Teologi Tongkonan Apresiasi Kritis terhadap Kontekstualisasi Dr. Th.

Kobong * oleh Zakaria Ngelow Konversionis Yang khas dalam teologi Pak Kobong adalah bagaimana hakekat gereja yang difahaminya diungkapkan Pak Kobong dalam pranata sosial-budaya sistem clan-house masyarakat Toraja, yakni tongkonan. Tetapi pengungkapan gereja sebagai tongkonan bukan sekadar padanan dari ideal teologis-ekklesiologisnya melainkan sekaligus dengan itu Pak Kobong memaklumkan pembaharuan mendasar terhadap hakekat kelembagaan tongkonan sedemikian rupa sehingga tongkonan menjadi perwujudan gereja yang ideal. Dalam kerangka itu orang Toraja tetap mempunyai tongkonannya, tetapi yang telah menjadi sesuatu yang baru sama sekali. Tongkonan Toraja telah direbut dan beralih tangan menjadi Tongkonan Kristus. Dalam hal ini Pak Kobong mengikuti tipologi conversionis, “Christ the Transformer of Culture”, dari Richard H. Niebuhr (Christ and Culture). Berikut kutipan dari uraiannya (draft terjemahan Adat und Evangelium XVIII 4.c) Kriteria untuk persekutuan-persekutuan Toraja tradisional adalah pangala-tondok masing-masing serta aluk dan adatnya. Jelaslah bahwa persoalan yang menentukan harus dijawab di sini. Kelihatannya pemecahan masalah tidak terlalu sulit. Harus dipilih, antara Kristus dan pangala tondok; memilih antara Injil (Firman Allah) atau aluk dan adat. Kristus dan pangala tondok tidak dapat disatukan; keduanya tidak bisa menjadi kriteria secara bersamaan. Oleh sebab itu seorang Kristen harus selalu memilih. Ia mengaku percaya kepada Kristus atau kepada pangala tondok. Seorang pengikut Kristus yang sejati tidak bisa memilih selain dari pada Kristus, mengangkat salibnya lalu mengikut Dia. Pilihan ini harus radikal, karena orang tidak bisa mengabdi kepada dua tuan; orang Kristen harus memilih entah untuk Kristus atau untuk pangala tondok. Pilihan ini (entweder-oder = ini atau itu) bisa membawa kepada penolakan, kepada meninggalkan segala sesuatu yang adalah kepunyaan pangala tondok, jadi meninggalkan aluk dan adat dan akhirnya meninggalkan tongkonannya, persekutuannya dan kebudayaannya. Tetapi penolakan radikal terhadap struktur dari pola hidup menurut pangala tondok bukanlah tujuan dari pilihan itu, karena itu akan berarti, bahwa inkarnasi tidak terjadi, atau inkarnasi itu bukanlah suatu peristiwa yang terjadi di dunia dan untuk dunia. Itu akan berarti bahwa Kristus tidak datang untuk dunia, tidak datang untuk manusia di dalam dunianya secara menyeluruh. Tetapi inkarnasi berarti, bahwa Kristus datang menggantikan pangala tondok. Ia datang kepada kepuanyaan-Nya, termasuk pangla tondok, kepala dari persekutuan tongkonan. Ia solider dengan manusia di dalam kerangka struktur tongkonan, kerangka struktur yang mempersatukan seluruh persekutuan dan komunitas. Oleh karena yang menjadi sasaran yang berkepentingan adalah manusia, adalah persekutuan, jadi tongkonan, maka Kristus sebagai Pangala Tondok yang baru harus mengambilalih persekutuan lama itu sebagai milik-Nya dan memberikan makna baru pada persekutuan tersebut. Persekutuan itu

yang membarui persekutuan tongkonan itu. Pak Kobong menjelaskan mengenai hermeneutika ini sbb: Tempat dari hermeneutika pneumatologis itu adalah di antara teks (Firman. yakni harmoni (karapasan). Pak Kobong mengambil istilah tongkonan dan memberinya makna yang sama sekali baru. dan (3) keterbukaan . Dengan mengikuti cara zending “men-transformasi” Puang Matua itu. kayun-Na dire’tok. tradisi (Firman yang sudah didekontekstualisasi) dan konteks. kecuali bahwa warga tongkonan baru harus menaati norma-norma Injil Yesus Kristus. Rohkudus mempergunakan tradisi itu untuk memimpin kita ke dalam kebenaran. Hermeneutika pneumatologis merupakan satu proses dialektis dan dinamis dalam ketaatan kepada Kristus. (2) norma-norma Kristus (gereja?) menjadi aturan dalam tongkonan baru. Jadi yang konstitutif bagi hermeneutika dinamis-pneumatologis adalah: Firman Allah. melainkan suatu penamaan terhadap persekutuan orang Kristen Toraja. Contoh dari Toraja tentang hermeneutika dinamis-pneumatologis dapat ditemukan pada terjemahan dari Puang Matua untuk Tuhan Allah. Bapa dan Pencipta langit dan bumi. mereka yang memilih menjadi warga persekutuan seiman kepada Yesus Kristus. padang-Na dikumba’. Ia mengundang semua orang untuk bergabung ke dalam tongkonan-Nya.Pak Kobong menyebut proses pengambilalihan ini sebagai hasil “hermeneutika dinamis pneumatologis” yang diyakininya dapat mewujudkan kontekstualitas yang murni. Perbedaan mendasar antara kedua kelembagaan tongkonan ini adalah bahwa dalam tongkonan baru (gereja) berlaku: (1) Kristus sebagai pemimpin tunggal menggantikan para pangala tondok. Maka Tongkonan Kristus bukan suatu lembaga sosial-budaya masyarakat Toraja tradisional. yang membimbing kita (persekutuan) ke dalam dan untuk dapat memahami teks yang asli (yang sudah di-dekontekstualisasi). yakni gereja. Penerjemahan Alkitab dan zending mengambil nama itu. Transformasi ini adalah pembaruan. bahwa aluk-Na dipoaluk. Pencipta segala sesuatu. utan-Na dikalette’. artinya ketaatan kepada Firman-Nya yaitu Injil. Pangala Tondok yang baru. Dalam hal ini Firman itu (Kristus) yang satu-satunya kriteria yang sah. tetapi mengisinya pula dengan pengertian yang lain. termasuk penghapusan hierarki sosial (tana’) sesuai kesetaraan semua orang dalam Kristus. Kebenaran. Gereja juga mewujudkan ideal tongkonan tradisional Toraja.kemudian harus menata hidupnya menurut aluk dan adat (jadi agama) dari Pangala Tondok yang baru itu. tetapi Pak Kobong tidak membahas tentang bagaimana tongkonan baru mewujudkan karapasan itu. Bapa Yesus Kristus. kembali kepada makna hidup menurut kehendak Allah di dalam Yesus Kristus. Injil) dan konteks. itu berarti bahwa seluruh bidang kehidupan dan dengan demikian seluruh kehidupan itu berada di bawah kedaulatan-Nya. Tuhan. uain-Na ditimba. Tetapi Puang Matua di dalam mitologi Toraja adalah Puang Matua yang lain sama sekali. tetapi dengan syarat mutlak. Rohkudus dalam hermeneutika pneumatologis dengan demikian adalah subjek. tetapi kriteria barunya adalah Yesus Kristus. Membarui berarti mengambilalih dan menolak sekaligus Persekutuan tongkonan bisa diambilalih. Orang Kristen Toraja percaya kepada Puang Matua. ia harus mentransformasi kehidupannya dan meningkatkannya ke tingkat pola hidup sesuai dengan kehendak Allah. menggantikan aluk sola pemali .

pneumatologis (terikat pada Alkitab dan di bawah pimpinan Rohkudus) tentang teks dan konteks. dalam interaksi dialektis itu Injil mengubah kebudayaan Toraja. Dalam kaitan dengan kebudayaan Toraja hal itu berarti. Kontekstualitas yang benar dengan demikian merupakan suatu hasil dari hermeneutika alkitabiah . Kontekstualisasi teologi mengandaikan adanya kebenaran universal abadi (transkontekstual. Di sini perlu dibedakan kontekstualisasi teologi dengan teologi kontekstual. yakni upaya untuk mengungkapkan kebenaran Injil (yang universal) ke dalam atau melalui konteks kebudayaan (yang partikular).” Kontekstualisasi sebagai metoda adalah interaksi dan komunikasi dialektis (Blaser) antara teks dan konteks. Yang pertama menunjuk pada apa yang dilakukan Pak Kobong. Injil berada di atas (supra) kebudayaan yang partikular. tetapi juga masuk ke dalam setiap kebudayaan tanpa harus larut di dalamnya. sehingga membahayakan keuniversalan kebenaran. Jadi baik aspek universal. “kebenaran yang universal dan suprakultural (Bruce) menjadi partikular (Blaser).tongkonan baru dari persekutuan genealogis saja menjadi persekutuan keseimanan semua orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.kultural (primordialistis) tidak lebih ditonjolkan. Teologi kontekstual (local theology) adalah ungkapan dari suatu interaksi dinamis antara Injil. Itulah dialektika dan dinamika kebudayaan. suprakultural) yang perlu diungkapkan dan atau difungsikan dalam konteks tertentu yang lebih sempit atau terbatas secara satu arah. karena kebenaran adalah relasional dan mengadakan hubungan dengan setiap konteks. Ia harus menghindari agar kontekstualitas yang nasionalistis . Dalam pada itu wibawa Alkitab terletak pada kuasanya yang kritis dan menghakimi dan sebab itu juga bila perlu lepas dari gereja. yang membawa kepada transformasi kebudayaan. Dalam pemahaman Pak Kobong ini adat (kebudayaan) bersifat subordinatif terhadap Injil. namun suatu kontekstualitas yang dalam kekuatan Rohkudus menerobos keterikatan kepada setiap keadaan yang statis”. Kontekstualisasi Pak Kobong menyebut gagasannya itu sebagai “kontekstualisasi yang murni” yang difahaminya sebagai suatu metoda dalam rangka “bukan untuk mengkontekstualisasikan “Injil yang transkultural (Blaser)” atau. bahwa teks Alkitab dan kebudayaan Toraja memasuki suatu proses yang dialektis. Kebudayaan adalah produk manusia yang berdosa dan karena itu memerlukan pembaharuan mendasar dari Injil Yesus Kristus. melainkan mengkontekstualisasikannya secara metodis menjadi suatu kebenaran yang transkultural” (Gensichen). Hermeneutika sebagai upaya menginterpretasi dan memahami firman secara kontekstual hanya bisa menjamin suatu kontekstualitas yang benar di bawah pimpinan Rohkudus dan dengan demikian menuntut: “suatu pendasaran pneumatologis tentang kontekstualitas dari setiap teologi dan gereja.” Kutipan ini dapat menjelaskan posisi Pak Kobong dalam upaya kontekstualisasi teologinya. supaya manusia dapat hidup dengan . Interaksi dan komunikasi dialektis membawa kepada interpretasi hermeneutis tentang Injil dan konteks dalam arti kebudayaan dan tradisi di mana Injil yang transkultural itu harus menentukan dan menjamin sekaligus kontekstualitas yang benar. Gereja dan Budaya. maupun yang partikular (lokal) harus diperhitungkan.

Nampaknya Pak Kobong tidak memberi perhatian pada karya-karya mereka. umat Israel. Saya coba membandingkan secara sambil lalu --perlu studi khusus untuk pendalamannya– antara pemikiran teologi Pak Kobong dalam konteks masyarakat Toraja pada parohan ke-2 abad ke-20 dengan para teolog segenerasi yang juga bergumul dengan kenyataan kebudayaan dan sosial masyarakat masing-masing.M. Tema dasar misiologis mereka bukan church-building melainkan church-humanizing. Frank L. Virginia Vabella (Asia). Thomas. [Bandingkan juga dengan telaah Injil dan kebudayaan di Indonesia. eskatologi tetapi dengan pemaknaan yang berbeda. yang merupakan reaksi terhadap imperialisme paradigma berpikir dan teologi Barat. Dengan kata lain Injil bukanlah suatu idealisme yang hidup dalam wilayah kognitif secara proposisional dengan satu perspektif filosofis. Dasar-dasar alkitabiah yang dikemukakan Pak Kobong juga menjadi acuan mereka. yang meguasai pemikiran teologi Protestan pada periode sebelum dan sesudah PD II. inkarnasi Kristus. Yang mencolok adalah penolakan para teolog kontekstual terhadap prinsip sola scriptura dalam tradisi Reformasi. Gustavo Guttierrez (Amerika Latin). yang lama mendominasi pemikiran teologi di seluruh dunia. dan yang dianggap tidak relevan lagi dalam paradigma pluralisme dewasa ini. Kebenaran tidak terutama proposisional melainkan mewujud dalam aktualitas tindakan (praksis). atau Ph. upaya menemukan kebenaran Injil dalam setiap konteks (kebudayaan dan perubahan sosial dari masyarakat di tempat dan zaman tertentu). Belakangan ada pula yang mengembangkan postcolonial theology. James Haire (Halmahera)] Yang mencolok dalam pemikiran para teolog kontekstual itu adalah bahwa mereka berusaha membebaskan diri dari paradigma teologi Barat yang dibingkai cara pandang Pencerahan dengan dualisme dan positivismenya. “is just a service center or prophetic community for the . Sebaliknya teologi kontektual adalah self-theologizing. seperti John Mbiti (Afrika). serta penekanan pada universalisme keselamatan dan pada pembebasan dari berbagai kenyataan sosial yang menimbulkan penderitaan dan merendahkan martabat manusia. khususnya Karl Barth dan Hendrik Kraemer. Van Akkeren (Jawa). seiring dengan penghargaan terhadap kebudayaan (wahyu di dalam/melalui kebudayaan). Kim Yong Bok. Cooley (Maluku). melainkan mendapat wujudnya secara beragam dalam kepelbagaian aktualitas kehidupan melalui dialog dan interaksi timbal balik. Ekklesiologi Pak Kobong pada dasarnya mengikuti pandangan para teolog neo-ortodoks Barat. Dalam dalam kaitan itu gereja sebagaimana dirumuskan Song. seperti penciptaan. penolakan dualitas sejarah (termasuk Heilgeshiechte). Wayan Mastra (Bali).l oleh Lothar Schreiner (Batak). imago Dei. Mereka menjadi generasi post-modernisme yang menghargai pluralitas dalam berbagai aspeknya. seperti yang dilakukan a. Kosuke Koyama. Choan Seng Song. Injil tidaklah universal dalam arti adanya suatu kebenaran yang sudah jadi dan tertutup. M. melainkan dalam arti relevansinya menjawab atau menghakimi kenyataan kehidupan yang berbeda-beda di tiap tempat dam masa.benar di dalam hubungan dengan Tuhan dan dengan sesamanya (bandingkan prinsip Thomisme Roma Katolik: rahmat tidak meniadakan melainkan menyempurnakan alam).

Seperti dikemukakan di atas. dan menghindarkan bahaya aboslutisme kontektualisasi (sebagaimana yang melekat pada teologi Barat masa silam). Untuk pembicaraan kita di sini. Gagasan theology of life dalam lingkup gerakan ekumene (DGD) mendukung perkembangan itu. PGT akan menentukan jatidiri Gereja Toraja untuk jangka panjang. konteks memungkinkan orang mengenali (Injil) Kristus secara konkrit. sejauh ia menjawab tantangan Gereja Toraja. Epistemologi realisme kritis seperti ini . inkarnasi. serta bersifat parsial namun tetap menunjuk pada kebenaran. Untuk itu yang masih perlu dikerjakan oleh para teolog dan pelayan Gereja Toraja adalah melanjutkan rintisan Pak Kobong dengan penjabaran praktis-kontekstual dalam perkembangan masyarakat Toraja. yakni mengembangkan kontekstualisasi yang kritis dengan penegasan pada apa yang men-transenden konteks (meta-teologi). Yang ketiga pentingnya klarifikasi dasar epistemologis bagi kontekstualisasi. Aspek-aspeknya adalah penolakan terhadap pandangan positivistik terhadap dunia dan teologi. penderitaan dan kegembiraan yang dialami seseorang atau komunitas dalam dinamika kehidupan memberi ruang perjumpaan dengan Yesus Kristus. Teman-teman di STT RANTEPAO (dan pimpinan Gereja Toraja) tentu telah menyadari dan terus berupaya dalam tugas penjabaran yang bersifat etis-teologis itu dalam pendidikan para (calon) pelayan gereja dan masyarakat Toraja. Pernah ada perdebatan panjang mengenai pokok pengakuan tentang “kematian manusia seutuhnya”. mungkin tidak terlalu penting membahas posisi Pak Kobong dalam peta pemikiran teologi (kontekstual) dewasa ini. khususnya Gereja Toraja? Apakah sumbangan Pak Kobong dalam pemikiran teologi. determinisme dan instrumentalisme dengan mengembangkan critical-realism di mana semua pengetahuan manusia mempunyai aspek obyektif dan subyektifnya. Untuk itu 2 hal perlu diwaspadai. Prinsip ini menyadarkan pada pentingnya keseimbangan antara kekhususan konteks dengan universalitas Injil. khususnya misiologi dan ekklesiologi di Indonesia? Penerimaan Pengakuan Gereja Toraja (PGT) yang berhasil disusun dan ditetapkan pada Sinode Am Gereja Toraja tahun 1981 di Makale –yang dapat disebut perumusan konfesional teologi Pak Kobong (diuraikan dalam salah satu bab Adat und Evangelium)-merupakan bukti penerimaan Gereja Toraja terhadap pemikiran teologi Pak Kobong. Kedua adalah prinsip perziarahan yang selalu diletakkan dalam ketegangan dengan prinsip kontekstualisasi. demikian juga idealisme. Bahaya yang terkandung dalam hal ini adalah teologi kontekstual menjadi reaksi berlebihan terhadap dominasi teologi Barat sehingga malah melepaskan diri dari identitas Kekristenan.world”. Pergumulan dan harapan. namun tidak mengemuka lagi akhir-akhir ini. Seorang teolog Asia berusaha mengidentifikasi beberapa pertimbangan mendasar untuk suatu teologia kontekstual. Yang lebih penting adalah jawaban pertanyaan-pertanyaan: Apakah gagasan teologi Pak Kobong relevan bagi masyarakat Toraja. Pertama. Memang salah satu tugas teologi kontekstual (setiap teologi seharusnya kontekstual) adalah menemukan permasalahan dan jawaban teologis dalam suatu konteks kebudayaan dan perubahan sosial masyarakatnya. sehingga para pendeta dan majelis jemaat Gereja Toraja bukan sebatas menghafal atau memahami dasar-dasar pertimbangan sosio-budaya dan teologis-alkitabiahnya.

Kristologi di balik misiologi dan ekklesiologi ini perlu memberi perhatian pada keseimbangan antara Kristo-sentrisme dan Teo-sentrisme. serta dinamika politik nasional dan regional Sulawesi Selatan. mutu rendah pendidikan (SD sampai UKI Toraja). terlalu sibuk membangun sarana fisik tetapi mengabaikan pengembangan sumberdaya manusianya.. yang dalam konteks masyarakat Toraja dewasa ini mengemuka masalah-masalah kemiskinan/ekonomi. Di manakah tempat gereja dalam kenyataan kebudayaan dan perubahan sosial masyarakat Toraja dewasa ini? Pada hemat saya ekklesiologi di Indonesia perlu mengarahkan gereja pada perjumpaan dengan masalah-masalah sosial. perjudian. Beberapa studi mengenai Gereja Toraja memberi gambaran mengenai perjalanan salah satu gereja suku yang besar ini (diduga meliputi 60% dari masyarakat Toraja yang kini berjumlah sekitar 1 juta orang). dan menempatkan semua teologi sebagai interpretasi manusia terhadap penyataan alkitabiah dalam konteks tertentu. cf. dan (3) pemberdayaan berteologi dari dan di dalam konteksnya. terlalu sibuk dengan ritual tetapi bukan fungsi sakramental karya Allah dalam dunia. (2) pemberdayaan untuk tugas penginjilan dan pastoral untuk pertobatan dan iman kepada Kristus.memungkinkan penerimaan pluralitas yang terkait dengan penghargaan terhadap sejarah dan kebudayaan. Ada rekan-rekan pendeta (termasuk di Gereja Toraja) yang jenuh terhadap kritik-kritik saya terhadap kenyataan bahwa gereja-gereja kita umumnya terlalu sibuk dengan ajaran gereja tetapi bukan pendidikan moralitas Kristen. ekklesiologi yang memberi perhatian terhadap masalah-masalah sosial ini terhubung dengan misiologi kontekstual dan Kristologi . tenaga kerja (TKI/TKW). Demikian juga makna salib perlu diberi perspektif yang lain daripada hanya dalam arti penebusan dosa.K Deutro Yesaya) dan pada citra Yesus sebagai mesias rakyat jelata sebagaimana yang digambarkan dalam Injil-injil synoptis. Yang perlu mendapat perhatian di sini adalah dari tantangannya. solidaritas sang Torayaan. relasi dengan Islam. hw"hy> db. konflik & kekerasan. Pada zaman zending. terlalu . Kristologi triumphalistik yang terpusat pada kebangkitan dan kemuliaan Yesus Kristus perlu dikembalikan pada Kristologi kenotik Paulus (Fil 2: 5-10. (Bandingkan dengan gagasan the three-self movement sejak pertengahan abad ke19 yang dijalankan di Cina seabad kemudian). yang merupakan pokok kritik tersendiri bagi neo-ortodoksi Barthian. Dalam hubungan itu misiologi perlu memberi perhatian menyangkut sedikitnya 4 aspek yang saling terkait: (1) pemberdayaan dalam keterlibatan sosial sebagaimana dijalankan dalam teologi pembebasan Amerika Latin dan berbagai versi pengembangan atau konsentrasinya. primordialisme etnis. serta (4) pengakaran dalam jatidiri iman Kristen sesuai iman para rasul. serta pembinaan warga gereja. Secara konseptual. Tentu masih dapat ditambahkan masalah-masalah internal Gereja Toraja sendiri. Dewasa ini pemikiran misiologi dikembangkan secara komprehensif mencakupi dimensi vertikal dan horizontal supaya sungguh menjadi pegangan gereja melaksanakan panggilannya.[. terlalu sibuk berapat/bersidang tetapi kurang mengorganisir pelayanan sosial.. moralitas generasi muda. lebih 3 dasawarsa para pekerja gereja bergumul .

Para pemimpin dan warga gereja serta masyarakat Toraja melibatkan diri lebih selaku warga masyarakat yang terancam keamanan dan identitasnya melalui organisasi-organisasi sosial-politik. Fungsinya.. yang dipimpin Pak Kobong) adalah perlunya Gereja Toraja menyusun suatu pengakuan gereja. misalnya dalam perspektif teologi sosial. Sebagai jalan keluar diusahakanlah untuk membedakan dan dengan demikian memisahkan adat dari aluk.Kis. mana yang tidak.dengan masalah kebudayaan tradisional dengan jawaban –seperti yang disimpulkan Pak Kobong– (XIV. Diusahakanlah pemilahan. tetapi gereja Toraja secara resmi sama sekali tidak meresponnya. –sebagaimana dinyatakan pada konsultasinya thn 1973– adalah: (1) Sebagai ungkapan iman .4:13. tetapi masalah itu tidak gampang. yang bagi Pak Kobong merupakan “awal dan titiktolak sekaligus usaha kontekstualisasi”.1) Zending tetap berusaha untuk menuntaskan masalah adat dan menghapuskannya secara definitif. dan (5) sebagai pedoman untuk meneruskan kebenaran iman kepada generasi penerus. khususnya PARKINDO. (2) sebagai kesaksian dan pertanggungjawaban pengharapan. Pada masa itu pula Gereja Toraja “meninggalkan” panggilan di bidang pendidikan dengan menyerahkan sekolah-sekolah YPKT kepada pemerintah. II Kor. (4) untuk memelihara kesatuan iman . 2:25.. Peraturan Adat inilah yang menentukan sikap gereja. (3) sebagai pegangan untuk membedakan antara ajaran yang benar dan yang palsu. sedangkan dengan kontekstualisasi pengakuan ini diberi lebih banyak kemungkinan. I Petr.3:15 . Sementara itu masalah-masalah adat dan kebudayaan terus digumuli dari suatu persidangan sinode ke persidangan berikutnya. 2 Tim.bd. Jawaban yang diperoleh setelah melalui suatu penelitian yang serius oleh suatu lembaga yang khusus dibentuk untuk itu (Institut Teologia Gereja Toraja. Tetap tidak jelas apa yang harus ditiadakan/ditolak dan mana yang boleh diambil alih. Rupanya pada masa itu para pemimpin Gereja Toraja belum siap menempatkan atau merlibatkan gereja dalam fungsi sosial-poilitik.1:8. [. Pengakuan Gereja Toraja. Para zendeling membuat suatu daftar mana yang boleh dan mana yang tidak boleh diikuti. Sebab itu muncullah ketegangan-ketegangan. Masa Orde Baru dengan program pembangunan ekonominya direspon gereja dalam bentuk partisipasi (imitatif?).] Jawaban pertama atas pertanyaan itu ialah “Peraturan Adat 1923". Pada tahun 1950-an terjadi pergolakan-pergolakan sosial di Toraja dan sekitarnya. Ke-5 fungsi yang dikemukakan di atas nampaknya akan menyempitkan PGT dalam perspektif tunggal eksklusivitas iman gereja. Keprihatinan Sosial Sejarah moderen masyarakat Toraja sejak akhir abad ke-19 memperlihatkan dinamika sosial pesat yang diakibatkan faktor-faktor yang dapat dikapsulir dalam 5K secara .4:20. yang melibatkan mobilisasi perlawanan bersenjata.

melainkan lebih dari itu. dalam hal ini peraturan-peraturan aluk dan adat atau agama para leluhur. Juga tourisme (pariwisata) membawa nilai-nilai baru ke Toraja.. yang menyatakan dirinya di dalam kebudayaan dan cara hidup. konflik sosial sejak zaman Jepang sampai tahun 1950-an (terutama yang diletakkan dalam persepsi penolakan terhadap “agresi” Bugis-Islam). Jadi gereja perlu bergumul dengan problema-problema yang dimunculkan oleh modernisasi. Dalam hal ini Pak Kobong melanjutkan pokok-pokok pergumulan masa zending. jadi tentu mereka juga mengamalkan agamanya. dan dalam kenyataannya itu memang terjadi. sebagaimana Peraturan Adat buatan zending thn 1923. Pak Kobong menunjuk pada 3 aspek dari konteks yang sekaligus merupakan tema-tema pergumulan Gereja Toraja (XIII. dan re-konstruksi sosial memasuki abad ke-21. di mana mereka juga (seharusnya) bebas hidup mengamalkan iman mereka.] Islam termasuk konteks Gereja Toraja.kronologis: perdagangan kaunan (budak) dan kaa (kopi) dengan berbagai dampak sosialpolitiknya.. Sejak tahun-tahun tigapuluhan pendidikan semakin maju. Falsafah hidup Toraja tradisional. kecuali suatu bagian kecil mengenai interaksi dengan Pancasila. Transformasi kebudayaan yang digagas Pak Kobong ini bisa pula menjadi acuan terhadap pengaruh modernisasi. Dan pula Tana Toraja sebagai salah satu DTW penting di Indonesia telah membawa berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakat Toraja. Dan jangan-jangan arahnya bukan seperti yang diharapkan Pak Kobong. Kekristenan (masuknya Injil bersama pendidikan moderen) yang membawa masyarakat Toraja ke dalam sejarah dunia moderen. Banyak kaum intelektual terancam bahaya terasing dari gereja. bandingkan Toraja dan Batak dengan Dayak dan Poso). Tetapi tidak ada pembahasan khusus mengenai transformasi kebudayaan dalam perjumpaan dengan modernisasi. karena banyak orang Toraja hidup di luar Toraja di tengah-tengah dunia Islam. Sebab itu gereja tidak sendirian melakukan transformasi. Islam. maupun dengan berbagai aplikasi ilmu dan teknologi moderen (sebulan terakhir saluran internet di Rantepao dan Makale telah berfungsi baik). bukan hanya karena orang Islam bebas datang menetap di Toraja. melainkan sebaliknya gerejalah dibentuk oleh kebudayaan tradisional dan moderen masyarakat Toraja.2): 1. dalam arti nilai-nilai dan pola-pola kebudayaan Toraja tradisional (dan moderen) . Tantangan dari pihak ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap nilai-nilai tradisional memang sangat besar. [. baik dalam hubungan dengan makin majunya pendidikan orang Toraja (salah satu suku yang dianggap sangat cepat mengejar ketertinggalannya dalam peradaban moderen di abad ke-20. Perubahan nilai-nilai dan bentuk-bentuk kebudayaan masyarakat Toraja mungkin akan lebih banyak ditentukan dalam interaksinya dengan modernisasi. Gagasan teologi Pak Kobong mengenai gereja sebagai tongkonan jelas lebih terfokus pada tema yang pertama. yang rupanya tidak sempat tuntas dan hanya sampai bata batas pemisahan adat dan aluk. Modernisasi. 3. serta pemilahan unsur-unsur adat yang bisa diakomodir gereja dan yang harus ditingggalkan. dan kepariwisataan (revivalisme upacara-upacara ritual masyarakat Toraja untuk kepentingan bisnis turisme dalam era pembangunan Orde Baru). 2.

pengingkaran martabat manusia (termasuk kaum perempuan). Pdt. demikian juga rekrutmen sejumlah pemuda Seko ke dalam ketentaraan di bawah alm. dan setelah itu langsung mengalami penghambatan DI/TII (dengan korban jiwa lebih 90 orang antara tahun 1953-1965). A. sementara itu tidak ada pendampingan yang semestinya dari gereja.yang menonjol di dalam kehidupan pribadi orang Toraja Kristen.J. Fenomena lain adalah migran Toraja. negeri kecil terpencil ini mengalami dinamika sosial yang sangat cepat dan berdampak mendasar. Sebagaimana juga masyarakat Toraja. melainkan –dalam kasus pembangunan nasional Indonesia era Suharto– marginalisasi dan eksploitasi rakyat kecil. Kekristenan muda yang belum berakar dalam diganggu kemelut revolusi kemerdekaan (pemuda-pemuda Seko ikut dalam perjuangan rakyat Luwu mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia). Prinsip budaya “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” memang tidak boleh diaplikasikan secara statis. maupun di dalam kelembagaan gereja. dan khususnya kebanggaan pada alm. a. Karapasan (harmoni) sebagai suatu nilai luhur tongkonan adalah pula kearifan membawa diri dalam perjumpaan budaya. namun eksklusivitas primordialistik juga harus ditingggalkan dalam perkembangan masyarakat ke arah pluralitas. Kristenisasi yang belum rampung pada 2 dekade segera “diselesaikan’ oleh fihak militer Jepang dengan mewajibkan meninggalkan agama tradisional dan memilih Islam atau Kristen.l Pdt. Kunjungan pimpinan puncak Gereja Toraja. konflik dan kekerasan sosial. baik urbanisasi kaum muda maupun kelompok-kelompok petani yang mencari lahan di tempat-tempat yang baru dibuka di daerah-daerah lain. (Mayjen) Frans Karangan.l Indu’ Panggalo) pada masa-masa sulit awal pemukian kembali masyarakat Seko setelah . yang relatif berhasil maju di bidang ekonomi. merupakan salah satu faktor yang menyulut konflik berdarah yang sampai kini belum seluruhnya pulih. Setelah periode pengungsian (yang dialami bagai “anak-anak ayam kehilangan induknya”). Masalah modernisasi mungkin bukan terutama masalah kebudayaan. Sangka’ Palisungan sebagai martir Seko-Rongkong pada masa DI/TII awal tahun 1950an. Orang Seko mengenang jasa para guru Toraja (di samping Ambon dan Minahasa) pada masa zending. dalam arti melemahnya nilai-nilai komunal tradisional digantikan individualisme dan kebebasan moral serta menguatnya penyimpangan upacara-upacara tradisional menjadi ajang adu gengsi. disertai kemampuan mengelola konflik sosial menjadi kekuatan-kekuatan dinamis yang memajukan bersama semua lapisan dan jajaran dalam masyarakat. serta dampak kerusakan lingkungan. materialisme. Pada masa pengungsian ada pada peran penting sekolah-sekolah rakyat asuhan YPKT. Anggui (1967) dan Pak Kobong (1974) bersama serombongan PGA-nya (a. Eksklusivitas budaya komunitas migran Toraja di daerah Luwu. rakyat Seko (sebagian) kembali ke Seko untuk memulai penataan kehidupan sosial yang kehilangan arah di bawah sistem Orde Baru yang paternalistik. P. darimana saya berasal. To Seko Saya ingin mencatat secara khusus pada bagian ini menyangkut pelayanan sosial gereja kepada masyarakat (Kristen) di Seko. Dalam memori kolektif masyarakat Seko terdapat persepsi positif maupun negatif terhadap Gereja Toraja.

geocities. yang bermuara pada urgensi pengembangan sumber daya manusia. salah satu Konsultasi Teologi Gereja Toraja beberapa tahun lalu memberi perhatian khusus pada masalah Islam. dengan suatu pemahaman yang cukup positif. khususnya peningkatan mutu pendidikan dasar dan menengah di Seko. Konteks Islam Islam merupakan konteks berganda. Persepsi negatif a. Belakangan. Sejarah Toraja sejak abad ke-17 berhadapan dengan Islam sebagai kekuatan politik kerajaankerajaan Bugis yang berusaha menguasai dan mengislamkan Toraja. Belum lama ini daerah Seko yang terpencil itu diberi 2 buah telepon satelit (Seko Padang 086 812 112 238. Persaingan Luwu dan Sidenreng pada abad ke-19 untuk mengontrol perdagangan kaunan dan kaa Toraja terkait pula dengan “sindrom Alauddin” kekuatankekuatan politik Islam Bugis Demikian juga peristiwa-peristiwa Andi Sose (masyarakat Toraja melawan Andi Sose dan pasukan TNI-nya) pada tahaun 1950-an di Tana Toraja. Secara teologis. Demikian juga kurangnya perhatian untuk pembinaan di bidang sosial-ekonomi dan pengembangan sumber daya manusia. Maka sejak semester ini sejumlah 60 orang pemuda-pemudi Seko mengikuti program PGSD di Makassar (satu kelas khusus sebanyak 44 mahasiswa di terima Uiversitas Negeri Makassar). masyarakat Seko berhutang budi kepada alm Pdt (waktu itu masih Guru Injil) P. sebagai agama dan sabagai gerakan politik. menggantikan SDN warisan Orde Baru dewasa ini yang sungguh memprihatinkan.com/inazeko) berusaha mengidentifikasi kebutuhan mendasar masyarakat Seko. yakni penekanan pada keterbukaan terhadap pluralitas agama dalam arti saling mengakui dan menghargai. yang diharapkan akan menghasilkan guru-guru yang relatif bermutu dan dedikatif untuk masyarakat di Seko.l tiadanya pelayanan kepada para pengungsi. Saya pribadi menyesalkan penggunaan Sura’ Madatu dan Pa’pudian yang berdampak melemahkan bahasa Seko. khususnya Klasis Jakarta Raya yang memberi berbagai bantuan kepada masyarakat Seko. Tetapi saya juga wajib menyampaikan terima kasih kepada para tokoh dan warga jemaatjemaat Gereja Toraja. Masyarakat Seko merindukan pendidikan yang benar sebagaimana asuhan zending dan YPKT pada masa lalu. Di Makassar masyarakat Seko melalui Yayasan inaSeko (lihat informasi yayasan ini pada www. baik berdasarkan prinsip kebebasan beragama maupun wawasan teologis yang inklusivistik. Pattikayhatu dari Gereja Toraja Mamasa.pengungsian.4): . yang pada hemat saya masih perlu didiskusikan relevansinya. Galumpang. perkembangan politik di Sulawesi Selatan yang mengedepankan citra Islam sebagai ancaman dengan adanya gagasan “propinsi Islam” (penegakan syariah Islam secara formal struktural di Sulawesi Selatan) membangkitkan kenangan buruk masyarakat Toraja Kristen akan peristiwa-peristiwa masa silam itu. Itu suatu kemajuan dibandingkan dengan sikap eksklusivitas dalam Pengakuan Gereja Toraja (VII. Khusus di daerah Makki. Tetapi justru tantangan itu yang mempersatukan Toraja melalui kepemimpinan beberapa tokoh to pada tindo to silamban pangimpi yang berhasil menahan serbuan militer Bone (untulak buntunna Bone) dan mewujudkan kesatuan sosial-budaya Toraja sebagai tondok matarik allo lepongan bulan. Seko Lemo 086 812 112 227).

eksklusivitas persekutuan Kristen yang tidak memberi tempat terhadap kepelbagaian. saya perlu menekankan bahwa pemikiran Pak Kobong tidak lahir dari menara gading dunia akademis teologi. dalam arti yang tidak hidup dalam tatanan budaya Toraja yang berpusat pada tongkonan. Pak Kobong telah dan masih terus menjalankan komitmennya terhadap Gereja Toraja. Sebagai orang bukan Toraja. Agama yang benar dan yang membawa kepada keselamatan ialah yang berdasarkan penyataan Allah yang khusus di dalam Yesus Kristus. Mandar dan Toraja merupakan 4 sub etnis Sulawesi Selatan yang (seharusnya) saling menghargai dan mengakui sebagai berdiri sama tinggi duduk sama rendah. H. memperluas bidang perhatian teologi mencakupi masalah-masalah gereja dan masyarakat Toraja yang antara lain telah diidentifikasi Pak Kobong sebagai konteks panggilan Gereja Toraja. mengedepankan prinsip kesatuan dan kesetaraan yang diungkapkan dalam bahasa Bugis: se’di cappa appa’ pada-pada (har. satu puncak namun keempatnya setara).B. Dan itu juga suatu nilai dalam tongkonan yang digagas Pak Kobong. saya hanya dapat mengajukan pertimbangan supaya “teologi tongkonan” tidak satu arah (Injil membaharui tongkonan). Pertama. melainkan dari keterlibatannya secara langsung dalam bergumul dengan masalah-masalah nyata gereja dan masyarakat Toraja dan dalam membina kader-kader pelayan Gereja Toraja.l dengan memanfaatkan titik-titik temu budaya masyarakat majemuk Sulawesi Selatan. Dalam hal inilah terdapat kelemahan lain dalam ekklesiologi Pak Kobong. nasional dan internasional yang dipersepsi dalam kecurigaan terhadap adanya grand design Islamisasi Indonesia yang diskriminitaif dan menggusur Pancasila. Palaguna. Bugis. melainkan juga perlunya tongkonan tradisional diberi peluang memberdayakan dan memperluas . Sikap eksklusif bisa meluas bukan karena alasan teologis ini melainkan karena perkembangan politik regional. dan sama bertanggungjawab ringan sama dijinjing berat sama dipikul. Pemerintah dan para pemuka umat ber(beda) agama di Sulawesi Selatan terus berupaya mencegah perkembangan negatif itu. a. yakni modernisasi dan Islam. mengapresiasi secara kritis pemikiran Pak Kobong untuk dapat melanjutkannya sebagaimana yang Pak Kobong sendiri lakukan terhadap pemikiran dan aktivitas zending (GZB). Konsepsi persekutuan Kristen sebagai suatu tongkonan perlu memberi tempat kepada persaudaraan yang melampaui batas-batas anutan agama. Mentransformasi Pak Kobong Keseluruhan uraian di atas adalah usaha untuk memahami upaya teologi Pak Kobong dalam rangka mengembangkan teologi yang relevan bagi panggilan gereja dan masyarakat Toraja. Terlepas dari pro atau kontra terhadap metode kontekstualisasi dan substansi teologi Pak Kobong. Generasi teolog Toraja berikutnya perlu meneruskan komitmen itu dengan sedikitnya 2 cara. sebagaimana dalam tongkonan tradisional.Z. Pada beberapa kesempatan Gubernur Sulsel. Makassar. Kedua.Agama-agama dengan lembaga-lembaga keagamaan adalah penampakan kesadaran manusia tentang adanya Allah atau sesuatu kuasa di luar kehidupannya yang ia takuti dan sembah.

L. Kobong di aula STT JAKARTA. Terima kasih. tgl 11 November 2002 copyright@2004 webdesign: zngelow . Parapak).wawasan kegerejaan masyarakat Kristen Toraja. Jikalau tongkonan sebagai suatu pranata sosial yang berfungsi menentukan dalam masyarakat Toraja maka seharusnya diperhitungkan dalam memberi warna dan susbtansi pada kehidupan umat Kristen Toraja dalam “berselancar di atas gelombang perubahan” (J. *Disampaikan pada Roundtable Discussion mengenai Misiologi Dr Th.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful