P. 1
Tafsir Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Risalah

Tafsir Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Risalah

|Views: 2,805|Likes:
Published by Ahmad Idris

More info:

Published by: Ahmad Idris on Jul 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/06/2013

pdf

text

original

MAKALAH TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG RISALAH

Disusun Guna memenuhi Tugas Mata Kuliah Tafsir Dosen : Ust. Aceng Zakaria, S.Th.I

Disusun oleh : Ahmad Idris 201021066

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AL-HIDAYAH BOGOR

1

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan-Nya kepada kita semua termasuk terselesaikannya makalah Tafsir Ayat-Ayat tentang Risalah ini. Makalah ini mengambil tema Ayat-Ayat tentang Risalah, sebagaimana amanat yang diberikan kepada saya di dalam memenuhi tugas mata kuliah Tafsir. Sebuah kebahagiaan bagi saya atas diberikannya tugas ini, karena dengan begitu kita akan dapat mengkaji kembali tentang hal-hal yang berkaitan dengan Risalah Islam yang pasti akan bermanfaat menambah keilmuan dan pengetahuan akademis kita serta modal dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam kesempatan ini perkenankan saya menghaturkan rasa terima kasih tak terhingga kepada Bapak Aceng Zakaria yang telah memberikan bimbingan. Pun begitu, saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu sumbang-saran maupun masukan sangat saya harapkan. Atas segala kekurangan tersebut, saya mohon dibukakan pintu maaf seluas-luasnya. Semoga segala tujuan baik dengan hadirnya makalah ini dapat tercapai. Amiin.

Bogor,

April 2011

Penyusun

i

1

i

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...................................................................................................... Daftar Isi ............................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN I. II. Latar Belakang ............................................................................................ Rumusan Masalah .......................................................................................

i ii

1 4

BAB II PEMBAHASAN I. II. III. Surat Al-Maidah ayat 67.............................................................................. Surat Al-Muddatsir ayat 1 s.d 7 ...................................................... Sifat dan Akhlak Rasulullah ....................................................................... 6 8 11

BAB III PENUTUP I. II. Kesimpulan ................................................................................................. Saran ............................................................................................................ 14 16 17

Daftar Pustaka ......................................................................................................

ii
1

BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Rasul adalah orang-orang yang diutus oleh Allah kepada umat manusia dan dijadikan sebagai pembawa risalah Islam kepada hamba-hamba-Nya untuk menyampaikan syariatNya. Mereka adalah manusia biasa yang diciptakan melalui perantara seorang ayah dan ibu, kecuali Isa bin Maryam yang diciptakan Allah tanpa seorang bapak. Allah mengutus mereka sebagai rahmat bagi manusia dan untuk menegakkan hujjah atas mereka, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,                                                                                “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan Kami berikan Zabur kepada Daud. dan (kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.(Mereka Kami utus) selaku Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi

1

manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ : 163-165) Jumlah rasul itu banyak, yang pertama adalah Nuh dan yang terakhir adalah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dalilnya adalah firman Allah, “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya.” (QS. An-Nisaa’:163) Dalam kitab Ash-Shahihain dan juga yang lainnya disebutkan tentang hadits syafaat bahwa pada hari kiamat, manusia mendatangi Nuh seraya berkata kepadanya, “Engkau adalah Rasul yang pertama diutus Allah kepada penduduk bumi.” Adapun dalil yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai Rasul yang terakhir tersebut dalam firman Allah Ta’ala,          

 



    



       “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 40) Dan dalam riwayat yang shahih disebutkan bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya aku adalah penutup para nabi.”1 Maka, hendaknya kita percaya bahwa apa yang disampaikan para nabi dari Allah dan apa yang ada dalam risalah mereka adalah benar. Kita harus percaya kepada nabi yang nama-namanya ditentukan kepada kita. Sedangkan nabi-nabi yang namanya tidak ditentukan, kita mempercayainya secara global.

1

Shahiih, lihat Shahiih Al-Jami’ (1773, 4258, 7418) karya Al-Albani Rahimahullah Ta’ala

2

Hendaknya kita percaya, bahwa tidak ada umat kecuali diutus kepada mereka rasul untuk menegakkan hujjah atasnya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,                                 …     “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu.” (QS. An-Nahl: 36) Dan Allah juga berfirman,

                 
                               “Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (QS. Fathir: 24) Kita juga harus percaya bahwa segala yang dikabarkan oleh para rasul jika cara penukilan [periwayatan]nya benar dan kita mengetahui bahwa itu benar. Kita juga harus mengikuti Nabi penutup para nabi, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam karena dialah yang mewajibkan kepada kita untuk mengikutinya, Allah Ta’ala berfirman,                                                “Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi;

3

tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimatNya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (QS. Al-A’raf: 158) Maka Allah memerintahkan kita untuk mengikuti beliau,

sebagaimana dalam firman-Nya,








  

   ….

“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihimu.” (QS. Ali Imran: 31) Adapun rasul-rasul yang lain, maka kita mengikuti mereka jika ada syariat kita yang memerintahkan kita untuk mengikuti mereka, seperti sabda Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Sebaik-baiknya shalat adalah shalat saudaraku Daud. Dia tidur pada pertengahan malam, bangun pada sepertiganya, dan tidur di seperenamnya. Dia sebaik-baiknya puasa adalah puasa saudaraku Daud. Ia berpuasa sehari dan berbuka sehari.” Hadits ini menceritakan tentang shalatnya Daud di malam hari, dan begitu juga puasanya yang seyogyanya diikuti. Adapun jika tidak ada dalam syariat kita yang memerintahkan untuk mengikutinya, maka para ulama berbeda pendapat, apakah syariat orang-orang sebelum kita merupakan syariat kita selagi tidak terdapat larangan dalam syariat kita, ataukah syariat itu bukan syariat kita hingga ada dalam syariat kita yang menyuruhnya untuk mengikutinya? Yang benar, bahwa syariat orang-orang sebelum kita adalah syariat kita jika tidak ada dalam syariat kita yang menentangnya. Karena ketika Allah menjelaskan tentang para nabi dan rasul, Dia berfirman kepada Nabi-Nya, Shallallahu Alaihi wa Sallam,

4

         

  





   ….  

“Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90) Maka dari itu, Allah menyuruh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk menempuh jalan para nabi sebelumnya.

II. Rumusan Masalah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf: 111) Akan tetapi, pendapat yang kuat adalah syariat orang sebelum kita adalah merupakan syariat kita selagi tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa syariat kita menentangnya. Kita harus mencintai para rasul ini, mengagungkan mereka dan bersaksi bahwa mereka berada pada tingkat tertinggi dari tingkat-tingkat orang-orang yang baik, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,                                          “Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisaa’: 69)

5

Maka penting bagi kita untuk mempelajari, mengkaji risalah yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Untuk memberikan ruang lingkup pembahasan, maka pemakalah mengambil beberapa ayat-ayat AlQur’an yang berkaitan dengan risalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yaitu : 1. Surat Al-Maidah ayat 67 2. Surat Al-Muddatsir ayat 1 s.d 7

BAB II PEMBAHASAN I. Surat Al-Maidah ayat 67
        

             

                

“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari

6

(gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah : 67) Adapun asbabun nuzul dari Surat Al-Maidah ayat 67 di atas, ada beberapa riwayat dengan turunnya surat Al-Maidah ayat 67 ini diantaranya: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda, "Sesungguhnya Allah telah mengutusku untuk membawa risalah-Nya hal ini membuatku merasa susah. Dan aku telah mengetahui bahwa orang-orang pasti akan mendustakan diriku. Akhirnya Allah memberikan ultimatum kepadaku, apakah aku menyampaikannya ataukah Dia akan mengazabku. Kemudian Allah menurunkan ayat, 'Hai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu...'" (Q.S. Al-Maidah 67). Ibnu Abu Hatim mengetengahkan dari Mujahid yang menceritakan, "Tatkala ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya, 'Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu...' (Q.S. Al-Maidah 67) Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, 'Wahai Tuhanku! Apakah yang harus aku perbuat sedangkan diriku ini seorang diri dan mereka orang-orang banyak yang berada di sekitarku.' Kemudian turunlah ayat, 'Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang menjadi perintah-Ku itu, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah/amanat-Nya.'" (Q.S. Al-Maidah 67). Hakim dan Tirmizi mengetengahkan sebuah hadits dari Aisyah Radhiyallaahu 'anha Aisyah Radhiyallaahu 'anha telah berkata, "Tersebutlah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu berada dalam kawalan ketat, sehingga turunlah ayat, 'Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.' (Q.S. Al-Maidah 67) kemudian beliau keluar menampakkan kepalanya dari dalam mesjid Quba seraya berseru, 'Hai manusia! Pergilah kamu sekalian, sesungguhnya Allah telah memelihara diriku.' Hadits ini menunjukkan bahwa ayat tersebut turun di malam hari ketika Rasulullah

7

sedang

berbaring

di

atas

tempat

tidurnya."

Imam

Thabrani

mengetengahkan dari Abu Said Al-Khudri yang menceritakan, "Paman Nabi yaitu Abbas Radhiyallaahu 'anhu termasuk orang-orang yang menjaga beliau. Tatkala turun ayat, 'Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.' (Q.S. Al-Maidah 67) ia langsung meninggalkan tugas jaganya itu." Imam Thabrani mengetengahkan pula dari Ishmah bin Malik AlKhuthami yang menceritakan bahwa pada suatu malam kami sedang menjaga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian pada malam itu juga turunlah ayat, "Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia." (Q.S. Al-Maidah 67) setelah itu pengawalan terhadap diri beliau ditiadakan. Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Murdawaih mengetengahkan sebuah hadis dari Jabir bin Abdullah. Jabir bin Abdullah mengatakan, "Tatkala Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berperang dengan Bani Anmar, beliau beristirahat di suatu tempat yang bernama Dzaturraqi' di bawah sebuah pohon kurma yang paling tinggi. Tatkala beliau sedang duduk beristirahat di pinggir sebuah sumur seraya menurunkan kedua kakinya ke dalam sumur, AlWarits seorang lelaki dari Bani Najjar berkata, 'Sungguh aku akan membunuh Muhammad.' Lalu teman-temannya bertanya, 'Bagaimana caranya kamu membunuh Muhammad?' Ia menjawab, 'Aku minta kepadanya untuk memberikan pedangnya kepadaku, jika ia memberikan pedangnya kepadaku, ia akan segera kubunuh.' Kemudian ia mendatangi beliau dan berkata, 'Hai Muhammad! Berikanlah pedangmu kepadaku, aku akan menciumnya.' Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyerahkan pedangnya kepadanya, akan tetapi tangan Al-Warits tiba-tiba gemetar. Lalu beliau bersabda kepadanya, 'Rupanya Allah telah menghalangimu untuk mengerjakan apa yang telah kamu niatkan.' Setelah itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat, 'Hai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu...'" (Q.S. Al-Maidah 67). Dan sehubungan dengan

8

hadis yang menjelaskan tentang latar belakang turunnya ayat ini, ialah sebuah hadis yang diketengahkan oleh Ibnu Murdawaih dan Imam Thabrani dari Ibnu Abbas. Disebutkan bahwa Ibnu Abbas bercerita, "Tersebutlah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu dikawal dengan ketat dan Abu Thalib setiap harinya selalu mengirim beberapa orang lelaki dari kalangan Bani Hasyim untuk mengawalnya sampai turun ayat ini, yaitu firman-Nya, 'Allah memelihara kamu dari (gangguan) manuasia.' (Al-Maidah 67). Kemudian Abu Thalib bermaksud mengirim orang-orang untuk menjaga beliau akan tetapi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Hai paman! Sesungguhnya Allah telah memelihara diriku dari gangguan jin dan manusia.'" Ibnu Murdawaih mengetengahkan hadis ini dari jalur Jabir bin Abdullah yang maknanya sama dengan hadis di atas. Demikianlah asbabun nuzul turunnya Q.S Al-Maidah ayat 67.

II. Surat Al-Muddatsir ayat 1 s.d 7 Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat berbagai macam perintah dalam firman Allah,
             

 



  



  

  

“Hai

orang

yang

berkemul

(berselimut),

Bangunlah,

lalu

berilah

peringatan!, Dan Tuhanmu agungkanlah!, Dan pakaianmu bersihkanlah, Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk

9

(memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.” (QS. Al-Muddatstsir: 17) Sepintas lalu ini merupakan perintah-perintah yang sederhana dan remeh. Namun pada hakikatnya mempunyai tujuan yang jauh, berpengaruh sangat kuat dan nyata, yang dapat dirinci sebagai berikut: 1. Tujuan pemberian peringatan, agar siapapun yang menyalahi

keridhaan Allah di dunia ini diberi peringatan tentang akibatnya yang pedih di kemudian hari, dan yang pasti akan mendatangkan kegelisahan dan ketakutan di dalam hatinya. 2. Tujuan mengagungkan Rabb, agar siapapun yang menyombongkan diri di dunia tidak dibiarkan begitu saja melainkan kekuatannya akan dipunahkan dan keadaannya dibalik total, sehingga tidak ada kebesaran yang tersisa di dunia selain kebesaran Allah. 3. Tujuan membersihkan pakaian dan meninggalkan perbuatan dosa, agar kebersihan lahir dan batin benar-benar tercapai, begitu pula dalam membersihkan jiwa dari segala noda dan kotoran, agar jiwa manusia berada di bawah lindungan rahmat Allah, penjagaan, pemeliharaan, hidayah, dan cahaya-Nya, sehingga dia menjadi sosok paling ideal di tengah masyarakat manusia, mengundang pesona semua hati dan decak kekaguman. 4. Tujuan larangan mengharap yang lebih banyak dari apa yang diberikan, dan agar seseorang lebih tidak menganggap dan perbuatan berkorban, dan lalu usahanya sesuatu yang besar lagi hebat, agar dia senantiasa berbuat berbuat, banyak berusaha melupakannya. Bahkan dengan perasaannya di hadapan Allah, dia tidak merasa telah berbuat dan berkorban.

10

5. Dalam ayat yang terakhir terdapat isyarat tentang gangguan, siksaan, ejekan, dan olok-olok yang bakal dilancarkan orang-orang yang menentang, bahkan mereka berusaha membunuh beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam dan membunuh para sahabat serta menekan setiap orang yang beriman di sekitar beliau. Allah memerintahkan agar beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabar dalam menghadapi semua itu, dengan modal kekuatan dan ketabahan hati karena keridhaan Allah semata. Alangkah Mahabesar. Alangkah sederhananya perintah-perintah ini jika dilihat secara sepintas lalu. Alangkah lembut sentuhannya. Tetapi betapa besar dan berat pengamalannya, alangkah besar pengaruh guncangannya terhadap seisi alam. Ayat-ayat ini sendiri mengandung materi-materi dakwah dan tabligh. Pemberian peringatan itu sendiri biasanya mengundang berbagai reaksi yang kurang menyenangkan bagi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pemberian peringatan menuntut kedatangan suatu hari di luar hari-hari di dunia, yang pada saat itu akan ada pembalasan. Hari itu adalah hari kiamat atau hari pembalasan. Hal ini mengharuskan adanya suatu kehidupan lain yang berbeda dengan kehidupan yang dijalani manusia di dunia. Semua ayat ini menuntut tauhid yang jelas dari manusia,

penyerahan urusan kepada Allah, meninggalkan kesenangan diri sendiri dan keridhaan manusia, untuk dipasrahkan kepada keridhaan Allah. Jadi hal-hal yang terkandung dalam surat ini meliputi: 1. Tauhid. 2. Iman kepada Hari Akhirat.

11

3. Membersihkan jiwa, dengan cara menjauhi kemungkaran dan kekejian yang kadang-kadang mengakibatkan munculnya hal-hal yang kurang menyenangkan, mencari keutamaan, kesempurnaan, dan perbuatanperbuatan yang baik. 4. Menyerahkan semua urusan kepada Allah. 5. Semua itu dilakukan setelah beriman kepada risalah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, bernaung di bawah kepemimpinan dan bimbingan beliau yang lurus. Disamping itu, permulaan ayat-ayat ini mengandung seruan yang tinggi, sebagai perintah yang ditujukan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, agar beliau bangun dari tidur dan melepas selimut, siap untuk berjihad dan berjuang, “Hai orang yang berkemul, bangunlah lalu berilah peringatan”. Seakan-akan Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang hidup untuk dirinya bisa hidup tenang dan santai. Tetapi engkau yang memanggul beban besar ini, mengapa tidur-tiduran saja? Mengapa engkau santai-santai saja? Mengapa engkau masih terlentang di atas tempat tidur yang nyaman dan tenang-tenang saja? Bangunlah untuk menghadapi urusan besar yang sudah menantimu. Beban berat sudah menunggu di hadapanmu. Bangunlah untuk berjihad dan berjuang. Bangunlah, karena waktu tidur dan istirahat sudah habis. Sejak hari ini engkau harus siap untuk lebih banyak berjaga pada malam hari dan perjuangan yang berat lagi panjang. Bangunlah dan bersiaplah untuk semua itu.” Sungguh ini merupakan pernyataan yang besar dan menakutkan, yang membuat beliau melompat dari tempat tidurnya yang nyaman di rumah yang penuh kedamaian, siap terjun ke kancah, di antara arus dan gelombang, antara yang keras dan yang menarik menurut perasaan manusia, terjun ke kancah kehidupan.

12

Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bangkit, dan setelah itu selama dua puluh lima tahun beliau tidak pernah istirahat dan diam, tidak hidup untuk diri sendiri dan keluarga beliau. Beliau bangkit dan senantiasa bangkit untuk berdakwah kepada Allah, memanggul beban yang berat di pundaknya, tidak mengeluh dalam melaksanakan beban amanat yang besar di muka bumi ini, memikul beban kehidupan semua manusia, beban akidah, perjuangan, dan jihad, di berbagai medan. Beliau pernah hidup di medan peperangan secara terus-menerus dan berkepanjangan selama itu, semenjak beliau mendengar seruan yang agung dan mendapat beban kewajiban. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada beliau dan kepada siapa pun.2

III. Sifat dan Akhlak Rasulullah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lain daripada yang lain karena kesempurnaan penciptaan fisik dan akhlak beliau. Akibatnya, semua hati pasti akan mengagungkan dan menyanjung beliau, yang tidak pernah diberikan kepada selain beliau. Orang-orang yang pernah hidup berdekatan dengan beliau, pasti akan mencintai beliau, tidak peduli apa pun yang bakal menimpa mereka. Hal ini terjadi karena memang kesempurnaan diri beliau, yang tidak pernah dimiliki siapa pun. Berikut ini dijelaskan keindahan dan kesempurnaan fisik beliau, yang tentunya penjelasan ini pun sangat masih terbatas. Keindahan Fisik Abu Hurairah berkata, “Tidak pernah kulihat sesuatu lebih bagus daripada diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Seakan-akan matahari berjalan di wajahnya dan tidak pernah kulihat seseorang yang
2

Fi Zhilail-Qur’an, Tafsir Al-Muzzammil dan Al-Muddatstsir, 29/168-182

13

jalannya lebih cepat daripada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Seakan-akan tanah menjadi landai bagi beliau. Kami sudah berusaha mencurahkan kekuatan, tetapi seakan-akan beliau tidak peduli.3 Jabir bin Samurah berkata, “Aku pernah melihat beliau pada suatu malam yang cerah tanpa ada mendung. Kupandangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu ganti kupandang rembulan. Ternyata menurut penglihatanku beliau lebih indah daripada rembulan.”4 Jabir bin Samurah juga berkata, “Kedua lengannya halus dan lembut, jika tertawa hanya tersenyum, dan setiap kali aku memandangnya, maka kukatakan, “Dua mata yang bercelak, tetapi tidak layaknya celak.”5 Jabir berkata, “Beliau tidak melewati jalan lalu seseorang

membuntutinya melainkan dia bisa mengetahui bahwa beliau telah lewat, dari keharuman bau keringatnya.”6 Di antara kedua bahunya ada cincin nubuwah seperti telur burung merpati.

Kesempurnaan Jiwa dan Kemuliaan Akhlak Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lain daripada yang lain karena kefasihan bicaranya, kejelasan ucapannya, yang selalu disampaikan pada kesempatan yang paling tepat dan di tempat yang tidak sulit diketahui, lancar, jernih kata-katanya, jelas pengucapan dan maknanya.

3 4

Jami’ut Tirmidzi ma’a Syarhihi Tuhfatul Ahwadzi, 4/306; Misyakatul Mashabih, 2/518. Diriwayatkan At-Tirmidzi di dalam Asy-Syama’il hlm 2, Misyakatul Mashabih, 2/518. 5 Jami’ut Tirmidzi ma’a Syarhihi Tuhfatul Ahwadzi, 4/306; Misyakatul Mashabih, 4/306. 6 Ibid.

14

Beliau adalah orang yang lembut, murah hati, mampu menguasai diri, suka memaafkan dan sabar saat ditekan. Ini semua merupakan sifatsifat yang diajarkan Allah. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling adil,

paling mampu menahan diri, paling jujur perkataannya, dan paling besar amanatnya. Orang yang mendebat dan bahkan musuh beliau pun mengakui hal ini. Sebelum nubuwah beliau sudah dijuluki Al-Amin (orang yang dipercayai). Sebelum Islam dan pada masa jahiliyah beliau juga ditunjuk sebagai pengadil. At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ali, bahwa Abu Jahl pernah berkata kepada beliau, “Kami tidak mendustakan apa yang engkau bawa.” Karena itu kemudian Allah menurunkan ayat tentang orang-orang yang mendustakan itu. “Mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu tetapi orang-orang yang zhalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (Al-An’am: 33) Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling tawadhu’ (merendahkan diri) dan paling jauh dari sifat sombong. Beliau tidak menginginkan orang-orang berdiri saat menyambut kedatangannya seperti yang dilakukan terhadap para raja. Beliau biasa menjenguk orang sakit, duduk bersama orang miskin, memenuhi hamba sahaya, duduk di tengah para sahabat, sama seperti keadaan mereka. Aisyah berkata, “Beliau biasa menambal terompahnya, menjahit bajunya, melaksanakan pekerjaan dengan tangannya sendiri, seperti yang dilakukan salah seorang di antara kalian di dalam rumahnya. Beliau sama dengan orang lain, mencuci pakaiannya, memerah air susu dombanya, dan membereskan urusannya sendiri.”7 Secara umum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah gudangnya sifat-sifat kesempurnaan yang sulit dicari tandingannya. Allah
7

Misykatul Mashabih, 2/520

15

membimbing dan membaguskan bimbingan-Nya, sampai-sampai Allah berfirman terhadap beliau seraya memuji beliau, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(Al-Qalam: 4) Sifat-sifat yang sempurna inilah yang membuat jiwa manusia merasa dekat dengan beliau, membuat hati mereka mencintai beliau, menempatkan beliau sebagai pimpinan yang menjadi tumpuan harapan hati. Bahkan orang-orang yang dulunya bersikap keras terhadap beliau berubah menjadi lemah lembut, hingga akhirnya manusia masuk ke dalam agama Islam secara berbondong-bondong. Sifat-sifat yang disebutkan di atas hanya sebagian kecil dari gambaran kesempurnaan dan keagungan sifat-sifat beliau. BAB III PENUTUP I. Kesimpulan Rasul adalah orang-orang yang diutus oleh Allah kepada umat manusia dan dijadikan sebagai pembawa risalah Islam kepada hamba-hamba-Nya untuk menyampaikan syariatNya. Mereka adalah manusia biasa yang diciptakan melalui perantara seorang ayah dan ibu, kecuali Isa bin Maryam yang diciptakan Allah tanpa seorang bapak. Allah mengutus mereka sebagai rahmat bagi manusia dan untuk menegakkan hujjah atas mereka. Jumlah rasul itu banyak, yang pertama adalah Nuh dan yang terakhir adalah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dalilnya adalah firman Allah, “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya.” (QS. An-Nisaa’:163)

16

Adapun dalil yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai Rasul yang terakhir tersebut dalam firman Allah Ta’ala,          

     

  

    

    

       “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 40) Dan dalam riwayat yang shahih disebutkan bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya aku adalah penutup para nabi.” Maka, hendaknya kita percaya bahwa apa yang disampaikan para nabi dari Allah dan apa yang ada dalam risalah mereka adalah benar. Maka penting bagi kita untuk mempelajari, mengkaji beberapa ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan risalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yaitu :

1. Surat Al-Maidah ayat 67 Ibnu Abu Hatim mengetengahkan dari Mujahid yang menceritakan, "Tatkala ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya, 'Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu...' (Q.S. Al-Maidah 67) Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, 'Wahai Tuhanku! Apakah yang harus aku perbuat sedangkan diriku ini seorang diri dan mereka orang-orang banyak yang berada di sekitarku.' Kemudian turunlah ayat, 'Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang menjadi perintah-Ku itu, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah/amanat-Nya.'" (Q.S. Al-Maidah 67).

17

2. Surat Al-Muddatsir ayat 1 s.d 7 “Hai orang yang berkemul (berselimut), Bangunlah, lalu berilah

peringatan!, Dan Tuhanmu agungkanlah!, Dan pakaianmu bersihkanlah, Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.” (QS. Al-Muddatstsir: 17) Semua ayat ini menuntut tauhid yang jelas dari manusia,

penyerahan urusan kepada Allah, meninggalkan kesenangan diri sendiri dan keridhaan manusia, untuk dipasrahkan kepada keridhaan Allah. Jadi hal-hal yang terkandung dalam surat ini meliputi: 1. Tauhid. 2. Iman kepada Hari Akhirat. 3. Membersihkan jiwa, dengan cara menjauhi kemungkaran dan kekejian yang kadang-kadang mengakibatkan munculnya halhal yang kurang menyenangkan, mencari keutamaan, kesempurnaan, dan perbuatan-perbuatan yang baik. 4. Menyerahkan semua urusan kepada Allah. 5. Semua itu dilakukan setelah beriman kepada risalah Muhammad, bernaung di bawah kepemimpinan dan bimbingan beliau yang lurus. 3. Sifat dan Akhlak Rasulullah 1. 2. Keindahan Fisik Kesempurnaan Jiwa dan Kemuliaan Akhlak

18

II. Saran Merupakan sebuah keharusan bagi setiap mukmin untuk mempelajari, mengkaji dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang ayat-ayat Risalah. Sehingga diharapkan menjadikan kita mencintai para rasul, mengagungkan mereka dan bersaksi bahwa mereka berada pada tingkat tertinggi dari tingkat-tingkat orang-orang yang baik. Akhirnya tidak ada yang sempurna kecuali Allah, semoga makalah yang singkat ini dengan segala kekurangannya bisa menambah pengetahuan kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

Al Qur’an al Karim Al-Mubarakfuri, Syaikh Shafiyyurrahman. Sirah Nabawiyah. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2010.

19

Ar-Rifa’I, Muhammad Nasib. Kemudahan dari Allah : ringkasan tafsir Ibnu Katsir. Penerjemah Syihabuddin. Jakarta : Gema Insani Press, 2000. Al-Utsaimin, Syaikh Muhammad Bin Shalih. Syarah Riyadush Shalihin. Jakarta : Darus Sunnah, 2010.

20

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->