P. 1
BAB_Pendekatan an Pendidikan

BAB_Pendekatan an Pendidikan

|Views: 270|Likes:
Published by Alamsyah Nurseha

More info:

Published by: Alamsyah Nurseha on Aug 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/21/2015

pdf

text

original

Bab «. Tentang Pendekatan.

Model pendekatan bertujuan menjawab kegelisahan utama yang menjadi sasaran utama dibuatnya rendik. Beberapa Model Pendekatan dalam perecanaan pendidikan adalah sebagai berikut. 1. ³Intra-educational´ extrapolation model. Konsepnya relative sederhana dan terbuka (straightforward). Namun teknisnya cukup menantang dan kompleks, terlebih manakala terlibat ke dalamnya berbagai pilihan perubahan dari satu ke lain bagian. Cara kerjanya menghitung implikasi kuantitatif dari karakter yang jadi target pendidikan. Bila ingin mencapai target tertentu pada tahun tertentu, maka perencana pendidikan harus mengektrapolasi dari angka-angka yang ditargetkan tersebut kepada angka lain seperti suplai guru, pembangunan gedung baru, pencetakan buku ajar, serta schedule waktu dari setiap item target. Dalam kaitan ini statistik merupakan instrument penting, supaya analisis tentang capaian, target dari satu bagian ke bagian daerah lain dapat diurai dengan tepat dan baik. 2. The demographic projection model merupakan pendekatan yang secara imajinatif bersifat menyeluruh. Model ini menyiapkan parameter pokok dalam menghitung jumlah penduduk (variable tingkat kelahiran yang dikaitkan dengan cohort besaran usia) terkait dengan sistem pendidikan masa depan yang harus dipersiapkan. Dari sini diproyeksikan kepada unsur-unsur lain pendidikan seperti komposisi dan jumlah anak didik pada usia tertentu pada tahun-tahun tertentu, kemudian implikasinya terhadap besaran, distribusi pelayanan, tingkat-tingkat pendidikan, maupun tahun-tahun yang ditargetkan, sesuai dengan ³the size of the age cohort´ anak didik. Cara inilah yang pernah dilakukan oleh Negara-negara di Eropa Barat dan Amerika Utara setelah Perang Dunia kedua. 3. Pendekatan Tuntutan Sosial (Social Demand Approach) The social demand model, merupakan bentuk yang lebih umum yang menggambarkan kebijakan pendidikan yang dipengaruhi oleh ekspresi kepentingan dan kebutuhan masyarakat yang ada. Karena itu dari sudut yang berbeda, model ini dianggap keluar dari analisis ekonomi, serta tidak terkalkulasi baik oleh manpower model atau rate of return models. Model ini sangat strategis manakala perencanaan pendidikan diorientasikan kepada pencapaian tujuan masyarakaat secara umum, seperti kesamaan hak asasi, penekanan pada otentisitas budaya, dan upaya melegitimasi distribusi kekuatan politik. Atau model ini diorientasikan kepada kebutuhan sebagian masyarakat seperti regional tertentu, kelompok bahasa tertentu, yang pada hakikatnya ± kadangkala-- berupa tantangan dari kepentingan seorang kuat warga masyarakat. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa pada dasarnya hampir dapat dikatakan tidak ada perencanaan yang tidak terkait dengan´the social demand model´, walau bentuk dan sistimatisasi konsepnya dalam pengembangan konteks perencanaan, berubah dari waktu ke waktu. Dalam dunia pendidikan tinggi, model ini terkait dengan jumlah tuntutan individu pada pelayanan pendidikan sesuai biaya yang ditentukan. Faktanya, pendekatan ini memprediksi jumlah pendaftar yang akan datang dengan didasari perhitungan terhadap faktor yang menentukan kebutuhan masyarakat. Ada enam faktor yang menentukan kebutuhan yaitu demographic, pendidikan, finansial (pendapatan keluarga dan biaya pendidikan tinggi), budaya dan masyarakat (seperti realitas perbedaan), pelayanan (keadaan dan kualitas layanan), dan pilihan-pilihan individu (harapan pengembalian biaya). Pertimbangan faktro-faktor ini terkait pada pendaftar mahasiswa baru masa yang akan datang, dan para perencana dapat menyerap keadaan yang konservatif atau yang aktif. Kebijakan posisi aktif biasanya untuk mendorong kebutuhan masyarakat dan menciptakan peluang-peluang

yang sama. Dengan demikian, perencanaan yang diasarkan pada kebutuhan masyarakat sering terkait dengan kebijakan pemasukan dan rendahnya biaya pengeluaran, bantuan siswa dan program yang menjadi orientasi kelompok minoritas. Tehnik memprediksi pendaftar memiliki beberapa prinsip, seperti metode ratio pendaftar, yang didasarkan pada perhitungan antara pendaftar ke perguruan dengan populasi usia mahasiswa, dan metode cohort (cohort survival method), yang dikaitkan dengan kemungkinan cohort pada tingkat keberhasilan. Keduanya sama-sama memerlukan data mahasiswa mengulang, dropouts, bahkan data tentang faktor penentu kebutuhan masyarakat. Perencanaan pada negara-negara miskin juga perlu memperhitungkan kendala lain yakni kapasitas lembaga.. Manakala tujuan nasional lebih rendah dari jumlah warga yang terdidik, pendekatan model ini kurang diminati. Dan lantaran model ini muncul atas dasar teori ekonomi bagian (particular economic theory) maka model ini menawarkan sekaligus dua hal, yakni implikasi pembiayaan dan konsekuensi SDM dari ramalannya. 4. Pendekatan Ketenagakerjaan (Manpower Approach). Pada umumnya merupakan prioritas pendidikan negara-negara berkembang, tempat tekanan terhadap perkembangan ekonomi sangat kuat. Asumsinya bahwa perkembangan ekonomi tidak mungkin dilaksanakan tanpa dukungan tenaga kerja yang terampil (berpikir ilmiah, bertindak profesional, serta etis dalam hubungan sosial). Dalam pada itu pemerataan kesempatan pendidikan merupakan tuntutan bangsa yang berdemokrasi dan berorientasi kerakyatan. Karena itu sifatnya lebih politis. Bentuk aksinya adalah kewajiban belajar. Pendekatan effektivitas menegaskan pentingnya efisiensi dalam pemanfaatan dana, sehingga kemampuan budget pemerintah atau suatu negara termanfaatkan secara cermat dan optimal. Pada pendekatan ³man power model´, inti persoalannya terletak pada estimasi kebutuhan ekonomi nasional (atau bagiannya) terhadap sumber daya terlatih. Pada tingkat perguruan tinggi, pendekatan ini terkait dengan pertumbuhan ekonomi yang harus dibarengi dengan penyiapan tenaga terampil, dan karenanya harus direncanakan berdasar kebutuhan masyarakat terhadap buruh. Dalam kerangka pikir ini struktur keterampilan SDM harus diramal dan kemudian hasil ramalan tersebut dirubah pada kemungkinan angka pendaftar di perguruan tinggi. Teori terkuat dari model ini adalah bahwa pasar tidak dapat dirinci lebih ditil, juga kekosongan waktu dan karena itu harus dipantau oleh instrumen perencanaan untuk penyesuaian pada perubahan jumlah harga. Beberapa asumsi terkait dengan ragam metode perencanaan yang berorientasi SDM di perguruan tinggi ini, bahwa ada hubungan pasti antara input kualifiaksi SDM dengan penghasilan ekonomi; bahwa pekerja tidak dapat berreaaksi secara lancar (smoothly) untuk merubah gajih/penghasilan; bahwa elastisitas bagian antara para para pekerja dari pelatihan yang berbeda adalah mendekati nol; dan bahwa suplai SDM yang memenuhi kualifikasi, tidak terikat pada kebutuhan. Metode-metode berikut dapat dibedakan dalam meramal kebutuhan SDM. a) Metode Meramal Pekerja. Peramalan jenis pekerjaan itu penting, walau hasil survei tentang lowongan kerja masa depan agak meragukan. Terdapat inkonsistensi yang tinggi sebagai hasil dari penurunan respon para pekerja, sebab kurangnya definisi yang sama dari kualifikasi, dan sebab ketidaksamaan pasaran kerja. b) Metode Perbandingan. Metode ini menghitung ramalan persyaratan masa depan SDM melalui observasi hubungan antara struktur pekerjaan dan struktur pendidikan pada negaranegara terpilih yang secara ekonomi ada di barisan terdepan negara. Berdasarkan pada hipotesis penyimpangan universal dari pertumbuhan, metode ini kesimpulannya bersifat kasar.

c) Metode ratio pekerjaan. Tulang punggung metode ini adalah membagi secara adil jenisjenis SDM kepada parameter populasi : tenaga kerja/buruh, segmen lain dari buruh terampil, pendaftar pendidikan tinggi, keperluan jenis pelayanan. Rationya diproyeksikan kepada perkiraan persyaratan masa depan. d) Metode ³fixed coeffcient´. Metode ini berdasarkan kepada struktur ramalan pekerjaan, produktivitas buruh, output tiap industri, dan melalui kesamaan pekerjaan dan kualifikasi pendidikan tinggi. Ramalan sektor kebutuhan spesialis dan pendaftar dibuat sebagai dasar hubungan pasti. e) Ramalan persyaratan SDM untuk spesialis sebagian penduduk. Ratio output buruh, matrik input-output, coefficient staf, dan ratio pekerjaan dikombinasi untuk mengestimasi jumlah spesialis yang akan dilatih untuk pekerjaan khusus seperti dokter atau guru. 5. Analisis Biaya Dan Keuntungan (Cost Benefit Analysis atau The Rate of Return Model). Model ini menggambarkan investasi untuk menaikkan pendapatan investor. Model ini terkait dengan konsep-konsep tehnik dan penelitian mengenai ekonomi pendidikan. Perdebatan difokuskan pada konsep dan tehnik pengukuran. Pertanyaan paling pentingnya adalah hakikat dan penyebab perbedaan antara kembalian biaya pada masyarakat dan individu. Keragaman tingkat pengembaliaan modal pada tingkat dan sektor pendidikan tertentu, jenis pria dan wanita, serta peran pendidikan dalam masalah politik dan simbol-simbol kehidupan social. Prinsip utama pendidikan melalui perhitungan untung rugi adalah pendidikan merupakan investasi sumber daya manusia (human capital investment). Karena itu biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan pendidikan harus dapat dikembalikan. Dalam skala kecil seperti individu atau rumah tangga, perhitungan tentang hal demikian bukan sesuatu yang sukar. Namun dalam skala nasional, perhitungannya cukup rumit. Pertanyaan pokoknya adalah bagaimana logika pembangunan pendidikan terkait dengan logika pertumbuhan ekonomi? Tidak seperti perencanaan berorientasi SDM, metode ini sangat berorientasi pasar dan isyarat-isyarat pasar. Untuk mendukung metode ini pendidikan tinggi merupakan investasi biaya yang pada perhitungan waktu tertentu akan memberi tambahan penghasilan. Analisis pada metode ini mengkombinasikan informasi tentang biaya pendidikan tinggi yang berlaku (biaya kontan dan penghasilan yang sedang berlaku) dan informasi tentang ³value´ pasaran buruh. Hal ini terkait dengan orang-orang yang jadi figur lulusan. Beberapa masalah yang mengganggu perhitungan penghasilan adalah : Pertama, proporsi tambahan pendapatan dapat menjadikan pendidikan tinggi sebagai alat yang tidak dapat diperkirakan. Kedua, perkiraan keuntungan non moneter dari hasil pendidikan sukar untuk dipahami. Bagaimanapun analisis cost-benefit didasarkan kepada observasi lintas sektor, mengabaikan kondisi supply-demand masa depan, yang merupakan kondisi krusial dalam perencanaan. Konsekuensinya, metode effektivitas biaya (cost-effectiveness methods) dipergunakan sebagai cara perbandingan antara perkembangan ekonomi dengan kegiatan pelatihan. Walaupun kedua pendekatan (metode SDM dan metode cost-benefit) ini dianggap memiliki perbedaan yang tajam, namun keduanya tidak sama-sama eksklusif. Keduanya memberikan sumbangan yang lebih baik terhadap sumber daya pendidikan tinggi. Kedua pendekatan inipun dapat diintegrasikan kepada metode social-demand. Model-model perencanaan pendidikan tinggi telah berkembang menyentuh bidang-bidang lain. Namun pada garis besarnya dapat dikatagorisasikan pada dua model yakni outline model nasional dan model institusional. Keduanya digunakan untuk ekonomi pasar dan pendekatan mengikuti perencanaan pemerintah pusat.

BAB «.. Pendekatan sistem terhadap perencanaan pendidikan (Depdiknas,1982:19-25;K1027)., Sistem sebagaimana didefinsikan Ryans (1968:5) merupakan ³any identifiable assemblage of element (object, person, activities, information records, etc) which are interrelated by process or structure and which are presumed to function as an organizational entity in generating an observable (or sometimes merely inferable) product´ (Diknas, 1982/83:19). Berdasarkan kaidah ini, pendekataan sistem dalam perencanaan, ada elemen yang saling berhubungan, baik lantaraan proses maupun lantaran didisain strukturnya, sehingga setiap fungsinya merupakan satu kesatuan dan bekerjasama untuk menghasilkan suatu keluaran atau produk. Akibatnya seeorang perencana harus memperhatikan variable dan kendala kritis, serta akibat interaksi antar berbagai variable dalam sistem. Dalam kaitan ini, Kaufman (1973:10) menegaskan bahwa pendekatan system merupakan cara mengidentifikasi kebutuhan, menseleksi masalah, menyusun identifikasi persyaratan solusi masalah, membat beberapa alternative solusi, mengevaluasi hasil, merevisi persyaratan pada sebagaian atau seluruh system terkait dengan keterbatasan memenuhi kebutuhan. Dalam pendekatan sistem, pendidikan diposisikan sebagai proses manajemen, yakni prosedur memonitor kegiatan untuk memberikan penilaian perkembangan (kegiatan) dengaan teliti berdasarkan kriteria yang baku (criterion standard). Langkah pelaksanaannya adalah menetapkan hubungan antar subsistem, menetapkan kualifikasi subjek pelaksana system, menentukan mekanisme pengambilan keputusan, menentukan jenis dan jumlah upah atau insentif, memonitor proses kegiatan, mengukur kesesuaian hasil dengan rancangan yang telah ditetapkan, serta menyiapkan rancangan perbaikan bagi proses dan hasil yang tidak sesuai rancangan awal. Keuntungan memakai Pendekatan Sistem, menurut Tim Depdiknas (1982/83:22) adalah sebagai berikut. (1) Misi, sasaran, dan tujuan dapat dijabarkan lebih luas; (2) Setiap program selalu dikaitkan dengan sasaran dan tujuan; (3) Orientasi kegiatan selalu diorientasikan kepada hasil akhir; (4) Perencanaan dipandang sebagai bagian dari keseluruhan kegiatan pendidikan; (5) SDM dan SDdana digunakan lebih efektif sesuai alokasi kontribusinya pada pencapaian tujuan; (6) Informasi untuk perencanaan dan pengambil an keputusan dapat dirancang dan dikelola secara terpadu, sehingga sasaran serta cara-cara pencapaiannya dapat lebih efektif dan efisien; (7) Semua upaya diarahkan pada sasaran, sehing ga pemborosan dapat ditekan seminimal mungkin. (8) Administrator dapat dinilai lebih objektif lantaran sasaran pekerjaan lebih jelas; (9) Administrator dapat mengembangkan kreativitas dalam batas-batas kewenangan yang telah ditetapkan, sepanjang mereka tetap berorientasi pada tujuan akhir. (10)Pertanggungan jawab dapat dirumuskan secara lebih jelas dan opersional. (11)Umpan balik dapat diperoleh pada semua tingkat otoritas dalam organisasi pendidikan, sehingga penyimpangan dalam yusaha pencapaian tujuan dapat cepat diidentifikasi; (12)Komunikasi antar komponen dapat dibina dengan lebih baik sehingga kesalahpahaman dapat dikurangi; (13)Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab dapat dilaksanakan secara lebih baik.

Jenis Sistem : Sistem terdiri atas dua jenis, yakni sistem terbuka dan sistem tertutup. Masingmasing memiliki karakristik sendiri. Karakteristik Sistem Terbuka. 1. Bersifat sinergis dengan lingkungan. 2. Feedback, perbaikan terus menerus berdasar hasil balikan dari seluruh rangkaian kegiatan sistem. 3. Cyclical, hal ini sebagai kelanjutan dari kegiatan korektif. Sistem bersifat mengulangi kegiatan sebelumnya atau repetitive. 4. Creative, pendektan system bersifat kreatif "the system approach must be creative one that focuses on goal first and methods second" 5. Negontropy. Sistem yang terbuka memiliki kekuatan penghalang dari kehancuran atau kemusnahan, manakala dipenuhi karakter dua di atas yakni kreatif dan repetitive. Dengan dua karakjter tersebut akan terjadi pertahanan dari dalam diri system (self defence). 6. Steady state, yakni kemapanan, keajegan, keseimbangan internal saat terjadi dinamika input-output. 7. Growth and expancy, yakni tumbuh dan semakin meluas, sebagai akibat lanjutan (nurturant effect) dari karakter sistem yang kreatif dan negontrophic. 8. Balance between maintenance (beli, pelihara, rekrutmen dst.nya untuk bertahan hidup) and adaptive activities (perencanaan dan pengembangan, yang menghitung reali tas lapangan secara jeli dan teliti supaya sistem tetap berta han hidup). 9. Equifinality. Dalam pendekatan sistem, terdapat kesamaan nilai dari ujung proses suatu kegiatan. Input dapat memiliki keragaman kualitas, namun karena diproses dengan perlakuan dan persyaratan yang sama, maka jenis dan kualitas outputpun, relative dalam level kualitas yang sama. (indicate to dynamic homeostatis, or the steady state). Karakteristik Sistem Tertutup, yakni sama sekali tidak berhubungan dengan sistem yang lain, memiliki batasan yang jelas yang terpisah dari lingkungan tempat sistem berada (it does not have such interactions with environment).Dalam jangka waktu lama dan berkelanjutan, sesungguhnya system yang tertutup seperti mesin-pun tetap dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya. Kepentingan Pendekatan Sistem Dengan melihat berbagai karakteristik sistem, baik yang terbuka maupun yang tertutup, kita dapat melihat beberapa keuntungan membuat perencanaan dengan pendekatan system sebagai berikut. (1) pendekatan sistem mengkonseptualisasi organisasi sebagai satu kesatuan, tidak terpisah-pisah, dan karenanya tidak dilihat dari bagian-bagiannya, maka (2) setiap bagian atau anggota bersikap sebagai suatu kesatuan; (3)terampil mengidentifikasi dan memahami lingkungan; kemudian diidentifikasi keterkaitannya kepada sistem yang dikelola; (4) memahami pentingnya stabilitas dan atau perubahan dari organisasinya; (5) merekayasa alternatif masukan dan proses kegiatan. Harvey, LJ menegaskan kepentingan pendekatan sistem dalam membuat perencanaan dalam pendidikan sebagai berikut.

(1) Lembaga-lembaga pendidikan telah semakin kompleks dan semakin sulit untuk dikelola dengan cara-cara tradisional yang kurang berorientasi pada tujuan, untuk menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan tuntutan perkem bangan pendidikan. (2) Perubahan semakin cepat sementara seorang administrator tidak mungkin menangani segala bidang. Karena itu perlu pendekatan baru. (3) Kebanyakan perencana pendidikan bersifat amatir. Mereka disiapkan untuk jadi guru atau petugas pendidikan lainnya. Dalam keadaan demikian pendekatan system sangat diperlukan. (4) Diperlukan penggunaan dana yang efisien dan efektif dalam menanggulangi kesalahan perencanaan dan pengelolaan pendidikan. Karena itu pendekatan system sangat diperlukan. (5) Kepercayaan masyarakat terhadap organisasi pendidikan perlu ditingkatkan, melalui efisiensi dan efekyivitas kerja system pendidikan yang terencana. Dengan melihat berbagai karakter system juga, kita dapat membuat catatan lain yakni bahwa bahwa system bukan segala-galanya. Keterkaitan dan ketergantungan antar unsure adalah satu hal, tapi keinginan perubahan yang drastis untuk membuat loncatan-loncatan baru adalah hal lain yang justru akan merubah konstruk dan konsep suatu organisasi yang sudah disistemkan. Sejalan dengan keterangan tentang sistem tersebut serta menyadari liputan kerja dalam kegiatan perencanaan yang cukup luas, maka pekerjaan perencanaan dengan pendekatan sistem akan jadi terdukung untuk menurunkan rincian kegiatan lainnya. Bentuk kegiatannya berawal dari mengidentifikasi kebutuhan, menyeleksi permasalah an, mengidentifikasi barang/ bahan/syarat pemecah an masalah, menginventarisasi berbagai kemungkinan pemecahan masalah, cara-cara melaksanakan kegiatan, menilai hasil kegiatan rancangan secara terus menerus, dan kesiapan untuk terus merevisi kebijakan yang salah, sehingga hasil akhir betulbetul dapat meminimalisasi kerugian yang mungkin ditimbulkan. Tentu saja faktor waktu harus betul-betul dipertimbangkan. Jangan sampai terjadi, saking hati-hatinya mengidentifikasi, menyeleksi, merevisi, dan menilai hasil sementara, lantas keputusan atau kebijakan membuat perencanaan malah tidak pernah selesai. Dalam dunia pendidikan Islam, pendekatan sistem dalam perencanaan ini berarti proses kegiatan memecahkan permasalahan pendidikan ummat secara rational logis, dengan mengidentifikasi dan memecahkan kembali permasalahan penting pendidikan. Semuanya diorientasikan pada sasaran atau tujuan yang akan dijangkau. Intinya terletak pada bagaimana membuat cara /alat/konsep berpikir yang mampu memecahkan masalah pendidikan ummat Islam secara sistimatik dan objektif. Segera harus diberi catatan, bahwa cara/alat/konsep berpikir tersebut akan sangat bervariasi, terkait dengan tingkat jangkauan pekerjaannya. Jangkauan dalam bentuk sasaran kegiatan (purpose) berbeda dengan jangkauan tujuan akhir kegiatan (objective) dan tentu berbeda pula dengan tujuan komprehensif kegiatan yang dicapai melalui perencanaan strategi. BAB «. Ruang lingkup masalah pendidikan (BT,1973:4-15), mempelajari realitas kehidupan sosial (what has been), mendeskripsikan realitas kini (what is) dan ³mimpi´ masa depan (what should be). (BT 1973:16-98; Depdikbud,1982:13-18). Ruang linggkup perencanaan pendidikan (rendik) membahas visi, misi, subjek dan objek pelayanan, proses operasional, tugas-tugas setiap subjek, pemahaman yang jelas mengenai hubungan antara pendidikan, urbanisasi, transportasi, perencanaan ekonomi, dan perencanaanperencanaan lainnya. Rendik juga terkait dengan kompleksitas masyarakat modern, sehubungan dengan urbanisasi, populasi, keperluan SDM, ekologi, menurun dan terbatasnya Sumber Daya

Alam, aplikasi pengembangan ilmu, keragaman kebutuhan pasar, keragaman keterampilan yang diperlukan pembangunan, keterbatasan dana, dlsb.nya, yang kemudian jadi bahan acuan untuk menyusun rencana kurikulum, rencana physik, rencana dana, rencana administrasi, rencana bangunan, dsb.nya. Berdasarkan kompleksitas keterkaitannya, maka kegiatan atau aktivitas rendik dapat dikatagorisasikan sebagai berikut. (1) Secara umum dapat disebut riset, teori dan tehnik pembangunan, rancangan pemerintah pusat, daerah, dan rendik sekolah lokal. (2) Secara phisik, rendik diaplikasikan pada jangka panjang, menengah dan jangka pendek pembangunan sekolah, layout pembangunan sekolah, kriteria lingkungan bagi aktivitas belajar, etika, dan riset teknologi. (3) Dilihat dari kegiatannya yang tersangkut paut dengan realitas social, rendik merupakan survei kebutuhan masyarakat, terkait dan berimplikasi pda rencana kurikulum, strategi belajar, survei kebutuhan SDM dan masyarakat, disain phisik, dan interaksi individu dan masyarakat. (4) Dilihat dari sudut administrasi, rendik dapat disebut sebagai kontrol pembangunan, pembuatan keputusan, manajemen dan pelaksanaan, kontrol persediaan barang, rencana transportasi, dan survei perencanaan sekolah. Dari sudut administrasi ini dapat juga dikatagorisasikan pada makro, messo, dan mikro. (5) Dilihat dari keluasan otoritas pejabatnya, rendik tersebut dapat dibagi pada katagori strategik, manajerial, dan operasional. Namun manakala dilihat dari pelaksanaan system secara keseluruhan, maka rendik terdiri atas pertama, perencanaan perbaikan dan kedua perencanaan pengembangan. Jenis dan Bentuk kegiatan rendik sebagai berikut. Pertama, mempelajari realitas kehidupan social (what has been), kedua, mengidentifikasi dan mendokumentasikan kebutuhan-kebutuhan (diformulasi dalam bentuk terminologi produk dan proses), berdasarkan studi ruang lingkup pendidikan, "where are we now or what it is" dan ³where are we to be or what should be". Where are we now? Maksudnya dalam kondisi bagaimana seluruh elemen pendidikan sasaran rendik. Uraian berdasar fakta-fakta yang ada (fact finding), bukan berupa kegiatan diagnosa. Data (baik yang kualitatif dan kuantitatif) didapat melalaui interviu, kuesioner, test, dokumen, catatan lain, atau observasi (tehnik sederhana), atau perhitungan rumit proyeksi dan komparasi (sophisticated method) Modal awal kegiatan perencanaan, distudi dan didis kripsikan melalui SWOT (strength, weekness, opportunity, treath) supaya dapat berpikir secara berkelanjutan, saat menghadapi kondisi pendidikan yang akan terus berubah, sejalan dengan realitas perkembangan manusia dan tempat tinggalnya. Dari deskrpsi tersebut, perencana merancang tujuan pendidikan yang kemudian diturunkan pada bentuk, jenis, dan jenjang kurikulum, cara melaksanakannya dari sejak bentuk dan jenis kehadiran atau interaksi guru/pembimbing/ pelatih dengaan siswa, penyediaan jumlah dan mutu/ kualifikasi guru, dukungan dana, hubungan politik antara sekolah dan pmrintah. Bermodalkan hal itu disiapkan aturan main kegiatan pendidikan. Para perencana pendidikan bertanggung-jawab untuk melihat kecenderungan masyarakat, menjawab, dan melaksanakan pengorganisasiannya. Studi kecenderungan ini terkait semakin tingginya keterlibatan kaum muda terpelajar dalam proses pembelajaran. Saat suasana jaman cenderung membesar-besarkan olahraga, musik, dan permainan, maka para perencanapun perlu

member perhatian sebagai gambaran komitmennya untuk mendahulukan pendekatan manusiawi dibanding orientasi teknologi, supaya pekerjaan mereka tidak sia-sia.

guru a k t i v i t a s murid

masa lalu What should be

sekrang dan yad

Terdapat dua jenis masa depan (yang sukar ditentukan secara pasti) untuk dideskripsikan. Pertama, terkait dengan nilai, aturan, system, atau software; dan kedua, terkait dengan keadaan phisik, sarana, prasaran, atau hardware. Diperlukan kehati-hatian supaya identifikasi masa depan tersebut mendekati persisi, supaya terhindar dari pemborosan biaya, waktu, dan tenaga institusional. Masalah utamanya adalah (1) bagaimana menentukan kesenjangan antara masa kini dengan masa depan, dan (2) bagaimana analisis (bukan diagnosa) keadaan sekarang secara tepat, persisi, objektif. Dari dua kegiatan inilah ditentukan formulasi tujuan perencanaan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->