EKSTERNALITAS DALAM PENGGUNAAN BARANG PUBLIK A.

EKTERNALITAS Kegiatan ekonomi yang dilakukan seseorang dapat menimbulkan keuntungan atau kerugian pada orang lain. Efek yang timbulkan inilah yang diistilahkan dengan eksternalitas. Ekternalitas adalah suatu situasi dimana activitas yang dilakukan oleh agen ekonomi (produsen dan konsumen) mempengaruhi utilitas atau kemungkinan produksi orang lain dimana hal tersebut tidak tercermin dalam pasar. Tidak ada mekanisme pasar yang mengatur hal tsb, seperti misalnya memberikan kompensasi kepada orang terkena dampak negatif dari perbuatan yang dilakukan oleh agen ekonomi tersebut. Kesempatan berproduksi atau konsumen aktor lain diubah tanpa fungsi regulasi dari mekanisme pasar (tanpa melalui pasar). Eksternalitas tidak dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh orang yang menyebabkan munculnya eksternalitas. Beberapa contoh eksternalitas negatif adalah tumbuhan pangan dirusak oleh ternak, merokok karena menimbulkan asap, emisi gas efek rumah kaca dari industri, polusi yang disebabkan oleh pabrik, kehilangan keanekaragaman hayati akibat penebangan kayu, penggunaan berlebihan dari air (air irigasi), dan penggunaan pestisida dalam kegiatan pertanian. Adapun contoh eksternalitas positif adalah pemilik lebah dan kebun buah-buahan, bentang alam yang indah dari kegiatan pertanian, gelandang yang memperoleh pakaian dari lembaga amal, dan vaksinasi terhadap penyakit menular. Faktor penyebab eksternalitas adalah keberadaan barang publik, smber daya milik bersama (common property), ktidaksempurnaan pasar, prilaku monopoli yang selalu berusaha memaksimumkan keuntungan berakibat berkurang surplus yang diperoleh konsumen/masyarakat karena harga menjadi mahal, dan kegagalan pemerintah dan membuat dan menegakkan regulasi yang telah dibuat. Kegagalan pemerintah banyak diakibatkan oleh tarikan kelompok kepentingan, seperti dalam kasus-kasus pencemaran yang semestinya didenda besar tapi ternyata tidak. Contoh, Buyat, Tempat Pembuangan Sampah Akhir di Bandung yang mengalami longsor, dan lain-lain. Solusi atas Masalah Eksternalitas: 1. Regulasi Pemerintah  Regulasi oleh pemerintah (command and control policy yang melarang suatu kegiatan yang menimbulkan eksternalitas negatif); Pemerintah menetapkan batas maksimum emisi yang diperbolehkan bagi suatu pabrik Pemerintah meminta agar perusahaan mengadopsi teknologi tertentu untuk mengurangi emisi (pengeluaran berupa panas, cahaya, bau, bunyi, asap, gas, zat cair dsb)

1

datang ke kantor BAPEDAL untuk mengajukan suatu usulan. mari kita andaikan BAPEDAL mengesampingkan saran para ekonom. dan menerapkan pendekatan formal. karena batas polusi 2 . misalnya seratus ton per tahun. 2. Kesepakatan antara kedua pabrik itu akan menguntungkan keduanya. 5. + Regulasi: Pemerintah memberi tahu semua pabrik agar mengurangi polusinya menjadi 300 tons + Pigovian tax: Pemerintah mengenakan pajak pada setiap pabrik sebesar Rp 100 juta atas setiap ton polusi yang dikeluarkan (diemisikan). jika pajak cukup tinggi. Pajak dan Subsidi (Pigovian Taxes and Subsidies) Arthur C Pigou (1877-1959) merumuskan solusi atas eksternalitas melalui mekanisme pajak dan subsidi. pabrik bisa tutup semuanya dan tingkat polusi mencapai titik nol. Berikut ini adalah ilustrasi mengenai adanya praktek jaul beli izin polusi: Izin Polusi yang dapat Diperjualbelikan Sekarang. Malah. pengelola pabrik kertas bersedia menurunkan polusinya sebanyak itu. Informasi mengenai hal ini sering sulit bagi regulator pemerintah untuk mendapatkannya. Pabrik baja perlu menaikkan ambang polusinya. pimpinan dua perusahaan.000. hanya sehari setelah peraturan itu diumumkan. dan perusahaan lain bisa jadi mengurangi polusi sedikit dan membayar pajak. Agar polusi total tidak bertambah. untuk menurunkan limbahnya hingga 300 ton per tahun..dan permintaan ini sudah disanggupi oleh pemilik pabrik baja. Namun. yang satu pabrik baja dan yang lain dari pabrik kertas. asalkan si pemilik pabrik baja memberikan kompensasi Rp. karena mereka secara sukarela menyetujuinya. BAPEDAL mengeluarkan peraturan yang mengharuskan setiap pabrik. Semakin tinggi pajak.- Untuk mendesain peraturan yang baik. Haruskan BAPEDAL mengizinkan kedua pabrik itu melakukan jual-beli hak berpolusi sendiri ? Dari sudut pandang efisiensi ekonomi pemberian izin bagi kedua pabrik tersebut akan menjadi kebijakan yang baik. regulator pemerintah perlu mengetahui secara detail mengenai kekhasan industri dan teknologi alternatif yang industri tersebut dapat mengadopsinya.000. semakin besar tingkat pengurangan polusi. Pengenaan pajak bagi penyebab eksternalitas negatif dan subsidi bagi penyebab eksternalitas positif. Implikasi dari kebijakan tersebut adalah izin polusi yang diberikan dapat diperjualbelikan. Pajak dapat mengurangi polusi lebih besar dibandingkan dengan regulasi. Di samping itu. Bisa jadi perusahaan mengurangi polusi sampai tingkat tertentu hanya untuk menghindari pajak. Pemerintah dapat meraih berapapun tingkat polusi yang diinginkan dengan menetapkan pajak pada tingkat yang tepat. kesepakatan itu tidak akan mengakibatkan dampak eksternal apa pun.

kesejahteraan total akan meningkat kalau BAPEDAL mengizinkan kedua pabrik itu melakukan jual-beli hak berpolusi. Logika yang melatarbelakangi kesimpulan tersebut mirip dengan logika mendasari teorema Coase. perusahaan harus membeli izin itu dari pemerintah. terlepas dari sebaik apapun alokasi awal tersebut. atas polusi yang ditimbulkannya itu. Jika kemudian BAPEDAL memang mengizinkan hal itu. maka alokasi akhirnya akan lebih efisien dibandingkan alokasi awalnya. Dalam kedua kasus ini. pasti akan aktif dipasar itu. Satu keuntungan dari berkembangnya pasar hak berpolusi ini adalah alokasi/pembagian awal izin berpolusi dikalangan perusahaan tidak akan menjadi masalah. sama-sama dapat menginternalisasikan eksternalitas. Logika yang sama berlaku untuk setiap transfer hak berpolusi secara sukarela. yakni biaya oportunitas berpolusi berupa pendapatan yang akan mereka peroleh seandainya mereka menjual izin polusi itu dalam sebuah pasar terbuka. Kemiripan antara kedua kebijakan itu dapat dilihat secara jelas di pasar polusi. Dengan demikian. Sebaliknya. dengan memaksa perusahaan menanggung ongkos tertentu untuk berpolusi. perusahaan pencipta polusi harus membayar pajak atau semacam denda kepada pemerintah. sesungguhnya dampak akhir dari kedua kebijakan ini akan sama saja. maka sesungguhnya BAPEDAL telah menciptakan sumberdaya langka yang baru. akan menjadi pembelinya. membeli hak berpolusi lebih murah dibanding melakukan investasi baru untuk menurunkan polusi pabrikpabrik mereka. pasti akan senang hati menjual haknya berpolusi karena hal itu akan memberinya pendapatan cuma-cuma. sedangkan perusahaan yang harus mengeluarkan biaya besar untuk menurunkan polusi. dari satu perusahaan ke perusahaan lain. jika ditinjau dari sudut pandang efisien ekonomi. Kedua panel yang terdapat pada gambar dibawah ini sama-sama menunjukkan kurva permintaan atas hak berpolusi. Perusahaan-perusahaan yang paling mampu menurunkan polusi akan menjual haknya berpolusi. Bahkan perusahaan-perusahaan yang sudah memiliki izin polusi tetap harus membayar dalam bentuk lain. perusahaan-perusahaan yang tidak dihadapkan pada kendala yang berat untuk menurunkan polusi. karena bagi mereka. Pasar yang memperdagangkan hak berpolusi ini selanjutnya pasti akan tumbuh dan berkembang. Meskipun penurunan polusi melalui pemberlakuan izin polusi nampak berbeda kasusnya dari penerapan pajak Pigovian. dan pada gilirannya. yakni hak berpolusi. Selama pasar hak berpolusi ini dibiarkan bekerja dengan bebas. Kurva 3 . Perusahaan-perusahaan yang dihadapkan pada biaya yang sangat tinggi untuk berpolusi. Jadi. Dalam kasus pajak Pigovian. sedangkan pada kasus izin polusi. pasar ini akan tunduk pada kekuatan-kekuatan penawaran dan permintaan. penerapan pajak Pigovian maupun izin polusi.total tidak dilanggar. perusahaan tetap harus membayar atas polusi yang ditimbulkannya.

Dalam kasus ini. Umpamakan saja BAPEDAL suatu ketika ingin membatasi limbah yang dibuang di sungai tidak lebih dari 600 ton. langsung menetapkan harga polusi dengan cara memberlakukan pajak Pigovian. atau dengan secara langsung membatasi kuantitas polusi melalui penerbitan izin polusi terbatas. Di sini. dalam rangka mengurangi polusi. Hasil lelang ini akan memberi pendapatan seperti halnya pajak Pigovian. pemecahan akan diperoleh dengan melelang izin polusi sebanyak 600 ton limbah. BAPEDAL dapat mencapai sembarang titik pada kurva itu. Sedangkan pada gambar (b) BAPEDAL secara langsung membatasi kuantitas polusi dengan cara menerbitkan sejumlah izin polusi terbatas. • Menetapkan Hak Kepemilikan (defining property rights) Hak kepemilikan dari pemilik apel dan pemilik lebah adalah jelas ada dan dapat dipindahkan. sebanyak izin polusi yang ada). Harga Produksi O P Kuantitas Polusi Pajak Pigovian Q Harga Produks i Penawaran Izin Produksi 0 Q Kuantitas Polusi P Gambar (a) Pajak Pigovian Gambar (b) Izin Polusi Dalam kedua kasus ini. karena biayanya relatif rendah. penjualan izin polusi bisa lebih baik dan itu pada penerapan pajak Pigovian. Namun dalam beberapa hal. Tetapi karena BAPEDAL tidak mengetahui kurva permintaan polusi. Dalam kasus ini. kurva penawaran hak berpolusi bersifat elastis sempuma karena perusahaanperusahaan dapat berpolusi sebanyak pajak yang mereka bayarkan. kurva penawaran hak berpolusi bersifat inelastis sempuma (Karena perusahaan-perusahaan langsung dijatah kuantitas polusinya. dengan menetapkan harga polusi melalui pajak Pigovian. kurva permintaan akan menentukan kuantitas polusi. maka ia tidak akan dapat memastikan berapa besar pajak yang harus diterapkan untuk mencapai target tersebut. apakah pabrik mempunya hak menggunakan udara semaunya atau apakah penduduk sekitarnya mempunyai hak atas udara yang bersih? 4 . Dalam kasus ini. terlepas dan posisi kurva permintaannya.permintaan ini memperlihatkan bahwa semakin rendah biaya atau harga polusi. akan semakin tinggi permintaan polusi artinya perusahaan-perusahaan akan lebih leluasa berpolusi. Disini. Dalam kasus pabrik yang membuat polusi. posisi kurva permintaan akan menentukan harga polusi. Selanjutnya pada gambar (a) diperlihatkan BAPEDAL.

modal) dialokasikan secara efisien. tidak ada alasan untuk percaya bahwa dalam usaha memenuhi interes pribadi individu akan mempromosikan penggunaan udara dalam perilaku yang paling bernilai. 3 (Okt 1960) Isi pokok dari artikelnya: 1. Oleh karena itu. maka pasar privat 5 . • Bargaining Approach of Coase (pendekatan tawar-menawar) Teorema Coase: Ronald Coase: The Problem of Social Cost dalam Journal of Law and Economics No. membangun pagar atau mengembalakan ternaknya. Adalah tidak mungkin membeli dan menjual hak atas penggunaan udara. penetapan kepemilikan adalah satu cara menghilang masalah yang ditimbulkan oleh ekternalitas. Karena ketidakadaan kepemilikan merupakan salah satu penyebab kegagalan pasar. • Dalam kedua kasus tersebut. Jika petani tanaman pangan tidak punya hak atas kompensasi. yang memperoleh hadiah Nobel dalam bidang ekonomi pada tahun 1991 atas karyanya dalam bidang itu. tenaga kerja. Membuktikan bahwa intervensi Negara seperti disarankan oleh Pigou bukan merupakan satu-satunya solusi yang diperlukan terhadap persoalan eksternalitas. Investigasi atas peran hak kepemilikan dalam mengatasi persoalan eksternalitas. Sebuah analisis ekonomi yang penting atas penetapan kepemilikan pertama kali diperkenalkan oleh Ronald H Coase. maka dia mempunyai hak atas kompensasi. 2. dia (petani) dapat menawarkan peternak kompensasi atas kehilangan yang ia (peternak) derita.tidak menjadi persoalan bagaimana hak kepemilikan di tetapkan – tawar-menawar akan mendatangkan solusi yang efisien. Apa yang disebut Teorema Coase menerangkan bahwa . Dengan kata lain. jika peternak mengurangi jumlah ternaknya. jika kedua pihak dapat bersepakat (saling menawar) tanpa ada biaya atas alokasi sumber daya. Dalam kasus ini. maka penetapan kepemilikan adalah salah satu cara mengoreksi kegagalan pasar. Efisien dalam pengertian bahwa sumber daya (tanah.Hak atas udara yang bersih tidak ditetapkan dan tidak dapat dipindahkan. Contoh: petani tanaman pangan dan peternak  Pandangan konvensional: peternak menyebabkan eksternalitas  Coase menunjukkan adanya situasi timbal balik “Menghindarkan bahaya pada B akan menimbulkan bahaya pada A. Pertanyaan nyata yang harus diputuskan adalah haruskah A dibiarkan membahayakan B atau haruskah B diijinkan membahayakan A?” • Jika petani tanaman pangan mempunyai hak kepemilikan atas sumber daya tanah dimana dia menanam tanaman. petani dan peternak dapat melakukan tawar-menawar atas hak kepemilikan mereka.

MC mengukur tambahan biaya yang diciptakan pada setiap tingkat output oleh adanya tambahan asap. • Fungsi produksi dan utilitas kedua belah pihak yang bernegosiasi diketahui oleh mereka. 6 . apakah pabrik mempunyai hak menggunakan udara semaunya ataukah penduduk sekitar yang lebih berhak atas udara. Jadi. penegakan kontrak (enforce contracts) dan monitoring. Kurva MB oleh karena itu turun dengan adanya penambahan output karena tingkat pengembalian dari setiap produksi tambahan umumnya menurun. Sebuah pabrik mengeluarkan asap disekitar pemukiman masyarakat. • Tidak ada biaya transaksi (bernegosiasi) yaitu semua biaya yang dikeluarkan untuk menghubungi. Kita berikan hak kepemilikan udara bersih kepada warga masyarakat disekitar pabrik. dimana semakin banyak produk yang dihasilkan menyebabkan makin banyak asap yang dikeluarkan. biaya untuk bernegosiasi. Marginal Cost (MC) menunjukkan eksternalitas yang disebabkan oleh produk dari perusahaan dan diberikan dalam dolar sepanjang sumbu vertikal. MC naik sejalan dengan naiknya output. biaya penyusunan. Asumsinya adalah jumlah asap yang diproduksi oleh perusahaan berhubungan langsung dengan tingkat produknya. kita dapat memprediksi apa yang akan terjadi dengan bantuan gambar di bawah. Marginal Benefit (MB) perusahaan dari memproduksi output ini diberikan dalam dolar pada sumbu vertikal. Untuk analisis ini. Teorema ini hanya berlaku jika sejumlah asumsi dipenuhi yaitu: • Pertanyaan mengenai distribusi tidak memainkan peran. • Pihak² yang bernegosiasi memaksimumkan keuntungannya (rational choice/maximum profit or benefit). Kurva Marginal Cost dan Marginal Benefit Dalam kasus pabrik yang membuat polusi. Output per unit waku adalah tetap ditunjukkan oleh sumbu horisontal. Asumsi bahwa tidak ada biaya dalam melakukan tawar-menawar. Sekarang kita terapkan analisa Coase. MB dapat dipandang sebagai keuntungan bersih dari setiap unit penambahan produk.akan selalu memecahkan persoalan ekternalitas dan alokasi sumber daya secara efisien.

dimana MB = MC. Jadi Q. Oleh karena itu. AEO. Kita teruskan analisis yang sama. Keuntungan perusahaan atas tambahan output lebih besar daripada tambahan biaya polusi yang ditanggung oleh masyarakat sendiri. ini berarti bahwa perusahaan mau membeli dan masyarakat mau menjual hak penggunaan udara untuk memproduksi output pada tingkat tersebut. Diluar Q. jumlah polusi 7 . MC > MB. MB > MC. dan benefit kepada perusahaan atas output ini hanya ECQ. masyarakat mau membuat itu berfaedah bagi perusahaan untuk mengurangi polusi pada titik dimana MB = MC pada Q. Sampai dengan Q unit output. kita telah melihat suatu yang sederhana tapi menghasilkan hal yang luar biasa. Diluar Q. Diluar Q. OEQ. tawar menawar dapat dilakukan antara perusahaan dan masyarakat untuk memproduksi Q dengan kesepakatan atas bagaimana membagi surplus MB. Tidak masalah siapa yang mempunyai hak secara legal atas penggunaan udara. Dari penjelasan tadi. Tawaran untuk memproduksi tingkat unit ini tidak akan dapat dicapai antara perusahaan dan masyarakat karena perusahaan tidak ingin menawar yang cukup untuk memperoleh hak untuk memproduksi output pada tingkat Q.The Coase Theorem MB & MC ($) A Marginal benefit berhubungan dg output Marginal cost akibat eksternalitas MC MB E B Output per waktu C O Q Sampai pada tingkat output Q. adalah hasil keseimbangan ketika masyarakat diberikan pengalihan hak untuk menggunakan udara. kita lihat bahwa MB > MC. asap menyebabkan EBCQ kerusakan kepada masyarakat. Karena biaya total eksternalitas disebabkan oleh output tersebut ditunjukkan oleh area di bawah kurva MC. tetapi sekarang kita lihat bahwa masyarakat harus membayar perusahaan untuk memproduksi output yang lebih kecil jumlahnya. situasi berubah: Perusahaan akan bersedia menerima tawaran uang untuk mengurangi outputnya. yang berarti bahwa masyarakat tidak dapat menawarkan sejumlah uang yang cukup untuk menyuruh perusahaan mengurangi outputnya dan asapnya.

Made memetik manfaat dengan memelihara Spot. kita perkirakan dahulu seperti apa pemecahan yang dalam hal ini secara sosial (untuk semua pihak). Made akan terima tawaran itu. Ini inti pokok dari apa yang ditawarkan oleh Teorema Coase. ataukah Wahyuni yang harus dipaksa rela begadang sepanjang malam. Ada dua alternatif yang perlu dipertimbangkan. simaklah contoh berikut: Di sebuah kota tinggal seseorang bernama Made. Menurut teorema Coase. berupa rasa aman dan nyaman. Menurut teorema Coase. Jika keuntungannya melebihi kerugiannya maka pemecahan yang efisien secara sosial adalah Made dibiarkan terus memelihara anjingnya. Made dan Wahyuni akhirnya akan dapat menyepakati jumlah imbalan yang dapat diterima kedua belah pihak. pasar swasta dapat menciptakan sendiri pemecahan yang efisien. B. Ketika perusahaan mempunyai hak untuk membuat polusi. Ketika perusahaan harus membayar untuk polusi. tetangga Made. Bagaimana caranya? Sebagai satu contoh. dan berapa kerugian yang harus ditanggung Wahyuni. Namun pemeliharaannya atas Spot itu menimbulkan eksternalitas negatif terhadap Wahyuni. Syarat itu adalah pihakpihak yang berkepentingan dapat melakukan negosiasi atau merundingkan langkah-langkah penanggulangan masalah ekternalitas yang ada diantara mereka. maka itu berarti mereka dapat menciptakan sendiri pemecahan atas masalah 8 . Melalui tawar menawar. sedangkan Wahyuni harus rela tidur diiringi gonggongan anjing. jika nilai kerugiannya melampaui nilai keuntungannya. dia memproduksi Q. dia memproduksi Q. jika uang yang ditawarkan melebihi nilai keuntungannya dalam memelihara Spot. ditemani anjingnya yang bernama Spot. Spot ini terus-terusan menggonggong sehingga sangat mengganggu Wahyuni. Sebaliknya. Wahyuni dapat menawarkan sejumlah uang kepada Made agar menyingkirkan anjingnya. Haruskah Made dipaksa mengirim anjing ke lokasi khusus penitipan hewan. tanpa menimbulkan biaya khusus yang memberatkan alokasi sumber daya yang sudah ada. karena tidak bisa tidur akibat gonggongan Spot? Pertama-tama. maka pihak swasta itu akan mampu mengatasi masalah eksternalitas dan meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya. penetapan hak secara legal tidak ada pengaruhnya. maka Made harus menyingkirkan anjingnya.adalah sama. dan untuk itu diperlukan perhitungan atas seberapa banyak nilai keuntungan bagi Made dengan memelihara Spot. hanya jika syarat itu terpenuhi. Untuk lebih memahami makna teorema Coase. MENGATASI DILEMMA BARANG PUBLIK (EKSTERNALITAS) Sejauh mana solusi swata tersebut mampu mengatasi masalah eksternalitas? Ada sebuah pemikiran yang disebut teorema Coase (Coase Theorem) mengambil nama perumusnya yakni ekonom Ronald Coase yang menyatakan bahwa solusi swasta bisa sangat efektif seandainya memenuhi satu syarat. dan seandainya kesepakatan tersebut benar-benar dapat dicapai. Di dunia dimana biaya tawar-menawar (transaksi) adalah nol.

50. Jadi. Namun dalam kedua kasus ini. Pada akhirnya. kita berasumsi bahwa Made dapat memelihara Spot dengan bebas.. 80. Artinya. Namun ada pula kemungkinan Wahyuni tidak membayar imbalan itu. maka keduanya akan dapat mencapai suatu kesepakatan yang memungkinkan Made terus memelihara Spot.000. Menurut teorema Coase. dan Wahyuni harus memberinya imbalan agar Made menyingkirkan anjingnya itu secara sukarela. Kedua belah pihak akan lebih sejahtera dibanding sebelumnya dan pemecahan efisien pun tercipta. terlepas dari distribusi hak pada awalnya.. Semua uraian dalam contoh di atas.000. karena distribusi awal itulah yang menentukan distribusi kesejahteraan ekonomi..sedangkan kerugian Wahyuni akibat gonggongan Spot hanya Rp.padahal Wahyuni tidak akan mau membayar lebih dari Rp. Ditinjau dari perhitungan untung ruginya.. Made dapat menawarkan sejumlah imbalan kepada Wahyuni agar ia dapat terus memelihara anjingnya.000. Misalkan saja. namun hasil akhirnya tidak akan berubah. tentu saja bertumpu pada asumsi bahwa Made secara hukum memang dibenarkan memelihara anjingnya yang berisik itu. soal distribusi hak itu bukannya sama sekali tidak relevan. yakni jika ternyata nilai keuntungan Made lebih besar dari pada nilai kerugiannya.eksternalits yang mereka hadapi. Jika Made yang memiliki hak awal untuk memelihara Spot.Dalam kasus ini.. nilai keuntungan bagi Made dari memelihara Spot adalah Rp. 60.sedangkan kerugian Wahyuni bernilai Rp. Umpamakan saja. sehingga Wahyuni tidak bisa mengganggu gugat.000. 80.000. Made dan Wahyuni tetap berpeluang mencapai kesepakatan. Akibatnya.000. karena tidak ada pengaruhnya terhadap kemampuan pasar dalam mencapai hasil yang efisien. Andaikata nilai keuntungan Made lebih besar daripada kerugian Wahyuni. Misalkan saja.dan Made dengan senang hati akan menyingkirkan anjingnya. nilai keuntungan Made dari memelihara Spot ternyata Rp. Wahyuni dapat menawarkan imbalan sebanyak Rp.-. 100. maka Wahyuni lah yang harus memberi imbalan dalam kesepakatan yang mereka buat. jika Wahyuni yang mempunyai hak awal untuk hidup tenang. Meskipun demikian. kondisi tersebut juga terhitung efisien. 100. kesepakatan tetap dapat dibuat dalam rangka mengatasi masalah eksternalitas.. 80. Wahyuni secara hukum dapat menggugat Made agar menyingkirkan anjingnya. Made akan tetap memelihara Spot. hukum berpihak pada Wahyuni.Jika ini kasusnya. Sebaliknya. distribusi awal hak atau perlindungan hukum itu tidak menjadi persoalan. Dalam kasus ini. Made hanya 9 . atau jika Wahyuni secara hukum berhak untuk menikmati ketenangan dan ketentraman di rumahnya sendiri. maka Made yang harus memberi imbalan.000. maka tentu saja Made akan menolak tawaran imbalan yang lebih kecil dari Rp. Dalam kasus ini. Lantas bagaimana jika ternyata hukum berpihak pada Wahyuni.

misalkan. Coba saudara pecahnya masalah tersebut berdasarkan Teorema Coase yang telah Anda pelajari. tinggal disebuah kompleks perumahan baru yang terdiri dari 10 keluarga. Jadi. Jika tidak dapat terangkut dalam beberapa hari. Terlepas dari distribusi hak pada awalnya. Berikan data-data hipotesis yang dapat mendukung argumentasi Anda. Latihan Kasus Anda. kejadian ini sering terjadi dan berulangulang. pihak-pihak yang berkepentingan selalu berpeluang mencapai kesepakatan yang menguntungkan semua pihak. Lokasi tempat tinggal Anda adalah dipinggir jalan besar dimana di depan rumah Anda terdapat kontainer sampah (kontainer kuning) milik Pemerintah Kota Mataram. Setiap hari tetangga Anda membuang sampah di kontainer tersebut. 10 . maka dari kontainer tersebut muncul bau menyengat dan mengganggu Anda dan keluarga karena letaknya sangat dekat dengan rumah Anda. Kenyamanan hidup Anda terganggu dan Anda ingin menghilangkan bencana tersebut.akan terus memelihara anjingnya jika nilai keuntungannya melebihi nilai kerugiannya. dapat mengatasi sendiri masalah eksternalitas yang muncul diantara mereka. dapat disimpulkan bahwa Teorema Coase menyatakan bahwa pelaku-pelaku ekonomi pribadi/swasta. dan merupakan pemecahan yang efisien.