P. 1
PENCERNAAN PADA IKAN

PENCERNAAN PADA IKAN

|Views: 3,408|Likes:

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Agil Cendoll Anggara on Aug 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/23/2013

pdf

text

original

PENCERNAAN PADA IKAN

1.1 Definis Pencernaan Pada Ikan Makanan yang dimakan oleh ikan harus berpotensi melalui system pencernaan selama makanan diolah menjadi bahan yang bermanfaat, system pencernaanpun berfungsi membersihkan ikan dari produk pembuangan dan bahan bahan makanan yang tidak dapat dicerna. Yang dimaksud dengat system pencernaan yankni mulut, rongga tenggorokan, saluran makanan dari mulut ke mulut (esophagus),perut otot perut (qizzard) usus dan anus (Clemens,2008). Saluran pencernaan ikan terdiri dari mulut, esophagus (kerongkongan), lambung, usus dan anus. Didalam rongga mulut ikan terdapat lidah pendek yang berada di dasar mulut. Lidah ini tidak dapat digerakkan dan tidak mempunyai fungsi yang berarti. Gigi ikan tumbuh pada bagian rahang atas dan rahang bawah bahkan ada yang tumbuh pada langit-langit mulut. Gigi ikan bertulang keras berbentuk kerucut. Ikan tidak mempunyai kelenjar lender dari mulutnya. Lambung ikan merupakan pelebaran dari saluran pencernaan. Antara lambung dengan usus terdapat 3 buah usus buntu (sekum) (Kimball,2005). Bahan makanan yang padat biasanya dipecah menjadi larutan berisikan molekulmolekul organic yang relative kecil dan dapat larut sebelum dapat dipakai oleh organism heterotropik, suatu proses yang disebut pencernaan (Kimball,2005).

1.2 Pengertian Daya Cerna Ikan Pada Makanan Zat gizi pakan dan pertumbuhan ikan merupakan factor pembatas dalam suatu model pertumbuhan. Daya cerna adalah bagian pakan yang dikonsumsi dan tidak dikeluarkan menjadi feses (Maynard,1979). Kapasitas lambung dan laju pakan dalam saluran cerna merupakan variable dari daya cerna. Ikan yang berbobot lebih kecil akan mengosongkan sejumlah pakan (%bobot tubuh perjam) dari dalam lambungnya lebih cepat dibandingkan yang berbobot lebih besar, sehingga jumlah konsumsi pakan relative (% bobot tubuh hari semakin kecil) (Wooton et al,1980). Akan tetapi semakin besar ukuran ikan, daya cerna komponen serat semakin baik ( Haetami,2002). Ikan yang herbivore secara sederhana dapat dinyatakan bahwa ikan tidak mempunyai kemampuan untuk memakan dan mencerna material lain selain tumbuhan. Oleh karena itu ikan pemakan tumbuhan cenderung memakan material tumbuhan yang lambat dicernanya. Ikan herbivore ini harus dapat mengekstraksi nutrient melalui ususnya yang panjang jadi usus ini berfungsi sebagai penahan makanan dalam jumlah besar dalam waktu yang lama untuk mendapat kesempatan penggunaan penuh material makanan yang sudah dicernakan. Secara kontras ikan karnivora mempunyai usus pendek lebih khusus (Effendie,1997 dalam Youlyz,2010).

1.3 Pengertian Gastric Guacoation Time

Menurut Tyler (1976), Bromley (1994) dalam Galato et al (2003) dalam Youlyz(2010), rata-rata pengosongan lambung merupakan salah satu determinasi utama pada pencernaan makanan dan berpengatuhan pada aspek ini sangat berguna untuk mendeterminasi frekuensi makanan optimal yang dipelajari dalam pengosongan lambung adalah spesies predatpor,suhu, ukuran makanan, kualitas makanan dan dampak rata-rata pengosongan lambung-lambung terhadap sejarah kehidupan ikan. Menurut Saluanet et al (1995) Sweka et al (2004) dalam Hannan (2004), sebuah komponen penting dari dan estimasi laju konsumsi random harian adalah tingkat evaluasi lambung-lambung menilai tindakan evaluasi kecepatan yang bermuara makanan dari lambung. Ini ditentukan dengan melihat hubungan antara berat sisa mangsa diperut dan waktu setelah makan. Pola evaluasi lambung dapat dipengaruhi oleh sejumlah factor, termasuk suhu, karakteristik dari predator dan karakteristik dari mangsa.

1.4 Organ Pengenceran dan Fungsi Menurut Ville at al (1999), saluran pencernaan yang umum pada hewan diantaranya : • Rongga bukal atau rongga mulut Bagian ddepan saluran pencernaan merupakan tempat mulut bermuara rongga mulut biasanya berisi gigi, rahang, kelenjar ludah dan alat-alat lainnya yang menyangkut masuknya makanan atau ingesti • Faring Faring vertebrata hanya dapat diberi defines mengenai lokasinya dan bukaan mengenai fungsinya • Esophagus Bagian seperti tabung yang menyalurkan makanan ke bagian yang lebih belakang • Tembolok Bagian khusus untuk tempat penyimpanan makanan sementara • Empela

Bagian saluran pencernaan, khusus untuk menghancurkan makanan secara mekanis atau triturasi, menjadi bagian yang lebih kecil sebelum dicerna. Dindingnya berotot dan permukaan yang menghadap lumen seringkali mempunyai lempeng-lempeng keras , gigi atau lekukan. • Lambung Bagian saluran pencernaan yang membesar, kadang-kadang berotot, tempat pencernaan makanan berlangsung. Pada beberapa hewan, dilambung ini terjadi pula absorbs. • Usus Bagian seperti tabung tempat pencernaan dan absorbs. Feses biasanya terbentuk di bagian belakang usus.

Rectum Bagian ujung seluruh pencernaan tempat feses dibentuk dan disimpan sebelum dikeluarakan.

Menurut Noer dan Widawati (2007) dalam Youlyz (2010), kelenjar pencernaan disekresikan oleh organ hati, empedu dn pancreas: a.Hati (hepar) dan kantung empedu hati merupakan kelenjar pencernaan terbesar yang mempunyai fungsi variatif dan berbeda yaitu menyimpan hasil pemecahan karbohidrat (sebagian pada golongan cyclostomata dan ikan) dan lemak. Membersihkan toksik pada darah juga dilakukan hepar. Fungsi hepar dalam pencernaan makanan itu sendiri mensekresi bilus yang dikeluarkan dari seluruh hepar menuju keduadenum dimana lemak yang teremulsi diproses bersama enzim dan pancreas. Hepar menghasilkan bilus melalui duodenum dimana jika bilus yang disekresikan hepar berlebih akan disimpan dalam resiko feleo yang merupakan bentuk dari peleburan saluran hepar. b. Pancreas pancreas dikatakan kelenjar yang berfungsi sebagai kelenjar eksokrin dan kelenjar enddokrin. Dikatakan eksokrin karena hasilnya melalui system saluran dan ekdokrin karena sekresi dikeluarkan menuju target dengan melalui pembuluh darah.

1.5 Proses Pencernaan ( Protein, lemak,dan karbohidrat) 1.5.1 Proses Pencernaan Protein Menurut Yowono dan Purnama (2001), pada hewan air pencernaan protein membutuhkan enzim protease sebagai katalisator. Enzim protease yang pertama pada udang, misalnya adalah tripsin dan kemotripsin. Pada vertebrata pencernaan protein menbutuhkan pepsin misalnya pada perut ikan karnivora, tripsin yang terdapat dalam usus dan pancreas kimotripsin dan erepsin yang terdapat usus. Enzim yang berperan penting untuk mencerna protein adalah protease. Protease disekresikan dalam bentuk inaktif (zimogen), yang dapat segera diaktifkan. Penyimpanan protease dalam bentuk inaktif sangat penting untuk menhindari terjadinya self digestion (mencerna sel /jaringannya sendiri). Apabila disimpan dalam bentuk aktif, protease dapat mencerna sel lambung, yang juga banyak mengandung protein (Isnaeni,2006). Didalam rongga mulut, protein makanan belum mengalami proses pencernaan. Baru didalam lambung terdapat enzim pepsine dan HCl yang bekerjasama memecah protein makanan menjadi metabolite intermediate tingkat polypeptide, yaitu peptone, albumosa dan proteosa(Sediaoetama,2004). 1.5.2 Proses Pencernaan Lemak

Lemak adalah senyawa yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organic. Pada hewan air lemak merupakan konstituen pakan yang menghasilkan energy tinggi. Lemak dalam pakan mengandung vitamin yang larut didalamnya dan asam lemak. Pada berbagai spesies enzim lipase disekresikan pada pancreas. Tetapi enzim lipase juga terdapat dalam mukosa (Yuwono dan Purnama,2001).

Lemak didalam bahan makanan tidak mengalami pencernaan didalam rongga mulut, karena tidak ada enzim yang dapat memecahnya. Di dalam rongga mulut, karena tidak ada enzim yang dapat memecahnya. Di dalam gaster ada enzim lipase, tetapi pengaruhnya terhadaalintp pemecahan lemak dapat diabaikan, karena rendah sekali, pH di dalam gaster tidak cocok untuk aktivitas lipase tersebut (Sediaotama,2004).

Pencernaan lipid baru dimulai pada saat bahan makanan sampai di usus. Pencernaan ini terjadi dengan bantuan enzim lipase usus, lipase lambung dan lipase pancreas. Lipase akan menghidrolisis lipid dan trigliserida, monosakarida, gliserol dan asam lemak bebas. Lipase pancreas lebih mudah bereaksi dengan trigliserida berantai panjang, yang biasanya berlangsung pada pH 7-9 (Isnaeni, 2006).

1.5.3 Proses Pencernaan Karbohidrat

Menurut Sediaoetama (2004), proses pencernaan karbohidrat yaitu amilum di dalam rongga mulut sudah mulai mengalami pencernaan oleh enzim ptyalin yang terdapat dalam air liur (salifa). Ptyalin melepaskan satuan-satuan maltose. Karena amylum tidak mempunyai rasa (tawar), sedangkan maltose berasa manis.

Didalam gaster proses pencernaan amylum oleh enzim ptyalin masih terus berlangsung, selama reaksi bolus masih belum cukup asam ; ini terjadi dilapisan tengah dari tumpukan lapisan bulus.

Karbohidrat yang tidak dapat dicerna, seperti selulosa, galakian dan pentosan dialirkan terus ke colon. Di dalam colon jenis karbohidrat ini dipecah sebagian oleh mikroba yang terdapat di dalam usus, melalui proses fermentasi dan menghasilkan energy untuk keperluan mikroba tersebut dan bahan sisa seperti air dan karbohidrat.

Menurut Yuwono dan Purnama (2001), enzim yang penting dalam pencernaan karbohidrat adalah amylase yang bekerja pada amylum dan memecahnya menjadi glukosa dengan proses pencernaan kimiawi.

Pencernaan dikontrol oleh hormone gastrointestinal yang terdiri atas sekretin, kolsistokinin, gastein dan peptida penghambat gastric. Hormone ini dilepaskan ke dalam darah oleh sel-sel endokrin gastrointestinal dan bersirkulasi ke seluruh tubuh.

Enzim yang bertanggung jawab dalam pencernaan karbohidrat ialah karbohidrase. Enzim ini memutuskan ikatan glikosidik pada karbohidrat sehingga dapat dihasilkan disakarida, trisakarida, dan polisakarida lain yang memiliki rantai lebih pendek. Berdasarkan jumlah unit sakarida penyusunnya karbohidrat dapat di bedakan menjadi dua, yaitu polisakarida dan oligosakarida ( Isnaeni,2006).

1.6

Proses Pencernaan ( fisika dan kimia)

Menurut Yuwono dan Purnama (2001), berdasarkan perangkat pencernaan pada hewan terjadi secara mekanis dan kimiawi : 1. Pencernaan mekanik menggunakan taring misalnya pada ikan untuk menggigit. Beberapa hewan air juga menggunakan gigi untuk menggigit dan mengoyak pakan misalnya pada ikan lele. Struktur tembolok pada hewan air (pada ikan dan udang) juga digunakan untuk pencernaan mekanik. Sebanyak 85% ikan teleostey memiliki lambung yang di gunakan untuk pencernaan mekanik. 2. Pencernaan kimiawi melibatkan enzim ( contohnya protease, lipase, amylase ) sebagai katalisator untuk mempercepat prosesnya. Dalam kondisi normal reaksi berjalan lambat, tetapi dengan hidrolisis dan kerja enzim reaksi kimia berjalan lebih cepat. Pencernaan protein oleh enzimprotease yang terdiri atas enzim eksopeptidase dan endopeptidase. Enzim tersebut terdapat pada hewan avertebrata dan vertebrata yang hidup di perairan. Pencernaan lemak oleh lipase juga terdapat pada hewan avertebrata dan vertebrata. Pencernaan karbohidrat, hidrolisis oleh amylase, katalisis oleh sukrase, prosesnya serupa pada hewan avertebrata dan vertebrata. Pencernaan selulosa memerlukan selulosa yang di hasilkan oleh bakteri simbiotik.

System pencernaan berfungsi untuk mengubah bahan makanan yang kompleks menjadi sari makanan yang sederhana agar dapat diserap oleh sel. Pencernaan makanan dapat terjadi secara mekanis dengan bantuan gigi atau penggantinya ( misalnya gigi perut dari bahan tanduk) dan secara kimia (dengan bantuan enzim pencernaan atau senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme). Ditinjau dari tempat berlangsungnya pencernaan makanan dapat terjadi di dalam sel (interseluler) maupun diluar sel (ekstraseluler) (Isnaeni,2006). 1.7 Struktur dan Fungsi Saluran Pencernaan Menurut Poedjandi dan Titin (2007) dalam Youlyz (2010) system pencernaan makanan terdiri atas beberapa organ tubuh yaitu mulut, lambung, dan usus dengan bantuan pancreas dan empedu.

1. Pencernaan dalam Mulut Dalam mulut makanan dihancurkan secara mekanis oleh gigi dengan jalan dikunyah. Makanan yang dimakan dalam bentuk besar diubah menjadi ukuran yang

kecil. Selama penghancuran secara mekanis ini berlangsung, kelenjar di sekitar mulut mengeluarkan cairan yang disebut seliva atau lidah.

2. Pencernaan dalam Lambung Makanan yang telah dikunyah dalam mulut di telan melalui esophagus masuk ke dalam lambung disebabkan oleh adanya derakan peristaltic pada esophagus dengan bantuan mucus. Dalam lambung terdapat cairan yang berfungsi untuk pencernaan protein dengan cara hidrolisis. Dalam lambung ini dihasilkan asam HCl, pepsin, rennin dan mucus atau lendir.

3. Pencernaan dalam Usus Makanan yang telah dicerna dalam lambung secara berkala masuk ke dalam usus dua belas jari melalui katus pylorus. Ada 2 organ yang berperan penting dalam pencernaan makanan di usus yaitu pancreas, empedu dan usus sendiri. Menurut Murtidjo (2001) bagian-bagian saluran pencernaan berturut-turut dari mulut hingga ke usus adalah sebagai berikut : 1. Rongga mulut : di dalam rongga terdapat : a. Lidah yang melekat pada dasar mulut dan tidak dapat digerakkan b. Kelenjar-kelenjar lendir, tetapi tidak terdapat kelenjar lidah c. Rahang dengan gigi-gigi kecil berbentuk kerucut 2. Farniks, yakni pangkal tenggorokan yang tepatnya di daerah yang sesuai dengan tempat insang. 3. Kerongkongan, yakni kelanjutan farniks yang terletak di belakang insang. 4. Lambung, yakni kelanjutan kerongkongan yang merupakan pembesaran dari usus. Jenis-jenis ikan tertentu memiliki usus-usus bantu yang terletak pada batas antara lambung dan usus, usus-usus bantu ini berfungsi sebagai alat untuk memperluas

dinding lambung. Sehingga pencernaan dan penyerapan zat-zat makanan dapat berlangsung lebih sempurna. Menurut Sulistiowati (2009), system pencernaan makanan terdiri dari saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan, saluran pencernaan terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung, usus dan anus. 1. Mulut Di dalam mulut terdapat gigi, lidah dan kelenjar pencernaan secara mekanis dan kimia. 2. Kerongkongan Dari mulut, makanan masuk ke dalam kerongkongan, kerongkongan merupakan saluran panjang sebagai jalan makanan dari mulut menuju ke lambung. 3. Lambung Lambung merupakan suatu kantong yang terletak di dalam rongga perut sebelah kiri di bawah sekat rongga badan. 4. Usus Halus Usus halus merupakan saluran pencernaan terpanjang yang terdiri dari 3 untaian yaitu usus dua belas jari, usus kosong dan usus penyerapan. 5. Usus besar, Rektum dan Anus Usus besar atau kolon merupakan kelanjutan dari usus halus. Fungsi utama usus besar adalah mengatur kadar air sisa makanan. Rectum berwarna pada anus. Anus mempunyai 2 macam otot sadar dan otot tidak sadar, pada saat sampai dari rectum susunan zat yang berguna telah diserap ke dalam darah.

1.8 Manfaat Kandungan Pakan Ikan 1.8.1 Pakan Alami Pakan ikan alami merupakan makanan ikan yang tumbuh di alam tanpa campuran tangan manusia secara langsung, pakan yang alami sebagai makana ikan adalah plankton dan tumbuhan air lain. Plankton dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu plankton nabati (phytoplankton) dan plankton hewani ( zooplankton ). Tetapi menurut ekologi dan cara hidupnya, plankton dapat dibedakan menjadi 3 golongan yaitu ephypiton ( perypiton), nekton, dan bentos. Ephipiton adalah jenis plankton baik phytoplankton mau[pun zooplankton yang hidup menempel pada benda-benda air maupun melayang-layang dalam air. Nekton adalah jenis plankton yang bisa bergerak aktif. Sedangkan bentos adalah jenis plankon yang hidup menetap di bagian daras perairan ( Djurijah,1995 ). Menurut Maswira weblog (2005) dalam Youlyz (2010). Memiliki komposisi yang baik diantaranya protein, lemak dan karbohidrat dan mineral. Protein berguna saat proses pertumbuhan dan pengganti sel yang rusak sebagai zat pembangun. Lemak dan karbohidrat berfungsi sebagai pembentuk energy yang akan digunakan tubuh, vitamin dan mineral akan membantu proses metabolisme, mengatur fisiologi membentuk enzim dan hormone karena pakan alami dan bergerak aktif dan sehingga larva untuk makanannya pada dunia pembesaran, pakan alami sering digunakan untuk memacu pertumbuhan misalnya cacing sutera. 1.8.2 Pakan Buatan Menurut Sutan muda (2008) dalam Youlyz (2010), bentuk pakan buatan di bentuk oleh kebiasaan makan ikan : a) larutan, b) tepung halus, c) tapung kasar, d) remah, e) pelet, f) dilev, g) tepung tanah, h) siluse. Pakan ikan buatan merupakan makanan ikan yang dibuat dari campuran bahan-bahan almi dan atau bahan olahan yang selanjutnya dilakukan proses pengolahan suatu dibuat dalam bentuk tertentu sehingga tercipta dengan baik (meransang) ikan untuk memakannya dengan mudah dan lahap. Istilah lain untuk pakan ikan buatan adalah concentrate namun istilah ini lebih memasyarakat untuk menyebut pakan unggas (Djurijah,1995). Pembuat pelet atau pakan ikan sebenarnya dapat dilakukan dengan mudah dan sederhana. Komposisi ransum pakan ikan dapat dibuat hanya dengan lumpur sludye padat saja maupun

dibuat ramuan campuran antara lumpur sludye padat dengan beberapa bahan pokok pembuatan pakan ikan, seperti penambahan tepung ikan tapioca, vitamin mix, tepung kedelai atau minyak ikan (Rustidja.2001).

1.9 Jenis Makanan Pada Ikan Menurut Yuwono dan Purnama (2001) berdasarkan tipenya, pakan hewan ini dapat dikelompokkan sebagai berikut : Pakan partikel kecil : bakteri, algae, metodenya menggunakan silia, menyaring, amoba, basolaria, ciliate,bivalvia, gastropoda, dan crustacean. Pakan partikel besar diperoleh dengan menangkan dan menelan mangsa ikan karnivora, herbivore dan omnivora. Pakan molekul organic terlarut diperoleh melalui uptake dari perairan sakitnya, misalnya pada vertebrata laut kecual antrophoda. Menurut fungsinya, pakan ikan dapat dibedakan menjadi 2 golongan yaitu sebagai makanan utama (pokok) dan makanan tambahan. Sebagai makanan pokok apabila sebagian sumber energy yang dibutuhkan diperkecil dari makanan yang diberikan dari luar golongan sebagai makanan tambahan (Djurijah,1995).

1.10 Komposisi Pakan ( Pelet, Tubifek, Chironomus Beku dan Lumut Jaring ) Menurut Djurijah (1995), komposisi pakan jenis pelet, bahan baku pembuatan pakan ikan meliputi dedak halus (bekutul), tepung ikan dan bungkil kedelai. Bahan tambahan pembuatan pakan ikan meliputu tepung jagung, tepung kepala udang, minyak ikan, vitamin dan mineral. 1. Dedak Halus (bekutul) Dedak halus (bekutul) merupakan produk samping penggilingan gabah (rice null). Bahan ini di pedesaan dapat diperoleh setiap kali menumbuk padi. 2. Tepung Ikan

Tepung ikan dibuat dari ikan nicah yang dikeringkan dan digiling halus. Kualitas tepung sangat bergantung dari jenis ikan sebagai bahan utamanya. 3. Bungkil Kelapa Bungkil kelapa dapat dibeli langsung dari industry tahu atau membeli dikios pengeceran dan distributor paka ternak atau pakan ikan, nama lain bungki kelapa adalah anipah tahu.

4. Tepung Jagung Tepung jagung dapat di beli langsung dari kios pengecer pakan ternak, distributor atau membuat sendiri dengan cara menggiling butiran jagung utuh (jagung pipilan). 5. Tepung Kepala Udang Tepung kepala udang dapat dibuat dari kepala udang kering yang dihaluskan atau dibuat tepung. Bahan ini digunakan sebagai atraktan atau penyedap (perangsang) atau aroma/bau. 6. Minyak Ikan Minyak ikan merupakan sumber lemak dan sekaligus berfungsi sebagai atraktan ( bahan penyedap,aroma pakan ikan ). Minyak ikan disamping sebagai sumber lemak hewani merupakan sumber vitamin A yang sangat dibutuhkan oleh ikan. 7. Sumber vitamin dan mineral dapat dibeli di toko obat, toko makanan atau kios-kios pengecer yang menyediakannya. Bahan baku ikan dapat juga ditambah anhok encer yang berfungsi sebagai pengawet.

Komposisi cacing tubifek terdiri dari protein 46,1%, lemak 15,1% dan abu 6,9%, sedangkan cacing (bload worm) 90% bagian tubuh adalah air dan sisanya 10%, terdiri dari bahan padatan. Bahan padatan ini 62,5% adalah protein 10%, lemak dan sisanya lain-lain ( Ekawati,2005 ).

Menurut Bachtiar (2003), cacing tubifek termasuk dalam filum annelid, kelas oligochaeta dan ordo haplotaxida, tubuhnya berwarna merah kecoklatan dan beruas-ruas. Di perairan cacing air ini tampak seperti lumut merah yang melambai, selain mengandung pigmen karoten berupa astaxantha, untuk hewan chrominious hidup di perairan yang tenang dan kaya bahan organic. Selain mengandung protein cukup tinggi, nutrient 66% dan lemak 2,86% hewan chrominious juga mengandung pigmen karoten berupa astaxanthin.

1.11 Faktor yang Mempengaruhi GET Menurut Murjiman (1984) dalam Titik (2008) laju digesti dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya temperature lingkungan dan kualitas pakan, selain itu factor-faktor kimia yang terdapat dalam perairan yaitu,kandungan O₂, CO₂, H₂S,pH dan Alkumutus. Biasanya semakin banyak aktivitas ikan, maka akan semakin banyak membutuhkan energy sehingga proses metabolismenya tinggi atau membutuhkan makanan yang mutunya jauh lebih baik dan lebih banyak jumlahnya. Menurut Gunarso et al (2003) dalam Youlyz (2010) kandungan lemak total pada pakan akan memperlambat proses pencernaan dan sudah kosong saluran pencernaan.

1.12 Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Digestibility Menurut Prosser dan Bromn (1965), faktor mekanik yang mempengaruhi chaestive : Wilayah Fungsional Saluran Pencernaan Ada banyak variasi morfologi menurut tipe makanan tetapi urutan fungsi-fungsi tersebut meliputi a) pencernaan wilayah ini meliputi mulut dengan apendik dan organ. Seleksi makanan terutama oleh rasa , bau dan tekstur yang mana terjadi pada wilayah pencernaan kelenjar mulut yang mana mengeluarkan cairan pelarut. b) konduksi dari pengempasan ini dapat terjadi di esophagus atau tembolok, kelenjar pencernaan meskipun jarang regustraci enzim pada daerah ini. c) sibuk internal mencakup pencernaan merupakan wilayah tenggorokan dan lambung produksi dan

perut. d) pencernaan akhir dan absorbs merupakan bagian depan posterior mulut, e) bentuk files, daerah ini sangat mencolok padsa kebanyakan hewan darat yang mana berfungsi untuk penyerapan air dari feses.

-

Perlindungan dari sel epitel pencernaan Pencernaan pada binatang terutama adalah extra seluler dan makanan besar melewati system pencernaan, lapisan epitel pada limen telah dilindungi, perlindungan secara umum oleh lendir yang disekresikan dari sel-sel khusus.

-

Pergerakan dari massa makanan Makanan didorong ke saluran pencernaan sesuai dengan kecepatan oleh keadaan suhu atau oleh aktivitas otot atau kombinasi keduanya.

Menurut Scheider dan Flutt (1975) dalam Hoetami dan Sukiyo dalam Youlyz (2010), faktor-faktor yang lain yang mempengaruhi nilai kecemasan bahan kering ransum adalah : 1. Tingkat propinsi bahan pakan, dalam ransum 2. Komposisi kimia 3. Tingkat protein ransum 4. Prosentase lemak 5. Mineral Di samping itu perbedaan nilai bahan kering dicerna, mungkin disebabkan karena adanya perbedaan sifat-sifat yang diproses termasuk kesesuaiannya dihidrolisis dan aktivitas substansi yang terdapat di dalam pakan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->