P. 1
Perspektif Gender Dalam Dialektika Pendidikan

Perspektif Gender Dalam Dialektika Pendidikan

|Views: 626|Likes:
Published by Chika Pratiwi

More info:

Published by: Chika Pratiwi on Jul 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/09/2013

pdf

text

original

Perspektif Gender dalam Dialektika pendidikan

Posisi gender menjadi sorotan dari berbagai kalangan akademi maupun masyarakat dalam berbagai persepsi dan respon yang berbeda. Ketika mendengar nama gender munculnya persepsi salah kaprah yang langsung tertuju pada tuntutan hak-hak atas nama perempuan, Perempuan Indonesia memiliki kedudukan sangat penting sepanjang perjalanan sejarah. Kiprah perempuan di atas panggung sejarah tidak diragukan lagi. Lihat hasil perjuangan Kartini, gagasan dia tentang emansipasi senantiasa menjadi spirit kaum perempuan Indonesia untuk meningkatkan derajat kehidupan, subkultur libralisme, absolutisme budaya, dan secara normatif banyak menabrak dasardasar nilai dan norma agama. Padahal nama gender tidak berarti membicarakan hal yang menyangkut perempuan saja. Gender dimaksudkan sebagai pembagian sifat, peran, kedudukan, dan tugas laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan norma, adat kebiasaan, dan kepercayaan masyarakat. Dilihat dari ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Gender merupakan kajian tentang tingkah laku perempuan dan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Gender berbeda dari seks atau jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang bersifat biologis. Ini disebabkan yang dianggap maskulin dalam satu kebudayaan bisa dianggap sebagai feminim dalam budaya lain. Dengan kata lain, ciri maskulin atau feminim itu tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata-mata pada perbedaan jenis kelamin. Fungsi dan tujuan gender yaitu menghendaki agar laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan dan peran yang sama dalam prosees pembangunan atau wewenang yang seimbang atas dumber daya pembangunan. Maka dari itu, buku ini dihadirkan untuk menguak ragam bentuk kesalah pahaman dan melengkapi pemahaman gender yang lebih luas. Terutama hal ini perlu dihadirkan dalam berbagai pendidikan tentang pembentukan kesadaran gender. Berbicara tentang pendidikan menjadi sangat urgen, apalagi isu tentang gender memiliki keterkaitan dengan proses pendidikan dan lembaga pendidikan dengan mengacu pada tiga alasan mendasar. Pertama, lembaga pendidikan merupakan wadah yang mampu menampung dan mewadahi ekspresi laki-laki dan perempuan serta mengaktualisasaikan dan mendefinnisikan identitas dirinya. Kedua, lembaga pendidikan merupakan instusi dinamis yang menyiapkan, memproduksi dan mengembangkan potensi sumber daya manusia. Ketiga, lembaga pendidikan memproduksi ideologi atau doktrin tertentu, baik melalui kebijakan atau melalui inkulturasi atmosfer.(hal 35) Pendidikan sebagai salah satu sektor pambangunnan turut menerapkan pengarusutamaan gender di tingkat nasional maupun daerah. Kemudian yang paling mudah dilakukan oleh pusat studi gender untuk menjawab isu dari berbagai kalangan tentang persoalan gender yang menjadi kesadaran personal dan belum menjadi kesadaran kolektif yaitu dengan memasuki ranah-ranah pendidikan dan ilmu pengetahuan sebagai wadah untuk membantu terlaksanakannya upaya sosialisasi pengarusutamaan gender. Kemudian yang

dan negara. Bila tidak memiliki pemahaman yang sifatnya inklusif. Terutama mata kuliah sosial dan keagamaan yang dapat diintegrasikan oleh berbagai aspek gender misalnya dalam mata kuliah pendidikan kewarganegaraan. bimbingan dan konseling. demokratisasi. ekonomi pembnagunan.php?id=47097Isu multikulturalisme dan pluralisme sejak era kemerdekaan hingga sekarang masih menjadi seperangkat wacana. Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). karena Indonesia tidak akan mengalami kemajuan sebelum merajut kebersamaan.koran-jakarta. terbukti dengan lahirnya konflik yang berkepanjangan. Laskar Jihad. isu pluralisme harus lebih giat digerakkan guna meruntuhkan pemahaman yang sifatnya eksklusif. Padahal. Masalahnya terdapat gerakan radikal yang tampil ke publik dengan menbawa landasan ideologis masing-masing. Rumitnya multikulturalisme direalisasikan di Indonesia sekiranya terdapat empat tantangan. . Gerakan radikalisme muncul merupakan potret tentang merebaknya aliran keagamaan di tengah euforia keterbukaan. konflik niscaya membeludak di mana-mana. Penulis menberikan tawaran penting mengingat rapuhnya sikap pluralisme di negara kita. melainkan banyak golongan. Untuk itu. negara kita tidak terdiri dari satu golongan. etnosentrisme. tantangan multikulturalisme yang menyelimuti negara kita amat berat.com/beritadetail. yaitu radikalisme. psikologi perkembangan. seperti konflik di Poso dan Ambon yang berdimensi agama. Oleh karenanya. Melalui buku Tantangan Multikulturalisme Indonesia karya Prof Dr Nur Syam mencoba memotret perkembangan multikulturalisme di Indonesia. ke depan. ilmu sosial dasar.paling mudah dapat dilaksanaknnya dengan baik mengintegrasikan gender kedalam mata kuliah dalam perguruan tinggi. Beragam konflik muncul akibat kurangnya kesadaran pluralisme. Memotret Multikulturalisme Indonesia http://www. Sementara aplikasinya belum terwujud. boitique multiculturalism. Gerakan Salafi . Tantangan tersebut menjadi cikal bakal matinya multikulturalisme. seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Sementara pembacaannya terhadap sosial sangat minim. dan hak asasi manusia. menjaga kerukunan antara warga amat penting guna menjaga stabilitas nasional. hukum dan HAM dan sebagainya. Berdasarkan pengamatan penulis.

kesempatan kerja dan berusaha. sementara golongan lain senantiasa diklaim salah. dua organisasi keagamaan tersebut yang paling besar. yaitu politik dan demokrasi. Akibatnya. Dalam negara kita. Konsep multikulturalisme tidaklah dapat disamakan dengan konsep keanekaragaman secara suku bangsa atau kebudayaan suku bangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk karena multikulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan. Ulasan mengenai multikulturalisme mau tidak mau juga mengulas berbagai permasalahan yang mendukung ideologi ini. sekalipun belum dikategorikan sebagai pertarungan konflik. seperti NU dan Muhammadiah. chaos akan terjadi secara berkepanjangan. Manifestasi Multikulturalisme di Indonesia Walaupun multikulturalisme itu telah digunakan oleh pendiri bangsa Indonesia untuk mendesain kebudayaan bangsa Indonesia. Salah satu isu yang cukup penting untuk diperhatikan di dalam kajian-kajian mengenai manajemen pengelolaan sumber-sumber daya adalah corak dari kebudayaan manajemen yang ada setempat.Gerakan Ahlu Sunnah wal Jama’ah. dalam pengelolaaan manajemen yang dikaji. prinsip-prinsip etika dan moral. Peresensi adalah Imam Musthafa: peneliti pada lembaga The Indonesian View Yogyakarta. Fenomena kedua aliran tersebut. keadilan dan penegakan hukum. . sehingga akan memberikan spirit baru untuk meneruskan pemikiran Cak Nur dan Gus Dur. dan tingkat serta mutu produktivitas. Di sisi lain terdapat gerakan lokalitas Islam yang berwawasan moderat. Tentunya lahirnya aliran radikalisme akan menjadi problem baru bila tidak saling bersikap terbuka dan toleran. HAM. atau pada corak kebudayaan korporasi bila perhatian kajian terletak pada kegiatan pengelolaan manajemen sumber daya dalam sebuah korporasi. dan berbagai gerakan keagamaan bercorak lokalitas lainnya. sekurangkurangnya sudah ada gambaran bahwa ada pertarungan “ideologis” yang terselubung. hak budaya komuniti dan golongan minoritas. golongan radikalisme akan mengklaim golongannya yang paling benar. Tidak heran bila muncul ke permukaan sering muncul klaim kebenaran. kita akan memperoleh pengetahuan penting tentang Indonesia masa kini. Membaca buku ini. Perhatian pada pengelolaan manajemen ini akan dapat menyingkap dan mengungkapkan seperti apa corak nilai-nilai budaya dan operasionalisasi nilai-nilai budaya tersebut atau etos. Pastinya.

Hal-hal yang harus kita lakukan adalah: pertama. Bila pengguliran proses-proses reformasi yang terpusat pada terbentuknya masyarakat multikultural Indonesia itu berhasil. Artinya upaya membuat seseorang dari kawasan Barat Indonesia dapat menghargai. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah menumbuhkan integrasi nasional melalui revitalisasi gagasan (mutualisme. Multikulturalisme sebaiknya termasuk dalam kurikulum sekolah. meningkatkan pemahaman tentang multikulturalisme Indonesia. Isi dari struktur-struktur atau pranata-pranata sosial tersebut mencakup reformasi dan pembenahan dalam kebudayaan-kebudayaan yang ada. etika. tergolong sebagai bangsa yang paling miskin di dunia dan tergolong ke dalam bangsa-bangsa yang tingkat korupsinya paling tinggi. yaitu mengaktifkan model multikulturalisme untuk meninggalkan masyarakat majemuk dan secara bertahap memasuki masyarakat multikultural Indonesia. keadilan dan persatuan) dalam ruang lingkup pergaulan sesama anak bangsa. Pedoman etika ini akan membantu upaya-upaya pemberantasan KKN secara hukum. khususnya dari suku-suku bangsa. namun hal tersebut tetap dapat dilakukan. sebaiknya sistem pendidikan nasional juga mengadopsi pendidikan multikulturalisme untuk diberlakukan dalam pendidikan sekolah. bangsa Indonesia. musyawarah dan mufakat. Upaya ini dapat dimulai dengan pembuatan pedoman etika dan pembakuannya sebagai acuan bertindak sesuai dengan adab dan moral dalam berbagai interaksi yang terserap dalam hak dan kewajiban dari pelakunya dalam berbagai struktur kegiatan dan manajemen pemerintahan. yang melandasi corak struktur masyarakat Indonesia pada tingkat lokal dan nasional. dari tingkat SD sampai dengan tingkat SLTA. maka tahap selanjutnya adalah mengisi struktur-struktur atau pranata-pranata dan organisasi-organisasi sosial yang tercakup dalam masyarakat Indonesia. menikmati dan . Cita-cita reformasi harus terus digulirkan. damai. Pedoman etika yang menjamin proses-proses manajemen tersebut akan menjamin mutu yang dihasilkannya. Memang tidak mudah bagi bangsa yang pluralistik dan multikultural untuk menjaga integrasi nasional. kesetaraan) dan nilai-nilai agama (kasih sayang. Dalam upaya ini harus dipikirkan adanya ruang-ruang fisik dan budaya bagi keanekaragaman kebudayaan yang ada setempat atau pada tingkat lokal maupun pada tingkat nasional dan berbagai corak dinamikanya. Alat penggulir bagi proses-proses reformasi sebaiknya secara model dapat dioperasionalkan dan dimonitor. lembaga. Salah satu sebab utamanya adalah karena kita tidak mempunyai pedoman etika dalam mengelola sumber-sumber daya yang kita punyai. serta pembenahan dalam hukum dan penegakan hukum bagi keadilan. sehingga mendorong terbentuknya shared property dan shared entitlement. dalam nilai-nilai budaya dan etos. Sebagai model. dan pelaksanaannya dapat dilakukan sebagai pelajaran ekstra-kurikuler atau menjadi bagian dari kurikulum sekolah. Akan tetapi pada masa sekarang ini. Bangsa Indonesia kaya raya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berkualitas. Bersamaan dengan upaya-upaya tersebut di atas. atau pranata yang ada dalam masyarakat. Perlu dilakukan penumbuhan rasa saling memiliki aset-aset nasional yang berasal dari nilai-nilai adiluhung bangsa Indonesia. maka masyarakat multikultural Indonesia adalah sebuah masyarakat yang berdasarkan pada ideologi multikulturalisme atau Bhinneka Tunggal Ika yang multikultural.Permasalahan etika menjadi sangat penting dalam pengelolaan manajemen sumber daya yang dilakukan oleh berbagai organisasi.

Dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia. khususnya strategi dan kebijakan budaya. khususnya dalam proses pengambilan keputusan politik.merasakan sebagai milik sendiri berbagai unsur kebudayaan yang terdapat di kawasan Timur Indonesia. kemasyarakatan dan kepribadian. 2008) Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia dalam Multikulturalisme Untuk membangun bangsa ke depan diperlukan upaya untuk menjalankan asas gerakan multikulturalisme menjadi sebuah ideologi yang dianggap mampu menyelesaikan berbagai masalah. Dengan demikian akan terwujud pembangunan ekonomi dan sekaligus interdependensi sosial. (Hidayat Nur Wahid. dan demikian pula sebaliknya. setiap program pembangunan hendaknya mengemban misi menciptakan dan menyeimbangkan mutualisme sebagai wujud doktrin kebersamaan dalam asas kekeluargaan (mutualism and brotherhood) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. antar anggota masyarakat. maka akan memperluas cakrawala pemahaman akan makna multikulturalisme c) Setiap kebudayaan secara internal adalah majemuk sehingga dialog berkelanjutan sangat diperlukan sebagai modal terciptanya semangat persatuan dan kesatuan. Jika tindakan komunikatif terlaksana dalam . sebagai berikut: a) Manusia tumbuh dan besar pada hubungan sosial di dalam sebuah tatanan tertentu. paradigma hubungan dialogal atau pemahaman timbal balik sangat dibutuhkan. Dengan mempelajari kebudayaan lain. Untuk memperkokoh kohesi nasional. perencanaan akan menjadi tujuan strategis karena perencanaan mendesain masa depan. yaitu kompetensi kebudayaan. untuk mengatasi ekses-ekses negatif dari suatu problem disintegrasi bangsa. yang sekaligus merupakan ketahanan budaya. dimana sistem nilai di terapkan dalam berbagai simbol-simbol budaya dan ungkapan-ungkapan bangsa. Pola interdependensi. kerjasama di bidang pembangunan ekonomi. Dengan demikian strategi dan kebijakan pembangunan. Dalam asas kebersamaan berdasarkan asas kekeluargaan (mutualism and brotherhood atau ukhuwah) yang sekaligus dapat menumbuhkan modal sosial. harus dirancang oleh lembaga perencanaan di tingkat nasional dan tingkat daerah sebagai bagian dari integritas bangsa. dengan dirancangnya upaya membentuk dan mengembangkan mutualisme untuk memperkokoh integrasi dan kohesi nasional. keputusan yang menyangkut persoalan kehidupan bersama sebagai bangsa dan negara. b) Keanekaragaman budaya menunjukkan adanya visi dan sistem dari masing-masing kebudayaan sehingga budaya satu memerlukan budaya lain. Paradigma hubungan timbal balik dalam masyarakat multikultural mensyaratkan tiga kompetensi normatif. Semangat kebersamaan dalam perbedaan sebagaimana terpatri dalam wacana Bhineka Tunggal Ika perlu menjadi ruh atau spirit penggerak setiap tindakan komunikatif. Kedua. harus bertolak dan berorientasi pada upaya memperkokoh persatuan Indonesia melalui upaya menumbuhkan mutualisme antar komponen bangsa dan di tingkat grass-roots.

bagaimana agar seluruh komponen bangsa dapat kembali pada komitmen bersama yang mendasari lahirnya Republik Indonesia. Membangun landasan konstitusional yang mampu menjamin keberlangsungan demokrasi.sebuah komunitas masyarakat multikultural. b) Integrasi sosial yang menjamin bahwa koordinasi tindakan politis tetap terpelihara melalui sarana-sarana hubungan antar pribadi dan antar komponen politik yang diatur secara resmi (legitimate) tanpa menghilangkan identitas masing-masing unsur kebudayaan. hubungan diagonal ini akan menghasilkan beberapa hal penting. etnik. mengkonsolidasikan demokrasi. Dengan kebijakan ini pula kita dapat membangun masa depan bangsa melalui penerapan “Persatuan Indonesia” serta mengembangkan semangat nasionalisme sebagaimana diharapkan. Penerimaan terhadap landasan dasar negara ini akan menghindarkan bangsa Indonesia dari konflik ideologi yang tidak berkesudahan. yaitu: 1. yang kesemuanya itu akan menjadikan Indonesia menjadi sebuah bangsa yang mampu mengakomodasi kemajemukan itu menjadi suatu yang tangguh sehingga ancaman disintegrasi dan perpecahan bangsa dapat dihindari. Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 perlu dihayati dan diamalkan kembali dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus dijadikan landasan tetap kehidupan berbangsa dan bernegara. karena justru dengan kebijakan inilah kita dapat memaknai Bhinneka Tunggal Ika secara baik. yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi dan globalisasi dengan segala akibatnya. Untuk jangka waktu menengah dan panjang. tetap ada kelangsungan tradisi dan koherensi pengetahuan yang memadai untuk kebutuhan konsesus praktis dalam praktek kehidupan sehari-hari. Untuk itu perlu dibentuk suatu Komisi Negara. Kedua. sesuai dengan keadaan nasional maupun global. untuk menyusun konsep penyempurnaan UUD 45 yang lebih komprehensif. ada lima agenda yang perlu dilakukan untuk membangun bangsa Indonesia ke depan. beranekaragam budaya. Kita perlu memperbarui makna dan pemahaman pada Pancasila yang sesuai dengan cita-cita di awal kemerdekaan dan cita-cita reformasi. satu tanah air dan satu bahasa” dan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ bermakna bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kokoh. Dengan demikian kita melihat semboyan “Satu bangsa. Pertama. Kita juga perlu memperbaharui cita-cita para “pendiri bangsa”. seimbang dan proporsional. yang terdiri dari sejumlah ahli. misalnya: a) Reproduksi kultural yang menjamin bahwa dalam konsepsi politik yang baru. c) Sosialisasi yang menjamin bahwa konsepsi politik yang disepakati harus mampu memberi ruang tindak bagi generasi mendatang dan penyelarasan konteks kehidupan individu dan kehidupan kolektif tetap terjaga. suku. Dengan memperhatikan pokok-pokok tentang multikulturalisme dan dihubungkan dengan kondisi negara Indonesia saat ini. Ada lima langkah yang harus ditempuh bangsa Indonesia dalam rangka konsolidasi demokrasi. yang mampu mengantar bangsa Indonesia memasuki abad pertama milenium ketiga. ras dan agama. kiranya menjadi jelas bahwa multikulturalisme perlu dikembangkan di Indonesia. . Kita perlu menghidupkan kembali dalam arti yang sedalam-dalamnya semangat Sumpah Pemuda. Untuk ini diperlukan UUD yang telah mengalami pembaruan dalam bentuk amandemen.

dan menghindari politisasi agama. masing-masing dengan keunggulan budayanya maupun hambatan budayanya. dengan melihat setiap suku bangsa sebagai kesatuan budaya dan kearifan lokal yang dimilikinya. Menaati proses dan mekanisme demokrasi. Kepada anak-anak bangsa. dalam kesatuan bangsa di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini diwujudkan. Kembalinya momentum pembangunan diupayakan dapat mencapai pertumbuhan minimum yang mampu menampung dan menyiapkan lapangan kerja bagi generasi penerus yang semakin meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. keragaman agama dan kepercayaan tradisional.2. berserikat. Penghormatan terhadap HAM. Politik luar negeri dikembangkan dan dilaksanakan secara terencana dan sistematis. Di samping itu. dan lain-lain. menabukan penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan dalam menyelesaikan konflik. antara lain dalam hal: saling menghargai perbedaan pendapat. Ciri pluralistik. seperti: berlakunya Trias Politika dalam kehidupan politik. Kita mengetahui bahwa Indonesia merupakan bangsa yang pluralistik dan multikultural. bahasa. berkembangnya Masyarakat Madani. Kelima. tradisi. terutama dalam mewujudkan kehidupan demokrasi dan penghormatan pada hak-hak asasi manusia sebagai wahana tercapainya masyarakat madani. Keunggulan diangkat untuk didayagunakan sebaik-baiknya dalam pembangunan nasional. Menjamin keadilan dalam pembagian kekayaan antara pusat dan daerah serta antara daerah yang kaya dengan yang miskin. termasuk mempersiapkan berbagai peraturan perundangan dan infrastruktur yang memadai. antara lain dengan: 1. Keempat. sejak usia dini harus ditanamkan keyakinan bahwa penduduk negara kita yang multikultural merupakan suatu mozaik yang membentuk suatu gambar indah. dan berlangsungnya Supremasi Hukum. dalam mewujudkan tata kehidupan global baru yang adil dan damai. Ketiga. 2. . sedangkan hambatan budaya diatasi melalui pendekatan kultural yang seksama. yang dilaksanakan dengan merujuk pada UUD 45 yang telah disempurnakan serta sejalan dengan aspirasi rakyat yang tertuang dalam berbagai Ketetapan MPR. Hal penting lainnya dalam rangka membangun masa depan kehidupan berbangsa adalah melalui kebijakan strategi kebudayaan nasional. menyelesaikan konflik melalui dialog dan cara-cara damai. perlu dipertegas berbagai hal yang berkaitan dengan tugas-tugas pokok Polri dan TNI dalam sistem pertahanan dan keamanan. Membangun serta memperkuat institusi-institusi demokrasi. dengan keanekaragaman suku-suku bangsa dengan adat istiadatnya masing-masing. perbaikan citra dilakukan dengan penanganan yang serius terhadap berbagai permasalahan di dalam negeri. 3. Melaksanakan otonomi daerah secara bertahap tapi bersungguh-sungguh. memperbaiki citra RI di dunia internasional. mengembalikan momentum pembangunan nasional. membangun hubungan yang setara dan adil antara pusat dan daerah. Dengan cara mengembalikan peran Indonesia dalam kancah kehidupan regional maupun internasional. Di samping itu. Ciri multikultural. antara lain dalam bentuk: menjamin civil and political rights yang merupakan dasar demokrasi dan menjamin kebebasan menyatakan pendapat. 4. untuk mencapai sasaransasaran yang jelas.

Strategi kebudayaan nasional Indonesia juga harus diisi dengan nilai-nilai yang mendorong kemajuan bangsa. baik masyarakat awam. Berbagai kebudayaan itu jalan beriringan. kerjasama dengan dunia internasional dilandasi oleh prinsip kesetaraan dan kemitraan. Ciri bangsa Indonesia yang pluralistik dan multikultural menyebabkan strategi kebudayaan nasional harus diisi dengan nilai-nilai yang tepat. yang bukan hanya cerdas otaknya tetapi lebih penting lagi mempunyai kehidupan yang berharkat dan bermartabat tinggi. Dalam konteks ini nasionalisme merupakan landasan utama membangun negara. Hal ini juga berarti bahwa masyarakat multikultural harus memperoleh kesempatan yang baik untuk menjaga dan mengembangkan kearifan budaya lokal mereka ke arah kualitas dan pendayagunaan yang lebih baik. bukan ketergantungan. sehingga mampu mendesain sendiri arah dan tujuan membangun bangsa dan negara. dalam membangun masa depan bangsa dipandang perlu untuk memberi tempat bagi berkembangnya kebudayaan suku bangsa dan kebudayaan agama yang ada di Indonesia. diantaranya prinsip mutualisme. dewasa ini sering tidak menyadari bahwa nilainilai dan norma-norma yang menjadi pedoman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai bangsa Indonesia telah ditetapkan oleh para pendiri bangsa Indonesia secara serius sejak sebelum kemerdekaan dan tertuang pada Dasar Negara Pancasila dan UUD 1945. Dengan mempertahankan nasionalisme yang diperoleh melalui perjuangan kemerdekaan yang berat dan tangguh. birokrat maupun intelektual sekalipun. Dengan kata lain. tidak rendah diri. tanpa ketergantungan terhadap pihak asing. (Hidayat Nur Wahid. menjadi tuan di negeri sendiri.Strategi kebudayaan nasional pada dasarnya merupakan strategi untuk membangun suatu pedoman bagi kehidupan bersama dalam kehidupan bermasyarakat. bahkan mampu untuk saling menyesuaikan dalam kehidupan sehari-hari. yakni kebersamaan dan kerjasama yang memberi manfaat kepada semua pihak yang bekerjasama. misi utamanya adalah . Unsur-unsur budaya lokal yang bermanfaat bagi diri sendiri bahkan perlu dikembangkan lebih lanjut agar dapat menjadi bagian dari kebudayaan bangsa. Banyak pihak. Dalam kehidupan sehari-hari. bukan yang hanya searah dan menguntungkan satu pihak saja. mewarnai perilaku dan kegiatan masyarakat. memperkaya unsur-unsur kebudayaan nasional. 2008) KESIMPULAN Sebagai bangsa yang pluralistik. bersama-sama dengan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara. Inilah yang harus ditanamkan pada bangsa Indonesia dalam pendidikan mengenai karakter dan pekerti bangsa. kebudayaan suku bangsa dan kebudayaan agama. dimulai dengan membangun manusia yang cerdas hidupnya. tidak berdiri sendiri-sendiri. berbangsa dan bernegara. Intinya adalah menekankan pada pentingnya memberikan kesempatan bagi berkembangnya masyarakat multikultural yang masing-masing harus diakui haknya untuk mengembangkan dirinya melalui kebudayaan mereka. baik negara atau kekuatan asing. Dalam konteks itu pula maka ribuan suku bangsa sebagai masyarakat yang multikultural yang terdapat di Indonesia serta potensi-potensi budaya yang dimilikinya harus dilihat sebagai aset negara yang dapat didayagunakan bagi pembangunan bangsa ke depan. Meskipun demikian. saling melengkapi dan saling mengisi.

dan berbagai kasus yang menyulut kepada konflik yang lebih besar dan berbahaya. Perkembangan terakhir menunjukkan pada kita. serta dilihat oleh masyarakat lainnya yang sama-sama merupakan warga negara Indonesia. Apakah fenomena konflik sosial ini merupakan peristiwa yang bersifat insidental dengan motif tertentu dan kepentingan sesaat. Karena masyarakat tidak selamanya bebas konflik. Kasus Ambon. berarti juga membangun bangsa dan tanah air tanpa merasakannya sebagai beban. Menyangkut penghayatan kita terhadap agama sebagai kumpulan doktrin di satu pihak dan sikap keagamaan yang mewujud dalam prilaku kebudayaan di pihak lain. Hanya saja. Terutama konflik sosial yang bersifat horisontal. Sumber: technurlogy@world. menjadikannya suatu sinergi nasional. ataukah justru merupakn budaya dalam masyarakat yang bersifat laten. Dalam hal yang pertama. GAM di Aceh. walaupun masyarakat multikultural harus dihargai potensi dan haknya untuk mengembangkan diri sebagai pendukung kebudayaannya di atas tanah kelahiran leluhurnya. sejumlah konflik sosial dalam masyarakat telah berubah menjadi destruktif bahkan cenderung anarkhis. Maluku. mereka juga harus tetap diberi ruang dan kesempatan untuk mampu melihat dirinya. namun karena ikatan kebersamaan dan saling bekerjasama. Banyak hal yang patut direnungkan dan dicermati dengan fenomena konflik sosial tersebut. namun pada saat yang sama.htm by mohenjo-daro dan harappa bimbingan konseling Ketika Multikulturalisme Menjadi Sebuah Masalah Akhir-akhir ini.mentransformasikan kenyataan multikultural sebagai aset dan sumber kekuatan bangsa. intensitas dan ekstensitas konflik sosial di tengah-tengah masyarakat terasa kian meningkat. Oleh karena itu. yakni konflik yang berkembang di antara anggota masyarakat. yaitu terpolarisasinya status dan kelas sosial berdasar kekayaan dan jabatan atau pekerjaan yang diraihnya. perkembangan ekonomi pasar membuat beberapa kelompok masyarakat . memperkukuh gerak konvergensi. membangun tanah leluhurnya. Kemajemukan masyarakat lokal seperti itu bukan saja bersifat horisontal (perbedaan etnik. tetapi juga sering berkecenderungan vertikal. membangun dirinya. keanekaragaman. Dengan demikian. persoalannya menjadi lain jika konflik sosial yang berkembang dalam masyarakat tidak lagi menjadi sesuatu yang positif. Konflik sosial berbau SARA (agama) ini tidak dianggap remeh dan harus segera diatasi secara memadai dan proporsional agar tidak menciptakan disintergrasi nasional. Konflik sosial dalam masyarakat merupakan proses interaksi yang alamiyah. Poso. dan tanah leluhurnya termasuk sebagai bagian dari tanah air Indonesia. yakni antara masyarakat dan negara. sebagai bagian dari bangsa Indonesia. agama dan sebagainya). tetapi berubah menjadi destruktif bahkan anarkis. meskipun tidak menutup kemungkinan timbulnya konflik berdimensi vertikal. Realitas empiris ini juga menunjukkan kepada kita bahwa masih ada problem yang mendasar yang belum terselesaikan.

sehingga budaya satu memrlukan budaya lain. Dengan mempelajari kebudayaanlain. yaitu berada di pinggiran. Kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang memungkinkan seorang subjek dapat berbicara dan bertindak dan karenanya mampu berpartisipasi dalam proses pemahaman timbal balik sesuai konteks tertentu dan mampu memelihara jati dirinya sendiri dalam berbagai perubahan interaksi. dimana sistem nilai dan makan di terapkan dalam berbagai simbol-simbol budaya dan ungkapan-ungkapan bangsa. keputusan yang menyangkut persoalan kehidupan bersama sebagai bangsa dan negara. misalnya: . khususnya dari etnik tertentu yang memiliki tradisi dagang. yang semula berada di luar mainstream. paradigma hubungan dialogal atau pemahaman timbal balik sangat dibutuhkan.tertentu. Kompetensi kemasyarakatan merupakan tatanan-tatanan syah yang memungkinkan mereka yang terlibat dalam tindakan komunikatif membentuk solidaritas sejati. mulai menembus masuk ke tengah mainstream. Semangat kebersamaan dalam perbedaan sebagaimana terpatri dalam wacana ”Bhineka Tunggal Ika” perlu menjadi “roh” atau spirit penggerak setiap tindakan komunikatif. Paradigma hubungan timbal balik dalam masyarakat multikultural mensyaratkan tiga kompetensi normatif. khususnya dalam proses pengambilan ekputusan politik. Dalam hal kedua. Kompetensi kebudayaan adalah kumpulan pengetahuan yang memungkinkan mereka yang terlibat dalam tindakan komunikatif membuat interpretasi-interpretasi yang dapat mengkondisikan tercapainya konsesus mengenai sesuatu.*Upaya Bersama di Dalam Menyikapi Sebuah Multikulturalisme Dengan menjalankan asas gerakkan multikulturalisme menjadi sebuah ideologi yang dianggap mampu menyelesaikan berbagai masalah yang berkaitan dengan Multikulturalisme. yaitu kompetensi kebudayaan. Aceh dan lainnya . kelompok masyarakat etnis dan agama tertentu. hubungan diagonal ini akan menghasilkan beberapa hal penting. naik peringkatnya menjadi kelompok masyarakat yang menimbulkan kecemburuan sosial masyarakat setempat yang mandeg perkembangannya. kemasyarakatan dan kepribadian. Yaitu dengan asas-asas sebagai berikut: a) Manusia tumbuh dan besar pada hubungan sosial di dalam sebuah tatanan tertentu. apalagi bila ditunggangi kepentingan politik dan ekonomi tertentu seperti terjadi di Ambon. Hal ini dapat menimbulkan gesekan primordialistik. sehingga dialog berkelanjutan sangat diperlukan demi terciptanya persatuan Dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia. Jika tindakan komunikatif terlaksana dalam sebuah komunitas masyarakat multikultural. maka akan memperluas cakrawala pemahaman akan makna multikulturalisme c) setiap kebudayaan secara Internal adalah majemuk. b) Keanekaragaman Budaya menunjukkan adanya visi dan sisitem makan tang berbeda. untuk mengatasi ekses-ekses negatif dari suatu problem disintegrasi bangsa. Poso.

beranekaragam budaya. Dengan demikian kita melihat bahwa semboyan ‘Satu bangsa. Ia masih merupakan mitos yang perlu didekatkan dengan realitas sejarah. yang kesemuanya itu akan menjadikan Indonesia menjadi sebuah bangsa yang mampu mengakomodasi kemajemukkan itu menjadi suatu yang tangguh. memiliki sikap budaya kosmopolitan dan pluralistik. Konsekwensinya ialah keharusan melanjutkan proses membentuk kehidupan sosial budaya yang maju dan kreatif. tetap ada kelangsungan tradisi dan koherensi pengetahuan yang memadai untuk kebutuhan konsesus praktis dalam praktek kehidupan sehari-hari. suku. b) Integrasi sosial yang menjamin bahwa koordinasi tindakan politis tetap terpelihara melalui sarana-sarana hubungan antar pribadi dan antar komponen politik yang diatur secara resmi (legitemed) tanpa menghilangkan identitas masing-masing unsur kebudayaan. Sehingga ancaman disintegrasi dan perpecahan bangsa dapat dihindari. belum sepenuhnya tercapai. . ras dan agama. humanis. etnik. Bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kokoh.a) Reproduksi kultural yang menjamin bahwa dalamkonsepsi politik yang baru. bersatu dalam kebhinnekaan. satu tanah air dan satu bahasa dan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ masih jauh dari kenyataan sejarah. c) Sosialisasi yang menjamin bahwa konsepsi polotik yang disepakati harus mampu memberi ruang tindak bagi generasi mendatang dan penyelarasan konteks kehidupan individu dan kehidupan kolektif tetap terjaga Dapat dikatakan bahwa secara konstitusional negara Indonesia dibangun untuk mewujudkan dan mengembangkan bangsa yang religius. Demokratis dan berkeadilan sosial. tatanan sosial politik yang demokratis dan struktur sosial ekonomi masyarakat yang adil dan bersifat kerakyatan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->