Makalah b.indonesia (2)

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Bahasa adalah aspek penting interaksi manusia. Dengan bahasa, (baik itu bahasa lisan, tulisan maupun isyarat) orang akan melakukan suatu komunikasi dan kontrak sosial. Bahasa juga dipandang sebagai cermin kepribadian seseorang karena bahasa diterjemahkan sebagai refleksi rasa, pikiran dan tingkah laku. Adakalanya seorang yang pandai dan penuh dengan ide-ide cemerlang harus terhenti hanya karena dia tidak bisa menyampaikan idenya dalam bahasa yang baik. Oleh karena itu seluruh ide, usulan, dan semua hasil karya pikiran tidak akan diketahui dan dievaluasi orang lain bila tidak dituangkan dalam bahasa yang baik Di pandang pentingnya bahasa dalam kehidupan kita maka penulis disini mencoba membahas beberapa istilah dan tatanan bahasa yang sering kita pakai dalam berkomunikasi ataupun yang kita tuangkan lewat sebuah tulisan atau kalimat, seperti diksi, gaya bahasa, pemilihan ketepatan dan kesesuaian kata, sinonim,homofon, homograf dan lainnya yang merupakan unsur-unsur penting dalam sebuah bahasa. 1.2 Batasan Masalah Penulis hanyalah manusia biasa yang mempunyai kekurangan dalam menyajikan sebuah makalah. Karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan waktu maka penulis membatasi masalah yang dibahas dalam makalah ini hanya berupa: 1. Pengertian diksi dan gaya bahasa 2. Ketepatan kata dan kesesuaian kata 3. Perubahan makna, denotasi dan konotasi, sinonim, idiomatik, homonim, homofon, homograf, kata abstrak dan kata konkret, kata umum dan kata khusus 4. Kesalahan pembentukan dan pemilihan kata 1.3 Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui pengertian dari diksi dan gaya bahasa 2. Untuk mengetahui ketepatan kata dan kesesuaian kata

1

Untuk mengetahui perubahan makna. sinonim.3. homofon. homonim. homograf. Untuk mengatahui kesalahan-kesalahan pembentukan dan pemilihan kata yang sering terjadi dalam bahasa Indonesia 2 . idiomatik. kata abstrak dan kata konkret. denotasi dan konotasi. kata umum dan kata khusus yang terdapat dalam bahasa Indonesia 4.

yaitu.2. dalam pemakaiannya berbeda-beda 3.II. penulis harus memperhatikan ketepatan dan kesesuaian kata. Gaya bahasa ditentukan oleh ketepatan dan kesesuaian pilihan kata. kejujuran. ialah. Ketepatan itu menghasilkan kepastian makna. Penggunaan ketepatan pilihan kata ini dipengaruhi oleh kemampuan pengguna bahasa yang terkait dengan kemampuan mengetahui. dan situasi tertentu yang hendak diwujudkan oleh penulis.1 Ketepatan Kata Syarat-syarat ketepatan kata adalah : 1. 2.1. Misalnya: keformalan. sedangkan kesesuaian kata menyangkut kecocokan antara kata yang dipakai dengan situasi yang hendak diciptakan sehingga tidak mengganggu suasana batin.2 Ketepatan Kata dan Kesesuaian Kata Ketepatan kata terkait dengan konsep. Maksudnya. merupakan. tingkat keresmian atau gaya percakapan. keilmiahan.1. Membedakan makna konotasi dan denotasi dengan cermat 2. dan menggunakan sejumlah kosa kata secara aktif yang dapat mengungkapkan gagasan secara tepat sehingga mampu mengomunikasikannya secara afektif kepada pembaca atau pendengarnya. Gaya bahasa mempengaruhi terbentuknya suasana. Oleh karena itu. logika. menguasai. pembicara dan pendengarnya. untuk menghasilkan karangan berkualitas. emosi. kemenarikan. 2. Membedakan secara cermat makna kata yang hampir bersinonim misalnya : adalah. dan gagasan yang hendak ditulis dalam karangan. 2. keprofesionalan. PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Diksi Diksi ialah pilihan kata. atau psikis antara penulis dan pembaca.2 Pengertian Gaya Bahasa Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis atau pemakai bahasa. kesopanan. memahami. Membedakan makna kata secara cermat kata yang mirip ejaannya 3 .1 Pengertian Diksi dan Gaya Bahasa 2. kita memilih kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu.

Menggunakan kata abstrak dan kata konkret secara cermat Misalnya: pendidikan. wirausaha mangga. kesudahan. secara cermat Misalnya: mobil (kata umum) corolla (kata khusus) 8. Menggunakan ragam baku dengan cermat dan tidak mencampuradukkan penggunaannya dengan kata tidak baku yang hanya digunakan dalam pergaulan Misalnya: hakikat (baku) konduite (baku) hakekat (tidak baku) kondite (tidak baku) buang air kecil (lebih sopan) tunasusila (lebih halus) (kata abstrak) (kata konkret) 2. Menggunakan dengan cermat kata bersinonim.2 Kesesuaian Kata Syarat-syarat kesesuaian kata: 1. jika pemahaman belum dapat dipastikan.Misalnya: inferensi sarat dengan dengan interfensi syarat 4. Menggunakan imbuhan asing harus memahami maknanya secara tepat Misalnya: dilegalisir seharusnya dilegalisasi koordinir seharusnya koordinasi 6. Menggunakan kata yang berubah makna dengan cermat Misalnya: isu ( dari bahasa inggris berarti publikasi. pemakai kata harus menemukan makna yang tepat di dalam kamus Misalnya: modern sering diartikan secara subjektif canggih 5. perkara) isu (dalam bahasa Indonesia berarti kabar yang tidak jelas asal usulnya) 9. Menggunakan kata yang berhubungan dengan nilai sosial dengan cermat Misalnya: kencing (kurang sopan) pelacur (kasar) 4 . berhomofoni dan berhomografi Misalnya: pria dan laki-laki bang dan bank (bersisonim) (berhomofoni) apel buah dan apel upacara (berhomografi) 10. Menggunakan kata umum dan khusus. Tidak menafsirkan makna kata secara subjektif berdasarkan pendapatnya sendiri. Menggunakan kat-kata idiomatik berdasarkan susunan (pasangan) yang benar Misalnya: sesuai bagi seharusnya sesuai dengan 7. sarapan 2.2.

5 . diskusi umum) menggunakan kata populer Misalnya: argumentasi (ilmiah) psikologi (ilmiah) pembuktian (populer) ilmu jiwa (populer) 6. kata perempuan lebih mulia dibanding kata wanita. irama. Homofon.3. Homonim. membacakan (bahasa tulis) 2. Menggunakan kata ilmiah untuk penulisan karangan ilmiah.menuliskan. Sinonim. Orang menggantinya dengan kata wanita. Idiomatik. Kini. Kebahasaan Perubahan makna yang ditimbulkan oleh faktor-faktor ini meliputi: a) Perubahan Intonasi Yaitu perubahan makna yang diakibatkan oleh perubahan nada. mengesot. Mengggunakan kata dengan nuansa tertentu Misalnya: berjalan lambat. membaca. dan komunikasi nonilmiah (surat-menyurat. b) Perubahan struktur frasa c) Perubahan bentuk kata adalah perubahan makna yang ditimbulkan oleh perubahan bentuk d) Kalimat akan berubah makna jika strukturnya berubah 2. setelah orang melupakan peristiwa tersebut menggunakannya kembali. Menggunakan kata berpasangan (idiomatik) dan berlawanan makna dengan cermat Misalnya: sesuai bagi (salah) sesuai dengan (benar) 4. Kata Abstrak dan Kata Konkret. Kesejarahan Kata perempuan pada zaman penjajahan Jepang digunakan untuk menyebut perempuan penghibur. Denotasi dan Konotasi. Homograf. dengan pertimbangan. kerja (bahasa lisan) menulis. Kata Umum dan Kata Khusus 2.1 Perubahan Makna Faktor-faktor penyebab perubahan makna: 1.3. dan merangkak 5.3 Perubahan Makna. Menghindarikan penggunaan ragam lisan (pergaulan) dalam bahasa tulis Misalnya: tulis. baca. dan tekanan.

Sebelum tahun 1945 orang dapat berkata. 4. Kejiwaan Contohnya: a) tabu pelacur disebut tunasusila koruptor disebut penyalahgunaan jabatan b) kehalusan bodoh disebut kurang pandai malas disebut kurang rajin c) kesopanan ke kamar mandi disebut ke belakang gagal disebut kurang berhasil 5. dan sebagainya. infokus.3. setelah tahun1945 kata bergerombolan tidak digunakan bahkan ditakuti. Kata symposium pada mulanya bermakna orang yang minum-minum di restoran dan kadang-kadang ada acara dansa yang diselingi dengan diskusi. Kata denotasi lebih menekankan tidak adanya nilai rasa. Kebutuhan tersebut memerlukan bahasa sebagai alat ekpresi dan komunikasi yang mendorong untuk menciptakan istilah baru bagi konsep baru yang ditemukannya. perampok.2 Denotasi dan Konotasi Makna denotasi dan konotasi dibedakan berdasarkan ada atau tidaknya nilai rasa. download. server. misalnya: kata tempat orang terhormat diganti dengan VIP. 2. megapixel. Bahasa Asing Perubahan makna kata karena faktor bahasa asing. vendor. Kata Baru Kreativitas pemakai bahasa berkembang terus sesuai dengan kebutuhannya. website. Kesosialan Kata gerombolan mulanya bermakna orang berkumpul atau berkerumun. 6.3. ada yang dipertahankan keasingannya karena keinternasionalannya. Dewasa ini kata symposium dititikberatkan pada acara diskusi membahas berbagai masalah. Kemudian. dan sebagainya. Dalam bahasa Indonesia terdapat kata-kata asing yang diindonesiakan. gerombolan laki-laki menuju pasar. sedangkan konotasi bernilai rasa 6 . Misalnya: chip. kata itu tidak digunakan karena berkonotasi dengan pemberontak. dan ada kata asing yang cukup denagn penyesuaian ejaannya.

wisma. Makna denotatif adalah makna yang umum. pelanggan. sedangkan makna konotatif adalah 7 . tempat. melotot. meninjau. mantan. juru asisten dari pada makna denotatif. aku 4) nuansa makna. wanita bersinonim dengan perempuan. Sebuah kata dapat merosot nilai rasanya karena penggunaannya tidak sesuai dengan makna denotasinya. Dalam kalimat kedua kata tersebut dapat dipertukarkan. misalnya pasar Pada zaman dahulu pasar berarti tempat jual-beli. bekas. misalnya: saya. beta 3) kesopanan. Misalnya: 1) waktu. dan pengucapannya. gedung. produk. kesopanan. misalnya: 1. penginapan.kias. misalnya: Tradisi di daerah itu memasak dikerjakan oleh perempuan. tetapi sekarang kata pasar mempunyai arti yang luas seperti konsumen.3 Sinonim Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada berbeda bentuk. Tradisi di daerah itu memasak dikerjakan oleh wanita. tetapi bermakna sama.3. Ini disebabkan oleh waktu. ejaan. 2. Untuk mengurus surat-surat di kantor pemerintahan sering kali kita diminta memberi kebijaksanaan oleh sang petugas agar urusan tidak terlambat (memberikan suap). Orang tua murid yang anaknya tidak naik kelas mohon kebijaksanaan kepada kepala sekolah agar bersedia menolong anaknya (menaikkan kelas). Makna konotasi sifatnya lebih profesional dan operasional makna yang dikaitkan dengan suatu kondisi dan situasi: Misalnya: rumah tukang pembantu 2. Umpamanya kata kebijaksa-naan yang bermakna denotasi kelakuan atau tindakan arif dalam mengahadapi suatu masalah. misalnya:hotel. Dua kata yang bersinonim tidak bisa dipertukarkan dalam sebuah kalimat maka kata tersebut tidak bersinonim sepenuhnya. menjadi negatif konotasinya akibat kasus-kasus tertentu. 2) tempat atau daerah. misalnya kata: saya. suasana batin dan nuansa makna. Misalnya. graha ahli.

2. Misalnya: gagasan dan perdamaian 8 .5 benar terdiri dari/ terdiri atas disebabkan oleh berbicara tentang Homonim. Conroh: 1) Ia makan apel (buah) sesudah apel (upacara) di lapangan. dan Homograf Homonim dapat diartikan sama nama.6 Kata Abstrak dan Kata Konkret Kata abstrak adlah kata yang acuannya tidak mudah diserap oleh panca indra.4 Idiomatik Ungkapan idiomatik adalah konstruksi yang khas pada suatu bahasa yang salah satu unsurnya tidak dapat dihilangkan atau diganti. 2. = pelabuhan = pemegang uang dalam perjudian = ruas = kitab Contoh: 1) bandar bandar 2) buku buku Homofon berarti sama bunyi berbeda tulisan dan berbeda makna. Contoh: bank = bang (bank yaitu tempat menyimpan uang. sama bunyi.sebunyi. sedangkan bang merupakan sebutan untuk kakak laki-laki) Homograf berarti kata yang mempunyai kesamaan tulisan. 2) Polisi serang (mendatangi untuk memyerang) penjahat di Kabupaten Serang (nama tempat).3. tetapi berbeda makna.3.3. berbeda bunyi dan berbeda makna. Contoh: salah terdiri disebabkan karena membicarakan tentang 2. Homofon.

makna kata menjadi sempit ruang lingkupnya maka semakin khusus sifatnya. (kata konkret) 2) Kebenaran pendapat itu tidak terlalu tampak. (benar) 2.7 Kata Umum dan Kata Khusus Kata umum dibedakan dengan kata khusus berdasarkan ruang lingkupnya.sering menanggalkan awalan ber-. wangi.4.harus eksplisit. Namun. Contoh: 1) Sampai kumpa lagi. Contoh: kata umum ikan kata khusus mujair lele tuna bunga mawar melati anggrek 2.Kata konkret adalah kata yang acuannya mudah diserap oleh panca indra. Sebaliknya.pada judul berita dalam surat kabar diperbolehkan. awalan ber.4. suara Contoh dalam kalimat: 1) APBN RI mengalami kenaikan lima belas persen. Contoh: 1) Amerika Serikat luncurkan pesawat bolak-balik Columbia. (salah) 2) Sampai berjumpa lagi.4 Kesalahan Pembentukan dan Pemilihan Kata 2.harus dieksplisitkan secara jelas.1 Penanggalan Awalan mengPenanggalan awalan meng. (salah) 2) Amerika Serikat meluncurkan pesawat bolak-balik Columbia. rumah. Semakin luas ruang lingkup suatu kata.3. dalam teks beritanya awalan meng. Misalnya: meja. Padahal. (kata abstrak) 2.2 Penanggalan Awalan berKata-kata yang berawalan ber. (benar) 9 . maka semakin umum sifatnya.

/k/. (salah) 2) Wakidi sedang mencuci mobil.menurut kaidah baku bunyi-bunyi itu harus lebur menjadi bunyi sengau.6 Awalan ke.4.4 Penyengauan Kata Dasar Penyengauan kata dasar sebenarnya adalah ragam lisan yang dipakai dalam ragam tulisan.yang Keliru Pada kenyataan sehari-hari. atau /t/ sring tidak luluh jika mendapat awalan meng.5 Benar mengantuk menolak mencubit Bunyi /s/. /p/. sesungguhnya bunyi /c/ tidak luluh apabila mendapat awalan meng-. Padahal. Akhirnya.2. pencampuradukan antara ragam lisan dan ragam tulisan menimbulkan suatu bentuk kata yang salah dalam pemakaian. Contoh: : persuplai seharusnya penyuplai mengkikis seharusnya mengikis mentaati seharusnya menaati 2.atau peng-. /k/. Contoh: Salah ngantuk nolak nyubit 2. (benar) 2.4.4. Contoh: ketabrak seharusnya tertabrak kebawa seharusnya terbawa ketawa seharusnya tertawa 10 .sering diberi berawalan ke-.3 Peluluhan bunyi /c/ Kata dasar yang diawali bunyi /c/ sering menjadi luluh apabila mendapat awalan meng-. kata-kata yang seharusnya berawalan ter. Padahal.4. dan /t/ yang Tidak Luluh Kata dasar yang bunyi awalnya /s/. Hal tersebut disebabkan oleh kekurangcermatan dalam memilih awalan yang tepat. /p/. Contoh: 1) Wakidi sedang menyuci mobil.

4. (salah) 2) Karena modal di bank terbatas. pemakaian di. karena.. pada.. (benar) 2) Meja ini terbuat daripada kayu. meskipun.. kalau.9 Pemakaian Kata Depan di.. Contoh: Saya sanggup mengkoordinir kegiatan itu. Contohnya pada singkatan IBF. Hal ini terjadi karena dua kaidah bahasa bersilang atau bergabung dalam sebuah kalimat.4. bagi.maka..tetapi... (benar) 3) Modal di bank terbatas sehingga tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit. ke. Contoh: 1) Karena modal di bank terbatas sehingga tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit. untuk padanan akhiran –ir adalah –asi atau – isasi.7 Pemakaian Akhiran –ir Pemakaian akhiran –ir sangatproduktif dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari- hari. 2. dan lain sebagainya.2. untuk. (salah) Meja ini terbuat dari kayu. Contoh: 1) Neny lebih cerdas dari Vina. dalam bahasa Indonesia baku. tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit.. maka. dari. yang muncul dalam pembicaraan sehari-hari adalah padanan yang tidak sepadan atau tidak serasi. (salah) Neny lebih cerdas daripada Vina.maka. (benar) 2. daripada. (benar) 2.4. bagi.10 Pemakaian Akhiran (Singkatan) Pemakaian akronim sedapat mungkin dihindari karena menimbulkan berbagai tafsiran terhadap akronim atau singkatan itu.4. (benar) Bentuk lain yang merupakan padanan yang tidak serasi adalah disebabkan karena. dan terhadap Dalam pemakaian sehari-hari. pada.8 Padanan yang Tidak Serasi Karena pemakai bahasa kurang cermat memilih padanan kata yang serasi.. ke. dan sebagainya. dari. (salah) Saya sanggup mengkoordinasi kegiatan itu. IBF 11 . daripada sering dipertukarkan. Padahal.

Dewasa ini dapat dijumpai banyak kata yang sekelompok dengan petinju...4. bersenam. salah) 2. tanpa sehingga namun tanpa demikian Kata bertinju. karena. agar supaya 3. yaitu International Boxing Federation dan International Badminton Federation..4. diperlukan tenaga dorong buatan untuk memproduksi minyak lebih besar. bukan orang yang meninju. Oleh sebab itu muncul kata pegolf atau peboling yang pada dasarnya tidak dibentuk dari bergolf atau berboling. namun demikian contoh dalam kalimat: 1.benar) 2. Jika dibuat seperti kata petinju maka kata-kata tersebut menjadi: pesenam pesilat pegolf peboling ”orang yang bersenam” ”orang yang bersilat” ”orang yang bergolf” ”orang yang berboling” Hemat sejak atau dari agar atau supaya apabila. dan peboling.. petenis.. tetapi padat isi.. Contoh-contoh kata yang sering digunakan tidak hemat yaitu: Boros 1. 2. berkorelasi dengan kata bertinju.11 Penggunaan Kata yang Hemat Salah satu ciri pemakaian bahasa yang efektif adlah pemakaian bahasa yang hemat kata... dan bersilat mungkin biasa digunakan. pegolf. dan berboling bukan kata yang lazim. maka diperlukan tenaga dorong buatan untuk memproduksi minyak lebih besar. sehingga 5. tetapi kata bergolf. seperti pesenam.. pesilat. Kata petinju berarti orang yang bertinju. tanpa kata penghubung maka karena.. 12 . sejak dari 2. peterjun. Jadi singkatan yang dapat dipakai adalah singkatan yang sudah umum dan maknanya telah mantap. maka 4..12 Analogi Seperti kata petinju dalam dunia olahraga.mempunyai dua makna. (boros. (hemat. Apabila suatu reservoar masih mempunyai cadangan minyak.. apabila. Apabila suatu reservoar masih mempunyai cadangan minyak.

4.13 Bentuk Jamak dalam Bahasa Indonesia Bentuk jamak dalam bahasa Indonesia dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1) Bentuk jamak dengan melakukan pengulangan kata yang bersangkutan seperti kuda-kuda meja-meja buku-buku 2) Bentuk jamak dengan menambahkan kata bilangan seperti beberapa sekalian semua dua meja tamu buku tempat 3) Bentuk jamak dengan menambahkan kata bantu jamak seperti para tamu 4) Bentuk jamak dengan menggunakan kata ganti orang seperti mereka kami kita kalian 13 .2.

konotasi. sinonim.2 Saran Dewasa ini banyak mahasiswa yang dalam kesehariannya berkomunikasi tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta penggunaan unsur-unsur bahasa di dalamnya. maka dengan adanya makalah ini sebaiknya untuk yang akan datang mahasiswa lebih memperhatikan dan menggunakan unsur-unsur tersebut agar bahasa Indonesia lebih terjaga dan lestari. Dengan adanya unsur-unsur tersebut maka seseorang dapat berkomunikasa atau berinteraksi dengan baik. gaya bahasa. ketepatan dan kesesuaian kata. idiomatik. PENUTUP 3. 14 . denotasi. maupun tulisan. 3.III.1 Kesimpulan Dari makalah yang telah dibahas maka dapat disimpulkan bahwa diksi. baik secara lisan.homograf homofon dan unsur-unsur lainnya yang terkait dalam pemakaian bahasa Indonesia sangat penting adanya.

Seri Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.DAFTAR PUSTAKA Fachruddin Ambo E. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Widjono. Amran Tasai.2000. Hs. Jakarta: Akapres. 2005. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. 15 . Zaenal Arifin. Dasar-Dasar Keterampilan Menulis.1988. Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Bahasa Indonesia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful