P. 1
Fungsi Alat Batu Dari Gua Pandan, Padangbindu Sumatera Selatan

Fungsi Alat Batu Dari Gua Pandan, Padangbindu Sumatera Selatan

5.0

|Views: 614|Likes:
Published by Irdiansyah
Stone tool is one of the implement that made and/or use by prehistoric human to procure their life needs. Thereby, has an archaeological data that related on one functional tissue, stone tool can reflect a behavior. By means of that, the study of form and function of the artefact must be answered before move farther to discuss about behavior. Pandan Cave is one of the Indonesian sites that have a variablity of stone artefact, the use-wear of stone tool artefact in this site have never been analysed. Based on that matters, two question can be submitted on this research to explain the function of stone tool from Pandan Cave, that is about stone assemblage especially about the type and use-wear of the stone tool.
Furthermore, the stone assemblage especially tools is classified into a various type. After classification was complete, the tool were examined by microscope for use-wear photograph and description. Etnographic and experimental analogy from several book sources was use in interpretation stage. Thereby, the function of usage tool can be estimated.
The classification obtained five types of tools with unifacial and low angle edge (I1 type) as the majority type, followed by unifacial with very high angle edge (I3 type), unifacial with high angle edge (I2 type), bifacial with very high angle edge (II3 type), and bifacial with low angle edge (II1 type). Based on use-wear analysis with ethnographical and experimental analogy, the I2 type is close to various activities, such as scraping / chopping wood, scraping plants, perforating fresh skin, cutting / slicing meat, and sawing bone. The I1 type is close to cutting / slicing meat, bone whittling, and scraping / whittling / chopping wood. The I3 type is close to scraping / wood plane and scraping dry skin. The II3 type is close to wood battering activities.
Based on all approximation, the individuals / groups of people of Pandan Cave Site are close to hunter and gatherer activities wich directly done through wooden tools. Meanwhile, the stone tools are use to produce the wooden tools. Thereby, the efficient and proportionate stone tools of Pandan Cave Site are not made for portable hunting tools, but easy to carry on the way during migration.
Stone tool is one of the implement that made and/or use by prehistoric human to procure their life needs. Thereby, has an archaeological data that related on one functional tissue, stone tool can reflect a behavior. By means of that, the study of form and function of the artefact must be answered before move farther to discuss about behavior. Pandan Cave is one of the Indonesian sites that have a variablity of stone artefact, the use-wear of stone tool artefact in this site have never been analysed. Based on that matters, two question can be submitted on this research to explain the function of stone tool from Pandan Cave, that is about stone assemblage especially about the type and use-wear of the stone tool.
Furthermore, the stone assemblage especially tools is classified into a various type. After classification was complete, the tool were examined by microscope for use-wear photograph and description. Etnographic and experimental analogy from several book sources was use in interpretation stage. Thereby, the function of usage tool can be estimated.
The classification obtained five types of tools with unifacial and low angle edge (I1 type) as the majority type, followed by unifacial with very high angle edge (I3 type), unifacial with high angle edge (I2 type), bifacial with very high angle edge (II3 type), and bifacial with low angle edge (II1 type). Based on use-wear analysis with ethnographical and experimental analogy, the I2 type is close to various activities, such as scraping / chopping wood, scraping plants, perforating fresh skin, cutting / slicing meat, and sawing bone. The I1 type is close to cutting / slicing meat, bone whittling, and scraping / whittling / chopping wood. The I3 type is close to scraping / wood plane and scraping dry skin. The II3 type is close to wood battering activities.
Based on all approximation, the individuals / groups of people of Pandan Cave Site are close to hunter and gatherer activities wich directly done through wooden tools. Meanwhile, the stone tools are use to produce the wooden tools. Thereby, the efficient and proportionate stone tools of Pandan Cave Site are not made for portable hunting tools, but easy to carry on the way during migration.

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Irdiansyah on Jul 31, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

06/16/2013

FUNGSI ALAT BATU DARI SITUS GUA PANDAN, PADANGBINDU, SUMATERA SELATAN

Skripsi diajukan untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar Sarjana Humaniora

oleh:

IRDIANSYAH NPM 0702030219
Program Studi Arkeologi

FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA UNIVERSITAS INDONESIA 2008

PRAKATA

Segenap rasa syukur saya ucapkan atas segala karunia yang telah diberikan Allah SWT, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Terbatasnya kemampuan menyebabkan apa yang disajikan dalam tulisan ini masih jauh dari sempurna, baik materi maupun susunan bahasanya. Namun demikian, dengan segala kerendahan hati diharapkan tulisan ini mempunyai arti, sekecil apapun. Penulisan skripsi ini tidak lepas dari berbagai dukungan beberapa instansi. Dengan demikian, sudah sepantasnya saya mengucapkan terima kasih kepada Program Studi Arkeologi serta segenap dosen yang telah memberikan penjelasan dan pemahaman tentang ilmu arkeologi. Kepada Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang Arkenas) serta Institut de Recherche pour le Developpement (IRD) yang telah memberikan keleluasaan dalam mengakses data. Kepada Laboratorium Departemen Metalurgi dan Material, Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang telah meminjamkan fasilitas mikroskop, sehingga memudahkan penelitian. Terima kasih dan hormat kepada Ibu Karina Arifin, Ph.D. yang telah membimbing, memberi semangat, dan memberikan begitu banyak pengetahuan tentang ilmu arkeologi prasejarah khususnya penelitian alat batu dalam penulisan skripsi ini. Kepada Ibu Ingrid H.E. Pojoh, M.Si. yang juga memberikan pengetahuan dan saran khususnya dalam penulisan skripsi ini. Kepada Ibu Dr. Wiwin Djuwita Ramelan dan Bapak Chaksana A.H. Said, M.A. yang dalam kesibukannya telah bersedia membaca skripsi ini. Terima kasih kepada Dr. Ninie Soesanti Yulianto selaku Koordinator Program Studi Arkeologi yang telah banyak membantu. Terima kasih dan hormat kepada Bapak Dubel Driwantoro, S.S. (alm) yang telah memberikan dorongan dan pengetahuan kepada penulis tentang alat batu, serta Ibu Amelia S.S. yang juga memberikan bantuan dan semangat kepada penulis. Kepada Bapak Prof. Dr. Truman Simanjuntak dan Dr. Hubert Forestier yang telah memberikan izin dan kesempatan untuk mengakses data. Kepada Bapak Drs. M.

i

Fadhlan S. Intan yang telah membantu dan memberikan pengetahuan tentang klasifikasi mineral dan batuan. Kepada Bapak Ngadiran yang juga memberikan banyak bantuan kepada penulis saat analisis. Serta Bapak Zaenal yang telah membantu penulis dalam penggunaan mikroskop dan fotomikro di Laboratorium Departemen Metalurgi dan Material. Terima kasih kepada Budenk, Githa, Abi, Sigit, dan Ami yang telah memberikan gambaran tentang arkeologi prasejarah serta peminjaman/pemberian buku dan artikel. Bowo, Yessi, Icha, serta angkatan 2000 lainnya. Anne (dan keluarga di Bandung), Rauf “Karina Boys”, Dian, Indri, Iman, Visna, Mila, serta angkatan 2001 lainnya. Kepada adik-adik angkatan 2003, 2004, 2005, 2006, dan 2007 yang semoga selalu menjadikan KAMA FIB-UI sebagai wadah pemenuhan kebutuhan minat dan studi arkeologi. Kepada seluruh “band of brothers” Nendra (alm), Tile, Surya, Randu, Adit, Nuge, Icat, Ezwin “Karina Boys”, Dito, Solus, Bobi, Ade, dan Ari. Dee, Timur, Churma, Olive, Rian, serta 2002 lainnya. Pada akhirnya terima kasih yang sebesar-besarnya tidak lupa penulis ucapkan kepada Ibu dan Ayah (alm) tercinta atas pengorbanan dan doanya selama ini. Kakakkakak tercinta Uni Emma, Uda Aam dan Mba Ria, serta Idam yang telah memberikan semangat dan doa. Adikku Vina serta keponakanku Eka Rafifa Salsabila dan Ibnu Zul Satriani. Sebagai penutup, saya mengharapkan kritik serta saran atas segala kekurangan dalam skripsi ini. Bogor, 31 Desember 2007

Irdiansyah

ii

DAFTAR ISI PRAKATA DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAN FOTO DAFTAR GRAFIK DAN TABEL IKHTISAR i iii vi ix x

BAB I 1. 1. 1. 2. 1. 3. 1. 4. 1. 5. 1. 6. 1. 6. 1. 1. 6. 2. 1. 7.

PENDAHULUAN Latar Belakang Riwayat Penelitian Alat Batu di Indonesia Permasalahan dan Tujuan Penelitian Metode Penelitian Lingkup Penelitian dan Data Gambaran Situs dan Data Wilayah Situs Deskripsi Situs dan Ekskavasi Sistematika Penulisan

1 1 4 5 7 11 11 11 15 18

BAB II 2. 1. 2. 1. 1. 2. 1. 2. 2. 1. 3. 2. 2. 2. 2. 1. 2. 2. 1. 1. 2. 2. 1. 2. 2. 2. 1. 3. 2. 2. 1. 4. 2. 2. 1. 5. 2. 2. 1. 6. 2. 2. 1. 7. 2. 2. 2. 2. 2. 2. 1. 2. 2. 2. 2. 2. 2. 3.

PENGETAHUAN DASAR ANALISIS Dasar Klasifikasi Proses Terbentuknya Artefak Batu Atribut Artefak Batu Bahan Baku Artefak Batu Pengertian Dasar Jejak Pakai Pada Alat Batu Aktivitas Pemakaian Alat Batu Menyerut Mengetam Meraut Memotong Menggergaji Membelah Melubangi/mengebor Teknik Memegang Alat Batu Digenggam Bertangkai Materi yang Dikerjakan

20 20 21 26 30 32 33 34 34 35 36 36 37 38 38 39 39 40

iii

BAB III 3.1. 3. 1. 1. 3. 1. 2. 3. 1. 3. 3. 2. 3. 3. 3. 3. 1. 3. 3. 1. 1. 3. 3. 1. 2. 3. 3. 1. 3. 3. 3. 2. 3. 3. 3. 3. 3. 4. 3. 3. 5. 3. 4. 3. 4. 1. 3. 4. 2. 3. 4. 3. 3. 4. 4. 3. 4. 5. BAB IV 4. 1. 4. 1. 1. 4. 1. 1. 1. 4. 1. 1. 2. 4. 1. 1. 3. 4. 1. 1. 4. 4. 1. 1. 5. 4. 1. 2. 4. 1. 2. 1. 4. 1. 2. 2. 4. 1. 3. 4. 1. 4. 4. 2. 4. 3. 4. 4. 4. 5. 4. 5. 1. 4. 5. 1. 1.

KLASIFIKASI TEMUAN BATU GUA PANDAN Klasifikasi Awal Batuan Artefak Batuan Non Artefak Jumlah Temuan Batu Gua Pandan Sebaran Temuan Batu Gua Pandan Klasifikasi Alat Batu Gua Pandan Tajaman Letak tajaman Sudut tajaman Bentuk tajaman Ukuran Berat Korteks Bahan Baku Integrasi Tipe Alat Tipe Alat dengan Analisis Ukuran Tipe Alat dengan Analisis Berat Tipe Alat dengan Analisis Ukuran dan Berat Tipe Alat dengan Analisis Korteks Tipe Alat dengan Analisis Bahan Baku ANALISIS JEJAK PAKAI Bentuk-bentuk Jejak Pakai Pecahan Tajaman (edge fracture) Feather fracture Hinge fracture Step fracture Bending fracture Pecah bukan karena pemakaian Striasi Sleek striation Furrow striation Kilap Penumpulan Pemilahan Alat Pakai Pembersihan Mikroskop dan Fotomikrografi Deskripsi Alat dan Jejak Pakai Tipe I1 Tipe I1 (PND/E4/04/10-20/01)

41 41 41 42 43 43 46 47 47 48 49 50 53 53 55 59 61 62 62 64 65 66 66 66 68 68 69 69 70 71 72 72 73 77 77 78 80 83 83 83

iv

4. 5. 1. 2. 4. 5. 1. 3. 4. 5. 1. 4. 4. 5. 1. 5. 4. 5. 2. 4. 5. 2. 1. 4. 5. 2. 2. 4. 5. 2. 3. 4. 5. 2. 4. 4. 5. 2. 5. 4. 5. 2. 6. 4. 5. 2. 7. 4. 5. 3. 4. 5. 3. 1. 4. 5. 3. 2. 4. 5. 3. 3. 4. 5. 4. 4. 5. 4. 1. 4. 5. 4. 2. BAB V 5. 1. 5. 2. 5. 3. 5. 4. 5. 5. 5. 6. 5. 7. BAB VI

Tipe I1 (PND/E4/04/20-30/02) Tipe I1 (PND/H7/04/20-30/93) Tipe I1 (PND/H10/04/30-40/94) Tipe I1 (PND/I4/04/20-30/139) Tipe I2 Tipe I2 (PND/E4/04/20-30/03) Tipe I2 (PND/G4/04/20-30/23) Tipe I2 (PND/H7/04/20-30/62) Tipe I2 (PND/H7/04/20-30/65) Tipe I2 (PND/H10/04/70-80/95) Tipe I2 (PND/H10/04/110-120/96) Tipe I2 (PND/H7/04/20-30/68) Tipe I3 Tipe I3 (PND/H4/04/30-40/38) Tipe I3 (PND/H10/04/40-50/100) Tipe I3 (PND/H4/04/20-30/43 Tipe II3 Tipe II3 (PND/G4/04/30-40/21) Tipe II3 (PND/G4/04/30-40/29)

86 88 90 91 92 93 93 95 96 98 99 99 100 101 102 103 104 104 105

TINJAUAN FUNGSI ALAT BATU GUA PANDAN MELALUI ANALOGI ETNOGRAFI DAN EKSPERIMEN PARA AHLI 106 Pengerjaan Kayu (woodworking) Pengerjaan Tulang (boneworking) Pengerjaan Kulit (hideworking) Pemotongan Daging dan Penjagalan (meet cutting and butchering) Pengerjaan Tumbuhan (plantworking) Pemegangan Alat Batu dengan Digenggam atau Bertangkai Perkiraan Fungsi Alat Batu Gua Pandan PENUTUP 106 109 111 113 114 116 118 121 127 130 134

CATATAN BIBLIOGRAFI LAMPIRAN

v

DAFTAR GAMBAR DAN FOTO Gambar 1. Peta keletakan situs Gua Pandan 13 14 2. Peta geologi Baturaja 3. Denah dan keletakan kotak situs Gua Pandan 16 4. Statigrafi dan carbon dating kotak H10 18 5. Pelepasan serpih dari batu inti 22 6. a) hertzian initiation, b) bending initiation, dan c) wedging initiation 23 7. Hard hammer percussion menghasilkan Conchoidal flake 24 8. Soft hammer percussion dan pressure technique yang menghasilkan bending flake 25 26 9. Bipolar percussion yang menghasilkan bipolar flake dan bipolar core 10. Atribut alat yang terbentuk dari batu inti 29 30 11. Atribut alat yang terbentuk dari serpih 12. Aktivitas menyerut dengan sudut pengerjaan yang terjal 34 13. Aktivitas mengetam dengan sudut pengerjaan landai dan sudut tajaman terjal sampai sangat terjal 35 14. Aktivitas meraut dengan sudut pengerjaan landai dan sudut tajaman landai sampai terjal 35 15. Aktivitas memotong/mengiris dilakukan secara membujur dan digerakkan maju mundur untuk pengerjaan materi lunak 36 16. Aktivitas menggergaji untuk memotong materi keras 37 17. Aktivitas membelah dilakukan dengan pukulan, kekuatan, 37 dan jarak tertentu yang diarahkan secara melintang 18. Aktivitas melubangi/mengebor dengan zona aktif meruncing dan gerakan memutar 38 19. Pemakaian alat batu digenggam secara langsung dengan ditumpulkan atau penggunaan getah 39 20. Penggunaan tangkai pada alat batu 40 21. Pembagian satuan unit pada kotak H10 44 49 22. Pengukuran sudut tajaman dengan goniometer/protractor 50 23. Bentuk-bentuk tajaman 24. Kelas ukuran dengan diameter tiap 1 cm yang merefleksikan ukuran panjang maksimum 52 25. Bentuk-bentuk korteks pada permukaan 54 26. Tahapan pembentukan pecahan tajaman 67 27. a) feather fracture, b) hinge fracture, c) step fracture, dan d) bending fracture 68 28. Sebaran data dan perkiraan aktivitas di situs Gua Pandan 140

vi

Foto 1. Sisi Timur Gua Pandan 15 17 2. Fragmen tulang fauna 3. Tampilan feather dan step fracture melalui fotomikroskop dengan perbesaran 40X 69 4. Sleek striation (perbesaran 200X) karena a) menyerut kayu dan b) memotong tulang 72 5. Furrow striation dengan tepian tidak teratur dan kasar karena a) pemakaian tangkai dan b) penjagalan 72 6. Additive polish hasil menyerut kayu 74 7. Tampilan abrasive polish pada ekperimen a) menyerut kayu dan b) menggosok batugamping 75 8. Tampilan sedikit membulat (light rounding) akibat pemotongan daging pada ujung tajaman 77 9. Ultrasonic tank 80 10. a. Wild M400 dan b. Olympus BHM inventaris Laboratorium Departemen Metalurgi dan Material, FT-UI 82 11. Keletakan area pada tipe I1 (PND/E4/04/10-20/01) dan area A pada perbesaran 10X 84 85 12. Area B (10X) pada tipe I1 (PND/E4/04/10-20/01) 13. Area C (200X) pada tipe I1 (PND/E4/04/10-20/01) 85 14. Area D (200X) dan area E (100X) pada tipe I1 (PND/E4/04/10-20/01) 85 15. Keletakan area pada tipe I1 (PND/E4/04/20-30/02) dan area A pada perbesaran 7X 87 88 16. Area B (50X) dan C (200X) pada tipe I1 (PND/E4/04/20-30/02) 17. Keletakan area A (12,5X) dan B (200X) pada tipe I1 (PND/H7/04/20-30/93) 89 18. Keletakan area pada tipe I1 (PND/H10/04/30-40/94) dan area A pada perbesaran 12,5X 90 19. Area B (100X) pada tipe I1 (PND/H10/04/30-40/94) 91 20. Keletakan area A (12,5X) dan B (50X) pada tipe I1 (PND/H10/04/20-30/139) 92 21. Keletakan area A (8X) dan B pada tipe I2 (PND/E4/04/20-30/03) 93 22. Keletakan area pada tipe I2 (PND/G4/04/20-30/23) dan area A (8X) 94 23. Area B (100X) pada tipe I2 (PND/G4/04/20-30/23) 95 24. Keletakan area A (8X) dan B (200X) pada tipe I2 (PND/H7/04/20-30/62) 96 25. Keletakan area pada tipe I2 (PND/H7/04/20-30/65) dan area A (12,5X) 97 26. Area B (50X) pada tipe I2 (PND/H7/04/20-30/65) 97 27. Keletakan area A (10X) dan B (200X) pada tipe I2 (PND/H10/04/70-80/95) 98 28. Keletakan area A (8X) pada tipe I2 (PND/H10/04/110-120/96) 99 29. Keletakan area A (12,5X) dan B (200X) pada tipe I2 (PND/H7/04/20-30/68) 100

vii

30. Area A (10X) tipe I3 (PND/H4/04/30-40/38) 101 31. Keletakan area tipe I3 (PND/H4/04/30-40/38) 102 32. Keletakan area A pada tipe I3 (PND/H10/04/40-50/100) 102 33. Area A (8X) dan B (50X) pada tipe I3 (PND/H4/04/20-30/43) 103 34. Keletakan Area A pada tipe II3 (PND/G4/04/30-40/21) 104 35. Keletakan Area A pada tipe II3 (PND/G4/04/30-40/29) 105 36. Jejak kilap kayu dengan permukaan bergelombang (undulating) berbentuk kubah (domed-shaped) (200X) 107 37. Jejak kilap tulang yang sangat terang/memantul dengan lubang-lubang kecil 110 38. Kilap berlemak (greasy polish) hasil pengerjaan kulit (100X) 112 39. Furrow striation yang dilapisi kilap lemak karena kontak dengan tulang saat pemotongan daging/penjagalan (400X) 114 40. Perkembangan kilap phytolith (1-4) akibat pengerjaan tumbuhan 115 41. Lubang-lubang berbentuk komet dengan topografi bergalur pada permukaan kilap akibat pengerjaan memacul tanah (50X) 116 42. Jejak kilap karena pemakaian tangkai (400X) 117 43. Jejak kilap dan pelicinan karena genggaman tangan secara langsung (400X) 117

viii

DAFTAR GRAFIK DAN TABEL Grafik 1. Jumlah temuan batu Gua Pandan berdasarkan klasifikasi awal Tabel 1. Skala Mohs dan pembandingnya 2. Frekuensi tipe pada setiap kotak 3. Frekuensi tipe pada setiap unit 4. Frekuensi letak tajaman alat di situs Gua Pandan 5. Frekuensi sudut tajaman alat batu di situs Gua Pandan 6. Frekuensi bentuk tajaman alat batu di situs Gua Pandan 7. Frekuensi kelompok ukuran alat batu di situs Gua Pandan 8. Frekuensi berat alat batu di situs Gua Pandan 9. Frekuensi keberadaan korteks pada alat batu Gua Pandan 10. Frekuensi bahan baku alat batu Gua Pandan 11. Jumlah tipe dan sub tipe alat batu Gua Pandan 12. Frekuensi ukuran pada setiap tipe alat 13. Frekuensi berat pada setiap tipe alat 14. Frekuensi ukuran dan berat pada setiap tipe alat 15. Frekuensi kisaran korteks pada setiap tipe alat 16. Frekuensi bahan baku pada setiap tipe alat 17. Frekuensi alat pakai dan non pakai pada tipe alat 18. Integrasi data alat batu Gua Pandan 19. Integrasi tipe alat pakai dengan perkiraan fungsi

43

31 45 46 48 49 50 52 53 55 56 60 61 62 63 64 65 78 135 138

ix

ABSTRACT
Irdiansyah (0702030219). The Function of Stone Tool from Pandan Cave Site, Padangbindu, South Sumatra (Lecturer: Karina Arifin Ph.D.). Archaeology Program, Faculty of Humanities, University of Indonesia, 2008.

©I

rd ian sy

Stone tool is one of the implement that made and/or use by prehistoric human to procure their life needs. Thereby, has an archaeological data that related on one functional tissue, stone tool can reflect a behavior. By means of that, the study of form and function of the artefact must be answered before move farther to discuss about behavior. Pandan Cave is one of the Indonesian sites that have a variablity of stone artefact, the use-wear of stone tool artefact in this site have never been analysed. Based on that matters, two question can be submitted on this research to explain the function of stone tool from Pandan Cave, that is about stone assemblage especially about the type and use-wear of the stone tool. Furthermore, the stone assemblage especially tools is classified into a various type. After classification was complete, the tool were examined by microscope for use-wear photograph and description. Etnographic and experimental analogy from several book sources was use in interpretation stage. Thereby, the function of usage tool can be estimated. The classification obtained five types of tools with unifacial and low angle edge (I1 type) as the majority type, followed by unifacial with very high angle edge (I3 type), unifacial with high angle edge (I2 type), bifacial with very high angle edge (II3 type), and bifacial with low angle edge (II1 type). Based on use-wear analysis with ethnographical and experimental analogy, the I2 type is close to various activities, such as scraping / chopping wood, scraping plants, perforating fresh skin, cutting / slicing meat, and sawing bone. The I1 type is close to cutting / slicing meat, bone whittling, and scraping / whittling / chopping wood. The I3 type is close to scraping / wood plane and scraping dry skin. The II3 type is close to wood battering activities. Based on all approximation, the individuals / groups of people of Pandan Cave Site are close to hunter and gatherer activities wich directly done through wooden tools. Meanwhile, the stone tools are use to produce the wooden tools. Thereby, the efficient and proportionate stone tools of Pandan Cave Site are not made for portable hunting tools, but easy to carry on the way during migration.

ah ,2 00 8

IKHTISAR Irdiansyah (0702030219). Fungsi Alat Batu dari Situs Gua Pandan, Padangbindu, Sumatera Selatan (di bawah bimbingan Karina Arifin Ph.D.). Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2008. Salah satu alat yang telah sengaja dibuat dan/atau dipakai manusia dalam pemenuhan kebutuhan hidup adalah alat batu. Dengan demikian, alat batu sebagai data arkeologi yang terikat dalam satu jalinan fungsional mungkin dapat merefleksikan perilaku tertentu. Oleh karena itu, pengetahuan bentuk dan fungsi suatu artefak harus diketahui terlebih dahulu sebelum beranjak lebih jauh ke dalam pembahasan tentang perilaku. Situs Gua Pandan di Sumatera Selatan merupakan salah satu situs di Indonesia yang memiliki beragam tipe artefak batu, selain itu penelitian tentang jejak pakai alat batu di situs ini belum pernah dilakukan. Berdasarkan hal-hal yang telah disebutkan, diajukan dua pertanyaan penelitian, yaitu tentang tipe-tipe temuan batu, khususnya alat batu dan jejak pakainya, sehingga dapat menjelaskan fungsi. Selanjutnya temuan batu khususnya alat diklasifikasikan menjadi berbagai tipe sesuai dengan tujuan dalam menjelaskan fungsi. Kemudian tipe alat yang telah dibuat diamati secara khusus melalui pendekatan mikroskopis, sehingga bentuk jejakjejaknya dapat difoto dan dideskripsikan. Pada tahap penafsiran dilakukan analogi melalui sumber pustaka, khususnya pustaka yang memuat hasil analogi etnografi dan eksperimen para ahli. Dengan demikian, tipe alat yang dipakai dapat diperkirakan fungsinya. Berdasarkan klasifikasi, didapat lima tipe alat yang mayoritas berupa alat dengan tajaman unifasial bersudut landai (tipe I1), kemudian diikuti alat dengan tajaman unifasial bersudut sangat terjal (tipe I3), tajaman unifasial bersudut terjal (tipe I2), tajaman bifasial bersudut sangat terjal (tipe II3), dan tajaman bifasial bersudut landai (tipe II1). Berdasarkan analisis jejak pakai serta penafsiran melalui analogi etnografi dan eksperimen, alat pakai pada tipe I2 cenderung dekat dengan kegiatan yang sangat beragam, seperti menyerut/memotong kayu, menyerut tumbuhan, melubangi kulit segar, memotong/mengiris daging, dan menggergaji tulang. Alat pakai pada tipe I1 cenderung dekat dengan kegiatan memotong/mengiris daging, meraut tulang, dan meraut/menyerut/memotong kayu. Alat pakai pada tipe I3 dekat dengan kegiatan menyerut/mengetam kayu dan menyerut kulit kering. Alat pakai pada tipe II3 dekat dengan kegiatan membelah kayu. Berdasarkan berbagai perkiraan, kemungkinan individu/kelompok manusia di situs Gua Pandan dekat dengan kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan yang secara langsung dilakukan melalui alat-alat berbahan baku kayu. Sementara itu, alat batu merupakan alat bantu untuk memproduksi alat-alat kayu tersebut. Dengan demikian, alat batu yang cukup efisien dan proporsional di Gua Pandan tidak dibuat untuk mudah dibawa saat kepentingan berburu, tetapi mudah dibawa dalam perjalanan saat perpindahan tempat.

©I

rd ian sy

ah ,2 00 8

x

BAB I

1. 1. Latar Belakang

Manusia masa lampau memanfaatkan lingkungan sebagai usaha dalam memenuhi kebutuhan hidup (Fagan, 1981: 253), di Indonesia aktivitas tersebut dimulai sejak kala Pleistosen1 dengan kegiatan ekonomi yang bergantung pada lingkungan alam melalui berburu dan mengumpulkan makanan (Soejono, 1984: 26). Kegiatan tersebut berlanjut pada Pasca Pleistosen2 melalui keinginan untuk bertempat tinggal di gua-gua secara tidak tetap dengan didasarkan atas kedekatannya terhadap

©I

rd ian sy
1984: 156). Crabtree, 1972: 1).

sungai dan sumber-sumber makanan yang dapat mencukupi kebutuhannya (Soejono,

Untuk mempermudah perolehan kebutuhan hidup, manusia beradaptasi

terhadap lingkungannya, sehingga menghasilkan teknologi dalam bentuk pembuatan dan pemakaian alat (Sharer dan Ashmore, 1979: 405). Salah satu alat yang membantu manusia masa lampau dalam memenuhi kebutuhan hidupnya adalah alat batu (Hayden, 1992: 51). Alat batu merupakan materi batuan yang telah sengaja dibuat dan/atau dipakai manusia sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya, sehingga mengalami pengurangan bahan dan memiliki tajaman (Andrefsky, 1998: 75;

ah ,2 00 8
PENDAHULUAN

1

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa pembuatan dan pemakaian alat batu menghasilkan bentuk yang disesuaikan dengan kebutuhan tertentu, hal tersebut menjadi dasar berbagai peneliti dalam menginterpretasikan bentuk alat dengan fungsi3 tertentu (Andrefsky, 1998: 73). Selanjutnya, interpretasi fungsi dilakukan melalui perbandingan bentuk alat batu prasejarah dengan bentuk alat batu yang sekarang masih digunakan oleh suku-suku pedalaman, yang dikenal dengan istilah analogi4 etnografi (Sharer dan Ashmore, 1979: 303). Belakangan berbagai peneliti melakukan penelitian fungsi yang lebih sistematis dan menghindari hal-hal yang spekulatif dengan melakukan analogi eksperimen, yaitu percobaan yang

©I

rd ian sy
dan Ashmore, 1979: 470-473). (microscopic analysis) (Andrefsky, 1998).

dilakukan secara sistematis melalui prosedur yang berlaku untuk menguji suatu hipotesis5, sehingga diperoleh suatu penjelasan mengenai tingkah laku manusia yang

berkaitan dengan pembuatan atau pemakaian suatu alat (Crabtree, 1972: 62; Sharer

Salah satu eksperimen fungsi yang mungkin pertama kali dipublikasikan

adalah penelitian S. A. Semenov (1964) dalam melakukan percobaan dengan membuat replika alat batu, kemudian replika tersebut dipakai untuk memotong, menyerut, atau menggergaji berbagai materi seperti daging, tulang, dan kayu, selanjutnya dilakukan pengamatan mikroskopis guna membandingkan jejak pakai (use wear) hasil eksperimen dengan jejak pakai yang tertinggal pada bagian tajaman alat batu prasejarah (Keeley, 1980: 1; Shearer dan Ashmore, 1979: 304), pengamatan jejak mikro (microwear) tersebut dikenal dengan istilah analisis mikroskopis

ah ,2 00 8

2

Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh Keeley (1980) dalam mendeterminasi fungsi himpunan artefak (assemblage) di Inggris menggunakan perbesaran mikroskop tingkat tinggi (highmagnification) sampai 500X. Berbeda dengan Keeley, Kamminga (1982) melakukan eksperimen yang disertai analogi etnografi pada suku Aborigin. Penelitian jejak mikro terus berkembang, hingga muncul publikasi tulisan melalui konferensi tentang analisis jejak pakai pada alat batu (Hayden, 1979) yang mengungkap berbagai variasi topik analisis jejak mikro dan memberikan sumbangsih dalam penelitian arkeologi. Penelitian terkini, seperti Estévez dan Urquijo (1996) menggunakan atribut yang lebih rinci dalam menjelaskan jejak pakai. Dengan

©I
melempar.

rd ian sy
penelitian yang dilakukan oleh Banks (2004).

demikian, kemungkinan adanya penggunaan tangkai (hafting), alat multifungsi, dan pemakaian alat secara berulang-ulang (curation) dapat dijelaskan, seperti pada

Penelitian mikroskopis yang berkaitan dengan fungsi alat batu di Indonesia

pernah dilakukan oleh Bambang Sarkoro (1990) dalam “Analisis Jejak Pakai Beliung

Persegi dari Daerah Bogor”, yang mencoba melihat hubungan antara cara pakai dengan letak kerusakan pada alat batu tipe beliung. Selain itu, hipotesis yang berkaitan dengan fungsi alat batu pernah ditawarkan oleh Faizaliskandiar (1989)

dengan menghubungkan tipe alat batu tradisi Paleolitik6 di Indonesia yang pernah dibuat oleh Movius, berupa kapak perimbas, kapak penetak, kapak genggam, pahat genggam, dan alat serpih dengan kegiatan yang mengacu pada fungsi tertentu, misalnya menebas, memotong, menyerut, mencungkil, menusuk, memukul, dan

ah ,2 00 8

3

1. 2. Riwayat Penelitian Alat Batu di Indonesia Informasi mengenai alat batu di Indonesia mungkin dimulai pada tahun 1705, ketika G. E. Rumphius dalam karangannya berjudul “De Amboinsche

Rariteitenkamer” yang membicarakan alat batu yang dianggap oleh penduduk asli sebagai gigi kilat atau gigi guntur (Soejono, 1984: 172). Kemudian tahun-tahun berikutnya muncul berbagai penemuan alat batu pada beberapa wilayah di Indonesia. Di pulau Jawa, von Koenigswald menemukan alat batu di Sungai Baksoko daerah Pacitan pada tahun 1935, yang kemudian oleh Movius ditetapkan sebagai “Pacitanian”7 (Soejono, 1984: 91). Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh Perancis-

©I

rd ian sy
“Toalian”8 (Bellwood, 2000).

Indonesia sejak tahun 1992 arahan F. Sémah dan T. Simanjuntak bertujuan untuk menemukan budaya Pacitanian dalam satu konteks stratigrafis di gua-gua di Pegunungan Selatan, tidak jauh dari Sungai Baksoko (Forestier, 1998). Di Pulau Sulawesi sekitar 1902-1903, Fritz dan Paul Sarasin melakukan

penggalian menemukan serpih-bilah di Gua-gua Cakondo, Uleleba, dan Balisao (Forestier, 1998). Penelitian lebih lanjut dilaksanakan oleh Mulvaney dan Soejono pada tahun 1970 yang melakukan penggalian dan menghasilkan kronologi budaya

Di Pulau Sumatera 1925 dan 1926, van Stein Callenfels melakukan ekskavasi

bukit kerang di sekitar medan, penggalian ini menghasilkan beberapa alat batu berbentuk lonjong yang dipangkas pada satu sisi saja yang dikenal dengan istilah “Sumatralith”9 (Soejono, 1984: 153). Penelitian lebih lanjut mengenai alat batu di wilayah Sumatera khususnya Sumatera Selatan masih sangat sedikit dijumpai, maka

ah ,2 00 8

4

pada tahun 1994 Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang Arkenas) melakukan survei di sekitar aliran Sungai Ogan, kemudian di tahun 2002 bekerja sama dengan Institut de Recherche pour le Developpement (IRD) survei permukaan dilakukan pada gua-gua tinggalan masa prasejarah di sekitar kaki Pegunungan Barisan (gbr. 2) (Jatmiko dan Forestier, 2002). Pada tahun 2004, Puslitbang Arkenas bekerja sama dengan IRD untuk pertama kalinya melakukan ekskavasi di situs Gua Pandan, Desa Padangbindu, Kecamatan Semidangaji, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Propinsi Sumatera Selatan yang menghasilkan beragam tipe alat batu (Simanjuntak et al., 2004).

©I

rd ian sy
1. 3. Permasalahan dan Tujuan Penelitian

Pembuatan dan pemakaian alat batu merupakan salah satu hasil adaptasi

manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, oleh karena itu alat batu sebagai data

arkeologi mungkin dapat memperlihatkan suatu perilaku tertentu. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Deetz (1967)10, bahwa empat tingkatan data arkeologi yang terikat dalam satu jalinan fungsional dapat merefleksikan empat tingkatan perilaku (behavior

levels). Pernyataan Deetz tersebut didukung oleh Faizaliskandiar (1989:133-143) dalam menghubungkan tipe11 artefak berdasarkan bentuk dengan fungsi tertentu, sehingga dapat dijadikan sebagai indikator perilaku. Oleh karena itu, pengetahuan bentuk dan fungsi suatu artefak harus diketahui terlebih dahulu sebelum beranjak

lebih jauh ke dalam pembahasan tentang perilaku.

ah ,2 00 8

5

Sebagian besar penelitian alat batu di Indonesia masih terbatas pada tipologi12 dan persebaran (Faizaliskandiar, 1989: 132), sedangkan penelitian lebih lanjut mengenai fungsi alat batu itu sendiri masih sangat sedikit dijumpai. Berbagai peneliti (Keeley, 1980; Kamminga, 1982; Grace, 1989; Estévez dan Urquijo, 1996) telah melakukan analogi etnografi dan khususnya eksperimen fungsi dengan

membandingkan jejak pakai hasil etnografi dan eksperimen dengan jejak pakai pada tajaman atau permukaan alat batu prasejarah, sehingga hasilnya dapat dijadikan data banding dalam mengidentifikasi jejak pakai alat batu melalui mikroskop. Hasil pengamatan tipe artefak dan jejak pakai tersebut, mungkin dapat memperlihatkan

©I

rd ian sy
2004: 130; Deetz, 1967: 106-120).

fungsi tertentu, lebih jauh lagi dapat dijadikan sebagai indikator perilaku (Seitsonen,

Situs Gua Pandan merupakan salah satu situs di Indonesia yang memiliki

beragam tipe artefak batu (Simanjuntak et al., 2004: 44-62), selain itu penelitian tentang jejak pakai alat batu di situs ini belum pernah dilakukan. Oleh karena itu,

melalui klasifikasi13 tipe yang disesuaikan dengan tujuan penelitian dan pengamatan jejak pakai pada alat batu Gua Pandan melalui pendekatan mikroskopis (microscopic approach) yang diperkuat dengan hasil analogi etnografi dan eksperimen para ahli, mungkin dapat memperlihatkan fungsi alat batu Gua Pandan. Berdasarkan hal-hal yang telah disebutkan, ada dua pertanyaan penelitian yang dapat diajukan, yaitu: Bagaimana temuan batu, khususnya alat batu yang ada di situs Gua Pandan dapat diklasifikasikan menjadi berbagai tipe?

ah ,2 00 8

6

Bagaimana jejak pakai yang ada pada alat batu situs Gua Pandan dapat diidentifikasi?

Berangkat dari pertanyaan penelitian tersebut diharapkan dapat dijabarkan berbagai tipe alat batu dan jejak pakainya, sehingga keduanya mungkin dapat menjelaskan fungsi alat batu di situs Gua Pandan, lebih jauh lagi dapat memperlihatkan perilaku tertentu.

1. 4. Metode Penelitian

Tahap awal dilakukan peninjauan ulang terhadap hasil ekskavasi situs Gua

rd ian sy
dengan tujuan penelitian. Peninjauan dengan tujuan penelitian.

Pandan dengan tujuan untuk memahami hasil ekskavasi yang kemudian disesuaikan ulang tersebut dilakukan dengan

membandingkan laporan penelitian dengan temuan batu yang ada di Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang Arkenas). Melalui peninjauan ulang tersebut didapat data utama berupa seluruh temuan batu hasil penggalian yang dilakukan oleh Puslitbang Arkenas dan Institut de Recherche pour le Developpement (IRD) di Gua Pandan yang kemudian akan dikhususkan pada artefak alat. Sementara itu, data bantu berupa temuan serta dan buku-buku atau artikel-artikel yang berkaitan

©I

Selanjutnya dilakukan pemilahan untuk membentuk himpunan (assemblage)

dengan jalinan fungsional seperti yang terangkum dalam pernyataan Deetz (1967) yang mungkin dapat merefleksikan perilaku tertentu. Pemilahan tersebut berupa

ah ,2 00 8

7

klasifikasi awal melalui pengelompokan temuan batu hasil ekskavasi Gua Pandan secara umum yang didasarkan pada atribut bentuk. Pengelompokan berdasarkan bentuk tersebut juga ditujukan untuk membentuk suatu keteraturan data, sehingga menghasilkan kecenderungan yang mungkin dapat menggambarkan fenomena tertentu (Taylor, 1971: 117). Menurut Taylor (1971: 114-113), dalam memahami suatu proses budaya perlu diperhatikan keterkaitan (affinities) antara objek individu, kumpulan objek, dan lingkungan alam. Oleh karena itu, pengamatan sebaran temuan pada penelitian ini pun perlu dilakukan. Dengan demikian, keterkaitan antar kelompok temuan batu di situs Gua Pandan dapat dipahami dan dijelaskan.

©I

rd ian sy
(Clarke, 1978: 32).

Pengamatan tersebut dikenal dengan analisis konteks, yaitu suatu usaha pengamatan data arkeologi terhadap tempat kedudukan (matrix), keletakan (provenience), dan hubungan dengan temuan lain (association) yang mengacu pada satuan ruang tertentu

Klasifikasi selanjutnya dilakukan pada artefak alat atas dasar atribut yang

dapat menunjang penafsiran fungsi, yaitu bahan baku, korteks, ukuran, berat, dan tajaman. Penjelasan lebih lanjut mengenai atribut-atribut tersebut ada pada Bab 3. Beberapa peneliti (Keeley, 1980; Kamminga, 1982; Grace, 1989) menyatakan bahwa dalam penelitian fungsi alat batu, tajaman merupakan atribut yang utama jika dibandingkan dengan bentuk secara keseluruhan, karena tajaman memiliki kontak langsung dengan materi yang dikerjakan pada saat pemakaian alat batu. Dengan demikian, tipe alat pada penelitian ini pun dibuat berdasarkan atribut tajaman.

ah ,2 00 8

8

Pemahaman fungsi alat batu tidak cukup dilakukan hanya melalui bentuk (morphofunctional), tetapi pemahaman fungsi alat batu juga harus diketahui lebih rinci melalui analisis jejak pakai. Dengan demikian, keterkaitan antara fungsi berdasarkan bentuk dan jejak pakai pada alat batu dapat menjelaskan perilaku (behavior) tertentu (Schiffer, 1979: 16-20). Analisis jejak pakai pada penelitian ini diawali dengan pemahaman tentang bentuk-bentuk jejak pakai pada alat batu melalui beberapa buku dan artikel beberapa peneliti (Keeley, 1980; Kamminga, 1982; Estévez dan Urquijo, 1996). Penjelasan lebih lanjut mengenai bentuk-bentuk jejak pakai tersebut ada pada Bab 4. Setelah memahami bentuk-bentuk jejak pakai,

©I

rd ian sy
dideskripsikan.

selanjutnya dilakukan pemilahan alat batu berdasarkan ada/tidaknya jejak pakai,

sehingga didapat tipe alat yang dipakai (utilised tool). Bentuk-bentuk jejak pakai yang ada pada alat pakai tersebut kemudian diamati lebih lanjut melalui pendekatan mikroskopis (microscopic approach), kemudian direkam melalui pemotretan dan

Pada tahap penafsiran, keterbatasan data menyebabkan kesulitan untuk

memahami dan menjelaskan hasil-hasil penelitian. Salah satunya karena masyarakat yang diteliti sudah punah, sehingga aktivitasnya pun tidak dapat diamati secara langsung. Oleh karena itu, penggunaan analogi melalui sumber sejarah, etnografi, dan

eksperimen merupakan cara yang tepat dalam memahami dan menjelaskan hasil penelitian arkeologi (Shearer dan Ashmore, 1979: 465). Pada penelitian ini analogi digunakan untuk menjelaskan dan memperkuat perkiraan fungsi dari hasil-hasil analisis data. Namun demikian, sumber analogi pada penelitian ini tidak didapat

ah ,2 00 8

9

secara langsung, tetapi melalui beberapa sumber pustaka yang sesuai dengan hasil analisis data dan tujuan penelitian.

Sumber analogi yang digunakan pada penelitian ini berupa hasil analogi etnografi dan eksperimen para ahli (Keeley, 1980; Hayden, 1981; Kamminga, 1982; Estévez dan Urquijo, 1996; Banks, 2004). Sumber analogi etnografi didapat dari penelitian Hayden (1981) pada suku Aborigin di Cundeelee dan Papunya Australia, penelitian Kamminga (1982) pada beberapa suku Aborigin di Australia, serta Estévez dan Urquijo (1996) yang menggunakan beberapa pustaka sebagai sumber analogi etnografi. Sumber analogi ekperimen pada penelitian ini didapat dari penelitian

©I

rd ian sy

Keeley (1980) yang mendeterminasi materi pengerjaan melalui tampilan kilap tertentu, penelitian Kamminga (1982) yang menjelaskan mekanika pembentukan jejak pakai, Estévez dan Urquijo (1996) yang menggunakan atribut lebih rinci dalam deskripsi jejak pakai, dan Banks (2004) yang menjelaskan teknik memegang alat batu melalui jejak pemakaian tangkai atau jejak genggaman tangan secara langsung. Hasil analogi etnografi dan eksperimen para ahli yang telah didapat,

selanjutnya dijadikan data analogi untuk menafsirkan hasil-hasil analisis data. Dengan demikian, didapat perkiraan fungsi alat batu di situs Gua Pandan. Pada tahap akhir, seluruh tipe dan himpunan yang telah diperkirakan fungsinya diletakkan pada konteksnya sehingga membentuk struktur data (Shearer dan Ashmore, 1979: 92-94) yang mungkin dapat menjelaskan aktivitas tertentu di situs Gua Pandan.

ah ,2 00 8

10

1. 5. Lingkup Penelitian dan Data Oleh karena penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fungsi alat batu, maka penelitian ini pun dikhususkan pada temuan batu jenis alat. Selain itu, temuan serta dan analogi etnografi/eksperimen melalui sumber pustaka merupakan data bantu dalam tahap penafsiran.

Data penelitian ini berupa temuan batu hasil ekskavasi di situs Gua Pandan tahun 2004 yang ada di Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. Keseluruhan data yang berasal dari kotak E4, F4, G4, H4, H7, H10, dan I4 tersebut akan dipilah kembali melalui proses klasifikasi sehingga didapat artefak alat yang

©I

rd ian sy
1. 6. Gambaran Situs dan Data 1. 6. 1. Wilayah Situs

kemudian akan dianalisis lebih mendalam, khususnya analisis jejak pakai.

Berdasarkan laporan penelitian (Simanjuntak et al., 2004), situs Gua Pandan

terdapat di Desa Padangbindu, Kecamatan Semidangaji, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, yang terletak pada koordinat 4°04’998” Lintang Selatan dan 103°55’802” Bujur Timur (gbr. 1). Situs ini terletak pada zona iklim Indo-Australia yang dicirikan oleh suhu yang beraneka ragam dan umumnya tinggi, dengan kelembaban dan curah hujan yang berubah-ubah. Vegetasi yang terdapat di sekitar situs saat ini berupa tumbuhan-tumbuhan liar

seperti rumput, pohon pakis atau paku-pakuan, pohon jelantang, kopi, damar, dan

anggrek hutan yang menempel pada dinding bagian luar Gua. Fauna yang terdapat di

ah ,2 00 8

11

sekitar situs ini berupa primata seperti siamang, lutung, simpai (monyet putih), behok (monyet dengan ekor panjang), babi hutan, dan jenis unggas (kutilang, prenjak, dan murai ekor panjang) (Simanjuntak et al., 2004).

Secara fisiografi wilayah Baturaja dibagi ke dalam lima satuan morfologi, yaitu: kerucut gunung api, perbukitan bertimbulan tinggi, perbukitan bergelombang, plato pusat, dan dataran rendah. Bagian barat dan selatan didominasi oleh Pegunungan Barisan yang dicirikan oleh batuan gunung api dari busur Kenozoikum yang berlereng terjal. Bagian tengah dan barat laut merupakan kaki bukit yang terdiri atas batuan beku (igneous rock) dan batuan sedimen (sediment rock), sedangkan

©I

rd ian sy
Cekungan Bengkulu di lajur busur muka.

bagian timur laut merupakan perbukitan bergelombang dan dataran rendah yang tersusun oleh endapan Tersier dan endapan Kwarter. Secara geologi (gbr. 2) batuan tertua tersingkap di Pegunungan Garba yang

berumur Mesozoikum bersentuhan secara tektonik dengan batuan metamorf

(metamorphic rock) berderajat rendah yang berumur Paleozoikum Akhir. Urutan stratigrafi dapat dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu: pratersier, tersier, dan kwarter yang ditentukan secara litostratigrafi, di antaranya meliputi bagian Cekungan Sumatera dari lajur busur belakang, Pegunungan Barisan dari magma dan berlanjut ke

ah ,2 00 8

12

©I rd i an sy

ah ,2 00 8
13

©I rd i an sy

ah ,2 00 8
14

1. 6. 2. Deskripsi Situs dan Ekskavasi Situs ini masuk dalam jajaran Bukit Sayak di runutan pegunungan kapur (karst) Bukit Barisan dan berada pada orientasi 90° arah timur, dengan ketinggian sekitar 180 meter di atas permukaan laut (dpl). Situs ini merupakan sebuah gua berukuran panjang 27 meter (diukur dari mulut gua), dan lebar 16,5 meter. Pada sisi timur terdapat dua mulut gua (foto 1) sebagai pintu masuk yang terpisah oleh pilar (pillars)14, tinggi mulut gua I berukuran 3,30 meter dan mulut gua II 3,40 meter. Pada sisi barat juga terdapat mulut gua dengan tinggi sekitar 1 meter yang sulit untuk dilalui, karena banyaknya blok gamping dan stalaktit15. Namun demikian, mulut gua

©I

rd ian sy

tersebut memberikan sirkulasi udara dan cahaya yang cukup ke dalam gua (gbr. 3).

Foto 1: Sisi timur Gua Pandan (sumber: Puslitbang Arkenas dan IRD, 2004).

Secara keseluruhan kontur gua relatif datar, tetapi agak meninggi di bagian

barat gua. Permukaan gua cukup kering, kecuali beberapa bagian tertentu agak basah

karena tetesan air dari langit-langit gua. Pada permukaan terdapat temuan batu baik

ah ,2 00 8

15

artefak maupun non artefak, cangkang kerang, dan tulang fauna. Selain itu, pada ketinggian sekitar 70 meter di bawah gua ini dengan jarak jangkauan sekitar 100 meter terdapat Sungai Air Tawar yang memiliki beragam bahan batuan.

Atas dasar banyaknya temuan arkeologis pada permukaan, penggalian dilakukan dengan membuka 8 kotak gali melalui sistem grid, yaitu kotak D4, E4, F4, G4, H4, H7, H10, dan I4 (gbr. 3). Masing-masing kotak berukuran 2 x 2 meter dengan sistem spit berinterval 10 cm. Setelah melakukan peninjauan dan penghitungan ulang pada koleksi artefak yang ada di Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional didapatkan 1229 temuan batu baik artefak

©I

rd ian sy

maupun non artefak yang berasal dari kotak E4, F4, G4, H4, H7, H10, dan I4.

Gbr. 3: Denah dan keletakan kotak situs Gua Pandan (sumber: Puslitbang Arkenas dan IRD, 2004; modifikasi: Irdiansyah).

ah ,2 00 8

16

Berdasarkan laporan penelitian, pada situs ini temuan tulang hanya ditemukan sebanyak 332 fragmen, berukuran 1≤×≤7 cm yang umumnya ditemukan di kotak H10 (foto 2), seperti kura-kura (testudinidae), bajing (sciuridae), rusa (cervidae), babi (suidae), monyet (macaca sp), dan dua fragmen fibula genus homo. Selain itu juga terdapat temuan cangkang kerang (molusca) dari kelas gastropoda dan pelecypoda, temuan tembikar berupa tembikar hias dan polos (Simanjuntak et al., 2004).

©I

rd ian sy

Foto 2: Fragmen tulang fauna (sumber: Puslitbang Arkenas dan IRD, 2004).

Selain temuan artefak dan non artefak dari ekskavasi ini diperoleh sejumlah

carbon dating melalui sampel arang pada kotak H10 yang bertarikhkan antara 6590±260 BP dan 9270±380 BP (Guilaud et al, 2006). Statigrafi yang nampak jelas terdapat pada kotak H10 (gbr. 4) karena kotak ini merupakan kotak terdalam (340 cm) di antara kotak lainnya dan tidak terlalu terganggu oleh resapan air. Stratigrafi

ah ,2 00 8

17

pada kotak tersebut terbagi menjadi lapisan lempung pasiran warna coklat kehitaman yang merupakan permukaan gua, lapisan lempung pasiran warna coklat dengan batubatu yang di dalamnya terdapat lempung pasiran coklat basah dan laminasi karbonat warna hitam, dan lapisan pasir (Simanjuntak et al., 2004).

©I

rd ian sy
1. 7. Sistematika Penulisan

Gbr. 4: Statigrafi dan carbon dating kotak H10 (sumber: Puslitbang Arkenas dan IRD, 2004 dengan modifikasi).

Secara umum penulisan dalam penelitian ini terdiri dari pendahuluan, analisis,

analogi, dan penutup. Bab 1 merupakan pendahuluan yang melatari penelitian.

Analisis pada penelitian ini berupa klasifikasi temuan batu dan analisis jejak pakai,

ah ,2 00 8

18

tetapi sebelumnya akan dijabarkan tentang beberapa pengetahuan dasar yang melatari analisis-analisis tersebut pada Bab 2.

Klasifikasi temuan batu Gua Pandan yang secara garis besar terdiri dari klasifikasi awal, sebaran temuan, klasifikasi alat, dan integrasi tipe dijabarkan pada Bab 3. Analisis jejak pakai melalui pengamatan mikroskopis dijabarkan pada Bab 4. Analogi melalui sumber pustaka berupa analogi etnografi dan eksperimen para ahli tentang fungsi alat batu akan dijabarkan pada Bab 5. Penutup yang berisi penjelasan dan penafsiran hasil-hasil analisis yang diharapakan dapat memperlihatkan aktivitas atau perilaku tertentu khususnya mengenai fungsi alat batu di situs Gua Pandan

©I

rd ian sy
19

dijabarkan pada Bab 6.

ah ,2 00 8

BAB II PENGETAHUAN DASAR ANALISIS

Sesuai dengan pertanyaan penelitian yang bertujuan menjelaskan fungsi alat batu pada situs Gua Pandan, maka pada penelitian ini dilakukan analisis klasifikasi temuan batu dan analisis jejak pakai. Oleh karena itu, sebelum beranjak pada analisis tersebut, pada bab ini dijelaskan tentang beberapa pengetahuan yang mendasari proses analisis secara singkat dan umum.

2. 1. Dasar Klasifikasi

©I

rd ian sy

Klasifikasi dalam penelitian ini dilakukan untuk menghasilkan tipe, maka

prosesnya dilakukan secara taksonomik, yaitu dengan menggunakan sejumlah mode16

sebagai atribut yang ditentukan oleh peneliti untuk mendapatkan tipe. Mode itu sendiri didapat melalui klasifikasi analitik, maka Rouse (1971, 112) menyarankan peneliti untuk melakukan klasifikasi analitik terlebih dahulu, sehingga tercapai mode yang dapat dijadikan atribut dalam klasifikasi taksonomik. Tetapi, seperti kita ketahui bahwa sudah cukup banyak penelitian mengenai alat batu melalui analisis eksperimen yang menghasilkan mode (Crabtree, 1972; Cotterell dan Kamminga, 1990; Inizan et al., 1992; Andrefsky, 1998), sehingga sejumlah pengetahuan tentang jejak-jejak fisik alat batu dapat dijadikan atribut sebagai indikator tipe.

ah ,2 00 8

20

Atribut merupakan penanda dalam menentukan tipe, maka penentuan atribut itu pun harus sesuai dengan tujuan dan kriteria yang ingin dicapai oleh peneliti. Kadang-kadang dua penelitian yang bertujuan sama dengan atribut yang sama dapat menghasilkan tipe yang berbeda. Hal tersebut dapat dihindari jika klasifikasi yang digunakan dapat ditiru atau dapat diulang kembali (replicable) oleh peneliti lain, sehingga hasil penelitian tersebut dapat dikomunikasikan dengan baik kepada orang lain. Salah satu caranya berupa penggunaan skala atribut (attribute scale) dengan menentukan suatu besaran, kisaran, ataupun ukuran yang dapat dipahami. Andrefsky (1998: 62-63) menggunakan skala atribut17 dalam empat bentuk, yaitu skala nominal

©I

rd ian sy
2. 1. 1. Proses Terbentuknya Artefak Batu dalam penelitian prasejarah.

(nominal scale), skala ordinal (ordinal scale), skala interval (interval scale), dan skala rasio (ratio scale). Selanjutnya, akan dijelaskan beberapa prinsip dasar mengenai proses terbentuknya artefak batu, atribut artefak batu, dan bahan baku artefak batu yang diharapkan dapat membantu proses klasifikasi temuan batu.

Produk teknologi artefak batu baik alat maupun limbahnya merupakan

himpunan artefak yang memiliki daya tahan lama dibandingkan dengan artefak dari

bahan kayu dan tulang, hal tersebut menjadikan artefak batu sebagai salah satu petunjuk dalam menjelaskan aktivitas manusia prasejarah (Crabtree, 1972: 1). Oleh

karena itu, pemahaman tentang pembentukan artefak batu menjadi sangat penting

ah ,2 00 8

21

Para peneliti (Crabtree, 1972; Cotterell dan Kamminga, 1990; Inizan, et al. 1992) sepakat bahwa pembuatan artefak batu merupakan salah satu contoh dari subtractive technology18, karena dilakukan melalui proses pengurangan bahan (gbr. 5) dengan memukul batu. Akibatnya sebuah serpih (flake) terlepaskan dari batu intinya (core), sehingga pada batu inti akan terbentuk permukaan negatif (negative surfaces), sedangkan serpih yang terlepas akan membentuk permukaan positif (positive surfaces) (Crabtree, 1972: 6). Berdasarkan proses tersebut dapat dikatakan bahwa bentuk dasar artefak batu dapat berupa batu inti (core) atau serpih (flake).

©I

rd ian sy
terbagi menjadi dua, yaitu:

Gbr. 5: Pelepasan serpih dari batu inti (sumber: http://www.utexas.edu).

Proses pembentukan tersebut dilakukan dengan berbagai teknik yang secara

umum terbagi menjadi dua teknik utama, yaitu teknik perkusi (percussion technique)

yang dilakukan dengan menggunakan perkakas untuk memukul batu secara langsung (direct percussion technique) maupun tidak langsung (indirect percussion technique) dan teknik tekan (pressure technique) (Crabtree, 1972). Berdasarkan kekerasan perkakasnya (Cotterell dan Kamminga, 1990; Inizan, et al. 1992), teknik perkusi

ah ,2 00 8

22

a) Hard hammer percussion merupakan teknik pukul dengan menggunakan perkakas berbahan batuan yang sangat keras melalui berbagai variasi seperti: teknik perkusi genggam (hand held percussion technique), teknik perkusi bebas (free hand percussion technique), teknik batu pelandas (anvil technique), dan teknik perkusi bipolar (bipolar percussion technique).

b) Soft hammer percussion merupakan teknik pukul dengan menggunakan perkakas berbahan lunak seperti kayu, tanduk, dan tulang.

Teknik-teknik tersebut menghasilkan berbagai bentuk artefak khususnya

©I

rd ian sy
awal pecahannya (initiation) (gbr. 6).

serpih. Lebih lanjut dijelaskan oleh Cotterell dan Kamminga (1990: 131-133) bahwa bentuk-bentuk serpih yang dihasilkan oleh berbagai teknik tergantung pada proses

Gbr. 6: a) hertzian initiation, b) bending initiation, dan c) wedging initiation (sumber: Andrefsky, 1998: 26).

Teknik perkusi (percussion technique) khususnya hard hammer percussion19

memiliki awal pecahan yang tepat pada titik pukul (hertzian initiation) (gbr. 6) sehingga menghasilkan conchoidal flake. Bagian permukaan positif yang ada pada serpih ini berbentuk kerucut cembung seperti cangkang kerang berupa bulbus positif

ah ,2 00 8

23

(positive bulb) dan membentuk gelombang pukul (ripples/undulation) yang dapat menunjukan arah pukulan (gbr. 7). Sementara itu, permukaan negatif pada batu intinya berbentuk kerucut cekung berupa bulbus negatif (negative bulb). Jenis penyerpihan ini merupakan jenis yang paling sederhana dan paling sering digunakan untuk pembentukan awal dalam pembuatan calon alat.

©I
tajaman.

rd ian sy

Gbr. 7: Hard hammer percussion menghasilkan conchoidal flake (sumber: http://www.utexas.edu; http://www.hf.uio.no).

Pada soft hammer percussion dan teknik tekan (pressure technique) memiliki

awal pecahan yang agak menjauh dari titik pukulnya (bending initiation) (gbr. 6)

sehingga menghasilkan bending flake. Bagian permukaan positif serpih ini memiliki bibir (lip) yang kadang membentuk gelombang pukul (ripples/undulation) (gbr. 8).

Sementara itu, permukaan negatif pada batu intinya berbentuk cekungan tipis. Jenis

penyerpihan ini biasanya digunakan untuk tahap pengerjaan lanjutan baik berupa penyerpihan untuk membentuk calon alat maupun penyerpihan untuk membentuk

ah ,2 00 8

24

Gbr. 8: Soft hammer percussion dan pressure technique yang menghasilkan bending flake (sumber: http://www.utexas.edu; http://www.hf.uio.no).

Teknik perkusi bipolar (bipolar percussion) menghasilkan bipolar flake dan bipolar core yang terbentuk melalui wedging initiation, yaitu suatu teknik yang

©I

rd ian sy
percussion technique).

dilakukan dengan cara meletakkan batu inti pada batu pelandas (anvil) yang keras kemudian menumbuk batu inti tersebut tepat di bagian tengahnya, sehingga batu tersebut terbelah menjadi dua dengan permukaan positif serpih berupa cembungan yang hampir datar, sebaliknya permukaan negatif batu intinya tentunya berupa

cekungan yang hampir datar. Pada kedua permukaan tersebut terbentuk gelombang pukul berlawanan arah akibat tekanan (compression rings) yang berasal dari batu pukul dan batu pelandas, sehingga bipolar flake atau bipolar core memiliki luka pada kedua ujungnya (gbr. 9). Teknik ini merupakan satu-satunya cara dalam memanfaatkan batu inti yang terlalu kecil untuk diserpih dengan teknik perkusi genggam (hand held percussion technique) atau teknik perkusi bebas (free hand

ah ,2 00 8

25

Gbr. 9: Bipolar percussion yang menghasilkan bipolar flake dan bipolar core (sumber: http://www.earthmeasure.com dengan modifikasi).

2. 1. 2. Atribut Artefak Batu

©I

rd ian sy

Berdasarkan proses pembentukannya, dalam penelitian ini artefak batu terbagi

dalam bentuk dasar batu inti dan serpih. Kedua bentuk artefak tersebut dapat dikatakan sebagai alat jika artefak tersebut memiliki tajaman yang diindikasikan dengan adanya jejak pembuatan dan/atau jejak pemakaian dan beberapa atribut lain

sebagai atribut dalam mengidentifikasi artefak batu (Andrefsky, 1998). Berikut ini penjelasan lebih lanjut mengenai atribut yang pada umumnya ada pada artefak batu khususnya alat batu yang terbentuk dari batu inti dan serpih (Crabtree, 1972): a) Permukaan negatif dan permukaan positif Atribut ini merupakan jejak hasil penyerpihan yang dapat menjadi petunjuk dalam memilah antara batu inti dan serpih, untuk batu inti memiliki permukaan negatif dan serpih memiliki permukaan positif yang bentuknya

ah ,2 00 8
26

tergantung teknik pukul dan proses awal pecahannya (initiation) (lihat sub bab 2. 1. 1).

b) Permukaan ventral (ventral surface)

Atribut ini merupakan permukaan dalam (inner surface) yang hanya dimiliki serpih. Pada bagian inilah permukaan positif pada serpih dapat ditemukan. c) Permukaan dorsal (dorsal surface)

Atribut ini merupakan permukaan luar (outer surface) yang hanya dimiliki serpih. Letak bagian ini berlawanan dengan permukaan ventral. d) Dataran pukul (striking platform)

©I

rd ian sy
(natural). e) Titik pukul (striking point) f) Gelombang pukul (ripples/undulation)

Atribut ini merupakan dataran tempat pemukulan awal dalam pelepasan serpih dari batu inti. Dataran ini kadang dipersiapkan secara sengaja dengan membuat permukaan datar (prepared) atau tidak dipersiapkan secara sengaja

Atribut ini merupakan titik tempat jatuhnya pukulan yang dilakukan untuk melepaskan serpih dari batu intinya. Titik pukul dapat pula diidentifikasi dengan menelusuri pusat dari gelombang pukul (ripples/undulation) yang terdapat pada bagian ventralnya. Titik pukul juga berguna untuk menentukan dataran pukul yang tidak dipersiapkan (natural)

Atribut ini merupakan gelombang teratur yang bentuknya seperti gelombang longitudinal dan terkonsentrasi pusatnya pada titik pukul.

ah ,2 00 8

27

g) Punggungan (arises) Atribut ini merupakan garis pertemuan antara dua permukaan cekung yang dihasilkan pada saat penyerpihan, pertemuan dua permukaan tersebut menghasilkan punggungan. h) Tajaman (cutting edge)

Atribut ini merupakan bagian yang menjadi penentu utama artefak batu jenis alat. Tajaman dapat diindikasikan dengan dua jejak, yaitu:

1. Jejak pembuatan: berupa retus (retouch), dalam hal ini ditujukan untuk mendapatkan tajaman secara sengaja melalui pelepasan intensif.

©I

rd ian sy
analisis jejak pakai. terbentuk dari serpih.

Proses tersebut kadang-kadang dilakukan melalui dua proses yaitu peretusan primer dan peretusan sekunder.

2. Jejak pemakaian (use wear): merupakan jejak yang terbentuk melalui proses pemakaian untuk berbagai aktivitas sehingga menghasilkan berbagai bentuk jejak pakai yang akan dijelaskan lebih lanjut pada

Melalui atribut-atribut di atas, maka dalam penelitian ini dapat dibedakan

antara artefak batu inti, artefak serpih, alat yang terbentuk dari batu inti, dan alat yang

Pada penelitian ini pengertian artefak batu inti ditujukan pada batuan baik

berupa kerakal maupun bongkahan yang memiliki dataran pukul yang dipersiapkan (prepared striking platform) ataupun tidak dipersiapkan (natural striking platform) dengan luka penyerpihan (flake scar) berupa permukaan negatif (negative surface).

ah ,2 00 8

28

Batu inti tersebut dapat dikategorikan sebagai alat jika memiliki tajaman yang diindikasikan dengan retus dan/atau jejak pakai. Alat yang terbentuk dari batu inti (gbr. 10) tidak memiliki ventral maupun dorsal karena bagian tersebut hanya ada pada alat batu yang terbentuk dari serpih (gbr. 11).

©I

rd ian sy

Gbr. 10: Atribut alat yang terbentuk dari batu inti (sumber: Crabtree, 1972; gambar: http://www.utexas.edu).

Artefak serpih biasanya memiliki hampir semua atribut artefak batu

khususnya permukaan ventral dan dorsal. Bagian utama yang menjadi petunjuk dari artefak serpih adalah adanya permukaan positif (positive surface) pada permukaan ventral (ventral surface). Serpih tersebut dapat dikategorikan sebagai alat jika memiliki tajaman yang diindikasikan dengan retus dan/atau jejak pakai.

ah ,2 00 8

29

Gbr. 11: Atribut alat yang terbentuk dari serpih (sumber: Crabtree, 1972; gambar: Bordes, 1981).

©I
1998: 44-45).

rd ian sy
2. 1. 3. Bahan Baku Artefak Batu

Batuan adalah zat padat berupa kumpulan mineral yang terbentuk melalui

proses penyusunan kerak bumi, sedangkan mineral merupakan kumpulan dari beberapa elemen kimia yang saling terikat, contohnya batuan granit memiliki komposisi mineral kuarsa dan feldspar, mineral kuarsa itu sendiri terdiri atas elemen kimia oksigen dan silika (Andrefsky, 1998: 40). Penelitian yang lebih khusus mengenai komposisi mineral dan elemen kimia pada batuan dapat dilakukan melalui ilmu-ilmu bantu arkeologi yang merupakan cabang ilmu geologi20, seperti

mineralogi21 dan petrologi22 (Intan, 2003: 74). Secara umum, berdasarkan proses pembentukannya batuan terbagi menjadi batuan beku (igneous rocks)23, batuan sedimen (sediment rocks)24, dan batuan metamorf (metamorphic rocks)25 (Andrefsky,

ah ,2 00 8

30

Bahan baku batuan yang umumnya digunakan untuk pembuatan alat batu adalah batuan yang memiliki pecahan (fracture) seperti kaca, tetapi kuat, kompak (homogenous), dan bertekstur halus (fine-grained), sehingga memudahkan pembuat untuk mengontrol pecahan dalam menghasilkan bentuk batu yang diinginkan, memiliki tajaman, dan tahan lama. Kriteria tersebut ada pada kelompok batuan yang banyak mengandung silika (siliceous stone) (Cotterell dan Kamminga, 1990: 127).

Selain itu, tingkat kekerasan (hardness) batu menjadi salah satu faktor penting dalam proses terbentuknya jejak pemakaian pada alat batu dalam konteks fungsi (Greiser dan Sheets, 1979; Kamminga, 1981). Kekerasan adalah daya tahan mineral

©I
8 9 10

rd ian sy
Kekerasan 1 2 3 4 5 6 7 Mineral Talk Pembanding Dapat digores kuku Gipsum Kalsit Fluorit Apatit Ortoklas Topas Kuarsa Korundum Intan

terhadap abrasi atau goresan (scratching) (Intan, 2003: 76), maka tingkat kekerasan batuan tergantung pada mineral-mineral yang terkandung di dalam batuan. Berikut ini (tabel 1) adalah skala kekerasan relatif secara umum menurut Friedrich Mohs, mulai dari yang paling lunak sampai paling keras (1-10) (Intan, 2003: 90):

Dapat digores koin tembaga

Dapat digores pisau lipat atau kaca

Dapat menggores pisau lipat atau kaca

Dapat menggores semua mineral, tetapi sulit untuk digores

Tabel 1: Skala Mohs dan pembandingnya.

ah ,2 00 8

31

2. 2. Pengertian Dasar Jejak Pakai Pada Alat Batu Penelitian alat batu tidak hanya terbatas pada pengetahuan bentuk, tetapi juga pengetahuan fungsi. Para ahli arkeologi khususnya peneliti alat batu telah melakukan berbagai usaha mulai dari pengamatan bentuk, analogi etnografi, sampai eksperimen dan pengamatan jejak pakai melalui mikroskop dijadikan sebagai sarana utama guna mengungkapkan fungsi pada alat batu prasejarah (Grace, 1989; Andrefsky, 1998).

Jejak pakai (use-wear) pada alat batu adalah ciri fisik yang tertinggal akibat pertemuan dan gesekan (friction) antara permukaan atau tajaman alat batu dengan materi yang menjadi objek, sehingga menghasilkan jejak-jejak yang dapat diamati

©I

rd ian sy

(Kamminga, 1982; Estévez dan Urquijo, 1996; Evans et al., 2005). Penelitian terakhir (Gerlach et al., 1996; Hardy et al., 2001; Evans et al., 2005) mengungkapkan bahwa pengetahuan fungsi juga dapat diketahui melalui residu (residue) berupa serpihan

(debris) atau sisa materi yang dikerjakan seperti serat-serat tumbuhan (plant fibres), protein darah (blood protein), dan getah (resin), tetapi saat proses ekskavasi dan pembersihan (cleaning) residu lebih mudah hilang dari permukaan jika dibandingkan dengan jejak pakai (use-wear) yang lebih tahan lama (preserved). Oleh karena itu, penelitian fungsi melalui residu pada alat batu hanya dapat dilakukan ketika temuan belum dibersihkan pada saat proses ekskavasi. Sementara itu, jejak pakai yang lebih tahan lama tetap dapat diamati baik sebelum atau sesudah dibersihkan melalui prosedur pembersihan yang tepat (Hayden, 1979: 191).

ah ,2 00 8

32

Secara makroskopis atau tanpa mikroskop, jejak pakai pada alat batu mungkin dapat diamati keberadaan dan keletakannya (Andrefsky, 1998: 169). Akan tetapi dengan pengamatan mikroskopis, jejak pakai dapat dideskripsikan lebih rinci (detail), sehingga diketahui jenis aktivitas dan materi yang dikerjakan oleh manusia masa lampau dalam pemakaian alat batu (Banks, 2004: 20; Seitsonen, 2004: 130). Jenis aktivitas pemakaian alat batu merupakan kegiatan, seperti meraut, mengetam, memotong, menggergaji, dan lain-lain. Hal tersebut juga berhubungan dengan teknik memegangnya, baik digenggam (hand-held) langsung oleh tangan atau dengan tangkai (hafting). Sementara itu, jenis materi yang dikerjakan (worked material)

©I

rd ian sy
dikerjakan dalam pemakaian alat batu. 2. 2. 1. Aktivitas Pemakaian Alat Batu

merupakan benda yang menjadi objek pengerjaan, seperti daging, kayu, tulang, umbiumbian, dan lain-lain. Oleh karena itu, sebelum beranjak pada analisis jejak pakai,

perlu diketahui gambaran umum tentang aktivitas, teknik memegang, dan materi yang

Pengetahuan tentang aktivitas pemakaian alat batu merupakan salah satu

kajian dalam penelitian fungsi alat batu. Oleh karena itu, berikut ini akan dijabarkan definisi tentang beberapa aktivitas pemakaian alat batu dari beberapa penelitian terdahulu (Keeley, 1980; Grace, 1989; Estévez dan Urquijo, 1996) yang dapat dijadikan pengetahuan dasar dalam penelitian ini:

ah ,2 00 8

33

2. 2. 1. 1. Menyerut (scraping) Aktivitas menyerut umumnya dilakukan dengan alat yang memiliki sudut tajaman landai (low edge angle), terjal, atau sangat terjal (high edge angle) dan memiliki zona aktif yang memanjang/melebar (linear) (Estévez dan Urquijo, 1996: 8, 108). Caranya dengan tekanan (pressure) tertentu mata tajaman didorong atau ditarik secara melintang (transversal) pada permukaan bidang materi yang digarap dengan sudut pengerjaan terjal (high working angle) (Keeley, 1980: 19; Grace, 1989).

©I

rd ian sy
2. 2. 1. 2. Mengetam (planing) angle) (Keeley, 1980: 17; Grace, 1989).

Gbr. 12: Aktivitas menyerut dengan sudut pengerjaan yang terjal (gambar: Estévez dan Urquijo, 1996; Howell, 1977)

Aktivitas mengetam umumnya dilakukan dengan alat yang memiliki sudut

tajaman terjal sampai sangat terjal dan memiliki zona aktif yang memanjang/melebar. Caranya dengan tekanan tertentu mata tajaman didorong secara melintang pada permukaan bidang materi yang digarap dengan sudut pengerjaan landai (low working

ah ,2 00 8

34

Gbr. 13: Aktivitas mengetam dengan sudut pengerjaan landai dan sudut tajaman terjal sampai sangat terjal (gambar: Estévez dan Urquijo, 1996; Grace, 1989)

2. 2. 1. 3. Meraut (whittling)

Aktivitas meraut umumnya dilakukan dengan alat yang memiliki sudut

©I

rd ian sy
1989).

tajaman landai sampai terjal dan zona aktif yang memanjang/melebar. Caranya

dengan tekanan tertentu mata tajaman secara melintang didorong atau ditarik pada bidang materi yang digarap dengan sudut pengerjaan landai (Keeley, 1980: 17; Grace,

Gbr. 14: Aktivitas meraut dengan sudut pengerjaan landai dan sudut tajaman landai sampai terjal (gambar: Estévez dan Urquijo, 1996; Howell, 1977).

ah ,2 00 8

35

2. 2. 1. 4. Memotong/mengiris (cutting/slicing) Aktivitas memotong/mengiris umumnya dilakukan dengan alat yang memiliki sudut tajaman landai sampai terjal dan zona aktif yang memanjang/melebar. Caranya dengan tekanan tertentu mata tajaman secara membujur (longitudinal) digerakkan maju mundur mengikuti bidang tajaman, biasanya kegiatan ini dilakukan untuk pengerjaan materi lunak seperti daging, kulit, dan sayuran/dedaunan (Keeley, 1980: 19; Grace, 1989).

©I
1989).

rd ian sy
2. 2. 1. 5. Menggergaji (sawing)

Gbr. 15: Aktivitas memotong/mengiris dilakukan secara membujur dan digerakkan maju mundur untuk pengerjaan materi lunak (gambar: Estévez dan Urquijo, 1996; Howell, 1977).

Aktivitas menggergaji umumnya dilakukan dengan alat yang memiliki sudut

tajaman dan zona aktif yang serupa dengan memotong. Caranya pun juga serupa dengan aktivitas memotong. Namun demikian, kegiatan ini biasanya dilakukan untuk

memotong materi keras seperti kayu, tulang, dan tanduk (Keeley, 1980: 18; Grace,

ah ,2 00 8

36

Gbr. 16: Aktivitas menggergaji untuk memotong materi keras (gambar: Estévez dan Urquijo, 1996; Grace, 1989).

2. 2. 1. 6. Membelah (chopping)

©I
Gbr. 17: Aktivitas membelah dilakukan dengan pukulan, kekuatan, dan jarak tertentu yang diarahkan secara melintang (gambar: Estévez dan Urquijo, 1996; Grace, 1989).

rd ian sy

Aktivitas membelah umumnya dilakukan dengan alat yang memiliki sudut

tajaman terjal sampai sangat terjal dan memiliki zona aktif yang memanjang/melebar. Caranya dengan pukulan (percussion), kekuatan, dan jarak tertentu mata tajaman secara melintang diarahkan pada bidang materi yang digarap dengan sudut pengerjaan terjal (Keeley, 1980: 19; Grace, 1989).

ah ,2 00 8

37

2. 2. 1. 7. Melubangi/mengebor (piercing/awlings/ boring) Aktivitas melubangi/mengebor dilakukan dengan alat yang memiliki zona aktif meruncing. Caranya dengan tekanan tertentu mata tajaman diputar (rotated) ke kiri dan ke kanan sehingga terbentuk lubang pada permukaan bidang materi yang digarap (Keeley, 1980: 19; Grace, 1989; Estévez dan Urquijo, 1996: 8, 108).

©I

rd ian sy
2. 2. 2. Teknik Memegang Alat Batu

Gbr. 18: Aktivitas melubangi/mengebor dengan zona aktif meruncing dan gerakan memutar (gambar: Estévez dan Urquijo, 1996; Howell, 1977).

Aktivitas pemakaian alat batu tidak terlepas dari teknik memegang, baik

digenggam langsung dengan tangan (hand-held) atau dengan tangkai (hafting). Kedua teknik tersebut juga merupakan salah satu tujuan dalam penelitian fungsi alat batu. Berikut ini dijelaskan indikator dari kedua teknik tersebut dari beberapa penelitian terdahulu (Kamminga, 1982; Grace, 1989; Andrefsky, 1998: 162-163):

ah ,2 00 8

38

2. 2. 2. 1. Digenggam Alat batu yang digenggam langsung dengan tangan biasanya memiliki ukuran yang sesuai dengan genggaman tangan atau memiliki bentuk yang disesuaikan, sehingga nyaman untuk digenggam langsung dengan tangan. Penyesuaiannya dapat dilakukan dengan menumpulkan bagian yang tajam (dulled/backed) atau penggunaan getah (resin) dari pepohonan (gbr. 19). Penggunaan alat yang digenggam langsung biasanya terdapat pada seluruh aktivitas yang telah dijelaskan di atas.

©I

rd ian sy
2. 2. 2. 2. Bertangkai

Gbr. 19: Pemakaian alat batu digenggam secara langsung dengan ditumpulkan atau penggunaan getah (gambar: http://www.hf.uio.no; Howell, 1977; Kamminga, 1982)

Alat yang bertangkai biasanya memiliki pangkasan berbentuk takik (notch)

pada sisi alat batu dan membentuk elemen tangkai (hafting element), sehingga tangkai berupa tulang/kayu dapat dilekatkan dengan tali atau getah. Penggunaan tangkai biasanya dilakukan pada aktivitas yang telah dijelaskan seperti menyerut, membelah, melubangi/mengebor, dan aktivitas lain seperti menombak atau memanah.

ah ,2 00 8

39

Gbr. 20: Penggunaan tangkai pada alat batu (gambar: Andrefsky, 1998; http://www.hf.uio.no; Kamminga, 1982).

2. 2. 3. Materi yang Dikerjakan

©I
dan batu.

rd ian sy
cangkang kerang, dan lain-lain.

Materi yang dikerjakan dalam pemakaian alat batu juga merupakan kajian

utama penelitian fungsi alat batu. Berdasarkan analogi etnografi (Kamminga, 1982; Hayden, 1981) suku Aborigin di Australia menggunakan alat batu dalam pengerjaan materi berupa daging, kulit, sayuran/dedaunan, umbi-umbian, kayu, tulang, tanduk,

Peneliti lain (Grace, 1998; Banks, 2004) membagi berbagai materi tersebut ke

dalam kelompok berdasarkan kekerasannya, mulai dari yang lunak (soft), sedang (medium), sampai yang keras (hard). Materi lunak seperti daging, kulit segar (fresh

hide), sayuran, umbi-umbian, dan kayu lunak (soft wood). Materi sedang seperti kayu keras (hard wood), ikan, tanduk yang direndam air (soaked antler), dan kulit kering (dry hide). Materi keras seperti tanduk kering (dry antler), tulang, cangkang kerang,

ah ,2 00 8
40

BAB III KLASIFIKASI TEMUAN BATU GUA PANDAN

3. 1. Klasifikasi Awal

Klasifikasi awal dilakukan dengan menentukan sejumlah tipe temuan batu dan memilahnya ke dalam kelompok-kelompok. Atribut artefak batu dan beberapa pustaka (Andrefsky, 1998; Crabtree, 1972; Inizan et al., 1992; Swartz, 1974) dijadikan referensi dalam pengelompokan temuan batu. Melalui identifikasi dari 1229 temuan batu hasil ekskavasi Gua Pandan didapatkan dua kelompok besar, yaitu berupa 1181 (96,09%) batuan artefak dan 48 (3,91%) batuan non artefak. Dua

©I

rd ian sy
dan variasi, berikut penjelasannya: 3. 1. 1. Batuan Artefak menjadi alat batu inti dan alat serpih.

kelompok besar tersebut kemudian dipilah kembali menjadi beberapa sub-kelompok

Batuan artefak adalah temuan batu yang mudah dipindahkan (portable) dan

memiliki jejak pembuatan atau jejak pemakaian yang berasal dari aktivitas manusia (Sharer dan Ashmore, 1979: 70-71). Selanjutnya, dalam penelitian ini batuan artefak dibagi menjadi alat, non alat, perkakas, dan batuan tidak teridentifikasi (unidentified): a. Alat: merupakan seluruh artefak batu yang telah melewati proses pembentukan dan memiliki tajaman dengan indikasi retus dan/atau jejak pakai. Sesuai bentuk dasarnya, dalam penelitian ini alat batu dapat dibagi

ah ,2 00 8

41

b. Non alat: merupakan seluruh artefak batu berupa sisa pembentukan alat batu, artefak yang tidak dimanfaatkan, ataupun artefak yang tidak memiliki tajaman. Sesuai bentuk dasarnya, dalam penelitian ini batuan non alat dibagi menjadi batu inti dan serpih.

c. Perkakas: adalah alat bantu dalam proses pembentukan artefak batu yang kadang-kadang disebut fabrikator (fabricator) atau alat pembuat alat (tool kit). Jenis perkakas yang dapat diidentifikasi di Gua Pandan hanya berupa batu pukul, yaitu batu kerakal yang memiliki luka pukul atau goresan akibat pemukulan pada satu atau beberapa sisinya.

©I

rd ian sy
3. 1. 2. Batuan Non Artefak

d. Batuan tidak teridentifikasi (unidentified): adalah artefak yang tidak dapat diidentifikasi atau sulit untuk dimasukkan ke dalam tipe alat, non alat, atau perkakas. Namun demikian, batuan tidak teridentifikasi masih dapat diamati bentuk dasarnya, baik berupa batu inti atau serpih.

Pengertian batuan non artefak dalam penelitian ini mungkin dapat

digolongkan sebagai ekofak26, yaitu temuan batu yang tidak memiliki jejak

pembuatan atau jejak pemakaian, tetapi mungkin memiliki informasi penting yang dapat menjelaskan aktivitas manusia (Sharer dan Ashmore, 1979: 72). Bentuknya dapat berupa kerakal, bongkahan, atau fragmen batuan yang diduga dibawa oleh manusia dari suatu lokasi tertentu ke lokasi di mana temuan tersebut ditemukan, beberapa peneliti menyebutnya sebagai manuport (Swartz, 1974).

ah ,2 00 8

42

3. 1. 3. Jumlah Temuan Batu Gua Pandan Berdasarkan klasifikasi awal yang telah dilakukan, temuan batu Gua Pandan didominasi oleh tipe serpih non alat, kemudian diikuti dengan tipe batu inti non alat, alat serpih, manuport, alat batu inti, batu pukul, batu inti tidak teridentifikasi (unidentified), dan serpih tidak teridentifikasi (unidentified) (grafik 1).

1,000

800

©I

rd ian sy
400 200 0

Jumlah

600

Grafik 1: Jumlah temuan batu Gua Pandan berdasarkan klasifikasi awal.

3. 2. Sebaran Temuan Batu Gua Pandan

Setelah klasifikasi awal dilakukan, selanjutnya diamati sebaran temuan

terhadap ruang (konteks) yang pada peneltian ini dibagi menjadi satuan ruang horizontal dan vertikal. Satuan ruang horizontal berupa kotak gali (E4, F4, G4, H4, H7, H10, dan I4) dan satuan ruang vertikal berupa unit (1, 2, dan 3) yang terdiri dari

ah ,2 00 8
tipe

t or d up ie an tif m en id d un ie ih tif rp en se id un ti in tu ba l ku pu tu t ba la na no ih t rp la se na no ti in tu ba ih rp se at al ti in

tu ba at al

43

beberapa spit yang ditentukan berdasarkan kecenderungan kandungan temuan (gbr. 21). Unit 1 terdiri dari spit 1 sampai 6 dengan kedalaman 0≤×≤60 cm yang memiliki kandungan gerabah, temuan batu khususnya alat, cangkang kerang, dan fragmen tulang fauna. Unit 2 terdiri dari spit 7 sampai 12 dengan kedalaman 60<×≤120 cm, unit ini tidak memiliki kandungan gerabah, tetapi masih terdapat temuan batu khususnya alat, cangkang kerang, dan fragmen tulang fauna. Unit 3 terdiri dari spit 8 sampai 22 dengan kedalaman 120<×≤340 cm, pada unit ini tidak lagi ditemukan batuan alat, tetapi hanya memiliki beberapa batuan artefak non alat; cangkang kerang, dan fragmen tulang fauna. Karena hilangnya catatan lapangan, maka ada beberapa

©I

rd ian sy

temuan yang dimasukkan pada unit yang tidak diketahui (unknown unit).

Gbr. 21: Pembagian satuan unit pada kotak H10 (sumber: Puslitbang Arkenas dan IRD, 2004 dengan modifikasi).

ah ,2 00 8

44

Kotak E4 memiliki 44 temuan batu, mayoritas berupa batu inti non alat. F4 memiliki 30 temuan, mayoritas berupa batu inti non alat. H4 memiliki 158 temuan, mayoritas berupa serpih non alat. H7 memiliki 147 temuan, mayoritas berupa serpih non alat. H10 memiliki 753 temuan, mayoritas berupa serpih non alat. I4 memiliki 42 temuan, mayoritas berupa batu inti non alat (tabel 2).
Artefak

kotak bi E4 F4 G4 H4 H7 n % n % n % n % n % n % n % n % 4 0,33 4 0,33 11 0,90 10 0,81 3 0,24 7 0,57 4 0,33 43 3,50

Alat s 7 0,57 5 0,41 6 0,49 13 1,06 29 2,36 39 3,17 4 0,33 103 8,38

Bi

rd ian sy
H10 I4 Total 187 15,22 818 66,56 13 1,06

17 1,38 17 1,38 23 1,87 53 4,31 18 1,46 45 3,66 14 1,14

Keterangan: bi: batu inti, s: serpih, dan bp: batu pukul.

Tabel 2: Frekuensi tipe pada setiap kotak.

Unit 1 memiliki 889 temuan batu, mayoritas berupa serpih non alat. Unit 2

©I

memiliki 305 temuan batu, mayoritas berupa serpih non alat. Unit 3 hanya memiliki 18 temuan batu berupa serpih non alat dan batu inti non alat. Unknown unit memiliki 17 temuan batu yang seluruhnya berasal dari kotak H4, mayoritas terdiri dari batu inti

non alat (tabel 3).

ah ,2 00 8
non artefak manuport 1 0,08 0 0 3 0,24 21 1,71 4 0,33 8 0,65 11 0,90 48 3,91 nonalat perkakas bp unidentified bi s Total s 9 0,73 4 0,33 12 0,98 54 4,39 93 7,57 637 51,83 9 0,73 3 0,24 0 0 0 0 2 0,16 0 0 8 0,65 0 0 3 0,24 0 0 0 0 3 0,24 0 0 4 0,33 0 0 10 0,81 0 0 0 0 0 0 2 0,16 0 0 5 0,41 0 0 7 0,57

44 3,58 30 2,44 55 4,48 158 12,86 147 11,96 753 61,27 42 3,42

1229 100,00

45

Artefak Unit bi 1 2 3 n % n % n % u Total n % n % 40 3,25 3 0,24 0 0 0 0 43 3,50 Alat s 93 7,57 10 0,81 0 0 0 0 103 8,38 non alat Bi 147 31 3 6 187 perkakas bp 10 1 0 0 2 unidentified bi 5 4 0 0 1 s 2 3 0 0 2 7 s

non artefak manuport 45 1 0 0 2 Total 889 305 18 17

11,96 2,52 0,24 0,49

15,22

Keterangan: bi: batu inti, s: serpih, bp: batu pukul, dan u: unknown.

Table 3: Frekuensi tipe pada setiap unit.

Melalui penjabaran di atas, dapat diketahui bahwa secara horizontal temuan

©I

rd ian sy
3. 3. Klasifikasi Alat Batu Gua Pandan bahan baku, ukuran, berat, dan korteks.

batu di situs Gua Pandan mayoritas berada pada kotak H10. Sementara itu, secara vertikal temuan batu di situs Gua Pandan mayoritas berada pada unit 1.

Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian, maka klasifikasi

selanjutnya dikhususkan pada artefak alat, baik batu inti maupun serpih. Klasifikasi

pada tahap ini dilakukan lebih mendalam dengan menentukan sejumlah atribut secara terpisah berdasarkan tajaman, ukuran, berat, korteks, dan bahan baku. Kemudian, tipe alat akan dibuat berdasarkan atribut tajaman dan akan diintegrasikan dengan analisis

ah ,2 00 8
547 252 15 4 44,51 20,50 1,22 0,33 818 0,81 0,08 0,41 0,33 0,16 0,24 3,66 0,08 1,46 1,38 0,16 13 1,06 0,08 10 0,81 0,16 0,57 0,16 48 3,91 66,56

72,34 24,82

1229

100,00

46

3. 3. 1. Tajaman Tajaman baik berupa retus dan/atau jejak pakai merupakan bagian penting dalam penelitian fungsi alat batu, karena bagian ini memiliki kontak langsung terhadap materi yang menjadi objek pada saat pemakaian alat batu. Keeley (1980) dalam eksperimennya telah membuktikan bahwa setiap jenis tajaman yang berbeda memiliki fungsi yang berbeda pula. Pada penelitian ini pengamatan tajaman dilakukan untuk melihat hubungan antara letak tajaman, sudut tajaman, dan bentuk tajaman.

©I

rd ian sy
berjumlah 6 alat (tabel 4).

3. 3. 1. 1. Letak tajaman

Letak tajaman dalam penelitian ini adalah keletakan tajaman terhadap

permukaan alat batu, yang terdiri atas unifasial dan bifasial. Istilah unifasial dan bifasial disini tidak berhubungan dengan pemangkasan pada seluruh permukaan, tetapi lebih kepada keletakan tajaman secara makroskopis. Jika retus dan/atau jejak pakai ada pada satu permukaan, maka alat dimasukan ke dalam kelompok tajaman unifasial. Jika retus dan/atau jejak pakai ada pada dua permukaan maka alat dimasukan ke dalam kelompok tajaman bifasial. Melalui pengamatan dapat diketahui bahwa mayoritas alat batu di situs Gua Pandan berupa alat dengan letak tajaman unifasial dengan jumlah 140 alat, sedangkan alat dengan letak tajaman bifasial hanya

ah ,2 00 8

47

Unifasial Bifasial Total

Tabel 4: Frekuensi letak tajaman alat di situs Gua Pandan.

3. 3. 1. 2. Sudut tajaman Sudut tajaman

merupakan

permasalahan fungsi alat batu, beberapa peneliti (Keeley, 1980; Kamminga, 1981; Grace, 1989) menyarankan untuk melakukan perekaman terhadap sudut tajaman,

©I

rd ian sy

karena mungkin dapat dihubungkan dengan aktivitas pemakaian alat. Berdasarkan eksperimen secara kuantitatif, Wilmsen (1968) menghasilkan tiga mode yang menjelaskan, bahwa sudut 26-35˚ lebih tepat digunakan untuk memotong (cutting), sudut 46-55˚ lebih tepat digunakan untuk menguliti/memotong materi keras (hide

scraping/heavy cutting), dan sudut 66-75˚ lebih tepat digunakan untuk pengerjaan kayu/tulang (wood/bone working) (Grace, 1989). Pengukuran dilakukan dengan meletakan goniometer/protractor pada bagian

retus dan/atau jejak pakai alat batu (gbr. 22). Setiap sudut tajaman alat diukur dengan skala ordinal setiap 5˚ (20<×≤25˚, 25<×≤30˚, dan seterusnya), melalui pengamatan diketahui bahwa sudut tajaman alat batu di situs Gua Pandan berkisar antara 20<×≤95˚. Selanjutnya data sudut tajaman tersebut dimasukkan ke dalam kelas sudut landai (20<×≤45˚), sudut terjal (45<×≤60˚), dan sudut sangat terjal (60<×≤95˚).

ah ,2 00 8
140 6 95,89 4,11 146 100,00

Letak Tajaman

n

%

atribut

yang

penting

khususnya

dalam

48

Gbr. 22: Pengukuran sudut tajaman dengan goniometer/protractor (Grace, 1989).

Melalui pengamatan dapat diketahui bahwa mayoritas alat batu situs Gua Pandan memiliki sudut tajaman landai (20<×≤45˚) berjumlah 55 alat, kemudian diikuti dengan sudut tajaman sangat terjal (60<×≤95˚) berjumlah 52 alat, dan terjal

rd ian sy
Sudut tajaman Landai Terjal n 55 39 52 Sangat terjal Total 146

(45<×≤60˚) berjumlah 39 alat (tabel 5).

Tabel 5: Frekuensi sudut tajaman alat batu di situs Gua Pandan.

3. 3. 1. 3. Bentuk tajaman

Bentuk tajaman dalam penelitian ini adalah bentuk penampang dari bagian

yang memiliki retus atau jejak pakai, yang secara umum dibagi menjadi tajaman lurus

©I

(straight), cembung (convex), cekung (concave), bergerigi (denticulate), bertakik

(notch), dan meruncing (pointed) (gbr. 23).

ah ,2 00 8
% 37,67 26,71 35,62 100,00

49

Gbr. 23: Bentuk-bentuk tajaman (sumber: Inizan et al., 1992, dengan modifikasi).

Melalui pengamatan dapat diketahui bahwa bentuk-bentuk tersebut ada pada alat batu situs Gua Pandan, bentuk tajaman lurus (straight) berjumlah 41 alat, tajaman

rd ian sy
Bentuk tajaman lurus n 41 50 35 12 3 5 cembung cekung bergerigi bertakik meruncing Total 146

cembung (convex) berjumlah 50 alat, tajaman cekung (concave) berjumlah 35 alat, tajaman bergerigi (denticulate) berjumlah 12 alat, bertakik (notch) berjumlah 3 alat, dan tajaman meruncing (pointed) berjumlah 5 alat (tabel 6).
% 28,08 34,25 23,97 8,22 2,05 3,42 100,00

Tabel 6: Frekuensi bentuk tajaman alat batu di situs Gua Pandan.

©I
3. 3. 2. Ukuran khususnya

Ukuran merupakan salah satu cara dalam melihat nilai praktis suatu alat batu bagi masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan yang

ah ,2 00 8

50

membutuhkan alat efisien dan proporsional dalam perjalanannya (Andrefsky, 1998: 150). Pengukuran dalam penelitian ini dilakukan dengan mengklasifikasikan seluruh alat ke dalam kelompok ukuran besar, sedang, dan kecil yang kisarannya dihubungkan dengan genggaman tangan, maka sistem pengukurannya pun disesuaikan agar didapatkan generalisasi ukuran pada seluruh alat batu Gua Pandan, baik dalam bentuk dasar batu inti maupun serpih.

Satuan pengukuran yang dapat menggeneralisasikan ukuran pada seluruh alat batu Gua Pandan adalah ukuran panjang maksimum (Maximum linear dimension), yaitu panjang terpanjang dari bentuk alat batu secara keseluruhan (Andrefsky, 1998;

©I

rd ian sy

Kuskie dan Kamingga, 2000; Sliva, 2006). Selain itu untuk mendapatkan klasifikasi yang replicable, maka pengukuran dilakukan berdasarkan kelas ukuran (size class)

(Andrefsky, 1998: 100-101) melalui sejumlah lingkaran dengan diameter berjarak tiap 1 cm (1 cm, 2 cm, 3 cm, 4 cm, dan seterusnya), dalam hal ini setiap diameter merefleksikan ukuran panjang maksimum (Maximum linear dimension) (gbr. 24). Penentuan kelas ukuran tersebut dilakukan berdasarkan skala ordinal dengan

meletakan alat batu berdasarkan ukuran panjang maksimumnya sampai menyentuh

atau kurang dari batas lingkaran. Jika alat batu berada pada kisaran 2<×≤3 cm, maka alat batu tersebut masuk dalam kelas ukuran 3 dan seterusnya. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan dapat diketahui bahwa alat batu di situs Gua Pandan memiliki kelas ukuran 3-17 atau memiliki kisaran 2<×≤17 cm.

ah ,2 00 8

51

Gbr. 24: Kelas ukuran dengan diameter tiap 1 cm yang merefleksikan ukuran panjang maksimum (sumber: Andrefsky, 1998; gambar: Bordes, 1981).

Setelah didapatkan data ukuran, setiap kelas akan dimasukkan ke dalam kelompok alat berukuran besar, sedang, dan kecil. Melalui pengamatan dapat

rd ian sy
sedang dan besar.
Kelompok Ukuran Besar (13-17) Sedang (8-12) Kecil (2-7) Total n

diketahui bahwa kelompok ukuran besar (12<×≤17 cm) yang kisarannya lebih besar dari genggaman tangan berjumlah 15 alat, ukuran sedang (7<×≤12 cm) yang kisarannya segenggaman tangan berjumlah 61 alat, dan ukuran kecil (2<×≤7 cm) yang kisarannya lebih kecil dari genggaman tangan atau hanya dapat digenggam dengan jari-jari tangan berjumlah 70 alat (tabel 7. Dapat dikatakan mayoritas alat batu di situs Gua Pandan memiliki ukuran yang kecil, kemudian diikuti dengan ukuran

©I

Table 7: Frekuensi kelompok ukuran alat batu di situs Gua Pandan.

ah ,2 00 8
% 10,27 41,78 47,95 100,00 15 61 70 146

52

3. 3. 3. Berat Penggunaan atribut berat dilakukan dengan tujuan untuk mengimbangi ukuran panjang maksimum (Maximum linear dimension), sehingga gambaran tentang bentuk secara keseluruhan dan nilai efisiensi suatu alat dapat diketahui (Andrefsky, 1998: 150). Pengukuran berat dilakukan menggunakan timbangan elektrik, dengan presisi ±0,5 gram. Melalui penimbangan dapat diketahui bahwa berat alat batu pada situs Gua Pandan cukup beragam mulai dari 2,0 g sampai 815,4 g.

Selanjutnya data berat tersebut akan dimasukkan ke dalam tiga kelas yaitu, 1) ringan (0<×≤100g), 2), sedang (100<×≤400g), dan 3) berat (400<×≤900g). Melalui

rd ian sy
Kelas (g) 1 2 3 Ringan (0<×≤100) Sedang (100<×≤400) Berat (400<×≤900) total

pengamatan dapat diketahui bahwa mayoritas alat batu Gua Pandan masuk ke dalam kelas ringan dengan jumlah 83 alat. Selanjutnya, diikuti dengan kelas sedang berjumlah 49 alat dan kelas berat berjumlah 14 alat (tabel 8).

Table 8: Frekuensi berat alat batu di situs Gua Pandan.

©I

3. 3. 4. Korteks

Korteks merupakan permukaan terluar/kulit dari batuan yang terbentuk

melalui pelapukan secara kimia (chemical weathering) atau pengikisan secara mekanik (mechanical weathering) (Andrefsky, 1998). Melalui korteks dapat

ah ,2 00 8
n 83 49 14 146 % 56,85 33,56 9,59 100,00

53

diketahui sejauh mana tingkat pemangkasan terhadap bahan batuan untuk dibentuk menjadi sebuah alat, hal tersebut didasarkan atas asumsi bahwa batuan yang memiliki korteks adalah batuan yang berada pada saat pelepasan pertama dilakukan. Tingkat pemangkasan dapat dihubungkan dengan fungsi alat itu sendiri, semakin dipersiapkan ada kemungkinan alat tersebut tidak dibuat untuk kebutuhan mendesak (instant tool), tetapi dibuat untuk jangka waktu yang lama (Andrefsky, 1998).

Pada penelitian ini keberadaan korteks diamati melalui tiga kisaran persentase dari permukaan alat secara ordinal, pertama kisaran korteks lebih besar dari 50% sampai 100% (50<×≤100%), kedua kisaran korteks lebih besar dari 0% sampai 50%

©I

rd ian sy
seluruh permukaan dorsal (dorsal surface) saja.

(0<×≤50%), dan ketiga kisaran tanpa korteks (0%) (gbr. 25). Karena perbedaan bentuk dasar, maka pengamatan kisaran korteks pada alat batu inti dan alat serpih harus disesuaikan. Pada bentuk dasar batu inti kisaran 100% sama dengan seluruh permukaannya, sedangkan pada bentuk dasar serpih kisaran 100% sama dengan

Gbr. 25: Bentuk-bentuk korteks pada permukaan (sumber: Andrefsky, 1998; gambar: Bordes, 1981).

ah ,2 00 8

54

Jika kisaran korteks 50<×≤100%, maka dapat dikatakan bahwa batuan merupakan alat serpih hasil pelepasan pertama dari sebuah kerakal atau alat batu inti yang tingkat pemangkasannya tidak intensif. Jika kisaran korteks 0<×≤50%, maka dapat dikatakan bahwa batuan mungkin merupakan alat serpih atau alat batu inti yang tingkat pemangkasannya cukup intensif. Jika kisaran korteks 0%, maka dapat dikatakan bahwa batuan mungkin merupakan alat serpih atau alat batu inti yang tingkat pemangkasannya sangat intensif.

Melalui pengamatan dapat diketahui bahwa mayoritas alat di situs Gua Pandan memiliki tingkat pemangkasan yang sangat intensif (si) dengan jumlah 65

rd ian sy
Kelas ti Korteks n 50<×≤100% 0<×≤50% 0% 55 ci si 26 65 Total 146

alat, kemudian diikuti dengan tingkat pemangkasan yang tidak intensif (ti) berjumlah 55 alat dan tingkat pemangkasan yang cukup intensif (ci) berjumlah 26 alat (tabel 9).
% 37,67 17,81 44,52 100,00

Table 9: Frekuensi keberadaan korteks pada alat batu Gua Pandan.

3. 3. 5. Bahan baku

Klasifikasi bahan baku batuan dalam penelitian ini dibantu oleh Drs. M.

©I

Fadhlan S. Intan yang merupakan peneliti pada Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Melalui klasifikasi diketahui bahwa bahan baku alat batu di situs Gua Pandan

mayoritas berupa rijang, kemudian diikuti dengan batugamping, fosil kayu, jasper, metagamping, kalsedon, dan andesit (tabel 10).

ah ,2 00 8

55

Bahan baku Rijang

n 98 18 13 7 5 3 2

% 67,12 12,33 8,90 4,79 3,42 2,05 1,37

Batugamping Fosil kayu Jasper

Metagamping Kalsedon Andesit Total

Table 10: Frekuensi bahan baku alat batu Gua Pandan.

Berikut penjelasan umum tentang asal dan ciri fisik batuan tersebut:

a) Rijang (chert): adalah batuan sedimen yang terbentuk secara kimiawi melalui

rd ian sy
kemudian mengalami rekristalisasi

pengendapan larutan-larutan yang mengandung silika/opal (SiO2NH2O), menjadi kuarsa mikrokristalin

(microcrystalline quartz) (Andrefsky: 1998: 52; Kamminga, 1982: 24-25). Butiran kristal yang saling mengisi dan mengikat (interlocking) membuat batuan ini kompak dan memiliki tekstur halus (non-klastik). Warna batuan ini sangat beragam, seperti putih, kuning, coklat, merah, dan lain-lain. Berdasarkan kandungan mineral kuarsanya, batuan ini memiliki kekerasan yang sangat tinggi dari 6 sampai 7 skala Mohs.

b) Batugamping (limestone): adalah batuan sedimen yang terbentuk secara kimiawi melalui pengendapan larutan dan kristalisasi dari mineral kalsium

©I

karbonat (CaCO3) atau kalsit, sehingga memiliki tekstur yang halus (nonklastik). Batuan ini umumnya berwarna putih, tetapi batuan ini juga dapat

ah ,2 00 8
146 100,00

56

berwarna abu-abu, kuning, coklat, sampai hitam. Berdasarkan kandungan mineral kalsitnya batuan ini memiliki kekerasan yang tergolong rapuh dari 3 sampai 4 skala Mohs (Intan, 2004: 154; Blatt, 1982: 241).

c) Fosil kayu (silicified wood): adalah batuan sedimen kimia organik yang terbentuk melalui kompaksi dan kristalisasi oleh mineral silikat terhadap materi kayu. Batuan ini memiliki struktur yang masih menyerupai bentuk kayu dengan tekstur non-klastik dan berwarna coklat sampai kehitaman. Komposisi batuan ini mayoritas berupa mineral silika (SiO2), sehingga kekerasannya relatif tinggi hingga 7 skala Mohs (Intan, 2004: 154).

©I

rd ian sy

d) Jasper: merupakan batuan yang termasuk ke dalam batuan kuarsa mikrokristalin (microcrystalline) (Andrefsky: 1998: 52). Batuan ini bertekstur non-klastik dan umumnya berwarna merah, tetapi pada penelitian ini terdapat

jasper hitam dan hijau (Intan, 2004: 153). Selain itu, berdasarkan mineral kuarsanya batuan ini memiliki tingkat kekerasan 6 sampai 7 skala Mohs.

e) Metagamping (metalimestone): adalah batuan metamorf dari batugamping yang terbentuk tidak sempurna sehingga kenampakan fisiknya sedikit menyerupai batugamping dan masih memiliki komposisi mineral kalsium karbonat (CaCO3) atau kalsit. Batuan ini masuk dalam struktur kataklastik

karena terbentuk akibat gaya-gaya tektonik dan bertekstur kristaloblastik karena tekstur asalnya sudah tidak terlihat lagi. Tingkat kekerasan batuan ini mulai dari 5-6 skala Mohs (Intan, 2003: 84, 2004: 154).

ah ,2 00 8

57

f) Kalsedon (chalcedony): adalah mineral yang termasuk ke dalam batuan kuarsa mikrokristalin (microcrystalline), tetapi batuan ini memiliki tekstur yang lebih halus dibanding rijang dan jasper, karena bentuk kristal kuarsanya berserat tipis (fibrous quartz) dan saling mengisi (Kamminga, 1982: 24-25). Batuan ini memiliki warna beragam, kilap lilin (waxy luster), dan memiliki komposisi mineral kuarsa, sehingga tingkat kekerasannya mencapai 7 skala Mohs.

g) Andesit: adalah batuan beku vulkanik yang merupakan hasil pendinginan lava di permukaan bumi, dengan proses kristalisasi yang berlangsung cepat menyebabkan ukuran kristal-kristal batuan ini kecil, sehingga teksturnya halus

©I

rd ian sy
skala Mohs.

atau disebut batuan beku afanitik (aphanitic) (Andrefsky, 1998: 48; Intan, 2004: 154). Mineral utama batuan ini adalah kuarsa, plagioklas, hornblend,

biotit, dan piroksin (Fenton dan Fenton, 1940: 116). Batuan ini umumnya berwarna abu-abu muda, hijau, sampai hitam keabu-abuan. Berdasarkan kandungan mineralnya, batuan ini memiliki tingkat kekerasan dari 5 sampai 6

Klasifikasi bahan baku batuan pada penelitian ini hanya merupakan gambaran

umum, sehingga klasifikasi dilakukan secara makroskopik (tanpa mikroskop) dengan data banding bahan baku batuan yang ada di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Pusat Survey Geologi di Bandung. Sedangkan, penjelasan ciri fisik didapat melalui kajian pustaka, untuk penjelasan lebih rinci (detail) pada setiap bahan baku

dibutuhkan analisis yang lebih mendalam melalui penelitian petrologis.

ah ,2 00 8

58

3. 4.

Integrasi Tipe Alat Sesuai dengan permasalahan penelitian yang berusaha menjelaskan fungsi alat

batu, penentuan tipe secara umum didasarkan pada atribut tajaman. Dengan demikian, hasil klasifikasi tipe dapat dihubungkan dengan hasil analisis jejak pakai. Penentuan tipe dilakukan secara taksonomik dengan memilah alat baik berupa batu inti ataupun serpih ke dalam kelompok tipe berdasarkan letak dan sudut, sedangkan bentuk tajaman dijadikan sebagai sub tipe.

Untuk mempermudah penelitian, dibuat kode yang mewakili tiap atribut tajaman. Letak tajaman diberi kode angka romawi, yaitu angka I untuk unifasial dan

©I

rd ian sy
pada situs gua pandan (tabel 11), yaitu: berjumlah 4 alat.

II untuk bifasial. Sudut tajaman diberi kode angka, yaitu angka 1 untuk tajaman landai, 2 untuk terjal, dan 3 untuk sangat terjal. Bentuk tajaman diberi kode huruf kapital, yaitu huruf A untuk lurus, B untuk cembung, C untuk cekung, D untuk bergerigi, E untuk bertakik, dan F untuk meruncing. Berdasarkan atribut tajamannya, dapat diketahui bahwa terdapat 5 tipe alat

1. Tipe I1 adalah alat yang memiliki tajaman satu sisi dengan sudut landai, seluruhnya berjumlah 53 alat. Tipe ini dibagi menjadi sub tipe A berjumlah 16 alat, B berjumlah 17 alat, C berjumlah 12 alat, D berjumlah 4 alat, dan F

2. Tipe I2 adalah alat yang memiliki tajaman satu sisi dengan sudut terjal seluruhnya berjumlah 39 alat. Tipe ini dibagi menjadi sub tipe A berjumlah 10

ah ,2 00 8

59

alat, B berjumlah 13 alat, C berjumlah 10 alat, D berjumlah 4 alat, E berjumlah 1 alat, dan F berjumlah 1 alat.

3. Tipe I3 adalah alat yang memiliki tajaman satu sisi dengan sudut sangat terjal seluruhnya berjumlah 48 alat. Tipe ini dibagi menjadi sub tipe A berjumlah 11 alat, B berjumlah 20 alat, C berjumlah 13 alat, D berjumlah 2 alat, E berjumlah 2 alat.

4. Tipe II1 adalah alat yang memiliki tajaman dua sisi dengan sudut landai. Tipe ini hanya ada sub tipe D yang berjumlah 2 alat.

5. Tipe II3 adalah alat yang memiliki tajaman dua sisi dengan sudut sangat terjal

rd ian sy
Tipe Sub tipe A B n 16 17 12 4 4 I1 C D F A B 10 13 10 4 1 1 I2 C D E F A B 11 20 13 2 2 2 4 146

Tipe ini hanya ada sub tipe A yang berjumlah 4 alat.

©I

I3

II1 II3 Total

Table 11: Jumlah tipe dan sub tipe alat batu Gua Pandan.

ah ,2 00 8
% 10,96 11,64 8,22 2,74 2,74 6,85 8,90 6,85 2,74 0,68 0,68 7,53 13,70 8,90 1,37 1,37 1,37 2,74 100,00 C D E D A

60

3. 4. 1. Tipe Alat dengan Analisis Ukuran Berdasarkan analisis ukuran (tabel 12), mayoritas tipe I1 berukuran kecil (44 alat), diiukuti dengan ukuran sedang (8 alat), dan ukuran besar (1 alat). Tipe I2 mayoritas berukuran kecil (18 alat), diikuti dengan ukuran sedang (17 alat), dan ukuran kecil (4 alat). Tipe I3 mayoritas berukuran sedang (31 alat), diikuti dengan ukuran besar (10 alat), dan ukuran kecil (7 alat). Tipe II1 hanya memiliki 1 alat berukuran sedang dan 1 alat berukuran kecil. Tipe II3 seluruhnya berukuran sedang (4 alat). Berdasarkan kisaran genggaman tangan, hampir seluruh tipe alat Gua Pandan memiliki kisaran ukuran yang lebih kecil dari genggaman tangan atau hanya dapat

rd ian sy
Tipe Ukuran 8 besar 1 4 0,68 2,74 10 0 0 0 0 6,85 I1 I2 I3 n n n n n n % % % % % % 5,48 17 31 1 4 11,64 21,23 0,68 2,74 61 41,78 II1 II3

digenggam dengan jari-jari tangan. Selanjutnya diikuti dengan kisaran ukuran yang segenggaman tangan dan kisaran ukuran yang lebih besar dari genggaman tangan.

©I

Total

15 10,27

Table 12: Frekuensi ukuran pada setiap tipe alat.

ah ,2 00 8
sedang kecil 44 30,14 18 12,33 7 4,79 1 0,68 0 0 70 47,95 Total 53 36,30 39 26,71 48 32,88 2 1,37 4 2,74 146 100,00

61

3. 4. 2. Tipe Alat dengan Analisis Berat Berdasarkan analisis berat (tabel 13), mayoritas tipe I1 masuk ke dalam kelas ringan, (49 alat) dan diikuti dengan kelas cukup ringan (4 alat). Tipe I2 mayoritas masuk ke dalam kelas ringan (23 alat) dan diikuti dengan kelas cukup ringan (16 alat). Tipe I3 mayoritas masuk ke dalam kelas cukup ringan (27 alat), diikuti dengan kelas berat (13 alat), dan kelas ringan (8 alat). Tipe II1 hanya memiliki 2 alat yang sama-sama masuk ke dalam kelas ringan. Tipe II3 mayoritas masuk ke dalam kelas cukup ringan (2 alat), diikuti dengan kelas ringan (1 alat), dan kelas berat (1 alat).
berat 2 4 Tipe I1 I2 I3 n n n n n n Total 53 39 26,71 48 32,88 2 1,37 4 2,74 146

rd ian sy
% % % % % 33,56 23 8 2 1 15,75 5,48 1,37 0,68 83 2,74 16 27 0 0 2 10,96 18,49 II1 II3 1,37 49 Total

49

% 56,85 33,56 9,59 100,00 Keterangan: 1: ringan (0<×≤100g), 2: cukup ringan (100<×≤400g), dan 3: berat (400<×≤900g).

Table 13: Frekuensi berat pada setiap tipe alat.

©I

3. 4. 3. Tipe Alat dengan Analisis Ukuran dan Berat Setelah tipe alat dianalisis berdasarkan ukuran dan berat secara terpisah,

selanjutnya keduanya akan dihubungkan, sehingga gambaran tentang bentuk secara keseluruhan setiap tipe alat dapat diketahui. Melalui analisis (tabel 14) dapat

ah ,2 00 8
1 3 0 0 0 0 13 8,90 0 0 1 0,68 14 36,30

62

diketahui bahwa mayoritas tipe I1 berukuran kecil ringan (44 alat), diikuti ukuran sedang ringan (6 alat), ukuran sedang cukup ringan (2 alat), dan ukuran besar cukup ringan (1 alat). Tipe I2 mayoritas berukuran kecil ringan (18 alat), diikuti ukuran sedang cukup ringan (12 alat), ukuran sedang ringan (5 alat), dan ukuran besar cukup ringan (4 alat). Tipe I3 mayoritas berukuran sedang cukup ringan (24 alat), diikuti ukuran besar berat (9 alat), ukuran kecil ringan (6 alat), ukuran sedang berat (4 alat), ukuran sedang ringan (3 alat), ukuran kecil cukup ringan (1 alat), dan ukuran besar cukup ringan (1 alat). Tipe II1 hanya memiliki 1 alat berukuran sedang ringan dan 1 alat berukuran kecil ringan. Tipe II3 mayoritas berukuran sedang cukup ringan (2

rd ian sy
Tipe besar sedang 2 2 2 1 4 1 0 0 0 0 6 3 0 0 0 0 9 0 0 0 0 9 1 6 5 3 1 1 I1 I2 I3 n n n n n n % % % % % % 0,68 2,74 0,68 4,11 3,42 2,05 0,68 0,68 16 1,37 12 24 0 0 2 8,22 6,16 16,44 II1 II3 1,37 40 Total

alat), diikuti dengan ukuran sedang ringan (1 alat), dan ukuran sedang berat (1 alat).

©I

4,11

6,16

Keterangan: 1: ringan (0<×≤100g), 2: cukup ringan (100<×≤400g), dan 3: berat (400<×≤900g).

Table 14: Frekuensi ukuran dan berat pada setiap tipe alat.

ah ,2 00 8
kecil 3 0 0 0 0 4 2,74 0 0 1 0,68 5 3,42 1 44 30,14 18 12,33 6 4,11 1 0,68 0 0 69 47,26 2 0 0 0 0 1 0,68 0 0 0 0 1 0,68 Total 53 36,30 39 26,71 48 32,88 2 1,37 4 2,74 146 100,00 10,96 27,40

63

3. 4. 4. Tipe Alat dengan Analisis Korteks Berdasarkan analisis korteks (tabel 15), mayoritas tipe I1 masuk ke dalam kelas pemangkasan sangat intensif berjumlah 35 alat, kemudian diikuti kelas pemangkasan tidak intensif berjumlah 12 alat, dan cukup intensif berjumlah 6 alat. Tipe I2 mayoritas masuk ke dalam kelas pemangkasan sangat intensif berjumlah 19 alat, kemudian diikuti kelas pemangkasan tidak intensif berjumlah 13 alat, dan cukup intensif berjumlah 7 alat. Tipe I3 mayoritas masuk ke dalam kelas pemangkasan tidak intensif berjumlah 28 alat, diikuti kelas pemangkasan cukup intensif berjumlah 11 alat, dan sangat intensif berjumlah 9 alat. Tipe II1 masuk ke dalam kelas

rd ian sy
Tipe korteks 0% 0<×≤50% 6 4,11 7 4,79 11 7,53 0 0 2 1,37 I1 I2 I3

pemangkasan sangat intensif berjumlah 1 alat dan kelas pemangkasan tidak intensif berjumlah 1 alat. Tipe II3 mayoritas masuk ke dalam kelas pemangkasan cukup intensif berjumlah 2 alat, kemudian diikuti kelas pemangkasan sangat intensif berjumlah 1 alat, dan tidak intensif berjumlah 1 alat.
Total 50<×≤100% 12 8,22 13 8,90 28 19,18 1 0,68 1 0,68 53 36,30 39 26,71 48 32,88 2 1,37 4 2,74

©I
II3

II1

n % n % n % n % n %

35 23,97 19 13,01 9 6,16 1 0,68 1 0,68

Total

n 65 26 55 146 % 44,52 17,81 37,67 100,00 Keterangan: 0%: sangat intensif, 0<×≤50%: cukup intensif, dan 50<×≤100%: tidak intensif.

Table 15: Frekuensi kisaran kortek pada setiap tipe alat.

ah ,2 00 8

64

3. 4. 5. Tipe Alat dengan Analisis Bahan Baku Berdasarkan analisis bahan baku (tabel 16), mayoritas tipe I1 berbahan baku rijang (41 alat), diikuti bahan baku batugamping (6 alat), andesit (2 alat), fosil kayu (2 alat), jasper (1 alat), dan metagamping (1 alat). Tipe I2 mayoritas berbahan baku rijang (27 alat), diikuti bahan baku fosil kayu (6 alat), batugamping (3 alat), jasper (1alat), kalsedon (1 alat), dan metagamping (1 alat). Tipe I3 mayoritas berbahan baku rijang (26 alat), diikuti bahan baku batugamping (8 alat), fosil kayu (5 alat), jasper (5 alat), kalsedon (2 alat), dan metagamping (2 alat). Tipe II1 berbahan baku rijang (1 alat) dan batugamping (1 alat). Tipe II3 mayoritas berbahan baku rijang (3 alat) dan

rd ian sy
Tipe Bahan baku Jpr 1 1 5 0 0 0 0 7 Ads 2 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Fk 2 6 5 0 0 0 0 Gmp 6 3 8 1 0 0 4,11 2,05 5,48 0,68 I1 I2 I3 n n n n n n % % % % % 1,37 1,37 4,11 3,42 0,68 0,68 3,42 II1 II3 Total 13 18

diikuti batugamping (1 alat).

©I

% 1,37 8,90 12,33 4,79 2,05 3,42 67,12 100,00 Keterangan: Ads: andesit, Fk: fosil kayu, Gmp: batugamping, Jpr: jasper, Ksd: kalsedon, Mg: metagamping, dan Rj: rijang

Table 16: Frekuensi bahan baku pada setiap tipe alat.

ah ,2 00 8
Ksd 0 0 1 2 0 0 0 0 3 Mg 1 0,68 1 0,68 2 1,37 0 0 1 0,68 5 Rj 41 28,08 27 18,49 26 17,81 1 0,68 3 2,05 98 Total 53 36,30 39 26,71 48 32,88 2 1,37 4 2,74 146 0,68 1,37

65

BAB IV ANALISIS JEJAK PAKAI

4. 1. Bentuk-bentuk Jejak Pakai

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa pemakaian alat batu menghasilkan berbagai bentuk jejak pakai yang dapat diamati baik dalam bentuk jejak makro (macrowear) yang dapat terlihat tanpa mikroskop ataupun jejak mikro (microwear) yang hanya terlihat melalui mikroskop. Pada sub bab ini dijelaskan beberapa bentuk jejak pakai yang umum digunakan oleh berbagai peneliti (Keeley, 1980; Kamminga, 1982; Grace, 1989; Estévez dan Urquijo, 1996; Banks, 2004)

©I

rd ian sy
sebagai indikator fungsi alat batu. 4. 1. 1. Pecahan Tajaman (edge fracture)

Pertemuan antara tajaman dengan materi yang dikerjakan dengan kekuatan

tertentu pada saat pemakaian alat batu menyebabkan pecahnya bagian tajaman.

Secara mekanik (Cotterell dan Kamminga, 1979), tajaman dapat pecah ketika kekuatan tekanan atau pukulan tertentu mulai membentuk suatu awal pecahan (initiation) pada ujung tajaman yang kemudian terus berlanjut ke permukaan batuan dan membentuk akhir pecahan (termination), sehingga memaksa serpihan untuk lepas dari alat batu dan membentuk pecahan tajaman (edge fracture) (gbr. 26).

ah ,2 00 8

66

Gbr. 26: Tahapan pembentukan pecahan tajaman (gambar: Irdiansyah).

Proses pecahnya tajaman tidak lepas dari faktor-faktor pembentuknya

©I

rd ian sy

(Kamminga, 1982: 4-5), seperti bahan baku batu, materi yang dikerjakan, besarnya tekanan, arah pemakaian, dan bentuk gelombang permukaan tajaman. Perbedaan kondisi dan tekanan dalam proses pemakaian alat batu tersebut, menyebabkan perbedaan bentuk akhir pecahan (Lawrence, 1979: 115-116), sehingga berbagai peneliti (Lawrence, 1979: 119; Hayden, 1979: 217; Banks, 2004: 54) menggunakan pecahan tajaman sebagai indikator aktivitas (menyerut, memotong, dan lain-lain) dan kekerasan materi yang dikerjakan (keras, sedang, dan lunak). Bentuk pecahan tajaman (edge fracture) yang akan digunakan pada penelitian

ini merupakan bentuk-bentuk umum (gbr. 27) dengan mengikuti peristilahan

(terminology) yang digunakan oleh Kamminga (1982: 6-7) dan peneliti lain (Hayden, 1979: 228; Keeley, 1980: 24-25) sebagai pembanding.

ah ,2 00 8

67

Gbr. 27: a) feather fracture, b) hinge fracture, c) step fracture, dan d) bending fracture (gambar: Irdiansyah).

4. 1. 1. 1. Feather fracture

©I

rd ian sy
invasive fracture (Hayden, 1979: 228). 4. 1. 1. 2. Hinge fracture

Pecahan ini terbentuk ketika kekuatan tekanan atau pukulan mengarah pada

permukaan alat, sehingga jika dilihat dari tampak irisannya memiliki akhiran (termination) berbentuk cekungan landai (Cotterell dan Kamminga, 1979: 105). Jika dilihat dari tampak atas serupa dengan bentuk sisik ikan (fish scale) (foto 3). Oleh karena itu, pecahan ini juga disebut sebagai shallow scalar (Keeley, 1980: 24) atau

Pecahan ini terbentuk ketika kekuatan tekanan atau pukulan berbelok arah

secara radikal, menyebabkan terbentuknya cekungan besar pada akhir pecahannya (Lawrence, 1979: 117). Dengan demikian, jika dilihat dari tampak irisannya memiliki akhiran berbentuk cekungan terjal. Bentuknya yang melebar dan dalam, menyebabkan pecahan ini juga disebut sebagai deep scalar (Keeley, 1980: 24).

ah ,2 00 8

68

4. 1. 1. 3. Step fracture Pecahan ini terbentuk ketika kekuatan tekanan atau pukulan terhenti sebelum mencapai permukaan, menyebabkan terbentuknya patahan pada akhir pecahannya (Cotterell dan Kamminga, 1979: 106; Lawrence, 1979: 117). Jika dilihat dari tampak irisan, pecahan ini memiliki bentuk akhiran yang menyiku (foto 3).

©I

rd ian sy
4. 1. 1. 4. Bending fracture

Foto 3: Tampilan feather dan step fracture melalui fotomikroskop dengan perbesaran 40X (sumber: Kamminga, 1980: 180).

Pecahan ini terbentuk oleh tekanan melintang (transverse) yang menyebabkan

patahan pada tepian tajaman, khususnya pada tajaman bersudut landai (acute edge angles) yang cukup rentan untuk pecah (Kamminga, 1982: 6). Akhiran (termination)

pecahan ini dapat berupa hinge, feather, atau patah. Jika dilihat dari tampak irisan,

pecahan ini tidak memiliki dasar (gbr. 26 dan 27). Jika dilihat dari tampak atas serupa

dengan bentuk bulan sabit, sehingga pecahan ini juga disebut sebagai half moon breakages (Keeley, 1980: 25) atau break (Hayden, 1979: 228).

ah ,2 00 8

69

4. 1. 1. 5. Pecah bukan karena pemakaian Bentuk pecahan tajaman dapat juga disebabkan oleh berbagai hal selain pemakaian (non use-wear). Kamminga (1982: 7-10) menjelaskan beberapa bentuk pecahan tajaman yang tidak berasal dari pemakaian, yaitu:

1. Pecahan halus: terbentuk ketika serpih terlepas dari batu inti dan dilakukan dengan kekuatan atau dengan benda yang keras, salah satunya dapat terjadi melalui teknik bipolar.

2. Retus: merupakan jejak pembuatan alat batu yang bentuk pecahannya sulit untuk dibedakan dengan pecah pakai, karena menghasilkan bentuk

©I

rd ian sy
pecahan retus dengan pecah pakai.

pecahan yang serupa, seperti feather, hinge dan step fracture. Pecah karena peretusan biasanya memiliki jarak, bentuk, dan ukuran yang hampir seragam. Sehingga, pola pecahan dan asosiasi dengan jejak pakai lainnya merupakan hal utama yang perlu diperhatikan dalam membedakan

3. Pecah tidak disengaja: terbentuk ketika alat terjatuh, terinjak, atau terguling dalam aliran air. Contohnya, suku Aborigin yang menggunakan kantong untuk membawa serpihan batu, sehingga dapat menyebabkan benturan satu sama lain. Bentuk pecahan umumnya berupa hinge atau feather fracture. Sementara itu, pada tajaman bersudut landai (acute edge angles) dapat menghasilkan bending fracture. Selain itu, pecah kecelakaan dapat terjadi saat proses atau setelah ekskavasi. Biasanya, pecahannya terlihat lebih segar dari pecahan pakai atau retus.

ah ,2 00 8

70

4. 1. 2. Striasi (striation) Striasi terbentuk oleh unsur penggores (abrasive agent), baik dari partikel debu/pasir di lingkungan ketika alat dipakai atau partikel yang berasal dari alat itu sendiri. Ketika unsur penggores berada di antara alat dan materi pengerjaan yang sedang mengalami gesekan, maka terbentuklah garis-garis yang dapat

memperlihatkan arah tertentu (Kamminga, 1982: 11-13). Dengan demikian, striasi dapat menunjukkan arah pemakaian alat batu secara melintang atau membujur (Grace, 1989). Striasi juga dapat disebabkan berbagai hal selain pemakaian (non usewear), seperti goresan tidak beraturan yang terbentuk saat penyerpihan, saat aliran air

©I

rd ian sy
4. 1. 2. 1. Sleek striation sleek striation (foto 4).

membawa partikel tanah/pasir, atau pergeseran tanah (Keeley, 1980: 25-30). Pada penelitian ini jejak pakai striasi didefinisikan sebagai garis-garis beraturan yang menunjukan arah tertentu dan memiliki asosiasi dengan jejak pakai lainnya. Kamminga (1982) secara umum membagi striasi dalam bentuk sleek dan furrow.

Air yang berada pada permukaan batu saat pemakaian, dapat bereaksi secara

kimia (hydrolised)27 hingga membentuk lapisan silika/kilap pada permukaan batu (Kamminga, 1982: 12). Jika lapisan silika/kilap tersebut tergores oleh partikel debu/pasir, maka akan muncul garis dengan tepian halus yang dapat disebut sebagai

ah ,2 00 8

71

Foto 4: Sleek striation (perbesaran 200X) karena a) menyerut kayu dan b) memotong tulang (sumber: Estévez dan Urquijo, 1996: 122-123).

4. 1. 2. 2. Furrow striation

©I

rd ian sy
(foto 5).

Jenis striasi ini terbentuk ketika permukaan batuan secara langsung

bergesekan dengan partikel debu/pasir yang berasal dari lingkungan ketika alat dipakai atau berasal dari alat itu sendiri, sehingga muncul garis yang merusak permukaan batuan dengan tepian yang tidak teratur dan kasar (Kamminga, 1982: 12)

Foto 5: Furrow striation dengan tepian tidak teratur dan kasar karena a) pemakaian tangkai dan b) penjagalan (sumber: Hardy et al., 2001: 3).

ah ,2 00 8

72

4. 1. 3. Kilap (polish) Gesekan antara tajaman alat batu dengan materi yang dikerjakan menyebabkan perubahan permukaan tajaman, sehingga meningkatkan pemantulan (reflectivity) cahaya yang disebut kilap (Estévez dan Urquijo, 1996: 11). Berdasarkan teori pembentukan kilap pada kaca (optical polishing), Kamminga (1979: 147-151) menjelaskan bahwa kilap terbentuk ketika batuan silika, penyebab kilap (polishing agent), dan molekul air bereaksi secara kimia hingga membentuk lapisan permukaan (hydrolysis surface) yang memantulkan cahaya, berikut faktor pembentuknya:

1. Silika opal (SiO2n.H2O): merupakan penyebab kilap (polishing agent)

©I

rd ian sy
batuan seperti kuarsa (quartz).

yang terkandung dalam materi yang dikerjakan, seperti tumbuhan (bambu, rumput-rumputan, gandum, palem, rotan, jagung, dan lain-lain) atau struktur kimia lain yang mengandung oksigen (oxides).

2. Air: merupakan komponen utama yang terkandung di dalam tumbuhan, seperti gandum yang memiliki kandungan air 50-60%.

3. Silika yang terkandung pada batu: seperti kaca, batu memiliki struktur silika sebagai pembentuk. Dengan demikian, kilap mudah terbentuk pada

Selain itu, berbagai peneliti membagi mekanisme pembentukan kilap dalam

dua bentuk, yaitu penambahan materi pada permukaan batuan melalui pelapisan mikro dari larutan silika (Bene, 1979; Kay, 1996: 316; Banks, 2004: 50) atau pengurangan materi pada permukaan batuan melalui proses abrasi (Bene, 1979,

ah ,2 00 8

73

Diamond, 1979: 165; Kamminga, 1979: 151), sehingga dikenal dengan istilah abrasive polish dan additive polish.

Additive polish terbentuk ketika terjadi gesekan (friction) antara alat dengan materi yang mengandung silika melalui pelapisan mikro (microplating) dari silika yang meleleh (melting), mengeras (hardens), dan terikat (bonded) pada permukaan (Bene, 1979: 173-174; Banks, 2004: 50). Oleh karena itu, jika dilihat pada perbesaran 200X kilap ini tampak seperti melapisi permukaan (Foto 6). Salah satu bentuk kilap yang terbentuk melalui mekanisme additive adalah kilap phytolith28, yaitu lelehan (melting) silika opal dari dinding sel (opal phytolith) tumbuhan tertentu yang

©I

rd ian sy
tajaman.

membeku dan melapisi permukaan batuan (Kamminga, 1979: 144-145). Kilap ini juga tak lepas dari mekanika abrasi yang kadang-kadang meninggalkan sleek striation

ataupun furrow striation dan menyebabkan penumpulan (rounding) pada ujung

Foto 6: Additive polish hasil menyerut kayu (sumber: Grace, 1989).

ah ,2 00 8

74

Abrasive polish terbentuk karena gesekan (friction) saat pemakaian yang dialami permukaan batu, sehingga menyebabkan striasi yang mengurangi permukaan batu dan menyebabkan terjadinya pelicinan (smoothing) hingga meningkatkan pemantulan (reflectivity) cahaya (Bene, 1979: 172-173). Kamminga (1979: 151-152) menyebut mekanisme kilap ini sebagai abrasive smoothing yang unsur penggoresnya (abrasive agent) sama dengan pembentuk striasi, sehingga kilap ini sering muncul bersama dengan striasi (foto 4b) dan kadang-kadang menyebabkan penumpulan (rounding) pada permukaan batu. Jika dilihat dari perbesaran rendah (57X), kilap ini dapat memiliki tampilan permukaan seperti membeku (frosted) (foto 7a) atau

©I

rd ian sy
polish (Foto 6 dan 7a).

memiliki topografi datar pada perbesaran 200X (foto 7b).

Foto 7: Tampilan abrasive polish pada ekperimen a) menyerut kayu (Kamminga, 1982: 207) dan b) menggosok batugamping (Estévez dan Urquijo, 1996: 119).

Pembagian kilap diatas hanya dapat menjelaskan mekanisme pembentukan

suatu kilap. Tetapi, tidak dapat membedakan materi yang dikerjakan, karena materi tertentu seperti kayu dapat menghasilkan tampilan abrasive polish atau additive

ah ,2 00 8

75

Menurut Keeley (1980: 22-23) setiap materi yang dikerjakan menentukan bentuk kilap yang ada pada tajaman alat batu, sehingga kilap dapat diklasifikasikan sebagai kilap kayu, tulang, daging, dan sebagainya. Tetapi, Grace (1989) menduga bahwa bentuk kilap tergantung pada lamanya waktu pemakaian alat batu, sehingga materi yang berbeda dapat menghasilkan bentuk kilap yang sama. Berdasarkan eksperimen, hal tersebut dibantah oleh Estévez dan Urquijo (1996: 13) yang membuktikan bahwa bentuk kilap hasil pengerjaan kayu selama 14 menit tetap dapat dibedakan dengan bentuk kilap hasil pengerjaan kulit selama 27 menit. Oleh karena itu, pengamatan kilap pada penelitian ini pun mengacu pada model yang ditawarkan

©I

rd ian sy
dan Urquijo, 1996: 13; Banks, 2004: 28).

Keeley (1980), Estévez, dan Urquijo (1996).

Keeley (1980: 35, 43, 53, 56, dan 60) mendeskripsikan tampilan kilap tertentu

dengan berbagai istilah seperti berbentuk kubah (domed-shaped), banyak lubang kecil (innumerable tiny pit), berkilap lemak (greasy luster), lelehan salju (melted snow), dan lubang-lubang berbentuk komet (comet-shaped pits). Berbagai istilah tersebut mungkin dapat digunakan, tetapi perlu diimbangi dengan atribut yang lebih rinci seperti tingkat pemantulan cahaya (terang atau pudar), topografi (datar, bergelombang, atau tidak beraturan), dan pola penyebaran (berjarak, berdekatan, atau padat) (Keeley, 1980: 22; Estévez dan Urquijo,1996: 13). Dengan demikian, kaitan antara atribut-atribut tersebut juga dapat menunjukan kemungkinan alat dipakai untuk berbagai fungsi (multifunctional tool). Pada akhirnya, jenis materi yang dikerjakan

dapat diketahui melalui asosiasi antara kilap dengan bentuk jejak lainnya (Estévez

ah ,2 00 8

76

4. 1. 4. Penumpulan (rounding) Pada awalnya sebuah alat yang baru dibuat dan belum dipakai akan memiliki tajaman yang bersudut, tetapi jika dipakai terus menerus tajamannya akan mengalami abrasi dan menjadi tumpul (foto 8) (Kamminga, 1982: 17). Penumpulan merupakan suatu bentuk yang dapat diakibatkan oleh akumulasi mekanisme pembentukan jejak pecahan tajaman, striasi, atau kilap. Penumpulan dapat memiliki tampak sedikit membulat (light rounding) atau sangat membulat (heavy rounding) (Grace, 1989).

©I

rd ian sy
4. 2. Pemilahan Alat Pakai

Foto 8: Tampilan sedikit membulat (light rounding) akibat pemotongan daging pada ujung tajaman (lebar skala sama dengan 100µm) (sumber: Lemorini et al., 2005).

Setelah memahami berbagai bentuk jejak pakai, selanjutnya dilakukan

pemilahan untuk memisahkan alat yang dipakai (utilised tool) dengan alat yang tidak dipakai (non utilised tool). Dengan demikian, pada tahap selanjutnya alat pakai dapat diamati jejaknya secara rinci melalui pendekatan stereomikroskop dan mikroskop optik. Pemilahan dilakukan dengan menentukan ada atau tidaknya bentuk jejak

ah ,2 00 8

77

seperti pecahan tajaman, striasi, kilap, dan penumpulan baik pada tajaman atau bagian alat batu lainnya. Kaca pembesar dan mikroskop (dengan perbesaran 4X sampai 10X) dijadikan sebagai alat bantu pada tahap ini.
Tipe I1 I2 I3 II1 II3 Total pakai n 5 7 3 0 2 17 nonpakai

Tabel 17: Frekuensi alat pakai dan non pakai pada tipe alat.

Melalui pemilahan dapat diketahui bahwa tipe I1 memiliki 5 alat pakai, tipe I2

©I

rd ian sy
4. 3. Pembersihan

memiliki 7 alat pakai, tipe I3 memiliki 3 alat pakai, dan tipe II3 memiliki 2 alat pakai. Secara keseluruhan, terdapat 17 alat pakai di situs Gua Pandan. Bentuk dan keletakan jejak secara rinci akan dijelaskan pada tahap berikutnya.

Pembersihan pada alat batu dilakukan untuk membersihkan tanah yang

mengeras atau jejak lain yang tidak bekaitan dengan pemakaian, sehingga keberadaan jejak pakai dapat lebih mudah diamati dan terhindar dari kesalahan interpretasi. Berbagai peneliti (Keeley; 1980: 10-11; Grace, 1989; Banks, 2004: 33) telah menawarkan prosedur pembersihan dalam penelitian jejak pakai. Hal yang selalu menjadi perdebatan dalam prosedur pembersihan adalah penggunaan bahan kimia keras (caustic chemical), karena beberapa peneliti khawatir akan hilangnya jejak

ah ,2 00 8
Total % n % n % 3,42 48 32,88 53 36,30 4,79 2,05 0 1,37 32 45 2 2 21,92 30,82 1,37 1,37 39 48 2 4 26,71 32,88 1,37 100 2,74 11,64 129 88,36 146

78

pakai yang menjadi objek utama penelitian. Melalui beberapa penelitian (Grace, 1989; Hayden, 1979: 191) dapat diketahui bahwa pembersihan dengan bahan kimia keras hanya akan menyebabkan hilangnya residu seperti bubuk sisa pengerjaan tulang atau serat-serat sisa pengerjaan kayu yang menutupi jejak pakai, sedangkan jejakjejak yang ada dibalik residu tetap dapat diamati dengan jelas. Karena penelitian ini difokuskan pada jejak pakai, maka pembersihan dilakukan baik dengan atau tanpa bahan kimia keras, selama jejak pakai yang ada di permukaan alat batu dapat lebih jelas diamati. Tetapi, prosedur pembersihan tetap dilakukan dengan tahapan yang tepat guna, sehingga terhindar dari kesalahan interpretasi.

©I
selama 5 menit.

rd ian sy

Tahap awal pembersihan seluruh alat batu Gua Pandan dilakukan melalui

gosokan halus (gentle rubbing) jari tangan dengan air sabun (detergent) pada seluruh permukaan alat batu dan dibilas dengan air bersih. Jika perlu, alat batu direndam

terlebih dahulu dengan air bersih selama beberapa menit. Selanjutnya, pada saat pembersihan alat pakai dilakukan dengan wadah yang bergetar secara ultrasonic berupa ultrasonic tank (foto 9), sehingga partikel-partikel yang masih menempel pada alat batu dapat terangkat. Penggunaan ultrasonic tank merupakan cara yang tepat jika dibandingkan dengan pembersihan dengan cotton bud yang kadang menghasilkan striasi berupa garis-garis lurus atau garis putar yang hanya menyebabkan kesalahan

interpretasi (Grace, 1989). Pembersihan ini dilakukan dengan merendam alat batu di dalam ultrasonic tank dengan cairan tepol (sejenis detergent) dan alkohol 70%

ah ,2 00 8

79

Selain itu, pembersihan jejak minyak dari lilin (plasticine) sebagai dudukan (mounting) alat batu ketika diamati melalui mikroskop (baik saat pemilahan alat pakai atau saat pengamatan stereomikroskop dan mikrosokop optik) dilakukan dengan metode yang berbeda. Setelah pengamatan mikroskop, alat batu dimasukkan ke dalam kantong plastik berisi acetone yang kemudian diguncang sedemikian rupa selama 1-2 menit. Dengan demikian, jejak striasi dari penggunaan cotton bud dapat dihindari.

©I

rd ian sy
4. 4. Mikroskop dan Fotomikrografi

Foto 9: Ultrasonic tank (foto: Irdiansyah, 2007).

Terdapat dua kategori penggunaan mikroskop pada penelitian jejak pakai,

yaitu perbesaran tingkat rendah (low magnifications) dan perbesaran tingkat tinggi (high magnifications), yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tertentu. Perbesaran tingkat rendah (low magnifications) biasa dilakukan dengan stereomikroskop dengan cahaya lampu yang berasal dari luar mikroskop (foto 10a).

ah ,2 00 8

80

Mikroskop ini memiliki tampilan tiga dimensi dengan ketajaman gambar yang cukup baik, sehingga topografi permukaan batuan dapat lebih jelas diamati. Oleh karena itu, mikroskop ini biasa digunakan untuk mengamati pecahan tajaman. Tetapi, mikroskop ini tidak dapat menampilkan rincian bentuk striasi, kilap, dan penumpulan. Hal tersebut hanya dapat diamati melalui perbesaran tingkat tinggi (high magnifications), melalui mikroskop optik dengan cahaya lampu yang berasal dari dalam (foto 10b). Tetapi, mikroskop ini tidak dapat menampilkan gambar setajam stereomikroskop, karena hanya memiliki tampilan dua dimensi (Banks, 2004: 23-27).

Mikroskop yang digunakan pada penelitian ini berupa stereomikroskop Wild

©I

rd ian sy
FT-UI.

M400 (6,3X sampai 32X) dengan pencahayaan lampu yang berasal dari luar lensa (external light) dan mikroskop optik Olympus BHM (50X sampai 1000X) dengan

pencahayaan lampu dari dalam lensa (incident light) (foto 10). Keduanya merupakan

mikroskop metalurgi inventaris Laboratorium Departemen Metalurgi dan Material,

Pengambilan fotomikro dibantu oleh Bapak Zaenal selaku teknisi mikroskop

Laboratorium Departemen Metalurgi dan Material melalui kamera SLR dengan automatic exposure yang terhubung pada stereomikroskop dan mikroskop optik (foto 10). Film dengan ASA 100 digunakan sebagai negatif yang kemudian discan ke dalam komputer agar mudah diakses dan lebih terjaga. Pengambilan foto dilakukan dengan tingkat perbesaran tertentu yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan mikroskop. Perbesaran yang digunakan pada foto stereomikroskop, yaitu 7X, 8X, 10X, dan 12,5X. Perbesaran yang digunakan pada foto mikroskop optik,

ah ,2 00 8

81

yaitu 50X, 100X, dan 200X. Hasil foto mikroskop optik memperlihatkan bahwa tidak seluruh permukaaan memiliki ketajaman/fokus yang baik, karena permukaan batu yang tidak datar. Selain itu, ada beberapa kerusakan kecil pada film negatif. Dengan demikian, dilakukan sedikit perbaikan untuk memperjelas foto dan menghindari kesalahan interpretasi.

©I

rd ian sy
Foto 10: a. Wild M400 dan b. Olympus BHM inventaris Laboratorium Departemen Metalurgi dan Material, FT-UI (foto: Irdiansyah, 2007). 82

ah ,2 00 8

4. 5. Deskripsi Alat dan Jejak Pakai Setiap alat pakai yang dideskripsikan, dikelompokkan berdasarkan tipe. Sehingga, dapat diketahui keterkaitan antara bentuk tajaman dan jejak-jejaknya. Keletakan jejak yang diamati pada tahap ini akan disebut sebagai area A, B C, dan seterusnya. Pada penelitian ini, tidak semua jejak difoto secara mikroskopis. Tetapi, setiap jejak yang tidak difoto tetap dideskripsikan. Oleh karena itu, setiap area akan diberikan warna tersendiri. Warna merah menunjukkan area yang diamati dan difoto secara mikroskopis, sedangkan warna biru menunjukkan area yang diamati tanpa difoto.

©I

rd ian sy
4. 5. 1. Tipe I1 4. 5. 1. 1. Tipe I1 (PND/E4/04/10-20/01)

Tipe ini merupakan alat dengan tajaman unifasial dan memiliki sudut landai

(20<×≤45˚). Pada tipe ini hanya dua sub tipe yang memiliki jejak pakai, yaitu sub tipe dengan bentuk tajaman lurus (2 alat) dan cekung (3 alat).

Alat ini memiliki bentuk tajaman lurus dengan ukuran besar, berat sedang,

pemangkasan cukup intensif, dan berbahan baku metagamping. Pada area A (foto 11) terdapat kilap terang (bright polish) seperti lapisan tipis (mungkin additive polish) dengan penumpulan sedikit membulat (light rounding) pada tepiannya. Pada area ini tidak ditemukan adanya jejak striasi. Tetapi, tampak alur-alur melintang dari topografi batuan dan garis berwarna kehitaman yang tidak teridentifikasi. Garis-garis

ah ,2 00 8

83

tersebut bukanlah striasi, walaupun sekilas tampak seperti striasi. Sepanjang area ini juga tidak ditemukan adanya pecahan tajaman. Tetapi, pada area F (foto 11) terdapat pecahan intensif yang tidak berasosiasi dengan jejak lain, sehingga dapat diduga sebagai retus.

©I
ikatan.

rd ian sy

Foto 11: Keletakan area pada tipe I1 (PND/E4/04/10-20/01) dan area A pada perbesaran 10X (foto alat: Irdiansyah, 2007; fotomikro: Zaenal, 2007).

Pada area B (foto 12) terdapat kilap relatif terang (relative bright polish) dan

penumpulan sedikit membulat (light rounding) yang serupa dengan area A. Terdapat feather dan bending fracture yang diduga sebagai pecahan pakai. Pada area ini juga tidak ditemukan adanya striasi. Tetapi, terdapat garis halus (lihat tanda panah)

memanjang dari tepian hingga ke permukaan batuan yang tampak seperti bekas

ah ,2 00 8

84

Foto 12: Area B (10X) pada tipe I1 (PND/E4/04/10-20/01) (fotomikro: Zaenal, 2007).

Area C (foto 13) yang merupakan perbesaran 200X dari area B, memiliki

©I
Foto 13: Area C (200X) pada tipe I1 (PND/E4/04/10-20/01) (fotomikro: Zaenal, 2007).

rd ian sy

kilap terang dengan tampilan seperti berlemak (greasy). Kilap ini seperti lapisan tipis (additive) yang padat menutupi permukaan dengan topografi yang relatif datar. Pada perbesaran yang sama (200X), kilap ini juga tampak pada area A29.

ah ,2 00 8

85

Area D (foto 14) yang terdapat pada sisi alat, memiliki jejak kilap terang seperti lapisan tebal (additive polish) dengan pola persebaran yang berdekatan dan topografi yang relatif datar. Area E yang terdapat pada permukaan alat, juga memiliki tampilan yang serupa dengan area D.

©I

rd ian sy
4. 5. 1. 2. Tipe I1 (PND/E4/04/20-30/02)

Foto 14. Area D (200X) dan area E (100X) pada tipe I1 (PND/E4/04/10-20/01) (fotomikro: Zaenal, 2007).

Alat ini memiliki bentuk tajaman cekung dengan ukuran kecil, ringan,

pemangkasan sangat intensif, dan berbahan baku fosil kayu. Pada area A (foto 15) terdapat kilap terang (bright polish) yang melapisi (additive polish) permukaan dan penumpulan sedikit membulat (light rounding) pada tepiannya. Secara makroskopis kilap tampak berorientasi melintang (transversal) terhadap tajaman. Selain itu, tidak ditemukan adanya pecahan tajaman pada sepanjang area ini.

ah ,2 00 8

86

Foto 15: Keletakan area pada tipe I1 (PND/E4/04/20-30/02) dan area A pada perbesaran 7X (foto alat: Irdiansyah, 2007; fotomikro: Zaenal, 2007).

Area B (foto 16) yang merupakan perbesaran 50X dari area A, memiliki kilap

©I

rd ian sy

relatif terang (relative bright polish) dengan tampilan seperti lapisan meleleh (additive polish) berbentuk kubah (domed-shaped). Pada tepian tajaman, kilap terlihat padat menutupi permukaan dengan topografi yang datar. Pada permukaan tajaman, kilap tampak berdekatan dengan topografi bergelombang. Sekilas, tampak sleek striation yang berorientasi melintang (transversal). Pada Area C (foto 16) yang merupakan perbesaran 200X dari tepian area B,

sleek striation tampak jelas terlihat dengan orientasi melintang (transversal). Pada

area ini juga terlihat perbedaan antara permukaan batuan dengan permukaan kilap yang melapisi. Tampak beberapa lubang kecil pada permukaan kilap.

ah ,2 00 8

87

©I

rd ian sy
4. 5. 1. 3. Tipe I1 (PND/H7/04/20-30/93)

Foto 16: Area B (50X) dan C (200X) pada tipe I1 (PND/E4/04/20-30/02) (fotomikro: Zaenal, 2007).

Alat ini memiliki bentuk tajaman lurus dengan ukuran kecil, ringan,

pemangkasan sangat intensif, dan berbahan baku rijang. Pada area A (foto 17) terdapat kilap relatif terang (relative bright polish) yang melapisi (additive polish)

permukaan dan penumpulan sedikit membulat (light rounding) pada tepiannya. Selain

ah ,2 00 8
88

itu, tampak beberapa step fracture dangkal (lihat panah putih) yang juga memperlihatkan orientasi melintang.

Area B (foto 17) yang merupakan sisi berlawanan dari area A, memiliki kilap terang berlemak (greasy) yang didalamnya terdapat furrow striation dengan orientasi melintang. Tampilan kilap seperti lapisan minyak (lubricant) tipis yang padat menutupi permukaan dengan topografi datar.

©I

rd ian sy
Foto 17: Keletakan area A (12,5X) dan B (200X) pada tipe I1 (PND/H7/04/20-30/93) (foto alat: Irdiansyah, 2007; fotomikro: Zaenal, 2007). 89

ah ,2 00 8

4. 5. 1. 4. Tipe I1 PND/H10/04/30-40/94 Alat ini memiliki bentuk tajaman cekung dengan ukuran kecil, ringan, pemangkasan sangat intensif, dan berbahan baku rijang. Pada area A (foto 18) hanya tampak pecahan intensif retus yang dilapisi kilap terang (bright polish). Pada area ini tidak tampak jejak pecahan tajaman, striasi ataupun penumpulan.

rd ian sy ©I
(longitudinal) (transversal). tampak bersilangan dengan

Foto 18: Keletakan area pada tipe I1 (PND/H10/04/30-40/94) dan area A pada perbesaran 12,5X (foto alat: Irdiansyah, 2007; fotomikro: Zaenal, 2007).

Area B (foto 19) yang merupakan sisi berlawanan dari area A, memiliki

bending fracture dan kilap relatif terang (relative bright polish) dengan tampilan

seperti lapisan yang meleleh (additive polish) berbentuk kubah (domed-shaped). Secara keseluruhan, kilap terlihat padat menutupi permukaan dengan topografi yang relatif datar. Selain itu, sleek dan furrow striation dengan orientasi membujur orientasi kilap yang melintang

ah ,2 00 8

90

©I

rd ian sy
4. 5. 1. 5. Tipe I1 (PND/I4/04/20-30/139) topografi yang relatif datar (foto 20).

Foto 19: Area B (100X) pada tipe I1 (PND/H10/04/30-40/94) (fotomikro: Zaenal, 2007).

Alat ini memiliki bentuk tajaman cekung dengan ukuran kecil, ringan,

pemangkasan tidak intensif, dan berbahan baku rijang. Area A hanya memiliki penumpulan sedikit membulat (light rounding) pada tepian hinge fracture yang diduga retus. Pada area B terdapat pecahan tajaman berupa step fracture yang didalamnya terdapat hinge fracture dan kilap yang sangat terang (bright polish)

dengan tampilan permukaan yang kasar/berbutir (grainy appearance). Kilap tampak terkonsentrasi dengan orientasi melintang (transversal) yang dikelilingi butir-butir

kilap di sekitarnya. Secara keseluruhan, kilap tersebut terlihat berdekatan dengan

ah ,2 00 8
91

©I

rd ian sy
4. 5. 2. Tipe I2 (2 alat), dan meruncing (1 alat).

Foto 20: Keletakan area A (12,5X) dan B (50X) pada tipe I1 (PND/H10/04/2030/139) (foto alat: Irdiansyah, 2007; fotomikro: Zaenal, 2007).

Tipe ini merupakan alat dengan tajaman unifasial dan memiliki sudut terjal

(45<×≤60˚). Pada tipe ini terdapat lima sub tipe yang memiliki jejak pakai, yaitu sub tipe dengan bentuk tajaman lurus (2 alat), cekung (1 alat), cembung (1 alat), bergerigi

ah ,2 00 8
92

4. 5. 2. 1. Tipe I2 (PND/E4/04/20-30/03) Alat ini memiliki bentuk tajaman lurus dengan ukuran sedang, berat sedang, pemangkasan tidak intensif, dan berbahan fosil kayu. Pada Area A (foto 21) hanya tampak kilap relatif terang (relative bright polish) seperti lapisan tipis (mungkin additive polish) dengan penumpulan sedikit membulat pada tepiannya. Selain itu, pada area B tampak adanya pelicinan (abrasive smoothing) pada permukaan alat batu. Alat ini tidak dapat diamati lebih lanjut melalui mikroskop optik, karena ketebalan batuan yang sulit mendapatkan ruang.

©I

rd ian sy
4. 5. 2. 2. Tipe I2 (PND/G4/04/20-30/23)

Foto 21. Keletakan area A (8X) dan B pada tipe I2 (PND/E4/04/20-30/03) (foto alat: Irdiansyah, 2007; fotomikro: Zaenal, 2007).

Alat ini memiliki bentuk tajaman bergerigi dengan ukuran besar, berat sedang,

pemangkasan tidak intensif, dan berbahan baku fosil kayu. Pada area A (foto 22)

hanya tampak pecahan retus bergerigi. Secara makroskopis tampak kilap terang

ah ,2 00 8

93

(bright polish) yang berorientasi membujur (longitudinal), tetapi kilap tersebut hanya tampak berwarna hitam (lihat panah).

©I

rd ian sy

Foto 22: Keletakan area pada tipe I2 (PND/G4/04/20-30/23) dan area A (8X) (foto alat: Irdiansyah, 2007; fotomikro: Zaenal, 2007).

Area B (foto 23), memiliki hinge fracture dan kilap sangat terang (bright

polish) yang di dalamnya banyak furrow striation dengan orientasi membujur (longitudinal). Dengan demikian, permukaan tampak terkikis dan memantulkan cahaya (abrasive polish). Pada permukaan kilap tampak beberapa lubang besar yang dikelilingi lubang-lubang kecil (innumerable tiny pit). Secara keseluruhan tampilan kilap sangat halus dengan topografi datar. Pada area C tampak adanya pelicinan (abrasive smoothing) dengan kilap redup (dull polish).

ah ,2 00 8

94

©I
terlihat.

rd ian sy
4. 5. 2. 3. Tipe I2 (PND/H7/04/20-30/62)

Foto 23: Area B (100X) pada tipe I2 (PND/G4/04/20-30/23) (fotomikro: Zaenal, 2007).

Alat ini memiliki bentuk tajaman meruncing dengan ukuran kecil, ringan,

pemangkasan sangat instensif, dan berbahan baku kalsedon. Pada area A (foto 24) terdapat kilap terang (relative bright polish) yang melapisi (additive polish) ujung tajaman dan sisi kiri, seperti lapisan lelehan lemak (greasy) berorientasi melintang (transversal). Selain itu, tampak penumpulan sedikit membulat (light rounding) pada

ujung tajaman. Pada area B, kilap terang berlemak (greasy) tampak lebih jelas

ah ,2 00 8
95

©I

rd ian sy
4. 5. 2. 4. Tipe I2 (PND/H7/04/20-30/65)

Foto 24: Keletakan area A (8X) dan B (200X) pada tipe I2 (PND/H7/04/20-30/62) (foto alat: Irdiansyah, 2007; fotomikro: Zaenal, 2007).

Alat ini memiliki bentuk tajaman bergerigi dengan ukuran kecil, ringan,

pemangkasan sangat instensif, dan berbahan baku rijang. Pada area A (foto 25) hanya tampak hinge fracture (lihat panah) berupa retus dengan sedikit kilap terang (bright

polish) pada tepian tajaman. Selain itu, tidak ada jejak lain yang jelas terlihat.

ah ,2 00 8
96

Foto 25: Keletakan area pada tipe I2 (PND/H7/04/20-30/65) dan area A (12,5X) (foto alat: Irdiansyah, 2007; fotomikro: Zaenal, 2007).

Pada area B, terdapat kilap relatif terang (relative bright polish) yang padat

©I

rd ian sy
shaped pits) (foto 26).

menutupi permukaan dengan topografi yang relatif datar dan halus. Sekilas, pada permukaan kilap tampak lubang-lubang kecil berekor seperti bentuk komet (comet-

Foto 26: Area B (50X) pada tipe I2 (PND/H7/04/20-30/65) (fotomikro: Zaenal, 2007).

ah ,2 00 8

97

4. 5. 2. 5. Tipe I2 (PND/H10/04/70-80/95) Alat ini memiliki bentuk tajaman cekung dengan ukuran kecil, ringan, pemangkasan sangat instensif, dan berbahan baku rijang. Pada area A hanya tampak lapisan tipis dari kilap terang (bright polish). Pada area B yang merupakan sisi berlawanan dari area A, terdapat step fracture dan kilap terang (bright polish) dengan tampilan seperti lapisan meleleh (additive polish) berbentuk kubah (domed-shaped). Secara keseluruhan, kilap terlihat padat menutupi permukaan dengan beberapa topografi yang bergelombang. Selain itu, tampak sleek striation dengan percampuran orientasi membujur (longitudinal) dan setengah melingkar (rotative) (foto 27).

©I

rd ian sy
Foto 27: Keletakan area A (10X) dan B (200X) pada tipe I2 (PND/H10/04/70-80/95) (foto alat: Irdiansyah, 2007; fotomikro: Zaenal, 2007). 98

ah ,2 00 8

4. 5. 2. 6. Tipe I2 (PND/H10/04/110-120/96) Alat ini memiliki bentuk tajaman cembung dengan ukuran sedang, berat sedang, pemangkasan sangat instensif, dan berbahan baku jasper hitam (foto 28). Pada area A tampak adanya pelicinan (abrasive smoothing) pada tepian tajaman dengan banyak sleek striation yang melintang (transversal). Hal tersebut mungkin yang mengakibatkan tampilan permukaan seperti membeku (frosted) dengan penumpulan sangat membulat. Alat ini tidak dapat diamati lebih lanjut melalui mikroskop optik, karena ketebalan batuan yang sulit mendapatkan ruang.

©I

rd ian sy
4. 5. 2. 7. Tipe I2 (PND/H7/04/20-30/68)

Foto 28: Keletakan area A (8X) pada tipe I2 (PND/H10/04/110-120/96) (foto alat: Irdiansyah, 2007; fotomikro: Zaenal, 2007).

Alat ini memiliki bentuk tajaman lurus dengan ukuran kecil, ringan,

pemangkasan sangat instensif, dan berbahan baku rijang. Pada area A (foto 29) hanya

tampak kilap terang seperti minyak (lubricant) yang melapisi (mungkin additive

ah ,2 00 8

99

polish). Pada area B (foto 29) yang merupakan perbesaran 200X dari area A, terdapat kilap lemak (greasy) seperti lapisan minyak (lubricant) tipis yang padat menutupi permukaan dengan topografi tidak beraturan.

©I

rd ian sy
4. 5. 3. Tipe I3

Foto 29: Keletakan area A (12,5X) dan B (200X) pada tipe I2 (PND/H7/04/20-30/68) (foto alat: Irdiansyah, 2007; fotomikro: Zaenal, 2007).

Tipe ini merupakan alat dengan tajaman unifasial dan memiliki sudut sangat

terjal (60<×≤95˚). Pada tipe ini hanya dua sub tipe yang memiliki jejak pakai, yaitu

sub tipe dengan bentuk tajaman cembung (2 alat) dan cekung (1 alat).

ah ,2 00 8

100

4. 5. 3. 1. Tipe I3 (PND/H4/04/30-40/38) Alat ini memiliki bentuk tajaman cembung yang masuk ke dalam kelas ukuran sedang, berat sedang, pemangkasan cukup intensif, dan berbahan baku rijang. Pada area A (foto 30) tampak penumpulan sangat membulat (heavy rounding) dengan kilap redup (dull polish) pada bagian retus. Lapisan kilap tipis (mungkin additive polish) menyebabkan perbedaan warna antara tepian dengan permukaan tajaman. pada area ini tidak tampak jejak seperti striasi dan pecahan tajaman.

©I

rd ian sy

Foto 30: Area A (10X) tipe I3 (PND/H4/04/30-40/38) (fotomikro: Zaenal, 2007).

Secara makroskopis, pada area B (foto. 31) tampak kilap redup (dull polish)

dengan sleek striation yang melintang (transversal) (lihat panah). Kilap tampak melapisi (mungkin additive polish) permukaan batuan. Alat ini tidak dapat diamati lebih lanjut, karena ketebalan batuan yang sulit mendapatkan ruang.

ah ,2 00 8

101

Foto 31: Keletakan area tipe I3 (PND/H4/04/30-40/38) (foto alat: Irdiansyah, 2007).

4. 5. 3. 2. Tipe I3 (PND/H10/04/40-50/100)

Alat ini memiliki bentuk tajaman cekung dengan ukuran sedang, berat sedang,

©I
Foto 32: Keletakan area A pada tipe I3 (PND/H10/04/40-50/100) (foto alat: Irdiansyah, 2007; fotomikro: Zaenal, 2007).

rd ian sy
lebih lanjut melalui mikroskop optik.

pemangkasan tidak intensif, dan berbahan baku fosil kayu. Pada area A (foto 32)

hanya tampak kilap relatif terang (relative bright polish) yang melapisi (mungkin additive polish) permukaan retus. Pada area ini tidak tampak jejak pecahan tajaman, striasi, ataupun penumpulan. Karena ketebalan batuan, alat ini tidak dapat diamati

ah ,2 00 8

102

4. 5. 3. 3. Tipe I3 (PND/H4/04/20-30/43) Alat ini memiliki bentuk tajaman cembung dengan ukuran sedang, berat sedang, pemangkasan sangat intensif, dan berbahan baku batugamping. Pada area A (foto 33) tampak adanya pelicinan (abrasive smoothing) dan kilap redup (dull polish) dengan penumpulan sangat membulat (heavy rounding) yang mengakibatkan tampilan permukaan seperti membeku (frosted). Pada permukaan tajaman terdapat banyak sleek striation yang berorientasi melintang (transversal). Pada area B (foto 33) yang merupakan perbesaran 50X area A, tampak sedikit kilap lemak (greasy luster) yang tersebar pada permukaan batuan yang kasar. Permukaan batuan yang

©I
Foto 33: Area A (8X) dan B (50X) pada tipe I3 (PND/H4/04/20-30/43) (foto alat: Irdiansyah, 2007; fotomikro: Zaenal, 2007).

rd ian sy

tidak datar menyebabkan sulitnya mendapatkan tampilan yang fokus.

ah ,2 00 8

103

4. 5. 4. Tipe II3 Tipe ini merupakan alat dengan tajaman bifasial dan memiliki sudut sangat terjal (60<×≤95˚). Tipe ini hanya memiliki satu sub tipe dengan bentuk tajaman lurus (2 alat).

4. 5. 4. 1. Tipe II3 (PND/G4/04/30-40/21)

Alat ini memiliki bentuk tajaman lurus dengan ukuran sedang, berat sedang, pemangkasan cukup intensif, dan berbahan baku metagamping. Pada area A (foto 34) hanya tampak retus berupa feather, hinge, dan step fracture yang tepiannya telah

©I

rd ian sy
mendapatkan ruang.

mengalami penumpulan sedikit membulat (light rounding). Selanjutnya, pengamatan tidak dapat dilanjutkan dengan mikroskop optik, karena ketebalan batuan yang sulit

Foto 34: Keletakan Area A pada tipe II3 (PND/G4/04/30-40/21) (foto alat: Irdiansyah, 2007; fotomikro: Zaenal, 2007).

ah ,2 00 8

104

4. 5. 4. 2. Tipe II3 (PND/G4/04/30-40/29) Alat ini memiliki bentuk tajaman lurus dengan ukuran sedang, berat, pemangkasan sangat intensif, dan berbahan baku rijang.Pada area A (foto 35) tampak adanya pelicinan (abrasive smoothing) dengan topografi yang datar. Pelicinan tersebut menyebabkan perbedaan warna yang cukup mencolok dengan permukaan batuan. Pelicinan ini juga tampak pada area B. Pada area B juga terdapat pecahan sangat intensif berupa feather dan step fracture seperti bekas tumbukan (battering).

©I

rd ian sy

Foto. 35: Keletakan Area A pada tipe II3 (PND/G4/04/30-40/29) (foto alat: Irdiansyah, 2007; fotomikro: Zaenal, 2007; modifikasi: Irdiansyah).

ah ,2 00 8

105

BAB V TINJAUAN FUNGSI ALAT BATU GUA PANDAN MELALUI ANALOGI ETNOGRAFI DAN EKSPERIMEN PARA AHLI

5. 1. Pengerjaan Kayu (woodworking)

Suku Aborigin di Cundeelee dan Papunya Australia menggunakan alat batu sebagai perkakas dalam proses perolehan, pembentukan, sampai penyelesaian akhir berbagai bentuk artefak kayu. Suku-suku tersebut menggunakan alat batu berupa mata kapak yang diletakan pada celah batang pohon dan dipukul sekuat tenaga dengan kayu atau batu besar, sehingga diperoleh sebuah papan kayu. Selanjutnya,

©I

rd ian sy
lukisan (Kamminga, 1982: 78-79).

papan kayu tersebut dibentuk dan dihaluskan permukaannya melalui proses pembelahan, pengetaman, dan penyerutan yang juga menggunakan alat-alat dari bahan batuan. Sehingga, terbentuklah sebuah pelempar tombak (spearthrower) yang disebut meru (Hayden, 1981: 58-66). Selain itu, suku Aborigin juga menggunakan alat batu dalam memperoleh dan menghaluskan kulit kayu (bark) sebagai bahan baku

pembuatan berbagai artefak seperti pembungkus, kantong/tas, sabuk, dan media

Berbagai pengerjaan kayu tersebut, tentunya meninggalkan jejak-jejak yang

dapat diamati. Melalui eksperimen Keeley (1980: 35-36), pengerjaaan kayu dapat menghasilkan jejak kilap terang (bright polish) dengan permukaan bergelombang halus (gentle undulations) seperti bentuk kubah (domed-shaped) pada tajaman alat batu (foto 36). Permukaan gelombang berbentuk kubah tersebut diyakini Keeley

ah ,2 00 8

106

sebagai penumpukan materi yang semakin bertambah dan menebal seiring lamanya waktu pengerjaan, sehingga disebut additive polish (foto 6). Striasi yang tampak pada eksperimen Keeley dalam pengerjaan kayu biasanya berupa sleek striation yang memiliki orientasi tertentu. Sementara itu, Kamminga (1982: 72) mendapati jejak pelicinan (smoothing) pada tajaman alat batu setelah menyerut kayu yang mengandung butiran pasir. Hal tersebut menyebabkan tampilan seperti membeku dan terkadang menghasilkan furrow striation pada permukaan tajaman.

©I

rd ian sy

Foto 36: Jejak kilap kayu dengan permukaan bergelombang (undulating) berbentuk kubah (domed-shaped) (200X) (sumber: Estévez dan Urquijo, 1996: 117).

Membelah (chopping) merupakan salah satu aktivitas dalam pengerjaan kayu.

Biasanya dilakukan alat yang memiliki tajaman bifasial dengan sudut sangat terjal antara 60˚ sampai 90˚ (Keeley, 1980: 19). Kilap hasil aktivitas ini tidak terlalu tampak mencolok, mungkin karena gesekan (friction) yang tidak terlalu intensif

(Keeley, 1980: 38). Pada eksperimen pembelahan kayu ringan/lunak (light/soft

ah ,2 00 8

107

wood) yang dilakukan Kamminga (1982: 63) tidak ditemukan adanya pecahan tajaman. Sementara itu, pada kayu padat/keras (dense/hard wood) hampir semua pecahan seperti feather, hinge, dan step fracture dapat muncul pada tajaman kecuali bending fracture. Selain itu, pelicinan dan penumpulan sangat cepat terbentuk, khususnya jika terdapat butiran pasir pada kayu. Banyaknya pecahan yang dihasilkan proses perkusi dari kegiatan membelah, akan sangat mungkin menghasilkan tampilan hancur (crush) pada tepian tajaman alat batu (Lawrence, 1979: 117).

Setelah membelah, aktivitas yang selanjutnya dilakukan dalam pengerjaan kayu adalah menyerut (scraping). Biasa dilakukan alat yang memiliki tajaman

©I

rd ian sy

unifasial dengan sudut pengerjaan terjal (high working angle) (Keeley, 1980: 18-19). Menurut Lawrence (1979: 119) pecahan tajaman yang terbentuk pada aktivitas menyerut materi lunak dengan sudut tajaman landai dapat menghasilkan feather fracture, dengan sudut tajaman terjal/sangat terjal tidak menyebabkan pecahan tajaman. Sementara itu, pada aktivitas menyerut materi keras dengan sudut tajaman landai dapat menghasilkan feather, hinge, dan step fracture, dengan sudut terjal/sangat terjal dapat menghasilkan hinge dan step fracture. Kilap pada aktivitas ini biasanya terdapat pada kedua sisi tajaman dengan orisentasi atau striasi melintang (transversal) (Keeley, 1980: 38; Grace, 1989). Penumpulan dapat terjadi ketika partikel debu/pasir ada pada kayu atau pada alat itu sendiri (Kamminga, 1982: 69). Mengetam (planing) merupakan salah satu aktivitas dalam pengerjaan kayu

yang dapat menghasilkan bidang datar melalui alat bertajaman unifasial, sudut tajaman sangat terjal, dan sudut pengerjaan landai (low working angle) (Keeley,

ah ,2 00 8

108

1980: 17). Sudut pengerjaan landai dapat diketahui ketika terdapat jejak kilap dan striasi melintang pada permukaan batu yang kontak langsung dengan kayu (Keeley, 1980: 36). Penumpulan pada tepian tajaman sangat mungkin terjadi, khususnya jika terdapat penyebab keausan (abrasive agent) (Kamminga, 1982: 72). Karena sudut tajaman yang sangat terjal, aktivitas mengetam kayu lunak tidak dapat menyebabkan pecahan pada tajaman. Tetapi, pada kayu keras sangat mungkin menghasilkan hinge dan step fracture (Lawrence, 1979: 119; Keeley, 1980: 36).

Salah satu aktivitas yang dilakukan dalam membentuk dan menghaluskan kayu adalah meraut (whittling). Biasa dilakukan dengan alat yang memiliki tajaman

©I

rd ian sy
36). 5. 2. Pengerjaan Tulang (boneworking)

unifasial dengan sudut tajaman landai dan sudut pengerjaan landai (low working angel) (Keeley, 1980: 17). Pada aktivitas ini, jejak kilap dan striasi melintang tampak lebih menonjolnya pada salah satu permukaan batu (Keeley, 1980: 36). Aktivitas meraut kayu lunak hanya menghasilkan feather fracture, bahkan hampir tidak

menyebabkan pecahan tajaman. Sementara itu, pada pengerjaan kayu keras dapat membentuk hinge, step, dan bending fracture (Lawrence, 1979: 119; Keeley, 1980:

Berdasarkan penelitian etnografi dan arkeologi pada suku Aborigin Australia,

tulang digunakan sebagai alat untuk melubangi/membor (piercing/awlings/boring) dan sebagai ujung tombak (spear barbs). Pengerjaan tulang yang paling mungkin

ah ,2 00 8

109

dilakukan suku Aborigin Australia dengan alat batu adalah membentuk tajaman dan menggergaji (McCarthy, 1976: 86-90; Kamminga, 1982: 47).

Melalui eksperimen pengerjaan tulang, Keeley (1980: 42-43) menemukan adanya kilap sangat terang (bright polish in sharp contrast) dengan lubang-lubang kecil (innumerable tiny pit) pada permukaan (foto 37). Dengan demikian, tampilan permukaannya tampak kasar/berbutir (grainy appearance), mungkin karena serbukserbuk tulang (bone apatite) yang tersebar ketika pergesekan (friction) berlangsung. Hal tersebut kadang-kadang menyebabkan furrow striation, tetapi secara keseluruhan kilap tulang tampak relatif datar (foto 4a).

©I

rd ian sy

Foto 37: Jejak kilap tulang yang sangat terang/memantul dengan lubang-lubang kecil (sumber: Grace, 1989).

Aktivitas meraut (whittling) pada tulang mungkin dapat dimasukkan ke dalam

proses pembentukan tajaman atau penghalusan permukaan. Aktivitas ini biasa

menghasilkan striasi atau orientasi kilap yang melintang (transversal) dan beberapa step fracture pada salah satu sisi tajaman (Keeley, 1980: 44).

ah ,2 00 8

110

Menggergaji tulang (sawing bone) biasanya dilakukan dengan tajaman bergerigi dan menghasilkan kilap pada kedua sisi tajaman dengan striasi yang membujur (longitudinal) (Keeley, 1980: 18, 44). Pada eksperimennya, Kamminga (1982: 48) mendapati bending fracture yang umumnya melebar dan dangkal, khususnya pada alat dengan sudut tajaman landai (25-35˚). Di antara bending fracture yang besar dan lebar terdapat pecahan mikro dengan bentuk feather, hinge, atau step fracture. Pada sudut tajaman terjal (45˚ dan 90˚) kehadiran bending fracture semakin berkurang, karena pada sudut tersebut tajaman lebih kuat dan tidak mudah pecah.

©I

rd ian sy
1982: 37).

5. 3. Pengerjaan Kulit (hideworking)

Suku Aborigin di Australia menggunakan jubah dari kulit binatang

berkantung (marsupial skin cloak) sebelum munculnya mantel yang dibawa oleh para misionaris. Selain jubah, kulit binatang juga digunakan sebagai kantong/tas, ikat kepala, pengait pisau (knive handle), selimut, dan kulit alat pukul (drum) (Kamminga,

Melalui eksperimen, dapat diketahui bahwa pengerjaan kulit dapat

menghasilkan kilap lemak (greasy polish) yang beragam, tergantung pada jenis kulit segar (fresh hide) atau kulit kering (dry hide) (foto 38). Pengerjaan kulit segar menghasilkan kilap relatif terang (relative bright) seperti lapisan minyak (lubricant)

tipis yang padat menutupi permukaan dengan topografi tidak beraturan. Sementara

itu, pengerjaan kulit kering menghasilkan kilap redup (dull polish) dengan sedikit kilap lemak (greasy luster) yang tersebar (Keeley, 1980: 49).

ah ,2 00 8

111

Foto 38: Kilap berlemak (greasy polish) hasil pengerjaan kulit (100X) (sumber: Estévez dan Urquijo, 1996: 174).

©I
1982: 42).

rd ian sy
abrasive (Kamminga, 1982: 41-42).

Pada aktivitas menyerut kulit (scraping hide), biasanya menghasilkan kilap

yang lebih menonjol pada salah satu sisi tajaman dengan orientasi atau striasi yang melintang (transversal) (Keeley, 1980: 51). Pada pengerjaan kulit kering (dry skin), jejak yang paling sering muncul berupa penumpulan (rounding). Jejak tersebut juga muncul pada pengerjaan kulit segar (fresh skin), jika pada tajaman terdapat partikel

Melubangi kulit (piercing/awlings hide) dapat dilakukan secara langsung

dengan menusuk atau melibatkan gerakan memutar seperti membor menggunakan

alat berbentuk meruncing (Keeley, 1980: 52). Aktivitas ini tidak menghasilkan pecahan tajaman ataupun striasi. Tetapi, biasanya kilap lemak pada tajaman menunjukkan orientasi yang melintang (transversal). Jejak penumpulan (rounding)

dapat muncul, khususnya jika terdapat partikel abrasif pada tajaman (Kamminga,

ah ,2 00 8

112

5. 4. Pemotongan Daging dan Penjagalan (meet cutting and butchering) Pemotongan daging dan penjagalan merupakan kegiatan dasar berburu dan meramu seperti yang dilakukan oleh suku Nunamiut Eskimo, Kung Bushmen, Tierra del Fuego, Indian di Amerika Selatan, dan Mitassini (Estévez dan Urquijo, 1996: 89). Selain itu, aktivitas ini juga terdapat pada suku Aborigin Australia (Kamminga, 1982: 30).

Melalui eksperimen, dapat diketahui bahwa pemotongan daging dan penjagalan dapat menghasilkan kilap lemak (greasy polish) seperti kilap yang tampak pada pengerjaan kulit segar (fresh hide). Striasi sangat sedikit dijumpai atau hanya

©I

rd ian sy
(Keeley, 1980: 54-55).

dapat terlihat pada perbesaran 400-500X. Striasi yang mungkin terbentuk pada aktivitas ini dapat terjadi ketika alat batu mengalami kontak dengan tulang atau tulang rawan (cartilage) (foto 42) (Keeley, 1980: 53). Memotong/mengiris (cutting/slicing) merupakan salah satu aktivitas yang

biasa dilakukan pada penjagalan. Memotong biasa dilakukan dengan dua sisi tajaman (bifasial), sedangkan mengiris biasa dilakukan dengan satu sisi tajaman (unifasial)

(Keeley, 1980: 19). Namun demikian, baik memotong (cutting) ataupun mengiris (slicing), sama-sama memiliki jejak kilap yang berorientasi membujur (longitudinal)

ah ,2 00 8

113

©I

rd ian sy
Urquijo, 1996: 91-92).

Foto 39: Furrow striation yang dilapisi kilap lemak karena kontak dengan tulang saat pemotongan daging/penjagalan (400X) (sumber: Banks, 2004: 118).

5. 5. Pengerjaan Tumbuh-Tumbuhan (plantworking) Suku Aborigin memanfaatkan tumbuh-tumbuhan sebagai sumber makanan

utama dan bahan baku pembuatan berbagai kerajinan seperti tas/kantung (bags), bahan baku bangunan, dan lain-lain (Kamminga, 1982: 53; Estévez dan Urquijo, 1996: 90). Kebanyakan tumbuhan diperoleh tanpa menggunakan alat batu. Perempuan pada suku Bushmen mengumpulkan tumbuhan liar dengan hanya menggunakan tongkat kayu, hal tersebut dikarenakan berbagai tumbuhan liar biasanya memiliki tangkai/batang yang ringkih. Alat batu biasanya digunakan dalam

mempersiapkan tumbuhan berserat seperti rumput-rumputan, pandan, atau palem sebagai bahan baku pembuatan keranjang (basketry) atau tas (bags) (Estévez dan

ah ,2 00 8

114

Menyerut (scraping) tumbuhan berserat mungkin menjadi salah satu aktivitas yang dilakukan dalam mempersiapkan bahan baku kerajinan. Jejak yang tertinggal pada tajaman berupa kilap phytolith dengan tampilan yang sulit dibedakan dengan kilap kayu (Kamminga, 1982: 54). Menurut Keeley (1980, 61), lapisan kilap hasil pengerjaan tumbuhan biasanya lebih halus dan padat bila dibandingkan dengan kilap kayu (foto 40).

©I

rd ian sy
Foto 40: Perkembangan kilap phytolith (1-4) akibat pengerjaan tumbuhan (sumber: Grace, 1989). 115

ah ,2 00 8

Pada permukaan kilap pengerjaan tumbuhan kadang-kadang terdapat lubanglubang kecil berekor seperti bentuk komet (comet-shaped pits) (Keeley, 1980). Namun demikian, penelitian terakhir (Yerkes et al., 2003: 1054-1056) juga mendapati lubang-lubang berbentuk komet tersebut pada tajaman alat batu tipe pacul (hoe) yang diinterpretasikan sebagai pemacul tanah (foto 41). Perbedaannya terletak pada topografi yang lebih bergalur (fluted), jika dibandingkan dengan kilap tumbuhan.

©I
dijumpai.

rd ian sy

Foto 41: Lubang-lubang berbentuk komet dengan topografi bergalur pada permukaan kilap akibat pengerjaan memacul tanah (50X) (sumber: Yerkes et al., 2003: 1055).

5. 6. Pemegangan Alat Batu dengan Digenggam atau Bertangkai Seperti telah dijelaskan pada Bab 2, bahwa secara umum alat batu dapat

digenggam langsung dengan tangan (hand-held) atau dengan tangkai (hafting). Namun demikian, penelitian tentang teknik memegang alat batu masih sangat sedikit

ah ,2 00 8

116

Menurut Banks (2004: 79) pemakaian tangkai (hafting) pada alat batu meninggalkan jejak kilap sangat memantul (highly reflective), berupa abrasive polish atau additive polish yang tersebar pada permukaan alat batu (foto 42). Hal tersebut disebabkan oleh gesekan antara permukaan batu dengan tangkai atau pengikat tangkai. Permukaan kilap tersebut biasanya memiliki permukaan halus dan datar yang kadang-kadang menampilkan striasi bersilangan (foto 5a).

©I

rd ian sy
tangan (foto 43) (Banks, 2004: 114).

Foto 42: Jejak kilap karena pemakaian tangkai (400X) (Banks, 2004: 113).

Sementara itu, jejak pemegangan langsung dengan tangan (hand-held)

biasanya berupa abrasive polish yang tipis (weakly developed) atau dapat dikatakan sebagai pelicinan (abrasive smoothing) pada permukaan alat batu akibat gesekan

Foto 43: Jejak kilap dan pelicinan karena genggaman tangan secara langsung (400X) (Banks, 2004: 115).

ah ,2 00 8

117

5. 7. Perkiraan Fungsi Alat Batu Gua Pandan Melalui tinjauan analogi etnografi dan eksperimen para ahli yang sudah dijabarkan di atas, maka dapat diketahui kedekatan antara bentuk dan jejak pakai alat batu Gua Pandan dengan bentuk dan jejak pakai alat batu hasil eksperimen para ahli, sehingga dapat diambil beberapa perkiraan fungsi alat batu Gua Pandan.

Alat batu tipe II3 (PND/G4/04/30-40/21) dan tipe II3 (PND/G4/04/30-40/29) sama-sama memiliki tajaman bifasial dengan sudut sangat terjal (45<×≤60˚). Walaupun hanya memiliki sedikit penumpulan, pelicinan, dan beberapa pecahan hancur (crushing) pada tepian tajaman, kedua alat ini diperkirakan dekat dengan

©I

rd ian sy
dengan aktivitas mengetam kayu.

aktivitas membelah (mungkin kayu).

Berdasarkan tajaman unifasial dengan sudut tajaman terjal (45<×≤60˚) sampai

sangat terjal (60<×≤95˚), alat batu tipe I2 (PND/E4/04/20-30/03), tipe I3 (PND/H10/04/40-50/100), dan tipe I2 (PND/H10/04/110-120/96) diperkirakan sangat dekat dengan aktivitas menyerut. Tipe I2 (PND/E4/04/20-30/03) dan tipe I3 (PND/H10/04/40-50/100) hanya menunjukkan jejak kilap (mungkin additive) secara makro. Sementara itu, tipe I2 (PND/H10/04/110-120/96) menunjukkan jejak pelicinan, penumpulan tebal, dan sleek striation yang melintang. Dengan demikian, ketiga alat diperkirakan dekat dengan aktivitas menyerut kayu. Berdasarkan tajaman unifasial dengan sudut sangat terjal (60<×≤95˚), jejak

penumpulan, kilap redup, dan sleek striation melintang pada permukaaan yang kontak dengan materi. Alat batu tipe I3 (PND/H4/04/30-40/38), diperkirakan dekat

ah ,2 00 8

118

Tajaman unifasial dengan sudut landai (20<×≤45˚), jejak kilap kayu, dan sleek striation melintang menunjukkan bahwa alat batu tipe I1 (PND/E4/04/20-30/02), diperkirakan dekat dengan aktivitas meraut kayu.

Alat batu tipe I1 (PND/H10/04/30-40/94) dan tipe I2 (PND/H10/04/70-80/95) sama-sama memiliki tajaman unifasial dan jejak kilap kayu yang berorientasi melintang. Orientasi kilap pada kedua alat tersebut bersilangan dengan striasi membujur. Secara keseluruhan, alat dengan sudut landai (20<×≤45˚) dan terjal (45<×≤60˚) ini, diperkirakan dekat dengan aktivitas menyerut/memotong kayu (mungkin alat multifungsi).

©I

rd ian sy
meraut tulang.

Berdasarkan tajaman unifasial dengan sudut landai (20<×≤45˚) dan jejak kilap

tulang. Alat batu tipe I1 (PND/I4/04/20-30/139), diperkirakan dekat dengan aktivitas

Tajaman unifasial dengan sudut terjal (45<×≤60˚) bergerigi, kilap tulang, dan

striasi membujur menunjukkan bahwa alat batu tipe I2 (PND/G4/04/20-30/23), dapat diperkirakan dekat dengan aktivitas menggergaji tulang. Berdasarkan tajaman unifasial dengan sudut sangat terjal (60<×≤95˚), jejak

kilap kulit kering (dry hide), dan striasi melintang alat batu tipe I3 (PND/H4/04/2030/43) diperkirakan dekat dengan aktivitas menyerut kulit kering. Tajaman meruncing dengan jejak kilap kulit segar (fresh hide) berorientasi

melintang memperlihatkan bahwa alat batu tipe I2 (PND/H7/04/20-30/62)

diperkirakan dekat dengan aktivitas melubangi kulit segar.

ah ,2 00 8

119

Alat batu tipe I1 (PND/E4/04/10-20/01), tipe I1 (PND/H7/04/20-30/93), dan tipe I2 (PND/H7/04/20-30/68) sama-sama memiliki tajaman unifasial dengan jejak kilap daging. Namun demikian, tipe I1 (PND/E4/04/10-20/01) dan tipe I1 (PND/H7/04/20-30/93) memiliki sudut landai (20<×≤45˚). Sementara itu, tipe I2 (PND/H7/04/20-30/68) memiliki sudut terjal (45<×≤60˚). Secara keseluruhan, ketiga alat diperkirakan dekat dengan aktivitas memotong/mengiris daging.

Alat batu tipe I2 (PND/H7/04/20-30/65) memiliki tajaman unifasial bersudut terjal (45<×≤60˚) dengan jejak kilap yang sangat halus dan padat menutupi permukaan. Dengan demikian, dapat diduga sebagai kilap tumbuhan. Secara

©I

rd ian sy

keseluruhan, alat ini dekat dengan aktivitas menyerut tumbuhan.

Alat batu tipe I1 (PND/E4/04/10-20/01) memiliki jejak yang mungkin

merupakan jejak pemakaian tangkai (hafting), karena memiliki beberapa kilap

additive (foto 14) yang tersebar pada permukaan alat dan beberapa jejak seperti bekas

ikatan (foto 12). Sementara itu, jejak pemegangan langsung (hand-held) mungkin ada pada tipe I2 (PND/E4/04/20-30/03) dan tipe I2 (PND/G4/04/20-30/23), karena pada permukaan kedua alat terdapat pelicinan (abrasive smoothing) yang cukup menonjol.

ah ,2 00 8

120

BAB VI

Sebagai usaha menjelaskan fungsi alat batu khususnya dari situs Gua Pandan, tipe alat dan jejak pakai telah dijabarkan pada bab-bab terdahulu. Penjelasan fungsi didapat melalui bentuk dan jejak pakai alat batu Gua Pandan yang dianalogikan dengan bentuk dan jejak pakai yang ada pada alat batu hasil analogi etnografi dan eksperimen para ahli melalui sumber pustaka.

Berdasarkan klasifikasi, didapat lima tipe alat yang mayoritas berupa alat dengan tajaman unifasial bersudut landai (tipe I1), kemudian diikuti alat dengan

©I

rd ian sy
dengan kegiatan membelah kayu.

tajaman unifasial bersudut sangat terjal (tipe I3), tajaman unifasial bersudut terjal (tipe I2), tajaman bifasial bersudut sangat terjal (tipe II3), dan tajaman bifasial

bersudut landai (tipe II1). Melalui analisis jejak pakai diketahui bahwa mayoritas alat pakai ada pada tipe I2, kemudian diikuti dengan tipe I1, I3, dan II3. Berdasarkan analisis jejak pakai, alat pakai pada tipe I2 cenderung dekat dengan kegiatan yang sangat beragam, seperti menyerut/memotong kayu, menyerut tumbuhan, melubangi kulit segar, memotong/mengiris daging, dan menggergaji tulang. Alat pakai pada tipe

I1 cenderung dekat dengan kegiatan memotong/mengiris daging, meraut tulang, dan meraut/menyerut/memotong kayu. Alat pakai pada tipe I3 dekat dengan kegiatan menyerut/mengetam kayu dan menyerut kulit kering. Alat pakai pada tipe II3 dekat

ah ,2 00 8
PENUTUP

121

Secara keseluruhan, fungsi alat-alat pakai tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama merupakan alat-alat yang cenderung dipakai sebagai alat-alat produksi, yaitu alat-alat yang mungkin digunakan sebagai alat bantu dalam pembuatan jubah dari kulit, pembuatan berbagai kerajinan dari kulit kayu/tumbuhtumbuhan (keranjang, tas, dan sebagainya), pembuatan alat tulang (lancipan atau ujung tombak), atau pembuatan alat kayu (tombak kayu, tangkai tombak, dan sebagainya). Aktivitas alat produksi tersebut seperti melubangi kulit segar, menyerut kulit kering, menyerut tumbuhan, meraut kayu, menyerut kayu, menyerut/memotong kayu, mengetam kayu, membelah kayu, meraut tulang, dan menggergaji tulang.

©I

rd ian sy
pisau/ujung tombak.

Kelompok kedua merupakan alat-alat yang dipakai secara langsung untuk memperoleh atau mengolah makanan, seperti memotong/mengiris daging. Salah satu di antara alat-alat yang dipakai secara langsung tersebut, ternyata memiliki jejak-jejak yang dekat dengan pemakaian tangkai dan bentuk alatnya pun cenderung seperti

Keberadaan alat produksi atau alat untuk membuat alat yang mayoritas dekat

dengan pengerjaan kayu tampak mendukung hipotesis terdahulu (Miksic, 1981: 3;

Faizaliskandiar, 1989: 146) yang menyebutkan bahwa alat batu di Asia Tenggara khususnya Indonesia dipakai untuk mengolah alat-alat dari bahan lain khususnya kayu. Dengan demikian, mungkin mayoritas alat batu di Gua Pandan dipakai sebagai alat untuk membuat alat berbahan baku kayu. Selain itu, terdapat dua alat yang mungkin digunakan sebagai alat multifungsi, karena memiliki jejak yang bersilangan.

ah ,2 00 8

122

Namun demikian, dibutuhkan penelitian lebih lanjut, khususnya eksperimen untuk membuktikan fungsinya secara akurat.

Aktivitas yang terjadi di Gua Pandan dapat diperkirakan berupa aktivitas pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari melalui alat-alat yang mungkin dibuat dari bahan kayu. Sementara itu, alat batu merupakan alat untuk memproduksi alat-alat kayu tersebut. Hal tersebut mengingat jejak pada alat batu menunjukan aktivitas yang didominasi oleh pengerjaan kayu seperti membelah, mengetam, menyerut, dan meraut. Pengerjaan alat kayu tersebut tampak dilakukan di ruang dekat dindingdinding gua (gbr. 28). Sementara itu, pemotongan daging atau penjagalan cenderung

©I

rd ian sy
seluruhnya berada pada ruang ini.

dilakukan di tengah gua yang juga berasosiasi dengan alat batu untuk menyerut tumbuhan dan melubangi kulit segar. Hal tersebut menunjukan kemungkinan pengolahan bahan makanan cenderung dilakukan di ruang tengah gua. Ruang dekat dinding bagian selatan mungkin merupakan ruang utama sebagai tempat membuat alat, makan, dan beristirahat. Hal tersebut mengingat mayoritas perkakas, manuport,

dan alat pakai berada pada ruang ini. Sementara itu, mayoritas serpih-serpih non alat

dan alat non pakai ada pada ruang lain, sehingga aktivitas pembuatan alat, makan, dan istirahat dapat berlangsung tanpa terganggu oleh tumpukan batuan. Mayoritas serpih non alat dan alat non pakai yang berada pada ruang dekat dinding utara, menunjukkan bahwa ruang tersebut mungkin cenderung merupakan tempat pembuangan. Hal tersebut juga didukung dengan fragmen tulang fauna yang

ah ,2 00 8

123

Banyaknya alat non pakai dan sedikitnya alat pakai, menunjukkan kemungkinan adanya pemilihan pada bentuk alat tertentu. Selain itu, alat-alat pakai tersebut mayoritas memiliki jejak penumpulan sedikit membulat (light rounding) hingga sangat membulat (heavy rounding), yang menunjukan kemungkinan adanya pemakaian alat secara terus menerus pada alat-alat tertentu yang telah dipilih tersebut (tabel 19). Berdasarkan keletakan terhadap unitnya, mayoritas alat hanya berada pada lapisan atas, tetapi non alat dan manuport berada mulai dari lapisan bawah hingga lapisan atas. Dengan demikian, kemungkinan alat yang berada pada lapisan atas merupakan alat yang pernah dibawa dari tempat lain yang digunakan lagi di Gua

©I

rd ian sy
tersebut dilakukan dari masa ke masa.

Pandan. Penumpulan yang mayoritas dialami alat pakai pada lapisan atas, mungkin menjadi penyebab ditinggalnya alat-alat tersebut di Gua Pandan. Sementara itu, alatalat yang telah dibuat pada lapisan bawah kemungkinan telah dibawa ketempat lain. Secara umum, pemaparan di atas menimbulkan kemungkinan bahwa Gua

Pandan pernah dihuni oleh individu/kelompok yang sering berpindah tempat (nomaden). Hal ini mengingat alat batu dari Gua Pandan merupakan alat-alat yang cukup efisisen dan proporsional untuk dibawa dalam perjalanan, karena mayoritas alat memiliki ukuran kecil sampai segenggaman tangan, ringan, dan memiliki pemangkasan intensif. Dengan demikian, alat batu mudah dibawa dalam perjalanan saat perpindahan tempat. Selain itu, sirkulasi udara yang baik, pencahayaan yang cukup, dan permukaan gua yang cukup datar menimbulkan kemungkinan penghunian

ah ,2 00 8

124

Keadaan lingkungan yang dekat dengan berbagai sumber makanan memungkinkan adanya kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan pada situs Gua Pandan. Selain makanan, bahan baku yang cukup baik juga mudah diperoleh dari Sungai Air Tawar. Hal tersebut mengingat mayoritas alat didominasi oleh kelompok batuan bersilika (siliceous stone), khususnya rijang.

Berdasarkan berbagai perkiraan di atas, kemungkinan individu/kelompok manusia di situs Gua Pandan dekat dengan kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan yang secara langsung dilakukan melalui alat-alat berbahan baku kayu. Sementara itu, alat batu merupakan alat bantu untuk memproduksi alat-alat kayu

©I

rd ian sy

tersebut. Dengan demikian, alat batu yang cukup efisien dan proporsional di Gua Pandan tidak dibuat untuk mudah dibawa saat kepentingan berburu, tetapi mudah dibawa dalam perjalanan saat perpindahan tempat. Penjabaran di atas merupakan bagian kecil dari berbagai masalah yang belum

terungkap pada penelitian alat batu, khususnya di Gua Pandan. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kemungkinan adanya pemakaian tangkai pada alatalat batu di Gua Pandan, khususnya melalui eksperimen yang terpadu. Perlu dilakukan penelitian mengenai teknik pembuatan alat batu khususnya pada situs Gua Pandan, karena terdapat berbagai bentuk batu inti dan serpih yang mungkin dapat menjelaskan teknik pembuatan alat batu di Gua Pandan. Perlu penelitian lebih lanjut

guna melihat hubungan situs Gua Pandan dengan berbagai situs di sekitarnya,

khususnya situs gua. Kurangnya fasilitas mikroskop yang memadai dan berbagai alat

penunjang lainnya pada instansi arkeologi, mungkin menjadi penyebab utama

ah ,2 00 8

125

sedikitnya penelitian fungsi alat batu melalui pendekatan mikroskopis di Indonesia yang dapat dijadikan data banding. Fasilitas tersebut, seperti mikroskop optik dan stereomikroskop yang memiliki kamera terhubung dengan komputer. Dengan demikian, peneliti bebas untuk mengumpulkan dan membandingkan fotomikro jejak pakai pada alat batu temuan ekskavasi atau pada alat batu hasil eksperimen. Berbagai kekurangan tersebut diharapkan dapat dipenuhi pada penelitian selanjutnya, sehingga dapat mengisi kekosongan penelitian fungsi alat batu di Indonesia, khususnya di situs Gua Pandan.

Hasil penelitian ini sangat diharapkan dapat dilanjutkan dengan penelitian

©I

rd ian sy
bentuk.

eksperimen

yang

terpadu,

memperlihatkan berbagai kemungkinan dan situasi tertentu, seperti pengetahuan bahan baku yang lebih spesifik, lamanya waktu pengerjaan, jenis materi pengerjaan yang lebih spesifik, dan kemungkinan adanya penggunaan alat multifungsi. Sangat

disarankan agar prosedur pembersihan artefak batu dalam proses ekskavasi

selanjutnya dapat disesuaikan dengan kepentingan penelitian fungsi alat batu. Khususnya, agar jejak residu berupa sisa pengerjaan berbagai materi seperti seratserat tumbuhan (plant fibres), protein darah (blood protein), dan jejak pemakaian

tangkai berupa getah (resin) atau serat pengikat dapat dianalisis lebih lanjut. Selanjutnya, sangat diharapkan penelitian fungsi alat batu dapat selalu dilakukan di Indonesia. Dengan demikian, berbagai hipotesis dan penafsiran tentang fungsi alat batu di Indonesia dapat dijelaskan bukan hanya melalui pengamatan tipologi dan

ah ,2 00 8
karena melalui penelitian eksperimen

dapat

126

CATATAN
1

Pleistosen merupakan masa geologi yang berlangsung kira-kira antara 3.000.000 sampai kira-kira 10.000.000 tahun yang lalu (Soejono, 1984: 1).

2

Pasca Pleistosen merupakan masa setelah Pleistosen yang berlangsung kira-kira 10.000 tahun yang lalu hingga sekarang (Soejono, 1984: 2). Menurut Sharer dan Ashmore (1979: 12), fungsi merupakan salah satu dari tiga kajian utama arkeologi selain bentuk dan proses. Fungsi adalah tujuan digunakannya suatu komponen budaya atau sistem budaya (Sharer dan Ashmore, 1979: 563).
4 3

Analogi adalah usaha penafsiran suatu fenomena melalui perbandingan dua objek yang memiliki kesamaan karakter. Di dalam ilmu arkeologi, analogi digunakan untuk mengidentifikasi data arkeologi melalui perbandingan dengan gejala serupa yang dapat dijumpai pada masa kini (Sharer dan Ashmore, 1979: 455, 559).
5

Suatu usulan tentang hubungan antara dua atau lebih variabel yang didasarkan atas asumsi atau dugaan tertentu (Sharer dan Ashmore, 1979: 26-27).
6

Tradisi paleolitik merupakan tradisi awal pembuatan alat batu, di Indonesia dikenal dengan adanya tradisi kapak perimbas dan tradisi serpih (Soejono, 1984: 84).

©I
11

rd ian sy
7 8 9 10

Suatu budaya pembuatan alat batu tradisi Paleolitik yang ditemukan di daerah Punung (Kabupaten Pacitan) dengan kapak penetak dan kapak perimbas sebagai unsur utama, termasuk salah satu kelompok dari kompleks kapak perimbas penetak di Asia Timur bersama dengan “Soanian” (Pakistan), “Anyathanian” (Birma), “Fingnoian” (Muang-thai), “Tampanian” (Malaysia), “Cabalwanian” (Filipina), dan “Chou-kou-tienian” (Cina) (Soejono, 1984). Merupakan tradisi serpih-bilah di daerah Sulawesi Selatan dan ditemukan di wilayah yang didiami oleh suku Toala (Soejono, 1984).

Sumatralith merupakan suatu kerakal (pebble) yang di belah menjadi dua sehingga terbentuk serpih yang pada bagian mukanya (ventral) dikerjakan lebih lanjut untuk menghasilkan tajaman, sedangkan bagian punggung (dorsal) tidak dikerjakan, Sumatralith banyak ditemukan di sepanjang pesisir Sumatera Utara dan sebagian Aceh, antara Sungai Tamiang dan Percut, banyak di antara situs tersebut ditemukan bukit sampah kerang yang merupakan sisa makanan manusia masa lampau (Simanjuntak, 1992: 4).

Menurut Deetz, tipe artefak, seperti mata panah mungkin dapat merefleksikan suatu perilaku individu; sejumlah tipe artefak yang disebut sub-himpunan (sub-assemblage), seperti alat-alat berburu mungkin dapat merefleksikan perilaku sekelompok manusia; sejumlah sub-himpunan yang disebut himpunan (assemblage), seperti alat-alat memasak, alat-alat berburu, dan alat-alat upacara mungkin dapat merefleksikan perilaku suatu komunitas; dan sejumlah himpunan yang disebut kebudayaan arkeologis (archaeological cultures), mungkin dapat merefleksikan perilaku masyarakat luas (Deetz, 1967: 106-120). Tipe adalah kombinasi dua atau lebih mode yang dipilih dan ditentukan oleh peneliti berdasarkan kepentingan penelitian melalui klasifikasi taksonomik (Rouse, 1971: 112).

ah ,2 00 8

127

Tipologi adalah susunan sistematis tipe-tipe dalam satu populasi melalui pengelompokan tipe yang memiliki kesamaan dan pemilahan tipe yang memiliki perbedaan (Andrefsky, 1998: 60-62). Klasifikasi merupakan penggolongan sekunder data arkeologi ke dalam kelompok-kelompok yang memperlihatkan sejumlah kesamaan pada dua atau lebih ciri tertentu berupa bagian terkecil dari suatu artefak yang disebut atribut (attributes) (Clarke, 1978: 206; Gifford, 1971: 127-129; Taylor, 1971: 118-119). Pertemuan antara endapan berbentuk kerucut menggantung akibat tetesan air berlarutan mineral dari langit gua (stalaktit) dengan endapan berbentuk kerucut keatas di lantai gua akibat tetesan air berlarutan mineral dari langit gua (stalakmit) membentuk tiang berupa pilar (pillars) pada gua (http://memphisgeology.org/images/Explorer0604.pdf). Stalaktit adalah suatu endapan tetesan air dengan larutan mineral dari langit gua yang membentuk kerucut menggantung di langit-langit gua (http://memphisgeology.org/images/Explorer0604.pdf).
16 15 14 13

12

Mode adalah setiap gagasan atau kebiasaan yang menguasai perilaku para pembuat/tukang dalam suatu masyarakat, dan diturunkan dari generasi ke generasi, serta tersebar ke seluruh komunitas (Rouse, 1971: 109).

©I
23

rd ian sy
18 19 20 21 22

Skala atribut terbagi menjadi empat, yaitu: a) skala nominal merupakan suatu ukuran yang pasti dan mendalam, biasanya dikodekan dengan ya/tidak atau ada/tidak ada, b) skala ordinal dapat dikatakan sebagai kisaran rata-rata, yang membebaskan kita untuk menafsirkan nilai relatif suatu atribut, c) skala interval memiliki karakter skala ordinal tetapi disertai dengan adanya suatu jarak yang sama, d) skala rasio merupakan perbandingan dari dua atau beberapa atribut. Lebih jelasnya lihat Andrefsky (1998: 62-63).
17

Teknologi pembuatan suatu alat terdiri atas subtractive technology: yaitu pembuatan suatu alat dengan melakukan pengurangan terhadap bahan baku dan additive technology: yaitu pembuatan alat dengan melakukan penambahan bahan baku (Deetz, 1967: 48).

Kecuali teknik perkusi bipolar (bipolar percussion technique), teknik ini menghasilkan bipolar flake.

Geologi merupakan salah satu ilmu bantu dalam penelitian arkeologi yang mempelajari segala kenampakan yang ada di permukaan dan di dalam bumi serta segala kehidupan dan urutan kejadian yang pernah berlangsung di bumi (Intan, 2003: 74). Mineralogi adalah cabang ilmu geologi yang mempelajari unsur-unsur dan senyawa-senyawa yang terdapat di alam berupa mineral pembentuk zat padat di alam semesta (Intan, 2003: 75).

Petrologi adalah cabang ilmu geologi yang mempelajari tentang bagaimana terbentuknya batuan, sejarah pembentukannya, serta hubungannya dengan proses geologi (Intan, 2003: 77). Batuan beku (igneous rocks) terbentuk melalui pembekuan atau pendinginan magma yang menyebabkan terbentuknya kristal yang saling mengikat, jika pendinginan terjadi di dalam perut bumi (plutonic) biasanya batuan memiliki kristal besar dengan tekstur kasar atau feneritik (phaneritic), tetapi jika pendinginan terjadi di permukaan bumi (volcanic) biasanya batuan memiliki kristal kecil dengan tekstur halus atau afanitik (aphanitic) (Hyndman, 1985; Intan, 2003).

ah ,2 00 8

128

Batuan metamorf (metamorphic rocks) berasal dari batuan beku, batuan sedimen, atau batuan metamorf sendiri yang mengalami perubahan bentuk karena aktivitas tekanan atau temperatur tinggi yang terjadi jauh di dalam perut bumi. Tetapi, proses metamorfosa tersebut tidak selamanya sempurna mengubah sifat fisik dan kimia batuan. Oleh karena itu, ahli petrologi memberikan istilah meta (meta) pada awal nama batuan metamorf yang tidak sempurna, seperti metagabro (metagabbro), metagamping (metalimestone), metarijang (metachert), dan lain-lain (Hyndman, 1985; Intan, 2003). Ekofak merupakan temuan non artefak dari masa lalu yang memiliki relevansi budaya, baik dalam bentuk inorganik atau organik (Sharer dan Ashmore, 1979: 562). Hidrolisis dapat terjadi ketika air bersentuhan dengan permukaan batu yang mengandung silika. Dengan demikian, ion-ion hidrogen dapat masuk ke dalam permukaan, menggantikan kation-kation dan membentuk suatu lapisan yang berbeda dengan materi dasarnya. Lapisan hidrolisis merupakan lapisan transparan silika yang perlahan menjadi lapisan silika murni dan ketebalannya akan semakin bertambah (Kamminga, 1982: 12).
27 26

25

©I

rd ian sy
29

Phytolith adalah sejenis dinding sel yang terbentuk dari mikro silika pada tumbuhan tertentu (biasanya rumput-rumputan) yang terkonsentrasi pada tepian-tepian daun. Pada penelitian arkeologi, Phytolith yang tertinggal pada lapisan tanah dapat dijadikan indikator dalam mengetahui jenis tumbuhan tertentu (Evans, 1978: 26). Topografi yang beralur, mengakibatkan tampilan pada mikroskop optik tidak fokus, sehingga foto melalui mikroskop optik tidak dilakukan pada area A tipe I1 (PND/E4/04/10-20/01).

28

ah ,2 00 8

Batuan sedimen (sedimentary rocks) merupakan hasil pengendapan (precipitation), kompaksi, litifikasi, kristalisasi, atau rekristalisasi dari sedimen lepas (sediment) yang dapat terjadi melalui proses mekanik (mechanical) dengan mengakumulasi fragmen/partikel/butir batuan berukuran kasar sampai halus melalui pengangkutan, pengendapan, dan kompaksi atau proses kimia (chemical) melalui pengendapan larutan secara kimiawi sehingga terjadi rekristalisasi. (Blatt, 1982; Intan, 2003).

24

129

BIBLIOGRAFI
Andrefsky, Jr., William. 1998 Lithic; macroscopic Approaches to Analysis. Cambridge: Cambridge University Press. Anonim “Lithic”. [http://www.utexas.edu/courses/denbow/lithic.htm; diakses pada 13 Juni 2006]. 2004 “How Are Cave Form?”. Memphis Archaeological and Geological Society Youth Newsletter Vol. 3, No. 6. [http://memphisgeology.org/images/Explorer0604.pdf; diakses pada 30 Desember 2007] Banks, W. Ethan. 2004 Toolkit Structure and Site Use: Result of a High-Power Use-Wear Analysis of Lithic Assemblages from Solutré (Saône-et-Loire), France. Thesis Ph.D. Departement of Anthropology, Faculty of Graduate School of the University of Kansas. Bellwood, Peter. 2000 Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Bene, Tery A. Del. 1979 “Once Upon a Striation: Curent Model of Striation and Polish Formation”, dalam Hayden. (ed), 1979: 167-177. Blatt, Harvey. 1982 Sedimentary Petrology. United States of America: W. H. Freeman and Company. Bordes, F. 1981 Typologie du Paléolithique Ancien et Moyen. Paris: C.N.R.S. Clarke, David. L. 1978 Analytical Archaeology. New York: Columbia University Press. Cotterell, Brian., dan Johan Kamminga. 1979 “The Mechanic of Flaking”, dalam Hayden. (ed), 1979: 97-112. 1990 Mechanics of Pre-industrial Technology: An Introduction to the Mechanics of Ancient and Traditional Material Culture. Cambridge: Cambridge University Press. Crabtree, E, Don. 1972 Introduction to the Flintworking. Occasional Papers of the Idaho Museum 28. Idaho: Idaho State University Press. Deetz, James. 1967 Invitation to Archaeology. New York: The Natural History Press. 1971 Man’s Imprint From the Past: Reading the Method of Archaeology. Boston: Little Brown and Company.

©I

rd ian sy

ah ,2 00 8

130

Diamond, George. 1979 “The Nature of So-Called Polish Surface on Stone Artifact”, dalam Hayden. (ed), 1979: 159-166. Estévez, J. J. Ibáñez. dan J. E. Gonzáles Urquijo. 1996 From Tool Use to Site Function: Use Wear Analysis in Some Final Upper Palaeolithic Sites in the Basque Country. British Archaeological Report International Series 658. Oxford: Basingtoke Press. Evans, Adrian A., dan Randolph E. Donahue 2005 “The Elemental Chemistry of Lithic Microwear: an Experiment”. Journal of Archaeology Science 32: 1733-1740. Evans, John G. 1978 An Introduction to Environmental Archaeology. London: Elek Books Ltd. Fagan, Brian. M. 1981 In the Beginning: An Introduction to Archaeology. Fourth Edition. Boston: Little Brown and Company. Faizaliskandiar, Mindra. 1989 “Variabilitas Tipe Artefak Sebagai Indikator Strategi Subsistensi: Kajian Strategi Perburuan Paleolitik Asia Tenggara”, dalam Magetsari et al. (ed), 1989: 131-150. Fenton, Carrol Lane, dan Mildred Adams Fenton. 1940 The Rock Book. New York: Doubleday & Company, Inc. Forestier, Hubert. 1998 Technologie et typologie de la pierre taillèe de deux sites holocène des Montagnes du Sud de Java (Indonésie). Disertasi. Paris: Muséum National d’Histoire Naturelle. Gerlach. S. Craig, Margaret Newman, Edward. J. Knell, dan Edwin. S. Hall, Jr. 1996 “Blood Protein Residues on Lithic Artifacts from Two Archaeological Sites in the De Long Mountains, Northwestern Alaska”. Arctic 49: 110. Gifford, James. C. 1971 “The Type-Variety Method of Ceramic Classification as an Indicator of Cultural Phenomena”, dalam Deetz. (ed), 1971: 126-137. Grace, Roger. 1989 Interpreting the function of stone tools. [http://www.hf.uio.no/iakh/forskning/sarc/iakh/lithic; diakses pada 13 Juni 2006]. Greiser, Sally. T., dan Payson D. Sheets. 1979 “Raw material as a functional variable in use-wear studies”, dalam Hayden. (ed), 1979: 289-296.

©I

rd ian sy

ah ,2 00 8

131

Guillaud, Dominique. et al. (ed). 2006 Menyusuri Sungai, Merunut Waktu: Penelitian Arkeologi di Sumatera Selatan. Jakarta: PT Enrique Indonesia. Hayden, Brian. 1979 Lithic Use-Wear. New York: Academic Press. 1979 “Snap, Shater, and Superfractures: Use-Wear of Stone Skin Scrapers”, dalam Hayden. (ed), 1979: 207-229. 1981 Palaeolithic Reflection: Lithic technology and ethnographic excavations among Australian Aborigines. New Jersey: Humanities Press. 1992 Archaeology: The Science of Once and Future Things. New York: W. H. Freeman and Company. Hardaker, Christopher. “Bipolar Reduction: Variability or Chaos” . [http://www.earthmeasure.com/bipolar/index_bipolar.html; diakses pada 13 Juni 2006 ]. Hardy, Bruce. L., Marvin Kay, Anthony. E. Marks, dan Katherine Monigal. 2001 “Stone tool function at the paleolithic sites of Starosele and Buran Kaya III, Crimea: Behavioral implications”. [www.pnas.org/cgi/doi/10.1073/pnas.191384498; diakses pada 7 Juli 2006]. Howel, F. Clark. 1977 Manusia Purba. Pustaka Alam Life. Diterjemahkan oleh dr. Th. S. Timan. Jakarta: Tira Pustaka. Hyndman, Donald W. 1985 Petrology of Igneous and Metamorphic Rocks. Edisi kedua. United States of America: McGraw-Hill, Inc. Inizan, M. –L, H.Roche, and J.Tixier. 1992 Technology of Knapped Stone. Paris: Centre National de la Recherche Scientifique. Intan, M. Fadhlan S. 2003 “Petrologi dan Mineralogi dalam Penelitian Arkeologi”, dalam Permana et al. (ed), 2003: 73-91. 2004 “Exploitasi Sumberdaya Batuan”, dalam Simanjuntak. (ed), 2004: 153-154. Jatmiko, dan H. Forestier 2002 Eksploitasi Tentang Kehidupan Prasejarah pada Gua-gua Karst di Sekitar Wilayah Padang Bindu, Kecamatan Semidang Aji, Kabupaten Oku, Sumatera Selatan. Laporan Penelitian Arkeologi Bidang Prasejarah. Jakarta: Puslit Arkenas. Kamminga, Johan. 1979 “The Nature of Use-Polish and Abrasive Smoothing on Stone Tools”, dalam Hayden. (ed), 1979: 143-157.

©I

rd ian sy

ah ,2 00 8

132

1982

Kay, Marvin. 1996 “Microwear Analysis of Some Clovis and Experimental Chipped Stone Tools”, dalam Odell. (ed), 1996: 315-344. Keeley, Lawrence. H. 1980 Experimental Determination of Stone Tools Uses: A Microwear Analysis. Chicago: University of Chicago Press. Kuskie, Peter. J, dan Johan Kamminga. 2000 Salvage of Aboriginal Archaeological Sites in Relation to the F3 Freeway Near Lenaghans Drive, Black Hill, New South Wales. Volume A: Report. Hughes: South East Archaeology. Lawrence, Robert A. 1979 “Experimental Evidence for the Significance of Attributes Used in Edge-Damage Analysis”, dalam Hayden. (ed), 1979: 113-121. Lemorini, C., Mary C. Stiner, Avi Gopher, Ron Shimelmitz, dan Ran Barkai. 2005 “Use-wear Analysis of an Amudian Laminar Assemblage from the Acheuleo-Yabrudian of Qesem Cave, Israel”. Journal of Archaeology Science xx (2005): 1-14. Magetsari, Noerhadi, B. Sumadio, Nurhadi, H. Santiko, dan R. P. Soejono. (ed). 1989 Pertemuan Ilmiah Arkeologi V. Yogyakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. McCarthy, F. D. 1976 Australian Aboriginal Stone Implements. Edisi kedua. Sidney: The Australian Museum Trust. Miksic, John N. 1981 “Perkembangan Teknologi, Pola Ekonomi, dan Penafsiran Data Arkeologi di Indonesia”. Majalah Arkeologi, Th. IV, No. 1-2: 1-16. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Odell, George H. (ed). 1996 Stone Tools: Theoretical Insight into Human Prehistory. New York: Plenum Press. Permana, R. C. E., Wanny Rahardjo. W., dan Chaksana A. H. Said. (ed). 2003 Cakrawala Arkeologi: Persembahan untuk Prof. Dr. Mundardjito. Depok: Jurusan Arkeologi FIB-UI. Phillips, Patricia. (ed). 1985 The Archaeologist and The Laboratory. Council for British Archaeology Report No: 58. London: The Gresham Press. Rouse, Irving. 1971 “The Classification of Artifact of Archaeology”, dalam Deetz, 1971: 108-125.

©I

rd ian sy

ah ,2 00 8

Over the Edge: Functional Analysis of Australian Stone Tools. Occasional Papers in Anthropology 12. Brisbane: Anthropology Museum, Queensland University.

133

©I

Sarkoro, Bambang. 1990 Analisis Jejak Pakai Beliung Persegi dari Daerah Bogor. Depok: Skripsi Sarjana Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra – Universitas Indonesia. Sapiie, Benyamin., N. A. Magetsari, A. H. Harsolumakso, dan C. I. Abdullah. (ed). 2006 Geologi Fisik. Bandung: Institut Teknologi Bandung. Schiffer, Michael B. 1979 “The Place of Lithic Use-Wear Studies in Behavioral Archaeology”, dalam Hayden. (ed), 1979: 15-25. Seitsonen, Oula. 2004 Lithics After Stone Age in East Africa: Wadh Lang’O Case Study. Thesis Master of Arts Departement of Archaeology, Institute for Cultural Studies of the University of Helsinki. Sharer, R. J., dan Wendy Ashmore. 1979 Fundamental of Archaeology. London: The Benjamin Cumming Publisher Company. Simanjuntak, T. 1992 ”Mesolitik di Indonesia: Suatu Tinjauan”, dalam Seminar Peringatan 100 Tahun Penemuan Pithecantropus. Jambi: Museum Negeri Jambi. 2004 Prasejarah Gunung Sewu. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Simanjuntak, T., D. Driwantoro, H. Forestier, dan Ngadiran. 2004 Laporan Hasil Penelitian: Penggalian Situs Gua Pandan Desa Padangbindu, Kecamatan Semidangaji, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Jakarta: Bidang Prasejarah Pusat Penelitian Arkeologi dan Institut de Recherche pour le Developpement. Sliva, Jane. 2005 ”flake stone”. [http://www.cdarc.org/pages/library/rio_nuevo/rio_nuevo_ch10.pdf; diakses pada 14 Mei 2007]. Soejono, R. P. (ed). 1984 Sejarah Nasional Indonesia I: Jaman Prasejarah di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Swartz, B. K., Jr. 1974 “A Stratified Succession of Stone Age Assemblages at Hoehoe, Volta Region, Ghana”. West African Journal of Archaeology 4: 57-81. Taylor, Walter. W. 1971 A Study to Archaeology. London : Teffer and Simons, Inc.

rd ian sy

ah ,2 00 8

134

LAMPIRAN Tabel 18: Integrasi data alat batu Gua Pandan
Tipe No 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 dsr s s s bi bi bi bi s s s s s bi bi bi bi s s s s s bi s bi bi bi bi bi bi bi bi bi bi s s s s bi s s s bi bi bi bi bi bi bi bi bi pmk p p p np np np np np np np np np np np np np np np np np p np p np np np np np p np np np np np np np np p np np np np p np np np np np np np Ktk E4 E4 E4 E4 E4 E4 E4 E4 E4 E4 E4 F4 F4 F4 F4 F4 F4 F4 F4 F4 G4 G4 G4 G4 G4 G4 G4 G4 G4 G4 G4 G4 G4 G4 G4 G4 G4 H4 H4 H4 H4 H4 H4 H4 H4 H4 H4 H4 H4 H4 Spit 10-20 20-30 20-30 0-10 0-10 10-20 30-40 20-30 20-30 30-40 30-40 30-40 30-40 30-40 30-40 30-40 20-30 30-40 30-40 30-40 30-40 40-50 20-30 10-20 10-20 20-30 30-40 30-40 30-40 30-40 40-50 40-50 50-60 30-40 40-50 50-60 50-60 30-40 0-10 20-30 20-30 20-30 20-30 30-40 30-40 30-40 30-40 30-40 20-30 20-30 Unit 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 cm 13 6 11 12 12 10 9 10 6 8 9 7 10 9 7 10 14 9 8 7 10 11 15 12 10 9 9 13 12 13 17 13 11 14 10 12 9 8 6 9 6 6 12 9 12 13 10 9 11 7 Ukr kelas bsr kcl sdg sdg sdg sdg sdg sdg kcl sdg sdg kcl sdg sdg kcl sdg bsr sdg sdg kcl sdg sdg bsr sdg sdg sdg sdg bsr sdg bsr bsr bsr sdg bsr sdg sdg sdg sdg kcl sdg kcl kcl sdg sdg sdg bsr sdg sdg sdg kcl g Brt kelas Sd Rn Sd Br Sd Br Sd Sd Rn Rn Rn Rn Sd Sd Rn Sd Br Rn Rn Rn Sd Sd Sd Br Sd Sd Sd Br Br Br Br Br Sd Sd Sd Sd Rn Sd Rn Rn Rn Rn Sd Sd Sd Br Sd Sd Bd Sd Krtks ci si ti ti ti ti ti ti si ti ti si ti ti ti ti ti si si ti ci ti ti ti ci si ti ti si ci ti ti ti ti ci ti si ci ci ti si ti si si ti ti ci ti ci ci Bhn Mg Fk Fk Fk Mg Rj Fk Gmp Gmp Gmp Rj Rj Rj Mg Rj Rj Rj Gmp Gmp Gmp Mg Rj Fk Rj Rj Ads Rj Gmp Rj Rj Gmp Fk Rj Gmp Rj Rj Gmp Rj Rj Fk Rj Rj Gmp Mg Rj Rj Gmp Rj Rj Ksd Ltk u u u u u u u u u b u u u u u u u u u u b u u u u u u u b u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u Tajaman Sdt kisaran kelas 40˚<×≤45˚ ld 40˚<×≤45˚ ld 55˚<×≤60˚ tj 80˚<×≤85˚ st 80˚<×≤85˚ st 75˚<×≤80˚ st 85˚<×≤90˚ st 65˚<×≤70˚ st 65˚<×≤70˚ st 40˚<×≤45˚ ld 40˚<×≤45˚ ld 55˚<×≤60˚ tj 55˚<×≤60˚ tj 50˚<×≤55˚ tj 80˚<×≤85˚ st 85˚<×≤90˚ st 85˚<×≤90˚ st 30˚<×≤35˚ ld 60˚<×≤65˚ st 30˚<×≤35˚ ld 70˚<×≤75˚ st 90˚<×≤95˚ st 50˚<×≤55˚ tj 70˚<×≤75˚ st 50˚<×≤55˚ tj 35˚<×≤40˚ ld 70˚<×≤75˚ st 90˚<×≤95˚ st 75˚<×≤80˚ st 70˚<×≤75˚ st 60˚<×≤65˚ st 70˚<×≤75˚ st 65˚<×≤70˚ st 65˚<×≤70˚ st 70˚<×≤75˚ st 55˚<×≤60˚ tj 55˚<×≤60˚ tj 80˚<×≤85˚ st 35˚<×≤40˚ ld 50˚<×≤55˚ tj 30˚<×≤35˚ ld 75˚<×≤80˚ st 60˚<×≤65˚ st 80˚<×≤85˚ st 75˚<×≤80˚ st 85˚<×≤90˚ st 65˚<×≤70˚ st 80˚<×≤85˚ st 80˚<×≤85˚ st 75˚<×≤80˚ st

ah ,2 00 8
120,2 12,2 133,2 429,1 399,6 551,5 244,4 272,7 29,1 87,4 84,5 53,2 239,0 243,3 80,5 361,3 455,6 67,1 61,0 31,0 217,3 246,3 314,3 496,6 283,4 164,9 271,0 480,0 429,5 503,9 765,9 815,4 248,9 357,6 112,0 120,0 31,0 259,8 10,8 75,0 8,0 63,6 345,3 314,6 275,9 480,7 291,7 327,2 526,6 122,3

Btk A C A C C B B B B D A E B B A A C C B B A C D A A A C B A B C B A B C C A B A A B A B B C B A C B B

©I

rd ian sy

135

Tipe No 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 dsr s s s s s s s s s s s s s s s s s s s bi s s s s s s s s bi bi s s s s s s s s s s s s s s s s bi bi bi bi bi bi bi s pmk np np np np np np np np np np np p np np p np np p np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np p p p p np np np p np np np np Ktk H4 H4 H4 H4 H4 H4 H4 H4 H4 H4 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H7 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 Spit 10-20 10-20 20-30 20-30 30-40 30-40 30-40 30-40 30-40 30-40 20-30 20-30 20-30 20-30 20-30 20-30 20-30 20-30 20-30 50-60 20-30 20-30 20-30 20-30 20-30 20-30 20-30 30-40 40-50 40-50 40-50 40-50 40-50 40-50 40-50 40-50 50-60 50-60 50-60 70-80 90-100 90-100 20-30 30-40 70-80 110-120 20-30 30-40 30-40 40-50 60-70 60-70 60-70 20-30 Unit 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 1 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 1 cm 5 5 12 14 4 5 5 6 14 10 5 6 5 8 4 4 4 6 8 9 10 8 8 4 5 4 5 6 8 4 5 7 5 4 4 4 15 10 5 6 12 4 3 6 4 11 9 9 8 10 11 12 11 8

Ukr kelas kcl kcl sdg bsr kcl kcl kcl kcl bsr sdg kcl kcl kcl sdg kcl kcl kcl kcl sdg sdg sdg sdg sdg kcl kcl kcl kcl kcl sdg kcl kcl kcl kcl kcl kcl kcl bsr sdg kcl kcl sdg kcl kcl kcl kcl sdg sdg sdg sdg sdg sdg sdg sdg sdg g

Berat kelas Rn Rn Sd Br Rn Rn Rn Rn Sd Sd Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Sd Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Br Sd Rn Rn Sd Rn Rn Rn Rn Sd Sd Sd Sd Sd Sd Sd Sd Sd Krtks si si ti ti si si ci ti si ci ci si si si si si ti si ti ti ti ti si si si si si si ci si si ti si ci si si ti ci ti ci ti si si si si si si si ci ti ti ci ci ci Bhn Rj Rj Rj Fk Rj Gmp Rj Rj Gmp Rj Rj Ksd Rj Rj Rj Rj Rj Rj Rj Rj Jpr Rj Rj Rj Gmp Rj Rj Rj Rj Jpr Rj Rj Rj Rj Rj Rj Rj Rj Rj Rj Rj Ksd Rj Rj Rj Jpr Rj Rj Rj Fk Rj Jpr Rj Fk Ltk u u u u b u u u u u u u u u u u u u u b u u u u u u u u b u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u

7,6 23,3 249,3 592,6 7,0 7,0 10,1 32,1 191,3 304,6 8,1 7,9 3,5 31,3 4,8 4,5 2,4 51,3 78,2 306,9 86,6 72,4 51,4 6,8 5,5 7,8 7,3 12,9 95,4 17,3 12,3 17,7 13,2 2,7 4,5 5,8 494,7 113,9 14,7 43,9 221,6 7,9 4,1 21,1 6,0 180,1 185,6 135,4 153,5 231,5 245,4 368,5 231,3 186,0

Tajaman Sdt kisaran kelas 40˚<×≤45˚ ld 25˚<×≤30˚ ld 55˚<×≤60˚ tj 70˚<×≤75˚ st 40˚<×≤45˚ ld 25˚<×≤30˚ ld 40˚<×≤45˚ ld 40˚<×≤45˚ ld 50˚<×≤55˚ tj 80˚<×≤85˚ st 35˚<×≤40˚ ld 55˚<×≤60˚ tj 70˚<×≤75˚ ld 50˚<×≤55˚ tj 50˚<×≤55˚ tj 30˚<×≤35˚ ld 25˚<×≤30˚ ld 55˚<×≤60˚ tj 40˚<×≤45˚ ld 70˚<×≤75˚ st 65˚<×≤70˚ st 40˚<×≤45˚ ld 50˚<×≤55˚ tj 50˚<×≤55˚ tj 35˚<×≤40˚ ld 35˚<×≤40˚ ld 35˚<×≤40˚ ld 40˚<×≤45˚ ld 70˚<×≤75˚ st 65˚<×≤70˚ st 35˚<×≤40˚ ld 55˚<×≤60˚ tj 40˚<×≤45˚ ld 20˚<×≤25˚ ld 30˚<×≤35˚ ld 35˚<×≤40˚ ld 70˚<×≤75˚ st 65˚<×≤70˚ st 35˚<×≤40˚ ld 55˚<×≤60˚ tj 75˚<×≤80˚ st 65˚<×≤70˚ st 40˚<×≤45˚ ld 40˚<×≤45˚ ld 55˚<×≤60˚ tj 55˚<×≤60˚ tj 70˚<×≤75˚ st 55˚<×≤60˚ tj 70˚<×≤75˚ st 70˚<×≤75˚ st 80˚<×≤85˚ st 85˚<×≤90˚ st 80˚<×≤85˚ st 50˚<×≤55˚ tj

Btk B A B A D F A A B A B F D B D D D A B A C B B B B C C C A E A C A F A B A E A A D B A C C B B B C C B C B C

©I

rd ian sy

ah ,2 00 8

136

Tipe No 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 dsr s s s s s s s s s s s s s s s s s s s s s s s s s s s s s s s s s s s bi bi bi bi s s s pmk np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np np p np np np np np np np Ktk H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 H10 I4 I4 I4 I4 I4 I4 I4 I4 Spit 20-30 20-30 20-30 20-30 20-30 20-30 20-30 20-30 20-30 20-30 20-30 30-40 30-40 30-40 30-40 30-40 30-40 30-40 30-40 40-50 40-50 40-50 40-50 40-50 40-50 40-50 50-60 50-60 50-60 60-70 70-80 70-80 70-80 90-100 20-30 20-30 20-30 20-30 20-30 0-10 0-10 10-20 Unit 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 cm 7 6 7 5 7 5 4 4 5 7 4 12 10 7 6 4 4 5 6 15 9 3 3 4 7 4 5 4 5 5 6 5 4 11 6 12 12 13 13 10 8 9

Ukr kelas kcl kcl kcl kcl kcl kcl kcl kcl kcl kcl kcl sdg sdg kcl kcl kcl kcl kcl kcl bsr sdg kcl kcl kcl kcl kcl kcl kcl kcl kcl kcl kcl kcl sdg kcl sdg sdg bsr bsr sdg sdg sdg g

Berat kelas Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Sd Sd Rn Rn Rn Rn Rn Rn Sd Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Rn Sd Rn Sd Sd Sd Br Sd Rn Sd Krtks si si ci ti si si ti si si ci si ci ti si si si si si si si si si si si si si si si si ti ti ci si si ti ti ti ti ti ti ci ti Bhn Gmg Rj Rj Jpr Rj Rj Fk Rj Fk Rj Rj Ads Rj Rj Rj Rj Rj Rj Rj Gmp Rj Rj Rj Rj Rj Rj Rj Gmp Rj Rj Rj Rj Rj Jpr Rj Rj Rj Rj Jpr Fk Rj Rj Ltk u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u u

©I

18,6 26,4 19,0 12,5 27,2 11,2 5,3 2,5 8,8 38,1 5,8 210,1 188,5 44,3 11,6 7,6 8,9 6,3 13,1 347,8 29,3 3,0 2,0 9,5 17,3 4,4 17,9 4,3 7,0 5,5 18,2 11,4 4,2 370,7 12,1 218,0 228,4 327,7 571,2 166,5 53,3 230,9

Tajaman Sdt kisaran kelas 35˚<×≤40˚ ld 50˚<×≤55˚ tj 50˚<×≤55˚ tj 35˚<×≤40˚ ld 35˚<×≤40˚ ld 35˚<×≤40˚ ld 25˚<×≤30˚ ld 25˚<×≤30˚ ld 45˚<×≤50˚ tj 55˚<×≤60˚ tj 40˚<×≤45˚ ld 35˚<×≤40˚ ld 45˚<×≤50˚ tj 40˚<×≤45˚ ld 25˚<×≤30˚ ld 50˚<×≤55˚ tj 55˚<×≤60˚ tj 25˚<×≤30˚ ld 45˚<×≤50˚ tj 45˚<×≤50˚ tj 35˚<×≤40˚ ld 35˚<×≤40˚ ld 35˚<×≤40˚ ld 45˚<×≤50˚ tj 35˚<×≤40˚ ld 40˚<×≤45˚ ld 60˚<×≤65˚ st 35˚<×≤40˚ ld 35˚<×≤40˚ ld 50˚<×≤55˚ tj 25˚<×≤30˚ ld 45˚<×≤50˚ tj 30˚<×≤35˚ ld 60˚<×≤65˚ st 25˚<×≤30˚ ld 40˚<×≤45˚ ld 45˚<×≤50˚ tj 55˚<×≤60˚ tj 65˚<×≤70˚ st 45˚<×≤50˚ tj 55˚<×≤60˚ tj 75˚<×≤80˚ st

Btk C A C A A A C B A A B A B B B A C C B D C F B C C D D B B C B C B A C F B C A B D B

Keterangan:
dsr s bi pmk p np Ukr bsr sdg

rd ian sy
: bentuk dasar : serpih : batu inti : pemakaian : pakai : non pakai : ukuran : ukuran besar : ukuran sedang Brt Br Sd Rn Krtks si ci ti Bhn : berat : kelas berat : kelas sedang : kelas ringan : korteks : sangat intensif : cukup intensif : tidak intensif : bahan

ah ,2 00 8
Fk Gmp Jpr Ksd Mg Rj Ltk u b : fosil kayu : batugamping : jasper : kalsedon : metagamping : rijang : letak : unifasial : bifasial st tj ld Btk A B C D E

: sangat terjal : sudut terjal : sudut landai : bentuk tajaman : lurus : cembung : cekung : bergerigi : bertakik

137

Tipe

No 01 02

Kotak E4 E4

Spit 10-20 20-30

Unit 1 1

Ukr bsr kcl

Brt crg rg

Krtks ci si

Bhn Mg Fk

ah ,2 00 8
Tajaman Ltk Sdt Btk u l A C Jejak pakai Penumpulan sedikit membulat dan kilap lemak (greasy) Kilap berbentuk kubah (domed shaped), sleek striation, dan orientasi melintang u li u l A Penumpulan sedikit membulat, step fracture, kilap lemak (greasy), furrow striation, dan orientasi melintang u l C Bending fracture, kilap berbentuk kubah (domed shaped), sleek/furrow striation, dan orientasi melintang/membujur u l C Penumpulan sedikit membulat, step/hinge fracture, kilap kasar/berbutir (grainy appearance), dan orientasi melintang u t A Additive polish dan pelicinan (abrasive smoothing) pada permukaan Hinge fracture, kilap dengan lubanglubang kecil (innumearable tiny pit), pelicinan (abrasive smoothing) pada permukaan, dan orientasi membujur Penumpulan sedikit membulat, kilap lemak (greasy), dan orientasi melintang u t D ul u t F t D Kilap dengan lubang-lubang berbentuk komet (comet-shaped pits) Step fracture, kilap berbentuk kubah (domed shaped), sleek striation, dan orientasi membujur/melingkar Pelicinan (abrasive smoothing) pada tajaman, sleek striation, dan orientasi melintang u t C u t B

Perkiraan fungsi Tmg Akt Mat brtk mmt/mgrs mrt dg ky

dgm

93 I1 94

H7

20-30

1

kcl

rg

si

Rj

dgm

mmt/mgrs

dg

H10

30-40

1

kcl

rg

si

Rj

dgm

myrt/mmt

ky

an sy

139

I4

20-30

1

kcl

rg

ti

Rj

dgm

mrt

tlg

03

E4

20-30

1

sdg

crg

ti

Fk

dgm

myrt

ky

23

G4

20-30

1

bsr

crg

ti

Fk

dgm

mgj

tlg

62 I2 65

H7 H7

20-30 20-30

1 1

kcl kcl

rg

si

Ksd Rj

dgm dgm

mlb myrt

ks tmb

95

H10

70-80 110120

rd i
rg si 2 kcl rg si Rj

dgm

myrt/mmt

ky

96

H10

2

sdg

crg

si

Jpr

dgm

myrt

ky

138

©I

ah ,2 00 8
Tajaman Sdt t Jejak pakai Ltk u Btk A C Kilap lemak (greasy) u s Penumpulan sangat membulat, additive polish, sleek striation, dan orientasi melintang u s C Additive polish u s B Penumpulan sangat membulat, pelicinan (abrasive smoothing) pada tajaman, kilap lemak (greasy), sleek striation, dan orientasi melintang dan b s A Penumpulan sedikit membulat feather/hinge/step fracture b s A Pelicinan (abrasive smoothing) pada tajaman dan feather/step fracture seperti bekas tumbukan (battering).

Tipe I2

No 68 38 100

Kotak H7 H4 H10

Spit 20-30 30-40 40-50

Unit 1 1 1

Ukr kcl sdg sdg

Brt rg crg crg

Krtks si ci ti

Bhn Rj Rj Fk

Perkiraan fungsi Akt mmt/mgrs mgtm myrt Mat dg ky ky

Tmg dgm dgm

I3

dgm

43

H4

20-30

1

sdg

crg

si

Gmp

dgm

myrt

kk

II3 29 G4 30-40 1 sdg

an sy

21

G4

30-40

1

sdg

crg

ci

Mg

dgm

mblh

ky

brt

si

Rj

dgm

mblh

ky

Tabel 19: Integrasi tipe alat pakai dengan perkiraan fungsi. Keterangan:
Ukr : ukuran bsr : ukuran besar sdg : ukuran sedang kcl : ukuran kecil Brt : berat Br : kelas berat Sd : kelas sedang Rn : kelas ringan Krtks : korteks si : sangat intensif ci : cukup intensif ti : tidak intensif Bhn Fk Gmp Jpr Ksd Mg Rj Ltk u b Sdt st : bahan : fosil kayu : batugamping : jasper : kalsedon : metagamping : rijang : letak : unifasial : bifasial : sudut : sangat terjal tj ld Btk A B C D E F Tmg brtk dgm : sudut terjal : sudut landai : bentuk tajaman : lurus : cembung : cekung : bergerigi : bertakik : meruncing : teknik memegang : bertangkai : digenggam Akt : aktivitas tlg : tulang ks : kulit segar tmb : tumbuhan
kk : kulit kering

rd i

mmt/mgrs: memotong/mengiris mrt : meraut myrt/mmt: menyerut/memotong myrt : menyerut mgj : menggergaji mlb : melubangi mgtm : mengetam mblh : membelah

Mat dg ky

: materi : daging : kayu

139

©I

©I rd i an sy

ah ,2 00 8
140

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->