P. 1
Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai

|Views: 212|Likes:
Published by Leena Kumatd
tugas...
tugas...

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Leena Kumatd on Jul 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/22/2013

pdf

text

original

Sections

Kerajaan Kutai

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Salah satu yupa dengan inskripsi, kini di Museum Nasional Republik Indonesia, Jakarta

Kutai Martadipura adalah kerajaan bercorak Hindu di Nusantara yang memiliki bukti sejarah
tertua. Berdiri sekitar abad ke-4. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur,
tepatnya di hulu sungai Mahakam.[1][2]

Nama Kutai diberikan oleh para ahli mengambil dari
nama tempat ditemukannya prasasti yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut. Tidak ada
prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini dan memang sangat sedikit informasi
yang dapat diperoleh.

Sejarah

[sunting] Yupa

Prasasti Kerajaan Kutai

Informasi yang ada diperoleh dari Yupa / prasasti dalam upacara pengorbanan yang berasal dari
abad ke-4. Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam
menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai. Yupa adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tiang
untuk menambat hewan yang akan dikorbankan. Dari salah satu yupa tersebut diketahui bahwa
raja yang memerintah kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa
karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

[sunting] Mulawarman

Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kundungga. Nama Mulawarman dan
Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sanskerta bila dilihat dari cara
penulisannya. Kundungga adalah pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang datang ke
Indonesia. Kundungga sendiri diduga belum menganut agama Budha.

[sunting] Aswawarman

Aswawarman mungkin adalah raja pertama Kerajaan Kutai yang bercorak Hindu. Ia juga
diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar Wangsakerta, yang artinya
pembentuk keluarga. Aswawarman memiliki 3 orang putera, dan salah satunya adalah
Mulawarman.

Putra Aswawarman adalah Mulawarman. Dari yupa diketahui bahwa pada masa pemerintahan
Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi
hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur.

Kerajaan Kutai seakan-akan tak tampak lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi
dengan pihak asing, hingga sangat sedikit yang mendengar namanya.

[sunting] Berakhir

Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam
peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu
diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang
ibukotanya pertama kali berada di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kartanegara inilah, di
tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya
menjadi kerajaan Islam yang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara.

[sunting] Nama-Nama Raja Kutai

Peta Kecamatan Muara Kaman

1. Maharaja Kundungga, gelar anumerta Dewawarman
2. Maharaja Asmawarman (anak Kundungga)
3. Maharaja Mulawarman
4. Maharaja Marawijaya Warman
5. Maharaja Gajayana Warman
6. Maharaja Tungga Warman
7. Maharaja Jayanaga Warman
8. Maharaja Nalasinga Warman
9. Maharaja Nala Parana Tungga
10. Maharaja Gadingga Warman Dewa
11. Maharaja Indra Warman Dewa
12. Maharaja Sangga Warman Dewa
13. Maharaja Candrawarman

14. Maharaja Sri Langka Dewa
15. Maharaja Guna Parana Dewa
16. Maharaja Wijaya Warman
17. Maharaja Sri Aji Dewa
18. Maharaja Mulia Putera
19. Maharaja Nala Pandita
20. Maharaja Indra Paruta Dewa
21. Maharaja Dharma Setia

[sunting] Lain-lain

Nama Maharaja Kundungga oleh para ahli sejarah ditafsirkan sebagai nama asli orang Indonesia
yang belum terpengaruh dengan nama budaya India.Sementara putranya yang bernama
Asmawarman diduga telah terpengaruh budaya Hindu.Hal ini di dasarkan pada kenyataan bahwa
kata Warman berasal dari bahasa Sangsekerta.Kata itu biasanya digunakan untuk ahkiran nama-
nama masyarakat atau penduduk India bagian Selatan.

Sriwijaya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Untuk kegunaan lain dari Sriwijaya, lihat Sriwijaya (disambiguasi).

Sriwijaya

600-an±1100-an

Jangkauan terluas Kemaharajaan Sriwijaya sekitar abad ke-8
Masehi.

Ibu kota

Sriwijaya, Jawa, Kadaram,
Dharmasraya

Bahasa

Melayu Kuna, Sansekerta

Agama

Buddha Vajrayana,
Buddha Mahayana,
Buddha Hinayana, Hindu

Pemerintahan

Monarki

Maharaja

- 683

Sri Jayanasa

- 702

Sri Indrawarman

- 775

Dharanindra

- 792

Samaratungga

- 835

Balaputradewa

- 988

Sri Cudamani Warmadewa

- 1008

Sri Mara-
Vijayottunggawarman

- 1025

Sangrama-
Vijayottunggawarman

Sejarah

- Didirikan

600-an

- Invasi Dharmasraya

1100-an

Mata uang

Koin emas dan perak

Artikel ini bagian dari seri

Sejarah Indonesia

Lihat pula:

Garis waktu sejarah Indonesia

Sejarah Nusantara

Prasejarah

Kerajaan Hindu-Buddha

Kutai (abad ke-4)

Tarumanagara (358±669)

Sriwijaya (abad ke-7 sampai ke-11)

Sailendra (abad ke-8 sampai ke-9)

Kerajaan Sunda (669±1579)

Kerajaan Medang (752±1045)

Kediri (1045±1221)

Dharmasraya (abad ke-12 sampai ke-14)

Singhasari (1222±1292)

Majapahit (1293±1500)

Kerajaan Islam

Kesultanan Ternate (1257±sekarang)

Kesultanan Malaka (1400±1511)

Kesultanan Demak (1475±1548)

Kesultanan Aceh (1496±1903)

Kesultanan Banten (1526±1813)

Kesultanan Mataram (1500-an²1700-an)

Kolonialisme bangsa Eropa

Portugis (1512±1850)

VOC (1602-1800)

Belanda (1800±1942)

Kemunculan Indonesia

Kebangkitan Nasional (1899-1942)

Pendudukan Jepang (1942±1945)

Revolusi nasional (1945±1950)

Indonesia Merdeka

Orde Lama (1950±1959)

Demokrasi Terpimpin (1959±1965)

Orde Baru (1966±1998)

Era Reformasi (1998±sekarang)

l ‡ b ‡ s

Sriwijaya (atau juga disebut Srivijaya; Thai: atau " r wich y") adalah salah satu
kemaharajaan maritim yang kuat di pulau Sumatera dan banyak memberi pengaruh di Nusantara
dengan daerah kekuasaan membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya,
Sumatera, Jawa, dan pesisir Kalimantan.[1][2]

Dalam bahasa Sansekerta, sri berarti "bercahaya"

atau "gemilang", dan wijaya berarti "kemenangan" atau "kejayaan",[2]

maka nama Sriwijaya
bermakna "kemenangan yang gilang-gemilang". Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini
berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi
Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan.[3][4]

Selanjutnya prasasti yang paling tua
mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang,
bertarikh 682.[5]

Kemunduran pengaruh Sriwijaya terhadap daerah bawahannya mulai menyusut

dikarenakan beberapa peperangan[2]

di antaranya serangan dari raja Dharmawangsa Teguh dari
Jawa di tahun 990, dan tahun 1025 serangan Rajendra Chola I dari Koromandel, selanjutnya
tahun 1183 kekuasaan Sriwijaya di bawah kendali kerajaan Dharmasraya.[6]

Setelah jatuh, kerajaan ini terlupakan dan eksistensinya baru diketahui lewat publikasi tahun
1918 dari sejarawan Perancis George C dès dari École française d'Extrême-Orient.[7]

Historiografi

Tidak terdapat catatan lebih lanjut mengenai Sriwijaya dalam sejarah Indonesia; masa lalunya
yang terlupakan dibentuk kembali oleh sarjana asing. Tidak ada orang Indonesia modern yang
mendengar mengenai Sriwijaya sampai tahun 1920-an, ketika sarjana Perancis George C dès
mempublikasikan penemuannya dalam koran berbahasa Belanda dan Indonesia.[8]

Coedès
menyatakan bahwa referensi Tiongkok terhadap "San-fo-ts'i", sebelumnya dibaca "Sribhoja", dan
beberapa prasasti dalam Melayu Kuno merujuk pada kekaisaran yang sama.[9]

Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatera awal, dan kerajaan besar Nusantara selain
Majapahit di Jawa Timur. Pada abad ke-20, kedua kerajaan tersebut menjadi referensi oleh kaum
nasionalis untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelelum
kolonialisme Belanda.[8]

Sriwijaya disebut dengan berbagai macam nama. Orang Tionghoa menyebutnya Shih-li-fo-shih
atau San-fo-ts'i atau San Fo Qi. Dalam bahasa Sansekerta dan Pali, kerajaan Sriwijaya disebut
Yavadesh dan Javadeh. Bangsa Arab menyebutnya Zabaj dan Khmer menyebutnya Malayu.
Banyaknya nama merupakan alasan lain mengapa Sriwijaya sangat sulit ditemukan.[2]

Sementara

dari peta Ptolemaeus ditemukan keterangan tentang adanya 3 pulau Sabadeibei yang
kemungkinan berkaitan dengan Sriwijaya.[6]

Sekitar tahun 1993, Pierre-Yves Manguin melakukan observasi dan berpendapat bahwa pusat
Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit Seguntang dan Sabokingking (terletak di provinsi
Sumatera Selatan sekarang).[2]

Namun sebelumnya Soekmono berpendapat bahwa pusat

Sriwijaya terletak pada kawasan sehiliran Batang Hari, antara Muara Sabak sampai ke Muara
Tembesi (di provinsi Jambi sekarang),[6]

dengan catatan Malayu tidak di kawasan tersebut, jika

Malayu pada kawasan tersebut, ia cendrung kepada pendapat Moens,[10]

yang sebelumnya juga
telah berpendapat bahwa letak dari pusat kerajaan Sriwijaya berada pada kawasan Candi Muara
Takus (provinsi Riau sekarang), dengan asumsi petunjuk arah perjalanan dalam catatan I
Tsing,[11]

serta hal ini dapat juga dikaitkan dengan berita tentang pembangunan candi yang
dipersembahkan oleh raja Sriwijaya (Se li chu la wu ni fu ma tian hwa atau Sri
Cudamaniwarmadewa) tahun 1003 kepada kaisar Cina yang dinamakan cheng tien wan shou
(Candi Bungsu, salah satu bagian dari candi yang terletak di Muara Takus).[12]

Namun yang pasti

pada masa penaklukan oleh Rajendra Chola I, berdasarkan prasasti Tanjore, Sriwijaya telah
beribukota di Kadaram (Kedah sekarang).[6]

[sunting] Pembentukan dan pertumbuhan

Belum banyak bukti fisik mengenai Sriwijaya yang dapat ditemukan.[8]

Kerajaan ini menjadi

pusat perdagangan dan merupakan negara maritim, namun kerajaan ini tidak memperluas
kekuasaannya di luar wilayah kepulauan Asia Tenggara, dengan pengecualian berkontribusi
untuk populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil di barat. Beberapa ahli masih memperdebatkan
kawasan yang menjadi pusat pemerintahan Sriwijaya, selain itu kemungkinan kerajaan ini biasa
memindahkan pusat pemerintahannya, namun kawasan yang menjadi ibukota tetap diperintah
secara langsung oleh penguasa, sedangkan daerah pendukungnya diperintah oleh datu setempat.

Candi Gumpung, candi Buddha di Muaro Jambi, Kerajaan Melayu yang ditaklukkan Sriwijaya.

Reruntuhan Wat (Candi) Kaew yang berasal dari zaman Sriwijaya di Chaiya, Thailand Selatan.

Candi Borobudur, pembangunannya diselesaikan pada masa Samaratungga

Kekaisaran Sriwijaya telah ada sejak 671 sesuai dengan catatan I Tsing, dari prasasti Kedukan
Bukit pada tahun 682 di diketahui imperium ini di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang. Di
abad ke-7 ini, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan yaitu Malayu dan Kedah
menjadi bagian kemaharajaan Sriwijaya.[2]

Berdasarkan prasasti Kota Kapur yang yang berangka
tahun 686 ditemukan di pulau Bangka, kemaharajaan ini telah menguasai bagian selatan
Sumatera, pulau Bangka dan Belitung, hingga Lampung. Prasasti ini juga menyebutkan bahwa
Sri Jayanasa telah melancarkan ekspedisi militer untuk menghukum Bhumi Jawa yang tidak
berbakti kepada Sriwijaya, peristiwa ini bersamaan dengan runtuhnya Tarumanagara di Jawa
Barat dan Holing (Kalingga) di Jawa Tengah yang kemungkinan besar akibat serangan
Sriwijaya. Sriwijaya tumbuh dan berhasil mengendalikan jalur perdagangan maritim di Selat
Malaka, Selat Sunda, Laut China Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata.

Ekspansi kerajaan ini ke Jawa dan Semenanjung Malaya, menjadikan Sriwijaya mengontrol dua

pusat perdagangan utama di Asia Tenggara. Berdasarkan observasi, ditemukan reruntuhan candi-
candi Sriwijaya di Thailand dan Kamboja. Di abad ke-7, pelabuhan Cham di sebelah timur
Indochina mulai mengalihkan banyak pedagang dari Sriwijaya. Untuk mencegah hal tersebut,
Maharaja Dharmasetu melancarkan beberapa serangan ke kota-kota pantai di Indochina. Kota
Indrapura di tepi sungai Mekong, di awal abad ke-8 berada di bawah kendali Sriwijaya.
Sriwijaya meneruskan dominasinya atas Kamboja, sampai raja Khmer Jayawarman II, pendiri
imperium Khmer, memutuskan hubungan dengan Sriwijaya di abad yang sama.[2]

Di akhir abad

ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, antara lain Tarumanegara dan Holing berada di bawah
kekuasaan Sriwijaya. Menurut catatan, pada masa ini pula wangsa Sailendra bermigrasi ke Jawa
Tengah dan berkuasa disana. Di abad ini pula, Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi
bagian kerajaan.[2]

Di masa berikutnya, Pan Pan dan Trambralinga, yang terletak di sebelah utara
Langkasuka, juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya.

Setelah Dharmasetu, Samaratungga menjadi penerus kerajaan. Ia berkuasa pada periode 792
sampai 835. Tidak seperti Dharmasetu yang ekspansionis, Samaratungga tidak melakukan
ekspansi militer, tetapi lebih memilih untuk memperkuat penguasaan Sriwijaya di Jawa. Selama
masa kepemimpinannya, ia membangun candi Borobudur di Jawa Tengah yang selesai pada
tahun 825.[2]

[sunting] Agama

Candi Muara Takus, salah satu kawasan yang dianggap sebagai ibukota Sriwijaya.

Sebagai pusat pengajaran Buddha Vajrayana, Sriwijaya menarik banyak peziarah dan sarjana
dari negara-negara di Asia. Antara lain pendeta dari Tiongkok I Tsing, yang melakukan
kunjungan ke Sumatera dalam perjalanan studinya di Universitas Nalanda, India, pada tahun 671
dan 695, I Tsing melaporkan bahwa Sriwijaya menjadi rumah bagi sarjana Buddha sehingga
menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Pengunjung yang datang ke pulau ini menyebutkan
bahwa koin emas telah digunakan di pesisir kerajaan. Selain itu ajaran Buddha aliran Buddha
Hinayana dan Buddha Mahayana juga turut berkembang di Sriwijaya. Menjelang akhir abad ke-
10, Ati a, seorang sarjana Buddha asal Benggala yang berperan dalam mengembangkan Buddha
Vajrayana di Tibet dalam kertas kerjanya Durbodh loka menyebutkan ditulis pada masa
pemerintahan Sri Cudamani Warmadewa penguasa Sriwijayanagara di Malayagiri di

Suvarnadvipa.[13]

Kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India, pertama oleh budaya Hindu kemudian
diikuti pula oleh agama Buddha. Raja-raja Sriwijaya menguasai kepulauan Melayu melalui
perdagangan dan penaklukkan dari kurun abad ke-7 hingga abad ke-9, sehingga secara langsung
turut serta mengembangkan bahasa Melayu beserta kebudayaannya di Nusantara.

".... banyak raja dan pemimpin yang berada di pulau-pulau pada Lautan Selatan percaya dan
mengagumi Buddha, dihati mereka telah tertanam perbuatan baik. Di dalam benteng kota
Sriwijaya dipenuhi lebih dari 1000 biksu Budha, yang belajar dengan tekun dan
mengamalkannya dengan baik.... Jika seorang biarawan Cina ingin pergi ke India untuk belajar

Sabda, lebih baik ia tinggal dulu di sini selama satu atau dua tahun untuk mendalami ilmunya

sebelum dilanjutkan di India".

² Gambaran Sriwijaya menurut I Tsing.[4]

Sangat dimungkinkan bahwa Sriwijaya yang termahsyur sebagai bandar pusat perdagangan di
Asia Tenggara, tentunya menarik minat para pedagang dan ulama muslim dari Timur Tengah,
sehingga beberapa kerajaan yang semula merupakan bagian dari Sriwijaya, kemudian tumbuh
menjadi cikal-bakal kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera kelak, disaat melemahnya pengaruh
Sriwijaya.

Ada sumber yang menyebutkan, karena pengaruh orang muslim Arab yang banyak berkunjung
dan berdagang di Sriwijaya, maka seorang raja Sriwijaya yang bernama Sri Indrawarman pada

tahun 718 diduga masuk Islam[14]

atau setidaknya tertarik untuk mempelajari Islam dan
kebudayaan Arab, sehingga mungkin kehidupan sosial Sriwijaya adalah masyarakat sosial yang
di dalamnya terdapat masyarakat Budha dan Muslim sekaligus. Tercatat beberapa kali raja
Sriwijaya berkirim surat ke khalifah Islam di Damaskus, Suriah. Pada salah satu naskah surat
yang ditujukan kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720) berisi permintaan agar khalifah
sudi mengirimkan da'i ke istana Sriwijaya.[15]

[sunting] Budaya

Berdasarkan berbagai sumber sejarah, sebuah masyarakat yang kompleks dan kosmopolitan yang
sangat dipengaruhi alam pikiran budha wajrayana digambarkan bersemi di ibu kota Sriwijaya.
Beberapa prasasti siddhayatra abad ke-7 seperti Prasasti Talang Tuwo menggambarkan ritual
budha untuk memberkati peristiwa penuh berkah yaitu peresmian taman Sriksetra, anugerah
Maharaja Sriwijaya untuk rakyatnya. Prasasti Telaga Batu menggambarkan kerumitan dan
tingkatan jabatan pejabat kerajaan, sementara Prasasti Kota Kapur menyebutkan keperkasaan
balatentara Sriwijaya atas Jawa. Semua prasasti ini menggunakan Bahasa Melayu Kuno, bahasa
yang digunakan oleh Sriwijaya ini adalah leluhur Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia modern.
Sejak abad ke-7, bahasa Melayu kuno telah digunakan di Nusantara, ditandai dengan
ditemukannya berbagai prasasti Sriwijaya dan beberapa prasasti berbahasa Melayu Kuno di
tempat lain, seperti yang ditemukan di pulau Jawa. Hubungan dagang yang dilakukan berbagai
suku bangsa Nusantara menjadi wahana penyebaran bahasa Melayu, karena bahasa ini menjadi
alat komunikasi bagi kaum pedagang. Sejak saat itu, bahasa Melayu menjadi lingua franca dan
digunakan secara meluas oleh banyak penutur di kepulauan Nusantara.[16]

Meskipun disebut memiliki kekuatan ekonomi dan keperkasaan militer, Sriwijaya hanya
meninggalkan sedikit tinggalan purbakala di jantung negerinya di Sumatera, sangat berbeda
dengan episode Sriwijaya di Jawa Tengah saat kepemimpinan wangsa Syailendra yang banyak
membangun monumen besar; seperti Candi Kalasan, Candi Sewu, dan Borobudur. Candi-candi
budha yang berasal dari masa Sriwijaya di Sumatera antara lain Candi Muaro Jambi, Candi
Muara Takus, dan Biaro Bahal, akan tetapi tidak seperti candi periode Jawa Tengah yang terbuat
dari batu andesit, candi di Sumatera terbuat dari bata merah.

Beberapa arca-arca bersifat budhisme, seperti berbagai arca budha dan bodhisatwa
Awalokiteswara ditemukan di Bukit Seguntang, Palembang[17]

, Jambi[18]

, Bidor, Perak[19]

dan

Chaiya[20]

. Semua arca-arca ini menampilkan keanggunan dan langgam yang sama yang disebut
"Seni Sriwijaya" atau "Langgam/Gaya Sriwijaya" yang memperlihatkan kemiripan ² mungkin
diilhami ² oleh langgam Amarawati India dan langgam Syailendra Jawa (sekitar abad ke-8
sampai ke-9).[21]

[sunting] Perdagangan

Di dunia perdagangan, Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan
Tiongkok, yakni dengan penguasaan atas selat Malaka dan selat Sunda. Orang Arab mencatat
bahwa Sriwijaya memiliki aneka komoditas seperti kapur barus, kayu gaharu, cengkeh, pala,
kepulaga, gading, emas, dan timah yang membuat raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India.[11]

Kekayaan yang melimpah ini telah memungkinkan Sriwijaya membeli kesetiaan dari vassal-
vassalnya di seluruh Asia Tenggara.

Selain menjalin hubungan dagang dengan India dan Tiongkok, Sriwijaya juga menjalin
perdagangan dengan tanah Arab, kemungkinan utusan Maharaja Sri Indrawarman yang
mengantarkan surat kepada khalifah Umar bin Abdul-Aziz dari Bani Umayyah tahun 718
kembali ke Sriwijaya dengan membawa hadiah Zanji (budak wanita berkulit hitam), dan
kemudian dari kronik Tiongkok disebutkan Shih-li-fo-shih dengan rajanya Shih-li-t-'o-pa-mo (Sri
Indrawarman) pada tahun 724 mengirimkan hadiah buat kaisar Cina, berupa ts'engchi
(bermaksud sama dengan Zanji dalam bahasa Arab).[22]

Pada paruh pertama abad ke-10, di antara kejatuhan dinasti Tang dan naiknya dinasti Song,
perdagangan dengan luar negeri cukup marak, terutama Fujian, kerajaan Min dan kerajaan Nan
Han dengan negeri kayanya Guangdong. Tak diragukan lagi Sriwijaya mendapatkan keuntungan
dari perdagangan ini.

[sunting] Relasi dengan kekuatan regional

Pagoda Borom That bergaya Sriwijaya di Chaiya, Thailand.

Untuk memperkuat posisinya atas penguasaan pada kawasan di Asia Tenggara, Sriwijaya
menjalin hubungan diplomasi dengan kekaisaran China, dan secara teratur mengantarkan utusan
beserta upeti.[23]

Pada masa awal kerajaan Khmer merupakan daerah jajahan Sriwijaya. Banyak sejarawan
mengklaim bahwa Chaiya, di propinsi Surat Thani, Thailand Selatan, sebagai ibu kota kerajaan
tersebut, pengaruh Sriwijaya nampak pada bangunan pagoda Borom That yang bergaya
Sriwijaya. Setelah kejatuhan Sriwijaya, Chaiya terbagi menjadi tiga kota yakni (Mueang)
Chaiya, Thatong (Kanchanadit), dan Khirirat Nikhom.

Sriwijaya juga berhubungan dekat dengan kerajaan Pala di Benggala, pada prasasti Nalanda
berangka 860 mencatat bahwa raja Balaputradewa mendedikasikan sebuah biara kepada
Universitas Nalanda. Relasi dengan dinasti Chola di selatan India juga cukup baik, dari prasasti
Leiden disebutkan raja Sriwijaya di Kataha Sri Mara-Vijayottunggawarman telah membangun
sebuah vihara yang dinamakan dengan Vihara Culamanivarmma, namun menjadi buruk setelah
Rajendra Chola I naik tahta yang melakukan penyerangan di abad ke-11. Kemudian hubungan
ini kembali membaik pada masa Kulothunga Chola I, di mana raja Sriwijaya di Kadaram
mengirimkan utusan yang meminta dikeluarkannya pengumuman pembebasan cukai pada
kawasan sekitar Vihara Culamanivarmma tersebut. Namun demikian pada masa ini Sriwijaya
dianggap telah menjadi bahagian dari dinasti Chola, dari kronik Tiongkok menyebutkan bahwa
Kulothunga Chola I (Ti-hua-ka-lo) sebagai raja San-fo-ts'i membantu perbaikan candi dekat
Kanton pada tahun 1079, pada masa dinasti Song candi ini disebut dengan nama Tien Ching
Kuan
dan pada masa dinasti Yuan disebut dengan nama Yuan Miau Kwan.[6]

[sunting] Masa keemasan

Arca emas Avalokiteçvara bergaya Malayu-Sriwijaya, ditemukan di Rantaukapastuo,
Muarabulian, Jambi, Indonesia.

Kemaharajaan Sriwijaya bercirikan kerajaan maritim, mengandalkan hegemoni pada kekuatan
armada lautnya dalam menguasai alur pelayaran, jalur perdagangan, menguasai dan membangun
beberapa kawasan strategis sebagai pangkalan armadanya dalam mengawasi, melindungi kapal-
kapal dagang, memungut cukai serta untuk menjaga wilayah kedaulatan dan kekuasaanya.[24]

Model kapal tahun 800-an Masehi yang terdapat pada candi Borobudur.

Dari catatan sejarah dan bukti arkeologi, pada abad ke-9 Sriwijaya telah melakukan kolonisasi di
hampir seluruh kerajaan-kerajaan Asia Tenggara, antara lain: Sumatera, Jawa, Semenanjung
Malaya, Thailand, Kamboja, Vietnam,[2]

dan Filipina.[25]

Dominasi atas Selat Malaka dan Selat
Sunda, menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan
lokal yang mengenakan biaya atas setiap kapal yang lewat. Sriwijaya mengakumulasi
kekayaannya sebagai pelabuhan dan gudang perdagangan yang melayani pasar Tiongkok, dan
India.

Sriwijaya juga disebut berperan dalam menghancurkan kerajaan Medang di Jawa, dalam prasasti
Pucangan disebutkan sebuah peristiwa Mahapralaya yaitu peristiwa hancurnya istana Medang di
Jawa Timur, di mana Haji Wurawari dari Lwaram yang kemungkinan merupakan raja bawahan
Sriwijaya, pada tahun 1006 atau 1016 menyerang dan menyebabkan terbunuhnya raja Medang
terakhir Dharmawangsa Teguh.[6]

[sunting] Penurunan

Tahun 1017 dan 1025, Rajendra Chola I, raja dari dinasti Chola di Koromandel, India selatan,
mengirim ekspedisi laut untuk menyerang Sriwijaya, berdasarkan prasasti Tanjore bertarikh
1030, kerajaan Chola telah menaklukan daerah-daerah koloni Sriwijaya, sekaligus berhasil
menawan raja Sriwijaya yang berkuasa waktu itu Sangrama-Vijayottunggawarman. Selama
beberapa dekade berikutnya seluruh imperium Sriwijaya telah berada dalam pengaruh dinasti
Chola. Meskipun demikian Rajendra Chola I tetap memberikan peluang kepada raja-raja yang
ditaklukannya untuk tetap berkuasa selama tetap tunduk kepadanya.[26]

Hal ini dapat dikaitkan

dengan adanya berita utusan San-fo-ts'i ke Cina tahun 1028.[27]

Kawasan Sriwijaya dalam prasasti Tanjore

Nama kawasan

Keterangan

Pannai

Pannai

Malaiyur

Malayu

Mayirudingam

Ilangasogam

Langkasuka

Mappappalam

Mevilimbangam

Valaippanduru

Takkolam

Madamalingam

Tambralingga

Ilamuri-Desam

Lamuri

Nakkavaram

Nikobar

Kadaram

Kedah

Namun demikian pada masa ini Sriwijaya dianggap telah menjadi bagian dari dinasti Chola, dari
kronik Tiongkok menyebutkan bahwa pada tahun 1079 Kulothunga Chola I (Ti-hua-ka-lo) raja
dinasti Chola disebut juga sebagai raja San-fo-ts'i, yang kemudian mengirimkan utusan untuk
membantu perbaikan candi dekat Kanton. Selanjutnya dalam berita Cina yang berjudul Sung Hui
Yao
disebutkan bahwa kerajaan San-fo-tsi pada tahun 1082 masih mengirimkan utusan pada
masa Cina di bawah pemerintahan Kaisar Yuan Fong. Duta besar tersebut menyampaikan surat
dari raja Kien-pi bawahan San-fo-tsi, yang merupakan surat dari putri raja yang diserahi urusan
negara San-fo-tsi, serta menyerahkan pula 227 tahil perhiasan, rumbia, dan 13 potong pakaian.
Kemudian juga mengirimkan utusan berikutnya di tahun 1088.[2]

Pengaruh invasi Rajendra
Chola I, terhadap hegemoni Sriwijaya atas raja-raja bawahannya melemah, beberapa daerah
taklukan melepaskan diri, sampai muncul Dharmasraya sebagai kekuatan baru yang kemudian
menguasai kembali wilayah jajahan Sriwijaya mulai dari kawasan Semenanjung Malaya,
Sumatera, sampai Jawa bagian barat.

Berdasarkan sumber Tiongkok pada buku Chu-fan-chi[28]

yang ditulis pada tahun 1178, Chou-Ju-
Kua
menerangkan bahwa di kepulauan Asia Tenggara terdapat dua kerajaan yang sangat kuat
dan kaya, yakni San-fo-ts'i dan Cho-po (Jawa). Di Jawa dia menemukan bahwa rakyatnya
memeluk agama Budha dan Hindu, sedangkan rakyat San-fo-ts'i memeluk Budha, dan memiliki
15 daerah bawahan yang meliputi; Si-lan (Kamboja), Tan-ma-ling (Tambralingga, Ligor, selatan
Thailand), Kia-lo-hi (Grahi, Chaiya sekarang, selatan Thailand), Ling-ya-si-kia (Langkasuka),
Kilantan (Kelantan), Pong-fong (Pahang), Tong-ya-nong (Terengganu), Fo-lo-an (muara sungai
Dungun daerah Terengganu sekarang), Ji-lo-t'ing (Cherating, pantai timur semenanjung malaya),
Ts'ien-mai (Semawe, pantai timur semenanjung malaya), Pa-t'a (Sungai Paka, pantai timur
Semenanjung Malaya), Lan-wu-li (Lamuri di Aceh), Pa-lin-fong (Palembang), Kien-pi (Jambi),
dan Sin-t'o (Sunda).[6][10]

Namun demikian, istilah San-fo-tsi terutama pada tahun 1178 tidak lagi identik dengan
Sriwijaya, melainkan telah identik dengan Dharmasraya, dari daftar 15 negeri bawahan San-fo-
tsi tersebut merupakan daftar jajahan kerajaan Dharmasraya, walaupun sumber Tiongkok tetap
menyebut San-fo-tsi sebagai kerajaan yang berada di kawasan laut Cina Selatan. Hal ini karena
dalam Pararaton telah menyebutkan Malayu, disebutkan Kertanagara raja Singhasari mengirim
sebuah ekspedisi Pamalayu atau Pamalayu, dan kemudian menghadiahkan Arca Amoghapasa
kepada raja Melayu, Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa di Dharmasraya sebagaimana

yang tertulis pada prasasti Padang Roco. Peristiwa ini kemudian dikaitkan dengan manuskrip
yang terdapat pada prasasti Grahi. Begitu juga dalam Nagarakretagama, yang menguraikan
tentang daerah jajahan Majapahit juga sudah tidak menyebutkan lagi nama Sriwijaya untuk
kawasan yang sebelumnya merupakan kawasan Sriwijaya.

[sunting] Struktur pemerintahan

Pembentukan satu negara kesatuan dalam dimensi struktur otoritas politik Sriwijaya, dapat
dilacak dari beberapa prasasti yang mengandung informasi penting tentang kad tuan, vanua,
samaryy da, mandala dan bh mi.[29]

Kad tuan dapat bermakna kawasan d tu, (tnah rumah) tempat tinggal bini h ji, tempat disimpan
mas dan hasil cukai (drawy) sebagai kawasan yang mesti dijaga. Kad tuan ini dikelilingi oleh
vanua, yang dapat dianggap sebagai kawasan kota dari Sriwijaya yang didalamnya terdapat
vihara untuk tempat beribadah bagi masyarakatnya. Kad tuan dan vanua ini merupakan satu
kawasan inti bagi Sriwijaya itu sendiri. Menurut Casparis, samaryy da merupakan kawasan yang
berbatasan dengan vanua, yang terhubung dengan jalan khusus (samaryy da-patha) yang dapat
bermaksud kawasan pedalaman. Sedangkan mandala merupakan suatu kawasan otonom dari
bh mi yang berada dalam pengaruh kekuasaan kad tuan Sriwijaya.

Penguasa Sriwijaya disebut dengan Dapunta Hyang atau Maharaja, dan dalam lingkaran raja
terdapat secara berurutan yuvar ja (putra mahkota), pratiyuvar ja (putra mahkota kedua) dan
r jakum ra (pewaris berikutnya).[30]

Prasasti Telaga Batu banyak menyebutkan berbagai jabatan

dalam struktur pemerintahan kerajaan pada masa Sriwijaya.

[sunting] Hubungan dengan dinasti Sailendra

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Wangsa Sailendra

Munculnya keterkaitan antara Sriwijaya dengan dinasti Sailendra dimulai karena adanya nama
ailendravam a pada beberapa prasasti di antaranya pada prasasti Kalasan di pulau Jawa,

prasasti Ligor di selatan Thailand, dan prasasti Nalanda di India. Sementara pada prasasti
Sojomerto dijumpai nama Dapunta Selendra. Walau asal-usul dinasti ini masih diperdebatkan
sampai sekarang.[11]

Majumdar berpendapat dinasti Sailendra ini terdapat di Sriwijaya (Suwarnadwipa) dan Medang
(Jawa), keduanya berasal dari Kalinga di selatan India.[31]

Kemudian Moens menambahkan
kedatangan Dapunta Hyang ke Palembang, menyebabkan salah satu keluarga dalam dinasti ini
pindah ke Jawa.[32]

Sementara Poerbatjaraka berpendapat bahwa dinasti ini berasal dari

Nusantara, didasarkan atas Carita Parahiyangan[33]

kemudian dikaitkan dengan beberapa prasasti

lain di Jawa yang berbahasa Melayu Kuna di antaranya prasasti Sojomerto.[34]

[sunting] Raja yang memerintah

Para Maharaja Sriwijaya[2][6]

Tahun

Nama Raja

Ibukota

Prasasti, catatan pengiriman

utusan ke Tiongkok serta

peristiwa

671 Dapunta Hyang atau
Sri Jayanasa

Srivijaya

Shih-li-fo-shih

Catatan perjalanan I Tsing di
tahun 671-685, Penaklukan
Malayu, penaklukan Jawa

Prasasti Kedukan Bukit (683),
Talang Tuo (684), Kota Kapur
(686), Karang Brahi dan Palas
Pasemah

702

Sri Indrawarman

Shih-li-t-'o-pa-mo

Sriwijaya

Shih-li-fo-shih

Utusan ke Tiongkok 702-716,
724

Utusan ke Khalifah Muawiyah
I dan Khalifah Umar bin Abdul
Aziz

728

Rudra Vikraman

Lieou-t'eng-wei-kong

Sriwijaya

Shih-li-fo-shih

Utusan ke Tiongkok 728-742

743-
774

Belum ada berita pada periode
ini

775 Sri Maharaja

Sriwijaya

Prasasti Ligor B tahun 775 di
Nakhon Si Thammarat, selatan
Thailand dan menaklukkan
Kamboja

Pindah ke Jawa
(Jawa Tengah atau
Yogyakarta)

Wangsa Sailendra
mengantikan Wangsa Sanjaya

778 Dharanindra atau
Rakai Panangkaran

Jawa

Prasasti Kelurak 782 di sebelah
utara kompleks Candi
Prambanan

Prasasti Kalasan tahun 778 di
Candi Kalasan

782 Samaragrawira atau
Rakai Warak

Jawa

Prasasti Nalanda dan prasasti
Mantyasih tahun 907

792 Samaratungga atau
Rakai Garung

Jawa

Prasasti Karang Tengah tahun
824,

825 menyelesaikan
pembangunan candi Borobudur

840

Kebangkitan Wangsa Sanjaya,

Rakai Pikatan

856 Balaputradewa

Suwarnadwipa

Kehilangan kekuasaan di Jawa,
dan kembali ke Suwarnadwipa

Prasasti Nalanda tahun 860,
India

861-
959

Belum ada berita pada periode
ini

960

Sri Udayaditya
Warmadewa

Se-li-hou-ta-hia-li-tan

Sriwijaya

San-fo-ts'i

Utusan ke Tiongkok 960, &
962

980

Utusan ke Tiongkok 980 &
983: dengan raja, Hie-tche
(Haji)

988

Sri Cudamani
Warmadewa

Se-li-chu-la-wu-ni-fu-
ma-tian-hwa

Sriwijaya

Malayagiri
(Suwarnadwipa)
San-fo-ts'i

990 Jawa menyerang
Sriwijaya, Catatan Ati a,

Utusan ke Tiongkok 988-992-
1003,
pembangunan candi untuk
kaisar Cina yang diberi nama

cheng tien wan shou

1008

Sri Mara-
Vijayottunggawarman

Se-li-ma-la-pi

San-fo-ts'i

Kataha

Prasasti Leiden & utusan ke
Tiongkok 1008

1017

Utusan San-fo-ts'i ke Tiongkok
1017: dengan raja, Ha-ch'i-su-
wa-ch'a-p'u
(Haji Sumatrabhumi (?)); gelar

haji biasanya untuk raja

bawahan

1025 Sangrama-

Vijayottunggawarman

Sriwijaya

Kadaram

Diserang oleh Rajendra Chola
I dan menjadi tawanan

Prasasti Tanjore bertarikh 1030
pada candi Rajaraja, Tanjore,
India

1030

Dibawah Dinasti Chola dari
Koromandel

1079

Utusan San-fo-ts'i dengan raja
Kulothunga Chola I (Ti-hua-

ka-lo) ke Tiongkok 1079
membantu memperbaiki candi
Tien Ching di Kuang Cho
(dekat Kanton)

1082

Utusan San-fo-ts'i dari Kien-pi
(Jambi) ke Tiongkok 1082 dan
1088

1089-
1177

Belum ada berita

1178

Laporan Chou-Ju-Kua dalam
buku Chu-fan-chi berisi daftar
koloni San-fo-ts'i

1183

Srimat Trailokyaraja
Maulibhusana
Warmadewa

Dharmasraya

Dibawah Dinasti Mauli,
Kerajaan Melayu, Prasasti
Grahi tahun 1183 di selatan
Thailand

[sunting] Warisan sejarah

Meskipun Sriwijaya hanya menyisakan sedikit peninggalan arkeologi dan terlupakan dari ingatan
masyarakat pendukungnya, penemuan kembali kemaharajaan bahari ini oleh Coedès pada tahun
1920-an telah membangkitkan kesadaran bahwa suatu bentuk persatuan politik raya, berupa
kemaharajaan yang terdiri atas persekutuan kerajaan-kerajaan bahari, pernah bangkit, tumbuh,
dan berjaya di masa lalu.

Warisan terpenting Sriwijaya mungkin adalah bahasanya. Selama berabad-abad perkembangan
kekuatan ekononomi dan keperkasaan militernya, Sriwijaya berperan besar atas tersebarluasnya
penggunaan Bahasa Melayu Kuno di Nusantara, setidaknya di kawasan pesisir. Bahasa ini
menjadi bahasa kerja atau bahasa yang berfungsi sebagai penghubung (lingua franca) digunakan
di berbagai bandar dan pasar di kawasan Nusantara.[35]

Tersebar luasnya bahasa Melayu Kuno ini
mungkin yang telah membuka dan memuluskan jalan bagi Bahasa Melayu sebagai bahasa
nasional Malaysia, dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu Indonesia modern.

Di samping Majapahit, kaum nasionalis Indonesia juga mengagungkan Sriwijaya sebagai sumber
kebanggaan dan bukti kejayaan masa lampau Indonesia.[36]

Kegemilangan Sriwijaya telah
menjadi sumber kebanggaan nasional dan identitas daerah, khususnya bagi penduduk kota
Palembang, provinsi Sumatera Selatan, keluhuran Sriwijaya telah menjadi inspirasi seni budaya,
seperti lagu dan tarian tradisional Gending Sriwijaya. Hal yang sama juga berlaku bagi
masyarakat selatan Thailand yang menciptakan kembali tarian Sevichai yang berdasarkan pada
keanggunan seni budaya Sriwijaya.

Di Indonesia, nama Sriwijaya telah digunakan dan diabadikan sebagai nama jalan di berbagai
kota, dan nama ini juga digunakan oleh Universitas Sriwijaya yang didirikan tahun 1960 di
Palembang. Demikian pula Kodam II Sriwijaya (unit komando militer), PT Pupuk Sriwijaya

(Perusahaan Pupuk di Sumatera Selatan), Sriwijaya Post (Surat kabar harian di Palembang),
Sriwijaya TV, Sriwijaya Air (maskapai penerbangan), Stadion Gelora Sriwijaya, dan Sriwijaya
Football Club (Klab sepak bola Palembang), semua dinamakan demikian untuk menghormati,
memuliakan, dan merayakan kemaharajaan Sriwijaya yang gemilang.

Kerajaan Singhasari

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Artikel ini membutuhkan lebih banyak catatan kaki untuk pemastian.

Silakan bantu memperbaiki artikel ini dengan menambahkan catatan kaki.

Untuk kegunaan lain dari Singosari, lihat Singosari
(disambiguasi).

Arca Prajnaparamita ditemukan dekat candi
Singhasari dipercaya sebagai arca perwujudan Ken
Dedes (koleksi Museum Nasional Indonesia).
Keindahan arca ini mencerminkan kehalusan seni
budaya Singhasari.

Kerajaan Singhasari atau sering pula ditulis

Singasari atau Singosari, adalah sebuah kerajaan di
Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok pada
tahun 1222. Lokasi kerajaan ini sekarang diperkirakan berada di daerah Singosari, Malang.

sunting] Nama ibu kota

Kerajaan Tumapel (Singhasari)

Lokasi pusat Kerajaan Singhasari

Masa

Berdirinya

1222-1292

Didahului

oleh

Kadiri

Digantikan

oleh

Majapahit

Ibu kota

Kutaraja, Singhasari

Agama

Hindu
Buddha

Pemerintahan

-Raja pertama
-Raja terakhir

Monarki
Ken Arok (1222-1227)
Kertanagara (1268-1292)

Berdasarkan prasasti Kudadu, nama resmi Kerajaan Singhasari yang sesungguhnya ialah

Kerajaan Tumapel. Menurut Nagarakretagama, ketika pertama kali didirikan tahun 1222, ibu
kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja.

Pada tahun 1254, Raja Wisnuwardhana mengangkat putranya yang bernama Kertanagara sebagai
yuwaraja dan mengganti nama ibu kota menjadi Singhasari. Nama Singhasari yang merupakan
nama ibu kota kemudian justru lebih terkenal daripada nama Tumapel. Maka, Kerajaan Tumapel
pun terkenal pula dengan nama Kerajaan Singhasari.

Nama Tumapel juga muncul dalam kronik Cina dari Dinasti Yuan dengan ejaan Tu-ma-pan.

[sunting] Awal berdiri

Menurut Pararaton, Tumapel semula hanya sebuah daerah bawahan Kerajaan Kadiri. Yang
menjabat sebagai akuwu (setara camat) Tumapel saat itu adalah Tunggul Ametung. Ia mati
dibunuh dengan cara tipu muslihat oleh pengawalnya sendiri yang bernama Ken Arok, yang
kemudian menjadi akuwu baru. Ken Arok juga yang mengawini istri Tunggul Ametung yang
bernama Ken Dedes. Ken Arok kemudian berniat melepaskan Tumapel dari kekuasaan Kadiri.

Pada tahun 1222 terjadi perseteruan antara Kertajaya raja Kadiri melawan kaum brahmana. Para
brahmana lalu menggabungkan diri dengan Ken Arok yang mengangkat dirinya menjadi raja
pertama Tumapel bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Perang melawan Kadiri meletus di
desa Ganter yang dimenangkan oleh pihak Tumapel.

Nagarakretagama juga menyebut tahun yang sama untuk pendirian Kerajaan Tumapel, namun

tidak menyebutkan adanya nama Ken Arok. Dalam naskah itu, pendiri kerajaan Tumapel
bernama Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra yang berhasil mengalahkan Kertajaya raja
Kadiri.

Prasasti Mula Malurung atas nama Kertanagara tahun 1255, menyebutkan kalau pendiri Kerajaan
Tumapel adalah Bhatara Siwa. Mungkin nama ini adalah gelar anumerta dari Ranggah Rajasa,
karena dalam Nagarakretagama arwah pendiri kerajaan Tumapel tersebut dipuja sebagai Siwa.
Selain itu, Pararaton juga menyebutkan bahwa, sebelum maju perang melawan Kadiri, Ken
Arok lebih dulu menggunakan julukan Bhatara Siwa.

[sunting] Silsilah Wangsa Rajasa

Silsilah wangsa Rajasa, keluarga penguasa Singhasari dan Majapahit. Penguasa ditandai dengan
blok warna dalam gambar ini.[1]

Wangsa Rajasa yang didirikan oleh Ken Arok. Keluarga kerajaan ini menjadi penguasa
Singhasari, dan berlanjut pada kerajaan Majapahit. Terdapat perbedaan antara Pararaton dan
Nagarakretagama dalam menyebutkan urutan raja-raja Singhasari.

Versi Pararaton adalah:

1.

Ken Arok alias Rajasa Sang
Amurwabhumi (1222 - 1247)

2.

Anusapati (1247 - 1249)

3.

Tohjaya (1249 - 1250)

4.

Ranggawuni alias Wisnuwardhana
(1250 - 1272)

5.

Kertanagara (1272 - 1292)

Versi Nagarakretagama adalah:

1. Rangga Rajasa Sang Girinathaputra
(1222 - 1227)

2.

Anusapati (1227 - 1248)

3.

Wisnuwardhana (1248 - 1254)

4.

Kertanagara (1254 - 1292)

Kisah suksesi raja-raja Tumapel versi Pararaton diwarnai pertumpahan darah yang dilatari balas
dendam. Ken Arok mati dibunuh Anusapati (anak tirinya). Anusapati mati dibunuh Tohjaya
(anak Ken Arok dari selir). Tohjaya mati akibat pemberontakan Ranggawuni (anak Anusapati).
Hanya Ranggawuni yang digantikan Kertanagara (putranya) secara damai. Sementara itu versi

Nagarakretagama tidak menyebutkan adanya pembunuhan antara raja pengganti terhadap raja

sebelumnya. Hal ini dapat dimaklumi karena Nagarakretagama adalah kitab pujian untuk
Hayam Wuruk raja Majapahit. Peristiwa berdarah yang menimpa leluhur Hayam Wuruk tersebut
dianggap sebagai aib.

Di antara para raja di atas hanya Wisnuwardhana dan Kertanagara saja yang didapati
menerbitkan prasasti sebagai bukti kesejarahan mereka. Dalam Prasasti Mula Malurung (yang
dikeluarkan Kertanagara atas perintah Wisnuwardhana) ternyata menyebut Tohjaya sebagai raja
Kadiri, bukan raja Tumapel. Hal ini memperkuat kebenaran berita dalam Nagarakretagama.
Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Kertanagara tahun 1255 selaku raja bawahan di Kadiri.
Dengan demikian, pemberitaan kalau Kertanagara naik takhta tahun 1254 dapat diperdebatkan.
Kemungkinannya adalah bahwa Kertanagara menjadi raja muda di Kadiri dahulu, baru pada
tahun 1268 ia bertakhta di Singhasari. Diagram silsilah di samping ini adalah urutan penguasa
dari Wangsa Rajasa, yang bersumber dari Pararaton.

[sunting] Prasasti Mula Malurung

Mandala Amoghap a dari masa Singhasari (abad ke-13), perunggu, 22.5 x 14 cm. Koleksi
Museum für Indische Kunst, Berlin-Dahlem, Jerman.

Penemuan prasasti Mula Malurung memberikan pandangan lain yang berbeda dengan versi
Pararaton yang selama ini dikenal mengenai sejarah Tumapel.

Kerajaan Tumapel disebutkan didirikan oleh Rajasa yang dijuluki "Bhatara Siwa", setelah
menaklukkan Kadiri. Sepeninggalnya, kerajaan terpecah menjadi dua, Tumapel dipimpin
Anusapati sedangkan Kadiri dipimpin Bhatara Parameswara (alias Mahisa Wonga Teleng).
Parameswara digantikan oleh Guningbhaya, kemudian Tohjaya. Sementara itu, Anusapati
digantikan oleh Seminingrat yang bergelar Wisnuwardhana. Prasasti Mula Malurung juga
menyebutkan bahwa sepeninggal Tohjaya, Kerajaan Tumapel dan Kadiri dipersatukan kembali

oleh Seminingrat. Kadiri kemudian menjadi kerajaan bawahan yang dipimpin oleh putranya,
yaitu Kertanagara.

[sunting] Pemerintahan bersama

Pararaton dan Nagarakretagama menyebutkan adanya pemerintahan bersama antara
Wisnuwardhana dan Narasingamurti. Dalam Pararaton disebutkan nama asli Narasingamurti
adalah Mahisa Campaka.

Apabila kisah kudeta berdarah dalam Pararaton benar-benar terjadi, maka dapat dipahami
maksud dari pemerintahan bersama ini adalah suatu upaya rekonsiliasi antara kedua kelompok
yang bersaing. Wisnuwardhana merupakan cucu Tunggul Ametung sedangkan Narasingamurti
adalah cucu Ken Arok.

[sunting] Kejayaan

Kertanagara adalah raja terakhir dan raja terbesar dalam sejarah Singhasari (1268 - 1292). Ia
adalah raja pertama yang mengalihkan wawasannya ke luar Jawa. Pada tahun 1275 ia mengirim
pasukan Ekspedisi Pamalayu untuk menjadikan Sumatra sebagai benteng pertahanan dalam
menghadapi ekspansi bangsa Mongol. Saat itu penguasa Sumatra adalah Kerajaan Dharmasraya
(kelanjutan dari Kerajaan Malayu). Kerajaan ini akhirnya dianggap telah ditundukkan, dengan
dikirimkannya bukti arca Amoghapasa yang dari Kertanagara, sebagai tanda persahabatan kedua
negara.

Pada tahun 1284, Kertanagara juga mengadakan ekspedisi menaklukkan Bali. Pada tahun 1289
Kaisar Kubilai Khan mengirim utusan ke Singhasari meminta agar Jawa mengakui kedaulatan
Mongol. Namun permintaan itu ditolak tegas oleh Kertanagara. Nagarakretagama menyebutkan
daerah-daerah bawahan Singhasari di luar Jawa pada masa Kertanagara antara lain, Melayu,
Bali, Pahang, Gurun, dan Bakulapura.

[sunting] Keruntuhan

Candi Singhasari dibangun sebagai tempat pemuliaan Kertanegara, raja terakhir Singhasari.

Kerajaan Singhasari yang sibuk mengirimkan angkatan perangnya ke luar Jawa akhirnya
mengalami keropos di bagian dalam. Pada tahun 1292 terjadi pemberontakan Jayakatwang
bupati Gelang-Gelang, yang merupakan sepupu, sekaligus ipar, sekaligus besan dari Kertanagara
sendiri. Dalam serangan itu Kertanagara mati terbunuh.

Setelah runtuhnya Singhasari, Jayakatwang menjadi raja dan membangun ibu kota baru di
Kadiri. Riwayat Kerajaan Tumapel-Singhasari pun berakhir.

[sunting] Hubungan dengan Majapahit

Pararaton, Nagarakretagama, dan prasasti Kudadu mengisahkan Raden Wijaya cucu
Narasingamurti yang menjadi menantu Kertanagara lolos dari maut. Berkat bantuan Aria
Wiraraja (penentang politik Kertanagara), ia kemudian diampuni oleh Jayakatwang dan diberi
hak mendirikan desa Majapahit.

Pada tahun 1293 datang pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese untuk menaklukkan Jawa.
Mereka dimanfaatkan Raden Wijaya untuk mengalahkan Jayakatwang di Kadiri. Setelah Kadiri
runtuh, Raden Wijaya dengan siasat cerdik ganti mengusir tentara Mongol keluar dari tanah
Jawa.

Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit sebagai kelanjutan Singhasari, dan
menyatakan dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa, yaitu dinasti yang didirikan oleh Ken Arok.

[sunting] Kepustakaan

y Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta:

Balai Pustaka

y Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu

y R.M. Mangkudimedja. 1979. Serat Pararaton Jilid 2. Jakarta: Departemen Pendidikan

dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah

y

Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan (terbitan ulang 1965). Yogyakarta:
LKIS

y Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara

y Sejarah Kerajaan Sriwijaya

y Dalam bahasa Sansekertasri berarti ³bercahaya´ danwijaya berarti ³kemenangan´. Bukti

awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok
I-tsing menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan.
Prasasti paling tua mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7 yaitu Prasasti
Kedukan Bukit di Palembang bertarikh 682.

y Sriwijaya (Srivijaya) adl kerajaan maritim yg kuat di pulau Sumatera dan berpengaruh di

Nusantara daerah kekuasaan Sriwijaya meliputi Kamboja Thailand Semenanjung Malaya
Sumatera Jawa Kalimantan dan Sulawesi.

y Kemunduran pengaruh Sriwijaya terhadap daerah bawahan mulai menyusut dikarenakan

beberapa peperangandiantara serangan dari raja Dharmawangsa dari Jawa ditahun 990
dan tahun 1025 serangan Rajendra Coladewa dari Koromandel selanjut tahun 1183

Sriwijaya dibawah kendali kerajaan Dharmasraya. Dan di akhir masa kerajaan ini takluk
di bawah kerajaan Majapahit.

y Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatera awal dan kerajaan besar Nusantara selain

Majapahit di Jawa Timur. Pada abad ke-20 kedua kerajaan tersebut menjadi referensi
olehkaum nasionalis utk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan negara
sebelelum kolonialisme Belanda.

y Sriwijaya disebut dgn berbagai macam nama. Orang Tionghoa menyebut Shih-li-fo-shih

atau San-fo-ts¶i atau San Fo Qi. Dalam bahasa Sansekerta dan Pali kerajaan Sriwijaya
disebut Yavadesh dan Javadeh. Bangsa Arab menyebut Zabaj dan Khmer menyebut
Malayu.Sementara dari peta Ptolemaeus ditemukan keterangan tentang ada 3 pulau
Sabadeibei yg berkaitan dgn Sriwijaya.

y Eksistensi Sriwijaya diketahui secara resmi tahun 1918 oleh sejarawan Perancis George

C dès dari École française d¶Extrême-Orient. Sekitar tahun 1992 hingga 1993 Pierre-
Yves Manguin membuktikan bahwa pusat Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit
Seguntang dan Sabokingking (terletak di provinsi Sumatra Selatan Indonesia). Namun
Soekmono berpendapat bahwa pusat Sriwijaya terletak di provinsi Jambi sekarang yaitu
pada kawasan sehiliran Batang Hari antara Muara Sabak sampai ke Muara Tembesi.

y Pembentukan dan Pertumbuhan Kerajaaan Sriwijaya

y Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat perdagangan dan merupakan negara maritim. Negara

ini tak memperluas kekuasaan diluar wilayah kepulauan Asia Tenggara dgn pengecualian
berkontribusi utk populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil di barat. Sekitar tahun 500 akar
Sriwijaya mulai berkembang di wilayah sekitar Palembang Sumatera. Kerajaan ini terdiri
atas tiga zona utama daerah ibukota muara yg berpusatkan Palembang lembah Sungai
Musi yg berfungsi sebagai daerah pendukung dan daerah-daerah muara saingan yg
mampu menjadi pusat kekuasan saingan. Wilayah hulu sungai Musi kaya akan berbagai
komoditas yg berharga utk pedagang Tiongkok Ibukota diperintah secara langsung oleh
penguasa sementara daerah pendukung tetap diperintah oleh datu setempat.

y Ekspansi kerajaan ini ke Jawa dan Semenanjung Malaya menjadikan Sriwijaya

mengontrol dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara. Berdasarkan observasi
ditemukan reruntuhan candi-candi Sriwijaya di Thailand dan Kamboja. Di abad ke-7
pelabuhan Cham di sebelah timur Indochina mulai mengalihkan banyak pedagang dari
Sriwijaya. Untuk mencegah hal tersebut Maharaja Dharmasetu melancarkan beberapa
serangan ke kota-kota pantai di Indochina. Kota Indrapura di tepi sungai Mekong di awal
abad ke-8 berada di bawah kendali Sriwijaya. Sriwijaya meneruskan dominasi atas
Kamboja sampai raja Khmer Jayawarman II pendiri imperium Khmer memutuskan
hubungan dgn kerajaan di abad yg sama.

y DariPrasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang

Jayanasa Kerajaan Minanga takluk di bawah imperium Sriwijaya. Penguasaan atas
Malayu yg kaya emas telah meningkatkan prestise kerajaan.

y BerdasarkanPrasasti Kota Kapur yg yg berangka tahun 682 dan ditemukan di pulau

Bangka Pada akhir abad ke-7 kemaharajaan ini telah menguasai bagian selatan Sumatera
pulau Bangka dan Belitung hingga Lampung. Prasasti ini juga menyebutkan bahwa
Jayanasa telah melancarkan ekspedisi militer utk menghukum Bhumi Jawa yg tak
berbakti kepada Sriwijaya peristiwa ini bersamaan dgn runtuh Tarumanagara di Jawa
Barat dan Holing (Kalingga) di Jawa Tengah yg kemungkinan besar akibat serangan

Sriwijaya. Sriwijaya tumbuh dan berhasil mengendalikan jalur perdagangan maritim di
Selat Malaka Selat Sunda Laut China Selatan Laut Jawa dan Selat Karimata.

y Abad ke-7 orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan di Sumatera yaitu

Malayu dan Kedah dan tiga kerajaan di Jawa menjadi bagian kemaharajaan Sriwijaya. Di
akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa antara lain Tarumanegara dan Holing berada
di bawah kekuasaan Sriwijaya. Menurut catatan pada masa ini pula wangsa Melayu-
Budha Sailendra bermigrasi ke Jawa Tengah dan berkuasa disana. Di abad ini pula
Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi bagian kerajaan. Di masa berikut Pan Pan
dan Trambralinga yg terletak di sebelah utara Langkasuka juga berada di bawah pengaruh
Sriwijaya. Di abad ke-9 wilayah kemaharajaan Sriwijaya meliputi Sumatera Sri Lanka
Semenanjung Malaya Jawa Barat Sulawesi Maluku Kalimantan dan Filipina. Dengan
penguasaan tersebut kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yg hebat hingga abad
ke-13.

y Setelah Dharmasetu Samaratungga menjadi penerus kerajaan. Ia berkuasa pada periode

792 sampai 835. Tidak seperti Dharmasetu yg ekspansionis Samaratungga tak melakukan
ekspansi militer tetapi lbh memilih utk memperkuat penguasaan Sriwijaya di Jawa.
Selama masa kepemimpinan ia membangun candi Borobudur di Jawa Tengah yg selesai
pada tahun 825.

y Budha Vajrayana di Kerajaan Sriwijaya

y Sebagaipusat pengajaran Budha Vajrayana Sriwijaya menarik banyak peziarah dan

sarjana dari negara-negara di Asia. Antara lain pendeta dari Tiongkok I-tsing yg
melakukan kunjungan ke Sumatera dalam perjalanan studi di Universitas Nalanda India
pada tahun 671 dan 695 serta di abad ke-11 Atisha seorang sarjana Budha asal Benggala
yg berperan dalam mengembangkan Budha Vajrayana di Tibet. I-tsing melaporkan
bahwa Sriwijaya menjadi rumah bagi ribuan sarjana Budha sehingga menjadi pusat
pembelajaran agama Buddha. Pengunjung yg datang ke pulau ini menyebutkan bahwa
koin emas telah digunakan di pesisir kerajaan. Ajaran Buddha aliran Buddha Hinayana
dan Buddha Mahayana juga turut berkembang di Sriwijaya.

y Relasi Kerajaan Sriwijaya dgn Kekuatan Regional

y Dari catatan sejarah danbukti arkeologi dinyatakan bahwa pada abad ke-9 Sriwijaya telah

melakukan kolonisasi di hampir seluruh kerajaan-kerajaan Asia Tenggara antara lain
Sumatera Jawa Semenanjung Malaya Kamboja dan Vietnam Selatan . Dominasi atas
Selat Malaka dan Selat Sunda menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali rute perdagangan
rempah dan perdagangan lokal yg mengenakan biaya atas tiap kapal yg lewat. Sriwijaya
mengakumulasi kekayaan sebagai pelabuhan dan gudang perdagangan yg melayani pasar
Tiongkok dan India.

y Pada masa awalKerajaan Khmer juga menjadi daerah jajahan Sriwijaya. Banyak

sejarawan mengklaim bahwa Chaiya di propinsi Surat Thani Thailand Selatan sebagai ibu
kota terakhir kerajaan tersebut pengaruh Sriwijaya nampak pada bangunan pagoda
Borom That yg bergaya Sriwijaya. Setelah kejatuhan Sriwijaya Chaiya terbagi menjadi
tiga kota yakni (Mueang) Chaiya Thatong (Kanchanadit) dan Khirirat Nikhom.

y Sriwijaya juga berhubungan dekat dgn kerajaan Pala di Benggala dan sebuah prasasti

berangka 860 mencatat bahwa raja Balaputra mendedikasikan seorang biara kepada
Universitas Nalada Pala. Relasi dgn dinasti Chola di India selatan cukup baik dan

kemudian menjadi buruk setelah Rajendra Coladewa naik tahta dan melakukan
penyerangan di abad ke-11.

y Minanga merupakan kekuatan pertama yg menjadi pesaing Sriwijaya yg akhir dapat

ditaklukkan pada abad ke-7. Kerajaan Melayu ini memiliki pertambangan emas sebagai
sumber ekonomi dan kata Swarnnadwipa (pulau emas) mungkin merujuk pada hal ini.
Dan kemudian Kedah juga takluk dan menjadi daerah bawahan.

y Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

y Pada paruh pertama abad ke-10 diantara kejatuhan dinasti Tang dan naik dinasti Song

perdagangan dgn luar negeri cukup marak terutama Fujian kerajaan Min dan negeri kaya
Guangdong kerajaan Nan Han. Tak diragukan lagi Sriwijaya mendapatkan keuntungan
dari perdagangan ini. Pada tahun 903 penulis Muslim Ibnu Batutah sangat terkesan dgn
kemakmuran Sriwijaya. Daerah urban kerajaan meliputi Palembang (khusus Bukit
Seguntang) Muara Jambi dan Kedah. Di tahun 902 Sriwijaya mengirimkan upeti ke
China. Dua tahun kemudian raja terakhir dinasti Tang menganugerahkan gelar kepada
utusan Sriwijaya. Dari literatur Tiongkok utusan itu mempunyai nama Arab hal ini
memberikan informasi bahwa pada masa-masa itu Sriwijaya sudah berhubungan dgn
Arab yg memungkinkan Sriwijaya sudah masuk pengaruh Islam di dalam kerajaan.

y Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya

y Rajendra Coladewa pada tahun 1025 raja Chola dari Koromandel India selatan

menaklukkan Kedah dan merampas dari Sriwijaya. Kemudian Kerajaan Chola
meneruskan penyerangan dan berhasil penaklukan Sriwijaya selama beberapa dekade
berikut keseluruh imperium Sriwijaya berada dalam pengaruh Rajendra Coladewa.
Meskipun demikian Rajendra Coladewa tetap memberikan peluang kepada raja-raja yg
ditaklukan utk tetap berkuasa selama tetap tunduk kepadanya. Setelah invasi tersebut
akhir mengakibatkan melemah hegemoni Sriwijaya dan kemudian beberapa daerah
bawahan membentuk kerajaan sendiri dan kemudian muncul Kerajaan Dharmasraya
sebagai kekuatan baru dan kemudian mencaplok kawasan semenanjung malaya dan
sumatera termasuk Sriwijaya itu sendiri.

y Istilah San-fo-tsi terutama pada tahun 1225 tak lagi identik dgn Sriwijaya melainkan telah

identik dgn Dharmasraya dimana pusat pemerintahan dari San-fo-tsi telah berpindah jadi
dari daftar 15 negeri bawahan San-fo-tsi tersebut merupakan daftar jajahan kerajaan
Dharmasraya yg sebelum merupakan daerah bawahan dari Sriwijaya dan berbalik
menguasai Sriwijaya beserta daerah jajahan lainnya.
Antara tahun 1079 - 1088 kronik Tionghoa masih mencatat bahwaSan-fo-ts¶i masih
mengirimkan utusan dari Jambi dan Palembang. Dalam berita Cina yg berjudul Sung Hui
Yao disebutkan bahwa kerajaan San-fo-tsi pada tahun 1082 mengirim utusan dimana
pada masa itu Cina di bawah pemerintahan Kaisar Yuan Fong. Duta besar tersebut
menyampaikan surat dari raja Kien-pi bawahan San-fo-tsi yg merupakan surat dari putri
raja yg diserahi urusan negara San-fo-tsi serta menyerahkan pula 227 tahil perhiasan
rumbia dan 13 potong pakaian. Dan kemudian dilanjutkan dgn pengiriman utusan
selanjut di tahun 1088.

y Berdasarkan sumber Tiongkok pada buku Chu-fan-chi yg ditulis pada tahun 1178 Chou-

Ju-Kua menerangkan bahwa di kepulauan Asia Tenggara terdapat dua kerajaan yg sangat
kuat dan kaya yakni San-fo-ts¶i dan Cho-po (Jawa). Di Jawa dia menemukan bahwa
rakyat memeluk agama Budha dan Hindu sedangkan rakyat San-fo-ts¶i memeluk Budha

dan memiliki 15 daerah bawahan yg meliputi; Pong-fong (Pahang) Tong-ya-nong
(Terengganu) Ling-ya-si-kia (Langkasuka) Kilantan (Kelantan) Fo-lo-an (muara sungai
Dungun daerah Terengganu sekarang) Ji-lo-t¶ing (Cherating pantai timur semenanjung
malaya) Ts¶ien-mai (Semawe pantai timur semenanjung malaya) Pa-t¶a (Sungai Paka
pantai timur semenanjung malaya) Tan-ma-ling (Tambralingga Ligor selatan Thailand)
Kia-lo-hi (Grahi Chaiya sekarang selatan Thailand) Pa-lin-fong (Palembang) Kien-pi
(Jambi) Sin-t¶o (Sunda) Lan-wu-li (Lamuri di Aceh) and Si-lan (Kamboja).

y DalamKidung Pamacangah dan Babad Arya Tabanan juga disebut µArya Damar¶ sebagai

bupati Palembang yg berjasa membantu Gajah Mada dalam menaklukkan Bali pada
tahun 1343 Prof. C.C. Berg menganggap identik dgn Adityawarman. Dan kemudian pada
tahun 1347 Adityawarman memproklamirkan diri menjadi raja di Malayapura sesuai dgn
manuskrip yg terdapat pada bagian belakang Arca Amoghapasa. Kemudian dari Kitab
Undang-Undang Tanjung Tanah yg kemungkinan ditulis sebelum pada tahun 1377 juga
terdapat kata-kata bumi palimbang.

y Pada tahun 1275 Singhasari penerus kerajaan Kediri di Jawa melakukan suatu ekspedisi

dalam Pararaton disebut semacam ekspansi dan menaklukan bhumi malayu yg dikenal
dgn nama Ekspedisi Pamalayu yg kemudian Kertanagara raja Singhasari menghadiahkan
Arca Amoghapasa kepada Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa raja Melayu di
Dharmasraya seperti yg tersebut dalam Prasasti Padang Roco. Dan selanjut pada tahun
1293 muncul Majapahit sebagai pengganti Singhasari dan setelah Ratu Tribhuwana
Wijayatunggadewi naik tahta memberikan tanggung jawab kepada Adityawarman
seorang peranakan Melayu dan Jawa utk kembali menaklukkan Swarnnabhumi pada
tahun 1339. Dan dimasa itu nama Sriwijaya sudah tak ada disebut lagi tapi telah diganti
dgn nama Palembang hal ini sesuai dgn Nagarakretagama yg menguraikan tentang daerah
jajahan Majapahit.

y Perdagangan Kerjaaan Sriwijaya

y Dalam perdagangan Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan

Tiongkok yakni dgn penguasaan atas selat Malaka dan selat Sunda. Orang Arab mencatat
bahwa Sriwijaya memiliki aneka komoditi seperti kamper kayu gaharu cengkeh pala
kepulaga gading emas dan timah yg membuat raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India.
Kekayaan yg melimpah ini telah memungkinkan Sriwijaya membeli kesetiaan dari
vassal-vassal di seluruh Asia Tenggara.

y Pengaruh Budaya dan Agama Islam

y Kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India pertama oleh budaya Hindu dan

kemudian diikuti pula oleh agama Buddha. Agama Buddha diperkenalkan di Sriwijaya
pada tahun 425 Masehi. Sriwijaya merupakan pusat terpenting agama Buddha Mahayana.
Raja-raja Sriwijaya menguasai kepulauan Melayu melalui perdagangan dan penaklukkan
dari kurun abad ke-7 hingga abad ke-9. Sehingga secara langsung turut serta
mengembangkan bahasa Melayu dan kebudayaan Melayu di Nusantara.

y Sangat dimungkinkan bahwa Sriwijaya yg termahsyur sebagai bandar pusat perdagangan

di Asia Tenggara sekaligus sebagai pusat pembelajaran agama Budha juga ramai
dikunjungi pendatang dari Timur Tengah dan mulai dipengaruhi oleh pedagang dan
ulama muslim. Sehingga beberapa kerajaan yg semula merupakan bagian dari Sriwijaya
kemudian tumbuh menjadi cikal-bakal kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera kelak disaat
melemah pengaruh Sriwijaya.

y Pengaruh orang muslim Arab yg banyak berkunjung di Sriwijaya raja Sriwijaya yg

bernama Sri Indrawarman masuk Islam pada tahun 718. Sehingga sangat dimungkinkan
kehidupan sosial Sriwijaya adl masyarakat sosial yg di dalam terdapat masyarakat Budha
dan Muslim sekaligus. Tercatat beberapa kali raja Sriwijaya berkirim surat ke khalifah
Islam di Suriah. Bahkan disalah satu naskah surat adl ditujukan kepada khalifah Umar bin
Abdul Aziz (717-720M) dgn permintaan agar khalifah sudi mengirimkan da¶i ke istana
Sriwijaya.

y Warisan Sejarah Kemaharajaan Sriwijaya

y Berdasarkan Hikayat Melayu pendiri Kesultanan Malaka mengaku sebagai pangeran

Palembang keturunan keluarga bangsawan Palembang dari trah Sriwijaya. Hal ini
menunjukkan bahwa pada abad ke-15 keagungan gengsi dan prestise Sriwijaya tetap
dihormati dan dijadikan sebagai sumber legitimasi politik bagi penguasa di kawasan ini.

y Nama Sriwijaya telah digunakan dan diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota dan

nama ini telah melekat dgn kota Palembang dan Sumatera Selatan.Universitas Sriwijaya
yg didirikan tahun 1960 di Palembang dinamakan berdasarkan kedatuan Sriwijaya.
Demikian pulaKodam Sriwijaya (unit komando militer) PT Pupuk Sriwijaya (Perusahaan
Pupuk di Sumatera Selatan)Sriwijaya Post (Surat kabar harian di Palembang) Sriwijaya
TV Sriwijaya Air (maskapai penerbangan) Stadion Gelora Sriwijaya dan Sriwijaya
Football Club (Klab sepak bola Palembang) semua dinamakan demikian utk
menghormati memuliakan dan merayakan kegemilangan kemaharajaan Sriwijaya.

y Di samping Majapahit kaum nasionalis Indonesia juga mengagungkan Sriwijaya sebagai

sumber kebanggaan dan bukti kejayaan masa lampau Indonesia.Kegemilangan Sriwijaya
telah menjadi sumber kebanggaan nasional dan identitas daerah khusus bagi penduduk
kota Palembang provinsi Sumatera Selatan dan segenap bangsa Melayu. Bagi penduduk
Palembang keluhuran Sriwijaya telah menjadi inspirasi seni budaya seperti lagu dan
tarian tradisional Gending Sriwijaya. Hal yg sama juga berlaku bagi masyarakat Thailand
Selatan yg menciptakan kembali tarian Sevichai (Sriwijaya) yg berdasarkan pada
keanggunan seni budaya Sriwijaya.

y Raja-raja Sriwijaya : Para Maharaja Sriwijaya

Tahun

Nama Raja

Ibukota

Catatan Sejarah

671 Dapunta Hyang Sri Jayanasa Srivijaya

Catatan perjalanan I-tsing di
tahun 671-685Prasasti
Kedukan Bukit (683) Talang
Tuo (684) dan Kota Kapur
Penaklukan Malayu
penaklukan Jawa

702 Sri IndravarmanChe-li-to-le-pa-
mo

SrivijayaShih-li-fo-shih

Utusan ke Tiongkok 702-716
724Utusan ke Khalifah
Muawiyah I dan Khalifah
Umar bin Abdul Aziz

728 Rudra VikramanLieou-t¶eng-
wei-kong

SrivijayaShih-li-fo-shih Utusan ke Tiongkok 728-742

743-

Tidak ada berita pada periode

760

ini

Pindah ke Jawa

Wangsa Sailendra
mengantikan Wangsa Sanjaya

760 Maharaja

WisnuDharmmatunggadewa

Jawa

Prasasti Ligor A menaklukkan
Kamboja.

775 Dharanindra

Sanggramadhananjaya

Jawa

Prasasti Candi Kalasan 778

782 Samaragrawira

Jawa

Prasasti Nalanda

792 Samaratungga

Jawa

Prasasti Karang Tengah tahun
824.825 menyelesaikan
pembangunan candi
Borobudur

Kebangkitan Wangsa Sanjaya
Rakai Pikatan

835 Balaputradewa

SrivijayaSuwarnabhumi

Kehilangan kekuasaan di
Jawa dan kembali ke
SrivijayaPrasasti Nalanda
(860)

860-
960

Tidak ada berita pada periode
ini

960 Sri UdayadityavarmanSe-li-
hou-ta-hia-li-tan

SrivijayaSan-fo-ts¶i

Utusan ke Tiongkok 960 &
962

980 Hie-tche (Haji)

SrivijayaSan-fo-ts¶i

Utusan ke Tiongkok 980 &
983

988 Sri CudamanivarmadevaSe-li-
chu-la-wu-ni-fu-ma-tian-hwa SrivijayaSan-fo-ts¶i

Utusan ke Tiongkok 988-992-
1003990 Jawa menyerang
Srivijaya pembangunan kuil
utk Kaisar China Prasasti
Tanjore atau Prasasti Leiden
(1044) pemberian anugrah
desa oleh raja-raja I

1008 Sri MaravijayottunggaSe-li-ma-
la-pi

SrivijayaSan-fo-ts¶i

Utusan ke Tiongkok 1008

1017 Sumatrabhumi

SrivijayaSan-fo-ts¶i

Utusan ke Tiongkok 1017

1025 Sangramavijayottungga

SrivijayaSan-fo-ts¶i

Diserang oleh Rajendra
ColadewaPrasasti Chola pada
candi Rajaraja Tanjore

1028

Dibawah Dinasti Rajendra
Coladewa dari Koromandel

1079 Rajendra Dewa KulottunggaTi-
hua-ka-lo

PalembangPa-lin-fong Utusan ke Tionkok

1079Memperbaiki candi Tien

Ching di Kuang Cho (dekat
Kanton)

1100 Rajendra II

PalembangPa-lin-fong

1156 Rajendra III

PalembangPa-lin-fong Piagam Larger Leyden Plates

1183

Dibawah Dinasti Mauli
Kerajaan Melayu

1183-
1286

Srimat Trailokyaraja
Maulibhusana Warmadewa

Dharmasraya

Prasasti Grahi tahun 1183 di
selatan Thailand

1286-
1293

Srimat Tribhuwanaraja Mauli
Warmadewa

Dharmasraya

Prasasti Padang Roco tahun
1286 di Siguntur

1293-
1339

Tidak ada berita pada periode
ini

1339

Palembang

Dibawah Dinasti Majapahit

1347

Srimat Sri Udayadityawarma
Pratapaparakrama Rajendra
Maulimali Warmadewa

Malayapura

Kembali dibawah Dinasti
Mauli

1409

Penaklukan kembali oleh
Majapahit sebagian dari
bangsawan pindah ke
Tumasik atau Malaka

y Sumber: dari

y Sejarah Kebesaran Kerajaan Sriwijaya

dan Pengaruhnya dimasa Kini

y

Kerajaan Sriwijaya (atau juga disebut Srivijaya) adalah salah satu kemaharajaan maritim

yang kuat di pulau Sumatera dan banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah
kekuasaan membentang dari Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa,
Kalimantan, dan Sulawesi. Dalam bahasa Sansekerta, sri berarti ³bercahaya´ dan wijaya
berarti ³kemenangan´.

Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta
Tiongkok, I Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal
selama 6 bulan. Prasasti yang paling tua mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7,
yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang, bertarikh 682. Kemunduran pengaruh
Sriwijaya terhadap daerah bawahannya mulai menyusut dikarenakan beberapa
peperangan diantaranya serangan dari raja Dharmawangsa Teguh dari Jawa di tahun 990,
dan tahun 1025 serangan Rajendra Chola I dari Koromandel, selanjutnya tahun 1183
kekuasaan Sriwijaya dibawah kendali kerajaan Dharmasraya.

Setelah Sriwijaya jatuh, kerajaan ini terlupakan dan eksistensi Sriwijaya baru diketahui
secara resmi tahun 1918 oleh sejarawan Perancis George C dès dari École française
d¶Extrême-Orient.

Historiografi

Tidak terdapat catatan lebih lanjut mengenai Sriwijaya dalam sejarah Indonesia; masa
lalunya yang terlupakan dibentuk kembali oleh sarjana asing. Tidak ada orang Indonesia
modern yang mendengar mengenai Sriwijaya sampai tahun 1920-an, ketika sarjana
Perancis George C dès mempublikasikan penemuannya dalam koran berbahasa Belanda
dan Indonesia. Coedès menyatakan bahwa referensi Tiongkok terhadap ³San-fo-ts¶i´,
sebelumnya dibaca ³Sribhoja´, dan beberapa prasasti dalam Melayu Kuno merujuk pada
kekaisaran yang sama.

Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatera awal, dan kerajaan besar Nusantara selain
Majapahit di Jawa Timur. Pada abad ke-20, kedua kerajaan tersebut menjadi referensi
oleh kaum nasionalis untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan
negara sebelelum kolonialisme Belanda.

Sriwijaya disebut dengan berbagai macam nama. Orang Tionghoa menyebutnya Shih-li-
fo-shih atau San-fo-ts¶i atau San Fo Qi. Dalam bahasa Sansekerta dan Pali, kerajaan
Sriwijaya disebut Yavadesh dan Javadeh. Bangsa Arab menyebutnya Zabaj dan Khmer
menyebutnya Malayu. Banyaknya nama merupakan alasan lain mengapa Sriwijaya
sangat sulit ditemukan. Sementara dari peta Ptolemaeus ditemukan keterangan tentang
adanya 3 pulau Sabadeibei yang kemungkinan berkaitan dengan Sriwijaya.

Sekitar tahun 1993, Pierre-Yves Manguin melakukan observasi dan berpendapat bahwa
pusat Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit Seguntang dan Sabokingking
(terletak di provinsi Sumatera Selatan sekarang). Namun sebelumnya Soekmono
berpendapat bahwa pusat Sriwijaya terletak pada kawasan sehiliran Batang Hari, antara
Muara Sabak sampai ke Muara Tembesi (di provinsi Jambi sekarang), dengan catatan
Malayu tidak di kawasan tersebut, jika Malayu pada kawasan tersebut, ia cendrung
kepada pendapat Moens, yang sebelumnya juga telah berpendapat bahwa letak dari pusat

kerajaan Sriwijaya berada pada kawasan Candi Muara Takus (provinsi Riau sekarang),
dengan asumsi petunjuk arah perjalanan dalam catatan I Tsing, serta hal ini dapat juga
dikaitkan dengan berita tentang pembangunan candi yang dipersembahkan oleh raja
Sriwijaya (Se li chu la wu ni fu ma tian hwa atau Sri Cudamaniwarmadewa) tahun 1003
kepada kaisar Cina yang dinamakan cheng tien wan shou (Candi Bungsu, salah satu
bagian dari candi yang terletak di Muara Takus). Namun yang pasti pada masa
penaklukan oleh Rajendra Chola I, berdasarkan prasasti Tanjore, Sriwijaya telah
beribukota di Kadaram (Kedah sekarang).

Pembentukan dan pertumbuhan

Belum banyak bukti fisik mengenai Sriwijaya yang dapat ditemukan. Kerajaan ini
menjadi pusat perdagangan dan merupakan negara maritim, namun kerajaan ini tidak
memperluas kekuasaannya di luar wilayah kepulauan Asia Tenggara, dengan
pengecualian berkontribusi untuk populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil di barat.
Beberapa ahli masih memperdebatkan kawasan yang menjadi pusat pemerintahan
Sriwijaya, selain itu kemungkinan kerajaan ini biasa memindahkan pusat
pemerintahannya, namun kawasan yang menjadi ibukota tetap diperintah secara langsung
oleh penguasa, sedangkan daerah pendukungnya diperintah oleh datu setempat.

Kekaisaran Sriwijaya telah ada sejak 671 sesuai dengan catatan I Tsing, dari prasasti
Kedukan Bukit pada tahun 682 di diketahui imperium ini di bawah kepemimpinan
Dapunta Hyang. Di abad ke-7 ini, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan
yaitu Malayu dan Kedah menjadi bagian kemaharajaan Sriwijaya. Berdasarkan prasasti
Kota Kapur yang yang berangka tahun 686 ditemukan di pulau Bangka, kemaharajaan ini
telah menguasai bagian selatan Sumatera, pulau Bangka dan Belitung, hingga Lampung.
Prasasti ini juga menyebutkan bahwa Sri Jayanasa telah melancarkan ekspedisi militer
untuk menghukum Bhumi Jawa yang tidak berbakti kepada Sriwijaya, peristiwa ini
bersamaan dengan runtuhnya Tarumanagara di Jawa Barat dan Holing (Kalingga) di
Jawa Tengah yang kemungkinan besar akibat serangan Sriwijaya. Sriwijaya tumbuh dan
berhasil mengendalikan jalur perdagangan maritim di Selat Malaka, Selat Sunda, Laut
China Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata.

Ekspansi kerajaan ini ke Jawa dan Semenanjung Malaya, menjadikan Sriwijaya

mengontrol dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara. Berdasarkan observasi,
ditemukan reruntuhan candi-candi Sriwijaya di Thailand dan Kamboja. Di abad ke-7,
pelabuhan Cham di sebelah timur Indochina mulai mengalihkan banyak pedagang dari
Sriwijaya. Untuk mencegah hal tersebut, Maharaja Dharmasetu melancarkan beberapa
serangan ke kota-kota pantai di Indochina. Kota Indrapura di tepi sungai Mekong, di awal
abad ke-8 berada di bawah kendali Sriwijaya. Sriwijaya meneruskan dominasinya atas
Kamboja, sampai raja Khmer Jayawarman II, pendiri imperium Khmer, memutuskan
hubungan dengan Sriwijaya di abad yang sama. Di akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di
Jawa, antara lain Tarumanegara dan Holing berada di bawah kekuasaan Sriwijaya.
Menurut catatan, pada masa ini pula wangsa Sailendra bermigrasi ke Jawa Tengah dan
berkuasa disana. Di abad ini pula, Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi bagian
kerajaan. Di masa berikutnya, Pan Pan dan Trambralinga, yang terletak di sebelah utara
Langkasuka, juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya.

Setelah Dharmasetu, Samaratungga menjadi penerus kerajaan. Ia berkuasa pada periode
792 sampai 835. Tidak seperti Dharmasetu yang ekspansionis, Samaratungga tidak
melakukan ekspansi militer, tetapi lebih memilih untuk memperkuat penguasaan
Sriwijaya di Jawa. Selama masa kepemimpinannya, ia membangun candi Borobudur di
Jawa Tengah yang selesai pada tahun 825.

Agama dan Budaya

Sebagai pusat pengajaran Buddha Vajrayana, Sriwijaya menarik banyak peziarah dan
sarjana dari negara-negara di Asia. Antara lain pendeta dari Tiongkok I Tsing, yang
melakukan kunjungan ke Sumatera dalam perjalanan studinya di Universitas Nalanda,
India, pada tahun 671 dan 695, serta di abad ke-11, Atisha, seorang sarjana Buddha asal
Benggala yang berperan dalam mengembangkan Buddha Vajrayana di Tibet. I Tsing
melaporkan bahwa Sriwijaya menjadi rumah bagi sarjana Buddha sehingga menjadi pusat
pembelajaran agama Buddha. Pengunjung yang datang ke pulau ini menyebutkan bahwa
koin emas telah digunakan di pesisir kerajaan. Selain itu ajaran Buddha aliran Buddha
Hinayana dan Buddha Mahayana juga turut berkembang di Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India, pertama oleh budaya Hindu
kemudian diikuti pula oleh agama Buddha. Raja-raja Sriwijaya menguasai kepulauan
Melayu melalui perdagangan dan penaklukkan dari kurun abad ke-7 hingga abad ke-9,
sehingga secara langsung turut serta mengembangkan bahasa Melayu beserta
kebudayaannya di Nusantara.

Sangat dimungkinkan bahwa Sriwijaya yang termahsyur sebagai bandar pusat
perdagangan di Asia Tenggara, tentunya menarik minat para pedagang dan ulama muslim
dari Timur Tengah. Sehingga beberapa kerajaan yang semula merupakan bagian dari
Sriwijaya, kemudian tumbuh menjadi cikal-bakal kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera
kelak, disaat melemahnya pengaruh Sriwijaya.

Ada sumber yang menyebutkan, karena pengaruh orang muslim Arab yang banyak
berkunjung di Sriwijaya, maka raja Sriwijaya yang bernama Sri Indrawarman masuk
Islam pada tahun 718. Sehingga sangat dimungkinkan kehidupan sosial Sriwijaya adalah
masyarakat sosial yang di dalamnya terdapat masyarakat Budha dan Muslim sekaligus.
Tercatat beberapa kali raja Sriwijaya berkirim surat ke khalifah Islam di Suriah. Pada
salah satu naskah surat yang ditujukan kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-
720M) berisi permintaan agar khalifah sudi mengirimkan da¶i ke istana Sriwijaya.

Perdagangan

Di dunia perdagangan, Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan
Tiongkok, yakni dengan penguasaan atas selat Malaka dan selat Sunda. Orang Arab
mencatat bahwa Sriwijaya memiliki aneka komoditi seperti kapur barus, kayu gaharu,
cengkeh, pala, kepulaga, gading, emas, dan timah yang membuat raja Sriwijaya sekaya
raja-raja di India. Kekayaan yang melimpah ini telah memungkinkan Sriwijaya membeli
kesetiaan dari vassal-vassalnya di seluruh Asia Tenggara.

Pada paruh pertama abad ke-10, diantara kejatuhan dinasti Tang dan naiknya dinasti
Song, perdagangan dengan luar negeri cukup marak, terutama Fujian, kerajaan Min dan
negeri kaya Guangdong, kerajaan Nan Han. Tak diragukan lagi Sriwijaya mendapatkan
keuntungan dari perdagangan ini.

Relasi dengan kekuatan regional

Untuk memperkuat posisinya atas penguasaan pada kawasan di Asia Tenggara, Sriwijaya
menjalin hubungan diplomasi dengan kekaisaran China, dan secara teratur mengantarkan
utusan beserta upeti.

Pada masa awal kerajaan Khmer merupakan daerah jajahan Sriwijaya. Banyak sejarawan
mengklaim bahwa Chaiya, di propinsi Surat Thani, Thailand Selatan, sebagai ibu kota
kerajaan tersebut, pengaruh Sriwijaya nampak pada bangunan pagoda Borom That yang
bergaya Sriwijaya. Setelah kejatuhan Sriwijaya, Chaiya terbagi menjadi tiga kota yakni
(Mueang) Chaiya, Thatong (Kanchanadit), dan Khirirat Nikhom.

Sriwijaya juga berhubungan dekat dengan kerajaan Pala di Benggala, pada prasasti
Nalanda berangka 860 mencatat bahwa raja Balaputradewa mendedikasikan sebuah biara
kepada Universitas Nalanda. Relasi dengan dinasti Chola di selatan India juga cukup
baik, dari prasasti Leiden disebutkan raja Sriwijaya telah membangun sebuah vihara yang
dinamakan dengan Vihara Culamanivarmma, namun menjadi buruk setelah Rajendra
Chola I naik tahta yang melakukan penyerangan di abad ke-11. Kemudian hubungan ini
kembali membaik pada masa Kulothunga Chola I, di mana raja Sriwijaya di Kadaram
mengirimkan utusan yang meminta dikeluarkannya pengumuman pembebasan cukai pada
kawasan sekitar Vihara Culamanivarmma tersebut. Namun demikian pada masa ini
Sriwijaya dianggap telah menjadi bahagian dari dinasti Chola, dari kronik Tiongkok
menyebutkan bahwa Kulothunga Chola I (Ti-hua-ka-lo) sebagai raja San-fo-ts¶i
membantu perbaikan candi dekat Kanton pada tahun 1079, pada masa dinasti Song candi
ini disebut dengan nama Tien Ching Kuan dan pada masa dinasti Yuan disebut dengan
nama Yuan Miau Kwan.

Masa keemasan

Kemaharajaan Sriwijaya bercirikan kerajaan maritim, mengandalkan hegemoni pada
kekuatan armada lautnya dalam menguasai alur pelayaran, jalur perdagangan, menguasai
dan membangun beberapa kawasan strategis sebagai pangkalan armadanya dalam
mengawasi, melindungi kapal-kapal dagang, memungut cukai serta untuk menjaga
wilayah kedaulatan dan kekuasaanya.

Dari catatan sejarah dan bukti arkeologi, pada abad ke-9 Sriwijaya telah melakukan
kolonisasi di hampir seluruh kerajaan-kerajaan Asia Tenggara, antara lain: Sumatera,
Jawa, Semenanjung Malaya, Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Filipina. Dominasi atas
Selat Malaka dan Selat Sunda, menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali rute
perdagangan rempah dan perdagangan lokal yang mengenakan biaya atas setiap kapal
yang lewat. Sriwijaya mengakumulasi kekayaannya sebagai pelabuhan dan gudang

perdagangan yang melayani pasar Tiongkok, dan India.

Sriwijaya juga disebut berperan dalam menghancurkan kerajaan Medang di Jawa, dalam
prasasti Pucangan disebutkan sebuah peristiwa Mahapralaya yaitu peristiwa hancurnya
istana Medang di Jawa Timur, di mana Haji Wurawari dari Lwaram yang kemungkinan
merupakan raja bawahan Sriwijaya, pada tahun 1006 atau 1016 menyerang dan
menyebabkan terbunuhnya raja Medang terakhir Dharmawangsa Teguh.

Penurunan

Tahun 1017 dan 1025, Rajendra Chola I, raja dari dinasti Chola di Koromandel, India
selatan, mengirim ekspedisi laut untuk menyerang Sriwijya, berdasarkan prasasti Tanjore
bertarikh 1030, kerajaan Chola telah menaklukan daerah-daerah koloni Sriwijaya,
sekaligus berhasil menawan raja Sriwijaya yang berkuasa waktu itu. Selama beberapa
dekade berikutnya seluruh imperium Sriwijaya telah berada dalam pengaruh dinasti
Chola. Meskipun demikian Rajendra Chola I tetap memberikan peluang kepada raja-raja
yang ditaklukannya untuk tetap berkuasa selama tetap tunduk kepadanya. Hal ini dapat
dikaitkan dengan adanya berita utusan San-fo-ts¶i ke Cina tahun 1028.

Antara tahun 1079 ± 1088, kronik Tionghoa mencatat bahwa San-fo-ts¶i masih
mengirimkan utusan dari Jambi dan Palembang. Dalam berita Cina yang berjudul Sung
Hui Yao disebutkan bahwa kerajaan San-fo-tsi pada tahun 1082 mengirimkan utusan
pada masa Cina di bawah pemerintahan Kaisar Yuan Fong. Duta besar tersebut
menyampaikan surat dari raja Kien-pi bawahan San-fo-tsi, yang merupakan surat dari
putri raja yang diserahi urusan negara San-fo-tsi, serta menyerahkan pula 227 tahil
perhiasan, rumbia, dan 13 potong pakaian. Kemudian juga mengirimankan utusan
berikutnya di tahun 1088. Namun akibat invasi Rajendra Chola I, hegemoni Sriwijaya
atas raja-raja bawahannya melemah, beberapa daerah taklukan melepaskan diri, sampai
muncul Dharmasraya sebagai kekuatan baru yang kemudian menguasai kembali wilayah
jajahan Sriwijaya mulai dari kawasan Semenanjung Malaya, Sumatera, sampai Jawa
bagian barat.

Berdasarkan sumber Tiongkok pada buku Chu-fan-chi yang ditulis pada tahun 1178,
Chou-Ju-Kua menerangkan bahwa di kepulauan Asia Tenggara terdapat dua kerajaan
yang sangat kuat dan kaya, yakni San-fo-ts¶i dan Cho-po (Jawa). Di Jawa dia
menemukan bahwa rakyatnya memeluk agama Budha dan Hindu, sedangkan rakyat San-
fo-ts¶i memeluk Budha, dan memiliki 15 daerah bawahan yang meliputi; Si-lan
(Kamboja), Tan-ma-ling (Tambralingga, Ligor, selatan Thailand), Kia-lo-hi (Grahi,
Chaiya sekarang, selatan Thailand), Ling-ya-si-kia (Langkasuka), Kilantan (Kelantan),
Pong-fong (Pahang), Tong-ya-nong (Terengganu), Fo-lo-an (muara sungai Dungun
daerah Terengganu sekarang), Ji-lo-t¶ing (Cherating, pantai timur semenanjung malaya),
Ts¶ien-mai (Semawe, pantai timur semenanjung malaya), Pa-t¶a (Sungai Paka, pantai
timur Semenanjung Malaya), Lan-wu-li (Lamuri di Aceh), Pa-lin-fong (Palembang),
Kien-pi (Jambi), dan Sin-t¶o (Sunda).

Namun demikian, istilah San-fo-tsi terutama pada tahun 1178 tidak lagi identik dengan
Sriwijaya, melainkan telah identik dengan Dharmasraya, dari daftar 15 negeri bawahan

San-fo-tsi tersebut merupakan daftar jajahan kerajaan Dharmasraya, walaupun sumber
Tiongkok tetap menyebut San-fo-tsi sebagai kerajaan yang berada di kawasan laut Cina
Selatan. Hal ini karena dalam Pararaton telah menyebutkan Malayu, disebutkan
Kertanagara raja Singhasari mengirim sebuah ekspedisi Pamalayu atau Pamalayu, dan
kemudian menghadiahkan Arca Amoghapasa kepada raja Melayu, Srimat
Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa di Dharmasraya sebagaimana yang tertulis pada
prasasti Padang Roco. Peristiwa ini kemudian dikaitkan dengan manuskrip yang terdapat
pada prasasti Grahi. Begitu juga dalam Nagarakretagama, yang menguraikan tentang
daerah jajahan Majapahit juga sudah tidak menyebutkan lagi nama Sriwijaya untuk
kawasan yang sebelumnya merupakan kawasan Sriwijaya.

Struktur pemerintahan

Pembentukan satu negara kesatuan dalam dimensi struktur otoritas politik Sriwijaya,
dapat dilacak dari beberapa prasasti yang mengandung informasi penting tentang
kad tuan, vanua, samaryy da, mandala dan bh mi.

Kad tuan dapat bermakna kawasan d tu, (tnah rumah) tempat tinggal bini h ji, tempat
disimpan mas dan hasil cukai (drawy) sebagai kawasan yang mesti dijaga. Kad tuan ini
dikelilingi oleh vanua, yang dapat dianggap sebagai kawasan kota dari Sriwijaya yang
didalamnya terdapat vihara untuk tempat beribadah bagi masyarakatnya. Kad tuan dan
vanua ini merupakan satu kawasan inti bagi Sriwijaya itu sendiri. Menurut Casparis,
samaryy da merupakan kawasan yang berbatasan dengan vanua, yang terhubung dengan
jalan khusus (samaryy da-patha) yang dapat bermaksud kawasan pedalaman. Sedangkan
mandala merupakan suatu kawasan otonom dari bh mi yang berada dalam pengaruh
kekuasaan kad tuan Sriwijaya.

Penguasa Sriwijaya disebut dengan Dapunta Hyang atau Maharaja, dan dalam lingkaran
raja terdapat secara berurutan yuvar ja (putra mahkota), pratiyuvar ja (putra mahkota
kedua) dan r jakum ra (pewaris berikutnya). Prasasti Telaga Batu banyak menyebutkan
berbagai jabatan dalam struktur pemerintahan kerajaan pada masa Sriwijaya.

Warisan sejarah

Meskipun Sriwijaya hanya menyisakan sedikit peninggalan arkeologi dan terlupakan dari
ingatan masyarakat pendukungnya, penemuan kembali kemaharajaan bahari ini oleh
Coedès pada tahun 1920-an telah membangkitkan kesadaran bahwa suatu bentuk
persatuan politik raya, berupa kemaharajaan yang terdiri atas persekutuan kerajaan-
kerajaan bahari, pernah bangkit, tumbuh, dan berjaya di masa lalu.

Di samping Majapahit, kaum nasionalis Indonesia juga mengagungkan Sriwijaya sebagai
sumber kebanggaan dan bukti kejayaan masa lampau Indonesia. Kegemilangan Sriwijaya
telah menjadi sumber kebanggaan nasional dan identitas daerah, khususnya bagi
penduduk kota Palembang, provinsi Sumatera Selatan. Bagi penduduk Palembang,
keluhuran Sriwijaya telah menjadi inspirasi seni budaya, seperti lagu dan tarian
tradisional Gending Sriwijaya. Hal yang sama juga berlaku bagi masyarakat selatan
Thailand yang menciptakan kembali tarian Sevichai (Sriwijaya) yang berdasarkan pada

keanggunan seni budaya Sriwijaya.

Di Indonesia, nama Sriwijaya telah digunakan dan diabadikan sebagai nama jalan di
berbagai kota, dan nama ini telah melekat dengan kota Palembang dan Sumatera Selatan.
Universitas Sriwijaya yang didirikan tahun 1960 di Palembang dinamakan berdasarkan
kedatuan Sriwijaya. Demikian pula Kodam II Sriwijaya (unit komando militer), PT
Pupuk Sriwijaya (Perusahaan Pupuk di Sumatera Selatan), Sriwijaya Post (Surat kabar
harian di Palembang), Sriwijaya TV, Sriwijaya Air (maskapai penerbangan), Stadion
Gelora Sriwijaya, dan Sriwijaya Football Club (Klab sepak bola Palembang), semua
dinamakan demikian untuk menghormati, memuliakan, dan merayakan kegemilangan
kemaharajaan Sriwijaya.

y Kerajaan Sriwijaya

y Sejarah dan Lokasi

y

Pengetahuan mengenai sejarah Sriwijaya baru lahir pada permulaan abad ke-20 M, ketika George Coedes

menulis karangannya berjudul Le Royaume de Crivijaya pada tahun 1918 M.

y Coedes kemudian menetapkan bahwa, Sriwijaya adalah nama sebuah kerajaan di Sumatera Selatan. Lebih

lanjut, Coedes juga menetapkan bahwa, letak ibukota Sriwijaya adalah Palembang, dengan bersandar pada

anggapan Groeneveldt dalam karangannya, Notes on the Malay Archipelago and Malacca, Compiled from

Chinese Source, yang menyatakan bahwa, San-fo-tsµI adalah Palembang yang terletak di Sumatera Selatan,

yaitu tepatnya di tepi Sungai Musi atau sekitar kota Palembang sekarang

y Kerajaan Sriwijaya adalah nama kerajaan yang tentu sudah tidak asing, karena Sriwijaya adalah salah satu

kerajaan maritim terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara pada waktu itu (abad 7 - 15 M).

Perkembangan Sriwijaya hingga mencapai puncak kebesarannya sebagai kerajaan Maritim. Sumber-

sumber sejarah kerajaan Sriwijaya selain berasal dari dalam juga berasal dari luar seperti dari Cina, India,

Arab, Persia.

y Kerajaan Sriwijaya berpusat di daerah yang sekarang dikenali sebagai Palembang di Sumatra Pengaruhnya

amat besar di atas semenanjung malayasia dan Pilipina. Kuasa Sriwijaya merosot pada abad ke-11.Kerajaan

Sriwijaya mulai ditakluk berbagai kerajaan Jawa, pertama oleh kerajaan Singosari (Singhasari) dan

akhirnya oleh kerajaan Kerajaan Majapahit. Malangnya, sejarah Asia Tenggara tidak didokumentasikan

dengan baik. Sumber sejarahnya berdasarkan laporan dari orang luar, prasasti dan penemuan arkaelogi,

artifak seperti patung dan lukisan, dan hikayat.

y Berikut daftar silsilah para Raja Kerajaan Sriwijaya :

y Dapunta Hyang Sri Yayanaga (Prasasti Kedukan Bukit 683 M, Prasasti Talangtuo 684 M)

Cri Indrawarman (berita Cina, 724 M)

Rudrawikrama (berita Cina, 728 M)

Wishnu (Prasasti Ligor, 775 M)

Maharaja (berita Arab, 851 M)

Balaputradewa (Prasasti Nalanda, 860 M)

Cri Udayadityawarman (berita Cina, 960 M)

Cri Udayaditya (Berita Cina, 962 M)

Cri Cudamaniwarmadewa (Berita Cina, 1003. Prasasti Leiden, 1044 M)

Maraviyatunggawarman (Prasasti Leiden, 1044 M)

Cri Sanggrama Wijayatunggawarman (Prasasti Chola, 1004 M)

y Pengaruh Budaya

y Kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India , pertama oleh budaya agama Hindu dan

kemudiannya diikuti pula oleh agama Buddha. Agama Buddha diperkenalkan di Sriwijaya pada tahun 425

Masehi. Sriwijaya merupakan pusat terpenting agama Buddha Mahayana.Raja-raja Sriwijaya menguasai

kepulauan Melayu menerusi perdagangan dan penaklukan dari kurun abad ke-7 hingga abad ke-9. Kerajaan

Sriwijaya juga membantu menyebarkan kebudayaan Melayu ke seluruh Sumatra, Semenanjung Melayu,

dan Borneo Barat.Pada masa yang sama, agama Islam memasuki Sumatra menerusi Aceh yang telah

disebarkan menerusi perhubungan dengan pedagang Arab dan India. Pada tahun 1414 pangeran terakhir

Majapahit, Paramisora , memeluk agama Islam dan berhijrah ke Tanah Melayu di mana dia telah

mendirikan kesultanan Melaka. Agama Buddha aliran Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana disebarkan

di pelosok kepulauan Melayu dan Palembang menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Pada tahun 1025

, Sriwijaya telah diserbu kerajaan Cholas dari India. Pada masa itu juga, Sriwijaya telah hilang kuasa

monopoli ke atas lalu-lintas perdagangan Tiongkok -India . Dengan itu, kemewahan Sriwijaya menurun.

Kerajaan Singhasari yang berada di bawah naungan

y Sriwijaya melepaskan diri daripadanya. Pada tahun 1088 kerajaan Melayu Jambi, yang dahulunya berada di

bawah naungan Sriwijaya menjadikan Sriwijaya taklukannya. Kekuatan kerajaan Melayu Jambi berangsur

hingga 2 abad.

y Sumber-Sumber Dari Dalam Negeri

y Sumber-sumber sejarah yang mendukung tentang keberadaan Kerajaan Sriwijaya

y berasal dari berita asing dan prasasti-prasasti.

y B. Sumber Asing

y Sumber Cina

y Kunjungan I-sting, seorang peziarah Budha dari China pertama adalah tahun 671 M. Dalam catatannya

disebutkan bahwa, saat itu terdapat lebih dari seribu orang pendeta Budha di Sriwijaya. Aturan dan upacara

para pendeta Budha tersebut sama dengan aturan dan upacara yang dilakukan oleh para pendeta Budha di

India. I-tsing tinggal selama 6 bulan di Sriwijaya untuk belajar bahasa Sansekerta, setelah itu, baru ia

berangkat ke Nalanda, India. Setelah lama belajar di Nalanda, tahun 685 I-tsing kembali ke Sriwijaya dan

tinggal selama beberapa tahun untuk menerjemahkan teks-teks Budha dari bahasa Sansekerta ke bahasa

Cina.

y Catatan Cina yang lain menyebutkan tentang utusan Sriwijaya yang datang secara

y

rutin ke Cina, yang terakhir adalah tahun 988 M

y Sumber Arab

y KERAJAAN SINGASARI

y Kerajaan Singasari (1222-1293) adalah salah satu kerajaan besar di Nusantara vang

didirikan oleh Ken Arok pada 1222. Kerajaan Singasari mencapai puncak kejayaan
ketika dipimpin oleh Raja Kertanegara (1268-1292) yang bergelar Maharajadhiraja
Kertanegara Wikrama Dharmottunggadewa.

y

Ken Arok merebut daerah Tumapel, salah
satu wilayah Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Tunggul Ametung, pada 1222. Ken
Arok pada mulanya adalah anak buah Tunggul Ametung, namun ia membunuh Tunggul
Ametung karena jatuh cinta pada istrinya, Ken Dedes. Ken Arok kemudian mengawini
Ken Dedes. Pada saat dikawini Ken Arok, Ken Dedes telah mempunyai anak bernama
Anusapati yang kemudian menjadi raja Singasari (1227-1248). Raja terakhir Kerajaan
Singasari adalah Kertanegara.

y Ken Arok

y Ketika di pusat Kerajaan Kediri terjadi pertentangan antara raja dan kaum Brahmana,

semua pendeta melarikan diri ke Tumapel dan dilindungi oleh Ken Arok. Pada 1222, para
pendeta Hindu kemudian menobatkan Ken Arok sebagai raja di Tumapel dengan gelar

Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. Adapun nama kerajaannya ialah
Kerajaan Singasari. Berita pembentukan Kerajaan Singasari dan penobatan Ken Arok
menimbulkan kemarahan raja Kediri, Kertajaya. la kemudian memimpin sendiri pasukan
besar untuk menyerang Kerajaan Singasari. Kedua pasukan bertempur di Desa Ganter
pada 1222. Ken Arok berhasil memenangkan pertempuran dan sejak itu wilayah
kekuasaan Kerajaan Kediri dikuasai oleh Singasari.

y

Kertanegara

y Ken Arok memerintah Kerajaan Singasari hanya lima tahun. Pada 1227 ia dibunuh oleh

Anusapati, anak tirinya (hasil perkawinan Tunggul Ametung dan Ken Dedes). Sepuluh
tahun kemudian Anusapati dibunuh oleh saudara tirinya, Tohjaya (putra Ken Arok
dengan Ken Umang).

y

Kematian Anusapati menimbulkan kemarahan Ranggawuni, putra Anusapati.
Ranggawuni langsung menyerang Tohjaya. Pasukan Tohjaya kalah dalam pertempuran
dan meninggal dunia dalam pelarian. Pada 1248 Ranggawuni menjadi raja Singasari
bergelar Sri Jaya Wisnuwardhana. Ranggawuni memerintah Kerajaan Singasari selama
20 tahun (1248-1268) dan dibantu oleh Mahisa Cempaka (Narasingamurti). Ranggawuni
wafat pada 1268 dan digantikan oleh putranya, Kertanegara. la memerintah Kerajaan
Singasari selama 24 tahun (1268-1292).

y Ekspedisi Pamalayu

y Kertanegara terus memperluas pengaruh dan kekuasaan Kerajaan Singasari. Pada 1275 ia

mengirim pasukan untuk menaklukkan Kerajaan Sriwijaya sekaligus menjalin
persekutuan dengan Kerajaan Campa (Kamboja). Ekspedisi pengiriman pasukan itu
dikenal dengan nama Pamalayu. Kertanegara berhasil memperluas pengaruhnya di
Campa melalui perkawinan antara raja Campa dan adik perempuannya. Kerajaan
Singasari sempat menguasai Sumatera, Bakulapura (Kalimantan Barat), Sunda (Jawa
Barat), Madura, Bali, dan Gurun (Maluku).

y Serangan Pasukan Mongol

y Pasukan Pamalayu dipersiapkan Kertanegara untuk menghadapi serangan kaisar Mongol,

Kubilai Khan, yang berkuasa di Cina. Utusan Kubilai Khan beberapa kali datang ke
Singasari untuk meminta Kertanegara tunduk di bawah Kubilai Khan. Apabila menolak
maka Singasari akan diserang. Permintaan ini menimbulkan kemarahan Kertanegara
dengan melukai utusan khusus Kubilai Khan, Meng Ki, pada 1289. Kertanegara
menyadari tindakannya ini akan dibalas oleh pasukan Mongol. la kemudian memperkuat
pasukannya di Sumatera. Pada 1293 pasukan Mongol menyerang Kerajaan Singasari.

Namun Kertanegara telah dibunuh oleh raja Kediri, Jayakatwang, setahun sebelumnya.
Singasari kemudian dikuasai oleh Jayakatwang.

y

LIHAT JUGA

y

Kediri, Kerajaan

Majapahit, Kerajaan

Mongol, Kekaisaran

y

Atas: Arca Dwarapala merupakan salah satu peninggalan

Kerajaan Singasari.

y << Kiri atas: Candi Singasari disebut juga Candi Tumapel berupa kuil Syiwa yang

besar dan tinggi.

y

TAHUKAH KAMU

Pasukan Mongol menghancurkan Kerajaan Kediri dan membunuh Jayakatwang

karena menyangka Kerajaan Kediri sebagai Kerajaan Singasari dan Jayakatwang

sebagai Kertanegara.

y << Kiri bawah: Candi Jago terletak di Malang, Jawa Timur, merupakan peninggalan

Kerajaan Singasari yang dibangun untuk Raja Wisnuwardhana, raja Singasari, pada

pertengahan abad ke-13. Dalam Negarakertagama, candi ini merupakan salah satu

tempat yang dikunjungi Hayam Wuruk pada 1359.

y

Atas : Candi Kidal dibangun di Rejokidal, Tumpang, Malang,

yang dipersembahkan kepada Anusapati, raja kedua dan anak tiri Ken Arok.

Sejarah Kerajaan Singasari

Jumat, 06 Agustus 2010

Sumber-sumber yang menyebutkan tentang kerajaan Singhasari antara lain prasasti
Mulamalurung. Prasasti ini dikeluarkan oleh Wisnu Wardhana raja Singhasari yang isinya
menyebutkan pemberian hadiah desa Dandea Malurung oleh Wisnu Wardhana kepada Pranaraja.
Juga disebutkan susunan raja di kerajaan Singasari.

Silsilah raja kerajaan singasari antara lain:

Ken Arok (1222 1227)

Pendiri Kerajaan Singasari ialah Ken Arok yang menjadi Raja Singasari dengan gelar Sri
Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi. Munculnya Ken Arok sebagai raja pertama Singasari
menandai munculnya suatu dinasti baru, yakni Dinasti Rajasa (Rajasawangsa) atau Girindra
(Girindrawangsa).
Ken Arok hanya memerintah selama lima tahun (1222±1227). Pada tahun 1227 Ken Arok
dibunuh oleh seorang suruhan Anusapati (anak tiri Ken Arok). Ken Arok dimakamkan di
Kegenengan dalam bangunan Siwa±Buddha

Anusapati (1227 1248).

Dengan meninggalnya Ken Arok maka takhta Kerajaan Singasari jatuh ke tangan Anusapati.
Dalam jangka waktu pemerintahaannya yang lama, Anusapati tidak banyak melakukan
pembaharuan-pembaharuan karena larut dengan kesenangannya menyabung ayam.
Peristiwa kematian Ken Arok akhirnya terbongkar dan sampai juga ke Tohjoyo (putra Ken Arok
dengan Ken Umang). Tohjoyo mengetahui bahwa Anusapati gemar menyabung ayam sehingga
diundangnya Anusapati ke Gedong Jiwa ( tempat kediamanan Tohjoyo) untuk mengadakan pesta
sabung ayam. Pada saat Anusapati asyik menyaksikan aduan ayamnya, secara tiba-tiba Tohjoyo

menyabut keris buatan Empu Gandring yang dibawanya dan langsung menusuk Anusapati.
Dengan demikian, meninggallah Anusapati yang didharmakan di Candi Kidal.

Tohjoyo (1248)

Dengan meninggalnya Anusapati maka takhta Kerajaan Singasari dipegang oleh Tohjoyo.
Namun, Tohjoyo memerintah Kerajaan Singasari tidak lama sebab anak Anusapati yang bernama
Ranggawuni berusaha membalas kematian ayahnya. Dengan bantuan Mahesa Cempaka dan para
pengikutnya, Ranggawuni berhasil menggulingkan Tohjoyo dan kemudian menduduki
singgasana.

Ranggawuni (1248 1268)

Ranggawuni naik takhta Kerajaan Singasari pada tahun 1248 dengan gelar Sri Jaya
Wisnuwardana oleh Mahesa Cempaka (anak dari Mahesa Wongateleng) yang diberi kedudukan
sebagai ratu angabhaya dengan gelar Narasinghamurti. Ppemerintahan Ranggawuni membawa
ketenteraman dan kesejahteran rakyat Singasari.
Pada tahun 1254, Wisnuwardana mengangkat putranya yang bernama Kertanegara sebagai
yuwaraja (raja muda) dengan maksud mempersiapkannya menjadi raja besar di Kerajaan
Singasari. Pada tahun 1268 Wisnuwardanameninggal dunia dan didharmakan di Jajaghu atau
Candi Jago sebagai Buddha Amogapasa dan di Candi Waleri sebagai Siwa.

Kertanegara (1268 -1292)

Kertanegara adalah Raja Singasari terakhir dan terbesar karena mempunyai cita-cita untuk
menyatukan seluruh Nusantara. Ia naik takhta pada tahun 1268 dengan gelar Sri Maharajadiraja
Sri Kertanegara. Dalam pemerintahannya, ia dibantu oleh tiga orang mahamentri, yaitu
mahamentri i hino, mahamentri i halu, dan mahamenteri i sirikan. Untuk dapat mewujudkan
gagasan penyatuan Nusantara, ia mengganti pejabat-pejabat yang kolot dengan yang baru, seperti
Patih Raganata digantikan oleh Patih Aragani. Banyak Wide dijadikan Bupati di Sumenep
(Madura) dengan gelar Aria Wiaraja.

Setelah Jawa dapat diselesaikan, kemudian perhatian ditujukan ke daerah lain. Kertanegara
mengirimkan utusan ke Melayu yang dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu 1275 yang
berhasil menguasai Kerajaan Melayu. Hal ini ditandai dengan pengirimkan Arca Amogapasa ke
Dharmasraya atas perintah Raja Kertanegara. Selain menguasai Melayu, Singasari juga
menaklukan Pahang, Sunda, Bali, Bakulapura (Kalimantan Barat), dan Gurun (Maluku).
Kertanegara juga menjalin hubungan persahabatan dengan raja Champa,dengan tujuan untuk
menahan perluasaan kekuasaan Kubilai Khan dari Dinasti Mongol.

Kubilai Khan menuntut raja-raja di daerah selatan termasuk Indonesia mengakuinya sebagai
yang dipertuan. Kertanegara menolak dengan melukai nuka utusannya yang bernama Mengki.

Tidakan Kertanegara ini membuat Kubilai Khan marah besar dan bermaksud menghukumnya
dengan mengirimkan pasukannya ke Jawa.

Mengetahui sebagian besar pasukan Singasari dikirim untuk menghadapi serangan Mongol maka
Jayakatwang (Kediri) menggunakan kesempatan untuk menyerangnya. Serangan dilancarakan
dari dua arah, yakni dari arah utara merupakan pasukan pancingan dan dari arah selatan
merupakan pasukan inti.

Pasukan Kediri dari arah selatan dipimpin langsung oleh Jayakatwang dan berhasil masuk istana
dan menemukan Kertanagera berpesta pora dengan para pembesar istana. Kertanaga beserta
pembesar-pembesar istana tewas dalam serangan tersebut.

Ardharaja berbalik memihak kepada ayahnya (Jayakatwang), sedangkan Raden Wijaya berhasil
menyelamatkan diri dan menuju Madura dengan maksud minta perlindungan dan bantuan
kepada Aria Wiraraja. Atas bantuan Aria Wiraraja, Raden Wijaya mendapat pengampunan dan
mengabdi kepada Jayakatwang. Raden Wijaya diberi sebidang tanah yang bernama Tanah Tarik
oleh Jayakatwang untuk ditempati.

Dengan gugurnya Kertanegara maka Kerajaan Singasari dikuasai oleh Jayakatwang. Ini berarti
berakhirnya kekuasan Kerajaan Singasari. Sesuai dengan agama yang dianutnya, Kertanegara
kemudian didharmakan sebagai Siwa±±Buddha (Bairawa) di Candi Singasari. Arca
perwujudannya dikenal dengan nama Joko Dolog yang sekarang berada di Taman Simpang,
Surabaya.

Kehidupan Kebudayaan

Kehidupan kebudayaan masyarakat Singasari dapat diketahui dari peninggalan candi-candi dan
patung-patung yang berhasil dibangunnya. Candi hasil peninggalan Singasari, di antaranya
adalah Candi Kidal, Candi Jago, dan Candi Singasari. ADapun arca atau patung hasil
peninggalan Kerajaan Singasari, antara lain Patung Ken Dedes sebagai perwujudan dari
Prajnyaparamita lambang kesempurnaan ilmu dan Patung Kertanegara dalam wujud Patung Joko
Dolog

Prasasti Singhasari 1351

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Belum Diperiksa

Gambar Prasasti

Prasasti Singhasari, yang bertarikh tahun 1351 M, ditemukan di Singosari, Kabupaten Malang,
Jawa Timur dan sekarang disimpan di Museum Gajah. Ditulis dengan Aksara Jawa.

Prasasti ini ditulis untuk mengenang pembangunan sebuah caitya atau candi pemakaman yang
dilaksanakan oleh Mahapatih Gajah Mada. Paruh pertama prasasti ini merupakan pentarikhan
tanggal yang sangat terperinci, termasuk pemaparan letak benda-benda angkasa. Paruh kedua
mengemukakan maksud prasasti ini, yaitu sebagai pariwara pembangunan sebuah caitya.

[sunting] Alihaksara

1. / 0 / 'i aka ; 1214 ; jye a m sa ; 'irika diwa ani
2. kamoktan. p duka bha ra sang lumah ring iwa buddha /¶ ; /¶ swa-
3. sti ri aka war atita ; 1273 ; we aka m sa tithi pratip -
4. da çuklapaks.a ; ha ; po ; bu ; wara ; tolu ; niri tistha graha-
5. cara ; mrga çira naks.atra ; çaçi dewata ; bâyabya man.d.ala ;
6. sobhanayoga ; çweta muhurtta ; brahmâparwwe a ; kistughna ;
7. kâran.a wrs.abharaçi ; µirika diwaça sang mahâmantri mûlya ; ra-
8. kryan mapatih mpu mada ; sâks.at. pran.ala kta râsika de bhat.â-
9. ra sapta prabhu ; makâdi çri tribhuwanotungga dewi mahârâ
10. ja sajaya wis.n.u wârddhani ; potra-potrikâ de pâduka bha-
11. t.âra çri krtanagara jñaneçwara bajra nâmâbhis.aka sama-
12. ngkâna tw k. rakryan mapatih jir nodhara ; makirtti caitya ri
13. mahâbrâhmân.a ; ewa sogata samâñjalu ri kamokta-
14. n pâduka bha âra ; muwah sang mahâw ddha mantri linâ ri dagan
15. bhat.âra ; doning caitya de rakryan. mapatih pangabhaktya-
16. nani santana pratisantana sang parama satya ri pâda dwaya bhat.â-
17. ra ; µika ta kirtti rakryan mapatih ri yawadwipa ma ala /¶

[sunting] Alihbahasa

1. Pada tahun 1214 Saka (1292 Masehi) pada bulan Jyestha (Mei-Juni) ketika itulah
2. sang paduka yang sudah bersatu dengan Siwa Buddha.
3. Salam Sejahtera! Pada tahun Saka 1273 (1351 Masehi), bulan Waisaka
4. Pada hari pertama paruh terang bulan, pada hari Haryang, Pon, Rabu, wuku Tolu
5. Ketika sang bulan merupakan Dewa Utama di rumahnya dan (bumi) berada di daerah

barat laut.
6. Pada yoga Sobhana, pukul Sweta, di bawah Brahma pada karana
7. Kistugna, pada rasi Taurus. Ketika sang mahamantri yang mulia. Sang
8. Rakryan Mapatih Mpu (Gajah) Mada yang beliau seolah-olah menjadi perantara
9. Tujuh Raja seperti Sri Tribhuwanotunggadewi Mahara-
10. jasa Jaya Wisnuwarddhani, semua cucu-cucu Sri Paduka
11. Almarhum Sri Kertanegara yang juga memiliki nama penobatan Jñaneswara Bajra
12. Dan juga pada saat yang sama sang Rakryan Mapatih Jirnodhara yang membangun
sebuah candi pemakaman (caitya) bagi kaum
13. Brahmana yang agung[1]

dan juga para pemuja Siwa dan Buddha yang sama-sama gugur
14. Bersama Sri Paduka Almarhum (=Kertanagara) dan juga bagi para Mantri senior yang
juga gugur bersama-sama dengan
15. Sri Paduka Almarhum. Alasan diabangunnya candi pemakaman ini oleh sang Rakryan
Mahapatih ialah supaya berbhaktilah
16. Para keturunan dan para pembantu dekat Sri Paduka Almarhum.
17. Maka inilah bangunan sang Rakryan Mapatih di bumi Jawadwipa.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->