SCHIZOFRENIA Pengertian Schizofrenia merupakan suatu bentuk psikosa yang sering dijumpai dimana-mana sejak dahulu kala

. Meskipun pengetahuan kita tentang sebab-musabab dan patogenesanya sangat kurang. (W.F Maramis, 1980). Schizofrenia adalah kerusakan pola pikir (fragmentea thinking) dan ketidakmampuan melakukan hubungan dengan dunia lain (Blueler, 1908). Schizofrenia adalah suatu gangguan jiwa dengan etiologi tidak diketahui, ditandai oleh gejala psikotik yang secara berarti menggangu fungsi dan menyangkut gangguan alam perasaan, berfikir dan berperilaku (Harold I Kaplan M.D Benyamin Saddock, M.D). Etiologi Keturunan Pengaruh keturunan tidak sesederhana hukum Mandel diperkirakan bahwa potensi untuk mendapatkan, schizofrenia diturunkan (bukan penyakit diri sendiri) melalui gen yang resesif potensi ini mungkin kuat, mungkin juga lemah. Tetapi selanjutnya tergantung pada lingkungan individu apakah akan terjadi schizrofrenia atau tidak. Endrokin Dahulu dikira bahwa schizofrenia mungkin disebabkan oleh suatu ganggguan endokrin. Teori ini dikemukan berhubungan dengan sering timbulnya schizofrenia pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimakterium. Tetapi hal ini tidak dapat dibuktikan. Metabolisme Karena klien dengan schizofrenia tampak pucat dan tidak sehat, ujung ekstrimitas agak sianotik, nafsu makan kurang dan berat badan menurun. Maka ada yang mengira bahwa schizofrenia disebabkan oleh suatu gangguan metabolisme pada saat lahir. Susun Saraf Pusat Adanya kelainan susunan saraf pusat yaitu juga dapat disebabkan oleh faktor somatigenik adalah (kelainan badaniah) dan psikogenetik (gangguan fungsional) dan sebagai penyebab adalah konflik atau stres psikologi dan hubungan antar manusia yang mengecewakan. Lingkungan Schizofrenia bukan suatu penyakit, melainkan suatu respon terhadap tekanan emosi yang tidak dapat ditoleransi dalam keluarga dan masyarakat (Laing Gofthman). Gejala-gejala Menurut Blueler gejala-gejala schizofrenia dibagi menjadi dua : Gejala Primer Gangguan proses pikiran (bentuk langkah dan isi pikir) yang tergangggu terutama adalah asosiasi. Kadang-kadang satu ide belum selesai diutarakan sudah timbul ide lain. Terdapat pemindahan maksud. Jalan pikiran pada schizofrenia sukar diikuti dan dimengerti. Hal ini dinamakan inkohorensi. Seorang schizofrenia juga mempunyai kecenderungan untuk menyamakan hal-hal. Kadang-kadang pikiran seakan-akan

tekanan pikiran (pressure of thought). halusinasi. Schizofrenia Paranoid : Gejala utama waham primer disertai waham sekunder dan halusinasi gangguan proses pikir. Gejala Sekunder Waham : Sering tidak logis sama sekali dan sangat besar. gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi atau double personality. inkoheren. . Schizofrenia Schizo Afektif Gejala timbulnya depresi atau gejala-gejala manik. Terpecah belahnya kepribadian Gangguan Kemauan Penderita schizofrenia mempunyai kelemahan kemauan. biasanya akut serta sering didahului stres emosional. tidak timbul idea1 yang dinamakan "pioking". atau perilaku sangat disorganisasi. tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan. emosi dan kemauan. Jenis Schizofrenia Schizoofrenia Simple Gejala utama adalah kedangkaalan emosi dan kemunduran kemauan Schizofrenia Hebefrenik Sering timbul pada saat remaja atau usia 15-25 tahun gejala yang mencolok gangguan proses pikir. Schizofrenia tipe tak tergolongkan Gambaran klinisnya terhadap waham. gangguan psikomotor. Schizofrenia Akut Timbul secara akut atau mendadak sekali seperti di dalam mimpi Schizofrenia Residu Aksesnya mencolok. Timbul ide-ide yang tidak dikehendaki. Gejala Psikomotor juga dinamakan gejala-gejala katatonik atau gangguan perbuatan. Mereka tidak dapat mengambil keputusan. halusinasi. lekoherepsi. afek. waham dan halusuiasi. Bila suatu ide berulang-ulang timbul dan diutarakan disebut perseverasi atau stereotip pikiran/ Pikiran melayang (Flight of ide").berhenti. Gangguan efek dan media meliputi : Kadangkala efek dan emosi (emosing blunting) Paramini (klien senang tapi dia menangis) Parathimi (seharusnya senang tapi timbul rasa sedih) Emosi dan efek serta ekspresinya tidak mempunyai kesatuan Emosi yang berlebihan Hilangnya kemampuan untuk mengadakan emosi yang baik. Halusinasi : Timbul tanpa adanya penawaran kesadaran Menangisi diri : Mengidentifikasi dirinya sebuah obyek yang tidak ada artinya. Schizofrenia Katatonik Timbul pertama kali antara umur 15-30 tahun.

Kronik Perasaan negatif terhadap diri sudah berlangsung lama yaitu sebelum sakit atau dirawat. Gangguan harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negatif yang dapat secara langsung atau tidak langsung diekspresikan ( Townsend. Phk. Klien ini mempunyai cara berpikir yang negatif.HARGA DIRI RENDAH Pengertian Harga diri rendah adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. pemasangan alat yang tidak spontan (mencukur pubis pemasangan kateter). Harapan akan struktur. yang diekspresikan secara langsung maupun tidak langsung Proses Terjadinya Masalah Teori penyebab a. Misalnya . Menurut Ericson. bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tecapai karena dirawat atau sakit atau penyakitnya. Kelakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai. misal berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan berbagai tindakan tanpa pemeriksaan. Situasional Yang terjadi trauma secara tiba – tiba misalnya pasca operasi. perasaan malu karena terjadi (korban perkosaan. gangguan harga diri rendah adalah penilaian negatif seseorang terhadap diiri dan kemampuan. kejadian sakit yang dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. harapan orang tua yang tidak realistic. 1998 ). Faktor Predisposisi Faktor yang mempengaruhi HDR adalah penolakan orang tua. dan kultur sosial yang berubah Faktor Presipitasi Ketegangan peran Stress yang berhubungan dengan frustasi yang dialami dalam peran atau posisi Konflik peran Ketidaksesuaian peran dengan apa yang diinginkan Peran yang tidak jelas Kurangnya pengetahuan individu tentang peran . 1998). Pencapaian ideal diri atau cita – cita atau harapan langsung menghasilkan perasaan bahagia. dipenjara. masa balita adalah kemandirian yang ragu dan malu anak belajar mengendalikan diri dan kepercayaan diri. (Budi Ana Keliat. tekanan dari teman. orang tua tidak percaya pada anak. Tergantung pada orang tua dan ideal diri yang tidak realistic. dituduh KKN). misal pemeriksaan fisik yang sembarangan. Menurut Schult & Videbeck ( 1998 ). HDR pada pasien yang dirawat disebabkan oleh : Privacy yang kurang diperhatikan. kecelakaan cerai. putus sekolah. sebabnya bila banyak dikendalikan dari luar maka akan timbul bibit keraguan dan rasa malu yang berlebihan.

Perasaan negatif terhadap tubuhnya sendiri. Menarik diri dan realitas. Menurut Struart & Sundden (1998) perilaku klien HDR ditunjukkan tanda – tanda sebagai berikut : Produktivitas menurun. Mudah tersinggung atau marah yang berlebihan. Destruktif terhadap diri sendiri. Keluhan fisik. saya tidak mampu. . saya tidak bisa. Mengukur diri sendiri dan orang lain. Ketegangan peran yang dihadapi atau dirasakan. Misalnya malu dan sedih karena rambut menjadi rontok (botak) karena pengobatan akibat penyakit kronis seperti kanker. Pandangan hidup yang bertentangan. saya memang bodoh dan tidak tahu apa – apa. Percaya diri kurang. Penyalahgunaan obat. seperti menarik diri. Khawatir. penampilan. Merendahkan martabat misalnya. Rasa bersalah terhadap diri sendiri misalnya ini terjadi jika saya tidak ke RS menyalahkan dan mengejek diri sendiri. Menolak diri secara sosial. klien sukar mengambil keputusan yang suram mungkin memilih alternatif tindakan. prubahan ukuran. klien tak mau bertemu orang lain. Destructif pada orang lain. Pandangan hidup yang pesimis. lebih suka menyendiri. Gangguan dalam berhubungan. Rasa bersalah. Gangguan hubungan sosial.Peran yang berlebihan Menampilkan seperangkat peran yang konpleks Perkembangn transisi Perubahan norma dengan nilai yang taksesuai dengan diri Situasi transisi peran Bertambah/ berkurangnya orang penting dalam kehidupan individu Transisi peran sehat-sakit Kehilangan bagian tubuh. prosedur pengobatan dan perawatan. fungsi. Perasaan tidak mampu. Penolakan terhadap kemampuan personal. Mencederai diri dan akibat HDR disertai dengan harapan yang suram mungin klien ingin mengakhiri kehidupan. Tanda dan Gejala Perasaan malu pada diri sendiri akibat penyakit dan akibat terhadap tindakan penyakit.

Rencana tindakan Keperawatan Diagnosa 1: Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah Tujuan umum : Klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah/klien akan meningkat harga .Masalah Keperawatan yang Perlu Dikaji No Masalah Keperawatan Data Subyektif Data Obyektif 1 Isolasi sosial : menarik diri Mengungkapkan tidak berdaya dan tidak ingin hidup lagi Mengungkapkan enggan berbicara dengan orang lain Klien malu bertemu dan berhadapan dengan orang lain Ekspresi wajah kosong Tidak ada kontak mata ketika diajak bicara Suara pelan dan tidak jelas 2 Gangguan konsep diri : harga diri rendah Mengungkapkan ingin diakui jati dirinya Mengungkapkan tidak ada lagi yang peduli Mengungkapkan tidak bisa apa-apa Mengungkapkan dirinya tidak berguna Mengkritik diri sendiri Merusak diri sendiri Merusak orang lain Menarik diri dari hubungan sosial Tampak mudah tersinggung Tidak mau makan dan tidak tidur Perasaan malu Tidak nyaman jika jadi pusat perhatian 3 Berduka disfungsional Mengungkapkan tidak berdaya dan tidak ingin hidup lagi Mengungkapkan sedih karena tidak naik kelas Klien malu bertemu dan berhadapan dengan orang lain karena diceraikan suaminya Dan lain – lain… Ekspresi wajah sedih Tidak ada kontak mata ketika diajak bicara Suara pelan dan tidak jelas Tampak menangis Pohon masalah: Isolasi sosial : menarik diri Gangguan konsep diri : Harga diri rendah Berduka disfungsional Diagnosa Keperawatan Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan berduka disfungsional.

Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada Tindakan : Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien. Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki Tindakan : 4. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan Tindakan : 5.1. jelaskan tujuan interaksi. Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan 5. Tujuan khusus : Klien dapat membina hubungan saling percaya Tindakan : Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan 4. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah. ciptakan lingkungan yang tenang.2. utamakan memberi pujian yang realistis Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.1.3. tempat dan topik pembicaraan) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya Sediakan waktu untuk mendengarkan klien Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Tindakan : Klien dapat menilai kemampuan yang dapat Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien. buat kontrak yang jelas (waktu. .2. Beri pujian atas keberhasilan klien 5. Tindakan : 3.dirinya. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.3.2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien 4. perkenalan diri.1. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki 3. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.

2003 Boyd MA. Hihart MA. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang : RSJD Dr. 1999 . Philadelphia : Lipincott-Raven Publisher. dkk. Amino Gondoutomo. 1998 Keliat BA. Psychiatric nursing : contemporary practice. Proses kesehatan jiwa.Diagnosa 2: Gangguan konsep diri: harga diri rendah berhubungan dengan berduka disfungsional DAFTAR PUSTAKA Azis R. Edisi 1. Jakarta : EGC.