KELOMPOK PETERNAKAN MADANI Kampung Lapang, Desa Cipada, Kecamatan Cikalong wetan, Kabupaten Bandung Barat

PROPOSAL PENGEMBANGAN KELOMPOK PETERNAKAN SAPI POTONG

Dibuat oleh : Hendrayana. SPt

Email : hendrayanaqib2@gmail.com 2010

PENDAHULUAN

Pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang berdampak langsung pada peningkatan pendapatan perkapita penduduk telah menyebabkan meningkatnya permintaan dan konsumsi daging, termasuk daging sapi.Hal ini tampak jelas dari pertumbuhan jumlah sapi yang dipotong maupun daging sapi yang dikonsumsi secara nasional beberapa tahun terakhir.

Jumlah penduduk Indonesia saat ini sekitar 200 juta jiwa. Menurut Dirjen Bina Produksi Peternakan ternyata setiap orang Indonesia baru mampu mengkonsumsi daging sapi sekitar 1,7 juta kg/orang/tahun, maka untuk memenuhi daging sapi tersebut diperlukan 1,5 juta ekor sapi lokal untuk menghasilkan daging sebanyak 350.000 ton ditambah dengan impor sapi dari Australia sebanyak 350.000 ekor yang menghasilkan 30.000 ton daging.

Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas daging sapi potong di dalam Negeri, baik yang berasal dari sapi potong impor maupun sapi potong lokal, telah banyak berkembang akhir-akhir ini berbagai usaha penggemukan sapi potong yang dilakukan oleh para feedlotters ataupun para peternak kecil di Indonesia.Bagi peternak kecil, yang kebanyakan adalah petani di desa-desa, usaha penggemukan sapi ini merupakan alternatif yang bisa di lakukan untuk menambah pendapatan keluarga. Dengan penggemukan selama 2 sampai 6 bulan, akan dapat di peroleh hasil berupa nilai tambah berat badan sapi potong dengan kualitas dagingnya yang lebih baik

KELOMPOK PETERNAKAN MADANI

Dikarenakan masih sangat besarnya potensi peternakan sapi di Indonesia, maka kami kelompok Ternak MADANI yang dibentuk sejak Juni 2007 berupaya mengembangkan peternakan sapi yang berlokasi di Kampung Lapang, Desa Cipada Kecamatan Cikalong Wetan Kabupaten Bandung Barat. Selama ini kelompok kami lebih fokus terhadap peternakan Domba sedangkan untuk ternak Sapi baru dimulai tahun 2008 dengan 10 ekor. Adapun pengurus Kelompok Ternak MADANI terdiri dari : 1. Ketua : Tatang Ramdani

2. Sekretaris : Saepudin 3. Bendahara : Udung Sedangkan untuk pendamping/fasilitator/manajer program selama 2007 hingga sekarang adalah : Hendrayana. SPt

MAKSUD DAN TUJUAN

Sebagai suatu rencana pengembangan, maka pengajuan proposal ini mempunyai maksud dan tujuan diantaranya :

produktivitas dan efisiensi kegiatan agribisnis dan industri biologi peternakan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. tidak dapat hanya diukur dalam kemampuannya meningkatkan produksi saja. MISI : Mewujudkan peternak yang produktif.1. unggul dan berdaya saing. 3. 2. Inovasi pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kualitas. Membantu Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (P2SDS) Nasional 2014 Mengembangkan potensi peternakan sapi pada kelompok Memberdayakan masyarakat kecil KONSEP AGRIBISNIS PETERNAKAN BERBASIS KELOMPOK PEMBERDAYAAN Untuk memberikan arah yang jelas dan gambaran pelaksanaan agribisnis peternakan. maka ditetapkan Visi dan Misi pemberdayaan peternakan sebagai berikut : a. VISI : Mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan agribisnis peternakan berwawasan lingkungan b. Menciptakan pasar input dan pasar output guna menunjang perguliran ekonomi peternak dalam kelompok untuk terwujudnya kemitraan yang saling menguntungkan antara pihak peternak dengan pihak lain yang menyediakan input dan yang akan memanfaatkan hasil ternak. sukses dan sejahtera serta peternakan yang ramah lingkungan Dengan penjabaran sebagai berikut : 1. 2. Memperhatikan Visi dan Misi tersebut. 4. 3. . tetapi juga harus berkemampuan untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat peternak dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarganya. Membentuk SDM Peternak yang profesional. Menumbuhkembangkan ekonomi berkeadilan yang mempunyai basic agribisnis peternakan di pedesaan dalam wujud kelembagaan. maka keberhasilan program peternakan.

Sehubungan dengan hal tersebut. POLA OPERASIONAL PEMBERDAYAAN PETERNAKAN Suatu kebijakan yang berupa upaya upaya real dalam rangka pemberdayaan sumberdaya manusia (SDM) menuju kehidupan yang lebih baik. kelompok peternak hanya dipandang sebagai suatu objek (target groups) untuk melaksanakan suatu kegiatan atau program dari berbagai institusi. bersifat edukasi yang dikemas sedemikian rupa sehingga potensi lokal dapat lebih berkembang dan dikenal oleh stakeholder dalam skala luas (Empowering Product Packaging).V. pada segment usaha budidaya ternak (on farm agribusiness) dan pada usaha agribisnis di segment hilir (down-stream agribusiness).Biasanya.Survey dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kedhuafaan dan kemauan serta kemampuan mitra dalam kinerja baik sebagai peternak atau sebagai petani secara umum. . kegiatan atau program yang dilaksanakan oleh institusi-instusi tersebut lebih bersifat sentralistik atau top down dan seragam. baik pemerintah. Mekanisme pemberdayaan masyarakat miskin dimulai dari adanya survey lokasi sebagai studi kelayakan mitra. lembaga swadaya masyarakat.Di samping itu. atau dari pengajuan proposal yang masuk kepada lembaga. perasaan dan aturan. pemberdayaan peternakan lebih ditekankan untuk meningkatkan mutu dan peran Sumber Daya Manusia (SDM) peternak dalam upaya meningkatkan kesejahteraan. belum tentu program atau kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan kelompok pada khususnya dan peningkatan kesejahteraan peternak pada umumnya. dalam rangka meningkatkan pemanfaatan sumberdaya lokal berupa potensi peternak dan pakan ternak yang berlimpah. Pemberdayaan peternakan dan buruh tani difokuskan pada peningkatan kinerja yang efektif dan efisien terhadap investasi yang dikelolanya serta diarahkan guna mampu mencapai penghasilan sekurang-kurangnya dapat memenuhi standar biaya hidup minimum (Minimum living Cost). semenjak TCM akan dipersatukan dalam bentuk kelompok ternak dengan branding nama kelompok yang berbeda di tiap daerah.Kegiatan yang sentralistik tersebut menyebabkan kreativitas lokal tidak dapat muncul karena telah dirancangnya kegiatan tersebut sedemikian rupa. dan sekaligus untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja pertanian yang ada. Oleh karena itu. Sebagai fokus pemberdayaan adalah individu-individu yang dahulunya terpisah dalam pemikiran.Begitu pentingnya peran SDM sebagai salah satu komponen pemberdayaan peternakan. ataupun institusi lainnya. yang disebut TCM (training calon mitra). maka kebijakan pemberdayaan peternakan harus dapat mengantisipasi berbagai permasalahan yang muncul terkait hal tersebut. untuk membuat lapangan pekerjaan agribisnis peternakan pada segment hulu (upstream agribusiness). Setelah penentuan lokasi maka diadakan mekanisme pengenalan lembaga donor untuk lebih meningkatkan kepercayaan antara keduabelah pihak (lembaga peternak) disamping adanya sebuah motivasi akan pentingnya berkelompok. yang juga dapat diikuti dengan pengembangan di sektor pariwisata agribisnis. Selama ini. perguruan tinggi. tahap berikutnya adanya breeding pada unit kelompok yang nantinya dikembangkan menjadi pusat perbibitan ternak pedesaan (Village Breeding Center). maka pengembangan kegiatan di awali dengan adanya mekanisme penggemukan Ternak (Fatening) pada kelompok untuk menggeliatkan pendapatan peternak.

Pembentukan Kelompok Prosedur pembentukan kelompok dimulai dari survey lapangan/analisis kelayakan petani peternak dengan mengacu pada kriteria sebagai berikut: a.Selama ini kelompok telah bekerjasama dengan yayasan. downstream agribusiness dan kegiatan trading pada market komersil. untuk lebih memaksimalkan peran strategis dari kelompok. d. pada tahun 2008 kelompok dapat memasarkan 13 ekor Sapi dan tahun 2009. sehingga akan terus dipacu. Pengembangan kawasan . 24 ekor . Gambar 1. Manajer Program sebagai Shohibul Maal (Pemilik Modal). yang diharapkan mampu untuk menggerakkan usaha-usaha agribisnis peternakan yang lain pada segment on farm. e. dan Mitra pemberdayaan sebagai Mudlorib (pengelola modal) . 2.Pengembangan kegiatan tersebut. bandar dan pihak konsumen individu dalam pemasaran sapi. Dapat mengusahakan atau telah memilki kandang ternak b. 2. Mengikuti Training Calon Mitra (TCM) yang diselenggarakan oleh pemilik program. dalam rangka mewujudkan wilayah kelompok mitra sebagai sumber bibit berbagai jenis ternak yang berkualitas dan terbesar di provinsi Jawa Barat maupun di tingkat Nasional. Hal ini dalam mendukung Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (P2SDS) Nasional. Mekanisme pemberdayaan peternakan berbasis komunitas di pedesaan Aturan Umum Kelompok Pemberdayaan Peternakan Teknis Pelaksanaan : 1. Bersedia menjadi mitra anggota dalam kelompok hasil kesepakatan bersama. dengan : 1.kawasan pusat perbibitan ternak ini. Amanah dan Mampu serta berkeinginan kuat mengembangkan usaha Sapi potong. perlu didesain untuk dapat dikembangkan menjadi kegiatan agribisnis peternakan unggulan daerah. Agribisnis perbibitan peternakan ini ke depan mempunyai prospek yang sangat cerah. karena usaha ini merupakan kegiatan agribisnis di segment hulu. Utamanya waktu Idul Adha. Bekerja sambilan atau utama dengan penghasilan rendah dan manajemen tradisional (tergolong Dhuafa) c. Aturan Perguliran dana kelompok Bentuk kerjasama adalah Syirkah Mudlorobah. Pada tahap berikutnya lebih ditekankan pada aspek pemasaran melalui jaringan pasar yang sengaja dibuat. sangat memerlukan dukungan dari berbagai stakeholders terkait.

Pengguliran dana kembali a. 4.5% untuk operasional kelompok dan 5% untuk kegiatan kelompok. Manajer program sebagai Shohibul Maal menggulirkan kembali 40 % dari keuntungan bersih dengan porsi sebagai berikut : 20% untuk penambahan modal. c. 1. 2. d. untuk nisbahnya sebagai berikut . b. 7. 7.Pembagian hasil keuntungan Shohibul Maal dengan Modloorib terjadi setiap ada penjualan Ternak (baik penggemukan atau perbibitan). Rounded Rectangle: Laba Bersih 100%Mitra peternak sebagai Mudlorib memperoleh sebesar 60 % dari keuntungan bersih. Uang hasil penjualan setelah dipotong bagian mitra (Modal + 40%) jika masih di tangan mitra/belum disetorkan maka tidak boleh di pinjam oleh mitra. Uang hasil penjualan domba dilaporkan kepada Manajer kelompok dalam bentuk cash. Pengguliran dana kembali dilakukan dengan menambahkan hasil keuntungan dan uang pokok pembelian. Selanjutnya dana bergulir akan diatur oleh Lembaga Keuangan mikro kelompok. 5. Mekanisme pengadaan sampai penjualan Sapi dilakukan seperti aturan sebelumnya dengan Akad baru. Kerugiaan dari usaha diatur sebagai berikut : .5% untuk obat & vitamin ternak.

Harga Harga Sapi saat pembelian ditentukan melalui mekanisme tawar menawar dengan pihak penjual yang melibatkan pihak manajer kelompok dengan mitra peternak. Jumlah Jumlah Sapi untuk mitra peternak ditentukan berdasarkan hasil survey dan kesanggupan peternak (kapasitas kandang). Waktu penggemukan Sapi jantan dimulai saat umur pembeliaan dan ditambah minimal 6 bulan masa produksi di kandang mitra.Keputusan akhir jumlah Sapi tiap mitra berada ditangan Manajer kelompok. Kesehatan . 6. 3. Kerugian akibat kelalaian Shohibul Maal dan hal-hal diluar kendali serta kerugiaan yang diakibatkan faktor alam menjadi tanggungan pihak Shohibul Maal 2. Aturan Pengadaan Sapi a. b. 6. Waktu pembibitan Sapi betina dimulai saat umur pembeliaan dengan cara kawin alami ataupun kawin suntik (IB). 4. Kerugiaan akibat kelalaian Mudlorib menjadi tanggungan Mudlorib (mitra peternak).1. 2. Atau sesuai dengan kesepakatan mitra dengan kelompok b. Aturan Pemeliharaan a. 3. Waktu Produksi 1. Apabila terdapat kematian atau kehilangan maka mitra peternak harus secepatnya melaporkan penyebabnya kepada pengurus kelompok serta membuat berita acaranya. 7. tanpa pembagian laba rugi. 5. Pengurus kelompok harus melakukan investigasi penyebab kematian atau kehilangan kepada mitra peternak. Surat peringatan akan diberikan dua kali dan apabila terjadi untuk ketiga kalinya maka Sapi yang ada pada mitra akan dialihkan kepada anggota lain. Surat peringatan akan dikeluarkan kepada mitra peternak membiarkan musibah begitu saja tanpa ada penanganan terlebih dahulu.

jika nanti terjadi penjualan ternak dan keuntungan mitra otomatis akan dipotong disaat terdapat keuntungan hasil penjualan. Infak Setelah transaksi penjualan. harus lebih diberdayakan untuk dapat me-ningkatkan penghasilan dan kesejahteraannya. Harga jual ternak hasil produksi disesuaikan dengan kondisi (umur.5%). 9. Mekanisme Pinjam Potong Mitra anggota kelompok diperkenankan meminjam uang kepada kelompok sebatas perkiraan jumlah keuntungan (60%). uang hasil keuntungan dibagi sesuai kesepakatan maka masing masing pihak harus mengeluarkan infak yang jumlahnya sukarela. 11. .Waktu pertemuan disepakati bersama oleh anggota kelompok. dll) saat terjadi penjualan. Pemasaran hasil produksi ternak diutamakan diusahakan bersama pengurus dan Manajer kelompok dengan memanfatkan peluang pasar yang tersedia. Untuk itu.bobot karkas. Aturan Penjualan a. 8.bobot hidup. Sedangkan obat-obatan disediakan oleh peternak dengan memanfaatkan obat tradisional yang ada dilingkungan mitra peternak dan menggunakan dana kelompok dari bagi hasil (7. 10. b. c. Sehingga komponen pemberdayaan peternakan menjadi : (1) Peternak sebagai subjek pemberdayaan. maka keberadaan pemberdayaan peternakan yang semula hanya dititik beratkan pada usaha budidaya ternak.Kesehatan ternak Sapi saat pemeliharaan menjadi tanggung jawab mitra dengan mendapatkan pendampingan dari Manajer kelompok untuk penanganan masalah kesehatan yang tidak bisa ditangani sendiri oleh mitra. Pakan dan obat-obatan Pengadaan pakan untuk ternak Sapi disediakan dan diusahakan oleh mitra peternak sendiri. Pertemuan Kelompok Kelompok diharuskan mengadakan pertemuan rutin guna membahas hal-hal yang berkaitan tentang masalah kelompok dan pengajian kelompok. harus dikembangkan menjadi suatu kegiatan yang berwawasan industri biologi peternakan yang dapat dikendalikan oleh peternak.

subsistem budidaya. Pengembangan kelembagaan peternak ditujukkan untuk kemandirian dan ketangguhan kelompok peternak sebagai subyek pemberdayaan dan mampu mengangkat perekonomian rakyat. dan subsistem pemasaran.Pada awalnya pemberdayaan agribisnis peternakan dapat difasilitasi dan diintroduksi oleh pihak lembaga. lermbaga penelitian. Kelembagaan peternak adalah organisasi yang tumbuh dari. modal sendiri dan seadanya. 2. Misalnya. kemudian untuk selanjutnya ditumbuhkembangkan oleh masyarakat di kawasan tersebut.Sehingga dengan adanya pembinaan dan pemberdayaan kelembagaan . koperasi. dan untuk masyarakat sendiri yang didasari atas kesamaan kepentingan di bidang peternakan dan memiliki aturan dan administrasi tentang kegiatan peternak dan recording ternak. Dari Kelompok Peternak Menjadi Kelembagaan Peternak Berikut diuraikan mengenai definisi kelembagaan agribisnis. lembaga pemerintah. usaha yang dilakukan oleh kelembagaan peternak bersumber pada ketrampilan yang dimiliki kelompok. Program pemberdayaan agribisnis berbasis peternakan secara operasional merupakan suatu proses pembangunan melalui pengembangan wilayah berbasis keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya. diperbaharui dan dimodernisasi. Peternak adalah pelaku usaha agribisnis yang sumber penghasilannya berasal dari pengelolaan usaha agribisnis peternakan baik usaha monokultur (peternakan saja) ataupun polikultur (terpadu dengan usaha agribisnis komoditas lainnya) 3.Sehingga kawasan agribisnis peternakan tersebut diharapkan dapat dijadikan sebagai pusat berbagai pertumbuhan ekonomi wilayah.Selanjutnya dalam hal ini pemerintah hanya bertindak sebagai fasilitator dan dinamisator.(2) Ternak sebagai objek yang harus diusahakan untuk dapat ditingkatkan produksi dan produktivitasnya. Kelembagaan agribisnis adalah lembaga-lembaga yang mendukung kegiatan agribisnis yang dimulai dari subsistem sarana dan prasarana produksi. (5) Pengolahan. Arah pemberdayaan agribisnis peternakan seharusnya sudah mengakomodir lokal spesifik dengan menggerakkan partisipasi masyarakat dan dunia usaha. oleh. (4) Teknologi dan pengetahuan peternakan sebagai cara inovasi untuk meningkatkan efisiensi usaha tani-ternak perlu selalu ditingkatkan.Pada umumnya. serta harus disesuaikan dengan kebutuhan para pelaku agribisnis peternakan. dan sebagainya. pemasaran dan perdagangan produk produk agribisnis peternakan yang berkualitas tinggi dengan harga layak dan terjangkau konsumen. (3) Lahan sebagai basis ekologi budidaya ternak harus dapat dilestarikan fungsi kesu-buran hamparan dan fungsi hidrologinya. dan kelembagaan peternak sebagai berikut: 1. subsistem pengolahan. peternak.

ini sering juga disebut sustainable mix farming atau mix farming. Dalam keterbatasan yang dilematis tersebut diperlukan jalan keluar yang bijaksana dengan membangun paradigma baru. Gambar 2. sedangkan aspek yang dikerjasamakan dalam kelompok seperti pengadaan sarana produksi. Hal tersebut dimaksudkan untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam hal kecukupan pangan dengan cara mengembangkan sistem pertanian yang terintegrasi misalnya tanaman pangan. pasar ternak kelompok. Anggota kelompok terdiri dari para peternak yang saling mempercayai. sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat peternak setempat. penjualan hasil produksi. Oleh karena itu. Mendorong dan membimbing para peternak yang semula berusaha sendiri (usaha rumah tangga) agar mampu bekerjasama dibidang ekonomi secara berkelompok. upaya yang dapat ditempuh untuk pemberdayaan kelembagaan peternak tersebut dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut: 1. dimana setiap mata rantai siklus menghasilkan produk baru yang memiliki nilai ekonomi tinggi. guna pengembangan kegiatan agribisnis peternakan yang telah ada.peternak diharapkan terjadi keterpaduan usaha mulai dari penanganan budidaya sampai pada pemasaran hasilnya. juga dapat memanfaatkan hasil samping atau hasil ikutan peternakan seperti kompos (manure). dimana dapat mengantisipasi berbagai tantangan. ini diarahkan pada upaya memperpanjang siklus biologis dengan mengoptimalkan pemanfaatan hasil samping pertanian dan peternakan atau hasil ikutannya. ekonomis dan berkesinambungan. dan mempunyai kepentingan bersama sehingga akan tumbuh kerjasama yang kompak dan serasi. sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi para anggotanya. Transformasi kelompok dari kelembagaan sosial menuju kepada kelembagaan ekonomi Kegiatan agribisnis peternakan dikembangkan dengan konsep pemberdayaan kawasan terpadu dengan mempertahankan kelestarian lingkungan hidup. Tujuan dari ditumbuhkannya gabungan kelompok ini adalah untuk mengembangkan sistem dan usaha agribisnis. Selanjutnya dengan telah terwujudnya inti pengembangan pada kawasan-kawasan peternakan tersebut. 2. Sistem mix-Farming. yaitu sistem peternakan yang berwawasan ekologis. saling kenal satu sama lain. seperti pasar global dan otonomi . diawali dengan menerapkan kegiatan agribisnis inti pengembangan : seperti pengandangan ternak secara koloni (Wisma Ternak). akan menjadi tantangan untuk dapat menumbuhkan kreasi-kreasi penerapan teknologi. Sehubungan hal tersebut di atas konsep pemberdyaan pertanian-peternakan harus dirumuskan secara komprehenship. Usaha tetap dijalankan di masing-masing keluarga. sehingga dengan sistem ini diharapkan pemberdayaan dan pemanfaatan lahan marginal di seluruh daerah (kabupaten/kota) dapat lebih dioptimalkan. khususnya pada kegiatan budidaya peternakan penggemukan dan perbibitan Sapi potong. pakan dan ternak. dan upaya mendapatkan pendanaan dapat diusahakan dalam kelompok. dimana dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk organik dan limbah pertaniannya dapat dipakai sebagai pakan ternak. Menumbuhkan gabungan kelompok yang usahanya sejenis atau sering juga disebut sebagai asosiasi.

Pertanyaannya adalah bagaimana sebenarnya profil kelembagaan pasar input dan output dalam usaha ternak rakyat. sosis. dan fungsi pelancar (standarisasi dan grading. pengolahan. Kelembagaan pasar input dan output memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan usaha ternak rakyat. antara lain pasar. selain itu ternak juga dapat dijadikan dalam meningkatkan status sosial. Keberadaan kelembagaan pasar input dan output dalam usaha ternak itu akan dapat memecahkan masalah dalam usaha ternak. keju. fungsi fisik (pengangkutan.Ternak juga dapat dipakai sebagai penghasil pupuk organik dimana sangat baik untuk meningkatkan produksi pertanian. peternakan merupakan sumber pangan yang berkualitas. sejauhmanakah peran kelembagaan pemasaran .daerah. Itulah barang kali suatu kajian di mana merupakan tuntutan dari semangat pemberdayaan pertanianpeternakan yang disesuaikan dengan permintaan pasar sehingga pengembangan sistem pertanianpeternakan terpadu sangatlah menjanjikan. Berjalan tidaknya fungsi-fungsi tersebut tergantung pada kelembagaan yang melekat dalam fungsi itu. akan tetapi juga dipengaruhi aspek sosial ekonomi. salah satu model yang dapat mengantisipasi tantangan pasar global adalah pengembangan sistem pertanian yang berkelanjutan (sustainable mixed farming) dengan berbagai industri peternakan. Bagi masyarakat pedesaan ternak-ternak seperti kerbau. Secara empiris. dendeng. kambing. Di dalam proses pemasaran komoditi terdapat tiga fungsi utama yaitu fungsi transaksi (jual-beli). Dalam prespektif ekonomi makro. penyimpanan). kelembagaan pasar input dan output dalam usaha ternak di lapangan kondisinya beragam pada setiap kelompok. sapi perah. Jadi dari semua kegiatan-kegiatan yang ada kaitannya dengan pertanian dan peternakan dapat menciptakan lapangan kerja. memilki peranan strategis karena ternak-ternak tersebut dapat digunakan sebagai tabungan hidup. domba. demikian halnya dengan usaha ternak rakyat itu sendiri yang bervariasi antar petani ternak di setiap lokasi. Kelembagaan merupakan fenomena sosial ekonomi yang berkaitan dengan hubungan antara dua atau lebih pelaku interaksi sosial ekonomi mencakup dinamika aturan-aturan yang berlaku dan disepakati bersama oleh para pelaku interaksi. Kelembagaan Pemasaran Keberhasilan usaha ternak tidak hanya ditentukan ketersediaan aspek teknologi peternakan. di mana dapat menghasilkan abon. bakso. mentega ataupun krim dan juga dapat menghasilkan kerajinankerajinan kulit tanduk ataupun tulang. sumber tenaga kerja bagi ternak kerbau dan sapi potong. Jika dalam pemasaran terdapat kelembagaan yang kurang berfungsi akan menyebabkan tidak tercapai pemasaran yang efisien yang dicirikan antara lain biaya pemasaran yang tinggi dan distribusi marjin yang tidak merata. Tidak tercapainya pemasaran yang efisien dapat dipandang sebagai indikator adanya permasalahan dalam kelembagaan pemasaran. meskipun tetap harus memperhatikan aspek agro ekosistem wilayah dan sosio kultur masyarakatnya. disertai dengan analisis mengenai hasil akhir yang diperoleh dari interaksi yang terjadi. penanggulangan risiko. sapi potong. pembiayaan dan informasi pasar). Pasar komoditi mempunyai fungsi sebagai jembatan untuk mempertemukan antara kepentingan produsen (peternak) dengan konsumen. misalnya daging ataupun susu merupakan bahan baku industri pengolahan pangan.

Pasar Swadaya Mitra Kelompok Kelompok diharapkan mendirikan pasar kelompok input dan output untuk mendukung berputarnya dana mitra kelompok. baik perorangan maupun lembaga pemasaran atau pelaku pemasaran lainya. Peran perantara dalam pemasaran ternak dicerminkan pedagang pengumpul/Bandar. pengangkutan.Di dalam prakteknya pembentukan harga tidak terlepas dari keterlibatan perantara. karena masing-masing lembaga pemasaran berupaya mendapatkan keuntungan sebagai marjin usaha. Keberhasilan usaha ternak utamanya ditinjau dari peningkatan pendapatan peternak sangat tergantung pada pembentukan harga yakni proses negosiasi antara peternak dengan calon pembeli. Kondisi demikian tidak terlepas dari dua hal yakni : (a) pasar ternak cenderung bersifat oligopoly sehingga pihak pedagang berperan dominan dalam penentuan harga dan (b) adanya kebiasaan petani menjual dalam kondisi terdesak kebutuhan uang tunai.input dan output dalam mendukung keberhasilan usaha ternak. pengolahan. Mitra merupakan pemegang saham dari pendirian pasar kelompok yang diwakilkan kepada lembaga keuangan kelompok. dan lainlain) dan keuntungan lembaga pemasaran.Pedagang pengumpul selalu berusaha menekan harga dari peternak agar mendapatkan marjin keuntungan yang besar. Keterlibatan lembaga pemasaran dalam pergerakan produk dari produsen kepada konsumen juga mempengaruhi proses pembentukan harga.sehingga nantinya dapat menjadi sumber lain pendapatan mitra dari pengelolaan pasar kelompok. . Oleh karena itu meskipun di dalam prakteknya pembentukan harga antara pedagang pengumpul dengan peternak dilakukan melalui negosiasi. memperkuat domain pedagang dan memperlemah petani peternak yang pada akhirnya menyebabkan rendahnya nilai tambah yang diperoleh peternak dari usaha ternaknya. Proses perguliran dana kelompok sebagian besar tidak hanya pada asset yang berupa ternak. Pembentukan harga dalam transaksi ternak ditentukan oleh mekanisme pasar atau kekuatan permintaan dan penawaran. penyimpanan. Marjin terjadi karena biaya-biaya pemasaran (pengumpulan. sehingga nilai tambah yang diperoleh tetap kecil. Adanya dominasi pedagang disatu sisi dan kebutuhan peternak yang mendesak.Keberadaan pedagang pengumpul/Bandar ini mempengaruhi pembentukan harga karena dalam melakukan pembelian ternak kepada peternak berpatokan pada standar harga yang ditetapkan pedagang besar. sehingga berapapun yang ditawarkan pembeli disetujui. karena sifat dari pasar ternak yang bebas. peternak tetap saja sebagai penerima harga ("price taker") yang menerima harga jual lebih rendah dari pada taksiran harga. namun juga bergulir dalam wujud pasar kelompok yang dikelola melalui lembaga keuangan. Serta faktor-faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kinerja kelembagaan pemasaran tersebut.

Untuk meningkatkan kinerja pemasaran input dan output usaha ternak diperlukan dorongan untuk terwujudnya kemitraan yang saling menguntungkan antara pihak peternak dengan pihak lain yang menyediakan input dan yang akan memanfaatkan hasil ternak. 8. sehingga keturunannya menjadi unggul dalam proses penggemukan kelak. Pengelolaan dilakukan oleh lembaga keuangan yang professional sehingga setiap tahun saat perkumpulan mitra. TEKNOLOGI PEMBIBITAN DAN PENGGEMUKAN SAPI Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh peternak tradisional dalam peternakan sapi adalah adalah produktivitas ternak sapi yang rendah. Para petani tradisional terbiasa menggunakan jerami dan hijau-hijauan sebagai makanan pokok untuk ternak sapi. Pemilihan bibit unggul Sapi potong.Salah satu faktor penyebab rendahnya produktivitas adalah pemilihan pakan ternak yang tidak sesuai dengan sistem pengemukan sapi modern.Seluruh mitra menanamkan sahamnya kepada lembaga keuangan pengelola pasar berupa satu ekor Sapi dengan harga sekitar Rp. penjualan sapronak. hasil dari pengelolaan pasar (retribusi keluar masuk ternak.000.Sedangkan untuk penggemukan sapi agar lebih intentif dan produktifitas menjadi tinggi maka makanan dengan kandungan protein dan karbohidrat yang tinggi sangat diperlukan. Teknologi pembibitan Sapi potong yang digunakan adalah dengan kawin suntik (IB) yang bekerjasama dengan dinas peternakan setempat untuk pelaksanaannya.000. jika di kelompok jumlah mitra 20 orang maka dana yang terkumpul tersebut digunakan sebagai modal awal pendirian pasar swadaya mitra. dll) dapat dibagi merata kepada mitra pemegang saham. RENCANA PEMBANGUNAN KANDANG SAPI .

Kebutuhan Modal Usaha Penggemukan dan Pembiakan Ternak Sapi Potong Kebutuhan Modal untuk usaha peternakan sapi potong dan pembiakan sapi dengan konsep berbasis agribisnis secara global digunakan untuk Investasi Kandang dan Alat. Pembelian ternak serta biaya operasional. INVESTASI KANDANG DAN ALAT 1 Pembangunan kandang . KEBUTUHAN MODAL 1. Secara rinci kebutuhan modal tersebut digambarkan dalam Tabel sbb : A.Line Callout 3 (Border and Accent Bar): Kandang Kapasitas 35 ekor sapi Line Callout 1: Tempat Makan Line Callout 2 (Border and Accent Bar): Bak Penampungan Kotoran VIII.

000.000.00 Perlengkapan kandang Rp 3 5.00 Peralatan pengomposan Rp 5 2.000.000.Rp 2 15.00 Instalasi listrik dan air Rp 8.000.000.00 TOTAL .000.000.00 Pengelolaan HMT dan Tanaman pangan Rp 4 3.000.000.

000.00 B.000.000.00 C.9.000.000.000. BIAYA OPERASIONAL SELAMA 120 HARI 1 Pakan Konsentrat sapi induk Rp 27.00 TOTAL Rp 330. PEMBELIAN HEWAN TERNAK 1 Sapi induk 30 ekor (per ekor Rp.000.00 .000) Rp 270.000.000.6.000.00 2 Sapi bakalan 10 ekor (per ekor Rp.Rp 33.000.000) Rp 60.000.

00 Pengolahan kompos .500) 2 Pakan konsentrat sapi bakalan Rp 10.(120 harix5kgx30ekorxRp.00 Pendampingan Rp 5 6.700) 3 Vitamin dan Obat-obatan Rp 4 2.000.000.000.00 (120 harix5kgx10ekorxRp.000.1.000.200.1.

000. komunikasi.000. Analisis Kelayakan Usaha Asumsi dasar yang dipergunakan dalam melakukan analisis kelayakan usaha antara lain : 1.000.000. transportasi Rp 7 3.00 Administrasi Rp 4.00 TOTAL MODAL YANG DIBUTUHKAN (Modal A + Modal B + Modal C) Rp 417.800.000.000.000.000.000.00 TOTAL Rp 54.Rp 6 1.00 2. Jumlah sapi bakalan yang dibeli .00 Listrik.

Harga jual pedet umur 4 bulan 4.000.95kg/ekor/hari 6. Jumlah sapi induk yang dibeli 30 ekor 3. Biaya operasional (tetap dan tidak tetap/siklus) .000 5. Rata-rata PBB harian 0.000 4.000 9. Harga jual sapi penggemukan 8. Harga sapi bakalan / ekor 6.000.000. Harga sapi induk / ekor 9. Siklus Pemeliharaan sapi penggemukan 120 hari ( 4 bulan) 7.500.000 8.10 ekor 2.

Dengan begitu. sehingga dapat mendorong peningkatan efisiensi produksi dan meningkatkan keuntungan hasil usaha taninya.67 10. mendukung dan saling menguntungkan.12 sehingga memiliki tingkat keuntungan yang besar. usaha yang akan dilaksanakan di kelompok ternak MADANI Desa Cipada Kecamatan Cikalong Wetan Kabupaten Bandung Barat Jawa Barat ini layak untuk dilaksanakan.Ternak yang kita pelihara tidak mengganggu tanaman yang kita usahakan. Sistem produksi ternak sapi yang dikombinasi dengan lahan-lahan pertanian disesuaikan dengan jenis tanaman pangan yang diusahakan.limbah buangan sayuran atau ternak dapat digembalakan di pinggir atau pada lahan yang belum ditanami dan pada lahan setelah pemanenan hasil. rumput. adalah memadukan antara kegiatan peternakan dan pertanian.113. bahkan mendukung. Harga jual kompos/kg 400 11. sehingga pola ini sering disebut pola peternakan tanpa limbah karena limbah peternakan digunakan untuk pupuk. sehingga ternak dapat memanfaatkan limbah tanaman pangan.666. gulma.366. Interaksi antara ternak dan tanaman haruslah saling melengkapi. Sebaliknya ternak dapat mengembalikan unsur hara dan memperbaiki struktur tanah melalui urin dan kotoran padatnya. Misalnya ternak kita beri makan dari hasil limbah (jerami) dari sawah. semak dan hijauan pakan yang tumbuh di sekitar tempat tersebut. . Penyusutan investasi kandang dan alat 10 tahun Dari analisa rugi laba yang dilakukan. Integrasi hewan ternak dan tanaman dimaksudkan untuk memperoleh hasil usaha yang optimal. dan limbah pertanian untuk makan ternak. menghasilkan laba pertahun sebesar 10.10% dan B/C rasio sebesar 1. PERTANIAN TERPADU (Integrasi ternak dan tanaman) Pola integrasi antara tanaman dan ternak atau yang sering kita sebut dengan pertanian terpadu. dan dalam rangka memperbaiki kondisi kesuburan tanah.Dalam hal ini tanaman pangan sebagai komponen utamanya dan ternak menjadi komponen keduanya.Pola ini sangatlah menunjang dalam penyediaan pupuk kandang dilahan pertanian.

Sebenarnya pertanian terpadu telah dilakukan oleh para petani kita. Demikian proposal PENGEMBANGAN KELOMPOK PETERNAKAN SAPI POTONG ini disusun.Petani dapat memanfaatkan limbah tanamannya (misal jerami) sebagai pakan hewannya sehingga tidak perlu mencari pakan lagi. baik bermanfaat bagi kelompok tani. serta produksi susu.Di dalam sistem tumpangsari ini tanaman perkebunan sebagai komponen utama dan tanaman rumput dan ternak yang merumput di atasnya merupakan komponen kedua. Keuntungan-keuntungan dari sistem ini antara lain : (1) Dari tanaman perkebunannya dapat menjamin tersedianya tanaman peneduh bagi ternak. petani juga dapat menggunakan tenaga sapi untuk pengolahan tanah. Dengan meningkatnya populasi ternak sapi akan mampu menjamin ketersediaan pupuk kandang di lahan pertanian. Ditinjau dari sisi peluang pasar yang cukup terbuka lebar. Sistem tumpangsari tanaman dan ternak dipraktekkan di daerah perkebunan.. Oleh karena itu upaya ini dapat digalakan pada tingkat petani baik dalam rangka penggemukan ataupun dalam perbanyakan populasi. kesuburan tanah dapat terjaga. Tujuan sistem ini adalah untuk pemanfaatan lahan secara optimal. dan pertanian bisa berkelanjutan. ditinjau dari sisi profit yang cukup menguntungkan serta dari sisi kemanfaatan yang cukup besar dan menjanjikan. (2) meningkatkan kesuburan tanah melalui proses kembaliya air seni dan kotoran padatan ke dalam tanah. dan ternak sapi dapat digunakan sebagai investasi (tabungan) yang sewaktu-waktu membutuhkan dapat dijual untuk keperluan yang medesak. (3) meningkatkan kualitas pakan ternak. masyarakat dan lingkungan sekitar. yang terkonsep secara agribisnis terpadu memiliki peluang pengembangan yang sangat luas. PENUTUP Usaha penggemukan sapi potong dengan skala usaha 10 ekor selama 120 hari per periode dan pembiakan sapi 10 ekor selama 1-2 tahun. serta membatasi pertumbuhan gulma. (5) meningkatkan hasil tanaman perkebunan dan (6) meningkatkan keuntungan ekonomis termasuk hasil ternaknya. sehingga dapat mengurangi stress karena panas. Sehingga program pertanian organik dapat terlaksana dengan baik. sebagai bahan pertimbangan dan acuan dalam pelaksanaan program Ketua Kelompok Peternakan MADANI Pendamping Kelompok .

Tatang Ramdani Hendrayana. SPt .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful