P. 1
Khitan Dan Kesehatan

Khitan Dan Kesehatan

|Views: 32|Likes:
Published by rustamedia

More info:

Published by: rustamedia on Jul 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2012

pdf

text

original

Khitan dan kesehatan

Khitan mulai dilakukan pertama kali oleh nabi Ibrahim as. Sebelumnya belum ada seorangpun yang telah dikhitan, itupun saat itu beliau berumur 80 tahun. Khitan dilakukan dengan cara memotong kulup ( preputium ) pada kemaluan seorang pria. Sejak itu orang mengenal khitan dan dilakukan secara turun temurun. Pada umat nabi Muhammad saw. pun khitan diperintahkan. Khitan menjadi tanda ubudiyah kepada Allah swt. Zaman dahulu para budak diberitanda pada telinga atau badannya sebagai pertanda penghambaan diri mereka kepada majikannya. Jika budak tersebut lari dari majikannya, ia dikembalikan kepadanya berdasarkan pertanda tersebut. Barang siapa telah berkhitan dengan memotong kulupnya berarti ia telah menghambakan dirinya kepada Allah swt., berarti ia adalah hamba Allah swt. Apa bila tidak dikhitan, maka bagian penis pasti akan ada yang menjadi sarang kotoran, disitulah syetan tinggal untuk mengganggu manusia. Dari sisi kesehatan khitan mempunyai beberapa manfaat sebagai berikut : ˜ Mencegah infeksi. Adanya kulup membuat suhu di bawah kulup hangat dan menjadi lahar subur bagi kuman ataupun virus. Virus AIDS misalnya, di Afrika barat yang kaum laki-laki umumnya dikhitan, kejadian penyakit AIDS lebih rendah dibandingkan di Afrika Selatan yang umumnya laki-laki tidak dikhitan (laporan dari The Public Library Of Science Medicine). Untuk mencegah infeksi, para Gynaekolog di USA mengkhitan setiap bayi yang lahir di Rumah Sakit. Memang, hilangnya kulup akan memudahkan pembersihan kotoran yang melekat, baik berupa air seni, smegma maupun kotoran dari luar. Dengan demikian resiko infeksi pada orang yang dikhitan akan sangat berkurang ˜ Mengatasi keadaan femosis, yaitu perlengketan total atau subtotal antara kulup dengan kepala penis. Indikasi medis yang paling sering ditemui adalah kondisi ini. Kulup (preputium) sebenarnya terdiri dari dua lapis: bagian dalam dan bagian luar. Dengan dua lapis ini, maka preputium bisa ditarik ke depan dan belakang pada batang penis. Pada penis anak yang mengalami fimosis, kulup tidak bisa ditarik ke belakang untuk membuka seluruh bagian kepala penis. Lapis bagian dalam kulup melekat pada glans penis (kepala penis), sehingga ketika kulup ditarik, kepala penis tidak bisa terbuka seluruhnya. Kadang perlekatan itu begitu lebar

10% pada usia 4-5 tahun. 2 juta infeksi baru HIV bisa dicegah. Smegma ini sulit dibersihkan apabila tanpa dikhitan. hubungan seks usia dini (< 17 tahun).Kondisi femosis total bisa mengakibatkan rasa sakit bila terjadi ereksi. Kotoran berwarna putih yang diproduksi kelenjar di penis dengan bau khas yang disebut smegma. Sampai usia 1 tahun. Para ahli sepakat khitan terbukti efektif menekan penularan HIV. dan masih ada 1% yang bertahan hingga 16-17 tahun. Selama tidak terjadi hambatan berkemih atau tanda-tanda peradangan. Berturut-turut 30% pada usia 2 tahun. Jika dilakukan di seluruh dunia. Ada faktor resiko lain yaitu merokok. defisiensi zat gizi dan trauma kronis leher rahim seperti persalinan.sehingga hanya bagian lubang kencing (meatus urethra externus) yang terbuka. masih 50% yang belum bisa ditarik penuh. terutama pada laki-laki Kabar baik bagi pria-pria yang telah dikhitan.Perlu diketahui. 5% pada usia 10 tahun. Fimosis bisa terjadi secara bawaan sejak lahir. Penyebab yang sering adalah infeksi pada daerah kepala penis dan kulup (balanitis) yang meninggalkan jaringan parut. . Selanjutnya kulup melekat ke kepala penis pada jaringan parut tersebut. bisa juga terjadi kemudian. Harapannya. secara perlahan perlekatan akan menghilang sesuai usia. bersifat karsinogen artinya bisa memicu timbulnya kanker baik pada penis maupun leher rahim pasangan. berganti-ganti pasangan seks. masih bisa diobservasi. Dari kelompok terakhir ini. ˜ Menjamin kepuasan dalam hubungan seksual. Tidak khitannya suami bukanlah satu-satunya faktor resiko kanker leher rahim. Selanjutnya secara perlahan terjadi pelepasan sel-sel bagian luar sehingga perlekatan itu berkurang. ada sebagian kecil yang bertahan secara persisten ( menetap ) sampai dewasa bila tidak ditangani. infeksi dan iritasi menahun. Demikian juga sudut ereksi sulit tegak mencapai 90 derajat ˜ Mencegah kanker. Adanya pembatas antara kepala penis dengan mukosa vagina berupa kulup sangat mempengaruhi kepuasan. saat lahir hanya 4% bayi yang preputiumnya sudah bisa ditarik mundur sepenuhnya sehingga kepala penis terlihat utuh.

Kesimpulan tersebut didapat setelah 3 penelitian yang diadakan di Afrika. Jika khitan ini dilakukan di seluruh dunia." kata Bailey. maka bisa mencegah 2 juta infeksi baru HIV dan 3 ratus ribu kematian di sub-Sahara Afrika selama 10 tahun." jelas peneliti dari Universitas Illinois. agama. akan lebih berbahaya untuk jangka panjang."Dua penelitian terakhir malah berhenti lebih awal. . karena menunjukkan keefektifan yang tinggi tentang khitan dibanding kelompok kontrol yang menolak dikhitan. dan kepercayaan tertentu. karena semakin banyak yang akan terinfeksi HIV. Amerika Serikat. Semua penelitian membuktikan keefektifan khitan untuk mencegah penularan HIV. Khitan telah identik dengan budaya. Richard Bailey. Australia. Bailey dalam konferensi itu juga mengajak pemimpin negara berkembang untuk mempromosikan khitan kepada warga laki-lakinya. karena khitan bukan hanya praktik medis sederhana. "Untuk itu tidak mudah bagi menteri kesehatan atau politisi untuk menyebarkan perlunya khitan di negara yang tidak punya tradisi itu. Namun dia menyadari bahwa itu tidak mudah. Khitan bisa menurunkan resiko penularan HIV hingga 60 %. dalam Konferensi Masyarakat AIDS Internasional di Sydney. Namun jika promosi pentingnya khitan ini tidak dimulai dari sekarang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->