JURNAL PENELITIAN AGAMA

PEMIKIRAN IBN TAIMIYAH TENTANG METODE PENAFSIRAN AL-QUR’AN SEBAGAI UPAYA PEMURNIAN PEMAHAMAN TERHADAP AL-QUR’AN
H. Masyhud *)
Penulis adalah dosen tetap STAIN Purwokerto Jurusan Hukum Islam (Syari’ah). Dia menyelesaikan studi Magister Studi al-Qur'an di Pascasarjana IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.
*)

Abstract: Ibn Taimiyah is a great and productive thinker and writer. He has written more than 500 books almost in all aspects of Islam. His thought has significantly influenced the world of Islam. The Science of the Holy Qur’an (‘Ulum al-Qur’an) which was important part of his works has altered the paradigm of Qur’anic interpretation among Moslem scholars during his era and the next generation. The purposes of this research are follows: (1) explaining the opinion of Ibn Taimiyah about the Qur’anic interpretation that had been done by Moslem scholars in his period; (2) finding the best principals and methods of Qur’anic interpretation according to Ibn Taimiyah; and (3) searching the original characteristics of Ibn Taimiyah’s Qur’anic interpretation. This research will be conducted based on the frame of thinking that the difference methods of Qur’anic interpretation which are applied by Moslem scholars will significantly influence the product of their interpretations. In fact, the method of Qur’anic interpretation continuously develops in accordance with the development of time and needs. Ibn Taimiyah is a thinker and Qur’anic interpretator who seriously work to clean the Holy Qur’an from the improper understanding that contradict to the general teaching of the Holy Qur’an it self that had been develop in his era and previously. Qualitative method and book survey technique will be employed in this research. The primary sources of data are works of Ibn Taimiyah in the discipline of the Qu’anic Interpretation, while its secondary sources are the works of other Moslem scholars in the discipline from various generations. Keywords: Method, purifying, Qur’anic interpretation, source of teaching.

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an adalah kitab suci yang ayat-ayatnya terdiri dari ayat yang bersifat qath’y /muhkamat dan zhanny/ mutasyabihat.1 Secara kuantitas, ayat-ayat zhanny lebih banyak dari ayat-ayat yang qath’i. Al-Qur’an sebagai wahyu seluruh penafsiran terhadap ayat-ayatnya menjadi sumber ajaran yang penting dalam kehidupan beragama.2 Ayat-ayat itu sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk (hudan) bagi manusia,3 dari kegelapan menuju alam yang penuh hidayah, terang benderang, dan pembeda (furqan) antara yang hak dan yang batil.4 Fenomena ini bukan merupakan ciri khusus agama Islam saja, melainkan merupakan karakter umum dari semua agama yang didasarkan atas wahyu Ilahi. 5 Dalam perspektif Fazlur Rahman, alQur’an adalah dokumen keagamaan dan etika yang secara praktis bertujuan menciptakan masyarakat memiliki moral yang tinggi dan adil, yang terdiri dari individu-individu saleh dan religius,6 yang dilandasi oleh tauhidu a’la al-Allah yang Maha Esa. Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk berbuat kebaikan dan melarang berbuat kejahatan.7 Al-Qur’an menjadi pedoman bagi manusia untuk memenuhi janjinya kepada Allah, dan memiliki
P3M STAIN Purwokerto | H. Masyhud 1 JPA | Vol. 9 | No. 2 | Jul-Des 2008 | 250-270

14 Menurut Ibn Taimiyah. orang-orang Makkah memiliki pengetahuan mendalam tentang tafsir. 9 | No. Kemudian. Dalam perkembangannya muncullah beberapa nama Sahabat yang piawai dalam menafsirkan al-Qur’an.17 Gabungan ketiga sumber penafsiran itu.12 Jika diamati secara cermat. sebagaimana dikemukakan oleh Ibn Taimiyah 10. penafsiran Nabi Muhammad SAW. dan ada pula yang jelek sehingga perlu dihindari bergantung pada dekat-jauhnya dengan hidayah Allah dalam al-Qur’an. seakan-akan al-Qur’an itu merupakan “ensiklopedi” yang memuat berbagai disiplin ilmu.13 Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul Allah adalah individu yang pertama kali memaknai al-Qur’an dan menjelaskan maksud ayat-ayatnya. dan jalan yang lurus. sepeninggal Nabi Muhammad SAW. dinamai Tafsir bi al-Ma’tsur. 2 | Jul-Des 2008 | 250-270 . Mereka adalah para Sahabat. 19 Di antara tafsir-tafsir bi al-ra’yi yang dapat diterima adalah Anwar al-Tanzil karya al-Baidhawi. ‘Atha` bin Abi Rayyan dan ‘Ikrimah maula ibn ‘Abbas. al-Qur’an menjadi landasan kehidupan umat Islam di manapun berada. Madarik al-Tanzil karya al-Nasafi. Kemudian muncul berbagai kelompok ahli tafsir seperti di Makkah. Mereka mengumpulkan segala penafsiran para pendahulunya. termasuk di antaranya Malik Ibn Anas.JURNAL PENELITIAN AGAMA peran yang disandangnya sebagai khalifah di bumi.11 Pentingnya pemahaman yang tepat terhadap ayat-ayat al-Qur’an menjadikan kedudukan Ilmu tafsir sebagai disiplin ilmu yang karena penafsiran merupakan cara untuk menjembatani kesenjangan antara perkembangan kehidupan masyarakat yang cepat dengan tulisan ayat-ayat Kitab Suci. terdapat “tali Allah” yang kokoh. Tafsir-tafsir bi al-ra’yi yang dinilai perlu dicermati antara lain adalah Tafsir al-Kasysyaf karya al-Zamakhsyari. sebagaimana dikutip oleh Subhi al-Shalih. Mereka menggunakan alasan ayat al-Qur’an itu sendiri mengatakan. Oleh karena itu. para Sahabat terpanggil untuk menjelaskan segala sesuatu dari al-Qur’an yang telah mereka ketahui. memahami al-Qur’an merupakan suatu kebutuhan yang penting karena di dalam al-Qur’an. peringatannya yang bijaksana.9 Dalam konteks keberagamaan umat Islam. mufassir Sahabat yang terkemuka antara lain adalah Abdullah ibn Mas’ud. seperti Ibn ‘Abbas. Keakurasian penafsiran yang dilakukan oleh para Sahabat tidak diragukan lagi sehingga penafsiran mereka diterima oleh para ulama dan generasi berikutnya di berbagai wilayah Muslim. Masyhud 2 JPA | Vol. 21 Embrio penafsiran ilmiah ini P3M STAIN Purwokerto | H. penafsiran periode kedua. para mufassir mulai mengalihkan perhatian kepada aspek-aspek ilmiah dari alQur’an dan menonjolkan al-Qur’an. yaitu penafsiran periode pertama. bahkan menyanjungnya secara berlebihan.20 Setelah periode ketiga. 16 Mereka menjadi pembuka jalan bagi Ibn Jarir al-Thabary penulis kitab Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an yang metode penafsirannya diikuti oleh sebagian besar ahli tafsir pada masa-masa berikutnya. termasuk al-Qur’an yang sudah baku. dan Tafsir Lubab al-Ta’wil karya alKhazin. Di Kufah.18 Tafsir sesudah itu yang menggunakan berbagai metode dan pemikiran serta tampil dalam corak yang beraneka disebut Tafsir bi al-Ra’yi. “…Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun dalam al-Kitab …”. Di antara Tafsir bi al-Ra’yi ada yang bagus kualitasnya sehingga patut diapresiasi. sedangkan yang di Madinah adalah murid-murid Zaid ibn Aslam.15 Thabaqat ketiga kaum Muslimin melanjutkan pengembangan tafsir dari kaum Tabi’in. kemudian dituangkan dalam kitab-kitab tafsir karya mereka. seperti yang dilakukan oleh Sufyan Ibn ‘Uyainah dan Waqi’ Ibn al-Jarrah. penafsiran para Tabi’in. Madinah. berbagai upaya yang dilakukan untuk mengungkap pesan-pesan al-Qur’an dan menyingkap makna-maknanya dinilai sebagai perbuatan mulia.8 Oleh karena itu. dan Iraq. penafsiran para Sahabat. dan penafsiran periode ketiga. isi dari sejarah agama-agama pun didominasi oleh eksplanasi tentang interpretasi terhadap ayat-ayat Kitab Suci yang sangat multi-interpretable. Mujahid.

24 Para ahli filsafat berusaha menggabungkan antara filsafat dan agama dengan cara menta’wilkan ayat-ayat al-Qur’an pada makna-makna yang sesuai dengan kecenderungan dalam filsafat. Golongan lain yang menghubungkan diri dengan al-Qur’an untuk meneguhkan keyakinan dan ideologi serta pemikiran-pemikiran mereka antara lain kelompok Syi’ah Imamiyah. Para kritikus tafsir tersebut pada umumnya mengomentari bahwa kitab-kitab tafsir ilmiah itu tidak ubahnya bagaikan “tong sampah”. Upaya ini dilakukan. Masyhud 3 JPA | Vol. Ia berkesimpulan bahwa tugas utama yang harus dijalankannya adalah menyeru umat Islam untuk kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunah.33 Syaikh Abdurrahman Ibn Muhammad Ibn Qasim al-‘Asimi al-Najdi al-Hanbali menghimpun risalah tafsir Ibn Taimiyah dalam Juz 14-17. 27 Kecenderungan lain yang mengandung risiko penyimpangan dilakukan untuk mendukung pendirian atau pendapat kelompok atau madzhab tertentu. Sebaliknya. Hadis.JURNAL PENELITIAN AGAMA muncul pada Dinasti Abasiyah. Al-Jahmiyah . perilaku. cenderung ment’wilkan ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan pikiran. hasil evaluasinya terhadap P3M STAIN Purwokerto | H. Mereka mengerahkan segenap kemampuan untuk memadukan antara nash-nash al-Qur’an dan prinsipprinsip mereka. Fiqih.36 Bahkan M. pada pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun. Golongan Asy’ariyah juga mendukung keyakinan-keyakinan mereka dengan mena’wilkan sebagian nash-nash al-Qur’an dengan versi mereka. 25 Kaum Sufi. 9 | No. misalnya oleh Al-Farabi yang menafsirkan Malaikat sebagai “bayang-bayang ilmiah”. di sisi lain. 2 | Jul-Des 2008 | 250-270 .34 Ibn Taimiyah dinilai telah membuka jalan bagi lahirnya mufassir klasik Ibn Katsir. dan pancaran ruhani mereka.26 Di samping itu. Dia ahli dalam hampir semua cabang pengetahuan Islam. Ibn Taimiyah berupaya membangun kembali masyarakat Islam di atas sendi-sendi Islam yang pokok.28 Ibn Taimiyah adalah seorang pemikir Muslim yang besar pengaruhnya terhadap dunia Islam. dalam memahaminya menggunakan pemahaman kaum muslimin generasi pertama untuk menguji madzhab-madzhab dan hasil pemikiran kaum muslimin dari masa ke masa. Jawahir al-Qur’an. 22 Meskipun begitu. Kaum Mu’tazilah yang mena’wilkan ayat-ayat al-Qur’an agar sesuai dengan ideologi kemu’tazilahannya. yang ditandai dengan pencurahan waktunya untuk menyusun buku tentang prinsip-prinsip penafsiran ilmiah dalam kitabnya yang sangat terkenal. kaum muslimin pada masanya lemah dan kurang dihargai komunitas agama lain karena mereka telah meninggalkan sumber ajarannya. yaitu al-Qur’an dan al-Sunah. dengan tokohnya Muhyiddin ibn ‘Arabi.dan kelompok Murji’ah.30 Berbekal segala kemampuan yang dimiliki.32 Satu langkah strategis yang dilakukan oleh Ibn Taimiyah ke arah itu adalah merumuskan kerangka dasar atau prinsip-prinsip penafsiran al-Qur’an dalam karyanya Muqaddimah fi Ushul al-Tafsir. seperti yang secara bertubi-tubi dialamatkan kepada tafsir Mafatih al-Ghaib dan Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an yang ditulis oleh Thanthawi Jauhari.35 Ibn Taimiyah memperoleh penghargaan dari Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar. Quraish Shihab menyatakan bahwa Ibn Taimiyah adalah salah seorang ulama yang paling banyak mempengaruhi jalan pikiran Rasyid Ridha. bermunculan cukup deras komentarkomentar negatif terhadap penafsiran ilmiah terhadap al-Qur’an. kaum Khawarij. ada juga kecenderungan penafsiran ke arah dimensi batiniah al-Qur’an dan menolak dimensi lahiriahnya.29 Karya-karyanya meliputi bidang Aqidah. dan Politik. Filsafat.37 Penelitian mendalam terhadap karya-karya Ibn Taimiyah dalam bidang tafsir yang meliputi pandangan-pandangan teoretiknya tentang prinsip-prinsip penafsiran al-Qur’an.23 Dalam perkembangan selanjutnya. tokoh yang paling gigih mensosialisasikan dan mendukung ide penafsiran ilmiah adalah al-Ghazali. Tafsir. 31 Upaya yang dilakukannya berangkat dari asumsi dasar bahwa kaum Muslimin generasi pertama maju dengan pesat karena mereka berpegang kepada ajaran Islam dan menghormati al-Qur’an. Tasawuf.

Hasil yang paling signifikan adalah kritik Ibn Taimiyah terhadap penta’wilan yang dilakukan oleh berbagai kalangan. yang telah ditemukan bukti fisiknya maupun yang belum. 2 | Jul-Des 2008 | 250-270 . Penilaian tersebut mejadi stimulator yang dahsyat kepada para pemikir Muslim.40 Mahmud Mahdi al-Istanbuli.48 alDzahaby.49 Muhammad Ali al-Shabuny. 9 | No. Mencari ciri khas penafsiran Ibn Taimiyah dalam upaya pemurnian pemahaman terhadap al-Qur’an.42 Di antara karya tulis yang menyanjung Ibn Taimiyah antara lain disusun oleh Mar‘i Ibn Yusuf al-Karmi al-Hanbali yang memuat apresiasi beberapa ulama terkemuka seperti Ibn al-Qayyim.52 Penta’wilan ayat al-Qur’an dengan cara seperti itu telah banyak dilakukan oleh para filosof dan para ahli kalam mengenai masalah-masalah ke-tuhanan dan menyangkut masalah ayat-ayat mutasyabihat. dan hampir seluruh gerakan pembaharuan di dunia Islam pada zaman modern ini.38 Qamaruddin Khan telah membuat daftar karya tulis Ibn Taimiyyh.46 dan Nurcholish Madjid. dan para Orientalis untuk mempelajari dan meneliti karya-karyanya secara mendalam. Masyhud 4 JPA | Vol. Banyak para penulis Muslim seperti Muhammad Abu Zahrah.45 Majid Fakhry. Kajian Pustaka Ibn Taimiyah adalah seorang pemikir ulung dan penulis yang produktif. tulisan Adnan Zarzur.50 al-Suyuthy dan al-Zarkasyi51 mengisyaratkan reputasinya di bidang tafsir atau Ilmu Al-Qur’an. B. D. Di sini. Studi pemikiran Ibn Taimiyah di bidang tafsir antara lain telah dilakukan oleh Muhammad al-Sayyid alJulainid yang kajiannya menitikberatkan pada masalah penta’wilan.44 Fazlur Rahman. yakni pengalihan makna ayat dari makna lahiriahnya ke makna lain yang masih tercakup sepanjang pengalihan makna tersebut tidak bertentangan dengan semangat ajaran al-Qur’an dan al-Sunah. al-Dzahabi.39 Sebagian dari karya-karya Ibn Taimiyah merupakan reaksi terhadap kekeliruan-kekeliruan yang dialami masyarakat muslim pada masanya. Perumusan Masalah Masalah utama yang diangkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Ibn Daqiq. dan metode. 1. semuanya berjumlah 295 judul.43 Tulisan-tulisan ringkas tentang Ibn Taimiyah dapat ditemukan pula dalam karya H.41 dan Muhammad Khalil Haras telah menulis biografi Ibn Taimiyah sebagai tokoh pembaru Islam terkemuka.JURNAL PENELITIAN AGAMA kitab-kitab tafsir terdahulu. Pesan utama yang disampaikannya adalah seruan untuk kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunah.A. yang dinilainya tidak sejalan dengan P3M STAIN Purwokerto | H. Karya-karya Ibn Taimiyah dinilai sangat besar pengaruhnya terhadap kebangkitan gerakan Wahabi pada abad ke-16. al-Julainid memetakan posisi Ibn Taimiyah dalam konteks perbedaan-perbedaan pandangan tentang penta’wilan al-Qur’an.R. Bagaimana upaya pemurnian pemahaman al-Qur’an Ibn Taimiyah? C. Ibn al-Wardi.47 Sementara itu. dan Abu Hayyan. Dia menulis mengenai hampir setiap aspek dari Islam. Menemukan prinsip-prinsip dan metode penafsiran Al-Qur’an menurut Ibn Taimiyah. baik yang sudah diterbitkan maupun yang belum. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. 2. Karakteristik penafsirannya diharapkan dapat ditemukan kerangka penafsiran Al-Qur’an Ibn Taimiyah yang utuh dan menjadi sumbangan metodologis dalam studi tafsir bagi masyarakat Muslim masa kini dan masa yang akan datang. Gibb. Bagaimana prinsip-prinsip dan metode penafsiran al-Qur’an Ibn Taimiyah? 2. Muhamad Farid Wajdi memperkirakan bahwa karya Ibn Taimiyah mencapai 500 buah.

Wahyu tidak memerlukan pembenaran akal. seseorang mengetahui Allah. Pendapat akal yang lurus akan selalu sesuai dengan wahyu yang benar. yakni pertama. seseorang boleh memilih antara menerima dan menolak sebab kewajiban manusia hanyalah tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya di samping patuh kepada Ulil Amri. sedangkan bagi Rasul sendiri adalah wahyu yang diterimanya. Wahyu selamanya tidak dapat dipisahkan dari akal.55 Juhaya S.56 Saiful Anwar menulis bahwa menurut Ibn Taimiyah penetapan adanya pencipta alam adalah dengan ayat al-Qur’an. Masyhud 5 JPA | Vol.58 Karya Muhammad Amin tentang ijtihad Ibn Taimiyah menjelaskan pandangan tentang posisi sentral alQur’an dalam Islam. tetapi pada metode penafsiran terhadap ayat-ayat tertentu yang dipandang perlu penta’wilan. 54 Dalam tulisan itu. dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu. Ia menegaskan. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (Soenarjo. 1995: 128). selama mereka taat atau dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Wahyu menyempurnakan akal. akal dan wahyu itu tidak saling bertentangan satu sama lain. tetapi pendapat akal yang sharih akan sesuai dengan wahyu yang sahih. dkk. baik wahyu itu diketahui oleh akal atau tidak. seperti mengetahui matahari melalui panasnya. Ketiga. taatilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya). jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. walaupun tidak mengetahui hakikat makna yang terkadung di dalamnya. Akal dan wahyu mungkin bisa bertentangan. 9 | No. maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (al-Sunahnya).53 Didin Syafruddin dalam sebuah tulisannya membahas tiga hal yang berkaitan dengan penafsiran Ibn Taimiyah. P3M STAIN Purwokerto | H. tafsir surat al-Ikhlash karya Ibn Tamiyyah sebagai sampel penerapan metode penafsirannya. pandangan-pandangan Ibn Taimiyah tentang ta‘wil. Adapun terhadap selain al-Qur’an dan al-Hadis. 2 | Jul-Des 2008 | 250-270 .JURNAL PENELITIAN AGAMA cara ulama Salaf dalam memahami al-Qur’an. bahwa akal bukanlah dasar untuk menentukan kebenaran wahyu karena wahyu telah pasti benar dengan sendirinya. yang telah ditahqiq oleh Muhammad al-Sayyid al-Julainid dan diterbitkan ulang dengan judul Daqaiq al-Tafsir. Didin Syafruddin tidak mengemukakan karakteristik penafsiran Ibn Taimiyah sebagai bagian dari sistem penafsirannya. Setiap Muslim. baik yang alim maupun yang awam. Kedua. Titik berat kajiannya bukan pada metode penafsiran al-Qur’an pada umumnya. termasuk di dalamnya pembahasan tentang kritik Ibn Taimiyah atas penta’wilan aliran-aliran pemikiran dalam Islam.57 Induk ilmu dan sumbernya yang pertama bagi orang beriman adalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Pendapat ini disandarkan atas nash al-Qur’an dalam surat al-Nisa ayat 59: Artinya: Hai orang-orang yang beriman. sekaligus untuk melihat orisinalitas prinsip-prinsip penafsirannya. berkewajiban untuk menjadikan firman Allah dan sabda Rasul-Nya sebagai dasar hukum yang harus dipegangi dan Imam atau pemimpin yang harus diikuti. Menurut Ibn Taimiyah. Dengan mengetahui ayat tentang Allah. Mereka wajib mengimani kebenaran nash-nash al-Qur’an dan al-Sunah. Paraja menulis tentang epistemologi Ibn Taimiyah yang memuat pandangannya tentang hubungan akal dan wahyu.. karya tersebut belum menggambarkan penafsiran Ibn Taimiyah secara utuh yang termuat dalam empat Juz dari Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam Ahmad Ibn Taimiyah. prinsip-prinsip penafsiran Ibn Taimiyah yang termuat dalam karyanya Muqaddimah fi Uhsul al-Tafsir. baik kalangan filosof. Lebih dari itu. ahli kalam maupun kaum sufi.

penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis yang berhubungan dengan teori tertentu. yang mencakup penilaiannya terhadap penafsiran al-Qur’an yang ideal. Kedua. pengkonversian pemahaman dan praktik keagamaan ke dalam angka-angka yang dianalisis dan ditafsirkan secara pasti dapat menjerumuskan peneliti ke dalam dikotomi benar-salah atau kuat-lemah yang membahayakan karena ajaran agama. dan karakteristik penafsiran atas ayat-ayat alQur’an. Tolok ukur untuk menerima atau menolak pendapat adalah al-Qur’an dan al-Hadis. bagi setiap pengkaji pemikiran Ibn Taimiyah penting kiranya untuk mengetahui metode pemahamannya terhadap al-Qur’an. metode kualitatif memungkinkan untuk memahami tokoh secara personal dan memandang dia sebagaimana dia sendiri mengungkapkan pandangan dunianya. Masyhud 6 JPA | Vol. serta memungkinkan kita untuk menangkap pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari dalam lingkungannya. dapat dirumuskan konsep-konsep yang hakiki tentang sisi-sisi kehidupannya yang relevan dengan topik penelitian. 9 | No. pemahaman. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. yang menekankan pada penggalian nilai-nilai yang terkandung dalam penafsiran Ibn Taimiyah terhadap Al-Qur’an dengan cara melihat makna yang terkandung dalam karyanya. 2 | Jul-Des 2008 | 250-270 . tetapi sebagian ayat memang musykil bagi para ulama sehingga ia merasa perlu untuk menafsirkannya. Keempat. Oleh karena itu.59 Pandangan Ibn Taimiyah tentang al-Qur’an merupakan titik tolak pemahamannya terhadap cabangcabang pengetahuan keislaman.60 Atas dasar itu. Keenam. dan sifat individu secara holistik. metode ini dapat digunakan untuk memahami berbagai keadaan. Teori-teori yang dianggap sudah mapan dalam bidang ini hanya dijadikan sebagai kerangka dalam P3M STAIN Purwokerto | H. metode kualitatif memungkinkan peneliti untuk melakukan verifikasi dan eksplanasi secara mendalam serta mencatatnya ketika menemukan masalah-masalah baru dari objek penelitian. terutama yang menyangkut kehidupan manusia banyak yang sifatnya zhanni (uncertain) yang memungkinkan lahirnya interpretasi dan pengamalan yang berbeda. METODE PENELITIAN A.JURNAL PENELITIAN AGAMA Ayat di atas merupakan pedoman bagi Ibn Taimiyah untuk menimbang dan menilai pendapat seseorang. sebagaimana adanya dan membuat interpretasi terhadap apa yang tersirat di baliknya. Pertama. Dengan demikian. Menurut Ibn Taimiyah. Metode dan Teknik Penelitian Penelitian ini mengkaji tentang prinsip dan metode penafsiran Ibn Taimiyah terhadap al-Qur’an. Kelima. serta mencermati penafsirannya. pemahaman dan pengamalan atas nilai-nilai agama sulit diukur secara kuantitatif. Bila tidak ada pendapat yang menurutnya dekat dengan maksud al-Qur’an dan al-Sunah. sebagian al-Qur’an telah jelas dengan sendirinya dan sebagian yang lainnya telah dijelaskan oleh para mufassir. II. Penggunaan metode penelitian kualitatif dalam penelitian ini didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut. maka ia berijtihad sendiri. maka Muhammad al-Sayyid al-Julainid merasa tepat menamakan himpunan tafsir Ibn Taimiyah dengan nama Daqaiq al-Tafsir. yang berhubungan dengan pemahaman serta pengamalan atas nilai-nilai agama. Bahkan. data yang dikumpulkan sebagian besar berupa kata-kata tertulis. Ketiga. yang secara teoretik dinilai menyimpang dari apa yang seharusnya.

(1) sumber data primer dan (2) sumber data sekunder. Ibnu Taimiyah ketika menafsirkan Q.S. (2) keteralihan (transferability —external validity dalam penelitian kuantitatif). D. C.S.63 Makna ghaib lebih lanjut. Ibn ‘Aqil dan Abu Zaghuni berpendapat bahwa ghaib adalah lawan P3M STAIN Purwokerto | H. al-A’raf [7]: 6-7. Validitas Data Tingkat keabsahan (trustworthiness) seluruh data yang dikumpulkan dalam penelitian ini telah diupayakan untuk memenuhi empat kriteria: (1) tingkat kepercayaan (credibility —internal validity dalam penelitian kuantitatif). B. Sumber data sekunder penelitian ini adalah karya-karya para ulama lain tentang penafsiran al-Qur’an khusus yang membahas tentang biografi dan pemikiran-pemikiran Ibn Taimiyah tentang tafsir. Tafsir Surah Al-Kautsar. Analisis data dilakukan sejak penulis mengumpulkan data sampai setelah selesai mengumpulkan data yang dilakukan behind the table. sesuai urutan bacaan yang terdapat di dalam al-Qur’an Mushaf ‘Utsmani.S. Teknik Analisis Data Data yang sudah terkumpul dianalisis secara induktif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. juga dilengkapi dengan catatan peneliti tentang persoalan yang dianggap perlu diberikan catatan. dan Muqaddimah fi Ushul al-Tafsir.61 Tafsir dengan metode ini menggunakan prinsip penafsiran ayat al-Qur’an dengan ayat al-Qur’an lain. al-Baqarah [2]: 3 dijadikan satu rumpun karena ayat yang satu dengan yang lain saling menjelaskan. dan (4) tingkat kepastian (confirmability –objectivity dalam penelitian kuantitatif). penafsiran ayat al-Qur’an dengan pendapat Rasul. Sumber data primer penelitian ini adalah karya-karya Ibn Taimiyah yang berhubungan dengan masalah tafsir yang antara lain. 62 Beberapa contoh dikemukanan sebagai berikut. Tafsir Surah Al-Ikhlash. Teknik Penelitian Teknik penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan. E. Metode dan Prinsip Penafsiran Metode penulisan tafsir Ibn Taimiyah adalah tahlili karena ia menyoroti ayat-ayat al-Qur’an dengan memaparkan segala makna dan aspek yang terkandung di dalamnya. Tafsir Ibn Taimiyah. III. Pertama. Q. Dilihat dari bentuk tinjauan dan kandungan informasinya menggunakan metode al-tafsir bi al-ma’tsur. (3) kebergantungan (dependability—reliability dalam penelitian kuantitatif). Ia membuat topik kajian pada 3 ayat tersebut di atas dengan “makna ghaib dan sahadah”. al-Mu’minun [23]: 17. 9 | No. Ulama mutakalimin seperti Abu Ya’la (al-Qadhi). Catatan penelitian itu. Masyhud 7 JPA | Vol. Iman dengan yang ghaib berarti iman kepada Allah. penafsiran ayat al-Qur’an dengan pendapat sahabat. di samping mendokumentasikan persoalan-persoalan yang dijumpai. dan penafsiran ayat al-Qur’an dengan pendapat Tabi’in.JURNAL PENELITIAN AGAMA melakukan penelitian ini. Sumber Data Sumber data terbagi dua bagian. dan Q. Pada saat studi kepustakaan dilakukan pencatatan mengenai segala hal yang ditemukan dari kepustakaan yang dianggap relevan dengan topik penelitian. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. menurut ulama salaf diartikan Allah. 2 | Jul-Des 2008 | 250-270 .

dalil.S. 2 | Jul-Des 2008 | 250-270 . lawan dari alsyahadah. dan para Rasul. alIradah. Yahudi dan Nasrani. Ia menyatakan bahwa umat Yahudi mendustakan Isa dan Muhammad SAW sebagai rasul. al-Khibrah. sedangkan al-ghaib adalah mashdar. Malaikat. dengan tidak membeda-bedakan mereka. marah kepada umat yang mendustakan Muhammad SAW. “Kami golongan para Nabi. Kitab-kitab. al-Baqarah [2]: 90. Ibnu Taimiyah mempertegas makna ayat di atas dengan mengkorelasikan (munasabah) Q. memprioritaskan makna ayat al-Qur’an dengan ayat lain sebagai ciri khas ma’tsur. sedangkan al-Ghaib adalah al-maghîb ‘anhu. sesungguhnya orang yang lebih utama dengan Isa putra Maryam adalah saya karena tidak ada Nabi di antara saya dan dia”. sedangkan kaum Muslimin dimenangkan atas Yahudi dan Nasrani. mawaqif al-umam min al-rusul. Orang yang mengikuti ajaran Isa. tetapi harus memenuhi norma. kedudukannya di atas orangorang kafir lain. Demikian pula ikrar Rasul (Muhammad SAW) yang diikuti oleh kaum mukminin bahwa mereka iman kepada al-Qur’an dan iman pula kepada Allah. Akan tetapi. Ibnu Taimiyah dalam menafsirkan ayat di atas. Q. Ibnu Taimiyah berargumen dengan Hadis dari riwayat Abi Hurairah RA. Abu Muhammad tidak setuju dengan pendapat ini karena Allah tidak dapat disebut al-Ghaib. Mereka menganggap al-Ghaib adalah Allah. dianggap kafir. maka tidak dapat dilihat. kedudukannya di atas Yahudi. al-Baqarah [2]: 136 dan 285 yang menjelaskan bahwa kaum muslimin secara menyeluruh berikrar bahwa.S.S. Orang yang mengikuti ajaran Isa AS. “Kami iman kepada Allah dan iman kepada apa yang diturunkan dan diberikan kepada Nabi-nabi terdahulu serta tidak akan membeda-bedakan mereka karena kami tunduk dan patuh kepada-Nya”. Al-Ghaib di sini mempunyai makna noninderawi. Orang Islam yang mengakui kerasulan Isa. Masyhud 8 JPA | Vol.S. dan lain-lain bagi Allah. dan meluruskan pendapat yang lemah. yaitu sesuatu yang tidak dapat dilihat. Kemudian mempertegas dengan pernyataan Q.S. sebagaimana terjadi sifat-sifat al-‘Ilmu. Umat Nasrani tidak mendustakan al-Masih. Pernyataan ini dikuatkan dengan Q. dan Q. Ia kemudian menambah argumen bahwa pernyataan al-Qur’an tentang al-Ghaib adalah sahih. untuk menjaga pemurnian pemahaman tersebut. al-Mu’min(Ghafir) [40]: 51. Mashdar seperti ini banyak dipergunakan seperti lazimnya isim fa’il atau isim maf’ul. tidak termasuk kafir. Maha Meneliti dan Mengawasi. Mereka iman kepada seluruh kitab-kitab Allah dan Rasulrasul-Nya. Allah marah dua kali kepada ahli kitab. Bidang ini menyangkut keimanan yang harus dipercaya oleh mu’min. Bagi Allah tidak demikian. Q. Orang-orang Nasrani kedudukannya di atas orang Yahudi. al-Shaffat [37]: 171-173. sebelum syari’atnya diganti. Ibnu Taimiyah lebih lanjut mengkomparasikan antara makna al-Ghaib dengan al-Syahadah.S. lalu mencantumkan Q. serta memperkuat pendapat yang lebih sahih. Lafal alGhâib adalah isim fa’il dari ghâba – yaghîbu. Ibnu Taimiyah menandaskan bahwa kaum Muslimin (sekarang) adalah para P3M STAIN Purwokerto | H. Alasan yang dikemukakan Ibn Taimiyah dari dua pendapat yang berbeda ini adalah karena pemahaman yang keliru. masalah keimanan umat Islam. 9 | No. kemudian menyajikan beberapa pendapat mutakalimin. pertama kepada umat yang mendustakan Isa AS. Pada saat Allah mengubah syariatnya. dan syarat. Ayat ini menjelaskan kedudukan Nabi Isa AS bagi umat manusia. Kedua. Mengiyaskan ghaib dengan syahid dapat terjadi. Ia mengangkat topik kajian. agama kami adalah satu. Tidak mendustakan terhadap isi kitab-kitab serta tidak mendustakan kepada segenap rasul-Nya. Tidak seperti kita. alasan. al-Syura [42]: 13. Lafal al-Syahadah adalah mashdar yang mempunyai makna al-Masyhûd atau al-Syâhid. kedudukan Muhammad SAW dan umatnya di atas kaum Nasrani. Allah Maha Menyaksikan semua hamba.JURNAL PENELITIAN AGAMA dari syahid. Kedua. al-Mu’minun [23] 51-53. jika salah seorang di antara kita tidak ada.S. mereka mendapat pertolongan atas Yahudi. Saba [34]: 3 sebagai penguat.

Wanita seperti ini dihukumi maksiat karena bersikap kasar dan membangkang kepada suami. al-Nisa [4] : 34 tentang istri nusuz dibandingkan dengan makna nusuz yang yang terdapat pada Q.S. dikupas secara detil dari aspek bahasa maupun kupasan secara rasional. Barat mampu membuat hukum perang-. Menurut Ibnu Katsir (murid Ibnu Taimiyah). yang tercakup dalam isyarat Q. kaifa nunsizuha. termasuk Isa AS. meskipun pada akhir ayat. 1. Jahamiyah atau Jabariyah Rasul memberi isyarat dalam sebuah Hadis. Oleh karena itu. Ketiga. al-Mumtahanah [60]: 11. mereka berlebih-lebihan mentakwilkan ayat-ayat al-Qur’an tentang al-Kalam. gempuran serta pendudukan bangsa Tartar di Syam. naik atau kasar. Ibnu Taimiyah menganggap umat Islam wajib kembali kepada ajaran al-Qur’an dengan benar. seperti Jahamiyah-Jabariyah dan Khawarij. seperti enggan diajak hubungan seks atau pergi ke luar rumah tanpa seizin suaminya.S. Tidak dikomentari. yaitu menggunakan pemaknaan ayat al-Qur’an dengan ayat lain. dll. persoalan dari dalam yang mempengaruhi pemahaman al-Qur’an menurut Ibnu Taimiyah adalah aliran-aliran dalam Islam. persoalan dari luar yang dianggap membahayakan dan mempengaruhi pemikiran umat Islam adalah masalah politik yang mewarnai negeri tempat Ibnu Taimiyah hidup. 9 | No. kebiasaan. Hal-hal yang dianggap menghawatirkan umat Islam dalam memahami ayat al-Qur’an dapat digologkan sebagai berikut. kemenangan Mesir adalah karena memegang teguh ajaran al-Qur’an dan ulama-ulama dilibatkan dalam pembangunan negara. al-Baqarah [2]: 259 dengan kata. Ibnu Taimiyah berpendapat wanita nusuz adalah wanita yang lari atau tidak taat kepada suaminya. Ia kemudian menambah argumnetasi Hadis sebagai penguat. Masyhud 9 JPA | Vol. Sisa-sisa perang Salib. Ibnu Katsir secara tegas menuduh golongan tersebut. aliran-aliran ini memaknai al-Qur’an sekehendak hati mereka. Ia menghubungkan lagi dengan Q.damai serta undangundang perdagangan dan mu’amalah yang sekaligus berpengaruh pada pola hidup mereka. Dia tidak punya sifat.64 Ibnu Taimiyah dalam kupasan bidang kedua ini masih menggunakan dialek yang melekat pada dirinya. mengikuti sebagian ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah maka bunuhlah”.S. di sanalah umat Islam dipengaruhi oleh berbagai budaya – tradisi. Dalam jilid pertama hampir semua isinya mengupas hal-hal demikian. diartikan sebagian mengangkat sebagian yang lain.66 2. Pemurnian Pemahaman al-Qur’an Ibnu Taimiyah dalam mengupas aliran-aliran dan faham yang dianggapnya membahayakan Islam dikupas panjang lebar.67 Jabariyah atau Jahamiyah berkeyakinan bahwa Allah memperbuat segala pekerjaan manusia. 2 | Jul-Des 2008 | 250-270 . Al-nuzs min al-ardhi dimaknai bangkit dari tempat tinggi yang keras.65 Ibnu Taimiyah memahami. Ali Imran [3]: 7: Lebih lanjut. Ibnu Taimiyah dalam menafsirkan Q. Persoalan eksternal. dijelaskan cara mengatasi kasus tersebut. “Barangsiapa menemukan orang-orang yang condong kepada kesesatan. bagaimana seharusnya menangani problem ini.JURNAL PENELITIAN AGAMA pengikut semua rasul secara keseluruhan. Persoalan internal. Jenghis Khan menetapkan hukum secara paksa yang wajib ditaati oleh setiap warga. al-Sama’ al-Bashar. B. Allah telah berjanji dalam sebuah Hadis sahih alBukhari. dipimpin oleh Mudhaffar Saifuddin dalam perang ‘Ain Jalut.S. Hal yang menjadi catatan penting bagi Ibnu Taimiyah adalah Tartar ternyata dapat ditaklukkan oleh kekuatan Islam dari Mesir. berdiri. Secara bahasa nusuz diartikan bangkit. dan gaya hidup dari luar. Ibnu Katsir menamai golongan itu dengan Khawarij. Golongan Khawarij beranggapan bahwa orang melakukan dosa besar P3M STAIN Purwokerto | H.

hal. 21. 2: 185. Karya tafsirnya merupakan tafsir klasik yang berusaha mempertajam prinsip-prinsip penafsiran dengan sejumlah prosedur yang dipergunakan dalam rangka melakukan humanisasi ayat al-Qur’an dengan model.). 7: 172 dan Surat Al-Baqarah.C. mengkritik penafsiran dengan akal seperti Zamahsyari. Surat Ali ‘Imran. Mu’awiyah. 12 Joachim Wach. Ibnu Taimiyah menggunakan metode tahlili dan pendeketatan riwayat (tafsir bi al-ma’tsur/ tafsir bi al-naql). 17: 81. 9 Sayyed Husen Nasr. 6 Fazlur Rahman. Terj. KESIMPULAN Ibnu Taimiyah dianggap salah satu tokoh pertama yang merumuskan kerangka dasar atau prinsip-prinsip penafsiran al-Qur’an dalam bukunya Muqaddimat fi Ushul al-Tafsir. seperti tersebut di atas. Terj. hal. Filosofi. 3 Al -Qur’an. dan Abu Musa al-As’ary dianggap kafir karena menyetujui tahkim. menggembalikan ukuran kebahasaan pada syair Arab klasik. Amr ibn al-‘Ash. hal. Mereka kebanyakan orang Baduy yang jauh dari ilmu pengetahuan. Masyhud 10 JPA | Vol. menggunakan penjelasan qira’at. L. serta mengikuti mufasir sebelumnya. “Peninggalan Islam: Filsafat. Prosedur ma’tsur dikuatkan dengan karakter pokok Ibnu Taimiyah yang menghindari penafsiran akal semata. hal. Kaptein (eds.” dalam H. 73. Surat Ali ‘Imran. Surat Al-Baqarah. 9 | No. 1979). 68 Semua aliran di atas menurut Ibnu Taimiyah membahayakan umat Islam dan merusak pemaknaan al-Qur’an. 4 Al-Qur’an. ENDNOTE Al-Qur’an. 1 2 P3M STAIN Purwokerto | H. Anas Mahyudin (Bandung: Pustaka. 34. 1958). Teologi dan Tasawuf. Teologi dan Mistik Tradisi Islam (Jakarta: INIS. Corak penafsirannya bersifat kombinatif karena tidak ada unsur yang dominan. hal. Tim Pustaka firdaus (Jakarta: Pustaka Firdaus. serta kritis terhadap narasi Israiliyat maupun tafsir kalangan mutakallimin. 7 Al -Qur’an. The Comparative Study of Religions (New York: Columbia University Press. Anawati. hal. Muqaddimah fi Ushul al-Tafsir (Kuwait: Dar al-Qur’an al-Karim. 14. Surat Al-Isra’. Hukum. Islam. 45. 1983). Ajaran Islam yang terdapat dalam al-Qur’an dan Hadis diartikan menurut lafaznya dan harus dilaksanakan. Ali ibn Abi Thalib.JURNAL PENELITIAN AGAMA dihukum kafir. Surat Al-‘Araf. Sejarah Tafsir Qur’an. F. 1989). Islam dalam Cita dan Fakta. menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an. 2: 30. Pandangan Barat terhadap Literatur. 1971). Memahami Islam. 3: 7. Alih Bahasa oleh Abdurrahman Wahid dan Hashim Wahid (Jakarta: Leppenas. Beck dan NJS. 3: 114. 10 Ibn Taimiyah. 1983). 1985). hal. 5 G. sebatas tidak bertentangan dengan semangat ajaran al-Qur’an dan al-Sunah. 2 | Jul-Des 2008 | 250-270 . 8 Al -Qur’an. Second Edition (Chicago: The University of Chicago Press. 13 Ibid. secara khusus dalam muqaddimah juz 1 disebutkan dalam bab: 69 • IV. Hal itu dengan cara menggunakan jalur transmisi riwayat yang berlapis. menafsirkan al-Qur’an dengan pendapat Tabi’in. Schoun. menafsirkan al-Qur’an dengan pendapat Sahabat. Penta’wilan ayat atau pengalihan makna ayat dari makna lahiriah dilakukannya sepanjang masih dalam cakupan makna tersebut. Oleh karena itu. menafsirkan al-Qur’an dengan Hadis. Ibnu Taimiyah mengkritik (tidak setuju) dengan penta’wilan al-Qur’an yang dilakukan oleh berbagai kalangan yang tidak sejalan dengan cara ulama Salaf. 85. 64. 11 Ahmad al-Syirbashi. Upaya pemurnian pemahaman al-Qur’an dilakukan dengan konsistensi terhadap penggunaan prinsipprinsip serta prosedur-prosedur yang dipegangnya dengan teguh dalam penafsiran bi al-matsur.

47 Nurcholish Madjid (Ed. Daqaiq al-Tafsir al-Jami’ la Tafsir al-Imam bn Taimiyyah (Damaskus: Mu‘assasah ‘Ulum al-Qur’an. 20-21. Mohammedanism (London: Oxford University Press. 55-62. 45 Fazlur Rahman. 46-47. hal. Quraish Shihab. hal. 1994. Tim Pustaka Firdaus (Jakarta: Pustaka Firdaus. hal. dalam Tesis (Yogyakarta: Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga. 17. 253. 54 Didin Syafruddin. Ibn Taimiyyah. 36 Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. hal.th. Jurnal ‘Ulumul Qur’an. Terj.R. 1994). 172-174. 56 Juhaya S. 231-235. 1974). 31 Muhammad al-Bahy. 315-347. hal. 1988). Khazanah Intelektual Islam (Jakarta: Bulan Bintang. 6: 38. Gibb. al-Tafsir al-Kabir (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah. Al-Tafsir wa al-Mufassirun (TTP: TP. Ijtihad Ibn Taimiyyah dalam Bidang Fiqh (Jakarta: INIS. No. Paraja. Dairah al-Ma’arif al-Islamiyyah. 1990. 71. Quraish Shihab. Juz 1 (TTP: Dar al-Ma’rifahli al-Tiba’ah. Terj. dalam Jurnal Hikmah. Membumikan. 52 Badruddin al-Zarkasyi. Ibid. Thesis. Juz II. Terj. hal. 16. TT). 315-347. 28 33 Karya ini termuat dalam Kitab Majmu’ Fatawa. 50 Muhammad Ali al-Shabuni. 57 Saeful Anwar. hal. Al-Imam Ibn Taimiyyah wa Mauqifuhu min Qadhiyyat al-Ta‘wil (Kairo: Al-Hai‘ah al-‘Ammah lisyu‘un al-Mathabi’ al-Amirah. hal. 1966). Ibn Taimiyyah: hayatuhu wa ‘Asruhu. Al-Ma’arif. Membahas Ilmu-ilmu al-Qur’an. 1977). TT). Juz 1 (Beirut: Dar al-Fikr. 1957). 40 Muhammad Abu Zahrah. 385. hal. “The Principles of Ibn Taimiyya’s Quranic Interpretation”. 1978). hal. “Epistemologi Ibn Taimiyah”.. 22 M. Quraish Shihab. Juz 13. 63.).). hal. 60 Ibn Taimiyyah. 49 Muhammad Husain al-Dzahabi. Islam. 384. Juz I. 88. hal. Ara`uhu wa Fiqhuhu (Beirut: Dar al-Fikr. 1983). 16 Ibid. hal. Tafsir al-Manar. 28 Ibid. 34 Edisi pertama Kitab ini diterbitkan oleh Muthabi’ al-Riyadh yang dibiayai oleh Raja Su’ud Ibn Abdul Aziz al-Su’ud pada Tahun 1382 H. 26 Ibid. 46 Majid Fakhry.JURNAL PENELITIAN AGAMA Subhi al-Shalih. 114-115. hal. 58 Ibid. 41 Muhammad Mahdi al-Istanbuli. Al-Tafsir wa al-Mufassirun (Mesir: Dar al-Fikr). Modern Trends in Islam (New York: Octagon Books. 48 Pengantar Penerbitan Ulang Karya Ibn Taimiyyah. hal. 386. 4. 1992). 35 Adnan Zarzur dalam Ibn Taimiyah. t. Muqaddimah. 66. 1983). 51 Al-Suyuthi. hal. hal. 44 H. 23 Ibid. 2 | Jul-Des 2008 | 250-270 . Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan. 32 Ibid. Al-Syahadah al-Zakiyyah fi Tsana’I al-A‘immah ‘ala Ibn Taimiyyah (Beirut: Dar al-Furqan. 24 Abdurrahman al-Baghdady. 21 Al-Qur’an Surat al-An’am.. 75. 2000) hal. Anas Mahyudin (Bandung: Pustaka. TT). 18-19. “Tauhid menurut Ibn Taimiyyah”. hal. 101. 29 Fazlurrahman. 1991). 42 Muhammad Khalil Haras. Sejarah & ‘Ulûm al-Qur’an (Jakarta: Pustaka Firdaus. Al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an (TTP: TP. 7. Alam Pemikiran Islam dan Perkembangannya. 19 Subhi al-Shalih. Mc Gill University. Pemikiran Politik Ibn Taimiyah. 1992). Terj. 30 Qamaruddin Khan. 1969). Muqqadimah. Membahas. Abu Laila (Bandung: PT.). 18 M. 11.A. hal. 27 Ibid. No. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an (Mesir: Al-Azhar. 53 Muhammad al-Sayyid al-Julainid. 1980).).. hal. 20 Ibn Taimiyah. hal. 1990). 18-20. 9 | No. hal. 8. Muqaddimah fi Ushul al-Tafsir. A History of Islamic Philosophy (New York: Columbia University Press. 25 Ali al-Usy. 7. 63 Ibnu Taimiyah setiap membahasas satu ayat. dkk. selalu membuat satu rumpun dalam satu kupasan yang terdiri dari beberapa ayat yang secara 14 15 P3M STAIN Purwokerto | H. 55 Muhammad al-Sayyid al-Julainid (ed. 62 Ibn Taimiyah.. hal. 323. Al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an (Mesir: Al-Halaby. Masyhud 11 JPA | Vol. 1984). Al-Yasa’ Abu Bakar (Jakarta: Bulan Bintang. Muqaddimah.. 1963). 1976). Beberapa Pandangan Mengenai Penafsiran Al-Qur’an. 61 Quraish Shihab. II. hal. hal. 17 Muhammad Husain al-Dzahabi. 39 Qamaruddin Khan. 38 Muhammad Farid Wajdi. “Metodologi Penafsiran al-Qur’an: Sebuah Tinjauan Awal”. 1405 H. 59 Muhammad Amin.. Institut of Islamic Studies. Islam. Bathal al-Ishlah al-Diniy (Damaskus: Dar al-Ma’rifah. 37 M. hal. Pemikiran. Studi Kritis Tafsir al-Manar (Bandung: Pustaka Hidayah. TT). 1987). Ba’itsun Nahdhah al-Islamiyyah Ibn Taimiyyah (Tanta: Maktabah al-Shahabah. hal. 43 Mar‘i Ibn Yusuf al-Karmi al-Hanbali. Th. 102.

Methods of Social Research. 1980. F. ayat satu dengan lainnya mengandung munasabah. Al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Firdaus. Al-Suyuthi. Muhammad. Qamaruddin. Amin. H. Al-Hanbali. “Metodologi Penafsiran al-Qur’an: Sebuah Tinjauan Awal”. 68 . Teologi. Institut of Islamic Studies. Beirut: Dar al-Furqan. Ibn Taimiyyah: hayatuhu wa ‘Asruhu. dalam Jurnal Hikmah. 66 . Ahmad. Muhammad Khalil. Anwar. 69 .. 1977. Abu Laila. Ali al-Usy. Pemikiran Politik Ibn Taimiyah. TT. Al-Shalih. No. Muhammad Mahdi. TT). Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat.. 1991. Beberapa Pandangan Mengenai Penafsiran al-Qur’an. . Juhaya S. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Pustaka Firdaus. 1983. Al-Julainid. 1991. Fazlur. “Peninggalan Islam: Filsafat. Al-Yasa’ Abu Bakar. Wach. Jakarta: Bulan Bintang. 1990. Ba’itsun Nahdhah al-Islamiyyah Ibn Taimiyyah. Memahami Islam. . Ijtihad Ibn Taimiyyah dalam Bidang Fiqh. Tanta: Maktabah al-Shahabah.A. 346. Mc Gill University. 1974. hal. TT. Kaptein (Eds. Abdurrahman. 14-15. hal. “Epistemologi Ibn Taimiyah”. Membahas Ilmu-ilmu al-Qur’an.1994. Alam Pemikiran Islam dan Perkembangannya. TT. Jakarta: INIS. Al-Syirbashi. Hukum. Mar‘i Ibn Yusuf al-Karmi. G. Filosofi. hal. Masyhud 12 JPA | Vol. Terj. Anawati. Mesir: Al-Azhar. hal. Teologi Islam. kemudian menyebut tema pokok pada kajian seperti tersebut di atas memberi nama. Ijtihad Ibn Taimiyyah dalam Bidang Fiqh. Ibn Taimiyyah. “Fasl fi ma’na al-ghaib wa al-syahâdah”. P3M STAIN Purwokerto | H. Al-Bahy. Beirut: Dar al-Fikr. Modern Trends in Islam. TT. Quraish. Saeful. 1405H. Jakarta: Rineka Cipta. dalam Jurnal ‘Ulumul Qur’an. New York: Columbia University Press. A History of Islamic Philosophy. Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan (Jakarta UI Pres. No. Suharsimi. Sydney: Allen & Unwin. Tim Pustaka Firdaus. hal. Chicago: The University of Chicago Press. Ara`uhu wa Fiqhuhu. Joachim. Muhammad. 1987. hal. TTP: TP. 9 | No.). Lihat Harun Nasution. Al-Imam Ibn Taimiyyah wa Mauqifuhu min Qadhiyyat al-Ta‘wil. 2 | Jul-Des 2008 | 250-270 . Al-Istanbuli. TT. Bathal al-Ishlah al-Diniy. 23-24. Tim Pustaka Firdaus. 4. Mesir: Al-Halaby. 1979. M. Studi Kritis Tafsir al-Manar. Rahman. II. 1984. Terj. Anas Mahyudin. Ibnu Taimiyah. al-Tafsir. Damaskus: Mu‘assasah ‘Ulum al-Qur’an. Al-Baghdady. Bandung: PT. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. de Vaus. 1978. Ibid. Shihab. Jakarta: Bulan Bintang. Al-Dzahabi. 1990. ibid. Abu Zahrah. 1998. 1983. New York: Octagon Books. al-Tafsir. Haras.A. Terj. Islam. 1989. 190. al-Tafsir. Al-Ma’arif. Daqaiq al-Tafsir al-Jami’ la Tafsir al-Imam bn Taimiyyah. Madjid.” dalam H. L. 1987. Th. Muhammad dan Rasyid Ridha. Terj. Khazanah Intelektual Islam. 1971. Schoun. Damaskus: Dar al-Ma’rifah. The Comparative Study of Religions (New York: Columbia University Press. 1990. Tafsir al-Qur’an al-‘Adziim (TTP: Syirkah al-Nur Asia. Lihat Ibnu Katsir. Ibnu Timiyah.JURNAL PENELITIAN AGAMA korelatif. Gibb. New York: The Free Press. hal. Beirut: Dar al-Fikr. 1990. Sejarah Tafsir Qur’an. Bandung: Pustaka. Kairo: Al-Hai‘ah al-‘Ammah lisyu‘un al-Mathabi’ al-Amirah.C. Anas Mahyudin.R. 7. Majid. Tafsir al-Manar. Al-Syahadah al-Zakiyyah fi Tsana’I al-A‘immah ‘ala Ibn Taimiyyah. Syafruddin. 85. Paraja. Khan. “The Principles of Ibn Taimiyya’s Quranic Interpretation”. Teologi dan Tasawuf. 1957. Lihat. 1985. Beck dan NJS. 13-22. Terj. Kenneth D. Jakarta: INIS. 1986). dalam Tesis. “Tauhid menurut Ibn Taimiyyah”. 65 . 1956.). Ibn Taimiyah. Nurcholish (Ed. 67 . Bandung: Pustaka. 1992. 15-17. Muqaddimah fi Ushul al-Tafsir. dan Mistik Tradisi Islam.). Arikunto. Al-Zarkasyi. Muhammad. Jakarta: INIS. Lihat. Subhi. 1992. Pandangan Barat terhadap Literatur. dalam Thesis. 64 Dua Hadis di atas adalah dasar hukum yang dipergunakan Ibnu Taimiyah sebagai penguat argumentasinya dalam rangka menolak anggapan kalangan Nasrani – Yahudi atas keyakinan mereka . Juz 1. . Yogyakarta: Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga. Bandung: Pustaka Hidayah. 1963. D. Muhammad al-Sayyid (Ed. Surveys in Social Research. Didin. 1983. Muhammad Husain. Badruddin. Bailey. Fakhry. Terj. Kuwait: Dar al-Qur’an al-Karim. dikupas panjang lebar secara rasional. Al-Tafsir wa al-Mufassirun. Bandung: Mizan. DAFTAR PUSTAKA Abduh. 1994.

2 | Jul-Des 2008 | 250-270 .JURNAL PENELITIAN AGAMA Wajdi. TTP: Dar al-Ma’rifahli al-Tiba’ah. TT. Muhammad Farid. 9 | No. Dairah al-Ma’arif al-Islamiyyah. P3M STAIN Purwokerto | H. Masyhud 13 JPA | Vol.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful