makalah nody

1.

Persamaan diferensial parsial Persamaan Diferensial Parsial (PDP) adalah persamaan yang di dalamnya terdapat suku-suku diferensial parsial, yang dalam matematika diartikan sebagai suatu hubungan yang mengaitkan suatu fungsi yang tidak diketahui, yang merupakan fungsi dari beberapa variabel bebas, dengan turunan-turunannya melalui variabel-variabel yang dimaksud. PDP digunakan untuk melakukan formulasi dan menyelesaikan permasalahan yang melibatkan fungsi-fungsi yang tidak diketahui, yang merupakan dibentuk oleh beberapa variabel, seperti penjalaran suara dan panas, elektrostatika, elektrodinamika, aliran fluida, elastisitas, atau lebih umum segala macam proses yang terdistribusi dalam ruang, atau terdistribusi dalam ruang dan waktu.

Persamaan diferensial dapat dibedakan menjadi dua macam tergantung pada jumlah variabel bebas. Apabila persamaan tersebut mengandung hanya satu variabel bebas, persamaan disebut dengan persamaan diferensial parsial. Derajat (order) dari persamaan ditentukan oleh derajat tertinggi dari turunannya. Sebagai contoh persamaan diferensial biasa di bawah ini adalah berorder satu, karena turunan tertingginya adalah turunan pertama.
x dy  y!3 dx

Sedang persamaan diferensial biasa berorder dua mengandung turunan kedua sebagai turunan tertingginya, seperti bentuk di bawah ini: d2y dx  3  2y ! 0 2 dx dy Contoh persamaan diferensial parsial dengan variabel bebas x dan t adalah:
x y x2 y ! 2 xt xx

Penyelesaian persamaan diferensial adalah suatu fungsi yang memenuhi persamaan diferensial dan juga memenuhi kondisi awal yang diberikan pada persamaan tersebut. Di dalam penyelesaian persamaan diferensial secara analitis, biasanya dicari penyelesaian umum yang mengandung konstanta sembarang dan kemudian mengevaluasi konstanta tersebut sedemikian sehingga hasilnya sesuai

Untuk mendapatkan penyelesaian tunggal diperlukan informasi tambahan. Misalnya persamaan (1). Gambar 1. Untuk persamaan order n biasanya diperlukan n kondisi untuk mendapatkan penyelesaian tunggal y (x). menunjukkan beberapa kemungkinan dari penyelesaian persamaan (2). misalnya nilai y (x) dan atau turunannya pada nilai x tertentu. permasalahan disebut dengan problem nilai batas.dengan kondisi awal. disertai kondisi awal yaitu x = 0. yang tergantung pada nilai C. dan biasanya hanya untuk menyelesaikan persamaan linier dengan koefisien konstan. Misalkan suatu persamaan diferensial biasa berorder satu. sebagai berikut: dy !y dx (1) Penyelesaian dari persamaan tersebut adalah: y ! C ex (2) yang memberikan banyak fungsi untuk berbagai nilai koefisien C. Metode penyelesaian persamaan diferensial secara analitis terbatas pada persamaan-persamaan dengan bentuk tertentu. Apabila semua n kondisi diberikan pada nilai x yang sama (misalnya x0). nilai y = 1 atau: y ( x ! 0) ! 1 (3) Substitusikan persamaan (8.3) ke dalam persamaan (2) memberikan: 1! atau C=1 Dengan demikian penyelesaian tunggal yang memenuhi persamaan: dy !y dx y ( x ! 0) ! 1 adalah:   e0 . maka permasalahan disebut dengan problem nilai awal. Apabila dilibatkan lebih dari satu nilai x.

Penyelesaian persamaan (1) dan persamaan (3) adalah mencari nilai y sebagai fungsi dari x. Persamaan diferensial memberikan kemiringan kurve pada setiap titik sebagai fungsi x dan y. y1) yang telah diperoleh tersebut digunakan untuk menghitung nilai y2 di titik x2 yang berjarak (x dari x1. Penyelesaian persamaan dy !y dx Metode penyelesaian numerik tidak ada batasan mengenai bentuk persamaan diferensial. y0). Hitungan dimulai dari nilai awal yang diketahui. . Untuk mendapatkan hasil yang lebih teliti maka jarak (interval) antara titik-titik yang berurutan tersebut dibuat semakin kecil. Selanjutnya titik (x1. Berdasar nilai y0 di titik x0 dan kemiringan fungsi di titik-titik tersebut dapat dihitung nilai y1 di titik x1 yang berjarak (x dari x0. misalnya di titik (x0. Penyelesaian berupa tabel nilai-nilai numerik dari fungsi untuk berbagai variabel bebas.y ! ex Gambar 1. Penyelesaian suatu persamaan diferensial dilakukan pada titik-titik yang ditentukan secara berurutan. seperti pada Gambar 2. Kemudian dihitung kemiringan kurve (garis singgung) di titik tersebut. Prosedur hitungan tersebut diulangi lagi untuk mendapatkan nilai y selanjutnya.

sehingga persamaan (5) dapat ditulis menjadi: yi  1 ! yi  f ( xi . yi).. Metode Euler Metode Euler adalah salah satu dari metode satu langkah yang paling sederhana. Namun demikian metode ini perlu dipelajari mengingat kesederhanaannya dan mudah pemahamannya sehingga memudahkan dalam mempelajari metode lain yang lebih teliti. Penyelesaian numerik persamaan diferensial 1. 1! 2! Apabila nilai (x kecil. Metode Euler dapat diturunkan dari Deret Taylor: y i  1 ! y i  y i' x x2  y i''  . metode ini paling kurang teliti. kemiringan * = yi' = f (xi . sehingga persamaan diatas dapat ditulis menjadi: yi  1 ! yi  yi x (5) Dengan membandingkan persamaan (4) dan persamaan (5) dapat disimpulkan bahwa pada metode Euler..Gambar 2. maka suku yang mengandung pangkat lebih tinggi dari 2 adalah sangat kecil dan dapat diabaikan. Di banding dengan beberapa metode lainnya. yi ) x (6) ¡ .

5 x  1. nilai yi + 1 diprediksi dengan menggunakan kemiringan fungsi (sama dengan turunan pertama) di titik xi untuk diekstrapolasikan secara linier pada jarak sepanjang pias ( x. 3.5 dari titik awal yaitu x = 0.5) ! y (0)  f (0 . 1) 0. 2. y) !  2 x 3  12 x 2  20 x  8. pada x = 0 nilai fungsi y (0) = 1. y 0 ) (x Dari kondisi awal. Penyelesaian numerik dilakukan secara bertahap pada beberapa titik yang berurutan. Dengan menggunakan persamaan (6). sehingga: y (0.dengan i = 1.5 x 4  4 x 3  10 x 2  8. dihitung nilai yi + 1 yang berjarak (x = 0.5.5 dan (x = 0. Metode Euler Contoh soal: Selesaikan persamaan di bawah ini: dy ! f ( x. dx y (0) ! 1. Gambar 3. dari x = 0 sampai x = 4 dengan panjang langkah (x = 0. « Persamaan (6) adalah metode Euler. Penyelesaian: Penyelesaian eksak dari persamaan diatas adalah: y !  0.5. Gambar 3. . Untuk i = 0 maka persamaan (6). adalah penjelasan secara grafis dari metode Euler. menjadi: y1 ! y 0  f ( x 0 .25.

Dalam contoh tersebut dengan nilai ( x berbeda. Kesalahan pemotongan terdiri dari dua bagian. dx sehingga: y ( 0. persamaan (6) menjadi: y2 ! y1  f ( x1 .5 ? A Hitungan dilanjutkan dengan prosedur diatas dan h asilnya diberikan dalam Tabel 1. y0) adalah: dy ! f (0 .21875. Tetapi konsekuensinya waktu hitungan menjadi lebih lama. yang disebabkan oleh keterbatasan jumlah angka (digit) yang digunakan dalam hitungan. 1) !  2 (0 3 )  12 (0 2 )  20 (0)  8. Untuk (x = 0. Pertama adalah kesalahan pemotongan lokal yang terjadi dari pemakaian suatu metode pada satu langkah. Nilai eksak pada titik x = 0. Jadi kesalahan dengan metode Euler adalah: It! 3.5) !  0.52 )  8.53 )  12 (0. hitungan dilakukan dengan prosedur diatas dan hasilnya juga diberikan dalam Tabel 1.Kemiringan garis di titik (x0 .5 .5 0.5 ! 8.5)  1 ! 3. y (1.53 )  10 (0.54 )  4 (0.5) ! 5.5 (0.0 ) ! y (0. 3.21875 Pada langkah berikutnya.25. Kesalahan Metode Euler Penyelesaian numerik dari persamaan diferensial biasa menyebabkan terjadinya dua tipe kesalahan.5 ! 5. Kedua adalah kesalahan pemotongan menyebar yang ditimbulkan .25 ) 0.5 adalah: y (0.5 (0.5 (0. yaitu untuk i = 1.875.5.5 2 )  20 (0. y1 ) x ! 5. dapat disimpulkan bahwa penggunaan (x yang lebih kecil akan memberikan hasil yang lebih teliti.25   2 (0. 5.5)  8.1 % .5 ) ! 1  8. 2) Kesalahan pembulatan. 25 v 100 % !  63.5)  f ( 0. yang disebabkan oleh cara penyelesaian yang digunakan untuk perkiraan nilai y. yaitu: 1) Kesalahan pemotongan.25. 21875  5.

 yin  Rn (8) 1! 2! n! Apabila persamaan (7) disubstitusikan ke persamaan (8).5 (x = 0.  Rn 3! 1! 2! (9) Tabel 1.25 1.49219 95. Besar dan sifat kesalahan pemotongan pada metode Euler dapat dijelaskan dari deret Taylor.83 4.00000 2.24219 125.25 44.09 20.17969 4.25000 74.00 1.21875 1.99 5.00000 I t (%) y perk 1.84375 5.dari perkiraan yang dihasilkan pada langkah-langkah berikutnya.00 3.12500 5.86719 .50 1.71875 3.24805 2.57 33.79 53.99 44.56055 3.75 3.85 36.. y ) (7) dengan y ' ! dy .00000 4.12500 3.52930 4.21 62.00000 2.00 2. sedang x dan y adalah variabel bebas dan tak bebas. dx Penyelesaian dari persamaan tersebut dapat diperkiraan dengan deret Taylor: yi  1 ! yi  yi' x x2 xn  yi''  . Gabungan dari kedua kesalahan tersebut dikenal dengan kesalahan pemotongan global.99 3.27 56.07 21.96875 130.27930 3..88 4.55469 3.50000 5.25 3.50 y eksak y perk 1..59180 2.25 2.75 1.71 3.87500 5.50 0.25000 1. Untuk itu dipandang persamaan diferensial berbentuk: y ! f ( x.75 2.17969 46.50 2. yi )  f ' ' ( xi .13 60.75000 4.21875 3.99805 2.61719 4.34180 4.04 29.00000 3.00000 2.34375 3.34 63. Hasil hitungan dengan metode Euler (x = 0.71875 7.05 25.11 4.46875 50.12500 I t (%) - 22. yi ) x x2 x3  f ' ( xi .87500 4.00 0.00 3. akan menghasilkan: y i  1 ! yi  f ( xi .25 0.74 24. y i )  ..12500 5.25 x 0.

kesalahan seperti yang diberikan oleh persamaan (10).33 5.00000 7.  Rn (10) 3! 2! dengan I t adalah kesalahan pemotongan lokal eksak.00000 133. Kesalahan yang terjadi dari metode Euler adalah karena tidak memperhitungkan suku-suku terakhir dari persamaan (9) yaitu sebesar: I t ! f ' ( xi .31055 3.67 Perbandingan antara persamaan (6) dan persamaan (9) menunjukkan bahwa metode Euler hanya memperhitungkan dua suku pertama dari ruas kanan persamaan (9). karena turunan keempat dari persamaan pangkat tiga adalah nol. Dengan demikian suku yang mengandung pangkat lebih besar dari dua dapat diabaikan. yi ) 4! 3! 2! Pada langkah pertama berarti x1 = 0. y i )  f '' ' ( xi .00000 34.00 4. Oleh karena persamaan yang diselesaikan adalah polinomial order 3 maka kesalahan yang diperhitungkan hanya sampai suku ke tiga. sehingga persamaan (10) menjadi: I t ! f ' ( xi . adalah berkurang dengan bertambahnya order (order yang lebih tinggi).. yi )  .80469 5. sehingga nilai turunan pertama.75 4. yi ) x2 (11) 2! dengan I a adalah perkiraan kesalahan pemotongan lokal.3. yi ) x2 x3  f '' ( xi . Contoh soal: Hitung kesalahan yang terjadi dari penggunaan metode Euler dalam contoh sebelumnya pada langkah pertama. sehingga persamaan (10) menjadi: I a ! f ' ( xi . Untuk (x yang sangat kecil. Penyelesaian: Kesalahan eksak dihitung dengan persamaan (10). kedua dan ketiga adalah: . yi ) x2 x3 x4  f ' ' ( xi .66 66..

Untuk itu pertama kali dihitung nilai yi + 1/2 berikut ini.564453125 .f ' ( xi . Dengan demikian kesalahan yang terjadi untuk (x = 0. yi ) !  6 x 2  24 x  (20) !  6 (0 2 )  24 (0)  20 !  20. dan akan merambat pada langkah-langkah berikutnya.25 2 )  24  12 !  0. Gambar 5 adalah penjelasan dari metode tersebut. y 1 i 2 ! yi  f ( xi . f '' ( xi . 2. 24 6 2 Dengan menggunakan (x = 0.5 2 )  24  12 !  2.5. karena nilai perkiraan pada langkah pertama (yang mempunyai kesalahan) digunakan sebagai dasar hitungan pada langkah selanjutnya.25 kesalahan yang terjadi lebih kecil dibanding dengan penggunaan (x = 0.25 kesalahannya adalah: I t !  20 (0. Metode Euler digunakan untuk memprediksi kemiringan nilai y pada titik tengah interval. Metode Poligon/ Metode Eurel yang Dimodifikasi Metode Poligon dapat juga disebut sebagai modifikasi dari metode Euler.5 4 ) (0.03125 .53 ) (0. yi ) x 2 Gambar 4 Metode Euler yang dimodifikasi (Poligon) . 25 4 ) ( 0. yi ) !  12 x  24 !  12 (0)  24 ! 24. 24 6 2 Sedang (x = 0.5 adalah: I t !  20 (0. yi ) !  12. f ''' ( xi . Kesalahan tersebut terjadi pada langkah pertama. 253 ) (0.

Hasil hitungan dengan metode Poligon . yang kemudian digunakan untuk ekstrapolasi linier dari xi ke xi dengan menggunakan metode Euler: yi  1 ! yi  f ( x + 1 i 1 2 .y i 1 2 ) x (13) Contoh soal: Selesaikan persamaan berikut dengan metode Poligon untuk (x = 0.Kemudian nilai tersebut digunakan untuk mengestimasi kemiringan pada titik tengah interval. y ) ! e x (c.105127.y i 1 2 ) (12) Kemiringan tersebut merupakan perkiraan dari kemiringan rerata pada interval.051271v 0. 2 2 Kemiringan fungsi pada titik tengah interval adalah: ' y 1 ! f ( x 1 . dy ! f ( x .1. 2 2 2 Perkiraan nilai y di titik i = 1 adalah: y1 ! y0  f ( x 1 . y 1 ) ! e0 .1 ) ! 1. yi ) x ! yi  e x i x (c.1) dapat ditulis dalam bentuk: y i  1 ! yi  f ( xi .2) Penyelesaian: Persamaan (c.051271. 2 2 Prosedur hitungan tersebut diatas diulangi lagi untuk langkah-langkah berikutnya.3) Perkiraan nilai y pada titik tengah interval adalah: y 1 ! y0  e 0 2 x 0.1) dt y (0) ! 1 (c.1 ! 1  (1 v ) ! 1. dan hasilnya diberikan dalam Tabel 2 Tabel 2.05 ! 1. yaitu : y' i 1 2 ! f (x i 1 2 .05. y 1 ) x ! 1  (1.

00000 1. yi + q11 k1(x) (16b) k3 = f (xi + p2(x. . 2 k2(x + ~+ qn ± 1. y i .221403 1.1 0.5 y eksak 1.xi 0. n ± 1 kn ± 1(x) (16d) Persamaan tersebut menunjukkan bahwa nilai k mempunyai hubungan berurutan.008 0.105127 1. yi + q21 k1(x + q22 k2(x) (16c) / kn = f (xi + pn ± 1(x. yi + qn ± 1. Metode Runge-Kutta memberikan hasil ketelitian yang lebih besar dan tidak memerlukan turunan dari fungsi.016 3. Penghitungan suku yang lebih banyak memerlukan turunan yang lebih tinggi dari fungsi nilai y (x).221310 1. 1 k1(x + qn ± 1. Fungsi pertambahan dapat ditulis dalam bentuk umum: ! a1k1  a2 k2  .000000 1.491825 1.2 0. sedang penggunaan (x yang kecil menyebabkan waktu hitungan lebih panjang.0 0.349859 1.3 0. x ) x (14) dengan *(xi.004 0.014 0.648452 I t (%) 0.. yi.4 0.  an k n (15) dengan a adalah konstanta dan k adalah: k1 = f (xi. yi) (16a) k2 = f (xi + p1(x.011 0.105171 1.349713 1.491619 1. Kedua cara tersebut tidak menguntungkan.648721 y perkiraan 1.. (x) adalah fungsi pertambahan yang merupakan kemiringan rerata pada interval. Metode Runge-Kutta Pada metode Euler memberikan hasil yang kurang teliti maka untuk mendapatkan hasil yang lebih teliti perlu diperhitungkan suku yang lebih banyak dari deret Taylor atau dengan menggunakan interval (x yang kecil. bentuk umum dari metode Runge-Kutta adalah: yi  1 ! yi  ( xi .

yi ) x yang sama dengan metode Euler. yang juga muncul dalam persamaan untuk menghitung k3. Untuk n = 1. yi ) 2 1 dengan berikut: f ' ( xi . yi ) dapat ditentukan dari hukum berantai (chain rule) f ' ( xi . yi ) ! xf xf dy  (18) xx xy dx Substitusi persamaan (18) ke dalam persamaan (19) menghasilkan: y i  1 ! yi  f ( xi . yi ) x x (18)  f ' ( xi .19) menjadi: y i  1 ! yi  f ( x i . Hubungan yang berurutan ini membuat metode Runge-Kutta adalah efisien dalam hitungan. 1) Metode Runge-Kutta order 2 Metode Runge-Kutta order 2 mempunyai bentuk: yi  1 ! yi  (a1k1  a 2 k 2 ) x (17a) dengan: k1 ! f ( xi . setelah nilai n ditetapkan. yi ) (17b) k 2 ! f ( xi  p1 x. yi ) xf xf dy x x (  ) (20) xx xy dx 2 1 . dan seterusnya. persamaan (14) menjadi: ! a1k1 ! a1 f ( xi . yang mempunyai bentuk: yi  1 ! y i  f ( xi . yi  q11k1 x) (17c) Nilai a1. Di dalam metode Runge-Kutta. p1 dan q11 dievaluasi dengan menyamakan persamaan (16a) dengan deret Taylor order 2. a2. p dan q dicari dengan menyamakan persamaan (13) dengan suku-suku dari deret Taylor.Nilai k1 muncul dalam persamaan untuk menghitung k2. yang disebut Runge-Kutta order satu. Ada beberapa tipe metode Runge-Kutta yang tergantung pada nilai n yang digunakan. yi ) Untuk a1 = 1 maka persamaan (8. kemudian nilai a.

yi ) ¼ x 2  0 ( x 3 ) xx xx ½ ­ Dengan membandingkan persamaan (20) dan persamaan (21). yi )  a2 x f ( xi . Untuk itu digunakan deret Taylor untuk mengembangkan persamaan (16c). Dianggap bahwa a2 ditetapkan. a2 . persamaan (16c) dapat ditulis dalam bentuk: f ( xi  p1 x. dapat disimpulkan bahwa kedua persamaan akan ekivalen apabila: a1 + a2 = 1. yi )  p1 x xf xf  q11k1 x  0( x 2 ) xx xy Bentuk diatas dan persamaan (16b) disubstitusikan ke dalam persamaan (15a) sehingga menjadi: yi  1 ! yi  a1 x f ( xi . Deret Taylor untuk fungsi dengan dua variabel mempunyai bentuk: g ( x  r .. dan kemudian dicari ketiga bilangan yang lain. yi )  a2 f ( xi . yi ) xf  0( x 3 ) xx xf xx atau y1  1 ! y i  ?a1 f ( xi . yi )  a2 p1 x 2  a2 q11 x 2 f ( xi . a2 p1 = a2 q11 = 1 . yi )A x (21) xf xf » «  ¬ a2 p1  a2 q11 f ( xi . Untuk itu salah satu bilangan tak diketahui ditetapkan. xx xy Dengan cara tersebut. 2 (22a) (22b) (22c) Sistem persamaan diatas yang terdiri dari tiga persamaan mengandung empat bilangan tak diketahui. 2 1 . y  s ) ! g ( x. sehingga persamaan (22a) sampai persamaan (22c) dapat diselesaikan dan menghasilkan: a1 ! 1  a 2 (23a) . sehingga tidak bisa diselesaikan. yi  q11k1 x) ! f (xi . y )  r xg xg s  .. p1 dan q11 sedemikian sehingga persamaan (16a) ekivalen dengan persamaan (20).Dalam metode Runge-Kutta ini dicari nilai a1.

p1 ! q11 ! 1 (23b) 2a2 Karena nilai a2 dapat dipilih sembarang. 2 Parameter tersebut apabila disubstitusikan ke dalam persamaan (16a) akan menghasilkan: yi  1 ! y i  k 2 x (25a) dengan: . b) Metode Poligon (a2 = 1) Apabila a2 dianggap 1. maka persamaan (23a) dan persamaan (23b) dapat diselesaikan dan diperoleh: a1 ! 0. Dengan demikian metode Runge-Kutta order 2 adalah sama dengan metode Heun. maka akan terdapat banyak metode Runge-Kutta order 2. yi  k1 x) (24c) dimana k1 adalah kemiringan fungsi pada awal interval dan k2 adalah kemiringan fungsi pada akhir interval. yi ) (24b) k 2 ! f ( xi  x. a) Metode Heun Apabila a2 dianggap 1 . Dibawah ini merupakan 3 metode RungeKutta order 2 yang sering digunakan. maka persamaan (23a) dan persamaan (23b) 2 dapat diselesaikan dan diperoleh: 1 a1 ! . Parameter tersebut apabila disubstitusikan ke dalam persamaan (16a) akan menghasilkan: 1 1 yi  1 ! yi  ( k1  k 2 ) x (24a) 2 2 dengan: k1 ! f ( xi . 2 p1 ! q11 ! 1. 1 p1 ! q11 ! .

4 sehingga : 1 2 yi  1 ! yi  ( k1  k 2 ) x (26a) 3 3 dengan: k1 ! f ( xi . yi  k1 x ) (26c) 4 4 Contoh soal: Selesaikan persamaan diferensial berikut ini dengan metode Raltson. akan menghasilkan kesalahan pemotongan 3 2 .375 2 )  20(0.5. yi  k1 x ) (25c) 2 2 c) Metode Ralston Dengan memilih a2 = 2 . yi ) (25b) k 2 ! f ( xi  1 1 x.5. Kondisi awal pada x = 0 adalah y = 1.58203125 .5 ! 8. yi ) (15b) k 2 ! f ( xi  3 3 x. Dengan a2 = 1 a1 ! . yi  k1 x ) ! f (0. y0 ) !  2(0 3 )  12(0 2 )  20(0)  8. didapat: 3 minimum untuk metode Runge-Kutta order 2. dy !  2 x 3  12 x 2  20 x  8. k 2 ! f ( xi  3 3 x.1875 ). 3 3 p1 ! q11 ! .5 ! 2. dx dari x = 0 sampai x = 4 dengan menggunakan langkah (x ! 0.375)  8. 4 4 3 !  2( 0.375 .k1 ! f ( xi . 14. Kemiringan rerata adalah : . Peyelesaian: Langkah pertama adalah menghitung k1 dan k2 dengan menggunakan persamaan (16b) dan persamaan (16c): k1 ! f ( x0 .5.375 )  12( 0.

! 2 1 (8. dy !  2 x 3  12 x 2  20 x  8.5)  8. 25 2 )  20(0. Hasilnya adalah 6 persamaan dengan 8 bilangan tak diketahui.53 )  12(0.5 ! 4.52 )  20( 0. 3 3 x ! 1  4.58203125 ) ! 4. Oleh karena itu 2 bilangan tak diketahui harus ditetapkan untuk mendapatkan 6 bilangan tak diketahui lainnya.5.5 ! 8. yi ) (26b) k 2 ! f ( xi  1 1 x.5) dihitung dengan persamaan (8. 25. k1 !  2 (0 3 )  12( 0 2 )  20(0)  8.5. k 2 !  2( 0. k 3 !  2 (0. yi  k1 x  2k 2 x) (26d) Contoh soal: Selesaikan persamaan berikut dengan metode Runge-Kutta order 3.25)  8.5546875 .27734375 . Kondisi awal pada x = 0 adalah y = 1. Dengan menggunakan persamaan (8. Penyelesaian: Langkah pertama pada metode Runge-Kutta order 3 yaitu menghitung k1.21875 .5546875 (0.5.5)  ( 2. Hasil yang biasa digunakan adalah: yi  1 ! yi  1 ( k1  4k 2  k 3 ) x (26a) 6 dengan: k1 ! f ( xi . 253 )  12(0.31a): y0 .5) ! 3. dihitung nilai y (x): . Nilai y (0.5 ! 1. dx dari x = 0 sampai x = 4 dengan menggunakan langkah (x ! 0. 5 ! y0  2) Metode Runge-Kutta Order 3 Metode Runge-Kutta Order 3 diturunkan dengan cara yang sama dengan order 2 untuk nilai n = 3. k2 dan k3. yi  k1 x ) (26c) 2 2 k3 ! f ( xi  x.32a).

5. yi  k 2 x ) (27d) 2 2 k 4 ! f ( xi  x. dy !  2 x 3  12 x 2  20 x  8. k2.5 ! 3. 6 3) Metode Runge-Kutta Order 4 Metode Runge-Kutta order 4 banyak digunakan karena mempunyai ketelitian lebih tinggi. dihitung nilai y (x): . dx dari x = 0 sampai x = 4 dengan menggunakan langkah (x ! 0. Kondisi awal pada x = 0 adalah y = 1.253 )  12(0.5 ! 4. k 4 !  2 (0.5) ! 1  [ (8.253 )  12(0.5 ! 1.5 ! 4. k 2 !  2(0.1 y (0.252 )  20(0. k1 !  2 (0 3 )  12(0 2 )  20(0)  8.5. yi ) (27b) k 2 ! f ( xi  k 3 ! f ( xi  1 1 x. k3 !  2(0. Penyelesaian: Langkah pertama pada metode Runge-Kutta order 4 yaitu menghitung k1.21875 .5 2 )  20(0.5 ! 8. Metode ini mempunyai bentuk: yi  1 ! y i  1 ( k1  2k 2  2k 3  k 4 ) x (27a) 6 dengan: k1 ! f ( xi .25]0.5  4( 4.53 )  12(0.33a).21875.252 )  20(0. k3 dan k4. yi  k1 x ) (27c) 2 2 1 1 x. Dengan menggunakan persamaan (8.25.21875.5)  8.25)  8.25)  8.21875 )  1.5. yi  k 3 x ) (27e) Contoh soal: Selesaikan persamaan berikut dengan metode Runge-Kutta order 4.

82 3.37500 2.50 2.04 0. 25]0.10156 2.85547 4.71875 4.00000 2.21875 2.21875 .18750 4.03 5.13 25.38 4. Perbandingan penyelesaian persamaan dengan berbagai metode EULER I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 X 0.14063 2.00 .00 74.50 3.82 3.00 1.71 46.12500 7.1 y (0.00 0.34766 2.50 1.03 2.00000 3.81 7.00000 3.93 1.5  2( 4.21875 3.00000 I t (%) HEUN Y 1.24 9.43750 3.11719 4.00000 I t (%) 63.00 0.27734 3.00000 3.74 1.83 130.27734 3.39 5.74 1.00 17.00 0.11 95.00000 3.5 ! 3.75000 5.14063 2.99 125.00 YE 1.03 5.00 0. 21875)  2( 4.87500 5.85547 4.00 0.00 0.03125 I t (%) RALSTON Y 1.50000 4.00000 4.00 1.04 1.50 4.64 0.00 0.00000 2.71875 3.00000 2.80078 3.11719 4.03 2.80 12.00000 3.37500 4.00000 5.93750 3.81 7.34766 2.00000 Y 1.03125 I t (%) RUNGE-KUTTA Y 1.00 3.33 6.71875 3.10156 2.50 21.00 0.00000 4.00000 2.00000 I t (%) POLIGON Y 1.99 133.71875 4.87500 7.80078 3. 6 Tabel 3.88 50.25000 5.68750 2. 21875)  1.00 2.21875 3.39 5.50000 3.5) ! 1  [ (8.93 1.12500 4.21875 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful