P. 1
Kemampuan Membaca Satua Beraksara Bali Kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi

Kemampuan Membaca Satua Beraksara Bali Kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi

|Views: 4,563|Likes:
Published by Batu Aksara

More info:

Published by: Batu Aksara on Jul 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/21/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab pendahuluan ini, akan diuraikan beberapa hal sebagai berikut: (1) latar belakang masalah, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian (4)

mamfaat penelitian, (5) ruang lingkup penelitian, dan (6) asumsi. Keenam hal tersebut akan diuraikan satu per satu di bawah ini. 1.1 Latar Belakang Dalam berkomunikasi manusia menggunakan alat komunikasi yaitu bahasa. Bahasa merupakan salah satu media komunikasi utama yang digunakan oleh manusia. Dengan bahasa manusia dapat menyampaikan ide, pikiran, perasaan atau informasi kepada orang lain, baik secara lisan ataupun tulisan. Dengan bahasa pula seseorang dapat menggerakan oang lain agar segera bertindak, berbuat, dan bereaksi. Bahasa digunakan pada sebagian besar aktivitas manusia, tanpa bahasa manusia tidak dapat mengungkapkan perasaannya, menyampaikan keinginannya, memberikan saran dan pendapat, bahkan sampai tingkat pemikiran seseorang yang berkaitan dengan bahasa. Oleh karena itu bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Bahasa Bali adalah salah satu bahasa daerah yang ada di Indonesia, yang digunakan sebagai bahasa ibu oleh sebagian besar masyarakat Bali. Bahasa Bali sebagai bahasa ibu adalah bahasa yang pertama kali digunakan oleh komunitas masyarakat Bali sejak mereka dilahirkan dari rahim ibunya. Dengan pengertian ini

1

2

berarti bahwa penutur bahasa Bali yang bahasa ibunya bahasa Bali adalah penutur yang dibesarkan oleh bahasa Bali (Sutama; 2007:374). Berdasarkan jumlah penuturnya, bahasa Bali dapat digolongkan ke dalam bahasa daerah yang besar, karena didukung oleh penutur lebih dari dua juta jiwa. Bahasa Bali juga merupakan salah satu pendukung kebudayaan Bali khususnya, dan kebudayaan Indonesia pada umumnya. Dalam bidang pendidikan, bahasa Bali sudah dimasukan menjadi mata pelajaran wajib dalam kurikulum muatan lokal, dari SD hingga SMA/SMK. Muatan lokal merupakan kegiatan kulikuler yang bertujuan untuk

mengembangkan kompetensi siswa sesuai dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah. Secara umum tujuan dari pengajaran bahasa Bali adalah mendidik dan melatih siswa agar mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Ini artinya siswa diharapkan mampu berkomunikasi baik secara lisan maupun tulis dalam berbagai tujuan dan situasi. Melalui pengajaran tersebut diharapkan siswa terampil berbahasa. Terampil berbahasa berarti menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keempat keterampilan berbahasa ini bersifat intergratif yang sering diistilahkan dengan catur tunggal. Dari keempat keterampilan berbahasa tersebut keterampilan membaca merupakan keterampilan yang sangat penting, yang memiliki nilai strategis dalam pengembangan diri. Melalui kegiatan membaca, orang dapat menggali dan mencari berbagai macam ilmu dan pengetahuan yang tersimpan di dalam bukubuku dan media tulis yang lain. Membaca dapat diibaratkan sebagai kunci

3

pembuka gudang ilmu dan pengetahuan (Sudiana, 2007:2). Yunus dalam Sudiana (2007:2) mengibaratkan membaca sebagai jendela yang paling luas untuk menguasai pengetahuan. Dari membaca seseorang dapat memahami keadaankeadaan yang terjadi di sekelilingnya, bahkan keadaan-keadaaan yang jauh darinya. Segala sesuatu yang selama ini belum diketahui segera dapat diketahui. Dari kegiatan membaca tidak saja informasi yang diperoleh tetapi dapat pula mengisi waktu luang dan sebagai suatu kesenangan. Dalam dunia pendidikan peranan membaca sangat penting. Dengan membaca para siswa dapat mengembangkan dirinya secara optimal. Informasi yang diperlukan sebagian besar dapat diperoleh melalui membaca. Para siswa tidak dapat berkembang dengan baik apabila hanya mengharapkan ilmu-ilmu yang diberikan gurunya, namun juga sebagian besar didapatkan dari membaca. Dengan demikian membaca menempati posisi penting dalam kurikulum di sekolah. Membaca seperti yang dijelaskan Tarigan (1990:7) adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Menurut Adam dan Collins dalam Sudiana (2007:6) mengatakan bahwa membaca dapat dikatakan sebagai proses penerjemahan rangkaian grafis ke dalam kata-kata lisan. Proses membaca semacam ini biasanya berlangsung pada pemulaan belajar membaca. Penekanan membaca pada tahap ini adalah proses perseptual yaitu pengenalan korespondensi rangkaian huruf-huruf dengan bnnyi-bunyi bahasa.

4

Ditinjau dari segi terdengar atau tidaknya suara si pembaca waktu membaca, maka proses membaca dapat dibedakan atas membaca nyaring dan membaca dalam hati. Membaca nyaring adalah suatu aktifitas atau kegiatan yang merupakan alat bagi guru, murid, ataupun pembaca bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk menangkap atau serta memahami informasi, pikiran dan perasaan seseorang (Tarigan,1990:22). Membaca nyaring merupakan suatu keterampilan yang serba rumit, kompleks, banyak seluk beluknya. Oleh karena itu, untuk bisa membaca yang baik dan benar, yang harus dikuasai siswa seperti yang dijelaskan Tarigan (1990:22-23) adalah pertama-tama haruslah mengerti makna serta perasaan yang terkandung dalam bahan bacaan, juga harus mempelajari keterampilanketerampilan penafsiran atas lambang-lambang tertulis hingga penyusunan katakata serta penekanan sesuai dengan ujaran pembicaraan yang hidup. Membaca nyaring juga menuntut agar pembaca memiliki kecepatan mata yang tertinggi serta pandangan mata yang jauh, karena harus melihat pada bahan bacaan untuk memelihara kontak mata dengan para pendengar. Oleh karena itu pengajaran membaca dimasukan ke dalam kurikulum pengajaran bahasa Bali di sekolah. Pengajaran membaca merupakan materi pengajaran bahasa di SMP. Salah satu materi pengajaran membaca bahasa Bali adalah membaca nyaring dengan menggunakan wacana bahasa Bali dengan menggunakan aksara Bali berupa satua. Secara umum pengajaran membaca ini adalah untuk membimbing siswa dalam hal menguasai pengetahuan tentang membaca meliputi penafsiran lambanglambang tertulis, penyusunan kata-kata, serta penekanan sesuai dengan ujaran

5

pembicaraan. Pada dasarnya sama dengan sistem membaca bahasa Bali Latin, hanya saja dalam membaca bahasa Bali dalam aksara Bali perlu memahami sistem penulisan unsur serapan bahasa klasik, dan juga bahasa Bali tidak memiliki tanda baca yang digunakan pada kalimat tanya, kalimat perintah, maupun kalimat berita. Pemahaman unsur-unsur membaca bahasa Bali dengan aksara Bali tersebut merupakan langkah awal bagi siswa dalam memahami makna sebuah informasi berupa media tulis, khusunya wacana beraksara Bali dalam bentuk satua. Dengan pemahaman yang baik terhadap sistem membaca sebuah isi bacaan, siswa akan lebih mudah dan lebih cepat memahami serta menyerap pesan yang terdapat dalam sebuah informasi. Oleh karena itu, siswa dituntut agar menguasai pengetahuan tentang membaca. Tetapi Berdasarkan fenomena yang ada dalam proses pembelajaran

bahasa Bali di sekolah, siswa kelas VIII SMP sering mengalami kesulitan dalam membaca bahasa Bali dengan menggunakan aksara Bali. Khususnya membaca wacana bahasa dalam bentuk satua atau cerita yang menggunakan aksara Bali, siswa lebih berminat membaca cerita-cerita komik dan jenis-jenis media bacaan modern. Padahal di dalam satua beraksara Bali lebih banyak tersimpan nilai-nilai yang berguna bagi kehidupan selain itu juga berguna sebagai usaha dalam melestarikan budaya Bali. Maka hal ini merupakan suatu masalah yang perlu dipecahkan. Karena itulah, penulis tertarik untuk mengadakan suatu penelitian tentang kemampuan membaca satua beraksara Bali. Dalam hal ini akan diteliti kemampuan membaca satua beraksara Bali siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi Kabupaten Badung tahun pelajaran 2010/2011.

6

Sepanjang pengamatan peneliti, masalah yang dikemukakan di atas belum ada yang meneliti sehingga hasilnya diharapkan dapat digunakan sebagai umpan balik bagi guru di dalam mengajar membaca satua berakasara Bali pada masa yang akan datang karena dengan hasil penelitian ini guru dapat mengetahui kemampuan masing-masing siswa dalam membaca satua beraksara Bali, kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dalam membaca satua beraksara Bali, serta faktor-faktor yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam membaca satua beraksara Bali. Berdasarkan informasi di atas, maka guru bisa mengkaji kembali apakah alternatif tindakan yang telah dilakukan itu tepat atau tidak, atau masih perlu disempurnakan, atau perlu dicari alternatif lain. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Bagaimanakah kemampuan membaca satua beraksara Bali siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2010/2011? 2) Kesulitan-kesulitan apa saja yang dihadapi siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2010/2011 dalam membaca satua beraksara Bali? 3) Faktor-faktor apa saja yang meyebabkan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2010/2011 mengalami kesulitan dalam membaca satua beraksara Bali? 1.3 Tujuan Penelitian

7

Setiap kegiatan yang bersifat ilmiah tentunya harus memiliki tujuan yang dirumuskan dengan jelas, sehingga apa yang ingin dicapai dalam penelitian dapat terpenuhi. Demikian juga dengan penelitian ini, memiliki tujuannya sesuai dengan rumusan masalah yang disampaikan di atas, tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Mengetahui kemampuan membaca satua beraksara Bali siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2010/2011 2) Mengetahui kesulitan-kesulitan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2010/2011 di dalam membaca satua beraksara Bali. 3) Mengetahui faktor-faktor apa saja yang meyebabkan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2010/2011 mengalami kesulitan dalam membaca satua beraksara Bali. 1.4 Ruang Lingkup Penelitian Untuk menghindari meluasnya dan terjadinya suatu kesalahan

pemahaman pembaca terhadap materi serta untuk menghindari terjadinya kerancuan pada pembahasan penelitian ini, maka ruang lingkup penelitian yang berjudul kemampuan siswa membaca satua beraksara Bali terbatas pada

membaca nyaring satua beraksara Bali yang aspek-aspeknya meliputi ketepatan pengucapan kata (lafal), ketepatan pemenggalan kata dan frase, ketepatan intonasi suara (nada, lagu, dan irama), kecepatan (tempo), kejelasan suara (volume), kelancaran dalam membaca, penghayatan (ekspresi), dan sikap pada saat membaca.

8

1.5 Manfaat Hasil Penelitian Setiap kegiatan yang dilakukan tentunya mempunyai manfaat. Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Bagi Siswa Hasil Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai umpan balik dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam membaca satua beraksara Bali. 2) Bagi Guru a. Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan guru

khususnya guru bidang studi bahasa Bali berkaitan dengan teknik-teknik membaca satua beraksara Bali. b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan umpan balik bagi

guru di dalam mengajar membaca aksara Bali pada masa yang akan datang karena dengan hasil penelitian ini guru dapat mengetahui kemampuan siswa dalam membaca aksara Bali, kesulitan-kesulitan yang dialami dalam membaca aksara Bali, dan faktor-faktor yang

menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam membaca aksara Bali sehingga guru bisa mengkaji kembali apakah alternatif tindakan yang telah dilakukan itu tepat atau tidak, atau masih perlu disempurnakan. 3) Bagi Penyusun Bahan Ajar

9

Hasil di dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukanmasukan dalam penyusunan materi ajar, sehingga materi dalam pengajaran membaca satua beraksara Bali dapat lebih berkembang. 4) Bagi Penyusun Kurikulum Hasil di dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan-masukan kepada penyusun kurikulum untuk menata kembali kurikulum dan alokasi waktu yang tepat dalam pelajaran bahasa Bali, khususnya membaca satua beraksara Bali. 1.4 Asumsi Menurut Suharsini Arikunto (1992:59) asumsi adalah sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti, yang harus dirumuskan secara jelas dan akan berfungsi sebagai hal yang dipakai untuk tempat berpijak bagi peneliti di dalam melaksanakan penelitian serta dipakai untuk memperkuat

permasalahannya. Berdasarkan pengertian asumsi di atas, maka sebagai pegangan dalam melaksanakan penelitian serta untuk mendapatkan kemudahan dalam proses pelaksanaan suatu penelitian sehingga lebih terarah, asumsi dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. 1) Guru bidang studi bahasa Bali di SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung sudah memiliki kualifikasi dan kompetensi mengajar bidang studi bahasa Bali.

10

2) Pengajaran membaca aksara Bali pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung sudah sesuai dengan kurikulum yang berlaku (KTSP). 3) Perbedaan jenis kelamin siswa tidak mempengaruhi hasil penelitian.

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

Sebagai acuan melangkah lebih lanjut dan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dalam penelitian ini, perlu dilakukan kajian pustaka dan beberapa teori yang dijadikan dasar pijakan untuk melakukan penelitian. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam bab ini akan disajikan kajian pustaka dan teori-teori yang relevan sebagai landasan dalam penelitian ini. Untuk lebih jelasnya hal-hal tersebut akan diuraian satu per satu di bawah ini. 2.1 Kajian Pustaka Pada bagian ini akan diuraikan beberapa penelitian sebelumnya yang mempunyai relevansi dengan penelitian ini. Informasi yang diperoleh dari kajian pustaka yang berupa data, konsep, dan teknik diharapkan dapat memperjelas posisi penelitian ini. Penelitian tersebut antara lain adalah sebagai berikut. Penelitian tentang yang berjudul kemampuan membaca wacana berhuruf Bali Sumpah Palapa Siswa Kelas IX SMP Negeri 2 Nusa Penida, Kabupaten Kelungkung Tahun Pelajaran 2009/2010 dilakukan oleh (Darmawan, 2010). Dalam penelitian ini jenis membaca yang yang diteliti memiliki persamaan, yaitu

11

membaca teknik, namun masih ada beberapa aspek-aspek membaca teknik yang belum dicantumkan yaitu penghayatan dan sikap pada saat membaca. Selain dari hal itu, penelitian ini hanya meneliti kemampuan siswa dalam membaca wacana berhuruf Bali, sedangkan penelitian tentang kesulitan-kesulitan dan faktor-faktor penyebab kesulitan siswa belum diteliti. Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan Darmawan menunjukan bahwa siswa kelas IX SMP Negeri 2 Nusa Penida Tahun Pelajaran 2009/2010 tergolong baik dalam membaca wacana berhuruf Bali. Penelitian tentang Kemampuan Membaca Lontar siswa kelas XI IPB SMA Negeri I Kuta Utara Tahun Ajaran 2010-2011 yang dilakukan oleh (Ernawati, 2010). Penelitian yang dilakukan Ernawati ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam membaca lontar. Penelitian yang dilakukan Ernawati memiliki kesamaan objek dengan penelitian ini yaitu berupa aksara Bali, tapi lebih menekankan pada membaca pemahaman tentang bahasa dan aksara lontar serta tatacara bagaimana membaca lontar. Hasil penelitian yang dilakukan Ernawati bahwa siswa yang diteliti tergolong baik dalam membaca lontar. Berdasarkan kedua penelitian diatas, belum ada penelitian yang meneliti tentang kemampuan siswa membaca satua beraksara Bali. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengangkat kemampuan siswa membaca satua beraksara Bali siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung Tahun Pelajaran 2010/2011. 2.2 Landasan Teori 2.2.1 Pengertian Membaca

12

Menurut Suyitno (1985:32) membaca adalah peristiwa penangkapan dan pemahaman aktivitas seseorang yang tertuang dalam bentuk bahasa tertulis dengan tepat dan cermat. Proses penangkapan ini harus dilakukan terlebih dahulu oleh panca indra.. Sesudah proses penangkapan terjadi, pembaca berusaha merasakan dan memahami seluruh jiwa bacaan tersebut. Hal ini akan lebih jelas apabila pembaca menjumpai hal-hal yang menyenangkan ia akan ikut bergembira. Kemauan (karsa) di sini sangat memegang peran, sebab tanpa kemauan daya tahan membaca seseorang pasti akan menurun, bahkan akan dapat hilang sama sekali. Menurut Tarigan (1979:7), membaca merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata bahasa tulis. Dari pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca merupakan sebuah proses memahami sebuah isi bacaan yang yang ditulis oleh penulis sehingga kita dapat memperoleh pesan yang terkandung didalam bahasa tulis tersebut. Ada dua aktivitas yang dilakukan seseorang dalam membaca, yaitu mengikuti atau menyuarakan sederetan huruf-huruf atau simbul-simbul bunyi dan memahami mengetahui ide-ide yang terkandung dalam deretan huruf-huruf atau simbul-simbul tersebut. Dengan kata lain, perbuatan membaca di sini tidak hanya menyangkut kegiatan fisik seperti kegiatan mata untuk melihat deretan huruf atau kegiatan mulut untuk mengucapakan, tetapi juga menyangkut kegiatan psikhis, yaitu aktivitas pikiran untuk memahami apa yang tersurat maupun tersirat di dalam bacaan

13

2.2.2

Tujuan Membaca

Menurut Tarigan (1983:9) tujuan utama membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Lebih lanjut dikatakan beberapa tujuan membaca, yaitu: (1) membaca untuk memperoleh rincian atau fakta-fakta, (2) membaca untuk memperoleh ide-ide utama, (3) membaca untuk mengetahui urutan atau susunan organisasi cerita, (4) membaca untuk menyimpulkan, (5) membaca untuk mengelompokkan, (6) membaca untuk menilai, dan (7) membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan. Untuk lebih jelasnya tujuan membaca di atas akan diuraikan sebagai berikut. 2.2.2.1 Membaca untuk memperoleh suatu rincian atau Fakta-fakta Membaca untuk memperoleh suatu rincian atau fakta-fakta mempunyai arti membaca untuk mengetahui segala sesuatu yang dilakukan oleh sang tokoh, apa saja kejadian yang dialami sang tokoh dan lain sebagainya secara detail diketahui. 2.2.2.2 Membaca untuk Memperoleh Ide-ide Utama Pengertian yang dikandung dalam membaca untuk memperoleh ide-ide utama adalah untuk mengetahui mengapa sebuah topik dikatakan baik dan menarik, segala hal yang dipelajari atau dialami sang tokoh dan merangkul halhal yang dilakukan sang tokoh untuk mencapai tujuannya.

14

2.2.2.3 Membaca untuk Mengetahui Urutan atau Susunan Organisasi Cerita Membaca untuk mengetahui urutan atau susunan organisasi maksudnya adalah membaca untuk mengetahui atau menemukan apa yang terjadi pada setiap bagian cerita. Apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Setiap tahap dibuat untuk memecahkan suatu masalah, adeganadegan atau kejadian buat dramatisasi.

2.2.2.4 Membaca untuk Menyimpulkan Membaca untuk menyimpulkan maksudnya adalah membaca untuk menemukan atau menyimpulkan setelah melakukan kegiatan membaca, misalnya dalam sebuah cerita mengapa sang tokoh merasakan seperti cara mereka itu, apa yang hendak diperlihatkan oleh sang pengarang kepada para pembaca, mengapa para tokoh berubah sehingga setelah berakhir melakukan kegiatan membaca, pembaca mapu menarik kesimpulan tentang yang dibacanya. 2.2.2.5 Membaca untuk Mengelompokkan Membaca untuk mengelompokkan maksudnya membaca untuk

menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak biasa, tidak wajar mengenai sang tokoh, apa yang lucu dalam cerita, atau cerita itu benar atau tidak benar. 2.2.2.6 Membaca untuk Menilai Membaca untuk menilai maksudnya membaca untuk menemukan apakah sang tokoh berhasil atau tidak dengan ukuran-ukuran tertentu, apakah ingin

15

berbuat seperti yang diperbuat oleh sang tokoh atau bekerja seperti sang tokoh dalam cerita itu. 2.2.2.7 Membaca untuk Membandingkan atau Mempertentangkan Membaca untuk membandingkan atau mempertentangkan bertujuan untuk menemukan atau bagaimana caranya sang tokoh berubah, bagaimana hidupnya berbeda dari kehidupan yang kita kenal, bagaimana dua cerita mempunyai persamaan, perbedaan, dan sebagainya. Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa tujuan membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi mencakup isi, memahami makna bacaan yang dinyatakan dalam bentuk tulisan. 2.2.3 Jenis-jenis Membaca Jenis membaca yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah membaca nyaring atau disebut juga membaca bersuara. Pengertian dan jenis-jenis membaca nyaring akan dijelaskan sebagai berikut. 2.2.3.1 Membaca Nyaring Menurut Tarigan ( 1990::22) membaca nyaring adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan alat bagi guru, murid ataupun pembaca bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk menangkap serta memahami informasi, pikiran, perasaan seorang pengarang. Di dalam membaca nyaring pertama-tama seseorang harus mengerti makna yang terkandung dalam bacaan sehingga lebih mudah dalam mengkomunikasikan pikiran dan perasaan terhadap orang lain. Selain itu, intonasi serta pengucapan pengelompokan kata-kata harus tepat

16

sehingga jelas maknanya bagi orang lain. Keterampilan-keterampilan yang dituntut dalam membaca nyaring adalah sebagai berikut. 1) Menggunakan ucapan yang tepat. 2) Menggunakan frase yang tepat (bukan kata demi kata). 3) Menggunakan intonasi suara yang wajar agar makna mudah dipahami. 4) Dalam posisi sikap yang baik. 5) Menguasai tanda-tanda baca sederhana. 6) Membaca dengan terang dan jelas. 7) Membaca dengan penuh perasaan dan ekspresi. 8) Membaca dengan tidak tertegun. 9) Mengerti serta memahami bahan bacaan yang dibaca. 10) Membaca dengan tanpa terus-menerus melihat bahan bacaan. 11) Membaca dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri. Adapun jenis-jenis membaca yang termasuk di dalam jenis membaca nyaring atau membaca bersuara adalah sebagai berikut. 2.2.3.1.1 Membaca Teknik

Membaca tehnik dilakukan dengan bersuara. Tujuan membaca jenis ini adalah untuk lebih memudahkan pemahaman materi yang dibaca. Membaca teknik pelaksanaannya ditekankan pada penggunaan lafal, nada, lagu, irama, intonasi, pemenggalan kata, dan kelancaran dalam membaca. Ini berarti kemungkinan untuk salah tafsir terhadap pemahaman materi bacaan bisa lebih kecil.

17

Membaca teknik adalah jenis membaca bersuara yang harus dimilki oleh siswa untuk menguasai keterampilan. Keterampilan yang dimaksud adalah keterampilan dalam melafalkan kata yang baku, membaca kalimat dengan intonasi (lagu, nada, irama) yang tepat, pemenggalan kata yang tepat, dan membaca kalimat dengan lancar tanpa cacat (Muchlisoh, 1993:121). Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam membaca satua beraksara Bali, pelaksanaannya juga ditekankan pada lafal (ucapan), intonasi, pemenggalan kata, kelancaran, kecepatan (tempo), penghayatan (ekspresi), kejelasan suara (volume), dan sikap dalam membaca. Secara rinci hal tersebut di atas dijelaskan sebagai berikut. 1) Ucapan atau lafal Ucapan atau lafal merupakan ujaran bahasa, yaitu bagaimana seseorang atau masyarakat mengucapkan bunyi bahasa (Poerwadarminta, 2003:295). Ucapan atau lafal yang dimaksud adalah pengucapan lafal dalam bahasa Bali. Menurut Gautama (2006:29) dalam bahasa Bali ucapan bahasa Bali disebut legena. Yang dimaksud dengan lagena adalah ucapan yang bersuara”e/ә”, tetapi dalam tulisan latin Bali tidak boleh memakai suara “e/ә”, melainkan "a". 2) Intonasi Intonasi merupakan lagu kalimat atau ketepatan penyajian tinggi rendah nada dalam suatu kalimat. Dalam pengucapan, intonasi harus ditekankan pada nada, irama, dan lagu kalimat (Poerwadarminta, 2003:220). Adapun uraian dari nada, irama, dan lagu adalah sebagai berikut.

18

(1)

Nada Nada merupakan tinggi rendahnya bunyi atau lagu, di mana hal

tersebut

merupakan

ungkapan

suatu

keadaan

dalam

hati

yang

mencerminkan makna yang terkandung secara tersembunyi di dalam ucapan (Poerwadarminta, 2003:591). Dalam membaca aksara Bali juga dituntut untuk memperhatikan nada agar tidak terjadi kekeliruan dalam membaca.

(2)

Irama Irama adalah gerakan berturut-turut secara teratur atau turun naiknya

lagu atau bunyi yang beraturan. Dalam irama harus ditekankan ritme atau alunan yang tercipta oleh kalimat yang berimbang, selingan membangun kalimat, dan panjang pendek serta kemerduan bunyi atau keras lembut tekanan dan tinggi rendah nada (Poerwadarminta, 2003:245). (3) Lagu Lagu merupakan ragam suara yang berirama dalam suatu percakapan, menyanyi, dan membaca. Di sini ditekankan bagaimana seseorang dalam membaca harus memperhatikan nada dan irama yang terkandung dalam bacaan sehingga menghasilkan lagu yang baik (Poerwadarminta, 2003:311) 3) Pemenggalan kata Karena sangat sulit mengartikan arti pemenggalan kata, maka akan dijelaskan secara terpisah antara pengertian penggal dan kata. Penggal

19

merupakan proses, perbuatan atau cara memenggal, sedangkan kata merupakan unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa (Poerwadarminta, 2003:290). Jadi, dapat disimpulkan bahwa pemenggalan kata merupakan proses, perbuatan atau cara memenggal unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa. Pemenggalan di sini tidak terbatas pada pemenggalan kata saja, melainkan mencakup pemenggalan suku kata, frase, dan kalimat. 4) Kelancaran Kelancaran yang ditekankan dalam membaca adalah seseorang mampu membaca tanpa hambatan dan tidak terbata-bata atau tanpa cacat. 5) Kecepatan (tempo) Kecepatan yang dimaksud dalam membaca teknik (bersuara) adalah kecepatan yang bergantung pada bahan bacaan yang dibaca, artinya ada bacaan yang harus dibaca cepat dan ada bacaan yang harus dibaca lambat. 6) Penghayatan (ekspresi) Penghayatan yang dimaksud dalam membaca teknik (bersuara) adalah membaca dengan penuh perasaan dan mengerti atau memahami bahan bacaan yang dibaca. 7) Kejelasan suara (volume)

20

Dalam membaca teknik (bersuara), kejelasan suara (volume) sangat penting ditekankan agar suara dapat didengar dengan terang dan jelas. 8) Sikap Sikap yang ditekankan pada saat membaca teknik (bersuara) adalah posisi sikap yang baik, membaca dengan tanpa terus-menerus melihat bahan bacaan melainkan sekali-sekali menoleh pendengar supaya ada interaksi antara pembaca dengan pendengar, dan membaca dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri. Dari penjelasan di atas, membaca teknik dalam satua beraksara Bali sama halnya dalam membaca cerita bahasa Indonesia, yaitu harus memperhatikan ketepatan ucapan (lafal), ketepatan pemenggalan kata dan frase, intonasi (nada, lagu dan irama), kecepatan (tempo), kejelasan suara (volume), kelancaran siswa dalam membaca, penghayatan (ekspresi), dan sikap pada saat membaca. 2.2.3.1.2 Membaca Emosional Membaca emosional dimaksudkan untuk menikmati keindahan, memberi kepuasan perasaan, dan juga melatih pembentukan fantasi terhadap pembaca (Suyitno, 1985:36). Membaca emosinal sering disebut membaca indah (estetika) karena membaca jenis ini selalu menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan keindahan atau estetika sehingga dapat menimbulkan emosi atau perasaan dari pembaca atau pendengar (Rejana, 1993:156). Tujuan yang ingin dicapai dalam pengajaran ini agar siswa memperoleh suatu keindahan yang sumbernya adalah bahasa atau keindahan yang bersumber

21

dari bacaan. Unsur irama, intonasi, dan ketepatan ucapan memegang peranan yang amat penting. Di samping itu, ketepatan mengintonasikan kalimat berita, kalimat seru, kalimat tanya, dan jenis kalimat lain secara tetap akan berpengaruh terhadap keberhasilan jenis membaca ini. Bahan-bahan yang dapat digunakan untuk pengajaran membaca indah ini antara lain: puisi, prosa lirik, bacaan-bacaan biasa yang berupa dialog dan juga naskah satua Bali. Tetapi tidak semua bahan kesusastraan baik itu puisi, prosa berirama maupun cerita dapat diberikan di sekolah menengah pertama. Ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan oleh guru dalam memilih bahan untuk pengajaran membaca indah sebagai berikut. 1) Bahan itu hendaknya mengandung nilai-nilai pendidikan. Misalnya

masalah ketuhanan, kemanusiaan, gotong-royong, estetika, moral, kepahlawanan, dan sebagainya. 2) Kalimat-kalimat atau kata-kata yang dipakai pengarangnya bermakna

denotatif yaitu makna tunggal. Maksudnya tidak ada makna tambahan atau tafsiran ganda (Rejana, 1993:156). Dengan demikian, pemilihan bahan bacaan untuk membaca indah (estetika) di sekolah menengah pertama hendaknya disesuaikan dengan tingkat usia dan pengetahuan siswa. Materi bacaan hendaknya dapat memacu perkembangan siswa, baik dari perkembangan intelektual, efektif maupun psikomotornya. Dari jenis-jenis membaca yang telah diuraikan di atas, jenis membaca yang dimaksud dalam penelitian ini adalah membaca teknik yang juga termasuk

22

membaca bersuara karena dalam kegiatan membaca ini lebih menekankan pada keterampilan. Keterampilan yang dimaksud adalah keterampilan dalam pengucapan (lafal) yang tepat, ketepatan pemenggalan kata , intonasi, kecepatan (tempo), kejelasan suara (volume) kelancaran membaca kalimat tanpa cacat, penghayatan (ekspresi), dan sikap pada saat membaca. 2.2.4 Satua Satua adalah suatu jenis karya sastra Bali Purwa lisan yang bebas tidak terikat pada bait, padalingsa, ataupun irama. Satua-satua yang ada di Bali sama seperti cerita-cerita rakyat yang ada di daerah nusantara lainnya (Jawa, Sunda, Batak, dll) tidak diketahui siapa pengarangnya (anonim). Satua biasanya digunakan untuk menemani anak kecil sebelum tidur, dan biasanya isi cerita dalam satua tentang kebenaran, dharma, susila, moral, dll (Antara 1994:42). Dengan kata lain satua dapat dikatakan juga sebagai cerita rakyat. Cerita Rakyat merupakan bagian dari hasil kebudayaan (kolektifnya) yang diwariskan secara turub temurun secara tradisional atau lisan sehingga timbulnya versi-versi cerita yang berbeda, baik secara lisan maupun yang sebagian lisan dengan disertai alat bantu pengingat atau mnemonic device (Danandjaja, 2002:24) 2.2.5 Jenis-jenis Satua Satua Bali dibagi menjadi 2 bagian, yaitu: (1) Satua Tutur atau satua lisan, (2) Satua Sesuratan atau satua tulis (Antara, 1994:55). Untuk lebih jelasnya jenis jenis satua akan diuraikan sebagai berikut. 2.2.5.1 Satua Tutur (Satua Lisan)

23

Satua tutur (satua lisan) adalah satua Bali yang belum tertulis. Satua jenis ini penyebarannya biasanya secara turun menurun dari mulut kemulut (Antara, 1994:56). Adapun ciri-ciri Satua Tutur, yaitu: 1) 2) 3) 4) 5) 6) diceritakan dengan bahasa tutur isi ceritanya monoton tidak memiliki nama pengarang menggunakan bahasa Bali lumrah ada komunikasi antara pendengar dengan pendongeng makna cerita mengenai moral,etika, susila, pendidikan, sekala-niskala.

2.2.5.2 Satua Sesuratan (Satua Tulis) Satua Sesuratan adalah satua yang tertulis. Satua Bali jenis ini memiliki unsure-unsur Instrinsik: pelaku, alur, latar, tema, gaya bahasa, sehingga pesan yang ingin disampaikan pengarang pada satua dapat kita temukan (Antara, 1994:57). Pembagian satua sesuratan dapat dibagi menjadi beberapa bagian, antara lain: 1) 2) 3) Satua Bali yang menggunakan Bahasa Bali Aga ( Men Paluk Pan Paluka) Satua Bali yang menggunakan Bahasa Bali Kuna ( I Kunang) Satua Bali yang menggunakan Bahasa Bali Anyar ( I Ubuh) Dalam Penelitian ini jenis satua yang akan digunakan adalah satua yang bejudul Ni Diah Tantri. 2.2.6 Pengertian Aksara Bali

24

Menurut Gautama (2006:32), aksara adalah ciri-ciri atau suatu gambaran suara yang diciptakan oleh manusia. Aksara merupakan sistem tanda-tanda grafis yang dipakai manusia untuk berkomunikasi dan sedikit banyaknya mewakili ujaran (Kridalaksana, 1984:4). Aksara Bali adalah huruf suku kata, tanpa mendapat pengangge suara sudah dapat berfungsi sebagai suku kata (Dinas Kebudayaan Propinsi Daerah tingkat I Bali, 1996:12). Bahasa Bali ditulis dengan dua aksara, yaitu aksara Bali dan aksara latin yang masing-masing memiliki perbedaan dari segi pengucapan dan penulisan. Pada abjad aksara latin, setiap abjad terdiri atas satu huruf saja, dengan menggunakan sistem fonemik. Misalnya a, b, c, d, e, dan seterusnya, sedangkan pada aksara Bali menganut sistem silabik (sistem suku kata), karena abjadnya terdiri atas satu suku kata. Jadi, dapat disimpulkan bahwa aksara Bali merupakan suatu lambang atau simbul yang digunakan untuk menuliskan bunyi dalam bahasa Bali”.

2.2.7 Jenis-jenis Aksara Bali Menurut Gautama (2006:33), aksara Bali dilihat dari segi onekan (sesuai dengan bacaan) dibagi menjadi dua, yaitu aksara suara (vokal) dan aksara wianjana (konsonan). Lebih lanjut dikatakan, kedua aksara tersebut dilihat dari kegunaannya dalam berbahasa Bali dapat dibagi menjadi tiga: (1) aksara wreastra, (2) aksara swalalita, dan (3) aksara modre. Pengertian dari masingmasing aksara tersebut akan dijelaskan sebagai berikut. 1) Aksara Wreastra

25

Aksara wreastra adalah aksara yang digunakan untuk menulis bahasa Bali lumrah (bahasa sehari-hari), seperti menulis berbagai catatan, kesusastraan, ilmu, hukum, perjanjian, surat menyurat, dan lain sebagainya (Nala, 2006:10). Aksara wreastra dapat dibagi lagi menjadi aksara suara wreastra (vokal) dan aksara wianjana wreastra (konsonan). Berikut akan dijelaskan pengertian aksara suara wreastra dan aksara wianjana wreastra. 1) Aksara suara wreastra dibagi menjadi enam buah, yaitu: (a), hø, (i), hu, (u), e h , (e), e ho, (o), dan h),

h,
(e/ә)

2) Aksara wianjana wreastra dibagi menjadi delapan belas buah, yaitu:

h, (ha), n, (na), c, (ca), r, (ra), k, (ka), d, (da), t, (ta), s, (sa), w, (wa), l, (la), m, (ma), g, (ga), b, (ba), \, (nga), p, (pa), j, (ja), y, (ya), dan Zÿ, (nya).
2) Aksara Swalalita Aksara swalalita adalah aksara yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa Kuna atau bahasa Kawi seperti kakawin, palawakia, kanda, tutur, dan lain sebagainya (Nala, 2006:11). Selain itu, aksara swalalita biasanya digunakan di dalam menulis bahasa Sansekerta seperti yang berupa weda, sloka, japa mantra, dan lain sebagainya. Aksara swalalita dibagi menjadi aksara suara swalalita (vokal) dan aksara wianjana swalalita (konsonan). Uraiannya adalah sebagai berikut.: (1) Aksara suara swalalita Aksara suara swalalita memiliki dua bunyi dalam penggunaanya yaitu suarahreswa (pendek) yang meliputi aksara Á (a), ÷ ¿(i), ú (u), 6 (e), O

26

(o), dan suara dirga (panjang) yang meliputi aksara Á o (ā), ÷o (ī), úo (ū), ü (ai), dan Oo (au). (2) Aksara wianjana swalalita Aksara wianjana swalalita dikelompokan menjadi lima warga aksara, yaitu kantia, talawia, murdania, dantia, dan ostia.

Warga Aksara

N a o 1.

Aksar Warga Kantia

Alpa Pran a ka

Mah a Pran a kha

Alpa Pran a ga

Maha Pran a gha

Anu Suar a nga

Arda Suar a -

Usm a

Wisarg a

-

ha H

k
2. Talawia ca

¼
cha

g
ja

f
jha

\
nya ya Ça

-

c
3. Murdania ta

È
tha

j
da

ü
dha

z
na

y
ra

]
sa -

`
4. 5. Dantia Ostia ta

~
tha

a
da

a
dha

x
na

r
la

[
sa -

t
pa p

q
pha 8

d
ba b

a
bha v

n
ma m

l
wa w

s
-

(3) Aksara Modre

27

Aksara modre adalah aksara yang digunakan untuk menulis aksara-aksara suci seperti japa mantra. Aksara ini digunakan pada saat-saat tertentu saja dan pada hal-hal yang bersifat magis (Nala, 2006:28). Contoh: ö (ang), û (ung), ½ (mang), dan lain sebagainya.

Dalam penelitian ini aksara yang dipergunakan hanya aksara wreastra dan aksara swalalita hal itu disebabkan karena di SMP aksara modre belum diajarkan secara mendalam, karena aksara modre menurut kepercayaan orang Bali memiliki kesakralan yang tidak bisa dipelajari sembarang orang sebelum orang itu diupacarai. 2.2.8 Bentuk Gantungan dan Gempelan

2.2.8.1 Bentuk Gantungan Gantungan adalah bentuk huruf yang digantung atau dicantolkan pada huruf lain yang mendahului (Sutjaja, 2007:4). Dalam buku pedoman Pasang Aksara Bali bentuk gantungan terdiri atas dua puluh satu buah. Adapun bentuk gantungannya adalah sebagai berikut.

h, n, c, r, k, g, t, q, m,

= ha = na = ca = ra = ka = ga = da = tha = ma

bentuk gantungannya bentuk gantungannya bentuk gantungannya bentuk gantungannya bentuk gantungannya bentuk gantungannya bentuk gantungannya bentuk gantungannya bentuk gantungannya

….À, ….Â, ….Ç, ….É, ….Ð, ….á, ….À, ….Ô, ….ß,

28

\, b, d, j, f, v, ], `, x, l, a,
….,

= nga bentuk gantungannya = ba = da = ja bentuk gantungannya bentuk gantungannya bentuk gantungannya

….å, ….ã, ….å, ….é, ….â, ….ä, ….Ö, ….ñ, ….Õ, ….Å, ….Þ, ….Ò, ….È,

= gha bentuk gantungannya = bha bentuk gantungannya = sha bentuk gantungannya

Zÿ, = nya bentuk gantungannya
= tha = na = la bentuk gantungannya bentuk gantungannya bentuk gantungannya

= dha bentuk gantungannya = cha bentuk gantungannya

2.2.8.2 Bentuk Gempelan Gempelan adalah bentuk aksara yang dirangkaikan pada aksara yang di depannya (Nala, 2006:20). Dalam buku Pedoman Pasang Aksara Bali bentuk gempelan terdiri dari empat buah. Adapun bentuk gempelannya adalah sebagai berikut.

p,

= pa

bentuk gempelannya bentuk gempelannya

….æ, ….uæ, ….», ….×,

s, = sa

Ï, = rê repa bentuk gempelannya [, = sa sapa bentuk gempelannya
2.2.9 Pasang Aksara Bali

Selain jenis aksara tersebut, aksara Bali juga menggunakan pengangge aksara atau busana aksara (penanda bunyi). Dalam penulisan bahasa Bali akan

29

berhadapan dengan pasang aksaranya. Pasang Aksara Bali adalah aturan menulis bahasa Bali dengan aksara Bali (Susta, 2004:33). Aturan penulisan bahasa Bali sampai saat ini masih tetap menerapkan pasang aksara Purwadresta dengan maksud agar dapat menyelami isi-isi lontar. Pasang aksara Purwadresta adalah kebiasaan-kebiasaan menulis aksara Bali zaman dahulu, yang mengawali penulisan aksara Bali (Suasta, 2004:33). Penerapan aturan-aturan dalam penulisan pasang aksara Purwadresta adalah sebagai berikut. 2.2.9.1 Pangangge Aksara Pengangge aksara terdiri atas tiga bagian, yaitu: (1) pangangge suara, (2) pengangge ardasuara, dan (3) pengangge tengenan. Berikut akan dijelaskan mengenai pengangge aksara. 1) Pangangge Suara Pengangge suara adalah sebuah lambang aksara yang menjadikan sebuah aksara konsonan mengandung/berbunyi vokal (Nala, 2006:15). Jadi

Pangangge Suara adalah penanda bunyi yang digunakan menandakan bunyi vokal dengan menyertai wianjana. Adapun pangangge suara terdiri atas dua belas buah yaitu:

....i., …I., ....¸, …u, …U,

(ulu) menunjukan bunyi (i) (ulu sari) menunjukan bunyi (ī) (ulu chandra) menunjukan (ng/m) (suku) menunjukan bunyi (u) (suku ilut) untuk menunjukan bunyi (ū)

30

…Ù, e...o, E...., E...o, ….), …o, .…)..o,

(suku kembung) untuk menunjukan bunyi (ua)

(taleng tedong) untuk menunjukan bunyi (o)
(taleng marepa) menunjukan bunyi (ai) (taleng marepa matedong) untuk menunjukan bunyi (ai) (pepet) menunjukan bunyi (e/ә) (tedong) menunjukan bunyi (ā) (pepet matedong) untuk menunjukan bunyi (ö). (Nala, 2006:16)

Adapun penerapan pangangge suara adalah sebagai berikut. 1)

...i,

( ulu)

Ulu dalam aksara Bali dipergunakan untuk menunjukan bunyi i. Contoh: sisi, sili;, 2) = sisi ‘luar’

= silih ‘pinjam’ .

…I., (ulu sari)
Ulu sari dalam aksara Bali dipergunakan untuk menunjukan bunyi i.

Secara umum penggunaan ulu sari adalah sebagai berikut. 1) ulu sari digunakan dalam persandian i + i = ī Contoh:

pri+ hinÑik/,
parīndik ‘tentang’

= pari + indik menjadi prInÑik/, =

2) ulu sari digunakan dalam persandian a + i = ī Contoh:

m+hiku;,= ma + ikuh menjadi mIku;, = mīkuh ‘berekor’
3) ulu sari digunakan untuk menulis nama wanita utama. Contoh:

]ÉI = Śri ‘nama dewi Sri’

31

edwI = dewi ‘sakti dari dewa’.
3) ....¸, ( ulu chandra) Ulu candra dalam aksara Bali dipergunakan untuk menunjukan bunyi ng/m. Contoh: ö , 4) = Ang.

…u, (suku)
Suku dalam aksara Bali dipergunakan untuk menunjukan bunyi u. Contoh:

bubu;, = bubuh ‘bubur’ jukut/, = jukut ‘sayur’.
5)

…U, (suku ilut)

1. Suku ilut dalam aksara Bali dipergunakan untuk menunjukan bunyi ū. Contoh:

vUpti, = bhūpati ‘bupati’ pUr, = rūpa ‘rupa’
2. Suatu kata yang penulisannya diawali dengan u (hu), mendapat awalan pa(p), ma- (m), ka- (k), maka penulisannya u (hu) menjadi suku ilut (… u). Contoh: k+hum;, = kUm;, kumah ‘rumah’ 3. Suatu kata yang suku pertamanya mendapat u (hu) dan menggunakan surang (…(..), maka penulisan sukunya menjadi suku ilut (…..U). Contoh: su(yêk/, 6) …Ù, (suku kembung) = sU(yk/, suryak ‘sorakan’.

Suku kembung dalam aksara Bali dipergunakan untuk menunjukan bunyi ua dan gantungan wa (Suasta,2004:41). Contoh:

stÙ,

= satua ‘cerita’

32

bÙy
7) e....o,

= buaya ‘binatang buaya’

(taleng tedong)

Taleng tedong dalam aksara Bali dipergunakan untuk menunjukkan bunyi o. Contoh:

emoeno;, = monoh ‘penurut’ ecoek(o,= cokor ‘kaki’
8) E..., (taleng marepa) Taleng marepa juga disebut dengan taleng sari/taleng detya. Taleng marepa dipergunakan apabila suatu kata diawali dengan vokal é ( eh ) dan mendapat awalan ka- ( k ), sa- ( s ), dan ma- ( m ) (Suasta,2004:39). Contoh:

k+eherd/, = ka + éréd menjadi Ekerd/, = kéréd ‘ditarik’ s + 6k, = sa + éka menjadi Esk, = séka ‘sudah’ m + ehemãon/, = ma + émbon menjadi Ememãon/, =
mémbon 9) E...o, ‘berteduh’ . (taleng marepa matedong) Taleng marepa matedong adalah suatu penulisan aksara Bali yang menggunakan taleng marepa dan tedong dalam satu aksara. Adapun pemakaiannya dalam penulisan aksara Bali tidak banyak ditemukan (Suasta,2004:39). Contoh:

Ekoslê, = Kausalya ‘istri prabu Dasarata’
10) ….)., (pepet)

33

Pepet dalam aksara Bali dipergunakan untuk menunjukkan bunyi e/ә. Namun ada aksara yang tidak boleh memakai pepet (…).) yaitu: aksara la l, menjadi 2, (Lelenge) dan aksara ra r, menjadi Ï, (Rerepa) (Suasta,2004:40). Contoh:

k)ds/,= kedas ‘bersih’ t)k, = teka ‘datang’ 2\is/, = lengis ‘minyak’ ÏÏ;, = rereh ‘mencari’.
11) …o, (tedong) 1). tedong dalam aksara Bali dipergunakan untuk menunjukan bunyi ā. Dalam penulisannya tedong ditulis secara melekat pada aksaranya. Contoh:

,T

H ,M

,N , S ,W ,L ,P ,D

,C ,Y

,R .

,K

,G

Namun, pada aksara \ (nga), j(ja), z(nya), dan b (ba), penulisan tedong tidak melekat. Karena apabila dilekatkan maka bentuk aksaranya mengaburkan atau sama dengan bentuk aksara yang lainnya. Khusus pada aksara j(ja) memang tidak mengaburkan namun bentuknya menjadi kurang praktis. 2). tedong digunakan untuk menulis persandian a + a = ā Contoh : s + hmuæn/, = sa + ampun menjadi muæn/, = sāmpun sudah’ .

S

34

12) .…)…o, (pepet matedong) Pepet matedong adalah suatu kata yang dalam penulisan aksara Balinya mendapat pengangge suara pepet dan tedong dalam satu aksara. Pepet matedong digunakan apabilasuatu kata diawali dengan vocal e (h)) mendapat awalan ka-(k) atau awalan pa-(p) (Suasta, 2004:40) Contoh:

k + h)juk/, = ka + ejuk menjadi K)

juk/, = kejuk ‘ditangkap’ j*, = pejang ‘taruh’.

p + h)j*,
2)

= pa + ejang menjadi P)

Pengangge Ardasuara

Aksara ardasuara adalah aksara yang diucapkan dengan setengah suara (Nala, 2006:17). Misalnya: y (ya), r (ra), l (la), dan w (wa). Dalam penggunaanya dapat menjadi aksara wianjana (konsonan) dan aksara suara (vokal).Apabila berfungsi sebagai aksara wianjana bentuknya tetap seperti semula, sedangkan kalau berfungsi sebagai aksara suara keempat aksara tersebut di atas berubah menjadi pangangge aksara sebagai berikut. (1) y (ya) berubah menjadi nania ( . . . ê ) (2) r (ra) berubah menjadi guung cakra ( . . . .Ê ) (3) l (la) berubah menjadi gantungan la ( . . . Þ ) (4) w (wa) berubah menjadi suku kembung ( . . . Ù ) (Nala, 2006:18) Adapun pemakaian pangangge ardasuara, adalah sebagai berikut. 1) . . . ê, ( Nania)

Nania memiliki fungsi untuk melambangkan penulisan gantungan ya. Contoh:

35

Wêdin/, wêkÓi,
bê*, 2) … É,

= Wiadin ‘walaupun’ = wiakti ‘sungguh’= biang ‘ibu’. = biang ‘ibu’. (Guung)

Guung memiliki fungsi untuk melambangkan penulisan gantungan ra Contohnya:

tnIÓÉ, = Tantri cÉit,= Cerita ‘cerita’
3)

. . .Ê, (Guung mecelek)
Guung mecelek memiliki fungsi untuk melambangkan penulisan gantungan ra. Contoh:

kÊs x, = Kresna ‘krisna’ \Ê m%,
4) = ngeremeng ‘tidak terang’ (gantungan la)

.... Þ,

Gantungan la memiliki fungsi untuk melambangkan penulisan gantungan la Contoh : l)lipi, k Þ)p)t/ = lelipi ‘ular’ = klepet ‘nama kue’ = klinyar ‘lincah’

kÞiz(, = klinyar ‘lincah’ 5) . . . Ù, (Suku kembung) Suku kembung mempunyai fungsi untuk menuliskan gantungan wa. Contoh: Satua = satua ‘cerita’ Swadharma = swadharma ‘kewajiban’

kesÙenuæÙn/, tenÙnÓ)n/,

= kasuen-suen ‘lama- kelamaan’
= tan wenten ‘tidak ada’.

36

(Suasta, 2004:41-42). 3) Pangangge Tengenan

Tengenan adalah huruf konsonan yang terletak pada akhir kata yang melambangkan fonem konsonan (Nala, 2006:18). Tengenan ini ditulis dengan pengangge tengenan serta gantungan (ditulis di bawah aksara) atau gempelan (digabungkan dengan aksara di depannya). Adapun pengangge tengenan tersebut adalah sebagai berkut. (1) (2) (3) (4) Cecek ( . . *. ) bersuara ng Surang ( . . (. ) bersuara r Bisah ( . . . ; ) bersuara h Adeg-adeg atau tanda bunyi mati ( . . . « )

Adapun pemakaian pengangge tengenan adalah sebagai berikut. 1) Cecek ( . . *. ) Pengangge tengenan cecek berasal dari tengenan ng (\). Adapun kaedah pemakaian cecek sebagai berikut. (1) Cecek sebagai suku kata terakhir Contoh:

kc *, bl *,

= kacang ‘kacang’ = baling ‘belalang’.

(2) Cecek dipakai pada kata-kata yang kedua suku katanya sama dan keduanya mendapat tengenan ng (\) walaupun mendapat anusuara. Contoh:

ec*o ec*o,

= congcong ‘gali’

37

ez*o ec*o, t* t*, n *t*,
Contoh:

= nyongcong ‘menggali’ = tangtang ‘tantang’ = nantang ‘menantang’.

(3) Cecek dipakai pada kata-kata yang suku katanya berbeda warga.

n\Ð, s\iÐl/, s)\ Ð,

= nangka ‘nangka’ = sangkil ‘menggendong di pinggang’ = sēngka ‘sukar’

s)\ Ðl, = sēngkala ‘celaka’

(4) cecek dipakai untuk menghindari aksara susun tiga. Contoh:

h*kÞ¡*,= angklung ‘nama bunyi-bunyian’ c*kÞ&, = cangkling ‘kedua tangannya diikat’
2) Surang ( . . (. ) Pangangge Tengenan surang ( . . (. ) berasal dari tengenan (r) yang di letakan di atas huruf. Adapun pemakaian surang adalah pada kata-kata yang mendapatkan tengenan (r). Contoh:

s)k(, = sekar ‘bunga’ m(g, = marga’ jalan’
3) Bisah ( . . . ; )

\Â\(, = lengar ‘botak’ bunÓ$,
‘bundar = bunter

Bisah berasal dari tengenan wisarga (h). Adapun kaidah pemakaian bisah adalah sebagai berikut. (1) Bisah dipakai pada tengenan wisarga terakhir.

38

Contoh:

ptu;, = patuh ‘sama’ p)lu;, t)l;, = têlah ‘habis’ by;,
= bayah ‘bayar keduanya (2) Bisah dipakai pada kata-kata yang kedua suku katanya sama dan mendapat tengenan wisarga, walaupun mendapat anusuara. Contoh: = pêluh ‘keringat’

c;c;, = cahcah ‘potong kecil-kecil’ z;c;, = nyahcah ‘memotong kecil-kecil’
(3) Bisah diganti wisarga (h) bila suku katanya berbeda warga, baik yang terdiri atas dua suku maupun tiga suku, dan suku kedua atau suku ketiga dari akhir kata mendapat tengenan wisarga (h). Contoh:

cihÂ,

= cihna ‘tanda’ = brahma ‘dewa

bÉhßx, = brahmana ‘pendeta’bÉohß,
pencipta alam semesta’ 4). Adeg-adeg atau tanda bunyi mati ( . . . « )

Adeg-adeg sebagai pengganti tengenan wianjana (konsonan) berfungsi sebagai penutup suku kata. Adapun kaidah pemakaian adeg-adeg adalah sebagai berikut. (1) Adeg-adeg dipakai pada intonasi final dan nonfinal. Contoh:

ememnÓiye\henmodnÂiwyenuæ(otimgehdig(m )n/,
memen tiange ane madan Ni Wayan Sarti magae di garmen. ‘ibu saya yang bernama Ni Nyoman Sarti bekerja di garmen’,

39

ememnÓiye\henmodnÂiezomnÐ(tixihsi;mgehdd iguru.
memen tiange ane madan Ni Nyoman Kartiniasih magae dadi guru. ‘ibu saya yang bernama Ni Nyoman Kartiniasih bekerja sebagai guru’. (2) Adeg-adeg dipakai untuk menghindari aksara susun tiga. Contoh:

edonuæm/bÞ¡*, Tm/bÞi\n/,
(suasta,2004:42-45). 2.2.9.2 Rangkepan Wianjana

= don samblung ‘daun samblung’

= tamblingan ‘nama danau’

Rangkepan Wianjana adalah dua buah aksara wianjana (konsonan) yang merupakan satu kesatuan dalam akruna (satu kata) (Nala, 2006:21). Rangkepan wianjana terdiri atas delapan buah, yaitu: Rangkepan Rangkepan Rangkepan Rangkepan Rangkepan Rangkepan Rangkepan Rangkepan

zé, = nya→nja zÇ, = nyca→nca ]Ç ]Ö, = ssa [Õ, = sta [Å, = sna xÕ,
= nta

, = sca

jñ, = jnya

Adapun kaidah pemakaian rangkepan aksara wianjana adalah sebagai berikut.

40

1.

Rangkepan aksara wianjana sesuai dengan warga aksara hanya

dibenarkan dalam satu kata. 1) Rangkepan Contoh: Rangkepan

= nya→nja

bz(é, = banjar ‘banjar’ szé, = sanja ‘sore’
Dalam gabungan kata (frase) harus ditulis seperti di bawah ini.

Tlinérn/,(né) = talin jaran ‘tali kuda’ humãinéeh,(né) = umbin jae ‘umbi jahe’
2) Rangkepan Contoh:

zÇ, = nyca→nca
= pancing ‘pancing’

pzÇ&,

pzÇ, = panca ‘lima’
Dalam gabungan kata (frase) harus ditulis seperti di bawah.,

bucunÇcpil/,(nÇ) = bucun capil ‘sudut topi’ bu\nÇ)e\Ð;, (nÇ) = bungan cengkeh ‘ bunga gengkeh’
3) Rangkepan Contoh:

, = sca

p]Çt/, l]Ç(y,

= pascat ‘lancar’ = lascarya ‘ikhlas’

dalam gabungan kata (frase) harus ditulis seperti di bawah ini.

btisÇ\k/, (sÇ) = batis cangak ‘kaki bangau’ \Â\isÇ)e\Ð;, (sÇ) = lengis gengkeh ‘minyak cengkeh’
4) Rangkepan Contoh:

jñ, = jnya
= prajnyan ‘cerdas’ = yajnya ‘korban suci’

pÉjzon/, yjñ ,

41

5)

Rangkepan Contoh :

]Ö, = ssa

du]Öosn, = dussasana ‘tidak dapat mengendalikan diri’
6) Rangkepan Contoh :

[Õ, = sta
= wasta ‘nama’ = dusta ‘jahat’

Wo[Õ, du[Ó,
7) Rangkepan Contoh:

[Å, = sna

kÊ[Å,
8) Rangkepan Contoh:

= krêsna ‘nama tokoh pewayangan’

tÊ[Å, = tresna ‘kasih sayang’ xÕ,
= nta

kxÕi,= kanti ‘sampai’ kxÕ, = kanta ‘leher’
2. Rangkepan aksara wianjana yang berbeda dalam kata dasar dinamakan pluta. Sesuai dengan ucapan dalam bahasa Bali, banyak pluta yang hilang atau berubah bentuknya. Contoh:

k×tÉiy, = ksatria menjadi stÉiy, = satria ‘pemberani’ k×m,= ksama menjadi Ák×m, = aksama ‘maaf’.
(Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, 2004:14-15)

42

BAB III METODE PENELITIAN

Metode dalam penelitian ilmiah mempunyai peranan yang sangat penting. Metode tersebut akan memberikan arah bagi peneliti dalam melaksanakan penelitian, karena metode merupakan alat untuk mencapai tujuan. Kesalahan dalam memilih metode penelitian akan membawa penyimpangan pada hasil penelitian. Dalam metode penelitian akan diuraikan petunjuk-petunjuk tentang bagaimana cara peneliti melaksanakan penelitian. Menurut Netra (1974:1) metode merupakan langkah yang harus ditempuh oleh peneliti untuk mencapai tujuan. Disamping itu, metode juga diartikan sebagai cara yang teratur dan berpikir baik untuk mencapai suatu maksud dan tujuan. Sehubungan dengan itu, penelitian ini menggunakan beberapa metode yang cukup relevan. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) metode penentuan subjek penelitian, (2) metode pendekatan subjek penelitian, (3) metode pengumpulan data, dan (4) metode pengolahan data. Secara terperinci keempat metode ini akan diuraikan sebagai berikut. 3.1 Metode Penentuan Subjek Penelitian Metode penentuan subjek penelitian merupakan metode atau cara yang digunakan untuk menentukan subjek di dalam sebuah penelitian. Subjek penelitian adalah setiap individu yang diselidiki (Netra, 1979:20). Individu dalam hal ini adalah setiap makhluk hidup maupun benda mati, yaitu manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, benda-benda maupun lambang-lambang. Individu yang akan

43

diselidiki dalam penelitian ini adalah manusia, yaitu siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2010/2011. Dalam menentukan subjek penelitian ini ada dua cara yang bisa ditempuh: (1) meneliti seluruh subjek penelitian, yang disebut penelitian populasi atau (2) meneliti sebagian subjek penelitian, yang disebut dengan penelitian sampel. Dalam penelitian ini akan menggunakan penelitian sampel. Terkait dengan hal tersebut, berikut akan diuraikan tentang populasi dan sampel penelitian. 3.1.1 Populasi Penelitian Populasi penelitian adalah keseluruhan subjek penelitian (Suharsini Arikunto, 1993:102). Berdasarkan pengertian ini, yang menjadi populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung Tahun Pelajaran 2009/2010 yang berjumlah 275 orang dengan rincian seperti pada tabel 3.1 berikut ini. Tabel 3.1 Populasi Penelitian Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung Tahun Pelajaran 2010/2011

No. (1)

Kelas (2)

Jenis Kelamin Laki-laki (3) Perempuan (4)

Jumlah (5)

1.

VIII A

11

21

32

2.

VIII B

14

18

32

44

3.

VIII C

11

31

42

4.

VIII D

19

23

42

5.

VIII E

27

15

42

VIII F 17 VIII G 22 Jumlah 121 Sumber : SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung 3.1.2 Sampel Penelitian

6. 7.

25 21 154

42 43 275

Berdasarkan tabel 3.1 di atas, jumlah populasi penelitian sebanyak 275 orang siswa. Dilihat dari jumlahnya yang cukup besar, sementara waktu yang tersedia sangat terbatas, maka penelitian ini hanya meneliti sebagian dari populasi. Pengambilan subjek ini didasarkan atas pendapat Suharsini Arikunto (1993:75) yang menyatakan sebagai berikut. Untuk sekadar ancer-ancer, maka apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Jika jumlah subjeknya besar, dapat diambil antara 10-15 %, atau 20-25% atau lebih,tergantung setidak-tidaknya dari: (1) kemampuan peneliti dilihat dari segi waktu, tenaga, dan dana, (2) sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek, karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya dana, dan (3) besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti. Untuk penelitian yang resikonya besar, hasilnya akan lebih baik. Berdasarkan pendapat di atas, jumlah sampel yang ditetapkan dalam penelitian ini 165 orang atau diambil 60% dari populasi yang berjumlah 275 orang. Jumlah sampel 165 orang sudah dianggap dapat mewakili jumlah populasi.

45

Hal ini bertujuan untuk memudahkan pengolahan data dan memperkirakan waktu yang diperlukan dalam penelitian. Untuk mendapatkan sampel yang representatif, pegambilan sampel akan menggunakan dua teknik yaitu: (1) teknik proporsional sampling dan (2) teknik random sampling. 3.1.2.1 Teknik Proporsional Sampling Jika populasi terdiri atas beberapa subpopulasi yang tidak homogen dan tiap-tiap subpopulasi akan diwakili dalam penelitian, maka digunakan proporsional sampling. Sutrisno Hadi (1987:81) mengemukakan bahwa

proporsional sampling adalah pengambilan sampel dari tiap-tiap subpopulasi dengan memperhitungkan besar kecilnya sub-subpopulasi. Berdasarkan pengertian di atas, penentuan sampel tiap-tiap subpopulasi dalam penelitian ini menggunakan teknik proporsional sampling. Penentuan sampel tiap-tiap subpopulasi digunakan rumus: jumlah subjek tiap subpopulasi dibagi jumlah populasi dikalikan dengan jumlah sampel yang ditetapkan. Dengan menggunakan rumus tersebut, dapat ditentukan jumlah siswa

yang diambil sebagai sampel tiap-tiap kelas yang dapat dihitung sebagai berikut. 1) Siswa kelas VIII A berjumlah 32 orang, maka jumlah sampel yang diambil adalah 32/275 x 165 = 19,2 (dibulatkan menjadi 19 orang). 2) Siswa kelas VIII B berjumlah 32 orang, maka jumlah sampel yang diambil adalah 32/275 x 165 = 19,2 (dibulatkan menjadi 19 orang). 3) Siswa kelas VIII C berjumlah 42 orang, maka jumlah sampel yang diambil adalah 42/275 x 165 = 25,2 (dibulatkan menjadi 25 orang).

46

4) Siswa kelas VIII D berjumlah 42 orang, maka jumlah sampel yang diambil adalah 42/275x 165 = 25,2 (dibulatkan menjadi 25 orang). 5) Siswa kelas VIII E berjumlah 42 orang, maka jumlah sampel yang diambil adalah 42/275 x 165 = 25,2 (dibulatkan menjadi 25 orang). 6) Siswa kelas VIII F berjumlah 42 orang, maka jumlah sampel yang diambil adalah 42/275 x 165 = 25,2 (dibulatkan menjadi 26 orang). 7) Siswa kelas VIII G berjumlah 43 orang, maka jumlah sampel yang diambil adalah 43/275 x 165 = 25,8 (dibulatkan menjadi 26 orang). Dengan menggunakan rumus di atas, diperoleh sampel seperti tabel 3.2 berikut ini. Tabel 3.2 Perimbangan Pengambilan Sampel Penelitian Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Badung, Kabupaten Badung Tahun Pelajaran 2009/2010

No.

Kelas

Jumlah Populasi

Jumlah Sampel

1. 2. 3. 4. 5. 6 7

VIII A VIII B VIII C VIII D VIII E VIII F VIII G

32 32 42 42 42 42 43 275

19 19 25 25 25 26 26 165

Jumlah Total

47

3.1.2.2 Teknik Random Sampling Random sampling adalah suatu teknik pengambilan individu yang dijadikan sampel yang dilakukan dengan sembarang tanpa memilih. Setiap individu diberi kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel penelitian (Suharsini Arikunto, 1993: 107). Untuk menentukan siapa-siapa yang akan menjadi anggota sampel dalam penelitian ini dan untuk menghindari unsur subjektivitas dalam pengambilan sampel, maka digunakan teknik random sampling dengan cara undian. Proses pemilihan sampel berdasarkan teknik ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut. (1) Menulis kode S (sampel) pada kertas-kertas kecil dengan jumlah sampel yang telah ditetapkan untuk setiap subpopulasi (kelas). Misalnya, jumlah siswa di kelas VIII A 32 orang dan jumlah sampel yang ditetapkan 19 orang, maka kertas yang diisi kode S sebanyak 19, sedangkan sisanya 13 dikosongkan. Hal yang sama juga dilakukan pada kelas-kelas lain. (2) Kertas-kertas kecil ini digulung dengan baik, kemudian dimasukkan ke dalam kaleng. (3) Kaleng yang berisi gulungan kertas itu dikocok dan setiap siswa pada masing-masing kelas mengambil satu gulungan. (4) Siswa yang mengambil gulungan kertas berisi kode S dicatat menjadi anggota sampel penelitian, sedangkan siswa yang mengambil gulungan kertas yang kosong tidak menjadi sampel penelitian. Hal yang sama dilakukan di masing-masing kelas yang dijadikan sampel.

48

Berdasarkan gulunan kertas yang diambil, maka seluruh anak yang mengambil gulungan yang berisi kode S menjadi sampel penelitian, sedangkan anak yang mengambil gulungan kertas yang kosong keluar dari sampel. Hal yang sama dilakukan di masing-masing kelas yang dijadikan sampel. 3.2 Metode Pendekatan Subjek Penelitian Untuk memperoleh data yang sesuai dengan tujuan penelitian, perlu diadakan pendekatan terhadap subjek penelitian. Netra (1979:33) menyatakan bahwa metode pendekatan subjek penelitian merupakan golongan metode yang khusus digunakan untuk mengadakan pendekatan pada subjek penelitian. Pendekatan terhadap subjek penelitian ada tiga macam, yaitu metode pendekatan empiris, metode pendekatan eksperimen, dan metode pendekatan kasus. Metode pendekatan empiris adalah suatu pendekatan terhadap subjek penelitian dengan gejala yang diselidiki sudah ada secara wajar (bukan gejala buatan), metode pendekatan eksperimen adalah suatu pendekatan terhadap subjek penelitian dengan gejala yang diselidiki ditimbulkan dengan sengaja, sedangkan metode kasus adalah suatu pendekatan dengan gejala yang diselidiki adalah dengan mempelajari setiap peristiwa yang ditimbulkan (Netra, 1979:33-36). Dari ketiga metode pendekatan di atas, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan empiris karena gejala yang akan diselidiki telah ada secara wajar (bukan gejala buatan). Gejala wajar yang dimaksud adalah kemampuan siswa dalam membaca satua beraksara Bali. Kemampuan siswa membaca satua beraksara Bali ini dikatakan sudah ada secara wajar karena materi pembelajaran tentang membaca satua beraksara Bali sudah

49

diajarkan sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun pelajaran 2010/2011. 3.3 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data adalah metode yang khusus digunakan untuk mengumpulkan data. Sebenarnya banyak alat yang dapat dipergunakan dalam pengumpulan data, akan tetapi untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan harapan, metode yang digunakan harus tepat. Data yang ingin diperoleh dalam penelitian ini adalah data tentang kemampuan membaca satua beraksara Bali pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2010/2011. Agar diperoleh data yang objektif dan langsung dari subjek penelitian, maka digunakan beberapa metode pengumpulan data antara lain: (1) metode tes, (2) metode kuesioner, (3) metode interviu, dan (4) metode observasi. 3.3.1 Metode Tes Tes merupakan alat yang digunakan untuk menilai kemampuan siswa yang mencakup pengetahuan dan keterampilan sebagai hasil kegiatan belajar mengajar. Nurkancana dan Sumartana (1986:25) menyatakan pengertian tes sebagai berikut. “Tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak-anak atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut, yang dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan”.

50

Ditinjau dari sudut pandangnya, Nurkancana dan Sumartana (1986:25-41) menyatakan bahwa tes dapat dibedakan atas beberapa jenis yang dijelaskan sebagai berikut. 1) Berdasarkan atas jumlah peserta atau pengikut tes, maka tes dapat dibedakan atas dua jenis: (1) tes individual yaitu suatu tes, di mana pada saat tes itu diberikan, kita hanya menghadapi satu orang anak dan (2) tes kelompok yaitu suatu tes, di mana pada saat tes itu diberikan, kita menghadapi sekelompok anak. 2) Berdasarkan dari segi penyusunannya, tes dapat dibedakan atas tiga jenis: (1) tes buatan sendiri yaitu tes yang disusun sendiri, (2) tes buatan orang lain yaitu suatu tes yang tidak distandarisasikan, di mana tes yang digunakan adalah tes-tes yang dibuat oleh orang lain yang dianggap cukup baik, dan (3) tes standar atau tes yang telah distandarisasikan, yaitu tes-tes yang cukup valid dan reliable berdasarkan atas percobaan-percobaan terhadap sampel yang cukup luas dan representatif. 3) Berdasarkan dari bentuk jawaban atau bentuk respon, maka tes dibedakan atas dua jenis: (1) tes tindakan yaitu suatu tes, di mana jawab atau respon yang diberikan oleh anak itu berbentuk tingkah laku sesuai dengan perintah atau pertanyaan yang diberikan dan (2) tes verbal yaitu suatu tes, di mana jawaban atau respon yang diberikan oleh anak berbentuk bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan sesuai dengan pertanyaan atau perintah yang diberikan.

51

4) Berdasarkan dari bentuk pertanyaan yang diberikan, tes dapat dibedakan atas dua jenis: (1) tes obyektif yaitu suatu tes yang terdiri dari item-item yang dapat dijawab dengan jalan memilih salah satu alternatif yang benar dari sejumlah alternatif yang tersedia atau dengan mengisi jawaban yang benar dengan beberapa perkataan atau simbul dan (2) tes esai adalah satu bentuk tes yang terdiri dari suatu pertanyaan atau suatu suruhan yang menghendaki jawaban yang berupa uraian-uraian yang relatif panjang. Bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tindakan, siswa satu per satu di suruh ke depan kelas untuk membaca satua beraksara Bali yang sudah disediakan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh data tentang kemampuan siswa dalam membaca satua beraksara Bali. Dalam penerapan metode tes dilakukan langkah-langkah berikut: (1) penyusunan tes, (2) pelaksanaan tes, dan (3) penilaian hasil tes. 3.3.1.1 Penyusunan Tes Tes disusun berdasarkan analisis kurikulum, analisis buku pelajaran, dan wawancara dengan guru. Jadi, materi tes yang diberikan kepada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung tentang membaca satua beraksara Bali adalah satua yang berjudul "Ni Diah Tantri" yang sudah sesuai dengan materi yang di ajarkan sehingga tes tersebut sudah relevan dengan materi pelajaran yang ada di dalam kurikulum dan buku pelajaran bahasa dan sastra daerah Bali. Dengan demikian tes yang digunakan sudah valid. Tes dapat dilihat pada lampiran 01.

52

3.3.1.2 Pelaksanaan Tes Karena jumlah sampel cukup besar, maka pelaksanaan tes dilakukan secara bergantian maupun bertahap. Hal ini bertujuan agar pelaksanaan tes bisa terawasi dengan seksama dan cermat. Guru bidang studi Bahasa Bali kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung diminta untuk ikut mengawasi jalannya penelitian. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan tes adalah sebagai berikut. 1) Dalam waktu 2x45 menit siswa diberi tugas untuk membaca satua beraksara Bali kedepan kelas secara bergantian, di mana setiap anak diberi waktu kurang lebih 10 menit. 2) Selama kegiatan berlangsung, peneliti menilai masing-masing siswa yang membaca di depan kelas sesuai dengan aspek-aspek penilaian dalam membaca teknik (bersuara) satua beraksara Bali, sedangkan guru mengawasi jalannya pelaksanaan tes supaya siswa bersungguh-sungguh dalam membaca satua beraksara Bali. 3.3.1.3 Penilaian Tes Penilaian terhadap membaca satua beraksara Bali dilakukan dengan observasi yang berdasarkan lembaran observasi sesuai lampiran kriteria penilaian yang meliputi ketepatan ucapan (lafal), ketepatan pemenggalan kata dan frase, intonasi, kecepatan (tempo), kejelasan suara (volume), kelancaran dalam membaca, penghayatan (ekspresi), dan sikap dalam membaca. Masing-masing unsur yang dinilai tersebut diberikan skor dengan rentangan nilai 1-5. Jika siswa

53

membaca satua beraksara Bali secara sempurna, maka akan memperoleh skor maksimal yang sering disebut skor maksimal ideal (SMI) = 40. Untuk lebih jelasnya, pedoman penilaian terhadap membaca satua beraksara Bali yang meliputi unsur-unsur di atas akan disajikan secara rinci pada tabel 3.3 berikut ini. Tabel 3.3 Pedoman Penilaian Membaca Satua Beraksara Bali Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung Tahun Pelajaran 2010/2011

No. Aspek-aspek 1. Yang Dinilai Ketepatan ucapan (lafal)

Deskriptor a. 86-100%kata diucapkan/dilafalkan dengan tepat. b.71-85%kata diucapkan/dilafalkan dengan tepat. c. 56-70%kata diucapkan/dilafalkan dengan tepat. d.41-55%kata diucapakan/dilafalkan dengan tidak tepat. e. ≤ 40% kata

Skor

Rentangan Skor 1-5

5

4

3

2

54

diucapkan/dilafalkan 2. Ketepatan pemenggalan kata dan frase dengan tepat. a. 86-100% kata dan frasa pemenggalannya tepat. b. 71-85% kata dan

1

5

1-5

4

frase pemenggalannya tepat. c. 41-70% kata dan 2 3

frase pemenggalannya tepat. d. 11-40% besar kata

1

dan frase pemenggalanny tepat. e. ≤ 40% kata dan

frase pemenggalannya tidak 3. Intonasi tepat. a. 86-100% kalimat diucapkan dengan intonasi yang tepat. b.71-85% kalimat diucapkan dengan intonasi yang tepat. c. 56-70% kalimat 3 4 5 1-5

55

diucapkan dengan intonasi tepat. d.41-55% besar kalimat diucapkan dengan intonasi yang tidak tepat. e. ≤ 40% kalimat diucapkan 4 Kecepatan (tempo) dengan intonasi yang tepat. a. Kecepatan dalam membaca sangat baik. b.Kecepatan dalam membaca baik c. Kecepatan dalam membaca cukup baik d.Kecepatan dalam membaca kurang baik e. Kecepatan dalam 5 Kejelasan suara (volume) membaca tidak baik a. Suara dapat didengar dengan jelas. b.Suara dapat didengar dengan cukup jelas. c. Suara kurang dapat didengar dengan jelas. d.Suara tidak dapat

2

1

5

1-5

4

3

2

1

5

1-5

4

3

56

didengar dengan jelas.

2

6.

Kelancaran siswa dalam

a. Siswa dalam membaca sangat lancar. b.Siswa dalam membaca lancar. c. Siswa dalam membaca cukup lancar. d.Siswa dalam membaca kurang lancar. e. Siswa dalam membaca 1 2 3 5 4 1-5

membaca

7.

Penghayatan (ekspresi)

tidak lancar. a. Penghayatan (ekspresi) dalam membaca sesuai dengan isi bacaan. b.Penghayatan (ekspresi) dalam membaca cukup sesuai dengan isi bacaan. c. Penghayatan (ekspresi) dalam membaca kurang sesuai dengan isi bacaan. d.Penghayatan (ekspresi) dalam membaca tidak 3 4 5 1-5

57

sesuai dengan isi bacaan. e. Penghayatan (ekspresi) sama sekali tidak sesuai 8. Sikap pada saat membaca dengan isi bacaan a. Sikap siswa membaca sangat baik. b.Sikap siswa dalam

2

1 dalam 5 1-5

membaca baik. c. Sikap siswa dalam

4

membaca cukup baik. d.Sikap siswa dalam

3

membaca kurang baik. e. Sikap siswa dalam

2

membaca tidak baik. Total Skor (Skor Maksimal Ideal) 3.3.2 Metode Kuesioner

1 40

Kuesioner adalah suatu alat pengumpul informasi data dengan cara menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis untuk dijawab secara tertulis pula oleh responnden. Kuesioner seperti halnya wawancara dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang diri responden atau informasi tentang orang lain ( Sugiono, 2008:142). Berdasarkan pengertian kuesioner di atas, maka masing-masing siswa yang menjadi sampel dalam penelitian ini diberikan lembaran kertas yang berisi

58

pertanyaan dan harus dijawab oleh siswa secara jujur. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan kesulitan yang dialami di saat membaca satua beraksara Bali. 3.3.3 Metode Interviu Interviu merupakan suatu cara untuk memperoleh data dengan jalan melakukan tanya jawab yang sistematis (Netra, 1979:53). Metode ini dilaksanakan setelah dilakukannya kuesioner untuk mempertajam maupun

menyempurnakan data yang diperoleh sebelumnya melalui metode kuesioner dengan cara mewawancarai seluruh siswa dari yang memperoleh nilai tertinggi sampai terendah. Tujuannya untuk mengetahui kesulitan-kesulitan yang dialami siswa sehingga memperoleh nilai yang kurang maksimal dalam membaca satua beraksara Bali. 3.4 Metode Pengolahan Data Setelah data dikumpulkan, dilakukanlah pengolahan data. Untuk mengolah data tersebut digunakanlah metode statistik deskriptif. Suharsini Arikunto, (1993:25) mengatakan sebagai berikut. “Metode deskriptif dipakai apabila menjelaskan atau menerangkan peristiwa untuk mengetahui keadaan sesuatu mengenai apa dan bagaimana, berapa banyak, sejauh mana, dan sebagainya, sedangkan statistik dipakai untuk menyajikan data yang bersifat kuantitatif yang berwujud angka-angka hasil penghitungan dan pengukuran”. Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengolahan data adalah (1) mengubah skor mentah menjadi skor standar, (2) menentukan predikat kemampuan siswa, (3) mengelompokkan kemampuan siswa, (4) mencari skor

59

rata-rata, (5) mengolah data kesulitan-kesulitan dan faktor-faktor penyebab kesulitan siswa, dan (6) menarik kesimpulan. 3.4.1 Mengubah Skor Mentah Menjadi Skor Standar Untuk mengubah skor mentah menjadi skor standar, maka digunakanlah beberapa langakah seperti di bawah ini. 3.4.1.1 Menentukan Skor Maksimal Ideal Untuk menentukan skor maksimal ideal, maka penulis akan berpegangan pada pendapatnya Nurkancana dan Sunartana (1992:92) yang mengatakan bahwa skor maksimal ideal (SMI) adalah skor yang mungkin dicapai apabila semua item soal dapat dijawab dengan benar. Berdasarkan aspek-aspek yang dinilai dan rentangan nilai yang ditetapkan dalam membaca satua beraksara Bali, maka dapat ditentukan skor maksimal idealnya, yaitu 40. 3.4.1.2 Membuat Pedoman Konversi Skor yang diperoleh dari hasil tes masih merupakan skor mentah dan harus diubah menjadi skor standar. Untuk mengubah skor mentah menjadi skor standar, digunakanlah norma absolut skala seratus, seperti yang biasa digunakan di SMP Negeri 1 Mengwi saat ini. Skala seratus adalah skala yang bergerak dari nol sampai dengan seratus yang disebut juga skala persentil. Untuk mengkonversikan skor mentah menjadi skor standar dengan norma absolut skala seratus dipergunakan rumus sebagai berikut:

60

P =

X x 100 SM I

Keterangan: P X = Persentil = Skor yang dicapai

SMI = Skor Maksimal Ideal (Gunarta, 2006:74) Contoh: Misalkan seorang siswa mendapat skor mentah 30, maka skor standarnya dapat dihitung sebagai berikut. P = P =
X x 100 SM I
30 x 100 40

P = 75

3.4.2 Menentukan Predikat Kemampuan Siswa Untuk menentukan predikat kemampuan siswa di dalam membaca satua beraksara Bali digunakan predikat kemampuan untuk siswa tingkat SMP pada tabel 3.3 berikut ini.

61

Tabel 3.4 Predikat Kemampuan Membaca Satua Beraksara Bali Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung Tahun Pelajaran 2010/2011 No. (1) 1 2 3 4 5 Skor Standar (2) 86-100 71-85 56-70 41-55 ≤ 40 Katagori/Predikat (3) A = Baik sekali B = Baik C = Cukup D = Kurang E = Sangat Kurang KKM (4) Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas

(Kurikulum 2004:27) 3.4.3 Mengelompokkan Prestasi Siswa

Setelah skor standar dan predikat kemampuan siswa ditentukan, selanjutnya kemampuan siswa tersebut dikelompokkan berdasarkan jumlah prosentasenya. Misalnya, berapa orang atau berapa persen yang mendapat nilai 60, berapa orang yang mendapat nilai 70, dan seterusnya yang selanjutnya dilakukan pengelompokan kemampuan siswa berdasarkan predikat, persentase, dan kriteria ketuntasan minimal (KKM). KKM yang ditetapkan dalam mata pelajaran bahasa Bali di SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung adalah 60. 3.4.4 Mencari Skor Rata-Rata

Mencari skor rata-rata merupakan langkah yang harus ditempuh untuk mengetahui kemampuan secara umum siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2009/2010 dalam membaca satua beraksara

62

Bali. Kemampuan rata-rata ini dapat dilihat dari skor rata-rata yang diperoleh oleh siswa. Untuk mencari skor rata-rata siswa digunakan rumus sebagai berikut. M=

∑ fx N

Keterangan : M = Mean (Skor rata-rata)

∑fx = Jumlah hasil kali skor dengan frekuensi N = Jumlah individu (Nurkancana dan Sunartana, 1986: 151-152) 3.4.5 Mengolah Data Kesulitan-Kesulitan dan Faktor-faktor Penyebab Kesulitan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dalam membaca satua beraksara Bali dan faktor-faktor yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam membaca satua beraksara Bali. Berdasarkan tujuan tersebut pengolahan data kesulitan-kesulitan dan faktor-faktor penyebab kesulitan dibuat. Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengolahan data kesulitan-kesulitan siswa dan faktor-faktor penyebab kesulitan dilakukan dengan cara menginventarisasi, dan mendeskripsikan mengelompokkan, kesulitan-kesulitan memprosentasekan, dan faktor-faktor

menganalisis,

penyebab kesulitan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2009/2010 dalam membaca satua beraksara Bali.

63

3.4.6

Menarik Kesimpulan

Berdasarkan langkah-langkah pengolahan data di atas, maka akan dapat ditarik kesimpulan tentang: 1) kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2010/2011 dalam membaca satua beraksara Bali; 2) kesulitan-kesulitan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2010/2011 dalam membaca satua beraksara Bali, 3) faktor-faktor yang menyebabkan siswa VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung tahun ajaran 2010/2011 mengalami kesulitan dalam membaca satua beraksara Bali.

64

BAB IV PENYAJIAN HASIL PENELITIAN

Dalam bab ini disajikan hasil penelitian tentang kemampuan membaca satua beraksara Bali siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi Kabupaten Badung 2010/2011. Seperti yang telah dijelaskan dalam bab III, metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tes. Tes yang digunakan berupa tes tindakan, observasi, kuesioner, dan wawancara mengenai membaca satua beraksara Bali. Uraian mengenai hasil penelitian ini mencakup (1) kemampuan membaca satua beraksara Bali, dan (3) faktor penyebab kesulitankesulitan yang dialami siswa. 4.1 Kemampuan Membaca Satua Beraksara Bali Pada bagian ini disajikan data hasil penelitian mengenai kemampuan membaca satua beraksara Bali siswa VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung. Secara garis besar penyajian subbab ini mencangkup (1) hasil pengumpulan data dan (2) hasil analisis data. 4.1.1 Hasil Pengumpulan Data Setelah tes dilakukan tes membaca pada tanggal 7-9 Maret 2011 pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, dimana siswa melakukan tes dengan satu persatu maju ke depan kelas membaca satua beraksara Bali yang telah disediakan. Kemudian siswa diberikan skor berdasarkan kriteria penilaian yang disebutkan pada bab III.

65

Selanjutnya nama siswa disusun secara berurutan berdasarkan nilai yang diperoleh. Siswa yang mendapat nilai tertinggi diletakkan paling atas dan di bawahnya adalah nama siswa yang mendapat nilai lebih rendah, demikian seterusnya sampai nama siswa yang mendapat nilai paling rendah terletak paling bawah. Skor mentah yang dicapai masing-masing siswa dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini. Tabel 4.1 Skor Mentah Yang Diperoleh Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi Tahun Pelajaran 2010/2011 Dalam Membaca Satua Beraksara Bali Skor Masing-masing Aspek yang Dinilai A B C D E F G H Skor Ment ah 4 4 4 5 5 5 4 5 36 4 5 4 5 4 5 4 5 36 4 4 4 5 5 5 4 5 36 4 4 4 5 4 5 4 5 36 4 4 4 5 4 4 5 5 36 4 4 5 5 4 4 4 5 36 4 4 5 5 4 4 4 4 36 4 4 5 5 4 5 5 4 36 4 4 5 5 4 5 4 4 35 4 4 5 5 4 4 4 5 35 3 4 5 5 4 4 5 5 35 5 4 5 3 4 4 4 5 34 4 4 5 3 4 5 4 5 34 4 4 5 3 5 4 4 5 34 5 4 5 3 4 4 4 5 34 4 4 5 3 4 4 4 5 33 4 3 4 5 3 5 4 5 33 4 4 4 5 3 4 4 5 33 4 4 4 5 3 4 4 5 33 4 4 4 3 4 4 4 5 32 4 4 4 3 4 4 4 5 32 4 4 3 3 5 4 4 5 32 4 4 3 3 5 4 4 5 32

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23.

Nama Peserta Tes Chandra Dewi, Ni Made Dita Paramitha Duana Putra, I Gusti Made Kusumayanti, Ni Kadek Dwi Prastiawan, I Made Septian Artana, I Kadek Prayoga Kusuma, I Made Shulasana Permana, Putu Eka Purbaya Santi, Ni Putu Ekasari, Ni Luh Putu Esty Nurya Safitri Evi Nandari Putri, Ni Putu Indah Astariasih, Ni Putu Maya Gangga, Ida Ayu Reni Mahayani, Ni Putu Ni Adhytia Wulandari Nia Minarti, Ni Putu Putri Anjarsari, Ida Ayu Rai Satayanti, Ni Made Rama Bhaskara, I Putu Santia Dewi, Ni Made Laksemi Dewi, I Gst Ayu Sri Mahayani, Ni Kadek

66

24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67.

Sri Martini, Ni Kompyang Suadnyana Putra, I Nyoman Pariksa, I Nyoman Gede Mas Ariasa, Ida Bagus Gede Wibisana, Si Nyoman Gede Purnamasri, Ni Luh Gede Wigy Antari, I Nyoman Adi Muritantini, Gusti Made Dwi Wirawan, Ida Bagus Eka Wibawa Putra, I Putu Agus Gunawan, I Gede Toni Pradnya Citta, I Putu Candra Nareswara, I Made Aristhina Yanti, Ni Putu Wicaksana Sudira, I Gede Beny Darsana, I Gede Budi Asrini, Ni Putu Budiarta, I Gede Pande Darma Wijaya, Putu Bagus Denny Pratama I Nyoman Dwi Yuni Supartini, Kadek Dwiki Prayoga, I Made Nur Indahsari, Komang Maria Grahantini, Putu Pasek Sudiksa, I Made Prabhaswara, I Gusti Agung Kemala, I Gusti Ayu Puspasari Dewi, Ni Made Puspasari, Ni Made Resika Melarosa, Putu Rhadea, I Nyoman Schonia Damayanti, Ni Putu Setianingsih Pande Putu Komala Dewi, Komang Sri Rejeki, Ni Putu Surya Dinatha, I Putu Suteja, I Ketut Yoga Pramana, I Gede Widagda, I Gusti Ngurah Widhiani, Ni Nyoman Dian Damayanti, Ni Made Mudita, I Made Purnami, Ni Ketut Suwitra, I Wayan

4 4 3 4 3 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 3 3 3 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4 4

4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 3 4 3 3 4 3 3 4 3 3 4 3 3 4 3

3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4

3 3 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

4 4 4 3 4 4 4 4 5 4 4 4 5 5 4 4 4 3 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 5 4 4 5 5 4 5 4 4 5 4 4 5 4 4 5

5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4

4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 5 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 3

5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5

32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 31 31 31 31 31 31 31 31 31 30 30 30 30 30 30 30 30 30

67

68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88. 89. 90. 91. 92. 93. 94. 95. 96. 97. 98. 99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111.

Seroni, Ni Ketut Mentari, Ni Kadek Wupe Luckyanta, I Wayan Manis, Ni Komang Sulasmi, Ni Made De, I Nyoman Julianti, Ni Ketut Nopiani, Ni Putu Sri Wiriani, NI Ketut Febri, Ni Wayan Eka Nuari, Desak Gede Lasmi, Ni Kadek Anarta, I Nyoman Mona Ginadi, I Komang Angga Reksa, I Kadek Catur Wari, Ni Ketut Tirta Wati, Ni Komang Medaan, I Dewa Gede Agas Pravada Mantik Cenik, Ni Wayan Mulianti, Ni Kadek Warnata, I Ketut Darmayasa, I Gede Wardana, I Kadek Abhiyoga, I Gede Pitasari, Ni Luh Sedana, Putu Gede Ayu Puspita Dewi Ari Setiari, Ni Ketut Dalbo Setiawan, I Wayan Juniari, Ni Luh Suanta, I Made Santiasih, Ni Nengah Sri Umi Lestari, Ni Made Yoni Prataningsih Tatar Eko Bawana, I Kadek Mayuni, Ni ketut Sutama, I Nengah Rika Rosita, Ni Nengah Edi Putra, I Wayan Indian Triveni, Ni Putu Nilasari, Ni Made Panji Anom, I Made Nuraini, Ni Luh

3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 4 3 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 3 3 4 3 3 4 4 3

4 3 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4

3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3

4 4 5 4 4 5 4 4 5 4 5 4 4 5 4 5 4 4 5 4 4 5 4 4 5 4 4 5 4 5 4 4 5 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 4

4 3 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 4 3 4 3 4 3 3 3 4

4 4 3 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 3

5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5

30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29

68

112. 113. 114. 115. 116. 117. 118. 119. 120. 121. 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. 154. 155.

Dirgantara, I Komang Redita, I Wayan Yasa, I Komang Sri Wahyuni, Ni Kadek Bayu Brata, I Gede Darmini, Ni Kadek Carma, I Komang Valintina, Ni Komang Jigo Gasilo, I Komang Supeni, Ni Ketut Wudarti, Ni Komang Juliantini, Ni Ketut Trianti, Ni Komang Peri Astini, Ni Luh Neng Tirta Asmara Putra Pastika Yoga, I Made Patriningsih, Ni Kadek Wiratriani, Ni Made Yasa Wirama, I Made Yoga Darmdita, I Made Kusuma, Ngurah Bagus Sari Dewi, I Gusti Agung Putra Prawira, I Putu Yuniati Sucidewi, Ni Putu Yustinaari, I Gusti Ayu Iin Hendriyanti, Ni Wayan Salma Taradipa Andre Widiatmika, I Putu Angkasa Pura, I Komang Ayu Dwi Juliastri, Kadek Ayu Krisnayani, Ni Putu Laksmidewi, Ni Nyoman Ayu Putu Puspitayani Ratih Yustina Putri, Putu Ayu Sariasih, Ni Ketut Ayu Srianti Dewi, Ni Luh Bayu Wisesa Putra, I Gede Wivra Dewi, Ni Nyoman Citra Antari, Ni Kadek Desi Purnama, Ni Luh Gede Devi Wiliantari, Ni Made Donna Redita Putri, Kadek Dwi Yuliapsari, Ni Made Ernayanti, Ni Putu

3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 2 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 4

3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

4 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 3 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 3 3 4 3 3 3 4 4 3 3

4 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

3 4 4 3 4 4 4 3 4 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 3 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 3 4 3 3 4 3 4 4 3 4 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 4 3

4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 3 4 3 4 4 3 4 3 4 3 4 3 4 4 3 4 3 3 4 3 4 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 4 3

5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 2 3 4 4 2 2 3 2 2 3 3 2 2 2 3

29 29 29 29 29 29 29 29 29 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 26 26 26 26 26 26 26 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25

69

156. 157. 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165.

Eva Kristina Ni Kadek Gede Prayuda Abisena Gian Prastika, I Putu Gede Krisna Wirawan, I Gede Heni Wirayanti, Ni Luh Elvarosa, I Gusti Ayu Made Sari Arika Putri, Putu Juliana Putra, I Made Kartini, Ida Ayu Made Mamiak Annelyani, Ni Putu

3 2 2 2 2 2 2 2 2 2

3 3 3 2 2 2 2 2 2 2

3 3 3 2 3 3 3 3 3 3

3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

3 3 3 3 3 2 3 2 3 2

3 4 3 3 2 3 3 3 3 3

3 3 2 4 4 4 3 4 3 4

24 24 22 22 22 22 22 22 22 22

Keterangan: A = ketepatan ucapan (lafal) B = ketepatan pemenggalan kata dan frase C = intonasi D = kecepatan (tempo) E = kejelasan suara (volume) F = kelancaran siswa dalam membaca G = penghayatan (ekspresi) H = sikap pada saat membaca 4.1.2 Hasil Analisis Data Setelah proses pengumpulan data, selanjutnya dilakukan analisis terhadap data yang sudah terkumpul. Adapun langkah-langkah dalam analisis data meliputi (1) mengkonversi skor mentah menjadi skor standar dan menentukan predikat atau kategori kemampuan siswa, (2) mengelompokkan kemampuan siswa, (3) mencari skor rata-rata siswa, (4) mengolah data kesulitan-kesulitan dan faktorfaktor penyebab kesulitan siswa, dan (5) menarik kesimpulan. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing analisis data tersebut.

70

4.1.2.1 Skor Standar dan Predikat Kemampuan Siswa dalam Membaca Satua Beraksara Bali Skor mentah yang diperoleh harus diubah menjadi skor standar tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang prestasi siswa. Berdasarkan skor standar yang diperoleh siswa, maka selanjutnya ditentukan kategori atau predikat kemampuan siswa dalam membaca satua beraksara Bali. Hasil perhitungan skor standar dan predikat yang dicapai oleh masingmasing siswa disajikan dalam tabel 4.2 berikut ini. Tabel 4.2 : Skor Standar dan Predikat Kemampuan Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung Tahun Pelajaran 2010/2011 dalam Membaca Satua Beraksara Bali Kualifikasi

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19.

Nama Citra Dewi, Ni Putu Dita Paramitha Duana Putra, I Gusti Made Kusumayanti, Ni Kadek Dwi Prastiawan, I Made Septian Artana, I Kadek Prayoga Kusuma, I Made Shulasana Permana, Putu Eka Purbaya Santi, Ni Putu Ekasari, Ni Luh Putu Esty Nurya Safitri Evi Nandari Putri, Ni Putu Indah Astariasih, Ni Putu Maya Gangga, Ida Ayu Reni Mahayani, Ni Putu Ni Adhytia Wulandari Nia Minarti, Ni Putu Putri Anjarsari, Ida Ayu Rai Satayanti, Ni Made

Jenis Kelamin P P L P L L L L P P P P P P P P P P P

Skor Mentah 36 36 36 36 36 36 36 36 35 35 35 34 34 34 34 33 33 33 33 Standar 90 90 90 90 90 90 90 90 88 88 88 85 85 85 85 83 83 83 83

Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik

71

20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59.

Rama Bhaskara, I Putu Santia Dewi, Ni Made Laksemi Dewi, I Gst Ayu Sri Mahayani, Ni Kadek Sri Martini, Ni Kompyang Suadnyana, I Nyoman Pariksa, I Nyoman Gede Ariasa, Ida Bagus Gede Wibisana, Si Nyoman Gede Purnamasri, Ni Luh Gede Wigy Antari, I Nyoman Muritantini, Gusti Made Dwi Wirawan, Ida Bagus Eka Wibawa Putra, I Putu Agus Gunawan, I Gede Toni Pradnya Citta, I Putu Candra Nareswara, I Made Aristhina Yanti, Ni Putu Wicaksana Sudira, I Gede Beny Darsana, I Gede Budi Asrini, Ni Putu Budiarta, I Gede Pande Darma Wijaya, Putu Bagus Denny Pratama, I Nyoman Dwi Yuni Supartini, Kadek Dwiki Prayoga, I Made Nur Indahsari, Komang Maria Grahantini, Putu Pasek Sudiksa, I Made Prabhaswara, I Gusti Kemala, I Gusti Ayu Puspasari Dewi, Ni Made Puspasari, Ni Made Resika Melarosa, Putu Rhadea, I Nyoman Schonia Yanti, Ni Putu Setianingsih, Pande Putu Komala Dewi, Komang Sri Rejeki, Ni Putu Surya Dinatha, I Putu

L P P P P L L L L P P P L L L L L P L L P L L L P L P P L L P P P P L P P P P L

32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 31 31 31 31 31 31 31 31 30 30

80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 78 78 78 78 78 78 78 78 75 75

Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik

72

60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88. 89. 90. 91. 92. 93. 94. 95. 96. 97. 98. 99.

Suteja, I Ketut Yoga Pramana, I Gede Widagda, I Gusti Ngurah Widhiani, Ni Nyoman Dian Damayanti, Ni Made Mudita, I Made Purnami, Ni Ketut Suwitra, I Wayan Seroni, Ni Ketut Mentari, Ni Kadek Wupe Luckyanta, I Wayan Manis, Ni Komang Sulasmi, Ni Made De, I Nyoman Julianti, Ni Ketut Nopiani, Ni Putu Sri Wiriani, NI Ketut Febri, Ni Wayan Eka Nuari, Desak Gede Lasmi, Ni Kadek Anarta, I Nyoman Mona Ginadi, I Komang Angga Reksa, I Kadek Catur Wari, Ni Ketut Tirta Wati, Ni Komang Medaan, I Dewa Gede Agas Pravada Mantik Cenik, Ni Wayan Mulianti, Ni Kadek Warnata, I Ketut Darmayasa, I Gede Wardana, I Kadek Abhiyoga, I Gede Pitasari, Ni Luh Sedana Putu, Gede Ayu Puspita Dewi Ari Setiari, Ni Ketut Dalbo Setiawan, I Wayan Juniari, Ni Luh Suanta, I Made

L L L P P L P L P P L P P L P P P P P P L L L P P L L P P L L L L P L P P L P L

30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30

75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik

73

100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. 118. 119. 120. 121. 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139.

Santiasih, Ni Nengah Sri Umi Lestari, Ni Made Yoni Prataningsih Tatar Eko Bawana, I Kadek Mayuni, Ni Ketut Sutama, I Nengah Rika Rosita, Ni Nengah Edi Putra, I Wayan Indian Triveni, Ni Putu Nilasari, Ni Made Panji Anom, I Made Nuraini, Ni Luh Dirgantara, I Komang Redita, I Wayan Yasa, I Komang Sri Wahyuni, Ni Kadek Bayu Brata, I Gede Darmini, Ni Kadek Carma, I Komang Valintina, Ni Komang Jigo Gasilo, I Komang Supeni, Ni Ketut Wudarti, Ni Komang Juliantini, Ni Ketut Trianti, Ni Komang Peri Astini, Ni Luh Neng Tirta Asmara Putra Pastika Yoga, I Made Patriningsih, Ni Kadek Wiratriani, Ni Made Yasa Wirama, I Made Yoga Darmdita, I Made Kusuma, Ngurah Bagus Sari Dewi, I Gusti Agung Putra Prawira, I Putu Yuniati Sucidewi, Ni Putu Yustinaari, I Gusti Ayu Iin Hendriyanti, Ni Wayan Salma Taradipa Andre Widiatmika, I Putu

P P P L P L P L P P L P L L L P L P L P L P P P P P L L P
P L L L P L P P P P L

30 30 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 26 26

75 75 73 73 73 73 73 73 73 73 73 73 73 73 73 73 73 73 73 73 73 68 68 68 68 68 68 68 68 68 68 68 68 68 68 68 68 68 65 65

Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup

74

140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. 154. 155. 156. 157. 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165.

Angkasa Pura, I Komang Ayu Dwi Juliastri, Kadek Ayu Krisnayani, Ni Putu Laksmidewi, Ni Nyoman Ayu Putu Puspitayani Ratih Yustina Putri, Putu Ayu Sariasih, Ni Ketut Ayu Srianti Dewi, Ni Luh Bayu Wisesa Putra, I Gede Wivra Dewi, Ni Nyoman Citra Antari, Ni Kadek Dewi Purnama, Ni Luh Devi Wiliantari, Ni Made Donna Redita Putri, Kadek Dwi Yuliapsari, Ni Made Ernayanti, Ni Putu Eva Kristina, Ni Kadek Gede Prayuda Abisena Gian Prastika, I Putu Gede Krisna Wirawan, I Gede Heni Wirayanti, Ni Luh Elvarosa, I Gusti Ayu Made Sari Arika Putri, Putu Juliana Putra, I Made Kartini, Ida Ayu Made Mamiak Annelyani Jumlah

L P P P P P P P L P P P P P P P P L L L P P P L P P

26 26 26 26 26 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 24 24 22 22 22 22 22 22 22 22

65 65 65 65 65 63 63 63 63 63 63 63 63 63 63 63 60 60 55 55 55 55 55 55 55 55 12.231

Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang

4.1.2.2 Pengelompokan Kemampuan Siswa Dari Tabel 4.2 di atas, dapat dirinci bahwa siswa yang mendapat nilai 90 sebanyak 8 orang (4,84%), nilai 87,5 sebanyak 3 orang (1,81%), nilai 85 sebanyak 4 orang (2,42%), nilai 82,5 sebanyak 4 orang (2,42%), nilai 80 sebanyak 30 orang (18,18%), nilai 77,5 sebanyak 8 orang (4,84%), nilai 75 sebanyak 44 orang (26,66), nilai 72,5 sebanyak 19 orang (11,517%), nilai 67,5 sebanyak 17 orang

75

(10,30%), nilai 65 sebanyak 7 orang (4,24%), nilai 62,5 sebanyak 11 orang (6,66%), nilai 60 sebanyak 2 orang (1,21%), dan nilai 55 sebanyak 8 orang (4,84%), Dari rincian di atas, berarti masih ada siswa yang memperoleh skor standar di bawah 60. Berdasarkan kualifikasi yang dicapai, maka kemampuan membaca satua beraksara Bali diklasifikasikan menjadi empat kategori, yaitu sebagai berikut. 1) Nilai 86 - 100 (baik sekali) sebanyak 11 orang, maka persentase

kemampuan siswa dalam membaca satua beraksara Bali adalah 11/165x100 = 6,66%. 2) Nilai 71 - 85 (baik) sebanyak 109 orang, maka presentase kemampuan siswa dalam membaca satua beraksara Bali adalah 109/165x100 = 66,06%. 3) Nilai 56 - 70 (cukup) sebanyak 37 orang, maka persentase kemampuan membaca satua beraksara Bali adalah 37/165x100 = 22,42%. 4) Nilai 41 - 55 (kurang) sebanyak 8 orang, maka persentase kemampuan membaca satua beraksara Bali adalah 8/165x100 = 4,84%. Dari tabel 4.2 di atas, jika dilihat dari kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan dalam mata pelajaran bahasa Bali di SMP Negeri 1 Mengwi Kabupaten Badung yaitu 60, maka dari 165 orang yang mengikuti tes, 157 orang (95,15%) siswa telah mencapai KKM (tuntas) dan 8 orang (4,84%) siswa yang belum mencapai KKM (tidak tuntas) dalam membaca satua beraksara Bali. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat persentase pada tabel 4.3 berikut ini.

76

Tabel 4.3

Pengelompokan Kemampuan Membaca Satua Beraksara Bali Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung Tahun Pelajaran 2010/2011 Predikat Baik Sekali Baik Cukup Jumlah Siswa 11 109 37 157 8 8 Persentase 6,66%. 66,06%. 22,42%. 95,15% 4,84% 4,84% Keterangan Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas

Nilai 88 - 90 72- 85 60 - 68

Siswa yang telah mencapai KKM 55 Kurang

Siswa yang belum mencapai KKM

4.1.2.3 Skor Rata-rata Untuk mengetahui kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2010/2011 dalam membaca satua beraksara Bali perlu dihitung skor rata-ratanya dengan rumus sebagai berikut. M= Keterangan : M = Mean (Skor rata-rata)

∑ fx N

∑fx = Jumlah hasil kali skor dengan frekuensi N = Jumlah individu (sampel) Dari tabel 4.3 diketahui jumlah hasil kali skor standar dengan frekuensi (∑fx) adalah 12.231 dan jumlah sampel (N) adalah 165 orang. Berdasarkan data tersebut, besar skor rata-rata yang diperoleh siswa dapat dihitung sebagai berikut:

77

M=

12 .231 165

= 74,12 = 74 Dari hasil penghitungan di atas dapat diketahui bahwa rata-rata skor yang dicapai siswa yang dicapai sebesar 74. Sesuai dengan pedoman kriteria predikat kemampuan siswa, maka skor rata-rata ini berada pada predikat baik karena berada di antara skor standar 72 - 85. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kemampuan membaca satua beraksara Bali siswa kalas VIII SMP Negeri 1 Mengwi Kabupaten Badung tergolong baik. 4.2 Kesulitan-kesulitan Siswa dalam Membaca Satua Beraksara Bali Berdasarkan hasil penilaian membaca satua beraksara Bali, data kuesioner, dan interviu yang telah diolah, maka kesulitan-kesulitan siswa dalam membaca satua beraksara Bali dapat dijelaskan sebagai berikut. 1) Siswa mengalami kesulitan dalam ucapan atau melafalkan kata sehingga pengucapan atau pelafalan banyak yang salah. Misalnya kata nagantung harusnya dibaca nagantun, tetapi tetap dibaca nagantung. Dari 165 siswa yang diteliti, 39 siswa mengalami kesulitan dalam ucapan atau pelafalan kata. Jika dipresentasekan, maka siswa yang mengalami kesulitan dalam ucapan atau melafalkan kata adalah 78/165x100 =47,27 %. 2) Dalam pemenggalan kata dan frase siswa mengalami kesulitan sehingga berpengaruh terhadap intonasi, kecepatan, dan kelancaran dalam membaca.

78

Misalnya pemenggalan frase dalam kata dahating suba gawirya yang seharusnya dipenggal pada kata dahating subaga wirya, akan tetapi kebanyakan langsung dibaca tanpa dipenggal. Dari 165 siswa yang diteliti, 43 siswa mengalami kesulitan dalam pemenggalan kata. Jika diprosentasekan, maka siswa yang mengalami kesulitan dalam pemenggalan kata dan frase adalah 43/165x100 = 26,06% 3) Beberapa orang siswa mengalami kesulitan dalam membaca kata eswaryadala, bande swarya, dresti, dan pakayunan sehingga mempengaruhi kelancaran siswa dalam membaca, yaitu siswa dalam membaca sangat lambat dan tidak sesuai dengan waktu yang disediakan. Dari 165 siswa yang diteliti, 40 siswa mengalami kesulitan dalam kelancaran membaca. Jika dipresentasekan, maka siswa yang mengalami kesulitan dalam kelancaran membaca adalah 43/165x100 = 26,06%. 4) Siswa mengalami kesulitan dalam menghayati isi bacaan sehingga ekspresi siswa pada saat membaca tidak sesuai dengan isi bacaan. Dari 165 siswa yang diteliti, 85 siswa mengalami kesulitan dalam menghayati isi bacaan. Jika diprosentasekan, maka siswa yang mengalami kesulitan dalam menghayati isi bacaan adalah 85/165x100 = 51,51%. 4.3 Faktor-faktor Penyebab Kesulitan Siswa dalam Membaca Satua Beraksara Bali Adapun faktor-faktor yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam membaca satua beraksara Bali adalah sebagai berikut.

79

1) Dalam membaca satua beraksara Bali, siswa masih mengalami kesulitan dalam melafalkan kata, pemenggalan kata dan frase, kelancaran, dan penghayatan terhadap isi bacaan. Hal ini disebabkan kurangnya penekanan materi pembelajaran dalam keterampilan membaca oleh guru dan kurangnya latihan dalam membaca satua beraksara Bali oleh siswa. 2) Terbatasnya buku-buku yang berkaitan dengan keterampilan membaca satua beraksara Bali, sehingga guru dan siswa hanya berpedoman pada buku paket dan buku LKS. Pada buku paket dan LKS materi membaca disajikan secara singkat saja sehingga pengetahuan yang diperoleh oleh siswa sangat minim. Dari langkah-langkah tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa kebanyakan siswa mengalami kesulitan di dalam pengucapan (lafal), ketepatan pemenggalan kata, kelancaran dalam membaca, dan penghayatan terhadap isi bacaan. Hal tersebut tidak terlepas dari faktor-faktor yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam membaca satua beraksara Bali, yaitu kurangnya latihan yang dilakukan siswa, kurangnya penekanan guru dalam memberikan materi pembelajaran membaca secara intensif, dan kurangnya buku penunjang yang berkaitan dengan materi membaca aksara Bali yang ada di sekolah.

80

BAB V PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data pada bab IV, maka pembahasan pada bab ini meliputi dua hal: (1) simpulan dan (2) saran-saran. Kedua hal tersebut akan dijelaskan sebagai berikut. 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian membaca satua beraksara Bali siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi Kabupaten Badung tahun pelajaran 2010/2011 yang diperoleh, maka dapat disimpulkan sebagai berikut. 1) Kemampuan membaca satua beraksara Bali siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2010/2011 tergolong kategori baik dengan skor rata-rata, yaitu 74. Jika dilihat dari KKM yang ditetapkan dalam mata pelajaran bahasa Bali di SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung, yaitu 60, maka dapat dilihat bahwa dari 165 siswa yang dijadikan sampel penelitian, yang memperoleh skor 60 ke atas adalah sebanyak 517 orang siswa (95,15%), sedangkan yang tidak berhasil mencapai skor 60 sebanyak 8 orang siswa (4,84%). Jadi, 92,06% siswa telah berhasil mencapai KKM (tuntas) dan sebesar 7,94% siswa yang tidak berhasil mencapai KKM (tidak tuntas).

81

2)

Kesulitan-kesulitan yang dialami siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2010/2011 dalam membaca satua beraksara Bali adalah sebagai berikut. (1) Siswa mengalami kesulitan dalam ucapan atau melafalkan kata dan frase sehingga pengucapan atau pelafalan banyak yang salah. (2) Siswa mengalami kesulitan dalam pemenggalan kata atau frase sehingga berpengaruh terhadap intonasi, kecepatan, dan kelancaran dalam membaca. (3) Siswa mengalami kesulitan dalam membaca secara lancar yang disebabkan kurangnya penguasaan siswa terhadap aksara Bali sehingga menghambat proses membaca dan cenderung sangat lambat. (4) Siswa mengalami kesulitan dalam menghayati isi bacaan sehingga ekspresi siswa pada saat membaca tidak sesuai dengan isi bacaan.

3)

Faktor-faktor yang menyebabkan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2010/2011 mengalami kesulitan dalam membaca satua beraksara Bali adalah sebagai berikut. (1) Dalam membaca satua beraksara Bali, siswa masih mengalami kesulitan. Dalam hal ini disebabkan kurangnya penekanan materi pembelajaran dalam keterampilan membaca oleh guru dan kurangnya latihan dalam membaca satua beraksara Bali oleh siswa. (2) Terbatasnya buku-buku yang berkaitan dengan keterampilan membaca satua beraksara Bali sehingga guru dan siswa hanya berpedoman pada buku paket dan buku LKS. Pada buku paket dan LKS pembahasan tentang

82

materi membaca disajikan secara singkat saja sehingga pengetahuan yang diperoleh oleh siswa sangat minim. (3) Dalam proses belajar mengajar guru kurang menekankan bagaimana membaca yang baik dan benar, baik dari ketepatan ucapan, pemenggalan, intonasi, kecepatan, kejelasan suara, kelancaran, penghayatan, dan sikap dalam membaca. 5.2 Saran-Saran Sebagai tindak lanjut atas simpulan yang telah dikemukakan di atas, berikut ini akan disampaikan beberapa saran. Saran-saran ini pada hakikatnya dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pengajaran bahasa dan sastra Bali khususnya kemampuan membaca satua beraksara Bali di SMP pada umumnya dan di SMP Negeri 1 Mengwi, Kabupaten Badung pada khususnya yang dapat dijelaskan sebagai berikut. 1) Meskipun kemampuan siswa dalam membaca satua beraksara Bali berada pada tingkat baik, guru hendaknya berupaya meningkatkan keterampilan siswa dalam membaca aksara Bali dengan cara lebih sering melatih siswa untuk membaca aksara Bali. 2) Siswa lebih tekun mempelajari aksara Bali dan sering membaca aksara Bali baik itu berupa satua, kekawin, pupuh dan lain sebagainya agar kemampuan siswa semakin terasah dan meningkat sehingga mampu menerapkannya secara tepat baik disaat penggunaannya dalam proses belajar mengajar maupun di lingkungan masyarakat.

83

3)

Guru mempertahankan dan meningkatkan kemampuan dirinya dari segi ilmu pengetahuan agar pelajaran yang diajarkan berkualitas sehingga sesuai dengan hasil yang diharapkan. Selain itu guru juga harus memiliki teknik mengajar yang kreatif dan menyenangkan agar siswa tidak merasa jenuh dalam proses belajar mengajar, namun sebaliknya menjadi lebih bersemangat dan semakin ingin mencoba hal yang baru walaupun hal itu sulit sekalipun. Selain kreatif guru hendaknyan aktif dalam mencari sumber-sumber lain yang dapat memperkaya dan mempertajam pengetahuan bahasa Bali pada umumnya dan membaca satua beraksara Bali pada khususnya karena sebagaimana diketahui materi membaca aksara Bali di dalam buku teks uraianya sangat terbatas.

4)

Dalam rangka peningkatan kemampuan siswa di dalam membaca aksara Bali, hendaknya perpustakaan sekolah meningkatkan jumlah dan kualitas buku-buku tentang pelajaran membaca dan buku-buku pelajaran bahasa Bali untuk dapat dibaca oleh guru maupun siswa untuk memperluas wawasan. Demikianlah saran-saran yang dipandang perlu diajukan sebagai

sumbangan pemikiran dalam usaha meningkatkan keterampilan berbahasa khususnya keterampilan membaca aksara Bali. Dengan harapan semoga mendapat perhatian yang serius sehingga ada manfaatnya bagi siswa maupun guru pengajar bahasa dan sastra Bali khususnya, serta para pencinta dan pemakai bahasa Bali umumnya. Sebagai akhir kata, semoga karya tulis ini ada manfaatnya untuk pertumbuhan dan perkembangan sastra Bali.

84

DAFTAR PUSTAKA Antara. 1994. Kesusastraan Bali Purwa. Singaraja: STKIP Singaraja. Arikunto, Suharsini. 1993. Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktik. Yogyakarta: Rineka Cipta. Darmawan, Agus. 2010. Kemampuan Membaca Wacana Berhuruf Bali kelas IX SMP Negeri 2 Nusa Penida, Kabupaten Klungkung Tahun Pelajaran 2009/2010. Denpasar IKIP PGRI BALI. Ernawati, Ni Kadek. 2010. Kemampuan Membaca Lontar siswa kelas XI IPB SMA Negeri 1 Kuta Utara Tahun Pelajaran 2010/2011. Denpasar: IKIP PGRI BALI Gautama Budha, Wayan. 2006. Tata Sukerta Basa Bali. Denpasar: CV. Kayumasagung Gunarta, I Wayan. 2006. Diktat Kuliah Evaluasi Hasil Belajar. Denpasar: IKIP PGRI BALI. Hadi, Sutrisno. 1990. Metodelogi Research 3. Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Fsikologi, Universitas Gajah Mada. Nala, Ngurah. 2006. Aksara Bali dalam Usada. Surabaya: Paramita Surabaya. Netra, Ida Bagus. 1979. Methodologi Penelitian. Singaraja: Biro Penerbitan FIP Unud Singaraja. Nurkencana dan Sumartana. 1986. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya: Usaha Nasional. Pasek, I Made. 1999. Carita Tantri. Denpasar: Yayasan Dharma Sastra Poerwadarminta. 2003. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Rejana, Imam. 1993. Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia 3. Jakarta: Depdikbud.

85

Sugiyono. 2008. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: CV. Alfabeta. Sugono, Dendy. 2005. Bunga Rampai Hasil Penelitian Bahasa dan Sastra. Denpasar: Balai Bahasa Denpasar. Suyitno. 1985. Teknik Pengajaran Apresiasi Sastra dan Kemempuan Bahasa. Yogyakarta: PT. Hanindita. Tarigan, Henry Guntur. 1979. Membaca Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Wiryodijoyo, Sumaryono. 1989. Strategi Pengantar Membaca dan Tekniknya. Jakarta: Proyek Pengembangan LPTK.

86

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->