NORMA HUKUM DAN NORMA HUKUM NEGARA

PENGERTIAN NORMA
Setiap norma itu mengandung suruhansuruhan (penyuruhan-penyuruhan) yang sering disebut dengan µdas Sollen¶ (ought to be/ought to do) dan di dalam bahasa Indonesia sering dirumuskan dengan istilah µhendaknya¶. (Contoh: Hendaknya engkau menghormati orang tua).

. 4.BERBAGAI NORMA DALAM MASYARAKAT Di Negara Republik Indonesia. 3. norma moral. norma agama. norma hukum negara. normanorma yang masih sangat dirasakan adalah: 1. norma adat. 2.

Norma hukum itu bersifat heteronom. 3. . jaksa.PERBEDAAN NORMA HUKUM DAN NORMA LAINNYA 1. dalam arti norma itu datangnya dari dalam diri seseorang. polisi. sedangkan norma lainnya tidak dapat dilekati oleh sanksi pidana maupun sanksi pemaksa secara fisik. dalam arti bahwa norma hukum itu datangnya dari luar diri seseorang. sedangkan terhadap pelanggaran normanorma lainnya sanksi itu datangnya dari diri sendiri. Dalam norma hukum sanksi pidana atau sanksi pemaksa itu dilaksanakan oleh aparat negara (misalnya. 2. Norma hukum itu dapat dilekati dengan sanksi pidana maupun sanksi pemaksa secara fisik. Norma lainnya bersifat otonom. hakim).

NOMOSTATICS (Sistem Norma yang Statik. 2. NOMODYNAMICS (Sistem Norma yang Dinamik) .SISTEM NORMA MENURUT HANS KELSEN 1.

.SISTEM NORMA STATIK Sistem norma yang statik (nomostatics) adalah sistem yang melihat pada µisi¶ norma. atau norma-norma khusus itu dapat ditarik dari suatu norma yang umum. Sistem norma yang statik: suatu norma umum dapat ditarik menjadi norma-norma khusus.

norma yang di bawah berlaku. demikian seterusnya sampai akhirnya µregressus¶ ini berhenti pada suatu norma yang tertinggi yang disebut dengan norma dasar (Grundnorm) yang tidak dapat ditelusuri lagi siapa pembentuknya atau dari mana asalnya. norma yang lebih tinggi berlaku.SISTEM NORMA DINAMIK Sistem norma yang dinamik (nomodynamics) adalah sistem norma yang melihat pada berlakunya suatu norma atau dari cara µpembentukannya¶ atau µpenghapusannya¶. bersumber dan berdasar pada norma yang lebih tinggi lagi. . Sistem Norma yang Dinamik: norma itu berjenjangjenjang dan berlapis-lapis dalam suatu susunan hierarkhi. bersumber dan berdasar pada norma yang lebih tinggi.

HUKUM SEBAGAI SISTEM NORMA YANG DINAMIK Menurut Hans Kelsen hukum adalah termasuk dalam sistem norma yang dinamik (nomodynamics) oleh karena hukum itu selalu dibentuk dan dihapus oleh lembaga-lembaga atau otoritas-otoritas yang berwenang membentuk atau menghapusnya. . sehingga dalam hal ini tidak dilihat dari segi isi dari norma tersebut. tetapi dilihat dari segi berlakunya atau pembentukannya.

. ‡ Dinamika norma hukum yang horizontal adalah dinamika yang bergeraknya tidak ke atas atau ke bawah. atau dari bawah ke atas. tetapi ke samping.DINAMIKA NORMA HUKUM VERTIKAL DAN HORIZONTAL ‡ Dinamika norma hukum yang vertikal adalah dinamika yang berjenjang dari atas ke bawah.

Norma hukum umum adalah suatu norma hukum yang ditujukan untuk orang banyak (addressatnya) umum dan tidak tertentu. 2.NORMA HUKUM UMUM DAN NORMA HUKUM INDIVIDUAL 1. µUmum¶ di sini dapat berarti bahwa suatu peraturan itu ditujukan untuk semua orang. Norma hukum individual adalah norma hukum yang ditujukan atau dialamatkan (addessatnya) pada seseorang. atau semua warganegara. beberapa orang atau banyak orang yang telah tertentu .

Norma hukum konkret adalah suatu norma hukum yang melihat perbuatan seseorang itu secara lebih nyata (konkret). Norma hukum abstrak adalah suatu norma hukum yang melihat pada perbuatan seseorang yang tidak ada batasnya dalam arti tidak konkret. .NORMA HUKUM ABSTRAK DAN NORMA HUKUM KONKRET a. b.

NORMA HUKUM TERUSMENERUS DAN NORMA HUKUM SEKALI-SELESAI 1. sehingga dengan adanya penetapan itu norma hukum tersebut selesai. . jadi dapat berlaku kapan saja secara terus-menerus. Norma hukum yang berlaku sekali-selesai (einmahlig ) adalah norma hukum yang berlakunya hanya satu kali saja dan setelah itu selesai. Norma hukum yang berlaku terus menerus (dauerhaftig) adalah norma hukum yang berlakunya tidak dibatasi oleh waktu. sampai peraturan itu dicabut atau diganti dengan peraturan yang baru. jadi sifatnya hanya menetapkan saja. 2.

norma hukum umum-konkret. . d. b.PADUAN PERUMUSAN NORMA DALAM SUATU KEPUTUSAN a. c. norma hukum individual-abstrak. norma hukum individual-konkret. norma hukum umum-abstrak.

yaitu norma hukum primer dan norma hukum sekunder.NORMA HUKUM TUNGGAL DAN NORMA HUKUM BERPASANGAN (1) ‡ Norma hukum tunggal adalah suatu norma hukum yang berdiri sendiri dan tidak diikuti oleh suatu norma hukum lainnya. . ‡ Norma hukum berpasangan adalah norma hukum yang terdiri atas dua norma hukum. jadi isinya hanya merupakan suatu suruhan (das Sollen) tentang bagaimana seseorang hendaknya bertindak atau bertingkah laku.

. ‡ Norma hukum sekunder ini memberikan pedoman bagi para penegak hukum untuk bertindak apabila suatu norma hukum primer itu tidak dipatuhi.NORMA HUKUM TUNGGAL DAN NORMA HUKUM BERPASANGAN (2) ‡ Norma hukum primer adalah norma hukum yang berisi aturan/patokan bagaimana cara seseorang harus berperilaku di dalam masyarakat. dan norma hukum sekunder ini mengandung sanksi bagi seseorang yang tidak memenuhi suatu ketentuan dalam norma hukum primer.

1. dihukum penjara paling lama 15 tahun. Hubungan pertanggungjawaban Zurechnung? . Hubungan sebab-akibat Kausalität. atau 2.BAGAIMANA HUBUNGAN NORMA HUKUM PRIMER DAN NORMA HUKUM SEKUNDER? ‡ Barangsiapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain.

(b) berlaku ke luar (naar buiten werken). dalam kepustakaan di Eropa Kontinental.P Ruiter. dan (c) bersifat umum dalam arti luas (algemeenheid in ruime zin). yang dimaksud peraturan perundang-undangan atau wet in materiële zin mengandung tiga unsur.W.NORMA HUKUM DALAM PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN (1) ‡ Menurut D. . yaitu: (a) norma hukum (rechtsnorm).

. (3) pengizinan (toestemming). Sifat norma hukum dalam peraturan perundang-undangan dapat berupa: (1) perintah (gebod). dan (4) pembebasan (vrijstelling). (2) larangan (verbod).NORMA HUKUM DALAM PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN (2) (a) Norma hukum.

‡ Norma yang mengatur hubungan antar bagian-bagian organisasi pemerintahan dianggap bukan norma yang sebenarnya. norma hukum dalam peraturan perundang-undangan selalu disebut ³berlaku ke luar´. di dalam peraturan perundang-undangan terdapat tradisi yang hendak membatasi berlakunya norma hanya bagi mereka yang tidak termasuk dalam organissi pemerintahan. Oleh karena itu. maupun antara rakyat dan pemerintah. Norma hanya ditujukan kepada rakyat. ‡ Ruiter berpendapat bahwa.NORMA HUKUM DALAM PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN (3) (b) Norma berlaku ke luar. . baik dalam hubungan antar sesamanya. dan hanya dianggap norma organisasi.

NORMA HUKUM DALAM PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN (4) (c) Norma bersifat umum dalam arti luas. . hal ini dilihat dari adressat (alamat) yang dituju. serta antara norma yang abstrak (abstract) dan yang konkret (concreet) jika dilihat dari hal yang diaturnya. yaitu ditujukan kepada ³Setiap orang´ atau kepada ³orang tertentu´. apakah mengatur peristiwa yang tidak tertentu atau mengatur peristiwa yang tertentu. ‡ Dalam hal ini terdapat pembedaan antara norma yang umum (algemeen) dan yang individual (individueel).

NORMA HUKUM DALAM PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN (5) a. disebut obyek norma. b. d. (termasuk norma hukum) mengandung unsur-unsur berikut: cara keharusan berperilaku (modus van behoren). dan syarat-syaratnya (normcondities). Menurut Ruiter. disebut operator norma. seorang atau sekelompok orang adresat (normadressaat) disebut subyek norma. disebut kondisi norma . sebuah norma. c. perilaku yang dirumuskan (normgedrag).

DAYA LAKU DAN DAYA GUNA ‡ Suatu norma itu berlaku karena ia mempunyai ³daya laku´ (validitas) atau karena ia mempunyai keabsahan. Daya laku (validity) ini ada apabila norma itu dibentuk oleh norma yang lebih tinggi atau oleh lembaga yang berwenang membentuknya. ‡ Suatu norma juga mempunyai ³daya guna´ (efficacy) yang dapat dilihat apakah suatu norma yang ada dan berdaya berlaku itu berdaya guna secara effektif atau tidak. . atau dengan lain perkataan apakah norma itu ditaati atau tidak.

Kelompok II : Staatsgrundgesetz (Aturan Dasar Negara/Aturan Pokok Negara) Kelompok III : Formell Gesetz (Undang-Undang µformal¶). Kelompok IV : Verordnung & Autonome Satzung (Aturan pelaksana & Aturan otonom) .HIERARKI NORMA HUKUM NEGARA (die Theorie vom Stufenordnung der Rechtsnormen Hans Nawiasky: Kelompok I : Staatsfundamentalnorm (Norma Fundamental Negara).

d. b. c. Dirumuskan dalam norma tunggal.Norma Dasar Negara (Staatsfundamentalnorm) a. Ini diperlukan untuk tidak menggoyahkan lapis-lapis bangunan tata hukum yang pada akhirnya menggantungkan atau mendasarkan diri kepadanya. Merupakan sumber dan dasar pembentukan Aturan Dasar Negara (Staatsgrundgesetz) . Merupakan landasan dasar filosofisnya yang mengandung kaidah-kaidah dasar bagi pengaturan negara lebih lanjut. Bersifat µpre-supposed¶ dan tidak dapat ditelusuri lebih lanjut dasar berlakunya.

d. Dirumuskan dalam norma hukum tunggal. serta mengatur hubungan antara negara dengan warganegaranya. b. dan selain itu mengatur juga hubungan antar lembaga-lembaga negara. Merupakan sumber dan dasar bagi terbentuknya suatu Undang-Undang (formell Gesetz) yang merupakan Peraturan Perundang-undangan.Aturan Dasar Negara/ Aturan Pokok Negara (Staatsgrundgesetz) a. yaitu peraturan yang dapat mengikat secara langsung semua orang. Biasanya diatur hal-hal mengenai pembagian kekuasaan negara di puncak pemerintahan. . Merupakan aturan-aturan yang masih bersifat pokok dan masih bersifat garis besar. c.

UNDANG-UNDANG ³FORMAL´ (formell Gesetz) a. c. Merupakan produk legislatif. Merupakan norma hukum yang lebih konkret dan terinci. . b. Dapat dirumuskan dalam norma hukum tunggal atau norma hukum berpasangan. Merupakan sumber dan dasar pembentukan Undang-Undang (formell Gesetz). serta sudah dapat langsung berlaku di dalam masyarakat. d.

Peraturan Otonom bersumber dari kewenangan atribusi. Peraturan Pelaksanaan dan Peraturan Otonom ini merupakan peraturan-peraturan yang terletak di bawah Undang-Undang yang berfungsi menyelenggarakan ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang. .PERATURAN PELAKSANAAN DAN PERATURAN OTONOM (Verordnung & Autonome Satzung) a. Peraturan pelaksanaan bersumber dari kewenangan delegasi c. b.

Atribusi dan Delegasi ‡ Atribusi kewenangan (attributie van wetgevingsbevoegdheid) ialah pemberian kewenangan membentuk peraturan perundang-undangan yang diberikan oleh Grondwet (Undang-Undang Dasar) atau wet (UndangUndang) kepada suatu lembaga negara/pemerintahan. . sesuai dengan batas-batas yang diberikan. Kewenangan tersebut melekat terus-menerus dan dapat dilaksanakan atas prakarsa sendiri setiap waktu diperlukan. ‡ Delegasi kewenangan (delegatie van wetgevingsbevoegdheid) ialah pelimpahan kewenangan membentuk peraturan perundang-undangan yang dilakukan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi kepada peraturan perundang-undangan yang lebih rendah. baik pelimpahan yang dinyatakan dengan tegas maupun tidak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful