengumpulkan data -data yang disediakan oleh instansi. Pemberian promosi bagi pegawai yang berprestasi. majalah dan sebagainya. Kendala-kendala yang dihadapi dalam memberikan motivasi kerja kepada pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan: a. Metode pengumpulan data Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan beberapa cara sebagai berikut : 1. Faktor motivasi yang berasal dari luar yaitu gaji. kebijakan administrasi perusahaan dan hubungan antar pribadi. 3. Observasi Dalam penelitian ini penulis mengumpulkan data dengan cara mengadakan observasi ke Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Data yang sudah dikumpulkan akan dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif. Sedangkan faktor yang berasal dari dalam diri pegawai yaitu prestasi kerja. Untuk meningkatkan motivasi kerja pimpinan harus mengetahui apa yang diinginkan pegawai agar pegawai dapattermotivasi untuk bekerja lebih giat dan mencapai prestasi kerja yang tinggi. 2. Upaya yang dilakukan dalam meningkatkan motivasi kerja pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah meliputi hal-hal sebagai berikut : a. karena motivasi merupakan suatu keadaan dalam diri seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melaksanakan aktivitas yang sejalan dengan tujuan. Wawancara Dalam penelitian ini penulis mengumpulkan data dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung kepada pimpinan atau staf kantor pada Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. kondisi kerja yang nyaman. b. pengekuan dan taggung jawab terhadap pekerjaan. Latar belakang pegawai yang berbeda-beda sehingga para pegawai memiliki karakter dan 202 . 2. Kebutuhan dan keinginan tersebut biasanya dipengeruhi oleh beberapa faktor. sehingga diharapkan tujuan perusahaan dan individu dapat tercapai. adalah pembandingan antara teori dengan hasil penelitian tentang motivasi kerja pegawai pada Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. 1.metode pengumpulan data dengan cara membaca serta mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan tema penulisan Tugas Akhir ini. Yaitu dengan mencari data mengenai hal-hal atau variabel-variabel yang berupa catatan. Dengan adanya promosi ini pegawai diharapkan dapat bersemangat dan bergairah untuk mencapai prestasi yang diharapkan. c.

Melayu. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Fathoni. . Kemampuan perusahaan terbatas dalam menyediakan fasilitas dan insentif untuk memenuhi kebutuhan pegawai. T. A. Hasibua. Stephen P. Sondang. Jakarta : PT. 1994. Prenhallindo. Hani. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan. 203 . tanpa harus selalu diawasi oleh pimpinan. Manajemen Personalia. Jakarta : PT. Jakarta : Rineka Cipta. Bandung : Pustaka Setia. Richard L. . Abdurrahmat. Fun gsi-fungsi Manajerial. Manullang. Rivai. A. Jakarta : Bumi Aksara. Manajemen Sumber Daya Manusia. Dharma. Manajeme Sumber Daya Perusahaan. Yogyakarta : BPFE. Sulistyani. 1993. 2001. H. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Handoko. Samsudin. Agus. Daft. Rineka Cipta. 2003. 2004. Siagian. Manajemen Sumber Daya Manusia. 2001. Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen. Jakarta : Bumi Aksara. Jakarta : Murai Kencana. Yogyakarta : BPFE. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. Management. 2001. Jakarta : PT Raya Grafindo Persada. Yogyakarta : BPFE Winardi. Jakarta : Ghalia Indah. T dan rosidah. Pegawai memiliki semangat kerja yang tinggi dan loyalitas yang tinggi pula terhadap perusahaan. Riset Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi. Robins. Riasto. . Jakarta : Salemba Empat. Pegawai memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. suharsimi. Perilaku Organisasi. Husein. 2005. 3. Teori Motivasi dan Aplikasinya. 2006. c. A. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta : Graha Ilmu Umar.kemampuan yang berbeda sesuai dengan bidang masing-masing. Jakarta : Rajawali Press. 2006. Manajemen Prestasi Kerja. Manajemen Sumber Daya Manusia. 2006. Bumi Aksara. b. b. Anwar Prabu. Pegawai memiliki kesadaran diri untuk meningkatkan prestasi kerja. Bandung : Remaja Rosdakarya. Mangkunegara. Jakarta : PT. 2002. Prosedur Penelitian. Sadili. veithzal. 2003. Organisasi dan Motivasi. Widiatmono. 2002. Organisasi dan Manajemen Sumber Daya Manusia. Manajemen Edisi Kedua. Manfaat motivasi kerja antara lain sebagai berikut : a. 1996. 1996. Jakarta : Rineka Cipta. 2005. 1991. P.

Permasalahan yang dikaji adalah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dan seberapa besar faktor tersebut mempengaruhi. Faktor intern yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu intelegensi. karena prestasi belajar menunjukan hasil usaha yang dicapai siswa selama mereka melakukan kegiatan pembelajaran di sekolah yang pada umumnya ditunjukan dalam bentuk nilai.182 + 0. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK N I Punggelan Banjarnegara Tahun ajaran 2009/2010. sedangkan pada kelas XI materi yang diajarkan merupakan isi dari ilmu kewirausahaan tersebut. Kata kunci : Faktor internal. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jumlah populasi sebanyak 113 dengan menggunakan sampel sebanyak 57 siswa. Banjarnegara? 204 . mengetahui seberapa besar faktor intern dan ekstern berpengaruh baik secara parsial maupun secara simultan. Seberapa besar faktor-faktor tersebut mempengaruhi prestasi belajar pada siswa kelas XI di SMK N I Punggelan. minat. Kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar. dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses.faktor eksternal dan prestasi belajar 1.0. Dengan demikian menunjukan bahwa ada pengaruh yang positif dan signifikan antara faktor internal dan eksternal terhadap prestasi belajar siswa dan ada pengaruh yang positif dan signifikan antara faktor eksternal terhadap prestasi belajar siswa sebesar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor intern dan ekstern yang mempengaruhi prestasi belajar. dokumentasi. Materi yang disampaikan pada kelas X merupakan dasar-dasar dari ilmu kewirausahaan.FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI BELAJAR KEWIRAUSAHAAN SISWA KELAS XI SMK N I PUNGGELAN BANJARNEGARA Ristian Cahyo Saputro Abstrak Prestasi belajar merupakan salah satu ukuran keberhasilan dalam belajar mengajar. dan pada kelas XII siswa-siswi tersebut diterjunkan langsung ke lapangan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapat. Atas dasar ketentuan ini diharapkan siswa dapat mencapai hasil yang optimal. lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. PENDAHULUAN 1.461 + 0.2 Rumusan Masalah a. Analisis data menggunakan analisis deskriptif persentase dan regresi berganda. yang nantinya akan terjun langsung di lapangan dengan kemampuan yang telah dibekali dari sekolah sesuai dengan jurusan yang mereka ambil. Kewirausahaan merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di SMK N I Punggelan. Sesuai dengan ketentuan kurikulum yang berlaku untuk mengukur keberhasilan pembelajaran yaitu dengan ditetapkannya batas minimum ketuntasan belajar untuk mata pelajaran kewirausahaan yaitu 6.193 . Bentuk keberhasilan pembelajaran di sekolah dapat dilihat dari prestasi belajar siswa. Sedangkan faktor ekstern adalah lingkungan sekolah. Hasil penelitian diperoleh persamaan regresi Ŷ = 43. Faktor-Faktor apa saja yang mempengaruhi prestasi belajar Kewirausahaan pada siswa kelas XI di SMK N I Punggelan. Banjarnegara? b. yang diajarkan dari kelas X sampai kelas XII.1 Latar Belakan Masalah SMK Negeri I Punggelan merupakan salah satu dari sekian banyak SMK Negeri di Kabupaten Banjarnegara yang berusaha mencetak lulusan yang siap kerja dan siap bersaing dalam dunia kerja. 1. kiat. kuesioner. Pengambilan data menggunakan teknik observasi. bakat dan motivasi. menurut Suryana (2006:2). Tinggi rendahnya nilai yang dicapai oleh siswa dipengaruhi oleh faktor intern dan faktor ekstern.

METODOLOGI PENELITIAN 3. maka semakin besar kesalahan generalisasi (Sugiyono. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK N I Punggelan.2 Sampel Penelitian Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK N I Punggelan Banjarnegara tahun pelajaran 2009/2010 yang terbagi dalam tiga kelas dengan jumlah siswa keseluruhan sebanyak 113 siswa. 3. Berdasarkan uraian di atas maka sampel dalam penelitian ini diambil 50% dari tiap kelas. motivasi. dan XI Teknik Mekanik Otomotif (TMO)2. Perbuatan yang dilakukan secara sungguh-sungguh. lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. aplikasi. pemahaman. Prestasi belajar merupakan suatu bukti keberhasilan usaha yang dicapai oleh seseorang setelah memperoleh pengalaman belajar atau mempelajari sesuatu (Winkel. b. Prestasi belajar siswa tersebut terutama dinilai aspek kognitifnya karena bersangkutan dengan kemampuan siswa dalam pengetahuan atau ingatan. dengan sistematis. bakat. mental serta panca indera. analisis. Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran. dan sebagainya (Dalyono. Semakin besar jumlah sampel mendekati populasi. baik fisik. 1991:160). XI Teknik Mekanik Otomotif (TMO)1. maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil dan sebaliknya semakin kecil jumlah sampel menjauhi populasi. Dalam penelitian ini digunakan teknik Simple Random Sampling. otak dan anggota tubuh lainnya. Prestasi belajar siswa adalah hasil belajar yang dicapai siswa ketika mengikuti dan mengerjakan tugas dan kegiatan pembelajaran di sekolah. Prestasi belajar siswa dibuktikan dengan ditunjukan melalui nilai atau angka nilai dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru terhadap tugas siswa dan ulangan-ulangan atau ujian yang ditempuhnya (Tu’u. demikian pula aspek-aspek kejiwaan seperti intelegensi. jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih. Banjarnegara? b Untuk mengetahui seberapa besar faktor-faktor tersebut mempengaruhi prestasi belajar kewirausahaan pada siswa kelas XI SMK N I Punggelan. Banjarnegara tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah 113 orang siswa yang tersebar dalam 3 kelas dari kelas XI Teknik Bodi Otomotif (TBO). Banjarnegara? 2. 2006: 130). Zimmerer (1996:51) (dalam Suryana. 2004:75). dimana pengambilan sampel dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu (Sugiyono. Berdasarkan hal itu. minat. sintesa dan evaluasi. 2006:13) kewirausahaan merupakan proses penerapan kreatifitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan mencari peluang yang dihadapi setiap orang dalam setiap hari. 2005:62). lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupan penelitian populasi.3 Tujuan a Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar kewirausahaan pada siswa kelas XI SMK N I Punggelan.1. LANDASAN TEORI Belajar adalah suatu usaha. Kewirausahaan menurut Thomas W.2005 :57). Sedangkan menurut Suharsimi (2006:134) menyatakan: sampel apabila subyeknya kurang dari 100. Dalam pengambilan sampel untuk penelitian ini diasumsikan 205 .1 Populasi Penelitian Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Suharsimi. c. 2009:49). prestasi belajar siswa dapat dirumuskan sebagai berikut: a. 3. mendayagunakan semua potensi yang dimiliki.

faktor ekstern serta prestasi belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan. transkrip. surat kabar. buku.5. Lingkungan masyarakat Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar 3. Sedangkan angket data yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket tertutup dimana jawabannya sudah tersedia.4 Teknik Pengumpulan Data 3. Jadi sampel yang diambil tidak membedakan jenis kelamin siswa. Minat c. agenda.3 Variabel Penelitian Variabel penelitian merupakan gejala yang menjadi fokus peneliti untuk diamati (Sugiyono. Faktor Ekstern : a.2006:225).2 Metode Dokumentasi Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai berbagai variabel berupa catatan. Variabel tersebut terdiri dari beberapa indikator yang sangat mendukung dan kemudian indikator tersebut dikembangkan menjadi instrumen (angket). dan sebagainya (Suharsimi.1 Metode Analisis Deskriptif Persentase Metode analisis deskriptif persentase digunakan untuk mengkaji variabel faktor intern. notulen rapat. legger. Variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Variabel bebas atau variabel independen: 1. Lingkungan keluarga b. sehingga responden (siswa kelas XI SMK N I Punggelan Banjarnegara) tinggal memilih alternatif jawaban yang sesuai keadaan sebenarnya. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang: 1) Daftar jumlah siswa kelas XI SMK N I Punggelan Banjarnegara 2) Nilai rapor mata pelajaran kewirausahaan siswa kelas XI SMK N I Punggelan Banjarnegara 3) Data profil sekolah SMK N I Punggelan banjarnegara. Faktor Intern : a. Intelegensi b. 3.1 Metode Kuesioner/angket Metode kuesioner/angket adalah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (Suharsimi. 3.bahwa kemampuan belajar antara siswa laki-laki dan perempuan adalah sama. Berikut adalah tabel pengambilan sampel penelitian.5 Metode Analilsis Data 3. prasasti. 3. Bakat d.4. 2006:231). Lingkungan sekolah c. 2005:2). Motivasi 2. 206 .4. Jadi kuesioner adalah pengumpulan informasi dengan cara mengedarkan daftar tertulis untuk dijawab secara tertulis pula oleh responden.

9 % dan faktor eksternal yaitu 19. Secara simultan besarnya pengaruh faktor internal dan faktor eksternal terhadap prestasi belajar siswa adalah 46. B Error 43.2 Saran Ada beberapa saran yang diajukan sehubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar kewirausahaan. 2. Predictors: (Constant). Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar Kewirausahaan pada siswa kelas XI SMK N 1 Punggelan Banjarnegara tahun pelajaran 2009/2010 yaitu faktor internal yang terdiri atas intelegensi. Faktor Intern b. group investigation. PENUTUP 5.459 3.609 Sig.6%. mind mapin. F Change . Dependent Variable: Hasil Belajar 5.461 3. saran yang diajukan : 1. Besarnya pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap prestasi belajar kewirausahaan pada siswa kelas XI SMK N 1 Punggelan Banjarnegara tahun pelajaran 2009/2010. minat. Secara parsial besarnya pengaruh faktor internal terhadap prestasi belajar siswa adalah 26.000 a. bakat.908 VIF 1.000 . Error of the Estimate 2.39770 F Change 23.519 .446 Std. Mengenai guru yang dalam mengajar masih banyak menggunakan metode konvensional.517 df1 2 df2 54 Sig.041 .362 4. .4.441 Collinearity Statistics Tolerance .1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasannya. dan lain sebagainya yang membuat siswa lebih aktif dalam dalam proses pembelajaran mengingat materi kewirausahaan yang padat.377 t 11.001 Correlations Partial .193 .682a R Square . Mengenai alat/media pembelajaran yang terbatas.825 .908 . 207 .466 . sebaiknya pihak sekolah diharapkan untuk menambah jumlah buku paket dan buku literature yang ada di sekolah agar siswa mempunyai sumber belajar yang lengkap sehingga dapat memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Faktor Ekstern.102 1.053 Standardized Coefficients Beta . 5.466 Adjusted R Square . sebaiknya guru pada waktu mengajar untuk lebih kreatif dalam menggunakan metode mengajar seperti metode jigsaw.102 a. HASIL PENELITIAN a Coefficients Model 1 (Constant) Faktor Intern Faktor Ekstern Unstandardized Coefficients Std.5%. Dependent Variable: Hasil Belajar b Model Summary Change Statistics Model 1 R .000 . 2. motivasi dan faktor eksternal yang terdiri atas lingkungan keluarga. lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.182 . maka dapat diambil suatu simpulan sebagai berikut : 1.

Tulus. Suryana. Semarang : UPT MKK UNNES Press Ghozali. Belajar Secara Efektif. Jakarta: Gramedia. UPT Unnes Press. 2004. 2003. Imam. Pengaruh Pendidikan Sistem Ganda. Penguasaan Mata Pelajaran Produktif Administrasi Perkantoran dan Fasilitas Belajar Terhadap Kesiapan Kerja Siswa Kelas XI Prodi Administrasi Perkantoran di SMK N 1 Kendal Kabupaten Kendal Tahun Ajaran 2009/2010. Universitas Negeri Semarang. 208 . Hakim. Tu’u. Kewirausahaan. Oemar. Sugiyono.Suharsimi.M. Jakarta: PT Grasindo. 2009. Sardiman. 2004. Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa. Aplikasi Analisis Multi Variat dengan Program SPSS. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Winkel. 2005.dkk. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. Skripsi. Psikologi Belajar. Djamarah. DAFTAR PUSTAKA Anni. Fakultas Ekonomi. Slameto. Syaiful Bahri. Hamalik. Semarang: Universitas Diponegoro. Jakarta: Rineka Cipta. Pedoman Penulisan Skripsi. Jakarta: Salemba Empat Susanti. 2003. M. Dalyono. Jakarta: Rineka Cipta. Psikologi Belajar. _________________ 2006. W. 2005. 2008. Bandung: Alfabeta. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. 2005. Psikologi Pendidikan.S. Abu. Siti. Thursan.Catarina Tri. 2010. 2007. 2006.Selain itu juga diharapkan guru untuk memanfaat media yang ada dalam setiap pertemuan dengan optimal guna mendukung kelancaran proses pembelajaran. 2009. 2009. Semarang. Semarang: UPT Unnes Press. Psikologi Belajar: Jakarta: PT Rineka Cipta. Jakarta: Rineka Cipta. Psikologi Pendidikan dan Evaluai Belajar. Jakarta: Puspa Suara. Jakarta: PT raja Grafindo Persada. Sosiologi Pemdidikan. 2006. Jakarta: Rineka Cipta. Ahmadi. A. 2007. Statistika Untuk Penelitian. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Arikunto.

orang tua sebagai relawan. Karena populasi lebih dari 100 orang maka menggunakan teknik proportional random sampling. Minat Siswa Memilih Program Perkantoran.69% dan minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran sebesar 21.448 minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran sebesar 3.com Abstrak Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yaitu. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa thitung > ttabel ini berarti secara parsial variabel keterlibatan orang tua dan minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal. dan dari variabel keterlibatan orang tua dan minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran. yaitu: konsep diri orang tua dan anak akan 209 . 2009:42).62%. orang tua adalah mitra kerja yaitu: orang tua sebagai pelajar. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa secara parsial keterlibatan orang tua dan minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal. orang tua pembuat keputusan. koesioner dan dokumentasi. Populasi dalam penelitian ini adalah siswi-siswi kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah 120 siswi. Email: sleepy_freaky@ymail. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang.PENGARUH KETERLIBATAN ORANG TUA DAN MINAT SISWA MEMILIH PROGRAM KEAHLIAN ADMINISTRASI PERKANTORAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA DIKLAT PRODUKTIF SISWA KELAS XI PROGRAM KEAHLIAN ADMINISTRASI PERKANTORAN SMK NEGERI 1 DUKUHTURI KABUPATEN TEGAL Silfia Rizqi Amalia (Universitas Negeri Semarang) Sarjana Pendidikan Ekonomi. Apabila anak telah masuk sekolah. bagaimana pengaruh keterlibatan orang tua dan pengaruh minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran terhadap prestasi belajar siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran. Kata Kunci : Keterlibatan Orang Tua. Jurusan Manajemen. variabel manakah yang paling berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal.572 dimana ttabel 1. Orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya. orang tua sebagai anggota tim kerjasama guru-orang tua. Dengan demikian variabel minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran adalah varibel yang paling berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa secara parsial thitung variabel keterlibatan orang tua sebesar 3. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif persentase dan analisis regresi berganda. Pendahuluan Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dan berasal dari luar diri siswa (ekstern) salah satunya adalah keterlibatan orang tua dalam meningkatkan prestasi belajar anaknya.987. “Seringkali orang tua berpandangan bahwa sekolah adalah satu-satunya lembaga yang mampu mencetak manusia-manusia berkualitas dan berprestasi” (Rushdie dan Nurlaela Isnawati. Prestasi Belajar.Teknik pengumpulan data menggunakan observasi. KeahlianAdministrasi 1. Ada tiga hal yang penting apabila orang tua dan pihak sekolah dapat menjalin kerja sama. Sumbangan efektif yang diberikan untuk keterlibatan orang tua sebesar 11.

dan prestasi yang dicapai akan meningkat pula (Soemiarti Padmonodewo.5% siswa belum memenuhi kriteria tuntas. Anak didik yang berminat terhadap sesuatu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap sesuatu yang diminati itu dan sama sekali tak menghiraukan sesuatu yang lain. karena diharapkan hasil belajar yang dicapai akan lebih baik. minat tidak hanya diekspresikan melalui pernyataan yang menunjukkan bahwa anak didik lebih menyukai sesuatu dari pada yang lainnya. motivasi belajar anak meningkat.Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa sebanyak 62. maka dapat dirumuskan permasalahan antara lain sebagai berikut : 1. diolah. Atas dasar pemikiran di atas. Adakah pengaruh keterlibatan orang tua dan minat siswa memilih Program Keahlian Administrasi Perkantoran terhadap prestasi belajar mata diklatproduktif siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal? 210 . Keadaan yang demikian terjadi juga di SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal. Adakah pengaruh minat siswa memilih Program Keahlian Administrasi Perkantoran terhadap prestasi belajar mata diklatproduktif siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal? 3. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan informasi dari guru mata diklat dan guru BK sendiri untuk keterlibatan orang tua dalam urusan pendidikan anaknya cukup tinggi dan orang tua selalu peduli dan tidak sepenuhnya beranggapan bahwa sekolah adalah satu-satunya lembaga yang bertanggung jawab memberikan yang terbaik untuk anaknya . Adapun hasil prestasi belajar siswa mata diklat produktif.1 Prestasi belajar siswa No Kelas Tuntas % Belum % Jumlah Tuntas 1 XI AP 1 25 62. dan Administrasi Perkantoran. Permasalahan Berdasarkan latar belakang tersebut di atas. Pemasaran. dapat dilihat dari banyaknya jumlah calon siswa yang mendaftar di SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal. Dengan adanya minat yang tinggi siswa dapat mencapai prestasi yang lebih baik akan tetapi pada kenyataanya masih ada nilai siswa dibawah standar kelulusan yakni dibawah nilai 70. penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul: “PENGARUH KETERLIBATAN ORANG TUA DAN MINAT SISWA MEMILIH PROGRAM KEAHLIAN ADMINISTRASI PERKANTORAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA DIKLATPRODUKTIF SISWA KELAS XI PROGRAM KEAHLIAN ADMINISTRASI PERKANTORAN SMK NEGERI 1 DUKUHTURI KABUPATEN TEGAL”. Minat merupakan hal yang sangat penting dan sebaiknya jurusan yang dipilih benar-benar sesuai dengan minat siswa.5% 15 37. sebagai berikut: Tabel 1. 2003:123-124). Dari data tersebut diperoleh gambaran mengenai prestasi belajar mata diklat produktif Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi kabupaten Tegal. Adakah pengaruh keterlibatan orang tua terhadap prestasi belajar mata diklatproduktif siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal? 2.5% 40 2 XI AP 2 28 70% 12 30% 40 3 XI AP 3 22 55% 18 45% 40 Sumber : Data SMK N 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal. Siswa yang memiliki minat yang tinggi terhadap program keahlian administrasi perkantoran cenderung akan merasa senang.meningkat. perhatian dan akan menumbuhkan sikap positif terhadap mata diklatproduktif administrasi perkantoran. Sedangkan minat siswa untuk memilih program keahlian administrasi perkantoran di SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal boleh dikatakan tinggi. Sekolah tersebut memiliki tiga Program Keahlian yaitu Akuntansi. tetapi juga diimplempentasikan melalui partisipasi aktif dalam suatu kegiatan. Sedangkan salah satu faktor yang berasal dari dalam diri siswa (intern) adalah minat siswa memilih Program Keahlian Administrasi Perkantoran.5% siswa memenuhi kriteria tuntas dan sebanyak 37.

fokus pada interaksi orang tua/anak/keluarga adalah orang tua. antara lain perencanaan kurikulum. Menurut Morrison dalam Soemiarti (2003:125) tiga kemungkinan keterlibatan orang tua. Bukti Empiris Prestasi belajar menurut Tulus Tu’u (2004:75) adalah : hasil yang dicapai seseorang ketika mengerjakan tugas atau kegiatan tertentu. anak dan program sekolah semuanya merupakan bagian dari suatu proses. 2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh antara keterlibatan orang tua terhadap prestasi belajar mata diklatproduktif siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal. tanpa menyuruh. Bentuk partisipasi lain yang masih termasuk orientasi pada tugas adalah. guna keuntungan mereka sendiri. membantu mengawasi anak apabila anak-anak melakukan kunjungan luar. Minat menurut Slameto (2003:180) adalah “suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas.Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah. yaitu keterlibatan dalam membantu program sekolah. karena sekolah sering kali menganggap bahwa umumnya orang tua tidak memiliki ketrampilan untuk melaksanakannya. 3) Orientasi pada perkembangan Orientasi ini membantu para orang tua untuk mengembangkan ketrampilan yang berguna bagi mereka sendiri. 3. yaitu : 1) Orientasi pada tugas Orientasi ini paling sering dilakukan oleh pihak sekolah. sedangkan pendidik anak harus bekerja sama dengan orang tua apabila ingin berhasil. 2. staf administrasi. maka penelitian memiliki tujuan sebagai berikut : 1. yang berkaitan sebagai staf pengajar. Orang tua. sekolah. Metodologi 211 . Siswa menunjukkan bukti-bukti keberhasilan usaha yang dicapai siswa selama mereka belajar dan biasanya diwujudkan dalam bentuk atau simbol lain yang merupakan pencerminan kemampuan siswa dalam mempelajari suatu pelajaran. Namun. seleksi guru dan membantu menentukkan standar tingkah laku yang diharapkan. dan pada waktu bersamaan meningkatkan keterlibat orang tua. melakukan monitoring. Prestasi belajar adalah hasil belajar yang di capai siswa ketika mengikuti dan mengerjakan tugas serta kegiatan pembelajaran di sekolah. guru. membantu mengumpulkan dana. anakanaknya. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh antara keterlibatan orang tua dan minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran terhadap prestasi belajar mata diklatproduktif siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal. dan program yang dijalankan anak itu sendiri. Semakin kuat dan dekat hubungan tersebut. 3. orang tua membantu anak dalam tugastugas sekolah. keluarga. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri. sebagai tutor. Orientasi proses ini jarang dilaksanakan. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh antara minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran terhadap prestasi belajar mata diklatproduktif siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal. anak-anaknya. semakin besar minat”. Bentuk partisipasi para orang tua yang tersebut adalah yang biasanya diharapkan para guru. 2) Orientasi pada proses Partisipasi orang tua didorong untuk mau berpartisipasi dalam kegiatan yang berhubungan dengan proses pendidikan. memilih buku yang diperlukan untuk sekolah. Menurut Morrison dalam Soemiarti (2003:124-125) keterlibatan orang tua yaitu :suatu proses di mana orang tua menggunakan segala kemampuan mereka.

Ada pengaruh keterlibatan orang tua terhadap prestasi belajar mata diklat produktif pada siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal.327 .173 1. Jika minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran tinggi maka prestasi belajar siswa akan meningkat. Dependent Variable: Y B 4.033 Std.001 .572 Sig.387 . 212 .000 . Skor 2 untuk jawaban Tidak setuju (TS) 10. 2008: 275) Angket/kuesioner yang digunakan menggunakan pendekatan skala likert dimana setiap pernyataan dalam angket memiliki lima alternatif jawaban yaitu Sangat Setuju (SS). Sedangkan penelitian ini menggunaka teknik sampling yang digunakan yaitu proportional random sampling.260 3. Error . 3. Skor tersebut terdiri dari: 6.009 . Ada pengaruh keterlibatan orang tua dan minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran terhadap prestasi belajar mata diklat produktif pada siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal. Skor 5 untuk jawaban Sangat Setuju (SS) 7.173 Collinearity Statistics Tolerance VIF 5. Dari kelima jawaban tersebut masing-masing memiliki skor yang akan menentukan apakah jawaban dari pernyataan tentang variabel-variabel penelitian terebut tinggi atau tidak. Setuju (S). Hasil Empiris Coefficients a Standardized Unstandardized Coefficients Model 1 (Constant) X1 X2 a.Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal tahun ajaran 2009/2010. Jika keterlibatan orang tua baik maka prestasi belajar siswa akan meningkat. Tidak Setuju (TS).032 .852 .448 3. Skor 1 untuk jawaban Sangat tidak Setuju (STS) 4. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang ada di bab IV maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Kurang Setuju (KS).001 . Jika keterlibatan orang tua baik dan minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran tinggi maka prestasi belajar siswa akan meningkat. Sangat Tidak Setuju (STS).339 Coefficients Beta t 10. Analisis regresi yang dipergunakan menggunakan rumus: Y = a + b1X1 + b2X2 Keterangan: Y = variabel terikat (prestasi belajar siswa) a = konstanta b1 = Nilai Koefisien variabel bebas X1 b2 = Nilai Koefisien Variabel bebas X2 (Sugiyono.852 1. Skor 3 untuk jawaban Kurang Setuju (KS) 9.428 . Ada pengaruh minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran terhadap prestasi belajar mata diklat produktif pada siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal.009 . . 2. Skor 4 untuk jawaban Setuju (S) 8.

Ali. Pendidikan Anak Prasekolah. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Yogyakarta: Liberty. Jakarta: Grasindo. Jakarta: Rineka Cipta. motivation. Muhammad. Sugiyono. Asdi Mahasatya. 2 Agustus 2003 halaman 106-111. Aziz. Cipta Jaya. Minat Memilih Program Studi dengan Prestasi Belajar dalam Mata Pelajaran Pilihan. Olatoye. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Siswa Kelas III SMA N I Wonogiri dalam Memilih Perguruan Tinggi. Depdikbud. Chatharina Tri. Rushdie. Psikologi Belajar. Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa. Jakarta: BP. Rachman. The Liang. Soemiarti. and parenting styles effected student achievement. Sappe. R. Jogjakarta:Garailmu. 2008. Dalam journal college teaching methods & styles journal. Jakarta: Bumi Aksara. Gie. Jurnal Edukasi Volume 4 No. 2005. 2003. Nurlaela Isnawati. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Imam. 2007.A. Syaiful Bahri. 2009. 2008.” Parental involvement. 2003. Nordin Kamaliah. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Volume 4. Arikunto. Semarang: Unnes. Witami. Jakarta: PT. Djamarah. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Cipta. University Technology Malaysia. Nigeria: Olab isi Onabanjo University. Yahaya azizi. 2009. Relationship between self concepts. Slameto. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. 2008. 2006. 1993. Psikologi Pendidikan. Nigeria “. Kualitatif dan R&D. number 8. Psikologi Pendidikan. Strategi Penelitian. Rineka Cipta.6. Kiat Belajar di Perguruan Tinggi. Ghozali. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Bandung: Alfabeta. Patmonodewo. 2008. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Membuat Anak Anda Jadi Murid Berprestasi. Tu’u. 2003. Tulus. 2003. Journal of education research. 2006. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. 213 . Anni. Semarang: Unnes. Jakarta: Grasindo. Ginting. Suharsimi. Djaali. Jakarta: PT. 2004. Daftar Pustaka Abror. Yogyakarta: Tiara Wacana. Skripsi. Abd. interest in schooling and science achievement of junior secondary school student in ogun state. Cara Belajar Yang Efisien. 1995. 2009.

Wiraswasta 8. Diperoleh persamaan regresi linier berganda Y= 1.2% melanjutkan ke perguruan tinggi. Pendahuluan 1.05 hal ini berarti ada pengaruh secara signifikan antara X1 terhadap Y. Universitas Negeri Semarang.05 hal ini berarti ada pengaruh secara signifikan antara X2 terhadap Y. Hasil uji parsial diperoleh t hitung = 3. 2008: 20).305 dengan nilai signifikansi 0. Fasilitas Belajar (X3) serta variabel terikat yaitu Kesiapan Kerja (Y). penelitian ini disebut penelitian populasi. Dari data penelusuran kelulusan tersebut memberikan gambaran bagaimana tingkat kesiapan kerja siswa pada tahun sebelumnya.4% dan 19.com.877 dengan nilai signifikansi = 0. didapat sebanyak 50% bekerja.201 dengan nilai signifikansi antara 0.448 dengan nilai signifikansi antara 0. Berdasarkan penulusuran lulusan SMK N 1 Kendal belum seluruhnya memasuki dunia kerja terlihat dari data yang diperoleh kelulusan SMK N 1 Kendal prodi administrasi perkantoran tahun 2008/2009.034 < 0. Jurusan Manajemen. Dari data penelusuran kelulusan tahun 2008/2009 ada keterkaitan dengan kesiapan kerja mengenai seberapa banyak lulusan dari SMK yang diserap di dunia usaha/dunia industri. Untuk mencapai tujuan tersebut SMK N 1 Kendal bekerjasama dengan institusi pasangan mengadakan program pendidikan sistem ganda. Penguasaan Mata Pelajaran Produktif Administrasi Perkantoran dan Fasilitas Belajar Terhadap Kesiapan Kerja Siswa Kelas XI Prodi Administrasi Perkantoran di SMK N 1 Kendal kabupaten Kendal Tahun Ajaran 2009/2010 Oleh : Siti Susanti. 22. mata pelajaran produktif diberikan untuk menambah keterampilan siswa dan ditunjang fasilitas belajar untuk memperlancar dalam kegiatan belajar. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskripsi persentase dan regresi linier berganda. Uji keberartian persamaan regresi dengan uji F diperoleh F hitung = 15.701X2 + 0.05 yang berarti secara simultan ada pengaruh positif dan signifikan antara pendidikan sistem ganda. Email : susan_chement@yahoo.05 hal ini berari ada pengaruh secara signifikan antara X3 terhadap Y.093X3.000 < 0. Belajar 1. Dilihat dari pola hubungan antara organisasi bisnis dan lembaga pendidikan. penguasaan mata pelajaran produktif administrasi perkantoran dan fasilitas belajar terhadap kesiapan kerja siswa kelas XI prodi administrasi perkantoran di SMK N 1 Kendal kabupaten Kendal tahun ajaran 2009/2010 baik secara parsial maupun simultan. Fakultas Ekonomi. S. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode kuesioner (angket) dan dokumentasi. penguasaan mata pelajaran produktif administrasi perkantoran dan fasilitas belajar terhadap kesiapan kerja. karena itu lembaga pendidikan dituntut memberikan sumber daya manusia yang sesuai permintaan dan kebutuhan industri (Rimsky. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara pendidikan sistem ganda. lembaga pendidikan merupakan pihak yang bertanggung jawab menciptakan dan menyuplai tenaga kerja bagi industri.1 Latar Belakang Tujuan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pada hakekatnya adalah mempersiapkan siswa untuk memasuki dunia kerja sebagai tenaga kerja tingkat menengah. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu pendidikan sistem ganda (X1). Penguasaan Mata Pelajaran Produktif Administrasi Perkantoran (X2). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI prodi administrasi perkantoran dengan jumlah siswa 41 orang. thitung = 4. Penguasaan Mata Pelajaran Produktif.207 + 0.Pd.Pengaruh Pendidikan Sistem Ganda.105X 1 + 0. Fasilitas dan Kesiapan Kerja. Sarjana Pendidikan.4% masih dalam menunggu.000 < 0.002 < 0. Dapat diketahui belum semua lulusan SMK N 1 Kendal setelah lulus mempunyai 214 . thitung = 2. Kata Kunci: Pendidikan Sistem Ganda.

d. Menurut Soewani dan Sulaiman (dalam wena.1 Pendidikan Sistem Ganda Menurut pakpahan (dalam wena. penguasaan mata pelajaran produktif administrasi perkantoran dan fasilitas belajar terhadap kesiapan kerja siswa kelas XI prodi administrasi perkantoran di SMK N 1 Kendal kabupaten Kendal tahun ajaran 2009/2010? 2. Perbedaan kesiapan siswa itu berasal dari berbagai faktor yang mempengaruhi kesiapan kerja. b.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah. Adakah pengaruh pendidikan sistem ganda terhadap kesiapan kerja siswa kelas XI prodi administrasi perkantoran di SMK N 1 Kendal kabupaten Kendal tahun ajaran 2009/2010? 5. terarah untuk mencapai penguasaan kemampuan keahlian tertentu. dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja. keterampilan. Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional dengan tingkat pengetahuan. Ingin mengetahui pengaruh pendidikan sistem ganda terhadap kesiapan kerja siswa kelas XI prodi administrasi perkantoran di SMK N 1 Kendal kabupaten Kendal tahun ajaran 2009/2010? 2. Adakah pengaruh fasilitas belajar terhadap kesiapan kerja siwa kelas XI prodi administrasi perkantoran di SMK N I Kendal Kabupaten Kendal tahun ajaran 2009/2010? 7. 1. 215 . 1996: 76) tujuan penyelenggaraan pendidikan sistem ganda adalah: a. maka dapat dirumuskan permasalahan antara lain sebagai berikut : 4. 1996: 16) mengulas pengertian pendidikan sistem ganda.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut di atas. sebagai berikut: Sistem ganda adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan kejuruan yang memadukan secara sistematis dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung pada bidang pekerjaan yang relevan. Ingin mengetahui pengaruh fasilitas belajar terhadap kesiapan kerja siswa kelas XI prodi administrasi perkantoran di SMK N 1 Kendal kabupaten Kendal tahun ajaran 2009/2010? 4. Ingin mengetahui pengaruh pendidikan sistem ganda. Landasan Teori 2.kesiapan kerja yang sama untuk memasuki dunia kerja. Memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan. Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang berkualitas dan professional. penguasaan mata pelajaran produktif administrasi perkantoran dan fasilitas belajar terhadap kesiapan kerja siswa kelas XI prodi administrasi perkantoran di SMK N I Kendal kabupaten Kendal tahun ajaran 2009/2010? 1. meskipun dalam satu program studi dan memperoleh perlakuan yang sama di sekolah tersebut. Memperoleh link and mach antara sekolah dengan dunia kerja. Adakah pengaruh pendidikan sistem ganda. Ingin mengetahui pengaruh penguasaan mata pelajaran produktif administrasi perkantoran terhadap kesiapan kerja siswa kelas XI prodi administrasi perkantoran di SMK N 1 Kendal kabupaten Kendal tahun ajaran 2009/2010? 3. c. maka penelitian memiliki tujuan sebagai berikut : 1. Adakah pengaruh penguasaan mata pelajaran produktif administrasi perkantoran terhadap kesiapan kerja siswa kelas XI prodi administrasi perkantoran di SMK N 1 Kendal kabupaten Kendal tahun ajaran 2009/2010? 6.

4 Kesiapan Kerja Kesiapan adalah seluruh kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberi respons atau jawaban di dalam cara tertentu terhadap suatu situasi (Slameto.3 Fasilitas Belajar Fasilitas adalah sarana dan prasarana. Ruang lingkup mata pelajaran produktif administrasi perkantoran kelas X sampai kelas XI meliputi: a. Memberikan pelayanan kepada pelanggan j. 2. Mengelola pertemuan rapat m. Membuat dokumen i. Pengalamanpengalaman mempunyai pengaruh yang positif terhadap kesiapan. Menerapkan keselamatan. bahan dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah. Mengelola peralatan kantor g. Menurut Slameto (2003: 115) prinsip-prinsip kesiapan adalah: 1. Mengelola sistem kearsipan l. dan ruang pembelajaran khusus. 216 . Menurut Kurikulum SMK. Mengaplikasikan keterampilan dasar komunikasi c. 2. Program produktif adalah kelompok mata diklat yang berfungsi membekali peseta didik agar memiliki kompetensi kerja sesuai standar kompetensi kerja nasional indonesia (SKKNI). kesehatan kerja dan lingkungan hidup (K3LH) e. Melakukan prosedur administrasi h. berarti bekerja. Menangani surat/dokumen surat k. 3. Memahami prinsip–prinsip penyelenggaraan administrasi perkantoran b. dengan demikian mereka yang menukarkan kegiatan fisik atau kegiatan otak dengan sarana kebutuhan untuk hidup. Kematangan jasmani dan rohani adalah perlu untuk memperoleh manfaat dari pengalaman. Mengoperasikan aplikasi perangkat lunak f. Semua aspek perkembangan berinteraksi (saling pengaruh mempengaruhi).2. Surat menyurat bahasa inggris. Mengelola dana kas kecil n. Menurut Bafadal (2003: 2) Sarana pendidikan adalah semua perangkat peralatan. 2. ruang penunjang. Menurut May Smith dalam Panji (2006:12) tujuan dari kerja adalah untuk hidup. Untuk Sekolah menengah Kejuruan fasilitas belajar yang sesuai dengan standar Mendiknas mengenai standar sarana dan prasarana sekolah menengah kejuruan sekurang-kurangnya memiliki prasarana yang dikelompokkan dalam ruang pembelajaran umum. Mengaplikasikan administrasi perkantoran di tempat kerja p. Sedangkan prasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan proses pendidikan di sekolah. dapat disimpulkan bahwa fasilitas adalah segala sesuatu yang dapat memperlancar kegiatan. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kesiapan kerja berarti seluruh kondisi seseorang yang siap memberikan respon terhadap tugas yang dikerjakan untuk menghasilkan buah karya. Menerapkan prinsip-prinsip kerjasama dengan kolega dan pelanggan d. Mengelola data/informasi di tempat kerja o. 2003: 113). Jadi. Menurut Djaali (2009: 113) bekerja mengandung arti melaksanakan suatu tugas yang diakhiri dengan buah karya.2 Penguasaan Mata Pelajaran produktif Administrasi perkantoran Menurut Wena (1996: 31) Komponen produktif yaitu bekal kemampuan keahlian tertentu untuk bekal bekerja.

indikatornya: Nilai ulangan semester rata-rata mata pelajaran produktif administrasi perkantoran program keahlian administrasi perkantoran kelas XI dari semester 1 sampai 3. Tidak Setuju (TS) skor 2. Pengumpulan data yang digunakan menggunakan data primer yaitu menggunakan metode dekomentasi dan metode angket yang diberikan langsung kepada siswa sebagai responden. Tingkat alih belajar e. 217 . Kecermatan siswa dalam menguasai suatu keterampilan b. Sumber belajar yang dipakai 2. Sarana b. pengetahuan. Metodologi Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian populasi secara keseluruhan berjumlah 41 orang Siswa Kelas XI prodi administrasi perkantoran. 3. mental dan emosional c. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah: 1. Kesiapan dasar untuk kegiatan tertentu terbentuk dalam peride tertentu selama masa pembentukan dalam masa perkembangan. Sangat Tidak Setuju (STS) skor 1. Setuju (S) skor 4. Kecepatan unjuk kerja siswa dalam mengerjakan suatu tugas c. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat) (Sugiyono. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Kesiapan kerja siswa yaitu kesiapan untuk menghadapi dunia kerja. Penguasaan Mata Pelajaran Produktif Administrasi Perkantoran (X2). indikatornya: a. karena adanya variabel bebas. Fasilitas belajar (X3). Indikatornya meliputi : b. dan pengertian yang lain yang telah dipelajari. Personalia g. Waktu f. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh antara variabel independen dengan variabel dependen. motif dan tujuan d.4. Kondisi fisik. yaitu Pendidikan Sistem ganda (X1). 3. Prasarana Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat. Kurang Setuju (KS) skor 3. Kuantitas dan kualitas hasil kerja siswa d. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari empat variabel yaitu tiga variabel bebas dan satu variabel terikat. Keterampilan. menggunakan skala likert dengan 5 alternatif jawaban yaitu Sangat Setuju (SS) skor 5. indikatornya: a. 2007: 275). Kebutuhan-kebutuhan. Pendidikan sistem ganda (X1). 2008: 39). Penguasaan Mata Pelajaran Produktif (X2) dan Fasilitas Belajar (X3) terhadap Kesiapan Kerja Siswa (Y) Analisis regresi yang dipergunakan menggunakan rumus: Keterangan: Y = Variabel terikat (kesiapan kerja siswa) a = Konstanta b1 = Nilai koefisien variabel bebas X1 b2 = Nilai koefisien variabel bebas X2 b3 = Nilai koefisien variabel bebas X3 (Sugiyono.

105 .102 3. penguasaan mata pelajaran produktif administrasi perkantoran dan fasilitas belajar terhadap kesiapan kerja. .023 1.454 .034 Zero-order .701X2 + 0. penguasaan mata pelajaran produktif administrasi perkantoran dan fasilitas belajar terhadap kesiapan kerja.607 .042 Standardized Coefficients Beta . antara lain: 1.305 4.002 . Dependent Variable: Y Berdasarkan perhitungan analisis regresi linier yang dilakukan melalui analisis statistik dengan menggunakan program SPSS versi 12 maka diperoleh persamaan regresi linier sebagai berikut: Y = 1.070 1. Pihak sekolahpun hendaknya dalam menggunakan sumber belajar yang dipakai harus disesuaikan dengan perkembangan ilmu 218 . Hasil dan Pembahasan a Coefficients Model 1 (Constant) X1 X2 X3 Unstandardized Coefficients B Std.935 . 3.977 .483 . 4.701 . Sehingga ketidaksesuaianpun tidak terjadi lagi. Pada saat pelaksanaan pendidikan sistem ganda sebagian kecil siswa mengeluhkan bahwa apa yang mereka kerjakan belum sesuai dengan keterampilannya. untuk itu diharapkan sebelum pelaksanaan praktek dilaksanakan dari pihak DU/DI ada keterbukaan tentang tugas apa yang akan dilaksanakan selama siswa praktik.158 .385 Correlations Partial . oleh karena itu sekolah diharapkan dapat menyediakan ruang pembelajaran khusus yang sesuai dengan standar sarana dan prasarana sekolah menengah kejuruan sehingga siswa sudah terbiasa untuk mengoperasikan peralatan-peralatan kantor yang telah terstandar.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dapat diambil beberapa simpulan.340 Part .105X1 + 0.054 a.032 . Dari hasil penelitian dapat diketahui masih terdapat kekurangan fasilitas belajar berupa ruang pembelajaran khusus.093X3 Keterangan: Y = Kesiapan Kerja 1.2 Saran Ada beberapa saran yang diajukan sehubungan dengan pengaruh pendidikan sistem ganda. saran yang dapat diajukan 1.093 .448 2. 5. 2. Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara pendidikan sistem ganda terhadap kesiapan kerja.239 Collinearity Statistics Tolerance VIF . 2. Penutup 5.000 .920 . Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara pendidikan sistem ganda.363 . Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara fasilitas belajar terhadap kesiapan kerja.359 .201 Sig.4.207 11.500 .879 .590 . Error 1.246 t . Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara penguasaan mata pelajaran produktif administrasi perkantoran terhadap kesiapan kerja.207 = Konstanta X1 = Pendidikan Sistem Ganda X2 = Penguasaan Mata Pelajaran Produktif AP X3 = Fasilitas Belajar 5.207 + 0.948 1.477 .

Ibrahim. Jakarta: Rineka Cipta. 2009. 2006. Pandji. Statistika untuk Penelitian. Slameto. . Bafadal. 2004. Depdiknas. Fuad. 2006. Kendal: SMK press. Sugiyono. Bandung: Tarsito. 2008. Mendiknas. 1996. Kurikulum SMK N 1 Kendal. 2007. 1997. Jadilah Pribadi Yang Kompeten di Tempat Kerja. Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejurun (SMK/MAK). 2003. Metodologi Penelitian Kuantitatif. 2008. Suharsimi. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Semarang: Badan penerbit Universitas Diponegoro. Aplikasi Analisis Multivariate dengan program SPSS. Psikologi pendidikan. 2008. Pendidikan Sistem Ganda. Bandung: Alfabeta. Wena. 2009.pengetahuan misalnya menggunakan buku-buku terbitan baru dan penggunaan akses internet yang ada di sekolah lebih dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran. Djaali. Jakarta: Bumi Aksara. Arikunto. 219 . Imam. Bandung: Alfabeta. Jakarta: Rineka Cipta. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Kualitatif dan R&D. Jakarta: Bumi Aksara. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek. 2009. Meda. Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori Dan Aplikasinya. Ihsan. Judisseno. Ghozali. Rimsky K. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Citra Utama Media. DAFTAR PUSTAKA Anoraga. Psikologi Kerja.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.