P. 1
ICOR 2008

ICOR 2008

|Views: 4,326|Likes:
Published by yohanessintan2956

More info:

Published by: yohanessintan2956 on Jul 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/08/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1. Pendahuluan
  • 1.2 Tujuan Penelitian
  • 1.3 Alokasi Sampel
  • 1.4. Persiapan Lapang
  • 1.5. Sitematika Penulisan
  • 2.2. Pengertian Kapital dan Investasi
  • 2.3. Pengertian Output
  • 2.4. Pengertian Nilai Tambah
  • 2.5. Industri Pengolahan dan Perusahaan Industri
  • 2.6. Penelitian yang Pernah Dilakukan
  • 3.1. Data dan Keterbatasannya
  • 3.2. Rumus dan Asumsi yang Digunakan
  • 3.2.1. Rumus Standar
  • 3.2.2. Rumus Akumulasi Investasi
  • 3.2.3. Asumsi dasar
  • 3.3. Tahap-Tahap Penyusunan ICOR Sektor Industri
  • 3.3.1. Penyesuaian Output
  • 3.3.2. Penyesuaian data investasi
  • 3.3.3. Penyesuaian untuk harga konstan
  • 3.3.4. Penghitungan Nilai ICOR dengan komputer
  • 3.3.5. Penyesuaian Tahap Akhir Dalam Penyusunan ICOR
  • 3.3.6. Pemilihan lag investasi
  • 4.1. Tinjauan Ekonomi dari sisi Penggunaan
  • 4.2. Koefisien ICOR Akumulasi periode 2000-2007

Katalog BPS : 1119.

3204

INCREMENTAL CAPITAL OUTPUT RATIO (ICOR) KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2008

Kerjasama : Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung dengan Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

ICOR Kabupaten Bandung 2008

BUPATI BANDUNG Kata Sambutan
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Puji dan syukur kita panjatkan ke Hadirat Allah SWT atas Rahmat dan Karunia-Nya, buku publikasi Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Kabupaten Bandung Tahun 2008 dapat diterbitkan. Perencanaan Pembangunan Daerah merupakan hal yang sangat penting dalam menghasilkan pembangunan perekonomian yang berkualitas, yang pada akhirnya akan membawa kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu dalam melakukan perencanaan diperlukan data makro terukur yang menggambarkan kinerja pembangunan yang telah dilakukan sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan pembangunan yang berkelanjutan. Publikasi ini memuat data tentang Koefisien ICOR menurut lapangan usaha Kabupaten Bandung dalam periode tahun 2007. Dengan demikian diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu pedoman dalam penentuan kebijakan pembangunan di Kabupaten Bandung, khususnya sebagai bahan perencanaan dan evaluasi pembangunan di bidang ekonomi. Akhirnya kami sampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya publikasi Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Kabupaten Bandung Tahun 2008 ini. Diharapkan publikasi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukan. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Soreang, Desember 2008 BUPATI BANDUNG

H. OBAR SUBARNA, S.Ip

i

ICOR Kabupaten Bandung 2008

PENGANTAR Di era globalisasi yang bercirikan liberalisasi perdagangan dan persaingan antar bangsa yang semakin sengit, segenap sektor ekonomi harus mampu menghasilkan barang dan jasa berdaya saing tinggi. Sebagai Kabupaten yang besar di Jawa Barat, Kabupaten Bandung memiliki potensi pembangunan yang besar dan beragam. Pengelolaan yang baik terhadap sektor-sektor tersebut dapat mengembangkan produk-produk unggulan. Peranan Kabupaten Bandung cukup dominan terhadap perekonomian Jawa Barat oleh karena itu diperlukan perencanaan yang memadai untuk pembangunan pada semua sektor yang terarah dan sebaik-baiknya. Untuk itu hasil-hasil pembangunan seluruh sektor perlu dievaluasi dan dianalisa untuk kemudian dijadikan masukan bagi perencanaan pembangunan berikutnya. Salah satu indikator yang biasa digunakan untuk evaluasi dan perencanaan terutama yang berkaitan dengan investasi adalah Incremental Capital Output Ratio (ICOR) untuk mengukur efisiensi dari suatu investasi. Badan Pusat Statistik (BPS) berupaya menjadi bagian dari upaya peningkatan pembangunan ekonomi makro. Disadari bahwa data tidak dapat diperoleh dengan mudah, tetapi sangat penting dilakukan pemutakhiran setiap waktu. Untuk itu BPS bekerjasama dengan BAPEDA Kabupaten Bandung menyediakan data ICOR Kabupaten Bandung tahun 2008 dalam bentuk publikasi. Publikasi ini berisi besaran ICOR dari setiap sektor yang menjadi ukuran kinerja investasi yang diciptakan pada setiap lapangan usaha perekonomian. Sektor industri pengolahan yang mempunyai peranan terbesar dalam Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bandung, sehingga perlu dibagi kedalam sub sektor industri pengolahan untuk melihat ICOR lebih rinci. Semoga publikasi ini dapat berguna untuk bahan perencanaan dan pengambilan kebijakan dalam pembangunan perekonomian Kabupatan Bandung. Terima kasih kami ucapkan kepada kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran publikasi ini sehingga bisa terbit tepat waktu. Bandung, Desember 2008 BPS Kabupaten Bandung Kepala,

Soegiri Soetardi, MA NIP 340010736

ii

ICOR Kabupaten Bandung 2008

DAFTAR ISI

SAMBUTAN........................................................................................ PENGANTAR...................... ….........………………………………….. DAFTAR ISI ……………………………………….........………......…...

i ii iii

BAB I. 1.1. 1.2. 1.3 1.4 1.5

PENDAHULUAN …………………….......……………...... Pendahuluan ……………………………………................ Tujuan Penelitian ….…………………………….………… Alokasi Sampel………………….….………………………. Persiapan Lapang……………………….…………………. Sistematika Penulisan……………………….……………..

1 1 5 5 6 6

BAB II. 2.1. 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6

TINJAUAN PUSTAKA……………….……………….…… Pengertian Incremental Capital Output Ratio…………… Pengertian Kapital dan Investasi..………….…………..… Pengertian Output…………………………….……………. Pengertian Nilai Tambah….…………………….………… Industri Pengolahan dan Perusahaan Industri..………… Penelitian Yang Pernah Dilakukan …… …………..…….

7 8 9 11 12 13 14

BAB III 3.1. 3.2. 3.2.1 3.2.2 3.2.3 3.3 3.3.1

METODOLOGI PENELITIAN …………………………….. Data dan Keterbatasan…………………………..………… Rumus dan Asumsi yang Digunakan ……………..……... Rumus Standar…………………………………….……….. Rumus Akumulasi Investasi……………............................ Asumsi Dasar..…………………………………..…………. Tahap-tahap Penyusunan ICOR Sektor Industri……….... Penyesuaian Output……………………………..…………..

18 18 20 21 29 30 31 31

iii

ICOR Kabupaten Bandung 2008

3.3.2 3.3.3 3.3.4 3.3.5 3.3.6

Penyesuaian Data Investasi………………………………... Penyesuaian Untuk Harga Konstan……………………….. Penghitungan Nilai ICOR dengan Komputer…………….. Penyesuaian Tahap Akhir Dalam Penyusunan ICOR...... Pemilihan Lag Investasi……………………………………..

31 32 33 34 34

BAB IV 4.1 4.2 4.3

PEMBAHASAN……………………………………………… Tinjauan Ekonomi dari Sisi Penggunaan………….......…. Koefisien ICOR Akumulasi periode 2000-2007………….. Koefisien ICOR Akumulasi periode 2000-2004 dan 20052007……………................................................................

36 36 39

42

4.4

Koefisien ICOR Lag 0,Lag 1 serta Lag 2 Kab Bandung periode 2000-2004 dan 2005-2007……………………… 44

4.4.1

Koefisien ICOR Lag 0, Kab Bandung periode 2000-2004 dan 2005-2007…............................................................... 45

4.4.2

Koefisien ICOR Lag 1, Kab Bandung periode 2000-2004 dan 2005-2007…............................................................... 47

4.4.3

Koefisien ICOR Lag 2, Kab Bandung periode 2000-2004 dan 2005-2007…............................................................... 49 51

BAB V

KESIMPULAN………...……………………………………

iv

ICOR Kabupaten Bandung 2008 BAB I PENDAHULUAN 1. Hal ini menunjukkan seriusnya persoalan iklim investasi di Indonesia yang harus segera disikapi. seperti Thailand dan Malaysia.1. Beberapa hasil survei lembaga internasional. memperlihatkan bahwa posisi peringkat daya saing investasi Indonesia masih berada pada kelompok peringkat bawah dan selalu beradadi bawah negara-negara di sekitar kita. Perbaikan iklim investasi bukan hanya tanggungjawab pemerintah pusat. Dalam beberapa tahun terakhir. terutama negara-negara yang memiliki daya saing investasu yang rendah seperti Indonesia. Investasi akan memperkuat pertumbuhan ekonomi dengan mendatangkan lebih banyak input ke dalam proses produksi. Pendahuluan Iklim investasi yang baik akan mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi. agar perekonomian Indonesia segera pulih dari krisis yang berkepanjangan. Kebijakan desentralisasi pemerintahan di Indonesia yang mulai diterapkan sejak tahun 2001 telah mengamanatkan kepada pemerintah daerah untuk turut berperan besar dalam upaya penciptaan iklim investasi 1 . Peringkat ini juga cenderung mengalami penurunan secara signifikan. Oleh karenanya memperbaiki iklim investasi merupakan suatu tugas yang penting bagi setiap pemerintah. namun seluruh lapisan pemerintahan dan masyarakat secara umum. kondisi iklim investasi di Indonesia dinilai masih memprihatinkan. yakni melalui investasi yang didukung oleh produktivitas yang tinggi.

merupakan salah satu penentu keberhasilan pembangunan di daerah termasuk dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif. yang justru mengurangi daya saing investasi daerah. Disisi lain dengan berbagai alasan tidak sedikit justru dijumpai praktik-praktik negatif dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik. perencanaan perekonomian daerah dan kemasyarakatan serta lain sebagainnya.ICOR Kabupaten Bandung 2008 yang kondusif di daerahnya. Kesiapan dan kemampuan daerah dalam berkreasi. Proses pengambilan kebijakan pembangunan yang sebelumnya lebih banyak dikendalikan oleh pemerintah pusat. Selama 5 tahun pelaksanaan otonomi daerah telah terjadi beberapa perubahan dalam tata pemerintahan di tingkat lokal. selanjutnya menjadi lebih dekat dengan masyarakat di daerah. Dengan kewenangan di bidang pemerintahan yang telah diserahkan kepada pemerintah daerah untuk lebih leluasa dalam menciptakan iklim investasi di daerahnya masing-masing. Banyak upaya telah dilakukan oleh pemerintah daerah untuk pembenahan. Sejalan dengan kondisi iklim investasi nasional yang memburuk. otonomi daerah diterapkan mulai tahun 2001. sering dijadikan alasan mengeluarkan kebijakan yang justru kontraproduktif terhadap penciptaan daya saing investasi. Padahal dalam konteks pembangunan regional. Keterbatasan pemda dalam melakukan pembiayaan pembangunan perekonomian daerah. investasi memegang peran penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. mulai dari tata kelembagaan pemerintahan. Pemerintah daerah harus berupaya keras mendorong agar sebanyak mungkin investasi dapat masuk ke 2 .

Pelaku utama investasi adalah kalangan dunia usaha. penelitian ini mempertimbangkan persepsi dunia usaha dalam mengambil keputusan untuk melakukan investasi di suatu daerah. Di era otonomi daerah. Hanya daerah-daerah yang memiliki daya saing investasi yang baik yang akan mendapatkan peluang investasi yang lebih besar. Dari berbagai literatur dan pendapat para pelaku usaha. faktor ekonomi. daerahdaerah harus bersaing dengan daerah lainnya untuk menarik investasi.ICOR Kabupaten Bandung 2008 daerahnya. sosial dan budaya diyakini merupakan beberapa faktor pembentuk daya saing investasi suatu negara atau daerah. baik dalam bentuk penanaman modala dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA) membutuhkan adanya iklim yang sehat dan kemudahan serta kejelasan prosedur penanaman modal. infrastruktur. Dengan demikian untuk mengetahui faktor-faktor yang signifikan mempengaruhi daya saing investasi suatu daerah. Investasi yang akan masuk ke suatu daerah bergantung kepada daya saing investasi yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan. Daya saing investasi suatu daerah tidak terjadi dengan serta merta. Persepsi ini juga perlu dipahami oleh Pemda. Secara umum investasi atau penanaman modal. Sama halnya ketika ketika Pemda perlu mengetahui bagaimana kerangka berfikir investor dalam menentukan pilihan lokasi untuk investasi. Pembentukan daya saing investasin berlangsung secara terus menerus dari waktu ke waktu dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Iklim 3 . Yang menjadi persoalan adalah investasi tidak selalu datang ke setiap daerah. politik dan kelembagaan.

Bagi investor. Tetapi hal ini tidak cukup samapi sebatas ketersediaan informasi saja. Diperlukan rangkaian upaya untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai iklim investasi di berbagai daerah. Hasil dari kerjasama ini 4 . Keberhasilan daerah untuk meningkatkan daya saing terhadap investasi daerah salah dalam satunya bergantung kepada yang kemampuan merumuskan kebijakan berkaitan dengan investasi dan dunia usaha. Kondisi inilah yang mampu menggerakan sektor swasta untuk ikut serta dalam menggerakkan roda ekonomi. Pemerintah Kabupaten Bandung perlu menjalin kerjasama dengan Badan Pusat Statistik untuk mengetahui data tentang investasi di wilayah Kabupaten. disamping juga untuk membantu pemerintah daerah dalam melihat daya saingnya terhadap investasi dibandingkan dengan daerah lainnya.ICOR Kabupaten Bandung 2008 investasi daerah juga dipengaruhi juga oleh kondisi makro ekonomi daerah yang bersangkutan. serta peningkatan kualitas pelayanan terhadap masyarakat. Hal yang juga penting untuk diperhatikan dalam upaya menarik investor. selain makroekonomi yang kondusif juga adanya pengembangan sumber daya manusia dan infrastruktur dalam arti luas. untuk membantu para investor dalam membuat keputusan lokasi investasinya. Pemeringkatan daya saing investasi daerah yang dilakukan oleh KPPOD salah satunya adalah untuk menjawab permasalahan di atas. informasi mengenai potensi investasi dan iklim investasi daerah sangat diperlukan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan lokasi untuk investasi.

c. Menganalisis perbandingan nilai ICOR pada periode penelitian tahun 2007 1. Menggolongkan nilai ICOR menurut kelompok lapangan usaha berdasarkan lag investasi. 5 . Menghitung menurut ICOR seluruh sektor 1 lapangan usaha pengelompokan digit berdasarkan International Standard Industrial Classification if All Economic Activities (ISIC) .3 Alokasi Sampel Untuk memperoleh gambaran atau rasio invesatsi yang dilakukan institusi. Asumsi dasar yang dipakai adalah setiap karakteristi dari elemen sampel mempunyai sifat homogenitas. Jumlah sampel Survey Khusu ICOR 2007 sebanyak 700 responden.ICOR Kabupaten Bandung 2008 menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan pemerintah kabupaten dalam hal investasi. b. d. 1. maka dilakukan pencacahan secara sampel dengan jumlah sebanyak 700 responden di Kabupaten Bandung dengan sebaran sebagai berikut: a. Menghitung ICOR sektor industri menurut pengelompokan 2 digit menurut pengelompokan ISIC. yang dialokasikan yang ke dalam di seluruh seluruh sekto/kegiatan Kecamatan ekonomi tersebar b.2 Tujuan Penelitian Tujuan penulisan publikasi ini antara lain untuk: a.

Sitematika Penulisan Adapun sistematika penulisan di dalam publikasi ini adalah sebagai berikut: Bab I Pendahuluan Bab II Tinjauan Pustaka Bab III Metodologi Penelitian Bab IV Pembahasan Bab V Kesimpulan 6 . Pelatihan petugas dilakukan untuk menyamakan persepsi petugas mengenai konsep dan definisi serta tata cara pengisian daftar isian sesuai dengan pedoman pencacahan yang telah disusun.5. 1. Persiapan Lapang Petugas lapang pencacahan adalah staf/ KSK BPS Kabupaten Bandung dan mitra statistik yang sudah biasa melakukan penelitian. 1.4. Pelatihan petugasdilaksanakan selama tiga hari agar isi materi serta sasaran survei dapat dipahami dengan baik. akomodasi dibawah bimbingan instruktur. Penentuan alokasi sampel ke masing-masing sektor dilakukan secara proporsional berdasarkan jumlah unit usaha. Aloksi jumlah sampel menurut Kecamatan berdasarkan besarnya peranan PDRB d.ICOR Kabupaten Bandung 2008 c. Selama pelatihan petugas diberikan fasilitas.

F.ICOR Kabupaten Bandung 2008 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Secara teoritis hubungan ICOR dengan pertumbuhan ekonomi dikembangkan pertama kali oleh R. Besaran ICOR diperoleh dengan membandingkan besarnya tambahan kapital dengan tambahan output. Karena unit kapital bentuknya berbeda-beda dan beraneka ragam sementara unit output relatif tidak berbeda. yaitu perbandingan antara kapital yang digunakan dengan output yang dihasilkan pada 7 .1. Pengertian Incremental Capital Output Ratio Incremental Capital Output Ratio (ICOR) adalah suatu besaran yang menunjukkan besarnya tambahan kapital (investasi) baru yang dibutuhkan untuk menaikkan/menambah satu unit output. maka kemudian teori tersebut lebih dikenal sebagai teori HarrodDomar. Pada dasarnya teori tentang ICOR dilandasi oleh dua macam konsep Rasio Modal-Output yaitu: (i) Rasio Modal-Output atau Capital Output Ratio (COR) atau yang sering disebut sebagai Average Capital Output Ratio (ACOR). Namun karena kedua teori tersebut banyak kesamaannya. Pengkajian mengenai ICOR menjadi sangat menarik karena ICOR dapat merefleksikan besarnya produktifitas kapital yang pada akhirnya menyangkut besarnya pertumbuhan ekonomi yang bisa dicapai. maka untuk memudahkan penghitungan keduanya dinilai dalam bentuk uang (nominal). Harrod dan Evsey Domar (1939 dan 1947).

(ii) Ratio Modal-Output Marginal atau Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yaitu suatu besaran yang menunjukkan besarnya tambahan kapital (investasi) baru yang dibutuhkan untuk menaikkan /menambah satu unit output baik secara fisik maupun secara nilai (uang)..... maka ICOR bisa diformulasikan sebagai berikut: ICOR = K/ Y.. Dari pengertian pada butir (ii).. Konsep ICOR ini Iebih bersifat dinamis karena menunjukkan perubahan kenaikan/ penambahan output sebagai akibat langsung dari penambahan kapital.......................ICOR Kabupaten Bandung 2008 suatu periode tertentu......... ( 2 ) 8 ....... data yang digunakan untuk menghitung ICOR bukan lagi hanya penambahan barang modal baru atau perubahan stok kapital melainkan Investasi (I) yang ditanam balk oleh swasta maupun pemerintah sehingga rumusan ICOR dimodifikasi menjadi: ICOR = I / Y . COR atau ACOR ini bersifat statis karena hanya menunjukkan besaran yang menggambarkan perbandingan modal dan output. Dalam perkembangannya....(1) dimana K = perubahan kapital Y = perubahan output Dari rumus (1) didapatkan pengertian bahwa ICOR merupakan statistik yang menunjukkan kebutuhan perubahan stok kapital untuk menaikkan satu unit output................

penerapan teknologi dan kemampuan kewiraswastaan.2. kendaraan dan lainnya. sedangkan tambahan output yang diperoleh dari hasil penanaman investasi itu adalah sebesar Rp 60 miliar.ICOR Kabupaten Bandung 2008 dimana I = Investasi Y = perubahan output Rumus (2) dapat diartikan sebagai banyaknya kebutuhan investasi yang diperlukan untuk mendapatkan 1 unit output. Pengertian Kapital dan Investasi Secara umum kapital atau yang sering disebut sebagai "Gross Capital Stock' merupakan akumulasi/penumpukan pembentukan modal bruto dari tahun ke tahun yang digunakan untuk menghasilkan produk baru. tetapi juga oleh faktor-faktor lain di luar investasi seperti pemakaian tenaga kerja. Dengan demikian untuk melihat peranan investasi terhadap output berdasarkan konsep ICOR. yang dimaksud dengan kapital adalah harta tetap (fixed assests) suatu badan usaha. misalnya besarnya investasi pada suatu tahun di negara A adalah sebesar Rp 300 miliar. Sebagai contoh. Pada kenyataannya pertambahan output bukan hanya disebabkan oleh investasi. Dalam sistem pembukuan neraca perusahaan. bangunan. Angka ini menunjukkan bahwa untuk menaikkan 1 unit output diperlukan investasi sebesar 5 unit. 9 . maka nilai ICOR negara A adalah sebesar 5 (300 miliar / 60 miliar). 2. Kapital secara fisik adalah seluruh barang modal yang digunakan dalam proses produksi seperti mesin. maka peranan faktor-faktor selain investasi diasumsikan konstan (ceteris paribus).

gedung/konstruksi. Ciri-ciri barang modal adalah: Umur kegunaannya lebih dari 1 tahun atau mempunyai unsur ekonomis lebih dari satu tahun. Dalam penghitungan ICOR. 10 . Konsep barang modal sendiri adalah seluruh peralatan dan prasarana fisik yang digunakan di dalam proses produksi. Pengertian investasi yang dimaksud di sini adalah fixed capital formation/pembentukan barang modal tetap yang terdiri dari tanah. Nilai belinya relatif besar. pembuatan dan pembelian barang modal baru dari dalam negeri dan pembuatan dan pembelian barang modal baru maupun bekas dari luar negeri. 1968) investasi adalah selisih antara stok kapital pada tahun (t) dikurangi dengan stok kapital pada tahun (t-1).ICOR Kabupaten Bandung 2008 Sementara itu menurut konsep ekonomi nasional yang mengacu pada A System of National Account (UN. dikurangi dengan penjualan barang modal bekas. Oleh karena itu besarnya investasi secara fisik yang direalisasikan pada suatu tahun tertentu dicerminkan oleh besarnya Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang mencakup pengadaan. Termasuk dalam PMTB ini adalah perbaikan besar barang modal yang mengakibatkan menambah umur pemakaian atau meningkatkan kemampuan barang modal tersebut. Sehingga setiap terjadi penambahan atau penimbunan kapital (modal) selalu dianggap sebagai investasi. konsep investasi yang digunakan mengacu pada konsep ekonomi nasional. mesin dan perlengkapannya. Manfaatnya akan dirasakan dalam jangka panjang atau dapat digunakan berulangkali di dalam proses produksi.

modal dan kewiraswastaan. pembuatan/perbaikan besar yang dilakukan oleh pihak lain dan sendiri dikurangi oleh penjualan barang modal bekas. Pengertian Output Output adalah hasil yang diperoleh dari pendayagunaan seluruh faktor produksi balk berbentuk barang atau jasa seperti tanah. 2. Selisih nilai stok setengah jadi. 11 .3. Output yang dimaksud adalah: Barang-barang yang dihasilkan. output merupakan nilai dari seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh faktor-faktor domestik dalam negeri dalam suatu periode tertentu.ICOR Kabupaten Bandung 2008 kendaraan dan barang modal lainnya. Dari segi perusahaan. Dari segi ekonomi nasional. Sementara itu nilai yang diperhitungkan mencakup: Pembelian barang baru/bekas Pembuatan/perbaikan besar yang dilakukan pihak lain Pembuatan/perbaikan besar yang dilakukan sendiri Penjualan barang modal bekas Fixed Capital Formation/Pembentukan Barang Modal Tetap dalam hal ini adalah Pembentukan BArang Modal Tetap Bruto (PMTB) Total nilai investasi diperoleh dari penjumlahan seluruh pembelian barang modal baru/bekas. tenaga kerja. Tenaga listrik yang dijual. output mencakup nilai barang (komoditi) jadi yang dihasilkan selama suatu periode tertentu ditambah nilai perubahan stok barang (komoditi) yang masih dalam proses.

Penambahan nilai input antara ini terjadi karena input antara tersebut telah mengalami proses produksi yang mengubahnya menjadi barang yang nilainya lebih tinggi. Dalam pengertian ICOR. output adalah tambahan (flow) produk dari hasil kegiatan ekonomi dalam suatu periode atau nilai-nilai yang merupakan hasil pendayagunaan faktor produksi. Pengertian Nilai Tambah Nilai tambah adalah suatu tambahan nilai input antara yang digunakan dalam proses menghasilkan barang/jasa.ICOR Kabupaten Bandung 2008 Output ini dihitung atas dasar harga produsen. output ini masih bersifat bruto. Untuk mendapatkan output neto atas harga pasar. Karena masih mengandung nilai penyusutan barang modal. Output ini merupakan seluruh nilai tambah atas dasar biaya faktor produksi yang dihasilkan dari seluruh kegiatan usaha. output bruto atas harga pasar harus dikurangi dengan penyusutan barang modal. pemakaian listrik dan sebagainya. Barang yang digunakan sebagai alat dalam suatu proses produksi dan umurnya kurang dari setahun dan habis dipakai dimasukkan sebagai input antara bukan barang modal.4. 12 . 2. bahan bakar. Input antara sendiri mencakup nilai seluruh komoditi yang habis atau dianggap habis dalam suatu proses produksi. seperti: bahan baku. Untuk itu dalam penghitungan ICOR sektor industri dipakai konsep Gross Value Added (nilai tambah) bukan konsep output secara umum. yaitu harga yang diterima oleh produsen pada tingkat transaksi pertama.

Sektor industri dikelompokkan ke dalam empat golongan berdasarkan banyaknya pekerja yaitu: Industri besar. Karena keterbatasan data penyusutan dan pajak tak. Nilai tambah bruto dari suatu unit produksi dihitung dari output bruto atas harga produsen dikurangi input antara atas dasar harga pasar. 2. Sedangkan nilai tambah neto atas harga pasar dihitung dari nilai tambah bruto atas harga pasar dikurangi pajak tak langsung dan penyusutan. dengan tenaga kerja 5-19 orang 13 . maka konsep nilai tambah yang digunakan dalam penghitungan ICOR dalam publikasi ini adalah nilai tambah bruto atas dasar harga pasar.langsung. Perusahaan industri adalah suatu unit usaha yang melakukan kegiatan mengubah barang dasar menjadi barang jadi/setengah jadi dan atau dari barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya yang terletak di suatu bangunan atau lokasi tertentu yang mempunyai catatan administrasi sendiri mengenai produksi dan struktur biaya serta ada orang yang bertanggungjawab terhadap resiko usaha.ICOR Kabupaten Bandung 2008 Nilai tambah bisa berupa nilai tambah bruto maupun nilai tambah neto. dengan tenaga kerja 100 orang atau lebih Industri sedang. Termasuk di dalamnya adalah perusahaan yang melakukan kegiatan jasa industri dan pekerjaan perakitan (assembling) dari suatu industri. dengan tenaga kerja 20-99 orang Industri kecil. Industri Pengolahan dan Perusahaan Industri Industri pengolahan adalah kegiatan yang mengubah barang dasar menjadi barang jadi/setengah jadi dan atau dari barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya.5.

Dua penghitungan pertama (1983 dan 1993) tidak dipublikasikan sementara penghitungan yang ketiga (1994) telah dipublikasikan. Survei Tahunan Industri Besar dan Sedang mengalami lewat cacah sehingga terjadi "under coverage" untuk jumlah perusahaan. 2. Dalam mengatasi hal tersebut BPS telah melakukan backcasting terhadap jumlah perusahaan sehingga cakupannya lebih lengkap. Selanjutnya pada penghitungan ketiga (1994) digunakan data hasil Survei Tahunan Industri Besar dan Sedang tahun 1980-1990. dengan tenaga kerja 1-4 orang. Sebelum tahun 1985. Sementara pada penghitungan kedua (1993) digunakan series data hasil survei Tahunan Industri Besar dan Sedang tahun 1985-1990. Pada penghitungan yang pertama (1983) digunakan series data hasil survei tahunan industri besar dan sedang tahun 19751981 dan survei khusus barang-barang modal yang dilakukan oleh Biro Pusat Statistik (sekarang menjadi Badan Pusat Statistik).ICOR Kabupaten Bandung 2008 Industri rumahtangga. Ketiga penghitungan tersebut masing-masing dilakukan untuk 2 dan 3 digit ISIC. Pada penghitungan ICOR kedua (periode 1985-1990) telah digunakan nilai output 14 .6. Karena keterbatasan data yang tersedia maka dalam penyusunan ICOR sektor industri pengolahan hanya digunakan data industri pengolahan yang berskala besar dan sedang. Penelitian yang Pernah Dilakukan Badan Pusat Statistik telah melakukan penghitungan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) sektor industri pengolahan sebanyak tiga kali.

Namun nilai investasi yang digunakan belum disesuaikan dengan cakupan yang lebih lengkap sehingga nilai ICOR yang diperoleh sangat rendah yang berkisar antara 1 sampai 2. Sebaliknya pada penghitungan ICOR ketiga (periode 1980-1990) telah dilakukan backcasting terhadap nilai output dan investasi sehingga cakupan datanya sama. Untuk memperoleh satu nilai ICOR yang dapat mewakili suatu kurun waktu unttik masing-masing kiasifikasi industri digunakan penghitungan dengan ratarata sederhana. Selain itu pada penghitungan ICOR ketiga ini jugs dilak ukan penghit ungan ICOR yang memperhitungkan selisih stok bahan baku. dan barang setengah jadi. Rumus yang digunakan pada penghitungan ICOR pertama dan kedua sebanyak 12 rumus standar. Sebagai pembanding pada penghitungan ICOR ketiga dilakukan pula penghitungan berdasarkan akumulasi investasi dengan lag 1 yang pada dasarnya menerapkan prinsip rata-rata tertimbang. Pada penghitungan ICOR yang pertama dan kedua digunakan nilai output dan nilai investasi sektor industri 15 . Hal ini berpengaruh pada besaran ICOR yang dihasilkan relative lebih baik. Sedangkan pada penghitungan ICOR sektor industri yang ketiga digunakan sebanyak 15 rumus standar yang juga digunakan pada penghitungan ICOR dalam publikasi ini (untuk rumus lebih jelas dapat dilihat pada bab III).ICOR Kabupaten Bandung 2008 sektor industri yang di-backcast sesuai dengan jumlah perusahaannya. barang jadi.

ICOR Kabupaten Bandung 2008 pengolahan sebagai data dasar. Pada penghitungan ICOR kedua dan ketiga. Data sektor industri pengolahan skala besar dan sedang yang digunakan dalam penghitungan ICOR ini merupakan data menurut harga berlaku sehingga masih terpengaruh oleh faktor harga. pada Sementara penghitungan ICOR pertama adalah IHPB barang-barang modal yang dihitung berdasarkan data yang dikumpulkan melalui Survei Khusus Barang Modal. Penggunaan variabel nilai dari tambah sebagai proksi dari input dilakukan untuk menghindari double counting karena output suatu kegiatan bisa merupakan input dari kegiatan yang lainnya. Pada penghitungan ICOR pertama digunakan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) sebagai deflator untuk nilai output pada deflator masing-masing untuk nilai kode investasi industri. Nilai tambah yang digunakan dalam penghitungan ini adalah seluruh nilai output yang telah dikurangi dengan seluruh input/biaya antara. Namun pada penghitungan ICOR ketiga digunakan nilai tambah sebagai proksi dari variabel output dan fixed capital formation (pembentukan modal tetap bruto) sebagai proksi variabel investasi. Oleh karena itu untuk mendapatkan data/nilai menurut harga konstan digunakan suatu indeks sebagai deflator. deflator yang digunakan untuk nilai output masih sama dengan 16 . Selanjutnya komponen nilai tambah yang bukan merupakan hasil pendayagunaan barang modal dikeluarkan dari seluruh nilai tambah.

dan 390 (industri Iainnya dengan penimbang output dari masing-masing kode di atas. 383 (industri mesin listrik dan perlengkapannya). Sedangkan deflator untuk investasi adalah rata-rata tertimbang IHPB dari kode ISIC 382 (industri mesin bukan mesin listrik).ICOR Kabupaten Bandung 2008 penghitungan ICOR pertama yaitu dengan menggunakan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) untuk masing-masing kode ISIC industri. 384 (industri alat angkutan). 17 .

Data dan Keterbatasannya Data yang digunakan dalam penyusunan angka ICOR sektor industri pengolahan bersumber dari hasil Survei Tahunan Industri Besar dan Sedang yang pengumpulan datanya dilakukan dengan pencacahan lengkap sejak tahun 1975. 3. Dalam penghitungan ICOR sektor industri ini terdapat keterbatasan cakupan data. digunakan juga Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) sektor industri pengolahan menurut subsektor dan IHPB barang modal. Data yang dicakup di sini hanya meliputi data industri besar dan sedang tanpa memperhitungkan data industri kecil dan kerajinan rumah tangga. Pada bab III ini dijelaskan tentang data dan keterbatasannya. Jika 18 . Selain data Survei Tahunan Industri Besar dan Sedang. rumus-rumus yang digunakan dan metode penghitungannya.1. S e l a i n i t u d a t a i n d u s t r i p e n g o l a h a n m i n y a k juga tidak dicakup dalam penghitungan ini. Namun pada kenyataannya tidak semua asumsi terpenuhi sehingga perlu dilakukan adjustment atau penyesuaian terhadap data yang digunakan.ICOR Kabupaten Bandung 2008 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada Bab II telah dijelaskan beberapa konsep yang dipakai dalam penyusunan ICOR sektor industri pengolahan. Penjelasan tersebut masih sangat teoritis dengan anggapan bahwa data yang tersedia sesuai dengan kebutuhan untuk penghitungan.

(2). Beberapa karakteristik data industri besar dan sedang yang disertakan dalam penghitungan ICOR ini adalah: a. Total investasi yang dipakai dalam penghitungan ICOR 19 . nilai tambah dan investasi. Pembelian/penambahan.ICOR Kabupaten Bandung 2008 industri pengolahan minyak dicakup di sini maka angka ICOR yang dihasilkan akan berbeda karena industri ini merupakan industri yang padat modal dan berteknologi tinggi. Karakteristik data yang dikumpulkan berkaitan dengan masing-masing komponen modal tetap ini mencakup: (1). (3). Nilai Tambah Bruto (Value Added) merupakan selisih antara nilai output dan nilai input antara. Penjualan/pengurangan barang modal tetap. Di samping itu beberapa penyesuaian juga dilakukan terhadap data output. (4). mesin dan perlengkapannya. kendaraan. Penyesuaian yang dilakukan antara lain adalah dengan men-deflate nilai investasi dan output/nilai tambah menjadi harga konstan. Pembuatan/perbaikan besar barang modal tetap yang dilakukan yang dilakukan pihak lain. Nilai Investasi yang digunakan dalam penghitungan ICOR ini adalah data Fixed Capital Formation/Pembentukan Modal Tetap Bruto berupa: tanah. modal tetap lainnya. gedung. Pembuatan/perbaikan besar barang modal tetap yang dilakukan sendiri. b.

2..(1) dimana: K = penambahan barang modal baru/kapasitas terpasang Y = Perubahan/pertambahan output Dalam praktek... Sehingga dengan mengasumsikan (Investasi) maka rumus 20 .. Nilai selisih stok yang dicakup meliputi nilai selisih stok bahan baku. Nilai selisih stok ini akan ditambahkan pada nilai investasi pada penghitungan ICOR yang telah mempertimbangkan kondisi ekonomi makro.. c...... 3.. data yang diperoleh bukan merupakan penambahan terpasang barang melainkan modal baru atau kapasitas yang K = I besarnya investasi ditanamkan. barang setengah jadi dan barang jadi... barang setengah jadi maupun bahan jadi.. Konsep investasi yang dipakai di sini didasarkan pada pendekatan mikro dimana perusahaan diasumsikan tid4 melakukan penimbunan atau akumulasi stok baik bahan baku. Rumus dan Asumsi yang Digunakan Secara matematis rumus yang digunakan untuk menghitung ICOR sektor industri adalah: ... (2) dan (3) dikurangi butir (4).ICOR Kabupaten Bandung 2008 ini meliputi penjumlahan butir (1).

3.1. Rumus dalam persamaan 1 sampai 5 mengasumsikan bahwa penambahan output pada tahun tertentu terjadi 21 ... Dengan mempertimbangkan periode waktu ini dan karena data yang digunakan adalah time series data.ICOR Kabupaten Bandung 2008 (1) dapat dimodifikasi menjadi.. Lama waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh output dari investasi yang ditanamkan disebut lag... investasi yang ditanamkan kadang-kadang memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat menghasilkan output yang diinginkan. Rumus diperluas penghitungan 15 ICOR sektor standar industri yang dapat dibuat menjadi persamaan berdasarkan prinsip rata-rata sederhana. maka untuk memperoleh suatu nilai ICOR yang mewakili dilakukan penghitungan simple average (rata-rata sederhana). Karena ketersediaan data yang diperlukan untuk rumus ini lebih lengkap maka rumus ini lebih sering dipakai dalam penghitungan ICOR.2...(2) dimana: I = Investasi Y = Perubahan output Rumus ke (2) diatas disebut Gross ICOR yaitu suatu rasio yang menunjukkan besarnya tambahan unit kapital yang diperlukan untuk memperoleh tambahan satu unit output pada suatu periode tertentu. Rumus Standar Pada kenyatannya... ...... Kelima belas rumus standar tersebut adalah sebagai berikut: a...

Dengan demikian tidak diperlukan waktu (lag time) sampai investasi dapat memberikan tambahan output. Dengan demikian terdapat lag satu tahun sampai investasi yang ditanamkan menghasilkan tambahan output.(t1 .ICOR Kabupaten Bandung 2008 karena adanya investasi yang ditanamkan selama satu tahun. Persamaan 3 dimana: 22 . Persamaan 2 dimana: n = t2 .1) Rumus ini berarti bahwa investasi yang ditanamkan pada tahun ke t (It) baru akan menghasilkan tambahan output pada tahun ke t+1. Persamaan 1 dimana: n = t2 .(t1 .1) Arti dari rumus ini adalah investasi yang ditanamkan pada tahun ke t (It) akan menghasilkan output pada tahun ke t juga.

Hal ini berarti bahwa investasi tahun ke t baru akan menghasilkan tambahan output pada tahun t+4. Dengan demikian diperlukan waktu 3 tahun sampai investasi yang ditanamkan bisa menghasilkan tambahan output.ICOR Kabupaten Bandung 2008 n = t2 . 23 .(t1 .(t1 . Hal ini berarti bahwa investasi yang ditanamkan pada tahun ke t baru akan menghasilkan tambahan output setelah 2 tahun kemudian (t+2).1) Arti dari rumus ini adalah investasi yang ditanamkan pada tahun t (It) akan menghasilkan output pada tahun ke t+4.1) Arti dari rumus ini adalah investasi yang ditanamkan pada tahun t (It) akan menghasilkan tambahan output pada tahun ke t+2. Persamaan 5 dimana: n = t2 .(t1 . Persamaan 4 dimana: n = t2 .1) Arti dari rumus ini adalah investasi yang ditanamkan pada tahun ke t (It) akan menghasilkan output pada tahun ke t+3.

1) Rumus ini berarti bahwa selain investasi yang ditanamkan pada tahun ke t. Hal ini terjadi bila investasi yang ditanamkan pada tahun ke t-1 belum dimanfaatkan secara optimal. sehingga ketika pada tahun t mencapai full capacity It-i tersebut masih bisa menambah output tahun t. investasi yang ditanamkan pada tahun t-1 masih mempunyai kontribusi pada tambahan output tahun t. Rumus lain yang digunakan dalam penghitungan ICOR adalah dengan memodifikasi investasi (It ) menjadi bagianbagian investasi tahun ke (t-1) dan tahun ke (t).(t1 . Hal ini terjadi karena investasi tahun t-1 (It-1) pada tahun t-1 tidak full capacity. 24 . maka investasi itu bisa dimanfaatkan untuk tahun berikutnya atau bahwa investasi pada tahun ke t-1 belum full capacity sehingga masih bisa dimanfaatkan untuk tahun berikutnya.9 untuk tahun ke t.1 untuk tahun ke t-1 dan 0. Dalam hal ini diasumsikan bahwa tambahan output pada tahun tertentu merupakan hasil penanaman investasi tahun ke t dan tahun ke t-1 dengan proporsi 0. Modifikasi ini dapat dilihat dalam persamaan 6 sampai 10. Persamaan 6 dimana: n = t2 .ICOR Kabupaten Bandung 2008 b.

Persamaan 9 25 .1) Rumus ini berarti bahwa tambahan output pada tahun tertentu ditentukan oleh investasi yang ditanamkan dua tahun sebelumnya secara berturut-turut. Hal ini terjadi karena investasi tahun t-1 (It-1) pada tahun t-1 tidak full capacity. Hal ini terjadi karena investasi yang ditanamkan pada tahun t-1 dan t belum mencapai kapasitas penuh sehingga masih memberikan kontribusi pada output tahun t+1.(t1 .(t1 . Persamaan 8 dimana: n = t2 . sehingga ketika pada tahun t mencapai full capacity It_i tersebut masih bisa menambah output tahun t.ICOR Kabupaten Bandung 2008 Persamaan 7 dimana: n = t2 .1) Rumus ini berarti bahwa investasi yang ditanamkan pada tahun ke t dan tahun t-1 (It-1) masih mempunyai kontribusi pada tambahan output tahun t+2.

Persamaan 10 dimana: n = t2 .(t1 . sehingga ketika pada tahun t mencapai full capacity tersebut masih bisa menambah output tahun t. Hal ini terjadi karena investasi tahun t-1 (It-1) pada tahun t-1 tidak full capacity. t-1 dan t.1) Rumus ini berarti bahwa investasi yang ditanamkan pada tahun ke t dan tahun t-1 (It-1) masih mempunyai kontribusi pada tambahan output tahun t+3.(t1 .1) Rumus ini berarti bahwa investasi yang ditanamkan pada tahun ke t dan tahun t1 (It-1) masih mempunyai kontribusi pada tambahan output tahun t+4. tahun t-1 dan tahun t). Modifikasi Rumus ICOR berikutnya adalah dengan memodifikasi investasi menjadi bagian-bagian investasi tahun ke t-2. c. Besarnya proporsi investasi 26 . Hal ini terjadi karena investasi tahun t-1 (It-1) pada tahun t-1 tidak full capacity. Rumus-rumus ini dapat dilihat dalam persamaan 11 sampai 15. sehingga ketika pada tahun t mencapai full capacity It-1 tersebut masih bisa menambah output tahun t.ICOR Kabupaten Bandung 2008 dimana: n = t2 . Dalam rumus ini diasumsikan bahwa pertambahan output tahun tertentu merupakan hasil dari penanaman investasi tiga tahun berturut-turut (tahun ke t-2.

Persamaan 12 dimana: n = t2 .ICOR Kabupaten Bandung 2008 tahun t-2.1) Rumus ini berarti bahwa tidak ada lag sampai suatu investasi bisa menghasilkan karena sebagian investasi yang ditanamkan pada tahun t akan menghasilkan tambahan output pada tahun t juga.(t1 .7. t-1 dan t berturut-turut diasumsikan sebesar 0.2 dan 0.1) Rumus ini berarti bahwa sebagian investasi yang ditanamkan tahun ke t baru bisa menghasilkan tambahan output pada tahun t+1. Selain itu tambahan output pada tahun ke t juga dipengaruhi oleh investasi yang ditanamkan pada tahun ke t-1 (It-1)'dan ke t-2 (It-2).1. Selain itu tambahan output pada tahun t+1 juga merupakan hasil dari investasi yang ditanamkan pada tahun t-1 dan t-2. Persamaan 11 dimana: n = t2 . 0.(t1 . 27 .

(t1 . Persamaan 15 dimana: 28 . Persamaan 14 dimana: n = t2 .1) Rumus ini berarti bahwa selain investasi yang ditanamkan pada tahun t (It).ICOR Kabupaten Bandung 2008 Persamaan 13 dimana: n = t2 . investasi yang ditanamkan pada tahun t-1 (It-1) dan t-2 (It2) masih mempunyai kontribusi pada tambahan output tahun t+3. Karena tidak semua investasi yang ditanamkan bisa dimanfaatkan secara penuh pada tahun itu juga.(t1 .1) Rumus ini berarti bahwa selain investasi yang ditanamkan pada tahun t. investasi yang ditanamkan pada tahun t-1 (It-1) dan t2 (It-2) masih mempunyai kontribusi pada tambahan output tahun t+2. Dengan demikian diperlukan waktu sedikitnya dua tahun sampai suatu investasi bisa menambah output.

2. 1990-1997. investasi yang ditanamkan pada tahun t-1 (It_i) dan t-2 (It_2) masih mempunyai kontribusi pada tambahan output tahun t+4. Untuk masing-masing periode digunakan Iag=1 sehingga rumus yang digunakan untuk kedua periode tersebut adalah: a. . 3.ICOR Kabupaten Bandung 2008 n = t2 . Periode 1990-2002 dimana: I Y t = investasi = nilai tambah = 1990. Rumus Akumulasi Investasi Penghitungan dengan kelima belas rumus di atas menerapkan prinsip rata-rata sederhana sehingga dimungkinkan terjadinya bias yang disebabkan karena fluktuasi yang cukup ekstrim pada tahun tertentu.. 2001 b. Periode 1990-1997 dimana: 29 .1) Rumus ini berarti bahwa selain investasi yang ditanamkan pada tahun t. Untuk itu sebagai pembanding dilakukan juga penghitungan ICOR menggunakan metode akumulasi investasi yang menerapkan prinsip rata-rata tertimbang untuk periode 1990-2002. dan 1999-2002.2...(t1 . 1991.

Faktor-faktor lain di luar investasi seperti pemakaian tenaga kerja.. 3..ICOR Kabupaten Bandung 2008 I Y t = investasi = nilai tambah = 1990. .. 2000. 2002 Dengan rumus ini dapat dilihat sejauh mana investasi yang ditanamkan sejak tahun 1999 sampai tahun 2001 dapat berpengaruh terhadap penambahan output sejak tahun 2000 sampai 2002. Asumsi dasar Dalam penghitungan ICOR dengan metode standar maupun akumulasi investasi terdapat asumsi bahwa perubahan output semata-mata hanya disebabkan oleh perubahan kapital/adanya investasi. 30 . Periode 1999-2002 dimana: I Y t = investasi = nilai tambah = 1999. penerapan teknologi dan kemampuan kewiraswastaan diasumsikan konstan.2. . 1991..3. c.. 1996 Melalui rumus ini dapat dilihat sejauh mana investasi yang ditanamkan sejak tahun 1990 sampai tahun 1996 dapat berpengaruh terhadap penambahan output sejak tahun 1991 sampai 1997..

Penyesuaian data investasi. Nilai tambah yang dihitung di sini adalah nilai output dikurangi biaya antara atau sering juga disebut nilai tambah bruto.1.3. Dengan demikian komponen nilai tambah yang dicakup hanya meliputi barang yang dihasilkan. Dalam hal ini nilai pendapatan dari jasa industri. 3. Sehingga untuk menghindari double counting.3. listrik yang dijual dan selisih stok barang setengah jadi.ICOR Kabupaten Bandung 2008 3.2. Namun karena ICOR hanya memperhitungkan komponen nilai tambah yang dihasilkan dari pendayagunaan barang modal maka dilakukan beberapa penyesuaian yaitu komponen nilai tambah yang bukan merupakan pendayagunaan barang modal dikeluarkan dari seluruh nilai tambah. Dalam konsep ICOR. Tahap-Tahap Penyusunan ICOR Sektor Industri Penyusunan nilai ICOR sektor industri dilakukan dalam beberapa tahap meliputi penyesuaian output dan investasi. investasi yang dimaksud adalah fixed capital formation atau pembentukan barang modal tetap seperti tercantum dalam butir 3. Nilai total investasi 31 . penyesuaian harga konstan dan penghitungan dengan komputer. dalam penghitungan ICOR ini tidak digunakan nilai output melainkan nilai tambah. keuntungan barang yang tidak diproses.3. penerimaan jasa angkutan dan jasa-jasa non industri lainnya dan penerimaan dad penjualan limbah/sampah produksi akan dikeluarkan dari nilai tambah bruto. Penyesuaian Output Dalam kegiatan ekonomi output suatu kegiatan bisa menjadi input untuk kegiatan ekonomi lainnya (input antara).b. 3.1.

Perkembangan riil dari nilai tambah pada masing-masing kode industri antar waktu (series data) dapat dilihat dari nilai tambah menurut harga konstan. Disamping itu data penyusutan yang ada merupakan nilai akumulasi. Sebenarnya nilai investasi ini masih merupakan investasi bruto karena belum dikurangi nilai penyusutan. Akibatnya.3. maka nilainya bisa jauh lebih besar dari investasi itu sendiri. Keterbatasan pertama adalah pada umumnya perusahaan cenderung melebihkan nilai penyusutan dengan alasan pajak. penyusutan diperhitungkan. Untuk mendapatkan nilat tambah menurut harga konstan dilakukan dengan men-deflate nilai tambah harga berlaku dengan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) masing-masing sub sektor industri. Sementara yang perlu kita perhitungkan disini adalah nilai penyusutan riil atas barang modal. Untuk mendapatkan nilai output dan nilai investasi (pembentukan modal tetap bruto) yang terlepas dari pengaruh harga (menurut harga konstan). sementara data investasi yang digunakan adalah tambahan investasi yang terjadi apabila pada nilai tahun yang bersangkutan. Penyesuaian untuk harga konstan Nilai output dan investasi dalam butir 3.3.3. Namun karena adanya beberapa keterbatasan mengenai data penyusutan. maka digunakan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) sebagai deflator.3. maka data penyusutan tidak digunakan.ICOR Kabupaten Bandung 2008 diperoleh dari penjumlahan seluruh pembelian barang modal/perbaikan besar dikurangi penjualan barang modal bekas.2 di atas masih merupakan nilai yang berdasarkan pada harga berlaku.1 dan 3. Karena 32 . 3.

Nilai ICOR 3 digit ISIC Data nilai tambah untuk 3 digit ISIC diperoleh dengan cara menjumlahkan nilai tambah harga konstan untuk 5 digit ISIC yang mempunyai 3 angka depan yang sama untuk masingmasing tahun. Misalnya jika IHPB kode ISIC 313 tidak tersedia maka digunakan IHPB kode ISIC Sementara itu untuk mendapatkan nilai investasi menurut harga konstan dihitung dengan men-deflate nilai investasi menurut harga berlaku dengan menggunakan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) untuk barang modal. maka untuk sub sektor (3 digit ISIC) yang tidak mempunyai data IHPB maka digunakan IHPB sektornya. Dari penjumlahan 5 digit ISIC ini didapatkan 31 jenis ISIC 3 digit. a.3. dan 390 (industri lainnya) dengan penimbang output dari masing-masing kode di atas. 384 (industri alat angkutan).4. maka sebagai deflator nilai investasi digunakan rata-rata tertimbang IHPB dari kode ISIC 382 (industri mesin bukan mesin listrik). Metode ini juga dilakukan untuk data investasi untuk masing-masing tahun. Berhubung data IHPB untuk barang modal tidak tersedia. Kelima belas rumus dibuat dan diterapkan untuk mendapatkan nilai ICOR menurut 2 dan 3 digit ISIC sektor Industri selain nilai ISIC total sektor industri. 383 (industri mesin listrik dan perlengkapannya). 3. Penghitungan Nilai ICOR dengan komputer Penghitungan nilai ICOR sektor Industri ini dilakukan dengan menggunakan program SAS. Selanjutnya penghitungan 33 .ICOR Kabupaten Bandung 2008 ketersediaan data IHPB sektor industri ini hanya pada beberapa subsektor industri saja.

Dengan demikian didapatkan suatu series nilai tambah yang lebih balk.r a t a p e r t u m b u h a n n y a a t a u t i d a k mengikutsertakannya dalam penghitungan. Untuk mendapatkan nilai ICOR 2 digit ISIC digunakan cara yang sama dengan cara yang terdapat pada butir a.6.5. Selain itu dilakukan juga perapihan nilai investasi yang e k s t r i m d e n g a n m e n g h i t u n g r a t a . Nilai ICOR 2 digit ISIC.3.ICOR Kabupaten Bandung 2008 ICOR 3 digit ISIC dilakukan dengan selisih maupun tanpa selisih stok bahan baku. Oleh karena itu untuk beberapa ISIC yang memiliki nilai tambah berfluktuasi dilakukan perapihan dengan cara menghitung ratarata pertumbuhan nilai tambah per tahun untuk masing-masing ISIC. 3. Pemilihan lag investasi Data yang digunakan dalam penghitungan ICOR adalah data series waktu. Hal ini terjadi karena ada series data nilai tambah untuk beberapa ISIC yang masih berfluktuasi. Penyesuaian Tahap Akhir Dalam Penyusunan ICOR Dalam penghitungan ICOR masih ditemukan beberapa nilai ICOR yang bernilai negatif. bahan mentah dan bahan setengah jadi. 3.3. b. Selanjutnya nilai ICOR untuk masingmasing ISIC bersangkutan dihitung kembali. Dalam penentuan lag investasi 34 . Selanjutnya angka pertumbuhan ini diterapkan pada perusahaan-perusahaan yang memiliki ten nilai tambah menurun. Penghitungan ICOR ini dilakukan dengan menggunakan kelima belas rumus standar dan rumus Akumulasi Investasi lag=1.

35 . Dengan menggunakati analisis CCF dapat dilihat hubungan antara investasi yang ditanamkan pada sektor industri pengolahan dengan tambahan output untuk masingmasing tahun untuk setiap jenis industri. Analisis CCF dapat digunakan untuk melihat hubungan antara satu observasi dengan observasi yang lain untuk variabel yang berbeda. Atau dengan kata lain dengan CCF dapat diketahui kapan waktu pengembalian investasi yang tepat untuk masing-masing jenis industri.ICOR Kabupaten Bandung 2008 digunakan analisis Cross Correlation Function (CCF).

438.793.2. 65.86 milyar.04 persen pada periode 20052007.1.44 milyar pada periode 2005-2007.954.06 milyar pada periode 20052007. 10.70 milyar pada periode 2000-2004 menjadi Rp. 4.03 milyar pada periode 2005-2007. PDRB juga digunakan untuk Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau disebut juga investasi fisik yang sifatnya lebih produktif. Nilai rata-rata PMTB meningkat cukup signifikan dari Rp.38 persen menjadi 0.47 persen menjadi 6. Perananya pun meningkat dari 5.909.25 milyar pada periode 2000-2004 meningkat menjadi Rp. Seiring dengan nlainya. Selain digunakan untuk konsumsi akhir. nilai ratarata pertahunnya meningkat dari Rp. Demikian halnya dengan konsumsi pemerintah. Jika dibahas dari sisi penggunaan porsi terbesar PDRB digunakan untuk konsumsi rumahtangga. Tinjauan Ekonomi dari sisi Penggunaan Perekonomian Kabupaten Bandung selama periode 2000 sampai dengan 2007 mengalami trend pertumbuhan yang sangat baik. 943. Namun jika dilihat peranannya cenderung menurun yaitu dari rata-rata per tahun 62. Pada periode 2000-2004 rata-rata konsumsi rumahtangga per tahun di Kabupaten Bandung sebesar Rp.68 milyar pada periode 2000-2004 meningkat menjadi 126. nilai rata-rata per tahun meningkat dari Rp.43 persen. Namun jika dilihat rata-rata 36 .021.ICOR Kabupaten Bandung 2008 BAB IV PEMBAHASAN 4. 1. 17.49 persen. Berikutnya adalah konsumsi lembaga non profit.53 persen pada periode 2000-2004 menjadi 61.49 milyar sedangkan pada periode 2005-2007 meningkat menjadi sebesar Rp. peranannya pun meningkat dari 0.

909.57 persen.53 0. Pada periode 20002004 nilai rata-rata per tahun Rp.43 6.57 100.25 1.001.60 100.80 persen. Peranannya pun meningkat dari 11.60 persen menjadi 12.ICOR Kabupaten Bandung 2008 peranannya per tahun justru menurun.96 17.705.00 Jika kita bahas rata-rata laju pertumbuhan komponen PDRB menurut penggunaan Kabupaten Bandung ditampilkan 37 .24 3. 1.60 17.34 milyar pada periode 2005-2007. 1. Nilai Rata-rata PDRB Menurut Penggunaan atas dasar harga berlaku per tahun dan Peranannya Kabupaten Bandung Periode 2000 – 2004 dan 2005 .68 943.95 62.13 5. Pada periode 2000-2004 nilai rata-rata per tahunnya meningkat dari Rp.49 13. Tabel.954.793.24 milyar pada periode 2005-2007.698.67 5. 1. Berikutnya adalah componen ekspor netto yang merupakan selisih nilai dari kegiatan ekspor dikurangi impor. Namun peranannya menurun dari 5.414.13 persen pada periode 2000-2004 menjadi 13.021.705.38 5. Berikutnya adalah perubahan stok (inventori) yang didalamnya termasuk nilai selisih statistik.001.03 1.90 persen menjadi 5.44 4.47 14.260.90 11.698.67 persen pada periode 2005-2007.49 Konsumsi LNPRT Konsumsi Pemerintah PMTB Perubahan Stok Ekspor Netto PDRB per tahun 65.04 1.22 milyar meningkat menjadi Rp.2007 Periode Komponen 2000-2004 [1] [2] Peranan 2005-2007 2000-2004 2005-2007 [3] [4] [5] Konsumsi Rumahtangga 10.22 2.80 12.04 0.34 29. 3.70 2.018. yaitu dari 14.00 61.438.60 milyar menjadi Rp. 2.86 126.018.

89 persen pada periode 38 .94 8.18 7. Komponen ekspor netto mengalami penurunan yang cukup tajam.16 6.36 persen pada periode 2005-2007.62 5. Konsumsi pemerintah mengalami peningkatan rata-rata laju pertumbuhan yaitu dari 7. Sebaliknya rata-rata laju pertumbuhan per tahun konsumsi lembaga non profit menurun dari 7.18 persen menjadi 5. 2.62 12.94 persen.2007 Laju Pertumbuhan Komponen [1] 2000 .45 4.51 3.45 7.83 Komponen PMTB cenderung tidak mengalami perubahan rata-rata laju pertumbuhan yaitu 5.45 persen pada periode 2000-2004 menjadi 6.89 5.38 5.62 persen pada periode 2000-2004 menjadi hanya 3.ICOR Kabupaten Bandung 2008 pada tabel berikut.38 persen pada periode 2005-2007.2007 [3] Konsumsi Rumahtangga Konsumsi LNPRT Konsumsi Pemerintah PMTB Perubahan Stok Ekspor Netto PDRB per tahun 3.45 persen pada periode 2005-2007. Komponen konsumsi rumahtangga yang merupakan kontributor terbesar mengalami peningkatan ratarata laju pertumbuhan per tahun yang signifikan yaitu dari 3. yaitu dengan rata-rata laju pertumbuhan per tahun 12. Rata-rata Laju Pertumbuhan PDRB Menurut Penggunaan per tahun Kabupaten Bandung Periode 2000 – 2004 dan 2005 .26 9.26 persen pada periode 20002004 menjadi 5.36 5. Tabel.09 5.09 persen pada periode 2000-2004 menjadi 8.2004 [2] 2005 .

07. 39 . hal ini menggambarkan untuk memperoleh penambahan satu unit output dalam rentang periode tersebut dibutuhkan investasi fisik (PMTB) sebanyak 3. rata-rata laju pertumbuhannya menurun dari 9. Karena unit PMTB bentuknya berbeda-beda dan beraneka ragam sementara unit output relative tidak berbeda.ICOR Kabupaten Bandung 2008 2005-2007.2. Koefisien ICOR Akumulasi periode 2000-2007 Sebagaimana diketahui koefisien ICOR Incremental Capital Output Ratio adalah suatu besaran yang menunjukkan besarnya tambahan kapital (investasi) baru yang dibutuhkan untuk menaikkan/menambah satu unit output.07 unit. Demikian halnya dengan komponen perubahan stok. Semakin kecil koefisien ICOR menunjukkan semakin efisien pembentukan modal yang terjadi. Dalam pembahasan ini tambahan kapital (investasi) baru adalaha Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). 4. Besaran koefisien ICOR Akumulasi selama periode 2000-2007 secara total 3. Berikut adalah pembahasan koefisien ICOR secara akumulasi periode 2000-2007 di Kabupaten Bandung. maka untuk memudahkan penghitungan keduanya dinilai dalam bentuk uang (nominal).51 persen.62 persne menjadi 4. Besaran ICOR diperoleh dengan membandingkan besarnya PMTB dengan tambahan output. Besaran koefisien ICOR merefleksikan produktivitas PMTB yang pada akhirnya menyangkut pertumbuhan ekonomi yang bisa dicapai.

Persewaan & Jasa Pers 9.8. Industri Mineral non logam 3. Koefisien ICOR Akumulasi Periode 2000 – 2007 Kabupaten Bandung ICOR Akumulasi 2000 .1.07 Sektor Pengguna [1] 1. Industri Pengolahan 3.28. bambu dsb 3.33 1. Perdagangan. Gas & Air Bersih 5. Hotel & Restoran 7.6. Listrik. Mnm & Tbk 3.28 1.ICOR Kabupaten Bandung 2008 Tabel 3. Pengangkutan & Komunikasi 8.39 2.92 5.2.89 4. Tekstil & Kulit 3.7. Pemerintahan Umum 10.16 1.24 13.44 1.75 1. Industri Brg dr Logam 3. Ind. Industri lainnya 4.09 Jumlah 3.9. dengan koefisien ICOR hanya 0.49 4.3.39 4. Industri Logam Dasar 3. Ind. Jasa-jasa Tabel di bawah ini menunjukkan besaran koefisien ICOR Akumulasi periode 2000-2007 di Kabupaten Bandung menurut sektor.13 20. Industri Kimia 3. Pertambangan & Penggalian 3.5.30 0. Artinya setiap penambahan Rp.17 2. Bangunan 6. Mkn.4. Industri Kertas & Percetakan 3.92 1. Ind.38 2. Pertanian 2.1 milyar output hanya memerlukan PMTB sebesar Rp.2007 [2] 2. Hal ini menunjukkan 40 . Kayu.91 2.280 juta. Keuangan. Sektor-sektor yang mempunyai koefisien ICOR paling kecil adalah sektor bangunan.82 1.

karena hampir sebagian besar ouputnya menjadi investasi fisik (PMTB). serta industri mineral non logam (2. sektor industri pengolahan (2.49). gas dan air bersih serta sektor jasa pemerintahan umum mempunyai koefisien ICOR yang besar yaitu 20. industri logam dasar (1. bambu dsb (1. Sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa masing-masing mempunyai koefisien ICOR 5.39.24).39).33). Sedangkan sektor dengan koefisien ICOR antara 2 dan 3 adalah sektor pertanian (2. Sedangkan kelompok komoditi dengan koefisien ICOR antara 2 dan 4 adalah industri tekstil & kulit (2.17). karena ditangani langsung oleh pemerintah menyangkut kebijakan yang bersifat kepentingan publik. industri kayu. Kelompok komoditi industri kertas & percetakan serta industri lainnya 41 .09. serta sektor perdagangan.92). minuman dan tembakau (1. Khusus untuk sektor industri pengolahan akan dibahas secara rinci berdasarkan kelompok komoditi. Sedangkan sektor listrik. persewaan dan jasa perusahaan (2.89).91).16) serta industri barang dari logam (1. PMTB pada kedua sektor tersebut sangat efisien. Artinya PMTB pada kedua sektor tersebut tidak efisien.75). industri kimia (1.38 dan 4. serta sektor keuangan.92).44). Bisa dikatakan PMTB pada kedua sektor tersebut kurang efisien jika dibandingkan dengan sektor-sektor yang tersebut di atas. Kelompok komoditi dengan koefisien ICOR kurang dari 2 adalah Industri makanan. hotel dan restoran (1.ICOR Kabupaten Bandung 2008 bahwa produktifitas PMTB pada sektor bangunan sangat tinggi. Berikutnya sektor dengan koefisien ICOR kurang dari 2 adalah sektor pertambangan dan penggalian (1.30 dan 13.

Hal ini 42 . Perubahan ini lebih disebabkan oleh berkurangnya penambahan output yang terbentuk pada periode 2005-2007.22 menurun menjadi 2.82 dan 4. Walaupun pengaruh kenaikan harga BBM tidak berkaitan langsung dengan PMTB namun dalam pembahasan ini akan melihat pengaruhnya terhadap perubahan besaran koefisien ICOR. hanya sektor perdagangan. Koefisien ICOR sektor perdagangan. hotel & restoran dan sektor jasa-jasa yang koefisien ICOR akumulasinya menurun. Khusus pada sektor pertanian terjadi perubahan koefisien ICOR yang cukup signifikan yaitu dari 2.01. Koefisien ICOR Akumulasi periode 2000-2004 dan 2005-2007 Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM pada tahun 2005 berpengaruh besar terhadap perekonomian pada seluruh sektor.3. Pada periode tersebut terjadi pergeseran musim yang menyebabkan kegagalan panen di hampir seluruh kegiatan pertanian.ICOR Kabupaten Bandung 2008 mempunyai koefisien ICOR di atas 4 yaitu masing-masing 4. hotel & restoran pada periode 2000-2004 sebesar 2. Jika ditelaah lebih jauh berdasarkan sektor.77.13. terutama sektor yang muatan bahan baku BBM-nya cukup dominan.17.50 menjadi 9.77. Berikut adalah pembahasan koefisien ICOR akumulasi jika dipecah dalam dua periode yaitu periode 20002004 dan 2005-2007. 4. sedangkan sektor jasa-jasa dari 5. Secara total koefisien ICOR akumulasi mengalami peningkatan dari 3.56 menjadi 3.68 menjadi 3. peningkatan ini mengindikasikan adanya penurunan produktivitas PMTB pada periode 2005-2007.

Mkn.2.01 2.72 3.ICOR Kabupaten Bandung 2008 menyebabkan pembentukan modal pada sektor pertanian yang terjadi dalam periode tersebut menjadi tidak efisien. Industri Mineral non logam 3.46 0.2004 [1] 1.29 2.94 1. Tabel 4.22 5. Industri Kertas & Percetakan 3.26 2. dan 2005 – 2007 Kabupaten Bandung ICOR Akumulasi 2000 .2007 [3] 9.52 15.93 2. yaitu industri makanan.70 2.92 6. Industri lainnya 4. minuman & tembakau.50 2. Ind. Perdagangan.78 4.9. industri kayu. Koefisien ICOR Akumulasi periode Tahun 2000 – 2004. industri mineral non logam serta industri lainnya. Mnm & Tbk 3.5.77 Sektor Pengguna Pada sektor industri pengolahan beberapa kelompok komoditi mengalami penurunan koefisien ICOR. Jasa-jasa Jumlah [2] 2. Kayu.80 2. Gas & Air Bersih 5.46 0.22 5.44 5.6.77 3. Pertanian 2. Industri Pengolahan 3. Listrik. Pertambangan & Penggalian 3.68 3. bambu dsb 3.13 2.56 2005 .1.57 8.17 6.09 2.71 16. Tekstil & Kulit 3. Ind.55 1. industri kimia.74 1.84 2. Industri Kimia 3. Pemerintahan Umum 10. Hotel & Restoran 7. Pengangkutan & Komunikasi 8.7. Persewaan & Jasa Pers 9. Keuangan.20 3. 43 .3.11 2. Ind. Bangunan 6.80 3.48 1.25 1.11 21.52 2.4. Industri Brg dr Logam 3.50 1.33 2.43 2.8. Industri Logam Dasar 3. bambu dsb.79 26.

Koefisien ICOR Lag 0. maka untuk memperoleh suatu koefisien ICOR yang mewakili dilakukan penghitungan simple average (rata-rata sederhana).ICOR Kabupaten Bandung 2008 Sedangkan industri yang mengalami peningkatan koefisien ICOR adalah industri tekstil & kulit.47 44 .28 0. industri kertas & percetakan. Tabel 5.98 2.34 2.61 2. Lama waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh output dari investasi yang ditanamkan disebut lag.06 3.63 2.52 2.46 2. industri logam dasar serta industri barang dari logam.55 3.91 2.87 2.79 2. telah dijelaskan pada bab investasi yang ditanamkan kadang- kadang memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat menghasilkan output yang diinginkan. Koefisien ICOR Kabupaten Bandung berdasarkan Lag waktu (Time Lag) Periode 2001 .49 2.74 2.94 2.2007 Tahun [1] Lag 0 [2] Lag 1 [3] Lag 2 [4] 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Akumulasi Standar 3.4. Dengan mempertimbangkan periode waktu ini dan karena data yang digunakan adalah time series data.90 2. 4.75 2.68 2.64 2. 1 tahun serta 2 tahun.07 2. Berikut adalah hasil penghitungan koefisien ICOR berdasarkan lag waktu 0 tahun.40 2.33 2.84 2.01 2.45 2. Lag 1 serta Lag 2 Kabupaten Bandung periode 2000-2004 dan 2005-2007 Sebagaimana sebelumnya.

07 unit per tahun.47 dengan lag 2. Kabupaten Bandung periode 2000-2004 dan 2005-2007 Pada tabel berikut menampilkan koefisien ICOR menurut sektor dengan time lag 0 periode 2000-2004 dan periode 20052007. Tetapi jika dengan asumsi PMTB pada tahun tertentu baru akan menghasilkan output yang diinginkan setelah ditanam selama 1 tahun koefisien ICOR nya lebih kecil yaitu 2.63 dengan lag 1. Koefisien ICOR Lag 0. demikian halnya jika time lag-nya 2.1. Pembahasan berikut dengan menggunakan asumsi bahwa investasi yang digunakan pada tahun tertentu akan 45 .79 dengan lag 0. Jika dengan menggunakan asumsi time lag 1 tahun nilainya lebih kecil lagi. Jika lag-nya 2 maka koefisien ICOR nya lebih kecil lagi yaitu hanya 0. Koefisien ICOR periode 2000-2007 dengan menggunakan metode standar adalah 2. Jika kita telusuri lebih rinci setiap tahunnya untuk lag waktu 0 dari tahun 2001 sampai 2007 nilainya semakin mengecil. 2.07 yang artinya untuk mendapatkan penambahan 1 unit output setiap tahunnya diperlukan PMTB sebanyak 3.ICOR Kabupaten Bandung 2008 Pada tabel di atas terlihat koefisien ICOR dengan metode akumulasi dari lag 0 sampai dengan lag 2 terlihat semakin mengecil.4.94. artinya produktivitas PMTB semakin baik dengan asumsi investasi yang ditanamkan pada tahun tertentu akan langsung dapat menghasilkan output yang diinginkan di tahun yang sama. 2. Pada periode 2001-2007 dengan lag 0 koefisien ICOR akumulasi sebesar 3. 4. dengan asumsi PMTB pada tahun tertentu akan langsung menghasilkan output yang diinginkan pada tahun yang sama.90.

96 11.23. Ind. Ind. Gas & Air Bersih 5.01 2.1.3. sektor pemerintahan umum (24.68 2.Mnm & tbk 3.07 2.07) Tabel 6.2.Mineral non logam 3. Persewaan & Jasa Persh.88 22.95 1.Logam Dasar 3.Kayu. gas dan air bersih (22.02 2. Koefisien ICOR Lag 0 Kabupaten Bandung Periode 2000 – 2004 dan 2005 .23 1.58 0.03 0.bambu dsb 3.5.75).24 1. Tekstil & kulit 3.42). Listrik. Ind.25 1. Ind. Ind. Listrik.11 0. Sektor-sektor dengan koefisien ICOR yang cukup besar adalah sektor pertanian (7.07). persewaan & jasa perusahaan (2.75 24. hotel dan restoran dengan koefisien ICOR 1.78). Berikutnya adalah sektor perdagangan. Hotel & Restoran 7. Jasa – jasa Jumlah 7.2004 2005 . Lainnya 4.69 5.Kimia 3. Ind.08 8.40 19.93 9.Brg dari logam 3. Industri Pengolahan 3. Ind.50 5.93.42 -0.2007 Sektor Pengguna [1] Periode 2000 . Perdagangan.60 46 .86 2.58 2. Secara sektoral nilai yang paling kecil adalah sektor bangunan yaitu 0.07 0.90 2.93 19.7. Pertambangan & Penggalian 3. Pengangkutan & Komunikasi 8.6. 9.80 9. Ind.97 1.78 2. sektor pengangkutan & komunikasi (4.ICOR Kabupaten Bandung 2008 langsung menghasilkan output yang diinginkan pada tahun yang sama. Pertanian 2.10 3.4.9.34 1. Pemerintahan Umum 10.16 3.38 3.25) dan sektor keuangan.95 11. Sedangkan yang nilainya antara 2 dan 3 adalah sektor industri pengolahan (2.8.Mkn.84. Bangunan 6.83 1.2007 [2] [3] 1.21 2.44 2.84 4. Keuangan. Ind.00 1. Pada periode 2000-2004 koefisien ICOR secara total adalah sebesar 2.Kertas & percetakan 3.96) serta sektor jasa-jasa (11.05 1.

minuman & tembakau (1.93 menjadi 2. Koefisien ICOR Lag 1. Koefisien ICOR pada industri kertas & percetakan dan industri mineral non logam serta industri lainnya nilainya cukup besar masing-masing sebesar 9.58. bambu dsb (2. Pada industri pengolahan hanya indsutri tekstil yang mengalami peningkatan koefisien ICOR. Tapi beberapa sektor yang lain mengalami peningkatan produktivitas PMTB dengan indikasi semakin mengecilnya koefisien ICOR. industri logam dasar (1.80). Pada periode 2005-2007 koefisien ICOR secara total menurun yaitu dari 2. Penurunan ini mengindikasikan adanya peningkatan produktivitas PMTB.4. 8.44).08).60. serta sektor pengangkutan & komunikasi.88.93).2. Kabupaten Bandung periode 2000-2004 dan 2005-2007 Berikut adalah pembahasan koefisien ICOR dengan asumsi PMTB pada tahun tertentu baru akan menghasilkan output yang diinginkan setelah satu tahun berikutnya.86). Hal ini menggambarkan semakin menurunnya produktivitas PMTB. serta industri barang dari logam (1.95 serta 9.ICOR Kabupaten Bandung 2008 Koefisien ICOR industri pengolahan lag 0 jika ditelusuri menurut kelompok komoditi yang nilainya antara 1 dan 2 adalah industri makanan. industri kayu. sektor bangunan.83). Secara total koefisian ICOR dengan time lag 1 mengalami penurunan 47 . Beberapa industri memiliki koefisien ICOR yang semakin besar pada periode 2005-2007 yaitu sektor pertanian. 4. serta industri kimia (2. Sedangkan industri yang koefisien ICOR nya antara 2 dan 3 adalah industri tekstil & kulit (2.

hal ini mengindikasikan produktivitas kapital yang semakin meningkat.8. Pengangkutan & Komunikasi 8.84.11 menjadi 1.Mnm & tbk 3.6. Ind.7.2004 2005 . Pemerintahan Umum 10.2007 [2] [3] 1.34 0.70 menjadi 10.30 2. Koefisien ICOR Lag 1 Kabupaten Bandung Periode 2000 – 2004 dan 2005 . Tabel 7.Kayu. Keenam 48 .86 serta sektor jasa-jasa dari 10.70 10.3.66 0.11 1. sektor perdagangan. Ind.20 2.68 1.76 1. hotel & restoran dari 1.Kimia 3.66 24.60 9.74.Mkn.24 18.1. Ind. Ind.69 4.86 3. Bangunan 6. Ind.9.87 1.74 0. Industri Pengolahan 3. sektor keuangan.03 10.27 1.Mineral non logam 3.ICOR Kabupaten Bandung 2008 yaitu dari 2.81 8.25 3.66 menjadi 2.68 1.22 1.Brg dari logam 3.84 1.79 13.4.Logam Dasar 3. 9. Lainnya 4.80 2.52 2.33 1. Jasa – jasa Jumlah 5.66 menjadi 18.36 5.59 0.96 2.46.69 menjadi 1.94 0.5. Keuangan.65. Gas & Air Bersih 5.40 menjadi 3.92 8.73 1. Persewaan & Jasa Persh.75 2. sektor listrik.46 Koefisien ICOR jika dibandingkan antara periode 20002004 dengan 2005-2007 menurut sektor terlihat beberapa yang cenderung mengecil. Ind.28 21.04 2. Tekstil & kulit 3. Pertanian 2. Hotel & Restoran 7.bambu dsb 3.65 5.2007 Sektor Pengguna [1] Periode 2000 . gas dan air bersih dari 21. sektor pemerintahan umum dari 24. Ind.79 menjadi 2. Listrik.2. persewaan & jasa perusahaan dari 2.Kertas & percetakan 3.24. Pertambangan & Penggalian 3.03. Perdagangan. Ind. Sektor industri pengolahan dari 2.24 2. Ind.84 0.40 2.

Kabupaten Bandung periode 2000-2004 dan 2005-2007 Jika investasi yang dilakukan baru menghasilkan output yang diharapkan setelah 2 tahun ditanam secara total menurun dari 2.32.4. hotel & restoran dari 1.30 menjadi 2. Kelima sektor tersebut adalah sektor industri pengolahan dari 2. serta sektor pengangkutan dan komunikasi. sektor listrik. Koefisien ICOR Lag 2. pada periode 2005-2007 kelima sektor tersebut mengalmai peningkatan produktivitas kapital jika diasumsikan PMTB pada tahun tertentu baru bisa menghasilkan output pada dua tahun berikutnya.73. hanya lima sektor yang mengalami penurunan koefisien dalam periode 2000-2004 dan 2005-2007. 49 .3. sektor pemerintahan umum dari 15.48. Makna dari angka-angka tersebut adalah. 4.83 serta sektor jasa-jasa dari 3.63 menjadi 1.ICOR Kabupaten Bandung 2008 sektor tersebut mengalami peningkatan produktivitas kapital. gas dan air bersih dari 25. sektor bangunan. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan produktivitas kapital yang diindikasikan dengan peningkatan koefisien kapital adalah sektor pertanian. sektor pertambangan & penggalian.31 menjadi 2.86. sektor perdagangan.32. Makna dari angka tersebut adalah penurunan produktivitas kapital pada sektor industri tekstil dan kulit pada periode 2005-2007. Jika sektor industri pengolahan dilihat secara lebih rinci hanya industri tekstil dan kulit yang mengalami peningkatan dari 2.80.63 menjadi 2.73 menjadi 10. Secara sektoral.01 menjadi 1.08 menjadi 18.

Industri Pengolahan 3.71 serta sektor keuangan. Lainnya 4.81 menjadi 2.09 3.3.00 5. Pengangkutan & Komunikasi 8.7.83 2.75 0.33 1. Pemerintahan Umum 10.85 2.2. Koefisien ICOR Lag 2 Kabupaten Bandung Periode 2000 – 2004 dan 2005 . Pertanian 2.2007 Sektor Pengguna [1] Periode 2000 .Mineral non logam 3.06 10.33 1.32 Sedangkan sektor yang mengalami peningkatan koefisien adalah sektor pertanian dari 1.24 18. Jasa – jasa Jumlah 1. sektor bangunan dari 0.63 4.Mnm & tbk 3. sektor pertambangan & penggalian dari 1.81 15. Ind.25 menjadi 4.01 1.99 1. persewaan & jasa perusahaan dari 1. Ind. 9. Ind.Kayu.07 1.9.8.4.06.25 1. Hotel & Restoran 7.24 menjadi 1.54.bambu dsb 3.72 1. Listrik. Ind.32 0.23 1.24 2.5.71 2.2004 2005 . Ind.Logam Dasar 3.Kimia 3.6. Ind.54 1.1.73 1.86 2.48 4. Ind. Ind.27 9.73 0. Perdagangan. sektor pengangkutan & komunikasi dari 4. Ind.99 1.73. Pertambangan & Penggalian 3.71 2. Gas & Air Bersih 5.33.25 2. Keuangan. 50 .66 1.81 0. Tekstil & kulit 3.73 3.99 menjadi 12.75 2.Kertas & percetakan 3.58 25.23 menjadi 0.63 12.18 2.ICOR Kabupaten Bandung 2008 Tabel 8.31 2.Brg dari logam 3. Persewaan & Jasa Persh.2007 [2] [3] 1. Bangunan 6.Mkn.15 9.08 0.

93 milyar pada tahun 2000 menjadi Rp. Untuk itu tidak berlebihan bila angka yang sudah ditentukan dapat dijadikan sebagai acuan perencanaan dalam menentukan 51 . Penentuan suatu nilai ICOR setoral yang mewakili untuk perkiraan investasi dimasa akan datang masih bisa dikembangkan.07 unit.75 persen yaitu dari Rp. 4.95 milyar pada tahun 2007.ICOR Kabupaten Bandung 2008 BAB V KESIMPULAN Investasi dalam hal ini PMTB atas dasar harga berlaku Kabupaten Bandung periode 2000-2007 mengalami kenaikan sebesar 144. Dilihat dari stuktur investasi selama periode tahun 20002007 investasi terbesar ditanamkan pada sektor Industri Tekstil yaitu rata-rata 36. koefisien dianggap mewakili perilaku investasi dan produksi di setiap sektor. Mungkin lebih relevan kalau perbandingan itu dilakukan untuk sektor yang sama tetapi untuk waktu dan tempat yang berbeda. 1. Artinya untuk meningkatkan satu unit output dibutuhkan investasi 3. tergantung kebutuhan perencanaan.845. Karena karakteristik dari setiap sektor berbeda.07. ICOR pada periode tahun 2000-2007 Kabupaten Bandung sebesar 3.517.21 persen. Namun demikian. Tidaklah mudah mengatakan bahwa apabila suatu sektor dengan koefisien ICOR lebih rendah dari pada sektor lain berarti sektor yang disebut pertama lebih efisien dibandingkan sektor lain.

56.ICOR Kabupaten Bandung 2008 kebutuhan investasi secara makro pada masa yang akan datang Sektor paling efisien di Kabupaten Bandung pada periode 2000-2007 adalah sektor bangunan.77. meningkat menjadi 3. 52 . industri Logam Dasar. Di samping itu investasi pada kedua sektor tersebut memerlukan proses waktu yang lama untuk dapat menghasilkan output yang diinginkan. ICOR pada lima tahun pertama setelah OTDA dan paska krisis yaitu tahun 2000 sampai dengan 2004. ICOR pada lima tahun kedua yang ditandai dengan beberapa kali kenaikan BBM. Dimana output dari kedua sektor tersebut adalah barang publik yang nilainya tidak bisa dinilai dengan harga pasar. Industri kimia dan industri makanan &minuman. Sedangkan sektor paling tidak efisien adalah sektor listrik. Gas & Air bersih dan Pemerintahan umum. sebesar 3.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->