P. 1
Askep Efusi Pleura

Askep Efusi Pleura

|Views: 541|Likes:
Published by chusnul.laili
Chusnul Laili
09110764
STIKes SMH Kediri
Chusnul Laili
09110764
STIKes SMH Kediri

More info:

Published by: chusnul.laili on Jul 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/26/2013

pdf

text

original

TUGAS MAKALAH MATA KULIAH KBK SISTEM RESPIRASI II

³Efusi Pleura´

Disusun oleh:

Chusnul Laili 09119764 IKP Reg IV-B

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SURYA MITRA HUSADA KEDIRI 2011

1

BAB I PENDAHULUAN

I.

LATAR BELAKANG MASALAH Masalah kesehatan dengan gangguan sistem pernapasan masih menduduki peringkat yang tinggi sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Efusi pleura adalah salah satu kelainan yang mengganggu sistem pernapasan Efusi pleura sendiri sebenarnya bukanlah diagnosa dari suatu penyakit melainkan hanya lebih merupakan symptom atau komplikasi dari suatu penyakit. Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat cairan berlebihan di rongga pleura, dimana kondisi ini jika dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya (John Gibson, MD, 1995, Waspadji Sarwono (1999, 786). Penyebab efusi pleura bisa bermacam-macam seperti gagal jantung, adanya neoplasma (carcinoma bronchogenic dan akibat metastasis tumor yang berasal dari organ lain), tuberculosis paru, infark paru, trauma, pneumoni, syndroma nefrotik, hipoalbumin dan lain sebagainya. (Allsagaaf H, Amin M Saleh, 1998, 68). Tingkat kegawatan pada efusi pleura ditentukan oleh jumlah cairan, kecepatan pembentukan cairan dan tingkat penekanan pada paru. Jika efusi luas, expansi paru akan terganggu dan pasien akan mengalami sesak, nyeri dada, batuk non produktif bahkan akan terjadi kolaps paru dan akibatnya akan terjadilah gagal nafas. Kondisi-kondisi tersebut diatas tidak jarang menyebabkan kematian pada penderita efusi pleura. Berbagai permasalahan keperawatan yang timbul baik masalah aktual maupun potensial akibat adanya efusi pleura antara lain adalah ketidak efektifan pola nafas, gangguan rasa nyaman, gangguan pemenuhan kebutuhan tidur dan istirahat, kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, gangguan pemenuha kebutuhan nutrisi yang

2

menyebabkan penurunan berat badan pasien serta masih banyak lagi permasalahan lain yang mungkin timbul.

II.

RUMUSAN MASALAH 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Apakah definisi dari Efusi Pleura? Apakah insiden dari Efusi Pleura? Apakah klasifikasi dari Efusi Pleura? Apakah etiologi dari Efusi Pleura? Apakah WOC dari Efusi Pleura? Apakah manifestasi klinis dari Efusi Pleura? Apa saja pemeriksaan diagnostik dari Efusi Pleura? Bagaimana penatalaksanaan dari Efusi Pleura? Bagaiman asuhan keperawatan dari Efusi Pleura?

III.

TUJUAN PEMBELAJARAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Mengetahui definisi dari Efusi Pleura Mengetahui insiden dari Efusi Pleura Mengetahui klasifikasi dari Efusi Pleura Mengetahui etiologi dari Efusi Pleura Mengetahui WOC dari Efusi Pleura Mengetahui manifestasi klinis dari Efusi Pleura Mengetahui pemeriksaan diagnostik dari Efusi Pleura Mengetahui penatalaksanaan dari Efusi Pleura Mengetahui asuhan keperawatan dari Efusi Pleura

3

BAB II ISI

1.1. DEFINISI Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dari dalam kavum pleura diantara pleura parietalis dan pleura viseralis dapat berupa cairan transudat atau cairan eksudat ( Pedoman Diagnosis danTerapi / UPF ilmu penyakit paru, 1994, 111). Effusi pleura merupakan suatu kondisi terakumulasinya cairan

abnormal dalam cavum pleura.

1.2. INSIDEN Berdasarkan data dari medical record di UPF ilmu penyakit paru RSUD Dr. Soetomo tahun 1998, didapatkan data bahwa effusi pleura menduduki peringkat kedua setelah TB paru dengan jumlah kasus yang datang sebanyak 364 orang dan angka mortalitasnya mencapai 26 orang. Sedangkan tahun 1999 menduduki peringkat ke lima dengan angka mortalitasnya mencapai 31 orang dan prosentase 8,0% dari 387 kasus efusi pleura yang ada, sementara tahun 2000 mencapai 7,65% dari 366 kasus efusi pleura dan menduduki peringkat kedua setelah TB paru atau angka mortalitasnya mencapai 38 orang, (medical record RSUD Dr Soetomo tahun 2000).

1.3.

KLASIFIKASI
1. Transudat dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif (gagal jantung kiri), sindroma nefrotik, asites (oleh karena sirosis hepatis), syndroma vena cava superior, tumor, sindroma meig. 2. Eksudat disebabkan oleh infeksi, TB, preumonia dan sebagainya, tumor, infark paru, radiasi, penyakit kolagen. 3. Effusi hemoragis dapat disebabkan oleh adanya tumor, trauma, infark paru, tuberkulosis.

4

4. Berdasarkan lokasi cairan yang terbentuk, effusi dibagi menjadi unilateral dan bilateral. Efusi yang unilateral tidak mempunyai kaitan yang spesifik dengan penyakit penyebabnya akan tetapi effusi yang bilateral ditemukan pada penyakit-penyakit dibawah ini : Kegagalan jantung kongestif, sindroma nefrotik, asites, infark paru, lupus eritematosus systemic, tumor dan tuberkolosis.

1.4.

ETIOLOGI 
Neoplasma seperti neoplasma bronkogenik dan metastatik  Kardiovaskuler: gagal jantung kongensif, embolus pulmonar, dan perikarditis.  Penyakit intraabdominal: pankreatitis, asites, abses peritonitis.  Infeksi yang dapat disebabkan oleh viruz, bakteri, jamur,

mikrobakterial dan parasit  Trauma,: fraktur torack  Imunologik: SLE,sindrom nefrotik, uremia

1.5. WOC Dalam keadaan normal tidak ada rongga kosong antara pleura

parietalis dan pleura vicelaris, karena di antara pleura tersebut terdapat cairan antara 1 ± 20 cc yang merupakan lapisan tipis serosa dan selalu bergerak teratur.Cairan yang sedikit ini merupakan pelumas antara kedua pleura, sehingga pleura tersebut mudah bergeser satu sama lain. Di ketahui bahwa cairan di produksi oleh pleura parietalis dan selanjutnya di absorbsi tersebut dapat terjadi karena adanya tekanan hidrostatik pada pleura parietalis dan tekanan osmotic koloid pada pleura viceralis. Cairan

kebanyakan diabsorbsi oleh system limfatik dan hanya sebagian kecil diabsorbsi oleh system kapiler pulmonal. Hal yang memudahkan penyerapan cairan yang pada pleura viscelaris adalah terdapatnya banyak mikrovili disekitar sel ± sel mesofelial. Jumlah cairan dalam rongga pleura tetap. Karena adanya keseimbangan antara produksi dan absorbsi. Keadan ini bisa terjadi karena adanya tekanan hidrostatik sebesar 9 cm H2o dan tekanan osmotic koloid sebesar 10 cm H2o. Keseimbangan tersebut dapat

5

terganggu oleh beberapa hal, salah satunya adalah infeksi tuberkulosa paru.

Terjadi infeksi tuberkulosa paru, yang pertama basil Mikobakterium tuberkulosa masuk melalui saluran nafas menuju alveoli,terjadilah infeksi primer. Dari infeksi primer ini akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus (Limfangitis local) dan juga diikuti dengan pembesaran kelenjar getah bening hilus (limphadinitis regional). Peradangan pada saluran getah bening akan mempengaruhi permebilitas membran.

Permebilitas membran akan meningkat yang akhirnya dapat menimbulkan akumulasi cairan dalam rongga pleura. Kebanyakan terjadinya effusi pleura akibat dari tuberkulosa paru melalui focus subpleura yang robek atau melalui aliran getah bening. Sebab lain dapat juga dari robeknya pengkejuan kearah saluran getah bening yang menuju rongga pleura, iga atau columna vetebralis.

Adapun bentuk cairan effusi akibat tuberkolusa paru adalah merupakan eksudat, yaitu berisi protein yang terdapat pada cairan pleura tersebut

karena kegagalan aliran protein getah bening. Cairan ini biasanya serous, kadang ± kadang bisa juga hemarogik. Dalam setiap ml cairan pleura bias mengandung leukosit antara 500 ± 2000. Mula ± mula yang dominan adalah sel ± sel polimorfonuklear, tapi kemudian sel limfosit, Cairan effusi sangat sedikit mengandung kuman tubukolusa. Timbulnya cairan effusi bukanlah karena adanya bakteri tubukolosis, tapi karena akibat adanya effusi pleura dapat menimbulkan beberapa perubahan fisik antara lain : Irama pernapasan tidak teratur, frekwensi pernapasan meningkat , pergerakan dada asimetris, dada yanbg lebih cembung, fremitus raba melemah, perkusi redup. Selain hal ± hal diatas ada perubahan lain yang ditimbulkan oleh effusi pleura yang diakibatkan infeksi tuberkolosa paru yaitu peningkatan suhu, batuk dan berat badan menurun.

6

1.6. MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinik efusi pleura akan tergantung dari jumlah cairan yang ada serta tingkat kompresi paru. Jika jumlah efusinya sedikit (misalnya < 250 ml), mungkin belum menimbulkan manifestasi klinik dan hanya dapat dideteksi dengan X-ray foto thoraks. Dengan membesarnya efusi akan terjadi restriksi ekspansi paru dan pasien mungkin mengalami : y y Dispneu bervariasi Nyeri pleuritik biasanya mendahului efusi sekunder akibat penyakit pleura y y y Trakea bergeser menjauhi sisi yang mengalami efusi Ruang interkostal menonjol (efusi yang berat) Pergerakan dada berkurang dan terhambat pada bagian yang terkena y y y Perkusi meredup di atas efusi pleura Egofoni di atas paru-paru yang tertekan dekat efusi Suara nafas berkurang di atas efusi pleura

7

y

Fremitus vokal dan raba berkurang

1.7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK  Pemeriksaan radiologik (Rontgen dada), pada permulaan didapati menghilangnya sudut kostofrenik.  Ultrasonografi  Torakosentesis / pungsi pleura untuk mengetahui kejernihan, warna, biakan tampilan, sitologi, berat jenis.  Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri, pewarnaan gram, basil tahan asam (untuk TBC), hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa, amylase, laktat

dehidrogenase (LDH), protein), analisis sitologi untuk sel-sel malignan, dan pH.  Biopsi pleura mungkin juga dilakukan

1.8. PENATALAKSANAAN 1. Aspirasi cairan pleura Punksi pleura ditujukan untuk menegakkan diagnosa effusi plura yang dilanjutkan dengan pemeriksaan mikroskopis cairan. Disampng itu punksi ditujukan pula untuk melakukan aspirasi atas dasar gangguan fungsi restriktif paru atau terjadinya desakan pada alatalat mediastinal. Komplikasi yang dapat timbul dengan tindakan aspirasi : a. Trauma Karena aspirasi dilakukan dengan blind, kemungkinan dapat mengenai pembuluh darah, saraf atau alat-alat lain

disamping merobek pleura parietalis yang dapat menyebabkan pneumothorak. b. Mediastinal Displacement Pindahnya struktur mediastinum dapat disebabkan oleh penekaran cairan pleura tersebut. Tetapi tekanan negatif saat punksi dapat menyebabkan bergesernya kembali struktur mediastinal. Tekanan negatif yang berlangsung singkat

8

menyebabkan pergeseran struktur mediastinal kepada struktur semula atau struktur yang retroflux dapat menimbulkan perburukan keadaan terutama disebabkan terjadinya gangguan pada hemodinamik. c. Gangguan keseimbangan hipoproteinemia. cairan, Ph, elektroit, anemia dan

2. Water Seal Drainage Suatu tindakan yang dilakukan untuk mengeluarkan cairan dari rongga pleura. 3. Penggunaan Obat-obatan Penggunaan berbagai obat-obatan pada pleura effusi selain hasilnya yang kontraversi juga mempunyai efek samping. Hal ini disebabkan pembentukan cairan karena malignancy adalah karena erosi pembuluh darah. Oleh karena itu penggunaan citostatic misalnya tryetilenthiophosporamide, nitrogen mustard, dan

penggunaan zat-zat lainnya seperi atabrine atau penggunaan talc poudrage tidak memberikan hasil yang banyak oleh karena tidak menyentuh pada faktor patofisiolgi dari terjadinya cairan pleura. Tindakan operatif antara lain : 1. Thoracosintesis Dapat dengan melakukan apirasi yang berulang-ulang dan dapat pula dengan WSD atau dengan suction dengan tekanan 40 mmHg 2. Pleurodysis Dapat dipergunakan darah atau glukosa atau dengan talc poudrage dengan tujuan untuk menghilangkan rongga pleura. 3. Pleurectomy/ dekortikasi Dengan tujuan untuk menghilangkan pleura, sering dilakukan pada carcinoma mamma. 4. Memasukan bahan-bahan radioaktif a. Dapat digunakan Au 198 sebanyak 75-150 mc sampai dengan dosis 450 mc b. P32 (Cr P32O4) sebanyak 10-20n mc.

9

c. Yetrium 90. Walaupun berbagai penlitian tidak menunjukkan hasil yang baik akan tetapi pada metastase carcinoma mamma menunjukkan hasil yang lebih baik daripada carcinoma paru primer. 5. Citostatic intra pleura. Zat-zat yang digunakan biasanya : a. Mustargen 0,4 mg per kg berat badan digunakan dosis 2040 mg dalam 100 cc larutan garam. b. Theothepa 20-50 mg intra pleura c. Atabrine 250 mg dalam 10 cc aquades d. Fluoro uracil dan mitomycine 6. Radiasi Radiasi pada tumor justru menimbulkan effusi pleura disebabkan oleh karena kerusakan aliran limphe dari fibrosis. Akan tetapi beberapa publikasi terdapat laporan

berkurangnya cairan setelah radiasi pada tumor mediastinum..

1.9. ASUHAN KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN a) Riwayat Keperawatan Keluhan utama : Adanya sesak napas yang dirasakan semakin berat disamping itu disertai nyeri dada yang semakin berat saat inspirasi dan saat miring ke sisi yang sakit. b) Riwayat Penyakit sekarang.s Adanya demam yang menyerupai influenza yang timbulnya berulang, batuk lebih dari 2 minggu yang sifatnya non produktif, Nafsu makan menurun, meriang, sesak napas dan nyeri dada. c) Riwayat penyakit dahulu. Perlu dikaji adanya riwat penyakit TBC paru, kegagalan jantung kongestif, pneumonia, infark paru, tumor paru. d) Pemeriksaan Fisik Inspeksi : Didapatkan penggunaan otot bantu pernapasan, cuping hidung melebar, iga melebar, rongga dada asimetris, cemmbung pada

10

sisi yang sakit, pergerakan dada tertinggal pada sisi yang sakit. Palpasi Perkusi : Pergerakan dada asimetris, fremitus raba melemah. : Suara redup pada posisi yang sakit dan nyeri ketok. : Adanya suara tambahan,suara egofoni, suara

Auskultasi

pernapasan melemah pada posisi yang sakit.

e) Kebutuhan sehari ± hari Kebutuhan Nutrisi : Pada pola nutrisi akan ditemukan : nafsu makan menurun yang diakibatkan oleh toksemia dan pada observasi ditemukan klien kurus, berat badan tidak ideal, jaringan lemak tipis dan iga kelihatan. Kebutuhan istirahat dan tidur : Klien dengan sesak dan nyeri kemungkinan akan mengalami gangguan dalam pola tidur dan istirahat. Oleh karena itu perlu dikaji lamanya istirahat dan tidur, kebiasaan sebelum tidur, posisi tidur, sclera mata, apatis, kurang perhatian dan kurang respon. Kebutuhan aktivitas : Klien dengan nyeri dada dan sesak mengalami gangguan aktivitas / keterbatasan dalam aktivitas. Terutama dalam memenuhi kebutuhan sehari ± hari ( ADL) Pola Persepsi : Perlu di kaji tentang pandangan klien terhadap dirinyaserta pandangan klien terhadap penyakit yang diderita. 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN DENGAN EFUSI PLEURA a. Diagnosa keperawatan : Ketidak efektifan pernapasan sehubungan dengan adanya penurunan ekspansi paru (Penumpukan cairan dalam rongga pleura). Tujuan : Setelah dilakukan tindakkan keperawatan pernapasan efektif kembali. Kriteria : Tidak mengeluh sesak napas, RR 20 ± 24 X/menit. Hasil Lab BGA Normal Intervensi : 1) Pertahankan Posisi semi fowler. Rasional : Posisi ini memungkinkan tidak terjadinya penekanan isi perut terhadap diafragma sehingga meningkatkan ruangan diharapakn

11

untuk ekspansi paru yang maksimal. Disamping itu posisi ini juga mengurangi peningkatan volume darah paru sehingga memperluas ruangan yang dapat diisi oleh udara. 2) Observasi gejala kardinal dan monitor tanda ± tanda

ketidakefektifan jalan napas. Rasional : Pemantau lebih dini terhadap perubahan yang terjadi sehingga dapat dimabil tindakkan penanganan segera. 3) Berikan penjelasan tentang penyebab sesak dan motivasi utuk membatasi aktivitas. Rasional : Pengertian Klien akan mengundang partispasi klien dalam mengatasi permahsalahan yang terjadi. 4) Kolaborasi dengan tim medis (dokter) dalam aspirasi caian pleura (Puctie pleura / WSD), Pemberian Oksigen dan Pemeriksaan Gas darah. Rasional : Puctie Pleura / WSD mengurangi cairan dalam rongga pleura sehingga tekanan dalan rongga pleura berkurang sehingga eskpasi paru dapat maksimal.

b. Diagnosa keperawatan : Gangguan rasa nyaman nyeri dada sehubungan dengan adanya penumpukan cairan dalam rongga pleura. Tujuan : Setelah dilakukan tindakkan keperawatan diharapakn nyeri dapat berkurang atau Pasien bebas dari nyeri. Kriteria : Tidak mengeluh nyeri dada, tidak meringis, Nadi 70 ± 80 x/menit. Intervensi : 1) Lakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik. Rasional : Analgesik bekerja mengurangi reseptor nyeri dalam mencapai sistim saraf sentral.

2) Atur posisi klien yang enak sesuai dengan keadaan yaituy miring ke sisi yahg sakit.

12

Rasional : Dengan posisi miring ke sisi yang sehat disesuaikan dengan gaya gravitasi,maka dengan miring kesisi yang sehat maka terjadi pengurangan penekanan sisi yang sakit. 3) Awasi respon emosional klien terhadap proses nyeri. Rasional : Keadaan emosional mempunyai dampak pada

kemampuan klien untuk menangani nyeri. 4) Ajarkan teknik pengurangan nyeri dengan teknik distraksi. Rasional : Teknik distrasi merupakan teknik pengalihan perhatian sehingga mengurangi emosional dan kognitif. 5) Oservasi gejala kardinal Rasional

c. Diagnosa keperawatan: Gangguan nutrisi : Kurang dari kebutuhan sehubungan dengan tidak adekuatnya asupan nutrisi. Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpeniuhi. Kriteria : Kriteria berat badan naik, klien mau mengkonsumsi makanan yang di sediakan. Intervensi : 1) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian vitamin. Rasional : Dengan pemberian vitamin membantu proses metabolisme, mempertahankan fungsi berbagai jaringan dan membantu

pembentukan sel baru. 2) Jelaskan pada klien tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh dan diit yang di tentukan dan tanyakan kembali apa yang telah di jelaskan. Rasional : Pengertian klien tentang nutrisi mendorong klien untuk mengkonsumsi makanan sesuai diit yang ditentukan dan umpan balik klien tentang penjelasan merupakan tolak ukur penahanan klien tentang nutrisi 3) Bantu klien dan keluarga mengidentifikasi dan memilih makanan yang mengandung kalori dan protein tinggi. Rasional : Dengan mengidentifikasi berbagai jenis makanan yang telah di tentukan. 4) Identifikasi busana klien buat padan yang ideal dan tentukan kenaikan berat badan yang diinginkan berat badan ideal.

13

Rasional : Diharapkan klien kooperatif. 5) Sajikan makanan dalam keadaan menarik dan hangat. Rasional : Dengan penyajian yang menarik diharapkan dapat meningkatkan selera makan. 6) Anjurkan pada klien untuk menjaga kebersihan mulut. Rasional : Dengan kebersihan mulut menghindari rasa mual sehingga diharapkan menambah rasa. 7) Monitor kenaikan berat badan Rasional : dengan monitor berat badan merupakan sarana untuk mengetahui perkembangan asupan nutrisi klien.

d. Diagnosa keperawatan : Gangguan istirahat tidur sehubungan dengan sesak dan nyeri. Tujuan : Setelah dilakukan tindakkan perawatan terpenuhi sesuai kebutuhan Kriteria : klien mengatakan sudah dapat tidur. Intervensi : 1) Lakukan koliborasi dengan dokter dalam pemberian oksigen dan analgesik Rasional : dengan penambahan sublay O2 diharapkan sesak nafas berkurang sehingga klen dapat istirahat. 2) Beri suasana yang nyaman pada klien dan beri posisi yang diharapakn tidur

menyenangkan yaitu kepala lebih tinggi: Rasional: Suasana yang nyaman mengurangi rangsangan ketegangan dan sangat membantu untuk bersantai dan dengan posisi lebih tinggi diharapkan membantu paru ± paru untuk melakukan ekspansi optimal. 3) Berikan penjelasan terhadao klien pentingnya istirahat tidur. Rasional : dengan penjelasan diharapkan klien termotivasi untuk memenuhi kebutuhan istirahat secara berlebihan. 4) Tingkat relaksasi menjelang tidur. Rasional : Diharapkan dapat mengurangi ketegangan otot dan pikiran lebih tenang. 5) Bantu klien untuk melakukan kebiasaannya menjelang tidur.

14

Rasional : Dengan tetap tidak mengubah pola kebiasaan klien mempermudah klien untuk beradaptasi dengan lingkungan.

e. Diagnosa keperawatan : Gangguan aktifitas sehubungan dengan sesak dan nyeri. Tujuan : Setelah dilakukan tindakkan perawatan dapat melakukan aktivtas dengan bebas. Kriteria : Klien dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Intervensi : 1) Bimbing klien melakukan mobilisasi secara bertahap. Rasional : Dengan latihan secara bertahap klien dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan. 2) Latih klien dalam memenuhi kebutuhan dirinya. Rasonal : Diharapkan ada upaya menuju kemandirian. 3) Ajarkan pada klien menggunakan relaksasi yang merupakan salah satu teknik pengurangan nyeri. Rasional : Pengendalian nyeri merupakan pertahanan otot dan persendian dengan optimal. 4) Jelaskan tujuan aktifitas ringan. Rasional : Dengan penjelasan diharapkan klien kooperatif. 5) Observasi reaksi nyeri dan sesak saat melakukan aktifitas. Rasional : Dengan mobilisasi terjadi penarikan otot, hal ini dapat meningkatkan rasa nyeri. 6) Anjurkan klien untuk mentaati terapi yang diberikan. Rasional : Diharapkan klien dapat kooperatif. Diagnosa Keperawatan : Cemas sehubungan dengan kurangnya diharapkan klien

pengetahuan tentang penyakit yang diderita. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan diharapkan cemas berkurang. Kriteia : Klien tenang, klien mampu bersosialisasi. Intervensi : 1. Berikan dorongan pada klien untuk mendiskusikan perasaannya mengemukakan persepsinya tentang kecemasannya.

15

Rasional : Membantu klien dalam memperoleh kesadaran dan memahami keadaan diri yang sebenarnya. 2. Jelaskan pada klien setiap melakukan prosedur baik keperawatan maupun tindakan medis. Rasional : Dengan penjelasan diharapkan klien kooperatif dan mengurangi kecemasan klien 3. Kolaborasi dengan dokter untuk penjelasan tentang penyakitnya. Rasional : Dengan penjelasan dari petugas kesehatan akan menambah kepercayaan terhadap apa yang dijelaskan sehingga cemas klien berkurang.

16

BAB IV PENUTUP 

KESIMPULAN
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dari dalam kavum pleura diantara pleura parietalis dan pleura viseralis dapat berupa cairan transudat atau cairan eksudat biasanya

Transudat dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif (gagal jantung kiri), sindroma nefrotik, asites (oleh karena sirosis hepatis), syndroma vena cava superior, tumor, sindroma meig.Eksudat disebabkan oleh infeksi, TB, preumonia dan sebagainya, tumor, infark paru, radiasi, penyakit kolagen. 

SARAN
Demikianlah makalah effusi pleura yang kami buat, apabila ada kesalahan atau kekurangan kami mohon maaf dan kami

mengharap kritik dan saran untuk pembuatan makalah selanjutnya. Kurang lebihnya kami mengucapkan terima kasih.

17

DAFTAR PUSTAKA

Djojobudibroto, darmanto.2009.RESPIROLOGI.EGC: Jakarta Smeltzer, Suzanne C. & Bare, Brenda G., Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Vol. 2, Edisi 8, EGC, Jakarta, 2002. Price, Sylvia A., & Wilson, Lorraine M., Patofisiologi ; Konsep Klinis Proses± Proses Penyakit Vol. 1, Edisi 6, EGC, Jakarta, 2005. LAB/UPF Ilmu Penyakit Paru FK. Unair. RSUD Dr. Soetomo Surabaya. 1994 Pedoman Diagnosis dan Terapi RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Marilyn E. Doenges, Merry Frances Mourhouse, Allice C. Glisser. 1986. Nursing Care Planning Gidelines For Planning Patient care. Second Edition.Philadelphia FA. Davis. Company. Med Muhammad Amin DKK. 1993. Pengantar ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Airlangga. Soeparman, Sarwono Maspadji 1990. Ilmu Penyakit Dalam II Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->