BAB II METODE ILMIAH

Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.

Unsur metode ilmiah
Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan empat langkah berikut: 1. Karakterisasi (pengamatan dan pengukuran) 2. Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil pengamatan dan pengukuran) 3. Prediksi (deduksi logis dari hipotesis) 4. Eksperimen (pengujian atas semua hal di atas)

DNA/contoh
Setiap langkah diilustrasikan dengan contoh dari penemuan struktur DNA:

1. DNA/karakterisasi 2. DNA/hipotesis 3. DNA/prediksi 4. DNA/eksperimen Contoh tersebut dilanjutkan pada tahap "Evaluasi dan pengulangan", yaitu DNA/pengulangan.

1.Karakterisasi
Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi. Dalam proses karakterisasi, ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang dimiliki oleh subjek yang diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat melibatkan proses penentuan (definisi) dan pengamatan; pengamatan yang dimaksud seringkali memerlukan pengukuran dan/atau perhitungan yang cermat. Proses pengukuran dapat dilakukan dalam suatu tempat yang terkontrol, seperti laboratorium , atau dilakukan terhadap objek yang tidak dapat diakses atau dimanipulasi seperti bintang atau populasi manusia. Proses pengukuran sering memerlukan peralatan ilmiah khusus seperti termometer, spektroskop, atau voltmeter, dan kemajuan suatu bidang ilmu biasanya berkaitan erat dengan penemuan peralatan semacam itu. Hasil pengukuran secara ilmiah biasanya ditabulasikan dalam tabel, digambarkan dalam bentuk grafik, atau dipetakan, dan diproses dengan perhitungan statistika sepertikorelasi dan regresi. Pengukuran dalam karya ilmiah biasanya juga disertai dengan estimasi ketidakpastian hasil pengukuran tersebut. Ketidakpastian tersebut sering diestimasikan dengan melakukan pengukuran berulang atas kuantitas yang diukur

dirasakan mungkin untuk mengkarakterisasikan struktur fisis DNA dengan gambar sinar-X. Bergantung pada prediksi yang dibuat.. melainkan meningkatkan probabilitas kebenaran hipotesis tersebut.. teknologi atau teori baru boleh jadi memungkinkan eksperimen untuk dapat dilakukan.DNA/karakterisasi Sejarah penemuan struktur DNA merupakan contoh klasik dari empat tahap metode ilmiah: pada tahun 1950 telah diketahui bahwa pewarisan genetik memiliki deskripsi matematis. Lihat: DNA 1|.. hasilnya dapat diuji dengan eksperimen. . Jika hasil eksperimen sesuai dengan prediksi. Jika hasil yang diramalkan sudah diketahui. Hanya dengan demikianlah maka terjadinya hasil tersebut menambah probabilitas bahwa hipotesis yang dibuat sebelumnya adalah benar. Pencatatan yang detail sangatlah penting dalam eksperimen. maka hipotesis yang sedak diuji tidaklah benar atau tidak lengkap dan membutuhkan perbaikan atau bahkan perlu ditinggalkan. Sebagai contoh. Hasil eksperimen tidak pernah dapat membenarkan suatu hipotesis. untuk membantu dalam pelaporan hasil eksperimen dan memberikan bukti efektivitas dan keutuhan prosedur yang dilakukan. Prediksi tersebut dapat pula bersifat statistik dan hanya berupa probabilitas. Linus Pauling yang baru akan melakukan studi serius terhadap molekul tersebut menghipotesiskan struktur heliks ganda tiga. Berdasarkan susunan kimianya. Para peneliti di laboratorium William Lawrence Bragg di Universitas Cambridge membuat gambargambardifraksi sinar-X atas berbagai macam molekul.Lihat: DNA 1 | . Pencatatan juga akan membantu dalam reproduksi eksperimen.. diawali oleh penelitian Gregor Mendel. DNA/prediksi Setelah Watson dan Crick menghipotesiskan bahwa DNA merupakan heliks ganda. maka hipotesis tersebut boleh jadi benar namun masih mungkin salah dan perlu diuji lebih lanjut. Hasil eksperimen secara mutlak bisa menyalahkan suatu hipotesis bila hasil eksperimen tersebut bertentangan dengan prediksi dari hipotesis. Jika hasil eksperimen bertentangan dengan prediksi. hal itu disebut konsekuensi dan seharusnya sudah diperhitungkan saat membuat hipotesis. Francis Crick memprediksikan bahwa gambar difraksi sinar-X DNA akan menunjukkan suatu bentuk huruf X. Jika prediksi tersebut tidak dapat diamati. berupa-rupa eksperimen dapat dilakukan. dalam usaha untuk menentukan struktur DNA. Hasil yang diramalkan oleh prediksi tersebut haruslah belum diketahui kebenarannya (apakah benar -benar akan terjadi atau tidak). hipotesis yang mendasari prediksi tersebut belumlah berguna bagi metode bersangkutan dan harus menunggu metode yang mungkin akan d atang. namun mekanisme gen tersebut belumlah diketahui dengan jelas. Prediksi tersebut mungkin meramalkan hasil suatu eksperimen dalam laboratorium atau pengamatan suatu fenomena di alam.DNA 4 Eksperimen Setelah prediksi dibuat. Francis Crick dan James Watson menghipotesiskan bahwa molekul tersebut memiliki struktur heliks: dua spiral yang saling memilin.DNA 3 Prediksi dari hipotesis Hipotesis yang berguna akan memungkinkan prediksi berdasarkan deduksi. Lihat: DNA 2 DNA/hipotesis Sebagai contoh. Eksperimen bahkan dapat berupa mengemudikan pesawat dari New York ke Paris dalam rangka menguji hipotesisaerodinamisme yang digunakan untuk membuat pesawat tersebut. Eksperimen tersebut dapat berupa eksperimen klasik di dalam laboratorium atau ekskavasi arkeologis.

Dapat pula ilmuwan lain memulai penelitian mereka sendiri dan memasuki proses tersebut pada tahap yang manapun. yaitu berulang. Dia menggunakan acuan panjang ikatan kimia yang telah dideduksikan oleh Linus Pauling. atau bahkan definisi subjek penelitian itu. Mereka dapat mengadopsi karakterisasi yang telah dilakukan dan membentuk hipotesis mereka sendiri.. Sering kali eksperimen dalam proses ilmiah tidak dilakukan oleh orang yang membuat prediksi. DNA/pengulangan Watson dapat mendeduksikan struktur utama DNA dengan menggunakan model konkret bentuk fisik nukleotida yang menyusun DNA.DNA/pengulangan Evaluasi dan pengulangan Proses ilmiah merupakan suatu proses yang iteratif. Ketidakberhasilan untuk membentuk hipotesis yang menarik dapat membuat ilmuwan mempertimbangkan ulang subjek yang sedang dipelajari. Lihat: DNA 1 . dan karakterisasi didasarkan pada eksperimen yang dilakukan oleh orang lain. hipotesis yang mendasarinya. Diawali dengan penemuan oleh James Watson dan Francis Crick tersebut. atau mengadopsi hipotesis yang telah dibuat dan mendeduksikan prediksi mereka sendiri. Pada langkah yang manapun.. Ketidakberhasilan suatu hipotesis dalam menghasilkan prediksi yang menarik dan teruji dapat membuat ilmuwan mempertimbangkan kembali hipotesis tersebut atau definisi subjek penelitian. Watson melihat bentuk huruf X yang telah diprediksikan Crick sebagai struktur heliks.DNA/eksperimen Ketika James Watson meneliti apa yang telah ditemukan Rosalind Franklin pada gambar difraksi sinar-X DNA buatannya. Ketidakberhasilan eksperimen dalam menghasilkan sesuatu yang menarik dapat membuat ilmuwan mempertimbangkan ulang metode eksperimen tersebut. seorang ilmuwan mungkin saja mengulangi langkah yang lebih awal karena pertimbangan tertentu. lahirlah bidang ilmu baru: biologi molekular. Lihat: DNA 1 | .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful