BAB I ILMU HUKUM SEBAGAI ILMU SUIGENERIS

1. Ilmu hukum yang suigeneris Ilmu hukum adalah ilmu yang memiliki kepribadian yang khas (sui generis). Ciri ilmu hukum sebagai sui generis : karakter normatif ilmu hukum, Terminologi ilmu hukum, Jenis ilmu hukum, Lapisan ilmu hukum. Dari sudut kualitas sulit dikelompokkan dalam Ilmu Pengetahuan Alam atau dalam Ilmu Pengetahuan Sosial. Pengelompokan yang kurang tepat bagi Ilmu Hukum ke dalam Ilmu Pengetahuan Sosial mempunyai pengaruh di bidang akademis. Gelar yang diberikan pada Strata dua (S2) ternyata mengalami perkembangan. Mulai dari Magister Science (MS), Magister Humaniora (M Hum) terakhir menjadi Magister Hukum (MH). Ketidakpastian ini menurut Philipus M Hadjon, merupakan salah satu sebab terjadinya berbagai keracuan dalam usaha pengembangan ilmu hukum. Sebagian yuris Indonesia kehilangan kepribadiannya dan konsekuensi selanjutnya ialah pembangunan hukum melalui pembentukan hukum yang tidak ditangani secara profesional. Pendidikan hukum tidak jelas arahnya.1 Ilmu hukum adalah ilmu yang memiliki kepribadian yang khas (sui generis). Ciri ilmu hukum sebagai sui generis, adalah : 1. Karakter normatif ilmu hukum 2. Terminologi ilmu hukum 3. Jenis ilmu hukum 4. Lapisan ilmu hukum2 2. Karakter normatif Ilmu Hukum Sulit untuk mengkategorikan ilmu hukum ke dalam kelompok ilmu yang mana, sehingga lebih tepat jika ilmu hukum adalah ilmu yang suigeneris. Ilmu hukum mempunyai 3 lapisan , jika dalam tataran dogmatic hukum dapatlah dikatakan bahwa ilmu hukum termasuk ilmu praktis, karena bertujuan untuk problem solving . Tetapi dalam tataran teori hukum ilmu hukum masuk ilmu normatif. Dalam tataran filsafat, tidak dapat ilmu hukum dipertanyakan masuk apa karena filsafat bukan ilmu, tetapi filsafat adalah induk dari ilmu. Tidaklah cukup suatu penelitian hukum hanya melihat adanya perbedaan antara norma dan kenyataan di masyarakat. Di dalam kajian Ilmu Hukum haruslah mementingkan metode penelitian yang berlaku di dalam Ilmu Hukum sendiri. Kesalahan selanjutnya dikatakan oleh Philipus M Hadjon bahwa mereka memaksa format penelitian ilmu sosial dalam penelitian hukum normatif.
1 2

Ibid Ibid.

1

2. 3. Metode Penelitian. Bahan Kuliah Logika dan Metode Sains.5 Diterima nalar pembaca didukung bukti (tdk selalu yg tampak) diuji generalized understanding. pembaca bisa membayangkan urutan peristiwanya . serta populasi. 3 4 Philipus M. Airlangga.4 Penekanan dari perbedaan itu dari sudut pandangnya. induktif . 2006. 8. prinsip. Sedangkan Ilmu Hukum merupakan suatu Ilmu a priori.Penelitian hukum normatif tidak menggunakan analisis kuantitatif (Statistik).cit.3 Penelitian kualitatif ataupun kuantitatif termasuk ke dalam kategori Ilmu a posteriori. bersumber dari panca indera atau bukan. Pasca Sarjana. dpt didukung comparacy. theoretical construction information about why and how (something behind). sumber data. Univ. serta merta penelitian hukum dikualifikasikan sebagai penelitian kualitatif. logico hipotetico verificative generalized understanding. 2 . Muhamad Zainuddin. 4. Ketiga kejanggalan itu memaksakan format penelitian ilmu sosial dalam penelitian hukum normatif. Adapun karakteristik pengetahuan secara umum dikatakan sebagai ilmu apabila memenuhi criteria : 1. Antara Ilmu a priori maupun a posteriori sama-sama mencari hukum. Sedangkan Ilmu a priori : rangakaian pengetahuan yg diperoleh tidak dari pengamatan inderawi dan eksperimen tapi bersumber dari akal sendiri. Hadjon. 5 Ibid. analogy. rumusan dalam mengendalikan seluruh detil dan partikular pengetahuan. Disebutkan oleh Muhamad Zainuddin tentang pengertian Ilmu a posteriori adalah rangakaian pengetahuan yg diperoleh dari pengamatan inderawi dan eksperimen. hal. syntesis information about why and how Skema 1 : Karakteristik ilmu diskripsi Karakteristik ilmu logico hypotetico verificative Bentuk kejanggalan itu secara umum ada tiga yaitu adanya kata Tanya dalam rumusan masalah. Op.. punya makna reproducable dapat diulang / dilakukan juga di tempat yang lain theoretical construction teori : penjelasan hubungan dua konsep/variable/kejadi cara : deduktif. hal 2.

Dapat dengan ketentuan yang lebih tinggi atau yang lebih rendah. Dia harus melihat keterkaitan undang-undang tersebut dengan perundang-undangan lainnya. c. b.. Kejanggalan kedua yaitu berkaitan dengan bahan hukum. Supaya memudahkan pemahaman dapat dijelaskan dalam Skema 2 di bawah ini : Ketentuan hukum yang lebih tinggi UUD UU……. Kasus yang sedang dihadapi Pasal ……. dipaksakan dalam rumusan masalah penelitian hukum normatif. Apabila pertanyaan dijawab dengan ya maka pertanyaan selanjutnya adalah mengapa Ya . Dengan demikian populasi dan sampling tidak dikenal dalam penelitian hukum normatif.6 Pertanyaan yang boleh di dalam penelitian hukum adalah pertanyaan yang hanya dapat di jawab “ya” atau “tidak. Contoh pertanyaan hukum adalah : Apakah pembantu rumah tangga berhak atas ketentuan upah minimum propinsi / kota ? Pertanyaan itu hanya dapat dijawab ya atau tidak tidak mungkin dijawab dengan ya dan tidak.Kejanggalan pertama yaitu adanya keharusan rumusan masalah dalam kalimat tanya. dan lain-lain. seberapa jauh. Tanpa disadari bahwa data bermakna empiris. Hal ini akan dijelaskan dalam Bab selanjutnya. Dengan demikian akan dicari alasannya. Kata-kata bagaimana. teknik pengumpulan data dan analisis data. Alasan dari jawaban itu harus berpangkal dari ketentuan norma hukum tertentu. Dalam hal ini asas-asas logika dapat diberlakukan. sedangkan penelitian hukum normatif tidak mengumpulkan data. 3 . 8 Ibid. Ketentuan di bawahnya Peratuan Pemerintah Peraturan Presiden a. d. Oleh Philipus M Hadjon dikatakan bahwa seorang peneliti hukum normatif tidak boleh membatasi kajiannya hanya pada satu undang-undang.8 Penelusuran penelitian hukum lebih dikenal dengan system penarikan peraturan atau norma hukum secara vertical dan horizontal. Hukum kebiasaan Yurisprudensi Traktat / perjanjian Doktrin UU Skema 2 : Penelusuran aturan hukum 6 7 Ibid Ibid. Dari UU No… Tahun…. Oleh Philipus M Hadjon dikatakan bahwa sumber data.7 Kejanggalan ketiga yaitu berkaitan dengan Populasi dan sampling.

ilmu Formal dan empiris tampak dalam tabel 411 di bawah ini : Hal yang diselidiki Pendekatan kebenaran Pengetahuan yang dihasilkan Ilmu yang termasuk kelompok ini Ilmu-Ilmu Formal Sistem penalaran dan perhitungan Formal Apriori Logika. teori hukum (dalam arti sempit) dan filsafat hukum.sociolological jurisprudence . hal. Pendekatan dari sudut falfasah ilmu b. Shidarta membagi ilmu pada dasarnya ada dua yaitu ilmu formal dan ilmu empiris (Ilmu Positif).10 Memang pegelompokan ilmu terdapat bermacam.9 Untuk menjelaskan hakikat keilmuwan hukum apabila pendekatan ditinjau dari sudut falfasah ilmu.penelitian kualitatif-kuantitatif ( the gab is described but is rarely explained ) 2.. Bandung.socio legal jurisprudence Ilmu hukum empiris . Perbedaan ilmu. Pendekatan dari sudut pandang teori hukum. Ilmu mencakup aspek proses (scientific research). prosedural (scientific method) dan produk (scientific knowledge). Matematika dan teori sistem Ilmu-Ilmu Empiris Gejala Faktual Material Aposteriori Ilmu-Ilmu Alam (Naturwissenchsften) dan Ilmu-Ilmu kemanusiaan ( Geites-wissenchsften) 9 Ibid. Ketiganya membentuk segi tiga konotasi ilmu (the trifold connotation of science). Pandangan positivistis ….Utomo. hal 43. 10 4 . Pandangan normatif Ilmu normatif Ilmu hukum normatif Skema 3 : Pendekatan falsafah ilmu Pendekatan dari sudut teori hukum di bagi atas tiga lapisan utama. dapat digambarkan dalam skema 3 di bawah ini : 1.Apabila kita melakukan penelitian atau kajian Ilmu Hukum maka metode yang dipakai adalah metode penelitian hukum. Ada dua pendekatan ialah : a.macam pendapat. 11 Ibid. 2006. Shidarta. Diantara ketiga lapisan ilmu hukum semuanya memberikan dukungan pada praktik hukum.Ilmu empiris . 41. Karakteristik Penalaran Hukum Dalam Konteks Ke indonesiaan. yaitu : dogmatik hukum.

Pendapat itu kurang tepat. Terminologi Ilmu Hukum Apabila kita berbicara mengenai terminology ilmu hukum maka kita akan menelursuri kembali asal kata dasi suatu istilah. Menurut van Melsen. Jerman dan bahasa Inggris digunakan istilah berikut : .ilmu teoritis dengan ilmu-ilmu praktis dapat digambarkan dalam tabel 5 di bawah ini : Ilmu-Ilmu Teoritis Ilmu-Ilmu Praktis Nomologis Normologis Dalil logika Bisa kausalitas /imputasi Kausalitas imputasi Contoh ilmu Ilmu. Tetapi dalam tataran teori hukum ilmu hukum masuk ilmu normatif.Ilmu formal dan ilmuIlmu kedokteran. Ilmu hukum mempunyai 3 lapisan . Non otoritatif : Ilmu Komunikasi. Terhadap terjemahan dari pendapat van Melsen ini seharusnya “ars”tidak diartikan sebagai seni kehakiman tetapi sebagai kemampuan berkeahlian hukum di bidang kehakiman. Ilmu Hukum pada hakikatnya adalah seni praktis yang berasal dari keperluan kongkrit untuk mengadili (seni kehakiman). Ilmu Praktis merupakan lawan dari ilmu teoritis. posisi Ilmu Hukum tampaknya memang merupakan bagian dari ilmu praktis yang normologis.Rechtswetenschap (Belanda) . Otoritatif : ilmu yang termasuk ilmu empiris Ilmu Tekhnik. jika dalam tataran dogmatic hukum dapatlah dikatakan bahwa ilmu hukum termasuk ilmu praktis. Dalam tataran filsafat.Rechtstheorie (Belanda) .Jurisprudence (Inggris) 5 . Perbedaan antara ilmu. kepada ilmu lain untuk menggunakannya) Kerjasama Cenderung tidak dilakukan Menjadi keharusan (multidisipliner) dengan ilmu (monodisipliner) lain Kandungan Tidak mengandung sifat seni Mengandung sifat seni (ars).ilmu teoritis dengan ilmu-ilmu praktis Dari tabel 8 di atas. karena bertujuan untuk problem solving . Dalam bahasa Belanda. Hukum kelompok ini Ilmu Managemen. tidak dapat ilmu hukum dipertanyakan masuk apa karena filsafat bukan ilmu. tetapi filsafat adalah induk dari ilmu. 3. Tujuan Sekedar menambah Menawarkan penyelesaian atas suatu pengetahuan yang problema konkret Penggunaan Produknya tidak digunakan Produknya merupakan tawaran produknya sendiri untuk memecahkan penyelesaian langsung atas suatu problema konkret ( diserahkan problem konkret. Etika Pedagogi Palemologi. seni (ars) Tabel 5 : Perbedaan ilmu.Tabel 4 : Perbedaan lmu Formal dan Empiris.

Teori Hukum. Filsafat Hukum Skema 6 : Rechtswetenschap. 6 .- Legal science Jurisprudenz (Inggris) (Jerman) 12 Untuk memudahkan pemahaman mengenai Rechtswetenschap dapat dilihat skema 6 di bawah ini : Dalam arti sempit Rechtswetenschap de rechtsleer/ ajaran hukum Dogmatik hukum tdk bebas nilai ttp sarat nilai isinya deskripsi hukum positif & sistematika hukum positif Dalam arti luas Dogmatik Hukum. Filsafat Hukum Skema 7 : Rechtstheorie 12 Philipus M Hadjon. Dalam arti sempit terletak antara FH dan DH : Ilmu eksplanasi hk Ilmu hukum :ilmu interdisipliner Rechtstheorie Dalam arti luas Dogmatik Hukum. Teori Hukum. Ibid.

faktor-faktor budaya. Menurut Peter Mahmud Marzuki. Jurisprudence bukanlah semata-mata studi tentang hukum. Social nature of law (esensi sosial dari hukum . dan Legal philosophy Menjawab secara umum tentang : 1. melainkan lebih dari itu yaitu studi tentang sesuatu mengenai hukum. faktor-faktor ekonomi dan lain-lain Kajian ilmu yang berkenaan dengan hukum memandang hukum dari luar menempatkan hukum sebagai gejala sosial 13 Peter Mahmud Marzuki.. legal science. hal. kajian tersebut tidak termasuk ke dalam bilangan kajian yang bersifat empiric maupun evaluatif.Istilah dalam bahasa Inggris mengenai jurisprudence. Cit. hukum memberikan dasar dasar pengaturan pada masyarakat ) Skema 8 : Jurisprudence. 20. op.13 Jurisprudence. Legal science. dan Legal philosophy Untuk memudahkan memahami perbedaan sudut pandang kajian ilmu hukum dengan kajian ilmu yang berkenaan dengan hukum dapat digambarkan dalam Skema di bawah ini : Kajian ilmu hukum mempelajari substansi hukum memandang hukum dari dalam konsep hukum. struktur hukum fungsi hukum. Legal science. dan legal philosophy mempunyai makna yang berbeda dengan istilah-istilah Belanda Jurisprudence merupakan suatu disiplin yang bersifat suigeneris. Hakekat hukum & sitem hukum Hubungan hukum dengan keadilan & moral 3. kaidah-kaidah hukum. 7 . 2. faktor-faktor politik.factor eksternal faktor-faktor social. mempelajari factor.

J. Tahapan Ilmu hukum empiris di atas..H Bruggink menggambarkan perbedaan antara ilmu hukum empiris dengan ilmu hukum normatif sebagai berikut 14 : Pandangan positivistic : ilmu hukum empirik Subyek – obyek Penonton (toeschouwer) EKSTERN Korespondensi Hanya informative atau empiris Hanya metode yang bisa diamati panca indra Non kognitif Pemisahan tegas Pandangan normatif : Ilmu hukum normatif Subyek – subyek Partisipan (doelnemer) INTERN Pragmatik Normatif dan evaluatif Juga metode lain Kognitif Tidak ada pemisahan Hubungan dasar Sikap ilmuwan PERSPEKTIF Teori kebenaran Proposisi Metode Moral Hubungan antara 14 Bruggink. hal 127.law in book Socio legal studies hub timbal balik antara hukum & masyarakat ( hukum berpengaruh / tidak) Skema 10 : Perbedaaan tahapan Ilmu hukum empiris. Citra Aditya Bakti. Bandung. Arief Sidharta. alih bahasa.J. JJH. 8 . Jenis Ilmu Hukum Ilmu Hukum dibedakan menjadi Ilmu hukum normatif obyeknya norma dengan Ilmu hukum empiris yang terdiri dari factual patterns of behavior. Sociological jurisprudence dan Socio – legal studies.Skema 9 : Perbedaan sudut pandang kajian ilmu hukum dengan kajian ilmu yang berkenaan dengan hukum 4. yaitu : Factual patterns of behavior Perilaku hakim dalam kasus hak reproduksi Ilmu hukum empiris Sociological jurisprudence the gab : law in action. 1996. untuk memudahkan pemahaman perbedaaan antara ketiganya. dapat digambarkan dalam skema 13. di bawah ini. Refleksi tentang hukum.

moral dan hukum Ilmu Skema 11 : Hanya sosiologi hukum empiris dan teori hukum empiris Ilmu hukum dalam arti luas perbedaan antara ilmu hukum empiris dengan ilmu hukum normatif Tentang penggunaan teori kebenaran dari ilmu hukum yang pragmatis. apabila suatu aturan hukum dibuat dengan hanya mendasarkan teori kebenaran yang pragmatis. akan mengakibatkan timbulnya kesesatan. Prinsip teori kebenaran koherensi adalah dikatakan benar apabila sesuai dengan yang seharusnya. apabila mereka akan menggunakan dasar kebenaran pragmatis dengan menekankan hanya pada konsensus di antara anggota DPR tanpa memperhatikan konsep dan teori hukum akibatnya produk hukum jauh dari rasa keaadilan. antara koherensi dengan pragmatis. Tetap kebenaran yang dipakai adalah koherensi. Sebagai contoh pada wakil rakyat kita yang duduk di DPR. ternyata masih belum ada kesepakatan diantara ahli hukum. Mereka berpendapat. Masih ada perdebatan tentang penggunaan teori kebenaran yang dipakai dasar. Hal ini mengingat suara wakil rakyat kita yang duduk di DPR hanya menyarakan suara Partai atau ada kepentingan di balik itu. Lapisan Ilmu Hukum Lapisan Ilmu Hukum Filsafat Hukum Teori Hukum Dogmatik Hukum Praktik Hukum Skema 12 : Lapisan ilmu hukum 9 . 5.

hal 10. dogmatic hukum sebagai ilmu hukum praktis tujuannya adalah legal 15 Ibid. normatif-empiris Sebagai jembatan dari algemene rechtsleer Isi : asas hukum dari sistem hukum Dogmatik Hukum technischjuridisch begrippen. dogmatic hukum (ilmu hukum positif) adalah ilmu hukum praktis. antinomi.Hubungan antara filsafat hukum. teori hukum dan dogmatik hukum. tekhnis yuridis. teori hukum dan dogmatik hukum Menurut Philipus M Hadjon.. teori hukum dan filsafat hukum. analitis. menunjukkan bahwa hukum positif didukung oleh ilmu hukum positif. normatif teori teori Hukum Positif teori meta – teori ARS Pembentukan hukum Penerapan hukum interpretasi.teori Teori Hukum Algemene begrippen. Filsafat Hukum Grodbegrippen.15 Hal ini dapat digambarkan dalam skema 16. Dengan demikian. 10 . norma kabur Legal problem solving Skema13 Hubungan antara filsafat hukum. reflektif. kekosongan hukum. Fungsi ilmu praktis adalah problem solving. spekulatif meta .

. Legal science (Inggris) dan Jurisprudenz. 11 . 2. alih bahasa. 2007. Ars yang dimaksud adalah legal reasoning atau legal argumentation. Ilmu Hukum sering disalah artinya dengan Rechtswetenschap (Belanda). Apa yang dimakksud dengan ilmu hukum adalah ilmu yang sui generis ? Jelaskan. Jelaskan perbedaan istilah-istilah itu ! 4. Pada penerapan hukum dilakukan apabila noema hukum positif sudah ada untuk diterapkan pada suatu kasus yang ada tetapi masih memerlukan interpretasi. Asri Wijayanti. 21 Tahun 2000 dalam peningkatan hubungan industrial.. antinomi. Citra Aditya Bakti. norma kabur. Apakah ars dapat diartikan sebagai seni ? legal argumentation pada dasarnya merupakan suatu ars. terjemahan K Bertens . Refleksi tentang hukum. Di dalam pengelompokan ilmu. kekosongan hukum. yang hakekatnya adalah giving reason. yang merupakan ketrampilan ilmiah. Untuk tujuan tersebut dibutuhkan ars. Jelaskan mengenai lapisan ilmu hukum serta hubungan antara lapisan itu dengan menyebut karakteristiknya ! 6. 1985. Bandung. Pada pembentukan hukum pada dasarnya dilakukan apabila norma hukum positif belum ada. Arief Sidharta. Jurisprudence (Inggris). Dalam kepustakaan Indonesia.Gramedia. Ilmu Pengetahuan dan tanggung jawab kita. Latihan 1. Rechtstheorie (Belanda). Efektivitas Pasal 4 ayat (2) UU No. Penelitian yang dibiayai DP2M Dikti. ilmu hukum termasuk dalam kelompok bidang ilmu apa ? Jelaskan berdasarkan pendapat ahli hukumnya ! 3. Ars itu dibutuhkan para yuris untuk menyusun legal opinion sebagai output dari langkah legal problem solving. Berikan contoh kasus penelitian Sociological jurisprudence dan Socio – legal studies ! 5. 16 Ibid.16 Giving reason dapat dilakukan dengan melalui tahap pembentukan hukum positf atau penerapan hukum positif. hal 12. Bruggink. Jelaskan arti dari kalimat itu ! Daftar Pustaka AGM van Melsen. Jakarta.problem solving. 1996. JJH.

Kluwer Antwerppen. Shidarta. Surabaya. Tesis. 1 Tahun 1974 terhadap kawin dampulan di Kabupaten Dati II Bojonegoro”. Metode Sains. Karakteristik Penalaran Hukum Dalam Konteks Ke indonesiaan. dalam Lloyd’s Introduction to Jurisprudence. Bandung. Philipus M Hadjon dan Tatiek Sri Djatmiati. Peter Mahmud Marzuki. Airlangga.Jan Gijssels dan Mark Van Hoecke. 2005. Pasca Sarjana. 2006. Airlangga. Bahan Kuliah Logika dan Metode Sains. -------. Bahan Kuliah Logika dan Metode Sains. Muhamad Zainuddin. Pasca Sarjana Universitas Airlangga. Jakarta. Argumentasi Hukum. UGM Press. Penelitian Hukum. 2006. What is rechtsteorie ?. 2005. 12 . 1985. 1982. Metode Penelitian. 1991. ELBS/Steven. Univ. Pasca Sarjana. “Pengaruh berlakunya Pasal 2 UU No. Siti Rachmana Bintari. Kencana. Lord Lloyd O Hamstead dan MDA Freeman. Univ. 2006.Utomo.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful