PROCEEDING

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

“ Prospek dan Tantangan Pengembangan Program Keahlian Administrasi Perkantoran Modern Berbasis Teknologi Informasi “

Vol. 1

No. 01

2010

ISSN 2087-2917

0

KATA PENGANTAR Seminar Nasional dan Call for Paper ini diselenggarakan oleh Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang (UNNES). Kegiatan ini bertujuan strategis memberi kontribusi dalam pengembangan Administrasi Perkantoran, baik dari sisi keilmuan maupun praktis, yang didasarkan pada perkembangan terkini yang terjadi. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi sarana untuk bertukar pikiran dalam mengembangkan Administrasi Perkantoran yang professional. Peserta dalam kegiatan ini berjumlah 200 orang yang berasal dari para akademisi dan praktisi di bidang Administrasi Perkantoran dari berbagai institusi seperti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Negeri Malang, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Surakarta, Universitas Diponegoro, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Universitas Brawijaya dan Universitas Merdeka Malang, serta beberapa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah Propinsi Jawa Tengah yang memiliki program studi/ jurusan Administrasi Perkantoran. Beragam topik, baik hasil riset empiris, studi literatur atau konsep praktis, dirangkum dalam sebuah tema besar “Prospek dan Tantangan Pengembangan Program Keahlian Administrasi Perkantoran Modern Berbasis Teknologi Informasi”. Kami berharap, bahwasanya kegiatan ini dapat memberikan dampak positif dan dukungan bagi pengembangan program keahlian Administrasi Perkantoran, baik pada institusi bisnis, nirlaba maupun pendidikan. Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Rektor Univeristas Negeri Semarang dan seluruh jajarannya, pihak sponsor (Bank Bukopin, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BPD Jawa Tengah, Harian Suara Merdeka, CV. Hamparan Karya) serta seluruh peserta dan pemakalah yang mendukung kesuksesan kegiatan ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh Panitia yang terlibat, juga tim Reviewer dan Editor, yang tanpanya, tujuan diadakannya kegiatan ini, tidak akan tercapai. Semarang, 16 Oktober 2010 Sri Wartini, S.E.,M.M. Ketua Panitia

1

PROCEEDINGS

Seminar Nasional dan Call for Paper “Prospek dan Tantangan Pengembangan Program Keahlian Administrasi Perkantoran Modern Berbasis Teknologi Informasi”

Reviewer: Prof. Dr. Joko Widodo, M.Pd. Dr. Kardoyo, M.Pd. Dra. Murwatiningsih, MM Drs. Martono, M.Si. Dra. Nanik Suryani, M.Pd. Editor Kepala: Arief Yulianto, SE,MM Editor Pembantu: Andhi Wijayanto, SE, MM Desti Ranihusna, SE, MM Moh. Khoiruddin, SE, MM Nury Ariani, SE, M.Sc. Vitradesie Noekent, SE, MM

2

DAFTAR ISI Kata Pengantar Dewan Redaksi Administrasi Perkantoran Dalam Perspektif Modern (Ade Rustiana) Pengarsipan Digital Pada Instansi Pemerintah :Sebuah Langkah Menuju Manajemen Perkantoran Modern (Vitradesie Noekent) Pengaturan Tata Ruang Kantor Pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus (Wiwin Anugrahati) Memodernisasi Sistem Perkantoran Melalui Peran Teknologi Informasi (Wahyono) Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw II Pada Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas VIII B SMPN 1 Tersono Kabupaten Batang (Yulia Ratnaningsih) Pengaruh Kompetensi Pedagogik Guru Dan Fasilitas Belajar Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Mengelola Kearsipan Pada Siswa Kelas XI Jurusan Administrasi Perkantoran Smk Taman Siswa Kudus (Nova Chotibul Umam) Model Manajemen Kearsipan Sebagai Upaya Unnes Meraih Sertifikat ISO 9001: 2008 (Agung Kuswantoro) Pengaruh Catatan Siswa Terhadap Ingatan Siswa dalam Mata Pelajaran Ekonomi, Kelas X, SMA Negeri 1 Boja Kendal (Fridolin Palupi Sri Kurniawati) Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar Mata Pelajaran Teknologi Informasi Komunikasi pada Siswa Kelas VIII di SMP Negeri 1 Ungaran (Rizal Fadilla Septian) dan

Komparatif Pembelajaran Mengetik Sebelum dan Sesudah Menggunakan Media Audio Visual Program Macromedia Flash pada Siswa Kelas X Pemasaran di SMK Negeri 9 Semarang (Sri Sukariyah) Komparasi Pembelajaran Stenografi Dasar Sebelum dan Sesudah Menggunakan Media Audiovisual „filmstrip‟ pada Siswa Kelas XI AP di SMK Widya Praja Ungaran (Wardah Rizqi Tourviana) Informatics-Based HR Quality Improvement in Dealing with Globalization and Industrial Era Challenges (Sri Wartini, SE, MM) Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation dalam Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas VII SMP Negeri 2 Ungaran (Widya Latif Kartika) Pengaruh Strategi Guru Mengajar dan Strategi Belajar Siswa Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (Ips) Terpadu Kelas Vii di Smp Negeri 5 Ungaran (Winarti) Pengaruh Motivasi Belajar, Lingkungan Keluarga dan Strategi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Mengelola Sistem Kearsipan Siswa Kelas Xi Jurusan Administrasi Perkantoran SMK Taman Siswa Kudus (Rita Trisna Deasyanti) Prosedur Pengelolaan Surat Masuk dan Surat Keluar Pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang (Sischa Apriliyanti)

3

Politik Dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang (Sri Haryati) Manajemen Administrasi Informasi Pertanian Berbasis IT di Provinsi Jawa Tengah (Sucihatiningsih DWP dan Himawan Arif S) Kompetensi Profesional Guru dan Fasilitas Belajar Pengaruhnya Terhadap Kemampuan Mengetik Sistem 10 Jari Buta Siswa Kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Pemalang (Nur Aeni Yuniarsih) Perbandingan Hasil Belajar Sebelum dan Sesudah Menggunakan Media Visual Berbasis Macromedia Flash Mx dalam Pembelajaran Mata Diklat Kearsipan pada Kelas XI Jurusan Administrasi Perkantoran Smk N 1 Boyolali (Nurul Khaqim) Prosedur Administrasi Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor pada Up3ad Kabupaten Kendal (Khusnul Budi Ani) Peningkatan Motivasi Kerja Pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah (Heni Maulidah) Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Kewirausahaan Siswa Kelas XI Smk N I Punggelan Banjarnegara (Ristian Cahyo Saputro) Pengaruh Keterlibatan Orang Tua dan Minat Siswa Memilih Program Keahlian Administrasi Perkantoran terhadap Prestasi Belajar Mata Diklat Produktif Siswa Kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran Smk Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal (Silfia Rizqi Amalia) Pengaruh Pendidikan Sistem Ganda. Dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang (Indah Fitria Rahayuningrum) Prosedur Administrasi Peralatan Kantor pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah (Rodhiana Dewi Nugrah Apriliana) Desain Implementasi TIK dalam Administrasi Perkantoran (Arief Yulianto) Pengaruh Kompetensi Profesional Guru dalam Proses Belajar Mengajar dan Kebiasaan Membaca Buku terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas VIII Smp Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes (Dede Atikah) Pengaruh Cara Belajar. Penggunaan Media Pembelajaran dan Motivasi terhadap Prestasi Belajar Kewirausahaan Siswa Kelas X SMK Negeri 1 Pringapus Kabupaten Semarang Tahun Ajaran 2009/2010 (Erni Dwijayanti) Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesiapan Kerja Siswa Kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran Smk Negeri 1 Boyolali (Laela Nur Farida) Upaya Pengembangan Kompetensi Pegawai Pada Badan Kesatuan Bangsa. Penguasaan Mata Pelajaran Produktif Administrasi Perkantoran Dan Fasilitas Belajar terhadap Kesiapan Kerja Siswa Kelas XI Prodi Administrasi Perkantoran XI SMK N 1 Kendal Kabupaten Kendal Tahun Ajaran 2009/2010 (Siti Susanti) 4 .Upaya Peningkatan Kualitas Sekretaris Dalam Manajemen Perkantoran Pada Badan Kesatuan Bangsa. Politik.

kedua bahwa administrasi perkantoran adalah pelengkap dalam sistem administrasi perkantoran untuk pencapaian tujuan organisasi. Pandangan para ahli Manajemen terhadap pengaruh teknologi: Tidak banyak menaruh minat terhadap faktor teknologi (Fayol. 2) bersifat fungsionalistik: administrasi perkantoran meliputi : menghimpun dan merekam data intern dan ekstern organisasi.yaitu pertama bahwa administrasi perkantoran adalah sistem pelayanan dalam sebuah organisasi perkantoran baik itu dalam organisasi yang berorientasi pada profit maupun pada organisasi nirlaba karena ini merupakan sistem dalam pelayanan tentu ada aspek-aspek administrasi perkantoran yang dapat disentuh oleh modernisasi tetapi ada hal lain yang harus dengan manual . walaupun mungkin caranya berbeda-beda. menaruh perhatian besar. 2) bersifat klerikalistik. namun dalam parakteknya tuntutan tidak semua dapat dijalankan dalam semua aspek lebih-lebih dalam administrasi perkantoran. 5) pencapaian tujuan secara bersama. dan merawat aktiva. i Frank J. dan perkembangan terus menerus”. Urwick. 4) Setiap orang dalam organisasi perkantoran memiliki tujuan individu. 4) bersifat Partisipatif. Ada lima fakta yang jamak terdapat dan berlangsung dalam organisasi perkantoran yaitu: Setiap organisasi perkantoran pasti mencakup SDM baik disebabkan oleh struktur formal atau informal. pelengkap bukan berarti keberfungsiannya berkurang atau sewaktu-waktu dapat dihilangkan tetapi pelengkap yang dimaksud sebagai sistem yang tidak dapat dipisah satu dengan lainnya. Sebagai buktinya bahwa dalam ilmu administrasi perkantoran terjadi perubahan paradigma yaitu dari paradigma lama menjadi paradigma baru dengan tanpa meninggalkan esensi-esensi yang ada di paradigma sebelumnya (lama) yaitu paradigma administrasi perkantoran konvesional yaitu bahwa : 1) bersifat Tayloristik. menyajikan informasi. Jasinki mengemukakan bahwa “suatu perubahan dalam produksi atau teknologi mempengaruhi hubungan-hubungan organisatoris”.Administrasi Perkantoran dalam perspektif modern Oleh: Ade Rustiana* Abstrak Perkembangan ilmu administrasi perkantoran tidak dapat dihindari dari tuntutan moderenisasi/ globalisasi . Hal ini disebabkan dua hal. perubahan. Alternatif pendekatan untuk menghadapi masalah konflik antara kebutuhan teknologi dan kebutuhan organisasi seperti: 1. 3) hubungan timbal balik baik dalam organisasi intern ataupun ekstern. (b) Dubin. Manajemen memodifikasikan organisasi perkantoran agar dapat menetapkan dan memformalkan hubungan-hubungan yang diminta oleh teknologi informasi. Brech. Manajemen memodifikasikan teknologi informasi agar dapat menyesuaikan diri dengan organisasi perkantoran yang telah ada dan telah berjalan. Sehingga dari dua hal tersebut dapat dimaknai bahwa administrasi perkantoran ada yang dapat berkembang secara terus menerus tetapi ada pula yang harus mengikuti pola sebelumnya. 2. 2) Interaksi baik berhubungan dengan arus pekerjaan maupun arus informasi. 4) bersifat sekunder sedangkan Paradigma baru administrasi perkantoran struktural yaitu : 1) bersifat Druckeristik. 5 . Pakar perilaku manusia menganggap penting arti teknologi seperti (a) Farrow. mengatakan bahwa suatu pandangan organisasi sebagai system teknologi memberikan kepada organisasi itu dasar yang lebih baik untuk pemahaman dan perbandingan. dan Drukcker). (c) Walker. menganalisis data. 3) bersifat manajerial. Manajemen mempertahankan baik organisasi perkantoran yang ada maupun teknologi informasi yang tersedia namun pendekatan itu dibarengi oleh kegiatan untuk memperkenalkan mekanisme agar dapat mengurangi ketaksesuaian dan konflik diantara organisasi dan teknologi informasi tersebut. 3. menunjukan sinyalemennya bahwa perubahan organisasi garis kepada organisasi garis dan staf disebabkan oleh dampak teknologi. 3) Bersifat Teknis. hal itu seperti dikemukakan oleh Kuhn bahwa setiap disiplin ilmu mengalami “pasang surut.

teori ini ternyata tidak lagi dapat menjawab persoalan-persoalan yang timbul dalam keorganisasian. semua persoalan dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan bersangkutan secara relevan. dengan aliran pemikiran kausalitas (atau yang disebut filsafat determinisme). Kemajuan sering diartikan sebagai cikal bakal dari segala perubahan yang diakibatkan karena tuntutan perkembangan yang semakin meneuntut. Kita menyadari perkembangan dan kemajuan zaman adalah tuntutan ilmu pengetahuan untuk dapat mengimbanginya namun perlu pula disadari bahwa dalam perkembangan administrasi diamati dari waktu ke waktu dalam paradigma ontologi administrasi melalui metodologi ilmu. seperti persoalan otonom dalam kerangka organisasi negara sehingga seakan terjadi anomali sebagaimana dikemukakan oleh Amien dalam kemandirian Lokal Perspektif Sains Baru terhadap Organisasi. Dan kalau masa krisis berlanjut. perubahan. Fokus bisa saja sama tetapi lokuslah yang membedakan satu disiplin dengan displin lainnya. Era kemajuan identik dengan era Globalisasi yaitu bahwa semua orang memandang diera global sudah tidak trend lagi kalau berbicara ilmu pengetahuan modern masih membicarakan hal-hal yang tidak mengikuti perkembangan dan sangat ironis pada saat bicara global (kemajuan) di satu sisi masih ada yang berbicara tradisional (ilmu yang sudah jauh ketinggalan). Disinilah terjadi krisis yaang mendobrak terjadinya revolusi ilmu. Pasang surut itu digambarkan bahwa: Paradigma pertama mengembangkan sesuatu ilmu pengetahuan secara normal. Namun jika suatu ketika ilmu pengetahuan bersangkutan tidak lagi dapat memecahkan masalah yang dihadapkan padanya. khususnya dalam ilmu organisasi yang melahirkan teori struktur yang antisipatif untuk terjadi proses pencapaian tujuan. Pertanyaan sederhana muncul mengapa? dan apa penyebabnya? Jawab sederhana hanya satu kata “Kemajuan”. Kuhn dengan judul the structure of scientific Revolution dalam Faried Ali berpendapat bahwa setiap disiplin ilmu mengalami “pasang surut. pengamatan yang berlainan tersebut melahirkan pendekatan paradigmatik dimana pendekatan yang melihat dan mengkaji fokus dan lokus dari hal yang akan dikaji. memahami dan menganalisis hanya pada satu aspek saja lebih-lebih pada Dunia Pendidikan kita harus melihat sebagai sistem yang tak terpisahkan. Pemikiran paradigmatik ini dapat di contohkan pada pemikiran filsafat tentang organisasi (dalam hal perkantoran). dimana terjadi apa yang diistilahkan oleh Kuhn sebagai anomali. persoalan yang muncul dalam sebuah organisasi tidak bisa kita melihat. berlari tak ada ujung tujuan hingga semua orang hampir bahkan lupa dengan masa lalunya lebih-lebih pada masa sebelum hidupnya. akibat selanjutnya akan terjadi masa krisis. objek filsafat administrasi akan terlihat berlainan. yaitu organisasi bekerja berdasarkan perilaku manusia yang membentuk kerjasama yang memiliki wadah atau tempat dengan segala fasilitas yang harus dimilikinya dengan etika dan segala ketentuan yang pada akibatnya melahirkan struktur yang baku. dan perkembangan terus menerus”. Pembangunan dan Pendidikan. Teori organisasi ini secara normal dapat menjawab permasalahan yang timbul dalam kehidupan organisasi bagaimanapun bentuknya apalagi dalam organisasi negara. Hal Inilah yang membuat penulis untuk mengungkapkan sepercik pemikiran lewat call paper ini. akan mendobrak terjadinya revolusi berpikir yang dapat melahirkan Paradigma kedua atau berikutnya dan akan begitu seterusnya setiap ilmu pengetahuan seiring dengan pemikiran filsafat para pemikir. 6 .Pendahuluan Peradaban kemajuan zaman tak terasa begitu cepat bagaikan kilat. Pemikiran paradigmatik ini melahirkan pertanyaan: Bagaimana ilmu administrasi Perkantoran dari pendekatan ini? Tentunya hal ini terkait dengan aspek ontologis sebagai sisi yang harus dipahami secara filsafat. Dalam perkembangan. Berbicara Ilmu Administrasi Perkantoran tidak terlepas dari sistem yang ada pada sebuah organisasi lebih-lebih pada Dunia Pendidikan. Pada paradigma yang berlaku dimana organisasi dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang normal dengan berbagai teori yang dikembagkannnya. Perkembangan inilah pada semua aspek ilmu pengetahuan tak dapat dihalangi lagi termasuk pada aspek Administrasi Perkantoran.

operatif. manajemen produksi berfungsi sebelum administrasi perkantoran Itu berfungsi. Hal ini berlangsung lama sejak seratus enam puluh lima tahun sebelum masehi yaitu yang ditandai dengan lahirnya teori Dichotomy yang dikenalkan dan dikembangkan oleh Woodrow Wilson yaitu bahwa apa yang menjadi keteraturan yang di aktualisasikan dalam kegiatan-kegiatan kerja sama yang disebut dengan administrasi (tatkala admiinistrasi telah memperoleh kedudukan sebagai ilmu). harus dipahami dalam perspektif: Politik sebagai etik. eksekutif maupun manajerial. dan memahami administrasi sebagai proses manajemen. penggerakan (actuating) dan pengawasan (controling). 3) Bersifat Teknis: manajemen Perkantoran hanya berhubungan dengan keputusan-keputusan operatif. Oleh karena itu dalam pemikiran dikotomi berkembanglah pemikiran pemisahan politik dan administrasi. Manajemen disini tidak dimaksudkan bahwa administrasi lebih luas dari manajemen. pembagian kerja dan adanya sistem kerja. 4) Bersifat Partisipatif. Pertimbangan aliran pemikiran ini adalah membagi keteraturan dalam jenjang kekuasaan yang secara formal (bentuk) terpisah (keteraturan dalam bentuk kegiatan administrasi dan keteraturan dalam bentuk politik). seperti prinsip pembagian kegiatan. 4) Bersifat sekunder yaitu administrasi perkantoran merupakan fungsi sekunder terhadap tujuan pokok usaha. Pemikiran ini pula yang melahirkan pemikiran tentang fungsi-fungsi manajemen dalam kegiatan administrasi perkantoran seperti muncul fungsi perencanaan (Planning). Perkembangan menuntut sebagai konsekuensi keterbukaan pengetahuan maka perubahan paradigma dalam perkantoran pun terjadi dimana administrasi perkantoran struktural yaitu : 1) bersifat Druckeristik: administrasi perkantoran sebagai kajian mengenai sistem informasi untuk pembuatan keputusan. 2) Bersifat klerikalistik: manajemen perkantoran sebagai pekerjaan tatausaha (paper works). secara ontologis melahirkan paradigma awal dari ilmu administrasi dengan melakukan pengaturan bahwa kegiatan-kegiatan harus dilihat sebagai kegiatan politik ( ini berarti berkaitan dengan kekuasaan-influencing) dimana secara dikotomi. bukan sebagai ilmu. (b) menganalisis data agar menjadi informasi yang signifikan. pendekatan dan terminologi. administrasi Perkantoran mempunyai yang sama dengan fungsi manajemen lainnya. bukan juga sebagai suatu disiplin yang memiliki objek. Konsekuensi perkembangan tersebut administrasi perkantoran yang semula paradigma administrasi perkantoran konvesional yaitu bahwa : 1) Bersifat Tayloristik: manajemen perkantoran sebagai kajian mengenai organisasi tingkat bawah. baik keputusan teknis. tetapi memikirkan. Pengorganisasian (organizing). Pemisahan ini didasarkan pada pertimbangan tuntutan keteraturan yang diharapkan dan dipengaruhi oleh aliran pemikiran yang berkembang pada saat itu. dan politik sebagai teknik. dan (d) merawat aktiva. Aliran inilah yang disebut aliran manajemen dalam administrasi. Pada saat itu administrasi dipandang tidak lain sebagai seni pengaturan. 2) Bersifat fungsionalistik: administrasi perkantoran meliputi : (a) menghimpun dan merekam data intern dan ekstern organisasi. yaitu aliran struktural formal. Perkembangan selanjutnya terjadi perubahan dalam paradigma yang secara ontologi ilmu administrasi perkantoran berkembang ke paradigma lanjut. setelah muncul aliran pemikiran yang mengembangkan pemikiran prinsip-prinsip administrasi secara universal. Dalam kerangka inilah administrasi Perkantoran dipahami sebagai politik sebagai etik yaitu suatu proses yang berkenaan denngan perumusan tujuan dan sebagai politik teknik yaitu suatu proses administrasi yang berkenaan dengan pelaksnanaan. Aliran struktural fungsional ini diadopsi dari teori-teori ilmu sosial. (c) menyajikan informasi untuk pembuatan keputusan. administrasi perkantoran menyajikan informasi untuk proses pembuatan keputusan bagi semua hierarkii manajemen. Sebagai sebuah komponen dalam suatu keseluruhan sistem administrasi perkantoran Ikut membentuk ”kemitraan yang sederajat” (partnership of equals) dan ikut serta bertanggung jawab dalam memasok masukan ketika proses pembuatan keputusan itu berlangsung. Bagaimana Adminiastrasi Perkantoran dalam perspektif modern Untuk menjawab hal tersebut perlu kita kembali pada persoalan dasar bahwa program administrasi perkantoran adalah sebagai sistem lebih-lebih sebagai suatu organisasi yang terprogram 7 . politik dan administrasi. 3) Bersifat manajerial.Paradigma Ontologi Administrasi Perkantoran Pada awalnya administrasi dilihat sebagai administraasi.

menyimpan. yaitu barang ekonomi. dan menyajikan informasi serta merawat aktiva. serta fasilitas lainnya dan (c) Sumber daya konseptual dari kelompok khusus yaitu para manajer. setiap organisasi perkantoran mempunyai hubungan timbal balik baik dalam organisasi intern ataupun ekstern. maka tiap petugas dalm organisasi perkantoran tersebut harus menerima perintah dari dan bertanggung jawab hanya kepada satu orang atasan. 3) Organisasi perkantoran mencakup susunan staf dan alokasi tugas dan tanggung jawab dalam mengolah data. 4) Prinsip kesederhanaan. setiap organisasi perkantoran terdiri atas sejumlah fungsi yang mesti bekerja sama untuk mencapai tujuan utama organisasi perkantoran itu. Berdasarkan ke lima fakta itu dapat dikemukakan bahwa: 1) Organisasi perkantoran adalah suatu proses yang menjadi tempat orang-orang berinteraksi untuk mencapai tujuan kantor. 3) Sebagai suatu system terbuka. 2) Setelah organisasi kantor terwujud.yang akan memiliki output yang jelas yaitu menghasilkan tenaga ahli (profesional) dalam bidang administrasi perkantoran.B. 2) Interaksi dalam system sosial itu tersusun dalam sebuah struktur yang menjamin perintah dan laporan. memasok informasi untuk pembuatan keputusan dan merawat aktiva. yaitu orang-orang tertentu yang komunikasi dan interaksinya membentuk organisasi perkantoran. walaupun mungkin berbeda namun berkaitan dengan tujuantujuan individu tesebut. Kendatipun organisasi perkantoran itu merupakan sebuah system.. agar tiap personalia mengetahui dengan jelas kepada siapa ia melapor. (b) Sumber daya nirinsani. organisasi perkantoran atau kelompok fungsi dalam organisasi perkantoran mesti dirumuskan dan dimengerti oleh setiap personalis. Baton Rauge dari Lousiana state university. 2) Prinsip kesatuan fungsi. sedangkan unsur kerja membuatnya efektif atau inefektif. organisasi perkantoran yang efektif terbentuk oleh pribadi-pribadi yang mesti melaksanakan pekerjaan. Untuk dapat mewujudkan itu semua organisasi perkantoran memiliki prinsip kerja yang harus dipatuhi sebagai kesatuan sistem dalam mencapai tujuan yaitu Prinsip Organisasi Perkantoran. mereka masing-masing mengharapkan organisasi dapat membantu mencapai tujuannya. mengatakan bahwa kondisi yang dibutuhkan organisasi adalah interaksi antara dua orang atau lebih yang merasa bahwa kebutuhankebutuhan individual mereka dapat lebih baik terpenuhi melalui perpaduan kemampuan atau sumber daya yang dimiliki secara pribadi. mengolah. namun individu-individulah yang menyelesaikan pekerjaannya masing-masing. unsur inti mulai terpengaruh oleh unsur kerja. sedangkan interelasi yang jelas mengurangi keraguan. Neuner dan L. sebagian daripadanya merupakan alasan tindakannya. Keeling menyatakan ada delapan prinsip organisasi perkantoran yang esensial meliputi: 1) Prinsip tujuan. 6) Prinsip laporan kepada atasan tunggal. baik berhubungan dengan arus pekerjaan maupun arus informasi. organisasi perkantoran yang efektif bekerja berdasarkan atas kesederhanaan dan interelasi yang jelas. 5) Prinsip wewenang sepadan dengan tanggung jawab. baik disebabkan oleh struktur formal atau informal. sebagaimana di ungkapkan J. 1) Organisasi perkantoran adalah suatu rangka dasar yang menjadi tempat orang-orang melangsungkan kegiatannya untuk menerima. Tujuan yang dimengerti akan berubah menjadi motivasi untuk mencapainya. 4) Setiap orang dalam organisasi perkantoran memiliki tujuan individu. Organisasi perkantoran merupakan suatu system yang terdiri atas sejumlah fungsi yang saling berhubungan dengan saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan. 3) Prinsip hubungan individual. setiap orang dalam organisasi perkantoran mesti diberi wewenang yang sesuai dengan tugas tanggung jawabnya sehingga dapat bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya tersebut. oleh karena itu dalam upaya pengembangan Program administrasi perkantoran sebagai wujud nyata mengikuti perkembangan teknologi disamping sebagai konsekuansi paradigma baru yang bersifat struktural setidak-tidaknya ada lima buah fakta yang jamak terdapat dan berlangsung dalam organisasi perkantoran yaitu 1) Setiap organisasi perkantoran pasti mencakup SDM yang terlibat dalam interaksi sosial. Mengacu pada interaksi yang sering disebut sebagai komunikasi bagaimanapun yang terjadi akan di dapat dua jenis unsur yang umum terjadi dalam setiap organisasi perkantoran yaitu: 1) Unsur inti adalah manusia. maka Unsur kerja menentukan mutu interaksi.J. perlengkapan kantor dan komputer. 7) Prinsip kepengawasan dan kepemimpinan. Kesederhanaan memudahkan para pelaksana untuk memahaminya. Unsur kerja (Working elements) yang muncul dalam organisasi perkantoran meliputi: (a) Sumber daya insani.W. Para anggota yang berinteraksi membentuk sebuah organisasi perkantoran. yaitu kemampuan para karyawan kantor dan pengaruh pribadi mereka. seperti mesin-mesin. 5) Interaksi sosial yang terjadi dalam menejemen perkantoran tersebut juga dapat membantu pencapaian tujuan bersama. kepemimpinan dan pengawasan yang efektif mesti ditegakan sehingga tujuan organisasi perkantoran itu dapat 8 .

Teknologi dapat mendorong sentralisasi mamajemen. antara personalia dengan personalia lainya dalam manajemen perkantoran tersebut. Memaslahatkan seperangkat teknologi baru. semakin jauh pengawasan manajer kantor semakin besar kemungkinan menurunnya pertambahan kemampuan pengawasan. Manajemen memodifikasikan organisasi perkantoran agar dapat menetapkan dan memformalkan hubungan-hubungan yang diminta oleh teknologi informasi. (b) Dubin. penggerakan dan pengawasan. seperti komputer elektronik. agar pengawasan dan kepemimpinan dalam organisasi perkantoran efektif. lima hingga enam orang bawahan pada tingkat tinggi.tercapai. hingga akhirnya mencapai titik nol (bahkan negatif atau kekecauan pengawasan). Manajemen mempertahankan baik organisasi perkantoran yang ada maupun teknologi informasi yang tersedia namun pendekatan itu dibarengi oleh kegiatan untuk memperkenalkan mekanisme agar dapat mengurangi ketaksesuaian dan konflik diantara organisasi dan teknologi informasi tersebut. Suatu proses manajemen kantor selalu melahirkan dokumen-dokumen yang merupakan bagian dari bentuk hasil dari pengolahan data menjadi sebuah informasi yang berguna bagi pimpinan maupun unit-unit organisasi. Brech. seringkali terlalu ditekankan pada pentingnya peningkatan produktivitas organisasi dan efesiensi biaya. Jika manajemen perkantoran mengabaikan perubahan hubungan sosial seperti itu (yang disebut sebagai perubahan unsur inti ). 3. sekalipun bukan segala-galanya. Teknologi Perkantoran dalam Dimensi Metode dan Prosedur Kerja Teknologi dan menejemen kantor Suatu organisasi dalam aktifitasnya hampir dapat dipastikan tidak lepas dari aktifitas menejerial. Kebanyakan ahli menejemen melihat dua belas hingga lima belas bawahan sebagai jangkauan maksimum pada tingkat organisasi rendahan. Setelah itu tambahan kemampuan pengawasan tersebut akan semakin berkurang. Peringatan dari Frank J. 2) Pakar perilaku manusia menganggap penting arti teknologi seprti (a) Farrow. menaruh perhatian besar. Gejala ini melahirkan apa yang disebut hukum semakin berkurangnya tambahan kemampuan pengawasan. 9 . Organisasi Perkantoran dan Perubahan Teknologi Pendiri mazhab klasik dan master ekonomi negara dari Inggris. Adam Smith. Perubahan-perubahan yang terjadi yang disebabkan oleh penerapan teknologi perkantoran akan mempengaruhi hubungan sosial diantara manajer dan bawahan. maka manajemen perkantoran akan mengalami kegagalan dalam memahami potensi penuh dari perubahan yang terjadi dalam teknologi. mengatakan bahwa suatu pandangan organisasi sebagai system teknologi memberikan kepada organisasi itu dasar yang lebih baik untuk pemahaman dan perbandingan. menyatakan bahwa “bentuk-bentuk organisasi usaha tumbuh dari kebutuhan manusia dan kondisi lingkungan. pengorganisasian. Pengawasan yang efektif akan mencegah perubahan arah dalam mencapai tujuan. Sementara itu. Bagaimana Sikap para ahli Manajemen terhadap pengaruh teknologiI: 1) Tidak banyak menaruh minat terhadap faktor teknologi (Fayol. Pada awalnya tambahan kemampuan pengawasan itu akan meningkat sampai mencapai titik optimum pengawasan. Urwick. dan Drukcker). maupun pihak lain yang membutuhkan. jumlah bawahan yang dapat diawasi seorang atasan dapat bertambah. Namun demikian berkat perkembangan teknologi khususnya komputer elektronika dan system mesin dengan pelaksanaan bawahan yang kurang lebih serupa melalui prosedur pengawasan rutin. menunjukan sinyalemennya bahwa perubahan organisasi garis kepada organisasi garis dan staf disebabkan oleh dampak teknologi. sejak dari perencanaan. 2. pengawasan yang efektif pun merupakan proses belajar bagi organisasi di waktu yang akan datang. (c) Walker. mungkin dapat dibenarkan pernyataan”. Manusia dalam usaha mengatur dan mengorganisasikan dirinya banyak dipengaruhi oleh kondisi produksi dan perkembangan teknologi”. jangkauan pengawasan di bawah pengawasan langsung dari seorang manajer kantor atau seorang pengawas seyogyanya dibatasi. Manajemen memodifikasikan teknologi informasi agar dapat menyesuaikan diri dengan organisasi perkantoran yang telah ada dan telah berjalan. 8) Prinsip jangkauan pengawasan. Ada beberapa alternatif pendekatan untuk menghadapi masalah yang menimbulkan konflik antara kebutuhan teknologi dan kebutuhan organisasi seperti: 1. Jasinki mengemukakan bahwa “suatu perubahan dalam produksi atau teknologi mempengaruhi hubungan-hubungan organisatoris”.

dengan lahirnya peralatan yang menggunakan mesin-mesin modern. 6. informasi yang dihasilkan baik berupa dokumen-dokumen maupun bentuk informasi lain. Teknologi Perkantoran dalam Dimensi Seperangkat Alat Bantu/Hardware Organisasi kantor menggarap bidang penyediaan dan penggunaan seperangkat bahan. alat inventaris. akan semakin menuntut seperangkat hardware yang modern pula. c) Semakin sederhana (singkat). Seperangkat alat Bantu/hardware inilah yang disebut dengan teknologi perkantoran. harus di tunjang dengan prosedur dan metode kerja yang baik pula. 10 . Untuk menghemat waktu. Semakin berkembangnya perangkat hardware yang mendukung bidang perkantoran ini.Dalam suatu manajemen kantor. Sedangkan dilihat dari prosedur kerja dapat mengakibatkan: a) Semakin mempermudah pelaksanaan kegiatan sehingga berjalan secara efisien dalam hal waktu dan tenaga. b) Membantu manajemen dalam menilai pekerjaan kantor dan subsistem-subsistem pekerjaan. demikian berulang-ulang pada setiap jenis kegiatan yang sama. yang dalam perkembangannya merupakan teknologi yang sangat diperluka. serta di sisi lain tuntutan kemajuan organisasi dan kebutuhan masyarakat sendiri akan informasi. Menciptakan metode kerja yang mengarah pada pencapaian tujuan yang efektif dan efisien dapat menimbulkan: a Menambah efisiensi kerja kantor. semakin memberikan keringanan dan kemudahan bagi manusia di dalam melaksanakan proses aktifitas kantor dalam manajemen kantor. adalah rangkaian kegiatan dari komponen-kompenen sistem yang saling terintegrasi untuk suatu sistem mekanisme kerja yang baik. bentuk serta kecanggihannya semakin bermunculan saat ini. berbagai macam dana corak. Prosedur merupakan urutan pekerjaan atau kegiatan yang terencana dengan tujuan untuk menangani aktifitas yang berulang. perkakas. Teknologi perkantoran ditinjau dari metode dan prosedur kerja dalam suatu organisasi kantor adalah menyesuaikan teknologi dengan metode dan prosedur kerja yang ditetapkan serta di sesuaikan dengan karakteristik kantor tersebut. Metode dan prosedur kerja Proses manajemen di dalam manajemen kantor adalah suatu sistem rangkaian aktifitas manajemen kantor. d) Memeriksa pengeluaran yang sifatnya memboroskan penggunaan pegawai dan catatan-catatan yang tidak perlu. mengorganisasi dan mengolah data secara lebih komprehensif dan terpadu.sejak dari penerimaan atau pembuatan sampai pada tahap akhir penyimpanan adalah merupakan rangkaian kerja/mekanisme sistem yang terdiri dari prosedurprosedur kerja. sehingga perencanaan. Contoh sederhana adalah penanganan surat masuk atau keluar. Perkembangan kemajuan teknologi perkantoran semakin pesat. bahwa setiap pola sistem yang berlaku akan terdiri dari sejumlah prosedur. karena organisasi turut berkembang dan tuntutan masyarakat semakin pesat dan kompleks. karena pekerjaan dapat dikerjakan lebih cepat dan tepat. maka teknologi (khususnya teknologi perkantoran) ikut berkembang seiring dengan meningkatnya kecerdasan manusia dalam menciptakan teknologi modern. c) Mengadakan penghematan waktu dan biaya. d)Semakin efisien kerja (cepat selesai). Dapat menampung. Keuntungan dari penggunaan alat-alat teknologi kantoran antara lain: 1. Untuk meniningkatkan ketelitian dan memperbaiki suatu pekerjaan. Semakin modern suatu organisasi. Untuk mengurangi kelelahan pegawai sehingga tidak mengurangi semangat dan etos kerja. Pola sistem yang bekerja di dalam suatu manajemen kantor merupakan gambaran sempurna dari seluruh kantor untuk di ketahui. rapi dan tersistem. terdiri dari kegiatan-kegiatan subsistem-subsistem yang saling berkaitan serta tidak dapat di pisahkan satu sama lain. 4. Teknologi Perkantoran dalam dimensi Metode dan Prosedur Kerja Suatu aktifitas kantor yang merupakan suatu mekanisme sistem. Hasil pekerjaan akan lebih kuat. Maka secara bertahap alat-alat konvensionalpun kemudian berkembang semakin pesat. Untuk memperlancar efektifitas pengolahan data. dan mesin-mesin guna melaksanakan kegiatan-kegiatan kantor tersebut. 5. 3. b) Semakin lancarnya kegiatan kerja sehingga menghasilkan pekerjaan tang efektif. 2. dilakukan pemrosesan dan pengolahannya dengan pemanfaatan peralatan dan mesin-mesin kantor.perabot.

2. efisien dan tersistem. agar mampu memanfaatkan hardware kantor secara efektif dan efisien. Perkembangan perangkat hardware kantor ini lebih tampak terlihat sejak manusia (baca: organisasi) mulai meminimalkan peran tanaga ekstra manusia yang dikerahkan pada alat-alat manusia konvensional masih berjaya. oleh karena itu peran dari teknologi menjadi penting. maka dalam upaya pelayanan tersebut tidak bisa meninggalkan pada aspek-aspek yang mendasar seperti apa yang dijelaskan dalam paradigma administrasi perkantoran konvensional yang pada akhirnya berkembang ke dalam paradigma struktural. efisien. yang lainnya prosedur dan metode kerja. maupun dalam bentuk electrical data processing system. sehingga memungkinkan kantor dapat melaksanakan aktifitasnya sesuai fungsinya. Penyediaan dan pemanfaatan hardware kantor di dalam suatu organisasi kantor diarahkan sepenuhnya terhadap upaya pencapaian tujuan organisasi.pengorganisasian. menjadi “raja” dalam suatu organisasi kantor. akurat dalam kondisi kerja yang efektif dan efisien. pengetahuan dan profesionalisme. Jika diperinci perangkat hardware kantor ini dapat diklasifikasikan antara lain: 1. dan metode) serta memelihara dan perawatan hardware. di samping kemampuan untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi yang terjadi secara pesat dan semakin sempurna 11 . perhitungan. perhatian terhadap mekanisme kerja (system. penyusunan. ataupun yang di butuhkan pula oleh unit-unit organisasi dan pihak lain yang memerlukan informasi. pengolahan serta pengawasan kantor dapat berjalan lancer. pelaporan. namun disadari atau tidak bahwa setiap kemajuan bukan berarti semua harus diikutinya. copyng machine. Masing-masing perangkat ini pada dasarnya memiliki tugas yang sama yakni mengolah data sehingga menghasilkan informasi yang lebih akurat dan tersistem. Maka pekerjaan kantor yang begitu kompleks khususnya dan proses manajemen kantor secara lebih luas. pengklasifikasian.penyimpanan. Sesempurna apapun perangkat hardware kantor yang tersedia. Tingkatkan kemampuan. dengan alat bantu komputer ini. Yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah unit record (Panch Card). pada saat kapanpun proses manajemen kantor berlangsung. prosedur. Ikutilah system prosedur dan metode kerja yang ada. serta mampu mengolah dan memproses data menjadi suatu informasi yang tepat. khususnya komputer atau microprocessor senantiasa melakukan apa yang disebut “Rekayasa dan desain ulang atas dirinya sendiri” sehingga perangkat ini akan berkembang dan sempurna dari generasi ke generasi. Setiap perngkat hardware kantor. Administrasi perkantoran memiliki prinsip keilmuan sebagai upaya efisiensi dan efektivitas pelayanan dalam proses pencapai tujuan organisasi. baik dalam suatu integrated data processing system. hampir tidak lepas dari peranannya yang multiguna dan multifungsi. pengambilan data kembali. telecommunication machines dan komputerisasi. Seluruh proses aktifitas kantor yang berjalan secara efektif. adding and calculating. Teknologi perkantoran ditinjau dari keberadaan dan pemanfaatan seperangkat alat Bantu/hardware adalah rangkaian upaya penyediaan dan pemanfaatan perangkat hardware yang dibutuhkan dalam seluruh aktifitas kantor. dan komunikasi. Machine activites by a person : yang termasuk di dalam klasifikasi ini antara lain type writer. terutama tentunya dalam menghasilkan informasi yang dibutuhkan di dalam pembuatan keputusan. terarah dan terpadu. menjadi penentu efektif tidaknya proses aktifitas kantor dapat berjalan. Untuk itu dianjurkan kepada pengguna teknologi hardware kantor: 1. accounting machines. Perkembangan perangkat alat Bantu/hardware bidang perkantoran Hardware kantor adalah seluruh paket atau komponen peralatan yang membentuk suatu sistem. Berikan perawatan kepada hardware kantor yang digunakan 3. Machines activated by a language : adalah mesin-mesin yang berada di dalam suatu sistem tertentu dengan menggunakan bahasa mesin. 2. Komputer sebagai salah satu alat Bantu/hardware dalam bidang perkantoran. Pekerjaan administrasi perkantoran tidak lepas dari pencatatan. Kesimpulan Tuntutan perubahan tak dapat dihindarkan sebagai konsekuensi dari perkembangan dan kemajuan ilmu dan teknologi. dapat diselesaikan dan dilakukan dengan waktu relatif singkat tetapi tetap akurat.

Ilmu Administrasi Publik. Rineka Cipta. 1980 Wilson. Modern Office Management. Neuner dan L. PT Raja Grafindo. Siagian.. & Perincian Ilmu Administrasi. Jakarta. Manajemen Adminstrasi Perkantoran Modern. Sutarto.B. Sinar Baru. Akademi Administrasi Negara Yogyakarta. 12 . Rineka Cipta Jakarta The Liang Gie & Drs. Manajemen Kantor (Teori dan Praktek).Aspek-Aspek Pokok Ilmu Administrasi Ghalia Indonesia Jakarta Sondang P. Pengertian. Administrasi Perkantoran Modern. Te Study of Administration. dkk. M. Kedudukan. 2006 J.. reproduced in Peter Woll (ed) “Public Administration “ Harper and Rom.J.Woodrow. Super Sukses Yogyakarta The Liang Gie. Filsafat Administrasi. Keeling. Erlangga Jakarta 2007 Inu Kencana Syafiie. D. Badri Munir Sukoco. Liberty Yogyakarta. Aneka Sari Ilmu Administrasi. 1992 Pariata Westra.Daftar bacaan Ali..B. Taraporevala Sons & Co. 1970 Komaruddin. Jakata 2006. Bombay. Private Ltd.. MPA Kerangka Dasar Ilmu Administrasi. Faried. Balai Pembinaan Administrasi.W... Bandung 1985 Miftah Thoha.

telah secara nyata memberi berbagai keuntungan. dengan kata lain arsip yang dikemas dalam bentuk elektronik atau digital yang dapat diakses bagi yang berkepentingan dan mempunyai otoritas untuk mengakses arsip tersebut. setelah pemerintah menggulirkan reformasi birokrasi di beberapa departemen. berkompeten dan memiliki etos kerja yang tinggi seolah menjadi harga mati. antara lain: Tabel 1. Jateng Kab.Kendal Seluruh Indonesia Intansi Pemerintah KPU Perpusda Provinsi Kantor Kecamatan Samsat Kantor Pelayanan Pajak Penggunaan TIK Pemungutan Suara PILKADA Katalog KTP Pembayaran pajak kendaraan bermotor Pembuatan NPWP secara on line 13 .com). Jakarta (www.detiknews. kehandalan dan kemutakhiran komunikasi dan pengolahan data. secara bertahap akan ditentukan yang mana hardcopy dan yang mana bisa disimpan dalam bentuk softcopy.PENGARSIPAN DIGITAL PADA INSTANSI PEMERINTAH (Sebuah Langkah Menuju Manajemen Perkantoran Modern) Vitradesie Noekent Abstrak Kesadaran institusi pemerintah akan pentingnya arsip telah memicu pemikiran. UU tersebut direspon dengan sangat baik oleh beberapa instansi pemerintah. arsip digital. Senayan. Penggunan TIK pada Instansi Pemerintah Daerah Kab. Latar Belakang Tuntutan masyarakat pada instansi pemerintah untuk dapat menerapkan good corporate governance semakin menjadi hal yang tak terhindarkan. Salah satu solusinya adalah memanfaatkan teknologi informasi berupa suatu aplikasi yang terkomputerisasi untuk menyimpan arsip. Perubahan besar telah terjadi dalam lingkungan perkantoran.1. tidak rusak. Berikut petikan pernyataan Menpan : "Ada konsep digitalisasi arsip. kecermatan. masih banyak kantor pemerintah yang belum menggunakan sistem pengolahan data dengan memanfaatkan TIK. Untuk mencapai tujuan tersebut. Dan tanpa menunggu terlalu lama. serta hemat biaya. Usulan pemerintah tersebut telah dituangkan dalam UU No. Di sisi lain. manajemen informasi berbasis TIK. Muara akhir dari tujuan tersebut adalah efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan roda kepemerintahan. dibutuhkan kemampuan untuk menata pekerjaan organisasi yang beragam agar bersinergi ke arah tujuan yang ditetapkan. terutama di kota-kota kecil atau di daerah terpencil. PENDAHULUAN 1. Kata Kunci: arsip. seperti keuntungan dalam hal kecepatan. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mengalami kemajuan yang sangat pesat." seusai rapat kerja dengan Komisi II DPR di Gedung DPR. akan dituangkan dalam RUU Kearsipan. bagaimana cara menyimpan dan mengemas arsip agar tetap memiliki nilai. Jembrana. Perkembangan TIK bahkan telah mengharuskan instansi pemerintah untuk selalu siap menghadapi perubahan yang terjadi. mudah ditemukan kembali. mudah penyimpanan. Proses alih media arsip menjadi arsip digital dilakukan dengan proses scanning dan arsip disimpan dalam format PDF agar keabsahan dokumen atau arsip tetap terjamin. Dalam kenyataannya. Aparatur pemerintah yang professional.43 tahun 2009 tentang Kearsipan. Bali Prov.

Selain itu.Polres SIM Sumber: berbagai terbitan Surat Kabar. diolah kembali (2010) 1. Berikut ini. Penggunaan Pengarsipan Konvensional pada Instansi Pemerintah Instansi Pemerintah Pengadilan Jenis Arsip Sifat Arsip Vital Berita Acara Penyidikan Berkas penuntutan dari JPU Berita Acara Persidangan Putusan pengadilan Alat Bukti Surat Rumah Sakit Catatan medik Arsip Nasional Kolonial Memorie van Overgare Staatsblad Regeering Almanak Besluit Kementerian Luar Negeri Dokumen Negara MOU antar Negara Sumber: berbagai terbitan Surat Kabar. tinta luntur dan sebagainya) dan resiko kebakaran atau bencana lain (kebakaran atau banjir). maka aparat pemerintah akan dapat menyediakan informasi yang tepat.1.2. sobek. Tabel 2. beberapa instansi pemerintah yang masih menggunakan arsip secara fisik/ konvensional. Untuk itulah dibutuhkan upaya pendokumentasian. Gambaran Masalah yang Dikaji Tidaklah berlebihan jika disebutkan bahwa pengarsipan sebagai pusat ingatan organisasi untuk merujuk pada fungsi arsip yang vital dalam organisasi. diolah kembali (2010) Vital Vital Vital 14 . Kumpulan data yang menggambarkan perjalanan sebuah organisasi inilah yang disebut sebagai arsip. Tujuan Berdasar latar belakang di atas. Beberapa gejala kurang efektifnya sistem kearsipan di sebuah instansi pemerintah dapat dilihat dari sulitnya mencari kembali arsip pada saat diperlukan. Proses pengambilan keputusan oleh seorang pimpinan amat dipengaruhi oleh seberapa akurat data yang dimilikinya. Khusus untuk arsip yang bernilai sejarah. selain merestorasinya. fisik arsip sangat rentan dengan resiko akibat kerusakan (aus. Selain kepentingan tersebut. Berdasar data. dokumen semakin dimakan usia. akurat. GAMBARAN MASALAH 2. maka keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan karena memiliki landasan empiris. dengan metode pengarsipan yang tepat. banjir arsip dan ruang kantor yang tersita untuk tempat penyimpanan arsip. berjamur. relevan dan tepat waktu secara efektif dan efisien. Memberikan gambaran alternatif pengelolaan arsip menggunakan TIK berupa digitalisasi pengarsipan pada instansi pemerintah. maka penulisan artikel ini bertujuan untuk: 1. Resiko kecurian juga mungkin terjadi. hilangnya arsip penting. lengkap. 2. Memberikan gambaran permasalahan yang akan dihadapi jika sebuah instansi pemerintah menerapkan digitalisasi pengarsipan.

Selain kelemahan di atas. kini mereka mengalihkan perhatiannya untuk melakukan pembobolan situs-situs yang ada di Indonesia.id). “Setelah hacker Indonesia melakukan penyerangan terhadap situs-situs milik pemerintahan Israel.com/2009/01/serangan-hacker-indonesia-semakin-membabibuta. yaitu yang berasal dari internal dan eksternal. Gangguan tersebut dibedakan menjadi dua. Tempat penyimpanan arsip konvensional Pada kantor modern. IDENTIFIKASI. kekurangan terbesar arsip konvensional pada kebutuhan biaya yang relatif tinggi (untuk pengadaan filling cabinet dan ruang/ gudang penyimpanan).html ).teknologinet. Ancaman para perentas ini tidak dapat dipandang sebelah mata. sangat mungkin terjadinya gangguan terhadap sistem yang digunakan. terutama bagi keamanan arsip yang memiliki nilai sejarah tinggi mengingat beberapa naskah sejarah mulai rapuh termakan usia. sedang sumber gangguan eksternal berasal dari para perentas (hacker/ cracker)1. ANALISIS DAN ALTERNATIF 3.500. Secara nasional. Proses alih media harus didukung dengan hardware yang dapat melakukan digitalisasi dokumen menjadi format digital dengan kecepatan yang tinggi dan software yang mendukung proses digitalisasi. memodifikasi. atau bahkan mengeksploitasi sistem yang terdapat di sebuah perangkat seperti perangkat lunak komputer dan perangkat keras komputer seperti program komputer dan administrasi terutama keamanan 15 . Sumber gangguan internal antara lain kerusakan komponen atau kesalahan sub sistem yang mengganggu sistem secara keseluruhan.1. Kami mencontohkan sebuah institusi pemerintah yang sudah menerapkan pengarsipan digital.000 (termasuk pajak) Dibebankan kepada APBD Kota Bontang tahun 2010 1Hacker adalah orang yang mempelajari.go. Para hacker ini sudah tidak pandang bulu tidak hanya situs besar namun situs-situs kecil pun menjadi incarannya ( http://www. Pelaksana Kegiatan (Man) dan Biaya (Money) Pelaksana kegiatan digitalisasi pengarsipan harus dilakukan oleh pihak yang berkompeten yang disebut Arsiparis. Identifikasi Digitalisasi dokumen merupakan suatu proses alih media dari dokumen secara fisik menjadi bentuk dokumen secara digital yang tersimpan dalam bentuk soft copy. Gambar 1. Berikut kami identifikasi beberapa hal yang dibutuhkan untuk menerapkan digitalisasi pengarsipan pada instansi milik pemerintah menggunakan pendekatan 5 M. institusi pemerintah yang mengelola arsip adalah Arsip Nasional (www. dan selanjutnya bila menginginkan.anri. yaitu: Kegiatan : Kegiatan Aplikasi Komputerisasi Sistem Pengarsipan Dokumen Nama Instansi : Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Bontang Nilai : Rp 304. Kutipan berikut ini bukti ancaman tersebut. menganalisa. bisa membuat.

Jangka waktu : 3 (tiga) bulan 16 .

Gambar 2. sebagai berikut: Identifikasi User Otorisasi User Filterisasi Top Secret Secret Confiden tial Enkripsi Gambar 3. peta. gabungan dari bahan-bahan konvensional dan media baru. seperti. naskah. rekaman suara. alur ini dapat diidentifikasi. Mesin scanner untuk dokumen berukuran kecil dan besar Metode Pelaksanaan (Method) Salah satu resiko pengarsipan digital menyangkut keamanan data dan kehandalan system pengamannya (security layer). Secara garis besar.Alat dan Bahan (Material) Bahan-bahan yang dimasukkan antara lain: sumber-sumber yang diperlukan untuk keperluan proses belajar dan penelitian. Security Layer System 17 . gambar bergerak dan gambar statis.

Hal ini sangat diperlukan mengingat banyak sekali berbagai data yang hilang. dokumen maupun foto secara digital akan membuat kita lebih ramah lingkungan. Kebutuhan untuk mem-back up Penyimpanan secara digital akan membuat kita memiliki back up data. Tuntutan less paper Saat ini banyak dicanangkan tentang pemeliharaan pohon.Dokumen Aktif Arsip Kerja Buku Jilid Arsip Sejarah Arsip Legal Scannin g PDF/TIFF/J PG OCR/ICR (Optical/Intelligent Character Recognition) Imaging Untuk diproses lebih lanjut (edit. antara lain: 1. Penyimpanan secara 18 . Penyimpanan berbagai arsip. 2. copy.2. Status konservasi menjadi acuan untuk sedapat mungkin menyimpan berbagai data secara digital. Search Word by word. Hal ini berpengaruh langsung terhadap penggunaan kertas. kita dapat menggunakan data bahkan diharapkan data beberapa tahun (sepuluh tahun) dapat kita lihat kembali. Metode Pengalihan Dokumen 3. etc) Gambar 4. terdapat beberapa masalah yang perlu dipecahkan. Analisis Berdasar uraian yang telah disampaikan. Dalam pemeriksaan keuangan.

digital akan membuat kita lebih memiliki tempat serta tidak akan merusak dokumen tersebut. 3. SDM (Sumber Daya Manusia) Sumber daya manusia merupakan hal yang sangat penting dalam perkantoran modern. Adanya SDM akan membuat perkantoran modern lebih baik dalam penyimpanan dokumen. Penyimpanan dokumen secara digital akan membuat pengurangan pegawai. Hal inilah yang suatu saat harus dilihat oleh perkantoran tersebut. Pengertian pengarsipan digital adalah suatu sistem berbasis IT yang berfungsi membantu memenuhi kebutuhan untuk memelihara dan melindungi data. Digitalisasi pengarsipan bermanfaat, sebagai berikut: 1. Untuk memungkinkan sektor pendidikan pada semua level mempunyai akses yang baik, sehingga kebutuhan-kebutuhan pendidikan nasional terpenuhi; 2. Untuk menjamin bahwa institusi-institusi publik, pada level lokal (propinsi dan kabupaten/kota) dan nasional, menseleksi, melestarikan dan mengelola arsip dinamis dan arsip statis mereka dengan baik, sesuai dengan dengan ketentuan-ketentuan perundang-undangan, pedoman dan standar-standar profesional yang terkait; 3. Untuk mendorong organisasi-organisasi swasta dan perorangan untuk mengelola arsip-arsip mereka secara efektif, dan melestarikan arsip-arsip statis yang bernilai historis dan bila memungkinkan memberikan kemudahan akses publik terhadap arsiparsip tersebut; 4. Untuk memungkinkan sektor kearsipan siap terhadap pengolahan data elektronik yang jumlahnya semakin meningkat; 5. Untuk memaksimalkan nilai sumber informasi yang disimpan oleh sektor kearsipan. 3.3. Alternatif Pemecahan Masalah Dokumen-dokumen yang akan didigitalisasi dibedakan berdasarkan pemilihan tematema tertentu. Hal ini lebih efisien dibanding melakukan digitalisasi terhadap semua khasanah arsip yang ada. Tahapan tersebut dibagi dibagi menjadi: 1. Pembuatan standard and operating procedure (SOP) Kearsipan; 2. Perencanaan dan perancangan disain sistem berdasar SOP Kearsipan; 3. Pembuatan aplikasi dan pembangunan data base; 4. Instalasi aplikasi; 5. Elektronisasi data persuratan dan kearsipan/ entry data; 6. Pengujian aplikasi; 7. Implementasi aplikasi; 8. Sosialisasi, pelatihan dan pendampingan. Berdasar urutan pelaksanaan di atas, maka hasil yang diharapkan akan dapat dicapai oleh institusi pemerintah dalam lima tahun mendatang adalah: 1. Akses ke arsip-arsip statis atau warisan dokumenter lainnya yang telah didigitalisasi akan tersedia bagi siapapun yang menginginkannya; 2. Penyelenggara kearsipan statis akan memberikan layanan-layanan publik baik secara onsite maupun online, yang akan merespon sesuai dengan kebutuhankebutuhan pengguna; 3. Links antara arsip nasional dan universitas-universitas, sekolah-sekolah, dan sektor-sektor pendidikan lainnya akan semakin kuat dan akan memenuhi kebutuhan para pengguna di sektor tersebut; 4. Semua arsip statis dalam tempat-tempat penyimpanan milik pemerintah, maupun dalam pengelolaan non-pemerintah (swasta dan perorangan) akan dilestarikan

19

secara aman dan disediakan bagi masyarakat dalam suatu provisi jaringan yang komprehensif. Untuk mencapai kondisi tersebut, diperlukan adanya perubahan-perubahan perilaku pada: 1. Tingkat individual pengelola arsip, untuk menjamin bahwa nilai informasi arsip ditentukan dan tetap terjaga saat arsip diciptakan, dipelihara dan digunakan, serta disusutkan sesuai dengan sistem pengelolaan arsip yang menjamin kelengkapan, reliabilitas dan autentisitasnya. 2. Tingkat lembaga, untuk menjamin pelaksanaan manajemen arsip yang efektif dan efisien dalam upaya pemberdayaan arsip bagi keperluan manajemen. 3. Tingkat nasional, untuk menjamin pengelolaan keseluruhan arsip kepemerintahan sebagai sebuah khasanah yang utuh dan menjamin penggunaan bersama informasinya oleh Lembaga-lembaga Negara, Badan-badan Pemerintahan, swasta dan perseorangan dalam rangka penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. 4. Tingkat pengguna, untuk memelihara kesadaran bahwa telah tersedia arsip kepemerintahan yang sarat dengan informasi dan kemudahan untuk memanfaatkannya.

PENUTUP 4.1. Kesimpulan Digitalisasi dokumen sudah menjadi kebutuhan utama. Sebaiknya proses tersebut dilakukan berdasarkan pemilahan tema tertentu karena efisiensi organisasi menjadi prioritas tertinggi. Walaupun perubahan berpotensi menimbulkan ketidakpastian, namun demikian sudah menjadi kebutuhan publik untuk mendapatkan kemudahan akses informasi. Dilihat dari tingkat pengguna, perlu dipelihara kesadaran bahwa sudah tersedia arsip kepemerintahan yang sarat dengan informasi dan kemudahan untuk memanfaatkannya, sehingga tercipta Indonesia yang baik sesuai cita-cita bersama-sama. 4.2. Saran 1. Perluasan dan peningkatan kualitas jaringan komunikasi dan informasi kearsipan ke seluruh wilayah negara. 2. Pembentukan portal-portal informasi dan layanan arsip yang dapat mengintegrasikan sistem manajemen dan proses kerja pengelolaan arsip di antara instansi pemerintah terkait; sasaran ini akan diperkuat dengan kebijakan tentang keawajiban instansi pemerintah pusat dan daerah untuk menyediakan informasi dan layanan arsip secara on-line. 3. Pembentukan jaringan organisasi pendukung yang menjembatani portal-portal informasi dan layanan arsip tersebut di atas dengan situs dan sistem pengolahan dan pengelolaan informasi yang terkait pada sistem manajemen dan proses kerja pengelolaan arsip di instansi yang berkepentingan. Sasaran ini mencakup pengembangan kebijakan pemanfaatan dan pertukaran informasi arsip antar instansi pemerintah pusat dan daerah. 4. Pembakuan sistem manajemen arsip elektronik untuk menjamin kelancaran dan keandalan transaksi informasi antar organisasi diatas. REFERENSI www.anri.go.id http://www.teknologinet.com/2009/01/serangan-hacker-indonesia-semakin-membabibuta.html

20

PENGATURAN TATA RUANG KANTOR PADA DINAS SOSIAL, TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI KABUPATEN KUDUS Wiwin Anugrahati ABSTRAK Tata ruang perkantoran merupakan salah satu penunjang kelancaran dalam menyelesaikan tugas. Sistem tata ruang kantor ada 3 yaitu tata ruang terbuka, tata ruang tertutup dan campuran. Lingungan fisik kantor meliputi cahaya, warna, udara, suara. Permasalahan dalam tugas akhir ini adalah: (1). bagaimana sistem tata ruang kantor pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus? (2). Kendala-kendala apa saja yang timbul dalam pengelolaan tata ruang kantor Dinas Sosial, Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sistem tata ruang kantor pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus, untuk mengetahui kendala-kendala yang timbul dalam pengelolaan tata ruang kantor pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan bahwa tata ruang pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus menggunakan sistem tata ruang terbuka dan sistem tata ruang tertutup. Lingkungan fisik :(1) Pencahayaan, pencahayaan utama yang sering digunakan adalah pencahayaan sinar matahari,(2) Warna, warna dominan yang digunakan pada Dinas adalah warna kuning kecoklatan,(3) Udara, pertukaran udara yang ada pada tiap ruangan menggunakan saluran udara yang ada pada setiap sisi atas ruangan dan di lengkapi dengan jendela kaca,(4) Suara, suara yang mengganggu berasal dari internal kantor sendiri. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpukan bahwa(1)Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus menggunakan tata ruang terbuka dan tata ruang tertutup hal ini karena untuk membedakan antara bagian yang satu dengan yang lain,(2) kendala- kendala,(a) kendala dalam penerapan sistem tata ruang kantor,(b) kendala dalam penerapan lingkungan fisik. Kata kunci: pengaturan tata ruang, kantor 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan pesat dewasa ini, kantor mempunyai makna lebih dari hanya sebagai tempat, melainkan sebagai pusat kegiatan penyediaan informasi, guna menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan disegala bidang (Sedarmayanti,2001: 2). Dalam menunjang kelancaran kantor, salah satu faktor penting yang ikut menentukan adalah penyusunan tempat kerja dan alat perlengkapan kantor sebaik-baiknya. Penyusunan alat-alat kantor pada letak yang tepat serta pengaturan tempat kerja yang menimbulkan kepuasan bekerja bagi para pegawai disebut tata ruang kantor (The Liang Gie, 2000:186). Di Indonesia tata ruang masih kurang mendapat perhatian dalam instansi-instansi pemerintah dan perusahan-perusahan swasta. Misalnya banyak terlihat suatu instansi yang banyak melayani publik ditempatkan dibelakang sehingga orang-orang harus bertanya kesana kemari sebelum dapat menjumpainya. Hal ini menyita banyak waktu dan mengganggu pegawai lain yang setiap kalinya harus memberi petunjuk itu. Tidak banyak dijumpai pula perusahaan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, pegawai-pegaiwainya berjalan dari satu meja kemeja orang lain. Sehingga mengurangi keefektifan dalam suatu pekerjaan, ini terjadi

21

karena tata ruang yang buruk. (The Liang Gie, 2000 : 187). Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus merupakan kantor yang bergerak dalam bidang sosial, tenaga kerja dan transmigrasi yang dalam tugasnya memberikan pelayanan publik yang memiliki 2 unit kantor yang berbeda tempatnya, dengan demikian penataan tata ruangnya harus sesuai dengan fungsi kantor itu sendiri agar tidak mengganggu aktifitas staf lainnya dalam menyelesaikan suatu pekerjaan maupun tamu yang hendak berkunjung tidak akan kebingungan. Beberapa hal yang menurut penulis bahwa tata ruang kantor pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus yang kurang sesuai dengan teori yang ada yaitu belum maksimalnya bangunan kantor untuk mempermudah kegiatan kantor sedangkan pegawai yang ada banyak, ini terjadi pada kantor unit 1 yang luas gedung hanya 469 m2 tetapi di tempati pegawai sebanyak 28 orang di tambah dengan adanya perabotan kantor yang penempatannya tidak sesuai, ini kan menambah ruangan menjadi sempit. Demikian ini, pegawai yang berada dalam kantor akan merasa tidak nyaman, panas dan efektifitas kerjanya jadi tidak maksimal karena ruang geraknya yang sempit, ini ditambah dengan fasilitas kantor yang penggunaannya belum maksimal yaitu jendela yang merupakan ventilasi udara tidak dapat dibuka sehingga udara tidak bisa bebas keluar masuk sehingga suhu pada ruangan menjadi panas. Adapun penempatan peralatan dan perlengkapan kantor yang kurang tepat, antara lain: penyusunan meja saling berdekatan dengan jarak 50 cm dan letak lemari arsip yang tidak sesuai. 1.2. Rumusan Masalah 1. Bagaimana sistem tata ruang pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus? 2. Kendala- kendala apa saja yang timbul dalam penataan tata ruang kantor pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus? 1.3. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui sistem tata ruang kantor pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. 2. Untuk mengetahui Kendala- kendala apa saja yang timbul dalam penataan tata ruang kantor pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. 2. Hasil penelitian 2.1. Tata Ruang Kantor Pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. Berdasarkan dari penelitian penulis di lapangan mengenai penerapan sistem tata ruang kantor yang diterapkan di Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus adalah sebagai berikut: 2.2.1. Penerapan Sistem tata ruang kantor Penggunaan tata ruang kantor merupakan segi yang terpenting dalam suatu perencanaan manajemen perkantoran. Ruangan yang disusun secara tepat dan memperhatikan semua komponen fisik yang ada di dalamnya akan sangat membantu kelancaran pelaksanaan pekerjaan. Sistem tata ruang yang diterapkan oleh Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Trnasmigrasi Kabupaten Kudus adalah sistem tata ruang terbuka dan sistem tata ruang tertutup. 1. Tata Ruang Terbuka Dalam penerapan sistem tata ruang terbuka tidak menggunakan dinding atau papan penyekat yang membatasi antara pegawai satu dengan yang lainnya. Pada penerapan sistem

22

sistem tata ruang terbuka diterapkan pada ruang staf tiap bidang pada Dinas Sosial. 1. b. 3. 1. Kepala Bidang Pengawasan. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus menggunakan penerangan melalui penerangan cahaya sinar matahari dan penerangan lampu neon. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. Hubungan komunikasi kerja antar pegawai lebih mudah.1. Biaya pengelolaan ruangan relatif besar. 1. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. b. Sering terjadi pembicaraan dan mengobrol diantara pegawai. Namun yang lebih sering digunakan adalah penerangan cahaya sinar matahari yang 23 . Dalam penerapan sistem tata ruang kantor tertutup terdapat keuntungan-keuntungan dan kerugian yang diperoleh Dinas Sosial. Kerugian penerapan sistem tata ruang kantor terbuka pada Dinas Sosial. Berdasarkan rumusan sistem tata ruang kantor terbuka pada Dinas Sosial. Kepala Sub Bagian Keuangan. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. 2. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus.tata ruang terbuka terdapat keuntungan. Tata Ruang Tertutup Dalam tata ruang tertutup susunan tata ruang untuk bekerja terbagi-bagi dalam beberapa kamar atau sekat atau sengaja dibuat pemisahan buatan diantara pegawainya. 1. Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi .2. Berdasarkan penerapan sistem tata ruang kantor tertutup pada Dinas Sosial. 2. Kerahasiaan kerjaan kurang terjamin.keuntungan dan kerugian yang diperoleh Dinas Sosial.2. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. a. 3. Mudah terjadi penularan penyakit di antara pegawai seperti influenza. 2. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. 3. Fleksibilitas tata ruang yang lebih besar. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus adalah a. Tata ruang untuk resepsionis dan ruang tamu berada di depan ruang kepala dinas sehingga dapat mengganggu konsentrasi kepala dinas dalam menyelesaikan pekerjaan yang disebabkan oleh tamu yang sedang bertanya dengan resepsionis ataupun tamu yang mengobrol saat menunggu. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. Pengawasan yang lebih baik terhadap para pegawai. Keuntungan penerapan sistem tata ruang kantor tertutup pada Dinas Sosial. Kerugian penerapan sistem tata ruang kantor tertutup pada Dinas Sosial. Lalu lalang pegawai dan tamu dapat terhindari. Kepala Seksi Perselisihan Ketenagakerjaaan. Sekretaris. Kepala Bidang Sosial.Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Perselisihan. 3. sistem tata ruang kantor tertutup diterapkan pada ruangan Kepala Dinas. Keamanan dan kerahasiaan pekerjaan lebih terjamin. Hubungan antar satuan kurang lancar atau banyak mondar-mandir. Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Dan Transmigrasi. sehingga dapat menumbuhkan rasa kekeluargaan dan persatuan yang lebih erat antara pegawai. Kepala Sub Bagian Perencanaan. Penerangan Pada kantor Dinas Sosial. Ketenangan ruangan lebih baik sehingga mudah dalam konsentrasi 2. Pengawasan pegawai kurang efektif. Keuntungan Penerapan sistem tata ruang kantor terbuka pada Dinas Sosial. 2. 2. Evaluasi Dan Pelaporan. Lingkungan Fisik Kantor 2. dan Kepala Seksi Informasi.

ini dikarenakan ventilasi seperti jendela tidak bisa bermanfaat sesuai fungsinya yang seharusnya dapat mengalirkan udara keluar masuk. Petunjuk wawancara hanya berisi petunjuk secara garis besar tentang proses dan isi wawancara untuk menjaga agar pokok-pokok yang direncanakan dapat tercukupi semua. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. 3.masuk melalui jendela-jendela yanng berada samping kantor. Dalam hal ini dokumen yang digunakan berasal dari literatur dan dokumen instansi yang digunakan untuk mendukung metode wawancara. Data Primer Data yang diperoleh langsung dari sumbernya diambil dan dicatat pertama kalinya (Marzuki. yaitu : 1. Dokumentasi Teknik dokumentasi adalah suatu usaha yang dilakukan dalam penelitian untuk mengumpulkan dokumen yang tersedia sebagai sumber informasi untuk mencapai tujuan yang diharapkan.3.2. 2. Warna Warna merupakan faktor yanng sangat penting untuk memperlancar efektivitas kerja pegawai karena warna sangat mempengaruhi keadaan jiwa mereka. 2. dan struktur organisasi. Udara Udara yang berada pada kantor Dinas Sosial Tenaga Kerja Dan Transmigrasi panas pada musim kemarau. 1997: 55). Suara Pada kantor Dinas Sosial Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. Data Sekunder Data yang diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti (Marzuki. b. METODOLOGI RISET 3. 24 . dengan membuat kerangka dan garis besar pokok-pokok yang ditanyakan dalam proses wawancara. 3. Penggunaan warna pada Kantor Dinas Sosial.4. Pada Dinas Sosial.2. (Maman Rachman. 2. Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari pegawai Dinas Sosial.2. Peniliti melakukan wawancara dengan pendekatan mengunakan petunjuk umum wawancara.1. 2.jendala tertutup rapat tidak dapat dibuka sehingga karbon dioksida ataupun oksigen tidak bisa keluar /masuk dengan lancar .2. Sedangkan lampu neon dipergunakan apabila cuaca mendung atau gelap. Data yang ada adalah data mengenai gambaran umum Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus yang meliputi lokasi. Dengan teknik wawancara. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus menggunakan warna kuning kecoklatan.2. Sumber Data Teknik pengumpulan data sangat penting bagi penulis untuk memperoleh data yang diinginkan. 1997: 56). sumber suara sering mengganggu aktiviats kantor dan pegawai adalah dari pihak kantor sendiri seperti percakapan antar pegawai yang satu dengan pegawai yang lain dan suara gaduh dari peralatan kantor seperti mesin ketik. peneliti berusaha mencari informasi dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan tema Tugas Akhir. Metode Pengumpulan Data a. Adapun jenis data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini. bangunan. Tenaga Kerja dan Transmigrasi . Sedangkan pihak luar tidak begitu mengganggu karena tamu berada di depan bagian kantor. warna tersebut dipertimbangkan memberi kesan tenang dan ruangan terlihat lebih terang.maka udara pada ruangan menjadi panas dan sumpek akibatnya pegawai tidak merasa nyaman dan efektivitas pekerjaan terganggu. Wawancara ( Interview) Adalah mengajukan pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula. 1999: 83).

sering mengganggu pegawai lain yang sedang melaksanakan tugas sehingga konsentrasi menjadi berkurang. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus menggunakan tata ruang terbuka. Sistem tata ruang kantor Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada Dinas Sosial. tidak bosan.kendala yang meliputi sebagai berikut: a.3. Kendala dalam penerapan lingkungan fisik Udara yang tidak dapat keluar masuk karena jendela yang tidak dimanfaatkan sesuai fungsinya mengakibatkan udara dalam ruangan menjadi panas sehingga dalam mengganggu konsentrasi pegawai dalam bekerja. Dalam hal ini observasi dilakukan oleh peneliti guna mendapatkan kejelasan dari data yang sudah didapatkan dari dokumentasi dan wawancara. 4. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. Dalam penelitian ini data-data dan informasi yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif yaitu dengan menggambarkan keadaan atau fenomena. Tata ruang kantor yang baik sangat mampu memotivasi para pegawai untuk menjadi lebih efektif dalam bekerja . Kendala dalam penerapan sistem tata ruang kantor Dengan terdapatnya sistem tata ruang tertutup pada tiap bagian atau seksi maka kantor akan terlihat kecil sehingga antara meja yang satu dengan meja yang lain saling berdekatan dan ruang gerak pegawai menjadi kecil. Tata ruang terbuka digunakan berdasarkan banyak pegawai serta untuk menunjang kelancaran pegawai dalam bekerja. Sumber suara yang mengganggu yaitu dari pihak dari kantor sendiri seperti mesin ketik manual yang tidak di beri peredam suara dan pembicaraan pegawai waktu jam kantor. seksi pengawasan kesehatan 25 . 4. 3. 2002: 240). Tenaga Kerja dan Transmigrasi secara keseluruhan menggunakan tata ruang terpisah-pisah yaitu susunan ruangan untuk bekerja terbagi-bagi dalam beberapa satuan yang dibagi-bagi karena keadaan gedung yang terdiri atas kamar-kamar. seksi pengawasan norma kerja.c.2. 4. Ruang gerak pegawai yang kecil dapat mengurangi efektivitas kerja pegawai. 1999: 77). Jenis tata ruang terbuka terdapat pada bagian staff sekretariat. (Maman Rachman. Analisis data biasanya mencakup pekerjaan meringkas dari beberapa data yang telah dikumpulkan oleh peneliti untuk selanjutnya dikelola. Observasi Adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematisk terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. bekerja tanpa pemborosan tenaga. Kendala – kendala dalam tata ruang kantor Dalam penerapan tata ruang kantor yang dimiliki oleh Dinas Sosial. dan biaya. dan merasa tenang dalam bekerja sehingga hasil yang dicapai akan maksimal.1. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi di temukan kendala. Dalam teknik analisis ini akan membandingkan antara teori dengan fakta yang terjadi. METODOLOGI PENELITIAN 4. Tehnik Analisis Data Setelah data terkumpul perlu segera diolah oleh staf peneliti khususnya yang bertugas mengelola data (Suharsimi Arikunto. Hal ini sudah menjadi bagian dari suatu perusahaan atau instansi maupun dalam melaksanakan kegiatan perkantoran.4. pegawai akan merasa nyaman. waktu.1. yaitu mengenai tata ruang kantor Dinas Sosial. b. Tetapi pada setiap bagian ruangan pada Dinas Sosial. sub bagian umum dan kepegawaian. Pembahasan Lingkungan fisik kantor adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pekerjaan terselesaikan dengan baik. membuat ringkasan menerapkan suatu teknik.

Suara Pada Dinas Sosial.4. Udara Pertukaran udara pada Dinas Sosial. Lingkungan Fisik Kantor Pada Dinas Sosial. b. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. kasub Bag keuangan. Warna ini memberikan kesan tenang. kabid pengawasan .dan keselamatan kerja. ini disebabkan masih terdapat ruangan yag terlihat sempit serta mengurangi ruang gerak pegawai dan ditambah dengan banyaknya barang. Sedangkan ruangan lain yang cukup besar tetapi tidak dimanfaatkan dengan baik. Hal ini dikarenakan tidak adanya peraturan yang mengatur tentang tata ruang kantor. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus yang memerlukan konsentrasi tinggi dalam menyelesaikan pekerjaan kantor yang bersifas biasa maupun rahasia. kabid hubungan industrial dan perselisihan ketenagakerjaan menggunakan sistem tata ruang tertutup atau terpisah – pisah.3. 4.com/2010).2.blogspot. hal ini dapat menunjang kelancaran aktivitas pekerjaan kantor pada Dinas Sosial. pada Dinas Sosial. d. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus meliputi: a. namun ada beberapa hal yang perlu diperhatian dalam beberapa ruangan seperti ruangan kepala dinas. dan pelaporan.4. suara yang mengganggu dalam pekerja kantor dari internal kantor sendiri yaitu dari mesin ketik dan pegawai yang berbincang-bincang pada waktu jam kerja. evaluasi. Salah satu tujuan dari tata ruang kantor yang baik adalah penggunaan segenap ruang kantor secara efisien untuk keperluan pekerjaan (http://iyanarafah. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus menggunakan warna kuning kecoklatan. Kendala. Hal tersebut mengakibatkan kondisi udara menjadi panas walaupun telah dibantu dengan kipas angin.Kendala Dalam Tata Ruang Kantor 26 . Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. Warna Dinas Sosial. Cahaya Pencahayaan pada kantor Dinas Sosial. sehingga penataannya tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan mengakibatkan para pegawai kurang maksimal dalam melaksanakan pekerjaannya. ruang kepala sekretariat. seksi perselisihan ketenagakerjaan. Pemanfaatan ruang efektif. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus di setiap ruangan menggunakan saluran udara yang ada disetiap sisi atas ruangan dan dilengkapi dengan jendela kaca namun saluran udara tersebut kurang berfungsi dengan baik karena tidak dapat dibuka.barang yang diletakkan tidak sesuai dengan tempatnya. Dari keseluruhan kantor Dinas Sosial. c. Meskipun letak Dinas Sosial. Lingkungan fisik pada Dinas Sosial. Tenaga Kerja dan Transmigrasi berada di dekat jalan raya akan tetapi suara bising kendaraan hampir tidak terdengar karena bangunannya letaknya menjorok ke dalam. seksi hubungan industrial. pencahayaan lampu listrik di gunakan pada saat cuaca mendung dan gelap. lingkungan fisik kantor belum sepenuhnya diperhatikan dengan baik. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus menggunakan cahaya alam yaitu sinar matahari yang tembus dari jendela kaca pada setiap ruangan yang berada di sebelah kanan kiri gedung. Kasub Bag perencanaan. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus adalah instansi pemerintahan sehingga menggunakan warna yang umum digunakan oleh kantor-kantor instansi pemerintahan yang lainnya yaitu warna kuning kecoklatan. lebih terang dan luas. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus belum diterapkan dengan baik karena adanya ketidakseimbangan yang disebabkan pemanfaatan ruangan yang kurang efektif. 4.

Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus terdapat kendala-kendala yang dapat menyebabkan pelaksanaan kerja menjadi kurang maksimal.kebisingan yang terjadi diakibatkan dari suara mesin ketik manual dan pegawai yang berbicara waktu jam kerja sehingga akan mengganggu pegawai yang lain dan akan mempengaruhi konsentrasi pegawai. Kendala dalam penerapan lingkungan fisik Pegawai akan sulit dapat bekerja dengan baik. Kendala dalam penerapan sistem tata ruang kantor Pada Dinas Sosial. Kendala. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat dimbil dalam penelitian ini adalah: 1. b. (Badri. Kendala dalam penerapan sistem tata ruang kantor Dengan terdapatnya sistem tata ruang tertutup pada tiap bagian atau seksi maka kantor akan terlihat kecil sehingga antara meja yang satu dengan meja yang lain saling berdekatan 27 . Oleh karena itu perlu diusahakan adanya ventilasi cukup. Udara di dalam ruang kantor Dinas Sosial. Ruangan yang kecil ini akan menimbulkan ketidaknyamanan para pegawai karena ruang geraknya terbatasi atau menjadi kecil sehingga dapat mengurangi efektif kerja pegawai.kendala yang ada meliputi: a. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus menggunakan tata ruang terbuka dan tata ruang tertutup hal ini karena untuk membedakan antara bagian yang satu dengan yang lain. evaluasi dan pelaporan.Dalam tata ruang kantor Dinas Sosial. Pada Dinas Sosial. Dinas Sosial. Sedangkan pekerjaan kantor dengan suhu udara yang dianggap baik berkisar 13-24 derajat celsius. ruang kepala sub bagian perencanaan. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus. Sistem tata ruang tertutup adalah susunan ruangan untuk bekerja terbagi-bagi dalam beberapa kesatuan. 5. Pada kantor Dinas Sosial. sehingga para pegawai di ruang kerjanya tetap mendapat udara yang segar dan nyaman.2000:193). Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada musim kemarau tiba bersuhu berkisar 30 derajat celsius. (Sedarmayanti. makan akan mempengaruhi produktivitas pegawai. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Kudus terdapat kendala-kendala yang ditemukan yaitu a. ruang kepala sub bagian keuangan dan ruang kepala bidang menggunakan tata ruang tertutup sedangkan bagian yang menggunakan tata ruang terbuka yaitu ruang staff pada Dinas Sosial. Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus menggunakan sistem tata ruang terbuka dan tertutup. Pembagian itu dapat terjadi karena keadaan gedungnya yang terdiri atas kamar-kamar maupun karena memang sengaja di buat pemisah buatan misalnya dengan sketsel kayu atau dinding kaca. pegawai akan merasa kurang nyaman dan mengakibatkan pekerjaan menjadi kurang maksimal.2001:133). pada ruang kepala dinas. apabila mereka bekerja di ruang kantor yang udaranya panas. pengap sehingga sulit bernafas. Jika demikian. 2. Tingkat kebisingan pada kantor merupakan faktor lingkungan fisik kantor yang harus dipertimbangkan untuk mengelola tingkat produktivitas pegawai yang diinginkan.ruang sekretaris. Dengan ruangan yang panas. Dalam tata ruang Kantor Dinas Sosial. 2007: 217). senang dan efisien. yang dapat membantu penukaran udara dengan lancar. ( The Liang Gie. ini disebabkan oleh pemanfaatan ventilasi kurang maksimal sehingga ruangan menjadi panas. Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebagian menggunakan sistem tata ruang tertutup sehingga gedung yang luas ruangannya sudah kecil ditambah dengan adanya sekat seperti dinding tembok maka akan menambah ruangan tersebut menjadi kecil.

Bandung : Mandar Suharsimi Arikunto. Sumber suara yang mengganggu yaitu dari pihak dari kantor sendiri seperti mesin ketik manual yang tidak di beri peredam suara dan pembicaraan pegawai waktu jam kantor. Sedarmayanti..2001. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta 28 . DAFTAR PUSTAKA Badri Munir Sukoco. b.blogspot.15/06/2010 Marzuki. sering mengganggu pegawai lain yang sedang melaksanakan tugas sehingga konsentrasi menjadi berkurang. Administrasi Perkantoran Modern. Kendala dalam penerapan lingkungan fisik Udara yang tidak dapat keluar masuk karena jendela yang tidak dimanfaatkan sesuai fungsinya mengakibatkan udara dalam ruangan menjadi panas sehingga dalam mengganggu konsentrasi pegawai dalam bekerja. 1999.Manajemen Administrasi Perkantoran Modern. Manajemen Perkantoran.com/2010/02/tata-ruang-kantor. Metodologi Riset.2008.dan ruang gerak pegawai menjadi kecil. Erlangga http://iyanarafah. Ruang gerak pegawai yang kecil dapat mengurangi efektif kerja pegawai. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek.Jakarta:Rinika Cipta The liang Gie. Yogyakarta: BPFE Rachman. Semarang: IKIP Press.2000.Surabaya: PT.html 10:37 Selasa. Strategi dan Langkah-Langkah Penelitian. 2001. Maman.2002.

Informasi. sehingga untuk memperoleh informasi dari segala penjuru dunia bukanlah suatu hal yang sulit lagi. Sebenarnya istilah information technology (IT) yang di bahasa Indonesia-kan dengan teknologi informasi (TI) ini mulai populer di penghujung tahun 1970-an. manajemen dan akademisi memandang peranan TI sebagai fungsi pendukung dalam operasi perusahaan. Dengan melihat kondisi tersebut SDM saat ini di tuntut terampil dalam penggunaan TI. hari atau pun jam. Begitu pula dalam Lingkup organisasi perkantoran baik negeri ataupun swasta penggunaan TI merupakan menjadi suatu kebutuhan penting terutama yang terkait dengan penyerapan informasi-informasi. dan scanner yang terdapat di toko. Pandangan mereka ini sesuai dengan definisi awal TI. manajemen dan akademisi memandang peranan TI sebagai enabler bagi perusahaan untuk memperoleh keunggulan kompetitif. Secara tradisional. satu dasawarsa berikutnya terjadi perkembangan yang cukup menakjubkan dimana teknologi 29 .toko swalayan. hal. factory. (1983) menggunakan strategic grid sebagai rerangka untuk menjelaskan peranan TI yang berbedabeda di dalam organisasi. Ein-Dor dan Segev (1978). Ini menunjukkan bahwa peranan TI menjadi semakin meningkat mengikuti perkembangan teknologi informasi. dan support. sekarang dilihat sebagai sumber daya stratejik. Saat ini. 191-193). Sebagai contoh. teknologi informasi (TI) telah mengubah cara perusahaan melakukan bisnis yang mengakibatkan banyak hal-hal baru terjadi dalam suatu organisasi. dengan berbagai dampak yang akan mengikuti si pengguna atau user. Di era teknologi informasi telah mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat. Untuk itu adalah suatu kewajiban bagi pihak akademisi dalam hal ini dalah pendidikan sekaligus sebagai lembaga pemberi ilmu. keterampilan dan pendidikan mental SDM sehingga menghasilkan SDM yang profesional dan beretika terhadap penggunaan TI. Hal ini dapat dilihat dari perubahan yang ada di sekitar kita. mereka mengklasifikasikan organisasi ke dalam empat lingkungan TI. Ives et al. misalnya fasilitas ATM. McFarlan et al. Di masa itulah teknologi informatika dikenal dengan sebutan teknologi komputer atau pengolahan data elektronik. yaitu strategic. hal. dan mampu mengubah cara perusahaan dalam bersaing (Alter 1996. Dalam rerangka tersebut. MM Di Era Globalisasi saat ini penggunaan TI terus melesat cepat. Bahkan untuk memperoleh informasi-informasi apa pun bukan lagi dalam hitungan bulan. turnaround. Drs. 72) atau sebagai senjata stratejik untuk mendapatkan keunggulan kompetitif dalam iklim bisnis yang baru (Ives dan Learmonth 1984). CD-ROM yang terdapat di perpustakaan. Laudon dan Laudon 1991. sumber yang potensil untuk mendapatkan keunggulan dalam bersaing (Raghunathan dan Raghunathan 1990.Memodernisasi sistem Perkantoran Melalui Peran Teknologi Informasi ABSTRAK Oleh: Wahyono. melainkan cukup dalam hitungan detik. PENDAHULUAN Pada masa sekarang. Kemudian. (1980) mendefinisikan SI sebagai fungsi pendukung dalam melaksanakan aktivitas dan fungsi manajemen. Hal ini menunjukkan bahwa TI memainkan berbagai peran dalam organisasi. mampu mengubah cara perusahaan dalam beroperasi. Sistem informasi mampu mengubah bentuk organisasi.

struktur operasional dan manajemen dalam suatu organisasi (pemerintahan. dan sumbersumber TI. Dimana berperan membantu masyarakat umum agar mudah memperoleh informasi secara terbuka bahkan bagi internal perguruan tinggi sendiri dapat mempermudah untuk mengakses informasi-informasi yang up to date. karakteristik kinerja.informasi yang tadinya dikenal dengan teknologi komputer beserta perangkat elektronik lainnya (software. swasta. dan lembaga yang berbasiskan pelayanan publik. Dengan demikian internet merupakan salah satu teknologi informasi yang berperan sangat penting dalam segala kegiatan atau seluruh sektor kehidupan. modern dan berkembang cepat. dan mempunyai andil besar dalam mereform sistem informasi. yaitu strategic. keterlibatan manajemen puncak. dll. Melihat pentingnya penerapan teknologi informasi ini. Penerapan Sistem Informasi Berkaitan dengan empat lingkungan TI. sama-sama kita ketahui bahwa sains dan teknologi telah semakin canggih. Dan. bahkan menjadikannya sebagai media berbagi informasi dan pengetahuan.TI. kualitas mekanisme pendukung. Misalnya. dll). dan sumber-sumber perencanaan TI. dan dampak stratejik TI saat ini rendah berarti operasi perusahaan kurang bergantung pada fungsi TI. keterlibatan pemakai. yaitu kualitas proses perencanaan. kinerja fungsi TI. Dampak stratejik SI saat ini tinggi berarti operasi perusahaan sangat bergantung pada fungsi TI. Arti penting penggunaan teknologi adalah untuk mempermudah semua aktivitas dan kegiatan manusia agar tujuannya tercapai. dll) berpadu dengan teknologi komunikasi menghasilkan apa yang dikenal saat ini dengan “internet”. lembaga pendidikan. dan kontribusi SI terhadap kinerja organisasional. Dampak stratejik TI masa yang akan datang tinggi berarti TI merupakan salah satu aktivitas yang penting yang harus dipertimbangkan dengan matang jika ingin survive dan flourish di masa yang akan datang. bukan hanya bersifat verbal melainkan juga berupa visualisasi. Perguruan Tinggi sebagai salah satu bagian dari sistem Pendidikan telah melakukan beberapa agenda reformasinya. yaitu karakteristik perencanaan. dan dampak stratejik TI rendah berarti pengembangan TI bukan merupakan suatu aktivitas yang kritis yang harus dilakukan perusahaan walaupun bermanfaat. Internet ini adalah suatu kumpulan yang luas dari jaringan-jaringan komputer yang saling terkoneksi dengan menggunakan jaringan komunikasi yang ada di seluruh dunia. factory. informasi. menyampaikan informasi. karakteristik kinerja terdiri dari tiga variabel. dan dari sedemikan banyak agenda tersebut. karakteristik organisasional. manusia baik per-orangan maupun melalui organisasinya menggunakan teknologi informatika dalam wujud internet sebagai media memperoleh pengetahuan. Maka peranan TI didefinisikan dengan rerangka strategic grid yang terdiri dari dua dimensi yaitu dampak stratejik TI saat ini dan dampak stratejik SI masa yang akan datang. urusan bisnis. dan support. serta menerapkan manajemen dan administrasinya se-efektif dan se-efisien mungkin. elektronik digital. Perencanaan TI dibagi dalam tiga karakteristik. turnaround. hardware. Dengan adanya internet ini menjadikan manusia dapat secara mudah berkomunikasi antara satu dengan lainnyadiseluruh dunia. yang sangat urgen adalah dibidang teknologi informasi ini. Teknologi Informatika dan Peranannya di Lingkungan organisasi bisnis dan Non Bisnis Dalam perkembangannya. Karakteristik perencanaan terdiri dari tiga variabel. yaitu efektivitas perencanaan.ingkungan organisasi bisnis atau non bisnis mau tidak mau wajib hukumnya menerapkan teknologi informasi 30 . yaitu integrasi bisnis . Karakteristik organisasional terdiri dari lima variabel. Dewasa ini internet sudah digunakan baik di instansi pemerintahan maupun swasta sebagai media yang memudahkan dalam pelayanan publik. LSM. oleh karenanya harus diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia (SDM). dan telah dimulai pada . rentang waktu perencanaan.

Oleh karena itu. sarana praktek menggunakan teknologi multimedia secara virtual. hack. diantaranya melalui: a. lembaga pendidikan baik yang ada di dalam maupun luar negeri). kegiatan-kegiatan diklat dilaksanakan dengan modus jarak jauh (distance learning) sehingga para pengajar (terutama para pejabat fungsional dan struktural yang berkompeten) sesibuk apapun dapat meluangkan waktunya serta menghemat biaya. merusak serta merubah data yang ada. adanya sharing resource antara lembaga peradilan dengan lembaga-lembaga lain (lembaga pemerintah. 3. keylogger. adware. browser hijacker. lembaga non pemerintah. Di bidang administrasi kepegawaian . parasitware. dari mengaplikasikan aneka produk teknologi dengan baik dan benar sampai maintenance serta memproteksi adanya ancaman luar yang menyusup. 5. dll. seperti dapat penulis contohkan sebagai berikut : 1. masing-masing lembaga organisasi perkantoran baik swasta atau negeri yang menggunakan teknologi informasi memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang memahami secara komprehensif dan mendalam. seorang petugas dibidang teknologi informasi tersebut harus yang tahu betul akan seluk beluk teknologi informasi. baik segi manfaat penggunaan maupun ancaman bahaya yang mungkin timbul. sehingga kerusakan sistem yang mengakibatkan hilangnya data-data penting dapat dihindari. spayware. dsb. adanya perpustakaan online yang berisi buku-buku digital. karena dimasa mendatang sektor ini termasuk yang paling dominan bahkan sangat pesat perkembangan dan inovasinya. 2. Di bidang pendidikan dan pelatihan . Di bidang pelayanan publik dan kehumasan . dapat membantu prosedur penerbitan surat keputusan/ keputusan dari kenaikan pangkat sampai pemberitahuan promosi mutasi (sehingga tidak terjadi seperti saat ini dimana pengiriman via pos sangat memakan waktu dan tidak sedikit yang hilang/ tercecer atau terjadi kesalahan. 7 hari dalam seminggu. bisa digunakan untuk mempermudah pekerjaan atau bisa juga untuk berbuat tidak baik. dialer. dan untuk menduduki suatu jabatan maka pejabat atasan yang berwenang dapat mengetahui secara jelas komposisi pegawai yang up to date. mempermudah dari penyusunan RKA-KL sampai dengan pelaksanaan dan pertanggung-jawaban anggaran. Peningkatan Pemahaman Pengetahuan/wawasan global 31 . mensosialisasi kebijakan penggunaan anggaran. bisa juga atasan yang tidak berada dikantor masih bisa memonitor bawahannya atau saling berinteraksi dalam pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu mendesak. Untuk mengantisipasinya. Contoh-contoh diatas merupakan peranan teknologi informasi yang secara umum bersifat positif. Bukan hal yang mustahil. Mempersiapkan Kompetensi SDM Berbasis TI melalui Peran Institusi Pendidikan Untuk mempersiapkan kompetensi SDM perkantoran yang mumpuni terhadap TI. malware. pemberian gaji langsung masuk ke rekening masingmasing (ini sudah berlangsung bagi pegawai di bank-bank). kumpulan tulisan-tulisan masyarakat umum (akademisi dan pemerhati masalah perkantoran) serta pustakawan handal di bidang teknologi informatika. memudahkan memberikan informasi atau konferansi pers melaui sistem otomasi dengan jaringan world wide web (internet) danpelayanan pun dapat disediakan selama 24 jam sehari. 4. Di bidang perpustakaan . tergantung orang yang menggunakannya. kemudian dimasa mendatang akan terjadi. tanpa harus menunggu dibukanya kantor. akan tetapi penggunaan teknologi informasi pun dapat pula disalah-gunakan atau berdampak negatif. aspek-aspek kemudahan melaksanakan pekerjaan yang saat ini belum terpikirkan. Di bidang administrasi keuangan . Ancaman dari luar ini seperti : virus.tersebut. maka salah satunya adalah institusi pendidikan mempunyai peranan dalam mewujudkan harapan tersebut.

Bahkan teknologi ini bagian dari tuntutan era reformasi terhadap lembaga organisasi perkantoran di Indonesia. penuh Inisiatif & Proaktif. instutsi pendidikan mempunyai peranan penting tidak hanya dalam lingkup teori akan tetapi mulai di kembangkan dengan sesuai perubahan dan perkembangan pengetahuan yang berbasis teknologi informasi. agama. Adapun untuk menyiapkan SDM yang kompeten dapat melalui:1)peningkatan pemahaman/wawasan 2) peningkatan keterampilan dan perbaikan akan perilaku. PENUTUP Upaya dalam memoderenisasi sistem perkantoran adalah memalui aplikasi Teknologi Informasi dalam sistem organisasi baik pemerintah mapun swasta di masa depan merupakan suatu yang tidak bisa terelakan lagi. hukum dan sosial masyarakat. Meskipun dalam kenyataan saat ini masih terdapat beberapa kendala (teknis maupun non teknis). Sehingga mencerminkan SDM yang memiliki tingkat kedisiplinan. Arti penting kemajuan teknologi informasi tersebut adalah selain agar dimanfaatkan dalam memberikan pelayanan kepada publik juga untuk lebih memperlancar. terutama dalam hal keterbatasan SDM dan dana untuk pengadaan perangkat teknologi informasi. mempercepat dan mempernyaman suatu pekerjaan. sehingga mempermudah pencarian data-data oleh pengguna dari manapun. Dengan teknologi informasi ini pula. jangan sampai lembaga organisasi perkantoran baik negeri tertinggal jauh dengan instansi pemerintahan lainnya apalagi instansi swasta (terutama dalam hal SDM atau tenaga ahli dibidang teknologi informasi). dinamis &Flexible. Peningkatan Sikap atau perilaku Perilaku SDM juga turut menjadi sorotan dalam kehidupan sosial dan organisasi. cepat. meningkatkan daya kreativitas dan inovasi baik dari cara berpikir maupun bertindak serta tetap perpegang teguh pada pemahaman nilai-nilai atau norma-norma yang berlaku dalam unsur budaya. Urgennya sarana dan prasarana teknologi informatika ini dikarenakan perkembangan teknologi yang begitu cepat juga membantu untuk pengembangan sistem tenologi infomasi di perkantoran di zaman yang serba efektif dan efisen. dalam rangka mengantisipasi terhadap perubahan lingkungan eksternal yang menuntut pengelolaan manajemen PNS yang profesional. untuk itu institusi berperan aktif untuk membangun perilaku SDM yang positif dan sehat secara utuh. Hal ini sesuai dengan pendapat para ahli yaitu Miftah Thoha dibidang Administrasi Publik dari Universitas Gajah Mada menyatakan bahwa Manajemen PNS dimasa mendatang perlu dan mutlak melakukan perubahan dalam pengelolaan manajemen kepegawaian dari yang masih konvensional ke arah yang berbasis Informasi Teknologi (E-Government). dan responsif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. b. selalu berpikir inovatif & Kreatif serta mempunyai jiwa Mandiri / “Survive. semua informasi-informasi yang berkenaan dengan perkantoran di lingkungan organisasi pemerintah ataupun swasta dapat diintegrasikan. pengembagangan Iptek dan informatika serta keterampilan khusus dalam peningkatan mutu profesionlitas yang mampu berkompeten c.Terkait dengan pemberian pengetahuan / wawasan. 32 . Peningkatan keterampilan global Peningkatan keterampilan yang berbasis TI dapat juga terus ditingkat oleh peserta didik atau mahasiswa melalui penggunaan komunikasi multiguna.

binamanajemen.com 5.SH. www. “Peran Teknologi Informasi dalam memodernisasi sistem Peradilan di Indonesia” 2.com 33 .MH. Peran TI dalam Bisnis Global dan Sistem Perkantoran Moderen.allbusiness.REFERENSI 1. Sony Teguh T. www. Agus Budi Susilo.wirausaha.com 4. www.. 2010 3.

kartu kendali dan kertas pinjam arsip. PENDAHULUAN 1. dari sarana umum sudah tersedianya ruang belajar/kelas yang cukup untuk menampung siswa hingga 46 orang. para guru pada umumnya yang masih belum melaksanakan kompetensi tersebut secara utuh. dan kompetensi professional” Namun pemahaman dan penerapan tentang kompetensi tersebut masih belum maksimal terlebih lagi kompetensi pedagogik guru disini.25+ 0. Menurut pengamatan dan data yang ada secara umum fasilitas belajar yang menunjang pembelajaran mata pelajaran mengelola kearsipan di SMK Tamansiswa Kudus sudah cukup memadai. Variabel dalam penelitian ini adalah dua variabel bebas yaitu kompetensi pedagogik guru dan fasilitas belajar kemudian satu variabel terikat yaitu hasil belajar siswa Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. Oleh : Nova Chotibul Umam SARI Penelitian ini bertujuan untuk menganaliasis besarnya pengaruh kompetensi pedagogik guru dan fasilitas belajar terhadap hasil belajar mata pelajaran mengelola kearsipan siswa kelas XI di SMK Tamansiswa Kudus secara parsial dan simultan. penerangan yang cukup dengan 4 lampu untuk ruang laboratorium dan 2 lampu untuk ruang kelas. Selain memiliki fasilitas belajar yang cukup memadai. map. Data yang ada menunjukkan siswa yang belum mencapai nilai KKM terdapat 35 siswa atau sekitar 39. namun untuk alat-alat penunjang proses pembelajaran mengelola kearsipan sudah cukup tersedia seperti filling kabinet. data tersebut diambil dari jumlah populasi dari dua kelas sebanyak 88 siswa. untuk laboratorium/ruang praktik kearsipan di SMK Tamansiswa belum tersedia karena keterbatasan tempat.1 Latar Belakang Hasil belajar siswa jurusan administrasi perkantoran kelas XI pada mata pelajaran mengelola kearsipan masih belum optimal. kompetensi sosial. Kata Kunci : Hasil Belajar. kompetensi pribadi. 34 .00. Dengan demikian menunjukkan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan baik secara simultan maupun parsial dari pengaruh kompetensi pedagogik guru dan fasilitas terhadap hasil belajar mata pelajaran mengelola kearsipan pada siswa kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus. stepler. teknik analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis regresi berganda. fasilitas belajar I. Peraturan dari SISDIKNAS mengatakan bahwa “setidaknya seorang guru mempunyai empat kompetensi utama yaitu kompetensi pedagogik. kemampuan mereka dalam kegiatan belajar mengajar sudah cukup bagus.PENGARUH KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DAN FASILITAS BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN MENGELOLA KEARSIPAN PADA SISWA KELAS XI JURUSAN ADMINISTRASI PERKANTORAN SMK TAMAN SISWA KUDUS. Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan pada mata pelajaran mengeloala kearsipan yaitu 72. Hasil penelitian regresi linier berganda menunjukakan persamaan Y = -51.941 X1 + 0.746 X2. SMK Tamansiswa Kudus juga memiliki guru-guru yang berkompeten dan mempunyai keahlian sesuai bidangnya masingmasing. kompetensi pedagogik guru. Dalam penelitian ini menggunakan populasi karena respondennya terdiri kurang dari 100 yaitu 88 siswa. Sebagai guru. Berdasarkan informasi dari sebagian siswa seperti memanfaatkan teknologi komunikasi dalam pembelajaran dan lain-lain. setiap mengadakan praktek siswa SMK Tamansiswa menggunakan ruangan yang lain.77% yang terdiri dari siswa kelas administrasi perkantoran 1 terdapat 6 siswa yang belum tuntas dan kelas administrasi perkantoran 2 terdapat 29 siswa yang belum tuntas. guide.

Pedagogik merupakan suatu teori dan kajian yang secara teliti.2 Rumusan Masalah Dari identifikaksi masalah di atas penelitian ini akan dibahas tentang beberapa masalah diantaranya: 1. Menurut Hoogeveld. membimbing. yang berarti anak laki-laki. berasal dari bahasa yunani ”paedos”. dan menunjang pelaksanaan kegiatan belajar di sekolah. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku manusia yang diperoleh setelah mengalami proses belajar. Menurut Ki Hajar Dewantara. mendidik berarti memberi tuntutan kepada manusia yang belum dewasa dalam pertumbuhan dan perkembangan. Seberapa besar pengaruh kompetensi pedagogik guru terhadap hasil belajar mata pelajaran mengelola kearsipan siswa kelas XI di SMK Tamansiswa Kudus? 2. LANDASAN TEORI 2. Seberapa besar pengaruh fasilitas belajar terhadap hasil belajar mata pelajaran mengelola kearsipan siswa kelas XI di SMK Tamansiswa Kudus? 3. dan ketaqwaan. Dari pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa fasilitas belajar adalah semua kebutuhan yang diperlukan oleh peserta didik dalam rangka untuk memudahkan. Menuurt S.2 Konsep Dasar tentang Kompetensi Pedagogik Pedagogik merupakan suatu kajian tentang pendidikan anak. Pendapat lain juga mengatakan hal yang sama bahwa pedagogik merupakan ilmu mendidik. 2. sampai tercapainya kedewasaan dalam arti rohani dan jasmani. yang menjadi tujuan dari pembelajaran adalah pendiskripsian tentang perubahan perilaku yang diinginkan atau gambaran produk yang menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut sudah terjadi. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang telah dipelajari oleh pembelajar. 35 .Dari uraian tersebut peneliti tertarik untuk meneliti tentang kompetensi pedagogik guru dan fasilitas belajar yang berada di SMK Tamansiswa dengan judul ”Pengaruh Kompetensi Pedagogik Guru Dan Fasilitas belajar Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Mengelola Kearsipan Siswa Kelas XI Jurusan Administrasi Perkantoran Di SMK Tamansiswa Kudus”. mendefinisikan sarana/fasilitas belajar adalah semua perangkat peralatan. 2010: 2 ). III. kritis. Brojonegoro. Secara kiasan pedagogik adalah seorang ahli yang membimbing anak. Defininisi tentang istilah padagogik diuraikan oleh beberapa ahli dalam Sadulloh (2010: 3). dan “agogos” artinya mengantar. melancarkan. 1. Penelitian ini mengkaji fakta-fakta yang sudah ada dan tidak memanipulasinya atau mengubah data tersebut sehinggga penelitian ini termasuk penelitian non eksperimen. selain itu penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif karena peneliti memaparkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan. mendidik adalah membantu anak supaya anak itu kelak cakap menyelesaikan tugas hidupnya atas tanggung jawab sendiri.1 Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif.1 Konsep Dasar tentang Hasil Belajar “Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya” (Slameto. (Sadulloh. Hasil belajar mata pelajaran mengelola kearsipan merupakan hasil perubahan perilaku berupa pengetahuan yang siswa dapatkan setelah proses pembelajaran dan keterampilan mengelola kearsipan yang siswa peroleh. 2010: 2). rasa kesusilaan. semangat kecintaan. Seberapa besar pengaruh kompetensi pedagogik guru dan fasilitas belajar terhadap hasil belajar mata pelajaran mengelola kearsipan siswa kelas XI di SMK Tamansiswa Kudus? II. mendidik anak kearah tujuan tertentu. 2. mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota. dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses belajar di sekolah. artinya pendekatan ini untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh atau tidak antara variabel bebas dan variabel terikat dan seberapa besar pengaruh tersebut. METODOLOOGI PENELITIAN 3. Darji Darmodihardjo menunjukkan suatu usaha yang lebih ditunjukkan kapada pengembangan budi pekerti. dan obyektif mengembangkan konsep-konsepnya mengenal hakekat proses pendidikan. bahan.1 Konsep Dasar tentang Fasilitas Belajar Bafadal (2004: 2).

1 3. (10) melakukan tindakan reflektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. (9) memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi.3. Fasilitas Belajar Fasilitas belajar yaitu segala sesuatu yang digunakan untuk memperlancar proses pembelajaran mata pelajaran mengelola kearsipan. (5) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.3 3. Indikator hasil belajar adalah nilai dari tes subsumatif atau nilai ulangan tengah semester. (3) mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran.Uji Normalitas b. 2006:158). 2006: 151). Analisis Regresi Linier Berganda 36 . Indikator kompetensi pedagogik meliputi : (1) menguasai karakteristik peserta didik. Bagaimana seorang guru dalam mendidik siswa. empatik dan santun.5 Teknik Analisis Data. Hasil belajar Hasil belajar merupakan perubahan perilaku manusia yang diperoleh setelah mengalami proses belajar. Variabel yang dipaparkan dalam penelitian ini adalah: Kompetensi Pedagogik Kompetensi pedagogik guru adalah kemampuan seorang guru dalam mengelola kelas. (6) memfasilitasi pemngembangan potensi peserta didik. transkip.3. (2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut: 1. dan fasilitas belajar. Populasi Penelitian Obyek dalan penelitian ini adalah seruh siswa kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa yang jumlahnya 88 siswa.4 1.2 3. yang didalamnya mencakup pengelolaan kelas. leger. rapat.3.3. Variable Penelitian Dalam penelitian ini terdapat dua variabel bebas dan satu variabel terikat. yaitu seperangkat perlengakapan dasar yang tidak secara langsung menunjang proses pembelajaran.Uji Heteroskedastisitas 3. penulis menggunakan teknik sebagai berikut: Angket “Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya. Teknik ini digunakan untuk memperoleh data berupa daftar nilai ulangan tengah semester dari pihak guru mata pelajaran mengelola kearsipan di SMK Tamansiswa Kudus 3. notulen. (4) menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. (7) berkomunikasi secara efektif. Pertanyaan yang disediakan dalam angket merupakan jenis pertanyaan tertutup. berhubung jumlah obyek yang diteliti kurang dari 100 maka peneliti menggunakan penelitian jenis populasi. (2) prasarana.3 3. Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini. surat kabar. Uji Multikolinieritas c. Dokumentasi “Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa cacatan. majalah. dimana responden telah diberikan pilihan jawaban. atau hal-hal yang diketahui” (Suharsimi. yaitu segala peralatan yang digunakan secara langsung dalam proses pembelajaran. 2. Indikator fasilitas belajar adalah (1) sarana. Tujuan dari penggunaan teknik ini adalah untuk mengetahui tanggapan responden tentang kompetensi pedagogik guru. Peneliti menggunakan teknik dokumentasi ini karena ingin memperoleh data-data yang relevan dengan tujuan penelitian sehingga dapat mempermudah dalam proses penelitian. Analisis Deskriptif 2. buku. Uji Asumsi Klasik a. (8) menyelenggarakan penilaian evaluasi dan proses dan hasil belajar. agenda dan sebagainya” (Suharsimi.2 3.

Koefisien Determinasi Simultan dan Parsial HASIL DAN PEMBAHASAN Kriteria Deskriptif Kompetensi Pedagogik Guru No. 3520 baik 4 1408Tidak . 2464 baik Persentas e 22% 68% 10% 0% Frekuen si 6 42 33 7 Persenta se 7% 48% 38% 8% 37 . Interval Frekuen Kriteria Skor si 1. l Skor 1 4576Sangat . 4. 572060 Baik 7436 3. 7436Sangat 19 9152 baik 2. 5632 baik 2 3520Baik . 4576 3 2464Kurang .IV. 40049 Kurang 5720 baik 4. 22880 Tidak 4004 baik Kriteria Deskriptif Fasilitas Belajar N Interva Kriteria o.

Dependent Variable: Hasil Belajar Hasil Koefisien Determinasi secara Parsial Unstandardized Coefficients B Std. 2.248 a.535 .616 5.441 . Fasilitas Belajar. Kompetensi pedagogik guru dan fasilitas belajar tidak dapat berpengaruh secara langsung terhadap hasil belajar.253 11.323 Sig.000 .000 .161 .02251 F Change 66. dikarenakannya kelemahan peneliti dalam menganalisis permasalahan yang di angakat. Variabel kompetensi pedagogik guru yang dibahas seharusnya kompetensi pedagogik guru secara keseluruhan.616 5.602 Std.478 a Coefficients Model 1 (Constant) Kompetensi Pedagogik Guru Fasilitas Belajar t -4. akan tetapi harus melalui variabel intervening.941 .478 t -4. sedangkan yang diteliti hanya pada satu guru mata pelajaran V.782a R Square . . .248 a. Predictors: (Constant). 3.941 .000 Correlatio ns Partial . Namun dalam penelitian ini variabel intervening tersebut tidak diteliti.441 .Regresi linier berganda a Coefficients Model 1 (Constant) Kompetensi Pedagogik Guru Fasilitas Belajar Unstandardized Coefficients B Std.253 11. Error -51. adapun variabel yang dimaksud adalah proses pembelajaran.611 Adjusted R Square . Dependent Variable: Hasil Belajar Keterbatasan Penelitian Dalam penelitian ini penulis mendapati keterbatasan penelitian.744 df1 2 df2 85 Sig. Dependent Variable: Hasil Belajar Hasil Koefisien Determinasi Secara Simultan b Model Summary Change Statistics Model 1 R . F Change .000 .248 1.118 Standardized Coefficients Beta .801 1.000 Correlatio ns Partial . Kompetensi Pedagogik Guru b.746 .000 .104 .248 1.323 Sig.801 1.535 .839 6.566 Collinearity Statistics Tolerance VIF . PENUTUP 5. namun dalam penelitian ini hanya ditujukan kepada satu guru saja yaitu kompetensi pedagogik guru pada mata pelajaran mengelola kearsipan sesuai dengan instrumen yang diberikan kepada para siswa.104 . Error -51. Error of the Estimate 12.801 .839 6.161 . Adapun kelemahan penelitian adalah sebagai berikut: 1.801 .118 Standardized Coefficients Beta . Angket yang dibagikan pada responden menayakan kemampuan kompetensi guru secara keseluruhan.746 .000 a.566 Collinearity Statistics Tolerance VIF .1 Simpulan Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat diketahui bahwa kompetensi pedagogik guru dan fasilitas belajar mempengaruhi hasil belajar siswa kelas XI jurusan administrasi perkantoran di SMK Tamansiswa Kudus dengan simpulan sebagai berikut: 38 .

umanitoba. b. 2007. Tri Anni. Bagi peneliti lanjut Disarankan menambah variabel lain yang berpengaruh dengan hasil belajar. http://www. 7 kompetensi guru. Psikologi Belajar. Chtarina. Prosedur Penelitian.ca/publications/cjeap/pdf_files/childs_casey. Majid. Imam. 2009. Ekonometrika. Asmani. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Perpustaan yang sudah disediakan dibenahi lagi dalam koleksi buku-buku literaturnya agar siswa mudah dalam memperoleh dan menambah pengetahuan mereka 3. 2004. 39 . Ghozali. Burhanuddin. Teacher Effectiveness. Malaysia. Jakarta: Rineka Cipta. Kompetensi pedagogik guru mempunyai pengaruh relatif kecil terhadap hasil belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran mengelola kearsipan jurusan administrasi perkantoran di SMK Tamansiswa Kudus 2. Jogjakarta Kontin. Salam. Sistem Pendidikan Nasional. Perencanaan Pembelajaran. Fasilitas sarana yang dibutuhkan perindividu perlu ditambah disesuaikan dengan jumlah siswa mengingat banyaknya mata pelajaran yang praktek yang siswanya harus benar-benar faham. Semarang: UPT MKK UNNES.1. maka saran yang dapat diberikan oleh peneliti antara lain: 1. Bafadal. Teacher Educational Pogramadmission Criteria And What Beginning Teachers Need To Know To Be Successful Teachers. ( 15 Mei 2010). The Liang. Bandung: Nuansa Aulia. Bagi guru Dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi lebih ditingkatkan. Remaja Rosdakarya. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Casey & Ruth. Suharsimi. agar nilai ketuntasan dapat dicapai oleh seluruh siswa 4. Himpunan Perundang-undangan Republik Indonesia. Bagi siswa Disarankan bagi siswa kelas XI untuk lebih giat dalam belajar. Gie. Pengantar Pedagogik. Manajemen Perlengkapan Sekolah dan Aplikasinya.pdf. 2006. Bagi sekolah . Jamal Ma’mur. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. 2007. Majid. lebih memanfaatkan fasilitas yang telah di sediakan oleh sekolah. dimaksudkan agar proses pembelajaran dapat lebih variatif 2. dkk. Bandung: PT. Fasilitas belajar mempunyai pengaruh relatif kecil terhadap hasil belajar siswa kelas XI mata pelajaran mengelola kearsipan jurusan administrasi perkantoran di SMK Tamansiswa Kudus 3. Kompetensi pedagogik guru dan fasilitas belajar mempunyai pengaruh cukup besar terhadap hasil belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran mengelola kearsipan di SMK Tamansiswa Kudus 5. 2006. 2003. a. Universiti Putra Malaysia Press. Jakarta: Rineka Cipta.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh. Sedang Selangor. Power books Banguntapan. 1998. 2002. Cara Belajar Yang Efisien. Moh. Jakarta: Bumi Aksasa. 2009. Ibrahim. Abdul. 1984. Canadian Journal of education Administration and policy.

Universitas Negeri Semarang. Developing pedagogical competence in online environments. Jakarta: Rineka Cipta. University of South Carolina Ruzana. Kenneth. Sadullah. New Maxico Republika 2007. European journal Of Teacher Education.org.com/2009/11/15/ranah-penilaian-kognitif-afektif dan-psikomotorik/ (10 Juni 2010) Zakiyati. 40 . 2003. Educational Facilities w ith in the Context of a Changing 21st Century America. (12Mei 2010) Slameto. 2007. Jakarta: PT. 2010) R. Invigorating pedagogic change. Bahri Djamarah.central conneticut Satate University Zaifbio. Kreatif. Do school faciliti affect Academic Outcome. Pengaruh Kompetensi Professional Dan Kompetensi Pedagogik Guru Ekonomi Terhadap Akuntansi Terahadap Prestasi Belajar Di SMK Kabupaten Magelang. 2009. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. http://unikharynizar. Arina. Srihartanto. 2007. Raja Grafindo Persada.multiply. Implementasi Pembelajaran Aktif. 2010.edfacilities. 2010. suggestion from findings of the development of secondary science techers practice and cognizance of the lerning proses.wordpress. Eko. Schneider. 2006. Ann.html#smkmenarik (3 April. Universitas Negeri Semarang. Sri.Natioanal Clearinghouse For Educational Facilities.net/jurnal1. 2006. Stevenson. Pedagogik. http://jurnal. Skripsi.pendidikan . Uyoh. Pengaruh Komunikasi Guru Dan Fasilitas Belajar Siswa Jurusan Administrasi Perkantoran Mata Pelajaran Bekerjasama Dengan Kolega Dan Pelanggan Di Smk SeKabupaten Purbalingga. Sardiman. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Skripsi. Evaluasi Pendidikan http://zaifbio. 2010. Usulan Model Pembaharuan Untuk pengembangan sekolah. Efektif dan Menyenangkan (PAKEM). www. Bandung: Alfabeta. 2009. Jakarta: Rineka Cipta.Nevin.com/journal/item/8 (23 Mei 2010) Syaiful. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Albuquer. 202. Mark.

Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw II. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII B SMP N 1 Tersono Kabupaten Batang. perlu diterapkan model pembelajaran yang dapat membantu siswa kelas VIIIB SMP Negeri 1 Tersono untuk memahami materi ajar dan mampu melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat. Hal tersebut mengakibatkan siswa jenuh dalam menerima pelajaran. sehingga menimbulkan sikap negatif siswa terhadap mata pelajaran ekonomi yang akhirnya berpengaruh pula terhadap pencapaian hasil belajar mata pelajaran ekonomi Selain itu. guru ekonomi harus mampu memotivasi siswa serta melakukan usaha-usaha lain dalam menyampaikan materi pelajaran di kelas agar siswa termotivasi dan berminat dalam pembelajaran ekonomi. berdasarkan hasil pengamatan terhadap rendahnya hasil belajar peserta didik di kelas VIII B SMP Negeri 1 Tersono disebabkan proses pembelajaran yang didominasi oleh pembelajaran tradisional. Salah satu cara untuk mewujudkan hal itu yaitu dengan diterapkannya metode pembelajaran kooperatif jigsaw II dalam pembelajaran. Oleh karena itu. Batang dari hasil penelitian yang diperoleh. Bahkan saat guru memberikan waktu kepada siswa untuk bertanya tidak ada siswa yang bertanya. sehingga hasil belajar ekonomi siswapun meningkat. serta hanya menjelaskan konsep-konsep yang terdapat dalam buku ajar (Trianto 2007:1). Hasil Belajar PENDAHULUAN Rendahnya hasil belajar siswa kelas VIII B SMP N 1 Tersono dalam mata pelajaran ekonomi. berpikir. maka permasalahan yang diteliti yaitu apakah model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII B SMP N 1 Tersono Kabupaten Batang? Berdasarkan masalah yang telah dikemukakan diatas. Berdasarkan latar belakang di atas. penyampaian materi oleh guru masih dilakukan dengan menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas. guru tidak menggunakan alat dan praktek. Dengan demikian suasana belajar mengajar menjadi tidak kondusif dan siswa cenderung pasif. Bahkan mereka kurang tertarik terhadap mata pelajaran ekonomi. Penilaian diambil dari nilai ulangan harian siswa sebelum diterapkannya metode pembelajaran kooperatif jigsaw II (sebagai data pembanding) yang dibandingkan dengan nilai postes dari siklus I dan siklus II. Oleh sebab itu. Berlakunya kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi yang telah direvisi melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut adanya perubahan adanya pemahaman tentang pendidikan dan pembelajaran. Adapun dalam pembelajaran tradisional tersebut. baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Manfaat hasil penelitian bagi SMP N 1 Tersono Kab. Dalam proses belajar mengajar ekonomi. Objek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII B SMP N 1 Tersono Kabupaten Batang yang berjumlah 30 siswa. diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran sebagai alternatif perbaikan dalam 41 . dan memotivasi diri sendiri. Kata Kunci: Implementasi. khususnya pada jenis dan jenjang pendidikan formal (sekolah). Dalam hal ini. Oleh karena itu. Hal ini disebabkan karena siswa merasa takut untuk melontarkan pertanyaan atau bahkan siswa merasa malu untuk bertanya.IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW II PADA MATA PELAJARAN EKONOMI SISWA KELAS VIII B SMP N 1 TERSONO KABUPATEN BATANG Yulia Ratnaningsih NIM 3301403128 Abstrak: Makalah ini menjelaskan tentang metode pembelajaran kooperatif jigsaw II dan penerapannya yang dirancang dengan design penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam dua siklus. antara lain disebabkan kurangnya keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar. Siswa hanya mendengarkan dan mencatat apa yang disampaikan oleh guru dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. suasana kelas cenderung teachercentered. perubahan kurikulum tersebut harus pula diikuti oleh guru yang bertanggung jawab atas terselenggaranya pembelajaran di sekolah. siswa tidak dipahamkan tentang bagaimana cara belajar.

landasan teori dalam penelitian ini meliputi: (1) pembelajaran sebagai suatu sistem. dan saling membantu untuk mencapai ketuntasan dalam belajar. situasi dan evaluasi. misalnya dari tidak tahu menjadi tahu. dan lingkungan sekitar. siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Peneliti sebagai calon guru dapat menambah pengetahuan untuk meningkatkan kemampuannya dalam dunia pendidikan. kesehatan. Dengan demikian kerjasama dalam kelompok merupakan aspek utama dalam pembelajaran kooperatif. masyarakat.proses pembelajaran dan peningkatan kualitas pendidikan. Oleh karena itu. Hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa. tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja yaitu faktor intern dan faktor ekstern. sekolah. Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif. LANDASAN TEORI Untuk memecahkan masalah yang telah dikemukakan diatas. dan penghargaan kooperatif. minat dan motivasi. Agar tujuan itu tercapai. Belajar mengajar selaku suatu sistem instruksional mengacu kepada pengertian sebagai seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan (Djamarah 2002 : 10). Menurut Slameto dalam Djamarah (2002:13). bahan. Sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu. afektif. dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas tersebut. yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan sikap dan keterampilan. belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok yang tingkat kemampuannya berbeda. selama bekerja dalam kelompok tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan oleh guru. dan sebagainya. (5) hipotesis. (3) faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar. sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw II Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi (Trianto 2007 : 41). semua komponen yang ada harus diorgnisasikan sehingga antar sesama komponen terjadi kerja sama. siswa. guru. Perubahan tersebut dapat diartikan terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibanding dengan sebelumnya. Selaku suatu sistem. setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerjasama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. antara lain tujuan. metode. dan psikomotor (Djamarah. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya. 2002:13). Dalam penerapan kooperatif dua atau lebih individu saling tergantung 42 . Dalam pembelajaran kooperatif dicirikan oleh struktur tugas. (4) model pembelajaran kooperatif jigsaw II. Adapun tujuan dibentuknya kelompok adalah untuk memberikan kesempatan pada semua siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dalam pembelajaran. belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan. tujuan. meliputi intelegensi dan bakat. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Dalam pembelajaran kooperatif. sikap kurang sopan menjadi sopan. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya. (2) Hasil belajar siswa. khususnya belajar IPS Ekonomi dan pendidikan pada umumnya. Sedangkan bagi guru diantaranya adalah dengan adanya penelitian ini diharapkan Guru memperoleh tambahan wawasan atau informasi mengenai penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS Ekonomi dan memberikan pedoman bagi guru dalam memotivasi siswa untuk belajar sehingga menumbuhkan keinginan pada diri siswa untuk berprestasi lebih baik. Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran didorong dan atau dikehendaki untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama. metode mengajar. Dalam pembelajaran. belajar mengajar meliputi suatu komponen. meliputi keluarga.

biografi. atau materi-materi yang bersifat penjelasan terperinci lainnya. e. Dalam teknik ini siswa bekerja dalam anggota kelompok yang sama dengan latar belakang yang berbeda. b. Untuk itu harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong yaitu: a. kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkin. Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran koopertif membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan. dan juga akibatakibat positif lainnya yang dapat mengembangkan hubungan antar kelompok. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. biasanya bidang studi sosial. Tiap anggota tim ditugaskan secara acak untuk menjadi “ahli” dalam aspek tertentu dari tugas membaca tersebut. 2008:4-5) Menurut Anita Lie (2004:38) dalam bukunya Cooperative Learning bahwa model pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar kelompok. Para siswa ditugaskan untuk membaca bab. Evaluasi proses kelompok Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan. dan mengintegrasikan serta mengaplikasikan kemampuan dan pengetahuan mereka. atau materi lain. c. memanfaatkan kelebihan. d. dan mengisi kekurangan. tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Ada banyak alasan yang membuat pembelajaran kooperatif memasuki jalur utama praktik pendidikan. karena keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Alasan lain adalah tumbuhnya kesadaran bahwa para siswa perlu belajar untuk berpikir. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif.satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama. lalu mereka kembali kepada timnya untuk mengajarkan topik mereka itu kepada teman satu timnya. Setelah membaca materinya. Tanggung jawab perseorangan Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif. 43 . penerimaan terhadap teman sekelas yang lemah dalam akademik. dan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan sarana yang baik untuk mencapai hal-hal semacam itu (Slavin. Bentuk adaptasi jigsaw yang lebih praktis dan mudah adalah Jigsaw II (Slavin 2008 : 237). setiap siswa akan merasa bertanggungjawab untuk melakukan yang terbaik. Salah satunya adalah untuk meningkatkan pencapaian prestasi siswa. Saling ketergantungan positif Keberhasilan suatu karya sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya. Namun proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa. Hasil pemikiran beberapa kepala akan lebih kaya daripada hasil pemikiran dari satu kepala saja. Komunikasi antar anggota Unsur ini menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi. Jigsaw II adalah suatu model pembelajaran kooperatif yang melibatkan kelompok-kelompok kecil yaitu 5-6 siswa. pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka. para ahli dari tim berbeda bertemu untuk mendiskusikan topik yang sedang mereka bahas. Keterampilan berkomunikasi dalam berkelompok juga merupakan proses panjang. Tatap muka Dalam pembelajaran kooperatif setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Metode pengajaran jigsaw dikembangkan oleh Elliot Aronson dan rekan-rekannya di Universitas Texas. Mereka akan berbagi penghargaan tersebut jika mereka berhasil sebagai kelompok. Menurut Roger dan David Johnson dalam bukunya Anita Lie (2004 : 31-35) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative Learning. dan meningkatkan rasa harga diri. menyelesaikan masalah. buku kecil.

Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut: Kelompok Asal Kelompok Ahli Gambar 1. Ilustrasi Kelompok Jigsaw II Langkah-langkah dalam penerapan teknik Jigsaw II adalah sebagai berikut. maka dari 30 siswa dibagi menjadi 5 kelompok ahli yang beranggotakan 6 siswa dan 6 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama.Dalam model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II. Gambar 2. Misal suatu kelas dengan jumlah 30 siswa dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran. Penghargaan tersebut dapat berupa sertivikat atau bentuk-bentuk rekognisi tim lainnya. Dalam tipe Jigsaw II ini. Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya. Kunci metode Jigsaw II ini adalah interdependensi: tiap siswa bergantung kepada teman satu timnya untuk dapat memberikan informasi yang diperlukan supaya dapat berkinerja baik pada saat penilaian. 44 . setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok. dengan setiap kelompok terdiri dari 4 – 6 siswa dengan kemampuan yang berbeda. Tujuan dari pemberian penghargaan ini adalah untuk memotivasi siswa supaya para siswa termotivasi untuk mempelajari materi dengan baik dan untuk bekerja keras dalam kelompok ahli mereka supaya mereka dapat membantu timnya melakukan tugas dengan baik. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Contoh Pembentukan Kelompok Jigsaw II Guru memberikan kuis (yang mencakup seluruh topik) untuk siswa secara individual. Kelompok asal adalah kelompok awal siswa yang terdiri dari beberapa anggota kelompok ahli yang dibentuk dengan memperhatikan keragaman dan latar belakang siswa. Dalam kelompok ahli. Sedangkan kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal. terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok ini disebut kelompok asal. serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok Jigsaw (gigi gergaji). Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli.

Jawa Tengah. serta untuk memperoleh daftar nilai siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Tersono. pelaksanaan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini antara lain: metode dokumentasi. skor tertinggi = 100. diperoleh adanya peningkatan terhadap hasil belajar siswa. digunakan untuk mengambil data tentang hasil belajar IPS-Ekonomi pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Tersono Kabupaten Batang yang telah diajar dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II. dan yang belum tuntas belajar = 2 siswa. digunakan untuk mengamati kegiatan guru dan siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Kecamatan Tersono Kabupaten Batang.7%. Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan validitas isi. Setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan dan masing-masing kegiatan tatap muka adalah dua jam pelajaran dengan alokasi waktu satu jam pelajaran sama dengan 40 menit. Hipotesis dalam penelitian ini adalah dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Tersono. SMP Negeri 1 Tersono beralamat di Jalan Raya Tersono. skor tertinggi = 85. siswa yang telah tuntas belajar = 28 siswa. Sedangkan keberhasilan kelas dilihat dari jumlah peserta didik yang mampu menyelesaikan atau mencapai minimal 65%. 2007:254) 2. sekurang-kurangnya 85% dari jumlah peserta didik yang ada di kelas tersebut (Mulyasa.3%. Nilai rata-rata kelas sebelum diterapkannya metode kooperatif jigsaw II adalah 63. Validitas isi dilakukan dengan cara menelaah soal secara teoritis dengan seorang ahli / guru bidang studi IPS-Ekonomi. dimana dari 30 siswa yang telah tuntas belajar = 19 siswa.2. 2008:13-14). Proses penelitiannya terdiri dari dua siklus. Setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif jigsaw II pada siklus I diketahui skor terendah = 50. Persentase ketuntasan belajar klasikal = 93. Persentase ketuntasan belajar klasikal = 63. dengan rerata (mean) = 63. Dengan demikian validitas isi tidak memerlukan uji coba dan analisa statistik atau dinyatakan dalam bentuk angka-angka (Nana Sudjana. Dalam validitas isi sampel untuk tes dapat dimintakan bantuan ahli bidang studi untuk menelaah apakah konsep materi yang diajukan telah memadai atau tidak sebagai sampel tes. pengamatan. Persentase ketuntasan belajar klasikal = 86. rerata (mean) = 84. Sekurang-kurangnya 75% dari keseluruhan siswa yang ada di kelas tersebut mencapai ketuntasan belajar afektif dan psikomotorik 75% (Mulyasa. Dalam penelitian ini tiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan. Seorang peserta didik dipandang tuntas belajar jika ia mampu menyelesaikan. metode ini digunakan untuk mengumpulkan daftar nama dan jumlah siswa yang akan digunakan sebagai objek penelitian yaitu kelas VIII B. dan refleksi (Suharsimi Arikunto 2007 : 16).Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran. 2007:256). METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas.3%. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila tes tersebut mampu mengungkapkan isi suatu konsep atau variabel yang hendak diukur. tes.2 dengan ketuntasan 45 . Berdasarkan hasil penelitian. Indikator keberhasilan yang dijadikan tolok ukur dalam penelitian ini adalah: 1. dan siswa yang belum tuntas belajar = 11 siswa. skor tertinggi = 95. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Tersono. dimana dari 30 siswa yang telah tuntas belajar = 26 siswa. dan observasi. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Analisis hasil belajar sebelum diterapkan metode pembelajaran kooperatif jigsaw II diketahui skor terendah = 40. maka hasil belajar siswa akan meningkat. Pada siklus II diketahui skor terendah = 60. dengan rerata (mean) = 77. Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan Jigsaw II untuk belajar materi baru maka perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. menguasai kompetensi atau mencapai tujuan pembelajaran minimal 65% dari seluruh tujuan pembelajaran. dan siswa yang belum tuntas belajar = 4 siswa.

Anita. Cooperative Learning. 46 . Hal ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar ekonomi siswa serta tercapainya indikator keberhasilan.7% sedangkan pada tes akhir siklus II nilai rata-rata kelas mencapai 84. 2008. Terjamahan Nurulita Yusron. Jakarta: Prestasi Pustaka. Cooperative Learning Mempraktikkan Kooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. maka hasil belajar siswa akan meningkat diterima (terbukti). Lie. Bandung: Nusa Media. Penelitian Tindakan Kelas. Hasil tes siklus I nilai rata-rata kelas mencapai 77 dengan ketuntasan belajar klasikal 86. E.0 dengan ketuntasan belajar klasikal sebesar 93. 2004.3%.0 dengan ketuntasan belajar klasikal 93. Suharjono. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Trianto. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Prestasi Pustaka. Jakarta: PT. Setelah diterapkannya metode kooperatif jigsaw II pada siklus I nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 77 dengan ketuntasan belajar sebesar 86. 2008. Bandung: Remaja Rosda Karya. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Nana. Robert E.belajar klasikal 63. Dengan demikian dapat disimpulkan hipotesis yang menyatakan bahwa dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Tersono. Suharsimi. dan Supardi. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Grasindo.3 %.3%. 2007. Sudjana. 2007. Bumi Aksara. Syaiful Bahri dan Aswan Zain. Mulyasa. PENUTUP Hasil dari penelitian ini yaitu bahwa pembelajaran IPS Ekonomi dengan metode Kooperatif Jigsaw II menggunakan desain penelitian tindakan kelas dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIIIB SMP N 1 Tersono Kabupaten Batang tahun pelajaran 2008/2009. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar pembelajaran dengan metode kooperatif tipe jigsaw II dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran bagi guru dalam rangka menambah variasi model mengajar dan perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui keefektifan pembelajaran dengan metode kooperatif jigsaw II sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Jakarta: Rineka Cipta. ______. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Hal ini dibuktikan dengan perolehan nilai tes dari masing-masing siklus yang mengalami peningkatan. Djamarah. 2007.7 % dan pada siklus II nilai rata-rata kelas adalah 84. 2002. Slavin. 2007.

Kata kunci : manajemen kearsipan dan ISO 9001: 2008 Pendahuluan Kearsipan mempunyai peranan sebagai pusat ingatan. maupun dalam rangka pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan pelaksanaan kehidupan kebangsaan. penggolongan. Ini pun tidak asal saja ditentukan.Pd Abstract Kearsipan mempunyai peranan sebagai pusat ingatan. lengkap dan akurat. pemeliharaan. UNNES saat ini. akan menerapkan system ISO 9001: 2008. Menggunakan azas sentralisasi. penyimpanan. yaitu baik sebagai alat untuk membantu daya ingatan manusia. Universitas Negeri Semarang sebagai kampus konservasi. sumber informasi serta alat pengawasan yang sangat diperlukan dalam setiap organisasi dalam rangka melaksanakan segala kegiatan-kegiatan di Perguruan Tinggi. Dari pengertian tersebut tampak bahwa arti pentingnya kearsipan ternyata mempunyai jangkauan yang amat luas. Sarannya adalah perlu adanya pelatihan manajemen kearsipan bagi para pegawai pada tiap unit pengolah dalam pengelolaan arsip. baik pada kantor-kantor Lembaga Negara. pendistribusian. pada saat ini sedang mengajukan diri untuk mendapatkan sertifikat ISO 9001 tahun 2008 untuk dapat menjamin 47 . sumber informasi serta alat pengawasan yang sangat diperlukan dalam setiap organisasi dalam rangka melaksanakan segala kegiatan-kegiatan. Dalam proses penyajian informasi agar pimpinan dapat membuat keputusan dan merencanakan kebijakan. tetapi memerlukan penanganan yang serius. 7 Tahun 1971. Mengurus arsip. desentralisasi dan azas kombinasi yang paling tepat. Sehingga arsip sebagai sumber informasi harus dikelola dengan baik. pemindahan. Pada pasal 3 Undang-Undang No. Selain itu kearsipan juga merupakan salah satu bahan untuk penelitian ilmiah. Pengendalian arsip meliputi pencatatan. salah satunya terdapat pengendalian kearsipan. perlu disadari bahwa mengurus arsip adalah bukan sesuatu hal yang mudah. di mana dalam klausul ISO tersebut Sistem Manajemen Mutu. perlu memberikan informasi yang lengkap pada pengguna (user). pengendalian. jika kantor tersebut tidak memelihara kearsipan yang baik dan teratur sesuai dengan ketentuan-ketentuan kearsipan yang telah ditetapkan. antara lain dirumuskan bahwa tujuan kearsipan adalah untuk menjamin keselamatan bahan pertanggungjawaban nasional tentang perencanaan. perlu ditentukan. salah satunya Unnes. pelaksanaan dan penyelenggaraan kehidupan kebangsaan serta untuk menyediakan bahan pertanggungjawaban tersebut bagi kegiatan pemeritahan. Hal yang sangat tidak mungkin suatu kantor mampu memberikan data informasi yang baik. kemudian dikendalikan dengan system kartu kendali. azas efisiensi perlu dipertimbangkan dengan seksama. Unnes dalam peningkatan mutu. Swasta dan Perguruan Tinggi. dan pemusnahan. sehingga arsip akan mudah ditemukan. S. Dalam kesibukan pembangunan seperti sekarang ini. penyusutan. maka harus ada system dan prosedur kerja yang baik dibidang kearsipan. Filling komputerisasi dan print out tersebut disimpan berdasarkan pokok permasalahan (subjek).MODEL MANAJEMEN KEARSIPAN SEBAGAI UPAYA UNNES MERAIH SERTIFIKAT ISO 9001: 2008 (Kajian Konseptual) Agung Kuswantoro. System kearsipan yang dibangun adalah manajemen filling dalam computerisasi dan dibuktikan dengan print out. bukan hanya soal menyimpan warkat-warkat yang pada saatnya nanti harus dibuang Sistem penyimpanan yang mana akan digunakan.

pelaksanaan. (2) Mengkaji atau mengkonfirmasi tentang sistem pengelolaan arsip dinamis aktif yang baik dan benar. Arsip sebagai bukti penyelenggaraan proses akademik harus dikumpulkan. Salah satu sistem manajemen mutu di antaranya adalah pengendalian arsip. disimpan dan dipelihara secara sistematis sehingga apabila dibutuhkan ddapat diperoleh dengan mudah. Universitas Negeri Semarang selalu melakukan perbaikan secara berkelanjutan terhadap sistem yang telah dikembangkan. 48 . baik kantor pemerintah. swasta atau organisasi kemasyarakatan karena masih dipergunakan secara langsung dalam perencanaan. penyelenggaraan kehidupan kebangsaan pada umumnya atau arsip yang digunakan secara langsung dalam penyelenggaraan administarsi negara. 2003:2). 2003:4). (3) Untuk memberikan masukan sebagai bahan referensi dan pertimbangan bagi Universitas Negeri Semarang untuk lebih memperhatikan dan meningkatkan dalam sistem pengelolaan arsip. Manfaat secara teoritis dalam penelitian ini adalah (1) Sebagai bahan pemahaman teori yang diperoleh penulis yang diterapkan pada dunia kerja. pelaksanaan dan kegiatan administrasi lainnya (Amsyah. tanpa mengabaikan pemenuhan terhadap persyaratan standar internasional ISO 9001: 2008 serta peraturan lainnya yang diamanatkan oleh Dirjen Dikti sebagai institusi yang bertanggung jawab melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap institusi-institusi perguruan tinggi yang ada. Manfaat secara praktis dalam penelitian ini adalah (1) Bagi lembaga akademik diharapkan dapat memberikan masukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan terutama ilmu manajemen dan dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya. Dari latar belakang tersebut. dengan tetap memperhatikan efektifitas penerapannya. Arsip dinamis aktif adalah semua arsip yang masih berada di kantor. Perumusan Masalah Dari latar belakang di atas maka rumusan permasalahannya yaitu bagaimana model kearsipan berdasarkan sertifikat ISO 9001: 2008 di Universitas Negeri Semarang? Kegunaan dan Manfaat Penelitian Berdasarkan masalah di atas maka kegunaan penelitiannya untuk mengetahui model kearsipan berdasarkan sertifikat ISO 9001: 2008 di Universitas Negeri Semarang. maka saya akan membahas tentang Model Kearsipan Berdasarkan Sertifikat ISO 9001: 2008 di Universitas Negeri Semarang.mutu perguruan tinggi secara institusi atau kelembagaan dengan tujuan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas serta sebagai pemenuhan persyaratan pelanggan/ stake holder. (2) Bagi penulis untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman penulis terutama pada masalah yang berhubungan dengan pengelolaan arsip. Tujuan dari penyusunan manual mutu adalah memberi arahan bagi manajemen maupun sivitas akademika Universitas Negeri Semarang dalam penerapan system yang efektif dalam melakukan perbaikan secara berkelanjutan dan memelihara kesesuaian penerapan system manajemen mutu sesuai persyaratan standat International ISO 9001: 2008. LANDASAN TEORI Pengertian Arsip Arsip dinamis adalah arsip yang masih diperlukan secara langsung dalam perencanaan. Sedangkan arsip aktif adalah arsip yang secara langsung dan terus-menerus diperlukan dan digunakan dalam penyelenggaraan administrasi sehari-hari serta masih dikelola oleh unit pengolah (Barthos.

Data dan informasi tersebut dapat ditemukan dalam arsip yang disimpan dalam berbagai media baik media elektronik maupun non elektronik. karena setelah apa yang diinformasikan sudah selesai berarti sudah tidak ada nilai kegunaannya. guna sejarah. 3. Empat golongan arsip itu adalah seperti berikut ini. guna informasi. 49 . Jadi. yuridis atau guna yang lain. 2. guna ilmu pengetahuan.Guna Arsip Menurut Agus Sugiarto dan Teguh Wahyono (2005:9-10) dalam Manajemen Kearsipan Modern. Arsip sebagai sumber ingatan atau memori Arsip yang disimpan merupakan bank data yang dapat dijadikan rujukan pencarian informasi apabila diperlukan. guna yuridis. menyebutkan bahwa arsip mempunyai beberapa kegunaan yaitu : 1. Warkat sebagai bahan arsip mempunyai 4 kegunaan. 2. Hal ini untuk memudahkan pemilahan dalam penyimpanan maupunpenyingkaran bagi arsip yang sudah tidak memiliki nilai. 4. perlu dikelompokkan dalam empat golongan arsip. Penggolongan Arsip Menurut Sularso Mulyono. yaitu: 1. Puak arsip ini akan disimpan paling lama dalam jangka waktu 1 tahun. yaitu puak arsip yang mempunyai nilai guna saat ini dan masih diperlukan pada waktu yang akan datang dalam jangka waktu 1-5 tahun. Daya Guna Warkat Warkat adalah catatan tertulis. Dengan demikian kita bisa mengingat atau menemukan kembali informasi-informasi yang terekam dalam arsip tersebut. gambar atau rekaman yang memuat sesuatu hal atau peristiwa yang digunakan orang untuk sebagai pengingat (alat bantu ingatan). Puak arsip ini dapat diberi tanda (B). yaitu puak (kelompok) arsip yang nilai kegunaannya hanya sebatas sebagai informasi. Puak arsip ini tidak perlu disimpan dalam jangka waktu lama. Warkat otomatis menjadi arsip begitu diproses untuk penyelesaian suatu kegiatan organisasi. Arsip sebagai rujukan historis Arsip merekam informasi masa lalu dan menyediakan informasi untuk masa yang akan datang. 2) Arsip biasa. 1) Arsip tidak penting. 3. Arsip sebagai bahan pengambil keputusan Pihak manajemen dalam kegiatannya tentunya memerlukan berbagai data atau informasi yang akan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. dkk dalam rangka menata arsip dengan baik. Arsip sebagai bukti atau legalitas Arsip yang dimiliki organisasi memiliki fungsi sebagai pendukung legalitas atau buktibukti apabila diperlukan. suatu warkat dapat hanya mempunyai satu macam kegunaan dan dapat pula mempunyai lebih dari satu macam kegunaan. Puak arsip ini dapat diberi tanda (T). 4. Suatu warkat mungkin mempunyai guna informasi saja atau dapat pula suatu warkat mempunyai guna informasi.

Untuk arsip yang disimpan di unit kearsipan adalah arsip-arsip yang frekuensi penggunaannya sangat rendah. 2. yaitu arsip yang penggunaannya tidak langsung sebagai bahan informasi. bulan dan tahun yang mana pada umumnya tanggal yang dijadikan pedoman termaksud diperhatikan dari datangnya surat (akan lebih baik bila berpedoman pada cap datangnya surat). 2. sebagian lagi disimpan 1-5 tahun. Sistem Abjad ( Alphabetical Filing System ) Sistem abjad adalah salah satu sistem penyimpanan berkas yang umumnya dipergunakan untuk menata berkas yang berurutan dari A sampai dengan Z dengan berpedoman pada peraturan mengindeks. 5.3) Arsip penting. 7 tahun 1971). pelaksanaan penyelenggaraan kehidupan kebangsaan pada umumnya atau dipergunakan secara langsung dalam penyelenggaraan administrasi negara (pasal 2 ayat a UU No. dan sebagian kecil dari jumlah arsip perlu disimpan secara abadi. 50 . Arsip aktif (dinamis aktif). yaitu arsip yang secara langsung masih digunakan dalam proses kegiatan kerja. 3. Jenis Arsip Arsip yang timbul karena kegiatan suatu organisasi. Arsip yang disimpan pada bagian pengolah adalah arsip-arsip yang frekuensi penggunaannya cukup tinggi. Puak arsip ini akan disimpan dalam jangka waktu 5-10 tahun dan dapat diberi tanda (P). 4. yang lain 5-10 tahun. Puak arsip ini termasuk arsip vital sehingga harus disimpan terus dan dapat diberi tanda (V). 3. daerah atau wilayah tertentu. Sistem Masalah/Perihal/Pokok Soal ( Subject Filing System ) Sistem masalah adalah salah satu sistem penyimpanan berkas berdasarkan kegiatankegiatan yang berkenaan dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan perusahaan yang menggunakan sistem ini. Berdasarkan frekuensi penggunaan arsip sebagai bahan informasi. Arsip dinamis. yaitu arsip yang dipergunakan secara langsung dalam perencanaan. yaitu puak arsip nilai gunanya mempunyai hubungan dengan kegiatan masa lampau dan masa yang akan datang. yaitu arsip yang tidak dipergunakan secara langsung untuk perencanaan. 7 tahun 1971). 1. Ada arsip yang perlu disimpan sementara (1 tahun). Arsip statis. 4) Arsip sangat penting. Sistem Nomor ( Numerical Filing System ) Sistem nomor adalah salah satu sistem penyimpanan berkas berdasarkan kelompok permasalahan yang kemudian masing-masing atau setiap masalah diberi nomor tertentu. Sistem Tanggal/Urutan Waktu ( Chronological Filing System ) Sistem tanggal adalah salah satu sistem penyimpanan berkas berdasarkan urutan tanggal. Sistem Wilayah/Regional/Daerah ( Geographical Filing System ) Sistem wilayah adalah salah satu sistem penyimpanan berkas berdasarkan tempat (lokasi). Arsip inakif (dinamis inaktif). 4. Sistem Penyimpanan Arsip Sistem penyimpanan arsip menurut Sedarmayanti (2003:69-76) sebagai berikut : 1. dibedakan jenis arsip seperti berikut ini. berdasarkan golongan arsip perlu disimpan dalam jangka waktu tertentu. penyelenggaraan kehidupan kebangsaan pada umumnya maupun untuk penyelenggaraan sehari-hari administrasi negara (pasal 2 ayat b UU No. yaitu puak arsip yang dipakai sebagai pengingat dalam jangka waktu yang tidak terbatas (abadi).

Tempat Penyimpanan arsip Arsip disimpan di lemari atau di filing kabinet yang ditempatkan di suatu ruang atau gedung. penanganan arsip selalu diusahakan teratur. Apabila masih tetap menggunakan lemari (lemari kayu) sebagai tempat penyimpanan arsip karena tidak memiliki lemaci maka penggunaan lemari tersebut harus memperhatikan tiga hal: 1. menempatkan. Kerapian dalam menempatkan arsip yang disimpan. Demikian pula. merupakan persyaratan yang harus dimiliki oleh arsiparis (orang yang bertugas di bagian arsip). Dengan kecekatan yang dimiliki. dimaksudkan bahwa petugas kearsipan harus harus memiliki tingkat kecermatan yang memadai sehingga dapat membedakan secara pasti kata yang sepintas sama tapi sebenarnya tidak sama. Filing kabinet atau lemari arsip berlaci disingkat lemaci. dan apik.Seorang arsiparis perlu memiliki sifat kerapian. Keterampilan. Ukuran sekat lemari harus disesuaikan dengan ukuran map atau folder sebagai tempat penyimpanan arsip 3. Frekuensi peminjaman arsip terbesar di unit pengolah. 51 . Untuk mencegah hilangnya arsip yang dikeluarkan dari tempat penyimpanan karena dipinjam oleh unit lain maupun oleh organisasi lain. Dengan demikian. maupun menemukan kembaki arsip yang disimpan. ketertiban. Persyaratan Petugas Kearsipan 1. keberesan. lembaga lain memanfaatkan informasi yang bersumber dari arsip yang tidak ada organisasinya. Oleh karena itu. 2. Tidak tertutup kenungkinan terjadi peminjaman di unit penyimpanan arsip (peminjaman terhadap arsip dinamis inaktif). Hal ini terbuka kemungkinan. Arsiparis harus memiliki ketelitian untuk menentukan deretan angka yang disajikan.Peminjaman Arsip Arsip yang disimpan baik berstatus arsip aktif maupun arsip inaktif dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam mengambil kebijakan baik untuk unit kerja bersangkutan atau pun unit kerja lain dalam satu lembaga. Ketelitian. guide (lembar petunjuk) maupun laci-laci penyimpanan akan ditata secara teratur. Dengan menggunakan kartu pinjam arsip pihak pengolah arsip mengetahui keberadaan arsip apabila suatu saat ingin menggunakan dan ternyata tidak ada. Konstruksi lemari harus memungkinkan adanya kemudahan dalam menyimpan. penyimpanan arsip tidak mungkin dihindari. maka diatur pencatatan peminjaman dengan menggunakan kartu pinjam arsip (out slip). tertib. Dengan ketelitian yang dimiliki arsiparis. map atau folder. diharapkan petugas dapat menyajikan data tepat waktu. adalah suatu sikap pandang tentang keteraturan. seorang [petugas kearsipan harus terampil dalam memilah golongan arsip. Kerapian. Implikasi kerapian seorang petugas. Lemari harus kuat (dari kayu jati atau kayu yang kualitasnya baik) supaya tidak cepat rusak karena dimakan rayap atau dimasuki hewan pengerat maupun rusak karena usia. keterteban dan keapikan. dan apik dipandang. dan kerapian. 2. diharapkan penyajian informasi dari sumber data (kumpulan arsip) tidak mengalami kesalahan. berarti segala sesuatu disikapi dengan keteraturan. tertib. Kenyataan dilapangan masih ada penggunaan lemari bukan lemari khusus arsip dan belum menggunakan lemari sebagai tempat penyimpanan arsip. 3. ini dimaksudkan agar ia cekatan dalam menempatkan dan menemukan kembaki arsip. maka arsip. beres. tentu akan membantu kemudahan dan kecepatan dalam penyimpanan dan penemuan kembali arsip yang diperlukan.

memahami system manajemen mutu ISO 9001: 2008 dan persyaratan-persyaratannya. dinyatakan dalam persentase.4. Yang dimaksud dengan keberhasilan system kearsipan. baik dari kerusakan maupun dari kehilangan. apakah prosedur penataan selama ini tidak mengalami hambatan sehingga menimbulkan kesalahan atau kegagalan baik secara mikro (prosedur penataan tidak terlaksana dengan baik) maupun secara makro (system penataan kearsipan kurang atau tidak mempunyai daya guna yang memadai). (Agus Syukur 2009). yaitu prosedur penataan tidak mengalami hambatan. Nilai Arsip Pengelolaan kearsipan pada suatu periode perlu ditinjau. keamanan arsip termasuk aman informasi yang terkandung dalam arsip. Angka Cermatan Tata-Arsip Penilaian pengelolaan arsip adalah suatu putusan apakah kearsipan dilaksanakan dengan baik dalam suatu periode (jangka waktu tertentu) sehingga dapat terus dipertahankan atau perlu diadakan pembenahan. arsip harus aman dari bocornya informasi. Pengamanan Arsip Arsip yang disimpan harus dijamin aman. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. mengetahui Quality 52 . perlu diamankan. Tujuan Pembuatan ISO 9001 adalah memahami pentingnya mutu. Akibat kekurang efektifan dalam pengelolaan kearsipan. Jadi. Cerdas berarti memiliki tingkat pemahaman yang memadai sesuai dengan porsi dan tugas pekerjaannya. secara makro dapat menimbulkan kegagalan suatu organisasi atau terhambatnya kemajuan suatu organisasi. selain aman dari kerusakan dan kehilangan. ATK AC x100% ADK Keterangan : AC = Angka Cermatan ATK = Arsip Tidak Ditemukan ADK = Arsip Ditemukan Angka cermatan ini digunakan untuk menentukan apakah system yang digunakan dalam penyimpanan arsip masih cukup absah (cermat) untuk mengelola arsip organisasi yang bersangkutan. perlu adanya penilaian terhadap keberhasilan system kearsipan. Angka cermatan itu dinyatakan dengan rumus berikut ini. Pengertian ISO 9001 ISO 9001 adalah standar internasional yang diakui untuk sertifikasi Sistem Manajemen Mutu (SMM). Seorang yang cerdas dapat mengurusi masalah-masalah yang dihadapi secara tepat dan cepat. tidak selalu identik dengan pendidikan tinggi. SMM menyediakan kerangka kerja bagi perusahaan anda dan seperangkat prinsip-prinsip dasar dengan pendekatan manajemen secara nyata dalam aktifitas rutin perusahaan untuk terciptanya konsistensi mencapai kepuasan pelanggan. system penyimpanan dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan serta kecepatan dan ketepatan penyajian informasi terjamin. Berdasarkan pasal 11 UU No. 7 tahun 1971 tentang ketentuan-ketentuan pokok kearsipan. Kecerdasan. Artinya informasi yang seharusnya tidak boleh diketahui orang yang tidak berhak. Angka cermatan adalah angka perbandingan antara jumlah arsip yang tidak ditemukan pada waktu diperlukan dengan jumlah arsip yang ditemukan. Hal ini dapat terjadi disebabkan kurang tepatnya penyajian informasi dari sumber data (arsip) atau kurang cepatnya penyajian informasi sehingga keputusan yang diambil oleh organisasi kurang akurat.

memahami cara membuat cross reference proses yang telah diidentifikasi dengan standar ISO 9001: 2008. memahami cara pembuatan dan pengembangan semua dokumen system manajemen mutu seperti yang dipersyaratkan.Objective and Target. dan memahami bahwa mutu merupakan tanggung jawab bersama. 53 .

Ruang lingkup Referensi normative Istilah dan definisi System Manajemen Mutu a. pembimbingan akademik. dan komunikasi f. Arsip aktif (dinamis aktif). Analisis data e. Pembelian e. Focus pada pelanggan c. Pengendalian Arsip 1. 3. Persyaratan dokumen 1) Manual Mutu 2) Pengendalian dokumen 3) Pengendalian record/ catatan Tanggung jawab manajemen a. wewenang. 1. Arsip yang termasuk di dalamnya adalah dukumen perkuliahan (kehadiran).DESAIN PEMIKIRAN Klausul ISO 9001 : 2008 1. Pengendalian produk tidak sesuai d. 2. analisis dan mpeningkatan a. Proses terkait dengan pelanggan c. 4. Kebijakan mutu d. Desain dan development d. Sumber daya manusia c. Pemindahan arsip 7. Pemantauan dan pengukuran c. Kegunaan Arsip 1. Lingkungan kerja Realissasi produk a. Umpan Balik PEMBAHASAN Berdasarkan frekuensi penggunaan arsip sebagai bahan informasi. 5. Penyediaan produk dan jasa f. Perencanaan e. 2. Perencanaan realisasi produk b. penyusunan satuan acara 54 . Umum b. Sistim Penyimpanan arsip. Pengendalian sarana pemantauan dan pengukuran Pengukuran. Tinjauan manajemen Manajemen sumber daya a. Improvement (Agus Syukur 2009). 8. registrasi mata kuliah. Komitmen manajemen b. Penyediaan sumber daya b. Tempat penyimpanan dan Pemeliharaan arsip. dibedakan jenis arsip seperti berikut ini. 3. Penyusutan arsip 6. 4. Pemusnahan arsip 5. Peminjaman 4. merupakan arsip yang secara langsung masih digunakan dalam proses kegiatan kerja. surat-surat administrasi (registrasi mahasiswa. penyusunan silabi. 3. Persyaratan Umum b. Memori Pengambil Keputusan Legalitas Historis Agus Sugiharto dan Teguh Wahyono 2005) 7. Infrastruktur d. 6. Tanggung jawab. Pencatatan dan penggolongan arsip 2.

pemeliharaan sistem informasi. Surat pindah kuliah p. pernyataan. jadual kuliah. maka dalam lembaga ini yang paling cocok adalah sistem pokok masalah. surat pemberitahuan. yaitu arsip yang penggunaannya tidak langsung sebagai bahan informasi. Surat penelitian (ijin obeservasi. rumusan kompetensi lulusan. Cuti kuliah o. Empat golongan arsip itu adalah Arsip tidak penting. dokumen lahirnya Fakultas Ekonomi UNNES. Arsip sangat penting. dokumen bergantinya IKIP Semarang menjadi UNNES. Pendaftaran wisuda l. Evaluasi perkuliahan n. penyusunan silabi.perkuliahan. Pendaftaran mahasiswa lama d. prosedur pemilihan pejabat. rencana universitas. Penyusunan silabi s. ijin tidak mengajar) 2. administrasi dosen (kehadiran dosen. renop. Arsip biasa. Contoh arsip dalam hal ini adalah sebagaimana arsip aktif 4. Arsip statis. mutu mengajar. surat edaran dan lainnya. Contoh arsip ini adalah arsip tentang berdirinya IKIP SEMARANG. Arsip tidak penting. undangan. 5) Arsip dalam administrasi akademik mahasiswa a. perhitungan beban mengajar. 1. Arsip biasa. ijin penelitian. dokumen bergantinya IKIP Semarang menjadi UNNES. Arsip penting. 2. rencana fakultas. Arsip inakif (dinamis inaktif). standar kompetensi dosen. pelaksanaan ujian kuliah. dan lainnya. Arsip penting. dan lainnya. Ujian semester g. Arsip dinamis. Penyusunan kurikulum 55 . dan lainnya. Pelaksanaan ujian skripsi j. Draf nilai ujian skripsi k. dokumen lahirnya Fakultas Ekonomi UNNES dan lainnya. Contoh arsip ini adalah IKIP SEMARANG. 3. buku penetapan sumber belajar. dan Arsip sangat penting. penyusunan rentra. pelakasanaan ujian skripsi. Contohnya dokumen penelitian. Surat pengabdian r. Daftar hadir perkuliahan m. sasaran program studi. evaluasi kerja lembaga. Pendaftaran ulang mahasiswa baru c. 3. Contoh arsip ini adalah surat undangan. satuan acara perkuliahan. dan lainnya. surat pengumuman. Ujian mid semester f. Surat tugas pembimbing h. Sistem Penyimpanan Arsip Penyimpanan arsip perlu ada lima. Dalam hal ini adalah uraian tugas dan wewenang. Berdasarkan kelemahan dan kelebihaanya masingmasing. Seleksi penerimaan mahasiswa baru b. cuti kuliah dan lainnya). observasi. laporan data. 4. Jadual kuliah e. ijin penelitian) q. pengabdian. Contohnya arsip ini adalah rencana jurusan. Surat tugas penguji skripsi i.

dan nilai guna arsip. biru untuk bagian pengarah. Perhitungan beban mengajar d. Dengan adanya system ini.20%.t. ventilasi yang cukup. Surat ijin tidak mengajar e. Tujuan dari kartu kendali ini adalah mengendalikan arsip yang akan disimpan. terdiri empat laci. folder. biru. Dengan demikian arsip yang keluar akan terkendali. Kalau tertutup harus sering dibuka agar tidak lembab. terang. dan orange/untuk bagian arsiparis. Suatu daftar yang memuat kebijaksanaan seberapa jauh sekelompok arsip dapat disimpan atau dimusnahkan. Penyusunan akan kebutuhan dosen b. folder Perhitungan Beban Mengajar. dan umur dari nilai guna arsip. tanggal surat. Dengan menggunakan kartu pinjam arsip pihak pengolah arsip mengetahui keberadaan arsip apabila suatu saat ingin menggunakan dan ternyata tidak ada. Filing cabinet yang berukuran standart yang biasa untuk menyimpan arsip. Semua arsip yang keluar akan terkontrol oleh petugas arsip. Tempat Penyimpanan dan Pemeliharaan Arsip Tempat menyimpan arsip menggunakan filling cabinet atau lemari yang memang khusus untuk arsip. Misal DP3 pegawai disimpan/berlaku hanya 4 tahun. Penyusunan satuan acara perkuliahan u. Untuk mencagah kerusakan. Jika kita mencari arsip tentang beban mengajar dosen A maka kita akan mencari arsip tersebut pada laci Administrasi dosen. Filling computerisasi dan Print out tersebut disimpan berdasarkan pokok permasalahan. maka diatur pencatatan peminjaman dengan menggunakan kartu pinjam arsip (out slip). gunakan kapur barus kapur barus. Daftar hadir dosen c. Contoh dalam system kearsipan dikenal dengan laci. Ruang yang digunakan untuk menyimpan arsip harus memperhatikan beberapa ketentuan agar arsip yang disimpan terjamin aman. Kartu pinjam (out slip) yang terdiri dari tiga lembar yaitu kertas yang berwarna putih. dan kertas warna orange untuk bagian arsiparis. jadual retensi. 56 . Di mana kertas putih yang akan ditinggal pada filling cabinet arsip tersebut ditempatkan. Surat pergantian pengajar f. Dalam penyimpanan arsip perlu adanya system kartu kendali. hal surat. Studi lanjut dosen Sistem kearsipan yang dibangun adalah manajemen filling dalam computerisasi dan dibuktikan dengan print out. cap tertinggal. Penyusunan buku pegangan kuliah 6) Arsip dalam administrasi dosen a. Pemeliharaan arsip yang harus dilakukan adalah pengaturan ruangan yang kering. Peminjaman Arsip Untuk mencegah hilangnya arsip yang dikeluarkan dari tempat penyimpanan karena dipinjam oleh unit lain maupun oleh organisasi lain. rak terbuka. Daftar kenaikan pangkat g. kertas warna biru untuk bagian pengarah. Penyusutan Penyusutan arsip yang digunakan berdasarkan rambu-rambu penyusutan arsip yaitu angka pemakaian. surat masuk/ keluar. maka sangat kecil akan kehilangan arsip. Angka pakai yang digunakan adalah antara 15% . dan kita akan menemukan arsip atas nama dosen A. Kartu kendali terdiri dari tiga lembar yaitu putih untuk bagian agendaris. dan guide. petugas penyimpan. nomor surat. dan orange. Dalam kartu kendali terdapat keterangan kode masalah subjek. tanggal penyimpanan. dan jagalah agar arsip tidak melipat. dan tanda tangan penyimpan.

Sedangkan arsip yang sifatnya abadi dapat dipindahkan ke ANRI. Harus disaksikan oleh 2 (dua) orang pejabat yang berwenang. Tidak dibenarkan bekas arsip dipakai untuk sampul. 1993. 1984. Basir. Agus dan Teguh Wahyono. DAFTAR PUSTAKA Abubakar. box. sehingga arsip akan mudah ditemukan. Rosyid. Filling computerisasi dan Print out tersebut disimpan berdasarkan pokok permasalahan (subjek). Manajemen Kearsipan. Namun dibenarkan jika berujud kawul yaitu dicacah dengan mesin penhancur kertas.id/pengelolaanarsipelektronikformatdokumen. 2003. daftar pemindahan arsip dan berita acara. Yogyakarta : Liberty. PT. Perlengkapan yang dibutuhkan folder. pemindahan. tetapi dilakukan per berkas (bendel). peminjaman. 2003. Hadi. kemudian dikendalikan dengan system kartu kendali. tempat penyimpanan dan pemeliharaan. Penghapusan dilakukan secara total sehingga identitas arsip hilang sama sekali. Kearsipan. tali. 3. Budiman. Tiap unit pengolah dalam pengelolaan arsip perlu mendapatkan pengetahuan manajemen kearsipan. PT.co. 1990. penyusutan. Sistem kearsipan yang dibangun adalah manajemen filling dalam computerisasi dan dibuktikan dengan print out. Gava Media: Yogyakarta 57 .google. Manajemen Kearsipan. Tata Kearsipan Dengan Memanfaatkan Teknologi Modern. Mandar Maju: Bandung Sugiarto. Sularso. Harus dibuatkan berita acara. diberi bahan kimia dan dicacah dengan mesin pencacah kertas. Dalam melakukan pemusnahan arsip. Caranya dibakar. Manajemen Kearsipan Modern. 2. 2003. Dharma Karsa Utama: Jakarta Mulyono. dengan maksud untuk lebih dapat diketahui informasi keberadaan arsip tersebut sehingga orang mudah mencarinya. 2005. Penataan Berkas Dalam Manajemen Kearsipan. Sedarmayanti. Pengelolaan Arsip elektronik Format Dokumen. diunduh 1 Januari 2010. Pemusnahan Arsip Memusnahkan arsip berarti menghapus keberadaan arsip dari tempat penyimpanan. dijual/dikiloan untuk pembungkus. 2010. tidak dilakukan lembar demi lembar. Perlu membuat daftar pertelaan arsip-arsip yang akan dimusnahkan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dalam makalah ini adalah perlu adanya pengendalian kearsipan yang baik mulai dari penggolongan. PT. Martono. Jadi pemusnahan arsip adalah tindakan menghancurkan secara fisik arsip-arsip yang sudah berakhir fungsinya dan sudah tidak memiliki nilai kegunaan. dkk. system penyimpanan arsip. Pola Kearsipan Modern Sistem Kartu Kendali. Zulkifli. Pemindahan arsip dilakukan dengan cara menyiangi arsip yang telah habis jangka waktu penyimpanannya dan tidak dipakai lagi. Bumi Aksara: Jakarta Budiman.Pemindahan Arsip Pemindahan arsip ke pusat penyimpanan arsip. www. Cahaya Aksara Agung: Jakarta. dan pemusnahan arsip. Salah satunya dengan jalan pelatihan pada pegawai tentang manajemen kearsipan. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta Barthos. Budi. perlu memperhatikan ketentuan-ketentuan : 1. Amsyah.

google.co.. 1981. Manajemen Arsip Dinamis. Agus. Kearsipan 1. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta The Liang Gie. Penerbit Kanisius: Yogyakarta 58 . Utomo. Organisasi dan Administrasi Kantor Modern. diunduh tanggal 12 Januari 2010 Wursanto. ANRI: Jakarta . Penerbit Balai Pembinaan Administrasi Universitas Gadjahmada Yogyakarta. Drs. Sekretaris dan Tata Warkat. ISO 9001: 2008 Yogjakarta : Kata Buku Sutarto.Sukur. Ignasius.id/manajementarsipdinamis. 2009. Bambang. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1971 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kearsipan. 1991. 1970. 5R. www.

000. pengorganisasian.000. yakni sebagai makhluk bio-psiko-sosial-spiritual ciptaan Tuhan (Harefa. didalam otak inilah proses ingatan terbentuk dan diproses. KELAS X. “.60%.000. yaitu otak. ingatan berkedudukan sebagai hal utama. dalam penelitian ini adalah catatan. kelas X.000. sehingga proses mengingat dan belajar terganggu karena butuh beberapa waktu untuk menggali kembali informasi yang tersimpan.28% siswa menyatakan sikap positif yaitu catatan mempengaruhi ingatan mata pelajaran ekonomi. Penelitian dilakukan mulai semester gasal 2009 hingga pertengahan semester genap 2010 dengan menggunakan angket serta pedoman observasi catatan siswa sebagai instrumen untuk memperoleh data. manusia masih membutuhkan sebuah proses belajar.Sel otak (hanya dalam satu kepala manusia) yang lebih besar 166 kali jumlah manusia dimuka bumi ini. Namun ingatan manusia bukanlah sebuah mesin yang sempurna tanpa gangguan-gangguan. Ingatan menurut Jansen dan Karen (2003:22) didefiniskan sebagai suatu proses psikologis Proses psikologis. karena kekuatan otak manusia lebih besar dari sekedar kekuatan intelegensi. 2003:28)”. Dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa tiap manusia pada dasarnya telah memiliki modalitas belajar yang sangat luar biasa. Kemampuan dasar otak sebagai sebuah modalitas saja belumlah cukup.namun yang terjadi dalam belajar sering ditemui sebuah hambatan berupa kegagalan untuk memanggil ulang informasi yang telah tersimpan. seringkali manusia mengalami lupa. Ingatan Siswa. serta semua yang terekam yang telah diterima. Kegiatan mencatat atau membuat catatan ini telah ada dan diajarkan pada seseorang dalam pendidikan formal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besarkan pengaruh keberadaan catatan siswa terhadap ingatan siswa dalam mata pelajaran ekonomi. namun tidak semua catatan yang dibuat oleh siswa memberikan kontribusi terhadap ingatan siswa dalam mengulang maupun proses belajar. Proses pengarsipan terjadi dalam ingatan seseorang yaitu informasi yang diterima disimpan. yakni informasi diberi kode dan dipanggil kembali. sel otak manusia adalah 1. Dalam mencatat seseorang melakukan semua fungsi manajeman mulai dari perencanaan.. 2003:23)”.000 (Buzan. Hal 59 . pengontrolan catatan tersebut. SMA Negeri 1 Boja Kendal. Catatan Siswa. dan kemudian diambil kembali saat diperlukan atau dibuang melalui proses lupa. 1. Belajar memungkinkan manusia untuk “tumbuh menjadi yang terbaik dari diri sendiri. informasi. dan evaluasi terhadap catatan yang telah dibuat. Dalam belajar inilah. Semua informasi yang diterima melalui indera diterima. diberikan kode-kode tertentu. Jensen dan Karen (2003:21) menyatakan “ingatan yang sifatnya dinamis ini terus berubah dan berkembang sejalan dengan pertambahan informasi yang disimpan”.000 sedangkan jumlah manusia dimuka bumi ini adalah 6. diproses dalam ingatan.. Sifat dinamis dan terus berkembang ini seharusnya memungkinkan manusia untuk mampu mengingat semua peristiwa. Serta catatan menyumbangkan pengaruh terhadap terbentuknya ingatan siswa sebesar 35. Oleh karena itu maka dibutuhkan alat bantu ingatan yaitu mnemonik.PENGARUH CATATAN SISWA TERHADAP INGATAN SISWA DALAM MATA PELAJARAN EKONOMI. Pendahuluan Manusia sebetulnya memiliki sebuah modalitas belajar yang luar biasa. Pada dasarnya ingatan adalah sesuatu yang membentuk jati diri manusia dan membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. tes Intelegensi saja tidak cukup digunakan untuk menyatakan masa depan seseorang akan gagal atau berhasil. Pada dasarnya setiap orang telah memiliki modalitas belajar bawaan yaitu otak serta indera. Dengan bertumbuh menjadi makhluk yang utuh inilah manusia akan mampu untuk bertahan hidup dan memiliki suatu kekhasan. Kata Kunci. lebih buruk lagi infomasi yang dibutuhkan tidak dapat diambil kembali dan hilang. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa 87. SMA NEGERI 1 BOJA KENDAL Abstraksi Fridolin Palupi Sri Kurniawati Mencatat merupakan pelaksanaan kegiatan manajemen kearsipan individul yang dilakukan oleh semua pelajar dan mahasiswa serta oleh sebagian besar orang.

nota dan kerangka tulis. jadi murni menggunakan informasi yang telah terekam dalam ingatan siswa selama belajar hingga pertengahan mapun akhir semester berjalan.3% atau 74 siswa memiliki catatan. jadwal. kebanyakan orang hanya mampu mengingat sebagian kecil materi yang baca atau dengar kemarin (DePorter dan Hernacki. Kemampuan mencatat ini telah diajarkan pada tiap orang dalam proses pendidikan formal disekolah. belajar verbal menurut Slameto (2003:8) adalah ”belajar mengenai materi verbal dengan melalui latihan dan ingatan. Guna mengukur ingatan siswa selama setengah semester dan satu semester proses pembelajaran siswa diukur melalui tes UTS dan UAS. memahami konsep-konsep utama. Hal ini karena timbul sebuah kesalahan dalam pembuatan catatan.3 yang terdiri dari 110 siswa. Dari 110 siswa tersebut 60 orang siswa mencatat pada buku tersendiri (tidak dicampur dengan mata pelajaran yang lain).1. “Disekolah setiap orang dulunya (dan hingga sekarang masih) dilatih untuk mencatat dalam kalimat-kalimat atau daftar-daftar berbentuk vertikal (Buzan. 60 . agenda. tidak ada yang terekam”. sebagai objek penelitian adalah siswa SMA Negeri 1 Boja. kelas X. Svantesson (2004:6) “untuk mencerna apa yang mereka dengar dan mencatatnya dalam waktu yang bersamaan sangat tidak mungkin. SMA Negeri 1 Boja Kendal. Dari hasil tes tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak siswa yang tidak mampu memenuhi kriteria ketuntasan minimum (KKM). jurnal atau buku harian. 2004:102)”. peta pikiran.52% siswa tuntas. Penggunaan catatan ini tidak sepenuhnya membantu memaksimalkan daya ingat seseorang. Mencatat merupakan bagian dari belajar verbal. kalender.3% siswa memiliki catatan maka seharusnya ingatan yang dimiliki siswa akan sangat baik. Segelintir orang menggunakan hanya kata kunci”. yang disebut mnemonik. Tahun ajaran 2009/2010? 2.ini yang sering disebut dengan lupa. dan melihat kaitannya”. Kebanyakan orang cenderung berpikir bahwa cara memasukkan materi yang paling efektif adalah mencatat semuanya pada bersamaan dengan mereka mendengarkan materi tersebut. Dimana dalam tes tengah semester maupun ujian akhir semester siswa tidak dapat menggunakan alat bantu apapun untuk dapat mengerjakan soal. lupa merupakan sebuah gangguan. mesin penjawab dan pencatat pesan elektronik.2 dan X. Svantesson (2004:5) mengartikan catatan sebagai ”sebuah teknik baik biasa maupun peta pembelajaran yang dibuat dengan kalimat penuh atau frasa kalimat. Pada UTS yang dilangsungkan bulan Oktober 2009 dari 109 siswa terdapat 42 siswa yang tuntas KKM atau 38. jam beker atau timer. SMA Negeri 1 Boja Kendal. Catatan yang baik dan efektif menurut DePorter dan Hernacki (2000:150) “mampu membantu anda untuk mengingat detaildetail tentang poin-poin kunci. Karena itulah dibutuhkan alat bantu ingatan ekstern untuk memperkecil jumlah informasi yang hilang atau gagal dipanggil kembali. 2000:150)”. 67. menempelkan penanda didinding atau papan pesan. 67. Alat bantu ingatan mekanis atau eksterior menurut Jensen dan Karen (2003:115) diantaranya berupa “Daftar. Bukti Empiris Dalam penelitian ini. Hal ini nampak dalam persentase yang menurun dalam UTS dan UAS. X.” Namun alat bantu ingatan yang lebih tepat dalam belajar adalah catatan. peta pikiran. “Tanpa mencatat dan mengulangi. Dalam pembelajaran ekonomi dalam tiga rombongan belajar yaitu kelas X. Sedangkan pada UAS jumlah siswa tuntas turun menjadi hanya 30 siswa saja yang tuntas KKM atau 27. kelas X. dalam ujian tengah semester dan ujian akhir semester gasal 2009 masih sangat kurang. Tahun ajaran 2009/2010? Seberapa besarkah pengaruh catatan siswa terhadap ingatan siswa dalam mata pelajaran ekonomi. Namun ternyata ingatan siswa yang diukur melalui tes dan diperolehlah hasil berupa nilai siswa.53% siswa tuntas. Namun hasil yang dicapai bukanlah semaksimal apa yang dibayangkan. Tujuan penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: Apakah terdapat pengaruh catatan siswa terhadap ingatan siswa dalam mata pelajaran ekonomi.

X. Tabel 1. Data yang digunakan adalah data primer yang diambil langsung dari objek penelitian.1 Alat Analisis Regresi linear sederhana digunakan untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel. analisis regresi linear sederhana. Angket disebarkan pada seluruh rombel sebagai populasi. Uji reliabilitas dilakukan dengan rumus koefisien alfa (α) dari Cronbach. Selama satu setengah semester dilakukan pengamatan terhadap catatan siswa dan ingatan yang terbentuk dalam jangka panjang. dan peneliti membimbing. 2006: 35). jika rxy > rtabel maka soal dikatakan valid dan sebaliknya.2.3.2 Pengumpulan Data dan Analisis Data Penelitian dilakukan pada Siswa kelas X SMA Negeri 1 Boja tahun ajaran 2009/2010 pada rombongan belajar (rombel) mata pelajaran ekonomi rombel X. Terdapat tiga teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif.1. metode observasi/pengamatan. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode kuantitatif (Arikunto. dan penentuan rumusan hipotesis Ho dan Ha.3 yang berjumlah 110 siswa. dan metode angket/kuisioner. Penelitian dilakukan dalam kurun tahun ajaran 2009/2010. a adalah penduga bagi intersap (α). Uji Validitas dengan rumus koefisien korelasi product moment.Dengan y adalah variabel tak bebas (nilai duga). 3. Dalam jangka pendek selama satu bulan dilakukan observasi terhadap proses pembelajaran ekonomi pada tiga rombel objek penelitian untuk mengamati kebiasaan siswa dalam membuat catatan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Pengamatan dilakukan dengan mengumpulkan hasil catatan siswa selama kurun waktu satu setengah semester dan kemudian dianalisis. Langkah awal dalam analisis data penelitian adalah menguji coba instrumen (angket) yang akan digunakan. b adalah penduga bagi koefisien regresi (β) (Somantri dan Sambas. penyebaran angket dilakukan langsung oleh peneliti. Analisis deskriptif menggunakan skala likert dengan skala lima untuk menentukan pengukuran untuk mengukur sikap dengan menempatkan kedudukan sikapnya pada kesatuan perasaan kontinum berkisar dari ”sangat positif” hingga ke ”sangat negatif” terhadap sesuatu (objek psikologis) (Somantri dan Sambas. memberikan arahan dan memandu siswa untuk mengerjakan tiap pernyataan yang ada dalam angket. Skala Pengukuran Likert Pilihan Skor item Skor item Option Jawaban positif negatif A Sangat setuju 5 1 B Setuju 4 2 C Ragu-ragu 3 3 D Tidak setuju 2 4 E Sangat tidak setuju 1 5 61 . x adalah variabel bebas. Hubungan tersebut kemudian dinyatakan dalam sebuah persamaan matematik yang ˆ ˆ menyatakan hubungan fungsional antar variabel y a b( x) . dengan kriteria pengambilan keputusan bila nilai r hitung lebih besar dari r tabel maka instrumen dinyatakan reliabel. Untuk mengetahui apakah instrumen tersebut baik untuk digunakan maka dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas. metode dokumentasi. mulai awal semester gasal 2009 hingga pertengahan semester genap 2010. melalui tiga metode pengumpulan data yaitu. 2006:243). Kerangka Analisis 3. dengan kriteria pengambilan keputusan Korelasi haruslah memiliki nilai/arah positif yaitu setelah diperoleh harga rxy kemudian dikonsultasikan dengan rtabel Product moment pada taraf α = 5 %. 2006:14) dengan keberadaan data yang diteliti sudah tersedia dalam objek penelitian (peneliti tidak dengan sengaja menimbulkan). dan X.

yaitu ada pengaruh catatan siswa terhadap ingatan siswa dalam mata pelajaran ekonomi. Hal ini ditunjukkan oleh skor total responden yang terletak antara skor 12.28% Negatif 76 . 38 76 114 152 190 Min kuartil 1 median kuartil 3 max Sangat negatif Negatif Positif Sangat positif Tabel 2. yaitu tidak ada pengaruh catatan siswa terhadap ingatan siswa dalam mata pelajaran ekonomi. Kelas X. Gambar 1. SMA Negeri 1 Boja Kendal ada pada sikap positif.76 0 0% Dan secara keseluruhan sikap responden tentang pengaruh catatan siswa terhadap ingatan siswa dalam mata pelajaran ekonomi. SMA Negeri 1 Boja Kendal. Distribusi Jawaban Responden Frekuensi Sikap Tiap Responden Kategori sikap Kategori skor frekuensi persent ase Sangat positif 152. kelas X. Kemudian pengujian hipotesis dilakukan dengan ketentuan jika Ho:β1 = 0.114 5 4. Tidak ada responden yang menyatakan sikap bahwa catatan sangat tidak berpengaruh terhadap ingatan dan keberadaan catatan tidak penting. 4.19% Positif 114 . Artinya bahwa secara keseluruhan responden memandang bahwa catatan berpengaruh positif terhadap ingatan siswa dalam mata pelajaran ekonomi. berdasarkan penelitian ada pada sikap positif.152 96 87.190 9 8. Distribusi Jawaban Responden Frekuensi Sikap Seluruh Responden Kategori sikap Kategori skor Berdasarkan perhitungan (terlampir) diperoleh skor total seluruh responden yaitu 14558.540– 16. sikap tiap responden tentang pengaruh catatan terhadap ingatan dalam mata pelajaran ekonomi.Teknik regresi linear sederhana yang dinyatakan dalam sebuah persamaan matematik ˆ y a b( x) . yang merupakan batas skor pada kategori positif.28% responden atau dapat dikatakan mayotiras responden sepakat bahwa catatan memberikan pengaruh positif terhadap ingatan. kelas X. Garis skala jawaban responden frekuensi sikap tiap responden.kuartil 3). sehingga masuk 62 .720 (median . Sebaliknya jika. SMA Negeri 1 Boja. Hasil Empiris Berdasarkan analisis deskriptif sikap tiap responden diperoleh hasil. Gambar 2. Ho:β1 ≠ 0. SMA Negeri 1 Boja Kendal. kelas X. Sikap positif ini disimpulkan dari 87. Garis skala jawaban responden frekuensi seluruh responden 14558 4180 Min kuartil 1 8360 12540 median 16720 kuartil 3 20900 max Sangat negatif Negatif Positif Sangat positif Tabel 3.55% Sangat negatif 38 .

Dependent Variable: Y 2.3 53 26. Uji F (Kelinieran) Untuk melihat kelinearan persamaan regresi ini dengan membandingkan nilai F hitung dengan nilai F tabel.40% ingatan dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti pada penelitian ini. X b. Tabel 5 Uji Linearitas ANOVAb Model 1 Regre ssion Resid ual Total Sum of Squares df 1 108 109 Mean Square 1581. 1.729 dan sig 0. Koefisien Determinasi (R2) Catatan siswa mempengaruhi terhadap ingatan secara signifikan.000.14500 a.720 – 20.720 8.000.356 .471 F 59. Uji Parsial (Uji t) Hasil perhitungan koefisien regresi memperlihatkan nilai koefisien konstanta sebesar 23. .739 dan F tabel diperoleh dengan cara mencari pada tabel F dengan df1 = 1 dan df2 = 108.21 8 a.334. Tabel 4 Uji R2 Koefisien Determinasi Model Summaryb Mo del R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 . hal ini berarti catatan berpengaruh terhadap ingatan siswa sebesar 35. Predictors: (Constant).356. diperoleh F tabel 3.93. Koefisien slope catatan adalah 0.180 – 8.540 Sangat negatif 4.350 5.597a . Nilai t tabel untuk uji 63 . Predictors: (Constant). X b. sedangkan 64.468 dengan t hitung adalah 7. dan nilai sig 0. Dependent Variable: Y 3.86 5 4440.60%.05).Sangat positif Positif Negatif 16. dengan nilai F hitung lebih besar daripada F tabel dan nilai sig lebih kecil daripada alpha maka dapat ditarik kesimpulan bahwa menolak Ho dan menerima Ha yang berarti koefisien determinasi signifikan secara statistik atau persamaan regresi yang terbentuk linear. Harga koefisien determinasi R square sebesar 0. Nilai F hitung diperoleh 59.7 39 Sig.360 – 12. dan membandingkan antara sig dengan nilai alpa (0.360 Pengaru h catatan siswa terhadap ingatan siswa dapat dilihat pada analisis regresi.000 a 1581.657 dengan t hitung sebesar 4.540 – 16.35 3 2858.900 12.

Gambar 3 Normalitas P-Plot Residual 5. dibandingkan dengan distribusi frekuensi yang telah ditentukan.468X . Grafik ini menggambarkan distibusi frekuensi dari nilai ingatan. Dari persamaan regresi diatas.657 . terlihat bahwa nilai t hitung lebih besar dari t tabel dan sig lebih kecil dari alpha. kesimpulan yang bisa diambil adalah menolak Ho yang berarti koefisien konstanta adalah signifikan secara statistic.657 dan variabel independen catatan (X) sebesar 0. Uji Normalitas Gambar 4.468 dapat dibaca setiap kenaikan 1 satuan X dapat menaikan Y sebanyak 0.597 Standar dized Coefficients Beta t 4. kelengkapan materi. sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai ingatan sesuai dengan distribusi uji.000 4. Tahun ajaran 2009/2010. . Sedangkan untuk koefisien konstanta catatan terlihat bahwa t hitung lebih besar dari t tabel dan sig lebih kecil dari alpha makan dapat disimpulkan bahwa koefisien slope catatan adalah signifikan secara statistic. dengan konstanta 23. SMA Negeri 1 Boja Kendal.061 .10 diatas adalah grafik P-Plot. meliputi aspek penggunaan poin kunci. 64 .000 . menghubungkan antar materi. warna. penggunaan penekanan.98 yang diperoleh dari alpha 5% dan df 109.458 .657 0. Gambar 10 diatas memperlihatkan bahwa titik-titik distribusi terletak digaris lurus. Dengan kondisi demikian maka dapat diambil kesimpulan bahwa penyebaran nilai ingatan mengikuti distribusi normal. Tabel 6 Uji Parsial (Uji t) Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1 (Con stant) X B 23. Simpulan Terdapat pengaruh positif catatan siswa terhadap ingatan siswa dalam mata pelajaran ekonomi. Jika nilai t tabel dibandingkan dengan nilai t hitung koefisien konstanta. kelas X.33 4 7. simbol dan hal artistik. Guna memperbesar pengaruh keberadaan catatan isi catatan harus juga diperhatikan selain memperhatikan tampilan. Jika titik-titik distribusi frekuensi pengamatan sama dengan distribusi uji yang berarti data terdistribusi secara normal. karena catatan merupakan alat bantu ingatan (mnemonik) utama yang hingga kini masih digunakan siswa dalam belajar dan memiliki kedudukan tersendiri dalam belajar.468 Std. ˆ Dari Tabel 6 koefisien diperoleh persamaan regresi Y 23. gambar. Error 5.72 9 Sig.ini adalah 1.468.

Requirements for electronic note taking systems: A field study of note taking in university classrooms. 2004. Menulis: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. # Shttp://sringerlink. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek.Gramedia Pustaka Utama. in revised form August 10. Seton Hall University/ Paper submitted April 24. Aplikasi Statistik Dalam Penelitian. Diunduh dari http://www.com pada 23 Februari 2009.00. Ingeman. Kim. Jo dan Huw Williams. Use Both Sides Of Your Brain: Teknik Pemetaan Kecerdasan Dan Kreativitas Pikiran. Diunduh dari 2009. Directory: School of Graduate Medical Education. Tony. 2006. Eric dan Keren Markowitz. 2008. 2009. 2006. 2003. Memory Boosters: Penguat Ingatan. MSa dan Genevieve Pinto Zipp. Harefa. Applications of the Mind Map Learning Technique in Chiropractic Education: A Pilot Study and Literatur. Bobbi dan Mike Hernacki.identitas catatan meliputi judul. Jakarta : Rineka Cipta. Jakarta: Penerbit Erlangga. Henry Guntur. Learning Maps and Memory Skills. Jane Marie. Otak Sejuta Gigabyte: Buku Pintar Membangun Ingatan Super. 2003. Buku Pintar Mind Map. Bandung: Mizan Media Utama. kerapian. Published online: 5 March pringer Science + Business Media. pukul 11:22 WIB. 2004. Jensen. DC. 6. Buzan. D’Antoni. pukul 11. Stine. LLC 2009 Slameto. Mengoptimalkan Daya Pikir: Meningkatkan daya ingat dengan mengarahkan seluruh kemampuan otak. 1985. Jakarta : Rineka Cipta. Somantri. Tony. kebersihan.com. 2006/ Journal of Chiropractic Humanities 2006. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2006.journalchirohumanities. dan kejelasan tulisan. Surabaya: Ikon Teralitera. 2005. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Mengasah paradigma pembelajar. penambahan ide pribadi siswa dalam catatan. waktu/tanggal. DePorter. Suharsimi. Bandung: Mizan Media Utama. Buzan. sub-judul. Yogyakarta: Penerbit Gradien. Belajar Dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Bandung: Pustaka Setia. Bandung: Penerbit Angkasa. Jakarta: PT. Tarigan. Jakarta: Pustaka Delapratasa. 2006. 2006. Iddon. Svantesson. 65 . Pada 8 Juni 2009. 2004. Referensi Arikunto. Andreas. Ating dan Sambas Ali Muhidin. visualisasi ide materi pelajaran misal penggunaan peta konsep. Kibum and Team. 1997.Anthony V.

Cacat tubuh. menunjukkan bahwa dari 48 (empat puluh delapan) indikator yang diindikasikan dapat mempengaruhi kesulitan belajar mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Ungaran yang terdiri dari faKtor Kesehatan. Relasi siswa dengan siswa. faktor VII diberi nama Media pengajaran. Kurikulum. 66 . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi yang dialami oleh siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Ungaran Kesulitan Belajar. Keadaan ekonomi keluarga. Mata pelajaran TIK memiliki tujuan agar siswa mampu menggunakan komputer sebagai alat bantu untuk mencari informasi. Mass media. faktor VIII diberi nama Kebutuhan. Faktor X diberi nama Gedung dan Peralatan Sekolah. intelegensi. faktor VI diberi nama kesehatan. faktor III diberi nama Komunikasi dan Relasi. “Kesulitan belajar adalah keadaan dimana anak didik tidak dapat belajar sabagaimana mestinya”. Faktor IX diberi nama Intelegensi. “Faktor intern meliputi keadaan fisik. agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja kurikulum mata pelajaran Dasar Komputer harus disesuaikan dengan kurikulum saat ini. Latar belakang kebudayaan. Minat. gangguan psikis. Hubungan antar anggota keluarga. dan faktor V diberi nama Pergaulan. Faktor penyebab kesulitan belajar ada dua macam. kondisi kesehatan siswa yang sering sakit-sakitan dapat mengganggu kerja otak yang mengakibatkan terganggunya kondisi dan konsentrasi belajar sehingga siswa akan tertinggal jauh dari pelajarannya. Teman bergaul. Relasi guru dengan siswa. yaitu faktor intern (faktor yang berasal dari diri siswa) dan faktor ekstern (faktor yang berasal dari luar). keadaan sekolah dan keadaan lingkungan masyarakat” (Slameto. Kesulitan belajar yang berasal dari faktor internal siswa antara lain kondisi kesehatan. Intelegensi. Tugas rumah.FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESULITAN BELAJAR MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI PADA SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 1 UNGARAN Abstrak Rizal Fadilla Septian Kesulitan belajar yang berasal dari faktor internal siswa antara lain kondisi kesehatan.2003 : 54-72). Suasana rumah. dan adanya perhatian. Cara orang tua mendidik. sedangkan faktor ekstern meliputi keadaan keluarga. Motivasi. bakat khusus. memaparkan atau mempresentasikan serta mengetahui bagian-bagian dasar atau komponen mengenai perangkat komputer. Waktu sekolah. faktor IV diberi nama Kemampuan dan Minat. Lingkungan tetangga. dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalah adakah faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi yang dialami siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Ungaran. Kesulitan ini tidak selalu disebabkan oleh faktor intelegensi. Kesiapan. menyusun informasi. Metode mengajar. keadaan emosi. Pendahuluan Pada hakikatnya di dalam belajar senantiasa ada rintangan dan hambatan yang akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Keadaan gedung. Mata pelajaran TIK merupakan mata pelajaran yang wajib bagi siswa SMP dan merupakan mata pelajaran adaptif yang setiap waktu mengalami perubahan. faktor II diberi nama Jasmaniah dan Pendukung belajar. Pengertian orang tua. Berdasarkan hasil analisis faktor menggunakan program bantu SPSS seperti yang telah di uraikan di atas. kondisi kesehatan siswa yang sering sakit-sakitan dapat mengganggu kerja otak yang mengakibatkan terganggunya kondisi dan konsentrasi belajar sehingga siswa akan tertinggal jauh dari pelajarannya. Bakat. Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriono (2003 : 77). Alat pelajaran. Aktivitas dalam masyarakat. Perhatian. Kematangan. dan faktor XI diberi nama Lingkungan Belajar. yaitu faktor I yang diberi nama Keluarga. Ternyata terbagi dalam 11 (sebelas) kelompok faktor.

agar siswa tersebut memiliki nilai sesuai kriteria ketuntasan minamum (KKM) yang berlaku yaitu 7. S. penulis mendapat daftar nilai TIK siswa kelas VIII dari guru TIK yakni Bapak Yubaidi. Oleh sebab itu perlu adanya usaha untuk mencari faktor penyebab kesulitan belajar yang dialami siswa. Berkaitan dengan latar belakang masalah tersebut diatas. sehingga pihak sekolah harus mengadakan ujuan remidi. 67 .5) 4 siswa 6 siswa 11 siswa 6 siswa 7 siswa 7 siswa Nilai diatas KKM (> 7. maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalah adakah faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi yang dialami siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Ungaran ? Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi yang dialami oleh siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Ungaran Kesulitan Belajar Kesulitan belajar adalah suatu kondisi proses anak didik yang tidak dapat belajar dengan sebagaimana mestinya. Dalam daftar tersebut menunjukkan bahwa ada 41 siswa dari 166 siswa yang memperoleh nilai dibawah kriteria ketuntasan minimum (KKM) dalam ujian semester ganjil. Berikut data dari$ hasil belajar siswa pada mata pelajaran TIK kelas VIII SMP Negeri 1 Ungaran : Tabel Hasil belajar siswa pada mata pelajaran TIK Siswa Kelas VIII Kela s VIII A VIII B VIII C VIII D VIII E VIII F VIII G Nilai dibawah KKM (< 7. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar Faktor – faktor belajar adalah peristiwa belajar yang terjadi pada diri Faktor faktor yang menyebabkan kesulitan belajar pada pokoknya dapat digolongkan menjadi dua faktor (Slameto. dengan ditandainya hambatan-hanbatan tetentu untuk mencapai hasil belajar.Kom.5) 20 siswa 18 siswa 12 siswa 18 siswa 23 siswa 17 siswa 17 siswa Jumlah siswa 24 siswa 24 siswa 23 siswa 24 siswa 23 siswa 24 siswa 24 siswa Sumber: Dokumen guru mata pelajaran TIK SMP Negeri 1 Ungaran Dari data tersebut menunjukkan bahwa ada beberapa siswa yang memiliki nilai dibawah kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan oleh sekolah yaitu sebesar 25 % dari 166 siswa.Dari hasil observasi awal di SMP N 1 Ungaran pada tanggal 10 Januari 2010. 2003 : 54-72). maka penulis dalam penelitian ini mengambil judul tentang FAKTOR -FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESULITAN BELAJAR MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI PADA SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 1 UNGARAN. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya.5.

Faktor Luar Siswa (Faktor Ekstern) Cara orang tua mendidik anaknya. Faktor intern. Faktor Diri Siswa (Intern) Kesehatan. Relasi guru dengan siswa. Faktor sekolah. kegiatan sosial dan bentuk kehidupan masyarakat. perhatian. Mass media. meliputi : intelegensi. bakat.meliputi : mass media. meliputi : cara orang tua mendidik. Faktor masyarakat. Minat. Kesiapan b. teman bergaul. Hubungan antar anggota keluarga. Dokumentasi c.1. Kurikulum . Lingkungan tetangga. adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar yang meliputi : a. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas Hasil Analisis Faktor N O INDIKATOR MUATA N FAKTOR PENAMAAN FAKTOR Keluarga 32. Latar belakang kebudayaan. Keadaan ekonomi keluarga.88 Jasmaniah dan Pendukung belajar Komunikasi dan 6. meliputi : kesehatan dan cacat tubuh. 2. a. pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan.78 Orang tua mendampingi belajar Keharmonisan keluarga I Penghasilan orang tua Pemberian motivasi Durasi pelajaran TIK Pemahaman pelajaran TIK Kondisi jasmani I Minat TIK I Pemberian tugas oleh guru lingkungan tempat tinggal I Fisik yang kurang sempurna 8. meliputi : a. keadaan gedung dan tugas rumah. alat pelajaran. waktu sekolah. Faktor keluarga. kurikulum. Metode mengajar. Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar. adalah faktor-faktor yang ada di luar individu.81 68 . baik yang berasal dari dalam siswa (intern) maupun yang berasal dari luar diri siswa (eksternal). Cacat Tubuh. penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut : a. Variabel Penelitian Variabel-variabel yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa dalam mata pelajaran TIK. Faktor psikologis. suasana rumah. b. meliputi : metode mengajar. Waktu sekolah. Relasi siswa dengan siswa. Aktivitas dalam masyarakat Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini. motif. dapat dikelompokkan menjadi tiga faktor yaitu : faktor keluarga. Kuesioner (angket) b. Alat pelajaran. Keadaan gedung. Teman bergaul. keadaan ekonomi keluarga. relasi guru dengan siswa. relasi antara anggota keluarga. c. Faktor lingkungan sekolah. Perhatian. Motivasi. Bakat. Faktor jasmaniyah. Tugas rumah. relasi siswa dengan siswa. faktor sekolah dan faktor masyarakat. minat. Intelegensi. kematangan dan kesiapan. Suasana rumah. Faktor ekstern. b. Perhatian orang tua. Kematangan.

16 2. faktor III diberi nama Komunikasi dan Relasi. Metode mengajar. Cara orang tua mendidik. faktor VI diberi nama kesehatan. yaitu faktor I yang diberi nama Keluarga. Mass media. Relasi siswa dengan siswa. Pengertian orang tua.91 2. Cacat tubuh. faktor IV diberi nama Kemampuan dan Minat. Ternyata terbagi dalam 11 (sebelas) kelompok faktor. Minat. Alat pelajaran. Kematangan. menunjukkan bahwa dari 48 (empat puluh delapan) indikator yang diindikasikan dapat mempengaruhi kesulitan belajar mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Ungaran yang terdiri dari faKtor Kesehatan. dan faktor V diberi nama Pergaulan. faktor VII diberi nama Media pengajaran.82 Kebutuhan Intelegensi Gedung dan Peralatan Sekolah Lingkungan Belajar Berdasarkan hasil analisis faktor menggunakan program bantu SPSS seperti yang telah di uraikan di atas. 69 . Faktor IX diberi nama Intelegensi. faktor VIII diberi nama Kebutuhan. Latar belakang kebudayaan. Relasi guru dengan siswa. dan faktor XI diberi nama Lingkungan Belajar. Kurikulum. Hubungan antar anggota keluarga. Keadaan gedung. Waktu sekolah.22 Kesehatan 3. Intelegensi. Faktor X diberi nama Gedung dan Peralatan Sekolah. Perhatian.79 Pergaulan 4. Aktivitas dalam masyarakat. Tugas rumah. Motivasi. Teman bergaul.Komposisi pelajaran TIK Komunikasi guru pada siswa Hubungan siswa dengan siswa Kondisi ruangan Tidak Membolos saat pelajaran Tulisan rapi Aktif bertanya saat pelajaran I Tidak terlambat saat V pelajaran Metode mengajar guru Materi sesuai dengan waktunya Menyiapkan keperluan sekolah V Teman bergaul Guru memperhatikan siswanya Mengkonsumsi makanan V bergizi I Perhatian orang tua Bakat V Guru memberikan II kesempatan Media pengajaran V Kebutuhan belajar siswa III Peralatan praktek baik I Kemampuan intelegensi X Mengikuti kegiatan kursus Peralatan praktek lengkap X Gedung dalam kondisi baik X Suasana rumah I Minat siswa pada TIK Sumber : Data primer yang diolah II Relasi 6.44 Kemampuan dan Minat 4. Suasana rumah. Bakat.95 Media pengajaran 3.87 3. Keadaan ekonomi keluarga. faktor II diberi nama Jasmaniah dan Pendukung belajar. Kesiapan. Lingkungan tetangga.

Kebutuhan (3.22 7 67. Kemampuan dan minat (6.90 Media pengajaran 3.87 9 74. Media pengajaran (3.91 0 1 80.95 8 71.72 Pergaulan 4.86 Gedung dan Peralatan Sekolah 2.81%). Gedung dan Peralatan Sekolah (2. pemberian motivasi. penghasilan orang tua. durasi pelajaran TIK 70 .91%).68 Lingkungan Belajar 2.92 Kemampuan dan Minat 6.Untuk mengetahui besarnya faktor kesulitan belajar siswa yang paling dominan dapat dilihat melalui analisis deskriptif menggunakan eigenvalue dari persentase varian yang tampak pada tabel 4.5 Tabel Hasil faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa N Nama Faktor Persentase Persentas o dari Varian e Kumulatif 1 32.78%).44%).95%). Intelegensi (3.94 Intelegensi 3.78 Keluarga 32. Hasil perhitungan analisis faktor menunjukkan bahwa dari faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi diperoleh faktor yang dominan yaitu Keluarga yakni dengan persentase sebesar 32.88%) . Pergaulan (4.87%).78 2 41. Lingkungan Belajar (2.44 5 59. yaitu : Keluarga (32.82 1 Sumber : Data primer yang diolah Simpulan Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dapat diambil simpulan sebagai berikut: 1.66 Jasmaniah dan Pendukung belajar 8.88 3 48.81 4 54. 2.16 1 77.77 Kebutuhan 3. keharmonisan keluarga.95 Kesehatan 4.79 6 63. Dari hasil analisis faktor terdapat 11 (sebelas) faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran Teknologi informasi dan komuni di SMP N 1 Ungaran.16 %). Jasmaniah dan Pendukung belajar (8.79%).Komunikasi dan Relasi (6.78 % yang terdiri dari orang tua mendampingi belajar. Kesehatan (4.48 Komunikasi dan Relasi 6.82%).22%) .

1. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Pemasaran di SMK Negeri 9 Semarang. gagasan.32. Sedang hasil analisis uji-t diperoleh hasil. Respon siswa saat meggunakan media audio visual program macromedia sangat positif. juga sentuhan. terdapat perbedaan nilai rata rata pre-test dan nilai rata-rata post-test. and text. dan saat menggunakan media menjadi 90%. 1969:2). 2004:2. Hasil belajar mengetik sebelum menggunakan media audio visual program macromedia flash rata-rata 66. teknologi dipercaya mampu memberikan mekanisme penyampaian paling baik untuk mencapai sasaran peningkatan dan pengembangan mutu pendidikan. Kata Kunci : Pembelajaran. taste. dan rasa. Ho ditolak ini berarti . Teknik sampling yang digunakan adalah teknik sampling sensus. 1998:2). berjumlah 80 siswa. Manusia menerima data melalui banyak saluran. Daniels. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi. and motion graphics ( visual) ( Tannenbaum. Teknologi pengajaran merupakan bagian dari teknologi pendidikan. in greater retention and improved learning ( Ellis. dan Mengetik. Human receive data through multiple channels. namun sebenarnya pengaruh terhadap hasil pembelajaran masih belum jelas. there will be eddition reinforcement. Walaupun perkembangan teknologi yang menunjang pendidikan begitu cepat.e. Dalam penelitian ini menggunakan dua analisis. Variabel bebasnya adalah pembelajaran sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash. observasi. 1994:2). Pendahuluan Peningkatan dan pengembangan mutu pendidikan merupakan masalah yang selalu menuntut perhatian. Hasil penelitian analisis deskriptif persentase menunjukkan bahwa persentase kinerja guru menggunakan media audio visual program macromedia flash. Besarnya peningkatan persentasi dari pre-test ke post-test adalah sebesar 16. This interactive component must allow the learner to interact with the material in such a way as to control the outcome of the presentation. termasuk saluran audio dan visual ( Paivio. yaitu analisis deskriptif persentase dan menggunakan uji-t. Teknologi pengajaran merupakan satu himpunan dari proses terintegrasi yang melibatkan manusia.73. Aktivitas siswa saat menggunakan media audio visual program macromedia flash. tes. Persentase skor sebelum menggunakan media audio visual program macromedia flash adalah sebesar 72% dan saat menggunakan media sebesar 86%. still graphics.16%. Bagui. Multimedia is most commonly defined as the use of at least two of these elements: sound ( audio). Multimedia pada umumnya didefinisikan sebagai 71 . The importance of multiple channels for delivery of educational content can be found in the theory of multi-channel communication which confirms that when information is presented by more than one channel. 1969:2) as well as touch. dan organisasi serta pengolahan cara-cara pemecahan masalah-masalah pendidikan yang terdapat di dalam situasi-situasi belajar yang bertujuan dan disengaja. Dengan perkembangan zaman sekarang yang semakin canggih.KOMPARATIF PEMBELAJARAN MENGETIK SEBELUM DAN SESUDAH MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL PROGRAM MACROMEDIA FLASH PADA SISWA KELAS X PEMASARAN DI SMK NEGERI 9 SEMARANG Abstrak Sri Sukariyah Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar mengetik sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash pada kelas X Pemasaran di SMK Negeri 9 Semarang. Hal itu di dasarkan atas konsep bahwa pengajaran adalah bagian dari pendidikan. thereby necessitating that it be under the control of a computer. resulting. persentase sebelum menggunakan media sebesar 70%. peralatan. dan angket. 1998:2. Tannenbaum ( 1998:2) posits that multimedia must include an interactive component. Media Audio Visual Program Macromedia Flash. yaitu media. media. i. dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima. prosedur. yaitu nilai t hitung = -23. sedangkan variabel terikatnya adalah hasil belajar mengetik sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash.05 dan sesudah menggunakan media meningkat menjadi 76. including audio and visual channels ( Paivio.

Tabel 1. tanggapan siswa sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash pada siswa kelas X Pemasaran di SMK Negeri 9 Semarang.penggunaan setidaknya dua dari elemen-elemen diatas: suara ( audio). Walaupun sekolah tersebut sudah tersedia LCD ( Liquid Crystal Display) dan komputer. Secara umum orang akan ingat 85% dari apa yang mereka lihat dari suatu tayangan setelah 3 jam kemudian. yaitu pada kegiatan belajar mengajar pelajaran mengetik kelas X Pemasaran di SMK Negeri 9 Semarang.50 40 11 9 Pemasaran2 % % 42. Adapun tabel nilai siswa pada tahun 2009 pada ulangan pertama dan ulangan kedua seperti berikut : Tabel 1. tetapi guru tidak memanfaatkan fasilitas tersebut untuk proses pembelajaran. 1998:2. dan guru menjelaskan hanya dengan metode konvensional dengan menggunakan buku teks wajib. dan grafis bergerak ( visual) ( Tannenbaum. 1998:2). sehingga komponen ini perlu dikendalikan oleh komputer. akan terjadi penguatan tambahan. 1 Rumusan Masalah Apakah ada perbedaan hasil belajar mengetik. Berdasarkan observasi awal dapat diketahui adanya kesenjangan kesenjangan antara teori dan kenyataan. Hal ini bisa dilihat dari hasil belajar siswa baik dari ulangan pertama dan ulangan kedua. kinerja guru. Pentingnya banyak saluran bagi penyampaian muatan pendidikan dapat ditemukan didalam teori komunikasi multi-saluran yang memberikan konfirmasi bahwa jika informasi disampaikan dengan lebih dari satu saluran. dari hasil data nilai diatas belum mendapatkan hasil yang memuaskan. grafis diam. selama ini kurang memanfaatkan penggunaan media.50 40 7 8 20% Pemasaran 1 % X 27. ada beberapa siswa yang nilainya masih di bawah KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal) sebesar 71. 2005:2). Padahal menurut Sudjana ( 2009:2) “ media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya”. 2004:2. Berdasarkan observasi awal bahwa pemahaman konsep yang dicapai siswa di SMK Negeri 9 Semarang pada program keahlian pemasaran. sedangkan pada ulangan II. Pembelajaran tersebut belum dikatakan optimal karena pembelajaran yang masih berpusat pada guru. yang mengakibatkan lebih lamanya informasi diingat dan perbaikan pembelajaran ( Ellis. 1. untuk pembelajaran mengetik dikatakan belum optimal. Multimedia dapat menyampaikan pesan dalam bentuk audio dan visual. 17 siswa ( 42. Menurut Tannenbaum ( 1998:2) mengusulkan bahwa multimedia harus melibatkan suatu komponen interaktif. 72 . aktivitas siswa.50 22. dan teks. Komponen interaktif ini harus memungkinkan pelajar untuk berinteraksi dengan materi untuk itu siswa dapat mengendalikan hasil dari presentasi.50 Jumlah 80 18 45% 17 % Sumber: data nilai ulangan harian siswa kelas X Pemasaran SMK Negeri 9 Semarang yang sudah diolah. 18 siswa ( 45%).50%). Pengemasan materi pembelajaran dalam bentuk tayangan-tayangan audio visual mampu merebut 90% saluran masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga. Media audio visual mampu membuat orang pada umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka melihat dan mendengar walaupun hanya sekali ditayangkan. 1 Data nilai ulangan I dan II siswa kelas X Pamasaran 2009 : Jumlah Jumlah siswa siswa Jumlah bernilai di Prosent bernilai di Prosent Kelas siswa bawah ase bawah ase KKM KKM (ulangan I) (ulangan II) XP X 17. Daniels. Bagui.1 menjelaskan hasil observasi data nilai siswa yang masih mendapatkan nilai dibawah KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal) menunjukkan ulangan I. dan 65% setelah 3 hari kemudian ( Dudung/ upload. 1994:2).

Pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat 73 . Kemahiran intelektual ( kognitif). Keterampilan memiliki tiga karasteristik. “ Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar” ( Anni. dan mengorganisasi rangkaian respons menjadi pola-pola respons yang kompleks. c. 2007:138) : a. tahap fiksasi. b. mengatur kegiatan intelektual. khususnya pada aspek pembelajaran mengetik dengan menggunakan media audio visual program macromedia flash. “ pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan. 3 Pengertian Hasil Belajar Proses pembelajaran akan memberikan suatu perubahan pada siswa yang bisa dilihat dari hasil belajarnya. 1 Pengertian Belajar Belajar bukan hanya mengingat. Tahap-tahap Belajar Keterampilan ( Hamalik. Bagi guru sebagai media pembelajaran baru untuk mempermudah guru dalam proses belajar mengajar. “ belajar adalah kegiatan individu memperoleh pengetahuan. 2006:5). 2. 2 Tujuan Penelitian Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar mengetik. pola-pola tingkah laku yang betul dilatih sampai tidak terjadi lagi kekeliruan. d. tahap kognitif.1. keterampilan motorik. 2. sikap. 2007:138). tanggapan siswa sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash pada siswa kelas X Pemasaran di SMK Negeri 9 Semarang. siswa berusaha mengintelektualkan keterampilan yang akan dilakukan. 3 Manfaat Penelitian Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan. keterampilan. aktivitas siswa. menarik dalam mengikuti pembelajaran mengetik. tahap otonom terdapat peningkatan kecepatan melakukan keterampilan-keterampilan yang berdaya guna untuk memperbaiki kecermatan di mana tidak terjadi lagi kekeliruan. Bagi peneliti dapat memperoleh pengalaman langsung dalam pembelajaran menggunakan media audio visual program macromedia flash. Bukti Empiris 2. yakni menunjukkan rangkaian respons motorik. 2006:295). e. 2. dan dapat memberikan hasil belajar yang baik. 2009:55) mengemukakan ada lima tipe hasil belajar yakni : a. melibatkan koordinasi gerakan tangan dan mata. kinerja guru. perilaku dan keterampilan dengan cara mengolah bahan belajar” (Mudjiono. 4 Pengertian Media Pembelajaran “ Kata media berasal dari bahasa latin Medius yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. dan sikap” ( Mudjiono. b. sehingga akan ada nuansa baru dalam pembelajaran. Manfaat Praktis Bagi siswa terciptanya suasana pembelajaran yang menyenangkan. c. Terdapat beberapa pendapat mengenai hasil belajar. “ Keterampilan motorik adalah serangkaian gerakan otot untuk menyelesaikan tugas dengan berhasil” ( Hamalik. 2006:157). 1. informasi verbal. 2. 2 Pengertian Pembelajaran Situasi belajar diperoleh dari proses pembelajaran. Pendapat Gagne ( dalam Sudjana.

3) video. 2. Pilihan Media Teknologi Mutakhir : a. 3) slides. 2) pita kaset. Media berbasis mikroprosesor : 74 . Permainan : 1) Teka-teki. Pengelompokan berbagai jenis media apabila dilihat dari segi perkembangan teknologi menurut Seels dan Glasgow ( dalam Arsyad. 2002:26-27). Audio : 1) Rekaman piringan. 2002:33-34) dibagi ke dalam dua kategori luas yaitu : 1. diagram. media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar. 4) pameran. e. photografis. 4) filmstrips. papan info. antara lain : a. Cetak : 1) Buku teks. ruang. boneka). Visual diam yang diproyeksikan 1) Proyeksi opaque ( tak-tembus pandang). dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai kemampuan dan minatnya. media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera. maka media itu disebut media pembelajaran ( Arsyad. Pilihan Media Tradisional : a. 2) proyeksi overhead. c. 2002:3-4). dan waktu. h. grafik. Apabila media itu membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran. teks terprogram. media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwaperistiwa dilingkungan mereka. cartridge. serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung. Visual dinamis yang diproyeksikan : 1) Film. 3) workbook. 2) specimen ( contoh). Realia : 1) Model. b. 2) simulasi. f. papan-bulu. b. interaksi yang langsung antara siswa dan lingkungannya. Visual yang tak diproyeksikan : 1) Gambar. reel. g. Sedangkan manfaat media ( Arsyad. berkala. 5) lembaran lepas ( hand-out). c. b. poster. d. 2) multi-image. Media berbasis telekomunikasi : 1) Telekonferen. atau elektronis untuk menangkap kembali informasi visual atau verbal”. 2) televisi. 3) chart. 2) modul. Penyajian multimedia : 1) Slide plus suara ( tape). media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar. 4) majalah ilmiah. 3) manipulatif ( peta.grafis. 3) permainan papan. 2) kuliah jarak jauh. 2) foto.

data yang terkait untuk mengajar mengetik ( silabus. 2. Variabel terikat ( Y) : Hasil belajar mengetik sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash. Pengertian Media Audio Visual “ Media audio visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar”. 1 Variabel Penelitian Variabel bebas ( X) : Pembelajaran mengetik sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash. interaktif. 5 Computer-assisted instruction. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik ( Djamarah. Cara ini sebenarnya kurang baik dan tidak efisien jika dibandingkan dengan mengetik yang menggunakan sistem 10 ( sepuluh) jari buta. saat proses belajar. 6 Program Macromedia Flash “ Flash Professional 8 adalah program animasi berbasis vektor yang sangat populer dan paling banyak digunakan saat ini untuk membuat animasi dan aplikasi web profesional yang dinamis dan interaktif” ( Chandra. 3. Metedologi Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Pemasaran di SMK Negeri 9 Semarang yang berjumlah 80 siswa. hypermedia. baik sebelum maupun sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash. compact ( video) disc. 3. 2. permainan komputer. 3. 2) Metode tes Metode ini digunakan untuk mendapatkan data tentang hasil belajar. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik sampling sensus. 3) Metode observasi Untuk mengamati seberapa besar kinerja guru dan aktivitas siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugiyono ( 2008:85) teknik ini digunakan jika semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hipotesis Hipotesis yang dikemukakan oleh peneliti adalah ada perbedaan sebelum dan sesudah menggunakan audio visual program macromedia flash dalam pembelajaran mengetik pada siswa kelas X Pemasaran di SMK Negeri 9 Semarang. 7 Pengertian Mengetik “ Mengetik adalah pekerjaan yang hampir terdapat pada semua bilang. serta untuk memperoleh data nilai mengetik tahun sebelumnya. 2006:124). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). 2 Metode Pengumpulan Data 1) Metode dokumentasi Metode ini dilakukan untuk memperoleh data nama peserta didik yang termasuk dalam populasi dan sampel penelitian. baik itu organisasi pemerintah ataupun itu organisasi kepartaian maupun organisasi yang lain” ( Sularso. 75 . 2006:2). Cara mengetik sederhana yang banyak kita kenal adalah cara mengetik dengan menggunakan dua jari. 4) Metode Angket atau Kuesioner (Questionnaires) Angket digunakan untuk memperoleh informasi dari penerapan media pembelajaran audio visual program macromedia flash dalam mengetik.1) 2) 3) 4) 5) 6) 2. sistem tutor intelijen. yaitu dengan menggunakan kedua jari telunjuk. 1984:1).

Correlations Soal1 Soal1 Pearson Correlation Sig. 2008:58). 4) Tahap refleksi. 5 Teknik Analisis Data 1.859 ** Soal2 1 . 3) Tahap observasi. Analisis t-test Rumus untuk menghitung simpangan baku adalah : ( Sugiyono.000 N 40 **. Karena taraf signifikasi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu sebesar 0.859 dengan taraf signifikansi sebesar 0. s22 = Varians sampel 2. Sedangkan rumus untuk menghitung t-test adalah : Keterangan : = Rata-rata nilai sampel 1.\ 76 .3. 3 Jenis dan Prosedur Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. s2 = Simpangan baku sampel 2. s1 = Simpangan baku sampel 1.000 < 0. 3. 3. 4 Teknik Analisis Perangkat Tes Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Correlation is significant at the 0. Reliabilitas teknik yang digunakan dalam pengujian reliabilitas dalam penelitian ini adalah tes ulang ( test-retest).000 40 1 40 .05. s12 = Varians sampel 1. Hasil analisis reliabilitas menggunakan SPSS 16 for windows sebesar 0. 2) Tahap tindakan. = Rata-rata nilai sampel 2. yang mempunyai 2 siklus dengan tahapan-tahapan : 1) Tahap perencanaan.859** .01 level (2-tailed).05 maka soal evaluasi tersebut reliabel.000 dan batas kesalahan sebesar 0. r = Korelasi antara dua sampel ( Sugiyono. (2-tailed) N Soal2 Pearson Correlation Sig. 2008:122). (2-tailed) 40 .

769 dengan signifikansi kurang dari 0. Ada perbedaan sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash dalam pembelajaran mengetik pada siswa kelas X Pemasaran SMK Negeri 9 Semarang. Analisis Deskriptif Prosentase Penelitian ini akan menggunanakan tabel statistik yang menunjukkan angka kisaran teoritis dan sesungguhnya.2. Error Mean .05 yaitu 0.73 80 4.73 dengan deviasi 4. 2010. hal ini berarti ada hubungan yang erat antar sampel atau korelasi signifikan secara statistik. tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95% atau dengan menggunakan alpha 5%.51366 s2 75 Sumber: Data primer diolah. Dari rata-rata tersebut dapat dilihat ada peningkatan hasil belajar mengetik dari siklus I ke siklus II. karena merupakan penelitian sebelum dan sesudah yang berarti subjeknya sama yaitu siswa kelas X Pemasaran SMK Negeri 9 Semarang.05 00 N 80 Std. 3 Paired Samples Test. 77 . dapat diketahui bahwa rata-rata dari siklus I adalah 66.769 . 2010. Ha : 3 0. sedangkan rata-rata dari siklus II adalah 76. Tabel 4. Tabel paired samples correlations di atas diperoleh hasil korelasi = 0. 2 Paired Samples Correlations. = Jumlah seluruh nilai. Hasil Empiris 1.59428 .39. 2009:59). rata-rata standart deviasi dengan rumus : DP = 100% Keterangan: DP n N x ( Ali dalam Lely.71465 Siklu 76. Tabel 4. Hasil tabel paired sample statistics di atas. Paired Samples Statistics Mean Pai r1 Siklu s1 66. Hipotesis : Ho : 3 = 0 Tidak ada perbedaan hasil sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash dalam pembelajaran mengetik pada siswa kelas X Pemasaran SMK Negeri 9 Semarang.000. 4. = Depkriptif Persentase. Deviation 6. Pai Siklus1 & Siklus2 80 . Tabel 4.39204 Std.59. 1 Paired Sample Statistics.000 r1 Sumber: Data primer diolah.05 dengan deviasi standar 6. Analisis uji –t Analisis t-test dalam penelitian ini menggunakan SPSS 16 for windows dengan analisis paired. Paired Samples Correlations N Correlation Sig. Kriteria pengambilan keputusan. = Nilai yang diperoleh.

Media Pembelajaran. Daftar Pustaka Anni. A. Multimedia use inhigher education: promises and pitfalls. Chandra . Teori Belajar dan Pembelajaran. Respon siswa saat meggunakan media audio visual program macromedia sangat positif. 2006.00. 2006. terdapat peningkatan kinerja guru. Jakarta: Rineka Cipta. 78 . Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan kerja siswa kelas XII program keahlian akuntansi di SMK negeri 3 Jepara Tahun Ajaran 2008/2009.. Dahlia. Arsyad. Strategi Belajar Mengajar. Universitas Negeri Semarang. 2006. sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual program macromedia flash. Error Deviation Mean P Sik air lus1 4.77537 23. (13 Maret 2010). . Arikunto. 7 Jam Belajar Interaktif Flash Profesional 8 Untuk Orang Awam. 2002. Deskrptif prosentase Hasil penelitian analisis deskriptif persentase menunjukkan bahwa persentase kinerja guru menggunakan media audio visual program macromedia flash. Semarang : Unnes Press. Djamarah. Jakarta: Rineka Cipta. tanggapan siswa yang positif.2006. 2010.06. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.aabri.0987 .322 9 000 2 Sumber: Data primer diolah. Nilai rata–rata siklus II lebih tinggi dibanding nilai rata-rata siklus I. 5. Tri. Persentase skor sebelum menggunakan media audio visual program macromedia flash adalah sebesar 72% dan saat menggunakan media sebesar 86%. Aktivitas siswa saat menggunakan media audio visual program macromedia flash.Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t S ig. Palembang: Maxikom. Azhar. (2d taile f d) Mean Std Std. persentase sebelum menggunakan media sebesar 70%. terdapat peningkatan aktivitas siswa. Catharina. dan saat menggunakan media menjadi 90%. 6. 1 Siklus 1. Skripsi. Psikologi Belajar. Hasil dari tabel paired samples test diperoleh siklus I dan siklus II adalah -1. Gregory. Kesimpulan Ada perbedaan hasil belajar mengetik.45 7 . Suharsimi. 2008. dengan deviasi standar 4. www. maka dapat dilihat persentase kenaikan nilai rata-rata siklus I ke siklus II adalah 2. Hasil thitung menghasilkan nilai sebesar -23. Krippel.com/manuscripts/09329pdf. Lely. Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2009. Baharuddin dan Wahyuni .32 dan signifikansi sebesar 0.06875E1 6 826 11.000 maka Ha diterima ada perbedaan rata-rata pada nilai mengetik sebelum dan sesudah menggunakan media. karena signifikasi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0. James McKee.59963 9. and Janette Moody. Prosedur Penelitian.09.

2009.blogspot. Pustaka Setia. Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Bumi Aksara. Bandung: Sinar Baru Algensindo. 2005 . Marimin. Sudjana. Analisis Statistik dengan Microsoft. ( 10 Mei 2010). Sugiyono . 2008.Mudjiono dan Dimyati. dan Muhsin. A. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Samsudin. 79 . Pengetahuan Mengetik SMK. Sudjana. dan Ashari. Sukardi. Psikologi Belajar. Setiawan. 2004. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Narbuko dan Achmadi. Syah. Ating dan Muhidin Sambas Ali. Nana dan Rivai. Budi Purbayu. Sularso.com/2008/02/e-learning-merupakan-inovasi-pendidikan. Excel dan SPSS. Statistika Untuk Penelitian. Santosa. E-learning Merupakan Inovasi Pendidikan Dalam Proses Pembelajaran Fisika. Bandung: CV. Bandung: Armico. 2009. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Rineka Cipta. 1984. Iwan. 1994. 2007.2008. Evaluasi Pendidikan.html. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Yogyakarta: ANDI. Statistika Dalam Penelitian.Yogyakarta: Liberty. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Muhibbin. Teknologi Pengajaran. 2006. Mengetik Dengan Sistem 10 ( Sepuluh) Jari . Somantri. 2006. Nana. Slameto. 2003. http://pendidikansains. Metodologi Penelitian. 2007. Jakarta: Bumi Aksara.

Namun tulisan stenografi sekarang masih relevan. Kemajuan teknologi saat ini.Komparasi Pembelajaran Stenografi Dasar Sebelum dan Sesudah Menggunakan Media Audiovisual ‘Filmstrip’ Pada Siswa Kelas XI AP di SMK Widya Praja Ungaran Abstrak Wardah Rizqi Tourviana Makalah ini berisi tantang salah satu cara untuk meningkatkan perhatian belajar siswa adalah dengan pemberian stimulus dengan penggunaan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran stenografi dasar. wacana atau reportase. semua siswa memberikan tanggapan yang sangat positif. Dari angket. Stenografi merupakan kompetensi wajib bagi siswa SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) jurusan AP (Administrasi Perkantoran). Kata Kunci : Pembelajaran. Ini bisa dilihat dari hasil belajar siswa banyak yang nilainya masih di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) sebesar 7. Dictaphone. Media Audiovisual „Filmstrip‟. rapat-rapat penting. Tanggapan siswa saat menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ adalah sangat positif. dan untuk mengetahui tanggapan siswa saat menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. dan angket. Apalagi bagi siswa SMK jurusan AP. dan Stenografi. untuk penulisan suatu risalah atau pidato. Aktivitas siswa pada siklus II juga lebih baik. Hasilnya pembelajaran stenografi sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ lebih baik daripada sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. Kinerja guru dan aktivitas siswa sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ lebih baik daripada ssebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. untuk mengetahui bagaimana kinerja guru dan aktivitas siswa sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. Aktivitas belajar manusia akan berlangsung terus menerus sepanjang waktu.19%. Besarnya peningkatan persentase dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 23. Bisa dilihat dari tabel nilai seperti berikut: 80 . observasi. apabila tidak diimbangi dengan pendidikan yang memadai. Dari analisis deskriptif persentase menunjukkan bahwa persentase kinerja guru pada siklus II lebih baik dengan persentase 88% dibandingkan siklus I sebesar 78%. siswa dituntut untuk terampil menulis cepat secepat pembicaraan. tacothype dan sejenisnya. Stimulus yang digunakan bisa berupa media pembelajaran. dan pada siklus II menjadi 86%. yaitu analisis deskriptif persentase dan menggunakan uji-t. Sebagai suatu proses. setiap kali manusia berinteraksi dengan lingkungan (stimulus). karena persentase siklus I adalah sebesar 70%. Menurut Skinner dalam Catharina (2006:20-21) menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan perilaku. Penting bagi pengajar sebagai fasilitator untuk memilih dan menyajikan bahan-bahan dengan menggunakan stimulus yang dapat menarik minat belajar siswa. tes. dan lain-lain dapat menggunakan alatalat seperti tape recorder. Pendahuluan Pendidikan yang semakin berkembang dengan adanya kemajuan teknologi dan era globalisasi sekarang ini. Kesimpulannya adalah bahwa terdapat perbedaan hasil belajar stenografi antara sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟.00. Berdasarkan observasi awal bahwa pemahaman konsep yang dicapai siswa di SMK Widya Praja Ungaran. maka akan membuat siswa kalah bersaing di dunia nyata. Persaingan yang semakin ketat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar stenografi dasar sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. dan hasil belajar itu berupa perilaku yang lebih sempurna dibandingkan dengan perilaku sebelum melakukan kegiatan belajar. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan teknik pengambilan data adalah dokumentasi. tachograph. Hasil penelitiannya adalah terdapat perbedaan nilai rata-rata dari siklus I dan nilai rata-rata siklus II. dalam kegiatan belajar dibutuhkan waktu sampai mencapai hasil belajar. pada kompetensi Mencatat Dikte Untuk Mempersiapkan Naskah (Stenografi) dikatakan belum optimal. dituntut untuk bisa lebih melatih keterampilan siswa. dan manusia akan mereaksinya (memberi respon). Dalam penelitian ini menggunakan dua analisis.

1 Data Nilai Siswa Ju Jumlah siswa di Jumlah siswa di Kel mlah bawah KKM (tugas % bawah KKM (ulangan % as siswa I) I) XI 41. 72 27 23 mlah 50% 94% (Sumber : Data nilai siswa kelas XI AP SMK Widya Praja 2009. Bagaimana tanggapan siswa kelas XI Administrasi Perkantoran di SMK Widya Praja Ungaran terhadap penggunaan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran stenografi dasar? Tujuan 1. dan dapat didengar suaranya. 2. Informasi akan mudah dimengerti karena sebanyak mungkin indera. Bagaimana aktivitas siswa sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran stenografi dasar pada siswa kelas XI Administrasi Perkantoran di SMK Widya Praja Ungaran? 4. terutama telinga dan mata. dilihat gerakannya (video atau animasi). dapat dilihat di layar monitor atau ketika diproyeksikan ke layar lebar melalui overhead projector. Landasan Teori Pembelajaran Pengertian pembelajaran menurut teori neobehavioristik yaitu upaya membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan supaya terjadi hubungan lingkungan dengan tingkah laku pembelajar (Sugandi. 3. digunakan untuk menyerap informasi itu 81 . Bagaimana kinerja guru sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran stenografi dasar pada siswa kelas XI Administrasi Perkantoran di SMK Widya Praja Ungaran? 3. Untuk mengetahui aktivitas siswa sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran stenografi dasar pada siswa kelas XI Administrasi Perkantoran di SMK Widya Praja Ungaran. Apakah ada perbedaan hasil belajar Stenografi dasar sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ pada siswa kelas XI Administrasi Perkantoran di SMK Widya Praja Ungaran? 2. 31. 38 13 11 AP 2 21% 95% Ju 37. 2006:9). 35. 34 14 12 AP 1 18% 29% XI 34. Rumusan Masalah 1.Tabel 1. yang diolah) Media audiovisual yang digunakan adalah CD interaktif. 28. Untuk mengetahui kinerja guru sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran stenografi dasar pada siswa kelas XI Administrasi Perkantoran di SMK Widya Praja Ungaran. Juga diiringi dengan iringan musik yang dapat memberi stimulus siswa. Media Audiovisual „Filmstrip‟ Informasi yang disajikan melalui multimedia ini berbentuk dokumen yang hidup. Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar Stenografi dasar sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ pada siswa kelas XI Administrasi Perkantoran di SMK Widya Praja Ungaran. 4. Untuk mengetahui tanggapan siswa kelas XI Administrasi Perkantoran di SMK Widya Praja Ungaran terhadap penggunaan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran stenografi dasar. Pesan atau isi pelajaran disimpan dalam bentuk filmstrip untuk mengajar huruf-huruf dasar pada penulisan huruf stenografi dengan sistem karundeng disertai dengan gambar-gambar yang disesuaikan dengan abjad serta contoh penulisan gabungan dari beberapa huruf. Dengan gambar-gambar tersebut siswa diharapkan dapat mengerti huruf-huruf stenografi.

Analisis t-test dalam penelitian ini menggunakan SPSS 16 for windows dengan analisis paired. apakah ada perbedaan hasil belajar stenografi sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. observasi. maka penelitian ini disebut penelitian populasi (Arikunto. Dengan kata lain berarti menulis steno adalah menulis dengan huruf-huruf singkat (pendek) (Mulyono. 82 . 1993:1). jawaban B diberi skor 4. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar stenografi sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder dengan menggunakan empat metode penelitian yaitu metode dokumentasi. Stenografi Stenografi yang berasal dari bahasa yunani mempunyai arti : stenos berarti singkat dan graphein berarti menulis. sedangkan hasil tes. jawaban C diberi skor 3. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran stenografi sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ (konvesional) dan pembelajaran stenografi pada saat menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. Metodologi Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Administrasi Perkantoran yang berjumlah 70 siswa. observasi. Film atau gambar hidup merupakan gambar-gambar dalam frame dimana frame demi frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar itu hidup (Arsyad. Untuk angket digunakan skala likert dengan modifikasi.(Arsyad. dan angket. 2009:170-172). jawaban D diberi skor 2. Hasil Analisis t-test (uji-t) Analisis t-test ini digunakan untuk membuktikan hipotesis yang telah ditentukan. Penentuan skor dari jawaban responden adalah untuk jawaban A diberi skor 5. 2009:49). Kerangka Berpikir Pembelajar an Sebelum Menggunakan Media Audiovisual Pembelajar ‘filmstrip’ an Sesudah Menggunakan Media Audiovisual ‘filmstrip’ Apakah hasil belajar siswa setelah menggunakan media Audiovisual ‘filmstrip’ lebih baik dibandingkan dengan Pembelajaran Sebelum Menggunakan Media Audiovisual ‘filmstrip’ Siswa Kelas XI AP 1 Hasil Belajar Dibandingka n Hasil Belajar Gambar Kerangka Berpikir Hipotesis Hipotesis yang dikemukakan oleh peneliti adalah ada perbedaan sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran Stenografi dasar pada siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK Widya Praja Ungaran. 2006:130). karena merupakan penelitian sebelum dan sesudah yang berarti subjeknya sama. dan jawaban E diberi skor 1. dan angket digunakan sebagai data primer berdasarkanpenelitian yang dilakukan bulan Juli 2010. Metode dokumentasi menggunakan data sekunder digunakan untuk mendapatkan data nama siswa dan data nilai Stenografi tahun 2009. tes. Jadi stenografi berarti menulis singkat (shorthand). Karena jumlah populasi kurang dari 100.

000.33 air 1 Siklus II 1. dapat diketahui bahwa mean dari siklus I adalah 71.92770 Siklus 87.600 70 II 0 Sumber (Data primer diolah. d(2tailed) 6 0 . Error Lowe Deviation Mean r Upper Mean t f 9 Sig. Ha : 3 0. Ada perbedaan sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran Stenografi dasar pada siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK Widya Praja Ungaran. sedangkan mean atau rata-rata dari siklus II adalah 87. Siklus I & 70 .76167 Std.307 Sumber (Data primer diolah. Tabel Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Std.81330 12. 2010) Tabel Paired Samples Correlations N Pair 1 on Correlati Sig. Karena signifikasi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0.615 dengan signifikansi kurang dari 5% atau 0.15813 13.1143.05 (batas kesalahan) dan signifikasi 0. Sedangkan tabel paired samples correlations di atas diperoleh nilai korelasi = 0.16113 7.Tabel Paired Samples Statistics Mean Pair 1 I Siklus 3 71.114 N 70 Std.0001 dengan t hitung sebesar – 12.05 yaitu 0. Dari rata-rata tersebut dapat dilihat ada peningkatan hasil belajar stenografi dari siklus I ke siklus II. Nilai rata –rata siklus 2 lebih tinggi dibanding nilai rata rata siklus 1.69258 .00 P Siklus I – 11. Mean Error 1.615 .000 Siklus II Sumber (Data primer diolah.64857E1 84 959 19. Deviation 14.207 1. Dengan tingkat kepercayaan = 95% atau ( ) = 0. 2010) Tabel paired sample statistics di atas. 2010) Hipotesis : Ho : 3 = 0 Tidak ada perbedaan hasil sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran Stenografi dasar pada siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK Widya Praja Ungaran. hal ini berarti nilai siklus I siswa berhubungan positif dengan nilai siklus II siswa. Std. maka dapat dilihat persentase kenaikan nilai rata-rata siklus 1 ke siklus adalah Deskriptif Persentase 83 .6000.000 maka Ha diterima ada perbedaan rata-rata pada nilai stenografi sebelum dan sesudah menggunakan media .307.

Sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ 86% .14% b. Pada pembelajaran stenografi sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. A combination of these modalities enables a media selection with less cognitive load. sebanyak 26 siswa atau 37. yang artinya masih di bawah KKM. persentase aktivitas siswa adalah sebesar 86% sehingga termasuk dalam kategori sangat tinggi. Kompeten 37. Dalam perpaduan suara dan gambar. Hal ini berarti bahwa hasil belajar siswa sesudah menggunakan media audiovisual ‟filmstrip‟ lebih baik dibandingkan hasil belajar siswa sebelum menggunakan media audiovisual ‟filmstrip‟.Sebelum Menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ 88% . Hal ini sesuai dengan pendapat Sugandi (2006:30). Hasil Belajar Stenografi . Pada pembelajaran stenografi sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. Karena media sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran berfungsi meningkatkan peranan strategi pembelajaran sebab media pembelajaran menjadi salah satu komponen pendukung strategi pembelajaran. maka suara mampu menciptakan efek strukturisasi dan menarik perhatian pengguna terhadap elemen-elemen penting dalam gambar. A balance between visual and auditory information reduces the cognitive load. Berdasarkan uraian di atas.86% a. Hasilnya dapat dilihat dari tabel berikut : Aspek yang diteliti Skor dalam persen (%) A.Sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ Dari hasil sebelum menggunakan media.Analisis deskriptif persentase terhadap skor yang diperoleh digunakan untuk mendeskripsikan hasil belajar stenografi siswa. Pada pembelajaran stenografi sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. the voice can have a structuring effect and attract the user‟s attention to important elements in the picture. 2009: 15) menyatakan bahwa pemakaian media 84 .” Mengutip dari jurnal Guttormsen (2000). dapat dilihat bahwa ada peningkatan aktivitas siswa sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran stenografi sebesar 16%.Sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ 62. Aktivitas Siswa 70% . Hal tersebut sesuai dengan jurnal Guttormsen (2000) “Visual versus auditory. Belum kompeten B. 7 In the combination voice and picture. persentase kinerja guru dalam mengelola pembelajaran adalah sebesar 78% sehingga termasuk dalam kategori baik. persentase kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran adalah sebesar 88% sehingga termasuk dalam kategori sangat baik. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hamalik (dalam Arsyad.Sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ C. Pada pembelajaran Stenografi sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. Keseimbangan antara informasi yang disampaikan dengan audiovisual akan mengurangi beban kognitif. Sebanyak 70 siswa atau 100% sudah memenuhi KKM atau berpredikat kompeten. Yang berarti setelah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ kinerja guru menjadi meningkat dari sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. Kinerja Guru 78% . kinerja guru. Sedangkan sesudah menggunakan media audiovisual ‟filmstrip‟ hasil belajar stenografi siswa meningkat. Belum kompeten .14% berpredikat belum kompeten. aktivitas siswa dalam pembelajaran stenografi sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual ‟filmstrip‟. dan angket tanggapan siswa terhadap pembelajaran stenografi dengan menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. persentase aktivitas siswa adalah sebesar 70% sehingga termasuk dalam kategori tinggi. dikatakan bahwa media kombinasi visual dan pendengaran merupakan kombinasi pemilihan media yang dapat mengurangi beban kognitif. Penyampaian yang berlebihan dengan hanya menggunakan satu model bisa menyebabkan kelebihan dan dapat mengurangi perhatian. Kompeten 0% b. Overload on one sense modality causes tiredness and reduced attention.Sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ 100% a.

M.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Catharina. Media Instruksional Edukatif. Rineka Cipta. maka siswa memberikan sikap yang sangat positif dalam penggunaan media audiovisual „filmstrip‟. Sehingga dari pembelajaran yang lebih aktif dan bervariasi. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. Gregory. Tri. Belajar dan pembelajaran. Suharsimi. Semarang : IKIP Semarang Press. 3. (Accessed 9 January 2010). Azwar. Tabel Distribusi Jawaban Frekuensi Sikap Tiap Responden Kategori sikap Kategori skor Frekuensi Persentase Sangat positif 40 – 50 70 100% Positif 30 – 40 0 0% Negatif 20 – 30 0 0% Sangat negatif 10 – 20 0 0% Sumber (Data primer diolah. 2010) Dari distribusi jawaban di atas. dapat dilihat bahwa 100% dari jumlah responden. Semarang : FKIS IKIP Semarang. Rata-rata hasil belajar siswa dalam pembelajaran stenografi sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ secara signifikan lebih baik dibandingkan rata-rata hasil belajar siswa sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. Sadiman. James McKee & Janette Moody. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesiapan Kerja Siswa Kelas XI Program Keahlian Akuntansi di SMK 3 Jepara Tahun Ajaran 2008/2009. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sudjana dkk. Mulyono. Dahlia. 1997. 2006. Kesimpulan Berdasarkan pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Terdapat Perbedaan hasil belajar stenografi antara sebelum dan sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. Stenografi Sistem Karundeng. Skripsi. Sardiman. 2.Realibilitas dan Validitas. Arsyad. Multimedia Use in Higher Education : Promises and Pitfalls. karena sebelumnya belum diajarkan di kelas X. dan Pemanfaatannya. Sebanyak 70 siswa yang semuanya dijadikan sebagai responden. Azhar. Darsono. Persentase kinerja guru sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ lebih tinggi daripada sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. Ahmad. Sularso. Hal ini dikarenakan stenografi merupakan hal yang baru diterima siswa. Hand Out. dkk. 1995. max. Terdapat peningkatan aktivitas siswa sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. karena merupakan sebuah media yang baru dalam pembelajaran stenografi sehingga siswa lebih tertarik belajar stenografi. 2009. 2007. Rohani. Tanggapan siswa terhadap penggunaan media mendapat tanggapan yang sangat positif dari siswa. Terdapat peningkatan kinerja guru sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟. 1993. www. A. yang artinya mereka menganggap penggunaan media audiovisual „filmstrip‟ dapat meningkatkan hasil belajar stenografi siswa. dan Zain.aabri. Daftar Pustaka Anni.2008. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. Pengembangan. 2006. Krippel. (2009: 2). Psikologi Belajar. 1. Jakarta : Rineka cipta. Media Pembelajaran. Jakarta : PT. 2007. Arikunto. Semarang : Unnes Press. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Arif. 2009. Lely. menganggap bahwa penggunaan media audiovisual „filmstrip‟ dalam pembelajaran stenografi dasar dapat meningkatkan hasil belajar mereka. Jakarta : RajaGrafindo Persada. Media Pendidikan Pengeertian. serta peningkatan hasil belajar stenografi dasar.com/manuscripts/09329pdf. 2000. Persentase aktivitas siswa sesudah menggunakan media audiovisual „filmstrip‟ lebih tinggi daripada sebelum menggunakan media audiovisual „filmstrip‟.pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. Jakarta : Rineka Cipta. 4.Saifuddin. 2009. karena guru lebih semangat dan lebih bias menarik perhatian siswa dengan bantuan media audiovisual „filmstrip‟. Strategi Belajar Mengajar. atau semua siswa bersikap sangat positif. Universitas Negeri Semarang. dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. 85 . Djamarah.

Teori Pembelajaran. Sugiyono. Statistika Untuk Penelitian. 86 . 2008. 2000. 2006. Bandung : Pustaka Setia. Aplikasi Statistika Dalam Penelitian. Nana dan Rivai Ahmad.195.55. Ating dan Ali Muhidin Sambas.pdf_template=1&loginState=2&userData=Gadjah%2BMada%2BUniversity%253Ag adjah%2BMada%2Buniversity%253A124. Sumantri. 2009. Using New Learning Technologies with Multimedia. Semarang : UPT Unnes Press. (Accessed 10 January 2010). Stenografi.Schar.pdf. Yeti dan Ratu Evi Zulfikar. Sissel Guttormsen & Helmut Krueger. 2006. Sudjana. Mencatat Dikte Untuk Mempersiapkan Naskah. 2004. Asep dan Sumpena Nana. Online at U3040. 2000. Sumaryati. Bandung : Alfabeta. Media Pengajaran. Bandung : Armico. Bandung : Sinar Baru Algensindo. Sumaryana. Sugandi. A. Bandung : Titian Ilmu.

mengungkapkan bahwa tantangan dan peluang di Era Globalisasi serta antisipasi yang perlu dilakukan dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang tangguh merupakan tema yang sangat relevan dengan situasi saat ini karena berbagai alasan. Hal ini terjadi karena topik sumber daya manusia dan globalisasi memang menyangkut masalah dasar yang amat penting bagi kelangsungan hidup kita sebagai bangsa kini dan dimasa mendatang. Kemajuan di bidang informasi melaju. as well as the upgrading of organizational system. ceramah. peradapan. i. 1995 dalam isfenty). Essensi dari kemampuan bersaing itu adalah bahwa setiap negara harus dapat menghasilkan produk (barang dan jasa) yang bermutu tinggi. dalam ruang khusus. Hal-hal yang dimaksud terakhir ini dapat disebut dengan kinerja organisasi (Organizational performance) dan menjadi tantangan bagi semua fihak yang terkait untuk mewujudkannya. yang dapat 87 . This has made informatics (information processing with computer) to keep developing along with time. SE. biaya rendah. particularly in dealing with challenges and in accomplishing the opportunity in this global era. one of which can be conducted through the development of HR quality in addition to academic aspects. In relation to the mastery of informatics in this globalization and industrial era. serta ketangguhan daya saing bangsa Indonesia (Djojo-negoro. the aspects of science and technology improvement and socialization. termasuk Indonesia. Perkembangan teknologi di bidang perangkat keras komputer mendukung perkembangan globalisasi informasi tersebut. kemajuan. There have been numerous efforts performed by both colleges and companies to meet the demands. improvement of formal education. MM The need of HR for mastering informatics has been increasing with the progress of information industrial and globalization era.e. simposium dan artikel koran sampai saat ini yang tak henti-hentinya mengangkat topik tersebut baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri. work training. effisien dalam proses dan cepat dalam penyerahan/pelayanan. lokakarya. and work apprenticeship courses. In this era. Salah satu diantaranya adalah karena masalah sumber daya manusia dan globalisasi adalah dua dari sekian banyak topik yang paling hangat dibicarakan akhir-akhir ini. Khususnya dibidang ekonomi dan bisnis. Keyword: Informatics technology. perlu operator. sulit dioperasikan. kita akan menghadapi era perdagangan bebas di wilayah Asia Tenggara Asean Free Trade Area (AFTA) tahun 2003 dan wilayah Asia Fasific tahun 2020 sebagai hasil kesepakatan negara-negara anggota APEC (Asia Pasific Economic Cooperation). Human Resource quality PENDAHULUAN Dalam Artikelnya isfenty (2005). informatics constitutes a relatively new discipline. Pengembangan kualitas SDM melalui pendidikan perlu dilaksanakan secara terpadu khususnya dalam rangka upaya meningkatkan kemampuan bangsa Indonesia untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan bagi peningkatan kesejahteraan. Dari komputer yang tadinya merupakan komputer milik segelintir pemakai dengan kemesteriusannya (besar. college as the center of education also plays its role in generating professional HR with reliable mastery of informatics technology.INFORMATICS-BASED HR QUALITY IMPROVEMENT IN DEALING WITH GLOBALIZATION AND INDUSTRIAL ERA CHALLENGES ABSTRACT By Sri Wartini. dll) menjadi komputer yang semakin hari semakin kecil bahkan menjadi komputer pribadi. Thus. and it develops with the progress of the said information industrial and globalization era. Informasi dengan cepat berkembang dan bermakna serta berharga disebarkan ke segala penjuru seolah "tanpa batas". Tidak terhitung sudah berapa banyak seminar. sehingga yang namanya informasi menjadi barang yang paling berharga. maka setiap negara di Asia Pasific. Era informasi membawa angin yang baru : barang yang justru tidak terwujud. Untuk itu . information is increasingly valuable and the use of computer to support other fields is growing. akan dituntut untuk mampu bersaing . mendukung adanya globalisasi.

especially one that required education and trainning. mulai jaringan lokal yang sering disebut dengan local area network atau LAN. Perkembangan teknologi perangkat lunak juga tidak kalah pesatnya. RELEVANSI SUMBER DAYA MANUSIA DENGAN INFORMATIKA Sumber Daya Manusia adalah aset yang paling penting dalam suatu perusahaan. Perangkat lunak yang tadinya hanya difokuskan untuk memenuhi kebutuhan fungsional. Karena alasan efisiensi. dan Wide Area Network atau WAN. Apa yang disebut dengan pembangunan SDM ? tidak lain adalah penguasaan IpTek itu sendiri. dengan batasan yang relatif dapat diidentifikasi. Menurut Robbins (1990) : "Organisasi adalah suatu kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar. pengolah dan pemelihara informasi karena pengguna informatika yang semakin banyak. dan kegembiraan. problem. asalkan mau memulai membuka komunikasi akan mempunyai cakrawala yang luas untuk dapat berkomunikasi dengan siapa saja di segala penjuru dunia sesuai dengan topik yang diminati bersama. yang tidak mungkin berfungsi tanpa adanya perangkat lunak jaringan komputer. Dikatakan demikian karena melalui organisasi orang-orang dapat mencapai tujuannya dengan lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan kalau orang-orang itu melakukan usaha pencapaian tujuannya secara sendiri-sendiri. Pembangunan negara dan kemajuan IpTek tidak ada gunanya jika tanpa diikuti dengan pembangunan SDM. karenanya dituntut untuk secara terus menerus mampu mengikuti dan menyesuaikan diri dengan irama perubahan yang terjadi khususnya yang menyangkut dengan perubahan teknologi informasi yang semakin pesat . harus mulai berpikir tentang pembangunan SDM Informatika yang professional . dsb. perangkat lunak banyak yang diwujudkan menjadi komponen perangkat keras. sebenarnya makin sulit dikembangkan. Penggunaan sistem komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang semakin berkembang menunjukkan bahwa kita memang berada pada era informasi dan sesuai dengan hukum "supply and demand". Perangkat lunak yang semakin mudah untuk digunakan pemakai. Informatika adalah salah satu bentuk IpTek. bahkan bisa "berbicara" (mengeluarkan suara). langkah-langkah kearah penyesuaian diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan. Internet makin mendukung perkembangan tersebut dan rasanya saat ini semua manusia. bahkan untuk saling membagi pengalaman. Tanpa SDM yang dibangun. maka manusia akan dikuasai oleh IpTek atau manusia lain. dan bukannya manusia menguasai IpTek serta menggunakannya dengan sebaikbaiknya. Perkembangan perangkat keras selanjutnya membentuk jaringan komputer berkat kemajuan teknologi komunikasi. Bahkan saat ini.diletakkan bersama barang lain dengan cara yang nyaman. Komputer yang tadinya "sendiri-sendiri" menjadi komputer yang dapat berkomunikasi dengan "teman-temannya" dalam suatu jaringan komputer. Perangkat lunak yang besar dan kompleks harus dikembangkan oleh suatu tim dengan berbagai keahlian serta metodelogi tertentu. yang menguasai IpTek. Indonesia saat ini sedang membangun dan kemajuan IpTek dari negara lain juga sedang mempengaruhi secara deras perkembangan IpTek di Indonesia. 88 . hampir semua tawaran lowongan pekerjaan di bidang apapun di beberapa tingkatan pekerjaan memasyarakatkan penguasaan akan komputer (computer literate). Batasan antara perangkat lunak dan perangkat keras menjadi semakin kabur. Profession menurut kamus Oxford adalah : paid occuption. Organisasi adalah salah satu hasil peradapan manusia yang penting bagi kehidupan umat manusia modern. Misalnya jaringan komputer. Hal ini mengakibatkan komputer semakin digunakan diberbagai bidang. Pendidikan sebagai suatu upaya membentuk sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk itu perkembangan dalam teknologi informatika di era globalisasi dan industri. yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk tujuan bersama atau sekelompok tujuan". Sedangkan professional : person qualified or employed in one of the profession. Berkembang menjadi perangkat lunak yang selain fungsional juga mudah dan nyaman dipakai (friendly). kepraktisan dan keamanan. Perangkat lunak yang hanya dituntut berfungsi secara fungsional dalam skala kecil cukup dikembangkan oleh pemrogram sekaligus pemakainya. Oleh karenanya. Akibatnya. Salah satu aspek sistem pendidikan yang amat berperan dalam menghasilkan sumber daya manusia berkualitas dan mampu beradaptasi dengan teknologi informasi di era galbalisasi dan industri itu adalah organisasi atau lembaga pendidikan . dibutuhkan penyedia jasa informatika sebagai pengelola. pengguna perangkat lunak semkain banyak dan ukuran komplektisitas perangkat lunak juga bertambah.

Industri ini membutuhkan SDM yang berlatar belakang informatika. berikut pemantauan dan pemeliharaan proses produksi. dalam rangka mendukung kebutuhan sertifikasi Sumber Daya Manusia di Indonesia. pegawai administrasi. serta hasil survey yang dilakukan oleh beberapa kelompok. Industri jasa. Berdasarkan hal-hal tersebut. yang dapat dikelompokkan atas jenis sebagai berikut : 1. dan tujuannya adalah untuk kesenangan. SW developer. Belum ada pengelompokan untuk : ketrampilan. Industri manufaktur. Contoh nyata dari industri ini adalah produktor dan perakit komputer. 4. Sehingga dapat di simpulkan bahwa pengguna komputer pada profesi yang "lain" seperti sekretaris. Industri hardware yang memproduksi perangkat keras komputer dan periperalnya. yaitu yang lebih menyangkut "hardware" a. Pihak industri yang menjadi bahasan adalah industri yang berkaitan dengan kegiatan pengembangan Rekayasa Perangkat Lunak. Berdasarkan hasil pertemuan jurusan teknik informatika dengan pihak industri sebagai pemakai tenaga lulusan Informatika manapun. Jenjang Pendidikan Sarjana ke bawah 3. karena tingkatan user di Indonesia yang umumnya masih awam dengan proses Rekayasa Perangkat Lunak menyebabkan sulit diajak berkomunikasi tentang kebutuhan yang perlu didukung oleh komputer. diperlukan suatu pengetahuan dan keahlian khsusus. dapat disimpulkan juga bahwa sudah saatnya dilakukan Sertifikasi Sumber daya Manusia dalam bidang Rekayasa perangkat Lunak . maka diperoleh informasi tentang kebutuhan SDM oleh industri. Sumber daya Manusia yang bekerja dalam dunia industri saat ini mempunyai karakteristik sebagai berikut : 1. Latar belakang pendidikan non-Informatika/Komputer 2. Dalam menganalisis kebutuhan user (semua perangkat lunak dikembangkan berdasarkan kebutuhan user). Industri pemroduksi "barang" yang dalam proses produksinya membutuhkan perangkat lunak. profesi adalah sesuatu yang kita lakukan berdasarkan keahlian dan dari situ kita hidup/mencari nafkah. Industri ini harus didukung oleh SDM di bidang perangkat keras dan elektronika. Contoh lain adalah PT. agar inovatif dalam menciptakan produk-produk baru Sedangkan pihak Industri menghendaki agar Sumber Daya Manusia yang dihasilkan oleh Perguruan Tinggi tidak saja memiliki potensi akademik melainkan juga ketrampilan dalam penggunaan dan penguasaan informatika yang sangat baik. b. disusun suatu usulan tingkatan keahlian Sumber Daya Manusia Informatika di antaranya: 89 . Seseoang yang profesional di bidangnya akan melakukan pekerjaan itu sendiri dengan kepakarannya. bahkan seorang insinyur sipil yang menggunakan program komputer tidak dapat disebut berprofesi di bidang Informatika. dan 2. keahlian dan spesialisasi yang terdefinisi dengan jelas. Biasanya ini menyangkut perusahaan yang mengembangkan perangkat lunak mulai dari scracth (sesuai pesanan) atau yang menyediakan jasa pengubahan perangkat lunak tertentu supaya dapat dipakai sesuai dengan kebutuhan (tailoring. Perlu mengetahui Standar Proses Produksi. antara lain: 1. Contoh : industri manufaktur yang memakai robot atau perangkat lunak untuk optimasi penjadwalan produksi. yang produk utamanya bersifat "soft" dalam hal ini dibedakan menjadi industri jasa sebagai berikut : a. Industri jasa yang memanfaatkan perangkat lunak.Telkom yang produknya berupa jasa telekomunikasi berbantuan komputer (perangkat lunak menjadi bagian dari jasa tersebut). Untuk tingkatan tertentu. dituntut untuk dapat mengetahui strategi bisnis. Hobby adalah sesuatu yang kita lakukan untuk mengisi waktu senggang. industri manufaktur yang produknya berupa peralatan telekomunikasi (mencakup perangkat keras dan perangkat lunak) b. menyediakan jasa berupa pengembangan perangkat lunak.sesuai dengan standar Internasional yang berlaku. 2. Untuk itu.Inti. Contohnya adalah PT. customization).Jadi.

Lebih jauh lagi. 5. sikap. Perubahan-perubahan pada skala global itu selanjutnya memicu timbulnya transformasi struktural yang pada gilirannya dapat memberikan dampak pada proses pergeseran nilai. lndividu . 4. memperluas bidang lingkupnya dengan mengambil tindakan dan meningkatkan efisiensi ekonomi mereka. Jadi. Fenomena globalisasi yang terjadi belakangan ini juga telah menarik perhatian sejumlah ahli manajemen internasional belum lama ini. 2. lni semua merupakan fenomena yang tak terelakkan. Singkatnya. 7. Secara spesifik. sumber daya manusia yang berkualitas yakni yang menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi akan memegang peranan yang sangat strategis dan mampu memacu pertumbuhan dan pengembangan disegala bidang kehidupan manusia. Kemajuan yang pesat dalam teknologi transportasi. komunikasi dan informasi yang menjadi ciri utama dari proses globalisasi itu menyebabkan terjadinya berbagai perubahan yang bersifat menyeluruh fundamental dan berdimensi banyak. tekhnologi baru di bidang infoimasi dan komunikasi memungkinkan organisasiorganisasi itu memasarkan produknya secara internasional. 3. 8. dan modal dari sumber-sumber yang paling efektif di seluruh dunia. kelembagaan dan lain-lain. Termasuk dalam 90 . Dalam konteks pendidikan. dalam alam keterbukaan itu kuaiitas manusia menjadi kuncinya. Untuk ini semua. perilaku manusia. Dalam kaitan. globalisasi yang pada intinya merupakan rekayasa ekonomi itu telah menjadikan kehidupan manusia menjadi begitu terbuka. 10. 12. Programmer Programmer Analyst Software Tester Data Base Engineer Data Communication Engineer Network Engineer Software Configuration Manager System Analyst Software Engineer System Engineer Software Project Manager Software Quality Assurance TANTANGAN DAN PELUANG DI ERA GLOBALISASI DAN INDUSTRI SERTA ANTISIPASI SDM UNTUK MENGHADAPINYA 1. b. Globalisasi : Tantangan Dan Peluang Globalisasi telah menjadi kata yang amat populer akhir-akhir ini karena banyak dibicarakan dan dibahas oleh berbagai kalangan. yaitu dirasakannya tuntutan kebutuhan akan periunya peningkatan pemahaman bahasa asing (terutama bahasa lnggeris) dikalangan tenaga pengajar dan mahasiswa. Kitalah yang harus pandai-pandai memanfaatkannya. sistem. Dengan demikian. cara hidup. Perusahaan-perusahaan multinasional besar khususnya telah mampu. Fenomena globalisasi (dan regionalisasi) juga membawa dampak terhadap masyarakat perguruan tinggi. Disamping teknologi. globalisasi itu pada dasarnya menitikberatkan dua hal sekaligus: tantangan dan peluang. yang merujuk Wichit Srisaan dari Suranaree University of Technology di Thailand. dengan tekhnologinya. yakni adanya tuntutan untu melakukan pembenahan/pembangunan kelembagaan (institutional building) yang diarahkan pada pencapaian kinerja yang tinggi. hal ini menyebabkan semakin tajamnya persaingan antar negara dan organisasi dalam merebut pasar serta usaha menghasilkan kinerja dan kualitas produk yang prima. Organisasi. Reid (1997). 11. 6. 9. ekonomi telah menjadi kekuatan utama yang lain di dalam fenomena global itu. menyatakan bahwa dampak dari globalisasi dan regionalisasi itu dapat dirasakan pada 4 (empat ) level yaitu : a. maka pada gilirannya organisasi bisnis yang terlibat dalam persaingan itu akan menuntut kualitas sumber daya manusia yang tinggi dan bersaing. Sebagai konsekwensinya. menaikkan efisiensi ekonominya dengan belajar tentang dan mendapatkan masukan berupa bahan sumber daya manusia (SDM). dan oleh karenanya peranan organisasi atau lembaga pendidikan yang menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu menjadi semakin penting.1.

ketrampilan dan motivasi kerja biasanya ditumbuhkan dilingkungan pendidikan 91 . kata sementara orang. supervisor dan managerialnya. 2. Hai ini dapat dimaklumi karena manusia merupakan unsur utama dari setiap organisasi. serta peningkatan mutu tenaga pengajar dan semacamnya. yang menengah berkenaan dengan kualitas teknis operasional. yaitu adanya tuntutan untuk melakukan perubahanperubahan pada sistem pendidikan tinggi sehingga mampu mengakomodasikan kebutuhan yang semakin meningkat. dan perguruan tinggi. Pergaulan dan hubungan antar bangsa di dunia pun telah berlangsung demikian erat dan mudahnya. yaitu sebagai berikut : a. peoples make things happen". d. sekolah menengah tingkat pertama dan atas. Jadi. dan bagi tenaga kerja tingkat tinggi menyangkut kualitas managerial dan komunikasinya. perlombaan untuk menghasilkan kinerja dan kualitas produk dan jasa yang prima menjadi keharusan. serta pengembangan watak dan kepribadian. much more important in their organization".pembangunan kelembagaan ini di antaranya adalah -. kreativitas. sistem latihan kerja dapat dipandang sebagai kelengkapan atau suplemen sistem pendidikan formal. Merekalah yang menciptakan berbagai inovasi dan kemudian membuat banyak organisasi menjadi dikenal luas. Dengan demikian. telah menjadi semakin sempit. Peranan SDM Peranan SDM memang sangat peting. Latihan kerja menekankan peningkatan kemampuan professional dan mengutamakan praktek daripada teori. yang sering disebut dengan masyarakat informasi itu. Jalur Latihan Kerja. yaitu adanya tuntutan untuk melakukan kerjasama antar lembaga pendidikan tinggi. Secara garis besar. baik ditingkat regional (seperti ASEAN dan Asia Pasific) maupun ditingkat yang lebih luas lagi. Nilai-nilai pengembangan bakat.. keadaan ini menyebabkan semakin tumbuhnya persaingan antar negara dan perusahaan dalam merebut pasar. Jalur Pendidikan Formal. dan hasil-hasil yang bernilai inilah yang menentukan derajat kesejahteraan dan taraf hidup suatu masyarakat. inovasi. Intemasional. And it means that human resource professionals are becoming much. b. terdiri dari pendidikan umum dan kejuruan mulai dari tingkat sekolah dasar. moral dan dedikasi terhadap pelaksanaan tugas dapat dikembangkan meialui sistem latihan kerja. Dunia kita sekarang ini. Khususnya bidang ekonomi dan bisnis. pada dasarnya dapat dilakukan melalui tiga jalur utama. Mengutip kata John Naisbitt :"In an information society. kemampuan analisis. manusialah yang membuat barang-barang dan jasa yang bernilai bagi suatu bangsa. misainya meialui : Undang-undang. Karena memang benar. yaitu proses pengembangan keahlian dan ketrampilan kerja . lni semua dimungkinkan oleh semakin maju dan berkembangnya teknologi informasi. yang pada gilirannya juga menurut kualitas SDM yang tinggi dan bersaing. baik dalam politik. dan terjadi diberbagai arena. Tak ada keraguan akan hal ini. nilai-nilai masyarakat yang menyangkut sikap mental. "Assets make things possible. bagi tenaga yang berada pada tingkat bawah/operasi menyangkut kualitas tehnis operasionalnya. kiranya tidak salah kalau perusahaan besar seperti Union Carbide menetapkan slogannya yang berbunyi . media komunikasi dan alat transportasi. Bagimana Peningkatan Kualitas SDM Kualitas SDM pada dasarnya berkenaan dengan keahlian. Sebagai konsekwensi logisnya. fasilitas teknologi pengajaran. c. Pernyataan Nasibitt diatas jelas menunjukkan betapa besar dan pentingnya peranan SDM pada masa kini dan akan datang. human resource is at the cutting edge. Lebih-lebih dalam era informasi dan globalisasi seperti sekarang. kemampuan dan ketrampilan kerja seseorang melakukan berbagai kegiatan untuk menghasilkan barang dan jasa yang ikut serta menentukan kualitas hidupnya. ekonomi. Jalur pendidikan formal bertujuan membekali seseorang dengan dasar-dasar pengetahuan. Untuk peningkatan kualitas SDM. maupun sosial dan budaya. 3. pengetahuan umum. Tegasnya. perubahan dan penyesuaian kurikulum. menurut Simanjuntak (1992). teori dan logika. Peraturan Pemerintah dan Keputusan Presiden serta seperangkat Hukum lainnya. Nasional .

menirukan dan melakukan tugas-tugas pekerjaan yang ditekuninya. serta penyediaan sarana dan prasarana penefitian. dan pada kesempatan lain komputer dan keahliannya itu dapat juga dipakai untuk membobol bank. perhatian pada imbalan. Pengembangan dan penyesuaian teknologi dan metode kerja yang dari waktu ke waktu terus berkembang dengan cepat. seperti : pengendalian mutu terpadu (TQM) dan reenginering. Dalam kaitan ini. Hal penting lain yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa dalam rangka pengembangan IPTEK ini kita harus senantiasa berpedoman pada nilai agama. 92 . penataan sistem keiembagaan. penerapan dan pengembangan yang memadai. nilai budaya bangsa. b. c. Ha] ini penting.formal dan dikembangkan dalam proses latihan kerja. Harus diakui bahwa selama ini kita sangat kekurangan dalam menangani masalah "link and match" ini. peranan pendidikan dan latihan menjadi sangat strategis. disamping juga dapat menumbuhkan kemampuan tenaga keoa itu sebagai kekuatan yang mendorong pembangunan nasional. maka usaha-usaha membina dan mengembangkan keterkaitan (link) antara lembaga pendidikan dengan dunia keda dan industri harus menjadi priohtas. efisien dan lebih baik dalam melaksanakan pekerjaan yang dimaksud. yaitu wahana meialui mana seseorang dapat meningkatkan pengetahuan teknis maupun ketrampilan kerjanya dengan mengamati orang lain. termasuk organisasi perguruan tinggi. seseorang bukan saja akan menjadi lebih mahir meiaksanakan tugasnya tetapi juga akan terbuka peluang baginya untuk menemukan cara-cara kerja yang lebih praktis. dapat dipakai untuk kebaikan manusia atau sebaliknya. manfaat yang diberikan oleh suatu teknologi tidak lagi ditentukan oleh teknologi itu sendiri. sistem pendidikan hendaknya senantiasa diarahkan pada penyediaan tenaga kerja yang cakap. Sehingga daiam hal ini program latihan dapat memberikan tambahan nilai bagi keluaran sistem pendidikan formal. Pengembangan SDM (pengajar dan staf penunjang) atau peningkatan mutu dan kualifikasi staf meialui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kebutuhan organisasi. c. Pengembangan IPTEK Upaya yang lain adalah menurut Suriasumantri (1991) menjelaskan bahwa'teknologi merupakan penerapan pengetahuan ilmiah dalam bentuk peralatan yang membantu manusia memecahkan masalah-masalah yang bersifat praktis. juga dapat membawa dampak yang berakibat buruk". dana penefitian dan pengembangan yang mendorong orang untuk berprestasi optimal sangatiah diperlukan. Jalur Pengalaman Kerja. Peningkatan kerja sama dengan instansillembaga lain yang terkait. baik di dalam negeri maupun di luar negeri untuk menunjang kegiatan pendidikan dan riset. karena seperti kata Suriasumantri (1991) :"Sebagai alat. seorang pemakai komputer yang ahli dapat menggunakan komputernya untuk menghitung dan menyelesaikan persoalan matematika dan statistika yang rumit dalam waktu amat cepat. Dengan melakukan pekerjaan secara berulang-ulang. sehingga lembaga pendidikan kita selama ini lebih banyak sibuk menghasilkan lulusan yang sulit mendapatkan pekerjaan danlatau sulit bekerja. pengembangan dan penerapan IPTEK haruslah didukung oleh SDM yang berkualitas metalui pendidikan dan petatihan. melainkan oleh manusia sebagai mahiuk yang mempergunakan teknologi tersebut. Berkaitan dengan peningkatan kinerja perguruan tinggi maka upaya-upaya yang perlu dilakukan adalah : a. Untuk menghasilkan manusia yang berkualitas seperti yang ditentukan oleh GBHN. Sebagai contoh. d. baik dibidang spesialisasi pekerjaan maupun dalam hal kemampuan bahasa lnggeris dan komputer. Perbaikan Organisasi Usaha-usaha ke arah peningkatan mutu SDM tidak bisa lepas dari usaha-usaha perbaikan organisasi dan kinerja organisasi pendidikan pada umumnya. Pada masa yang akan datang. Dalam konteks ini. sepadan (match) dengan kebutuhan pembangunan. jaminan karier dan promosi. atau perangkat kera yang berbentuk peralatan fisik". Perbaikan dan peningkatan sistem dan teknik manajemen di bidangbidang yang terkait. serta memperhatikan keterbatasan sumber daya dan kelestahan lingkungan hidup. Jadi. teknologi bagaikan pisau bermata dua.kondisi kerja. Selanjutnya. Peralatan ini bisa berupa perangkat lunak yang berbentuk metode dan teknik.

ST. Peranan limu Pengetahuan dan Teknologi Dalam Proses 7. 3: 3-12. Monitoring dan evaluasi proses dan kinerja organisasi secara terus menerus untuk mendapatkan masukan bagi usaha-usaha perbaikan mutu berkelanjutan (continous improvement). maret 1997) 12. 10. DiktiDepdikbud. 1 1995. maka kinerja organisasi penyelenggara pendidikan tinggi mempunyai peran yang penting. "Masalah Tenaga Kerja di Indonesia" Jurnal 2. Pembentukan dan pemantapan budaya dari ikiim akademik yang mendukung bagi tercapainya kinerja institusi yang tinggi.J. Patrivia.e.S. Laporan Akhir dari Program Peningkatan Relevansi Pendidikan Teknik. ada bebarapa pokok yang dapat di simpulkan antara lain: Teknologi informatika yang makin merambah berbagai bidang mendorong SDM untuk terus semakin meningkatkan kualitasnya dalam penguasaan Iptek. Transformasi Masyarakat. Inggriani Liem Farid Wazdi. 5. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990's Megatrends 2000. 14. 4. Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Universitas Sumatera Utara 11. 15. Ten New Directions For the 13. Ilmu-Ilmu Sosial. Makalah Rapat Kerja Nasional. 9. f. Tantangan dan Peluang Sumber Daya Manusia di Era Globalisasi. Karena SDM yang berkualitas merupakan kunci bagi keberhasilan kita menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas yang berintikan persaingan. Megatrends Ltd. No. W. Malang. Upaya yang lainnya untuk menghasilkan SDM yang berkualitas . Depdikbud. termasuk pendidikan program diploma. g. DAFTAR PUSTAKA 1. Pembangunan Pendidikan Nasional Dalam Memacu Pertumbuhan Ekonomi Menjelang Era Persaingan Global. Naisbitt. FTI-ITB. Jakarta. Batubara. Dahlan Abdullah. 3. 8. Kajian. Habibie.1990. Makalah Simposium Nasional Cendikiawan Muslim. merupakan alternatif yang tepat bagi pengembangan kualitas SDM yang sesuai dengan tuntutan kerja di masa-masa yang akan datang. Salah satu upaya Pengembangan SDM bagi Iptek adalah tidak terlepas landasan nilai agama dan budaya perlu sekaii untuk menjamin terkendalinya pemanfaatan IPTEK demi tujuan-tujuan yang meningkatkan kesejahteraan orang banyak.1996. 1990. Maret 1997. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Isfenti Sadalia. nampaknya pendidikan professional. Paradigma Baru Pengelolaan Pendidikan Tinggi. Evaluasi dan pembaharuan kurikulum secara periodik sehingga mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan tuntutan yang berubah secara cepat dari waktu ke waktu. dan bukan sebaliknya. 1994. Informasi singkat tentang Jurusan Teknik Informatika (Program Studi Sarjana dan Megister). Pramutadi. Cosmas.l-.002/Th. PERANAN SUMBER DAYA MANUSIA BIDANG INFORMATIKA DALAM ERA GLOBALISASI DAN INDUSTRI 6. Seminar Komunikasi Hasi Penelitian ITB. "Pengembangan Silabus Rekayasa Perangkat Lunak untuk Program Pasca Sarjana Teknik Informatika".4-31. Karenanya berbagai usaha dalam meningkatkan kualitas SDM harus terus menerus diupayakan. 93 . Djojonegoro. Sri Purwanti : "Paradigma Pemrograman di masa mendatang". Dengan melihat kecenderungan kebutuhan tenaga keda pada masamasa mendatang. Link and Match. B. 1992.(1993). PENUTUP Akhimya sebagai penutup dari paper ini. John & Aburden.

reliabilitas. Kemudian tanggapan siswa terhadap pembelajaran Group Investigation sebesar 79. Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ungaran tahun pelajaran 2009/2010. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh bahwa ada perbedaan rata-rata hasil belajar yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dan rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol. 3% dengan katagori sangat setuju dan setuju. 67. Jadi rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol. diperoleh bahwa data kedua kelompok sampel normal dan homogen. kedua kelompok sampel diberi tes dengan menggunakan instrumen yang sama yang telah diuji validitas. Disarankan guru dapat mengembangkan pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dan menerapkan pada pokok bahasan lain serta hendaknya guru menerapkan suatu model pembelajaran yang tepat sesuai dengan pokok bahasan yang akan disampaikan. Dari hasil perhitungan dengan uji t diperoleh = 3. Jadi rata-rata nilai tes hasil evaluasi pembelajaran kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol yaitu dengan rata-rata kelas kontrol mencapai 63. Sehingga pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation lebih efektif daripada pembelajaran dengan metode konvensional dan siswa memberikan respon positif terhadap pembelajaran Group Investigation. Dengan teknik pengambilan sampel menggunakan cara cluster random sampling diambil sampel sebanyak 2 kelas yaitu siswa kelas VII-9 sebagai kelompok kontrol yang dikenai pembelajaran dengan metode konvensional dan siswa kelas VII-3 yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) apakah ada perbedaan hasil belajar IPS Terpadu menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas VII (2) apakah model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation efektif untuk mengajarkan IPS Terpadu kelas VII (3) bagaimana tanggapan siswa terhadap pembelajaran IPS Terpadu pada kelas dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Hasil observasi awal di SMP 2 Negeri Ungaran diperoleh data bahwa pembelajaran IPS Terpadu di kelas VII memiliki indikasi hasil belajar yang rendah. Group Investigation. 102 dan = 1. Faktanya banyak peserta didik mampu menyajikan tingkat hafalan yang baik… namun pada kenyataannya mereka tidak memahaminya”(Suprijono. terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar yang signifikan.38 dan rata-rata kelas eksperimen mencapai 71. Hal ini berarti siswa memberikan respon positif terhadap pembelajaran Group Investigation. Pada akhir pembelajaran. 94 . taraf kesukaran dan daya pembedanya. > maka ditolak. dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. dan hasil belajar PENDAHULUAN “Dunia pendidikan kita ditandai oleh disparitas antara pencapaian academic standard dan performance standard. Hal ini berarti.EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN IPS TERPADU KELAS VII SMP NEGERI 2 UNGARAN ABSTRAK Widya Latif Kartika Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPS Terpadu. 17. maka dilakukan penelitian dengan metode kooperatif tipe Group Investigation. 2009: VI-VIII). tes dan angket. memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi. artinya diterima. Metode Pengumpulan data pada penelitian ini adalah dokumentasi. Berdasarkan hasil uji normalitas dan homogenitas data hasil tes dari kedua kelompok.6 % siswa kelas VII memperoleh nilai dibawah kriteria ketuntasan minimum. Perumusan masalah pada penelitian ini adalah sebanyak 67. Kata Kunci: Cooperative learning.

Jadi untuk mewujudkan suatu proses pembelajaran menggunakan kemasan metode mengajar. Dalam rangka memecahkan masalah tersebut para pakar pendidikan Indonesia mengenalkan apa yang disebut model pembelajaran. sejarah. yaitu : 1) Belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan. learning skills and academic achievement interms of deeper understanding of the topics investigated. Teori Belajar Teori dari R. IPS terpadu menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah yang dianggap membosankan karena terlalu banyak materi sehingga para siswa susah dan malas memahami semua materi pada IPS Terpadu. “Belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan. tetapi baru dalam bentuk sensori-motor coordination. 2002: 1). Untuk itu diperlukan cara atau prosedur bagaimana mengorganisir unsur-unsur tersebut agar menghasilkan hasil belajar yang lebih efektif. 2. Hal tersebut terbukti banyak siswa di kelas VII SMP Negeri 2 Ungaran yang mendapatkan nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Kriteria ketuntasan minimum di SMP Negeri 2 Ungaran untuk mata pelajaran IPS Terpadu adalah 68. Four main categories of positive statements emerged. Salah satu metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar adalah pembelajaran kooperatif. sementara kategori lain mencerminkan pendapat positif siswa tentang hubungan sosial mereka. siswa hanya mendengarkan ceramah guru. Gagne Terhadap masalah belajar. 1992. dan tingkah laku . ekonomi. Kemudian ia mulai belajar berbicara dan menggunakan bahasa. 2006: 2) “belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia. kebiasaan. keahlian pembelajaran dan pencapaian prestasi akademik dalam hal pemahaman yang mendalam mengenai topik yang diinvestigasi). dan perubahan perilaku itu tidak berasal dari proses pertumbuhan”. 1999 (Chin Tan. (Para siswa menulis pernyataan dari persepsinya dan pengalaman mereka belajar dengan metode Investigasi Kelompok yang memberikan wawasan ke dalam sikap dan orientasi terhadap belajar sekolah.1 LANDASAN TEORI Pengertian Belajar Menurut Gagne (Chatarina. Gagne mengatakan pula bahwa segala sesuatu yang dipelajari oleh manusia dapat dibagi menjadi 5 kategori. Salah satu diantaranya mengindikasikan bahwa metode Grup Investigation sangat menarik. Dalam kegiatan belajar mengajar siswa cenderung pasif. The students‟ written statements of their perceptions and experience of learning with the Group Investigation method provided insights into their attitudes and orientations toward school learning. Sharan & Sharan. Sugandi (2004: 84) ”menyimpulkan bahwa model pembelajaran merupakan inti atau jantungnya strategi pembelajaran”. Munculnya empat kategori utama dari pernyataan positif. strategi belajar-mengajar ataupun model pembelajaran yang tepat. One category indicated that the Group Investigation method was interesting. sehingga pada saat mereka dihadapkan materi yang sangat banyak susah bagi para siswa untuk memahaminya dan tujuan pembelajaran tidak tercapai dan hasil belajar siswa rendah. 2005: 1). geografi. 2006: 71) memberikan dua definisi. Kesanggupan untuk menggunakan bahasa ini penting artinya untuk belajar. while the other categories reflected the students positive perception of their social relationships. Gagne (Anni. yang berlangsung selama periode waktu tertentu. Mulai masa bayi manusia mengadakan interaksi dengan lingkungan. Keterampilan Motorik (motor skill) 95 . Bahan kajian itu menjadi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu. menyenangkan dan efektif. yang disebut The domains of learning yaitu : 1. keterampilan . keterampilan dan sikapnya” (Arsyad.Menurut Depdiknas. meliputi bahan kajian: sosiologi. Sebanyak 68 % siswa kelas VII memperoleh nilai dibawah kriteria ketuntasan minimum. 2) Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).fun and effective. tidak terjadinya komunikasi yang maksimal antara guru dan siswa.

1995: 73). Gulo (2002: 136) mengemukakan bahwa “ceramah merupakan satusatunya metode yang konvensional dan masih tetap digunakan dalam strategi belajar mengajar”. Menurut Budiarsih (2007: 27) secara sederhana konsep belajar tuntas mengatakan bahwa bilamana siswa diberi kesempatan mempergunakan waktu yang dibutuhkannya untuk belajar. c. Setelah diketahui banyak sampel berdistribusi normal dan 96 . namun kadang disertai pertanyaan”. 1999 dalam (Chin Tan. Ranah afektif c. Kemampuan Intelektual 4. Tahap 2: Merencanakan Tugas yang akan Dipelajari. atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya”. Ranah psikomotoris Ketuntasan Ketuntasan Belajar Tujuan proses belajar mengajar secara ideal adalah agar bahan yang dipelajari dikuasai sepenuhnya oleh siswa. metode yang sering dan banyak dilakukan oleh guru adalah metode ceramah. 1992.2. Strategi kognitif 5. METODOLOGI PENELITIAN Populasi Dan Sampel Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 173 siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ungaran. kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol. tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi dan saling membantu teman sekelompok mencapai ketuntasan” (Slavin. Sikap Hasil Belajar Menurut Bennyamin Bloom dalam Suprijono (2009: 6-7) mengklasifikasikan hasil belajar yang secara garis besar di bagi menjadi tiga ranah sebagai berikut. 2003: 36). Tahap 3: Melaksanakan Investigasi d. jika diberi waktu yang cukup untuk belajar. Tahap 4: Menyiapkan Laporan Akhir e. Sampel adalah bagian kecil dari anggota populasi yang diambil menurut prosedur tertentu sehingga mewakili populasinya. Menurut Budiarsih (2007: 32) pembelajaran kooperatif adalah “pembelajaran yang mendorong siswa bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah. Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation Group Investigation menurut Sharan & Sharan. maka ia akan mencapai tingkat hasil belajar yang seperti yang diharapkan atau dengan kata lain akan dirumuskan bahwa setiap siswa yang mempunyai kecakapan rata-rata atau normal. mereka akan menyelesaikan tugas. menyelesaikan suatu tugas. “Selama kerja kelompok. merencanakan dan melaksanakan penyelidikan.tugas secara tuntas sepanjang kondisi belajar yang tersedia cukup menguntungkan. 2005: 1) mengharuskan mahasiswa untuk membentuk kelompok-kelompok kepentingan kecil. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Slavin (2008: 218) mengemukakan tahapan-tahapan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif GI adalah sebagai berikut: a. Tahap 5: Mempresentasikan Laporan Akhir Pembelajaran Konvensional Menurut Budiarsih (2007: 55) “dalam proses belajar mengajar jenjang pendidikan dasar dan menengah. a. bahwa sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random dari populasi tertentu. Ranah kognitif b. artinya penguasaan penuh ( Nasution. dan ia mempergunakan dengan sebaik-baiknya. Ini disebut “mastery learning” atau belajar tuntas. mensintesis anggota kelompok temuan dan membuat presentasi untuk seluruh kelas. Tahap 1 : Mengidentifikasikan Topik dan Mengatur Murid ke dalam b. Informasi verbal 3.

mlah 1 Sukar 20. 3 Mudah 1. 18. Pada penelitian ini diambil satu kelas untuk kelas kontrol yang dikenai model pembelajaran konvensional yaitu kelas VII-9 sejumlah 29 siswa. siswa yang menjadi objek penelitian duduk pada kelas yang sama dan pembagian tidak ada kelas yang unggulan.862. 12. Taraf Kesukaran Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. 27. 17. 30. Soal Ju o. Hal ini dilakukan setelah memperhatikan ciri-ciri antara lain: siswa diampu oleh guru yang sama. 6. Sedangkan variabel bebas adalah variabel yang secara sengaja dipelajari pengaruhnya terhadap variabel terikat.563 dan sebesar 0. 22. Variabel terikat : hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ungaran. Berdasarkan uji realibilitas. 16. 28 3 . 5. Variabel Dalam penelitian ini terdapat dua jenis variabel. Varibel bebas : a. Berdasarkan hasil uji validitas terdapat 25 butir soal yang valid. Variabel terikat merupakan suatu akibat yang keadaannya dipengaruhi oleh variabel bebas. Dengan sebesar 0. 15 . Realibilitas Realibilitas adalah ketetapan suatu tes apabila diteskan kepada subyek yang sama. Instrument Penelitian Instrumen penelitian dalam penelitian ini meliputi: soal tes. diperoleh = 0. 15. yaitu variabel bebas dan variabel terikat. 1. 23. 14. 10. maka sampel dalam penelitian ini diambil dengan teknik Cluster Random Sampling.homogen. 7. 13. Kemudian satu kelas eksperimen untuk pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation yaitu kelas VII-3 sejumlah 29 siswa. Jumlah yang diperoleh kemudian n dikonsultasikan dengan dengan taraf signifikan 5 % dan n = 23. bila > maka instrumen ini sudah valid. angket dan lembar observasi untuk siswa. 9. 25. Bila ( > maka instrumen ini sudah realiabel. 3.413 dan n = 23 dan taraf nyata 5 %.413. dan = 0. Dalam variabel ini penelitiannya adalah: 1. 29 7 . metode konvensional 2. 21. Berdasarkan hasil uji coba soal dapat diperoleh hasil sebagai berikut : 97 . Soal tes Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument. Perhitungan Tingkat Kesukaran Soal N Kriteria No. metode kooperatif model Group Investigation b. Daya Pembeda Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai dengan siswa yang bodoh. 24. 2 Sedang 2. 4.

Dapat pula ditentukan dengan = Dengan kriteria pengujian sebagai berikut : Tolak Ho jika > Uji Kesamaan Rata-rata Untuk mengetahui kesamaan rata-rata dua kelompok sebelum perlakuan maka perlu di uji menggunakan uji kesamaan dua rata-rata. 24. 2 . 10. Adapun rumus yang digunakan adalah seperti pada analisis data awal. 7. 30. setelah itu baru dilakukan uji hipotesis. 18. Angket Angket digunakan untuk mengetahui bagaimana respon siswa setelah pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dilaksanakan. 14. SMP Negeri 2 Ungaran merupakan salah satu sekolah menegah pertama yang berada di kecamatan Ungaran kabupaten Semarang. Soal o. uji homogenitas. 17. apakah mendapat respon positif atau negatif. 4. Dengan taraf signifikan 5 % derajat kebebasan pembilang (dk) pembilang = dan derajat kebebasan (dk) penyebut = . Uji hipotesis ini bertujuan untuk mengetahui hasil akhir penelitian apakah Ho diterima atau ditolak. 3. dan uji kesamaan rata-rata.2 : Perhitungan Daya Beda Soal N Kriteria No. Lembar Observasi 1. 21. Hipotesis yang akan diuji sebagai berikut : Kriteria pengujian adalah Ho diterima jika <t< dengan peluang (1-α) dengan dk = dan Ho ditolak jika t mempunyai harga-harga lain. Teknik analisa data Analisis tahap awal Uji normalitas Sebelum sampel diberi perlakuan maka perlu dianalisis dahulu melalui uji normalitas. Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut : = rata-rata hasil belajar pada kelas ekperimen = rata-rata hasil belajar pada kelas kontrol Kriteria Ho diterima jika dengan taraf signifikansi 5% dan tolak Ho jika t mempunyai harga-harga lain. 25. Lembar observasi aspek afektif 2. 98 . 20. Lembar Observasi Lembar observasi digunakan untuk mengamati kegiatan pembelajaran dikelas. Lembar Observasi Tanggapan siswa HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Ungaran. 15. 29. Analisis Tahap Akhir Sebelum dilakukan analisis data akhir terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Ju mlah 1 14 10 2. 1 . 22. 23. 6. Cukup baik sekali Baik 16 2.Tabel 3. 3 . 9. 13. Lembar observasi aspek Psikomotorik 3. 27. 1.12. 5. 3. yaitu untuk mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran.

172 Dari kedua kelompok diperoleh = 9. Hasil Tanggapan Siswa No Kriteria Sikap Skor Range Skor Frekuensi % 1 Sangat Setuju 4 35. Siswa yang kurang setuju sebanyak 4 (13.8 %) dan siswa yang tidak setuju sebanyak 2 (6. 0192 dan = 7. Karena < artinya data yang diperoleh berdistribusi normal. Hasil penelitian dan pembahasan pada bab ini merupakan hasil studi lapangan untuk memperoleh data baik kognitif.2 %). Uji Kesamaan Dua Varian (Uji homogenitas) Uji homogenitas ini digunakan uuntuk mengetahui apakah nilai evaluasi sampel yang diambil mempunyai varian yang homogen.8 4 Tidak Setuju 1 28-30.5 16 55. 4781 dan = 1. 6055 dan = 7. Jadi nilai evaluasi pembelajaran pada kelompok kontrol berdistribusi normal (lampiran 12: 102). 862 Pada kelompok kontrol diketahui = 63. 81. Karena < maka diterima yang artinya kedua kelompok sampel mempunyai varian yang sama. Tanggapan Siswa terhadap pembelajaran Group Investigation Hasil tanggapan siswa kelas eksperimen adalah untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran Group Investigation dapat dilihat pada tabel 1 berikut.1 %). 81.2 3 Kurang Setuju 2 30. Perhitungan selengkapnya terdapat pada (lampiran 15: 105). Tabel 4. Karena < artinya data yang diperoleh berdistribusi normal. 67 Karena > maka ditolak.5-33 4 13. 88. Pada kelompok eksperimen diketahui = 71.Penelitian ini dimulai pada bulan Mei 2010.17 dan = 73. Uji normalitas nilai akhir pada kelompok kontrol Berdasarkan perhitungan uji normalitas diperoleh = 5. Berdasarkan perhitungan uji homogenitas dengan taraf nyata 5 %. afektif. artinya rata-rata hasil belajar siswa pada kelas eksperimen sama dengan rata-rata nilai hasil belajar siswa pada kelas kontrol. uji kesamaan dua varians( homogenitas). dan psikomotorik.9 Berdasarkan tabel 4. . . artinya rata-rata nilai hasil belajar siswa pada kelas eksperimen lebih dari rata-rata nilai hasil belajar siswa pada kelas kontrol. dan uji hipotesis. Data kognitif diambil setelah melakukan kegiatan pembelajaran.38 dan = 109. artinya kedua kelompok sampel mempunyai varians sama. 99 .9 %). artinya diterima. diperoleh = 1. Jadi nilai evaluasi pembelajaran pada kelompok eksperimen berdistribusi normal (lampiran 13: 103). 102 dan = 1.5 2 6. Perhitungan selengkapnya terdapat pada (lampiran 14: 104). sedangkan siswa yang setuju sebanyak 16 (55. Analisis data tahap akhir meliputi uji normalitas.1 2 Setuju 3 33-35.1.1 diatas diketahui bahwa tanggapan siswa kelas eksperimen prosentase kriteria sikap sangat setuju adalah 7 (24. Uji Normalitas nilai akhir pada kelompok eksperimen Berdasarkan perhitungan uji normalitas diperoleh = 7. artinya kedua kelompok sampel mempunyai varians tidak sama. Uji Normalitas 1. sedangkan data afektif dan psikomotorik diambil saat pembelajaran berlangsung.5-38 7 24. 566 Dengan uji t diperoleh = 3. 2. Jadi prosentase terbesar siswa adalah setuju menggunakan pembelajaran Group Investigation. Uji Hipotesis . Jadi rata-rata nilai tes hasil evaluasi pembelajaran kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol.

Bagi guru Guru dalam menerapkan metode pembelajaran perlu didukung lebih banyak lagi media pembelajaran sehingga penyampaian belajar mengajar berlangsung optimal. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan. Adapun perbedaannya dapat dilihat nilai post tes antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. 67.1 %). 102 dan = 1. maka dapat disimpulkan : a. Karena > maka ditolak.8 %) dan siswa yang tidak setuju sebanyak 2 (6.2 %). Siswa yang kurang setuju sebanyak 4 siswa (13.38. Hasil uji perbedaan rata-rata menggunakan uji t diperoleh = 3.Berdasarkan hasil análisis data awal dari ulangan tengah semester siswa kelas VII-3 dan VII-9 pada semester genap di SMP Negeri 2 Ungaran Kabupaten Semarang tahun 2009/2010. 38 sedangkan kelas eksperimen rata-rata kelas sebesar 71. 67. Bagi siswa 1. Hal tersebut menunjukan pengaruh positif tanggapan siswa kelas eksperimen atas pembelajaran Group Investigation. artinya diterima. Ada perbedaan hasil belajar Mata Pelajaran IPS terpadu antara pembelajaran dengan metode Group Investigation dan pembelajaran dengan metode konvensional pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ungaran.9 %). maka dapat disimpulkan bahwa kedua sampel berangkat dari keadaan awal yang sama. b. 2. sedangkan siswa yang setuju sebanyak 16 siswa (55. Jadi rata-rata nilai tes hasil evaluasi pembelajaran kelompok eksperimen lebih efektif daripada kelompok kontrol pada mata pelajaran IPS Terpadu siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ungaran tahun pelajaran 2009/2010. Siswa diharapkan lebih berani mengeluarkan pendapat dalam proses pembelajaran Group Investigation. Pada kelompok eksperimen memiliki rata-rata 71. Kelompok eksperimen diberi perlakuan dengan Group Investigation (kelas VII-3) sedangkan kelompok kontrol diberi perlakuan dengan pembelajaran konvensional (kelas VII-9).9 %). Perbedaan perolehan nilai aspek kognitif dapat dilihat pada perhitungan antara nilai rata-rata post test antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Jadi prosentase terbesar siswa adalah setuju menggunakan pembelajaran Group Investigation pada mata pelajaran IPS Terpadu. Saran Saran yang dapat penyusun berikan sehubungan dengan hasil penelitian ini sebagai berikut: a. Jadi prosentase terbesar siswa adalah setuju menggunakan pembelajaran Group Investigation. Selanjutnya kedua sampel tersebut diberi perlakuan yang berbeda. 17. supaya dalam proses belajar mengajar berlangsung optimal. c. sedangkan siswa yang setuju sebanyak 16 (55. diketahui bahwa data berdistribusi normal dan homogen serta dari uji kesamaan rata-rata menunjukan < < . c. b. Ini membuktikan bahwa pembelajaran pada kelas eksperimen yang diajar menggunakan metode Group Investigation lebih efektif dari pada pembelajaran di kelas kontrol yang menggunakan metode cemarah. Bagi sekolah Sebagai bahan pertimbangan di SMP Negeri 2 Ungaran perlu ditingkatkan sarana yang menunjang pembelajaran IPS Terpadu. Siswa yang kurang setuju sebanyak 4 (13.162 dan = 1.17 sedangkan pada kelas kontrol memiliki rata-rata nilai sebesar 63. pada kelas kontrol rata-rata kelas sebesar 63. Perhitungan selengkapnya terdapat pada (lampiran 78: 97-98). seperti menambah sarana prasarana pada laboratorium IPS.2 %). Siswa lebih dapat berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar. 100 . Berdasarkan tanggapan siswa kelas eksperimen prosentase kriteria sikap sangat setuju adalah 7 (24. supaya pembelajaran dapat mencapai tujuan yang diharapkan.8 %) dan siswa yang tidak setuju sebanyak 2 siswa (6. yaitu = 0. Berdasarkan hasil tabel tanggapan siswa kelas eksperimen prosentase kriteria sikap sangat setuju adalah 7 siswa (24.1 %).

Grasindo. 2008. Metode Statistika. 2003. Psikologi Belajar. Cooperative Learning : Theory. Yasa. 2002. Ivy Geok. Pusat Bahasa dan Departemen Nasional. Semarang: UPT MKK UNNES. 2005 261. Bandung: Tarsito. Arsyad. Jakarta : Prestasi Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2009. 2005. Pembelajaran Kooperatif . Singapore. Bandung: CV Pustaka Setia Sudjana. Dalam Tesis. Syah. Aplikasi Statistika Dalam Penelitian. Cooperative Learning. Robert E. Anita. 2007. London: Allyn & Bacon Slavin. Sambas Ali. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Arikunto. Lie. Slavin. Semarang: UNNES. Jakarta: Balai Pustaka. Catharina Tri. M. Pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation (GI) 101 . Media Pembelajaran. 2003. 2004. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Keefektifan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw berbantuan MOD (Math On Display) Untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar materi geometri siswa kelas VII. Muhibbin. 2009. Cooperative Learning Mempraktekkan di Ruang-Ruang Kelas. No. 2005. 14. Jakarta: Bumi Aksara. Surabaya: Unesa Press. 2007. International Research in Geographical and Environmental Education Vol. 1995. Chin Tan. Arikunto.dkk. Jakarta : PT. Students‟ Perceptions of Learning Geography through Group Investigation in Singapore. Jakarta : RajaGrafindo Persada. Riani. Suharsimi.DAFTAR PUSTAKA Anni. 2007. Cooperative Learning Analisis Model Pembelajaran IPS. 4. Jakarta: PT Bumi Aksara. Ibrahim. Psikologi Belajar. Research and Practice. Trianto. Singapore: National Institute of Education. London: Allyn & Bacon Solihatin.. Somantri. Azhar. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstrutivistik. 2005. Doantara. Jakarta : Rineka Cipta. dan Christine Kim-Eng Lee. Etin dan Raharjo. Budiarsih. Jakarta : PT Raja Gravindo Persada.Shlomo Sharan. 2006. 2006. Suharsimi. Ating dan Muhidin. Robert E. 2006.

51%. Hasil belajar yang baik merupakan hal yang paling didambakan oleh setiap siswa yang sedang belajar. Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu. (Slameto 2003:1).81% dan pengaruh strategi belajar siswa sebesar (X2) sebesar 26.6%.Pengaruh Strategi Guru Mengajar Dan Strategi Belajar Siswa Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu Kelas VII Di SMP Negeri 5 Ungaran Abstrak Winarti Makalah ini berisi tentang bagaimana manfaat sebuah strategi dalam proses belajar mengajar.093 dengan nilai signifikasi 0. Tujuan pendidikan dikatakan tercapai apabila hasil belajar siswa mengalami perkembangan dan peningkatan. Sedangkan secara parsial. Hasil deskriptif presentase menunjukkan bahwa strategi guru mengajar termasuk dalam kategori baik 72. Berdasarkan perhitungan uji simultan diperoleh Fhitung sebesar 36.000 dan X2 sebesar 6. 102 .93% dan hasil belajar siswa masuk dalam kategori sedang sebesar 58.05 maka Ha3 diterima. Secara simultan strategi guru mengajar (X1) dan strategi belajar siswa (X2) berpengaruh terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu (Y) sebesar 37. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung pada proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik.000< 0. Salah satu tujuan pendidikan itu sendiri untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. strategi mengajar guru.118 X1 + 0. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu kelas VII di SMP Negeri 5 Ungaran. Upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa diperlukan strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa yang tepat. strategi belajar siswa Pendahuluan Latar belakang masalah Pendidikan merupakan usaha sadar yang sengaja dirancang pemerintah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hasil belajar dapat dijadikan indikator keberhasilan seseorang dalam kegiatan belajar (Sardiman 2006:49). Hasil analisis regresi berganda diperoleh persamaan Ȳ = 4.15%. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Kata Kunci : Hasil belajar siswa.05 karena signifikasi kurang dari 0.592 dengan nilai signifikasi 0.63%. kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok.05 maka Ha1 dan Ha2 diterima.000 karena signifikasi kurang dari 0. Hasil belajar dapat ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru sebagai hasil penguasaan.180 dengan signifikasi = 0. Strategi mengajar bagi guru merupakan pedoman dan acuan bertindak yang sistematis dalam pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah. Menurut Sahertian (2000:1) salah satu usaha yang ditempuh untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia ialah melalui proses pembelajaran disekolah. Pada pengujian secara parsial dengan uji t diperoleh Fhitung untuk X1 sebesar 5. strategi belajar siswa termasuk kategori sedang sebesar 59. pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran tersebut (Tu’u 2004:75).181+ 0. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh dari strategi belajar siswa lebih besar pengaruhnya dibandingkan strategi guru mengajar terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan deskriptif presentase dan analisis regresi linear berganda dengan bantuan SPSS For windows release 16. Strategi mengajar merupakan salah satu usaha guru bagi anak didiknya agar bisa memahami dengan mudah konsep materi yang diajarkan.199 X2. pengaruh strategi guru mengajar (X 1) terhadap Y sebesar 17.

”Setiap strategi mengajar yang dirancang guru bertujuan untuk mempermudah proses belajar siswa.33% 2 VII B 31 64.67% 22 73. Nilai rata-rata keseluruhan pada mata pelajaran IPS Terpadu dari keenam kelas yaitu 61.90% atau sekitar 55 anak. Alat Peraga dan LCD.83% 3 VII C 29 56. 103 .41% 4 VII D 30 63.59% 21 72.15 BC 8 27. SMP Negeri 5 Ungaran terletak di Jalan Nakula kelurahan kalongan.86% 23 82.33% 20 66.90% 123 69. Selain itu aktivitas siswa didalam kelas sangat tertip akan tetapi hasil belajar siswa yang dihasilkan belum optimal. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti di SMP Negeri 5 Ungaran. Adakah pengaruh strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran IPS Terpadu siswa kelas VII SMP Negeri 5 Ungaran? 3.16% 17 54. Selain itu media yang digunakan dalam proses belajar mengajar meliputi penggunaan White Board.10% belum dapat memenuhi kriteria ketuntasan minimun (KKM) yang ditetapkan disekolah.67% 5 VII E 30 64. Rumusan Masalah 1.13 BC 8 26.69 hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar hasil belajar siswa masih rendah dan jauh dibawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan dari pihak sekolah. Suasana pedesaan yang tenang dan jauh dari keramaian serta ketersediaan berbagai sarana belajar yang memadai sangat menunjang aktivitas belajar siswa. OHP.33% 20 66. Adakah pengaruh strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran IPS Terpadu kelas VII di SMP Negeri 5 Ungaran? Tujuan penelitian Tujuan yang ingin dicapai dengan diadakannya penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.16% JUMLAH 178 61.09 BC 10 33. Dari semua siswa kelas VII yang berjumlah 178.43 BC 10 33.10% (Sumber: Daftar Nilai UAS IPS Terpadu Kelas VII SMP 5 Ungaran) Ket : Terlampaui ( TL) Tercapai ( TC) Belum Tercapai (BC) Berdasarkan tabel 1.69 BC 55 30. mengadakan tanya jawab dengan siswa. kecamatan Ungaran Timur merupakan salah satu lembaga pendidikan yang letaknya sangat mendukung untuk kegiatan belajar mengajar.6% 6 VII F 28 62. SMP Negeri 5 Ungaran yang berstatus Sekolah Standar Nasional (SSN) dan memiliki tenaga pengajar yang profesional ditunjukkan dengan mayoritas guru sudah bergelar sarjana dan mengajar sesuai disiplin ilmu masing-masing. Data nilai di SMP Negeri 5 Ungaran kelas VII sebagai berikut: Tabel 1.1 Nilai Rata-rata UAS IPS Terpadu Semester II Tahun Pelajaran 2009/2010 No Kelas Jumla RataKriteria Jumlah siswa h rata Nilai Persen Nilai tdk Persen siswa Nilai Tuntas (%) Tuntas (%) UAS 1 VII A 30 60. diskusi. Pada saat berlangsungnya proses pembelajaran siswa selalu aktif mengikuti pembelajaran dapat dilihat ketika guru memberikan pertanyaan semua siswa aktif berusaha menjawab pertanyaan tersebut.1 hasil belajar mata pelajaran IPS Terpadu yang dicapai siswa pada semester dua kelas VII di SMP Negeri 5 Ungaran sebagian besar siswa belum memenuhi nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 68. Adakah pengaruh strategi guru mengajar terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran IPS Terpadu Siswa kelas VII SMP Negeri 5 Ungaran? 2. Guru dalam mengajar sudah menggunakan model pembelajaran yang bervariasi seperti : dengan membentuk kelompok belajar dalam memecahkan tugas yang diberikan guru. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh strategi guru mengajar terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran IPS Terpadu siswa kelas VII SMP Negeri 5 Ungaran.30 BC 14 45. agar dapat mencapai hasil yang maksimal” (Wena 2009:3). observasi.04 BC 5 17. pesentase ketuntasan siswa yang mampu memenuhi KKM hanya 30. Sedangkan 123 siswa lainnya atau 69.

artinya usaha guru dalam menggunakan beberapa variabel pengajaran (tujuan. bahan. Dimana perubahan perilaku tersebut tergantung dengan apa yang telah dipelajari oleh pembelajar. 2. metode dan alat. 3. cara-cara operasi untuk mencapai tujuan khusus dan desain yang direncanakan untuk mengendalikan dan memanipulasi informasi tertentu). 104 . 6. serta evaluasi) agar dapat mempengaruhi para siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 4. Strategi Guru Mengajar (X1) Kemampuan guru dalam membuka pelajaran Kemampuan guru dalam menerapkan metode pembelajaran Kemampuan guru menyampaikan materi pelajaran Kemampuan guru menggunakan sumber belajar Kemampuan guru dalam menggunakan media pembelajaran Kemampuan guru melakukan evaluasi pembelajaran Kemampuan guru menutup pelajaran (Wena 2009:18) STRATEGI BELAJAR SISWA (X2) Membuat jadwal dan pelakasanaanya Membaca dan membuat catatan Mengulangi bahan pelajaran Konsentrasi Mengerjakan tugas (Slameto 2003:82) Hasil Belajar Mata Pelajaran IPS Terpadu (Y) Ranah kognitif Ranah afektif Ranah psikomotorik (Anni 2004:6) 1. 5. Pengertian strategi mengajar Menurut Sudjana (2009:149) Strategi mengajar adalah tindakan guru melaksanakan rencana mengajar. Dari definisi diatas dapat disimpulkan strategi guru mengajar adalah cara-cara atau usaha guru yang berbeda dalam upaya membelajarkan siswa supaya siswa mudah memahami materi yang sedang dipelajari. Sedangkan menurut Brown (2007:119) menyatakan bahwa “strategies are defined as the specific methods of approaching a problem or task. Kerangka Berfikir Gambar 1. the modes of operation for achieving a particular and the planed design for controlling and manipulating certain information”( Strategi didefinisikan sebagai metode spesifik menyelesaikan masalah atau tugas.2. afektif dan psikomotorik . teratur dan terarah serta terencana dengan mengatur waktu yang seefisien mungkin untuk mencapai hasil yang maksimal. 3. Landasan Teori Pengertian hasil belajar Menurut Anni (2004:4) hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. 3. Menurut Gulo (2002:2) mendefinisikan Strategi guru mengajar adalah suatu seni dan ilmu guru untuk membawakan pengajaran dikelas sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien. 2. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran IPS Terpadu siswa kelas VII SMP Negeri 5 Ungaran. Menurut Roestiyah (2008: 1) yang mengatakan strategi belajar merupakan cara-cara belajar yang baik. 7. Sedangkan menurut Djamarah (2008:13) hasil belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik setelah mengalami aktivitas belajar yang menyangkut kognitif. 4. Pengertian Strategi belajar Menurut Djamarah (2006:5) “Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan”.1 kerangaka berfikir 1. 5. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran IPS Terpadu siswa kelas VII SMP Negeri 5 Ungaran.

62. Menentukan angka persentase terendah = (1/4) x 100% = 25% 3. Karena koofisien tersebut lebih besar dari nilai rtabel. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan angket.951. dokumentasi dan wawancara. 81. Kriteria strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa No Interval Kriteria Strategi guru Strategi belajar mengajar siswa 1.26% <%Skor ≤100% Sangat Baik Sangat Baik 2.51% <%Skor ≤81. Ha2 : Ada pengaruh strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa. 2. 3. Ha1 : Ada pengaruh strategi guru mengajar terhadap hasil belajar siswa. Interval kelas persentase = 75 % : 4 = 18. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan deskriptif presentase dan analisis regresi berganda dengan bantuan SPSS for Windows release 16. Hasil Analisis Analisis Deskriptif Persentase Analisis Deskriptif Persentase adalah metode yang digunakan untuk mendeskripsikan masingmasing variabel bebas yaitu strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa.26 % Baik Baik 3. Rentang persentase = 100 % . Dalam analisis deskriptif ini.76% <%Skor ≤62. Menentukan angka persentase tertinggi = (4/4) x 100% = 100% 2.444.75% Tidak Baik Tidak Baik 105 . maka hipotesis yang penulis ajukan sebagai dugaan sementara adalah sebagai berikut : 1. Dengan demikian 51 soal saja yang digunakan untuk pengambilan data penelitian. perhitungan yang digunakan untuk mengetahui tingkat persentase skor jawaban dari masingmasing siswa yang diambil sebagai sampel ditulis dengan rumus sebagai berikut: % Dimana : n = Jumlah skor jawaban responden N = Jumlah skor jawaban ideal % = Tingkat persentase Cara menentukan tingkat kriteria adalah sebagai berikut : 1. dapat dinyatakan bahwa angket tersebut realibel dan dapat digunakan untuk pengambilan data penelitian. Ha3 : Ada pengaruh strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa Metodologi Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII di SMP Negeri 5 Ungaran yang berjumlah 178 siswa.Hipotesis Berdasarkan permasalahan dan teori yang dikumpulkan.444. 25% ≤ % Skor ≤ 43. Hasil uji reabilitas angket menggunakan rumus Alpha diperoleh koofisien sebesar 0.2. Pada taraf kesalahan 5% dengan n = 20 diperoleh rtabel 0. 43.50% Sedang Sedang 4. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas adalah strategi guru mengajar (X1) dan strategi belajar siswa (X2) serta hasil belajar siswa sebagai variabel terikat (Y). Berdasarkan hasil uji coba angket kepada 20 responden waktu penelitian diketahui dari 63 butir soal yang diujikan terdapat 12 soal yang tidak valid karena rxy < rtabel = 0.75 % Dengan demikian tabel kategori untuk masing-masing variabel yaitu strategi guru mengajar (X1) dan strategi belajar siswa (X2) adalah sebagai berikut : Tabel 1. sedangkan sampel yang digunakan adalah Propotional Random Sampling yang dihitung dengan rumus slovin dengan persen kelonggaran 5% yaitu sebanyak 123 siswa.25 % = 75 % 4.

Sedang tabel kategori nilai mata pelajaran IPS Terpadu di SMP Negeri 5 Ungaran sebagai berikut : Tabel 1.023 . yaitu strategi guru mengajar (X1) dan strategi belajar siswa (X2) terhadap hasil belajar pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu (Y).030 .061 5. 68 -78 Cukup 4.029 .041 .4 di bawah ini : Tabel 1.592 .093 Sig. 90 .030 .100 Sangat Baik 2.041 .592 . Dependent Variable: Hasil belajar Pengujian secara parsial ini digunakan uji t.199 .199 .181 . yang diolah) Tabel 1.061 5. .5.05 atau jika menggunakan penentuan kritis thitung > ttabel a.000 a.118 X1 + 0.3. 0 . Persamaan regresi tersebut mempunyai makna persamaan tersebut diperoleh koefisien positif artinya kenaikan variabel independen akan diikuti kenaikan dependen Pengujian Hipotesis secara Parsial (Uji t) Pengujian hipotesis secara parsial ini dimaksudkan untuk menguji keberhatian pengaruh dari masing-masing variabel bebas.000 X2 . . Dependent Variable: Hasil belajar (Sumber : data penelitian. Hasil Uji Parsial Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1 nt) X1 (Consta B 4. dengan kaidah Ha diterima jika p value< 0. Error 2.67 Belum Tuntas Analisis Regresi berganda Pengaruh strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu dapat dilihat dari analisis regresi berganda yang meliputi uji parsial dan uji simultan. Hasil analisis regresi linier berganda Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1 nt) X1 (Consta B 4.476 6.118 Std.000 X2 . 79 – 89 Baik 3. Error 2.181+ 0.368 Standardize d Coefficients Beta t 2. Tabel 1.093 Sig. Berdasarkan hasil perhitungan SPSS diperoleh hasil perhitungan seperti pada tabel 1.476 6. Kriteria hasil belajar siswa No Interval Kriteria 1.4 di atas menunjukkan bahwa dari hasil analisis diperoleh persamaan regresi ganda Y= 4.029 .023 . Pengaruh strategi guru mengajar (X1) terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu 106 .199 X2.4.000 a.368 Standardize d Coefficients Beta t 2.181 .118 Std.

b.000. Karena taraf signifikasi yang diperoleh lebih kecil dari 0.51 6 .05 dapat disimpulkan bahwa Ha1 diterima yang berarti ada pengaruh antara strategi guru mengajar (X1) terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu (Y). Dependent Variable:Hasil belajar Besarnya kontribusi masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat diketahui dari besarnya koofisien determinasi secara parsial (r2) dari masing-masing variabel tersebut.181 . Pengujian dilakukan dengan SPSS for Windows release 16 sebagai berikut Tabel 1.6. X1 107 .173 5.05.029 .81% dan besarnya kontribusi strategi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu sebesar (0. Karena taraf signifikasi yang diperoleh lebih kecil dari 0.000.726 36. 061 041 5.47 5 Correlations Zeroorder Par tial Pa rt Total 1101.05 dapat disimpulkan bahwa Ha2 diterima yang berarti ada pengaruh antara strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu. 2. Tabel 1. 1 n Residual Regressio 414.masing variabel independen yang mempengaruhi variabel dependen secara parsial.36 7 . dengan kaidah Ha diterima p value < 0. 592 000 .134 2 120 122 207.42 2 . Besarnya kontribusi strategi guru mengajar terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu adalah (0.093 dengan taraf signifikasi 0.63% . Predictors: (Constant).023 . Koefisien Determinasi Parsial (Uji r2) Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1 ant) X1 X2 (Const B 4.180 . 093 000 6. .030 . . Error 2.388 . Hasil analisis regresi secara simultan ANOVAb Sum of Mean Model Squares df Square F Sig.000a Std.368 . Pengaruh strategi belajar siswa (X2) terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa thitung untuk variabel strategi belajar siswa sebesar 6.422)2 atau 17.516)2 atau 26.118 . Koefisien Determinasi Parsial (Uji r2) Uji r2 untuk mengetahui seberapa besar sumbangan yang diberikan masing.491 .480 a. Pengujian hipotesis secara simultan (uji F) Pengujian secara simultan ini mengggunakan uji F.476 Standardi zed Coefficients S Beta t ig.7. .592 dengan taraf signifikasi 0.199 a.5 tersebut terlihat bahwa thitung untuk variabel strategi guru mengajar sebesar 5. X2. Berdasarkan tabel 1.345 687.

Strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa berpengaruh terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu kelas VII di SMP Negeri 5 Ungaran. 2008.6% dan sisanya 62. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta. 2002. Djamarah. Semarang: UPT UNNES Press Arif And Aysel.05 maka Ha3 diterima. . Strategi Belajar Mengajar. Sardiman. X1 Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dengan analisis regresi ganda menggunakan SPSS 16 diperoleh Fhitung = 36. Ada pengaruh antara strategi guru mengajar terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu kelas VII di SMP Negeri 5 Ungaran 2. 2003.134 df 2 120 Mean Square 207. Ada pengaruh antara strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu kelas VII di SMP Negeri 5 Ungaran.613a .4 % dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dikaji dalam penelitian ini. Raja Grafindo Persada. Jadi hipotesis Ha3 yang menyatakan ada pengaruh strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu diterima. Error of the Estimate 1 . Belajar dan Faktor Faktor yang Mempengaruhinya. diolah) Tabel 4. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan : 1. 2006.39293 a.366 2.000a Total 1101.376 . bahwa strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa secara bersama-sama mempengaruhi hasil belajar siswa mata pelajaran IPS sebesar 37. 2004. Daftar Pustaka Anni. 2008. Rineka Cipta. 108 . Jakarta: PT. yang artinya ada pengaruh antara strategi guru mengajar (X1) dan strategi belajar siswa (X2) terhadap hasil belajar siswa. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta. Jakarta: PT. Predictors: (Constant). Dependent Variable: Hasil Belajar (Sumber: data penelitian 2010.6%.27. karena p value < 0. Rineka Cipta.180 Sig. Jakarta: PT.000. ChatarinaTri. Psikologi Belajar. Dalam penelitian ini variabel strategi belajar siswa mempunyai pengaruh lebih besar daripada variabel strategi guru mengajar. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Dalam jurnal Novitas-ROYAL. Slameto. Volume 12 No. Sahaertian. 2000. Rahasia Sukses Belajar. ________.Model 1 n Residual Regressio Sum of Squares 414. X2. ________. Kesimpulan penjelasan diatas. 2006.613.726 F 36.480 122 b. 3. Sedangkan besarnya kontribusi strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa terhadap hasil belajar mata pelajaran IPS secara simultan diketahui dari harga koofisien determinasi (R)2 yaitu sebesar 37. Jakarta: PT Grasindo.345 687.180 dengan p value sebesar 0.173 5. Hal 126175 Departement of ELT: Hacettepe University. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan. Hasil analisis hubungan antara strategi guru mengajar dan strategi belajar siswa terhadap hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu diperoleh data harga koofisien korelasi secara simultan sebesar 0. Koefisien determinasi simultan ( Uji R2 ) Model Summary Mo del R R Square Adjusted R Square Std. 2. Gulo. 2002. Jakarta: PT Rineka Cipta. “ The effect of Relationship Between Learning and Teaching Strategies on Academic Achievement”.

Sugandi. Tulus. 2004. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Rineka Cipta. Teori Pembelajaran. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar.Sudjana. Semarang: UNNES Pres Roestiyah. Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa. Jakarata: PT. Nana. Jakarta: PT. Wena. 2009. 2004. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Tu’u. Made. Jakarta: Bumi Aksara 109 . 2009. Strategi Belajar Mengajar. 2008. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Kata Kunci : Motivasi Belajar. Dari lingkungan keluarga sebagian besar siswa berasal dari kondisi keluarga menengah kebawah. tetapi prestasi siswa yang dihasilkan belum optimal. peneliti tertarik untuk mengkaji lebih lanjut dengan mengambil judul penelitian “Pengaruh Motivasi Belajar. lingkungan keluarga dan strategi belajar terhadap prestasi belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan siswa kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus. lingkungan keluarga dan strategi belajar terhadap prestasi belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan siswa kelas XI di SMK Tamansiswa Kudus secara parsial dan simultan. teknik analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis regresi berganda. sehingga pada saat pelajaran berlangsung siswa selalu memperhatikan penjelasan guru.816 X1 + 0. Data yang ada menunjukkan siswa yang belum mencapai nilai KKM terdiri dari siswa kelas administrasi perkantoran 1 terdapat 17 siswa yang belum tuntas dan kelas administrasi perkantoran 2 terdapat 27 siswa yang belum tuntas.PENGARUH MOTIVASI BELAJAR. data tersebut diambil dari jumlah populasi dari dua kelas sebanyak 88 siswa. Berdasarkan Observasi yang peneliti lakukan di SMA Tamansiswa Kudus strategi belajar siswa diduga sudah baik. PENDAHULUAN 1. Berdasarkan hal diatas. Prestasi Belajar VI.584 X2 + 0. namun perhatian dan pengawasan orangtua terhadap anaknya mengenai pendidikan serta tersedianya dana yang cukup untuk biaya pendidikan dapat mendorong anak untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal. Hasil penelitian regresi linier berganda menunjukkan persamaan Y = 12.00. Menurut pengamatan dan data yang ada diperoleh informasi bahwa siswa menyenangi mata pelajaran mengelola sistem kearsipan. lingkungan keluarga dan strategi belajar kemudian satu variabel terikat yaitu prestasi belajar siswa Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. motivasi belajar. Dan Strategi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Mengelola Sistem Kearsipan Siswa Kelas XI Jurusan Administrasi Perkantoran SMK Tamansiswa Kudus” 1. Variabel dalam penelitian ini adalah tiga variabel bebas yaitu motivasi belajar. Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan pada mata pelajaran mengelola sistem kearsipan yaitu 72. lingkungan keluarga dan strategi belajar siswa pada mata pelajaran mengelola sistem kearsipan sangatlah penting dalam menentukan keberhasilan siswa untuk mencapai prestasi belajar. Lingkungan Keluarga. Strategi Belajar. Dalam penelitian ini menggunakan populasi karena respondennya terdiri kurang dari 100 yaitu 88 siswa. Dengan demikian menunjukkan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan baik secara simultan maupun parsial dari pengaruh motivasi belajar. Melihat keadaan yang demikian.4 Rumusan Masalah 110 .725 X3. terlihat dari aktivitas siswa didalam kelas baik dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan dilihat situasi siswa yang tenang ketika pada saat guru memberikan meteri pelajaran. Abstrak Oleh : Rita Trisna Deasyanti Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya pengaruh motivasi belajar. Lingkungan Keluarga. LINGKUNGAN KELUARGA DAN STRATEGI BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN MENGELOLA SISTEM KEARSIPAN SISWA KELAS XI JURUSAN ADMINISTRASI PERKANTORAN SMK TAMAN SISWA KUDUS.3 Latar Belakang Hasil belajar siswa jurusan administrasi perkantoran kelas XI pada mata pelajaran mengelola sistem kearsipan masih belum optimal.077 + 0.

METODOLOOGI PENELITIAN 3. misalnya. 2.3 Konsep Dasar tentang Prestasi Belajar “Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya” (Slameto. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku manusia yang diperoleh setelah mengalami proses belajar. namun tidak efektif bagi orang lain. 2010: 2 ). Suasana edukatif yang dimaksud adalah orangtua yang mampu menciptakan pola hidup dan tata pergaulan dalam keluarga dengan baik sejak anak dalam kandungan (Suwarno. 2009:40). motivasi berasal dari kata motif dapat dikatakan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. selain itu penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif karena peneliti memaparkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan. atau motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam diri subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Keluarga memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan kepribadian anak. orangtua harus menumbuhkan suasan edukatif dilingkungan keluarganya sedini mungkin. Adakah pengaruh strategi belajar terhadap prestasi belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus? 7.6 Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif.Dari identifikaksi masalah di atas penelitian ini akan dibahas tentang beberapa masalah diantaranya: 4. 3. Penelitian ini mengkaji fakta-fakta yang sudah ada dan tidak memanipulasinya atau mengubah data tersebut sehinggga penelitian ini termasuk penelitian non eksperimen. Adakah pengaruh motivasi belajar. dan penggunaan strategi belajar dalam mempelajari sesuatu. 2. karena sebagian besar kehidupan anak berada ditengah-tengah keluarganya. dan strategi belajar terhadap prestasi belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus? VII. Kebermaknaan strategi belajar yang efektif itu tergantung pada karakteristik individu dalam belajar. Penentuan strategi belajar umumnya tidak seluruhnya efektif bagi setiap orang. Adakah pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan kelas XI jurusan adminintrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus? Adakah pengaruh lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus 6. yang menjadi tujuan dari pembelajaran adalah pendiskripsian tentang perubahan perilaku yang diinginkan atau gambaran produk yang menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut sudah terjadi. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang telah dipelajari oleh pembelajar. lingkungan keluarga. 2. artinya pendekatan ini untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh atau tidak antara variabel bebas dan variabel terikat dan seberapa besar pengaruh tersebut. LANDASAN TEORI 2. artinya: mungkin strategi yang digunakan itu efektif untuk seseorang.5 Konsep Dasar tentang Lingkungan Keluarga Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. VIII. Hasil belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan merupakan hasil perubahan perilaku berupa pengetahuan yang siswa dapatkan setelah proses pembelajaran dan keterampilan mengelola kearsipan yang siswa peroleh.4 Konsep Dasar tentang Motivasi Belajar Menurut Sardiman (2007 :73).6 Konsep Dasar tentang Strategi Belajar Strategi belajar dalam penerapannya pada siswa memiliki tujuan untuk membentuk siswa mandiri dan diharapkan siswa memiliki kesadaran yang timbul dari dalam. Apabila yang dipelajari itu berupa konsep.7 Populasi Penelitian 5. Untuk mengoptimalkan kemampuaan dan kepribadian anak. mau dan mampu belajar. tentu menggunakan strategi yang berbeda ketika seseorang belajar dengan fakta. 111 .

Dengan indikator : (a) Tekun menghadapi tugas.2010:73) motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. (d) Senang mencari dan memecahkan masalah. 2006: 151). (c) Mengulangi bahan pelajaran. Dengan indikator : (a) Cara orang tua mendidik. 112 . 2003:2).Uji Multikolinieritas f.3 3. Peneliti menggunakan teknik dokumentasi ini karena ingin memperoleh data-data yang relevan dengan tujuan penelitian sehingga dapat mempermudah dalam proses penelitian. Tujuan dari penggunaan teknik ini adalah untuk mengetahui tanggapan responden tentang motivasi belajar. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut: Analisis Deskriptif Uji Asumsi Klasik d.1 3.10 5. (b) Membaca dan membuat catatan. dimana responden telah diberikan pilihan jawaban. (d) Konsentrasi.4 3. transkip.8.8. (b) Relasi antar anggota keluarga. karena sebagian besar kehidupan anak berada di tengah-tengah keluarganya. Teknik ini digunakan untuk memperoleh data berupa daftar nilai ulangan tengah semester dari pihak guru mata pelajaran mengelola sistem kearsipan di SMK Tamansiswa Kudus Teknik Analisis Data. 2006:158). Dengan indikator : (a)Membuat jadwal dan pelaksanaannya. lingkungan keluarga. notulen. Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini. Uji Heteroskedastisitas Analisis Regresi Linier Berganda 3. berhubung jumlah obyek yang diteliti kurang dari 100 maka peneliti menggunakan penelitian jenis populasi. (c) Keadaan ekonomi keluarga. rapat. 6. Indikator hasil belajar adalah nilai dari tes subsumatif atau nilai ulangan tengah semester. (d) Mengerjakan tugas. penulis menggunakan teknik sebagai berikut: Angket “Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya. 7.8 Obyek dalan penelitian ini adalah seruh siswa kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa yang jumlahnya 88 siswa. Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. (c) Berorientasi jauh kedepan.(d) Suasana rumah. sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto. (b) Ulet menghadapi kesulitan. dan strategi belajar. Keluarga memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan kepribadian anak. Strategi belajar diperlukan untuk dapat mencapai hasil yang semaksimal mungkin. Dokumentasi “Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa cacatan. leger. Lingkungan Keluarga Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. 3.3. buku.8. surat kabar. Variabel Penelitian Dalam penelitian ini terdapat dua variabel bebas dan satu variabel terikat. Strategi Belajar Belajar yang efisien dapat tercapai apabila dapat menggunakan strategi belajar yang tepat. agenda dan sebagainya” (Suharsimi.8.2 3. majalah. atau hal-hal yang diketahui” (Suharsimi. Uji Normalitas e. 4. Prestasi Belajar Prestasi belajar merupakan perubahan perilaku manusia yang diperoleh setelah mengalami proses belajar.9 3. Variabel yang dipaparkan dalam penelitian ini adalah: Motivasi Belajar Menurut Mc Donald (Sardiman. Pertanyaan yang disediakan dalam angket merupakan jenis pertanyaan tertutup.

51.25 3 43.764 Sedang 62. 81. 81. si 1 81. 81.50 4. 8.26Sangat 53 100 tinggi 2.5139 Tinggi . 43. 100 tinggi 2 62. .75 0 Rendah Persentase 60% 35% 5% 0% Kriteria Deskriptif Lingkungan Belajar N Frekuen Rentang Kriteria o.25 3.769 Sedang . 43. 43. 62.76.75 Frekuen si 38 45 4 1 Persentas e 43% 51% 5% 1% Regresi linier berganda 113 .50 4 25.26100 2 62. Koefisien Determinasi Simultan dan Parsial HASIL DAN PEMBAHASAN Kriteria Deskriptif Motivasi Belajar No.26Sangat 37 . 62. Frekuen Rentang Kriteria si 1.25 3 43.75 Kriteria Deskriptif Strategi Belajar N Rentang Kriteria 1 Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Persentas e 42% 44% 10% 3% o.50 4 253 Rendah .IX.5131 Tinggi 81. 81. 25-43. 62.

655 g.332 . Error 7.641a . X2.272 .2 06 .2 19 .0 16 .0 11 .Coefficientsa Stand ardized Unstandardize Coefficie d Coefficients nts Model 1 (Co nstant) X1 X2 X3 a.224 .725 Std.2 19 . Predictors: (Constant).0 77 . Error 7. 540 2.54 7 .272 . 459 2.0 09 .224 .54 3 .292 Si Beta t 1. 615 2.1 27 . Dependent Variable: Y B 12.273 . 655 g.2 78 .238 .332 .55597 B 12.2 74 . X1 Hasil Koefisien Determinasi secara Parsial Coefficientsa Stand ardized Unstandardize Coefficie d Coefficients nts Model 1 (Co nstant) X1 X2 X3 a.84 4 .54 3 .54 7 .390 7. 459 2.1 27 . .2 22 Correlations Zer o-order Pa rtial Pa rt 1 .2 59 .584 .816 .2 78 .584 .238 .0 77 . .43 5 .2 59 .0 11 .816 .0 09 . 615 2. Error R Square of the Estimate .43 5 .2 74 .0 16 .2 06 .84 4 .273 . X3.411 a.2 22 Correlations Zer o-order Pa rtial Pa rt 114 . Dependent Variable: Y Hasil Koefisien Determinasi Secara Simultan Model Summary Model R R Square Adjusted Std.725 Std.292 Si Beta t 1. 540 2.

Sedangkan secara simultan memberikan kontribusi sebesar 39%. 7. Yogyakarta: BPFE. 2007. Jakarta: Rineka Cipta. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Abdurrahmat. Ada pengaruh yang positif motivasi belajar terhadap prestasi belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus. Baharuddin dan Esa. chatarina tri. Secara parsial dan simultan ada pengaruh yang positif motivasi belajar. 2000.71%. 115 . Jakarta: Rineka Cipta. cara orang tua dalam mendidik anaknya sudah tergolong tinggi. karena membaca besar pengaruhnya terhadap belajar. 3. Gamze S.X. Learning Strategies of Physics Teacher Candidates: Relationships with Physics Achievement and Class Level. 2. Journal of Physics Education Department. Hamalik. 4. Manajemen Kearsipan. Anni.2 Saran 1. Selcuk. basir. DAFTAR PUSTAKA Algifari. Jakarta: Bumi Aksara. Oemar. 3. Belajar dan Pembelajaran. 2006. Analisis Regresi. lingkungan keluarga dan strategi belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus memberikan pengaruh yang nyata terhadap perubahan prestasi belajar dengan kontribusi masing-masing 6. Motivasi belajar sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar mengelola sistem kearsipan. Lingkungan keluarga siswa kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus sudah tergolong baik. 10. Ada pengaruh yang positif lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus. Ali. Arikunto. maka dari itu agar prestasi belajar siswa jauh lebih bagus diharapkan siswa lebih meningkatkan strategi/cara belajarnya lebih efektif seperti membaca. 2006. maka dari itu orang tua dalam mendidik dan memperhatikan anaknya lebih diutamakan lagi seperti memperhatikan jadwal belajar anaknya selama sekolah.73%. Psikologi Belajar. Bandung: Angkasa. Jakarta : Rineka Cipta. Mustafa Erol. Penelitian Pendidikan Prosedur dan Teknologi. Strategi belajar sangat berpengaruh positif dengan prestasi belajar mengelola sistem kearsipan. 511-512. Jogjakarta : Ar-ruzz media. dan 7. 2. Barthos.pp. PENUTUP 10. 1996. 2006. Dimyati dan Mudjiono. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. muhammad. 2010. suharsimi. 2009. 2006.51%. Fathoni. sehingga siswa dapat memperoleh hasil belajar yang lebih baik lagi. Ada pengaruh yang positif strategi belajar terhadap prestasi belajar mata pelajaran mengelola sistem kearsipan kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Tamansiswa Kudus. Semarang: UPT MKK UNNES.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. maka dari itu siswa diharapkan lebih meningkatkan motivasinya baik intrinsik maupun ekstrinsik. Teori Belajar dan Pembelajaran. bermotivasi secara intrinsik yaitu dengan lebih tekun dalam mengerjakan tugastugas belajarnya dan motivasi ekstrinsik yaitu dengan lebih sering untuk belajar kelompok dengan teman-teman. 2005. Serap Caliskan. sehingga siswa dapat memperoleh hasil belajar yang lebih baik lagi. Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi.

33/02: 91-99 Manuchehr Irandoust. Jakarta: FKIP IKIP Padang. 2002. Journal Of Instructional Pshychology. Jogjakarta: Ar-ruzz media. Curriculum. 1994. tulus. Peran Disiplin Pada Perilaku Dan Prestasi Siswa. Niklas Karlsson. Jakarta: Grasindo 116 . Semarang: FE UNNES.Ibtesam Halawah. Jakarta: Rineka Cipta.umar. The Effect Of Motivation. Pengaruh Kompetensi Guru dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Pada Mata Pelajaran Bekerjasama Dengan Kolega Kelas X Jurusan Administrasi Perkantoran(X AP) SMK Antonius Semarang Tahun 2008-2009. Impact of preferences. Sardiman. Nopitahari. 2005. Motivasi Dalam Belajar. Tu’u. 2007. Prayitno. Statistika Untuk Penelitian. 25/ 04. M. 2004. Journal of Educational Psychology. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 2002. Skripsi. Family Environment. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Elida. pp. pp. 423-435. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. 2009. Suwarno. Cruz Garcia-Linares. 2003. Bandung: Tarsito. 2009. de la Torre. Pengantar Pendidikan. Pedro F. Sugiyono. Sudjana. Tirtarahardja. and Learning Strategies on Academic Success. 10/01. Metoda statistika. Journal Of Education Economics. 41-48. Influence of family and Socio-Demographic Variables on Students with Low Academic Achievement. de la Villa Carpio. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. And Student Characteristics On Academic Achievement. 2005. Casanova. Manuel J. Wiji. 2010. Bandung: Alfabeta. M. Jakarta: Rajawali Pers. Slameto.

penandatanganan. Kesimpulan yang diperoleh dan pembahasan mengenai pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang dilaksanakan dengan baik. dan metode dokumentasi. Mereka bersaing dalam meningkatkan kemampuan kerja. sehingga akan menghambat proses pengelolaan surat. pengarahan surat serta penyimpanan. Salah satu sumber informasi itu yang otentik adalah surat. Dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang dan bagaimana cara mengatasi kendala-kendala tersebut. pemberian nomor dan pemberian cap dinas. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. mengingat pentingnya surat bagi instansi pemerintahan. Metode Pengumpulan data yang digunakan adalah dengan metode interview atau wawancara. Dalam pengelolaan surat diperlukan pegawai 117 . persetujuan konsep surat. sehingga tidak ada surat masuk yang alamatnya tidak lengkap. dan cara mengatasi kendala yaitu surat masuk yang alamat pengirimnya atau tujuannya tidak lengkap untuk segera dikembalikan kepada pengirim agar dilengkapi alamat pengirim atau tujuannya. pengendalian. hal ini sangat mempengaruhi dalam perkembangan bisnis di sektor pemerintah maupun swasta. sehingga akan menghambat proses pengelolaan surat. tetapi masih ada kendala. hal ini sangat mempengaruhi dalam perkembangan bisnis di sektor pemerintah maupun swasta. Oleh karena itu peneliti menyarankan Pengelolaan surat masuk pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang sebaiknya lebih teliti dalam mengecek surat masuk. Salah satu sumber informasi itu yang otentik adalah surat. pencatatan. pencatatan. kendala-kendala yang dihadapi dalam pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang. dan menggunakan sistem sentralisasi yaitu pengelolaannya melalui satu pintu. Oleh karena itu pengurusan dan penanganan surat masuk dan keluar harus dilaksanakan secara tepat agar sesuai dengan perkembangannya. penyerahan dan penyimpanan. maka diharapkan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang mengadakan pelatihan untuk pegawai untuk lebih mengenal atau menguasai tentang pengelolaan surat. yaitu adanya surat masuk yang alamat pengirim atau alamat yang di tuju tidak lengkap. pengetikan. Pengelolaan surat masuk meliputi penerimaan. Pengelolaan surat keluar meliputi pembuatan konsep surat. Permasalahan yang dibahas adalah mengenai bagaimana pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang. yaitu terdapat surat masuk yang alamat pengirim atau pembuat surat tidak lengkap dan terdapat surat yang tidak menuliskan alamat ke bidang yang di tuju. Mereka bersaing dalam kemampuan kerja. Pengelolaan surat masuk dan surat keluar menggunakan sistem kartu kendali dan buku agenda. Lokasi penelitian ini dilakukan oleh penulis pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang yang beralamat di Jalan Pemuda no 07 Ungaran dengan objek pengelolaan surat masuk dan surat keluar. Kata kunci : Prosedur Pengelolaan surat masuk dan surat keluar PENDAHULUAN Perkembangan ilmu dan tehnologi sekarang ini sangat pesat.PROSEDUR PENGELOLAAN SURAT MASUK DAN SURAT KELUAR PADA DINAS SOSIAL TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI KABUPATEN SEMARANG Abstrak Sischa Apriliyanti Perkembangan ilmu dan teknologi sekarang ini sangat pesat. Hasil penelitian yang diperoleh pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang sudah berjalan baik. Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut suatu organisasi memerlukan suatu informasi serta kebenaran data sangat diperlukan. Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut suatu organisasi memerlukan suatu informasi serta kebenaran data sangat diperlukan. Kendala yang dihadapi yaitu adanya surat masuk yang alamat pengirim atau tujuannya tidak lengkap.

Untuk mengetahui bagaimana pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinsosnakertrans Kabupaten Semarang ? 2. Kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang ? Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinsosnakertrans Kabupaten Semarang ? BUKTI EMPIRIS DARI HASIL TEORI ` 2. Kemudian surat tersebut akan diserahkan ke Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Semarang untuk disahkan. maka pengelolaan surat akan terhambat. Warna putih disimpan sebagai arsip. Kemudian diagendakan pada buku kendali surat masuk dan dicatat pada kartu kendali surat masuk rangkap tiga warna putih. disini dalam penyimpanan surat masih belum menggunakan filing cabinet atau almari arsip yang digunakan untuk menyimpan arsip yang di dalamnya terdapat suatu susunan sekat dan folder sacara vertical dalam laci-lacinya. merah muda.2 Pembahasan Dinsosnakertrans Kabupaten Semarang merupakan unsur pelaksana otonomi daerah di bidang sosial. masih ada beberapa kendala yaitu adanya surat masuk yang alamat tujuan surat tidak lengkap. dan kuning. Dari kepala Dinas surat diserahkan kembali ke sub bagian umum dan kepegawaian. Pengelolaan surat masuk pada Dinsosnakertrans Kabupaten Semarang dimulai dari surat masuk diterima oleh unit kearsipan yang berada pada sub bagian umum dan kepegawaian. yang dimaksud disini adalah nama instansi yang dituju kurang jelas atau terdapat kesalahan penulisan. dan transmigrasi. hal ini dapat disebabkan oleh kesalahan pegawai atau petugas yang lalai dalam mengurusi pengelolaan surat tersebut. Dari uraian di atas. Surat masuk beserta lembar kendali warna merah muda dilanjutkan untuk diajukan ke sekretariat untuk ditentukan disposisi sesuai dengan pokok permasalahan.1982:139) Hasil Penelitian 2. namun belum sepenuhnya mengacu pada posedur pengelolaan surat yang ada.yang memiliki ketrampilan.1 Pengertian Surat Surat adalah sehelai kertas yang ditulis (pada waktu sekarang umumnya diketik)atas nama pribadi penulis atau atas nama kedudukan dalam organisasi yang ditujukan kepada suatu alamat tertentu dan memuet suatu bahan komunikasi(Prajudi Atmosudirjo. tenaga kerja dan transmigrasi yang mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan pemerintahan Daerah di bidang sosial tenaga kerja. apabila pegawai atu petugas pengelolaan surat tersebut kurang menguasai dan memahami cara pengelolaan surat yang baik. sehingga akan menghambat proses pengelolaan surat.Warna kuning disimpan di almari arsip. Bagian umum pada Dinas Sosial Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Semarang adalah bagian yang mengurusi jalannya surat masuk dan surat keluar. maka penulis tertarik untuk menyusun tugas akhir ini dengan judul “Prosedur Pengelolaan Surat Masuk dan Surat Keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang” Rumusan Masalah 1. Dalam pengelolaan suratnya sudah berjalan dengan baik. sedangkan pada surat keluar terdapat sedikit kendala yaitu pada unit pengolah surat yang bertugas melakukan penggarapan isi surat terkadang lupa mencantumkan nomor surat keluar sehingga surat tersebut kembali. Bagaimana pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang ? 2. Kemudian surat akan 118 . ketelitian dan pengetahuan tentang surat menyurat.

diserahkan ke bidang yang dituju dan disertakan pula lembar disposisi dan kartu kendali warna merah muda. Pengelolaan surat masuk pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi sudah berjalan dengan cukup baik. Sedangkan prosedur pengelolaan surat keluar pada Dinsosnakertrans meliputi pembuatan konsep oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kepala dinas tersebut. Bentuk surat yang digunakan dalam pembuatan konsep disesuaikan dengan petunjuk atau aturan yang berlaku yaitu bentuk official style. Setelah konsep surat jadi selanjutnya dimintakan persetujuan/pengesahan Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Semarang. Setelah surat disetujui dan diketik selanjutnya diberi nomor surat. Selanjutnya adalah pengagendaan atau pengendalian surat yaitu berupa pengisian lembar kartu kendali surat keluar. Untuk kartu kendali yang berwarna putih disimpan oleh bagian arsip, warna merah diberikan kepada unit pengolah untuk disimpan, sedangkan warna kuning disimpan di bagian umum dan kepegawaian untuk arsip. Langkah selanjutnya pengiriman surat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan dikirim secara langsung dan dikirim melalui sarana jasa. Pengiriman melalui sarana jasa bisa melalui pos atau fax. Dalam pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinsosnakertrans masih terdapat kendala-kendala, diantaranya : Adanya surat masuk yang alamat tujuan surat tidak lengkap, yang dimaksutd disini adalah nama instansi yang dituju kurang jelas atau terdapat kesalahan penulisan, sehingga dapat menghambat proses pengelolaannya, kurangnya ketelitian pegawai dalam pengelolaan surat, yaitu pegawai pengolah surat yang bertugas melakukan penggarapan surat lupa menulis nomor surat dan alamat surat yang akan dituju, sehingga surat tersebut kembali. METODE PENELITIAN 3.1 Sumber dan jenis data Jenis data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah : 1. Data Primer Data primer adalah data yang dikumpulkann langsung di lapangan oleh orang-orang yang melakukan penelitian. 2. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dengan cara membaca dan mempelajari buku-buku literature yang berkaitan dengan permasalahan. 3.2 Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Metode wawancara Wawancara (interview) adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari nterwawancara (Suharsimi Arikunto 2006:155).Penulis melakukan metode wawancara dengan mengajukan pertanyaanpertanyaan kepada pihak Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang mengenai pengelolaan surat masuk dan surat keluar. 2. Metode Dokumentasi Metode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, agenda atau sebagainya (Arikunto 2006 : 231) yang dilakukan penulis yaitu dengan mengumpulkan data dari buku-buku mengenai arsip maupun surat. 3.3 Metode Analisis Data Dalam hal ini penulis menggunakan metode analisis deskriptif. Metode analisis deskriptif adalah metode penelitian yang dilakukan dengan menjelaskan atau menggambarkan variable masa lalu dan sekarang (Suharsimi,2002:9) Penulis menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dimaksudkan agar memperoleh gambaran dan tata secara sistematis tentang berbagai hal yang berkaitan

119

dengan pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang serta kendala yang dihadapi dalam pengelolaan surat masuk dan surat keluar, sehingga penulis dapat menyusun dalam bentuk laporan dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. PENUTUP Simpulan Dari penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa : 1. Pengelolaan surat masuk pada Dinas Sosial Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Semarang dilaksanakan di Sub Bagian Umum dan Kepegawaian yang meliputi penerimaan surat, pencatatan surat, pengendalian surat, pengarahan surat dan penyimpanan. Pengelolaan surat masuk dan surat keluar pada Dinas Sosial Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Semarang pada subbagian umum dan kepegawaian sudah berjalan cukup baik. Pada Dinas Sosial Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Semarang menggunakan sistem satu pintu, dan menggunakan sistem kartu kendali dan buku agenda, alasan menggunakan dua sistem ini yaitu jika terdapat kesalahan dalam penyimpanan kartu kendali dapat dibantu pencariannya dengan buku agenda. 2. Kendala-kendala yang dihadapi Dinas Sosial Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Semarang yaitu adanya surat masuk yang alamat pengirim atau alamat yang di tuju tidak lengkap, yaitu terdapat surat masuk yang alamat pengirim atau pembuat surat tidak lengkap dan terdapat surat yang tidak menuliskan alamat ke bidang yang di tuju, sehingga akan menghambat proses pengelolaannya, kurangnya ketelitian pegawai dalam pengelolaan surat, yaitu pegawai lupa menulis nomor surat dan alamat surat yang akan dituju, sehingga terkadang ada surat kembali DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Yogyakarta : Rineka Cipta Atmosudirjo, Prajudi. 1982. Kesekertarisan dan Administrasi Perkantoran. Jakarta : Ghalia Indonesia. Barthos, Basir. 2000. Manajemen Kearsipan. Jakarta : Bumi Aksara Moekijat. 1982. Tata Laksana Kantor. Bandung : Alumni Panji, Suhanda. 1981. Dasar-Dasar Korespondensi Niaga Bahasa Indonesia. Jakarta : Karya Utama Silmi, Sikka Mutiara. 2002. Panduan Menulis Surat Lengkap. Yogyakarta : Absolut Sutarto. 1981. Sekretaris Dan Tatawarkat. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press Widjaja, A W. 1990. Administrasi Kearsipan. Jakarta : CV Rajawali Wirladiharjo, H. Moeftie. 1991. Pedoman Administrasi Umum. Jakarta : Balai Pustaka Wursanto, Ig. 1991. Kearsipan I. Yogyakarta : Kanisius

120

UPAYA PENINGKATAN KUALITAS SEKRETARIS DALAM MANAJEMEN PERKANTORAN PADA BADAN KESATUAN BANGSA, POLITIK, DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT KOTA SEMARANG ABSTRAK INDAH FITRIA RAHAYUNINGRUM

Agar pelaksanan kegiatan kantor dapat berjalan dengan baik diperlukannya manajemen perkantoran untuk mengatasinya. Sekretaris dibutuhkan oleh setiap organisasi untuk membantu dalam bidang organisasi dan kedinasan, atau dengan kata lain, melaksanakan fungsi perkantoran pimpinan agar bisa berkonsentrasi dan melaksanakan tugas-tugas manajerialnya dengan baik. pengembangan diri sekretaris menjadi tuntutan dan kebutuhan yang terus menerus dan berkesinambungans sebagai upaya untuk meningkatkan kualitasnya dalam menghadapi tugasnya sehari-hari Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 1) Untuk mengetahui peranan sekretaris organisasi dalam manajemen perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang. 2) Untuk mengetahui upaya yang dilakukan sekretaris organisasi untuk meningkatkan kinerjanya pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang. 3) Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi sekretaris organisasi dalam melaksanakan pekerjaannya di perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang. Kesimpulan, 1) Peranan sekretaris pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang diatur dalam Peraturan Walikota Nomor 44 mengenai penjabaran tugas dan fungsi Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang. Sebagai sekretaris organisasi kadang-kadang sekretaris melaksanakan peran ganda sebagai sekretaris pribadi yang bertugas membantu pimpinan. 2) Upaya peningkatan kualitas seketaris dalam manajemen perkantoran pada pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang adalah pengembangan kepribadian yang dilakukan oleh diri sendiri dan pengembangan dari kantor. 3) Kendala-kendala yang Dihadapi Sekretaris dalam Manajemen Perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang adalah adanya keterlambatan pertanggung jawaban dari masing-masing bidang. Selain itu terjadinya tumpang tindih kegiatan sekretaris. Saran, 1) Karena ada indikasi peran sekretaris ganda, hendaknya ada kejelasan mengenai tugas sekretaris sebagai sekretaris organisasi. Agar tidak terjadi tumpang tindih antara tugasnya sebagai sekretaris organisasi dan sebagai sekretaris pribadi. 2) Apabila pekerjaan sekretaris organisasi sedang menumpuk, hendaknya sekretaris menunjuk bawahannya untuk menangani sebagian pekerjaannya yang sesuai dengan kompetensi bawahnnya tersebut. Kata kunci : Peningkatan Kualitas, Sekretaris, Manajemen Perkantoran, PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sesuai dengan fungsinya kantor mempunyai kegiatan perkantoran yang meliputi korespondensi, kearsipan, kepegawaian, dan sebagainya yang diatur dalam manajemen perkantoran. Agar manajemen perkantoran tersebut dapat berjalan dengan lancar dibutuhkan sumber daya manusia yang mumpuni. Untuk memperlancar pekerjaan pimpinan dibutuhkan sekretaris untuk membantu menyelesaikan tugas pimpinan supaya tujuan suatu organisasi dapat tercapai dengan baik. Tugas seorang sekretaris tentunya sesuai dengan fungsi jabatannya. Sekretaris organisasi yang mempunyai tugas lebih berat daripada sekretaris pribadi karena sekretaris organisasi mempunyai bawahan yang besar kecilnya ditentukan oleh besarnya organisasi tersebut. Seorang sekretaris organisasi, disamping bekerja atas instruksi, kadang-kadang juga bertugas dan mempunyai kedudukan sebagai pemimpin pelaksana yang memiliki wewenang ikut membuat keputusan, pengarahan,

121

melakukan koordinasi atas pelayanan administrasi, mengadakan pengawasan, serta melakukan penyempurnaan organisasi dan tata kerja. Untuk itu seorang sekretaris organisasi haruslah mempunyai kompetensi dan kepribadian yang sesuai dengan profesinya. Hal itu dilakukan dengan upaya pengembangan diri ataupun pengembangan dari instansi. Itu semua dilakukan agar dalam melaksanakan tugasnya dapat tepat sesuai dengan tujuan perusahaan serta mempunyai kualitas yang baik di mata atasan dan bawahannya. Dari hasil wawancara dengan Bapak Ari Djoko Santoso, SH, MM selaku sekretaris Badan terdapat satu sekretaris yang menjabat sebagai sekretaris organisasi. Sebagai sekretaris organisasi mempunyai wewenang mengatur manajemen perkantoran dan bertanggung jawab atas semua bidang yang ada di organisasi. Namun pada pelaksanaannya sekretaris juga melaksanakan tugas sesuai dengan perintah atasan untuk menyelesaikan tugas perkantoran seperti yang dilakukan sekretaris pribadi. Hal ini menyebabkan pekerjaan kantor sering tertunda sehingga produktivitas kantor menjadi menurun. Untuk itu dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas sekretaris dalam menjalankan manajemen perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang agar pekerjaan kantor menjadi lancar. B. Tujuan Peneliitan 1. Untuk mengetahui peranan sekretaris 2. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan sekretaris untuk meningkatkan kualitasnya 3. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi sekretaris LANDASAN TEORI Kata sekretaris berasal dari Bahasa Latin yaitu secretum yang berarti rahasia. Kata ini juga dikenal dalam Bahasa Belanda secretaries, dalam bahasa Inggrisnya secretary. Dari pengertian ini seorang sekretaris dituntut untuk mampu menyimpan rahasia dalam melaksanakan pekerjaannya (Ernawati, 2004 :1). Menurut Rosidah dan Ambar Teguh Sulistiyani (2005 : 12), secara umum sekretaris berarti seseorang yang membantu pimpinan untuk melakukan pekerjaan kesekretariatan. Pekerjaan kesekretariatan meliputi korespondensi, kearsipan, analisa prosedur pekerjaan kantor, administrasi kepegawaian, dsb. Sedangkan sekretaris organisasi adalah seorang yang memimpin suatu sekretariat dari suatu perusahaan atau sekretariat dari suatu instansi pemerintah tertentu, dengan fungsi utama yaitu mengoordinasikan seluruh pelayanan administrasi yang menunjang operasional perusahaan (Yatimah, 2009 : 35). Menurut The Liang Gie dalam buku Durotul Yatimah (2009 : 20) manajemen perkantoran merupakan rangkaian aktivitas merencanakan, mengorganisasikan (mengatur dan menyusun), mengarahkan (memberikan arah dan petunjuk), mengawasi, dan mengendalikan (melakukan control) sampai menyelenggarakan secara tertib, sesuatu hal. Hal atau sasaran yang terkena oleh rangkaian kegiatan itu pada umumnya adalah office work (pekerjaan perkantoran). Menurut Hendarto dan Tulusharyono (2004 : 6) sekretaris memainkan peranan-peranan seperti : 1. Penjaga/beranda perusahaan Dalam menerima tamu, sekretaris menyeleksi siapa yang biasa dan tidak bisa bertemu dengan pimpinan, kapan waktunya supaya diatur jadwalnya dan tidak salaing bertabrakan. 2. Filter dan pengelola informasi Surat yang masuk dicatat, diatur, dan diolah terlebih dahulu. Sekretaris mencari, mengolah, menyimpan, mengatur, dan bila diperlukan mencari informasi-informasi yang diperlukan pimpinan. Boleh dikatakan bahwa sekretaris adalah orang yang paling tahu berbagai hal yang strategis sebuah perusahaan. 3. Asisten pribadi/tangan kanan pimpinan Sekretaris membantu pimpinan dalam tugas-tugas sehari-hari bahkan untuk banyak kesempatan mewakili pimpinan untuk keperluan perusahaan. 4. Screet keeper/pemegang rahasia Sekretaris yang baik menyadari bahwa ia memiliki informasi yang tidak boleh diteruskan kepada pihak lain yang tidak berhak. 5. Penasihat unutk dimintakan berbagai pendapat

122

dan usaha mengembangkan kepribadian sekretaris . 2. 123 . METODE PENELITIAN A. Kendala-kendala yang dihadapi sekretaris meliputi kendala-kendala dan upaya-upaya dalam menangani manajemen perkantoran. mencakup : 1.Penghuibung atau humas Sekretaris berdiri diantara pimpinan dan pihak lain. Salah satu diantaranya yaitu dengan melalui pendidikan dan latihan. Upaya peningkatan kualitas sekretaris meliputi syarat-syarat untuk menjadi sekretaris. Metode Pengumpulan Data 1. Metode Wawancara Wawancara dilakukan sesuai dengan pedoman wawancara yang telah dibuat sebelumnya. In Service Trainning Yaitu latihan yang dilakukan pada saat sekretaris sedang menduduki jabatannya. kendala. Jl. Objek Penelitian Bidang Kesekretariatan Badan Kesatuan Bangsa. b. sekretaris harus memperhatiakan keselamatan dan kesehatan pimpinan termasuk di dalamnya menciptakan suasana kerja yang menyenangkan sehingga pimpinan tidak cepat lelah. (Sedarmayanti. Pre Service Trainning Adalah latihan yang diberikan pada waktu sekarang belum menempati jabatan tertentu. 6. Pemuda No. Data Primer wawancara langsung dengan Bapak Ari Djoko Santoso. C. 1990 : 143). Politik. D. Selain itu Tugas-tugas yang tidak terselesaikan secara tuntas akan mengakibatkan adanya rasa tidak puas yang pada akhirnya menimbulkan stress. ide. serta upaya peningkatan kualitas sekretaris. Objek Kajian 1. 3. Data Sekunder sumber data sekunder adalah dokumentasi dari sumber bacaan yang berkaitan dengan masalah yang terjadi untuk mendukung hasil wawancara. etika yang harus dimiliki oleh seorang sekretaris. tempat sekretaris bekerja. dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kota Semarang yang terletak di lantai 6 Gedung Pandanaran. Pendidikan formal yang diselenggarakan pendidikan umum. fungsi. kebiasaan. Peranan yang berisi kedudukan. Konflik juga berarti perselisihan dan keberadaan konflik memang tidak terhindarkan. Latihan pra jabatan. Untuk itu sekretaris harus pandai menjabarkan kebijakan pimpinan ataupun menjadi penyampai informasi dari luar. Konflik merupakan perbedaan pada opini. yang meliputi : a. 2. tugas. 7. dsb. B. SH. latihan jabatan ini dilaksanakan oleh organisasi/perusahaan. Menurut ISI Jabar & sekretaris di PT Sanbe Farma sekretaris tak lepas dari konflik. Jenis Data 1. keinginan. Semarang.175. Pengembangan sekretaris dalam realisasinya dapat dilakukan baik oleh dirinya sendiri maupun atas prakarsa organisasi. MM selaku sekretaris Badan mengenai peran sekretaris. kebutuhan. dan peranan sekretaris dalam manajemen perkantoran. Perawat/pelindung Walaupun bersifat priobadi. 2.

2. Dokumentasi mengumpulkan data seperti buku profil, Peraturan Walikota, struktur organisasi sebagai data untuk memperkuat pernyataan yang dikemukakan oleh narasumber dalam wawancara.

E. Metode Analisis Data
Menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Data yang diperoleh dianalisa dengan argumen-argumen dan tidak menggunakan angka-angka yang dihitung secara statistik. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Peranan Sekretaris dalam Manajemen Perkantoran a. Kedudukan Sekretaris dalam Organisasi Kedudukan seorang sekretaris di Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kota Semarang termasuk Sekretaris Organisasi dan merupakan kepala bidang Sekretariat. Berada di bawah Pimpinan langsung maka bertanggung jawab langsung kepada pimpinan. serta mempunyai kewenangan di atas Kepala Bagian.

b.

Tugas Sekretaris Sesuai dengan dengan Peraturan Walikota tahun 2008 Nomor 44 Tentang Penjabaran Tugas dan Fungsi Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang, pasal 6 sekretariat mempunyai tugas merencanakan, mengkoordinasikan dan mensinkronisasian, membina, mengawasi dan mengendalikan serta mengevaluasi pelaksanaan tugas Kesekretariatan, bidang Idiologi dan Kewaspadaan Nasional, bidang Ketahanan Bangsa, bidang Politik Dalam Negeri, serta bidang Perlindungan Masyarakat. Fungsi Sekretaris Fungsi sekretariat pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat tertuang pada pasal 7 Peraturan Walikota Nomor 44 tahun 2008 tentang Penjabaran Tugas dan Fungsi Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang yang merupakan penjabaran dari tugas sekretaris yang terdapat pada pasal 6.

c.

Peran Sekretaris dalam Manajemen Perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang 1. Pelindung organisasi 2. Sebagai pusat informasi 3. Wakil pimpinan 4. Pemegang rahasia 5. Humas 2. Upaya Peningkatan Kualitas Seketaris dalam Manajemen Perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang a. Syarat-syarat menjadi seketaris Berdasar hasil wawancara dengan Bapak Ari Djoko Santoso, SH, MM selaku Seketaris Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang mengatakan bahwa tidak ada syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi untuk menjadi sekretaris pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang. Karena Sekretaris diangkat oleh Walikota melalui promosi jabatan yang disarankan oleh kepala badan. b. Etika yang Harus dimiliki Sekretaris

d.

124

Sesuai dengan Undang-undang Pegawai Negeri Sipil, sama seperti Pegawai Negeri Sipil lainnya kode etik Sekretaris diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. c. Usaha Pengembangan Kepribadian Sekretaris 1) Pengembangan diri sendiri a) Banyak membaca buku tidak hanya buku mengenai sekretaris, namun buku-buku lain yang dapat menunjang kemampuan sekretaris sesuai dengan peranannnya. b) Memperbaharui berita dengan menyaksikan siaran berita, membaca koran, atau browsing di internet. c) Bersikap terbuka atas kritik baik dari atasan maupun dengan bawahan. d) Bertanggung jawab atas tugas yang dibebankan kepadanya. e) Mendekatkan diri tidak hanya dengan atasan tapi dengan bawahan agar bisa terjalin komunikasi yang baik dengan bawahan. 2) Pengembangan dari instansi a) Mengikuti diklat Diklat yang pernah diikuri sekretaris antara lain diklat mengenai wawasan kebangsaan yang diselenggarakan oleh Pemprov Jawa Tengah, diklat mengenai manajemen kantor, diklat mengenai pelaksanan tata usaha, kepegawaian dan sarana prasarana rumah tangga kantor aparatur pemerintah. b) Mengikuti seminar Biasanya keikutsertaan sekretaris dalam seminar adalah atas undangan dari penyelenggara seminar. Dalam seminar ini sekretaris berlaku sebagai perwakilan Badan atau mewakili Kepala Badan jika berhalangan hadir. Seminar yang pernah diikuti sekretaris antara lain seminar Pelaksanaan Demokrasi warga Jawa Tengah yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum Provinsi Jawa Tengah pada saat menjelang Pemilu Gubernur Jawa Tengah. Selain itu beliau juga pernah mengikuti Seminar tentang Birokrasi yang diadakan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). c) Mengikuti Outbond Kegiatan outbond dilaksanakan tidak hanya sebagai media untuk refressing bagi pegawai, namun yang lebih penting adalah mengakrabkan seluruh pegawai yang bekerja di kantor. Diharapkan dari kegiatan ini dapat menambah keakraban diantara semua pegawai sehingga kerjasama yang dilakukan saat bekerja bisa terjalin dengan baik. Outbond ini dilaksanakan setahun dengan menggunakan anggaran rumah tangga badan.

3. Kendala-kendala yang dihadapi Seketaris dalam Manajemen Perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang 1) Pertanggung jawaban kegiatan kepada sekretaris sebagai kepala sekretariat, dari masingmasing bidang sering tidak tepat dalam pelaporannya, sehingga kegiatan lain dari bidang tersebut menjadi terhenti. Hal ini terjadi karena bidang-bidang biasanya untuk membuat laporan kurang adanya kontrol dari kepala bidang kepada staff untuk membuat pelaporan kegiatan yang telah dilaksanakan. Untuk mengatasi masalah ini, sekretaris melakukan rapat koordinasi dengan bidang-bidang yang menangani kegiatan tersebut kemudian dicari akar permasalahan yang menyebabkan masalah itu terjadi, untuk kemudian dicari jalan keluarnya. 2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagai sekretaris organisasi kadang-kadang terjadi tumpang tindih antara kegiatan satu dengan kegiatan yang lain. Hal itu terjadi karena antara kegiatan satu yang belum terselesaikan ada kegiatan yang lain yang harus dikerjakan baik yang berasal dari pimpinan atau bukan. Untuk mengatasi masalah tesebut beliau memilih pekerjaan mana yang perlu diselesaikan terlebih dahulu kemudian

125

menyelesaikan pekerjaan yang lain. Bahkan kadang-kadang pekerjaan tersebut bila tidak selesai dilanjutkan dirumah. B. PEMBAHASAN Peranan sekretaris organisasi tersebut cukup baik, karena sudah sesuai dengan fungsi-fungsi manajemen. Namun sebagai sekretaris organisasi kadang-kadang melakukan tugas ganda sebagai sekretaris pribadi, yaitu dengan melaksanakan tugas yang biasa dilakukan sekretaris pribadi seperti membuat perencanaan perjalanan dinas pimpinan, menemani pimpinan menghadiri suatu acara, serta menerima tamu yang datang untuk kepentingan pimpinan. Namun hal itu dilaksanakan dengan sadar dan sudah biasa dilakukannya setiap saat sebagai bentuk pengabdiannya kepada pimpinan. Padahal secara tidak langsung itu dapat menghambat pekerjaan sekretaris yang lainnya yang seperti diketahui tugas sebagai seorang sekretaris organisasi tidaklah sedikit, sehingga memungkinkan pekerjaan lain akan terbengkalai. Untuk itu sekretaris hendaklah mengatur jadwal kegiatannya dengan baik, agar semua kegiatan yang dilaksanakannya dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan fungsi dan peranannya. Dari usaha pengembangan diri sekretaris sudah melakukan pengembangan dengan baik karena disela-sela waktu sibuk melaksanakan tugas yang banyak, dia masih meluangkan waktu untuk menambah ilmu pengetahuannya dengan membaca buku atau memperbaharui berita. Selain itu sebagai orang yang disegani oleh bawahannya dia dapat bersikap terbuka atas kritik, serta bertanggung jawab atas tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Hal itu dilakukan agar dia bisa menjadi jembatan antara bawahan dengan atasan. Sedangkan dari Badan pengembangan kepribadian dari instansi sudah memfasilitasi pegawainya tidak hanya sekretaris organisasi saja untuk berkembang dan meningkatkan kompetensinya. Untuk itu sudah selayaknya sekretaris organisasi dapat memanfaatkannya sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuannya baik untuk diri sendiri atau untuk instansi untuk kemudian diterapkan dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai sekretaris organisasi dalam menjalankan manajemen kantor. Agar sekretaris menjadi sekretaris organisasi yang berkualitas di mata bawahan dan atasannya. Dalam melaksanakan peranannya dalam manajemen perkantoran kadang-kadang sekretaris menemui kendala yang terjadi namun dalam mengatasi kendala dalam hal pelaporan pertanggung jawaban kegiatan jika terlambat sebaiknya sekretaris tidak membiarkannya berlarut-larut dengan cara memberikan batas waktu kepada bidang tersebut. Karena jika keterlambatan semakin lama akar permasalahannya semakin sulit untuk dipecahkan dan menyita banyak waktu. Dan mengenai tugas yang tumpang tindih seharusnya sekretaris tidak melanjutkan pekerjaan yang belum selesai ke rumah jika hal itu diteruskan maka sekretaris tidak akan mempunyai waktu untuk istirahat di rumah maka yang terjadi dia akan merasa lelah atau mengantuk di kantor sehingga pekerjaan kantor menjadi terbengkalai.

PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis mengenai upaya peningkatan kualitas sekretaris dalam manajemen perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang serta pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Peranan sekretaris pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang sudah diatur dalam Peraturan Walikota Nomor 44 mengenai penjabaran tugas dan fungsi Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang. Sebagai sekretaris organisasi kadang-kadang sekretaris melaksanakan peran ganda sebagai sekretaris pribadi yang bertugas membantu pimpinan. 2. Upaya peningkatan kualitas seketaris dalam manajemen perkantoran pada pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang adalah pengembangan kepribadian yang dilakukan oleh diri sendiri dan pengembangan dari kantor. 3. Kendala-kendala yang Dihadapi Sekretaris dalam Manajemen Perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang adalah adanya

126

keterlambatan pertanggung jawaban dari masing-masing bidang. Selain itu terjadinya tumpang tindih kegiatan sekretaris. B. Saran Kualitas sekretaris dalam manajemen perkantoran pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang sudah baik namun ada beberapa kekuarangan yang dapat mengurangi kelancaran pekerjaan kantor. Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis saran yang dapat disampaikan antara lain : 1. Karena ada indikasi peran sekretaris ganda, hendaknya ada kejelasan mengenai tugas sekretaris sebagai sekretaris organisasi. Agar tidak terjadi tumpang tindih antara tugasnya sebagai sekretaris organisasi dan sebagai sekretaris pribadi. 2. Apabila pekerjaan sekretaris organisasi sedang menumpuk, hendaknya sekretaris menunjuk bawahannya untuk menangani sebagian pekerjaannya yang sesuai dengan kompetensi bawahnnya tersebut.

127

penempatan. PENDAHULUAN Perusahaan selain memiliki Sumber Daya Manusia yang terampil (Skill). penghematan biaya. orang dan teknologi untuk menangani data dan informasi mulai dari perencanaan. pemeliharaan dan penghapusan barang perbekalan kerja dalam pencapaian tujuan organisasi disebut Prosedur Administrasi Peralatan Kantor. maka diperlukan suatu tindakan penanganan dan pengelolaan terhadap peralatan tersebut secara baik. pencatatan. akan menimbulkan hambatan-hambatan. sehingga untuk memperoleh peralatan kantor harus melalui beberapa tahapan. 3) pencatatan. kursi. Peralatan kantor mempunyai berbagai macam kegunaan antara lain: dapat mempertinggi tingkat kemampuan kerja pegawai. Dalam pengadaan peralatan kantor harus melalui prosedur antara lain: 1) penggolongan dan perencanaan. Suatu urutan kegiatan klerikal dimana terdapat ketergantungan sistem. Metode pengumpulan data wawancara dan dokumentasi. Key word : prosedur administrasi peralatan kantor I. meja. pemeliharaan dan penghapusan barang perbekalan kerja dalam pencapaian tujuan organisasi”. orang dan teknologi untuk menangani data dan informasi mulai dari perencanaan. juga harus memiliki sarana dan prasarana yang baik untuk menunjang kegiatan operasional perusahaan. Pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah yang beralamatkan di Jalan Jenderal Gatot Subroto. pengadaan. misalnya: mesin. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif dengan jenis data primer dan sekunder. pencatatan. orang dan teknologi untuk menangani data dan informasi mulai dari perencanaan. pencatatan. pemeliharaan dan penghapusan peralatan kantor. Prosedur administrasi peralatan kantor adalah ”suatu urutan kegiatan klerikal di mana terdapat ketergantungan sistem. Hambatan-hambatan tersebut misalnya apabila terjadi kerusakan total pada peralatan kantor akan mengganggu jalannya aktivitas perusahaan. penempatan. untuk mendapatkan peralatan kantor harus sesuai dengan Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah. Tarubudaya Ungaran. Apabila prosedur administrasi peralatan kantor tidak berjalan dengan baik. pencatatan. Suatu urutan kegiatan klerikal dimana terdapat ketergantungan sistem. terganggunya aktivitas perusahaan akan menimbulkan pengaruh buruk pada hasil/tujuan yang hendak dicapai oleh perusahaan. tenaga dan waktu juga menjamin kecermatan dan ketelitian kerja pegawai. Salah satu sarana dan prasarana yang mutlak diperlukan adalah peralatan kantor. Tujuan dalam pelaksanaan penelitian pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah adalah untuk mengetahui perencanaan. penempatan. pengadaan. pemeliharaan dan penghapusan barang perbekalan kerja dalam pencapaian tujuan organisasi disebut Prosedur Administrasi Peralatan Kantor. pengadaan. pengadaan. jam. Peralatan kantor sangat penting bagi perusahaan.PROSEDUR ADMINISTRASI PERALATAN KANTOR PADA DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA PROVINSI JAWA TENGAH Abstrak Rodhiana Dewi Nugrah Apriliana Peralatan kantor sangat penting bagi perusahaan. 4) penempatan. Permintaan barang tidak bisa dilakukan secara mendadak harus melalui perencanaan terlebih dahulu. almari arsip. mesin pengganda. 5) pemeliharaan dan 6) penghapusan peralatan kantor (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007: pasal 4 ayat 2). mesin hitung. penempatan. 2) pengadaan. dan lain-lain. Contoh kasus 128 . maka diperlukan suatu tindakan penanganan dan pengelolaan terhadap peralatan tersebut secara baik. komputer.

notulen rapat. Untuk mengetahui Pencatatan Peralatan Kantor. agenda. IV. 6. Untuk mengetahui pemeliharaan Peralatan Kantor. 5. catatan-catatan tertulis. Rencana biaya pemeliharaan Dinas. 6. dan dicatat untuk pertama kalinya 2. pencatatan. Rencana Kerja dan Anggaran (RKA). prasasti. pemeliharaan dan penghapusan barang perbekalan kerja dalam pencapaian tujuan organisasi”. Prosedur administrasi peralatan kantor dapat dilihat pada gambar dibawah ini: 129 . 9. transkrip. pengadaan. Untuk mengetahui penghapusan Peralatan Kantor. Rencana Operasional Kerja (ROK). majalah. Untuk mengetahui Penempatan Peralatan Kantor. KESIMPULAN Prosedur administrasi peralatan kantor adalah ”suatu urutan kegiatan klerikal di mana terdapat ketergantungan sistem. Untuk mengetahui Perencanaan Peralatan Kantor. 5. Form Buku Penerimaan. buku. Untuk mengetahui Pengadaan Peralatan Kantor. METODE PENELITIAN A.pada Bagian Umum dan Kepegawaian ada komputer rusak sehingga menghambat pekerjaan. 2. II. Pengeluaran dan Persediaan Barang. III. Data sekunder ini dapat berupa dokumen-dokumen mengenai masalah tersebut baik dari brosur-brosur. surat kabar. 3. Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan. Bagan Organisasi. C. Sumber Data Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan yang selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen B. diamati. 2. 7. 4. 2. Adapun data-data yang diperoleh dari metode dokumentasi adalah: 1. Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (RKPBMD). 8. buku-buku literatur. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya. Jenis Data 1. penempatan. Form Kartu Inventaris Ruangan. lengger. Metode pengumpulan data 1. Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara (interviewer) (Suharsimi. untuk melakukan service/pengadaan peralatan tersebut harus melalui prosedur yang ada. 3. TUJUAN PENELITIAN Tujuan dalam pelaksanaan penelitian pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah adalah: 1. Dokumen pengadaan Barang. 2006:231). yang ada hubungannya dengan penyusunan karya ilmiah. 4. 2006:155). dan sebagainya (Suharsimi. Dokumen penghapusan. orang dan teknologi untuk menangani data dan informasi mulai dari perencanaan. Data sekunder diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian yang berupa informasi secara tertulis.

Adanya barang-barang rusak. atau sebab lain. Tahapan Penganggaran Peralatan Kantor pada Dinas dapat dilihat pada gambar berikut ini Gambar 1 Penganggaran Peralatan Kantor Perencanaan Penganggaran Usulan (RKA&RAB) Masuk ke Sub. 2. Pertimbangan teknologi.000.000.Bagian Program (direkap) Form RKA dijadikan Form DPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran) Monitoring dan Evaluasi (monev) Pelaksana an kegiatan (12bulan) Dokumen Rencana Operasional kegiatan ROK (belanja per kegiatan perbulan) DPA diserahkan oleh Gubernur kepada Kepala SKPD Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah B. Perencanaan Peralatan Kantor Dalam melakukan perencanaan kebutuhan dilaksanakan berdasarkan pertimbangan yaitu: untuk mengisi kebutuhan barang.GAMBAR 1 PROSEDUR ADMINISTRASI PERALATAN KANTOR 1. Mengangkat Panitia/Pejabat pengadaan barang/jasa.000. b. 1. dijual. Cara Swakelola 130 . 2. Pengadaan Peralatan Kantor Pengadaan Peralatan Kantor di Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah meliputi: 1.. dihapus. Penetapan paket-paket pengadaan barang/jasa.. Pengadaan peralatan Barang/Jasa yang dilakukan di Dinas menggunakan dua cara yaitu: a. a. Peralatan kantor tahan lama yaitu peralatan yang dipakai/ dimanfaatkan untuk memperlancar pekerjaan lebih satu tahun b. Peralatan Kantor tidak tahan lama atau habis pakai adalah peralatan yang biasanya hanya dipakai dalam waktu singkat 2.(lima puluh juta rupiah). Menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa. 50. Penggolongan Perlatan Kantor yaitu: a. Pantia pengadaan barang/jasa dibentuk apabila pengadaan barang/jasa dengan nilai Pagu anggaran lebih dari Rp.(lima puluh juta rupiah). 50. PERENCANAAN Penggolongan Peralatan Penganggaran PENGADAAN PENCATATAN PENEMPATAN PEMELIHARAAN PENGHAPUSAN A. menjaga tingkat persediaan barang agar efisien dan efektif. Pejabat pengadaan barang/jasa dibentuk apabila pengadaan barang/jasa dengan nilai Pagu anggaran kurang dari Rp.000. 3.

000. d. e. Asas mengenai jarak terpendek.Penetapan harga perkiraan sendiri (HPS) Penetapan Jadwal Pelaksanaan. Barang Tahan Lama Tahapan dalam pencatatan barang tahan lama adalah sebagai berikut: a. 6. Penandatanganan fakta Integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa sebelum dimulai. Pencatatan Peralatan Kantor 1. Dicatat pada buku Penerimaan barang (pakai habis) . 12. Kemudian peralatan di tulis pada bon permintaan/ pengeluaran. 3. Penempatan Peralatan Kantor Penempatan peralatan kantor yang dilakukan pada Dinas menggunakan asas-asas sebagai berikut: 1. c. Dicatat pada buku barang inventaris 2. Pencatatan pemeliharaan Barang a. Dicatat pada buku pengadaan barang. 100. 7. 10.000. Barang Habis Pakai (Alat Tulis Cetak = ATC) Tahapan pencatatan barang habis pakai pada Dinas adalah sebagai berikut: a. Menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia/pejabat pengadaan barang/jasa. 2. Melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/jasa kepada Pimpinan Instansinya. 50. c. 5. Pemeliharaan Peralatan Kantor Pemeliharaan peralatan kantor pada Dinas adalah sebagai berikut: 131 . b. Menyerahkan aset pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada pimpinan dengan berita acara penyerahan.d. b.000.000. Asas mengenai rangkaian kerja. Pemilihan Langsung adalah pelaksanaan pekerjaan yang dikerjakan cara pemilihan langsung dari sekurang-kurangnya ada 3 (tiga) penyedia barang/jasa dengan nilai pagu anggaran di atas Rp.000. Dicatat pada buku pengeluaran barang (pakai habis). Dengan nilai pagu anggaran sampai dengan Rp. 100. Rp. E. C. Menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/Pagu anggaran dengan pihak penyedia barang/jasa. Dicatat pada buku pengadaan barang. Menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku.. Pelelangan adalah pelaksanaan pekerjaan yang dikerjakan cara diumumkan secara terbuka melalui media cetak dan papan pengumuman. Pengawasan pelaksanaan perjanjian/Pagu anggaran . D.000. Setiap jenis barang harus dibuat kartu pemeliharan/perawatan yang memuat: b. d. Barang dicatat dalam kartu inventaris ruangan (KIR. 11.mengacu pada Keppres 80 tahun 2003 tentang pengadaan barang/jasa yang terdiri dari:  Penunjukan Langsung adalah pelaksanaan pekerjaan yang dikerjakan dengan cara menunjuk langsung dari sekurang-kurangnya ada satu penyedia barang/jasa. 8.000. 3. b. dengan nilai pagu anggaran lebih dari Rp. 5. Menggunakan Penyedia Barang/Jasa jika pengadaan barang dengan nilai di atas Rp. 9. Barang dicatat dalam kartu inventaris barang (KIB).000..000.000. Pencatatan dalam kartu pemeliharaan/perawatan barang dilakukan oleh pengurus barang. 50.4.s. Barang dicatat pada buku penerimaan barang. Asas mengenai penggunaan segenap ruangan.

Filsafat Administarsi. ittelkom. (31 Maret 2010) Sutopo. Perencanaan tersebut dajukan ke kantor DPPAD 7. Visimedia: Jakarta Kurniawan. 2008. Dasar-dasar Akuntansi. 9. Akuntansi Bisnis untuk Perusahaan Jasa. Erlangga: Jakarta Nuraida. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN. Petugas penghapusan mendata barang atau peralatan tersebut. Petugas Penghapusan membuat rencana penghapusan barang.id Blogs weblog. Perbekalan / Perabotan / Alat – Alat Kantor. 1993. 2009. Cv Armico: Yogyakarta Arikunto.id/library/index. 6. 2. 2009.fkip. 1998. (31 Maret 2010) 132 . Pemeliharaan setiap hari atau secara rutin oleh pegawai sendiri. barang atau peralatan didalam ruangannya dalam kondisi rusak 2. Mulyadi. 3. CV. Mengapa Manajemen Pemeliharaan. 1995. Akuntansi Sektor Publik. Kiat Memenangkan Tender Barang & Jasa. 2008.com/ doc/5226194/BAb-7-penghapusan-perbekalan. Sistem Akuntansi. Heri. The Liang. Sinar Baru Algensindo: Bandung Sumarni.uns. Bumi Aksara: Jakarta Silalahi. 2009. Manajemen Perawatan. dkk. 2009. Diunduh dari Just another Student. Duta Nusindo Poniman. (19 Maret 2010) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 95 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Barang dicatat dalam buku inventaris dengan keterangan rusak. 2009. Pemeliharaan dilakukan oleh pihak kedua (rekanan/penyedia jasa) F. Manajemen administrasi Perkantoran. DAFTAR PUSATAKA Adya Barata. 2000. PT Penebar Swadaya: Jakarta Siagian. Administrasi Manajemen dan Organisasi. PT. Diunduh dari http://www.ac. Liberty: Yogyakarta Supardiyo. Ilmu Administrasi. 2004. 4. Diunduh dari http://www.wordpress. 2003. Setelah persetujuan Dewan/Gubernur dijual secara umum. Rineka Cipta: Jakarta Gie. Mandar Maju: Bandung Moleong. Remaja Rosdakarya.scribd. Administrasi Perkantoran. Kanisius: Yogyakarta Olah. 5. Diunduh dari http://supardiyo. V.php?view=article&catid=25%3 Aindustri&id= 457%3Amanajemenperawatan&option=com_content&Itemid=15. 2002. Badan Diklat Prajabatan Golongan III: Jakarta Tizna. 1988. Lexy J. John Soeprihanto. 2005. 2008. Manajemen Administrasi Perkantoran Modern. Kemudian Dinas mengadakan lelang untuk barang tersebut. 2008. Belajar. Politeknik Negeri Semarang: Semarang Sadar. Penghapusan Perbekalan. 10.1.ac. Andi: Yogyakarta Moekijat. Bandung : PT. Ulbert. Sondang P. Ida. Suharsimi. Barang tersebut diletakkan dalam gudang. Liberty: Yogyakarta Haryadi. Atep. Administrasi Perkantoran Modern. 2006. Penghapusan Peralatan Kantor Penghapusan peralatan kantor pada Dinas dikarenakan: 1. (31 Maret 2010) Mardiasmo. Administrasi Perkantoran Untuk Manajer dan Staf. Dagang dan Industri. Metodologi Penelitian Kualitatif. Hendi.com/2009/07/05/mengapa-manajemen-pemeliharaan/. DPPAD akan mengusulkan kepada DPRD 8. 2006. Sabinus. Selanjutnya uji fisik/keur dilakukan oleh kantor Komunikasi Informasi (KOMINFO) dan Dinas Perhubungan. Semarang: Diperbanyak oleh Cv. Badri. 2010. Pengantar Bisnis. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Yogyakarta Munir Sukoco. Murti.

masih terdapat lemahnya penguasaan dan pemanfaatan TIK dalam pembelajaran oleh guru RSBI. Pengukuran Kesenjangan Digital dalam Pelaksanaan TIK di Lingkungan Pegawai Pemerintahan. baik sektor public maupun sector private. baik sektor public maupun sector private. Pada sektor pendidikan. masih terjadi kesenjangan penguasaan TIK (digital devides) antar staf sehingga menjadi salah satu penghambat pelaksanaan pelayanan publik3. Perubahan tersebut telah membawa dampak terhadap strategi bisnis serta realisasi rencana pengembangan ke depan yang meninggalkan cara-cara konvensional Administrasi yang merupakan salah satu fungsi dalam perkantoran tidak dapat terlepas dari perubahan paradigma pemanfaatan dan penggunaan TIK. Pendahuluan Penetrasi pengguna komputer dan internet juga masih tertinggal jauh dari negara lain. pada sektor pelayanan publik. Makalah disampaikan dalam Konferensi dan Temu Nasional TIK untuk Indonesia. Impelementasi TIK dalam administrasi perkantoran yang berfungsi sebagai komunikator dan pemberi informasi sangat tergantung pada sumber daya fisik yang berfungsi pemberi input. 2008.DESAIN IMPLEMENTASI TIK DALAM ADMINISTRASI PERKANTORAN Arief Yuliato Email : ariefyoelianto@gmail. Pemanfaatan dan penggunaan TIK akan lebih meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam semua aktivitas yang dilakukannya. Kondisi rendahnya kepemilikan dan penggunaan TIK ini terjadi pada semua sektor di Indonesia. Model Kompetensi Guru RSBI. 2009.47 komputer per 100 penduduk yang berada pada urutan ke-15 dari 18 negara di Asia Pasifik dan ke-7 dari 10 negara di ASEAN. Pada sektor pendidikan.com Abstrak Kondisi rendahnya kepemilikan dan penggunaan TIK ini terjadi pada semua sektor di Indonesia. processing serta keluaran yang akan berguna dalam pengambilan keputusan. Hal ini menjadikan informasi sebagai komoditas penting dan strategis yang sekaligus menjadi kebutuhan masyarakat modern. telah berpengaruh pada segala aspek kehidupan baik personal maupun komunal. 2009. masih terdapat lemahnya penguasaan dan pemanfaatan TIK dalam pembelajaran oleh guru RSBI4. maka perlu dibangun suatu desain TIK terpadu dalam implementasi untuk mendukung aktivitas administrasi perkantoran. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang semakin berkembang pesat. Komputer-Densitas di Indonesia yaitu 1. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang semakin berkembang pesat. Densitas Pengguna Internet juga masih rendah yaitu 7. Menurut International Telecommunication Union (ITU). Makin besar organisasi akan menyebabkan alur birokrasi yang makin panjang sehingga proses dokumen akan menjadi makin lama. Strategi Pemberdayaan Infrastruktur Telekomunikasi dan Pemberdayaan SDM dalam Mendukung TIK. Selain itu. Melihat permasalahan dalam aktivitas perkantoran yang dituntut efektif dan efisien dan adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Semarang : Penelitian Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah 133 . pada sektor pelayanan publik. 21 – 23 Mei 2008 di Jakarta 4 Arief Yulianto. Untuk mengatasinya seringkali proses administrasi dokumen disederhanakan 2 Jurnal Depkominfo Vol 2 Tahun 2009 3 Tatiek Maryati. Pemanfaatan dan penggunaan TIK akan lebih meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam semua aktivitas yang dilakukannya. masih terjadi kesenjangan penguasaan TIK (digital devides) antar staf sehingga menjadi salah satu penghambat pelaksanaan pelayanan publik. telah berpengaruh pada segala aspek kehidupan baik personal maupun komunal. Untuk mengatasinya seringkali proses administrasi dokumen disederhanakan atau bahkan diabaikan. Makin besar organisasi akan menyebabkan alur birokrasi yang makin panjang sehingga proses dokumen akan menjadi makin lama.18 per 100 penduduk2. Alifia Yulfitri.

dan sebagainya. Memberikan fasilitas dalam pembuatan laporan administrasi dokumen pada setiap fungsi dan bagian organisasi. kepemimpinan dan pengawasan. Secara terinci fungsi kantor itu adalah sebagai berikut5 : 1. Untuk menerima keterangan misalnya : surat-surat. Yogyakarta : Nurcahya Yogyakarta Irwan Yantu. dan sebagainya Administrasi sebagai kegiatan dari pada kelompok yang mengadakan kerja sama untuk menyelesaiakan tujuan bersama. sehingga : 1. Digitalisasi semua perangkat perkantoran yang kemudian berkonvergensi dengan perangkat komputer berdampak pada penggunaan alat-alat yang dapat menggantikan fungsi manusia dan penyederhaan prosedur dalam perkantoran yang akan berakibat pada semakin efisien dan efektif fungsi administrasi perkantoran. 2006 Bahan Ajar Mata Kuliah Manajemen Perkantoran. dan sebagainya 2. Hal tersebut berdampak menimbulkan masalah dalam monitoring dan pencarian dokumen selain tentu saja mengurangi legalitas kegiatannya. antar personal dalam organisasi maupun antar organisasi itu sendiri. fungsi perkantoran memiliki fungsi utama sebagai mediator dan fasilitator antar fungsi dan bagian dalam organisasi. Dalam sebuah organisasi. (d) Adanya bimbingan. misalnya: dalam pembiayaan. pencarian data dan monitoring 4. Di lain pihak. sehingga akan meminimalkan bahkan mengeliminasi proses dan prosedur yang dapat dihilangkan. Saat ini administrasi perkantoran tidak dapat terlepas dari pemanfaatan dan penggunaan TIK atau sering disebut sebagai era otomatisasi perkantoran (Office Automation / OA). (e) Adanya tujuan yang telah ditetapkan6. Aktivitas administrasi akan berlangsung dengan lancar bila (a) Adanya kelompok manusia. taksiran-taksiran. Untuk mencatat keterangan. misalnya: catatan –catatan tentang pegawai. waktu dan semakin cepatnya pengambilan keputusan yang dilakukan. Kegiatan perkantoran berfungsi untuk memberikan pelayanan komunikasi dan catatan-catatan (dokumen. 1981. perangkat telekomunikasi berkembang pesat saat mulai diimplementasikannya teknologi digital menggantikan teknologi analog yang mulai menampakkan batas-batas maksimal pengeksplorasiannya dalam administrasi perkantoran. pembukuan. 3. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo 134 . yaitu kelompok yang terdiri atas 2 orang atau lebih. harga. Berdasarkan definisi konsep tersebut. 3. Menyediakan akses secepatnya dari mana saja bagi yang membutuhkan dalam mengirim ataupun merespon surat yang diterima. IMPLEMENTASI TIK DALAM ADMINISTRASI PERKANTORAN Melihat permasalahan dalam aktivitas perkantoran yang dituntut efektif dan efisien dan adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). misalnya: daftar barang-barang dagangan. Untuk memberikan keterangan. misalnya: pemeliharaan uang kontan. Efisiensi dan efektivitas sebagai dasar aktivitas organisasi. (b) Adanya kerja sama dari kelompok tersebut.atau bahkan diabaikan. Menyediakan sistem administrasi terpadu sehingga memudahkan penelusuran surat (tracking). Dwi Eko Waluyo 5 6 The Liang Gie. data) yang dibutuhkan oleh pihak yang membutuhkan. Administrasi Perkantoran Modern. maka administrasi perkantoran dapat diuraikan fungsi pendukung dalam penyelengaraan aktivitas perkantoran yang meliputi pelayanan komunikasi dan catatan-catatan dari suatu organisasi. Untuk menyusun keterangan. Memudahkan seluruh staf administrasi pada masing-masing fungsi dan bagian dalam organisasi sehingga menjamin tertib administrasi 2. dan sebagainya 5. dimana proses dan prosedural tersebut akan berdampak pada penghematan biaya. pengadaan persediaan. Pentingnya TIK dalam Administrasi Perkantoran Perubahan lingkungan eksternal yang cenderung uncontrollable dan lingkungan internal yang dinamis menuntur organisasi untuk melakukan penyesuain dalam kegiatan perkantoran. dan sebagainya 4. maka perlu dibangun suatu desain TIK terpadu dalam implementasi untuk mendukung aktivitas administrasi perkantoran. Untuk menjamin aktiva. (c) Adanya kegiatan/proses/usaha. harga-harga.

2001 135 . a Study of Computer-Based Information System. Impelementasi TIK dalam administrasi perkantoran yang berfungsi sebagai komunikator dan pemberi informasi sangat tergantung pada sumber daya fisik yang berfungsi pemberi input. Sumber : http://www. Aktivitas Mendapatkan data. baik sumber daya dan aplikasi perkantoran masukan. Semua perusahaan menerapkan sistem formal untuk memenuhi kebutuhan organisasi. mengolah data. Mendapatkan data. tanpa aplikasi TIK. menyiapkan menyimpan data. Dalam yang sudah terproses menjadi banyak hal fungsi dari kedua jenis informasi dalam database juga aplikasi di atas adalah sama hanya didapatkan dari lingkungan sistem peralatannya saja yang berbeda perusahaan serta data-data hasil olahan dari para manager sebagai problem solver. Misalnya melakukan konsultasi atau diskusi dengan pengambil keputusan lain. 8th edition. DESAIN PENGEMBANGAN IMPLEMENTASI TIK DALAM ADMINISTRASI PERKANTORAN BERBASIS BEST PRACTISES 7 Disampaikan pada Lokakarya Pengembangan Alat dan Lab Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Semarang tanggal 25 Nopember 2000.(2000)7 mengungkapkan bahwa OA mencakup semua sistem elektronik formal dan informal yang terutama berkaitan dengan komunikasi informasi ke dan dari orang-orang di dalam maupun di luar perusahaan. Sistem Elektronik Informal berarti sistem perkantoran yang tidak direncanakan atau diuraikan secara tertulis. 2. Prentice Hall. database yang dimiliki kurang maksimal begitu pula jika aplikasi TIK tidak mampu menghasilkan data base akan berdampak pada aktivitas admistrasi perkantoran. diakses tanggal 2 Oktober 2010 8 Adopsi dari Raymond Mc Leod. menyimpan data.w3. Management Informastion System. menyiapkan dokumen berdasarkan pemakai dokumen berdasarkan pemakai database dan dari sudut pandang database dan dari sudut pandang perancang database perancang database Dari tabel di atas diketahui bahwa aktivitas antara database dan aplikasi TIK adalah sama yaitu saling terkait. mengolah data. seperti pada gambar berikut : Tabel 1 : Implementasi TIK dalam Administrasi Perkantoran8 TIK Terdapat dua variabel utama dalam implementasi TIK yang harus tersedia yaitu database dan applikasi TIK (hardware. Sistem Elektronik Formal dimaksudkan sebagai kegiatan perkantoran yang didokumentasikan dengan suatu prosedur tertulis. Misalnya untuk pengelolaan informasi yang didistribusikan ke manajer yang berupa laporan-laporan periodik amupun laporan khusus. Data menggunakan komputer. processing serta keluaran yang akan berguna dalam pengambilan keputusan. Sistem-sistem OA informal ini diterapkan saat diperlukan oleh perorangan untuk memenuhi keperluannya sendiri.org/TR/REC-html40. Tabel 1 : Definisi dan Aktivitas tentang Database dan Aplikasi TIK dalam Perkantoran Keterangan Data base Aplikasi TIK Definisi Kumpulan data yang terintegrasi dari Aplikasi perkantoran menggunakan seluruh sumber daya dalam peralatan elektronik non komputer perusahaan. software dan brainware) yang dapat diuraikan sebagai berikut. yang dapat didefinisikan sistem elektronik tersebut sebagai berikut : 1. proses maupun output.

Departemen Perhubungan adalah mampu implementasi TIK dalam aktivitas administrasi perkantoran adalah keterbatasan organisasi dalam beradaptasi terhadap perkembangan TIK adalah pada aspek ketersediaan SDM dan infrastruktur TIK sehingga mengakibatkan kesenjangan digital (digital devides). dengan harapan ketersediaan infrastruktur menjadi efisien dan optimal dalam pelayanan. Selain infrastruktur. bahwa ada organisasi ada yang mampu menyesuaikan dan beradaptasi dengan perkembangan TIK namun ada pula yang tidak. Pemanfaatan TIK tidak hanya terbatas pada organisasi saja tapi juga meluas sampai ke pemanfaatan secara personal. Dalam perkembangannya. Kendala yang dihadapi dalam memenuhi kualitas infrastruktur terkait keterbatasan anggaran organisasi menjadikan kualitas maupun kuantitas infrastruktur masih lemah. menara. Keberadaan infrastruktur yang ada perlu memiliki keseimbangan kesiapan SDM yang profesional sebagai pelaksana tugas terkait yang dapat mengimbangi dengan fasilitas infrastruktur yang ada. agar layanan bidang telekomunikasi dapat lebih baik lagi. Penggunaannya TIK ini hampir pada semua aktivitas kehidupan manusia atau dapat dikatakan bahwa saat ini tingkat ketergantungan manusia dalam kehidupannya sangat tinggi terhadap TIK. Inti utama dalam desain ini adalah pemberdayaan SDM departemen sendiri tanpa melakukan outsourcing SDM profesional dari luar. khususnya terkait dengan fasilitas infrastruktur yang tersedia. di dalam mengoperasikan infrastruktur telekomunikasi dibutuhkan SDM yang profesional di bidangnya yang dapat mendukung kelancaran tugas penyelenggaraan layanan infrastruktur telekomunikasi. 2009. infrastruktur penunjang kerja seperti alat monitoring spektrum frekuensi serta infrastruktur penunjang seperti kabel LAN atau Hub. printer. Langkah pemberdayaan SDM juga sangat penting dalam mengantisipasi perkembangan teknologi informasi. Strategi Pemberdayaan Infrastruktur Telekomunikasi dan Pemberdayaan SDM dalam Mendukung TIK. Infrastruktur telekomunikasi antara lain terdiri dari jaringan telekomunikasi. facsimile dan telepon.Pemanfaatan TIK mengalami perkembangan pesat dalam pemanfaatan dan penggunaannya. Organisasi sebagai salah satu pengguna TIK dituntut untuk dapat beradaptasi terhadap perkembangan TIK tersebut. 136 . infrastruktur perkantoran misalnya komputer. Sehingga desain implementasi TIK adalah sebagai berikut : 9 Jurnal Depkominfo Vol 2 Tahun 2009 Tatiek Maryati. Tatiek Maryati (2009)9 menjelaskan hasil penelitiannya yang dilaksanakan di Unit Pelaksana Teknis. hal ini tentunya akan berdampak pada proses komunikasi dan penggunaan informasi dalam pengambilan keputusan. berlaku “seleksi alam”.

seperti pada gambar berikut : Gambar 3 : JENI Mobile Game Base Learning 10 Laporan Penelitian 2008. Sumber : http://www.Gambar 2 : Desain Pemberdayaan SDM dalam Impelementasi TIK di UPT Departemen Perhubungan Kondisi saat ini Infrastruktur telekomunikasi dan SDM Telekomunikasi di Unit Pelaksana Teknis Depkominfo Perkembangan global infrastruktur telekomunikasi dan perkembangan ICT - Analisis dan Evaluasi: kondisi SDM pada UPT Pemberdayaan saat ini Kendala yang dihadapi =Peraturan Perundangan =Kebijakan Pembangunan TIK =Konvergensi teknologi =Digital divide Keberdayaan infrastruktur telekomunikasi dan kemampuan SDM dalam pemanfaatan infrastruktur telekomunikasi Tingkat kebutuhan : -infrastruktur telekomuniks -pengembangan SDM – TIK -Manajemen Sistem untuk optimalisasi kinerja Profesionalisme SDM dan optimalisasi infrastruktur telekomunikasi Seamolec (2008)10 merancang mekanisme pembelajaran dengan nama JENI yaitu JENI Mobile Game Base Learning(jmGBL) menawarkan suatu model pembelajaran baru yang menarik dan menyenangkan karena dengan bermain game tanpa terasa meningkatkan pemahaman materi yang telah disampaikan di kelas. Permainan Edukatif Berbasis Mobile Sebagai Media Pembelajaran Matematika dan Bahasa Inggris.org/rnd2008f/laporan%20penelitian. Diakses tanggal 2 Oktober 2010 137 .seamolec.DOC.

provinsi terbatas SDM guru dan murid terbatas dan membutuhkan sosialisasi yang lama sebelum diimplementasikan Infrastruktur dengan kondisi yang telah ada namun lebih pada peningkatan software SDM TIK SDM outsourcing atau dari luar organisasi Aksesbilitas Sentralisasi data sehingga dalam pencarian dokumen lebih mudah Desentralisasi pada masing-masing unit atau bagian dan sentralisasi secara proporsional Dari kedua desain yang telah diimplementasikan. maka “best practises” desain implementasi TIK dalam administrasi perkantoran dapat dijelaskan pada gambar berikut : 138 .Desain di UPT (Tatiek Mariyati. 2009) Terkendala dengan anggaran dari pusat dalam peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur Sulitnya melakukan pemberdayaan SDM departemen sendiri Adanya pemisahan wewenang input dan penggunannya pada database yang berdasarkan pada UPT Seamolec (2008) Best Practises Ketersediaan Infrastruktur Infrastruktur yang besar dan kemampuan kabupaten/kota.

namun tetap memberikan kemudahan bagi pengguna yang punya kewenangan untuk mendapatkan atau mengolah data yang diperlukan. dimana organisasi hanya sebagai pengguna bukan sebagai pembuat (2) infrastruktur yang hanya meningkatkan kualitas software yang dapat diuraikan secara positif dalam implementasinya yaitu : 1. Sistem juga menerapkan prinsip client- 11 Albarda.Gambar 4 : Desain Implementasi TIK best practises11 Gambar tersebut menjelaskan tentang beberapa aspek dalam implementasi best practises penggunaan TIK dalam administrasi perkantoran adalah (a) pengadaan SDM sebagai konsultan dapat diperoleh dari luar organisasi. memasang. 2. akurat. Web-Based : Setiap informasi dapat diakses dengan mudah baik melalui intranet untuk kalangan terbatas maupun internet untuk umum. Pengelolaan Dokumen Perkantoran Berbasis TI (e-administration). mempelajari. Aula Barat & Timur Institut Teknologi Bandung 139 . 2006. Fleksibility : Berbagai jenis komputer pengguna dengan berbagai sistem operasi akan tetap dapat menggunakan sistem informasi tersebut. 5. Dengan basis seperti ini. Three-Tiered : Konsep arsitektur Three-Tiered memfasilitasi kemungkinan terjadinya perubahan aturan administrasi di organisasi tersebut. pengguna tidak terbebani dengan keharusan untuk memiliki. 3. Centrelized : Penggunaan Database Terpusat menjamin agar setiap pengguna memperoleh informasi yang sama. dan paling aktual sehingga akan mengurangi duplikasi data serta dapat langsung diproses lebih lanjut (waktu yang lebih singkat). dan menggunakan berbagai software untuk berbagai aplikasi tetapi hanya cukup membutuhkan 1 (satu) program web browser yang amat mudah penggunaannya dan biasanya telah tersedia. 4. Prosiding Konferensi Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi untuk Indonesia 3-4 Mei 2006. Authorized : Keamanan hak akses terhadap data yang vital dan non-publik.

21 – 23 Mei 2008 di Jakarta Arief Yulianto. 8th edition Seamolec. Makalah disampaikan dalam Konferensi dan Temu Nasional TIK untuk Indonesia. 2006. 2009. Prentice Hall.org/rnd2008f/laporan%20penelitian. Sumber : http://www. Pengelolaan Dokumen Perkantoran Berbasis TI (e-administration). Management Informastion System. Aula Barat & Timur Institut Teknologi Bandung Alifia Yulfitri. Permainan Edukatif Berbasis Mobile Sebagai Media Pembelajaran Matematika dan Bahasa Inggris. Prosiding Konferensi Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi untuk Indonesia 3-4 Mei 2006. Pengukuran Kesenjangan Digital dalam Pelaksanaan TIK di Lingkungan Pegawai Pemerintahan.org/TR/REC-html40. baik dalam ruang lingkup maupun jumlah data yang diolah.server sehingga memungkinkan untuk perluasan sistem yang secara teoritis tidak terbatas. Semarang : Penelitian Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Dwi Eko Waluyo. Administrasi Perkantoran Modern. Model Kompetensi Guru RSBI. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo Raymond Mc Leod.DOC. 2008. Aspek teknologi terkait lainnya yang juga perlu dipertimbangkan adalah keamanan sistem informasi dan dokumen elektronik itu sendiri DAFTAR PUSTAKA Albarda. Strategi Pemberdayaan Infrastruktur Telekomunikasi dan Pemberdayaan SDM dalam Mendukung TIK. 1981. 2006 Bahan Ajar Mata Kuliah Manajemen Perkantoran. Yogyakarta : Nurcahya Yogyakarta 140 . 2009. maka organisasi perlu terus mengembangan diri beradaptasi dengan perubahan paradigma dalam administrasi perkantoran Pertimbangan aspek teknis dan non-teknis dalam hubungan antar organisasi harus menjadi kriteria yang menentukan. Jurnal Depkominfo Vol 2 Tahun 2009 The Liang Gie. Sumber : http://www. Diakses tanggal 2 Oktober 2010 Tatiek Maryati. PENUTUP Sebagai institusi yang rentan terhadap perubahan berupa perkembangan dinamis organisasi dan TIK. Laporan Penelitian 2008. 2001.w3. a Study of Computer-Based Information System. diakses tanggal 2 Oktober 2010 Irwan Yantu. Disampaikan pada Lokakarya Pengembangan Alat dan Lab Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Semarang tanggal 25 Nopember 2000.seamolec.

Guru mempunyai posisi dan peranan yang sangat penting dan strategis dalam keseluruhan upaya pencapaian mutu pendidikan (Sholeh. Kebiasaan Membaca Buku. Kata Kunci : Kompetensi Profesional Guru.600 dengan sig 0. maka Ho ditolak sehingga H1 yang berbunyi kompetensi profesional guru berpengaruh secara parsial terhadap hasil belajar diterima. rendahnya mutu pendidikan bangsa ini tidak bisa lepas dari kondisi para guru sebagai salah satu unsur penyelenggara pendidikan. dan pendidikan tidak akan banyak memberikan dukungan yang maksimal atau tidak dapat dimanfaatkan secara optimal bagi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran tanpa didukung oleh keberadaan guru yang secara continue berupaya mewujudkan gagasan. akan tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi profesional guru yang mengajar dan membimbing mereka.63% dengan kriteria belum tuntas. Karena proses untuk melahirkan sumber daya manusia yang bermutu hanya bisa melalui jalur pendidikan dan proses pembelajaran yang bermutu pula. Proses belajar dan hasil belajar para siswa tidak hanya ditentukan oleh sekolah. Bila dilihat lebih jauh. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuesioner (Angket) dan dokumentasi.770 dengan sig 0.390 dengan tingkat sig 0. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan (Uji F) yang menunjukkan bahwa Fhitung = 36. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan 141 . ide. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu Kompetensi Profesional Guru (X1) dan Kebiasaan Membaca Buku (X2). 2006: 5).id Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya Pengaruh Kompetensi Profesional Guru dalam Proses Belajar Mengajar dan Kebiasaan Membaca Buku Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes.05 sehingga H3 yang berbunyi ada pengaruh kompetensi professional guru dalam proses belajar mengajar dan kebiasaan membaca buku terhadap hasil belajar diterima. Dari hasil analisis deskriptif persentase diperoleh kompetensi profesional guru (X1)= 60. Semua komponen dalam proses belajar mengajar seperti materi. media.000 < 0. dan pemikiran dalam bentuk perilaku dan sikap yang terunggul dalam tugasnya sebagai pendidik. sarana dan prasarana.000 < 0.000 < 0.55% dengan kriteria sangat baik. Jurusan manajemen. Pendahuluan Latar Belakang Mutu pendidikan suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh mutu pendidik. Demikian pula untuk variabel kebiasaan membaca buku (X2) didapat thitung = 2. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang. Email: hakitaeded@yahoo. dan isi kurikulumnya.05 maka Ho ditolak sehingga H2 yang berbunyi kebiasaan membaca buku berpengaruh secara parsial terhadap hasil belajar diterima. Guru merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan (Bafadal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi profesional guru dan kebiasaan membaca buku mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar. Secara parsial menunjukkan bahwa variabel kompetensi profesional guru menunjukan bahwa thitung = 3. struktur. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan yang berjumlah 109 siswa. 1. Rendahnya mutu pendidikan telah memberikan akibat langsung pada rendahnya mutu sumber daya manusia bangsa kita. sedangkan hasil belajar (Y)=59. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif persentase dan regresi linier berganda.29% dengan kriteria baik.co. serta variabel terikat yaitu Hasil belajar (Y). 2003: 4). Kebiasaan membaca buku (X2)= 52.PENGARUH KOMPETENSI PROFESIONAL GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DAN KEBIASAAN MEMBACA BUKU TERHADAP HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN EKONOMI SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 3 KETANGGUNGAN KABUPATEN BREBES Dede Atikah (Universitas Negeri Semarang) Sarjana Pendidikan Ekonomi.05. Dan Hasil Belajar. pola.

kemampuan membaca tidak terjadi secara otomatis karena harus didahului oleh aktivitas dan kebiasaan membaca yang merupakan wujud dari adanya minat membaca. dapat diduga berpengaruh pada proses pengelolaan pendidikan sehingga mampu melahirkan keluaran pendidikan yang bermutu (Hamzah. mengenalkan buku pada anak sesuai usianya. Perpustakaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan sekolah dan dengan perpustakaan mempermudah siswa memperoleh buku bacaan tanpa harus membeli. kebiasaan juga meliputi pengurangan perilaku yang tidak diperlukan. Kebiasaan membaca tidak hanya dapat dilakukan di perpustakaan. Dengan kompetensi professional. membaca kiranya merupakan sarana utama bagi siswa untuk mencapai keberhasilan belajar (The Liang Gie. Karena proses penyusutan atau pengurangan inilah muncul suatu pola bertingkah laku baru yang relatif menetap dan otomatis. Membaca merupakan suatu kegiatan belajar siswa yang paling banyak memakan waktu dan memerlukan pemikiran sepenuhnya. ada sebagian siswa yang menggunakan perpustakaan hanya untuk meminjam buku saja. kebiasan-kebiasaannya akan tampak berubah. dan bahkan persepsi manusia. Berdasarkan hasil observasi pendahuluan di SMP Negeri 3 Ketanggungan pada kelas VIII yang terdiri dari 3 kelas. Suatu pola bertingkah laku baru yang relatif menetap dan otomatis dapat digambarkan dari perilaku membaca. Perolehan hasil belajar siswa dapat dilihat sebagai berikut: 142 . yang harus dikuasai oleh guru (Harwanto. Sedangkan menurut pakar lain Kompetensi professional guru merupakan kemampuan penguasaan mata pelajaran secara luas dan mendalam. Sebaiknya orang tua mengenalkan aktivitas membaca sedini mungkin. Keluarga adalah orang yang paling dekat dengan dirinya. sehingga belajar para siswa berada pada tingkat optimal (Hamalik. 2008: 65). Mereka dapat meminjam buku pelajaran atau mencari referensi untuk mengerjakan tugas. keluarga merupakan salah satu potensi yang besar dan positif memberi pengaruh pada hasil belajar siswa. tujuan. kebiasaan. Jadi. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kebiasaan diartikan sebagai sesuatu yang biasa dikerjakan. sikap. Kompetensi professional guru merupakan salah satu dari kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang apapun. Misalnya. dan akan lebih mampu mengelola kelasnya. Keberadaan perpustakan membawa dampak positif untuk mendukung keberhasilan pelajaran ekonomi. Kebiasaan belajar siswa dapat dilihat dari hasil belajar. Membaca merupakan kegiatan dan kemampuan khas manusia. kepribadian. Pembelajaran pertama seorang anak diperoleh dari keluarga. keyakinan. sekitar 85% dari semua kegiatan belajar di sekolah terdiri atas membaca. Dalam proses belajar. sifatnya relatif menetap dan otomatis. dengan jumlah 109 siswa. menyenangkan. 2002: 57)”. Oleh karena itu kebiasaan membaca dapat diartikan kegiatan membaca yang biasa dilakukan. Setiap siswa yang telah mengalami proses belajar. oleh karena itu perpustakaan merupakan faktor pendukung proses belajar siswa. Menurut pendapat William Baker. Belajar memegang peranan penting dalam perkembangan. orang tua berperan besar untuk menumbuhkan kebiasaan membaca anak. 2008: 36). Menurut Burghardt (1973) dalam Muhibbin Syah (1995: 118) ”kebiasaan itu timbul karena proses penyusutan kecenderungan respons dengan menggunakan stimulasi yang berulang-ulang”. Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan ia mencakup segala sesuatu yang difikirkan dan dikerjakan. Kebiasaan membaca pada siswa di sekolah dapat dilihat kebiasaan membaca buku-buku terkait mata pelajaran ekonomi di perpustakaan. Oleh karena itu. 2008: 46). mereka memilih untuk mempelajarinya di rumah. apabila tidak dilakukan maka akan timbul perasaan kurang lengkap.belajar yang efektif. Walaupun demikian. memberikan pengalaman yang menyenangkan dalam kegiatan membaca serta memberikan stimulasi berkaitan dengan membaca.

0 ≥7. memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi. sebagai motivator belajar. mengarahkan dan mendorong kegiatan belajar siswa. Padahal tidak sedikit koleksi buku-buku yang disediakan sekolah. berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar. menjaga ketertiban kelas. mampu memberikan bahan-bahan ajar dengan contoh-contoh yang benar.0 < 7. Tabel 2 Koleksi Buku Ekonomi Kelas VIII di Perpustakaan SMP Negeri 3 Ketanggungan Tahun 2009/ 2010 N Ju o Judul Buku Penerbit mlah 1 IPS Ekonomi Erlangga 125 2 IPS Ekonomi Yudhistira 135 Buku Kerja Ekonomi 3 2A Erlangga 150 Buku Kerja Ekonomi 4 2B Erlangga 150 Pusat Perbukuan 5 IPS Terpadu Depdiknas 135 Pusat Perbukuan 6 IPS Ekonomi Depdiknas 150 Sumber: Perpustakaan SMP Negeri 3 Ketanggungan 143 . mempunyai keterampilan memilih bahan ajar. dapat mengaktifkan siswa. mampu mengelola kelas.0 < 7. mampu menyediakan media pembelajaran. sehingga mempengaruhi data peminjam buku dan jumlah siswa yang berkunjung di perpustakaan.0 VIII 61 Siswa 48 Siswa 43 Siswa 66Siswa Sumber: Data sekolah 2010 Kompetensi profesional ini dapat dilihat dari guru mampu menguasai materi. dan dapat menjadi konselor bagi siswa terkait permasalahan mata pelajaran ekonomi. Di bawah ini adalah daftar koleksi buku. dan jumlah siswa yang berkunjung ke perpustakaan SMP Negeri 3 Ketanggungan. menilai siswa secara obyektif.Tabel 1 Nilai Ulangan Harian Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Nilai Ulangan Harian keNilai Ulangan Harian ke-2 1 Kelas ≥ 7. peminjaman buku.

Tabel 4 Data Kunjungan Siswa ke Perpustakaan SMP Negeri 3 Ketanggungan Tahun 2009/ 2010 Kelas Bulan VIII 07-2009 67 Siswa 08-2009 64 Siswa 09-2009 40 Siswa 10-2009 84 Siswa 11-2009 95 Siswa 12-2009 34 Siswa 01-2010 71 Siswa 02-2010 31 Siswa 03-2010 45 Siswa Sumber: Perpustakaan SMP Negeri 3 Ketanggungan 144 . tetapi meminjam untuk dibaca di rumah. siswa tidak hanya membaca buku pada saat di perpustakaan saja.Tabel 3 Data Peminjam Buku Ekonomi di Perpustakaan SMP Negeri 3 Ketanggungan Tahun 2009/ 2010 Jumlah Peminjam Bulan Kelas VIII 0743 Siswa 2009 0842 Siswa 2009 0924 Siswa 2009 1048 Siswa 2009 1147 Siswa 2009 1219 Siswa 2009 0146 Siswa 2010 0217 Siswa 2010 0328 Siswa 2010 Sumber: Perpustakaan SMP Negeri 3 Ketanggungan Dapat dilihat dari tabel peminjaman buku di perpustakaan.

Hal ini dapat dilihat pada kondisi di mana ruang perpustakaan dipadati siswa membaca. Untuk mengetahui adakah pengaruh kebiasaan membaca buku terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes tahun ajaran 2009/2010. maka akan diadakan penelitian tentang “Pengaruh Kompetensi Profesional Guru dalam Proses Belajar Mengajar dan Kebiasaan Membaca Buku terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes Tahun Ajaran 2009/2010” Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas. 2. Untuk mengetahui adakah pengaruh kompetensi profesional guru dalam proses belajar mengajar terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes tahun ajaran 2009/2010. maka tujuan penelitian ini adalah: 1. menandakan bahwa buku-buku tersebut dibaca dan jumlah kunjungan siswa yang banyak. 145 . Oleh karena itu upaya peningkatan kebiasaan membaca sangat penting untuk pencapaian tujuan pembelajaran. Adakah pengaruh kebiasaan membaca buku terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes tahun ajaran 2009/2010? 3. Berdasarkan uraian di atas. maka peneliti mengajukan permasalahan sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kompetensi profesional guru dalam proses belajar mengajar dan kebiasaan membaca buku terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes tahun ajaran 2009/2010 baik secara simultan maupun parsial. Seberapa besar pengaruh kompetensi profesional guru dalam proses belajar mengajar dan kebiasaan membaca buku terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes tahun ajaran 2009/2010 baik secara simultan maupun parsial? Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan di atas. 4. Dengan kondisi buku yang rapi dan penataan yang tersistem. 3. Adakah pengaruh kompetensi profesional guru dalam proses belajar mengajar dan kebiasaan membaca buku terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes tahun ajaran 2009/2010? 4. Adakah pengaruh kompetensi profesional guru dalam proses belajar mengajar terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes tahun ajaran 2009/2010? 2. membuat siswa menjadi berminat untuk membaca buku perpustakaan. Dari beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa ada kesenjangan yang terjadi di SMP Negeri 3 Ketanggungan yaitu mengenai kompetensi profesional guru dalam proses belajar mengajar dan kebiasaan membaca buku dengan hasil belajar siswa mata pelajaran ekonomi. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh kompetensi profesional guru dalam proses belajar mengajar dan kebiasaan membaca buku terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan Kabupaten Brebes tahun ajaran 2009/2010. Dalam kegiatan belajar sebagian besar adalah aktifitas membaca.

1995: 272). Menurut Nurhadi (2005: 13). Karena proses penyusutan atau pengurangan inilah. 2007: 275). Metodologi Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggunagan Kabupaten Brebes tahun ajaran 2009/2010 dengan jumlah 109 siswa terdiri dari tiga kelas yaitu kelas VIII A dengan jumlah 37 siswa. Kurang Setuju (KS). 2008: 46). Reading as Thinking dan Reading as Reasoning.2. seperti tampak pada tabel berikut ini: Tabel 5 Populasi penelitian N Kelas Jumlah o siswa 1 VIII A 37 Siswa 2 VIII B 35 Siswa 3 VIII C 37 Siswa Jumlah 109 Siswa Sumber : Tata Usaha SMP Negeri 3 Ketanggungan Penelitian ini merupakan penelitian populasi. Setuju (S). tetapi juga kemampuan mengintegrasikan dan menghubungkan dengan materi-materi mata pelajaran lainnya. Dalam proses belajar. kelas VIII B dengan jumlah 35 siswa dan kelas VIII C dengan jumlah 37 siswa. Bukti Empiris Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 20) hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. sehingga seorang guru mampu menyajikan materi secara utuh kepada anak muridnya (Harwanto. membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Ingat apa kata seorang ahli membaca yang bernama Edward L. membaca pada hakikatnya adalah proses berfikir. Menurut Burghardt (1973) dalam Muhibbin Syah (1995: 118) ”kebiasaan itu timbul karena proses penyusutan kecenderungan respon dengan menggunakan stimulasi yang berulang-ulang”. 3. Angket/kuesioner yang digunakan menggunakan pendekatan skala likert dimana setiap pernyataan dalam angket memiliki lima alternatif jawaban yaitu Sangat Setuju (SS). Tidak saja materi yang sesuai bidang tugasnya. Membaca adalah serangkaian kegiatan pikiran seseorang yang dilakukan secara penuh perhatian untuk memahami makna sesuatu keterangan yang disajikan kepada indera penglihatan dalam bentuk lambang huruf dan tanda lainnya (The Liang Gie. Thorndike. karena subyek yang berjumlah 109 siswa seluruhnya dijadikan subyek penelitian. Kompetensi profesional. bahwa proses membca itu sebenarnya tak ubahnya dengan proses ketika seseorang sedang berpikir dan bernalar. 2006: 5). Analisis regresi yang dipergunakan menggunakan rumus: Y = a + b1X1 + b2X2 Keterangan: Y = variabel terikat (hasil belajar) a = konstanta b1 = Nilai koefisien variabel bebas X1 b2 = Nilai koefisien variabel bebas X2 (Sugiono. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar (Tri Anni. Menurut The Liang Gie (1995: 194) kebiasaan adalah perilaku seseorang yang dilakukannya secara tetap atau sama dari waktu ke waktu tanpa pemakaian banyak pikiran. yang harus dikuasai oleh guru. Artinya. kebiasaan juga meliputi pengurangan perilaku yang tidak diperlukan. Sangat Tidak Setuju (STS). muncul suatu pola bertingkah laku baru yang relatif menetap dan otomatis. Sedangkan menurut Tarigan (1986: 7). merupakan kemampuan penguasaan mata pelajaran secara luas dan mendalam. Tidak Setuju (TS). Dari kelima jawaban tersebut 146 .

388 . Cara Belajar Sukses Di Perguruan Tinggi.007 Zero-order . Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Pengelolalaan Perpustakaan Jilid 1-2. Jakarta: Bumi aksara.260 Collinearity Statistics Tolerance VIF . Suharsimi. Belajar dan Pembelajaran. 1994. Darsono.603 .207 a. Memilih Profesi Guru?. Belajar dan Pembelajaran.481 2. Dimyati dan Mudjiono. Kebiasaan Membaca Buku Perpustakaan Dan Lingkungan Keluarga Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas X Di Smk Negeri 2 Semarang Tahun Ajaran 2008/2009. 2008. UNNES. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. 6. Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Rineka Cipta.079 Model 1 (Constant) X1 X2 t 4. 2000.770 Sig. Jakarta: Bumi Aksara. Hamalik. 2005. Sardiman. Jakarta: Bumi Aksara. Jakarta: Paramuda. 2006.269 . 2008. 3. Jakarta: Rineka Cipta. . 2.066 .481 . Skor 1 untuk jawaban Sangat tidak Setuju (STS) 4. 2004. Nana. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Semarang: UNDIP Press. Semaranng: IKIP Semarang Press. 1987. 2009. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem.330 . Semarang.600 2.60%. Hasil Empiris Coefficientsa Unstandardized Coefficients B Std. Pengaruh Minat.533 3.89%. Psikologi Pendidikan. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Bumi Aksara. Error 23. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Max. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Bandung: Alumni. 2008. Asrorun. Ibrahim. Burhanudin. Salam. Jakarta: Rineke Cipta. Sudjana.079 2. Skor 5 untuk jawaban Sangat Setuju (SS) b. Skor 2 untuk jawaban Tidak setuju (TS) e. 2009. Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara kebiasaan membaca buku terhadap hasil belajar pada mata pelajaran Ekonomi Kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan sebesar 6. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar. Soedibyo. 147 . Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Skor 3 untuk jawaban Kurang Setuju (KS) d. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.000 .000 .681 5. 2002.299 Correlations Partial .338 . 1994. Nurhadi. Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara kompetensi profesional guru dalam proses belajar mengajar terhadap hasil belajar mata pelajaran Ekonomi Kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan sebesar 10. Banten: Cerad Insan Cendekia Mulyono. 2003. Noerhayati. Ghozali.122 Standardized Coefficients Beta . Dasar-dasar Proses Belajar mengajar. Skor 4 untuk jawaban Setuju (S) c. Harwanto. Niam Sholeh. Djaali. 2009.224 .237 .578 Part . Edisi Revisi V. Dependent Variable: Y 5. Ahmad. Kesimpulan Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab IV dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara kompetensi profesional guru dalam proses belajar mengajar dan kebiasaan membaca buku terhadap hasil belajar pada mata pelajaran Ekonomi Kelas VIII SMP Negeri 3 Ketanggungan sebesar 39. Jakarta: Depdikbud Dan Rineka Cipta.masing-masing memiliki skor yang akan menentukan apakah jawaban dari pernyataan tentang variabel-variabel penelitian tersebut tinggi atau tidak. Skor tersebut terdiri dari: a. Oemar. Bafadal. 2003. 2008. Cetakan Ke Dua Belas. Daftar Pustaka Arikunto. Membangun Profesionalitas guru.76%. Slameto.

Sugiyono. Psikologi Pendidikan. Metodologi Penelitian Kuantitatif. 2007. Syah. 1995. Membaca Sebagai Ketrampilan Berbahasa. Semarang : UPT UNNES Press. Profesi Kependidikan. 2001. Psikologi Belajar. Jakarta: Bumi aksara. Muhibbin. Umar. 2008. The Liang Gie. Cara Belajar Yang Efisien Jilid II. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2004. Tarigan. Catharina. Henry Guntur. Bandung: Angkasa. Bandung: PT Rosdakarya. 1995. Riset Akuntansi. Alfabeta. Tri Arni. 1986. 148 . Yogyakarta: PUBIB. Hamzah. Uno. Bandung: CV. Kualitatif dan R&D. Statistik Untuk Penelitian. dkk. Bandung : Alfabeta. Husein. 2008.

3 Sampel Penelitian Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan mempertimbangkan sifat populasi. penggunaan media pembelajaran dan motivasi. Untuk mengetahui pengaruh cara belajar. penggunaan media pembelajaran dalam kriteria tinggi (65.981 + 0. 1.3%). Ada pengaruh yang signifikan penggunaan media pembelajaran terhadap prestasi belajar kewirausahaan siswa kelas X SMK Negeri 1 Pringapus secara parsial dengan koefisien korelasi sebesar 0.391 dan signifikansi sebesar 0.046.018. Instrumen yang disusun kemudian diuji validitas menggunakan rumus product moment dan reliabilitas menggunakan rumus alpha. dan tersebar secara proporsional merata kesetiap kelas. Motivasi.4%). penggunaan media pembelajaran dan motivasi terhadap prestasi belajar kewirausahaan siswa kelas X SMK Negeri 1 Pringapus Tahun Ajaran 2009/2010.6%). 2003:3) 1.563 dan keberartian koefisien regresi uji t sebesar 2. penggunaan media pembelajaran dan motivasi terhadap prestasi belajar kewirausahaan siswa kelas X SMK Negeri 1 Pringapus Tahun Ajaran 2009/2010.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan kewirausahaan di Indonesia masih kurang memperoleh perhatian yang cukup memadai. pengaruh secara parsial cara belajar.183 serta keberartian koefisien regresi uji t sebesar 2.657 dan signifikansi 0. dan prestasi belajar dalam kriteria baik (58. maupun di pendidikan profesional yang masih kurang memperhatikan penumbuhan sikap dan perilaku kewirausahaan sasaran didik. Berdasarkan analisis deskriptif persentase menunjukkan bahwa cara belajar dalam kriteria tinggi (57.012 dan signifikansi sebesar 0. baik oleh dunia pendidikan maupun masyarakat. pengaruh secara simultan cara belajar. diantaranya adalah cara belajar.009. 2.563 X3 . Sampel penelitian adalah seluruh siswa kelas X SMK Negeri 1 Pringapus tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah 137. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh secara parsial cara belajar. Penggunaan Media Pembelajaran. Prestasi belajar yang diperoleh siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor.183 X1 + 0. 1. PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN DAN MOTIVASI TERHADAP PRESTASI BELAJAR KEWIRAUSAHAAN SISWA KELAS X SMK NEGERI 1 PRINGAPUS KABUPATEN SEMARANG TAHUN AJARAN 2009/2010 Erni Dwijayanti ABSTRAK Keberhasilan siswa dalam belajar dapat dilihat dari prestasi belajar siswa yang bersangkutan. motivasi dan prestasi belajar kewirausahaan siswa Kelas X SMK Negeri 1 Pringapus Tahun Ajaran 2009/2010.873 X2 + 0.6%). penggunaan media pembelajaran dan motivasi terhadap prestasi belajar kewirausahaan siswa kelas X SMK Negeri 1 Pringapus Tahun Ajaran 2009/2010. Ada pengaruh yang signifikan motivasi terhadap prestasi belajar kewirausahaan siswa kelas X SMK Negeri 1 Pringapus secara parsial dengan koefisien regresi sebesar 0. Ada pengaruh yang signifikan cara belajar terhadap prestasi belajar kewirausahaan siswa kelas X SMK Negeri 1 Pringapus secara parsial dengan koefisien korelasi sebesar 0. Metode pengumpulan data yang digunakan angket dan dokumentasi. penggunaan media pembelajaran. Prestasi Belajar. Berdasarkan analisis regresi berganda diperoleh model regresi Y = 47.873 serta keberartian koefisien regresi uji t sebesar 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui pengaruh cara belajar. maka teknik pengambilan sampel dengan menggunakan proporsional random sampling. motivasi dalam kriteria tinggi (56. Kata Kunci : Cara Belajar. Banyak kita jumpai pendidik baik di sekolah-sekolah kejuruan. Mengingat sifat populasi bersifat homogen pada siswa kelas X Program Keahlian Multimedia dan Tata Busana SMK Negeri 1 Pringapus Kabupaten Semarang Tahun Ajaran 2009/2010. (Suryana. penggunaan media pembelajaran. motivasi dan prestasi belajar kewirausahaan siswa Kelas X SMK Negeri 1 Pringapus Tahun Ajaran 2009/2010.2 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 1.PENGARUH CARA BELAJAR. Sehingga setiap responden mempunyai kesempatan yang sama 149 .

Penyebaran sampel dari populasi secara lebih lengkap adalah sebagai berikut : N o 1 .sebagai sampel dalam penelitian.1 Sampel Penelitian Teknik Jumlah Pengambilan Populasi sampel 38 37 34 33 33 Jumlah Sampel 25 24 22 22 22 22 X TB 33 4 Jumlah 208 Populasi Keterangan : MM : Multimedia TB : Tata Busana (Sumber : Tata Usaha SMK N 1 Pringapus) Jumlah Sample 137 150 . 4 . 5 . 6 . 3 .2006:78) yaitu : Keterangan : N : Ukuran populasi n : Ukuran Sampel e : Persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang dapat ditorerir atau diinginkan. e derajat kesalahan dalam penelitian sebesar 5% dengan tingkat signifikan 95% (137) Berdasarkan perhitungan tersebut maka sampel yang dipakai dalam penelitian ini adalah berjumlah 137 orang siswa kelas X Program Keahlian Multimedia dan Tata Busana SMK Negeri 1 Pringapus Kabupaten Semarang Tahun Ajaran 2009/2010. Untuk mengetahui jumlah sampel yang akan diambil dalam penelitian ini peneliti menggunakan rumus Slovin (Husein Umar. Kelas X MM 1 X MM 2 X TB 1 X TB 2 X TB 3 Tabel 3. 2 .

Tujuan dari uji coba instrumen adalah untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan-pernyataan yang kurang jelas maksudnya.2 Hasil Uji Coba Validitas Variabel Cara Belajar ( No.338 Valid 15 0.398 0.338 Valid 14 0.2.660 0.2006:162) Dimana: = koefisien korelasi.588 0.453 0. mempertimbangkan penambahan atau mengurangi item. = jumlah responden. Validitas Dalam penelitian ini pengukuran validitas diukur dengan menggunakan bentuk metode statistik.338 Valid 5 0. yaitu angket yang memungkinkan responden hanya memilih alternatif jawaban yang disediakan.338 Valid 11 0. Soal Kriteria 1 0.576 0. Data yang dapat diambil dengan metode dokumentasi tersebut adalah data tentang jumlah siswa.492 0.639 0.338 Valid 12 0. Metode Pengumpulan Data Metode Dokumentasi Dalam penelitian ini data diambil dari arsip yang dimiliki oleh guru mata pelajaran kewirausahaan kelas X SMK Negeri 1 Pringapus. 1. Metode Angket (kuesioner) Adapun jenis kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup.5.548 0.4 1. menghilangkan kata-kata yang sulit dipahami. nama siswa. = skor total angket. dan data prestasi belajar kewirausahaan siswa kelas X pada mata pelajaran kewirausahaan yang diambil dari nilai ulangan pada semester II tahun ajaran 2009/2010.1.491 0.668 0.338 Valid 8 0. Adapun uji coba instrumen menggunakan SPSS for windows 13 dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3.4.338 Valid 9 0.1.338 Valid Sumber : Data penelitian diolah.579 0. 2010 ) 151 . = skor item angket.338 Valid 3 0.2. Uji Instrumen Uji coba instrumen penelitian dilakukan sebelum angket diberikan kepada responden.338 Valid 10 0. 1.563 0.338 Valid 7 0.338 Valid 2 0.5. 1.338 Valid 13 0.547 0.501 0.4.338 Valid 4 0. Data yang terkumpul diuji dengan teknik korelasi product moment dari Karl Pearson (Suharsimi.338 Valid 6 0.696 0.

Adapun rumus yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumus Alpha (Suharsimi.338 Tidak Valid 22 0.338 0.338 0.338 Valid 27 0.6.439 0.338 Valid Valid Valid Valid ) Sumber : Data penelitian diolah.338 Tidak Valid 24 0.1 Metode Analisis Deskriptif Persentase Langkah-langkah yang ditempuh dalam penggunaan teknik analisis ini adalah: 1.496 0.505 0.645 0. Membuat tabel distribusi jawaban angket.338 Valid 25 0.344 0. Reliabilitas Reliabilitas adalah ketepatan atau keajegan suatu alat ukur dalam mengukur apa yang diukur. Menjumlahkan skor jawaban yang diperoleh dari tiap-tiap responden. = jumlah varians butir. = varians total. Metode Analisis Data Analisis data adalah cara-cara mengolah data yang telah terkumpul kemudian dapat memberikan interpretasi.626 0. Sebelum menggunakan rumus Alpha terlebih dahulu harus dicari varian butirnya dengan rumus : ( X )2 ( X )2 2 N : Varian Tiap butir N X : Jumlah Skor butir N : Jumlah Responden 1. 2006:193) yaitu: = Dimana: = reliabilitas instrumen.3 Hasil Uji Coba Validitas Variabel Penggunaan Media Pembelajaran( No. Soal Kriteria 16 17 18 19 0.7.511 0.338 0. Menentukan skor jawaban responden dengan ketentuan skor yang telah ditetapkan.524 0. Soal Kriteria 20 0. Hasil pengolahan data ini digunakan untuk menjawab masalah yang telah dirumuskan.338 Valid 23 0. 1.266 0. Memasukkan skor tersebut kedalam rumus (Ali.316 0.4 Hasil Uji Coba Validitas Variabel Motivasi ( No.338 Valid ) Sumber : Data penelitian diolah.516 0.7.627 0.338 Valid 26 0. 2. 2010 1.338 Valid 21 0. 2010 Tabel 3. 2004:186) sebagai berikut: Persentase skor (%) = 100% Keterangan: 152 .378 0. 3. = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal. 4.338 Valid 28 0.Tabel 3.

maka dibuat tabel kategori yang disusun dengan perhitungan sebagai berikut: 1.25% = 75% 4. Analisis Regresi Ganda Dalam penelitian ini analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan persamaan sebagai berikut : Y = β0 + β1X1 + β2X2 β3X3 e Dimana : Y : Prestasi belajar X1 : Cara Belajar X2 : Penggunaan media pembelajaran X3 : Motivasi β0 : Konstanta β1 : Koefisien regresi e : Error Toleransi kesalahan yang ditetapkan sebesar 5 % dengan signifikansi sebesar 95 %.51% 81. 1. N = jumlah nilai ideal (jumlah responden x jumlah skor x skor tertinggi). hasil analisis ini didasarkan pada distribusi frekuensi yang memberikan gambaran mengenai distribusi subjek menurut kategori-kategori nilai variabel.43.5 Kriteria Cara Belajar.75% Maka tabel kriteria untuk variabel cara belajar ( ). Uji F atau Simultan Pengujian simultan bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas secara bersama-sama atau simultan terhadap variabel terikat. penggunaan media pembelajaran ( ).62.6 Kriteria Prestasi Belajar Interval Kriteria 85 – 100 Sangat Baik 70 – 84 Baik 55 – 69 Cukup < 54 Kurang 1.2.76% . Untuk menentukan kategori deskripsi persentase (DP) yang diperoleh.25% 43. dan motivasi ( ) serta prestasi belajar (Y) sebagai berikut : Tabel 3. Rentang persentase = 100% .50% 25. Hasil yang diperoleh dikonsultasikan dengan tabel.7. Dalam penyajiannya.26% 100. Persentase minimal = (1/4) x 100% = 25% 3.n = jumlah nilai yang diperoleh.3.7. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan uji F yaitu membandingkan dan yang terdapat pada tebel Analysis of Variance yang dihitung melalui SPSS For Windows 13.00% .75% Cara Belajar Sangat Tinggi Tinggi Rendah Sangat Rendah Motivasi Sangat Tinggi Tinggi Rendah Sangat Rendah Tabel 3. Penggunaan Media Pembelajaran. Interval kelas persentase = 75% / 4 = 18. Untuk mengetahuinya didasarkan pada nilai atau skor yang telah ditetapkan untuk setiap alternatif jawaban yang tersedia dalam angket. Persentase maksimal = (4/4) x 100% = 100% 2.00% 62. 5. dan Motivasi Kriteria Penggunaan Media Pembelajaran Sangat Tinggi Tinggi Rendah Sangat Rendah Interval 81. 153 .

Pengujian ini dihitung melalui SPSS For Windows 13.05 = 5% dengan derajat kebebasan df = (N-k) dimana N adalah jumlah observasi dan k adalah jumlah variabel. 1. = . berarti variabel bebas tidak mempunyai pengaruh sama sekali (=0%) terhadap variabel tidak bebas.05 = 5% dengan derajat kebebasan (degree of freedom) df = (N – k) dan (k – 1) dimana N adalah jumlah observasi dan k adalah jumlah variabel. menunjukkan pengurangan atas kesalahan total ketika diplot sebuah garis regresi. Untuk mengetahui nilai . = 0.7. 154 . .Untuk menentukan nilai .7. . artinya terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen. Sebaliknya. 2005:110). ditentukan tingkat signifikansi 0. artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen. artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama dari seluruh variabel independen terhadap variabel dependen. Uji t atau Parsial Uji t digunakan untuk menguji koefisien regresi secara parsial dari variabel independennya.7. 1. Kriteria uji yang digunakan adalah: Jika ( ditolak Jika ( diterima Adapun uji hipotesisnya adalah: = . Kriteria uji yang digunakan adalah: Jika ( ditolak Jika ( diterima Adapun uji hipotesisnya adalah: = . karena itu letak berada dalam selang (interval) antara 0 dan 1. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi.4. artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama dari seluruh variabel independen terhadap variabel dependen. = 0. variabel dependen dan variabel independen keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak (Ghozali. Secara aljabar dinyatakan : 0 secara sederhana merupakan suatu ukuran kemajuan ditinjau dari sudut pengurangan kesalahan total (total error). tingkat signifikansi yang digunakan sebesar 0.5. berarti variabel tidak bebas 100% dipengaruhi oleh variabel bebas. = . Koefisien Determinasi ( ) Koefisien determinasi merupakan ukuran yang dapat dipergunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak bebas. Bila koefisien determinasi = 0.6 Uji Asumsi Klasik 1. 1. bila koefisien determinasi =1. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal.

0 Observed Cum Prob Gambar 3.0 0.4 0.8 1. 2005: 105) Scatterplot Dependent Variable: Prestasi Belajar 3 Regression Studentized Residual 2 1 0 -1 -2 -3 -3 -2 -1 0 1 2 Regression Standardized Predicted Value Gambar 3.2 0. dan sumbu X adalah residual (Y-prediksi – Y sesungguhnya) yang telah di-studentized.6 0.0 0.7 Uji Multikolinearitas 155 . (Imam Ghozali.6 0.2 0.0 0. Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas dilihat dari grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residualnya (SRESID).8 Expected Cum Prob 0. Uji Multikolinearitas Tabel 3.Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual Dependent Variable: Prestasi Belajar 1.1 Uji Asumsi Normalitas (Normal P-Plot) 2.2 3.4 0.

384 . minat dan semangat untuk belajar. 2004:75). Cara Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Kewirausahaan Cara belajar siswa SMK Negeri 1 Pringapus dalam mata pelajaran kewirausahaan termasuk dalam kriteria tinggi yaitu sebesar 57. mengulangi bahan pelajaran.6% dari 137 siswa yang berarti bahwa pada diri siswa sudah terdapat karakteristik individu yang mempunyai cara belajar yang tinggi. Prestasi Belajar dalam Mata Pelajaran Kewirausahaan Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran. Karakteristik individu yang mempunyai cara belajar tersebut antara lain adalah dalam cara belajar siswa membuat jadwal dan melaksanakannya. Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar 156 . Dalam pembelajaran kewirausahaan media hendaknya benar-benar diperhatikan karena selain berfungsi untuk mempermudah penjelasan materi di kelas media disini berfungsi juga sebagai alat atau bahan praktek pembelajaran di lapangan. Hal ini berarti tidak terdapat asumsi multikolinearitas dalam model regresi pada penelitian ini.8. bersikap aktif pada saat pelajaran dan memiliki hasrat untuk berprestasi. membaca dan membuat catatan. 1.296 2. dan mengerjakan tugas. 1.397 2. berkonsentrasi pada saat pelajaran.1. 1. lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru (Tu’u. Cara belajar yang baik dapat membuat siswa lebih mudah mempelajari materi yang disampaikan dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa tersebut.603 dan VIF untuk variabel motivasi sebesar 3.5.8.521 .8.a Coefficients Model 1 Cara Belajar Penggunaan Media Pembelajaran Motivasi Collinearity Statistics Tolerance VIF . Hal ini sesuai pendapat (Sardiman. 1. Peranannya yang khas adalah dalam hal menumbuhkan gairah.382 a. 1. konsentrasi. mengulang bahan pelajaran agar tidak lupa.3% dari 137 siswa yang berarti bahwa pada diri siswa sudah terdapat karakteristik individu yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi.8. mengulangi bahan pelajaran. Pengaruh Cara Belajar terhadap Prestasi Belajar Untuk menguasai materi kewirausahaan diperlukan adanya cara belajar yang mana siswa itu harus belajar dengan sungguh-sungguh seperti membaca dan mencatat. yang berarti bahwa dalam mata pelajaran kewirausahaan siswa telah menggunakan media pembelajaran dengan baik.6. Karakteristik individu yang mempunyai motivasi berprestasi tersebut adalah adanya minat untuk belajar.2.8.6% dari 137 siswa. 2005:75) yang menyatakan bahwa Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. membaca dan membuat catatan untuk mempermudah belajar.521. konsentrasi dan mengerjakan tugas.8. Siswa yang memiliki motivasi kuat.7 di atas diperoleh angka VIF yaitu kurang dari 10 yaitu untuk variabel cara belajar sebesar 2. Hal ini sesuai dengan pendapat Slameto (2003:82) yang menyatakan bahwa kebiasaan yang mempengaruhi belajar yaitu pembuatan jadwal dan pelaksanaannya. Dependent Variable: Prestasi Belajar Dari tabel 3.3. Penggunaan Media Pembelajaran dalam Mata Pelajaran Kewirausahaan Penggunaan media pembelajaran dalam mata pelajaran kewirausahaan termasuk dalam kriteria tinggi yaitu sebesar 65.8.4. 1. Motivasi dalam Mata Pelajaran Kewirausahaan Motivasi dalam mata pelajaran kewirausahaan siswa SMK Negeri 1 Pringapus termasuk dalam kriteria tinggi yaitu sebesar 56.382. akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar.603 3. konsentrasi dan senantiasa mengerjakan tugas. VIF untuk variabel penggunaan media belajar sebesar 2. Pembahasan 1.

giat membaca buku untuk meningkatkan prestasi belajarnya. penggunaan media pembelajaran dan motivasi terhadap prestasi belajar kewirausahaan. 1. dan motivasi termasuk dalam kriteria tinggi.000 0. Dalam mengikuti mata pelajaran kewirausahaan hendaknya siswa meningkatkan konsentrasinya ketika guru sedang menyampaikan materi dengan cara tidak berbicara sendiri di dalam kelas. Mulyono. Pengaruh Cara Belajar. Bagi peneliti selanjutnya agar dapat melakukan penelitian serupa pada mata diklat lainnya. Penggunaan Media Pembelajaran dan Motivasi terhadap Prestasi Belajar Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa secara simultan cara belajar. Saran Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa cara belajar. Di samping prestasi belajar kewirausahaan dipengaruhi oleh cara belajar. konsentrasi tertuju pada pelajaran.05. Ali. 2.6% dan diperoleh nilai = 39.7. 1. 157 . Rineka Cipta. 1999. penggunaan media pembelajaran dan motivasi terhadap prestasi belajar kewirausahaan siswa sebesar 45. Ada pengaruh yang signifikan antara cara belajar terhadap prestasi belajar kewirausahaan siswa kelas X SMK Negeri 1 Pringapus secara parsial dengan koefisien korelasi sebesar 0. Prosedur dan Strategi Penelitian Kependidikan. Berdasarkan analisis deskriptif bahwa prestasi belajar kewirausahaan dalan kriteria baik. Pengaruh Motivasi terhadap Prestasi Belajar Motivasi harus didasari dari adanya minat untuk belajar.8. 1. sehingga ditolak dan menerima yang berarti ada pengaruh yang signifikan antara cara belajar.039 dengan probabilitas 0. tampak aktif. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka simpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini antara lain : 1. 1.6% dan motivasi dalam mata pelajaran kewirausahaan juga termasuk kriteria tinggi yaitu sebesar 56.183 serta keberartian koefisien regresi uji t sebesar 2.3% dari 137 siswa. 1.046. Dalam hal kelengkapan media hendaknya siswa memiliki lebih dari satu buku penunjang selain LKS dan buku paket untuk menambah wawasan kewirausahaan dan sekolah hendaknya menyediakan LCD sebagai media untuk menyampaikan materi kewirausahaan.9.11. Daftar Pustaka Abdurrohman. bersikap aktif dan memiliki hasrat untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi.012 dan signifikansi sebesar 0. hal ini dikarenakan media berfungsi sebagai fasilitator untuk membantu menyederhanakan materi yang rumit pada saat guru menjelaskan. Jakarta: PT.10. Tingkat penggunaan media pembelajaran termasuk kriteria tinggi yaitu sebesar 65. 3.4%). tidak mau menyerah.8. penggunaan media pembelajaran dan motivasi. juga dipengaruhi oleh faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapi tujuan sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesan. berkonsentrasi.6%.Penggunaan media sangat penting dalam proses pembelajaran terutama dalam penyampaian materi oleh guru pada siswanya. Bandung: Angkasa.8. dari 137 siswa yang memiliki prestasi yang baik terdapat 80 siswa (58. 2. 1993. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Berdasarkan deskriptif cara belajar menunjukkan bahwa cara belajar siswa kelas X SMK Negeri 1 Pringapus termasuk kriteria tinggi yaitu sebesar 57. penggunaan media pembelajaran. maka saran yang dapat diajukan di dalam penelitian ini antara lain : 1. Muhammad.

siswa mulai berorientasi ke masa depan untuk mencapai cita-cita dan pada saat yang sama mereka juga senang bermain di masa remajanya yang kadang mengesampingkan tugas pokoknya. kegiatan belajar di industri. Hal ini disebabkan karena pemakai tenaga kerja tidak percaya begitu saja kepada isi ijazah. Sekolah Menengah Kejuruan merupakan salah satu lembaga pendidikan formal di Indonesia yang bertanggungjawab untuk menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan. Kata kunci : Faktor-Faktor Kesiapan Kerja I. Lulusan S1 misalnya. Dalam dunia pendidikan formal khususnya pada jenjang sekolah menengah atas. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas XI program keahlian administrasi perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah 79 siswa.1 Latar Belakang Menurut Tirtarahardja dan La Sulo (2005:263) “Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar dapat berperan aktif dan positif dalam hidupnya sekarang dan yang akan datang”. mereka lebih percaya kepada kemampuan. walaupun ada sejumlah kasus orang tua menolak menyekolahkan anak dengan dalih untuk membantu mencari nafkah. Hal ini sesuai dengan tujuan SMK yaitu meningkatkan kecerdasan. SMK Negeri 1 Boyolali merupakan salah jalur pendidikan formal yang tidak hanya memberikan teori pada siswanya tetapi juga dengan keterampilan berupa praktik. pengetahuan. yaitu belajar yang dapat bermanfaat. sifat-sifat. dan kepribadian para pencari kerja. dan minat. dan tempat belajar. Faktor kesiapan kerja yang dominan yaitu faktor pribadi siswa dan guru. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan angket/kuesioner. kegiatan industri. dan bakat khusus. asumsi mereka adalah makin tinggi ijazah yang dapat diraih makin cepat dapat pekerjaan serta makin besar gaji yang diterima. Namun kenyataan menunjukkan tidak persis seperti itu. keterampilan dan keahlian. 2) On The Job Training meliputi dunia industri dan sekolah. keterampilan. baik yang 158 . strategi mengajar. 3) Kurikulum yang meliputi kurikulum. banyak sekali yang belum bisa bekerja. akhlak mulia.ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESIAPAN KERJA SISWA KELAS XI PROGRAM KEAHLIAN ADMINISTRASI PERKANTORAN SMK NEGERI 1 BOYOLALI Oleh : Laela Nur Farida ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor kesiapan kerja yang dialami siswa kelas XI program keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali dan untuk menganalisis faktor-faktor kesiapan kerja yang dominan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 17 variabel mereduksi menjadi 11 variabel yang masing-masing mengelompok menjadi 3 faktor yaitu : 1) Pribadi Siswa dan Guru yang meliputi taraf inteligensi. Di mana-mana tampak anakanak muda mereka berebut untuk mendapatkan sekolah. Dan teknik analisa data menggunakan analisis faktor. Pendidikan mempunyai peranan penting dalam membentuk sumber daya manusia yanng memiliki keahlian akademik dan profesionalisme untuk menghadapi kemajuan jaman. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.Mengapa masyarakat atau para remaja bersikap seperti itu. kelembagaan. kepribadian. Menurut Pidarta (2007:183) Sebagian masyarakat Indonesia sekarang sudah sadar akan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan hidup dan kehidupan. sehingga lulusannya dapat mengembangkan kinerja apabila terjun dalam dunia kerja. PENDAHULUAN 1.

Keterampilan. Oleh sebab itu perlu adanya usaha untuk mencari faktor yang dapat mempengaruhi kesiapan kerja siswa. Untuk menganalisis faktor-faktor kesiapan kerja pada siswa kelas XI program keahlian administrasi perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali tahun ajaran 2009/2010. setidaknya mencakup 3 aspek : 1. 159 . 22 siswa berwirausaha. pengetahuan dan pengertian yang lain yang telah dipelajari. motif dan tujuan 3. II. berkembang dan berubah. dan orang berharap bahwa aktivitas kerja yang dilakukannya akan membawanya kepada suatu keadaan yang lebih memuaskan daripada keadaan sebelumnya. 1996:121). Seseorang bekerja karena ada sesuatu yang hendak dicapainya. Kesiapan diperlukan dalam menghadapi atau memecahkan suatu permasalahan saat menerima reaksi dari luar.1 Kesiapan Kerja Menurut Slameto (2003:113) “kesiapan adalah keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberi respons atau jawaban di dalam cara tertentu terhadap suatu situasi”. Dari jumlah tersebut 139 siswa dinyatakan sudah bekerja. LANDASAN TEORI 2. mental dan emosional 2.3 Tujuan penelitian a. jalur latihan kerja dan jalur pemantapan dalam pengalaman lapangan kerja. Berdasarkan pengertian di atas. 14 siswa melanjutkan studi. Hal ini menunjukkan bahwa memang sebagian besar tujuan siswa masuk di SMK yaitu untuk mempersiapkan diri mereka untuk memasuki dunia kerja setelah lulus.dilaksanakan di sekolah maupun di industri yang nantinya dapat membekali siswa sehingga mampu bersaing dalam menghadapi dunia kerja. Kebutuhan-kebutuhan. Hal ini dikarenakan adanya faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesiapan kerja siswa. b. Berdasarkan kondisi ini diketahui bahwa jumlah tamatan yang dapat tersalurkan dari tahun ke tahun mengalami penurunan dan masih ada sebagian siswa tamatan SMK Negeri 1 Boyolali yang belum memperoleh pekerjaan setelah lulus. 1. 62 siswa belum bekerja/tidak diketahui. kesiapan yaitu penyesuaian kondisi seseorang dalam menghadapi suatu hal yang menjadi tujuannya. sehingga jelas terlihat bahwa perencanaan tenaga kerja merupakan bagian integral dari perencanaan pembangunan dan sekaligus mencakup perencanaan pendidikan (Simanjuntak dalam Wena. dari data penelusuran tamatan 3 tahun terakhir diketahui bahwa jumlah tamatan sebanyak 237 siswa. Menurut Anoraga (2006:11) “Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia”. Adakah faktor-faktor kesiapan kerja yang dialami siswa kelas XI program keahlian administrasi perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali tahun ajaran 2009/2010? b.2 Perumusan Masalah a. Proses penyiapan tenaga kerja pada dasarnya dapat dilakukan melalui jalur pendidikan formal. Untuk menganalisis faktor-faktor kesiapan kerja yang dominan pada siswa kelas XI program keahlian administrasi perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali tahun ajaran 2009/2010. Kondisi fisik. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di SMK Negeri 1 Boyolali. bahkan seringkali tidak disadari oleh pelakunya. diketahui bahwa mayoritas siswa memiliki latar belakang ekonomi keluarga menengah kebawah dan banyak lulusan yang bekerja dibandingkan melanjutkan studi. Kebutuhan itu bisa bermacam-macam. Sedangkan menurut Chaplin dalam Kartono (2004:419) “Readiness (kesiapan) adalah tingkat perkembangan dari kematangan / kedewasaan yang menguntungkan ”. Seseorang dikatakan telah memiliki kesiapan ketika ia mampu menghadapi sesuatu hal dengan respon yang cepat dan tepat. Namun. Chaplin dalam Kartono (2004:540) “kerja yaitu penyelesaian suatu tugas”. Adakah faktor-faktor kesiapan kerja yang dominan pada siswa kelas XI program keahlian administrasi perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali tahun ajaran 2009/2010? 1.

Perkembangan karier remaja menurut Ginzberg dalam Sunarto dan Hartono (2008:202) ada pada periode pilihan tentatif (11-17 tahun). 3. Bakat Khusus (X3) 4. Hal diatas menekankan bahwa lulusan pendidikan kejuruan diharapkan memiliki nilai tambah daripada sekolah menengah umum lainnya. Sifat-Sifat (X5) 160 . yaitu mampu dan atau siap bekerja sesuai dengan program keahliannya. 2008:20). kegiatan belajar selain dilakukan di lingkungan sekolah juga dilakukan pada dunia kerja atau industri. sebaliknya sebagai penggantinya seluruh set hubungan interdependen antar variabel diteliti. METODOLOGI PENELITIAN 3. variabel tidak dikelompokkan menjadi variabel bebas dan variabel terikat. Nilai-nilai Kehidupan (X1) 2. Pada pendidikan kejuruan. Variabel-variabel yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. Dalam Undang-Undang RI No 2 Tahun 1989 Pasal 11 tentang Jenis pendidikan menyebutkan bahwa : “Pendidikan Kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu”(Ihsan.Pendidikan merupakan salah satu persiapan menuju suatu karier. Sekolah Menengah Kejuruan merupakan suatu lembaga pendidikan yang menerapkan konsep pendidikan sistem ganda. Sejalan dengan itu Tilaar (1991:12) dalam Muhidin (2009) menegaskan bahwa: “pendidikan formal (sekolah kejuruan) seharusnya menghasilkan lulusan yang memiliki kualifikasi siap latih yang kemudian diteruskan dengan program pelatihan. Oleh karena itu semua kegiatan pada pendidikan sistem ganda ini harus tetap mengacu pada prinsip-prinsip pendidikan kejuruan. Variabel-variabel yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan kerja siswa dapat berasal dari dalam diri siswa (internal) dan dari luar diri siswa (eksternal). Taraf Intelegensi (X2) 3. III.2 Karakteristik Sekolah Menengah Kejuruan Menurut Muchlas Samani dalam Muhidin (2009) “secara sistemik.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan “Metode Eksplanatif (explanative research) karena ditujukan untuk memberikan penjelasan tentang hubungan antar fenomena atau variabel” (Sukmadinata. yang diambil dari teori-teori kesiapan yang dikemukakan oleh Winkel dan Sri Hastuti (2006:647) serta dikembangkan dengan teori Wena (1996:17) dalam konsep kesiapan kerja dalam penelitian ini. baik di dalam industri atau lembaga pelatihan tertentu”.3 Variabel Penelitian Pada analisis faktor. teknik ini disebut dengan teknik interdependensi” (Supranto. Minat (X4) 5. dimana semua yang terlibat dalam kegiatan ini harus saling bekerjasama dan saling mendukung. “Di dalam analisis faktor. Penelitian ini merupakan penelitian populasi karena memakai seluruh subyek penelitian yang kurang dari 100 siswa. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI program keahlian administrasi perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali tahun ajaran 2009/2010 dengan jumlah 79 siswa. 2005:128). Dalam hal ini menjelaskan hubungan antara tujuh belas (17) faktor kesiapan kerja siswa serta menganalisis relevansi antara beberapa indikator yang tercantum dalam faktor-faktor tersebut. 3.2 Populasi Penelitian Populasi menurut Babbie dalam Sukardi (2008:53) adalah “elemen penelitian yang hidup dan tinggal bersama-sama dan secara teoretis menjadi target hasil penelitian”. 2. 2004:113). Terdapat banyak definisi yang diajukan oleh para ahli tentang pendidikan kejuruan dan definisi-definisi tersebut berkembang seirama dengan persepsi dan harapan masyarakat tentang peran yang harus dijalankannya. Hal itu ditandai oleh meluasnya pengenalan anak terhadap berbagai masalah dalam memutuskan pekerjaan apa yang akan dikerjakannya di masa mendatang. pendidikan kejuruan pada dasarnya merupakan subsistem dari sistem pendidikan”.

Faktor kedua dapat menjelaskan 14. Kepentingan (X15) 16. 2006:158). Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data dari responden mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan kerja siswa kelas XI program keahlian administrasi perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali tahun ajaran 2009/2010. jumlah kelas. Kegiatan industri (X12) 13. Angket/Kuesioner Angket dalam penelitian ini adalah bersifat tertutup.4 Teknik Pengumpulan Data a. Pengajar (X16) 17. nilai praktek industri. b. yaitu kuesioner yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih dan dijawab secara langsung oleh responden. notulen rapat. Dunia industri dan sekolah (X14) 15. penelusuran tamatan dan hal lain yang berkaitan dengan penelitian ini. nama siswa. peraturan-peraturan. Pengetahuan (X6) 7. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis faktor dari tabel Total Variance Explained terbentuk 3 faktor. Kegiatan Belajar di industri (X13) 14. Kelembagaan (X8) 9. Faktor pertama dapat menjelaskan 38. presensi kehadiran siswa. agenda dan sebagainya” (Suharsimi. Persentase kumulatif dari eigenvalue menunjukkan bahwa faktor dominan yang mempengaruhi kesiapan kerja siswa yaitu faktor pribadi siswa dan guru sebesar 69.5% variasi dan faktor 3 dapat menjelaskan 9.5 Teknik Analisis Data Analisis faktor digunakan untuk mereduksi data atau meringkas dari variabel yang jumlahnya sedikit. Strategi mengajar (X11) 12.87%. Keadaan Jasmani (X7) 8. Faktor-faktor yang ada akan dilihat hubungannya (interdependen antar variabel).84% variasi. Dokumentasi “Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan. transkip. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner skala Likert dimana setiap item soal disediakan lima jawaban dengan skor masing-masing sebagai berikut : 1) Jawaban SS (Sangat Setuju) = skor 5 2) Jawaban S (Setuju) = skor 4 3) Jawaban KS (Kurang Setuju) = skor 3 4) Jawaban TS (Tidak Setuju) = skor 2 5) Jawaban STS (Sangat Tidak Setuju) = skor 1 3.16% variasi. Teknik dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk mencari data jumlah siswa.6. Dalam penelitian ini analisis faktor digunakan untuk mengungkap faktorfaktor yang mempengaruhi kesiapan kerja siswa kelas XI program keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali Tahun Ajaran 2009/2010. Materi Pembelajaran (X10) 11. 161 . Tempat belajar (X17) 3. sehingga akan menghasilkan pengelompokan atau tepatnya abstraction dari banyak variabel menjadi hanya beberapa variabel baru atau factor IV. dokumen. Kurikulum (X9) 10. buku.

959 3.028 .421 .213 23.498 52.958 17.025 . V. Rotation converged in 6 iterations. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization.616 .002 86.828 94.873 6.095 .670 Extraction Method: Principal Component Analysis. X13. a Rotated Component Matrix X2 X5 X11 X4 X14 X13 X12 X3 X9 X8 X17 1 .750 .812 .723 .230 .838 62.291 .198 38.550 .469 .399 .829 97. X12.027 .096 .984 5. PENUTUP 5.078 . X4.616 2.384 100.160 38.160 14.265 .111 75.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bagian sebelumnya.838 62.658 9. a.599 81.085 .496 Rotation Sums of Squared Loadings Total % of Variance Cumulative % 2.374 90.012 .378 69.595 14.553 23.496 Component 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Total 4.130 .054 . Berdasarkan tabel output Rotated Component Matrix faktor 1) Pribadi Siswa dan Guru terdiri dari X2.000 Extraction Sums of Squared Loadings Total % of Variance Cumulative % 4. 2) On The Job Training terdiri dari X14.595 1.248 . X5.583 5.Total Variance Explained Initial Eigenvalues % of Variance Cumulative % 38.092 .719 .828 .262 Extraction Method: Principal Component Analysis.585 4.082 9.616 .775 . yaitu : 162 .787 2.803 62.498 52.792 .198 1. X17.679 . X8.287 3 -.337 .287 -.734 .692 1. Hasil analisis faktor dari 17 indikator mereduksi menjadi 11 yang mengelompok menjadi 3 faktor yang mempengaruhi kesiapan kerja siswa kelas XI program keahlian administrasi perkantoran SMK Negeri 1 Boyolali tahun ajaran 2009/2010.082 .479 44.213 2.311 .672 .071 . masing-masing pengaruh 11 indikator terhadap kesiapan kerja siswa.160 1.363 21.256 Component 2 . X11. maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1.658 1.686 .481 .496 7. X3 dan 3) Kurikulum terdiri dari X9.160 38.

719 0.5% variasi dan selebihnya sebesar 37.792 0. 2) on the job training (dunia industri dan sekolah. 2. sifat-sifat. Bagi Sekolah a.679 0.2 Saran Ada 11 indikator yang dapat mempengaruhi kesiapan kerja siswa.5%. minat). Faktor 2 mampu menjelaskan 14. b. kegiatan industri. Oleh karena itu siswa hendaknya memotivasi dirinya serta mengembangkan kemampuan yang dimiliki guna mempersiapkan diri dalam menghadapi dunia kerja. 163 .670 Tempat Belajar Secara keseluruhan.616 0. Faktor kesiapan kerja yang paling besar pengaruhnya berasal dari internal siswa.723 Variabel Pribadi Siswa dan Guru On The Job Training Kurikulum 0. Hal ini dapat menjadi waktu yang baik bagi siswa untuk melihat dan belajar pada dunia kerja yang sesungguhnya. Sekolah bisa menjadi penghubung antara siswa dengan DU/DI baik ketika siswa masih dalam masa studi maupun setelah lulus dalam rangka penyaluran tenaga kerja. bakat khusus). Kegiatan belajar pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dilakukan di sekolah dan dunia industri. kelembagaan. Bagi Peneliti Selanjutnya a. Oleh karena itu hendaknya on the job training dapat dilaksanakan siswa dengan sungguh-sungguh.16% variasi. Bagi Siswa a.686 0. c.750 0. Penelitian berikutnya hendaknya dapat mengembangkan tulisan ini sehingga dapat membantu berbagai pihak yang terkait dalam pendidikan menengah kejuruan terutama dalam menangani masalah kesiapan kerja siswa. Besarnya faktor kesiapan kerja yang dominan yaitu faktor pribadi siswa dan guru dilihat dari nilai persentase kumulatif varian sebesar 69. 3. faktor 3 mampu menjelaskan 9. b. kegiatan belajar di industri. Skripsi ini dapat dijadikan referensi dan acuan bagi penelitian berikutnya. 2.734 0. Sekolah lebih meningkatkan kualitas pembelajaran serta memanfaatkan fasilitas belajar yang ada sehingga dapat membantu kegiatan belajar siswa. pengaruh 3 faktor terhadap kesiapan kerja siswa yaitu: Faktor 1 mampu menjelaskan 38. Pihak sekolah lebih meningkatkan kerjasama yang baik dengan Dunia Usaha/Industri (DU/DI) dalam kegiatan on the job training agar kegiatan siswa di tempat praktik bisa terkontrol dengan baik.87% 5. b. diberikan saran sebagai berikut: 1. dan 3) kurikulum (kurikulum. strategi mengajar.775 0.84% atau ketiga faktor mampu menjelaskan 62. Indikator tersebut membentuk 3 faktor baru yaitu : 1) pribadi siswa dan guru (taraf inteligensi. Dari hasil penelitian ini.828 0.N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 Indikator Taraf Inteligensi Sifat-sifat Strategi Mengajar Minat Dunia Industri dan Sekolah Kegiatan Belajar di Industri Kegiatan Industri Bakat Khusus Kurikulum Kelembagaan Muatan Faktor 0.5% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak masuk dalam model. tempat belajar).

Rosdakarya Pidarta. Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Ali. Jakarta : PT.html. 2004. Bandung : Alfabeta. Bandung : PT. 2008.Raja Grafindo Persada. Semarang : BP. 164 . Sambas. Mulyasa.J dan MM. Bandung : Alfabeta. Konsep Pendidikan Kejuruan. Kamus Lengkap Psikologi. Undang-Undang RI No. Made. Jakarta : Rineka Cipta. Jakarta : Rinneka Cipta. Arikunto. Psikologi Pendidikan. Remaja Rosdakarya. Jakarta : Rineka Cipta. Slameto. http://sambasalim. Pengantar Pendidikan Sebuah Studi Awal tentang Dasar-Dasar Pendidikan Pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia. 2004. (27 Oktober 2009). 2006. J. 1996. Bumi Aksara. 2006. Pendidikan Sistem Ganda. Jakarta : Rineka Cipta. Made. Suharsimi. Redja. Pandji. Jakarta : Rineka Cipta. Nana. Supranto. Tirtarahardja. Suryabrata. Jakarta : Rineka Cipta. Kartini. Jakarta : CV. 2006. 2008. Perkembangan Peserta Didik. 2008. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Yogyakarta : Media Abadi. Sugiyono. Sukardi. Psikologi Kerja. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Pengantar Pendidikan. Djaali. 2001. 2005. 2007. Sri Hastuti. Umar dan La Sulo. Jakarta : PT. 2001. Sunarto dan Hartono. Ihsan. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Metodologi Penelitian Pendidikan. Semarang : UNNES Press. 2008. 2009. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Rineka Cipta. Jakarta : Rineka Cipta. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Metode Penelitian Pendidikan. Sumadi. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : PT. Wena.com/pendidikan/konsep-pendidikan-kejuruan. Analisis Multivariat Arti dan Interpretasi. 2006. Sukmadinata. _______ 2010. Rajawali. Syaodih. Bandung : Tarsito. Dasar-Dasar Kependidikan. Winkel S. Jakarta : Bumi Aksara Ghozali. Fuad. 2005. Muhidin. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2003. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. 2004. Kartono.UNDIP. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Agung. Jakarta : Grafindo Mudyahardjo. 2008.DAFTAR PUSTAKA Anoraga. Psikologi Pendidikan. Soeparwoto. 2006. Imam.

Pengembangan adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis.UPAYA PENGEMBANGAN KOMPETENSI PEGAWAI PADA BADAN KESATUAN BANGSA. segala aktifitas dalam suatu instansi tidak akan berjalan optimal. Hasil penelitian menyatakan bahwa pengembangan kompetensi pegawai untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dilakukan melalui diklat sudah baik. POLITIK DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT KOTA SEMARANG Sri Haryati Abstrak Peran pegawai merupakan salah satu faktor penting. dan perubahan suatu organisasi. segala aktifitas dalam suatu instansi tidak akan berjalan optimal. sebagai akibat kemajuan teknologi dan semakin ketatnya persaingan di antara perusahaan yang sejenis. Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2001 pasal 3. Dengan demikian upaya pengembang karyawan dirasa sangat penting manfaatnya karena tuntutan jabatan atau pekerjaan. mengidentifikasi tahapan pengembangan kompetensi pegawai. instansi atau departemen. Pengembangan pegawai dapat diartikan sebagai upaya untuk mempersiapkan pegawai agar bergerak dan berperan dalam organisasi sesuai dengan pertumbuhan. sikap perilaku yang diperlukan dalam tugas dan jabatannya (Sutrisno. Politik Dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang merupakan salah satu instansi pemerintah yang mempunyai tugas memantau situasi daerah dan menerbitkan surat perijinan pelaksanaan kegiatan di Kota Semarang. Oleh sebab itu kegiatan pengembangan pegawai dirancang untuk memperoleh pegawai-pegawai yang mampu berprestasi dan fleksibel untuk suatu organisasi atau instansi dalam geraknya kemasa depan (Notoadmojdo. Peran pegawai merupakan salah satu faktor penting. Dari uraian diatas kompetensi dapat diartikan sebagai kemampuan dan karakteristik yang merupakan bagian dari kepribadian seseorang serta perilaku yang diperlukan dalam menyelesaikan berbagai tugas pekerjaan. instansi atau departemen. proses pendidikan dan pelatihan pada aBadan Kesatuan Bangsa. karena tanpa pegawai yang berkualitas. perkembangan. program-program tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja karyawan dalam mencapai sasaran-sasaran kerja yang telah ditetapkan ( Handoko. Ada dua tujuan utama program latihan dan pengembangan karyawan. PENDAHULUAN Latar Belakang Dalam menjalankan kegiatan operasional suatu instansi ada beberapa faktor yang mendukung untuk tercapainya kinerja yang baik. sikap dan perilaku. konseptual. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk pengembangan kompetensi pegawai untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan. Untuk meningkatkan kinerja pegawai agar tujuan dari organisasi dapat terlaksana perlu dilakukannya upaya pengembangan pegawai. latihan dan pengembangan dilakukan untuk menutup “gap” ntara kecakapan atau kemampuan karyawan dengan permintaan jabatan. 2008: 69). 2001: 103). menyebutkan bahwa kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang pegawai negeri sipil berupa : pengetahuan. Badan Kesatuan Bangsa. 1998: 97).serta pemilihan metode pengembangan melalui off the job training. Menurut Spencer and spencer (1993) dalam buku (Sutrisno. Karakteristik dasar kompetensi berarti kemampuan adalah suatu yang kronis dan dalam bagian dari kepribadian seseorang dan dapat diramalkan perilaku di dalam suatu tugas pekerjaan. mengubah sikap dan perilaku melalui diklat ESQ (Emotional Spiritual Quality) belum cukup baik. karena tanpa pegawai yang berkualitas. Kompetensi pegawai yang diharapkan adalah pegawai yang mempunyai pengetahuan dan tanggung jawab dalam 165 . perkembangan. 2009: 221) mengatakan kompetensi adalah suatu yang mendasari karakteristik dari suatu individu yang dihubungkan dengan hasil yang diperoleh dalam suatu pekerjaan. Pertama. dan perubahan suatu organisasi. Untuk melaksankan tugas dan fungsinya tersebut Badan Kesbangpol Dan Linmas perlu adanya pegawai yang berkompeten di bidangnya. teoritis. 2009: 222). Kedua. Pengembangan pegawai dapat diartikan sebagai upaya unytuk mempersiapkan pegawai agar bergerak dan berperan dalam organisasi sesuai dengan pertumbuhan. dan moral karyawan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan atau jabatan melalui pendidikan dan pelatihan (Hasibuan.

Namun masih ada kekurangnnya karena pelatihan ini dilakukan minimal 1 tahun sekali dan dilaksanakan dalam 1 hari. nilai. dan lain-lain. 2009: 223-224). hal ini dikarenakan anggaran dana yang tersedia dan pelaksanannya hanya terbatas melalui diklat yang bekerja sama dengan badan diklat yang dimiliki oleh pemerintah. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2001 pasal 3. pemahaman. Pengembangan kompetensi pegawai sikap dan perilaku Pengembangan kompetensi pegawai sikap dan perilaku pada badan kesatuan bangsa politik dan perlindungan masyarakat kota semarang cukup baik. menyebutkan bahwa kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang pegawai negeri sipil berupa : pengetahuan. 2009: 66) yaitu dalam konteks SDM pengembangan dipandang sebagai peningkatan kualitas SDM melalui program-program pelatihan. Politik Dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang ( Badan Kesbangpol dan Linmas Kota Semarang). keterampilan dan sikap perilaku. kemampuan. Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang cukup baik yaitu untuk meningkatkan pengetahuan. Hal ini dapat dilihat dari adanya pelaksanakan diklat ESQ (Emotional Spiritual Quality) yang dilakukan untuk merubah sikap perilaku sehingga dapat meningkatkan mental spiritual aparatur pemerintah. Dengan adanya upaya pengembangan kompetensi pegawai diharapkan akan terwujud produktifitas yang tinggi. 1987: 287) yaitu pelatihan adalah serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan keahlian-keahlian. kerja sama. Konsep tersebut sesuai degan pengertian pelatihan menurut ( (Simamora. dapat dilakukakan melalui tahap-tahap pendidikan dan pelatihan dibagi menjadi 4 tahap. Tahap-tahap pengembangan kompetensi pegawai Pengembangan kompetensi pegawai pada badan kesbangpol dan linmas kota semarang. peserta kurang antusias dalam mengikuti pelatihan dan kurang cakapnya instruktur pelatih. Waktu penyelenggaraan diklat antara 4 hari. Indikator tersebut menjadi faktor penghambat kelancaran proses pelatihan dan pengembangan yang diikuti peserta. ISI 1. ataupun perubahan sikap dan perilaku. pengetahuan. Sehingga konsep kompetensi menurut Gordon (1988) dalam buku (Sutrisno. kemampuan dalam bersikap. pemecahan masalah. sikap dan minat. tetapi untuk pelatihan dan pengembangan itu sendiri belum dilaksanakan dengan maksimal. Hendaknya benar-benar direncanakan dengan terpirinci anggaran dana yang ada agar pelaksanaan diklat tersebut tidak hanya satu hari saja.menyelesaikan tugasnya secara efektif dan efisien. yaitu pengetahuan. 2009: 222). pendidikan. a. Hal ini terjadi dikarenakan anggaran dana yang terbatas.. Pengembangan kompetensi untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan Pada badan kesbangpol dan linmas kota semarang dari segi peningkatan pengetahuan dan ketrampilan sudah baik Hal ini dapat dilihat dari beberapa program-program diklat yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi. Akan tetapi waktu penyelenggaraan terlalu sempit dan singkat. Penyelenggaraan pengembangan kompetensi pegawai merupakan tugas pokok yang harus dilaksanakan oleh Badan Kesatuan Bangsa. 1 minggu atau 1 bulan. Hal tersebut sangat ditentukan oleh kemampuan pegawai yang mencakup beberapa aspek antara lain pengetahuan. Diklat yang dilaksanakan meliputi pendidikan dan pelatihan dalam jabatan serta pendidikan dan pelatihan teknis atau fungsional. pengalaman. 2003: 178) yaitu 166 . dapat dicapai. sikap perilaku yang diperlukan dalam tugas dan jabatannya (Sutrisno. Akan lebih efektif bila pelaksanaan pengembangan kompetensi pegawai yang dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan tidak hanya bekerja sama dengan badan-badan diklat pemerintah melainkan juga bekerjasama dengan badan diklat yang dikelola swasta dan dilaksanakan dengan jangka waktu lebih lama. Diklat tersebut sudah mencakup pendidikan dan pelatihan bagi para pegawai. b. Konsep tersebut memiliki kesamaan dengan teori (Sutrisno. yaitu : 1) Tahap idientifikasi 2) Tahap perencanaan 3) Penyelenggaraan 4) Evaluasi Tahap-tahap pendidikan dan pelatihan pada Badan Kesbangpol dan Linmas Kota Semarang sudah baik. karena sesuai dengan teori Barnardin dan Russel dalam buku (Sulistyani. Sehingga manfaat yang diperoleh dapat lebih maksimal c. Pengembangan Kompetensi Pegawai Pengembangan kompetensi pegawai pada Badan Kesatuan Bangsa. Hal ini dikarenakan tingkat pendidikan.

memantapkan sikap pengabdian dalam melaksanakan tugas pemerintah. materiil. Sedangkan pada Badan Kesbangpol dan Linmas Kota Semaranng tujuan pelaksanaan pengembangan kompetensi pegawai dititik beratkan kepada para pegawai dimana pengembangan yang dilakukan untuk menciptakan aparatur yang memiliki pengetahuan.dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan organisasi. maney. Membantu karyawan dalam peningkatan dan pengembangan pribadi mereka. Kemampuan pegawai dalam memimpin karyawan lain maupun dalam maelaksanakan tugasnya dapat terlaksana secara efektif dan efisien. Di dalam manajemen sumber daya ( 4M yaitu man. 2. Proses pendidikan dan pelatihan yang ada sudah sesuai dengan teori (Notoatmodjo. input. dimana tujuan pengembangan pegawai difokuskan untuk memperbaiki kinerja pegawai. evaluasi program pelatihan. karena sesuai dengan teori (Simamora. Memenuhi persyaratan-persyaratan perencanaan sumber daya manusia. Dengan tujuan pengembangan kompetensi pegawai yang ditik beratkan pada para pegawai diharapkan kompetensi jabatan dapat dicapai dengan demikian karier jabatanpun akan meningkat. Tenaga pengajar yaitu pengajar widyaiswara dari diklat yang sudah menjalani Trainning of trainer yang berasal dari depdagri disesuaikan dengan kebutuhan yang dibutukan. sikap moral serta menciptakan visi. dengan demikian program pengembangan akan lebih menarik karena lebih bervariasi. pengembangan program pelatihan. Mengurangi waktu belajar yang diperlukan karyawan agar mencapai standar-standar kinerja yang dapat diterima. Metode Pengembangan Kompetensi Pegawai Metode pada Badan Kesbangpol dan Linmas Kota Semarang untuk meningkatkan pengembangan kompetensi pegawai yang dimiliki menggunakan berbagai metode. Akan tetapi pada tahap-tahap yang dilakukan oleh Badan Kesbangpol dan Linmas Kota Semarang lebih terinci dan jelas dikarenakan tidak digabungkannya tahap perencanaan dan penyelenggaraan dalam satu tahap pengembangan program pelatihan yang dikemukakan oleh Barnardin dan Russel dalam buku (Sulistyani. Proses pendidikan dan pelatihan Proses pendidikan dan pelatihan yang dilakukan sudah baik karena setiap diklat yang dilakukkan dalam pemberian kurikulum disesuikan dengan jabatan yang bersangkutan ditambah dengan kurikulum yang bersifat kepemimpinan. dan kerjasama yang lebih menguntungkan. 2003:32) yaitu kurikulum itu merupakan faktor tersendiri yang sangat besar pengaruhnya terhadap proses pendidikan dan pelatihan.yaitu bagaimana seni memimpinnya. sehingga hanya ada 3 unsur yakni. mengurangi waktu belajar bagi karyawan baru supaya menjadi kompeten dalam pegawai.penilaian kebutuhan pelatihan. 4. yaitu menggunakan metode off the job trainning meliputi : studi kasus. Tujuan pengembangan memiliki kesamaan dengan teori yang diungkapkan oleh Henry Simamora dalam buku (Sulistyani. dimana hal tersebut dapat mengakibatkan kejenuhan dari para pegawai yang mengikuti program pengembangan kompetensi pegawai. Manfaat Pengembangan Kompetensi Pegawai Manfaat yang diperoleh dari program pengembangan yang diperoleh Badan Kesbangpol dan Linmas Kota Semarang sudah baik. 2001: 113-116). Semua pembelajaran yang telah diperoleh dalam diklat akan dipraktekkan dan dibuat hasil laporan dalam bentuk makalah. memutakhirkan keahlian karyawan sejalan dengan kemampuan teknologi. dan methods) dimasukkan dalam input. Seharusnya metode pengembangan kompetensi tidak hanya dilakukan melalui off the job trainning saja akan tetapi juga melalui metode on the job trainning. 2003: 178) d. dimana metodemetode yang digunakan sesuai dengan beberapa konsep (Handoko. 2003: 176). Metode-metode pengembangan kompetensi pegawai yang dilaksanakan oleh badan kesbangpol dan linmas kota semarang sudah cukup baik. Tujuan Pengembangan Kompetensi Pegawai Tujuan pengembangan kompetensi pegawai yang dilakukan oleh Badan Kesbangpol dan Linmas Kota Semarang sudah baik. 3. hasil kerja yang diberikan pada bawahan. kuliah dan role playing. Menciptakan sikap loyalitas. 1987: 290). proses dan output . 167 . dimana manfaat pengembangan yang diperoleh Badan Kesbangpol dan linmas kota semarang antara lain Meningkatkan kuantitas dan kualitas produktivitas. Hal ini dikarenakan kompetensi jabatan idientik dengan seorang pimpinan yang harus mampu mengatur bawahannya . Namun metode tersebut kurang bervariasi. Dengan memperhatikan kurikulum yang dipakai diharapkan output yang diperoleh dari proses diklat akan lebih maksimal. ketrampilan.

5. Upaya pengembangan kompetensi pegawai untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dilakukan melalui diklat sudah baik. Adapun pendidikan dan pelatihan yang dilakukan. Hal ini dikarenakan program tersebut hanya dilaksanakan pada 1 hari saja dan tidak adanya monitoring setelahnya untuk mengetahui perkembangan pegawai setelah pelatihan. oleh karena itu tiap-tiap instansi atau organisasi yang akan melaksanakan pengembangan kompetansi pegawai harus memperhatikan kendala yang dihadapi. kuliah dan role playing sudah cukup baik. PENUTUP Berdasarkan uraian mengenai upaya pengembangan kompetensi pegawai pada Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Semarang. Kendala yang dari segi pelatih yang ada hendaknya benar-benar dilakukan seleksi agar pelatih tersebut mampu menyampaikan materi-materi diklat dengan baik. Kendala-kendala yang dihadapi badan Kesbangpol dan Linmas Kota Semarang yaitu aspek sumber daya manusia yaitu peserta dan pelatih/ widyaiswara. hendaknya lebih memperhatikan waktu penyelenggaraan diklat. 2008: 85-86). Pada pelaksanaan pengembangan kendala-kendala memang selalu terjadi yang mungkin akan menghambat jalannya pelaksanaan pengembangan. d. Sehingga peserta mampu memahami dan mempraktekkan materi tersebut. agar kelak kendala tersebut dapat dihilangkan atau paling tidak dikurangi. 168 . Sedangkan kendala dari segi kebijakan pengembangan. yang meliputi : studi kasus. c. Pelaksanaan pengembangan kompetensi untuk mengubah sikap dan perilaku melalui diklat ESQ (Emotional Spiritual Quality) belum cukup baik. Metode yang digunakan dalam program pengembangan kompetensi pegawai melalui off the job trainning. Diklat tersebut meliputi pelatihan dan pendidikan yang diberikan kepada pegawai untuk memenuhi kompetensi yang dibutuhkan. dalam jabatan. yaitu kendala datang dari para peserta. akan berpengaruh pada kemampuan personel dalam mengambil keputusan dan cara mengambil sikap dalam menghadapi permasalahan tugas. maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : a. anggaran dan seleksi peserta diklat. Kendala yang berasal dari peserta hendaknya pimpinan mampu menumbuhkan kesadaran diri pada para pegawai agar lebih memahami makana pentingnya program-program diklat yang diselenggarakan.Diharapkan dengan adanya program diklat dapat memperlancar tugas-tugas unit kerja dalam melaksanakan tugas pemeintah karena dengan profesionalisme yang dia peroleh selama pendidikan kilat. b. yaitu diklat struktural dan diklat fungsional. pelatih atau instruktur dan kebijakan pengembangan. Kendala Pengembangan Kompetensi Pegawai Kendala pelaksanaan pengembangan kompetensi pegawai yang dihadapi oleh badan kesbangpol dan linmas kota semarang sama dengan beberapa kendala yang diungkapkan dalam teori (Hasibuan. Diklat tersebut dilakukan setiap adanya pergantian jabatan. maupun untuk memenuhi kompetensi teknis/ fungsional. sehingga pelaksanaan pengembangan kompetensi pegawai lebih efektif.

2001. Ambar Teguh dan Rosidah. Yogyakarta: Bagian Penerbitan STIE YKPN.SP. T. Jakarta : Kencana. Jakarta: Rieneka Cipta. Notoatmodjo. Malayu. Soekidjo. Jakarta: Bumi Aksara. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rieneka Cipta. Manajemen Personalia dan Manajemen Sumber Daya Manusia. 1987. Sutrisno. Soekidjo. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Simamora. 2003. 169 . Yogyakarta : Graha Ilmu. ManajemenSumber Daya Manusia. Pengembangan Sumber Daya Manusia. 1998. Henry. Notoatmodjo. 2009. Edy. Pengembangan Sumber Daya Manusia.Hani. Sulistyani. Hasibuan.DAFTAR PUSTAKA Handoko. Manajemen Sumber Daya Manusia. 2003. Yogyakarta: Amara Books.

There are 30 people key person who understands and relates to agriculture is taken as a sample with a multistage sampling. Fokus revitalisasi pertanian meliputi. This research conducted in Central Java provinceResearch data collection is done with in-depth interviews. (2003) sektor pertanian sesungguhnya dapat menjadi salah satu strategi untuk recovery sekaligus memberikan landasaan bagi perkembangan sektor riil dari krisis ekonomi yang dialami Indonesia semenjak tahun 1997. Seiring dengan rendahnya kapasitas pengetahuan petani dalam memuliakan pertaniannya (Mudjijo. Departemen Pertanian telah mencanangkan program Revitalisasi Penyuluhan pertanian tertanggal 3 Desember 2005 di Banyuasin Sumatera Selatan. penataan ketenagaan penyuluh. 22 Tahun 1999 tentang otonomi Daerah. penataan penyelenggaraan penyuluh. menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang terkoordinasi. serta social network yang kurang mendukung. penataan kelembagaan penyuluhan. Era tahun 1980-an penyuluh dianggap berhasil menghantarkan bangsa Indonesia dari Negara pengimpor beras terbesar menjadi negara swasembada beras. et al. Tujuan dari revitalisasi pertanian adalah menata kelembagaan di propinsi.com 170 . banyak terjadi alih status penyuluh pertanian dari Jabatan fugsional ke 12 13 FE Unnes Semarang. setiap era pemerintahan di Indonesia selalu berupaya untuk meningkatkan kualitas kinerja penyuluh pertanian. Ciri khas usaha pada sektor pertanian adalah melibatkan begitu banyak orang dengan pemilikan sumber daya dan keterampilan yang rendah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk pengembangan network tersebut adalah melalui strategi pendekatan kelembagaan. kabupaten/ kota dan kecamatan. dan tidak mampunyai kelembagaan pendukung dalam memberi jalan keluar untuk mengatasi perihal hambatan dan kendala dalam meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani.MANAJEMEN ADMINISTRASI INFORMASI PERTANIAN BERBASIS IT DI PROVINSI JAWA TENGAH Oleh Sucihatiningsih DWP12) Himawan Arif S. Email: himawanmiesp@gmail. Dari paparan Syahyuti di atas. penataan sarana dan prasarana.13) Abstract This research aims to design IT-based agricultural information management. kondisi penyuluhan pertanian terus mengalami keterpurukan. menciptakan mekanisme kerja penyuluhan yang efektif dan efisien. terintegrasi dan sinergik antara pusat dan daerah. dapat ditegaskan bahwa salah satu hal yang menghambat rendahnya produktivitas hasil pertanian dan kendala rendahnya pendapatan petani adalah lemahnya kelembagaan pertanian. Pemuda 4A Semarang.com STIE Bank BPD Jateng. literature studies and FGD (Focus Group Discussion). yang selama ini tampaknya belum mendapat penanganan yang memadai. khususnya untuk memasuki ekonomi modern saat ini. yang dibuktikan dengan daya hidupnya yang tinggi. 1999). Jl. Namun demikian sejak diberlakukannya UU No. Untuk membangkitkan kembali penyuluhan pertanian. menyediakan tenaga penyuluh yang kompeten dan professional. Pendahuluan Menurut Syahyuti. The results showed that the management of IT-based agricultural information is very beneficial to farmers in order to increase welfare 1. diharapkan peran penyuluh pertanian mampu hadir untuk membangun sistem kelembagaan pertanian yang masih lemah itu. ketika sektor-sektor lain ambruk. Qualitative descriptive analysis was used to analyze the data. dan penataan pembiayaan. email: dianwisika@yahoo. Permasalahan ketenagaan yang meliputi penyebaran tenaga penyuluh pertanian masih bias kepada sub sektor pangan. menyelenggarakan dukungan biaya peyeleggaraan penyuluhan di daerah. Dalam rangka memberdayakan penyuluh pertanian.

tidak lepas dengan kehadiran ragam kelembagaan pertanian. yang telah dilakukan oleh pemerintah adalah sebagai berikut : Penataan kelembagaan penyuluhan. penyuluh pertanian lapangan dan beberapa lembaga yang kehadirannya fungsional dalam meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Keterbatasan anggaran untuk penyuluhan pertanian dari pemerintah daerah. sudah saatnya dihadirkan (Alihamsyah et al. penempatan dan penugasan penyuluh pertanian tidak sesuai dengan tugas dan fungsinya. dan (3) aturan representasi (rule of represen-tation). yang telah dilakukan adalah pembentukan kelembagaan penyuluhan pertanian di tingkat pusat. Penyelenggaraan penyuluhan pertanian belum dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip penyuluhan partisipatif. Cirri-ciri tersebut yaitu: (1) batas yurisdiksi (yurisdiction of boundary). Salah satunya dengan membangun system yang dapat memberikan informasi yang cepat dan tepat kepada petani sehingga diharapakan usahataninya dapat berkembang dengan baik. Oleh karena itu diperlukan peningkatan peran kelembagaan pertanian. memfasilitasi pembentukan badan koordinasi penyuluhan pertanian. teknologi pertanian. Sejalan dengan itu. sejak tahun 2001 dilimpahkan kepada pemerintah daerah agar daerah mampu meningkatkan kinerja penyuluh pertanian. 2. Dengan adanya permasalahan tersebut. Kegiatan penyuluhan pertanian masih bersifat parsial dan belum didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Namun sampai saat ini sebagian besar penelitian ahli kelembagaan pertanian menyimpulkan bahwa peranan lembaga pertanian nasional relatif masih lemah. Kecenderungan umum menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah daerah beberapa tahun terakhir kurang pro terhadap kegiatan terkait penyuluhan pertanian sehingga kinerja penyuluhan pertanian menurun. informasi dan komunikasi. Pranaji et al. kewenangan di bidang penyuluhan pertanian. Kelembagaan yang konsen di bidang saprodi. antara eksekutif dan legislatif terhadap arti penting dan peran penyuluhan pertanian. penurunan kapasitas dan kemampuan managerial dari penyuluh serta penyuluh pertanian kurang aktif untuk mengunjungi petani dan kelompoknya. otoritas penyuluhan pertanian juga telah didelegasikan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah tingkat kabupaten. penyelenggaraan penyuluhan pertanian masih berorietasi proyek. (2) hak kepemilikan (property right). lembaga studi pertanian. agribisnis. transportasi.(2000). sesuai dengan otonomi daerah. Permasalahan pembiayaan yang timbul adalah alokasi anggaran penyuluhan pertanian di daerah masih sangat terbatas. irigasi. usia penyuluh sebagian besar diatas 50 tahun. kontribusi dana dari petani dan swasta relative masih kecil. kunjungan lebih banyak dikaitkan dengan proyek (Subedjo. Kelembagaan ini memfasilitasi pembentukan badan pelaksanan penyuluhan pertanian. memfasilitasi pembetukan BPP di tingkat kecamatan. Menurut Akhmadi (2004). perikanan dan kehutanan serta sekretariat bakor di tingkat propinsi. penyuluh pertanian swakarsa dan swasta belum berkembang dengan baik. Kinerja dan aktivitas penyuluhan pertanian yang menurun antara lain disebabkan oleh perbedaan persepsi antara pemerintah pusat dan daerah. dan memfasilitasi pembetukan pos penyuluhan di tingkat desa Keberadaan ragam kelembagaan pertanian dalam memompa denyut nadi kebangkitan pertanian nasional. (2000). memfasilitasi pembentukan organisasi profesi penyuluh pertanian. Ananto et al (2000).2006). 19/1999. dibeberapa daerah pengukuhan kembali penyuluh pertanian sebagai pejabatan fungsional belum dilakukan. era pemerintahan SBY lebih memberdayakan penyuluh pertanian melalui program Revitalisasi Penyuluh Pertanian yang fokus pada permasalahan tersebut diatas. kenaikan pangkat sering terhambat. pemasaran. Dalam tahun 2006 sampai dengan 2007. Batas yurisdiksi berarti hak hukum atas (batas 171 . ketersediaan materi informasi terbatas. dan lain-lain. dalam rangka revitalisasi penyuluh pertanian. permodalan. Permasalahan penyelenggaraan meliputi penyusunan program penyuluhan pertanian belum sesuai dengan kebutuhan lapangan. rekruitmen dan pembinaan karir penyuluh pertanian belum berpedoman pada SK Menkowasbangpan No. lembaga pemetaan wilayah.jabatan struktural. peningkatan kompetensi penyuluh pertanian sangat jarang dilakukan. Materi dan Metode Pakpahan (1989) mengemukakan suatu kelembagaan dicirikan oleh 3 hal utama. karena kurang berfungsinya sistem penilaian angka kredit.

administrasi (regulasi) dan hibah. homogenitas.dan (4) skala ekonomi (Pakpahan. Dalam bentuk lainnya property rights merupakan produk dari tradisi atau adat kebiasaan dalam suatu masyarakat. atau konsesus yang mengatur hubungan antar anggota masyarakat dalam hal kepentingannya terhadap sumberdaya. yang di dalam terminologi Karl Mark adalah “labour”. Batas yuridiksi menentukan siapa dan apa yang tercakup dalam kelembagaan masyarakat.(2) ongkos atau biaya (3) informasi. mentransfomasi atau bahkan menghancurkan suatu aset. dan lainnya. Menurut Eggertsson (1990:34) ada tiga kategori hak milik. Konsep property atau pemilikan sendiri muncul dari konsep hak (right) dan kewajiban (obligations) yang diatur oleh hukum. Perasaan sebagai satu masyarakat. yaitu: perasaan sebagai satu masyarakat (sense of community).wilayah kekuasaan) atau (batas otoritas) yang dimiliki oleh suatu lembaga. Tidak seorangpun yang dapat menyatakan hak milik tanpa pengesahan dari masyarakat di mana dia berada. Setiap transaksi selalu terjadi transfer sesuatu yang dapat berupa: (1) manfaat. Dalam pengertian ekonomi. menentukan siapa yang termasuk kita dan siapa yang termasuk mereka. Dalam bentuk formal property rights merupakan produk dari sistem hukum formal. Homogenitas preferensi dan distribusi individu masyarakat yang memiliki preferensi yang berbeda akan mempengaruhi jawaban atas pertanyaan siapa yang memutuskan. karena skala ekonomi merupakan sumber interdependensi. OIeh karena itu. Konsep batas yurisdiksi dapat berarti batas wilayah kekuasaan dan atau batas otoritas yang dimiliki oleh suatu kelembagaan. Hak tersebut dapat diperoleh melalui berbagai cara seperti melalui pembelian apabila barang danjasa yang dimaksud boleh dijualbelikan. atau konsensus yang mengatur hubungan antar anggota masyarakat dalam hal kepentingannya terhadap sumberdaya (Pakpahan. dipandang sebagai karakteristik inheren yang dimiliki oleh beberapa komoditas. Hak kepemilikan juga merupakan sumber konsep. 1990). (2) ekstemalitas. Hak milik dalam pengertian inilah yang oleh Adam Smith disinyalir “cenderung dipertukarkankan”. Batas yurisdiksi yang sesuai akan menghasilkan ongkos persatuan yang lebih. Perubahan batas yurisdiksi akan menghasilkan performance yang diinginkan. Dalam kaitannya dengan hal ini permasalahannya menjadi preferensi siapa yang memutuskan. Hak milik adalah hak individu untuk menggunakan sumberdaya (Eggertsson. adat dan tradisi. maka isu batas yurisdiksi menjadi penting dalam merefleksikan preferensi konsumer dalam aturan pengambilan keputusan. Implikasi dari hal ini adalah: (a) hak seseorang adalah kewajiban orang lain. (4) bak-hak istimewa. Konsep ini penting dalam menentukan batas yurisdiski untuk merefleksikan kebutuhan masyarakat. atau mengandung makna kedua-duanya. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi performa apabila terjadi perubahan batas yurisdiksi antara lain: (1) perasaan sebagai satu kelompok (masyarakat). Konsep ini muncul dari hak dan kewajiban yang didefinisikan atau diatur oleh hukum. mengubah. adat. satuan analisis dalam mempelajari institusi adalah transaksi mencakup transaksi melalui mekanisme pasar. homogenitas preferensi dan kepekaan politik ekonomi terhadap perbedaan preferensi merupakan hal yang penting dalam menentukan batas yurisdiksi. Skala ekonomi. konsep skala ekonomi ini memegang peranan penting dalam . 1990). Homogenitas. termasuk hak untuk memperoleh 172 . tidak seorangpun yang dapat menyatakan hak milik tanpa pengesahan dari masyarakat dimana dia berada. Eksternalitas. melalui pemberian hadiah dan melalui pengaturan administrasi seperti halnya pemerintah memberikan subsidi terhadap sekelompok masyarakat. rendah dibanding dengan alternatif batas yurisdiksi yang lainnya. eksternalitas. (2) hak untuk memperoleh penghasilan dan suatu aset. Sumber daya fundamental yang dimiliki setiap orang adalah apa yang melekat pada dirinya. Penentuan siapa dan apa yang tercakup dalam suatu organisasi atau masyarakat ditentukan oleh batas yurisdiksi. situasi atau kondisi. 1990:33). Skala ekonomi. (5) kewajiban. dan skala ekonomi (economic of scale). ditentukan oleh empat hal. Apabila barang dan jasa yang harus dikonsumsi secara kolektif. Perubahan batas yurisdiksi akan merubah struktur eksternalitas yang pada akhirnya merubah siapa yang menanggung apa. dan tradisi. Perhitungan siapa memperoleh apa dan berapa banyak ditentukan oleh batas yurisdiksi karena batas inilah yang menentukan apakah sesuatu itu internal atau eksternal bagi pihak-pihak yang bertransaksi. dan (b) hak seperti dicerminkan oleh kepemilikan adalah sumber kekuatan untuk akses dan kontrol terhadap hak miliknya. skala ekonomi menunjuk suatu situasi dimana ongkos per-satuan terus menurun apabila output ditingkatkan. (3) homogenitas.menelaah permasalahan batas yurisdiksi. Hal ini erat kaitannya dengan konsep jarak sosial yang akan menentukan kadar komitmen yang dimiliki oleh suatu masyarakat terhadap suatu kebijakasanaan. yaitu (1) hak untuk menggunakan.

yaitu nonrivairy dan nonexciudable ( Mclean. 3. ownership menunjuk pada sifat dan kwalitas penguasaan atas suatu property rights. Analisis deskritif kualitatif digunakan untuk menganalisis data. Bagaimana partisipasi terbentuk ditentukan oleh aturan representasi partisipan yang terlibat. motivasi. bisa pula melalui mekanisme transaksi kontra kekuatan untuk akses dan kontrol terhadap sumberdaya. Mclean (1982) menyebut sebaai barang prifat (private goods). dan (3) hak untuk menjual aset. Aturan representasi (rule of representation) mengatur permasalahan siapa yang berhak berpartisipasi terhadap apa dalam proses pengambilan keputusan. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan wawancara mendalam. termasuk lembaga penyuluh pertanian. Tubbs (1984) dan Hanel (1989) menyatakan bahwa pengambilan keputusan atas dasar group process akan meningkatkan loyalitas. maka dari itu perspektif sosial dan budaya dalam hal ini perlu menjadi fokus utama dalam penerapan suatu program dari lembaga. studi literature dan FGD (Focus Group Discussion). Hak kepemilikan atas lahan (land right) pada kelembagaan adat setempat yang berkaitan dengan lahan dapat dilihat pada hak masyarakat baik secara kelompok (comunal) maupun secara individu (private) dalam pengaturan. Dari laporan- 173 . dukungan anggota pada pimpinan dan mengurangi tekanan internal serta biaya transaksi yang pada akhirnya akan meningkatkan performa organisasi. Dalam hal itu. penggunaan. sehingga hak milik yan non eksklusif (nonexlusive property) dan barang publik (public goods) yang mempunyai dua ciri menonjol. Pembagunan akan berhasil atau tidak dapat ditentukan karena kedua aspek tadi. yaitu: (1) Biaya pengambilan keputusan (policing cost atau lobying cost atau (contract cost atau negoisasi) sebagai partisipasi. iuran untuk desa atau adat. Disamping hak. 1990:33). juga ada kewajiban-kewajiban berupa pembayaran pajak. Aturan representasi menentukan alokasi dan distribusi sumberdaya. Konteks tersebut yaitu berkaitan dengan kondisi sosial maupun budaya dari masyarakat setempat. perlu dicari suatu mekanisme representasi yang efisien sehingga dapat menurunkan ongkos transaksi. aturan representasi mempengaruhi ongkos membuat keputusan.upah atas tenaga kerja yang diberikan individu dalam aktivitas ekonomi. Partisipasi dalam suatu organisasi ditentukan oleh keputusan politik organisasi. akan menentukan apakah keputusan akan dihasilkan efisien atau tidak. Dipandang dari segi ekonomi. Hak esklusif ini dapat dipertukarkan melalui mekanisme trasaksi otonom (pasar). Jenis keputusan apa yang dihasilkan oleh masyarakat juga ditentukan oleh aturan representasi dari kepentingan rnasyarakat. Hak milik bisa bersifat ekslusif bisa pula non eksklusif. Jiwa analisis institusi adalah interdependensi antar partisipan terhadap sesuatu. Metode pemberian otoritas kepada individu tertentu untuk memilih cara menggunakan hak miliknya disebut sebagai sistem of property (Eggertsson. Biaya representasi yang tinggi baik dalam artian nilai uang atau bukan uang. serta gotong royong yang dikaitkan dengan kepemilikan atas sumberdaya lahan tersebut. Hak milik esklusif terwujud bila untuk menguasainya perlu menyingkirkan orang lain. dan pemeliharaan sumberdaya lahan. Pembahasan Pembangunan sumber daya manusia melalui suatu kelembagaan perlu memahami konteks masyarakat yang akan dibangun. Keputusan apa yang diambil dan apa akibatnya terhadap performa akan ditentukan oleh kaidah representasi yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan. Disamping itu masih ada biaya eksternal yang ditanggung oleh seseorang atau sebuah lembaga sebagai akibat keputusan orang lain atau lembaga lain. Lembaga penyuluh pertanian perlu mengantisipasi program-program yang akan diterapkan kepada pihak petani dalam usahatani dengan lebih sensitif kepada aspek sosial budaya. 1992). Oleh karena itu. kondisi atau situasi dengan menggunakan transaksi sebagai aktivitas ekonomi. Sebanyak 30 penyuluh pertanian diambil sebagai sampel dengan multistage sampling. Setiap bentuk aturan representasi harus berhadapan dengan tiga jenis biaya. (2) Biaya informasi (sosialisasi) dan (3) Biaya pengamanan atau monitoring. Ongkos transaksi yang tinggi dapat menyebabkan output tidak bernilai untuk diproduksi. kerja-sama.

Jika suatu kelembagaan pertanian menginginkan suatu model penguatan kapasitas agar dapat mencapai target pembangunan masyarakat petani secara optimal. Seperti dalam hal akses para pedagang ataupun pengusaha (dalam ataupun luar kota) sebagai tempat penjualan hasil panen serta dapat mengakses pula perkembangan harga saat ini. artinya pengelolaan ekonomi dilakukan secara bersama-sama antara angoota keluarga satu dengan yang lain. ternyata kurang berhasil karena aspek budaya dalam hal ini belum mengena. balai penelitian ini sangat penting karena akan dapat dijadikan pula oleh dinas pemerintah (dinas pertanian) sebagai acuan dalam pemberian kebijakan kepada para petani seperti kebijakan dalam hal fasilitas ataupun yang lainnya. Seperti contoh. pembangunan kakus oleh pemerintah kepada masyarakat di pinggiran sungai sebagai antisipasi pencemaran air. kebanyakan petani sudah mencapai taraf pengetauan akan informasi melalui Handphone (HP). pihak penyuluh pertanian tentunya akan melakukan program pelatihan terlebih dahulu kepada petani agar mampu mengoprasikan teknologi IT ini. Selain mengakses kepada para pedagang tadi. Dengan bantuan teknologi informasi ini. Petani dalam sistem IT yang diajukan ini didampingi oleh beberapa pihak seperti pedagang. Perlu di pahami bahwa. program ini sekiranya menjadi suatu kekhawatiran yang lebih. perekonomian pertanian adalah bentuk perekonomian keluarga. penyuluh atau pihak pemerintah dan kelompok petani itu sendiri. Klaten dan Magelang) yang sudah peka dengan teknologi. Dalam hubungan melalui IT ini akan mempermudah juga bagi para penyuluh pertanian serta hubungannya dengan masalah-masalah yang dihadapi para petani. Seperti penerapan IT oleh kelembagaan dalam penguatan kapasitasnya. permasalahan petani akan dibahas dan dicarikan solusinya. Fasilitas ini sangat penting bagi para petani dalam rangka spekulasi penjualan hasil panen yang terkadang “terperosok” oleh para tengkulak. Akan tetapi. perekonomian petani lebih bersifat sederhana dan terikat.laporan mengenai proyek pembangunan suatu lembaga yang diterapkan kepada masyarakat seringkali mengalami kegagalan karena kurang melihat pada kondisi sosial ataupun budaya suatu masyarakat. Beberapa personal ini memiliki peran masing-masing dan masih berkaitan. Masih banyak lagi permasalahn pembangunan yang gagal karena kurang memperhatikan aspek social dan budaya masyarakat. Melalui balai penelitian ini. Apakah pihak petani akan mampu menggunakan IT ini atau tidak. dari hasil penelitian di lapangan. pihak yang terkait lainnya adalah pihak penyuluh pertanian atau dinas pertanian. dan bagaimana bagi petani yang sudah tua. Dengan demikian. karena hal ini dapat diantisipasi dari pihak keluarga sebagai keseluruhan sistem perekonomian. rencana penerapan model IT ini jika dianalisis akan bisa berhasil karena melihat pada kondisi sosial budaya masyarakat petani (di Grobogan. Maka dari itu. didapatkan bahwa. diharapkan petani mampu mengakses segala keperluannya dalam meningkatkan usahataninya. harus mampu berpegang pada model kelembagaan yang berperspektif sosial budaya. Petani sebagai sentral dari proses hubungannya dengan semua pihak yang terkait dalam usahatani memiliki peran penting dalam kegiatan penerapan IT yang diajukan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi petani. Jika tidak. pihak lembaga penyuluh pertanian harus lebih peka lagi dalam menerapkan program-programnya guna meningkatkan usahatani masyarakat. akan tetapi dalam kasus tertentu peran ini bisa diputar aruskan menjadi peran yang fleksibel. bisa meminta arahan atau bantuan dari petani yang lain. Penjelasan mengenai model yang bisa diterapkan dalam kelembagaan penyuluh pertanian kepada petani dapat dilihat dalam gambar di bawah ini: 174 . untuk lebih validnya. pegusaha. Selebihnya. melalui kelompok tani sebagai media penyampai pesan kepada pihak penyuluh pertanian akan dipertemukan dalam wadah yang akan mengatasi masalah mereka. Dengan bantuan IT ini. Wadah itu adalah balai penelitian. Melalui bantuan mereka para petani dapat mengakses masalah harga ataupun masalah lainnya. Ayah memiliki peran sendiri. Dari hasil penelitian di lapangan. Oleh karena itu. hal ini akan bisa diterima oleh masyarakat atau tidak melihat pada aspek budaya. Dengan pihak-pihak yang terkait inilah diharapkan sistem IT bisa diterapkan dengan baik dalam rangka meningkatkan produktivitas dan kinerja para petani. Jika mereka tidak mampu mengoprasikannya. ibu mempunyai peran sendiri dan anak-anak mempunyai peran sendiri. Yaitu dengan meminta bantuan dari anak-anaknya yang sudah paham akan teknologi.

Model Pengembangan Kapasitas Lembaga Perspektif Budaya Lahan kualitas tanam Diversifikasi Pengusah a Tahu Tempe Pedagang Lokal Luar kabupaten Produsen Pupuk Pupuk Distributo r Penyal ur Balai Penelitian Dinas Pertanian Penyulu h Bak ul Kel. Info pasar Pet ani Ka ya Status Ekonomi ? kup Manfaat / Hasil Peternak Sapi Pupuk organik Orientasi kemungkinan / kehidupan Mi skin Cu Kebijakan Keterampilan Fasilitas o Benih o Pupuk o Pupuk o Alat Hubungan Komunikasi Input Informasi Hubungan Informasi 175 .Gambar 1. Kualitas. Tani Informasi Kontinu.

Pengunjung dapat langsung membeli produk yang dijual melalui internet. maka data olahan bisa disajikan menurut kepentingan dan kedalaman data yang diperlukan. Kemudahan dalam komunikasi. Dengan semakin banyaknya pengguna internet saat ini maka jalur distribusi suatu barang dapat dilakukan melalui internet. mudah dan up to date. SMS adalah layanan untuk mengirim dan menerima pesan singkat melalui ponsel. informasi tehnologi. berbagai macam informasi bisa didapat dengan mudah selama 24 jam tanpa harus beranjak dari depan komputer yang telah terkoneksi dengan internet. ponsel bisa digunakan sebagai media untuk mendapatkan informasi dari internet. Internet dan telepon selular merupakan salah satu contoh sarana yang populer sebagai media komunikasi. Informasi mengenai produk baru dapat secara mudah dikirim kepada customer melalui SMS. Akses informasi dapat dilakukan kapan saja. Para peminat atau calon pelanggan. brosur maupun iklan di media cetak. tentu menjadi faktor yang sangat mendukung dalam proses penyebaran informasi di segenap lapisan masyarakat. Layanan ini sangat populer karena biayanya yang relatif lebih murah dibanding dengan biaya telepon. Memperluas Ruang Promosi Sebagai Media Komunikasi dan Wadah Penyedia berbagai Informasi maka website dapat digunakan sebagai sarana pendukung promosi seperti suatu perusahaan. Sementara WAP merupakan protocol yang menghubungkan internet dengan ponsel. Peluang mendapatkan customer juga menjadi lebih besar. WAP dan SMS Memperhatikan sejumlah permasalahan lapangan dalam pemberdayaan kelembagaan pertanian maka hal yang mendasar adalah masalah komunikasi. Pemangku kepentingan dapat memilih layanan informasi menurut media yang sesuai baik lewat ponsel maupun internet. Kedua layanan tersebut sangat membantu proses penyebaran informasi. Kemudahan dan penghematan dalam komunikasi adalah salah satu muara efisiensi. Melalui website pesan informasi bisnis dapat disampaikan lebih lengkap. Pemangku kepentingan pertanian tidak perlu membayar mahal untuk melakukan sosialisasi kebijakan. dsb. Jangkauan pasar bertambah. tidak hanya lokal. Melalui internet. dengan memiliki website di internet anda dapat memperluas jaringan promosi sebuah perusahaan. dewasa ini telah berkembang pesat hingga memungkinkan pengguna untuk melakukan berbagai hal hanya dengan menggunakan ponsel. sehingga menjadikan data olahan siap saji dan terkini. Beberapa alasan Pemilihan Media Kelembagaan Pertanian Lapangan a Website. dengan kemampuannya yang memungkinkan pengguna untuk menerima dan mengirimkan informasi dari jarak jauh. Selain katalog. merupakan hambatan bagi seseorang dalam mendapatkan informasi dari internet. b c d e 176 . layanan WAP atau dan email dari website. Short Message Service (SMS) dan Wireless Application Protocol (WAP) merupakan contoh aplikasi mobile yang mendukung proses pertukaran informasi. Memotong rantai birokrasi dan ekonomi. dimana saja. Berbagai aplikasi dan layanan mobile.Modeling IT melalui Web. Layanan informasi melalui ponsel merupakan solusi bagi kendala di atas. Teknologi informatika yang semakin berkembang saat ini. Fungsi Modeling IT dari segi pemasaran 1. tetapi nasional bahkan ke pasar global Mensinergikan semua pemangku kepentingan pertanian dalam suatu wadah yang terkoordinasi. oleh siapa saja. Tidak tersedianya fasilitas internet di suatu daerah. termasuk akses internet. Dengan akses database yang tersedia. Mendayagunakan semua pemangku kepentingan pertanian menuju sumatu kemandirian dan profesionalitas institusi dan perorangan Informasi pasar pertanian yang up to date. WAP dan SMS diajukan sebagai Penguatan Menghemat biaya dan waktu dalam advertising. Dengan teknologi ini. dapat melihat informasi dari website bilamana diperlukan.

akademisi dilibatkan dan juga memiliki akses ke data base sehingga mampu menjadi administrator bisa memasukkan semua data yang berkaitan dengan kebutuhan petani dan perniagaan bahan pangan nasional dengan daerah tanggung jawab masing masing. 3. Sebagai contoh pada sebuah brosur bisaanya penjelasan yang diterima hanya berupa pokok-pokok dari produk sebuah perusahaan. Media Interaksi Website dapat dijadikan ajang interaksi dengan para pengunjung website antara lain dapat dijadikan ajang jual-beli. Para pengunjung website akan selalu menerima informasi yang up to date dari perusahaan. b Tampilan yang baik akan memberikan akan memberi image yang baik dan menarik bagi calon klien. Mempermudah Komunikasi Agar dapat saling berkomunikasi dengan para klien atau customer. SMS dan WAP serta web merupakan contoh aplikasi yang bisa dijadikan layanan informasi untuk kepentingan ini . Adapun jalur input –proses dan inputnya adalah sebagai berikut. Hal ini mengakibatkan diperlukannya sebuah sistem kebergantungan. tidak terbatas oleh waktu dan tempat. Komunikasi akan lebih mudah walaupun perbedaan lokasi sangat jauh dan sudah tentu lebih efisien dalam hal biaya dan waktu. bakorluh. perusahaan dapat menjalin komunikasi melalui email ataupun informasi kontak yang berada dalam website. Hal ini terlihat jika dibandingkan dengan iklan (yang mempunyai space terbatas). dinas pertanian kabupatan dan institusi lain seperti deperindag. 2. Jadi fungsi website disini bukan hanya sebagai wadah penyedia informasi saja. c Isi yang selalu up to date. Dari data base tersebut selanjutnya melalui desain teknologi dapat disajikan sebagai bentuk informasi yang bisa diakses oleh Pemangku dan publik pertanian Salah satu kemudahan dalam mengakses informasi adalah jika informasi bisa diakses secara online.Sebagai alat pendukung promosi. tetapi di website pengunjung website dapat mendapat detil spesifikasi dari produk tersebut. pola hubungan dan pemberdayaan sebagai wadah untuk mengelola berbagai data informasi sebagai data base pertanian & komoditas. maka sejumlah institusi terkait seperti beberapa institusi di bawah departemen pertanian. upload/download file dan lain sebagainya. forum diskusi. website mempunyai keuntungan sebagai berikut : Informasi lebih detail dan tuntas dari produk dan jasa. Tabel 1 Jalur input –proses dan inputnya N o 1 Jalur Input Proses Database Jalur Output Data primer & sekunder SMS/WAP/Web Data Publikasi/Analisis Data Info Data Pemangku kepentingan pemerintah 2 Data/info tehnologi 3 Institusi lain/akademisi 4 Permintaan data Database data Data proses Data proses 177 . a Diagram Konteks Karena pemangku kepentingan untuk urusan ketahanan pangan dan khususnya pertanian cakupannya luas.

6. 8. 2. LSM. 3. perdagangan dan pemasaran/distribusi bahan pangan nasional Dinas pertanian daerah sebagai pembina. tata niaga maupun operasional lapangan. menganalisa data untuk menyuluh dan menjawab pertanyaan teknis yang muncul di lapangan Petani sebagai pelaku pertanian di lapangan Pedagang/Pengusaha sebagai penampung hasil produksi pertanian dan pendistribusi ke pasar Akademisi sebagai peneliti. Pihak yang terlibat dalam sistem IT yang diajukan Departement Pertanian berikut strukturalnya sebagai departemen teknis yang menangani pertanian dan ketahanan pangan Penyuluh/Bakorluh sebagai penyedia dan pengguna informasi pertanian. wartawan dsb yang dapat berinteraksi dengan pertanian. pengawas dan pembuatan kebijakan pertanian lokal. 7. Deperindag sebagai departemen tehnis yang menawasi industri. pemerhati dan pengawas pertanian termasuk kebijakan. pelajar. 178 . Diagram konteks sistem Informasi pertanian 1. 9. pengkaji dan pengembang teknologi baru bidang pertanian dengan spesifikasi dan ketertarikan tertentu Balai litbang pertanian sebagai institusi yang menggeluti dan mengembangankan bidang tertentu spesifik. publik Institusi lain seperti lembaga swasta. sebagai pengamat. mengkaji penerapan teknologi yang dapat digunakan dalam usaha bidang pertanian termasuk personil kunci yang bertanggungjawab untuk topik tertentu dan bisa dimintai informasi publik. 4.Gambar 2. termasuk membuat analisis dan pengamatan tertentu. mahasiswa. 5.

Gambar 4.Gambar 3. yakni layanan informasi pertanian dapat dilihat pada ilustrasi di bawah ini. Jenis layanan Informasi Pertanian & komoditas Database Pertanian & Komoditas Web data internet WAP SMS User 179 . Diagram Institusi Pemangku kepentingan untuk database Pertanian & komoditas Untuk mengkomunikasikan database menjadi informasi tehnis dan aplikatif di lapangan maka data base dapat disajikan dalam berbagai kemasan informasi menurut kepentingan dan tujuan tertentu dengan melakukan akses ke data base.

6. Gambar 5. Gambar 5. Kesimpulan Pemberian informasi yang cepat dan tepat pada petani dapat meningkatkan kesejahteran petani karena dengan adanya informasi harga jual komoditas produk pertanian petani dapat memilih dimana yang memberikan keuntungan lebih besar.Adapun isi database yang diperlukan adalah data primer dan data terolah dari beberapa informasi yang lazim diperlukan oleh petani. bibit unggul. 180 . Bagan komponen database . penyuluh serta masyarakat pertanian lainnya. petani dan kelembagaan pertanian. Cakupan layanan menurut ukuran informasi 4. Selain itu juga petani dapat dengan mudah mengetahui informasi lainya seperti kondisi cuaca. pemerintah daerah. pasca panen komoditas pertanian dan informasi lainnya yang mendukung pengembangan pertanian. Salah satu pemberian informasi pertanian yang terintregasi ini adalah dengan membangun system manajemen informasi pertanian melalu Information Teknologi (IT) yang dapat menghubungan antara pemerintah pusat.

” European Economic Review 34(2-4): 450-457.W.Referensi Akhmadi. Ananto. Suastika. J. Penyuluhan Pertanian Indonesia : Isu Privatisasi dan Implikasinya. Yogyakarta. Agus. Pembangunan pertanian indonesia dalam pengaruh kapitalisme dunia: analisis ekonomi politik perberasan. T.. Kerangka Analitik untuk Penelitian Rekayasa Sosial: Perspektif Ekonomi Institusi. Subejo. Jurnal Agro Ekonomi Vol. Alihamsyah.. Tesis pada Jurusan Sosiologi Pedesaan. 2 Desember 1995. Sianturi. Tahap kedua : Pendekatan Kelembagaan. 2004. Nuning. Makalah.id/newslet/2004/ed12/2004/200412spotlight. Bogor. IPB. Mengubah Pertanian Tradisional Dalam Pembangunan Jangka Panjang. 9 No 2. 1989.html). Majalah Forum Agro Ekonomi. Bogor. 2002. aporan Bidang Penelitian Penyuluhan Pertanian. No. Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu – ISDP.. Hastuti. dan T. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. 181 . E. Desember 2002. ______2003. Pakpahan.(www. Pranaji. _____1995. 1989. SMERU Newsletter. Prosiding Patanas: Evolusi Kelembagaan Pedesaan di Tengah Perkembangan Teknologi Pertanan.. Ismail dan DE. Thráinn (1990). Desember 2004.Alihamsyah.smeru. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 pada tanggal 14 Nopember 2007 telah ditetapkan Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 58 Tahun 2007 tentang Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian. S. Bogor. Pembentukan Struktur Agraria pada Masyarakat Pinggiran Hutan. Badan Litbang Pertanian. Ananto. Soentoro. Ketut. P2SLPS2. (2000) Laporan Utama : Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan. E. Badan Litbang Pertanian. “The Role of Transaction Costs and Property Rights in Institutional Analysis.G. G. K. Vol.or. Institut Pertanian Bogor. EL. Bogor.M Subiksa. Dwi Windu Penelitian Lahan Rawa : Mendukung Pertanian Masa Depan. 13. Situmorang..Mudjijo. Supriadi. 1999. H.E. Hermanto. A. Pusat penelitian dan pembangunan sosial ekonomi pertanian.Pakpahan. Eggertsson. I. Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian UGM. Muslim (200) Perekayasaan Sosiobudaya dalam percepatan Transformasi Masyarakat Pedesaan. Pelaksanaan Otonomi Daerah. Perikanan dan Kehutanan (Bakorluh). 2002. Wahyuni. E. Survei Evaluasi Intensifikasi Padi dan Palawija Tahun1971-1978. Setyo dan C. Pusat Penelitain Agro Ekonomi. Syahyuti. I. I. 2000. T. Pendekatan Kelompok dalam Pelaksanaan Program/Proyek Pembangunan Pertanian.

05 hal ini berarti ada pengaruh secara signifikan antara X1 terhadap Y. thitung = 2. Fasilitas Belajar.037 < 0.880 + 0. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Semarang.126 dengan nilai signifikansi 0.140X1 + 0. Nur Aeni Yuniarsih (Universitas Negeri Semarang) Sarjana Pendidikan Ekonomi.1 Daftar Inventaris Laboratorium Mengetik Manual No Inventaris lab. Pendahuluan Latar belakang masalah Berdasarkan observasi pendahuluan di SMK Negeri 1 Pemalang. Berikut daftar inventaris laboratorium mengetik manual: Tabel 1.05 hal ini berarti ada pengaruh secara signifikan antara X2 terhadap Y. jumlah mesin ketik manual yang sesuai dengan jumlah siswa kelas X yaitu 40 unit mesin ketik dan kertas untuk mengetik yang tersedia bagi siswa. Hasil uji parsial diperoleh t hitung = 2. 1.05 yang berarti secara simultan ada pengaruh positif dan signifikan antara kompetensi profesional guru. Jurusan Manajemen.000 < 0. Dan Kemampuan Mengetik Sistem 10 Jari Buta.494 dengan nilai signifikansi = 0. Uji keberartian persamaan regresi dengan uji F diperoleh F hitung = 19. hal ini terlihat dari adanya laboratorium mengetik manual yang luas dengan penerangan yang cukup dan kondisi laboratorium yang bersih. dan fasilitas belajar terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta.com Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara kompetensi profesional guru dan fasilitas belajar terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta siswa kelas X program keahlian administrasi perkantoran di SMK negeri 1 Pemalang baik secara parsial ataupun simultan. Email: yuniarsihnuraeni@yahoo. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu kompetensi profesional guru (X 1).037 < 0. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X program keahlian administrasi perkantoran dengan jumlah 80 siswa. serta buku pegangan dimana setiap siswa mendapat satu buku latihan mengetik. bahwa fasilitas belajar mengajar mengetik di SMK Negeri 1 Pemalang cukup memadai. penelitian ini disebut penelitian populasi. dan fasilitas belajar (X2).KOMPETENSI PROFESIONAL GURU DAN FASILITAS BELAJAR PENGARUHNYA TERHADAP KEMAMPUAN MENGETIK SISTEM 10 JARI BUTA SISWA KELAS X PROGRAM KEAHLIAN ADMINISTRASI PERKANTORAN DI SMK NEGERI 1 PEMALANG.168X2. Hasil penelitian dengan menggunakan SPSS 12 diperoleh persamaan regresi berganda Y = 39. serta variabel terikat yaitu kemampuan mengetik sistem 10 jari buta (Y).119 dengan nilai signifikansi antara 0. Kata Kunci : Kompetensi Profesional Guru. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode kuesioner (angket). Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskripsi persentase dan regresi linier berganda. Mengetik 1 Mesin ketik manual 2 Buku paket: Mengetik SMK jilid 1 Mengetik SMK jilid 2 Mengetik SMK jilid 3 3 Lampu penerangan Jumlah 40 40 40 40 9 182 . tes dan dokumentasi.

terlihat dari waktu yang dibutuhkan siswa untuk mengetik sebuah surat lebih dari 20 menit. dan membimbing siswa agar dalam mengetik siswa selalu menggunakan 10 jarinya. Hal ini dapat diketahui dari kemampuan kecepatan mengetik sistem 10 jari buta siswa masih bervariasi hasil pengetikannya. Kompetensi guru terutama dalam proses belajar mengajar mengetik dapat dikatakan baik. diolah.4 Meja mengetik siswa 5 Kursi mengetik siswa 6 Meja guru 7 Kursi guru 8 Whiteboard 9 Rak buku Sumber: Data SMK N 1 Pemalang. tepat. diketahui bahwa fasilitas belajar mengetik dan kompetensi profesional guru baik. akan tetapi apabila dilihat dari tabel prestasi mengetik siswa di atas terlihat bahwa sebagian besar siswa masih belum kompeten dalam hal mengetik sistem 10 jari buta. sehingga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mengetik sistem 10 jari buta. diolah. dan rapi. Berdasarkan urian tersebut maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul “Kompetensi Profesional Guru dan Fasilitas Belajar Pengaruhnya Terhadap Kemampuan Mengetik Sistem 10 (sepuluh) Jari Buta Siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Pemalang”.2 Prestasi Mengetik Siswa Hasil praktek kemampuan mengetik sistem 10 jari buta No Kelas Belum kompeten Kompeten 1 X AP 1 29 11 2 X AP 2 27 13 Sumber: guru. Jumlah murid 40 40 Berdasarkan pengamatan di SMK Negeri 1 Pemalang. Saat praktek berlangsung dari cara kerja siswa masih terlihat belum mampu menghentakan jarinya sesuai tugas entakan jari dan masih melihat papan tuts. Akan tetapi jika dilihat melalui hasil praktek mengetik siswa kelas X program keahlian Administrasi Perkantoran di SMK N 1 Pemalang bahwa pencapaian hasil belajar mengetik manual sebagian siswa masih belum optimal. yakni guru yang mengampu mata diklat mengetik manual adalah guru yang berasal dari lulusan program studi pendidikan administrasi perkantoran. Hal ini mendorong penulis untuk mengungkapkan lebih jauh tentang pengaruh kompetensi profesional guru dan fasilitas belajar terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta. mampu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh siswa. Untuk mengatasi hal tersebut guru selalu mengadakan program remidial sampai siswa mampu mengetik dengan hasil yang maksimal berdasarkan standar yang ditetapkan. 40 40 1 2 1 1 Latar belakang pendidikan dan pengalamam mengajar adalah dua aspek yang mempengaruhi kompetensi seorang guru di bidang pendidikan dan pengajaran (Djamarah 1994:127). telah sertivikasi dan memiliki pengalaman mengajar lebih dari 10 tahun (wawancara dengan Ibu Dra. 183 . serta setiap kali praktek mengetik siswa selalu didampingi oleh dua guru sekaligus sebagai pengajar. bahwa dalam kegiatan belajar mengajar guru telah menguasai materi. rata-rata kecepatan berkisar kurang dari 150 epm. mampu menyampaikan materi dengan baik kepada siswa. belum ada yang mencapai target indikator keberhasilan kecepatan mengetik sampai 200 epm. Berikut tabel hasil praktek mengetik: Tabel 1. Sebagian siswa juga belum bisa menyelesaikan pekerjaan mengetik sebuah surat dalam berbagai bentuk dengan maksimal. Disamping itu berdasarkan pengamatan langsung penulis dan wawancara dengan beberapa murid. hal ini dapat diketahui dari latar belakang pendidikan guru dan pengalaman mengajarnya. Retno Ari Budi selaku guru mata diklat mengetik manual). belum ada yang mencapai target indikator keberhasilan kecepatan mengetik sebuah surat dalam berbagai bentuk selama 20 menit dengan cepat.

Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut ; 1. Adakah pengaruh kompetensi profesional guru terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta pada siswa kelas X program keahlian Administrasi Perkantoran di SMK N 1 Pemalang. 2. Adakah pengaruh fasilitas belajar terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta pada siswa kelas X program keahlian Administrasi Perkantoran di SMK N 1 Pemalang. 3. Adakah pengaruh kompetensi profesional guru dan fasilitas belajar terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta pada siswa kelas X program keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Pemalang. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Mengetahui adakah pengaruh kompetensi profesional guru terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta pada siswa kelas X program keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Pemalang. 2. Mengetahui adakah pengaruh fasilitas belajar terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta pada siswa kelas X program keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Pemalang. 3. Mengetahui adakah pengaruh kompetensi profesional guru dan fasilitas belajar terhadap kemampuan mengetik sisitem 10 jari buta pada siswa kelas X program keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Pemalang. 2. Bukti Empiris Kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, dan kekuatan (Poerwadarminto, 2000:628). Menurut Spencer and Spencer dalam Uno (2008:62), mendefinisikan kemampuan sebagai karakteristik yang menonjol dari seorang individu yang berhubungan dengan kinerja efektif dan atau superior dalam suatu pekerjaan atau situasi. Menurut Suwandi (2007:10), mengetik sepuluh jari yaitu teknik mengetik dengan memanfaatkan semua jari tangan. Setiap jari mempunyai tugas sendiri yang harus dilatih satu demi satu dan berkelanjutan, sehingga jari tersebut secara maksimal dan optimal dapat bekerja dengan baik. Kemampuan mengetik sistem 10 jari buta yaitu kesanggupan, kecakapan, dan kekuatan yang dimiliki oleh individu dalam kegiatan mengetik dengan melakukan entakan jari sesuai dengan tugas entakan jari secara tepat tanpa melihat naskah. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam, yang harus dikuasai oleh seorang guru, tidak saja materi yang sesuai dengan bidang tugasnya, tetapi juga kemampuan mengintegrasikan dan menghubungkan materi-materi pelajaran lainnya, sehingga seorang guru mampu menyajikan materi pelajaran secara utuh kepada muridnya (Harwanto, 2008:46). Fasilitas adalah sarana dan prasarana. Menurut Bafadal (2003: 2) Sarana pendidikan adalah semua perangkat peralatan, bahan dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah. Sedangkan prasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan proses pendidikan di sekolah. 3. Metodologi Penelitian ini merupakan penelitian populasi. Hal ini dikarenakan jumlah subyek penelitian kurang dari 100 siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X program studi Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Pemalang Tahun pelajaran 2009/2010 yang berjumlah 80 siswa. Analisis regresi yang dipergunakan menggunakan rumus: Keterangan: Y = variabel terikat (kemampuan mengetik sistem 10 jari buta) a = konstanta

184

b1 = Nilai Koefisien variabel bebas X1 b2 = Nilai Koefisien variabel bebas X2 (Sugiyono, 2007: 275) Angket/kuesioner yang digunakan menggunakan pendekatan skala likert dimana setiap pernyataan dalam angket memiliki lima alternatif jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Kurang Setuju (KS), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS). Dari kelima jawaban tersebut masing-masing memiliki skor yang akan menentukan apakah jawaban dari pernyataan tentang variabel-variabel penelitian terebut tinggi atau tidak. Skor tersebut terdiri dari: 1. Skor 5 untuk jawaban Sangat Setuju (SS) 2. Skor 4 untuk jawaban Setuju (S) 3. Skor 3 untuk jawaban Kurang Setuju (KS) 4. Skor 2 untuk jawaban Tidak setuju (TS) 5. Skor 1 untuk jawaban Sangat tidak Setuju (STS) 4. Hasil empiris
a Coefficients

Model 1

(Constant) Kompetensi Profesional Guru Fasilitas Belajar

Unstandardized Coefficients B Std. Error 39.880 4.429 .140 .168 .066 .079

Standardized Coefficients Beta .309 .308

t 9.004 2.126 2.119

Sig. .000 .037 .037

Correlations Partial .235 .235

Collinearity Statistics Tolerance VIF .409 .409 2.447 2.447

a. Dependent Variable: Kemampuan mengetik 10 jari buta

5. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dapat diambil beberapa simpulan, antara lain: 1. Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara kompetensi profesional guru terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta. 2. Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara fasilitas belajar terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta. 3. Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara kompetensi profesional guru dan fasilitas belajar terhadap kemampuan mengetik sistem 10 jari buta. 6. Daftar pustaka Ali, Muhammad. 1984. Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Bandung: Angkasa. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. . 1988. Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Jakarta: Departmen Pendidikan dan Kebudayaan Diektorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Asman, Jamal Mamur. 2009. 7 Kompetensi Guru Menyenangkan dan profesional. Jogjakarta: Power Book Banguntapan. Bafadal, Ibrahim. 2004. Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori Dan Aplikasinya. Jakarta: Bumi Aksara. Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Teknis Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Silabus Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Depdiknas. Dimyati, dkk. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

185

Dr. (Mrs.) Ihuoma P. Asiabaka. “The Need for Effective Facility Management in Schools in Nigeria”. New York Science Journal. Department of Education Foundations and Administration, Faculty of Education, Imo State University, Owerri, Nigeria. Feryal Cubukcu.” student teachers’ perceptions of teacher competence and their attributions for success and failure in learning”. Faculty of Education, Dokuz eylul University. Ghozali, Ahmad. 2007. Dasar-Dasar Ekonometrika. Jakarta: Sinar Baru Algesindo. Hamalik, Oemar. 2008. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Jakarta: Bumi Aksara. . 2008. Perencanaa Pengajaran Berdasarkan pendekatan Sistem. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Harwanto. 2008. Memilih Profesi Guru?. Banten: Cerad Insan Cendekia. Mendiknas. 2008. Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejurun (SMK/MAK). Jakarta: Citra Utama Media. Mustaqim. 2008. Psikologi Pendidikan. Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang. Naree Aware Achwarin. “The study of teacher competence of teachers at schools in the three southern provinces of thailand”. Graduate School of Education, Assumption University of Thailand. Poerwadarminta, WJS. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Rianggoro, Krisna. 2001. Marilah Belajar Mengetik. Semarang: Aneka ilmu. Sardiman. 1994. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Setiawan, Iwan dkk. 1994. Pengetahuan Mengetik SMK. Bandung: Armico. Sudarmin, Djanewar. 1999. Mengetik SMK jilid 1 Kelompok Bisnis dan manajemen. Bandung: Armico. Sudjana. 2005. Metode Statistika. Bandung: Tarsito. Sudjana, Nana. 2008. Dasar-dasar Proses Belajar mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Sugiyono. 2008. Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung :Alfabeta Sularso, dkk. 1984. Mengetik dengan sistem 10 jari. Yogyakarta: Liberty. Suwandi. 2007. Makalah Peranan Mesin Ketik Manual dan Keterampilan Mengetik 10 Jari di Era Komputerisasi. Probolinggo. Uno, Hamzah. 2008. Profesi Kependidikan. Jakarta: Bumi aksara.

186

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR SEBELUM DAN SESUDAH MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL BERBASIS MACROMEDIA FLASH MX DALAM PEMBELAJARAN MATA DIKLAT KEARSIPAN PADA KELAS XI JURUSAN ADMINISTRASI PERKANTORAN SMK N 1 BOYOLALI Nurul Khaqim S. Pd., (Universitas Negeri Semarang) Sarjana Pendidikan Ekonomi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang. Email : Hakim.ragil31@gmail.com Abstrak Makalah ini berisi tantang salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan pemberiaan stimulus dengan penggunaan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa, kinerja guru, aktivitas siswa sebelum menggunakan media pembelajaran dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan. Data yang digunakan adalah data primer, berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan teknik pengambilan data adalah dokumentasi, tes, observasi, dan angket. Dalam penelitian ini menggunakan dua analisis, yaitu analisis deskriptif persentase dan menggunakan uji-t. Hasil penelitiannya adalah terdapat perbedaan nilai rata-rata dari siklus I dan nilai rata-rata siklus II. Besarnya peningkatan persentase hasil belajar dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 18,06%. Dari analisis deskriptif persentase menunjukkan bahwa persentase kinerja guru meningkat sebesar 8%, dan persentase aktivitas siswa meningkat sebesar 22%. Dari hasil pengisian angket, semua siswa memberikan tanggapan yang sangat positif. Kesimpulannya adalah bahwa terdapat perbedaan hasil belajar mata diklat kearsipan antara sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Hasilnya pembelajaran mata diklat kearsipan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx lebih baik daripada sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Kinerja guru dan aktivitas siswa sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx lebih baik daripada sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Tanggapan siswa saat menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx adalah sangat positif. Kata Kunci : Hasil Belajar, Media Visual Berbasis Macromedia Flash MX. 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah Model pembelajaran yang diterapkan oleh guru administrasi perkantoran di SMK N 1 Boyolali adalah model pembelajaran ekspositori. Sedangkan salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai pada mata diklat kearsipan jurusan administrasi perkantoran adalah mengimplementasikan sistem kearsipan. Pada tahun ajaran sebelumnya, yaitu tahun ajaran 2008/2009. Berdasarkan rincian nilai mata diklat kearsipan pada model pembelajaran ekspositori, terlihat jelas meski nilai siswa sudah mencapai KKM yang ditetapkan, namun sebagian besar hanya mencapai batas minimumnya saja yaitu 70. Dari kenyataan tersebut, perlu adanya suatu inovasi baru pada pembelajaran ekspositori agar nilai siswa dapat meningkat, tidak sebatas mencapai nilai yang ditetapkan pada KKM atau nilai minimumnya saja. Guru dapat membuat siswa merasa tertarik dan termotivasi dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan menggunakan media pembelajaran yang tepat. 1.2. Rumusan Masalah 1. Adakah perbedaan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan pada kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali? 2. Bagaimanakah kinerja guru sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan pada kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali?

187

game. 2. maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep. 2.2. Bagaimanakah aktivitas siswa sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan pada kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali? 4.7.3. Media Pembelajaran Menurut Sugandi (2006: 30) media pembelajaran adalah alat atau wahana yang digunakan pengajar dalam proses pembelajaran untuk membantu penyampaian pesan pembelajar. Hasil Belajar Hasil belajar merupakan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Pengenalan Cara Pembuatan Media Visual berbasis Macromedia Flash MX Macromedia Flash MX merupakan sebuah program aplikasi standar authoring tool profesional yang dikeluarkan oleh perusahaan internasional Macromedia yang digunakan untuk membuat animasi vektor dan bitmap yang sangat menakjubkan untuk keperluan pembangunan situs web yang interaktif dan dinamis. sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.3. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada yang dipelajari oleh pembelajar. Aktivitas siswa sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan pada kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali. 2. Jika pembelajar mempelajari pengetahuan tentang konsep. dkk (2006: 5). 2006: 9). 2. 4.5. movie.4.6. Kinerja guru sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan pada kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali. Tujuan 1. Selain itu aplikasi ini juga dapat digunakan untuk memuat animasi logo. Pembelajaran Pengertian pembelajaran menurut teori neobehavioristik yaitu upaya membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan supaya terjadi hubungan lingkungan dengan tingkah laku pembelajar (Sugandi.3. Belajar Slameto (2003: 2) mendefinisikan belajar sebagai usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. 2. 2.1. Model Pembelajaran Ekspositori Model pembelajaran ekspositori atau langsung menurut Nur dalam Widdiharto (2004: 33) menyatakan bahwa model ini dirancang secara khusus untuk menunjang proses belajar siswa berkenaan dengan pengetahuan prosedural (pengetahuan mengenai bagaimana orang melakukan sesuatu) dan pengetahuan deklaratif (pengetahuan tentang sesuatu) yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Anni. 3. 2. Perbedaan hasil belajar siswa sebelum menggunakan media pembelajaran dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Landasan Teori 2. Tanggapan siswa terhadap pembelajaran mata diklat kearsipan dengan menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Media Visual berbasis Macromedia Flash MX Media visual berbasis macromedia flash mx adalah gabungan dari media visual dengan program macromedia flash mx yang mengandalkan indera penglihatan dengan menampilkan animasi gambar atau gambar bergerak. pembuatan 188 . Bagaimanakah tanggapan siswa terhadap pembelajaran mata diklat kearsipan dengan menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx? 1. 2.

1. tombol animasi. huruf ataupun kombinasi huruf dan nomor sebagai identitas arsip yang terkait. 4.81724 . dan angket. banner. 3. maka penelitian ini disebut penelitian populasi (Arikunto.16869 4. metode tes digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa baik pembelajaran sebelum maupun sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx pada mata diklat kearsipan standar kompetensi mengimplementasikan sistem kearsipan kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran. Angket ini digunakan untuk memperoleh informasi data tentang penerapan media pembelajaran visual berbasis macromedia flash mx pada mata diklat kearsipan standar kompetensi mengimplementasikan sistem kearsipan kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali. apakah ada perbedaan hasil belajar mata diklat kearsipan sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx.075 0 N 40 40 Std. karena merupakan penelitian sebelum dan sesudah yang berarti subjeknya sama. screen server.1. Metode dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data nama siswa dan data nilai mata diklat kearsipan tahun sebelumnya. Analisis t-test dalam penelitian ini menggunakan SPSS 16 for windows dengan analisis paired. Metodologi Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI AP 1 yang berjumlah 40 siswa. 3. observasi. interaktif form isian. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada mata diklat kearsipan sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. 2006: 130). Deviation 5. Analisis t-test (uji-t) Analisis t-test ini digunakan untuk membuktikan hipotesis yang telah ditentukan. 2003: 3). 2010 Siklus I 75.79048 Tabel Paired Samples Correlations 189 . Tabel Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Siklus II Sumber: Data Diolah.8. dan pembuatan situs web atau pembuatan aplikasi-aplikasi web lainnya (Suciadi. menu interaktif. Error Mean . Karena jumlah populasi kurang dari 100.450 0 89. e-card. Deskripsi Data Data yang digunakan adalah data primer dengan menggunakan empat metode penelitian yaitu metode dokumentasi. tes. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran mata diklat kearsipan sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx (ekspositori) dan pembelajaran mata diklat kearsipan pada saat menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx.navigasi pada situs web. numerik / nomor.99942 Std. 2. Hasil 4. Materi Mengimplementasikan Sistem Kearsipan Sistem Kearsipan Sistem kearsipan adalah cara pengaturan atau penyimpanan arsip secara logis dan sistematis dengan memakai abjad.

N Pair 1 Siklus I & Siklus II 40 Correlati on .36250E1 8099 15. Deviatio Error Low n Mean er Upper Si g. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx.98673 16.822.0001 dengan t hitung sebesar -16.2632 Sikl 254 11. Observasi kinerja guru sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja guru dalam pembelajaran mata diklat kearsipan pada kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali. Dengan tingkat kepercayaan = 95% atau ( ) = 0.493 dan signifikan pada 5% hal ini berarti rata-rata nilai hasil belajar siswa dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx berhubungan positif dengan rata-rata nilai hasil belajar siswa sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. 2010 Hipotesis : Ho : 3 = 0. 2010 Dari tabel korelasi diperoleh nilai korelasi = 0.000 maka Ha diterima ada perbedaan rata-rata pada nilai stenografi sebelum dan sesudah menggunakan media .05 (batas kesalahan) dan signifikasi 0. . Tabel Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval S of the Difference Std. aktivitas siswa dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx.12 3 . maka dapat dilihat persentase kenaikan nilai rata-rata siklus 1 ke siklus adalah .001 Sumber: Data Diolah. us I – 5. persentase kinerja guru dalam 190 . Pada pembelajaran mata diklat kearsipan sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx.2. (2D tailed f ) Mean Pair 1 t Sikl . dan tanggapan siswa terhadap pembelajaran mata diklat kearsipan dengan menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. 4. Ha : 3 0. Deskriptif Persentase Analisis deskriptif persentase terhadap skor yang diperoleh digunakan untuk mendeskripsikan kinerja guru dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx kurang baik atau sama dibandingkan dengan hasil belajar siswa dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx.822 9 00 4 7 us II Sumber: Data Diolah. Karena signifikasi lebih kecil dari batas kesalahan yaitu 0. Nilai rata-rata siklus 2 lebih tinggi dibanding nilai rata rata siklus 1.0 -1.493 Sig. td.

dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hamalik dalam Arsyad (2009: 15). Terlihat bahwa aktivitas siswa dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx meningkat sebesar 22%. Berdasarkan data hasil penelitian menggunakan skala likert seperti dalam tabel 4. Hal ini dikarenakan mata diklat kearsipan yang diajarkan sebelumnya hanya disampaikan dengan pembelajaran ekspositori. 5. 30% dalam kategori sangat baik. Jika kinerja guru baik maka tujuan dari pembelajaran akan tercapai dan hasil belajar siswa akan baik.mengelola pembelajaran diklat kearsipan adalah termasuk dalam kategori baik. Jika kinerja guru baik maka tujuan dari pembelajaran akan tercapai dan hasil belajar siswa akan baik pula.7 terlihat bahwa tanggapan siswa terhadap pembelajaran mata diklat kearsipan dengan menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx pada kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali memberikan tanggapan yang sangat positif. antara lain: 5. Berdasarkan uraian tersebut dapat dilihat bahwa ada peningkatan kinerja guru sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sebesar 8%. Hal tersebut sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 17) bahwa media pembelajaran adalah media yang digunakan pada proses pembelajaran sebagai penyalur pesan antara guru dan siswa agar tujuan pengajaran tercapai. Karena penggunaan media visual berbasis macromedia flash mx merupakan inovasi baru. persentase aktivitas siswa adalah dalam kategori cukup baik. Hasil dari penelitian aktivitas siswa sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx mempunyai pengaruh positif terhadap aktivitas siswa dalam pembelajaran mata diklat kearsipan pada kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali. yaitu hasil belajar siswa dalam pembelajaran mata diklat kearsipan 191 . Selain itu juga karena media visual berbasis macromedia flash mx adalah media baru sehingga siswa lebih tertarik dan menjadi lebih aktif. sehingga guru menjadi lebih semangat dan lebih bervariasi dalam menyajikan materi yang sedang dipelajari. dapat dilihat bahwa ada peningkatan aktivitas siswa sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sebesar 22%. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dapat diambil beberapa simpulan. Dari data tersebut terlihat bahwa siswa memberikan tanggapan sangat positif yang bererti bahwa siswa tertarik dan lebih semangat dalam pembelajaran mata diklat kearsipan dengan menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx sehingga nilai hasil belajar siswa dapat meningkat. Sehingga dari pembelajaran yang lebih aktif dan bervariasi. Terlihat bahwa kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran mata diklat kearsipan sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam kategori baik. serta peningkatan hasil belajar mata diklat kearsipan. maka siswa memberikan sikap yang sangat positif dalam penggunaan media visual berbasis macromedia flash mx. Berdasarkan uraian di atas. menyatakan bahwa media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. menyatakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. Dari 40 siswa yang mengisi angket. Pada pembelajaran mata diklat kearsipan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx persentase kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran mata diklat kearsipan adalah termasuk dalam kategori sangat baik. Pada pembelajaran mata diklat kearsipan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. persentase aktivitas siswa termasuk dalam kategori sangat baik. Pada pembelajaran mata diklat kearsipan sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sudjana dkk (2009: 2). Terdapat Perbedaan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan pada kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK N 1 Boyolali.

Suharsimi. Media Pengajaran. Media Pembelajaran. 2009. A. Jakarta: Balai Pustaka. Makalah disajikan dalam Diklat Instruktur / Pengembang Matematika SMP Jenjang Dasar. Psikologi Belajar. 8. Menguasai Pembuatan Animasi dengan Macromedia Flash MX. PT Elex Media Komputindo : Jakarta.sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx secara signifikan lebih baik dibandingkan hasil belajar siswa sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. 2004. Semarang : UPT Unnes Press. Persentase aktivitas siswa sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx lebih tinggi daripada sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. karena media tersebut merupakan sebuah media yang baru dalam pembelajaran mata diklat kearsipan sehingga siswa lebih tertarik dalam mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) mata diklat kearsipan. Jakarta: Rineka Cipta. Artinya mereka menganggap penggunaan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajari sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Arikunto. Persentase kinerja guru sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx lebih tinggi daripada sebelum menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Widdiharto. Nana dan Rivai Ahmad. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Azhar. Daniel Purnomo. Andreas. 192 . karena guru lebih semangat dan lebih dapat menarik perhatian siswa dengan bantuan media visual berbasis macromedia flash mx. 2006. Terdapat peningkatan aktivitas siswa sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Terdapat peningkatan kinerja guru sesudah menggunakan media visual berbasis macromedia flash mx. Jakarta : Rineka Cipta. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi III. 2003. Eddy Purwanto. Model – Model Pembelajaran Matematika SMP. Achmad Rifa’i. Arsyad. Daftar Pustaka Anni. Sudjana. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. 2003. Semarang: UPT MKK UNNES. 2006. Sugandi. 7. 2009. Slameto. Chatarina Tri . Bandung : Sinar Baru Algensindo. Rachmadi. 10 – 23 Oktober 2004. Angket tanggapan siswa terhadap penggunaan media visual berbasis macromedia flash mx dalam pembelajaran mata diklat kearsipan mendapat tanggapan yang sangat positif dari siswa. Suciadi. 6. 2006. 2002. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Teori Pembelajaran. Pusat Bahasa Depdiknas.

Administrasi. Prosedur pembayaran pajak kendaraan bermotor di UP3AD Kabupaten Kendal dimulai dari pengambilan formulir SPPKB. Penelitian ini bertujuan 1) Untuk mengetahui prosedur administrasi pembayaran PKB di UP3AD. pembayaran PKB. menertibkan wajib pajak dengan memberikan nomer antrean pada oket SPPKB. Prosedur biasa diterjemahkan sebagai tata cara yang berlaku dalam organisasi.angka yang dihitung secara statistik sedangkan metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi. (2). PENDAHULUAN A. Hendaknya UP3AD agar lebih menyederhanakan prosedur yang ada. 2) Untuk mengetahui permasalahan apa saja yang dihadapi. Karena sebagian besar pendapatan daerah berasal dari sektor pajak maka kelancaran penyelenggaraan pembangunan pemerintahan daerah dipengaruhi oleh keberhasilan dari hasil penerimaan pajak daerah. serta untuk calo harus mengikuti prosedur sebagaimana mestinya. Pajak Kendaraan Bermotor. Untuk menyelenggarakan kegiatan pembayaran pajak diperlukan prosedur untuk memaksimalisasi hasil usaha yang sedang dijalankan. sedangkan permasalahan dari luar adalah kurang tertibnya wajib pajak dan masalah calo. 3) Cara untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan mengefektifkan lagi sosialisasi di kecamatan di Kendal secara menyeluruh. Hasil penelitian diketahui bahwa bahwa pada dasarnya prosedur administrasi pembayaran PKB di UP3AD kabupaten Kendal sudah sesuai dengan standar prosedur yang ada pada UP3AD diseluruh Jawa Tengah yang artinya tata cara dan prosedurnya sudah sesuai dengan garis kebijakan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis diskriptif kualitatif yaitu data tersebut diperoleh. 3) Untuk mengetahui bagaimana cara menghadapi permasalahan tersebut. Untuk menyelenggarakan kegiatan pembayaran pajak yang baik dan berjalan dengan lancar diperlukan suatu sistem administrasi yang baik juga. selain itu juga harus di dukung dengan sistem informasi yang lengkap pula. pelayanan korektor. Pajak daerah yang biasanya dipungut selama ini merupakan sumber pendapatan daerah yang digunakan untuk membiayai pelaksanaan pemerintahan disuatu daerah. penetapan PKB dan SKPD.PROSEDUR ADMINISTRASI PEMBAYARAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR PADA UP3AD KABUPATEN KENDAL Khusnul Budi Ani Abstrak Pajak daerah yang biasanya dipungut selama ini merupakan sumber pendapatan daerah yang digunakan untuk membiayai pelaksanaan pemerintahan disuatu daerah. agar masyarakat mengetahui tentang prosedur adminastrasi pembayaran pajak kendaraan bermotor Kata kunci : Prosedur. hal tersebut untuk membantu kelancaran pembayaran pajak juga sebagai pertimbangan suatu organisasi dalam mengambil keputusan-keputusan penting. Latar Belakang. dianalisa dengan argumen.argumen dan tidak menggunakan angka. Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa 1) prosedur administrasi pembayaran PKB di UP3AD kabupaten Kendal sudah sesuai dengan standar prosedur yang ada pada UP3AD diseluruh Jawa Tengah yang artinya tata cara dan prosedurnya sudah sesuai dengan garis kebijakan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah. mendahulukan wajib pajak pada pelayanan SPPKB. 2) Permasalahan yang dialami dari dalam yaitu kurang efektifnya sosialisasi dan staf lain yang membayar pajak pada saat jam kerja. wawancara dan dokumentasi. Validitas STNK dan TNKB dan yang terakhir penyerahan STNK. Berdasarkan hasil penelitian penulis menyarankan : (1). Kedudukannya sangatlah penting sebab sah atau tidaknya perbuatan orang dalam organisasi 193 . registrasi otorisasi data statis kendaraan. Sebaiknya UP3AD mengefektifkan lagi sosialisasi di kecamatan-kecamatan di daerah kendal secara menyeluruh.

ditentukan oleh tingkah lakunya berdasarkan prosedur itu. membayar dan melaporkan sendiri pajak yang terutang. sehingga pelaksanaan sistem administrasi perpajakan diharapkan dapat dilaksanakan lebih tertib. (Gie. Kegiatan administrasi dalam arti sempit sering disebut juga sebagai tata usaha. Pembayaran pajak merupakan wujud pengabdian dan peran serta masyarakat dalam membantu kelancaran pemerintahan daerah. memperhitungkan. Bagaimana Prosedur administrasi pembayaran pajak kendaraan bermotor pada UP3AD Kabupaten Kendal? 2. Kaitanya dengan pembayaran pajak adalah prosedur pembayaran pajak kendaraan bermotor diperlukan untuk membantu organisasi dan wajib pajak dalam pelaksanaan pembayaran pajak agar berjalan dengan baik dan lancar. ada juga yang beranggapan bahwa proses pembayaran pajak kendaraan bermotor rumit. Kurangnya komunikasi dan sosialisasi mengenai informasi prosedur pembayaran pajak kendaraan bermotor menyebabkan kurangnya minat para wajib pajak untuk membayarkan pajak terutangnya. PERUMUSAN MASALAH Atas dasar uraian latar belakang di atas maka perumusan masalahnya adalah : 1. Dengan adanya suatu prosedur maka kegiatan yang akan dicapai dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang di inginkan (Moenir. Pembayaran membutuhkan waktu kurang dari satu jam. 2000:187) Prosedur digunakan perusahaan atau organisasi untuk membantu pelaksanaan kegiatan operasional. 2006:105). Karena setiap anggota masyarakat diberi kepercayaan pajak untuk dapat melaksanakan keikutsertaan nasional melalui sistem menghitung.sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat wajib pajak. Permasalahan apa saja yang dialami dalam proses kegiatan pembayaran pajak kendaraan bermotor? 3. Dari pengamatan langsung di kantor UP3AD Kabupaten Kendal dan dari daftar pembayar pajak kendaraan bermotor di UP3AD jumlah pembayar atau wajib pajak rata-rata berjumlah 200 orang setiap harinya. B. Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk mengambil judul “PROSEDUR ADMININISTRASI PEMBAYARAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR PADA UP3AD KABUPATEN KENDAL” B. 2005:5) Administrasi dalam arti sempit merupakan pencatatan data dan informasi secara sistematis dengan maksud untuk menyediakan keterangan serta memudahkan keterangan untuk memperolehnya kembali secara keseluruhan dan dalam hubungannya satu sama lain. Informasi sangat dibutuhkan oleh masyarakat. karena perbedaan latar belakang pendidikan sehingga penyampaian informasi terkadang kurang bisa diterima. dan memakan waktu lama sehingga kebanyakan masyarakat menyerahkan pembayarannya kepada makelar pajak atau calo. Dari jumlah tersebut 7% orang kebanyakan belum paham mengenai prosedurnya. Pengertian Prosedur Prosedur adalah suatu rangkaian metode yang telah menjadi pola tetap dalam melakukan suatu pekerjaan yang merupakan suatu kebulatan. 194 . Pengertian Administrasi Menurut (Silalahi. padahal sebenarnya pembayaran akan lebih ekonomis dan efisien apabila masyarakat mau membayarkan pajak terutangnya sendiri serta tidak menyita waktu. Bagaimana cara mengatasi permasalahan tersebut? LANDASAN TEORI A. terkendali.

dalam hal ini aparat perpajakan.C. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data merupakan satu tahapan dalam proses penelitian dan sifatnya mutlak untuk dilakukan karena data merupakan fenomena yang diteliti. sesuai dengan fungsinya berkewajiban melakukan pembinaan. Data merupakan sumber tertulis yang sangat penting dalam penyusunan Tugas Akhir. Pajak Kendaraan Bermotor Pajak Kendaraan Bermotor atau disebut (PKB) merupakan pajak yang dipungut atas kepemilikan dan atau penguasaan terhadap kendaraan bermotor (Tarmudji dan Suryarini. b. Dan Peraturan Pelaksanaannya berdasarkan pada Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor : 75 Tahun 2002 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor dan pada Peraturan Daerah Povinsi Jawa Tengah No. Tanggung jawab atas kewajiban pelaksanaan pemungutan pajak sebagai pencerminan kewajiban di bidang perpajakan berada pada anggota masyarakat Wajib Pajak sendiri. D. dan pengawasan terhadap pemenuhan kewajiban perpajakan berdasarkan ketentuan yang digariskan dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. terkendali. Bahwa pemungutan pajak merupakan perwujudan dari pengabdian dan peran serta Wajib Pajak untuk secara langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban perpajakan yang diperlukan untuk pembiayaan negara dan pembangunan nasional. sehingga melalui sistem ini administrasi perpajakan diharapkan dapat dilaksanakan dengan rapi. Lokasi Penelitian Dalam penelitian ini. Kendaraan bermotor adalah semua kendaraan beroda dua atau lebih beserta gandengannya yang digunakan di jalan umum. Sedangkan menurut UU No 18 tahun 1997 Pajak Kendaraan Bermotor adalah pajak atas kepemilikan dan atau penguasaan kendaraan bermotor. pelayanan. Objek Kajian Objek kajian adalah objek penelitian yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto. Sumber dan Jenis Data Definisi sumber data menurut (Arikunto. Data yang diperoleh dari penelitian dapat memperkuat hasil penelitian dan memudahkan penyusunan Tugas Akhir. 2002:107) adalah subjek darimana data diperoleh.3 tahun 2002 tentang Pajak Kendaraan Bermotor UU No. permasalahan apa saja yang di hadapi dan cara mengatasi permasalahan tersebut. yang menjadi objek penelitian penulis adalah di kantor Unit Pelayanan Pendapatan dan Pembardayaan Aset Daerah (UP3AD) di jalan Soekarno Hatta No 101 Kendal. B. 195 . c. 2002:96). memperhitungkan. C. Anggota masyarakat Wajib Pajak diberi kepercayaan untuk dapat melaksanakan kegotongroyongan nasional melalui sistem menghitung. membayar dan melaporkan sendiri pajak yang terutang (self assessment). sederhana dan mudah untuk dipahami oleh anggota masyarakat Wajib Pajak. METODE PENELITIAN A. dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu kendaraan bermotor yang bersangkutan. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dipungut berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 3 Tahun 2002 Tentang Pajak Kendaraan Bermotor. Pemerintah. tidak termasuk alat-alat besar. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah Observasi. 2009:26). 16 tahun 2000 tentang tata cara perpajakan di Indonesia a. sehingga membantu kita untuk menarik satu kesimpulan dari objek atau fenomena yang diteliti. Dokumentasi dan Wawancara. Objek kajian dalam penelitian ini adalah mengenai prosedur administrasi pembayaran pajak kendaraan bermotor pada UP3AD Kabupaten Kendal.

Registrasi Otorisasi Data Statis Kendaraan Order TNBK/STNK Cek fisik Pembayaran PKB Penetapan PKB dan SKPD Keterangan : PKB : Pajak Kendaraan Bermotor SPPKB : Surat Pendaftaran Pembayaran Kendaraan Bermotor. penulis menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. tetapi hanya menguraikan dan menggambarkan suatu keadaan berdasarkan data pada waktu tertentu (Arikunto. Tanda tangan Validitas STNK dan TNKB Penyerahan STNK 1. Metode Analisis Data Dalam penulisan Tugas Akhir ini. 4. 196 . 3. 2002:213). Pelayanan Korektor 1. TNKB : Tanda Nomor Kendaraan Bermotor. 2. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. TandaTerima. 5.E. SKPD : Surat Ketetapan Pajak Daerah. STNK :Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor. Metode deskriptif kualitatif adalah suatu metode analisis dimana data itu tidak dianalisis secara sistematis. Hasil Penelitian 1. Berikut ini merupakan gambar alur pembayaran pajak kendaraan bermotor di UP3AD Kendal : Alur Rangkaian Pembayaran PKB Mulai Formulir SPPKB Penelitiankelengkap an.

Sesuai dengan UU No 16 tahun 2000 Karena setiap anggota masyarakat diberi kepercayaan pajak untuk dapat melaksanakan keikutsertaan nasional melalui sistem menghitung. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya prosedur administrasi pembayaran PKB di UP3AD kabupaten Kendal sudah sesuai dengan standar prosedur yang ada pada UP3AD diseluruh Jawa Tengah yang artinya tata cara dan prosedurnya sudah sesuai dengan garis kebijakan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah. b. Penentuan besarnya pajak yang terutang sesuai dengan jenis kendaraan dan besarnya SKPD. Kurang efektifnya sosialisasi mengenai prosedur pembayaran pajak kendaraan bermotor. Berikut permasalahan dari dalam yang dialami dalam pembayaran pajak kendaraan bermotor yaitu : 1. sehingga pelaksanaan sistem administrasi perpajakan diharapkan dapat dilaksanakan lebih tertib. Staf pelayanan SPPKB sudah seharusnya mendahulukan wajib pajak terlebih dahulu daripada orang dalam karena untuk memaksimalisasi kerja agar berjalan lebih efektif dan efisien. b. Dimana secara umum dapat kami sampaikan bahwa prosedur standar yang dilakukan oleh wajib pajak adalah. Banyak calo atau makelar yang terkadang sedikit mengganggu kerja para staf pada saat pengambilan formulir SPPKB karena tidak mengantri dahulu. Lebih menertibkan wajib pajak dengan cara memberikan nomer antrean juga pada loket pelayanan SPPKB. pelayanan korektor.Berikut merupakan alurnya dimulai dari pengajuan persyaratan untuk memperoleh formulir SPPKB. terkendali. 2. 2. validitas STNK/TNKB dan terahir adalah penyerahan STNK. pada saat jatuh tempo masa pembayaran pajak kendaraan bermotor sebagaimana tertera dalam Notice Pajak/STNK. lalu menuju ke Penetapan PKB dan SKPD. pembayaran PKB lewat kasir.kecamatan di daerah Kendal. koreksi. penetapan. Tetap mendahulukan wajib pajak dan untuk calo atau makelar pajak seharusnya mengikuti prosedur pembayaran seperti wajib pajak yang semestinya. memperhitungkan. sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat wajib pajak. membayar dan melaporkan sendiri pajak yang terutang. Berikut merupakan permasalahan yang timbul dari luar adalah : a. kemudian menuju ke registrasi otorisasi data statis kendaraan dimana tempat untuk order STNK / TNBK dan cek fisik. B. Staf lain yang kadang membuat tidak efisienya kerja staf pelayanan SPPKB karena membayar pajak pada saat kerja. uji validitas dan penyerahan STNK. 197 . Kurang tertibnya wajib pajak pada saat pengambilan formulir SPPKB. Pembayaran PKB. Dan proses kegiatanya dimulai dari penghimpunan data dan kelengkapanya. pengesahan STNK dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu jam sejak saat pendaftaran /penyerahan berkas permohonan. Cara untuk mengatasi permasalahan yang timbul dalam proses pembayaran pajak kendaraan bermotor di UP3AD Kabupaten Kendal : a. d. Mengefektifkan lagi sosialisasi ke kecamatan. c. maka wajib pajak diminta untuk memenuhi kewajibannya membayar pajak kendaraan bermotor. Permasalahan yang timbul dalam proses kegiatan administrasi pembayaran pajak kendaraan bermotor di UP3AD dan cara mengatasi permasalahan tersebut.

Staf pelayanan SPPKB sudah seharusnya mendahulukan wajib pajak terlebih dahulu daripada orang dalam karena untuk memaksimalisasi kerja agar berjalan lebih efektif dan efisien. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya prosedur administrasi pembayaran PKB di UP3AD kabupaten Kendal sudah sesuai dengan standar prosedur yang ada pada UP3AD diseluruh Jawa Tengah yang artinya tata cara dan prosedurnya sudah sesuai dengan garis kebijakan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah. Hendaknya UP3AD agar lebih menyederhanakan prosedur yang ada untuk mempemudah dan memperlancar kegiatan administrasi pembayaran pajak kendaraan bermotor.kecamatan di daerah kendal secara menyeluruh. 3. B.SIMPULAN DAN SARAN A. Untuk calo atau makelar pajak seharusnya mengikuti prosedur pembayaran seperti wajib pajak yang semestinya. agar masyarakat mengetahui tentang prosedur adminastrasi pembayaran pajak kendaraan bermotor. Permasalahan dari dalam yang dihadapi dalam proses pembayaran pajak kendaraan bermotor yaitu kurang efektifnya sosialisasi mengenai prosedur pembayaran pajak kendaraan bermotor sehingga membuat wajib pajak kurang memahami tentang prosedurnya. Cara untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan mengefektifkan kembali sosialisasi ke kecamatan. 2. kurang tertibnya wajib pajak. Saran Dari pembahasan di atas penulis dapat saran. Permasalahan dari luar banyak calo atau makelar yang terkadang sedikit mengganggu kerja para staf karena tidak mengantri dahulu. Staf lain terkadang membuat tidak efisienya kerja para staf pelayanan SPPKB. Sebaiknya UP3AD untuk lebih mengefektifkan sosialisasi di kecamatan. 198 . Lebih menertibkan wajib pajak dengan pemberian nomer antrean pada loket pelayanan SPPKB.saran sebagai berikut : 1. Kesimpulan 1. 2.kecamatan di daerah Kendal.

karena latar belakang pegawai di Biro SDM dn Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan yang berbeda-bada. Kata Kunci : Peningkatan. Untuk menyediakan fasilitas pimpinan diharapkan aktif untuk mengajukan pengadaan fasilitas yang dianggap penting untuk menunjang suatu pekerjaan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu analisis dengan memaparkan faktafakta yang diamati dengan diikuti teori-teori yang mendukung. sehingga karyawan lain tidak terbebani dengan pekerjaan yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Dengan adanya pemberian motivasi dari pimpinan diharapkan pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan akan lebih giat dan bersemangat dalam bekerja. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui upayaupaya yang dilakukan dalam peningkatan motivasi kerja pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. observasi dan dokumentasi. Motivasi 199 .PENINGKATAN MOTIVASI KERJA PEGAWAI DI BIRO SDM DAN UMUM SEKSI PENGELOLAAN ASET PERUSAHAAN PERUM PERHUTANI UNIT I JAWA TENGAH Heni Maulidah ABSTRAK Motivasi merupakan serangkaian sikap dan nilai-nilai yang mempengaruhi individu untuk mencapai hal yang spesifik sesuai dengan tujuan individu. pada dasanya motivasi dapat memacu karyawan untuk bekerja keras sehingga dapat mencapai tujuan mereka. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa peningkatan motivasi kerja pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan sudah cukup baik. Hal ini akan meningkatkan produktivitas kerja sehingga berpengaruh pada pencapaian tujuan perusahaan. (2) Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam peningkatan motivasi kerja pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. upaya yang dilakukan pimpinan dalam memotivasi kerja pegawai yaitu dengan mengadakan rapat pembinaan. Hal ini tidak terlepas dari peran pimpinan. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana upaya yang dilakukan dalam peningkatan motivasi kerja pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah ?. pemberian promosi dan pemberian bonus bagi pegawai yang berprestasi. sedangkan metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara. (2) Kendala apa saja yang dihadapi dalam peningkatan motivasi kerja pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah ?. Saran yang dapat peneliti sampaikan berdasarkan hasil penelitian adalah diharapkan pimpinan memberikan pelatihan terhadap pegawai. Dan sebaiknya perusahaan segera menambahkan karyawan untuk menggantikan posisi pegawai yang dipindah.

Selain itu pegawai juga akan tergerak untuk lebih meningkatkan ketrampilan dan kualitas kerjanya guna mencapai prestasi yang diharapkan. Meningkatkan motivasi merupakan hal yang sangat penting dalam upaya pengembangan pegawai. Karena dengan adanya motivasi maka pegawai akan terdorong untuk melaksanakan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh serta dengan penuh rasa tanggung jawab. sehingga pekerjaan yang diberikan akan cepat selesai serta pegawai akan lebih terampil dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. perusahaan harus menjaga hubungan kerja yang baik dengan pegawainya. Dalam suatu perusahaan potensi tenaga kerja merupakan modal yang sangat penting bagi pencapaian keberhasilan serta tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Organisasi dikelola oleh sumber daya manusia didalamnya. dan setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk menjalankan tugas masingmasing.PENDAHULUAN Pada saat ini telah memasuki era global. Oleh karena itu. dimana perusahaan-perusahaan baik yang berorientasi pada keuntungan maupun organisasi yang tidak berorientasi pada keuntungan bersaing untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. Salah satu hal yang perlu ditingkatkan perusahaan adalah mengenai motivasi pegawai. Tujuan perusahaan dapat tercapai jika manajemen mampu mengelola dan menggerakan sumber daya manusia secara efektif dan efisien. 200 .

Dan merupakan data yang sudah baku serta dipublikasikan dari data sekunder ini akan diperoleh data penelitian kepustakaan yaitu 201 .1. Motivasi ini merupakan subyek yang penting bagi manajer. yang dapat dikembangkannya sendiri. Dalam proses pemberian motivasi kerja tidak selamanya berjalan sesuai yang diharapkan. Dalam melakukan suatu pekerjaan tidak jarang pegawai menemukan kesulitan yang mampu menghambat pencapaian hasil kerja yang maksimal. b. Produktivitas pegawai menjadi pusat perhatian dalam upaya meningkatkan kualitas kerja yang mempengaruhi tingkat efisiensi dan efektifitas organisasi. karena manajer harus bekerja dengan dan melalui orang lain. Motivasi bertujuan untuk meningkatkan semangat kerja dan produktivitas pegawai. dan imbalan nonmoneter. Dalam hal ini peneliti (penulis) secara langsung observasi ke obyek penelitian yaitu pada Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah melalui wawancara. 1. Motivasi juga merupakan salah satu faktor yang dapat mendukung efektifitas kerja. Pada Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah untuk menjalankan misi perusahaan maka pegawai harus diberi motivasi kerja yang tinggi agar dapat bekerja dengan baik sesuai yang diharapkan. Karyawan membutuhkan semangat yang tinggi untuk meningkatkan hasil yang diharapkan. Jenis Data a. Data Primer Yaitu data yang diambil langsung dari sumbernya. 2002: 107) . yang dapat mempengaruhi hasil kinerjanya secara positif atau secara negatif. Motivasi merupakan subyek yang membingungkan.2003 : 251).2.Dengan adanya motivasi diharapkan setiap pegawai mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi. atau dikembangkan oleh sejumlah kekuatan luar yang pada intinya berkisar sekitar imbalan moneter. tetapi harus disimpulkan dari perilaku yang tampak ( Handoko. hal ini tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang yang bersangkutan (Winardi. dan memelihara perilaku manusia. Sumber data dari penelitian ini adalah dari pimpinan dan pegawai Bagian SDM dan Umum Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk menyusun Tugas Akhir ini dengan judul : “PENINGKATAN MOTIVASI KERJA PEGAWAI DI BIRO SDM DAN UMUM SEKSI PENGELOLAAN ASET PERUSAHAAN PERUM PERHUTANI UNIT I JAWA TENGAH” METODE PENELITIAN Sumber dan Jenis Data 1. Data Sekunder Yaitu data yang diperoleh penulis dari buku-buku literatur yang terkait dengan penulisan Tugas Akhir ini sebagai penunjang dalam penelitian. karena motivasi tidak dapat diamati atau diukur secara langsung. Hubungan karyawan yang tertata baik sangat bermanfaat bagi organisasi. Seseorang yang termotivasi maka seseorang tersebut akan melaksanakan tugasnya sebagai pegawai dimana ia bekerja dengan penuh rasa ta nggu ngjawa b. Motivasi merupakan kegiatan yang mengakibatkan. Sumber Data Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah subjek dimana data dapat diperoleh (Arikunto. Manajer perlu memahami orang-orang berperilaku tertentu agar dapat mempengaruhinya untuk bekerja sesuai dengan yang diinginkan organisasi. Tujuan pimpinan adalah memberikan dorongan kepada pegawainya agar bisa bekerja sesuai dengan tujuan yang diharapkan oleh organisasi. Untuk meningkatkan produktifitas yang tinggi perlu adanya motivasi kerja dari para karyawan. menyalurkan. karena banyak kendalakendala yang dihadapi dalam memberikan motivasi kerja pegawai. 2001 : 6). karena motivasi adalah suatu kekuatan potensial yang ada dalam diri seorang manusia.

Data yang sudah dikumpulkan akan dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif. sehingga diharapkan tujuan perusahaan dan individu dapat tercapai. Untuk meningkatkan motivasi kerja pimpinan harus mengetahui apa yang diinginkan pegawai agar pegawai dapattermotivasi untuk bekerja lebih giat dan mencapai prestasi kerja yang tinggi. buku-buku. Dengan adanya promosi ini pegawai diharapkan dapat bersemangat dan bergairah untuk mencapai prestasi yang diharapkan. 3. Latar belakang pegawai yang berbeda-beda sehingga para pegawai memiliki karakter dan 202 . kebijakan administrasi perusahaan dan hubungan antar pribadi. Faktor motivasi yang berasal dari luar yaitu gaji. c. b.metode pengumpulan data dengan cara membaca serta mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan tema penulisan Tugas Akhir ini. Pemberian promosi bagi pegawai yang berprestasi. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai peningkatan motivasi kerja pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Pemberian motivasi kepada pegawai sangat berpengeruh terhadap produktivitas kerja yang tinggi. Metode pengumpulan data Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan beberapa cara sebagai berikut : 1. 2. surat kabar. Arikunto. Sedangkan faktor yang berasal dari dalam diri pegawai yaitu prestasi kerja. Dokumentasi Adalah data yang diperoleh dengan cara mengumpulkan data -data yang disediakan oleh instansi. Observasi Dalam penelitian ini penulis mengumpulkan data dengan cara mengadakan observasi ke Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Kendala-kendala yang dihadapi dalam memberikan motivasi kerja kepada pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan: a. pengekuan dan taggung jawab terhadap pekerjaan. Upaya yang dilakukan dalam meningkatkan motivasi kerja pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah meliputi hal-hal sebagai berikut : a. pekerjaan itu sendiri. Yaitu dengan mencari data mengenai hal-hal atau variabel-variabel yang berupa catatan. Suharsimi (2002:236) Metode Analisis Data Untuk mencapai tujuan penelitian sesuai dengan yang diharapkan dalam penyusunan Tugas Akhir ini dan untuk diperoleh suatu kesimpulan maka data yang telah terkumpul akan dianalisis dengan mengamati mengenai diperlukannya sesuai kriteria halhal yang diperlukan dalam suatu penyajian. Diadakannya rapat pembinaan yang dihadiri oleh semua pegawai di Biro SDM dan Umum Seksi Pengelolaan Aset Perusahaan dan biasanya dilakukan 1 minggu sekali oleh pimpinan. adalah pembandingan antara teori dengan hasil penelitian tentang motivasi kerja pegawai pada Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. kondisi kerja yang nyaman. 2. Wawancara Dalam penelitian ini penulis mengumpulkan data dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung kepada pimpinan atau staf kantor pada Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. karena motivasi merupakan suatu keadaan dalam diri seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melaksanakan aktivitas yang sejalan dengan tujuan. majalah dan sebagainya. Kebutuhan dan keinginan tersebut biasanya dipengeruhi oleh beberapa faktor. 1. Diberikan bonus kepada karyawan yang berprestasi yang dapat melaksanakan penjualan melebihi target yang telah ditetapkan.

Bandung : Remaja Rosdakarya. Fun gsi-fungsi Manajerial. 2001. Pegawai memiliki kesadaran diri untuk meningkatkan prestasi kerja. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Pegawai memiliki semangat kerja yang tinggi dan loyalitas yang tinggi pula terhadap perusahaan. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rajawali Press. 2002. 2003. Organisasi dan Motivasi. Yogyakarta : BPFE. Agus. Yogyakarta : BPFE Winardi. Handoko. Yogyakarta : Graha Ilmu Umar. 2003. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. 203 . suharsimi. 1991. Organisasi dan Manajemen Sumber Daya Manusia. Manullang. Sadili. Jakarta : Murai Kencana. Manajemen Personalia. 1993. Jakarta : Bumi Aksara. . Manajemen Sumber Daya Manusia. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Bumi Aksara. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. 2001. Manajemen Prestasi Kerja. Widiatmono. Abdurrahmat. Hani. Sondang. 2004. Yogyakarta : BPFE. Teori Motivasi dan Aplikasinya. A. b. Jakarta : Salemba Empat. T. Stephen P. veithzal. Samsudin. Sulistyani. Rivai. Hasibua. Jakarta : PT. . 3. Mangkunegara. Jakarta : PT. tanpa harus selalu diawasi oleh pimpinan.kemampuan yang berbeda sesuai dengan bidang masing-masing. Perilaku Organisasi. Jakarta : Rineka Cipta. Jakarta : PT Raya Grafindo Persada. Prenhallindo. Riasto. P. 1996. 2002. Richard L. Anwar Prabu. Manajemen Sumber Daya Manusia. A. Kemampuan perusahaan terbatas dalam menyediakan fasilitas dan insentif untuk memenuhi kebutuhan pegawai. Rineka Cipta. 2006. 2005. Robins. c. Daft. 1996. Pegawai memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Manajeme Sumber Daya Perusahaan. 1994. Husein. Jakarta : Ghalia Indah. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan. 2006. Management. b. Melayu. 2003. Fathoni. Jakarta : PT. A. Dharma. Siagian. 2006. Manfaat motivasi kerja antara lain sebagai berikut : a. H. T dan rosidah. Manajemen Edisi Kedua. Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen. 2005. 2001. Bandung : Pustaka Setia. Riset Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi. . Jakarta : Rineka Cipta. Bumi Aksara. Manajemen Sumber Daya Manusia.

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK N I Punggelan Banjarnegara Tahun ajaran 2009/2010. dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses. Analisis data menggunakan analisis deskriptif persentase dan regresi berganda. karena prestasi belajar menunjukan hasil usaha yang dicapai siswa selama mereka melakukan kegiatan pembelajaran di sekolah yang pada umumnya ditunjukan dalam bentuk nilai. Faktor-Faktor apa saja yang mempengaruhi prestasi belajar Kewirausahaan pada siswa kelas XI di SMK N I Punggelan. Tinggi rendahnya nilai yang dicapai oleh siswa dipengaruhi oleh faktor intern dan faktor ekstern.193 .FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI BELAJAR KEWIRAUSAHAAN SISWA KELAS XI SMK N I PUNGGELAN BANJARNEGARA Ristian Cahyo Saputro Abstrak Prestasi belajar merupakan salah satu ukuran keberhasilan dalam belajar mengajar. yang diajarkan dari kelas X sampai kelas XII. yang nantinya akan terjun langsung di lapangan dengan kemampuan yang telah dibekali dari sekolah sesuai dengan jurusan yang mereka ambil. Banjarnegara? b.461 + 0. Sedangkan faktor ekstern adalah lingkungan sekolah. menurut Suryana (2006:2). mengetahui seberapa besar faktor intern dan ekstern berpengaruh baik secara parsial maupun secara simultan. minat. PENDAHULUAN 1.2 Rumusan Masalah a. lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat.1 Latar Belakan Masalah SMK Negeri I Punggelan merupakan salah satu dari sekian banyak SMK Negeri di Kabupaten Banjarnegara yang berusaha mencetak lulusan yang siap kerja dan siap bersaing dalam dunia kerja. dan pada kelas XII siswa-siswi tersebut diterjunkan langsung ke lapangan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapat. Permasalahan yang dikaji adalah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dan seberapa besar faktor tersebut mempengaruhi. Faktor intern yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu intelegensi. Kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar. Seberapa besar faktor-faktor tersebut mempengaruhi prestasi belajar pada siswa kelas XI di SMK N I Punggelan. dokumentasi. kuesioner. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor intern dan ekstern yang mempengaruhi prestasi belajar. Pengambilan data menggunakan teknik observasi. Sesuai dengan ketentuan kurikulum yang berlaku untuk mengukur keberhasilan pembelajaran yaitu dengan ditetapkannya batas minimum ketuntasan belajar untuk mata pelajaran kewirausahaan yaitu 6. Kewirausahaan merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di SMK N I Punggelan. Dengan demikian menunjukan bahwa ada pengaruh yang positif dan signifikan antara faktor internal dan eksternal terhadap prestasi belajar siswa dan ada pengaruh yang positif dan signifikan antara faktor eksternal terhadap prestasi belajar siswa sebesar. Atas dasar ketentuan ini diharapkan siswa dapat mencapai hasil yang optimal.0. Hasil penelitian diperoleh persamaan regresi Ŷ = 43. Materi yang disampaikan pada kelas X merupakan dasar-dasar dari ilmu kewirausahaan. 1. Kata kunci : Faktor internal. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jumlah populasi sebanyak 113 dengan menggunakan sampel sebanyak 57 siswa.182 + 0. Banjarnegara? 204 . bakat dan motivasi.faktor eksternal dan prestasi belajar 1. Bentuk keberhasilan pembelajaran di sekolah dapat dilihat dari prestasi belajar siswa. sedangkan pada kelas XI materi yang diajarkan merupakan isi dari ilmu kewirausahaan tersebut. kiat.

2005:62). Prestasi belajar siswa adalah hasil belajar yang dicapai siswa ketika mengikuti dan mengerjakan tugas dan kegiatan pembelajaran di sekolah. METODOLOGI PENELITIAN 3. pemahaman. baik fisik.1 Populasi Penelitian Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Suharsimi. minat. aplikasi. Kewirausahaan menurut Thomas W. bakat. jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih. sintesa dan evaluasi. c. Zimmerer (1996:51) (dalam Suryana. mendayagunakan semua potensi yang dimiliki. lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupan penelitian populasi.3 Tujuan a Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar kewirausahaan pada siswa kelas XI SMK N I Punggelan. demikian pula aspek-aspek kejiwaan seperti intelegensi. prestasi belajar siswa dapat dirumuskan sebagai berikut: a. Banjarnegara? b Untuk mengetahui seberapa besar faktor-faktor tersebut mempengaruhi prestasi belajar kewirausahaan pada siswa kelas XI SMK N I Punggelan.2 Sampel Penelitian Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK N I Punggelan Banjarnegara tahun pelajaran 2009/2010 yang terbagi dalam tiga kelas dengan jumlah siswa keseluruhan sebanyak 113 siswa. Semakin besar jumlah sampel mendekati populasi. lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil dan sebaliknya semakin kecil jumlah sampel menjauhi populasi. Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran. 3. Sedangkan menurut Suharsimi (2006:134) menyatakan: sampel apabila subyeknya kurang dari 100. Dalam penelitian ini digunakan teknik Simple Random Sampling. motivasi. LANDASAN TEORI Belajar adalah suatu usaha. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK N I Punggelan. Prestasi belajar siswa tersebut terutama dinilai aspek kognitifnya karena bersangkutan dengan kemampuan siswa dalam pengetahuan atau ingatan. dan sebagainya (Dalyono. dengan sistematis.2005 :57). analisis. 2006: 130). dimana pengambilan sampel dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu (Sugiyono. 1991:160). mental serta panca indera. Banjarnegara? 2. 2006:13) kewirausahaan merupakan proses penerapan kreatifitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan mencari peluang yang dihadapi setiap orang dalam setiap hari. Prestasi belajar siswa dibuktikan dengan ditunjukan melalui nilai atau angka nilai dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru terhadap tugas siswa dan ulangan-ulangan atau ujian yang ditempuhnya (Tu’u. maka semakin besar kesalahan generalisasi (Sugiyono. Perbuatan yang dilakukan secara sungguh-sungguh.1. Dalam pengambilan sampel untuk penelitian ini diasumsikan 205 . 2009:49). 3. b. otak dan anggota tubuh lainnya. Prestasi belajar merupakan suatu bukti keberhasilan usaha yang dicapai oleh seseorang setelah memperoleh pengalaman belajar atau mempelajari sesuatu (Winkel. Banjarnegara tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah 113 orang siswa yang tersebar dalam 3 kelas dari kelas XI Teknik Bodi Otomotif (TBO). 2004:75). Berdasarkan hal itu. XI Teknik Mekanik Otomotif (TMO)1. Berdasarkan uraian di atas maka sampel dalam penelitian ini diambil 50% dari tiap kelas. dan XI Teknik Mekanik Otomotif (TMO)2.

surat kabar.4. Lingkungan keluarga b. Variabel tersebut terdiri dari beberapa indikator yang sangat mendukung dan kemudian indikator tersebut dikembangkan menjadi instrumen (angket). Lingkungan masyarakat Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar 3. Berikut adalah tabel pengambilan sampel penelitian. 3. Sedangkan angket data yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket tertutup dimana jawabannya sudah tersedia. legger. Jadi sampel yang diambil tidak membedakan jenis kelamin siswa. Faktor Ekstern : a.1 Metode Analisis Deskriptif Persentase Metode analisis deskriptif persentase digunakan untuk mengkaji variabel faktor intern. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang: 1) Daftar jumlah siswa kelas XI SMK N I Punggelan Banjarnegara 2) Nilai rapor mata pelajaran kewirausahaan siswa kelas XI SMK N I Punggelan Banjarnegara 3) Data profil sekolah SMK N I Punggelan banjarnegara. transkrip.bahwa kemampuan belajar antara siswa laki-laki dan perempuan adalah sama.4. 3.5. Minat c. Lingkungan sekolah c. 3. sehingga responden (siswa kelas XI SMK N I Punggelan Banjarnegara) tinggal memilih alternatif jawaban yang sesuai keadaan sebenarnya. Bakat d.3 Variabel Penelitian Variabel penelitian merupakan gejala yang menjadi fokus peneliti untuk diamati (Sugiyono. prasasti. 2005:2). notulen rapat. 2006:231). Motivasi 2. faktor ekstern serta prestasi belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan. Variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Variabel bebas atau variabel independen: 1. agenda. buku. dan sebagainya (Suharsimi. Intelegensi b.5 Metode Analilsis Data 3. Faktor Intern : a.1 Metode Kuesioner/angket Metode kuesioner/angket adalah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (Suharsimi.2 Metode Dokumentasi Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai berbagai variabel berupa catatan.2006:225). 206 .4 Teknik Pengumpulan Data 3. Jadi kuesioner adalah pengumpulan informasi dengan cara mengedarkan daftar tertulis untuk dijawab secara tertulis pula oleh responden.

4. Dependent Variable: Hasil Belajar 5. maka dapat diambil suatu simpulan sebagai berikut : 1. Error of the Estimate 2.102 a. Besarnya pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap prestasi belajar kewirausahaan pada siswa kelas XI SMK N 1 Punggelan Banjarnegara tahun pelajaran 2009/2010.682a R Square . Mengenai guru yang dalam mengajar masih banyak menggunakan metode konvensional. Secara simultan besarnya pengaruh faktor internal dan faktor eksternal terhadap prestasi belajar siswa adalah 46.39770 F Change 23.000 a.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasannya.517 df1 2 df2 54 Sig.362 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar Kewirausahaan pada siswa kelas XI SMK N 1 Punggelan Banjarnegara tahun pelajaran 2009/2010 yaitu faktor internal yang terdiri atas intelegensi. sebaiknya pihak sekolah diharapkan untuk menambah jumlah buku paket dan buku literature yang ada di sekolah agar siswa mempunyai sumber belajar yang lengkap sehingga dapat memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. 2.446 Std.9 % dan faktor eksternal yaitu 19. Faktor Intern b. dan lain sebagainya yang membuat siswa lebih aktif dalam dalam proses pembelajaran mengingat materi kewirausahaan yang padat. Secara parsial besarnya pengaruh faktor internal terhadap prestasi belajar siswa adalah 26.000 . 2.609 Sig.000 .2 Saran Ada beberapa saran yang diajukan sehubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar kewirausahaan.377 t 11. Dependent Variable: Hasil Belajar b Model Summary Change Statistics Model 1 R .5%. F Change .461 3. 207 . minat. Mengenai alat/media pembelajaran yang terbatas.441 Collinearity Statistics Tolerance . lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. HASIL PENELITIAN a Coefficients Model 1 (Constant) Faktor Intern Faktor Ekstern Unstandardized Coefficients Std.102 1.459 3. group investigation. 5. PENUTUP 5.6%. .466 Adjusted R Square .466 . bakat.825 . saran yang diajukan : 1.908 VIF 1.041 . Faktor Ekstern. B Error 43. motivasi dan faktor eksternal yang terdiri atas lingkungan keluarga.182 .053 Standardized Coefficients Beta .519 .908 .193 .001 Correlations Partial . Predictors: (Constant). sebaiknya guru pada waktu mengajar untuk lebih kreatif dalam menggunakan metode mengajar seperti metode jigsaw. mind mapin.

Bandung: Alfabeta. Semarang. Semarang: Universitas Diponegoro. 2004. 2008. Arikunto. Syaiful Bahri. Jakarta: Salemba Empat Susanti. Siti. Pedoman Penulisan Skripsi. Statistika Untuk Penelitian. Penguasaan Mata Pelajaran Produktif Administrasi Perkantoran dan Fasilitas Belajar Terhadap Kesiapan Kerja Siswa Kelas XI Prodi Administrasi Perkantoran di SMK N 1 Kendal Kabupaten Kendal Tahun Ajaran 2009/2010. Thursan. 2005. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. 2003. DAFTAR PUSTAKA Anni. Jakarta: Rineka Cipta. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Psikologi Pendidikan dan Evaluai Belajar. 2005. Dalyono. 2007. Semarang : UPT MKK UNNES Press Ghozali. Imam. Djamarah. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa. Kewirausahaan. W. 2005.M. Suryana. Jakarta: Rineka Cipta. Tulus. Universitas Negeri Semarang. Psikologi Belajar. 2004. Semarang: UPT Unnes Press. Tu’u. Pengaruh Pendidikan Sistem Ganda. Fakultas Ekonomi. _________________ 2006. Jakarta: PT Grasindo.S. 2009. 2009.Suharsimi. 2010. Sardiman. Slameto. Aplikasi Analisis Multi Variat dengan Program SPSS. Sugiyono. Jakarta: PT raja Grafindo Persada. Winkel. Psikologi Pendidikan. Oemar. 2007. 2009. 2006. Hakim.Catarina Tri. 2003. UPT Unnes Press. Jakarta: Puspa Suara. Jakarta: Rineka Cipta.Selain itu juga diharapkan guru untuk memanfaat media yang ada dalam setiap pertemuan dengan optimal guna mendukung kelancaran proses pembelajaran. Jakarta: Gramedia. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. 208 . Belajar Secara Efektif. Sosiologi Pemdidikan. Skripsi. Ahmadi. Jakarta: Bumi Aksara.dkk. Abu. A. Proses Belajar Mengajar. M. Psikologi Belajar: Jakarta: PT Rineka Cipta. Hamalik. 2006.

KeahlianAdministrasi 1.69% dan minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran sebesar 21.572 dimana ttabel 1. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa thitung > ttabel ini berarti secara parsial variabel keterlibatan orang tua dan minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal. yaitu: konsep diri orang tua dan anak akan 209 . Dengan demikian variabel minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran adalah varibel yang paling berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif persentase dan analisis regresi berganda.987. orang tua sebagai anggota tim kerjasama guru-orang tua. Prestasi Belajar. Minat Siswa Memilih Program Perkantoran. dan dari variabel keterlibatan orang tua dan minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa secara parsial keterlibatan orang tua dan minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal.448 minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran sebesar 3.com Abstrak Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yaitu. orang tua pembuat keputusan. Populasi dalam penelitian ini adalah siswi-siswi kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah 120 siswi. Jurusan Manajemen. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang. Pendahuluan Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dan berasal dari luar diri siswa (ekstern) salah satunya adalah keterlibatan orang tua dalam meningkatkan prestasi belajar anaknya. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa secara parsial thitung variabel keterlibatan orang tua sebesar 3. koesioner dan dokumentasi. Sumbangan efektif yang diberikan untuk keterlibatan orang tua sebesar 11. Karena populasi lebih dari 100 orang maka menggunakan teknik proportional random sampling. orang tua adalah mitra kerja yaitu: orang tua sebagai pelajar. Kata Kunci : Keterlibatan Orang Tua. “Seringkali orang tua berpandangan bahwa sekolah adalah satu-satunya lembaga yang mampu mencetak manusia-manusia berkualitas dan berprestasi” (Rushdie dan Nurlaela Isnawati. bagaimana pengaruh keterlibatan orang tua dan pengaruh minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran terhadap prestasi belajar siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran.62%. Ada tiga hal yang penting apabila orang tua dan pihak sekolah dapat menjalin kerja sama. orang tua sebagai relawan. variabel manakah yang paling berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal.Teknik pengumpulan data menggunakan observasi. Email: sleepy_freaky@ymail. 2009:42). Orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya.PENGARUH KETERLIBATAN ORANG TUA DAN MINAT SISWA MEMILIH PROGRAM KEAHLIAN ADMINISTRASI PERKANTORAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA DIKLAT PRODUKTIF SISWA KELAS XI PROGRAM KEAHLIAN ADMINISTRASI PERKANTORAN SMK NEGERI 1 DUKUHTURI KABUPATEN TEGAL Silfia Rizqi Amalia (Universitas Negeri Semarang) Sarjana Pendidikan Ekonomi. Apabila anak telah masuk sekolah.

Pemasaran. tetapi juga diimplempentasikan melalui partisipasi aktif dalam suatu kegiatan. Anak didik yang berminat terhadap sesuatu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap sesuatu yang diminati itu dan sama sekali tak menghiraukan sesuatu yang lain. sebagai berikut: Tabel 1.meningkat. dapat dilihat dari banyaknya jumlah calon siswa yang mendaftar di SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal. Adakah pengaruh minat siswa memilih Program Keahlian Administrasi Perkantoran terhadap prestasi belajar mata diklatproduktif siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal? 3. Permasalahan Berdasarkan latar belakang tersebut di atas.5% siswa belum memenuhi kriteria tuntas. penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul: “PENGARUH KETERLIBATAN ORANG TUA DAN MINAT SISWA MEMILIH PROGRAM KEAHLIAN ADMINISTRASI PERKANTORAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA DIKLATPRODUKTIF SISWA KELAS XI PROGRAM KEAHLIAN ADMINISTRASI PERKANTORAN SMK NEGERI 1 DUKUHTURI KABUPATEN TEGAL”.1 Prestasi belajar siswa No Kelas Tuntas % Belum % Jumlah Tuntas 1 XI AP 1 25 62. Adapun hasil prestasi belajar siswa mata diklat produktif. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan informasi dari guru mata diklat dan guru BK sendiri untuk keterlibatan orang tua dalam urusan pendidikan anaknya cukup tinggi dan orang tua selalu peduli dan tidak sepenuhnya beranggapan bahwa sekolah adalah satu-satunya lembaga yang bertanggung jawab memberikan yang terbaik untuk anaknya . Minat merupakan hal yang sangat penting dan sebaiknya jurusan yang dipilih benar-benar sesuai dengan minat siswa. minat tidak hanya diekspresikan melalui pernyataan yang menunjukkan bahwa anak didik lebih menyukai sesuatu dari pada yang lainnya. Dari data tersebut diperoleh gambaran mengenai prestasi belajar mata diklat produktif Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi kabupaten Tegal. Adakah pengaruh keterlibatan orang tua terhadap prestasi belajar mata diklatproduktif siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal? 2. Atas dasar pemikiran di atas. dan Administrasi Perkantoran. dan prestasi yang dicapai akan meningkat pula (Soemiarti Padmonodewo. Sedangkan minat siswa untuk memilih program keahlian administrasi perkantoran di SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal boleh dikatakan tinggi. karena diharapkan hasil belajar yang dicapai akan lebih baik. Dengan adanya minat yang tinggi siswa dapat mencapai prestasi yang lebih baik akan tetapi pada kenyataanya masih ada nilai siswa dibawah standar kelulusan yakni dibawah nilai 70.5% siswa memenuhi kriteria tuntas dan sebanyak 37. perhatian dan akan menumbuhkan sikap positif terhadap mata diklatproduktif administrasi perkantoran.Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa sebanyak 62.5% 15 37. diolah. Siswa yang memiliki minat yang tinggi terhadap program keahlian administrasi perkantoran cenderung akan merasa senang. Keadaan yang demikian terjadi juga di SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal. maka dapat dirumuskan permasalahan antara lain sebagai berikut : 1. motivasi belajar anak meningkat.5% 40 2 XI AP 2 28 70% 12 30% 40 3 XI AP 3 22 55% 18 45% 40 Sumber : Data SMK N 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal. 2003:123-124). Sekolah tersebut memiliki tiga Program Keahlian yaitu Akuntansi. Adakah pengaruh keterlibatan orang tua dan minat siswa memilih Program Keahlian Administrasi Perkantoran terhadap prestasi belajar mata diklatproduktif siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal? 210 . Sedangkan salah satu faktor yang berasal dari dalam diri siswa (intern) adalah minat siswa memilih Program Keahlian Administrasi Perkantoran.

anak-anaknya. Siswa menunjukkan bukti-bukti keberhasilan usaha yang dicapai siswa selama mereka belajar dan biasanya diwujudkan dalam bentuk atau simbol lain yang merupakan pencerminan kemampuan siswa dalam mempelajari suatu pelajaran. Semakin kuat dan dekat hubungan tersebut. anak dan program sekolah semuanya merupakan bagian dari suatu proses. 3) Orientasi pada perkembangan Orientasi ini membantu para orang tua untuk mengembangkan ketrampilan yang berguna bagi mereka sendiri. dan program yang dijalankan anak itu sendiri. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh antara minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran terhadap prestasi belajar mata diklatproduktif siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal. Bukti Empiris Prestasi belajar menurut Tulus Tu’u (2004:75) adalah : hasil yang dicapai seseorang ketika mengerjakan tugas atau kegiatan tertentu. 3. melakukan monitoring. Bentuk partisipasi lain yang masih termasuk orientasi pada tugas adalah. sedangkan pendidik anak harus bekerja sama dengan orang tua apabila ingin berhasil. karena sekolah sering kali menganggap bahwa umumnya orang tua tidak memiliki ketrampilan untuk melaksanakannya. Menurut Morrison dalam Soemiarti (2003:125) tiga kemungkinan keterlibatan orang tua. tanpa menyuruh. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh antara keterlibatan orang tua terhadap prestasi belajar mata diklatproduktif siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal. guru. staf administrasi. guna keuntungan mereka sendiri. semakin besar minat”. memilih buku yang diperlukan untuk sekolah. yaitu : 1) Orientasi pada tugas Orientasi ini paling sering dilakukan oleh pihak sekolah. 2. membantu mengawasi anak apabila anak-anak melakukan kunjungan luar. Minat menurut Slameto (2003:180) adalah “suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas. Bentuk partisipasi para orang tua yang tersebut adalah yang biasanya diharapkan para guru. antara lain perencanaan kurikulum. fokus pada interaksi orang tua/anak/keluarga adalah orang tua. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh antara keterlibatan orang tua dan minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran terhadap prestasi belajar mata diklatproduktif siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal. membantu mengumpulkan dana. 3. Orientasi proses ini jarang dilaksanakan. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri. sebagai tutor. Namun. maka penelitian memiliki tujuan sebagai berikut : 1. anakanaknya. Orang tua.Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah. sekolah. 2. orang tua membantu anak dalam tugastugas sekolah. Prestasi belajar adalah hasil belajar yang di capai siswa ketika mengikuti dan mengerjakan tugas serta kegiatan pembelajaran di sekolah. Menurut Morrison dalam Soemiarti (2003:124-125) keterlibatan orang tua yaitu :suatu proses di mana orang tua menggunakan segala kemampuan mereka. yaitu keterlibatan dalam membantu program sekolah. yang berkaitan sebagai staf pengajar. 2) Orientasi pada proses Partisipasi orang tua didorong untuk mau berpartisipasi dalam kegiatan yang berhubungan dengan proses pendidikan. dan pada waktu bersamaan meningkatkan keterlibat orang tua. seleksi guru dan membantu menentukkan standar tingkah laku yang diharapkan. Metodologi 211 . keluarga.

Skor tersebut terdiri dari: 6.001 .032 .339 Coefficients Beta t 10. 2. Error . Ada pengaruh minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran terhadap prestasi belajar mata diklat produktif pada siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal. Sedangkan penelitian ini menggunaka teknik sampling yang digunakan yaitu proportional random sampling. Dependent Variable: Y B 4. Skor 2 untuk jawaban Tidak setuju (TS) 10. Ada pengaruh keterlibatan orang tua terhadap prestasi belajar mata diklat produktif pada siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal.173 Collinearity Statistics Tolerance VIF 5. Setuju (S). Kurang Setuju (KS).033 Std.000 . Tidak Setuju (TS). Ada pengaruh keterlibatan orang tua dan minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran terhadap prestasi belajar mata diklat produktif pada siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal.852 1. Dari kelima jawaban tersebut masing-masing memiliki skor yang akan menentukan apakah jawaban dari pernyataan tentang variabel-variabel penelitian terebut tinggi atau tidak. Sangat Tidak Setuju (STS). Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang ada di bab IV maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Jika minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran tinggi maka prestasi belajar siswa akan meningkat.260 3. Skor 5 untuk jawaban Sangat Setuju (SS) 7.009 . Skor 1 untuk jawaban Sangat tidak Setuju (STS) 4.448 3. 2008: 275) Angket/kuesioner yang digunakan menggunakan pendekatan skala likert dimana setiap pernyataan dalam angket memiliki lima alternatif jawaban yaitu Sangat Setuju (SS). 212 . Jika keterlibatan orang tua baik dan minat siswa memilih program keahlian administrasi perkantoran tinggi maka prestasi belajar siswa akan meningkat.387 .009 .327 .572 Sig.173 1. Skor 3 untuk jawaban Kurang Setuju (KS) 9.001 .852 . Skor 4 untuk jawaban Setuju (S) 8. Analisis regresi yang dipergunakan menggunakan rumus: Y = a + b1X1 + b2X2 Keterangan: Y = variabel terikat (prestasi belajar siswa) a = konstanta b1 = Nilai Koefisien variabel bebas X1 b2 = Nilai Koefisien Variabel bebas X2 (Sugiyono. Hasil Empiris Coefficients a Standardized Unstandardized Coefficients Model 1 (Constant) X1 X2 a. .428 . 3.Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal tahun ajaran 2009/2010. Jika keterlibatan orang tua baik maka prestasi belajar siswa akan meningkat.

2003. Slameto. Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa. Jakarta: PT. Dalam journal college teaching methods & styles journal. 2005. interest in schooling and science achievement of junior secondary school student in ogun state. Semarang: Unnes. Jakarta: Rineka Cipta. Semarang: Unnes. 2003. Jogjakarta:Garailmu. Rineka Cipta. Bandung: Alfabeta. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Tulus. Membuat Anak Anda Jadi Murid Berprestasi. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Olatoye. Soemiarti. Yahaya azizi. Psikologi Pendidikan. Volume 4. Rushdie. Muhammad. Suharsimi. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Relationship between self concepts. Journal of education research. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Siswa Kelas III SMA N I Wonogiri dalam Memilih Perguruan Tinggi. Tu’u. Jakarta: Bumi Aksara. Cipta. Nigeria: Olab isi Onabanjo University. Kualitatif dan R&D. Jakarta: Grasindo. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Chatharina Tri. 2006. Psikologi Pendidikan. number 8. The Liang. and parenting styles effected student achievement. Nordin Kamaliah. Psikologi Belajar. 2 Agustus 2003 halaman 106-111. Skripsi.6. Rachman. Pendidikan Anak Prasekolah. 2003. Jakarta: PT. Jurnal Edukasi Volume 4 No. 2008. Ginting. Jakarta: Rineka Cipta. Anni. 213 .A. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. 2006. Kiat Belajar di Perguruan Tinggi. Abd. Arikunto. Nurlaela Isnawati. 2008. Depdikbud. 2009. Minat Memilih Program Studi dengan Prestasi Belajar dalam Mata Pelajaran Pilihan. 1995. Aziz. Imam. 2008. motivation. Cara Belajar Yang Efisien. Sugiyono. Jakarta: Grasindo. Cipta Jaya. Sappe. Yogyakarta: Liberty. Yogyakarta: Tiara Wacana. 2006. Jakarta: BP. Gie. 2007. University Technology Malaysia. Asdi Mahasatya. 2009. Daftar Pustaka Abror. 2003.” Parental involvement. Strategi Penelitian. 2009. 2008. Witami. 2004. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Syaiful Bahri. Djaali. Patmonodewo. Ghozali. Nigeria “. Djamarah. Ali. R. Psikologi Belajar. 1993. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

4% dan 19. Dari data penelusuran kelulusan tersebut memberikan gambaran bagaimana tingkat kesiapan kerja siswa pada tahun sebelumnya.034 < 0.305 dengan nilai signifikansi 0. Fasilitas Belajar (X3) serta variabel terikat yaitu Kesiapan Kerja (Y). Fakultas Ekonomi. Sarjana Pendidikan. penguasaan mata pelajaran produktif administrasi perkantoran dan fasilitas belajar terhadap kesiapan kerja. Berdasarkan penulusuran lulusan SMK N 1 Kendal belum seluruhnya memasuki dunia kerja terlihat dari data yang diperoleh kelulusan SMK N 1 Kendal prodi administrasi perkantoran tahun 2008/2009. Penguasaan Mata Pelajaran Produktif Administrasi Perkantoran dan Fasilitas Belajar Terhadap Kesiapan Kerja Siswa Kelas XI Prodi Administrasi Perkantoran di SMK N 1 Kendal kabupaten Kendal Tahun Ajaran 2009/2010 Oleh : Siti Susanti. Belajar 1. thitung = 4.000 < 0.448 dengan nilai signifikansi antara 0. Email : susan_chement@yahoo. Penguasaan Mata Pelajaran Produktif Administrasi Perkantoran (X2).05 hal ini berari ada pengaruh secara signifikan antara X3 terhadap Y.05 hal ini berarti ada pengaruh secara signifikan antara X2 terhadap Y. Dapat diketahui belum semua lulusan SMK N 1 Kendal setelah lulus mempunyai 214 . Jurusan Manajemen. S.002 < 0.701X2 + 0. Dari data penelusuran kelulusan tahun 2008/2009 ada keterkaitan dengan kesiapan kerja mengenai seberapa banyak lulusan dari SMK yang diserap di dunia usaha/dunia industri. Pendahuluan 1. 22. lembaga pendidikan merupakan pihak yang bertanggung jawab menciptakan dan menyuplai tenaga kerja bagi industri.2% melanjutkan ke perguruan tinggi. Untuk mencapai tujuan tersebut SMK N 1 Kendal bekerjasama dengan institusi pasangan mengadakan program pendidikan sistem ganda. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskripsi persentase dan regresi linier berganda.105X 1 + 0. thitung = 2. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI prodi administrasi perkantoran dengan jumlah siswa 41 orang. penelitian ini disebut penelitian populasi.Pd.000 < 0.877 dengan nilai signifikansi = 0. Penguasaan Mata Pelajaran Produktif. Dilihat dari pola hubungan antara organisasi bisnis dan lembaga pendidikan.05 yang berarti secara simultan ada pengaruh positif dan signifikan antara pendidikan sistem ganda.Pengaruh Pendidikan Sistem Ganda.1 Latar Belakang Tujuan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pada hakekatnya adalah mempersiapkan siswa untuk memasuki dunia kerja sebagai tenaga kerja tingkat menengah. didapat sebanyak 50% bekerja. penguasaan mata pelajaran produktif administrasi perkantoran dan fasilitas belajar terhadap kesiapan kerja siswa kelas XI prodi administrasi perkantoran di SMK N 1 Kendal kabupaten Kendal tahun ajaran 2009/2010 baik secara parsial maupun simultan. 2008: 20). Kata Kunci: Pendidikan Sistem Ganda.05 hal ini berarti ada pengaruh secara signifikan antara X1 terhadap Y. Wiraswasta 8.201 dengan nilai signifikansi antara 0. mata pelajaran produktif diberikan untuk menambah keterampilan siswa dan ditunjang fasilitas belajar untuk memperlancar dalam kegiatan belajar. Diperoleh persamaan regresi linier berganda Y= 1. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu pendidikan sistem ganda (X1). karena itu lembaga pendidikan dituntut memberikan sumber daya manusia yang sesuai permintaan dan kebutuhan industri (Rimsky. Uji keberartian persamaan regresi dengan uji F diperoleh F hitung = 15. Fasilitas dan Kesiapan Kerja.com. Universitas Negeri Semarang.207 + 0. Hasil uji parsial diperoleh t hitung = 3. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode kuesioner (angket) dan dokumentasi. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara pendidikan sistem ganda.093X3.4% masih dalam menunggu.

kesiapan kerja yang sama untuk memasuki dunia kerja. 1996: 16) mengulas pengertian pendidikan sistem ganda. sebagai berikut: Sistem ganda adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan kejuruan yang memadukan secara sistematis dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung pada bidang pekerjaan yang relevan. Menurut Soewani dan Sulaiman (dalam wena. Ingin mengetahui pengaruh fasilitas belajar terhadap kesiapan kerja siswa kelas XI prodi administrasi perkantoran di SMK N 1 Kendal kabupaten Kendal tahun ajaran 2009/2010? 4. Memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan. b. Memperoleh link and mach antara sekolah dengan dunia kerja. maka penelitian memiliki tujuan sebagai berikut : 1. Adakah pengaruh pendidikan sistem ganda. terarah untuk mencapai penguasaan kemampuan keahlian tertentu. d. 1996: 76) tujuan penyelenggaraan pendidikan sistem ganda adalah: a. Adakah pengaruh pendidikan sistem ganda terhadap kesiapan kerja siswa kelas XI prodi administrasi perkantoran di SMK N 1 Kendal kabupaten Kendal tahun ajaran 2009/2010? 5.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut di atas.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah.1 Pendidikan Sistem Ganda Menurut pakpahan (dalam wena. penguasaan mata pelajaran produktif administrasi perkantoran dan fasilitas belajar terhadap kesiapan kerja siswa kelas XI prodi administrasi perkantoran di SMK N 1 Kendal kabupaten Kendal tahun ajaran 2009/2010? 2. Adakah pengaruh fasilitas belajar terhadap kesiapan kerja siwa kelas XI prodi administrasi perkantoran di SMK N I Kendal Kabupaten Kendal tahun ajaran 2009/2010? 7. Ingin mengetahui pengaruh pendidikan sistem ganda. maka dapat dirumuskan permasalahan antara lain sebagai berikut : 4. Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang berkualitas dan professional. Landasan Teori 2. Ingin mengetahui pengaruh pendidikan sistem ganda terhadap kesiapan kerja siswa kelas XI prodi administrasi perkantoran di SMK N 1 Kendal kabupaten Kendal tahun ajaran 2009/2010? 2. penguasaan mata pelajaran produktif administrasi perkantoran dan fasilitas belajar terhadap kesiapan kerja siswa kelas XI prodi administrasi perkantoran di SMK N I Kendal kabupaten Kendal tahun ajaran 2009/2010? 1. Adakah pengaruh penguasaan mata pelajaran produktif administrasi perkantoran terhadap kesiapan kerja siswa kelas XI prodi administrasi perkantoran di SMK N 1 Kendal kabupaten Kendal tahun ajaran 2009/2010? 6. 215 . Ingin mengetahui pengaruh penguasaan mata pelajaran produktif administrasi perkantoran terhadap kesiapan kerja siswa kelas XI prodi administrasi perkantoran di SMK N 1 Kendal kabupaten Kendal tahun ajaran 2009/2010? 3. dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja. Perbedaan kesiapan siswa itu berasal dari berbagai faktor yang mempengaruhi kesiapan kerja. meskipun dalam satu program studi dan memperoleh perlakuan yang sama di sekolah tersebut. Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional dengan tingkat pengetahuan. 1. c. keterampilan.

berarti bekerja. 216 . Menangani surat/dokumen surat k. 3. Surat menyurat bahasa inggris. dapat disimpulkan bahwa fasilitas adalah segala sesuatu yang dapat memperlancar kegiatan. Untuk Sekolah menengah Kejuruan fasilitas belajar yang sesuai dengan standar Mendiknas mengenai standar sarana dan prasarana sekolah menengah kejuruan sekurang-kurangnya memiliki prasarana yang dikelompokkan dalam ruang pembelajaran umum.3 Fasilitas Belajar Fasilitas adalah sarana dan prasarana. 2. Menurut Kurikulum SMK. ruang penunjang. 2003: 113). kesehatan kerja dan lingkungan hidup (K3LH) e.4 Kesiapan Kerja Kesiapan adalah seluruh kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberi respons atau jawaban di dalam cara tertentu terhadap suatu situasi (Slameto. Membuat dokumen i. Menurut Djaali (2009: 113) bekerja mengandung arti melaksanakan suatu tugas yang diakhiri dengan buah karya. Sedangkan prasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan proses pendidikan di sekolah. Ruang lingkup mata pelajaran produktif administrasi perkantoran kelas X sampai kelas XI meliputi: a. Mengelola pertemuan rapat m. Mengelola data/informasi di tempat kerja o. Jadi. Mengelola peralatan kantor g. Mengaplikasikan keterampilan dasar komunikasi c. Pengalamanpengalaman mempunyai pengaruh yang positif terhadap kesiapan. 2. Semua aspek perkembangan berinteraksi (saling pengaruh mempengaruhi). Mengoperasikan aplikasi perangkat lunak f. Kematangan jasmani dan rohani adalah perlu untuk memperoleh manfaat dari pengalaman. dengan demikian mereka yang menukarkan kegiatan fisik atau kegiatan otak dengan sarana kebutuhan untuk hidup.2. Menurut May Smith dalam Panji (2006:12) tujuan dari kerja adalah untuk hidup. Memberikan pelayanan kepada pelanggan j. Menerapkan keselamatan. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kesiapan kerja berarti seluruh kondisi seseorang yang siap memberikan respon terhadap tugas yang dikerjakan untuk menghasilkan buah karya. dan ruang pembelajaran khusus.2 Penguasaan Mata Pelajaran produktif Administrasi perkantoran Menurut Wena (1996: 31) Komponen produktif yaitu bekal kemampuan keahlian tertentu untuk bekal bekerja. Mengelola sistem kearsipan l. Memahami prinsip–prinsip penyelenggaraan administrasi perkantoran b. Mengelola dana kas kecil n. 2. Program produktif adalah kelompok mata diklat yang berfungsi membekali peseta didik agar memiliki kompetensi kerja sesuai standar kompetensi kerja nasional indonesia (SKKNI). Menerapkan prinsip-prinsip kerjasama dengan kolega dan pelanggan d. Melakukan prosedur administrasi h. bahan dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah. Menurut Bafadal (2003: 2) Sarana pendidikan adalah semua perangkat peralatan. Mengaplikasikan administrasi perkantoran di tempat kerja p. Menurut Slameto (2003: 115) prinsip-prinsip kesiapan adalah: 1.

Penguasaan Mata Pelajaran Produktif Administrasi Perkantoran (X2). Fasilitas belajar (X3). menggunakan skala likert dengan 5 alternatif jawaban yaitu Sangat Setuju (SS) skor 5. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Kesiapan kerja siswa yaitu kesiapan untuk menghadapi dunia kerja. Pendidikan sistem ganda (X1).4. Prasarana Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat. Keterampilan. 3. Metodologi Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian populasi secara keseluruhan berjumlah 41 orang Siswa Kelas XI prodi administrasi perkantoran. 217 . Kurang Setuju (KS) skor 3. Setuju (S) skor 4. indikatornya: a. mental dan emosional c. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat) (Sugiyono. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah: 1. motif dan tujuan d. Kebutuhan-kebutuhan. Sarana b. Kecepatan unjuk kerja siswa dalam mengerjakan suatu tugas c. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh antara variabel independen dengan variabel dependen. 2007: 275). Kondisi fisik. dan pengertian yang lain yang telah dipelajari. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari empat variabel yaitu tiga variabel bebas dan satu variabel terikat. karena adanya variabel bebas. Kesiapan dasar untuk kegiatan tertentu terbentuk dalam peride tertentu selama masa pembentukan dalam masa perkembangan. Kuantitas dan kualitas hasil kerja siswa d. Sangat Tidak Setuju (STS) skor 1. Tingkat alih belajar e. 2008: 39). Personalia g. pengetahuan. Sumber belajar yang dipakai 2. indikatornya: Nilai ulangan semester rata-rata mata pelajaran produktif administrasi perkantoran program keahlian administrasi perkantoran kelas XI dari semester 1 sampai 3. Kecermatan siswa dalam menguasai suatu keterampilan b. Tidak Setuju (TS) skor 2. Waktu f. indikatornya: a. Indikatornya meliputi : b. 3. yaitu Pendidikan Sistem ganda (X1). Pengumpulan data yang digunakan menggunakan data primer yaitu menggunakan metode dekomentasi dan metode angket yang diberikan langsung kepada siswa sebagai responden. Penguasaan Mata Pelajaran Produktif (X2) dan Fasilitas Belajar (X3) terhadap Kesiapan Kerja Siswa (Y) Analisis regresi yang dipergunakan menggunakan rumus: Keterangan: Y = Variabel terikat (kesiapan kerja siswa) a = Konstanta b1 = Nilai koefisien variabel bebas X1 b2 = Nilai koefisien variabel bebas X2 b3 = Nilai koefisien variabel bebas X3 (Sugiyono.

093 . Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara pendidikan sistem ganda.340 Part .207 = Konstanta X1 = Pendidikan Sistem Ganda X2 = Penguasaan Mata Pelajaran Produktif AP X3 = Fasilitas Belajar 5.105 . saran yang dapat diajukan 1. Hasil dan Pembahasan a Coefficients Model 1 (Constant) X1 X2 X3 Unstandardized Coefficients B Std.042 Standardized Coefficients Beta .093X3 Keterangan: Y = Kesiapan Kerja 1. Sehingga ketidaksesuaianpun tidak terjadi lagi.359 .034 Zero-order . 5.000 . Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara penguasaan mata pelajaran produktif administrasi perkantoran terhadap kesiapan kerja.207 + 0.977 .500 .483 .454 . Penutup 5. 2.305 4. antara lain: 1.207 11.448 2.4.070 1.054 a. Pihak sekolahpun hendaknya dalam menggunakan sumber belajar yang dipakai harus disesuaikan dengan perkembangan ilmu 218 .948 1.590 .201 Sig.477 .935 . 2. Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara pendidikan sistem ganda terhadap kesiapan kerja.879 .239 Collinearity Statistics Tolerance VIF .385 Correlations Partial . 4.002 .607 . oleh karena itu sekolah diharapkan dapat menyediakan ruang pembelajaran khusus yang sesuai dengan standar sarana dan prasarana sekolah menengah kejuruan sehingga siswa sudah terbiasa untuk mengoperasikan peralatan-peralatan kantor yang telah terstandar.158 .701X2 + 0.102 3.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dapat diambil beberapa simpulan.032 . Error 1. . penguasaan mata pelajaran produktif administrasi perkantoran dan fasilitas belajar terhadap kesiapan kerja.105X1 + 0. penguasaan mata pelajaran produktif administrasi perkantoran dan fasilitas belajar terhadap kesiapan kerja. Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara fasilitas belajar terhadap kesiapan kerja. untuk itu diharapkan sebelum pelaksanaan praktek dilaksanakan dari pihak DU/DI ada keterbukaan tentang tugas apa yang akan dilaksanakan selama siswa praktik.701 . Dependent Variable: Y Berdasarkan perhitungan analisis regresi linier yang dilakukan melalui analisis statistik dengan menggunakan program SPSS versi 12 maka diperoleh persamaan regresi linier sebagai berikut: Y = 1.246 t .920 .023 1. Pada saat pelaksanaan pendidikan sistem ganda sebagian kecil siswa mengeluhkan bahwa apa yang mereka kerjakan belum sesuai dengan keterampilannya.363 .2 Saran Ada beberapa saran yang diajukan sehubungan dengan pengaruh pendidikan sistem ganda. 3. Dari hasil penelitian dapat diketahui masih terdapat kekurangan fasilitas belajar berupa ruang pembelajaran khusus.

Jakarta: Rineka Cipta. 2006. Meda. Judisseno. Slameto. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Dasar-Dasar Kependidikan. Rimsky K. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Ihsan. Arikunto. Wena. Bafadal. Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejurun (SMK/MAK). Depdiknas. Jakarta: Citra Utama Media. . Statistika untuk Penelitian. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Ibrahim. Bandung: Tarsito. Kendal: SMK press. 1996. Semarang: Badan penerbit Universitas Diponegoro. Imam. Bandung: Alfabeta. 1997. 2007. 2008.pengetahuan misalnya menggunakan buku-buku terbitan baru dan penggunaan akses internet yang ada di sekolah lebih dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. 2006. 2008. 2009. Bandung: Alfabeta. Jakarta: Rineka Cipta. 2003. Djaali. 219 . Pendidikan Sistem Ganda. Fuad. Suharsimi. Ghozali. 2009. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek. Sugiyono. Jakarta: Bumi Aksara. Jadilah Pribadi Yang Kompeten di Tempat Kerja. 2009. Kualitatif dan R&D. Psikologi Kerja. DAFTAR PUSTAKA Anoraga. 2008. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Rineka Cipta. Psikologi pendidikan. Kurikulum SMK N 1 Kendal. 2004. Pandji. Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori Dan Aplikasinya. Aplikasi Analisis Multivariate dengan program SPSS. Mendiknas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful